Wednesday, June 20, 2018

Intimidasi (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Samuel 17:16
======================
"Selama 40 hari Goliat orang Filistin itu keluar dari kemahnya setiap pagi dan petang dan berdiri menghadap tentara Israel dan mengejek mereka." (VMD-Versi Mudah Dibaca)

Saya sudah bertemu dengan banyak orang yang gambar dirinya rusak karena sering direndahkan atau diremehkan dalam hidupnya. Salah satu contoh adalah seorang anak remaja yang bermasalah besar dengan rasa percaya dirinya. Saya mengenalnya di sebuah sekolah musik. Menurut gurunya, ia kerap menangis tanpa sebab jelas dan takut tampil dalam pertunjukan yang diadakan sekolahnya. Padahal gurunya tahu bahwa anak ini sebenarnya berbakat. Kalau lagi tenang ia bisa bermain dengan baik, bahkan bagus suaranya saat menyanyi. Tapi begitu ada yang mengkritik apalagi bercanda menertawakannya, bagai rumah kartu yang tersenggol angin sedikit saja, mentalnya langsung ambruk berantakan. Membangunnya lama, hancurnya cepat.

Saya pun memutuskan untuk mengajaknya bicara 4 mata. Setelah dikorek, ternyata ia kurang pujian sejak kecil. Sering dibandingkan dengan saudara, tidak dipuji saat melakukan sesuatu yang baik atau berprestasi tapi dimarahi habis-habisan begitu berbuat salah. Kalau di keluarga begitu, di lingkungan sekolah dan pertemanan ia sering di bully. Lengkap sudah. Itu terjadi sampai usianya sekarang, dan ia pun tumbuh menjadi anak remaja yang tidak percaya diri, tertutup/suka menyendiri, cepat berpikir negatif dan mentalnya lemah. Saya minta ia main satu lagu sambil bernyanyi, dan hasilnya memang sangat bagus. Saat saya puji, ia menangis dan berkata bahwa pujian saya itu adalah sesuatu yang sangat jarang ia terima. Begitu jarang, ia bahkan sulit percaya bahwa pujian itu memang benar-benar atas kualitas permainannya.

Satu hal yang menarik buat saya, ia tahu banyak mengenai Firman Tuhan, termasuk yang berkenaan dengan permasalahan yang ia alami. Tapi ketidakpercayaan dirinya terlanjur membuatnya sulit menerima kebenarannya. Dengan kata lain, ia tahu Firman tapi tidak melihat aplikasi maupun merasakan manfaatnya. Tidak lama setelah saya konseling, ia bisa tampil dengan sangat baik, bahkan melebihi ekspektasi gurunya. Ayahnya yang tadinya sulit memuji dengan bangga merekam penampilannya. Itu menjadi momen bahagia bagi dirinya. Saya berharap semoga ia bisa terus bertumbuh dalam pengenalan yang benar akan Tuhan, mengerti tujuan Tuhan saat menciptakanNya dan apa rencana Tuhan yang besar bagi dirinya. Semoga ia bisa terus memperkuat percaya dirinya dan berhasil dalam karirnya nanti, karena akan sayang sekali kalau ia gagal menggenapi rencana Tuhan dan gagal dalam hidupnya bukan karena Tuhan tidak peduli melainkan karena terhalang oleh mentalnya sendiri.

Anak remaja ini hanyalah satu contoh dari bagaimana seseorang bisa sulit maju menggapai cita-cita atau panggilannya karena sejak lama merasa terintimidasi dalam hidupnya. Mereka sulit mencapai potensi dan performance terbaik mereka, cenderung berjalan di tempat atau malah mundur. Anak muda ini termasuk cepat berubah, karena ada banyak orang yang butuh waktu dan usaha yang sangat panjang untuk bisa berubah. Ada yang bolak balik jatuh, ada yang tidak kunjung menunjukkan perbaikan. Dan seperti anak remaja tadi, kebanyakan dari mereka ini sebenarnya punya potensi dan bakat besar. Alangkah sayangnya apabila mereka gagal karena tidak bisa melewati intimidasi atau tekanan, ejekan, cemoohan, kritikan yang merendahkan dari orang lain.

Saya ingin mengajak teman-teman untuk melihat kisah Goliat yang menantang prajurit-prajurit Israel. Kita sudah sangat familiar dengan kisah ini, terutama pada bagian Daud mengalahkan Goliat hanya dengan menggunakan umban yaitu sejenis ketapel. Tapi untuk renungan kali ini, saya akan mengajak melihat dari sisi lain yang berhubungan dengan tema hari ini, yang mungkin jarang kita perhatikan, yaitu intimidasi.

(bersambung)


Tuesday, June 19, 2018

The Will of God vs The Will of the World (5)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Benar, tidak mudah untuk hidup berbeda ditengah mayoritas orang yang mencintai dunia. Sepintas lalu mungkin terlihat merugikan, tetapi percayalah bahwa mengikuti prinsip Tuhan tidak akan pernah merugikan melainkan mendatangkan keuntungan bukan saja dalam hidup saat ini tapi juga untuk fase selanjutnya nanti.

Adalah penting bagi kita untuk memastikan agar paradigma kita tidak ikut seperti apa yang dipercaya dunia bisa mendatangkan kebahagiaan. Yohanes berkata "Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya." (1 Yohanes 2:17). Jangan sampai kita ikut-ikutan lenyap seperti dunia yang terus merosot dan terus semakin dilenyapkan keinginan-keinginannya seiring umur yang bertambah tua, tetapi hendaknya kita terus menghidupi firmanNya, mematuhi ketetapanNya, menjauhi laranganNya dan terus melakukan kehendakNya. Mendahulukan mencari Tuhan, melepaskan semuanya dan mengikut Yesus, karena itulah yang menjadi jalan menuju kehidupan yang kekal. Itulah sebabnya orang-orang yang melakukannya dikatakan akan tetap hidup selama-lamanya.

Mari kita periksa setiap konsep pemikiran kita dalam menyikapi berbagai hal dalam hidup. Seperti apa paradigma kita hari ini? Apabila kita mendapati bahwa ternyata kita masih mengadopsi sebagian atau hampir seluruh konsep pemahaman dunia dan hal-hal yang dikejar disana, apabila kita masih mendapati diri kita mencintai dunia dan menomorduakan atau bahkan melupakan Tuhan, saatnya bagi kita untuk merubah paradigma dan cara hidup kita.

Untuk merubahnya sama sekali tidak mudah karena biasanya sudah mengakar dalam jangka waktu yang cukup lama dalam diri kita. Bisa jadi itu seperti membongkar seluruh bangunan dan membangun kembali sesuatu yang baru di atasnya, atau membongkar sebuah pohon sampai ke akar-akarnya yang sudah tertanam puluhan meter. Butuh pengorbanan, butuh usaha, butuh waktu, butuh proses dan butuh kesungguhan yang tidak main-main. Tapi kalau itu diperlukan agar bisa layak dihadapan Tuhan, kalau itu menjadi syarat untuk menerima hidup yang kekal, kenapa tidak?

Setidaknya kita bisa mulai dari sekarang. Lakukanlah selagi masih ada waktu dan kesempatan. Merubah pola pikir dan cara hidup agar seturut kehendak Allah dan bukan menurut dunia mungkin sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin sama sekali. Dunia akan terus dan selalu menawarkan banyak hal yang keliru dan semakin lama semakin lenyap binasa, tetapi orang-orang yang melakukan kehendak Allah akan selalu hidup kekal selama-lamanya.

Follow God's will, not the will of the world

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, June 18, 2018

The Will of God vs The Will of the World (4)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)


Yang sangat menarik adalah saat Yohanes memberikan pengajaran yang mungkin terdengar kontroversial baik pada saat itu terlebih pada jaman sekarang. "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu." (ay 15). Kenapa? "Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia." (ay 16).

Yohanes berkata, Janganlah kamu mengasihi dunia dan yang ada di dalamnya. Apakah itu berarti bahwa kita harus bersikap memusuhi orang lain yang sama dengan kita hidup di dunia? Tentu saja bukan seperti itu. Apa yang dikatakan Yohanes adalah agar kita tidak larut menuruti keinginan-keinginan dunia beserta segala pemahaman dan konsepnya yang keliru. Dengan kata lain, Yohanes mengingatkan agar parameter paradigma kita jangan sampai mengacu kepada konsep dan pemahaman dunia tetapi hendaknya mengacu kepada prinsip kebenaran menurut Kerajaan Allah. Yohanes juga memberi tiga hal yang biasanya berpusat atau bersumber dari dalam dunia yang kerap menjadi biang masalah atau awal kehancuran manusia yaitu: keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup.

Dari ayat bacaan kita kali ini kita juga bisa melihat bahwa kita tidak bisa mengasihi dunia dan mengasihi Tuhan secara bersamaan. Tuhan Yesus menyampaikan hal yang kurang lebih sama, dalam konteks memilih antara Tuhan dan uang. "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Lukas 6:24). Orang kaya dalam Markus 10:17-27 yang sudah saya sampaikan sebelumnya dalam renungan ini menjadi bukti akan hal itu.

Kita harus ingat bahwa tidak satupun dari harta kekayaan kita ini bisa kita bawa ke dalam kehidupan yang kekal. Dengan kata lain, harta kekayaan sifatnya fana alias sementara saja. Di dunia ini mungkin kita bisa hidup sangat nyaman dalam kemewahan, kita mungkin bisa membeli apa saja, tapi itu tidak akan ada gunanya dalam fase selanjutnya. Malah apabila itu yang kita kejar, itu akan membuat kita gagal menerima hidup yang kekal. Dan Tuhan Yesus sudah memberi peringatan: "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?" (Markus 8:36-37). Segala yang dikejar dunia seperti harta, pangkat, gelar, jabatan, popularitas dan sejenisnya juga tidak akan bisa membayar keselamatan kekal. Kita tidak akan pernah bisa membelinya dengan seberapa banyak pun harta yang kita miliki di dunia, kita tidak akan pernah bisa menyogok Tuhan untuk menempatkan kita ke dalam KerajaanNya.

(bersambung)


Sunday, June 17, 2018

The Will of God vs The Will of the World (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Lantas bagaimana dengan pemenuhan kebutuhan kita? Perhatikan ayat sebelumnya. "Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (ay 31-32). Tuhan tahu kita butuh itu semua. Dia akan memberkati pekerjaan yang kita lakukan, sehingga kita tidak perlu kuatir kekurangan, dan tidak perlu pula meletakkan mengejar harta pada prioritas utama untuk bisa hidup layak.

Yohanes mengingatkan tentang hal ini secara khusus. Lihatlah apa yang ia sampaikan dalam 1 Yohanes 2:7-17. Ia memulai perikop ini dengan kalimat: "Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu, telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya." (ay 7).

Yohanes mengatakan bahwa yang ia sampaikan sebenarnya bukanlah perintah baru, tetapi sesuatu yang sebenarnya sudah demikian sejak semula dunia diciptakan, dan sudah pula diketahui oleh manusia dari apa yang disampaikan oleh para nabi sebelumnya. Akan tetapi perintah itu tetap terasa baru terutama setelah Yesus sendiri datang menunjukkan kebenaran-kebenaran sejak semula itu lewat cara hidupNya sendiri yang juga tercermin dari orang-orang yang memiliki Kristus secara utuh dalam dirinya.

Dalam kesempatan ini Yohanes mengingatkan bahwa kebencian merupakan salah satu bentuk penyimpangan dari perintah yang 'lama tapi baru' ini. Siapa yang membenci saudaranya berarti masih tetap berada dalam kegelapan meski terang sudah nyata lewat Kristus (ay 9), dan Yohanes mengatakan bahwa "Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya." (ay 10-11).

Perhatikan bagaimana dunia terus memperbesar jurang perbedaan dan membuat orang-orang di dalamnya merasa berhak menghakimi orang lain yang berbeda pemahaman dari mereka. Tidak jarang mereka ini bahkan berani mengatas-namakan Tuhan untuk melegalkan kebencian, kejahatan, kekejian dan kekejaman terhadap sesama manusia. Perhatikan pula bagaimana mayoritas atau yang kuat dianggap dunia punya kuasa dan hak untuk menindas kaum minoritas. Melakukan ketidak-adilan secara terang-terangan tanpa punya rasa bersalah apalagi malu, memaksakan kehendak, menekan dan sebagainya. Semua ini terjadi semakin sering akhir-akhir ini dan sering kita saksikan dalam berita di berbagai media.

(bersambung)


Saturday, June 16, 2018

The Will of God vs The Will of the World (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Cinta dunia, itu menjadi sesuatu yang mengganjal pertumbuhan iman kita. Dari renungan sebelumnya kita sudah belajar bahwa ini merupakan ragi Herodes, yang membuat para pengikutnya, orang-orang Herodian menjadi buta mata hatinya. Mereka mengejar segala kenikmatan dan kehormatan dunia sehingga tidak lagi bisa melihat kebenaran yang hadir di depan mereka secara langsung.

Ragi ini masih marak terjadi sekarang di kalangan orang percaya. Semakin lama kita menyaksikan bahwa dunia melihat hidup dengan cara-cara yang semakin berbeda dengan kebenaran Kerajaan Allah seperti yang disampaikan Yesus langsung dalam masa pelayananNya yang singkat saat turun ke dunia. Sebagai bagian dari mahluk hidup yang berada dalam dunia, pengaruh-pengaruh yang keliru terus masuk ke dalam pikiran dan hati kita, sehingga paradigma manusia pun semakin hari semakin jauh melenceng dari kebenaran. Ragi yang satu ini semakin mengembang dalam kehidupan banyak orang percaya.

Dunia tampaknya sudah lama menghidupi kekeliruan seperti ini. Sebagai contoh, mari kita lihat perjumpaan Yesus dengan seorang kaya dalam Markus 10:17-27. Orang ini sebenarnya punya keinginan untuk memperoleh hidup yang kekal. Saat Yesus menyampaikan tentang 10 perintah Allah, si pemuda berkata bahwa semua itu sudah ia patuhi sejak masa mudanya. Lalu inilah selanjutnya yang Tuhan Yesus katakan. "Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (ay 21).

Mendengar perkataan Yesus itu, pria ini kemudian kecewa, lalu dengan sedih ia pergi meninggalkan Yesus. Kenapa? Alkitab dengan jelas mencatat, sebab ia sangat kaya dan sulit meninggalkan semua kemewahan yang ia miliki. Yesus lantas menjadikan peristiwa itu sebagai pelajaran buat murid-muridNya. "Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah." (ay 23). Begitu susah, bahkan "Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." (ay 25).

Bukankah hal seperti itu masih banyak terjadi hari ini? Orang rela mati demi menyelamatkan hartanya. Contoh sederhana saja, saat berhadapan dengan perampok, banyak yang terus mempertahankan hartanya meski resikonya bisa dibunuh. Kalaupun alasannya reflek, itu menunjukkan bahwa paradigma orang tersebut masih berada pada dunia yang fana bukan yang kekal. Nyawa tidak lebih mahal dibanding harta, yang tentu saja tidak masuk akal karena kalau kita kehilangan nyawa, kita tidak akan pernah lagi bisa menikmati semua itu. Orang kehilangan akal sehatnya karena harta, dan juga hal-hal lain yang dikejar oleh orang-orang yang cinta dunia.

Apakah Yesus anti orang kaya? Tentu tidak. Apakah orang Kristen harus miskin? Tentu juga tidak. Tapi kita tidak boleh menomorsatukan atau mendahulukan atau memprioritaskan harta, sesuatu yang menjadi incaran semua orang dalam prinsip dunia. Ingat apa kata Yesus berikut: "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33). Itulah yang harus kita cari terlebih dahulu.

(bersambung)


Friday, June 15, 2018

The Will of God vs The Will of the World (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Yohanes 2:15-16
========================
"Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia."

Mengejar yang fana, menomorsatukannya tapi mengabaikan atau menomorduakan kekekalan? Itu secara logika terdengar aneh. Tapi nyatanya banyak orang yang melakukan itu, baik sadar maupun tidak. Salah satu letak permasalahannya adalah bahwa kita hidup di dunia dan terus dikelilingi pola pikir dan sistim dunia dari segala arah sejak kita kecil. Tentu sulit untuk hidup mengadopsi prinsip Kerajaan Allah sementara kita hidup di dunia. Disamping paradigma berpikir kita yang sudah terkontaminasi oleh cara hidup mayoritas orang di sekitar kita, baik di lingkungan sekitar maupun pertemanan, kita pun bisa-bisa dianggap sok alim, orang aneh, bodoh bahkan gila kalau tidak ikut arus seperti cara pikir dunia.

Merubah paradigma atau pola pikir yang sudah mengeras selama bertahun-tahun itu bukan main sulitnya, apalagi kalau di sekitar kita orang tetap memakai cara dunia dalam menjalani hidup. Dunia terus mengajarkan konsep kekayaan sebagai solusi untuk mencapai kebahagiaan baik secara individu maupun keluarga. Semuanya dinilai dengan uang. Dunia terus mengagung-agungkan popularitas, tingginya jabatan yang bisa dipakai sebagai etalase kebanggaan diri, untuk menciptakan pribadi yang berpengaruh besar sehingga posisinya bahkan bisa berada di atas hukum. Kepemilikan atas benda-benda yang up to date atau trendy akan membuat kita terpandang di masyarakat. Dan untuk bisa memiliki semua itu tentu butuh uang. Karena itu, kejarlah uang sebanyak-banyaknya agar bahagia. Itu kata dunia.

Uang pelicin, uang rokok, atau bentuk-bentuk sogokan lain untuk memuluskan kita memperoleh apa yang kita inginkan dianggap sesuatu yang wajar bahkan wajib saat ini. Kalau tidak ikutan ya pasti tersingkir kalah. Benarkah demikian?

Seorang pengusaha sukses yang membawahi lebih dari seratus anak perusahaan di tempatnya bekerja membuktikan bahwa itu tidak benar. Ia memilih untuk hidup takut akan Tuhan sejak ia menerima Yesus secara pribadi saat ia muda, dan ia berusaha keras untuk tetap hidup sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Ia memulai karirnya dari bawah sekali, dan ia membuktikan bahwa ia bisa mengalami peningkatan sampai pada tahap dimana ia berada sekarang, dan ia bisa memenangkan tender dan bermitra tanpa harus menyogok seperti cara-cara dunia. "Lebih sulit, ya. Tapi bukan tidak mungkin." katanya sambil tersenyum. Ia berkali-kali sudah membuktikan janji-janji Tuhan kepada orang yang setia melakukan Firman, dan itu ternyata menginspirasi banyak karyawannya yang melihat langsung bagaimana hebatnya saat Tuhan yang bekerja. Bukan pakai kekuatan manusia, bukan pakai kekuatan uang.

Manusia langka? Mungkin ya, kalau melihat jumlah orang yang 'militan' dalam iman sepertinya dibanding orang percaya yang masih mengikuti cara dunia. Dunia dan akhirat adalah dua bagian yang terpisah. Urusan beribadah itu hanya untuk nanti setelah mati, urusan dunia terlepas dari soal-soal rohani. Rohani seminggu sekali dan ironisnya hanya dikaitkan dengan kebiasaan mengunjungi gereja, sepulang dari sana hidup akan kembali duniawi lagi sepenuhnya, tidak ada urusan lagi dengan ibadah.

Ada yang mencoba mencari 'jalan tengah' dengan hidup di dua dunia. Mereka beribadah, melakukan kewajiban-kewajiban, berdoa, tapi kalau memang diperlukan mereka bisa switch memakai cara dunia. Beribadah, tapi nyogok dan menggunakan cara dunia bilamana dipandang 'perlu'. Menjaga hidup kudus di satu sisi, tapi memberi toleransi memasukkan dan melakukan hal-hal yang mencemarkan hidup agar tidak tersingkir dari pergaulan atau relasi.

Atau banyak pula yang mengira bahwa ke gereja, bersedekah atau berbuat baik pada waktu-waktu tertentu bisa 'mencuci' tindak-tindak kejahatan yang kita lakukan yang suka saya sebut dengan 'cuci dosa' alias 'sin laundering'. Kalau melakukan korupsi tapi takut kena dosa, ya bangun rumah ibadah supaya uang hasil kejahatan jadi bersih. Atau sumbangkan sebagian ke orang, lembaga atau departemen tertentu, maka itupun bisa me'mutih'kan dosa mereka. Perhatikanlah, bukankah banyak orang yang melakukan itu hari ini? Semua ini merupakan kekeliruan yang umumnya bersumber dari paradigma berpikir yang keliru dan sama sekali jauh dari kebenaran.

(bersambung)


Thursday, June 14, 2018

Ragi Herodes (4)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan).

Karenanya sebagai orang percaya kita harus berhati-hati terhadap segala penawaran yang bisa menjauhkan kita dari pengajaran Kristus dan mencemarkan iman kita. Jangan biarkan diri kita tergiur akan silaunya status, jabatan, harta, popularitas dan hal-hal lain yang dianggap mendatangkan kebahagiaan oleh dunia.

Dalam suratnya yang pertama Yohanes sudah mengingatkan juga tentang jebakan cinta dunia ini. "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya." (1 Yohanes 2:15-17).

Kita harus ingat betul apa yang dikatakan dalam ayat diatas agar jangan sampai tujuan kita semula untuk terus menjadi semakin seperti Kristus menjadi tersingkirkan atau terabaikan karena kita tidak bisa menghindari ragi Herodes. Kita harus tetap menjaga agar mata hati dan pikiran kita tetap tertuju pada Kristus dan tidak menjadi buta seperti halnya orang-orang Herodian ini.

Ketahui dengan pasti dan pegang terus apa yang direncanakan Allah bagi diri anda, dan setialah melakukannya. Tuhan Yesus sudah mengingatkan agar mewaspadai betul ragi Herodes ini karena dampak kehancuran yang ditimbulkan bisa begitu parah. Dan dari Paulus kita sudah diingatkan bahwa "sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan." (Galatia 5:9). Jadi jangan main-main dan memberi toleransi terhadap ragi-ragi ini.

Hindari sikap-sikap munafik dan jadilah pelaku-pelaku Firman yang memiliki iman kuat. Terus bertumbuh dan pastikan tidak ada satu ragi pun diantara ragi Farisi, Saduki dan Herodes yang bertumbuh dalam diri kita.

"Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi." (1 Korintus 5:7a)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, June 13, 2018

Ragi Herodes (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan).


Bukan lagi hal baru bagi kita mendengar atau menyaksikan orang-orang percaya atau hamba Tuhan yang karena diiming-imingi pangkat atau jabatan dari gereja menjadi bergeser dari iman yang tadinya murni. Gereja bukan lagi menjadi House of Worship where God lives in, tapi berubah menjadi tempat politik dan kancah perebutan kekuasaan. Pertumbuhan tidak lagi pada kualitas rohani jemaat tapi menjadi mengejar kuantitas. Dari segi bangunan, tata suara, tata cahaya, semuanya megah dan gagah, tapi sebagai rumah Tuhan sebenarnya sudah tinggal puing-puing saja. Lihatlah bahaya ragi yang satu ini dan dampak yang bisa ditimbulkan.

Ada contoh menarik tentang hal ini dari kisah perjalanan Paulus melayani. Pada akhir surat Paulus kepada Timotius, Paulus bercerita tentang kesulitannya. "karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia. Hanya Lukas yang tinggal dengan aku. Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku. Tikhikus telah kukirim ke Efesus" (2 Timotius 4:10-12). Paulus meminta Timotius untuk bersegera datang bersama Markus untuk membantunya karena ia kekurangan orang disana. Yang tinggal hanya dia dan Lukas. Ia merestui kepergian Krekes ke Galatia, Titus ke Dalmatia dan Tikhikus ke Efesus, tapi ia juga menyampaikan bahwa ada satu rekan sepelayanannya bernama Demas ternyata terkena ragi Herodes ini.

Demas lebih mencintai dunia dan meninggalkan Paulus. Sepertinya setelah keadaan semakin mencekam dan berbahaya buat mereka dalam menyebarkan berita keselamatan, Demas tergoda lebih mencintai dunia ketimbang Yesus. Ia melupakan Amanat Agung yang dipesankan Yesus dan lebih memilih semua yang ditawarkan dunia. Demas meninggalkan Paulus pada saat sulit. Ia tidak lagi peduli dimana Tuhan ingin menempatkannya, Demas lebih memilih kenyamanan hidup di kota besar yang megah seperti Tesalonika.

Hamba Tuhan yang memilih pindah kapal karena tergiur iming-iming atau tawaran lebih besar dari tempat lamanya masih kerap terjadi sampai hari ini. Ada gereja-gereja yang kemudian harus kolaps sebagai dampaknya. Perpecahan antar bagian tubuh Kristus bisa menjadi kelanjutannya, dan kalau hal ini dibiarkan, kita tidak akan mampu berdampak pada kota dan bangsa dimana kita ditempatkan. Semua ini bisa timbul akibat ragi Herodes yang dibiarkan terus mengembang membusukkan orang-orang percaya.

Secara singkat, ragi Herodes ini adalah cinta dunia, seperti halnya raja Herodes yang mencintai dunia dan segala yang ditawarkan disana. Raja Herodes dikenal sebagai raja boneka Romawi yang lalim, kejam, tidak bermoral, licik dan tidak segan-segan membunuh atau membantai demi kepentingan dirinya yang mencintai segala kemewahan dan kenikmatan maupun kehormatan yang ditawarkan dunia. Raginya mengembang membusukkan orang-orang Herodian, para pengikut setia, sekongkolan atau kroni-kroninya dan bisa menyebar di kalangan orang percaya.

(bersambung)


Tuesday, June 12, 2018

Ragi Herodes (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan).

Lihatlah salah satu contoh dari kelakuan para Herodian ini. Dalam Markus 12:13-17 kita bisa membaca bahwa mereka terlibat untuk menjebak Yesus. Markus mencatat bahwa ada beberapa orang Farisi dan Herodian disuruh oleh pemimpin untuk menjerat Yesus lewat hal membayar pajak pada kaisar. Mereka mengira Yesus akan berkata bahwa penduduk tidak perlu membayar pajak kepada penguasa dan dengan itu mereka berharap bisa menangkap Yesus.

Tapi Yesus tahu itu jebakan oleh orang-orang munafik. "Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!" Mereka sangat heran mendengar Dia." (ay 17).

Menariknya, hal ini terjadi tepat sebelum orang Saduki datang mempertanyakan soal kebangkitan seperti yang sudah kita bahas dalam renungan sebelumnya. Jadi dalam Markus pasal 12 ini kita bisa melihat bagaimana Yesus harus berhadapan dengan tiga kelompok yang Dia gambarkan berpotensi membusukkan seperti ragi, yaitu Farisi, Herodian dan Saduki.

Lantas pada waktu Yesus dipersoalkan ketika menyembuhkan orang yang lumpuh sebelah pada hari Sabat dalam Markus 3:1-6, kembali kita melihat sepak terjang para Herodian ini. Tepat setelah Yesus menyembuhkan orang yang lumpuh sebelah tersebut, para orang Farisi pun segera meninggalkan rumah ibadat itu lalu bersekongkol dengan orang-orang Herodian, berunding dan membuat rencana untuk membunuh Yesus. (ay 6).

Dari perilaku orang-orang Herodian kita bisa melihat butanya hati melihat kebenaran karena silau oleh harta, pangkat, jabatan maupun hal-hal lain yang dikejar oleh dunia. Bagaimana ragi ini bekerja hari ini? Kita bisa melihatnya dari orang-orang yang mencari pangkat atau jabatan sehingga rela menanggalkan iman mereka, berpaling dari Tuhan dan menggadaikan hak kesulungannya. Kasih karunia Tuhan yang begitu besar menjadi tidak ada artinya sama sekali, digantikan oleh berbagai kenikmatan yang memuaskan daging.

Orang-orang yang tadinya baik hidupnya sesuai kebenaran kemudian berbelok arah karena tidak tahan terhadap godaan yang ditawarkan oleh dunia. Takut hilang kesempatan naik pangkat, jabatan, pamor, karir, popularitas yang fana, banyak orang dengan cepat membuang iman mereka. Bahkan dalam memilih pasangan pun hak kesulungan kerap mudah dilepaskan.

Kalau itu di kehidupan luar gereja, dalam gereja ragi ini pun bekerja merusak orang-orang percaya. Seorang pendeta pernah bercerita pada saya bahwa suatu kali ia ditemui oleh pengusaha besar yang menawarkannya kedudukan tinggi dan membangun gereja baru asal mau meninggalkan gereja dimana ia selama ini melayani. "Nanti kita ambil sekian persen dari persembahan dan bagi dua, gampanglah." kata si pengusaha itu kepadanya. Untunglah ia memiliki iman yang teguh sehingga ia langsung menolak mentah-mentah tawaran seperti itu. Tapi ada berapa banyak hamba Tuhan yang jatuh dalam penyesatan seperti ini?

(bersambung)


Monday, June 11, 2018

Ragi Herodes (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Markus 8:15
==============
"Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya: "Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes."

Anda tentu tahu kata 'kroni'. Kata ini sebenarnya memiliki arti teman atau kawan yang sangat dekat. Tapi setidaknya menjelang masa reformasi kata ini dipakai untuk menunjuk beberapa pejabat tinggi yang sangat loyal kepada pemimpin saat itu yang tengah ingin digulingkan. Sejak masa itu kata kroni mengalami perubahan makna menjadi negatif, yaitu teman-teman dekat yang bersekongkol dengan penjahat.

Kenapa saya memulai renungan kali ini dengan kata 'kroni'? Alasannya adalah, karena saya akan membagikan satu jenis ragi lagi yang harus kita hindari. Sangatlah menarik jika melihat bahwa dua penulis Injil mencatat dengan sedikit berbeda tentang satu event atau kejadian yang sama. Matius dalam Injil yang ditulisnya mengatakan pesan Yesus untuk berjaga-jaga dan waspada terhadap ragi orang Farisi dan Saduki. (Matius 16:6). Sedang Markus mencatatnya seperti ini: "Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya: "Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes." (Markus 8:15). Sedangkan dalam kesempatan lain, Lukas mencatat ucapan Yesus tentang ragi yang isinya "Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi." (Lukas 12:1).

Bagian ragi orang Farisinya sama, tapi ragi Saduki dan ragi Herodes dicatat hanya oleh masing-masing penulis Injil. Yang pasti, selain ragi Saduki dan Farisi, ada satu lagi ragi yang harus kita waspadai yaitu ragi Herodes. Seperti halnya ragi orang Saduki dan ragi orang Farisi, ragi Herodes ini pun punya daya rusak yang luar biasa dalam menggagalkan orang percaya untuk menggenapi rencana Tuhan, menjauhkan orang percaya dari ketaatan dan menghancurkan perjalanan mereka menuju kehidupan yang kekal. Sama seperti dua ragi lainnya, ragi Herodes bisa muncul dan berfermentasi dalam diri kita, mencemarkan keputusan-keputusan yang kita ambil dalam hidup kita tanpa kita sadari.

Setelah kita melihat apa yang dimaksud dengan ragi orang Farisi dan ragi orang Saduki dalam renungan sebelumnya, hari ini mari kita lihat apa itu ragi Herodes, seperti apa bentuknya termasuk di jaman ini agar kita bisa menghindarinya.

Ragi Herodes menyebabkan terjadinya pembusukan yang mengembang dalam kehidupan orang-orang dekat atau kroni-kroninya raja Herodes pada masa itu. Para kroni ini disebut sebagai Herodian alias orang-orangnya Herodes. Mereka ini menunjukkan sikap yang tidak bersahabat pada Yesus, bahkan memusuhiNya. Dalam Alkitab mereka kerap disandingkan dengan orang-orang Farisi seperti misalnya yang tertulis dalam ayat bacaan kita hari ini.

Kaum Herodian hidup berkiblat pada raja Herodes. Mereka terus mencari atau ambil muka terhadap raja, menjilat agar bisa mendapatkan jabatan, pangkat atau hormat sebagai orangnya Herodes. Demi memperoleh itu mereka rela melakukan apa saja yang diinginkan atau disuruh Herodes

(bersambung)


Sunday, June 10, 2018

Ragi Orang Saduki (4)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Dengan jelas Firman Tuhan berkata bahwa "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. " (Ibrani 11:1). Artinya, dengan iman kita bisa memperoleh dasar atau titik tolak akan sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak mampu kita lihat. Terus mencoba mempergunakan logika, mencoba merasionalisasi hal-hal yang jelas-jelas bukan berasal dari dunia akan selalu sia-sia. Itu bisa menghasilkan ragi-ragi yang membusukkan proses pertumbuhan iman kita, membuat kita kehilangan kepercayaan yang sangat dibutuhkan untuk bisa menuai segala kasih karunia Tuhan yang sudah diberikan lewat Kristus.

4. Orang Saduki mementingkan ritual keagamaan

Mereka ini mengkultuskan ritual dengan sangat setia, sehingga sulit menerima kebenaran yang dibawa oleh Kristus ke dunia. Bagi mereka, selama mezbah-mezbah masih mengepulkan asap, bila segala ritual dan tata cara masih dijalankan dengan setia, maka itu berarti keagamaan mereka terpenuhi dan Tuhan ada bersama mereka.

Ada banyak di antara orang percaya yang terjebak pada ragi orang Saduki yang satu ini. Mereka lebih mementingkan ritual dan tata cara sebagai sebuah kebiasaan dibandingkan esensi dasarnya. Bukan hubungan personal dengan Tuhan yang dikejar melainkan gestur, gerakan, posisi atau hafalan yang mereka anggap merupakan hal mutlak yang mendatangkan keselamatan. Yang ditakutkan adalah takut masuk neraka, takut setan atau takut-takut negatif lainnya ketimbang takut akan Tuhan yang artinya bersikap hormat dan segan, tidak ingin mengecewakan Tuhan karena kita mengasihiNya dan menghargai kasih karuniaNya dengan sepenuh hati. Mereka lebih mempertanyakan bagaimana posisi saat berdoa, bagaimana melipat tangan, apa yang harus dikatakan, bagaimana urutannya dan sebagainya daripada mempersembahkan diri sendiri sebagai persembahan yang hidup dan berkenan kepada Allah, yang dikatakan sebagai ibadah yang sejati (Roma 12:1).

Orang-orang Saduki dikatakan sebagai 'keturunan ular beludak' (Matius 3:7), angkatan yang jahat dan tidak setia (dalam versi lain dikatakan orang yang jahat dan berdosa) (Matius 16:4), juga orang-orang yang sudah benar-benar sesat (Markus 12:27). Seperti orang-orang Saduki di masa itu, orang yang terkena ragi mereka juga tidak akan bisa memperoleh mukjizat karena tidak percaya dan tidak termasuk orang-orang yang menerima kasih karunia sehingga tidak akan luput atau bisa melarikan diri dari hukuman Allah yang akan datang.

Seperti halnya ragi orang Farisi, ragi orang Saduki sangatlah berbahaya bagi perjalanan kita menuju kehidupan yang kekal. Ragi ini bisa berfermentasi dan mengembang dalam kerohanian kita tanpa kita sadari. Kalau kita tidak waspada mengawasinya, kita akan menjadi orang-orang yang paling malang di dunia ini seperti yang dikatakan Paulus. Sekali lagi, pesan ini disampaikan buat murid Yesus di jaman kita masing-masing. Hendaklah kita sikapi peringatan Yesus ini dengan serius, agar pertumbuhan iman kita tetap berjalan baik hingga menghasikan buah-buah matang yang baik yang membawa kebenaran nyata di muka bumi ini.

Hindari pemikiran yang terombang-ambing akibat ragi orang Saduki, berpeganglah sepenuhnya pada kebenaran Firman dengan iman yang teguh

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, June 9, 2018

Ragi Orang Saduki (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

3. Orang Saduki memakai logika manusia yang terbatas untuk memahami prinsip Kerajaan, termasuk mukjizat atau peristiwa supranatural

Orang-orang Saduki dipengaruhi oleh filsafat-filsafat rasional seperti yang dimiliki bangsa Yunani.

Hal ini pun dicatat dalam Markus 12:18-27. Mereka datang kepada Yesus dan mencoba menyampaikan penolakan mereka yang didasarkan pada logika. Mereka memakai peraturan Musa yang menyebutkan bahwa seandainya seorang pria beristri meninggal, maka istrinya harus kawin dengan salah satu saudaranya. Kalau kemudian suaminya terus meninggal dan si istri harus mengawini saudara lainnya, siapa yang nantinya menjadi suami saat dibangkitkan? Dan Yesus menegur keras mereka yang memakai cara pikir duniawi dalam memahami seperti apa hidup nantinya setelah kebangkitan. "Jawab Yesus kepada mereka: "Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga." (ay 24-25).

Orang-orang Saduki ini cenderung mempertanyakan segala sesuatu mengenai prinsip kebenaran dan bersikap negatif atau skeptis. Memakai logika dan kemampuan rasional manusia membuat orang Saduki sulit menerima kebenaran yang dibawa Kristus dari Tahta Bapa. Mereka suka berdebat, bukan untuk mencari kebenaran melainkan untuk mencari kesalahan. Mereka sibuk menyanggah dan melawan ketimbang mencoba meresapi kebenaran.

Perhatikanlah bahwa hingga hari ini konsep pemikiran yang sama masih banyak diadopsi oleh manusia. Ironisnya, bukan hanya terdapat pada orang yang belum percaya tapi juga diantara orang percaya. Orang-orang yang terkena ragi Saduki ini cenderung menilai segala sesuatu tentang iman dengan menggunakan logika dan memiliki pandangan negatif tentang pengajaran-pengajaran Yesus.

Mereka mencari penjelasan ilmiah terhadap perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan dan pengajaran yang berasal dari KerajaanNya, merasionalisasikan Firman sesuai kemampuan pikiran manusia bukan menganggap Firman sebagai sebuah otoritas tertinggi yang harus dipatuhi dan dilakukan dan sebuah kebenaran yang mutlak. Kalau mereka sulit mencari alasan rasional mempergunakan logika, maka sikap skeptis kemudian muncul dalam benak mereka.

Ada banyak prinsip Kerajaan yang lebih besar dari kemampuan logika manusia yang terbatas. Contoh kecil saja, kita tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan secanggih apapun teknologi dan ilmu pengetahuan hari ini. Memprediksi mungkin bisa, tapi tidak akan pernah ada yang bisa mengetahui dengan pasti. Alkitab sudah mengatakan bahwa kacamata yang dipakai seharusnya bukanlah kacamata kemampuan kita yang terbatas apalagi kacamata dunia, melainkan kacamata iman.

(bersambung)


Friday, June 8, 2018

Ragi Orang Saduki (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

 Lihatlah salah satu contoh saja saat orang Saduki dan Farisi ini merasa berhak untuk menguji Yesus dengan memintaNya memperlihatkan tanda dari sorga dalam Matius 16:1-4. Dan Yesus menjawab bahwa tidak akan ada mukjizat yang perlu diberikan sebagai bukti kepada orang yang jahat dan berdosa, atau angkatan yang jahat dan tidak setia seperti mereka (ay 4). Bagi orang-orang Saduki, Yesus hanyalamh manusia, paling banter guru atau nabi saja. Pengajaran Yesus, mukjizat yang diperbuatNya, pengampunanNya atas dosa dan berbagai hal lain yang membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias mereka anggap sebagai hal menyesatkan.

2. Orang Saduki mencoba meniadakan tanda-tanda supranatural , menolak kebangkitan, keberadaan malaikat dan roh

Secara lahiriah mereka beribadah, tapi mereka memungkiri kekuatannya dan mukjizat-mukjizat yang terjadi dari Tuhan. Dalam Kisah Rasul 23:8 dikatakan bahwa orang-orang Saduki menolak untuk percaya tentang adanya kebangkitan, keberadaan malaikat maupun roh. Dengan kata lain, mereka menganggap bahwa beribadah hanya untuk kehidupan yang baik di dunia ini saja. Pergi ke gereja, melakukan perbuatan baik, that's it. Tidak ada kebangkitan, tidak ada malaikat, tidak ada roh. Semua hanyalah tubuh dan jiwa saja. Itu sama saja dengan menolak Roh Kudus.

Paulus dengan tegas membantah hal ini. Dalam suratnya buat jemaat Korintus, ia berkata:

"Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan.  Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus--padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan. Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia." (1 Korintus 15:12-19).

Kalau kita menganggap ke gereja atau beribadah cuma urusan moral, kalau pengharapan dalam Kristus cuma untuk urusan duniawi saja, itu artinya kita tidak menerima bahwa Yesus bangkit. Dan kalau kita tidak percaya tentang kebangkitan Yesus, maka kepercayaan kita akan sia-sia saja, dan kita belum ditebus melainkan masih hidup dalam dosa. Dan itu artinya kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Kenapa paling malang? Karena kita sudah menaruh pengharapan dalam Kristus tapi tercemar ragi Saduki yang membuat pemahaman kita menjadi sesat.

(bersambung)


Thursday, June 7, 2018

Ragi Orang Saduki (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 16:6
==================
"Yesus berkata kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki."

Dalam renungan sebelumnya kita sudah melihat apa saja ragi Farisi itu. Kenapa dikatakan ragi? Karena ragi ini bisa larut dalam adonan-adonan pemahaman orang percaya dan kemudian mengembang di dalam pemahaman, pikiran dan perasaan mereka hingga berabad-abad kemudian. Sayangnya ragi ini bukannya membuat makanan atau minuman menjadi baik untuk dikonsumsi, tetapi akan membusukkan proses pertumbuhan iman kita.

Suatu kali saat Yesus bersama murid-muridNya pergi menyeberang danau, Yesus menyampaikan sebuah pesan. "Yesus berkata kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki." (Matius 16:6).

Perhatikan. Seperti kemarin dalam Lukas 12:1, Yesus memberi pesan untuk berjaga-jaga dan waspada terhadap ragi ini bukan kepada orang-orang di luar sana melainkan kepada para murid. Hari ini kita juga berdiri sebagai murid-murid Kristus, sehingga pesan ini pun ditujukan pula buat kita yang hidup pada masa sekarang. Kenapa ditujukan buat kita? Karena ragi ini mulai mengeluarkan mikroorganisme-mikroorganisme pembusuk dan mulai berfermentasi di saat kita tengah serius mengejar pertumbuhan iman. Jangan sampai, pertumbuhan kita yang harusnya baik dalam kebenaran kemudian terkena ragi ini kemudian menjadi busuk hasilnya. Bahayanya, ragi ini seringkali terjadi tanpa kita sadari. Kita pikir kita masih berjalan dalam koridor yang benar, kita masih melakukan kegiatan-kegiatan ibadah dan lainnya yang berhubungan dengan rohani, tapi ternyata paham, pola pikir dan isi hati kita diam-diam sudah terkena ragi yang terus berfermentasi dan mengembang disana.

Sebelum kita lanjutkan pada ragi berikutnya, ada baiknya kita lihat lagi secara ringkas apa saja ragi Farisi itu.
1. Orang Farisi merasa paling benar sehingga berhak menghakimi orang lain
2. Orang Farisi gemar pamer rohani, haus pujian dan penghormatan
3. Lebih mementingkan adat istiadat daripada menyatakan kasih

Ragi-ragi ini mudah muncul di saat kita semakin jauh belajar tentang Firman Tuhan, sehingga semakin jauh kita bertumbuh, semakin waspada pula kita seharusnya.

Hari ini mari kita lanjutkan kepada ragi berikutnya, yaitu ragi orang Saduki.

Siapa orang Saduki itu? Orang Saduki adalah kaum aristokrat  atau bangsawan Yahudi yang berkuasa di Yerusalem, baik di tengah kehidupan sosial kemasyarakatan maupun di dalam bait suci, karena para imam-imam termasuk imam besar juga digolongkan ke dalam kelompok aristokrat ini. Mereka ini suka mencobai atau berusaha menjebak Yesus seperti yang berkali-kali dicatat dalam Alkitab

Apa saja ragi orang Saduki ini dan seperti apa bahayanya sehingga kita harus waspadai sungguh-sungguh? Mari kita lihat beberapa poin berikut.

1. Orang Saduki menolak mengakui Yesus sebagai Anak Allah

Kalau kita lihat dalam Alkitab, orang Saduki bersama-sama dengan orang Farisi ini sangat gemar mencobai Yesus. Mencari-cari kesalahan Yesus menurut kitab yang mereka pegang dan berusaha melawan keberadaan atau jati diri Yesus yang sesungguhnya.

(bersambung)


Wednesday, June 6, 2018

Ragi Orang Farisi (6)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Dalam hal menjadi hamba Tuhan, perhatikan pula kepada siapa kemuliaan itu ditujukan, apakah kepada Tuhan sepenuhnya atau malah dipelintir untuk popularitas pribadi. Jika Yesus meminta kita untuk menggembalakan domba-dombaNya seperti dalam Yohanes 21:15-19, tidakkah keterlaluan apabila kita malah mengusir domba-dombaNya untuk pergi menjauh lewat sikap ragi Farisi ini? Tidakkah ironis jika anak-anak Tuhan yang seharusnya berperan dalam mengenalkan kebenaran justru membuat orang semakin jauh dari kebenaran?

Ragi orang Farisi akan dengan sangat mudah hinggap pada diri kita ketika kita tidak memperhatikan setiap langkah pertumbuhan kita. Mengetahui Firman Tuhan itu penting, tapi jika tidak disertai perbuatan, maka iman kita itu hanyalah sebentuk iman yang mati, dan disitulah kita bisa terjebak pada berbagai dosa kesombongan dan kemunafikan. Disitulah ragi orang Farisi bisa mencemarkan kita. Kecenderungan seperti ini memang cenderung hadir dalam diri manusia.

Oleh karenanya Paulus mengingatkan "Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!" (Roma 14:13). Betapa pesan ini baik untuk selalu kita ingat. Jika kita sudah dibebaskan dengan menerima Kristus sebagai Juru Selamat kita, langkah selanjutnya adalah komitmen kita untuk terus menjaga diri kita, agar kebebasan itu jangan sampai menjadi batu sandungan bagi yang lemah. (1 Korintus 8:9).

Sebagai wakil-wakilNya di dunia, seharusnya kita selalu melakukan apa yang bisa mendatangkan damai sejahtera dan bisa membangun bahkan menyelamatkan orang lain. "Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun” (Roma 14:19), bukan sebaliknya menghakimi orang lain, merasa paling benar, paling tahu lalu mencerminkan kemunafikan yang mendatangkan kepahitan dan menghancurkan masa depan orang.

Merusak pekerjaan Allah adalah fatal akibatnya. Setiap renungan yang saya tulis pun bagaikan pedang bermata dua yang bukan saja saya tujukan untuk membagi berkat kepada teman-teman, tapi juga berlaku sebagai peringatan bagi saya sendiri.

Hukuman yang lebih berat akan hadir kepada orang-orang yang bersikap seperti orang Farisi dan ahli Taurat pada masa itu. Karenanya, mari perhatikan benar bagaimana cara kita hidup agar kita tidak termasuk orang-orang yang terkontaminasi oleh ragi orangFarisi ini.

Hindari ragi Farisi dalam kehidupan kita sebagai orang percaya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, June 5, 2018

Ragi Orang Farisi (5)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Mari kita lihat ayat kembali ayat bacaan hari ini. "Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi." (Lukas 12:1). Kepada siapa peringatan agar mewaspadai ragi kemunafikan orang Farisi? Ayat ini mengatakan bahwa pesan tersebut ditujukan Yesus kepada murid-muridNya. Itu berarti termasuk buat kita semua.

Perhatikan apa kata Yesus yang keras mengenai kemunafikan mereka ini. "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. (Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.)" (Matius 23:13-14).

Hukuman yang lebih berat, itu akan menjadi ganjaran akan orang-orang dengan perilaku seperti ini. Kenapa lebih berat? Karena mereka sudah mengetahui kebenaran tetapi masih juga melanggarnya. Mereka menyelewengkan kebenaran dan memanfaatkannya hanya sebagai topeng agar mereka terlihat hebat di mata manusia. Dan bukan itu saja, mereka pun menjadi batu sandungan bagi banyak orang, sesuatu yang berbanding terbalik dengan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang percaya, yaitu sebagai terang dan garam bagi orang lain. (Matius 5:13-16).

Orang yang seharusnya menjadi guru dengan keteladanan tetapi malah sebaliknya merintangi orang lain untuk selamat lewat cara hidupnya yang sama sekali tidak menunjukkan pribadi Kristus yang sebenarnya dikatakan akan menerima konsekuensinya, dan itu akan jauh lebih berat dari orang-orang biasa. Yakobus pun mengingatkan seperti itu ketika menyinggung masalah dosa lidah. "Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat." (Yakobus 3:1).

Sangatlah disayangkan jika anak-anak Tuhan yang seharusnya menjadi cermin Kristus di dunia ternyata malah menjadi batu sandungan bagi sesamanya. Alangkah ironis ketika kita seharusnya menjadi terang dan garam, tetapi malah menjadi awan gelap dan empedu pahit bagi orang lain. Seharusnya kita menjadi sumber kasih seperti halnya Tuhan sendiri mengasihi kita, tapi kita malah menunjukkan sikap memusuhi, menghakimi, menjelek-jelekkan orang lain, atau malah menunjukkan perilaku yang tidak terpuji. Seharusnya kita bisa menyampaikan tentang isi hati Tuhan, tapi kita malah menyangkut pada tata cara atau ritual dan kemudian gagal menyatakan kasih, belas kasih dan esensi-esensi kebenaran lainnya secara nyata.

Lantas ada banyak orang percaya yang berpikir bahwa hidup lurus cukup dilakukan hanya pada hari Minggu saja, itupun hanya ketika berada di dalam ruang gereja. Begitu pulang, kehidupan duniawi dengan segala kesesatan pun kembali mewarnai hidup. Kemunafikan seperti ini bisa membawa konsekuensi fatal bagi kita, oleh karena itu kita harus ingat betul bahwa tidak hanya di gereja, tetapi dalam kehidupan sehari-hari pun Firman Tuhan tidak boleh sedikitpun dikesampingkan.

(bersambung)


Monday, June 4, 2018

Ragi Orang Farisi (4)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

3. Lebih mementingkan adat istiadat daripada menyatakan kasih

Lihatlah berapa kali orang-orang Farisi ini berani mengecam Yesus karena lebih mementingkan aturan hari Sabat daripada menyatakan kasih sebagai sesuatu yang lebih penting yang menjadi esensi dasar Kekristenan.

Misalnya pada saat para murid Yesus memetik gandum pada hari Sabat dalam Matius 12:1-8. Mereka mengecam karena menganggap itu melanggar aturan tidak boleh bekerja pada hari Sabat. Padahal saat itu para murid memetik bulir gandum karena mereka lapar. Dengan kata lain, lebih baik tidak makan dan sakit daripada melanggar aturan tersebut.

Dan Tuhan Yesus menanggapi dengan berkata "Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat." (ay 7-8).

Dalam kesempatan lain lihat sebuah peristiwa saat mereka berusaha mencari kesalahan Yesus. "Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka bertanya kepada-Nya: "Bolehkah menyembuhkan orang pada hari Sabat?" Maksud mereka ialah supaya dapat mempersalahkan Dia." (Matius 12:10).

Dan Yesus menegur mereka dengan memberi perumpamaan: " Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Jika seorang dari antara kamu mempunyai seekor domba dan domba itu terjatuh ke dalam lobang pada hari Sabat, tidakkah ia akan menangkapnya dan mengeluarkannya? Bukankah manusia jauh lebih berharga dari pada domba? Karena itu boleh berbuat baik pada hari Sabat." (ay 11-12). Atau lihatlah apa kata Yesus yang dicatat Markus berikut: "Kemudian kata-Nya kepada mereka: "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?" Tetapi mereka itu diam saja." (Markus 3:4).

Betapa degilnya. Mereka mengetahui hukum, tapi tidak melihat esensinya. Kalau ada orang yang terkena serangan jantung dan butuh pertolongan, tapi bertepatan dengan hari Sabat, haruskah mereka dibiarkan mati saja karena dokter tidak boleh bekerja di hari itu? Atau, kalau ada orang yang kelaparan, apakah mereka harus kita biarkan saja sampai hari Sabat berakhir?

Inilah ragi orang Farisi berikutnya yang bisa mengkontaminasi kita. Ada banyak orang yang terjebak lebih mementingkan tata cara peribadatan, liturgi, ritual, gerak tubuh atau rangkaian kata ketimbang memahami esensi dari kebenaran yang dibawa Yesus dari Bapa Surgawi.

(bersambung)


Sunday, June 3, 2018

Ragi Orang Farisi (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Seperti itulah sikap orang Farisi yang bisa menjadi ragi membusukkan orang lain. Mereka merasa diri paling benar dan boleh menghakimi orang lain. Dan Yesus menutup perumpamaan ini dengan sebuah peringatan yang penting untuk kita ingat supaya ragi Farisi tidak mencemarkan atau membusukkan kita:  "Percayalah," kata Yesus, "pada waktu pulang ke rumah, penagih pajak itulah yang diterima Allah dan bukan orang Farisi itu. Sebab setiap orang yang meninggikan dirinya akan direndahkan; dan setiap orang yang merendahkan dirinya akan ditinggikan." (ay 14, BIS).

Seperti poin yang saya berikan dalam renungan sebelumnya, Yesus menyambut orang-orang yang bersikap jujur, sadar diri dan bukan orang-orang yang hidup dengan pembenaran diri.

2. Orang Farisi gemar pamer rohani, haus pujian dan penghormatan


Saat Yesus mengajarkan bagaimana cara berdoa, Dia mengatakan sebuah hal penting yang harus kita ingat. "Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya." (Matius 6:5).

Doa seperti orang munafik, itulah yang gemar dilakukan orang Farisi. Mereka suka memamerkan betapa kudus dan rohaninya mereka. Berdiri di rumah ibadat bukan karena mereka ingin menyembah Tuhan dengan sepenuh hati melainkan agar dilihat orang. Atau di tikungan-tikungan jalan supaya siapapun yang lalu lalang bisa melihat dan memuji mereka. Mereka lebih mementingkan pamor, popularitas, pujian, penghormatan, apa kata orang lain ketimbang apa kata Tuhan tentang mereka.

Dalam kesempatan lain dalam Injil Matius Yesus kembali mengecam sikap orang Farisi ini. "Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi." (Matius 13:5-7).

Kembali kita lihat sikap munafik orang Farisi yang haus pujian dan penghormatan. Ini sikap yang berpotensi menjadi ragi, mencemarkan orang-orang yang serius dalam menggali Firman Tuhan dan membangun diri agar terus menjadi semakin baik kerohaniannya. Gemar mengatakan "puji Tuhan", "halleluya", "Tuhan baik", kalau di gereja atau di depan orang doanya kelihatan mantap baik ucapan maupun gaya, tapi hidup sama sekali tidak mencerminkan sebagai pelaku Firman sama sekali, jauh dari kebenaran. Itu yang terjadi kalau kita sudah terkena cemaran ragi ini.

(bersambung)


Saturday, June 2, 2018

Ragi Orang Farisi (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Untuk kali ini mari kita fokus pada ragi orang Farisi. Kenapa Yesus mempergunakan istilah ragi orang Farisi? Sikap apa saja yang membuat sikap mereka ini menjadi contoh yang harus diwaspadai? Apa saja ragi orang Farisi itu? Mari kita lihat satu persatu.

1. Orang Farisi merasa paling benar sehingga berhak menghakimi orang lain

Orang-orang Farisi dikenal sebagai pemuka-pemuka agama yang tampil sangat alim dimanapun mereka ada. Mereka mengenal dengan mendalam seluruh hukum-hukum Taurat dan seluk beluknya, hafal luar kepala. Mereka suka berkotbah di tempat-tempat umum, mengajarkan hukum tapi perilaku mereka jauh dari semua yang mereka ajarkan. Mereka selalu merasa diri paling benar, paling suci dan paling bersih, sehingga mereka merasa berhak untuk menghakimi orang lain menurut penilaian mereka pribadi.

Dari renungan kemarin kita sudah melihat hal tersebut lewat sikap Simon orang Farisi saat mengundang Yesus untuk makan ke rumahnya dalam Lukas 7:36-50. Ia tidak menyambut Yesus sebagaimana layaknya sambutan yang baik menurut adat kebiasaan Yahudi. Tidak mencium pipi kanan dan kiri, tidak mencuci kaki tamu dan tidak meminyaki kepalanya dengan wewangian. Sementara disana ada seorang wanita berdosa yang duduk di kaki Yesus. Air matanya tak henti-hentinya mengalir membasahi kaki Yesus. Itu ia pakai untuk mencuci kaki Yesus dan kemudian dia keringkan dengan rambutnya sendiri. Setelah itu ia meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi yang ia bawa.

Reaksi Simon orang Farisi adalah seperti ini: "Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa." (ay 39).

Kalau ia punya sedikit saja kasih dalam hatinya, ia tentu akan terharu dan terenyuh melihat ada sebuah permohonan akan belas kasihan Tuhan terjadi di rumahnya. Ia tentu bahagia bahwa ada pertobatan terjadi di bawah atapnya. Tapi yang ia rasakan justru rasa jijik, menghakimi wanita yang secara status dan kedudukan sangatlah jauh dari dirinya. Ia seorang Farisi, ahli kitab yang sangat rohani dan alim, sementara wanita ini penuh dengan dosa. Itu membuat jarak terbentang sangat jauh di antara mereka, dan itu membuatnya merasa berhak untuk menghakimi wanita tersebut.

Dalam contoh lain masih dari Injil Lukas, kita bisa melihat sebuah gambaran lewat perumpamaan yang disampaikan Yesus.

"Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini." (Lukas 18:10-13).

(bersambung)


Friday, June 1, 2018

Ragi Orang Farisi (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 12:1
=========================
"Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi."

Dalam Alkitab dikatakan: "Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara." (Roma 8:29). Lalu dalam ayat lain dikatakan: "Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar." (2 Korintus 3:18).

Our ultimate goal in life is to become more and more like Jesus. Itu yang harus kita kejar selama kesempatan hidup masih ada pada kita. Kita belajar, mendalami Firman Tuhan, lantas mengaplikasikannya dalam bentuk nyata pada kehidupan sehari-hari. We think like Jesus think, we do like Jesus does. We give forgiveness like He gives, we show compassion and love like He does. Kita harus terus berproses hingga kita bisa semakin mendekati gambaranNya sehingga gambar Yesus yang benar bisa tercermin lewat cara, sikap, tingkah laku dan perilaku kita di tengah masyarakat. Setiap kebenaran Firman yang kita pelajari haruslah kita terapkan dan membawa kita ke dalam pertumbuhan iman, karena kalau kita berhenti hanya pada mencari ilmu tanpa disertai kematangan rohani, kita akan tumbuh menjadi orang-orang sombong.

Banyak orang yang terjatuh pada kesombongan rohani di saat mereka sedang bertekun mengejar 'the ultimate goal' ini. Penyakit ini bisa mulai menjangkit di masa pertumbuhan dan bisa terus bercokol bahkan sampai kita seharusnya sudah terjun dalam pelayanan.

Suatu kali saya berkunjung ke rumah seorang teman yang kebetulan sedang mengadakan persekutuan di rumahnya. Saat berdoa sebelum pulang, dalam doanya mereka mengatakan seperti ini: "Tuhan, jatuhkanlah hukuman pada si A karena dia melakukan hal buruk. Pada si B yang sudah lama tidak datang, si C yang imannya sekarang lemah" dan seterusnya. Saya terkejut, karena doa seharusnya tidak ditujukan untuk menjatuhkan penghakiman pada orang lain, apalagi sampai meminta Tuhan memberi hukuman segala. Ini menjadi salah satu bentuk kesombongan rohani, yang sebenarnya bukanlah hal baru karena sudah terjadi setidaknya sejak 2000 tahun lalu lewat kelakuan orang-orang Farisi dan juga Saduki.

Mari kita lihat apa yang dikatakan Yesus dalam Injil Lukas akan hal ini.

"Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi." (Lukas 12:1).

Perhatikan kata "pertama-tama". Begitu Yesus mulai mengajar, ia langsung menyasar hal kemunafikan orang Farisi yang dikatakan sebagai ragi. Kita tahu bahwa ragi adalah zat meyebabkan fermentasi. Ragi mengandung mikroorganisme seperti bakteri dan beberapa jenis jamur yang melakukan fermentasi dan media biakan bagi mikroorganisme tersebut. Meskipun ragi dipakai untuk membuat beberapa jenis makanan dan minuman seperti tempe, tape, roti atau bir, ragi sifatnya membusukkan dan ini dipakai Yesus untuk menggambarkan kemunafikan yang terdapat dalam sikap orang-orang Farisi. Kalau Yesus langsung menuju kepada ragi orang Farisi begitu mulai mengajar, itu artinya hal ini sangatlah penting. Yesus tahu bahwa saat orang berproses untuk menjadi semakin baik dalam kerohanian, ada bahaya yang bersembunyi disana yang harus benar-benar mendapat perhatian serius, dan itu adalah soal kemunafikan.

Dalam Matius 16:6 Yesus mengatakan "Yesus berkata kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki". 

Siapa mereka ini? Orang Farisi adalah para pemimpin spiritual yang digambarkan sebagai pengamat dan penegak hukum Taurat yang sangat teliti. Mereka ini terkenal suka mencari dan memperhatikan hal-hal yang sangat kecil. Karena mereka menguasai hukum Taurat,  mereka menganggap diri mereka sebagai orang beragama yang saleh atau alim sehingga mereka memisahkan diri dari orang biasa. Orang Saduki adalah orang-orang dalam kelompok bangsawan yang berkuasa di Yerusalem, dimana imam-imam termasuk imam besar Yahudi biasanya juga digolongkan ke dalam kelompok ini.

(bersambung)


Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker