Sunday, August 19, 2018

Menyikapi Kemerdekaan Dengan Benar (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Galatia 5:13
====================
"Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih."

Dua hari lalu kita baru saja merayakan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke 73. 73 tahun bukanlah masa yang singkat. Seandainya saja kita semua sepakat menyikapi kemerdekaan dengan benar dan mengisinya dengan segala kebaikan sesuai panggilan masing-masing, negara ini sudah menjadi negara yang sangat makmur hari ini. Sayangnya dalam tiap generasi tampaknya jumlah mereka yang tidak tahu atau mungkin tidak peduli akan kemakmuran negeri lebih banyak dari mereka yang peduli. Bangsa ini pun kemudian harus jatuh bangun menghadapi banyak masalah yang berbeda-beda. Reformasi yang terjadi seharusnya memberi babak baru yang lebih baik.

Sayangnya, lagi-lagi kemerdekaan menyatakan pendapat disikapi keliru oleh banyak elemen bangsa. Kemerdekaan atau kebebasan itu diartikan sebagai boleh berbuat seenaknya, merugikan hak orang lain, merasa paling benar, dan melakukan hal-hal yang bisa mengarah pada tindakan anarkis. Menyebar kebencian dianggap bagian dari kebebasan atau kemerdekaan. Tidaklah heran kalau ada sebagian orang yang menganggap bahwa masa sebelum reformasi ternyata lebih baik, padahal itu karena banyak orang keliru menyikapi arti dari sebuah kemerdekaan.

Kebebasan, kemerdekaan, adalah sesuatu yang patut disyukuri. Sayang sekali ada banyak orang yan menyikapi kemerdekaan dengan salah kaprah dan kemudian entah sadar atau tidak bukannya memanjukan bangsa, tapi malah menyebabkan kemunduran hingga puluhan tahun. Sendi-sendi kehidupan gotong royong, kebersatuan dalam keberagaman yang sudah dengan susah payah dibangun dan dijaga dalam sekejap mata ambruk dan akan butuh waktu yang sangat lama untuk kembali dibangun. Itupun kalau semuanya sadar akan pentingnya hal ini. Kalau terus dibiarkan rusak, entah bagaimana masa depan bangsa ini dan semua yang hidup di dalamnya.

Hidup di alam kemerdekaan bisa membuat orang terlena sehingga mengira bahwa itu berarti mereka bisa melakukan segalanya sesuka hati. Bukan menyampaikan keluhan dengan cara baik, tapi memaksakan kehendak karena merasa absolut, paling benar. Kebencian yang tadinya mungkin seperti api dalam sekam kemudian menyala membakar apapun yang bisa disambarnya. Ada juga yang tidak tahu bagaimana harus menyikapi sebuah kemerdekaan itu. Tidak melakukan apa-apa, apatis dan hanya fokus pada kepentingan pemenuhan kebutuhan diri sendiri. Apa yang harusnya dilakukan orang percaya? Bagaimana kita seharusnya menyikapi kemerdekaan? Adakah Alkitab menyebutkan akan hal ini? Semua ini menjadi pertanyaan penting yang baik kita renungkan saat kita merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang sama-sama kita cintai.

Alkitab sudah memberi peringatan mengenai bagaimana cara menyikapi kemerdekaan. Pertama, ingatlah bahwa kita adalah orang-orang yang sudah dimerdekakan dari dosa dan berbagai kuk perhambaan. Kristus sendirilah yang telah memerdekakan kita. Paulus menyampaikan: "Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan." (Galatia 5:1). Ayat ini mengingatkan dengan jelas bahwa kemerdekaan yang telah diberikan Yesus bagi kita membuat kita merdeka bukan setengah-setengah melainkan sungguh-sungguh, sepenuhnya. Itu bukan lagi 'bakal' atau 'akan', tetapi 'telah' atau 'sudah'.

(bersambung)


Saturday, August 18, 2018

Merdeka! (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Hal ini dia ingatkan kepada jemaat Roma agar mereka sadar akan kesalahan mereka. "Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan." (ay 19). "Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran... Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal." (ay 20, 22).

Dan ia menambahkan sesuatu yang sangat penting untuk kita ingat: "Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." (ay 23). Ya, dalam Yesus Kristus. Itulah satu-satunya jalan untuk bisa terbebas sepenuhnya dari jerat iblis dengan berbagai jebakan dosanya. Dan itu bukan 'bakal', melainkan sudah Dia berikan bagi kita lewat penebusan di atas kayu salib.

"Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan." (Roma 10:9-10). Itulah cara yang harus kita lakukan agar kita benar-benar bisa mengalami sebuah kemerdekaan secara utuh dan sepenuhnya.

Tidak ada alasan bagi kita untuk terus hidup terjajah, karena bentuk kemerdekaan seutuhnya sudah dianugerahkan Tuhan lewat Kristus. Sudah selayaknya kita mensyukuri anugerah Tuhan yang luar biasa besar itu dengan hidup menjaga kekudusan dalam Yesus. Ingatlah bahwa kita adalah orang-orang merdeka, hiduplah sebagai orang merdeka dan tidak lagi tunduk kebiasaan-kebiasaan buruk yang mengarahkan kita ke dalam jurang kebinasaan sebagai jajahan iblis. Lalu isilah kemerdekaan bangsa ini dengan hal-hal positif sesuai panggilan kita masing-masing. Ada begitu banyak pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan, dan kita seharusnya bisa menjadi saluran berkat Tuhan bagi bangsa ini, terutama di kota dimana kita Tuhan tempatkan.

Kita tidak bisa mengisi kemerdekaan dengan karya nyata kalau kita sendiri belum merdeka. Karenanya jangan biarkan belenggu apapun masih mengikat kita. Hiduplah dalam keadaan benar-benar merdeka, dan ajak bangsa ini untuk bisa menikmati alam kemerdekaan yang makmur, damai dan bahagia seperti yang diimpikan oleh para pejuang yang sudah mengorbankan dirinya bagi kita. Mari kita doakan bangsa ini, agar kemerdekaannya mendatangkan kebaikan bagi kita semua.

We are not bound by sin. We are loved, we are a new creation. We are free. Live as one

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, August 17, 2018

Merdeka! (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kita mungkin tertawa melihat cara berpikir mereka yang sepertinya bodoh, tapi kita pun sering tanpa sadar bertindak seperti itu. Gelimang dosa dan kebiasaan buruk dari masa lalu terkadang terasa begitu nikmat dan masih begitu besar daya pikatnya, sehingga kita lebih memilih untuk membiarkan diri kita tersiksa dalam dosa ketimbang berbalik untuk mengikuti jalan Tuhan dengan penuh ketaatan.

Gambaran seperti ini pun merupakan kenyataan dari kehidupan kita. Kita berpikir bahwa kita sudah merdeka, dan dengan menerima Kristus seharusnya memang demikian. Tetapi sayangnya kita sebenarnya masih terikat dan karenanya tidak bisa melangkah maju memenuhi rencana Tuhan. Kita tidak kunjung merdeka dan tidak bisa menikmati hidup dalam kasih karunia. Tanpa sadar status merdeka kita pun hanya tinggal status, karena kenyataannya kita masih terjajah dan terbelenggu oleh berbagai hal, masih diperbudak oleh iblis dan terus menjadi hamba dosa. Begitu kuatnya ikatan ini, sehingga seperti bangsa Israel kita pun masih berpikir untuk lebih memilih menjadi bangsa terjajah ketimbang keluar dan menuai janji Tuhan.

Kemerdekaan itu sesungguhnya telah diberikan kepada kita lewat Kristus. Yesus berkata: "Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka." (Yohanes 8:36). Benar-benar merdeka, itu berarti seharusnya tidak ada lagi satupun yang mengikat kita. Tidak ada penjajah manapun yang berhak untuk berkuasa atas hidup kita. Sebuah kemerdekaan yang sebenar-benarnya seharusnya membuat kita layak hidup tanpa perlu lagi menjadi hamba atas penjajah yang dahulu memperbudak kita. Seharusnya demikian.

Satu-satunya yang bisa membuat kita masih bisa dikuasai adalah apabila kita mengijinkannya, apabila kita memilih untuk tetap berada dibawah kekuasaan si jahat, masih memilih menghamba pada dosa dan membiarkan diri kita kembali diikat ketimbang menikmati kehidupan yang benar-benar merdeka yang sudah disediakan Tuhan lewat Kristus. Jika itu yang terjadi, kita sama seperti bangsa Israel pada masa perbudakan Mesir tadi. Kita tidak memandang sesuatu yang begitu besar yang Tuhan sudah sediakan di depan sana sehingga mengabaikannya. Kita lebih mau kembali kepada perbudakan dan binasa disana ketimbang menerima kebaikan Tuhan dalam kepenuhan.

Betapa sedihnya Tuhan Yesus kalau itu yang menjadi sikap dan keputusan kita. Kita tidak menghargai apa yang sudah Dia lakukan bagi kita, kita tidak mau menerima keselamatan kekal dan lebih memilih binasa dalam kuasa si jahat.

Kemerdekaan yang sebenar-benarnya bukanlah sekedar omongan belaka, tetapi merupakan sebuah anugerah luar biasa yang sudah diberikan kepada kita. Masalahnya adalah, apakah kita benar-benar mau menghargai kemerdekaan sebenar-benarnya itu secara sungguh-sungguh atau kita masih memilih hidup di bawah perbudakan, menjadi hamba dosa, menjadi tawanan iblis. Paulus pun mengingatkan hal ini. "Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran." (Roma 6:18).

(bersambung)


Thursday, August 16, 2018

Merdeka! (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Keluaran 14:12
========================
"Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini."

1945-2018. 73 tahun kita sudah merdeka. Kemerdekaan secara resmi diproklamirkan oleh bapak bangsa Soekarno dan Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 tepat jam 10 pagi. Sejak saat itu Indonesia dinyatakan resmi merdeka. Meski demikian, ada banyak gejolak bahkan serangan yang membuat Indonesia masih harus terus berjuang. Kalau dulu berjuang merebut, setelah 1945 berjuang mempertahankan kemderdekaan. Banyak pahlawan yang gugur dalam mempertahankan kemerdekaan. Mereka rela mengorbankan nyawa demi bangsa dan kita semua yang hidup di dalamnya. Mereka ingin agar kita bisa hidup dalam damai dan bahagia di alam kemerdekaan, yang secara logika pasti lebih baik daripada hidup dalam alam penjajahan. Kalau mereka melihat bagaimana bangsanya hari ini, mereka tentu bersedih. Apa yang mereka perjuangkan dan korbankan seperti sia-sia. Begitu banyak orang yang tidak menghargai pengorbanan mereka dan masih berusaha membuat negara ini porak poranda demi kepentingan pribadi dan golongan yang sesaat. Kepentingannya sesaat, hancurnya massive untuk waktu yang lama.

Ada banyak orang yang gagal menyikapi kemerdekaan. Dan dalam hal iman pun sama. Ada banyak orang percaya yang gagal, gagap atau keliru menyikapi sebuah kemerdekaan yang sudah dianugerahkan lewat penebusan langsung oleh Yesus. Seharusnya kehidupan sudah bebas dari belenggu kutuk, tapi banyak yang memilih untuk masih terikat atau malah kembali masuk ke dalam jerat kutuk. Keinginan daging masih terlalu memikat sehingga mereka masih enggan beranjak dari kondisi itu untuk masuk ke dalam alam merdeka yang sebenarnya sudah disediakan Tuhan atas dasar kasihNya yang begitu besar bagi kita. Benar, kita tinggal di negara yang sudah merdeka. Tapi saat bangsa ini masih memiliki begitu banyak belenggu yang menghalangi sebuah kemerdekaan seperti yang diinginkan oleh para pejuang dan pendahulu kita, kita sendiri masih terikat oleh banyak hal yang membuat kita sulit untuk maju dalam menghidupi kebenaran sesuai prinsip Kerajaan. Dan itu akan membuat kita tidak berdampak apa-apa untuk mengisi dan melakukan sesuatu bagi bangsa ini.

Bangsa Israel sempat mengalami masa-masa terjajah beberapa kali. Seperti bangsa kita yang mengalami kerja paksa di jaman pendudukan Belanda dan Jepang, mereka pun pernah mengalaminya ketika berada di bawah kekuasaan Mesir. "Sebab itu pengawas-pengawas rodi ditempatkan atas mereka untuk menindas mereka dengan kerja paksa: mereka harus mendirikan bagi Firaun kota-kota perbekalan, yakni Pitom dan Raamses." (Keluaran 1:11).

Mereka diharuskan melakukan kerja rodi, alias kerja paksa yang diwajibkan oleh bangsa penjajah tanpa memperoleh upah apapun. Gambaran kerja rodi/paksa itu sangat berat. "Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja, dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di padang, ya segala pekerjaan yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka itu." (ay 13-14).

Ditengah terik matahari, mereka siap tidak siap, sehat tidak sehat, kuat tidak kuat, muda dan lanjut usia harus bekerja mengangkat batu, memacul dan sebagainya sesuai keinginan penguasa Mesir. Kalau sedikit saja lambat, maka lecutan cambuk atau pukulan akan mereka terima. Terjatuh, pingsan akibat kelelahan tidak membuat mereka iba. Hukuman pun akan jatuh atas mereka. Kalau ada yang kemudian meninggal tinggal dibuang saja. Begitu tidak berharganya, begitu rendahnya, begitu hinanya. Belakangan mereka pun kembali mengalami pembuangan di Babel dan kembali harus mengalami kerja paksa ini. Jelas menjadi budak terjajah seperti itu sangatlah menyakitkan. Pahit, getir dan penuh penderitaan.

Dalam keadaan demikian, situasi apapun akan lebih baik, apalagi kalau merdeka dan diberikan tanah yang subur dimana mereka bisa membangun kehidupan secara baik dan makmur. Itu jelas jauh lebih baik dibandingkan bekerja sebagai budak kerja paksa dibawah penindasan bangsa lain. Bukankah begitu seharusnya? Tapi ternyata bangsa Israel punya pandangan lain! Mereka berkata: "Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini." (Keluaran 14:12).

(bersambung)


Wednesday, August 15, 2018

Keep Praying, Never Give Up (5)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)


Paulus pun dalam beberapa kesempatan menunjuk pada doa yang terus dilakukan siang dan malam dengan sungguh-sungguh. Salah satu contoh adalah ketika Paulus menyatakan betapa ia terus berdoa siang dan malam dalam kerinduan untuk bertemu dengan para jemaat di Tesalonika dan melayani mereka. (1 Tesalonika 3:10). Lalu dalam Kolose 4:12, rekan sepelayanan Paulus bernama Epafras juga menunjukkan bagaimana ia bergumul dalam doa agar jemaat di Kolose tetap bisa berdiri teguh sebagai orang-orang yang dewasa imannya dan berkeyakinan penuh dengan segala hal yang Tuhan kehendaki. Bergumul dalam doa saat di penjara menanti dieksekusi menunjukkan bagaimana besarnya iman Epafras yang sepenuhnya percaya kepada Tuhan. Dan jelas, orang yang bergumul dalam doa menunjukkan kegigihan dalam doa tanpa jemu-jemu.

Berdoa dengan tidak jemu-jemu, doa yang dipanjatkan terus menerus siang dan malam bukanlah berarti doa harus terus kita ulang-ulang atau bertele-tele. Bukan pula dengan cara-cara memaksa. Hal berdoa diajarkan dengan jelas oleh Yesus sendiri dalam Matius 6:5-15, dan hendaknya itu kita jadikan acuan kita. Bukan karena banyaknya kata-kata, keindahan rangkaian kata dalam doa, tapi doa yang disertai iman lah yang penting. Bukan pula doa yang cuma dilakukan karena ada permintaan dan kebutuhan, menjadikan doa sebagai paket berisi daftar permintaan, tapi dasarkan doa sebagai sarana bagi kita untuk membina keintiman hubungan dengan Tuhan.

Sejauh mana kita mampu bergantung dan mau mengandalkan Tuhan, itu akan terlihat dari kesetiaan kita dalam berdoa. Dalam Roma kita diingatkan agar senantiasa "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" (Roma 12:12).

Bertekun dalam doa, berdoa dengan tidak jemu-jemu, berdoa siang dan malam, itu tidak akan pernah berakhir sia-sia. Ada kalanya jawaban Tuhan tidak akan segera datang. Mungkin waktunya belum tepat, mungkin Tuhan masih merasa perlu untuk menguji keteguhan dan ketekunan kita, tapi pada saatnya, Tuhan akan menolong dan memberkati kita sesuai janji-janjiNya. Karena itu, hindarilah ketidaksabaran yang bisa mengarahkan kita kepada rupa-rupa kesesatan ketika kita memilih untuk mencari alternatif atau jalan pintas yang justru akan memperburuk situasi.

Adalah jauh lebih penting untuk membina hubungan karib dengan Tuhan, dan sarana untuk itu adalah melalui doa. Bertekun dan konsisten lah dalam berdoa. Jangan pernah jenuh, jangan pernah jemu, meski saat ini jawaban sepertinya belum terlihat.

Even if you haven't seen the answer, keep praying, never give up

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, August 14, 2018

Keep Praying, Never Give Up (4)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

3. Doa yang tidak jemu-jemu melatih diri kita untuk hidup dengan iman

"Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17). Iman timbul dari pendengaran kita oleh Firman, tapi kita akan sulit mengalami pertumbuhan iman apabila kita tidak melakukan Firman dalam hidup kita sehari-hari. Doa yang tidak jemu-jemu merupakan salah satu bentuk nyata keyakinan kita akan Firman Tuhan, yang kalau kita lakukan tentu akan terus melatih diri kita untuk hidup berpegang pada iman.

4. Doa yang tidak jemu-jemu menunjukkan seberapa besar kita menggantungkan harapan kepada Tuhan

Ketekunan, kegigihan kita dalam berdoa juga bisa dijadikan gambaran tentang sejauh mana kita menggantungkan harapan kepada Tuhan. Apakah kita benar-benar hanya menggantungkan harapan pada Tuhan saja atau hanya menjadikan doa sebagai salah satu alternatif. Bisa jadi di satu sisi berdoa, di sisi lain mencoba mengandalkan banyak hal lainnya seperti harta yang kita miliki, koneksi dengan orang lain atau bahkan lewat kuasa-kuasa gelap. Kalau benar kita hanya mengandalkan Tuhan saja dan bukan menjadikan Tuhan hanya sebagai satu dari sekian alternatif, tentu kita akan terus berdoa dengan sepenuh hati, dengan segenap kekuatan iman kita. Jadi dengan kata lain, apakah kita sepenuhnya menggantungkan harapan atau menantikan jawaban pada Tuhan atau tidak, itu akan terlihat dari seberapa tekun kita berdoa.

5. Doa yang tidak jemu-jemu menujukkan kesungguhan kita

Apakah kita sungguh-sungguh atau tidak dalam berdoa akan tercermin dari seberapa besar intensitas kita berdoa. Orang yang tidak sungguh-sungguh biasanya akan cepat berhenti, cepat menyerah dan mudah putus asa. Atau hanya berdoa ala kadarnya saja, karena kurang percaya akan kekuatan doa. Tapi orang yang serius dalam menanti pertolongan Tuhan akan terus berdoa bukan saja sampai doa mereka dikabulkan tapi juga akan terus menjadikan kehidupan doa sebagai sarana membangun hubungan yang kuat dengan Tuhan.

Dari lima poin di atas kita bisa melihat bahwa doa yang tidak jemu-jemu menunjukkan keteguhan hati dengan pengharapan tanpa henti dan keyakinan sepenuhnya kepada Tuhan. Tanpa itu maka orang akan cepat berhenti berdoa, mudah kembali putus asa, merasa dikecewakan Tuhan dan akibatnya menjadi terombang-ambing atau bahkan meninggalkan Tuhan sama sekali.

Tuhan memang tidak akan mengulur-ulur waktu selama doa kita benar dan disertai motivasi yang benar pula. Tetapi jelaslah bahwa disamping itu kita pun perlu untuk berdoa tanpa henti dalam menantikan jawaban dari Tuhan.

Apa yang Tuhan Yesus ajarkan lewat perumpamaan seorang janda dan hakim yang lalim dalam Lukas 18 tersebut dengan jelas mengingatkan pentingnya untuk terus berdoa tanpa jemu-jemu. Yesus mengajarkan bagaimana besarnya kuasa doa, bagaimana kita sebagai anak-anak Allah sebaiknya terus berdoa siang dan malam dengan tidak jemu-jemu, tanpa putus asa, tanpa putus pengharapan melainkan dengan keyakinan teguh bahwa Tuhan akan memberi pertolongan tepat pada saatnya.

(bersambung)


Monday, August 13, 2018

Keep Praying, Never Give Up (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Seperti apa doa tanpa jemu-jemu itu? Doa tanpa jemu-jemu adalah doa yang terus kita panjatkan tanpa bosan, terus menerus dengan disertai iman. Kegigihan dan keuletan tentu termasuk pula dari sebuah aktivitas tak jemu-jemu. Dalam bahasa Inggrisnya kata "mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu" disebutkan dengan "they have should always pray and not give up." Harus tetap berdoa dan tidak menyerah. Terus berdoa dengan penuh harapan tanpa putus asa.

Tentu doa ini bukan berarti kita menjadikannya sebagai media untuk merengek kepada Tuhan, atau mendesak Tuhan untuk mengabulkan permintaan kita secepat yang kita mau. Doa tanpa jemu-jemu juga bukan doa dilakukan bertele-tele. Yesus sudah mengingatkan hal itu dengan jelas dalam Matius 6:7. "Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan." Berdoa yang tidak jemu-jemu tidaklah sama dengan doa yang bertele-tele. Itu bukan berarti kita harus mengkonsep doa dengan panjang lebar dan diisi dengan kepintaran merangkai kata, membuatnya penuh perulangan melainkan tetap harus datang dari hati dan disampaikan dengan iman.

Kalau begitu, kenapa kita harus berdoa dengan tidak jemu-jemu? Untuk apa atau apa gunanya bagi kita? Setidaknya ada 5 alasan mengapa doa harus disampaikan seperti itu. Mari kita lihat satu persatu.

1. Doa yang tidak jemu-jemu menunjukkan kesungguhan iman kita kepada Tuhan

Doa adalah sarana kita untuk membangun hubungan dengan Tuhan. Doa juga merupakan bentuk ungkapan atau deklarasi iman kita dihadapan Tuhan yang disampaikan lewat kata. Saat kita berdoa, itu menunjukkan seperti apa iman kita dan kepada siapa kita meletakkan iman. Doa yang disampaikan dengan tidak jemu-jemu menunjukkan seperti apa kondisi iman kita saat ini. Iman haruslah disertai percaya, dan hanya orang yang percayalah yang mau terus berdoa meski jawaban belum datang saat ini. Sederhananya, orang tidak akan mau terus berdoa kalau mereka tidak atau kurang cukup percaya. Orang yang imannya rapuh akan segera bosan atau malas berdoa meski baru sebentar karena ia tidak punya cukup iman untuk percaya akan pertolongan Tuhan, sebaliknya orang yang punya iman kuat tahu bahwa pertolongan Tuhan akan datang, karenanya mereka akan terus berdoa. Jadi doa bisa menunjukkan sampai dimana kesungguhan iman kita kepada Tuhan.

2. Doa yang tidak jemu-jemu menunjukkan sampai dimana kesetiaan dan kesabaran kita pada Tuhan untuk mendapatkan jawaban atas doa

Dalam mengharapkan pertolongan Tuhan saat menghadapi permasalahan terutama yang berat, seberapa besar kesabaran kita untuk berharap kepadaNya? Seringkali ketidaksabaran ini menjadi penghalang terbesar bagi kita untuk menikmati janji-janji Tuhan. Awalnya mungkin kita berdoa, tapi ketika jawaban tidak kunjung datang secepat yang kita kehendaki, intensitas doa pun menurun drastis hingga akhirnya berhenti total. Sebagian orang akan segera mencari alternatif-alternatif lain dengan perasaan kecewa kepada Tuhan. Maka orang yang melakukan doa yang terus dilakukan tanpa rasa jemu pun bisa dijadikan ukuran sampai dimana kesetiaan kita untuk bergantung pada Tuhan saja dan sebesar apa kesabaran yang ada pada kita dalam menanti jawaban dari Tuhan.

(bersambung)


Sunday, August 12, 2018

Keep Praying, Never Give Up (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Bagaimana halnya dengan doa? Sadarkah kita bahwa dalam berdoa pun dibutuhkan keseriusan, kesungguhan dan ketekunan, kegigihan yang tidak jemu-jemu seperti contoh-contoh di atas? Banyak orang yang berdoa hanya selintas saja, ala kadarnya. Ada yang menjadikannya sebagai salah satu alternatif saja untuk bisa memperoleh apa yang diinginkan. Dijawab syukur, tidak dijawab ya sudah, cari alternatif lain. Atau ada pula yang mencoba berdoa sebentar saja, tapi saat tidak langsung dikabulkan langsung kecewa dan menganggap Tuhan tidak peduli, tidak sayang atau bahkan segera meragukan FirmanNya bahkan eksistensiNya.

Bagi mereka ini, doa dianggap sebagai sarana meminta yang Tuhan harus dikabulkan sesuai waktu yang mereka mau, atau kalau tidak maka Tuhan dipersalahkan. Ada pula orang yang mengira bahwa doa berulang-ulang itu buang waktu, waste of time. Bukankah Tuhan menyelidiki hati kita dan tahu segala sesuatu yang ada disana? Bukankah tanpa diminta pun Tuhan tahu apa yang kita butuhkan? Benar. Tuhan mengerti kita lebih dari kita mengenal diri sendiri. Tapi itu bukan berarti bahwa kita tidak perlu lagi berdoa. Dan hal ini diingatkan langsung oleh Yesus.

Suatu kali Yesus menyampaikan tentang hal ini lewat sebuah perumpamaan yang dicatat dalam Injil Lukas 18:1-8. Perikop ini dibuka dengan kalimat berikut: "Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu." (Lukas 18:1).

Yesus mengambil perumpamaan tentang seorang janda, sosok yang lemah dan sering digambarkan sebagai figur yang tertindas, hidup susah dalam kemiskinan dan kerap diperlakukan tidak adil dalam masyarakat, dan seorang hakim yang lalim. Dalam perumpamaan ini Yesus mengisahkan tentang seorang janda diceritakan terus memohon kepada hakim yang lalim agar berkenan membela haknya. (ay 3). Sementara hakim itu bukanlah orang yang takut akan Tuhan, dan mempunyai sikap arogan yang  tidak menghormati siapapun. Sesuai dengan gambaran pribadi si hakim, sudah tentu ia menolak mentah-mentah permohonan janda ini. Tapi lihatlah kegigihan ibu janda ini. Ia tidak jemu-jemu mendatanginya dan memohon, dan akhirnya ia berhasil meluluhkan hakim yang lalim itu. Dan Yesus pun berkata, "Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu!" (ay 6).

Kalau hakim yang lalim saja bisa luluh terhadap permohonan tidak jemu-jemu dari seorang janda dan pada akhirnya mau mengabulkan permintaan si janda, mungkinkah Tuhan yang begitu penuh kasih setia, begitu mengasihi kita manusia ciptaanNya sendiridan menganggap kita begitu istimewa tidak mendengarkan seruan kita?  Inilah yang dikatakan Yesus. "Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?" (ay 7).

Tuhan tidak akan mengulur-ulur waktu. Ia akan menjawab doa kita tepat pada waktunya, selama doa dilakukan dengan benar dengan meminta sesuatu yang baik dan perlu bukan untuk pemenuhan kesenangan diri sendiri (Yakobus 4:3), sudah terlebih dahulu menyelesaikan segala ganjalan yang ada dalam hati terhadap orang lain (Markus 11:25) dan hidup bijaksana dan menghormati pasangan hidupnya (1 Petrus 3:7). Meski demikian, doa tidak boleh dilakukan cuma sekedarnya melainkan datang dari hati yang tulus, jujur dan dilakukan dengan sungguh-sungguh tanpa jemu-jemu.

(bersambung)


Saturday, August 11, 2018

Keep Praying, Never Give Up (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 18:1
====================
"Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu."

Saat duduk ingin mempersiapkan renungan ini, tiba-tiba aliran listrik padam. Karena baterai laptop saya sudah lemah, baterai ini tidak cukup kuat untuk dipakai untuk waktu yang panjang. Saya pun memutuskan untuk menunggu sampai aliran kembali nyala. Praktis tidak banyak yang bisa saya lakukan saat listrik mati. Saya tidak bisa menunggu sambil nonton tv. Penerangan seadanya hanya pakai lilin, jadi untuk membaca buku pun tidak terlalu disarankan karena bisa membuat mata saya yang sudah plus semakin buruk kalau dipaksakan. Jadi saya duduk saja sambil berharap pemadaman tidak berlangsung lama.

Selagi menunggu, saya pun berpikir betapa beruntungnya kita yang hidup di jaman setelah listrik dan lampu sudah ditemukan. Hari ini kebutuhan akan aliran listrik bagi manusia terutama yang tinggal di kota bisa jadi sama pentingnya dengan kebutuhan akan makan dan minum. Aktivitas nyaris terhenti jika tidak ada listrik. Kita tidak bisa kerja, tidak bisa melakukan banyak hal saat kita tidak mendapatkan akses kepada sumber daya yaitu listrik.

Apa jadinya sekiranya para penemu listrik dan lampu ini tidak cukup gigih dalam melakukan riset dan percobaan-percobaan ilmiahnya? Semua dimulai pada pertengahan tahun 1700 an saat Benjamin Franklin menemukan bahwa listrik memiliki elemen positif dan negatif dimana listrik mengalir diantara kedua elemen ini. Ia pun percaya bahwa petir juga merupakan bentuk dari aliran listrik yang mengalir di antara elemen positif dan negatif. Lalu ia pun melakukan eksperimen yang sangat terkenal dengan menggunakan layangan. Ia menerbangkan layangan di saat badai petir, dimana ia mengikatkan sebuah kunci dari besi pada layangan tersebut. Maka petir kemudian menyengat besi di layangan dan mengalirkan listrik pada benang. Untung dia tidak sampai celaka, tapi kemudian ia berhasil membuktikan bahwa petir memang merupakan listrik yang mengalir dari antara dua elemen tersebut.

Sebelum masa Benjamin Franklin, ada nama sperti William Gilbert dan Thomas Browne yang pernah meneliti listrik, bahkan diklaim sebagai ilmuwan pertama yang menggunakan istilah 'electricity'. Kemudian sekitar 1 abad setelah Franklin, ada nama besar yaitu Thomas Alva Edision yang menemukan bola lampu, yang kemudian membuat dunia menjadi terang benderang.

Bayangkan seandainya Benjamin Franklin, William Gilbert, Thomas Browne dan Thomas Alva Edison tidak gigih dalam melakukan penelitian mereka. Bayangkan kalau mereka adalah tipe orang yang cepat bosan dan menyerah seperti banyak orang hari ini. Thomas Alva Edison bahkan pernah mengungkapkan optimisme dan sikap positifnya yang sampai sekarang masih sering diingat orang dan dipakai sebagai sebuah quote yang mengingatkan semangat pantang menyerah.

 Saat pada suatu hari ia ditanya wartawan, apa rasanya gagal sampai 10 ribu kali? Dia menjawab: "I have not failed. I've just found 10,000 ways that won't work." Katanya, "saya tidak gagal. Saya hanya menemukan 10 ribu cara yang tidak akan menghasilkan apa-apa." Itu sebuah bentuk optimisme yang kemudian membuahkan hasil yang dinikmati dan menjadi sumber teknologi modern lainnya pada generasi selanjutnya hingga yang akan datang. Anda bisa bayangkan berapa uang yang harus dikeluarkannya dan berapa lama waktu yang harus ia habiskan sampai ia menemukan bola lampu.

Berapa kali kita tahan melakukan percobaan seperti itu? Sepuluh? Seratus? Seribu? Dan kalau Edison kemudian berhenti karena tidak kunjung 'berhasil' menemukan lampu, dunia mungkin masih bergantung pada lilin sampai hari ini. Jangankan untuk sebuah penemuan sebesar itu, untuk bisa menemukan takaran yang paling pas untuk membuat masakan enak saja kita seringkali perlu banyak trial and error hingga akhirnya bisa menemukannya.

Untuk sesuatu yang kita anggap penting, biasanya kita akan berusaha sedemikian rupa memperjuangkannya hingga berhasil. Saat kita jatuh cinta pada seseorang, kita akan berusaha dengan segenap kemampuan kita untuk bisa memenangkan hatinya. Kalau malas-malasan, atau cepat bosan, hampir bisa dipastikan bahwa kita akan gagal mendapatkan orang yang kita dambakan. Seringkali keberhasilan akan sangat tergantung dari seberapa gigih kita memperjuangkannya. Bagaimana dengan doa?

(bersambung)


Friday, August 10, 2018

"Maaf, Bapak Sedang Sibuk" (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!

(sambungan)

Dari pasal ini saja kita sudah bisa melihat bahwa Tuhan menyelidiki dan mengenal kita (ay 1), kita diciptakannya sebagai ciptaan yang dahsyat dan ajaib (13-14), Dia sudah merencanakan segala yang indah bagi kita jauh sebelum kita dilahirkan (ay 15-16). Bukan cuma mengenal, tapi Dia juga sangat peduli. Tidak peduli dimanapun kita berada, apakah dalam keadaan baik maupun tidak, Tuhan akan selalu ada bersama kita. Dia akan selalu mengulurkan tanganNya menuntun, menolong, memegang, membimbing dan melindungi kita. (ay 8-10). Jika kita menyadari hal ini, kita seharusnya sadar bahwa kita tidak pernah dibiarkanNya sendirian menghadapi segala masalah atau beban. We are never alone, because God is always be with us through all the way. 

Kalau Tuhan selalu punya waktu buat kita, bukankah keterlaluan kalau kita yang malah merasa terlalu sibuk untuk berhubungan denganNya? Ada banyak orang yang hanya mencari Tuhan saat butuh sesuatu, apakah itu bantuan, permintaan dan sebagainya. Jika anda punya anak dan anak anda hanya mau bertemu dengan anda kalau dia butuh sesuatu, tentu anda akan merasa sedih dan kecewa bukan? Sebagai orang tua, kita tentu ingin anak-anak kita dekat pada kita, mau berbagi cerita apa yang mereka alami sepanjang hari, menunjukkan mereka mengasihi kita dan rindu untuk merasakan kasih dari kita.

Sebuah hubungan yang sehat tidak mungkin dibangun kalau hanya didasarkan pada mencari untung alias untung-rugi. Sebuah hubungan yang erat tidak mungkin dibangun hanya oleh satu pihak. Diperlukan kerinduan dari kedua belah pihak supaya sebuah hubungan bisa berjalan dengan baik dan harmonis. Demikian pula hubungan antara kita dengan Tuhan.

 Kalau Tuhan tidak pernah terlalu sibuk dan selalu peduli pada kita, masalahnya tinggal di kita. Apakah kita menganggap penting hubungan dengan Tuhan? Apakah kita menyadari bahwa kalau kita boleh berhubungan dengan Tuhan hari ini, itu merupakan kasih karunia yang hanya dimungkinkan oleh penebusan Kristus? Dan, apakah kita menyadari betapa beruntungnya kita diperkenankan untuk bisa langsung berhubungan dengan Tuhan tanpa perlu perantara lagi seperti pada masa Perjanjian Lama? Apakah kita menyadari itu sebagai sesuatu yang istimewa sehingga kita menghargainya dengan sangat tinggi dan tidak menyia-nyiakannya? Semua ini menjadi pertanyaan yang penting untuk kita renungkan.

Sekali lagi, manusia bisa terlalu sibuk dan memilih siapa yang ia berkenan temui atau bantu, tapi Tuhan tidak. Dia tidak pernah terlalu sibuk buat kita tanpa memandang siapa kita, latar belakang, usia, dan sebagainya. Tuhan akan selalu memiliki waktu seluas-luasnya untuk siapapun yang datang kepadaNya. Dia akan dengan senang hati menerima siapapun yang menghadapNya, kapan dan dimanapun.

Tuhan tidak pernah terlalu sibuk! Dia selalu mendengarkan doa kita. "Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu" (Yeremia 29:12). Tuhan siap menjawab doa-doa kita. Karena itu ingatlah bahwa kapanpun kita butuh menyampaikan sesuatu kepada Tuhan, Tuhan akan selalu siap untuk mendengar. whenever we need to talk, He will always be available for us and will happily welcome us. 

Adakah yang membebani anda hari ini? Sudahkah anda datang kepadaNya? Tuhan tidak pernah terlalu sibuk buat anda. Dia menunggu anda.

God is neer too busy to listen to you, don't be too busy to talk to Him

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, August 9, 2018

"Maaf, Bapak Sedang Sibuk" (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Ketika dunia menganggap kasih hanya layak diberikan kepada orang-orang terdekat dan yang baik atau menguntungkan saja, Yesus mengajarkan sebaliknya. Sebuah kasih haruslah mencakup kehidupan kita secara luas dan aplikasinya harus mampu menyentuh orang-orang yang jahat kepada kita, memusuhi atau bahkan tega menganiaya kita. Jika kita sanggup berbuat demikian, Yesus berkata: "Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar." (Matius 5:45).

Lihatlah bahwa Tuhan tidak saja mengurus anak-anakNya yang patuh kepadaNya saja, tetapi Dia juga sangat peduli kepada masa depan orang-orang yang tidak benar. Tuhan tidak pernah terlalu sibuk untuk manusia, Dia tidak pernah menutup diri dari kita. Jika manusia bisa merasa dirinya sudah terlalu sibuk, bisakah anda bayangkan bagaimana sibuknya Tuhan mengurusi seisi dunia ini dari satu generasi ke generasi berikutnya? Itu bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah, tetapi Tuhan dengan senang hati selalu membuka DiriNya bagi kita, bahkan rindu untuk menerima kita bercerita, tertawa dan menangis bersama-sama denganNya.

Daud menggambarkan kesediaan Tuhan ini secara panjang lebar dalam Mazmur 34. Daud berkata "Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya." (Mazmur 34:7). Bukankah itu sangat melegakan? Ketika kita berhadapan dengan kesulitan lalu berseru, Tuhan mendengar. Tuhan tidak berkata, "maaf, Saya terlalu sibuk untuk anda", atau "Maaf, anda kurang penting dibandingkan yang lain, silahkan datang lagi lain waktu." Tidak. Tuhan mengatakan Dia mendengar. He does listen. 

Tidak saja mendengar, tetapi Dia pun siap menyelamatkan dan melepaskan kita dari kesesakan. Seperti seorang ayah yang peduli dan sayang kepada anak-anaknya, demikianlah sikap Tuhan kepada kita. Lalu selanjutnya kita bisa membaca ayat berikut ini: "Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong... Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya." (ay 16,18).

Tuhan penuh kasih sayang terhadap kita dan tidak ingin kita menghadapi masalah atau terluka sendirian. Dalam ayat berikutnya dikatakan: "TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya." (ay 19). Seperti itulah Tuhan mengasihi kita. Dia peduli terhadap penderitaan kita, dan Dia tidak pernah terlalu sibuk untuk berada bersama kita, menguatkan kita dan melepaskan kita dari beban-beban yang berat.

Di saat banyak orang terlalu sibuk untuk mendengarkan atau membantu orang lain, ketika sebagian dari mereka berkata bahwa ia tidak punya waktu untuk orang lain, ketika mereka menganggap waktu mereka terlalu berharga buat diberikan, Tuhan tidak seperti itu. Ingatlah bahwa dalam renungan sebelumnya saya sudah menyampaikan bagaimana keyakinan Daud kepada Tuhan yang begitu besar seperti yang ia sampaikan dalam Mazmur 139.

(bersambung)

Wednesday, August 8, 2018

"Maaf, Bapak Sedang Sibuk" (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 34:6
===================
"Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya."

"Kalau ada yang menghubungi tapi tidak tahu siapa dan tidak penting-penting amat, bilang saja saya keluar atau sedang sibuk jadi tidak bisa diganggu ya." "Baik pak." Itulah komunikasi singkat antara seorang manajer dan sekretarisnya pada suatu kali saat saya sedang berada di dalam kantornya. Manajer ini adalah teman lama saya yang baru kali itu saya kunjungi sesuai appointment yang sudah diatur sejak seminggu sebelumnya.

Untuk bisa bertemu dengannya pun tidak terlalu gampang. Saya dicegat dulu oleh satpam untuk ditanyakan keperluannya, KTP ditahan di depan dan kemudian di resepsionis saya ditanyakan dulu sudah buat janji atau belum, kalau sudah atas nama siapa. Kalau tiap dinding bisa ditembus, maka barulah saya pun bisa bertemu dengan sang pimpinan. Apakah ia memang benar-benar lagi sibuk? Rasanya tidak. Sebab kalau benar sibuk, tentu saya pun tidak bisa bertemu dengannya, dan yang kita lakukan hanyalah ngobrol tentang masa lalu dan saling berbagi kisah hidup.

Semakin penting seseorang, biasanya semakin banyak pula urusan protokoler yang harus dihadapi. Dan kalau kita masuk kategori 'tidak penting', maka jangan harap kita bisa bertemu. Jangankan ketemu, dipeduli saja sudah tidak mungkin. Jika anda coba hubungi, maka jawaban "Maaf, bapak sedang sibuk", akan menjadi jawaban yang diberikan. Jangankan orang penting, kita pun seringkali mempergunakan kata-kata atau alasan yang sama kalau sedang malas bertemu seseorang. Bisa jadi kita sedang benar-benar sibuk, sedang lelah, tidak ingin diganggu dan sebagainya. Atau bisa juga dipakai untuk menjadi alasan agar tidak perlu bertemu seseorang yang kita anggap 'tidak' atau 'kurang penting.' Semua tergantung dari kesediaan kita apakah mau bertemu dengan seseorang atau tidak.

Kalau semakin penting seseorang, maka mereka makin sulit kita temui, bagaimana dengan Tuhan yang tentunya berada di atas semua pemimpin dan orang terpenting di dunia ini? Bayangkan apabila Tuhan bersikap seperti orang-orang penting yang memilah-milah siapa yang mau Dia temui atau urus, apa jadinya kita? Bagaimana kalau saat kita tengah membutuhkanNya lantas ada malaikat yang berkata: "Maaf, Tuhan sedang sibuk, silahkan coba lagi lain kali." ? Bagaimana kalau untuk berdoa harus masuk daftar antri dulu atau menunggu sampai Tuhan berkenan mendengar doa kita? Atau, bagaimana kalau kita dianggap sama sekali tidak penting dan hanya buang-buang waktu, sehingga mau menunggu sampai kapanpun Tuhan tidak akan mau bertemu atau bahkan sekedar mendengar kita?

Untunglah Tuhan tidak bersikap seperti itu. Milyaran manusia ciptaanNya tersebar di muka bumi ini dari satu generasi ke generasi berikutnya, tidak satupun yang luput dari pandangan mataNya, dan tidak satupun yang Dia kesampingkan. Semua manusia dimataNya istimewa, semua Dia kasihi, siapapun dan dimanapun sebagai ciptaanNya yang spesial. Tuhan tidak bertindak seperti seorang kaisar atau eksekutif super sibuk yang terus berusaha untuk menghindari gangguan dari kita, para manusia. Tuhan tidak pernah terlalu sibuk buat siapapun. Justru sebaliknya, Dia akan sangat senang untuk mendengarkan dan merespon suara anak-anakNya.

Anak, itu status yang sangat istimewa untuk menggambarkan hubungan antara kita dengan Tuhan. Yesus datang ke dunia dan mengajarkan kita untuk menyebut Tuhan dengan panggilan yang sangat intim yaitu sebagai Bapa. Dalam Matius 5 kita bisa mengetahui bahwa Status Bapa dan anak ini akan hadir pada kita apabila kita hidup dengan standar kasih yang jauh di atas standar dunia.

(bersambung)

"Maaf, Bapak Sedang Sibuk" (2)

Tuesday, August 7, 2018

In the End I'm Alone? (4)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Betapa indahnya janji Tuhan akan penyertaan dan perlindunganNya atas kita yang tertulis berulang kali di dalam Alkitab. Lihatlah ayat berikut: "Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati." (Ulangan 31:8). Atau bacalah ayat ini: "Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, maka engkau akan tetap tinggal untuk selama-lamanya; sebab TUHAN mencintai hukum, dan Ia tidak meninggalkan orang-orang yang dikasihi-Nya. Sampai selama-lamanya mereka akan terpelihara.." (Mazmur 37:27-28).

Peringatan yang disampaikan Penulis Ibrani pun mengacu akan hal ini: Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5).

Tuhan Yesus sendiri sudah berjanji untuk menyertai kita senantiasa sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20), dan siap memberi kita kelegaan. "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (11:28). Ini janji yang menunjukkan betapa Tuhan mengenal kita dan betapa Dia peduli terhadap segala pergumulan kita.

Ketika tidak ada orang mengerti, ada Tuhan yang mengerti. Ketika tidak ada yang peduli, Tuhan akan selalu peduli. Ketika tidak ada yang mau mengenal anda lebih jauh, Tuhan sudah mengenal anda bahkan lebih dari anda mengenal diri anda sendiri. Dia tahu pasti apa yang menjadi permasalahan anda.

Dia mengenal anda luar dalam dengan sangat baik. Tidak ada yang tersembunyi bagiNya, Dia tahu isi hati kita yang terdalam sekalipun. Dia yang menciptakan kita, tentu Dia pula yang paling tahu segalanya tentang kita. Dan Tuhan adalah Bapa yang sangat mengasihi kita. Bentuk kasih itu pun diwujudkan dengan kepedulian yang luar biasa besar pula terhadap anak-anakNya. Dia siap tertawa gembira bersama kita, Dia pun turut bersedih bersama kita.

Tuhan tahu pasti apa yang menjadi pergumulan anda saat ini. Bahkan hal-hal yang mungkin terlalu berat untuk dikemukakan, sulit untuk diucapkan, Tuhan pun mengetahui itu semua. Tuhan mendengar jeritan hati kita, mengerti permasalahan anda dan punya jalan keluarnya. You may feel lost and alone, but God knows exactly where you are. He cares and has a good plan for your life. Jika anda merasa sendirian saat ini menghadapi segala sesuatu, datanglah pada Tuhan. Dia sangat mengenal anda, mengerti anda, dan sangat peduli.

Allah mengerti, Allah peduli

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, August 6, 2018

In the End I'm Alone? (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Sebuah Firman Tuhan dalam Yesaya 29 menggambarkan betapa Tuhan sungguh mengetahui kita, karena kita adalah ciptaanNya sendiri. Kalau Tuhan diibaratkan sebagai tukang periuk, dan kita adalah bejana yang dibentuk dari tanah liat olehNya sendiri, mungkinkah Tuhan, Sang Pencipta, tidak mengenal apa-apa tentang kita?

  "..Apakah tanah liat dapat dianggap sama seperti tukang periuk, sehingga apa yang dibuat dapat berkata tentang yang membuatnya: "Bukan dia yang membuat aku"; dan apa yang dibentuk berkata tentang yang membentuknya: "Ia tidak tahu apa-apa"? (Yesaya 29:16).

Kita dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua kita. Mereka merawat dan mendidik sejak kita kecil. Karenanya mereka tentu mengenal kita dengan sangat baik. Kalau orang tua kita di dunia saja mengenal kita secara pribadi dan mendalam, apalagi Bapa di Surga yang membentuk atau menciptakan kita. Kembali kita mendapati sebuah kesadaran akan pengenalan dan kepedulian Tuhan yang sangat mendalam pada kita.

Tuhan sungguh mengenal kita dengan baik, Dia sungguh peduli, tapi seringkali kita-lah tidak mau mengenal Dia dengan sungguh-sungguh. Ketika Tuhan peduli, kita malah tidak peduli padaNya dan hanya menggantungkan harapan kepada manusia. Kita hanya berharap bisa dimengerti oleh orang lain dan melupakan kasih Tuhan yang selalu dicurahkan atas kita semua.

Manusia bisa mengecewakan, tapi Tuhan tidak akan pernah mengecewakan. Karenanya, andalkanlah Tuhan selalu."Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!" (Yeremia 17:7). Ayat ini menyebutkan dengan jelas bahwa menaruh pengharapan kepada Tuhan tidak akan pernah berujung sia-sia.

Penegasan lainnya disampaikan pula oleh Yesus. "Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah,bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit." (Lukas 12:6-7).

Kalau burung saja diperhatikan Tuhan, apalagi kita yang diciptakan secara sangat istimewa, secara dahsyat dan ajaib menurut gambarNya sendiri. Bayangkan, sampai jumlah rambut kita helai demi helai pun Dia ketahui. Sedekat-dekatnya dan sepeduli-pedulinya manusia, adakah yang sampai tahu jumlah rambut kita? Manusia tidak akan pernah tahu, tapi Tuhan tahu itu. Itu menunjukkan bagaimana kepedulian dan pengenalanNya akan kita dengan sangat detail.

(bersambung)


Sunday, August 5, 2018

In the End I'm Alone? (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Daud menyadari dan paham sepenuhnya akan pengenalan Tuhan tentang dirinya. Lanjut Daud lagi: "Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi." (ay 2-3). Tuhan tahu apapun yang Daud lakukan atau perbuat. Dan Tuhan ada di sekelilingnya dari segala penjuru, bahkan ia merasakan tangan Tuhan melindunginya dari atas (ay 5).

Semua itu jauh di atas kemampuan pemikiran kita. Daud menggambarkannya begini: "Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.". (ay 6). Apalagi saat jiwa Daud menyadari sebenar-benarnya bahwa dia, seperti halnya kita, dibentuk dan ditenun Tuhan sendiri dalam kandungan ibu dan dengan demikian merupakan ciptaan Tuhan yang dahsyat dan ajaib. (ay 13-14), kemudian menyadari pula bahwa Tuhan sudah melihat kita sebelum kita lahir, bahkan sudah merencanakan segala yang terbaik bagi kita jauh sebelum kita ada (ay 15-16).

Menyadari itu, Daud kembali berseru "Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!" (ay 17). Betapa banyaknya yang Tuhan tahu dari kita, betapa istimewa dan pentingnya kita dalam hati Tuhan.

Jadi jelas, Tuhan mengenal kita dengan teramat sangat baik. He fully knows us. Tapi apakah berhenti hanya sampai mengenal saja? Daud tahu bahwa Tuhan tidak hanya sekedar mengenal kita, tapi Dia juga peduli. Sangat peduli. Daud berkata: "Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut,  juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku." (ay 8-10).

Tidak peduli dimanapun kita berada, apakah dalam keadaan baik maupun tidak, Tuhan akan selalu ada bersama kita. Dia akan selalu mengulurkan tanganNya menuntun, menolong, memegang, membimbing dan melindungi kita. Jadi kalau Tuhan mengenal dan sangat peduli pada kita, kenapa kita harus merasa sendirian menghadapi segalanya?

Yang luar biasa, Daud tidak sekedar menyadari bahwa Tuhan mengenal dan peduli untuk melepaskannya dari kesulitan, tapi terlebih penting baginya adalah agar Tuhan menyelidiki hati dan pikirannya. Ia berkata "Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!" (ay 23-24).

Daud tahu betapa pentingnya hal itu, karena ia tidak mau ada sedikitpun yang melenceng dari kebenaran tanpa ia sadari. Sekiranya ada, Daud meminta Tuhan untuk memeriksa dan sekiranya mendapati, agar Tuhan membimbingnya pada jalan yang benar.

(bersambung)


Saturday, August 4, 2018

In the End I'm Alone? (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 139:1
=======================
"TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku"

Apakah anda pernah merasa bahwa tidak ada orang yang mengerti anda? Saya kira semua orang, termasuk saya, pernah mengalaminya. Sudah berusaha berbuat sebaik mungkin, orang bisa menyalahartikan. Atau saat kita sedang membutuhkan bantuan, tidak ada satupun yang mau meluangkan waktunya buat kita disaat sulit. Kita merasa sendirian menghadapi sesuatu, tidak ada yang mengerti, tidak ada yang peduli. Dulu saya punya 'quote' sendiri, "in the end I'm alone".

Itu menggambarkan perasaan saya bahwa tak peduli berapa banyak pun orang di sekitar saya, pada akhirnya saya sendirian. Sendirian harus mengerjakan semuanya, sendirian harus menghadapi kesulitan, masalah dan sebagainya. Semua sibuk dengan kerjaan dan urusan masing-masing.

Akan ada waktu-waktu dimana kita berada dalam situasi seperti itu. Terkadang kita sulit mengharapkan orang untuk mengerti atau peduli keadaan kita, karena mungkin mereka juga sedang bergumul dengan banyak masalah seperti kita. Atau mungkin mereka peduli, tetapi mereka tidak tahu bagaimana menunjukkannya sehingga terlihat seperti tidak bagi kita. Atau bisa juga karena mereka masih kurang mengerti tentang kita. Tidak menutup kemungkinan pula mereka memang tidak peduli, dan kita tidak bisa memaksa mereka untuk peduli. Itu akan selalu kita alami pada waktu-waktu tertentu.

So, it's easy for us to feel that in the end, we are alone. The question is, are we really? 

Sekarang saya tidak lagi memandang hidup seperti itu. Saya tidak lagi merasa seperti itu, saya juga tidak mau berpikir seperti itu. Mungkin ada masa-masa dimana kebetulan tidak ada satupun yang bisa atau bersedia. Seperti yang saya katakan tadi, kita tidak bisa memaksa orang untuk membantu kita dan mengikuti keinginan kita, dan itu bukan selalu berarti bahwa mereka tidak peduli terhadap kita. Tapi meski demikian, sekalipun sedang tidak ada satupun yang bisa kita harapkan untuk membantu, jangan lupakan bahwa ada Tuhan bersama kita.

Mindset saya berubah sejak saya menyadari bahwa saya punya Tuhan yang tidak pernah terlalu sibuk untuk saya. Dia ada, keberadaanNya nyata. Dia mengenal saya, mengerti saya, dan peduli pada saya. Itu saya tahu pasti dengan keyakinan penuh. Karena itu saya tahu saya tidak akan pernah sendirian dalam menghadapi apapun. I'm never alone, I'll never walk alone, because God will always be with me through all the way. 

Apa yang kemudian menyadarkan saya akan hal ini dan menjadi titik balik mindset saya adalah sebuah perikop dalam Mazmur 139 yang merupakan Mazmur Daud. Dalam perikop yang diberi judul "Doa di hadapan Allah yang maha tahu", Daud masuk langsung pada intinya. Katanya: "Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku." (ay 1).  Tuhan menyelami dan tahu semua yang ada dalam pikiran dan perasaan kita. Dia tahu apa yang tengah menjadi kesulitan kita. Dan Tuhan mengenal kita. Dia yang menciptakan, maka Dia tentunya yang paling mengenal atau mengetahui segala sesuatu tentang kita. Bahkan lebih dari kita mengenal diri kita sendiri.

(bersambung)


Friday, August 3, 2018

Kalau Janji, Tepati (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)


Lihatlah ada banyak orang bahkan bisa dengan santai saat melanggar janji yang pernah ia ucapkan. Contoh paling gampang saja, orang dengan mudahnya bercerai.Padahal itu jelas-jelas melanggar janji nikah yang mereka ucapkan bukan cuma di depan pendeta tapi juga merupakan janji kepada Tuhan yang memateraikan hubungan pernikahan. Luar biasanya lagi, mereka malah menyalahkan Tuhan dengan mengatakan bahwa itu adalah takdir atau merasa bahwa Tuhan yang sudah berkehendak seperti itu. Lihatlah betapa parahnya kebiasaan melanggar janji kalau kita biarkan.

Orang yang selalu menepati janji dengan sendirinya menjadi saksi kuat akan dirinya sendiri dalam hal kebenaran, sehingga mereka tidak lagi perlu mengucapkan sumpah-sumpah lewat bibirnya untuk meyakinkan orang lain. Kita harus mampu menjalani kehidupan yang bisa mendatangkan kepercayaan orang pada diri kita lewat kesetiaan kita akan sebuah janji, dan itu akan jauh lebih terbukti dibanding kepercayaan yang bisa diperoleh lewat ucapan yang berusaha meyakinkan orang lain.

Satu hal lagi yang sangat penting untuk kita perhatikan, kalau kepada manusia saja janji itu penting dan harus dipegang sebenar-benarnya atau ditepati, jangan pernah berani untuk mengumbar janji kepada Tuhan lantas kemudian tidak ditepati. Misalnya nazar, yang merupakan janji kita terhadap Tuhan ketika memohon sesuatu, itu tidak boleh kita lupakan, ditunda apalagi kalau sampai dengan sengaja dilanggar. "Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu." (Pengkotbah 5:4).

Memegang teguh dan menepati janji merupakan bagian dari integritas yang seharusnya dimiliki umat Tuhan di tiap generasinya. Kita tidak bisa mengaku sebagai orang berintegritas yang hidup sesuai Firman kalau kita masih mudah untuk tidak menepati janji. Hendaklah kita mau menghormati janji dan senantiasa menepatinya. Jika berjanji, tepatilah. Kalau ya katakan ya, kalau tidak katakan tidak. Kalau kita belum yakin, jangan terburu-buru menjanjikan sesuatu. Sebab, kalau mengatakan ya tapi tidak dilakukan, itu adalah kebohongan yang datangnya dari iblis. Ketika mengatakan ya, peganglah itu dengan sungguh-sungguh. Jangan biasakan untuk memberi janji-janji palsu dengan alasan apapun, meski untuk hal-hal yang tidak serius sekalipun.

Seperti yang dikatakan sebuah pepatah dalam bahasa Inggris "Never make a promise you can't keep", hendaklah kita selalu mengutamakan kejujuran agar tidak membuka peluang bagi iblis untuk masuk dan menghancurkanhidup kita. Ingatlah bahwa janji yang dibuat asal-asalan dan tidak ditepati akan mengakibatkan ketidakpercayaan orang pada kita dan kemudian akan sangat merugikan hidup kita ke depannya serta merupakan sebuah dosa yang menjijikkan di mata Tuhan.

"Breaking promises are worse than lies, because you make them hope for something that you're not sure you can give. Don't make a promise just to make someone expect but get hurt in the end"

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, August 2, 2018

Kalau Janji, Tepati (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Jadi sejak jaman Daud kita sudah lihat bahwa tendensi orang untuk sulit menepati janji memang sudah ada. Tapi apakah kita cukup mengatakan bahwa itu adalah sudah menjadi sifat manusia yang tidak akan bisa sempurna seperti Tuhan? Mungkin kita memang tidak akan bisa sesempurna Tuhan, tapi bukan berarti itu layak dijadikan alasan untuk terus membiarkan diri melanggar janji tanpa pernah berusaha membenahi diri untuk lebih baik.

Apa kata Firman Tuhan mengenai hal ini? Apakah Firman Tuhan membolehkan orang untuk menempatkan janji dalam berbagai kategori mulai dari sangat penting, sedang, kurang sampai tidak penting? Perilaku ingkar janji ini sebenarnya tidak berbeda jauh dengan berbohong. Kalau berbohong itu salah, ingkar janji pun sama. Lihatlah apa kata Yesus berikut ini: "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat." (Matius 5:37). Saya sangat suka dengan versi bahasa Inggrisnya yang sangat mudah diingat.  "Let your Yes be simply Yes, and your No be simply No; anything more than that comes from the evil one."

Kalau kita lihat dalam ayat sebelumnya, Yesus mengatakan hal ini dalam konteks menasihati kita untuk tidak bersumpah, yang didasarkanNya dari 10 Perintah Allah yang tertulis dalam Keluaran 20:16, yaitu "Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu". Kenyataannya, ada banyak orang yang bahkan dengan mudah bersumpah demi segala sesuatu, bahkan demi Tuhan untuk sesuatu kebohongan. Mungkin kita bilang kita tidak melanggar sumpah, hanya ingkar janji. Mungkin juga itu hanya dilakukan untuk sesuatu yang tidak penting atau bukan hal hal serius, bukan urusan kerjaan atau yang berpotensi merugikan secara moril dan materil. Tapi sebenarnya, mengacu pada apa yang disampaikan Yesus di atas, apapun alasannya, itu tidak boleh kita lakukan apalagi biasakan.

Tuhan sangat tidak suka, bahkan dikatakan jijik dengan sikap atau kebiasaan orang yang suka berbohong. Itu bisa ditemukan dalam Mazmur, yang berkata: "Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong, TUHAN jijik melihat penumpah darah dan penipu." (Mazmur 5:7). Dari ayat ini kita melihat bahwa penipu disamakan dengan pembunuh. Kita mungkin akan berpikir, bukankah orang membunuh itu jauh lebih parah dari sekedar menipu? Mungkin sekilas tampak seperti itu, tetapi sebenarnya penipu pun sama berbahayanya. Orang yang penipu, orang yang bersaksi dusta, orang yang ingkar janji bisa membunuh harapan orang, kepercayaan orang, bahkan karakter orang lain dengan segala kebohongannya.

Dan Salomo mengingatkan kita untuk tidak bermain-main dengan kejujuran dan setia pada janji. "Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan tidak akan terhindar." (Amsal 19:5). Pada saatnya, orang-orang pembohong tidak akan luput dari hukuman. Begitu seseorang berbohong, maka Tuhan pun akan menjadi lawannya. (Yehezkiel 13:9).

Kita perlu belajar dan berkomitmen mengubah kebiasaan kalau sudah terlanjur, untuk menepati dan menganggap serius sebuah janji, meski janji yang sepele sekalipun. Kita perlu memperhatikan secara serius janji yang kita berikan dan tidak asal-asalan mengumbarnya. Kalau kita biarkan, kebiasaan melanggar janji bisa terus bertambah parah. Mulanya kita mentolerir melanggar janji yang tidak mengenai sesuatu yang penting, tapi lama-lama kita akan terbiasa melakukan itu bahkan untuk hal-hal yang serius.

(bersambung)


Wednesday, August 1, 2018

Kalau Janji, Tepati (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 5:37
==================
"Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat."

Baru saja saya menonton biografi seorang atlit terkenal yang sempat mengalami masa-masa gelap dalam hidupnya. Sekitar dua dekade silam saat ia mencapai masa keemasannya, ia sempat jatuh pada obat-obatan dan minuman keras. Menurutnya, tekanan untuk tetap tampil dengan performa puncak dan keinginan untuk menjadi yang terbaik begitu besar sehingga ia membutuhkan sesuatu untuk menenangkannya. Ia mulai memakai obat-obat penenang dan minum. Seperti halnya zat-zat yang mendatangkan kecanduan, dosisnya terus bertambah. Pernah pada suatu kali ia hampir saja menelan 25 butir sekaligus karena merasa dirinya sangat butuh itu. Ia punya keluarga, seorang istri dan tiga orang anak. Berkali-kali ia berjanji kepada istrinya untuk berhenti melakukan semua itu dan berubah agar fungsinya dalam keluarga bisa kembali ia lakukan, tapi sebanyak janjinya,  sebanyak itu pula ia melanggar. Istrinya bercerita bahwa seringkali ia melihat suaminya keluar dari kamar di tengah malam hanya untuk minum obat penenang dan bir lalu tergeletak tak sadar di sofa.

Suatu kali istrinya sudah tidak tahan lagi. Ia berkata kepada suaminya bahwa ia sudah tidak bisa lagi mentolerir kelakuan seperti itu. Berulang kali berjanji tapi terus dilanggar. Sang istri berkata, "aku mencintaimu. Tapi kalau kamu tidak berubah, saya harus meninggalkan kamu dan membawa anak-anak, karena saya tidak mau anak-anak melihat ayahnya merusak diri seperti ini." Atlit terkenal ini pun seolah tersentak. Ia tersadar bahwa akibat perbuatannya ia bisa kehilangan istri dan anak, bahkan nyawanya. Ia kemudian masuk pusat rehabilitasi dan karena motivasinya kuat, ia dengan cepat pulih. Hari ini ia sudah terlepas dari pengaruh kecanduan. Ia menjadi suami dan ayah yang sangat diandalkan, dibanggakan dan dicintai. Apakah godaan untuk kembali mabuk dan minum obat penenang tidak pernah mencoba masuk kembali? Ia berkata bahwa godaan sangat sering timbul. Tapi ia komitmen untuk memegang janjinya. "Ada ribuan janji saya pada istri dan anak-anak saya yang sudah saya langgar. Gara-gara itu saya hampir kehilangan mereka. Saya juga sempat kehilangan rasa bahagia bahkan hampir kehilangan nyawa. Enough is enough. Kali ini saya benar-benar mau pegang janji saya." katanya.

Semakin lama orang semakin menganggap ringan sebuah janji. Banyak orang yang mengkategorikan janji menurut tingkatan-tingkatannya sendiri. Ada yang tidak boleh dibatalkan seperti janji pada orang yang dianggap penting atau perjanjian yang diikat oleh hukum alias ada hitam di atas putihnya, ada yang sifatnya diusahakan, ada pula yang dianggap boleh dinomor duakan atau bahkan janji yang sambil lalu saja atau tidak serius. Ada juga yang suka bahkan terbiasa mengobral janji. Mereka dengan mudahnya menjanjikan ini dan itu, tapi sebentar lagi sudah lupa dengan janjinya. Atau mudah memberi janji semanis madu agar keinginannya terpenuhi. Ada pasangan yang kemudian bubar jalan karena salah satunya hobi ingkar janji, terutama untuk hal-hal kecil. Janji menjemput tapi tidak datang, janji tepat waktu tapi terus terlambat, janji mau menemani atau keluar nonton tapi dibatalkan tanpa alasan jelas.

Seorang teman memilih untuk putus dengan pasangannya karena sifat seperti ini. "Sederhana saja, kalau waktu pacaran saja ia sudah menunjukkan bahwa saya kurang penting dibanding urusan lainnya, yang bahkan cuma dijawab karena malas, bagaimana nanti kalau sudah menikah?" kata teman saya ini menghela nafas. Tapi itu menjadi gambaran bahwa ada orang yang memang tidak bisa dipegang kata-katanya atau sulit berkomitmen pada janji, dan ada pula yang mengkategorikan janji menurut apa yang mereka anggap benar. Ada teman saya lainnya yang di awal sempat mengesalkan saya karena sangat sulit menepati janji. Semudah berjanji semudah itu pula mengingkari atau membatalkan. Belakangan saya belajar mengenal sifatnya dan tidak lagi menganggap serius apapun yang ia janjikan. Dan itu mengurangi rasa kesal saya terhadapnya. Tapi biar bagaimanapun, sikap seperti itu tidaklah baik. Mungkin saya bisa menerima sifatnya, tapi bagaimana dengan orang lain? Dan benar saja, di usia lebih dari 40 tahun dengan satu anak, ia masih terus tidak jelas kerjanya. Saya kira sulit bagi perusahaan manapun untuk mempekerjakan karyawan yang sulit dipegang janjinya.

Dalam renungan terdahulu saya sudah menyampaikan ayat dari kitab Mazmur 12 yang ditulis oleh Daud. Perikop ini menunjukkan perbedaan nyata antara janji manusia dengan janji Tuhan yang murni dan teruji, bagai perak yang tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah (ay 7). Perikop ini menunjukkan the sincerity of God against the insencerity of men. Kalau janji manusia itu sulit dipegang apalagi untuk masa waktu yang lama, janji Tuhan itu murni dan teruji. Murni sehingga pasti akan Dia penuhi, dan teruji sejak ribuan tahun dan akan berlaku hingga akhir masa. Selama kita melakukan bagian kita dengan taat dan benar, Tuhan tidak akan mengingkari janjiNya, karena Dia yang menjanjikannya, setia (Ibrani 10:23).

(bersambung)


Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker