Sunday, September 25, 2022

Pak Pendeta dan 25 Sen (3)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)


Kita akan setuju berkata bahwa hamba ini benar-benar keterlaluan. Bukankah masih mending dikasih daripada tidak mendapat apa-apa?  Ia mungkin iri melihat dua temannya mendapat lebih banyak. Ia tidak mensyukuri apa yang ada padanya dan memilih untuk iri terhadap yang lebih dari dirinya. Tidak heran kalau sang tuan pun kemudian marah besar terhadapnya dan menjatuhkan hukuman berat.

Ada banyak yang bisa kita teladani dari perumpamaan ini, dan salah satunya yang mungkin paling penting berhubungan dengan tema renungan hari ini, yaitu kejujuran dan tanggungjawab dalam menerima kepercayaan, tak peduli sebesar atau sekecil apapun itu. Dan itu bisa kita lihat dari jawaban sang tuan. Sang tuan menyebut dua hambanya baik dan setia. Karena sudah menunjukkan kesetiaan terhadap perkara kecil, tuannya akan memberikan tanggungjawab dalam perkara yang lebih besar lagi. Dan itu berbeda dengan hamba yang satunya. Kalau untuk perkara kecil saja kita tidak bisa dipercaya, bagaimana kita berani berharap akan sesuatu yang besar? Apalagi kalau kemudian bersungut-sungut menuduh Tuhan tidak adil, pilih kasih dan sebagainya. Salah-salah kita bisa berakhir seperti hamba dengan satu talenta.

Lebih lanjut lagi bicara soal keteladanan dalam berbuat baik, Paulus sudah menyampaikannya dalam surat untuk Titus. "dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu." (Titus 2:7). Perhatikanlah bahwa pesan ini bukan hanya berlaku bagi pendeta, penginjil atau hamba-hamba Tuhan saja, tetapi juga kepada kita semua orang percaya tanpa terkecuali. Sebagai anak-anak Tuhan kita sudah seharusnya menunjukkan integritas yang baik dengan perbuatan yang sesuai dengan perkataan, sesuai dengan ajaran Tuhan, sesuai dengan gambaran orang percaya yang benar, menghasilkan buah-buah yang sesuai dengan pertobatan, seperti yang diajarkan pada kita dalam Matius 3:8 dan kemudian menjadi teladan bagi orang lain.

Segala perilaku, perbuatan dan keputusan-keputusan yang kita ambil akan tetap menjadi perhatian orang lain. Alangkah ironisnya atau tragis apabila kita sebagai anak-anak Tuhan sama sekali tidak mencerminkan sikap seperti Kristus lalu malah memberi citra negatif dengan bersikap munafik, terus mencari kepentingan sendiri tanpa merasa bersalah jika merugikan orang lain. Kelanjutan dari ayat Titus di atas mengingatkan kita agar terus bersikap jujur, "..sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita." (ay 8).

Sebuah sikap kejujuran, dalam segala hal dan ukuran merupakan sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar atau dinegosiasikan dengan alasan apapun. Salomo yang penuh hikmat berkata "Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya." (Amsal 11:3). Dan dalam bagian lain ia berkata "karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat." (3:32).

Kita harus menyadari bahwa Tuhan bergaul erat dengan orang-orang jujur, sebaliknya dosa sekecil apapun bisa membuat jurang besar yang memutuskan hubungan kita dengan Tuhan. Perhatikan ayat ini: "tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:2). Jangan pernah lupa bahwa kita membawa nama Kristus dalam setiap langkah hidup kita. We have to realize this and take this seriously:
- Watch your thoughts ; they become words.
- Watch your words, they become actions.
- Watch your actions, they become habits.
- Watch your habits, they become character.
- Watch your character, it becomes your destiny.

Jangan pernah beri toleransi untuk menghalalkan kejahatan, jangan buat timbangan sendiri untuk besar kecil atau boleh tidaknya kita melakukan kecurangan atau menutup mata atas sesuatu yang menguntungkan kita tetapi merugikan orang lain. Firman Tuhan sudah berkata: ".. janganlah beri kesempatan kepada Iblis." (Efesus 4:27). Dan setiap kecurangan yang kita beri toleransi atasnya, no matterhow small it is, akan tetap membuka kesempatan bagi si jahat untuk merusak, menghancurkan dan membinasakan kita. Hendaklah kita terus bersikap jujur dalam perkara apapun, seperti apa dan berapapun ukurannya agar kita bisa menjadi kesaksian tersendiri akan Kristus di dunia ini.

Tetaplah jujur dalam segala hal tanpa memandang besar kecilnya




Saturday, September 24, 2022

Pak Pendeta dan 25 Sen (2)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 

(sambungan)

25 sen memang sangat kecil nilainya dan bagi dunia tidaklah berarti, tapi bukankah Tuhan menuntut kita untuk setia/jujur terhadap perkara tak peduli sekecil apapun, no matter how small it is?

Saya percaya bahwa Tuhan menganggap penting bagi kita untuk terus bersikap jujur dalam kondisi, situasi apapun dan atas jumlah berapapun. Godaan-godaan seperti itu akan terus datang dalam hidup kita. Manusia cenderung mengabaikan untuk bersikap jujur ketika ada keadaan yang menguntungkan dirinya seperti mendapat kembalian lebih ketika berbelanja misalnya. Kita berpikir, "Ah biar saja, siapa suruh salah ngasih kembalian? Jelas bukan salah saya, itu resiko dia." Pemikiran seperti itu akan cenderung muncul dipikiran kita sebagai alasan pembenaran tapi kita tidak sadar bahwa kita sudah terjebak melakukan hal yang salah.

 Atau mungkin bisa jadi kita sepemikiran dengan kotbah di awal renungan ini, kita langsung bereaksi senang saat melihat ada uang terjatuh di sebuah tempat. Bukannya berusaha mencari tahu siapa yang punya atau memberikan kepada petugas atau pegawai, kita langsung buru-buru mengambil sebelum keburu diambil orang lain, dan sebagai pembenaran, kita bilang puji Tuhan atau halleluya dan langsung mutlak menganggap itu dari Tuhan.

Ada pula orang yang menganggap mark-up atau menaikkan harga saat diminta membeli sesuatu oleh perusahaan atau badan dimana kita bekerja itu wajar. Uang rokok, uang kopi, uang lelah, uang jalan, dan entah apa lagi nama yang diberikan supaya kelihatan tidak masalah.

Apa yang membuat hati kecil saya menolak, adalah bahwa saya percaya, Tuhan tidak akan pernah memberi hadiah yang merugikan orang lain. Sebagai pemiliki segalanya, Dia tidak perlu merugikan orang lain demi menguntungkan kita. Dan kita sebagai orang percaya pun tidak boleh mencari keuntungan sendiri dengan merugikan orang lain, meski jumlahnya cuma seribu-dua ribu saja. Kecurangan tetap tidak dibenarkan. Ingatlah bahwa sekecil apapun,sebuah dosa tetaplah dosa. No matter how small it is.

Masalah kepercayaan sesungguhnya merupakan hal yang krusial. Coba kita pikir, apakah ada perusahaan yang mau mempekerjakan pegawai yang hobi nyuri meski kecil-kecilan? Atau, adakah diantara kita yang mau punya teman yang seperti itu? Saya yakin tidak. Kalau bagi manusia kepercayaan itu penting, apalagi di mata Tuhan. Tuhan tentu tidak menciptakan maling-maling kecil apalagi besar. Itu bertentangan dengan buah pikiranNya saat menciptakan manusia secara istimewa dengan mengambil rupaNya sendiri. Dia memberi hati, pikiran, nalar dan akal budi, Dia bahkan membekali kita dengan hati nurani yang bisa menjadi saranaNya untuk mengingatkan kita, juga memberi Roh Kudus agar kita bisa selamat dalam perjalanan hidup sampai akhir. Atas semua yang sudah dia sediakan agar kita bisa hidup dengan lurus, seharusnya bukan saja kita bisa menjadi orang-orang yang setia pada perkara kecil, tapi seharusnya kita orang percaya pun bisa menjadi teladan akan hal itu.

Selanjutnya mari kita lihat perumpamaan tentang talenta yang disampaikan Yesus dalam Matius 25:14-30 dan juga Lukas 19:12-27. Dalam perumpamaan tersebut, ada tiga hamba yang dipanggil tuannya yang hendak pergi ke luar negeri. Yang satu diberi 5 talenta, yang satu diberi 2, sedang yang satunya diberi 1. Kenapa beda-beda? Dengan jelas disebutkan bahwa pemberian itu didasarkan 'menurut kesanggupannya.' (Matius 25:15).

Setelah tuannya pergi, ketiga hamba ini pun melakukan tugasnya masing-masing. Hamba yang dapat 2 dan 5 talenta kemudian memperoleh laba yang sama dengan modal awal. Tapi hamba dengan satu talenta memilih untuk menggali lubang dan menanam uangnya. Mungkin ia mengira bahwa satu talenta itu terlalu sedikit untuk diputar, jadi disimpan saja supaya tidak habis ia pakai belanja.

Lalu pulanglah sang tuan. Kedua hamba yang beroleh laba sebesar modal awal mendapat pujian yang sama dari tuannya. " Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu." (ay 21, 23). Tapi hamba terakhir datang dengan sebuah pembelaan diri atas keputusannya tidak melakukan apa-apa dengan talenta yang dipercayakan kepadanya. Ia bahkan berani berkata buruk kepada tuannya. "Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!" (ay 24-25). 

(bersambung)

Friday, September 23, 2022

Pak Pendeta dan 25 Sen (1)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 Ayat bacaan: Titus 2:7
=================
"dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu"


Dalam sebuah kotbah, ada pendeta yang bercerita bahwa pada suatu kali ia kekurangan uang dan berdoa kepada Tuhan. Tidak lama setelah itu, ia melihat ada lembaran 100 ribu tergeletak di jalan, tepat di depan sebuah toko. Dan ia langsung menyimpulkan bahwa itu adalah pemberian Tuhan. Halleluya, masuk kantong.

Saya tidak mengabaikan bahwa Tuhan kerap mendatangkan mukjizat lewat begitu banyak cara yang ajaib dan kreatif. Di sepanjang Alkitab kita akan bisa menemukan begitu banyak contoh tentang hal ini, di jaman sekarang pun bentuk-bentuk mukjizat itu masih terus terjadi. Saya yakin teman-teman pasti punya satu dua kesaksian tentang mukjizat Tuhan yang pernah anda alami secara nyata. Tapi kembali kepada kotbah si pendeta di atas, hati kecil saya kok rasanya tidak setuju dengan apa yang ia lakukan. Kenapa ia tidak ke toko di dekat uang itu dulu untuk bertanya apakah ada yang kehilangan uang sebelum buru-buru memasukkan uang ke dalam kantongnya? Oh, mungkin ia curiga bahwa nanti ada yang cuma ngaku-ngaku padahal itu bukan uangnya. Atau, kenapa tidak di titip saja ke karyawan toko itu siapa tahu nanti ada yang kembali karena mencari uang itu? Uang lembar 100 ribu itu bukan jumlah yang sedikit. Bagaimana kalau uang itu hanya lembaran satu-satunya dari yang kehilangan? Apakah ada hak kita untuk menyimpan uang yang tergeletak tanpa pemilik, padahal sebenarnya bukan hak kita? There are so many what ifs, dan biasanya kalau sudah begitu, seandainya saya yang ada di posisi si pendeta, saya tidak akan ambil uang itu. Kalau ada yang ngaku-ngaku, atau nanti karyawan toko yang mengambil, ya terserah. Itu pertanggungjawaban dia dengan Tuhan, dan saya harus menjaga setiap langkah dan perbuatan karena semua itu pun nantinya harus saya pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Alangkah menarik jika saya membandingkan kotbah diatas dengan pengalaman nyata seorang pendeta yang pernah saya baca. Begini ceritanya.

Ada seorang pendeta yang baru saja pindah ke negara bagian lain di Amerika Serikat. Pada suatu hari ia naik ke sebuah bus untuk menuju suatu tempat. Ketika ia duduk, ia menyadari bahwa ternyata uang kembalian yang diberikan supir berlebih 25 sen. Dalam hati kecilnya ia berkata, "saya harus mengembalikan uang 25 sen ini." Tetapi kemudian pikirannya berkata, "ah sudahlah, kan cuma 25 sen saja.. itu nilai yang sangat kecil, mau beli apapun tidak akan cukup. Kenapa harus repot dengan jumlah sekecil itu?" Uang pecahan sekecil 25 sen jelas tidak akan merugikan supir dan pengusaha pemilik bus.

Pikiran lainnya sempat hinggap di benaknya. "Mungkin saya sebaiknya menerima saja sebagai sebuah "hadiah kecil dari Tuhan" dan mendiamkan saja pura-pura tidak tahu, toh bukan salah saya." Ada banyak orang percaya yang bereaksi sama seperti ini saat menerima salah kembalian yang menguntungkan, atau saat menemukan uang terjatuh di jalan seperti si pendeta tadi. Selama bukan kita yang minta, mau alasan apapun ya berarti itu rejeki kita. Tidak mengambil, berarti menolak rejeki.

Kembali kepada cerita di atas. Saat ia sampai di tempat tujuan, ia pun berdiri sejenak di pintu, dan akhirnya memutuskan untuk mengembalikan uang pecahan itu kepada supir sambil berkata, "pak, tadi kembaliannya kelebihan 25 sen."

Reaksi si supir? Ia tersenyum dan berkata: "anda kan pendeta baru di kota ini?" Si pendeta pun terkejut seraya mengiyakan. Lalu supir itu melanjutkan: "saya sedang mencari tempat yang tepat untuk menyembah Tuhan. Saya tadi sengaja mengembalikan lebih karena ingin mencoba anda, apa yang akan anda lakukan jika mendapat kembalian lebih dari yang seharusnya. Baiklah kalau begitu, sampai ketemu hari Minggu." ucap sang supir sambil tersenyum.

Pendeta itu pun kemudian tertegun dan berkata, "Ya Tuhan, saya hampir saja menjual AnakMu hanya untuk 25 sen." Betapa bersyukurnya dia karena sudah mengambil keputusan yang tepat.

(bersambung)


Thursday, September 22, 2022

Syalom (3)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Akan halnya menyebar ke luar kalangan orang percaya hingga ke seluruh penjuru bumi, apakah Tuhan ingin kita memberkati dan mendoakan orang lain di luar komunitas orang percaya? Pedulikah Tuhan terhadap mereka? Jawabannya, ya, Tuhan peduli, amat sangat peduli. Tuhan mengasihi semua orang tanpa terkecuali, dan Yesus datang untuk menyelamatkan siapapun tanpa memandang asal-usul, latar belakang, suku, ras dan sebagainya. Dan Tuhan ingin kita memberkati orang lain, siapapun mereka tanpa memandang latar belakang atau kepercayaan yang dianut.

Mengapa demikian? Dalam banyak bagian yang tertulis di dalam Alkitab kita bisa menemukan kasih Tuhan terhadap ciptaanNya, meski mereka bukan orang percaya dan pada saat ini belum bisa dijangkau untuk menerima keselamatan.

Ada contoh menarik yang bisa kita lihat dalam Kejadian 41. Pada bagian ini kita bisa membaca kisah ketika Firaun mendapat mimpi dan menjadi gelisah karena tidak mengerti makna dari mimpi itu. Ia pun kemudian memanggil Yusuf untuk menjelaskan arti dari mimpinya. "Berkatalah Firaun kepada Yusuf: "Aku telah bermimpi, dan seorangpun tidak ada yang dapat mengartikannya, tetapi telah kudengar tentang engkau: hanya dengan mendengar mimpi saja engkau dapat mengartikannya." (Kejadian 41:15). Lalu apa jawaban Yusuf? "Yusuf menyahut Firaun: "Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah juga yang akan memberitakan kesejahteraan kepada tuanku Firaun." (ay 16).

Perhatikanlah ayat diatas. Firaun bukan orang percaya. Tapi lihatlah, Tuhan juga mau syalom kepada Firaun, dan itu disampaikan lewat Yusuf. Itu menunjukkan bahwa kita pun harus mengeluarkan syalom buat mereka yang belum percaya, membawa syalom mengalir dari diri kita menuju ke luar, mengucap berkat kepada mereka.

Dalam kitab Yesaya dikatakan "Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya." (Yesaya 11:9). Tuhan rindu seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan Tuhan, for the earth to be filled fully with God's knowledge, seperti air memenuhi laut, as the waters cover the sea. Dengan kata lain, Tuhan rindu bumi penuh dengan syalom, penuh kedamaian, keamanan, perlindungan, kesejahteraan, kemakmuran, sentosa. Bukan apa yang sering kita lihat hari-hari ini seperti pertikaian, perpecahan, perang, kebencian, dendam, iri hati, kekejaman, kemunafikan dan sebagainya yang mengatasnamakan perbedaan.

Tuhan yang kita kenal bukanlah Allah yang pilih kasih. Dia bukan Tuhan yang hanya memberkati sebagian dan mengutuk yang lainnya. Dia bukan Tuhan yang hanya mau sebagian saja diberkati lantas yang lainnya tidak. He would never do that. Tuhan kita adalah Allah yang mengasihi semua orang tanpa terkecuali dan rindu untuk memberi berkat hingga kepenuhan dan kelimpahan bagi semuanya. Jika sebagian dari orang dunia masih bersikap diskriminatif dalam mengucap berkat bagi sesamanya, bahkan dianggap dosa apabila mengucapkan itu kepada orang diluar komunitas mereka, tidaklah demikian bagi kita. Kita harus menjadi saluran berkat baik di kalangan sendiri maupun keluar tanpa terkecuali, tanpa pandang bulu. Ucapan doa sejahtera, sebuah syalom hendaklah mengalir mulai dari kita, lalu menyebar diantara orang percaya dan kemudian bermultiplikasi secara luas hingga mampu menjangkau orang-orang diluar. Menjadi saluran berkat lewat ucapan, tindakan, perbuatan, dan berdampak bagi lingkungan tempat tinggal, pekerjaan/pendidikan, kota, bangsa dan negara hingga dunia. Seperti itulah besarnya peran orang-orang percaya dalam perluasan Kerajaan Allah di muka bumi.

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, ucapan syalom bukanlah sekedar sapaan seperti 'apa kabar'. Meski dipakai juga sebagai pengganti kata 'halo',  tetapi dalam arti aslinya kata syalom memiliki makna dan implikasi yang luas dari bentuk doa yang kita sampaikan kepada orang lain. Kalau melihat bagaimana dunia hari ini dan tentu saja negeri kita yang dipenuhi oleh kesulitan, kita benar-benar butuh syalom lebih dari sebelumnya, more than ever. Alangkah sayangnya apabila kita tidak bisa berfungsi atau berdampak sama sekali. Kita dipanggil untuk mengikuti keteladanan Kristus, no matter what it cost (1 Petrus 2:21), kita juga dipanggil untuk menerima berkat daripadaNya dan kemudian bergerak memberkati orang lain.

Dalam bentuk yang paling sederhana dan relatif tanpa harus mengeluarkan tenaga maupun biaya, sebuah ucapan syalom yang diucapkan dengan sungguh-sungguh disertai niat yang penuh bisa membawa berkat besar bagi orang yang kita ucapkan. Jadi kalau anda mengucapkan syalom lagi kepada orang lain, pahamilah maknanya dan besarnya kandungan doa yang ada didalamnya. Dalam ucapan syalom ada doa yang luar biasa besar dan indah, dibalik perkataan ada kuasa. Mari kita sama-sama belajar untuk saling memberkati dan mendoakan. Sebagai penutup, saya mengucapkan syalom bagi anda semua, kiranya segala kebaikan Tuhan tercurah bagi anda dengan penuh yang berkelimpahan.

Syalom berisi doa sejahtera yang punya arti luas dan besar agar yang diucapkan dipenuhi kebaikan Tuhan dalam segala hal


Wednesday, September 21, 2022

Syalom (2)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)


Selanjutnya, mari kita lihat alur syalom ini. Syalom haruslah dimulai dari orang percaya. Yesus mengatakan "Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:9-10). Ketahuilah bahwa Tuhan Yesus mau datang ke dunia bukan cuma sekedar supaya kita selamat, tapi Dia ingin agar kita memiliki hidup yang penuh dengan segala kelimpahan. He wishes us able to have and enjoy fruitful and glorious life, and have it all in abundance. Kata kelimpahan atau abundance ini berarti to the full, until it overflows, alias hingga mencapai kepenuhan hingga melimpah keluar.

Lalu, dari orang percaya, syalom kemudian harus menyebar ke komunitas orang percaya lainnya. Dari Mazmur 122:1-9 jelas terlihat bahwa doa sejahtera harus saling disampaikan/dibagikan satu sama lain. "Berdoalah bagi kesejahteraan Yerusalem," kata Daud dalam ayat 6, "Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa."

Kata Yerusalem hari ini mengacu kepada komunitas orang percaya, Israel-israel secara rohani. Jadi biasakanlah mengucapkan syalom bukan sambil lalu, sekedarnya atau asal saja, tetapi ucapkanlah dengan sungguh-sungguh disertai niat untuk memberkati kepada orang lain. Betapa indahnya apabila kita saling memberkati, saling mendoakan, saling meminta kiranya Tuhan memberkati secara berkepenuhan dan melimpah atas kehidupan satu sama lain.

Selanjutnya, dari sebaran di komunitas orang percaya, selanjutnya syalom harus menyebar ke luar orang percaya hingga ke seluruh ujung bumi. Agar ini bisa kita lakukan dan punya makna, menjadi sangat penting bagi kita untuk mengetahui maksud dan tujuan ketika mengucapkan syalom. Melepas berkat untuk turun kepada orang lain itu wajib kita lakukan.

Ucapan syalom juga menggambarkan kesepakatan atau setuju dengan Tuhan. Ketika kita sepakat dengan Tuhan, maka yang keluar adalah ucapan syukur, sukacita dan memberi rasa damai, tentram dalam hati kita.

Selain dari pada itu kita juga perlu membangun pola pikir mengaplikasi Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, karena mustahil bagi kita untuk bisa menjadi berkat dan memberkati apabila kita sendiri masih belum beres dalam memahami kebenaran dan ketetapanNya. Kalau memahami saja belum, bagaimana kita bisa menghidupinya?

Jadi singkatnya kita bisa melihat bahwa syalom dari Tuhan merupakan sebuah ucapan doa agar kiranya Tuhan memberkati orang yang kita ucapkan dengan segala kebaikan dalam aspek kehidupannya, baik kesejahteraan, sentosa, keamanan, proteksi atau perlindungan, kesehatan, kemakmuran, ketentraman dan lain-lain yang harus dimulai dari kehidupan orang percaya, kemudian menyebar kepada komunitas orang percaya dan akhirnya harus bisa menjangkau orang-orang diluar hingga mencapai ujung bumi. Seperti itulah pengertian syalom yang seharusnya seperti yang diinginkan Tuhan.

(bersambung)

Tuesday, September 20, 2022

Syalom (1)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 Ayat bacaan: Mazmur 122:8-9
==================
"Oleh karena saudara-saudaraku dan teman-temanku aku hendak mengucapkan: "Semoga kesejahteraan ada di dalammu!" Oleh karena rumah TUHAN, Allah kita, aku hendak mencari kebaikan bagimu."

Bagi fans film Star Trek tentu kenal dengan salah satu tokoh utama bernama Spock. Spock dalam film ini digambarkan sebagai separuh manusia, separuh lagi berasal dari sebuah planet bernama Vulcan. Ia punya karakter yang unik karena susah tersenyum dan cenderung kaku dan hanya bertumpu pada logika. Selain itu, bentuk telinganya yang panjang lancip di bagian atas membuatnya terlihat unik. Karena ia berasal dari Vulcan, cara menyampaikan salamnya pun berbeda dengan manusia. Ia suka menyampaikan salam dengan memisahkan jari telunjuk dan tengah dengan jari manis dan kelingking yang membentuk 'V', lantas berkata "live long and prosper". Salam ini kemudian di respon oleh bangsanya yaitu bangsa Vulcan dengan "peace and long life". Bagi saya, itu sangat mirip dengan kata yang sangat sering kita ucapkan sehingga pasti tidak asing lagi, yaitu Syalom.

Syalom. Ada juga yang menyebutnya dengan shallom atau shalom. Kata syalom atau shalom berasal dari bahasa Ibrani. Dalam penggunannya di bahasa asli, kata shalom juga punya beberapa jenis pengucapan. Salah satunya adalah yang sering kita dengar karena sangat mirip, yaitu Shalom Aleichem. Ada kesamaan bahasa yang sejenis misalnya dalam bahasa Arab, kita di Indonesia, di India, juga di beberapa negara Asia lainnya pun mengucapkan kata 'salam' yang berakar dari syalom.

Banyak yang mengira bahwa syalom cuma kata sapaan biasa, seperti halnya kata 'halo' atau 'hai' atau 'apa kabar'. Tetapi sesungguhnya kata ini lebih dari sekedar ucapan sapaan. Syalom bukanlah hanya 'halo', karena kata ini sesungguhnya mengandung arti yang sangat memberkati, dimana apabila kita ucapkan kepada orang lain bisa membawa doa kita agar berkat turun dengan implikasi luas dalam kehidupan mereka. Ada yang menganggap bahwa kata ini hanya boleh diucapkan kepada yang seiman karena mereka merasa doa memberkati tidak boleh keluar dari lingkup kepercayaan yang sama, tetapi untuk kita orang percaya, kita boleh, bahkan wajib mengucapkan kata-kata berkat kepada siapapun tanpa melihat keyakinan yang mereka anut. Karena kita wajib untuk memberkati, dan menjadi saluran berkat buat sesama tanpa memandang perbedaan dalam bentuk apapun.

Sekarang mari kita lihat pengertian Syalom secara detail, dan memahami betapa powerfulnya kata ini. Kalau diterjemahkan langsung, Shalom berarti sejahtera sepenuhnya. Sepenuhnya, tidak ada yang kurang, tidak ada yang pecah, kelengkapan dalam segala hal. Syalom meski cuma satu kata singkat dan sederhana sebenarnya punya kekuatan yang sangat besar, karena dalam kata ini sesungguhnya terkandung serangkaian doa dari yang mengucapkan kepada yang diucapkan, yaitu meliputi:

- Proteksi, meminta supaya perlindungan Tuhan turun pada hidup mereka
- Keamanan
- Kesehatan
- Kemakmuran, Sentosa
- Keadaan baik, tidak celaka
- Ketentraman

Jadi ketika kita bertemu dengan saudara-saudari kita, dengan mengucapkan syalom yang disertai niat maka itu artinya kita mendoakan mereka, kiranya mereka mendapatkan segala kebaikan dari Tuhan seperti rincian poin-poin diatas. Kita harus sadar bahwa ucapan salam sangat bisa dipakai untuk menyampaikan doa pada orang lain, karena di balik perkataan itu ada kuasa. Karena ada kuasa di balik perkataan itulah maka kita wajib mempergunakan kata-kata yang keluar dari mulut kita untuk memberkati supaya orang yang mendengarnya beroleh kasih karunia (Efesus 4:29).

Ada sebuah gambaran yang indah dari pengucapan syalom yang hardir dalam ucapan doa sejahtera untuk Yerusalem yang tertulis dalam Mazmur 122:1-9. 

"Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: "Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa. Biarlah kesejahteraan ada di lingkungan tembokmu, dan sentosa di dalam purimu!" Oleh karena saudara-saudaraku dan teman-temanku aku hendak mengucapkan: "Semoga kesejahteraan ada di dalammu!" Oleh karena rumah TUHAN, Allah kita, aku hendak mencari kebaikan bagimu." (Mazmur 122:6-9).

Cermatilah rangkaian doa sejahtera yang diucapkan Daud ini baik-baik. Seperti itulah bentuk syalom yang sesungguhnya. Biarlah kesejahteraan dan sentosa ada di dalam rumah dan melingkupi segala aspek kehidupanmu. Tidakkah doa seperti ini sangat baik dan indah ketika kita ucapkan kepada orang lain?

(bersambung)




Monday, September 19, 2022

Penampilan atau Hati? (3)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Samuel menjadi heran. Kalau ini benar semua anak Isai, kenapa tidak satupun yang dipilih diantara mereka? "Lalu Samuel berkata kepada Isai: "Inikah anakmu semuanya?" (ay 11a). Mendengar dan melihat reaksi Samuel, barulah Isai mengakui bahwa sebenarnya ia masih punya satu anak lagi. Jawabnya: "Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba." (ay 11b). Bayangkan, Daud bahkan tidak dianggap ayahnya layak untuk jadi orang yang diurapi Tuhan sehingga ia tidak dianggap penting untuk ikut tampil dalam jajaran anak Isai. Tujuh anak dibawa, Daud tidak diajak.

Padahal, di saat ketujuh anak dinilai Isai berpotensi untuk menjadi raja, Daud, yang masih sangat muda sedang berjuang nyawa menjaga dua - tiga kambing domba milik Isai. Hanya dua- tiga, itu jumlah yang sangat sedikit untuk mempertaruhkan nyawa. Tapi Daud menjalankan tugasnya dengan sungguh-sungguh. Berapapun yang dipercayakan ayahnya, ia akan memperjuangkan benar-benar, mau apapun resikonya.

Kita kemudian tahu bahwa Tuhan pilih Daud, seorang anak muda yang masih kemerah-merahan wajahnya dan jauh dari postur tinggi besar gagah bak prajurit. Lalu TUHAN berfirman: "Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia." Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama." (ay 13b-14).

Dunia sedang, dan mungkin akan terus mencari dan menilai orang-orang dari penampilan. Mungkin beberapa dari teman-teman selama ini terintimidasi dengan tren ini, mengira bahwa anda akan sulit untuk maju dan berhasil karena anda merasa penampilan anda biasa saja. Hari ini dengarlah apa kata Tuhan. Tuhan tidak mementingkan itu, melainkan mementingkan hati. Hati yang berserah, hati yang bersyukur, hati yang berpusat pada Tuhan dan kehendakNya, hati yang taat, hati yang tulus dan jujur, hati yang dipenuhi iman dan percaya kepada Tuhan, hati yang humble, hati yang melayani, hati yang selalu mau serius dalam mengembangkan karunia dan talenta untuk dipakai memberkati banyak orang. Orang-orang seperti itulah yang Tuhan pilih lebih dari apapun.

Adalah jauh lebih penting untuk setia pada Tuhan dan tidak memberi kompromi kepada hal lainnya. Melakukan tepat seperti apa yang Tuhan mau, mendengar suaraNya, mengerti rancanganNya, dan mengikuti dengan penuh ketaatan dalam setiap langkah. Dunia boleh punya paradigmanya sendiri, tetapi kalau Tuhan berkehendak, siapa yang bisa melawan? Kalau cara dunia mengharuskan kita menyogok atau pakai uang pelicin agar urusan beres, atau apa yang kita harapkan bisa terlaksana, percayakah anda kalau saya bilang tanpa itu pun kita bisa? Saya berani dengan yakin menyatakan hal ini karena saya sendiri sudah melakukannya. Dan beberapa teman yang saya ajarkan hal yang sama pun telah membuktikan sendiri mengenai hal ini. Contoh dan buktinya sudah ada.

Saya akan beri satu contoh kecil saja lewat toko saya. Sudah menjadi rahasia umum kalau dimana-mana akan ada preman atau penguasa wilayah yang akan meminta upeti pada setiap usaha yang buka di wilayahnya. Kalau kita tidak memberi, kita bisa repot berjualan. Atau kalau mereka langsung menguasai lahan parkir di depan toko tanpa meminta jatah bulanan, itu sudah kita anggap baik banget. Percayakah anda kalau saya bilang saya tidak pernah dimintai sekalipun, selama 4 tahun saya buka? Jangankan minta, pembeli parkir pun gratis disini. Tidak ada yang meminta uang parkir dari mereka. Dan, karena saya buka di deretan ruko, toko-toko sebelah pun sama-sama bisa berjualan dengan tenang tanpa dibebani uang keamanan dan lainnya. Sementara di bagian lain, hal itu terjadi. Kecuali deretan ruko kami. Dan apakah anda percaya kalau para penguasa atau preman ini terkadang datang berbelanja dan membayar sesuai harga? Itu faktanya, seperti itulah hebatnya Tuhan. Saya bahkan tidak pernah berdoa agar kiranya Tuhan menjauhkan mereka dari saya. Apa yang saya lakukan simpel saja. Saya membangun hubungan dengan Tuhan dengan teratur dan berjualan dengan jujur. Saya terus belajar menghidupi Firman dan melakukan tepat seperti apa yang Firman Tuhan katakan, ajarkan atau perintahkan. Kalau saya bisa mengalami, kenapa teman-teman pembaca tidak? Kita sama di hadapan Tuhan. Saya yakin kalau saya bisa, anda pun bisa.

Mari periksa talenta anda, apa yang anda miliki saat ini dan apa yang menjadi panggilan Tuhan untuk anda. Berusahalah disana dan bersinarlah. Terima pengurapan Tuhan dan lakukan yang terbaik. Anda, saya, dan siapapun yang memiliki hati yang benar akan mendapat kehormatan untuk mencerahkan dunia dan menyatakan Kristus disana. Do remember that no matter what, under whatever circumstances, nothing in this world is able to hold what God has granted, so don't be intimidated.

Good looks fade, but a good heart keeps you beautiful forever



Sunday, September 18, 2022

Penampilan atau Hati? (2)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 

(sambungan)

"Daud adalah anak seorang dari Efrata, dari Betlehem-Yehuda, yang bernama Isai. Isai mempunyai delapan anak laki-laki. Pada zaman Saul orang itu telah tua dan lanjut usianya. Ketiga anak Isai yang besar-besar telah pergi berperang mengikuti Saul; nama ketiga anaknya yang pergi berperang itu ialah Eliab, anak sulung, anak yang kedua ialah Abinadab, dan anak yang ketiga adalah Syama. Daudlah yang bungsu. Jadi ketiga anak yang besar-besar itu pergi mengikuti Saul." (1 Samuel 17:12-14).

Dari ayat ini kita bisa melihat berapa jumlah anak Isai, dimana tiga anak tertuanya yaitu Eliab Abinadab dan Syama merupakan prajurit Israel dibawah kepemimpinan Saul. Sebelum saya lanjutkan, tentu ada kriteria tertentu untuk bisa menjadi prajurit atau tentara. selain postur yang gagah, keahlian berperang pun harus mereka miliki. Sedang Daud pada masa itu masih sangat muda. Menjadi prajurit saja mungkin sudah jadi bahan bercandaan, apalagi kalau bicara untuk dijadikan raja.

Logika manusia dan fenomena mementingkan penampilan pun terjadi pada saat itu. Mereka dengan mudah mengira bahwa untuk menjadi raja akan tergantung dari kepantasan sesuai perawakan atau penampilan. Bahkan Samuel yang notabene seorang nabi pun ternyata termakan logika berpikir seperti itu. Saat Samuel melihat Eliab yang gagah, Samuel langsung mengira bahwa pasti anak tertua ini yang dipilih Tuhan.

"Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: "Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya." (ay 6).

Itu pikir Samuel. Tapi kita tahu bahwa bukan Eliab yang dipilih Tuhan. "Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (ay 7).

Secara jelas Tuhan menegur nabinya. Tuhan berkata bahwa tidak peduli apa yang dilihat manusia di depan matanya. Apa yang Tuhan lihat adalah hati. Samuel lalu segera menangkap esensinya. Tapi tidak dengan Isai. Isai belum mengerti dan masih berpikir dengan cara pikir manusia. "Bukan Eliab ya? Kalau begitu pastilah Abinadab atau Syama." Seperti itu kira-kira pikiran Eliab. Sepertinya Isai berpikir, mungkin Eliab dianggap sudah terlalu tua, atau dianggap kurang gagah. Tapi kriteria Tuhan pastilah diantara dua anakku yang lain yang sudah menjadi kebanggaan keluarga karena ada di jajaran prajurit Israel.

"Lalu Isai memanggil Abinadab dan menyuruhnya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata: "Orang inipun tidak dipilih TUHAN." Kemudian Isai menyuruh Syama lewat, tetapi Samuel berkata: "Orang inipun tidak dipilih TUHAN." (ay 8-9).

Dua-duanya tidak? Wah, masa sih? Mungkin begitu pikir Isai. Mau tidak mau, ia pun menyuruh sisanya berdiri di depan Samuel. Semua sisanya? Nanti dulu. Lihatlah ayat berikutnya. "Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: "Semuanya ini tidak dipilih TUHAN." (ay 10).

Perhatikan ayat ini. Disebutkan jelas bahwa Isai menyuruh ketujuh anaknya untuk tampil bergantian di hadapan Samuel. Tujuh. Padahal kita sudah tahu bahwa anak laki-lakinya bukan tujuh melainkan delapan. Bahkan yang sudah jelas-jelas ditolak pun disuruh tampil lagi, karena Isai mungkin merasa bahwa ada kesalahan teknis pada kesempatan pertama. But no, none of those seven men was chosen.

(bersambung)

Saturday, September 17, 2022

Penampilan atau Hati? (1)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 Ayat bacaan: 1 Samuel 16:7
======================
"Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."

Jika ada orang yang sangat bagus suaranya dalam bernyanyi, apakah ia bisa menjadi tenar dan sukses sebagai penyanyi? Atau pertanyaan yang lebih sering muncul, apa yang dibutuhkan agar bisa menembus industri musik? Logikanya kan, karena menyanyi adalah soal suara, ya pasti kualitas vokal dalam bernyanyi dong yang paling penting. Apakah begitu?

Kalau anda ingat di tahun 80an ada duo yang sangat mendunia bernama Milli Vanilli. Mereka begitu populer bahkan sempat memenangkan Grammy. Tapi kemudian apa yang disembunyikan terbongkar dan menjadi skandal yang bagi banyak orang dianggap sebagai skandal terburuk dalam dunia musik, yaitu ketahuan melakukan lipsync. Mereka bukanlah penyanyi asli. Ada orang lain yang bernyanyi, lantas mereka yang tampil di depan seakan-akan setiap lagu yang mereka nyanyikan benar suara mereka. Terbongkarnya kasus ini membuat karir mereka pun tamat. Penyanyi aslinya sempat tampil, tapi publik tampaknya kadung kecewa, atau mungkin karena penampilan penyanyi aslinya yang memang jauh dari duo palsu, maka hasilnya pun gagal total.

Perhatikan ada kata 'penampilan' dalam tulisan saya diatas. Bukan cuma di Indonesia, tapi di luar sana pun fenomena yang ironis ini sudah lama terjadi. Di masa lalu memang suara menjadi faktor utama, tapi setelah dunia hiburan terus berkembang ke arah visual, maka penampilan kemudian mengambil alih sebagai faktor terpenting untuk sukses. Dan saya bicara soal musik lho ya, bukan akting, model atau apapun yang memang membutuhkan penampilan.

Saya cukup lama berkecimpung di dunia musik, sehingga tahu realita yang saya suka gambarkan sebagai ironi. Adalah fakta bahwa industri musik termasuk di negeri ini sangat mementingkan penampilan fisik ketimbang talenta atau kualitas bermusik atau bernyanyi. Klop kalau kemampuannya di atas rata-rata juga didukung penampilan yang enak dipandang mata. Tapi kalaupun suara pas-pasan tapi penampilan menarik, cantik atau ganteng, perawakan mempesona, itu jauh lebih penting ketimbang penampilan pas-pasan tapi suara atau skil bermusiknya luar biasa. Ada seorang produser terkenal pernah berkata pada saya: "kalau cuma masalah suara gampang, tinggal diutak-atik di studio saja beres. Tapi kalau fisik, kan susah mau diapain juga." Dan itulah nilai jual tertinggi menurut mereka.

Tapi apakah cantik atau ganteng saja sudah cukup? Jawabannya belum. Karena para pendatang baru alias newcomers ini juga harus punya cukup modal yang nilainya tidak sedikit, dan itu digunakan sebagai 'syarat' agar bisa diorbitkan. Mendapat jam tayang, mendapat jam putar, agar berkesempatan dilihat dan didengar, lalu dari sana mereka bisa berharap sukses. Dan semakin besar 'modal' yang dimiliki, maka semakin banyak pula peluang untuk dipromosikan dan diorbitkan. Kalau bukan uang, kita pun mendengar kisah-kisah kelam yang mencatat pengorbanan para pendatang wanita yang mau tidak mau harus mereka lakukan agar bisa sukses berkarir di dunia hiburan.

Seperti itulah pandangan dunia. Dunia cenderung mementingkan penampilan fisik ketimbang hal-hal lain seperti sifat, kerajinan, kesetiaan dan hal-hal lain yang tidak tampak di luar. Bahkan lowongan pekerjaan pun kerap menyertakan kalimat 'berpenampilan menarik' sebagai persyaratan untuk bisa terpilih. Kalau ada pepatah tua mengatakan "true beauty comes from deep within", itu seperti sudah usang untuk jaman modern. Tidaklah heran kalau kita melihat adanya degradasi moral, kebobrokan mental dan sulit mencari karakter yang berintegritas hari-hari ini.

Tidak heran kalau kita terus melihat orang-orang yang seharusnya menginspirasi tapi kemudian menunjukkan perilaku-perilaku tidak terpuji, karena fokus di jaman sekarang bukan itu. Dunia tidak mencari itu lagi sekarang melainkan penampilan. Karenanya orang-orang yang tidak berpusat pada Allah dan kehendakNya akan dengan mudah terpengaruh oleh apa yang dicari dunia hari ini. Dan sayangnya, ada banyak orang percaya yang terbawa arus atau 'terpaksa' mengikuti arus pandangan dunia supaya mereka bisa mencapai kesuksesan. "Bro, gua hidup di dunia bukan di langit atau di surga. Karena gua hidup di dunia ya gua harus ikut cara dunia dong.. gua sih simpel-simpel aja." Itu kata seorang musisi pada suatu kali saat saya membahas hal ini dengannya. Itu jadi gambaran bagaimana arus dunia yang sedemikian kuat mampu menarik para orang percaya. Kalau mau lebih ironis lagi, fenomena ini pun sudah menulari gereja. Ada banyak juga gereja yang melakukan hal yang sama, mencari worship leader atau tim musik yang penampilannya bagus ketimbang mereka yang punya hati dan talenta untuk mengajak jemaat masuk ke hadirat Tuhan lewat pujian dan penyembahan. Mau diakui atau tidak, saya kenal cukup banyak dari mereka yang melayani sehingga tahu urusan dapur.

Sebenarnya masalah mementingkan penampilan, paras, postur dan hal-hal fisik bukan baru sekarang terjadi, tetapi sudah menjadi masalah klasik. Bahkan Alkitab sudah menyinggung tentang itu sejak dahulu. Setidaknya pada masa Daud hendak diurapi menjadi raja, hal itu sudah dicatat. Dan artinya pandangan seperti ini sudah sejak dulu ada.

Mari kita lihat kisah awal pengurapan turun atas Daud. Ayat pembuka dalam 1 Samuel 16 mencatat saat Tuhan menyuruh Samuel berhenti bersedih hati karena Saul dan segera bergegas menemui seorang tua bernama Isai. Untuk apa? Tugasnya jelas, yaitu untuk mengurapi raja baru pilihan Tuhan sendiri. Dan raja yang dipilih itu ternyata adalah salah satu anak dari Isai. Isai itu punya 8 anak laki-laki, dimana salah satunya akan Tuhan pilih.  

Maka Samuel  kemudian menemui Isai di upacara pengurbanan. Samuel segera menguduskan Isai dan anak-anaknya satu persatu dalam upacara itu. Agar lebih jelas, mari kita lihat kejadian ini dalam 1 Samuel 17:12-14. 

(bersambung)



Friday, September 16, 2022

Istri: Teman Sekutu dan Seperjanjian (4)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)


Saya dan istri saya harus menunggu selama 10 tahun. Apakah kami bahagia setelah ada anak? Oh yes, very much. Apakah kami merasa jadi sempurna? Absolutely. Tapi apakah kami tidak bahagia selama 10 tahun sebelum anak perempuan kami yang masih balita ini dianugerahkan Tuhan? Kami bahagia. Sangat bahagia meski pada waktu itu masih berdua. Kami merindukan anak, ya, tapi bukan berarti kami tidak sempurna, karena bagi kami, kesempurnaan itu ada jika Tuhan ada dalam pernikahan kami sepanjang jalan. Kami terus memegang janji Tuhan bahwa keturunan Ilahi akan hadir dalam pernikahan kami. Namun sebelum itu terjadi, kami harus terus menjaga agar pernikahan kami tetap hangat dipenuhi kasih baik antara kami berdua dan dari kami dengan Tuhan. Nanti pada kesempatan lain saya akan angkat mengenai hal ini lebih jauh secara khusus, karena paradigma di masyarkat bahwa keluarga yang belum punya anak adalah keluarga yang tidak lengkap atau malah gagal bisa sangat menekan perasaan pasangan yang belum kunjung dikaruniai anak, apalagi kalau sampai bawa-bawa ayat. Jadi nanti saya akan bahas khusus soal ini.

Kembali pada Maleakhi pasal 2, disana kita bisa melihat betapa Tuhan membenci perceraian, Tuhan tidak suka orang yang berkhianat. Dan ketika ini terjadi, jangan heran jika hidup tidak lagi memiliki sukacita dan damai, karena Tuhan tidak lagi berkenan menerima persembahan apapun dari tangan mereka.

Gaya hidup modern saat ini penuh dengan kawin-cerai. Celakanya itu pun terjadi di kalangan orang percaya. Saya sudah menangani beberapa di antaranya, dan banyak diantara mereka ini secara logika sudah tidak lagi bisa dipersatukan. Seringkali butuh waktu lama dan usaha keras untuk menyadarkan dan memulihkan mereka. Saya gelisah untuk mereka, saya menangis untuk mereka, saya berdoa untuk mereka. Karena perceraian tidak akan membuat mereka lebih bahagia tapi justru akan mendatangkan banyak masalah baru, apalagi kalau mereka menyadari bahwa perpisahan itu sama artinya dengan memutus sepihak perjanjian yang dimateraikan Tuhan. Saya tidak berani membayangkan apa yang bisa terjadi kalau kita berani-beraninya merendahkan Tuhan dengan membatalkan apa yang sudah Dia ikat.

Sebuah pernikahan sesungguhnya sakral, suci, kudus dan jelas melibatkan Tuhan di dalamnya. Bukan hanya soal ketertarikan secara fisik, hanya sebatas menikah karena tidak baik berlama-lama pacaran, bukan pula hanya sebatas kemeriahan pesta, foto pre-wedding keren dan sebagainya. Tujuan pernikahan adalah untuk menggenapi kehendak Tuhan, tempat kita ditempa dan dilatih, serta peluang kita untuk merasakan kehadiran surga di bumi. It's not about physical attractions but commitment. Puji Tuhan, RohNya bekerja melembutkan hati mereka-mereka yang saya mediasi sehingga semuanya kembali bersatu dengan baik sampai hari ini. Semoga mereka semua, saya dan anda bisa merasakan hadirnya surga di dunia dalam keluarga kita masing-masing, semoga keluarga kita semua senantiasa berjalan bersama dengan Tuhan yang hadir didalamnya.

Masalah akan selalu ada, baik dalam keluarga yang paling harmonis di dunia sekalipun. Yang membedakan adalah bagaimana menyikapinya, bagaimana kita memandang pasangan kita dan bagaimana serius kita berusaha untuk menjalani dan mengerjakan dengan sebaik mungkin. Semua masalah bisa diselesaikan dengan keterbukaan dan kejujuran, dan hendaklah diselesaikan dengan cepat, jangan ditunda-tunda hingga menumpuk dan menjadi rumit. Mencari pelarian di luar bukanlah sebuah penyelesaian, malah seringkali membuka permasalahan demi permasalahan baru yang akan mempersulit segalanya. Lebih dari itu, hal tersebut pun dibenci Tuhan.

Walaupun ada teman-teman pembaca yang saat ini belum menikah, suatu saat nanti akan tiba saatnya bagi anda untuk memasuki jenjang pernikahan ini. Baik teman-teman yang sudah menikah maupun yang belum, mari kita bangun sebuah hubungan pernikahan yang sesuai dengan prinsip-prinsip firman Tuhan, sehingga rumah tangga kita bisa menjadi sebuah kesaksian yang indah bagi keluarga-keluarga lainnya. Pernikahan yang benar-benar disadari dipersatukan oleh Tuhan seharusnya bisa memberkati dan menginspirasi. Ketika dunia penuh dengan kawin-cerai, ini saatnya kita memperkenalkan keindahan keluarga Ilahi yang dimateraikan langsung oleh Tuhan. Adalah tugas kita untuk menyatakan seperti apa pernikahan yang harmonis itu agar bisa diteladani oleh orang lain.

"Marriage is not a noun, it's a verb. It isn't something you get, it's something you do. It's the way you love your partner every day." - Barbara De Angelis



Thursday, September 15, 2022

Istri: Teman Sekutu dan Seperjanjian (3)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)



2. Pasangan saya tidak akan menyakiti saya

Idealnya siapapun tidak boleh saling menyakiti. Hanya saja, dalam kenyataannya akan ada saat- saat dimana kita, mungkin tanpa sengaja menyakiti pasangan kita. Kalau kita sadar kita sudah menyakiti, akan sangat baik jika kita minta maaf sesegera mungkin, karena luka yang dibiarkan bisa 'infeksi' dan meracuni hati.

Saling memaafkan tentu menjadi jalan terbaik yang seharusnya dilakukan segera. Yang jadi permasalahan adalah anggapan atau harapan bahwa saat kita menikah semua pasti akan baik, lebih baik dari sebelum menikah, dan pasangan kita tidak akan menyakiti kita. Kalau sampai ini yang dijadikan landasan saat menikah, maka kekecewaan bisa mengawali datangnya keretakan rumah tangga.

Apakah itu artinya saya menganggap bahwa kekerasan fisik maupun verbal itu harus dimaklumi? Tentu saja tidak. Bahkan hukum di negara ini pun sudah mengatur perihal segala bentuk kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga. Yang saya sampaikan adalah sebuah pemahaman keliru bahwa kita berpikir bahwa kita tidak akan pernah tersakiti jika menikah. Baik suami maupun pria harus bahkan wajib untuk tidak menyakiti, tidak main tangan, tidak ngomong kasar. Kalaupun mau marah, marahlah dengan porsi sewajarnya dan jangan berpanjang-panjang, supaya jangan harus ada proses hukum yang pasti akan disesali, dan jangan sampai pula keretakan rumah tangga atau bahkan kehancuran terjadi karena kita tidak bisa meredam emosi sesaat.

3. Hidup akan lebih mudah


Berpikir bahwa dengan pernikahan hidup serta merta akan lebih mudah, itu pun akan mendatangkan kekecewaan, karena yang sering terjadi justru sebaliknya. Kalau tadinya anda hidup sendiri dan cuma perlu membiayai diri sendiri, sekarang ada istri, anak dan tanggungan-tanggungan lainnya. Kalau tadinya saat sendiri kita bebas mau apa saja, dengan adanya pasangan jadi banyak yang perlu dijaga, dipikirkan mana yang boleh mana yang tidak untuk dilakukan, harus mendahulukan yang mana dan sebagainya. Berbeda kebiasaan saja bisa menimbulkan riak-riak kecil yang memicu pertikaian. Belum lagi kalau ada tekanan dari berbagai hal seperti miskomunikasi, kekacauan peran dalam rumah tangga alias tidak tahu peran masing-masing, masalah ekonomi atau berbagai gangguan dari si jahat di berbagai sisi.

So, marriage life is never easy. Berat, penuh tantangan, penuh cobaan. Tapi apakah itu berarti bahwa pernikahan itu mengerikan dan harus dihindari? Tentu saja tidak. Seperti yang saya sampaikan di awal, pernikahan bisa menjadi tempat paling nyaman, aman dan bahagia, just like heaven on earth. Dan itu bisa kita rasakan apabila kita terus bekerja untuk mewujudkannya, dan yang terpenting, ada kuasa Tuhan di dalamnya. 

4. Cinta akan terus mengikat saya

Lagi-lagi, ini benar, tapi hanya jika kita menjaga dan mengusahakannya. Kalau cinta hanya secara sempit diartikan dengan ketertarikan fisik, maka itu berbahaya karena secara fisik manusia akan terus berubah seiring pertambahan umur. Pernikahan itu bukan soal cinta semata melainkan soal komitmen. Berkeluarga bukan soal ketertarikan fisik tapi sebuah sekolah bagi kita untuk melatih kesetiaan, kesabaran, menyatakan kasih, dan tempat serta kesempatan bagi kita untuk merasakan kehadiran Allah dan surgaNya di bumi.

Pernikahan pun bukanlah peternakan, yang artinya dirasa baru benar jika ada anak. Memang dalam Maleakhi pasal 2 disebutkan bahwa sejatinya ikatan pernikahan itu untuk melahirkan keturunan Ilahi. Tapi kita harus ingat pula bahwa anak itu adalah anugerah dari Tuhan yang tidak bisa kita paksakan, dan tidak boleh pula dijadikan alasan untuk terjadinya keretakan atau perpecahan. 

(bersambung)

Wednesday, September 14, 2022

Istri: Teman Sekutu dan Seperjanjian (2)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 

(sambungan)

Sebuah pernikahan adalah sebuah hubungan dimana Tuhan sendiri yang menjadi saksi. Karena itulah dalam kekristenan sebuah pernikahan itu sakral dan kudus. Kalau materai yang kita beli di kantor pos atau toko saja sudah bisa punya kekuatan hukum yang mengikat kedua belah pihak, apalagi jika Tuhan yang memateraikan langsung, menjadi saksi langsung atasnya. Itulah sebabnya dalam kekistenan tidak dikenal istilah cerai. Bagaimana mungkin manusia merasa berhak menceraikan apa yang dipersatukan Tuhan? Ini adalah sebuah dasar penting dalam pernikahan bagi kita.

Lihatlah apa yang dikatakan Yesus berikut ini:  "Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Matius 19:6). Tidak boleh, atas dasar apapun. Karena itu bagi yang belum menikah, pikirkan dan pertimbangkan dahulu baik baik saat menentukan pasangan, jangan hanya pakai nafsu dan perasaan saja. Tapi saat sudah memutuskan untuk menikah, maka ada komitmen yang harus dipegang, sebuah komitmen, bahkan ikatan itu berlaku bukan antar manusia saja tetapi melibatkan Tuhan.

Lalu lihatlah kembali ayat dalam Maleakhi 2:14 tadi. Selain Tuhan menjadi saksi atas sebuah pernikahan, disana juga  dikatakan bahwa istri itu merupakan teman sekutu dan seperjanjian. Saat ada dua negara atau lebih bersekutu, mereka pasti harus berjalan beriringan meski mungkin mereka tidak selalu setuju dalam semua hal. Kalau dalam menghadapi perang, sekutu tentu bekerjasama melawan musuhnya, kalau tidak ya berarti bukan sekutu namanya. Dan seperjanjian, itu pun sama bahwa orang yang sudah berjanji tentu harus menepati janjinya. Istri bukan berada di bawah suami, melainkan rekan sekutu, rekan seperjanjian, rekan sekerja yang sama levelnya.

Kalau istri ditutut menghormati suami, kita sebagai suami pun harus menghormati mereka sebagai istri. Bentuknya bisa berupa mengasihi, sabar menghadapi mereka, memberi waktu bagi mereka dan sebagainya. Kalaupun ada yang rasanya kurang pas dan perlu disampaikan, pilih waktu yang baik untuk itu dan sampaikan dengan lembut. Kalau kitanya masih emosi, jangan buru-buru menyerang istri. Tenangkan diri terlebih dahulu, ambil waktu, dan kalau emosi sudah turun, baru kita cari waktu untuk bicara. Dan bicaralah dengan memandang mereka sebagai teman sekutu dan seperjanjian, sesuatu yang bukan manusia, bukan cuma pendeta tetapi Tuhan sendiri yang memateraikan.

Ada kalanya pernikahan jadi berantakan karena disebabkan oleh ekspektasi yang ternyata tidak sama antara sebelum dan sesudah menikah. Ekspektasi atau persepsi salah itu cenderung disebabkan oleh pola pikir keliru dalam memandang pernikahan yang bisa saja anggapannya sudah turun temurun. Beberapa hal tentang pengharapan yang salah alias false hope yang saya dapati dari pengalaman saya adalah pemahaman-pemahaman seperti ini:


1. Pernikahan akan melengkapi saya

Wah kok salah? Pernikahan kan memang harusnya membuat keduanya saling melengkapi? Betul banget. Tapi itu bukan datang instan atau langsung melainkan butuh usaha dari kedua belah pihak. Itu adalah sesuatu yang harus terus diusahakan, dikerjakan, dikejar, dan untuk bisa mengusahakannya seringkali butuh pengorbanan, seperti mengorbankan ego, keinginan pribadi, harapan dan sebagainya. Jadi, apakah pernikahan itu akan melengkapi kita? Ya. Tapi apakah itu otomatis datang hanya dengan menikah di depan altar? Tidak. Begitu kira-kira. Jadi apabila kita berpikir bahwa pernikahan serta merta akan membuat kita langsung lebih lengkap, maka kita akan kecewa karena kenyataannya tidak akan pernah seperti itu.

(bersambung)

Tuesday, September 13, 2022

Istri: Teman Sekutu dan Seperjanjian (1)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 Ayat bacaan: Maleakhi 2:14
====================
"Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu."

Entah bagaimana mulanya, saya lupa. Tapi ternyata sudah beberapa kali Tuhan pertemukan saya dengan beberapa suami dan istri yang hubungannya memanas, retak, dan beberapa sampai pada titik untuk berpisah, alias sudah tidak bisa atau tidak mungkin lagi bersama. Penyebabnya? Wah banyak, dan kalau anda mengira selingkuh selalu jadi sumbernya, tunggu dulu. Karena ada banyak lagi hal lainnya yang bisa jadi pemicu keretakan. Orang ketiga yang hadir belum tentu harus dalam konotasi selingkuhan tapi bisa dari saudara, orang tua atau mertua, yang kemudian masuk ke tengah-tengah lalu menimbulkan friksi di dalam. Ada yang sudah melibatkan unsur kekerasan, dan itu belum tentu secara fisik. Kekerasan verbal alias lewat kata-kata kasar, bentakan, hinaan, itu pun sama sakitnya, bahkan bisa lebih parah.

Coba lihat di sekeliling kita masing-masing, maka kita akan menemukan satu, dua bahkan lebih pasangan yang hubungannya sudah rusak. Broken home, selain menyakitkan bagi pasangan suami istri tapi juga akan menimbulkan dampak negatif untuk anak, apalagi kalau mereka sedang dalam masa pertumbuhan dan masih membutuhkan figur ayah dan ibu. Maka ada banyak pasangan yang memilih bertahan hanya karena anak. Mereka jalan sendiri-sendiri, tapi masih terikat dalam hubungan pernikahan hanya karena alasan anak.

Karena anak. Apakah itu cukup? Buat saya tidak. Karena sejatinya pernikahan seharusnya bukan begitu. Buat saya, faktor cuma bertahan karena anak, meski itu masih lebih baik ketimbang bubar total, tetap tidak cukup karena hakekat pernikahan bukan seperti itu. It's about building a relationship that everyone in it should enjoy. Tapi bagaimana mau enjoy kalau sudah tidak ada kecocokan? Itu akan selalu jadi alasan pembenaran keputusan untuk berpisah. Ada pula yang memilih tetap bertahan karena tidak mau berurusan dengan harta gono-gini. Faktor takut rugi materi jadi alasan untuk bertahan, tapi tetap tidak ada lagi hubungan yang hangat disana. Itu seperti tinggal di atas puing-puing saja. Banyak debu, tetap kena hujan panas, sementara rumah sudah kehilangan fungsinya. Yang tinggal disana tetap saja tidak sehat, apalagi bahagia.

Sebuah pernikahan, seperti halnya hidup punya dua alternatif. It could be like heaven on earth, but it could also become hell break lose. Yang sering dilupakan atau tidak disadari, ketika kita terus berusaha agar hidup menjadi lebih baik, kalau kita berjuang hidup dan mati untuk mempertahankan kehidupan kita, kenapa pernikahan tidak diperlakukan sama seperti itu?

Apakah ada pernikahan yang 100% tanpa masalah atau konflik? Tidak ada. Namanya dua orang dalam satu rumah mau seakur apapun pasti ada saja masalah yang timbul. Saya pun begitu. Yang sering tidak dipikirkan adalah pola pikir kita menyikapi pasangan. Bagaimana kita memandang pasangan kita akan menentukan respon kita terhadap mereka.

Respon? Ya, respon. Ambil contoh, jika kita berselisih paham dengan orang yang anda hormati, kita tentu tahu harus bagaimana menyikapi itu dengan baik-baik. Meski seharusnya tidak dibenarkan untuk memperlakukan orang secara berbeda, tapi biasanya secara naluriah reaksi kita akan berbeda jika berselisih dengan orang yang tidak dikenal atau kita anggap selevel atau di bawah. Dan yang seringkali terjadi, meski tidak tertutup kemungkinan bahwa bisa jadi masalah diawali dari sikap istri yang keterlaluan, berdasarkan pengalaman saya adalah konsep pemikiran bahwa istri itu ada di bawah suami, jadi absolut dan mutlak hukumnya untuk ditaati.

Alangkah menarik jika kita melihat bahwa Alkitab menyebutkan bagaimana seharusnya seorang suami memandang istrinya dalam hubungannya dengan posisi Tuhan dalam sebuah pernikahan. Bacalah ayat ini pelan-pelan. "Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu." (Maleakhi 2:14). 

(bersambung)


Monday, September 12, 2022

Kristen (2)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Selanjutnya kita bisa belajar tentang bagaimana cara hidup para orang Kristen mula-mula ini. Setelah mendengar nubuatan salah satu nabi yang datang kesana dan mengatakan bahwa akan ada bencana kelaparan yang besar melanda dunia, para orang Kristen disana pun segera bertindak. Apa tindakannya? Mereka mengumpulkan sumbangan, sesuai kemampuan mereka masing-masing, dan mengirimkannya kepada saudara-saudara yang tinggal di Yudea. Perhatikan bahwa mereka bukan mengumpul untuk kelompok mereka sendiri, melainkan mereka tergerak untuk membantu saudara-saudara mereka, yang tentu saja belum mereka kenal, yang tinggal di wilayah jauh dari mereka, agar mereka punya persediaan saat bencana kelaparan itu datang. Mereka tidak memikirkan diri sendiri tapi mereka berpikir untuk membantu sesama, yang sekali lagi, tidak mereka kenal.

Saya tertarik untuk mengaitkan kisah diatas dengan gaya hidup jemaat mula-mula yang dicatat dalam Kisah Para Rasul pasal 2. Di dalam pasal ini disebutkan bahwa gaya hidup mereka ini tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama (ay 44), bahkan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya lalu membagi-bagikannya kepada yang membutuhkan sesuai keperluan masing-masing (ay 45). Mereka bertekun dan sehati berkumpul tiap hari dalam Bait Allah, mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergiliran dan makan bersama dengan gembira dan tulus hati (ay 46), sambil memuji Allah (ay 47).

Apa yang terjadi lewat perilaku mereka itu? Alkitab dengan jelas mencatat bahwa "mereka disukai semua orang" (ay 47), dan karenanya Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. (ay 47).

Perhatikan ada kaitan antara "mereka disukai semua orang" dengan "Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan". Apakah Tuhan membimbing banyak orang yang belum percaya untuk datang kepada jemaat mula-mula ini? Tentu saja. Saya tidak ragu akan hal itu. Tuhan bisa menggerakkan dan melembutkan hati siapapun untuk bisa menerima kebenaran. Tapi apakah faktor "disukai semua orang" tidak punya peran sama sekali? Tentu saja tidak. Saya yakin, ketika Tuhan menggerakkan hati orang untuk datang pada kumpulan jemaat mula-mula ini, mereka suka dan bisa melihat langsung bagaimana murid Kristus yang seharusnya. Karena itu mereka pun kemudian percaya dan bertobat, menjadi murid-murid Kristus juga.

Bagaimana  seharusnya hidup sebagai orang Kristen? Orang Kristen harus menunjukkan bahwa apa yang dilakukan itu sesuai dengan Firman Tuhan. Cerminan hidupnya haruslah mencerminkan kebenaran yang terkandung di dalamnya dan mengandung prinsip-prinsip kebenaran itu secara nyata. Jangan sampai kita tidak menjadi pelaku Firman, jangan sampai kita berbeda sikap dan perkataan atau pengajaran, dan jangan sampai pula kita menjadi cerminan buruk yang sama sekali tidak menggambarkan Kristus. Bukannya disukai tapi dibenci, bukannya orang mendekat malah dijauhi, bukannya jadi teladan tapi jadi contoh buruk, bukannya menggiring orang untuk kenal dan percaya tapi malah jadi batu sandungan.

Dari mana kita harus mulai?  Apa yang saya lakukan adalah mulai dari hal-hal kecil saja. Tidak membenci, tidak membohongi, menghargai sesama, mengasihi sesama, berbagi, peduli, dan selanjutnya terus dalami kebenaran Firman, pelajari, renungkan, perkatakan dan lakukan secara nyata dalam hidup kita. Nantinya kalau kita sudah terbiasa menghidupi Firman Tuhan, maka tubuh, jiwa dan pikiran kita pun akan beradaptasi dan terbiasa hidup dengan itu dan selanjutnya kita akan lebih mudah mengadopsi dan mengaplikasikan prinsip-prinsip dan nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan dalam hidup kita.

Seperti apa label orang Kristen di luar sana, itu tergantung dari bagaimana kita bertingkah laku, bersikap lewat segala tindakan dan perbuatan kita di tengah masyarakat. Kalau memang masih banyak yang anti pati, jangan buru-buru salahkan mereka karena bisa jadi, kita belum menjadi cerminan yang benar dari Kristus.

Who Christians are to them depend on how we live





Sunday, September 11, 2022

Kristen (1)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 11:26
===================
"Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen."

Hari ini saya mau cerita tentang seorang teman yang pernah secara jujur bicara tentang pandangannya terhadap orang Kristen. "Maaf ya sebelumnya, saya cuma mau bilang bahwa selama kita berteman, kamu mengubah pandangan saya terhadap orang Kristen." Waktu ia mengatakan hal ini, saya merasa sedikit kaget, dan was-was menanti apa yang akan ia katakan selanjutnya. Ia bercerita bahwa sejak kecil ia diajarkan hal-hal negatif tentang orang Kristen, dan kemudian setelah ia dewasa dan bertemu banyak orang Kristen, ia merasa bahwa apa yang diajarkan selama ini itu benar adanya. Maksudnya? "Maksudnya ya semua hal jelek itu ya memang begitu." katanya sambil tertawa kecil. Tapi menurutnya, saya menunjukkan sikap yang jauh berbeda. Saya tidak pernah menyadari bahwa ia diam-diam mengamati saya lewat jati diri saya sebagai orang Kristen. Menurut saya, bagaimana saya berteman dengannya atau dengan siapapun selama ini ya hanya dengan apa adanya saya saja, tidak ada gimmick alias pura-pura, cuma menjadi diri saya sendiri saja. That's it, as simple as that. Ternyata ia merasa bahwa apa yang saya menunjukkan sikap yang berbeda, yang membuatnya belajar bahwa ia tidak boleh menggeneralisasi sesuatu. Ia secara jujur mengatakan bahwa pada mulanya ia menjaga jarak dan hati-hati untuk bisa menerima saya sebagai teman. "Jujur, saya punya rasa curiga dan hati-hati pada awalnya." katanya. Tapi seiring waktu, ia tahu dan kenal siapa saya, dan ia pun bisa dengan nyaman berteman meski punya kepercayaan yang berbeda. I was his first Christian friend. Dan ternyata, itu tidak menakutkan, tidak mengganggu dan lain-lain seperti apa  yang ia dengar dan sudah sempat alami dari yang lain.

Saya bukan sedang mau sombong. Percayalah, saya pun masih jauh dari sempurna dan masih terus belajar untuk lebih banyak mengamalkan prinsip hidup dalam kebenaran. Tapi sejak saya menggali lebih jauh tentang kebenaran terutama seiring dengan aktifnya saya menulis renungan, saya berkomitmen untuk menghidupi apa yang saya pelajari dan tulis secara nyata. Saya selalu berusaha agar apapun yang saya sampaikan saya lakukan juga dalam kehidupan saya sehari-hari. Karena renungan ini bukan saya buat untuk pamer pengetahuan, tapi lebih kepada sarana saya berbagi tentang apa yang saya dapat, untuk kita praktekkan bersama-sama.

Seperti apa orang Kristen di mata mereka yang belum mengenal Kristus, itu akan menjadi gambaran seperti apa Yesus itu di mata mereka. Apakah kita sudah menjadi cermin yang benar atau cemar, itu akan sangat tergantung dari seperti apa cara, gaya dan tingkah laku kita dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana 'label' Kristen dalam pandangan di luar sana? Positif atau negatif kah saat ini? Dan, sejak kapan ada istilah Kristen, alias pengikut Kristus itu sebenarnya?

Ayat bacaan hari ini menunjukkan saat pertama kali orang percaya dipanggil sebagai Kristen, yaitu di Antiokhia. "Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen." (Kisah Para Rasul 11:26).

Agar lebih jelas, bacalah perikop Kisah Para Rasul 11:19-30. Pada waktu itu penyebaran berita Injil sudah menyebar hingga jauh ke Fenisia, Siprus dan Antiohkhia lewat orang-orang percaya mula-mula. Multiplikasi terjadi, dan mereka yang sudah percaya ini kemudian bergerak menjangkau jiwa dengan melebarkan sayap hingga menyentuh wilayah lain, semakin lama semakin melebar dan semakin jauh. Beberapa orang percaya yang mewartakan Injil di Antiokhia, yang letaknya saat ini masuk wilayah Turki mengabarkan kepada Barnabas bahwa ada banyak orang yang percaya dan bertobat disana. Mendengar kabar itu, Barnabas pun diutus untuk pergi kesana.

Sesampainya disana, ternyata gelombang pertobatan semakin meluas. Alkitab mengatakan bahwa Barnabas adalah orang dengan kualitas: (1) baik, (2) penuh dengan Roh Kudus, dan (3) penuh imannya. Hal ini disebutkan dalam ayat 24. Karena itu, Tuhan menambahkan orang-orang yang percaya. Melihat perkembangan ini, Paulus (waktu itu masih disebut Saulus) diajak Barnabas untuk menjadi rekan sekerjanya disana. Mereka tinggal selama setahun disana untuk mengajar orang-orang percaya lebih jauh dan lebih dalam. Dan disanalah pertama kalinya pengikut Kristus dipanggil Kristen. 

(bersambung)


Saturday, September 10, 2022

Pelari Cepat (3)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)

3. Berlari-lari pada tujuan

Apa yang jadi hadiah bagi pelari cepat dalam perlombaan? Biasanya mereka akan mendapatkan medali dan mengharumkan bangsa, negara atau kota, atau daerahnya, tergantung dari skala pertandingan. Dalam hidup ini kita harus menyadari faktor waktu, tenaga, kemampuan juga kesempatan yang bisa kita manfaatkan untuk melakukan hal-hal yang baik, sehingga keselamatan yang sudah disediakan Tuhan lewat Kristus bagi kita semua di depan sana jangan sampai gagal kita raih.

Jadi, setelah memastikan tidak ada beban yang memberatkan kaki kita untuk melangkah dan mengarahkan pandangan ke depan menuju garis akhir, langkah selanjutnya adalah: mulailah berlari menuju tujuan. Setelah mulai berlari, fokuslah sepenuhnya. Jangan setengah-setengah, jangan maju mundur tapi benar-benar fokus dengan menghitung waktu dan momentum yang ada pada kita.

Selain penguasaan teknik, waktu dan momentum merupakan modal yang sama bagi semua pelari. Tapi bagaimana masing-masing pelari menyikapinya akan sangat menentukan apakah mereka yang keluar menjadi pemenang atau bukan. Sedikit saja pikiran melayang, bahkan sepersekian detik sekalipun, maka itu bisa mempengaruhi bahkan menentukan hasil akhir.

Di depan sana sudah ada hadiah yang menanti. Paulus bilang, hadiah itu adalah "panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus". (ay 14).

Hadiah itu sudah ada disediakan di depan. Pertanyaannya, apakah kita mampu mencapai garis akhir sebagai pemenang dan memperoleh hadiah itu? Tanpa melepaskan beban masa lalu, tanpa mengarahkan diri kepada apa yang ada didepan, tanpa berlari dengan baik untuk mencapai tujuan, hadiah itu bisa gagal kita peroleh. Itulah sebabnya buat saya apa yang disampaikan Paulus dengan ilustrasi lewat pelari dalam perlombaan ini menjadi sangat baik untuk direnungkan. Ilustrasi sederhana yang mudah dicerna, tapi sangat esensial dalam hal perjalanan hidup kita di dunia yang fana alias sementara untuk menuju destinasi selanjutnya yang kekal.

Teman-teman, kita tidak bisa mengubah masa lalu, dan tidak bisa pula mengubah situasi eksternal. Apapun yang pernah terjadi di masa lalu, dan seburuk apapun realita kehidupan di luar diri kita hari ini, itu ada di luar jangkauan kita. All out of reach. Apa yang bisa kita lakukan adalah mengubah cara kita menerima situasinya pada diri kita. Ingat juga bahwa ikut Tuhan bukan berarti hidup akan selalu lancar dan aman, tapi bersama Tuhan kita tahu bahwa Dia akan selalu ada bersama kita dalam melewati setiap tantangan atau ujian satu demi satu.

Apakah anda siap untuk berlari? Kalau begitu mari sama-sama dengan saya. Kita ambil sikap bersiap yang terbaik, fokus ke depan. On your mark, get set..... let's go!

Winning is about attitude and lifestyle, let us be winners


Friday, September 9, 2022

Pelari Cepat (2)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 

(sambungan)

1. Melupakan apa yang ada di belakang

Seringkali yang menjadi penghambat utama kita untuk maju adalah beban masa lalu. Bisa berupa duka di masa lalu yang tak kunjung terobati, bisa berupa kesalahan masa lalu yang terus menerus membuat kita menjadi tertuduh, berbagai kegagalan di masa lalu yang menimbulkan trauma dan lain sebagainya.

Untuk bisa berlari ke depan, kita harus meninggalkan, atau menanggalkan beban-beban yang bisa memperberat langkah kita. Kalaupun masih sulit untuk melupakan, setidaknya kita harus mulai berpikir bahwa tidak ada satupun hal yang bisa kita lakukan untuk mengubah masa lalu kita. Dan untuk bisa mengarahkan langkah ke depan, kita harus bisa melepaskan beban masa lalu tersebut.

Apakah itu artinya kita harus menganggapnya tidak ada? Tidak juga. Ada kalanya adalah baik buat kita untuk belajar dari segala kegagalan di masa lalu agar kita bisa lebih baik lagi ke depannya. Tapi kalau beban masa lalu itu bagaikan beban berat yang membuat kita sulit atau tidak bisa melangkah, kita harus mulai berpikir untuk mengelola segala beban itu, memaafkan diri kita, memohon ampun pada Tuhan jika itu belum dilakukan, dan mulailah mengubah fokus untuk berlari ke depan, bukan berdiri di tempat apalagi mundur ke belakang.

Masalahnya, waktu hidup kita terbatas. Kita tidak akan punya waktu selamanya untuk bisa menuntaskan hidup kita dengan baik dan keluar jadi pemenang. Jangan sampai semua itu terlambat, karena tidak satupun dari kita yang tahu sampai kapan masa hidup yang ada pada kita masing-masing.

2. Mengarahkan diri ke depan

Mengarahkan diri ke depan, atau mengarahkan diri kepada apa yang didepan kita, itu bicara mengenai kemana fokus kita seharusnya mengarah. Saat beban masa lalu terasa begitu berat dan kuat menarik kita, ada kalanya kita, baik sadar maupun tidak, mengarahkan pandangan atau diri kita justru ke belakang dan bukan ke depan. Jika anda seorang atlit pelari cepat, jangankan menang, anda bahkan tidak akan mungkin bisa mencapai garis finish jika anda terus melihat ke belakang.

Jadi, terbelenggu beban masa lalu adalah satu hal, diri yang terus melihat ke belakang adalah hal lain yang harus juga kita cermati.

Tentu saja ada kalanya kita memang harus melihat ke belakang, misalnya saat kita butuh penguatan atau peneguhan dengan melihat ulang atau kilas balik tentang semua hal-hal luar biasa yang Tuhan pernah lakukan pada kita di masa lalu. Kalau dulu Tuhan bisa, sekarangpun Dia pasti bisa. Itu sisi positif dari pengalaman masa lalu. Tapi bukankah itupun kita pakai untuk membantu kita mengarahkan diri kita ke depan? Jadi intinya, fokus kita hendaknya diarahkan ke depan, dan bukan tersangkut di belakang. Kita tidak akan pernah bisa berlari kencang menuju finish jika kita memandang ke belakang. Bahkan saat berlomba pun, seorang atlit tidak boleh peduli dengan posisi pelari lainnya, karena jika mereka memalingkan kepalanya, selain mereka bisa terjatuh, itu akan memperlambat laju kecepatan mereka secara signifikan.

 The same with us and our lives. If we want to finish our lives good, if we want to reach the finish line, we have to aiming ourselves in the right way, and pressing on forward. Terkadang, move on saja belum cukup, karena bisa jadi sesaat, tapi pressing on, itu lebih intens karena faktor tenaga yang bekerja lebih besar di banding sekedar move on. Maka saya lebih suka memakai kata 'pressing on'. 

(bersambung)


Thursday, September 8, 2022

Pelari Cepat (1)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 Ayat bacaan: Filipi 3:13-14
==================
"Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus."


Jika anda seorang atlit pelari cepat, anda akan tahu bahwa ada teknik-teknik yang harus diperhatikan, dipelajari, dipahami dan dilakukan agar anda bisa mencapai waktu terbaik untuk mencapai garis finish. Benar, latihan teknik berlari, mengangkat kaki, jarak langkah, gerakan antar kedua kaki, ritme, itu semua sangat penting untuk dikuasai, tapi ada pula latihan-latihan lainnya yang tidak kalah penting. Misalnya olah raga angkat berat, yang berguna untuk melatih dan meningkatkan stamina dan power. Latihan nafas itu penting juga, demikian pula dengan mengatur posisi tubuh agar sedikit lebih condong ke depan. Terlalu condong akan membuat sang pelari bisa jatuh, kurang condong akan membuat kecepatan berkurang. Mengerti kapan harus mengambil kecepatan maksimal pun penting, karena untuk bisa berlari cepat bukan berarti harus nge-gas sejak awal, tapi harus tahu momentumnya. Singkatnya, untuk bisa menjadi pemenang dalam lomba lari butuh mempelajari banyak aspek. Secepat-cepatnya kita mampu berlari, tanpa memahami teknik dasar dan latihan pelengkap, niscaya kita tidak akan pernah bisa keluar sebagai pemenang.

Sekarang coba bayangkan seandainya kaki dari sang atlit diganduli beban berat. Mau sudah ahli dari sisi teknik sekalipun, beban berat ini tetap akan menjadi penghalang baginya untuk mencapai finish sebagai pemenang. Semakin berat bebannya, maka semakin sulit pula berlari kencang. Mau jadi pemenang lomba lari? Perhatikan semua tekniknya, tinggalkan semua beban (termasuk beban pikiran) di belakang dan fokuslah kepada garis finish. Itu yang dikatakan mantan atlit pelari kepada saya pada suatu ketika.

Alangkah menarik buat saya saat menyadari bahwa hal ini dipakai Paulus sebagai ilustrasi dalam menyampaikan pengajaran, dan hal itu ia tulis dalam suratnya untuk jemaat di Filipi ; salah satu surat yang Paulus tulis saat ia berada dalam penjara dan menantikan hukuman mati. Paulus mengatakan demikian:

"Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Filipi 3:13-14).

Meski tidak secara jelas menyebutkan soal lomba lari jarak dekat atau sedang atau jauh, Paulus menggunakan ilustrasi lomba lari dimana hadiah disediakan di depan sana, di garis finish.

Seperti yang dikatakan oleh atlit pelari pada saya, Paulus juga menyebutkan bahwa jangan sampai ada beban yang membelenggu kita sehingga sulit berlari, bahkan bisa gagal mencapai destinasi akhir.

Secara garis besarnya ayat diatas bisa dibagi atas tiga hal. Mari kita lihat satu persatu. 

(bersambung)


Wednesday, September 7, 2022

Kurir (2)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Apa yang dilakukan iblis ini sesungguhnya adalah sesuatu yang klasik. Itu adalah jenis pekerjaan atau gugus tugas yang sudah menjadi makanannya sejak semula. Dulu begitu, sampai hari ini pun tetap sama. Iblis akan selalu berusaha dengan segala daya upaya untuk menghalangi, memperlambat laju atau bahkan menggagalkan pesan-pesan Tuhan untuk sampai kepada manusia. Itu bisa ia lakukan lewat gangguan-gangguan ketika kita membaca Alkitab, gangguan disaat kita sedang serius mendengar kotbah di gereja, berusaha memecahkan konsentrasi kita saat berdoa, membuat iman kita lemah dengan berbagai rasa takut, mencoba menggoyahkan keyakinan kita, menggoda kita dengan segala sesuatu yang terlihat menarik namun menyesatkan dan sebagainya. Membuat hal-hal sehingga doa kita terhalang. Pendek kata, ada seribu satu cara iblis untuk menghalangi pesan-pesan Tuhan untuk sampai kepada kita, ada banyak cara mereka untuk menjauhkan kita dari Tuhan dan segala kebenaranNya, dan akan selalu berupaya untuk memutus hubungan kita dengan Tuhan.

Dan akan hal itu Firman Tuhan pun sudah menyebutkannya. Lihatlah ayat berikut ini. "perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara." (Efesus 6:12). Iblis bersama antek-antek atau kroni-kroninya, kaki tangannya, para penguasa, penghulu kegelapan alias roh-roh jahat akan siap menghalangi sampainya pesan-pesan dari Tuhan kepada kita. Mereka ini berlapis-lapis atau bahkan ada tingkatan-tingkatannya,mulai dari pemerintah, penguasa, penghulu dan sebagainya. Iblis siap memutus dan merusak hubungan kita dengan Tuhan lewat manipulasi lewat kelemahan kita. Dia bersembunyi di balik dosa dan pelanggaran kita, mempengaruhi kita agar menjadi lemah dengan berbagai tipu muslihatnya. Dan karena itu, kita diingatkan untuk terus mengenakan perlengkapan senjata Allah agar mampu mengatasinya. (ay 11).

Lalu ingat pula pesan Paulus  yang berbunyi: "dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis." (Efesus 4:27). Memberi kesempatan kepada iblis, kalau bukan sengaja mengundang, kita seringkali tanpa sadar membuka peluang serta kesempatan bagi iblis untuk masuk mempengaruhi kita. Kita memberi toleransi-toleransi terhadap dosa, membuka celah-celah yang bisa dengan mudah dimasuki si jahat.

Itulah sebabnya kita harus benar-benar menjaga agar tidak ada peluang sedikitpun bagi iblis. Jangan biarkan si jahat menghambat laju pesan Tuhan dari KerajaanNya ini agar bisa sampai kepada kita.

Iblis akan selalu berusaha menghalangi kita dengan segala cara untuk mendengar pesan Tuhan. Iblis akan dengan segala daya upayanya memutus hubungan kita dengan Tuhan. Daniel dulu mengalaminya, kita pun bisa menghadapi itu. Tapi lihatlah bagaimana Tuhan  kemudian turut campur lebih jauh agar pesanNya bisa sampai dengan baik kepada Daniel. Tuhan sanggup untuk membuat pesanNya tiba dengan selamat kepada kita. Tetapi ingatlah bahwa kita harus terlebih dahulu mempersiapkan diri kita dengan baik, tetap mengenakan perlengkapan senjata Allah dan tidak memberi kesempatan kepada iblis sama sekali. Lalu hendaklah kita seperti Daniel pula, yang tetap memiliki kerinduan untuk mendapat pengertian dan terus merendahkan diri di hadapan Tuhan. (Daniel 10:12). Sekarang juga, mari pastikan agar pesan Tuhan bisa sampai kepada kita tanpa terhalang atau dihalangi oleh apapun.

Jangan beri ruang dan celah pada iblis dan terus perkuat hubungan kita dengan Tuhan

Tuesday, September 6, 2022

Kurir (1)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 Ayat bacaan: Daniel 10:13
====================
"Pemimpin kerajaan orang Persia berdiri dua puluh satu hari lamanya menentang aku; tetapi kemudian Mikhael, salah seorang dari pemimpin-pemimpin terkemuka, datang menolong aku, dan aku meninggalkan dia di sana berhadapan dengan raja-raja orang Persia."


Kalau di jaman dulu cuma ada pak pos dari kantor pos yang bertugas sebagai pengantar kiriman surat atau barang, di jaman sekarang ada banyak lagi perusahaan jasa pengiriman yang melayani transportasi barang. Saya yang membuka toko di beberapa platform belanja online jadi kenal baik dengan para kurir perusahaan jasa ini karena mereka kerap mampir untuk pick up maupun mengantar barang. Tugas mereka ini sepintas terlihat simpel karena hanya menjemput dan mengantar barang saja kan? Tapi sebenarnya kerjaan mereka tidaklah sesimpel itu. Mereka harus benar-benar memastikan jangan ada barang yang terselip, tercecer, ketinggalan, gagal antar, dan yang pasti jangan sampai ada yang hilang, baik yang dipickup maupun yang diantar. Membawa karung-karung berisi paket yang harus di drop ke masing-masing rumah dengan hanya mempergunakan sepeda motor, itu pasti berat dan sulit juga. Tapi kalau ditanya apa yang tersulit bagi mereka, jawabannya hampir semua sama: yaitu cuaca. Mau panas terik, mau hujan lebat, mereka tetap harus jalan mengantar dan menjemput barang. "Kalau nanti lama sampai kami disalahkan, kalau datang hujan-hujan dan paket jadi basah, kami pun disalahkan", ujar salah satu dari mereka. Belum lagi kalau pas diantar orangnya tidak ada di rumah. Selain bisa disalahkan karena paket lama sampai, mereka pun harus kembali lagi di lain waktu yang artinya tugasnya jadi dobel atau lebih, atau rumah yang ada anjing galak. Ada banyak sekali kendala yang harus mereka hadapi untuk menunaikan tugas mereka dengan baik.

Saya pernah juga membaca perjuangan berat para pak pos di jaman perang dimana mereka harus juga mengantarkan surat ke garis depan di masa perang. Ada begitu banyak paket dan surat yang harus dibawa bahkan sampai ke bunker di tengah perang. Ancaman tertembak, kena bom, itu menjadi resiko mereka. Kalau tentara punya senjata, pak pos tidak. Itu membuat mereka lebih terancam karena tidak bisa melawan balik. Sering pula mereka gagal menyampaikan surat karena orang yang dituju ternyata sudah meninggal dalam perang. Kalau sudah begitu, biasanya mereka akan membawa kembali surat kepada si pengirim dengan disertai catatan bahwa orang yang dituju sudah tiada.

Di Perjanjian lama, para malaikat sering diutus Tuhan sebagai pengantar pesan, membawa pesan dari Surga ke bumi, kepada kita orang-orang percaya. Seperti halnya para kurir di atas, apa yang dialami para malaikat inipun berat dan penuh tantangan. Kenapa? Karena iblis sedari dulu hingga sekarang tidak akan pernah berpangku tangan membiarkan pesan dari Tuhan itu sampai kepada kita.

Dalam kitab Daniel kita bisa melihat salah satu contohnya yang disampaikan dengan detail. Pada suatu kali Daniel mendapat sebuah penglihatan di tepi sungai Tigris. Ada sosok malaikat turun menghampiri dia. Daniel melihatnya dengan jelas dan memberikan deskripsi lengkap mengenai malaikat utusan Tuhan yang menjumpainya ini. "kuangkat mukaku, lalu kulihat, tampak seorang yang berpakaian kain lenan dan berikat pinggang emas dari ufas. Tubuhnya seperti permata Tarsis dan wajahnya seperti cahaya kilat; matanya seperti suluh yang menyala-nyala, lengan dan kakinya seperti kilau tembaga yang digilap, dan suara ucapannya seperti gaduh orang banyak." (Daniel 10:5-6). 

Kepada Daniel, sang malaikat menceritakan bagaimana sulitnya ia menerobos halangan penguasa-penguasa udara kerajaan Persia. "Pemimpin kerajaan orang Persia berdiri dua puluh satu hari lamanya menentang aku; tetapi kemudian Mikhael, salah seorang dari pemimpin-pemimpin terkemuka, datang menolong aku, dan aku meninggalkan dia di sana berhadapan dengan raja-raja orang Persia." (ay 13). Pemimpin kerajaan Persia ini dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan the prince of Persia, atau roh-roh pelindung kerajaan Persia. Roh-roh ini sempat sukses memperlambat malaikat itu untuk mencapai Daniel seperti yang ditugaskan Allah kepadanya bukan satu-dua jam tapi sampai dua puluh satu hari lamanya. Untunglah kemudian Mikhael, satu dari para pemimpin malaikat datang membantu. Ia kemudian menghadapi serangan anak buah iblis ini sehingga malaikat utusan Tuhan itu bisa lolos untuk meneruskan perjalanannya untuk menjumpai Daniel.

(bersambung)


Monday, September 5, 2022

The Edomites (3)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Ingatlah selalu bahwa Tuhan sangat tidak suka orang yang sombong. Firman Tuhan berkata: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (Yakobus 4:6). Lewat Paulus kita  diingatkan "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (1 Korintus 10:12). Jika kita lupa dan mengira kita boleh sombong atau tinggi hati, itu artinya kita tengah membiarkan diri kita berjalan menuju kehancuran. Selain itu Firman Tuhan lewat Salomo berkata "Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan." (Amsal 16:18). Ini hanyalah sebagian saja dari begitu banyak pesan untuk menghindari sikap angkuh atau sombong dalam hidup kita, apapun alasannya.

Kita harus bersyukur saat sukses, kita tentu boleh menikmati keberhasilan atas hasil kerja keras kita, karir menanjak, bisnis bagus dan meningkat. Apalagi dalam situasi ekonomi saat deraan penderitaan global akibat pandemi seperti sekarang ini, bisnis yang masih berjalan apalagi meningkat tentu merupakan anugerah luar biasa. Benar, kita tentu boleh menghargai keseriusan dan usaha keras kita, tapi kita harus ingat bahwa semua itu tidak akan terjadi tanpa perkenanan Tuhan. Sebesar-besarnya kekuatan atau rasa lebih yang ada saat ini, jangan sampai itu membuat kita lupa diri kemudian berubah sikap menjadi sombong. Karena kalau sampai Tuhan marah karena sikap buruk kita tersebut, kita bisa habis dalam sekejap mata. Dia bisa menjungkir-balikkan semuanya dalam seketika semudah membalik telapak tangan.  Kehancuran atau kejatuhan yang terjadi bisa sangat serius, karena seringkali bukan hanya terjadi untuk pribadi atau individu saja, tapi bisa menjadi kolektif bahkan menimpa satu bangsa besar sekalipun, seperti yang terjadi pada bangsa Edom. Inilah yang harus kita sikapi dengan baik agar kehidupan kita bisa jauh dari murka Tuhan melainkan terus diberkati Tuhan hingga kesudahannya.

Selanjutnya ingat pula bahwa kita diselamatkan untuk menyelamatkan. Kita diberkati untuk memberkati. Semua itu bukanlah untuk ditimbun sendiri, apalagi kalau malah dipakai untuk menyombongkan diri. Bukan karena kekuatan dan kehebatan kita, tapi semua itu berasal dari Tuhan. Oleh karena itulah kita jangan sampai merasa berada di atas angin lantas menjadi sombong dan mengabaikan bahwa keberhasilan tetap merupakan berkat dari Tuhan. Bukankah kepandaian kita pun berasal dari anugerahNya juga? Bukankah kesehatan untuk terus bisa bekerja keras dan berusaha, segala peluang-peluang yang terbuka, kepintaran kita dalam berpikir, talenta-talenta yang kita miliki, itupun semuanya berasal dari Tuhan? Bukankah keadaan baik kita, kondisi aman, tenang jauh dari kesulitan hidup juga merupakan karunia Tuhan? Jika demikian, sesungguhnya tidak ada alasan apapun yang bisa membuat kita berhak menjadi sombong.

Firman Tuhan berkata "Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain." (Mazmur 75:7-8). Perkara naik dan turun sesungguhnya berada dalam keputusan Tuhan. Maka dari itu Petrus berkata "Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya." (1 Petrus 5:6). Tanpa Tuhan kita tidak akan mungkin bisa mempertahankan apa yang sudah sukses kita peroleh hari ini, tidak peduli sehebat apapun diri kita. Semua itu bisa berlalu dari kita, lenyap tanpa bekas dalam sekejap saja.

Berkaca pada konsekuensi mengenaskan yang diterima bangsa Edom, marilah kita semua menjaga diri kita untuk terhindar dari kesombongan, sikap angkuh, tinggi hati, bersenang diatas penderitaan orang dan lain-lain. Pakai segala yang diberikan Tuhan untuk anda bukan untuk membanggakan atau meninggikan diri tetapi untuk menjadi saluran berkat buat orang lain, menjadi terang dan garam dimana anda ditempatkan. Pakailah semua itu untuk memuliakan Tuhan.

Kesombongan itu mendahului kehancuran


Sunday, September 4, 2022

The Edomites (2)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 

(sambungan)

Menyadari keuntungan teritorial mereka secara geografis, orang Edom merasa sangat aman. Bukannya bersyukur, mereka malah terjerumus pada sikap lupa diri dan sombong. Mereka berpikir bahwa tidak akan ada bangsa manapun yang akan mampu menandingi mereka. Jangankan menandingi atau menyerang, mengganggu saja mereka yakin tidak akan ada yang berani.

Ironisnya, meski bangsa Edom ini memiliki hubungan darah dengan Israel, tetapi kedua bangsa ini tidaklah harmonis. Ketidakakuran mereka sudah terjadi sejak jaman nenek moyang mereka dan terus berlanjut ke generasi-generasi berikutnya.

Pada suatu kali nabi Obaja mendapat sebuah penglihatan mengenai situasi yang bisa menghancurkan negeri Edom. Dari Tuhan ia mengetahui bahwa Tuhan sedang mengirim utusan ke tengah bangsa itu untuk memeranginya. Beginilah yang pesan yang ia dapat dari Tuhan. "Sesungguhnya, Aku membuat engkau kecil di antara bangsa-bangsa, engkau dihinakan sangat." (ay 2).

Mengapa Tuhan sampai sebegitu marah? Obaja menyatakan bahwa itu disebabkan Tuhan sangat tidak berkenan melihat keangkuhan bangsa itu. Demikian Tuhan berkata: "Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: "Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?" (ay 3).

Kesombongan atau keangkuhan bangsa ini muncul hanya karena mereka punya posisi strategis di gunung dengan tebing terjal dan jurang. Itu membuat mereka sombong dan merasa tidak ada kekuatan apapun yang bisa menandingi mereka. Mereka lupa bahwa meski keadaan geografis yang strategis dan terlihat sangat aman, kekuatan mereka tidaklah berarti apa-apa dibanding kekuatan Tuhan yang memiliki kuasa diatas segala-galanya. Kesombongan mereka ternyata menjadi perhatian serius dari Tuhan. Begitu tidak sukanya Tuhan atas sikap mereka hingga siap menjatuhkan hukuman.  "Sekalipun engkau terbang tinggi seperti burung rajawali, bahkan, sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang- bintang, dari sanapun Aku akan menurunkan engkau, --demikianlah firman TUHAN." (ay 4).

Kenapa Tuhan sampai semarah itu? Sejauh mana sebenarnya kesombongan mereka sampai mendatangkan murka Tuhan jatuh atas mereka? Kalau hanya melihat dari bagian ini saja, kemarahan Tuhan bisa terlihat seperti hanya dipicu oleh keangkuhan atau arogansi bangsa Edom  atas kelebihan kondisi geografis mereka. Tapi sebenarnya, kalau kita baca lebih jauh Obaja pasal 1 kita bisa melihat bahwa bangsa ini memang sudah keterlaluan sombongnya. 

Dalam ayat 11-14 kita bisa membaca bahwa mereka memandang rendah saudara-saudaranya orang Yehuda saat mengalami serangan bangsa lain. Mereka bukannya menolong atau setidaknya bersimpati, tapi malah senang melihat kehancuran Yerusalem yang diserang dan dirampas kekayaannya. Tidak sampai disitu, mereka bahkan menghadang orang-orang Yehuda yang berhasil melarikan diri, menangkap dan menyerahkan mereka pada lawan. Bukan main jahat dan angkuhnya mereka,  dan lihatlah ada berapa banyak prinsip Allah yang sebenarnya sudah mereka langgar.


Jadi tidaklah mengherankan kalau Allah sampai marah. Apa yang turun sebagai murka Allah pada bangsa Edom sangat mengenaskan. Kita bisa lihat bahwa Tuhan akan menurunkan/merendahkan mereka (ay 4), akan diserang/diperangi (ay 1), orang-orang bijaksananya akan dilenyapkan dan para pahlawannya akan terbunuh, dan harta kekayaan bangsa itu akan disapu habis para musuh (ay 5-7). Puncaknya, Tuhan menyatakan bahwa akibat kekejaman mereka terhadap bangsa Yehuda, bangsa Edom akan dilenyapkan untuk selama-lamanya (ay 10), dibinasakan dan dicela orang sepanjang jaman (versi BIS). Semua nubuatan ini kemudian terbukti. Bangsa Edom sudah lama punah. Hari ini puing-puing yang tinggal dari sebuah bangsa yang tadinya makmur hanya menjadi saksi bisu bagaimana mengerikannya saat hukuman Tuhan turun akibat kesombongan satu bangsa. 

(bersambung)

Saturday, September 3, 2022

The Edomites (1)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 Ayat bacaan: Obaja 1:3
==============
"Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: "Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?"


Dalam politik di jaman manapun akan ada orang-orang yang dianggap 'the untouchables'. Kata untouchable yang berarti 'tak tersentuh' ini diberikan pada orang-orang yang sepertinya tak tersentuh oleh hukum. Mereka merasa bisa berbuat seenaknya, segala pelanggaran mereka sepertinya tak terlihat oleh hukum. Mereka biasanya ada di kalangan elit politik kelas atas, orang-orang berkuasa atau bisa juga orang yang punya koneksi dengan orang-orang berpengaruh. Ada yang punya jaringan seperti mafia, ada juga yang kalau digoyang bisa membuat stabilitas negara menjadi riskan. Biasanya mereka ini memiliki faktor-faktor yang kuat hingga tak tersentuh seperti harta, jabatan, relasi, koneksi, kekuasaan dan sebagainya. Semua itu bisa membuat orang berada di atas hukum dan keadilan. Mungkin untuk masa tertentu mereka bisa sombong dan tertawa, tapi akan ada saatnya mereka yang untouchables ini kena batunya juga. Yang sekelas Al Capone saja akhirnya diringkus oleh sekelompok aparat yang memegang integritas dan tidak bisa disuap atau diimingi apapun. Dan kita terus melihat satu persatu dari mereka yang selama ini untouchables tetap harus berhadapan dengan hukum. Sekarang mungkin masih bisa sombong, tapi semua kejahatan akan selalu mendapat ganjaran. Kalau tidak di dunia, nanti di akhirat tetap saja semua itu harus dipertanggungjawabkan.

Dunia memang cenderung memandang pada tingkatan. Yang kuat menindas yang lemah, yang kaya menindas yang miskin. Yang berkuasa menindas yang tidak. Itu terjadi dimana-mana sejak lama. Pola ini bahkan sudah terjadi di kalangan anak-anak, baik di sekolah maupun di lingkungan sekitar. Dengan pola seperti ini yang sudah lama dan luas, tidaklah heran kalau kesombongan menjadi sesuatu yang terlihat biasa saja, dan meski kita kesal tetap dianggap wajar dilakukan oleh mereka yang punya pengaruh. They feel untouchable. They feel above the law. Sekali lagi, di dunia mungkin ya, tapi apakah mereka lupa bahwa ada penghakiman yang lebih besar dari apapun yang harus mereka hadapi pada suatu saat, yaitu penghakiman Tuhan? Manusia bisa dikuasai, bisa ditekan, bisa dibeli, tapi Tuhan tidak akan pernah bisa. Tidak ada satupun hal yang dimiliki manusia yang mampu membeli keadilan Tuhan.

Kesombongan bisa terjadi pada individu, kelompok atau golongan, organisasi bahkan negara yang merasa di atas angin. Kalaupun belum sampai masuk kategori untouchable, kesombongan pun sudah menjangkiti orang-orang biasa. Kapan orang biasanya menjadi angkuh atau sombong? Biasanya ini menjadi penyakit yang timbul ketika orang mulai atau sudah sukses. Berhasil dalam karir, bisnis, atau aspek-aspek kehidupan lainnya. Atau ketika orang mulai punya sesuatu yang lebih dari orang lain. Tidaklah heran apabila kita melihat orang yang tiba-tiba berubah sikapnya begitu mereka mencapai keberhasilan. Mengandalkan uang atau harta, jabatan dan koneksi, itu jadi kartu as untuk bisa berbuat seenaknya, bebas melanggar peraturan tanpa mendapat ganjaran. Kita harus hati-hati dari sikap yang mudah merasuki dan menguasai diri kita ini, sebuah sikap yang menyelinap dari sesuatu yang seharusnya kita syukuri. Ya, kesombongan itu sangat mudah muncul dan seringkali tidak direncanakan, dipikirkan atau disadari. Siapapun kita, untouchables atau bukan, jika kita bersikap sombong maka murka Tuhan bisa sama menimpa semuanya tanpa pandang bulu.

Hari ini saya ingin mengajak teman-teman untuk melihat konsekuensi dari kesombongan sebuah bangsa yang bernama Edom.

Siapa bangsa Edom ini? Bangsa Edom adalah bangsa yang berasal dari keturunan Esau dan membangun tempat tinggalnya di atas gunung. Letak wilayah mereka itu ada di ketinggian lebih dari 600 meter di atas permukaan laut. Kontur tempatnya ada di tebing terjal dengan jurang yang dalam. Kalau ditinjau dari segi geografis, Edom jelas sangat diuntungkan karena berada pada posisi yang sangat strategis dan aman. Pada waktu itu belum ada bom, rudal  atau pesawat tempur sehingga mereka bisa dengan mudah menyapu bersih siapapun yang menyerang dari bawah.

(bersambung)



Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Stats

eXTReMe Tracker