Thursday, July 19, 2018

Motivasi Mencari Yesus dalam Yohanes 6 (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
 Ayat bacaan: Yohanes 6:24
================
"Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus."

Suatu kali ada seorang teman yang mampir ke rumah. Ia kebetulan sedang lewat tidak jauh dari rumah saya dalam perjalanannya menuju ke rumah rekan kerjanya. Karena sudah lama tidak ketemu, ngobrolnya pun ramai karena masing-masing punya cerita atau pengalaman-pengalaman menarik. Tidak terasa kami sudah ngobrol selama lebih kurang 2 jam, dan saya pun menanyakan kepadanya, apakah ia nanti tidak terlambat ketemu temannya? Jangan sampai gara-gara keasyikan ngobrol rencana semula malah jadi terganggu, atau malah batal. Ia berkata tidak apa-apa. Ia masih ingin berbicara dengan saya. Ia jadinya baru pulang saat sudah larut malam, dan batal ke rumah rekannya. Padahal tujuan utamanya melewati daerah saya karena ingin kesana, tapi ditengah jalan tujuannya malah berubah.

Begitulah tujuan kita seringkali berubah di tengah jalan karena satu dan lain hal. Masih untung jika hanya seperti teman saya tadi yang perubahan tujuannya tidak menyebabkan hal-hal buruk. Tapi dalam kehidupan kita, perubahan tujuan atau berbeloknya arah kita dari jalan yang benar seringkali mendatangkan konsekuensi serius yang bisa berakibat buruk bagi kita baik saat ini maupun di masa depan. Satu sekuens hidup yang salah akan mengarah pada sekuens salah berikutnya. Semakin panjang sekuens salahnya, semakin jauh pula kita dari jalan yang benar. Itu bisa berakibat terbuangnya waktu, tenaga dan sebagainya secara sia-sia dan kerugian lainnya yang bisa jadi terlanjur sulit untuk diperbaiki.

Dalam mengikut Yesus banyak juga orang yang mengalami hal ini. Mulanya mungkin didasari pertobatan dan kerinduan untuk selamat, tapi kemudian motivasi menjadi bergeser keluar jalur. Bukan lagi karena kerinduan itu melainkan karena mengejar hal-hal yang dikejar dunia seperti kemakmuran, kekayaan, jabatan dan sebagainya. Ada pula yang sejak semula sudah memiliki paradigma dan tujuan yang salah dalam mengikut Yesus. Saat sedang sakit, hampir dilanda kebangkrutan, terbelit hutang, ingin dapat kerja, dapat jodoh atau berbagai daftar kebutuhan mendesak lainnya seringkali menjadi alasan utama untuk mengikut Yesus. Nanti kalau sudah dapat, Yesus ditinggalkan lagi. Atau apabila harapan tidak terpenuhi sesuai waktu yang diinginkan, mereka pun akan segera beralih mencari alternatif lainnya. Itu kerap terjadi, ditambah banyaknya gereja yang secara keliru mengiming-imingkan hal yang sama.

Apakah Tuhan tidak bisa melakukan itu semua? Apakah salah untuk berharap pertolongan dari Tuhan? Tentu tidak salah, dan Tuhan lebih dari sanggup dan mau untuk melakukannya. Masalahnya, semua itu seharusnya bukan menjadi dasar bagi keputusan kita untuk mengikutiNya, menjadi muridNya, menjadikanNya sebagai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya. Berbagai doktrin teologi kemakmuran semakin memperparah kekeliruan orang dalam memandang pentingnya untuk menerima Kristus dalam hidup mereka. Dengan pemahaman hanya mencari kemakmuran, kesembuhan, kekayaan dan sebagainya, kita bisa terjebak pada tipu muslihat di jahat untuk semakin menjatuhkan kita kepada motivasi yang salah dalam mengikuti Yesus.

Ketika orang mengira bahwa ada jaminan kemakmuran yang datang secara instan begitu mereka mengikuti Yesus, mereka bisa kecewa karena yang sering terjadi tidaklah demikian. Seperti yang saya alami dan banyak orang lainnya, Tuhan lebih suka membentuk diri kita terlebih dahulu untuk siap menerima berkat-berkatNya, dan seringkali itu bukan sesuatu yang mudah. Sebuah bentuk pengertian akan kemakmuran dalam konsep keliru bisa menyesatkan kita, terlebih apabila kita belum memahami betul prinsip-prinsip Kerajaan mengenai berkat, keselamatan dan sebagainya. Saat saya bertobat dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat saya, saya justru diremukkan benar-benar bukan hanya sebentar tapi selama tidak kurang dari 5 tahun. Semua ego, kesombongan, ketergantungan akan uang, prinsip-prinsip pemikiran saya yang tercemari selama bertahun-tahun oleh prinsip dunia dikikis. Jadi mau mencari kemakmuran dengan mengikut Yesus? You may be dissapointed. 

(bersambung)


Wednesday, July 18, 2018

Hanas, Kayafas dan Yohanes Pembaptis (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Buat teman-teman yang saat ini sedang melayani hendaklah memperhatikan baik-baik motivasi anda dalam melayani. Jika tidak waspada, kita bisa kehilangan Roh Tuhan karena motivasi kita melenceng dalam melakukan pelayanan, dan tentu tidak satupun dari kita yang mau. Jangan sampai mandat kita melayani dicabut Tuhan sehingga semua yang kita lakukan menjadi sia-sia. Tidak ada lagi gunanya, tenaga, waktu dan sebagainya terpakai tapi tidak lagi berkenan di mata Tuhan. Itu bisa terjadi kalau motivasi kita, baik sadar atau tidak, sudah melenceng dari yang seharusnya.

Yesus sendiri menunjukkan bahwa memastikan terlebih dahulu motivasi yang benar sangatlah penting sebelum seseorang memutuskan untuk mengikutiNya. Itu bisa terlihat dalam ayat berikutnya. Ketika Yesus melihat murid-murid Yohanes mengikutiNya, Yesus bertanya: "Apakah yang kamu cari?" (ay 38).

Pertanyaan yang sama berlaku kepada kita yang melayani hari ini. "Apa yang anda cari?" Apa yang anda cari dari kegiatan anda turut melayani? Apakah pamor, popularitas, melayani agar mendapat berkat melimpah, sebagai sarana menyogok Tuhan agar jauh/bebas dari masalah, dijadikan profesi untuk mencari uang, atau semata-mata karena mengasihi Tuhan dan rindu lebih banyak lagi orang bisa mengenal Kristus? Apakah pelayanan yang anda lakukan saat ini sudah diikuti oleh sikap hidup yang benar, yang bisa dijadikan kesaksian dan teladan bagi orang lain?

Bagi pelayan-pelayan Tuhan di segala posisi, baik worship leader, musisi, diaken, pendeta, gembala dan sebagainya, belajarlah dari sikap hati Yohanes Pembaptis. Jangan sampai pelayanan anda menunjuk pada diri sendiri dan kemudian melakukan kesalahan seperti kedua Imam Besar tadi. Pelayanan sejati haruslah menunjuk pada Kristus, bukan pada diri sendiri.

Tiga kali Yesus bertanya pada Petrus, "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Tiga kali pula Petrus menjawab "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Dan jawaban Yesus kemudian pun tiga kali diulang: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." (Yohanes 21:15-17). Dari percakapan Yesus dan Petrus ini kita bisa belajar bahwa motivasi yang terutama dalam pelayanan adalah karena anda dan saya mengasihi Yesus. Itulah yang seharusnya menjadi sumber utama atau dasar bagi kita dalam melayani. Jika motivasi kita sampai melenceng, akibatnya sungguh tidak main-main beratnya, sebab Tuhan berfirman: "Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia." (1 Korintus 16:22).

Oleh karena itu sangatlah penting untuk memastikan bahwa kita sudah mendasari pelayanan kita dengan motivasi yang benar. Bukan karena kehebatan kita, bukan karena berbagai motivasi yang dipengaruhi oleh hal-hal yang dipercaya dunia mendatangkan kebahagiaan atau kesejahteraan, bukan karena mengejar harta kekayaan, popularitas, pamor, pangkat atau jabatan dan sebagainya, bukan karena kita ingin meninggikan diri supaya dikagumi orang melainkan semata-mata karena kasih, karena kita mengasihi Kristus dan mengasihi sesama. Jadi jika ada yang bertanya, secara singkat seperti apa pelayanan sejati itu? Pelayanan sejati adalah pelayanan yang menunjuk pada Yesus Kristus.

Miliki hati seperti Yohanes Pembaptis, bukan Hanas dan Kayafas dalam melayani

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, July 17, 2018

Hanas, Kayafas dan Yohanes Pembaptis (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Pada periode masa yang disebutkan dalam Lukas 3 tadi, Hanas dan Kayafas lah yang tengah menjabat sebagai Imam Besar. Itu artinya merekalah yang seharusnya menjadi perantara atau penyampai pesan Tuhan. Tapi lihatlah ayat bacaan hari ini mengatakan sesuatu yang, seperti yang sudah saya sebutkan tadi, terbilang aneh.

"pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun." (Lukas 3:2).

Ketika Hanas dan menantunya Kayafas disebutkan ada di posisi Imam Besar, seharusnya Firman Tuhan datang kepada mereka sesuai jabatan mereka sebagai wakil Tuhan di dunia. Tapi ternyata bukan itu yang terjadi. Dalam ayat bacaan kit hari ini dengan jelas disebutkan bahwa Firman Tuhan bukannya datang pada Hanas dan Kayafas melainkan datang pada Yohanes, anak Zakharia. Bukan di Bait Allah tempat mereka berada, tapi justru di padang gurun. Ini jelas sesuatu yang aneh.

Apakah Tuhan berniat melecehkan jabatan Imam Besar yang Dia tetapkan sendiri? Dari apa yang kita lihat dalam Alkitab, ternyata Imam Besar pada masa itu sudah berubah motivasinya. Dan Tuhan memutuskan untuk tidak lagi berfirman melalui mereka. Hanas dan Kayafas motivasinya sudah melenceng menunjuk pada diri sendiri. Ketika mereka seharusnya menjadi rekan sekerja Tuhan, wakil Tuhan di dunia untuk menyampaikan pesan-pesan Tuhan, ternyata mereka malah berubah menjadi musuh Tuhan dengan menjadi bagian dari penyaliban Yesus Kristus. Dalam Yohanes 18:19-23 kita bisa melihat bahwa Yesus dibawa ke hadapan Hanas untuk diinterorgasi. Lalu setelah itu Yesus dibawa menghadap Kayafas, dimana disanan sudah berkumpul para ahli Taurat dan tua-tua untuk diadili (Matius 26:57-68).

Lihatlah bagaimana jabatan, kekuasaan, kekayaan, pengaruh dan sebagainya, bisa membutakan mata para pemimpin seperti Hanas dan Kayafas sehingga akhirnya mereka tidak lagi disertai Roh Tuhan. Bukannya menjadi perantara Tuhan, mereka malah memusuhi Yesus bahkan seperti yang saya sebut tadi, berperan aktif dalam penangkapan dan penyaliban Yesus. Maka Tuhan mengambil keuputusan untuk memilih Yohanes, orang yang tidak menyandang gelar apa-apa, dan pada waktu itu sedang berada di padang gurun.

Imam Besar sudah cemar oleh keduniawian, jadi Tuhan harus memilih orang lain. Tapi kenapa Tuhan pilih Yohanes Pembaptis? Apa yang mendasari keputusan itu, apa yang membedakan Yohanes dari orang lain pada masa itu? Yohanes punya hati yang jauh berbeda dengan Imam Besar Hanas dan Kayafas. Yohanes hatinya bersih sehingga bisa mendengar suara Tuhan, ia taat dan tidak meninggikan diri. Yohanes tidak membawa murid-muridnya untuk berpusat pada dirinya, melainkan membawa mereka kepada Yesus Kristus.

Mari kita lihat ayat ini sebagai sebuah contoh nyata. "Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah!" Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus."(Yohanes 1:35-37).

Lihatlah bahwa Yohanes menunjuk pada Yesus dan mengarahkan murid-muridnya untuk mengikuti Yesus, bukan dirinya. Sepeerti itulah hati yang dimiliki Yohanes, dan itulah yang membuat Tuhan mengarahkan mataNya kepada Yohanes dan meninggalkan kedua Imam Besar tersebut.

(bersambung)


Monday, July 16, 2018

Hanas, Kayafas dan Yohanes Pembaptis (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 3:2
==================
"pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun."

Seorang leader tim musik di sebuah gereja yang saya kenal dekat pada suatu kali bercerita mengenai kesulitan yang tengah ia hadapi. Setiap minggunya ia harus menyusun jadwal pemain di ibadah umum, ibadah remaja dan untuk anak-anak sekolah minggu. Yang bikin dia pusing, banyak yang rebutan mau main di ibadah umum tapi begitu susahnya dapat pemain yang bersedia untuk main di sekolah minggu. "Melayani Tuhan kok pilih-pilih ya.." katanya sambil geleng kepala dan menghela nafas. Saya pun merasa miris mendengarnya. Ini bukan kali pertama saya mendengar permasalahan seperti ini. apa Persembahan Kasihnya beda? Menurutnya sama. Kalaupun beda, itu tentu tidak boleh dijadikan alasan untuk pilih-pilih. Kalau bukan itu, mungkin mereka ingin tampil bak musisi tenar di panggung, di hadapan 'penonton' yang lebih banyak dan bukan anak-anak. Siapa tahu disana ada produser, atau yang sedang butuh band atau penampil keren, itu bisa menjadi alasan mereka untuk berebutan main di ibadah umum dan menolak main buat sekolah minggu.

Menyedihkan saat melihat orang yang melayani punya sikap seperti itu. Tapi itu menunjukkan bahwa motivasi orang dalam melayani memang beda-beda. Di permukaan tampaknya semua rindu melayani Tuhan, tapi ada motivasi-motivasi pribadi yang bisa mengaburkan atau bahkan mencemarkan niat yang seharusnya. Belum lagi banyak pemain musik yang pada pindah ke gereja yang lebih besar. Ada yang jumlah pemain musiknya berlebih, ada yang sangat kekurangan sehingga pemain yang tersedia harus merangkap main. Seorang pemimpin pujian di sebuah gereja berkata bahwa ia sering harus memimpin pujian sambil main keyboard karena kekurangan pemain.

Yang juga lumayan sering terjadi adalah gesekan antar orang yang sama-sama melayani di tempat yang sama, atau antara mereka dengan pemimpin bahkan dengan gembala atau gerejanya. Maka kita sering melihat orang berpindah gereja. Motivasi seseorang dalam melayani sebenarnya juga bisa terlihat dari bagaimana reaksi mereka dalam menghadapi gesekan. Masih mending kalau kepindahannya semata-mata karena kebutuhan rohaninya, ada yang pindah karena mendapat tawaran lebih baik atau tinggi dari gereja lain. Ini baru beberapa masalah yang pernah saya dengar dari sekian banyak masalah lainnya. Itulah gambaran yang kurang baik yang terjadi di kalangan pelayan Tuhan hari ini.

Kalau Tuhan Yesus sudah mengatakan bahwa "tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit" (Matius 9:37), jumlahnya akan jauh lebih sedikit lagi kalau bicara soal mereka yang melayani dengan motivasi yang benar. Ada begitu banyak motivasi yang mungkin menjadi dasar bagi seseorang untuk melayani, seperti halnya dalam profesi maupun pekerjaan sehari-hari. Mungkin saja motivasi awalnya tulus, tapi seiring waktu apabila tidak diperhatikan motivasi bisa berubah dan mengarah kepada keinginan atau kepentingan bahkan keuntungan pribadi seperti cari jabatan, status, ketenaran, popularitas, mencari uang, ingin terlihat hebat, semua ini hanyalah sebagian contoh motivasi yang bisa saja muncul mendasari kegiatan pelayanan, baik disadari maupun tidak.

Mari kita lihat sebuah kejadian amej yang terjadi pada masa negeri Yudea berada di bawah kekaisaran Romawi dan dipimpin oleh kaisar Tiberius. Lukas pasal 3 mencatat bahwa pada masa itu yang memegang status sebagai Imam Besar adalah Hanas dan Kayafas.

Seperti apa posisi imam Besar itu? Kalau kita lihat sejarahnya, jabatan Imam Besar ini pertama sekali diberikan kepada Harun melalui sebuah tanda berupa tongkat Harun yang berbunga diantara imam-imam Lewi lainnya. (tentang hal ini bisa dibaca dalam Bilangan 17). Karena Allah sendiri yang mengangkat Harun sebagai Imam Besar, maka jelas jabatan ini sangat penting sebagai wakil Tuhan di dunia ini atau dengan kata lain sebagai penyambung lidah Tuhan. Sebelum karya penebusan Yesus menyelamatkan kita dan memulihkan hubungan dengan Tuhan, manusia sangat bergantung pada para Imam Besar ini. Orang yang memegang jabatan Imam Besar yang biasanya berlaku seumur hidup dituntut untuk senantiasa hidup benar dan kudus karena merupakan "perpanjangan tangan" Tuhan di dunia ini untuk menyampaikan pesan-pesanNya kepada umatNya.

(bersambung)


Sunday, July 15, 2018

Motivasi Mengikut Yesus : Kisah Yesus di Bait Allah (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Ini adalah hal yang ironis dan keterlaluan. Kita harus sadar bahwa Tuhan sudah terlebih dahulu mengasihi kita. Hal ini diingatkan oleh Yohanes dalam ayat yang bunyinya "Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita." (1 Yohanes 4:19). Cinta yang dimiliki Tuhan atas kita manusia sungguh teramat sangat besar. Bayangkan Tuhan yang begitu besar mau repot-repot mengurusi manusia di dunia yang sangat kecil di tengah luasnya alam semesta yang tak terukur yang sudah Dia ciptakan. Demi menyelamatkan manusia yang kecil itu, Dia bahkan rela mengambil rupa seorang hamba, disiksa dan mati di atas kayu salib. Itu membuat kita dilayakkan menerima keselamatan yang kekal, bukan binasa.

Apa yang menggerakkan Tuhan untuk itu bukanlah untuk keuntungan diriNya. Perhatikan ayat berikut: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16). Lihatlah bahwa misi penyelamatan yang mencengangkan itu hadir karena didasari cinta kasih yang begitu besar kepada kita. Itulah motivasi Tuhan. Sebuah kasih ternyata bisa menggerakkan Tuhan untuk menyelamatkan kita secara langsung lewat penebusan Kristus. Kalau kita menyadari betapa Tuhan begitu mengasihi kita dan menganggap kita yang penuh dosa ini begitu berharga dan layak dicintai, bukankah kita seharusnya bersyukur tiada habisnya dan akan berusaha keras untuk tidak mengecewakanNya? Tidakkah keterlaluan jika kita malah berhitung untung rugi untuk menjadi pengikut Yesus? Maka wajarlah jika Yesus pun begitu marah ketika melihat orang-orang yang datang mencari Tuhan untuk mencari keuntungan pribadi.

Ada pula orang yang berusaha mencari pembenaran lewat mengambil ayat-ayat secara sepihak tanpa melihat konteksnya dengan benar. Bahkan ada yang berusaha menggabungkan antara mengikut Tuhan dan mengejar harta kekayaan duniawi. Kita sudah diingatkan Yesus bahwa kita tidak akan pernah bisa mengabdi kepada dua tuan. "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Matius 6:24). Dengan demikian prioritas haruslah jelas, motivasi kita pun juga harus benar.

Ingatlah bahwa "Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka." (2 Korintus 5:15). Penebusan hadir didasari kasih Bapa yang begitu besar, dan sudah seharusnya kita pun mendasari iman kita kepadaNya atas dasar kasih. Karena kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, raga dan roh kita. Karena kita tahu bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru selamat, didalamNya ada pengharapan, ada kepastian dan jaminan keselamatan. Semua Dia berikan atas dasar kasihNya yang begitu besar pada kita, dan oleh karenanya sudah seharusnya kita pun mengasihiNya tanpa memandang untung rugi tentang hal-hal yang sifatnya fana.

Apa yang menjadi motivasi kita hari ini untuk menerima Yesus? Apakah kita masih berpikir untuk mendapatkan laba besar, bisnis lancar, karir meningkat, jodoh datang, sakit disembuhkan, dan sebagainya, atau semata-mata karena kita mengasihi Yesus, yang sudah terlebih dahulu mengasihi kita justru ketika kita masih berlumur dosa? Mari periksa motivasi kita hari ini. Jika kita masih menemukan motivasi-motivasi untuk mencari keuntungan, berubahlah sekarang juga agar kita jangan sampai menuai murka Tuhan dalam hidup kita.

"False teaching: Come to Jesus to get health/wealth/prosperity. No. Come to Jesus to get Jesus." - Pastor David Platt

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, July 14, 2018

Motivasi Mengikut Yesus : Kisah Yesus di Bait Allah (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Jika pasangan kita mengatakan bahwa ia menikah dengan kita hanya karena cari keuntungan bukan karena cinta, perasaan kita tentu hancur. Kita akan merasa sedih, kecewa bahkan sakit dalam hati. Bagaimana dengan Tuhan yang mendapati anak-anakNya berlaku seperti ini? Bukankah Dia pun akan sedih, kecewa, hancur hati dan lebih berhak marah setelah memberi segalanya buat kita? Kita bisa melihat contoh akan hal ini dari kisah yang mencatat kemarahan Yesus yang begitu besar di Bait Allah pada sebuah Hari Paskah Yahudi.

Pada hari itu Yesus pergi ke Yerusalem dan datang ke Bait Suci. Saat tiba disana, Yesus lihat pemandangan yang sungguh buruk di hadapanNya. Seperti inilah situasi yang Dia lihat. "Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ." (Yohanes 2:14). Gereja ternyata sudah berubah fungsi menjadi pasar. Bayangkan di Bait Suci itu bukan berisi orang-orang yang ingin menyembah dan memuliakan Tuhan, bukan berisi orang-orang yang rindu untuk bertemu dan mendengar Tuhan, tetapi justru penuh dengan para pedagang beserta hewan dagangannya, ditambah lagi para penukar uang alias money changer kalau dijaman sekarang. Mereka semua melakukan bisnisnya disana.

Selayaknya pasar, kita bisa bayangkan betapa hiruk pikuknya suasana di Bait Suci yang kudus pada saat itu. Pemandangan seperti itu sangatlah menyakiti hati Yesus. Dan Yesus pun marah besar. "Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." (ay 15-16).

Mari kita lihat lebih jauh akan kejadian ini. Yesus tidak menunjukkan kemarahan saat Dia dihina, ditinggalkan, difitnah, bahkan saat disiksa dan disalib hingga mati. Yesus tidak marah malah mendoakan dan mengampuni orang-orang yang menyiksa diriNya sedemikian rupa dengan sangat sadis sampai mati. Secara logika sederhana, apa yang Yesus alami tentu jauh lebih serius daripada sekedar melihat orang berdagang di rumah. Mengalami siksaan seperti itu seharusnya akan memancing kemarahan lebih besar. Jika anda jadi Tuhan Yesus yang memegang kunci Surga dan bisa melakukan apapun, mungkin anda sudah memusnahkan saja semua orang jahat itu dalam sekejap mata. Toh mereka orang jahat, ya sudah sepantasnya itu yang mereka terima atas perbuatannya. Demikian cara berpikir manusia, tapi ternyata Yesus memandangnya berbeda. Semua itu tidak memancing kemarahan Yesus. Yesus tetap tenang menjalani dan menggenapi semuanya seperti apa yang dikehendaki Bapa. Tapi melihat orang-orang berdagang di Bait Suci, kemarahan Yesus timbul. Kalau kita lihat di dalam Alkitab, momen ini adalah momen satu-satunya yang membuat Yesus marah. Jika Yesus yang begitu sabar dan lembut hati hingga bisa marah seperti itu, tentu itu merupakan hal yang teramat sangat serius. Mengapa bisa demikian?

Fakta yang bisa kita lihat dengan jelas, kemarahan Yesus dipicu oleh banyaknya orang yang mencari untung memanfaatkan bait Allah dengan berdagang. Kita mungkin bisa berkata bahwa kita kan tidak berdagang sapi atau burung di gereja, apalagi buka money changer segala? Tetapi sadarkah kita bahwa ada banyak orang yang mencari Tuhan hanya untuk keuntungan semata? Dalam ayat 21 dikatakan: "Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri." 

Ini jelas berbicara mengenai motivasi dalam mengikuti Yesus. Ada banyak orang yang mau mengikut Yesus agar bisnisnya lancar, bisa mendapat untung besar, berharap selamat dari ancaman kebangkrutan, berharap dilancarkan dan sebagainya. Ada banyak pula orang yang berharap bisa mendapat jodoh, karirnya naik, sembuh dari penyakit dan seterusnya. Tentu saja Tuhan bisa menyediakan itu semua, itu tidak perlu diragukan. Tetapi semua itu seharusnya bukan menjadi prioritas utama untuk dikejar, apalagi kalau dipakai sebagai motivasi utama mengikut Yesus. Seandainya kita diberitahu bahwa mengikut Yesus berarti harus siap sangkal diri, pikul salib, harus mengalami penderitaan, masihkah kita mau dengan yakin untuk mengikutiNya? Kalau mendengar itu, bakal banyak yang akan langsung mengundurkan diri. Mereka inilah yang meletakkan motivasi yang salah dalam mengikut Yesus.Mereka hanya melihat Tuhan sebagai pemberi berkat sebagai motivasi utama, dan bukan karena mereka mengasihi Tuhan.

(bersambung)


Friday, July 13, 2018

Motivasi Mengikut Yesus : Kisah Yesus di Bait Allah (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yohanes 2:14
=====================
"Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ."

Bagi anda yang sudah menikah, apa alasan anda menikahi pasangan anda? Semoga alasannya karena anda mencintainya. Ada begitu banyak alasan atau motivasi yang bisa menjadi dasar sebuah hubungan. Selain karena cinta, bisa juga karena harta, ingin status yang lebih baik, popularitas, ada juga yang karena sudah terlanjur melakukan hubungan terlarang, sudah kelamaan pacaran, karena dijodohkan orang tua atau bisa pula karena kasihan. Kalau karena cinta saja masih banyak yang kandas, apalagi kalau didasari oleh motivasi-motivasi lainnya. Motivasi yang lemah akan membuat sebuah hubungan rapuh, dan motivasi yang salah akan menyebabkan hasil yang buruk, bahkan kehancuran.

Seperti contoh dalam renungan kemarin, hubungan pertemanan pun bisa didasari banyak motivasi buruk. Ingin mendapatkan fasilitas, kemudahan, cari keuntungan bisa menjadi beberapa alasan diantaranya. Hubungan yang didasari mencari keuntungan, memanfaatkan juga tidak akan baik hasilnya karena dimulai oleh motivasi atau tujuan yang buruk. Kalau dalam keadaan aman semua tampak baik, kekuatan dan kemurnian motivasi sebuah hubungan biasanya terlihat saat ada masalah. Disanalah kemurnian hubungan itu akan teruji.

Jika dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia saja kita perlu memeriksa betul apakah motivasi kita sudah baik dan benar atau belum dan tidak, dalam menjalin hubungan dengan Tuhan pun sama. Dia sudah terlebih dahulu menyatakan kasihNya dengan menciptakan kita secara istimewa seperti rupa dan gambarNya sendiri dan kemudian bahkan melakukan sesuatu yang sangat besar dengan menganugerahkan kasih karunia keselamatan kepada manusia yang sebenarnya tidak layak menerimanya. Tapi bagaimana dengan manusia? Apa reaksi kita? Apabila anda ditanya, mengapa anda mengikuti Yesus, apa yang jadi jawaban kita?

Pertanyaan ini mungkin sepertinya mudah dijawab tetapi pada kenyataannya tidaklah demikian. Kita mudah mengatakan karena kita mengasihiNya seperti halnya Dia mengasihi kita, tapi belum tentu itu alasan jujurnya. Bisa jadi, karena memang sudah turun temurun karena dilahirkan di lingkungan kristen, bisa pula karena mengharapkan banyak kemudahan, ingin kaya, makmur, mengharapkan pertolongan dan lain-lain yang sifatnya fana, hanya untuk kenyamanan hidup di dunia  yang singkat ini. Banyak orang yang mau mengikut Yesus hanya didasari pada faktor untung rugi, hanya ingin mengeruk keuntungan dan bukan karena mengasihiNya. Yang memiliki motivasi seperti ini hanya ingin meminta dan mendapat tanpa mau memberi dengan membangun hubungan satu arah saja. Mereka mencari Yesus karena berharap berkat-berkat duniawi dan mengira bahwa mereka tidak lagi perlu melakukan apa-apa. Jika mereka tidak menerima apa-apa, mereka pun akan kecewa, menjelek-jelekkan Tuhan dan pergi mencari alternatif-alternatif lain.

Seperti yang saya sampaikan kemarin, banyak yang bingung dengan status sebagai anak Raja. Mereka hanya melihat status mentereng yang akan membuat seorang anak berhak menerima warisan ayahnya tapi menolak untuk memikul tanggung jawab. Tidak mau mengasihi ayahnya yang sudah begitu baik menyediakan segalanya buat dirinya, tidak mau pula menjaga nama baik ayahnya. Dan itu banyak terjadi hari ini, bahkan di kalangan pelayan Tuhan sekalipun.

Alangkah indahnya apabila kita mengikuti Yesus karena kita mengasihiNya yang sudah terlebih dahulu mengasihi kita dan sudah menganugerahkan begitu banyak karunia termasuk keselamatan yang sebenarnya tidaklah layak kita terima. Tuhan yang sangat menyayangi dengan kasih setia dan selalu ada bersama kita. Alangkah indahnya apabila saat kita belum atau tidak memperoleh apa yang kita minta, kita tetap ikut Yesus dan taat pada perintahNya. Alangkah indahnya kalau hubungan kita dengan Yesus didasari iman yang percaya bahwa Dia adalah Tuhan dan Juru selamat, didalamnya ada keselamatan, di dalamnya ada harapan, di dalamnya ada kuasa dan kekuatan. Sayangnya banyak yang hanya mencari keuntungan, berhitung untung rugi dalam mengikut Yesus. Beribadah pun hanya karena mengharapkan sesuatu, bukan lagi didasari kasih kepada Tuhan.

(bersambung)


Thursday, July 12, 2018

Motivasi Mengikut Yesus (5)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)


Status yang kita sandang adalah anak Raja, berhak sebagai ahli waris yang artinya menerima janji-janji Allah. Itu disebutkan dalam Roma 8:17. Tapi jangan lupa bahwa seperti yang dikatakan Yesus di atas, status anak Raja kita bukan berarti kita boleh tinggi hati melainkan harus memiliki hati hamba. Dan saya suka menyebut status ini sebagai anak Raja berhati hamba. Jika kita ingin menjadi salah satu yang terdepan di antara pengikut-pengikut Kristus, kita bukannya harus meninggikan diri kita dalam kekuasaan dan membiarkan ambisi jahat mencemarkan kita, apalagi menyalah-gunakan status yang kita sandang demi keuntungan atau kepentingan diri sendiri, tapi justru kita harus semakin merendahkan diri kita hingga menjadi seorang pelayan dan hamba.

Dikemudian hari Petrus mengingatkan kembali tentang hal ini, "Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya" (1 Petrus 5:6). The only way up is by going down. If we humble ourselves before God, He will exalt us in due time. Dunia tidak mengenal prinsip ini, tapi inilah prinsip Kerajaan Surga. Kita anak-anak Tuhan menyandang status sebagai anak Raja, anak dari Raja diatas segala raja. Tapi Kerajaan Surga tidaklah seperti kerajaan di dunia, dimana siapa mereka bisa berkuasa secara absolut sesuka hatinya karena punya kuasa untuk itu. Dalam Kerajaan surga justru kita diminta untuk memiliki kerendahan hati, mau melayani orang lain yang paling hina sekalipun dengan sebentuk hati seorang hamba.

Seperti yang sudah saya singgung di atas, memiliki hati hamba dan kerendahan hati untuk melayani berarti pula bahwa kita harus melakukannya dengan penuh kasih, yang menjadi inti sari dari kekristenan. Paulus mengingatkan hal ini: "Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!" (1 Korintus 16:14).

Seperti apa bentuk kasih itu? "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:4-7). Inilah bentuk kasih yang harus dimiliki oleh pengikut Yesus yang tidak akan ada apabila kita masih bersikap egois, berambisi mencari kemudahan dan keuntungan duniawi dan merasa paling hebat atau paling mulia.

Pada akhirnya, it's not about how high we rise, but it's about how low we go down. Kita harus benar-benar memahami prinsip-prinsip Kerajaan Surga dan tidak mencampur-adukkannya dengan prinsip atau cara pikir dunia. Sudahkah kita memiliki sikap anak Raja yang benar menurut Kerajaan Allah? Apakah kita tahu tujuan yang sebenarnya untuk mengikut Yesus? Apakah kita masih mengejar pemenuhan kebutuhan duniawi yang berkelimpahan, keamanan, kenyamanan, kekayaan, kekuasaan, keistimewaan dan sebagainya sebagai alasan untuk mengikut Yesus tapi menolak untuk menyangkal diri, memikul salib dan meminum cawan yang sama dengan yang harus diminum Yesus? Hari ini mari perhatikan betul motivasi kita dalam mengikut Yesus, agar jangan sampai pemahaman keliru membuat semuanya berakhir sia-sia.

Kita tidak mengerti apa yang kita minta apabila kita hanya menginginkan kemuliaan dari mahkota sebagai anak Raja tanpa menyadari kewajiban untuk menyangkal diri dan memikul salib

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, July 11, 2018

Motivasi Mengikut Yesus (4)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)


- Meninggikan diri sendiri

Apa yang membuat kedua saudara ini merasa berhak lebih dari para murid lainnya? Apakah karena mereka diberi Yesus julukan anak-anak guruh sehingga mereka merasa lebih istimewa? Entahlah. Tapi yang jelas, permintaan mereka menunjukkan bahwa mereka ingin berada lebih tinggi dibanding para murid lainnya. Itu sebuah bentuk sikap yang meninggikan diri sendiri.

Kita harus sadar bahwa prinsip Kerajaan Surga dalam memandang siapa yang terbesar berbeda dengan cara pandang dunia. Lihatlah apa yang Yesus katakan dalam Matius 18:1-4. Pada saat itu para murid mendatangi Yesus dan menanyakan siapa yang terbesar di dalam Kerajaan Surga. Yesus menjawab dengan memakai seorang anak kecil sebagai peraga, "lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga." (ay 3-4). Jadi jelaslah bahwa kebesaran dalam Kerajaan Allah itu diukur bukan oleh popularitas, kekuasaan, pamor, kekuatan, status dan sebagainya melainkan oleh kerendahan hati.

Jawaban Yesus ini disampaikan sebelum datangnya permintaan ibu Yakobus dan Yohanes. Itu menunjukkan bahwa sebenarnya Yakobus dan Yohanes sudah mendengar pengajaran Yesus tentang kerendahan hati dan pelayanan, seperti yang sudah ditunjukkan Yesus sendiri dengan keteladananNya secara langsung. Tapi apakah mereka sudah memahami dan menghayatinya? Tampaknya belum, sebab kalau mereka sudah paham tentu mereka tidak akan meminta sesuatu seperti itu. Kenyataannya, setelah lebih 2000 tahun berselang, masih sangat banyak manusia yang belum memahami prinsip Kerajaan ini.

Ketiga hal negatif ini menunjukkan bahwa mereka belum mengerti prinsip Kerajaan dalam memandang status murid Yesus. Mereka ingin mencari keistimewaan, kemudahan, tapi lupa bahwa kerendahan hati, mendahulukan kepentingan orang lain, siap mengorbankan diri atas dasar kasih, bahkan kesiapan untuk mengalami aniaya dan penderitaan seperti cawan yang harus diminum Yesus pun menjadi sesuatu yang wajib bagi semua pengikutNya. Itulah sebabnya jawaban Yesus pada ibu Yakobus dan Yohanes adalah "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta." (Matius 20:22a).

Yesus lalu menegaskan bahwa perihal siapa yang duduk di kiri dan kanan Kristus itu bukanlah hakNya, tapi merupakan hak Tuhan sepenuhnya. (ay 23). Meski demikian, Yesus menyampaikan sebuah hal penting. Yesus berkata, "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu" (ay 26-27). Para pemerintah di dunia merasa punya otoritas absolut sehingga bisa menindas rakyatnya dengan tangan besi, menjalankan kekuasaan dengan keras bahkan kejam. Tetapi menyandang predikat sebagai murid Yesus sama sekali berlawanan dengan itu. Yesus menegaskan bahwa untuk mencapai posisi yang baik, seseorang haruslah rela menjadi pelayan dan memiliki hati seorang hamba. Sebab, "sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (ay 28).

(bersambung)


Tuesday, July 10, 2018

Motivasi Mengikut Yesus (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Permintaan yang disampaikan oleh sang ibu tentu sesuai dengan keinginan anaknya, sebab tidak mungkin si ibu berani meminta tanpa ada persetujuan dari kedua anaknya. Permintaan ini menunjukkan adanya kegagal-pahaman mengenai esensi untuk mengikut Yesus. Setidaknya ada tiga hal buruk atau negatif yang menonjol dari permintaan ini. Mari kita lihat satu persatu.

- Ambisi untuk diistimewakan sebagai yang terhebat

Sadar atau tidak, seringkali semangat dan usaha kita untuk menjadi benar sering disertai oleh ambisi pribadi seperti ingin jadi yang paling hebat lantas berhak mendapat keistimewaan atau kemuliaan lebih dari orang lain. Di saat ambisi ini mencemari usaha kita untuk terus bertumbuh lebih baik, ada banyak hal-hal negatif yang bersumber dari kedagingan yang akan muncul seperti iri, dengki, sombong, lupa diri dan sebagainya. Kalau kita ingin lebih dari orang lain, ingin jadi yang paling hebat, bagaimana mungkin kita bisa bersenang hati melihat ada orang yang hidupnya diubahkan atau saat ada yang dipulihkan lebih dari kita?

Ambisi tidak salah kalau tujuannya tidak salah. Berambisilah untuk hidup semakin benar, berambisilah untuk semakin rendah hati, semakin mengasihi Tuhan dan sesama, dan berambisilah untuk selamat. Jangan arahkan ambisi untuk hal-hal yang mendatangkan keuntungan duniawi untuk memuaskan kedagingan. Jangan sampai tujuan utama kita mengikut Yesus kemudian digeser oleh berbagai bentuk ambisi yang jahat.

- Egois atau mau menang sendiri

Sifat yang satu ini merupakan salah satu ancaman utama kita untuk bertumbuh dengan baik dan benar. Di dunia yang semakin individualis orang semakin sibuk mengejar hal-hal yang mendatangkan keuntungan diri sendiri. Kalau harus mengorbankan orang lain apa boleh buat, yang penting kita dulu selamat. Bukankah akan lebih baik apabila kakak beradik Yakobus dan Yohanes fokus untuk mengajak seluruh murid Yesus dan orang lain di sekitar mereka untuk bisa layak berada di sebelah Kristus kelak secara bersama-sama?

Sikap egois ini bisa melahirkan pemahaman yang keliru soal mengikut Yesus. Padahal Yesus sendiri sudah mengingatkan bahwa "sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40). Lalu Yesus juga sudah mengingatkan bahwa kita harus mengasihi sesama seperti diri kita sendiri (Matius 19:19), bahkan mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita (Matius 5:44), dan tentu saja yang dikatakan Yesus sebagai perintah baru: "yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Kita tidak bisa mengasihi seperti ini kalau masih dipenuhi sikap egois atau mau menang/mementingkan diri sendiri.

Salah satu bentuknya bisa kita lihat dari bagaimana kita berdoa. Apakah doa kita berisi doa buat orang lain, buat orang-orang yang kita kenal tapi belum bertobat, buat para pemimpin, buat gembala dan pengerja dimana kita tertanam saat ini, buat bangsa dan negara atau masih penuh dengan doa untuk kepentingan diri sendiri saja? Bagaimana kita berdoa dan apa isinya bisa menjadi gambaran apakah kita masih egois atau tidak.

(bersambung)


Monday, July 9, 2018

Motivasi Mengikut Yesus (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Yang menyedihkan, hamba-hamba Tuhan pun tidak semuanya bebas dari jebakan pemikiran keliru ini. Ada yang sudah melayani tapi hidupnya masih sangat duniawi. Ada yang melayani supaya Tuhan jaga hidupnya lebih dari orang yang tidak melayani, ada yang pasang tarif, ada yang minta disediakan fasilitas sekelas artis. Ada gereja yang hanya ingin kotbah yang menyenangkan telinga jemaat supaya jumlah yang datang bisa tetap terjaga kalau bisa meningkat, dan kemudian ada pendeta-pendeta yang mengatur kotbahnya sesuai pesanan, bukan lagi untuk menyampaikan kebenaran dari Tuhan, dimana mereka lakukan supaya jangan sampai tidak dipanggil lagi sehingga kurang uang masuk. Ada yang melayani Tuhan karena mencari berkat duniawi. Bahkan iri hati, arogansi, kesombongan, tidak adil, pilih kasih sampai fitnah bisa menjangkiti pelayan Tuhan.

Bisa jadi mereka yang berlaku seperti ini keliru mengartikan nilai-nilai kasih menurut iman mereka, mungkin mereka lupa diri karena berada pada posisi lebih tinggi dibanding orang biasa. Atau mungkin juga, mereka menyalah artikan status. Bingung menyikapi posisi antara hamba Tuhan dan anak Raja. Kebingungan bisa timbul kalau kita mengadopsi prinsip-prinsip atau paham dunia tentang status seseorang, tetapi sesungguhnya itu tidaklah sulit kalau kita mengacu kepada Firman Tuhan.

Menjadi anak Raja bukan berarti kita bisa berlaku seenaknya, bukan berarti kita bisa tinggi hati, tetapi justru harus punya hati bagai seorang hamba. Bukan dilayani tetapi melayani, bukan hanya mencari enak tapi menolak untuk menderita. Sekali lagi, Tuhan lebih dari sanggup untuk menurunkan berkatNya dan mendatangkan keajaiban diluar logika manusia untuk kita. Tapi apakah kita juga siap meminum cawan yang sama yang harus diminum Yesus buat menyelamatkan nyawa manusia, termasuk kita hari ini?

Saya ajak teman-teman untuk melihat perikop dalam Matius 20:20-28. Pada suatu hari datanglah ibu dari anak-anak Zebedeus bersama kedua anaknya, yaitu Yakobus dan Yohanes, kakak beradik yang digelari Boanerges atau anak-anak guruh oleh Yesus sendiri. (Markus 3:17). Maksud kedatangan sang ibu saat itu adalah untuk memohon kepada Yesus agar kedua anaknya bisa beroleh kedudukan yang baik dan istimewa kelak di Kerajaan surga. Permintaan ini sepintas wajar untuk dilakukan seorang ibu yang sayang terhadap anak-anaknya, tapi sesungguhnya menunjukkan ketidakpahaman ibu dan kedua anak ini mengenai prinsip Kerajaan. Mari kita lihat percakapannya.

"Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." (Matius 20:21).

Mendengar ucapan ibu ini, Yesus lalu menjawab: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" (ay 22a). Yesus ternyata menjawab dengan mengacu kepada kesanggupan mereka untuk menderita dalam mengikuti Kristus, turut memikul salib, turut minum dari cawan penderitaan yang harus Dia minum. Ini sejalan dengan pesan Kristus bahwa siapapun yang mau mengikuti Kristus haruslah siap untuk menyangkal dirinya sendiri dan memikul salib. (Markus 8:34,Lukas 9:23). Sebab, "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku." (Matius 10:38).

(bersambung)


Sunday, July 8, 2018

Motivasi Mengikut Yesus (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 20:22a
====================
"Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?"

Seorang pengusaha suatu kali bercerita tentang pengalamannya. Ia sukses di usia muda, tapi kemudian sempat jatuh dan hari ini ia sedang kembali menapak naik. Ia bercerita bahwa dahulu di saat usahanya sukses, ia dikelilingi oleh begitu banyak orang yang ia anggap sebagai teman. Banyak dari mereka ini yang ia bantu untuk bisa mulai usaha juga. Tapi saat ia jatuh, banyak di antara 'teman' ini yang pergi meninggalkannya. Di saat itu ia bisa melihat mana yang teman sejati, yang benar-benar tulus dalam berteman, mana yang cuma cari untung saja. Dan jumlah antara teman sejati dan yang cari untung benar-benar jomplang, seperti satu banding seratus, bahkan lebih katanya. Sejak saat itu ia belajar untuk lebih selektif dalam memilih atau menerima seseorang sebagai teman dekat.

Saya akan kasih satu contoh lain. Ada seorang teman yang sudah lama berprofesi sebagai dokter spesialis yang sukses. Anaknya sejak kecil sangat ingin bisa seperti ayahnya. Si ayah tentu menyambut baik dan mendukung anaknya. Saat anaknya mulai kuliah di kedokteran, anak ini ternyata ingin mendapat kemudahan-kemudahan dalam kuliah. Misalnya dengan menghubungi dosen-dosen yang notabene adalah teman sejawat atau bahkan mantan murid. Tapi teman saya ini menolak karena tidak ingin anaknya menjadi manja dan menggampangkan profesi. "Jadi dokter itu urusannya nyawa orang, jangan dianggap main-main. Jadi harus serius dan benar belajarnya." katanya pada si anak. Ia pun menambahkan, "Dia harus tahu bagaimana susahnya sampai bisa berhasil. Jangan cuma lihat enaknya, mau ikut berhasil tapi tidak mau ikut perjuangannya." Saya bangga kepadanya, karena ia memutuskan untuk mendidik anaknya dengan benar.

Ada banyak orang yang ingin sukses seperti orang lain tanpa mau susah. Mereka mengira semua itu instan tanpa perjuangan dan pengorbanan. Anak teman saya ini tidak menyadari bahwa untuk bisa berhasil, ayahnya dulu harus membiayai kuliah sendiri sambil bekerja. Saya ingat dahulu sebagai anak kos ia sering kesulitan makan. Akan halnya contoh yang pertama, lihatlah bahwa ada banyak orang yang berteman dengan orang yang sukses hanya karena ingin mendapat kemudahan dan kenyamanan, ingin mengejar status, tempat bergantung, meminta bantuan dan lain-lain yang menguntungkan diri sendiri. Begitu temannya kesulitan, mereka pun menghindar karena tidak mau ikut repot. Biasanya mereka yang punya tabiat seperti ini akan segera mencari tempat gantungan baru dengan segala cara.

Bagaimana dengan status kita saat menerima Yesus? Kita kemudian menyandang status anak-anak Raja di atas segala raja. Dan banyak orang memandangnya seperti menjadi anak raja di dunia. Akses bebas seenaknya di dalam istana, hidup penuh kemewahan, tidak ada yang berani menganggu apalagi melawan, punya kuasa besar sehingga bisa bertindak sesuka hati dan sebagainya. Banyak orang yang memutuskan untuk ikut Yesus karena ingin hidupnya berubah menjadi baik bahkan berkelimpahan. Minimal bisa terbebas dari resiko bangkrut, sakit, kesulitan hidup terutama finansial dan lain-lain. Menyandang status anak Allah dikira merupakan status yang otomatis membuat segalanya menjadi mudah bagai mengendara di jalan bebas hambatan. Kekeliruan ini seringkali diperparah oleh banyak pengajaran yang berpusat pada mengejar kemakmuran.

Apakah Tuhan tidak bisa memberi mukjizat pada kita? Apakah Tuhan kurang kuasa untuk melepaskan kita dari masalah, mengubah kesulitan kita menjadi ladang berkatNya? Apakah salah berharap seperti itu? Tentu tidak. Tuhan lebih dari sanggup untuk melakukan hal-hal besar dalam hidup kita. Masalahnya, jangan sampai kita memilih ikut Tuhan untuk mengejar kemudahan, kekayaan dan kelancaran hidup dalam hal-hal duniawi. Kalau itu yang kita kejar, kita bisa kecewa. Dan ada banyak orang yang kemudian meninggalkan Yesus dan pergi mencari alternatif-alternatif lain yang mereka anggap lebih cepat mendatangkan apa yang mereka inginkan.

Suatu kali saya pergi dengan seseorang, dan ia berkata bahwa sebagai anak Allah, seharusnya Allah akan menyediakan tempat parkir buat mobilnya. Memangnya Tuhan tukang parkir atau pemilik mal? Siapa kita yang berhak memerintah dan mewajibkan Tuhan untuk mengabulkan dan menyediakan semua yang kita mau? Tapi ada banyak orang yang menempatkan Tuhan tidak lebih dari pegawai, pesuruh, pelayan, penyedia keperluan hidup bahkan bodyguard alias tukang pukul. Betapa berbahayanya kalau itu yang ada dalam pikiran kita sebagai pengikut Kristus.

(bersambung)


Saturday, July 7, 2018

What Do We Have Today? (5)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)


Tapi kemudian Yesus berkata: "Cobalah periksa!" (Markus 6:38). Setelah diperiksa, mereka menemukan ada anak yang membawa lima roti dan dua ikan. Lalu apa yang ada itulah yang dipakai Tuhan Yesus untuk mengenyangkan ribuan orang. Lima ribu orang itu masih laki-laki saja, belum termasuk wanita dan anak-anak. Semua dikenyangkan bahkan masih lebih.

Apakah Tuhan Yesus tidak bisa menurunkan langsung makanan dari langit? Tentu saja bisa. Tapi Yesus mau mengajarkan bahwa kita tidak boleh terfokus pada apa yang tidak ada atau tidak kita punya, melainkan periksalah terlebih dahulu apa yang ada pada kita. Doakan, dan gunakan. Akan halnya potensi, kenali bakat atau keahlian khusus apa yang Tuhan bekali pada kita, asah dan kembangkan semaksimal mungkin dan pergunakan itu demi kebaikan kita dan sesama.

Mungkin anda melihat sesuatu yang tidak mungkin di depan untuk diraih atau diatasi seperti pandangan para murid pada lima ribu lebih orang yang harus diberi makan. Tapi sudahkah anda periksa apa yang ada? Tahukah anda apa yang ada pada diri anda saat ini? Mungkin anda cuma menemukan lima roti dan dua ikan, dan anda merasa itu tidak akan cukup untuk melakukan apa-apa. Tapi dari apa yang kita pelajari hari ini, kita bisa melihat bahwa apabila Tuhan memberkatinya, lima roti dan dua ikan itu sudah lebih dari cukup untuk mendatangkan hal-hal yang besar, bahkan ajaib.

Apakah kita mengetahui apa potensi yang ada pada kita, dan sudahkah kita memuliakan Tuhan lewat itu?  Seperti yang saya sampaikan di awal, manusia cenderung untuk melihat apa yang tidak atau belum mereka punyai daripada menyadari potensi dan semua yang sudah ada pada kita. Maukah kita sadar bahwa Tuhan sudah menyediakan segalanya secara cukup bagi kita untuk bisa berhasil dan bisa memberkati orang lain sekaligus memberi kemuliaan bagi namaNya?

Ada banyak orang disekitar kita yang terabaikan, tertolak, tersisih dan tersingkir, mereka butuh pertolongan, dan kita bisa menyatakan kasih Kristus kepada mereka dengan apa yang kita miliki. Kita tidak perlu sibuk mencari apa yang tidak kita miliki hingga melupakan apa yang ada pada kita. Periksalah apa yang ada pada kita dan pergunakanlah. Tuhan bisa memakai segala sesuatu yang terlihat sederhana atau kecil sekalipun dari kita secara luar biasa. Tuhan bisa melakukan hal-hal besar bahkan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya lewat apapun yang kita punya saat ini. What do we have, and what can we do? Why don't we figure them out and make a difference?

Kenali potensi dan apa yang ada pada kita dan pergunakan untuk menyatakan kemuliaan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, July 6, 2018

What Do We Have Today? (4)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Perikop ini mengajarkan kita tentang tiga hal penting yang saling berhubungan, yaitu:

1. Kepekaan/belas kasih terhadap sesama
Petrus peduli terhadap penderitaan si orang yang sudah lumpuh sejak lahir. Orang lumpuh itu merasa hanya bisa bertahan hidup mengharapkan sedekah dari orang lain, tetapi Petrus mengalirkan kasih Tuhan kepadanya dengan memberi mukjizat kesembuhan.

2. Pengenalan apa yang ada dan tidak ada pada kita
Petrus tahu apa yang dia punya dan apa yang tidak ia punya. Tidak memiliki harta, emas dan perak bukanlah kendala sama sekali buat Petrus. Ia tidak memakai itu untuk menjadi alasan tidak sanggup membantu orang lain.

3. Mempergunakan apa yang ada pada kita untuk memberkati sesama
Dengan mengetahui apa yang ia punya, Petrus pergunakan itu untuk memberkati orang lain. Tidak hanya sebatas ucapan kasihan, rasa iba, tapi Petrus melakukan sesuatu yang nyata.

Dalam berbuat baik kita tidak perlu berfokus pada apa yang tidak kita miliki yang bisa menghambat kita untuk melakukan sesuatu bagi mereka. Kesalahan cara berpikir ini akan membuat kita tidak menyadari apa yang ada pada kita dan karenanya kehilangan kesempatan untuk menolong orang lain. Dan Firman Tuhan tegas berkata: "Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa." (Yakobus 4:17). Karenanya sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui potensi diri kita, apa yang kita punya dan memakainya untuk memberkati orang lain.

Selain itu Alkitab juga mengingatkan kita: "Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah." (Galatia 6:9). Kita harus terus melakukan perbuatan-perbuatan baik yang bisa memuliakan Allah dengan tidak jemu-jemu. Ada atau tidak apresiasi manusia bukan masalah, karena sesuatu yang dengan tulus kita lakukan demi namaNya akan selalu berharga di mataNya. Dan tentu saja, tidak perlu ribet berpikir tentang apa yang tidak kita punya, tapi periksalah apa yang kita punya dan pakai itu untuk memberkati orang lain.

Mengenai memeriksa apa yang kita punya, ada contoh bagus dalam kisah Yesus memberi makan lebih lima ribu orang lewat lima roti dan dua ikan. Memberi makan sebanyak itu, mau dari mana? Dari mana duitnya, dan siapa yang bisa memenuhi kebutuhan sebanyak itu? Para murid pun kemudian pesimis karena memandang pada apa yang tidak mereka miliki.


(bersambung)


Thursday, July 5, 2018

What Do We Have Today? (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Pada saat itu Petrus dan Yohanes tengah berjalan menuju ke Bait Allah menjelang waktu berdoa. Di luar Bait Allah ada seorang laki-laki yang sudah lumpuh sejak lahir. Ia selalu diletakkan disana untuk mengemis berharap belas kasihan dari orang-orang yang hendak masuk ke Bait Allah.

Melihat Petrus dan Yohanes, ia pun seperti biasa meminta sedekah. Apa yang ia minta adalah sedekah seperti halnya pengemis yang kita temui setiap hari dijalan-jalan. Banyak dari kita yang merasa terganggu oleh kehadiran pengemis sepertinya. Kita biasanya kalaupun mau memberi akan mencari uang receh. Kalau tidak ada, ya sudah lewati saja sambil mengarahkan telapak tangan ke mereka.

Tapi Petrus menanggapi si pengemis lumpuh dengan sesuatu yang berbeda. "Tetapi Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" (Kisah Para Rasul 3:6).

"Kalau kamu minta uang, aku tidak punya itu sekarang. Tapi aku mau memberi apa yang ada padaku." kata Petrus. Dan yang ia berikan ternyata mukjizat besar yang bahkan tidak bisa dibeli dengan jumlah uang berapapun, yaitu mukjizat kesembuhan! Begitu ia berkata, "dalam nama Yesus, berjalanlah!", pada saat itu juga orang lumpuh itu diangkat naik oleh Petrus dan mukjizat terjadi. "Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu." (ay 7b).

Orang yang pernah bisa jalan lantas lama lumpuh saja butuh waktu untuk bisa jalan. Waktunya bisa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, karena tulang-tulang kaki biasanya sudah mengecil dan lemah. Apalagi kalau lumpuhnya sejak lahir seperti pengemis ini. Tapi lihatlah mukjizat Tuhan mengatasi semua logika dan kemampuan manusia. Ia bisa langsung berdiri dan tidak perlu belajar jalan terlebih dahulu untuk menggunakan kakinya.

Betapa senangnya hati orang lumpuh itu. Ia pun segera menikmati sesuatu yang sudah lama ia rindukan. Ia terus berjalan kesana kemari, melompat-lompat, bahkan ikut masuk ke dalam Bait Allah sambil terus memuji Tuhan. Dan hal itu pun menjadi kesaksian bagi semua orang yang melihat kejadian pada saat itu. (ay 9-10).

Ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik dari kisah ini. Tapi hari ini mari kita melihatnya dari salah satu sisi mengenai pengenalan akan apa yang kita miliki.

Perhatikan lagi jawaban Petrus. "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu." Petrus mengetahui apa yang ia miliki, dan ia tidak perlu mengeluh terhadap apa yang tidak ia punyai. Ia memakai apa yang ada padanya untuk memberkati orang lain, dan itu jauh lebih indah daripada sekedar harta seperti yang diminta orang lumpuh tersebut. Bukan hanya sekedar uang sedekah, tetapi mukjizat kesembuhan hadir dari apa yang dimiliki Petrus, yaitu iman akan Kristus yang memiliki kuasa untuk melakukan hal-hal yang mustahil sekalipun di mata manusia.


(bersambung)


Wednesday, July 4, 2018

What Do We Have Today? (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kemarin kita sudah melihat beberapa orang di kota kecil bernama Yope yang melakukan sesuatu secara langsung lewat talenta dan apa yang mereka punya. Tabita yang dalam bahasa Yunani disebut Dorkas mungkin cuma bisa menjahit. Dia tidak bisa berkotbah, dia bukan dokter, insinyur apalagi bos besar dengan uang melimpah-limpah. Tapi dalam keterbatasannya ia ternyata mau bergerak melakukan tindakan nyata. Ia menjahitkan baju dan jubah secara gratis buat para janda miskin di kotanya. Dan kita sudah tahu bahwa ia kemudian dibangkitkan dari kematiannya oleh kuasa Tuhan yang mengalir lewat Petrus, dan itu membuat banyak orang di Yope menjadi percaya kepada Yesus. Kisah ini bisa dibaca dalam Kisah Para Rasul 9.

Kedatangan Petrus ke kota itu yang tadinya atas permintaan para janda yang merasa kehilangan Tabita lalu berlanjut dengan keputusannya untuk tinggal beberapa hari lagi di rumah Simon yang bekerja sebagai penyamak kulit. Pekerjaan ini jauh dari higienis. Kotor dan bau, penuh bulu, pecahan daging yang menempel di kulit dan tentu saja bangkai hewan. Pekerjaan sebagai penyamak kulit dinilai najis oleh orang-orang Yahudi pada masa itu dan karenanya Simon pun tinggal tersisih jauh dari perkampungan penduduk. Secara logika tidak ada yang bisa ia tawarkan. Siapa yang mau nginap di rumahnya? Dekat saja tidak akan ada yang mau. Tapi Petrus dibawa Tuhan untuk tinggal disana. Dan Simon jelas membuka pintunya lebar-lebar.

Seperti yang sudah saya sampaikan dalam renungan sebelumnya, seorang prajurit bernama Kornelius yang tinggal di kota lain berjarak sekitar 60 km ternyata mendapat perkenanan Tuhan. Ia pun mengutus orang untuk menjemput Petrus. Orang-orang utusannya pun kemudian menginap pula di rumah Simon sang penyamak kulit. Lagi-lagi Simon tidak menolak. Ia mempersilahkan mereka yang belum pernah ia kenal sebelumnya untuk bermalam disana. Singkat cerita, Kornelius dan beberapa orang non Yahudi lainnya kemudian menerima kasih karunia keselamatan, bahkan Roh Kudus turun atas mereka sebelum mereka dibaptis.

Dari sisi tema hari ini, ada satu poin yang sengaja belum saya sampaikan dalam renungan terdahulu lewat kisah perjalanan Petrus di Yope, yaitu baik Tabita maupun Simon sang penyamak kulit tidak ambil pusing terhadap apa yang tidak mereka punya. Mereka langsung berbuat sesuatu dengan apa yang ada pada mereka atau bisa mereka lakukan. Yang satu menjahitkan baju buat janda miskin, yang satu lagi menyediakan penginapan buat Petrus dan utusannya Kornelius. Mereka tidak minder, mereka tidak mengeluh, mereka tidak mempergunakan keterbatasan mereka sebagai alasan. They did what they could, and used whatever they got at that time. Tuhan berkenan atas perbuatan mereka dan mereka pun menjadi bagian dari terjadinya pertobatan terhadap banyak orang yang bahkan lintas kota. Nama mereka tercatat dalam Alkitab dan akan terus menjadi teladan sampai pada kesudahan dunia ini.

Ada satu contoh menarik lainnya yang bisa kita baca dalam kitab Kisah Para Rasul pasal 3:1-10. Disana tertulis cerita mengenai Petrus menyembuhkan orang lumpuh tepat didepan pintu masuk Bait Allah.


(bersambung)


Tuesday, July 3, 2018

What Do We Have Today? (1)

webmaster | 8:00:00 AM | 2 Comments so far
Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 3:6
=======================
"Tetapi Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!"

Seorang teman saya menceritakan sebuah pengalamannya tentang memberi. Suatu hari ia ingin merapikan lemari bajunya yang sudah kepenuhan. Karena kepenuhan, ia memutuskan untuk mensortir baju-baju miliknya. Ia mengkategorikan atas tiga bagian: pertama adalah yang masih ingin ia pakai, kemudian yang kedua: bakal jarang dipakai tapi punya nilai historis seperti dari seseorang yang spesial atau mengingatkannya pada sebuah momen penting dalam hidupnya, dan yang ketiga: baju-baju yang tidak akan dipakai lagi. Misalnya sudah ketinggalan jaman, sudah tidak muat, ada flek atau cacat dan sebagainya. Ada beberapa yang masih terlihat seperti baru tapi tertimbun dan kemudian modelnya sudah tidak ia sukai. Nah, baju yang tidak ia pakai lagi ini harus keluar dari lemari. Pertanyaannya, mau dikemanakan? Ia pun kemudian memutuskan untuk berkeliling membagikan bajunya untuk gelandangan.

Saat berkeliling membagikan baju, ia melihat seorang yang masih remaja duduk lesu sendirian di pinggir sebuah ruko. Ia pun mampir dan meminta anak remaja ini memilih mana yang ia mau. Remaja ini terlihat senang dan memilih beberapa potong dengan wajah cerah. Karena merasa kasihan, teman saya pun memberikan beberapa potong roti yang kebetulan sempat ia beli sekalian keluar. Saat ia hendak pulang, remaja ini malu-malu mengulurkan tangan dengan mata berkaca-kaca. Teman saya bertanya, kenapa ia mau menangis? Ia berkata: "Hari ini sebenarnya hari ulang tahun saya, kak. Saya tidak punya siapa-siapa lagi, dan tadi saya sedang sedih harus dalam kondisi seperti ini di saat ulang tahun saya. "Ternyata kakak datang dan memberi saya baju-baju yang bagus banget, juga kue. Siapa sangka saat hari sudah larut malam tiba-tiba saya dapat hadiah seperti ini? Terima kasih kak." katanya. Mengetahui hal itu, teman saya kemudian pergi membeli sebatang lilin dan duduk di emperan merayakan ulang tahunnya, lalu berdoa buat anak remaja tersebut.

Saat ini remaja itu sudah tidak tahu pindah kemana. Beberapa kali ia cari tidak ketemu. Ia mengaku masih terus mendoakan dan berharap kelak bisa ketemu lagi. Pengalaman ini membuka pemahamannya bahwa kebahagiaan dalam memberi itu sungguh luar biasa rasanya, dan ternyata kita tidak selalu harus punya uang banyak terlebih dahulu untuk bisa memberi. Sesuatu yang sederhana hanya dengan menggunakan apa yang ada pada dirinya dan tidak ia butuhkan lagi ternyata bisa begitu berharga buat orang lain, apalagi kalau datangnya pada saat yang tepat. Paradigma berpikirnya berubah. "Saya sekarang tahu bahwa saya harus periksa dulu apa yang saya punya dan bisa berikan juga lakukan untuk orang lain." katanya.

Ada banyak orang yang berpikir seperti cara berpikirnya sebelum ia mendapatkan pengalaman tadi. Sudah menjadi sifat manusia untuk selalu melihat apa yang tidak dipunyai ketimbang memperhatikan betul-betul apa yang ada pada mereka untuk diolah semaksimal mungkin. Kita sibuk mengejar yang kita belum atau tidak punya ketimbang bersyukur dan menggunakan potensi yang sudah ada pada kita. Yang ada dibiarkan menganggur, yang belum ada diburu. Salah satu penyebabnya adalah sifat manusia yang cenderung sulit merasa puas dan terus saja menginginkan lebih dan lebih lagi. Ada peribahasa mengatakan "rumput tetangga lebih hijau lebih hijau dari rumput sendiri". Itu menggambarkan sifat manusia yang selalu merasa kurang dan ingin bisa seperti orang lain. Anehnya, banyak orang yang terus mencari dan mencari tanpa pernah mengetahui apa sebenarnya yang mereka butuhkan dan apa yang bisa mereka lakukan dengan potensi yang mereka miliki.

Jika tidak hati-hati kita bisa terjebak pada rasa iri hati. Dan itu bisa sangat berbahaya, "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." (Yakobus 3:16). Kejahatan-kejahatan dan berbagai jenis dosa mengintip disana, siap menerkam kita. Kalau untuk hidup sendiri saja kita tidak kunjung puas, apalagi dalam hal melayani atau menolong orang lain. Betapa seringnya kita merasa tidak mampu atau belum cukup mampu, karena itu tadi, kita memandang kepada apa yang tidak atau belum kita punya ketimbang memeriksa apa yang ada pada kita.

Kalau cara berpikir seperti ini dipelihara, kita tidak akan pernah merasa mampu dan akibatnya kita tidak kunjung melakukan sesuatu yang bisa membawa dampak baik buat orang lain. Kita tidak bisa menjadi terang dan garam, kita tidak bisa menjadi saksi Kristus di dunia. Padahal kalau saja kita mengetahui potensi diri dan apa yang ada pada kita, mungkin sejak dulu kita bisa mulai menjadi murid-murid Kristus yang berdampak nyata di tempat di mana kita berada. Mengetahui potensi diri sungguh penting baik untuk kemajuan diri kita sendiri maupun dalam mengalirkan kasih Allah lewat perbuatan-perbuatan baik secara nyata.

(bersambung)


Monday, July 2, 2018

Simon Sang Penyamak Kulit (5)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Simon sang penyamak melakukan pekerjaan yang dianggap kotor oleh orang Yahudi. Produk yang ia hasilkan dibutuhkan, tapi ia sendiri disisihkan dari lingkungan. Tapi Simon tetap setia melakukan pekerjaannya. Saya percaya Tuhan berkenan kepadanya sehingga ia dan rumahnya dipakai Tuhan sebagai bagian dari datangnya keselamatan atas orang lain di kota yang berjarak 60 kilometer-an dari tempat tinggalnya. Dan ia pun tercatat dalam Alkitab. Mungkin tidak banyak orang yang mengetahui tentang dirinya karena tertutupi kisah Tabita alias Dorkas dan kemudian kisah dibaptisnya prajurit bernama Kornelius bersama orang-orang yang berkumpul disana yang mendengar pemberitaan Petrus. Tapi yang jelas, nama Simon sang Penyamak ditulis di dalam Alkitab. Bukan cuma satu kali tapi tiga kali. Itu menunjukkan bahwa perannya penting dalam pemberitaan Injil dan pertobatan orang-orang lewat pelayanan para rasul.

Tabita alias Dorkas hanyalah penjahit di kota pelabuhan yang kecil di barat daya Laut Tengah (sekitaran Tel Aviv di jaman sekarang). Di kota yang sama ada Simon, seorang yang melakukan pekerjaan bau dan kotor. Tapi dari keduanya kita bisa melihat besarnya curahan kasih karunia keselamatan dan mukjizat Tuhan turun atas orang-orang bukan cuma di kota mereka tapi hingga ke kota lain. Pekerjaan mereka yang tidak dianggap istimewa oleh manusia ternyata sanggup menghasilkan hal-hal luar biasa saat Tuhan bekerja lewat mereka.

Apa yang kita kerjakan hari ini? Sebagian dari kita mungkin merasa bahwa pekerjaan kita rendah, tidak terpandang, atau bahkan kotor seperti Simon sang Penyamak. Mungkin juga ada di antara teman-teman yang merasa punya masa lalu atau sedang berada pada titik yang 'kotor' sehingga tidak layak untuk melayani Tuhan. No, that's not true. Dari kisah ini kita belajar bahwa apapun pekerjaan kita, seperti apapun manusia menilainya, apabila pekerjaan itu berkenan dan menyenangkan hati Tuhan, Tuhan bisa pakai itu untuk menyatakan kemuliaanNya, bahkan mendatangkan keselamatan buat orang lain. Tidak perlu merasa rendah diri, tidak perlu membandingkan dengan pekerjaan orang lain yang kelihatannya lebih baik. Just do your job the best you can, and be thankful for it. Selain apa yang anda kerjakan bisa berdampak luar biasa bagi orang lain, jika Tuhan mendapati anda bisa dipercaya untuk perkara kecil, Tuhan akan percayakan perkara lebih besar lagi kelak saat waktunya tiba.

Apa yang kotor atau rendah dalam anggapan manusia belum tentu rendah dalam pandangan Tuhan. Sebaliknya, apa yang dianggap hebat oleh manusia belum tentu pula dianggap sama oleh Tuhan. Tuhan tidak memandang manusia dari tinggi rendahnya pekerjaan. Tuhan tidak memandang muka, melainkan melihat hati (1 Samuel 16:7). Hati yang takut akan Tuhan, hati yang mengasihi, hati yang menyembah, hati yang rindu membawa jiwa-jiwa, hati yang rindu melayani, hati yang taat, hati yang mampu menggerakkan pemiliknya untuk bekerja dengan sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan bukan manusia tanpa memandang besar kecilnya pekerjaan itu.

Pandanglah hati tokoh-tokoh yang ada pada renungan hari ini. Hati Petrus, hati Tabita, hati Simon dan hati Kornelius. Lihatlah bagaimana mereka mendapat perkenanan Tuhan dan bisa menjadi inspirasi hingga ribuan tahun sesudah masa hidup mereka. Tuhan menanti kita untuk memiliki sikap hati yang sama. Lakukan itu, dan lihatlah kelak betapa luar biasanya Tuhan bekerja atas diri, hidup dan pekerjaan anda.

God continues to work miracles in our lives, including through our works 

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, July 1, 2018

Simon Sang Penyamak Kulit (4)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Sesampainya mereka di Kaisarea, Petrus mengatakan kepada Kornelius dan orang-orang disana: "Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir. Itulah sebabnya aku tidak berkeberatan ketika aku dipanggil, lalu datang ke mari. Sekarang aku ingin tahu, apa sebabnya kamu memanggil aku." (ay 28-29). Lihatlah bahwa penglihatannya di atas rumah menyiapkannya untuk bertemu dengan Kornelius.

Pada masa itu orang Yahudi dilarang keras bergaul dengan non Yahudi, juga tidak boleh masuk ke dalam rumahnya. Tapi lewat penglihatan itu, Petrus sadar bahwa ia tidak boleh menyebut orang non Yahudi sebagai orang yang najis atau tidak tahir. Petrus menyadari bahwa penglihatannya bukan soal halaldan tidak halalnya makanan menurut hukum Israel tapi juga tentang sesama manusia. Dia mendapat pencerahan bahwa Tuhan menerima siapa saja yang bertobat dan taat kepadaNya.

Itulah yang ia katakan kepada orang-orang disana setelah mendengar penjelasan Kornelius tentang alasan pemanggilannya. "Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang." (ay 34-36).

Saya menganjurkan teman-teman untuk membaca kelanjutannya karena disana tercatat dengan jelas semua yang dikatakan Petrus akan hal ini. Dalam ayat 44 kita bisa melihat bahwa kemudian Roh Kudus turun atas semua orang yang mendengar pemberitaan Petrus. Orang Yahudi yang ada disana pun tercengang melihat fakta, bahwa ternyata karunia Roh Kudus pun dicurahkan kepada bangsa-bangsa lain diluar Yahudi. Maka Kornelius dan orang-orangnya yang saleh seperti dirinya kemudian dibaptis dalam nama Yesus.

Bayangkan seandainya tidak ada kisah Tabita, Petrus tidak akan pergi dan menginap sebentar di Yope. Bayangkan seandainya tidak ada rumah Simon sang Penyamak, Petrus mungkin sudah melanjutkan lagi perjalanannya dan tidak bertemu dengan Kornelius. Tempat Simon sang penyamak yang kotor dan bau dan penglihatan yang didapatnya mengajarkan bahwa kita tidak boleh menghakimi orang-orang yang belum percaya. Mereka sama seperti kita, layak untuk menerima keselamatan, mendapat karunia Roh Kudus apabila mereka menjalankan hidup yang berkenan di hadapan Allah. Apa yang dipandang kotor atau bahkan najis oleh manusia ternyata bisa dipakai Tuhan sebagai awal datangnya keselamatan bagi orang lain! Itu adalah poin penting berikutnya.

(bersambung)


Saturday, June 30, 2018

Simon Sang Penyamak Kulit (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!

(sambungan)

Pekerjaan menyamak kulit adalah pekerjaan mengolah kulit mentah hewan hingga menjadi kulit yang bisa digunakan untuk membuat berbagai jenis barang. merupakan pekerjaan kotor dalam peradaban masyarakat kuno termasuk oleh kaum Yahudi karena sifat pekerjaannya yang membuat mereka jauh dari bersih secara fisik. Seorang penyamak harus bersentuhan dengan hewan mati, mengupas bulu-bulunya, menguliti, membuang sisa daging, lemak yang melekat, mencucinya dengan air laut dan proses-proses lainnya.

Bisa dibayangkan, rumah seorang penyamak kulit akan penuh dengan hewan mati, serpihan daging, bulu, dan tentu kuburan dimana sisa-sisa hewan ini ditanam. Jelas ada bau busuk yang ditimbulkan. Itulah sebabnya mereka yang berprofesi sebagai penyamak kulit diharuskan tinggal di pikiran kota, jauh dari masyarakat. Dalam sebuah literatur yang pernah saya baca, penyamak kulit ini dianggap najis seperti halnya penderita penyakit menular. Alkitab mencatat dua kali bahwa rumah Simon memang berada di tepi laut (Kisah Rasul 10:6 dan 32).

Petrus ternyata dibawa Tuhan untuk menginap disana, di rumah yang jauh dari higienis, nyaman dan bebas bau. Petrus bisa saja memilih untuk tinggal di tempat yang lebih baik, apalagi kalau ia tinggal di kota maka aksesnya untuk mengajar juga akan lebih mudah. Tapi dia ada di rumah Simon sang penyamak kulit, yang tentu saja merupakan keputusan menarik. Tuhan menempatkannya disana bukan tanpa alasan.

Ternyata Tuhan menuntunnya untuk tinggal disana bukan tanpa alasan. Di kota Kaisarea yang berjarak sekitar 60 km dari Yope tinggallah seorang perwira pasukan Italia bernama Kornelius. Kornelius disebutkan sebagai orang baik yang takut akan Tuhan, rajin berdoa dan sering memberi sedekah kepada orang-orang Yahudi yang miskin. (Kisah Para Rasul 10:2). Suatu hari ia dijumpai malaikat yang menyampaikan pesan bahwa Tuhan berkenan atas hidupnya dan mengingatnya. (ay 4). Ia pun kemudian disuruh menjemput Petrus yang menginap di rumah Simon Sang Penyamak di Yope.

Sementara tiga orang penjemput berada di jalan, pada tengah hari Petrus naik ke atas rumah untuk berdoa. Ia mendapat penglihatan. "Tampak olehnya langit terbuka dan turunlah suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya, yang diturunkan ke tanah. Di dalamnya terdapat pelbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar dan burung. Kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata: "Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!" (ay 11-13). Petrus menolak, tapi Tuhan mengingatkannya bahwa "Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram." (ay 15). Hal itu terjadi sampai tiga kali, kemudian kain itu pun terangkat kembali ke langit.

Ternyata itu adalah untuk menyiapkan pemahamannya untuk bertemu dengan Kornelius. Ketiga penjemput menginap di rumah Simon Penyamak juga selama satu malam bersama dengan Petrus. Keesokan harinya mereka berangkat ke Kaisarea.

(bersambung)


Friday, June 29, 2018

Simon Sang Penyamak Kulit (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kisah ini dicatat dalam Kisah Para Rasul 9:32-43. Ada baiknya kita lihat lagi sekilas tentang ibu ini karena renungan hari ini merupakan kelanjutan dari kisahnya.

Bu Tabita ini disebutkan "banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah." (ay 36). Perbuatan baik dan sedekahnya ia lakukan dalam bentuk membuat/menjahit baju dan jubah buat para janda miskin di kotanya. Lihatlah apa yang ia buat sederhana saja. Ia mungkin hanya bisa menjahit, dan itu ia pakai untuk melakukan perbuatan baiknya. Bu Tabita bukan bos besar, pengusaha atau sarjana-sarjana seperti dokter, insinyur dan sebagainya. Tapi lihatlah bagaimana ia tetap bisa memberkati orang lain sesuai kemampuannya.

Suatu hari ia meninggal dunia, dan para janda pun menangis sedih kehilangan orang yang sudah begitu baik pada mereka. Pada saat itu ditengah kesedihan mereka, mereka mendengar kabar bahwa Petrus sedang berada di Lida, kota yang tidak jauh dari Yope, jaraknya kurang lebih 22 kilometer. Para janda ini pun kemudian mengirimkan dua utusan untuk menjumpai Petrus dan memintanya datang ke kota mereka. Petrus langsung berkemas-kemas dan ikut menuju Yope. Setibanya disana, ia disambut para janda yang sambil menangis menunjukkan pakaian-pakaian yang dijahitkan Tabita buat mereka semasa hidupnya. Yang terjadi selanjutnya, mukjizat turun atas ibu Tabita. Ia dibangkitkan lagi dari kematiannya, dan berita itu pun dengan segera menyebar di seantero kota. Dan karenanya, banyak orang yang kemudian bertobat menjadi percaya kepada Yesus. (ay 42).

Sekarang saya ingin mengajak teman-teman untuk melihat apa yang terjadi tepat setelahnya. Ayat berikut sebagai penutup perikop ini mencatat hal tersebut.

 "Kemudian dari pada itu Petrus tinggal beberapa hari di Yope, di rumah seorang yang bernama Simon, seorang penyamak kulit." (ay 43).

Pertama kali saya membaca ayat ini, saya mengira bahwa ayat terakhir ini hanyalah penutup informasi mengenai kisah Tabita hingga ia dibangkitkan lewat Petrus. Tapi kemudian saat saya melanjutkan pada pasal berikutnya, saya menemukan beberapa hal menarik yang membuat saya sadar bahwa ayat 43 ini sangat penting, bukan sebagai penutup melainkan sebagai awal dari sesuatu yang besar saat Tuhan bekerja di area itu lewat Petrus. Menariknya lagi, informasi tentang tempat menginap Petrus yaitu rumah Simon si penyamak kulit bukan hanya disebutkan satu kali tapi tiga kali, yaitu pada pasal 10 ayat 6 dan 32. Kalau sampai disebutkan tiga kali, berarti informasi ini jelas penting.

Pertama, mari kita lihat tentang keputusan Petrus untuk tinggal selama beberapa hari lagi di Yope. Kita tahu ia sedang berada di Lida dan sepertinya tidak ada rencana untuk mengunjungi Yope, kalau bukan karena dipanggil oleh para janda yang sedih karena sosok baik hati yang mereka sayangi meninggal dunia. Petrus datang dan membangkitkan Tabita, lalu ada banyak orang yang menjadi percaya pada Yesus. Saya rasa itulah yang menyebabkan Petrus memutuskan untuk tinggal beberapa hari lagi di Yope. Dia ingin menyampaikan berita keselamatan kepada mereka yang baru bertobat disana, memberikan dasar-dasar untuk nantinya mereka kembangkan setelah Petrus meninggalkan kota mereka. Jadi, poin pertama yang bisa kita dapati adalah bahwa kebaikan hati Tabita yang melakukan sesuatu yang sederhana ternyata mampu mendatangkan keselamatan bagi banyak orang.

Selanjutnya, dimana Petrus menginap saat berada di Yope? Dengan jelas dikatakan bahwa ia tinggal di rumah seorang bernama Simon yang berprofesi sebagai penyamak kulit.

(bersambung)

Thursday, June 28, 2018

Simon Sang Penyamak Kulit (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 9:43
=========================
"Kemudian dari pada itu Petrus tinggal beberapa hari di Yope, di rumah seorang yang bernama Simon, seorang penyamak kulit."

Beberapa tahun lalu saya harus membuat sumur bor. Setelah tanya sana sini, akhirnya lewat salah satu warga yang saya kenal di perkampungan belakang rumah, saya dikenalkan pada seorang bapak yang berprofesi sebagai pembuat sumur bor. Harganya jauh lebih murah dibandingkan beberapa tempat yang sempat saya tanyakan. Selama ia bekerja, saya sempat ngobrol dengannya. Ia berkata bahwa pekerjaan itu sudah ia geluti selama puluhan tahun mengikuti jejak ayahnya. Setiap bekerja ia penuh lumpur. Kotor dan karena basah-basahan tentu tidak juga baik buat kesehatan. Ia bercerita bahwa anaknya tidak mau lagi melanjutkan pekerjaan karena tidak mau kotor. "Sekarang lebih banyak pilihan buat bekerja pak, siapa yang mau lagi kerjaan yang kotor seperti ini." katanya.

Saya kagum karena ia berkata bahwa harga kerjanya yang lebih murah dibanding kebanyakan tukang lainnya adalah karena ia memandang kerja sebagai amanah dan ibadah. Ia bisa saja melebihkan harga, atau ada juga katanya yang sengaja memperlambat kerja karena dibayar harian. Jadi jumlah hari bertambah, demikian pula upah. Tapi ia tidak mau melakukan itu. "Jangan cuma karena ingin lebih sedikit saya tidak bisa mempertanggungjawabkan hidup kepada yang diatas." katanya.

Bagi saya apa yang ia katakan terasa sangat memberkati. Ditengah banyaknya orang yang berpikir pendek mencari keuntungan secepat-cepatnya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya tanpa peduli apakah mereka merugikan orang lain atau tidak, saat banyak orang tidak lagi malu menipu dan menganggapnya sebagai hal yang wajar, bapak pembuat sumur bor ini memegang teguh prinsip jujur dalam bekerja. Meski pekerjaannya jauh dari bersih, ia harus mandi lumpur, itu adalah pekerjaan yang harus ia lakukan dengan sungguh-sungguh sebagai ibadah dan amanah. Wah, kalau saja semua orang seperti ini, betapa makmurnya kita.

Saya berpikir, kalau orang tidak lagi mau mengerjakan pekerjaan yang dianggap 'kotor' seperti bengkel, sumur bor, pekerja bangunan, petani dan lain-lain, kita tentu tidak bisa maju. Masalahnya, seperti yang saya sampaikan kemarin, ada banyak orang yang merasa pekerjaannya lebih kecil di banding orang lain sehingga mereka merasa tidak bisa berdampak. Mereka lebih tertarik membandingkan pekerjaannya, mendengar apa kata orang daripada mendengar pandangan Tuhan dan melakukan sesuatu disana yang bisa membuat Tuhan senang dan bangga.

Si bapak pembuat sumur bor melakukan pekerjaan yang mengotori tubuhnya. Pekerjaannya mungkin bukanlah pekerjaan favorit, tapi bagaimana kalau tidak ada pembuat sumur bor di kota kita? Bukankah pekerjaannya penting dan berdampak bagi masyarakat di sekitarnya? Sementara ada banyak orang yang sudah bekerja dalam kondisi yang lebih bersih dan baik masih saja mengeluh atau merasa kurang.

Dalam renungan terdahulu saya sudah membagikan kisah mengenai seorang wanita bernama Tabita atau Dorkas yang tinggal di kota Yope.

(bersambung)


Wednesday, June 27, 2018

Penjual Online dan Dokter Muda (4)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Tidaklah kebetulan bahwa kita ditempatkan di sebuah lokasi dimana kita berada saat ini. Tidak semua dari kita tinggal di kota besar, diantara teman-teman mungkin ada yang tinggal di kota kecil, di desa, pedalaman atau mungkin sedang ada di hutan, baik karena pekerjaan, sejak lahir atau sedang melayani di sana. Dari Tabita kita bisa belajar bahwa di kota seperti apapun, meski tidak terkenal, bukan kota metropolitan yang gemerlap, dengan segala keterbatasan tempat itu dan keterbatasan kemampuan kita, ingatlah bahwa segala sesuatu yang kita perbuat, biar sesederhana apapun, itu akan tetap berharga sangat tinggi bagi Tuhan ketika kita melakukan itu semua dengan ketulusan tanpa mengharap imbalan dan dengan tujuan untuk memuliakan Tuhan dengan memberkati orang lain.

Yesus sendiri mengatakan: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40) Lihatlah bahwa Yesus tidak mengatakan segala hal besar, pertolongan besar, sumbangan besar, bantuan besar, mewah dan mahal, tetapi Yesus mengatakan "segala sesuatu". Itu termasuk perbuatan-perbuatan kecil yang mungkin dipandang sebelah mata oleh dunia, tetapi jika kita melakukan itu bagi Tuhan, maka itu akan sangat berharga di mataNya.

Tabita menyadari panggilannya dan mau terjun langsung untuk menyatakan kasih dengan perbuatan nyata. Dia tidak mengeluh terhadap apa yang tidak ia miliki, ia memilih untuk mempergunakan apa yang ada padanya, talenta yang ia punya untuk melakukan itu, dan Tuhan sangatlah berkenan kepadanya.

Anda tidak harus menjadi orang super kaya untuk bisa berdampak. Anda tidak harus berprofesi tinggi dan terpandang untuk bisa menjadi berkat. Anda tidak harus punya rumah dan mobil mewah untuk bisa dikatakan berhasil. Dan, kita tidak harus iri terhadap profesi orang lain lantas merasa diri kita kecil dan tidak ada apa-apanya. Apapun yang anda kerjakan hari ini, meski orang mungkin tidak melihatnya sebagai sesuatu yang besar, jika anda kerjakan dengan sepenuh hati dalam namaNya, itu berharga sangat besar di mata Tuhan. Kalau anda kedapatan bisa dipercaya dalam perkara-perkara sederhana, Tuhan akan percayakan hal-hal yang lebih besar lagi. Bukan untuk membuat anda sesak nafas tertimbun harta melainkan agar anda bisa memberkati lebih banyak orang lagi dan semakin menyenangkan hati Tuhan. Kecil bagi manusia bisa berarti besar bagi Tuhan. Sebaliknya yang besar menurut manusia belum tentu pula besar di mata Tuhan.

Kembali kepada awal renungan ini tentang seorang teman yang jualan online dan seorang dokter muda yang baru memulai karirnya, mereka punya keahlian masing-masing. Yang satu ahli menjahit dan membuat snack untuk anjing, yang satu ahli dalam medis dan bisa menyembuhkan orang sakit. Keduanya sama-sama dibutuhkan. Ada berapa anjing yang terhindar dari hukuman pemiliknya karena pipis sembarangan, ada berapa anjing yang menikmati snack yang lezat dan sehat. Kalau mereka sehat dan senang, pemiliknya pun turut bahagia. Lalu ada orang-orang yang sakit kemudian sembuh lewat penanganan oleh si dokter muda. Setidaknya mereka tahu bahwa dokter ini akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan mereka. Keluarga dari orang-orang yang sakit ini tentu juga akan turut senang. Bukankah kedua orang ini sama-sama luar biasa? Bukankah mereka sama-sama memberkati lewat panggilan dan profesinya? Bukankah mereka juga melakukan pelayanan lewat pekerjaannya? Bukankah keduanya melakukan hal-hal yang indah?

Find out your calling, know your talent and potential, and use them to do something real. Tabita melakukannya, dan lihatlah bagaimana ia berdampak, dicintai bahkan mengalami mukjizat besar. Saya rindu bahwa suatu hari nanti, orang akan mencatat bahwa di sebuah kota, pada sebuah jaman, anda dan saya sebagai murid Yesus telah menyatakan Tuhan lewat perbuatan-perbuatan atau pekerjaan-pekerjaan kita. Mari kita menjadi Tabita-Tabita masa kini.

Don't wait and waste more time, let's start doing something real for someone! 

Follow us on twitter:http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, June 26, 2018

Penjual Online dan Dokter Muda (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Perhatikanlah bahwa Tabita tidak berhenti hanya sebatas pada wacana atau rasa kasihan saja, tetapi bergerak untuk melakukan tindakan nyata dalam menolong orang lain. Ada banyak orang yang berhenti pada wacana, tidak bergerak melakukan secara nyata karena mereka merasa bahwa apa yang akan mereka lakukan itu terlalu kecil. Manusia cenderung mencari yang instan dan besar, tapi melupakan atau mengabaikan yang kecil. Dunia mungkin berprinsip seperti itu, tapi tidak demikian halnya dengan Tuhan.

Apakah Tabita tidak punya kebutuhan yang harus dicukupi sehingga ia rela mengeluarkan uang dan memakai tenaganya untuk menjahitkan baju buat para janda disana, itu bukanlah hal yang penting. Apa yang penting adalah bagaimana ia terjun langsung secara nyata untuk mengalirkan kasih Tuhan kepada orang lain, memberkati orang lain dengan apa yang ia miliki dan apa yang mampu ia perbuat, dan dengan itu ia sudah memberi kesaksian tersendiri sebagai orang percaya, sebagai murid Kristus. Alkitab pun kemudian mencatat kisah tentang dirinya yang hari ini masih bisa kita baca, dan akan terus diketahui orang hingga banyak generasi ke depan, yaitu bahwa di sebuah kota kecil di barat daya Laut Tengah, ada seorang murid Kristus yang berhati mulia bernama Tabita.

Lalu pada suatu ketika Tabita sakit dan ia pun meninggal. Jenazahnya sudah dimandikan dan jasadnya dibaringkan di ruang atas. Terdengarlah kabar bahwa Petrus sedang berada tidak jauh dari kota itu. Dan inilah yang terjadi selanjutnya: "Lida dekat dengan Yope. Ketika murid-murid mendengar, bahwa Petrus ada di Lida, mereka menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan: "Segeralah datang ke tempat kami." (ayat 38). Orang-orang yang mencintai Tabita segera berangkat menuju Lida dan bergegas menemui Petrus untuk memintanya datang.

Mendengar kabar itu, Petrus pun segera bergegas berangkat ke Yope. "Maka berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setelah sampai di sana, ia dibawa ke ruang atas dan semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup." (ay 39).

Lihatlah betapa kehilangannya mereka pada sosok Tabita yang baik dan murah hati. Apa yang dibuat Tabita mungkin kecil dalam pandangan banyak orang, tapi tidak bagi mereka. Bagi mereka, Tabita sangat memberkati dan berdampak lewat perbuatan nyata. Tabita sudah begitu banyak menolong mereka lewat baju-baju yang ia buat.

Lantas mukjizat pun terjadi. "Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: "Tabita, bangkitlah!" Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka, bahwa perempuan itu hidup." (ay 40-41). Tabita dibangkitkan! Dan lewat mukjizat tersebut banyaklah orang-orang yang kemudian menjadi percaya kepada Yesus.(ay 42).

Dari kisah Tabita ini kita bisa melihat bahwa perbuatan sederhana pun bisa menjadi berkat tersendiri bagi orang lain dan juga sangat dihargai oleh Tuhan. Seandainya Tabita bukan orang yang baik dan peduli, maukah orang repot-repot pergi ke kota lain untuk memanggil Petrus? Rasanya tidak. Adalah sebuah fakta bahwa Tabita begitu dicintai oleh orang-orang di kotanya sehingga mereka tidak mau kehilangan dia. Lalu lihat pula bagaimana kemudian mukjizat Tuhan turun atasnya dengan kembali dibangkitkan dari kematian. Bukan itu saja, ia pun membawa jiwa-jiwa baru untuk diselamatkan. Semua ini berawal dari kebaikan hati Tabita yang merepresentasikan kebaikan hati Tuhan lewat apa yang bisa ia perbuat kepada sesama. Apa yang dilakukan Tabita sangatlah sederhana. Dia punya kemampuan menjahit, dan dia memakai itu untuk memberkati orang lain. Ia tidak berhenti sebatas rasa iba, kasihan, simpati, prihatin, tapi ia menindaklanjuti dengan melakukan sesuatu buat mereka. Dan lihatlah bahwa itu sangat bernilai baik bagi manusia maupun bagi Tuhan.

(bersambung)


Monday, June 25, 2018

Penjual Online dan Dokter Muda (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Buat saya, yang terpenting adalah menyadari bahwa hidup itu bukanlah menurut apa kata orang, melainkan dari kesadaran kita akan siapa kita menurut Tuhan dan menemukan apa yang Tuhan mau kita lakukan sesuai rencanaNya saat menciptakan kita. Life isn't about what others say, it's about realizing who you are according to God and discovering who He created you to be. Jadi, pandangan seharusnya diarahkan kepada Tuhan yang menciptakan kita dengan segala keindahan dan keistimewaan, atau dengan kata lain dahsyat dan ajaib seperti kata Daud dalam Mazmur 139.

Mengenai tema hari ini, saya akan ajak teman-teman melihat sebuah contoh dari Alkitab yaitu mengenai seorang ibu bernama Tabita atau dalam bahasa Yunani dipanggil Dorkas.

Kitab Kisah Para Rasul pasal 9 menceritakan sebuah kisah yang singkat mengenai kehidupan dan mukjizat yang dialami salah seorang murid mereka, seorang ibu yang hidup di kota kecil di tepi laut. Namanya Tabita, atau dalam bahasa Yunani disebut Dorkas. Lihatlah bagaimana namanya diperkenalkan dalam kitab tersebut.

"Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita--dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah." (Kisah Para Rasul 9:36).

Sebagai catatan, Yope bukanlah kota besar yang terkenal pada masa itu. Kota ini adalah kota pelabuhan yang terletak di sebelah barat daya Laut Tengah (Mediterania), wilayah Palestina. Disana hidup seorang wanita yang tidak melayani Tuhan dengan berkotbah di mimbar. Dia mungkin tidak sanggup untuk itu, dan mungkin juga itu bukan panggilannya. Tetapi lihatlah bagaimana ia "berkotbah" dan memberi kesaksian lewat perbuatan baiknya. Dalam ayat 40 kita bisa melihat bagaimana caranya melayani, yaitu dengan membuatkan baju dan pakaian untuk para janda miskin di kota Yope. Jadi, pada sebuah kota kecil yang tidak terkenal, ada seorang ibu bernama Tabita atau Dorkas, yang bersinar lewat perbuatan-perbuatan baik dan sedekahnya. Kalau Alkitab mencatat itu dengan jelas, itu artinya Tuhan mengetahui dan berkenan dengan apa yang ia perbuat.

Ibu Tabita atau Dorkas bukanlah siapa-siapa. Dia bukan orang yang berada di depan untuk mewartakan Injil dari satu tempat ke tempat yang lain lengkap dengan segala resikonya seperti Paulus, Barnabas, Lukas, Kefas dan rekan-rekan sepelayanan lainnya yang terus bergerak untuk berkotbah dalam mewartakan kabar gembira ke berbagai pelosok dunia. Ia pun bukan donatur besar di gereja, bukan orang berpengaruh, pedagang sukses, dokter yang sudah menyembuhkan banyak orang dan sebagainya. Tidak, jauh dari itu. Tabita alias Dorkas hanyalah seorang wanita bersahaja yang hidup di kota kecil yang mungkin hanya tahu bagaimana menjahit dengan benar. Tapi jelas Tuhan memandangnya dan menghargai betul bagaimana Tabita mempergunakan talenta yang ia miliki untuk memberkati orang lain.

Mungkin bagi banyak orang, membuat baju dan pakaian buat janda-janda miskin yang hidup di kotanya cuma hal kecil saja. Tapi bukankah kecil atau besar itu relatif? Tabita pun mungkin tidak berpikir sampai sebegitu jauh, apakah yang ia buat itu besar atau kecil. Ia hanya menjalankan panggilannya untuk membantu orang lain yang susah yang kebetulan ada disekitarnya. Ia tidak berpikir muluk-muluk, ia hanya melakukan apa yang bisa ia lakukan. She just did what she could.

(bersambung)


Sunday, June 24, 2018

Penjual Online dan Dokter Muda (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 9:36
========================
"Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita--dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah."

Ada hal lucu yang saya alami belum lama ini. Ada seorang teman yang bekerja sebagai penjual online berkata, "coba kalau saya dulu jadi dokter ya.. mungkin hidup saya akan lebih berguna buat orang lain. Saya bisanya cuma jualan saja." Ia pun bercerita bahwa kondisi ekonomi yang lagi terpuruk membuat bisnis onlinenya merosot, apalagi pesaing semakin banyak. Tadinya ia bisa menjual banyak, belakangan bisa tidak ada yang beli sampai beberapa hari. "Jualan itu susah. Kalau saja saya jadi dokter pasti lebih baik. Siapa yang tidak pernah sakit, ya nggak?" katanya.

Tidak lama setelahnya, saya ngobrol dengan seorang dokter muda. Ia berkata bahwa menjadi dokter itu luar biasa susah dan lamanya. Dan hidup dokter itu tidak seperti yang dibayangkan banyak orang, kaya raya. Tidak. Tidak lagi seperti itu hari ini, katanya. Apalagi sejak ada BPJS, dokter banyak yang megap-megap hidupnya. Ia berkata bahwa karena dokter adalah profesi favorit, tingkat persaingannya sangat tinggi karena jumlahnya sangat banyak. Apalagi kalau tidak punya koneksi, semakin terjal lah jalan seorang dokter muda untuk bisa berhasil. Yang lucu, ia berkata "coba saya jadi penjual online saja, hidup saya mungkin lebih mudah dengan penghasilan yang lebih baik. Dengar-dengar penjual online sekarang banyak yang sukses ya." Si A ingin jadi B, si B ingin jadi A.

Hal itu bagi saya lucu sekaligus menarik. Teman saya yang berprofesi sebagai penjual online bukanlah sekedar menjual barang. Ia membuat sendiri produk-produknya seperti snack kering untuk anjing yang terjamin kesehatan dan gizinya. Selain itu ia pun membuat popok-popok untuk anjing yang dijahit sendiri agar hewan kesayangan yang terkenal setia ini tidak pipis sembarangan mengotori rumah. Apalagi harganya sangat-sangat terjangkau. Bagi yang memelihara anjing, bukankah apa yang ia buat itu sangat berguna? Akan halnya si dokter muda, seberapapun besar pergumulannya, profesinya jelas mulia selama ia pegang dengan amanah. Orang-orang yang sakit punya tempat atau orang yang bersedia menolong mereka agar bisa cepat sembuh, itu memberkati orang lain. Jadi, buat saya dua-duanya saya kagumi, dua-duanya berguna buat orang lain, dua-duanya berdampak positif, dua-duanya hebat dan saya yakin, Tuhan memandang keduanya sama baik dan bangga kepada mereka.

Masalahnya, kalau tidak hati-hati dan membiarkan diri kita merasa kurang dari orang lain, kita bisa terkena tipu muslihat iblis untuk menjatuhkan kita. Iblis akan terus mencari cara untuk mengintimidasi membuat kita merasa tidak layak, tidak berguna dan tidak bisa maju. Apakah lewat dakwaan akan masa lalu, apakah lewat kelemahan kita, atau bahkan, atas profesi kita seperti halnya kedua teman saya diatas. Jangan biarkan si jahat mengintimidasi, mendakwa kita dengan menyasar titik-titik lemah kita tersebut. Kalau kita biarkan, bisa hancur kita.

Kalau bukan si jahat, akan ada banyak juga orang yang baik secara sengaja maupun tidak, mengeluarkan kata-kata atau reaksi-reaksi yang bisa meruntuhkan mental dan percaya diri kita. Itu sudah kita bahas dalam renungan kemarin, sehingga saya tidak perlu menuliskannya panjang lebar lagi.

Bayangkan kalau kita biarkan mental dan confidence kita tergerus atau ditekan oleh intimidasi-intimidasi, komentar-komentar negatif yang menjatuhkan atau merendahkan. Semakin lama kita akan merasa semakin tidak berarti. Lantas kita semakin tidak berbuat sesuatu kecuali menyesali diri dan iri terhadap orang lain. Lalu kita menjadi tidak berdampak, dan pada akhirnya kita gagal memenuhi rencana Tuhan. Kita tidak tertarik untuk melakukan hal-hal kecil karena minder atau merasa tidak/kurang berguna dibanding orang lain. Kita melupakan atau mungkin tidak mengenal Tuhan dan hatiNya. Sekecil apapun yang kita perbuat karena belas kasih dan tanpa pamrih, itu akan dihargai sangat besar oleh Tuhan. Kita harus cari tahu apa panggilan kita dan mulailah lakukan. Meski mulai dengan sederhana atau kecil dalam pandangan manusia, Tuhan akan senang dan menghargai sangat besar apabila itu kita lakukan dalam namaNya, demi kemuliaanNya.

(bersambung)


Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker