Monday, January 15, 2018

Hindari Amarah dan Panas Hati (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 37:8
========================
"Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan."

Bangsa ini sepertinya semakin kehilangan keramahannya. Kalau dahulu kita bisa mudah saling tersenyum bahkan bertegur sapa dengan orang yang berpapasan di tengah jalan, hari ini semakin banyak orang yang individualistis dan cepat merasa curiga saat ada orang yang tersenyum apalagi menyapa. Banyak dari kita kemudian curiga apa tujuannya tersenyum dan menyapa. Apakah mau menawarkan sesuatu, berniat jahat seperti copet, culik, hipnotis atau lainnya. Kalau itu saja sudah terasa menyedihkan, lihatlah wajah-wajah penuh kebencian dan kemarahan yang semakin terpapar jelas dimana-mana.

Ironisnya, masih banyak saja acara televisi yang memanfaatkan kemarahan dan emosi manusia untuk tujuan rating. Begitu orang mulai tersulut emosinya, mulai mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas dan menunjukkan gerak gerik akan menyerang, disanalah acara itu mulai dirasa menarik. Ada banyak orang yang bersembunyi di balik wajah penuh kemarahan supaya orang segan atau takut kepada mereka. Ada yang begitu mudahnya membentak atau marah, atau setidaknya memasang wajah dingin karena mengira bahwa mereka akan terlihat berkuasa.

Padahal apa bagusnya wajah seperti itu? Selain terlihat tidak indah, penelitian ilmiah membuktikan bahwa tersenyum membutuhkan jauh lebih sedikit otot ketimbang cemberut. Imbasnya wajah akan lebih cepat keriput disamping masalah-masalah lainnya. Belum lagi masalah kesehatan, kestabilan jiwa dan sebagainya yang bisa merugikan kita kalau kita terus membiarkan diri kita mudah terbakar api amarah.

Kekristenan tidak pernah mengajarkan kita untuk memupuk emosi. God never wishes us to have that kind of face, mind, thoughts and heart. The face of rage, the wrath, anger because all leads only to evil and never to Him.

Berulang-ulang dalam banyak ayat Alkitab mengajarkan kita untuk tidak memendam amarah. Apalagi memupuk dan terus meningkatkan kebiasaan kita untuk terbakar emosi. Lihatlah firman Tuhan dalam Mazmur berikut: "Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan." (Mazmur 37:8). Kemarahan yang seperti apa? Apakah kemarahan yang tanpa sebab atau yang ringan-ringan saja yang tidak boleh kita biarkan? Apakah kalau alasannya kuat kita boleh membiarkan diri kita dikuasai api emosi itu? Mari kita lihat dulu bagian Mazmur 37 ini secara lebih luas agar bisa mendapatkan jawabannya.

"Dari Daud. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau. Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;  Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang. Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya. Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan. Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri." (Mazmur 37:1-9).

Dari bagian dengan judul "Kebahagiaan orang fasik semu" ini, Daud mengingatkan kita bahwa kita jangan marah bukan cuma untuk hal-hal yang sepele, tapi juga, atau bahkan terutama yang diakibatkan oleh orang-orang yang jahat pada kita. Mereka yang berlaku curang dan merugikan kita, mendatangkan ketidakadilan, orang yang tampaknya masih bergembira dengan bebas setelah menyakiti kita atau memperlakukan kita dengan tidak adil, mereka yang tampaknya menang meskipun kesalahan bukan di pihak kita, yang sepertinya malah kelihatan menjadi makin baik setelah membuat kita menderita, terhadap yang demikian pun kita diingatkan untuk bersabar dan tidak marah.

(bersambung)


Sunday, January 14, 2018

Menjadi Pribadi yang Lemah Lembut (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Bagaimana agar kita bisa menjadi orang yang lemah lembut, bukan orang yang cepat keras dan panas hatinya? Ada sebuah tips diberikan Daud yang bisa kita jadikan pegangan mengenai hal ini. "Dari Daud. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau. Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak." (Mazmur 37:1-5).

Tips yang diberikan Daud ini singkat tapi sangat lengkap dan padat. Ia mengingatkan agar kita:
- Jangan lekas marah dalam menghadapi orang-orang yang berbuat jahat
- Jangan iri kepada orang-orang yang suka berbuat curang
- Percayalah kepada Tuhan
- Terus fokus melakukan hal yang baik
- Perdulilah kepada tempat dimana kita ada
- Berlakulah setia
- Teruslah bersukacita bukan karena situasi dan kondisi tetapi karena Tuhan
- Serahkan hidup kepada Tuhan

Kalau ini yang kita jadikan pegangan, apapun yang kita hadapi, sesulit apapun situasi atau orang-orang yang kita hadapi, Tuhan akan memberikan apa yang kita inginkan dan Dia sendiri akan bertindak. Ini tips yang saya kira sangat baik untuk mencegah hati kita terkontaminasi oleh hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh orang percaya, termasuk di dalamnya perilaku-perilaku yang berlawanan dengan lemah lembut.

Berikutnya mari kita lihat pesan lainnya dari Daud. "Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan. Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri." (ay 8-9). Pesan Daud ini paralel dengan apa yang dikatakn Yesus di atas. Kemarahan tidaklah mendatangkan hal baik tapi bisa membawa orang untuk terjerumus pada kejahatan, yang pada akhirnya akan dilenyapkan. Tapi orang-orang yang taat menuruti Tuhan, menyerahkan semua kepada Tuhan akan mewarisi negeri.

Akan halnya meredam kemarahan, kita bisa mendapatkan satu tips sederhana dari Yakobus diantara begitu banyak ayat yang mengingatkan kita akan bahaya membiarkan diri kita gampang dibakar emosi. Katanya: "Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah." (Yakobus 1:19). Tips dari Yakobus adalah, jangan buru-buru marah, tapi dengarlah terlebih dahulu sebelum keburu nafsu membalas. Dengar dulu, pikirkan dulu, dan hargai pendapat orang. Jangan belum apa-apa sudah tersinggung, sakit hati, bersitegang dan marah. Itu tidak baik buat kesehatan kita, itu tidak baik buat orang lain dan tentu tidak baik di mata Tuhan.

Kalau kita kebiasaan menelan makanan buru-buru sebelum dikunyah, itu tidak baik buat pencernaan. Seperti itu pula bereaksi terburu-buru sebelum mengunyah baik-baik terlebih dahulu apa yang dikatakan orang lain. Terburu-buru bereaksi bisa menumpulkan nalar alias akal sehat, mengebiri logika dan terus dikuasai emosi yang berpotensi mendatangkan banyak kejahatan. Lebih jelas lagi Yakobus juga menerangkan bahwa amarah tidak pernah mendapat tempat apalagi bisa dibenarkan di hadapan Tuhan. "sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah." (ay 20).

Ditengah dunia yang semakin dingin bahkan kejam, dengan jumlah orang yang sulit terus bertambah banyak, tentu tidak mudah untuk bisa menahan diri dan tetap menjadi pribadi lemah lembut. But in no matter condition, that's what God wants us to be. Mungkin untuk bisa menjadi figur Musa bisa jadi terlihat seperti mustahil, tapi tidak ada salahnya untuk mulai mencoba.

Adakah di antara teman-teman yang sedang dalam tekanan dan emosi pada saat ini karena tengah berhadapan dengan orang-orang atau kondisi yang sulit? Gampang marah, tersulut emosi dan cepat tersinggung? Mudah panik saat berhadapan dengan masalah? Tekanan begitu cepatnya merebut rasa sukacita dan damai sejahtera? Sudah lama tidak merasakan suasana hati yang cerah ceria karena dikuasai suasana mendung penuh guruh dan halilintar? Redakanlah, dan tersenyumlah. Jangan biarkan sukacita anda dirampas, jangan buka celah bagi iblis untuk menghancurkan anda. Biarkan terang Tuhan menyinari hati anda dengan kebahagiaan. Tetap jaga kelembutan hati dan rasakanlah bahwa Tuhan yang sangat baik dan menyayangi anda itu sesungguhnya selalu ada bersama dengan anda dalam setiap keadaan.

"Being soft-hearted does not make you a weak person. It takes courage to stay delicate in a world that is sometimes cruel." - anonymous

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, January 13, 2018

Menjadi Pribadi yang Lemah Lembut (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 5:5
======================
"Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi."  

Ada seorang teman saya yang sikapnya sangat lemah lembut. Omongannya halus, pembawaannya kalem dan murah senyum. Tidak heran kalau orang suka berada di dekatnya. Suatu kali iseng-iseng saya bertanya apakah hidupnya selalu dalam keadaan baik sehingga bisa bersikap seperti itu? Sambil tersenyum ia menjawab bahwa seperti kebanyakan orang, ia pun mengalami bermacam masalah. Hanya saja ia tidak mau membiarkan dirinya larut dalam perasaan kalut atau susah. Menurutnya, perasaan negatif tidak memperbaiki keadaan tapi malah membuat tambah buruk. Tersenyum dan tetap happy itu menurutnya menjadi terapi yang bisa menjaga agar dirinya tetap dalam keadaan baik meski mungkin kondisi yang dialami sedang kurang baik.

Bagi saya itu adalah sebuah sikap yang sangat baik. Apa yang ia katakan benar, dan memang, Yesus sendiri sudah mengingatkan kita bahwa tidak ada sesuatu yang baik yang bisa kita dapat dari membiarkan diri kita dikuasai perasaan negatif seperti kuatir. "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?" (Matius 6:27). Tentu saja, kuatir tidak akan menambahkan umur kita tapi malah bisa jadi memperpendek. Itu berlaku sama bagi berbagai perasaan atau sikap negatif lainnya seperti mudah marah, gampang tersinggung, dan seperti yang kita bahas kemarin, keras hati dan keras kepala pun kerap merugikan kita, apalagi kalau kekerasan hati dan kepala ini menyangkut hal-hal mengenai Tuhan dan FirmanNya.

Kalau kita membiarkan kondisi hati kita keras dan/atau panas, itu jelas bisa membuka kesempatan bagi iblis untuk menjerumuskan kita ke dalam berbagai kejahatan. Sebaliknya, memiliki hati yang lembut akan membawa dampak yang positif bagi kita dan perjalanan hidup kita hingga kelak di kehidupan yang kekal.

Kelemah lembutan merupakan hal yang penting bagi pertumbuhan iman kita. Begitu pentingnya, Tuhan Yesus bahkan berkata: "Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi." (Matius 5:5). Pesan penting yang disampaikan Yesus ini hadir sebagai adalah satu dari rangkaian ucapan bahagia yang diucapkan Yesus dalam kotbahNya di atas bukit. Lemah lembut seperti apa yang Yesus maksudkan? Kita bisa mendapatkan penjelasan yang lebih detail dalam versi bahasa Inggrisnya, yaitu "the mild, patient, long suffering" alias "lembut, sabar dan tabah". Orang yang memiliki sikap seperti inilah yang dikatakan Yesus akan memiliki bumi. These are the kind of people who would inherit the earth! Tuhan akan memberikan bumi kepada orang-orang sabar, tabah dan lemah lembut, bukan kepada orang yang pendek kesabarannya, cepat emosi, kasar, cepat mengeluh, lekas panas dan keras hati serta kepalanya.

Dalam Perjanjian Lama ada ayat yang menyatakan bahwa Musa itu memiliki kelembutan hati melebihi manusia lain di muka bumi. "Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi." (Bilangan 12:3).

Seperti apa lembut hatinya Musa? Bayangkanlah seberat apa tugas yang dibebankan Tuhan kepadanya. Musa harus memimpin sebuah bangsa besar keluar dari perbudakan bangsa Mesir menuju tanah terjanji. Prosesnya berlangsung tidak tanggung-tanggung, bukan cuma beberapa bulan atau satu dua tahun, tapi berlangsung selama 40 tahun. Masih mending kalau bangsa yang dipimpin berisi orang-orang yang penurut dan tenang. Bangsa Israel yang harus ia pimpin adalah bangsa yang dikatakan tegar tengkuk alias keras kepala. Bangsa Israel sebenarnya beruntung karena sudah mengalami berbagai bentuk mukjizat Tuhan. Itu seharusnya bisa membuat mereka menjadi orang-orang terdepan mengenai masalah kesabaran, ketenangan, penyerahan diri dan bagian-bagian lain dari iman. Tapi sayangnya bukan itu yang ada pada mereka. Bangsa pilihan Tuhan ini tetaplah bangsa yang terus sulit berterimakasih. Bukannya bersyukur atas berbagai campur tangan Tuhan yang melindungi mereka selama masa perjalanan, mereka lebih suka untuk terus bersungut-sungut, berkeluh kesah, protes, mengolok-olok, menyudutkan, menyindir, sinis dan sangat mudah marah.

Dan itulah yang harus dihadapi seorang Musa selama hampir setengah abad. Bisa kita bayangkan bagaimana lelahnya mental dan emosi Musa menghadapi sebuah bangsa seperti itu yang harus ia pimpin sesuai dengan tugas yang diberikan Tuhan kepadanya. Mungkin kalau kita ada di posisi Musa, bisa bertahan seminggu saja sudah prestasi besar. Tapi Musa sanggup mengendalikan emosinya dan terus mengikuti apa yang diperintahkan Tuhan untuk ia perbuat.

(bersambung)


Friday, January 12, 2018

Jangan Bandel (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Sudah begitu luar biasa baiknya rencana Tuhan, dan mereka tidak bisa berdalih bahwa mereka tidak tahu karena Tuhan sudah menyampaikan sendiri rencanaNya, tapi kebandelan atau kedegilan bangsa yang tegar tengkuk ini membuat apa yang mereka terima sepenuhnya bertolak belakang dengan rencana Tuhan tersebut.

Dari satu kisah ini saja kita bisa melihat betapa kebandelan akan membawa dampak buruk bagi kita. Resikonya jelas-jelas nyata, dan bisa jadi pada suatu ketika mendatangkan sesuatu yang  fatal. Kita kerap menganggap bahwa sifat keras kepala, membantah dan selalu melawan ketika dilarang juga cepat tersinggung ketika diingatkan itu wajar dan manusiawi. Tetapi Tuhan sesungguhnya tidak menginginkan kita menjadi pribadi-pribadi yang keras kepala seperti itu. Sebaliknya, Tuhan ingin kita memiliki hati yang lembut yang siap dibentuk. Tuhan menginginkan ketaatan kita lebih dari apapun.

"Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, berpegang pada perintah dan ketetapan TUHAN yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu." (Ulangan 10:12-13). Bangsa Israel sudah merasakan sendiri konsekuensi yang harus mereka hadapi akibat kebandelan mereka berulang kali. Dari ilustrasi di atas kita bisa melihat dua contoh dimana kebandelan membawa konsekuensi yang sangat fatal. Seharusnya contoh seperti ini bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak lagi mengulangi kesalahan seperti itu.

Sebuah larangan memang terlihat seperti membatasi pergerakan kita dan terlihat seolah seperti mengekang dan mengganggu kesenangan kita. Tetapi itu semua bertujuan baik, agar kita bisa terhindar dari masalah dan penderitaan yang dapat berujung pada kebinasaan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Apa yang Tuhan mau sederhana saja. Dia mau kita takut (hormat, segan, menghargai) akan Tuhan, hidup menurut jalan yang Dia tunjukkan, mengasihi Dia sepenuhnya, beribadah hanya kepadaNya dengan segenap hati dan jiwa, berpegang teguh pada perintah dan ketetapanNya, dan itulah yang akan mendatangkan kebaikan dalam hidup kita.

Jika Tuhan masih mau mengingatkan kita meski terkadang keras, bersyukurlah untuk itu. Kalau terus melawan dan keras kepala, nantinya kita sendiri juga yang rugi, apalagi kalau Tuhan akhirnya sampai membiarkan kita terjatuh dalam banyak masalah akibat sikap buruk yang kita pilih sendiri sebagai jalan hidup.

Dengarkanlah dan turutilah segera ketika Tuhan mengingatkan. Apakah itu langsung dari Tuhan, lewat hati nurani kita, atau lewat orang tua, saudara atau sahabat yang peduli kepada kita, apakah lewat Firman dalam kotbah,  lewat lagu rohani atau lainnya, bersyukurlah dan berterima kasihlah untuk itu. Jangan keraskan hati, langsung menuduh, merasa tersinggung dan bersungut-sungut apalagi melawan, sebab larangan atau peringatan yang baik yang kita terima sesungguhnya bisa mencegah kita dari bencana yang bisa jadi terlambat untuk disesali.

Tuhan menuntut ketaatan kepadaNya demi kebaikan kita. Patuhlah dengan hati yang lembut.

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, January 11, 2018

Jangan Bandel (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Seperti seorang ayah yang sayang anaknya, Tuhan tidak henti-hentinya mengingatkan anak-anakNya jika melenceng keluar jalur. Tapi seringkali kita bandel dan menganggap Tuhan terlalu mengekang, terlalu banyak aturan atau bahkan menuduhNya tidak suka melihat kita senang. Ketika masalah muncul karena kita terus bandel, mengeraskan hati dan kepala, kita baru tersadar. Adalah baik jika masalah itu tidak terlalu berat dan langsung membawa kita ke dalam pertobatan, tapi bagaimana kalau penyesalan itu datang terlambat? Seharusnya kita tidak perlu mengalami semua itu jika saja kita tidak membangkang sejak awal. Tapi kalau kita terus bandel, akan ada waktu dimana kita harus diingatkan lewat pelajaran berat, atau bahkan menerima hukuman atas pelanggaran yang kita lakukan.

Bicara soal keras kepala, kita bisa melihat contoh teguran Tuhan kepada bangsa Israel dalam banyak kesempatan. Salah satunya tercatat di dalam Mazmur 81. Di sini Tuhan memberi peringatan tegas kepada mereka. "Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu; hai Israel, jika engkau mau mendengarkan Aku!" (Mazmur 81:9). Lihatlah bahwa Tuhan tidak membiarkan umatNya tersesat. Tuhan peduli. Dia memberi peringatan bukan demi kepentinganNya melainkan demi kebaikan kita sendiri. Di sisi lain Tuhan pun menghargai kehendak bebas yang Dia berikan pada kita, karena Dia ingin kita menjadi pribadi merdeka yang bisa mengatur diri sendiri lewat akal budi dan hati yang peka mendengarNya, bukan robot. Tuhan bilang, "Dengarlah kalau mau"

Apa yang diingatkan Tuhan kepada bangsa Israel pada waktu itu adalah agar bangsa Israel berhenti menyembah allah-allah asing. "Janganlah ada di antaramu allah lain, dan janganlah engkau menyembah kepada allah asing. Akulah TUHAN, Allahmu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir: bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh." (ay 10-11). Bergantunglah sepenuhnya pada Tuhan, jangan cari kepenuhan di luar sana lewat allah-allah asing. Apapun yang kalian butuh Aku yang akan sediakan. Sudah begitu jelas seruan Tuhan ini.

Tapi pertanyaannya, patuhkah mereka? Nyatanya tidak. Dan itu bisa kita lihat dalam ayat berikutnya: "Tetapi umat-Ku tidak mendengarkan suara-Ku, dan Israel tidak suka kepada-Ku." (ay 12). Bangsa Israel tampaknya lupa dan menganggap remeh pengalaman mereka sendiri bahwa adalah Tuhan sendiri yang menuntun mereka keluar dari tanah perbudakan untuk menuju tanah terjanji. Bukannya patuh tapi malah membandel dan menolak Allah apa yang ditulis dalam ayat 12 tadi. Mereka menganggap Tuhan sebagai Pribadi yang egois dan penuntut. Kebandelan itu pun kemudian membuat Tuhan kemudian membiarkan mereka dengan pilihannya! "Sebab itu Aku membiarkan dia dalam kedegilan hatinya; biarlah mereka berjalan mengikuti rencananya sendiri!" (ay 13).

Kalau kita terus bandel, Tuhan pada suatu ketika akan membiarkan kita dalam kedegilan kita. Firaun pada masa Musa mengalami hal yang sama. Berkali-kali Tuhan menghadirkan tulah lewat Musa dimana ia bisa menyaksikan langsung kuasa Tuhan dan besarnya hukuman atas kekerasan hatinya, tetapi berulang kali pula raja satu ini tetap membandel. Dan pada akhirnya Tuhan menghukumnya dengan mengeraskan hatinya benar-benar. Kelak Paulus mengangkat kembali kisah ini sebagai peringatan penting agar jangan satupun dari kita jatuh pada perilaku yang sama. "Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: "Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi. Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya." (Roma 9:17-18).

Apa yang kita mau terima dari Tuhan? Belas kasihan atau membiarkan kita dalam kekerasan hati dan kepala, bahkan menegarkan/mematenkan itu sekalian saja? Kalau yang kita inginkan belas kasihanNya, jangan keras kepala dan keras hati. Patuhlah kepadaNya dengan sepenuh hati.

Kembali kepada bangsa Israel di atas, kita tahu selanjutnya bahwa sejarah mencatat bahwa keputusan Israel itu kemudian membuat mereka terpuruk. Mereka harus menerima konsekuensi buruk atas perbuatannya. Mereka dijajah musuh, luluh lantak dibasmi musuh, dan itu sangat berlawanan dari apa yang sebenarnya telah disediakan Tuhan bagi mereka. Seandainya saja mereka mau mendengar, lihatlah apa yang disediakan Tuhan itu. "Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku! Sekiranya Israel hidup menurut jalan yang Kutunjukkan! Seketika itu juga musuh mereka Aku tundukkan, dan terhadap para lawan mereka Aku balikkan tangan-Ku. Orang-orang yang membenci TUHAN akan tunduk menjilat kepada-Nya, dan itulah nasib mereka untuk selama-lamanya. Tetapi umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya." (ay 14-17).

(bersambung)


Wednesday, January 10, 2018

Jangan Bandel (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
 Ayat bacaan: Mazmur 81:9
====================
"Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu; hai Israel, jika engkau mau mendengarkan Aku!"

Salah satu acara televisi yang saya ikuti adalah Locked up Abroad. Dalam setiap episodenya acara ini mengisahkan tentang orang-orang yang pernah mengalami pahitnya dipenjara di luar negaranya karena satu dan lain hal. Kebanyakan dari mereka tergiur keuntungan dengan melakukan tindak kejahatan seperti narkoba sehingga harus berurusan dengan hukum di negara yang sama sekali asing. Berada dalam penjara bisa sangat berbahaya karena ada begitu banyak kriminal yang tidak segan-segan menyakiti bahkan membunuh.

Salah satu episode mengisahkan seorang pria paruh baya yang pada masa mudanya sempat ditahan di sebuah negara di Amerika Selatan karena menyelundupkan obat terlarang. Ia awalnya ragu, tapi karena diyakinkan bahwa itu aman dan sudah biasa dilakukan oleh sindikat yang merekrutnya, ia pun kemudian memberanikan diri mencoba. Satu-dua kali ia memang berhasil mengelabui petugas dan memperoleh tepat seperti yang dijanjikan oleh sindikat tersebut. Beberapa kali ia berjanji bahwa itu adalah kali terakhir karena ia kuatir tertangkap, namun layaknya jebakan dosa, sekali kita masuk biasanya kita sulit keluar. Ia pun terus melakukan dan terus berjanji berhenti setelahnya.

Suatu kali ia mengatakan bahwa dorongan untuk berhenti sangat kuat dalam hatinya. Ia merasa benar-benar harus menolak tugas selanjutnya dan berhenti. Tapi tentu saja sindikat tersebut tidak mau kehilangan kurir. Mereka membujuk dan menjanjikan upah dobel. Rohnya yang lemah dikuasai kedagingan membuatnya mengabaikan peringatan suara hati. Benar saja, ia kemudian ditangkap di perbatasan dan masuk ke dalam penjara, dimana ia mengalami tekanan dan siksaan dari gang yang berpengaruh disana. Setelah sekian tahun ia akhirnya ia bisa kembali ke negaranya. Sambil menangis ia berkata, "Saya sangat menyesal sudah menghancurkan harapan orang tua dan anak istri saya. Saya menghimbau semuanya, kalau hati nurani anda mengingatkan, dengarkanlah segera supaya anda tidak harus mengalami apa yang terjadi pada saya."

Kebandelan, keras kepala dan keras hati yang mengabaikan seruan peringatan lewat hati nurani bisa mendatangkan celaka. Masih untung ia bisa keluar dan berbagi pengalaman buruknya untuk menjadi peringatan bagi penonton. Bagaimana kalau ia harus kehilangan nyawa atau anggota tubuhnya dengan cara sadis saat berada dalam tempat yang ia katakan hell on earth? Itu pun mungkin terjadi. Padahal ia sejak awal sudah merasa diingatkan, tetapi ia memilih untuk mengabaikan dan mengikuti dagingnya yang tergiur oleh uang dan pengakuan orang lain, dalam hal ini sindikat perdagangan obat terlarang.

Dalam kasus yang mungkin tidak separah itu, pernahkah anda merasa menyesal setelah mengalami sesuatu yang buruk karena bandel dan tidak mau mendengarkan nasihat orang tua, pasangan, teman atau orang lain? Kebandelan atau sikap keras kepala kita kerap membuat kita harus belajar lewat rasa sakit yang timbul dari pengalaman pahit alias learning from the hard way.

Padahal kalau saja kita mau sedikit saja patuh, semua itu harusnya tidak perlu kita alami. Pada waktu kecil adik saya yang memang tergolong nakal dan tidak bisa diam terjatuh di dalam kelas setelah berlari melompati meja-meja kelas saat masih di sekolah dasar. Bibir dan giginya terbentur ujung meja, mengakibatkan gignya patah dan bibirnya sobek lumayan panjang. Sampai hari ini bekas sobek itu masih kasat mata terlihat, padahal kejadiannya sudah sangat lama. Gigi serinya yang patah waktu itu disarung dengan gigi palsu. Sampai saat ini ia tidak bisa mengunyah apa-apa di depan. Orang tua saya sudah begitu sering mengingatkannya agar jangan nakal, tapi ia terus bandel. Dan konsekuensi itulah yang harus ia terima dimana dampaknya masih berbekas sampai puluhan tahun berikutnya.

(bersambung)


Tuesday, January 9, 2018

Keras Kepala (4)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

3. Melalui hukuman dahsyat

Lewat teguran mulai dari lembut hingga keras pun tidak mempan, Tuhan bisa dengan terpaksa memberi hukuman dahsyat. Ini cara yang sudah teramat keras. Contohnya bisa kita lihat dalam Wahyu. Lihatlah ketika sangkakala keenam dibunyikan (Wahyu 9:13-21). Tidak kurang dari sepertiga umat manusia dikatakan binasa lewat kehadiran dua puluh ribu laksa (sekitar dua ratus juta) tentara berkuda yang dari mulutnya keluar api, asap dan belerang. (ay 16-17). "Oleh ketiga malapetaka ini dibunuh sepertiga dari umat manusia, yaitu oleh api, dan asap dan belerang, yang keluar dari mulutnya. Sebab kuasa kuda-kuda itu terdapat di dalam mulutnya dan di dalam ekornya. Sebab ekornya sama seperti ular; mereka berkepala dan dengan kepala mereka itu mereka mendatangkan kerusakan." (ay 18-19).

Tetapi apa yang terjadi? Kapokkah manusia? Ternyata tidak juga. Ayat selanjutnya berkata: "Tetapi manusia lain, yang tidak mati oleh malapetaka itu, tidak juga bertobat dari perbuatan tangan mereka: mereka tidak berhenti menyembah roh-roh jahat dan berhala-berhala dari emas dan perak, dari tembaga, batu dan kayu yang tidak dapat melihat atau mendengar atau berjalan, dan mereka tidak bertobat dari pada pembunuhan, sihir, percabulan dan pencurian." (ay 20-21). Luar biasa bandel dan keras kepalanya bukan? Sudah sedemikian mengerikannya murka Tuhan sekalipun, ternyata manusia tetap saja melawan, mengeraskan hati dan menolak panggilan Tuhan.

Lalu apa lagi yang harus dilakukan Tuhan jika demikian? Terus terang saya tidak tahu. Saya lebih cenderung merasa sedih melihat kebandelan kita, manusia yang begitu dikasihi Tuhan ini untuk terus mengecewakan dan menyakiti hatiNya. Padahal Tuhan begitu mengasihi kita. Tidak sedikit yang Dia anugerahkan kepada kita yang tidak layak menerimanya, bahkan sampai sebuah keselamatan yang bersifat kekal pun sudah dianugerahkan kepada kita. Sayangnya masih banyak orang yang  membandel, mengeraskan hati dan kepalanya, lebih memilih berkompromi terhadap dosa, mengejar pemuasan keinginan daging, dan sebagainya. Terus menolak panggilanNya meski berbagai cara, mulai dari yang teramat halus hingga teguran keras bahkan hukuman, mulai dari suara ketukan lewat hati nurani, firman dalam alkitab, teguran lewat orang lain, melalui peristiwa atau berbagai kejadian dalam hidup, banyak yang tetap saja membangkang. Bahkan ketika suaraNya demikian jelas terdengar sekalipun masih saja banyak manusia menolak untuk taat. Lalu harus bagaimana lagi?

Oleh karena itu sebelum hukuman yang jatuh atas kita tidak lagi bisa disesali, saya mengajak teman-teman untuk bersama-sama melembutkan hati. Seperti apa yang dikatakan firman Tuhan: "..Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!" (Ibrani 4:7). Sungguh Allah sudah terlebih dahulu mengasihi kita dengan begitu besar. Keselamatan kita terus ada dalam pikiran dan hati Tuhan. Dia selalu rindu menerima pertobatan menyeluruh dari kita, dan Dia selalu siap menyambut kembalinya kita, anak-anakNya yang hilang dengan penuh sukacita. Segala yang terbaik telah Dia sediakan bagi kita. Dan kebandelan kita bukan saja menyakiti dan menyedihkan Tuhan, namun juga akan berakibat fatal dengan hilangnya kesempatan kita untuk masuk ke dalam kehidupan kekal.

Janganlah sampai murka Tuhan jatuh atas diri kita. Jangan tegar tengkuk, jangan keras kepala, keras hati atau membandel. Selagi masih sempat, mari lembutkan hati jadilah penurut. Miliki hati yang peka dan pikiran yang selaras dengan kebenaran Tuhan, hari ini juga.

Jangan keras kepala dan keras hati saat berhadapan dengan Firman Tuhan agar kita tidak harus menyesal di belakang hari

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, January 8, 2018

Keras Kepala (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

2. Teguran halus dan keras lewat firmanNya  melalui nabi atau perantaraan orang lain

Jika cara halus lewat hasil ciptaan tidak mempan, Tuhan pun berkali-kali menegur secara langsung. Mulai dari teguran halus hingga kasar. "TUHAN telah memperingatkan kepada orang Israel dan kepada orang Yehuda dengan perantaraan semua nabi dan semua tukang tilik: "Berbaliklah kamu dari pada jalan-jalanmu yang jahat itu dan tetaplah ikuti segala perintah dan ketetapan-Ku, sesuai dengan segala undang-undang yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyangmu dan yang telah Kusampaikan kepada mereka dengan perantaraan hamba-hamba-Ku, para nabi." (2 Raja Raja 17:13).

Ini pesan Tuhan yang hadir lewat firmanNya, disampaikan oleh para hamba-hambaNya, dan di hari ini mungkin bisa hadir lewat pendeta, hamba Tuhan atau orang-orang biasa yang digerakkan Tuhan untuk menegur kita. Tapi ternyata ini pun seringkali masih tidak mempan. Orang terus mengeraskan hati dan kepala mereka. "Tetapi mereka tidak mau mendengarkan, melainkan mereka menegarkan tengkuknya seperti nenek moyangnya yang tidak percaya kepada TUHAN, Allah mereka." (ay 14).

Dalam ayat selanjutnya dikatakan "Mereka menolak ketetapan-Nya dan perjanjian-Nya, yang telah diadakan dengan nenek moyang mereka, juga peraturan-peraturan-Nya yang telah diperingatkan-Nya kepada mereka; mereka mengikuti dewa kesia-siaan, sehingga mereka mengikuti bangsa-bangsa yang di sekeliling mereka, walaupun TUHAN telah memerintahkan kepada mereka: janganlah berbuat seperti mereka itu." (ay 15). Jika diteruskan pada ayat-ayat selanjutnya, maka kita akan melihat bagaimana keras kepala dan keras hatinya mereka itu.

Ada beratus ayat yang menyatakan berkat-berkat Tuhan kepada orang yang mendengarkan dan melakukan perintahNya dengan sungguh-sungguh, demikian pula ada ratusan ayat yang berbicara mengenai konsekuensi mengerikan dari dosa. Ambil satu perikop saja sebagai contoh. Ulangan 28:1-14 menjabarkan berkat-berkat yang disediakan Tuhan kepada orang yang "baik-baik mendengarkan suara Tuhan dan melakukan dengan setia segala perintahNya." Mulai dari berkat sederhana hingga yang berkelimpahan.

 Sebaliknya lihatlah ganjaran berupa kutuk yang disebutkan terperinci dalam Ulangan 28:15-46. Lihat pula bagaimana teguran Tuhan kerap hadir dari para hambaNya dalam Alkitab. Tetap saja kebandelan seakan-akan tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, termasuk orang percaya yang seharusnya menjadi contoh teladan bagi mereka yang belum mengenal Tuhan.

(bersambung)


Sunday, January 7, 2018

Keras Kepala (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Tuhan sangat peduli terhadap keselamatan kita. He's deeply concern of it. Begitu prihatinnya sehingga Dia rela mengambil langkah luar biasa, menebus kita atas dasar kasih sebagai sebuah anugerah yang sedemikian besar. Hebatnya Tuhan tidak berhenti sampai disitu saja. Tuhan tahu bahwa setelah kita ditebus, perjuangan kita belumlah selesai karena setiap saat kita bisa kembali kehilangan kekudusan dan berpotensi kembali memasukkan berbagai dosa ke dalam diri kita. Dan Tuhan pun tidak tinggal diam. Lihatlah bagaimana Tuhan telah memakai berbagai cara untuk memanggil kita agar berbalik dari jalan-jalan yang salah dan kembali kepadaNya. Tuhan mempergunakan banyak cara untuk menyatakan diriNya dan mengingatkan kita untuk bertobat, mulai dari cara yang halus sampai peringatan sangat keras. Mari kita lihat beberapa di antaranya.

1. Cara yang halus melalui buah karya ciptaanNya

Dalam surat Roma disebutkan: "Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih." (Roma 1:19-20).

Perhatikan, bahwa lewat ciptaanNya sejak dunia diciptakan sebenarnya kita bisa menyaksikan keilahianNya. Betapa seringnya Tuhan menyatakan kekuatanNya dan kuasaNya lewat segala ciptaan di muka bumi ini. Sang Maestro Agung sangatlah kreatif, inovatif dalam mendesain segala sesuatu sehingga sulit terselami oleh pikiran kita.

Pagi ini saat saya olah raga pagi dengan lari di sekitaran kompleks, saya mencoba menghitung banyaknya karya agung Tuhan yang luar biasa, I lost count. Matahari yang bersinar cerah, itu saja seringkali luput dari kesadaran kita. Bayangkan kalau matahari itu teriknya dua kali lipat atau lebih, bukankah kita semua bisa binasa hangus terbakar? Kalau tidak ada matahari, coba hitung ada berapa banyak hal buruk yang terjadi di dunia ini. Ironisnya, manusia banyak yang tidak menghargai dan terus merusak alam. Efek rumah kaca membuat dunia ini rusak, dan pikirkan warisan apa yang kita tinggalkan pada generasi berikutnya.

Lalu, oksigen. Itu disediakan Tuhan gratis, sehingga kita bisa bernafas menghirupnya sebanyak yang kita mau. Coba hitung saja seandainya oksigen tidak lagi gratis, berapa puluh juta uang yang harus kita keluarkan setiap hari supaya bisa tetap hidup? Tapi manusia terus mencemarkan udara dengan berbagai macam bentuk polusi. Oksigen yang seharusnya segar kita hirup dari udara malah membawa penyakit karena sudah terkontaminasi oleh begitu banyak zat cemar.

Tanaman, pepohonan, tumbuh-tumbuhan, itu juga merupakan buah karya Tuhan yang bukan main baiknya. Zat makanan dan air diperoleh dari akar, lantas di kirim ke daun untuk mengalami proses fotosintesis menggunakan karbondioksida, menghasilkan nutrisi buat pohon dan oksigen. Tidak heran kalau kita merasa sejuk dan segar saat duduk dibawah pohon rindang pada siang hari. Burung-burung yang berkicau riang, awan yang membuat langit terlihat lebih indah dan menyaring teriknya matahari, dan ada banyak lagi yang dengan mudah bisa kita lihat tanpa harus repot pergi jauh atau memakai peralatan yang rumit. Semua kasat mata, semua bisa dirasa.

Seharusnya lewat cara halus seperti ini, dengan menyadari eksistensi dan kebaikan Tuhan lewat ciptaanNya, kita sudah bisa terpanggil untuk bertobat. Tetapi sayangnya banyak yang tidak juga mau sadar. Dan itu sudah jadi penyakit manusia sejak dulu, sebab ayat selanjutnya berkata: "Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap." (ay 21).

 Dulu begitu, sekarang pun sama. Masih banyak orang yang terus meragukan kuasa Tuhan lewat penciptaanNya, tidak kunjung menyadari bahwa segala yang disediakan Allah itu baik adanya dan sebagainya. Perilaku manusia tetap saja menyakiti hati Tuhan meski segala karyaNya sudah membuktikan kekuatan dan keilahianNya. Orang masih bisa berpaling dari Tuhan bahkan menyangkal keberadaan dan kuasaNya. Padahal ini semua akan terlihat sangat nyata dengan mudah, baik memakai mata fisik maupun mata hati. Dengan pikiran sederhana yang jernih kita bisa dengan cepat menyadari kebesaran dan kasihNya lalu segera membenahi diri untuk hidup benar.

(bersambung)


Saturday, January 6, 2018

Keras Kepala (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Roma 1:21
====================
"Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap."

Saya ingat ada seorang teman yang sambil bercanda mengatakan bahwa meski ia punya sifat keras kepala dan bisa kadang-kadang kasar, ia sebenarnya berhati lembut. Dari sisi letaknya pada tubuh, memang antara keras kepala dan keras hati itu posisinya beda. Satunya di atas, satu lagi di bawah. Kepala letaknya pikiran, hati letaknya perasaan. Tapi seperti yang sudah kita bahas beberapa waktu lalu, pikiran dan perasaan itu sebenarnya saling berhubungan. Perasaan bisa mempengaruhi pikiran, pikiran pun bisa mempengaruhi perasaan. Hati yang harus murni bisa terkontaminasi oleh pikiran negatif, di sisi lain hati yang tercemar bisa membuat pikiran yang harusnya baik menjadi buruk isinya.

Karena itulah Paulus mengingatkan kita agar menaruh pikiran dan perasaan kita selaras dalam pikiran dan perasaan Yesus (Filipi 2:5). Memastikan agar Kristus dan prinsipNya yang berkuasa pada pikiran dan perasaan kita supaya hati yang menjadi pusat atau sumber terpancarnya kehidupan tetap mengeluarkan produk-produk berkualitas yang mengacu pada kebenaran, disertai pikiran positif yang terus memandang pada Kristus. Jika tidak begitu, bisa bahaya kita. Apalagi kalau kita menyerahkan daging yang lemah yang berkuasa atas diri kita, bukan roh yang penurut. Wah, repot urusannya.

Keras hati itu satu hal, keras kepala, itu hal lain. Bandel, degil, itu padanan katanya. Orang yang keras kepala atau degil biasanya idak mau mendengar nasihat. Mau menang sendiri, merasa paling benar sendiri. Mereka susah diajak bicara, cenderung lebih memilih untuk berdebat walau mungkin dalam hati mereka setuju dengan apa yang kita katakan. Pokoknya bantah dulu, lempar argumen asal beda dengan pendapat orang. Sudah tahu salah tapi masih tidak mau mengakui. Kalau keras kepala dipupuk terus, orangnya akan susah untuk dinasihati atau diubahkan. Masalahnya, ada banyak orang yang menganggap keras kepala itu sebagai bawaan sejak lahir yang artinya sudah tidak bisa diapa-apakan lagi. Anda tentu sudah biasa mendengar dalih seperti itu.

Bayangkan dari jumlah manusia di dunia, ada berapa jumlah orang bandel yang harus diurusi Tuhan satu-persatu karena Dia ingin ciptaanNya jangan tersesat melainkan menerima anugerah keselamatan yang sudah Dia lakukan dengan melakukan pengorbanan besar. Selain itu, Dia juga ingin semua ciptaanNya yang teristimewa bisa menggenapi rencanaNya dan hidup dalam kepenuhan. Tapi nyatanya, orang bandel tetap saja ada. Bagi kita yang punya anak keras kepala, tentu tahu betapa sulitnya mengatur mereka agar hidup baik. Kalau mengurus satu orang anak keras kepala seperti batu saja sudah sulitnya bukan main, bagaimana repotnya Tuhan mengurus milyaran orang yang bandel seperti itu?

Dunia yang kita hidupi saat ini ternyata tidak kunjung membaik, bahkan tampaknya malah memburuk. Dan itu bukanlah hal aneh, karena Alkitab sudah menubuatkan hal itu. Lihat apa yang Paulus bilang. "orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan." (2 Timotius 3:13). Lalu Yohanes menyatakan "Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya." (1 Yohanes 2:17).

Dunia memang sedang dan akan semakin lenyap dengan segala keinginannya, dan hanya orang-orang yang melakukan kehendak Allah-lah yang akan tetap hidup selamanya. Banyak orang tahu ayat ini, tapi ada berapa yang masih saja keras kepala, tidak mau diatur apalagi ditegur? Mengeraskan hati, mengeraskan kepala, tegar tengkuknya? Saat hati yang keras membuat kita tidak bisa menerima kebenaran Firman, keras kepala membuat kita sulit diubahkan. Saat keduanya mengeras, kita pun akan gagal mengalami Tuhan dan menerima semua yang Dia rindu limpahkan pada kita. Bukan saja kita akan jalan di tempat, tapi juga akan mengalami kemunduran yang menuju pada kehancuran.

(bersambung)


Friday, January 5, 2018

Hindari Keras Hati (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kita tidak akan pernah bisa mengharapkan bahwa gerakan kebangunan rohani secara besar-besaran bisa terjadi jika kita orang percaya saja masih terjebak dalam lubang yang sama seperti kedua contoh di atas. Karenanya jika kita ingin menyaksikan itu terjadi, jika kita ingin mengalami kuasa Tuhan dalam hidup kita dan juga atas gereja kita, atas kota, bangsa dan negara kita, maka sebelum kita mengomentari orang lain, kita harus memeriksa diri kita sendiri secepatnya terlebih dahulu. Jika disaat memeriksa kita masih menemukan kedegilan atau kekerasan hati seperti itu, maka itu tandanya kita harus segera bertobat dan segera melembutkan hati.

Firman Tuhan berkata "Sebab itu Ia menetapkan pula suatu hari, yaitu "hari ini", ketika Ia setelah sekian lama berfirman dengan perantaraan Daud seperti dikatakan di atas: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!" (Ibrani 4:7). Ayat ini mengacu pada Firman Tuhan dalam Mazmur 95:7-8 "Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun." 

Hati yang keras akan membuat kita tidak lagi bisa mendengar perintah Tuhan, tidak lagi memiliki empati kepada sesama. Hati yang keras akan membuat kita semakin lama semakin degil. Hati yang keras akan menghambat curahan berkat dari Tuhan, bahkan menyekat hubungan kita dengan Tuhan. Hati yang keras akan membuat hati nurani kita tidak lagi berfungsi, dan itu akan sangat berbahaya mengingat banyaknya godaan, pengajaran yang sesat baik yang jelas-jelas kelihatan maupun yang terselubung dalam kemasan rapi yang akan selalu ada di sekitar kita.

Hati yang keras akan membuat Firman yang ditabur tidak akan bisa berakar, tumbuh dan menghasilkan buah. Kita akan semakin jauh dari kebenaran, kita akan diombang-ambingkan dari satu dosa kepada dosa lainnya, kita tidak lagi peduli terhadap apa kata Tuhan dan menjadi lahan bermain yang asyik buat si jahat. Dan seperti yang terjadi pada Firaun yang tetap mengeraskan hati meski sudah melihat banyaknya kuasa Tuhan lewat Musa dengan mata kepalanya sendiri, pada suatu ketika bagi orang-orang yang terus melawan Tuhan akan menghukum dengan mengeraskan hati mereka benar-benar. Paulus menggambarkannya seperti ini: "Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: "Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi. Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya." (Roma 9:17-18).

Kalau kita terus mengeraskan hati, terus menolak Firman dan kebenaran yang dikandungnya, terus melawan Allah meski sudah diingatkan dan melihat sendiri kuasa Tuhan, lantas Tuhan kemudian menetapkan agar hati kita dikeraskan secara permanen seperti ayat Roma 9 di atas, lalu menyerahkan kita kepada keinginan dosa kita sendiri (Roma 1:24), kemalangan besar akan menimpa kita. Hanya gara-gara tidak kunjung mau melembutkan hati, kita bisa celaka selamanya. Jangan sampai Tuhan berkata: "My Child, it's time to tell you: I'm going to harden your heart, I'm going to turn around and leave you here." Tentu tidak satupun dari kita yang mau mendengar itu dari Tuhan bukan? Maka Tuhan mengingatkan agar kita melembutkan hati sesegera mungkin. Bukan nanti, besok atau lusa, tapi hari ini, sekarang juga, immidiately today.

Kita harus mau memeriksa diri kita sendiri terlebih dahulu untuk melihat apakah sikap-sikap kita yang menghambat pertumbuhan rohani sesuai dengan yang diinginkan Tuhan sedikit banyak masih ada dalam diri kita, apakah masih ada bagian-bagian keras dalam hati kita yang menyebabkan kita sulit bertumbuh. Yakobus menggambarkannya dengan sangat jelas. "Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu." (Yakobus 1:27). Itulah yang seharusnya kita lakukan. Jika tidak, maka itu artinya kita melewatkan kesempatan untuk memperoleh Firman untuk tertanam dengan baik dalam hati kita, dan dengan sendirinya membuang peluang untuk mendapatkan kuasa yang menyelamatkan.

Berhentilah menolak Firman, lalu astikan pula bahwa anda memiliki hati yang lembut agar setiap Firman yang ditabur baik lewat kotbah dalam ibadah, rekamannya, buku-buku bacaan, renungan harian maupun lewat orang lain bisa tertanam dengan baik. Lantas hasilkan buah yang bukan cuma bermanfaat buat kita sendiri tapi juga tersalur ke luar agar menjadi berkat bagi orang lain. Jadilah anak-anak Tuhan yang peka terhadap pergumulan saudara-saudara kita. Jika anda masih menemukan bagian-bagian keras dalam hati anda, mintalah Tuhan memberi hati yang lembut saat ini juga lalu segeralah taat kepada perintahNya. Miliki sebentuk hati yang akan memungkinkan tuhan untuk melimpahkan rahmatNya pada anda untuk dialirkan memberkati orang lain di sekeliling kita.

Hard heart makes your life heavy while traveling to the wrong road

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
(sambungan)

Kita tidak akan pernah bisa mengharapkan bahwa gerakan kebangunan rohani secara besar-besaran bisa terjadi jika kita orang percaya saja masih terjebak dalam lubang yang sama seperti kedua contoh di atas. Karenanya jika kita ingin menyaksikan itu terjadi, jika kita ingin mengalami kuasa Tuhan dalam hidup kita dan juga atas gereja kita, atas kota, bangsa dan negara kita, maka sebelum kita mengomentari orang lain, kita harus memeriksa diri kita sendiri secepatnya terlebih dahulu. Jika disaat memeriksa kita masih menemukan kedegilan atau kekerasan hati seperti itu, maka itu tandanya kita harus segera bertobat dan segera melembutkan hati.

Firman Tuhan berkata "Sebab itu Ia menetapkan pula suatu hari, yaitu "hari ini", ketika Ia setelah sekian lama berfirman dengan perantaraan Daud seperti dikatakan di atas: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!" (Ibrani 4:7). Ayat ini mengacu pada Firman Tuhan dalam Mazmur 95:7-8 "Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun." 

Hati yang keras akan membuat kita tidak lagi bisa mendengar perintah Tuhan, tidak lagi memiliki empati kepada sesama. Hati yang keras akan membuat kita semakin lama semakin degil. Hati yang keras akan menghambat curahan berkat dari Tuhan, bahkan menyekat hubungan kita dengan Tuhan. Hati yang keras akan membuat hati nurani kita tidak lagi berfungsi, dan itu akan sangat berbahaya mengingat banyaknya godaan, pengajaran yang sesat baik yang jelas-jelas kelihatan maupun yang terselubung dalam kemasan rapi yang akan selalu ada di sekitar kita.

Hati yang keras akan membuat Firman yang ditabur tidak akan bisa berakar, tumbuh dan menghasilkan buah. Kita akan semakin jauh dari kebenaran, kita akan diombang-ambingkan dari satu dosa kepada dosa lainnya, kita tidak lagi peduli terhadap apa kata Tuhan dan menjadi lahan bermain yang asyik buat si jahat. Dan seperti yang terjadi pada Firaun yang tetap mengeraskan hati meski sudah melihat banyaknya kuasa Tuhan lewat Musa dengan mata kepalanya sendiri, pada suatu ketika bagi orang-orang yang terus melawan Tuhan akan menghukum dengan mengeraskan hati mereka benar-benar. Paulus menggambarkannya seperti ini: "Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: "Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi. Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya." (Roma 9:17-18).

Kalau kita terus mengeraskan hati, terus menolak Firman dan kebenaran yang dikandungnya, terus melawan Allah meski sudah diingatkan dan melihat sendiri kuasa Tuhan, lantas Tuhan kemudian menetapkan agar hati kita dikeraskan secara permanen seperti ayat Roma 9 di atas, lalu menyerahkan kita kepada keinginan dosa kita sendiri (Roma 1:24), kemalangan besar akan menimpa kita. Hanya gara-gara tidak kunjung mau melembutkan hati, kita bisa celaka selamanya. Jangan sampai Tuhan berkata: "My Child, it's time to tell you: I'm going to harden your heart, I'm going to turn around and leave you here." Tentu tidak satupun dari kita yang mau mendengar itu dari Tuhan bukan? Maka Tuhan mengingatkan agar kita melembutkan hati sesegera mungkin. Bukan nanti, besok atau lusa, tapi hari ini, sekarang juga, immidiately today.

Kita harus mau memeriksa diri kita sendiri terlebih dahulu untuk melihat apakah sikap-sikap kita yang menghambat pertumbuhan rohani sesuai dengan yang diinginkan Tuhan sedikit banyak masih ada dalam diri kita, apakah masih ada bagian-bagian keras dalam hati kita yang menyebabkan kita sulit bertumbuh. Yakobus menggambarkannya dengan sangat jelas. "Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu." (Yakobus 1:27). Itulah yang seharusnya kita lakukan. Jika tidak, maka itu artinya kita melewatkan kesempatan untuk memperoleh Firman untuk tertanam dengan baik dalam hati kita, dan dengan sendirinya membuang peluang untuk mendapatkan kuasa yang menyelamatkan.

Berhentilah menolak Firman, lalu astikan pula bahwa anda memiliki hati yang lembut agar setiap Firman yang ditabur baik lewat kotbah dalam ibadah, rekamannya, buku-buku bacaan, renungan harian maupun lewat orang lain bisa tertanam dengan baik. Lantas hasilkan buah yang bukan cuma bermanfaat buat kita sendiri tapi juga tersalur ke luar agar menjadi berkat bagi orang lain. Jadilah anak-anak Tuhan yang peka terhadap pergumulan saudara-saudara kita. Jika anda masih menemukan bagian-bagian keras dalam hati anda, mintalah Tuhan memberi hati yang lembut saat ini juga lalu segeralah taat kepada perintahNya. Miliki sebentuk hati yang akan memungkinkan tuhan untuk melimpahkan rahmatNya pada anda untuk dialirkan memberkati orang lain di sekeliling kita.

Hard heart makes your life heavy while traveling to the wrong road

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, January 4, 2018

Hindari Keras Hati (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Orang-orang seperti ini masih banyak yang berdiri tegak dengan bangga mempertontonkan kebodohan yang sama hingga hari ini. Mereka ada di sekitar kita, bukan saja di luar sana tapi juga banyak di kalangan orang percaya. Ada gereja-gereja yang sudah bergeser menjadi gereja padat atau sarat program sehingga tidak lagi punya ruang untuk mengikuti tuntunan Roh Kudus. Ada yang sibuk mengejar kuantitas sehingga menarik jemaat gereja lain pun dilakukan tanpa rasa segan dan merubah fungsi gereja jadi panggung pertunjukan dengan promosi artis besar yang gencar, tata lampu gemerlap dan sebagainya, gereja yang dari atas sampai bawah isinya tukang kritik tanpa pernah memotivasi atau menyampaikan pujian atas kerja keras pengerjanya, gereja yang hanya mengurusi kebutuhan jemaat inti tapi tidak peduli untuk menjangkau jiwa terhilang diluar sana. Kalau diingatkan atau ditegur Tuhan, bukannya sadar dan segera memperbaiki diri tapi malah tersinggung dan menyingkirkan orang yang menyampaikan. Bagaimana kita bisa berharap orang di luar sana bisa sadar kalau orang percaya saja masih banyak yang keblinger karena kerasnya hati mereka?

Sudah barang tentu Yesus pun merasa kecewa dan kesal dengan sikap mereka. Inilah yang terjadi kemudian. "Kemudian kata-Nya kepada mereka: "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang? " Tetapi mereka itu diam saja." (Markus 3:4). Perhatikanlah bagian ini. Bahkan setelah ditegur Tuhan sekalipun mereka tetap diam tanpa menyadari sedikitpun kesalahan mereka. Disini kita bisa melihat bagaimana kekerasan hati itu membuat orang tidak lagi peka terhadap kebenaran, bahkan atas suara Tuhan sendiri. Kedegilan mereka dikatakan mendatangkan dukacita dan kemarahan bagi Yesus. (ay 5).

Contoh lainnya yang sangat jelas bisa kita lihat jauh sebelumnya, yaitu pada masa Musa. Dalam kitab Keluaran kita bisa melihat bagaimana kerasnya hati Firaun. Ia sudah melihat mukjizat-mukjizat yang dilakukan Tuhan lewat Musa, termasuk rangkaian tulah mengerikan, tapi ternyata ia tetap tidak bergeming. Benar, beberapa tulah di awal sempat sedikit melunakkan hatinya. Tapi sayangnya kemudian hatinya kembali mengeras.

Contoh yang sangat jelas bisa kita lihat saat tulah katak jatuh atas bangsa Mesir dalam Keluaran pasal 8. Firaun sempat meminta Musa untuk memohon ampun pada Tuhan dan berjanji untuk patuh melepas bangsa Israel dan memperbolehkan mereka mempersembahkan korban untuk Tuhan. Dan Tuhan melakukan persis seperti yang diminta. Itu adalah bentuk kemurahan Tuhan atas orang sejahat Firaun. Tapi sayangnya, saat tulah itu berhenti dan ia merasa lega, hatinya kembali keras dan tidak lagi mendengarkan Tuhan maupun Musa. Lihatlah bagaimana kekerasan hati bisa membuat orang sulit bertobat dan dengan mudah berbalik begitu keadaan menjadi lebih baik atas kemurahan Tuhan. Yang terjadi, Tuhan kemudian menambah kekerasan hati Firaun sebagai hukuman karena sejak awal Firaun terus menunjukkan kekerasan hatinya dan menentang Tuhan.

Orang Farisi melakukannya ribuan tahun yang lalu, lantas jauh sebelumnya Firaun pun melakukan kesalahan yang sama, membiarkan keras hati berkuasa atas hidupnya. Kita tahu bagaimana reaksi Tuhan terhadap sikap keras hati seperti ini. Sayangnya meski kita tahu, sikap seperti ini masih saja sering kita dapati pada orang-orang di sekitar kita, malah mungkin kita pun sekali waktu pernah melakukan hal seperti itu. Jika kita melakukannya, tanpa sadar kita akan mengulangi persis seperti orang Farisi dan Firaun, dan dengan sendirinya mendatangkan dukacita dan kemarahan Tuhan atas diri kita. Kita seringkali membiarkan hati kita terus mengeras sehingga tanpa sadar kita telah membiarkan hangatnya kasih Tuhan menjadi beku.

Ketika itu terjadi, kita pun akan dengan mudah jatuh kepada kesombongan, mementingkan diri sendiri dan tidak lagi peka terhadap persoalan yang dihadapi orang-orang di sekeliling kita. Bukannya menolong tapi malah bergunjing, mengkritik dan mengata-ngatai mereka. Kita juga akan menolak kebenaran Firman Tuhan, merasa lebih tahu dari yang menyampaikan atau bahkan lebih dari Firman Tuhan, kita menjadi berani berbohong dan menolak untuk taat kepada Tuhan. Jika itu terjadi, kita sendiri yang akan rugi besar.

(bersambung)


Wednesday, January 3, 2018

Hindari Keras Hati (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Markus 3:4
=====================
"Kemudian kata-Nya kepada mereka: "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?" Tetapi mereka itu diam saja."

Di taman belakang rumah saya ada satu bagian yang tanahnya sangat mudah mengeras. Berkali-kali bagian itu saya coba gemburkan, sebentar kemudian tanahnya sudah kembali keras. Karena kerasnya, tidak ada yang bisa tumbuh disana. Ketika di sekitarnya rumput menutupi tanah seperti karpet hijau yang indah, bagian ini tetap terlihat botak dengan tanah yang terlihat penuh retakan. Jangankan rumput, semak dan tanaman liar yang biasanya suka tumbuh dimana-mana saja tidak ada disana. Saking kerasnya, tidak ada tanaman yang akarnya bisa menembus ke dalam, jadilah bagian itu tetap botak dan gersang.

Seperti tanah itu, hati kita pun bisa mengeras sehingga tidak ada Firman yang bisa tertanam disana. Kalau tertanam saja tidak, bagaimana bisa berharap mengalami pertumbuhan dan menghasilkan buah? Disadari atau tidak, betapa seringnya kekerasan hati ini menghambat kita untuk maju. Kalau bicara soal pertumbuhan iman dirasa terlalu berat, dalam kehidupan pun kita sering terhambat hanya gara-gara hati yang terlalu keras. Tidak perlu jauh-jauh untuk mencari contohnya. Saat kita merasa gengsi untuk meminta maaf dan berbaikan dengan sahabat atau anggota keluarga sendiri, itu salah satu bentuk keras hati. Kita ingin mereka yang memulai lebih dahulu, meski dalam hati sebenarnya kita sudah digerakkan untuk itu. Bukankah itu sering terjadi pada kita? Jika untuk masalah sepele saja sudah sulit, apalagi ketika kita jelas-jelas salah dan harus meminta maaf. Wah, itu beratnya bukan main, lebih berat daripada mendaki jalan terjal dengan membawa beban berat di pundak.

Rasa gengsi membuat kita lebih suka mengeraskan hati membiarkan perselisihan berlarut-larut ketimbang segera menyelesaikannya. Lalu kita merasa paling benar, anti kritik tapi suka mengkritik. Sudah jelas-jelas melihat karya Tuhan tapi masih menolak untuk percaya. bersikap tidak peduli atau langsung menunjukkan penolakan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan Tuhan, saat mendengar Firman bukannya belajar dan menanamnya dalam hati agar tumbuh pada kehidupan tapi malah mencari-cari kesalahan, mengomentari hal-hal yang tidak penting seperti komentator amatiran.Semua ini menunjukkan gejala-gejala maupun tanda-tanda keras hati yang kalau terus dibiarkan hanya akan merugikan kita sendiri.

Tuhan kerap berbicara lewat hati nurani kita dan mengingatkan kita akan banyak hal, tetapi kekerasan hati seringkali menjadi penghambat bagi kita untuk melakukan segera tepat seperti apa yang dikehendaki Tuhan. Kekerasan hati membuat kita tidak lagi peka, tidak lagi mau atau bisa mendengar suara Tuhan lewat hati nurani. Keakuan kemudian semakin menjadi-jadi, berlaku bagai orang paling benar, paling tahu segalanya dan tidak pernah salah. Sikap buruk seperti ini sudah dilakukan oleh orang-orang Farisi pada masa Yesus turun ke bumi dahulu kala. Begitu kerasnya hati mereka, mereka bahkan berani menyanggah Tuhan karena merasa lebih benar.

Mari kita lihat ceritanya dari Markus pasal 3 mengenai "Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat". Pada suatu hari Sabat Yesus menjumpai seseorang yang lumpuh sebelah tangannya. Di sana ada sekumpulan orang Farisi yang sejak awal tampaknya sudah bertujuan tidak baik yaitu ingin mencari-cari kesalahan Yesus. Ketika Yesus ada disana, mereka pun senang karena merasa bahwa itulah saat yang tepat untuk mengecam Yesus. Mereka tahu Yesus pasti akan melakukan sesuatu terhadap orang yang lumpuh tangannya, dan itu akan terjadi pada hari Sabat dimana menurut hukum Taurat seharusnya tidak ada yang boleh melakukan pekerjaan pada hari itu. Sikap yang dipertontonkan orang-orang Farisi ini sungguh ironis. Ketika mereka seharusnya peka terhadap permasalahan umatnya, ketika mereka seharusnya menjadi teladan, yang mereka lakukan malah mencari-cari kesalahan dan menghakimi. Mereka terjatuh kepada dosa kesombongan, merasa diri paling benar, paling kudus, paling sempurna, dikuasai kebencian, sehingga hati mereka pun mengeras seperti batu.

Setidaknya kita bisa melihat hal-hal berikut dari perilaku orang Farisi disana:
- mengecam Tuhan
- mendahulukan/lebih peduli pada tradisi keagamaan lebih dari mematuhi kehendak Tuhan
- mementingkan keselamatan dan kesejahteraan diri sendiri ketimbang orang lain di sekitar mereka
- memelihara kebencian
- kesombongan merasa diri paling benar, karenanya:
- suka cari masalah/cari perkara,
- merasa berhak menghakimi, dan:
- sangat bernafsu untuk mencari kesalahan orang lain

(bersambung)


Tuesday, January 2, 2018

Perlindungan Tuhan di Tahun yang Baru (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

God said, "I will arise, I will set them in safety and in the salvation for which they pants." Jika Tuhan dulu bereaksi seperti itu, apakah Dia akan berdiam diri hari ini? Tentu saja tidak. Kalau dulu Tuhan peduli, masa sekarang Tuhan cuek? Tentu saja tidak. Kalau dulu Tuhan bergerak, sekarang pun Tuhan bergerak. Dahulu Tuhan menjanjikan keamanan dan keselamatan kepada orang-orang yang benar, hari ini Dia tetap bertindak sama.

Daud tahu bahwa segala ketidakadilan, kejahatan dan kekerasan merupakan produk-produk iblis yang terus meracuni manusia yang bisa ia permainkan. Iblis tahu bagaimana memelintir perbuatannya agar orang yang ia kuasai merasa hebat dan jumawa. Orang tidak lagi malu ketika menganiaya sesamanya, itu dianggap mampu menunjukkan kehebatan atau kekuasaan atau kekuatannya. Orang-orang kaya yang jahat terus menindas orang miskin, dan mereka merasa punya hak untuk itu karena merasa memiliki harta yang berkuasa di muka bumi ini. Kita mungkin mengalami banyak situasi buruk dalam hidup kita, kita mungkin diperlakukan tidak adil, atau setidaknya kita bisa menjadi takut melihat segala kejadian buruk yang terjadi hampir setiap hari.

Jika demikian, lakukanlah apa yang diperbuat Daud. Dia berseru kepada Tuhan. He knew his limitation and he cried for help. Dan Tuhan menjawab dengan menjanjikan keamanan dan keselamatan. Iman Daud membuatnya mengerti benar akan hal itu. Tidaklah heran apabila di sepanjang kitab Mazmur kita mendapatkan keyakinan Daud akan keselamatan bersama Tuhan dalam begitu banyak kesempatan. Mari kita lihat salah satunya berbunyi: "Dari Daud. TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?" (Mazmur 27:1). Daud tahu dan yakin bahwa bersama Tuhan ia tidak perlu gemetar atau gentar. Daud tahu di dalam Tuhan ada jawaban, ada solusi, ada kedamaian, ketenangan, keamanan dan keselamatan meski segala sesuatu di sekeliling kita tampak buruk. Daud punya iman yang mampu berkata: "TUHAN di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?...Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia." (118:6,8).

Tidak sampai disitu, Daud pun sadar betul bahwa janji Tuhan itu teguh dan selalu dapat diandalkan. "Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah. Engkau, TUHAN, yang akan menepatinya, Engkau akan menjaga kami senantiasa terhadap angkatan ini." (12:7-8).

Seperti pada masa Daud, Tuhan bertindak sama hingga hari ini. He was in control in David's time, He still is until now, He will always be. Memasuki tahun yang baru, mata kita mungkin memandang dengan pesimis ke depan. Tapi pandanglah dengan mata iman, dan ketahuilah bahwa Tuhan tidak akan tinggal diam. Dia akan selalu melindungi anak-anakNya yang mengandalkanNya, yang hidup benar, yang menjaga kemurnian atau kekudusan hatinya. Tuhan akan bertindak seperti seorang bapa yang sayang anaknya. Ingatlah bahwa memupuk kekuatiran dan ketakutan bisa melemahkan iman kita, membuat kita terombang-ambing dan menjadi berkurang percayanya. Disaat seperti itu kita tidak akan bisa mengalami mukjizat Tuhan.

Apapun yang anda alami atau saksikan di sekeliling anda sepanjang tahun ini, jangan biarkan rasa takut menguasai anda. Berpeganglah kepada Tuhan, berserulah kepadaNya, dan dapatkan jaminan keselamatan dari Allah yang mengasihi kita. Selamat Tahun Baru 2018, nikmatilah perjalanan penuh kuasa Allah sepanjang tahun ini dan di tahun-tahun berikutnya.

Fear no more, because God is in control 

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, January 1, 2018

Perlindungan Tuhan di Tahun yang Baru (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 12:6
================
"Oleh karena penindasan terhadap orang-orang yang lemah, oleh karena keluhan orang-orang miskin, sekarang juga Aku bangkit, firman TUHAN; Aku memberi keselamatan kepada orang yang menghauskannya."

Kebebasan menyuarakan pendapat di alam demokrasi seharusnya disambut dengan baik dan dewasa. Namun sayangnya, yang kerap terjadi adalah kebebasan yang kebablasan. Kebebasan disikapi keliru dengan mengira bahwa warga negara bisa berbuat seenaknya atas nama kebebasan, atas nama demokrasi. Boleh menghakimi seenaknya, boleh bikin rusuh seenaknya, boleh mengganggu ketentraman umum, boleh menindas dan menimbulkan gejolak pada bangsa. Merasa paling benar lantas merasa berhak menghalangi hak-hak asasi orang lain yang berbeda. Pakai atribut-atribut tertentu sebagai alasan pembenaran, hati dikuasai kebencian dan kepicikan diteriakkan dengan lantang dengan dalih ini alam demokrasi yang melindungi kebebasan bersuara. Masih ada begitu banyak pekerjaan rumah bangsa ini kalau mau maju, dan kita melihat begitu banyak orang terus mencederai kemerdekaan yang sudah susah payah diperjuangkan oleh para pejuang dan pendiri bangsa ini. Orang di luar sana sudah sampai ke bulan, kita masih ribut terhadap hal-hal yang sangat tidak perlu diributkan. Apa yang seharusnya jadi kekuatan malah jadi titik lemah dan sumber kehancuran.

Pemerintah terbelenggu oleh peraturan yang dibuatnya sendiri sehingga sulit melakukan apa-apa. Sementara sekelompok orang yang dipenuhi amarah dan kebencian terus menyobek-nyobek sendi kehidupan bangsa, ekonomi yang terpuruk, harga barang yang fluktuatif dan cenderung terus naik bukan cuma masih tidak terselesaikan, tapi bertambah buruk dengan berbagai gejolak, ketidakstabilan buah karya orang-orang yang ingin mengubah dasar dan filosofi negara. Tingkat kejahatan terus memburuk terutama karena dua hal: kesulitan ekonomi dan kebanggaan memupuk kebencian. Lembaga tinggi negara seringkali bukan berusaha mencari solusi tapi malah ikut memperkeruh dengan memanfaatkan situasi demi kepentingan kelompoknya. Hanya mengejar kekuasaan, popularitas, keuntungan golongan, lantas mengorbankan bangsa. Itulah demokrasi menurut mereka, sebuah demokrasi yang kebablasan.

Setiap memasuki tahun baru kita berharap adanya perubahan ke arah yang lebih baik, tapi setiap tahun baru kita pun dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa bangsa ini bukannya bertambah maju tapi malah bertambah mundur dengan jumlah masalah yang bertambah sangat signifikan. Meski berat, meski sulit, meski secara logika sejauh mata memandang kita seakan tak kunjung melihat sesuatu yang positif terjadi di tahun baru ini, dan kita pun harus siap untuk kembali berdarah-darah menghadapi suhu politik yang bakal makin panas menjelang Pilpres dan Pilkada di beberapa daerah, sebagai orang percaya kita tidak boleh putus ada dan kehilangan harapan. Kita harus yakin bahwa tidak ada satupun kesulitan, kejahatan, ketidakadilan dan masalah sebesar apapun yang sanggup menghalangi berkat dan mukjizat Tuhan turun atas kita. Keadaan sulit seringkali justru menjadi lahan subur bagi Tuhan untuk melakukan keajaiban. Tidak ada satupun hal yang lebih besar dari kuasa Tuhan. Bukankah kalau hari ini kita masih hidup dan masih bisa makan, bisa berusaha ditengah ketidakpastian dan berbagai ancaman, itu pun karena kuasaNya?

Bentuk kejahatan dan ketidakadilan di muka bumi ini bukanlah cuma produk di jaman ini saja. Jauh sebelumnya kejahatan pun sudah terjadi dimana-mana dengan kadar atau tingkatnya sendiri-sendiri, termasuk pada jaman Daud. Pada suatu kali Daud memandang dunia dan merasa cemas atau terganggu dengan apa yang dilihatnya. Mungkin seperti yang kita lihat, baca dan dengar saat ini baik lewat berbagai pemberitaan di media massa atau melihat langsung di depan mata kita, he saw evil on earth. 

Dalam Mazmur 12 kita bisa melihat keprihatinannya akan kejahatan dan penderitaan yang melanda bumi. Dia memandang sekelilingnya dan mendapati bahwa orang-orang yang saleh atau kudus hidupnya semakin lama semakin sedikit. Dia menyadari bahwa orang yang setia seakan lenyap. Dalam dunia menurut pandangannya, ditengah-tengah kehidupannya, ia melihat hanya orang-orang yang "..berkata dusta, yang seorang kepada yang lain, mereka berkata dengan bibir yang manis dan hati yang bercabang." (Mazmur 12:3). Penindasan terhadap orang lemah, pemijakan hak-hak asasi orang lain, ketidak-adilan, orang miskin mengaduh, itu semua terjadi bukan saja hari ini tetapi Daud melihat hal yang sama pada masanya. Apakah yang kita saksikan hari ini lebih parah dari sebelumnya? Entahlah. Saya tidak tahu seperti apa keburukan yang ia lihat saat itu, but one thing for sure, at least he showed us that evil is not a modern day's innovation. Iblis dengan segala bentuk kejahatannya lewat siapapun yang bisa ditelan dan dikuasainya bukanlah produk modern masa kini saja melainkan sudah ada sejak dahulu kala.

Bagaimana cara Daud menyikapi hal ini? Lihatlah apa yang ia lakukan. Daud tidak merasa putus asa melihat segala ketidakadilan dan perbuatan-perbuatan iblis di muka bumi ini. Ia memilih untuk berseru kepada Tuhan."Tolonglah kiranya, TUHAN, sebab orang saleh telah habis, telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia." (ay 2). Orang-orang jahat mungkin merasa jumawa dan bisa berkata: "Kami berkuasa dengan lidah kami! Apa saja dapat kami katakan, dan tak ada yang bisa menghalangi!" (ay 5:BIS).

Ingatlah bahwa Tuhan tidak akan tinggal diam. Itu bisa kita lihat dari reaksi Tuhan atas seruan Daud. "Oleh karena penindasan terhadap orang-orang yang lemah, oleh karena keluhan orang-orang miskin, sekarang juga Aku bangkit, firman TUHAN; Aku memberi keselamatan kepada orang yang menghauskannya." (ay 6).

(bersambung)


Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker