Monday, October 31, 2022

Di Pihak Siapa? (1)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 Ayat bacaan: 2 Tawarikh 15:2
============================
"Ia pergi menemui Asa dan berkata kepadanya: "Dengarlah kepadaku, Asa dan seluruh Yehuda dan Benyamin! TUHAN beserta dengan kamu bilamana kamu beserta dengan Dia. Bilamana kamu mencari-Nya, Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi bilamana kamu meninggalkan-Nya, kamu akan ditinggalkan-Nya."


Kalau kita menonton pertandingan tinju, kita biasanya punya favorit sendiri yang kita harapkan menang. Kalau benar menang kita senang, kalau kalah kita kecewa. Kenapa kita senang? Karena kita merupakan pendukungnya, artinya ada di pihaknya. Sekarang, kalau ada dua hamba Tuhan yang berselisih paham, biasanya masing-masing punya pendukung atau pembelanya. Bagaimana dengan Tuhan? Pada suatu kali, seorang hamba Tuhan yang bertikai dengan hamba lainnya bercerita di mimbar tentang hal itu. Yang membuat saya tergelitik adalah saat ia berkata bahwa "Tuhan pasti ada di pihakNya", disertai ajakan untuk mengatakan amin.

Buat saya hal ini sudah kejauhan. Pertama, Tuhan saja sudah membenci permusuhan apalagi perceraian. Kemudian, masa Tuhan diajak berkubu, dan diklaim memihak sebelah? Buat saya, ini adalah gambaran bagaimana kita cenderung terlalu menggampangkan istilah Tuhan beserta kita atau Tuhan berada di pihak kita.

Ayat dalam Roma 8:31 yang berbunyi "jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?" dikutip dan disadur bebas begitu saja. Benar, Allah itu Maha Kuasa. Apapun bisa Dia lakukan, tidak ada yang terbatas bagiNya. Tapi apakah itu bisa seenaknya dipakai sebagai pembenaran atas perilaku kita? Apakah kita boleh sembrono, berlaku sesuka kita lantas menempatkan Tuhan sebagai tameng?

Padahal, ayat di atas dimulai dengan kata 'jika'. Jika itu bisa ya dan bisa juga tidak.

Kalau begitu pertanyannya adalah: kapan Allah ada di pihak kita?

(Bersambung)

Sunday, October 30, 2022

Belajar dari Kisah Zakeus (5)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)

4. Pertobatan kita bisa berdampak luas bukan saja kepada diri kita sendiri tapi bisa menjangkau seisi rumah atau keluarga.

Sebuah pertobatan itu memiliki impact yang besar dengan efek multitude. Yesus dengan jelas  berkata kepada Zakheus: "Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham." (Lukas 19:9). Lihatlah bahwa pertobatan satu orang Zakheus ternyata membawa keselamatan kepada seluruh keluarganya.

Hal yang sama bisa kita saksikan atas kepala penjara Filipi yang memenjarakan dan memasung Paulus dan Silas dalam Kisah Para Rasul 16:19-40. Dalam kisah itu si kepala penjara menjadi saksi bagaimana kuasa tangan Tuhan melepaskan Paulus dan Silas sebagai jawaban atas doa dan puji-pujian yang mereka panjatkan sepanjang malam. Melihat hal tersebut, ia pun terhenyak dan ingin bertobat. Paulus dan Silas menjawab: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu." (ay 31). Pertobatan kita bisa menjamah hati seisi keluarga, dan Tuhan bisa memakai pertobatan kita untuk membawa keselamatan secara luas bagi keluarga kita. Bagaimana di jaman ini? Hal yang sama tentu terjadi, dan itu berlaku sampai kapanpun.

Sebuah kasih sejati yang luar biasa besar dari Allah memiliki kuasa yang sangat besar untuk membawa transformasi baik kepada pribadi orang per-orang bahkan kepada kota, negara bahkan dunia. Kasih sejati dari Allah itu sanggup menyentuh hati dan mengubah hidup. Tidak peduli seberapa besar dosa kita di masa lalu, selalu ada pengampunan untuk itu. "Marilah, baiklah kita berperkara! --firman TUHAN--Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba." (Yesaya 1:18).

Tuhan selalu membuka pintu selebar-lebarnya untuk menerima pertobatan dan mengampuni kita, lebih dari itu Dia pun tidak segan-segan bertindak pro-aktif untuk menjangkau kita terlebih dahulu. Begitu besar kasih karunia Tuhan kepada kita, sehingga sudah seharusnya kita pun tidak menutup mata dari orang-orang yang mungkin dikucilkan dari masyarakat atau yang merasa tidak lagi punya pengharapan. Jangan pernah melupakan bahwa mereka pun dikasihi Tuhan sama seperti kita, dan itu harus kita sampaikan kepada mereka. Marilah kita bersyukur atas kebaikan Tuhan yang terus mencurahkan berkat dan kasih karuniaNya kepada kita, dan marilah kita tampil sebagai representatif Kerajaan Allah dengan membawa berita keselamatan pada semua orang.

Whoever we are and whatever our past, God loves us

Saturday, October 29, 2022

Belajar dari Kisah Zakeus (4)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)

3. Kalau Tuhan mau menjangkau orang berdosa, bagaimana dengan kita?

Hal ketiga yang bisa kita jadikan pelajaran dari kisah Zakheus adalah, jika Tuhan saja mau menjangkau orang berdosa, yang tertolak atau yang dianggap hina dimata masyarakat, mengapa kita tidak mau melakukannya? Kenapa kita malah sering terjebak menganggap bahwa mereka memang tidak pantas diselamatkan, atau jangan-jangan malah mengutuk mereka?

Seperti halnya diri kita,  mereka pun merupakan ciptaan Tuhan yang Dia kasihi, dan sama-sama Dia inginkan untuk selamat. Aliran kasih Tuhan bisa tersalur kepada mereka lewat kita, representatif Kerajaan Allah di muka bumi pada saat ini. Begitu pentingnya pesan ini maka Yesus pun menyatakan "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40).

Sayangnya, masih sedikit dari orang percaya yang punya prinsip seperti itu. Alih-alih menjangkau, yang ada malah ikut mencemooh, mengolok-olok hingga menghujat dan menghakimi. Bahkan sampai hari ini, masih ada gereja yang mengusir jemaatnya yang dianggap berdosa. Alasan menjaga agar jemaat tetap kondusif, tidak mau terlibat, takut kehilangan jemaat, takut digosipkan dan lain-lain bisa jadi alasan yang dilemparkan gereja-gereja seperti ini untuk melakukan pengusiran. Padahal, bukankah justru mereka yang perlu diselamatkan? Bukankah mereka yang justru perlu dijangkau dan dimenangkan? 

Apa kabar dengan menjadi terang dan garam dunia dan menjadikan seluruh bangsa muridNya? Kalau gereja saja masih ada yang seperti itu, bagaimana bisa berharap para jemaat bisa berfungsi maksimal sebagai murid Kristus dalam menjangkau jiwa-jiwa? Bagaimana kita bisa berharap adanya perubahan ke arah yang lebih baik, apalagi transformasi? Bayangkan betapa sedihnya Yesus melihat mereka yang mengaku murid-muridNya tapi berperilaku seperti orang farisi. Jangan, jangan sampai kita ikut terjebak dengan perilaku seperti itu.


(bersambung)

Friday, October 28, 2022

Belajar dari Kisah Zakeus (3)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)

2. Tuhan bukanlah Pribadi yang hanya berpangku tangan atau cuek, tetapi merupakan Sosok yang bersikap Pro-Aktif.

Dalam banyak kesempatan Tuhan menunjukkan betapa Dia rela mengulurkan tanganNya terlebih dahulu untuk menggugah kita agar segera bertobat dan kembali ke jalanNya. Dalam kasus Zakheus Yesus menunjukkan hal itu. Dia mau menyapa dan mendatangi orang yang berdosa seperti apapun dan membuka kesempatan untuk bertobat.

Ada banyak lagi contoh akan hal ini selain dari kisah Zakheus. Misalnya dalam kisah kemunculan Yesus di kolam Betesda (Yohanes 5:1-18), Dia mendatangi seseorang yang tampaknya sudah kehilangan harapan karena tidak mampu bersaing dengan para pesakitan lainnya dan menawarkan kesembuhan juga keselamatan. "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." (ay 14). Lalu Dalam kisah perjumpaan Yesus dengan wanita Samaria di sumur (Yohanes 4:1-42) kita kembali menyaksikan reaksi yang sama. Seorang wanita dari bangsa yang dianggap hina oleh bangsa Yahudi Dia hampiri dan diberikan air hidup. (ay 10), dimana "..barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." (ay 14).

Tuhan tidak hanya menunggu dan memerintah, tapi Dia selalu mau bergerak terlebih dahulu, menjangkau kita agar kita selamat. Bahkan Yesus sendiri telah mati ketika kita sendiri masih bergelimang dosa. (Roma 5:8). Dia begitu mengasihi kita dan tidak pernah ingin siapapun dari kita untuk binasa. Dia ingin kita semua selamat, itu kerinduanNya, dan untuk itu Dia tidak segan-segan untuk menjamah kita terlebih dahulu. Firman Tuhan berkata: "Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku." (Wahyu 3:20). Yesus tidak memilih hanya berpangku tangan, menunggu dan membiarkan kita untuk terus mengarah kepada jurang kebinasaan, tetapi Dia mau mengetuk pintu hati kita agar mau menerimaNya lalu menerima keselamatan daripadaNya. Tidak ada kata terlambat, kesempatan selalu terbuka bagi kita selama kita masih hidup. Dan Tuhan tidak sungkan untuk bertindak terlebih dahulu untuk itu. God reaches out, it's up to us whether we response or not.


(bersambung)

Belajar dari Kisah Zakeus (2)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Mari kita lihat ke 4 poin yang bisa kita pelajari dari kisah ini.


1. Tuhan membenci dosa, tetapi tidak membenci orang berdosa

Ada banyak pemahaman keliru mengenai hal ini, seperti yang muncul dalam pemikiran orang-orang yang berada di sana. Saat Yesus melihat dan menyapa, lantas menyatakan ingin berkunjung ke rumah Zakheus, orang-orang disana bergunjing tentang keputusan Yesus tersebut. Pemikiran seperti ini masih ada di benak banyak orang bahkan hingga hari ini, yaitu membenci orangnya, bukan dosanya.

Padahal siapa kita ini? Bukankah kita pun manusia berdosa yang masih terus berproses untuk terus semakin serupa dengan Kristus hari per hari? Bukankah kita pun ingin diampuni dan dibantu hingga bisa mentransformasi diri dari gelap menuju terang? Kalau begitu, kenapa kita justru merasa berhak membenci sesama kita? Hindari dan bencilah dosa supaya kita juga tidak melakukannya, tapi jangan benci orangnya karena mereka pun dikasihi Tuhan, dan Tuhan ingin mereka selamat, seperti halnya keinginan Tuhan pada kita.

Tuhan membenci dosa, tapi mengasihi orang-orang seperti ini dan semua manusia tanpa terkecuali. Justru untuk orang-orang yang berdosa seperti kitalah Yesus rela turun ke dunia dan menanggung semuanya demi membebaskan kita. Semua karena kasihNya yang begitu besar kepada kita. Yesus berkata: "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." (ay 10). Pada saat berbeda Yesus juga menyatakan: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit...Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (ay 12-13). Selain itu Yesus juga berkata "..sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya." (Yohanes 12:47).

Zakheus memang mengambil pilihan yang keliru untuk profesinya. Ia berbuat dosa sama seperti kita juga yang tidak luput dari kesalahan. Lihat bagaimana respon Yesus terhadapnya. Yesus tidak membenci Zakheus. Dan itu terbukti mendatangkan pertobatan dan keselamatan bagi Zakheus dan keluarga.

Respon kita untuk menyikapi dosa akan sangat menentukan. Apakah kita mau bertobat dan berhenti melakukannya atau masih terus memilih untuk menjalaninya. Zakheus mengambil pilihan tepat dengan melakukan pertobatan, dan ia dan keluarganya pun selamat. Tuhan akan, bisa dan rindu memberikan pengampunan tanpa memandang besar kecilnya dosa yang pernah ia perbuat. Jika kepada Zakheus kasih karunia Tuhan yang besar itu bisa turun, mengapa tidak pada kita? Selama kita mau mengakui kesalahan dan bertobat, maka saat itu juga pengampunan diberikan Tuhan dengan sambutan yang penuh sukacita.Tuhan siap menganugerahkan keselamatan kepada orang yang mau datang kepadaNya.

(bersambung)

Thursday, October 27, 2022

Belajar dari Kisah Zakeus (1)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 Ayat bacaan: Lukas 19:7
==============
"Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."


Ia kaya raya. Badannya pendek. Pekerjaannya adalah pemungut cukai, yang artinya ia bekerja pada penjajah alias antek penjajah atau penghianat bangsa. Ia dibenci, bahkan dijuluki orang berdosa. Karena kaya raya, rumahnya pun pasti besar dan megah, tetapi orang enggan untuk menyambanginya. Suatu kali Yesus hadir dekat rumahnya. Ia berusaha untuk melihat secara langsung seperti apa Yesus yang sudah sering ia dengar itu. Tapi lagi-lagi, karena ia dibenci orang, tidak ada orang yang memberinya jalan. Tapi ia tidak menyerah. Saat ia memutar otak, ia melihat ada pohon didekatnya. Ia pun segera memanjat pohon, dengan segala resikonya, supaya ia bisa melihat Yesus.

Orang itu bernama Zakheus.

Cerita tentang Zakheus merupakan salah satu cerita yang pastinya sangat akrab bagi kita semua karena sejak sekolah minggu pun sudah sering dibawakan. Tapi saya rasa tidak ada salahnya saya angkat kembali agar kita bisa belajar dari kisah pertemuannya dengan Yesus yang menjadi titik balik hidupnya.

Ada 4 poin yang saya akan bagikan dari kisah ini, tapi sebelum sampai kesana ada baiknya kita lihat dulu siapa Zakheus ini sebenarnya. Zakheus adalah orang Yahudi juga, tapi ia merupakan kepala pemungut cukai, alias penagih pajak, atau tax collector yang dinasnya di wilayah Yerikho. Ia dibenci oleh sesama bangsanya karena beberapa hal.Di masa itu para pemungut cukai kerap mencurangi para wajib pajak, memeras bangsanya sendiri yang bukan saja diberikan pada penjajah yaitu Roma tapi juga untuk memperkaya diri sendiri. dan karena ia bekerja untuk Roma, ia dianggap penghianat bangsa. Jadi pekerjaan sebagai pemungut cukai dianggap sangat tidak terpuji di mata masyarakat.

Karena bertubuh pendek, ia kesulitan menembus kerumunan orang untuk melihat Yesus dengan matanya sendiri, kalah tinggi dibanding kerumunan orang pada umumnya.

Sebuah pertanyaan muncul di pikiran saya: seandainya ia memang kaya raya, mengapa ia tidak memakai hartanya untuk mendapat fasilitas lebih? Dengan kekayaannya mungkin ia bisa menyewa karpet merah atau menutup jalan? Mungkin ia sudah begitu dibenci orang sehingga ia bisa celaka jika melakukan hal-hal seperti itu, atau bisa jadi ia sudah mulai menyesali perbuatannya pada waktu itu dan tidak mau melakukan sesuatu yang bisa membuatnya semakin buruk. Atau bisa jadi, ia kebetulan berada disana dan melihat ada kerumunan yang hendak melihat Yesus. Mungkin saja ia disana sedang melaksanakan tugasnya. Saya tidak tahu apa yang persisnya yang terjadi pada saat itu.

Tapi dari keinginan dan kegigihannya untuk melihat Yesus, itu bisa menjadi dasar pemikiran saya bahwa pada saat itu Zakheus mungkin sudah mulai menyesali pekerjaannya tetapi merasa ragu apakah ia masih layak diampuni atau tidak. Keingintahuannya akan Yesus kemudian membuatnya melakukan hal ini: "Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ." (ay 4). Perhatikan usahanya. Ia berlari dan segera memanjat pohon agar ia bisa punya kesempatan untuk melihat Yesus, sebab dengan ukuran tubuhnya ditambah kebencian orang terhadapnya, tidak akan ada peluang baginya untuk bersaing dengan kerumunan orang banyak. Tidak akan ada orang yang mau memberinya jalan. Lebih baik memanjat pohon, dengan resiko terjatuh sekalipun, agar saya bisa melihat Yesus. Sepertinya itulah yang ada di pikirannya.

Yesus melihatnya sedang bertengger di atas pohon sendirian. Mungkin itu sebuah pemandangan yang lucu bagi kita, tapi tidak bagi Yesus. Yesus lalu berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."(ay 5). Dari sekian banyak orang disana, mengapa Yesus malah menyapa Zakheus yang dibenci sebagai lintah darat dan penghianat bangsa, bahkan meminta untuk menumpang di rumahnya? Tetapi itulah yang dilakukan Yesus. Maka Zakheus pun segera turun dan menyambut Yesus dengan penuh sukacita. (ay 6). Yesus tidak peduli meski begitu banyak orang yang kemudian mencibir terhadap keputusanNya untuk mengunjungi rumah orang berdosa (ay 7). Tapi lihatlah apa yang terjadi selanjutnya. Zakheus bertobat. "Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." (ay 8). Dan saat itu juga keselamatan pun menjadi milik Zakheus berserta seluruh keluarganya. "Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham." (ay 9). Zakheus yang dibenci orang banyak, tertolak bahkan disebut sebagai orang berdosa, tetapi lihatlah saat Yesus memanggil dan mendatangi rumahnya, bukan hanya Zakheus tapi keluarganya juga beroleh keselamatan.  


(bersambung)

Wednesday, October 26, 2022

Raja Hizkia (4)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)


"Tetapi setelah lewat waktu yang ditentukan, aku, Nebukadnezar, menengadah ke langit, dan akal budiku kembali lagi kepadaku. Lalu aku memuji Yang Mahatinggi dan membesarkan dan memuliakan Yang Hidup kekal itu, karena kekuasaan-Nya ialah kekuasaan yang kekal dan kerajaan-Nya turun-temurun. Semua penduduk bumi dianggap remeh; Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorangpun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata kepada-Nya: "Apa yang Kaubuat?" Pada waktu akal budiku kembali kepadaku, kembalilah juga kepadaku kebesaran dan kemuliaanku untuk kemasyhuran kerajaanku. Para menteriku dan para pembesarku menjemput aku lagi; aku dikembalikan kepada kerajaanku, bahkan kemuliaan yang lebih besar dari dahulu diberikan kepadaku. Jadi sekarang aku, Nebukadnezar, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Sorga, yang segala perbuatan-Nya adalah benar dan jalan-jalan-Nya adalah adil, dan yang sanggup merendahkan mereka yang berlaku congkak." (ay 34-37).

Dari kisah kehidupan dua raja pada jaman yang berbeda diatas, yaitu Hizkia dan Nebukadnezar kita bisa melihat betapa berbahayanya sikap angkuh dan sombong. Hukuman yang bisa jatuh sesungguhnya berat. Sikap sombong yang biasanya dianggap lumrah tenyata bisa mendatangkan murka Allah yang hanya akan merugikan kita sendiri maupun bisa mendatangkan malapetaka yang lebih luas sebagai konsekuensinya.

Dalam Amsal 8:13 dikatakan: "Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat." Orang yang takut akan Tuhan semestinya membenci kejahatan. Tidak ada tempat bagi kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat dan mulut penuh tipu muslihat yang boleh ada. Dengan kata lain, jika hal-hal buruk yang menjadi bagian dari kejahatan ini ada pada kita, itu artinya kita tidak bisa mengaku sebagai orang yang takut akan Tuhan.

Sikap kesombongan itu bertentangan dengan kerendahan hati yang menjadi ciri khas kekristenan. Allah sangat menentang keangkuhan seperti yang disampaikan Yakobus. "Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."(Yakobus 4:6) Tinggi hati akibat keangkuhan membuat orang menolak bergantung pada Allah dan memberikan kepada diri sendiri kehormatan yang seharusnya diberikan pada Tuhan. Seperti halnya keinginan daging dan keinginan mata, perkara keangkuhan pun dapat membuat kita tersandung dalam proses pertumbuhan kita. Ada banyak dosa mengintip dari kesombongan, dan Tuhan sangat membenci sikap ini.

Kita harus terus meneladani perilaku Kristus yang melayani siapapun dengan penuh kasih. Dan ingatlah bahwa keangkuhan tidak akan pernah mendapat tempat dalam kasih. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong." (1 korintus 13:4).

Ketika kita mendapat limpahan berkat baik dari segi kemakmuran, ketrampilan maupun talenta, bersyukurlah pada Tuhan dan pakailah itu untuk memberkati sesama. Hindari sikap sombong dalam kondisi apapun, dalam alasan apapun. Marilah kita semua belajar hidup rendah hati dan penuh kasih seperti Kristus.


Pride should never be a part of a person that's full of the Holy Spirit

Tuesday, October 25, 2022

Raja Hizkia (3)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)


Raja Hizkia mencatat begitu banyak kegemilangan dalam karirnya. Mari kita lihat seperti apa. Adalah ia yang yang membuka pintu-pintu Rumah Tuhan dan memperbaikinya serta mendatangkan para imam kesana (2 Tawarikh 29:3-4). Ia meremukkan tugu-tugu berhala, menebangnya dan menghancurkan ular tembaga dimana pada masa itu orang Israel membakar korban bagi ular ini sebagai bentuk penghormatan. Dalam melawan bangsa yang memerangi mereka, Hizkia mengandalkan Tuhan (2 Tawarikh 32:1-23, 2 Raja Raja 18:1-19). Betapa hebatnya portofolio raja Israel yang satu ini.

Sayangnya, ditengah kelimpahan berkat Tuhan yang selalu menyertainya, Hizkia jatuh dalam sikap angkuh  menjelang tahun-tahun terakhir pemerintahannya. Dalam 2 Tawarikh 32:24, ia menderita sakit sampai hampir mati dan meminta Tuhan menyembuhkannya. Ia pun mendapatkan kesembuhan dari Tuhan. Tapi bukannya bersyukur, ia malah terjebak menjadi sombong. Akibatnya Tuhan pun marah. Hampir saja Yehuda dan Yerusalem ditimpa murka Allah karena kesalahan raja mereka Hizkia. Alkitab mencatatnya seperti ini: "Tetapi Hizkia tidak berterima kasih atas kebaikan yang ditunjukkan kepadanya, karena ia menjadi angkuh, sehingga ia dan Yehuda dan Yerusalem ditimpa murka." (2 Tawarkih 32:25).

Untunglah Hizkia cepat sadar akan keangkuhannya sehingga murka Allah tidak sampai menimpa bangsa yang dipimpin Hizkia pada masa pemerintahannya (2 Tawarikh 32:25-26). Bukan saja Tuhan mengampuni dan menjauhkan murkanya segera setelah Hizkia dan rakyatnya berbalik merendahkan diri, Tuhan pun kemudian memberkati Hizkia dengan kekayaan dan kemuliaan yang sangat besar yang segera ia pakai untuk memakmurkan bangsanya. Kisah yang hampir berakhir tragis karena dosa kesombongan pun akhirnya happy ending.

Selanjutnya mari kita lihat cerita raja lain, yaitu raja Nebukadnezar dari kitab Daniel. Nebukadnezar sebagai raja juga memiliki kekuasaan dan keagungan. Sayang sekali ia lupa dari mana semua itu berasal. Saat ia tengah berjalan di atap istana, "berkatalah raja: "Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?" (Daniel 4:30). Perhatikan sikap angkuh yang menguasai hatinya lewat ucapan yang memegahkan dirinya sendiri.

Dan akibatnya pun fatal. Belum habis ia bicara, tiba-tiba terdengarlah suara dari langit. "Kepadamu dinyatakan, ya raja Nebukadnezar, bahwa kerajaan telah beralih dari padamu; engkau akan dihalau dari antara manusia dan tempat tinggalmu akan ada di antara binatang-binatang di padang; kepadamu akan diberikan makanan rumput seperti kepada lembu; dan demikianlah akan berlaku atasmu sampai tujuh masa berlalu, hingga engkau mengakui, bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya!" (ay 31-32).

Tidak makan waktu lama, bentuk hukuman mengerikan itu pun langsung turun.  "Pada saat itu juga terlaksanalah perkataan itu atas Nebukadnezar, dan ia dihalau dari antara manusia dan makan rumput seperti lembu, dan tubuhnya basah oleh embun dari langit, sampai rambutnya menjadi panjang seperti bulu burung rajawali dan kukunya seperti kuku burung." (ay 33). Hukuman ini jatuh kepadanya bukan hanya sebentar saja tapi harus ia jalani selama tujuh musim.

Untunglah ia memiliki sikap yang benar setelah hukuman itu. Ia segera sadar dan mengakui kebesaran Tuhan. Bentuk pengakuannya atas kesalahannya tertulis jelas dalam ayat selanjutnya.

(bersambung)

Monday, October 24, 2022

Raja Hizkia (2)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Kesombongan tidak akan pernah mendapat tempat dalam prinsip kebenaran Kerajaan Allah, apapun alasannya. Baik ketika kita secara tidak sadar atau tidak sengaja terjebak pada sikap menyombongkan diri apalagi kalau memang kita melakukannya dengan sengaja karena sudah lupa diri, itu sesungguhnya merugikan kita sendiri, seperti yang sudah saya bahas dalam renungan-renungan sebelumnya.

Ketika kita berada dalam posisi yang tinggi dalam jabatan, ketika kita memiliki suatu kelebihan dibanding orang lain, baik dalam hal harta, kemampuan atau skill dan lain-lain, saat kita mencapai tingkat popularitas, dosa keangkuhan ini diam-diam bisa menyelinap dalam diri kita tanpa kita sadari. Sikap angkuh itu dapat membutakan rohani, sehingga membuat kita terlupa bahwa semua yang kita dapat itu sesungguhnya berasal dari berkat Tuhan, bukan atas kemampuan dan usaha kita semata.

Betapa ironisnya jika orang yang diberkati Tuhan dengan talenta atau kemakmuran bukannya bersyukur dan semakin peduli, tapi malah menjadi sombong, tidak lagi peduli terhadap orang lain tapi malah merendahkan dan menghina, lantas juga merasa tidak lagi perlu Tuhan. Ironisnya, penyakit ini pun bisa menjangkiti orang-orang percaya, bahkan hambaNya.  Seperti yang sudah pernah saya bahas, sikap ini pun menghinggapi jemaat Korintus diantara begitu banyak sikap amoral dan kejahatan lainnya yang terus mereka lakukan meski mereka sudah berakar dalam gereja. Dan Paulus pun menegur mereka dengan keras seperti yang bisa kita baca dalam surat 1 Korintus.

Sikap angkuh atau sombong menjadi salah satu dari tujuh hal yang dibenci Tuhan seperti yang diuraikan Salomo dalam Amsal 6:16-17. "Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya:mata sombong...." Seperti yang saya sampaikan dalam renungan sebelumnya, mata sombong dalam bahasa Inggrisnya disebutkan "Proud look", sikap yang meninggikan diri sendiri dan memandang rendah orang lain.

Ada begitu banyak kisah dalam Alkitab mengenai kesombongan dan bahaya maut yang bisa diakibatkan dari sikap yang bagi banyak orang dianggap biasa ini. Hari ini mari kita lihat dua diantaranya, yaitu dari dua raja di jaman berbeda.

Mari kita lihat terlebih dahulu kisah raja Hizkia yang dicatat dalam kitab 2 Raja Raja dan 2 Tawarikh. Siapa Hizkia itu? Hizkia adalah seorang raja yang disebutkan saleh yang punya hubungan dekat dengan Tuhan. Hizkia dikenal sebagai raja yang selalu berpaut pada Tuhan dan berpegang pada perintah-perintah Tuhan sehingga bahkan dikatakan bahwa tidak ada lagi yang sama seperti dia diantara raja-raja Yehuda. (2 Raja Raja 18:5-6). Bahkan arti dari Hizkia adalah "Yahwe adalah kekuatanku". Jadi jelas, ia mengawali dengan sangat baik. Hizkia pun dikatakan 'melakukan apa yang benar di mata Tuhan, tepat seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya." (2 Tawarikh 29:2). Ia memerintah sekitar 700 tahun Sebelum Masehi, menjabat raja pada usia muda dan memerintah selama hampir 30 tahun.

(bersambung)

Sunday, October 23, 2022

Raja Hizkia (1)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 Ayat bacaan: Amsal 8:13
=======================
"Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat."


Saya ingat pengalaman saya saat mewawancarai seorang musisi legendaris, termasuk satu dari sedikit living legend yang sudah aktif bermusik dan menjadi bagian sejarah musik sejak awal 60an. Pada waktu itu saya dapat kesempatan mewawancarainya hanya berjarak sejam dari saat ia tiba di sebuah hotel di Jakarta dan check in. Saya membayangkan ia pasti sangat lelah dan kemungkinan mengalami jet lag. Tapi namanya jadwal, kesempatan emas itu tentu tidak boleh saya sia-siakan.

Saat melakukan wawancara, ia memang terlihat lelah. Tapi menurut saya ia menjawab semuanya dengan baik. Ia tidak asal-asalan, ia merespon, menjawab disertai senyum ramah. Saya kagum dengan kerendahan hati dan kebaikannya, karena ia bisa saja menolak dengan alasan sudah terlalu lelah. Saya pasti bisa mengerti itu.

Pada keesokan harinya saya bertemu lagi dengannya di lobby. Ia sedang berdiri disana ngobrol dengan musisi lain. Ketika mata kami bertabrakan, ia langsung menyapa dan memanggil saya. Setelah saya hampiri, ia berkata kira-kira begini: "I want to say sorry, because last night I was having jet lag. I'm sorry if the interview went bad." Saya kaget dan tertegun. Menurut saya, wawancara saya bersamanya di malam sebelumnya itu sangat luar biasa. Jauh dari buruk, jauh dari seadanya. Tapi tampaknya ia kepikiran setelah ia kembali segar setelah istirahat sehingga ia merasa  harus minta maaf. Seorang legenda sepertinya, yang sudah menorehkan tinta emas selama lebih dari 50 tahun berkarir, sangat terkenal dan menjadi inspirasi dari generasi-generasi setelahnya, bisa sampai se ramah dan se rendah hati itu, wow.. itu membuat saya tertegun.

Ada seribu satu, bahkan jutaan alasan yang bisa membuatnya sombong, tapi ternyata, perjalanan hidupnya yang penuh kesuksesan itu tidak membuatnya menjadi lupa diri. Ia tetap membumi dan ramah pada semua orang. Saya bukanlah wartawan media terkenal, internasional atau besar. Tapi ia bisa tetap bersikap ramah, bahkan masih ingat wajah saya yang mewawancarainya pada saat ia jetlag. Di lobby itu, dia pun bercerita banyak soal pengalamannya seperti seorang teman saja. Sungguh luar biasa. Bagi saya, itu adalah salah satu momen paling mengesankan dalam hidup saya.

Saat artis sekaliber dirinya bisa rendah hati dan ramah seperti itu, rasanya ironis sekali melihat sebagian artis lainnya yang masih baru tapi sombongnya sudah minta ampun parahnya. Saya sudah bertemu dengan banyak artis model seperti ini di negeri kita. Bukan saja gayanya arogan, tapi tidak jarang omongannya pun sangat tinggi dan berisi banyak kebohongan. Tapi biarlah, mereka sendiri  yang rugi karena apa yang mereka lakukan sesungguhnya tidak berkenan di hadapan Tuhan dan salah-salah, kesombongan seperti itu akan merugikan mereka sendiri.

(bersambung)

Saturday, October 22, 2022

Menjerat Diri Sendiri (3)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Sebelum kita lanjutkan, mari kita lihat sedikit tentang orang Yahudi yang ada di Persia pada masa itu.  Orang-orang Yahudi yang ada disana adalah keturunan dari orang Yahudi yang dibuang ke Babilon sebelumnya. Waktu itu orang Yahudi mendapat kesempatan untuk kembali ke tanah asal mereka, namun beberapa dari mereka memilih untuk terus menetap di Babilon. Setelah itu Babilon jadi bagian dari kerajaan Persia, dan orang-orang Yahudi memilih untuk tidak bercampur dengan suku-suku lainnya disana. Mereka mempertahankan adat, budaya juga kepercayaan mereka. Karena itulah mereka ini tidak disukai, dan sepertinya karena itu pula maka kemarahan Haman yang sebenarnya hanya pada Mordekhai merambat menjadi kepada seluruh bangsa Yahudi yang ada disana.

Kembali kepada kisah Haman, rasa bencinya menjadikannya jahat. Haman berencana membunuh semua orang Yahudi yang ada di sana. Tapi ada Ester, seorang wanita Yahudi yang dipilih menjadi istri sang raja. Ester kemudian membela bangsanya Yahudi, dan kejahatan Haman pun berbalik menimpanya. Pada akhirnya, orang Yahudi diselamatkan, sedang Haman kemudian dihukum mati di tiang yang sebenarnya dia persiapkan untuk Mordekhai. Seluruh hartanya menjadi milik Ester, dan Mordekhai kemudian menggantikan posisinya sebagai pejabat tertinggi di kerajaan itu.

Semakin orang berbangga atas kejahatannya, semakin dekat pula ia dengan kehancuran. Bermain-main dengan dosa itu seperti menggali kubur sendiri, dan saat kita melakukan kejahatan, maka kita sendiri pada akhirnya yang menuai badai. Kejahatan akan selalu menghasilkan kebodohan yang pada akhirnya menghancurkan pelakunya sendiri.

Kita harus benar-benar memastikan agar jangan sampai ada hal jahat dalam benak dan hati kita yang kemungkinan  besar diawali dari rasa benci terhadap seseorang, apalagi kalau sampai merancang hal jahat. Memang ada saat dimana kejahatan seolah tampil berkuasa dan perkasa, itu bisa sangat menggoda kita untuk terjerumus ke dalam. Tapi ingatlah bahwa kejahatan tidak akan bertahan selamanya. Sebelum rasa benci timbul, lepaskan pengampunan terlebih dahulu. Selain itu akan membawa kita jauh dari kejahatan di mata Tuhan, hidup tanpa rasa benci pun akan menjauhkan kita dari berbagai macam sakit, kepedihan, penderitaan dan lain-lain yang akan sangat memberatkan hidup kita.

Dibalik setiap kejahatan ada benih kehancuran yang pada suatu ketika akan berbalik menjerat pelakunya


Friday, October 21, 2022

Menjerat Diri Sendiri (2)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Jadi, kalau anda anggap bahwa saat ada orang yang menikam atau menembak orang lain sampai mati itu sebuah kejahatan, dosa yang berat hukumannya, membenci sama seperti itu di hadapan Tuhan. Dan, ayat di atas melanjutkan dengan mengingatkan kita bahwa tidak akan ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal dalam dirinya.

Kalau itu terasa terlalu ekstrim, mari kita bicara soal yang sederhana saja, apa yang bisa ditimbulkan oleh kebencian dalam hidup kita saat ini. Coba pikirkan saat kita hidup dengan memendam kebencian. Adakah itu akan menguntungkan kita? Apakah hidup kita akan jauh lebih baik, ringan dan bahagia dengan adanya kebencian dalam hati kita? Yang ada justru datangnya berbagai macam masalah dan penyakit. Dan, pada suatu ketika kebencian itu bisa mendatangkan dosa yang kemudian menjerat kita sendiri. Jadi kebencian itu bukan hanya mendatangkan dosa besar yang dianggap kekejian di mata Tuhan, tapi juga akan membuat hidup kita penuh kesusahan, penderitaan dan kesakitan.

Kalau kita bicara lebih lanjut soal perbuatan dosa, ada sebuah ayat yang sangat menarik dalam Amsal 5:22. Ayatnya berbunyi: "Orang fasik tertangkap dalam kejahatannya, dan terjerat dalam tali dosanya sendiri." Dalam versi Bahasa Indonesia Sehari-hari ayat ini berkata: "Dosa orang jahat bagaikan perangkap yang menjerat orang itu sendiri."

Lihatlah bahwa tak selamanya orang lain yang jadi korban kejahatan. Ada saat dimana kejahatan itu berbalik menjerat pelakunya sendiri. Kenapa bisa demikian? Karena dalam tindak kejahatan tersimpan benih penghancuran diri pelakunya. Mungkin di awal sang pelaku bisa saja terlihat kuat. Tapi saat benih penghancuran itu tumbuh maka ia bisa berbalik memakan tuannya.

Ada contoh nyata mengenai hal ini dalam Alkitab yaitu tentang Haman yang dicatat dalam kitab Ester. Ada seorang pejabat tinggi di Kerajaan Persia yang saat itu dipimpin oleh Raja Ahasyweros. Pejabat ini bernama Haman. Suatu kali ia sangat marah kepada orang Yahudi yang bernama Mordekhai, karena Mordekhai tidak menghormat kepadanya saat ia lewat. Karena sikap Mordekhai itu, Haman bukan saja membenci Mordekhai tapi jadi membenci seluruh orang Yahudi.

(bersambung)

Thursday, October 20, 2022

Menjerat Diri Sendiri (1)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 Ayat bacaan: Amsal 5:22
=================
"Dosa orang jahat bagaikan perangkap yang menjerat orang itu sendiri." (BIS)

Kebanyakan orang ingin hidup di dalam negara demokratis. Tidak dipimpin oleh pemimpin yang otoriter, represif dan tiran. Maka seharusnya kita bersyukur karena tinggal di negara demokratis. Sayangnya, kondisi demokrasi yang harusnya bisa mendorong bangsa ini untuk maju ternyata masih gagal dipahami banyak orang. Mereka ini mengira bahwa demokrasi yang prinsipnya menjamin kebebasan itu membuat mereka bebas berbuat apa saja, bicara apa saja, teriak apa saja, berekspresi apa saja, tak peduli apakah yang mereka teriakkan itu pantas, layak atau menyinggung orang lain. Jumlah mereka ini tidaklah terlalu banyak, tapi efek gangguannya signifikan. Kalau ditegur mereka berteriak anti demokrasi, kalau dibiarkan bukan saja membuat bangsa ini susah maju, tapi bisa mendatangkan banyak masalah yang nantinya butuh waktu lama untuk diperbaiki. Apalagi di jaman sosial media, siapapun merasa bisa bicara seenaknya, tidak lagi punya sopan santun, tata krama atau kepantasan.

Maka kita melihat ada banyak orang yang melakukan penghinaan di sosial media. Mungkin mulanya hanya ingin sinis, nyinyir dan satir. Tapi mereka lupa bahwa saat perilaku seperti itu diteruskan, itu bisa menimbulkan rasa benci. Celakanya, ada banyak pula pihak yang memancing tumbuhnya kebencian di kalangan pengikut mereka demi agenda pribadi, tanpa memikirkan dampaknya yang bisa memecah-belah keutuhan bangsa. Dan, saat rasa kebencian itu timbul dan bertumbuh, berbagai kerusakan pun akan mulai terjadi. Kenapa? Karena saat kita dikuasai kebencian, kita tidak lagi bisa berpikir jernih dan rasional, dan dosa pun akan masuk, menguasai dan melakukan tugasnya. 

Menariknya, kebencian ini seringkali bisa menjadi bumerang bagi pelakunya. Mereka yang melepaskan 'peluru' untuk menyerang orang, tapi itu akan mengenai dirinya sendiri. Mereka memasang jerat, tapi kemudian yang terjerat dia sendiri. Mulanya bersikap seolah paling hebat dan paling benar, nanti kalau sudah terkena senjata makan tuan baru sibuk minta maaf dan bela diri, tapi biasanya semua hanya akan menjadi terlambat. Penyesalan tinggal penyesalan. Dan sekali lagi, itu seringkali timbul dari rasa benci.

Saya percaya bahwa tidak ada satupun ajaran di dunia ini yang melegalkan kebencian. Dan bagi kita, teguran mengenai kebencian itu sangatlah keras. Lihatlah salah satu ayat yang menyatakan hal ini. "Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya." (1 Yohanes 3:15).

Tidak usah bicara soal menyebar kebencian dulu, sekedar menyimpan kebencian terhadap orang lain saja, itu sudah disamakan dengan pembunuh manusia. Apa cuma bicara soal pembunuhan karakter saja? Tidak juga, karena pada intinya, siapapun yang membenci sesama, itu dianggap sama dengan pembunuh. Sama dengan killer, atau murderer. Ayat ini dalam versi NKJV berbunyi begini "Whoever hates his brother is a murderer, and you know that no murderer has eternal life abiding in him."  

(bersambung)



Wednesday, October 19, 2022

How We Look At Ourselves (3)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Tuhan menciptakan kita menurut gambarNya sendiri itu punya tujuan, dan tujuan itu adalah agar kita dapat mengenal dan menanggapiNya. Dia membangun unsur-unsur dalam kepribadian kita yang selaras dengan kepribadianNya. Kita mempunyai pemikiran untuk mengerti dan menanggapi pemikiranNya, we have emotions to grab His emotions, kita juga punya kehendak untuk menanggapi kehendakNya. Jika tidak, Tuhan tidak akan merasa perlu untuk membuat kita menjadi mahluk mulia, ciptaanNya yang teristimewa lewat rupa dan gambarNya sendiri. Tuhan bahkan membuka diri untuk dikenal, dan  menawarkan kepada kita kemampuan untuk bersahabat akrab atau bergaul karib denganNya. Kalau kita menyadari ini, apakah pantas kita mengeluhkan kekurangan kita dan tidak mensyukuri betapa istimewanya, betapa dahsyat dan ajaibnya kita diciptakan?

Saya sendiri terkadang merenung, apa ya yang Tuhan pikirkan ketika Dia menciptakan saya secara istimewa dan menyusun rancangan yang indah buat hidup saya? Seperti halnya Daud, saya mungkin tak akan pernah tahu, karena apa yang ada dalam rencana Tuhan bagi setiap kita mungkin sulit untuk bisa kita pahami. Tetapi setidaknya, maukah kita menyadari betul bahwa kita diciptakan secara khusus sebagai ciptaanNya yang teristimewa dan berhenti hanya memandang kekurangan-kekurangan kita untuk kemudian fokus dan bersyukur kepada apa kelebihan yang ditanamkan Allah sejak semula ketika Dia menciptakan kita? Jika kita menyadari hal ini dengan baik, kita akan mampu menyadari kebaikan Tuhan dalam diri kita, dan disaat itulah kita baru bisa menggali potensi-potensi yang ada untuk kemudian dipergunakan untuk menjalankan panggilan kita masing-masing dengan memuliakan Tuhan di dalamnya.

Daud melihat segala yang indah dalam dirinya sebagaimana ia diciptakan Tuhan. Ia menggambarkannya sebagai "dahsyat dan ajaib." Bagaimana kita memandang diri kita hari ini? Apakah jiwa kita sudah benar-benar menyadari betapa dahsyat dan ajaibnya, betapa istimewanya kita, atau jiwa kita masih setengah sadar atau jangan-jangan sama sekali tidak sadar? Apakah kita bersyukur atau masih terus mengeluhkan apa saja yang kita rasa kurang dari diri kita?  

Yang pasti, Tuhan menganggap kita sangat istimewa. Begitu istimewanya sehingga bukan saja kita dibuat menurut citraNya, bukan saja Dia menghembuskan nafasNya agar kita hidup, tapi keselamatan pun Dia berikan kepada kita atas dasar kedahsyatan kasihNya lewat Kristus.

Marilah kita merubah cara pandang kita terhadap diri sendiri. Sadarilah bahwa siapapun anda, anda adalah ciptaanNya yang istimewa, indah, mulia dan berharga. Anda dan saya adalah karya orisinil Tuhan, Sang Maestro Yang Agung. Hari ini, mari kita bersyukur atas siapa anda dan saya hari ini dengan segala yang Tuhan sudah berikan pada kita masing-masing.

Pastikan jiwa kita menyadari benar-benar bahwa kita adalah ciptaanNya yang dahsyat dan ajaib


Tuesday, October 18, 2022

How We Look At Ourselves (2)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Daud sadar betul bahwa dirinya bukanlah sebuah hasil kebetulan saja. Dia pun yakin bahwa Tuhan tidak asal-asalan saat menciptakan dirinya, bukan tanpa makna, dan bukan pula tanpa tujuan. Daud tahu pasti dirinya adalah hasil mahakarya Tuhan yang indah, dan semua itu adalah dahsyat dan ajaib.

Yang juga menarik bagi saya, Daud juga tahu bahwa hati dan pikirannya, juga jiwanya bisa lupa akan hal itu. Maka Daud pun mengingatkan jiwanya agar menyadari sepenuhnya akan hal itu.

Mazmur 139:14 buat saya sangat perlu diingat dan direnungkan baik-baik terutama pada saat kita tengah menghadapi ketidakpercayaan diri. Bukankah akan sangat melegakan kalau kita bisa menyadari bahwa kita bukanlah hasil dari sebuah kesalahan, bukan tidak sengaja ada, bukan tanpa rencana dan bukan pula asal jadi? Kita tidak diciptakan sebagai pecundang tanpa arah tujuan. No, never like that. Kita bukanlah dibuat diciptakan seadanya dengan setengah hati, tetapi Tuhan justru mencurahkan segala yang terindah dalam menciptakan kita.

Layaknya Seniman Agung Dia menciptakan manusia secara sangat istimewa. Lihatlah fakta-fakta berikut tentang penciptaan manusia yang tertulis di dalam Alkitab:
- Tidak seperti ciptaan lainnya, kita diciptakan dengan gambar dan rupa Allah sendiri (Kejadian 1:26)
- Kita mendapatkan nafas hidup langsung dari hembusan Allah (2:7)
- Kita senantiasa berada dalam telapak tangan dan ruang mataNya (Yesaya 49:16)

Semua itu memang benar-benar dahsyat dan ajaib. Bagi Daud, sulit rasanya untuk bisa memahami jalan pikiran Tuhan ketika Dia membentuk buah pinggang dan menenun kita sejak dalam kandungan. (Mazmur 139:13). Ia pun berseru: "Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!" (ay 17).

Dalam kitab Kejadian, saat proses penciptaan dikatakan dengan tegas dan jelas bahwa  Tuhan menciptakan kita seperti rupa dan gambarNya sendiri. "Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita... Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia" (Kejadian 1:26-27). Itu salah satu bukti kuat bahwa Tuhan menciptakan kita dengan sangat istimewa, lebih dari ciptaanNya yang lain. Ada banyak orang yang menganggap bahwa gambar dan rupa itu artinya kita punya kemiripan wajah dan struktur tubuh dengan Tuhan, tapi sebenarnya yang dimaksudkan disini adalah lebih kepada kepribadian kita yang selaras denganNya.

(bersambung)

Monday, October 17, 2022

How We Look At Ourselves (1)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 Ayat bacaan: Mazmur 139:14
====================
"Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya."


Bagaimana anda memandang diri anda hari ini?  Puji Tuhan jika anda melihat hal-hal baik yang Tuhan sediakan bagi anda. Kesehatan, kemampuan berpikir dan bertindak atau bekerja, kelengkapan organ tubuh, bakat, talenta dan sebagainya, dan juga apa adanya diri anda secara fisik. Pada kenyataannya banyak orang yang lebih tertarik untuk melihat segala kekurangan mereka ketimbang memperhatikan kelebihan atau segala yang baik yang mereka punya. Lalu terbiasa pula mengeluhkan kekuangan dibanding bersyukur akan apa yang ada. Hidung terlalu pesek, pipi kurang montok, alis terlalu tipis, mata kurang gede, rambut, warna kulit, ada banyak yang bisa dikeluhkan. Padahal apa yang menurut kita kurang baik belum tentu sama di mata orang.

Ada sebuah fenomena unik yang saya dapati saat saya sementara tinggal di Swedia. Kalau di Indonesia ingin kulit yang putih, orang di Eropa timur iri melihat warna kulit kita. Kita sibuk memakai segala sabun dan cream pemutih, iklan pemutih kulit dalam berbagai bentuk produk berjamur di segala media. Di Eropa sana, terutama di Swedia, mereka berusaha berjemur agar kulitnya lebih gelap kalau ada matahari. Bahkan bagi yang sanggup akan membeli mesin tanning supaya bisa tetap menggelapkan kulit meskipun sedang tidak ada matahari saat musim dingin.

Disini banyak yang merasa hidung kurang mancung, disana mereka berharap hidungnya jangan terlalu mancung supaya  tidak mudah patah saat beraktivitas, seperti yang sering terjadi pada pemain bola saat bertanding. Kita merasa kurang tinggi, mereka merasa terlalu tinggi sehingga harus menunduk kalau memasuki area yang tidak sepadan dengan tinggi mereka. Seorang teman sambil tertawa pernah berkata, bagaimana kita mau belajar untuk bersyukur kalau setiap hari kita diintimidasi berbagai iklan bahwa putih itu lah yang bagus. Parade iklan-iklan yang terus membombardir kita dari segala arah semakin lama semakin merusak paradigma dan cakrawala berpikir kita hanya demi produknya laku di pasaran. Memang benar, itu kita lihat tiap hari. Maka semakin lama semakin sulitlah bagi kita untuk memandang diri kita sebagai ciptaan Tuhan yang terindah dan teristimewa.

Pada suatu kali Daud merenung tentang dirinya lalu menyimpulkan sesuatu yang indah. "Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya." (Mazmur 139:14).

(bersambung)

Sunday, October 16, 2022

Belajar Motivasi Melayani Dari Paulus (4)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Dari Paulus kita bisa belajar bahwa kemurnian dan ketulusan merupakan kunci yang sangat penting dalam mengabdi kepada Tuhan.

Kemurnian motivasi melayani dan juga mengikut Yesus bisa terlihat dari buah yang dihasilkan. Kalau sikap kita masih sedikit-sedikit tersinggung, gampang kecewa, mudah tersulut emosi, gampang marah atau bahkan belum apa-apa sudah mencari 'rumah' baru, itu artinya kita harus memeriksa ulang motivasi kita. Begitu pula saat kita sudah masuk dalam tahap melayani tapi masih mudah menjelekkan, menghasut, memfitnah, bergosip atau bahkan menghakimi karena merasa paling benar, itu artinya ada yang masih salah dalam diri kita. Ingatlah bahwa ada ragi-ragi yang sudah diingatkan Yesus yang bisa mencemarkan dan membusukkan diri kita meski sudah menjadi orang percaya, sudah beribadah bahkan sudah melayani. Karena itulah teman saya ini merasa bersyukur diberi waktu selama 6 bulan untuk memeriksa hatinya, memastikan agar motivasi pelayanannya tetap murni tanpa cemaran sekecil apapun.

Sejak semula Yesus sudah mengingatkan "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit." (Matius 9:37a). Kalau pekerja yang bersedia untuk melayani saja sudah dikatakan sedikit, jumlahnya akan menyusut jauh lebih sedikit lagi kalau ditambahkan kata "yang motivasinya benar" di depan kata "pekerja". Melayani Tuhan adalah sebuah kehormatan besar bagi kita. Tuhan tidak harus pakai kita, tapi Dia dengan senang hati menerima siapapun yang rindu untuk melayani. Menjadi terang dan garam, menyampaikan kabar gembira tentang keselamatan merupakan Amanat Agung yang disampaikan Yesus tepat sebelum Dia naik ke Surga. Artinya ini adalah sebuah panggilan yang berlaku bagi kita semua tanpa terkecuali dan sifatnya sangat penting. Itu adalah panggilan yang sangat istimewa yang seharusnya bisa kita sikapi dengan motivasi yang baik dan benar.

Adalah sangat penting pula untuk memastikan bahwa itu dilakukan dengan motivasi-motivasi yang benar. Sebab pada kenyataannya seperti yang saya sampaikan di atas, ada banyak orang yang keliru mengartikan hal melayani. Mereka mengira bahwa melayani bisa membawa keselamatan, keuntungan-keuntungan duniawi atau keistimewaan-keistimewaan di banding orang lain. Ada pula yang mengira bahwa kalau sudah melayani, berarti tidak perlu lagi mempelajari, mendalami dan menghidupi Firman Tuhan, tidak perlu lagi membangun hubungan erat secara pribadi dengan Tuhan. Kalaupun ikut persekutuan, keinginannya hanya sebatas hangout karena merasa sudah cukup lewat melayani. Ada pula yang bahkan terjebak pada motivasi-motivasi pribadi seperti popularitas, ketenaran dan sebagainya.

Ditengah sedikitnya pekerja, lebih sedikit lagi yang motivasinya benar. Sepertinya terlihat aktif melayani, tetapi bukan didasarkan untuk menyenangkan hati Tuhan melainkan untuk kepentingan-kepentingan pribadi. Itu bisa terlihat dari gaya, pola, cara dan sikap hidupnya. Mereka akan mudah bersikap negatif, tidak lagi ramah dan penuh kasih, kasar, sinis, suka menghasut, curiga, atau sikap lainnya seperti malas, sering tidak tepat waktu, pilih-pilih dan lain sebagainya. Adalah sangat baik apabila kita bersedia untuk meluangkan sebagian dari waktu kita untuk terlibat langsung dalam pelayanan lewat bidang apa saja sesuai panggilan kita masing-masing, tapi adalah penting pula untuk memperhatikan baik-baik motivasi yang benar dalam melayani.

Bagi teman-teman yang juga aktif melayani, marilah kita rajin-rajin periksa diri kita, apa yang saat ini menjadi dasar atau motivasi kita dalam melayani. Apakah semata-mata untuk memuliakan Tuhan atau kita masih tanpa sadar telah memasukkan banyak agenda yang mengarah kepada keuntungan diri sendiri ke dalamnya. Saat ini juga, arahkanlah fokus dalam melayani ke arah yang tepat. Belajarlah dari cara Paulus menyikapi pelayanannya agar semua pekerjaan yang kita lakukan berkenan di hadapan Tuhan dan bisa membawa dampak yang baik sehingga orang bisa merasakan kehadiran surga di bumi.

"To serve, you only need a heart full of grace and a soul generated by love" - Martin Luther King


Saturday, October 15, 2022

Belajar Motivasi Melayani Dari Paulus (3)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Paulus berkata: "Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku." (ay 34). Paulus sama sekali tidak mencari kesempatan untuk meraup keuntungan untuk diri sendiri bahkan sekedar pengganti tenaga, uang lelah dan sebagainya yang biasanya kita anggap wajar dan layak atas kerja kerasnya merintis serta melayani begitu banyak orang. Ia bahkan harus terus bekerja ditengah kesibukannya melayani untuk mencukupi kebutuhannya sendiri bersama rekan-rekan sekerjanya. Hebatnya bukan cuma untuk pelayanannya sendiri, tapi ia pun rindu untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah..." (ay 35). Begitu katanya. Bukannya memperoleh penghasilan, bukan cuma sekedar memenuhi kebutuhan pelayanan, tapi ia bahkan sanggup membantu orang yang lemah dan kesulitan. Itu sangatlah luar biasa.

Apa pekerjaan Paulus? Dalam Kisah Para Rasul 18:3 kita bisa tahu bahwa Paulus bekerja atau berprofesi sebagai tukang kemah. Paulus tahu bahwa semua yang ia lakukan bukanlah untuk ketenaran, bukan untuk popularitas, kekayaan atau mengejar kepentingan lainnya untuk kepuasan diri sendiri, tetapi semata-mata untuk menyenangkan Tuhan dengan membawa jiwa-jiwa untuk bertobat dan mendapatkan keselamatan.

Bagaimana Paulus bisa punya sikap dan motivasi seperti itu? Jawabannya bisa kita lihat dalam Alkitab. "Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah." (1 Korintus 10:31). Ia berkata, apapun yang kita lakukan, seharusnya itu diarahkan untuk memuliakan Tuhan dan bukan untuk mencari popularitas atau keuntungan-keuntungan pribadi. Mengapa? "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36).

Paulus mengarahkan pandangannya kepada Tuhan. Ia melakukan apapun dalam hidupnya setelah bertobat hanya dengan satu motivasi, yaitu untuk kemuliaan Allah. Bukankah segala sesuatu yang kita miliki semuanya berasal dari Tuhan? Tanpa Tuhan kita bukan siapa-siapa dan tidak ada apa-apanya. Karena itulah sudah sepantasnya kita memuliakan Tuhan lewat segala talenta atau kemampuan yang telah diberikan kepada kita bukan untuk memegahkan diri sendiri atau motivasi-motivasi lainnya baik yang terselubung apalagi yang jelas-jelas kasat mata.

Lewat Paulus kita bisa melihat bagaimana sikap dan motivasi yang seharusnya kita miliki dalam melayani Tuhan. Kita harus waspada menjaga hati agar jangan sampai kita melakukan sikap, tindakan, keputusan yang berasal dari motivasi yang tidak lagi murni. Jangan sampai kita mencuri hak Tuhan dengan memanfaatkan kesempatan dalam pelayanan untuk memperkaya diri sendiri atau demi popularitas kita. Jangan pula kita lupa untuk memuliakan Tuhan dengan terus bersikap asal-asalan, malas atau tidak serius dalam melakukannya, hanya kalau kita berkenan, berhitung untung rugi dan sebagainya. Motivasi Paulus dalam melayani terbukti murni, dan ini adalah keteladanan yang sangat baik buat kita. Tidak peduli sehebat apapun kemampuan kita, seberapa panjang waktu yang sudah kita pakai untuk melayani, sikap hati hamba mutlak untuk dimiliki oleh para pelayan Tuhan.

(bersambung)

Friday, October 14, 2022

Belajar Motivasi Melayani Dari Paulus (2)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Sadarkah kita bahwa ada begitu banyak motivasi yang keliru dalam hal melayani? Banyak yang mendasarinya dengan pamrih karena mengharapkan sesuatu dari Tuhan. Ada yang ingin agar diberkati secara finansial, dicukupi kebutuhannya, agar usahanya lancar, agar keluarganya tetap dalam keadaan baik, ada pula yang mengharap imbalan selayaknya bekerja, bahkan ada pula yang ingin tampil bak seorang artis, memamerkan skill dan penampilan di atas pentas sebagai seorang superstar agar mendapat pujaan dan pujian alias mencari popularitas. Ada yang secara sadar memanfaatkan pelayanannya seperti itu, ada juga yang tidak sadar motivasinya sudah bergeser.

Kalau begitu seperti apa sebenarnya motivasi yang harus dimiliki oleh para pengerja atau pelayan Tuhan? Bagaimana seharusnya agar kita tidak sampai mencuri kemuliaan yang seharusnya menjadi milik Tuhan yang bisa membuat Tuhan kecewa atau bahkan marah lewat sikap buruk kita dalam melayani?

Kita bisa belajar lewat sosok Paulus. Tidak ada yang meragukan kegigihan, keseriusan dan ketegaran Paulus yang disertai dengan kesabaran dalam melayani. Dampak dari pelayanannya begitu hebat sehingga sulit rasanya membayangkan bagaimana kita hari ini tanpa dirinya. Sebagai seorang hamba Tuhan, Paulus menunjukkan sikapnya yang teguh akan ketaatan. Jiwanya militan. Dia berani pergi menyebarkan Injil kemana-mana, bahkan hingga mencapai Asia kecil. Bersama rekan-rekan sepelayanannya, ia sukses mendirikan banyak jemaat dimanapun ia tiba. Ia memberikan segala sisa hidupnya setelah bertobat, bahkan nyawanya.

Kalau kita mengikuti kisah perjalanannya dan surat-surat yang ia tulis yang ada di dalam Alkitab, kita tahu betapa seringnya usaha dan kerja kerasnya tidak dihargai sepantasnya, disalah artikan dan dijadikan alasan untuk menangkap bahkan menyiksanya. Dia harus rela mengalami banyak penderitaan dan berbagai bentuk deraan demi menjalankan misinya. Hebatnya, walaupun ia harus melalui itu semua, kita mengetahui bahwa Paulus tidak berkecil hati, kecewa atau sakit hati kepada Tuhan. Justru sebaliknya, ia malah tidak pernah menuntut apa-apa. Ia tidak minta kemudahan dan keistimewaan dalam menunaikan tugas pelayanannya.

Jika memperhatikan tingkat kesulitan tinggi yang ia harus hadapi lengkap dengan segala resikonya, jika kita ada di posisi Paulus kita mungkin akan berpikir seharusnya kita tidak lagi perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan fokus saja mewartakan kabar gembira. Begitu kan hitungan yang terasa adil buat pemikiran awam? Dan, bukankah banyak orang yang melayani berpikir seperti itu? Tapi Paulus sama sekali tidak menuntut hal tersebut. Perhatikanlah apa yang ia katakan. "Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapapun juga." (Kisah Para Rasul 20:33). Paulus tidak menuntut apapun dari jemaat maupun penatua/gembala atau hamba-hamba Tuhan lainnya. Dia tidak meminta difasilitasi dan dimudahkan. Padahal kurang apa lagi Paulus pada saat itu dimata orang-orang percaya? Tapi seperti itulah sikap yang ia tunjukkan.

(bersambung)

Thursday, October 13, 2022

Belajar Motivasi Melayani Dari Paulus (1)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 20:33
==========================
"Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapapun juga."

Apa respon kita saat sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi, baik dalam pekerjaan maupun pelayanan kita? Ijinkan saya bercerita tentang apa yang pernah saya alami di gereja saya.

Pada waktu itu, saya dan sebagian teman yang tinggalnya relatif dekat berencana membuka komsel di lingkungan tempat tinggal kami, karena dengan tempat domisili berdekatan akan memudahkan kami untuk rutin persekutuan ketimbang harus menempuh jarak yang lebih jauh. Saat hal itu diusulkan kepada Pak Gembala, ternyata ia tidak menyetujui saya untuk menjadi ketua komsel ini. Teman saya dengan pelan-pelan menyampaikan pada saya karena takut saya tersinggung.

Bagaimana reaksi saya? Saya tertawa. Kenapa saya harus tersinggung? Dalam hidup saya, saya tidak pernah sekalipun cari jabatan untuk dibangga-banggakan. Bagi saya, yang penting itu adalah persekutuannya, karena dengan atau tanpa saya yang jadi ketuanya, yang penting kita bisa saling berbagi Firman Tuhan. Seiring berjalannya waktu, saya mengikuti semua yang diinginkan Pak Gembala untuk saya jalani terlebih dahulu, saya harus datang dulu ke beberapa komsel, dan para ketua komsel yang saya datangi nanti akan menyampaikan kepadanya apakah saya layak atau tidak. Itu kan bagus? Why not? Apa yang harus saya sombongkan sehingga harus tersinggung? Saya jadi bisa melihat bagaimana komsel lain yang sudah berjalan baik, belajar dari mereka, sehingga saya nantinya bisa memimpin dengan baik. Komsel is not about me, but it's about God. Bukan soal saya, tapi soal sharing FirmanNya. Saling menguatkan, saling berbagi, saling membantu, saling peduli.

Nah, secara pribadi saya belajar dari kejadian itu. Kejadian soal ketua komsel itu menjadi momen saya untuk memeriksa hati, apakah hati saya masih murni untuk melayani atau tanpa sadar jangan-jangan motivasi saya sudah bergeser kepada sikap-sikap kesombongan dan sebagainya. Saya senang dan bersyukur, respon spontan saya yang keluar waktu itu bukanlah tersinggung apalagi marah, tapi justru senang. Saya tidak merasa tidak dipercaya, diragukan atau disepelekan bahkan direndahkan, tapi saya justru merasa itu adalah keputusan yang sangat bagus dan bijaksana.

Saya pun jadi ingat cerita seorang hamba Tuhan kepada saya. Saat itu yang sudah melayani selama hampir 20 tahun. Pada suatu hari di awal pelayanannya sebagai pemimpin pujian, gembala di gerejanya menghampiri dan memintanya untuk istirahat selama 6 bulan tanpa alasan jelas. Ia kaget, karena ia merasa tidak ada yang salah dengan pelayanannya. Tidak ada teguran yang ia terima, tapi ia diminta untuk off sampai selama itu. Meski merasa kecewa dengan keputusan sang gembala yang mengistirahatkannya tanpa alasan jelas, ia memutuskan untuk taat.

Belakangan ia merasa bersyukur atas keputusan itu, meskipun ia tidak pernah tahu apa alasannya bahkan sampai sekarang. Ia jadi sadar bahwa masa 6 bulan itu ternyata sangat berguna buat dirinya terutama dalam hal menata motivasinya melayani. "Kalau waktu itu saya terus kecewa, marah dan kemudian sakit hati lantas kepahitan, itu berarti ada yang salah dengan motivasi saya. Karena kalau memang benar murni untuk Tuhan, tidak seharusnya saya bereaksi negatif saat diminta berhenti dulu." katanya. Apa yang ia lakukan selama 6 bulan itu adalah memperkuat hubungan dengan Tuhan, memeriksa hati secara rutin dan lain-lain yang diperlukan untuk membangun kualitas kerohaniannya secara pribadi. Ia jadi tahu bahwa agar bisa melayani dengan baik, ia harus punya hubungan yang kuat dengan Tuhan. Dan itu nyatanya berguna bahkan hingga hari ini.

(bersambung)

Wednesday, October 12, 2022

Vitamin dan Iman (2)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 
(sambungan)

2. Iman tidak berfungsi jika tidak diterapkan

Ayat selanjutnya kemudian berkata sebagai berikut: "Tetapi aku bertanya: Adakah mereka tidak mendengarnya? Memang mereka telah mendengarnya: "Suara mereka sampai ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi." Tetapi aku bertanya: Adakah Israel menanggapnya?" (ay 18-19a). Ayat ini dengan jelas mengingatkan bahwa meski iman timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan, kita jangan sampai berpuas diri dan berhenti pada mendengar saja, tetapi juga harus menanggapinya dengan menerapkan firman Tuhan itu dalam setiap sisi kehidupan kita. Practice the faith and do something in your every day life based on faith. Jadi setelah mengisi diri kita dengan firman Tuhan, langkah selanjutnya adalah menerapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Itu akan membuat iman tertanam kuat dan bertumbuh dalam diri kita.

3. Iman bukan cuma masalah hati, tapi juga lidah (perkataan)

Masih dari pasal yang sama, Paulus mengatakan demikian: "Tetapi apakah katanya? Ini: "Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu." Itulah firman iman, yang kami beritakan. Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan." (ay 8-10).

Perhatikan bahwa Firman itu dekat, sedekat dalam mulut dan hati. Percaya dalam hati, sesuai Firman yang didengar dan dibaca, maka kita orang percaya akan dibenarkan. Dan Firman yang diperkatakan dengan mulut akan membuat kita diselamatkan. Memperkatakan Firman adalah hal penting lainnya yang akan mengaktifkan iman.

Perhatikanlah bahwa semua mukijzat itu muncul didahului perkataan. Kita mengungkapkan pikiran, perasaan maupun gagasan-gagasan melalui perkataan yang keluar dari mulut kita. Perkataan, sadar atau tidak, akan menentukan arah hidup kita, bahkan membentuk seperti apa hidup kita. Perkataan akan sangat berpengaruh pada jalan pikiran dan cara hidup kita.

Orang yang perkataannya dipenuhi keluh kesah dan hal-hal negatif akan hidup dipenuhi kekuatiran. Orang yang perkataannya suka mencari kambing hitam, menyalahkan orang lain akan hidup dengan penuh kecurigaan.

Maka Firman Tuhan bisa dianggap sebagai bahasa iman yang hendaknya menjadi hal yang memenuhi mulut kita. Dari hati yang dipenuhi Firman, maka mulut kita seharusnya mengeluarkan Firman pula. Firman bukan cuma harus memenuhi diri kita, tapi harus pula diperkatakan. Disanalah kuasa Tuhan akan bekerja, dan disanalah ada berkat bahkan mukjizat.

Dalam Ibrani tertulis bahwa "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). Lihatlah bahwa iman sangatlah penting bagi kita. Tanpa iman kita akan sulit untuk menjalani hidup dengan tenang, tanpa rasa kuatir, takut dan tanpa harus kehilangan sukacita. Meski apa yang kita hadapi masih tidak kunjung berubah saat ini, meski situasi sedang tidak baik-baik saja, iman akan memampukan kita untuk melihat jauh ke depan, membuat kita tidak mudah kehilangan pengharapan. Iman akan membuat kita bisa memegang teguh janji Tuhan meski kita belum melihatnya saat ini. Iman sebesar biji sesawi sekalipun bahkan dikatakan Yesus sanggup memindahkan gunung. Kalau iman begitu penting, maka kita perlu tahu bagaimana kita bisa memperolehnya, dan Paulus lewat ayat bacaan hari ini sudah memberitahukan caranya.

Jika untuk memperoleh asupan vitamin kita tahu sumbernya, iman pun seperti itu. Iman akan timbul dari pendengaran, dan pendengaran akan firman Kristus. Faith comes by hearing and what is heard comes by the preaching of Christ. Semakin banyak anda dengar, maka iman anda akan semakin bertumbuh. Roh Kudus kemudian akan memindahkan firman (logos) yang anda baca dan dengar itu ke dalam hati menjadi rhema.

Terus baca, dengar, kemudian percaya, perkatakan dan terapkan dalam hidup sehari-hari. Jika anda melakukannya, anda akan melihat bahwa setiap rhema yang anda dapat dari Roh Kudus lewat logos yang terus anda dengar dan baca akan membuat anda punya lebih dari cukup amunisi untuk menjalani kehidupan yang tidak mudah, bahkan punya kekuatan  merubah hidup anda secara luar biasa.

Miliki iman dan alami pertumbuhannya lewat pendengaran akan firman Kristus dan perkatakanlah

Tuesday, October 11, 2022

Vitamin dan Iman (1)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 Ayat bacaan: Roma 10:17
==============
"Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus."


Saat pandemi mulai masuk ke negara kita dan membuat hidup kita seketika berubah drastis, salah satu yang terus dianjurkan oleh para pakar kesehatan adalah agar kita meningkatkan daya tahan tubuh kita. Dari mana? Sumber utamanya yang mereka terus sampaikan adalah dengan mengkonsumsi vitamin, berolah raga dan cukup istirahat, disamping tentunya terus membiasakan diri mematuhi protokol kesehatan. Tubuh kita sangat butuh diperlengkapi agar tidak rentan saat harus berhadapan dengan virus yang bisa setiap saat menyerang. Apalagi masa di awal-awal sebelum ada vaksin, dan saat kita masih belum terbiasa dengan penerapan protokol kesehatan. Vitamin pun mendadak jadi salah satu most wanted items, dan sempat pula ludes di pasaran. Selain dari vitamin berbentuk tablet, tentu saja kita bisa mendapatkan vitamin dari apa yang kita makan. Buah-buahan mengandung vitamin C, dan jika dikonsumsi tentu mampu meningkatkan daya tahan tubuh.  Baik dari yang sudah tinggal glek seperti tablet, yang tinggal minum dalam bentuk cairan, maupun lewat buah-buahan, semuanya sama menjadi sumber kita mendapatkan asupan vitamin yang akan sangat berguna terutama dalam menghadapi situasi darurat yang datangnya mendadak seperti apa yang kita alami sejak dua tahun lebih yang lalu.

Dalam perjalanan hidup kita, bukan cuma vitamin yang kita butuhkan tapi terlebih iman. Iman yang mampu membawa kita tetap kuat dan tegar dalam menghadapi goncangan badai sebesar apapun, iman yang mampu membuat kita bisa tetap bertahan ditengah terpaan masalah. Seperti halnya vitamin, kita pun perlu tahu darimana sumber bagi kita untuk memperoleh iman. Dan itu bukanlah sebuah rahasia karena sumbernya sudah dengan sangat jelas ditulis di dalam Alkitab.

Mari kita lihat ayatnya.  "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17).

Paulus menulis bahwa seperti halnya kebutuhan kita akan vitamin C dari buah seperti jeruk misalnya, iman yang justru jauh lebih kita butuhkan ternyata  ada sumbernya, dan sebenarnya tidaklah sulit untuk kita dapatkan. Dari mana? Paulus bilang dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. In short, faith comes by hearing and what is heard comes by the preaching of Christ.

Berkenaan dengan hal ini, ada beberapa hal yang penting untuk kita cermati mengenai iman.

1. iman bukanlah sesuatu yang otomatis ada

Iman bukanlah sesuatu yang langsung hadir. Iman butuh sumber, lalu butuh proses untuk bertumbuh. Layaknya tanaman yang harus ada benih dan kemudian dirawat dan dijaga agar tumbuh sehat dan tidak mati, demikian halnya dengan iman. Iman itu timbul dan bertumbuh lewat pendengaran akan firman Kristus. Namanya butuh proses, itu artinya iman tidak akan tumbuh kalau hanya dengan satu kali mendengar, tapi haruslah menjadi sebuah proses yang kontinu, terus menerus dan berkesinambungan. Dari mendengar kotbah, pengajaran, dari membaca dan merenungkan firman yang dilakukan secara rutin dan teratur, itu akan membuat iman kita bertumbuh seiring perjalanan waktu. Itu membutuhkan keseriusan dari kita, karena jika tidak, niscaya iman hanya akan mandek tumbuhnya kalau tidak kemudian 'mati'.

(bersambung)

Monday, October 10, 2022

Congkak (3)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Pada kesempatan lain, berulang kali pula Paulus pun mengingatkan dengan tegas bahwa keselamatan itu adalah pemberian Tuhan, (1:18, 15:10). Tuhan yang memilih (1:27-28), mengaruniakan RohNya sendiri untuk menyingkapkan rahasia-rahasia Ilahi (2:10-12), juga memberikan berbagai anugerah atas kasih karuniaNya (1:4-5). Sadarilah semua berasal dari Tuhan sehingga tidak seorangpun berhak untuk menyombongkan diri.

Semua yang kita miliki saat ini, apakah menurut kita biasa atau istimewa, besar atau kecil dalam pandangan manusia, semua itu merupakan anugerah luar biasa yang berasal dari Tuhan. Paulus berkata "Ada tertulis: "Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan." (1:31). Sesungguhnya sebuah kasih karunia dikatakan kasih karunia karena bukan berasal dari perbuatan kita melainkan dari Tuhan sendiri. Dan itupun sudah diingatkan buat kita. "Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia." (Roma 11:6). Kecongkakan jelas merupakan bentuk penyangkalan dari hal tersebut, karena artinya mereka yang bertingkah lakus seperti itu berpikiran seolah-olah semua itu adalah hasil pekerjaan mereka atau beranggapan bahwa mereka sudah sangat hebat melebihi orang lain atau bahkan mungkin Tuhan sehingga lupa diri. Menyadari bahwa kasih karunia merupakan pemberian Tuhan, milik Tuhan yang diberikan kepada kita akan membuat kita tetap sadar bahwa tidak ada satupun yang pantas kita sombongkan.

Mulai sekarang ayo kita menyadari betul anugerah kasih karunia yang telah Tuhan berikan kepada kita. Semua yang ada pada kita hari ini sesungguhnya berasal dari Tuhan. (Ulangan 8:14-18). Ingatlah bahwa semua itu dari Tuhan, oleh Tuhan dan untuk Tuhan. (Roma 11:36). Tidak ada tempat bagi orang congkak dan sombong di hadapan Tuhan, dan ini bisa kita lihat dalam banyak ayat. Kecongkakan merupakan awal dari kehancuran, tinggi hati merupakan awal dari kejatuhan, seperti yang Amsal 16:18 di atas.  Kesombongan juga adalah sikap yang ditentang Tuhan (Yakobus 4:6), dan merupakan kekejian bagi Allah sehingga tidak akan luput dari hukuman (Amsal 16:5).

Mari kita sikapi dengan benar semua yang telah diberikan Tuhan, bersyukurlah, dan nyatakan rasa syukur kita lewat sebentuk kerendahan hati bukan lewat sikap congkak atau tinggi hati.

Pride comes before the fall, so stay humble!

Sunday, October 9, 2022

Congkak (2)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Mengapa Tuhan tidak menyukai sikap-sikap sombong dan sejenisnya? Karena kalau kita sadar bahwa semua itu, baik talenta, kesempatan dan kesuksesan berasal dari Tuhan, tentu wajar apabila Tuhan menentang sikap yang melupakan Dia yang telah memberi semuanya.

Untuk contohnya kita bisa melihat sikap buruk dari jemaat Korintus.

Jemaat Korintus tampaknya merupakan gambaran jemaat yang sombong. Ada banyak ayat yang mengindikasikan hal ini seperti yang beberapa kali tecatat misalnya dalam 1 Korintus 4:6-21, 5:2, 8:1 dan 13:4. Paulus memberikan teguran atas kesombongan mereka.

Lihatlah salah satunya: "Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: "Jangan melampaui yang ada tertulis", supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain". (1 Korintus 4:6).

Jemaat di Korintus lupa akan jati diri mereka dan tenggelam dalam kesombongan, sehingga merasa tidak lagi memerlukan apa-apa, bahkan mereka merasa tidak lagi membutuhkan hamba Tuhan dalam hidup mereka. "Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?" (ay 7)

Kalau ada teman-teman yang sedikit bingung dengan ayat di atas, dalam versi BIS-nya apa yang dikatakan Paulus bisa kita mengerti dengan lebih sederhana. "Siapakah yang menjadikan Saudara lebih dari orang lain? Bukankah segala sesuatu Saudara terima dari Allah? Jadi, mengapa mau menyombongkan diri, seolah-olah apa yang ada pada Saudara itu bukan sesuatu yang diberi?" Perilaku mereka seolah-olah mereka tidak lagi memerlukan apa-apa, "as if you are already filled and think you have enough (you are full and content, feeling no need of anything more)!" Itu yang tertulis dalam versi bahasa Inggris untuk ayat 8. Mereka lupa diri dan tidak sadar bahwa semua yang mereka miliki sesungguhnya berasal dari Tuhan sehingga tidak ada alasan sedikitpun bagi mereka untuk menjadi congkak atau tinggi hati.

(bersambung)

Saturday, October 8, 2022

Congkak (1)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 Ayat bacaan: Amsal 16:18
=======================
 "Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan."


Di jaman dengan generasi digital ini, semua berita bisa cepat tersebar. Saya yakin dari dulu orang-orang arogan di jalanan itu banyak, tapi sekarang tingkah laku mereka bisa terlihat oleh masyarakat dan kalau konyol keterlaluan jadi viral. Maka hampir tiap hari ada saja tingkah laku orang arogan ini yang terekam kamera, mulai dari nyerempet, memaki, memukul sampai mengeluarkan senjata. Lucunya, begitu terciduk mereka bisa berubah drastis sikapnya. Apakah waktu emosi tidak dipikirkan dampak yang mungkin terjadi? Apa tidak malu kalau jadi viral dan ditonton orang banyak? Ya, kembali lagi pada sikap, tingkah laku, dan keputusan masing-masing. Apapun yang kita lakukan itu akan selalu ada konsekuensinya baik ringan maupun berat. Bermula dari rasa arogansi, atau pride yang tidak terkendali, sesuatu yang buruk bisa terjadi. Alkitab bahkan mengatakan sikap itu mendahului kehancuran dan kejatuhan.

Kalau bukan soal pengemudi arogan, ada banyak pula selebritas yang sikapnya berubah jadi arogan saat mulai mencapai ketenaran. Tidaklah heran kalau kita sudah begitu seringnya melihat contoh dari mereka yang karirnya naik bak komet, tapi belum lama diatas sudah terjun bebas lagi dengan lebih cepat. Karir mereka akan menjadi sangat singkat, padahal banyak dari mereka sebenarnya punya potensi besar untuk sukses dalam rentang waktu yang panjang. Lagi-lagi, they should listen to what the Bible said, sikap seperti itu mendahului kehancuran dan kejatuhan.

Lihatlah apa yang tertulis di dalam kitab Amsal berikut ini:  "Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan." (Amsal 16:18).

Apakah teman-teman masih mengenal kata congkak? Kata ini semakin jarang kita dengar. Kalau mengacu pada kamus, congkak adalah sebuah sikap yang merasa dan bertindak dengan memperlihatkan diri sangat mulia (pandai, kaya dan seterusnya). Adakah perbedaan congkak, tinggi hati dengan arogansi dan sombong? Kalaupun ada, bedanya tipis sekali. Tapi satu hal yang pasti, baik congkak, tinggi hati, arogan maupun sombong sama-sama mendahului kehancuran dan kejatuhan. menuju kehancuran.

Kita sudah diingatkan sejak lama untuk menjaga sikap jauh dari sikap congkak dan tinggi hati. Ayat Amsal 16:18 di atas dalam bahasa Inggrisnya berbunyi: "Pride goes before destruction, and a haughty spirit before a fall." Sudah sangat banyak orang sukses lalu jatuh sebagai bukti dari kebenaran Firman ini. Mereka mengalami akhir karir jauh lebih cepat dari yang sebenarnya bisa mereka capai. Belum lagi kalau bicara betapa ruginya menjadi orang yang tidak disukai atau dibenci oleh orang lain. Sebab, siapa yang suka berteman dengan orang bertipe congkak, tinggi hati atau arogan dan sombong? Kalau sudah begitu, bagaimana kita bisa menjadi berkat buat banyak orang?



Pertanyaan berikutnya adalah, apakah ada sesuatu yang pantas kita jadikan dasar untuk bersikap congkak? Apakah kita punya alasan untuk menyombongkan diri dengan apa yang kita miliki hari ini? Yang sering terjadi adalah: ketika semua orang berharap dilimpahi berkat, banyak yang lupa mempersiapkan diri dan hatinya agar bisa menyikapi datangnya berkat dengan benar. Ironis sekali kalau melihat ada begitu banyak orang yang berubah menjadi sombong ketika mereka diberkati. Saat keberhasilan, kesuksesan, ketenaran atau popularitas hadir, saat itu pula banyak orang langsung terjebak pada dosa kecongkakan dan sikap-sikap sejenis. Dan Tuhan jelas-jelas tidak menyukai sikap ini.

Mengapa?

(bersambung)

Friday, October 7, 2022

Korah (3)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)


Korah dan orang-orangnya akhirnya binasa, turun hidup-hidup ke dunia orang mati. Hukuman Tuhan jatuh atas orang-orang sombong yang melupakan hakekat dirinya lalu berani melawan Tuhan. Ayat ini berkata dengan tegas agar hendaknya kita menjadikannya peringatan, jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang sama dalam hidup kita hari ini.

Percaya diri itu baik. Mengetahui potensi dan kemampuan pun tentu baik. Menghargai diri sendiri itu juga baik. Tidak salah juga kalau kita bersyukur atas kesuksesan yang kita raih sebagai buah dari kerja keras kita. Tapi jika itu kita nikmati secara berlebihan, kita bisa terjatuh kepada berbagai dosa yang akan membuat apa yang telah susah payah kita bangun menjadi luluh lantak dalam sekejap mata.

Ketika kita sudah berhasil, hal terbaik yang harus kita lakukan adalah mengeluarkan ucapan syukur. Bersyukurlah kepada Tuhan yang telah memberikan itu semua. Bersyukurlah atas segala karunia, bahwa kita diberi kesehatan dan kekuatan, diberikan nalar, pikiran dan akal budi, diberikan kemampuan, ketekunan dan kesabaran hingga kita bisa mencapai keberhasilan itu. Dan jangan berhenti disitu, tapi pertahankanlah kesuksesan itu dan jauhilah segala hal yang bisa menjatuhkan kita.

Dari kisah Korah hendaknya kita bisa belajar bahwa jika kita tidak hati-hati menyikapi keberhasilan, jika kita bermegah dan lupa dari mana keberhasilan kita sesungguhnya berasal, jika kita jatuh pada dosa kesombongan, kita bisa menuai kehancuran yang tentu saja tidak satupun dari kita menginginkannya.

Selalu ingat bahwa Di luar Tuhan kita bukanlah apa-apa (Yohanes 15:5). Jangan lupa diri sehingga merasa bahwa kitalah yang terhebat kemudian melupakan dan merebut kemuliaan yang menjadi hak Tuhan. Ketika kita menjadi sukses, jagalah prestasi itu dengan baik, teruslah bersikap rendah hati, berkati orang lain lebih lagi dan teruslah muliakan Tuhan. Tetap jaga garis batas yang ditetapkan Tuhan bagi kita, dan waspadalah terhadap dosa kesombongan. Ada banyak jebakan yang siap memerangkap kita dibalik setiap kesuksesan, oleh karenanya kita harus tetap waspada agar apa yang telah kita bangun tidak musnah tetapi akan terus mengarah kepada keberhasilan demi keberhasilan lainnya yang akan mengikuti setiap langkah kita.

Sikapi keberhasilan dengan bijaksana sebelum itu menghancurkan kita

Thursday, October 6, 2022

Korah (2)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Mari kita lihat kisah Korah lebih dalam. Korah sebenarnya pada mulanya merupakan seorang pemimpin yang cukup berpengaruh di masa ketika Israel keluar dari Mesir. Seperti halnya orang Lewi lainnya, Korah dipercaya untuk melakukan pekerjaan pada Kemah Suci Tuhan, bertugas bagi umat untuk melayani mereka. Dengan status seperti itu dengan sendirinya Korah mendapat kepercayaan yang lebih tinggi di banding orang Israel lainnya.

Itu adalah sebuah kehormatan yang seharusnya disyukuri dan ditanggungjawabi dengan sungguh-sungguh. Sayangnya tidaklah demikian. Korah terperosok dalam dosa pemberontakan. Ia menjadi lupa akan hakekat kepercayaan yang telah diberikan Tuhan kepadanya setelah sukses. Ia menghargai dirinya sendiri secara berlebihan dan kemudian gagal untuk mengenal batasan yang telah ditetapkan Tuhan baginya. Ia lupa kepada apa yang menjadi garis tugasnya dan menjadi angkuh.

Korah merencanakan makar, "mengajak orang-orang untuk memberontak melawan Musa, beserta dua ratus lima puluh orang Israel, pemimpin-pemimpin umat itu, yaitu orang-orang yang dipilih oleh rapat, semuanya orang-orang yang kenamaan." (Bilangan 16:1-2). Mengapa ia memberontak? Karena ia merasa dirinya hebat diatas orang lain dan haus akan jabatan. Mereka ini adalah orang-orang yang merasa iri kepada Musa. Musa sempat menegur mereka: "Belum cukupkah bagimu, bahwa kamu dipisahkan oleh Allah Israel dari umat Israel dan diperbolehkan mendekat kepada-Nya, supaya kamu melakukan pekerjaan pada Kemah Suci TUHAN dan bertugas bagi umat itu untuk melayani mereka, dan bahwa engkau diperbolehkan mendekat bersama-sama dengan semua saudaramu bani Lewi? Dan sekarang mau pula kamu menuntut pangkat imam lagi?" (ay 9-10). Kesombongan Korah dan pengikut-pengikutnya membuat mereka lupa bahwa yang mereka lawan sebenarnya bukanlah Musa dan Harun saja melainkan Tuhan yang telah menggariskan langsung seperti apa mereka harus berjalan.

Lantas Musa mengajak bangsa Israel untuk melihat siapa yang benar. "Sesudah itu berkatalah Musa: "Dari hal inilah kamu akan tahu, bahwa aku diutus TUHAN untuk melakukan segala perbuatan ini, dan hal itu bukanlah dari hatiku sendiri: jika orang-orang ini nanti mati seperti matinya setiap manusia, dan mereka mengalami yang dialami setiap manusia, maka aku tidak diutus TUHAN. Tetapi, jika TUHAN akan menjadikan sesuatu yang belum pernah terjadi, dan tanah mengangakan mulutnya dan menelan mereka beserta segala kepunyaan mereka, sehingga mereka hidup-hidup turun ke dunia orang mati, maka kamu akan tahu, bahwa orang-orang ini telah menista TUHAN." (ay 28-30).

Dan yang terjadi selanjutnya sangat mengerikan. Murka Tuhan turun atas mereka dan kebinasaan pun menimpa mereka. "Baru saja ia selesai mengucapkan segala perkataan itu, maka terbelahlah tanah yang di bawah mereka, dan bumi membuka mulutnya dan menelan mereka dengan seisi rumahnya dan dengan semua orang yang ada pada Korah dan dengan segala harta milik mereka. Demikianlah mereka dengan semua orang yang ada pada mereka turun hidup-hidup ke dunia orang mati; dan bumi menutupi mereka, sehingga mereka binasa dari tengah-tengah jemaah itu." (ay 31-33). Hal ini kemudian disinggung kembali pada bagian lain. "tetapi bumi membuka mulutnya dan menelan mereka bersama-sama dengan Korah, ketika kumpulan itu mati, ketika kedua ratus lima puluh orang itu dimakan api, sehingga mereka menjadi peringatan." (Bilangan 26:10).

(bersambung)

Wednesday, October 5, 2022

Korah (1)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 Ayat bacaan: Bilangan 26:10
==========================
"tetapi bumi membuka mulutnya dan menelan mereka bersama-sama dengan Korah, ketika kumpulan itu mati, ketika kedua ratus lima puluh orang itu dimakan api, sehingga mereka menjadi peringatan."


Bagaimana kita memandang sebuah jabatan yang dipercayakan pada kita? Bagi saya, sebuah jabatan, mau besar atau kecil, mau terpandang atau tidak, tetaplah sebuah amanah yang dipercayakan pada kita, yang harus saya pegang dengan penuh dedikasi, tanggung jawab dan dikerjakan sebaik yang saya bisa. Saya tidak pernah mau membeda-bedakan keseriusan saya dengan besar kecilnya sebuah pekerjaan. Apakah itu dipercayakan oleh sebuah perusahaan, organisasi atau komunitas, atau tugas yang dipercayakan oleh Tuhan, saya akan memegangnya dengan sungguh-sungguh. Ada orang yang melihat sebuah jabatan hanya semata sebagai batu loncatan demi kepentingan pribadi. Ada yang membedakan performa tergantung besar kecilnya jabatan atau besarnya upah/gaji. Ada juga yang menjadi lupa diri saat mendapatkan sebuah jabatan, sehingga keberhasilan bukannya mendatangkan kebaikan tapi malah menjadi awal dari kehancuran.

Seperti dalam renungan sebelumnya, perumpamaan tentang talenta dalam Matius 25:14-30 dan juga Lukas 19:12-27 akan selalu menjadi pegangan saya untuk melihat bagaimana Tuhan memandang sebuah kesetiaan, keseriusan dan tanggung jawab dalam menerima sebuah amanah. Jika kita sudah bisa membuktikan kesetiaan terhadap perkara kecil, Tuhan akan buka perkara besar bagi kita. Itu bukan kita yang memaksakannya, tapi harus berasal dari Tuhan. Apa yang harus kita lakukan adalah mengerjakan perkara sekecil apapun dengan integritas dan keseriusan sepenuhnya. Menjaga agar setiap jabatan, profesi, tugas, pekerjaan yang sedang dipercayakan pada kita akan membawa kemanfaatan bagi orang lain, dan menjaga agar jangan sampai kita lupa diri sehingga kesombongan, iri hati, sirik dan perasaan-perasaan lainnya menjadi awal dari kerusakan diri kita.

Dalam kehidupan kita, seringkali kita bisa terpeleset, lupa terhadap peringatan Tuhan lewat sikap-sikap kita dan jatuh dalam dosa. Dan ini biasanya terjadi bukan di saat kita sedang dalam keadaan sulit atau biasa-biasa saja, tapi justru ketika kita sedang menikmati kesuksesan atau keberhasilan kita. Tidak jarang kita melihat banyak tokoh yang berusaha keras selama bertahun-tahun untuk sukses, tetapi kemudian hancur dalam sekejap mata akibat tersandung atau terpeleset masalah. Tidak jarang pula, konsekuensi yang harus ditanggung bisa berdampak lama, sulit untuk dibangun kembali atau bahkan menjadi akhir perjalanan karir atau hidup mereka. Papan peringatan sebenarnya sudah ada, semua peringatan, ketetapan, pesan, dan prinsip-prinsip kebenaran Firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab. Tapi masalahnya, berapa banyak orang yang mau mengindahkan? Kalau kita hidup jauh dari Tuhan, mengabaikan FirmanNya dan ikut hanyut dalam kerusakan moral dunia, kita hanya tinggal menunggu waktu untuk jatuh.

Sebuah pesan penting dari Paulus yang berbunyi: "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (1 Korintus 10:12). Mempertahankan adalah jauh lebih berat ketimbang membangun sesuatu. Ada banyak faktor di dalam sebuah keberhasilan yang bisa membuat kita lupa diri, sesuatu yang mungkin tidak terjadi ketika kita sedang merintis atau membangun keberhasilan kita. Ada banyak orang yang tergelincir jatuh bukan ketika mereka berjuang, tapi justru ketika kesuksesan telah berhasil mereka raih. Maka tidaklah heran jika ketika kita sudah sukses, perjuangan bukan menjadi lebih mudah tapi malah akan menjadi jauh lebih berat lagi.

(bersambung)

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Stats

eXTReMe Tracker