Wednesday, February 21, 2024

Karakteristik Kasih (5)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Hari valentine yang diperingati sebagai hari kasih sayang akan diperingati atau dirayakan dengan berbagai cara. Ada yang memperingati dengan memberi bunga atau coklat, ada yang mencari suasana ke cafe atau restoran, tukar menukar kado, kartu ucapan, dan lain-lain. Semua itu tidak salah, tapi alangkah baiknya apabila dipakai sebagai sebuah hari yang bukan saja khusus untuk kekasih atau orang-orang terdekat saja, tetapi jadikanlah sebagai titik tolak bagi kita untuk membagi kasih kepada sesama manusia, tanpa terkecuali.

Kasih dalam kekristenan sesungguhnya adalah kasih yang bersifat universal dan punya daya jangkau luas, bukan kasih yang pilih-pilih seperti sikap orang-orang yang mengadopsi pola pikir dunia, apalagi mengaku punya kasih tapi terus menyebar kebencian. Sekali lagi, kasih adalah esensi dasar kekristenan. Semakin jauh kita mengenal Kristus, seharusnya semakin besar kasih yang ada dalam diri kita. Jika yang terjadi sebaliknya, itu berarti ada yang salah dalam prosesnya.

Standar kasih dalam kekristenan itu luas, bukan cuma harus menyentuh orang-orang yang dekat dan baik pada kita, tapi justru harus mampu menjangkau orang di luar sana, bahkan terhadap mereka yang membenci dan menyakiti kita. Adalah baik jika anda merayakan momen kasih sayang setiap tahun ini dengan suasana romantis bersama orang yang anda cintai, bersama keluarga dan sahabat, tapi alangkah baiknya apabila momen ini dipakai untuk memeriksa kasih dalam hati kita dan mengambil komitmen untuk menyalurkannya kepada sesama kita. Bagi yang sudah melakukannya, teruskanlah menjadi saluran berkat dan sukacita, dan bagi yang belum, mulailah dari sekarang. Enjoy the month of love, keep having it in your heart throughout the years, and let others feel God's love through us.

Semakin jauh kita mengenal Tuhan, semakin besar pula harusnya kasih dalam diri kita. Love others the way God loves you

Tuesday, February 20, 2024

Karakteristik Kasih (4)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Lebih lanjut perikop ini memberi sebuah pernyataan yang sangat jelas, yaitu bahwa pada suatu saat nanti  "... nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap." Itu semua akan habis pada satu ketika. Akan tetapi "kasih tidak berkesudahan." (ay 8). Tidak akan pernah ada saat dimana orang tidak lagi membutuhkan kasih. Tidak perlu lagi saling mengasihi, tidak lagi merasakan kebutuhan akan kasih. Baik di dunia maupun nanti dalam kehidupan selanjutnya yang kekal, kasih akan tetap ada. It will still be existed.

Tuhan sendiri tidak akan pernah berhenti mengasihi kita dan akan terus mengharapkan kita mengasihiNya serta menjalani hidup yang digerakkan oleh kasih. Itulah keinginan Tuhan.

Begitu pentingnya kasih, sehingga diantara tiga penting untuk tetap kita lakukan, yakni iman, pengharapan dan kasih, dengan jelas disebutkan bahwa yang terpenting atau terbesar diantara itu semua adalah kasih. (ay 13). Mengasihi Tuhan dan mengasihi orang lain seperti halnya Tuhan mengasihi kita, itu adalah bentuk kesadaran kita akan betapa besarnya kasih itu sebagai wujud pribadi dari Tuhan sendiri.

Kalau biasanya kita paling jauh hanya sampai pada merasa kasihan, ini saatnya untuk mulai bergerak melakukan tindakan nyata sebagai bentuk kepedulian kita dengan didasari kasih yang tulus dan murni. Ada begitu banyak orang yang menjadi tawar karena tidak lagi merasakan kasih dalam hidupnya, dan mereka ini ada di sekitar anda dan saya.

Kalau kita ternyata masih mudah dihinggapi kebencian, ini saatnya kita mengisi diri lebih lagi dengan kasih. Jika anda menganggap bahwa kasih Tuhan nyata dalam hidup anda, jika anda tahu betapa indah rasanya dikasihi dan mengasihi, sekarang saatnya untuk membagikan sukacita yang sama pada mereka yang membutuhkan. Akan sangat sulit untuk melakukan seperti ini kalau orang-orang terdekat kita saja belum merasakan hangatnya kasih dan perhatian kita.

(bersambung)

Monday, February 19, 2024

Karakteristik Kasih (3)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Penjabaran kasih lewat Paulus ini sungguh menarik karena diberikan dengan sangat detail. Dari ayat-ayat diatas kita bisa melihat bahwa standar kasih dalam kekristenan haruslah memiliki ciri atau karakteristik berikut ini:

- sabar
- murah hati
- tidak cemburu
- tidak memegahkan diri
- tidak sombong
- tidak melakukan yang tidak sopan
- tidak mencari keuntungan sendiri
- tidak berisi kemarahan
- tidak menyimpan kesalahan orang alias mendendam
- menentang ketidakadilan
- menyukai kebenaran
- menguatkan/memberi daya tahan untuk menghadapi segala sesuatu
- memampukan untuk melihat sisi-sisi terbaik pada setiap orang
- membuat kita terus hidup dalam pengharapan, dan
- membuat kita tabah dalam menanggung segala sesuatu

Dari rincian di atas kita bisa mendapatkan bahwa bentuk kasih yang menjadi inti atau dasar dalam kekristenan sesungguhnya memiliki sebuah standar yang sangat tinggi. Di dalamnya jelas terdapat mendahulukan kepentingan orang lain, jujur, setia, sabar, rendah hati, memberi kekuatan dan kesabaran ketika berhadapan dengan orang-orang yang menyusahkan kita dan membuat kita tidak terjebak pada emosi, bahkan hingga kerelaan untuk berkorban.

Standar tinggi ini tentu saja sangat baik apabila diaplikasikan kepada pasangan kita, antara suami-istri, terhadap anak-anak atau keluarga dan sahabat. Tapi kasih seperti ini seharusnya memiliki daya jangkau yang lebih luas lagi, menyentuh orang-orang diluar sana, yang belum kita kenal bahkan yang sulit dijangkau sekalipun. Kasih seperti inilah yang akan mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik, sebentuk kasih Surgawi yang sudah dipraktekkan oleh Allah sendiri lewat Kristus, kasih yang sudah mendatangkan keselamatan bagi kita dan mendamaikan hubungan antara Sang Pencipta dan yang diciptakan yang tadinya terputus akibat dosa.

(bersambung)

Sunday, February 18, 2024

Karakteristik Kasih (2)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Apakah benar manusia bisa tidak butuh kasih? Apakah kasih itu hanya sesuatu yang wujudnya semu dan tidak nyata, atau malah omong kosong? Bagi mereka yang mengalami kepahitan tentang kasih, mungkin jawabannya ya. Tapi siapapun itu, apapun kata mereka, saya yakin, jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka pun sama seperti anda dan saya, butuh dicintai dan ingin bisa mencintai.

Selanjutnya, seperti apa kasih itu? Apakah kasih itu ada wujudnya atau hanya semu sifatnya? Jika ada wujudnya, adakah ciri-ciri atau karakteristiknya, dan jika ada, apa saja?

Akan hal ini, alangkah baiknya jika kita mengacu kepada Alkitab. Inti sari Kekristenan adalah kasih. Karenanya, Alkitab tentu saja seharusnya berbicara banyak soal kasih. Dan memang seperti itulah adanya.

Saya selalu tertarik pada sebuah perikop dalam 1 Korintus yang diberi judul to the point atau langsung menuju tepat pada sasaran yaitu 'Kasih', dan itu tertulis dalam pasal 13. Pasal 13 ini berbicara panjang lebar mengenai kasih, bukan  hanya sebatas dicintai oleh orang lain, tetapi lebih jauh berbicara mengenai bentuk kasih yang universal, yang punya daya jangkau luas bahkan menjelaskan seperti apa standar kasih menurut Kerajaan Allah, yang seharusnya dihidupi oleh orang percaya.

Seperti apa standarnya? Mari kita lihat sebagian ayatnya.

"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran." (1 Korintus 13:4-6). Lebih jauh lagi, orang yang memiliki kasih akan tahan menghadapi segala sesuatu, dan mau melihat sisi baik dari setiap orang, tidak pernah kehilangan harapan dan sabar. "Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (ay 7).


Penjabaran kasih lewat Paulus ini sungguh menarik karena diberikan dengan sangat detail. Dari ayat-ayat diatas kita bisa melihat bahwa standar kasih dalam kekristenan haruslah memiliki ciri atau karakteristik berikut ini:


(bersambung)

Saturday, February 17, 2024

Karakteristik Kasih (1)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 Ayat bacaan: 1 Korintus 13:13
======================
"Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih."


Seorang teman bercerita bahwa ada seorang sahabat dalam kelompok pertemanannya yang tidak lagi mereka ajak ngumpul, dan alasannya karena bucin. "Males aja, setiap kali pacarnya nge-whatsapp, dia langsung meninggalkan kita semua tanpa peduli apapun. Terkadang kita sedang ngobrol asyik, dia bisa pergi begitu saja tanpa permisi. Jadi males untuk ngajak dia ngumpul dan main lagi." katanya sambil tersenyum. Bucin? Pasti semua pada tahu kan artinya?

Di jaman sekarang atau jaman yang disebut jaman now, ada banyak istilah-istilah baru yang biasanya merupakan singkatan, dimana istilah-istilah ini sangat familiar terutama di kalangan anak muda. Salah satunya adalah bucin, yang merupakan singkatan dari budak cinta. Istilah ini mengacu pada sosok yang melulu mendahulukan pasangannya dalam situasi dan kondisi apapun. Terlepas dari definisi atau pengertian yang lahir dari candaan di masyarakat akan orang yang melulu mendasari prioritas hidupnya atas pasangannya, istilah ini bagi saya sedikit banyak menunjukkan tingginya kebutuhan manusia akan cinta atau kasih, baik dicintai maupun mencintai, mengasihi dan dikasihi.

Baru saja kita melewati Valentine's Day. Sebagian mau merayakan, sebagian lagi tidak. Mungkin mudah bagi yang sudah punya pasangan dan sedang dalam keadaan hubungan yang baik untuk merayakan, tapi bisa jadi sulit bagi yang belum punya pasangan, atau sedang berada dalam turbulensi hubungan. Tapi ingatlah, seperti yang saya bahas dalam renungan sebelumnya, bahwa diatas bentuk kasih antar manusia, kita jangan pernah lupa dan bersyukur akan kasih Allah yang sangat besar, sebegitu besar hingga Dia rela mengorbankan Kristus demi menebus dosa-dosa kita. Sebuah karya penebusan sebesar ini didasari oleh satu hal, yaitu kasih.

Dunia yang kita hidupi hari ini adalah dunia yang terus semakin dipenuhi kebencian. Kalau kita dekat dengan Tuhan seharusnya kita tidak kesulitan mengakses kasih sehingga tidak ada tempat bagi kebencian dalam hati kita. Kalau ternyata kita masih diliputi kebencian dan kepahitan, itu artinya kita harus memeriksa kembali keberadaan kasih Tuhan dalam diri kita. Bagi saya, hari kasih sayang pun bisa dijadikan momen untuk itu. Saya merayakan juga bersama istri dan anak, mengucapkan kepada keluarga dan teman-teman, hanya saja saya tidak mau membatasi dan memandang hari kasih sayang secara sempit hanya mengenai orang yang pacaran atau saling cinta saja. Saya lebih suka melihatnya sebagai saat yang baik untuk melihat kasih secara universal, terhadap Tuhan dan sesama kita, serta memeriksa seberapa besar kasih masih menguasai hati kita.

(bersambung)

Friday, February 16, 2024

Mengingat Kasih Allah di Hari Kasih Sayang (5)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Adakah yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah? Kalau kita menyadari hakekat kita sebagai orang-orang yang lebih dari pemenang, kita seharusnya sadar pula bahwa kasih Allah yang begitu besar itu melekat pada diri kita sedemikian rupa sehingga tak ada apapun yang bisa memisahkan. Itu tertulis dalam Roma 8. "Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." (Roma 8:38-39).

Kita ingin kasih seperti ini melimpah dan bisa kita alirkan pula kepada sesama, terlebih pada mereka yang saat ini tengah kesepian, menderita dan merindukan bentuk kasih seperti itu. Tidaklah salah merayakan Hari Kasih Sayang alias Valentine bersama kekasih atau pasangan anda dengan suasana romantis. Ini bisa menjadi momen yang baik untuk menghangatkan kembali hubungan yang mungkin mulai dingin atau memperkuat hubungan yang masih terekat dengan baik. Orang-orang terdekat seperti orang tua, kakek, nenek, saudara maupun sahabat-sahabat terdekat juga bisa menjadi orang yang mendapatkan pernyataan kasih secara khusus di hari ini. Tapi jangan lupa pula bahwa ada banyak orang di luar sana yang merindukan bagaimana indahnya dipedulikan dan dikasihi. Bagilah kasih bersama mereka juga. Dan tentu saja, jangan pernah lupakan the greatest love of all, bentuk kasih sejati dari Tuhan yang berlaku buat semua umat manusia sepanjang masa. It's good to celebrate it with the one you love, but it's more important to thank God for how great His love is to us all during this very special day.

Feel the love inside you, never let it go, and flow it out to reach others. Betapa indahnya apabila itu terjadi lewat orang percaya, dan perayaaan tahun ini bisa dijadikan momentum untuk itu. Happy Valentine everyone, God loves you!

Feel his Love and let others feel it too through us

Thursday, February 15, 2024

Mengingat Kasih Allah di Hari Kasih Sayang (4)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Rangkaian ayat dalam 2 Korintus 5:17-21 menyatakan lebih lanjut bentuk kasih yang luar biasa besar dan sejati. Yesus menyatakan kasihNya bukan saja saat Dia berkeliling menyampaikan suara hati Bapa dan melakukan begitu banyak mukjizat, tapi terlebih saat Dia harus melalui proses yang begitu menyiksa hingga Dia mati di kayu salib, untuk kita, untuk setiap anda dan saya. Yesus mendamaikan hubungan antara kita dengan Allah Bapa yang terputus akibat dosa. In Christ, we are a new creation. The old moral and spiritual condition has passed away. Behold, and be happy, the fresh and new has come. Ini adalah anugerah luar biasa besar yang dimungkinkan oleh kasih Tuhan kepada kita.

Selanjutnya, jika anda baca Roma pasal 5, anda akan kembali menemukan pesan ini. "Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar--tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati--. Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." (Roma 5:6-8).

Kenapa Yesus melakukan hal itu atas kita? Yesus melakukan itu semua bukan karena kita orang baik, karena kita luar biasa, karena kita sangat hebat dan lain-lain. Bukan pula karena Yesus berhutang budi pada kita, karena kebesaran kita, dan sebagainya. Sesungguhnya Yesus mati untuk kita disaat kita masih berdosa. Dia datang untuk kita orang berdosa dan mengorbankan diriNya demi keselamatan kita, atas dasar kasih Allah yang begitu besar kepada kita.

Sekali lagi, pada ayat 8 menyatakan dengan jelas bahwa "Allah menyatakan kasih-Nya kepada kita ketika Kristus mati untuk kita pada waktu kita masih orang berdosa." (BIS) Dalam bahasa Inggris amplifiednya dikatakan "But God shows and clearly proves His [own] love for us by the fact that while we were still sinners, Christ (the Messiah, the Anointed One) died for us." A love so true, so genuine, bentuk kasih yang kita rindukan untuk memenuhi diri kita selamanya.

(bersambung)

Wednesday, February 14, 2024

Mengingat Kasih Allah di Hari Kasih Sayang (3)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Perhatikan bahwa yang menggerakkan Tuhan untuk mengorbankan Kristus tidak lain dan tidak bukan adalah kasih. But God SHOWS and CLEARLY PROVES His own love for us is through the fact that He let Christ died for us while we were still sinners. To me, that's a wow. There can be no greater love than this. Di saat kita masih berselubung dosa dan berpotensi menuju maut, kasih Tuhan yang sebegitu besar membuatNya rela memberikan Kristus menggantikan kita, mengalami siksaan hingga mati di kayu salib. All for us, based on His love. Sekali lagi, tidak ada kasih yang lebih besar daripada itu.


Kalau kita sanggup berkorban bahkan nyawa sekalipun demi orang yang kita sayangi, itu akan menunjukkan betapa besarnya kasih kita kepadanya. That shows, and clearly proves how much we love the person.

Berapa sering dan berapa banyak dari kita yang tetap mengingat besarnya kasih Tuhan pada kita lewat pengorbanan Kristus? That's the question.

Pada kenyataannya, masih banyak dari kita yang lupa akan hal itu. Kalau bukan masih terus melakukan pelanggaran dari ketetapan Tuhan, banyak pula yang hingga hari ini masih terbelenggu oleh berbagai penyesalan akan perbuatan-perbuatan di masa lalu tanpa kunjung lepas daripadanya. Kita tidak bisa menghapus ingatan itu, kita tidak bisa mundur ke masa lalu dan merubahnya. Ya, kita tidak bisa melakukan itu. Tapi ketahuilah ini: Tuhan sudah mengatakan bahwa dalam Kristus kita mendapatkan kesempatan untuk menjadi ciptaan baru. Berbalik dari segala luka dan penderitaan di masa lalu untuk menjadi umatNya yang indah.

Lihatlah ayat berikut ini. "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah." (2 Korintus 5:17-21).

(bersambung)

Tuesday, February 13, 2024

Mengingat Kasih Allah di Hari Kasih Sayang (2)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)


Bagi yang merayakan, terutama anak-anak muda, merayakan dengan memberi sesuatu kepada kekasihnya seperti yang paling umum coklat dan bunga mawar, candlelight dinner dan sebagainya tentu boleh-boleh saja. That's sweet. Suasana di pusat-pusat keramaian seperti mall, cafe dan resto pun akan membuat pengunjung dimanjakan dengan suasana romantis bernuansa pink, itupun menambah nuansa kasih dalam hari spesial. Mempergunakan satu hari secara khusus untuk mengingat, merenungkan dan menyatakan kasih baik kepada pasangan, anak, orang tua, teman atau keluarga tentu penting. Tapi ada satu hal yang buat saya lebih penting, yaitu merenungkan apa sebenarnya hikmah yang bisa kita ambil dari hari Valentine ini.


Termasuk bagi mereka yang hari ini sendirian, kesepian atau mungkin sedang terluka, di hari Valentine ini saya ingin mengingatkan bahwa ada Pribadi yang peduli, yang selalu ada bersama anda dan sangat mengasihi anda, yaitu Yesus. Yesus selalu ingin memberikan kasihNya kepada anda setiap saat, bukan sementara. Dia tidak akan mengecewakan anda, meninggalkan anda, menyakiti anda. Tidak. Dia tidak akan membenci anda. Dia bahkan sudah memberikan nyawaNya sendiri untuk semua manusia agar bisa ditebus dari dosa, dipulihkan hubungan dengan Bapa dan dilayakkan untuk menerima kehidupan yang kekal. He has done that many years ago. He loves us, He is Love. And folks, I think that's even more important to remember, and to celebrate in the Day of Love.

Mari kita lihat ayat berikut ini. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16).


Dalam versi English Amplified, dikatakan: "But God shows and clearly proves His [own] love for us by the fact that while we were still sinners, Christ (the Messiah, the Anointed One) died for us."

Perhatikan bahwa ....

(bersambung)

Monday, February 12, 2024

Mengingat Kasih Allah di Hari Kasih Sayang (1)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 Ayat bacaan: Roma 5:8
=============
"But God shows and clearly proves His [own] love for us by the fact that while we were still sinners, Christ (the Messiah, the Anointed One) died for us." (English AMP)


Valentine's Day, Hari Valentine alias Hari Kasih Sayang akan tiba sebentar lagi. Sebagian merayakannya, sebagian lagi tidak. Pro dan kontra, itu biasa. Saya tidak mau mempermasalahkan hal itu. Adalah hak setiap orang untuk memilih dan menentukan apa yang mereka anggap baik.

Buat saya, hari Valentine merupakan hari istimewa. Mengapa? Karena, meski saya terus berusaha untuk mengingat dan menyatakan kasih terutama kepada orang-orang terdekat saya setiap saat, saya merasa bahwa sebuah hari yang secara khusus diperingati sebagai hari kasih sayang tetap saya butuhkan. Sebuah hari dimana saya secara khusus bersyukur akan kehadiran orang-orang terdekat yang saya kasihi, orang-orang yang membuat saya bisa kuat, tegar, dan merasa dikasihi, orang-orang yang membuat saya menjadi siapa saya hari ini. Sebuah hari yang saya dedikasikan untuk mereka, memastikan mereka tahu bahwa saya mencintai mereka dengan sepenuh hati dan berterima kasih atas keberadaan mereka dalam hidup saya.

Saya rasa Tuhan tahu sepenting apa menyatakan kasih itu bagi saya, karena Tuhan ternyata memilih hari Valentine pula secara spesifik untuk memberikan seorang putri. Seorang anak, yang sudah lebih 10 tahun kami nantikan, akhirnya lahir 5 tahun lalu. Dan Tuhan menghadirkannya ke dunia tepat subuh di hari Valentine.

Bagi saya pribadi, itu adalah sebuah pernyataan kasih Tuhan kepada kami secara nyata. Dan saya tidak akan pernah berhenti bersyukur akan hal ini. Anak yang saat ini menginjak usia 5 tahun dengan pertumbuhan fisik dan intelegensia yang amat sangat baik, juga dalam hal rohani. Sejak usia 3 tahun ia sudah pintar memimpin doa, dan iman dalam kepolosannya sangat menginspirasi saya secara pribadi, dimana ia kerap mampu memberi kekuatan, dan mengingatkan di saat-saat saya merasa letih dalam deraan kesulitan. She was born on Valentine's Day. The day of love.

(bersambung)

Sunday, February 11, 2024

Sekuens (8)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)


Have you found the right path? Have you known your calling? Are you walking on the right sequence at this moment? Are you moving towards where He destined you to go? Perbaiki segera sekiranya sekuens anda saat ini berisi pengambilan keputusan yang keliru dan kembalilah segera sesuai jalan yang benar. Pekalah terhadap suara Tuhan, hindari segala hal yang bisa membuat anda sulit mendengar suaraNya seperti ketakutan, rasa panik, ragu  dan berbagai hal yang masih belum dibereskan, dan isilah setiap sekuens dengan langkah yang benar.

Seperti ilustrasi dari kisah nyata di awal tentang pemilik sekolah dimana anak saya tengah menimba ilmu, berdoalah dan minta petunjuk Tuhan. Isilah doa-doa kita bukan dengan daftar permintaan akan kemudahan dalam hidup tapi meminta Tuhan menunjukkan kemana kita harus melangkah, jalan mana yang harus kita ambil, agar bukan kehendak kita, tapi kehendakNya lah yang terjadi. KehendakNya dimana segala sesuatu itu indah.

Meski keterbatasan kita membuat kita sulit untuk mengetahui rencana Tuhan secara utuh dari awal hingga akhir, tapi itu bukan berarti bahwa Tuhan ingin main rahasia-rahasiaan dengan kita, menyembunyikan atau bahkan mempersulit kita untuk tahu. No. Dia ingin kita tahu rencanaNya, selangkah demi selangkah. Adding up and finishing each piece until we get the full grand picture. Dan untuk itu, Tuhan siap menyertai kita di setiap langkah. Jika kita menuruti jejakNya, jika Tuhan yang menuntun, sesulit apapun setiap fragmen hidup ini, kita tidak akan goyah dalam melewatinya.

Mumpung masih di awal tahun, mari kita pastikan kita melangkah di jalur yang benar bersama Tuhan. Make sure to make the right decision in every sequence, because it will affect the next one all the way to the finish line.

Isi setiap sekuens kehidupan anda dengan benar agar bisa mencapai akhir sesuai rencana Tuhan

Saturday, February 10, 2024

Sekuens (7)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Kalau kemarin saya sudah menyampaikan bahwa mengetahui bunyi Firman-firman Tuhan di dalam Alkitab sangat penting, adalah penting juga bagi kita untuk memastikan bahwa pikiran dan perasaan (mind and heart) kita harus selaras berjalan dalam koridornya Tuhan. Peringatan akan pentingnya hal ini sudah disebutkan dalam Filipi 2:5 yang bunyinya: "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus". Seperti yang saya sampaikan dalam beberapa renungan terdahulu, ada hubungan antara pikiran dan perasaan dimana kondisi salah satu atau keduanya bisa sangat menentukan perjalanan pertumbuhan keimanan kita. Tidak menjaga salah satu atau keduanya, atau ketika keduanya tidak selaras dalam ketetapan Tuhan, kita pun bisa mengambil langkah yang salah dalam setiap sekuens. Karena itu pikiran dan perasaan harus sejalan, dan menuju kepada kebenaran. Selaraskan dengan Yesus Kristus, lantas pelihara dengan memiliki damai sejahtera Allah (bacalah Filipi 4:7).

Sekarang, bagaimana jika kita sudah terlanjur mengambil langkah yang keliru? Kerugian baik kecil maupun besar akan menjadi bagian kita, itu pasti. Tapi kabar baiknya, Tuhan masih membuka kesempatan bagi kita untuk memperbaiki sebelum lebih banyak lagi sekuens yang hancur yang bisa membawa kerugian yang lebih besar. Pernah suatu kali ketika saya mengambil keputusan yang keliru dan menderita kerugian finansial cukup besar, Tuhan berkata dalam hati saya bahwa Dia adalah "The God of second chance." Artinya Tuhan memberi kesempatan dan siap memulihkan kita. Tidak lama berselang saya mengalami langsung pemulihan yang luar biasa, sehingga saya tidak harus menanggung kerugian besar akibat satu sekuens yang salah itu.

Dalam Mazmur itu disebutkan dengan jelas. "Aku sangat menanti-nantikan TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong.Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku" (Mazmur 40:1-2). Jadi ketika anda terperosok dan meminta (menantikan) pertolongan Tuhan, Tuhan bisa mengangkat kita keluar, meski dari kerugian yang tampaknya sulit untuk dilepaskan karena melengket bagai lumpur rawa, dan kemudian menempatkan kita di atas bukit batu agar kita bisa kembali mengambil langkah mantap dalam sekuens selanjutnya. Meski kita bisa mengalami kesalahan langkah dalam suatu ketika, Tuhan selalu siap membuka kesempatan bagi kita untuk berbalik dan kemudian memulihkan kita. That's how amazing and full of love He is to us. Thank God for that.

Sebuah kehidupan berjalan dalam sebuah sekuens yang bersambung, saling berhubungan dan berkaitan satu sama lain. Salah satu sekuens akan memberi pengaruh besar pada sekuens berikutnya. Jika anda menunda satu sekuens, itu artinya anda memperlambat sekuens selanjutnya untuk terjadi. Jika anda melakukan kesalahan dalam banyak sekuens, anda bisa membayangkan berapa besar kerugian yang bisa anda derita. Anggaplah setiap sekuens ini sebagai bagian dari perlombaan lari, dimana satu sekuens diisi dengan satu ayunan kaki dan tangan, maka setiap ayunan itu akan menentukan bagaimana anda mencapai garis akhir.

(bersambung)

Friday, February 9, 2024

Sekuens (6)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Sekuens selanjutnya adalah ketika Yusuf yang gagah mulai digoda oleh istri tuannya. Tapi Yusuf tidak mau tergoda. Ia memastikan sekuens ini tetap baik seperti sebelumnya, meski penolakannya berbuah hasutan yang membawanya ke penjara. Dari budak menuju penjara, ini bukanlah peningkatan. Tapi lagi-lagi Alkitab mencatat penyertaan Tuhan membuatnya berhasil. "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu. Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya. Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil." (ay 21-23).

Berada di penjara selama dua tahun lalu menjadi bagian dari sejarah hidupnya. Singkat cerita, Yusuf kemudian berhasil mengartikan mimpi Firaun dan mendapat lompatan tinggi. Dari budak, tawanan ia tiba-tiba menjadi orang yang berkuasa atas seluruh tanah mesir (ay 40-41). Kita bisa melihat bagaimana sekuens demi sekuens yang diambil Yusuf selalu berada dalam ketetapan Tuhan. Dia tidak menyimpang sedikitpun dalam pengambilan keputusan, oleh karena itu ia bisa menggenapi visi yang telah ditanam Tuhan sejak semula. Seandainya Yusuf salah dalam melangkah, tentu kisahnya berakhir berbeda. Tapi kita bisa melihat bahwa berjalan seturut kehendak Allah dengan memperhatikan segala petunjuk, arahan maupun ketetapanNya, tidak melanggar laranganNya dan berteguh iman yang percaya kepada janji Tuhan membawa Yusuf menggenapi rencana Tuhan atasnya. Jika anda membaca kisah hidup Saul, anda akan menemukan gambaran yang sebaliknya. Both of them had sequences in their lives, the way the filled each one resulted different endings.

Maka tepatlah apabila Daud mengatakan bahwa apabila "langkahku tetap mengikuti jejak-Mu, kakiku tidak goyang." (Mazmur 17:5). If my steps held closely to God's paths, my feet wouldn't slipped. Daud juga mengingatkan bahwa "Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepadaNya." (37:23).  Jadi penting bagi kita untuk memastikan bahwa kita memiliki cara dan gaya hidup yang berkenan kepada Tuhan agar dalam setiap langkah kita dibimbing langsung oleh Tuhan.  Being directed and established by God Himself. Itulah yang akan membuat kita tidak terjatuh dalam pengambilan keputusan yang keliru agar setiap sekuens tidak terbuang sia-sia atau malah mendatangkan kerugian yang tidak sedikit bagi kita.

(bersambung)

Thursday, February 8, 2024

Sekuens (5)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Mari kita lihat ayat berikut ini

"langkahku tetap mengikuti jejak-Mu, kakiku tidak goyang." (Mazmur 17:5).

Daud ternyata menyadari dengan pasti bahwa jika ia hidup menurut petunjuk Tuhan, by following His paths, kakinya tidak akan terpeleset atau terjebak pada langkah yang salah. Jika ini yang mau kita lakukan, maka kita harus tahu betul apa saja petunjuk-petunjuk Tuhan yang disampaikan dalam banyak Firman yang tertulis di dalam Alkitab. Kalau kita malas membaca Alkitab tentu kita akan buta akan semua ketetapanNya. We have to know how things should work according to God which can lead us to amazing achievements and the salvation. Jika anda membaca renungan kemarin maka anda bisa melihat bahwa perjalanan hidup kita diisi dengan perlombaan yang diwajibkan bagi setiap orang, dan kita diingatkan Paulus untuk berlomba dengan tekun, melepaskan segala yang merintangi dan memberatkan langkah kita agar dapat mencapai garis akhir dengan baik. (Ibrani 12:1).

Jadi jika hidup adalah bagian dari sequence yang saling terkait, berhubungan, tidak terputus dimana satu langkah berpengaruh besar terhadap langkah selanjutnya, kita harus memperhatikan betul bagaimana setiap langkah diambil agar kita bisa menyelesaikan perlombaan yang diwajibkan itu dengan baik, tepat seperti yang diinginkan Tuhan atas kita.

Ada banyak contoh yang bisa kita pelajari lewat tokoh-tokoh di dalam Alkitab mengenai sekuens kehidupan ini. Ada yang berhasil mencapai garis akhir dengan baik, ada pula yang pada akhirnya binasa. Saul mengawali dengan baik tapi kemudian harus berakhir tragis karena sekuens-sekuens hidupnya tersusun dari pengambilan keputusan hidup yang salah. Untuk yang baik, salah satunya kita bisa belajar dari Yusuf.

Mari kita lihat sekuens-sekuens dari Yusuf. Kisah Yusuf diawali dengan cerita bahwa ia diperlakukan berbeda, lebih dikasihi dibanding saudara-saudaranya. (Kejaian 37:3). Ini membuat saudara-saudaranya cemburu dan ia pun mulai dipenuhi penderitaan. Karena ia menceritakan visi Allah atas hidupnya, ia kemudian hampir dibunuh. Lepas dari masalah pembunuhan, ia dilemparkan ke dalam sumur. Selamat dari sumur, ia malah dijual sebagai budak dan dibawa ke Mesir. Yusuf kemudian dibeli oleh Potifar, seorang kepala pengawal istana raja. Posisi budak, itu artinya ia bekerja tanpa digaji. Itu bukanlah posisi strategis dan bisa dibanggakan, tapi Yusuf ternyata berprestasi dan mendapat promosi untuk menjadi orang kepercayaan Potifar dan tinggal dirumah mewah tuannya itu. Dalam sekuens ini kita mulai melihat bahwa langkah Yusuf yang tidak menyimpang dari ketetapan Tuhan membawa pencapaian baik, bahkan ketika hidup sedang berada di titik bawah. Alkitab menyebutkan hal itu dengan jelas. "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya;" (Kejadian 39:2).

(bersambung)

Wednesday, February 7, 2024

Sekuens (4)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Mari lihat sebuah ilustrasi sederhana, yang awalnya membukakan mata saya akan hal sequence. Misalkan anda ingin menyeberangi sungai beraliran deras dengan melompati batu-batu yang ada disana. Sebelum anda melompat, anda tentu harus melihat dulu rangkaian batu mana yang harus anda lalui agar anda bisa sampai dengan selamat di seberang kan? Which stepping stone to step on, and keep ourselves on track until we reach the other side. Bayangkan jika anda langsung melompat tanpa memperhatikan alurnya, anda bisa meloncat di jalur yang salah dan buntu di tengah sungai deras. Anda bisa menjadi semakin jauh dari seberang dan terjebak, mungkin tidak pula bisa mundur lagi.

In order to reach the other side, we have to know which stone to step in, from one to another. Agar bisa sampai ke seberang, kita harus mengetahui terlebih dahulu rangkaian batu yang harus kita lompati, dari satu batu ke batu lainnya.

Atau bayangkan jika kita harus melewati sebuah maze atau labirin. Agar bisa mencapai jalan keluar, kita tentu harus tahu arah memilih langkah. Jika tidak, maka kita pun akan menemui jalan buntu, bahkan bisa bingung untuk kembali. Kita bisa berputar-putar tanpa akhir sampai kita gagal menemukan jalan keluar.

That's a sequence. Getting the right sequence will lead us to reach the destination, on the other hand, choosing wrong will make us fail. Selain hanya buang waktu, buang tenaga, bahkan mengalami kerugian, kita pun bisa gagal menggenapi rencanaNya.

Buat saya, sangatlah penting untuk terus melakukan kontemplasi. Adalah penting untuk melihat kembali apa saja yang sudah saya lakukan, langkah-langkah atau keputusan-keputusan yang saya ambil sampai hari ini, apa yang masih harus diperbaiki dan apa yang harus ditingkatkan. Saya sadar betul bahwa hidup ini merupakan sebuah rangkaian bersambung yang terkait satu sama lain. Satu langkah menentukan langkah berikutnya, one thing leads to another. Dan ini biasanya disebut dengan sequence atau sekuens. Itu artinya, setiap langkah akan sangat menentukan keberhasilan kita. Jika kita menjalani satu persatu dengan baik, maka peningkatan kesuksesan pun bisa kita alami. Sebaliknya satu langkah yang salah akan mempengaruhi langkah selanjutnya. Bisa dibayangkan bagaimana kesalahan pengambilan keputusan terjadi dalam beberapa langkah dari rangkaian perjalanan hidup kita. Waktu bisa terbuang sia-sia, kegagalan atau kerugian akan semakin besar dan yang lebih buruk lagi, kita bisa terjatuh kepada hal-hal yang bisa sangat merugikan masa depan atau bahkan keselamatan kita. Satu langkah yang tersendat akan menghalangi rangkaian selanjutnya sehingga memperlambat pencapaian ke depan.

Buat anda yang gemar atau setidaknya pernah bermain catur, anda tentu tahu bahwa anda harus bisa memperkirakan beberapa langkah ke depan termasuk alternatif-alternatif atau kemungkinannya. Satu langkah bidak yang salah bisa membuat anda kalah, atau jika anda mengambil jeda maka permainan pun terpaksa berhenti sampai anda melanjutkannya. Seperti itulah kira-kira gambaran dari sequence yang kita jalani dalam hidup.

Dalam hidup ini akan ada begitu banyak opsi. Life is full of choices. Ada jumlah kemungkinan yang tidak terbatas dalam setiap langkah. Jika demikian anda tentu sepakat dengan saya bahwa setiap langkah yang diambil harus benar-benar diperhatikan dengan pertimbangan matang. Jangan grusa-grusu, jangan terburu-buru dan jangan pula asal-asalan. Tapi yang paling penting adalah dengan menetapkan langkah tepat seperti rencana Tuhan dan tidak menyimpang sedikitpun dari ketetapanNya.

(bersambung)

Tuesday, February 6, 2024

Sekuens (3)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 sambungan)

Pada keesokan harinya, mereka seolah dituntun untuk sampai pada sebuah rumah besar, dimana pemiliknya belum pernah mereka kenal.

Singkat cerita, sang pemilik mewariskan rumah itu kepada mereka untuk dipakai sebagai sekolah. Sebuah sekolah yang bisa menjangkau anak manapun tanpa memandang latar belakang mereka, memberikan pendidikan dasar untuk menciptakan generasi tangguh yang akan berdampak di masa depan.

How small is the chance to experience what they did? Seberapa mungkin kita bisa mengalami apa yang mereka alami? Tapi itulah yang nyata terjadi. Dan itu masih terus mereka lakukan hingga hari ini.

Apa yang mereka alami terasa sangat memberkati dan mengispirasi saya. Saya belajar sangat banyak dari pengalaman mereka. And, it certainly feels amazing to see how God works in our real life, at present time. Menyaksikan bahwa Tuhan secara nyata bekerja dalam hidup kita, itu luar biasa.

Selanjutnya, sang istri yang menjabat sebagai kepala sekolah juga bercerita pada saya, ia tahu pasti bahwa menjadi kepala sekolah sebenarnya bukanlah panggilannya. Tapi ia harus patuh menjalankan karena jabatan ini merupakan bagian dari destinasinya, menuju panggilannya dan menuju penggenapan rencana Tuhan baginya.

Apakah ada di antara teman-teman yang pernah, atau bahkan juga saat ini tengah merasakan hal yang sama? Apa yang anda kerjakan saat ini mungkin terasa bukanlah panggilan anda, tapi anda tahu pula bahwa anda harus melakukannya sebagai bagian dari perjalanan hidup anda?

Dan bukankah di masa-masa sulit atau krisis seperti saat ini banyak pula dari kita yang kesulitan menentukan langkah mana yang harus kita ambil untuk bertahan? Jangan sampai kita salah pilih, jangan sampai kita salah jalan dalam melangkah.

Jika demikian, sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui dengan pasti kemana arah Tuhan mau kita menuju, satu demi satu langkah, step by step, hingga kita menggenapi panggilan kita, dan kemudian menggenapi rencanaNya bagi kita.

Langkah demi langkah. Inilah hal yang saya maksud sebagai sekuens atau sequence.

(bersambung)

Monday, February 5, 2024

Sekuens (2)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)

So here it is.

Every moment of life is a part of a long sequence. There will always be ups and downs, there will be turbulances, obstacles and all kinds of circumstances. But we have to go through it in order to reach what He has destined for each and everyone of us.

Walk through the path is one thing. But it is also important to know where He wants us to go, what He wants us to be. Not taking the wrong way, but walking all the way towards the right path, so we won't waste our time, and then waste our chance to reach it.

So for me, the message for this year is clear and strong. Let's find out what He plans for us in 2024. Choose the right path and complete the sequence then fulfill the grand design of what God desires for us to have exactly from the moment He breathed the breath of life into us.


Setiap momen dalam perjalanan hidup kita adalah bagian dari sebuah sekuens atau urutan panjang. Akan selalu ada saat-saat pasang surut, akan selalu ada goncangan, halangan dan berbagai situasi sulit yang mungkin tidak terelakkan. Tapi kita harus mampu melewatinya agar kita bisa mencapai apa yang sudah Dia buat/rencanakan bagi setiap kita.

Melewati, melangkah, berjalan maju adalah satu hal, tapi ingatlah bahwa sangat penting pula untuk mengetahui kemana sebenarnya Tuhan mau kita melangkah. Apa yang Tuhan ingin untuk kita lakukan, Tuhan ingin kita jadi apa. Jangan sampai kita salah melangkah dan membuang waktu, tapi memastikan agar kita melangkah dalam arah yang benar supaya kita mampu menggenapi apa yang Tuhan sudah sediakan bagi kita - segala sesuatu yang indah.

Saya akan bagikan sebuah ilustrasi akan hal ini berdasarkan kisah nyata dari pemilik sekolah dimana anak saya saat ini berada. Ia bercerita bahwa ia dan suaminya sampai di kota ini sekian tahun lalu dalam keadaan tidak punya apa-apa. Mereka hanya berjalan dan mencari dimana mereka bisa menetap, dan apa yang harus mereka kerjakan supaya bisa bertahan hidup. Suaminya bercerita bahwa di saat sulit seperti itu, ia mengambil waktu untuk berdoa, agar kiranya Tuhan mengarahkan langkah mereka sesuai yang Tuhan kehendaki. "Jadilah kehendakNya, bukan kehendak kami." katanya.

Saya merasa bahwa doa mereka ini tidak umum. Kenapa? Bukankah sebagian besar dari kita akan berdoa memohon agar kita lepas dari situasi sulit dengan instan saat kita terjepit? Bukankah Tuhan lebih dari sanggup untuk itu? Tiba-tiba memberikan tempat tinggal, makanan, uang, atau apapun itu yang saat kita butuhkan secara langsung, saat ini juga. Itu kan yang biasanya jadi bentuk doa bagi sebagian besar orang? Tapi mereka tidak melakukan itu.

Di saat sulit, sang suami justru berdoa agar Tuhan mengarahkan langkah mereka ke arah yang sesuai dengan maunya Tuhan. Sekali lagi, bukan kehendak mereka, tapi kehendak Tuhanlah yang jadi.

Lalu lihatlah apa yang terjadi selanjutnya.

Pada keesokan harinya, mereka seolah dituntun untuk sampai pada sebuah rumah besar, dimana pemiliknya belum pernah mereka kenal.

(bersambung)

Sunday, February 4, 2024

Sekuens (1)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 Ayat bacaan: Pengkotbah 3:11
==============
"Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir."

Pada saat pergantian tahun kemarin, seorang kerabat saya yang berprofesi sebagai pendeta mengirimkan pesan berupa ayat yang saya jadikan ayat bacaan hari ini, yaitu dari Pengkotbah pasal 3 ayat yang ke 11. Ayat ini sesungguhnya tidaklah asing lagi bagi sebagian besar dari kita, bahkan kerap dipotong hanya di bagian awal dan dipakai sebagai ayat peneguhan untuk menguatkan dalam hidup. Kenapa? karena ayat ini memberikan janji Allah bahwa Dia merencanakan segala sesuatu yang indah bagi setiap kita, manusia ciptaanNya yang teristimewa.

"Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir."

Lihatlah bahwa ayat ini secara tegas mendeklarasikan apa yang menjadi isi hati Tuhan untuk kita. Tuhan, membuat, is making, segala sesuatu indah pada waktunya. Beautiful in time. Maybe not now, but in time, it will.

Mungkin bukan sekarang, tapi pada waktunya, segala sesuatu akan indah. Segala sesuatu, bukan sebagian kecil, sebagian besar, just some parts, but every thing. Segala sesuatu.

Jadi:

1. Tuhan sudah merencanakan dan membuat segala sesuatu indah bagi kita.
2. Tuhan sudah menentukan waktu yang tepat untuk itu.
3. Tuhan sudah menaruh dalam hati manusia suatu keinginan mendalam akan sesuatu yang lebih besar daripada hal-hal yang sifatnya duniawi.
4. Tapi, ingatlah bahwa kemampuan kita tidak cukup untuk mengetahui secara persis apa yang menjadi rencana Tuhan bagi kita, dari awal hingga akhir.

Buat saya ayat ini berbicara sangat dalam mengenai apa yang menjadi keinginan Tuhan sejak semula saat menciptakan kita, what He desires for each and every one of us, bagaimana Dia menginginkan kita untuk menyadari apa yang menjadi titik fokus bagi kita dalam menjalani hidup, dan menyadari betul bahwa ada keterbatasan kita sebagai manusia untuk bisa mengetahui apa yang menjadi rencananya. Knowing our path, which way for us to walk through in order to fulfill what He wishes for us to have. Mengetahui kemana kita harus melangkah, kemana arah destinasi kita agar kita bisa menggenapi segala rencana indah yang sudah dipersiapkan Tuhan sejak semula bagi kita.

Ayat Pengkotbah 3:11 yang saya dapat dari kerabat saya menjelang tutup tahun kemarin pun membawa saya untuk melakukan sebuah perenungan mendalam. Dan perenungan inilah yang akan saya bagikan dalam renungan kali ini.

(bersambung)

Saturday, February 3, 2024

Superman of the Family (8)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)


Ayo para pria seperti saya, mari perhatikan istri dan anak-anak kita. Apakah mereka sudah mendapat cukup perhatian dari kita? Menjadi pria memang tidak mudah. It's never easy. Sekali lagi, being a superman is not about being able to fly, holding a bullet, catching up the bad guys, or in our realm, getting the most money, popularity, praises and so on, but it's about finding balance in every role and know to place the priority.

Berat? Tentu saja. Tapi jangan lupa bahwa tugas istri pun sama beratnya. Karena berat itu lah maka saya mempergunakan kata superman bagi yang bisa melakukannya, yang bisa menemukan balance atau keseimbangan antara semua elemen tugas yang harus kita hadapi setiap harinya dan melakukan itu semua dengan baik tanpa mengorbankan satupun di dalamnya. Belum lagi kita harus memperhatikan pula kesehatan kita dengan meluangkan waktu untuk berolah raga, dan tentu saja yang teramat sangat tidak boleh dinomorduakan apalagi diabaikan adalah menjaga hubungan kita dengan Tuhan.

Pada kenyataannya, hubungan dengan Tuhan yang kita jaga lewat berdoa, bersaat teduh dan merenungkan kitab suci seringkali menjadi bagian yang tidak masuk pada skala prioritas utama. Ada banyak orang yang skip melakukan itu apabila sudah terlalu  lelah dalam bekerja atau berakivitas. Padahal, kalau olah raga itu bertujuan menjaga kebugaran tubuh kita, waktu-waktu teduh kita bersama Tuhan akan menjaga otot-otot rohani kita agar tetap kuat dalam menghadapi segala situasi dalam hidup, terlebih di masa-masa sulit seperti sekarang.

Sadarilah bahwa keluarga membutuhkan figur ayah teladan yang mengasihi mereka dan rindu untuk meluangkan waktu bersama dengan mereka. Pastikan anak-anak anda tidak kehilangan figur bapa dan istri anda punya suami yang akan selalu berada disisi mereka dalam menghadapi segala sesuatu. Suatu hari nanti anda akan bahagia dan lega anda sudah melakukannya.

Ayah teladan adalah ayah yang menempatkan keluarga pada prioritas utamanya dan tidak mengabaikan pentingnya mendidik anak dengan menjadi teladan atas semua yang diajarkan


Friday, February 2, 2024

Superman of the Family (7)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)


Terhadap anak, para pria diminta untuk bisa meluangkan waktu bersama mereka dan mendidik mereka berulang-ulang. "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." (Ulangan 6:6-7)

Kita tahu itu, tapi bagaimana kita bisa mengajarkan berulang-ulang apabila kita jarang bersama mereka? Dan itu sebenarnya belum cukup, sebab ayat selanjutnya berkata: "Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu." (ay 8-9).

Ayat ini menunjukkan bahwa diatas segala pendidikan dan pengajaran kita tentang ilmu, etika dan kehidupan bermasyarakat, sangatlah penting pula bagi kita untuk menjadi teladan. Bagaimana anak-anak bisa menyerap dan mengerti apa yang kita ajarkan jika kita tidak menjadi teladan dengan menjadi contoh secara langsung? Bagaimana mereka bisa percaya kepada apa yang kita katakan kalau anak-anak kita tidak mencerminkan pribadi yang beriman dan tunduk pada kebenaran?

Sekali lagi, menetapkan skala prioritas adalah hal yang tidak boleh diabaikan. Tempatkan keluarga terlebih dahulu sebelum menjangkau sesuatu yang lebih luas. Jangan sampai pekerjaan atau pelayanan membuat keluarga justru terbengkalai atau berantakan, karena sesungguhnya keteladanan justru dimulai dari keluarga. Dari keluarga imam Eli kita bisa melihat konsekuensi dari ketidaktegasan, memanjakan hingga kesalahan dalam menetapkan skala prioritas. Jangan sampai kita mengulangi hal yang sama.

(bersambung)

Thursday, February 1, 2024

Superman of the Family (6)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)


Salah prioritas merupakan hal lain yang bisa kita pelajari dari keluarga ini. Imam Eli sepertinya terlalu sibuk bekerja dalam pelayanan sehingga sudah tidak cukup waktu dan tenaga lagi untuk mengasuh anak-anaknya. Jika kita perhatikan dalam kehidupan kita, bukankah banyak dari kita yang jatuh pada kekeliruan yang sama baik disadari atau tidak? Kita sibuk bekerja untuk mencari nafkah, kita terjun dalam pelayanan, lalu mengabaikan atau menomor duakan anak-anak, istri dan keluarga. Membagi waktu itu memang tidaklah mudah. Namun menyusun skala prioritas yang benar dan finding balance alias menemukan keseimbangan antara bekerja dan waktu untuk keluarga harus benar-benar menjadi perhatian kita.

Jika kebanyakan pria tidak mementingkan untuk meletakkan keluarga tidak dalam posisi teratas alias top priority tentunya selain Tuhan, dan berpikir bahwa keluarga itu nanti saja, keluarga harus selalu siap untuk dikorbankan demi tugas-tugas atau pekerjaan, Alkitab sama sekali tidak menyebutkan demikian.

Menarik jika kita melihat apa yang dikatakan Yesus berikut ini.  "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8).

Apa hubungannya? Lihatlah ada sebuah urutan disana. Yerusalem, Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi. Di Yerusalem, itu berbicara mengenai keluarga, lalu meningkat ke Yudea, menggambarkan lingkup regional, lalu ke Samaria yang mengacu kepada negara/nasional dan baru mencapai dunia. Artinya kita tidak akan bisa bermimpi untuk bisa menjadi berkat bagi dunia atau kota sekalipun jika kita tidak memulainya dari keluarga.

Bukankah sangat ironis jika kita berhasil melayani orang lain tetapi justru gagal dalam keluarga sendiri, pintar mengajari orang tetapi tidak bisa mengajar anak sendiri? Keluarga harus menjadi prioritas utama di atas pekerjaan atau pelayanan sekalipun. Idealnya rumah tangga orang percaya seharusnya bisa menjadi rumah yang sejuk, nyaman dan damai, dan bisa menjadi teladan bahkan kesaksian tersendiri bagi orang lain.

(bersambung)

Wednesday, January 31, 2024

Superman of the Family (5)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)


Kita bisa melihatnya dari ayat berikut.  "Eli telah sangat tua. Apabila didengarnya segala sesuatu yang dilakukan anak-anaknya terhadap semua orang Israel dan bahwa mereka itu tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan, berkatalah ia kepada mereka: "Mengapa kamu melakukan hal-hal yang begitu, sehingga kudengar dari segenap bangsa ini tentang perbuatan-perbuatanmu yang jahat itu? Janganlah begitu, anak-anakku. Bukan kabar baik yang kudengar itu bahwa kamu menyebabkan umat TUHAN melakukan pelanggaran." (ay 22-24).

Sekarang mari kita perhatikan fakta ini. Apakah imam Eli mengingatkan anak-anaknya? Ya, ia mengingatkan. Tapi tidak tegas memberi teguran apalagi hukuman. Satu hal lainnya, ia terlambat mendidik anaknya. Saat anak tidak diajarkan dan dicontohkan tentang hal benar sejak kecil, suatu ketika saat mereka sudah dewasa bisa jadi sudah sangat sulit atau terlambat untuk diajar.

Tuhan bukannya tidak mengingatkan, tapi tetap saja sang imam tidak merubah sikapnya. "Sebab telah Kuberitahukan kepadanya, bahwa Aku akan menghukum keluarganya untuk selamanya karena dosa yang telah diketahuinya, yakni bahwa anak-anaknya telah menghujat Allah, tetapi ia tidak memarahi mereka!" (3:13).

Imam Eli tidak mendisiplinkan anak-anaknya dengan benar, bahkan ia sampai dikatakan lebih menghormati anaknya ketimbang Tuhan, "Mengapa engkau memandang dengan loba kepada korban sembelihan-Ku dan korban sajian-Ku, yang telah Kuperintahkan, dan mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban sajian umat-Ku Israel?" (2:29)

Tidak mendisplinkan, terlalu lemah, terlalu memanjakan, bahkan dia terus membiarkan anak-anaknya menggemukkan diri dengan bagian terbaik dari korban yang disajikan di dalam Kemah Suci dan membiarkan mereka melakukan hal-hal yang tidak sopan, mengancam hingga dosa percabulan. Kesempatan sebenarnya sudah lebih dari cukup diberikan Tuhan, Tuhan bahkan sudah menegur langsung. Sayangnya imam Eli tidak memanfaatkan waktu yang ada. Dan akibatnya hukuman keras pun jatuh. Selain Hofni dan Pinehas akhirnya tewas, hukuman berat pun jatuh terhadap imam Eli sekeluarga. Bacalah bagaimana kerasnya hukuman Tuhan itu dalam 1 Samuel 2:30-36. Ironis dan tragis, miris, itu yang muncul di benak saya melihat kisah dari keluarga imam Eli ini.

(bersambung)

Tuesday, January 30, 2024

Superman of the Family (4)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)


Karena itu, seperti yang pernah saya bahas dalam renungan terdahulu, finding balance is the hardest part of it, especially for us, men. Dari pengalaman saya baik pengalaman pribadi maupun hasil dari pengamatan dan mendengar atau membaca kisah-kisah orang lain, saya sampai pada kesimpulan bahwa being a superman is not about being strong, but simply about finding balance. Itu sangat penting, agar saya, dan kita para ayah/suami atau pria secara umum tidak harus mengalami kejadian sama seperti imam Eli.

Imam Eli jadi sebuah contoh nyata dari hamba Tuhan yang gagal mendidik anak yang dicatat di dalam Alkitab. Imam Eli pada masa itu merupakan imam yang terpandang. Ia bahkan tinggal di bait Allah. Tetapi ironisnya,  kelakuan anak-anaknya justru tidak mencerminkan anak seorang imam besar sama sekali. Ketika imam Eli bisa mendidik umat dengan baik, bahkan mendidik Samuel dengan sangat berhasil, anak-anaknya yaitu Hofni dan Pinehas justru lebih mirip preman ketimbang anak seorang imam.

Alkitab sampai menyebutkannya seperti ini: "Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN," (1 Samuel 2:12). Arti dari dursila adalah buruk kelakuannya, alias jahat. Dalam terjemahan lain, dursila didefenisikan sebagai  orang yang terus melanggar huku dan peraturan, orang yang dalam dirinya tidak ditemukan hal baik apapun sama sekali.  Betapa ironisnya hal ini disebutkan bukan terhadap anak seorang penjahat atau kriminal tetapi itu disematkan kepada anak-anak dari imam besar seperti Eli.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Sepertinya imam Eli salah mengartikan bentuk kasih sayang. Ia terlalu lembek dan tidak tegas terhadap anak-anaknya. Ia juga tidak menggunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya untuk mendidik kedua anaknya, Hofni dan Pinehas. Ia sibuk bekerja dan aktif melayani, tetapi kemudian lupa akan tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga yang memiliki anak-anak untuk dibina, dibentuk, diasah, diasuh dan dibesarkan dalam takut akan Tuhan.

(bersambung)

Monday, January 29, 2024

Superman of the Family (3)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)


Sebuah hasil survey yang pernah saya baca mengungkapkan bahwa orang tua terutama pria memang punya kecenderungan berpikir seperti itu. Mereka berpikir bahwa anak-anak akan bahagia apabila kebutuhan mereka tercukupi dan mereka bisa mendapatkan segala yang mereka inginkan. Padahal survey yang sama dari sisi anak justru melahirkan kesimpulan berbeda. Anak-anak ternyata tidak berpikir dari segi kelimpahan materi, tetapi hasil poin terbesar tentang apa yang paling membuat mereka bahagia justru menunjuk pada satu titik, yaitu waktu. Apa yang paling membahagiakan bagi mereka adalah waktu yang cukup untuk bermain dan belajar bersama orang tuanya.

Ketika para ayah berpikir dari segi pemenuhan kebutuhan bagi anak-anak mereka, anak-anak menganggap kebersamaan adalah yang paling mereka butuhkan. Ada begitu banyak anak-anak yang kurang mendapat kasih sayang atau bimbingan di saat mereka bertumbuh sementara mereka terus dimanjakan dari sisi materi. Akibatnya kita sering melihat meski mereka berasal dari keluarga berada, tetapi perilaku atau gaya hidup mereka banyak yang buruk. Retaknya keluarga kebanyakan berasal dari kurangnya kebersamaan antar sesama anggotanya. Ayahnya bekerja banting tulang sepanjang hari, atau dihormati banyak orang, namun anak-anaknya justru menunjukkan perilaku yang tercela. Kurang perhatian, kurangnya kebersamaan dan terlalu dimanja seringkali menjadi awal datangnya bencana seperti ini.

Jika kita gabungkan dengan buku yang saya baca mengenai dunia yang kehilangan figur bapa di awal renungan ini, kita bisa melihat bahwa sebenarnya anak-anak sudah menunjukkan apa yang mereka butuhkan agar bisa bertumbuh menjadi pribadi berkualitas tinggi. Sayangnya orang tua terutama ayah banyak yang tidak menyadari hal ini dan mereka kelak harus bersedih melihat anak-anak mereka tumbuh tidak dengan kualitas akhlak dan keimanan yang sebenarnya mereka inginkan.

Saat saya menyampaikan tentang renungan kali ini, saya pun tengah berjuang lebih dari sebelumnya. Resesi yang terjadi di Indonesia sebagai bagian dari resesi global membuat saya harus berkali-kali lipat berusaha memenuhi kebutuhan lebih dari sebelumnya. Sementara waktu tetap sama, 24 jam sehari. Tapi apa yang diceritakan hamba Tuhan di awal tadi saya pakai sebagai pengingat, bahwa saya tetap harus memberi waktu pada keluarga terutama putri kecil saya yang masih balita. Saya ingin ia bisa tetap mendapat kehangatan dalam keluarga terutama kasih dari ayahnya. Jangan sampai momen itu hilang dari dirinya karena saya harus berada di luar lebih dari sebelumnya untuk bertahan hidup, dan terutama untuk menyediakan kehidupan yang layak baginya.

(bersambung)

Sunday, January 28, 2024

Superman of the Family (2)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Gambaran yang bagi saya terasa sangat mengerikan tentang generasi hari ini ia tulis bahkan sejak bab pertama buku ini. Dan itu bukanlah fiksi melainkan sesuatu yang nyata-nyata ia saksikan.

Tapi itu kan di Afrika? Mungkin kita bisa berpikir  begitu. Tapi lihatlah. Bukankah di belahan bumi lainnya kita menemukan kekejaman yang sama, bahkan bisa jadi lebih parah? Sejak kecil generasi yang ia sebut generasi terhilang ini tidak mengenal kasih melainkan kebencian. Dan kebencian menumbuhkan banyak masalah, bahkan bisa mengarah pada sifat kejam dan sadis. Ironisnya, seperti yang saya sebut diatas, hal ini juga terjadi di kalangan orang percaya, bahkan dalam keluarga para pelayan Tuhan yang seharusnya menjadi teladan. Anak orang percaya dan bahkan hamba Tuhan jadi preman di sekolah, bermasalah dengan hukum, jatuh pada berbagai dosa, berpaling dan meninggalkan Tuhan, itu nyata terjadi.

Hal ini sangatlah ironis. Bukankah sebagai hamba Tuhan mereka ini kerap menanamkan nilai-nilai baik tentang kebenaran dalam pelayanan mereka? Penyebab paling utama adalah karena kesibukan mereka begitu menyita waktu sehingga mereka tidak lagi punya waktu buat anak-anak dan keluarga. Apa yang mereka ajarkan bagi orang lain mungkin membangun, mereka mungkin juga menyampaikan hal yang sama kepada anaknya, tetapi mereka tidak punya cukup waktu dimana anak-anaknya bisa belajar dari kehidupan mereka. Mungkin juga karena sudah terlalu lelah, rumah cuma menjadi tempat untuk tidur bukan tempat dimana sebuah keluarga bisa saling berbagi kasih. Ada pula yang tampaknya baik dan rohani diluar, tapi di rumah sifat aslinya jauh dari apa yang mereka tunjukkan atau ajarkan di luar.

Sebagai kepala rumah tangga, kita para pria seringkali menganggap bahwa tugas utama kita adalah bekerja, mencari nafkah dan secukupnya saja meluangkan waktu untuk anak. Dalam pikiran banyak pria, yang penting kebutuhan istri dan anak-anak tercukupi, lebih baik lagi kalau berlimpah. Urusan anak itu urusan istri. Itu namanya bagi tugas. Kan harus team work dong... begitu pikir sebagian dari kita pria.

(bersambung)

Saturday, January 27, 2024

Superman of the Family (1)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 Ayat bacaan: 1 Samuel 2:12
====================
"Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN,"


Pada suatu kali ada seorang hamba Tuhan yang menceritakan tentang pentingnya figur ayah dalam sebuah rumah tangga terutama dalam mempersiapkan anak menjadi orang yang benar dan takut akan Tuhan. Ia  mengatakan bahwa dalam kesibukannya melayani dari kota ke kota, ia menjadi sangat sulit untuk membagi waktunya untuk keluarga. Untung itu tidak berlangsung terlalu lama. Ia kemudian memutuskan untuk mengurangi jadwal pelayanannya agar ia bisa membagi waktunya untuk benar-benar fokus pada keluarga, terutama, menurutnya, agar anaknya bisa memiliki quality time bersamanya. Ia lalu cerita tentang apa yang ia saksikan,  yaitu bahwa di antara para hamba Tuhan sekalipun ada yang keluarganya mengalami keretakan bahkan kehancuran karena mereka terlalu sibuk melayani orang dan mengesampingkan keluarganya. "Saat mereka sibuk menjangkau jiwa orang di luar, mereka lupa pentingnya menjaga jiwa dari keluarga sendiri", katanya.

Keluarga yang retak bisa membuat pertumbuhan mental anak-anak terganggu, apalagi jika mereka masih dalam masa-masa bertumbuh. Pengaruh-pengaruh buruk di luar bisa dengan mudah masuk merusak mereka tanpa adanya benteng pertahanan dari keluarga. Selain bisa membuat karakter mereka bermasalah, ada juga yang kemudian bermasalah di sekolah. Jadi tidak menutup kemungkinan bahwa hamba Tuhan pun bisa saja memilik anak yang bermasalah.

Apa yang ia ceritakan mengingatkan saya pada sebuah buku yang pernah saya baca. Penulisnya dari Afrika mengungkap sisi ekstrim yang terjadi apabila dunia kehilangan figur ayah. Ia menuliskan betapa degradasi dan kehancuran moral yang membuat dunia hari ini penuh kekejaman, ketidakadilan, penindasan dan problema sosial lainnya antar manusia sebenarnya berawal dari ketiadaan figur bapa dan kematian keluarga.

Kematian keluarga? Apa yang ia maksudkan disini bukanlah mati secara fisik, tapi mati dalam artian tidak berfungsi secara moril dan juga spiritual. Orang-orangnya ada, tapi tidak ada nilai baik yang mengalir di dalam dan ditransfer ke anak-anaknya. Semua berjalan sendiri-sendiri, tidak ada saling peduli apalagi saling bangun. Tidak ada pendidikan yang berlangsung disana antara orang tua kepada anak, kasih menjadi beku bahkan lenyap diganti peraturan keras dengan hukuman fisik bagi yang melanggar. Anak-anak tumbuh sejak kecil dengan ayah yang datang hanya pada saat menghukum dan memukul, atau juga tidak pernah ada di rumah untuk memperhatikan anaknya. Tidak peduli sama siapa mereka bergaul.

(bersambung)

Friday, January 26, 2024

Be Nice, Be Wise (6)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)

 Ini sebuah pengajaran yang mendobrak tatanan atau konsep pemikiran secara radikal pada saat itu. Dan hari ini pun masih tetap sama kontroversialnya. Perbedaan prinsip pengajaran ini justru semakin kontras terlihat ketika kita melihat orang-orang yang melakukan persekusi, intimidasi dan berbagai bentuk represif. Bukankah sulit bagi kita untuk bisa tetap mengasihi mereka, apalagi kalau kita sempat menjadi korban dari kekerasan atau kejahatan? Tapi prinsip Kerajaan Allah sudah secara tegas menyatakan sebaliknya. Jangankan membunuh, jangankan menyakiti, jangankan menekan, memusuhi saja tidak boleh. Justru kita harus mengasihi dan mendoakan mereka.

Yesus mengajarkan konsep kehidupan yang berbanding terbalik dengan apa yang dipercaya dunia sebagai kunci kesuksesan atau kemenangan. Ketika dunia menghalalkan segala cara, kita dituntut untuk melakukan segala sesuatu dengan jujur, tulus dan sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan, dan kemudian menyerahkan semuanya sesuai dengan kehendak Tuhan sambil disertai dengan rasa syukur. Ketika dunia mengajarkan kebencian, kita diajarkan untuk mengasihi. Ketika dunia cenderung mencari pembenaran atas segala hal yang buruk, kita diminta untuk bersikap lembut hati dan mau berbesar hati mengakui kesalahan kita.

Dunia boleh membenci, tetapi kita mengasihi. Dunia boleh kasar, tapi kita harus lembut. Dunia boleh menumpuk harta, tapi kita harus memberi. Kesombongan tidak ada dalam kamus kita, dan harus diganti dengan kerendahan hati. Dunia melakukan tekanan-tekanan represif dengan tangan besi atas nama kekuasaan, kita justru harus melayani dan memiliki hati hamba. Bayangkan kalau anak-anak Tuhan semua melakukan hal tersebut, dunia akan jauh lebih baik karena kita akan menginspirasi lebih banyak orang lagi untuk mengadopsi sistim hidup dan prinsip sesuai kebenaran.

Semakin tinggi kita naik, kita harus semakin rendah hati. Bukankah bulir padi yang siap tuai pun merunduk? Alkitab sudah menjelaskan bagaimana seharusnya sikap hidup kita. Memberi bantuan dan mengasihi tanpa pandang bulu, termasuk kepada musuh kita tanpa memandang siapa dan apa  latar belakang mereka. Tidak otoriter dan memanfaatkan kekuasaan sebagai ajang menekan orang lain dengan semena-mena, tapi bersikap melayani. Dunia boleh saja tidak berlaku seperti itu, tapi kita harus mencerminkan terang Tuhan bagi sesama kita. Itu adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar.

Itu tentu saja tidak mudah. Tapi Roh Kudus tentu akan memampukan kita memiliki sikap hati yang lembut jika kita mengijinkannya, jika kita memutuskan dan memegang komitmen untuk mau belajar melakukannya. Jadilah pribadi yang berbeda dengan dunia, mencerminkan terang yang bersinar dalam kegelapan.

Tegas bukan kasar, mengasihi dan mendoakan bukan membenci. Be nice, be wise

Thursday, January 25, 2024

Be Nice, Be Wise (5)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Berarti orang yang merasa dirinya sudah besar dan merasa berhak melakukan apapun sekehendak hatinya justru merupakan orang-orang kasihan yang terkecil di muka bumi ini. Sebaliknya, mereka yang tetap mau merendahkan diri menjadi hamba yang melayani dengan dasar kasih, itulah orang-orang yang terbesar di mata Tuhan.

Selanjutnya, apa yang harus kita lakukan kepada mereka yang terus memancing keributan, orang-orang yang berseberangan dengan kita? Dalam hal ini prinsip Kerajaan pun berbeda dengan dunia. Dunia mengajarkan kita untuk membinasakan musuh, kalau perlu menghancurkan mereka berkeping-keping. Hancurkan sebelum kita dihancurkan. Jangan sekedar hancur, tapi kalau bisa berkeping-keping. Kalaupun orang lain harus terkena korban, itu salah mereka. Siapa suruh dekat-dekat. Itu pikiran dunia yang sering kita lihat hari ini. Minimal berikan fitnah, hancurkan secara moral sampai mereka tidak berkutik lagi.

Tetapi prinsip Kerajaan lagi-lagi berbeda. Yesus sendiri yang menyampaikan hal itu. "Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu." (ay 38-39). Bukan hanya mengalah dan tidak melawan, tetapi lebih lanjut Yesus mengatakan "Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5:43-44).

That's a higher step of love. Musuh bukan untuk dihancurkan, tetapi bagaimana kita bisa memandang mereka tetap dengan kacamata kasih, tetap siap untuk membantu dan mendoakan mereka. Itu tidak mudah, bahkan sangat sulit. Mungkin diluar logika dan kemampuan nalar kita. Tapi seperti itulah sikap seharusnya kalau kita mau mengimani dan menghidupi hidup dengan cara yang sesuai firman Tuhan.

(bersambung)

Wednesday, January 24, 2024

Be Nice, Be Wise (4)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Anda ingin menjadi yang terbesar? Dunia berkata kuasai sebanyak-banyaknya, tetapi Yesus mengajarkan kita sebaliknya. Justru kita harus merendahkan diri kita sejauh mungkin. Untuk lebih jelasnya mari kita lihat apa yang tertulis di dalam Alkitab.
"Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka." (Matius 20:25)

Pemerintah bangsa-bangsa dalam versi bahasa Inggrisnya dikatakan dengan "the rulers of the Gentiles", yang bisa kita artikan sebagai para pemimpin bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka memakai kekuasaan sebagai alat untuk menekan rakyatnya dengan tangan besi demi kepentingan pribadi. Posisi orang percaya seharusnya tidak boleh seperti itu.

Perhatikan kata Yesus selanjutnya: "Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu." (ay 26-27).

Terdengar kontroversi? Mungkin ya. Prinsipnya berbeda? Itu jelas. Yang pasti, konsep Kerajaan Allah berbanding terbalik dengan konsep dunia. Kalau di dunia orang yang terbesar adalah orang yang absolut, bisa mempergunakan kekuasaannya sebesar-besarnya demi kepentingannya dan tidak tersentuh, Kerajaan Allah bilang orang yang besar adalah orang yang mau melayani, yang terkemuka adalah orang yang mau merendahkan dirinya menjadi hamba.

Apakah Yesus hanya memerintahkan hal ini sepihak? Tentu saja tidak. Yesus sudah mencontohkan langsung mengenai sikap tersebut lewat sikap hidupNya ketika ada di dunia ini. Dalam kesempatan lain Yesus juga menyampaikan: "Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar." (Lukas 9:48).

(bersambung)

Tuesday, January 23, 2024

Be Nice, Be Wise (3)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Tapi, kita kan tidak bersikap kasar dalam artian melakukan persekusi, melakukan kekerasan? Mungkin ya, dan itu tentu baik. Tapi kita harus terus melakukan lebih jauh, yaitu tidak terlalu cepat reaktif terhadap orang yang baik sengaja atau tidak hendak memancing emosi kita. Bagi pimpinan seharusnya tidak bersikap kasar, bertindak semena-mena dan otoriter terhadap bawahan.  Kita melihat pemerintahan dengan tangan besi terjadi di banyak tempat, bersikap represif atau bahkan kejam. Di satu sisi memang kita harus bertindak tegas dalam menghadapi masalah, tetapi sekali lagi,  sayangnya ada banyak orang yang sulit membedakan antara tegas dan keras. Mereka berpikir bahwa tegas itu berarti keras dan kasar. Mereka berpikir bahwa orang akan hormat dan takut apabila kekuasaan ditunjukkan secara ekstrim lewat cara-cara yang kasar bahkan kejam.

Disisi lain banyak pula orang yang percaya bahwa untuk menang bertarung hidup di dunia yang keras dan kejam kita harus lebih keras dan lebih kejam lagi. Lupakan soal moral, abaikan kejujuran, kebaikan, keramahan, selanjutnya tabraklah segalanya, halalkan semua cara agar kita bisa tetap eksis di dunia yang keras ini. Buat apapun yang diperlukan agar bisa meraih harta, pangkat, jabatan dan sejenisnya sebanyak-banyaknya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Agar terlihat hebat dan punya kuasa, bersikaplah arogan, ketus, rendahkan orang lain. Halalkan segala cara, lakukan apa saja yang penting apa yang kita inginkan tercapai. Saling sikut menyikut, saling menjatuhkan, saling menjelekkan, fitnah, korupsi dan tindakan-tindakan amoral lainnya, semua itu bukan lagi sesuatu yang tabu untuk dilakukan. Malah yang dianggap bodoh justru orang-orang yang tetap hidup lurus karena itu artinya mereka membuang kesempatan untuk bisa memperoleh segalanya.

Firman Tuhan mengatakan bahwa itu harus jauh-jauh dari cara hidup kita. Itu sama sekali bukan gambaran yang benar tentang umat Tuhan. Alkitab dengan tegas justru berbicara sebaliknya. Jadi apabila hati dan pikiran kita sudah sampai kepada konsep seperti perilaku orang-orang di atas, itu artinya kita sudah sangat jauh dari Tuhan. Konsep kehidupan dan bertingkahlaku yang diajarkan Yesus yang harus kita adopsi sungguh bertolak belakang dengan perilaku yang terus diajarkan dunia. Lihatlah pengajaran-pengajaran Kristus tentang cara hidup dalam Kerajaan Allah yang terbalik seratus delapan puluh derajat dengan cara pikir dunia.

(bersambung)

Monday, January 22, 2024

Be Nice , Be Wise (2)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Yang jadi masalah, seringkali orang mencampurkan antara tegas dan keras. Jangankan kepada pegawai atau karyawan, terhadap anak istri pun banyak pria yang bersikap keras dengan alasan untuk mendisplinkan, agar tidak manja, agar mandiri dan sebagainya. Saya bisa tegas. Dan harus tegas. Tapi tidak boleh kasar. Itu yang selalu saya pegang dari dulu sampai sekarang. Intinya, jika saya tidak mau diperlakukan kasar, jangan sampai saya melakukannya kepada orang lain.

Hal lainnya yang ingin saya capai dengan cara saya ini adalah agar karyawan saya bisa bekerja dengan nyaman dan happy. Itu akan memancar dan terasa bagi pembeli yang datang, sehingga saya harapkan mereka pun nyaman berbelanja di tempat kami. Sebaliknya, jika karyawan tidak nyaman apalagi sakit hati, selain itu bisa membuat mereka melayani dengan tidak ramah, berbagai hal buruk lain pun bisa muncul dari sana. Disamping itu, saya pun tetap terjun langsung berhadapan dengan pembeli. Buat saya hal ini penting, agar saya tetap bisa merasakan dan memahami kondisi di lapangan itu seperti apa. Jadi saya tidak serta merta menekan dan menyalahkan mereka, tapi saya akan bisa melihat kondisi secara lebih bijaksana karena saya merasakan bertugas di posisi mereka.

Di jaman yang keras seperti sekarang, kita pun tentu harus semakin lebih tahan banting dan lebih kuat. Kita tidak boleh lemah, kita harus kuat. Itu tentu benar. Tapi kalau keras? Nanti dulu. Keras yang seperti apa dulu nih maksudnya? Kalau keras dalam arti kasar, ketus, provokatif, konfrontatif, wah.. jangan. Itu jelas bukan cerminan orang-orang yang mengaku sebagai murid Kristus. Kita semua tahu itu. Bahkan saya sebelum bertobat tidak melakukan itu, apalagi sekarang.

Tapi pada pelaksanaannya di dunia nyata, berapa banyak yang benar-benar mengadopsi hal tersebut dalam kehidupannya? Kalau masalahnya biasa saja, kalau orang bikin masalah yang tidak terlalu parah, mungkin kita masih bisa sabar. Tapi kalau sudah keterlaluan, pertahanan kita pun runtuh. Daripada mengajak bicara baik-baik, kita cenderung membalas dengan keras pula.

Fight fire with fire, atau ada juga yang menggambarkannya seperti laga kambing. Orang jual, saya beli. Yang penting bukan saya yang mulai. Banyak yang bersikap seperti ini. Ada pula yang membentengi dirinya dengan sikap-sikap kasar untuk menutupi kelemahan dan rasa tidak percaya diri pada karakternya. Dan ada juga yang mentang-mentang. Mentang-mentang menggaji jadi merasa punya hak bersikap kasar. Gampang menimpakan kesalahan, gampang menekan, gampang menindas. Dan itu dilakukan oleh banyak atasan, termasuk dari mereka yang padahal seharusnya menjadi teladan.

(bersambung)

Sunday, January 21, 2024

Be Nice, Be Wise (1)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 20:25-26a
=========================
"Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu.."


Di awal saat merintis usaha, saya bergantian menjaga toko dengan istri saya. Tidak lama setelahnya kami mendapat kabar luar biasa, yaitu setelah menunggu 10 tahun, akhirnya istri saya hamil. Seiring berjalannya waktu, maka kami memutuskan agar ia memperbanyak waktu istirahat, dan itu artinya saya mengambil alih bagian shiftnya. Komitmen untuk membuat toko kami disiplin jam bukanya, sementara saya tinggal sendirian dan terkadang harus restok sendiri membuat kami pun memutuskan untuk mencari karyawan.

Istri saya belum pernah punya pengalaman punya pegawai, sementara saya sudah pernah. Karena belum pernah, dia pun mulai menyusun aturan-aturan yang ia rasa baku seperti jangan terlalu dekat dengan pegawai, nanti ngelunjak, harus menghitung semua uang masuk dan barang terjual supaya tidak ada yang masuk kantong dan sebagainya. Itu pemikiran yang sangat wajar, dan saya rasa banyak diadopsi oleh orang-orang yang wiraswasta seperti kami. Tapi saya punya cara saya sendiri yang dahulu sudah saya praktekkan. Dan saya mengatakan kepadanya, serahkan pada saya saja untuk urusan karyawan. Dari dulu, saya menggunakan cara saya sendiri, yang saya anggap sebagai sebuah seni, an art of being a leader.

Buat saya, seni itu sangat penting dalam setiap sendi kehidupan. Seni memimpin rumah tangga, seni dalam bekerja, seni dalam hobi, dan sebagainya, dan sekarang seni sebagai seorang ayah. Dalam hal sebagai pemilik usaha, alias sebagai atasan, saya lebih suka menjalankannya dengan cara yang mungkin sedikit berbeda. Pertama, sebagai pimpinan saya punya 2 tugas utama. Yang pertama mengenal karyawan saya dengan mendalam, baik sifatnya, kepribadiannya, disiplinnya dan sebagainya. Bagaimana ia di luar pekerjaan, lingkungan keluarganya dan sebagainya. Yang kedua: menerapkan standar prosedur kerja dengan adil dan bijaksana dengan sebaik-baik yang saya bisa.

Artinya, saya tidak akan menyalahkan atau memberi penalti kalau terjadi kesalahan, tapi melihat dulu apa yang terjadi. Yang pasti, semua aturan beserta konsekuensi akan saya paparkan dulu di awal, dan nanti kalau sudah berjalan maka aturan dan konsekuensi itu akan dipegang bersama-sama. Jadi tidak sepihak, bukan karena saya adalah pemilik atau yang menggaji lantas saya bersikap semena-mena atau seenaknya terhadap karyawan. Saya bersahabat dekat dengan karyawan. Itu sudah saya lakukan dari dulu dan belum pernah mengalami ada yang ngelunjak.

Bersikap bersahabat yang saya lakukan bukan berarti mereka bisa seenaknya. Kalau saya harus menegur ya saya tegur, tapi tidak kasar melainkan secara baik-baik, person to person. Kalau harus mengganti ya apa boleh buat kalau itu memang kesalahan mereka, tapi di saat lain jika saya yang salah maka saya pun mengganti juga dari kantong saya. Jadi aturan itu saya buat bukan hanya untuk karyawan tapi berlaku juga untuk saya sendiri.

(bersambung)

Saturday, January 20, 2024

Intimidasi (7)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Apa yang Tuhan pikirkan ketika Dia menciptakan kita secara istimewa dan menjanjikan begitu banyak hal yang indah penuh berkat bagi kita? Apapun alasan Tuhan bisa jadi sulit untuk bisa kita pahami, seperti halnya Daud yang berkata: "Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!" (ay 17). Tetapi setidaknya, maukah kita menyadari betul bahwa kita diciptakan secara khusus sebagai ciptaanNya yang teristimewa dan berhentimemandang kekurangan-kekurangan kita? Maukah kita untuk fokus kepada apa kelebihan yang ditanamkan Allah sejak semula ketika Dia menciptakan kita dan bersyukur untuk itu, dan menolak intimidasi  bentuk apapun dari orang lain atau masalah yang kita hadapi? Jika kita menyadari hal ini dengan baik, kita akan mampu menyadari kebaikan Tuhan dalam diri kita, dan disaat itulah kita baru bisa menggali potensi-potensi yang ada untuk kemudian dipergunakan dalam segala hal yang memuliakan Allah.

Akan halnya kehidupan, kita tidak bisa sepenuhnya menghindari orang-orang, yang baik sadar atau tidak, mengeluarkan komentar-komentar yang bisa menyasar mental dan rasa percaya diri kita. Apapun intimidasi dalam bentuk apapun yang anda terima dari orang lain, berapa lama pun itu sudah berlangsung, ketahuilah sebuah fakta bahwa kejadian dan penciptaan itu dahsyat dan ajaib. Tuhan membuat anda dengan sepenuh hati, dan sudah merencanakan hal besar buat anda sejak jauh sebelum anda diciptakan.

Mengertilah bahwa siapapun anda, anda adalah ciptaanNya yang istimewa, indah, mulia dan berharga. Kita adalah karya orisinil Tuhan, Bapa yang begitu luar biasa besar kasihNya kepada kita. Jangan ijinkan siapapun meruntuhkan mental anda dan membuat percaya diri anda hilang. Berhentilah memandang pada manusia tapi arahkan pandangan kepada Tuhan. Ketahui alasan dibalik penciptaanNya dan ketahui apa yang menjadi rencanaNya bagi anda.
Mungkin butuh waktu, mungkin tidak mudah. Tapi setidaknya mulailah mengarahkan pandangan kepada Dia, Sang Pencipta yang sudah menanamkan semua rancangan indah di dalam kita yang ia bentuk secara istimewa. So folks, keep walking straight and never buy any kind of intimidations. Instean, focus on finding out your calling and do your best in it, with God on your side!

Hidup bukanlah menurut apa kata orang, tapi menyadari siapa kita menurut Tuhan dan menemukan apa yang Tuhan rancangkan bagi kita


Friday, January 19, 2024

Intimidasi (6)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Daud sepenuhnya percaya bahwa Tuhan menciptakannya dengan cara yang menakjubkan. Ia bukanlah ada karena kebetulan, ia diciptakan bukan asal-asalan, ia tidak dibuat tanpa tujuan dan ia tahu bahwa Tuhan punya rencana besar buat dia. Kelak di kemudian hari, Daud menuliskan hal itu.

"Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya." (Mazmur 139:13-16).

Bukan hanya pikiran dan hati, tapi dengan jiwanya Daud sepenuhnya menyadari bahwa Tuhan telah menyiapkannya dengan cara yang dahsyat dan ajaib. Ia yakin bahwa ia adalah karya Tuhan yang diciptakan dengan sangat baik. Daud tidak berbicara mengenai ketampanan atau kesempurnaan secara fisik, tetapi ia melihat dirinya sebagai sebuah kesatuan yang utuh, dan ia pun mengucapkan rasa syukurnya secara penuh kepada Tuhan atas anugerah yang ia terima tersebut.

Betapa indahnya rangkaian ayat dalam Mazmur 139 tadi, yang saya yakin sudah Daud rasakan sejak ia masih menggembala dan terlebih saat menghadapi Goliat. Tidakkah rasanya sangat melegakan jika kita bisa menyadari bahwa kita bukanlah hasil dari sebuah kesalahan, was not made as a mistake, bukan diciptakan sebagai pecundang tanpa arah tujuan atau tanpa rencana, melainkan dibuat Tuhan dengan sempurna dengan sepenuh hati berdasarkan rencana  sejak semula, jauh sebelum kita diciptakan? Kita bukanlah dibuat diciptakan seadanya dengan setengah hati, tetapi Tuhan justru mencurahkan segala yang terindah dalam menciptakan kita.

Sang Seniman Agung menciptakan manusia secara sangat istimewa. Tidak seperti ciptaan lainnya, kita diciptakan spesial dengan mengambilgambar dan rupa Allah sendiri (Kejadian 1:26). Kita mendapatkan nafas hidup langsung dari hembusan Allah (2:7), tetap berada dalam telapak tangan dan ruang mataNya (Yesaya 49:16), dan Daud benar. Semua itu sungguh semua itu memang benar-benar dahsyat dan ajaib.

(bersambung)

Thursday, January 18, 2024

Intimidasi (5)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Dan tibalah Daud disana. Anak muda yang masih kemerah-merahan ini bukanlah seorang prajurit. Sejauh ini tugasnya hanya menggembalakan beberapa ekor ternak ayahnya. Gembala, mungkin tampaknya merupakan pekerjaan yang sepele. Tapi sebenarnya tidak demikian, bahkan pekerjaan ini terbilang penuh resiko bahkan berbahaya. Kenapa? Karena dalam menjalankan tugasnya, setiap hari ia beresiko berhadapan dengan hewan-hewan buas yang siap memangsa ternak dan dirinya.

Tapi Daud memang punya iman yang berbeda. Meski hewan-hewan buas itu bisa memangsanya, ia berani menghadapi hewan-hewan itu. Dan itu bukan karena kekuatannya melainkan karena ia tahu bahwa Tuhan ada menyertainya. Ia tahu bahwa mengandalkan kekuatannya akan sia-sia, ia kalah segalanya dari hewan pemangsa liar. Tapi saat kekuatan Tuhan yang ia andalkan, ia tidak perlu takut terhadap apapun. Spirit itulah yang ia bawa ke hadapan Goliat dan tentara Filistin.

Lihatlah apa yang dikatakan Daud kepada Saul dan para tentara Israel. "Berkatalah Daud kepada Saul: "Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu." (ay 32).

Daud yang muda menasihati dan menyemangati tentara-tentara yang lebih dewasa dan punya pengalaman tempur? Apakah itu terdengar aneh? Mungkin, tapi itulah mental Daud. Seruan Daud itu dilepaskan pada para tentara gagah yang selama 40 hari hanya bisa cemas dan ketakutan akibat intimidasi Goliat.

Bukan cuma menyemangati, Daud pun mengimani apa yang ia serukan dan membuktikan langsung dengan dirinya sendiri. Ia bukan cuma berseru tapi kemudian sembunyi di belakang, melainkan hadir di depan menjawab intimidasi Goliat. Daud percaya diri dan tenang menghadapi raksasa bersenjata dan perlengkapan lengkap bukan karena mengandalkan kekuatannya, melainkan karena ia tahu Tuhan menyertainya. Ia percaya kepada Sumber dari segala kekuatan. Kita tahu apa hasilnya. Daud sukses mengalahkan Goliat hanya dengan senjata yang sangat minimalis yaitu batu dan umban.

(bersambung)

Wednesday, January 17, 2024

Intimidasi (4)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Tapi ada hal lain yang juga menarik untuk kita cermati. Perhatikan apa yang disebutkan pada ayat bacaan hari ini, yang sepertinya jarang-jarang disinggung.  

"Orang Filistin itu maju mendekat pada pagi hari dan pada petang hari. Demikianlah ia tampil ke depan empat puluh hari lamanya." (ay 16).

Dari Versi Mudah Dibaca (VMD) disebutkan seperti ini:  "Selama 40 hari Goliat orang Filistin itu keluar dari kemahnya setiap pagi dan petang dan berdiri menghadap tentara Israel dan mengejek mereka."

Dengan kata lain, Goliat berdiri mengintimidasi tentara Israel bukan satu dua hari melainkan sampai 40 hari.

Seperti apa bentuk intimidasinya? Bentuknya adalah seperti ini. "Ia berdiri dan berseru kepada barisan Israel, katanya kepada mereka: "Mengapa kamu keluar untuk mengatur barisan perangmu? Bukankah aku seorang Filistin dan kamu adalah hamba Saul? Pilihlah bagimu seorang, dan biarlah ia turun mendapatkan daku. Jika ia dapat berperang melawan aku dan mengalahkan aku, maka kami akan menjadi hambamu; tetapi jika aku dapat mengungguli dia dan mengalahkannya, maka kamu akan menjadi hamba kami dan takluk kepada kami."  Pula kata orang Filistin itu: "Aku menantang hari ini barisan Israel; berikanlah kepadaku seorang, supaya kami berperang seorang lawan seorang." (ay 8-10).

"Wahai tentara Israel, hari ini aku menantang kalian! Sini satu lawan satu saja kalau berani!" Itu yang diteriakkannya setiap hari di depan tentara Israel. Tidaklah mengherankan kalau mental tentara Israel kemudian drop akibat tekanan psikologis yang dilancarkan Goliat selama lebih dari sebulan. Goliat dan bala tentara Filistin sukses meruntuhkan mental tentara Israel. Dan hal itupun dinyatakan dalam Alkitab.  "Ketika Saul dan segenap orang Israel mendengar perkataan orang Filistin itu, maka cemaslah hati mereka dan sangat ketakutan." (ay 11).

(bersambung)

Tuesday, January 16, 2024

Intimidasi (3)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!
(sambungan)

Masalahnya, sejak kecil anak-anak sudah harus berhadapan dengan bentuk-bentuk intimidasi. Ada yang mendapatkannya dari orang-orang sekitar bahkan tidak jarang dari orang tua atau kakak-kakaknya, atau yang paling sering dari bentuk bullying teman-teman sekolah. Itulah sebabnya saya harus benar-benar mempersiapkan mental anak saya sejak sangat dini. Dia tidak boleh rapuh, tidak boleh mudah mengalami keruntuhan mental jika diejek, direndahkan hingga berbagai bentuk intimidasi. Saya tidak akan bisa 100% memproteksinya dari orang-orang bersikap intimidatif dan bullying, jadi satu-satunya cara adalah mendidiknya agar 'tahan banting' dan tidak mudah goyah. That's something important for me, as it is very important for her.

Sekarang mari kita kembali pada saat Goliat melakukan teror mental terhadap prajurit Israel. Dan, mari kita lihat bagaimana sosok Goliat pada saat itu agar lebih mudah dibayangkan.

Goliat adalah raksasa, tinggi besar dengan persenjataan dan alat pelindung lengkap. Dalam 1 Samuel 17 sosok fisik dan penampilan Goliat dicatat dengan sangat detail.
- Tingginya sekitar 3 meter.
- Ia pakai helm tembaga, baju pelindung dada bersisik dengan berat hampir 60 kilogram.
- Kakinya dilindungi penutup juga dari tembaga, dan ia membawa tombak panjang  yang dililit di bahunya.
- Gagang tombaknya besar, mata tombaknya yang tajam sekitar 7 kilogram beratnya.
- Didepannya ada prajurit yang berjalan membawa perisainya. (ay 4-7).

Itu gambaran lengkap yang bisa membuat kita mudah membayangkan seperti apa penampakan Goliat waktu itu. Bentuknya saja sudah intimidatif, ditambah perlengkapannya, lengkap sudah.  Maka jelas Goliat itu tampak mustahil untuk dikalahkan oleh manusia berukuran normal seperti kita, terutama prajurit Israel pada masa itu. Tidaklah mengherankan kalau mereka takut menghadapi Goliat ditambah pasukannya.

(bersambung)

Monday, January 15, 2024

Intimidasi (2)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Ada banyak orang tua yang bersifat otoriter dan mendisplinkan terlalu keras tidak sesuai dengan umur anak. Ada banyak pula yang memaksakan kehendaknya, melarang secara sepihak tanpa memberi contoh, tabu untuk minta maaf, berat memuji tapi kalau mengkritik lancar dan tajam. Dari pengalaman saya, ini hampir selalu jadi akar permasalahan dari mereka yang bermasalah secara mental saat dewasa. Untuk memperbaikinya biasanya dibutuhkan waktu yang sangat lama karena kerusakan karakter itu sudah berlangsung lama dan terjadi sejak masa tumbuh kembang mereka.

Intimidasi saat ini sudah terjadi sejak usia dini dan akan terus ada sepanjang hidup. Mulai dari dalam keluarga sendiri, nanti di sekolah, di lingkungan, mapun kelak di tempat kerja. Bentuk-bentuk intimidasi pun semakin banyak ragamnya. Mulai dari yang klasik seperti intimidasi verbal dan fisik, hingga yang kekinian, cyber bullying. Kalau tidak bentuk intimidasi berupa tekanan, berbagai bentuk hinaan termasuk body shaming, itu pun bisa meruntuhkan mental dan seringkali sama destruktifnya dengan intimidasi. Dan orang-orang seperti ini semakin banyak saja di dunia, termasuk di negara kita.

Intimidasi bisa membuat seseorang bisa sulit maju menggapai cita-cita atau panggilannya. Mereka sulit mencapai potensi dan penampilan terbaik mereka, cenderung berjalan di tempat atau malah mundur. Padahal, sebenarnya punya potensi dan bakat besar. Alangkah sayangnya apabila mereka harus gagal karena tidak bisa melewati intimidasi atau tekanan, ejekan, cemoohan, kritikan yang merendahkan dan bentuk-bentuk lainnya.

Akan halnya intimidasi, saya ingin mengajak teman-teman untuk kembali melihat kisah Goliat dari sudut pandang berbeda. Kita sudah sangat familiar dengan kisah ini, terutama pada bagian Daud mengalahkan Goliat hanya dengan menggunakan umban yaitu sejenis ketapel. Tapi untuk renungan kali ini, saya akan mengajak melihat dari sisi lain yang mungkin jarang kita perhatikan, yaitu intimidasi.

Apakah yang dimaksud dengan intimidasi? Menurut kamus bahasa, intimidasi adalah tindakan menakut-nakuti (terutama untuk memaksa orang atau pihak lain berbuat sesuatu),  gertakan atau ancaman. Sebuah intimidasi bermaksud menimbulkan rasa takut atau gentar kepada korban dengan menyerang terhadap mental. Itulah sebabnya berhasil tidaknya sebuah intimidasi, atau dampak yang ditimbulkan dari sebuah intimidasi akan sangat tergantung pada mental sang korban. Jika mental kita lemah, maka sedikit intimidasi sudah akan meruntuhkan kita secara moril.

(bersambung)

Sunday, January 14, 2024

Intimidasi (1)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 Ayat bacaan: 1 Samuel 17:16
======================
"Selama 40 hari Goliat orang Filistin itu keluar dari kemahnya setiap pagi dan petang dan berdiri menghadap tentara Israel dan mengejek mereka." (vMD-Versi Mudah Dibaca)


Seperti yang sudah pernah saya sampaikan, sejak awal saya terus berusaha menanamkan rasa percaya diri putri saya. Cara saya melakukannya adalah dengan memberi pujian saat ia melakukan sesuatu yang baik, mengucapkan terima kasih ketika ia memberi sesuatu atau sudah berbuat hal baik, tidak menegur kasar kalau dia salah tapi menegur secara baik-baik disertai alasan kenapa ia ditegur, dan terus memotivasinya baik dalam kegigihan, kreatifitas dan terlebih kekuatan mentalnya. Saya juga meminta maaf kalau saya salah. Itu akan membuatnya terbiasa untuk meminta maaf kalau salah, dan membuatnya tahu bahwa kalau salah maka mengakui kesalahan dan minta maaf adalah jauh lebih baik ketimbang mencari pembenaran atau membela diri.

Apakah saya terlalu lembut? Percayalah, tidak. Ada kalanya saat ia harus dihukum dengan berdiri di pojok selama 1 sampai 3 menit kalau yang ia lakukan sudah pantas untuk itu. Yang tak kalah penting, saya pun sejak dini terus mengenali karakter, sifat dan kepribadiannya supaya saya tahu bagaimana cara terbaik untuk menghadapinya. Hal ini saya anggap sangat penting karena saya terus bertemu dengan orang-orang dengan gambar diri yang rusak. Mereka ini biasanya sulit maju karena tidak punya mental yang cukup kuat untuk itu. Baik dari sisi percaya diri, respon saat menghadapi sesuatu maupun keputusan-keputusan yang mereka ambil.

Ada begitu banyak psikolog di luar sana yang terus memberikan do and don't dalam hal membesarkan anak. Tidak salah memang, hanya saja yang kerap dilupakan adalah bahwa hal yang paling mendasar sebelum do or don't justru mengenali kepribadian si anak dan kita menyesuaikan cara mendidik sesuai dengan kepribadian atau karakternya. Itu wajib supaya kita tidak sampai salah orbit karena mengikuti secara buta apa yang dianjurkan tanpa menyesuaikan dengan karakter anak-anak kita. Apalagi kalau mengikuti secara baku buku-buku dari luar, yang secara kultural tidak sama dengan kita.

Mendidik anak dari sisi psikis mereka itu sangatlah penting, karena dunia yang akan mereka jalani ke depan ini tidaklah mudah. Akan selalu banyak tekanan, ancaman, gangguan, beban maupun bentuk-bentuk intimidasi, yang kalau mereka tidak siap, bisa membuat mereka tidak maksimal dalam menjalani hidup. Saya sadar waktu saya untuk bersamanya terbatas. Apalagi saya baru dikaruniai putri saya saat saya tidak lagi muda. Jadi saya harus memanfaatkan waktu semaksimal mungkin ditengah segala kesibukan saya agar jangan sampai terlambat. Dan pendidikan itu dimulai dari keluarga.

(bersambung)

Saturday, January 13, 2024

Persistence in Prayer (11)

webmaster | 9:00:00 PM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Bertekun dalam doa, berdoa dengan tidak jemu-jemu, berdoa siang dan malam, itu tidak akan pernah berakhir sia-sia. Ada kalanya jawaban Tuhan tidak akan segera datang. Mungkin waktunya belum tepat, mungkin Tuhan masih merasa perlu untuk menguji keteguhan dan ketekunan kita, tapi kelak pada saatnya, Tuhan akan menurunkan pertolonganNya.

Hendaknya kita mempergunakan masa-masa sukar sebagai waktu untuk kita melatih otot-otot rohani kita, melatih kekuatan iman kita untuk percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Disamping itu, masa-masa itu pun bisa kita pakai sebagai sarana untuk melatih diri agar lebih bijaksana, lebih pintar dan lebih cerdas. Anggaplah semua itu seperti ujian. Jika kita bisa melewatinya alias lulus ujian, maka kita akan naik kelas.

Mau disadari atau tidak, seringkali masa-masa sulit pun menjadi saat yang paling tepat bagi kita untuk menguji sampai sekuat atau seteguh apa iman kita. Itu akan sulit kita ukur saat hidup kita baik-baik saja, cenderung tanpa masalah. Tapi di masa kesukaran, kita bisa melihat seperti apa kondisi iman kita. Jika kita langsung panik, kuatir, atau malah langsung lari kepada hal-hal yang bertentangan dengan hukum Tuhan, maka itu artinya ada pekerjaan rumah atas iman kita yang harus segera kita tanggulangi atau perbaiki.

Mari kita jauhkan sifat-sifat ketidaksabaran yang bisa mengarahkan kita kepada rupa-rupa kesesatan ketika kita memilih untuk mencari alternatif atau jalan pintas yang justru akan memperburuk situasi. Adalah jauh lebih penting untuk membina hubungan yang erat dengan Tuhan, dan sarana untuk itu adalah melalui doa. Bertekun dan konsisten lah dalam berdoa. Jangan pernah jenuh, jangan pernah jemu. Tidak akan pernah sia-sia mengandalkan Tuhan atas apapun yang menimpa kita hari ini.

Even if you haven't seen the answer, keep praying, never give up

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Stats

eXTReMe Tracker