Wednesday, March 31, 2010

Promosi Jabatan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 75:7-8
==========================
"Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu,tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain."

promosi jabatanSegala daya upaya dilakukan orang untuk bisa mendapatkan promosi kenaikan pangkat atau jabatan. Menyuap atau memberi uang pelicin, bingkisan-bingkisan, menjilat atasan dan berbagai upaya lain sudah biasa dilakukan agar promosi bisa mendarat lancar pada karir seseorang. Menjegal atau menjelekkan teman sendiri pun tidak jadi soal, asal kenaikan bisa diperoleh. Semua itu sudah dianggap lumrah untuk dilakukan di zaman sekarang, apalagi di negara kita yang tingkat korupsinya lumayan "mantap". Ada banyak orang berdalih bahwa itu terpaksa dilakukan, suka atau tidak, karena itu memang sudah menjadi kebiasaan di mana-mana. Kita seringkali terpaku pada kebiasaan dunia dan cenderung menyerah mengikutinya, meski tahu bahwa itu salah di mata Tuhan, dan lupa bahwa masalah meningkat atau tidak itu sesungguhnya bukanlah tergantung dari dunia, atau dari manusia, tapi sesungguhnya berasal dari Tuhan. Tanpa berlaku curang dan berkompromi dengan hal buruk yang sudah dianggap lumrah di dunia ini, kita tetap bisa mengalami peningkatan karir, dan alangkah indahnya jika itu berasal dari Tuhan.

Ayat yang jelas menyinggung mengenai promosi atau kenaikan jabatan ini terdapat dalam kitab Mazmur. Pemazmur mengatakan: "Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain." (Mazmur 75:7-8). Dalam bahasa Inggris dikatakan "For not from the east nor from the west nor from the south come promotion and lifting up. But God is the Judge! He puts down one and lifts up another." Inilah hal yang sering kita lupakan. Kita sering tergiur dengan jabatan dan lupa bahwa peningkatan yang sesungguhnya justru berasal dari Tuhan dan bukan dari manusia. Kita seringkali terburu nafsu untuk secepatnya menggapai sebuah jabatan, padahal Tuhan tidak pernah menyarankan kita untuk terburu-buru. Ketekunan, kesabaran, keuletan, kesungguhan, itulah yang akan bernilai di mata Tuhan, dan pada saatnya, sesuai takaran dan waktu Tuhan, kita pasti akan naik walau tanpa melakukan kecurangan-kecurangan yang jahat di mata Tuhan.

Apa yang diinginkan Tuhan untuk terjadi kepada anak-anakNya sesungguhnya tidaklah kecil. Kita telah ditetapkan untuk menjadi kepala dan bukan ekor, terus naik dan bukan turun. Tetapi untuk itu ada syarat yang ditetapkan Tuhan untuk kita lakukan dengan sungguh-sungguh. Hal ini tertulis dalam kitab Ulangan. "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya." (Ulangan 28:13-14). Melakukan kecurangan-kecurangan demi kenaikan jabatan mungkin sepintas terlihat menjanjikan solusi cepat, namun ketika itu bukan berasal dari Tuhan, maka cepat atau lambat keruntuhan pun akan membuat semuanya berakhir sia-sia. Tidak ada satupun kejahatan di muka bumi ini yang luput dari hukuman Tuhan, dengan alasan apapun.

Apa yang dituntut dari kita hanyalah kesungguhan kita dalam bekerja. "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Itu bagian kita, dan masalah berkat, termasuk di dalamnya kenaikan pangkat atau jabatan, itu adalah bagian Tuhan. Mungkin tidak mudah untuk bisa tetap hidup lurus di tengah dunia yang bengkok, namun bukan berarti kita harus menyerah dan berkompromi. Justru Tuhan menjanjikan begitu banyak berkat jika kita mau mendengarkan firman Tuhan baik-baik dan melakukan dengan setia semua perintahNya tersebut, seperti yang diuraikan panjang lebar dalam Ulangan 28:1-14.

Kita patut berhati-hati untuk tidak masuk ke dalam jebakan dunia dengan segala permainan dan kecurangan yang tersembunyi dibaliknya. Kita bisa memaksakan kenaikan sesuai keinginan kita, namun tidakkah semua itu akan berakhir sia-sia dalam kebinasaan jika itu bukan berasal daripadaNya? Tuhan sudah menjanjikan bahwa kita akan terus meningkat. Tuhan menjanjikan kita sebagai kepala dan bukan ekor, tetap naik dan bukan turun, namun itu hanya berlaku jika kita mendengarkan dan melakukan firmanNya dengan setia, tidak menyimpang dan tidak menghambakan diri kepada hal lain apapun selain kepada Tuhan. Jika anda memberikan kesungguhan 100% dalam pekerjaan anda, biar bagaimanapun itu akan memberikan nilai tersendiri bagi tempat di mana anda bekerja. Sebab perusahaan mana yang mau kehilangan pegawai terbaiknya? Oleh karena itu, tetaplah bekerja dengan baik, tekun dan sepenuh hati, seakan-akan anda melakukannya untuk Tuhan, maka soal peningkatan hanyalah soal waktu saja. Tuhan sudah menetapkan kita untuk berada di posisi atas biar bagaimanapun. Lakukan bagian kita, dan Tuhan pasti akan mengerjakan bagianNya.

Just do your part and let God do His part

Tuesday, March 30, 2010

Mengetahui Apa Yang Harus Diminta (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Raja Raja 3:9
========================
"Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?"

tahu apa yang dimintaIf you got a chance to make one wish, what would you ask? Kemarin kita sudah melihat bagaimana Bartimeus mampu meminta hanya satu permintaan ditengah berbagai kebutuhan yang mendesak. Ia adalah seorang pengemis buta yang sehari-hari menyambung hidup dari belas kasihan orang sebagai peminta-minta. Pasti ada begitu banyak kebutuhan yang ia inginkan, tapi dalam perjumpaannya dengan Yesus, ia tidak tergoda sedikitpun untuk meminta kekayaan, pekerjaan atau lainnya selain matanya dicelikan. Dan Yesus pun memberikan tepat seperti yang ia minta. Ia tahu bahwa dengan bisa melihat maka ia akan bisa berusaha untuk mencari nafkah dan tidak lagi perlu meminta-minta. Ia tahu bahwa ia harus berusaha agar bisa berhasil, ia harus bekerja untuk hidup. Ia tidak meminta jalan pintas dari Tuhan untuk mendapatkan segalanya dengan instan, tapi ia membutuhkan mata yang mampu melihat agar ia bisa maksimal melakukan itu semua. Singkatnya, Bartimeus tahu apa yang harus ia minta, dan ia pun memperolehnya.

Pada ribuan tahun sebelumnya, kasus yang mirip pernah terjadi pada Salomo. Pada suatu malam Salomo mendapat kesempatan emas untuk meminta sesuatu dari Tuhan. "Di Gibeon itu TUHAN menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi pada waktu malam. Berfirmanlah Allah: "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu." (1 Raja-Raja 3:5). Hal ini berkenaan dengan gaya hidup Salomo yang sama seperti ayahnya Daud, gaya hidup yang mengasihi Tuhan dan melakukan dengan taat ketetapan-ketetapan sang ayah yang semuanya telah terbukti berkesan di mata Tuhan. Kembali seperti Bartimeus, kita dikejutkan dengan jawaban yang diberikan Salomo. Ada kesempatan datang, yang mungkin sulit terulang lagi. Permintaan apapun akan dijawab saat itu juga! Apa yang akan kita jawab? Hidup seribu tahun lagi? Tidak ada penyakit? Jauh dari kemiskinan selamanya? Mendapat jodoh paling cantik/ganteng? Tidak. Apa yang dijawab Salomo cukup mengejutkan. "Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?" (1 Raja Raja 3:9). Salomo tahu apa yang paling ia butuhkan. Ia tahu bahwa usianya yang masih muda dan pada suatu ketika akan menggantikan ayahnya sebagai raja, ia membutuhkan hikmat yang mampu menuntun umat yang sangat besar lebih dari segalanya. Itulah yang paling ia butuhkan, lebih dari harta kekayaan, materi, kemakmuran, popularitas dan sebagainya, atau hal-hal yang lebih berpusat kepada pemuasan diri atau egonya sendiri. Tidak pula umur panjang, sehat 100% selama hidup, bebas dari masalah, dan berbagai permintaan lain, tapi yang ia minta hanyalah satu: Hikmat. Maka Tuhan pun senang dengan permintaannya dan langsung mengabulkannya. "Dan Allah memberikan kepada Salomo hikmat dan pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di tepi laut sehingga hikmat Salomo melebihi hikmat segala bani Timur dan melebihi segala hikmat orang Mesir." (1 Raja Raja 4:29-30). Tapi apa yang terjadi? Bukan saja hikmat yang ia peroleh, tetapi lewat permintaannya yang baik di mata Tuhan itu mengalir pula berkat-berkat lain ke dalam hidupnya. Firman Tuhan berkata "Dan juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan, sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorangpun seperti engkau di antara raja-raja. Dan jika engkau hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan tetap mengikuti segala ketetapan dan perintah-Ku, sama seperti ayahmu Daud, maka Aku akan memperpanjang umurmu." (ay 13-14). Salomo mendapatkan segalanya, dan itu berawal dari permintaannya yang tidak didasari ego atau mementingkan diri sendiri. Salomo memperoleh semuanya karena ia tahu apa yang harus ia minta.

Tuhan sanggup memberikan segalanya bagi kita secara berkelimpahan. Tapi mental dan sikap kita haruslah terlebih dahulu kita benahi agar segala yang dipercayakan Tuhan kepada kita akan mampu menjangkau dan memberkati orang lain lewat diri kita dan bukan dipakai untuk menimbun diri sendiri saja. Sikap Salomo menunjukkan pribadinya yang tidak mementingkan kenyamanan dan kemakmuran diri sendiri, tetapi secara bijaksana ia meminta sesuatu agar apa yang ditugaskan Tuhan kepadanya mampu ia lakukan dengan sebaik-baiknya. Tidak heran jika Tuhan memberkati Salomo secara luar biasa. Berdasarkan pengalamannya, Salomo pun kemudian menulis dalam Amsal: "Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas. Ia lebih berharga dari pada permata; apapun yang kauinginkan, tidak dapat menyamainya. Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan. Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata. Ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang padanya akan disebut berbahagia." (Amsal 3:13-18). Berbahagialah Salomo karena ia tahu apa yang perlu ia minta, dan itu membawa berbagai berkat masuk ke dalam dirinya.

Salomo dan Bartimeus adalah contoh dari orang yang tahu apa yang harus ia minta. Mereka tidak tergiur dengan berbagai kenikmatan dunia, tapi mereka meminta sesuatu yang akan mampu mereka pakai untuk bisa melakukan hal terbaik untuk Tuhan dalam hidup mereka. Bagaimana dengan kita? Banyak di antara kita yang menghabiskan waktu untuk terus meminta tapi lupa bersyukur. Meminta, meminta dan meminta lagi tanpa henti, memboroskan tenaga dan membuang-buang waktu doa untuk meminta hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Tidak heran jika akhirnya semua berjalan di tempat dan tidak mencapai kemajuan apapun. Arahkan fokus seperti pandangan mata Tuhan, yang tahu betul apa yang terbaik buat kita. Mintalah sesuatu yang benar-benar kita butuhkan dan mampu memuliakan Tuhan lebih dari sebelumnya. Kita bisa melihat bagaimana Tuhan mampu menjawab doa lebih dari yang kita minta sekalipun jika fokus dan tujuan kita meminta itu terarah dengan benar. Mari kita belajar dari Salomo dan Bartimeus dan arahkan permintaan kita kepada sesuatu yang tepat. Let's find out what we really need today, and God will answer it.

Sudahkah anda tahu apa yang benar-benar perlu anda minta?

Monday, March 29, 2010

Mengetahui Apa Yang Harus Diminta

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Markus 10:51
=======================
"Tanya Yesus kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang buta itu: "Rabuni, supaya aku dapat melihat!"

mengetahui apa yang harus dimintaSeandainya anda diberikan kesempatan untuk menyampaikan satu permintaan yang pasti dikabulkan, apa yang akan anda minta? Kita bisa pusing tujuh keliling untuk menentukan satu permintaan. Mungkin kita akan berharap permintaan jangan hanya satu, tapi tiga, tapi ketika dikasih tiga kita pun akan kembali bingung karena ingin lebih. Seandainya diberi 10, apakah menjadi lebih mudah? Tidak juga. Kita selalu punya daftar permintaan, atau wish list yang panjang, yang seringkali kita bawa ke dalam doa kita setiap hari. Melihat teman pakai BlackBerry, kita pun ingin memilikinya. Melihat tetangga punya mobil baru, kita pun ingin sama. Seperti itulah kita dan kebutuhan kita dalam hidup yang tidak akan pernah ada habisnya.

Tidak salah memang meminta kepada Tuhan, tapi seringkali kita terlalu fokus kepada kebutuhan duniawi yang instan ketimbang kebutuhan yang lebih penting. Kita akan lebih suka meminta kekayaan, mobil, hp baru, rumah dan sebagainya ketimbang minta diberkati dalam pekerjaan supaya berhasil. Kita akan lebih mudah meminta kesembuhan setelah sakit ketimbang komitmen untuk secara rutin berolahraga dan menjaga kesehatan sejak dini. Kita berdoa minta kelulusan tapi lupa meminta hikmat Tuhan turun atas kita ketika sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian. Kita selalu boleh datang kepada Tuhan untuk meminta sesuatu, tapi alangkah lebih baik jika kita mengetahui terlebih dahulu apa yang harus kita minta. Tuhan tahu apa yang kita butuhkan. Ada kalanya Dia tidak mengabulkan permintaan itu, dan itu bukan karena Tuhan pilih kasih, berat sebelah atau menutup telingaNya dari kita. Bukan karena tidak peduli tapi justru karena Dia sayang kepada kita. Terkadang kita tidak tahu bahwa yang kita minta bisa membawa kita ke dalam kejatuhan. Kita hanya melihat kulit luarnya yang nikmat, sedangkan isinya yang berpotensi menjauhkan kita dari Tuhan tidak kita lihat. Tidak heran ketika kita hanya diberi satu kesempatan untuk meminta sesuatu, kita pun akan bingung menentukan pilihan.

Mari kita lihat Markus 10:46-52 mengenai Yesus menyembuhkan Bartimeus. Pada suatu kali ketika Yesus dan murid-muridNya tiba di Yerikho, kehadiran mereka pun segera disambut oleh banyak orang. Termasuklah di dalamnya seorang pengemis buta bernama Bartimeus yang waktu itu duduk di pinggir jalan. (ay 46). Mendengar bahwa yang datang adalah Yesus, ia pun segera berseru, "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" (ay 47). Aduh, seorang pengemis, buta pula, malah berani-beraninya memanggil Yesus? Itu tampaknya yang dipikirkan orang-orang disana. Bartimeus pun ditegur. Tapi semakin ditegur, semakin keras pula teriakannya. "Anak Daud, kasihanilah aku!" (ay 48). Dan Yesus mendengarnya! Lalu ia pun diminta untuk mendatangi Yesus. Lalu terjadilah percakapan antara Yesus dan Bartimeus. "Tanya Yesus kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang buta itu: "Rabuni, supaya aku dapat melihat!" (ay 51). Yesus memberikan kesempatan kepada Bartimeus untuk meminta. Jika kita ada di pihak Bartimeus, apa yang akan kita katakan? Mungkin saja kita akan segera meminta berbagai hal kepada Yesus, mumpung kesempatan ada. Bartimeus sudah lama meminta-minta, itu artinya ia miskin, disamping matanya buta. Mungkin jika kita menjadi Bartimeus, kita akan sekaligus minta pekerjaan, atau harta, rumah dan sebagainya disamping mata yang bisa melihat. Tapi Bartimeus tahu benar apa yang ia perlukan. Yang ia perlukan hanyalah kemampuan untuk dapat melihat. Begitu ia bisa melihat, ia tahu bahwa ia bisa berusaha. Yang menjadi kendala selama ini adalah kebutaan matanya. Ia tidak perlu meminta apa-apa lagi, karena ia tahu dengan sepasang mata yang mampu melihat, ia akan mampu berbuat sesuatu untuk bisa hidup layak. "Lalu kata Yesus kepadanya: "Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!" (ay 52a). Dan seketika itu juga Bartimeus pun bisa melihat dan segera mengikuti Yesus.

Kita bisa belajar dari Bartimeus yang tahu apa yang harus ia minta. Firman Tuhan berkata: "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan." (Matius 7:7-8). Ya, minta, cari dan ketuk. Tapi mari kita lihat ayat selanjutnya. "Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan?" (ay 9-10). Meminta roti, maka akan mendapat roti dan bukan batu. Meminta ikan, maka akan mendapat ikan dan bukan ular. Dari rangkaian ayat-ayat dalam Matius 7 ini kita bisa melihat bahwa agar mendapat jawaban atas doa kita, kita harus meminta dengan kesungguhan hati dan tahu dengan jelas apa yang kita butuhkan. Selain itu, jangan lupa pula bahwa kita harus meminta dengan kepercayaan, karena "apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya." (Matius 21:22). Ini syarat penting agar permintaan kita dikabulkan. Dan Bartimeus melakukan itu semua. Tidak heran jika Yesus tidak hanya menyembuhkan matanya tapi justru berkata "Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Adalah iman Bartimeus, yang percaya dan tahu apa yang ia butuhkanlah yang telah menyelamatkannya.

Hari ini Yesus sama siapnya untuk menjawab permintaan kita seperti Dia dahulu kepada Bartimeus. Pertanyaannya sekarang, apakah kita sudah tahu apa yang sesungguhnya perlu kita minta seperti halnya Bartimeus atau kita masih terlalu bingung untuk memiliki segala hal yang mungkin tidak terlalu kita butuhkan atau malah berpotensi untuk membuat kita lupa diri hingga bisa membinasakan kita? Seperti kepada Bartimeus, kita pun butuh Yesus untuk membuka mata kita agar mengetahui apa yang sesungguhnya kita butuhkan. Jika kita tahu apa yang harus kita minta, maka doa kita pun akan seolah mendapat kekuatan baru yang akan langsung mengarah kepada inti persoalan. Oleh karena itu kita harus belajar untuk menyingkirkan hal-hal yang tidak terlalu perlu dalam daftar permintaan kita, dan menggantinya dengan sesuatu yang sungguh kita butuhkan. Bagi Bartimeus, matanyalah yang menjadi kendala utama untuk bisa berusaha hidup layak. Apa yang menjadi kendala utama anda hari ini? Sudahkah anda mengetahuinya?

Ketahuilah terlebih dahulu apa yang sesungguhnya dibutuhkan sebelum meminta

Sunday, March 28, 2010

Menjadikan Diri sebagai Hamba

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Korintus 9:19
========================
"Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang."

menjadikan diri sebagai hambaOtoriter, sok kuasa dan angkuh. Itu gambaran pimpinan dari teman saya seperti yang ia gambarkan. Mungkin gambaran seperti itu mewakili image dari banyak pimpinan. Ketika orang berkuasa, ada banyak di antara mereka yang kemudian lupa diri dan merasa berkuasa. Ada pula yang merasa perlu menjaga image dengan menekankan kekuasaan kepada bawahannya. Perubahan sikap dan gaya bisa menjadi berubah sangat kontras ketika mendapat kenaikan jabatan, bahkan kepada teman-teman sendiri. Dunia boleh saja menjadikan hal seperti itu sebagai hal yang lumrah, namun Kekristenan tidak pernah mengajarkan hal yang demikian. Kerendahan hati, kesabaran dan keramahan merupakan penekanan penting dalam melayani siapapun seperti yang bisa diteladani langsung dari Kristus sendiri.

Paulus adalah salah seorang yang menerapkan hal ini secara langsung. Meski ia berada pada sebuah posisi penting dalam pewartaan Injil ke seluruh belahan dunia, namun ia tidak menjadi lupa diri dan menganggap penting dirinya sendiri. Ia tahu bahwa ia hanyalah satu dari setiap orang percaya yang telah disematkan tugas untuk mengemban Amanat Agung. "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20). Itu menjadi dasar dari pelayanan Paulus. Karenanya ia tidak perlu merasa sombong dan membangggakan dirinya secara berlebihan dalam melayani. Dalam berbagai kesempatan ia selalu menunjukkan bahwa ia sangat meneladani Kristus, yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani bahkan memberikan nyawaNya demi keselamatan semua orang.

Yesus mengajarkan demikian: "Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamul; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Matius 20:26b-28). Seperti yang diajarkan Yesus, demikianlah Paulus berlaku. Ia tegas dalam mewartakan injil, tapi tidak keras. Ia selalu berusaha menyesuaikan diri agar dapat diterima dengan tangan terbuka dan dengan demikian terus memiliki kesempatan untuk dapat memberitakan Injil kemanapun ia pergi. Lihatlah apa katanya. "Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang." (1 Korintus 9:19). Menjadikan dirinya hamba dari semua orang, ini menunjukkan keteladanan dari pengajaran Yesus. Dalam kesempatan lain Yesus pernah menengahi perdebatan di antara murid-muridNya mengenai siapa diantara mereka yang terbesar dengan kalimat: "Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar." (Lukas 9:48b). Seperti halnya Paulus, Yohanes Pembaptis pun menerapkan hal yang sama. "Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya...Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil." (Yohanes 3:28,30). Di balik kerendahan hati kitalah kita bisa meninggikan kemuliaan Tuhan di muka bumi ini. Dan dengan berlaku demikianlah baru kita mampu memenangkan banyak jiwa.

Paulus selalu membuka dirinya untuk berhubungan dengan baik kepada setiap orang. Dan itu ia lakukan sebagai pintu masuk untuk mewartakan kabar gembira kemanapun ia pergi. Tapi meskipun demikian, ia tidak berkompromi dengan cara-cara hidup yang mengarah pada dosa. Ia tidak mau terpengaruh kepada keinginan-keinginan daging melainkan terus mengarahkan pandangannya ke depan, untuk memperoleh panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Kepada Timotius ia pun berpesan: "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran." (2 Timotius 4:2). Inilah pesan penting yang harus selalu kita ingat pula. Dalam kondisi apapun, siap sedialah untuk mewartakan Firman Tuhan. Namun dalam melakukannya hendaklah kita memiliki kesabaran. Menjadikan diri sebagai hamba, memiliki sikap rendah hati dalam melayani akan menjadi awal yang sangat baik untuk melayani dan memenangkan sebanyak mungkin jiwa.

Sudahkah kita belajar peka terhadap keadaan orang di sekitar kita? Tidak gampang memang untuk melayani, tapi kita bisa mulai dengan membuka diri lewat kerendahan hati, keramahan dan kesabaran. Bukan kehebatan diri kita yang penting, namun keselamatan jiwa-jiwa, itulah yang harus menjadi fokus utama. Karenanya kita tidak boleh terjatuh pada sikap tinggi hati atau sombong, melainkan teruslah hidup dengan melayani untuk Tuhan. Mari berkaca dari sikap Paulus dalam melayani dan selalu teladani pribadi Kristus dalam setiap langkah yang kita tempuh.

Sikap sabar, rendah hati dalam melayani merupakan kunci penting untuk memenangkan jiwa

Saturday, March 27, 2010

Kejatuhan Setelah Sukses

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Bilangan 26:10
==========================
"tetapi bumi membuka mulutnya dan menelan mereka bersama-sama dengan Korah, ketika kumpulan itu mati, ketika kedua ratus lima puluh orang itu dimakan api, sehingga mereka menjadi peringatan."

kejatuhan setelah suksesSeorang pegolf terkenal beberapa waktu lalu baru saja membuat gempar dunia selebritis. Sosoknya yang selama ini dikenal sebagai kepala rumah tangga, suami dan ayah yang baik, ternyata menyimpan banyak masalah. Ia terjatuh karena berselingkuh dengan banyak wanita, dan ketika hal itu menjadi konsumsi publik, orang pun terkejut melihat sosok yang selama ini dikenal baik ternyata bisa jatuh ke dalam dosa sedemikian. Beberapa perusahaan pun memutuskan kontrak dengannya, ia kelimpungan karena imagenya hancur, keluarganya pun hancur. Kehancuran tiba-tiba datang sebagai resiko akibat kesalahan yang ia perbuat sendiri. Sungguh amat disayangkan sesuatu yang telah ia bangun selama lebih dari satu dasawarsa akhirnya harus hancur dalam sekejap mata.

Mempertahankan jauh lebih berat ketimbang membangun sesuatu. Itu pesan yang pernah diberikan kepada saya oleh beberapa orang yang berbeda, dan pesan itu sungguh merupakan sebuah pesan yang sangat penting untuk diingat. Mengapa bisa demikian? Karena ada banyak faktor di dalam sebuah keberhasilan yang bisa membuat kita lupa diri, sesuatu yang mungkin tidak terjadi ketika kita sedang merintis atau membangun keberhasilan kita. Ada banyak orang yang tergelincir jatuh justru ketika kesuksesan telah berhasil mereka raih. Maka tidaklah heran jika ketika kita sudah sukses, perjuangan akan jauh lebih berat lagi. Mempertahankan sesuatu akan selalu lebih berat daripada saat ketika kita mulai membangun.

Kejadian seperti ini berulang kali tercatat dalam Alkitab. Salah satunya yang hendak saya angkat hari ini adalah sosok bernama Korah. Korah tadinya merupakan seorang pemimpin yang cukup berpengaruh di masa ketika Israel keluar dari Mesir. Seperti halnya orang Lewi lainnya, Korah dipercaya untuk melakukan pekerjaan pada Kemah Suci Tuhan, bertugas bagi umat untuk melayani mereka. Dengan status seperti itu dengan sendirinya Korah mendapat kepercayaan yang lebih tinggi di banding orang Israel lainnya. Itu sebuah kehormatan. Namun nyatanya Korah terperosok dalam dosa pemberontakan. Ketika ia sukses, ia menjadi lupa akan hakekat kepercayaan yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Ia menghargai dirinya sendiri secara berlebihan dan kemudian gagal untuk mengenal batasan yang telah ditetapkan Tuhan baginya. Ia lupa kepada apa yang menjadi garis tugasnya dan menjadi congkak. Korah "mengajak orang-orang untuk memberontak melawan Musa, beserta dua ratus lima puluh orang Israel, pemimpin-pemimpin umat itu, yaitu orang-orang yang dipilih oleh rapat, semuanya orang-orang yang kenamaan." (Bilangan 16:1-2). Mengapa ia memberontak? Karena ia merasa dirinya terlalu hebat dan haus akan jabatan. Mereka merasa iri kepada Musa. Musa pun menegur mereka: "Belum cukupkah bagimu, bahwa kamu dipisahkan oleh Allah Israel dari umat Israel dan diperbolehkan mendekat kepada-Nya, supaya kamu melakukan pekerjaan pada Kemah Suci TUHAN dan bertugas bagi umat itu untuk melayani mereka, dan bahwa engkau diperbolehkan mendekat bersama-sama dengan semua saudaramu bani Lewi? Dan sekarang mau pula kamu menuntut pangkat imam lagi?" (ay 9-10). Kesombongan Korah dan orang-orangnya membuat mereka lupa bahwa sesungguhnya yang mereka lawan bukanlah Musa dan Harun saja melainkan Tuhan. Musa pun mengajak bangsa Israel untuk melihat siapa yang benar. "Sesudah itu berkatalah Musa: "Dari hal inilah kamu akan tahu, bahwa aku diutus TUHAN untuk melakukan segala perbuatan ini, dan hal itu bukanlah dari hatiku sendiri: jika orang-orang ini nanti mati seperti matinya setiap manusia, dan mereka mengalami yang dialami setiap manusia, maka aku tidak diutus TUHAN. Tetapi, jika TUHAN akan menjadikan sesuatu yang belum pernah terjadi, dan tanah mengangakan mulutnya dan menelan mereka beserta segala kepunyaan mereka, sehingga mereka hidup-hidup turun ke dunia orang mati, maka kamu akan tahu, bahwa orang-orang ini telah menista TUHAN." (ay 28-30). Dan apa yang terjadi selanjutnya? Murka Tuhan turun atas mereka dan kebinasaan pun menimpa mereka. "Baru saja ia selesai mengucapkan segala perkataan itu, maka terbelahlah tanah yang di bawah mereka, dan bumi membuka mulutnya dan menelan mereka dengan seisi rumahnya dan dengan semua orang yang ada pada Korah dan dengan segala harta milik mereka. Demikianlah mereka dengan semua orang yang ada pada mereka turun hidup-hidup ke dunia orang mati; dan bumi menutupi mereka, sehingga mereka binasa dari tengah-tengah jemaah itu." (ay 31-33). Dalam beberapa ayat selanjutnya hal ini disinggung kembali. "tetapi bumi membuka mulutnya dan menelan mereka bersama-sama dengan Korah, ketika kumpulan itu mati, ketika kedua ratus lima puluh orang itu dimakan api, sehingga mereka menjadi peringatan." (Bilangan 26:10). Korah dan orang-orangnya akhirnya binasa, turun hidup-hidup ke dunia orang mati. Hukuman Tuhan jatuh atas orang-orang sombong yang melupakan hakekat dirinya lalu berani melawan Tuhan.

Merasa percaya diri itu baik. Mengetahui potensi dan kemampuan kita itu baik. Menghargai diri sendiri itu baik. Tapi jika itu kita lakukan secara berlebihan, kita bisa terjatuh kepada berbagai dosa yang akan membuat apa yang telah susah payah kita bangun menjadi hancur berantakan dalam sekejap mata. Ketika kita sudah berhasil, bersyukurlah kepada Tuhan yang telah memberikan itu semua. Dan jangan berhenti disitu, tapi pertahankanlah kesuksesan itu dan jauhilah segala hal yang bisa menjatuhkan kita seperti apa yang dilakukan Korah. Jangan lupa bahwa di luar Tuhan kita bukanlah apa-apa (Yohanes 15:5). Jangan lupa diri sehingga merasa bahwa kitalah yang terhebat kemudian melupakan dan merebut kemuliaan yang menjadi hak Tuhan. Ketika kita menjadi sukses, jagalah prestasi itu dengan baik, teruslah bersikap rendah hati dan teruslah muliakan Tuhan. Ingatlah firman Tuhan berkata demikian "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (1 Korintus 10:12). Tetap jaga garis batas yang ditetapkan Tuhan bagi kita, dan berhati-hatilah terhadap dosa kesombongan. Ada banyak jebakan yang siap memerangkap kita dibalik setiap kesuksesan, oleh karenanya kita harus tetap waspada agar apa yang telah kita bangun tidak musnah tetapi akan terus mengarah kepada keberhasilan demi keberhasilan lainnya di masa yang akan datang.

Hendaklah kita senantiasa waspada dan terus menjaga keberhasilan dengan baik

Friday, March 26, 2010

Kerendahan Hati Yosua

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yosua 3:10
=======================
"Lagi kata Yosua: "Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu.."

sombong, rendah hati"Bisa apa mereka tanpa saya?" kata seorang dosen di tempat saya mengajar pada suatu ketika. Ia sedang kesal karena merasa dikecewakan oleh kampus di tempat kami sama-sama mengajar. Memang ia merupakan salah satu dosen yang baik dalam mengajar, dan saya pun menyayangkan terjadinya peristiwa yang membuatnya kecewa seperti itu. Terkadang ketika kita kesal atau emosi, kita lupa untuk mengontrol kata-kata yang keluar. Seperti teman dosen ini, memang dia kecewa, tapi kata-kata yang keluar tidaklah baik untuk dikatakan. Ketika kita diberkati dengan talenta tertentu yang bisa membuat kita tampil baik dalam pekerjaan, adalah pantas jika kita syukuri. Namun jangan lupa, bahwa semua itu merupakan anugerah dari Tuhan dan bukan karena kehebatan diri kita sendiri. Kenyataannya ada banyak orang yang lupa diri ketika sudah sukses, dan mengira bahwa kehebatannyalah yang membuat semua itu terjadi. Tentu saja kita bekerja keras, berusaha dan belajar untuk bisa mencapai suatu tingkatan tertentu yang baik, tapi jangan lupa bahwa semua itu tetap merupakan berkat dari Tuhan. Memang apa yang dikatakan teman dosen saya itu merupakan luapan kekesalan, tapi jika tidak hati-hati, kita bisa terjerumus ke dalam kesombongan yang sama sekali tidak disukai Tuhan.

Nasihat untuk rendah hati telah berulang kali diingatkan kepada kita. Kepada jemaat Efesus firman Tuhan disampaikan lewat Paulus seperti ini: "Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu." (Efesus 4:2). Kepada jemaat Filipi dikatakan "..tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri" (Filipi 2:3). Kepada jemaat Kolose berbunyi seperti ini: "Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran." (Kolose 3:12). Ada banyak lagi nasihat untuk rendah hati, dan ini penting bagi kita, karena "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (Yakobus 4:6, 1 Petrus 5:5). Ada banyak orang yang terjatuh dalam dosa kesombongan setelah sukses, karenanya ketika kita mulai menapak naik, nasihat untuk rendah hati ini harus selalu kita ingat.

Berbicara mengenai kerendahan hati, kita bisa belajar salah satunya lewat sikap Yosua. Apa yang terjadi pada Yosua tidaklah kecil. Ia ternyata dipilih Tuhan untuk melanjutkan kepemimpinan Musa atas bangsa Israel. Ketekunan, kesetiaan dan imannya sudah teruji sejak semula ketika ia masih menjadi abdi Musa. Lalu Yosua pun dipilih Tuhan untuk menggantikan Musa. Ini sebuah kehormatan yang sangat besar. Yosua bisa menjadi sombong karenanya, tapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda kesombongan sama sekali.

Mari kita lihat sepenggal kisah ketika Yosua hendak memimpin bangsa Israel untuk menyeberangi sungai Yordan. (Yosua 3:1-17). Sebelum memasuki sungai Yordan, Tuhan berbicara kepada Yosua. "Dan TUHAN berfirman kepada Yosua: "Pada hari inilah Aku mulai membesarkan namamu di mata seluruh orang Israel, supaya mereka tahu, bahwa seperti dahulu Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau." (ay 7). Tuhan menyatakan kepada Yosua bahwa sama seperti ketika Tuhan menyertai Musa untuk melewati Laut Merah, demikian pula Tuhan akan menyertai Yosua dalam memimpin bangsa Israel dalam menghadapi sungai Yordan. Setelah Yosua menerima pesan Tuhan itu, ia pun segera menyampaikan hal tersebut kepada bangsa Israel. Tapi perhatikan apa yang dikatakan Yosua kepada bangsa Israel. "Lagi kata Yosua: "Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu dan bahwa sungguh-sungguh akan dihalau-Nya orang Kanaan, orang Het, orang Hewi, orang Feris, orang Girgasi, orang Amori dan orang Yebus itu dari depan kamu." (ay 10). Perhatikan, Yosua tidak berkata "lihatlah hari ini kamu semua akan melihat bagaimana Tuhan membesarkan namaku, meninggikan aku ditengah-tengah kamu sekalian.." Yosua tidak berkata, "akulah yang terpilih, lebih tinggi dari kalian semua, dan jika kalian selamat itu semua berkat saya." Tidak, sama sekali tidak. Apa yang dikatakan Yosua adalah "Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu." Meski Yosua mungkin berhak mengulangi pesan Tuhan itu kepada bangsa yang dipimpinnya, tapi ia tidak melakukan itu. Yosua bersikap rendah hati dan menyadari betul bahwa bukan karena hebat atau kuat kuasanya bangsa Israel akan bisa melewati sungai Yordan, melainkan karena penyertaan Tuhan. Yosua memusatkan perhatian bukan kepada dirinya sendiri melainkan kepada Tuhan. Fokusnya hanyalah Tuhan satu-satunya yang dimuliakan dalam segala peristiwa yang pernah, sedang dan akan terjadi. Yosua memilih untuk tidak merebut apa yang menjadi hak Tuhan. Selanjutnya Yosua pun menjelaskan secara rinci bagaimana mereka harus menyeberang (ay 11-13), dan itu dia lakukan untuk menunjukkan bahwa apa yang akan terjadi bukanlah kebetulan semata, atau bukan karena kehebatan bangsa Israel atau dirinya sendiri, melainkan karena ada kuasa Tuhan yang bekerja untuk melindungi dan menyelamatkan mereka.

Ketika kita diberkati dan mengalami peningkatan, bersyukurlah kepada Tuhan. Berikan kemuliaan hanya bagiNya dan jangan merebut hak Tuhan dengan memegahkan diri sendiri. Tuhan Yesus sudah mengingatkan kita dengan jelas "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yohanes 15:5). Dan lewat Paulus firman Tuhan berkata: "Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan." (1 Korintus 1:31). Bahkan jauh sebelumnya hal ini pun sudah diingatkan. "Beginilah firman TUHAN: "Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN." (Yeremia 9:23-24). Tanpa Tuhan kita bukanlah apa-apa, karena meski kita wajib untuk bekerja keras dan melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, semua itu tetap dimungkinkan lewat anugerah Tuhan yang Dia berikan kepada kita. Hari ini ketika anda mengalami kemajuan dalam pekerjaan, promosi atau peningkatan-peningkatan lainnya, berikanlah kemuliaan hanya untuk Tuhan. Sudahkah anda memuliakan Tuhan atas segala anugerahNya atas diri anda hari ini?

Belajarlah dari kerendahan hati Yosua dan jangan rebut kemuliaan yang menjadi milik Tuhan

Thursday, March 25, 2010

Jiwa Tertekan

webmaster | 8:00:00 AM | 1 Comment so far
Ayat bacaan: Mazmur 42:6
========================
"Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!"

jiwa tertekan, gelisahSudah sebulan terakhir ini tekanan demi tekanan terus menerpa keluarga saya. Rasanya seperti masuk ke dalam sebuah chapter baru yang sungguh berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Ketika itu masalah juga ada, tapi tidak seberat apa yang sedang kami alami sekarang. Ada kalanya saya merenung dan merasa bahwa secapai apapun saya bekerja, sepertinya semua sia-sia saja. Masalah yang satu belum selesai, masalah yang lain sudah muncul. Bertubi-tubi, bertumpuk-tumpuk dan tidak ada habisnya. Disaat seperti ini, jiwa akan terasa begitu tertekan oleh beban berat. Dan saya tahu, jika tidak hati-hati, orang bisa kehilangan pengharapan ketika terus menerus berada dalam tekanan berat. Ambil contoh sebuah plastik yang dimasuki benda-benda berat melebihi kekuatannya, maka plastik itu akan robek pada suatu ketika.

Paulus mengatakan "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya." (1 Korintus 10:13). Ini penghiburan besar bagi kita yang sedang menghadapi masalah menumpuk. Ada tiga kunci disini: Pencobaan seberat apapun itu adalah biasa, tidak akan melebihi kemampuan kita, dan di sisi lain Allah yang setia akan tetap membuka jalan bagi kita untuk bertahan. Ada kalanya kita melemah karena tangan Tuhan seperti tidak kunjung terulur untuk melepaskan kita. Kita sudah berdoa terus menerus, tapi pertolongan tidak juga datang. Saya menuliskan renungan ini ketika masih menghadapi berbagai problema yang menumpuk, saya sedang merasa lelah karena fisik, pikiran dan mental serta jiwa saya terkuras habis, tapi saya masih bertahan dengan mengandalkan roh yang harus terus bersyukur kepada Tuhan dalam setiap keadaan. Biarpun pertolongan belum terlihat saat ini, saya percaya pada saatnya Tuhan akan mengangkat kami sekeluarga keluar dari semua ini, karena saya tahu Allah itu setia, kasihNya berlaku sepanjang masa.

Banyak tokoh dalam Alkitab mengalami masalah seperti ini, mulai dari yang tidak terlalu berat sampai yang sangat parah. Lihatlah Elia yang pernah begitu tertekan jiwanya:"Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku." (1 Raja-Raja 19:4)" Atau lihat apa yang menimpa Ayub, Yusuf, Musa, Abraham dan sebagainya, bahkan Yesus sekalipun. Semua tokoh-tokoh dalam Alkitab pernah mengalami masa-masa berat. Apakah mereka kemudian berhasil atau tidak, semua tergantung dari ketahanan iman mereka, bagaimana mereka mampu mengandalkan iman yang terus percaya dan bersyukur, tetap berpegang teguh kepada pengharapan tidak peduli apa yang sedang menimpa mereka. Jiwa boleh tertekan, tapi yang penting adalah bagaimana kita menyikapinya. Apakah kita menyerah atau terus bertahan, bersabar dan bertekun terus dalam Tuhan, itu akan memberikan perbedaan nyata. Masalah akan terus hadir, tapi cara kita menghadapinya akan memberikan perbedaan.

Pemazmur pun sempat merasakan hal ini. "Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!" (Mazmur 42:6). Hal ini bahkan dikatakan berulang-ulang, seperti dalam Mazmur 42:12 dan 43:5, yang menunjukkan bahwa jiwa si penulis sedang begitu tertekan dan gelisah di dalam dirinya. Begitu berat sehingga kerinduan Pemazmur akan pertolongan Tuhan dikatakan bagai rusa kehausan yang merindukan sungai yang berair. (Mazmur 42:2). Air mata menjadi makanan siang dan malam (ay 4), jiwa gundah gulana (ay 5), hanyut dalam arus kesedihan bagai dilanda banjir kekacauan seperti deru air di sungai Yordan (ay 7-8). Tapi lihatlah bahwa di tengah tekanan berat dalam jiwa seperti itu, Pemazmur masih bisa berpikir positif. Ia memfokuskan diri kepada Tuhan semata, dan bukan kepada tekanan-tekanan berat itu. "Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku?" Ya, mengapa harus tertekan? "Berharaplah kepada Allah!" itu seruan Pemazmur yang terus mengingatkan jiwanya, mengendalikan jiwanya agar tidak padam dan menyerah. "Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!" Ini sikap yang harus kita lakukan. Kita harus mampu mengendalikan jiwa kita, terutama dalam kondisi tertekan dan gelisah agar tidak melupakan Tuhan. Tetap bersyukur dan terus berpegang kepada Tuhan Sang Penolong yang pasti akan mengulurkan tanganNya pada suatu ketika. Akan sangat berbahaya jika kita membiarkan jiwa kita tidak terkendali, oleh sebab itu kita harus mampu menjaga jiwa kita untuk tetap ingat kebaikan Tuhan, kesetiaan dan kasihNya kepada kita. Dia akan memberikan jalan keluar, sehingga kita dapat menanggungnya.

Jiwa kita yang lemah ini akan mudah tertekan dan gelisah kapan saja. Berbagai kekhawatiran akan bisa melemahkannya dengan segera. Oleh karena itu adalah sangat penting bagi kita untuk terus mengendalikan jiwa kita agar tidak keburu hancur ditimpa beban terus menerus. Cara mengendalikannya bisa kita lihat dalam surat Roma. "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" (Roma 12:12). Ya, tetap bersukacita dalam pengharapan, terus bersabar meski dalam kesesakan, dan jangan pernah berhenti berdoa. Itulah kunci yang akan mampu terus menyejukkan hati kita selagi masalah belum meninggalkan kita. Ketika saya menulis renungan ini, masalah belum berlalu, tapi saya tidak mau kehilangan harapan. Saya harus terus bersyukur, terus berpegang pada pengharapan, terus bersabar dan terus berdoa. Jika di saat-saat tenang kita harus bersyukur, di saat tekanan sedang berat-beratnya menimpa, kita justru harus lebih banyak lagi bersyukur. Dan percayalah pada saatnya nanti, Tuhan akan datang mengangkat kita keluar dari beban-beban seberat apapun. Mengapa harus tertekan, wahai jiwaku? Ada Allah yang begitu mengasihimu. Berharaplah kepadaNya!

Berharaplah terus kepada Tuhan dalam keadaan seperti apapun

Wednesday, March 24, 2010

Layang-Layang

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yakobus 4:10
=========================
"Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu."

layang layangMelihat anak-anak bermain layang-layang memang terkadang mengasyikkan. Saya jadi ingat masa ketika saya kecil dan bermain seperti mereka, menerbangkan layang-layang bersama adik dan ayah saya. Layang-layang akan secara perlahan naik semakin tinggi, membumbung di angkasa, melayang dengan indahnya ke kiri dan kanan. Layang-layang akan tetap terjaga posisinya, tetap di atas jika kita pintar mengendalikannya dari bawah. Artinya, layang-layang itu akan bisa terbang dengan megahnya jika ia masih terkait pada seutas benang yang kita kendalikan. Mungkin layang-layang ingin bisa bebas tanpa terikat lagi, dan mengira bahwa ia akan bisa terbang sebebas-bebasnya jika tidak lagi terpaut pada benang. Tapi jika lepas sepenuhnya, yang terjadi justru sebaliknya.Apa yang terjadi ketika benang itu putus? Layang-layang itu bukannya akan terus terbang semakin tinggi, tapi akan segera jatuh ke bawah, dan seringkali menjadi akhir dari perjalanan sebuah layang-layang. Sobek terkena pagar, dahan pohon dan sebagainya, hancur jatuh ke selokan atau lumpur, dan sebagainya.

Hal ini mengingatkan saya pada hakekatnya hidup kita. Kita seringkali merasa terbelenggu oleh peraturan-peraturan atau batasan-batasan seperti yang telah digariskan Tuhan. Kita merasa bahwa kebebasan kita terbelenggu, seolah-olah kita dilarang untuk menikmati sesuatu yang menyenangkan, yang mungkin sedang berlangsung di sekitar kita. Apa yang ditawarkan dunia memang seringkali terlihat menyenangkan, namun dibalik itu semua terdapat banyak jebakan yang siap membawa kita jatuh ke dalam jurang dosa. Kita terkadang berkompromi, memutuskan "benang" dengan Tuhan, dan mengira bahwa segala kenyamanan yang ditawarkan oleh dunia akan lebih memuaskan ketimbang terbelenggu ke dalam peraturan dan batasan yang berasal dari Tuhan. Tapi kemudian seperti layang-layang, kita pun akan jatuh semakin jauh. Ada banyak orang yang terlena ke dalam apa yang dianggap memberi kesenangan, namun pada suatu ketika mereka tiba-tiba menyadari bahwa kehancuran ada di depan mata. Penyesalan pun datang, namun bisa jadi sudah terlambat.

Tuhan membuat segenap aturan dan batasan bagi kita semua seperti yang dimuat di sepanjang isi Alkitab yang tebal bukan untuk membuat kita menderita, tapi justru agar kita bisa menapak di jalan yang benar, terus naik hingga bisa mencapai sebuah keselamatan kekal yang penuh dengan sukacita. Yakobus menggambarkannya demikian: "Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu." (Yakobus 4:10). Seperti halnya layang-layang, keinginan untuk lepas dari benang bukannya akan semakin meninggikan terbangnya, tapi justru membawanya untuk berakhir terhempas ke tanah. Sebaliknya dengan seutas benang yang baik, di tangan orang yang baik, justru layangan akan terus bisa menapak naik semakin tinggi. Seperti itu pula kita dalam dunia ini. Di tangan Tuhan ada rencana yang terindah dan terbaik yang telah Dia sediakan bagi kita. Berada di tangan yang baik akan membuat kita terjaga dan terus menjadi semakin baik, semakin tinggi dari hari ke hari. ada batasan dan peraturan yang digariskan Tuhan, bagaikan benang yang mengikat kita, tapi itu semua bertujuan agar kita terhindar dari kebinasaan, agar kita tidak tenggelam dalam jurang kesesatan yang tidak akan pernah membawa kita semakin tinggi, tapi justru sebaliknya semakin rendah.

"Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci." (Roma 15:4). Ada begitu banyak keteladanan atau pelajaran yang bisa kita peroleh dengan membaca Alkitab. Kita bisa melihat bagaimana pengharapan dan ketekunan akan sanggup membawa sebuah perbedaan, kita bisa belajar dari orang-orang yang tergelincir, namun kemudian kembali menapak naik, kita bisa melihat bagaimana penyertaan Tuhan membawa sebuah hasil gemilang, bahkan kita bisa belajar dari orang-orang yang ternyata salah jalan hingga menemui kebinasaan. Semua itu sudah tertulis bagi kita agar kita bisa belajar untuk mengetahui apa saja yang menjadi batasan dan aturan untuk hidup benar, kudus dan taat sesuai dengan kehendak Tuhan. Semua itu bukanlah ditujukan untuk menyiksa kita, tapi justru agar kita semua terhindar dari berbagai jebakan yang ditawarkan dunia dan bisa mencapai garis akhir yang gemilang. Berpeganglah selalu kepada firman Tuhan, bacalah dan renungkanlah senantiasa, maka seperti apa yang dikatakan Pemazmur, inilah yang akan terjadi pada kita: "Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:3). Itu janji Tuhan kepada setiap anak-anakNya yang taat, yang tidak terpengaruh kepada berbagai kesesatan yang ditawarkan dunia dengan segala pernak-pernik atau polesan yang terlihat indah. Seperti layang-layang, kita akan jatuh menuju kebinasaan apabila kita tidak terus berpegang teguh kepada Tuhan. Hanya Dia yang sanggup menjaga kita untuk tetap naik, mencapai keberhasilan demi keberhasilan. DitanganNya kita akan mampu menjadi pemenang, bahkan lebih dari pemenang. (Roma 8:37). Apakah kita ingin terus semakin tinggi, atau ingin menikmati kesenangan sesaat lalu kemudian berakhir sia-sia dengan penyesalan, itu tergantung dari bagaimana kita menyerahkan diri kepada seutas benang yang tersambung kepada Tuhan. Oleh karena itu, pastikan bahwa benang yang menghubungkan kita dengan Tuhan jangan sampai putus. Tuhan memberkati.

Peraturan dari Tuhan bukan dibuat untuk menyiksa namun sebaiknya mengarahkan kita kepada keselamatan

Tuesday, March 23, 2010

Say Cheese

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Markus 7:6
=======================
"Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku."

say cheese"Say cheese...", jepret, dan semua orang terlihat tersenyum bahagia. Itu sudah menjadi rutinitas dalam setiap kesempatan foto bersama. Tidak peduli apakah sedang sedih, sedang tidak mood, sedang marah, di dalam momen seperti itu senyum akan selalu diusahakan mengembang. Ada yang memang benar-benar sedang gembira, tapi tidak jarang pula orang memasang senyum palsu yang tidak keluar dari lubuk hatinya. Yang penting, hasil foto terlihat indah. Yang penting, semua terlihat bahagia. Maka "say cheese" pun menjadi sebuah keharusan dalam kesempatan foto bersama.

Dalam hidup kita memang terbiasa untuk menampilkan rona muka terbaik dalam berbagai kesempatan. Apakah itu untuk menjaga suasana sekeliling kita, agar terlihat baik di mata orang lain, atau tidak ingin membuat orang lain susah dan lain-lain, kita seringkali dituntut untuk selalu tersenyum dan terlihat bahagia. Dan ketika kita sedang dirundung duka, kita pun akan mengasingkan diri agar bisa menangis, tanpa harus mengeluarkan senyum yang terpaksa. Seorang teman berkata, paling enak berkomunikasi lewat fasilitas chatting, karena disana ada berbagai "smiley" yang bisa bertugas menggantikan suasana hati sebenarnya. Kita bisa tetap terlihat gembira meski suasana hati sedang galau. Kita tidak harus tersenyum betulan, icon smiley-lah yang akan membantu kita untuk urusan senyum-senyum ini. Ada banyak orang yang berlaku sangat ramah, tapi di dalam hatinya yang terjadi adalah sebaliknya. Semua ini merupakan hal-hal terjadi sehari-hari. Betapa kita terbentuk menjadi pribadi-pribadi yang semakin lama semakin mementingkan penampilan luar ketimbang memancarkan sesuatu yang murni dari dalam diri atau hati kita.

Jika dalam keadaan dunia itu seolah wajar, bagi Tuhan itu adalah hal yang sangat tidak bisa diterima. Tuhan sangat tidak suka kepalsuan ketika kita datang menghadapNya. Tuhan selalu ingin kita tampil apa adanya, memancarkan apa yang ada di dalam diri kita. Ingin memuji? menangis? tertawa? menyanyi? mengeluh? meminta? bertanya? Apapun itu yang sedang ada di dalam hati kita, itulah yang diinginkan Tuhan untuk kita bawa ke hadapanNya. Kepalsuan agar terlihat rohani di mata orang, agar terlihat paling suci, paling baik dan paling-paling lainnya tidak akan pernah berharga di mata Tuhan. Inilah kebiasaan buruk yang dipertontonkan para orang Farisi dan ahli-ahli Taurat di jaman Yesus. Dan lihatlah bagaimana kerasnya Yesus mengecam mereka semua dalam berbagai kesempatan. Betapa ironis, ketika mereka seharusnya menjadi teladan terdepan, tapi kemunafikan mereka justru merajalela dimana-mana.

Ambil contoh ketika orang Farisi dan ahli Taurat menyinggung masalah cuci tangan dalam Markus 7. Masalahnya sepele, tapi bagi Yesus hal itu sudah menunjukkan perilaku mereka yang lebih terfokus kepada adat istiadat dan tata cara ciptaan manusia ketimbang secara sungguh-sungguh mengarahkan seluruh diri mereka kepada Tuhan. "Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku." (Markus 7:6). Apa yang dikatakan Yesus ini mengacu kepada apa yang terdapat dalam kitab Yesaya: "Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan.." (Yesaya 29:13). Soal gaya berdoa, mereka jagonya. Soal durasi, pemilihan kata dan pengambilan posisi doa, mereka sungguh pintar. Tapi semua itu bagaikan lips service saja, yang sama sekali tidak berasal dari kesungguhan mereka mengasihi dan memuliakan Tuhan. Dan semua itu tidak akan membawa manfaat apa-apa di mata Tuhan alias sia-sia. "Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia." (Markus 7:7-8). Dan bagi orang-orang yang menomorsatukan kepalsuan seperti ini, firman Tuhan berkata demikian: "maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi." (Yesaya 29:14). Hal ajaib, keajaiban yang menakjubkan bukan dalam artian positif, tapi justru sebaliknya, azab atau hukuman bahkan kebinasaanlah yang akan menimpa habis-habisan. Lihatlah bagaimana kerasnya Yesus mengecam para orang Farisi dan ahli Taurat ini dalam Lukas 11:37-54.

Tidak ada tempat bagi kepalsuan kita di hadapan Tuhan. Mengganti ekspresi wajah kita di dunia mungkin mudah, jauh lebih mudah ketimbang membenahi diri kita secara sungguh-sungguh dari dalam. Tapi ketahuilah bahwa untuk bisa memuliakan Tuhan dengan benar dibutuhkan kesatuan dari hati, jiwa dan raga kita. Hanya kesatuan dari segenap diri kita inilah yang akan bisa membuat apa yang kita bawa ke hadapan Tuhan berharga di mataNya. Bukan hanya di bibir saja tapi hati kita melenceng ke hal lain, bukan hanya di gaya saja tapi fokus kita malah menjauh dari Tuhan. Bahkan dalam situasi tertekan atau berbeban berat sekalipun, kita seharusnya bisa terus bersyukur atas kebaikan Tuhan dan percaya bahwa pada saatnya Dia sendiri yang akan membebaskan kita. Dan itu akan membuat kita mampu menampilkan sebuah senyum yang tulus, yang asli berasal dari hati kita. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Hati yang mengasihi Tuhan dan dipenuhi iman yang percaya penuh akan mampu memancarkan sebuah sinar kehidupan penuh sukacita yang sesungguhnya. Hari ini, satukanlah segenap diri kita, tubuh, jiwa dan roh untuk menyembah Tuhan secara sungguh-sungguh. God is worthy of a genuine praise like that.

Kepalsuan tidak akan pernah berharga di mata Tuhan

Monday, March 22, 2010

Hidup Benar di Dunia yang Rusak

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kejadian 6:11-12
=========================
"Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi."

dunia rusak, iman NuhSetiap hari ada saja kasus kejahatan atau kekerasan yang terjadi di muka bumi ini. Jika membaca koran saja, kita akan geleng-geleng kepala melihat berbagai berita kriminal yang hadir setiap hari. Dengan berbagai ragamnya, pembunuhan, pencurian, pertikaian, korupsi dan sebagainya akan dengan mudah kita dapati dalam berita-berita di berbagai media. Bayangkan jika seandainya anda berada di posisi Tuhan, yang melihat ciptaan-ciptaanNya yang telah Dia ciptakan dengan penuh kasih bahkan secara istimewa menurut gambar dan rupaNya sendiri, namun bukannya memuliakanNya tapi malah terus menerus mengecewakan diriNya. Tentu menyakitkan bukan? Tidak ada satupun rencana Allah menciptakan manusia untuk tujuan-tujuan yang jahat. Peace on earth, itu yang diinginkan Tuhan, dengan rancangan-rancangan terbaikNya yang telah Dia sediakan bagi setiap kita. Tapi nyatanya, dari masa ke masa manusia terus saja melenceng dari apa yang telah Dia harapkan. Moral terus merosot, terjadi degradasi moral dimana-mana. Ketika di zaman Nuh ini terjadi, zaman sekarang pun kehidupan manusia sama saja seperti di zaman itu, ketika Tuhan memutuskan untuk memusnahkan semua manusia, kecuali Nuh dan keluarganya.

Pada zaman itu kerusakan yang ditimbulkan oleh perilaku menyimpang manusia sudah sedemikian besar. Alkitab mencatat demikian: "Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi." (Kejadian 6:11-12). Perhatikan kata rusak dalam petikan ayat di atas diulang sampai 3 kali. Itu menunjukkan bahwa kerusakan di zaman Nuh benar-benar sudah parah. Dari segi moral, perilaku maupun kerohanian, semuanya rusak benar. Betapa kecewanya Tuhan melihat itu semua. Begitu kecewa sehingga Tuhan dikatakan menyesal telah menjadikan manusia. "Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya." (ay 5-6). Namun ternyata ada pengecualian kepada seseorang. Kerusakan yang terjadi secara total itu ternyata tidak terjadi dalam diri Nuh.

Apa yang membuat Nuh berbeda? Alkitab mencatat dengan jelas bahwa "Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN." (ay 8). Dunia boleh rusak, tapi ternyata Nuh tidak ikut-ikutan terseret arus penyesatan dan penyimpangan seperti apa yang terjadi di sekelilingnya. Nuh bisa mendapat kasih karunia di mata Tuhan karena alasan ini: "Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah." (ay 9). Mudahkah bagi Nuh untuk bisa demikian? Pasti tidak. Seperti kita yang hidup di tengah-tengah dunia yang jahat, demikian pula Nuh saat itu hidup ditengah kemerosotan moral dan rohani yang begitu parah. Seperti kita, Nuh pun pasti mengalami saat-saat dimana ia bisa jatuh terseret ke dalam dosa. Namun nyatanya Nuh tetap bisa hidup dengan benar, tetap hidup tidak bercela, bahkan dikatakan bahwa ia hidup bergaul dengan Allah. Hal inilah yang membuat Nuh berbeda dan diganjar kasih karunia oleh Tuhan serta diselamatkan dari bencana air bah.

Nuh berani tampil beda melawan arus dunia. Nuh sadar betul untuk mengambil pilihan hidup taat kepada Tuhan, sebuah standar hidup yang seharusnya dimiliki oleh anak-anak Tuhan. Nuh tahu bahwa ia tidak harus ikut-ikutan terseret arus dunia dengan alasan apapun. Seringkali kita memilih berkompromi terhadap dosa dan mencari pembenaran karena kita terlalu takut untuk disisihkan atau dipinggirkan dari pergaulan, takut dianggap tidak gaul dan sebagainya. Seringkali kita begitu terobsesi kepada kemewahan sehingga menghalalkan segala cara agar bisa memperoleh semuanya. Tapi jika Nuh bisa, dan kita lihat bahwa ia merupakan satu-satunya kepala keluarga yang mendapat kasih karunia Tuhan pada zamannya, mengapa kita tidak? Bukan itu saja, tapi kedekatan Nuh yang bergaul dengan Tuhan secara erat membuatnya memiliki iman yang luar biasa. Jika membaca alkitab sebelum zaman Nuh, tidak ada satupun catatan yang menyatakan bahwa hujan besar pernah turun. Dan pada saat itu, Nuh disuruh membangun sebuah bahtera berukuran sangat besar pada usia lanjut. Nuh diminta untuk membangun sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya, sesuatu yang tidak masuk akal, bertentangan dengan logika dan pasti tidak mudah karena olok-olok atau cemooh pasti setiap hari hadir dari orang-orang yang menertawakan apa yang ia lakukan. Tapi Nuh tidak peduli dengan semua itu. Itu bentuk iman Nuh, yang memilih untuk taat kepada perintah Allah meski apa yang akan terjadi belum dapat dilihat oleh Nuh sama sekali. Penulis Ibrani pun menyinggung hal ini. "Karena iman, maka Nuh--dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan--dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya." (Ibrani 11:7).

Apa yang dilakukan Nuh adalah sebuah langkah iman, sebuah keputusan untuk taat sepenuhnya kepada Allah tanpa keraguan. Dan ini sejalan pula dengan apa yang diinginkan Tuhan untuk kita lakukan. "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2). Nuh berani memutuskan untuk hidup tidak serupa dengan dunia. Nuh berani menghadapi konsekuensi dibenci, disisihkan atau disingkirkan dari pergaulan di sekelilingnya. Baginya hubungan erat dengan Tuhan adalah jauh lebih penting dari segala kepentingan dunia dan itu keputusan yang membuat Tuhan berkenan unuk menyingkapkan rahasiaNya kepada Nuh. Dari masa ke masa dunia akan selalu menjadi medan yang sulit bagi kita, namun sesulit apapun jangan sampai kita memilih untuk berkompromi dengan berbagai hal yang menyakiti hati Tuhan demi kepentingan duniawi sesaat. Kita bisa belajar dari teladan Nuh dan imannya yang taat. Jadilah orang-orang yang berani tampil beda, yang berani melawan arus dunia, tidak serupa dengan dunia yang cenderung mengecewakan Tuhan. Kasih karunia Allah akan selalu siap dilimpahkan bagi setiap anak-anakNya yang taat menuruti kehendakNya.

Berani hidup tidak serupa dengan dunia akan membawa kita menerima kasih karunia Allah

Sunday, March 21, 2010

Jangan Lupakan Kebaikan Tuhan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 103:2
======================
"Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!"

jangan lupakan kebaikan TuhanRutinitas seringkali membuat kita bagai robot. Bekerja, bekerja, dan terus bekerja tanpa ingat waktu. Bangun pagi, kita akan langsung diingatkan dengan segudang jadwal dan pekerjaan yang harus dilakukan sepanjang hari ini. Tidak jarang kita tidak lagi punya kesempatan untuk bermalas-malasan sebentar di atas kasur ketika jam weker berdering. Langsung meloncat turun dan buru-buru bersiap untuk berangkat ke tempat kerja. Dan ketika kita mulai berhadapan dengan situasi seperti ini, kita pun sering menjadi lupa kepada Tuhan, yang notabene adalah Pemberi segala berkat, termasuk yang sedang kita sibuki saat ini. Semua berasal dari Tuhan dan kebaikanNya, tapi ironis ketika kita malah lupa kepada Sang Pemberi dan lebih fokus kepada apa yang diberikan.Kita memilih untuk menyampingkan urusan rohani ketika kesibukan duniawi menimpa kita, dengan berbagai alasan dan alibi. Kita mengorbankan saat teduh dan persekutuan-persekutuan doa ketika kesibukan menyita jam-jam kita.

Seorang teman di sebuah situs jejaring memasang ayat bacaan hari ini di statusnya. "Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!" (Mazmur 103:2). Ini adalah sebuah peringatan yang penting, terutama bagi kita yang memiliki jadwal kesibukan luar biasa. Tuhan yang penuh kasih telah memberikan kebaikan yang berlimpah kepada kita. Dia telah mengampuni segala kesalahan kita, besar atau kecil (ay 3) dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir laut (Mikha 7:19), Dia yang menyembuhkan segala penyakit dan kelemahan dalam diri kita. (Mazmur 103:3). Dia yang telah menebus kita dari kematian, dan memahkotai kita dengan kasih setia dan rahmat (ay 4). Dia yang telah memberi kepuasan dengan kebaikan, sehingga kita bisa tetap memiliki semangat yang membumbung tinggi seperti rajawali (ay 5). Terhadap ini semua, bukankah kita sudah sepantasnya mengucap syukur?

Berulang-ulang kita menjumpai seruan untuk mengingat kasih setia dan kebaikan Tuhan dalam hidup kita. "Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya." (Mazmur 106:1, 107:1, 118:1,29, 136:1). Sedemikian pentingnya seruan ini untuk diberikan kepada kita manusia secara berulang-ulang karena tendensi kita untuk melupakan hal itu sedemikian besar. Bahkan ketika kita sedang dilanda kecemasan atau kekhawatiran sekalipun, kita harus selalu mengingatkan jiwa kita akan kebaikan Tuhan. "Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu." (Mazmur 116:7). Sungguh Tuhan baik, dan itu tidak boleh kita lupakan. Biarlah tumpukan pekerjaan terus menyibuki kita, tapi jangan pernah lupa terhadap kebaikanNya. Roh kita tahu dan akan selalu menyembah Allah, tapi jiwa dan daging kita seringkali membuat kita lupa akan hal ini. Karenanya kita harus selalu dengan rajin mengingatkan kembali jiwa kita, terus menyegarkan jiwa kita dengan firman Tuhan dan merenungkan segala kebaikanNya dalam hidup kita. Kesibukan boleh datang, tapi kebaikan Tuhan jangan pernah dilupakan. "Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!" (Mazmur 103:2).


Jangan lupakan kebaikan Tuhan yang melimpah dalam hidup kita

Saturday, March 20, 2010

Baju Zirah

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Tesalonika 5:8
=========================
"Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan."

baju zirahKita sering melihat di film-film bagaimana para ksatria bertanding di arena. Mereka mengendarai kuda dan memegang tombak panjang, kemudian memacu kudanya untuk menuju lawan dan berusaha mengalahkannya. Para ksatria kerajaan ini biasanya dilengkapi perisai dan baju zirah, yang terbuat dari besi. Baju zirah ini merupakan perlengkapan yang digunakan untuk melindungi pemakainya dari serangan dalam perang, baik pukulan, panah atau tombak tajam. Pengguna baju zirah di masa lalu biasanya bukan semua orang, melainkan orang-orang yang tertentu saja seperti ksatria, raja, panglima, prajurit dan sebagainya.

Adalah menarik jika memperhatikan Paulus menggunakan kata baju zirah ini dalam suratnya kepada jemaat Tesalonika. "Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan." (1 Tesalonika 5:8). Dalam kesempatan lain, Paulus kembali mengutip baju zirah ketika ia menggambarkan perlengkapan senjata Allah. "Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan.." (Efesus 6:14). Kepada jemaat Tesalonika baju zirah dipakai sebagai gambaran untuk menekankan sikap kewaspadaan atau berjaga-jaga, sedang kepada jemaat Efesus baju zirah digunakan sebagai perlengkapan senjata Allah untuk melawan kuasa iblis. Jadi singkatnya, baju zirah merupakan senjata yang penting, baik untuk bertahan, berjaga-jaga atau menyerang.

Di hari-hari yang sulit dan jahat ini kita perlu lebih memperhatikan dan menjaga diri kita untuk tidak terjerumus ke dalam kesesatan. Kewaspadaan agar tidak terjebak tipu muslihat iblis juga dalam menghadapi serangan iblis yang bisa datang setiap saat dari berbagai sisi. Kita diingatkan agar tidak terlena, tapi harus senantiasa tetap berjaga dan sadar. "Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam." (1 Tesalonika 5:6-7). Hiduplah seperti orang yang sadar seperti di siang hari, dan bukan seperti orang yang bisa terlena atau tertidur di malam hari. "Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati." (Roma 13:13). Kita tidak pernah tahu kapan hari Tuhan datang, dan alangkah ironis jika ketika saatnya tiba, kita ternyata sedang tidak berjaga-jaga. "karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman--maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin--mereka pasti tidak akan luput." (1 Tesalonika 5:2-3). Hal yang sama pula telah diingatkan oleh Yesus sendiri. "Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga." (Matius 24:42-44).

Adalah penting bagi kita untuk terus berjaga-jaga dalam menjalani hidup di muka bumi yang jahat. Tidak ada waktu lagi bagi kita untuk berleha-leha. Mari kita mengenakan baju zirah, iman dan kasih, juga keadilan, terus membangun iman kita dalam Kristus, melakukan kesetiaan dalam situasi dan kondisi apapun. Keselamatan sudah dianugerahkan bagi kita semua, dan kita sudah menerimanya. Sekarang saatnya kita menjaga dan terus mengerjakan keselamatan itu hingga datangnya hari Tuhan.

Kenakan baju zirah agar kita tidak dikalahkan oleh si jahat

Friday, March 19, 2010

Berdoalah Senantiasa

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 29:2
========================
"Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan!"

berdoaKesibukan bisa begitu menyita waktu kita sehingga rasanya kita tidak lagi punya cukup waktu untuk melakukan hal-hal lain selain menyelesaikan pekerjaan. Timbunan tugas, deadline menumpuk dan lainnya terkadang bisa membuat kita kelabakan. Tidur saja sudah tidak sempat, apalagi hal-hal lain seperti rekreasi, mengurus kebutuhan anak atau menyempatkan waktu luang bersama keluarga. Saya mulai merasakan hal seperti ini beberapa bulan terakhir, apalagi rumah yang saya tempati saat ini cukup jauh dari pusat kota, sehingga hampir setiap hari saya pergi pagi pulang malam. Waktu-waktu yang selama ini saya pakai untuk bersantai dengan istri pun banyak terpakai, dan rasa bersalah pun timbul dalam hati saya. Dan saya pun berulang-ulang meminta maaf dan pengertian dari istri saya karena situasinya memang sedang tidak memungkinkan. Puji Tuhan dia mengerti. Tapi jika kepada istri atau keluarga saja sudah sedemikian penting, bagaimana dengan Tuhan yang seharusnya menempati posisi di urutan teratas? Saya tahu tumpukan kesibukan seperti ini bisa secara perlahan membuat saya berkompromi untuk mengurangi jam-jam saya bersama Tuhan. Saya bisa tergoda untuk lebih memfokuskan diri kepada penyelesaian pekerjaan ketimbang tetap memberikan waktu secara khusus buat Tuhan. Dan ada banyak orang yang memutuskan seperti itu. Di saat pekerjaan menumpuk saya biasanya selalu berusaha untuk ingat segala kebaikan Tuhan kepada saya dan keluarga. Bukankah semua itu juga merupakan berkat dariNya? Jika demikian, mengapa saya justru mengorbankan waktu untuk menyatakan rasa syukur dan kasih saya kepada Dia yang telah memberi semuanya?

Berhati-hatilah, kesibukan kita akan selalu siap dipakai iblis untuk melemahkan dan membujuk kita agar semakin jauh dari Tuhan. Iblis akan selalu berusaha untuk melemahkan kita lewat kekhawatiran kita terhadap kebutuhan-kebutuhan duniawi. Segala kekhawatiran dan ketakutan kita pun akan merupakan pintu yang bisa dimanfaatkan iblis jika kita tidak terbiasa menyerahkan segalanya ke dalam tangan Tuhan lewat doa-doa kita. Tuhan Yesus sendiri mengalami itu ketika Dia berpuasa 40 hari dan 40 malam dalam pencobaan di padang gurun. Setelah berpuasa selama itu, Yesus pun mulai merasa lapar. Di saat seperti itu, iblis pun mulai melancarkan serangan untuk mencobai dengan menawarkan segala hal yang mungkin bisa memuaskan kebutuhan-kebutuhan dari sisi manusiawi. "Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku." (Matius 4:8-9). Tapi Yesus tidak tergoda dengan itu semua dan dengan tegas berseru: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" (ay 10). Dari sini kita bisa belajar untuk melihat jangan sampai segala kemewahan dan apa yang ditawarkan oleh dunia membuat kita buta secara rohani dan berhenti memikirkan perkara-perkara yang kekal, dimana tidak ada ngengat dan karat atau pencuri yang bisa merusaknya. (Matius 6:19-20). Jangan sampai kita menomorsatukan kebutuhan duniawi dan kemudian menomorduakan atau bahkan meniadakan kebutuhan rohani kita. Kita bisa melihat bahwa iblis akan selalu berusaha mempengaruhi kita, namun semua itu tidak akan berhasil jika kita tetap memfokuskan diri untuk terus menyembah Tuhan secara teratur. Memilih untuk menomorsatukan hal-hal lain selain Tuhan itu akan sama saja dengan menomorduakan Allah, dan itu bisa membawa kita ke dalam kebinasaan. "Tetapi jika engkau sama sekali melupakan TUHAN, Allahmu, dan mengikuti allah lain, beribadah kepadanya dan sujud menyembah kepadanya, aku memperingatkan kepadamu hari ini, bahwa kamu pasti binasa" (Ulangan 8:19).

"Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya!" (Mazmur 95:7). Ini seruan yang penting untuk selalu kita ingat. Mari kita selalu ingat untuk sujud menyembahNya, berlutut di hadapanNya dan memuliakanNya. Daud berkata "Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan!" (Mazmur 29:2). Bukan hanya sekedar sujud, tapi kita juga perlu menguduskan diri terlebih dahulu, agar kita layak untuk masuk ke dalam hadiratNya yang kudus. Petrus mengatakan "sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (1 Petrus 1:16) yang mengacu kepada apa yang tertulis dalam kitab Imamat "Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus." (Imamat 19:2)

Berdoa, bersaat teduh dan merenungkan firman Tuhan adalah saat-saat yang indah yang bisa kita pakai untuk membangun hubungan erat dengan Tuhan. Di saat kita berdoa, disanalah kita sedang meminta Tuhan untuk menyatakan kehendakNya bagi kita. Pada saat berdoa pula kita akan menemukan kekuatan dan sukacita yang sejati. Jangan sampai perilaku kita dalam menentukan prioritas membangkitkan cemburu Tuhan yang akan merugikan diri kita sendiri. Hari ini marilah kita tinggalkan sejenak beban pekerjaan yang menumpuk dan datang ke dalam hadirat Tuhan untuk mengucap syukur, dan memuliakanNya dengan segenap diri kita. Berjalanlah selalu bersama Tuhan dan teruslah membangun hubungan yang lebih dalam lagi lewat jam-jam doa kita.


Jangan korbankan hubungan dengan Tuhan karena kesibukan sehari-hari

Thursday, March 18, 2010

Teratur

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Korintus 14:39
========================
"Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur."

teratur, semrawutSeorang pemilik label rekaman dari Amerika beberapa bulan yang lalu datang ke Jakarta dan meminta saya untuk bertemu. Dalam obrolan di sebuah cafe di hotel tempatnya menginap, ia pun sempat mengeluh melihat kesemrawutan kota Jakarta. Kota-kota besar di Asia seperti di Vietnam, India, Thailand dan bagian-bagian lainnya di Asia memang terkenal dengan kemacetan katanya, tapi tetap saja Jakarta yang terparah. Karena bukan saja macet, tapi semrawut, tidak teratur dan kendaraan berlalu lalang seenaknya saja, katanya. Ia sama sekali tidak betah melintasi jalan di Jakarta. Melintasi saja sudah tidak ingin, apalagi berkendara. "Forget it", katanya, "I'd rather stay at the hotel like this."

Komentar seperti ini bukan baru satu kali saya dengar. Ada yang malah mempercepat kepulangannya karena tidak tahan menghadapi semrawutnya kota-kota di negara kita. Apakah sudah sesulit itu kita hidup teratur? Apakah kita sudah berubah menjadi orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa menghiraukan kepentingan atau kenyamanan orang lain? Sudah begitu egoisnya kah kita sebagai bangsa yang katanya menjunjung tinggi keramahan dan kesopanan? Kenyataannya, bagai virus, ketidakteraturan dan perilaku seenaknya semakin lama semakin menular kemana-mana. Segalanya dihalalkan untuk kepentingan sendiri yang hanya sesaat, orang tidak lagi peduli terhadap apapun selain dirinya sendiri. Di saat seperti ini, kita harus malu kepada belalang.

Agur bin Yake ribuan tahun yang lalu sudah menyinggungnya. "Belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur." (Amsal 30:27) Bayangkan belalang yang tidak memiliki raja, tapi mereka mampu berbaris dengan teratur. Bukan cuma belalang, tapi coba perhatikan semut yang selalu beriringan dan selalu bekerja sama. Binatang-binatang yang ukurannya jauh lebih kecil dari kita, dan tidak memiliki akal budi ternyata sanggup untuk lebih "beradab" di banding kita. Di jalan saja kita tidak bisa mengikuti peraturan. Motor zig-zag seenaknya, mengerem sesukanya, berjalan pelan di tengah, angkot yang berhenti sesuka hati ditengah jalan, klakson yang ditekan dengan panjang berulang-ulang, atau justru melaju semakin kencang ketika melihat ada yang hendak menyeberang, menerobos lampu merah dan sebagainya. Semua ini menunjukkan perilaku yang bukan saja buruk, tapi juga berpotensi membahayakan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Jika di jalan saja sudah sulit, apalagi teratur dalam kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan rohani. Orang tidak lagi mendatangi Tuhan dengan rasa takut dan gentar, bukan lagi karena mengasihiNya, tapi karena hendak membawa daftar permintaan untuk segera dikabulkan.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita mungkin berkata bahwa kita bukan petugas yang berwenang mengatur lalu lintas. Kita mungkin berkata bahwa kita terlalu kecil untuk mengatasi kerumitan sebesar itu di jalan raya. Tapi sebenarnya kita bisa mulai belajar untuk hidup secara teratur. Mulai melatih diri agar bisa mentaati dan berdisiplin. Dalam hidup kita mungkin bisa mengatasnamakan kesibukan pekerjaan dan sebagainya untuk tidak meniadakan waktu-waktu indah bernaung dalam hadirat Tuhan, tapi saya yakin jika kita membiasakan diri sejak sekarang untuk meluangkan waktu, selalu saja ada waktu yang bisa kita pakai untuk mendengar kata-kata Tuhan, dan mengucap syukur atas penyertaanNya sepanjang hari. Saya percaya selalu ada cukup waktu untuk meluangkan sedikit waktu secara teratur untuk berdoa, bersaat teduh dan membaca, memperkatakan dan merenungkan kebenaran firman Tuhan dalam Alkitab. Jika kita menyadari seperti Daud yang berkata "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." (Mazmur 119:105), maka kita akan tahu tanpa pegangan itu kita akan semakin sulit untuk bertahan dalam kehidupan yang semakin sulit.
Keteraturan, itu yang diinginkan Tuhan dari kita untuk kita terapkan dalam hidup kita. Bukan kesemrawutan apalagi kesemena-menaan. "Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur." (1 Korintus 14:40). Sopan dan teratur, seharusnya bisa menjadi cerminan sikap atau perilaku dari anak-anak Tuhan, karena itu yang dikehendaki Tuhan untuk kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Jangan dulu bermimpi untuk menikmati kota yang berjalan dengan tertib, rapi dan teratur, penuh sopan santun jika kita sendiri belum mampu melakukannya. Mulailah dari diri sendiri, belajarlah dari belalang atau semut mengenai hal ini, dan mari kita melatih diri untuk melakukannya. Betapa indahnya jika segalanya berjalan dengan teratur, dan itu bisa dimulai dari diri kita.

Jangan menuntut orang lain terlebih dahulu, tetapi mulailah dari diri sendiri

Wednesday, March 17, 2010

Bertolak Ke Dalam

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 5:4
=====================
"Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan."

bertolak ke dalamSeberapa jauh kita menyerahkan hidup kita ke dalam tangan Tuhan dari pola pikir dan cara hidup kita. Kata menyerahkan hidup ke dalam tangan Tuhan mungkin sudah terlalu sering kita dengar, tapi sedikit yang mau menjalankan dengan sungguh-sungguh. Beribadah, itu berbeda dengan mencari nafkah. Dalam beribadah kita melibatkan Tuhan, namun dalam kehidupan sehari-hari itu sulit kita lakukan. Kita mungkin berpikir, urusan pekerjaan kan urusan kita. Kita sudah sekolah tinggi-tinggi untuk menjadi ahli dalam sebuah bidang tertentu, kita menguasai strategi bisnis, keuangan, kepemimpinan atau memproduksi barang, kenapa pula harus Tuhan dan lagi-lagi Tuhan yang dilibatkan disana? Bagi sebagian orang, Tuhan tidak lebih dari sosok yang "old fashioned" dan hanya mengurusi kerohanian saja. Bagi sebagian lagi, Tuhan tidak lebih dari palang pintu terakhir ketika semua tidak lagi bisa dilakukan. Sedang bagi sebagian orang lainnya, Tuhan adalah sekoci penyelamat agar tidak masuk neraka. Tidak, Tuhan bukanlah seperti itu. Dia menyediakan segala yang baik, bahkan lebih dari baik kepada kita. RancanganNya indah kepada siapapun kita. Menyerahkan kehidupan kepadaNya akan membawa kita kepada pencapaian-pencapaian yang bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya. MembiarkanNya berkarya atas hidup kita akan membuat kita menikmati sesuatu yang tidak terbayangkan.

Mari kita lihat kisah pertemuan Petrus dengan Yesus. (Lukas 5:1-11). Kejadiannya di pinggir pantai Genesaret, dimana Yesus pada saat itu tengah dikerumuni banyak orang yang siap mendengarkan khotbahNya. Petrus dan rekan-rekannya pada saat itu sedang mencuci jalanya dengan tangkapan nihil. Apa karena Petrus dan rekan-rekan merupakan nelayan amatiran? Tentu tidak. Sebagai nelayan tentu mereka sudah melakukan itu sejak usia muda. Mereka tentu terlatih. Mereka tahu kapan saat yang tepat untuk menangkap ikan, bagaimana menghindari ombak dan badai, bahkan saya yakin mereka punya naluri yang baik untuk mendeteksi di mana ikan akan banyak terdapat. Tapi itulah yang terjadi pada hari itu. Mereka tidak mendapatkan satu tangkapan pun. Semalaman penuh di danau tapi tidak membawa hasil apapun. Di saat itu mereka bertemu dengan Sosok yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya. Dan Sosok itu datang menghampiri, naik ke atas perahu Petrus, bukan untuk menyewa perahunya atau mau menangkap ikan, tapi Dia ingin menggunakan perahu Petrus untuk memberitakan firman Tuhan. Jika itu sudah cukup aneh, lihatlah hal yang lebih aneh lagi. Sosok asing ini jelas-jelas bukan seorang nelayan. Tapi Dia malah menyuruh Petrus untuk kembali ke tengah danau dan menebarkan jala lagi. "Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." (Lukas 5:4). Simon Petrus dan teman-temannya pasti merasa aneh, karena mereka yang ahli menangkap ikan saja sudah gagal melakukan itu tanpa hasil apapun. Jika kita di posisi Petrus apa yang akan kita lakukan? Sinis? Tertawa? Marah karena merasa dipermainkan? Mungkin itu yang menjadi reaksi spontan kita, tapi tidak bagi Petrus. Lihatlah apa yang dilakukannya. Ia mengambil sebuah langkah iman. Ia memilih untuk menuruti Yesus. "Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (ay 5). Sebuah pilihan yang tepat yang mengubahkan hidup. Kita tahu yang terjadi kemudian. "Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam." (ay 7-8). Dan tersungkurlah Petrus di hadapan Yesus. Tapi ternyata berkat Tuhan itu tidak berhenti hanya kepada mendapat berkat materi saja, karena dengan perkataan "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia" (ay 11) yang terkenal itu, Simon Petrus pun kemudian menjadi sosok yang dipakai Tuhan secara luar biasa.

Lihatlah apa yang disediakan Tuhan kepada orang yang taat kepadaNya. Tuhan bukanlah Sosok yang hanya berguna untuk urusan-urusan rohani saja. Jika Tuhan dilibatkan, maka keberadaan Tuhan itu akan membawa berbagai hasil yang luar biasa dalam segala sisi kehidupan. Betapa seringnya kita menyampingkan Tuhan untuk urusan-urusan pekerjaan atau hal duniawi lainnya. Atau bagi sebagian orang mungkin ragu apakah Tuhan memang mau terlibat dalam urusan kerja dan sebagainya.Tuhan tentu mau. Dia begitu mengasihi kita anak-anakNya dan telah menyiapkan segala yang terbaik bagi diri kita.

Kepada Yosua Tuhan menjanjikan "Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa." (Yosua 1:3). Ini berkaitan dengan janji yang diberikan Tuhan kepada Musa sebelumnya. "Setiap tempat yang diinjak oleh telapak kakimu, kamulah yang akan memilikinya: mulai dari padang gurun sampai gunung Libanon, dan dari sungai itu, yakni sungai Efrat, sampai laut sebelah barat, akan menjadi daerahmu." (Ulangan 11:24). Setiap tempat yang diinjak oleh telapak kakimu, mengajarkan kita untuk berani mengambil langkah untuk masuk ke tempat yang lebih dalam lagi. Tidak hanya berhenti di pinggir, tidak hanya suam-suam kuku, tapi masuk lebih dalam lagi ke dalam hubungan yang semakin erat dengan Tuhan, dan melibatkanNya dalam segala sesuatu yang kita jalani dalam hidup ini. Ada kalanya untuk masuk ke tempat yang lebih dalam kita harus siap meninggalkan zona nyaman kita, kita harus mengalami sesuatu yang sulit terlebih dahulu, tapi jika berkat Tuhan tersedia disana, dan Tuhan sendiri telah menyuruh kita untuk bertolak lebih dalam lagi, mengapa tidak? Bertolak lebih dalam akan membawa kita mengalami pencapaian-pencapaian yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Hari ini marilah kita mengambil komitmen untuk melatih diri melangkah lebih dalam lagi. Teruslah menapak hingga kita bisa menemukan berkat-berkat berkelimpahan yang telah Dia sediakan bagi kita. Libatkan Tuhan dalam setiap sisi kehidupan, baik pekerjaan, keluarga, pelayanan, pendidikan dan sebagainya. Perahu iman kita siap untuk dipakai Tuhan untuk melakukan pekerjaanNya yang besar. Apa yang harus kita lakukan adalah sebuah langkah iman untuk menuruti Tuhan, percaya kepadaNya dan terus masuk lebih dalam. Petrus sudah melakukannya. Dia menurut dan melemparkan jalanya di tempat dalam, dan ia pun melihat bagaimana Tuhan bekerja dalam hidupnya. Ia menuai berkat secara luar biasa, hingga tidak lagi sanggup ia terima sendirian. Jangan pilah-pilah mana yang berhubungan dengan Tuhan dan mana yang tidak, karena Tuhan rindu untuk memberkati setiap usaha yang anda lakukan dalam hidup saat ini. Siapkah anda menebarkan jala untuk menerima berkat? Bertolaklah ke dalam.

Berkat Tuhan tersedia bagi semua orang yang mau mengambil langkah iman untuk menuruti perintahNya

Tuesday, March 16, 2010

Di Belakang Panggung

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Korintus 15:58
============================
"Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."

jerih payah tidak sia-sia, di belakang panggungSetiap kali meliput sebuah konser saya selalu tertarik untuk melihat seperti apa keadaan di belakang panggung. Sebuah panggung tempat perhelatan pertunjukan biasanya akan ditata sedemikian rapi dan seindah mungkin agar terlihat menarik bagi penontonnya. Sorot lampu, tata suara, desain panggung, penempatan pemain musik dan sebagainya akan diatur sedemikian rupa demi kenyamanan penonton. Tapi di belakang panggung situasi seringkali terlihat sebaliknya. Kabel seliweran, dan ada banyak yang tidak terawat dengan baik. Sampah, debu dan sebagainya ada dimana-mana. Memang tidak ada penonton yang melihat itu, tapi apakah terlalu sulit untuk sedikit lebih memperhatikan tempat itu? Sekedar menyapu dan merawat tidaklah membutuhkan tenaga atau biaya yang besar.

Kita seringkali bertindak seperti itu. Kita lebih mementingkan penampakan luar ketimbang pembenahan dalam. Kita terlalu lelah mematut diri agar terlihat indah di mata orang dan tidak lagi punya waktu untuk mengurus bagian dalam diri kita. Dosa-dosa belum diselesaikan, masih menyimpan dendam, iri, dengki, atau pikiran-pikiran jahat. Di luar kita tampak sempurna, tapi dibalik itu semua, hati kita masih kotor penuh debu. Kita hanya mementingkan bagian-bagian tertentu saja dan merasa tidak perlu membenahi seluruhnya secara total. Atau dalam bekerja misalnya, kita merasa tidak perlu total melakukannya. Kita mungkin merasa bahwa tidak ada gunanya melakukan sebaik-baiknya, toh tidak ada yang memperhatikan, apalagi memuji. Toh gajinya kecil, buat apa repot-repot? Padahal selalu ada perbedaan signifikan dari hasil sebuah pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh sepenuh hati dengan yang hanya seadanya. Mungkin apa yang kita lakukan tidak mendapat perhatian dari manusia, tapi ingatlah bahwa tidak ada satupun yang luput dari pandangan Tuhan. Dia tahu bagaimana sikap hati kita. Bagi sesama manusia mungkin saja apa yang kita lakukan tidak istimewa, tapi sesuatu yang kita lakukan dengan tulus, serius dan sungguh-sungguh akan selalu istimewa di mata Tuhan. Sekecil apapun yang kita lakukan, jika disertai dengan kerinduan memuliakan Tuhan, itu akan merupakan hadiah besar yang sangat bermakna bagiNya. Tidak mudah memang untuk bekerja sungguh-sungguh, karena pasti waktu, tenaga atau mungkin biaya akan terpakai lebih banyak. Dan membereskan masalah-masalah di dalam diri kita pun seringkali tidak gampang. Sulit sekali melepaskan pengampunan kepada orang yang telah begitu menyakiti kita, sulit sekali untuk senang melihat orang lain sukses ketika kita masih pas-pasan dan sebagainya. Tapi semua usaha itu tidak akan pernah sia-sia. Dan Paulus pun mengingatkan: "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." (1 Korintus 15:58).

Tuhan selalu mengingatkan kita untuk melakukan segala sesuatu, baik itu membenahi diri kita sendiri, dalam membina keluarga, menjalankan pekerjaan atau pelayanan dengan sebaik-baiknya. "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Mengapa harus demikian? Karena sesungguhnya upah yang terutama kita terima bukanlah berasal dari manusia tetapi justru dari Tuhan. "Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya." (ay 24). Artinya, kita selayaknya melakukan segala sesuatu dengan serius dan sungguh-sungguh untuk kemuliaan Tuhan, bukan untuk mencari upah atau penghargaan dari orang lain. Jika itu yang menjadi fokus pikiran kita, maka kita akan melakukan segalanya secara total dan tidak akan menyisakan bagian-bagian tertentu untuk diabaikan. Apa yang kita lakukan mungkin tidak mendapat apresiasi di mata orang, tapi jika itu yang Tuhan tugaskan bagi kita, kita perlu melakukannya dengan segenap hati. Sebagai bagian dari panggilan Tuhan untuk saling mengasihi dengan sungguh-sungguh (1 Petrus 4:8), menawarkan bantuan kepada yang memerlukan dengan tulus (ay 9) dan melayani orang lain sesuai karunia yang telah kita peroleh (ay 10), kita hendaklah melakukan itu semua sebagai persembahan dari diri kita untuk kemuliaan Tuhan, dan bukan untuk diri kita sendiri. Tuhan telah memperlengkapi kita semua untuk itu, dan tugas kita adalah mempergunakan semua itu dengan sebaik-baiknya untuk Tuhan. Jika itu kita lakukan, maka jerih payah kita tidak akan pernah sia-sia.

Apapun yang anda lakukan hari ini, meski tidak mendapat penghargaan dari orang lain, tetaplah lakukan dengan sebaik-baiknya karena mengasihi Tuhan. Tuhan selalu menghargai jerih payah yang kita lakukan dengan tulus dan ikhlas. Dan Tuhan bisa memberkati anda berkelimpahan walau pekerjaan anda saat ini mungkin kecil dalam penilaian manusia. Lakukan pula pembenahan diri secara total, meski sulit sekalipun. Jangan sisa-sisakan ruang yang masih bisa dimanfaatkan iblis untuk menyuntikkan dosa ke dalam diri anda. Apa yang penting bukanlah menurut pandangan manusia, tetapi pandangan Tuhan. Yang penting adalah Tuhan menyukai apa yang Dia lihat dari diri kita. Biarkan Tuhan bersukacita lewat segala sesuatu yang kita lakukan.

Tidak satupun usaha kita yang luput dari mata Tuhan

Monday, March 15, 2010

Seperti Singa

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Amsal 30:30
======================
"singa, yang terkuat di antara binatang, yang tidak mundur terhadap apapun."

seperti singaSinga dijuluki raja rimba bukanlah tanpa alasan. Seekor singa memiliki kemampuan bertarung yang lengkap. Kuat, ganas, berani, bahkan mampu memanjat pohon. Kemampuan memanjat ini membuat singa lebih dibandingkan harimau yang tidak bisa memanjat pohon. Posturnya kekar dan gagah, dengan bulu-bulu tebal mengelilingi wajahnya. Gaya singa menerkam tengkuk lawannya begitu terkenal, dan dipercaya akan segera mengatasi perlawanan musuhnya dalam waktu singkat. Ukuran seekor singa pun terbilang besar dan lebih berat jika dibanding hewan sekelasnya seperti harimau, macan tutul dan sebagainya. Beratnya bisa mencapai 200 an kg dengan kemampuan berkelahi yang luar biasa. Dengan segudang kehebatannya, tidak mengherankan jika singa dinobatkan sebagai raja rimba.

Ada satu lagi kehebatan seekor singa yang tidak boleh kita kesampingkan. Dan hal ini dicatat dalam alkitab. Singa dikatakan kuat, bahkan terkuat di antara binatang karena singa tidak pernah mundur terhadap apapun. Singa tidak menyerah. "Singa, yang terkuat di antara binatang, yang tidak mundur terhadap apapun." (Amsal 30:30). Apa yang disorot ternyata bukanlah kemampuan berkelahinya, bukan ketajaman gigi dan kuku, tapi diukur dari kemampuan mentalnya menghadapi tantangan. Singa dipandang menjadi yang terkuat karena daya tahannya yang luar biasa dalam menghadapi serangan. Seperti singa, inilah seharusnya yang menjadi gambaran tentang kita, anak-anak Tuhan yang percaya. Tapi kenyataannya, ada banyak anak-anak Tuhan yang mudah menyerah. Daya tahannya lemah, gampang patah semangat, bahkan tidak jarang yang menyerah sebelum bertanding. Kapasitas atau ukuran dirinya dianggap terlalu kecil untuk melakukan sesuatu. Padahal siapapun kita, kita sudah diperlengkapi Tuhan dengan berbagai macam talenta. Tidak itu saja, Roh Tuhan sendiri dikatakan berdiam di dalam hati kita. (Galatia 4:6). Dengan semua ini, tidak seharusnya kita menjadi pribadi-pribadi yang mudah menyerah. Tuhan menciptakan kita untuk menjadi seekor singa bukan seekor kucing. Kita diciptakan sebagai pemenang, bahkan lebih dari pemenang (Roma 8:37) dan bukan sebagai loser atau pecundang.

Lihatlah bagaimana sikap Daud menghadapi tantangan dari raksasa Goliat. Saat itu Daud masih sangat belia, dan tugasnya sehari-hari hanyalah sebagai gembala domba, tidak seperti kakak-kakaknya yang biasa maju di medan perang. Menghadapi raksasa dengan persenjataan lengkap seperti Goliat, para tentara ternyata takut. Tapi tidak demikian dengan Daud. Dia menyadari siapa dirinya, seperti apa jati dirinya diciptakan Tuhan. Demikian tanggapan Daud mendengar tantangan yang dilemparkan Goliat. "Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?" (1 Samuel 17:26). Daud tahu dimana Allah berdiri, dan jika Allah berdiri pada barisan dimana ia berada, mengapa ia harus takut? Dan kenyataannya, Daud mampu mengalahkan Goliat yang berbaju perang dan senjata lengkap hanya dengan senjata tradisional sederhana, sebuah umban (ketapel) dan batu. Itulah sikap Daud yang menggambarkan sikap seekor singa yang tidak menyerah dalam menghadapi tantangan apapun. Dalam Wahyu, Yesus pun dikatakan sebagai singa dari Yehuda yang berasal dari garis keturunan Daud. "Lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku: "Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya." (Wahyu 5:5). Yesus sebagai singa dari Yehuda telah membuktikan kekuatan sejatinya sebagai raja di atas segala raja dengan tidak mundur dari rangkaian tugasNya ke dunia seperti yang digariskan Tuhan sedikitpun. Yesus tidak mundur hingga semua Dia tuntaskan di atas kayu salib. Yesus terus bertarung mempertahankan kita semua, anda dan saya agar bisa selamat dan beroleh hidup yang kekal.

Seberapa beranikah kita hari ini menghadapi tantangan? Sudahkah kita memiliki keberanian seekor singa dalam menghadapi tekanan, atau kita masih termasuk golongan yang mudah menyerah, sedikit saja goyah sudah langsung ambruk? Sekali lagi, kita diciptakan Tuhan untuk menjadi seperti singa, menjadi seperti singa Yehuda yang sejati. Kita diciptakan bukan untuk menjadi pecundang melainkan sebagai sosok yang lebih dari orang menang. Kita diciptakan sebagai anak-anak sulungNya. Kita semua telah dibekali berbagai keahlian dan kelebihan untuk bisa tampil dengan sosok seperti singa. Dan bukan itu saja, karena ada Tuhan bersama kita yang akan selalu siap untuk membawa kita ke setiap tingkatan keberhasilan, tidak peduli sesulit apapun situasi yang kita hadapi saat ini. "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Roma 8:28). Jika situasinya demikian, mengapa kita harus takut menghadapi apapun? Milikilah karakter sejati seperti yang digariskan Tuhan untuk kita. Tunjukkan bahwa bersama Tuhan kita akan mampu melewati tantangan apapun dan keluar sebagai juara. "Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?" (Roma 8:31). Selalu ada rintangan yang harus kita hadapi dalam kehidupan ini, tetapi bersama Tuhan kita akan mampu mengatasinya dengan gemilang. Jangan mundur, jangan menyerah, tetaplah berjuang. Jangan mundur di tengah jalan, teruslah maju dan raihlah apa yang dirancangkan Tuhan dalam hidup anda. Jadilah seperti seekor singa dengan mental juara, yang tidak mundur terhadap apapun.

Jadilah pribadi seperti seekor singa yang tidak akan mundur terhadap apapun

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker