Thursday, November 30, 2017

Perusak Taman Hati (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Sekarang mari kita lihat kembali ilustrasi di awal mengenai hewan-hewan yang merusak taman. Hewan-hewan seperti tupai, tikus tanah, rakun, kelinci, rusa dan rubah tergolong hewan-hewan yang secara umum tidak berbahaya. Ukurannya pun terbilang kecil, terlihat lucu bahkan sering digambarkan sebagai tokoh-tokoh kartun yang imut-imut, tapi kerusakan kebun yang diakibatkan kehadiran mereka bisa parah. Ilustrasi ini mengingatkan kita akan pentingnya sesuatu yang sering luput dari perhatian kita, yaitu agar kita senantiasa mewaspadai kemungkinan masuknya penyusup-penyusup atau dosa-dosa kecil ke dalam diri kita. Hewan-hewan yang berukuran kecil ini akan segera lari pontang-panting jika melihat manusia. Jarang ada yang berani menyerang, kecuali hewan-hewan kecil seperti ayam atau kelinci yang bisa mereka mangsa. Tetapi meski kecil dan dianggap tidak membawa maut bagi kita ternyata bisa sangat merusak dan merugikan.

Demikian pula hidup kita. Dalam hidup sehari-hari Kita mungkin cukup waspada dan bisa menghindari dosa-dosa besar. Kita bukan pembunuh, kita tidak mencuri, tapi bagaimana dengan perasaan iri hati dan dengki? Bagaimana dengan kebiasaan berbohong? Sikap angkuh atau sombong? Korupsi sedikit? Berbagai keinginan daging? Itu bisa seperti rubah, tupai dan hewan-hewan kecil lainnya yang masuk dan merusak, membuka jalan masuk bagi banyak dosa lain dengan intensitas dan jumlah yang semakin besar. Kalau terus dibiarkan bercokol dalam hati kita, itu bisa sangat merusak dan menghancurkan hidup kita. Penyusup-penyusup 'kecil' ini mungkin terlihat sepele, tapi dampaknya bahkan bisa mendatangkan maut.

Firman Tuhan sudah mengingatkan kita agar terus memperhatikan agar terang yang ada jangan sampai berubah menjadi gelap. "Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi kegelapan." (Matius 12:35). Artinya jelas, kita tidak boleh lengah terhadap hal-hal kecil yang bisa merusak keselamatan kita untuk menyusup dan kemudian menguasai hati. Jangan sampai apa yang kita anggap tidak berbahaya ternyata merusak tatanan hati kita sehingga produk yang dihasilkan pun tidak lagi mencerminkan kebenaran dan ketetapan Tuhan. Apa yang kecil, sepele dan dianggap wajar di mata kita ternyata mampu merusak semua yang telah kita bangun dengan susah payah.

Seperti hewan-hewan yang relatif tidak berbahaya dan berukuran kecil sanggup memporak-porandakan kebun, pengaruh-pengaruh buruk yang masuk karena kita anggap biasa saja bisa menghancurkan hidup, masa depan dan rencana Tuhan bagi kita. Adalah penting bagi kita untuk memastikan bagaimana kondisi hati kita, mewaspadai segala hal yang masuk kesana, dan satu hal yang pasti, kita harus menjaganya dan menjadikan Kristus sebagai pemegang tahta disana. "Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!" (1 Petrus 3:15).

Apabila anda ingin hati anda seperti kebun yang subur dan indah, atau apabila anda punya kebun yang ditanami berbagai jenis tanaman yang bisa dikonsumsi dan menyehatkan, anda harus waspada terhadap segala hal yang bisa merusaknya. Pasang pagar kebenaran Tuhan disekelilingnya, isi dengan firman Tuhan dan rawatlah baik-baik agar firman itu bertunas, berakar dan bertumbuh dengan sehat disana, menghasilkan buah-buah yang bermanfaat bagi kita dan orang lain, dan menyenangkan hati Tuhan. Apa yang anda anggap penting untuk dijaga saat ini? Rumah/Harta? Karir, profesi? Menjaga hati dikatakan jauh lebih penting dari itu semua. Perhatikan dengan baik, rawat dan jaga. Hati merupakan sumber kehidupan dimana produk-produknya akan menentukan kemana kehidupan kita mengarah.

Hati yang indah dan subur adalah taman yang ditanami Firman Tuhan, dirawat dan dijaga dengan baik

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, November 29, 2017

Perusak Taman Hati (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Buat saya sangat menarik ketika sebuah ayat dalam Kidung Agung mengangkat hal ini. "Tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur, kebun-kebun anggur kami yang sedang berbunga!" (Kidung Agung 2:15). Ayat ini muncul mendadak di tengah rangkaian syair romantis sehingga buat saya itu menjadi pesan agar kita tidak terlena dalam kenyamanan lantas lengah terhadap penyelusup, rubah-rubah kecil yang bisa merusak kebun anggur yang sedang berbunga.

Rubah ukurannya lebih kecil dari ukuran rata-rata anjing, dan secara umum tidak berbahaya. Rubah memangsa tikus atau ternak berukuran kecil seperti ayam misalnya. Jadi, rubah tidaklah seperti singa atau harimau yang bisa membunuh kita. Kalau ketemu manusia rubah pun akan segera kabur. Tapi meski kecil dan tampaknya tidak berbahaya, rubah memang bisa merusak bahkan menghancurkan kebun. Seperti itu juga hati yang tidak terjaga baik sehingga bisa disusupi oleh dosa-dosa atau pengaruh-pengaruh yang tampaknya kecil tapi ternyata bisa menghancurkan apa yang sudah kita bangun selama ini.

Hati merupakan bagian dari diri kita yang mudah terluka, mudah sakit dan sangat rapuh. Di sisi lain, hati juga merupakan sumber kehidupan yang akan mengarahkan seperti apa kita cara hidup kita. Kalau hati diibaratkan pabrik, maka sikap, cara dan gaya hidup kita, keputusan-keputusan yang kita ambil, cara kita menyikapi berbagai hal akan menjadi produknya. Dan 'produk-produk' itu akan dilihat orang lain, bersinggungan secara langsung.

Apakah kita mencerminkan Kristus secara benar atau kita malah memberi pemahaman keliru yang justru akan membuat orang makin jauh dan antipati terhadap Dia, itu tergantung dari seperti apa kondisi hati kita, siapa yang bertahta disana. Kita juga harus menyikapi bahwa kalau hati tidak dijaga, hati dapat disusupi pengaruh-pengaruh negatif yang akan menjauhkan kita dari kebenaran. Kalau kita biarkan, hati yang terlanjur luka atau rusak seringkali memerlukan waktu yang cukup lama untuk kembali "sehat". Ada kalanya waktu kerusakan sudah terlalu parah, perbaikan menjadi sangat sulit dan akan sangat fatal apabila pada saat kita dipanggil pulang proses itu belum sempat selesai.

Itulah sebabnya Firman Tuhan mengingatkan kita akan pentingnya menjaga hati. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Dalam versi BIS dikatakan "Jagalah hatimu baik-baik, sebab hatimu menentukan jalan hidupmu." Hati merupakan tempat asal terpancarnya kehidupan, harus kita jaga baik karena itu akan menentukan jalan hidup kita, kemana hidup kita akan mengarah.

Dalam versi English Amplified ayat ini diterjemahkan "Keep and guard your heart with all vigilance and above all your guard, for out of it flow the springs of life." Kita harus menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan, di atas segala hal lainnya yang kita jaga, karena dari sana akan mengalir pancaran kehidupan.

(bersambung)


Tuesday, November 28, 2017

Perusak Taman Hati (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kidung Agung 2:15
================
Tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur, kebun-kebun anggur kami yang sedang berbunga!"

Istri saya tadi pagi kesal bukan main. Masalahnya, ia baru saja memindahkan tanaman tomatnya dari pot ke tanah, setelah ia rawat mulai dari hanya bibit. Baru sehari batang tomatnya patah, padahal ditanamnya di taman dalam rumah. Saya menduga penyebabnya adalah tikus karena disana memang ada lubang pada salah satu sisinya.

Saya pun kemudian teringat cerita seorang teman yang tinggal di luar negeri. Ia berkata bahwa menjaga taman tetap indah sangatlah sulit disana. Ada begitu banyak hewan yang siap menghancurkan taman dalam sekejap mata seperti beberapa jenis tupai (chipmunk, opossum dan sebagainya), kucing liar, rakun, rubah, kelinci dan juga rusa, selain berbagai jeis hewan pengerat lainnya. Hewan-hewan ini menganggap taman sebagai surga makanan dan biasanya mulai mengacak-acak saat orang sedang lelap tidur. Belum lagi burung, serangga atau hama. Hewan-hewan ini kebanyakan tidaklah berukuran besar dan bentuknya pun tidak menakutkan. Sebagian dari mereka bahkan digambarkan sebagai tokoh kartun yang lucu atau imut-imut. Dan memang, semuanya bukanlah hewan berbahaya. Tapi meski demikian, kerusakan pada taman atau rumah kalau mereka sampai masuk bisa cukup parah. Sudah susah payah menanam dan merawat taman, dalam satu malam saja semua bisa porak poranda karena hewan-hewan 'lucu' ini.

Tikus misalnya, yang saya duga merusak tanaman tomat istri saya, bukanlah hewan yang berbahaya. Melihat kita mereka akan kabur tunggang langgang. Tapi hewan pengerat ini memang punya daya rusak lumayan. Ia bisa mengerat kayu, menggali tanah bahkan semen pun bisa mereka jebol. Kalau masuk ke rumah, selain memakan apapun yang ada di rumah, dalam pengalaman saya termasuk tepung yang entah apa enaknya, atau buah, itu pun bisa bolong-bolong karena dikunyahnya. Kecil, tampak tak berbahaya, tetapi bisa menghancurkan.

Saya yakin tidak satupun dari pemilik taman akan diam saja melihat tamannya dirusak oleh hewan-hewan tersebut, apalagi membuka taman dan rumahnya lebar-lebar agar semua hewan perusak ini masuk untuk menghancurkan isinya. Sang pemiliki rumah pun akan mengambil tindakan-tindakan preventif seperti misalnya membuat pagar. Tapi tetap saja pemilik taman harus memperhatikan betul keadaan tamannya, karena kalau lengah maka kerusakan tetap bisa hadir meski tindakan preventif sudah dilakukan.

Ilustrasi ini saya ambil untuk menggambarkan bahwa hati kita mirip seperti taman itu. Tuhan menginginkan segala yang sehat dan memberikan kehidupan untuk tumbuh dan berkembang disana, dalam hati kita. Tuhan ingin hati kita bisa semarak seperti taman bunga yang indah. Tunas-tunas baru, kondisinya sehat dan segar, sejuk, asri dan penuh warna dimana kasihNya terpancar disana dan bisa dinikmati orang lain. Tuhan ingin hati kita tampil sebagai hati yang bersih penuh dengan potensi Ilahi, menjadi lahan subur dimana Tuhan akan meletakkan berkat dan rahmatNya yang baru setiap hari. Hati yang bersih akan mampu menjadi tempat dimana Tuhan menyatakan isi hatiNya. Semakin banyak Firman Tuhan yang ditabur tumbuh dan bertunas di dalam hati kita, maka kita pun akan semakin mampu untuk hidup benar sesuai kehendak Tuhan. Hati seperti inilah yang akan mampu mengasihi dan memberkati banyak orang.

Tetapi sebaliknya, apabila kita tidak berhati-hati, kalau kita lengah dalam melindungi hati kita, maka hati akan sangat rawan terhadap penyelusup-penyelusup yang akan dengan mudah dan cepat menghancurkannya. Kalau kondisi hati kita sampai dirusak oleh berbagai hal buruk, maka dan dengan sendirinya hidup kita pun menjadi rusak bahkan bisa hancur seperti halnya taman yang dirusak oleh berbagai hewan di atas. Hewan-hewan itu kecil dan terlihat tidak berbahaya, sebagian besar bahkan sulit terpantau karena kecil ukurannya, tetapi mereka bisa sangat merusak. Seperti itu pula penyelusup yang bisa masuk ke dalam hati kita kemudian merusak semua yang sudah kita tumbuhkan dengan susah payah.

(bersambung)


Monday, November 27, 2017

Rendah Hati, bukan Rendah Diri (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kesuksesan merupakan salah satu penyebab terbesar perubahan sikap orang dari rendah hati menjadi sombong. Godaan kesuksesan, popularitas, peningkatan karir dan sebagainya bisa dengan cepat menyelewengkan manusia untuk jatuh ke dalam dosa kesombongan. Padahal kalau mau jujur, semua talenta dan kesempatan yang datang itu adalah dari Tuhan, berasal dariNya dan atas seijinNya. Maka seharusnya semua keberhasilan itu bukan dipakai untuk menjadi sombong tetapi dipakai untuk memberkati banyak orang sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan. Kalau itu yang ada dalam hati dan pikiran kita, kita seharusnya bisa menghindari sikap sombong. Dalam Amsal 21:4 dikatakan juga bahwa hati yang sombong adalah dosa. Karenanya kita harus berhati-hati .

3. Orang yang rendah hati mau diajar dan belajar

Ada sebuah firman Tuhan yang mengatakan: "Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati." (Mazmur 25:9).

Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa orang-orang yang rendah hati memiliki kemauan untuk diajar dan terus belajar. Jalan Tuhan terbentang luas di dalam Alkitab dan mudah kita dapati. Hanya orang yang rendah hatilah yang mau terus membenahi diri untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Belajar tentang ilmu pengetahuan, terus meningkatkan pengetahuan dan keahlian itu sangat perlu. Tapi jangan lupa pula untuk belajar terus bijaksana, berhikmat dan terus memperdalam pengetahuan akan hati Allah dan prinsip-prinsip kebenaran KerajaanNya. Tuhan siap membimbing orang-orang yang mau mengakui kekurangannya dan terus belajar, membaca, meneliti, merenungkan, memperkatakan dan melakukan Firman Tuhan.

Sikap tinggi hati menjadi penghalang besar untuk bertumbuh. Bagaimana Tuhan mau mengajar orang yang merasa dirinya hebat, bahkan lebih pintar dari Tuhan? Bagaimana Firman Tuhan bisa tertanam dan bertumbuh apabila Firman itu jatuh di atas tanah yang keras berbatu? Keangkuhan tentu akan merugikan kita sendiri. Dengan memiliki kerendahan hati berarti kita pun memiliki kesempatan untuk belajar dan bertumbuh, bahkan dibimbing secara langsung oleh Tuhan. Itu akan sangat bermanfaat bagi kehidupan kita.

4. Orang yang rendah hati tidak mendahulukan kepentingan diri sendiri

Keangkuhan bisa membuat orang besar kepala dan lupa diri, sehingga menganggap diri mereka yang paling penting. Dan itu akan kontraproduktif baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Dalam dunia musik yang saya hidupi, sebuah band bisa hancur seketika kalau personilnya punya sikap seperti ini. Keutuhan keluarga bisa runtuh, begitu pula dengan persekutuan, organisasi atau ikatan lainnya. Sikap mendahulukan kepentingan sendiri sepintas tampaknya sepele, tetapi ada banyak kerugian bahkan kehancuran yang bisa timbul dari sikap itu.

Orang yang rendah hati tidak akan bersikap egois karena mereka akan memikirkan orang lain terlebih dahulu ketimbang kepentingan dirinya sendiri. Firman Tuhan berkata: "..Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga." (Filipi 2:3-4). Sifat rendah hati akan memampukan kita memunculkan sikap seperti ini dalam kehidupan yang kita jalani.

Dari 4 hal di atas kita bisa melihat kualitas tinggi yang akan tampil apabila kita hidup dengan sikap rendah hati. Karena itu tidaklah heran jika Tuhan pun meninggikan orang-orang yang memiliki sifat rendah hati, bahkan siap memahkotai dengan keselamatan. Bukan hanya keselamatan dari bahaya, sakit penyakit dan sebagainya, tetapi keselamatan jiwa yang kekal sifatnya, atau dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan salvation. Itulah yang dimahkotai Tuhan kepada orang-orang yang rendah hati.

Dalam ayat Mazmur 149:4 dikatakan "Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi TUHAN; sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman." (Amsal 16:5). Seharusnya kita ingat bahwa kita hanyalah berasal dari debu (Mazmur 103:14), dan semua yang kita miliki sesungguhnya berasal dari Tuhan. (Ulangan 8:14-18).

Oleh karena itu, milikilah sifat rendah hati, bukan rendah diri. Teruslah ingatkan diri kita untuk itu agar kita tidak terjebak untuk menjadi orang-orang sombong, tinggi hati tapi menerapkan sikap rendah hati yang bukan hanya baik buat orang lain tapi juga bagi kita sendiri.

Being humble means recognizing that we are not on earth to see how important we can become but to see how much difference we can make in the lives of others - Gordon B Hinckley

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, November 26, 2017

Rendah Hati, bukan Rendah Diri (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Dari dua ayat di atas saja kita bisa melihat betapa berbahayanya hidup yang memelihara sikap tinggi hati. Sikap rendah hati merupakan sebuah keharusan untuk dimiliki oleh anak-anak Tuhan. Kalau dalam ayat di atas kita melihat betapa kerasnya Firman Tuhan menegur mereka yang sombong, congkak atau tinggi hati, sebaliknya Tuhan menjanjikan banyak kebaikan buat orang-orang yang rendah hati. Lihatlah salah satunya: "Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan." (Mazmur 149:4).

Keselamatan, itu sebuah anugerah yang terbesar yang bisa kita peroleh. Dan itu siap disematkan kepada kita apabila kita memiliki sebuah sikap rendah hati. Bacalah juga ayat berikut ini: "Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan." (Amsal 22:4). Kalau kita lihat dari ayat-ayat yang sudah saya sebutkan saja, tidakkah kita seharusnya tahu bahwa kesombongan hanya akan merugikan kita sendiri, sementara rendah hati akan mendatangkan kebaikan bukan saja sekarang tapi juga untuk di kehidupan selanjutnya.

Sekarang mari kita lihat lebih dalam seperti apa sebenarnya rendah hati itu. Setidaknya ada 4 hal yang bisa kita lihat sebagai gambaran apa yang disebut dengan rendah hati menurut Firman Tuhan.

1. Orang yang rendah hati memiliki kebesaran hati dan keberanian untuk mengakui kesalahan

Saya menempatkan poin ini sebagai yang pertama karena banyak orang yang bermasalah dengan kebesaran hati untuk mengakui kesalahan. Mengaku salah dianggap merupakan hal yang terlalu sulit untuk dilakukan. Rasa gengsi yang terlalu besar, takut kehilangan harga diri, takut disepelekan, ditertawakan, dipermalukan dan sebagainya membuat kita berat untuk meminta maaf, meski dalam hati kita tahu kesalahan kita.

Ada banyak pula orang yang mengira bahwa mengakui kesalahan merupakan bentuk dari kekalahan. Bagi saya, kebesaran hati untuk mengaku salah justru menjadikan kita sebagai pemenang. Pemenang dari orang yang kita mintakan maaf? Bukan, melainkan menang dari ego, menang dari segala kekuatiran atau ketakutan yang saya sebutkan di atas, menang atas potensi tinggi hati dan menang melawan hal-hal yang merintangi kita dari kasih Tuhan.

Masalah kerelaan untuk meminta maaf merupakan hal yang sangat esensial di mata Tuhan. Sebab bagaimana mungkin kita bisa diampuni Tuhan apabila kita tidak mengakui dosa-dosa kita secara terbuka di hadapanNya? Firman Tuhan pun berkata: "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9).

Tuhan mau dan akan segera mengampuni, menyucikan kita, tetapi diperlukan kerendahan hati kita untuk mau mengakui dosa-dosa kita. Kerelaan mengaku salah menunjukkan kebesaran hati. Tidak ada satupun manusia yang sempurna. Akan ada waktu dimana kita melakukan kesalahan. Dan apabila itu terjadi, daripada mencari pembenaran atau kambing hitam, tidakkah lebih baik kalau kita cepat menyadari kesalahan kemudian menyelesaikannya dengan orang-orang yang bersangkutan? Untuk bisa mengakui kesalahan dibutuhkan kerendahan hati yang akan membuat kita terbebas dari ikatan kesombongan, egoisme, mau menang sendiri dan sebagainya yang akan menghalangi kita dari kebesaran hati untuk bisa mengakui kesalahan.

2. Orang yang rendah hati tidak sombong

Sombong, tinggi hati, congkak, sombong, angkuh, dan berbagai sinonim lainnya adalah lawan kata dari rendah hati. Artinya orang yang rendah hati tidak akan bersikap sombong, dan begitu juga sebaliknya. Dengan bersikap sombong bukan saja kita dijauhi orang lain, tapi Tuhan pun akan menjauhi kita, bahkan dikatakan menentang kita. "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (Yakobus 4:6b). Apa maksudnya Tuhan mengasihani? Mengasihani dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "gives grace, continually", memberi kasih karuniaNya secara terus menerus, kontinu. Lihatlah betapa tingginya penghargaan Tuhan atas sikap rendah hati. Sebaliknya Tuhan sendiri akan menjadi lawan kita apabila kesombongan atau sikap tinggi hati terus kita pertahankan dalam diri kita.

(bersambung)


Saturday, November 25, 2017

Rendah Hati, bukan Rendah Diri (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 149:4
====================
"Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan."

Suatu kali saya mendapat kesempatan emas untuk mewawancarai seorang artis legendaris dari luar negeri. Beliau sudah berkiprah selama lebih dari 50 tahun, bukan saja sudah melewati begitu banyak perubahan era dalam dunia musik tapi ia pun merubah trend musik beberapa kali selama karirnya. Ada banyak albumnya yang menjadi tonggak penting dalam sejarah musik khususnya pada genre dimana ia fokus. Hari ini ia menjadi tokoh yang sangat dihormati oleh insan musik lintas genre. Hebatnya, ia masih sangat aktif berkarya. Saya melakukan wawancara itu pada malam hari, dan ia baru saja tiba di hotel setelah menempuh waktu penerbangan yang sangat panjang. Ia pasti lelah, jet lag dan butuh istirahat. Tapi ia masih melayani beberapa wartawan untuk melakukan sesi wawancara. Apa yang saya rasakan pada waktu itu adalah sebuah rasa senang dan bangga bisa bertemu dan berbincang langsung dengan tokoh besar yang satu ini. Kesan yang saya dapat, beliau adalah orang yang ramah dan enak diajak bicara. Meski ia terlihat lelah, ia tetap dengan baik menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Keesokan harinya saya berpapasan lagi dengan beliau di lobby hotel. Saya melemparkan senyum dan menyapanya. Diluar dugaan, ia menghampiri saya dan mengulurkan tangan seraya berkata : "I'm sorry if the interview last night wasn't good.. I was tired after a long fight and had a jet lag." Saya kaget dan segera berkata bahwa wawancara kemarin sempurna dan buat saya sangat berkesan. Ia pun tersenyum, mengucapkan terimakasih sambil menjabat tangan saya dengan erat. Menurut saya wawancara itu memang berjalan sangat baik. Ia menjawab dengan antusias dan ramah, tertawa saat ada yang lucu dan tidak menunjukkan tanda-tanda terganggu. Jadi saya kaget saat ia datang dan meminta maaf karena merasa sikapnya masih kurang baik saat wawancara. Apalagi ia ternyata mengingat saya diantara sekian banyak wartawan lainnya disana pada malam itu.

Tidak salah saya mengagumi tokoh ini sejak lama. Meski sudah menjadi legenda hidup dengan segudang prestasi, sangat berpengaruh di dunia musik dan dihormati ternyata tidak menjadikannya orang yang sombong melainkan tetap ramah dan rendah hati. Coba bandingkan dengan seorang artis terkenal di negara kita yang karirnya masih seumur jagung tapi perilakunya terbilang keterlaluan. Selain omongannya tinggi dan terbilang tidak ramah (kecuali di depan kamera), banyak penyelenggara yang bercerita bahwa ia dan tim manajemennya sangat kasar kepada pihak pengundang dan musisi lainnya yang berbagi panggung dengannya. Ada seorang musisi yang menceritakan kekesalannya pada saya karena tas gitarnya ditendang sang artis karena dianggap menghalangi jalan yang akan dilintasinya. Padahal tas itu tidaklah terlalu ditengah dan masih ada banyak ruang kosong yang muat untuk dilewati satu atau lebih orang. Luar biasanya, diluar fee dan fasilitas kelas satu yang harus disediakan, kalau ia belanja apapun maka panitia lah yang harus menanggung sepenuhnya. Minta dikawal bak ratu, mobil yang mengangkutnya pun harus jenis tertentu yang harganya mahal sekali. Kalau saya sebut namanya anda pasti kenal, dan mungkin mengidolakannya. Banyak yang menyuarakan kapok mengundangnya, dan kalau makin banyak yang kapok karirnya bisa cepat tamat. Alangkah sayangnya kalau itu yang terjadi, mengingat ia sebenarnya punya banyak kelebihan yang akan sangat baik jika dipakai untuk menjadi berkat buat banyak orang.
Yang satu rendah hati, yang satu tinggi hati. Kalau melihat karir dan pencapaian, bedanya bumi dan langit. Dari sikap ternyata juga perbedaannya sama bumi dan langit hanya saja berbanding terbalik. Tokoh legendaris punya banyak alasan untuk meninggikan diri, tapi ia tidak melakukan itu. Sebaliknya artis baru ini bahkan jumlah albumnya hanya seperseratus dari tokoh legendaris namun benar-benar menunjukkan sikap tinggi hati yang luar biasa.

Berada di dalam industri musik membuat saya bisa melihat sikap-sikap para pelaku yang hidup didalamnya, baik saat didepan kamera maupun dibelakang layar. Ada banyak musisi atau artis yang tetap rendah hati, ramah terhadap fans bahkan masih rutin melayani, sebaliknya banyak yang besar kepala dan lupa diri. Satu hal yang saya amati, para legenda hidup di dalam dan luar negeri biasanya humble, membumi dan rendah hati. Tampaknya kerendahan hati memang menjadi salah satu modal utama mereka untuk bisa memiliki karir yang panjang dan terus sukses menghasilkan buah hingga usia lanjut mereka. Mereka yang tinggi hati atau sombong biasanya akan cepat tersingkir seiring waktu. Saya memberi contoh dunia musik karena saya hidup didalamnya, tapi saya percaya teman-teman tentu bisa memberi contoh lain dari dunia profesi dan lingkungan dimana anda berada.

Kalau dalam beberapa renungan terdahulu kita sudah melihat soal murah hati dari berbagai sisi, hari ini mari kita lihat satu lagi sikap hati yang harus dimiliki oleh orang percaya yaitu rendah hati. Ada banyak orang yang keliru mencampurkan rendah hati dengan rendah diri. Kerap keduanya tertukar dalam penerapannya. Keduanya memang menunjukkan sikap merendah yang tidak sombong atau juga egois, tapi perbedaannya sebenarnya sangat besar. Rendah diri adalah sebuah sikap negatif yang memandang rendah diri sendiri, malu mengakui kemampuan atau apa yang dimiliki, takut melakukan sesuatu karena belum-belum sudah merasa tidak sanggup. Sedangkan rendah hati adalah sebuah sikap hati yang tidak membesarkan diri sendiri dan tidak segan menghargai orang lain. Jadi perbedaannya jelas. Satu negatif, satu positif meski keduanya sama-sama memakai kata rendah.

Apa kata Firman Tuhan soal rendah hati?  Hal rendah hati sangat penting dan dipandang serius, dan itu bisa kita lihat dari banyaknya peringatan akan hal ini di dalam Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Orang cenderung menjadi sombong ketika kehidupannya sukses. Perbedaan sikap hati dua artis di atas barulah sedikit dari banyak contoh lainnya yang bisa dengan mudah kita jumpai di sekitar kita. Ada yang mengira mereka akan terlihat berwibawa, berpengaruh dan terlihat hebat jika mereka tampil angkuh, terus omong besar dan meninggikan diri. Padahal kalau hal ini dilakukan, tidak saja orang akan menjauhi, tetapi kita pun akan bermasalah dengan Tuhan.

Penulis Amsal memberi peringatan akan potensi kehancuran jika memelihara sikap tinggi hati seperti itu. "Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan." (Amsal 16:18). Lalu lihat pula ayat yang tidak kalah keras ini: "Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu. Sebab TUHAN semesta alam menetapkan suatu hari untuk menghukum semua yang congkak dan angkuh serta menghukum semua yang meninggikan diri, supaya direndahkan;" (Yesaya 2:11-12).

(bersambung)


Friday, November 24, 2017

Luas Jangkauan Murah Hati (4)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Jika demikian, yang dituntut dari kita adalah seperti ini: "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (ay 48). Seperti halnya Bapa di surga mengasihi semua orang dengan sempurna, seperti itu pula kita dituntut untuk berlaku. Membantu, memberi tanpa pamrih, tergerak dan terpanggil untuk melakukan sesuatu secara nyata bukan karena mengharap imbalan atau memiliki tujuan tersembunyi di belakangnya, tapi murni karena belas kasihan, sebuah kemurahan hati yang didasari kasih. Bukan sembarang kasih, tetapi seperti kasih Allah yang tinggal diam di dalam diri kita.

6. Kemurahan hati itu digerakkan oleh kasih

Yesus mengajarkan: "Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya." (1 yoh 4:21) Yesus juga berkata: "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34).

Sesungguhnya kemurahan hati yang digerakkan oleh kasih memiliki posisi yang sangat tinggi dalam kekristenan. Sudahkah kita memilikinya, dan sudahkah kita mewujudkannya lewat perbuatan-perbuatan nyata kita? Sudahkah kita peka terhadap kesulitan orang di sekeliling kita dan bergerak untuk memberikan bantuan nyata? Atau kita masih berhenti pada ucapan prihatin tanpa perbuatan, masih berhitung untung rugi, memikirkan manfaat apa yang bisa kita peroleh dibaliknya, atau malah tidak peduli sama sekali? Simpati atau iba itu baik, tapi tidak akan ada hasilnya jika tidak diikuti dengan perbuatan nyata. Dan itu haruslah berasal dari hati yang mengasihi. Itulah sebuah kemurahan hati yang selayaknya dimiliki oleh kita.

Paulus sudah mengingatkan kita akan hal ini: "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." (1 Yohanes 2:6). Kalau begitu, apakah kita sudah mencerminkan pribadiNya yang murah hati dan penuh kasih dalam kehidupan sehari-hari? Maukah kita mengorbankan waktu, tenaga, perhatian dan materi untuk datang kepada sesama kita memberi pertolongan tanpa memandang latar belakang ras, suku, agama, golongan atau kepentingan politis lainnya? Siapkah kita menunjukkan kemurahan hati lewat tindakan nyata yang berasal dari kasih karunia Allah, merupakan cerminan Allah, dan berasal dari kasih?

Hendaknya apa yang kita pelajari dari orang Samaria yang murah hati bisa membuka cakrawala pemahaman kita tentang luasnya daya jangkau kemurahan hati yang harus dimiliki oleh orang percaya.

Orang diluar sana banyak yang dikuasai kebencian, dendam, buruk sangka dan tertutup hatinya untuk mengetahui seluas apa sebenarnya kasih menurut hati Tuhan dimana murah hati menjadi salah satu produk yang bisa secara nyata menyentuh sesama.

Anda menolong tapi bukannya dihargai dan berterimakasih tapi malah menjadikannya masalah untuk melukai anda? Biarlah. Manusia bisa melakukan itu, tapi Tuhan akan sangat menghargai perbuatan anda. Show real love, real compassion and real generousity based on God's heart we know from the Bible. If the Samaritan could, why couldn't we?

Generousity is a Practical Expression of Love - Pastor Gary Inrig

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, November 23, 2017

Luas Jangkauan Murah Hati (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Dari kisah orang Samaria ini kita bisa belajar beberapa hal mengenai murah hati.

1. Orang yang murah hati tidak akan berdiam diri saat ada orang yang ditimpa kesusahan dan membutuhkan bantuan

Saat kedua petinggi rohani memilih untuk tidak melakukan apa-apa dengan alasan tertentu, orang Samaria yang murah hati melakukan sesuatu tanpa memandang sekat apapun. Kalau melihat jejak permusuhan antara Samaria dan Yahudi, seharusnya orang Samaria ini tertawa puas melihat ada orang Yahudi yang sekarat disana, kalau tidak menambahkan satu dua penderitaan lagi terhadap korban yang sudah tidak berdaya.

Tertawa di atas penderitaan orang lain, tidak kunjung puas menyiksa, itu dilakukan oleh banyak orang yang hatinya dipenuhi kebencian sampai hari ini. Bahkan belakangan bangsa kita tengah terluka akibat sekelompok orang yang sikapnya seperti itu. Yesus mengajarkan bahwa orang yang memiliki kemurahan hati tidak akan berdiam diri melihat ada yang tengah menderita dan butuh bantuan, apapun alasannya. Kapanpun, dimanapun, untuk siapapun, kalau kita melihat ada yang butuh bantuan kita tidak boleh berdiam diri. Itulah kemurahan hati poin pertama.

2. Orang yang murah hati membantu tanpa memandang latar belakang yang ditolong

Orang Samaria menunjukkan kemurahan hati karena ia bergerak menolong orang Yahudi ini tanpa memandang latar belakangnya. Inilah bentuk sebuah kemurahan hati yang seharusnya ada pada kita, yang tidak terhenti hanya karena adanya perbedaan-perbedaan seperti suku, ras, agama, golongan dan lain-lain.

Bagaimana jika orang yang hendak kita tolong bukannya berterimakasih tapi malah merugikan kita? Itu pun terjadi hari ini. Sudah menikmati kebaikan tapi malah menyakiti orang yang sudah memberikannya. Bahkan bukan cuma dalam hubungan horizontal antar manusia, kita pun kerap melakukan hal yang sama dalam hubungan vertikal dengan Tuhan. Sudah kita nikmati berkat dan kasihNya, kita masih tega menyakiti Tuhan lewat perbuatan-perbuatan kita yang buruk. Tapi hati Bapa terus setia mengasihi. Dia bahkan menganugerahkan AnakNya sendiri untuk menebus orang-orang berdosa yang butuh pertolongan termasuk kita.

Pertama, murah hati menurut kekristenan jelas punya daya jangkau sangat luas yang menembus sekat-sekat dan batas perbedaan. Kedua, murah hati menurut kekristenan tidak pernah tergantung dari latar belakang penerimanya atau reaksi apa yang akan kita dapat dari mereka melainkan tergantung dari seperti apa kondisi hati kita, apakah dipenuhi kasih karena adanya Roh Allah berdiam disana atau tidak. Jadi bukan karena orang, tapi karena Tuhan. Seperti itulah murah hati seharusnya menurut kekristenan.

3. Murah Hati bukan saja mendatangkan kebaikan bagi sesama tapi juga pada diri sendiri

Kalau kita mundur ke belakang, dalam Amsal disebutkan "Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri." (Amsal 11:17). Sebuah sikap murah hati dikatakan Firman Tuhan mendatangkan banyak kebaikan kepada diri sendiri, bukan hanya kepada orang-orang yang kita bantu saja. Sebaliknya orang yang tega melihat kesusahan orang lain dan menutup pintu hatinya rapat-rapat, itu tidaklah mendatangkan manfaat tapi malah merugikan bahkan menyiksa diri sendiri.

Bukankah hati yang dipenuhi kebencian, sikap apatis, tidak punya empati dan simpati tidak akan pernah membuat kita bahagia? Bukankah sikap-sikap negatif pada hati yang berlawanan dengan murah hati merupakan kontradiksi dari kasih? Kalau sudah begitu bagaimana kita mau merasakan damai sejahtera? Hidup yang tidak merasakan kedamaian dan sukacita akan sangat berat dijalani. Itu akan sangat menyiksa kita. Bangun pagi sudah merasa pahit di hati, sudah merasakan kebencian dan kemudian menyebar kebencian dalam kehidupan yang dijalani.

Bayangkan betapa menderitanya hidup seperti itu. Orang baru bisa murah hati kalau hatinya dipenuhi kasih. Orang yang hatinya seperti itu akan sangat bahagia kalau bisa membantu orang lain. Semakin banyak yang dibantu, semakin bahagia pula hatinya. Itu berarti kita berbuat baik pada diri kita sendiri. Tapi yang hatinya berisi hal-hal berlawanan dengan kasih sama saja dengan menyiksa badannya sendiri, baik saat masih di dunia maupun nanti pada masa kekekalan. Siksaan yang kekal nanti akan jauh lebih mengerikan dibanding sekarang. Karena itu Firman dalam Amsal 11:17 di atas sangat penting untuk kita ingat.

(bersambung)

(sambungan)

Firman Tuhan pun sudah berkata bahwa "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan." (Amsal 11:24) dan "Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan, tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki." (28:27). Firman Tuhan sudah mengatakan bahwa kerelaan memberi, membagikan sebagian dari apa yang ada pada kita untuk saudara-saudara kita yang tengah kesusahan tidak akan pernah membuat kita berkekurangan. Ini sejalan dengan bagian dari kotbah Yesus di atas bukit yang sudah saya sampaikan dalam renungan sebelumnya "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan." (Matius 5:7).

4. Murah Hati harus ditunjukkan lewat perbuatan nyata

Cukupkah murah hati itu diwakili oleh sebuah perasaan kasihan, ungkapan simpati yang hanya berhenti hingga kata-kata yang keluar dari mulut saja tapi tidak disertai perbuatan nyata? Kita tahu jawabannya adalah tidak, tapi banyak dari kita yang berhenti sebatas itu saja karena malas atau takut repot dan rugi.

Firman Tuhan berkata: "Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17). Ini adalah sebuah pertanyaan yang sangat mendasar. Bagaimana mungkin kita mengaku memiliki kasih Allah, mengaku sebagai anak Allah, tetapi kita tidak melakukan apa-apa secara nyata dan hanya bilang kasihan saja? Maka apa yang harus kita lakukan pun hadir dalam ayat berikutnya. "Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran." (ay 18). Bukan hanya dengan perkataan, bukan sebatas di bibir atau lidah saja, tetapi haruslah lewat perbuatan-perbuatan yang dilakukan/diaplikasikan secara nyata dan berakar dalam kebenaran.

Yakobus juga menyinggung perihal kemurahan hati yang diikuti dengan perbuatan nyata ini. Mari kita lihat apa yang ia utarakan. Ia berkata "Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?" (Yakobus 2:15-16). Bukankah banyak diantara kita yang masih tanpa sadar melakukan ini? Ketika orang butuh bantuan, kita mungkin menunjukkan rasa prihatin, bahkan mungkin mengeluarkan kata-kata nasihat yang panjang, menguliahi atau mengkotbahi mereka, tetapi kita tidak melakukan apapun secara nyata untuk meringankan beban mereka. Yakobus mengingatkan bahwa semua itu tidaklah berguna. Itu sama saja dengan iman yang hanya kita katakan, kita hanya mengakui kita memiliki iman, tapi kita tidak menyertainya dengan perbuatan. Dan iman seperti ini dikatakan pada hakekatnya adalah mati. (ay 17).

Kemurahan hati seperti halnya iman haruslah diikuti dengan sebuah perbuatan nyata. Contoh orang Samaria yang murah hati sangat baik untuk dijadikan  pelajaran yang baik mengenai bagaimana sejatinya murah hati itu kita terapkan dalam bentuk-bentuk nyata, bukan sebatas omongan atau retorika.

5. Murah Hati tidak mengharapkan imbalan

Penerapan kemurahan hati yang berdasarkan sebab akibat dan untung rugi tidak akan pernah mendapat pembenaran dari Tuhan. Memberi hanya karena membalas pemberian orang, atau berharap diberi kembali, berbuat baik karena orang baik kepada kita, mengasihi orang karena mereka mengasihi kita, itu semua masih terlalu dangkal.

Yesus mengatakan "Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?" (Matius 5:46-47). Benar. Dan ini sangatlah mudah kita mengerti kalau melihat apa yang terjadi saat ini. Alangkah menyedihkan kalau kita yang mengaku umatNya malah ikut berperilaku seperti itu.

(bersambung)


Wednesday, November 22, 2017

Luas Jangkauan Murah Hati (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Apa yang ia lakukan? Yesus berkata seperti ini. " Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali."(ay 34-35).

Apa yang dilakukan orang Samaria yang murah hati ini nyata. Ia segera memberi Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K), memberi desinfektan pada luka-luka sebelum melakukan langkah selanjutnya, yaitu menaikkan orang itu ke atas keledainya untuk dibawa ke tempat penginapan. Perhatikan, orang Samaria ini tidak mengenal siapa yang ia tolong. Hari saat itu mungkin panas terik. Tapi ia rela turun dari keledainya dan menuntun keledai dengan orang yang tengah sekarat di atasnya menuju tempat dimana ia bisa melakukan perawatan lebih banyak lagi.

Siapa orang Samaria? Mengapa Yesus mengambil contoh orang yang berbelas kasihan ini dalam rupa orang Samaria? Dalam Yohanes 4:9 kita melihat Yohanes menambahkan catatan kecil dalam kisah perempuan Samaria sebagai berikut: "(Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)". Orang Samaria tercatat memiliki sejarah peseteruan atau permusuhan yang tajam dan panjang dengan Yahudi. Orang Samaria menyembah ilah-ilah lain sehingga dianggap sesat oleh orang Yahudi. Selain beda kepercayaan, mereka juga dibenci karena dianggap tidak berdarah murni karena merupakan hasil percampuran antara orang Yahudi dan non Yahudi.


Bukankah sangat memalukan saat dua petinggi rohani yang mengaku bagian dari umat pilihan Tuhan hanya berdiam diri saat melihat warganya sendiri tengah menderita, sekarat di tengah panas terik siang hari? Sebaliknya orang Samaria memiliki sikap murah hati.

Rincinya, orang Samaria ini:
1. Memiliki belas kasihan dalam hatinya
2. Belas kasihan itu menggerakkannya untuk memberi pertolongan
3. Ia melakukan P3K pada korban sekarat yang tidak ia kenal dan notabene merupakan orang dari suku yang bermusuhan
4. Ia meninggalkan kenyamanan naik keledai dan berjalan menuntun keledai yang diatasnya ada orang sekarat
5. Ia menunda kegiatannya atau perjalanannya untuk menolong korban
6. Ia menginap satu malam agar bisa melakukan perawatan lebih lanjut
7. Ia memberi sejumlah uang pada pemilik penginapan agar merawat korban sampai sembuh
8. Ia berjanji akan kembali menjenguk korban untuk memastikan apakah korban sudah dirawat baik dan akan kembali pulih

Perhatikan betapa jauh perbedaan antara orang Samaria dengan kedua bapak petinggi rohani sebelumnya. orang Samaria ini bergegas menolong orang Yahudi, meskipun dengan resiko ia akan dibenci oleh orang yang ditolongnya. Apakah ia sedang santai sehingga punya banyak waktu untuk menolong? Kalau melihat dari kedatangannya mengendarai keledai, saya pikir ia sedang menempuh perjalanan jauh makanya memilih untuk naik keledai ketimbang jalan kaki. Ia mungkin lelah, ia pun mungkin buru-buru, ia tentu punya agendanya sendiri yang harus ia korbankan saat memutuskan untuk melakukan sesuatu dengan digerakkan oleh rasa belas kasihan. Apapun resikonya, berapapun yang harus ia korbankan, ia tidak peduli. Hatinya tergerak oleh belas kasihan, dan ia menolong tanpa pandang bulu. Tanpa memandang apa agamanya, apa sukunya, siapa orang itu, yang ia tahu adalah, orang itu butuh pertolongan, ia ada disana dan bisa melakukan sesuatu. He did that right away. Tidaklah salah kalau ia disebut sebagai orang Samaria yang murah hati.

(bersambung)


Tuesday, November 21, 2017

Luas Jangkauan Murah Hati (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 10:33
===================
"Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan."

Dalam beberapa renungan terdahulu kita sudah belajar banyak tentang sebuah sikap hati yang wajib dimiliki oleh orang percaya sebagai cerminan dari sikap hati Bapa sendiri, yaitu murah hati. Kita harus memiliki sikap murah hati terhadap sesama seperti halnya Bapa yang murah hati (Lukas 6:36). Sebuah pertanyaan muncul. Siapa yang dimaksud dengan sesama itu? Kata sama mengacu kepada satu golongan satu level, setingkat, sekelas.

Kalau begitu, seluas apa cakupannya, kepada siapa kita harus bermurah hati? Ini pertanyaan penting karena pada kenyataannya di luar sana banyak orang yang membatasi perbuatan baiknya hanya pada kelompoknya sendiri. Adalah salah jika memberkati orang yang berbeda dengan mereka, salah bila mengucapkan ucapan salam sejahtera kepada yang tidak sejalan dengan mereka, salah pula kalau menolong. Benar, aplikasinya tetap mengacu pada kata sesama, hanya saja cakupannya sangat segmented atau terbatas. Bagi orang percaya, sejauh mana luas dan lebar daya jangkau yang harus kita rentangkan dalam mengaplikasikan murah hati menurut prinsip kekristenan? Siapa saja yang harus kita jangkau, seluas apa kata sesama itu menurut Firman Tuhan?

Perihal luas jangkauan murah hati menurut prinsip Kerajaan Surga disampaikan oleh Yesus langsung ketika menanggapi pertanyaan yang sama dari seorang ahli Taurat seperti yang dicatat dalam Injil Lukas pasal 10. Ahli Taurat itu bertanya: "Dan siapakah sesamaku manusia?" (ay 29). Untuk menjawab hal ini, agar lebih mudah dicerna, Yesus pun memberikan sebuah perumpamaan yang tentunya tidak lagi asing bagi kita, yaitu perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati, yang juga menjadi judul dari perikop Lukas 10:25-37.

Yesus memulainya seperti ini. "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati." (Lukas 10:30). Dalam keadaan sekarat, orang itu ditinggalkan begitu saja di tengah jalan, sementara harta bendanya dirampas oleh perampok-perampok itu. Kemudian ada dua orang yang melintas di tempat kejadian. "Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan." (ay 31).

Seorang imam lewat disana. Kalau anda yang tengah sekarat, tentu anda merasa lega karena seorang imam seharusnya menjadi perpanjangan tangan Tuhan di dunia, jadi tentulah ia akan menolong. Sayangnya saat melihat orang yang sedang sekarat, imam ini malah bergegas melewati saja tanpa memberi pertolongan. Kenapa bisa begitu? Mungkin sang imam takut tersangkut masalah. Mungkin dia sedang buru-buru takut telat kotbah lalu tidak dipanggil lagi oleh gereja yang bersangkutan. Atau mungkin juga ia merasa itu bukan tugasnya tapi urusan dokter atau polisi. Atau ia sedang buru-buru hendak pulang karena merasa lelah sehabis melayani. Ada banyak alasan lain yang mungkin ada di benak sang imam sehingga ia melewati saja tanpa melakukan apa-apa terhadap orang yang sedang tertimpa musibah ini. Alasan persisnya hanya dia yang tahu. Yang jelas ia tidak melakukan apa-apa dan meneruskan perjalanannya.

Lantas orang Lewi lewat disana. "Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan." (ay 32). Bukannya menolong, orang Lewi ini malah menjauh ke seberang dan buru-buru berlalu seperti bapak imam tadi.

Siapakah orang Lewi? Kenapa Yesus menyebutkan orang Lewi sebagai contohnya? Jika kita melihat kitab Perjanjian Lama, kita akan mendapati bahwa orang Lewi berbicara tentang pelayan-pelayan dan hamba Tuhan. Dalam proyeksi ke jaman sekarang, orang Lewi berbicara tentang orang-orang Kristen yang melayani. Tapi sama seperti sang imam, ia pun hanya melewati saja tanpa berbuat apa-apa. Mungkin dia terburu-buru karena takut terlambat pelayanan. Mungkin dia takut ditegur oleh gembalanya. Mungkin dia tidak mau ribet berurusan dengan pihak berwajib, sedang lapar berat habis melayani, mau buru-buru pulang dan melanjutkan tidur yang tertunda atau alasan-alasan lainnya. Yang jelas, seperti halnya bapak imam, bapak Lewi ini pun melewati orang sebangsanya yang tengah sekarat tanpa melakukan apa-apa.

Kemudian lewatlah orang Samaria. "Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. (ay 33). Dari awal ayat ini kita bisa langsung melihat adanya perbedaan. Tidak seperti bapak imam/pendeta atau bapak Lewi/pengerja, ia langsung merasakan belas kasihan dalam hatinya dan itu menggerakkannya untuk melakukan sesuatu.

(bersambung)


Monday, November 20, 2017

Dasar Utama Kemurahan Hati (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Jadi kalau kita masih sulit untuk bermurah hati, masih tidak peduli terhadap kesulitan atau penderitaan orang lain, tentu kita harus mencari tahu kenapa hati kita masih belum memiliki kasih sehingga tidak menghasilkan produk murah hati dari sana.

Selanjutnya mari kita pindah ke surat Galatia. Dalam salah satu bagiannya disebutkan bahwa kasih adalah salah satu buah Roh, alias buah-buah yang dihasilkan oleh orang yang dipimpin oleh Roh Allah, dan tidak ada satupun hukum yang mampu menentang hal tersebut. (Galatia 5:22-23). Jadi apabila kita berakar pada Tuhan, kasih seharusnya menjadi buah yang dihasilkan hidup kita. Jika kita gabungkan dengan ayat 1 Korintus 13:4 di atas, kasih kemudian akan melahirkan berbagai produk dimana murah hati adalah satu diantaranya.

Jangan lupa bahwa kasih itu bukan sekedar perasaan hati, bukan salah satu sifat Tuhan saja, tapi dikatakan merupakan pribadi Allah sendiri. "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:8). Allah adalah kasih. God is not just full of love, but He is the Love itself. Karena itu kita belumlah mengenal Allah apabila kita masih belum memiliki kasih dalam diri kita. Kasih terhadap Tuhan dan sesama yang ada dalam hati kita akan menghasilkan kualitas hati yang penuh dengan kemurahan dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Untuk hari ini saya harap kita semua bisa melihat bahwa kemurahan hati memiliki tiga dasar utama. Begitu pentingnya murah hati sebagai produk yang diwarisi langsung dari Bapa Surgawi, sehingga tidaklah mengherankan apabila Dia melimpahi orang-orang yang murah hatinya dengan kemurahanNya yang tak terbatas. Hal ini juga disebutkan langsung oleh Tuhan Yesus dalam kotbahnya di atas bukit. "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. " (Matius 5:7).

Suatu kali saya pernah membaca sebuah tulisan menarik mengenai murah hati. Si penulis mengatakan, alangkah menyedihkan saat melihat orang tidak memiliki sikap murah hati dalam hidupnya tapi terus mengharapkan bahkan menuntut Tuhan untuk bermurah hati kepada mereka. How dare we expect God to be generous with us but we have not been showing generousity towards others? Si penulis mengatakan, itu sama saja seperti mencoba mencuri dan memeras Tuhan. Kita mungkin tahu bahwa itu sama sekali tidak pantas, tapi tanpa sadar banyak dari kita yang terjatuh dalam hal ini.

Adalah sangat penting bagi kita untuk memeriksa apakah kemurahan hati sudah diproduksi dari dalam hati kita. Jika belum, periksalah segera dimana letak masalahnya. Manusia yang dalam hidupnya punya Roh Allah seharusnya menghasilkan buah-buah yang sama dengan apa yang keluar dari hati Allah. Kemurahan hati merupakan produk dari hati yang dipenuhi kasih, yang seharusnya mengalir secara natural atau alami dari kehidupan orang benar. Kemurahan hati tidak pernah tergantung dari berapa banyak yang kita punya, atau apakah kita sudah memenuhi semua kebutuhan kita atau tidak. Kemurahan hati tidak tergantung dari kondisi dan situasi. Kemurahan hati adalah sebuah kasih karunia, cerminan hati Allah dan produk dari kasih yang akan menjadi bagian alami dari hidup kita kalau kita benar-benar menghidupi kebenaran.

Ada banyak orang yang saat ini tengah mengalami kesesakan, siapkah kita untuk bermurah hati pada mereka?

"A christian who withdraws into himself, hiding all that the Lord has given him, is not a Christian. I would ask the people present to be generous with their given talents for the good of others, the church and our world." - Pope Francis 

Sunday, November 19, 2017

Dasar Utama Kemurahan Hati (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!

(sambungan)

Kalau kemurahan hati berasal dari kasih karunia Allah, mengapa masih saja sulit bagi banyak orang untuk bermurah hati? Itu terjadi karena tidak semua orang sadar dan memeriksa apa saja kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah dalam hidupnya. Ada yang tahu tapi tidak menggunakannya dalam perbuatan-perbuatan nyatanya, ada yang pura-pura tidak tahu, ada yang tidak sadar sama sekali, ada yang mengabaikan.

Ambil sebuah contoh sederhana. Apabila anda diberikan sebuah baju yang indah, anda bisa memakainya, tapi anda bisa juga hanya menyimpannya, memutuskan untuk tidak dipakai, bisa lupa akan keberadaannya, ditimbun di lemari atau bisa pula membuangnya. Seperti itu pula kemurahan hati yang sudah diberikan Allah kepada kita. Alangkah indahnya apabila kita hargai dengan mempergunakannya kepada sesama, tapi betapa sayangnya kalau itu tidak kita pakai dan dibiarkan / diabaikan saja keberadaannya.

2. Murah hati adalah cerminan pribadi Bapa Surgawi

Seperti yang saya sampaikan dalam renungan sebelumnya dan di awal renungan ini, Tuhan Yesus sendiri menyampaikan seruan penting mengenai dasar dari kemurahan hati, yaitu: "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Lukas 6:36)

Seorang anak biasanya mewarisi sifat-sifat orang tuanya. Seorang ayah yang memberi keteladanan baik akan menghasilkan anak-anak berkualitas moral baik pula. Selain orang tua di dunia, kita punya Bapa Surgawi yang sangat mengasihi kita. Dia menginginkan yang terbaik bagi kita. Dia akan senantiasa menjaga, melindungi dan memberkati kita. Dia tidak pernah kekurangan waktu untuk mendengar kita dan mengulurkan bantuan. Dia tidak akan berhenti mengasihi kita dengan kasih setiaNya yang tak terbatas. Oleh karena itu, kalau kita menyadari betapa besar, banyak dan tak terbatasnya kemurahan hati Tuhan atas kita, sudah seharusnya kita pun mencerminkan sikap hati yang sama denganNya.

Kalau seorang ayah menunjukkan kemurahan hati dalam hidupnya, anak akan belajar dan menerapkan itu juga dalam hidupnya. Kalau kita menyadari bahwa kemurahan hati Tuhan itu begitu luar biasa besar tak terukur, bukankah kita seharusnya pun memiliki hati yang sama? Alangkah aneh kalau kita mengaku sebagai anak Tuhan, mengaku Roh Allah tinggal dalam diri kita tapi output hidup kita tidak mencerminkan itu sama sekali. Kemurahan hati adalah salah satu dari kualitas Allah yang seharusnya secara natural terpancar dari hidup kita. Bukan soal royal memberi dengan berbagai motivasi tetapi memberi yang benar-benar berasal dari kemurahan hati. Seharusnya sikap ini bisa terlihat atau dirasakan secara nyata oleh sesama kita sehingga mereka bisa mengenal pribadi Allah lewat diri kita anak-anakNya.

3. Murah hati merupakan salah satu produk kasih

Lihatlah ayat berikut: "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong." (1 Korintus 13:4).

Inti dari kekristenan adalah kasih. Kasih punya kekuatan begitu besar yang bahkan sanggup menggerakkan Tuhan untuk mengorbankan Yesus untuk menyelamatkan kita. Kalau ada yang bertanya, seperti apa sebenarnya kasih itu, apa yang disampaikan Paulus dalam 1 Korintus pasal 13 menjabarkan berbagai produk kasih secara lengkap dan detail, dimana salah satunya adalah kemurahan hati.

(bersambung)


Saturday, November 18, 2017

Dasar Utama Kemurahan Hati (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Korintus 13:4
=================
"...; kasih itu murah hati;..."

Apakah yang dimaksud dengan murah hati itu? Jika mengacu pada kamus, murah hati didefenisikan sebagai sebuah perilaku yang mudah memberi, tidak pelit, tapi juga penyayang, penuh kasih, suka menolong dan baik hatinya. Dalam bahasa Inggris, kata ini diartikan sebagai sebuah sikap yang menunjukkan kesediaan untuk memberi sesuatu , baik uang maupun waktu, lebih dari apa yang seharusnya atau diharapkan. Definisi lain menyatakan bahwa murah hati adalah sikap yang menunjukkan atau menyatakan kebaikan pada sesama. Dari definisi-definisi diatas, kita bisa melihat bahwa sebuah kemurahan hati merupakan sebuah sikap atau keputusan untuk memberikan sesuatu dari kita kepada orang lain didasari kasih dimana sikap ini menyangkut banyak aspek dalam kehidupan dan dalam interaksi antar manusia. Banyak orang berpikir bahwa murah hati itu sama dengan royal alias suka bersedekah. Itu memang bentuk dari murah hati, tetapi murah hati tidaklah secara sempit berbicara hanya mengenai memberi dalam bentuk material saja melainkan juga dalam banyak bentuk lainnya seperti waktu, tenaga, telinga, perhatian dan sebagainya.

Yang juga harus kita ingat adalah tidak semua sikap memberi berasal dari sikap murah hati. Mengapa? Karena ada banyak motivasi yang terkandung dibalik memberi. Ada yang mengharap balasan, ada yang berusaha menyogok Tuhan, memberi karena ingin mendapat berlipat kali ganda alias fokus kepada perolehan bukan karena hati yang mengasihi, ada yang merasa bahwa keselamatannya akan diukur dari jumlah pemberiannya kepada gereja atau orang lain. Ada yang mencari popularitas dengan memamerkan kedermawanannya. Saat seseorang berpikir bisnis dalam memberi, berhitung untung rugi dan profit, itu bukan lagi murah hati melainkan bentuk investasi yang mengharapkan modal kembali dan keuntungan.

Kemarin kita sudah melihat bentuk kemurahan hati dari dua ibu janda pada jaman yang berbeda. Kalau kita lihat dalam Alkitab, ada banyak sekali pelajaran tentang kemurahan hati yang lebih dari sekedar keringanan untuk membantu sesama hanya dari sudut finansial saja. Sebuah pesan penting yang disampaikan oleh Yesus sendiri pada masa kedatangannya ke bumi dengan jelas menyerukan kewajiban kita untuk bermurah hati disertai alasannya: "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Lukas 6:36).

Pesan ini secara tegas menyatakan bahwa  kemurahan hati kita seharusnya mengikuti bentuk kemurahan hati Bapa yang begitu besar kepada anak-anakNya. Kalau Bapa adalah kasih, dan murah hati adalah salah satu produk yang keluar dari hati yang penuh kasih, kalau hidup kita memang dipenuhi Roh Allah, tentu murah hati seharusnya menjadi sesuatu yang natural dalam hidup kita. Orang seharusnya bisa melihat dan merasakan langsung kehadiran Tuhan lewat diri kita, anak-anakNya. Dan sikap murah hati merupakan salah satu buah Roh yang akan bisa dirasakan secara nyata oleh orang lain. Seperti yang saya sampaikan di atas, kemurahan hati tidak hanya bicara soal materi tetapi lebih jauh lagi menyangkut banyak hal. Bukankah keselamatan pun diberikan kepada kita sebagai sebuah anugerah cuma-cuma yang menunjukkan kemurahan hati Tuhan kepada manusia yang tak terukur besarnya?

Hari ini saya ingin menyampaikan beberapa poin yang bisa menjadi titik tolak mengenai murah hati. Mari kita lihat satu persatu.

1. Murah hati yang sejati merupakan kasih karunia dari Allah 

Sebuah ayat berkata: "Sebab Ia berfirman kepada Musa: "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati." Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah." (Roma 9:15-16).

(bersambung)

Friday, November 17, 2017

Dua Ibu Janda dan Kemurahan Hati (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kenapa kita harus memiliki sikap kemurahan ini? Firman Tuhan mengatakan alasannya, yaitu karena Allah yang kita sembah adalah Bapa yang murah hati. Hal ini ditegaskan Yesus sendiri. "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Lukas 6:36). Murah hati merupakan bagian dari kasih (1 Korintus 13:4). Sementara kita tahu bahwa kasih jelas merupakan sesuatu yang mutlak untuk dimiliki oleh orang-orang percaya. Oleh karena itu kita harus malu apabila kita mengaku anak Tuhan tetapi tidak memiliki kasih, dimana salah satu bentuknya adalah keengganan atau beratnya dalam bermurah hati terhadap sesama.

Itu tepat seperti apa yang dikatakan Yohanes, "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih" (1 Yohanes 4:8). God is love. Mengaku mengenal Allah artinya kita mengenal kasih. Dan bagaimana kita berani mengaku mengerti akan artinya kasih apabila kita masih enggan untuk memberi kepada mereka yang hidup berkekurangan, apalagi kalau kita berhitung untung rugi untuk melakukannya?

Tuhan adalah kasih, Tuhan murah hati. Lihatlah bagaimana Tuhan selalu memberi segala sesuatu yang terbaik bagi kita, bahkan anakNya yang tunggal pun Dia relakan untuk menebus kita semua dari kebinasaan menuju keselamatan yang kekal. Lihatlah bagaimana sikap hati Allah sendiri sebagai  Sang Pemberi. Hal seperti inilah yang harus mewarnai sikap hati kita sebagai orang percaya.

Dua janda yang kita lihat hari ini hendaknya mampu memberikan keteladanan nyata dalam hal memberi dengan didasari kemurahan hati. Adakah yang harus ditunggu agar mampu memberi? Tunggu kaya dulu? Tunggu berlebih dulu? Tunggu sampai semua kebutuhan yang tidak pernah ada habisnya itu tercukupi? Tunggu tergerak? Tunggu ada kebutuhan atau permintaan? Tunggu momentum yang bisa menguntungkan? Seharusnya tidak. Kita tetap bisa memberi dalam kekurangan dan keterbatasan kita, kita bisa melakukannya dengan penuh sukacita apabila sikap kemurahan tumbuh subur dalam hati kita.

Kita tidak perlu berpikir terlalu jauh untuk memberi puluhan juta kepada orang lain yang kelaparan, tapi sudahkah kita melakukan sesuatu bagi orang disekitar kita meski nilainya sedikit? Atau sudahkah kita memberikan waktu, perhatian, kasih sayang kepada orang-orang yang dekat dengan kita? Sudahkah kita berada dengan mereka di saat mereka butuh kehadiran kita? Sudahkah kita memberi senyum kepada orang yang sudah lama tidak merasakan indahnya sebuah senyuman? Sudahkah kita memberi kelegaan kepada mereka yang tengah sesak menghadapi tekanan hidup? Itupun termasuk dalam kategori memberi.

Apakah saat tahu ada yang butuh pertolongan, kita ada disana atau malah bersembunyi dan menjauh? Apakah kita masih sibuk berdalih atau sudah tergerak dan bergerak melakukan kemurahan hati dengan tindakan nyata? Jangan tunggu lagi, mulailah sekarang juga.

Memberi seharusnya merupakan sikap hati orang percaya karena Allah yang kita sembah juga murah hati

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, November 16, 2017

Dua Ibu Janda dan Kemurahan Hati (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Itu jelas sebuah potret kehidupan serba kekurangan yang berat yang harus dipikul oleh sang ibu janda di Sarfat ini. Ia cuma punya segenggam tepung dan sedikit minyak serta dua tiga potong kayu api. Itupun masih harus dibagi dua dengan anaknya. Untuk bisa makan ia harus membuat roti dulu. Satu orang saja mungkin tidak kenyang, ia masih harus berbagi dengan anaknya. Dan kini, Elia datang meminta roti. Artinya, jika ia berikan, ia dan anaknya harus rela tidak makan.

Apa yang akan anda lakukan pada saat seperti itu? Si ibu janda jelas sama sekali tidak dalam kapasitas untuk memberi apapun. Ia justru butuh diberi agar bisa tetap hidup. Tetapi kemudian kita melihat bagaimana persediaan terakhirnya yang sangat sedikit itu rela ia berikan kepada Elia. Ia membuat roti untuk Elia dan merelakan Elia menghabiskannya. Keputusannya ternyata sangat dihargai Tuhan. Tidak saja ia diberkati dengan persediaan makanan yang cukup untuk berhari-hari lamanya, tidak habis-habis (ay 15-16), tapi anaknya pun dibangkitkan kembali dari kematian. (ay 22). Jika ibu ini seharusnya ada pada posisi yang ditolong tetapi masih menunjukkan kemurahan hati, memberikan bukan dari kelebihan tapi justru dari kekurangannya, dan karena itu ia kemudian menerima berkat dan mukjizat besar dari Tuhan, kita tentu seharusnya bisa belajar dari ibu luar biasa ini.

Sekarang mari kita lihat ibu janda lainnya yang hidup pada masa jauh sesudahnya. Ibu janda yang satu ini berada di Bait Allah, dimana perbuatannya ternyata menarik perhatian Yesus.

Tidak seperti orang-orang kaya yang mungkin memasukkan amplop tebal, janda miskin ini hanya sanggup memasukkan dua peser saja ke dalam peti. Apalah arti dua peser dibanding segepok uang dalam jumlah besar? Tetapi ternyata jumlah kecil itu mendapat reaksi sangat positif dari Yesus. Yesus berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu." (Lukas 21:3). Mengapa bisa demikian? "Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya." (ay 4).

Peser merupakan mata uang terkecil bangsa Yahudi pada masa itu. Kalau dikonversi ke rupiah pada jaman sekarang, 1 peser itu sekitar 200 rupiah. Jadi dua peser tentu nilainya sangat kecil, bahkan bayar uang parkir saja sudah tidak cukup. Kisah ini bukan mengajarkan kita untuk memberi dalam jumlah kecil tapi untuk memberi yang terbaik dari apa yang ada pada kita. Itu bentuk kemurahan hati sejati yang tidak tergantung dari berapa yang kita punya dan bukan didasari motivasi untuk mendapat lebih, tapi karena kemurahan hati dan kerinduan untuk bisa memberi yang terbaik kepada Tuhan. Janda di bait Allah pada masa Yesus turun ke dunia ini rela memberi dalam kekurangannya. Bahkan semua uang yang ia miliki ia berikan dengan sukarela. Dari kisah ini kembali kita melihat bahwa kemurahan hati tidaklah tergantung dari kaya tidaknya kita, tetapi lebih kepada sikap hati.

Dua janda dalam dua masa yang berbeda, sama-sama miskin, sama-sama menderita, sama-sama berkekurangan, tetapi keduanya sama-sama memiliki kemurahan hati yang luar biasa.Namanya kemurahan hati, itu berarti kemurahan jelas merupakan produk dari hati. Karena merupakan sebuah sikap hati maka itu tidak tergantung dari berapa jumlah harta yang kita miliki atau kondisi yang kita alami saat ini. Ketika kemurahan mewarnai sikap hati kita, kita akan rela memberi dengan sukacita tanpa peduli apapun keadaan kita atau berapapun yang kita punya. Kita hanya berpikir untuk memberi karena kita bersyukur dan mengasihi Tuhan, bukan karena mengharap sesuatu keuntungan sebagai imbalannya.

Ada banyak orang bahkan gereja yang salah kaprah menganggap bahwa kita memberi supaya mendapat lagi lebih banyak. Semakin banyak yang kita beri, semakin besar kelipatannya. Sebuah persembahan seharusnya bukanlah dipakai sebagai ajang mencari pamor atau popularitas baik di mata manusia apalagi di mata Tuhan. Alangkah menyedihkan jika ada banyak orang yang berusaha menyumbang besar agar punya 'gigi' di gereja, ingin dapat lebih banyak dan lain-lain. Di sisi lain, juga menyedihkan kalau ada banyak orang juga yang berpikir bahwa mereka belum harus memberi atau menolong sesama karena masih merasa kekurangan. Kedua ibu janda membuka mata kita tentang kemurahan hati yang terbukti tidak tergantung dari harta kepemilikan dan kondisi seseorang melainkan tergantung dari sikap hatinya.

(bersambung)


Wednesday, November 15, 2017

Dua Ibu Janda dan Kemurahan Hati (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 6:36
==================
"Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."

Ketika berkunjung ke rumah seorang teman, anaknya bercerita bahwa ia tadi pagi berdoa setelah bangun pagi. Saat saya tanya apa yang ia doakan, dengan polos ia berkata bahwa yang ia berdoa agar jadi orang kaya saat dewasa. Kenapa minta kaya? "Supaya bisa memberi kepada yang susah om." katanya sambil tersenyum. Jawabannya membuat saya senyum. Senang sekali rasanya melihat ada anak kecil yang sudah bisa berpikir untuk membantu sesama, tidak terpusat pada diri sendiri. Jawaban umum buat anak-anak biasanya tidaklah sedalam itu. Mereka biasanya berpikir agar bisa membeli mainan, gadget atau apa yang mereka sukai. Jadi jawaban anak yang satu ini buat saya hebat. Tapi di sisi lain, jawabannya membuat saya berpikir. Apakah kita memang harus kaya terlebih dahulu baru bisa memberi atau membantu orang yang susah? Apakah kita harus menunggu sukses dulu baru bisa melakukan sesuatu bagi orang lain? Apakah kita hanya memberi sisa setelah kita sudah memenuhi semua keperluan dan keinginan kita? Apakah murah hati cuma milik orang yang sudah lebih dari cukup?

Pertanyaan ini bagi saya sangat menarik, karena sepertinya kita tahu apa jawabannya tapi seringkali lupa menerapkannya dalam kehidupan kita. Ada banyak orang yang menganggap dirinya belum sanggup untuk memberi karena untuk diri sendiri saja belum cukup. Seperti pemikiran anak kecil di atas, mereka berpikir nanti kalau saya sudah kaya, kalau uang sudah berlebih-lebih, kalau sudah tidak tahu mau dibelanjakan kemana lagi barulah memberi, baru waktunya bermurah hati. Masalahnya, manusia cenderung merasa tidak pernah cukup dan tidak pernah puas. Kebutuhan akan tetap ada tanpa pernah ada cukupnya. Hari ini butuh ini, besok butuh itu. Perkembangan dunia dan teknologi membuat kebutuhan kita pun berkembang. Kalau murah hati didasarkan pada kecukupan mengenai kebutuhan, orang tidak akan kunjung tergerak untuk menolong orang lain.

Di sisi lain ada pula orang yang rajin memberi tetapi atas alasan keliru. Mereka ini rajin memberi karena mengharapkan sebuah balasan, dengan maksud-maksud atau agenda tertentu alias pamrih. Bisa karena mengharapkan pertolongan atau sesuatu dari Tuhan, bisa karena mengharapkan imbalan dari orang lain. Atau, mau promosi / pamer diri dan sebagainya. Tidak jarang kita melihat selebritis kita memanggil/menyewa wartawan saat mereka memberi sedekah atau melakukan amal. Tanpa malu-malu mereka bercerita tentang kehebatannya bahkan menyebutkan jumlah uang yang mereka gelontorkan. Mereka ingin populer di mata penonton, ingin terlihat sangat dermawan dan bisa makin tenar. Semua ini jelas bukan hal memberi yang didasari oleh kemurahan hati.

Memberi seharusnya didasari oleh kemurahan hati. Alkitab banyak sekali menjelaskan akan hal ini baik lewat Firman maupun contoh dari berbagai tokoh/kisah. Mari kita lihat contoh dari dua orang janda pada dua kesempatan/jaman yang berbeda.

Pertama, janda miskin di Sarfat dalam Perjanjian Lama di jaman Elia. Janda miskin ini adalah orang yang tetap memberi Elia makan dalam kekurangannya seperti yang ditulis dalam 1 Raja Raja 17:7-24.

Pada suatu hari Elia tiba di Sarfat yang tengah mengalami kemarau panjang. Disana Elia bertemu dengan seorang janda miskin. Ketika Elia meminta roti kepada sang janda, "perempuan itu menjawab: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati." (1 Raja Raja 17:12).

(bersambung)


Tuesday, November 14, 2017

Produk Negatif Hati : Iri Hati (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Contoh lain bisa kita pelajari lewat kisah anak-anak Yakub, yakni Yusuf dan saudara-saudaranya di kitab Kejadian 37. Mereka begitu iri pada Yusuf, sehingga mereka berpikir bahwa dengan menyingkirkan Yusuf, hidup mereka akan menjadi lebih baik. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Mereka bahkan harus pergi ke negeri lain agar tidak mati kelaparan dan pada akhirnya Yusuf juga yang menjadi saluran berkat bagi mereka dan bangsa-bangsa. Ini baru dua contoh saja dari banyaknya contoh yang bisa kita jadikan peringatan akan bahayanya iri hati ini.

Kesimpulannya, iri hati jelas adalah masalah yang serius. Alangkah baiknya kalau kita bisa hindari sejak dini. Tapi kalau sudah keburu muncul, iri hati harus kita singkirkan sepenuhnya dengan segera dan tanpa kompromi. Selain ayat bacaan hari ini, firman Tuhan mengatakan bahwa iri hati termasuk salah satu dari keinginan daging yang berlawanan dengan keinginan roh, yang dapat menyebabkan kita kehilangan bagian dalam Kerajaan Allah (Galatia 5:19-21).

Iri hati berada dalam kategori yang sama dengan dosa-dosa yang kita anggap "lebih serius" seperti percabulan, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir dan sebagainya. Alangkah sayangnya jika kita sudah bersusah payah menghindari dosa-dosa itu, namun kita tidak mewaspadai bahkan berkompromi pada iri hati dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele, wajar, biasa dan manusiawi.

Kita harus perhatikan betul betapa pentingnya kita untuk berjaga-jaga sepenuhnya karena jaman ini akan dibawa pada kesudahannya. Paulus mengatakan: "Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati." (Roma 13:12-13). Sekarang saatnya berbenah dan tidak berkompromi terhadap berbagai dosa. Sudah waktunya bagi kita menutup semua celah yang bisa dimanfaatkan iblis untuk memporak-porandakan kita dan menjadi budaknya dalam menyebar kejahatan di muka bumi ini.

Kita harus terus berusaha agar tidak serupa dengan dunia ini selagi kita masih ada disana. "Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?" (1 Korintus 3:3). Firman Tuhan sudah mengingatkan: "Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya." (Roma 13:14).

Ini saatnya untuk membukah hati kita seluas-luasnya untuk Tuhan dan jadikan Kristus sebagai Raja yang bertahta di dalamnya. Belajarlah berbesar hati saat melihat orang lain sukses dalam berbagai hal. Berhenti terus menginginkan apa yang kita belum punya, tapi perhatikan dan hargai apa yang saat ini ada pada kita, bersyukurlah untuk itu.

Iri hati akan membawa kekacauan dan segala macam perbuatan jahat, tapi hati yang punya Kristus di dalamnya akan menghasilkan produk-produk surgawi yang bukan saja membawa berkat bagi kita tapi juga bagi banyak orang. Perasaan ini seringkali sulit dideteksi potensi bahayanya pada fase-fase awal. Jangan sampai iri hati yang terpancar pada kehidupan dari hati kita, hendaknya kasih dan ucapan syukurlah yang menjadi produk dari pusat kontrol kehidupan kita, yaitu hati.

"Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tapi iri hati membusukkan tulang." (Amsal 14:30)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, November 13, 2017

Produk Negatif Hati : Iri Hati (2)

webmaster | 8:00:00 AM | 2 Comments so far
(sambungan)

Kemarin saya menyampaikan pentingnya kita menjaga hati karena hati merupakan pusat kendali dari mana kehidupan itu terpancar (Amsal 4:23). Tuhan Yesus sudah mengingatkan bahwa bukan apa yang dari luar masuk ke dalam, tapi apa yang keluar dari dalam, itulah yang menajiskannya. (Markus 7:15). Mengapa? "sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang." (ay 21-23). Lihatlah bahwa iri hati adalah salah satunya.

Banyak dari kita yang menganggap enteng sikap hati seperti ini sebagai sesuatu yang wajar, iri hati sesungguhnya menyimpan potensi malapetaka besar. Dan Alkitab sudah memberi peringatan keras akan hal ini. Bukannya waspada dan menganggapnya dosa, kita pikir itu biasa saja dan mungkin pula kita tidak sadar akan kemunculannya dalam hati kita, seolah-olah hanyalah sebuah ungkapan kekesalan sesaat yang alamiah, manusiawi dan tidak berbahaya. Kita cenderung memaklumi, tapi berhati-hatilah karena iri hati adalah racun dari iblis yang mampu mengubah kasih menjadi kebencian, menghilangkan kasih dan akibatnya melumpuhkan iman dalam kehidupan kita.

Sikap iri ini merupakan salah satu celah yang sangat disukai iblis untuk merusak kita. Cara iblis menyerang disebutkan Petrus dalam salah satu bagian suratnya. "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya." (1 Petrus 5:8).

Perhatikan bahwa iblis akan terus berkeliling mencari mangsa. Ia terus mencari celah yang terbuka, dan begitu menemukan celah, ia akan segera masuk, menerkam dan membinasakan kita. Seperti yang saya sampaikan di atas, iri hati bisa menjadi sebuah lahan basah yang asyik bagi si jahat untuk bermain. Apabila kita terus membiarkan produk buruk hati ini menguasai kita, maka itu sama artinya dengan membuka hidup kita untuk diporak-porandakan iblis.

Ayat bacaan hari ini diambil dari Yakobus pasal 3 ayat 16. Bunyinya: "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa iri hati akan membuka pintu bagi iblis untuk masuk ke dalam kehidupan kita, menyebabkan banyak kekacauan dan menjadi awal dari segala macam perbuatan jahat.

Lihat, bukan satu-dua atau sedikit tetapi dikatakan segala macam perbuatan jahat. Perbuatan jahat apa saja? Banyak sekali, mulai dari "sekedar" cemburu, depresi, down hingga kejahatan-kejahatan yang keji seperti penganiayaan bahkan pembunuhan.

Pembunuhan bisa berawal dari rasa iri. Bahkan kisah pembunuhan yang pertama kali dicatat di dalam Alkitab berawal dari rasa iri. Apa yang terjadi ketika Kain merasa iri pada saudaranya Habel, bahwa korban persembahannya "kalah". Hatinya pun panas, dan Wajahnya muram. Apa kata Tuhan melihat Kain?  Ini kata Tuhan: "Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya."  (Kejadian 4:7).

Perhatikan, Tuhan tidak berkata, "Kain, itu adalah hal yang wajar, santai saja.." Tidak. Sebaliknya Tuhan berkata: "Kain, berhati-hatilah dengan rasa irimu, sebab dosa sudah mengintip di depan pintu dan siap menerkammu." Sayangnya meski Kain sudah diperingatkan, ia tidak peduli dan terus membiarkan rasa irinya. Maka lihat apa yang terjadi kemudian. Kain menyerah pada roh jahat, dan berawal dari iri hati, ia membunuh adiknya (ay 8).

(bersambung)


Sunday, November 12, 2017

Produk Negatif Hati : Iri Hati (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yakobus 3:16
======================
"Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat."

Ada pepatah mengatakan rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau. Ini menggambarkan kecenderungan manusia untuk iri kepada kesuksesan orang-orang disekitarnya, termasuk atau mungkin, terutama tetangga yang secara jarak paling dekat dengan kita. Tadinya hubungan baik-baik, tapi kemudian mulai renggang karena merasa tetangga lebih dalam satu atau lebih hal dibanding diri sendiri.

Ada banyak tetangga yang jadi musuh, dan salah satu penyebab terbesarnya adalah rasa iri hati. Iri melihat tetangga lebih sukses, makmur, atau juga bahagia. Bukannya belajar dari mereka, tapi yang muncul adalah sikap cemburu. Lalu mulai menggunjingkan mereka. Gosip, prasangka buruk, menjelekkan mereka supaya dirinya tampak hebat. Kalau ada dekat mereka, isi omongannya cuma menjelekkan tetangga atau orang lain. Orang bahagia dibilang sombong, orang sukses dibilang pamer, orang berhasil dalam pekerjaannya dibilang pakai cara curang, padahal belum tentu semua itu benar, dan kita seharusnya tidak boleh usil mengurusi hidup orang lain. Kalau diingatkan agar jangan bersikap begitu, dianggap membela orang yang ia gunjingkan.

Ada orang-orang seperti ini yang dikuasai iri hati, dengki dan cemburu pada orang lain. Mereka sangat insecure atau merasa tidak aman pada dirinya sendiri, karenanya merasa perlu untuk merendahkan orang lain supaya terlihat tinggi. Mereka merasa begitu, padahal yang terlihat justru sebaliknya. Tetangganya membangun taman ia cemburu, tetangganya bahagia ia iri, tetangganya sukses ia berburuk sangka. Apa tidak lelah hidup seperti itu? Mau bagaimana hidup bahagia kalau hati isinya dipenuhi rasa iri?

Kalau sampai bikin hidup tidak bisa bahagia saja sudah bikin masalah, ada banyak orang yang gara-gara iri hati melakukan tindak-tindak kejahatan. Gara-gara iri melihat kekayaan orang lain mereka mencuri apa yang bukan haknya, bahkan ada yang sampai menghilangkan nyawa orang lain hanya gara-gara perasaan negatif yang satu ini.

Seperti apa orang yang dipenuhi iri hati itu? Mereka biasanya tidak bisa melihat orang lain lebih dari mereka. Apakah lebih sukses, lebih maju, lebih bahagia, lebih kaya dan sebagainya. Kalau mau lebih spesifik, rasa iri hati akan muncul saat kita membanding-bandingkan apa yang kita punya dengan apa yang dimiliki orang lain lalu merasa kalah dari mereka.

Lalu, mulailah muncul keinginan untuk menjelekkan, bergunjing dan bergosip tentang orang lain. Kalau lihat orang susah, mereka senangnya bukan kepalang. Makin jatuh orang lain, makin senang pula mereka. Dan biasanya mereka ini sangat sulit bersyukur atas apa yang mereka punya. Mereka iri terhadap apa yang belum mereka miliki tapi tidak bisa melihat berkat-berkat Tuhan yang sebenarnya sudah ada pada diri mereka.

Dari pengamatan saya, iri hati akan semakin memburuk apabila dibiarkan. Mungkin bermula dari rasa insecure, kurang percaya diri atau rendah diri, tapi saat dibiarkan iri hati membuat orang tidak lagi punya jiwa besar untuk mengakui kelebihan orang lain, sulit turut berbangga dan berbahagia atas kesuksesan orang lain dan kemudian tidak lagi mampu melihat berkat Tuhan yang mereka miliki.

Pada akhirnya, sebuah hati yang dipenuhi perasaan iri atau dengki akan menjadi lahan bermain menyenangkan bagi si jahat. Pada tahapan ini orang akan menjadi boneka mainan si jahat yang terus memanipulasi perasaan mereka dengan segala rasa sakit karena cemburu pada kesuksesan dan kebahagiaan orang lain. Menjadi gelap mata, lalu melakukan perbuatan-perbuatan jahat yang bisa jadi nantinya sudah terlambat untuk disesali.

(bersambung)


Saturday, November 11, 2017

Kualitas Hati (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Akan hal ini, pada suatu kali Yesus Yesus mengingatkan banyak orang akan hal najis atau tidak menurut pandangan adat istiadat Yahudi dan Kerajaan Allah. Dalam konteks ini Yesus menegaskan bahwa "Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya." (Markus 7:15). Banyak orang yang memperhatikan apa yang dianggap menajiskan sebaliknya, dari luar ke dalam. Tapi dalam Tuhan, apa yang menajiskan manusia bukanlah apa yang 'dimasukkan ke dalam' melainkan apa yang keluar dari diri kita. Those are the things that will pollute us, making us unhallowed and unclean. Produk hati akan menentukan najis tidaknya kita di mata Tuhan.

Mengapa Yesus berkata bahwa apa yang keluar ini yang menajiskan? Yesus menerangkan, "sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang." (ay 21-23). Lihatlah daftar kenajisan yang merupakan produk hati yang tidak terjaga ini. Mungkin kita tidak membunuh, mungkin kita bisa menjaga diri agar tidak mencuri. Tapi sikap sombong, keras kepala atau bebal, iri hati, hawa nafsu, pikiran-pikiran jahat atau negatif, bukankah semua ini semakin hari semakin dianggap biasa oleh manusia? Padahal Firman Tuhan jelas berkata bahwa hal-hal yang muncul dari hati ini menjadikan kita najis di hadapan Tuhan.

Karenanya, sangatlah penting bagi kita untuk menjaga hati. Hati yang tidak terkawal atau terjaga itu bisa sangat berbahaya karena dapat menghasilkan produk-produk yang menajiskan kita. Dalam Perjanjian Lama di kitab Yeremia bahkan disebutkan: "Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?" (Yeremia 17:9). Bukan saja hati yang licik bisa menipu orang, tapi kita kerap tidak sadar atau tidak mengetahui seperti apa hati kita hari ini. Kalau tubuh butuh check up berkala, hati yang letaknya tersembunyi itupun seharusnya mendapat perhatian serius seperti itu juga.

Benar, memeriksa hati tidaklah semudah kita melakukan check up ke dokter. Ada kalanya penyakit yang ada dalam hati tidak kita sadari atau rasakan. Kita bisa secara subyektif mengira kita baik-baik saja padahal ada banyak hal disana yang siap mengotori kita. Dan saat kenajisan itu ada pada kita, bisa dibayangkan bagaimana jadinya hubungan kita dengan Tuhan. Kabar baiknya, kalau kita menyadari hal itu dan kesulitan dalam menyelidikinya, Tuhan bersedia untuk itu. Lihatlah ayat selanjutnya dalam Yeremia di atas. "Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin." (ay 10).

Tuhan telah mengatakan bahwa Dia mau memeriksa hati kita, menyembuhkan yang terluka, membersihkan yang kotor dan mengembalikan hati kita ke dalam keadaan yang baik. Akan hal ini kita juga bisa belajar dari Daud yang terus bertekun memeriksa hatinya agar tetap dalam keadaan bersih atau tahir. Dalam Mazmur 26 dan 139 misalnya, Daud berulang kali meminta Tuhan untuk menyelidiki hati dan batinnya. Daud juga berseru: "Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!" (Mazmur 51:12). Dari Daud kita bisa belajar bahwa Tuhan bersedia untuk membantu anda jika disertai niat yang sungguh-sungguh ingin membenahi atau memperbaiki hati. Mungkin sulit bagi kita untuk melakukannya sendirian, tetapi sadarilah bahwa kita punya Tuhan yang sungguh peduli dan akan segera turun tangan jika kita memiliki niat sepenuhnya untuk menjaga kondisi hati kita.

Kita harus menyediakan diri kita untuk siap dikoreksi dan dibentuk serta diperbaharui oleh Tuhan, termasuk hati kita. Mulailah secara khusus memperhatikan kondisi hati, agar hati kita tidak seperti produk yang tampak baik dari luar tetapi di dalamnya berkualitas buruk. Isilah terus hati kita dengan Firman Tuhan, ijinkan hati kita dipimpin oleh Roh Allah agar jangan ada kenajisan disana yang akan menghalangi atau menjauhkan kita dari kasih karuna Tuhan. Hanya dari hati yang terjaga baik kualitas hidup yang sesuai keinginan Tuhan bisa terpancar.

Hati adalah pusat produksi kehidupan, jaga baik agar berkualitas tinggi

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, November 10, 2017

Kualitas Hati (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Markus 7:21-23
======================
"sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang."

Belum lama ini saya membeli sebotol salad dressing alias saus salad. Ketika berada di sebuah supermarket, ada banyak pilihan yang sempat membuat saya bingung mau pilih yang mana. Harga kurang lebih sama, masing-masing menonjolkan kelebihan produknya pada kemasan. Ada yang pakai ekstra ini, ada yang tidak mengandung zat pengawet, ada yang ditambah itu, pokoknya semua tampak menarik. Setelah menimbang-nimbang, saya akhirnya memutuskan untuk membeli salah satunya. Saya tertarik karena saya paling suka dengan kemasannya, dan warna sausnya pun terlihat lebih cerah dibanding yang lain. Lagipula itu produk impor, masa sih yang impor bakalan jelek kualitasnya, apalagi tampilan depannya sangat baik? Itu yang saya pikir. Setelah sampai di rumah dan membukanya, saya merasa kecewa karena apa yang tampak indah dan menarik dari luar ternyata tidak lantas menjamin kualitas di dalam. Bau tengik segera menyerang hidung begitu botol dibuka. Saya cek tanggal kadaluarsa ternyata masih jauh. Apakah karena masuk angin atau memang produknya berkualitas jelek, pokoknya bau itu sama sekali tidak saya harapkan dari produk yang saya beli.

Kualitas produk tergantung dari seberapa serius sebuah perusahaan itu memproduksinya. Hasil bisa asal-asalan, bisa bagus. Bisa inovatif, bisa hanya meniru. Bisa bebas dari bahan baku yang beresiko bagi kesehatan, bisa hanya mementingkan tampilan dan rasa tapi kandungannya berbahaya, atau dari pengalaman saya, tampilan pada kemasan bisa menipu kualitas isinya. Benar, ada yang memang benar, dalam artian apa yang disebutkan pada kemasan dan promosi atau iklannya sesuai dengan kualitas produk. Tapi tidak sedikit pula yang menipu. Ada produk yang kualitasnya bisa dirasakan langsung oleh konsumen, ada pula yang harus melalui uji laboratorium terlebih dahulu untuk mengetahui apakah produk tersebut punya kandungan berbahaya. Semua produk jelas mengaku nomor satu, karenanya kita memang harus teliti sebelum membeli.

Sikap, perilaku atau gaya hidup kita pun demikian. Kita bisa bersikap ramah, bisa sombong. Bisa baik, bisa jahat. Bisa jujur dan berintegritas, bisa curang dan manipulatif. Bisa tampil apa adanya dan tulus, bisa penuh kepura-puraan. Semua ini merupakan 'produk' sikap yang juga punya tempat produksinya. Dimana? Tempatnya ada di hati. Seringkali kita lupa bahwa hati merupakan pusat dari kehidupan kita, atau seperti ayat bacaan kemarin, dalam Firman Tuhan dikatakan sebagai sumber tempat terpancarnya kehidupan. Dengan kata lain, seperti apa sikap kita, cara kita memandang, menyikapi dan memutuskan sesuatu, sikap kita dalam bermasyarakat, reaksi kita menghadapi situasi, semua itu tergantung dari bagaimana kondisi hati kita saat ini. Hati yang terjaga baik, yang berpusat pada Kristus, dipimpin oleh Roh Allah dan menjadikan Yesus sebagai Pribadi yang bertahta disana akan menghasilkan produk-produk berkualitas baik dalam kehidupan. Sebaliknya hati yang tidak terjaga, yang berisi banyak kepahitan, luka dan berbagai bentuk pengajaran dunia yang menyesatkan akan menghasilkan kualitas kehidupan yang buruk pula.

Secara umum, sikap hati memang bisa tercermin pada air muka. Orang yang hatinya penuh kebencian akan menampilkan wajah dingin, sinis bahkan bengis. Orang yang hatinya penuh luka akan terlihat dari wajahnya. Jika hati berisi emosi, raut amarah pun tercetak di wajah. Dan hari-hari ini kita menyaksikan banyaknya orang yang menampilkan itu di sekitar kita. Kebencian, kecurigaan, kemarahan, keangkuhan, kesombongan menggantikan kasih, toleransi dan keramah-tamahan yang katanya merupakan ciri bangsa yang sudah jadi warisan turun temurun. Tapi jangan lupa bahwa ada banyak pula orang yang pintar menyembunyikan sikap hatinya. Dari luar tampak ramah, senyum, padahal dalam hati benci, iri dan sebagainya. Di luar santun, di rumah sikap kasar. Saat di depan orang tampaknya rohani, tapi begitu tidak ada lagi orang yang melihat, kelakuan aslinya jauh dari itu. Apapun yang tampak di luar, kehidupan kita akan tergantung dari pusat kontrolnya yaitu hati. Kondisi hati kita akan sangat menentukan seperti apa sikap hidup kita.

Seandainya dokter bisa mendeteksi kondisi hati lewat stetoskopnya, bagaimana kondisi hati kita saat ini? Apa isinya? Apakah hati kita dalam kondisi baik atau buruk? Apakah isinya kasih, kesabaran, kebesaran untuk mengampuni atau kekecewaan, kebencian, dendam dan marah? Apakah isinya kebahagiaan dan sukacita atau kepedihan dan kepahitan? Apakah hati masih melekat pada Tuhan atau sudah pergi jauh daripadaNya? Seperti yang sudah saya sampaikan di awal, Penulis Amsal sudah mengingatkan kita pentingnya untuk terus menjaga hati karena dari sanalah sebenarnya sebuah kehidupan itu terpancar. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Artinya, baik terlihat atau tidak, mau nongol keluar atau disembunyikan, kehidupan kita merupakan pancaran dari apa isi hati kita.

(bersambung)


Thursday, November 9, 2017

Guarding Our Hearts (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Firman Tuhan pun sudah mengingatkan hal itu sejak dulu. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Hati adalah pusat kontrol kehidupan, itu kata Firman Tuhan. Karenanya harus dijaga agar hidup kita tidak menjadi buruk. Apapun yang ada dalam hati kita akan terlihat jelas dari cara, gaya dan sikap hidup kita. Dan itu akan sangat menentukan kemana kita akan berakhir nanti. Itulah sebabnya kita diingatkan untuk menjaga hati dengan segala kewaspadaan. Hati yang tidak terjaga bisa sangat berbahaya, dan itu bisa kita lihat pula ayatnya. "Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat." (Matius 15:19). Dan firman Tuhan kemudian berkata: "Itulah yang menajiskan orang." (ay 20).

Semua hal ini jelas sangat buruk dan harus kita hindari. Dan Tuhan sudah mengingatkan bahwa semua itu datangnya dari hati. Pikiran yang jahat, itu memang diproduksi di otak, tapi tetap sumbernya berasal dari hati. Bayangkan kalau hati tidak dijaga dengan baik lalu semua ini menjadi penghuni tetap hati kita. Bukankah itu mengerikan? Kalaupun kita tidak bicara soal kekekalan, kehidupan di dunia saja pun sudah jauh dari bahagia. Kalaupun beberapa diantaranya dianggap orang bisa memberi kepuasan, saya yakin jauh di dalam lubuk hati manusia semua itu akan menimbulkan penderitaan.

Hati sebagai pusat kontrol kehidupan sehingga harus dijaga, sebenarnya hal ini bukanlah hal baru atau asing lagi bagi kita. Banyak orang yang sudah mengetahuinya, bahkan seringkali dijadikan karya seperti lagu misalnya. Hanya saja sepertinya banyak yang lupa, mengabaikan, tidak tahu bagaimana mengaplikasikannya atau keliru mengartikannya. Kalau kita tahu bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh hati yang tidak dijaga dengan baik, tidak diisi Firman Tuhan, dan mengingat baik-baik pesan dalam ayat bacaan hari ini, seharusnya kita akan memiliki kondisi hati yang bukan saja membuat kita menjadi orang-orang benar yang berkenan di hadapan Tuhan tapi juga berdampak baik dalam segala sisi kehidupan kita dimanapun kita ada.

Ketika kita bertobat dan menerima Kristus kita sudah diubahkan menjadi ciptaan baru. Namanya ciptaan baru, hati kita pun diperbaharui sehingga tidak seharusnya segala kepahitan, kekecewaan, keraguan dan keputus-asaan masih bercokol dalam diri kita. Dengan hati yang bersih itulah kita lalu bisa mendekati Allah karena hati kita tidak lagi berisi hal-hal yang jahat tetapi penuh dengan iman yang teguh dan ketulusan. "Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni." (Ibrani 10:22). Pemulihan hati setelah pertobatan ini pun sudah disinggung dalam kitab Ulangan, "Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup." (Ulangan 30:6).

Hanya saja harus diingat bahwa sebentuk hati yang baru ini tetaplah rentan akan pencemaran. Meski sudah dipulihkan dan diperbaharui, kita tetap perlu menjaganya agar tidak kembali kotor seperti sebelumnya. Caranya adalah dengan tetap berjalan bersama Tuhan, mengandalkanNya dalam setiap langkah dan tetap mengisi hati kita dengan firmanNya. "Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang." (Ibrani 12:15). Hati yang tidak terjaga bisa menjadi tempat subur bagi tumbuhnya akar-akar pahit yang bukan saja menyusahkan kita tetapi juga bisa mencemarkan banyak orang.

Adalah penting bagi kita untuk terus tekun menjaga hati kita dengan sungguh-sungguh, karena hati adalah pusat kontrol dimana seluruh kehidupan kita akan terpancar. Teruslah jaga agar kita bisa memiliki hati yang lembut, hati yang mau mengampuni, hati yang tidak kehilangan harapan, hati yang penuh ucapan syukur dan bersukacita, terlebih hati yang mengasihi, lalu pancarkan itu untuk memberkati sesama. Dunia hari ini yang semakin gelap dikuasai kebencian sangat membutuhkan hati seperti itu lebih dari sebelumnya.  Kita bisa memberkati orang lain, itupun akan sangat tergantung dari bagaimana hati kita.

Keep guarding your heart above all else for it determines the course of your life

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker