Friday, March 31, 2017

Teamwork dan Network (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!

(sambungan)

Tuhan juga mengatakan bahwa meski saat ini sepertinya orang-orang yang sombong itu tidak mendapat ganjaran, pada saatnya nanti mereka akan kena getahnya. "Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu." (Yesaya 2:11).

Kita harus selalu membina hubungan baik dengan sesama kita dengan tulus. Ada saat dimana kita menolong, ada pula saat ketika kita butuh pertolongan mereka. Kita tidak akan bisa hidup sendirian, dan kesombongan akan merupakan tembok penghalang utama bagi kita untuk bisa memperluas hubungan baik dengan lebih banyak orang lain.

-  Untuk mencapai suatu keberhasilan dibutuhkan kerjasama yang baik dengan orang lain.
It takes a good teamwork to success. Tidak ada orang yang bisa selalu kuat dan sanggup mengerjakan segala sesuatunya sendirian. Bayangkan jika sebuah gereja hanya terdiri dari satu pendeta tanpa adanya pengerja yang lain. Tanpa diaken, tanpa pengerja, pemusik, tim pendoa dan sebagainya, apa jadinya gereja itu? Sanggupkah satu orang merangkap semuanya itu? Tentu saja tidak.

Dalam pekerjaan dan sisi lain kehidupan pun sama. No man is an island, begitu kata pepatah. Kalaupun kita bisa melakukan sendirian, hasilnya tidak akan maksimal dan pencapaiannya kalaupun ada akan sangat lambat. Tanpa kerjasama dengan orang lain maka akan sulit bagi kita untuk mencapai sebuah keberhasilan.

- Dibutuhkan keseimbangan atau balance dalam sebuah proses.
Jika kita fokus hanya pada satu titik dan mengabaikan hal-hal lain, hidup tidak akan pernah bisa berjalan dengan baik. Jika anda hanya membaca alkitab tapi tidak bekerja, atau sebaliknya hidup membanting tulang dari kemampuan diri sendiri tanpa ditopang firman Tuhan untuk menguatkan dan membimbing anda, itu tidak akan membawa hasil apa-apa. Jika anda hanya berdoa tanpa melakukan apapun, atau mengabaikan pentingnya doa dan hanya berjuang, itu pun akan sia-sia.

Sebuah pepatah latin terkenal mengingatkan kita akan hal ini: Ora et labora. Berdoa dan bekerja. Itu harus dilakukan bersama-sama dengan seimbang. Jangan korbankan saat teduh dan membina hubungan dengan Tuhan hanya karena sibuk bekerja, tapi jangan pula hanya duduk diam di rumah melakukan saat teduh terus menerus tapi tidak melakukan apa-apa. Semua harus dilakukan secara seimbang dan terintegrasi.

Penting bagi kita untuk membangun teamwork yang solid atau kokoh dan terus memperluas network kita. Tanpa itu semua kita akan stagnan, berjalan di tempat dan tidak akan pernah bisa maju dalam segala hal. Kesombongan, menutup diri atau merasa diri paling hebat haruslah kita tinggalkan secepat mungkin agar kita bisa melakukan hal itu. Menjadi pribadi yang rendah hati, penuh kasih akan membuat kita bisa mengulurkan jabat persahabatan dengan lebih banyak orang tanpa terkecuali dan itu sangatlah menentukan arah kesuksesan kita ke depannya.

Belajarlah dari kisah orang lumpuh dengan keempat temannya ini dan jadilah orang-orang yang sukses dengan network luas dan teamwork kuat.

Without extending your network and building a solid teamwork you won't go anywhere

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, March 30, 2017

Teamwork dan Network (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Adalah iman yang membuat mereka mau terus berjuang untuk bisa bertemu dengan Yesus dengan cara apapun. Iman mereka yang kuat membuat mereka tidak bisa dibatasi atau dihalangi oleh kerumunan besar orang. Yesus pun menyembuhkan orang itu. "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu! Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: "Yang begini belum pernah kita lihat." (ay 11-12).

Sekarang marilah kita lihat sosok pribadi orang lumpuh tersebut secara khusus. Pernahkah terpikirkan oleh anda bagaimana sulitnya bagaimana susahnya menggotong seorang lumpuh di atas tilam untuk naik ke atas atap di tengah kerumunan orang banyak? Pasti sulitnya bukan main. Memanjat sendiri saja susah, ini menggotong orang lumpuh yang terbaring di atas tilam. Bahkan kalaupun mereka pemain sirkus, itu masih tetap sangat sulit untuk dilakukan.

 Jika kita melihat bahwa keempat orang ini mau bersusah payah untuk sahabatnya, kita bisa sampai pada sebuah kesimpulan bahwa orang lumpuh ini tentu merupakan orang yang baik dalam pergaulannya, dan pasti keempat orang itu punya kesan yang dalam atau hubungan yang sangat baik dengan dirinya. Kalau tidak mustahil rasanya keempatnya terbeban untuk menolong dengan harus menempuh cara yang sangat merepotkan bahkan berbahaya. Sekiranya orang lumpuh itu adalah orang yang sombong, saya yakin tidak akan ada orang yang peduli kepadanya, dan dia akan tetap lumpuh. Oleh karena itu saya rasa kita bisa menyimpulkan bahwa si lumpuh adalah orang yang sangat baik di mata temannya, dan dia berhasil membangun sebuah hubungan atau network yang baik.

Kemudian mari kita lihat hal selanjutnya. Untuk menurunkan seseorang dari atap seperti itu diperlukan sebuah proses teamwork yang baik. Mengapa? Karena jelas, untuk menurunkan orang terbaring dengan tali dari atap butuh keseimbangan di setiap sisi agar si lumpuh tidak jungkir balik jatuh ke bawah. Satu saja tidak balance, maka bisa dibayangkan apa akibatnya. Bukannya sembuh, si lumpuh malah bisa terbanting dari atap dan mungkin akan menemui ajalnya seketika. sedikitnya ada tiga hal yang bisa kita pelajari dari bagian ini.

- Kesombongan tidak akan pernah membawa manfaat apa-apa selain kerugian pada diri sendiri.
Firman Tuhan berkata: "Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan." (Amsal 16:18).

(bersambung)

Wednesday, March 29, 2017

Teamwork dan Network (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Markus 2:3-4
=====================
"ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring."

Bayangkan jika anda harus mengerjakan semuanya sendirian. Adakah yang sanggup melakukannya? Kalaupun bisa, tentu tidak maksimal dan boros dari segi waktu. Jika anda hendak mengadakan sebuah event musik, and memerlukan banyak pihak agar bisa menyelenggarakannya. Anda perlu music director, orang di bagian ticketing, public relation, tim promosi, publikasi, pembuat poster, bagian sound system, stage manager, liaison officer, kru lapangan, petugas lighting, sekuriti, penyedia informasi kepada penonton saat acara berlangsung, konsumsi, tim pencari sponsor dan lain-lain. Sekarang ada juga tim sosial media yang tugasnya mempromosikan dan mewartakan event lewat berbagai sos-med. Kalau harus mengerjakan semua itu sendirian tentu tidak mungkin.

Ada sebuah quote yang pernah saya baca: "the world needs no superman, it needs superteam." Itu sering dilupakan banyak orang. Banyak orang yang cenderung berpikir bahwa mereka sanggup melakukan segala sesuatu sendirian. Mereka sulit percaya orang lain dan mengira bahwa merekalah yang paling hebat dan karenanya tidak membutuhkan kehadiran orang lain. Padahal manusia pada hakekatnya diciptakan sebagai mahluk sosial. Kita butuh terhubung dengan orang lain untuk bisa maju, dan di atas segalanya kita juga butuh terhubung dengan Tuhan supaya kita tidak salah melangkah dalam menjalani hidup.

Membangun network di mana di dalamnya terdapat teamwork yang harmonis, baik dan kuat sangatlah penting, karena biar bagaimanapun tidak ada satupun manusia super yang sanggup melakukan segala sesuatunya sendirian. Itu bukanlah blueprint manusia menurut rancangan Tuhan. Kita diciptakan untuk saling melengkapi dan saling berinteraksi satu sama lain untuk bisa memperoleh hasil yang terbaik. Dengan jelas hal ini bisa kita lihat dari sejarah penciptaan awal manusia. Tuhan mengatakan: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja." (Kejadian 2:18a).

Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan: "It is not good (sufficient, satisfactory) that the man should be alone." Terjemahannya kira-kira seperti ini: Tidak baik, tidak cukup, tidak memuaskan dan tidak akan maksimal kalau manusia itu sendirian. Artinya Tuhan tidak pernah menginginkan manusia untuk berusaha, bekerja atau bahkan hidup sendirian saja, terkucil, tertutup dan terisolasi dari sekitarnya. Dan itu bermakna bahwa selama kita hidup, kita harus bisa memperluas jaringan kita agar kita bisa terus lebih maksimal lagi dalam melakukan segala sesuatu dalam hidup kita.

Bicara tentang kerjasama tim, teamwork dan network, mari kita lihat sebuah kisah di dalam Alkitab, yaitu dalam Markus 2:1-12. Ada sebuah kisah heroik disana. Pada satu hari Yesus datang lagi ke Kapernaum, dan orang ramai berkerumun mendatangi Dia untuk bertemu. Saking banyaknya orang yang datang, rumah di mana Yesus berada kemudian menjadi penuh sesak hingga dikatakan tidak ada tempat kosong lagi. Yesus memberitakan firman kepada semua yang hadir.

Lalu muncullah sebuah kejadian menarik. "ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang." (ay 3). Keempat orang ini menggotong sahabat mereka dan ingin bertemu dengan Yesus dengan tujuan agar sahabat mereka bisa sembuh. Tapi mereka tidak bisa menembus kerumunan yang sedemikian padat. Apakah mereka kemudian menyerah? Ternyata tidak.

Inilah yang mereka lakukan selanjutnya. "...mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring." (ay 4). Melihat kegigihan mereka, Yesus pun kagum melihat usaha mereka. Alkitab mencatatnya seperti ini: "Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" (ay 5).

(bersambung)


Tuesday, March 28, 2017

Menghindari Lubang (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kita seharusnya peka untuk mengetahui berbagai bahaya yang ada di balik jebakan-jebakan yang menggiurkan itu. Pemahaman yang kurang mengenai Firman Tuhan  akan membuat kita lengah sehingga mudah memberi toleransi-toleransi terhadap hal-hal buruk yang dianggap sepele tetapi sesungguhnya berbahaya bagi perjalanan hidup kita. Kewaspadaan, kesadaran sepenuhnya, itulah yang akan membuat kita terhindar dari berbagai lubang dengan berbagai ukuran dengan tingkat bahayanya masing-masing.

Kita tidak boleh lengah dalam menyikapi perangkap-perangkap dosa yang dipasang di mana-mana karena seringkali kemasannya terlihat indah hingga bisa menipu kita. Kita menyangkanya lurus, kalaupun ada sedikit pelanggaran di dalamnya kita anggap sepele dan wajar-wajar saja, padahal ujungnya sebenarnya menuju maut. Dalam Amsal kita bisa melihat Firman Tuhan yang berbunyi "Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut." (Amsal 16:25, 14:12). Karenanya kita harus mampu memperhatikan setiap langkah agar tidak mudah dijebak, terutama ketika kita memiliki kebiasaan-kebiasaan buruk di waktu lalu yang sudah kita tinggalkan. Kebiasaan-kebiasaan buruk akan selalu berusaha kembali masuk ke dalam diri kita. Dan potensi itu harus kita perhatikan baik-baik.

Demikian pula dalam hal menjaga pergaulan. "Janganlah kamu sesat. Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik." (1 Korintus 15:33) Ini bukan berarti bahwa kita harus memusuhi orang lain, tetapi kita harus berhati-hati agar jangan sampai bukannya membawa orang untuk bertobat, tetapi malah kita yang terpengaruh untuk mengikuti jalan-jalan mereka yang sesat dan jahat. Kita tidak boleh gegabah dan merasa diri kita pasti aman, karena firman Tuhan berkata: "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (1 Korintus 10:12).

Sangat baik apabila kita bisa memberi pengaruh yang baik kepada mereka yang sesat sehingga bisa bertobat, tapi jangan sampai malah kita yang terpengaruh untuk mengikuti jalan-jalan mereka. Dan alangkah baik pula apabila kita awas dan peka dalam menyikapi setiap langkah. Untuk itu kita memerlukan hikmat dari Tuhan untuk bisa peka terhadap mana jalan yang benar dan mana yang sesat. Lihatlah apa kata Tuhan berikut: "Janganlah meninggalkan hikmat itu, maka engkau akan dipeliharanya, kasihilah dia, maka engkau akan dijaganya...Hai anakku, dengarkanlah dan terimalah perkataanku, supaya tahun hidupmu menjadi banyak. Aku mengajarkan jalan hikmat kepadamu, aku memimpin engkau di jalan yang lurus. Bila engkau berjalan langkahmu tidak akan terhambat, bila engkau berlari engkau tidak akan tersandung." (Amsal 4:6,10-12).

Berdoalah dan mintalah hikmat Tuhan. Dan seiring dengan itu, tetaplah peka untuk mendengar peringatan Roh Kudus dalam diri anda. Terus dalami Firman Tuhan, kenali mana yang benar dan mana yang salah, mana yang berkenan dan mana  yang dianggap sebagai kejahatan di mata Tuhan. Teruslah berjaga-jaga dengan kesadaran penuh, dengan sungguh-sungguh. Jika ada jalan yang jahat terbentang di depan anda, lengkap dengan segala jebakan yang dikemas dengan indah penuh kenikmatan, hindari dan larilah dari sana. Teruslah berjalan di jalur yang benar hingga anda tidak harus kehilangan segala yang telah dianugerahkan Tuhan bagi diri anda.

Masa depan yang indah terbentang luas bagi anda, janji Tuhan yang begitu indah sudah dipersiapkan. Genapilah rencana Tuhan dan jangan berakhir celaka di dalam lubang.

Hindari lubang-lubang jebakan agar selamat sampai tujuan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho


Monday, March 27, 2017

Menghindari Lubang (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Amsal 4:15
==================
"Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya, menyimpanglah dari padanya dan jalanlah terus."

Seorang teman persekutuan saya bercerita tentang pengalaman buruknya mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu. Ia seorang ibu dengan dua anak, usianya sudah tidak muda lagi, tapi untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari ia harus mengajar dan melakukan banyak hal di luar rumah, termasuk banyak menghabiskan waktu di jalan. Suatu kali ia tidak melihat ada lubang menganga di tengah jalan. Motornya terperosok masuk, ia terpelanting ke aspal. Beruntung ia tidak tergiling oleh mobil yang berada di belakangnya. Tapi tetap saja ia menderita patah tangan dan luka di sana sini. Ia dipinggirkan oleh warga setempat ke sebuah warung yang berada tepat di sisi lubang tempatnya kecelakaan. Menurut pemilik warung, sudah sering ada yang celaka gara-gara lubang ini. Kalau sudah sering kenapa tidak ditandai saja lubangnya? Pemilik warung sambil senyum malu mengatakan bahwa itu bukanlah tugasnya melainkan tugas RT dan RW. "Patah tangan itu membuat keluarga saya harus benar-benar berhemat selama masa penyembuhan saya, karena sebagai tulang punggung keluarga, tidak banyak yang bisa saya peroleh selagi cedera seperti ini. Tapi biar bagaimanapun saya bersyukur karena masih hidup. Kecelakaan seperti itu bisa saja membawa akibat yang lebih parah." katanya.

Kalau ada lubang menganga di tengah jalan, anda tentu tidak akan cuek menabrak lubang tersebut melainkan menghindarinya sedapat mungkin. Jika anda pengendara motor, itu bisa sangat membahayakan nyawa atau menimbulkan cedera seperti yang dialami oleh ibu teman sepersekutuan saya di atas. Bagi yang pakai mobil mungkin relatif tidak sampai separah itu bahayanya tapi tetap saja kaki-kakinya dan berbagai onderdil lain di kolong mobil bisa rusak. Bisa patah as misalnya. Dan ongkos reparasinya bisa menghabiskan uang yang tidak sedikit. Saya yakin tidak ada seorangpun yang akan dengan sengaja mengarahkan kendaraannya ke lubang, apalagi kalau lubangnya besar.

Negara kita negara kepulauan, dan itu pun tergambar di jalan raya. Ada banyak 'pulau' di jalan, 'lembah' dan 'gunung'. Maksud saya, jalanan di hampir semua kota ada lubang besar dan kecil yang membuatnya terlihat seperti banyak pulau di tengah lautan kalau sedang hujan, ada polisi tidur, ada batu, paku dan sebagainya yang setiap saat bisa mendatangkan celaka. Setidaknya kalaupun harus kena lubang, kendaraan pasti dipelankan saat melintasinya. Tapi tetap saja ada korban dari jalanan yang dibiarkan berlubang-lubang, yang biasanya terjadi karena sang pengendara kurang hati-hati. Bisa jadi tengah melamun, mengantuk atau kurang konsentrasi saat mengemudi, atau karena tidak fokus sambil mengerjakan hal lain dan sebagainya.

Dalam kehidupan ini ada begitu banyak "lubang" yang siap menelan kita. Kalau kita memperhatikan betul setiap langkah, kita seharusnya bisa menghindarinya. Tapi saat kita lengah atau tidak hati-hati, kita bisa masuk ke dalam lubang dan kemudian diperangkap dosa. Dan seringkali, kita begitu lemah menghadapi perangkap-perangkap dosa yang terpasang di depan kita. Sedikit saja terlihat nikmat, kita akan terjebak, atau malah dengan "sukarela" dan "sukacita" masuk ke dalam perangkap. Hanya karena kesenangan sesaat kita rela menggadaikan keselamatan kekal yang sudah dianugerahkan kepada kita. Begitu rentannya kita terhadap berbagai godaan. Keinginan daging begitu mudah menguasai diri kita. Berbagai peringatan lewat hati nurani, lewat roh dan sebagainya kita abaikan demi kenikmatan yang sesaat saja. Satu dua kali mungkin kita tidak merasa apa-apa, tetapi pada suatu ketika kita harus menanggung konsekuensi kerugian akibat tidak awas terhaap lubang jebakan dosa itu.

Karena itulah Paulus mengingatkan kita untuk sadar. Bukan sadar ala kadarnya tetapi sadar sepenuhnya. "Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi!" (1 Korintus 15:34). Kalau kita tidak sepenuhnya atau betul-betul sadar, si jahat akan selalu berusaha mempengaruhi kita untuk kembali melakukan dosa-dosa lewat kebisaan buruk kita yang dulu, atau berbagai bentuk dosa baru yang belum pernah kita perbuat sebelumnya. Jebakan perangkap dipasang dimana-mana, sehingga kalau tidak hati-hati kita bisa terperosok dan celaka disana.

Sekarang mari kita lihat Firman Tuhan lainnya yang mengingatkan agar kita waspada, terutama saat berhadapan dengan jalan-jalan yang penuh lubang perangkap. "Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya, menyimpanglah dari padanya dan jalanlah terus." (Amsal 4:15). Kita diingatkan untuk menghindarinya dan terus berjalan di jalur yang benar. Ini sangat penting untuk kita ingat, yang kemudian disusul dengan seruan "Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat." (ay 14).

Pada kenyataannya ada banyak jalan berlubang terbentang di depan kita. Semua memiliki jalurnya sendiri-sendiri dengan konsekuensi masing-masing, dan semua tergantung kita untuk memilih jalan mana yang ingin kita lalui. Kenikmatan-kenikmatan yang terlihat menggiurkan seringkali merupakan jebakan-jebakan yang siap mencelakakan kita. Oleh karena itu jika kita tidak hati-hati dan membiarkan diri kita lemah maka dengan segera kita bisa terseret masuk dalam perangkap.

(bersambung)


Sunday, March 26, 2017

Hindari Dehidrasi Jiwa dan Roh (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Ada saat dimana jiwa kita merintih dan meronta dalam kekeringan. Di tengah begitu banyak kesibukan, tekanan dan pergumulan, di tengah banyaknya penyesatan dari berbagai arah, kita bisa mulai merasa jiwa kering kehausan. Jiwa membutuhkan nutrisi agar bisa tetap kuat dalam berjuang. Kalau diibaratkan bahwa hidup ini adalah sebuah perlombaan, demikian kata Firman Tuhan dalam Ibrani 12:1, semangat kita akan sangat tergantung dari kondisi jiwa kita. Dan ketika jiwa kita mengalami kekeringan, kita harus bisa mendengar kebutuhan jiwa kita. Sebuah ayat dalam Ratapan berbunyi: "TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya." (Ratapan 3:24).

Jiwa kita tahu betul betapa baiknya Tuhan. Ayat selanjutnya berbunyi: "TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia." (ay 25). Dalam Mazmur pun kita menemukan banyak ayat yang bercerita soal ini. Lihatlah salah satunya: "TUHAN memelihara orang-orang sederhana; aku sudah lemah, tetapi diselamatkan-Nya aku." (Mazmur 116:6). Oleh sebab itulah jiwa kita seharusnya tenang, karena ada Tuhan yang selalu siap menyelamatkan kita. Pemazmur menyerukan hal itu kepada jiwanya. "Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu." (ay 7).

Di dalam naungan sayap Tuhan kita berlindung, semua itu dimungkinkan karena besarnya kasih setia Tuhan. (36:8). Tuhan tahu beratnya beban hidup kita. Dan lihatlah bagaimana empati Kristus sendiri yang tahu betul bagaimana sulitnya hidup manusia. Dia menawarkan kelegaan kepada siapapun yang datang kepadaNya. "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28).

Yesus sendiri yang menjadi jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam hidup kita, terhadap kebutuhan-kebutuhan yang esensial dalam hidup kita. Bukankah Dia sudah menjawab kebutuhan terbesar kita akan keselamatan? Dan itu Dia lakukan dengan mengorbankan DiriNya sendiri. Kalau yang terpenting saja sudah Tuhan berikan, apalagi yang lain. Kapanpun kita mencariNya, kita akan selalu menemukanNya. "Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu." (Lukas 11:9).

Kapanpun jiwa kita haus, Yesus siap memenuhi jiwa kita kembali. Yesus selalu siap menyambut kita dengan tangan terbuka. Memberi kelegaan, menjamin keselamatan.

Anda saat ini sedang ditimbun banyak tugas atau masalah? Jika ya, mari malam ini kita datang kepadaNya dalam segala kerinduan kita. Datanglah dan masuklah dalam hadiratNya, bersekutu denganNya, dan itu akan membuat jiwa kita kembali tenang dan kuat untuk menghadapi beban-beban pekerjaan keesokan harinya. Seperti anda butuh air saat merasa haus karena kekurangan cairan, jiwa dan roh kita butuh Air Hidup agar bisa tetap tercukupi asupannya.

Anda tentu tidak akan mengorbankan minum demi melakukan sesuatu yang lain bukan? Begitu pula seharusnya anda menyikapi kebutuhan jiwa dan roh anda. Jangan korbankan bersaat teduh, membangun hubungan secara rutin dan teratur dengan Tuhan, jangan lupakan membaca, merenungkan dan melakukan FirmanNya. Jangan abaikan kepekaan untuk mendengar suaraNya, karena disanalah kebutuhan jiwa dan roh kita bisa terpenuhi.

Quench your soul's thirst with the Fountain of Life

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, March 25, 2017

Hindari Dehidrasi Jiwa dan Roh (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Ratapan 3:24
======================
"TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya."

Siapapun kita pasti pernah merasa haus. Mungkin malah tiap hari. Tapi yang namanya benar-benar haus baru saya rasakan pada sebuah pengalaman lebih sepuluh tahun lalu. Ceritanya begini. Suatu kali saat tengah dinas luar kota saya mengalami pecah ban. Waktu itu sudah lewat tengah malam dan itu terjadi bukan di daerah berpenduduk. Hanya ada pohon di kiri dan kanan. Saya mencoba mengganti ban, tapi saya teledor tidak memeriksa kelengkapan sebelum jalan. Dongkrak saya ternyata sudah berkarat sehingga tidak bisa diputar untuk mengangkat mobil. Kunci ban pun tidak ada. Senter juga tidak ada.

Seandainya terjadi sekarang saya pikir tentu lebih mudah. Saya bisa menelepon, menggunakan fasilitas senter pada smart phone dan mencari bantuan terdekat. Sayangnya peristiwa ini saya alami sebelum adanya telepon genggam. Saya mencoba meminta tolong kepada yang lewat, tapi namanya di jam seperti itu, tidak ada yang mau mengambil resiko untuk berhenti. Mobil yang lewat pun sangat jarang. Haus sudah saya rasakan sebelum ban pecah, rasanya menjadi lebih parah setelah mengangkat ban serap, mencoba memutar dongkrak dan sebagainya. Tidak ada lagi yang bisa saya lakukan, saya pun menyerah, menunggu datangnya pagi. Pagi sudah datang, tetap tidak ada yang mau menolong. Menjelang siang barulah ada mobil menepi. Saya meminjam dongkrak dan kunci bannya, mengganti ban dan kemudian beranjak pergi.

Masalah mobil selesai, masalah haus ternyata masih harus menunggu, karena kira-kira sejam kemudian barulah saya bisa mendapatkan air minum. Itu kehausan yang paling parah yang pernah saya alami. Dan saya masih ingat betul bagaimana nikmatnya saat air akhirnya kembali mengalir di tenggorokan saya. Bagi saya, belum ada rasa haus yang mengalahkan rasa pada saat itu.

Kalau leher sebagai bagian dari tubuh jasmani akan memberitahukan kita saat haus, bagaimana dengan jiwa? Bagaikan baterai, jiwa bisa terkuras energinya (drain) dengan segala permasalahan hidup dan kesibukan setiap harinya. Beberapa masalah yang datang serentak kita bisa menjadi gelagapan, kelabakan dan jungkir balik. Pusing, lelah itu pasti, kalau tidak sampai panik. Tugas menumpuk,semua harus diselesaikan tepat pada waktunya dengan sebaik-baiknya, Berbagi hal yang harus diselesaikan menyita waktu, terkadang membuat kita seperti robot yang sudah terprogram dari pagi sampai malam, melakukan tugas demi tugas tanpa henti. Tarik nafas sesaat dan tidur beberapa jam, keesokan pagi semua akan berlangsung sama seperti kemarin. Belum lagi masalah-masalah yang tidak kunjung beres.

Semua itu bisa membuat kita kehilangan saat-saat khusus bersekutu dengan Tuhan, menikmati hadiratNya. Sebagian orang kemudian mengorbankan saat teduh, sudah terlalu lelah, atau kalaupun masih disempatkan tidak lagi punya waktu untuk berlama-lama. Dan tanpa kita sadari, jiwa kita mengalami kehausan lantas kekeringan.

Saat tubuh jasmani kurang cairan, kita diingatkan dengan rasa haus. Kekeringan jiwa tidak menimbulkan rasa haus seperti halnya tubuh jasmani, tapi tetap ada ciri-cirinya. Misalnya menjadi kurang sabar dan lekas emosi, mulai mudah merasa benci terhadap seseorang, tidak lagi peka terhadap suara/kehendak Tuhan dan mulai kehilangan kasih dalam hidupnya. Rasa cemas, bimbang, kuatir mulai semakin sering dirasakan, sulit membedakan mana yang benar dan salah, mudah terpengaruh oleh pengajaran-pengajaran dunia yang bertentangan dengan prinsip Kerajaan, itupun bisa menjadi indikator bahwa jiwa dan roh mulai kekeringan.

Yang namanya haus, kering atau dehidrasi bisa mendatangkan masalah dalam hidup. Baik tubuh jasmani, maupun jiwa dan roh. Karena itulah jika tubuh kita bisa diselesaikan dengan minum air, jiwa dan roh butuh asupan Firman Tuhan secara teratur supaya jangan sampai mengalami dehidrasi atau kekeringan. Kalau dibiarkan, kita bisa semakin terbiasa jauh dari Tuhan dan bertambah dekat dengan dosa, dan itu akan mengarah kepada kegagalan kita menerima anugerah terbesar dari Tuhan, yaitu keselamatan kekal.

(bersambung)


Friday, March 24, 2017

Bersikap Sopan dan Taat Aturan (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

 Jika di jalan saja sudah sulit, apalagi teratur dalam kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan rohani. Beribadah minggu bolong-bolong, tergantung malas tidaknya bangun pagi. Doa kapan sempat atau ingat, begitu pula dengan saat teduh. Atau, beribadah sih... tapi tindakan-tindakan yang jahat di mata Tuhan tetap juga dijalankan. Atau jangan-jangan justru berbuat jahatnya yang teraktur, bukan yang baik dan berkenan di hadapanya.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita mungkin berkata bahwa kita bukan petugas yang berwenang mengatur lalu lintas. Kita mungkin berkata bahwa kita terlalu kecil untuk mengatasi kerumitan sebesar itu di jalan raya. Terlalu sulit untuk bisa membuat semuanya teratur dan bukan siapa-siapa sehingga tidak sanggup menginspirasi.  Tapi sebenarnya kita bisa  belajar untuk hidup secara teratur dimulai dari diri sendiri. Mulai melatih diri agar bisa taat aturan, mau mencontohkan hidup teratur, sopan dan berdisiplin.

Dalam hidup kita mungkin bisa mengatasnamakan kesibukan pekerjaan dan sebagainya untuk tidak meniadakan waktu-waktu indah bernaung dalam hadirat Tuhan, tapi saya yakin jika kita membiasakan diri sejak sekarang untuk meluangkan waktu secara teratur, akan selalu saja ada waktu yang bisa kita pakai untuk mendengar kata-kata Tuhan, dan mengucap syukur atas penyertaanNya sepanjang hari. Saya percaya selalu ada cukup waktu untuk dipakai secara teratur untuk berdoa, bersaat teduh dan membaca, memperkatakan dan merenungkan kebenaran firman Tuhan. Jika kita menyadari seperti Daud yang berkata "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." (Mazmur 119:105), maka kita akan tahu tanpa pegangan itu kita akan semakin sulit untuk bertahan dalam kehidupan yang semakin sulit.

Keteraturan, itu yang diinginkan Tuhan dari kita untuk kita terapkan dalam hidup kita. Bukan kesemrawutan, kesemena-menaan apalagi kekacauan. "Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur." (1 Korintus 14:40).

Sopan dan teratur, seharusnya kedua hal ini bisa menjadi cerminan sikap atau perilaku dari anak-anak Tuhan, karena itu yang dikehendaki Tuhan untuk kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Jangan dulu bermimpi untuk menikmati kota yang berjalan dengan tertib, rapi dan teratur, penuh sopan santun jika kita sendiri belum mampu melakukannya. Mulailah dari diri sendiri. Belajarlah dari belalang atau semut akan hal ini, dan mari kita melatih diri untuk melakukannya. Betapa indahnya jika segalanya berjalan dengan teratur dan sopan, dan itu bisa dimulai dari diri kita.

"Be polite to others, even to those who are rude to you. Not because they are nice, but because you are"

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, March 23, 2017

Bersikap Sopan dan Taat Aturan (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Korintus 14:39
========================
"Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur."

Saya sebisa mungkin menghindari jam pulang kerja karena jalanan pasti macet parah. Kemarin saya terpaksa harus keluar di jam itu karena sebuah keperluan, dan benar saja, saya pun segera terjebak dalam kemacetan. Jalan terlihat tidak karuan karena mobil dan motor simpang siur disana. Motor yang mengambil hak jalan pengemudi yang berlawanan arah, mobil yang parkir sembarangan di jalan sempit, orang yang masih menerobos meski lampu sudah merah, semua itu membuat jalan raya carut marut tidak bergerak. Ditambah udara panas menyengat, siapapun yang mobilnya tidak dilengkapi pendingin udara akan segera mendidih termasuk emosinya. Mulai terlihat muka-muka kesal di balik kaca, dan di depan ada pengendara motor berselisih dengan seorang pengemudi mobil. Bertukar kata dengan suara keras sambil mengeluarkan gestur-gestur marah. Apakah mobilnya tersenggol atau apa, entahlah.

Saya pun kemudian ngantri di sebuah ATM. Antrian lumayan panjang, sementara orang yang sedang mengakses mesin tidak peduli terhadap antrian orang di belakangnya. Ia lama sekali disana, sepertinya ia masih menunggu uang kiriman masuk ke rekeningnya. Masukkan kartu, tarik lagi. Cek handphone. Kenapa ia tidak menepi saja dahulu agar antrian bisa reda? Mungkin di antara para pengantri ada yang sedang berkejaran dengan waktu. Gerakan gelisah muncul pada beberapa dari mereka. Salah seorang bapak kemudian menegur si orang ini dan memintanya menepi. Tapi ia bergeming tak peduli. Ia bahkan memasukkan temannya seolah mesin itu miliknya. Mulai dari kemacetan, kemudian antrian di mesin ATM, saya melihat bahwa masalah memang kerap muncul saat orang tidak mau teratur atau diatur. Tidak menaati peraturan, tidak mempedulikan orang lain.

Saya pun kemudian berpikir bahwa di saat ketidakteraturan terjadi, potensi hilangnya sopan santun pun menjadi bertambah. Oke lah jalan padat di jam pulang kerja atau pagi hari saat orang hendak ke kantor atau mengantar anak sekolah. Tapi kalau semua teratur mengikuti peraturan, bukankah jalan akan lebih lancar dan pengemudi pun bisa lebih nyaman? Dan kalau dalam mengantri ada tenggang rasa memikirkan orang lain, bukankah itu akan jauh lebih baik? Bukan saja konflik yang bisa dihindari, tapi hidup pun bisa lebih tenang karena tidak harus emosi. Keteraturan dan kesopanan sangatlah penting untuk sebuah tatanan kehidupan yang damai sejahtera. Di saat orang teratur, tidak mengganggu atau mengambil hak orang lain, kesopanan pun muncul. Sebaliknya saat manusia memilih mementingkan diri sendiri dan menolak diatur, maka kesopanan pun hilang.

Keteraturan dan kesopanan semakin saja sulit ditemukan dalam bermasyarakat. Apakah memang sudah sesulit itu kita hidup teratur? Apakah kita sudah berubah menjadi orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa menghiraukan kepentingan atau kenyamanan orang lain? Sudah begitu egoisnya kah kita sebagai anak bangsa yang katanya menjunjung tinggi keramahan dan kesopanan? Sayangnya tabiat ini seperti virus ganas. Ketidakteraturan, ketidaksopanandan perilaku seenaknya semakin lama semakin menular kemana-mana menjangkiti banyak orang. Segalanya dihalalkan untuk kepentingan sendiri yang hanya sesaat, orang tidak lagi peduli terhadap apapun selain dirinya sendiri.

Akan hal ini, kita harus malu kepada belalang. Belalang? Ya. Agur bin Yake ribuan tahun yang lalu sudah menyinggungnya. "Belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur." (Amsal 30:27) Tidak ada yang namanya raja belalang. Tapi meski tanpa raja, belalang bisa berbaris dengan teratur, tidak seperti manusia yang sulit diatur. Bukan cuma belalang, tapi semut pun sama. Perhatikan semut yang selalu beriringan dan selalu bekerja sama. Binatang-binatang yang ukurannya jauh lebih kecil dari kita, dan tidak memiliki akal budi ternyata bisa lebih "beradab" di banding kita.

Di jalan saja kita tidak bisa mengikuti peraturan. Motor zig-zag seenaknya, kendaraan berjalan seenaknya, pelan di tengah atau meliuk tanpa melihat kendaraan di belakangnya, angkot yang berhenti sesuka hati ditengah jalan, klakson yang ditekan dengan panjang berulang-ulang, atau justru melaju semakin kencang saat melihat ada yang hendak menyeberang, menerobos lampu merah dan kelakuan buruk lainnya. Semua ini menunjukkan perilaku yang bukan saja buruk, tapi juga berpotensi membahayakan keselamatan diri sendiri dan orang lain.

(bersambung)


Wednesday, March 22, 2017

Tuhan Mengawasi Kita (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Tuhan berada bersama kita kemanapun kita melangkah, dan itu bisa membuat kita tidak perlu takut menghadapi apapun. Menyadari keberadaan Tuhan dengan kasih setiaNya setiap waktu bersama kita akan membuat kita menyadari bahwa semua yang kita lakukan demi namaNya tidak akan pernah Dia abaikan, meski mungkin di dunia tidak ada satupun orang yang peduli.

Sebaliknya, bagaimana dengan orang yang hidupnya melanggar ketetapan-ketetapan Tuhan? Buat orang yang terus memilih untuk hidup dalam kecemaran dan kejahatan, ini jelas menjadi sebuah kabar buruk. Kalau ada orang yang selama ini berpikir bahwa bisa selamat jika perbuatan jahatnya tidak diketahui orang lain, berpikir bahwa jika tidak ada orang yang melihat karena pintar bersembunyi, mereka harus tahu bahwa tidak ada tempat atau kesempatan sedikit pun sebenarnya untuk menyembunyikan diri dari pandangan mata Tuhan. Tuhan melihat segalanya dan tahu segalanya. Meski kebohongan, kecurangan atau kejahatan bisa disimpan rapi sehingga bisa lolos di dunia, serapi apapun penipuan atau kebohongan itu sehingga mampu mengecoh manusia, di mata Tuhan semua itu akan selalu terlihat dengan amat sangat jelas.

Penulis Ibrani menyampaikan pesan seperti ini: "Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab." (Ibrani 4:13). Baik atau jahat, semua perbuatan dan niat kita akan sangat transparan di mata Tuhan, bahkan apa yang ada di dalam hati dan pikiran kita pun sesungguhnya terbuka di mata Tuhan. Apapun yang ada dalam hati kita Tuhan tahu. "Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya." (Amsal 20:27).

Baik buruknya yang kita lakukan, rencana yang ada di pikiran kita atau perasaan dalam hati kita, ingatlah bahwa Tuhan sedang memandang dan akan terus memantau kita. Maka hendaklah kita menjaga sikap, perbuatan, pikiran, perasaan, tingkah laku dan perkataan kita agar tidak berseberangan dengan kehendakNya. Mari kita buat Tuhan tersenyum bahagia dan bangga melihat bagaimana kita menjalani hidup dengan sebaik-baiknya seperti yang Dia inginkan.

Apakah terlihat di depan oleh orang lain atau tidak, tetaplah junjung tinggi integritas sesuai kebenaran. Sepanjang waktu Tuhan ada bersama kita, melihat dan menyelidiki kita, pergunakanlah kesempatan ini sebagai sebuah jaminan penyertaan dari Tuhan kepada anak-anakNya yang taat dan setia dan bukan sebagai sesuatu yang kita anggap mengganggu kebebasan kita dalam melakukan segala sesuatu ynag melanggar ketetapanNya

"Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia." (2 Tawarikh 16:9)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, March 21, 2017

Tuhan Mengawasi Kita (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Amsal 15:3
================
"Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik."

Dahulu ibu susah untuk memasak sambil menjaga anaknya. Teknologi mampu menciptakan baby monitor yang memungkinkan sang ibu tetap bisa memantau anaknya di kamar meski sedang berada di dapur. Baik suara maupun gambar akan tampil sehingga ibu akan tahu bagaimana keadaan anaknya di ruangan lain. Lalu CCTV alias closed circuit television akan memampukan kita memonitor area dimana perangkat ini dipasang. Kalau ada apa-apa, maka ada rekaman yang bisa menunjukkan apa yang terjadi, atau siapa yang mau berbuat jahat di sebuah tempat dimana CCTV itu ada.

Berbagai aplikasi seperti Skype pun bisa dipakai untuk memonitor dari jauh. Saat sedang liburan, rumah bisa tetap dipantau. Kalau ada apa-apa bisa segera menelepon tetangga atau pihak berwajib. Kalau dulu orang hanya mampu melihat sejauh jarak pandangan matanya, maka sekarang lewat teknologi kita bisa melihat lebih jauh dari kemampuan mata kita memandang. Bahkan ada aplikasi yang bisa memungkinkan kita untuk melihat beberapa CCTV sekaligus dari belahan dunia yang berbeda secara nyaris real time. Ada beberapa kota besar yang memasang CCTV di beberapa bagian jalan sehingga kita akan tahu apakah jalan itu macet atau tidak sebelum melewatinya.

Teknologi memang memampukan kita untuk bisa melihat jauh lebih luas dari kemampuan mata dan masih akan terus berinovasi untuk lebih baik lagi. Mungkin nanti suatu saat kita bisa melihat tempat-tempat jauh dengan ukuran asli tepat di depan mata kita, tidak lagi harus puas pada ukuran monitor saja. Tuhan sejak semula mampu melakukan itu tanpa perlu CCTV. Tuhan sanggup berada di segala tempat pada satu waktu yang sama untuk memantau dan mengawasi segala sesuatu yang kita lakukan. Salomo menyadari hal itu dan berkata: "Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik." (Amsal 15:3). Tidak ada satupun tempat di dunia bahkan di jagat raya ini yang berada di luar jangkauan penglihatan Tuhan. Dia tahu apa yang kita lakukan, baik atau buruk, tak ada yang tersembuyi bagiNya.

Ayah Salomo sendiri yaitu Daud mengangkat pemahaman yang sama dalam Mazmur 139 yang bertajuk "Doa di hadapan Allah yang maha tahu." Dalam bagian Mazmur ini kita bisa melihat bagaimana Tuhan menyelidiki dan mengenal kita. "TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku." (ay 1). Selanjutnya dikatakan Dia mengetahui pikiran kita (ay 2), melihat kita bekerja dan beristirahat serta mengetahui apapun yang kita perbuat (ay 3), Dia pun tahu apa yang menjadi isi hati kita sebelum kita mengucapkannya. (ay 4). Tidak satupun tempat yang tersembunyi dariNya (ay 7-10), bahkan di tempat yang tergelap sekalipun Tuhan bisa melihat. (ay 11-12).

Semua ini menunjukkan bagaimana mata Tuhan tidak pernah gagal menjangkau segala sudut dari hidup kita. MataNya ada dimana-mana, di segala tempat, mengawasi yang jahat dan yang baik, memeriksa kita sampai bagian yang terdalam, apakah ada niat-niat buruk yang masih bercokol atau tidak.

Bagi orang hidup benar, mengasihi Tuhan dan rajin melakukan kehendakNya ini tentu merupakan sebuah kabar yang menggembirakan. Dengan mengetahui hal ini kita tahu sekarang bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, Dia ada bersama kita dalam setiap waktu, baik dalam keadaan suka maupun duka, dalam keadaan tenang maupun penuh gejolak. Tidak ada satupun yang luput dipantauNya, kita selalu ada dalam jarak pandangNya.

(bersambung)


Monday, March 20, 2017

Jangan Lari dari Tanggung Jawab (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!

(sambungan)

Dalam Galatia pasal 6 Paulus mengingatkan kita untuk terus memeriksa segala sesuatu yang kita kerjakan dan tidak perlu membanding-bandingkan dengan apa yang dilakukan orang lain. "Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain." (ay 4). Mengapa? Ayat selanjutnya berkata: "Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri." (ay 5).

Dalam versi BIS dikatakan "Sebab masing-masing orang harus memikul tanggung jawabnya sendiri." atau dalam versi lain dikatakan "Each of you must take responsibility for doing the creative best you can with your own life." [The Message].

Dari versi The Message kita bisa melihat bagaimana seharusnya kita memandang sebuah tanggung jawab, yaitu memikulnya dengan melakukan bagian kita dengan sekreatif dan sebaik mungkin, dengan segenap hidup kita sendiri. Inilah model ideal dari cara orang percaya memikul tanggung jawab yang mereka emban.

Tuhan menghendaki kita untuk serius dalam melakukan segala hal, baik dalam bekerja, belajar maupun melayani. Apalagi jika menyangkut tanggung jawab yang dibebankan, maka itu harus dipandang sebagai amanah yang dipegang dengan komitmen tinggi. Perhatikan ayat berikut ini: "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23).

Ayat ini secara jelas mengingatkan kita bahwa kita harus memberi yang terbaik dalam apapun yang kita kerjakan seolah-olah kita melakukannya untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Itu harus kita lakukan dengan sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab tanpa memandang besar tidaknya pendapatan atau kompensasi yang diterima. Itulah tingkatan yang seharusnya dilakukan oleh orang percaya.

Mungkin kompensasinya belum terlihat secara langsung, mungkin tidak seperti yang diharapkan, tetapi apapun yang dikerjakan untuk Tuhan pasti akan sangat Dia hargai. Dan kalau Tuhan menghargai, Dia bisa memberkati anda lewat apapun, meski tidak secara langsung berhubungan dengan sesuatu yang sedang dikerjakan itu. Bisa jadi hasilnya tidak langsung terlihat, bisa jadi ada pengorbanan-pengorbanan besar di awal, bisa jadi itu terlihat bodoh di mata orang. Biarlah. Karena pertanggungjawaban yang sebenarnya adalah kepada Tuhan dan bukan manusia.

Sebuah tanggung jawab memang harus dijalankan dengan keseriusan dan komitmen yang tinggi, dan saat kita memberi yang terbaik dan memuliakan Tuhan di dalamnya, jangan pernah ragu bahwa kelak kita akan memetik buah yang luar biasa dari sana.

Apabila ada diantara teman-teman yang saat ini merasa bahwa kerja keras anda belum sebanding dengan kompensasi yang anda terima, masih terus membandingkan antara keseriusan dan upah, atau masih bergumul mengenai hal-hal mengenai tanggung jawab, jika ada yang sedang berpikir untuk lari dari tanggungjawab karena merasa terlalu berat, tidak sepadan, tidak sanggup dan alasan lainnya, pikirkanlah kembali baik-baik. Karena pertanggungjawaban anda yang terutama adalah kepada Tuhan dan bukan manusia.

Kalau memang anda diinginkan Tuhan untuk ada di sana dan melakukan sesuatu, keep doing your best in it. Berikan yang terbaik dari anda, penuhi tangung jawab anda dengan sebaik-baiknya. Selama itu anda kerjakan dengan sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan, Dia pasti akan memperhitungkan itu. Percayalah bahwa segala sesuatu yang anda lakukan untuk Tuhan tidak akan pernah berakhir sia-sia.

"The more God gives you, the more responsible he expects you to be" - Rick Warren

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, March 19, 2017

Jangan Lari dari Tanggung Jawab (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Apa pekerjaan Daud pada masa itu? Tidak seperti kakak-kakaknya yang berprofesi membanggakan sebagai prajurit Israel, Daud hanya dipercaya menggembalakan kambing domba. Yang digembalakan tidaklah banyak, hanya satu-dua saja. Tapi dari apa yang dikatakan Daud di atas, lihatlah ia harus mempertaruhkan nyawanya setiap hari, putting his life on the line, hanya untuk keselamatan kambing domba yang ia gembalakan. Seperti apa orang tua yang tega membiarkan anak bungsunya berhadapan dengan binatang-binatang  buas seperti singa dan beruang hanya untuk satu-dua ternak saja? Itulah yang terjadi dalam hidup Daud.

Menariknya, ketidakadilan atau bahkan kekejaman hidup itu justru menjadi ajang bagi Daud untuk merasakan langsung keberadaan Tuhan dalam hidupnya sejak dini. Imannya bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan yang ia alami lewat pengalaman-pengalaman nyata setiap harinya. Pengalamannya yang berharga menghadapi binatang buas bersama Tuhan membuatnya tahu bahwa menghadapi Goliat sama saja dengan apa yang ia hadapi sehari-hari, selama Tuhan ada bersamanya. Kalau beruang dan singa saja bisa ia kalahkan dengan adanya penyertaan Tuhan, kenapa Goliat dan pasukannya tidak?

Kita bisa melihat betapa besarnya komitmen Daud dalam bertanggungjawab atas pekerjaannya. Apa yang bisa dibanggakan dengan bekerja menggembalakan sedikit ternak? Apakah ia dibayar untuk itu? Saya yakin tidak. Mungkin sekedar terima kasih pun tidak. Tapi perhatikan bagaimana besarnya komitmen Daud dalam melakukan tanggungjawabnya, dan disana Tuhan ternyata menyertainya dan menjaganya dari berbagai bahaya. Berkaca dari hal itulah ketika melihat Goliat Daud tidak perlu merasa takut. Kalau Tuhan ada bersamanya dan sudah berulang kali memberinya kekuatan untuk mengatasi hewan-hewan pemangsa yang buas, tentu Tuhan pun akan berbuat sama ketika ia harus berhadapan dengan Goliat.

Seandainya Daud tidak serius dalam melakukan tugasnya, ia tidak akan pernah punya pengalaman bersama Tuhan. Kalau dia tidak serius mengemban tanggung jawabnya dalam menggembala, ia tidak akan pernah merasakan hebatnya penyertaan Tuhan dalam mengatasi kemustahilan. Jika ia hidup tenang dan santai saja di rumah menikmati masa mudanya, saya pikir ia tidak akan berani maju untuk mengalahkan Goliat. Jika itu yang terjadi, maka kisah Daud dan Goliat mungkin tidak akan pernah ada atau berbeda ceritanya.

Walau tidak dibayar dan tidak mendapat penghargaan, Daud menunjukkan bagaimana komitmennya dalam mengemban tanggung jawab. Daud rela mempertaruhkan nyawanya demi sekumpulan domba, yang notabene hanyalah kumpulan hewan yang tidak seberharga nyawanya sebagai manusia, bahkan hewan-hewan itu pun bukan miliknya. Di mata manusia mungkin itu merupakan hal yang aneh, bahkan bodoh. Untuk apa manusia harus rela mempertaruhkan nyawa melawan binatang buas seperti singa dan beruang hanya demi binatang yang digembalakannya?

Tapi Daud tidak berpikir seperti itu. Ia tidak ingin satupun dari ternak yang kepadanya diberi tanggung jawab hilang atau mati. Ia ingin memegang teguh tanggung jawab yang sudah dipercayakan kepadanya dan untuk itu ia siap membayar harga. Ia terus berkomitmen bahkan saat harus berhadapan dengan bahaya. Dari keputusan itu ia merasakan betapa penyertaan Tuhan mampu membuatnya tampil sebagai pemenang. Ia sudah beberapa kali sanggup mengatasi ganasnya singa dan beruang, kemudian berhasil pula mengatasi Goliat.

Keputusan Daud ini kelak menjadi model yang sama mengenai bagaimana Yesus, yang lahir ke dunia sebagai salah satu dari silsilah keturunannya, menyelamatkan kita semua. Lihat apa kata Yesus berikut: "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu." (Yohanes 10:11-12).

(bersambung)

Saturday, March 18, 2017

Jangan Lari dari Tanggung Jawab (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Samuel 17:34-35
==========================
"Tetapi Daud berkata kepada Saul: "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya..."

Ada sebuah kutipan yang usianya lebih dari 2000 tahun lalu mengatakan "Being a man is being responsible." Kalimat ini berasal dari seorang filsuf asal Romawi bernama Lucius Annaeus Seneca. If being a man is being responsible, then everyone who runs from it is certainly not a man. Seorang musisi senior dari Amerika yang sudah berkarir selama beberapa dekade suatu kali berkata pada saya bahwa ia belum berpikir untuk pensiun. "saya adalah pemusik. Tanggungjawab saya adalah untuk membuat dan memainkan musik yang bermutu dan indah. Saya tidak akan lari dari tanggungjawab saya." Apa yang ia katakan masih terasa memberkati saya hingga hari ini.

Banyak manusia cenderung lari dari tanggungjawab. Alasannya banyak. Karena merasa terlalu berat, karena tidak mau repot, karena belum siap atau sederhana saja, karena malas. Ini baru beberapa dari sekian banyak alasan lainnya yang dianggap layak untuk dijadikan pembenaran untuk lari dari tanggungjawab. Lari dari tanggungjawab dalam pekerjaan itu biasa. Lari dai tanggungjawab yang lebih besar pun terjadi. Lihatlah banyaknya aborsi secara gelap yang terjadi dimana-mana. Atau orang yang tega membuang bayinya. Itu merupakan bentuk lari dari tanggungjawab yang ekstrim, yang bisa dikategorikan sebagai tindak kejahatan berat karena sama saja dengan membunuh. Kalau bukan aborsi, ada banyak juga orang yang mencabut nyawa orang lain juga karena lari dari tanggungjawab. Singkatnya, masalah mengemban tanggung jawab, menyikapi tanggung jawab sebagai amanah yang bukan cuma dari manusia tapi terlebih dari Tuhan merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Lari dari tanggung jawab bisa mendatangkan masalah, kerugian hingga malapetaka besar bagi hidup kita dan orang lain.

Kalau kita mau berkomitmen pada tanggung jawab, maka yang diperlukan seringkali bermuara pada dua hal: pengorbanan dan keberanian. Seberapa jauh kita rela berkomitmen menjalankan tanggung jawab terhadap sesuatu yang dipercayakan kepada kita akan sangat menentukan sejauh mana kita bisa memenuhi tanggung jawab yang kita pikul tersebut. Seperti yang saya katakan tadi, ada banyak orang yang belum apa-apa sudah menyerah dan meninggalkan tanggung jawab kalau sudah mulai terasa berat. Di sisi lain banyak yang mau menerima tanggung jawab asal disertai imbalan yang besar. Bagaimana jika imbalannya kecil atau bahkan tidak ada sama sekali? Kebanyakan orang akan mengerjakannya asal-asalan dan tidak lagi menganggap penting sebuah tanggung jawab. Itupun masih untung kalau masih bersedia mengerjakan. Apakah kita memang harus mengukur keseriusan kita bekerja, menggantungkan tanggung jawab kepada tinggi rendahnya kompensasi atau upah saja? Seperti apa pentingnya tanggung jawab menurut prinsip Kerajaan, dan bagaimana cara kerjanya?

Pengalaman Daud di masa kecilnya saat masih menggembala hingga berhasil mengalahkan Goliat memiliki banyak pelajaran yang sangat baik buat hidup kita. Hari ini kita bisa belajar dari rentang masa hidup Daud ini dalam hubungannya dengan keseriusan dalam mengemban tanggung jawab ala Daud. .

Apa yang saya ambil sebagai ayat bacaan hari ini merupakan bunyi jawaban Daud kepada Saul saat Saul meragukan kemampuannya mengatasi Goliat. Melihat prajurit Israel pada takut, Daud maju dan mengatakan bahwa ia siap mewakili bangsa Israel untuk menghadapi Goliat, Saul berkata: "Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit." (1 Samuel 17:33). Kalau hanya memakai logika, kita pasti bakalan berkata sama seperti Saul. Sebab, bukankah Goliat dan pasukannya sudah berhari-hari mencemooh tentara Israel yang merasa takut untuk maju berperang? Logikanya, kalau tentara dengan perlengkapan dan kemampuan untuk berperang saja sudah tidak berani, bagaimana mungkin Daud belia yang masih kemerah-merahan bisa mengatasi raksasa dan bala tentaranya itu?

Sangat menarik melihat respon Daud. "Tetapi Daud berkata kepada Saul: "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup."Pula kata Daud: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." Kata Saul kepada Daud: "Pergilah! TUHAN menyertai engkau." (ay 34-37).

Apa yang menjadi dasar Daud untuk berani tampil di depan? Dari jawaban panjang Daud ini kita bisa melihat bahwa tidak ada keraguan sedikitpun dalam dirinya bukan karena ia hebat dalam berkelahi, punya otot baja tulang kawat, pintar membidik dengan senjata dan lain-lain, tetapi semata-mata karena pengalamannya bersama Tuhan. Ia percaya bahwa mengandalkan Tuhan itu luar biasa hasilnya.

(bersambung)


Friday, March 17, 2017

Belajar Murah Hati dari Dua Janda (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Seperti janda yang pertama, janda ini rela memberi dalam kekurangannya, bahkan semua uang yang ia miliki ia berikan dengan sukarela. Dua janda dalam dua masa yang berbeda, sama-sama miskin, sama-sama menderita, sama-sama berkekurangan, tetapi keduanya sama-sama memiliki kemurahan hati yang luar biasa.

Namanya kemurahan hati, itu artinya kemurahan jelas merupakan sikap dari hati. Karena merupakan sebuah sikap hati maka itu tidak tergantung dari berapa jumlah harta yang kita miliki atau kondisi yang kita alami saat ini. Ketika kemurahan mewarnai sikap hati kita, kita akan rela memberi dengan sukacita tanpa peduli apapun keadaan kita atau berapapun yang kita punya.

Mengapa kita harus memiliki sikap kemurahan ini? Sederhana, karena Allah yang kita sembah adalah Bapa yang murah hati. Hal ini ditegaskan Yesus sendiri yang bisa kita baca di dalam Alkitab. "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Lukas 6:36). Murah hati adalah bagian dari kasih (1 Korintus 13:4). Dan kasih jelas merupakan sesuatu yang mutlak untuk dimiliki oleh orang-orang percaya. Kita harus malu ketika kita mengaku anak Tuhan tetapi tidak memiliki kasih, dimana salah satu bentuknya adalah keengganan, tidak pernah cukup atau selau merasa berat dalam memberi. Maka tepatlah apa yang dikatakan Yohanes, "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih" (1 Yohanes 4:8).

God is love. Mengaku mengenal Allah artinya kita mengenal kasih dan sebesar apa kekuatannya. Bagaimana kita berani mengaku mengerti akan artinya kasih apabila kita masih berat untuk memberi kepada mereka yang hidup berkekurangan? Tuhan adalah kasih, dan Tuhan murah hati. Dia selalu memberi segala sesuatu yang terbaik bagi kita, bahkan anakNya yang tunggal pun Dia relakan untuk menebus kita semua dari kebinasaan menuju keselamatan yang kekal. Lihatlah bagaimana sikap hati Allah sendiri sebagai A Giver atau Sang Pemberi Sejati. Hal seperti inilah yang harus mewarnai sikap hati kita sebagai orang percaya.

Dua janda yang saya angkat menjadi contoh hari ini hendaknya mampu memberikan keteladanan nyata dalam hal memberi. Adakah yang harus ditunggu agar mampu memberi? Tunggu kaya dulu? Tunggu berlebih dulu? Tunggu sampai semua kebutuhan yang tidak pernah ada habisnya itu tercukupi? Berhentilah berpikir demikian.  Kita tetap bisa memberi dalam kekurangan dan keterbatasan kita. Kita bisa melakukannya dengan penuh sukacita apabila sikap kemurahan tumbuh subur dalam hati kita.

Tidak perlu berpikir terlalu jauh untuk memberi puluhan juta kepada orang lain yang kelaparan, tapi sudahkah kita melakukan sesuatu bagi orang disekitar kita meski nilainya sedikit? Atau sudahkah kita memberikan waktu, perhatian, kasih sayang kepada keluarga kita sendiri? Sudahkah kita berada dengan mereka di saat mereka butuh kehadiran kita? Sudahkah kita memberi senyum kepada orang yang sudah lama tidak merasakan indahnya sebuah senyuman? Sudahkah kita memberi kelegaan kepada mereka yang tengah sesak menghadapi tekanan hidup? Itupun termasuk dalam kategori memberi.

Kalau begitu, kapan kita sebaiknya mulai memberi? Apa yang masih membuat anda tidak kunjung bermurah hati? Mengapa tidak melakukannya sekarang?

Murah hatilah, karena Bapa murah hati

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, March 16, 2017

Belajar Murah Hati dari Dua Janda (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 6:36
==================
"Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."

Kapan kita bisa memberi buat orang lain? Atau pertanyaannya dipertajam, harus berapa minimal uang yang ada baru kita mau tergerak untuk memberi? Ada banyak yang menganggap dirinya belum sanggup untuk memberi karena merasa untuk diri sendiri saja belum cukup. Nanti kalau saya sudah kaya, kalau uang sudah berlebih-lebih. Kalau semua kebutuhan sudah terpenuhi, kalau sudah tidak tahu mau dibelanjakan kemana lagi, baru memberi. itu menjadi bentuk pemikiran mereka mengenai kapan waktu yang tepat untuk bermurah hati memberi. Kenyataannya manusia cenderung merasa tidak pernah cukup dan tidak pernah puas. Kebutuhan yang satu terpenuhi, datang lagi dua kebutuhan. Dua terpenuhi, datang lagi empat. Mau berapa banyak pun uang yang diperoleh tetap saja merasa kurang banyak. Kalau begitu mereka pun tidak akan kunjung bergerak untuk menolong orang lain dengan berbagi dan memberi. Jadi kalau didasari pada banyak tidaknya uang, kemungkinannya kita tidak akan pernah murah hati karena manusia cenderung tidak pernah cukup. Di sisi lain ada pula orang yang rajin memberi tetapi atas alasan yang salah. Mereka memberi karena mengharapkan sebuah balasan, dengan maksud-maksud atau agenda tertentu alias pamrih. Memberi sih memberi, tapi itu bukanlah hal memberi yang didasari oleh kemurahan hati.

Alkitab banyak memberi contoh mengenai keikhlasan untuk memberi yang didasarkan kepada kemurahan hati, baik lewat firman-firman Tuhan maupun contoh-contoh dari berbagai tokoh. Untuk kali ini mari kita lihat contoh dari dua orang janda pada dua kesempatan berbeda, di jaman yang berbeda.

Pertama mari kita lihat janda miskin di Sarfat dalam Perjanjian Lama yang memberi Elia makan dalam kekurangannya. (1 Raja Raja 17:7-24). Pada saat itu Elia tiba di Sarfat yang tengah mengalami kemarau panjang. Ia bertemu dengan seorang janda miskin. Ketika Elia meminta roti kepada sang janda, "perempuan itu menjawab: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati." (1 Raja Raja 17:12).

Itu jelas sebuah potret kehidupan serba kekurangan yang berat yang harus dipikul oleh sang ibu janda di Sarfat ini. Ia cuma punya segenggam tepung dan sedikit minyak serta dua tiga potong kayu api. Itupun masih harus dibagi dua dengan anaknya. Orang seperti ibu janda ini, bukankah ia punya semua alasan untuk tidak bermurah hati? Dibandingkan kita yang setidaknya masih punya sesuatu, bukankah si ibu janda ini lebih 'berhak' untuk tidak memberi? Tetapi kemudian kita melihat bagaimana persediaan terakhirnya yang sangat sedikit itu rela ia berikan kepada Elia. Ia membuat roti untuk Elia dan merelakan Elia menghabiskannya. Tuhan ternyata menghargai besar keputusannya itu. Tidak saja ia diberkati dengan persediaan makanan yang cukup untuk berhari-hari lamanya, tidak habis-habis (ay 15-16), tapi anaknya pun dibangkitkan kembali dari kematian. (ay 22).


Dalam Perjanjian Baru kita melihat kisah janda lainnya di Bait Allah yang berhasil menarik perhatian Yesus saat ia memberikan persembahan. Tidak seperti orang-orang kaya yang mungkin memasukkan amplop besar, janda miskin ini memasukkan dua peser saja ke dalam peti. Peser itu merupakan mata uang terkecil di kalangan orang Yahudi.

Kalau dalam kurs hari ini yang ia berikan mungkin sekitar lima ratus rupiah. Kecil sekali kan? Tetapi ternyata jumlah kecil itu mendapat reaksi sangat positif dari Yesus. "Lalu Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu." (Lukas 21:3). Mengapa bisa demikian? "Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya." (ay 4).

(bersambung)


Wednesday, March 15, 2017

Tergantung Di Tangan Siapa (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Akan sangat berbeda penggunaan alat apapun di tangan orang yang berbeda. Jika berada di tangan yang benar dibandingkan jika ada di tangan yang salah. Yang penting adalah bagaimana kita mendahulukan untuk hidup dalam kebenaran, hidup benar sesuai firman Tuhan. Jika kita memprioritaskan hal ini, kita pun akan terbentuk menjadi manusia yang benar, sehingga apapun yang ada di tangan kita tidak akan menjadi benda mematikan, senjata berbahaya atau sesuatu yang menghancurkan. Itu tidak akan menjadi sesuatu yang negatif, namun justru bisa menjadi sebuah berkat yang berguna bagi sesama dimana kemuliaan Tuhan bisa dinyatakan.

Tuhan Yesus berkata: "Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal." (Matius 12:33). Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa apa yang harus kita perhatikan adalah pohonnya, dan bukan buahnya. Sebuah pohon yang baik akan selalu menghasilkan buah-buah yang baik. Demikianlah orang-orang yang selalu mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenarannya, tentu akan mempergunakan berbagai berkat jasmani dan benda-benda yang dipercayakan Tuhan kepadanya untuk sesuatu yang memberkati orang lain.

Selanjutnya tentang uang. Dalam Ibrani tertulis: "Janganlah kamu menjadi hamba uang.." (Ibrani 13:5). Ini pun sesungguhnya bisa menunjukkan sebuah pesan yang tegas, bahwa bukan uangnya yang salah, tetapi bagaimana orang memandang uang, bagaimana sikap terhadap uang atau seperti apa seseorang memposisikan dirinya terhadap uanglah yang membedakan. Apakah uang dianggap lebih penting dari segala-galanya sehingga kita jadi menghamba kepada uang, atau uang dipakai untuk mencukupi keluarga dan kemudian  dipakai untuk memberkati orang lain yang membutuhkan pertolongan. Amsal berkata: "Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin." (Amsal 9:22). Jadi bukan soal ada rezeki atau tidak ata tidak, bukan pula salah untuk memperoleh penghasilan, tapi bagaimana kita memperolehnya, bagaimana kita menyikapinya dan untuk apa kita memanfaatkannya.

Tuhan lebih dari sekedar mampu untuk memberikan kita hidup yang berkelimpahan. Berkat-berkat Tuhan siap tercurah pada kita. Namun sebelumnya, pastikan dulu diri kita untuk mendahulukan untuk mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya, sehingga semua berkat yang Dia tambahkan tidak akan membawa kita membuka pintu-pintu dosa yang menjerumuskan kita ke dalam kematian kekal, melainkan menjadikan kita sebagai anak-anak Tuhan yang selalu membagi berkat dan membantu sesama dimana kemuliaan Tuhan bisa dinyatakan.

Pisau akan sangat bermanfaat di tangan orang yang benar, tetapi bisa berbahaya ketika ada ditangan yang jahat. Internet bisa sangat menolong dalam banyak hal, tetapi bisa menjadi sumber dosa bagi orang yang mepergunakannya untuk hal buruk. Semua tergantung kita. Karena itu pastikan bahwa kita hidup seturut kehendak Allah terlebih dahulu agar apapun yang ada pada kita hari ini tidak menjadi sesuatu yang berbahaya melainkan bisa menjadi alat berkat dimana Tuhan dipermuliakan.

Prioritaskan Kerajaan Allah dan kebenarannya dan jadilah berkat dengan apapun yang kita punya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, March 14, 2017

Tergantung di Tangan Siapa (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 6:33
====================
"Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."

Berbahayakah pisau? Saya pikir kebanyakan orang akan menyebut pisau sebagai benda berbahaya. Tidak salah, karena pisau kalau dipakai menusuk orang bisa melukai bahkan mengakibatkan kematian. Tapi coba tanyakan kepada koki atau juru masak, maka mereka akan mengatakan bahwa pisau itu merupakan benda yang sangat penting buat pekerjaan mereka, juga ibu rumah tangga yang memasak sendiri. Bagaimana kita bisa memotong dalam memasak tanpa adanya pisau? Pisau berbahaya di tangan orang jahat, tapi apakah pisau masih merupakan senjata berbahaya ketika dipakai untuk memasak di dapur? Contoh lain, jarum suntik. Asosiasinya mungkin kepada obat-obatan terlarang. Tapi bukankah jarum suntik diperlukan dokter untuk menyembuhkan pasiennya?

Bagaimana dengan internet? Wah, hari ini masih banyak orang tua yang menganggap internet sebagai bahaya. Benar, ada banyak hal buruk disana yang bisa didapatkan dengan relatif mudah. Pornografi, pengajaran atau paham berbahaya, itu ada di internet. Tapi itu hanyalah sebagian kecil dari begitu banyak manfaat positif yang bisa kita dapatkan dengan adanya internet. Saya masih sempat merasakan repotnya mencari referensi untuk mengerjakan tugas sebelum ada internet. Saya harus duduk berjam-jam mengubek buku berdebu di perpustakaan, menghadapi penjaga perpustakaan yang ketus atau berkeliling toko buku. Hari ini kita sudah sangat dipermudah dengan adanya internet. Cukup duduk di rumah, buka laptop, hubungkan ke jaringan internet, maka dunia pun terhampar di depan kita. Dengan beberapa klik saja kita sudah bisa mendapatkan referensi, informasi atau data yang dibutuhkan.

Ada banyak orang yang menggampangkan saja dengan mengatakan semuanya berbahaya. Tinggal dilarang, beres. Kalau mau bicara soal bahaya, batu di jalan pun bisa bahaya. Lantas apakah batu pun mau dilarang ada di dunia ini? Kalau pisau dilarang, bagaimana kita memasak? Masa memotong harus pakai batu runcing? Kalau internet dilarang, kita akan mundur puluhan tahun, ketinggalan informasi dan pengetahuan seluas semesta yang bisa diakses hanya dengan beberapa klik saja. Mulai dari resep membuat sambal terasi sampai bom atom bisa kita peroleh di internet. Mau jahat bisa, mau pintar bisa.

Saya pikir, apa yang penting adalah bagaimana kita menyikapi sesuatu dengan bijak, yang tentu akan berhubungan dengan sejauh mana kita mengenal kebenaran. Bagi orang tua, sejauh mana anda membekali anak-anak anda dengan kebenaran Firman akan sangat menentukan bagaimana mereka menyikapi segala sesuatu dalam hidup. Kalau mereka memahami betul pentingnya hidup benar dan menjauhi hal-hal yang jahat di mata Tuhan, saya yakin value hidup mereka penuh integritas sehingga tidak gampang tergoda oleh gelontoran penyesatan dan kerusakan yang semakin parah di dunia dimana kita tinggal saat ini.

Banyak orang yang lupa bahwa masalahnya bukan dari teknologinya, tetapi justru dari kita sebagai pengguna atau pengakses. Anda bisa menyebutkan pisau sebagai benda tajam berbahaya yang bisa membunuh, tapi di sisi lain pisau sangatlah dibutuhkan untuk banyak hal, seperti misalnya memasak. Anda bisa berkata bahwa dunia maya atau cyber space itu penuh hal negatif, tapi anda bisa mendapatkan begitu banyak informasi berharga disana, bagaikan sebuah mega perpustakaan yang bisa membuat anda menjadi pakar dalam waktu singkat. Beberapa analogi sederhana ini mungkin bisa menggambarkan bahwa berbahaya atau bermanfaat, semua tergantung dari si pengguna. Dengan kata lain, baik atau buruknya sesuatu, itu tergantung dari tangan siapa yang menggunakannya.

Mari kita lihat sisi lain dari ayat yang sudah sangat kita kenal berikut ini. "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."(Matius 6:33).

Ayat ini biasanya dipakai untuk menjelaskan bahwa Tuhan menjamin hidup kita, anak-anakNya yang selalu rindu untuk dekat dengan Tuhan. Itu benar. Tapi disamping itu kita bisa melihat ayat ini dari sudut pandang topik seperti ilustrasi kecil di atas. Jika kita mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenarannya, jika kita hidup benar sesuai firman Tuhan, maka apapun yang ada di tangan kita bisa menjadi berkat bagi banyak orang dan tidak akan menjadi senjata berbahaya atau awal dari kebinasaan.

(bersambung)


Monday, March 13, 2017

Mengenalkan Yesus dengan Benar (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Sadar atau tidak, suka atau tidak, mau diakui atau tidak, tingkah dan polah, lagak dan gaya kita dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat akan mengarah kepada pengenalan orang akan Kristus. Oleh karena itu kita perlu menjaga perilaku kita agar orang tidak salah mengenal siapa pribadi Kristus itu sebenarnya. Jangan dulu berpikir menghasilkan buah seperti yang sudah kita bahas dalam beberapa renungan terdahulu kalau perilaku kita saja masih belum mencerminkan Pribadi Kristus yang benar. Jangan dulu berpikir soal mewartakan kabar keselamatan dan membawa jiwa kalau kitanya saja masih terus mencerminkan pengenalan yang salah akan Kristus.

Tuhan Yesus sudah mengingatkan kita agar selalu siap menjadi terang dan garam. "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:13-16).

Garam hanya akan berfungsi jika bercampur dengan makanan. Dan jika garam menjadi hambar maka garam akan kehilangan fungsi dan tujuannya. Demikian pula dengan terang. Terang hanya akan berfungsi dalam gelap. Jika semuanya terang benderang, untuk apa lagi kita menambahkan terang? Dan jika terang disembunyikan atau ditutupi, apakah gunanya terang itu? Tuhan Yesus pun mengingatkan kita agar kita senantiasa mampu menjadi terang dan garam agar Tuhan bisa dipermuliakan.

Lebih jauh lagi, Yesus pun telah memerintahkan kita untuk saling mengasihi. Bukan hanya sekedar mengasihi orang lain seperti mengasihi diri kita sendiri saja, melainkan mengasihi orang lain seperti halnya Kristus sendiri telah mengasihi kita. "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Hal ini penting, karena "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (ay 35). The world should be able to know that we are His disciples if we apply love to one another. That's when others can see the real image of Jesus through us. 

Tidak peduli apa pekerjaan, jabatan, status dan tempat kita saat ini, kita selalu dituntut untuk siap menjadi terang dan garam yang bisa mewakili gambaran Kristus di dunia saat ini. Bahkan orang yang dianggap bodoh atau tidak terpelajar, yang dianggap biasa, bahkan yang tak berguna bagi dunia sekalipun bisa Tuhan pakai secara luar biasa. "Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat." (1 Korintus 1:27). Artinya, siapapun kita, anda dan saya, kita harus selalu siap menjadi duta Kristus dimanapun kita ditempatkan dan mencerminkan image Yesus secara benar di dunia. Betapa ironisnya jika Yesus yang mengasihi kita justru mendapat gambaran yang salah di dunia lewat perilaku kita.

Yesus sendiri telah mengingatkan kita dan telah memberikan keteladanan yang luar biasa. Kita harus terus berusaha untuk menjadi sosok yang penuh dengan kemuliaan Tuhan sehingga tidak diragukan oleh siapapun disekeliling kita. Sudah seharusnya demikian, karena kita sudah menjadi ciptaan baru, tidak lagi sama dengan dunia ini, yang dipenuhi Roh Kudus. Petunjuk mengenai prinsip Kerajaan yang diinginkan Tuhan sudah jelas tertulis semuanya di dalam Alkitab. Selain itu, bukankah kita bisa mendengar Tuhan berbicara langsung saat kita bersaat teduh atau berdoa? Semua ini seharusnya memampukan kita untuk mengenal Tuhan secara benar dan mendalam, kemudian bisa mencerminkan Pribadi yang benar tentang Tuhan kepada orang lain.

Adalah perlu bagi kita untuk menghidupi cahaya Tuhan dalam diri kita hingga orang asing yang bahkan tidak kita kenal sekalipun akan mampu melihat Yesus lewat diri kita. Mari kita periksa tingkah laku dan cara hidup kita hari ini. Apakah Tuhan dipermuliakan atau dipermalukan lewat hidup kita? Siapkah anda menjadi duta Kristus yang memberi gambaran yang benar akan diriNya?

Bawa orang untuk mengenal Tuhan secara benar lewat hidup kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, March 12, 2017

Mengenalkan Yesus dengan Benar (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 4:13
============================
"Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus."

Sejak kecil saya sangat sering disebut orang cerminan ayah saya. Posturnya mirip, kulit dan bentuk jarinya pun sama. Kalau sudah berjalan, langkahnya juga sama. Semakin dewasa wajah saya semakin saja mirip dengannya. Perbedaan hanya ada pada rambut, dia ikal saya berombak, dan mata saya lebih besar darinya. Lucunya, cara kami berinteraksi dengan orang juga mirip. Saya mewarisi sifatnya yang selalu ceria saat berada di tengah banyak orang, mudah bergaul dan ramai. Soal gelar saya jauh dibawah beliau, tapi kami sama-sama bertipe pejuang yang tidak patah hati kalau bertemu kegagalan. Karenanya kami menikmati banyak keberhasilan kecil dan beberapa yang lumayan membanggakan.

Diluar kemiripan secara fisik, anak kerap diasosiasikan dengan orang tuanya. Saat si anak berprestasi atau berperilaku baik, orang tuanya dipuji. Tapi saat si anak melakukan perbuatan buruk, orang tuanya menanggung malu. Baik tidaknya akhlak atau perilaku seseorang pun seringkali dihubungkan dengan keberhasilan atau kegagalan dari orang tuanya dalam mendidik mereka. Jadi anak bisa jadi cerminan orang tua. Kalau terhadap orang tua biologis kita begitu, bagaimana dengan status kita sebagai anak Allah?

Seperti apa gambaran Bapa Surgawi yang tercermin lewat kita saat ini? Apakah kita dikenal sebagai orang yang baik, ramah, damai, penuh kasih, rajin menolong sesama atau justru sebaliknya, kasar, sombong dan penuh kebencian, atau bahkan biang kerok alias sumber masalah dimanapun kita ada? Apakah kita dikenal sebagai orang yang apa adanya, tulus atau orang yang bertopeng tebal? Apakah ketika kita hadir orang merasa senang atau sebaliknya ketakutan atau malah kehilangan happy mood atau kegembiraan?

Sebagai pengikut Yesus, seperti apa citra kita di mata orang lain mau tidak mau atau suka tidak suka akan mengarahkan orang untuk mengenal seperti apa Yesus itu. Orang akan mencerminkan kepada siapa dia beriman. Dengan kata lain, orang bisa, dan akan mengenal Yesus lewat pribadi kita. Sikap menghidupi kebenaran secara sungguh-sungguh akan mengarahkan orang kepada pengenalan yang benar, sebaliknya lewat perilaku buruk kita akan membawa pemahaman yang buruk tentang Tuhan yang kita sembah.

Akan hal ini, mari kita lihat sebuah kejadian yang dicatat dalam Alkitab ketika Petrus dan Yohanes ditangkap para imam kepala dan orang Saduki saat mereka sedang mengajar. Para imam kepala dan orang Saduki merasa terganggu dengan kegiatan kedua rasul itu dalam mewartakan kabar gembira mengenai Kristus. Ternyata perilaku anti toleransi dan merasa benar sendiri hingga merasa berhak menghakimi orang bukan saja sesuatu yang kerap dilakukan ormas atau kelompok fanatis di jaman ini melainkan sudah terjadi sejak dahulu kala.

Kembali kepada kisah Petrus dan Yohanes, penangkapan itu ternyata tidaklah melemahkan mental mereka. Alkitab mencatat tanggapan orang-orang yang hadir dalam persidangan kala itu. "Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus." (Kisah Para Rasul 4:13).

Perhatikan bagaimana kedua rasul itu dikenal orang. Mereka dikenal bukan sebagai orang terpelajar, bukan seperti para imam dan orang Saduki yang notabene merasa paling pintar dan hebat baik dalam hal keagamaan dan lain-lain. Bukan pula sebagai orang yang punya posisi tinggi di masyarakat seperti halnya Farisi dan Saduki. Dikatakan dalam ayat ini, Yohanes dan Petrus hanyalah orang biasa yang tidak terpelajar. Tapi di lain pihak, secara jelas Alkitab mencatat bahwa kedua rasul ini dikenal sebagai pengikut Kristus, dan status ini ternyata membuat mereka tampil beda sehingga mengherankan para petinggi agama saat itu. Citra Kristus tergambar sangat jelas dari cara hidup, sikap, pikiran dan perkataan mereka. Yang terjadi selanjutnya adalah, keduanya dibebaskan karena memang tidak ada kesalahan apapun yang bisa didakwa dari mereka. (ay 21).

(bersambung)


Saturday, March 11, 2017

Membangun Chemistry (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Di dalam penjara sekalipun ia terus menulis surat untuk jemaat-jemaat. Sulit bagi kita untuk membayangkan seperti apa jadinya kita tanpa adanya Paulus. Ia ditangkap, didera, disiksa, dan menunggu waktu dieksekusi, bagi sebagian besar orang apa yang dialami Paulus mungkin akan dianggap sebagai akhir dari pelayanan. Bukankah secara manusiawi kesulitan bisa membuat kita patah semangat dan menyerah? Tapi tidaklah demikian bagi Paulus. Dia tidak memandang halangan sebagai akhir dari segalanya. Justru Paulus memandang keterbatasan-keterbatasannya bergerak sebagai sebuah kesempatan. Kemanapun ia pergi, apapun resiko yang ia hadapi, seperti apapun keadaan yang ia hadapi, ia terus maju menjangkau banyak jiwa, meski jiwanya sendiri harus rela ia korbankan.

Salah satu contoh keseriusan Paulus dalam melayani bisa kita lihat lebih jauh saat ia berada di Roma. Saat itu ia dikawal dan diawasi oleh seorang prajurit. Tetapi untunglah ia masih diijinkan untuk menyewa sebuah rumah sendiri meski harus tetap hidup dalam pengawasan. "Setelah kami tiba di Roma, Paulus diperbolehkan tinggal dalam rumah sendiri bersama-sama seorang prajurit yang mengawalnya." (Kisah Para Rasul 28:16). Keterbatasan gerak sebagai tahanan rumah yang dialami Paulus ternyata tidak menghentikannya. Dalam beberapa ayat berikutnya kita bisa melihat ia tetap beraktivitas seperti sebelumnya. "Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya. Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus." (ay 30-31).

Paulus tidak menutup diri dan tidak berhenti melayani. Ia membuka rumahnya seluas-luasnya bagi semua orang tanpa terkecuali, memberi waktu dan tenaganya sepenuhnya untuk dengan terbuka memberitakan tentang Kerajaan Allah dan Yesus Kristus. Semua ini agar mereka yang datang ke rumahnya mengenal kebenaran dan bisa turut mendapat anugerah keselamatan.

Ada keragaman manusia yang luas di sekitar kita menunggu untuk dijangkau. A universe of diversty is waiting to be touched. Yesus sudah memanggil kita untuk menjadi saksiNya dan telah menganugerahkan Roh Kudus untuk turun atas kita demi panggilan tersebut. "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8). Menjadi saksi baik di lingkungan terdekat kita dan terus bertumbuh hingga kita bisa menjadi saksi Kristus dalam sebuah lingkungan yang lebih besar, bahkan sampai ke ujung bumi tidaklah bisa kita lakukan jika kita terus memandang perbedaan sebagai alasan untuk menutup diri dari sebagian orang yang kita anggap berbeda atau berseberangan dengan kita.

Kita semua memiliki tugas untuk membawa banyak orang memperoleh keselamatan, dan itu adalah tugas yang sifatnya wajib kita jalankan. Jangan menutup diri terlalu kaku, jangan terlalu cepat menghakimi. Jangan berat hati dan menolak meluangkan atau mengorbankan waktu, tenaga dan sebagainya, karena semua ini merupakan hal-hal yang diperlukan dalam memperluas Kerajaan Allah di muka bumi ini. Semakin sulit orangnya maka pengorbanan yang diperlukan akan semakin besar, tapi lakukanlah dengan sukacita dengan didasari belas kasih.

Kita tidak akan bisa melakukan apa-apa kalau masih berpusat pada diri sendiri saja. Kita tidak akan bisa berbuat sesuatu kalau kita masih mementingkan diri kita, memanjakan ego, tidak mau mengalah dan tidak mau berpikir di luar kepentingan kita sendiri. Jangkaulah orang lain sebanyak-banyaknya, dan itu bukan berarti harus berkotbah, karena berbagai hal seperti memberi pertolongan, menunjukkan kepedulian, berbagi kesaksian atau bahkan memberi sedikit waktu saja bagi mereka untuk mendengarkan bisa menjadi sesuatu yang indah untuk mengenalkan bagaimana kasih Kristus mengalir melalui diri kita.

Berhentilah mementingkan diri sendiri karena itu menghambat kita untuk menjalankan Amanat Agung

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, March 10, 2017

Membangun Chemistry (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 28:30
==========================
"Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya."

Band yang baru terbentuk biasanya harus melewati masa-masa pencocokan antar pemain terlebih dahulu, terlebih kalau personilnya baru kenal satu sama lain. Mereka perlu tahu gaya, selera dan cara bermain masing-masing. Semakin mereka kenal, semakin padu pula band tersebut. Saat mereka sudah saling mengenal, disanalah chemistry mulai terbentuk. Yang dimaksud dengan chemistry adalah interaksi kompleks emosional dan psikologis antara dua orang atau lebih. Itu disebut bagaikan reaksi kimia, dimana ada pencampuran beberapa bahan berbeda yang kemudian menghasilkan sesuatu yang baru, menyatu sempurna dan kemudian membawa manfaat. Dan itu diperlukan oleh sebuah band kalau mau bermain rapi terutama kalau bandnya punya konsep improvisasi.

Seorang perkusionis bercerita pada saya bahwa pada mulanya ia bingung dengan cara bermain band yang baru ia masuki. Maklum, ia awalnya bermain musik daerah tradisionil tapi kemudian bergabung dengan grup modern. Tapi lama kelamaan ia bisa menyerap pola bermain bandnya, demikian pula anggota yang lain menyesuaikan diri dengan ketukan perkusinya. "Sekarang saya sudah tahu, saya harus bagaimana saat yang satu lari kemana." katanya sambil tersenyum.

Dalam band seperti itu, dalam kehidupan pun sama. Tidak ada orang yang punya sifat persis sama dengan kita. Mirip bisa jadi, tapi tidak akan mungkin persis sama. Karenanya kalau kita tidak menyesuaikan diri dan hanya bertindak semau kita saja, bisa dipastikan kita akan sulit berinteraksi dengan orang lain dengan baik. Keluwesan diperlukan untuk menjalin hubungan yang erat dengan orang lain. Diperlukan usaha kita untuk mengenal mereka dan seringkali harus disertai dengan kerelaan hati untuk mengalah. Apalagi kalau orangnya sulit, misalnya orang yang dominan, pendiam atau sensitif, jelas diperlukan usaha yang lebih keras lagi.

Mudah bagi kita untuk dekat dengan orang ketika chemistrynya cepat terbentuk, sebaliknya ada orang-orang yang sulit kita dekati karena sifat, kebiasaan dan berbagai hal lainnya tidak 'nyambung' dengan kita. Kalau tidak perlu mungkin kita mudah untuk menghindari saja orang yang tidak nyambung dengan kita, tapi bagaimana kalau kita memang harus berhubungan dengan mereka karena alasan-alasan tertentu seperti dalam pekerjaan, tetangga dan sebagainya? Tentu kalau sudah begitu kita harus berusaha supaya kita bisa 'masuk' kepada mereka.

Hal ini menjadi semakin menarik jika kita hubungkan dengan sebuah tugas, atau lebih tepatnya disebut amanat yang diberikan Yesus langsung kepada kita, murid-muridNya. Tentu lebih mudah bagi kita menjangkau orang yang sudah membentuk chemistry serasi dengan kita, tapi itu menjadi sangat sukar jika kita tidak berhasil membangun hubungan yang baik dengan mereka. Seringkali kita kesulitan untuk menjangkau orang. Tidak tahu harus mulai dari mana, tidak tahu harus bagaimana. Sementara Tuhan Yesus menugaskan kita seperti ini: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20).

Artinya, kita punya tugas untuk menyampaikan kebenaran kepada semua orang tanpa terkecuali, yang tentu saja bukan sekedar berbicara tentang berkotbah atau membacakan Alkitab tetapi secara luas berbicara mengenai hidup yang menghasilkan buah seperti yang kita bahas dalam beberapa renungan terdahulu. Bagaimana kita bisa menjadi surat Kristus yang benar, alias menyatakan pribadi Kristus lewat cara hidup kita di dunia. Itu artinya bukan cuma orang-orang yang 'mudah' saja yang harus dijangkau, tetapi orang yang 'sulit' yang ditempatkan disekitar kita pun harus pula mendapat perhatian sama seriusnya. Ada keragaman manusia yang sangat luas di sekitar kita. Untuk bisa melakukan Amanat Agung dibutuhkan kerelaan untuk meluangkan atau mengorbankan sebagian waktu, tenaga, perasaan, keinginan, kenyamanan dan lain-lain, dan pengorbanan akan semakin besar diperlukan ketika berhadapan dengan orang-orang yang sulit.

Tuhan menciptakan manusia tidak ada yang persis sama. Semua punya sesuatu yang unik dan berbeda, dan hal itu bisa kita sikapi dengan pandangan yang bermacam-macam pula. Ada yang memandang perbedaan itu sebagai berkat Tuhan yang patut disyukuri, ada pula yang memandangnya sebagai alasan untuk menjauh, atau bahkan menghujat. Ada orang yang bisa melihat perbedaan sebagai sesuatu yang bisa dijadikan kesempatan untuk belajar banyak, ada yang menyikapinya sebagai pembatas. Mereka ini akan terus memandang perbedaan sebagai sebuah ancaman.

Jangankan dengan yang tidak seiman, dengan saudara seiman saja perbedaan masih sering disikapi secara negatif. Kalau berbeda denominasi saja bisa membuat orang saling memandang sinis satu sama lain, bagaimana kita bisa berharap untuk melihat Kerajaan Allah turun di muka bumi ini lewat kita yang beriman kepada Kristus?  Kita memiliki tugasnya sendiri-sendiri. Paulus menggambarkannya seperti ini: "Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama,demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain." (Roma 12:4-5). Jika diantara kita saja sudah saling tuding dan merendahkan, bagaimana mungkin kita bisa menunaikan tugas kita seperti Amanat Agung yang sudah dipesankan Yesus kepada setiap muridNya, termasuk kita didalamnya?

Mari kita lihat apa yang dilakukan Paulus sehubungan dengan menjangkau jiwa. Selama bertahun-tahun setelah pertobatannya, Paulus terus bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mewartakan kabar keselamatan. Perjalanan yang ia tempuh sama sekali tidak pendek jaraknya. Ia terus bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain bahkan hingga menyentuh Asia Kecil sebelum akhirnya ia ditangkap dan dipenjarakan di Roma. Ia banyak mendapat hambatan dalam pelayanannya. Bukan saja kesulitan tapi juga berbagai siksaan. Meski demikian, Paulus dikenal sebagai figur yang teguh dan taat dalam menjalankan tugasnya. Ia mengabdikan sisa hidupnya sepenuhnya untuk memperluas Kerajaan Allah di muka bumi ini. Paulus terus berusaha menyentuh orang dengan pemberitaan Injil karena ia peduli terhadap keselamatan orang lain dan rindu agar semakin banyak orang yang mengenal Yesus.

(bersambung)


Thursday, March 9, 2017

Agar Pohon Berbuah Lebat (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Menariknya, Tuhan menganggap penting masalah ini. Bukan saja menaruh perhatian, tapi Dia juga bersikap pro-aktif untuk menyelamatkan 'pohon-pohon' yang tidak juga kunjung berbuah. Mari kita lihat kembali perumpamaan menarik yang diceritakan Yesus. "Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya,mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!" (Lukas 13:6-9).

Perumpamaan ini menggambarkan Tuhan sebagai pemilik kebun yang mendapati bahwa ada umatNya yang tidak kunjung berbuah untuk jangka waktu lama. Perhatikan perumpamaan Yesus di atas, Tuhan memberi jangka waktu sebagai kesempatan bagi kita untuk berubah. Seharusnya itu kita hargai. Tapi ketika kesempatan itu disia-siakan atau dibuang percuma, pada akhirnya pohon yang tidak berguna itu akan ditebang. Pohon Ara itu hidup percuma dan hanya menghabiskan zat-zat nutrisi yang dibutuhkan tanaman anggur dalam kebun.

Tetapi lihatlah, ayat tersebut secara luar biasa menyebutkan bahwa Yesus yang diumpamakan sebagai pengurus kebun meminta kesempatan sekali lagi. "aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya,mungkin tahun depan ia berbuah." (ay 8-9a). Sang "Pengurus kebun" akan mengerjakan sesuatu bagi pohon agar bisa berbuah. Hidup kita yang begitu rusak oleh benalu dan tunas-tunas dosa seringkali tidak lagi dapat diperbaiki sendiri, sehingga kita membutuhkan uluran tangan Yesus untuk "mencangkul tanah dan memberi pupuk" agar  bisa selamat.

Kenyataannya, bukankah Tuhan Yesus telah datang untuk menyelamatkan kita? Dalam prosesnya, terkadang ada bagian-bagian yang tidak efektif dari diri kita harus dicangkul, apalagi jika itu menyangkut baik-tidaknya kita hidup atau bisa tidaknya kita menghasilkan buah. Dan itu bukanlah hal yang menyenangkan. Proses itu terkadang terasa begitu menyakitkan tapi sungguh diperlukan, untuk menyelamatkan kita dari 'ditebang' dan 'dilempar' ke dalam api.

Yesus mengatakan: "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku." (Yohanes 15:4). Agar kita bisa bertumbuh dan berbuah dengan baik, kita harus tetap tinggal di dalam Kristus, dan Kristus di dalam kita. Baik dalam kehidupan sehari-hari, dalam hubungan keluarga maupun pekerjaan, hendaklah kita selalu melibatkan Tuhan. Mengikuti perintahNya, menaati petunjukNya, menghindari laranganNya, mencari tahu dengan pasti apa yang menjadi rencanaNya. Ketika ada proses-proses pemotongan tunas yang tidak produktif atau pembersihan benalu, jalani dengan suka cita, karena proses itu sungguh diperlukan untuk menjadikan kita pohon yang berbuah lebat.

Seperti yang saya sampaikan kemarin, pohon dikenal dari buahnya. Pohon yang baik akan berbuah baik, begitu pula sebaliknya. "Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal." (Matius 12:33). Ada banyak ranting, tunas dan benalu dalam hidup kita yang terlebih dahulu harus dipotong agar kita menghasilkan buah-buah yang ranum dan lebat. Apakah itu dosa-dosa atau kebiasaan buruk yang berasal dari kesombongan, harta,  status, adat dan sebagainya, jika itu menghambat kita untuk berbuah, ijinkan Yesus untuk memotongnya. Meski bisa terasa sakit, itu jauh lebih baik karena hanya dengan demikianlah kita bisa menjadi pohon yang tumbuh subur menghasilkan buah yang banyak dan bermanfaat bagi banyak orang.

"Good tree makes good fruit" - pepatah Italia

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, March 8, 2017

Agar Pohon Berbuah Lebat (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 13:8-9
=====================
"Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!"

Mudahkah menanam pohon itu? Secara teoritis mudah. Kita hanya perlu menggali tanah, memasukkan bagian akar ke dalam, lalu tutup dan disiram, dipupuk secara teratur. Teorinya mudah kan? Tapi sebagian orang kerap gagal memperoleh hasil terbaik dari tanamannya. Karenanya ada istilah orang yang ber-'tangan hijau', yang mengacu kepada orang-orang yang ditangannya tanaman mudah tumbuh subur. Seorang ibu tetangga saya memiliki tangan hijau. Rumahnya tidaklah besar, tetapi rumahnya penuh bunga yang mekar dengan indahnya. Apa yang ia lakukan sederhana saja, hanya menyiram dengan teratur. Ia bahkan jarang memberi pupuk. Tapi tampaknya waktu untuk menyiram pun berpengaruh dalam kesuburan tanaman.

Darinya saya belajar bahwa menyiram tanaman idealnya dilakukan sebelum matahari mulai terik, yaitu sebelum pukul 9 atau 10 pagi. Mengapa? Sebab apabila disiram pada saat cuaca panas, air bisa menguap lebih dari 60% lebih tinggi. Sedangkan kalau pada cuaca yang tidak terik seperti di pagi hari, air yang menguap bisa diminimalisir sehingga kebutuhan tanaman akan air tercukupi. Di sisi lain, menyiram terlalu banyak bisa membuat akar membusuk. Jadi kita harus perhatikan betul banyaknya air yang kita berikan pada tanaman, dimana setiap tanaman kebutuhannya berbeda-beda pula.

Selain masalah menyiram, pupuk juga bisa jadi penting. Lantas perawatan yang teratur tentu akan membuat tanaman lebih sehat. Biasanya pohon akan sulit menghasilkan buah secara produktif apabila ada terlalu banyak tunas yang tumbuh pada setiap dahan. Maka kita harus rajin memilah tunas yang tumbuh disana. Kalau tunas itu ternyata tidak produktif, tunas itu harus segera dipotong agar rantingnya bisa berbuah dengan baik. Di samping itu, terkadang ranting yang sudah berbuah produktif pun bisa dihinggapi berbagai parasit dan benalu. Keduanya akan membuat buah menjadi sedikit,atau berkualitas buruk, karena zat-zat yang dibutuhkan ranting untuk menghasilkan buah habis diserap oleh benalu-benalu itu. Maka segala benalu dan parasit yang menempel pun harus segera dipotong dan dibuang sesegera dan sesering mungkin.

Jadi menanamnya mungkin mudah. Tapi untuk berhasil dibutuhkan usaha merawat secara kontinu dan teratur.  Kalau berbagai usaha ini dilakukan secara serius, niscaya pohon itu akan tumbuh subur penuh buah. Sebaliknya jika tidak, jangankan berbuah. Bisa tetap hidup saja sudah syukur.

Kemarin kita sudah melihat bahwa adalah penting bagi anak-anak Tuhan untuk menghasilkan buah-buah baik dalam kehidupan. Paulus dalam surat Filipi berkata: "Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah." (Filipi 1:22). Kalau kita masih diijinkan untuk hidup, itu artinya kita harus terus menghasilkan buah-buah yang baik dari apapun yang kita kerjakan. Itu adalah sebuah kewajiban bagi para murid Yesus.

Dalam sebuah kesempatan secara tegas Yesus pernah mengatakan : "Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api." (Matius 7:18-19).

Perhatikan bahwa menghasilkan buah merupakan hal yang sangat serius. Pohon yang tidak berbuah atau buahnya jelek pada akhirnya akan ditebang dan dibakar. Kalau kita periksa diri kita, apakah kita sudah menjadi pohon yang sehat saat ini? Sudahkah kita menghasilkan buah yang baik? Jika belum, kita harus segera membenahi masalah ini supaya kita tidak ditebang dan dibakar. seperti halnya pohon, kita harus melalui proses pemotongan tunas-tunas yang tidak produktif, pembersihan benalu dan parasit yang menempel dalam hidup kita agar pada akhirnya kita bisa menghasilkan buah. Proses ini seringkali tidak gampang bahkan bisa menyakitkan. Tapi proses ini harus kita lalui agar kita bisa menjadi pohon yang tumbuh subur dengan menghasilkan buah segar dengan lebat.

(bersambung)


Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker