Sunday, October 31, 2010

Gema

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Filipi 4:8
==================
"Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu."

gemaSaya pertama mengenal gema ketika pada suatu kali ayah saya mengajak saya ke atas gunung saat saya masih kecil. Di sana ia menyuruh saya mencoba meneriakkan sesuatu. Betapa kagetnya saya mendengar suara saya kembali terdengar berulang-ulang. Ayah saya hanya tertawa dan kemudian menjelaskan bahwa itu adalah gema atau echo, sebuah refleksi atau pantulan suara kita yang terjadi ketika gelombang suara kita menumbuk suatu permukaan. Fenomena echo atau gema ini memang menakjubkan. Saat itu pun saya kemudian berulang-ulang meneriakkan sesuatu dan kemudian merasa senang ketika saya kembali mendengarkan pantulannya kembali kepada saya. Apapun yang saya teriakkan akan kembali persis sama. Jika saya meneriakkan "Halo", makan yang kembali pun pasti "Halo", dan tidak akan pernah "apa kabar" atau kata lainnya. Itulah fenomena gema, yang sebenarnya bisa kita aplikasikan pula dalam kehidupan kita.  

Apa yang bisa anda katakan mengenai diri anda sendiri hari ini? Syukurlah jika itu adalah kata-kata yang positif. Pada kenyataannya ada banyak orang yang menilai citra dirinya terlalu rendah, buruk dan merasa tidak sanggup untuk melakukan apa-apa. Aku memang bodoh, aku tidak mampu, aku tidak kuat, dan sebagainya. Malah ada banyak orang yang belum memulai sudah langsung merasa gagal. Tidak jarang pula ada orang yang terbentuk dengan percaya diri yang rendah karena sejak kecil sudah terlalu sering dikatai bodoh, baik oleh orang tuanya sendiri, saudara, kerabat atau sahabat. Seperti echo atau gema tadi, apa yang kita teriakkan kepada diri kita sendiri akan kembali kepada kita. Jika kita meneriakkan kata-kata negatif kepada diri kita, maka itulah yang akan terbentuk dalam diri kita. Apa yang kita katakan kepada orang lain pun bisa sedikit banyak mempengaruhi mereka. Apakah kita mengeluarkan kata-kata membangun, menyemangati dan memotivasi, atau merendahkan, mematahkan semangat atau menyepelekan, itu akan memberi pengaruh kepada mereka. Oleh karena itulah sangat penting untuk selalu berpikir atau mengatakan hal-hal yang positif, baik itu untuk orang lain, terutama untuk diri kita sendiri, agar kita terbentuk menjadi orang-orang yang bermental baja dan mampu memandang hidup dari perspektif yang positif pula. Dan itu sejalan dengan apa yang dikatakan firman Tuhan dalam Alkitab.

Kepada jemaat Filipi, Paulus berpesan "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." (Filipi 4:8). Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan lebih jelas: "think on and weigh and take account of this things [fix your minds on them]". Pikirkanlah itu, tekankanlah pada diri anda, dan jangan lupa ubahlah paradigma yang mungkin sudah terlanjur negatif pada pikiran anda. Paulus adalah tipe motivator ulung yang selalu berusaha untuk menyuarakan dan memberi keteladanan positif kepada jemaat-jemaat yang dilayaninya. Ia pun mengatakan "Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu." (ay 9). Keteladanannya sungguh luar biasa. Tidaklah gampang untuk menjadi seorang Paulus pada saat itu. Ia mengalami banyak penderitaan, namun ia tidak pernah surut untuk memotivasi para jemaat. Think positive, and keep saying all the positive things to yourself and others.

Tekanan permasalahan memang bisa membuat kita melemah lalu kehilangan motivasi atau keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri. Elia pernah mengalaminya. Ia berkata "Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku." (1 Raja Raja 19:4) Bayangkan jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, apa jadinya Elia? Kepada diri kita sendiri pun demikian. Apabila kita terus mengucapkan hal-hal negatif terhadap diri kita sendiri, mau jadi apa kita nanti? Dan kepada Elia, Tuhan segera bertindak cepat. Dia mengutus malaikat untuk menyuruh Elia segera "bangun", "makan", dan "meneruskan perjalanannya". "Stand up, fill yourself up and keep walking! Don't give up!" Itu kira-kira pesan Tuhan secara singkat, dan itu sudah kita bahas panjang lebar beberapa waktu yang lalu. Lihatlah bahwa dalam keadaan apapun, Tuhan itu ada dan peduli. Jika menyadari bahwa Tuhan menyertai kita, mengapa kita harus merasa pesimis dalam memandang hidup? Mengapa kita harus membiarkan citra diri kita terus semakin rusak, baik akibat perkataan orang lain atau perkataan diri kita sendiri yang negatif?

Lihatlah apa yang dijanjikan Tuhan kepada kita. "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya." (Ulangan 28:13-14). Ini adalah sebuah janji penting yang disertai dengan langkah-langkah yang harus kita ikuti jika kita mau mendapatkan apa yang menjadi rencana Tuhan bagi kita. Sikap negatif jika kita biarkan hanyalah akan membuat kita semakin menjauh dari janji-janji dan rencana-rencana yang telah Tuhan rancangkan bagi kita. Melakukan perintah Allah dengan setia, tidak menyimpang, tidak menyembah allah-allah lain, semua itu akan membawa kita mendapatkan apa yang menjadi kehendak Allah bagi kita. Mungkin tidak mudah bagi orang yang sudah terlalu lama hidup dengan pola pikir negatif untuk bisa merubahnya secara instan. Tapi renungkanlah selalu firman Tuhan, siang dan malam, seperti yang juga dianjurkan Daud dalam Mazmur 1:2, dan tanamlah janji Tuhan itu secara kuat dalam hidup kita. Tetaplah fokus kepada janji-janji Tuhan, dengan demikian kita bisa terus hidup dalam pengharapan dan mampu memandang hidup secara positif meski saat ini masih dalam keadaan sulit. Seperti gema yang memantulkan kembali suara kita di atas gunung, siapkah kita menggemakan hal-hal yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, kebajikan, patut dipuji, dan sebagainya, alias hal-hal yang positif ke dalam hidup kita? Let's think, weight and take account of these things!

Berpikir positif akan membentuk citra diri positif pula

Saturday, October 30, 2010

Diampuni dan Disucikan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Yohanes 1:9
======================
"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."

diampuni dan disucikanBelum lama ini sebuah sabun cuci atau deterjen bermerek terkenal meluncurkan inovasi terbarunya yaitu mengklaim mampu membersihkan noda-noda membandel yang melengket pada baju kotor hanya dalam sekali kucek. Mereka bahkan membuat demonstrasi akan hal itu di banyak supermarket dan juga di televisi. Tidak ada orang yang mau memakai baju kotor, tetapi dalam melakukan pekerjaan, bermain dan sebagainya ada kalanya baju kita menjadi penuh noda dan bercak. Tersemprot lumpur di jalan ketika hujan misalnya, terkena kuah makanan dan sebagainya. Baju itu tentu akan kita cuci terlebih dahulu hingga noda-nodanya hilang sebelum dipakai kembali. Apabila noda itu menempel akan sulit bagi kita untuk menghilangkan semuanya dan membuat baju kita kembali seperti baru. Produsen mengetahui hal itu. Itulah sebabnya berbagai produk deterjen akan terus berlomba-lomba membuat inovasi yang mampu membersihkan dengan cara yang paling mudah, hemat dan cepat.

Mengapa saya mulai dengan ilustrasi di atas? Sebelum kita sampai kepada firman Tuhan hari ini, mari kita lihat apa yang ditanyakan oleh seorang teman pada suatu kali ketika mendengar ayat berikut: "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17). Ayat ini sudah tidak asing lagi bagi kita, dan jelas mengambarkan bahwa ada kesempatan yang diberikan kepada kita untuk memulai sebuah hidup baru ketika kita menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita. We are considered as "a new creation", a fresh one. Itu artinya dosa-dosa kita sudah dihapuskan, kita sudah dilepaskan dari berbagai ikatan-ikatan yang membelenggu kita selama ini. Kita telah menerima tebusan atas dosa-dosa kita di masa lalu, dan kemudian menerima kebenaran dan keselamatan sebagai anugerah yang berasal dari Tuhan. We are transformed into a new person, dan itu memungkinkan kita untuk menjaga agar apa yang sudah bersih jangan sampai menjadi kotor kembali. Harusnya demikian. Tetapi kita sebagai manusia seringkali lemah sehingga ada kalanya kita kembali terjerumus untuk berbuat dosa demi dosa. Jika saya ibaratkan diri kita seperti baju, maka baju yang sudah bersih akan kembali kotor apabila banyak noda yang hinggap di atas baju kita. Ada yang mudah dibersihkan, ada pula yang membandel. Demikian pula dosa-dosa itu akan membuat kita kembali kotor meski ketika kita sudah menjadi orang percaya. Pertanyaaan teman saya berhubungan dengan hal ini: bagaimana dengan dosa-dosa yang kita lakukan setelah kita menjadi orang Kristen? Apakah Tuhan tetap menyediakan pengampunannya? Jelas, Tuhan tetap membuka pintu kesempatan selebar-lebarnya kepada siapapun untuk berbalik dari jalan-jalan yang salah dan kembali kepada jalan kebenaran yang mengarah kepada keselamatan. Itu termasuk bagi orang yang belum menerima Kristus maupun yang sudah.

Mari kita lihat kitab 1 Yohanes. Kitab ini dipercaya sebagai hasil tulisan Yohanes sendiri yang kita tidak tahu pasti ditujukan untuk siapa tau jemaat mana. Namun yang pasti, surat tulisan Yohanes ini ditujukan untuk orang-orang percaya, dan bukan kepada orang-orang berdosa. Dengan kata lain, surat ini dituliskan secara khusus untuk orang-orang Kristen. Yohanes tahu bahwa setelah kita bertobat, selalu saja ada godaan yang berpotensi membawa kita kembali masuk ke dalam dosa, kembali melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk yang seharusnya sudah kita tinggalkan ketika kita ditransformasikan menjadi ciptaan yang baru. Apa yang akan diperbuat Tuhan kepada para orang percaya yang terpeleset kembali ke dalam dosa? Tuhan mengatakan demikian: "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9). Tuhan akan melakukan:
1. mengampuni dosa kita
2. menyucikan kita
Kedua hal ini akan segera Dia berikan apabila kita mengakui dosa kita. Puji Tuhan, Dia adil dan setia, sehingga pintu kemaafan masih Dia bentangkan lebar-lebar terhadap anak-anakNya yang kembali tersesat.

Yohanes melanjutkan hal ini dalam pasal berikutnya. Ia mengatakan "Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia." (1 Yohanes 2:1-2). Sebagai ciptaan baru seharusnya kita tidak lagi berbuat dosa. Tetapi kalaupun kita kembali terjebak, ingatlah bahwa kita punya Kristus yang akan bertindak sebagai perantara atau pembela buat kita di hadapan Allah. Ini janji Tuhan yang dihadirkan lewat Yohanes dan ditujukan buat kita, orang-orang percaya.

Ketika kita kembali berbuat dosa artinya kita kembali hidup dalam penghukuman. Arah jalan pun berbelok menuju jurang kebinasaan. Tetapi Tuhan siap mengampuni, tidak lagi mengingat-ingat pelanggaran kita apabila kita mengakui dosa kita di hadapanNya. Bukan hanya itu, diri kita pun akan dibersihkan atau disucikan kembali.

Dalam kitab Yesaya kita bisa membaca janji Tuhan yang berhubungan erat dengan topik hari ini. "Marilah, baiklah kita berperkara! --firman TUHAN--Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba." (Yesaya 1:18). Tuhan siap mengembalikan diri kita yang telah ternoda untuk kembali putih mengkilap seperti baru.

Kebenaran akan kembali muncul setelah kita disucikan dari ketidakbenaran.Sebagai ciptaan baru kita seharusnya meninggalkan masa lalu kita yang penuh dosa dan menatap ke depan untuk menuai janji-janji Tuhan. Namun dalam prakteknya di kehidupan kita, ada kalanya kita kembali terjebak dan berbuat dosa. Apabila itu yang terjadi, ingatlah bahwa Tuhan masih memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi kita orang yang sudah percaya untuk mengakui dosa mereka di hadapan Tuhan. Jika itu kita lakukan, maka Tuhan sendiri yang akan mengambil langkah: mengampuni dan menyucikan. Dan itu bisa kita peroleh apabila kita mengakui dengan jujur atas segala dosa yang kita perbuat. Malam ini marilah datang kepadaNya dan mengakui semua dosa yang sudah kita lakukan. Tidak peduli sekotor apapun anda saat ini, jangan pernah lupakan bahwa Yesus sungguh menyertai anda.

Mengakui dosa adalah awal dari pemulihan

Friday, October 29, 2010

Kunci Rahasia Kesuksesan Hubungan antara Suami dan Istri

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Efesus 5:23
========================
"Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat."

kunci rahasia hubunganBetapa terkejutnya saya hari ini mendengar kabar bahwa salah seorang sepupu saya baru saja mengalami kekerasan dalam rumah tangga alias dipukul oleh suaminya. Kejadian ini sebenarnya adalah akumulasi dari berbagai permasalahan yang terus dibiarkan berlarut-larut sejak mereka menikah. Seorang pria memukul wanita, apalagi istrinya sendiri, itu jelas salah. Tetapi agar adil, sebenarnya kita pun harus melihat terlebih dahulu permasalahannya secara lebih jelas, sedapat mungkin menuju kepada akar-akar permasalahannya, karena bisa jadi perlakuan kasar suami dipicu oleh perilaku atau sikap yang kurang baik dari istri, yang mungkin sudah terjadi selama bertahun-tahun. Apapun penyebabnya, yang jelas kita melihat semakin banyak keluarga-keluarga yang mengalami kehancuran meski usia pernikahannya masih relatif singkat. Dan ini pun tidak lagi jarang terjadi di kalangan umat Kristen sendiri. Iblis memang sangat suka merusak hubungan antar pasangan, terlebih ketika kita sudah memasuki zaman akhir seperti sekarang ini. Bentuk penyebab pecahnya sebuah hubungan bisa bermacam-macam, dan kita memang seharusnya melihat kasus per kasus. Tapi mari kita lihat sebuah pertanyaan yang mungkin sering dilontarkan orang, dan jelas dibutuhkan setiap pasangan. Adakah sebuah kunci yang akan mampu membuat sebuah hubungan antara suami dan istri senantiasa harmonis? Adakah rahasia kesuksesan sebuah hubungan yang akan mampu melewati badai seperti apapun tanpa mengalami keretakan di dalamnya? Jawabannya ada.

Kunci rahasia kesuksesan hubungan suami istri jelas tertulis di dalam kitab Efesus pasal 5 dengan judul perikop "Kasih Kristus adalah dasar hidup suami istri." Bagian ini secara terang mengungkapkan kunci rahasia dari kesuksesan hubungan ini. Kedua belah pihak, suami dan istri, sama-sama punya tanggung jawabnya masing-masing. "Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan." (Efesus 5:22). Mengapa? "karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh." (ay 23). Para istri, hendaklah anda tunduk kepada suami seperti halnya anda tunduk kepada tuhan. Ini adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar atau diberi pengecualian dengan alasan apapun. Kita tidak bisa tunduk dengan Tuhan tergantung kondisi bukan? Seperti itu pula seharusnya penundukan diri seorang istri terhadap suaminya. Apakah istri yang berpenghasilan lebih besar, apakah istri berperan lebih banyak dalam keluarga, atau alasan lainnya, itu tidak serta merta bisa menjadi dalih untuk berlaku sebaliknya. Istri tunduk kepada suami, seperti halnya kepada Tuhan, itu kunci rahasia dari pihak istri.

Lalu bagaimana dengan pihak suami? Para suami, dengarlah ini. "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya." (ay 25). Mudahkah itu? Sama sekali tidak, sebab kita tahu bagaimana cara Kristus mengasihi jemaat. Dia tidak menyayangkan nyawaNya sendiri atau kenyamananNya, bahkan statusNya demi keselamatan para jemaat. Dia rela menyerahkan diri seutuhnya demi kita semua, menggantikan kita semua yang seharusnya terpancang di atas kayu salib selamanya. Seperti itulah bentuk dari kasih Kristus. Ini menjadi kunci rahasia kesuksesan hubungan dari pihak suami. Para suami, hendaklah anda mengasihi istri seperti bagaimana Yesus mengasihi jemaat hingga rela mengorbankan diriNya sendiri.

Ada tambahan lain yang masih berkaitan bagi para suami: "Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri." (ay 28). Mengapa? "Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya." (ay 29-30). Bacalah Roma 12:1-8 dan 1 Korintus 12:12-31 yang berbicara jelas mengenai kita sebagai anggota dari tubuh Kristus. Tidak ada satu orangpun yang mau menyakiti atau menghancurkan bagian tubuhnya sendiri. Jika kita dianggap sebagai bagian dari tubuh Kristus, maka jelas Kristus akan memperhatikan dengan seksama keselamatan kita masing-masing. Demikian pula seharusnya sang suami harus mengasihi istrinya yang tidak lain adalah bagian yang tidak terpisahkan dari mereka, dimana Tuhan sendiri yang telah menjadi saksi atas janji setia yang kita ucapkan ketika menikah. (Maleakhi 2:14). Sebuah pernikahan membuat suami dan istri menjadi satu daging, dan dengan demikian mereka bukan lagi dua melainkan satu. (Matius 19:5-6). Karena itulah suami yang tidak mengasihi istri sama artinya dengan orang yang tidak mengasihi anggota tubuhnya sendiri, yang dengan demikian tidak mencerminkan bagaimana Kristus mengasihi jemaatNya, anggota tubuhNya sendiri.

Apa yang tertulis di dalam Efesus 5 adalah sebuah rahasia besar yang menjadi kunci sukses keharmonisan hubungan antara suami dan istri. Lihatlah kata-kata Paulus berikut: "Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat." (Efesus 5:32). Rahasia besar? Ya, rahasia besar. Bukankah banyak pernikahan yang akhirnya hancur di tengah jalan akibat ketidaktahuan akan fungsi, tugas, tanggung jawab serta posisinya masing-masing? Secara umum inilah yang seringkali menjadi awal dari kehancuran sebuah keluarga. Rahasia besar ini sebenarnya telah diungkapkan dengan jelas dalam Alkitab. Mungkin bisa jadi aneh bagi kita ayat yang sudah tersedia selama ribuan tahun dikatakan sebagai sebuah rahasia yang besar, namun jika mengacu kepada realita dimana ada banyak hubungan yang kandas akibat ketidaktahuan akan kedua kunci ini, maka kita akan bisa mengerti mengapa hal itu dikatakan sebagai sebuah rahasia besar. Jika kita melakukannya, maka kita akan melihat sendiri bagaimana kunci ini mampu berperan secara luar biasa dalam membangun atau membina hubungan suami istri yang sukses. Dalam kondisi atau situasi apapun yang saat ini anda alami dalam hubungan dengan pasangan anda, dasarkanlah selalu kepada kedua kunci ini : Istri tunduk kepada suami seperti kepada Tuhan (ay 22) dan suami mengasihi istri seperti Kristus mengasihi jemaat (ay 25). Mari kita renungkan bersama-sama, sudahkah kita menempatkan diri kita pada posisi yang tepat ? Sudahkah kita menjalankan fungsi dan tanggungjawab kita sesuai porsi kita seperti yang dinyatakan dalam kedua kunci ini? Hubungan harmonis antara suami dan istri yang bertahan hingga maut memisahkan akan selalu menjadi dambaan semua manusia. Yang jelas, Tuhan sebenarnya telah memberikan kunci bagi kita untuk mencapainya, dan sekarang semua tergantung kita, apakah kita mau menyadari dan menghidupi rahasia besar ini atau tidak.

Istri tunduk pada suami seperti kepada Tuhan dan suami mengasihi istri seperti Kristus mengasihi jemaat merupakan kunci kesuksesan sebuah hubungan

Thursday, October 28, 2010

Think Like a Champion

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Roma 8:37
===================
"Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita."

think like a championHari ini saya melihat sebuah buku karya Donald Trump berjudul "Think Like a Champion." Saya tidak sempat membuka-buka halaman di dalamnya, tetapi saya percaya Trump berusaha mengajak kita untuk mengubah paradigma berpikir kita agar bisa mencapai sukses. Saya setuju dengan Trump. Betapa seringnya kita gagal justru sejak awal. Belum apa-apa kita sudah yakin kalah. Bagaimana mungkin kita berani melakukan sesuatu jika paradigma berpikir kita sudah seperti orang yang kalah? Untuk memiliki mental pemenang kita harus memulainya dari cara berpikir seperti layaknya seorang pemenang pula. Jika tidak, maka kita tidak akan pernah bisa memulai apapun.

Mungkin banyak yang bertanya, bagaimana mereka bisa berpikir seperti seorang pemenang atau juara jika saya ini tidak ada apa-apanya? Jika sarjana bahkan yang S2 sekalipun masih banyak yang menganggur, apalagi saya yang hanya lulusan SMA? Ada banyak orang yang terjebak pada pola pemikiran seperti ini. Mereka hanya fokus kepada kekurangan mereka dan melupakan bahwa Tuhan telah menciptakan kita masing-masing dengan talenta dan keistimewaan tersendiri. Sudahkah kita sadar bahwa apa yang diberikan Tuhan kepada kita sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk mulai melakukan sesuatu dan menuai sukses seperti yang direncanakan Allah sejak semula? Mungkin kita hanya tamat SMA, tetapi bukankah kita memiliki anggota tubuh yang berfungsi baik? Jika ada anggota tubuh kita yang ternyata cacat atau kurang sempurna, bukankah masih ada anggota-anggota tubuh lainnya yang kondisinya baik? Sudah terlalu banyak orang yang gagal mencapai impian mereka justru karena mereka memandang diri mereka sendiri jauh lebih rendah dari pandangan Tuhan yang sebenarnya tentang diri mereka. Kita selalu memfokuskan diri kepada kekurangan kita dan mengabaikan apa yang menjadi kelebihan atau keistimewaan kita.

Apa sebenarnya yang direncanakan Tuhan atas kita? Tuhan tidak pernah menginginkan kita untuk menjadi pecundang, orang-orang yang gagal. Tuhan tidak pernah merencanakan kita untuk memiliki mental yang mudah menyerah dan hidup tanpa semangat. Apa yang dicanangkan Tuhan justru sebaliknya. Alkitab menyebutkan begini "Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita." (Roma 8:37). Perhatikanlah bahwa kita seharusnya sadar bahwa kita bukan cuma sekedar pemenang, tetapi dikatakan lebih dari pemenang! Dalam bahasa Inggrisnya lebih dari pemenang disebutkan dengan "More than conquerors and gain surpassing victory", memperoleh kemenangan melewati batas yang kita harapkan. Dari mana kita bisa memperolehnya? Alkitab menyebutkan jelas, lewat Kristus yang telah mengasihi kita, through Him who loved us.

Selanjutnya mari kita lihat janji Tuhan lainnya. "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun." (Ulangan 28:13) Itu yang menjadi kerinduan Allah bagi kita. Menjadi kepala dan bukan ekor, tetap mengalami peningkatan dan bukan penurunan. Lihatlah kata yang dipakai adalah "TUHAN AKAN", dan bukan "Tuhan bisa" atau "Tuhan mungkin berkenan". Kata akan disana memberi jaminan kepastian bahwa Dia menginginkan itu untuk terjadi pada anak-anakNya, termasuk saya dan anda. Bagaimana caranya? sambungan ayat di atas memberitahukan cara untuk memperolehnya. ".. apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya." (ay 13-14).

Tuhan sudah berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkan kita. "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20b). Atau tanamkan pula ayat ini dalam-dalam di benak kita. "Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati." (Ulangan 31:8). Lihatlah bahwa untuk mencapai sebuah tingkatan "lebih dari pemenang", "to gain a surpassing victory", kita bukannya dibiarkan berjuang sendirian, tetapi Tuhan sendiri berjanji untuk senantiasa menyertai kita. Jangan lupa pula bahwa Roh Kudus telah dianugerahkan kepada orang-orang percaya. Kehadiran Roh Kudus akan membuat kita mampu melakukan hal-hal yang jauh lebih daripada apa yang kita pikirkan, melebihi apa yang kita anggap sebagai batas kesanggupan kita. Bagaimana jika kita masih juga takut? Bagaimana jika tetap menganggap bahwa kita bukan siapa-siapa, bahkan tidak ada orang yang memperhatikan keberadaan kita sekalipun? Lihatlah apa jawaban Tuhan akan hal ini. "Tetapi engkau, hai Israel, hamba-Ku, hai Yakub, yang telah Kupilih, keturunan Abraham, yang Kukasihi; engkau yang telah Kuambil dari ujung-ujung bumi dan yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya, Aku berkata kepadamu: "Engkau hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau"; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan." (Yesaya 41:8-10).

Ayat di atas berkata jelas. Kita tidak boleh takut. Mengapa? Sebab Tuhan menyertai kita. Kita tidak boleh ragu, alias setengah yakin menang setengah lagi yakin kalah. Mengapa? Karena kita punya Allah yang memiliki kuasa di atas segalanya. Kita tidak pula perlu khawatir, karena Tuhan berjanji pula untuk meneguhkan dan menolong kita. Dia memegang kita dengan tangan kananNya dan hal itu akan mampu membawa kita masuk ke dalam sebuah kemenangan yang lebih dari apa yang kita pikir sanggup untuk kita peroleh. Dengan merenungkan semua ini, masih pantaskah kita menilai diri kita sendiri rendah? Masihkah kita harus terus hidup dengan pemikiran dan mental seperti orang yang gagal atau kalah? Berhati-hatilah agar kita jangan sampai menilai diri kita sendiri rendah dan tidak ada apa-apanya, karena Firman Tuhan mengingatkan kita  ""Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia." (dalam versi King James dikatakan"For as he thinketh in his heart, so is he." atau dalam bahasa sederhana diartikan sebagai "we are what we think.").  Sesungguhnya apa yang diberikan Tuhan sudah lebih dari cukup untuk kita olah dan pakai hingga mencapai sebuah kesuksesan besar. Kita harus mulai mengubah pola pikir kita terhadap diri sendiri sejak awal. Mulailah berpikir sebagai pemenang atau juara, karena itulah yang diinginkan Tuhan sejak awal bagi kita semua. Bukan ekor tetapi kepala, tidak menurun melainkan terus meningkat. Semua itu tidak akan bisa terlaksana tanpa dimulai dari pembenahan pola pikir kita. So, let us all start to think like a champion!

Bukan cuma pemenang, tetapi lebih dari pemenang, itulah yang dirindukan Tuhan untuk kita

Wednesday, October 27, 2010

Tukang Cukur

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Ibrani 11:6
=====================
"Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia."

Tuhan ada, tukang cukurSebuah email diforward teman kepada saya. Isinya bagus, merefleksikan bagaimana pemikiran banyak orang mengenai keberadaan dan kepedulian Tuhan. Kita bertemu dengan banyak orang yang skeptis mengenai hal ini. Ada yang tidak percaya sama sekali, ada yang ragu-ragu, ada yang percaya memang Tuhan ada tetapi tidak cukup peduli, ada pula yang berpikir bahwa perhatian Tuhan terlalu tinggi untuk diraih. Dahulu saya termasuk orang yang tidak peduli akan ada atau tidaknya Tuhan. Saya hanya percaya terhadap kerja keras dan usaha saya sendiri. Keberhasilan memang pernah saya raih, tapi umurnya tidaklah lama. Semua yang telah saya capai dan dapatkan akhirnya hilang tak berbekas. Di saat itulah saya mengalami jamahan Tuhan Yesus secara langsung. Dan hari ini saya tahu bahwa kasih Allah itu sungguh sangat besar adanya. Dia ada, Dia mengasihi kita, dan Dia peduli. Sangat peduli, sehingga Dia merelakan Yesus untuk turun menggantikan kita semua di atas kayu salib. Hari ini kita bisa hidup dengan sukacita, merasakan hadirat Allah yang begitu indah, mendapat jaminan keselamatan sepenuhnya, semua itu adalah bukti besarnya kasih Allah yang dianugerahkan lewat anakNya yang tunggal, Yesus Kristus. Mari kita lihat kisah seorang pelanggan dan tukang cukur seperti yang di email kepada saya.

Alkisah ada seorang pelanggan datang ke sebuah salon untuk mencukur rambutnya. Tukang cukur mulai bekerja dan mereka pun terlibat dalam perbincangan. Si tukang cukur berkata: "Saya tidak percaya Tuhan itu ada."
Si Pelanggan kaget dan menjawab "Kenapa anda bilang begitu?"
"Begini, jika Tuhan ada, mengapa ada yang menderita? yang sakit? terlantar? melarat? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi." balas si tukang cukur.
Pelanggannya hanya diam, karena ia berpikir tidak ada gunana mendebat tanpa ada argumen yang kuat. Akhirnya si tukang cukur pun menyelesaikan tugasnya, dan pelanggan pun pergi meninggalkan salon.
Begitu keluar, ia melihat seorang gelandangan dengan rambut panjang, kotor dan tidak terurus. Melihat gelandangan itu, si pelanggan pun kembali masuk ke salon dan menemui tukang cukur tadi. Ia segera berkata: "Tahukah anda, sebenarnya tukang cukur itu tidak ada." Tukang cukur pun kaget dan berkata "Bagaimana anda bisa berkata seperti itu? Bukankah saya baru saja mencukur rambut anda?"
Pelanggan itu menjawab: "Tidak. Tukang cukur memang tidak ada. Sebab jika ada, maka tidak akan ada orang dengan rambut acak-acakan, kotor, jorok, tidak terawat seperti gelandangan di luar itu."
Tukang cukur itu tidak terima dan membalas: "Tetap saja tukang cukur itu ada! Jika ada orang seperti gelandangan itu, yang jorok dan tidak terawat, itu salah mereka sendiri. Mengapa mereka tidak datang kepada tukang cukur seperti saya untuk minta dicukur?"
Dan si pelanggan pun tersenyum dan mengatakan "Tepat sekali."

That's the point. Tuhan itu ada. Ingatkah anda bagaimana Tuhan sendiri menyatakan bahwa Dia ada lewat Musa kepada bangsa Israel? "Kata Allah, "Aku adalah AKU ADA." (Keluaran 3:14 BIS) Dia jelas ada, dan itu bisa kita lihat dari segala sesuatu yang ada di sekeliling kita. All the wonderful creations around us, things that are even too wonderful, are the undisputed prove of God's existance, including ourselves. Jika kita membaca rincian dalam Ayub 37 dan 38, kita akan melihat bagaimana peran Tuhan mengatur alam dengan segala kemegahannya. Daud pun mengatakan hal yang sama dalam Mazmur 104 nya yang terkenal. Itulah hasil perenungan Daud melihat segala keindahan yang ada di sekelilingnya. Dan Daud tahu Tuhan ada. Tidak hanya tahu, ia pun bahkan dekat dan mengalami banyak bukti kehebatan Tuhan yang nyata dalam hidupnya. Alangkah keterlaluannya kita yang telah melihat bukti nyata keberadaan Tuhan dalam setiap pandangan mata dan detak jantung kita tetapi masih juga meragukan Dia, yang telah begitu mengasihi kita.

Penulis Ibrani menyatakan "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia." (Ibrani 11:6). Ya, kita memang memerlukan sebentuk iman yang memampukan kita untuk percaya bahwa Tuhan itu ada, dan Tuhan menyediakan kasih setia dan berkat-berkatNya yang melimpah kepada semua orang yang sungguh-sungguh mencari Dia, tanpa terkecuali. Tuhan Yesus menyatakan "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan." (Matius 7:7-8). Apa yang menjadi permasalahan bukanlah ada atau tidaknya Tuhan, karena Dia jelas ada, tetapi justru orang yang tidak mau datang kepadaNya, tidak mau mencariNya. Tuhan itu ada, dan segala solusi atas permasalahan kita pun ada padaNya. Siapa yang bisa merasakan keberadaan Tuhan dalam hidupnya adalah orang-orang yang mau datang kepadaNya dan meminta Tuhan untuk terlibat secara langsung dalam segala aspek kehidupan. Tuhan rindu untuk itu! Dia rindu untuk menyatakan keberadaanNya, dan membuktikan bagaimana indahnya hidup dalam penyertaanNya. "Allah memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia, untuk melihat apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah." (Mazmur 53:3). Oleh karena itu, datanglah kepadaNya hari ini juga dan alami langsung betapa Tuhan itu ada dan kasihNya tidak terbatas bagi kita.

Tuhan ada bagi setiap orang yang mencariNya

Tuesday, October 26, 2010

Mengucap Syukur

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Tesalonika 5:18
==============================
"Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu."

Umpatan saat ini bukan lagi hanya sebagai ungkapan kekesalan atau kemarahan terhadap seseorang saja, tetapi dalam pergaulan kata-kata umpatan itu seringkali hanya berfungsi sebagai kata sisipan atau sela yang akan terlontar begitu saja dengan sendirinya tanpa direncanakan. Di kota tempat saya tinggal sekarang, kata makian bisa terdengar ratusan kali ketika sekumpulan anak-anak muda sedang hang out bareng. Di tengah tiap candaan akan terlempar begitu banyak kata yang kasar dan sangat tidak pantas keluar dari mulut kita. Memang mereka bukan sedang memaki siapa-siapa, tetapi tetap saja kata itu seharusnya tidak diucapkan. Tidak hanya orang yang sudah dewasa, tetapi di kalangan anak-anak kecil bahkan balita sekalipun sekarang sudah terbiasa mengumpat. Dari mana mereka belajar? Bisa jadi dari lingkungan sekitar dan ironisnya tidak jarang pula sikap ini mereka tiru dari anggota keluarganya sendiri.

"Dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi." (Yakobus 3:10). Ucapan syukur ataupun umpatan bisa keluar dari mulut yang sama, dan Firman Tuhan mengingatkan hal seperti ini tidaklah boleh kita lakukan. Apa yang seharusnya keluar dari anak-anak Tuhan seharusnya hanyalah ucapan syukur. Mungkin mudah bagi kita untuk mengucap syukur ketika kita sedang diberkati, tetapi bisakah kita tetap mengeluarkan ucapan yang sama ketika kita sedang mengalami berbagai masalah? Padahal itulah yang seharusnya kita lakukan. Tetap memenuhi hati, pikiran dengan ucapan syukur yang kemudian akan berimbas kepada kata-kata yang kita keluarkan dari mulut. "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18). Perhatikanlah kata dalam segala hal, itu artinya bukan pada saat baik saja, tetapi dalam keadaan sulit atau dalam penderitaan sekalipun kita harus pula mampu memandangnya dari sisi positif, sehingga kita bisa tetap mengucap syukur. Itulah yang dikehendaki Tuhan dalam Yesus untuk dilakukan.

Pertanyaannya bagaimana mungkin kita bisa mengucap syukur ketika sedang berada dalam keadaan yang tidak baik? Caranya adalah dengan mengisi diri kita sepenuhnya dengan pengharapan. Daripada dipakai untuk mengeluh atau meratapi nasib, saat-saat sulit akan sangat baik jika kita pergunakan untuk merenungkan kembali apakah kita selama ini sudah menjalani ketetapan-ketetapan Tuhan atau belum. Di saat seperti itulah kita bisa belajar untuk mengandalkan Tuhan lebih dari biasanya. Saat sulit adalah saat yang paling baik untuk menyaksikan sendiri bagaimana kuasa Tuhan turun dalam hidup kita. Apabila apa yang terjadi tidak juga seperti apa yang kita inginkan, bukankah keselamatan kekal yang telah diberikan kepada kita secara cuma-cuma lewat Kristus adalah sesuatu yang tetap harus disyukuri? Dan Penulis Ibrani pun mengingatkan kita akan hal itu. "Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut." (Ibrani 12:28).

Cara hidup Yesus ketika hadir di muka bumi ini menunjukkan keteladanan mengenai ucapan syukur. Dalam banyak kesempatan Yesus mencontohkan sendiri bahwa ucapan syukur selayaknya muncul dari mulut kita. Lihatlah ketika Yesus hendak menggandakan lima roti dan dua ikan. "Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka." (Markus 6:41). Mengucap berkat, atau dikatakan "mengucap syukur kepada Allah" (BIS). Dalam keadaan kesulitan, dimana hanya ada lima roti dan dua ikan sementara yang hendak diberi makan berjumlah ribuan orang, Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kita tetap harus mengucap syukur terhadap apa yang masih ada, meski sedikit sekalipun. Dan lihatlah bagaimana ucapan syukur itu bisa menjadi awal dari terbukanya pintu berkat dari Tuhan untuk kita.

Apa yang keluar dari mulut kita hari-hari ini? Apakah sudah berisi ungkapan syukur, kata-kata yang memberkati, menyemangati dan membangun atau justru bersungut-sungut, keluh kesah, meratapi nasib bahkan makian atau kutukan kepada orang lain atau diri sendiri? Berhati-hatilah agar kita tidak jatuh ke dalam sikap bangsa Israel di jaman Musa yang terus bersungut-sungut, meski mereka berulang kali menyaksikan sendiri kebesaran Tuhan dalam perjalanan mereka. Peringatan Tuhan turun lewat Paulus berbunyi seperti ini "Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut." (1 Korintus 10:10). Sebaliknya, hendaklah kita terus mengeluarkan ucapan syukur dari mulut kita, karena itulah yang dikehendaki Tuhan dalam Kristus Yesus. Mulai saat ini, mari kita mengawasi mulut kita, agar tidak ada lagi kata-kata yang tidak berkenan di hadapan Tuhan keluar dari sana lagi, baik secara sadar maupun tidak.

Hati yang bersukacita akan mengeluarkan perbendaharaan kata-kata yang baik termasuk ucapan syukur

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, October 25, 2010

Berinteraksi Sebagai Mahluk Sosial

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Ibrani 10:25
=====================
"Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat."

berinteraksi, mahluk sosialSudah beberapa bulan terakhir saya tertimbun oleh pekerjaan yang bertumpuk. Pekerjaan menyita waktu bahkan sampai lewat tengah malam. Akibatnya saya jadi jarang punya waktu untuk santai, apalagi untuk ngobrol antar tetangga. Tapi malam ini saya diingatkan Tuhan untuk meluangkan waktu sejenak berkumpul dengan tetangga. Saya pun duduk ngobrol santai selama sejam. Ternyata hal itu mampu membuat saya sedikit rileks. Bercanda, tertawa, tapi juga banyak mendengar informasi-informasi yang belum saya ketahui sebelumnya. I found it quite refreshing and  informative. Ada kalanya ditengah banyaknya kesibukan kita jadi terpusat kepada pekerjaan dan kehilangan jati diri kita sebagai mahluk sosial. Kita akan mulai menarik diri dari lingkungan dan orang-orang di sekitar kita, dan lama kelamaan kita akan kehilangan teman.

Seperti apa jati diri kita sebenarnya ketika diciptakan? Kita diciptakan bukan untuk hidup sendiri. Tuhan menciptakan kita sebagai mahluk sosial yang akan jauh lebih baik apabila berinteraksi dengan orang lain. Tidak ada satupun manusia yang bisa hidup baik sendirian. Sejak awal penciptaan dalam kitab Kejadian pun Tuhan sudah mengingatkan pentingnya bagi kita untuk mencermati hal ini. "TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18). Manusia itu tidak baik jika sendirian. Mengapa? Karena sejatinya kita diciptakan sebagai mahluk sosial dan bukan mahluk individual. Dalam perkembangannya memang terkadang kesibukan bisa menyita waktu kita sehingga kita tidak lagi punya waktu untuk berinteraksi dengan orang lain, atau berbagai hal lainnya, dan ketika itu terjadi, kita akan kehilangan banyak hal. Kita tidak lagi punya teman untuk berbagi, bahkan tidak ada lagi orang yang bisa mengingatkan atau menasehati kita. Itulah sebabnya Tuhan mengatakan bahwa sendirian itu tidak baik. Bukan salah, bukan tidak boleh, tetapi tidak baik.

Jika meluangkan waktu sejenak untuk santai ngobrol bersama teman atau tetangga saja sudah mampu memberi rasa "refreshing" yang lumayan cukup, apalagi meluangkan waktu untuk berkumpul bersama saudara-saudara seiman untuk berbagi pengalaman sehari-hari, berkumpul saling mendoakan dan bersama-sama merenungkan firman Tuhan. Ada banyak orang yang mengorbankan saat-saat sharing seperti itu demi menjalankan rutinitas pekerjaannya. Jangankan dalam persekutuan, sharing bersama suami atau istri saja sudah tidak lagi punya waktu. Dan ketika itu terjadi, Tuhan sudah mengingatkan kita bahwa itu tidak baik, bagi kestabilan emosional kita, bagi mental kita, dan bagi pertumbuhan rohani kita.

Penulis Ibrani mengingatkan hal ini. "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (Ibrani 10:25). Saling menasihati, saling mengingatkan dan saling menguatkan, itu semua akan luput dari kita apabila kita berhenti menyadari status kita sebagai mahluk sosial dengan menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita. Apalagi hari ini, kita seharusnya semakin giat melakukannya, tidak lagi menyia-nyiakan kesempatan "karena hari-hari ini adalah jahat." (Efesus 5:16). Tidak ada satupun manusia yang mampu mengatasi segalanya sendirian. Ada kalanya kita kuat, itu waktunya kita untuk menguatkan teman-teman kita, sebaliknya ada waktu kita lemah, dan disana peran teman-teman akan sangat berguna. Sebuah ayat dalam Pengkotbah yang tidak asing lagi bagi kita pun mengingatkan hal ini. "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!" (Pengkotbah 4:9-10). Dan lihat pula apa yang dikatakan Yesus berikut: "di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."(Matius 18:20). Dengan berkumpul bersama-sama untuk berbagi firman Tuhan, itu artinya kita mengundang Kristus untuk hadir di tengah-tengahnya.

Adalah sangat penting bagi kita untuk menyadari betapa rentannya kita sebagai manusia apabila kita meninggalkan jati diri kita sebagai mahluk sosial. Tuhan tidak pernah menginginkan anak-anakNya untuk merasa kuat hidup sendirian. Kita tidak boleh malu untuk mengakui bahwa kita butuh orang lain untuk bisa tumbuh menjadi lebih baik lagi. Ada banyak hal yang bisa menghalangi kita untuk berkumpul beribadah bersama-sama. Mungkin itu pekerjaan, kesibukan, keluarga, kesehatan, mood atau suasana hati atau cuaca dan sebagainya. Tapi hendaklah kita memperhatikan betul siapa kita sebenarnya seperti yang diciptakan Tuhan. Sedapat mungkin, luangkan waktu untuk berkumpul bersama-sama, saling berbagi, saling menasehati dan saling menguatkan. Tuhan sudah menyatakan bahwa tidaklah baik bagi kita untuk hidup seorang diri. Interaksi sosial akan selalu kita butuhkan untuk bisa terus menjalani kehidupan dengan semakin baik. Apakah ada diantara teman-teman yang saat ini mulai menjauh dari perkumpulan-perkumpulan akibat berbagai alasan? Jika ya, ingatlah bahwa dunia semakin sulit, dan disana kita butuh dukungan dari saudara-saudara kita untuk saling menguatkan. Jangan jauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah, dan bertumbuhlah terus di dalamnya.

Manusia adalah mahluk sosial yang selalu butuh berinteraksi dengan orang lain

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, October 24, 2010

Menceritakan Kesaksian

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Markus 5:19
=====================
"Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!"

menceritakan kesaksianSaya selalu menyempatkan untuk membagikan kisah hidup dalam berbagai kesempatan di kala mengajar. Mengapa harus demikian? Karena sesuatu yang disampaikan hanya secara teoritis biasanya tidak akan mampu berbicara banyak untuk memotivasi seseorang. Berbagi pengalaman hidup akan jauh lebih bermanfaat sebagai sarana motivasi karena itu merupakan kisah nyata dari pengalaman pribadi yang membagikannya. Tidak jarang saya mengutip firman Tuhan yang teraplikasi dalam berbagai pengalaman hidup saya tanpa menyebutkan ayatnya. Dan respon positif sering saya terima, termasuk pula beberapa mantan murid yang datang kembali untuk berterima kasih karena mereka berhasil sukses setelah mengalami perubahan mindset atau pandangan yang berawal dari pengalaman hidup yang pernah saya bagikan kepada mereka.

Sebuah kesaksian akan keajaiban perbuatan Tuhan dalam hidup manusia akan mampu berbicara banyak mengenai kebaikan Tuhan. Sebuah kesaksian yang paling sederhana sekalipun bisa jadi malah akan lebih efektif ketimbang mengkotbahi orang panjang lebar tanpa disertai contoh. Manusia akan lebih mudah menangkap ilustrasi dari sebuah kehidupan nyata dan akan lebih mudah mencerna hingga mengaplikasikannya ketimbang hanya disuruh menelan bulat-bulat segala sesuatu yang sifatnya teoritis saja. Ada banyak peneliti yang sudah pernah melakukan observasi mengenai hal ini, dan mereka akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa sebuah pengalaman pribadi tentang sesuatu akan memiliki kekuatan tersendiri untuk menggerakkan seseorang. Dalam kerohanian pun demikian. Ada waktu-waktu dimana kita butuh mendengar berbagai kesaksian dari orang-orang yang mengalami mukjizat untuk menguatkan kita di saat kita goyah. Ada begitu banyak janji Tuhan yang diberikan dalam Alkitab, dan ketika kita tengah mengalami masalah seringkali kita terasa jauh dari berbagai janji itu. Itulah sebabnya berbagai kesaksian biasanya mampu menguatkan kita dan memulihkan iman kita untuk kembali dipenuhi pengharapan yang kokoh terhadap janji Tuhan.

Tuhan Yesus pun tahu betul pentingnya sebuah kesaksian. Kepada murid-muridNya Dia menyampaikan sebuah pesan terakhir sebelum terangkat naik kembali ke tahtaNya di surga. "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8). Bagi kita diberikan sebuah tugas yang tidak mudah. Kita diminta bertindak menjadi saksi Kristus baik di Yerusalem (di lingkungan tempat tinggal atau pekerjaan), Yudea (propinsi, mencakup kota-kota atau desa-desa di sekitar kota kita), Samaria (menjangkau saudara-saudara kita yang belum mengenal Kristus) bahkan hingga ke seluruh bumi. Kita tidak harus menjadi pendeta untuk bersaksi, kita tidak harus berkotbah panjang lebar di jalan-jalan untuk menjalankan tugas ini. Kita bisa melakukan itu dengan memberi kesaksian bagaimana campur tangan Tuhan dalam kehidupan kita membuat perbedaan.

Sebuah kisah mencatat bagaimana pentingnya memberi kesaksian itu di mata Yesus. Kita bisa melihatnya dalam perikop "Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa" (Markus 5:1-20). Disana diceritakan bagaimana Yesus mengusir orang yang tengah dirasuk roh jahat yang keluar dari area pekuburan. Begitu banyaknya roh jahat yang masuk ke dalam orang Gerasa itu, dikatakan sebagai sebuah legiun, hingga tidak ada satupun orang yang sanggup melepaskannya. Bahkan rantai sekalipun tidak mampu menahannya. Adalah Yesus yang akhirnya sanggup melepaskan orang Gerasa itu. Untuk mengungkapkan rasa syukurnya, si orang itu pun kemudian meminta agar ia diperkenankan mengikuti Yesus kemanapun Dia pergi. Lantas bagaimana reaksi  Yesus? "Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!" (Markus 5:19). Yesus memintanya untuk kembali ke kampungnya, lalu bersaksi disana. Orang Gerasa yang disembuhkan itu pun menurut. "Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran." (ay 20). Apa yang ia alami adalah sebuah pengalaman luar biasa mengenai bagaimana Tuhan sanggup melakukan apapun dan betapa besarnya belas kasihan Tuhan. Itu akan menjadi sebuah kesaksian indah yang akan mampu memberkati orang-orang lain, karena itulah Yesus kemudian memintanya untuk kembali dan menyampaikan kesaksian tentang apa yang baru saja ia alami. Area Dekapolis terdiri dari 10 kota, dan dari ayat 20 kita bisa melihat bahwa orang yang disembuhkan itu ternyata berkeliling ke 10 kota untuk menyampaikan kesaksiannya. Kita tidak tahu berapa orang yang kemudian bertobat setelah kesaksian itu, tapi saya percaya ada banyak yang diberkati dan kemudian memutuskan untuk menerima Yesus.

Dalam Wahyu kita bisa membaca bahwa kesaksian adalah salah satu alat yang mampu membunuh iblis dan perbuatan-perbuatan jahatnya. "Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut." (Wahyu 12:11). Ini menggambarkan betapa pentingnya sebuah kesaksian untuk menghancurkan tipu muslihat iblis dan kuasa-kuasa kegelapan yang sangat ingin membuat lebih banyak lagi orang untuk dilemparkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebuah kesaksian tidak harus selalu berisikan mukjizat-mukjizat seperti kesembuhan sakit penyakit, pelepasan, pemulihan, berkat-berkat dan sebagainya. Sebuah kesaksian kecil mengenai bagaimana kita bisa tetap hidup dalam pengharapan di kala kesesakan, bagaimana kita bisa tetap teguh dalam iman di saat sulit, itupun bisa menjadi berkat yang memberi kekuatan tersendiri bagi orang lain. Tidak ada satu orangpun yang tidak memiliki kesaksian. Masalahnya adalah, maukah kita membagikannya kepada orang lain agar mereka bisa mengenal siapa Yesus sebenarnya? Bukan kemampuan kita berbicara atau ilmu  yang kita miliki yang dibutuhkan, tetapi pakailah kuasa Allah yang bekerja di dalam diri kita. Kalau demikian, maukah anda untuk menceritakan kabar baik kepada orang lain?

Kesaksian kita sekecil apapun akan sanggup memberkati orang lain

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, October 23, 2010

Menanggapi Firman Tuhan dengan Sepenuhnya

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yohanes 1:12
=========================
"Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya"

menanggapi firman TuhanSulitkah mengajar anak yang bandel? Tanyakan kepada sepupu saya, maka ia akan langsung bercerita panjang lebar bagaimana lelahnya dia setiap hari mengasuh anaknya. Ketiganya masih balita dengan kenakalan yang kurang lebih sama. Mereka akan berlari kesana kemari. Meleng sedikit saja sesuatu bisa terjadi pada mereka. Kemarin ketika kami makan siang bersama, ketiga anaknya saling berebutan sendok dan garpu lalu melemparkannya ke segala arah. Lalu salah satu terjatuh dan langsung menangis keras. Sepupu saya pun menghampiri anaknya dan berkata, "itulah, siapa suruh bandel? Lain kali dengar kata-kata mama supaya kamu tidak jatuh dan sakit.." Semua orang tua akan senang sekali jika anak-anak mereka mau mendengarkan nasihat mereka. Masalahnya, sebagai anak kita sebenarnya mendengar, namun hanya sedikit yang patuh dan mau menurutinya. Telinga kita mendengar, namun sikap, tindakan dan perbuatan kita sama sekali tidak mencerminkan apa yang kita dengar. Dan akibatnya, ada banyak kerugian yang akan kita alami berawal dari ketidak-acuhan kita terhadap petuah atau nasihat orang tua.

Jika terhadap orang tua kita di dunia kita berbuat demikian, terhadap Bapa pun kita bisa melakukan hal yang sama. Sebagian besar dari kita mungkin sudah sering mendengarkan Firman Tuhan, tetapi apakah kita sudah menanggapi, mentaati dan menghidupinya? Sebagian orang akan terus melakukan hal-hal yang menyenangkan dirinya tanpa mempedulikan apa kata Tuhan mengenai apa yang diperbuatnya. Mendengar Firman cukup lewat kotbah, cukup hari Minggu saja, dan setelah itu mereka akan kembali pada kehidupan duniawinya. Injil bukan lagi hal yang asing bagi kita, tetapi sudahkah kita menangkap esensi dasar dari kebenaran yang terkandung di dalamNya? Sudahkah kita memperhatikan dengan seksama bagaimana kehidupan kita dan menjaganya agar berita luar biasa tentang keselamatan lewat Kristus yang diberitakan lewat Injil tidak sampai luput dari kita?

Injil secara fisik mungkin hanya terlihat sebagai sekumpulan tulisan saja. Namun sebenarnya Injil mengandung kebenaran yang mampu menembus hati, yang berasal dari kalimat-kalimat Allah sendiri. Lihatlah gambaran siapa sesungguhnya diri kita, manusia. "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah." (Roma 3:23). Ini kondisi yang memperihatinkan. Kita digambarkan sebagai orang-orang berdosa, yang dengan sendirinya membuat kita kehilangan kemuliaan Allah. Semua manusia gagal mencapai standar kebenaran yang sempurna dari Tuhan. Ganjaran dari ini semua jelas, kita seharusnya binasa dengan mengenaskan. Tapi lihatlah bagaimana Tuhan mengasihi kita. Meski semuanya salah kita, Tuhan tidak menginginkan kita berakhir seperti itu. Lalu Injil mengatakan "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16). Atau lihat pula Firman Tuhan lewat Petrus: "Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh." (1 Petrus 3:18). Kasih yang begitu besar sanggup menggerakkan Tuhan untuk menebus kita, bahkan dengan mengorbankan AnakNya yang tunggal sekalipun. "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat." (1 Petrus 1:18-19).

Cerita keselamatan ini bukan lagi hal yang baru bagi kita. Tetapi tentu tidak cukup jika kita hanya mengetahui karya Tuhan yang agung kini tanpa mau mulai berbuat sesuatu untuk menanggapi dan melakukannya secara pribadi, yang berasal dari keputusan kita sendiri. Alkitab berkata: "Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya." (Yohanes 1:12). Apa yang diberikan Tuhan ini adalah sebuah kasih karunia yang begitu luar biasa besarnya. Dari orang berdosa, yang gagal mencapai standar kelayakan bagi Tuhan, ternyata kita malah diberikan kuasa untuk menjadi anak-anak Allah dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi kita. Tidakkah itu seharusnya mampu menggerakkan hati kita untuk bersyukur dan memutuskan untuk menghargai segala kebaikan Tuhan yang luar biasa itu sepenuhnya?

Firman Tuhan juga berkata "Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup." (1 Yohanes 5:12). Ini sebuah jaminan yang diberikan Tuhan kepada kita lewat Kristus. Dengan menerima Kristus, Dia dengan sendirinya telah masuk ke dalam hidup kita, dan dengan demikian kita pun dianugerahkan hidup yang kekal. "Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia." (Yohanes 14:6-7). Hanya lewat Kristus kita bisa datang kepada Bapa. Hanya lewat Dia kita memperoleh jalan dan kebenaran dan hidup. Hanya lewat Dia kita diselamatkan, dan hanya lewat Dia pula kita bisa mengenal Bapa, bahkan dikatakan telah melihatNya. Sebuah anugerah yang sungguh besar yang alangkah keterlaluan jika kita sia-siakan.

Sudahkah kita menanggapi dengan benar dari apa yang diberikan Tuhan kepada kita? Lewat Kristus kita memperoleh keselamatan kekal dan diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Sudahkah kita benar-benar menyadari hal itu? Sudahkah kita menanggapi terang rohani yang telah diberikan Allah kepada kita, dan sudahkah kita menyalurkan terang itu kepada orang-orang di sekitar kita seperti apa yang diperintahkan Tuhan? Mendengar Firman Tuhan itu baik, tetapi alangkah sia-sianya apabila kita tidak menghidupinya. Jangan-jangan kita masih menjadi pendengar yang baik, namun perilaku, tindakan, pikiran dan perbuatan kita sama sekali tidak mencerminkan apa yang telah kita dengar. "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri." (Yakobus 1:22). Patuh terhadap nasihat orang tua merupakan sebuah keharusan demi kebaikan kita sendiri, patuh terhadap Tuhan tentu jauh lebih penting lagi. Hari ini mari kita sama-sama hidup dengan kebenaran firman Tuhan, menjadi pelaku-pelaku firman, menyesuaikan perilaku kita dengan apa yang kita baca atau dengar dari semua tulisan yang diilhamkan Tuhan sendiri yang tercatat dalam Alkitab. Hiduplah sebagai anak-anak Terang, berfungsilah sebagai terang dan garam dunia, dan tetaplah hidup dengan iman teguh akan Yesus,Tuhan dan Juru Selamat kita. Jangan biarkan anugerah luar biasa besar ini menguap sia-sia akibat kebandelan kita.

Lewat Kristus kita memperoleh keselamatan kekal dan diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah

Friday, October 22, 2010

Aku Melangkah Lagi

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yosua 1:3
=================
"Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa."

melangkahSebuah lagu lawas kembali saya dengar lewat radio ketika berada dalam perjalanan menuju tempat kerja saya hari ini, "Aku Melangkah Lagi." Lagu yang dinyanyikan Vina Panduwinata ini  bercerita tentang orang yang baru saja kembali menemukan semangatnya untuk memulai hidup baru setelah melewati kegagalan dalam hubungan cinta. Bagi saya lagu ini punya makna lebih dari sekedar hubungan percintaan dan akan cukup baik untuk memberikan motivasi, karena pada kenyataannya ada begitu banyak orang yang tidak bisa menemukan ritme hidup mereka kembali untuk memulai langkah baru setelah mengalami kegagalan akan sesuatu hal. Apakah itu dalam hubungan cinta, pekerjaan/karir, pendidikan dan berbagai sisi kehidupan lainnya, seringkali sulit bagi kita untuk kembali bangkit setelah jatuh. Ada banyak orang yang kemudian mengalami trauma dan tidak lagi berani untuk mengambil langkah awal yang baru. Di sisi lain, ada banyak pula orang yang tidak kunjung berhasil bukan karena mereka kurang pintar, bukan pula karena mereka miskin ide, melainkan karena ketidak beranian dalam mengambil langkah. Ide-ide brilian bisa banyak, namun hanya sedikit yang berani melangkah untuk melakukannya. Kebanyakan orang akan berhenti sebatas wacana dan akan terpengaruh oleh keraguan apakah bisa berhasil atau tidak, apakah mereka sanggup atau tidak. Tapi hari ini dengarlah, Tuhan tidak menghendaki kita berhenti. Tuhan tidak mau kita menyerah. Dia mau kita terus melangkah agar kita bisa menerima penggenapan janjiNya.

Betapa seringnya kita diliputi keraguan akan kemampuan kita ketika kita mendapatkan sebuah ide baik. Memperhitungkan segalanya dengan cermat sebelum memulai sesuatu memang penting. Tetapi kita tidak akan pernah bisa mencapai kesuksesan tanpa dibarengi oleh keberanian untuk melangkah. semua orang memiliki ide, tapi hanya yang berani melangkah-lah yang akan berhasil. Apa gunanya ide yang paling bagus sekalipun jika kita tidak melakukan apapun untuk merealisasikannya? Bagi yang mengalami kegagalan, bagaimana mungkin mereka bisa kembali bangkit jika bangun saja tidak mau lagi? Melangkah merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan kita, termasuk dalam hubungannya dengan penggenapan janji Tuhan.

Ketika Musa meninggal, tugas Musa kemudian dibebankan kepada Yosua. Ia harus melanjutkan tugas berat untuk membawa bangsa Israel memasuki tanah yang dijanjikan Tuhan bagi mereka. Ini bukan tugas yang mudah. Yosua sudah mengikuti Musa dalam statusnya terdahulu sebagai seorang hamba. Oleh karena itu pastilah ia sudah mengenal betul bagaimana perangai dan perilaku bangsa Israel yang tegar tengkuk dan mudah bersungut-sungut itu. Tidak heran jika Yosua sempat merasa gentar membayangkan tugas yang harus diembannya. Perhatikan pesan pertama yang diberikan Tuhan kepadanya. "Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa." (Yosua 1:3). Tuhan kemudian melanjutkan: "Dari padang gurun dan gunung Libanon yang sebelah sana itu sampai ke sungai besar, yakni sungai Efrat, seluruh tanah orang Het, sampai ke Laut Besar di sebelah matahari terbenam, semuanya itu akan menjadi daerahmu." (ay 4). Hal ini adalah pengulangan janji Tuhan kepada Musa  yang berbunyi "Setiap tempat yang diinjak oleh telapak kakimu, kamulah yang akan memilikinya: mulai dari padang gurun sampai gunung Libanon, dan dari sungai itu, yakni sungai Efrat, sampai laut sebelah barat, akan menjadi daerahmu." (Ulangan 11:24). Janji Tuhan sungguh besar. Apa yang berhak untuk dimiliki bangsa Israel harganya tidak main-main. Tetapi Tuhan tidak mau memberikan itu semua dengan instan, karena itu tidak akan mendidik sama sekali. Apa yang Tuhan mau adalah kerelaan atau keberanian untuk mengambil langkah terlebih dahulu. Dia sudah menyiapkan semuanya di depan sana, tapi maukah mereka untuk melangkah maju agar bisa memperolehnya? Kepada Yosua Tuhan berpesan akan hal itu, kepada bangsa Israel pun sama. Mereka terlebih dahulu harus berani maju merebut wilayah demi wilayah meski dengan kekuatan yang mungkin jauh di bandingkan dengan laskar di daerah yang hendak direbut. Tapi bukan kekuatan mereka sebenarnya yang diandalkan, melainkan kekuatan Tuhan. Bahkan FirmanNya berkata "sebab yang berperang untuk orang Israel adalah Tuhan." (Yosua 10:42). Artinya, apa yang dituntut dari bangsa Israel hanyalah kemauan mereka untuk melangkah, dan mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah yang mereka tempuh.

Kembali kepada Yosua, apa yang dijanjikan Tuhan seharusnya sudah ia ketahui terlebih dahulu ketika janji itu diberikan kepada Musa. Tetapi bayangan akan tingginya tingkat kesulitan yang akan ia hadapi tak pelak membuat dirinya gentar. Maka Tuhan pun merasa perlu untuk meneguhkannya bukan hanya sekali, bahkan sampai tiga kali. "Kuatkan dan teguhkan hatimu.." diulang sebanyak tiga kali agar Yosua mampu benar-benar mencernanya. Yosua tidak perlu takut, sebab Tuhan tidak akan membiarkannya sendirian menghadapi bangsa yang bandelnya luar biasa ini. "Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi." (ay 9b).

Ada banyak contoh dicatat dalam Alkitab mengenai pencapaian luar biasa akan janji Tuhan yang diawali dengan keberanian untuk mengambil langkah. Kita bisa melihat perintah Tuhan kepada Abraham (waktu itu masih dikenal dengan nama Abram) pada awalnya. "Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu." (Kejadian 12:1). Hidup sedang baik-baik saja, tetapi ia dan keluarga diminta untuk pergi meninggalkan semua kenyamanan dan pergi ke sebuah tempat yang belum pernah ia ketahui sebelumnya, yang pasti penuh dengan ketidakpastian bagi pikiran manusia. Abraham bisa menolaknya, namun ia memilih taat. Ia memilih untuk mau melangkah, dan itulah awal dari kisah Abraham yang sudah sangat kita kenal. Apabila ia tidak mau melangkah, mungkin kisahnya akan lain. Nuh juga mengambil langkah untuk melakukan apa yang diperintahkan Tuhan dalam proses pembuatan kapal dan mengangkut segala jenis hewan sepasang-sepasang. Simon Petrus mau kembali masuk, bertolak ke dalam seperti yang diperintahkan Yesus, meski sudah semalaman ia disana gagal untuk mendapatkan seekor ikan pun. Ada banyak contoh lain mengenai keinginan Tuhan kepada kita agar mau melangkah agar mampu mencapai semua janji Tuhan yang telah Dia sediakan di depan kita.

Keberanian untuk mulai melangkah demi mencapai tujuan, atau menemukan kembali semangat untuk bangkit dari keterpurukan adalah sama pentingnya. untuk berani melangkah dibutuhkan keberanian, keteguhan hati dan semangat yang kuat, serta kerelaan untuk meninggalkan zona kenyamanan kita. Tetapi ingatlah bahwa melangkah itu bukan sekedar maju tanpa pertimbangan atau persiapan apapun. Kita tetap butuh untuk menyusun strategi dan memikirkan secara cermat terlebih dahulu sebelum kita mulai mengambil langkah. Dan jangan lupa pula bahwa kita harus memastikan bahwa kita sudah selaras dengan Tuhan, sesuai apa yang menjadi kehendakNya dan bukan kehendak kita. Sebab FirmanNya berkata "Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati." (Amsal 21:2). Jika demikian, melangkahlah dengan pertimbangan yang baik dan tetap peka mendengarkan suara Tuhan. Apabila kita sudah memikirkan masak-masak dan membuat persiapan yang baik, termasuk pula terus memeriksa hati dan pandangan kita agar sesuai dengan kehendak Tuhan, tidak ada lagi yang perlu kita takutkan untuk berani mengambil sebuah langkah awal menuju kesuksesan. Pola pemikiran seperti ini sungguh penting untuk kita ingat, seperti halnya Daud mengimaninya. "kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?" (Mazmur 56:12). Ketahuilah ada begitu banyak janji dan berkat Tuhan sedang menanti anda di depan, dan semua itu tidak akan pernah bisa kita capai apabila kita tidak kunjung berani melangkah. Anda siap? Mulailah melangkah seperti apa yang diperintahkan Tuhan dan dapatkan penggenapan janjiNya.

Beranilah melangkah karena Tuhan sudah berjanji untuk selalu beserta kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, October 21, 2010

Mengorbankan Penampilan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Filipi 2:6,7
=======================
"yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia."

mengorbankan penampilanAda beberapa aktor dan aktris serius yang rela mengorbankan ketampanan dan kecantikannya demi sebuah peran yang mereka mainkan. Ambil contoh bagaimana Robert deNiro menggemukkan dirinya dalam film untuk memerankan tokoh petinju dalam film "Raging Bull" tahun 1980. Sylvester Stallone pernah melakukan hal yang sama untuk film "F.I.S.T." Christian Bale menguruskan dirinya secara drastis hingga membahayakan kesehatannya demi peran dalam film "The Machinist". Akrtis Charlize Theron rela membuat dirinya terlihat jelek untuk memerankan tokoh dalam film "Monster." Ini adalah beberapa contoh dari keseriusan aktor dan aktris dalam memerankan karakter mereka. Ketika sebagian besar artis ingin terlihat cantik dan tampil glamor, mereka rela mengorbankan itu semua demi peran. Bisa jadi mereka akan ditertawakan orang yang berpapasan dengan mereka, tapi itu tidak mereka pedulikan. Bagi para pemeran film ini, pencapaian atau hasil yang bisa mereka raih jauh lebih penting ketimbang hanya sekedar terlihat indah secara fisik saja.

Yesus pun melakukannya demi sebuah tujuan yang jauh lebih penting dari tujuan apapun yang mendasari ke-empat contoh pemain film di atas. Dia turun ke dunia untuk menggenapi tugas yang diberikan Bapa kepadaNya, yaitu untuk menyelamatkan umat manusia dari kebinasaan yang kekal. Kasih yang begitu besar ternyata mampu menggerakkan hati Allah untuk menyelamatkan manusia, sebuah anugerah yang diberikan justru ketika kita masih berdosa. "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih  berdosa." (Roma 5:8). Yesus pun turun ke dunia dalam misi penyelamatan itu. Untuk melakukannya jelas tidak mudah. Yesus harus melewati beragam penyiksaan hingga harus mati di atas kayu salib menggantikan kita semua dan kemudian dengan gemilang mengalahkan maut. Dia cukup melakukannya satu kali, dan keselamatan atas diri kita pun berlaku untuk selama-lamaNya, dari satu generasi ke generasi selanjutnya. "Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah." (6:10). Tapi sebelum sampai kepada penggenapan atau penyelesaian misi itu, sejak semula Yesus sudah rela mengorbankan segalanya atas dasar kasih yang begitu besar bagi manusia. Dia rela mengorbankan diriNya, hakNya, statusNya, tahtaNya untuk kita semua.

Yesus hadir di dunia bukan dalam status sebenarnya sebagai Raja di atas segala raja. Dia "datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Matius 20:28). Untuk melakukan itu Yesus tidak memerlukan kondisi fisik yang super ganteng, gagah, tegap, memakai jubah raja termewah. Yesus tidak meminta fasilitas termegah yang bisa disediakan di bumi ini. Dia tidak butuh red carpet, hotel bintang 5, kereta kuda lux dan sebagainya. Lihatlah bagaimana bentuk jiwa Yesus, "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia." (Filipi 2:6-7). Meski Yesus seharusnya berada dalam rupa dan kesetaraan dengan Allah, namun Dia memilih untuk meninggalkan itu semua demi kita. Yesus memilih untuk mengosongkan diriNya, mengambil rupa bukan orang tergagah atau terganteng yang pernah ada. Yesus justru mengambil rupa seorang hamba, menjadikan diriNya sama dengan manusia biasa. Ketika dunia mementingkan penampilan, Yesus menunjukkan jiwa sebaliknya. Selanjutnya dikatakan "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (ay 8). Bayangkan Raja di atas segala raja mau berkorban sampai sedemikian rupa demi kita.

Jauh sebelum kedatangan Kristus, nabi Yesaya secara rinci sudah menubuatkan bagaimana Yesus akan datang dan apa yang harus dialamiNya demi menyelamatkan kita. Bacalah dengan lengkap Yesaya 52:13-53:12 yang dengan jelas menggambarkan semuanya. "Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah." (Yesaya 53:2-4).

Seorang manusia biasa saja yang mau mengorbankan penampilannya demi sebuah kepentingan sudah bisa membuat kita kagum, sekarang bayangkan seorang Raja di atas raja manapun mau meninggalkan tahtaNya, mengambil rupa seorang hamba yang sama sekali tidak memiliki rupa menarik, menjadikan dirinya sama seperti kita, datang untuk melayani dan melakukan segalanya demi keselamatan kita. Bukankah itu suatu perbuatan yang teramat sangat besar? Tuhan tidak berhutang pada kita. Kita terus berbuat dosa menyakiti hatiNya, tetapi kasih yang Dia miliki sungguh besar hingga mampu menggerakkanNya untuk melakukan sesuatu yang begitu hebat, menanggung semua penderitaan, mengorbankan diriNya sendiri habis-habisan  demi kita. Sulit dipercaya ketika Tuhan rela mengorbankan anakNya sendiri untuk menebus kita, mengeluarkan kita dari dosa dan meletakkan kita dalam keselamatan. Ketika ada godaan dosa yang membuat kita mulai goyah, ingatlah akan hal ini. Hargailah semua yang telah dilakukan Yesus bagi kita, jangan sia-siakan pengorbananNya yang begitu besar. Kepada kita semua sudah diberikan keselamatan sebagai hasil dari kasih karunia, jangan biarkan keselamatan itu menguap dari diri kita. Saatnya bagi kita untuk merenungkan betapa luar biasa kasih Kristus kepada kita.

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, October 20, 2010

Moral Manusia Akhir Zaman

webmaster | 8:00:00 AM | 3 Comments so far
Ayat bacaan: Efesus 4:2
=================
"Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu."

manusia akhir zaman, kasih"Ini Medan, bung!" adalah sebuah ungkapan yang menunjukkan betapa kerasnya kehidupan di ibukota Sumatera Utara itu. Udara yang panas cenderung membuat orang akan mudah terbakar emosi, sehingga memang tidak mudah untuk berlalu-lintas disana bagi pendatang. Kita pun tahu cuplikan sebuah lagu yang kemudian dijadikan "branding" untuk sebuah bentuk kehidupan serba sulit di ibukota Jakarta. "Siapa suruh datang Jakarta", demikian bunyinya. Sementara banyak orang mendambakan kehidupan yang lebih layak dengan datang ke ibukota, tetapi ternyata tingkat kesulitan yang tinggi dan semakin tidak pedulinya orang terhadap sesamanya membuat perjuangan disana kerap menghasilkan air mata bagi orang-orang yang hendak mencoba mencari penghidupan lebih baik ketimbang di daerahnya sendiri. "Kejamnya ibu tiri tak sekejam ibu kota", demikian bunyi salah satu ungkapan lainnya. Ada pula sebuah kota di Indonesia yang bertindak begitu kejam kepada sesama saudaranya, sesama warga negara sendiri. Aneh memang ketika saudara sebangsa justru tertolak di negerinya sendiri, tetapi begitulah gambaran kehidupan di zaman akhir ini. Orang akan rela berbuat apa saja demi kepentingan diri sendiri, bahkan jika harus, mengapa tidak mengorbankan orang lain? Dan gambaran zaman akhir seperti ini sebenarnya sudah ditulis ribuan tahun yang lalu di dalam Alkitab.

Tuhan sudah mewahyukan lewat Paulus mengenai hal ini. "Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar." (2 Timotius 3:1). Hari-hari yang sukar. Mungkin bagi kita itu mengacu kepada bencana kelaparan, krisis ekonomi, bencana alam dan sebagainya. Itu memang kita alami sekarang, dan tidak jarang hal-hal itu memang meresahkan kita. Tetapi apa yang dimaksud sebagai masa yang sukar sebenarnya lebih mengacu kepada krisis moral di kalangan manusia di zaman akhir. Sebab Paulus melanjutkan kalimat di atas dengan serangkaian  contoh mengenai degradasi moral yang begitu parah yang akan (atau sudah) mewarnai kehidupan manusia secara panjang lebar. "Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah." (ay 2-4). Perhatikanlah moral manusia hari ini. Bukankah wahyu di atas sudah digenapi? Semakin hari semakin banyak saja orang-orang yang bertingkah laku seperti apa yang dirinci oleh Paulus di atas. "Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya." (ay 5a). Inipun sudah umum bagi kita. Orang akan lebih cenderung mementingkan tata cara, tradisi, adat  dan kebiasaan-kebiasaan secara fisik ketimbang membangun sebuah hubungan yang mesra dengan Penciptanya. Dan Paulus mengingatkan kita agar tidak terjerumus ke dalam pola kehidupan dunia seperti itu. Secara tegas Paulus mengatakan: "Jauhilah mereka itu!" (ay 5b).

Sikap egois dan individualisme sungguh mewarnai kehidupan manusia hari ini. Berapa banyak di antara kita yang mengenal baik tetangga kita sendiri? Bahkan sekedar mengetahui nama saja sudah tidak banyak yang peduli, terutama untuk yang tinggal di kota besar. Jika namanya saja kita sudah tidak peduli, bagaimana mungkin kita tergerak untuk membantu mereka? Tahu sedang bermasalah saja mungkin tidak. Sementara yang digariskan kepada kita tidaklah mudah. Menjadi terang dan garam, dan mewartakan kabar keselamatan hingga ke seluruh penjuru bumi. Jika di lingkungan terdekat saja kita sudah tidak peduli, bagaimana mungkin kita bisa untuk skala yang jauh lebih besar? Ada begitu banyak orang yang akhirnya mati dalam penderitaannya karena tidak ada satupun sesamanya manusia yang tergerak untuk melakukan sesuatu bagi mereka. Kecenderungan manusia di akhir zaman memang demikian. Tidak ada lagi tali kasih, tidak ada lagi kepedulian sosial, tidak ada lagi rasa empati untuk merasakan kesedihan orang lain. Tetapi anak-anak Tuhan seharusnya tidak boleh ikut-ikutan bertindak demikian. Panggilan bagi kita sudah digariskan Kristus sejak semula, dan semua itu sangatlah berbanding terbalik dengan karakter negatif orang-orang akhir zaman seperti yang digambarkan Paulus.

Pesan penting mengenai kewajiban kita untuk membantu sesama tercatat begitu banyak di dalam Alkitab. Tidak sekalipun Alkitab mengajarkan kita untuk bersikap egois. Bahkan kita diwajibkan untuk membantu siapapun tanpa pandang bulu, tanpa terkecuali, bukan hanya untuk kalangan kita saja, bukan pula hanya terbatas untuk saudara seiman saja. Lihatlah betapa pentingnya sikap saling bantu ini di mata Tuhan. "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6:2) Begitu pentingnya sehingga dikatakan bahwa dengan melakukannya itu artinya kita memenuhi hukum Kristus mengenai kasih. Jika demikian, bagaimana mungkin kita mengaku sebagai orang percaya apabila kita sama sekali tidak peduli kepada sesama kita? Bagaimana mungkin kita mengaku sebagai murid Kristus apabila kita tidak mencerminkan sama sekali pribadiNya dalam kehidupan kita sehari-hari?

Kasih merupakan hukum yang terutama dalam kekristenan. Ini menjadi hal yang paling esensi untuk kita miliki dalam bermasyarakat. Adalah percuma bagi kita untuk rajin beribadah tetapi di sisi lain kita tidak menunjukkan kepedulian dalam kasih terhadap sesama kita. Firman Tuhan secara jelas berkata "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:8). Ketika pola kecenderungan moral manusia akan mengarah kepada sikap semakin sombong, tidak tahu berterimakasih, mudah terbakar amarah, kasar dan hal-hal negatif lainnya, bagi kita diingatkan untuk bersikap seperti ini: "Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut dan sabar." (Efesus 4:2a). Hidup yang didasari kasih akan melahirkan sikap yang berbeda dengan arus dunia. Karena itu kita seharusnya menyatakan kasih kita kepada sesama semampu kita, dan itu bisa kita lakukan dalam hal kepedulian kita. "Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu." (ay 2b).

Tuhan Yesus telah memberikan keteladanan secara langsung bagaimana kita seharusnya menjalani hidup ketika kita dikuasai dan digerakkan oleh kasih. Sepanjang perjalanan hidupNya di muka bumi ini Yesus terus menunjukkan empatinya terhadap penderitaan manusia. Dia terus tergerak oleh rasa belas kasihan dan menolong siapapun tanpa pandang bulu. Bahkan Dia rela disiksa hingga mati di atas kayu salib untuk menggantikan kita yang seharusnya layak menerima itu. Keselamatan bagi seluruh umat manusia, itupun lahir dari kasih yang begitu besar dari Allah kepada manusia ciptaanNya. Jika Tuhan adalah kasih, dan Dia menyatakan kasihnya secara luar biasa bagi kita, dan kita mengaku sebagai anak-anakNya, maka sudah seharusnya kitapun mencerminkan sebuah sikap yang sama pula.

Di saat orang-orang semakin tidak peduli terhadap sesamanya di akhir zaman, ini kesempatan bagi kita untuk menunjukkan sebuah sikap berbeda ketika kasih Kristus menguasai dan menggerakkan diri kita. Sebuah kasih yang mendasari perbuatan kita untuk menolong orang lain, siapapun mereka, bukan saja akan menjadi berkat tersendiri bagi mereka, tapi itu juga akan membuat kita dihitung sedang melakukan sesuatu untuk Tuhan. "sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40). Perhatikan di sekeliling anda, sudahkah anda peduli dengan permasalahan mereka hari ini? Mengapa tidak mulai dari sekarang untuk melakukan sesuatu?

Pandanglah sesama dengan kacamata kasih sebagaimana Tuhan memandang kita

Tuesday, October 19, 2010

Hati Nurani

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 23:1
===========================
"Sambil menatap anggota-anggota Mahkamah Agama, Paulus berkata: "Hai saudara-saudaraku, sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah."

hati nuraniPernahkah anda berpikir betapa enaknya jika ada alarm yang bisa berbunyi nyaring tepat sebelum kita melakukan sebuah kesalahan? Teman saya kemarin mengatakan hal itu sambil tertawa. Betapa sulit katanya untuk selalu ingat mana yang baik dan tidak, selalu saja ada godaan untuk lupa terhadap garis batas yang telah ditetapkan Tuhan dalam hidup ini. Ketika sesuatu terlihat nikmat, maka sikap memberi toleransi terhadap dosa pun bisa kita berikan dengan luwes. Oleh karena itulah teman saya berkata bahwa hidup pasti jauh lebih mudah apabila ada alarm yang akan berbunyi nyaring apabila kita mulai berpikir untuk berbuat dosa. Apakah memang tidak ada? Sebenarnya ada. Selain Roh Kudus yang akan selalu mengingatkan kita dalam setiap langkah, selain pagar Firman Tuhan yang akan berfungsi banyak untuk membantu kita menjaga batas-batas perjalanan agar tetap berada dalam koridor yang benar, Tuhan pun sebenarnya telah memberikan sesuatu dalam diri kita yang bisa berfungsi sebagai alarm awal untuk menghindari dosa, sesuatu yang Dia beri dalam hati kita. Kita mengenalnya dengan sebutan hati nurani.


Hati nurani dipercaya banyak orang sebagai wujud bisikan Tuhan untuk memperingatkan kita ketika kita mulai berpikir untuk melakukan perbuatan yang tidak baik.Ada kalanya ketika kita berpikir untuk berbuat sedikit salah itu tidak apa-apa, kita mulai dicekam rasa gelisah, tidak tenang dalam diri kita. Itulah bentuk suara hati nurani yang mengingatkan kita seperti sebuah alarm yang akan membuat kita tersadar akan kesalahan yang hendak atau sudah kita lakukan. Seperti halnya alarm, hati nurani ini pun harus diaktifkan, karena jika kita terus mengabaikannya pada suatu ketika hati nurani akan kehilangan fungsinya. Dan jika ini terjadi, inilah awal dari datangnya dosa-dosa dengan eskalasi meningkat hingga kita tidak lagi merasakan apapun ketika melakukan perbuatan yang salah. Semua dosa menjadi biasa saja, kita menjadi kebal terhadap "cubitan" yang diberikan oleh teguran lewat hati nurani.

Pada suatu ketika Paulus ditangkap dan dihadapkan ke depan Mahkamah Agama karena keberaniannya untuk terus secara frontal mewartakan berita keselamatan dari Kerajaan Allah. Dalam Kisah Para Rasul 22 kita membaca kisah penangkapan yang hampir saja membuahkan hukuman cambuk atau sesah atas diri Paulus. Ketika ia dihadapkan ke depan Mahkamah Agama, ternyata keberanian Paulus tidak surut sedikitpun. "Sambil menatap anggota-anggota Mahkamah Agama, Paulus berkata: "Hai saudara-saudaraku, sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah." (Kisah Para Rasul 23:1). Paulus memilih untuk mendengar , mematuhi dan melakukan apa yang ia dengar dari hati nuraninya yang murni. Ia tahu bahwa Tuhan akan terus berbicara melalui hati nurani di dalam dirinya, dan ia memilih untuk mengikuti bukan mengabaikannya, walau apapun yang terjadi. Dengan tegas pun Paulus menyatakannya di depan para penuduhnya. Apa yang ia katakan membuahkan sebuah tamparan keras ke mulutnya (ay 2), namun Paulus tidak bergeming. Ia malah dengan lantang berkata "Allah akan menampar engkau, hai tembok yang dikapur putih-putih! Engkau duduk di sini untuk menghakimi aku menurut hukum Taurat, namun engkau melanggar hukum Taurat oleh perintahmu untuk menampar aku." (ay 3). Pada akhirnya kita bisa melihat bagaimana hati nurani para orang Farisi dan Saduki disana saling menghakimi diri mereka. Mereka pun mulai bertengkar karena ada yang merasakan suara hati nurani mereka mengatakan bahwa Paulus tidak bersalah tetapi sebagian lagi ternyata mengabaikan seruan itu. Kisah ini memberi gambaran bagaimana hati nurani bekerja, lalu tergantung kita untuk menyikapinya, apakah kita mau mendengar atatu tidak.

Dalam kisah "Perempuan yang berzinah" (Yohanes 8:1-11) yang terkenal kita bisa melihat bagaimana Yesus menegur manusia lewat ketukan pada hati nurani. Pada saat itu para ahli Taurat dan orang Farisi mencobai Yesus dengan membawa seorang wanita yang kedapatan berzinah ke hadapanNya. Hukum Taurat dengan tegas memerintahkan untuk menghukum lewat rajam, sedangkan mereka tahu bahwa Yesus adalah Pribadi yang selalu mengasihi dan mengampuni. Mereka berharap ada sesuatu yang bisa dijadikan alasan untuk menyalahkan Yesus. (ay 6). Tapi apa reaksi Yesus? "Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." (ay 7). Yesus memberi sebuah reaksi yang langsung mengetuk pintu hati nurani masing-masing orang hanya dengan satu kalimat saja. Dan yang terjadi setelahnya, semua orang itu akhirnya beranjak pergi meninggalkan wanita yang berzinah itu.

Dalam Kitab Roma Paulus menulis "Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela." (Roma 2:15). Hati nurani sesungguhnya merupakan anugerah yang diberikan Tuhan secara langsung untuk membekali setiap manusia dalam penciptaanNya. Semua manusia memiliki hati nurani, yang kerap dipakai Tuhan untuk berbicara kepada kita. Tidak satupun orang yang hidup tanpa hati nurani, kecuali apabila kita tiba-tiba menjadi robot atau patung tanpa jiwa dan roh. Tuhan akan terus berbicara melalui media hati nurani ini, namun semua tergantung kita, apakah kita mau mendengarkan atau memilih untuk mengabaikannya. Hati nurani bisa menegur dan bahkan membuat kita merasa sebagai tertuduh apabila apa yang kita lakukan memang bertentangan dengan kebenaran.

Hati nurani adalah salah satu media yang kerap dipergunakan Tuhan untuk mengingatkan, menegur dan membimbing kita dalam menjalani hidup. Hati nurani hanya akan memiliki fungsi apabila hati kita mengarah atau memandang kepada Tuhan. Hati nurani hanya akan berfungsi baik apabila dituntun oleh Roh Kudus. Dan jangan lupa pula untuk melatih diri kita agar terus mau mendengar hati nurani yang berjalan dengan kebenaran dan damai sejahtera dengan pimpinan Roh Kudus ini. Ingatlah bahwa pilihan ada di tangan kita. Tuhan tidak pernah pilih-pilih dalam mengingatkan kita, karena apa yang Dia rindukan adalah keselamatan semua manusia ciptaanNya tanpa terkecuali. Jika ada di antara teman-teman yang saat ini sedang mengalami konflik, sedang bertentangan dengan hati nurani anda sendiri akibat sesuatu, sedang merasa gelisah, cemas atau merasa tertuduh, berdoalah dan mintalah Roh Kudus untuk menerangi hati anda. Ingatlah bahwa Firman Tuhan berkata: "Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya." (Amsal 20:27). Ada Tuhan yang mau bertindak sebagai bola lampu atau penerangan yang akan mampu menyinari hati kita melalui roh kita. Dan jangan lupa pula untuk menjaga hati kita agar tetap seturut kehendak Allah, karena dari situlah sebenarnya terpancar kehidupan. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Anda butuh sebuah alarm untuk mengingatkan anda ketika sedang digoda oleh dosa? Anda mendapatkannya lewat hati nurani. Biarkan terang Tuhan memancar terang dalam hati anda, biarkan Roh Kudus menguasai hati anda dan peka-lah terhadap suara Tuhan lewat hati nurani anda.

Hati nurani merupakan bekal dari Tuhan yang akan sangat membantu kita untuk bisa tetap berjalan dalam koridor yang benar

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, October 18, 2010

Lampu Tuhan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Amsal 20:27
=====================
"Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya."

lampu Tuhan, pelitaSalah satu penemuan terbesar bagi saya adalah bola lampu dan listrik. Bayangkan bagaimana hidup tanpa kedua unsur ini, terutama bagi orang seperti saya yang menghabiskan sebagian besar waktu dengan perangkat-perangkat elektronik dalam pekerjaan saya sehari-hari. Betapa terbantunya kita untuk bekerja di malam hari dengan adanya lampu. Tanpa adanya penerangan seperti ini tentu akan sangat sulit bagi kita untuk melakukan pekerjaan di saat tidak ada cahaya matahari lagi untuk membantu kita melihat dalam terang. Karena itulah saya sangat bersyukur kepada kegigihan seorang penemu bernama Thomas Alva Edison. Baik sadar atau tidak, kita harus mengakui betapa tergantungnya kita pada lampu dalam kehidupan sehari-hari.

Tuhan sendiri sangat menganggap penting arti sebuah terang, yang akan memisahkan kita dari kegelapan. Jika kita melihat kepada proses penciptaan mula-mula dalam kitab Kejadian, kita akan melihat bahwa Tuhan segera menciptakan terang sesaat setelah Dia menciptakan langit dan bumi. "Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi." (Kejadian 1:3). Bagaimana Allah menilai terang? "Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap." (ay 4). Terang itu penting, namun biar bagaimanapun dalam hidup ini kita akan tetap bertemu dengan yang namanya gelap. Baik gelap secara fisik dalam artian tidak ada cahaya di sekitar kita dalam kehidupan nyata, atau ketika kita berada dalam kegelapan secara spiritual. Ada kalanya kita diselubungi oleh kegelapan sehingga sulit bagi kita untuk mampu melihat apakah perbuatan atau keputusan kita sudah benar atau tidak. Sama halnya ketika kegelapan membuat kita tidak bisa melihat benda-benda atau lingkungan di sekitar kita, demikian pula ketika kegelapan menyelubungi hati kita, kita pun tidak akan bisa melihat apa yang bisa menjadi konsekuensi dari keputusan atau tindakan yang kita ambil.

Tuhan menganggap penting adanya terang, baik di dunia maupun dalam hati kita. Firman Tuhan berkata: "Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya." (Amsal 20:27). Pelita Tuhan. Atau bisa pula kita katakan lampu Tuhan. Jika kita analogikan dengan sumber terang yang kita peroleh dalam kehidupan sehari-hari secara modern maka kita bisa pula mengatakannya seperti ini: Roh manusia adalah bola lampu Tuhan. Apa yang dimaksudkan dengan bola lampu Tuhan? Ayat ini berbicara mengenai bagaimana Tuhan bisa berfungsi sebagai sumber terang bagi kita, yang bisa menerangi dan membimbing kita secara roh, melalui roh kita. Dari sinilah kita akan bisa mendapat sorotan dengan jelas mengenai segala sesuatu yang sedang terjadi di dalam lubuk hati atau batin kita. Ada banyak orang termasuk anak-anak Tuhan sekalipun yang akan lebih tertarik untuk mencari petunjuk dengan jalan atau cara duniawi, meski Tuhan sudah menyatakan bahwa jalan terbaik yang kita tempuh seharusnya mengacu kepada petunjuk dan rencana yang telah Dia gariskan kepada setiap kita. Seharusnya kita mengikuti langkah demi langkah sesuai tuntunan Tuhan, namun Tuhan tidak memberikan itu lewat tubuh kita. Tuhan memilih untuk memberikan bimbingan kepada kita melalui hati kita, mental dan pikiran kita, secara roh. Dari Roh Allah kepada roh kita.

Oleh karena itu membiarkan roh kita dipimpin oleh Roh Allah merupakan esensi yang sangat penting untuk diperhatikan. Firman Tuhan berbicara jelas mengenai hal ini: "Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah." (Roma 8:14). Untuk mengalami pimpinan Roh Allah ini, Yesus mengatakan bahwa kita harus dilahirkan kembali dari Roh. "Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh." (Yohanes 3:6). Dan Yesus pun melanjutkan "Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali." (ay 7). Hanya dengan dilahirkan kembalilah kita akan mendapatkan kehidupan yang dipimpin oleh Roh, yang akan memungkinkan kita untuk bisa melihat Kerajaan Allah. (ay 3). Ketika kita mengalami kelahiran kembali maka kita bisa dipenuhi oleh Roh Kudus yang dianugerahkan Tuhan secara langsung untuk tinggal diam (dwell) dalam diri kita. Dilahirkan, dipenuhi dan dipimpin oleh Roh. Ini penting untuk kita miliki agar roh kita bisa diterangi oleh cahaya terang Allah.

Sebagaimana sulitnya kita hidup sehari-hari tanpa adanya terang, demikian pula akan sulit bagi kita untuk hidup tanpa adanya pelita dalam hati kita. Akan ada banyak hal yang mampu membuat kita terjerumus ke dalam gelap, menjauhkan kita dari Tuhan dengan segala berkat dan janjiNya. Kegelapan akan membuat kita tidak mampu untuk menilai sesuatu secara baik. Tuhan tahu itu, dan Dia siap untuk menjadi Penerang bagi kita, dan itu Dia lakukan secara roh, melalui roh kita. Sekarang semuanya tergantung kita, apakah kita memilih untuk terus berjalan dalam gelap atau kita mau menerangi roh kita dengan lampu Tuhan. Sudahkah anda menyalakan lampu roh anda hari ini?

Melalui roh kita diterangi cahaya Tuhan yang mampu membimbing kita agar terpisah dari kegelapan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, October 17, 2010

Mencari Kebahagiaan Sejati

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yesaya 48:18
======================
"Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti."

mencari kebahagiaan sejatiPernahkah anda merasa sangat kosong dalam diri anda sehingga anda tidak merasa bahagia meski secara umum anda sedang tidak menderita apa-apa? Seorang teman saya sedang mengalaminya. Lewat email ia bercerita bahwa meski ia sedang tidak mengalami masalah dalam kehidupannya, ia sedang merasakan kekosongan dalam dirinya yang membuatnya merasa tidak bahagia. Ia memiliki pekerjaan, penghasilannya cukup, punya mobil, punya tabungan, tetapi ternyata semua itu pada suatu ketika tidak sanggup membuatnya hidup bahagia. "Mungkin aku sedang jenuh, mungkin aku merasa kesepian, tetapi yang pasti aku tidak merasa bahagia." katanya. Banyak orang mungkin akan tertawa ketika mendengar hal itu, dan mungkin akan segera menganggap teman saya itu sebagai orang yang tidak bersyukur. Bukankah ia sudah memiliki banyak hal seperti pekerjaan, kehidupan, harta dan sebagainya, yang bagi sebagian orang masih merupakan impian untuk diraih? Tetapi apa yang ia alami bukanlah hal baru. Mungkin kita pun pernah mengalaminya.


Pola kehidupan dunia akan mengarahkan kita untuk mencari kebahagiaan lewat banyak hal. Secara fisik kebahagiaan dianggap mampu hadir dalam hidup kita apabila kita mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Semakin banyak semakin baik dan semakin puas. Bisa beli rumah, mobil mewah, buka usaha dimana-mana, punya modal untuk mempercantik diri, mampu membeli berbagai aksesoris dan mengikuti trend dunia, bisa membeli baju dan perlengkapan bermerek terkenal, memiliki gadget yang paling up to date, bisa liburan ke luar negeri kapan saja, dan sebagainya. Banyak orang yang percaya bahwa semua ini bisa mendatangkan kebahagiaan. Ada yang mengacu kepada sisi emosional untuk mencari kebahagiaan, dan mereka akan terus mencari pengakuan, pujian, penghargaan dan popularitas atau ketenaran. Mereka akan bersikap selalu ingin dihormati, ingin disanjung tinggi, dipuja dan dipuji. Berbagai hal yang dianggap mampu memberikan kebahagiaan atau sebentuk damai sejahtera di atas seringkali tidak mampu untuk menjawab kebutuhan kita akan sebuah kebahagiaan atau damai sejahtera. Mungkin untuk jangka waktu tertentu yang singkat hal-hal tersebut di atas bisa memberikan rasa puas dan senang, tapi tidak dalam waktu yang lama. Pada akhirnya kita akan sampai kepada kesimpulan bahwa semua itu tidak akan pernah cukup untuk membeli sebuah rasa yang selalu kita rindukan bernama kebahagiaan.

Saya teringat kepada sebuah kesimpulan dari seorang ahli matematika dan fisika ternama yang juga terkenal sebagai filsuf, Blaise Pascal. Kita mengetahui bahwa ada begitu banyak teorinya yang hingga hari ini masih menjadi dasar ilmu pengetahuan. Tapi justru dari Pascal keluar sebuah pernyataan yang sangat esensial mengenai kehidupan. Begini katanya: "There is a God shaped vacuum in the heart of every man which cannot be filled by any created thing, but only by God, the Creator, made known through Jesus." Ada sebuah rongga yang tidak akan pernah bisa diisi oleh siapapun atau apapun, kecuali oleh Tuhan, melalui Yesus. Saya percaya bahwa kesimpulan ini ia katakan lewat pengalamannya sebagai seorang ahli dalam ilmu pengetahuan. Setinggi-tingginya kita menguasai ilmu, sehebat-hebatnya kita sebagai manusia, sekaya-kayanya diri kita, sebuah rongga atau "God shaped vacuum" akan selalu ada di dalam diri kita yang tidak akan mampu dipenuhi oleh hal apapun selain oleh Tuhan sendiri.

Maka itu artinya kebahagiaan sejati hanyalah bisa kita peroleh secara rohani lewat hubungan kita dengan Tuhan. Ketaatan dan kedekatan terhadap Tuhan merupakan kunci penting disini. Dalam kitab Yesaya kita bisa membaca sebuah ayat yang secara jelas mengatakannya. "Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti." (Yesaya 48:18). Kebahagiaan bisa kita peroleh secara melimpah bagai gelombang laut yang tidak pernah berhenti apabila kita memperhatikan perintah-perintah Tuhan secara serius dan sungguh-sungguh. Ketaatan kita akan membuat Tuhan berada dekat dengan kita, di dalam diri kita, dan dengan demikian rongga kosong dalam hati kita itu pun akan terisi oleh satu-satunya Pribadi yang sanggup untuk itu. Mungkin kita bertanya, bagaimana bisa demikian? Jawabannya adalah, sebab Tuhan sendirilah yang merupakan sumber damai sejahtera. (Roma 15:33, 16:20).

Keinginan daging secara sekilas akan seolah mampu memberikan jawaban untuk pencarian kebahagiaan. Banyak orang akan begitu kerasnya berusaha untuk memuaskan keinginan dagingnya dan untuk mencapai itu bahkan rela mengorbankan hubungan dengan Tuhan. Mereka mencoba terus lebih dekat lagi kepada hal-hal duniawi yang dianggap mampu menjawab kebutuhan akan kebahagiaan itu, tetapi sesungguhnya lewat Roh-lah kita akan mampu memperolehnya. Bagi dunia keinginan daging dianggap mampu menjadi solusi, padahal Firman Tuhan berkata "Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera." (Roma 8:6). Dalam Galatia 5:22-23 pun kita bisa melihat bahwa damai sejahtera dan sukacita merupakan dua dari beberapa buah Roh. Rongga kosong dalam hati kita akan tetap ada selama kita mencoba mencari solusi yang tidak tepat, semua itu tidak akan mampu mengisi kekosongan kecuali Tuhan sendiri.

Yesus sudah mengingatkan bahwa "..Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus." (Roma 14:17). Bukan hanya fisik kita saja yang butuh diberi makan dan minum, tetapi jiwa dan roh kita pun butuh. Disitulah letaknya jawaban akan kebutuhan kita akan kebahagiaan ini, yang akan mampu memenuhi rongga kosong dalam hati kita dalam kepenuhan untuk mencapai kebahagiaan yang penuh dengan sukacita, dan akan mampu bertahan untuk waktu lama. Kebahagiaan sejati hanya bisa disediakan oleh Tuhan, dan itu hanya akan bisa terjadi jika Kerajaan Allah hadir dalam kehidupan kita. Harta benda, kekayaan, jabatan, pujian dan penghargaan tidak akan pernah mampu menjawab kebutuhan kita akan kebahagiaan ini.

Tuhanlah satu-satunya yang mampu mengisi sebentuk rongga kosong dalam hati kita ini hingga kita bisa merasakan sebuah kebahagiaan sejati yang tidak akan terguncang lewat berbagai kesusahan di dunia ini. Semakin meninggalkan atau menjauh dari Tuhan dan terus mengejar hal-hal dunia yang nikmat bagi daging kita justru akan membuat rongga kosong ini terus melebar, menenggelamkan setiap sukacita yang seharusnya menjadi bagian dari kita lewat Kristus. Apakah anda tengah merasakan hal yang sama seperti teman saya tadi? Itu artinya anda harus mulai berpikir bukannya semakin menjauh dari Tuhan, tetapi seharusnya malah semakin dekat. "Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu." (Yakobus 4:8). Jika anda merasa hari ini kebahagiaan masih bukan menjadi milik anda, temukanlah rongga kosong itu dan biarkan Tuhan mengisinya. Mendekatlah kepada Tuhan dan dengarkan perintah-perintahNya. Itu akan mengundang Tuhan untuk segera menambal kekosongan itu dengan kebahagiaan sejati yang hanya berasal daripadaNya.

Undang Tuhan untuk masuk hari ini juga dan temukanlah kepenuhan hati dalam kebahagiaan yang sejati

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker