Thursday, December 31, 2009

New Dawn, New Hope

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Ratapan 3:23
======================
"selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!"

tahun baru 2010, harapan baru, janji TuhanBegitu cepatnya waktu berlalu. Ini adalah hari terakhir tahun 2009, dan besok kita akan disambut sinar mentari pagi di tahun 2010. Bagaimana pandangan anda menyambut tahun yang baru? Tahun 2009 dimulai dalam kondisi yang sulit. Krisis global menimpa dunia. Banyak perusahaan besar yang tadinya dianggap sangat kuat ternyata tumbang. Banyak orang yang semakin kesulitan dalam hidup yang terus semakin berat. Harga meningkat naik sementara pendapatan masih sama, jika tidak menurun. Dan itu berlanjut sepanjang tahun 2009. Berkaca dari pengalaman sepanjang tahun 2009, mungkin mudah bagi kita untuk berkata bahwa 2010 tidak akan menjadi lebih baik malah kemungkinan besar akan semakin sulit. Apakah anda berpikir seperti itu? Jika ya, berhentilah segera. Pikiran pesimis seperti itu bukanlah realita karena kita belum bisa melihat apa yang terjadi di depan. Pikiran seperti itu hanyalah akan membuat kita menjadi lemah, akan menyurutkan semangat kita dan akhirnya kehilangan sukacita. Bentuk pandangan demikian tidak akan membawa manfaat apapun yang baik buat kita. Hari ini saya diingatkan oleh sebuah ayat yang sungguh sangat indah. "selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!"(Ratapan 3:23).

The new dawn is coming. Pagi nanti ketika kita membuka mata, kita akan disambut oleh secercah cahaya matahari di tahun yang baru. Bagi saya, tahun baru adalah awal yang baru. New dawn, new hope. Mengapa demikian? Sebab Tuhan sendiri menjanjikan bahwa kasih setia Tuhan, His compassion, mercy and loving-kindness, akan selalu baru setiap pagi. His tender compassions never fail, always more than enough for us all. Bersama terbitnya matahari pagi Tuhan menyapa kita dengan kasih setia dan rahmatNya yang melimpah. Dan itu terus Dia lakukan setiap pagi tanpa henti. Jika demikian, mengapa kita harus takut menatap datangnya tahun yang baru? Kasih Tuhan yang baru akan pula menyertai kita memasuki tahun yang baru ini.

Apa yang membuat kita gampang patah semangat sesungguhnya adalah ketika kita mengarahkan pandangan hanya kepada hal-hal buruk yang terjadi sepanjang tahun kemarin. Jika kita terus mengisi pikiran kita dengan hal-hal buruk seperti itu, tidaklah heran jika kita akan khawatir pula memasuki tahun yang baru. Padahal Tuhan sudah mengingatkan kita sebaliknya, agar selalu memusatkan pikiran kepada "semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji." (Filipi 4:8). Tapi seringkali kita lebih suka menenggelamkan diri kita kepada hal-hal yang akan mudah menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan dalam hidup kita. Seringkali orang akan lebih mudah untuk melihat hal negatif sebaliknya sulit menangkap hal positif dari apapun yang mereka lihat, alami atau rasakan. Jauh sebelumnya Tuhan sudah mengingatkan bahwa "orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan." (2 Timotius 3:13). Dunia pada kenyataannya memang akan semakin sulit dan semakin jahat. Dan jika kita berhenti sampai disitu, memusatkan pikiran kita kepada semua itu, maka ketakutanlah yang akan menguasai kita. Jika anda terus membaca berita-berita kriminal, ekonomi dan lainnya yang cenderung negatif, mengapa tidak menggantinya dengan membaca firman Tuhan yang mengandung kebenaran dan keselamatan?

Pemazmur sudah mengetahui kuncinya sejak dahulu kala. "Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku." (Mazmur 62:2). Pemazmur kemudian melanjutkan "Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku." (ay 6). Kita hanya bisa tenang ketika kita dekat dengan Allah, sebab dariNyalah keselamatan dan harapan itu datang. Bukan dari kehebatan, kekuatan atau ketangguhan diri kita sendiri. Karena semua itu berasal dari Tuhan, jelas kita harus dekat kepadaNya agar bisa terus meletakkan harapan dan keselamatan, dan bisa hidup tenang meski situasi di dunia semakin sulit. Dunia boleh gonjang ganjing, tapi Tuhan akan bertindak seperti gunung batu dan keselamatan, kota benteng dan perlindungan. Rock and Salvation, Defense and Fortress, sehingga kita tidak akan goyah. (ay 7). Pemazmur tahu itu. Dan ia mengingatkan kita "Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita." (ay 9).

Memasuki tahun yang baru, mulailah merubah pola hidup sejak sekarang. Mendekatlah lebih lagi kepada Tuhan, Sang Pemberi segalanya. Luangkan waktu yang cukup untuk bersekutu denganNya, mendengar suaraNya dan menikmati hadiratNya yang kudus. Jangan malah sebaliknya, semakin mati-matian berjuang dengan kekuatan sendiri dan menomorduakan hubungan dengan Tuhan karena terlalu sibuk dan tidak lagi punya waktu. Jika Pemazmur dahulu kala sudah mengetahui kuncinya, hari ini kita pun bisa menikmati apa yang ia nikmati pada masa itu dengan kunci yang sama pula. Sebab sesungguhnya Tuhan tidak pernah berubah. Dia selalu sama dulu, sekarang dan sampai selamanya. (Ibrani 13:8). Dan inilah kata Pemazmur: "Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun." (Mazmur 100:5). Ya, Tuhan itu baik dan setia dari generasi ke generasi. Jika Pemazmur mengalaminya, kita pun bisa mengalaminya hari ini.

Sekalipun hidup menjadi lebih sulit kelak, itu bukan berarti bahwa kita harus kehilangan sukacita maupun kedamaian kita. Kuncinya, dekatlah senantiasa dengan Tuhan. "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut;sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai. Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi. Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang, Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumipun hancur. TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub." (Mazmur 46:2-8). Bumi boleh jungkir balik, dunia boleh terguncang dan bergejolak, namun Tuhan menjanjikan bahwa siapapun yang berada dekat dengan Allah tidak akan terguncangkan. Dan ini janji Tuhan. Apa yang kita terima sebagai anugerah dari Tuhan sesungguhnya adalah kerajaan yang tidak tergoncangkan. "Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut." (Ibrani 12:28).

Mari kita sambut tahun yang baru dengan penuh ucapan syukur. Mari kita songsong hari depan yang penuh harapan. Mari kita bersukacita menyambut datangnya hari baru, dimana berkat Tuhan yang baru pagi nanti pun tercurah buat kita semua. Buanglah semua rasa pesimis, khawatir, ragu atau takut untuk memasuki tahun yang baru dan gantilah dengan kepercayaan penuh dengan janji-janji Tuhan. Teruslah lebih dekat padaNya dan terimalah pertolongan dan keselamatan seperti yang telah Dia janjikan kepada kita semua. Selamat Tahun Baru buat teman-teman semua, Tuhan akan selalu bersama anda dengan kasih setiaNya.

New dawn, new hope, with God's loving kindness and compassions that are always new every morning

Wednesday, December 30, 2009

Harga Sebuah Nyawa

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 16:26
====================
"..Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?"

harga sebuah nyawaBerapakah harga sebuah nyawa? Seratus juta? Seratus miliar? Tentu sulit bagi kita untuk menyebutkan sembarang angka, bahkan angka yang mungkin besar sekalipun. Pada kenyataannya ada banyak orang yang tega menghabisi nyawa ibu/ayah, saudara atau temannya hanya gara-gara jumlah uang yang relatif kecil seperti yang kita baca di koran-koran. Hanya karena beda beberapa ratus rupiah orang bisa membunuh. Atau orang yang akhirnya mengakhiri hidupnya hanya karena tidak mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Saya pernah membaca sebuah berita seorang anak sekolah memilih untuk bunuh diri karena tidak kunjung dibelikan handphone oleh orang tuanya yang hidup pas-pasan. Jadi nilai sebuah nyawa di mata orang kelihatannya berbeda. Tapi seandainya kita menilai nyawa kita berharga sangat tinggi sekalipun, kita tidak akan bisa menentukan sebuah harga pasti yang kita anggap layak untuk menggantikan nyawa kita.

Yesus pernah mempertanyakan pertanyaan serius ini pada suatu kali. "..Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?" (Matius 16:26). Hal ini ditanyakan Kristus mengacu kepada panggilanNya kepada orang percaya, ketika Dia memberitahukan syarat untuk mengikutiNya dan mendapatkan keselamatan. Kita tahu bahwa setiap kita orang percaya yang mau mengikuti Yesus harus siap menyangkal diri dan memikul salib. (ay 24). Segala harta benda kemewahan bisa kita peroleh di dunia ini. Tapi cukupkah itu untuk membayar nyawa kita untuk selamat? Dapatkah kita membayar Tuhan dengan sejumlah harta dengan imbalan untuk memperoleh keselamatan? Tentu tidak. Pemazmur juga pernah mengalami perenungan seperti ini ketika Penulisnya berhadapan dengan orang-orang sesat yang selalu memegahkan diri dengan harta kekayaan dan begitu mengandalkannya dalam hidup mereka. Pemazmur berkata "Tidak seorangpun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya, karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya, dan tidak memadai untuk selama-lamanya." (Mazmur 49:8-9). Harga pembebasan nyawa sesungguhnya sangatlah mahal, sehingga tidak ada harta yang sanggup membayarnya. Tidak heran jika Salomo pun menggambarkan kekayaan tanpa penyertaan Tuhan hanya akan berakhir sia-sia, seperti yang kita lihat dalam renungan kemarin. Yesus sendiri mengajarkan bahwa kita harus mengumpulkan harta di sorga dan bukan di dunia. (Matius 9:20). Semua ini telah mengajarkan kita bahwa berapa pun nilai harta yang kita miliki di dunia ini, meski memiliki seluruh dunia sekalipun, kenyataannya itu belumlah cukup untuk menebus nyawa kita supaya selamat.

Lalu bagaimana? Ketahuilah bahwa sebenarnya Tuhan telah terlebih dahulu menilai diri kita dengan sangat tinggi. Begitu tinggi, hingga Kristus pun diberikan kepada kita agar tidak satupun kita ada yang harus binasa. Penulis Mazmur dalam Mazmur 49 menjabarkan panjang lebar mengenai kebodohan dan kesia-siaan orang yang mengandalkan harta bendanya lebih dari keselamatan jiwa mereka. Tapi perhatikanlah ayat 16. Tuhan berjanji seperti ini. "Tetapi Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman dunia orang mati, sebab Ia akan menarik aku." (Mazmur 49:16). Dan itu digenapi dengan kehadiran Kristus turun ke dunia Bukan dengan harta kekayaan kita, tapi melalui kasih karunia. Yesus hadir di dunia menebus lunas semua dosa-dosa dan kesesatan kita, mendamaikan hubungan antara manusia dengan Tuhan, dan semua itu terjadi sebagai kasih karunia atas besarnya nilai kita di mata Tuhan. "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (Yohanes 15:13). Yes, no greater love than that. Dan Yesus telah memberi bukti langsung dengan memberikan nyawaNya kepada kita semua.

Lewat Paulus firman Tuhan berkata "Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!" (Roma 5:10). Jika yang masih dalam keadaan bermusuhan saja Allah begitu peduli dan mau mengambil inisiatif untuk berdamai lewat kematian AnakNya, apalagi kita saat ini yang hidup dalam masa ketika hubungan yang telah dipulihkan. Semua itu karena kasih Allah begitu besar kepada kita, begitu besar sehingga Dia mengaruniakan AnakNya yang tunggal untuk turun ke dunia, mengambil rupa seorang hamba dan menuntaskan tugas sepenuhnya lewat penderitaan hingga kematian dengan cara yang mengerikan. Dan ketika Yesus berkata: "Sudah Selesai", di saat itu pula kita menerima perdamaian dan penebusan secara total atas kasih karunia, sebuah pemberian yang begitu luar biasa besarnya.

Tidak ada satupun nilai secara materi secara terukur yang mampu dipakai untuk menebus sebuah nyawa. Tapi kita sudah mendapat penebusan itu. Jika penebusan itu hari ini hadir kepada kita, semua itu adalah lewat karya Kristus yang menggenapi kehendak Allah atas dasar kasih yang begitu luar biasa besarnya kepada kita, manusia yang tidak layak ini. "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat." (1 Petrus 1:18-19). Sebesar itulah nyawa kita bernilai di mata Tuhan!

Sudahkah kita menghargai nyawa kita sendiri dengan layak? Atau kita masih begitu mudah terjebak pada hal-hal yang sebenarnya sangat berpotensi untuk menghancurkannya, bukan saja di dunia yang fana ini tapi juga menuju ke dalam maut yang penuh siksaan kekal? "Seperti domba mereka meluncur ke dalam dunia orang mati, digembalakan oleh maut; mereka turun langsung ke kubur, perawakan mereka hancur, dunia orang mati menjadi tempat kediaman mereka." (Mazmur 49:15). Jangan sampai hal seperti ini menjadi bagian kita, karena Tuhan sudah mengulurkan tangan dan berinisiatif secara luar biasa untuk memberikan kita jaminan keselamatan, untuk bersama-sama denganNya pada suatu saat nanti di KerajaanNya. Semua itu tergantung dari keputusan kita, apakah kita mau menyambut uluran tanganNya atau tidak, karena sesungguhnya kita begitu berharga dan bernilai sangat tinggi di mata Tuhan. Hari ini seandainya anda bertanya, berapakah nilai anda, pandanglah palungan Kristus di kandang domba dan salib yang terpancang di Golgota. Seperti itulah anda berharga di mata Tuhan.

Bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat

Tuesday, December 29, 2009

Pekerjaan Bukanlah Segalanya

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Pengkotbah 2:22-23
===========================
"Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya? Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram. Inipun sia-sia."

pekerjaan bukan segalanya, sia-siaTahun baru hadir sebentar lagi. Bagi sebagian orang, hidup terlihat akan semakin berat saja, berkaca dari tahun-tahun sebelumnya. Banyak yang berpikir bahwa jika kemarin bekerja sudah giat, memasuki tahun depan harusnya dilipatgandakan agar mampu mengatasi beban yang makin berat. Bekerja dengan giat itu sungguh baik dan sesuai dengan kehendak Tuhan. Yang tidak baik adalah ketika kita mulai meletakkan pekerjaan itu sebagai hal yang paling utama di atas segalanya seperti yang telah kita lihat dalam renungan kemarin. Tendensi menomorsatukan pekerjaan di atas segalanya dan meletakkan Tuhan pada urutan kesekian, mengorbankan keluarga demi pekerjaan, semua itu adalah bentuk mempertuhankan pekerjaan, atau setidaknya memberhalakan pekerjaan. Dan itu tidak lagi berkenan di hadapan Tuhan. Hari ini saya ingin menyambung apa yang telah ditulis kemarin dalam hal pekerjaan.

Salomo adalah sosok yang hidup makmur dalam segala kekayaannya yang begitu besar. Harta bukanlah masalah baginya sama sekali. Tapi lihatlah apa yang ia tuliskan dalam kitab Pengkotbah. Ia bercerita banyak tentang kesia-siaan di muka bumi ini, dan kita bisa melihat bahwa harta tidak pernah bisa membawa kebahagiaan sejati. Salomo berkata: "Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya? Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram. Inipun sia-sia." (Pengkotbah 2:22-23). Bukankah hal ini juga banyak dialami orang hingga hari ini? Sudah bekerja mati-matian, sudah mengorbankan waktu, tenaga, keluarga bahkan nyawa untuk meraup hasil sebanyak mungkin dari pekerjaan, namun hidup tidak kunjung menjadi bahagia. Kesedihan dan kesusahan menguasai hati, bahkan tidur pun tidak bisa nyenyak. Banyak orang yang kaya raya namun tetap saja menghadapi permasalahan seperti ini dalam hidupnya, dan saya sudah menjumpai banyak orang seperti ini. Mereka bekerja terlalu keras sehingga tidak memperhatikan anak-anaknya lagi. Istri pergi, anak-anak jatuh dalam kehidupan yang sesat, tidak ada kebahagiaan dan sukacita dalam hidup meski secara finansial berlimpah. Jika sampai pada titik seperti itu, tidakkah manusia akan mulai berpikir betapa sia-sianya segala sesuatu yang dilakukan selama ini? Ketika kita terlalu mengagung-agungkan pekerjaan lebih dari segalanya, mengira bahwa menimbun harta merupakan sumber kebahagiaan sejati, masalah seperti ini akan menanti saat untuk menghancurkan hidup kita.

Sepanjang kitab Pengkotbah, Salomo mengingatkan berulang-ulang mengenai kesia-siaan hidup manusia jika terpisah dalam hubungan dengan Tuhan. Apapun itu, tanpa Tuhan niscaya akan menjadi sebuah kesia-siaan. Termasuk pula menimbun uang dengan bekerja melebihi batas dan melupakan Sang Pemberi berkat dan melupakan kerinduan istri dan anak-anak untuk diperhatikan dan disayangi. Salomo menulis "Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa inipun dari tangan Allah." (ay 24). Bukankah ini benar? Pada kenyataannya ada banyak orang yang terus menimbun harta tanpa pernah bisa untuk menikmatinya. Tidak ada sukacita yang hadir meski sudah mengeluarkan biaya banyak. Sesaat mungkin bisa, tapi kemudian semuanya akan hilang lagi, kembali kepada kesedihan dan kesunyian. Lihatlah bahwa sesungguhnya kemampuan untuk menikmati hasil jerih payah pun berasal dari Tuhan. Selanjutnya ia pun menuliskan "Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya--juga itupun karunia Allah." (5:18). Bahkan "orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit." (6:2). Jelaslah bahwa jarak hubungan kita dengan Tuhan akan membawa perbedaan besar akan kebahagiaan dalam hidup kita.

Tuhan Yesus sendiri mengingatkan kita demikian: "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33). Ini sebuah ajaran yang penting bahwa kita harus menomorsatukan Tuhan di atas segalanya, lebih dari apapun di dunia ini, karena semua berkat termasuk karunia untuk dapat menikmati hasil jerih payah kita pun berasal daripadaNya. Tuhan Yesus sudah menunjukkan contoh yang ideal mengenai ini. Kita tahu ketika Dia hadir di dunia ini Dia tidak berhenti bekerja. Pagi-pagi benar sudah bangun, berkeliling dari satu daerah ke daerah lain untuk melakukan begitu banyak mukjizat dan memberikan pengajaran kepada banyak orang. Yesus mengajarkan bahwa "kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja." (Yohanes 9:4). Namun di saat lain kita melihat bahwa Yesus meluangkan banyak waktu untuk bertemu BapaNya. Pergi menyendiri ke atas bukit atau ke tempat tersembunyi dimana Dia bisa memfokuskan seluruh perhatian untuk berdialog, berbicara dan terutama mendengar suara Bapa. Dalam banyak bagian Injil kita mendapati bagaimana Yesus yang terus bekerja keras dalam waktu kedatanganNya yang singkat ternyata mengosongkan sebagian dari waktuNya untuk bersekutu dengan Allah, dimana dalam waktu-waktu itu Dia tidak membiarkan diriNya diganggu oleh siapapun, termasuk oleh pekerjaan yang menumpuk. Sudah berapa banyak waktu yang kita habiskan sia-sia dalam hidup yang singkat ini? Jangan terus terjebak untuk terus membiarkannya habis sia-sia.

Fokus berlebihan kepada pekerjaan adalah sebuah kebiasaan dunia yang hanya akan berakhir sia-sia, yang dikatakan Salomo bak menjaring angin. (Pengkotbah 2:17). Salomo adalah salah satu tokoh yang luar biasa kaya yang dicatat alkitab. Tapi justru dia yang menulis bahwa semua yang kita lakukan di kolong langit ini bisa mengarah kepada kesia-siaan. Bagaimana agar apa yang kita kerjakan tidak berakhir sia-sia? Firman Tuhan mengatakan "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." (1 Korintus 15:58). Persekutuan dengan Tuhan tidak akan pernah sia-sia. Apapun yang kita lakukan untuk Tuhan tidak akan pernah sia-sia. Jika pekerjaan kita pun dilakukan untuk memuliakan namaNya tanpa melupakan waktu-waktu untuk tetap berdiam di dalam hadiratNya, mendengar suaraNya, dan mengasihi semua yang telah Dia titipkan kepada kita, semua itu tidak akan berakhir sia-sia, bahkan yang demikian itu membuat kita tengah mengumpulkan harta di surga, dimana tidak ada karat, ngengat atau pencuri yang dapat merusaknya. (Matius 9:20).

Tuhan menjanjikan ini kepada kita: "TUHAN akan memerintahkan berkat ke atasmu di dalam lumbungmu dan di dalam segala usahamu; Ia akan memberkati engkau di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu." (Ulangan 28:8). Ini adalah janji berkat Tuhan yang hanya akan hadir kepada kita "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini." (ay 1). Sesungguhnya segala sesuatu berasal dari Tuhan. Pekerjaan adalah bentuk karuniaNya, dan Dia siap memberkati itu semua jika kita berjalan sesuai kehendakNya. Tidak berhenti sampai disitu, Tuhan pun siap memberikan karunia untuk menikmati hasil jerih payah kita, dan terus memberi berkat yang baru setiap pagi. "..sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia!" (Mazmur 34:9). Karena itu janganlah sampai terjebak kepada memberhalakan atau mempertuhankan pekerjaan, karena bukan berkat yang akan kita terima melainkan sebaliknya. Dahulukan Tuhan di atas segalanya. Bertanggungjawablah dengan benar dalam kasih kepada keluarga yang diberikan Tuhan. Tetap sertai semuanya dengan ucapan syukur, dan muliakan Dia dalam setiap yang kita kerjakan. Miliki urutan yang benar, miliki perspektif yang tepat agar kita tidak terjerumus dalam kesia-siaan.

Tanpa Tuhan segala yang kita lakukan hanya akan sia-sia

Monday, December 28, 2009

Mempertuhankan Kerja

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Keluaran 20:3
=======================
"Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku."

mempertuhankan kerja, allah lain, berhalaSemua orang butuh pekerjaan agar bisa hidup. Sebagian mungkin berkata tidak, karena toh selama ini hidupnya cukup dari orang tua, bahkan berlimpah-limpah, namun itu pun datang dari kerja keras ayahnya atau orang tuanya. Tanpa bekerja niscaya kita tidak akan dapat memenuhi kebutuhan hidup. Serius bekerja, itu baik. Selalu ada perbedaan besar antara orang yang hanya bermalas-malasan, bekerja ala kadarnya dengan orang yang benar-benar serius menekuninya. Apalagi jika mereka melibatkan Tuhan di dalamnya, bekerja seperti untuk Tuhan dengan jujur dan sesuai firmanNya. Bersyukurlah ketika saat ini kita diberikan kesempatan untuk bekerja. Pakailah kesempatan itu dengan baik, dan muliakan Tuhan di dalamnya. Namun di sisi lain, berhati-hatilah ketika anda mulai tenggelam dalam keseriusan pekerjaan anda, karena ada dosa yang mengintip untuk menerkam anda di sana.

Di jaman dulu orang akan meninggalkan pekerjaannya begitu jam kerja selesai. Tapi saat ini teknologi dapat memaksa kita untuk terus "stay tune" pada pekerjaan kita. Telepon, sms, email dan sebagainya akan terus membuat kita terpaku pada pekerjaan bahkan setelah jam kerja normal selesai. Butuh transaksi? Ada E-banking yang memungkinkan itu. Butuh rapat dadakan? Fasilitas teleconference atau setidaknya multi-party telephone connection sudah memungkinkannya. Ditambah lagi berbagai tawaran dan godaan di dunia modern yang membuat kita tidak pernah merasa cukup. Selalu saja ada yang ingin dimiliki, selalu saja ada yang kurang, dimana terkadang itu bukan lagi merupakan kebutuhan, tapi lebih kepada lifestyle, gaya dan status. Maka bekerja pun bisa dilakukan jauh melebihi waktu normal. Pulang ke rumah tidak lagi dipakai untuk berkumpul bersama istri dan anak, tapi langsung mengecek email, menelepon relasi dan sebagainya. Tidak heran banyak keluarga yang terbengkalai. Belum lagi emosi yang begitu gampang tersulut karena kecapaian. Itu baru soal keluarga. Bagaimana dengan saat teduh atau meluangkan waktu buat Tuhan? Jelas lebih tidak ada lagi. Jika tadinya saja Tuhan hanya mendapatkan sisa waktu, sekarang tidak ada lagi waktu yang tersisa. Dan betapa ironisnya jika ini terjadi. Ketika Tuhan memberi berkat, orang malah melupakan Sang Pemberi berkat. Ketika fungsi kepala keluarga berakhir sebatas mencari nafkah saja, maka berakhirlah kebahagiaan keluarga itu.

Mengapa saya berpanjang lebar membahas tuntutan pekerjaan yang menyita waktu sementara ayat bacaan hari ini bertemakan satu dari 10 Perintah Allah yang berbunyi "Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku" (Keluaran 20:3) ? Karena keduanya sangatlah berhubungan. Bekerja serius itu merupakan sebuah keharusan. Tapi di saat kita tidak lagi peduli kepada lingkungan, bahkan tidak lagi peduli kepada keluarga, saudara apalagi Tuhan, di sana jangan-jangan kita sudah mempertuhankan pekerjaan kita, menjadikan pekerjaan kita sebagai "the one", yang utama. Pekerjaan berada di atas segalanya. Dengan kata lain, pekerjaan kini menjadi allah dalam kehidupan kita. Jika sepintas melihat ayat bacaan hari ini, mungkin mudah buat kita untuk berkata bahwa kita tidak menyembah allah yang lain. Mengacu pada perintah Tuhan selanjutnya, "Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi" (ay 4), kita pun mungkin mudah untuk berkata bahwa kita tidak memiliki patung apapun dalam bentuk benda sebagai berhala yang disembah dalam hidup kita. Tapi berhati-hatilah, sebab pekerjaan, hobi atau apapun yang menjadi hal yang paling utama, yang menyingkirkan posisi Tuhan dalam hidup kita ke urutan kesekian sebenarnya sudah melanggar perintah-perintah Allah ini.

Tuhan Yesus berkata bahwa "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Matius 6:24). Kita tidak dapat membuat dua hal untuk berada di posisi utama sekaligus. Kehendak bebas hadir kepada manusia sebagai karunia dari Tuhan, dan karena itu kita pun bisa memilih. Tapi ingat, pilihan apapun yang kita ambil punya konsekuensinya. Bekerja itu penting, mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan hidup itu penting. Tapi Tuhan mengingatkan agar kita jangan terfokus kepada mencari harta di dunia, karena semua itu sewaktu-waktu bisa musnah dan tidak kekal sifatnya. "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya." (ay 19). Apa yang harus kita lakukan adalah mengumpulkan harta di sorga, dimana ngengat dan karat tidak akan bisa merusakkannya dan pencuri tidak dapat membongkar serta mencurinya. (ay 20). Dan kesimpulannya demikian: "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." (ay 21).

Di mana hati kita berada saat ini? Apakah kita melulu memikirkan pekerjaan dan tidak lagi peduli kepada kebutuhan keluarga untuk diperhatikan dan disayangi? Apakah kita selalu memikirkan dari mana lagi bisa mendapatkan penghasilan tambahan dan terus menerus bekerja hingga larut malam, sementara tidak ada lagi waktu yang dipakai untuk bersekutu dalam Tuhan, menikmati keintiman dalam hadiratNya yang kudus? Dari sana kita bisa menilai apakah kita sudah memberhalakan atau menpertuhankan pekerjaan kita atau tidak. Jika hal ini sudah mulai meracuni atau bahkan sudah menggerogoti anda, inilah saatnya untuk berhenti dan bertobat. Ketika kita memasuki tahun yang baru sebentar lagi, alangkah baiknya jika kita memasukinya dengan komitmen yang baru, melihat pekerjaan dari perspektif yang benar, yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Pakailah pekerjaan untuk memuliakan Tuhan, untuk mengasihi keluarga dan menolong orang lain yang membutuhkan. Kumpulkanlah harga untuk di sorga dan bukan di bumi. Ingatlah bahwa berkat terutama berasal dari Tuhan bukan dari usaha kita semata. Apapun pekerjaan kita hari ini, bersyukurlah dan lakukan sebaik-baiknya, tapi ingat untuk meletakkan Tuhan di atas segalanya. Keep it in such perspective, where God and our family is far more important than any shapes of dedication to a job.

Work is a gift, not a god

Sunday, December 27, 2009

Bertekunlah

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Ibrani 10:36
===================
"Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu."

bertekunlah, ketekunanMeraih delapan medali emas dalam satu Olimpiade merupakan pencapaian yang sungguh mencengangkan. Bagaimana jika dari delapan medali itu, lima diantaranya merupakan pemecahan rekor dunia? Tentu itu jauh lebih mencengangkan lagi. Hal ini terjadi pada Olimpiade Beijing tahun lalu, dan itu dialami oleh seorang perenang asal Amerika bernama Michael (Mike) Phelps. Jika kita lihat postur tubuhnya, masuk akal jika ia bisa menoreh prestasi di ajang kelas dunia seperti Olimpiade. Dia memang diberkati struktur tubuh yang baik, tulang dan otot yang kuat, dan itu semua memang merupakan talenta dari Tuhan. Tapi banyak orang yang lupa bahwa Mike Phelps tidak memperoleh itu semua secara instan. Untuk bisa menoreh prestasi luar biasa itu, ia menghabiskan banyak waktu untuk berlatih dengan tekun sejak usia muda. Di saat teman-teman seusianya masih menikmati masa kanak-kanak mereka, ia sudah digembleng dengan latihan tujuh hari nonstop dalam seminggu, lima jam sehari tanpa istirahat! Pola makannya pun sudah dijaga dengan baik sejak muda. Ini semua ia lakukan dengan tekun meski kesuksesan tidak segera menghampiri dirinya. Pada Olimpiade Sydney 8 tahun sebelumnya ia sudah turut berpartisipasi di usia sangat muda, namun ia tidak memenangkan satupun medali. Dalam kehidupan pribadinya di luar gelanggang olah raga Mike pun pernah gagal. Ia sempat ditahan akibat mabuk saat berkendara di jalan dan beberapa hal lain yang tidak terpuji. Namun Mike bangkit dan kemudian mampu meraih pencapaian fenomenal di atas. Sekarang mari kita perhatikan. Dengan segala talenta yang diberikan Tuhan kepadanya, tanpa ketekunan dan kerja keras serta keseriusannya dalam latihan, mungkinkah Mike meraih sukses? Tentu tidak. Tuhan memang memberikan talenta kepada setiap manusia, namun tanpa ketekunan semua itu tidak akan pernah membawa hasil yang baik.

Seberapa jauh kita mampu terus tekun dan berjalan sesuai kehendak Tuhan? Kenyataannya ada banyak orang yang begitu mudah menyerah. Sedikit angin menerpa sudah membuat mereka kehilangan harapan dan putus asa. Jika kita melihat bagaimana pola di dunia, hal yang sama pun terjadi. Dunia hari ini selalu menawarkan hal-hal yang serba cepat, serba mudah, yang bisa diperoleh dengan instan. Makanan cepat saji, pinjaman cepat cair, jalan untuk menjadi terkenal sebagai bintang, undian-undian yang mengiming-iming kekayaan mendadak dengan begitu mudah dan sebagainya. Ini semua menjadi kebiasaan dunia hari ini dan didambakan banyak orang. Tapi mereka lupa bahwa biasanya apa yang kita peroleh dengan mudah akan lenyap dengan mudah pula. Mengapa demikian? Karena pondasinya tidak kuat untuk menopang apa yang kita peroleh dalam sekejap. Secara rohani seringkali kita pun demikian. Kita tidak bisa belajar bersabar dan terus menuntut. Tidak ada ketekunan dalam kamus, apalagi untuk menantikan Tuhan. Tidak mengherankan jika di antara kita ada banyak orang yang begitu lemah, cepat menyerah, putus asa, kehilangan harapan meski hanya ketika terkena masalah yang kecil sekalipun. Oleh karena itulah firman Tuhan mengingatkan kita akan pentingnya ketekunan untuk meraih hasil seperti yang diinginkan Tuhan.

Lewat penulis Ibrani Tuhan berfirman, "Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu." (Ibrani 10:36). Di sini kata "ketekunan" dalam bahasa Inggris dikatakan dengan "steadfast patience and endurance." Secara konstan dan setia untuk terus dalam kesabaran dan ketahanan. Lihatlah bahwa meski Tuhan berkali-kali mengingatkan kita dengan janji-janji berkatNya, sebuah pesan akan pentingnya ketekunan pun tetap diberikan kepada kita. Dan kemudian jangan lupa untuk melakukan kehendak Allah dengan mempergunakan talenta-talenta yang terasah lewat ketekunan. Itulah jalan agar kita bisa memperoleh semua yang dijanjikan Tuhan. Ketekunan harus kita miliki dalam segala hal agar kita bisa memperoleh hasil sempurna. Ketekunan memerlukan proses. Dibutuhkan usaha dan kerja keras serta kedisplinan yang biasanya belum akan memberikan hasil dalam waktu singkat. Artinya dalam ketekunan harus ada usaha serius dalam proses panjang.

Mengapa ketekunan bisa membawa kita untuk memperoleh hasil sempurna? Paulus menulis alasannya. "..ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita." (Roma 5:4-5). Ini sebuah proses yang akan membentuk kita menjadi pribadi yang kuat. Tanpa pengharapan kita tidak akan pernah bisa kuat dan akibatnya akan mudah untuk diombang-ambingkan berbagai permasalahan hidup. Penulis Ibrani kemudian mengingatkan pula bahwa kita harus mampu "menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita." (Ibrani 12:1)

Bagaimana ketekunan Mike Phelps yang dilakukan sejak kecil bisa menjadi teladan buat kita dalam masalah ini. Jika dalam hal badani saja dibutuhkan latihan dan bisa mencapai keberhasilan gemilang, apalagi dalam hal ibadah yang akan bermanfaat bukan saja pada kehidupan saat ini tapi juga untuk hidup yang akan datang. (1 Timotius 4:8). Jika saat ini atau pada suatu saat nanti di antara kita menghadapi sebuah pergumulan yang membutuhkan ketekunan, patience and persistance, ingatlah bahwa Tuhan memang menghendaki anda untuk bertekun. Dari ketekunan anda akan timbul ketahanan yang akan mampu membuat kita bisa tetap melihat pengharapan, sebuah pengharapan penuh kasih lewat Roh Kudus yang tidak akan pernah mengecewakan. Kita semua sangat membutuhkan ketekunan, terlebih di hari-hari yang semakin mendekati akhir ini. "Sebab sedikit, bahkan sangat sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang, sudah akan ada, tanpa menangguhkan kedatangan-Nya." (Ibrani 10:37). Ya waktu memang sudah sangat singkat. "Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh." (Habakuk 2:3). Itulah sebabnya kita harus bertekun dengan sungguh-sungguh agar apa yang dijanjikan Tuhan tidak sampai terlepas dari genggaman kita. Tidak ada waktu lagi untuk malas-malasan dan menunda-nunda. Mulailah bertekun dari sekarang dan bentuklah otot rohani kita, dan pakailah itu untuk melakukan kehendak Allah, peganglah pengharapan dan raihlah semua yang telah dijanjikan Tuhan bagi kita dengan sempurna.

Tanpa ketekunan semua akan sia-sia

Saturday, December 26, 2009

Sukacita Kedua

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 15:32
========================
"Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."

sukacita keduaBergembirakah kita ketika kita berada dalam keadaan baik? Tentu saja. Tidak ada seorangpun yang ingin berlama-lama dalam kesusahan. Ketika hidup berada pada keadaan baik, bisa makan dan minum, memiliki segala sesuatu yang kita inginkan, pekerjaan berjalan baik, keluarga mesra dan harmonis, itu menjadi impian semua orang dan sudah sepantasnya hal itu membuat kita bersyukur dan bersukacita. Di kala orang bersukacita, maka segala sesuatu terlihat indah dan cerah. Senyum merekah, hati riang dan hidup pun terasa ceria. Ini adalah reaksi normal dari orang yang sedang berbahagia, dan itu sangat wajar. Tapi sukacita seperti ini barulah sebuah bentuk sukacita, yang mungkin bisa saya gambarkan dengan sukacita pertama. Jika ada sukacita pertama, tentu ada sukacita kedua. Seperti apa sukacita kedua?

Injil Lukas 15 menggambarkan sukacita kedua lewat tiga perumpamaan. Mari kita lihat perumpamaan ketiga tentang anak yang hilang. (Lukas 15:11-32). Perumpamaan ini tentu sudah sangat familiar bagi kita. Secara singkat kisah ini menggambarkan seorang anak yang durhaka meminta warisannya ketika sang ayah masih hidup, lalu memakainya untuk berfoya-foya, dan dalam waktu singkat ia jatuh miskin dan menderita. Ia menyesal dan memutuskan untuk pulang. Melihat kembalinya si bungsu, sang ayah langsung berlari menyambut dan memeluknya. Ia menyediakan pesta yang besar untuk merayakan kembalinya anak yang hilang. Semua bersukacita, kecuali abangnya, si anak sulung. Ia merasa cemburu karena adiknya yang durhaka ternyata lebih dihargai ketimbang dirinya yang selama ini selalu taat kepada ayahnya. Ia pun protes, tapi apa jawaban sang ayah? "Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali." (Lukas 15:32). Ini sebuah gambaran utuh mengenai sukacita kedua. Anak sulung adalah anak yang selalu taat, saya yakin ia pun selalu bersyukur atas segala kelimpahan yang ia terima dari ayahnya. Tapi ia hanya berhenti disana. Berhenti hingga sukacita pertama, dimana ketaatannya hanya untuk mendapatkan berkat. Si sulung tidak mampu melihat sebuah sukacita ketika adiknya yang hilang dan tadinya sesat sekarang kembali dengan selamat. Ayahnya pun menegurnya, dan meningatkan bahwa sudah sepatutnya ia pun bersukacita karena adiknya yang telah mati menjadi hidup kembali, yang telah hilang telah didapat kembali. Inilah bentuk sukacita kedua, yaitu sukacita yang hadir dalam diri kita ketika melihat ada jiwa yang harusnya mati tapi menjadi hidup kembali, diselamatkan dari kebinasaan dan beroleh hidup yang kekal melalui pertobatan mereka.

Dua perumpamaan sebelumnya menggambarkan hal yang sama. Perumpamaan tentang domba yang hilang (Lukas 15:1-7) menggambarkan kepedulian Tuhan kepada jiwa yang hilang, bagaikan gembala yang akan bergegas meninggalkan 99 ekor domba yang sudah selamat demi mendapatkan satu jiwa yang sesat. "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?" (ay 4). Satu jiwa pun begitu berharga di mata Tuhan. Ketika jiwa itu kembali ditemukan, sang gembala akan menggendongnya dengan gembira (ay 5) dan akan bersukacita karena jiwa yang hilang telah ditemukan kembali. (ay 6). Dan Yesus pun dengan jelas menggambarkan suasana yang terjadi di surga ketika ada seorang bertobat. "Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan." (ay 7). Perumpamaan berikut adalah mengenai dirham yang hilang. (ay 12-14). Jika seseorang memiliki 10 dirham lantas kehilangan satu diantaranya, tidakkah mereka berusaha mencari dirham yang hilang itu? (ay 8). Sukacita pun akan hadir ketika dirham yang hilang telah ditemukan. Dan kembali Yesus menggambarkan suasana yang terjadi di surga. "Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat." (ay 10). Semua perumpamaan dalam Lukas 15 ini menggambarkan sebuah sukacita pada tingkatan baru, bukan hanya berhenti pada sukacita ketika kehidupan kita diberkati Tuhan, tapi juga mengalami sukacita ketika ada jiwa yang bertobat, yang kembali selamat dari kesesatan. Inilah bentuk dari sukacita kedua.

Dalam Roma 15 kita baca firman Tuhan berbunyi "Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri." (Roma 15:1). Kita masing-masing haruslah mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya, menguatkan dan membangun mereka secara spiritual. Dalam bahasa Inggris kebaikan ini digambarkan dengan lebih lengkap: "his good and true welfare, to edify him (to strengthen him and build him up spiritually)."(ay 2). Bentuk kepedulian seperti inilah yang akan memungkinkan bangsa-bangsa berbalik memuliakan Allah dan menyanyikan mazmur bagi namaNya. (ay 9). Dan dengan demikian, bangsa-bangsa akan bersama-sama bersukacita dengan umat Allah. (ay 10). Tidakkah itu indah, ketika kita bisa bersama-sama memuliakan Tuhan bersama jiwa-jiwa yang kembali ke pangkuan Tuhan, menerima anugerah keselamatan dan menjadi bagian dari karya penebusan Kristus? Ini sudah sepantasnya menjadi sebuah hal yang bisa membuat kita dipenuhi sukacita. Dalam kesempatan lain, mari kita lihat apa yang dikatakan Kristus. Kepada kita semua yang percaya telah diberikanNya kuasa untuk "menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu." (Lukas 10:19). Ini adalah sebuah pemberian yang luar biasa, bukan untuk gagah-gagahan atau pamer kekuatan, tapi adalah pemberian yang bertujuan agar kita semua diperlengkapi dalam menjalankan Amanat Agung, mewartakan kabar gembira untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Karena itulah Yesus kemudian berpesan: "Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga." (ay 20). Jangan bergembira karena roh-roh jahat itu takluk, tapi bersukacitalah justru karena itu berarti nama kita tercatat di surga. Sebuah nama yang muncul dalam kitab kehidupan akan membuat seisi surga bersukacita, dan demikian pula seharusnya dengan kita.

Mampu bersukacita dan bergembira karena kehidupan baik yang dilimpahkan Tuhan kepada kita tentu sungguh baik. Itu sudah jauh lebih baik dari orang-orang yang terlena dalam kenyamanan dan lupa untuk bersyukur atas berkat-berkat yang disediakan Tuhan bagi mereka. Tapi alangkah lebih baik lagi jika kita meningkatkan sukacita kita kepada sukacita kedua, yaitu sebuah sukacita yang hadir dalam diri kita ketika melihat adanya jiwa-jiwa yang diselamatkan. Sukacita Bapa adalah sukacita kita juga. Sudahkah anda memiliki kerinduan untuk mengalami sukacita kedua? Sudahkah anda tergerak untuk mewartakan keselamatan kepada sesama? Sesungguhnya kita memikul Amanat Agung untuk mewartakan kabar keselamatan bagi setiap orang, dan kita bisa membuat surga terus bersukacita bersama dengan kita jika kita melaksanakan apa yang diamanatkan Yesus kepada setiap orang percaya. Jangan berhenti hanya pada sukacita pertama, tapi tingkatkanlah kepada sukacita kedua, dan alami sebuah sukacita yang sama seperti halnya yang terjadi di surga.

Sukacita pertama itu baik, tapi akan lebih baik lagi jika disusul dengan sukacita kedua

Friday, December 25, 2009

Natal sebagai Wujud Besarnya Kasih Allah

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yohanes 3:16
=====================
"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

natal, wujud kasih AllahAndaikan saat ini anda tengah dililit permasalahan yang sangat berat, begitu beratnya sehingga anda tidak lagi merasa punya kekuatan untuk mengatasinya. Tidak ada jalan keluar, tidak ada solusi, tidak ada harapan. Zero chance. Di saat anda mulai menyerah pada keadaan, datanglah seseorang memberikan bantuan sepenuhnya, bukan dengan pamrih melainkan tanpa meminta imbalan apapun dari anda. Seketika itu juga anda lepas dari masalah, apa yang tidak mungkin kemudian menjadi kenyataan, belenggu dipatahkan dan anda berubah menjadi orang yang merdeka. Tidak saja merdeka, namun diberikan kelimpahan dan janji akan keselamatan untuk selamanya. Bagaimana rasanya? Tentu perasaan bahagia dan sukacita yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata akan anda rasakan bukan? Dunia saat ini mengenal pemberian dengan agenda tertentu. Orang memberi bukan lagi karena mengasihi, tapi lebih kepada mengharapkan sesuatu yang akan kembali kepadanya sebagai imbalan. Mengirim parcel atau hadiah dengan harapan agar hubungan relasi bisnis tetap lancar, memberi karena mengharapkan sesuatu, mengharapkan orang akan terikat hutang budi dan pada saatnya nanti mereka akan diuntungkan. Itu pemberian yang pamrih, dan itu menjadi pemandangan umum di jaman ini. Kenyataannya di antara saudara atau hubungan orang tua dan anak sekalipun memberi atau menolong dengan kondisi yang harus menghasilkan sesuatu sebagai balas jasa sudah menjadi hal yang wajar. Betapa istimewanya jika ada orang yang memberikan sesuatu kepada kita bukan karena perbuatan baik kita, bukan karena kita layak, bukan karena mengharapkan imbalan apapun, melainkan murni karena kasih, tanpa meminta apapun sebagai balasan. Mungkin sulit mengharapkan hal seperti itu dari manusia saat ini, tapi Tuhan telah melakukannya.

Sebuah ayat emas yang sangat besar maknanya saya angkat hari ini sebagai ayat bacaan untuk memperingati sebuah peringatan yang istimewa. Ini ayat yang tidak ada habis-habisnya untuk direnungkan, apalagi dalam memperingati kelahiran Kristus ke dunia. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16). Ketika mengharapkan manusia untuk menolong dan memberi tanpa mengharapkan imbalan sangat langka, Tuhan Sang Pencipta kita ternyata rela memberikan itu. Dan itu disebut sebagai anugerah, kasih karunia. Sebuah anugerah bukan lagi anugerah ketika diberikan dengan mengharapkan imbalan. Bukan kasih karunia namanya jika pemberian didasarkan atas jerih payah atau hasil usaha kita. Manusia yang terus berbuat dosa dari masa ke masa sesungguhnya tidak layak untuk memperoleh keselamatan. Tapi ternyata di mata Tuhan manusia begitu berharga. Seperti yang sering saya sebutkan, we are His masterpiece. Kita diciptakan menurut gambar dan rupaNya sendiri (Kejadian 1:26) dan tetap berada di ruang mataNya (Yesaya 49:16). Begitu besarnya kasih Allah kepada kita semua, hingga AnakNya yang tunggal pun Dia berikan sebagai kasih karunia, semata-mata agar tidak satupun diantara kita yang binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Anugerah yang diberikan ini bukan hanya untuk sekelompok orang tertentu saja, tapi berlaku untuk semua orang, seluruh bangsa tanpa terkecuali. Tuhan mengasihi semua manusia ciptaanNya tanpa memandang latar belakang atau keadaan kita. Dia mengasihi dan memberikan kasih karuniaNya bukan karena cantik, gagahnya kita, bukan karena status kita, kekayaan kita, kehebatan kita bahkan bukan pula karena perbuatan-perbuatan baik atau usaha kita. Sebuah kasih karunia bukanlah berbentuk imbalan atau balas jasa. Firman Tuhan berkata: "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri." (Efesus 2:8-9). Keselamatan itu kita peroleh semata-mata karena anugerah Tuhan, bukan karena jasa atau usaha manusia. Tuhan rela memberikan diriNya sendiri demi keselamatan kita. Maka Yesus pun turun ke dunia, Yesus "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia." (Filipi 2:6-7). Dan semua itu adalah anugerah sehingga hari ini kita bisa mendapat jaminan keselamatan. Jika hari ini kepastian itu hadir bagi kita, semua itu ada karena Yesus sudah lahir ke dunia untuk melakukan semua kehendak Allah atas dasar kasihNya yang begitu besar, dan itulah yang kita peringati hari ini.

Tuhan mengasihi kita dengan sebentuk kasih yang tidak terukur, jauh mengatasi langit dan itu berlaku selamanya. Kasih Allah tidak terbatas oleh apapun. Semua itu terbukti jelas lewat kedatangan Yesus ke dunia dan mengambil rupa seperti kita. Tidak dalam bentuk kemewahan. Dia lahir di kandang domba, bahkan dikatakan lewat nubuatan Yesaya demikian: "Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya." (Yesaya 53:2). Bukan kemegahan atau gemerlap manusia yang menjadi tujuan kedatangan Kristus, bukan karena menginginkan bentuk tersempurna dalam atribut-atribut yang penting menurut penilaian manusia, tapi hanya demi tujuan untuk menyelamatkan kita. Dia terjun langsung dan merasakan sendiri bagaimana penderitaan manusia. He knows how we struggle and strive in our lives. He knows how we feel. Dan lewat kehadiranNya, Dia memberikan jaminan keselamatan, menggantikan kita semua, menebus semua dosa mematahkan semua belenggu yang menghalangi kita dari tahta kasih Bapa di surga. Dia memberikan petunjuk-petunjuk dan tidak hanya berhenti sampai disitu, Dia pun memberikan keteladanan secara langsung. Kepada semua orang diberikan jalan keselamatan dalam bentuk kasih karunia. Apa yang diberikan Tuhan jauh lebih besar dari hal-hal duniawi. Dunia ini fana sifatnya, namun anugerah Tuhan itu kekal. Cahaya surgawi terbit atas kita, menerangi kita sehingga kita tidak lagi berada di dalam kegelapan dan kematian. "Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya." (Yohanes 1:5) Dan Yesus berkata "Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan." (Yohanes 12:46). Ini semua jelas merupakan kesukaan besar. It's a great joy.

Kelahiran Kristus ke dunia yang kita peringati lewat Natal adalah wujud besarnya kasih Allah bagi kita semua. "Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya." (1 Yohanes 4:9) dan kemudian dikatakan "Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita." (ay 10). Allah telah terlebih dahulu mengasihi kita dengan mengutus Yesus untuk menebus semua dosa-dosa kita. Itu adalah pernyataan kasih Allah kepada kita sebagai bentuk kasih karunia atau anugerahNya. Hari ini jika anda masih merasa dosa masih membelenggu anda, ingatlah bahwa Yesus telah menuntaskan itu semua. Jika hari ini anda masih merasa gelap, ketahuilah bahwa terang sudah dianugerahkan lewat kedatangan Kristus, Sang Terang Dunia. Jika anda sudah merasakan itu, jangan lupa pula untuk mewartakannya kepada sesama kita, karena sesungguhnya anugerah Tuhan ini bukan hanya untuk kita saja, melainkan berlaku untuk semua manusia, semua bangsa tanpa terkecuali. Kelahiran Yesus adalah pernyataan besarnya kasih Allah kepada dunia, yang sudah seharusnya merupakan "berita kesukaan besar untuk seluruh bangsa" (Lukas 2:10). Tanpa kelahiran Yesus niscaya kita semua masih terikat dalam gelap dan terbelenggu berbagai hal yang akan menyeret kita menuju kebinasaan. Tapi puji Tuhan, atas kasihNya kita semua telah dibebaskan menjadi orang-orang merdeka dengan jaminan keselamatan terbentang di hadapan kita. Tapi ingatlah bahwa meski itu merupakan anugerah, jika kita tidak percaya dan menerimanya maka sia-sialah semua itu. Karena itu bagi semua yang sudah menerima keselamatan dalam Kristus bisa bersukacita dengan sukacita sejati, yang harus mampu mengalahkan segala problema hidup maupun penderitaan. Tuhan sudah memberikan kasih karuniaNya, apakah kita sudah memutuskan untuk menerimanya? Malam ini mari kita semua sama-sama merenungkan betapa besar kasih Allah kepada kita dan bersyukur serta memuliakanNya. Selamat hari Natal, Tuhan Yesus memberkati.

Natal sebagai wujud besarnya kasih Allah kepada kita yang dianugerahkan lewat Kristus

Thursday, December 24, 2009

Kesukaan Besar untuk Seluruh Bangsa

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 2:10
=======================
"Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa"

natal, kesukaan besar"Senang sekali rasanya kalau kakek dan nenek datang menginap di rumah kami.." kata anak seorang teman saya dengan mata berbinar-binar. Mengapa demikian? "Karena saya akan dibela jika dimarahin." katanya tertawa. Tidak itu saja, ia pun menceritakan bahwa kakek dan neneknya selalu membawa oleh-oleh yang banyak bagi dirinya. Mereka selalu meluangkan waktu untuk bermain dengannya, berbeda dengan kedua orang tuanya yang biasanya terlalu sibuk untuk itu. Dalam memasuki Natal banyak keluarga yang berkumpul merayakan bersama-sama. Sukacita begitu terasa. Jika kehadiran kakek dan nenek saja sudah membuat hidup seorang anak kecil bisa menjadi lebih bahagia, apalagi kehadiran Sang Juru Selamat ke dunia ini. Dan itulah yang menjadi inti dari apa yang kita rayakan saat ini.

Bayangkan jika kita saat ini terkurung, tidak bisa keluar dari sebuah ruangan penjara yang gelap dan pengap, tanpa kepastian kapan kita bisa menghirup kebebasan, mungkin akan berakhir pula di sana. Tapi tiba-tiba pintu terbuka, cahaya terang menyeruak masuk membawa Sosok yang akan membebaskan kita. Bagaimana rasanya? Tentu perasaan bahagia yang luar biasa, lega, gembira dan penuh sukacita akan segera mengisi hati kita. Demikianlah manusia pada dasarnya begitu mudah terjerat dan terikat, terkurung dalam selubung dosa. Tidak jarang dosa-dosa begitu erat mengikat kita, sehingga kita tidak kuasa untuk melepaskan diri darinya. Ada banyak yang terbelenggu oleh perbuatan di masa lalu mereka, sehingga mereka tidak pernah bisa melangkah maju menatap ke depan. Ada yang sudah begitu terbiasa dalam kegelapan, sehingga tidak lagi percaya ketika melihat sinar terang. Tuhan tahu pergumulan kita. Tuhan tahu persis apa yang kita alami dan rasakan. Dan tidak hanya sekedar tahu, tapi Dia juga peduli, dan begitu mengasihi kita semua. Jurang menganga di depan kita yang akan menelan kita ke dalam kematian yang menyakitkan untuk selamanya. Tapi Tuhan tidak membiarkan itu terjadi. Dia sayang kepada anda dan saya, Dia ingin tidak satupun dari kita untuk binasa. Dan Yesus pun lahir ke dunia, buat setiap umat manusia.

Mari kita lihat pengalaman sekawanan gembala yang tengah menggembalakan ternak di padang rumput pada malam kelahiran Yesus dalam Lukas 2:8-20. Ketika mereka tengah menjaga ternak di malam hari, "Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan." (ay 9). Lalu apa kata malaikat kepada mereka? "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa." (ay 10). Dan inilah berita besarnya: "Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud." (ay 11). Sang Penebus, Sang Juru Selamat, Kristus Tuhan telah lahir! Malaikat memberitahukan tanda kepada mereka. Dan tiba-tiba pada saat itu mereka melihat "bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah." (ay 13) Wow, betapa hebatnya pengalaman mereka itu. Dan merekapun bergegas ke Betlehem untuk melihat langsung apa yang disampaikan Tuhan kepada mereka melalui perantaraan malaikat. Mereka pun menjumpai Maria, Yusuf dan Bayi Yesus yang tengah terbaring di dalam palungan, lying in a manger. (ay 16). Mereka segera menyampaikan apa yang mereka alami sebelumnya. Dan setelah itu, "Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka." (ay 20). Saya membayangkan sorak sorai penuh semangat, perasaan sukacita yang melimpah memenuhi diri mereka sepanjang jalan. Apa yang mereka alami, apa yang disampaikan Tuhan, apa yang dianugerahkan Tuhan di malam itu sungguh merupakan kesukaan besar. Bukan hanya bagi sekumpulan gembala, tapi terlebih untuk seluruh bangsa. Termasuk anda dan saya hari ini.

Kedatangan malaikat di depan para gembala sering dipakai untuk menggambarkan pesan kepada para gembala atau hamba Tuhan. Tapi bagi saya ini sebuah pesan yang sangat penting dari Tuhan buat semua kita yang percaya kepadaNya. Lihatlah serangkaian percakapan antara Yesus dan Simon Petrus pada Yohanes 21:15-19. Yesus tiga kali bertanya, "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Tiga kali pula Petrus menjawab "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Lalu Yesus membalas jawaban Petrus tiga kali pula dengan kalimat yang sama. "Gembalakanlah domba-domba-Ku." Kepada setiap orang yang mengasihi Kristus telah diberikan tanggungjawab yang sama. Jika kita mengasihi Kristus, kita harus pula menggembalakan domba-dombaNya. Oleh sebab itulah pesan malaikat kepada gembala-gembala dalam Lukas 2 di atas merupakan pesan yang diberikan kepada kita semua, orang percaya yang mengasihi Kristus.

Mari kita baca sekali lagi pesan tersebut. "Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa" (Lukas 2:10). Kedatangan Kristus ke dunia di awali dengan pesan ini, dan tepat sebelum Yesus terangkat ke surga, Dia meninggalkan pesan berupa Amanat Agung yang berbunyi: "pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu." (Matius 28:19-20). Nyatalah bahwa kedatangan Kristus sungguh membawa keselamatan bukan saja kepada sekelompok orang, tapi berlaku kepada seluruh bangsa dalam semua generasi. Dan kepada kita semua telah diberikan tanggungjawab yang sama, bukan dalam bentuk keterpaksaan, tapi justru dalam suasana kesukaan besar. Penuh sukacita memberitahukan kabar gembira ini kepada semua orang. Penyelamat telah lahir, Dia telah menebus semuanya dengan lunas, dan lewat Dia kita diberikan jalan untuk menuju keselamatan yang kekal. Tidakkah itu merupakan kabar gembira yang sanggup membuat kita semua bersorak sorai? Bukan hanya bagi kita, tapi kepada mereka yang belum mendengarnya pula, agar mereka pun bisa turut bersorak sorai dalam jaminan keselamatan lewat karya penebusan Kristus ke dunia.

Sekali lagi, pesan ini hadir buat semua kita, orang percaya yang mengasihi Tuhan, dan berlaku untuk seluruh bangsa. Siapapun berhak dan layak menerimanya, tidak peduli dari latar belakang atau golongan mana kita berasal. Dalam Kristus kita semua merupakan ciptaan baru (2 Korintus 5:17) yang sudah dilayakkan untuk menerima hak waris dalam KerajaanNya. Tidak ada perbedaan, kaya miskin, tua muda, status, jabatan dan sebagainya, semua mendapat kabar sukacita yang sama. Paulus mengatakan itu seperti ini: "Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya" (Roma 10:12). Atau lihatlah ini: "dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu." (Kolose 3:11).

Apapun beban permasalahan yang menimpa anda saat ini, ingatlah pesan dari Tuhan di atas. Jangan takut! "Do not be afraid; for behold, I bring you good news of a great joy which will come to all the people." Juru Selamat telah lahir. Kita tidak perlu takut lagi, "sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai." (Yesaya 9:5). Jika kita sudah mengimaninya, mari kita beritahukan pula kabar kesukaan besar ini kepada sesama kita yang belum mendengarnya, dan mari kita bersama-sama bersorak memuliakan Allah yang begitu peduli, begitu mengasihi kita.

Keselamatan merupakan anugerah Allah bagi seluruh bangsa yang diberikan lewat Kristus

Wednesday, December 23, 2009

Let's Rejoice for Jesus Christ is Born

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
 Ayat bacaan: Yesaya 9:5
====================
"Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai."

natal, go tell it on the mountain, mary had a baby, rejoiceSalah satu lagu Natal yang sangat saya sukai dan selalu menjadi lagu wajib putar menjelang Natal seperti saat ini adalah sebuah lagu yang diambil dari koleksi "The Christmas Album" nya David Foster yang dirilis tahun 1995. Lagu itu berjudul "Go Tell It on the Mountain/Mary Had a Baby", sebuah medley gabungan dua lagu yang dibawakan dengan sangat baik oleh Vanessa Williams. Sebuah pilihan pintar oleh David Foster mengaransemen kedua lagu ini menjadi satu. Mengapa? Ada beberapa hal yang menjadi alasan. Kedua lagu ini sama-sama berasal dari tahun 1800 an yang merupakan lagu klasik milik penduduk kulit hitam yang saat itu tengah mengalami masa-masa perbudakan. Kedua, lagu itu sama-sama menyerukan berita mengenai proses kelahiran Kristus ke dunia. Karena itulah saya menganggap keputusan menggabungkan kedua lagu ini merupakan pilihan yang pintar. Saya yakin kedua lagu ini merupakan lagu yang menjadi pengharapan dan sukacita bagi para budak kulit hitam di masa itu. Betapa tidak. Perbudakan sudah mereka alami secara turun temurun. Mereka seakan-akan tidak punya hak untuk memutuskan apapun, tidak memiliki hak sebagai manusia merdeka. Tapi kelahiran Kristus kedunia bermakna sebuah kebebasan, dan mereka pun tahu bahwa meski di dunia mereka tertindas, namun kelahiran Kristus adalah bukti nyata betapa mereka sangat dikasihi dan berharga di mata Tuhan. Hal seperti itu sanggup membuat mereka bersukacita. Tidak heran kedua lagu ini memiliki corak yang aslinya penuh dengan semangat dan bercorak nada ceria.

Manusia sejatinya pun merupakan hamba dosa. Betapa mudahnya dosa berkuasa atas hidup kita, sampai-sampai banyak manusia yang tidak mampu keluar dari jerat dosa itu sama sekali. Tapi kelahiran Kristus bermakna besar. Lewat kehadiran dan karya penebusanNya kita semua dimerdekakan, dari hamba dosa berubah menjadi hamba kebenaran. Mari kita lihat sejenak apa yang difirmankan Tuhan lewat Paulus. "Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran." (Roma 6:17-18). Lebih lanjut Paulus menjabarkannya demikian: "Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran...Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." (ay 20,22-23). Semua itu merupakan anugerah yang kita peroleh dari Tuhan atas kasihNya yang begitu besar, dan hanya diberikan lewat AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus. Lewat karya Kristus kita dibebaskan dan dimerdekakan dari dosa. Kita memperoleh buah yang akan membawa kita menuju sebuah hidup penuh sukacita yang kekal sifatnya.

Nubuatan mengenai kelahiran Kristus dinyatakan melalui Yesaya. "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai." (Yesaya 9:5). Ini sebuah berita besar bagi dunia. Di awal pasal 9 ini disebutkan bahwa "Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar." (ay 1). Kedatangan Kristus mengubahkan keadaan dunia yang gelap gulita dan menggantikannya dengan sebuah harapan dan kehidupan baru yang terang benderang. Oleh karenanya sorak sorai dan sukacita besar pun hadir bagi setiap orang percaya. (ay 2). Sebab apa? Sebab semua kuk dan gandar, semua beban dosa, kutuk atau belenggu-belenggu lain yang mengikat kita sudah Dia patahkan lewat kehadiranNya. (ay 3). Selain memberikan terang baru yang penuh harapan, Yesus Sang Raja Damai pun membawa kedamaian, mengubahkan hati kita menjadi sebentuk hati yang penuh kasih. Atas semua ini, tidakkah kita pantas bersukacita?

Dalam beberapa hari ke depan kita akan merayakan kelahiran Tuhan Yesus, turun ke dunia bukan untuk bersenang-senang tapi demi menuntaskan misi yang diberikan Bapa kepadaNya, yakni menyelamatkan semua manusia, meluputkan kita dari kebinasaan dan membawa kita beroleh kehidupan kekal. Kita bisa belajar dari para budak kulit hitam memaknai kelahiran Tuhan Yesus. Mereka pada saat itu tertindas, tidak merasakan hak-hak pribadi mereka sebagai manusia, hidup dalam perbudakan, tapi mereka mampu bersukacita ketika mengingat bahwa Yesus telah turun ke dunia untuk memerdekakan segala manusia, mematahkan segala belenggu yang mengikat kita. Mereka tahu bahwa keselamatan menuju kehidupan kekal sudah dianugerahkan bagi mereka. Meski di dunia mereka tertindas, namun mereka adalah orang-orang yang merdeka secara spiritual, dan telah mendapatkan hak waris Allah dalam kerajaanNya. Karena itulah mereka bersukacita. Mary had a Baby, go tell it on the mountain that Jesus Christ is born!

Adakah di antara kita yang saat ini masih menderita, sulit lepas dari belenggu dosa atau permasalahan hidup? Adakah dari kita yang hari ini masih merasa terkurung dalam kegelapan dan sulit melihat datangnya cahaya terang? Adakah yang masih berbeban berat, terikat dengan masa lalu yang membuat sulit untuk melangkah maju? Listen to what the suffering African American more than a century ago had said. They were all over the mountain, shouting down to the earth the good news, that Jesus Christ is born! Dengar mereka meneriakkan kabar gembira dari atas gunung kepada kita semua bahwa Yesus telah lahir. Semua pengikat dan belenggu telah Dia patahkan, dan kepada kita dianugerahkan keselamatan kekal. Memasuki Natal tahun ini, mari kita semua menghayati benar bahwa dalam Kristus ada pemulihan, pengharapan dan kemenangan. Jangan takut, jangan bersedih, bergembiralah. Seperti kepada mereka, kepada kita pun telah dianugerahkan hal yang sama. For that we definately should rejoice.


Let's rejoice, for Jesus Christ is born

Tuesday, December 22, 2009

Kembali kepada Esensi Natal

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Roma 15:1
======================
"Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri."

menolong sesama, esensi natal, makna natalSaya ingat bagaimana suasana Natal di sebuah kota besar di Eropa yang pernah saya kunjungi sekitar sepuluh tahun yang lalu. Suasananya begitu indah dan meriah. Lampu menghiasi berbagai rumah, dan berpadu dengan salju yang turun memutihkan pemandangan. Kelap kelip pohon Natal terlihat di mana-mana, di jalan hingga jendela-jendela rumah. Anak-anak kecil sibuk membangun boneka salju bersama ayahnya tanpa menghiraukan dinginnya udara. Pesta pun di gelar di mana-mana. Indah tapi ironis, ketika gereja-gereja malah terlihat sepi. Di daerah tempat saya menginap ada sebuah gereja kecil. Pengunjungnya hanyalah orang-orang tua saja. Pemilik rumah di mana saya menginap pun merayakan Natal dengan pesta keluarga lengkap dengan tukar menukar kado di bawah pohon Natal. Tapi tidak satupun dari mereka yang pergi ke gereja atau memberi sesuatu kepada sesamanya yang membutuhkan. Tepat di depan rumah mereka padahal ada pengamen yang terus bermain biola meski udara dingin menusuk tulang. "Christmas means celebration, it's a style.." katanya. Tidak ke gereja? "Nobody goes to church anymore except the elders.." katanya lagi. Tampaknya bagi kota itu makna Natal telah berubah menjadi sebuah perayaan semata. Menikmati libur, pesta besar atau kecil dan bertukar kado, meriah, tapi tidak lebih dari itu. Tidak hanya di kota itu, tapi sebagian dari kita orang percaya pun telah menjadi korban dari pergeseran makna Natal ini. Kita mementingkan pesta dan kemeriahan, makin mewah makin bagus, pujian dari orang yang diundang sangat penting bagi kita, tidak lagi merenungkan apa yang sebenarnya dirayakan lewat Natal.

Kemarin kita sudah melihat esensi sebuah perayaan Natal yang sesungguhnya, yaitu meneladani Allah yang memberi karena Dia teramat sangat mengasihi kita semua. Yesus, Sang Raja di atas segala Raja tentu layak mendapatkan segala pelayanan yang terbaik yang ada di permukaan bumi ini. Dia berhak, lebih dari berhak untuk itu. Tapi Yesus memilih untuk mengesampingkan hak-hakNya untuk mendapatkan pelayanan kelas utama. Dia turun ke dunia "bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Markus 10:45). Yesus memilih untuk melepas atribut ke-IlahianNya dan "mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia." (Filipi 2:6-7) Tidak berhenti sampai disitu tapi "dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (ay 8). Semua itu adalah untuk sebuah misi menebus kita semua, manusia yang berselubung dosa. Penebusan yang hadir sebagai anugerah terbesar dari Tuhan karena Dia teramat sangat mengasihi manusia, His masterpiece, yang begitu berharga bagiNya. Jika kita lihat sekarang, ada banyak orang yang merayakan Natal hanya sebatas seremonial dan kemeriahan pesta saja, tidak lagi memikirkan apa yang paling mendasar dari perayaan Natal, tidakkah itu ironis? Bayangkan bagaimana perasaan Tuhan melihat anugerahNya yang terbesar dikesampingkan dan hanya dipakai sebagai selebrasi semata. Seandainya kita di posisi Tuhan, apa yang kita rasakan? Sedih? Kecewa? Kesal? Marah?

Kasih merupakan inti dasar dari kekristenan. Mengasihi terhadap sesama manusia seperti halnya kita mengasihi diri sendiri merupakan hukum terutama kedua seperti yang diajarkan Yesus sendiri. "Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini." (Markus 12:31) Bahkan lebih dari itu, kita juga harus mengasihi sesama seperti halnya Yesus mengasihi kita. "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Bagaimana Yesus mengasihi kita? Dia mengesampingkan atribut dan hak-hakNya hingga memberikan nyawaNya bagi kita. Dia mengajarkan itu: "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya" (15:13), dan sudah membuktikannya langsung dengan karya penebusanNya. Bagaimana kita bisa mencapai level itu jika untuk memberi sebagian saja sudah sulit? Bagaimana kita bisa memenuhi perintah Kristus jika melihat orang menderita di depan kita saja tidak peka?

Dalam Roma 15:1-6 kita membaca bagaimana menjalani hidup sebagai seorang Kristen yang seharusnya. "Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri." (Roma 15:1) Kita tidak boleh mementingkan kepentingan diri sendiri, menyenangkan diri sendiri saja dan menutup mata dari kesulitan-kesulitan yang tengah menimpa saudara-saudara kita. "Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya." (ay 2). Lebih dari apa yang menyenangkan diri kita pribadi, kita harus bisa mengesampingkannya demi mencari apa yang bisa menyenangkan sesama kita, apa yang bisa kita buat untuk menolong atau meringankan beban mereka. Tidak sebatas memberi kesenangan saja karena itu bisa mengarah kepada pemberian-pemberian yang tidak mendidik atau malah menyesatkan, tapi firman Tuhan berkata bahwa kita wajib membantu untuk kebaikan mereka. Demikianlah keteladanan yang kita peroleh dari Kristus. "Karena Kristus juga tidak mencari kesenanganNya sendiri." (Ay 3) Kristus peduli terhadap manusia lebih dari kepentingan diriNya sendiri. Jika Tuhan saja demikian, seyogyanya kita pun demikian, setidaknya mulai belajar untuk melakukan itu dimulai dari hal-hal yang sederhana, lalu terus melatih kepekaan kita terhadap penderitaan sesama, sehingga pada suatu ketika kita bisa "satu hati dan satu suara memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus" bersama-sama mereka. (ay 6).

Jika kita bersyukur atas anugerah keselamatan dari Tuhan lewat kelahiran Kristus ke dunia, berarti sudah pada tempatnya kita berpikir untuk melakukan sesuatu sebagai ucapan syukur kita. Apa yang harus kita lakukan? Yesus berkata bahwa "sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40) Itu pesan pentingnya, dan dalam memperingati Natal pun sudah seharusnya kita memikirkan untuk melakukannya. Ingatlah bahwa kita hidup untuk memuliakan Tuhan. "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36). Hidup ini berasal dari Tuhan, berpusat pada Tuhan, menjalani bersama Tuhan dan berakhir untuk Tuhan. Itulah kehidupan kekristenan sejati. Jika demikian, kita tidak pantas untuk mementingkan kepentingan diri sendiri saja, sibuk membuat pesta dengan segala kemewahan dan kemeriahannya sementara di sekeliling kita masih banyak orang yang berjuang mati-matian untuk sekedar bertahan hidup. Ingatlah pesan Tuhan berbunyi "Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus." (Galatia 1:10). Pesta besar tentu akan berkenan kepada manusia, pujian dan pujaan mungkin hadir buat kita, nama dan popularitas mungkin meningkat, tapi itu tidaklah berkenan bagi Kristus sebelum kita terlebih dahulu mengulurkan tangan kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan. Seorang hamba Kristus akan rela melepas atribut dan hak dalam melakukan segala yang dikehendaki Tuhan dalam hidupnya. Sebagai bentuk ucapan syukur kita atas anugerah Tuhan dalam memperingati Natal, hendaklah kita sama-sama merenungkan kembali esensi Natal yang sesungguhnya dan mulai melakukan sesuatu sebagai ucapan syukur kita.

Put a smile back on their face, let them feel God's grace through us

Monday, December 21, 2009

Melepaskan Hak

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Markus 10:45
=====================
"Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

melepaskan hak, pesta natalSirene berbunyi nyaring dari belakang. Saya yang sedang mengemudi pun harus minggir bersama mobil-mobil lainnya yang berada di sekitar saya. Ternyata bukan ambulans yang lewat, melainkan mobil pejabat dengan plat khusus diiringi polisi "voorider" yang mengawalnya. Tidak peduli jalan macet, lampu merah sekalipun, mereka akan meminggirkan dan menabrak rambu apapun yang ada di depannya agar orang penting yang berada di dalam mobil itu bisa melintas tanpa gangguan. Mengapa harus seperti itu? "Memang sudah selayaknya, itu hak pejabat tinggi, kalau mau seperti itu ya jadi pejabat sajalah.." kata teman saya sambil tertawa. Sejujurnya saya tidak ingin seperti itu. Saya tidak ingin menabrak peraturan apapun karena sebagai manusia saya punya hak dan kewajiban yang sama di mata Tuhan. Tidak ada yang lebih tidak ada yang kurang. Jika yang lain harus mematuhi rambu, saya pun harus demikian apapun ceritanya.

Bagaimana acara atau pesta Natal yang sudah anda rencanakan? Kerap kali kita terlalu sibuk membuat pesta semegah mungkin agar bisa terlihat "wah" dan tidak memalukan di mata relasi, keluarga, kolega dan teman-teman. Begitu megahnya sampai-sampai kita lupa esensi yang hakiki dari sebuah perayaan Natal. Jika sanggup, kenapa tidak? Itu benar, dan itu hak masing-masing orang untuk mempergunakan hasil jerih payahnya. Tapi jangan lupa bahwa kita harus pula melihat sekeliling kita dan menyisihkan sebagian dari apa yang kita miliki untuk membantu mereka, meringankan penderitaan mereka, dan khususnya ketika kita menyambut Natal, mungkin bisa membuat orang lain bisa merasakan terang Kristus pula lewat diri kita. Betapa indahnya jika Natal bisa menjadi momentum titik balik seseorang, menjadi awal pertobatan dengan mengenal Kristus. Tapi kenyataannya ada banyak orang yang lebih mementingkan hak ketimbang kewajiban. Pesta mewah digelar, sementara di luar ada banyak orang yang untuk makan saja sudah menjerit. Tegakah kita? Benar, yang mencari uang itu kita sendiri, tapi apa yang kita miliki merupakan berkat Tuhan, yang harus dipakai pula untuk memberkati orang lain. Kita diberkati untuk memberkati. Apalagi hakekat sesungguhnya dari Natal justru jauh dari hingar bingar pesta.

Ayat bacaan hari ini menggambarkan tujuan Kristus turun ke dunia. "Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Markus 10:45). Layakkah Yesus dilayani? Tentu lebih dari layak. Jika raja atau presiden dan pemimpin-pemimpin dunia saja layak, Tuhan pasti jauh lebih layak dari mereka. Tapi apakah Yesus mementingkan hakNya? Ternyata tidak. Tuhan Yesus memilih untuk melepaskan hakNya, bukannya meminta pelayanan paling mewah dan top sebagai Raja di atas segala raja, tapi justru datang untuk melayani, bahkan memberikan nyawaNya sebagai tebusan untuk kita semua. Paulus mengatakan hal itu juga. Meski Yesus adalah Allah, namun Dia tidak merasa bahwa kesetaraan dengan Allah itu sebagai sesuatu yang harus dipertahankan, "melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia." (Filipi 2:6-7). Semua itu sebagai bagian dari besarnya kasih Allah kepada kita yang ingin kita semua diselamatkan. Untuk menggenapinya Yesus harus mengalami peristiwa yang sungguh mengenaskan. "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (ay 8). Semua demi kita, dan hari ini ketika kita memperoleh jawaban pasti mengenai pintu keselamatan, ketika hari ini kita bisa menikmati hadirat Tuhan yang kudus, semua itu kita peroleh lewat pengorbanan Yesus yang begitu luar biasa. Bayangkan, Yesus yang seharusnya layak mendapat pelayanan yang terbaik di muka bumi ini, lebih dari presiden atau pemimpin dunia sekalipun, tapi ternyata memilih untuk mengesampingkan itu semua demi menyelamatkan kita, menolong kita keluar dari kebinasaan, menebus semua dosa-dosa manusia di atas kayu salib. Bahkan kelahiranNya di muka bumi ini pun tidak menggambarkan sosok Putera dari Pemimpin di atas segala pemimpin. Anak pejabat atau orang terkemuka akan membutuhkan pelayanan dan tempat terbaik di muka bumi ini, namun Tuhan justru memilih kelahiran Yesus di dalam sebuah kandang. Tidak ada kemewahan, tidak ada pesta dan tidak ada gegap gempita apa-apa, namun kelahiran Yesus sungguh bermakna luar biasa besar yang hasilnya saat ini juga turut kita nikmati.

Sesungguhnya apa yang berkenan bagi Tuhan bukanlah kemewahan atau kemeriahan pesta Natal kita. Jika Tuhan menganggap itu penting, tentu Dia menurunkan Yesus dalam tahta emas yang mungkin kilaunya menerangi seluruh dunia, atau menggelar karpet merah pada setiap langkah di mana Yesus berjalan. Tapi tidak demikian. Bagi Tuhan, yang penting adalah keselamatan kita semua. Demi mencegah kita jatuh ke dalam kebinasaan, Yesus pun Dia anugerahkan hingga menyerahkan nyawa. Seperti halnya kedatangan Yesus yang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani bahkan memberikan nyawaNya sebagai tebusan bagi kita, demikian pula kita semua sebagai orang percaya seharusnya memiliki hati hamba, hati yang rela merendahkan diri dan melayani sesama kita, hati yang mau menyampingkan atribut-atribut duniawi yang kita miliki dan turun langsung memberkati orang lain lewat pelayanan kita. Uluran tangan kita bisa bermakna seperti tetes embun di padang gurun, bagai sinar yang menerangi kegelapan bagi orang lain. Sungguh bagi Tuhan satu nyawa sekalipun sangatlah berarti. "Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang." (Matius 18:14) Karena itu tidaklah mengherankan jika firman Tuhan berkata "akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat." (Lukas 15:10). Itulah sukacita yang sesungguhnya. Bukan dari kemewahan pesta atau gegap gempita perayaan Natal, melainkan jika ada orang yang bertobat lewat pelayanan atau uluran tangan kita.

Sudah saatnya bagi kita untuk kembali kepada pesan Natal yang sesungguhnya, yaitu meneladani Allah yang memberi karena Dia teramat sangat mengasihi kita semua. Natal merupakan saat dimana kita memperingati kelahiran Yesus, dimana kelahiranNya adalah untuk menyelamatkan kita semua. Itu adalah pemberian yang luar biasa besar, dan itulah yang seharusnya kita teladani dan jalankan. Pesta meriah tentu boleh saja, itu hak masing-masing orang, tapi ingat bukan pestanya yang penting di mata Tuhan, walau di mata manusia mungkin penting, tetapi bagaimana esensi Natal itu kita amalkan sehingga kita bisa membuat sorga bersukacita karena ada orang yang dijamah Tuhan melalui peran kita sebagai terang dan garam. Siapkah anda merelakan hak-hak anda untuk disampingkan dan melakukan sesuatu agar orang bisa mengenal Tuhan? Membantu dalam hal-hal besar tentu baik, namun seutas senyum tulus sekalipun bisa begitu besar artinya bagi orang lain. Mari belajar mengasihi sesama kita, seperti Tuhan pun mengasihi semua manusia tanpa terkecuali, dan mulai melakukan sesuatu dimana Tuhan dipermuliakan.

Belajarlah untuk rela melepaskan hak-hak kita secara duniawi untuk melakukan pekerjaan surgawi

Sunday, December 20, 2009

Harta Karun

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Ibrani 6:12
====================
"agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah."

harta karunSewaktu kecil saya sangat menggemari kisah-kisah harta karun peninggalan bajak laut. Bukan bajak lautnya yang menarik bagi saya, tapi harta karunnya. Tokoh utama menemukan sebuah peta yang berisi petunjuk jalan menuju ke tempat di mana harta karun itu disimpan. Setelah mengikuti petunjuk-petunjuk itu, akhirnya sebuah peti harta karun yang penuh dengan emas permata pun ditemukan tertimbun di dalam tanah. Ini kisah yang selalu saya gemari karena ada proses yang dilakukan terkadang penuh dengan sandi atau rahasia sampai akhirnya harta karun itu berhasil diperoleh. Berjalanlah hingga langkah tertentu, jika anda mengabaikannya maka bahaya menghadang. Mengikuti sepenuhnya dengan teliti dan taat akan membawa anda untuk menemukan harta terpendam itu. Bisakah harta karun itu langsung muncul di hadapan kita? Tentu tidak. Jika bisa tentu namanya bukan lagi harta karun. Untuk bisa memperoleh harta karun, orang harus terlebih dahulu memiliki petanya, lalu membacanya baik-baik, mempelajarinya dengan seksama dan mengikuti petunjuk yang dimuat di dalam peta. Setelah itu semua dilakukan barulah harta karun itu bisa ditemukan.

Alkitab berisi begitu banyak tulisan yang memuat firman Tuhan sebagai penuntun hidup yang mengarahkan kita kepada keselamatan. It's a God's treasure chest! Harta karun Tuhan. Seperti halnya harta karun, kita tidak akan bisa mendapatkan apa-apa jika tidak membaca, mempelajari, merenungkan dan melakukan segala yang digariskan Tuhan kepada kita. Tuhan mengingatkan itu melalui Yosua (Yosua 1:8), kita bisa melihat itu lewat Ezra (Ezra 1:1-11) dan tokoh-tokoh alkitab lainnya, dan seperti apa yang diajarkan Yesus sendiri. (Lukas 6:46-49). Kita tidak akan bisa melakukan sebelum kita mengetahui jelas apa yang menjadi suara Tuhan, kita tidak bisa mengetahui sebelum mulai membaca. Seperti halnya mengikuti peta harta karun, kita pun akan masuk pada jebakan atau kebinasaan jika kita bertindak di luar petunjuk yang telah disediakan. Sebaliknya keselamatan dan keberhasilan akan bisa dicapai apabila kita setia mengikuti langkah demi langkah. Alangkah sayangnya jika kita masih melewatkan begitu banyak janji Tuhan hingga hari ini.

Menjalani hidup tidaklah mudah. Seringkali ada banyak kerikil menghalangi langkah, bahkan angin badai permasalahan pun bisa silih berganti menerpa kita. Ada saat-saat dimana kita tidak lagi bisa berbuat apa-apa dan hanya berharap pada sebuah keajaiban. Tanpa adanya pegangan niscaya kita lemah dan akan mudah sekali untuk menyerah kalah kehilangan tenaga dan harapan untuk terus bertahan. Kita seringkali terjebak untuk terus tenggelam dalam permasalahan, padahal Tuhan telah begitu banyak memberikan janji kekuatan, kesembuhan dan keselamatan lengkap dengan petunjuk bagaimana cara mendapatkannya. Dan itu semua telah tertulis dalam alkitab. Tidak hanya itu saja, tapi alkitab juga mencatat begitu banyak kesaksian dari orang-orang yang telah mengalami sendiri bagaimana luar biasanya ketika janji Tuhan digenapi. Lihatlah serangkaian saksi iman yang tercatat di dalam Ibrani 11. Bacalah Ibrani 11, disana kita bisa menyaksikan sendiri bagaimana iman, sebagai dasar dari sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari sesuatu yang tidak kita lihat (ay 1) ternyata mampu menjadi solusi. "Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita." (ay 2). Berbagai tokoh dalam rentang waktu yang berbeda mendapatkan bukti nyata dari iman mereka yang kuat. Waktunya ada yang segera dan ada yang harus menunggu, namun pada akhirnya semua janji Tuhan itu digenapi, meski pada awalnya kelihatan mustahil sekalipun, dan segalanya indah pada waktunya. (Pengkotbah 3:11).

Apakah anda merasa lemah hari ini akibat tekanan masalah? Tuhan menjanjikan bahwa anda bisa "beroleh kekuatan dalam kelemahan" (ay 34). Apakah anda merasa masalah anda hari ini sudah terlambat diselesaikan? Sara membuktikan bahwa Tuhan sanggup membuat kemustahilan menjadi nyata (ay 11). Laut merah terbelah, selamat dari pembunuhan bahkan orang yang sudah mati hidup kembali, semua itu sudah menjadi catatan kesaksian para pahlawan iman yang dicatat dalam Ibrani 11. Bukan hanya mereka, tapi setebal alkitab itu kita akan terus menemukan bukti bagaimana Tuhan mampu memulihkan apapun lewat iman kita. Oleh karena itulah Penulis Ibrani mengingatkan kita agar terus "menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya." (Ibrani 6:11). Semua ini sungguh berguna, "agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah." (ay 12). Kita haruslah terus bersemangat sampai akhir, agar kita bisa menerima apa yang kita harapkan, terutama janji keselamatan sebagai anugerah terbesar yang diberikan Tuhan buat kita.

Anda ingin semua mukjizat bisa menjadi nyata dalam hidup anda? Jangan lewatkan harta karun Tuhan. Jangan biarkan harta karun itu teronggok berdebu di lemari anda. Mulailah buka, baca, renungkan dan lakukan hari ini juga. Ada banyak sekali janji Tuhan yang diberikan di sana, begitu banyak hingga anda akan terkejut melihat begitu banyak rahasia yang dibukakan terhadap hal-hal yang mungkin tidak pernah anda ketahui sebelumnya. "Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci." (Roma 15:4). Itulah harta terpendam yang jauh lebih berharga dari emas, perak dan permata, dan itu semua saat ini ada di depan mata kita. Generasi-generasi terdahulu sudah membuktikan kebenarannya. Dan jika semua itu terbukti bagi mereka, kepada kita pun itu bisa terjadi. So, let's discover God's treasure chest today and receive all His valuable promises!

Janji-janji Tuhan bagai harta karun yang sedang menanti untuk ditemukan

Saturday, December 19, 2009

Suap

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 8:18
===========================
"Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka"

suapBetapa sulitnya membenahi korupsi di negara kita. Sepertinya korupsi sudah menjadi bagian budaya sehingga sangat sulit untuk diberantas. Bayangkan bagaimana manusia bisa tega menggelembungkan jumlah korban bencana untuk kepentingan pribadinya. Badan yang seharusnya menangani masalah koruptor pun ternyata melakukan korupsi. Budaya suap termasuk di dalamnya. Untuk melincinkan segala urusan, pelumasnya adalah uang. Itu terjadi hampir di seluruh sendi kehidupan, mulai dari mendapatkan tempat parkir hingga mendapatkan jabatan, semua sepertinya harus disertai dengan "ucapan terima kasih" dalam bentuk lembaran-lembaran uang agar proses bisa menjadi mulus tanpa hambatan. Suap terang-terangan atau terselubung pun berlaku dimana-mana, dan saat ini menjadi pekerjaan rumah bagi hampir seluruh bangsa di dunia.

Suap hari ini menjadi buah simalakama bagi kita. Untuk bersikap jujur pun sudah susah, karena seringkali kita akan dipersulit jika kita ingin memakai jalur benar. Baru saja kemarin istri saya mengambil kiriman dari kantor pos dan diharuskan membayar sejumlah uang sebagai pajak. Ketika istri saya berada di dalam ruangan, saya didekati seorang pegawainya yang menganjurkan agar lain kali lewat jalur belakang saja. Uang yang dibayar bisa lebih sedikit, namun uang itu masuk ke kantong pribadi dan bukan untuk negara. Di pengadilan ketidakadilan menjadi pemandangan biasa. Itulah potret keadilan hari ini.

Sebenarnya jauh di masa lalu kasus suap menyuap ini pun sudah terjadi. Pengkotbah pada suatu kali mengatakan "Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situpun terdapat ketidakadilan." (Pengkotbah 3:16). Bukankah hal yang sama kita lihat pula sekarang? Keadilan menjadi sesuatu yang semu karena semua itu bisa dibeli. Fakta bisa diputarbalikkan dan yang terang-terang salah pun bisa berubah dianggap benar.

Sebuah bagian dalam Kisah Para Rasul pun mencatat masalah suap ini. (Kisah Para Rasul 8:4-25). Pada suatu kali Petrus dan Yohanes diutus Allah mengunjungi tanah Samaria untuk melayani. Kedua rasul ini pun langsung sibuk bekerja menumpangkan tangan mereka agar segenap rakyat Samaria yang telah bertobat menerima Yesus bisa beroleh Roh Kudus. Ada seorang penyihir terkenal di kota itu bernama Simon yang sebenarnya sudah menyatakan bertobat dan menerima Yesus yang melihat bagaimana kuasa mukjizat Tuhan turun secara luar biasa atas banyak orang. Sebagai orang yang punya latar belakang penyihir, tentu apa yang ia saksikan begitu menakjubkan. Meski ia seorang penyihir besar, namun kelihatannya apa yang dilakukan para rasul lebih hebat dari apa yang bisa ia lakukan, terutama ketika melihat bagaimana Roh Kudus mengalir kepada para orang Samaria yang telah dibaptis sebelumnya. Ia pun ingin memiliki kemampuan seperti itu. Dan ketika keinginannya tak tertahankan lagi, ia pun menawarkan suap. "Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka" (Kisah Para Rasul 8:18). Katanya: "Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus." (ay 19). Ini sebuah kasus penyuapan. Seperti pola pikir yang ada pada masyarakat saat ini, demikian pula Simon mengira bahwa uang bisa membeli segalanya, termasuk karunia Allah sekalipun! Itu jelas tidak mungkin. Kedua rasul menolak dengan tegas. Petrus pun segera menegurnya dengan keras. "Tetapi Petrus berkata kepadanya: "Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang." (ay 20).

Simon memang termasuk beruntung karena ia segera menyesali perbuatannya. Tapi ada begitu banyak orang hari ini yang masih saja berkompromi dengan suap menyuap, bahkan menganggap itu sebagai gaya hidup yang memang sudah menjadi sesuatu yang wajar. Berdosa menjadi urusan nanti saja, yang penting sekarang licinkan dulu urusannya. Padahal masalah suap ini merupakan sebuah penghinaan bagi Tuhan, "Siapa berjalan dengan jujur, takut akan TUHAN, tetapi orang yang sesat jalannya, menghina Dia." (Amsal 14:2), juga kekejian bagiNya. "karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat." (3:32). Berlaku curang dengan cara menyuap untuk kepentingan duniawi saja sudah salah, apalagi jika berpikir bahwa karunia Tuhan bisa dibeli. Karunia Tuhan tidak bisa dibeli. Keselamatan tidak bisa dibeli, Tuhan tidak bisa disuap dengan cara apapun.  Semua ini bisa mengarahkan kita kepada kebinasaan, baik yang menyuap maupun disuap.

Dalam serangkaian peraturan tentang hak-hak manusia yang tercatat dalam Keluaran, kita membaca salah satunya berbicara mengenai kasus suap ini. "Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar." (Keluaran 23:8). Suap bisa memutarbalikkan kebenaran dan melukai rasa keadilan. Dan itu semua tidak akan pernah berkenan di hadapan Tuhan. Kita mungkin bisa merasa lebih mudah saat ini, urusan bisa jauh lebih cepat, namun sebenarnya kita tengah menolak segala berkat yang telah Tuhan sediakan, termasuk anugerah keselamatan kekal yang begitu besar itu. Mungkin kita terpojok karena rekan-rekan di pekerjaan menerima suap, meski demikian itu bukanlah alasan untuk ikut sesat seperti mereka. Titus mengingatkan demikian: "Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah, jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita." (Titus 2:9-10). Dengan melakukan suap artinya kita tidak memuliakan Allah, melainkan menghina Dia. Tentu tidak ada satupun kita yang ingin menghina Tuhan bukan? Oleh sebab itu, hindarilah praktek-praktek suap menyuap, baik di posisi penyuap ataupun yang disuap. Berbuatlah jujur dan bersih karena itulah yang berkenan di hadapan Tuhan.

Melakukan suap berarti tidak memuliakan bahkan menghina Tuhan

Friday, December 18, 2009

Pondasi Kuat

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 6:47-48
==========================
"Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya..ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun."

pondasi kuat, dasar kuat, dasar rohani, batu karangDalam usaha mencari rumah beberapa bulan yang lalu saya menjadi lebih banyak belajar mengenai pentingnya pondasi rumah sebelum membeli. Ada beberapa perumahan yang terlihat menarik dari luar, harganya pun relatif murah, namun ternyata jika diamati lebih jauh ternyata rumah yang dibangun disana tidak cukup kokoh untuk ditinggali buat jangka waktu lama. Malah ada rumah yang belum ditempati tapi bagian depannya sudah roboh. Saya jadi tahu bahwa tidak cukup keindahan tampak luarnya saja yang penting, bukan cuma luas tanah, bangunan dan harganya yang harus menjadi pertimbangan, tapi ternyata kekokohan pondasi pun sangat penting, bahkan paling penting karena menyangkut ketahanan rumah dalam melintasi waktu. Apa yang tampak indah belum tentu kuat. Karena itulah titik berat saya dalam mencari rumah berubah dengan mementingkan kokoh tidaknya pondasi yang dibuat sebelum rumah didirikan.

Jika pondasi rumah saja begitu penting, apalagi pondasi kehidupan kita. Kehidupan ini tidaklah mudah untuk dijalani. Selalu ada badai masalah, tekanan, problema dan berbagai rintangan yang akan terus menerjang kita dari segala sisi. Bagaimana kita bisa bertahan dan tetap tegar ditengah badai jika kita tidak memiliki pondasi yang cukup kuat? Bisa-bisa terkena masalah kecil yang jika dibandingkan dengan badai hanya berupa angin sepoi saja kita sudah runtuh. Tuhan Yesus sudah mengingatkan pentingnya membangun pondasi yang kuat sebagai dasar untuk hidup. FirmanNya: "Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya--Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan--, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun." (Lukas 6:47-48). Seperti halnya rumah yang dibangun dengan membuat pondasi jauh menembus permukaan, rumah itu tidak akan gampang goyah ketika air bah, banjir, atau badai dan gempa melanda rumah itu. Betapa besar peran pondasi yang kokoh dalam menjaga rumah agar tetap tegak berdiri di tengah badai. Seperti itu pula yang akan terjadi dengan kita jika kita peduli untuk meletakkan dasar yang kuat bagi kerohanian kita. Masalah yang silih berganti niscaya tidak akan mudah meruntuhkan kita. Bagaimana sebaliknya? Yesus melanjutkan: "Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya." (ay 49). Orang yang tidak peduli dengan dasar yang kuat akan menjadi seperti rumah yang dibangun di atas tanah tanpa dasar. Sedikit saja digoyang, rumah akan rubuh dan hancur lebur.

Lihatlah bahwa bangunan boleh saja tampak sama indah dari luar. Namun kualitas sesungguhnya baru akan terlihat apabila ada goncangan menerpanya. Bangunan yang punya pondasi kuat tidak akan gampang rusak meski dilanda berbagai bencana, tapi sebaliknya bangunan yang dibangun ala kadarnya akan porak poranda, hancur berkeping-keping ketika badai, banjir atau air bah datang menghantamnya. Seperti halnya bangunan, demikian pula kerohanian kita. Agar kuat, kita perlu memperhatikan atau bahkan menitikberatkan pertumbuhannya dalam sebuah dasar yang kuat.

Bagaimana caranya? Sama seperti kemarin, Yesus pun ternyata mengajarkan hal yang sejalan dengan renungan kemarin. Rumah yang dibangun dengan dasar yang kuat akan berlaku kepada "Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya". (ay 47). Ini syaratnya untuk membuat sebuah pondasi kokoh kerohanian yang berpengaruh pada kekuatan hidup. Datang kepadaNya, mendengarkan perkataanNya dan melakukan firmanNya. Berhenti pada percaya kepadaNya dan mengetahui firmanNya saja tidaklah cukup untuk membangun pondasi kuat. Kita harus pula melanjutkan dengan melakukan apa yang Dia ajarkan. Kita harus melandaskan hidup kita sepenuhnya pada batu karang yang tidak lain adalah Kristus sendiri. (1 Korintus 10:4).

Dasar kekristenan bukanlah sekedar rajin berseru kepada Tuhan saja. Itu tidak cukup. Yang akan mendapat tempat ke dalam Kerajaan hanyalah orang yang tidak berhenti hanya sampai disana, tapi melanjutkan pula kepada melakukan firman. Yesus berkata "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 7:21) Tuhan tidak berkenan kepada orang yang rajin berseru, tapi hanya sebatas teoritis saja tanpa disertai praktek atau aplikasi secara nyata dalam kehidupan. "Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?" (Lukas 6:46). Karenanya janganlah berpuas diri hanya ketika kita sudah rajin berdoa, atau ketika kita sudah rajin membaca firman Tuhan. Itu baik adanya, namun tanpa disertai perbuatan nyata sesuai kehendak Tuhan, semua itu tidak akan bermanfaat.

Orang saleh bukanlah orang yang hanya rajin berdoa dan tampak suci di mata masyarakat, tapi sebenarnya adalah orang yang melanjutkan langkahnya dengan melakukan segala sesuatu dalam ketaatan penuh sesuai firman Tuhan. Bagi orang-orang yang saleh Tuhan menjanjikan begitu banyak kebahagiaan seperti yang tertulis dalam Mazmur 16:1-11. Apa yang Tuhan janjikan seindah ini: "Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa" (Mazmur 16:11), dan itu semua akan hadir kepada orang-orang yang peduli untuk membangun kehidupannya di atas dasar rohani yang kuat. Oleh karena itu, hendaklah kita tidak berhenti hanya kepada percaya dan membaca saja, namun melanjutkan itu pula dengan menjadi para pelaku firman yang mampu menjadi terang dan garam di manapun kita berada. Perhatikan baik-baik kehidupan kita apakah sudah dibangun dengan pondasi kuat atau belum. Jika belum, benahilah segera sebelum terlambat.

Tingkatkan kepada melakukan firman agar kita memiliki pondasi yang kuat

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker