Thursday, August 31, 2017

Dilupakan (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Bayangkan seandainya kita di posisi Yusuf, tidakkah kita akan kesal? Sudah dibantu, begitu bebas langsung melupakan. Dan sedihnya, soal dilupakan disini bukan berbicara mengenai satu-dua hari atau satu-dua minggu, tetapi dalam Alkitab kita mengetahui bahwa Yusuf dilupakan selama dua tahun! (41:1). Artinya Yusuf harus mengurut dada dan bersabar selama itu. Terus menanti tanpa tahu pasti kapan ia akan mendapatkan kebebasannya. Terus menunggu, berharap dan terus berharap. 2 tahun berselang, barulah akhirnya juru minuman itu mengatakan kepada Firaun mengenai Yusuf (ay 9) dan Yusuf pun mendapatkan kembali kebebasannya.

Apa yang dialami Yusuf adalah sebuah contoh ekstrim bagaimana kita harus bersabar menghadapi kelupaan seseorang pada kita. Kalau kita bisa kesal menunggu sekian menit atau hitungan jam, bagaimana dengan penantian dua tahun tanpa kepastian dalam penjara yang gelap dan pengap. Tentu itu jauh lebih berat. Belum lagi rasa kecewa atau sakit hati yang mungkin timbul karena merasa dilupakan atau malah dikhianati. Tapi Yusuf tampaknya tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh emosi atau dendam seperti itu. Yusuf juga tidak membiarkan dirinya menyerah dalam keputus-asaan. Apa yang menjadi kunci dari kesabaran Yusuf mengalami berbagai masalah adalah penyertaan Tuhan dalam hidupnya, yang ia miliki karena ia hidup dengan kualitas Tuhan.

Dan penyertaan Tuhan yang muncul dari cara hidupnya mendatangkan keberhasilan demi keberhasilan bahkan pada saat sulit, dalam sebuah situasi dimana normalnya kita tidak akan berpikir bisa meraihnya. Kita bisa melihat hal itu dalam beberapa ayat, seperti "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya.."(39:2) atau "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu." (ay 21). Yusuf menyadari betul bahwa dalam proses yang tidak mengenakkan sekalipun, Tuhan ada besertanya. Yusuf mengerti bahwa apapun yang terjadi, imannya tidak boleh goyah dan cara hidup berpusat pada kualitas Tuhan tidak boleh kendor. Hal itu cukup untuk membuatnya bisa bersabar menghadapi masalah.

Tidak saja Yusuf yang mengalami, tetapi penyertaan Tuhan itu pun dapat dirasakan oleh orang-orang yang berada di dekatnya. Mulai dari tuannya Potifar, kepala penjara hingga kelak, Firaun. Hal itu tidak akan bisa terjadi apabila Yusuf tidak memiliki kualitas Tuhan dalam hidupnya termasuk soal kesabaran dan mengasihi. Ia terus melangkah dari satu keberhasilan kepada keberhasilan berikutnya sejak masih dalam kondisi tidak kondusif sampai pada akhirnya menggenapi rencana Tuhan yang sudah disampaikan kepadanya sejak semula.

Apakah ada yang tengah diuji menghadapi batas-batas kesabaran kita saat ini? Apakah situasi sudah membuat anda kesal dan tertekan hingga mulai kehilangan kesabaran? Apakah orang-orang disekitar anda saat ini tengah mencoba menguji kesabaran anda? Atau, anda merasa dilupakan oleh seseorang atau mungkin anda merasa dilupakan Tuhan? Ini saatnya untuk melihat kisah Yusuf. Seperti halnya Yusuf, Tuhan pun telah berjanji bahwa Dia akan selalu menyertai kita. "..Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5).

Sadarilah bahwa dalam kondisi tidak mengenakkan sekalipun sesungguhnya Tuhan ada bersama kita. Dan Dia akan bawa kita melangkah dari satu keberhasilan kepada keberhasilan berikutnya sampai pada akhirnya kita sampai pada puncak dari rencanaNya. Kesabaran tidak akan pernah sia-sia. Jika anda merasa tidak bisa sabar lagi hari-hari ini, bersandarlah pada Tuhan yang selalu ada bersama diri anda. Bagi yang masih bergumul menanti jawaban atau pertolongan Tuhan, bersabarlah menunggu waktu yang terbaik dan tetaplah bersyukur. Jangan kehilangan harapan dan jangan kehilangan sukacita.

"Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" (Roma 12:12)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, August 30, 2017

Dilupakan (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kejadian 40:23
========================
"Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya."

Istri saya pernah punya pengalaman soal menunggu yang sempat membuatnya rada trauma. Suatu hari waktu masih SD, ayahnya lupa menjemput. Ia duduk di sekolah sendirian sampai sekitar pukul 5 sore, ditemani seorang satpam. Apa yang ia rasa waktu itu? Saya pernah tanyakan, dan ia berkata campuran kesal, sedih, takut dan putus asa. Ia menangis saat dijemput dan masih terus menangis setelah sampai di rumah. Entah berhubungan dengan itu atau tidak, sejak masa pacaran ia memang paling bermasalah dengan yang namanya menunggu. Kalau telat dikit saja ia bisa uring-uringan.

Karena itulah hingga hari ini saya terus memastikan agar dia tidak sampai menunggu biar semenit pun. Lebih baik saya yang menunggu lama daripada dia menunggu sebentar. Dan tentu saja, yang paling penting jangan sampai saya lupa menjemput, mengantar atau lupa janji. Karena selain dia memang punya masalah soal itu, Buat saya itu penting, karena kalau memang sayang harusnya saya tidak lupa kebutuhannya dan janji pergi bersamanya. Bukankah menyebalkan kalau pasangan kita terus saja lupa dan harus berulang-ulang diingatkan bahwa ia sudah janji sesuatu? Kalau sudah janji, saya harus tepati biar bagaimanapun.

Meski demikian, saya mengingatkan istri juga untuk belajar lebih sabar dalam hal menunggu. Soalnya, mungkin saya sebagai suami bisa memastikan on time agar dia tidak menunggu, tapi suatu ketika ia harus mengalaminya dari orang lain. Tidak mungkin kan kalau harus kesal terus karena lebih banyak orang yang jam karet ketimbang on time saat ini. Kekesalan tentu tidak baik bagi orang lain terutama diri sendiri. Sekarang ia sudah jauh lebih sabar dan santai dalam menunggu.

Menunggu sering menjadi hal yang paling tidak disukai banyak orang. Menunggu antrian, menunggu giliran, itu menyebalkan bagi sebagian orang. Lama menunggu seseorang tapi yang ditunggu tidak datang karena lupa, itu lebih menyebalkan lagi. Atau sudah lama menunggu pesanan datang tapi ternyata ordernya kelupaan dibuat. Yang datang belakangan malah sudah dapat pesanannya duluan. Kalau dilupakan orang juga sangatlah tidak enak rasanya. Saat susah kita mati-matian bantu, tapi begitu sudah senang mereka segera lupa pada kita. Kalau kita saja kesal diperlakukan begitu, bayangkan ada orang-orang yang mengaku percaya sibuk meminta pertolongan Tuhan tapi dengan segera melupakan Tuhan begitu masalah selesai.

Saya cukup sering mengalaminya, karena panggilan saya kebetulan sejak dulu berhubungan dengan anak-anak muda yang berproses membangun masa depan dan karir mereka. Beberapa dari mereka melupakan setelah sukses, beberapa masih tetap berhubungan baik sampai sekarang. Dahulu saya sempat merasa kecewa, tapi belajar untuk menyikapi secara positif. Mengapa? Karena kekesalan hanya akan merepotkan dan merugikan kita sendiri.

Tidak ada yang suka menunggu, tapi kalau membiarkan diri kita kesal karenanya, kita sendiri yang rugi. Daripada dibawa kesal, lebih baik jadikan hal tersebut sebagai ujian kesabaran. Itu akan jauh lebih berguna dibandingkan kita hanya memuaskan kekesalan yang pelampiasannya bisa mengenai orang yang tidak bersalah apa-apa.

Kalau soal kelupaan dan dilupakan seperti contoh di atas bikin kesal, mari kita lihat sebuah kisah tentang hal itu yang jauh lebih buruk lagi, yaitu dari kisah Yusuf. Saat Yusuf berada dalam penjara, Yusuf mengartikan mimpi dari seorang kepala juru minum dan juru roti yang sama-sama sedang dipenjara bersamanya saat itu. Mimpi itu diartikan Yusuf mengarah kepada kebebasan juru minum dan kematian juru roti tu dalam waktu 3 hari. Yusuf pun berpesan kepada sang juru minuman seperti ini: "Tetapi, ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Firaun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini." (Kejadian 40:14). 3 hari kemudian yang terjadi persis seperti apa yang dikatakan Yusuf. Setelah bebas, sang Juru minuman seharusnya mengingat Yusuf dan mengupayakan dengan serius agar Yusuf pun bisa menghirup udara kebebasan lagi. Setidaknya ia bisa menunjukkan rasa terimakasihnya dengan melakukan itu, seperti yang diminta oleh Yusuf. Apakah ia melakukannya? Ternyata tidak. Ia melupakan Yusuf setelah menikmati kebebasannya. Alkitab mencatatnya: "Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya." (ay 23).

(bersambung)


Tuesday, August 29, 2017

Pelajaran dari Kualitas Hidup Yusuf (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

4. Yusuf adalah orang yang jujur dan bertanggungjawab terhadap otoritas yang diberikan
Yusuf tidak memanfaatkan situasi dan berbuat curang meskipun peluang ada didepan mata. Yusuf melakukan segalanya sesuai dengan mandat atau otoitas yang diberikan kepadanya. "...Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku, bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya.." (ay 8-9). Saat kita diberi otoritas, sangatlah penting untuk menjaga betul batas otoritas agar kita tidak tergoda untuk mengambil lebih daripada hak kita. Bukankah seringkali kehancuran terjadi saat orang gagal menyikapi batasan, mempergunakan kesempatan yang ada dengan keliru? Yusuf menunjukkan, meski kesempatan terbuka, ia tidak tergiur sedikitpun dengan tawaran yang sesat.

5. Yusuf tidak mendendam
Atas segala kejadian pahit yang dia alami, dia tidak pernah mendendam. Baik ketika disiksa oleh saudara-saudaranya dalam Kejadian 37, maupun ketika dimasukkan ke dalam penjara (39:20). Ia tidak mmembenci dan membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan dengan pengampunan dan kasih. Membenci dan keinginan membalas dendam kerap menjadi sumber kehancuran seseorang dalam membangun hidup yang benar. Mengapa? Karena biasanya rasa ini muncul saat kita menjadi korban. Yesus sendiri mengajarkan kita untuk tidak membenci musuh melainkan memberkati dan mendoakan mereka. Kita diwajibkan untuk hidup damai dan mengampuni siapapun yang bersalah pada kita, seperti halnya Tuhan mengampuni kesalahan kita. Kita tidak bisa mengharapkan pengampunan dari Tuhan kalau kita tidak bersedia mengampuni orang lain.

6. Yusuf memiliki sikap positif
Lihatlah sepanjang kisah kita tidak pernah mendapati Yusuf bersungut-sungut, mengeluh atau menyesali nasib. Yusuf selalu punya sikap positif dalam perjalanan hidupnya. Ia tetap melakukan kewajibannya dan tetap berbuat baik kepada siapapun termasuk kepada yang memenjarakan dan memperlakukannya secara jahat.

Semua hal di atas menunjukkan bahwa Yusuf punya kualitas Tuhan dalam menjalani hidupnya. Dalam kondisi tidak enak dia tidak sekalipun ragu akan Tuhan. Dan sebaliknya ketika ada kesempatan untuk mendapat kenikmatan duniawi, dia tidak terjebak sama sekali. Semua itu membuktikan kesetiaan dan kedekatan Yusuf dengan Tuhan, kekuatan imannya dan kesadarannya akan hakekat manusia saat diciptakan Tuhan dengan kemuliaan dan hormat. Tidak heran jika kemudian Tuhan menyertai Yusuf, dan penyertaan Tuhan itu membuat apapun yang dibuat Yusuf menjadi berhasil hingga ia menggenapi rencana Tuhan atas dirinya sepenuhnya.

Kualitas hidup Yusuf yang penuh dengan kualitas Tuhan membuktikan bahwa tidak ada satupun masalah yang tidak bisa dilewati. Bukan sekedar dilewati, tapi bahkan ada keberhasilan-keberhasilan di dalamnya, meski ditengah titik rendah kehidupan sekalipun yang berasal dari penyertaan Tuhan. Dari satu keberhasilan kecil kepada keberhasilan kecil berikutnya, hingga akhirnya bermuara pada keberhasilan menggenapi rencana Tuhan seutuhnya. Jangan sampai kita belum sempat menggenapi saat kesempatan hidup kita sudah berakhir. Marilah kita belajar dari integritas dan kualitas hidup Yusuf yang dipenuhi kualitas Tuhan, sehingga kita bisa mengalami kegemilangan yang sama sepertinya. Anda saat ini tengah dalam titik (ter) rendah hidup anda dan merasa ada banyak ketidakadilan di dalamnya? Selama anda melakukan hal benar, itu adalah bagian dari proses menunju keberhasilan dan kepenuhan. Tetap dasarkan hidup pada kebenaran, tetap pertahankan kesetiaan iman. Tetaplah hidup dengan kualitas Tuhan. Pada waktunya nanti, anda akan melihat bagaimana kualitas Tuhan dalam hidup membuat anda tetap kuat berjalan ditengah badai dan berhasil mencapai rancangan Tuhan yang indah bagi anda.

Live a life full with God's quality

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, August 28, 2017

Pelajaran dari Kualitas Hidup Yusuf (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kecakapan Yusuf membuat dia dipercaya lebih dari budak lainnya oleh sang tuan, Potifar. Tapi kemudian istri tuannya mencoba merayunya. Yusuf menolak godaan tersebut dan memilih untuk tetap hidup benar. Akibatnya, ia pun difitnah dan dijebloskan ke penjara. Penjara yang kurang ventilasi, pengap, lembab dan bau. Entah seperti apa makanannya, entah seperti apa perlakuan penjaga terhadap tahanan. Orang yang tidak melakukan kesalahan apa-apa harus merasakan hukuman sedemikian.

Apakah kemudian Yusuf menyerah mempercayai Tuhan dan mengalami kepahitan? Kecewa dan tidak lagi mau taat? Lagi-lagi Yusuf membuktikan kekuatan imannya. Dan yang terjadi adalah keberhasilan berikutnya. Di dalam penjara, kembali kita temukan ayat yang menyatakan tentang penyertaan Tuhan. "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu.....Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil." (ay 21,23).

Kita tahu kemudian apa yang terjadi pada Yusuf. Ia berhasil menggenapi apa yang direncanakan Tuhan sepenuhnya. Ia menjadi orang terpenting kedua di Mesir, ia mengampuni saudara-saudaranya dan memberkati Mesir di tengah bencana kelaparan yang tengah melanda seluruh bumi. Bukan hanya Mesir yang ia kelola, ia juga sanggup memberi bantuan untuk bangsa-bangsa lainnya.

Penyertaan Tuhan merupakan sebuah kunci yang sangat penting dalam perjalanan setiap keberhasilan dalam hidup Yusuf. Kemarin kita sudah melihat bahwa Yusuf bisa kuat dan teguh ditengah proses berat yang panjang karena ia hidup dengan kualitas Tuhan. Seperti apa hidupnya yang punya kualitas Tuhan sehingga ia disertai Tuhan dan terus berhasil meski tengah berada di tengah kesusahan? Mari kita lihat seperti apa hidupnya.

1. Yusuf selalu rajin bekerja
Sepanjang hidupnya Yusuf selalu memberi performa terbaik dalam mengerjakan apapun. Ia tidak menggantungkan keseriusan pada tinggi rendahnya gaji, pada baik tidaknya perlakuan, tapi semata-mata karena ia mempertanggungjawabkan secara penuh apapun yang dipercayakan kepadanya. Tanpa itu, ia tidak mungkin diangkat menjadi kepala pelayan dalam rumah majikannya. Dikatakan: "Segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf, dan dengan bantuan Yusuf ia tidak usah lagi mengatur apa-apapun selain dari makanannya sendiri." (ay 6) Kita bisa dengan jelas melihat bagaimana baiknya performa Yusuf dalam melakukan pekerjaannya.

2. Yusuf tetap menjaga kekudusan
Yusuf digoda oleh istri Potifar. Kebanyakan pria gagal dalam hal ini karena memang sangat menggiurkan bagi kedangingan. Bahkan hal ini merupakan satu dari tiga hal terbesar yang menghancurkan karir dan hidup manusia selain harta dan tahta. Tetapi Yusuf tetap tegar memutuskan untuk tidak berzinah. "...Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" (ay 9). Di saat hidup sedang ada di titik rendah tawaran seperti itu datang. Ia bisa menerima ajakan istri Potifar dan mendapat banyak kemudahan setelahnya, tapi Yusuf memilih untuk tetap setia hidup benar meski konsekuensinya berat. Pada saat seperti itu akan ada banyak orang yang berpikir untuk menerima saja, karena bukannya Tuhan seperti tidak peduli dengan menempatkan mereka pada titik rendah? Kalau Tuhan seperti itu, buat apa harus taat? Itu bisa menjadi alasan banyak orang untuk kemudian berhenti hidup benar dan memilih untuk menikmati hal-hal yang jahat di mata Tuhan.

3. Yusuf menjauhi dosa
"Lalu perempuan itu memegang baju Yusuf sambil berkata: "Marilah tidur dengan aku." Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar." (ay 12) Yusuf memilih lari keluar, itu menunjukkan bahwa ia tidak membiarkan dirinya berlama-lama di dekat potensi melakukan dosa melainkan segera lari menjauhinya. Ada kalanya kita melakukan dosa karena kita terlalu lama memberi toleransi atau membiarkan diri kita didekatinya. Padahal kalau kita segera lari menjauhkan pikiran, hati dan diri kita ketika dosa mulai mendekat, kita bisa menghindari godaan untuk melakukannya.

(bersambung)


Sunday, August 27, 2017

Pelajaran dari Kualitas Hidup Yusuf (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kejadian 39:2
====================
"Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya.."

Dalam perjalanan hidup saya, saya belajar akan satu hal penting mengenai keberhasilan yaitu keberhasilan tidaklah harus selalu dalam bentuk besar, tapi juga bisa terjadi atas hal-hal kecil yang muncul bahkan di tengah kesulitan. Saat banyak orang menetapkan standar keberhasilan terlalu tinggi maka seringkali mereka sulit menyadari, melihat atau merasakan keberhasilan hadir dalam hidupnya. Satu lagi, keberhasilan kerap hadir dalam sekuens atau urutan, yang artinya kita melangkah dari satu keberhasilan kepada keberhasilan lain sampai pada akhirnya apa yang direncanakan Tuhan bisa kita genapi. Saya memandang keberhasilan bukanlah atas satu dua hal melainkan sebagai bagian dari sebuah proses panjang selama masih diberikan kesempatan hidup. Sukses naik jabatan, naik gaji, berhasil melakukan tugas besar, itu bentuk keberhasilan kan? Tentu saja ya. Tapi jangan lupa bahwa saat anda bisa menahan emosi dan tetap sabar, tenang ketika menghadapi provokasi atau serangan dari pihak lain, ketika anda bisa tetap berjalan benar di saat ada godaan, saat anda bisa tetap bersukacita meski hidup sedang sulit, tidak kuatir dikala paceklik, tidak takut waktu menghadapi ketidakpastian, itu pun merupakan keberhasilan pula. Tentu bukan dipakai untuk berpuas diri, tapi jangan pula menyiksa diri anda untuk terus mengejar sesuatu yang harus besar sehingga tidak memberi penghargaan terhadap keberhasilan-keberhasilan 'kecil' yang sesungguhnya sudah anda peroleh sebagai buah dari usaha anda.

Masalahnya, jika anda kesulitan menghargai pencapaian dalam hidup anda, anda akan kesulitan untuk bersyukur. Dan bahayanya, kita bisa gagal meraih hasil besar ketika kita tidak menyadari keberhasilan-keberhasilan kecil dalam proses perjalanan kita. Kita hanya memandang masalahnya dan luput melihat bahwa dalam masalah itu sebenarnya kita sudah memperoleh keberhasilan-keberhasilan kecil sebagai bagian dari rangkaian proses. Kita tidak melihat bahwa Tuhan sedang bekerja di dalamnya dan kemudian kita menyerah di tengah jalan. Bukan cuma melempar bendera putih tanda menyerah tapi malah mengibarkan bendera perang. Perang menyalahkan orang lain, perang menyalahkan Tuhan. Bukankah sayang jika ini terjadi padahal anda tengah berada dalam proses penggenapan, sedang berada dalam pendakian yang curam untuk sampai ke puncak?

Akan hal ini kita bisa belajar dari Yusuf. Mari kita lihat ringkasan kisah Yusuf berdasarkan yang dicatat dalam kitab Kejadian. Apa yang dialami olehnya tidaklah mudah, karena ia seperti berpindah dari satu masalah ke masalah berikutnya dengan berat beban sendiri-sendiri. Setengah saja kalau kita alami sudah bisa membuat kita patah arang. Tapi hebatnya, Yusuf mampu melewatinya dengan kuat. Imannya tetap teguh, fokusnya tidak terganggu saat mengalami ketidakadilan selama bertahun-tahun.

Seperti apa ketidakdilan dan penderitaan hidup panjang yang harus dia alami? Kita bisa lihat mulai dari pasal 37 betapa Yusuf diperlakukan semena-mena oleh saudara-saudaranya yang iri hati pada dirinya. Dia dilemparkan ke dalam sumur, lalu dijual kepada saudagar-saudagar Meridian yang kemudian membawa Yusuf ke Mesir.

Sampai di titik ini saja kita sudah bisa membayangkan besarnya penderitaan Yusuf. Dan kita tahu penderitaannya masih jauh dari selesai, melainkan baru saja dimulai. Apakah dia membenci Tuhan? Apakah Yusuf menyalahkan Tuhan atas segala sesuatu yang terjadi pada dirinya? Tidak. Dalam Kejadian 39, justru Alkitab menyatakan kebalikannya. Kita bisa melihat bagaimana kedekatan Yusuf dengan Tuhan, sehingga Tuhan senantiasa menyertai Yusuf. Dan penyertaan itu membuat Yusuf menjadi orang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya. Ayat bacaan hari ini dengan jelas menyatakan bahwa yang membuat Yusuf selalu berhasil adalah karena penyertaan Tuhan, dan bukan karena kehebatan dirinya sendiri. "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu." (Kejadian 39:2)

Kata-kata bahwa Yusuf berhasil karena Tuhan menyertainya disebutkan berulang-ulang dalam lanjutan kisahnya. Ayat berikutnya berbunyi: "Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya,maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf." (ay 3-4).

(bersambung)


Saturday, August 26, 2017

Yusuf dan Hidup dengan Kualitas Tuhan (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Yusuf adalah manusia biasa seperti kita. Dia punya kebebasan untuk memutuskan sama seperti kita. Ia bisa memutuskan untuk kecewa pada Tuhan, menjadi pahit karena merasa diberi janji bohong, ia bisa mendendam, tapi ia mengambil keputusan untuk hidup dengan kualitas Tuhan. Dengan kemuliaan Tuhan, dalam kemuliaan Tuhan dan untuk kemuliaan Tuhan. Hingga hari Yusuf dikenang sebagai seorang pria tangguh dengan hati yang sangat besar yang telah membuktikan bagaimana bedanya berjalan dengan kualitas Tuhan. Semua orang akan bisa melihatnya sepanjang masa.

Pada masa Yusuf, ayahnya sendiri, Yakub sempat memberi penilaian tentang dirinya sebelum ia mangkat. Yakub mengatakan: "Yusuf adalah seperti pohon buah-buahan yang muda, pohon buah-buahan yang muda pada mata air. Dahan-dahannya naik mengatasi tembok. Walaupun pemanah-pemanah telah mengusiknya, memanahnya dan menyerbunya, namun panahnya tetap kokoh dan lengan tangannya tinggal liat, oleh pertolongan Yang Mahakuat pelindung Yakub, oleh sebab gembalanya Gunung Batu Israel." (Kejadian 49:22-24).

Itulah sebuah testimoni atau kesaksian sang ayah terhadap puteranya Yusuf. Bukan hanya bisa melihat Yusuf hebat, tapi terutama karena Yakub bisa melihat betapa besarnya kuasa Tuhan yang hadir dalam diri anaknya Yusuf. Yusuf bisa mengalami itu karena ia sepenuhnya taat kepada Gunung Batu Israel, gembalanya. Ia bisa seperti itu karena ia hidup dengan kualitas Tuhan yang ia sadari ada dalam dirinya. Sampai hari ini bahkan kelak pada generasi dan jaman yang akan datang orang akan selalu bisa belajar dari Yusuf akan hal ini. Betapa luar biasanya orang yang hidup dengan kualitas Tuhan.

Siapa kita hari ini? Apakah hari ini kita orang-orang yang mampu mempengaruhi atau dipengaruhi? Apakah kita dilihat dan akan dikenang orang sebagaimana Yusuf atau orang yang mudah menyerah, penuh kekecewaan dan tidak berbuah apa-apa? Apakah kita akan diingat sebagai orang yang benar atau orang yang suka cari masalah dan bikin musuh dimana-mana? Orang yang jujur dan berintegritas atau manipulatif dan curang? Apakah kita orang yang mengalahkan atau dikalahkan oleh masalah? Apakah kita berhasil atau gagal? Semua itu tergantung dari diri kita sendiri. Apakah kita mau hidup dengan kualitas Tuhan, dengan kemuliaan dan hormat yang telah Dia berikan kepada kita atau kita memilih untuk menolak itu dan terus hidup tanpa menyadari karuniaNya yang besar yang telah Dia berikan saat menciptakan kita.

Satu hal yang pasti, kita akan menjadi orang-orang yang kuat dan tegar dalam menggapai dan menggenapi rencana Tuhan dimana kemuliaan Tuhan tercermin secara nyata dalam hidup kita jika kita hidup dalam kualitas Tuhan dan mengimani benar bahwa kita diciptakan dengan kemuliaan dan hormat yang berasal daripadaNya. Sekali lagi, kita diciptakan dengan kemuliaan, dalam kemuliaan dan untuk kemuliaan. Ini saatnya untuk menyadari jatidiri sesungguhnya dari manusia seperti yang diinginkan Tuhan, dan mulailah hidupi itu dengan sepenuhnya.

Jangan sia-siakan kualitas Tuhan yang sudah Dia beri bagi kita. Hiduplah dengan itu

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, August 25, 2017

Yusuf dan Hidup dengan Kualitas Tuhan (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kejadian 49:22-24
=========================
"Yusuf adalah seperti pohon buah-buahan yang muda, pohon buah-buahan yang muda pada mata air. Dahan-dahannya naik mengatasi tembok. Walaupun pemanah-pemanah telah mengusiknya, memanahnya dan menyerbunya, namun panahnya tetap kokoh dan lengan tangannya tinggal liat, oleh pertolongan Yang Mahakuat pelindung Yakub, oleh sebab gembalanya Gunung Batu Israel." 

Siapa kita menurut penilaian orang lain? Kita bisa mengatakan siapa kita menurut kita sendiri, tapi tentu saja yang objektif adalah bagaimana dan seperti apa orang memandang kita. Benar, ada orang-orang yang tidak objektif juga dalam menilai, tapi secara garis besar kita bisa melihat seperti apa kita dari apa yang kita cerminkan dalam hidup kita. Setidaknya saat kita sudah tidak ada lagi di bumi ini, bagaimana orang mengenang kita akan menunjukkan kualitas hidup seperti apa yang kita tampilkan selama hidup. Orang yang mengaplikasikan Firman dalam bentuk real/nyata atau jago menyitir Firman tapi tidak terlihat dalam hidup? Orang yang peduli terhadap orang lain atau mau menang sendiri? Orang yang memberkati orang lain atau suka cari masalah dengan banyak orang? Orang yang didekatnya membawa kegembiraan atau perusak mood?

Sebuah kualitas baik dari hidup itu nyata akan bisa dilihat dan dirasakan orang lain. Semakin tinggi kualitasnya, semakin sulit juga orang mengatakan sebaliknya. Menjadi contoh keteladanan tentang hal baik bukan contoh buruk atau contoh gagal/rusak, itu seharusnya menjadi ciri kita. Tanpa itu, kita tidak akan pernah bisa mengenalkan Tuhan secara benar kepada mereka yang belum mengenalNya. Jangan sampai lewat kita justru orang mendapatkan pemahaman keliru akan Tuhan, dengan kasih karunia dan segala kesetiaan serta kebaikanNya yang besar dan tak terukur.

Kemarin kita sudah membahas bahwa manusia diciptakan Tuhan secara istimewa menurut gambar dan rupaNya sendiri. Kita diciptakannya dengan kemuliaan dan hormat. Kita diciptakan dengan, dalam dan untuk kemuliaan. Karenanya kita hidup dengan bobot atau kualitas Allah sendiri dan itu sudah Dia berikan pada kita sejak semula. Manusia yang berjalan dalam kualitas Allah akan membuat manusia mampu mengambil keputusan-keputusan yang benar dalam hidupnya, dan membuat manusia bisa mencerminkan prinsip kebenaran kehidupan Kerajaan yang tampil beda dengan cara hidup dunia. Apa yang diberikan Tuhan lebih dari cukup untuk membuat kita bisa memutuskan segala sesuatu sesuai dengan kualitas Tuhan, sesuai dengan kebenaran. Ini adalah hal yang harus kita sadari agar kehidupan kita bisa mengalami kepenuhan dan kemenangan hingga akhir dimana orang akan bisa belajar tentang Tuhan secara benar lewat itu.

Sebuah contoh orang yang hidup dengan kualitas Tuhan bisa kita lihat lewat kisah hidup Yusuf. Kita tahu Yusuf menghadapi masalah beruntun yang sama sekali tidak ringan dalam perjalanan hidupnya. Ia menghabiskan waktu lama berada di bawah, berjalan dari satu penderitaan kepada penderitaan berikutnya. Mengalami banyak ketidakadilan bahkan berkali-kali nyawanya terancam. Yang melakukan bukan orang lain tapi saudara-saudara sendiri dan kemudian majikan yang ia layani dengan setia. Sebagai manusia biasa seperti kita, Yusuf tidak mempunyai faktor pendukung apapun untuk bisa tetap kuat. Meski ia mengaku tahu apa yang menjadi rencana Tuhan atas dirinya, tetap saja ia tidak akan kuat kalau hanya mengandalkan diri sendiri, baik dari segi tenaga, pikiran dan perasaan. Ada banyak orang yang kemudian menyerah di tengah jalan meski sudah tahu apa yang dijanjikan Tuhan atas dirinya. Yang lebih parah lagi, bagaimana kalau seseorang bahkan tidak mengetahui apa rencana Tuhan untuknya? Mereka akan terus menjaring angin dan kemudian berakhir sia-sia.

Tapi Yusuf terbukti tetap kuat berjalan. Hebatnya, Alkitab berulang-ulang mencatat sesuatu yang luar biasa: yaitu meski ia berjalan dari satu titik rendah kepada titik rendah lainnya dalam hidupnya, keberhasilan tetap menyertai dia dalam apapun yang ia kerjakan. Dan penyebabnya jelas dikatakan, yaitu karena Tuhan menyertai dia. Dengan kata lain, Yusuf bisa tetap kuat saat menghadapi beratnya kenyataan hidup karena ia memutuskan untuk hidup dengan bobot dan kualitas Tuhan. Ia tahu bahwa ia telah dilengkapi dengan mahkota kemuliaan saat diciptakan, dimana kualitas Tuhan sudah ada dalam dirinya. Apa yang ia lakukan adalah hidup dengan kualitas itu, bukan dengan mencari faktor pendukung di dunia, mencari bantuan orang lain atau mempergunakan kekuatan sendiri.

Keputusannya untuk hidup dengan kualitas Tuhan terbukti membuatnya mampu tampil kuat tanpa kehilangan harapan walau masalah terus silih berganti menimpanya. Pada akhirnya kita tahu bagaimana Yusuf menjadi orang paling berkuasa kedua di seluruh Mesir. Ia dipercaya untuk mengelola dan mendistribusikan makanan di masa sukar. Lihatlah bahwa dalam masa seperti itu, Mesir tetap berkelimpahan di tangannya. Yusuf menggenapi rencana Allah dalam hidupnya. Dia tidak menunjukkan kepahitan bahkan bisa memaafkan dan memberkati mereka yang telah berbuat jahat kepadanya. Lalu, ia juga menjadi berkat luar biasa bagi sebuah bangsa, sesuatu yang selalu mengikutinya pada setiap langkah termasuk pada saat-saat sulit dalam hidupnya. Dan itulah hasil yang dicapai oleh orang yang hidup dalam kualitas Tuhan, yang menyadari bagaimana sebuah kehidupan yang dipenuhi kemuliaan Allah.

(bersambung)


Thursday, August 24, 2017

Hakekat Manusia Menurut Penciptanya (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Hidup dalam kemuliaan Allah berarti hidup dengan bobot dan kualitas Allah. Tuhan meletakkan kemuliaanNya atas diri kita, itu sama artinya dengan meletakkan kualitas diriNya pada kita. Tuhan menciptakan manusia seperti itu dan tidak pernah merancang kita layaknya membuat robot atau mobil-mobilan dengan remote control. Karenanya sudah seharusnya kita berjalan dalam bobot dan kualitas Allah dengan membuat atau mengambil keputusan-keputusan yang benar dalam hidup. Salah satu bukti bahwa kita bukan diciptakan sebagai robot adalah adanya kehendak bebas yang diberikan Tuhan pada kita. Itu jelas-jelas merupakan salah satu bentuk kemuliaan yang diberikan Tuhan kepada kita.

Lalu untuk apa kehendak bebas itu seharusnya dipergunakan? Apakah itu artinya kita bisa berbuat seenak perut kita? Tentu saja tidak. Seringkali yang kita lakukan justru sebaliknya, berbuat sesuka hati kita, mementingkan dan mengejar apa yang dipercaya dunia dan berpusat pada diri sendiri. Padahal tujuan Tuhan memberikan itu adalah agar kita bisa memutuskan segala sesuatu sesuai dengan kualitas Tuhan. Mempergunakan kehendak bebas itu sebagai sarana untuk mengerti, menghidupi dan bisa mengaplikasikan kualitas Tuhan secara nyata dalam hidup kita.

Kembali pada kitab Mazmur pasal 8, mari kita lihat ayat selanjutnya. "Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya: kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang; burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan." (ay 7-9). Hal ini sejalan dengan apa yang disebutkan dalam awal Kitab Kejadian, yaitu bahwa manusia diberi kuasa atas bumi beserta isinya (Kejadian 1:26-30). Dan itulah alasannya mengapa Tuhan membuat kita menurut gambarNya sendiri seperti yang disebutkan dalam ayat 27.

Tuhan menciptakan semua keindahan dunia dalam kelengkapan sempurna, dan Dia menciptakan kita lengkap dengan kemuliaanNya, memberi kita otoritas sehingga kita bisa menaklukkan dan berkuasa atas seluruh dan seisi bumi. Ini bukan berarti bahwa kita bisa semena-mena menghancurkan alam yang indah yang diciptakan Tuhan karena punya kuasa, tetapi justru untuk menjaga dan mengelolanya dengan sebaik-baiknya, mengisinya dengan segala yang baik yang seharusnya bisa karena kita punya kualitas Allah dalam diri kita lewat mahkota kemuliaan dan hormat. Kita seharusnya mengaplikasikannya dalam apapun yang kita lakukan hari ini, dimanapun kita ditempatkan, Tuhan menginginkan kita untuk melakukan itu. Itulah rencana Tuhan yang Dia pandang sangat baik. (ay 31).

Sudahkah kita menyadari hal itu dalam hidup kita? Apakah kita sadar bahwa kita sejatinya diciptakan dengan, dalam dan untuk kemuliaan? Sadarkah kita bahwa kita dibuat dengan kemuliaan dan hormat yang artinya dipenuhi bobot dan kualitas Allah sendiri? Apakah itu yang kita cerminkan dalam hidup atau kita masih menjadi satu dari orang-orang yang kacau perilakunya dan menjadi contoh buruk bagi masyarakat? Apakah kita sudah peduli dengan orang lain dan ciptaan Tuhan lainnya di bumi atau kita masih hidup penuh kebencian, self-centered atau malah turut serta merusak lingkungan alam sekitar?

Apakah kita tahu otoritas yang diberikan Tuhan dan sudah memegangnya dengan benar dan setia, atau kita menyalahgunakan otoritas itu demi kepentingan sendiri, atau masih tidak melakukan apa-apa? Bagaimana hakekatnya kita diciptakan, apa yang ada dalam benak Tuhan saat menciptakan manusia, apa yang Dia berikan pada kita saat menciptakan haruslah kita pahami sebagai sebuah dasar penting untuk menyikapi dan menjalani hidup. Kita diciptakan dengan kemuliaan, dalam kemuliaan dan untuk kemuliaan. Never forget that.

We are not a coincidence and neglected, we are the crown of creation

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, August 23, 2017

Hakekat Manusia Menurut Penciptanya (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 8:5-6
=====================
"apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat."

Menurut sebuah penelitian, jumlah penduduk bumi hari ini berada pada angka 7,5 milyar. Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke empat setelah Cina, India dan Amerika. Dari sebuah data yang pernah dirilis oleh UNICEF, ada sekitar 805 juta penduduk dunia saat ini kekurangan makanan, 750 juta kekurangan akses air bersih. Belum lagi bicara soal anak-anak malnutrisi, putus sekolah, jumlah lansia yang tidak punya sanak keluarga, pengangguran (PBB memperkirakan jumlahnya lebih dari 200 juta orang), lalu belum lagi bicara tentang rasio orang yang baik dan jahat perilakunya baik jahat karena salah asuhan, terprovokasi, hasil doktrin, emosi tidak terkendali, tamak atau karena terpaksa untuk bertahan hidup. Orang yang hidup dengan perilaku baik masih harus dibagi lagi dengan baik tapi tidak melakukan apa-apa dan yang sudah melakukan sesuatu demi kebaikan orang lain.

Data ini menjadi bahan perenungan saya kemarin dan hari ini hendak saya bagikan buat teman-teman. Siapakah sejatinya manusia itu menurut Tuhan saat Dia ciptakan? Bagaimana kita mau hidup dengan perilaku atau jatidiri baik kalau kita masih belum tahu hakekat manusia menurut Sang Penciptanya? Lantas, bagaimana kita mau menjadi berkat, jadi terang dan garam dan pelaku-pelaku Amanat Agung jika kita masih belum mengetahuinya, juga belum mengetahui apa yang sebenarnya menjadi panggilan kita? Mengapa kita dilahirkan pada jaman ini dan ditempatkan dimana kita hari ini berada? Sederhananya, siapakah kita sebenarnya?

Kita bisa mengatakan siapa diri kita menurut kita sendiri, tapi siapa diri kita yang sesungguhnya akan terlihat dari cara kita hidup di dunia ini. Apakah kita hidup dengan dalam kegembiraan, penuh sukacita, optimis penuh pengharapan atau dihantui rasa pesimis, tidak penuh keluhan dan senantiasa memberkati orang, atau sebaliknya kita hidup dipenuhi kecemasan atau ketakutan. Apakah kita fokus kepada beban hidup, memandang pada masalah dan situasi ketimbang memandang pada Tuhan, jadi orang yang sabar dan mengasihi atau gampang tersinggung mudah tersulut emosi, atau apakah kita orang yang masih terus mengejar kekayaan dengan segala cara atau mendahulukan mencari Tuhan, semua itu akan menunjukkan siapa diri kita, Alangkah menyedihkan kalau yang mengaku sebagai orang percaya tapi malah terus menjadi 'bad campaign' dari Tuhan yang kita sembah. Kalau kita masih seperti ini, itu artinya kita sesungguhnya belum atau tidak menyadari jati diri atau hakekat kita manusia sejak semula ketika diciptakan. Seperti apa dan untuk apa sebenarnya manusia diciptakan menurut pandangan Tuhan sendiri?

Mari kita baca kitab Mazmur pasal yang ke-8 dengan judul perikop "Manusia hina sebagai mahluk mulia." Pada saat itu tampaknya Daud menulisnya sambil melakukan perenungan di malam hari yang cerah penuh bintang dan bulan terlihat terang. Hasil perenungannya ia katakan sebagai berikut: "Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?" (Mazmur 8:4-5).

Daud saat itu memandang keindahan langit dan mengagumi keindahan bulan dan bintang-bintang gemerlap di langit dalam merepresentasikan kemuliaan Tuhan. Ia bisa melihat kemuliaan dan kebaikan Tuhan terlukis dari setiap untaian indah yang menghias langit di malam hari. Tapi meski langit terlihat penuh untaian kerlap kerlip yang indah, ia menyadari bahwa manusia ternyata dipandang Tuhan jauh lebih penting dari semua keindahan itu. Apakah manusia itu begitu baiknya pada Tuhan sampai Tuhan menganggapnya penting? Kenyataannya, manusia yterus menerus menyakiti hati Tuhan dengan perbuatan-perbuatannya. Bulan dan bintang, langit tidak melakukan itu, maka seharusnya tidaklah kita tidaklah sebanding dengan desain Tuhan atas alam semesta ini yang begitu luar biasa indahnya.

Nyatanya Tuhan membuat manusia sebagai ciptaanNya yang begitu istimewa. Kita adalah masterpiece Tuhan, ciptaanNya yang teristimewa, lebih dari apapun yang ada di kolong langit ini. Begitu hebatnya Tuhan memandang ciptaanNya yang satu ini, sehingga apapun yang kita lakukan tidak akan pernah bisa mengubah keputusan Tuhan dalam menciptakan diri kita sebagai satu-satunya yang dibuat tepat seperti gambar dan rupaNya sendiri.

Kita diciptakan Tuhan begitu spesial menurut gambar dan rupaNya sendiri. Hal ini bukan bicara hanya soal bentuk, tapi sesuatu yang luar biasa yang seringkali tidak diperhatikan manusia. Lihatlah apa kata Daud berikutnya: "Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat." (ay 6). Apakah kita sudah sadar mengenai hal ini? Manusia diciptakan HAMPIR SAMA dengan Penciptanya sendiri, dan TELAH DIMAHKOTAI dengan KEMULIAAN dan HORMAT. Itu artinya kita hidup dengan kemuliaan, dalam kemuliaan dan untuk kemuliaan.

Manusia Tuhan ciptakan secara khusus. Kita bukanlah ciptaan asal jadi, bukanlah ciptaan tidak sengaja atau tanpa alasan dan tujuan. Kita bukanlah ciptaan yang dibuat lantas dibiarkan saja bergumul sendirian. Kita bukanlah ciptaan yang ada tanpa diberikan apa-apa. Tuhan telah, bukan akan, menaruh langsung kemuliaanNya ketika menciptakan manusia. Kita telah dibuat dengan kemuliaan dan hormat yang berasal langsung dari Tuhan. Ini adalah sebuah kenyataan yang sangat besar artinya. Tapi apa artinya hidup dalam kemuliaan dan apa gunanya?

(bersambung)


Tuesday, August 22, 2017

Press On (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Jika anda ikut lomba lari, anda tentu harus melakukan ketiga hal ini. Tidak mengingat kegagalan menjadi juara di masa lalu atau hal-hal lain yang bisa mengganggu konsentrasi dalam berlomba, kemudian anda harus mengarahkan diri ke depan  - bukan ke belakang atau arah lain -, ke arah dimana garis finish berada kemudian berlari mantap menuju garis tersebut. Jika tidak, bisa dipastikan anda tidak akan bisa mencapai garis tersebut apalagi berpikir menyentuhnya sebagai pemenang.

Ketiga hal dari ayat 13 dan 14 ini bagi saya mengarahkan kita kepada mental pemenang, sesuatu yang seharusnya bukan saja tercermin lewat sikap dan pola pikir melainkan juga dalam bentuk gaya hidup. Itulah yang akan memungkinkan kita untuk bisa press on untuk mencapai garis akhir sebagai pemenang dan memperoleh hadiah disana.

Apa yang tengah membelenggu anda hari ini sehingga sulit maju? Adakah masa lalu anda yang buruk membuat anda trauma dan menghambat langkah anda? Ingatlah apa yang dikatakan Paulus ini, dan belajarlah dari keberhasilan pria tunadaksa yang sukses di atas dalam mengaplikasikannya. Sebelum menyalahkan Tuhan, periksalah dahulu dimana kita berada saat ini.

- Apakah kita sudah mengetahui apa yang menjadi panggilan kita?
- Sudahkah kita mengasah seluruh potensi, bakat dan kemampuan yang sudah dititipkan Tuhan pada kita agar bisa maksimal dalam menjalankannya?
- Sudahkah kita mulai melakukan panggilan kita?
- Sudahkah kita menetapkan urutan prioritas yang benar seperti yang saya sampaikan dalam renungan kemarin mengenai pesan Yesus dalam Matius 6:33, "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." ?
- Apakah kita sudah membaca, mengerti dan mengaplikasikan Firman Tuhan dalam kehidupan kita? - - Buah apa yang kita hasilkan dari setiap masalah yang kita hadapi?

 Ini adalah beberapa pertanyaan yang buat saya bisa membantu untuk melihat dimana kita berada saat ini, apa yang sudah baik dan apa yang masih harus dibenahi.

Situasi eksternal tidak bisa kita ubah, tapi kita bisa selalu melatih diri kita untuk bereaksi lebih baik dalam menerima situasinya. God never wants you to quit and fail. He wants you to keep pressing on ahead until you reach everything great He has planned for you. 

When the pressure is on, keep pressing on! 

Follow us n twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, August 21, 2017

Press On (2)

webmaster | 8:00:00 AM | 1 Comment so far
(sambungan)

Apa kuncinya hingga ia bisa seperti itu? Semangat pantang menyerah tanpa memandang situasi, katanya. Selain itu, ia juga memutuskan untuk tidak terjebak pada kondisinya yang terbatas maupun masa lalunya yang jauh dari baik tapi mengarahkan pandangannya kepada Tuhan. Apa yang ia katakan mengingatkan saya pada apa kata Paulus dalam suratnya untuk jemaat Filipi pasal 3.

"Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Filipi 3:13-14).

Paulus mengatakan bahwa ia tidak takabur dengan menganggap dirinya sudah sempurna, tapi lebih kepada terus berusaha, berjuang untuk mencapai anugerah keselamatan kekal yang sudah diberikan Tuhan lewat Kristus sampai ia bisa memperolehnya. Saya tertarik pada versi Bahasa Inggris dari ayat 12 yaitu "Not that I have already obtained all this, or have already arrived at my goal, but I press on to take hold of that for which Christ Jesus took hold of me."

Perhatikan kata yang saya cetak tebal, 'Press On". Bagi sebagian orang kata press on mungkin sama dengan move on, tapi buat press on membutuhkan usaha maupun tenaga jauh lebih bear dari sekedar move on. Durasinya pun lebih panjang dan kontinu bukan hanya sesaat. Kalau diterjemahkan, press on adalah sebuah usaha dalam melakukan atau mengerjakan sesuatu dengan determinasi tinggi. Terus menekan maju dalam kondisi seperti apapun. Dan itu hanya bisa dilakukan kalau kita berhenti memandang kesulitan maupun kegagalan dan hal-hal buruk di masa lalu. Seringkali apa yang terjadi di belakang menjadi penghambat kita untuk maju, bagaikan kaki terbelenggu pada beban berat sehingga kita tidak bisa bergerak. Ya, jika seharusnya kita sudah berlari untuk mencapai tujuan, jangankan lari, bergerak saja mungkin susah.

Hal itu pun terjadi pada Paulus. Surat ini ditulisnya saat berada dalam penjara di usia yang sudah lumayan lanjut dan sedang menanti eksekusi mati. Di saat seperti itu ia masih terus menekan, pressing on untuk memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepada setiap orang percaya. Pada ayat selanjutnya ia menyampaikan sebuah pesan penting yang harus kita semua ingat baik, terutama bagi yang punya pengalaman buruk traumatis di masa lalu. Katanya: "... aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (13-14).

Selain press on, Paulus mengatakan kunci agar bisa melangkah maju untuk memperoleh hadiah yang disediakan Tuhan di garis akhir, yaitu:
- melupakan hal-hal traumatis yang sudah terjadi dibelakang
- mengarahkan diri ke depan
- berlari-lari kepada tujuan.

(bersambung)


Sunday, August 20, 2017

Press On (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Filipi 3:12 (NIV)
==================
"Not that I have already obtained all this, or have already arrived at my goal, but I press on to take hold of that for which Christ Jesus took hold of me."

Suatu kali saat melayani di sebuah tempat, saya sempat berbicara dengan seorang pria paruh baya. Bapak ini mengaku tidak bekerja dan hanya mengandalkan penghasilan istrinya. Ketika saya tanya dimana letak kesulitannya, ia berkata bahwa ia tidak bisa apa-apa karena mau usaha apapun tidak kuat di modal. Ia bilang ia kurang beruntung karena tidak dibekali keahlian oleh Tuhan, kurang diberkati secara materi karenanya tidak tahu harus bikin apa. "Lagian saya sudah tua, malas lah." katanya.

Saya terdiam dan sebenarnya kaget dengan perkataan bapak ini. Saya tidak mau langsung menyela, tapi saya merasa ada yang salah dengan cara pikirnya. Benarkah ada orang yang bernasib tidak beruntung karena tidak dibekali bakat atau kelebihan apa-apa saat dilahirkan? Apakah Tuhan memang kerap tidak memberkati secara cukup alias kurang, sehingga kita tidak bisa bikin apa-apa yang bermanfaat? Apakah ada istilah sudah terlalu tua untuk melakukan sesuatu? Kalau kerja saja belum, bagaimana dengan mengetahui panggilan dan menjalaninya secara maksimal sehingga bisa memberkati orang lain? Apakah kita memang harus terus bergumul karena terus merasa kekurangan berkat dan melewatkan kesempatan untuk memberkati selama hidup masih ada?

Semua pertanyaan ini berkecamuk dalam pikiran saya, karena jika itu benar, maka itu artinya janji-janji Tuhan adalah janji kosong yang tak terbukti. Di satu sisi pemikiran bapak ini mewakili pemikiran banyak orang yang keliru menyikapi hidup dan berkat Tuhan, di sisi lain kesulitan memang dirasakan oleh banyak orang, terutama di masa kesukaran seperti sekarang.

Saya pun ingat pertemuan dengan seorang pria difabel yang menderita tunadaksa alias cacat tubuh. Dengan segala keterbatasannya yang membuatnya harus dipapah kalau mau berpindah dari kursi rodanya, ia ternyata sukses menjadi seorang pengusaha. Jika anda mengira bahwa ia lahir dari keluarga kaya sehingga tidak masalah dari segi modal, anda akan terkejut jika mendengar masa lalunya. Jangankan keluarga kaya, keluarga pun ia tidak punya. Ia dibuang oleh orang tuanya karena cacat sejak lahir, dan hidupnya di tempat penitipan sangatlah penuh penderitaan. Kalau ternyata ia sekarang bisa sukses dan memberkati banyak orang, bukankah kita yang anggota tubuhnya lebih sempurna harusnya malu kalau masih mengeluh seperti bapak di atas? Pertemuan saya dengan pria difabel ini sangatlah memberkati saya.

Ada perkataannya yang tidak bisa saya lupakan: "saya boleh lahir dan hidup cacat, tapi kehidupan saya tidak boleh cacat." Ia pun berkata bahwa ia tidak akan mau menganggap masa lalunya sebagai bentuk ketidakadilan atau kekejaman Tuhan atas dirinya, tapi merupakan berkat yang membuatnya bisa menjadi siapa dia hari ini. Kalau beliau bisa, kenapa kita tidak? Kalau beliau bisa memandang masa lalu yang sangat kelam sebagai sebuah berkat, kenapa kita yang tidak separah pengalaman beliau masih mengeluh bahkan berani menyalahkan Tuhan? Soal kita lahir dalam kondisi seperti apa, itu tidak dalam kendali kita. Tapi kita punya kendali penuh dalam menjalani kehidupan kita, menentukan arah langkah dengan benar agar kehidupan kita tidak cacat tapi terus berproses menuju kesempurnaan.

(bersambung)


Saturday, August 19, 2017

Singa-Singa Muda Dalam Kemarau Berkepanjangan (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Oleh karena itulah Yesus mengingatkan "Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu." (ay 31-32). Ya, Tuhan sangat tahu bahwa kita memerlukan itu. Dia tahu pasti apa yang menjadi kebutuhan kita, dan Dia siap memberikan semuanya, bahkan lebih daripada itu. Tetapi kita harus terlebih dahulu memprioritaskan untuk mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya. Itulah yang seharusnya ditempatkan pada posisi teratas dalam skala prioritas kita, lebih dari hal lain.

Menariknya, mari perhatikan bunyi ayat yang langsung mengikuti pesan Yesus dalam Matius 6:33 diatas. "Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (ay 34). Lihatlah betapa menarik rangkaian ayat ini, yang mungkin seolah terbalik timelinenya. Benarkah? Tentu tidak. Saya yakin Tuhan Yesus dengan sengaja merangkai kalimat ini. Justru Yesus mengingatkan kita akan prioritas, mendahulukan mencari dahulu Kerajaan Allah beserta kebenarannya. Tuhan siap limpahkan, tapi itu bukan berarti bahwa kita akan selamanya lepas dari masalah. Masalah akan tetap ada. Kabar baiknya, anda akan melewatinya bersama Tuhan yang telah memberikan semua yang anda perlukan untuk bisa melewati kesusahan itu dengan sukses. Maka anda bisa menyikapi kesulitan per hari, tidak berlarut-larut dan bermultiplikasi gila-gilaan. Daud tahu itu, itulah sebabnya ia berkata, meski akan ada banyak singa muda yang merana kelaparan, orang-orang yang meletakkan prioritas mencari Tuhan pada posisi teratas tidak akan kekurangan mendapatkan hal yang baik langsung dari Tuhan.

Sekarang mari kita lihat kata makanan. Kondisi ekonomi sulit seperti sekarang, saat harga barang naiknya cepat sementara pendapatan cenderung tetap kalau tidak turun, saat ekonomi makro tampaknya baik tapi mikro megap-megap, ada banyak orang yang harus mengencangkan ikat pinggangnya dan bertahan mati-matian agar tidak kelaparan. Apakah Tuhan mau tolong kita akan hal ini? Tentu saja. Dengan banyak cara Dia bisa turun tangan memberi kelegaan dan bantuan. Tuhan pernah turunkan manna dan burung puyuh untuk memberi makan umatNya. Kalau dulu bisa, kenapa sekarang tidak? Jadi tentu saja Tuhan siap mengulurkan tanganNya untuk mengangkat kita dari kesulitan. Tapi kita harus ingat bahwa soal makan bukan hanya jasmani yang butuh makan, tapi rohani juga butuh. Kalau jasmani makannya nasi, roti, ayam, daging, sayur dan sebagainya, rohani kita makan dari rhema, alias perkataan-perkataan Tuhan. Itu disampaikan Yesus sendiri. "Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (Matius 4:4).

Mencari Tuhan artinya meluangkan waktu secara khusus dan teratur untuk membangun hubungan yang erat dengan Tuhan. Mencari Tuhan berarti bukan menyibukkan diri secara berlebihan untuk melayaniNya melainkan duduk diam di kakiNya untuk mendengar suaraNya. Mencari Tuhan berarti memenuhi diri dengan Firman Tuhan agar kita mengetahui segala kebenaran dan prinsip-prinsip kehidupan Kerajaan alias memberi makan cukup untuk rohani kita. Mencari Tuhan adalah dengan menjadi pelaku Firman secara nyata dalam hidup. Musim kemarau terlalu panjang kita hadapi? Belum tahu kapan kemarau berakhir? Jangan patah semangat, jangan putus asa. Jangan takut, jangan kuatir. Pastikan anda tahu apa yang paling utama harus dilakukan dalam urutan prioritas yang benar. Jika anda lakukan itu, anda akan menghadapinya dengan kekuatan dan bekal-bekal yang baik yang berasal dari Tuhan, dan anda juga akan berjalan melaluinya bersama-sama dengan Dia.

Tempatkanlah Kerajaan Allah dan kebenarannya pada prioritas utama, beri waktu istimewa bukan sisa

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, August 18, 2017

Singa-Singa Muda Dalam Kemarau Berkepanjangan (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 34:11
===================
"Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatupun yang baik."

Saya suka menonton film-film dokumenter tentang hewan, terutama melihat kehidupan hewan di belantara yang liar. Kehidupan yang keras, terkadang kejam. Mereka memangsa dan dimangsa. Bahkan para apex predator atau hewan-hewan yang hidup pada urutan teratas rantai makanan tidaklah aman karena sesama apex predator pun bisa saling bunuh. Singa termasuk salah satu apex predator yang seringkali dianggap sebagai yang terkuat. Begitu kuat hingga singa mendapat julukan raja rimba. Bukan saja kuat dan bergigi taring besar tajam, singa jantan juga terlihat gagah dengan rambut atau bulu-bulu lebat di sekeliling wajahnya.

Dalam sebuah film dokumenter ditampilkan kehidupan binatang buas di sebuah hutan di Afrika yang tengah dilanda kemarau panjang. Di musim seperti itu hewan-hewan sangatlah kesulitan untuk bertahan hidup. Bukan cuma mereka sangat membutuhkan air, mereka pun susah mendapatkan mangsa karena banyak yang sudah meninggalkan tempat kering atau sudah keburu mati kekurangan cairan. Singa-singa jantan yang tadinya gagah terlihat kurus kering dengan tulang rusuk menonjol. Sebagian terbaring lemah dan sudah tidak lagi bisa lari kencang karena malnutrisi dan dehidrasi. Ada yang kemudian tergeletak lalu mati kelaparan, kalah oleh ganasnya alam. Di saat seperti itu, hanya keajaiban yang bisa membuat mereka selamat, apabila hujan akhirnya turun membasahi tanah gersang tempat mereka bertahan.

Alam yang lebih ganas dari singa dan sanggup membuat raja-raja rimba ini menderita bahkan mati agaknya sudah terjadi sejak jaman dahulu, setidaknya di jaman kehidupan Daud. Dalam Mazmur 34 saat menggambarkan betapa luar biasanya jika kita berada dalam perlindungan Tuhan, ia mengambil contoh singa-singa muda untuk menjelaskan apa yang terjadi pada orang yang menomor dua atau tiga-kan Tuhan. "Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatupun yang baik." (Mazmur 34:11).

Daud mengatakan bahwa di musim kemarau atau kondisi situasi sulit, akan ada banyak singa-singa muda yang merana kelaparan. Tapi orang-orang yang mencari Tuhan ia katakan tidak akan berkekurangan segala sesuatu yang baik. Itu bagaikan menemukan oase ditengah gurun, bagaikan bertemu sungai penuh air jernih di saat musim kekeringan. Bukankah itu akan sangat kita butuhkan?

Daud memberitahukan apa kunci yang harus kita lakukan agar bisa menerimanya, yaitu mencari Tuhan. Pada kenyataannya banyak orang yang malah melupakan Tuhan pada saat-saat sulit. Meletakkan Tuhan pada urutan prioritas ke sekian, hanya mempergunakan sisa waktu untuk berdoa dan membangun hubungan, itu pun kalau memang benar ada sisa. Kerja nomor satu, dua dan tiga, bermain nomor empat, istirahat/tidur nomor berikutnya, baru sisanya keluarga dan terakhir Tuhan. Di kala kondisi makin sulit, orang semakin panik mencari tambahan dan yang lain dikorbankan. Doa hanya singkat berisi keluhan dan permintaan tanpa ada lagi ucapan syukur dan kerinduan untuk duduk di kakiNya dan mendengarkanNya. Mazmur Daud di atas mengingatkan kita untuk memikirkan kembali skala prioritas, karena prioritas yang salah akan mendatangkan hasil yang salah pula.

Sejalan dengan apa yang dikatakan Daud dalam Mazmur 34 tadi, Tuhan Yesus pun menyampaikan hal yang sama. "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33). Lihatlah apa yang seharusnya menjadi prioritas utama yang harusnya dilakukan terlebih dulu sebelum yang lain, yaitu mencari Kerajaan Allah beserta kebenarannya. Meskim mungkin sudah tahu ayat ini, tapi banyak orang lebih suka membalik urutan prioritasnya dan meletakkan apa yang seharusnya berada pada posisi teratas untuk ditempatkan pada urutan kesekian. Kita mungkin beranggapan, bukankah kita memang harus terus bekerja mati-matian agar bisa hidup layak? Tentu saja. Tuhan tidak menyuruh kita hanya berdoa, bersaat teduh dan memuji menyembah sepanjang hari tanpa melakukan apa-apa lagi. Bahkan Firman Tuhan pun berkata demikian. "Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." (2 Tesalonika 3:10). Tuhan memang tidak menghendaki kita untuk bermalas-malasan. Kerja, itu wajib hukumnya kalau masih mau makan atau hidup. Tetapi ada skala prioritas yang tentunya harus kita ikuti agar kita berjalan seturut kehendak Allah, dan Allah menginginkan kita untuk terlebih dahulu mencari KerajaanNya beserta kebenarannya.

Tuhan tahu betul kekuatiran kita dalam mengarungi hidup yang berat. Bacalah Matius 6:25-34. Di sana Yesus memaparkan panjang lebar mengapa kita tidak seharusnya kuatir dalam hidup ini. Yesus mengawali seperti ini "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?" (ay 25) Ini adalah sebuah bentuk skala prioritas. Jika burung-burung diberi makan oleh Tuhan, jika bunga bisa tumbuh dengan sendirinya tanpa harus menenun atau bekerja sendiri, jika rumput di ladang pun didandani Tuhan dengan indah, mengapa kita harus takut Tuhan tidak memperhatikan diri kita? (ay 26-30).

(bersambung)


Thursday, August 17, 2017

Gaya Gesek (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Jika kita melihat para tokoh baik di Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, kita pun akan melihat bahwa pelayanan mereka seringkali disertai berbagai permasalahan, penuh penderitaan dan berbagai gejolak yang setiap saat mampu melemahkan mereka hingga ke titik terendah. Dari Nuh, Musa hingga Paulus dan rekan-rekan sepelayanannya, semua mengalami berbagai masalah yang tidak mudah untuk dihadapi. Mereka pun mengalami banyak gesekan dalam perjalanan pelayanan mereka. Namun mereka tidak patah semangat, dan tetap tegar melakukan apa yang menjadi kehendak Bapa. Mereka tetap tekun melayani sepenuh hati. Malah tidak sedikit yang mempertaruhkan nyawa mereka dan harus rela menjadi martir. Tapi mereka tetap setia hingga akhir. Mengapa? Karena visi mereka jelas, yaitu menempatkan Tuhan di atas segalanya dalam apapun yang mereka lakukan. Meski yang mereka hadapi adalah kematian, mereka tahu bahwa kehidupan berikutnya yang kekal-lah yang terpenting. Visi yang benar membuat mereka tidak melenceng sedikitpun. Mereka punya sikap hati yang lebih mementingkan keinginan Tuhan di atas segalanya.

Kita bisa meneladani mereka, seperti yang diingatkan oleh Yakobus. "Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan." (Yakobus 5:10). Kedatangan Yesus ke dunia pun tidak lepas dari berbagai penderitaan. Tapi karena kasihNya yang luar biasa besar bagi kita, Dia menggenapkan kehendak Bapa hingga tuntas, mati di atas kayu salib demi menebus dosa-dosa kita.

Lantas bagaimana jika terjadi gesekan atau perselisihan? Yang terbaik adalah berusaha secepatnya untuk berdamai dan saling memaafkan. Kembali kepada tujuan semula dan belajar untuk saling lebih mengerti serta menghormati satu sama lain. Meski beda sifat, gaya dan cara, belajarlah untuk memikirkan orang lain sebelum kita berbuat atau mengatakan sesuatu. Dan, hendaknya bisa sehati sepikir dalam persatuan yang erat. Itu tepat seperti apa yang diingatkan oleh Paulus agar menghindarkan diri dari perpecahan. "Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir." (1 Korintus 1:10).

Seperti halnya Tuhan selalu siap membukakan pintu pengampunanNya bagi kita, demikian pula kita harus selalu siap untuk saling memaafkan satu sama lain. "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." (Efesus 4:32).

Dengarkan pula nasihat Paulus kepada Timotius berikut: "sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran." (2 Timotius 2:24-25).

Bayangkan kalau diantara pelayan Tuhan saja saling bertengkar, mau bagaimana bisa menuntun orang lain untuk mengenal kebenaran, dengan lemah lembut pula? Bayangkan saat Tuhan buka kesempatan bagi seseorang untuk bertobat, tapi tidak ada satupun dari kita yang siap karena pada sibuk bertengkar dan saling benci? Kalau anda ada di posisi Tuhan yang sudah menganugerahi keselamatan bagi semua orang, memberi berkat dan rahmat yang baru setiap pagi, memberi kasih setia yang tak terbatas panjang, lebar dan besarnya, tapi yang diberi berkelakuan seperti itu, bagaimana reaksi anda?

Orang-orang menjengkelkan mungkin akan terus ada. Orang yang dengan gampang mengkritik dengan cara yang kurang pantas bisa terus berada di sekitar kita.  Perselisihan dalam pelayanan bisa terjadi kapan saja. Gesekan-gesekan akan selalu ada ketika kita berada dalam sekelompok orang yang sama setiap hari. Itu sangat wajar. Gesekan menimbulkan panas, itu benar. Tetapi yang harus kita perhatikan adalah sikap hati kita dalam menghadapi hal itu. Daripada membiarkan diri panas dan aus karena terus bergesek keras dengan mereka, lebih baik bersabar, maafkan dan doakan mereka. Kalaupun memang mereka keterlaluan, bicaralah baik-baik tanpa mengganggu pelayanan. Jangan biarkan emosi atau kemarahan mengalahkan dan menjauhkan anda dari tugas utama anda sebagai murid Kristus. Dalam pelayanan pertengkaran harus dihindari, dalam keluarga dan berbagai lingkungan dimana kita ada pun sama. Sesungguhnya kesabaran, kebesaran hati untuk memaafkan dan mendoakan orang yang bersalah pada kita bukanlah tergantung dari orang lain maupun situasi/kondisi melainkan tergantung keputusan kita. Bisa jadi Tuhan sedang ingin mengasah mental dan menguji iman kita dengan menempatkan orang-orang sulit untuk berada dekat dengan kita. Atau, bisa jadi pula Tuhan sedang memberi kesempatan bagi mereka untuk bertobat dan menjadikan anda sebagai penuntunnya.

Jika dalam menghadapi gesekan belum apa-apa kita sudah bereaksi dengan emosional dan mengambil tindakan-tindakan tidak dewasa, itu artinya kita belumlah menjadi pelayan yang taat terhadap tuannya. Kita harus periksa akar iman kita karena jelas buah yang dihasilkan belum baik. Ingatlah bahwa di atas segalanya kita melayani karena mengasihi Kristus lebih dari segalanya. Taklukkanlah hal-hal lain yang mungkin merintangi pelayanan kita dengan kasih dan saling memaafkan dan fokuslah kembali pada tujuan dan visi yang sesungguhnya. Jangan biarkan motivasi menjadi kabur lalu membiarkan hal-hal negatif muncul karena adanya pergeseran arah tujuan pelayanan. Si jahat selalu dengan senang hati mencoba merusak tujuan anda lewat hal-hal seperti ini.

Seperti gaya gesekan akan muncul saat ada benda yang bersentuhan, kita pun bisa mengalami gaya gesekan yang sama setiap saat. Tapi, seperti halnya minyak pelumas yang bisa memperpanjang umur benda dengan menghindarkannya dari aus dan rusak, kita pun memiliki minyak pelumas yaitu Firman Tuhan. Pertanyaannya, apakah kita mau memberi minyak pelumas atau membiarkan gesekan itu terjadi pada dua permukaan keras sampai panas dan api terpercik disana? Itu tergantung kita. Kalau kita mau memberkati kota, bangsa dan negara ini, kita harus bisa menghindari akibat buruk dari terjadinya gesekan, apalagi kalau gesekan malah terjadi di antara pelayan Tuhan yang mengemban tugas mulia. Saat merayakan Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun ini, hendaklah hal ini menjadi pemikiran serius kita.

"Peace is not the absence of conflict, but the ability to cope with it" - Dorothy Thomas

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, August 16, 2017

Gaya Gesek (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Korintus 1:10
========================
"Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir."

Bagi anda yang suka dengan pelajaran Fisika tentu pernah mempelajari gaya gesek. Gaya gesek adalah gaya yang melawan gerakan antar dua permukaan yang saling bersentuhan. Gaya ini timbul karena adanya dua benda yang saling bersentuhan, dan arah gaya gesek akan selalu berlawanan dengan arah gerak benda. Pada saat saya masih sekolah, ada rumus yang harus dihafalkan agar bisa menghitung gaya gesek, tapi yang penting sebenarnya adalah aplikasi langsungnya dalam kehidupan sehari-hari. Ada beberapa keuntungan yang bisa didapat dari gaya gesekan misalnya gesekan alas kaki dengan lantai saat berjalan. Itu mencegah kita untuk terjatuh atau tergelincir yang akan terjadi saat gesekan antar keduanya kecil misalnya karena licin. Atau, jika anda mengerem dan berhenti, itu juga akibat gaya gesek yang terjadi. Gaya gesekan juga bisa merugikan kita, misalnya saat gaya gesekan pada komponen mesin yang berputar dan saling bersentuhan. Panas yang terjadi akibat gesekan akan membuat komponen dan mesin tersebut cepat aus dan kemudian rusak. Cara menghindarinya atau mengurangi kecepatan aus adalah dengan memberi minyak pelumas.

Selain menimbulkan panas, gesekan antar dua benda juga bisa sampai menimbulkan percikan api. Contoh sederhana saja, kalau kita menggosokkan tangan secara kontinu maka tangan akan terasa panas. Korek api merupakan metoda yang didasari gesekan, sebagaimana halnya orang dahulu kala menghasilkan api dengan menggesekkan kayu. Yang menarik, gesekan yang bisa menimbulkan panas bahkan percik hingga nyala api bukan saja terjadi antara dua benda mati, tapi juga antar manusia. Meski tidak secara langsung seperti halnya benda-benda di atas, friksi atau gesekan diantara manusia terutama yang kepribadian dan cara bersosialisasinya berbeda kalau tejadi terus menerus bisa menimbulkan panas sehingga perselisihan, pertengkaran, perkelahian bahkan tindakan-tindakan yang lebih parah seperti melukai bahkan membunuh bisa menjadi akibatnya.

Yang menyedihkan, soal gesekan ini juga terjadi dalam wilayah pelayanan. Sama-sama pelayan Tuhan tapi punya gaya, cara, tabiat berlawanan bisa menimbulkan gaya gesek yang mengakibatkan adanya panas. Tidak cocok sama gembala, sama atasan, sama pengerja lain, antar usher, antar tim musik, antar komsel hingga antar jemaat, itu terjadi dimana-mana. Pindah, pecah seringkali jadi solusi ketimbang saling memaafkan dan belajar lebih memahami satu sama lain. Kalau ini terus terjadi, bagaimana kita bisa berharap bisa maksimal dalam pelayanan? Bahkan, di dalam keluarga pun percik api dan panas akibat gesekan terjadi juga. Antara suami, istri, anak, mertua, menantu, adik, kakak, gesekan bisa menimbulkan banyak masalah, mulai dari perselisihan biasa, saling tidak enakan sampai baku hantam, saling tuntut atau malah bunuh-bunuhan. Kalau sudah begini, bagaimana kita berharap bisa merasakan atau mengalami damai sejahtera dan sukacita akan Tuhan dalam keluarga, seperti yang Tuhan sebenarnya inginkan? Bisa tidak saling melukai sebentar saja mungkin sudah jadi rekor luar biasa.

Manusia punya gaya dan cara bersosialisasi yang berbeda-beda. Semakin sering dan banyak anda bertemu orang, semakin banyak pula kans untuk terjadinya gesekan. Semakin sering anda bertemu dengan orang yang sifatnya berlawanan, beda pandangan dan sebagainya, semakin besar pula kemungkinan terjadinya gesekan. Kita tidak bisa memaksakan semua orang untuk sama bereaksinya sesuai keinginan kita. Ada yang mungkin memang sifatnya pendiam, bisa saja ada yang langsung menebarkan aroma persaingan atau baru senang kalau ada konflik. Ada yang tipenya intim, ada yang dominan. Ada yang cepat akrab, ada yang butuh waktu. Ada yang suka ketemu teman baru, ada yang terganggu kalau ketemu orang baru. Ada yang suka ramai-ramai, ada yang sukanya menyendiri. Itu memang tidak bisa dihindari, karena sifat orang berbeda-beda. Dalam dunia pelayanan, meski melayani di bidang yang sama gesekan tetap saja berpotensi untuk terjadi. Apalagi motivasi orang dalam melayani pun bisa saja berbeda, gesekan pun semakin mungkin muncul. Ada yang murni untuk Tuhan, tapi ada pula yang karena ingin terkenal, mencari pujian, karena paksaan keluarga dan berbagai alasan lain. Kesal, tersinggung, musuhan. Sayang sekali kalau hal ini terjadi.

Apa yang harus kita lakukan? Pertama sekali adalah memastikan bahwa motivasi kita sudah benar, lalu menjaga agar kita tetap sabar agar jangan sampai gesekan-gesekan sampai berbuah sesuatu yang negatif. Kalau kita menjadi malas melayani atau bahkan mundur saat bergesekan dengan satu atau lebih teman sepelayanan, itu artinya kita sendiri masih belum benar motivasinya. Bukankah kalau fokus kita memang untuk menyenangkan Tuhan seharusnya kita tidak mudah terganggu oleh perilaku teman sepelayanan? Kalau belum apa-apa kita sudah bereaksi dengan emosional, itu artinya kita belum sampai pada visi yang benar dalam melayani Tuhan. Artinya kita masih punya pekerjaan rumah dari segi mengaplikasikan Firman Tuhan dalam hidup kita, dimana kesabaran dan memaafkan merupakan hal mutlak yang tidak tergantung situasi melainkan tergantung diri kita sendiri. Artinya, kita harus memeriksa 'akar' iman kita karena ternyata kita belum menghasilkan buah yang benar.

Mari kita lihat apa yang tertulis dalam Alkitab saat Simon Petrus ditanya Yesus dengan pertanyaan yang sama sebanyak tiga kali. Yesus berkata: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." (Yohanes 21:15-17). Yesus menanyakan bukan cuma satu kali melainkan tiga kali. Yesus menganggap perlu untuk mengulangi pertanyaanNya sampai tiga kali, tentu itu artinya hal ini merupakan sesuatu yang sangat penting. Dasar utama melayani itu penting dan harus kita pastikan benar-benar yaitu mengasihi Yesus lebih dari segala sesuatu. Itu harus ditempatkan di atas hal lainnya, sehingga kita tidak mudah aus saat menghadapi gesekan.

Lalu Yesus juga berkata: "Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa." (Yohanes 12:26). Adalah wajib bagi kita yang berada dalam pelayanan untuk mengikuti Yesus dimanapun Dia berada. Dan hal itu bisa jadi tidak mudah, karena seringkali kita harus menghadapi situasi-situasi bagaikan memikul salib. Dan hal itu pun sudah diingatkan Yesus sejak awal. "Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Matius 16:24). Kalau kita memiliki dasar yang benar dan kuat dalam hal melayani dan mengerti tujuannya, kita seharusnya tidak mudah panas melainkan bisa lebih panjang sabar.

(bersambung)


Tuesday, August 15, 2017

Worry, Stress, Fear (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Katanya punya cukup uang atau harta bisa membuat orang tidak perlu kuatir lagi. Tapi kenyataannya banyak harta tetap akan memunculkan rasa kuatir, cemas dan takut lain seperti takut kehilangan harta, takut kekurangan, takut pencuri dan lainnya. Banyak orang yang memelihara atau bahkan memupuk rasa takutnya sendiri, baik sadar atau tidak. Ada yang tidak kuasa mengatasi perasaan-perasaannya, memilih menyerah karena tidak tahu bahayanya. Mereka lupa bahwa semakin jauh kita membiarkan para perampas sukacita ini ada pada kita, semakin besar pula mereka menguasai kita. They The more we drive into fear, the longer we keep it, the more it controls us. 

Alkitab menyampaikan begitu banyak pesan agar kita jangan sampai ditutupi kabut perasaan negatif ini. Kita diberitahu cara mengatasinya, diajarkan tentang bahayanya, diingatkan supaya berhati-hati terhadapnya. Dari beberapa renungan terakhir kita sudah melihat bagaimana tokoh-tokoh besar bahkan menyandang gelar raja dengan awal yang sangat istimewa kemudian hancur karena mereka gagal mengatasi perasaan-perasaan negatif ini dengan benar. Lihat pula bagaimana Petrus yang sebenarnya sudah mengalami mukjizat bisa berjalan di atas air kemudian jatuh hampir tenggelam karena gagal mengatasi rasa takutnya. Ketiga hal perampas sukacita itu tampaknya biasa buat kita dan sering kita alami, tapi ternyata berpotensi mendatangkan bencana besar dalam hidup kita kalau kita biarkan.

Ayat bacaan hari ini sangat baik untuk mengatasi rasa takut. Ayat ini memberitahukan bahwa ada tempat perlindungan yang sangat bisa diandalkan, kubu pertahanan yang sangat layak untuk dipercaya, tidak lain adalah Tuhan sendiri. Ayatnya berbunyi demikian: "Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: "Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai." (Mazmur 91:1-2). Kita tentu tahu bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan, tempat kita bergantung dalam menghadapi apapun. Masalahnya, ketika rasa takut melanda, apakah kita masih ingat dan yakin akan hal ini? Kenyataannya, kita seringkali lupa. Banyak yang hanya mengandalkan kekuatan manusia, padahal manusia itu kemampuannya terbatas. Yang lebih salah lagi kalau malah pergi mengandalkan berbagai kuasa yang disediakan kegelapan. Kalau kita menyadari bahwa kuasa Tuhan itu begitu besar, di atas segalanya, tidak terbatas dan tidak ada habisnya, mengapa tidak beralih untuk kembali mempercayakan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita?

Ayat bacaan hari ini merupakan awal dari Mazmur pasal 91 selalu bisa menenangkan kala kita mengalami rasa takut. Bahkan membaca judul perikopnya saja, "Dalam Lindungan Allah" harusnya sudah bisa menenangkan kita. Disana kita bisa melihat betapa hebatnya perlindungan yang sanggup Tuhan berikan, antara lain:

- Dia sanggup melepaskan kita dari bahaya tersembunyi dan penyakit yang membawa maut (ay 3) - melindungi kita dibawah sayapNya dengan kesetiaanNya yang kokoh seperti perisai dan pagar tembok (ay 4)
- Kita tidak perlu takut akan bahaya sepanjang hari (ay 5)
- bencana yang datang di saat gelap, atau kehancuran yang menimpa di tengah hari (ay 6). - Malapetaka tidak akan bisa menimpa, tulah atau kutuk tidak akan bisa mendekat (ay 10)
- Tuhan menjanjikan malaikat-malaikatNya untuk menjaga kita di setiap langkah. (ay 11)
- Kita akan mampu melangkahi ular berbisa dan singa, ancaman-ancaman mematikan lainnya. (ay 13)

Ini serangkaian janji Tuhan yang besar yang diberikan kepada kita agar mampu hidup tanpa rasa takut lagi, bebas dari ketakutan di dalam dunia yang jahat ini.

(bersambung)

(sambungan)

Semua itu bisa menjadi bagian hidup kita. Bisa kita alami. Tapi ingat bahwa janji itu berlaku dengan syarat, yaitu hanya berlaku bagi orang yang mengenal Tuhan. Perhatikan ayat berikutnya. "Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku." (ay 14). Dalam versi Bahasa Indonesia sehari-hari dikatakan demikian: "Kata TUHAN, "Orang yang mencintai Aku akan Kuselamatkan, yang mengakui Aku akan Kulindungi." Janji-janji perlindungan ini akan hadir kepada siapa saja yang tetap memilih untuk mengakuiNya, mengandalkanNya, orang yang tinggal di dalam Tuhan. Tinggal menetap, berjalan dan bermalam dalam naungan Tuhan, terus hidup dalam persekutuan yang erat dan berkelanjutan dengan Tuhan, mendengar suaraNya dan melakukan perintahNya.

Siapa yang dimaksudkan sebagai orang yang mengenal Tuhan? Orang yang mengenal Tuhan adalah "rang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa" seperti yang disebutkan di awal Mazmur 91 tadi. Orang seperti inilah yang akan mampu mengenal Tuhan, dan dengan sendirinya mendapat janji perlindungan Tuhan yang akan mampu membebaskan jiwa kita dari rasa ketakutan dan menggantikannya dengan damai sukacita.

Luangkan waktu lebih banyak untuk berdoa dan terus membaca, mendengar, merenungkan, memperkatakan dan melakukan Firman Tuhan. Mengisi diri dengan kepenuhan kebenaran Firman Tuhan itu penting, tapi haruslah dilanjutkan dengan melakukan atau mengaplikasikannya dalam hidup kita. Kita harus berhati-hati terhadap serangan lewat daging kita yang lemah, seperti pesan Yesus berikut: "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Matius 26:41). Tumbuh di dalam Firman berarti tumbuh di dalam Allah. Berpegang pada Firman akan memampukan kita untuk bisa berjalan bebas dari rasa takut meski bahaya mengancam dimana-mana.

Jika mengatasinya masih berat, pikirkanlah apa hal baik yang bisa datang dari rasa kuatir/cemas, stres dan takut? Apakah ketiga hal ini bisa menolong dan melepaskan kita dari masalah? Pada kenyataannya, sebagian besar dari apa yang kita cemaskan atau takutkan justru tidak terjadi. Artinya, kita membuat hati dan pikiran kita lelah, terkontaminasi racun sebenarnya sia-sia saja. Yesus sudah mengingatkan juga bahwa ketakutan itu tidak ada gunanya. "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?" (Matius 6:27).

Tetaplah berjalan bersama Tuhan, kenali PribadiNya dengan sungguh-sungguh, hingga iman kita akan terisi penuh dengan kepercayaan akan Tuhan yang sanggup melakukan perkara apapun, bahkan yang menurut logika paling mustahil sekalipun. Jika anda berpegang pada Tuhan, duduk dalam lindunganNya dan bermalam dalam naunganNya, anda maka anda akan melihat, tidak peduli betapapun bahayanya dunia ini, betapapun banyaknya ancaman di sekeliling anda, anda tidak perlu khawatir karena Tuhan lebih dari sanggup menjadi tempat perlindungan dan kubu pertahanan kita. Jangan biarkan iman anda goyah atas apapun, apalagi untuk hal-hal kecil yang tak perlu.

Orang yang duduk dalam tahta Tuhan dan bermalam dalam naunganNya akan mendapat perlindungan dari Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, August 14, 2017

Worry, Stress, Fear (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Katanya punya cukup uang atau harta bisa membuat orang tidak perlu kuatir lagi. Tapi kenyataannya banyak harta tetap akan memunculkan rasa kuatir, cemas dan takut lain seperti takut kehilangan harta, takut kekurangan, takut pencuri dan lainnya. Banyak orang yang memelihara atau bahkan memupuk rasa takutnya sendiri, baik sadar atau tidak. Ada yang tidak kuasa mengatasi perasaan-perasaannya, memilih menyerah karena tidak tahu bahayanya. Mereka lupa bahwa semakin jauh kita membiarkan para perampas sukacita ini ada pada kita, semakin besar pula mereka menguasai kita. They The more we drive into fear, the longer we keep it, the more it controls us. 

Alkitab menyampaikan begitu banyak pesan agar kita jangan sampai ditutupi kabut perasaan negatif ini. Kita diberitahu cara mengatasinya, diajarkan tentang bahayanya, diingatkan supaya berhati-hati terhadapnya. Dari beberapa renungan terakhir kita sudah melihat bagaimana tokoh-tokoh besar bahkan menyandang gelar raja dengan awal yang sangat istimewa kemudian hancur karena mereka gagal mengatasi perasaan-perasaan negatif ini dengan benar. Lihat pula bagaimana Petrus yang sebenarnya sudah mengalami mukjizat bisa berjalan di atas air kemudian jatuh hampir tenggelam karena gagal mengatasi rasa takutnya. Ketiga hal perampas sukacita itu tampaknya biasa buat kita dan sering kita alami, tapi ternyata berpotensi mendatangkan bencana besar dalam hidup kita kalau kita biarkan.

Ayat bacaan hari ini sangat baik untuk mengatasi rasa takut. Ayat ini memberitahukan bahwa ada tempat perlindungan yang sangat bisa diandalkan, kubu pertahanan yang sangat layak untuk dipercaya, tidak lain adalah Tuhan sendiri. Ayatnya berbunyi demikian: "Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: "Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai." (Mazmur 91:1-2). Kita tentu tahu bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan, tempat kita bergantung dalam menghadapi apapun. Masalahnya, ketika rasa takut melanda, apakah kita masih ingat dan yakin akan hal ini? Kenyataannya, kita seringkali lupa. Banyak yang hanya mengandalkan kekuatan manusia, padahal manusia itu kemampuannya terbatas. Yang lebih salah lagi kalau malah pergi mengandalkan berbagai kuasa yang disediakan kegelapan. Kalau kita menyadari bahwa kuasa Tuhan itu begitu besar, di atas segalanya, tidak terbatas dan tidak ada habisnya, mengapa tidak beralih untuk kembali mempercayakan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita?

Ayat bacaan hari ini merupakan awal dari Mazmur pasal 91 selalu bisa menenangkan kala kita mengalami rasa takut. Bahkan membaca judul perikopnya saja, "Dalam Lindungan Allah" harusnya sudah bisa menenangkan kita. Disana kita bisa melihat betapa hebatnya perlindungan yang sanggup Tuhan berikan, antara lain:

- Dia sanggup melepaskan kita dari bahaya tersembunyi dan penyakit yang membawa maut (ay 3) - melindungi kita dibawah sayapNya dengan kesetiaanNya yang kokoh seperti perisai dan pagar tembok (ay 4)
- Kita tidak perlu takut akan bahaya sepanjang hari (ay 5)
- bencana yang datang di saat gelap, atau kehancuran yang menimpa di tengah hari (ay 6). - Malapetaka tidak akan bisa menimpa, tulah atau kutuk tidak akan bisa mendekat (ay 10)
- Tuhan menjanjikan malaikat-malaikatNya untuk menjaga kita di setiap langkah. (ay 11)
- Kita akan mampu melangkahi ular berbisa dan singa, ancaman-ancaman mematikan lainnya. (ay 13)

Ini serangkaian janji Tuhan yang besar yang diberikan kepada kita agar mampu hidup tanpa rasa takut lagi, bebas dari ketakutan di dalam dunia yang jahat ini.

(bersambung)

(sambungan)

Semua itu bisa menjadi bagian hidup kita. Bisa kita alami. Tapi ingat bahwa janji itu berlaku dengan syarat, yaitu hanya berlaku bagi orang yang mengenal Tuhan. Perhatikan ayat berikutnya. "Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku." (ay 14). Dalam versi Bahasa Indonesia sehari-hari dikatakan demikian: "Kata TUHAN, "Orang yang mencintai Aku akan Kuselamatkan, yang mengakui Aku akan Kulindungi." Janji-janji perlindungan ini akan hadir kepada siapa saja yang tetap memilih untuk mengakuiNya, mengandalkanNya, orang yang tinggal di dalam Tuhan. Tinggal menetap, berjalan dan bermalam dalam naungan Tuhan, terus hidup dalam persekutuan yang erat dan berkelanjutan dengan Tuhan, mendengar suaraNya dan melakukan perintahNya.

Siapa yang dimaksudkan sebagai orang yang mengenal Tuhan? Orang yang mengenal Tuhan adalah "rang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa" seperti yang disebutkan di awal Mazmur 91 tadi. Orang seperti inilah yang akan mampu mengenal Tuhan, dan dengan sendirinya mendapat janji perlindungan Tuhan yang akan mampu membebaskan jiwa kita dari rasa ketakutan dan menggantikannya dengan damai sukacita.

Luangkan waktu lebih banyak untuk berdoa dan terus membaca, mendengar, merenungkan, memperkatakan dan melakukan Firman Tuhan. Mengisi diri dengan kepenuhan kebenaran Firman Tuhan itu penting, tapi haruslah dilanjutkan dengan melakukan atau mengaplikasikannya dalam hidup kita. Kita harus berhati-hati terhadap serangan lewat daging kita yang lemah, seperti pesan Yesus berikut: "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Matius 26:41). Tumbuh di dalam Firman berarti tumbuh di dalam Allah. Berpegang pada Firman akan memampukan kita untuk bisa berjalan bebas dari rasa takut meski bahaya mengancam dimana-mana.

Jika mengatasinya masih berat, pikirkanlah apa hal baik yang bisa datang dari rasa kuatir/cemas, stres dan takut? Apakah ketiga hal ini bisa menolong dan melepaskan kita dari masalah? Pada kenyataannya, sebagian besar dari apa yang kita cemaskan atau takutkan justru tidak terjadi. Artinya, kita membuat hati dan pikiran kita lelah, terkontaminasi racun sebenarnya sia-sia saja. Yesus sudah mengingatkan juga bahwa ketakutan itu tidak ada gunanya. "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?" (Matius 6:27).

Tetaplah berjalan bersama Tuhan, kenali PribadiNya dengan sungguh-sungguh, hingga iman kita akan terisi penuh dengan kepercayaan akan Tuhan yang sanggup melakukan perkara apapun, bahkan yang menurut logika paling mustahil sekalipun. Jika anda berpegang pada Tuhan, duduk dalam lindunganNya dan bermalam dalam naunganNya, anda maka anda akan melihat, tidak peduli betapapun bahayanya dunia ini, betapapun banyaknya ancaman di sekeliling anda, anda tidak perlu khawatir karena Tuhan lebih dari sanggup menjadi tempat perlindungan dan kubu pertahanan kita. Jangan biarkan iman anda goyah atas apapun, apalagi untuk hal-hal kecil yang tak perlu.

Orang yang duduk dalam tahta Tuhan dan bermalam dalam naunganNya akan mendapat perlindungan dari Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, August 13, 2017

Worry, Stress, Fear (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 91:1-2
===========================
"Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: "Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai."

Pada waktu saya berkunjung ke negara Swedia, saya pernah melihat sebuah peribahasa berumur ratusan tahun yang masih saya ingat sampai sekarang: "oro ger ofta en liten sak en stor skugga". Artinya, "worry/concern gives a small thing a big shadow". Perasaan cemas mendatangkan bayangan besar menutupi hal kecil. Peribahasa ini melekat dalam ingatan saya karena menjadi titik balik bagi saya yang dahulu begitu mudahnya kuatir, cemas akan segala sesuatu yang belum terjadi, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya biasa atau sederhana saja. Bagaimana kalau nanti begini, begitu.

Dahulu saya berpikir, kecemasan itu akan membuat saya bisa mengantisipasi kemungkinan terburuk kalau benar terjadi, dan kalau tidak terjadi maka itu bonus. Tapi sebenarnya mudah cemas kerap menahan saya untuk maju. Itu mendatangkan rasa takut untuk melangkah sehingga saya pun harus kehilangan banyak kesempatan untuk mengalami peningkatan. Setelah saya bertobat, saya pun sadar bahwa kecemasan yang menimbulkan rasa takut itu bukan saja menghambat saya untuk maju, tapi juga akan membuat saya gagal menggenapi rencana Tuhan dan menghalangi mukjizat Tuhan untuk bisa saya rasakan. Dan yang tidak kalah merugikannya, mudah cemas itu akan merampas sukacita dari diri saya, karena sukacita dan cemas tidak akan pernah bisa berjalan bersamaan. Cemas akan mendatangkan perasaan tidak enak, yang kalau saya biarkan akan mengkontaminasi hati saya dengan berbagai perasaan jelek lainnya sampai tidak ada lagi ruang bagi sukacita disana. Itu tidak boleh terjadi, karenanya saya belajar untuk mengatasi perasaan-perasaan negatif itu sesegera mungkin sebelum menguasai ruang-ruang di hati saya.

Pastor Charles Rozell 'Chuck' Swindoll dalam sebuah bukunya menyebutkan ada tiga hal yang paling sering menjadi pencuri sukacita, yaitu:
- Worry : an inordinate anxiety about something that may or may not occur (kekuatiran berlebihan terhadap sesuatu yang mungkin bisa atau mungkin tidak terjadi)
 - Stress : intense strain over a situation we can't change or control (ketegangan yang intens terhadap sebuah situasi yang tidak bisa kita ubah atau kendalikan)
- Fear: a dreadful uneasiness over danger, evil or pain (sebuah rasa gentar yang sangat tidak nyaman terhadap bahaya, perbuatan keji dan rasa sakit)

Ketiga hal ini memang rada mirip, beda tipis. Menurut Pastor Chuck, inilah tiga hal yang seringkali merampas sukacita kita. Dan untuk mengalahkannya, ia menganjurkan kita untuk mengimani keyakinan Paulus akan penyertaan Tuhan seperti yang disebukan dalam kitab Filipi. "Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus." (Filipi 1:6). Paulus menulis surat buat jemaat Filipi ini saat berada di penjara menanti hukuman mati, setelah begitu lama mengabdikan hidupnya untuk mewartakan berita keselamatan. Apa yang ia alami jelas tidak menyenangkan bahkan menakutkan. Tapi Paulus ternyata tidak merasakan itu sama sekali, karena ia 'yakin sepenuhnya' (bukan setengah yakin, bukan mudah-mudahan, bukan 'kiranya', tapi sepenuhnya) bahwa Tuhan yang sudah memulai sesuatu yang baik bagi kita akan meneruskan sampai pada akhirnya.  Kalau kita bisa memiliki keyakinan seperti Paulus, kita seharusnya tidak perlu kehilangan sukacita.

Ketiga hal diatas sebenarnya bukanlah sesuatu yang asing dalam hidup manusia. Mulai dari rasa cemas akan hal-hal kecil, rasa takut yang sebenarnya tidak perlu seperti takut hantu, berbagai macam phobia seperti takut ketinggian, takut serangga, laba-laba dan lainnya, juga rasa takut akan ancaman keamanan dari orang jahat, kondisi cuaca, takut memandang masa depan dan sebagainya. Stres saat mengejar pekerjaan agar selesai tepat waktu, stres saat harus menghadapi lebih dari satu problem dalam waktu bersamaan, stres berada di dekat orang-orang sulit, itu biasa kita alami. Kita bisa merasa takut akan keadaan cuaca yang buruk, bencana alam, bahkan kita pun takut akan jaminan masa depan.

(bersambung)


Saturday, August 12, 2017

Asa (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Ini pertanyaannya. Ketika kita mengalami masalah dalam hidup, siapa yang kita andalkan? Mungkin kita bisa geleng-geleng kepala dan sedih melihat raja Asa dan keputusannya. Kalau sebagai penonton mungkin begitu. Tetapi tidakkah kita sering tergiur untuk melakukan hal-hal yang sama saat kita mengalami sendiri ancaman berat seperti itu? Ada banyak manusia yang mencoba menyelesaikan masalah lewat hal-hal duniawi, mengandalkan manusia hingga bahkan menjalin perjanjian dengan iblis. Banyak yang mencari jawaban instan tanpa memikirkan konsekuensinya. Tampaknya bisa menjadi solusi, tapi sebenarnya bukan menyelesaikan masalah tetapi malah menambah dan memperbesar masalah. Jika tidak hati-hati, eskalasi masalah pada suatu saat akan sangat sulit untuk dikendalikan, membuat kita jatuh semakin jauh dan berakhir pada sesuatu yang fatal seperti Asa, Saul atau Korah yang sama-sama tidak kita inginkan.

Raja Asa menjadi contoh bagaimana sebuah kesalahan keputusan akan mengarahkan seseorang pada kesalahan berikutnya dengan eskalasi meningkat. Ia menjadi contoh bagaimana orang yang sebenarnya sudah memulai dengan awal yang baik kemudian berakhir buruk karena tidak dibarengi dengan langkah benar dalam perjalanannya. Ia terus semakin jauh dalam kesesatan, dan kemudian sudah terlanjur begitu jauh, sehingga sudah sulit baginya untuk kembali ke jalan Tuhan. Ada banyak orang yang terjebak dalam tawaran-tawaran ke dukun, peramal, paranormal dan bentuk okultisme lainnya ketika berhadapan dengan masalah dalam hidup mereka. Itu merupakan kekejian di mata Tuhan. Firman Tuhan jelas berkata "Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!" (Yeremia 17:5). Dalam kesempatan lainnya tertulis: "Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN." (Yesaya 31:1).

Dalam kitab Hosea reaksi kemarahan Allah atas keputusan manusia yang lebih mengandalkan hal-hal lain ketimbang Tuhan pun bisa kita lihat: "Kamu telah membajak kefasikan, telah menuai kecurangan, telah memakan buah kebohongan. Oleh karena engkau telah mengandalkan diri pada keretamu, pada banyaknya pahlawan-pahlawanmu, maka keriuhan perang akan timbul di antara bangsamu, dan segala kubumu akan dihancurkan seperti Salman menghancurkan Bet-Arbel pada hari pertempuran: ibu beserta anak-anak diremukkan." (Hosea 10:13-14). Lihatlah bahwa Tuhan sudah mengingatkan kita berkali-kali untuk tidak mengandalkan manusia atau kekuatan kita sendiri dalam menghadapi masalah, tetapi bergantung kepadaNya dengan sepenuh hati.

Tentu bukan berarti bahwa kita hanya diam saja ketika menghadapi masalah, bukan pula berarti bahwa kita tidak boleh bekerja sama dengan orang lain saat menghadapi situasi pelik. Tetapi yang harus kita ingat adalah kita harus pastikan bahwa semua yang kita putuskan tidak ada yang salah di mata Tuhan. Lalu, pastikan kita sejalan dengan pandangan Tuhan. Ambillah keputusan yang telah dibawa dalam doa terlebih dahulu, dan dengarkan baik-baik apa yang dikatakan Tuhan. Lakukan sesuai dengan itu, dan peganglah Tuhan dengan keyakinan dan kepercayaan yang teguh.

Bagaimana kita bisa yakin bahwa Tuhan akan membantu kita dalam menghadapi masalah? Mari kita lihat kembali apa yang dikatakan Hanani kepada Asa: "Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.." (2 Tawarikh 16:9). Pemazmur pun mengatakan hal yang sama: "Allah memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia, untuk melihat apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah." (Mazmur 53:3). Kepada orang-orang yang termasuk dalam kategori bersungguh hati terhadap Tuhan, berakal budi dan terus mencariNya, Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu yang ajaib, bahkan diluar hal yang mampu diterima oleh logika kita sekalipun. Firman Tuhan berbunyi: "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!" (Yeremia 17:7).

Awali dengan manis, akhiri pula dengan manis. Berhati-hatilah dalam melangkah di sepanjang kehidupan kita agar kita tidak terperosok ke dalam kebodohan yang sama seperti yang dilakukan raja Asa. Masalah apapun yang tengah melanda anda hari ini, ingatlah untuk tidak mengandalkan kekuatan manusia diatas segalanya, jangan terjatuh ke dalam jebakan okultisme dan tawaran-tawaran menggiurkan lainnya di dunia, tetapi andalkanlah Tuhan. Tetap taruh harapan sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan, dengarkan apa kataNya dan lakukanlah sesuai dengan apa yang Dia katakan. Bersabarlah, pegang teguh janjiNya, karena akan ada saat dimana Tuhan melepaskan anda dan membawa anda menjadi pemenang.

Don't waste your good start

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker