Friday, August 18, 2017

Singa-Singa Muda Dalam Kemarau Berkepanjangan (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 34:11
===================
"Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatupun yang baik."

Saya suka menonton film-film dokumenter tentang hewan, terutama melihat kehidupan hewan di belantara yang liar. Kehidupan yang keras, terkadang kejam. Mereka memangsa dan dimangsa. Bahkan para apex predator atau hewan-hewan yang hidup pada urutan teratas rantai makanan tidaklah aman karena sesama apex predator pun bisa saling bunuh. Singa termasuk salah satu apex predator yang seringkali dianggap sebagai yang terkuat. Begitu kuat hingga singa mendapat julukan raja rimba. Bukan saja kuat dan bergigi taring besar tajam, singa jantan juga terlihat gagah dengan rambut atau bulu-bulu lebat di sekeliling wajahnya.

Dalam sebuah film dokumenter ditampilkan kehidupan binatang buas di sebuah hutan di Afrika yang tengah dilanda kemarau panjang. Di musim seperti itu hewan-hewan sangatlah kesulitan untuk bertahan hidup. Bukan cuma mereka sangat membutuhkan air, mereka pun susah mendapatkan mangsa karena banyak yang sudah meninggalkan tempat kering atau sudah keburu mati kekurangan cairan. Singa-singa jantan yang tadinya gagah terlihat kurus kering dengan tulang rusuk menonjol. Sebagian terbaring lemah dan sudah tidak lagi bisa lari kencang karena malnutrisi dan dehidrasi. Ada yang kemudian tergeletak lalu mati kelaparan, kalah oleh ganasnya alam. Di saat seperti itu, hanya keajaiban yang bisa membuat mereka selamat, apabila hujan akhirnya turun membasahi tanah gersang tempat mereka bertahan.

Alam yang lebih ganas dari singa dan sanggup membuat raja-raja rimba ini menderita bahkan mati agaknya sudah terjadi sejak jaman dahulu, setidaknya di jaman kehidupan Daud. Dalam Mazmur 34 saat menggambarkan betapa luar biasanya jika kita berada dalam perlindungan Tuhan, ia mengambil contoh singa-singa muda untuk menjelaskan apa yang terjadi pada orang yang menomor dua atau tiga-kan Tuhan. "Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatupun yang baik." (Mazmur 34:11).

Daud mengatakan bahwa di musim kemarau atau kondisi situasi sulit, akan ada banyak singa-singa muda yang merana kelaparan. Tapi orang-orang yang mencari Tuhan ia katakan tidak akan berkekurangan segala sesuatu yang baik. Itu bagaikan menemukan oase ditengah gurun, bagaikan bertemu sungai penuh air jernih di saat musim kekeringan. Bukankah itu akan sangat kita butuhkan?

Daud memberitahukan apa kunci yang harus kita lakukan agar bisa menerimanya, yaitu mencari Tuhan. Pada kenyataannya banyak orang yang malah melupakan Tuhan pada saat-saat sulit. Meletakkan Tuhan pada urutan prioritas ke sekian, hanya mempergunakan sisa waktu untuk berdoa dan membangun hubungan, itu pun kalau memang benar ada sisa. Kerja nomor satu, dua dan tiga, bermain nomor empat, istirahat/tidur nomor berikutnya, baru sisanya keluarga dan terakhir Tuhan. Di kala kondisi makin sulit, orang semakin panik mencari tambahan dan yang lain dikorbankan. Doa hanya singkat berisi keluhan dan permintaan tanpa ada lagi ucapan syukur dan kerinduan untuk duduk di kakiNya dan mendengarkanNya. Mazmur Daud di atas mengingatkan kita untuk memikirkan kembali skala prioritas, karena prioritas yang salah akan mendatangkan hasil yang salah pula.

Sejalan dengan apa yang dikatakan Daud dalam Mazmur 34 tadi, Tuhan Yesus pun menyampaikan hal yang sama. "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33). Lihatlah apa yang seharusnya menjadi prioritas utama yang harusnya dilakukan terlebih dulu sebelum yang lain, yaitu mencari Kerajaan Allah beserta kebenarannya. Meskim mungkin sudah tahu ayat ini, tapi banyak orang lebih suka membalik urutan prioritasnya dan meletakkan apa yang seharusnya berada pada posisi teratas untuk ditempatkan pada urutan kesekian. Kita mungkin beranggapan, bukankah kita memang harus terus bekerja mati-matian agar bisa hidup layak? Tentu saja. Tuhan tidak menyuruh kita hanya berdoa, bersaat teduh dan memuji menyembah sepanjang hari tanpa melakukan apa-apa lagi. Bahkan Firman Tuhan pun berkata demikian. "Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." (2 Tesalonika 3:10). Tuhan memang tidak menghendaki kita untuk bermalas-malasan. Kerja, itu wajib hukumnya kalau masih mau makan atau hidup. Tetapi ada skala prioritas yang tentunya harus kita ikuti agar kita berjalan seturut kehendak Allah, dan Allah menginginkan kita untuk terlebih dahulu mencari KerajaanNya beserta kebenarannya.

Tuhan tahu betul kekuatiran kita dalam mengarungi hidup yang berat. Bacalah Matius 6:25-34. Di sana Yesus memaparkan panjang lebar mengapa kita tidak seharusnya kuatir dalam hidup ini. Yesus mengawali seperti ini "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?" (ay 25) Ini adalah sebuah bentuk skala prioritas. Jika burung-burung diberi makan oleh Tuhan, jika bunga bisa tumbuh dengan sendirinya tanpa harus menenun atau bekerja sendiri, jika rumput di ladang pun didandani Tuhan dengan indah, mengapa kita harus takut Tuhan tidak memperhatikan diri kita? (ay 26-30).

(bersambung)


Thursday, August 17, 2017

Gaya Gesek (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Jika kita melihat para tokoh baik di Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, kita pun akan melihat bahwa pelayanan mereka seringkali disertai berbagai permasalahan, penuh penderitaan dan berbagai gejolak yang setiap saat mampu melemahkan mereka hingga ke titik terendah. Dari Nuh, Musa hingga Paulus dan rekan-rekan sepelayanannya, semua mengalami berbagai masalah yang tidak mudah untuk dihadapi. Mereka pun mengalami banyak gesekan dalam perjalanan pelayanan mereka. Namun mereka tidak patah semangat, dan tetap tegar melakukan apa yang menjadi kehendak Bapa. Mereka tetap tekun melayani sepenuh hati. Malah tidak sedikit yang mempertaruhkan nyawa mereka dan harus rela menjadi martir. Tapi mereka tetap setia hingga akhir. Mengapa? Karena visi mereka jelas, yaitu menempatkan Tuhan di atas segalanya dalam apapun yang mereka lakukan. Meski yang mereka hadapi adalah kematian, mereka tahu bahwa kehidupan berikutnya yang kekal-lah yang terpenting. Visi yang benar membuat mereka tidak melenceng sedikitpun. Mereka punya sikap hati yang lebih mementingkan keinginan Tuhan di atas segalanya.

Kita bisa meneladani mereka, seperti yang diingatkan oleh Yakobus. "Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan." (Yakobus 5:10). Kedatangan Yesus ke dunia pun tidak lepas dari berbagai penderitaan. Tapi karena kasihNya yang luar biasa besar bagi kita, Dia menggenapkan kehendak Bapa hingga tuntas, mati di atas kayu salib demi menebus dosa-dosa kita.

Lantas bagaimana jika terjadi gesekan atau perselisihan? Yang terbaik adalah berusaha secepatnya untuk berdamai dan saling memaafkan. Kembali kepada tujuan semula dan belajar untuk saling lebih mengerti serta menghormati satu sama lain. Meski beda sifat, gaya dan cara, belajarlah untuk memikirkan orang lain sebelum kita berbuat atau mengatakan sesuatu. Dan, hendaknya bisa sehati sepikir dalam persatuan yang erat. Itu tepat seperti apa yang diingatkan oleh Paulus agar menghindarkan diri dari perpecahan. "Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir." (1 Korintus 1:10).

Seperti halnya Tuhan selalu siap membukakan pintu pengampunanNya bagi kita, demikian pula kita harus selalu siap untuk saling memaafkan satu sama lain. "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." (Efesus 4:32).

Dengarkan pula nasihat Paulus kepada Timotius berikut: "sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran." (2 Timotius 2:24-25).

Bayangkan kalau diantara pelayan Tuhan saja saling bertengkar, mau bagaimana bisa menuntun orang lain untuk mengenal kebenaran, dengan lemah lembut pula? Bayangkan saat Tuhan buka kesempatan bagi seseorang untuk bertobat, tapi tidak ada satupun dari kita yang siap karena pada sibuk bertengkar dan saling benci? Kalau anda ada di posisi Tuhan yang sudah menganugerahi keselamatan bagi semua orang, memberi berkat dan rahmat yang baru setiap pagi, memberi kasih setia yang tak terbatas panjang, lebar dan besarnya, tapi yang diberi berkelakuan seperti itu, bagaimana reaksi anda?

Orang-orang menjengkelkan mungkin akan terus ada. Orang yang dengan gampang mengkritik dengan cara yang kurang pantas bisa terus berada di sekitar kita.  Perselisihan dalam pelayanan bisa terjadi kapan saja. Gesekan-gesekan akan selalu ada ketika kita berada dalam sekelompok orang yang sama setiap hari. Itu sangat wajar. Gesekan menimbulkan panas, itu benar. Tetapi yang harus kita perhatikan adalah sikap hati kita dalam menghadapi hal itu. Daripada membiarkan diri panas dan aus karena terus bergesek keras dengan mereka, lebih baik bersabar, maafkan dan doakan mereka. Kalaupun memang mereka keterlaluan, bicaralah baik-baik tanpa mengganggu pelayanan. Jangan biarkan emosi atau kemarahan mengalahkan dan menjauhkan anda dari tugas utama anda sebagai murid Kristus. Dalam pelayanan pertengkaran harus dihindari, dalam keluarga dan berbagai lingkungan dimana kita ada pun sama. Sesungguhnya kesabaran, kebesaran hati untuk memaafkan dan mendoakan orang yang bersalah pada kita bukanlah tergantung dari orang lain maupun situasi/kondisi melainkan tergantung keputusan kita. Bisa jadi Tuhan sedang ingin mengasah mental dan menguji iman kita dengan menempatkan orang-orang sulit untuk berada dekat dengan kita. Atau, bisa jadi pula Tuhan sedang memberi kesempatan bagi mereka untuk bertobat dan menjadikan anda sebagai penuntunnya.

Jika dalam menghadapi gesekan belum apa-apa kita sudah bereaksi dengan emosional dan mengambil tindakan-tindakan tidak dewasa, itu artinya kita belumlah menjadi pelayan yang taat terhadap tuannya. Kita harus periksa akar iman kita karena jelas buah yang dihasilkan belum baik. Ingatlah bahwa di atas segalanya kita melayani karena mengasihi Kristus lebih dari segalanya. Taklukkanlah hal-hal lain yang mungkin merintangi pelayanan kita dengan kasih dan saling memaafkan dan fokuslah kembali pada tujuan dan visi yang sesungguhnya. Jangan biarkan motivasi menjadi kabur lalu membiarkan hal-hal negatif muncul karena adanya pergeseran arah tujuan pelayanan. Si jahat selalu dengan senang hati mencoba merusak tujuan anda lewat hal-hal seperti ini.

Seperti gaya gesekan akan muncul saat ada benda yang bersentuhan, kita pun bisa mengalami gaya gesekan yang sama setiap saat. Tapi, seperti halnya minyak pelumas yang bisa memperpanjang umur benda dengan menghindarkannya dari aus dan rusak, kita pun memiliki minyak pelumas yaitu Firman Tuhan. Pertanyaannya, apakah kita mau memberi minyak pelumas atau membiarkan gesekan itu terjadi pada dua permukaan keras sampai panas dan api terpercik disana? Itu tergantung kita. Kalau kita mau memberkati kota, bangsa dan negara ini, kita harus bisa menghindari akibat buruk dari terjadinya gesekan, apalagi kalau gesekan malah terjadi di antara pelayan Tuhan yang mengemban tugas mulia. Saat merayakan Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun ini, hendaklah hal ini menjadi pemikiran serius kita.

"Peace is not the absence of conflict, but the ability to cope with it" - Dorothy Thomas

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, August 16, 2017

Gaya Gesek (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Korintus 1:10
========================
"Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir."

Bagi anda yang suka dengan pelajaran Fisika tentu pernah mempelajari gaya gesek. Gaya gesek adalah gaya yang melawan gerakan antar dua permukaan yang saling bersentuhan. Gaya ini timbul karena adanya dua benda yang saling bersentuhan, dan arah gaya gesek akan selalu berlawanan dengan arah gerak benda. Pada saat saya masih sekolah, ada rumus yang harus dihafalkan agar bisa menghitung gaya gesek, tapi yang penting sebenarnya adalah aplikasi langsungnya dalam kehidupan sehari-hari. Ada beberapa keuntungan yang bisa didapat dari gaya gesekan misalnya gesekan alas kaki dengan lantai saat berjalan. Itu mencegah kita untuk terjatuh atau tergelincir yang akan terjadi saat gesekan antar keduanya kecil misalnya karena licin. Atau, jika anda mengerem dan berhenti, itu juga akibat gaya gesek yang terjadi. Gaya gesekan juga bisa merugikan kita, misalnya saat gaya gesekan pada komponen mesin yang berputar dan saling bersentuhan. Panas yang terjadi akibat gesekan akan membuat komponen dan mesin tersebut cepat aus dan kemudian rusak. Cara menghindarinya atau mengurangi kecepatan aus adalah dengan memberi minyak pelumas.

Selain menimbulkan panas, gesekan antar dua benda juga bisa sampai menimbulkan percikan api. Contoh sederhana saja, kalau kita menggosokkan tangan secara kontinu maka tangan akan terasa panas. Korek api merupakan metoda yang didasari gesekan, sebagaimana halnya orang dahulu kala menghasilkan api dengan menggesekkan kayu. Yang menarik, gesekan yang bisa menimbulkan panas bahkan percik hingga nyala api bukan saja terjadi antara dua benda mati, tapi juga antar manusia. Meski tidak secara langsung seperti halnya benda-benda di atas, friksi atau gesekan diantara manusia terutama yang kepribadian dan cara bersosialisasinya berbeda kalau tejadi terus menerus bisa menimbulkan panas sehingga perselisihan, pertengkaran, perkelahian bahkan tindakan-tindakan yang lebih parah seperti melukai bahkan membunuh bisa menjadi akibatnya.

Yang menyedihkan, soal gesekan ini juga terjadi dalam wilayah pelayanan. Sama-sama pelayan Tuhan tapi punya gaya, cara, tabiat berlawanan bisa menimbulkan gaya gesek yang mengakibatkan adanya panas. Tidak cocok sama gembala, sama atasan, sama pengerja lain, antar usher, antar tim musik, antar komsel hingga antar jemaat, itu terjadi dimana-mana. Pindah, pecah seringkali jadi solusi ketimbang saling memaafkan dan belajar lebih memahami satu sama lain. Kalau ini terus terjadi, bagaimana kita bisa berharap bisa maksimal dalam pelayanan? Bahkan, di dalam keluarga pun percik api dan panas akibat gesekan terjadi juga. Antara suami, istri, anak, mertua, menantu, adik, kakak, gesekan bisa menimbulkan banyak masalah, mulai dari perselisihan biasa, saling tidak enakan sampai baku hantam, saling tuntut atau malah bunuh-bunuhan. Kalau sudah begini, bagaimana kita berharap bisa merasakan atau mengalami damai sejahtera dan sukacita akan Tuhan dalam keluarga, seperti yang Tuhan sebenarnya inginkan? Bisa tidak saling melukai sebentar saja mungkin sudah jadi rekor luar biasa.

Manusia punya gaya dan cara bersosialisasi yang berbeda-beda. Semakin sering dan banyak anda bertemu orang, semakin banyak pula kans untuk terjadinya gesekan. Semakin sering anda bertemu dengan orang yang sifatnya berlawanan, beda pandangan dan sebagainya, semakin besar pula kemungkinan terjadinya gesekan. Kita tidak bisa memaksakan semua orang untuk sama bereaksinya sesuai keinginan kita. Ada yang mungkin memang sifatnya pendiam, bisa saja ada yang langsung menebarkan aroma persaingan atau baru senang kalau ada konflik. Ada yang tipenya intim, ada yang dominan. Ada yang cepat akrab, ada yang butuh waktu. Ada yang suka ketemu teman baru, ada yang terganggu kalau ketemu orang baru. Ada yang suka ramai-ramai, ada yang sukanya menyendiri. Itu memang tidak bisa dihindari, karena sifat orang berbeda-beda. Dalam dunia pelayanan, meski melayani di bidang yang sama gesekan tetap saja berpotensi untuk terjadi. Apalagi motivasi orang dalam melayani pun bisa saja berbeda, gesekan pun semakin mungkin muncul. Ada yang murni untuk Tuhan, tapi ada pula yang karena ingin terkenal, mencari pujian, karena paksaan keluarga dan berbagai alasan lain. Kesal, tersinggung, musuhan. Sayang sekali kalau hal ini terjadi.

Apa yang harus kita lakukan? Pertama sekali adalah memastikan bahwa motivasi kita sudah benar, lalu menjaga agar kita tetap sabar agar jangan sampai gesekan-gesekan sampai berbuah sesuatu yang negatif. Kalau kita menjadi malas melayani atau bahkan mundur saat bergesekan dengan satu atau lebih teman sepelayanan, itu artinya kita sendiri masih belum benar motivasinya. Bukankah kalau fokus kita memang untuk menyenangkan Tuhan seharusnya kita tidak mudah terganggu oleh perilaku teman sepelayanan? Kalau belum apa-apa kita sudah bereaksi dengan emosional, itu artinya kita belum sampai pada visi yang benar dalam melayani Tuhan. Artinya kita masih punya pekerjaan rumah dari segi mengaplikasikan Firman Tuhan dalam hidup kita, dimana kesabaran dan memaafkan merupakan hal mutlak yang tidak tergantung situasi melainkan tergantung diri kita sendiri. Artinya, kita harus memeriksa 'akar' iman kita karena ternyata kita belum menghasilkan buah yang benar.

Mari kita lihat apa yang tertulis dalam Alkitab saat Simon Petrus ditanya Yesus dengan pertanyaan yang sama sebanyak tiga kali. Yesus berkata: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." (Yohanes 21:15-17). Yesus menanyakan bukan cuma satu kali melainkan tiga kali. Yesus menganggap perlu untuk mengulangi pertanyaanNya sampai tiga kali, tentu itu artinya hal ini merupakan sesuatu yang sangat penting. Dasar utama melayani itu penting dan harus kita pastikan benar-benar yaitu mengasihi Yesus lebih dari segala sesuatu. Itu harus ditempatkan di atas hal lainnya, sehingga kita tidak mudah aus saat menghadapi gesekan.

Lalu Yesus juga berkata: "Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa." (Yohanes 12:26). Adalah wajib bagi kita yang berada dalam pelayanan untuk mengikuti Yesus dimanapun Dia berada. Dan hal itu bisa jadi tidak mudah, karena seringkali kita harus menghadapi situasi-situasi bagaikan memikul salib. Dan hal itu pun sudah diingatkan Yesus sejak awal. "Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Matius 16:24). Kalau kita memiliki dasar yang benar dan kuat dalam hal melayani dan mengerti tujuannya, kita seharusnya tidak mudah panas melainkan bisa lebih panjang sabar.

(bersambung)


Tuesday, August 15, 2017

Worry, Stress, Fear (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Katanya punya cukup uang atau harta bisa membuat orang tidak perlu kuatir lagi. Tapi kenyataannya banyak harta tetap akan memunculkan rasa kuatir, cemas dan takut lain seperti takut kehilangan harta, takut kekurangan, takut pencuri dan lainnya. Banyak orang yang memelihara atau bahkan memupuk rasa takutnya sendiri, baik sadar atau tidak. Ada yang tidak kuasa mengatasi perasaan-perasaannya, memilih menyerah karena tidak tahu bahayanya. Mereka lupa bahwa semakin jauh kita membiarkan para perampas sukacita ini ada pada kita, semakin besar pula mereka menguasai kita. They The more we drive into fear, the longer we keep it, the more it controls us. 

Alkitab menyampaikan begitu banyak pesan agar kita jangan sampai ditutupi kabut perasaan negatif ini. Kita diberitahu cara mengatasinya, diajarkan tentang bahayanya, diingatkan supaya berhati-hati terhadapnya. Dari beberapa renungan terakhir kita sudah melihat bagaimana tokoh-tokoh besar bahkan menyandang gelar raja dengan awal yang sangat istimewa kemudian hancur karena mereka gagal mengatasi perasaan-perasaan negatif ini dengan benar. Lihat pula bagaimana Petrus yang sebenarnya sudah mengalami mukjizat bisa berjalan di atas air kemudian jatuh hampir tenggelam karena gagal mengatasi rasa takutnya. Ketiga hal perampas sukacita itu tampaknya biasa buat kita dan sering kita alami, tapi ternyata berpotensi mendatangkan bencana besar dalam hidup kita kalau kita biarkan.

Ayat bacaan hari ini sangat baik untuk mengatasi rasa takut. Ayat ini memberitahukan bahwa ada tempat perlindungan yang sangat bisa diandalkan, kubu pertahanan yang sangat layak untuk dipercaya, tidak lain adalah Tuhan sendiri. Ayatnya berbunyi demikian: "Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: "Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai." (Mazmur 91:1-2). Kita tentu tahu bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan, tempat kita bergantung dalam menghadapi apapun. Masalahnya, ketika rasa takut melanda, apakah kita masih ingat dan yakin akan hal ini? Kenyataannya, kita seringkali lupa. Banyak yang hanya mengandalkan kekuatan manusia, padahal manusia itu kemampuannya terbatas. Yang lebih salah lagi kalau malah pergi mengandalkan berbagai kuasa yang disediakan kegelapan. Kalau kita menyadari bahwa kuasa Tuhan itu begitu besar, di atas segalanya, tidak terbatas dan tidak ada habisnya, mengapa tidak beralih untuk kembali mempercayakan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita?

Ayat bacaan hari ini merupakan awal dari Mazmur pasal 91 selalu bisa menenangkan kala kita mengalami rasa takut. Bahkan membaca judul perikopnya saja, "Dalam Lindungan Allah" harusnya sudah bisa menenangkan kita. Disana kita bisa melihat betapa hebatnya perlindungan yang sanggup Tuhan berikan, antara lain:

- Dia sanggup melepaskan kita dari bahaya tersembunyi dan penyakit yang membawa maut (ay 3) - melindungi kita dibawah sayapNya dengan kesetiaanNya yang kokoh seperti perisai dan pagar tembok (ay 4)
- Kita tidak perlu takut akan bahaya sepanjang hari (ay 5)
- bencana yang datang di saat gelap, atau kehancuran yang menimpa di tengah hari (ay 6). - Malapetaka tidak akan bisa menimpa, tulah atau kutuk tidak akan bisa mendekat (ay 10)
- Tuhan menjanjikan malaikat-malaikatNya untuk menjaga kita di setiap langkah. (ay 11)
- Kita akan mampu melangkahi ular berbisa dan singa, ancaman-ancaman mematikan lainnya. (ay 13)

Ini serangkaian janji Tuhan yang besar yang diberikan kepada kita agar mampu hidup tanpa rasa takut lagi, bebas dari ketakutan di dalam dunia yang jahat ini.

(bersambung)

(sambungan)

Semua itu bisa menjadi bagian hidup kita. Bisa kita alami. Tapi ingat bahwa janji itu berlaku dengan syarat, yaitu hanya berlaku bagi orang yang mengenal Tuhan. Perhatikan ayat berikutnya. "Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku." (ay 14). Dalam versi Bahasa Indonesia sehari-hari dikatakan demikian: "Kata TUHAN, "Orang yang mencintai Aku akan Kuselamatkan, yang mengakui Aku akan Kulindungi." Janji-janji perlindungan ini akan hadir kepada siapa saja yang tetap memilih untuk mengakuiNya, mengandalkanNya, orang yang tinggal di dalam Tuhan. Tinggal menetap, berjalan dan bermalam dalam naungan Tuhan, terus hidup dalam persekutuan yang erat dan berkelanjutan dengan Tuhan, mendengar suaraNya dan melakukan perintahNya.

Siapa yang dimaksudkan sebagai orang yang mengenal Tuhan? Orang yang mengenal Tuhan adalah "rang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa" seperti yang disebutkan di awal Mazmur 91 tadi. Orang seperti inilah yang akan mampu mengenal Tuhan, dan dengan sendirinya mendapat janji perlindungan Tuhan yang akan mampu membebaskan jiwa kita dari rasa ketakutan dan menggantikannya dengan damai sukacita.

Luangkan waktu lebih banyak untuk berdoa dan terus membaca, mendengar, merenungkan, memperkatakan dan melakukan Firman Tuhan. Mengisi diri dengan kepenuhan kebenaran Firman Tuhan itu penting, tapi haruslah dilanjutkan dengan melakukan atau mengaplikasikannya dalam hidup kita. Kita harus berhati-hati terhadap serangan lewat daging kita yang lemah, seperti pesan Yesus berikut: "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Matius 26:41). Tumbuh di dalam Firman berarti tumbuh di dalam Allah. Berpegang pada Firman akan memampukan kita untuk bisa berjalan bebas dari rasa takut meski bahaya mengancam dimana-mana.

Jika mengatasinya masih berat, pikirkanlah apa hal baik yang bisa datang dari rasa kuatir/cemas, stres dan takut? Apakah ketiga hal ini bisa menolong dan melepaskan kita dari masalah? Pada kenyataannya, sebagian besar dari apa yang kita cemaskan atau takutkan justru tidak terjadi. Artinya, kita membuat hati dan pikiran kita lelah, terkontaminasi racun sebenarnya sia-sia saja. Yesus sudah mengingatkan juga bahwa ketakutan itu tidak ada gunanya. "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?" (Matius 6:27).

Tetaplah berjalan bersama Tuhan, kenali PribadiNya dengan sungguh-sungguh, hingga iman kita akan terisi penuh dengan kepercayaan akan Tuhan yang sanggup melakukan perkara apapun, bahkan yang menurut logika paling mustahil sekalipun. Jika anda berpegang pada Tuhan, duduk dalam lindunganNya dan bermalam dalam naunganNya, anda maka anda akan melihat, tidak peduli betapapun bahayanya dunia ini, betapapun banyaknya ancaman di sekeliling anda, anda tidak perlu khawatir karena Tuhan lebih dari sanggup menjadi tempat perlindungan dan kubu pertahanan kita. Jangan biarkan iman anda goyah atas apapun, apalagi untuk hal-hal kecil yang tak perlu.

Orang yang duduk dalam tahta Tuhan dan bermalam dalam naunganNya akan mendapat perlindungan dari Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, August 14, 2017

Worry, Stress, Fear (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Katanya punya cukup uang atau harta bisa membuat orang tidak perlu kuatir lagi. Tapi kenyataannya banyak harta tetap akan memunculkan rasa kuatir, cemas dan takut lain seperti takut kehilangan harta, takut kekurangan, takut pencuri dan lainnya. Banyak orang yang memelihara atau bahkan memupuk rasa takutnya sendiri, baik sadar atau tidak. Ada yang tidak kuasa mengatasi perasaan-perasaannya, memilih menyerah karena tidak tahu bahayanya. Mereka lupa bahwa semakin jauh kita membiarkan para perampas sukacita ini ada pada kita, semakin besar pula mereka menguasai kita. They The more we drive into fear, the longer we keep it, the more it controls us. 

Alkitab menyampaikan begitu banyak pesan agar kita jangan sampai ditutupi kabut perasaan negatif ini. Kita diberitahu cara mengatasinya, diajarkan tentang bahayanya, diingatkan supaya berhati-hati terhadapnya. Dari beberapa renungan terakhir kita sudah melihat bagaimana tokoh-tokoh besar bahkan menyandang gelar raja dengan awal yang sangat istimewa kemudian hancur karena mereka gagal mengatasi perasaan-perasaan negatif ini dengan benar. Lihat pula bagaimana Petrus yang sebenarnya sudah mengalami mukjizat bisa berjalan di atas air kemudian jatuh hampir tenggelam karena gagal mengatasi rasa takutnya. Ketiga hal perampas sukacita itu tampaknya biasa buat kita dan sering kita alami, tapi ternyata berpotensi mendatangkan bencana besar dalam hidup kita kalau kita biarkan.

Ayat bacaan hari ini sangat baik untuk mengatasi rasa takut. Ayat ini memberitahukan bahwa ada tempat perlindungan yang sangat bisa diandalkan, kubu pertahanan yang sangat layak untuk dipercaya, tidak lain adalah Tuhan sendiri. Ayatnya berbunyi demikian: "Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: "Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai." (Mazmur 91:1-2). Kita tentu tahu bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan, tempat kita bergantung dalam menghadapi apapun. Masalahnya, ketika rasa takut melanda, apakah kita masih ingat dan yakin akan hal ini? Kenyataannya, kita seringkali lupa. Banyak yang hanya mengandalkan kekuatan manusia, padahal manusia itu kemampuannya terbatas. Yang lebih salah lagi kalau malah pergi mengandalkan berbagai kuasa yang disediakan kegelapan. Kalau kita menyadari bahwa kuasa Tuhan itu begitu besar, di atas segalanya, tidak terbatas dan tidak ada habisnya, mengapa tidak beralih untuk kembali mempercayakan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita?

Ayat bacaan hari ini merupakan awal dari Mazmur pasal 91 selalu bisa menenangkan kala kita mengalami rasa takut. Bahkan membaca judul perikopnya saja, "Dalam Lindungan Allah" harusnya sudah bisa menenangkan kita. Disana kita bisa melihat betapa hebatnya perlindungan yang sanggup Tuhan berikan, antara lain:

- Dia sanggup melepaskan kita dari bahaya tersembunyi dan penyakit yang membawa maut (ay 3) - melindungi kita dibawah sayapNya dengan kesetiaanNya yang kokoh seperti perisai dan pagar tembok (ay 4)
- Kita tidak perlu takut akan bahaya sepanjang hari (ay 5)
- bencana yang datang di saat gelap, atau kehancuran yang menimpa di tengah hari (ay 6). - Malapetaka tidak akan bisa menimpa, tulah atau kutuk tidak akan bisa mendekat (ay 10)
- Tuhan menjanjikan malaikat-malaikatNya untuk menjaga kita di setiap langkah. (ay 11)
- Kita akan mampu melangkahi ular berbisa dan singa, ancaman-ancaman mematikan lainnya. (ay 13)

Ini serangkaian janji Tuhan yang besar yang diberikan kepada kita agar mampu hidup tanpa rasa takut lagi, bebas dari ketakutan di dalam dunia yang jahat ini.

(bersambung)

(sambungan)

Semua itu bisa menjadi bagian hidup kita. Bisa kita alami. Tapi ingat bahwa janji itu berlaku dengan syarat, yaitu hanya berlaku bagi orang yang mengenal Tuhan. Perhatikan ayat berikutnya. "Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku." (ay 14). Dalam versi Bahasa Indonesia sehari-hari dikatakan demikian: "Kata TUHAN, "Orang yang mencintai Aku akan Kuselamatkan, yang mengakui Aku akan Kulindungi." Janji-janji perlindungan ini akan hadir kepada siapa saja yang tetap memilih untuk mengakuiNya, mengandalkanNya, orang yang tinggal di dalam Tuhan. Tinggal menetap, berjalan dan bermalam dalam naungan Tuhan, terus hidup dalam persekutuan yang erat dan berkelanjutan dengan Tuhan, mendengar suaraNya dan melakukan perintahNya.

Siapa yang dimaksudkan sebagai orang yang mengenal Tuhan? Orang yang mengenal Tuhan adalah "rang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa" seperti yang disebutkan di awal Mazmur 91 tadi. Orang seperti inilah yang akan mampu mengenal Tuhan, dan dengan sendirinya mendapat janji perlindungan Tuhan yang akan mampu membebaskan jiwa kita dari rasa ketakutan dan menggantikannya dengan damai sukacita.

Luangkan waktu lebih banyak untuk berdoa dan terus membaca, mendengar, merenungkan, memperkatakan dan melakukan Firman Tuhan. Mengisi diri dengan kepenuhan kebenaran Firman Tuhan itu penting, tapi haruslah dilanjutkan dengan melakukan atau mengaplikasikannya dalam hidup kita. Kita harus berhati-hati terhadap serangan lewat daging kita yang lemah, seperti pesan Yesus berikut: "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Matius 26:41). Tumbuh di dalam Firman berarti tumbuh di dalam Allah. Berpegang pada Firman akan memampukan kita untuk bisa berjalan bebas dari rasa takut meski bahaya mengancam dimana-mana.

Jika mengatasinya masih berat, pikirkanlah apa hal baik yang bisa datang dari rasa kuatir/cemas, stres dan takut? Apakah ketiga hal ini bisa menolong dan melepaskan kita dari masalah? Pada kenyataannya, sebagian besar dari apa yang kita cemaskan atau takutkan justru tidak terjadi. Artinya, kita membuat hati dan pikiran kita lelah, terkontaminasi racun sebenarnya sia-sia saja. Yesus sudah mengingatkan juga bahwa ketakutan itu tidak ada gunanya. "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?" (Matius 6:27).

Tetaplah berjalan bersama Tuhan, kenali PribadiNya dengan sungguh-sungguh, hingga iman kita akan terisi penuh dengan kepercayaan akan Tuhan yang sanggup melakukan perkara apapun, bahkan yang menurut logika paling mustahil sekalipun. Jika anda berpegang pada Tuhan, duduk dalam lindunganNya dan bermalam dalam naunganNya, anda maka anda akan melihat, tidak peduli betapapun bahayanya dunia ini, betapapun banyaknya ancaman di sekeliling anda, anda tidak perlu khawatir karena Tuhan lebih dari sanggup menjadi tempat perlindungan dan kubu pertahanan kita. Jangan biarkan iman anda goyah atas apapun, apalagi untuk hal-hal kecil yang tak perlu.

Orang yang duduk dalam tahta Tuhan dan bermalam dalam naunganNya akan mendapat perlindungan dari Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, August 13, 2017

Worry, Stress, Fear (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 91:1-2
===========================
"Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: "Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai."

Pada waktu saya berkunjung ke negara Swedia, saya pernah melihat sebuah peribahasa berumur ratusan tahun yang masih saya ingat sampai sekarang: "oro ger ofta en liten sak en stor skugga". Artinya, "worry/concern gives a small thing a big shadow". Perasaan cemas mendatangkan bayangan besar menutupi hal kecil. Peribahasa ini melekat dalam ingatan saya karena menjadi titik balik bagi saya yang dahulu begitu mudahnya kuatir, cemas akan segala sesuatu yang belum terjadi, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya biasa atau sederhana saja. Bagaimana kalau nanti begini, begitu.

Dahulu saya berpikir, kecemasan itu akan membuat saya bisa mengantisipasi kemungkinan terburuk kalau benar terjadi, dan kalau tidak terjadi maka itu bonus. Tapi sebenarnya mudah cemas kerap menahan saya untuk maju. Itu mendatangkan rasa takut untuk melangkah sehingga saya pun harus kehilangan banyak kesempatan untuk mengalami peningkatan. Setelah saya bertobat, saya pun sadar bahwa kecemasan yang menimbulkan rasa takut itu bukan saja menghambat saya untuk maju, tapi juga akan membuat saya gagal menggenapi rencana Tuhan dan menghalangi mukjizat Tuhan untuk bisa saya rasakan. Dan yang tidak kalah merugikannya, mudah cemas itu akan merampas sukacita dari diri saya, karena sukacita dan cemas tidak akan pernah bisa berjalan bersamaan. Cemas akan mendatangkan perasaan tidak enak, yang kalau saya biarkan akan mengkontaminasi hati saya dengan berbagai perasaan jelek lainnya sampai tidak ada lagi ruang bagi sukacita disana. Itu tidak boleh terjadi, karenanya saya belajar untuk mengatasi perasaan-perasaan negatif itu sesegera mungkin sebelum menguasai ruang-ruang di hati saya.

Pastor Charles Rozell 'Chuck' Swindoll dalam sebuah bukunya menyebutkan ada tiga hal yang paling sering menjadi pencuri sukacita, yaitu:
- Worry : an inordinate anxiety about something that may or may not occur (kekuatiran berlebihan terhadap sesuatu yang mungkin bisa atau mungkin tidak terjadi)
 - Stress : intense strain over a situation we can't change or control (ketegangan yang intens terhadap sebuah situasi yang tidak bisa kita ubah atau kendalikan)
- Fear: a dreadful uneasiness over danger, evil or pain (sebuah rasa gentar yang sangat tidak nyaman terhadap bahaya, perbuatan keji dan rasa sakit)

Ketiga hal ini memang rada mirip, beda tipis. Menurut Pastor Chuck, inilah tiga hal yang seringkali merampas sukacita kita. Dan untuk mengalahkannya, ia menganjurkan kita untuk mengimani keyakinan Paulus akan penyertaan Tuhan seperti yang disebukan dalam kitab Filipi. "Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus." (Filipi 1:6). Paulus menulis surat buat jemaat Filipi ini saat berada di penjara menanti hukuman mati, setelah begitu lama mengabdikan hidupnya untuk mewartakan berita keselamatan. Apa yang ia alami jelas tidak menyenangkan bahkan menakutkan. Tapi Paulus ternyata tidak merasakan itu sama sekali, karena ia 'yakin sepenuhnya' (bukan setengah yakin, bukan mudah-mudahan, bukan 'kiranya', tapi sepenuhnya) bahwa Tuhan yang sudah memulai sesuatu yang baik bagi kita akan meneruskan sampai pada akhirnya.  Kalau kita bisa memiliki keyakinan seperti Paulus, kita seharusnya tidak perlu kehilangan sukacita.

Ketiga hal diatas sebenarnya bukanlah sesuatu yang asing dalam hidup manusia. Mulai dari rasa cemas akan hal-hal kecil, rasa takut yang sebenarnya tidak perlu seperti takut hantu, berbagai macam phobia seperti takut ketinggian, takut serangga, laba-laba dan lainnya, juga rasa takut akan ancaman keamanan dari orang jahat, kondisi cuaca, takut memandang masa depan dan sebagainya. Stres saat mengejar pekerjaan agar selesai tepat waktu, stres saat harus menghadapi lebih dari satu problem dalam waktu bersamaan, stres berada di dekat orang-orang sulit, itu biasa kita alami. Kita bisa merasa takut akan keadaan cuaca yang buruk, bencana alam, bahkan kita pun takut akan jaminan masa depan.

(bersambung)


Saturday, August 12, 2017

Asa (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Ini pertanyaannya. Ketika kita mengalami masalah dalam hidup, siapa yang kita andalkan? Mungkin kita bisa geleng-geleng kepala dan sedih melihat raja Asa dan keputusannya. Kalau sebagai penonton mungkin begitu. Tetapi tidakkah kita sering tergiur untuk melakukan hal-hal yang sama saat kita mengalami sendiri ancaman berat seperti itu? Ada banyak manusia yang mencoba menyelesaikan masalah lewat hal-hal duniawi, mengandalkan manusia hingga bahkan menjalin perjanjian dengan iblis. Banyak yang mencari jawaban instan tanpa memikirkan konsekuensinya. Tampaknya bisa menjadi solusi, tapi sebenarnya bukan menyelesaikan masalah tetapi malah menambah dan memperbesar masalah. Jika tidak hati-hati, eskalasi masalah pada suatu saat akan sangat sulit untuk dikendalikan, membuat kita jatuh semakin jauh dan berakhir pada sesuatu yang fatal seperti Asa, Saul atau Korah yang sama-sama tidak kita inginkan.

Raja Asa menjadi contoh bagaimana sebuah kesalahan keputusan akan mengarahkan seseorang pada kesalahan berikutnya dengan eskalasi meningkat. Ia menjadi contoh bagaimana orang yang sebenarnya sudah memulai dengan awal yang baik kemudian berakhir buruk karena tidak dibarengi dengan langkah benar dalam perjalanannya. Ia terus semakin jauh dalam kesesatan, dan kemudian sudah terlanjur begitu jauh, sehingga sudah sulit baginya untuk kembali ke jalan Tuhan. Ada banyak orang yang terjebak dalam tawaran-tawaran ke dukun, peramal, paranormal dan bentuk okultisme lainnya ketika berhadapan dengan masalah dalam hidup mereka. Itu merupakan kekejian di mata Tuhan. Firman Tuhan jelas berkata "Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!" (Yeremia 17:5). Dalam kesempatan lainnya tertulis: "Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN." (Yesaya 31:1).

Dalam kitab Hosea reaksi kemarahan Allah atas keputusan manusia yang lebih mengandalkan hal-hal lain ketimbang Tuhan pun bisa kita lihat: "Kamu telah membajak kefasikan, telah menuai kecurangan, telah memakan buah kebohongan. Oleh karena engkau telah mengandalkan diri pada keretamu, pada banyaknya pahlawan-pahlawanmu, maka keriuhan perang akan timbul di antara bangsamu, dan segala kubumu akan dihancurkan seperti Salman menghancurkan Bet-Arbel pada hari pertempuran: ibu beserta anak-anak diremukkan." (Hosea 10:13-14). Lihatlah bahwa Tuhan sudah mengingatkan kita berkali-kali untuk tidak mengandalkan manusia atau kekuatan kita sendiri dalam menghadapi masalah, tetapi bergantung kepadaNya dengan sepenuh hati.

Tentu bukan berarti bahwa kita hanya diam saja ketika menghadapi masalah, bukan pula berarti bahwa kita tidak boleh bekerja sama dengan orang lain saat menghadapi situasi pelik. Tetapi yang harus kita ingat adalah kita harus pastikan bahwa semua yang kita putuskan tidak ada yang salah di mata Tuhan. Lalu, pastikan kita sejalan dengan pandangan Tuhan. Ambillah keputusan yang telah dibawa dalam doa terlebih dahulu, dan dengarkan baik-baik apa yang dikatakan Tuhan. Lakukan sesuai dengan itu, dan peganglah Tuhan dengan keyakinan dan kepercayaan yang teguh.

Bagaimana kita bisa yakin bahwa Tuhan akan membantu kita dalam menghadapi masalah? Mari kita lihat kembali apa yang dikatakan Hanani kepada Asa: "Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.." (2 Tawarikh 16:9). Pemazmur pun mengatakan hal yang sama: "Allah memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia, untuk melihat apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah." (Mazmur 53:3). Kepada orang-orang yang termasuk dalam kategori bersungguh hati terhadap Tuhan, berakal budi dan terus mencariNya, Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu yang ajaib, bahkan diluar hal yang mampu diterima oleh logika kita sekalipun. Firman Tuhan berbunyi: "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!" (Yeremia 17:7).

Awali dengan manis, akhiri pula dengan manis. Berhati-hatilah dalam melangkah di sepanjang kehidupan kita agar kita tidak terperosok ke dalam kebodohan yang sama seperti yang dilakukan raja Asa. Masalah apapun yang tengah melanda anda hari ini, ingatlah untuk tidak mengandalkan kekuatan manusia diatas segalanya, jangan terjatuh ke dalam jebakan okultisme dan tawaran-tawaran menggiurkan lainnya di dunia, tetapi andalkanlah Tuhan. Tetap taruh harapan sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan, dengarkan apa kataNya dan lakukanlah sesuai dengan apa yang Dia katakan. Bersabarlah, pegang teguh janjiNya, karena akan ada saat dimana Tuhan melepaskan anda dan membawa anda menjadi pemenang.

Don't waste your good start

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, August 11, 2017

Asa (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 2 Tawarikh 16:8-9
========================
"Pada waktu itu datanglah Hanani, pelihat itu, kepada Asa, raja Yehuda, katanya kepadanya: "Karena engkau bersandar kepada raja Aram dan tidak bersandar kepada TUHAN Allahmu, oleh karena itu terluputlah tentara raja Aram dari tanganmu."

Mulanya baik, tapi kemudian berakhir buruk. Tentu tidak ada satupun orang yang mau mengalami itu. Bagi peserta lomba lari terutama sprint, mereka tentu tahu bahwa start awal akan secara signifikan menjadi faktor penentu si peserta mencapai garis akhir di nomor berapa. Lantas kalau sudah baik startnya, tentu harus dilanjutkan dengan menjaga dan mempertahankan performa. Jangan sampai cepat di awal tapi kedodoran menjelang garis akhir lalu gagal menang, apalagi kalau sampai tersandung dan jatuh. Dengan kata lain, start awal itu sangat penting, tapi harus dilanjutkan dengan menjaga performa di sepanjang lintasan. Karena, tak peduli sebagus apapun start awal seseorang, kalau tersandung ditengah jalan maka kemenangan tidak akan bisa dicapai.

Dalam dua judul renungan terakhir kita sudah melihat dua tokoh dalam Alkitab yang sebenarnya sangat istimewa dan punya peluang sangat besar, tapi mereka gagal total pada akhirnya. Korah dan Saul dua-duanya punya start bagus, tapi mereka gagal menjaga performa yang baik pada langkah-langkah selanjutnya. Akibatnya, hal-hal besar yang seharusnya bisa mereka capai tidak pernah hadir dalam sejarah hidup mereka. Justru sebaliknya, mereka harus menghadapi kebinasaan akibat kegagalan mereka menjaga diri dalam perjalanan mereka.

Hari ini mari kita lihat satu contoh lagi dari dalam Alkitab. Seperti halnya Saul, tokoh yang satu ini juga seorang raja. Ia juga memulai dengan manis tapi kemudian jatuh karena kebodohannya sendiri. Ia adalah raja Yehuda bernama Asa.

Raja Asa memulai karir atau kepemimpinannya dengan indah. Sebagai orang yang berasal dari garis keturunan Daud, mulanya ia sangat cemerlang dalam melakukan kebenaran. Dan itu dicatat jelas dalam Alkitab. "Asa melakukan apa yang benar di mata TUHAN seperti Daud, bapa leluhurnya." (1 Raja Raja 15:11). Melakukan apa yang benar seperti apa? Kita bisa lihat dalam ayat-ayat selanjutnya. "Ia menyingkirkan pelacuran bakti dari negeri itu dan menjauhkan segala berhala yang dibuat oleh nenek moyangnya. Bahkan ia memecat Maakha, neneknya, dari pangkat ibu suri, karena neneknya itu membuat patung Asyera yang keji. Asa merobohkan patung yang keji itu dan membakarnya di lembah Kidron." (ay 12-13). Hal itu tentu benar di mata Tuhan, seperti yang disebutkan dalam ayat 11 di atas.

Saat semuanya tampaknya berjalan lancar dan baik, muncullah masalah yang dimulai ketika Asa harus menghadapi tekanan dari raja Israel, Baesa. Peperangan ini membuat dirinya merasa terdesak dan takut. Cemas, stress dan takut menguasai dirinya. Dan di saat itulah ia mulai melakukan langkah-langkah salah.

Disinilah kesalahan terbesar raja Asa. Semua orang mungkin sekali waktu pernah takut apalagi saat harus menghadapi peperangan. Meski raja sekalipun, wajar kalau Asa sekali waktu merasa takut. Yang disayangkan adalah reaksinya dalam menghadapi ancaman itu. Ia tidak mengandalkan Tuhan untuk mengatasi rasa takutnya menghadapi peperangan dengan raja Baesa, tetapi malah memilih untuk meminta pertolongan dan menyandarkan dirinya kepada raja Aram. Asa lebih percaya kepada raja Aram ketimbang meminta pertolongan Tuhan. Kesalahan yang satu kemudian berlanjut pada kesalahan yang lebih parah. Ia bahkan berani mengambil apa yang menjadi perbendaharaan rumah Tuhan untuk diberikan sebagai upeti buat raja Aram. "Lalu Asa mengeluarkan emas dan perak dari perbendaharaan rumah TUHAN dan dari perbendaharaan rumah raja dan mengirimnya kepada Benhadad, raja Aram yang diam di Damsyik." (2 Tawarikh 16:2). Dan itu adalah sebuah pelanggaran besar di mata Tuhan.

Seorang pelihat bernama Hanani kemudian datang menegurnya. "Pada waktu itu datanglah Hanani, pelihat itu, kepada Asa, raja Yehuda, katanya kepadanya: "Karena engkau bersandar kepada raja Aram dan tidak bersandar kepada TUHAN Allahmu, oleh karena itu terluputlah tentara raja Aram dari tanganmu." (ay 7). Karena keputusan Asa yang salah, kesempatannya untuk menang pun luput dari dirinya. "Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. Dalam hal ini engkau telah berlaku bodoh, oleh sebab itu mulai sekarang ini engkau akan mengalami peperangan." (ay 9).

Lihat, ada peluang baginya untuk bertobat dan kembali ke jalur yang benar ketika ditegur Hanani, tapi sayangnya ia tidak mempergunakannya. Meski sebenarnya ada second chance yang bisa ia manfaatkan untuk bertobat, Asa ternyata tidak memanfaatkannya. Alih-alih menyadari dan menyesal, Asa yang sudah terlanjur sesat malah menjadi semakin sesat. Yang terjadi adalah seperti ini: "Maka sakit hatilah Asa karena perkataan pelihat itu, sehingga ia memasukkannya ke dalam penjara, sebab memang ia sangat marah terhadap dia karena perkara itu. Pada waktu itu Asa menganiaya juga beberapa orang dari rakyat." (ay 10). Bahkan ketika menderita sakit yang parah pun ia tidak juga bertobat, malah semakin jauh meninggalkan Tuhan. "Pada tahun ketiga puluh sembilan pemerintahannya Asa menderita sakit pada kakinya yang kemudian menjadi semakin parah. Namun dalam kesakitannya itu ia tidak mencari pertolongan TUHAN, tetapi pertolongan tabib-tabib." (ay 12). Itulah yang menjadi akhir dari riwayat raja Asa, yang memulai segala sesuatu dengan manis, tapi kemudian melakukan serangkaian kebodohan dan menutup akhir kisahnya dengan menyedihkan.

(bersambung)


Thursday, August 10, 2017

Hancurnya Menara Kartu (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Samuel lalu menyampaikan kecaman keras terhadap Saul. "Kata Samuel kepada Saul: "Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya. Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu." (1 Samuel 13:13-14). Kebodohan Saul membuat awal gilang gemilangnya kemudian harus berakhir mengenaskan. Alkitab bahkan menyatakan bahwa Tuhan sampai merasa menyesal menjadikannya raja. "Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku." (15:11).

Mandatnya dicabut. Daud pun lalu terpilih menggantikan Saul. Terhadap Daud, Saul pun sempat menunjukkan iri hatinya yang mengarah pada kejahatan demi kejahatan. Kita tahu bagaimana Daud dikejar-kejar Saul dan mendapat ancaman pembunuhan. Tapi Daud tenyata menunjukkan sikap taat penuh pada Tuhan. Daud yakin dengan kuasa Tuhan dan mau menyerahkan seluruhnya ke dalam perlindungan Tuhan. Ia tetap memuji dan memuliakan Tuhan meski hidupnya terancam, dan Daud pun menerima berkat Tuhan seperti yang tertulis dalam 2 Samuel 7:1-17. "Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia. Tetapi kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu. Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya." (2 Samuel 7:14-16). Sedangkan Saul kemudian lewat serangkaian kejahatannya akhirnya mati mengenaskan dengan mengakhiri hidupnya sendiri karena menyerah kalah seperti yang dapat kita baca dalam 1 Samuel 31:4 dan 1 Tawarikh 10:4.

Dalam Tawarikh dikatakan demikian: "Demikianlah Saul mati karena perbuatannya yang tidak setia terhadap TUHAN, oleh karena ia tidak berpegang pada firman TUHAN, dan juga karena ia telah meminta petunjuk dari arwah, dan tidak meminta petunjuk TUHAN. Sebab itu TUHAN membunuh dia dan menyerahkan jabatan raja itu kepada Daud bin Isai." (1 Tawarikh 10:13-14). Lihatlah bagaimana sebuah permulaan yang gemilang kemudian berakhir dengan kehancuran dan kebinasaan. Alkitab dengan jelas menyatakan alasannya, bahwa itu adalah akibat sikap Saul sendiri yang menghianati Tuhan.

Ketika kita menerima Kristus sebagai Juru Selamat sebenarnya kita sudah memulai sebuah awal yang gemilang. Kita menerima berbagai janji perlindungan, pemeliharaan dan keselamatan dari Tuhan sebagai bentuk kasih karuniaNya. Namun jika kita terlena dan menjauh dari Tuhan, kemudian mulai berbuat hal-hal yang menyakiti hati Tuhan, maka kita pun membuka pintu dan membiarkan diri kita masuk ke dalam kehancuran seperti halnya Saul. Setelah memulai awal yang gemilang dengan menerima Kristus dalam hidup kita secara pribadi, kita harus melanjutkannya dengan terus taat dan setia mengikuti Tuhan.

Mengambil keputusan yang benar lewat pertobatan itu sudah sangat baik. Tapi selanjutnya kita masih punya tugas untuk menjaga dan mempertahankannya hingga garis akhir. Menyerahkan hidup kita sepenuhnya ke dalam rencanaNya, yang sudah pasti akan indah pada waktunya. Dalam keadaan tertekan, terjepit, dihimpit persoalan, percayalah bahwa Tuhan punya kuasa yang lebih dari apapun, dan sanggup melepaskan anda tepat pada waktuNya. Jangan tergiur mencari alternatif-alternatif lain akibat tidak sabar. Atau ketika hidup sudah aman, janganlah lupa untuk terus bersyukur kepada Tuhan. Jadikan Tuhan berkuasa atas hidup kita, baik dalam suka maupun duka, agar kita bisa mengakhiri awal yang gemilang dengan akhir yang gemilang pula, sehingga kita bisa berkata seperti Paulus: "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik , aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman." (2 Timotius 4:7).

Jangan mengulangi pengalaman Saul yang kehilangan segala berkat Tuhan karena kebodohannya sendiri. Lewat kisah Saul hari ini kita sudah jelas melihat konsekuensi atau akibat yang harus kita tanggung jika kita tidak menyikapi segala sesuatu yang dipercayakan Tuhan dengan benar, jika kita malah kemudian melupakan atau menghianati Tuhan setelah memperoleh berkat dariNya. Sudahkah kita taat sepenuhnya pada Tuhan atau masih bergantung pada hal-hal lain di luar Dia? Apakah kita saat ini mempertanggungjawabkan dengan baik apa yang dipercayakan Tuhan, bersyukur dalam setiap langkah dan masih mempertahankan kesetiaan iman? Setelah kemarin kita lihat bagaimana Korah yang juga memulai dengan baik, hari ini hendaknya kita belajar dari kesalahan Saul agar kita tidak sampai mengalami nasib naas yang sama seperti mereka.

Pastikan awal yang baik untuk berakhir baik pula

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, August 9, 2017

Hancurnya Menara Kartu (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Samuel 13:13-14
=========================
"Kata Samuel kepada Saul: "Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya. Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu."

Dalam pekerjaan apapun, orang tentu mengharapkan peningkatan dari satu kesuksesan kepada kesuksesan berikutnya. Kita bekerja keras untuk itu, melakukan yang terbaik sejauh kemampuan kita, bahkan banyak yang mengeluarkan upaya diatas kemampuannya, mendoakan agar kiranya Tuhan memberkati pekerjaan kita sehingga bisa terus meningkat. Kita menunjukkan performa terbaik dan berharap Tuhan akan mempercayakan sesuatu yang lebih besar lagi. Itu harapan semua orang. Tidak ada satupun orang yang mau berjalan ditempat tanpa kemajuan, apalagi kalau menurun. Selama kita bekerja dengan benar sesuai panggilan yang diberikan dan melibatkan Tuhan di dalamnya, kesuksesan adalah sebuah keniscayaan. Yang jadi masalah adalah sejauh mana kita bisa menghargai apa yang dipercayakan Tuhan pada kita dan menyikapinya dengan baik. Karena kalau tidak, apa yang sudah dengan susah payah kita bangun selama ini bisa berakhir sia-sia.

Bayangkan jika anda membuat menara dari kartu. Anda fokus dengan penuh kehati-hatian untuk terus menambah tinggi menara anda. Setelah berjam-jam berusaha keras, akhirnya anda mencapai sebuah ketinggian yang membanggakan. Tapi kemudian anda lengah, tangan anda menyenggol sedikit saja bagian kartu dan seketika itu juga menara kartu runtuh. Semua yang anda usahakan berjam-jam musnah berakhir sia-sia. Bagaimana perasaan anda? Kesal, sedih, marah, kecewa, menyesal, mungkin bercampur aduk jadi satu. Kalau hanya menara kartu, anda bisa mengulanginya lagi. Tapi ada banyak hal di dalam hidup ini yang kalau salah kita sikapi, kalau kita ceroboh, lupa diri, tamak dan sejenisnya sehingga melupakan tugas sejatinya kita dalam mengemban amanat yang dipercayakan Tuhan, kehancuran yang terjadi menjadi sangat sulit diperbaiki, bahkan mungkin tidak bisa lagi sama sekali.

Bukanlah hal yang aneh lagi bagi kita melihat kejatuhan orang-orang besar yang sebenarnya punya potensi yang luar biasa dalam karir mereka. Dalam politik, hiburan bahkan dunia kerohanian kita menyaksikan orang-orang yang sukses besar dalam membangun karir, punya kesempatan sangat tinggi untuk naik, tapi terpeleset dan hancur karirnya dalam seketika. They had good start, good future, but they fell apart tragically. Kita begitu sering melihat dan mendengar kisah hidup yang sepertinya terus berulang-ulang ini, seakan manusia tidak pernah mau belajar dari pengalaman orang lain. Kita yang melihat saja merasa miris, apalagi mereka yang merasakannya langsung. Sesuatu yang sudah dibangun dengan cucuran keringat dan air mata selama bertahun-tahun harus berakhir tragis dalam seketika.

Yang seringkali juga terjadi, ada orang-orang yang menyia-nyiakan kesempatan berkali-kali. Mereka berjalan dari satu keputusan yang salah kepada kesalahan berikutnya secara estafet. They made a mistake, then failed to do right in any given next chances. Pada akhirnya saat kesempatan itu sirna, kegagalan besar dan kehancuran menjadi konsekuensi yang harus ditanggung. Sangat disayangkan saat itu terjadi hanya karena kita tidak bisa menyikapi dengan benar segala sesuatu yang dipercayakan Tuhan pada saat ini. Dan itu dialami oleh salah satu tokoh Alkitab yang sebenarnya punya potensi luar biasa untuk menjadi besar sepanjang jaman, tetapi rangkaian kesalahan sikap membuatnya berakhir di sisi sebaliknya. Tokoh itu adalah Saul.

Saul memulai langkahnya dengan sangat istimewa. Ia disebut sebagai seorang yang diurapi Tuhan. Ia dikatakan elok rupanya, badannya tinggi (1 Samuel 9:2). Saul juga dikenal sebagai pribadi yang rendah hati (ay 20-21). Ia penuh Roh Allah seperti halnya nabi (10:10-13). Lihatlah bahwa Saul mengawali segalanya dengan gemilang dengan kualitas lebih dari kebanyakan orang. Ia pun menjabat sebagai raja pertama Israel. Luar biasa bukan? Dengan modal seperti itu ia seharusnya bisa melangkah jauh dalam kesuksesan. Menjadi raja yang besar dimasanya dan dikenang sepanjang masa. Seharusnya begitu. Tapi kisah hidup selanjutnya sangatlah ironis atau malah bisa dikatakan tragis.

Dalam pasal ke 13 kitab Samuel kita mulai melihat tanda-tanda kejatuhan Saul. Kejayaan Saul ternyata tidak sanggup ia pertahankan. Kesuksesannya sayangnya tidak diikuti dengan ketaatan dan kesetiaan pada Tuhan. Ia mulai hilang pengharapan, ketaatan maupun kesabaran. Lihatlah bagaimana Saul melupakan Tuhan yang mengurapinya. Bukannya menaati Tuhan, ia malah meminta petunjuk dari arwah ketika merasa gentar menghadapi bangsa Filistin dan karena kuatir tidak lagi didukung oleh bangsanya (13:11-12). Ia tidak lagi percaya kepada Tuhan dan menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangan Tuhan, melainkan mulai mencari alternatif-alternatif sendiri yang jelas-jelas merupakan kejahatan di mata Tuhan.

(bersambung)


Tuesday, August 8, 2017

Korah dan Keangkuhannya (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Ya, bukankah jabatan yang ia emban sekarang adalah sesuatu yang istimewa dan terhormat? bukannya disyukuri, kenapa malah ingin menuntut lebih, bahkan berani mempersoalkan orang yang langsung dipilih Tuhan? Kesombongan Korah dan pengikut-pengikutnya membuat mereka lupa bahwa sesungguhnya yang mereka lawan bukanlah Musa dan Harun saja melainkan Tuhan yang memilih langsung dan telah menggariskan bagaimana dan seperti apa mereka harus berjalan. Dengan kata lain, ia merasa lebih berhak menentukan daripada Tuhan.

Musa kemudian mengajak bangsa Israel untuk melihat siapa yang benar. "Sesudah itu berkatalah Musa: "Dari hal inilah kamu akan tahu, bahwa aku diutus TUHAN untuk melakukan segala perbuatan ini, dan hal itu bukanlah dari hatiku sendiri: jika orang-orang ini nanti mati seperti matinya setiap manusia, dan mereka mengalami yang dialami setiap manusia, maka aku tidak diutus TUHAN. Tetapi, jika TUHAN akan menjadikan sesuatu yang belum pernah terjadi, dan tanah mengangakan mulutnya dan menelan mereka beserta segala kepunyaan mereka, sehingga mereka hidup-hidup turun ke dunia orang mati, maka kamu akan tahu, bahwa orang-orang ini telah menista TUHAN." (ay 28-30). Apakah Musa benar diutus Tuhan langsung atau ia bawa-bawa Tuhan dalam mengincar jabatan, itu bisa dibuktikan dari apa yang terjadi selanjutnya. Demikian kata Musa.

Dan yang terjadi selanjutnya sangat fatal. Murka Tuhan turun atas Korah beserta pengikutnya dan kebinasaan pun menimpa mereka. "Baru saja ia selesai mengucapkan segala perkataan itu, maka terbelahlah tanah yang di bawah mereka, dan bumi membuka mulutnya dan menelan mereka dengan seisi rumahnya dan dengan semua orang yang ada pada Korah dan dengan segala harta milik mereka. Demikianlah mereka dengan semua orang yang ada pada mereka turun hidup-hidup ke dunia orang mati; dan bumi menutupi mereka, sehingga mereka binasa dari tengah-tengah jemaah itu." (ay 31-33). Hal ini kemudian disinggung kembali pada bagian lain. "tetapi bumi membuka mulutnya dan menelan mereka bersama-sama dengan Korah, ketika kumpulan itu mati, ketika kedua ratus lima puluh orang itu dimakan api, sehingga mereka menjadi peringatan." (Bilangan 26:10). Korah dan semua pengikutnya yang total berjumlah sampai dua ratus lima puluh orang harus membayar sangat mahal pemberontakan mereka terhadap Tuhan dengan berakhir mengenaskan. Mereka binasa, turun hidup-hidup ke dunia orang mati. Itu sangatlah mengerikan. Hukuman Tuhan jatuh atas orang-orang sombong yang melupakan hakekat dirinya lalu berani melawan Tuhan. Dan ayat ini berkata dengan tegas agar hendaknya kita menjadikannya peringatan, jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang sama dalam hidup kita.

Kemarin kita sudah melihat pesan penting dari Paulus yang berbunyi: "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (1 Korintus 10:12). Mempertahankan adalah jauh lebih berat ketimbang membangun sesuatu. Ada banyak faktor di dalam sebuah keberhasilan yang bisa membuat kita lupa diri, sesuatu yang mungkin tidak terjadi ketika kita sedang merintis atau membangun keberhasilan kita. Ada banyak orang yang tergelincir jatuh bukan ketika mereka berjuang, tapi justru ketika kesuksesan telah berhasil mereka raih. Maka tidaklah heran jika ketika kita sudah sukses, perjuangan bukan menjadi lebih mudah tapi malah akan menjadi jauh lebih berat lagi.

Merasa percaya diri itu baik. Mengetahui potensi dan kemampuan pun tentu baik.  Tapi jika itu kita nikmati secara berlebihan, kalau kita kemudian menggunakannya untuk bermegah diri bukan bersyukur atasnya, kita bisa terjatuh kepada berbagai dosa yang akan membuat apa yang telah susah payah kita bangun menjadi hancur berantakan dalam seketika. Saat kita mencapai keberhasilan, bersyukurlah kepada Tuhan yang telah memberikan itu semua. Jaga sikap tetap rendah hati, sehingga kita bisa tetap jauh dari dosa kesombongan. Dan jangan berhenti disitu, tapi pertahankanlah kesuksesan itu dan jauhilah segala hal yang bisa menjatuhkan kita.

Nikmati keberhasilan dengan mempergunakannya sebaik-baiknya untuk menjadi berkat buat orang lain dan memuliakan Tuhan di dalamnya. Berhati-hatilah menyikapi kepercayaan yang diberikan Tuhan agar kita jangan sampai mengulangi contoh buruk dari Korah. Ingatlah bahwa Di luar Tuhan kita bukanlah apa-apa (Yohanes 15:5). Jangan lupa diri sehingga merasa bahwa kitalah yang terhebat kemudian melupakan dan merasa berhak merampas apa yang menjadi hak Tuhan. Ada banyak jebakan yang siap memerangkap kita dibalik setiap kesuksesan, oleh karenanya kita harus tetap waspada agar apa yang telah kita bangun tidak musnah tetapi akan terus mengarah kepada keberhasilan demi keberhasilan lainnya yang akan mengikuti setiap langkah kita kedepannya.

Kepercayaan yang diberikan Tuhan hendaknya disikapi dengan benar agar mendatangkan kebaikan bukan malapetaka

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, August 7, 2017

Korah dan Keangkuhannya (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Bilangan 16:33
==========================
"Demikianlah mereka dengan semua orang yang ada pada mereka turun hidup-hidup ke dunia orang mati; dan bumi menutupi mereka, sehingga mereka binasa dari tengah-tengah jemaah itu."      

                                                                                                                                                                 

Saya adalah orang yang suka membangun, meski saya bukan kontraktor atau tukang bangunan. Saya menikmati proses seringkali lebih dari hasil. Ketimbang memulai langsung gede, saya lebih suka merintis dari kecil, lalu seiring waktu membangunnya perlahan, memastikan adanya peningkatan pada tiap langkah agar lebih banyak lagi orang yang bisa merasakan hasilnya. Ada kalanya sesuatu yang sudah lama saya rintis, bangun dan rawat seperti mengurus anak itu kemudian tidak bisa berlanjut dan harus pindah ke tempat lain. Itu salah satu realita hidup dalam salah satu panggilan saya yang diwujudkan dengan mengadakan event untuk anak-anak muda yang punya hobi bermusik. Yang saya pastikan adalah, meski mungkin saya harus berpindah tempat, saya ingin acara tersebut tidak kehilangan jati dirinya sebagai acara yang sehat dan bersahabat bagi siapapun. Saya tidak harus mengulang lagi melainkan melanjutkan di tempat yang baru. Dan saya menjaga betul agar jangan sampai ada kesombongan sedikitpun pada diri saya, karena itu akan menghancurkan apa yang sudah saya bangun selama ini, termasuk pula menghancurkan diri sendiri. Kesuksesan sekecil apapun itu seharusnya dipersembahkan kepada Tuhan bukan untuk menjadikan kita sombong. Setiap peningkatan hendaknya menjadikan kita bisa memberkati orang lebih banyak lagi.

Ada banyak orang yang hancur dalam sekejap setelah mati-matian membangun karirnya lama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun hanya karena lengah atau terlena atas kesuksesan yang tengah dirasakan. Lihatlah begitu banyaknya para pelaku dunia hiburan yang melesat menuju ketenaran tapi kemudian menghujam membentur bumi dalam sekejap karena melakukan hal-hal buruk. Obat terlarang dan skandal mungkin merupakan penyebab yang paling sering mendatangkan bencana sehingga karirnya harus berakhir jauh lebih cepat dari selanjutnya. Ada yang ditangkap, atau kemudian mengalami kecelakaan, atau ada juga yang citranya rusak sedemikian rupa sehingga sulit untuk dipulihkan lagi. Semua itu datang sebagai resiko akibat kesalahan yang ia perbuat sendiri. Sungguh amat disayangkan sesuatu yang telah dibangun harus hancur dalam sekejap mata karena kebodohan sendiri. Terlena dalam kesuksesan bisa membuat orang lupa diri. Kesombongan menguasai diri, menjadi lengah terhadap dosa, dan itu akan menggagalkan usaha kita untuk menggenapi rancangan Tuhan. Menghancurkan apa yang sudah begitu lama kita bangun dengan susah payah, bahkan bisa menjadi sangat fatal akibatnya.

Betapa besar bahayanya bisa kita pelajari lewat kejatuhan Korah. Korah mengawali langkahnya dengan sangat baik. Pada awalnya ia merupakan seorang pemimpin yang cukup berpengaruh di masa ketika Israel keluar dari Mesir. Seperti halnya orang Lewi lainnya, Korah dipercaya untuk melakukan pekerjaan pada Kemah Suci Tuhan, bertugas melayani umat. Dengan status seperti itu dengan sendirinya Korah mendapat kepercayaan yang lebih tinggi di banding orang Israel lainnya. Tidak semua orang bisa melakukan pekerjaannya, seharusnya ia memandang hal tersebut sebagai suatu kehormatan yang sepantasnya disyukuri dan dipertanggungjawabkan dengan sungguh-sungguh.

Sayang sekali Korah tidak berpikir seperti itu. Bukannya menghargai kepercayaan yang diberikan atas dirinya, Korah malah tersungkur dalam dosa pemberontakan. Ia menjadi lupa akan hakekat kepercayaan yang telah diberikan Tuhan kepadanya setelah sukses menjalaninya. Ia menghargai dirinya sendiri secara berlebihan dan kemudian gagal mengenal dan memperhatikan batasan yang telah ditetapkan Tuhan baginya. Ia lupa kepada apa yang menjadi garis tugasnya dan berubah menjadi angkuh.

Korah merencanakan makar. Ia "mengajak orang-orang untuk memberontak melawan Musa, beserta dua ratus lima puluh orang Israel, pemimpin-pemimpin umat itu, yaitu orang-orang yang dipilih oleh rapat, semuanya orang-orang yang kenamaan." (Bilangan 16:1-2). Mengapa ia memberontak? Karena ia merasa dirinya hebat diatas orang lain dan haus akan jabatan. Ia dan rekan-rekannya merasa iri kepada Musa. Mereka tidak lagi menerima fakta bahwa Musa dipilih Tuhan dan menginginkan posisi Musa.

Lantas Musa pun menegur mereka: "Belum cukupkah bagimu, bahwa kamu dipisahkan oleh Allah Israel dari umat Israel dan diperbolehkan mendekat kepada-Nya, supaya kamu melakukan pekerjaan pada Kemah Suci TUHAN dan bertugas bagi umat itu untuk melayani mereka, dan bahwa engkau diperbolehkan mendekat bersama-sama dengan semua saudaramu bani Lewi? Dan sekarang mau pula kamu menuntut pangkat imam lagi?" (ay 9-10).

(bersambung)


Sunday, August 6, 2017

Belajar dari Bangsa Edom (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kemarahan Tuhan tampaknya dipicu oleh keangkuhan atau arogansi bangsa Edom dari kondisi geografis mereka. Tapi sebenarnya, kalau kita baca lebih jauh Obaja pasal 1 kita bisa melihat bahwa bangsa ini memang sudah keterlaluan sombongnya. Dalam ayat 11-14 kita bisa membaca bahwa mereka memandang rendah saudara-saudaranya orang Yehuda saat mengalami serangan bangsa lain. Mereka bukannya menolong atau setidaknya bersimpati, tapi malah senang melihat kehancuran Yerusalem yang diserang dan dirampas kekayaannya. Tidak sampai disitu, mereka bahkan menghadang orang-orang Yehuda yang berhasil melarikan diri, menangkap dan menyerahkan mereka pada lawan. Bukan main jahatnya, dan lihatlah ada berapa banyak prinsip Allah yang mereka langgar.

Maka tidak heran kalau Allah pun marah. Kita bisa lihat bahwa Tuhan akan:
menurunkan/merendahkan mereka (ay 4)
- diserang/diperangi (ay 1)
orang-orang bijaksananya akan dilenyapkan dan para pahlawannya akan terbunuh, dan harta kekayaan bangsa itu akan disapu habis para musuh (ay 5-7).
- Puncaknya, Tuhan menyatakan bahwa akibat kekejaman mereka terhadap bangsa Yehuda, bangsa Edom akan dilenyapkan untuk selama-lamanya (ay 10), dibinasakan dan dicela orang sepanjang jaman (versi BIS).

Semua nubuatan ini terbukti. Bangsa Edom sudah lama punah. Hari ini puing-puing yang tinggal dari sebuah bangsa yang tadinya makmur menjadi saksi bisu bagaimana mengerikannya saat hukuman Tuhan turun akibat kesombongan satu bangsa.

Tuhan sangat tidak suka orang yang sombong. Firman Tuhan berkata: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (Yakobus 4:6). Lewat Paulus kita sudah diingatkan "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (1 Korintus 10:12). Jika kita lupa dan mengira kita boleh sombong atau tinggi hati, itu artinya kita tengah membiarkan diri kita berjalan menuju kehancuran. Firman Tuhan lewat Salomo berkata "Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan." (Amsal 16:18). Ini hanyalah sebagian saja dari begitu banyak pesan untuk menghindari sikap angkuh atau sombong dalam hidup kita, apapun alasannya.

Kita harus bersyukur saat sukses, boleh menikmati keberhasilan atas hasil kerja keras kita, karir menanjak, bisnis bagus dan meningkat. Apalagi dalam situasi ekonomi yang sulit seperti sekarang ini, bisnis yang masih meningkat tentu merupakan anugerah luar biasa. Benar, kita boleh memberi kredit atas keseriusan dan usaha keras kita, tapi kita harus ingat bahwa semua itu tidak akan terjadi tanpa perkenan Tuhan. Sebesar-besarnya kekuatan atau rasa aman, jangan sampai itu membuat kita lupa diri kemudian berubah sikap menjadi sombong. Karena kalau kita berhadapan dengan Tuhan karena sikap buruk kita tersebut, kita bisa habis dalam sekejap mata. Dia bisa menjungkir-balikkan semuanya dalam seketika semudah membalik telapak tangan.  Kehancuran atau kejatuhan yang terjadi bisa sangat serius, karena seringkali bukan hanya terjadi untuk pribadi atau individu saja, tapi bisa menjadi kolektif bahkan menimpa satu bangsa besar sekalipun, seperti yang terjadi pada bangsa Edom. Inilah yang harus kita sikapi dengan baik agar kehidupan kita bisa jauh dari murka Tuhan melainkan terus diberkati Tuhan hingga kesudahannya.

Ingtlah bahwa kita diselamatkan untuk menyelamatkan. Kita diberkati untuk memberkati. Semua itu bukanlah untuk ditimbun sendiri, apalagi kalau malah dipakai untuk menyombongkan diri. Bukan karena kuat dan hebat kita, bukan karena kepandaian atau kehebatan kita, tapi semua itu berasal dari Tuhan. Oleh karena itulah kita jangan sampai merasa berada di atas angin lantas menjadi sombong dan mengabaikan bahwa keberhasilan tetap merupakan berkat dari Tuhan. Bukankah kepandaian kita pun berasal dari anugerahNya juga? Bukankah kesehatan untuk terus bisa bekerja keras, peluang-peluang yang terbuka, kepintaran kita dalam berpikir, talenta-talenta yang kita miliki, itupun semuanya berasal dari Tuhan? Bukankah keadaan baik kita, kondisi aman, tenang jauh dari kesulitan hidup juga merupakan karunia Tuhan? Kalau begitu, tidak ada alasan apapun yang bisa membuat kita berhak menjadi sombong.

Firman Tuhan berkata "Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain." (Mazmur 75:7-8). Perkara naik dan turun sesungguhnya berada dalam keputusan Tuhan. Maka dari itu Petrus berkata "Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya." (1 Petrus 5:6). Tanpa Tuhan kita tidak akan mungkin bisa mempertahankan apa yang sudah sukses kita peroleh hari ini, tidak peduli sehebat apapun diri kita. Dalam sekejap mata semua itu bisa berlalu dari kita, lenyap tanpa bekas.

Dengan berkaca pada konsekuensi mengenaskan yang diterima bangsa Edom, mari kita menjaga diri kita untuk terhindar dari kesombongan, sikap angkuh, tinggi hati, dendam, bersenang diatas penderitaan orang dan sejenisnya. Pakai segala yang diberikan Tuhan untuk anda bukan untuk membanggakan atau meninggikan diri tetapi untuk menjadi saluran berkat buat orang lain, menjadi terang dan garam dimana anda ditempatkan, dan pakai semua itu untuk memuliakan Tuhan.

Kesombongan mendahului kehancuran

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, August 5, 2017

Belajar dari bangsa Edom (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Obaja 1:3
==============
"Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: "Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?"

Dalam politik ada orang-orang yang dianggap untouchable. Kata untouchable atau 'tak tersentuh' ini disematkan kepada orang-orang yang tampaknya tidak tersentuh hukum. High rank, high power people, yang bisa berbahaya bahkan menggoyang sebuah bangsa jika diusik. Ada yang punya jaringan seperti mafia, ada juga yang bukan cuma tidak tersentuh tapi juga tidak terlihat. Biasanya kalau mereka mulai bersentuhan dengan hukum lewat pelanggaran, beritanya akan segera cepat menguap sehingga tidak lagi diingat orang, bahkan seperti tidak pernah ada. Apa yang membuat mereka kuat? Bisa banyak. Harta, jabatan, relasi, koneksi, kekuasaan, semua itu bisa membuat orang berada di atas hukum dan keadilan. Dunia memang cenderung memandang pada tingkatan. Yang kuat menindas yang lemah, yang kaya menindas yang miskin. Itu terjadi dimana-mana sejak lama. Bahkan anak SD saja sudah harus menghadapi bully dari kakak kelas atau temannya yang kebetulan punya postur lebih atau punya gang berkuasa. Kalau sudah begitu powerful sampai bisa tidak tersentuh, mereka akan merasa bisa bertindak seenaknya. Kesombongan akan dengan serta merta menjadi standar perilaku mereka. Di dunia ada orang-orang yang untouchable, dan mungkin jika mereka begitu kuat, tidak ada satupun kekuatan di dunia ini yang bisa menghukumnya. Di dunia mungkin ya, tapi jangan lupa bahwa ada penghakiman yang lebih besar dari apapun yang harus mereka hadapi pada suatu saat, yaitu penghakiman Tuhan. Manusia bisa dikuasai, bisa ditekan, bisa disogok, tapi Tuhan tidak akan pernah bisa dibegitukan, tak peduli berapapun harta yang seseorang punya dan sebesar apapun kuasanya.

Kesombongan bisa menimpa individu, kelompok atau golongan, organisasi bahkan negara yang merasa di atas angin. Kalaupun belum sampai masuk kategori untouchable, kesombongan bisa menjangkiti orang-orang biasa. Kapan orang biasanya menjadi angkuh atau sombong? Biasanya ini menjadi penyakit yang timbul ketika orang mulai atau sudah sukses. Berhasil dalam karir, bisnis, atau aspek-aspek kehidupan lainnya. Tidaklah heran apabila kita melihat orang yang tiba-tiba berubah sikapnya begitu mereka mencapai keberhasilan. Mengandalkan uang atau harta, jabatan dan koneksi, itu jadi kartu as untuk bisa berbuat seenaknya, bebas melanggar peraturan tanpa mendapat ganjaran. Siapapun mereka atau apapun bentuknya, murka Tuhan bisa sama menimpanya tanpa pandang bulu. Hari ini saya ingin mengajak teman-teman untuk melihat konsekuensi dari kesombongan sebuah bangsa bernama Edom.

Bangsa Edom berasal dari keturunan Esau dan membangun bangsanya di atas gunung. Tingginya lebih dari 600 meter di atas permukaan laut. Kontur tempatnya ada di tebing terjal dengan jurang yang dalam. Kalau ditinjau dari segi geografis, Edom sangat diuntungkan karena berada pada posisi yang sangat strategis dan aman. Pada waktu itu belum ada rudal, bom atau pesawat tempur sehingga mereka bisa dengan mudah menyapu bersih siapapun yang menyerang dari bawah. Menyadari ini, orang Edom merasa sangat aman sehingga lupa diri dan sombong. Mereka berpikir bahwa tidak akan ada bangsa manapun yang akan mampu menandingi mereka. Jangankan menandingi atau menyerang, mengganggu pun harus pikir panjang dan lama dulu.

Ironisnya, meski bangsa Edom ini memiliki hubungan darah dengan Israel, tetapi kedua bangsa ini tidaklah harmonis. Ketidakakuran mereka sudah terlihat sejak nenek moyangnya yang terus berlanjut ke generasi-generasi berikutnya.

Pada suatu kali Obaja mendapat sebuah penglihatan mengenai situasi yang bisa menghancurkan negeri Edom. Lewat Tuhan ia mengetahui bahwa Tuhan sedang mengirim utusan ke tengah bangsa itu untuk memeranginya. Beginilah bentuk murka Tuhan. "Sesungguhnya, Aku membuat engkau kecil di antara bangsa-bangsa, engkau dihinakan sangat." (ay 2).

Mengapa Tuhan sampai sebegitu marah? Obaja menyebutkan bahwa itu karena Tuhan sangat tidak berkenan melihat keangkuhan bangsa itu. Demikian Tuhan berkata: "Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: "Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?" (ay 3). Kesombongan atau keangkuhan bangsa ini muncul hanya karena mereka punya posisi strategis di gunung dengan tebing terjal dan jurang. Itu membuat mereka arogan, tidak ada kekuatan apapun yang bisa menandingi mereka. Mereka lupa bahwa meski keadaan geografis yang strategis dan terlihat sangat aman, kekuatan mereka tidaklah berarti apa-apa dibanding kekuatan Tuhan yang memiliki kuasa diatas segala-galanya. Kesombongan mereka ternyata menjadi perhatian serius dari Tuhan yang siap menjatuhkan hukuman bagi mereka. "Sekalipun engkau terbang tinggi seperti burung rajawali, bahkan, sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang- bintang, dari sanapun Aku akan menurunkan engkau, --demikianlah firman TUHAN." (ay 4).

(bersambung)


Friday, August 4, 2017

Pengujian (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Bayangkan bagaimana bahayanya kesehatan kita kalau tidak pernah kita periksa atau perhatikan dengan baik. Betapa berbahaya kalau kita tidak pernah berolahraga tapi terus membiarkan hal-hal yang merusak kesehatan kita silih berganti masuk dalam tubuh kita. Itu dari sisi jasmani. Rohani pun sama. Kondisi rohani kita perlu diperiksa atau diuji secara teratur. Bayangkan ada berapa banyak bahaya yang mengancam apabila iman kita mampet seperti saringan yang tidak pernah dibersihkan. Hanya pada saat kita berani menguji atau memeriksa diri sendiri kita akan bisa melihat dimana dan bagaimana tingkat keimanan kita saat ini. Itu artinya kita berani melihat segala sesuatu dari diri kita, yang baik maupun yang buruk. Itu artinya kita berani melihat kelemahan kita sendiri. Dengan mengetahui kelemahan kita, disitulah kita akan dapat mengambil langkah untuk melakukan perbaikan. Dan hasilnya jelas, kita akan lebih kuat, lebih tahan uji dibandingkan orang yang tidak pernah peduli terhadap kebugaran rohaninya sendiri.

Daud ternyata paham betul akan pentingnya memeriksa diri sendiri. Lihat betapa ia berani meminta Tuhan untuk menguji dan memeriksa dirinya. "Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku." (Mazmur 26:2). Dalam kesempatan lain ia berkata "Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!" (139:23-24). Kalau ia berani meminta Tuhan memeriksa dan mengujinya, tentu ia sudah rajin melakukan itu dan meminta Tuhan memastikan apakah hati dan batinnya sudah bersih atau belum. Sebab, bagaimana jadinya kalau saat meminta Tuhan menguji dan menyeldiki batin anda hati kita, ternyata isinya masih penuh kecemaran? Setelah menguji, mendapati bagian-bagian yang bermasalah lalu memperbaiki dan memurnikannya, kita bisa meminta Tuhan untuk menguji agar sempurna, siapa tahu masih ada hal-hal buruk yang masih luput dari perhatian kita.

Kapan sebaiknya waktu yang paling tepat untuk menguji diri? Anda bisa memilih waktu yang terbaik dimana anda biasanya bisa berkonsentrasi sepenuhnya tanpa ada gangguan dari lingkungan sekitar. Ada yang memilih malam hari sebelum tidur, bagi sebagian lagi mungkin lebih nyaman pada waktu saat teduh di pagi hari. Apakah saat beristirahat kerja? Sehabis pulang? Anda bisa atur waktu yang anda anggap terbaik untuk itu. Jika ternyata anda sulit mencari waktu yang tepat, itu artinya anda perlu menata ulang waktu dan urutan prioritas anda. Yang pasti, menguji diri secara berkala merupakan hal penting yang tidak boleh diabaikan.

Ada banyak ancaman dan godaan dalam hidup yang cepat atau lambat bisa membuat kita jatuh. Daya tahan kita terhadap berbagai serangan ini akan sangat tergantung dari sejauh mana tingkat keimanan kita. Apakah Yesus masih tinggal berdiam dalam diri kita atau kita sudah tidak lagi punya tempat bagi Dia karena ada banyak hal-hal dan keinginan lain yang menduduki semua ruang di hati kita, itu akan sangat menentukan bagaimana reaksi kita dalam menghadapi setiap gangguan, godaan dan ancaman dalam menjalani hidup.

Oleh karena itu tetaplah rajin memeriksa, menguji diri sendiri secara rutin. Akan jauh lebih mudah memperbaikinya selagi masih ringan sebelum kerusakan semakin bertambah parah dan sudah terlanjur sulit untuk diperbaiki. Jika anda belum pernah melakukannya, lakukan sekarang juga selagi masih ada kesempatan. Jika masih jarang, pastikan agar anda menjadikannya kegiatan rutin secara berkala. Pastikan agar identitas diri anda tetap tegak dalam iman dan Yesus masih ada dalam diri anda agar anda bisa tetap melangkah kuat meski menghadapi badai sekuat apapun.

Rajin menguji iman akan sangat menentukan sekuat apa daya tahan kita dalam menghadapi cobaan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, August 3, 2017

Pengujian (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 2 Korintus 13:5
======================
"Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji."

Untuk bisa mengetahui mutu dari sesuatu diperlukan proses uji. Misalnya, apakah seseorang berkompeten atau layak untuk satu jabatan tertentu, maka dibutuhkan uji kelayakan. Untuk mengetahui kualitas bahan maka bahan tersebut harus diuji terlebih dahulu. Mobil yang mengedepankan safety mempergunakan crash test dummy untuk menguji kekuatan serta keamanan produknya. Dalam berbagai riset, tidak akan pernah ada hasil resmi secara ilmiah yang bisa dikeluarkan tanpa melewati pengujian yang cukup. Anda buka restoran, maka harus ada pengujian dulu dari rasa dan tampilan sajian sebelum ditampilkan pada menu. Madu harus diuji kalau mau pasti asli atau tidak. Bahkan film pun memerlukannya. Dalam dunia sinema ada istilah film screening yang digunakan untuk menguji sebuah film dengan diputarkan pada sejumlah penonton sesuai target, apakah masih dibutuhkan editing lebih lanjut, pengulangan shooting atau bisa jadi perlu perombakan script, merubah ending film dan sebagainya. Kita akan sulit mengetahui kemurnian, keaslian, kecakapan, ketahanan, kekuatan, keamanan dan berbagai kualitas lainnya yang terkandung dalam sebuah produk tanpa melalui pengujian.

Tubuh kita pun sama. Untuk memastikan bahwa dirinya tetap dalam keadaan baik, ada banyak orang melakukan check up rutin. Kalau ada sesuatu yang tidak ideal seperti gula darah tinggi, masalah jantung sampai tumor yang terdeteksi tapi belum terasa tentu secepatnya harus diatasi. Lebih cepat lebih baik, sebelum terlambat. Bagi yang kurang mampu untuk memeriksakan diri secara rutin, setidaknya mereka bisa menjaga pola hidup sehat. Tidak mengkonsumsi makanan yang tidak sehat, tidak memasukkan berbagai zat mengandung racun ke dalam diri mereka, olah raga teratur, tidur yang cukup, itu bisa mencegah kita dari mengalami masalah di kemudian hari. Sehat tidaknya kemudian bisa diuji dengan sederhana. Misalnya, apakah naik tangga dua lantai saja sudah ngos-ngosan, jantung berdetak terlalu kencang dan tidak teratur, mudah pusing, lekas lelah, berat badan turun drastis, itu menunjukkan adanya gejala gangguan kesehatan yang harus disikapi serius secepatnya. Bagi anda yang dulu masih tertipu oleh tahayul sehingga takut hantu, anda bisa menguji dengan melihat reaksi anda saat sendirian di tempat gelap.

Bagaimana dengan iman? Alkitab mengatakan bahwa untuk hal keimanan juga diperlukan pengujian. Mari kita lihat apa yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Korintus. Paulus berkata seperti ini: "Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji." (2 Korintus 13:5).

Mengapa Paulus mengingatkan jemaat agar menguji kehidupan imannya? Pertama-tama yang harus kita pahami adalah bahwa kemurnian iman merupakan sesuatu yang harus kita jaga dan perjuangkan seumur hidup. Jika dulu kita pernah hidup dengan iman yang teguh, bukan berarti bahwa selamanya kita akan tetap begitu. Bisa saja pada suatu ketika iman kita lemah, dan kalau kita tidak menyadarinya iman kita akan terancam bahaya dan itu akan merugikan kita sendiri. Kemudian, kita juga harus memastikan bahwa kita belum atau tidak bergeser dari identitas diri kita sebagai manusia baru dalam Kristus. Jika kita lupa akan hal ini maka kita mudah dipengaruhi oleh rupa-rupa godaan yang dihadirkan dunia. Itu jelas akan membuat identitas kita kabur bahkan kemudian mengembalikan kita pada identitas lama, sebagai manusia berdosa yang harus menghadapi konsekuensi murka Allah.

Masalahnya, kita sering lengah dan tidak sadar bahwa iman kita sudah tercemar, fokus kita sudah bergeser dan identitas kita meredup. Karena itulah kita butuh menguji diri kita sendiri. Apakah kita masih berjalan sesuai Firman Tuhan, dalam kebenaran, apakah Yesus masih tinggal dalam diri kita atau tidak, itu merupakan hal yang sangat penting. Kalau ternyata tidak, maka kita akan rapuh dan mudah terganggu oleh permasalahan hidup dan mudah pula tercemar oleh dosa. Sedikit saja masalah muncul maka kita akan goyah seperti pohon yang akarnya rapuh. Daya tahan kita lemah dan kita rentan terhadap berbagai macam godaan. Intinya, kita tidak akan tahan uji atas berbagai serangan dan godaan. Singkatnya, kalau dulu kita pernah bagus, bukan berarti sekarang kita juga pasti bagus. Untuk memastikannya kita perlu menguji diri secara teratur.

(bersambung)


Wednesday, August 2, 2017

Family Builders (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Dalam 1 Korintus 1:30 dikatakan "Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita." Kita jangan sampai lupa bahwa hikmat yang berharga lebih dari emas, perak dan permata manapun yang paling diinginkan orang, yang bagi banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang menjamin kebahagiaan keluarga. Hikmat yang berasal dari Allah itu terwujudkan dalam kepribadian Yesus. Yesus menjadi hikmat bagi kita. Ada begitu banyak hal dari kepribadian Yesus yang bisa kita teladani dan aplikasikan dalam membangun keluarga dengan hikmat. Beberapa diantaranya adalah the unconditional love alias cinta tanpa syarat, rendah hati yang dalam bahasa aslinya di Alkitab diartikan dengan tidak memaksakan kehendak sendiri tapi mengijinkan kehendak Tuhan yang terlaksana dalam hidup, memiliki pribadi yang melayani dan lemah lembut. Jika keempat hal ini saja kita jadikan hikmat dalam membangun keluarga atau rumah tangga, anda akan melihat betapa beda hasilnya.

Perjalanan hidup ini sesungguhnya singkat. Jika kita terus menyia-nyiakannya maka pada suatu ketika kita tidak lagi punya cukup waktu untuk membangun dan mengisi kehidupan ini dengan warna-warna yang menarik. Musa menyadari betul betapa singkatnya hidup itu, sehingga salah satu doanya yang dicatat Pemazmur berkata: "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap." (Mazmur 90:10). Alangkah sia-sianya jika kehidupan yang singkat itu tidak kita pergunakan dengan sebaik-baiknya. Betapa sayangnya bila hari demi hari berlalu begitu saja tanpa makna, tanpa ada sesuatu peningkatan atau diisi dengan sesuatu yang baik. Dan alangkah ironis jika keluarga yang sudah berjalan lama hancur berantakan karena tidak dirawat dengan baik. Untuk itu jelas diperlukan hikmat agar kita tahu bagaimana caranya memanfaatkan waktu-waktu yang ada dengan hal-hal bijaksana.  Maka Musa pun berdoa meminta hikmat untuk bisa menghitung hari demi hari dan mengisinya dengan hal-hal bermakna. "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (ay 12).

Adalah penting bagi kita semua untuk memiliki hikmat agar dapat maksimal dalam membangun keluarga sesuai dengan keinginan Tuhan. Selain hikmat, dari ayat bacaan hari ini kita juga diingatkan bahwa keluarga harus ditegakkan dengan kepandaian. Kepandaian bukan cuma mengenai kecerdasan otak tapi juga cerdas secara rohani. Kecerdasan rohani bisa kita peroleh dengan memenuhi diri dengan prinsip kebenaran, mengenal Firman Tuhan. Tapi tidak berhenti sampai disitu saja, kita harus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Menjadikan setiap hari dalam kehidupan keluarga sebagai ajang latihan terus menerus hingga kebenaran itu menjadi reflek dalam perbuatan kita. Kecerdasan rohani kemudian akan melahirkan pengertian, dan dengan pengertian kita akan mengisi kehidupan kita pribadi dan keluarga dengan hal-hal bernilai tinggi dan berharga dengan standar kebenaran Firman Tuhan.

Esensi dari kehidupan adalah bagaimana kita bisa bertumbuh dan berbuah, dan mengisinya dengan mempergunakan segala potensi yang ada bagi kita demi kebaikan diri kita, keluarga dan buat sesama, dimana Tuhan dipermuliakan di atasnya. Seperti layaknya membangun rumah, kitapun harus membangun kehidupan dan keluarga kita dengan pondasi yang kuat, dan mengisinya dengan berbagai hal baik yang bisa membuat keluarga menjadi seindah surga di bumi. Untuk itu, seperti Bob the Builder, diperlukan hikmat, kecerdasan atau kepandaian dan pengertian.

Juga diperlukan kerjasama tim dimana setiap anggota keluarga mengetahui perannya masing-masing dan berusaha serius memberi yang terbaik sesuai perannya. Pria tahu perannya sebagai suami, ayah, pemimpin, imam dan juga teman yang peduli, istri tahu perannya sebagai penolong, penyeimbang, penghibur, pendamping, teman dan pelengkap suaminya, ibu yang penuh kasih pada anak-anaknya. Anak-anak patuh kepada orang tuanya, serius dalam menuntut ilmu dan membanggakan orang tua dimanapun mereka berada dalam apapun yang mereka kerjakan. Suami mengasihi istri, istri taat pada suami. Anak tunduk dan hormat pada orang tua, orang tua dekat dengan anaknya dan selalu memberi waktu dalam membina hubungan yang dekat dengan anak layaknya teman. Ada keteladanan akan prinsip kebenaran dalam hidup orang tua yang ditransfer kepada anak-anaknya secara terus menerus. Hikmat, kecerdasan spiritual dan pengertian yang baik akan kebenaran dalam sebuah keluarga akan menjadikan keluarga itu kokoh dan bersinar di dunia.

The world today needs family builders more than ever. Siapkah anda menjadi salah satunya lalu menginspirasi keluarga lainnya untuk turut serta?

Bangun keluarga dalam Kristus yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, August 1, 2017

Family Builders (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Amsal 24:3-4
=====================
"Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan, dan dengan pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik."

Bagi anda yang punya anak masih kecil, anda tentu familiar dengan sebuah karakter animasi asal Inggris bernama Bob the Builder. Bob berprofesi sebagai kontraktor bangunan yang mengerjakan berbagai proyek pembangunan maupun renovasi gedung, rumah dan jalan. Acara ini sangat baik untuk ditonton anak-anak karena selain bisa merangsang kreativitas mereka, Bob the Builder juga mengajarkan kerjasama atau kekompakan tim, bagaimana bersosialisasi dengan orang lain dan pemecahan masalah menggunakan ketrampilan dan kerjasama dengan timnya.

Dari satu jaman ke jaman lainnya dunia sangat membutuhkan ahli bangunan dalam merancang bangun tempat tinggal maupun tata kota yang baik. Di satu sisi kita butuh orang yang mau bekerja membangun yang membutuhkan tenaga besar, di sisi lain kita juga butuh perancang yang mengerti struktur, kualitas bahan dan hal-hal lain secara teknis yang dibutuhkan agar semua yang dibangun kokoh, tahan terhadap perubahan cuaca, kondisi alam yang bisa buruk dan berbagai potensi gangguan lainnya. Kalau asal bangun tanpa memperhatikan aspek teknis, bisa sangat berbahaya untuk tinggal di dalamnya. Rumah bisa rubuh lantas mencelakakan pemiliknya.

Untuk membangun rumah kita butuh sosok seperti Bob the Builder. Bagaimana dengan keluarga? Pada kenyataannya, keluarga tidak terjadi secara natural melainkan perlu dibangun dengan baik kalau ingin kokoh. Ada banyak orang yang mendasari pernikahannya pada alasan keliru, lalu keliru menetapkan tujuan. Ada yang keliru menyikapi pembentukan keluarga, keliru bertindak di dalamnya dan cenderung membiarkan saja keluarga berjalan tanpa dibangun lantas berharap semua akan menjadi lebih baik seiring waktu. Layaknya rumah, keluarga butuh pondasi yang kuat dan kemudian diatasnya dibangun dengan baik. Tanpa itu, keluarga bisa rubuh porak poranda dalam waktu singkat. Singkatnya, untuk sebuah tatanan kehidupan atau peradaban yang baik, dunia sangat membutuhkan para pembangun keluarga. The world today is seriously in need of family builders.

What kind of family builders? Builders that know what God wants and has planned in a family that He has given His blessing. Keluarga sejatinya adalah tempat dimana Tuhan menyatakan diriNya secara penuh. Sebuah keluarga yang baik adalah keluarga dimana kita bisa mendapati atau merasakan karakter dan keilahianNya. Sudah saatnya kita menyikapi bagaimana dan seperti apa keluarga itu seharusnya. Keluarga jangan lagi cuma sekedar tempat makan dan tidur, bukan lagi sekedar tempat berteduh dan beristirahat, tapi tempat dimana Tuhan dinyatakan yang bisa dirasakan oleh siapapun.

Ayat bacaan hari diambil dari kitab Amsal yang bunyinya: "Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan, dan dengan pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik." (Amsal 24:3-4). Rumah disini bukan berbicara hanya mengenai masalah rumah dalam bentuk harafiah, rumah yang didirikan dari batu, beton, pasir, kayu, rangka besi, semen dan berbagai bahan bangunan lainnya. Tapi rumah disini berbicara akan sesuatu yang lebih luas, yaitu sebuah kehidupan. Sebuah kehidupan yang baik haruslah didirikan atas dasar hikmat, ditegakkan dengan kepandaian, dan kehidupan itu selanjutnya diisi dengan berbagai hal berharga. Tidak hanya atas satu hal saja, melainkan berbagai hal, bukan yang sia-sia tetapi yang berharga. Berharga buat hidup kita sendiri, berharga buat sesama, berharga buat buat orang lain, dan tentunya berharga di mata Tuhan.

Keluarga sebagai sebuah bagian dari kehidupan pun harus didirikan dengan hikmat, ditegakkan dengan kepandaian dan diisi dengan berbagai hal bernilai tinggi dan menarik dengan berdasarkan pengertian. Inilah sebuah pelajaran penting dari penulis Amsal akan betapa pentingnya kita memperhatikan kehidupan dan keluarga dengan sungguh-sungguh. Kalau kita membiarkan saja hidup berjalan sendiri, kalau kita membiarkan saja jalannya keluarga tanpa diperhatikan, dibangun, dibina, dijaga dengan benar, semua itu bisa gagal total. Sebagai bagian dari keluarga, jika kita tidak membangun maka kita hanya akan mengacau dan mengganggu kebahagiaan di dalamnya.

Seperti apa mendirikan rumah dengan hikmat itu? Hikmat menurut Alkitab bukanlah cuma pengetahuan tapi wujud dari pribadi Allah yang mengintervensi kehidupan manusia. Lewat hikmat Tuhan mengintervensi manusia yang hidup dengan kehendak bebasnya supaya manusia bisa membedakan mana yang benar dan salah, mengetahui kemana harus melangkah sehingga tidak salah jalan, bisa menjadi pribadi-pribadi bijaksana dan berintegritas yang mengaplikasikan prinsip kebenaran Allah dalam kehidupannya dimanapun ia ada.

(bersambung)


Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker