Saturday, March 31, 2012

Tali Kekang

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mikha 6:8
======================
"Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?"

tali kekangKuda yang bisa dinaiki biasanya disertai dengan tali kekang. Tali ini akan mampu mengatur kapan kuda harus berhenti, kapan harus belok ke kiri atau kanan. Akan sangat sulit untuk membuat kuda patuh jika kita tidak memiliki kendali lewat tali atas dirinya. Mata kuda pun sering ditutup habis agar ia hanya tergantung pada kehendak penunggangnya. Sebagai manusia yang berakal budi, yang bisa membedakan mana yang benar dan salah, memiliki hati nurani dan nalar untuk berpikir, seharusnya kita tidak perlu seperti kuda yang harus diikat dengan tali kekang terlebih dahulu agar patuh. Tetapi kenyataannya ada banyak orang yang sulit untuk mengendalikan diri terhadap berbagai godaan atau tipuan sehingga harus tetap diikat atau bahkan dicambuk agar mau taat dan mengerti.

Seperti apa sebenarnya hubungan yang Tuhan ingin bangun dengan kita anak-anakNya? Tuhan tentu meninginkan sebuah hubungan erat yang didasarkan dengan kasih dan kepatuhan terhadap semua perintahNya. Tuhan menginginkan kita mengerti isi hatiNya, sama seperti Dia mengerti isi hati kita. Sayangnya banyak orang merasa bahwa serangkaian peraturan yang membatasi hidup manusia ini seolah rantai pengekang yang membuat kita seolah tidak berhak untuk menikmati kenikmatan hidup. Ini dilarang, itu dilarang. Malah ada yang berpikir lebih ekstrim, bahwa Tuhan gemar menyiksa manusia dan tidak ingin kita sedikitpun merasakan kesenangan dalam hidup ini. Mereka merasa bahwa Tuhan terus mengekang. Benarkah seperti itu? Tentu tidak. Kasih Tuhan sebenarnya sudah memberikan "tali" yang cukup panjang bagi kita untuk menjalani kehidupan. Bukankah ada kehendak bebas yang Dia berikan kepada kita? Tuhan sama sekali tidak menciptakan kita seperti robot-robot yang harus dikendalikan sepenuhnya. Kita bisa memilih apakah kita mau menjadi anak-anakNya yang patuh atau pembangkang. It's all about choice, and we are free to choose. Tapi ingatlah bahwa apapun keputusan kita akan membawa konsekuensi.

Ketika Tuhan memberi peraturan kepada kita, itu tujuannya baik. Semua itu semata-mata karena Dia tidak ingin satupun dari kita berakhir dalam bara api penyiksaan yang kekal. Itu adalah bentuk sayangNya kepada kita. Apabila pada suatu kali kita bandel dan harus "dicambuk",  itu pun tetap baik tujuannya. Lihat apa kata Firman Tuhan berikut: "Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." (Ibrani 12:5-6). Meski demikian, itu bukanlah hal yang Tuhan inginkan. Dia tidak menikmati hubungan seperti itu. Apa yang Dia inginkan adalah kehidupan kita yang tidak perlu dikekang. Tuhan ingin kita bisa bebas, merdeka benar-benar, tetapi kita mengisi kemerdekaan itu dengan sebuah bentuk ketaatan sepenuhnya dan berjalan bersamaNya. Tuhan akan sangat senang jika kita bisa berjalan dalam kepatuhan tanpa harus diikat atau dicambuk.

Bangsa Israel pada jaman Mikha masih menunjukkan sikap yang sangat buruk. Mereka terus bersungut-sungut dan mengomel kepada Mikha mengenai susahnya menyenangkan hati Tuhan. Tuhan memberi sebuah jawaban yang singkat dan tegas bahwa sebenarnya menyenangkan hati Tuhan itu tidaklah sulit. "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mikha 6:8). Lihatlah, cuma itu yang dituntut Tuhan bagi kita. Berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapannya. Dalam bahasa Inggrisnya disebutkan lebih lengkap: "to do justly, to love kindness and mercy and to humble yourself and walk humbly with your God." Itu saja. Hal ini sudah pernah diungkapkan Tuhan sebelumnya. Tuhan berkata "Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh." (Ulangan 30:11). Dan inilah perintahNya: "Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka." (ay 19-20). Dia mau kita menyerahkan diri sepenuhnya kepadaNya. He wants us to fully surrendered and cling to Him, to walk with Him in obedience. Jika kita mampu hidup seperti itu, tidak perlu ada cambukan mendera kita. Bahkan kita tidak perlu diikat atau dikekang. Kita bisa bebas merdeka dengan ketaatan atau kepatuhan penuh terhadap Tuhan. Dan itulah hubungan yang Dia inginkan untuk dibangun bersama kita.

Dalam Mazmur kita bisa melihat kerinduan Tuhan yang sama. "Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau" (Mazmur 32:9). Kalau kuda harus diikat dengan tali kekang, kita seharusnya tidak perlu diperlakukan seperti itu.  Tuhan menginginkan sebuah hubungan yang luwes, bebas merdeka dalam keintiman yang didasarkan ketaatan sepenuhnya kepadaNya. Tuhan menjanjikan begitu banyak berkat seperti yang bisa kita baca dalam Ulangan 28:1-14, dan syaratnya pun sama. "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu." (ay 1-2).

Coba bayangkan seandainya kuda dilepas begitu saja. Bukan saja kuda itu bisa mencederai orang banyak, tetapi dirinya sendiripun akan beresiko terancam bahaya. Kita pun sama. Tuhan rindu untuk memberi kebebasan kepada kita, tetapi mampukah kita menjaga kepercayaan seperti itu andaikata kita dilepas sepenuhnya? Sudah mampukah kita hidup benar bergantung kepadaNya meski tanpa tali kekang sekalipun? Ingatlah bahwa apapun yang dilakukan Tuhan, semua itu adalah demi kebaikan kita sendiri. Hari ini mari kita membuat komitmen untuk benar-benar berjalan dalam ketaatan penuh bersamaNya. Marilah kita bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Hiduplah adil, penuh kasih dan kerendahan hati dan ketaatan. Disanalah anda akan benar-benar mengalami sebuah kehidupan yang benar-benar merdeka, penuh sukacita tanpa perlu sebuah talipun untuk diikatkan kepada anda.

Dapatkan kebebasan sepenuhnya dengan berjalan dalam ketaatan bersama Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, March 30, 2012

Hati Sekeras Batu Cadas

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Markus 3:5
====================
"Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka..."

hati kerasSaya sore tadi membeli sebuah bakpau. Sewaktu dibeli rotinya masih terasa lembut karena si penjual memiliki kotak penghangat yang dipasang di motornya. Saya meletakkannya di meja dan baru akan memakannya beberapa jam kemudian. Ternyata rotinya sudah mengeras, sehingga tidak lagi enak dikonsumsi. Agar kembali lunak, saya pun harus mengukusnya lagi terlebih dahulu. Jika roti bisa mengeras menjadi tidak enak lagi, hati kita pun demikian juga.

Saya sudah pernah bertemu dengan banyak orang yang hatinya keras bagai batu cadas. Mereka sangat sulit menerima pendapat orang lain, cenderung merasa benar sendiri dan susah diajak bicara. Mereka lebih memilih untuk berdebat walau mungkin dalam hati mereka setuju dengan apa yang kita katakan. Pokoknya bantah dulu, argumen belakangan. Orang-orang seperti ini terus dikuasai oleh kekerasan hatinya sehingga tumbuh menjadi orang yang degil dan sangatlah susah untuk dinasihati atau diubahkan. Benar, kita memang tidak harus selalu setuju dengan pendapat orang. Tetapi alangkah baiknya jika kita mau mendengarkan nasihat yang benar, setidaknya memberi kesempatan dulu buat orang untuk mengutarakan pendapatnya. Orang-orang yang keras hati dan kepalanya susah untuk berubah. Kedegilan itu bisa membutakan.dan sangatlah merugikan. Dengan membiarkan hati tetap keras bukan menunjukkan kehebatan kita, tetapi itu hanya akan membawa kerugian kepada diri kita sendiri.

Lewat contoh orang-orang Farisi kita bisa melihat contoh nyata perihal kekerasan hati ini. Mereka memiliki keadaan hati yang sungguh mengecewakan Yesus. Hati mereka yang sangat keras mengakibatkan mereka tidak lagi peka, baik terhadap kebenaran, terhadap orang lain juga terhadap diri mereka sendiri. Dalam banyak kesempatan yang tercatat dalam Alkitab kita bisa melihat pameran kemunafikan mereka. Mereka merasa sebagai orang-orang yang paling rohani, paling suci,paling tahu segalanya, paling hebat, paling benar. Mereka rajin menghakimi orang lain tetapi tidak pernah introspeksi terhadap diri sendiri. Kepekaan pun lenyap dari diri mereka. Mari kita ambil salah satu contoh saja ketika Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat dalam Markus 3:1-6.

Pada saat itu Yesus bertemu dengan orang yang tangannya lumpuh sebelah di sebuah rumah ibadat. Melihat keadaan itu, tampaknya para orang Farisi seolah mendapatkan peluang untuk mencari-cari perkara terhadap Yesus. Mereka tahu bagaimana Yesus mengasihi manusia, oleh karena itu tentunya mereka sudah memperkirakan bahwa Yesus akan menyembuhkan orang lumpuh itu meskipun hari itu adalah hari Sabat, yang menurut hukum Taurat tidak boleh dipakai untuk mengerjakan apapun.

Betapa ironis. Tuhan hadir tepat ditengah-tengah mereka. Seharusnya mereka menyadari hal itu dan bersukacita. Jika mereka mengetahui seluruh hukum Taurat dan tulisan-tulisan para nabi terdahulu, mereka harusnya menyadari betul sosok yang berdiri di tengah mereka, sebab Yesus jelas-jelas memenuhi syarat setiap nubuat mengenai kedatangan Mesias yang sudah tertulis di sana. Tetapi lihatlah bagaimana kekerasan hati membuat mereka tidak lagi peka bahkan menjadi buta. Mereka sama sekali tidak mengenali jati diri Yesus. Bukannya bersyukur dan bersukacita mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan Yesus, mereka malah sibuk mencari-cari kesalahan. "Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia." (Markus 3:2). Seperti itulah Injil mencatat perilaku mereka. Hati dan batok kepala orang Farisi ini bukan saja keras untuk menerima Yesus, tetapi juga keras dalam melihat tangisan memohon pertolongan orang-orang di sekitar mereka. Mereka lebih mementingkan tata cara, formalitas atau tradisi ketimbang mengasihi orang lain. Perhatikan apa saja tindakan orang Farisi pada saat itu. Mereka mengecam pekerjaan Tuhan, mereka lebih tertarik untuk melindungi tradisi keagamaan ketimbang mematuhi Firman Tuhan, mereka hanya mementingkan kesejahteraan mereka sendiri ketimbang orang lain, dan mereka juga lebih peduli akan pendapat orang ketimbang melakukan segala yang berkenan di hadapan Tuhan. Semua itu jelas tertulis dalam Markus 3. Mereka menampilkan sosok yang sepertinya sangat suci, berdoa di jalan-jalan umum agar terlihat begitu alim. Sementara perilaku mereka sama sekali tidak mencerminkan itu semua.

Sampai hari ini pun kita masih sering melihat orang-orang dengan tipe sama, atau jangan-jangan kita pun demikian. Ada banyak orang percaya yang terperangkap dalam sikap yang sama seperti yang dilakukan orang-orang Farisi pada masa itu. Mereka cenderung merasa diri paling suci, paling benar dan karenanya berhak untuk menghakimi orang lain. Mereka ingin terlihat sangat alim di mata orang lain padahal perbuatan mereka dibelakang sangatlah berseberangan. Mereka berpusat pada kepentingan diri sendiri dan tidak peduli atas penderitaan orang lain. Kalau tidak hati-hati, kita pun bisa menjadi mangsa dari kesalahan serupa. Kita bisa terlalu asyik dalam melakukan dan mengucapkan hal-hal yang "benar" sehingga kita membiarkan kehangatan kasih Tuhan yang lembut dalam hati kita perlahan berubah menjadi dingin. Kita merasa paling benar sehingga merasa berhak menghakimi.  Selanjutnya hati kita pun mengeras. Kita kemudian menjadi tidak lagi peka, dan itu sesungguhnya sangatlah berbahaya. Perhatikan reaksi Yesus terhadap sikap seperti ini. "Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka.." (Markus 3:5). Ya, itu mendukakan Yesus. Itu membuatnya kecewa, dan membuatnya marah. Jika orang-orang percaya terus melakukan hal seperti ini, bagaimana mungkin kita bermimpi untuk melihat transformasi di sekitar kita? Bagaimana mungkin kita bisa menyaksikan kegerakan Tuhan yang luar biasa sementara kita sendiri masih menjadi batu sandungan bagi orang lain? Tuhan rindu untuk mencurahkan RohNya dalam kuasa dan kelimpahan melalui kita, gerejaNya. Dia terus ingin kita dipenuhi, tetapi itu tidak akan bisa terjadi jika hati kita keras. Hati dan kepala yang keras, kedegilan, itu akan menghambat segala yang diturunkan Tuhan atas kita. Sebelum kita bermimpi untuk bisa mengalami ini semua, kita harus terlebih dahulu membuang jauh-jauh kedegilan dan kekerasan hati seperti yang memenuhi para orang Farisi pada masa itu.

Dalam Alkitab tertulis: "Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya." (Amsal 14:8). Kekerasan hati bisa sangat menipu. Itu bisa membuat kita tidak peka atau terjebak pada kebodohan sendiri. Oleh sebab itu kita kemudian diingatkan "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif" (Efesus 5:15). Firman Tuhan juga jelas berkata "Tetapi apabila pernah dikatakan: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman" (Ibrani 3:15). Hati merupakan pusat kontrol dari segalanya, dan segala kecemaran itu timbul dari hati yang tidak terjaga dengan baik. "sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan." (Markus 7:21-22). Hari ini juga, jika kita menginginkan pencurahan Roh Kudus dalam hidup kita dan melihat langsung manifestasiNya dalam gereja dimana anda bertumbuh, kita harus terlebih dahulu memeriksa kembali keadaan hati kita masing-masing dan memastikan hati kita masih lembut. Jika kita menemukan ada bagian-bagian yang keras dalam hati kita, bertobatlah dan lembutkan secepatnya. Tanpa itu semua kita tidak akan bisa mencapai apa-apa dan hanya akan mendukakan Kristus dan mengecewakanNya.

Kekerasan hati bisa membutakan dan membahayakan hidup kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, March 29, 2012

Menjadi Anak yang Berbakti (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
 (sambungan)

Firman Tuhan dengan tegas berkata bahwa anak dan cucu yang mau berbakti dan ingat untuk membalas budilah yang berkenan bagiNya. Tuhan tidak suka satupun dari manusia, apalagi anak-anakNya sendiri yang tidak tahu membalas budi kepada orang lain terutama terhadap orang tua mereka sendiri. Tuhan tidak pernah senang melihat satupun dari kita untuk menjadi orang-orang yang tidak tahu terimakasih. Tuhan sangat menganggap penting hal ini dan itu bisa kita lihat dalam salah satu dari 10 Perintah Allah yang turun lewat Musa. Ayatnya berbunyi: "Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu." (Ulangan 5:16). Bersikap hormat kepada orang tua akan membuat kita panjang umur dan tetap berada dalam keadaan baik. Hormati, itu bukan hanya mengacu pada hubungan disaat keduanya masih segar bugar, tetapi justru akan sangat terlihat dari bagaimana sikap kita menghadapi orang tua yang sudah sakit-sakitan atau kondisinya sudah sangat lemah karena dimakan usia.

Kita bisa melihat sebuah contoh indah akan hal ini kembali lewat kisah Rut. Setelah suaminya meninggal, sebenarnya ia boleh saja memilih untuk meninggalkan mertuanya (Naomi) dan kembali kepada bangsanya sendiri. Bahkan Naomi sendiri sudah merelakannya. Tetapi Rut memutuskan untuk tidak bersikap seperti itu. "Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku." (Rut 1:16). Rut memutuskan untuk tetap berbakti kepada mertuanya. Dalam melakukan itu ia bahkan rela masuk ke negeri dimana bangsanya tidaklah dipandang sama sekali. Hidup tidak mudah bagi Rut pada saat itu. Seperti yang kita lihat dalam renungan terdahulu, ia harus melakukan pekerjaan yang sangat rendah sebagai pemungut jelai, sebuah profesi yang dilakukan dengan membuntuti orang-orang yang menyabit gandum dan memunguti sisa-sisa serpihan yang terjatuh dari hasil sabitan mereka. Rut dengan rela melakukannya bukan saja buat menyambung hidupnya sendiri, tetapi ia melakukan itu untuk menunjukkan baktinya kepada mertuanya juga. "Maka ia memungut di ladang sampai petang; lalu ia mengirik yang dipungutnya itu, dan ada kira-kira seefa jelai banyaknya.Diangkatnyalah itu, lalu masuklah ia ke kota. Ketika mertuanya melihat apa yang dipungutnya itu, dan ketika dikeluarkannya dan diberikannya kepada mertuanya sisa yang ada setelah kenyang itu." (2:17-18). Satu efa itu beratnya kira-kira 10 kg. Itu hasil jerih payahnya bekerja seharian, dan itu dibawanya kepada Naomi. Begitulah besarnya bakti yang ditunjukkan Rut, sehingga tidaklah heran apabila Tuhan berkenan kepadanya.

Ayah, ibu, nenek, kakek maupun mertua, mereka semua adalah orang tua kita yang harusnya kita kasihi dan kita peduli dengan baik.  Mereka berjuang dengan segala daya upaya untuk membesarkan dan menyekolahkan kita. Jika kita sudah bekerja mapan hari ini, semua itu tidaklah terlepas dari usaha orang tua kita juga. Mertua? Bukankah pasangan kita pun ada karena jerih payah mereka juga? Sudahkah kita membalas budi mereka dan mengucapkan terimakasih kepada mereka? Jangan tunda lagi, nyatakanlah bahwa anda mengasihi mereka dan usahakanlah agar mereka bisa merasa bahagia di hari-hari akhir mereka ditengah anak cucu yang mereka sayangi. Dulu kita masih belum bisa apa-apa dan orang tua kitalah yang berjuang untuk masa depan kita, sekarang saatnya bagi kita untuk membalas jasa mereka dan membuat mereka bersyukur, bangga dan berbahagia di hari tua mereka karena memiliki anak cucu dan keluarga yang mengasihi mereka.

Tuhan berkenan kepada anak-anak yang berbakti dan tahu membalas budi kepada orangtuanya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, March 28, 2012

Menjadi Anak yang Berbakti (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Timotius 5:3
===================
"Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah."

menjadi anak yang berbaktiHari ini saya bertemu dengan seorang pria yang masih bersetelan resmi mendorong kursi roda dimana ada ibu berusia lanjut duduk di dalamnya. Pemandangan seperti ini sudah semakin langka, karena rata-rata orang akan merasa malu melakukan itu, apalagi eksekutif muda yang sudah sukses dalam karirnya. Ia terus bercakap-cakap dengan ibunya sepanjang jalan di dalam mal. Saya kemudian kebetulan bertemu lagi ketika memberi roti, dan disana saya berkesempatan mengungkapkan kekaguman saya. "Saya sayang kepada ibu saya. Dahulu dia membesarkan saya hingga saya berhasil. Apapun yang saya buat sekarang tidak akan pernah sanggup menggantikan segala kebaikan dan pengorbanannya kepada saya dahulu." katanya sambil tersenyum. Saya pun menyalam sang ibu dan mengatakan bahwa ia beruntung memiliki anak yang berbakti serta sayang kepadanya.

Pemandangan mengharukan ini menjadi sesuatu yang terasa sangat mencerahkan bagi saya. Semakin lama orang yang peduli terhadap orang tuanya semakin sedikit. Mereka merasa terlalu sibuk untuk merawat orang tuanya, malah tidak jarang mereka merasa risih atau jijik ketika harus merawat orang tua sendiri. Mereka juga akan merasa malu dilihat orang "menenteng" orang tuanya. Takut diejek, ditertawakan dan sebagainya. Tidak tertutup kemungkinan pula bahwa mereka bertindak demikian akibat sikap pasangan mereka. Mereka tidak mau direpotkan oleh kehadiran orang tua yang sakit-sakitan di rumahnya. Betapa miris melihat nasib para orang tua yang tidak dikehendaki anaknya lagi dan dibuang begitu saja. Tidak jarang saya mendengar para orang tua bernasib malang seperti ini yang berkata lebih ingin mati saja daripada menjadi masalah bagi hidup anak-anaknya. Saya bisa merasakan perihnya perasaan mereka tidak diinginkan lagi oleh anak-anaknya dan dianggap merepotkan. Panti jompo pun akhirnya menjadi tempat "terakhir" bagi mereka untuk menghabiskan sisa hidupnya, sendirian. Tidak ada lagi anak atau cucu yang menyambangi, tidak ada lagi yang peduli. Semakin lama semakin banyak orang yang berusia lebih muda  yang tidak lagi merasa perlu untuk bersikap hormat kepada orang yang lebih tua. Karena itulah melihat orang-orang yang masih menyayangi orang tuanya yang sudah lemah untuk berjalan-jalan santai di mal seperti pria tadi terasa sungguh mengharukan.  Tidak saja itu terasa indah bagi kita, tapi saya percaya Tuhan pun akan terharu dan sangat menghargai itu.

Alkitab mencatat dengan jelas mengenai hal ini. "Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah." (1 Timotius 5:3). Dengan sangat jelas ayat ini menyebutkan bahwa anak cuculah yang seharusnya menjadi orang pertama yang wajib memperhatikan nasib para orang yang sudah lanjut usianya. Dikatakan belajar berbakti dan belajar membalas budi orang tua dan nenek serta kakek mereka. Dan dengan sangat jelas pula dikatakan bahwa itulah yang berkenan bagi Tuhan. Disaat orang tua sudah lemah dan tidak bisa lagi berbuat banyak dikarenakan usia mereka yang sudah lanjut, itulah saatnya bagi para anak dan cucu untuk berbakti dan membalas budi mereka yang dahulu berjuang habis-habisan dalam membesarkan anak-anaknya dengan segenap kemampuan yang ada pada diri mereka. Betapa menyedihkan kalau melihat orang-orang yang merasa malu atau risih untuk sekedar bertemu dengan orang tua mereka. Itu saja sudah terasa risih, apalagi jika harus mengurus dan merawat mereka. Begitu teganya mereka lupa akan perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan orang tua disaat mereka masih kecil. Disaat dulu tidak bisa apa-apa, orang tua berjuang habis-habisan agar anak-anaknya mendapat yang terbaik, tetapi di saat kini orang tua yang tidak bisa apa-apa lagi, bukannya membalas budi tetapi anak-anak yang tidak berbakti ini justru meninggalkan orang tuanya. Sikap kejam dan tidak tahu terimakasih alias durhaka seperti ini tidak akan pernah mendapat tempat di mata Tuhan.

(bersambung)

Tuesday, March 27, 2012

Rajin Ala Rut

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Rut 2:7
====================
"Tadi ia berkata: Izinkanlah kiranya aku memungut dan mengumpulkan jelai dari antara berkas-berkas jelai ini di belakang penyabit-penyabit. Begitulah ia datang dan terus sibuk dari pagi sampai sekarang dan seketikapun ia tidak berhenti."

rajin ala rutMenyalahkan keadaan adalah hal yang paling mudah ketika kita menghadapi suatu kendala. Ada banyak orang yang saya kenal lebih memilih untuk duduk bermalas-malasan di rumah karena mereka beranggapan adalah percuma bagi mereka untuk melamar. "Ah, buat apa? Toh orang-orang lewat jalan belakang juga yang diterima.." kata salah seorangnya dengan ringan. Mungkin ya, mungkin tidak. Tapi dari mana dia bisa menyimpulkan seperti itu sebelum mencoba terlebih dahulu? Faktanya saya pun mengenal orang-orang gigih yang tidak tergantung oleh situasi, keadaan atau keterbatasan untuk terus berjuang tanpa kenal lelah. Mereka tidak putus asa, mereka tidak mengeluh, dan saya tidak heran jika mereka hari ini berhasil menjadi orang-orang yang sukses di bidangnya masing-masing. Kita bisa malas, kita bisa rajin. Kita bisa hidup penuh keluhan atau mengisinya dengan kegigihan tanpa pernah putus asa. Kita bisa membiarkan pikiran negatif bercokol di kepala kita atau kita bisa menyerahkan ke dalam tangan Tuhan dan berjalan bersamaNya. Semua itu adalah pilihan kita, dan ingatlah bahwa pilihan apapun yang kita ambil akan mempengaruhi siapa diri kita kelak. 

Kita bisa belajar mengenai keuletan yang tidak kenal lelah lewat diri Rut. Rut merupakan wanita yang tidak suka mengeluhkan nasib. Ia pun sangat serius dan rajin dalam bekerja. Kurang apa masalah yang ia alami? Pertama ia kehilangan suami, lalu ia memilih untuk mengikuti mertuanya Naomi dan masuk ke daerah dimana sukunya tidak diterima. Itu sangat sulit. Tapi lihatlah betapa luar biasa pribadinya. Ia tidak sungkan atau malu melakukan pekerjaannya, meski apa yang ia kerjakan bukanlah sesuatu yang bagi banyak orang membanggakan. Profesinya hanyalah sebagai seorang pemungut jelai. Seperti apa yang difirmankan Tuhan lewat Musa dalam Imamat 19:9-10, hasil panen yang terjatuh di tanah tidak boleh diambil, tetapi harus dibiarkan agar bisa dipungut oleh orang-orang miskin. Maka para orang miskin pemungut jelai ini biasanya akan mengikuti penyabit atau pemanen dari belakang untuk memunguti sisa-sisa tuaian yang terjatuh. Sebagai wanita yang umurnya lebih muda dari sang mertua, Naomi, Rut menyadari bahwa dirinyalah yang harus bekerja. Dan itu ia lakukan dengan sepenuh hati, meski pekerjaannya terbilang paling rendah pada saat itu.

Darimana kita tahu bahwa Rut merupakan seorang pekerja keras dan bukan malas-malasan? Perhatikan ketika Boas terheran-heran melihat Rut yang sedang sibuk memunguti jelai di belakang penyabit. Ketika Boas bertanya tentang Rut, bujang pengawas atau mandor menjelaskan siapa Rut itu. Ia pun kemudian bercerita: "Tadi ia berkata: Izinkanlah kiranya aku memungut dan mengumpulkan jelai dari antara berkas-berkas jelai ini di belakang penyabit-penyabit. Begitulah ia datang dan terus sibuk dari pagi sampai sekarang dan seketikapun ia tidak berhenti." (Rut 2:7). Lihat bagaimana serius dan tekunnya Rut bekerja. Dikatakan disana bahwa ia terus sibuk sejak pagi tanpa berhenti sedikitpun. Ketekunannya ini menimbulkan rasa simpati di hati Boas, sehingga ia pun mendapat belas kasihan dari Boas. "Sesudah itu berkatalah Boas kepada Rut: "Dengarlah dahulu, anakku! Tidak usah engkau pergi memungut jelai ke ladang lain dan tidak usah juga engkau pergi dari sini, tetapi tetaplah dekat pengerja-pengerja perempuan. Lihat saja ke ladang yang sedang disabit orang itu. Ikutilah perempuan-perempuan itu dari belakang. Sebab aku telah memesankan kepada pengerja-pengerja lelaki jangan mengganggu engkau. Jika engkau haus, pergilah ke tempayan-tempayan dan minumlah air yang dicedok oleh pengerja-pengerja itu." (ay 8-9). Meski ia menghadapi kenyataan berat dalam hidupnya, ia memilih untuk tidak mengeluh menyesali nasib. Pekerjaannya cukup berat, tapi lihatlah ternyata Rut dengan senang hati melakukannya dengan giat dan serius. Bahkan Rut terus melakukan pekerjaan selama musim panen jelai dan panen gandum. "Demikianlah Rut tetap dekat pada pengerja-pengerja perempuan Boas untuk memungut, sampai musim menuai jelai dan musim menuai gandum telah berakhir. Dan selama itu ia tinggal pada mertuanya." (ay 23).

Bagaimana dengan etos kerja kita hari ini? Apakah kita sudah memberikan performa yang terbaik atau kita masih terus berhitung untung rugi dalam bekerja? Apakah kita sudah menunjukkan semangat dan kerajinan maksimal atau masih ala kadarnya, kadang naik kadang turun? Kemalasan tidaklah mendapat tempat di mata Tuhan. Jika Boas saja terkesan dengan semangat dan giatnya Rut bekerja, Tuhan pun tentu demikian. Lihatlah dalam janji berkat dalam Ulangan 28:1-14, kita bisa melihat bahwa Tuhan lebih suka untuk memberkati pekerjaan kita ketimbang memberikan dengan instan. Tuhan menyukai usaha yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh dan Dia akan menaruh berkatNya disana, lewat ketekunan kita. "Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang. Diberkatilah buah kandunganmu, hasil bumimu dan hasil ternakmu, yakni anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu. Diberkatilah bakulmu dan tempat adonanmu." (Ulangan 28:3-5). Usaha serius dan sungguh-sungguh akan selalu berbuah manis.

Tuhan sudah mengingatkan kita untuk bekerja dengan sebaik-baiknya selagi kesempatan itu masih ada. "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi." (Pengkotbah 9:10). Ini sebuah seruan yang penting untuk kita ingat, karena jika kita menyia-nyiakan masa produktif kita, maka kita tidak akan menuai apapun di masa depan. Dalam Amsal kita bisa melihat ayat berikut: "Pada musim dingin si pemalas tidak membajak; jikalau ia mencari pada musim menuai, maka tidak ada apa-apa." (Amsal 20:4). Tidak ada jalan lain, jika kita ingin sukses menerima berkat Tuhan, kita harus bekerja dengan rajin dan giat. Bahkan dikatakan "..jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." (2 Tesalonika 3:10).

Berhentilah buang-buang waktu dengan terus bermalas-malasan dan tidak bekerja. Jangan pula buang waktu untuk terus sibuk melakukan hal yang tidak berguna. Tuhan tidak menyukai sikap seperti itu. Etos kerja, kerajinan dan giatnya Rut bekerja ternyata membuahkan hasil luar biasa. Dan seperti itulah bagi kita pula. Tuhan sanggup memberikan semuanya secara instan, tetapi hal itu sangatlah tidak mendidik. Tuhan lebih memilih untuk memberkati pekerjaan kita. Karena itu giatlah bekerja. "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk  manusia." (Kolose 3:23). Ini saatnya bagi kita untuk meledanani sikap diri Rut yang bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa memandang tinggi rendahnya pekerjaan yang ia lakukan. Tuhan tetap sanggup memakai pekerjaan serendah apapun untuk diubahkan menjadi berkat luar biasa apabila kita melakukannya dengan sepenuh hati untuk kemuliaanNya.

Kerajinan dan ketekunan akan selalu membawa hasil positif

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, March 26, 2012

Bahagia Bersama Firman Tuhan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 11:28
=====================
"Tetapi Ia berkata: "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."

bahagia bersama firman TuhanHidup bersama firman Tuhan itu luar biasa. Saya pernah hidup diluar firman Tuhan, tetapi sejak sekitar 10 tahun yang lalu saya bertobat dan mulai mengenal firman Tuhan satu persatu. Karenanya saya bisa membandingkan langsung perbedaan antara hidup tanpa dan dengan firman Tuhan. Firman Tuhan itu hidup dan punya kuasa. Itu sangat berguna bagi saya dalam menghadapi segala sesuatu dalam menjalani setiap langkah di dunia yang sulit ini. Dalam menghadapi masalah, ketika memerlukan sebuah jawaban, ketika tidak tahu bagaimana harus bertindak, dalam membantu orang lain, dan lain-lain, saya melihat betapa firman-firman Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab sungguh membantu. Betapa lengkapnya Tuhan memberi panduan hidup lewat segala yang Dia firmankan di dalam Alkitab. Selalu saja ada ayat yang sangat mengena pada saat-saat dibutuhkan, dan itu sangat membantu dalam segala aspek kehidupan saya. Saya belajar untuk terus bersyukur baik dalam suka maupun duka, saya belajar untuk tahu mana yang benar dan salah, saya dilatih menjadi lebih sabar, lebih tenang dan lebih kuat dalam menghadapi problema kehidupan. Sebagai manusia ada kalanya saya pun pernah merasa kuatir, tetapi betapa firman Tuhan sanggup meneguhkan, memberi kekuatan bahkan melegakan, sehingga saya tidak perlu berlarut-larut tenggelam dalam suasana kekuatiran yang sama sekali tidak membawa manfaat.

Dalam renungan terdahulu kita sudah melihat bahwa firman Tuhan itu meneguhkan. Dalam banyak kesempatan dalam Mazmur, Penulisnya mengungkapkan hubungannya yang erat dengan Tuhan dan menyatakan bagaimana firman Tuhan itu sanggup meneguhkan kita terutama yang sedang menghadapi situasi sulit. Dalam Mazmur 119 diuraikan panjang lebar sebanyak 176 ayat tentang bahagianya orang yang hidup menurut Taurat Tuhan. Bahkan pembuka kitab Mazmur pun menyatakan jelas akan hal ini. "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3). Selanjutnya mari kita lihat ayat lainnya yang menjadi pedoman bagi kita akan hal ini lewat Yesus sendiri. "Tetapi Ia berkata: "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya." (Lukas 1:28). Hanya rajin mendengar saja belumlah cukup untuk mengalami kuasa firman Tuhan secara nyata. Mendengar harus dibarengi dengan memelihara, kata Yesus. Itulah yang membuat kita berbahagia tanpa tergantung situasi dan kondisi sehari-hari. Memelihara berarti menjaga agar firman tetap diam dan tumbuh di dalam kita dan menjadi dasar pijakan bagi kita dalam melakukan segala sesuatu.

Jika hati kita berbatu-batu dan keras, firman tidak akan bisa tumbuh dengan baik. Sebaliknya hati yang lembut akan membuat firman-firman Allah yang kita baca jatuh pada "tanah yang baik" dan disanalah firman itu bisa bertumbuh dengan subur di dalam diri kita. Bagi kita yang mendengarkan firman Allah dan mau memeliharanya untuk tumbuh subur di dalam diri kita, firman-firman itu akan bekerja membantu kita dalam menyikapi berbagai persoalan. Firman Tuhan yang tumbuh itu bekerja untuk menyelidiki hati kita, melindungi diri kita, membantu kita dalam menyelesaikan masalah dan menguatkan juga menopang kita disaat lemah. Firman Tuhan mampu menjadi solusi yang sungguh luar biasa selama kita mau mendengar dan memeliharanya, dan karenanya kita berbahagia tanpa tergantung oleh ada tidaknya masalah atau situasi di sekeliling kita.

Paulus menyampaikan bahwa firman Tuhan adalah pedang Roh, satu dari Perlengkapan Rohani yang harus kita miliki apabila kita mau bisa tetap aman dalam hidup ini. (Efesus 6:17). Ini adalah salah satu dari perlengkapan senjata Allah yang akan sangat berguna untuk melawan segala roh-roh jahat di udara. (ay 12-13). Lebih lanjut dalam surat Ibrani, dikatakan demikian: "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita." (Ibrani 4:12). Firman Tuhan bagaikan pedang bermata dua yang sangat tajam yang bisa menghujam kedalam, untuk memperbaiki hati kita dan menusuk keluar memberkati orang-orang lain. Mengetahui dan memelihara firman Tuhan akan membantu kita untuk menjaga status kita sebagai ciptaan baru dan agar bisa terus berubah ke arah yang lebih baik.

Mungkin bagi sebagian orang tidaklah mudah untuk mau mendengar apalagi memelihara firman Tuhan dalam hidup. Banyak orang yang menganggap aturan-aturan Tuhan menghalangi mereka untuk menikmati kesenangan atau bahkan dianggap menutup kesempatan untuk merasakan bahagia atas apa yang ditawarkan dunia. Tapi ketahuilah bahwa dengan membuka diri dan hati kita untuk menerima firman dan kemudian menjadi pelaku-pelaku secara nyata, justru disanalah hidup kita akan menjadi bahagia. Lembutkan hati dan terimalah firman Tuhan, lalu peliharalah agar terus tumbuh subur. Tuhan mengingatkan dengan jelas: "Selanjutnya firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, perhatikanlah segala perkataan-Ku yang akan Kufirmankan kepadamu dan berikanlah telingamu kepadanya." (Yehezkiel 3:10). Jangan biarkan firman-firman Tuhan jatuh sia-sia di bagian tanah yang keras dan berbatu, karena yang rugi adalah kita sendiri. Segala yang diberikan Tuhan lewat firmanNya sungguh besar manfaatnya, dan itu pun tertulis di dalam Alkitab. "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik." (2 Timotius 3:16-17). Ada pilihan yang diberikan pada kita: "berkat, apabila kamu mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal." (Ulangan 11:27-28). Rajinlah membaca dan merenungkan Alkitab, dan jika berada dalam ibadah raya, dengarkan kotbah dengan sungguh-sungguh. Ada berkat yang siap Dia curahkan, ada perlindungan dan keselamatan bagi setiap orang yang mau mendengarkan, ada jawaban atas setiap persoalan hidup, ada solusi atas segala permasalahan kita. Mulailah memelihara dan hidup dengan mengaplikasikan firman-firman Tuhan itu secara nyata dalam segala perbuatan dan pekerjaan kita, dan alamilah hidup yang berbahagia bersama firman Tuhan.

Kebahagiaan yang tidak tergantung situasi dan kondisi disediakan Tuhan bagi orang-orang yang mau mendengar dan memelihara perintahNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, March 25, 2012

Firman Tuhan Meneguhkan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 119:28
======================
"Jiwaku menangis karena duka hati, teguhkanlah aku sesuai dengan firman-Mu"

firman Tuhan meneguhkanSeorang teman tengah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Ia mengalami kecelakaan sehingga dua gigi depannya patah disamping beberapa luka dan memar di sebagian tubuh. Tidak lama setelah itu ia masuk rumah sakit karena penyakit maagnya kambuh dan harus diopname lebih dari seminggu. Tidaklah mudah baginya untuk menghadapi ini semua sendirian, apalagi ia seorang wanita. Membayangkan dirinya sebagai wanita tanpa gigi depan tentu menjatuhkan percaya dirinya. Mendengar itu, saya pun kemudian meneleponnya beberapa kali untuk menguatkan dirinya. Kepadanya saya menyampaikan firman-firman Tuhan secara sederhana agar ia bisa lebih tegar dan kembali bangkit. Puji Tuhan hasilnya ternyata cepat terasa. Dalam waktu singkat ia pulih dan kembali bangkit. Tadinya ia tidak mau keluar kamar karena malu, sekarang ia sudah beraktivitas kembali seperti biasa. Firman Tuhan terbukti mampu meneguhkannya.

Daud adalah orang yang sudah merasakan jatuh bangunnya hidup sejak kecil. Meski ada banyak masalah yang ia hadapi sepanjang hidupnya, kita tahu bahwa semua itu tidak mempengaruhi hubungannya dengan Tuhan. Berulang kali kita melihat bagaimana ia masih tetap mampu bersikap positif bahkan memuji Tuhan justru ketika ia sedang berada ditengah-tengah situasi sulit. Ada waktu-waktu dimana ia lemah, seperti kita ia pun pernah jatuh, namun Daud tetap bisa memperbaiki semuanya dan kembali berjalan dengan benar. Dalam pembuka kitab Mazmur ia menulis: "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3).

Dalam Mazmur 119 kita bisa kembali menyaksikan pesan yang sama, kali ini diuraikan panjang lebar mulai dari pasal 1 sampai 176. Judul perikopnya adalah "bahagianya orang yang hidup menurut Taurat Tuhan." Ayat-ayat pada kitab Mazmur 119 sangat mampu meneguhkan kita, terlebih ketika kita menghadapi situasi sulit yang cepat atau lambat bisa membuat kita putus asa dan kehilangan harapan. Ketika jiwa kita "melekat pada debu", kita dihidupkan kembali lewat firman Tuhan (Mazmur 119:25). Ketika jiwa kita berduka, kita diteguhkan lewat firman Tuhan (ay 28). Ketika jalan dusta mengancam kita, kita bisa mengikuti kebenaran firmanNya (ay 29-30). Dan hati kita pun bisa menjadi lapang dan lega, dibebaskan dari segala kesesakan, jika kita menuruti firman Tuhan. (ay 32). Firman Tuhan punya kuasa, dan sanggup meneguhkan kita.

Pengharapan ada dalam Kristus. Roh Kudus akan selalu membimbing, dan kekuatan serta hikmat ada dari Tuhan, yang salah satunya kita peroleh lewat firman-firmanNya yang meneguhkan. Firman Tuhan selalu sanggup memberi solusi atau jawaban atas setiap pertanyaan kita, memberi jalan keluar yang terbaik. Firman Tuhan pun sanggup memberi kekuatan dan kembali membangkitkan semangat kita. Dari firman-firman yang hidup itu kita tahu bahwa kita tidak berjalan sendirian, sebab Tuhan selalu siap menopang kita. Bahkan kalaupun kita harus melewati lembah yang paling gelap sekalipun Tuhan tetap selalu ada bersama kita, melindungi dan menghibur kita. "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Mazmur 23:4).

Di samping itu jangan lupa bahwa disaat kita mampu, ada banyak saudara-saudara kita yang masih sangat membutuhkan uluran tangan. Karena itu, ingatlah selalu bahwa kita bisa menjadi representasi kasih Yesus kepada sesama kita. Apapun yang kita buat untuk mereka, walau sekecil apapun, artinya kita melakukannya untuk Yesus (Matius 25:40). Dan ingat pula bahwa semua itu merupakan korban yang berkenan di hadapan Bapa. "Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah." (Ibrani 13:16).

Ada ratusan bahkan jutaan orang yang saat ini tengah bergumul dengan kesusahan dan penderitaan. Ada begitu banyak orang yang belum mengenal Yesus, masih hidup dalam ketidakpastian tanpa adanya secercah pengharapan. Mungkin bagi kita juga, ada saat-saat dimana kita bergumul dengan masalah dan kehilangan pengharapan. Tapi lihatlah ada begitu banyak pesan Tuhan dalam firman-firmanNya yang meneguhkan, dan mengingatkan kita bahwa kita tidak perlu takut jika Yesus ada beserta kita. Dalam menghadapi beban masalah seberat apapun, berpeganglah pada janji-janji Tuhan. Ada pengharapan, bimbingan dan petunjuk yang mampu menolong dalam setiap saat, dan semuanya ada dalam firman Tuhan. Anda butuh diteguhkan? Kembalilah kepada firman Tuhan sekarang juga.

Firman Tuhan mampu menyegarkan jiwa dan mengembalikan kekuatan serta keteguhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, March 24, 2012

Demi Semangkuk Kacang Merah

webmaster | 8:00:00 AM | 1 Comment so far
Ayat bacaan: Kejadian 25:32
=====================
"Sahut Esau: "Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?"

semangkuk kacang merahSeorang anak kecil yang belum mengerti nilai uang memegang 10.000 rupiah di tangannya. Kakaknya yang menginginkan uang itu mencari siasat bagaimana mendapatkan uang itu. Ia pun kemudian mengeluarkan uang logam dan berkata: "dik, ini lebih berat dan berkilau. Tentu ini lebih besar ketimbang selembar kertas kecil seperti itu. Ini buat adik, tapi lembaran itu buat kakak saja ya?" Karena tidak mengerti, si adik pun percaya dan mengira uang logam seratus rupiah itu lebih berharga ketimbang uang kertas 10.000 di tangannya. Ia pun tertipu dan malah tertawa bangga, berpikir bahwa ia berhasil memperoleh sesuatu yang menguntungkan, padahal ia baru saja ditipu kakaknya. Kita bisa menertawakan si anak kecil itu, tetapi dalam hidup ini seringkali kita pun tertipu akan hal yang sama dalam bentuk atau wujud yang berbeda. Ada banyak orang yang tergiur dan rela menggadaikan imannya demi kepentingan-kepentingan yang sifatnya duniawi atau kenikmatan sesaat. Apakah untuk kepentingan jabatan, karena takut atau karena jatuh cinta, orang bisa dengan mudah berpaling meninggalkan Tuhan dan segala hak sebagai anak Allah dan ahli waris Kerajaan yang sudah diberikan kepadanya. Hal seperti ini terjadi di sekitar kita sehari-hari. Sebuah kisah antara Esau dan  Yakub menggambarkan hal ini secara simbolis lewat semangkuk kacang merah.

Dikisahkan pada suatu kali Esau pulang berburu dan merasa sangat lelah dan lapar. Ia mencium bau makanan yang lezat yang tengah dimasak Yakub. Tergiur akan wanginya, Esau pun kemudian meminta sedikit kacang merah itu. Ternyata Yakub menolak memberikannya. Yakub hanya akan memberikan semangkuk kacang merah itu jika Esau menjual hak kesulungannya. "Tetapi kata Yakub: "Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu."(Kejadian 25:31). Lihatlah betapa mudahnya Esau mengambil keputusan. Tanpa pikir panjang ia menjawab "Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?" (ay 32). Begitu mudah bagi Esau untuk menggadaikan hak kesulungannya, bahkan dengan gampangnya disertai sumpah. (ay 33). Esau memandang hak kesulungan yang ia miliki sebagai sesuatu yang ringan, rendah atau tak berharga  sehingga rela menukarkannya hanya demi semangkuk kacang merah. Apa yang ditunjukkan oleh Esau adalah bagaimana ia memandang rendah berkat dan anugerah Tuhan. Apa yang dijanjikan Tuhan kepada kakeknya Abraham tidaklah main-main. Tapi ia rela menggadaikan itu semua demi kesenangan sesaat. "Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu." (ay 34). Esau memilih untuk menyia-nyiakan kasih karunia Tuhan yang berlaku kekal dan dengan mudah menggadaikannya, demi semangkuk kacang merah yang justru tidak lama bisa dirasakan nikmatnya.

Hak kesulungan adalah sebuah hak istimewa yang dimiliki oleh anak sulung untuk memperoleh warisan. Kita tentu tahu seperti apa status anak sulung itu dalam keluarga. Tidak semua orang bisa dengan mudah memperoleh hak kesulungan. Jadi betapa ironisnya apabila ada orang yang sudah memiliki hak ini namun rela menjualnya demi sesuatu yang sama sekali tidak sebanding dengan apa yang diberikan lewat kepemilikan hak kesulungan ini. Sebagai orang yang percaya kepada Kristus sang Juru Selamat dan telah lahir baru, kita menyandang status sebagai anak-anak Allah. Alkitab berkata "Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah." (Roma 8:14). Roh Allah ini akan bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita ini adalah anak-anak Allah. (ay 16). Kemudian, dengan menyandang anak-anak Allah kita menjadi ahli waris Kerajaan pula. "Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia." (ay 17). Ini adalah kasih karunia yang begitu istimewa yang seharusnya menjadi sebuah kehormatan besar bagi kita yang sudah menerimanya. Sangatlah keterlaluan kalau anugerah sebesar itu justru kita anggap remeh.

Sebagai anak-anak Tuhan adalah penting bagi kita untuk menjaga diri kita agar tidak bertindak seperti Esau, meremehkan kasih karunia Tuhan dan sanggup menukarkannya dengan kenikmatan yang ditawarkan dunia dalam berbagai bentuk. Kelak Penulis Ibrani kembali mengangkat kisah ini. "Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan." (Ibrani 12:16). Bagi orang yang rela menjual hak kesulungannya, inilah yang terjadi: "Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata." (ay 17). Faktanya, saya sudah menyaksikan sendiri banyak contoh nyata akan hal ini dari orang-orang yang saya kenal. Karena itu waspadalah terhadap segala godaan duniawi yang bisa membuat kita melakukan kesalahan fatal menggadaikan hak kesulungan kita. Sebab bagi orang yang menjual hak kesulungannya, tidak peduli sebanyak apapun mereka berseru-seru kepada Tuhan, beginilah akhirnya: "Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:23). Jangan sampai kita memutuskan untuk melakukan tindakan bodoh yang akan mengakibatkan kita ditolak dan dihapus dari daftar ahli waris Kerajaan Allah.

Penulis Ibrani mengingatkan janganlah kita sampai terlambat untuk memperbaiki kesalahan kita, dan akibatnya sangatlah fatal. Sesal kemudian tidak lagi berguna, tidak peduli sederas apa urai air mata penyesalan kita nanti sekalipun. Ketika kita saat ini masih punya kesempatan, jagalah iman kita dan pertahankan hak kesulungan yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita dengan serius. Bersyukurlah ketika saat ini kita diberi hak yang sungguh istimewa dan terhormat, jangan gadaikan hak kesulungan dengan janji dan berkat berlimpah Tuhan di dalamnya termasuk keselamatan dan mewarisi Kerajaan Allah dengan kenikmatan dan kepentingan duniawi yang sesaat. Hak kesulungan sudah kita peroleh sebagai anak-anak Allah. Dia sudah mengangkat kita sebagai ahli waris yang akan menerima segala janji-janji Allah. Jangan sepelekan apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Jika di antara teman-teman ada yang sedang menghadapi dilema seperti ini atau mungkin malah sudah terlanjur melakukannya, berbaliklah segera, sebelum semuanya terlambat. "Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat." (Wahyu 2:5). Hak kesulungan bukanlah sesuatu yang sepele dan main-main, karenanya peganglah dengan baik dan jangan gadaikan dengan alasan apapun.

Jangan gadaikan kehormatan atas hak kesulungan yang telah dianugerahkan Tuhan dengan kesenangan fana sesaat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, March 23, 2012

Pengampunan Itu Memerdekakan Iman

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Markus 11:25
======================
"Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu."

pengampunan memerdekakan imanSaya pernah bertemu dengan seorang kakek tua yang dahulu pernah berjuang membela tanah air pada masa sebelum kemerdekaan. Ia bercerita betapa sakitnya menjadi bangsa terjajah pada waktu itu. "Kita tidak bisa apa-apa, hidup pada masa itu penuh ketakutan.." katanya. Ia pun sempat menceritakan bahwa saudari perempuannya diambil oleh tentara Jepang dan sejak saat itu tidak pernah ia dengar lagi beritanya. Berada di bawah penjajahan membuat kita terbatas dalam bergerak atau memperoleh sesuatu. Nyatanya hari ini di alam yang katanya merdeka pun kita masih sering terjajah oleh banyak hal. Dalam hal iman pun sadar atau tidak seringkali kita belum merdeka. Padahal Yesus sudah memerdekakan kita dari belenggu dosa ribuan tahun lalu. Jangan dulu menyalahkan orang lain, karena bisa jadi kita justru terjajah oleh keputusan-keputusan kita sendiri yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Itu menghalangi berkat dan jawaban Tuhan turun atas kita, membuat jarak kita terpisah begitu jauh dari Tuhan.

Lihatlah apa yang dikatakan dalam kitab Yesaya berikut. "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:1-2). Dosa-dosa yang kita biarkan terus bercokol di dalam diri kita bisa membuat doa-doa kita terhalang untuk mendapatkan jawaban. Itu merupakan penghalang hubungan kita dengan Tuhan. Perlakuan suami terhadap istri yang tidak bijaksana pun bisa menghalangi kita menjadi orang-orang yang merdeka secara iman. "Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang." (1 Petrus 3:7). Selain itu, ada satu lagi penghambat doa-doa kita didengar Tuhan, yaitu ketika kita masih menyimpan dendam dan belum bisa memberikan pengampunan terhadap seseorang yang pernah melukai perasaan kita atau merugikan hidup kita.

Banyak orang lupa betapa eratnya hubungan antara iman dan pengampunan. Yesus pernah mengajarkan mengenai hubungan ini ketika memberi nasihat tentang doa (Markus 11:20-26). Syarat yang diberikan Yesus agar kita bisa memiliki iman yang sanggup mencampakkan gunung ke laut adalah keteguhan hati kita. Tidak bimbang, tetap percaya, maka hal itu akan terjadi. Demikian kata Yesus dalam ayat 23. Kemudian Yesus melanjutkan lewat ayat yang sudah begitu kita kenal dengan baik. "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (ay 24). Iman yang kuat akan membuat kita bisa percaya penuh kepada Tuhan. Tapi kemudian lihatlah ayat berikutnya. "Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (ay 25). Bahkan kemudian menekankan sekali lagi akan hal sebaliknya "Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (ay 26). Rangkaian ayat ini menunjukkan sebuah kaitan yang sangat erat antara iman dan pengampunan. Sebelum kita berdoa, kita wajib terlebih dahulu mengampuni orang-orang yang masih mengganjal dalam hati kita. Artinya, doa hanya akan berakhir sia-sia jika kita belum melepaskan sakit hati atau dendam yang masih bercokol di dalam hati kita dan memberi pengampunan.

Tentu saja bukan kebetulan jika Yesus menopang gabungan kedua kalimat itu. Tuhan Yesus ingin kita sadar bahwa mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita adalah dasar utama untuk menerima sesuatu dari Tuhan. Tuhan sendiri sudah menunjukkan sikap tersebut terlebih dahulu. Dia selalu siap mengampuni kesalahan kita sebesar apapun. Tapi lihatlah bahwa itu bisa terjadi apabila kita mau mengampuni kesalahan orang. "Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga." (Matius 6:14). Pesan yang sangat penting dikemukakan Yesus lewat sandingan ayat antara menerima apa yang kita doakan dengan memberikan pengampunan kepada orang-orang yang sudah menyakiti kita: Jangan berharap doa kita didengar jika kita masih menyimpan sakit hati dan dendam terhadap orang lain. Dengan kata lain, kita tidak akan dapat memperoleh pengabulan doa dan dendam dalam hati kita sekaligus.

Tuhan selalu memberi kesempatan bagi kita untuk bertobat. Dia memberikan pengampunan yang tidak terbatas. Sudah seharusnya kita pun berlaku sama terhadap sesama kita. Menyimpan dendam tidak akan membawa manfaat selain akan menimbulkan berbagai penyakit dan membuat kita tidak bisa melangkah maju. Selain itu, terus mendendam dan tidak mau mengampuni pun akan membuat doa-doa kita terhalang, membelenggu iman kita sehingga tidak bisa tumbuh bahkan menghilangkan kesempatan kita untuk menerima pengampunan dari Tuhan. Sungguh perihal pengampunan ini memegang peranan penting bagi pertumbuhan iman kita dan sangat menentukan terhadap apakah doa kita didengar Tuhan atau tidak. Saya tahu bahwa itu bisa sangat sulit, apalagi jika kita mengandalkan kekuatan diri sendiri untuk memberikan pengampunan. Orang bisa menyakiti kita begitu rupa sehingga hidup kita seolah berakhir sampai disitu, apalagi jika yang dilakukan menyisakan trauma dan penderitaan yang harus kita pikul untuk waktu yang lama. Tapi biar bagaimanapun sudah menjadi perintah Tuhan bagi kita untuk bisa mengampuni, dan karena itulah kita wajib mentaatinya. Kekuatan kita mungkin terbatas, tapi serahkanlah kepada Tuhan dan mintalah Roh Kudus untuk menguatkan diri kita hingga membuat kita sanggup memberikan pengampunan. Diri kita sendiri mungkin tidak sanggup, tapi Roh Kudus akan memampukan kita untuk melakukan sesuatu diluar batas kemampuan kita.

Sesungguhnya Tuhan tidak sabar untuk menyatakan kasihNya kepada kita. Dia tidak sabar untuk menjawab doa-doa kita yang tetap menanti-nantikan Dia tanpa putus pengharapan. "Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!" (Yesaya 30:18). Seandainya anda telah berdoa untuk sesuatu dan tidak kunjung memperoleh jawaban, tidak ada salahnya untuk kembali memeriksa hati anda. Jika anda menemui ganjalan terhadap seseorang, memiliki sakit hati atau dendam, segeralah bereskanlah itu terlebih dahulu. Mintalah Roh Kudus untuk membantu anda mengeluarkannya dari hati anda. Bebaskan iman anda dari belenggu kepahitan, sakit hati dan dendam, dan merdekakanlah iman anda dengan segera dengan memberi pengampunan. Maka anda pun akan segera menyaksikan bagaimana Tuhan menjawab doa-doa anda dengan begitu luar biasa, bahkan memenuhi anda dengan berkat dan karuniaNya yang melimpah.

Merdekakan iman kita lewat pengampunan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, March 22, 2012

Membangun Hubungan yang Saling Menguatkan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Ibrani 10:24-25
======================
"Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat."

saling menguatkanCukupkah kekuatan kita untuk menghadapi berbagai masalah hidup sendirian? Mungkin untuk sementara kita bisa berkata cukup, tapi untuk jangka waktu lama tentunya akan sangat sulit jika kita hanya sendirian. Dan Tuhan pun tidak pernah menciptakan manusia sebagai mahluk-mahluk individualis. Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk sosial yang harus saling terhubung dan terintegrasi agar dapat terus berjalan ke arah yang lebih baik. Tuhan bahkan menyatakan bahwa tidaklah baik apabila manusia itu sendirian. "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.." (Kejadian 2:18). Itu artinya manusia memang diciptakan sebagai mahluk sosial yang saling terkait dengan sesamanya. Kita adalah bagian integral dari masyarakat majemuk. Ada saat ketika kita akan tahu bahwa kita butuh orang lain untuk bisa bertahan hidup. Lingkungan yang sulit, dunia yang jahat dan sebagainya setiap saat akan membuat kita semakin lama semakin lemah. Disaat seperti itu kita butuh teman-teman yang sanggup menguatkan, meneguhkan, mengingatkan dan menolong.

Ada waktu kita butuh dikuatkan, sebaliknya ada saat ketika kita bisa menguatkan. Tidak ada manusia yang sempurna, 100% kuat dan sanggup mengatasi segalanya sendirian. Bayangkan jika kita tidak memiliki teman-teman bisa saling dukung dan saling menasehati, memberi masukan, mengingatkan, menegur apabila kita melenceng dari kebenaran Firman Tuhan. Tentu kita akan jauh lebih kuat menghadapi segala problema yang hadir dalam hidup kita. Kemarin kita sudah melihat bahwa Tuhan sanggup memberi mukjizat kekuatan tanpa tergantung oleh situasi dan kondisi kepada orang-orang yang menggantungkan kekuatannya ke dalam Tuhan (Mazmur 84:6,8). Bahkan Tuhan siap mengubah lembah air mata untuk menjadi tempat sukacita bagi orang-orang seperti ini. (ay 7). Sebagai manusia kita pun butuh orang-orang di dunia ini yang secara langsung bisa bertemu dengan kita dan memberi dukungan moril atau bantuan lainnya agar kita bisa tetap bertahan. Sebuah pertemuan-pertemuan ibadah dimana kita sama-sama bersatu menyembah Tuhan sungguh baik dijadikan awal untuk saling mengenal satu sama lain. Sangat disayangkan jika kitamenganggap beribadah itu hanyalah kewajiban atau rutinitas semata. Alangkah ruginya jika kita hanya datang, duduk, diam, dengar dan lalu pulang. Itu sama saja dengan melewatkan sebuah kesempatan untuk membina hubungan dengan saudara-saudara seiman. Tidak ada satupun orang yang sanggup bertumbuh sendirian. Inilah yang diingatkan oleh Paulus. "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (Ibrani 10:24-25). Paulus sungguh menyadari bahwa kita akan lemah dan jatuh jika kita tidak saling memperhatikan dan saling mendorong satu sama lain. Pertemuan-pertemuan ibadah janganlah hanya berpusat pada diri sendiri tanpa peduli orang-orang yang mungkin duduk di sekitar anda. Semakin dekat hari kedatangan Tuhan, maka seharusnya semakin giat pula kita untuk membangun hubungan erat dengan saudara-saudari kita sehingga dalam keakraban itu kita bisa saling menasihati dan mengingatkan.

Berkali-kali Alkitab mengisyaratkan agar kita bekerjasama satu sama lain untuk mencapai satu tujuan. Lihatlah sebuah contoh ketika ada orang lumpuh yang ingin menjumpai Yesus di Kapernaum seperti yang tertulis dalam Lukas 2:1-12. Begitu banyak orang mengerumuni Yesus, sehingga tidak mungkin si lumpuh bisa menerobos kerumunan. Tapi akhirnya dia mampu bertemu Yesus dan disembuhkan. Bagaimana ia melakukan itu? Lihatlah bahwa ada empat orang temannya menggotongnya ke atas atap dan menurunkan dirinya yang terbaring di atas tilam dari atas atap. That's a wonderful teamwork. Bayangkan jika seandainya si lumpuh tidak punya teman. Dia tidak akan sempat bertemu muka dengan Yesus dan mendapat mukjizat kesembuhan. Ada banyak lagi kisah-kisah dimana kita melihat pentingnya sebuah kebersamaan yang positif diantara kita. Ketika Yesus mengutus murid-muridNya untuk mewartakan kabar gembira pun kita melihat mereka diutus bukan untuk berjalan sendirian, tapi berdua-dua atau berpasang-pasangan. (Markus 6:7). Iman kita akan gampang merosot dan melemah jika kita menghadapi masalah demi masalah sendirian. Tapi dengan adanya teman-teman yang saling berbagi, kita akan mampu bertahan dan tetap kuat. Betapa pentingnya sebuah kebersamaan yang saling bantu dan saling mengingatkan apalagi ketika waktu kedatangan Yesus buat kedua kalinya sudah semakin dekat.

"Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita.."
(Roma 12:4-6). Ini adalah nasihat penting agar kita tetap sadar bahwa kita adalah bagian dari tubuh Kristus yang merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari saudara-saudara seiman lainnya. Selain itu Tuhan juga mengingatkan bahwa kita harus saling mengasihi, karena Tuhan sendiri begitu mengasihi kita. (1 Yohanes 4:11). Kepedulian adalah merupakan bagian dari kasih yang seharusnya memenuhi hati orang percaya. Beban yang ditanggung manusia sesungguhnya tidak ringan dan lama kelamaan mampu membuat iman kita memudar. Orang bisa hilang pengharapan jika didera masalah terus menerus. Karena itu kita diwajibkan untuk saling tolong menolong, dan dengan demikian dikatakan itu artinya kita memenuhi perintah Yesus. "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6:2). Jalin hubungan dengan anggota-anggota tubuh Kristus lainnya dalam persekutuan-persekutuan, baik di Gereja, di kantor, di sekolah, di lingkungan dan sebagainya. Jangan melewatkan waktu-waktu beribadah di Gereja dimana kita bisa berinteraksi dan bersatu dalam kesatuan untuk menyembah Tuhan dan menguatkan satu sama lain.

Ke Gereja seminggu sekali saja tidaklah cukup, apalagi jika anda masih belum memiliki satu Gereja pun untuk bertumbuh. Ke gereja saja tidak cukup apabila anda tidak membangun hubungan dengan saudara-saudari disana. Jika saat ini anda masih mengabaikan salah satu pesan penting Tuhan untuk memiliki iman yang terus bertumbuh, ambil satu Gereja dimana anda bisa bertumbuh dan berbuahlah disana. Ambil waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Jadilah bagian yang baik dari sebuah tubuh Kristus, bersekutulah dalam doa, pujian dan penyembahan, dan hendaklah saling bantu, saling mengingatkan dan saling menasihati. Kita tidak akan kuat berjalan sendirian, teman kita pun demikian. Mari kita bersatu dalam kasih, saling menguatkan dalam persekutuan-persekutuan kita dimana Kristus bertahta di dalamnya.

Tidak ada manusia yang bisa tetap kuat seorang diri

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, March 21, 2012

Bertambah Kuat dalam Tuhan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 84:8
=====================
"Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion."

bertambah kuat dalam TuhanSaya selalu terkagum-kagum melihat para pemain sepak bola yang terus berjuang habis-habisan hingga peluit panjang berbunyi. Tidaklah mudah untuk bisa terus berlari selama dua kali 45 menit, meski ada jeda 15 menit diantara babak pertama dan kedua. Tenaga bisa terkuras habis setidaknya setengah jam pertama dan banyak diantara pemain yang sudah lelah ini terlihat bagai hanya berjalan-jalan saja di lapangan. Malas bukanlah satu-satunya penyebab, karena mungkin mereka sedang tidak fit atau sudah kehabisan tenaga untuk terus berlari. Karena itulah saya mengagumi pemain-pemain yang bisa tetap bermain stabil sejak awal hingga akhir, dan tidak terpengaruh terhadap situasi di lapangan. Secara alami tenaga memang akan berkurang seiring waktu. Daya tahan tubuh akan semakin merosot, daya ingat berkurang, kemampuan serta kekuatan pun demikian seiring bertambah lanjutnya usia manusia. Jika anda menggulingkan bola pun lama kelamaan bola akan melambat lalu berhenti.

Sangatlah menarik ketika ada sebuah ayat dalam Alkitab yang menggambarkan hal yang bertentangan dengan sesuatu yang alamiah ini. "Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion." (Mazmur 84:8). Ketika secara alami tenaga manusia melemah, orang-orang ini justru menunjukkan peningkatan. Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan demikian: "They go from strength to strength [increasing in victorious power]..." Apa rahasianya dan kepada siapa hal ini bisa terjadi? Ayat sebelumnya menyatakan bahwa ini akan terjadi kepada orang-orang yang kekuatannya ada di dalam Tuhan. (ay 6). Dari apa yang tertulis pada Mazmur 84:8 ini kita bisa melihat bahwa Tuhan sanggup memberi mukjizat yang bahkan membalikkan hukum alam kepada orang-orang yang mengandalkan kekuatanNya dalam segala sesuatu.

Contoh yang sangat tepat akan hal ini bisa kita lihat melalui Kaleb. Kaleb adalah satu dari 12 pengintai yang dikirim oleh Musa untuk mengintai situasi Kanaan seperti yang tercantum dalam Bilangan 13. Diantara 12 orang itu, 10 orang memberikan pandangan negatif bernada pesimis. Kaleb dan Yosua sebaliknya. Keduanya optimis dan percaya pada Tuhan. Lihatlah apa katanya. "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!" (ay 30). Bagaimana Kaleb bisa memiliki pandangan yang berbeda dari mayoritas pengintai lain? Itu karena Kaleb tahu bahwa kekuatan Tuhan ada di atas kekuatan siapapun mahluk di bumi ini. Jika ia meletakkan kekuatannya di dalam Tuhan, dan apa yang ia hadapi sesuai kehendak Tuhan, maka tidak ada satupun alasan yang bisa membuatnya takut untuk gagal. Itu yang Kaleb percaya.

Selanjutnya marilah kita melompat ke depan untuk melihat sosok Kaleb 45 tahun kemudian. Saat itu Kaleb sudah tua. Pada umur 85 tahun ia menerima janji Tuhan bahwa ia merupakan satu-satunya dari angkatan 45 tahun yang lalu yang berhasil masuk ke tanah Kanaan seperti yang tertulis pada Ulangan 1:34-36. Mari kita lihat penggalan kata-kata Kaleb berikut: "pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk." (Yosua 14:11). Dengan sangat jelas Kaleb mengatakan bahwa dirinya masih sekuat 45 tahun yang lalu. Dia masih siap berperang dengan tenaga yang sama seperti dahulu. Ini orang berumur 85 tahun yang berbicara. APada Kaleb, ternyata hukum alam tidak terjadi. Pada diri Kaleb ternyata mukjizat Tuhan terjadi. Ini berlaku kepadanya, karena dia merupakan orang yang selalu meletakkan kekuatannya dan dirinya secara keseluruhan di dalam Tuhan.

Mukjizat adalah keajaiban yang terjadi dari kuasa Tuhan yang mampu melampaui logika dan hukum alam. Ketika hukum alam membuat segala sesuatu melambat, merosot, memudar dan berkurang dalam perjalanan waktu, ketika secara logika kekuatan dan ketahanan kita memudar dan semakin berkurang seiring waktu, mukjizat Tuhan mampu melakukan sebaliknya. Dan lewat Kaleb kita menyaksikan hal itu. Lihat apa yang tertulis di antara Mazmur 84:6 dan 8 di atas. "Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat." (Mazmur 84:7). Mukjizat Tuhan ternyata tidak hanya berbicara mengenai kekuatan yang tidak merosot dimakan usia, tapi juga berbicara mengenai kesanggupan dan kesediaan Tuhan untuk mengubah lembah Baka (artinya lembah air mata) menjadi lembah yang melimpah dengan penuh berkat. Lembah air mata sekalipun bisa Dia ubahkan menjadi lembah yang penuh sukacita. Ini juga merupakan janji Tuhan kepada orang yang meletakkan kekuatannya di dalam Tuhan.

Paulus juga mengingatkan jemaat Efesus akan hal yang sama. Paulus tahu bahwa manusia akan melemah, iman dan kasih pada Tuhan bisa merosot dari waktu ke waktu. Karena itulah Paulus berpesan agar jemaat Efesus tetap kuat dengan meletakkan kekuatan mereka di dalam Tuhan. "Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya." (Efesus 6:10). Selanjutnya kepada Timotius, Paulus mengingatkan pula agar tidak menjadi lemah karena tugas yang diemban Timotius di usia mudanya sesungguhnya tidaklah mudah alias sangat berat. Kata Paulus: "Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus." (2 Timotius 2:1). Kasih karunia Kristus menguatkan kita. Jika mengandalkan kemampuan dan kekuatan sendiri, cepat atau lambat kita akan melemah hingga akhirnya berhenti. Agar itu tidak terjadi, sekali lagi kita harus meletakkan kekuatan kita ke dalam Tuhan.

Apakah ada diantara teman-teman yang hari ini tengah kehabisan tenaga atau daya akibat terus menerus dihantam berbagai permasalahan hidup? Adakah yang merasa semakin melemah dan hampir menyerah? Jika ada, ini saat yang tepat bagi anda untuk berbalik mengandalkan Tuhan dan hidup dalam kasih karunia Kristus. Jadilah kuat bukan karena kehebatan atau besar tenaga kita sendiri melainkan oleh kasih karunia dalam Yesus Kristus. Inilah yang akan mendatangkan mukjizat melampaui hukum alam sehingga kita bisa mengalami sesuatu yang luar biasa seperti apa yang dialami Kaleb. Iman kita bisa merosot, tenaga kita bisa menurun, kekuatan kita bisa berkurang, daya ingat bisa melemah, kasih mula-mula bisa menghilang  apabila kita terus mengandalkan kekuatan sendiri yang terbatas. Tapi ketika kita menyerahkan hidup ke dalam tangan Tuhan, percaya dan bergantung sepenuhnya kepadaNya, mengikuti rencanaNya meski mungkin pada mulanya terasa berat, Tuhan akan selalu siap memberi kekuatan. Karenanya, tetaplah berjalan bersama Tuhan, dan andalkanlah Tuhan dalam apapun yang kita lakukan atau kerjakan. Hiduplah dengan benar dan kudus. Jika ini kita lakukan maka kita tidak akan hidup dengan dibatasi oleh lingkungan, situasi dan kondisi sekitar, melainkan hidup penuh dengan terobosan-terobosan dan mukjizat Ilahi. Anda ingin menjadi terus bertambah kuat meski tekanan sebesar apapun mencoba menjatuhkan anda? Andalkan Tuhan sekarang juga.

Alami terobosan dan mukjizat dengan meletakkan kekuatan di dalam Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, March 20, 2012

Tuhan sebagai Fokus Yang Paling Utama

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 6:24
====================
"Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

Tuhan sebagai fokus utamaSaya bisa sesekali melakukan multi tasking, alias mengerjakan beberapa hal sekaligus dalam satu kesempatan. Itu bisa lumayan menghemat waktu disaat tugas sedang menggunung. Tetapi untuk urusan yang penting-penting, biasanya saya memilih untuk fokus mengerjakan satu saja, agar hasil terbaik bisa diperoleh. Dalam menulis renungan saya lebih suka untuk mengetik tanpa terganggu atau terputus oleh apapun, karena saya tidak mau apa yang menjadi suara Tuhan bagi kita semua tidak tersampaikan secara baik. Dalam hal-hal yang tidak terlalu penting saya bisa multitasking, tapi tidak untuk sesuatu yang memerlukan konsentrasi penuh. Jika tidak, maka hasilnya bisa-bisa kurang maksimal atau malah bisa memakan waktu yang justru lebih lama ketimbang menyelesaikannya satu persatu.

Dalam kehidupan sehari-hari seperti itu, dalam hal kerohanian pun demikian. Kita memang disebut anak Raja yang memegang Imamat Rajani (1 Petrus 2:9), tapi kita tidak boleh bersikap sombong karenanya. Karenanya saya suka menggambarkan posisi kita sebagai anak Raja yang berhati hamba. Seorang hamba seharusnya mengabdi kepada tuannya, dan hanya pada satu tuan saja, tidak boleh lebih. Mengabdi berhubungan dengan kesetiaan. Dalam kehidupan kita mungkin saja muncul beberapa tujuan yang ingin diraih, tapi dari sisi tingkat kepentingan atau urgensinya, tentu ada urutan yang paling atas yang kemudian disusul oleh urutan kedua, ketiga dan seterusnya. Apa yang saat ini tampil pada posisi teratas dalam daftar urut kita? Yesus mengingatkan hal ini dengan tegas lewat ayat bacaan hari ini. "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Matius 6:24).

Manusia memang tidaklah seperti Tuhan yang mampu hadir dimana-mana dan mampu melakukan begitu banyak pekerjaan dalam waktu yang sama dengan hasil yang sempurna. Sebagai manusia kita ini terbatas kemampuannya. Tuhan Yesus menyatakan bahwa kita hanya bisa memilih untuk mengabdi kepada salah satu, apakah kepada Allah atau kepada mamon. Mamon disini berarti lebih luas dari uang. Bisa diartikan juga sebagai harta kekayaan atau segala sesuatu keduniawian yang kita anggap penting, yang kadang bisa membuat kita menomorduakan atau bahkan meninggalkan Tuhan apabila tidak waspada. Jadi mana yang lebih kita dahulukan, apakah Allah atau mamon? Mungkin mudah jika menjawab lewat kata-kata saja, tapi dalam pelaksanaan seringkali susah. Banyak orang yang memilih untuk menomorsatukan uang/harta dan meletakkan urusan Tuhan pada urutan kesekian. Terlalu lelah bekerja membuat kita mengesampingkan pentingnya berdoa. Kita memilih untuk beristirahat dan bersantai atau bersenang-senang di hari Minggu ketimbang bersama-sama saudara seiman menyembah Tuhan dalam ibadah raya dan sebagainya. Seorang teman pernah menyampaikan posisi hatinya pada suatu kali. "Buat apa melayani? Daripada buang-buang waktu seperti itu lebih baik terus cari duit. Jika tidak keluarga mau makan apa? Memangnya bisa makan pelayanan?" katanya tertawa. Ada banyak orang yang sependapat dengannya, dan itu menggambarkan dimana posisi Tuhan dalam hidup mereka.

Apa yang ditegaskan Yesus adalah jelas. Pengabdian kita kepada Allah yang begitu mengasihi kita sungguh harus total dan tidak setengah-setengah. Tidak boleh terbagi-bagi, tidak boleh berbarengan dengan keduniawian apalagi ditempatkan lebih rendah, tidak boleh terpecah dan bercabang-cabang. Kita memang harus bekerja, mencari nafkah untuk menghidupi keluarga dan diri kita sendiri. Namun itu bukanlah hal yang paling utama, karena cepat atau lambat jika kita fokus kepada harta, kita akan menjadi budak harta pada suatu ketika. Apabila kita khawatir akan kondisi keuangan kita, kita tidak harus menjadi panik lalu bekerja serabutan tanpa memikirkan waktu. Apa yang harus kita lakukan justru sebaliknya, yaitu terlebih dahulu mencari Tuhan, karena Dialah sebenarnya yang menyediakan segalanya. "Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu." (Matius 6:31-32). Tuhan tahu persis apa yang menjadi kebutuhan kita. Jika demikian apa yang harus kita lakukan? Tuhan Yesus berkata: "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (ay 33). Kita justru harus mendahulukan atau memprioritaskan untuk mencari Kerajaan Allah. Itu artinya menomorsatukan Tuhan dalam kondisi atau situasi apapun. Tentu saja bukan berarti kita harus meninggalkan pekerjaan, meninggalkan keluarga, sahabat dan sebagainya, tapi apa yang dimaksud adalah meletakkan dan mengabdi kepada Tuhan pada prioritas di urutan pertama. Karenanya kita tidak perlu khawatir akan hari esok, seperti apa yang kemudian dilanjutkan Kristus: "Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (ay 34).

Apakah saya mengatakan bahwa bekerja kurang penting? Sama sekali tidak. Itu sangat penting. Lantas pertanyaan lainnya, dengan hanya 24 jam sehari, bagaimana mungkin? Saya akan menjawab, bagaimana jika kita meletakkan Tuhan di atas segala sesuatu yang kita lakukan atau kerjakan? Bagaimana jika dalam melakukan sesuatu kita bisa memuliakan Tuhan lebih dari apapun? Tidakkah itu indah? Siapa yang hari ini menjadi tuan dalam diri kita? Apakah Tuhan, atau hal lainnya seperti harta, karir, status, kedudukan, hobi, dan sejenisnya? Apakah kita sudah menempatkan Tuhan pada posisi selayaknya di urutan pertama, atau kita masih mencoba untuk meletakkan Tuhan pada urutan yang sama dengan hal-hal lainnya atau malah dibawah? Apakah kita hanya menempatkan Tuhan dalam satu dari sekian posisi multitasking kita? Sesungguhnya itu bisa terlihat dari apa yang paling menyita waktu, tenaga dan pikiran kita. Apapun yang saat ini menyita waktu, tenaga dan pikiran kita, itulah sebenarnya yang menjadi tuan kita. Tuhan begitu mengasihi kita. Lihatlah apa kata Daud berikut ini "Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?" (Mazmur 8:4-5). Sudah sepantasnyalah jika Tuhan kita prioritaskan pada posisi pertama. Mari kita perhatikan diri kita hari ini, apa yang menjadi prioritas di posisi teratas, dan pastikanlah bahwa Tuhan adalah satu-satunya yang menjadi fokus utama pengabdian kita.

Hamba tidak bisa mengabdi kepada dua tuan, yang mana yang kita pilih?

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, March 19, 2012

Total dalam Mendidik

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Daniel 6:4
===================
"Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya."

totalSaya mempunyai dua pekerjaan dan dua-duanya berhubungan dengan pelatihan atau pendidikan. Di satu kaki saya berprofesi sebagai seorang dosen yang bertugas membagikan ilmu dan pengalaman kepada anak-anak didik saya yang seringkali bermula dari nol. Di kaki satunya saya memimpin sekian puluh orang jurnalis musik termasuk fotografer di dalamnya. Saya melatih mereka dari awal untuk mengetahui seluk beluk musik, mempelajari angle-angle, latar belakang sebuah acara, apa yang harus disorot dan sebagainya. Memiliki panggilan sebagai pengajar atau pendidik sehari-hari yang sudah saya tekuni selama sekian tahun membuat saya menyadari satu hal: saya paling bahagia ketika mereka tumbuh menjadi orang-orang yang berhasil di bidang masing-masing. Bagi saya itu tidak tergantikan oleh uang sebesar apapun. Karena itu yang paling membahagiakan, maka saya pun berusaha membagi semua yang saya ketahui habis-habisan. Tidak ada yang disimpan, tidak ada yang ditahan. Ada banyak pengajar yang hanya membagikan sedikit saja dari pengetahuan mereka karena mereka tidak ingin ada yang lebih pintar atau lebih berhasil dari mereka. Ada beberapa dari dosen yang saya kenal mengatakan itu langsung kepada saya. Itu pilihannya, saya punya pilihan dan pendirian sendiri. Kepuasan melihat murid saya berhasil itu tidak tergantikan oleh apapun.

Selain bahagia melihat keberhasilan orang yang dibimbing, saya merasa pelit ilmu tidak memberikan manfaat apa-apa. Berkat bukan berasal dari kehebatan ilmu kita, bukan juga berasal dari keahlian kita, tapi dari Tuhan. Tuhanlah yang memberkati pekerjaan kita sehingga kita bisa berhasil. Jika demikian, buat apa pelit ilmu? Lagipula, apakah Tuhan senang jika kita setengah-setengah dalam bekerja? Apakah dengan pelit ilmu kita bisa mengasihi orang lain seperti yang diinginkan Tuhan? Lantas, apakah dengan memberikan ilmu secara total itu berarti kita akan berkurang penghasilannya? Itu pikiran yang sangat naif dan sempit. Tuhan tidak pernah menginginkan anak-anakNya untuk punya pikiran seperti itu.

Pertama, mari kita lihat sosok Daniel. Alkitab mencatat dengan jelas mengenai Daniel sebagai sosok yang memiliki roh yang luar biasa dengan kecerdasan di atas rata-rata. Ia diangkat oleh raja Darius sebagai satu dari tiga pejabat tinggi yang membawahi 120 orang wakil raja. Bahkan diantara ketiga sosok ini, pekerjaan Daniel dianggap lebih baik dari dua orang lainnya. "Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya." (Daniel 6:4). Daniel bukanlah tipe orang yang setengah-setengah dalam bekerja. Ia selalu memberikan segala yang terbaik yang bisa ia lakukan, termasuk dalam imannya yang tidak goyah sedikitpun ketika menghadapi bahaya. Dan tentu saja semua itu berkenan di hadapan Tuhan. Ia sempat menghadapi ancaman besar karena ketaatannya dalam menyembah Allah. Tapi kita tahu bagaimana Daniel selamat dari cengkraman singa-singa lewat pertolongan Tuhan.

Dalam perjanjian baru kita bisa melihat figur Paulus. Dalam melakukan pelayanan, Paulus tidak lalai dalam melakukan proses pemuridan. Ia menunjukkan kebesaran jiwanya dengan mendidik anak-anak muda yang setia mengikutinya dengan sungguh-sungguh, seperti kepada Timotius dan Titus. Kepada mereka, Paulus mengajarkan bagaimana sikap yang harus dimiliki dalam melayani dengan rinci dan jelas. Paulus tidak menyimpan-nyimpan sesuatu agar ia tetap menjadi yang terdepan. Ia ingin maju dan sukses bersama-sama dengan anak-anak didiknya. Timotius melayani di Efesus (1 Timotius 1:2-4) sedangkan Titus di Kreta. (Titus 1:4-6). Kedua anak muda ini tumbuh menjadi pelayan Tuhan yang begitu luar biasa.

Buat saya pribadi, hidup akan jauh lebih bermakna ketika kita bisa membantu orang lain untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Seorang penulis di Amerika bernama McGinnis mengatakan "There is no more noble occupation in the world than to assist another human being - to help someone succeed". Tidak ada pekerjaan yang lebih mulia di dunia ini  selain membimbing orang lain-membantu mereka untuk mencapai kesuksesan. Saya sangat setuju dengan perkataannya. Tuhan pun tidak menginginkan kita menjadi pribadi-pribadi yang kikir, hanya mementingkan diri sendiri dan tidak peduli kepada kemajuan orang lain, apalagi jika sampai menghambat mereka. Dalam Korintus dikatakan "Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." (1 Korintus 6:9-10). Perhatikan bahwa orang kikir digolongkan ke tempat yang sama dengan kesesatan lainnya yang kita tahu termasuk berat. Pelit tidak saja berbicara soal harta, tapi tentu juga termasuk ilmu.

Tuhan memberikan kita talenta untuk dikembangkan, bukan untuk disimpan sendiri. Tuhan melengkapi semua yang kita butuhkan bukan untuk ditimbun. Ketika kita diberkati Tuhan dengan kemampuan akan sesuatu, hendaklah kita mempergunakannya juga demi kemajuan dan kesuksesan sesama kita. Mengapa kita harus iri terhadap kesuksesan orang lain? Mengapak kita harus takut jika melihat orang berhasil, bahkan ketika ada orang yang sukses melebihi kita? Ingatlah bahwa segala berkat datangnya dari Tuhan dan bukan dari kehebatan atau kepintaran kita. Seperti halnya Tuhan memberkati kita dengan segudang kemampuan, hendaklah kita memberkati orang lain lewat apa yang ada dalam diri kita. Apa yang kita miliki bukanlah untuk kita sendiri melainkan juga berguna bagi kemajuan orang lain. Apakah ada diantara teman-teman yang juga sama berada dalam posisi yang berhubungan dengan pengembangan kapasitas bawahan atau murid? Apakah ada di antara anda yang juga berprofesi sama seperti saya sebagai pengajar? Janganlah menjadi sosok yang pelit ilmu. Bantulah mereka dengan sungguh-sungguh agar mereka bisa mencapai sukses. Biarlah nama Tuhan dipermuliakan lewat pekerjaan kita. Sebagai anak-anak Tuhan kita tidak boleh pelit terhadap siapapun. Tuhan akan selalu senang dan memberkati siapapun yang mengasihi dan peduli kepada sesamanya.

Pelit ilmu bukanlah sikap yang seharusnya dimiliki orang percaya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, March 18, 2012

Sikap Acuh Tak Acuh

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Zefanya 2:1-2
==================
"Bersemangatlah dan berkumpullah, hai bangsa yang acuh tak acuh, sebelum kamu dihalau seperti sekam yang tertiup, sebelum datang ke atasmu murka TUHAN yang bernyala-nyala itu, sebelum datang ke atasmu hari kemurkaan TUHAN."

sikap acuh tak acuhSukakah anda melihat orang yang acuh tak acuh ketika anda mengajaknya berbicara? Acuh tak acuh adalah sebuah sikap yang tidak serius dalam mengerjakan atau menanggapi sesuatu. Orang dengan sikap seperti ini bisa cuek terhadap lawan bicaranya dan menunjukkan ketidaktertarikannya lewat sikap dan air muka. Mereka tidak memperhatikan apa yang dikatakan, bahkan memandangpun bisa jadi tidak. Mereka biasanya bersikap kurang bersahabat, dingin dan sebagainya. Secara fisik mereka ada di depan kita, tetapi pikiran mereka melayang kemana-mana. Berbicara kepada orang dengan tipe seperti ini bisa menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan tidak jarang mereka menimbulkan rasa sakit hati bagi lawan bicaranya. Jika kita sebagai manusia saja jengah berhadapan dengan orang-orang yang sikapnya acuh tak acuh, apalagi Tuhan. Dia tidak suka jika kita bersikap seperti itu kepadaNya. Setelah segala kebaikan dan kemurahan Dia curahkan tanpa henti kepada kita, ketika keselamatan Dia anugerahkan justru disaat kita masih berselubung dosa, tidakkah keterlaluan apabila kita masih sanggup bersikap acuh tak acuh terhadapNya?

Orang akan begitu rajin berdoa jika berada dalam keadaan terjepit. Mereka mudah berseru pada Tuhan bahkan disertai ratap tangis. Namun ketika Tuhan mengulurkan tanganNya dan melepaskan dari masalah, mereka pun segera melupakan Tuhan dan sibuk dengan dunia masing-masing. Mungkin berterimakasih, tetapi itu pun tidak bertahan lama. Doa menjadi semakin jarang dengan beragam alasan. Buat apa? Toh semuanya baik-baik saja. Begitu mungkin pikir mereka. Apalagi jika diminta untuk terlibat dalam pelayanan, seribu satu alasan pun tiba-tiba bermunculan untuk menolak. Begitu seringnya anak-anak Tuhan terlena dalam kenyamanan dan kemudian melupakan Tuhan, namun kembali datang ketika masalah kembali muncul. Itupun mungkin hanya sebagai alternatif terakhir bila tidak ada lagi kekuatan atau orang yang bisa diandalkan. Begitu seterusnya. Tuhan hanya dijadikan sebagai alat penolong dan tempat mengemis, tidak lebih, tidak kurang. Sikap seperti ini tidaklah berkenan di hadapan Tuhan.

Bangsa Israel dahulu kala sering menunjukkan sikap seperti ini. Hati mereka dengan Tuhan begitu cepatnya berubah-ubah. Mereka dengan mudah menangis meminta pertolongan, berseru-seru pada Tuhan, namun ketika pertolongan datang, sesaat kemudian mereka sudah menunjukkan sikap tidak puas dan kembali bersungut-sungut. Pada saat-saat tertentu mereka memuliakan Tuhan, namun sesaat kemudian mereka kembali bersikap acuh tak acuh. Lebih parah lagi, mereka tega menduakan Tuhan dengan ikut-ikutan menyembah dewa-dewa. Sikap seperti ini sangat tidak disukai Tuhan. Maka melalui Zefanya Tuhan memberi teguran keras. "Bersemangatlah dan berkumpullah, hai bangsa yang acuh tak acuh, sebelum kamu dihalau seperti sekam yang tertiup, sebelum datang ke atasmu murka TUHAN yang bernyala-nyala itu, sebelum datang ke atasmu hari kemurkaan TUHAN." (Zefanya 2:1-2). Ini teguran sangat keras yang dijatuhkan kepada sebuah bangsa yang tidak tahu terima kasih. Walaupun sudah berulangkali mengalami kuasa Tuhan, begitu banyak mukjizat yang mereka saksikan dengan mata kepala sendiri, tetapi mereka masih juga menunjukkan perilaku tidak terpuji dalam berbagai hal. Kalaupun mereka beribadah, seringkali itu hanya seremonial atau rutinitas semata. Untuk masalah ini pun Tuhan pernah menegur tak kalah keras. "Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi." (Yesaya 29:13-14). Hal-hal yang ajaib atau keajaiban yang menakjubkan disini bukan hal-hal yang baik atau positif, tapi yang buruk. Dalam versi BIS diterjemahkan sebagai "pukulan bertubi-tubi". Sangatlah tidak pantas memperlakukan Tuhan yang luar biasa baik dan begitu mengasihi kita dengan sangat setia dengan cara yang acuh tak acuh alias tidak serius sepenuh hati seperti ini.

Dalam Wahyu teguran yang keras juga dialamatkan kepada jemaat di Laodikia. "Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku." (Wahyu 3:16). Sikap suam-suam kuku kurang lebih sama dengan sikap acuh tak acuh. Sikap seperti ini bisa mendatangkan murka Tuhan, dan itu wajar mengingat betapa baiknya Tuhan kepada kita. Hari-hari ini ada banyak diantara anak-anak Tuhan yang tidak lagi memiliki kerinduan untuk melayani Tuhan. Ada banyak diantara mereka yang lebih mementingkan perkara duniawi ketimbang melibatkan diri dalam pekerjaan Tuhan, atau untuk bersekutu intim dengan Tuhan sekalipun. Mereka melayani bukan karena mengasihi Tuhan tapi karena ingin terlihat hebat dimata manusia. Sebesar apa sebenarnya porsi Tuhan dalam hidup kita hari ini? Seberapa besar kerinduan kita kepadaNya? Dimana posisi Tuhan dalam hidup kita? Apakah kita mau mendengar apa kata Tuhan dengan baik atau jam-jam yang kita pakai untuk berdoa hanyalah rutinitas belaka, atau malah hanya dipakai sebagai sarana meminta? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan penting yang patut kita jadikan bahan introspeksi agar kita jangan sampai menjadi lengah dan terjatuh.

Kita harus tetap memiliki rasa takut akan Tuhan. Takut disini bukan berarti bentuk-bentukketakutan duniawi, atau takut dihukum, takut dicampakkan ke neraka dan sebagainya. Takut akan Tuhan berbicara mengenai rasa hormat kita kepadaNya. Bagaimana kepatuhan kita pada perintahNya, tidak mau mengecewakan Tuhan karena kita mengasihiNya, mengenal pribadiNya dan kerinduan untuk selalu memuliakanNya. Ini adalah bentuk rasa takut yang sehat, yang akan membawa kita lebih dekat lagi kepadaNya. Takut akan Tuhan tidak saja bisa membawa kita untuk menerima keselamatan yang kekal sifatnya, namun Tuhan juga menjanjikan kita untuk tidak akan berkekurangan, seperti apa yang dikatakan Daud. "Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia!" (Mazmur 34:9). Sikap acuh tak acuh dari lawan bicara kita bisa menyakiti hati kita, tapi kita sering lupa bahwa sikap acuh tak acuh kepada Tuhan pun akan membuatNya kecewa, dan itu akan sangat menyakiti hatiNya. Jangan salahkan Tuhan jika kita akan menuai hal-hal yang buruk sebagai konsekuensinya. Oleh karena itu seriuslah dalam membangun hubungan dengan Tuhan. Dengarkan baik-baik pesan dan peringatanNya, takutlah akan Dia dan taatlah dengan sungguh-sungguh. Tuhan lebih dari layak untuk itu.

Hindari sikap acuh tak acuh, seriuslah dalam membangun hubungan dengan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, March 17, 2012

Kemarahan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Efesus 4:26-27
======================
"Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis."

kemarahanAkankah kemarahan membawa hasil yang positif? Kita melihat banyak orang hari-hari ini yang dengan leluasa mempertontonkan kemarahannya tanpa rasa bersalah. Mereka merasa bahwa kemarahan itu wajar, layak atau bahkan mutlak diperlukan untuk memaksakan kehendak atau keyakinan mereka. Mereka lalu merasa berhak untuk menghakimi dan membunuh orang yang berseberangan dengan mereka, dengan cara yang sangat keji. Yang lebih gila lagi, mereka mengatasnamakan Tuhan dalam melakukan itu, seolah-olah Tuhan membenarkan manusia untuk membunuh sesamanya dengan alasan-alasan tertentu. Pemaksaan dengan tekanan, ancaman atau siksaan menjadi semakin marak terjadi tanpa kontrol yang tegas. Sangat sulit mencari tempat yang benar-benar aman, karena setiap saat kita bisa menjadi korban dari orang-orang yang tidak bisa mengontrol kemarahannya.

Kemarahan membuat orang tidak lagi bisa berpikir jernih, dan pada akhirnya bukan saja kemarahan itu bisa merugikan orang lain, tetapi untuk diri sendiri pun kemarahan bisa menimbulkan banyak masalah yang pada suatu ketika kelak akan kita sesali. Benar, ada saat-saat dimana kita bisa marah, sebagai "output" dari perasaan atau emosi yang terdapat di dalam diri kita. Tetapi biar bagaimanapun kemarahan tidak dianjurkan sama sekali di dalam Kekristenan. Sedapat mungkin kita harus menghindarinya. Kalaupun memang harus marah jangan sampai kita membiarkan kemarahan itu terus menguasai diri kita berlarut-larut. Lihatlah ayat berikut ini: "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis." (Efesus 4:26-27). Ada beberapa hal yang bisa menjadi catatan kita akan bahaya yang terkandung di balik sebuah amarah. Perhatikan, ada dosa mengintip dibalik kemarahan kita. Kemarahan biasanya masih bisa cepat diredam ketika masih baru kita rasakan, tetapi cobalah biarkan kemarahan itu bertambah besar, pada suatu titik nanti kita tidak lagi sanggup meredamnya karena sudah terlalu besar dan disanalah dosa-dosa mengintip untuk menghancurkan kita.  Kemarahan yang kita biarkan berlarut-larut akan menjadi lahan permainan yang sangat menarik bagi iblis. Itu sama dengan membuka kesempatan bagi iblis untuk menjebak dan menjerumuskan kita. Dengan membiarkan kemarahan, itu artinya kita memberi ruang gerak seluas-luasnya bagi iblis untuk menari dan berpesta pora untuk membinasakan kita.

Alkitab mengingatkan dalam begitu banyak kesempatan agar kita tidak membiarkan amarah menguasai diri kita. Daud mengingatkan: "Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan." (Mazmur 37:8). Panas hati penuh rasa marah hanya akan mengarahkan kita masuk kepada berbagai kejahatan yang nanti akan menyusahkan kita juga. Sementara dalam Pengkotbah kita bisa melihat ayat lainnya yang berbunyi: "Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh." (Pengkotbah 7:9).

Jika dunia terus berpikir bahwa emosi atau kemarahan bisa menjadi solusi akan sesuatu yang lebih baik, ketika dunia menganggap kemarahan sebagai bukti dari kekuatan, kekuasaan dan bisa seolah membuat pelakunya seperti yang paling benar dunia dan akhirat, sebaliknya Yesus mengajarkan kita untuk menjadi pribadi-pribadi yang lemah lembut di muka bumi ini. "Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi." (Matius 5:5). Hanya orang-orang yang lemah lembutlah yang akan memiliki bumi, kata Yesus. Orang-orang lemah lembut bukanlah orang yang lemah dan mudah menyerah. Orang yang lemah lembut adalah orang yang mau tunduk kepada otoritas Tuhan, mau menaklukkan diri sepenuhnya ke dalam rencana Tuhan dalam segala aspek kehidupan, apakah itu dalam pikiran, perbuatan, perasaan dan perkataan, dan menyerahkan sepenuhnya dalam tuntunan Roh Kudus. Salah satu contoh orang yang dikatakan lemah lembut dalam Alkitab adalah Musa. Dalam Alkitab dikatakan bahwa "Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi." (Bilangan 12:3). Mengapa Musa? Tentu saja. Bayangkan pergumulan emosional yang dihadapi Musa dalam memimpin bangsa yang luar biasa keras batok kepala dan membatu hatinya selama 40 tahun. Itu tentu sangat tidak mudah. Disindir, dihina, dilawan, itu sudah menjadi makanannya sehari-hari meski bangsa yang dipimpinnya ini sudah berulang kali menyaksikan langsung bagaimana Tuhan menyertai mereka secara nyata. Tapi Musa bisa menahan diri hingga sekian lama. Apa jadinya kalau orang-orang yang gampang tersulut amarahnya untuk bertindak sadis di dunia hari ini yang memimpin mereka pada saat itu? Mungkin usia orang-orang Israel pada saat itu cuma dalam hitungan detik saja. Mereka seketika akan luluh lantak tanpa bentuk, dan itu jelas bukan merupakan suara hati Tuhan. Jika Tuhan punya sifat kejam seperti itu, manusia sudah punah dari awal. Kita tidak akan pernah ada di muka bumi ini. Tuhan sangat mengasihi manusia, selalu merindukan semuanya untuk bertobat dan selamat. Bahkan untuk itu Tuhan merelakan Yesus untuk mengambil alih semua hukuman yang harusnya jatuh bagi kita dan membawa kita masuk ke dalam gerbang keselamatan.

Menahan diri agar tetap lemah lembut memang tidak mudah. Berbagai situasi dan kondisi bisa dengan cepat membuat amarah kita meluap. Ada begitu banyak orang-orang sulit disekitar kita yang akan terus memprovokasi kita lewat perkataan maupun perbuatan mereka. Sebagai anak-anak Tuhan kita tidak boleh terpancing dan harus tetap tenang. Jika anda merasa takut, serahkan semuanya kepada Tuhan yang memelihara kita. Miliki hati yang sepenuhnya berpegang pada Tuhan, miliki hati yang lembut yang siap dibentuk, dan cepat atau lambat dunia akan melihat bahwa ajaran kasih dalam Kekristenan sungguh mampu membawa perbedaan ke arah yang lebih baik.

Kemarahan bukanlah produk Kerajaan Surga dan itu tidak akan pernah membawa manfaat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker