Sunday, July 15, 2018

Motivasi Mengikut Yesus : Kisah Yesus di Bait Allah (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Ini adalah hal yang ironis dan keterlaluan. Kita harus sadar bahwa Tuhan sudah terlebih dahulu mengasihi kita. Hal ini diingatkan oleh Yohanes dalam ayat yang bunyinya "Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita." (1 Yohanes 4:19). Cinta yang dimiliki Tuhan atas kita manusia sungguh teramat sangat besar. Bayangkan Tuhan yang begitu besar mau repot-repot mengurusi manusia di dunia yang sangat kecil di tengah luasnya alam semesta yang tak terukur yang sudah Dia ciptakan. Demi menyelamatkan manusia yang kecil itu, Dia bahkan rela mengambil rupa seorang hamba, disiksa dan mati di atas kayu salib. Itu membuat kita dilayakkan menerima keselamatan yang kekal, bukan binasa.

Apa yang menggerakkan Tuhan untuk itu bukanlah untuk keuntungan diriNya. Perhatikan ayat berikut: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16). Lihatlah bahwa misi penyelamatan yang mencengangkan itu hadir karena didasari cinta kasih yang begitu besar kepada kita. Itulah motivasi Tuhan. Sebuah kasih ternyata bisa menggerakkan Tuhan untuk menyelamatkan kita secara langsung lewat penebusan Kristus. Kalau kita menyadari betapa Tuhan begitu mengasihi kita dan menganggap kita yang penuh dosa ini begitu berharga dan layak dicintai, bukankah kita seharusnya bersyukur tiada habisnya dan akan berusaha keras untuk tidak mengecewakanNya? Tidakkah keterlaluan jika kita malah berhitung untung rugi untuk menjadi pengikut Yesus? Maka wajarlah jika Yesus pun begitu marah ketika melihat orang-orang yang datang mencari Tuhan untuk mencari keuntungan pribadi.

Ada pula orang yang berusaha mencari pembenaran lewat mengambil ayat-ayat secara sepihak tanpa melihat konteksnya dengan benar. Bahkan ada yang berusaha menggabungkan antara mengikut Tuhan dan mengejar harta kekayaan duniawi. Kita sudah diingatkan Yesus bahwa kita tidak akan pernah bisa mengabdi kepada dua tuan. "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Matius 6:24). Dengan demikian prioritas haruslah jelas, motivasi kita pun juga harus benar.

Ingatlah bahwa "Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka." (2 Korintus 5:15). Penebusan hadir didasari kasih Bapa yang begitu besar, dan sudah seharusnya kita pun mendasari iman kita kepadaNya atas dasar kasih. Karena kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, raga dan roh kita. Karena kita tahu bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru selamat, didalamNya ada pengharapan, ada kepastian dan jaminan keselamatan. Semua Dia berikan atas dasar kasihNya yang begitu besar pada kita, dan oleh karenanya sudah seharusnya kita pun mengasihiNya tanpa memandang untung rugi tentang hal-hal yang sifatnya fana.

Apa yang menjadi motivasi kita hari ini untuk menerima Yesus? Apakah kita masih berpikir untuk mendapatkan laba besar, bisnis lancar, karir meningkat, jodoh datang, sakit disembuhkan, dan sebagainya, atau semata-mata karena kita mengasihi Yesus, yang sudah terlebih dahulu mengasihi kita justru ketika kita masih berlumur dosa? Mari periksa motivasi kita hari ini. Jika kita masih menemukan motivasi-motivasi untuk mencari keuntungan, berubahlah sekarang juga agar kita jangan sampai menuai murka Tuhan dalam hidup kita.

"False teaching: Come to Jesus to get health/wealth/prosperity. No. Come to Jesus to get Jesus." - Pastor David Platt

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, July 14, 2018

Motivasi Mengikut Yesus : Kisah Yesus di Bait Allah (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Jika pasangan kita mengatakan bahwa ia menikah dengan kita hanya karena cari keuntungan bukan karena cinta, perasaan kita tentu hancur. Kita akan merasa sedih, kecewa bahkan sakit dalam hati. Bagaimana dengan Tuhan yang mendapati anak-anakNya berlaku seperti ini? Bukankah Dia pun akan sedih, kecewa, hancur hati dan lebih berhak marah setelah memberi segalanya buat kita? Kita bisa melihat contoh akan hal ini dari kisah yang mencatat kemarahan Yesus yang begitu besar di Bait Allah pada sebuah Hari Paskah Yahudi.

Pada hari itu Yesus pergi ke Yerusalem dan datang ke Bait Suci. Saat tiba disana, Yesus lihat pemandangan yang sungguh buruk di hadapanNya. Seperti inilah situasi yang Dia lihat. "Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ." (Yohanes 2:14). Gereja ternyata sudah berubah fungsi menjadi pasar. Bayangkan di Bait Suci itu bukan berisi orang-orang yang ingin menyembah dan memuliakan Tuhan, bukan berisi orang-orang yang rindu untuk bertemu dan mendengar Tuhan, tetapi justru penuh dengan para pedagang beserta hewan dagangannya, ditambah lagi para penukar uang alias money changer kalau dijaman sekarang. Mereka semua melakukan bisnisnya disana.

Selayaknya pasar, kita bisa bayangkan betapa hiruk pikuknya suasana di Bait Suci yang kudus pada saat itu. Pemandangan seperti itu sangatlah menyakiti hati Yesus. Dan Yesus pun marah besar. "Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." (ay 15-16).

Mari kita lihat lebih jauh akan kejadian ini. Yesus tidak menunjukkan kemarahan saat Dia dihina, ditinggalkan, difitnah, bahkan saat disiksa dan disalib hingga mati. Yesus tidak marah malah mendoakan dan mengampuni orang-orang yang menyiksa diriNya sedemikian rupa dengan sangat sadis sampai mati. Secara logika sederhana, apa yang Yesus alami tentu jauh lebih serius daripada sekedar melihat orang berdagang di rumah. Mengalami siksaan seperti itu seharusnya akan memancing kemarahan lebih besar. Jika anda jadi Tuhan Yesus yang memegang kunci Surga dan bisa melakukan apapun, mungkin anda sudah memusnahkan saja semua orang jahat itu dalam sekejap mata. Toh mereka orang jahat, ya sudah sepantasnya itu yang mereka terima atas perbuatannya. Demikian cara berpikir manusia, tapi ternyata Yesus memandangnya berbeda. Semua itu tidak memancing kemarahan Yesus. Yesus tetap tenang menjalani dan menggenapi semuanya seperti apa yang dikehendaki Bapa. Tapi melihat orang-orang berdagang di Bait Suci, kemarahan Yesus timbul. Kalau kita lihat di dalam Alkitab, momen ini adalah momen satu-satunya yang membuat Yesus marah. Jika Yesus yang begitu sabar dan lembut hati hingga bisa marah seperti itu, tentu itu merupakan hal yang teramat sangat serius. Mengapa bisa demikian?

Fakta yang bisa kita lihat dengan jelas, kemarahan Yesus dipicu oleh banyaknya orang yang mencari untung memanfaatkan bait Allah dengan berdagang. Kita mungkin bisa berkata bahwa kita kan tidak berdagang sapi atau burung di gereja, apalagi buka money changer segala? Tetapi sadarkah kita bahwa ada banyak orang yang mencari Tuhan hanya untuk keuntungan semata? Dalam ayat 21 dikatakan: "Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri." 

Ini jelas berbicara mengenai motivasi dalam mengikuti Yesus. Ada banyak orang yang mau mengikut Yesus agar bisnisnya lancar, bisa mendapat untung besar, berharap selamat dari ancaman kebangkrutan, berharap dilancarkan dan sebagainya. Ada banyak pula orang yang berharap bisa mendapat jodoh, karirnya naik, sembuh dari penyakit dan seterusnya. Tentu saja Tuhan bisa menyediakan itu semua, itu tidak perlu diragukan. Tetapi semua itu seharusnya bukan menjadi prioritas utama untuk dikejar, apalagi kalau dipakai sebagai motivasi utama mengikut Yesus. Seandainya kita diberitahu bahwa mengikut Yesus berarti harus siap sangkal diri, pikul salib, harus mengalami penderitaan, masihkah kita mau dengan yakin untuk mengikutiNya? Kalau mendengar itu, bakal banyak yang akan langsung mengundurkan diri. Mereka inilah yang meletakkan motivasi yang salah dalam mengikut Yesus.Mereka hanya melihat Tuhan sebagai pemberi berkat sebagai motivasi utama, dan bukan karena mereka mengasihi Tuhan.

(bersambung)


Friday, July 13, 2018

Motivasi Mengikut Yesus : Kisah Yesus di Bait Allah (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yohanes 2:14
=====================
"Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ."

Bagi anda yang sudah menikah, apa alasan anda menikahi pasangan anda? Semoga alasannya karena anda mencintainya. Ada begitu banyak alasan atau motivasi yang bisa menjadi dasar sebuah hubungan. Selain karena cinta, bisa juga karena harta, ingin status yang lebih baik, popularitas, ada juga yang karena sudah terlanjur melakukan hubungan terlarang, sudah kelamaan pacaran, karena dijodohkan orang tua atau bisa pula karena kasihan. Kalau karena cinta saja masih banyak yang kandas, apalagi kalau didasari oleh motivasi-motivasi lainnya. Motivasi yang lemah akan membuat sebuah hubungan rapuh, dan motivasi yang salah akan menyebabkan hasil yang buruk, bahkan kehancuran.

Seperti contoh dalam renungan kemarin, hubungan pertemanan pun bisa didasari banyak motivasi buruk. Ingin mendapatkan fasilitas, kemudahan, cari keuntungan bisa menjadi beberapa alasan diantaranya. Hubungan yang didasari mencari keuntungan, memanfaatkan juga tidak akan baik hasilnya karena dimulai oleh motivasi atau tujuan yang buruk. Kalau dalam keadaan aman semua tampak baik, kekuatan dan kemurnian motivasi sebuah hubungan biasanya terlihat saat ada masalah. Disanalah kemurnian hubungan itu akan teruji.

Jika dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia saja kita perlu memeriksa betul apakah motivasi kita sudah baik dan benar atau belum dan tidak, dalam menjalin hubungan dengan Tuhan pun sama. Dia sudah terlebih dahulu menyatakan kasihNya dengan menciptakan kita secara istimewa seperti rupa dan gambarNya sendiri dan kemudian bahkan melakukan sesuatu yang sangat besar dengan menganugerahkan kasih karunia keselamatan kepada manusia yang sebenarnya tidak layak menerimanya. Tapi bagaimana dengan manusia? Apa reaksi kita? Apabila anda ditanya, mengapa anda mengikuti Yesus, apa yang jadi jawaban kita?

Pertanyaan ini mungkin sepertinya mudah dijawab tetapi pada kenyataannya tidaklah demikian. Kita mudah mengatakan karena kita mengasihiNya seperti halnya Dia mengasihi kita, tapi belum tentu itu alasan jujurnya. Bisa jadi, karena memang sudah turun temurun karena dilahirkan di lingkungan kristen, bisa pula karena mengharapkan banyak kemudahan, ingin kaya, makmur, mengharapkan pertolongan dan lain-lain yang sifatnya fana, hanya untuk kenyamanan hidup di dunia  yang singkat ini. Banyak orang yang mau mengikut Yesus hanya didasari pada faktor untung rugi, hanya ingin mengeruk keuntungan dan bukan karena mengasihiNya. Yang memiliki motivasi seperti ini hanya ingin meminta dan mendapat tanpa mau memberi dengan membangun hubungan satu arah saja. Mereka mencari Yesus karena berharap berkat-berkat duniawi dan mengira bahwa mereka tidak lagi perlu melakukan apa-apa. Jika mereka tidak menerima apa-apa, mereka pun akan kecewa, menjelek-jelekkan Tuhan dan pergi mencari alternatif-alternatif lain.

Seperti yang saya sampaikan kemarin, banyak yang bingung dengan status sebagai anak Raja. Mereka hanya melihat status mentereng yang akan membuat seorang anak berhak menerima warisan ayahnya tapi menolak untuk memikul tanggung jawab. Tidak mau mengasihi ayahnya yang sudah begitu baik menyediakan segalanya buat dirinya, tidak mau pula menjaga nama baik ayahnya. Dan itu banyak terjadi hari ini, bahkan di kalangan pelayan Tuhan sekalipun.

Alangkah indahnya apabila kita mengikuti Yesus karena kita mengasihiNya yang sudah terlebih dahulu mengasihi kita dan sudah menganugerahkan begitu banyak karunia termasuk keselamatan yang sebenarnya tidaklah layak kita terima. Tuhan yang sangat menyayangi dengan kasih setia dan selalu ada bersama kita. Alangkah indahnya apabila saat kita belum atau tidak memperoleh apa yang kita minta, kita tetap ikut Yesus dan taat pada perintahNya. Alangkah indahnya kalau hubungan kita dengan Yesus didasari iman yang percaya bahwa Dia adalah Tuhan dan Juru selamat, didalamnya ada keselamatan, di dalamnya ada harapan, di dalamnya ada kuasa dan kekuatan. Sayangnya banyak yang hanya mencari keuntungan, berhitung untung rugi dalam mengikut Yesus. Beribadah pun hanya karena mengharapkan sesuatu, bukan lagi didasari kasih kepada Tuhan.

(bersambung)


Thursday, July 12, 2018

Motivasi Mengikut Yesus (5)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)


Status yang kita sandang adalah anak Raja, berhak sebagai ahli waris yang artinya menerima janji-janji Allah. Itu disebutkan dalam Roma 8:17. Tapi jangan lupa bahwa seperti yang dikatakan Yesus di atas, status anak Raja kita bukan berarti kita boleh tinggi hati melainkan harus memiliki hati hamba. Dan saya suka menyebut status ini sebagai anak Raja berhati hamba. Jika kita ingin menjadi salah satu yang terdepan di antara pengikut-pengikut Kristus, kita bukannya harus meninggikan diri kita dalam kekuasaan dan membiarkan ambisi jahat mencemarkan kita, apalagi menyalah-gunakan status yang kita sandang demi keuntungan atau kepentingan diri sendiri, tapi justru kita harus semakin merendahkan diri kita hingga menjadi seorang pelayan dan hamba.

Dikemudian hari Petrus mengingatkan kembali tentang hal ini, "Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya" (1 Petrus 5:6). The only way up is by going down. If we humble ourselves before God, He will exalt us in due time. Dunia tidak mengenal prinsip ini, tapi inilah prinsip Kerajaan Surga. Kita anak-anak Tuhan menyandang status sebagai anak Raja, anak dari Raja diatas segala raja. Tapi Kerajaan Surga tidaklah seperti kerajaan di dunia, dimana siapa mereka bisa berkuasa secara absolut sesuka hatinya karena punya kuasa untuk itu. Dalam Kerajaan surga justru kita diminta untuk memiliki kerendahan hati, mau melayani orang lain yang paling hina sekalipun dengan sebentuk hati seorang hamba.

Seperti yang sudah saya singgung di atas, memiliki hati hamba dan kerendahan hati untuk melayani berarti pula bahwa kita harus melakukannya dengan penuh kasih, yang menjadi inti sari dari kekristenan. Paulus mengingatkan hal ini: "Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!" (1 Korintus 16:14).

Seperti apa bentuk kasih itu? "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:4-7). Inilah bentuk kasih yang harus dimiliki oleh pengikut Yesus yang tidak akan ada apabila kita masih bersikap egois, berambisi mencari kemudahan dan keuntungan duniawi dan merasa paling hebat atau paling mulia.

Pada akhirnya, it's not about how high we rise, but it's about how low we go down. Kita harus benar-benar memahami prinsip-prinsip Kerajaan Surga dan tidak mencampur-adukkannya dengan prinsip atau cara pikir dunia. Sudahkah kita memiliki sikap anak Raja yang benar menurut Kerajaan Allah? Apakah kita tahu tujuan yang sebenarnya untuk mengikut Yesus? Apakah kita masih mengejar pemenuhan kebutuhan duniawi yang berkelimpahan, keamanan, kenyamanan, kekayaan, kekuasaan, keistimewaan dan sebagainya sebagai alasan untuk mengikut Yesus tapi menolak untuk menyangkal diri, memikul salib dan meminum cawan yang sama dengan yang harus diminum Yesus? Hari ini mari perhatikan betul motivasi kita dalam mengikut Yesus, agar jangan sampai pemahaman keliru membuat semuanya berakhir sia-sia.

Kita tidak mengerti apa yang kita minta apabila kita hanya menginginkan kemuliaan dari mahkota sebagai anak Raja tanpa menyadari kewajiban untuk menyangkal diri dan memikul salib

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, July 11, 2018

Motivasi Mengikut Yesus (4)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)


- Meninggikan diri sendiri

Apa yang membuat kedua saudara ini merasa berhak lebih dari para murid lainnya? Apakah karena mereka diberi Yesus julukan anak-anak guruh sehingga mereka merasa lebih istimewa? Entahlah. Tapi yang jelas, permintaan mereka menunjukkan bahwa mereka ingin berada lebih tinggi dibanding para murid lainnya. Itu sebuah bentuk sikap yang meninggikan diri sendiri.

Kita harus sadar bahwa prinsip Kerajaan Surga dalam memandang siapa yang terbesar berbeda dengan cara pandang dunia. Lihatlah apa yang Yesus katakan dalam Matius 18:1-4. Pada saat itu para murid mendatangi Yesus dan menanyakan siapa yang terbesar di dalam Kerajaan Surga. Yesus menjawab dengan memakai seorang anak kecil sebagai peraga, "lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga." (ay 3-4). Jadi jelaslah bahwa kebesaran dalam Kerajaan Allah itu diukur bukan oleh popularitas, kekuasaan, pamor, kekuatan, status dan sebagainya melainkan oleh kerendahan hati.

Jawaban Yesus ini disampaikan sebelum datangnya permintaan ibu Yakobus dan Yohanes. Itu menunjukkan bahwa sebenarnya Yakobus dan Yohanes sudah mendengar pengajaran Yesus tentang kerendahan hati dan pelayanan, seperti yang sudah ditunjukkan Yesus sendiri dengan keteladananNya secara langsung. Tapi apakah mereka sudah memahami dan menghayatinya? Tampaknya belum, sebab kalau mereka sudah paham tentu mereka tidak akan meminta sesuatu seperti itu. Kenyataannya, setelah lebih 2000 tahun berselang, masih sangat banyak manusia yang belum memahami prinsip Kerajaan ini.

Ketiga hal negatif ini menunjukkan bahwa mereka belum mengerti prinsip Kerajaan dalam memandang status murid Yesus. Mereka ingin mencari keistimewaan, kemudahan, tapi lupa bahwa kerendahan hati, mendahulukan kepentingan orang lain, siap mengorbankan diri atas dasar kasih, bahkan kesiapan untuk mengalami aniaya dan penderitaan seperti cawan yang harus diminum Yesus pun menjadi sesuatu yang wajib bagi semua pengikutNya. Itulah sebabnya jawaban Yesus pada ibu Yakobus dan Yohanes adalah "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta." (Matius 20:22a).

Yesus lalu menegaskan bahwa perihal siapa yang duduk di kiri dan kanan Kristus itu bukanlah hakNya, tapi merupakan hak Tuhan sepenuhnya. (ay 23). Meski demikian, Yesus menyampaikan sebuah hal penting. Yesus berkata, "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu" (ay 26-27). Para pemerintah di dunia merasa punya otoritas absolut sehingga bisa menindas rakyatnya dengan tangan besi, menjalankan kekuasaan dengan keras bahkan kejam. Tetapi menyandang predikat sebagai murid Yesus sama sekali berlawanan dengan itu. Yesus menegaskan bahwa untuk mencapai posisi yang baik, seseorang haruslah rela menjadi pelayan dan memiliki hati seorang hamba. Sebab, "sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (ay 28).

(bersambung)


Tuesday, July 10, 2018

Motivasi Mengikut Yesus (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Permintaan yang disampaikan oleh sang ibu tentu sesuai dengan keinginan anaknya, sebab tidak mungkin si ibu berani meminta tanpa ada persetujuan dari kedua anaknya. Permintaan ini menunjukkan adanya kegagal-pahaman mengenai esensi untuk mengikut Yesus. Setidaknya ada tiga hal buruk atau negatif yang menonjol dari permintaan ini. Mari kita lihat satu persatu.

- Ambisi untuk diistimewakan sebagai yang terhebat

Sadar atau tidak, seringkali semangat dan usaha kita untuk menjadi benar sering disertai oleh ambisi pribadi seperti ingin jadi yang paling hebat lantas berhak mendapat keistimewaan atau kemuliaan lebih dari orang lain. Di saat ambisi ini mencemari usaha kita untuk terus bertumbuh lebih baik, ada banyak hal-hal negatif yang bersumber dari kedagingan yang akan muncul seperti iri, dengki, sombong, lupa diri dan sebagainya. Kalau kita ingin lebih dari orang lain, ingin jadi yang paling hebat, bagaimana mungkin kita bisa bersenang hati melihat ada orang yang hidupnya diubahkan atau saat ada yang dipulihkan lebih dari kita?

Ambisi tidak salah kalau tujuannya tidak salah. Berambisilah untuk hidup semakin benar, berambisilah untuk semakin rendah hati, semakin mengasihi Tuhan dan sesama, dan berambisilah untuk selamat. Jangan arahkan ambisi untuk hal-hal yang mendatangkan keuntungan duniawi untuk memuaskan kedagingan. Jangan sampai tujuan utama kita mengikut Yesus kemudian digeser oleh berbagai bentuk ambisi yang jahat.

- Egois atau mau menang sendiri

Sifat yang satu ini merupakan salah satu ancaman utama kita untuk bertumbuh dengan baik dan benar. Di dunia yang semakin individualis orang semakin sibuk mengejar hal-hal yang mendatangkan keuntungan diri sendiri. Kalau harus mengorbankan orang lain apa boleh buat, yang penting kita dulu selamat. Bukankah akan lebih baik apabila kakak beradik Yakobus dan Yohanes fokus untuk mengajak seluruh murid Yesus dan orang lain di sekitar mereka untuk bisa layak berada di sebelah Kristus kelak secara bersama-sama?

Sikap egois ini bisa melahirkan pemahaman yang keliru soal mengikut Yesus. Padahal Yesus sendiri sudah mengingatkan bahwa "sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40). Lalu Yesus juga sudah mengingatkan bahwa kita harus mengasihi sesama seperti diri kita sendiri (Matius 19:19), bahkan mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita (Matius 5:44), dan tentu saja yang dikatakan Yesus sebagai perintah baru: "yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Kita tidak bisa mengasihi seperti ini kalau masih dipenuhi sikap egois atau mau menang/mementingkan diri sendiri.

Salah satu bentuknya bisa kita lihat dari bagaimana kita berdoa. Apakah doa kita berisi doa buat orang lain, buat orang-orang yang kita kenal tapi belum bertobat, buat para pemimpin, buat gembala dan pengerja dimana kita tertanam saat ini, buat bangsa dan negara atau masih penuh dengan doa untuk kepentingan diri sendiri saja? Bagaimana kita berdoa dan apa isinya bisa menjadi gambaran apakah kita masih egois atau tidak.

(bersambung)


Monday, July 9, 2018

Motivasi Mengikut Yesus (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Yang menyedihkan, hamba-hamba Tuhan pun tidak semuanya bebas dari jebakan pemikiran keliru ini. Ada yang sudah melayani tapi hidupnya masih sangat duniawi. Ada yang melayani supaya Tuhan jaga hidupnya lebih dari orang yang tidak melayani, ada yang pasang tarif, ada yang minta disediakan fasilitas sekelas artis. Ada gereja yang hanya ingin kotbah yang menyenangkan telinga jemaat supaya jumlah yang datang bisa tetap terjaga kalau bisa meningkat, dan kemudian ada pendeta-pendeta yang mengatur kotbahnya sesuai pesanan, bukan lagi untuk menyampaikan kebenaran dari Tuhan, dimana mereka lakukan supaya jangan sampai tidak dipanggil lagi sehingga kurang uang masuk. Ada yang melayani Tuhan karena mencari berkat duniawi. Bahkan iri hati, arogansi, kesombongan, tidak adil, pilih kasih sampai fitnah bisa menjangkiti pelayan Tuhan.

Bisa jadi mereka yang berlaku seperti ini keliru mengartikan nilai-nilai kasih menurut iman mereka, mungkin mereka lupa diri karena berada pada posisi lebih tinggi dibanding orang biasa. Atau mungkin juga, mereka menyalah artikan status. Bingung menyikapi posisi antara hamba Tuhan dan anak Raja. Kebingungan bisa timbul kalau kita mengadopsi prinsip-prinsip atau paham dunia tentang status seseorang, tetapi sesungguhnya itu tidaklah sulit kalau kita mengacu kepada Firman Tuhan.

Menjadi anak Raja bukan berarti kita bisa berlaku seenaknya, bukan berarti kita bisa tinggi hati, tetapi justru harus punya hati bagai seorang hamba. Bukan dilayani tetapi melayani, bukan hanya mencari enak tapi menolak untuk menderita. Sekali lagi, Tuhan lebih dari sanggup untuk menurunkan berkatNya dan mendatangkan keajaiban diluar logika manusia untuk kita. Tapi apakah kita juga siap meminum cawan yang sama yang harus diminum Yesus buat menyelamatkan nyawa manusia, termasuk kita hari ini?

Saya ajak teman-teman untuk melihat perikop dalam Matius 20:20-28. Pada suatu hari datanglah ibu dari anak-anak Zebedeus bersama kedua anaknya, yaitu Yakobus dan Yohanes, kakak beradik yang digelari Boanerges atau anak-anak guruh oleh Yesus sendiri. (Markus 3:17). Maksud kedatangan sang ibu saat itu adalah untuk memohon kepada Yesus agar kedua anaknya bisa beroleh kedudukan yang baik dan istimewa kelak di Kerajaan surga. Permintaan ini sepintas wajar untuk dilakukan seorang ibu yang sayang terhadap anak-anaknya, tapi sesungguhnya menunjukkan ketidakpahaman ibu dan kedua anak ini mengenai prinsip Kerajaan. Mari kita lihat percakapannya.

"Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." (Matius 20:21).

Mendengar ucapan ibu ini, Yesus lalu menjawab: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" (ay 22a). Yesus ternyata menjawab dengan mengacu kepada kesanggupan mereka untuk menderita dalam mengikuti Kristus, turut memikul salib, turut minum dari cawan penderitaan yang harus Dia minum. Ini sejalan dengan pesan Kristus bahwa siapapun yang mau mengikuti Kristus haruslah siap untuk menyangkal dirinya sendiri dan memikul salib. (Markus 8:34,Lukas 9:23). Sebab, "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku." (Matius 10:38).

(bersambung)


Sunday, July 8, 2018

Motivasi Mengikut Yesus (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 20:22a
====================
"Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?"

Seorang pengusaha suatu kali bercerita tentang pengalamannya. Ia sukses di usia muda, tapi kemudian sempat jatuh dan hari ini ia sedang kembali menapak naik. Ia bercerita bahwa dahulu di saat usahanya sukses, ia dikelilingi oleh begitu banyak orang yang ia anggap sebagai teman. Banyak dari mereka ini yang ia bantu untuk bisa mulai usaha juga. Tapi saat ia jatuh, banyak di antara 'teman' ini yang pergi meninggalkannya. Di saat itu ia bisa melihat mana yang teman sejati, yang benar-benar tulus dalam berteman, mana yang cuma cari untung saja. Dan jumlah antara teman sejati dan yang cari untung benar-benar jomplang, seperti satu banding seratus, bahkan lebih katanya. Sejak saat itu ia belajar untuk lebih selektif dalam memilih atau menerima seseorang sebagai teman dekat.

Saya akan kasih satu contoh lain. Ada seorang teman yang sudah lama berprofesi sebagai dokter spesialis yang sukses. Anaknya sejak kecil sangat ingin bisa seperti ayahnya. Si ayah tentu menyambut baik dan mendukung anaknya. Saat anaknya mulai kuliah di kedokteran, anak ini ternyata ingin mendapat kemudahan-kemudahan dalam kuliah. Misalnya dengan menghubungi dosen-dosen yang notabene adalah teman sejawat atau bahkan mantan murid. Tapi teman saya ini menolak karena tidak ingin anaknya menjadi manja dan menggampangkan profesi. "Jadi dokter itu urusannya nyawa orang, jangan dianggap main-main. Jadi harus serius dan benar belajarnya." katanya pada si anak. Ia pun menambahkan, "Dia harus tahu bagaimana susahnya sampai bisa berhasil. Jangan cuma lihat enaknya, mau ikut berhasil tapi tidak mau ikut perjuangannya." Saya bangga kepadanya, karena ia memutuskan untuk mendidik anaknya dengan benar.

Ada banyak orang yang ingin sukses seperti orang lain tanpa mau susah. Mereka mengira semua itu instan tanpa perjuangan dan pengorbanan. Anak teman saya ini tidak menyadari bahwa untuk bisa berhasil, ayahnya dulu harus membiayai kuliah sendiri sambil bekerja. Saya ingat dahulu sebagai anak kos ia sering kesulitan makan. Akan halnya contoh yang pertama, lihatlah bahwa ada banyak orang yang berteman dengan orang yang sukses hanya karena ingin mendapat kemudahan dan kenyamanan, ingin mengejar status, tempat bergantung, meminta bantuan dan lain-lain yang menguntungkan diri sendiri. Begitu temannya kesulitan, mereka pun menghindar karena tidak mau ikut repot. Biasanya mereka yang punya tabiat seperti ini akan segera mencari tempat gantungan baru dengan segala cara.

Bagaimana dengan status kita saat menerima Yesus? Kita kemudian menyandang status anak-anak Raja di atas segala raja. Dan banyak orang memandangnya seperti menjadi anak raja di dunia. Akses bebas seenaknya di dalam istana, hidup penuh kemewahan, tidak ada yang berani menganggu apalagi melawan, punya kuasa besar sehingga bisa bertindak sesuka hati dan sebagainya. Banyak orang yang memutuskan untuk ikut Yesus karena ingin hidupnya berubah menjadi baik bahkan berkelimpahan. Minimal bisa terbebas dari resiko bangkrut, sakit, kesulitan hidup terutama finansial dan lain-lain. Menyandang status anak Allah dikira merupakan status yang otomatis membuat segalanya menjadi mudah bagai mengendara di jalan bebas hambatan. Kekeliruan ini seringkali diperparah oleh banyak pengajaran yang berpusat pada mengejar kemakmuran.

Apakah Tuhan tidak bisa memberi mukjizat pada kita? Apakah Tuhan kurang kuasa untuk melepaskan kita dari masalah, mengubah kesulitan kita menjadi ladang berkatNya? Apakah salah berharap seperti itu? Tentu tidak. Tuhan lebih dari sanggup untuk melakukan hal-hal besar dalam hidup kita. Masalahnya, jangan sampai kita memilih ikut Tuhan untuk mengejar kemudahan, kekayaan dan kelancaran hidup dalam hal-hal duniawi. Kalau itu yang kita kejar, kita bisa kecewa. Dan ada banyak orang yang kemudian meninggalkan Yesus dan pergi mencari alternatif-alternatif lain yang mereka anggap lebih cepat mendatangkan apa yang mereka inginkan.

Suatu kali saya pergi dengan seseorang, dan ia berkata bahwa sebagai anak Allah, seharusnya Allah akan menyediakan tempat parkir buat mobilnya. Memangnya Tuhan tukang parkir atau pemilik mal? Siapa kita yang berhak memerintah dan mewajibkan Tuhan untuk mengabulkan dan menyediakan semua yang kita mau? Tapi ada banyak orang yang menempatkan Tuhan tidak lebih dari pegawai, pesuruh, pelayan, penyedia keperluan hidup bahkan bodyguard alias tukang pukul. Betapa berbahayanya kalau itu yang ada dalam pikiran kita sebagai pengikut Kristus.

(bersambung)


Saturday, July 7, 2018

What Do We Have Today? (5)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)


Tapi kemudian Yesus berkata: "Cobalah periksa!" (Markus 6:38). Setelah diperiksa, mereka menemukan ada anak yang membawa lima roti dan dua ikan. Lalu apa yang ada itulah yang dipakai Tuhan Yesus untuk mengenyangkan ribuan orang. Lima ribu orang itu masih laki-laki saja, belum termasuk wanita dan anak-anak. Semua dikenyangkan bahkan masih lebih.

Apakah Tuhan Yesus tidak bisa menurunkan langsung makanan dari langit? Tentu saja bisa. Tapi Yesus mau mengajarkan bahwa kita tidak boleh terfokus pada apa yang tidak ada atau tidak kita punya, melainkan periksalah terlebih dahulu apa yang ada pada kita. Doakan, dan gunakan. Akan halnya potensi, kenali bakat atau keahlian khusus apa yang Tuhan bekali pada kita, asah dan kembangkan semaksimal mungkin dan pergunakan itu demi kebaikan kita dan sesama.

Mungkin anda melihat sesuatu yang tidak mungkin di depan untuk diraih atau diatasi seperti pandangan para murid pada lima ribu lebih orang yang harus diberi makan. Tapi sudahkah anda periksa apa yang ada? Tahukah anda apa yang ada pada diri anda saat ini? Mungkin anda cuma menemukan lima roti dan dua ikan, dan anda merasa itu tidak akan cukup untuk melakukan apa-apa. Tapi dari apa yang kita pelajari hari ini, kita bisa melihat bahwa apabila Tuhan memberkatinya, lima roti dan dua ikan itu sudah lebih dari cukup untuk mendatangkan hal-hal yang besar, bahkan ajaib.

Apakah kita mengetahui apa potensi yang ada pada kita, dan sudahkah kita memuliakan Tuhan lewat itu?  Seperti yang saya sampaikan di awal, manusia cenderung untuk melihat apa yang tidak atau belum mereka punyai daripada menyadari potensi dan semua yang sudah ada pada kita. Maukah kita sadar bahwa Tuhan sudah menyediakan segalanya secara cukup bagi kita untuk bisa berhasil dan bisa memberkati orang lain sekaligus memberi kemuliaan bagi namaNya?

Ada banyak orang disekitar kita yang terabaikan, tertolak, tersisih dan tersingkir, mereka butuh pertolongan, dan kita bisa menyatakan kasih Kristus kepada mereka dengan apa yang kita miliki. Kita tidak perlu sibuk mencari apa yang tidak kita miliki hingga melupakan apa yang ada pada kita. Periksalah apa yang ada pada kita dan pergunakanlah. Tuhan bisa memakai segala sesuatu yang terlihat sederhana atau kecil sekalipun dari kita secara luar biasa. Tuhan bisa melakukan hal-hal besar bahkan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya lewat apapun yang kita punya saat ini. What do we have, and what can we do? Why don't we figure them out and make a difference?

Kenali potensi dan apa yang ada pada kita dan pergunakan untuk menyatakan kemuliaan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, July 6, 2018

What Do We Have Today? (4)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Perikop ini mengajarkan kita tentang tiga hal penting yang saling berhubungan, yaitu:

1. Kepekaan/belas kasih terhadap sesama
Petrus peduli terhadap penderitaan si orang yang sudah lumpuh sejak lahir. Orang lumpuh itu merasa hanya bisa bertahan hidup mengharapkan sedekah dari orang lain, tetapi Petrus mengalirkan kasih Tuhan kepadanya dengan memberi mukjizat kesembuhan.

2. Pengenalan apa yang ada dan tidak ada pada kita
Petrus tahu apa yang dia punya dan apa yang tidak ia punya. Tidak memiliki harta, emas dan perak bukanlah kendala sama sekali buat Petrus. Ia tidak memakai itu untuk menjadi alasan tidak sanggup membantu orang lain.

3. Mempergunakan apa yang ada pada kita untuk memberkati sesama
Dengan mengetahui apa yang ia punya, Petrus pergunakan itu untuk memberkati orang lain. Tidak hanya sebatas ucapan kasihan, rasa iba, tapi Petrus melakukan sesuatu yang nyata.

Dalam berbuat baik kita tidak perlu berfokus pada apa yang tidak kita miliki yang bisa menghambat kita untuk melakukan sesuatu bagi mereka. Kesalahan cara berpikir ini akan membuat kita tidak menyadari apa yang ada pada kita dan karenanya kehilangan kesempatan untuk menolong orang lain. Dan Firman Tuhan tegas berkata: "Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa." (Yakobus 4:17). Karenanya sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui potensi diri kita, apa yang kita punya dan memakainya untuk memberkati orang lain.

Selain itu Alkitab juga mengingatkan kita: "Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah." (Galatia 6:9). Kita harus terus melakukan perbuatan-perbuatan baik yang bisa memuliakan Allah dengan tidak jemu-jemu. Ada atau tidak apresiasi manusia bukan masalah, karena sesuatu yang dengan tulus kita lakukan demi namaNya akan selalu berharga di mataNya. Dan tentu saja, tidak perlu ribet berpikir tentang apa yang tidak kita punya, tapi periksalah apa yang kita punya dan pakai itu untuk memberkati orang lain.

Mengenai memeriksa apa yang kita punya, ada contoh bagus dalam kisah Yesus memberi makan lebih lima ribu orang lewat lima roti dan dua ikan. Memberi makan sebanyak itu, mau dari mana? Dari mana duitnya, dan siapa yang bisa memenuhi kebutuhan sebanyak itu? Para murid pun kemudian pesimis karena memandang pada apa yang tidak mereka miliki.


(bersambung)


Thursday, July 5, 2018

What Do We Have Today? (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Pada saat itu Petrus dan Yohanes tengah berjalan menuju ke Bait Allah menjelang waktu berdoa. Di luar Bait Allah ada seorang laki-laki yang sudah lumpuh sejak lahir. Ia selalu diletakkan disana untuk mengemis berharap belas kasihan dari orang-orang yang hendak masuk ke Bait Allah.

Melihat Petrus dan Yohanes, ia pun seperti biasa meminta sedekah. Apa yang ia minta adalah sedekah seperti halnya pengemis yang kita temui setiap hari dijalan-jalan. Banyak dari kita yang merasa terganggu oleh kehadiran pengemis sepertinya. Kita biasanya kalaupun mau memberi akan mencari uang receh. Kalau tidak ada, ya sudah lewati saja sambil mengarahkan telapak tangan ke mereka.

Tapi Petrus menanggapi si pengemis lumpuh dengan sesuatu yang berbeda. "Tetapi Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" (Kisah Para Rasul 3:6).

"Kalau kamu minta uang, aku tidak punya itu sekarang. Tapi aku mau memberi apa yang ada padaku." kata Petrus. Dan yang ia berikan ternyata mukjizat besar yang bahkan tidak bisa dibeli dengan jumlah uang berapapun, yaitu mukjizat kesembuhan! Begitu ia berkata, "dalam nama Yesus, berjalanlah!", pada saat itu juga orang lumpuh itu diangkat naik oleh Petrus dan mukjizat terjadi. "Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu." (ay 7b).

Orang yang pernah bisa jalan lantas lama lumpuh saja butuh waktu untuk bisa jalan. Waktunya bisa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, karena tulang-tulang kaki biasanya sudah mengecil dan lemah. Apalagi kalau lumpuhnya sejak lahir seperti pengemis ini. Tapi lihatlah mukjizat Tuhan mengatasi semua logika dan kemampuan manusia. Ia bisa langsung berdiri dan tidak perlu belajar jalan terlebih dahulu untuk menggunakan kakinya.

Betapa senangnya hati orang lumpuh itu. Ia pun segera menikmati sesuatu yang sudah lama ia rindukan. Ia terus berjalan kesana kemari, melompat-lompat, bahkan ikut masuk ke dalam Bait Allah sambil terus memuji Tuhan. Dan hal itu pun menjadi kesaksian bagi semua orang yang melihat kejadian pada saat itu. (ay 9-10).

Ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik dari kisah ini. Tapi hari ini mari kita melihatnya dari salah satu sisi mengenai pengenalan akan apa yang kita miliki.

Perhatikan lagi jawaban Petrus. "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu." Petrus mengetahui apa yang ia miliki, dan ia tidak perlu mengeluh terhadap apa yang tidak ia punyai. Ia memakai apa yang ada padanya untuk memberkati orang lain, dan itu jauh lebih indah daripada sekedar harta seperti yang diminta orang lumpuh tersebut. Bukan hanya sekedar uang sedekah, tetapi mukjizat kesembuhan hadir dari apa yang dimiliki Petrus, yaitu iman akan Kristus yang memiliki kuasa untuk melakukan hal-hal yang mustahil sekalipun di mata manusia.


(bersambung)


Wednesday, July 4, 2018

What Do We Have Today? (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kemarin kita sudah melihat beberapa orang di kota kecil bernama Yope yang melakukan sesuatu secara langsung lewat talenta dan apa yang mereka punya. Tabita yang dalam bahasa Yunani disebut Dorkas mungkin cuma bisa menjahit. Dia tidak bisa berkotbah, dia bukan dokter, insinyur apalagi bos besar dengan uang melimpah-limpah. Tapi dalam keterbatasannya ia ternyata mau bergerak melakukan tindakan nyata. Ia menjahitkan baju dan jubah secara gratis buat para janda miskin di kotanya. Dan kita sudah tahu bahwa ia kemudian dibangkitkan dari kematiannya oleh kuasa Tuhan yang mengalir lewat Petrus, dan itu membuat banyak orang di Yope menjadi percaya kepada Yesus. Kisah ini bisa dibaca dalam Kisah Para Rasul 9.

Kedatangan Petrus ke kota itu yang tadinya atas permintaan para janda yang merasa kehilangan Tabita lalu berlanjut dengan keputusannya untuk tinggal beberapa hari lagi di rumah Simon yang bekerja sebagai penyamak kulit. Pekerjaan ini jauh dari higienis. Kotor dan bau, penuh bulu, pecahan daging yang menempel di kulit dan tentu saja bangkai hewan. Pekerjaan sebagai penyamak kulit dinilai najis oleh orang-orang Yahudi pada masa itu dan karenanya Simon pun tinggal tersisih jauh dari perkampungan penduduk. Secara logika tidak ada yang bisa ia tawarkan. Siapa yang mau nginap di rumahnya? Dekat saja tidak akan ada yang mau. Tapi Petrus dibawa Tuhan untuk tinggal disana. Dan Simon jelas membuka pintunya lebar-lebar.

Seperti yang sudah saya sampaikan dalam renungan sebelumnya, seorang prajurit bernama Kornelius yang tinggal di kota lain berjarak sekitar 60 km ternyata mendapat perkenanan Tuhan. Ia pun mengutus orang untuk menjemput Petrus. Orang-orang utusannya pun kemudian menginap pula di rumah Simon sang penyamak kulit. Lagi-lagi Simon tidak menolak. Ia mempersilahkan mereka yang belum pernah ia kenal sebelumnya untuk bermalam disana. Singkat cerita, Kornelius dan beberapa orang non Yahudi lainnya kemudian menerima kasih karunia keselamatan, bahkan Roh Kudus turun atas mereka sebelum mereka dibaptis.

Dari sisi tema hari ini, ada satu poin yang sengaja belum saya sampaikan dalam renungan terdahulu lewat kisah perjalanan Petrus di Yope, yaitu baik Tabita maupun Simon sang penyamak kulit tidak ambil pusing terhadap apa yang tidak mereka punya. Mereka langsung berbuat sesuatu dengan apa yang ada pada mereka atau bisa mereka lakukan. Yang satu menjahitkan baju buat janda miskin, yang satu lagi menyediakan penginapan buat Petrus dan utusannya Kornelius. Mereka tidak minder, mereka tidak mengeluh, mereka tidak mempergunakan keterbatasan mereka sebagai alasan. They did what they could, and used whatever they got at that time. Tuhan berkenan atas perbuatan mereka dan mereka pun menjadi bagian dari terjadinya pertobatan terhadap banyak orang yang bahkan lintas kota. Nama mereka tercatat dalam Alkitab dan akan terus menjadi teladan sampai pada kesudahan dunia ini.

Ada satu contoh menarik lainnya yang bisa kita baca dalam kitab Kisah Para Rasul pasal 3:1-10. Disana tertulis cerita mengenai Petrus menyembuhkan orang lumpuh tepat didepan pintu masuk Bait Allah.


(bersambung)


Tuesday, July 3, 2018

What Do We Have Today? (1)

webmaster | 8:00:00 AM | 2 Comments so far
Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 3:6
=======================
"Tetapi Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!"

Seorang teman saya menceritakan sebuah pengalamannya tentang memberi. Suatu hari ia ingin merapikan lemari bajunya yang sudah kepenuhan. Karena kepenuhan, ia memutuskan untuk mensortir baju-baju miliknya. Ia mengkategorikan atas tiga bagian: pertama adalah yang masih ingin ia pakai, kemudian yang kedua: bakal jarang dipakai tapi punya nilai historis seperti dari seseorang yang spesial atau mengingatkannya pada sebuah momen penting dalam hidupnya, dan yang ketiga: baju-baju yang tidak akan dipakai lagi. Misalnya sudah ketinggalan jaman, sudah tidak muat, ada flek atau cacat dan sebagainya. Ada beberapa yang masih terlihat seperti baru tapi tertimbun dan kemudian modelnya sudah tidak ia sukai. Nah, baju yang tidak ia pakai lagi ini harus keluar dari lemari. Pertanyaannya, mau dikemanakan? Ia pun kemudian memutuskan untuk berkeliling membagikan bajunya untuk gelandangan.

Saat berkeliling membagikan baju, ia melihat seorang yang masih remaja duduk lesu sendirian di pinggir sebuah ruko. Ia pun mampir dan meminta anak remaja ini memilih mana yang ia mau. Remaja ini terlihat senang dan memilih beberapa potong dengan wajah cerah. Karena merasa kasihan, teman saya pun memberikan beberapa potong roti yang kebetulan sempat ia beli sekalian keluar. Saat ia hendak pulang, remaja ini malu-malu mengulurkan tangan dengan mata berkaca-kaca. Teman saya bertanya, kenapa ia mau menangis? Ia berkata: "Hari ini sebenarnya hari ulang tahun saya, kak. Saya tidak punya siapa-siapa lagi, dan tadi saya sedang sedih harus dalam kondisi seperti ini di saat ulang tahun saya. "Ternyata kakak datang dan memberi saya baju-baju yang bagus banget, juga kue. Siapa sangka saat hari sudah larut malam tiba-tiba saya dapat hadiah seperti ini? Terima kasih kak." katanya. Mengetahui hal itu, teman saya kemudian pergi membeli sebatang lilin dan duduk di emperan merayakan ulang tahunnya, lalu berdoa buat anak remaja tersebut.

Saat ini remaja itu sudah tidak tahu pindah kemana. Beberapa kali ia cari tidak ketemu. Ia mengaku masih terus mendoakan dan berharap kelak bisa ketemu lagi. Pengalaman ini membuka pemahamannya bahwa kebahagiaan dalam memberi itu sungguh luar biasa rasanya, dan ternyata kita tidak selalu harus punya uang banyak terlebih dahulu untuk bisa memberi. Sesuatu yang sederhana hanya dengan menggunakan apa yang ada pada dirinya dan tidak ia butuhkan lagi ternyata bisa begitu berharga buat orang lain, apalagi kalau datangnya pada saat yang tepat. Paradigma berpikirnya berubah. "Saya sekarang tahu bahwa saya harus periksa dulu apa yang saya punya dan bisa berikan juga lakukan untuk orang lain." katanya.

Ada banyak orang yang berpikir seperti cara berpikirnya sebelum ia mendapatkan pengalaman tadi. Sudah menjadi sifat manusia untuk selalu melihat apa yang tidak dipunyai ketimbang memperhatikan betul-betul apa yang ada pada mereka untuk diolah semaksimal mungkin. Kita sibuk mengejar yang kita belum atau tidak punya ketimbang bersyukur dan menggunakan potensi yang sudah ada pada kita. Yang ada dibiarkan menganggur, yang belum ada diburu. Salah satu penyebabnya adalah sifat manusia yang cenderung sulit merasa puas dan terus saja menginginkan lebih dan lebih lagi. Ada peribahasa mengatakan "rumput tetangga lebih hijau lebih hijau dari rumput sendiri". Itu menggambarkan sifat manusia yang selalu merasa kurang dan ingin bisa seperti orang lain. Anehnya, banyak orang yang terus mencari dan mencari tanpa pernah mengetahui apa sebenarnya yang mereka butuhkan dan apa yang bisa mereka lakukan dengan potensi yang mereka miliki.

Jika tidak hati-hati kita bisa terjebak pada rasa iri hati. Dan itu bisa sangat berbahaya, "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." (Yakobus 3:16). Kejahatan-kejahatan dan berbagai jenis dosa mengintip disana, siap menerkam kita. Kalau untuk hidup sendiri saja kita tidak kunjung puas, apalagi dalam hal melayani atau menolong orang lain. Betapa seringnya kita merasa tidak mampu atau belum cukup mampu, karena itu tadi, kita memandang kepada apa yang tidak atau belum kita punya ketimbang memeriksa apa yang ada pada kita.

Kalau cara berpikir seperti ini dipelihara, kita tidak akan pernah merasa mampu dan akibatnya kita tidak kunjung melakukan sesuatu yang bisa membawa dampak baik buat orang lain. Kita tidak bisa menjadi terang dan garam, kita tidak bisa menjadi saksi Kristus di dunia. Padahal kalau saja kita mengetahui potensi diri dan apa yang ada pada kita, mungkin sejak dulu kita bisa mulai menjadi murid-murid Kristus yang berdampak nyata di tempat di mana kita berada. Mengetahui potensi diri sungguh penting baik untuk kemajuan diri kita sendiri maupun dalam mengalirkan kasih Allah lewat perbuatan-perbuatan baik secara nyata.

(bersambung)


Monday, July 2, 2018

Simon Sang Penyamak Kulit (5)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Simon sang penyamak melakukan pekerjaan yang dianggap kotor oleh orang Yahudi. Produk yang ia hasilkan dibutuhkan, tapi ia sendiri disisihkan dari lingkungan. Tapi Simon tetap setia melakukan pekerjaannya. Saya percaya Tuhan berkenan kepadanya sehingga ia dan rumahnya dipakai Tuhan sebagai bagian dari datangnya keselamatan atas orang lain di kota yang berjarak 60 kilometer-an dari tempat tinggalnya. Dan ia pun tercatat dalam Alkitab. Mungkin tidak banyak orang yang mengetahui tentang dirinya karena tertutupi kisah Tabita alias Dorkas dan kemudian kisah dibaptisnya prajurit bernama Kornelius bersama orang-orang yang berkumpul disana yang mendengar pemberitaan Petrus. Tapi yang jelas, nama Simon sang Penyamak ditulis di dalam Alkitab. Bukan cuma satu kali tapi tiga kali. Itu menunjukkan bahwa perannya penting dalam pemberitaan Injil dan pertobatan orang-orang lewat pelayanan para rasul.

Tabita alias Dorkas hanyalah penjahit di kota pelabuhan yang kecil di barat daya Laut Tengah (sekitaran Tel Aviv di jaman sekarang). Di kota yang sama ada Simon, seorang yang melakukan pekerjaan bau dan kotor. Tapi dari keduanya kita bisa melihat besarnya curahan kasih karunia keselamatan dan mukjizat Tuhan turun atas orang-orang bukan cuma di kota mereka tapi hingga ke kota lain. Pekerjaan mereka yang tidak dianggap istimewa oleh manusia ternyata sanggup menghasilkan hal-hal luar biasa saat Tuhan bekerja lewat mereka.

Apa yang kita kerjakan hari ini? Sebagian dari kita mungkin merasa bahwa pekerjaan kita rendah, tidak terpandang, atau bahkan kotor seperti Simon sang Penyamak. Mungkin juga ada di antara teman-teman yang merasa punya masa lalu atau sedang berada pada titik yang 'kotor' sehingga tidak layak untuk melayani Tuhan. No, that's not true. Dari kisah ini kita belajar bahwa apapun pekerjaan kita, seperti apapun manusia menilainya, apabila pekerjaan itu berkenan dan menyenangkan hati Tuhan, Tuhan bisa pakai itu untuk menyatakan kemuliaanNya, bahkan mendatangkan keselamatan buat orang lain. Tidak perlu merasa rendah diri, tidak perlu membandingkan dengan pekerjaan orang lain yang kelihatannya lebih baik. Just do your job the best you can, and be thankful for it. Selain apa yang anda kerjakan bisa berdampak luar biasa bagi orang lain, jika Tuhan mendapati anda bisa dipercaya untuk perkara kecil, Tuhan akan percayakan perkara lebih besar lagi kelak saat waktunya tiba.

Apa yang kotor atau rendah dalam anggapan manusia belum tentu rendah dalam pandangan Tuhan. Sebaliknya, apa yang dianggap hebat oleh manusia belum tentu pula dianggap sama oleh Tuhan. Tuhan tidak memandang manusia dari tinggi rendahnya pekerjaan. Tuhan tidak memandang muka, melainkan melihat hati (1 Samuel 16:7). Hati yang takut akan Tuhan, hati yang mengasihi, hati yang menyembah, hati yang rindu membawa jiwa-jiwa, hati yang rindu melayani, hati yang taat, hati yang mampu menggerakkan pemiliknya untuk bekerja dengan sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan bukan manusia tanpa memandang besar kecilnya pekerjaan itu.

Pandanglah hati tokoh-tokoh yang ada pada renungan hari ini. Hati Petrus, hati Tabita, hati Simon dan hati Kornelius. Lihatlah bagaimana mereka mendapat perkenanan Tuhan dan bisa menjadi inspirasi hingga ribuan tahun sesudah masa hidup mereka. Tuhan menanti kita untuk memiliki sikap hati yang sama. Lakukan itu, dan lihatlah kelak betapa luar biasanya Tuhan bekerja atas diri, hidup dan pekerjaan anda.

God continues to work miracles in our lives, including through our works 

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, July 1, 2018

Simon Sang Penyamak Kulit (4)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Sesampainya mereka di Kaisarea, Petrus mengatakan kepada Kornelius dan orang-orang disana: "Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir. Itulah sebabnya aku tidak berkeberatan ketika aku dipanggil, lalu datang ke mari. Sekarang aku ingin tahu, apa sebabnya kamu memanggil aku." (ay 28-29). Lihatlah bahwa penglihatannya di atas rumah menyiapkannya untuk bertemu dengan Kornelius.

Pada masa itu orang Yahudi dilarang keras bergaul dengan non Yahudi, juga tidak boleh masuk ke dalam rumahnya. Tapi lewat penglihatan itu, Petrus sadar bahwa ia tidak boleh menyebut orang non Yahudi sebagai orang yang najis atau tidak tahir. Petrus menyadari bahwa penglihatannya bukan soal halaldan tidak halalnya makanan menurut hukum Israel tapi juga tentang sesama manusia. Dia mendapat pencerahan bahwa Tuhan menerima siapa saja yang bertobat dan taat kepadaNya.

Itulah yang ia katakan kepada orang-orang disana setelah mendengar penjelasan Kornelius tentang alasan pemanggilannya. "Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang." (ay 34-36).

Saya menganjurkan teman-teman untuk membaca kelanjutannya karena disana tercatat dengan jelas semua yang dikatakan Petrus akan hal ini. Dalam ayat 44 kita bisa melihat bahwa kemudian Roh Kudus turun atas semua orang yang mendengar pemberitaan Petrus. Orang Yahudi yang ada disana pun tercengang melihat fakta, bahwa ternyata karunia Roh Kudus pun dicurahkan kepada bangsa-bangsa lain diluar Yahudi. Maka Kornelius dan orang-orangnya yang saleh seperti dirinya kemudian dibaptis dalam nama Yesus.

Bayangkan seandainya tidak ada kisah Tabita, Petrus tidak akan pergi dan menginap sebentar di Yope. Bayangkan seandainya tidak ada rumah Simon sang Penyamak, Petrus mungkin sudah melanjutkan lagi perjalanannya dan tidak bertemu dengan Kornelius. Tempat Simon sang penyamak yang kotor dan bau dan penglihatan yang didapatnya mengajarkan bahwa kita tidak boleh menghakimi orang-orang yang belum percaya. Mereka sama seperti kita, layak untuk menerima keselamatan, mendapat karunia Roh Kudus apabila mereka menjalankan hidup yang berkenan di hadapan Allah. Apa yang dipandang kotor atau bahkan najis oleh manusia ternyata bisa dipakai Tuhan sebagai awal datangnya keselamatan bagi orang lain! Itu adalah poin penting berikutnya.

(bersambung)


Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker