Thursday, July 24, 2014

Keragaman Karakter Manusia dan Amanat Agung (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 28:30
==========================
"Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya."

Dunia saat ini berisi milyaran jiwa. Kalau tahun 2012 saja jumlahnya sudah mencapai 7 milyar, saat ini entah sudah berapa jumlahnya. Sekiranya saat ini ada 8 milyar, berarti ada 8 milyar orang dengan sifat, gaya, tingkah, polah, sikap dan perilaku berbeda. Mungkin kita bisa mencari persamaan, tetapi tidak akan ada satupun yang persis sama. Kalau angka 8 milyar terdengar terlalu besar, lihatlah dalam lingkungan kerja, sekolah/kampus atau lingkungan sekitar rumah anda. Dalam skala yang jauh lebih kecil ini saja kita akan mendapati beragam orang dengan beragam gaya. Ada yang cocok dan bisa langsung dekat dengan kita, ada yang sifatnya sangat jauh berbeda sehingga sulit untuk didekati. Ada yang kita suka, ada yang biasa saja, ada yang kurang cocok dan ada yang kalau bisa kita hindari saja. Saat saya masih mengajar, setiap ada kelas baru saya bertemu dengan sekelompok orang dengan beragam sifat. Ada yang mudah diajar, ada yang tidak. Ada yang rajin, ada yang malas. Ada yang pendiam, ada yang heboh. Belum lagi kalau saya sudah mengenal mereka lebih dekat, maka masalah mereka pun tidak akan ada yang persis sama. Ada yang lamban menangkap pelajaran, ada yang cepat. Ada yang cepat tapi bermasalah dengan percaya diri, ada yang terlalu pede tapi salah melulu. Wah, macam-macam pokoknya karakter orang.

Anda bisa bayangkan ketika Yesus menyampaikan Amanat Agungnya yaitu bagi kita untuk pergi dan menjadikan semua bangsa muridNya seperti yang dicatat oleh Matius dalam pasal 28:19-20. Di lingkungan kecil saja kita sudah susah cocok dengan semua kalangan, bagaimana jadinya kalau kita menjalankan Amanat Agung Yesus hingga ke seluruh pelosok dunia? Anda bisa bayangkan skala yang lebih kecil saja, pendeta dan gembala. Domba yang dititipkan Tuhan menjadi tanggung jawab mereka berbeda-beda karakternya. Tugas mereka sulit, apalagi kalau berhadapan dengan orang-orang keras kepala/hati, bandel atau yang hobinya melawan. Saya pernah menanyakan hal itu kepada seorang gembala. Ia hanya tersenyum dan mengatakan bahwa itu merupakan panggilan dan ia harus menjalaninya dengan hati hamba. Tidak ada orang yang sulit, katanya, karena kasih tidak pernah gagal. Apa yang ia katakan mengacu kepada ayat dalam 1 Korintus 13:8. Menjalaninya mungkin tidak semudah itu, tapi dengan memiliki hati hamba, menghadapi mereka yang berbeda-beda dengan kerendahan hati dan kasih Allah yang mengalir dalam diri, itu akan memampukan kita. Sebuah hati yang tidak lagi mementingkan diri sendiri, sudah melepaskan ke'aku'an, berorientasi melayani atas dasar kasih akan membuat kita memiliki pandangan yang berbeda dalam menghadapi orang-orang yang beragam karakter atau sifatnya.

Keragaman manusia merupakan rahmat Tuhan yang luar biasa dan seharusnya tidak dijadikan penghalang atau penghambat kita untuk maju, demikian pula untuk menjalankan Amanat Agung. Tuhan menciptakan manusia dengan penuh keragaman. Banyak orang yang memandang perbedaan itu sebagai berkat Tuhan yang patut disyukuri, ada pula yang memandangnya sebagai alasan untuk menjauh, atau bahkan menghujat. Ada orang yang bisa melihat perbedaan sebagai sesuatu yang bisa dijadikan kesempatan untuk belajar banyak, ada yang menyikapinya dengan sekat pembatas karena menganggap perbedaan sebagai sebuah ancaman. Jangankan dengan yang tidak seiman, dengan saudara seiman saja perbedaan masih sering disikapi secara negatif. Berbeda denominasi bisa membuat orang saling memandang sinis satu sama lain. Padahal seharusnya kita tidak boleh berlaku demikian.

Semua anak-anak Tuhan punya tugas dan kapasitasnya masing-masing, terlepas dari perbedaan tata cara peribadatan masing-masing. Dan kita pun memiliki tugasnya sendiri-sendiri juga. Paulus mengatakannya seperti ini: "Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama,demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain." (Roma 12:4-5). Jika diantara kita saja sudah saling tuding dan merendahkan, bagaimana mungkin kita bisa menunaikan tugas kita seperti Amanat Agung yang sudah dipesankan Yesus kepada setiap muridNya, termasuk kita didalamnya?

(bersambung)

Wednesday, July 23, 2014

Yosia, Raja Belia (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Anak muda belia menjadi raja sejak kecil. Ia berdiri di tampuk kekuasaan tertinggi, memegang kendali atas negerinya. Semua orang menghormati dan melayaninya, sebagai raja ia pasti tidak berkekurangan. Bagaimana mungkin ia bisa tetap hidup lurus, tidak menyimpang ke kanan dan ke kiri dan terus melakukan hal-hal yang benar? Saya yakin Yosia mengerti bahwa meski ia memegang jabatan sebagai seorang raja, tetapi ia tahu bahwa ada Raja yang lebih tinggi dari dia yang harus ia patuhi, seperti halnya bapa leluhurnya Daud. Dia memang raja yang memerintah rakyatnya, tapi ada otoritas yang jauh lebih tinggi di atasnya yang kepadaNya ia harus menundukkan diri. Tanpa pemikiran seperti itu rasanya sulit seorang anak muda bisa tampil benar dan hidup dengan/dalam kebenaran saat sedang punya kuasa tinggi di dunia. Jangankan anak muda yang jadi raja, lihatlah orang-orang dewasa yang kekuasaannya jauh lebih rendah tapi tidak malu menunjukkan perilaku-perilaku yang sangat bertentangan dengan ketetapan Tuhan. Korupsi, kesombongan, gaya hidup mewah, besar omong, gemar berbohong, banyak gaya, semua mereka pertontonkan di depan masyarakat tanpa ada sedikitpun rasa malu. Yosia memberikan sebuah keteladanan yang sangat luar biasa, yang tentunya akan berguna bagi perbaikan diri kita apabila sudah terlanjur jatuh, dan akan sangat bermanfaat pula bagi para anak muda yang baru mulai membangun hidupnya secara benar.

Bagi teman-teman yang masih berusia muda belia, mulailah hidup lurus dari sekarang. Jangan menunda lagi dan terus terlena dalam gaya hidup dan nafsu dunia anak muda di jaman modern seperti sekarang ini yang penuh dengan berbagai bentuk penyesatan. Ada begitu banyak tawaran dan godaan yang akan terlihat menyenangkan tetapi sesungguhnya sangat berbahaya untuk dicoba. Obat-obatan, pengaruh seks bebas, berbagai pesta yang penuh perilaku buruk hingga tindak-tindak kriminal, semua itu merupakan godaan-godaan yang bisa menyesatkan bahkan membinasakan sejak di usia muda. Jangan pernah buka celah bagi iblis untuk masuk, karena iblis tidak pernah peduli berapapun usia kita.

Kepada Timotius yang juga pada saat itu masih muda, Paulus pun memberi sebuah pesan yang sama yang baik untuk diingat oleh teman-teman yang masih muda. "Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni." (2 Timotius 2:22).

Kita tidak tahu berapa panjang umur kita. Kita pun tidak tahu kapan akhir jaman akan datang. "Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja." (Markus 13:32). Tidak satupun juga yang tahu kapan masa dan kesempatan hidup kita di dunia ini akan berakhir. Jika kita tidak bersiap sejak sekarang, bisa jadi penyesalan akan datang pada saat yang terlambat. Seperti Yosia, jadilah teladan sejak muda. Begitu pula bagi kita semua yang mungkin sedang berada pada posisi pemimpin, jadilah pemimpin yang mencerminkan keteladanan Kristus. Jangan salah gunakan posisi yang dipercayakan Tuhan pada diri anda saat ini, tapi muliakanlah Tuhan dengan itu. Didik dan bimbinglah anggota anda dengan jujur dan lurus. Demikian pula anak-anak yang sudah dipercayakan Tuhan kepada anda. Bimbinglah mereka menurut jalanNya. "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu." (Amsal 22:6). Sebagai orang tua, jadilah pahlawan dengan "busur panah" yang baik untuk mengarahkan "anak-anak panah" anda ke arah yang benar, seperti yang diingatkan dalam Mazmur 127:4. Jika anda masih baru mulai menata hidup, tatalah dengan sebuah tatanan menurut ketetapan Allah sejak semula agar anda tidak perlu membuang waktu kelak untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan yang terlanjur terjadi. Mari kita semua mulai mengambil komitmen untuk hidup lurus, benar di mata Tuhan tanpa memandang berapapun umur kita saat ini.

Berapapun umur kita, hiduplah sesuai firman dan jadilah saksi Kristus yang benar

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, July 22, 2014

Yosia, Raja Belia (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 2 Tawarikh 34:2
=======================
"Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri."

Apakah ada umur minimal untuk kita mulai hidup benar? Jawabannya pasti tidak, tapi pada prakteknya banyak orang yang masih bersantai-santai menikmati kehidupan dengan cara dan perilaku keliru karena merasa masih punya banyak waktu. "Ah nanti saja, selagi masih muda nikmati dulu saja." begitu kira-kira. Bahkan ada iklan yang menyampaikan pesannya dengan jargon 'puasin muda lo." Puaskan dengan cara bagaimana? Itu yang jadi pertanyaan. Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah dengan hidup benar berarti kita tidak akan pernah bisa menikmati kehidupan baik saat masih muda maupun bagi kita yang sudah dewasa dengan asyik? Can we still able to have some fun by doing everything the right way? Dari anak-anak muda yang aktif melayani Tuhan saya melihat bahwa mereka masih tetap bisa bermain bersama teman-temannya tanpa harus kehilangan kegembiraan sedikitpun. Tidak harus minum-minum, tidak harus bergaya hidup hedonisme, tidak harus melakukan hal-hal yang mengarah kepada tindakan asusila, kriminal, merugikan orang lain dan sebagainya. Status kita sebagai anak Raja berlaku di segala usia, karenanya di segala usia pula kita seharusnya bisa menjalani hidup selayaknya anak Raja dengan kasih Kristus sebagai pondasinya. Muda tapi bisa berprestasi, bahkan sudah bisa ambil bagian dalam hal perbuatan baik yang merupakan aplikasi nyata dari kasih pun sudah bisa dilakukan sejak usia belia.

Mengenai sosok yang sudah bersinar di usia belia, ada seorang raja muda yang dicatat dalam kitab 2 Tawarkih bernama Yosia. Yosia dinobatkan menjadi raja di Yerusalem pada usia yang masih sangat muda yaitu sejak ia masih berumur 8 tahun! Masa pemerintahannya terbilang lama mencapai 31 tahun. Betapa mengagumkan kalau kita melihat bahwa Yosia tercatat memiliki gaya hidup yang lurus sejak kecil. "Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri." (2 Tawarikh 34:2). Di ayat berikut kita baca seperti berikut "Pada tahun kedelapan dari pemerintahannya, ketika ia masih muda belia, ia mulai mencari Allah Daud, bapa leluhurnya, dan pada tahun kedua belas ia mulai mentahirkan Yehuda dan Yerusalem dari pada bukit-bukit pengorbanan, tiang-tiang berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan." (ay 3). Pada usia kedelapan dari pemerintahannya, berarti usia Yosia masih 16 tahun ketika ia memutuskan untuk mencari Tuhan. Ini usia yang masih terbilang sangat muda.

Kalau kita lihat ada banyak anak-anak di usia sama masih tidak peduli dengan kebenaran dan merasa tidak perlu mencari Tuhan, maka Yosia terbilang berbeda. Apalagi mengingat statusnya sebagai raja, agenda kegiatannya pasti sangat padat. Selain itu memiliki kekuasaan tertinggi juga bisa membuat orang merasa berhak melakukan apa saja sekehendak hatinya. Kita yang dewasa yang logikanya lebih bijaksana saja masih gampang tergiur dalam berbagai bentuk dosa ketika kita memiliki kekuasaan setinggi itu. Tetapi ternyata Yosia memiliki gaya hidup yang berbeda meski ia punya seribu satu macam alasan untuk hidup seenaknya demi kepuasan diri sendiri. Yosia berbeda dari banyak raja lainnya yang gaya hidupnya tidak berkenan bagi Tuhan.

Pada tahun ke dua belas, ini artinya 4 tahun kemudian saat ia berusia 20 tahun, Yosua sudah mulai mentahirkan Yehuda dan Yerusalem dari berbagai bentuk penyembahan berhala. "Mezbah-mezbah para Baal dirobohkan di hadapannya; ia menghancurkan pedupaan-pedupaan yang ada di atasnya; ia meremukkan dan menghancurluluhkan tiang-tiang berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan, dan menghamburkannya ke atas kuburan orang-orang yang mempersembahkan korban kepada berhala-berhala itu." (ay 4). Pada usia yang masih sangat muda, Yosia sudah berperilaku lurus dan tidak menyimpang kemana-mana, ia mempergunakan statusnya sebagai raja dengan benar, dan tidak menyalahgunakan jabatan yang ia pegang. Di usia mudanya Yosia menjadi pelopor dalam pergerakan reformasi rohani di wilayah pemerintahannya. Bukankah itu luar biasa?


(bersambung)

Monday, July 21, 2014

Ciri Anak Raja (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

3. Mengasihi Allah
"Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah." (1 Korintus 8:3)
Anak-anak Allah adalah orang-orang yang hidup dalam kasih. Apapun yang ia perbuat adalah karena dan untuk Tuhan, bukan karena ingin populer, ingin terlihat hebat maupun jenis-jenis motivasi lainnya selain untuk Tuhan. Sibuk melakukan pekerjaan Tuhan belum tentu menjamin seseorang dikenal Tuhan apabila semua itu dilakukan bukan karena mengasihi Allah. (Matius 7:21-23). Anak-anak Allah juga dikatakan sebagai orang yang mengasihi Allah serta melakukan perintahNya sebagai wujud kasih itu. (1 Yohanes 5:2-3). Dan tentunya kalau kita mengasihi Allah, kita pun akan menuruti segala perintahNya. (Yohanes 14:15).

4. Taat kepada Allah
"Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih." (Efesus 5:1-8)
Sebagai kelanjutan dari ciri ke 3, orang yang mengasihi Allah tentu akan bertumbuh sebagai orang yang taat, mematuhi ketetapan-ketetapanNya. Ketaatan tidak bisa dimulai jika kita tidak mengenal pribadi Allah. Oleh karena itu kita perlu mengenal siapa Allah itu sesungguhnya, bagaimana besar kasihNya dan betapa kita berharga di mataNya. Untuk mengenalnya kita perlu membaca, merenungkan firman-firman Tuhan, membangun sebuah hubungan yang erat dengan Tuhan lewat doa-doa dan persekutuan pribadi kita denganNya. Tapi jangan berhenti di situ, karena setelahnya kita harus pula menjadi pelaku-pelaku firman yang mengaplikasikan segala yang telah kita pelajari ke dalam kehidupan lewat perbuatan-perbuatan nyata. "Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya."(Yakobus 1:25).  Dalam 1 Yohanes 5:2-3 di atas kita melihat juga bahwa anak-anak Allah itu adalah orang yang dengan taat melakukan firmanNya sebagai pernyataan kasih kita kepadaNya.

5. Hidup dalam terang
"Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang," (Efesus 5:8). Sebelum bertobat kita hidup dalam kegelapan. Tapi setelah kita meninggalkan manusia lama kita dan lahir kembali sebagai ciptaan baru, kitapun beroleh terang dalam Tuhan. Oleh sebab itu kita dituntut untuk hidup sebagai anak-anak terang, dan inilah salah satu ciri yang dimiliki anak Allah. Menjadi anak terang berarti menjadi orang yang berbuah kebaikan, keadilan dan kebenaran dalam hidupnya. (ay 9).

Berpindah dari gelap ke dalam terang, dari bukan siapa-siapa menjadi anak Raja, itu anugerah Tuhan yang sangat besar yang Dia berikan kepada kita. Dan dengan demikian kita pun menjadi ahli waris Allah. "Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah." (Galatia 4:7). Apakah kita sudah memiliki ciri-ciri sebagai anak Allah seperti ke 5 point diatas? Marilah kita sama-sama bersyukur dan menjaga anugerah begitu besar yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Hiduplah sebagai anak-anak Allah yang sesungguhnya.

Aku anak Raja, engkau anak Raja, kita semua anak Raja

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, July 20, 2014

Ciri Anak Raja (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Roma 8:17
====================
"Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia."

Bagi anda yang pernah sekolah minggu ketika masih kecil, anda tentu mengenal lagu "Aku Anak Raja". Lagunya sangat sederhana sehingga tidak sulit dicerna anak-anak. Bagi yang sudah dewasa mungkin lagu ini terasa terlalu ringan, tetapi makna yang terkandung di dalamnya sesungguhnya sangat penting bagi orang dewasa sekalipun. Lagu ini mengingatkan kita akan status yang kita sandang. We are not a nobody but we are the children of the King of kings. Sebagai anak kita seharusnya mewarisi sifat Bapa dan sedikit banyak akan berdampak pada nama baikNya. Layaknya seorang pangeran, jika pangeran itu berbudi dan mengasihi, maka harum pula nama ayahnya, sang raja. Sebaliknya, meskipun raja baik tapi pangeran punya perilaku buruk, maka nama ayahnya pun akan turut tercoreng.

Status kita sebagai anak berarti pula bahwa kita adalah ahli waris, yang artinya kita dilayakkan untuk menerima berkat-berkat yang telah disediakan Allah sebagai Bapa. "Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia." (Roma 8:17). Status sebagai anak tidaklah main-main. Itu adalah sebuah kehormatan besar yang seharusnya kita jaga. Jika kita bisa bangga menjadi anak dari orang tua kita, apalagi menjadi anak Allah. Tapi sayangnya banyak orang yang tidak memperhitungkan anugerah Tuhan yang begitu luar biasa besarnya ini. Hari ini saya ingin mengajak anda untuk merenungkan sudah sejauh mana kita berlaku selayaknya anak Raja, alias anak Allah. Apakah apa yang kita lakukan sudah memuliakan Tuhan, sehingga orang bisa mendapatkan gambaran Kristus yang benar seutuhnya, atau malah kita terus menjadi batu sandungan sehingga Kristus pun menjadi tercoreng karena sikap kita yang tidak baik.

Agar kita bisa mencermati sampai sejauh mana kita sudah berdiri sebagai anak Raja, ada beberapa ciri yang bisa kita jadikan landasan seperti yang tertulis di dalam Alkitab. Apa saja cirinya?  Mari kita lihat satu persatu.

1. Dipimpin Roh Allah
"Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah....Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah." (Roma 8:14,16).
Anak-anak Allah adalah orang-orang  yang hidupnya dipimpin langsung oleh Roh Allah. Inilah Roh yang dijanjikan Tuhan Yesus sebagai Penolong untuk menyertai kita selama-lamanya seperti yang disebutkan dalam Yohanes 14:16. Artinya kehidupan anak-anak Allah adalah sebuah kehidupan yang selalu disertai oleh Roh Kudus dalam setiap perbuatan dan perilaku sehari-hari. Roh Kudus diberikan kepada siapapun yang menjadi anak Allah yang sejati. "Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" (Galatia 4:6). Hidup yang dipimpin Roh Allah akan mendasari keputusan-keputusannya dalam kebenaran, mengacu kepada ketetapan firman Tuhan. Hidup seperti ini tidak lagi berpusat pada diri sendiri tetapi diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan. Apabila kita masih gamang dalam melangkah, tidak bertanya kepada Tuhan sebelum mengambil keputusan-keputusan, jika kita masih hidup menurut pandangan dunia, mentolerir dosa, mendahulukan keinginan daging, itu artinya kita belumlah hidup sebagai anak Allah, meski sudah mengaku beriman kepada Kristus sekalipun.

2. Dibaptis dalam nama Yesus Kristus
"Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus." (Galatia 3:26-27).
Memberi diri dibaptis adalah sebuah langkah ketaatan dalam iman akan Kristus. Mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, dan merupakan lambang menenggelamkan (meninggalkan) hidup kita yang lama untuk kemudian lahir baru, menjadi ciptaan yang sama sekali baru. Predikat anak Allah diberikan Tuhan kepada kita ketika kita memberi diri dibaptis dalam Kristus, yang artinya mengijinkan Kristus bertahta dan berkuasa dalam hidup kita.

(bersambung)

Saturday, July 19, 2014

Anak Raja Hati Hamba

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 20:26
=====================
"Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu; dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu"

Seperti apa rasanya menjadi anak raja? Kita tentu membayangkan akses bebas keluar masuk istana, hidup penuh kemewahan, tidak ada yang berani melawan, punya kuasa besar yang mungkin hanya raja yang bisa melebihi dan sebagainya. Dalam banyak kasus, anak-anak petinggi negara seolah kebal hukum. Jangankan anak raja, anak menteri saja kalau sudah melanggar hukum dan/atau mencelakakan orang tidak ada aparat yang berani menangkap. Hari ini diberitakan, besok menguap entah kemana. Tidak heran kalau banyak dari anak-anak petinggi ini kemudian menjadi arogan, punya gaya hidup mewah dan merasa berhak berbuat seenaknya. Perilaku ini yang agaknya diadopsi oleh banyak anak-anak Tuhan, termasuk yang melayani sekalipun. Mengaku hamba Tuhan, mengaku terlibat dalam pelayanan, tapi perilakunya masih sangat duniawi. Iri hati, dengki, sombong, kasar masih saja menjadi penyakit yang menjangkiti banyak pelayan Tuhan di mana-mana. Bisa jadi mereka yang seperti ini keliru mengartikan nilai-nilai kasih menurut iman mereka, mungkin mereka lupa diri karena berada pada posisi lebih tinggi dibanding orang biasa. Atau mungkin juga, mereka menyalah artikan status. Bingung menyikapi posisi antara hamba Tuhan dan anak Raja. Kebingungan bisa timbul kalau kita mengadopsi prinsip-prinsip pemahaman dunia tentang status seseorang, tetapi sesungguhnya itu tidaklah sulit kalau kita mengacu kepada firman Tuhan. Menjadi anak Raja bukan berarti kita bisa berlaku seenaknya, bukan berarti kita bisa tinggi hati, tetapi justru harus punya hati bagai seorang hamba.

Mari kita lihat perikop dalam Matius 20:20-28. Pada suatu hari datanglah ibu dari anak-anak Zebedeus bersama kedua anaknya, yaitu Yakobus dan Yohanes, yang keduanya diberi Yesus julukan Boanerges atau anak-anak guruh. (Markus 3:17). Kedatangan sang ibu saat itu adalah untuk memohon kepada Yesus agar kedua anaknya bisa beroleh kedudukan yang baik kelak di Kerajaan surga. Ini adalah hal wajar yang dilakukan seorang ibu terhadap anak-anaknya. "Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." (Matius 20:21). Mendengar ucapan ibu ini, Yesus lalu menjawab: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" (ay 22a). Yesus ternyata menjawab dengan mengacu kepada kesanggupan mereka untuk menderita dalam mengikuti Kristus, turut memikul salib, turut minum dari cawan penderitaan yang harus Dia minum. Ini sejalan dengan pesan Kristus bahwa siapapun yang mau mengikuti Kristus haruslah siap untuk menyangkal dirinya sendiri dan memikul salib. (Markus 8:34,Lukas 9:23). Sebab, "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku." (Matius 10:38).

Setelah Yohanes dan Yakobus menyatakan kesanggupannya, Yesus lalu menegaskan bahwa perihal siapa yang duduk di kiri dan kanan Kristus itu bukanlah hakNya, tapi merupakan hak Tuhan sepenuhnya. (ay 23). Meski demikian, Yesus menyampaikan sebuah hal penting. Yesus berkata, "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu" (ay 26-27). Para pemerintah di dunia merasa punya otoritas absolut sehingga bisa menindas rakyatnya dengan tangan besi, menjalankan kekuasaan dengan keras bahkan kejam, tetapi menyandang predikat sebagai murid Yesus tidaklah berarti bahwa kita berhak seperti itu. Yesus menegaskan bahwa untuk mencapai posisi yang baik, seseorang haruslah rela menjadi pelayan dan memiliki hati seorang hamba. Sebab, "sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (ay 28).

Status yang kita sandang adalah anak Raja, berhak sebagai ahli waris yang artinya menerima janji-janji Allah. Itu disebutkan dalam Roma 8:17. Tapi jangan lupa bahwa seperti yang dikatakan Yesus di atas, status anak Raja kita bukan berarti kita boleh tinggi hati melainkan harus memiliki hati hamba. Saya suka menyebut status ini sebagai anak Raja berhati hamba.

Jika kita ingin besar dan terdepan di antara pengikut-pengikut Kristus, kita bukannya harus meninggikan diri kita dalam kekuasaan, tapi justru kita harus semakin merendahkan diri kita hingga menjadi seorang pelayan dan hamba. Petrus dikemudian hari mengingatkan kembali tentang hal ini, "Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya" (1 Petrus 5:6). The only way up is by going down. If we humble ourself under God, He's promised that He will exalt us in due time. Dunia tidak mengenal hal inni, tapi inilah prinsip Kerajaan Surga. Kita anak-anak Tuhan menyandang status sebagai anak Raja, anak dari Raja diatas segala raja. Tapi Kerajaan Surga tidaklah seperti kerajaan di dunia, dimana siapa mereka bisa berkuasa secara absolut sesuka hatinya karena punya kuasa untuk itu. Dalam Kerajaan surga justru kita diminta untuk memiliki kerendahan hati, mau melayani orang lain yang paling hina sekalipun dengan sebentuk hati seorang hamba.

 Memiliki hati hamba dan kerendahan hati untuk melayani berarti pula bahwa kita harus melakukannya dengan penuh kasih, yang menjadi dasar kekristenan. Paulus mengingatkan hal ini: "Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!" (1 Korintus 16:14). Seperti apa bentuk kasih itu? "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.a menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:4-7). Inilah bentuk kerendahan hati yang harus dimiliki seorang hamba yang mengabdi kepada Tuhan.

Tidak ada syarat lain untuk mengabdi kepada Tuhan di KerajaanNya selain rela untuk menjadikan diri kita sebagai pelayan yang merendahkan diri di bawah tangan Tuhan dan menjalankan semuanya berdasarkan kasih Bapa surgawi. It's not about how high we rise, but it's about how low we go down. Sudahkah kita memiliki sikap anak Raja yang benar menurut Kerajaan Allah, yaitu sikap yang melayani dengan hati hamba?

Pelayan yang baik akan mendahulukan kehendak tuannya ketimbang kepentingan diri sendiri

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, July 18, 2014

The Good Samaritan (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Siapa orang Samaria? Dalam Yohanes 4:9 tentang perempuan Samaria, ada catatan kecil mengenai orang Samaria. "(Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)". Orang Samaria memiliki sejarah peseteruan yang panjang dengan bangsa Yahudi. Mereka menyembah allah lain dan dimusuhi oleh orang Yahudi. Tapi perhatikan, orang Samaria ini bergegas menolong orang Yahudi, meskipun dengan resiko ia akan dibenci oleh orang yang ditolongnya. Tapi dia tidak peduli. Hatinya tergerak oleh belas kasihan, dan ia melakukan tindakan nyata dengan langsung bergerak memberi pertolongan tanpa memandang apa agamanya, apa sukunya, siapa orang itu. Yang ia tahu adalah, ada orang sedang sekarat, butuh pertolongan, dan ia bisa melakukan sesuatu!

Menjadi orang Kristen saja tidaklah cukup. Menjadi hamba Tuhan, diaken, pelayan-pelayan Tuhan, itu pun belum cukup. Tuhan Yesus sudah mengingatkan bahwa sebagai muridNya kita harus menghasilkan buah-buah sesuai pertobatan kita. (Matius 3:8). Bagi orang Kristen yang tidak memiliki buah yang baik, yang sesuai dengan pertobatan diberikan peringatan yang sangat keras dan tegas. "Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api." (ay 10). Atau lihat ayat berikut: "Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api." (7:19).

Ayat-ayat ini adalah yang tidak main-main. Sebagai pengikut Kristus, kita dituntut untuk memiliki buah-buah yang baik, agar kita tidak berakhir ke dalam api untuk sebuah masa yang kekal. Imam dan orang Lewi adalah hamba-hamba Tuhan, tapi mereka tidak menunjukkan buah yang baik. Iman yang mereka sandang tidak diikuti dengan tindakan nyata. Kalau orang Samaria saja bisa menunjukkan belas kasih, alangkah keterlaluannya jika kita malah cuek, berpangku tangan dan diam saja tanpa tergerak untuk menyatakan kasih Kristus kepada sesama. Bukankah hal ini benar-benar terjadi di sekitar kita bahkan sampai hari ini?

Apa yang kita lakukan untuk saudara kita yang paling hina sekalipun, artinya kita melakukannya untuk Yesus. (Matius 25:40). Yesus juga mengingatkan demikian: "Jawabnya: "Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian." (Lukas 3:11).

Mengasihi sesama manusia, seperti diri sendiri, tanpa memandang suku, ras, agama, budaya, golongan, itulah yang diajarkan Kristus. Bukan hanya tidak boleh membenci, tapi malah kita harus siap menolong siapapun yang kekurangan dan menderita, tanpa melihat latar belakang orang tersebut, tidak pilih-pilih seperti apa yang diwajibkan oleh pengajaran di luar sana. Menjadi orang yang taat beribadah itu baik, menjadi hamba Tuhan itu baik, tetapi yang lebih penting adalah keseriusan kita mengamalkan itu semua dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu jalannya adalah dengan siap menolong siapapun disekitar kita yang membutuhkan, apapun latar belakangnya.

Yesus menunjukkan bahwa kenyang memahami isi Alkitab tidak menjamin orang akan mampu mengasihi sesama. Malah banyak orang yang kemudian menyombongkan diri dan merasa lebih rohani dibanding yang lain. Lewat perumpamaan ini kita bisa belajar bahwa apa yang dimaksud Yesus dengan mengasihi sesama itu sangat luas. Bukan hanya kepada sahabat-sahabat, atau saudara seiman saja, tapi tanpa perbedaan latar belakang, layak atau tidak, teman atau musuh sekalipun, mereka semua haruslah kita kasihi. Berat? Mungkin itu yang dirasakan imam dan orang Lewi, tapi tidak bagi orang Samaria. Jika orang Samaria saja sanggup, mengapa kita tidak?

Hasilkanlah buah sesuai pertobatan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker