Monday, August 31, 2015

Mendoakan Orang Lain (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kolose 4:12
====================
"Salam dari Epafras kepada kamu; ia seorang dari antaramu, hamba Kristus Yesus, yang selalu bergumul dalam doanya untuk kamu, supaya kamu berdiri teguh, sebagai orang-orang yang dewasa dan yang berkeyakinan penuh dengan segala hal yang dikehendaki Allah."

Kita berdoa mengucap syukur dan menyampaikan permohonan-permohonan agar kiranya dikabulkan Tuhan. Lalu bagaimana dengan mendoakan orang lain? Apakah itu penting? Apakah doa untuk orang lain bisa membawa perubahan kepada mereka ke arah yang lebih baik? Saya sudah melihat banyak bukti bagaimana doa yang dipanjatkan buat orang lain ternyata mampu mendatangkan perubahan yang luar biasa, bahkan mukjizat. Doa, seperti halnya saat dilakukan untuk kita sendiri terkadang butuh waktu untuk dikabulkan. Waktunya bisa berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Tapi kalau memang yang didoakan merupakan hal baik, saya tidak pernah ragu bahwa cepat atau lambat doa pasti akan dikabulkan.

Sayang banyak orang yang tidak mengetahui kekuatan doa. Tidak mempercayainya, menganggap itu kurang atau tidak penting, tidak mengetahui besarnya kekuatan disana atau mungkin pula tidak cukup sabar untuk menanti dijawabnya sebuah doa. Kalau terhadap diri sendiri sudah tidak sabar menunggu, apalagi doa untuk orang lain. Tidak sedikit pula yang merasa malas tidak peduli terhadap orang lain sehingga merasa tidak perlu mendoakan. Di sisi lain, jangan lupa pula bahwa tidak menutup kemungkinan ada orang-orang yang dengan tekun terus mendoakan kita. Kita mungkin tahu, mungkin bakal tahu, mungkin juga tidak akan pernah tahu. Tapi bisa saja ada orang-orang yang terus bergumul mendoakan kita terus menerus, sehingga jika kita berada dalam keadaan baik hari ini, didalamnya ada andil dari mereka yang peduli terhadap kita lewat doa-doa yang mereka panjatkan untuk diri kita secara sungguh-sungguh dan terus menerus. Misalnya orang tua, saudara, teman-teman, tetangga atau gembala dimana anda bertumbuh, tim pendoa di gereja, teman-teman persekutuan, dan sebagainya. Bisa saja satu atau beberapa orang di antara mereka secara tekun bergumul dalam doa untuk kita setiap harinya.

Ada kalanya dibutuhkan sebuah perjuangan berat diperlukan untuk mendukung sesama orang percaya atau yang belum percaya sekalipun seperti saat melakukannya untuk orang yang keras kepala, keras hati atau yang dosanya 'kambuhan'. Salah satu cara yang terbaik adalah dengan dibawa dalam doa.

Dahulu kala ada seorang hamba Tuhan bernama Epafras yang berada dalam penjara bersama-sama dengan Paulus. Namanya mungkin tidak sering kita dengar dan tidak seterkenal Paulus, Petrus, Barnabas dan beberapa rasul lainnya. Tetapi sangatlah menarik mencermati bahwa apa yang dilakukan Epafras mencerminkan kerinduannya untuk terus memberi dukungan kepada para jemaat lewat doa. Paulus ternyata melihat hal itu dan terkesan sehingga disebutkan langsung oleh Paulus dalam salah satu suratnya. "Salam dari Epafras kepada kamu; ia seorang dari antaramu, hamba Kristus Yesus, yang selalu bergumul dalam doanya untuk kamu, supaya kamu berdiri teguh, sebagai orang-orang yang dewasa dan yang berkeyakinan penuh dengan segala hal yang dikehendaki Allah." (Kolose 4:12). Lewat ayat ini kita bisa melihat bahwa Epafras tidak hanya berdoa ala kadarnya, bukan sambil lalu saja, tetapi dikatakan bergumul dalam doa-doanya untuk kebaikan jemaat. Bukan pula hanya sekali-kali bergumul, tapi dikatakan "selalu bergumul", dan itu ia lakukan untuk jemaat Kolose supaya mereka bisa berdiri teguh seperti orang-orang yang dewasa yang punya keyakinan penuh akan segala yang dikehendaki Allah.

Sekarang mari kita lihat, seperti apa besarnya kuasa doa? Jawabannya bisa kita peroleh dari apa yang dikatakan Yesus sendiri. "Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya." (Matius 21:22). Yesus dengan jelas menyatakan bahwa ada kuasa yang sangat dahsyat dibalik doa yang disertai iman penuh. Mungkin Tuhan tidak menjawabnya dengan segera, tetapi ada saatnya nanti dimana kita akan bersukacita saat doa kita mendapat jawaban dariNya.

(bersambung)


Sunday, August 30, 2015

Merenungkan Perbuatan Tuhan yang Ajaib

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 77:12-13
=========================
"Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu."

Bagaimana reaksi kita saat masalah datang menerpa? Kalau masalah sudah berat apalagi datangnya sekaligus, kita bisa gelagapan, goyah lalu kemudian panik, disana rasa takut pun mulai muncul. Kita menjadi ragu apakah kita bisa melewati semua itu sebagai pemenang atau itu akan menjadi catatan kegagalan yang akan menghantui kita seumur hidup atau bahkan menjadi akhir dari hidup kita. Benar bahwa saat berada dalam keadaan tidak baik itu tidak menyenangkan. Tidak satupun dari kita yang mau seperti itu. Kita ingin hidup ini baik-baik saja, selalu sejahtera dan berjalan tanpa ada masalah. Tapi siapapun kita, selalu saja ada saat-saat dimana kita harus berhadapan dengan berbagai bentuk masalah. Bahkan terkadang, belum lagi masalah yang satu beres, sudah muncul masalah berikutnya. Kekuatan iman kita akan sangat menentukan seberapa kuat kita bisa berjuang menghadapinya, tapi seringkali saat sedang ditengah-tengah badai iman kita ikut goyah bagai kehilangan titik tumpu. Di saat seperti itu, adakah sesuatu yang bisa kita pakai untuk menguatkan kembali kaki kita untuk berpijak tegar di tengah situasi sulit? Apa yang bisa membuat iman kita tidak ikut goyah sebaliknya mampu memberi kekuatan kepada kita untuk bisa terus tegar dan pada akhirnya keluar sebagai pemenang?

Kemarin kita sudah melihat bagaimana Tuhan berjanji untuk tetap berada di samping kita saat kita harus menghadapi kepungan masalah bak pasukan yang menyerang dari berbagai arah, atau bahkan sekumpulan raksasa yang bisa dianalogikan kepada masalah-masalah besar yang bertumpuk yang harus kita hadapi dan atasi. Itu bisa kita lihat baik lewat kisah bangsa Israel yang secara ajaib bisa berjalan melalui laut Teberau yang terbelah dua (Keluaran 14), kisah Daud melawan Goliat (1 Samuel 17), kisah bangsa Yehuda yang dikepung pasukan dari Moab, Amon dan Meunim (2 Tawarikh 20) maupun saat bangsa Israel terancam oleh orang-orang raksasa seperti Amori, Het, Feris, Hewi, Kanaan dan lain-lain (Ulangan 23). Ini hanyalah sebagian kecil dari kebesaran kuasa Tuhan yang mampu membawa kita ke dalam kemenangan meski harus berhadapan dengan situasi-situasi luar biasa sulit bahkan bahaya yang mengancam yang mungkin secara logika tidak mungkin sanggup kita atasi.

Pemazmur memberikan sebuah tips yang sangat baik untuk kita ingat saat kita sedang berada ditengah badai kehidupan. "Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu." (Mazmur 77:1-13).

Saat harus bertemu situasi yang sulit, Pemazmur mengambil waktu untuk mengenang kembali bagaimana keajaiban-keajaiban yang pernah di lakukan Tuhan sebelumnya, bagaimana Tuhan menyatakan kuasa dan kemuliaanNya turun atas manusia. Setelah merenungkan segala kebaikan Tuhan, pemazmur pun sampai pada kesimpulan: "Ya Allah, jalan-Mu adalah kudus! Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami?" (ay 14). Jika kita fokus hanya kepada penderitaan kita saja maka kita akan segera kehilangan sukacita, bahkan iman kita pun akan merosot drastis. Pada saat seperti itulah sebaiknya kita kembali mengingat-ingat segala sesuatu yang telah Tuhan lakukan kepada begitu banyak orang di masa lalu. Jika dulu Tuhan bisa melakukannya, kenapa tidak hari ini? Kalau Tuhan sanggup melakukan perbuatan-perbuatan ajaibNya di masa lalu, baik kepada begitu banyak tokoh dalam Alkitab maupun diri kita sendiri, kenapa kita harus ragu akan hal itu saat ini? Tuhan tidak pernah berubah, baik dahulu, sekarang maupun selamanya. (Ibrani 13:8)

Marilah kita mengacu pada seluruh isi Alkitab dan melihat bagaimana perbuatan-perbuatan Tuhan yang telah nyata tertulis di dalamnya. Kepada jemaat di Roma Paulus memberi pesan seperti ini: "Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci." (Roma 15:4). Alkitab berisi begitu banyak hal yang dapat kita jadikan tuntunan bagaimana kita harus berlaku ketika kita menghadapi sesuatu. Kita bisa mendapatkan berbagai tips dan peringatan agar tetap hidup sesuai kehendak Tuhan, kita juga bisa mendapat penghiburan yang meneguhkan. Ada begitu banyak pergumulan di dalam Alkitab yang sampai hari ini sering pula kita alami. Para nabi dan tokoh-tokoh Alkitab telah menunjukkan bagaimana akhirnya Tuhan melepaskan mereka dan memberikan kemenangan. Ada pula tokoh-tokoh yang akhirnya gagal, dan kita pun bisa belajar dari kegagalan mereka. Semua itu bisa kita jadikan pelajaran berharga, menjadi bekal yang sempurna dan lengkap untuk menatap hidup ke depan.

Saat menghadapi situasi sulit, janganlah terbenam pada penderitaan. Bangkitlah, ingat dan renungkanlah bahwa ada banyak hal yang bisa kita dapatkan lewat pengalaman-pengalaman para tokoh di Alkitab bersama Tuhan di masa lalu. Pergulatan dan turun naiknya iman banyak tokoh jelas dituliskan dalam Alkitab dan kita bisa belajar dari itu semua. Kita juga bisa merenungkan pengalaman-pengalaman kita akan kuasa Tuhan yang luar biasa di waktu sebelumnya, atau mungkin mukjizat-mukjizat yang dialami oleh orang tua kita, orang-orang terdekat atau kesaksian-kesaksian banyak orang yang mengalaminya di masa sekarang. Jika kita menyadari hal ini, kita pun akan tahu bahwa Tuhan mampu melakukan appaun itu, bahkan yang paling mustahil sekalipun bagi logika daya pikir manusia. Pada akhirnya kita akan bisa menyimpulkan hal yang sama dengan pemazmur ketika ia mengatakan "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mazmur 46:1).

Tidak akan pernah sia-sia untuk mengandalkan Tuhan. Ketika kita sedang mengalami pergumulan, mari kita ingat kembali bagaimana Tuhan melakukan mukjizat-mukjizatNya di waktu lampau, dan marilah bersyukur sebab Tuhan yang kita sembah saat ini adalah Tuhan yang sama, baik kuasaNya maupun kasihNya.

Saat kesulitan datang menghadang, renungkan segala kebesaran kuasa Tuhan dan percayalah itu bisa terjadi pada anda

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, August 29, 2015

Saat Terkepung (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Hal yang sama bisa jadi menimpa kita hari ini. Mungkin bukan dalam bentuk serangan pasukan sekaligus, tetapi berbagai kondisi sulit, situasi pelik, ancaman besar, keadaan terjepit bisa tiba-tiba muncul di hadapan kita, dimana logika tidak berpihak sama sekali kepada kita untuk mengatasinya. Tetapi lihatlah janji Tuhan yang sangat melegakan itu. Tuhan berkata bahwa kita tidak perlu takut meski situasinya sama sekali tidak berpihak kepada kita. Mengapa? Kalau kita baca baik-baik ayat bacaan hari ini maka kita akan menemukan alasannya. Sebab bukan kita yang berperang, melainkan Allah. Ancaman persoalan dalam hidup bisa bagai bersatu padu menyerang kita sekaligus seperti serangan laskar gabungan yang besar. Tapi kita tidak perlu takut, sebab bukan kita yang berperang melainkan Tuhan sendiri.

Contoh lain bisa kita lihat dalam Keluaran 23. Disana kita kembali mendapatkan suara Tuhan yang melegakan dalam menghadapi serangan besar sekaligus. Firman Tuhan berkata: "Sebab malaikat-Ku akan berjalan di depanmu dan membawa engkau kepada orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Kanaan, orang Hewi dan orang Yebus, dan Aku akan melenyapkan mereka." (Ulangan 23:23). Orang Amori, orang Het, orang Kanaan dan sebagainya, itu menggambarkan orang-orang raksasa yang siap merontokkan kita dalam sekali pukul. Logikanya? Jelas kita kalah. Namanya juga dikepung dari berbagai sisi seperti itu, oleh raksasa-raksasa pula. Tetapi Tuhan berfirman sendiri bahwa bukan kita yang berperang, melainkan Tuhan. Dia akan mengutus malaikat-malaikatNya untuk berjalan di depan. Kita tetap akan berhadapan dengan berbagai "raksasa-raksasa" masalah, tetapi ada malaikat Tuhan yang berjalan di depan kita, dan Tuhan sendirilah yang akan melenyapkan semua itu. Bukan kita yang berperang, tetapi Tuhan. Itu janji penyertaaan dan penyelamatan Tuhan. Syaratnya disebutkan pada satu ayat sebelumnya: "Tetapi jika engkau sungguh-sungguh mendengarkan perkataannya, dan melakukan segala yang Kufirmankan, maka Aku akan memusuhi musuhmu, dan melawan lawanmu." (ay 22). Sungguh-sungguh mendengar dan melakukan firmanNya, itu bagian kita. Dan bagian Tuhan adalah membawa kita masuk ke dalam kemenangan yang diluar kemampuan logika manusia. Bukan sekedar memberkati, tapi Dia sendiri yang turun langsung berperang bagi kita. Bukankah itu luar biasa?

Berulang kali Tuhan menyatakan penyertaan, pemeliharaan dan pertolonganNya kepada kita. Berulang kali pula oleh karena itu Tuhan menyerukan agar kita jangan takut. "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." (Ulangan31:6). Selanjutnya lihat juga ayat berikut ini: "janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan." (Yesaya 41:10).

Akan selalu datang waktu-waktu dimana kita harus rela berhadapan dengan masalah-masalah yang ada kalanya bisa besar dan banyak bagai serangan raksasa yang bergabung menjadi satu atau datang dari beberapa penjuru sekaligus. Apakah itu masalah pekerjaan, keluarga, sakit penyakit atau serangan dari orang-orang yang hendak menghancurkan kita dan lain sebagainya. Kita tidak bisa menghindarinya, tapi perhatikan bahwa Tuhan sudah menjanjikan pertolonganNya kepada setiap anakNya yang taat. Dia sendiri yang akan berperang, dan Dia akan membawa kita masuk ke dalam kemenangan. Itulah sebabnya kita tidak perlu takut menghadapi apapun dalam hidup ini.

Apabila ada di antara teman-teman yang tengah merasa berhadapan dengan "orang Moab dan Amon", atau serangan "orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Kanaan, orang Hewi dan orang Yebus", tetaplah berdiri tegak, jangan mundur, jangan ragu dan jangan takut. Situasinya mungkin sangat menyesakkan untuk saat ini, tetapi ingatlah bahwa di atas segalanya kita memiliki Tuhan dengan kuasa tertinggi. Adalah Tuhan sendiri, bukan kita yang akan berperang menghadapi semua itu. Percayalah kepadaNya, taatlah kepada firmanNya dan lakukanlah seperti apa yang Dia kehendaki, maka kita tidak perlu kehilangan sukacita dan damai sejahtera meski tengah dikerubungi berbagai permasalahan bagai pasukan atau bahkan raksasa sekalipun.

Sumber kekuatan yang terbesar di tengah segala tumpukan masalah ada di tangan Allah

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, August 28, 2015

Saat Terkepung (1)

webmaster | 7:35 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 2 Tawarikh 20:15
=========================
"...Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah."

"Ah, orangnya gede sih, banyakan lagi... coba cuma satu dan kecil, pasti saya berani", kata seorang teman menanggapi candaan temannya apakah ia berani atau tidak menginjak kaki seseorang yang tinggi besar bersama beberapa temannya. Kalau diibaratkan pada masalah dalam hidup, kita mungkin masih bisa tenang saat berhadapan dengan persoalan kecil, tetapi bagaimana kalau masalahnya berat dan datangnya rombongan alias berbarengan? Reaksi kita akan tergantung dari seberapa kuat daya tahan kita dalam menghadapi tekanan.

Pertanyaan kedua, seberapa kuat daya tahan kita dalam menghadapi tekanan atau apa saja yang menentukan kekuatannya? Faktor mental, keyakinan, ketabahan, pengalaman dan sebagainya akan sangat berpengaruh akan hal ini, dan tentu saja sebuah faktor lain yang sesungguhnya sangat penting, yaitu faktor iman. Sejarah membuktikan banyaknya kejatuhan para tokoh besar karena mereka tidak lagi tahan menghadapi berbagai tekanan. Entah itu desakan dari luar, rasa malu akibat melakukan kesalahan, deraan masalah yang beruntun dan lain-lain. Bahkan ada yang akhirnya mengambil jalan pintas dengan mengakhiri hidupnya karena sudah tidak tahan atau tidak kuat lagi menanggung beban-beban hidup.

Mungkin ada di antara kita yang hari ini pun tengah mengalami situasi sulit. Terjepit di tengah-tengah himpitan beberapa masalah sekaligus, tidak bisa maju dan mundur pun sudah terlambat. Kita tahu harus terus maju, tetapi tidak lagi punya kekuatan dan keyakinan untuk melangkah setapak pun. Saat bangsa Israel berada dalam keadaan terjepit karena didepan mereka terbentang laut luas sementara di belakang ada tentara Firaun yang siap membinasakan, kita bisa lihat bagaimana Tuhan sendiri yang kemudian melepaskan mereka lewat cara terbelahnya laut Teberau menjadi dua bagian sehingga bangsa Israel bisa berjalan di tengah-tengahnya. Kisah luar biasa ini bisa dibaca dalam kitab Keluaran pasal 14. Dan Musa menyampaikan sebuah kunci untuk melepaskan diri dari situasi seperti itu. "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya." (ay 13). Jangan takut, tetap berdiri dan fokus pada penyertaan Tuhan, itulah ketiga kunci yang diberikan Musa agar bisa melepaskan diri dari situasi terjepit itu.

Disamping itu kita juga tidak boleh lupa bahwa Tuhan telah berjanji kepada setiap anak-anakNya yang patuh dan yakin kepadaNya bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan, meski harus melalui kesulitan-kesulitan besar yang kalau diibaratkan bisa seperti air bah yang siap menenggelamkan atau api yang siap membakar habis.  "Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau." (Yesaya 42:2-3a). Bagaimana dengan kisah Daud melawan Goliat dan pasukannya? Itu pun bisa kita jadikan contoh nyata. Untuk renungan kali ini, saya ingin mengambil contoh lain lewat kisah yang dicatat dalam kitab 2 Tawarikh pada bagian yang berisi sekelumit kisah pada masa raja Yosafat.

Mari kita lihat apa yang terjadi pada suatu ketika di masa pemerintahan raja Yosafat tersebut. Pada waktu itu bangsa Yehuda tengah mengalami situasi pelik yang tidak main-main. Mereka terjepit dan terancam hancur lebur dengan datangnya ancaman bani Moab dan Amon juga sepasukan tentara Meunim sekaligus. (2 Tawarikh 20:1). Itu jelas situasi yang tidak mudah, karena jelas kekuatan mereka tidaklah seimbang dalam menghadapi serangan sebesar itu. Dalam keadaan kalut dan takut, Yosafat pun mengajak seluruh bangsa Israel untuk mencari Tuhan dan berpuasa (ay 3), lalu berseru kepada Allah. (ay 6-12). Dan lihatlah, Tuhan segera menjawab teriakan minta tolong mereka.

Lewat Yahezkiel bin Zakharia bin Benaya bin Matanya, seorang Lewi dari bani Asaf, Tuhan pun berseru: "Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah." (ay 15). Dan itulah yang terjadi. Sulit dipercaya, tetapi kalau Tuhan yang sudah turun tangan, tidak ada satupun masalah yang lebih besar dari Tuhan dan mampu mengatasi kuasaNya.

(bersambung)


Thursday, August 27, 2015

For Everything There's a Season (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Pengkotbah 3:1
=======================
"Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya."

Tepat disamping rumah saya ada tanah kosong yang tidak diurus lagi oleh pemiliknya selama bertahun-tahun. Tanahnya cukup luas dan penuh semak dengan rumput yang sudah tinggi sekali. Belum lama ini ada seorang warga desa yang berpikir untuk memanfaatkan tanah tersebut menjadi lahan bercocok tanam, selagi tanah memang tidak dipakai oleh si pemilik. Selama beberapa hari ia memotong rumput-rumput disana, membersihkan tanah seluas 200 meter itu sendirian. Setelah rumput dan semak ia tebas, ia kemudian mencangkul dengan tujuan agar tanahnya menjadi gembur dan siap tanam. Kalau dihitung-hitung, ia butuh waktu sekitar seminggu untuk mengerjakan itu. Lantas ia mulai menanam bibit-bibit disana, dan rajin menyiram dengan menggunakan gembor yang terbuat dari plastik. Ia harus bolak balik menenteng gembor berat berisi air untuk menyiram benih yang ia tanam di lahan tersebut. Seminggu kemudian saya mulai melihat apa yang ia tanam ternyata kangkung. Kurang lebih sebulan berikutnya, kangkungnya sudah siap panen. Selain ia jual, sebagian lagi ia bagikan ke tetangga, termasuk saya yang berada tepat disamping lahan kosong yang ia manfaatkan tersebut.

Life is a process. Hidup adalah bagian dari proses. Kita lahir, tumbuh, dewasa lalu tua dan kemudian meninggal. Agar bisa bekerja kita belajar sejak kecil, menimba ilmu baik yang formal maupun informal, termasuk tambahan-tambahan keahlian tertentu seperti pengoperasian komputer, bahasa dan sebagainya. Dalam bekerja kita mulai dari bawah dan kemudian berusaha menapak naik ke tingkatan yang lebih tinggi. Ada kalanya profesi mengalami stagnasi atau malah menurun, tapi dengan usaha keras kita kemudian naik kembali. Bapak warga desa tadi tidak akan memanen kangkung sebegitu banyak kalau tidak membersihkan lemak, menggemburkan tanah, menanam bibit dan merawatnya. Pendek kata, semua dalam hidup ini merupakan bagian dari proses. Bagai roda pedati, ada kalanya kita di atas, ada pula saatnya kita dibawah. Dari pengalaman saya, masa-masa sukar ketika kita seolah sedang berada di titik terbawah roda pedati, disana kita justru bisa belajar banyak. Belajar hal baru, belajar lebih sabar, tabah, dewasa dan bijaksana.

Sayangnya, orang semakin lama semakin menginginkan hasil instan. Semakin lama semakin sedikit yang menghargai proses. Jika itu yang diinginkan, tidaklah mengherankan kalau orang menjadi semakin cepat putus asa. Cepat menyerah, cepat kehilangan harapan, gampang panik, lekas emosi dan mudah goyah. Sedikit saja hidup terguncang, semua langsung runtuh. Tidak ada kekuatan iman yang bisa menopang, dan seringkali itu berawal dari pola pikir yang maunya serba instan, pakai cara gampang dan tidak mau susah melewati proses.

Pernahkah anda merasakan bahwa anda sudah berbuat yang terbaik, namun tidak mendapatkan hasil yang terbaik? Anda sudah mati-matian belajar, tapi hasilnya jelek. Anda sudah mati-matian bekerja, tapi belum mendapatkan imbalan memadai, atau jangan-jangan malah kena PHK. Anda tidak melakukan kesalahan, tapi anda dipersalahkan. Anda sedang menikmati zona nyaman dalam hidup anda, tiba-tiba semua seakan-akan diambil dari anda, dijungkirbalikkan, dan dalam sekejap mata anda berada dalam keadaan yang sebaliknya. Hal seperti itu bisa terjadi kapan saja pada siapa saja. Ada saja waktu-waktu dimana kondisi sulit yang rasanya tidak sebanding dengan apa yang telah kita lakukan dengan sebaik-baiknya datang menerpa kita. Sebagian orang akan patah semangat bahkan merasa pahit untuk melanjutkan usahanya, tapi kalau kita melihat itu sebagai bagian dari proses, kita akan mempergunakan masa-masa itu untuk belajar banyak. Pada suatu hari nanti kita akan tersenyum ketika menyadari bahwa itu adalah sebuah proses kehidupan yang bisa mendewasakan, menguatkan dan menebalkan iman kita.

Di dalam Pengkotbah ada rangkaian ayat yang bagi saya selalu terasa sangat menarik. "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya." (Pengkotbah 3:1). There's a season to everything, and a time for every matter or purpose.

"Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai."(ay 2-8).

(bersambung)


Wednesday, August 26, 2015

For Everything There's a Season (2)

webmaster | 8:00 AM | 2 Comments so far
(sambungan)

For everything there's a season. Ada masa dimana kita berada pada situasi tidak menyenangkan. Tapi ingatlah bahwa semua itu akan indah pada waktunya. Jika anda belum melihat apa-apa saat ini dari sisi kebaikan, bersabarlah, karena memang kemampuan kita tidak sanggup untuk mengerti rencana Tuhan buat diri kita jauh ke depan. "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir." (ay 11).

There are seasons, times and eras in our lives. Kita harus mampu menyikapi setiap masa dalam hidup kita dan mencoba menangkap hal positif dalam masa yang paling kelam sekalipun. Jika belum bisa, percayalah bahwa segala yang diijinkan Tuhan untuk terjadi pada anak-anakNya hanyalah untuk mendatangkan kebaikan. Tidak ada hal buruk dalam rancangan Tuhan. Semua hanyalah rancangan damai sejahtera akan hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11).

Tentu saja masa-masa sukar yang penuh ketidakadilan itu menyakitkan untuk dijalani. Tentu saja kita lebih suka tertawa ketimbang menangis, lebih suka menari ketimbang meratap. Itu pasti. Namun masa-masa sukar itu justru seringkali membuat kita jadi mengenal Tuhan jauh lebih dalam. Ketika mengalami masa seperti itu, kita akan belajar bahwa tidak akan pernah cukup untuk mengandalkan kekuatan dan kepandaian manusia saja. Tapi di atas segalanya, ada Tuhan yang selalu menyiapkan rancangan terbaik buat setiap anda dan saya! Kita akan belajar dan mengerti bahwa tidak ada tempat perlindungan lain yang lebih baik selain Allah. "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mazmur 46:2). Yes, God is our refuge and strength. Dan itu sangat terbukti.

Percayalah bahwa dalam keadaan sulit sekalipun, dalam masa-masa sukar, in bad times and dark-clouded seasons, Tuhan tetap ada bersama-sama dengan kita. Ketika anda masuk dalam masa seperti ini, tetaplah berpegang pada Tuhan. "Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah." (55:24). Kita disiapkan untuk menjadi kepala dan bukan ekor, naik dan bukan turun. (Ulangan 28:13).

Jika saat ini anda masih merasa dalam posisi terendah dan sedang ada di bawah, bertahanlah, bangkitlah dan teruslah berjalan. Jangan putus pengharapan, pergunakan saat-saat itu untuk belajar banyak dan memakainya untuk proses pendewasaan iman. Ingatlah bahwa ada sesuatu yang indah yang direncanakan Tuhan di depan. Anda mungkin belum melihatnya, tapi Tuhan telah menyediakan semua itu di depan. Dan dalam prosesnya, penyertaan Tuhan selalu ada. Dalam masa seperti apapun anda saat ini,  for whatever season you're in right now, itu tetaplah masa yang tepat untuk percaya padaNya.

The darkest moments can be the perfect season to put your trust in Him

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, August 25, 2015

Satan the Accuser

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Ayub 1:12
===============
"...Satan (the adversary and the accuser)..." (English AMP)

Selama saya melayani saya sudah bertemu dengan banyak orang yang sulit maju akibat masih terikat oleh dosa yang pernah mereka lakukan di masa lalu. Bagai kakinya terbelenggu oleh beban berat mereka tidak bisa melangkah dan terus duduk di kursi terdakwa, menjadi tertuduh. Tertuduh? Siapa yang menuduh? Masyarakat atau orang disekitarnya bisa menjadi salah satu sumber datangnya masalah ini, tapi selain itu seringkali pula orang terus merasa tertuduh oleh si jahat. Seperti ada saja yang terus mengarahkan telunjuknya ke arah kita, terus mendera perasaan kita dengan rasa bersalah yang tidak kunjung selesai, meski mereka sudah menjalani hukuman atau bahkan menyesali perbuatannya dan bertobat.

Betapa banyaknya orang yang sulit bangkit dari masa lalu yang buruk. Mereka terus dihantui masa lalu mereka dan tidak yakin mereka bisa mendapat pengampunan karena merasa apa yang mereka perbuat dahulu sangatlah buruk. Mereka ini terus menerus dicekam rasa takut meski ia sudah menyadari kesalahannya di waktu lampau dan bertobat. Perasaan seperti ini mungkin banyak dialami orang, bahkan masih banyak dirasakan diantara orang-orang percaya sekalipun yang sudah menjaga hidupnya. Mereka seolah memanggul beban berat, atau kakinya ditambatkan pada batu besar. Setiap hari mereka menjalani setiap langkah dengan perasaan tertuduh.

Pola seperti ini ternyata sangat disukai oleh iblis. Iblis selalu berupaya mencegah atau menghalangi pertumbuhan iman kita dan akan terus berusaha menggagalkan kita dari semua janji yang sudah diberikan Tuhan. Dan salah satu cara yang terbukti paling efektif adalah dengan mempergunakan pola menuduh atau mendakwa kita lewat kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan di masa lalu.


Di Alkitab, iblis dikatakan sebagai pendusta dan bapa segala dusta. (Yohanes 8:44). Dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan "a liar and the father of lies and all that is false." Iblis memang tukang tipu kawakan yang ulung. Betapa sering kita terperdaya oleh tipu muslihatnya. Dan itu sudah terjadi sejak awal, seperti yang dialami oleh Adam dan Hawa. Selain sebagai bapa segala dusta, iblis juga disebut sebagai penuduh atau pendakwa. Ini bisa kita lihat dalam awal kisah Ayub, yaitu dalam pasal 1 ayat 12. Dalam Alkitab versi Terjemahan Baru yang kita pakai memang tidak disebutkan demikian, tapi lihatlah versi English amplified-nya. Disana ada penekanan di depan kata iblis yang ditulis dalam tanda kurung, dimana iblis disebutkan sebagai "the adversary and the accuser". Dalam bahasa Indonesia berarti "musuh dan pendakwa/penuduh". Inilah salah satu metode kerja iblis. Dia  terus berusaha melemahkan kita. Mengapa? Karena iblis tidak ingin kita diselamatkan dan ingin kita binasa. Iblis akan terus berusaha mendakwa atau menuduh kita sampai kita putus asa dan semakin lama semakin jatuh dalam rasa bersalah. Yang dipakai untuk mendakwa adalah dosa kita. Kita terus dibuat seperti tertuduh. Kesalahan-kesalahan kita terus diingatkan dan kita dibuat berpikir seolah-olah kita tidak dan tidak akan pernah layak untuk bisa menerima pengampunan dan keselamatan.

Dosa-dosa yang belum kita bereskan secara total sering menjadi pintu masuknya tuduhan si jahat ini. Maka untuk membungkam dan mematahkan tuduhan iblis, kita harus segera mengakui dosa kita. Begitu kita mengakui dosa kita dan memohon ampun, saat itu pula Allah mengampuni kita. Kita harus menyadari hal itu benar-benar. Tidak ada alasan untuk meragukan itu karena itu berasal dari janji Tuhan sendiri. Karenanya imani dan percayalah akan hal itu. Jadi intinya, untuk mematahkan dakwaan iblis, kita harus mengakui dosa dan segera bertobat. Jika itu kita lakukan, tidak ada alasan lagi bagi iblis untuk mendakwa kita, karena kita sudah mengakuinya dan sudah diampuni.

Bukti jelas tertulis dalam ayat ini "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9). Dosa semerah kirmizi bisa putih seputih salju, semerah kain kesumba sekalipun bisa seputih bulu domba. (Yesaya 1:18).

Ingatlah syaratnya adalah mengakui dosa, karena bagaimana Tuhan mengampuni jika kita tetap menyimpan dosa di dalam diri kita? Dosa yang tidak diakui akan merintangi dan merusak hubungan antara kita dengan Tuhan. Dan itupun sudah diingatkan pada kita dalam Alkitab. "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar;tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (59:1-2).

Sebagai manusia kita tentu tidak luput dari berbuat kesalahan. Tapi itu bukan berarti bahwa kita boleh membiarkan berbagai kesalahan terus terjadi dan memakai alasan kita manusia yang lemah sebagai pembenaran. Kita harus mengawasi betul masuknya dosa, dan jika sudah terlanjur terjadi, segeralah bereskan, baik langsung kepada orang yang bersangkutan terlebih dengan mengakuinya di depan Tuhan dan memohon pengampunan. Lalu alangkah baiknya apabila pengalaman kita itu bisa pula kita angkat sebagai kesaksian bagi banyak orang. Bukankah Wahyu 12:11 mengatakan bahwa iblis dikalahkan oleh darah anak domba dan oleh kesaksian kita?

Jangan pernah ragu akan pengampunan Tuhan. "Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya,yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian." (Efesus 1:7). Kita memilki Allah yang luar biasa yang sangat ingin kita diselamatkan. Dan untuk itulah Yesus turun ke dunia untuk menebus dosa-dosa manusia. Jika kita berbuat dosa, segeralah berbalik pada Tuhan, mohon pengampunan lalu hiduplah dalam terang. "Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa." (1 Yohanes 1:7). Jika anda masih merasa dakwaan iblis seakan membelenggu anda, katakanlah segera bahwa anda telah mengakui segalanya dan menerima pengampunan dari Yesus. Bebaslah dari dakwaan iblis, dan bertumbuhlah dalam iman akan Kristus.

Iblis tidak bisa mendakwa dosa yang sudah kita buka dan sudah diampuni

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker