Saturday, February 13, 2016

Dinas Luar

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Markus 6:7-8
===================
"Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat,dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, rotipun jangan, bekalpun jangan, uang dalam ikat pinggangpun jangan"

Tetangga saya baru saja pulang dari dinas luar kotanya ke sebuah tempat yang sebelumnya belum pernah ia kunjungi. Ia bercerita banyak tentang kota itu, dan yang membuatnya senang, ia tidak mengeluarkan biaya apapun selama disana. "Semua ditanggung kantor", katanya sambil tersenyum. Hotel, makan, transportasi dibiayai oleh tempatnya bekerja berhubung ia pergi kesana dalam rangka menjalankan tugas, plus uang saku selama perjalanan. Saat menjalankan tugas mewakili sebuah instansi, lembaga atau negara sebuah kebanggaan, fasilitas selama perjalanan ditanggung oleh instansi dimana seseorang itu bekerja. Itu tentu hal yang wajar. Itu juga hal yang membanggakan bagi sebagian orang, karena biasanya tidak semua bisa mendapat kesempatan itu. Ya, itu biasa. Tapi pada saat Yesus mengutus kedua belas muridNya untuk melakukan tugas seperti yang ia sudah jalani Dia melakukannya cukup unik. Kisah inilah yang ingin saya ambil sebagai ayat bacaan hari ini.

"Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat,dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, rotipun jangan, bekalpun jangan, uang dalam ikat pinggangpun jangan" (Markus 6:7-8). Apa yang dilakukan Yesus terlihat sangat aneh. Dia mengutus murid-muridNya berdua-dua alias berpasangan, dan melarang mereka membawa apapun, termasuk bekal dan uang. Coba anda bayangkan seandainya anda mendapat tugas mewakili sebuah tempat anda bekerja, anda tentu akan menolak kalau tidak dibekali lebih dari cukup. Tugas dari Yesus kepada murid-muridNya ini merupakan bentuk utusan Tuhan, untuk sebuah tugas Kerjaan Allah. Kalau dipikir-pikir, untuk tugas biasa dari atasan yang orang biasa juga kita bisa jadi protes kalau ditugasi tanpa dibekali apa-apa. Tampil rapi, kalau bisa dengan stelan jas mewah dan berpenampilan ekstra keren pun sering menjadi keharusan. Bagaimana dengan sebuah tugas dari Tuhan? Lupakan soal penampilan yang keren. Tuhan Yesus malah melarang utusan-Nya membawa bekal.

Sepintas ayat ini mungkin terkesan aneh kalau dipikir dengan menggunakan logika. Tapi kalau kita cermati baik-baik, sesungguhnya ada tiga hal penting yang ingin diajarkan Yesus lewat hal ini.

1. Yesus mendidik para muridNya untuk percaya sepenuhnya pada Dia. Tidak bergantung pada harta, materi dan atribut-atribut duniawi lainnya, tapi berharap penuh pada apa yang disediakan Allah buat mereka.
2. segala kemewahan mudah untuk membuat orang berubah menjadi sombong, tapi sebagai murid Yesus, kita harus selalu berpegang pada kasih setia Allah dan itu akan menjaga kita terhindar dari kesombongan.
3. Yesus tahu bahwa sebagai manusia, para murid-muridNya, termasuk kita, bisa setiap saat menjadi lemah, terkadang bisa hilang motivasi, lelah dan sebagainya, maka Dia mengutus berpasang-pasangan, bukan sendirian, agar bisa saling membantu dan menguatkan.

Khusus untuk poin ketiga ini, kita bisa melihat bahwa Yesus menunjukkan hakekat manusia seperti yang ada di benak Allah saat menciptakan. Manusia sejatinya tidak diciptakan untuk menjadi mahluk individual yang hidup sendiri melainkan sebagai mahluk sosial. Kita tidak akan bisa berbuat banyak kalau hanya melakukan apa-apa sendirian saja. Talenta yang berbeda-beda telah diberikan Tuhan kepada masing-masing pribadi, yang kalau disatukan akan mampu menghasilkan  pekerjaan-pekerjaan besar. Tuhan Yesus menunjukkan bahwa dengan berdua itu jauh lebih baik dari sendirian. Itu sejalan dengan ayat berikut: "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!" (Pengkotbah 4:9-10). Selain itu Yesus sendiri sudah berkata: "di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."(Matius 18:20). Jadi saat mereka melaksanakan tugas, mereka pun disertai Yesus langsung. Oleh karena itu menjalani hidup sesuai hakekat sebagai mahluk sosial sangatlah penting untuk diperhatikan.

Tugas mewartakan kasih Tuhan Yesus, mewartakan siapa pribadi Yesus kepada saudara-saudara kita bukanlah tugas yang ringan, tapi bukan pula tugas yang tidak mungkin dilakukan. Jika kita mengalami kasih Yesus dan bersungguh-sungguh dalam komitmen mengabarkan Injil, kitapun akan mendapat kekuatan dari Allah. Dan ingatlah agar maksimal, akan sangat baik apabila dilakukan dalam kapasitas sebagai mahluk sosial dengan membangun hubungan bersama anak-anak Tuhan lainnya. Pergunakan talenta dan kemampuan anda, bersinergilah dengan saudara seiman lainnya. Ketahuilah bahwa bukan urusan besar kecilnya yang anda lakukan hari ini, bukan soal berapa modal yang anda punya, tetapi penyertaan Tuhan pada kesungguhan anda memulikakanNya dalam menjalankan tugas lah yang menentukan. Menjalankan Amanat Agung sebagai perwakilan Tuhan di muka bumi ini sesungguhnya merupakan sebuah kehormatan, karenanya lakukan yang terbaik agar kita bisa menjalankannya dengan benar.

Bukan karena kekuatan kita, bukan karena materi, tapi karena kuasa Tuhan bekerja dalam kebersatuan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, February 12, 2016

Blessed to be a Blessing (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Dalam Amsal 11:24-25 dikatakan: "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum." Perhatikanlah bahwa bersikap pelit tidak akan membuat kita bertambah kaya. Apa yang saya maksud dengan kaya disini tidaklah hanya mengacu kepada nilai harta materi saja melainkan juga kekayaan non materi seperti yang sudah saya singgung dalam beberapa renungan sebelumnya seperti kepandaian, ilmu pengetahuan, hikmat dan sebagainya. Ada orang yang pelit dalam membagi ilmu atau pengetahuan/keahliannya karena tidak ingin orang bisa lebih hebat dari mereka. Dan sikap seperti ini tentu juga tidak benar karena sama saja menyalahi ketetapan Tuhan.

Selain itu, Yesus juga mengingatkan: "Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya." (Matius 10:42). Lihatlah bahwa Tuhan selalu menekankan pentingnya membagi berkat kepada orang lain. Yesus sudah mengingatkan bahwa kita tidak akan pernah kehilangan upah ketika memberi kepada orang yang membutuhkan selama dilakukan karena menyadari benar posisi kita sebagai orang percaya, sebagai muridNya. Apa yang Tuhan berikan kepada kita, bukanlah untuk kita simpan sendiri, namun haruslah dipakai untuk bisa memberkati sesama kita, siapapun mereka. Dan Tuhan tidak pernah membebankan kita sehingga kita malah menjadi kekurangan karena menolong. Itu tidak akan terjadi selama kita memberi dengan tulus karena kasih bukan karena mencari keuntungan-keuntungan pribadi.

Apa yang penting untuk kita perhatikan adalah motivasi kita dalam memberi/membagi berkat untuk orang lain. Paulus mengingatkan kita agar "Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2 Korintus 9:7). Tuhan tidak akan pernah merugikan kita ketika memberi, sebab "Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan." (ay 8). Sebuah penekanan penting diberi Paulus dalam awal dari perikop yang berbunyi "Memberi dengan sukacita membawa berkat" ini (2 Korintus 9:6-15) yaitu "Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga."

Apa yang dikehendaki Tuhan adalah kita harus mau memberkati orang lain dengan segala berkat yang kita peroleh dari Tuhan. Mari kita periksa, sudah sejauh mana kita telah mempergunakan berkat yang telah kita terima dari Tuhan? Semua pemberian yang kita lakukan dengan tulus didasari kerinduan dan kasih kita pada Tuhan dan sesama tidak akan pernah berakhir sia-sia. Tidak peduli berapapun yang bisa anda berikan saat ini, sekalipun sangat kecil jumlahnya, atau bukan dalam bentuk materi, semua itu akan sangat bernilai di mata Tuhan jika dilakukan dengan motivasi yang benar. Tuhan selalu sanggup mencukupkan, bahkan memberkati berkelimpahan. Saat kita memberi, kita akan diberi. Ketika kita banyak menabur berkat, kita akan menuai kelimpahan. Paulus mengingatkan hal ini juga. "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35). Jangan pernah merasa bosan untuk memberkati, karena Tuhan pun tidak pernah merasa bosan untuk memberkati anda.

We are blessed to be a blessing to others

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, February 11, 2016

Blessed to be a Blessing (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 2 Korintus 9:8 (BIS)
=======================
"Berilah kepada orang lain, supaya Allah juga memberikan kepadamu; kalian akan menerima pemberian berlimpah-limpah yang sudah ditakar padat-padat untukmu. Sebab takaran yang kalian pakai untuk orang lain akan dipakai Allah untukmu."

Saya masih ingin melanjutkan lagi tentang being blessed to be a blessing to others. Ada contoh menarik akan hal ini yang belum sempat saya bagikan. Lukas mencatat ada beberapa orang perempuan aktif dalam mengikuti Yesus melayani bersama murid-muridNya. "Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka." (Lukas 8:1-3). Perhatikan ayat ini baik-baik. Lukas menjelaskan bahwa para perempuan yang ikut itu adalah mereka yang sebelumnya sudah pernah menerima pertolongan, baik kesembuhan, pemulihan dan berbagai berkat lain. Maria yang disebut Magdalena dibebaskan dari tujuh roh jahat, dan beberapa lainnya juga mengalami kesembuhan dari berbagai penyakit dan roh-roh jahat. Mereka mengalami jamahan Tuhan dan dipulihkan. Menariknya, mereka tidak langsung pergi setelah menerima mukjizat melainkan kemudian  turut serta dalam pelayanan. Singkatnya, mereka tahu pasti bahwa berkat yang mereka terima harus dipakai untuk memberkati orang lain. Mereka bergerak aktif dalam mencukupi keperluan Yesus beserta tim selama menjalankan misi pelayanan dari kota ke kota.

Diberkati untuk memberkati. Kemarin kita sudah melihat ayatnya dalam 1 Petrus 3:9, "...hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat..." Hari ini saya ingin membagikan ayat lainnya yang juga mengacu kepada hal tersebut yaitu dari surat 2 Korintus. Demikian kata Paulus: "Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan." (2 Korintus 9:8) Dalam versi BIS dikatakan: "Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal." Jadi jelas kita lihat bahwa Tuhan melimpahi kita dengan segala kasih karunia bukan saja agar kita tidak berkekurangan melainkan agar kita bisa menjadi saluran berkat bagi orang lain.

Ada banyak orang yang saat berkelebihan secara materi, mereka bukannya menjadi semakin membantu orang lain tapi malah semakin sulit memberi. Semakin kaya, semakin sombong dan semakin pelit. Kalaupun memberi itu akan dipakai sebagai sebuah etalase kebanggaan pribadi, agar kemakmurannya bisa dipamerkan didepan banyak orang. Lihatlah artis-artis yang memanggil wartawan untuk meliput mereka beramal atau menunjukkan rumah mereka yang mewah. Itu bisa kita tonton hampir setiap hari kan?  Atau memberi kalau mengharapkan sesuatu alias pamrih. Supaya hubungan bisnis jadi mulus, supaya proyek gol, supaya menang tender, supaya naik pangkat dan sebagainya. Mereka memberi demi keuntungan pribadi, dan itu sangat bertentangan dengan tujuan Tuhan memberkati.

Selanjutnya mari kita lihat apa yang dikatakan Yesus sendiri. "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Lukas 6:38). Dalam versi Bahasa Indonesia Sehari-hari dikatakan "Berilah kepada orang lain, supaya Allah juga memberikan kepadamu; kalian akan menerima pemberian berlimpah-limpah yang sudah ditakar padat-padat untukmu. Sebab takaran yang kalian pakai untuk orang lain akan dipakai Allah untukmu."  Dari ayat ini terlihat jelas korelasi antara diberi dan memberi, antara diberkati dan memberkati. God gives us so we can give others. Kita diberi untuk memberi. Bahkan dikatakan bahwa ukuran atau takaran yang kita pakai untuk orang lainlah yang akan dipakai Allah untuk kita.

(bersambung)

Wednesday, February 10, 2016

Blessed to be a Blessing to Others (3)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Pertanyaan selanjutnya: Akankah kita rugi, bangkrut atau jatuh miskin bila kita banyak memberi? Banyak orang beranggapan seperti itu. Memberi itu bagi mereka seolah sama dengan buang-buang uang dan rugi. Padahal kalau kita memberi dengan hati yang tulus semata-mata karena mengasihi Tuhan dan sesama, Tuhan sudah mengatakan kita tidak akan menjadi berkekurangan, malah akan semakin banyak lagi menerima berkat. Firman Tuhan dengan jelas menyatakan hal itu:  "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan." (Amsal 11:24). Selain Firman Tuhan berkata demikian, ada banyak sekali orang yang bisa memberi kesaksian atau bukti tentang itu lewat pengalaman hidupnya sendiri. Saya sendiri punya begitu banyak bukti akan hal ini. Pelit, tamak, serakah, egois dan sejenisnya tidak akan pernah membawa hasil apa-apa selain kerugian buat diri kita sendiri. Kita tidak perlu takut kekurangan karena semua itu sesungguhnya berasal dari Tuhan dan bukan dari dunia seperti yang dipikir banyak orang. Benar, itu sebuah prinsip yang sangat berbeda dengan apa yang diajarkan dunia, tetapi mulailah biasakan diri dari sekarang untuk mengadopsi prinsip Kerajaan Allah dan merasakan sendiri bedanya.

Kembali kepada ilustrasi awal tentang gelas yang dituang air terus menerus hingga melimpah, perhatikanlah bahwa untuk bisa membasahi area diluar gelas, maka terlebih dahulu tentu gelas harus penuh. Kalau tidak penuh maka tidak ada yang mengalir keluar bukan? Seperti itu pula prinsip Tuhan memberkati kita. Tuhan tidak akan membiarkan kita susah disaat kita rindu untuk memberi. Kalau kerinduan itu didasari hati yang tulus dan penuh belas kasih, Tuhan tidak akan pernah mau menahan curahan berkatNya hingga berkelimpahan. Tuhan tentu tahu bahwa kita akan bisa lebih leluasa dalam memberi kalau kita tidak kekurangan. Kita akan Dia penuhi terlebih dahulu agar kita bisa menjadi saluran berkatNya secara maksimal.

Dalam banyak kesempatan Tuhan sudah berkata bahwa apa yang ingin Dia berikan bukanlah sesuatu yang secukupnya/ala kadarnya atau biasa, tetapi sesuatu yang berlimpah-limpah misalnya dalam 2 Korintus 9:6-8, Ulangan pasal 28, Yohanes pasal 10 dan lain-lain. Tapi jangan lupa bahwa itu bukan untuk dihabiskan dengan berfoya-foya untuk memenuhi keinginan-keinginan daging, tetapi hendaklah dipakai sesuai panggilan kita yaitu untuk memberkati sesama.

Kita harus tahu untuk apa Tuhan memberkati kita, kita harus memiliki kerinduan untuk melakukannya. Kita harus sadar bahwa berkat hanya bisa dimiliki dengan usaha yang jujur, serius dan dibarengi dengan kedekatan dengan Tuhan, hidup kudus dan seturut kehendakNya, lalu selanjutnya mengetahui untuk apa berkat Dia limpahkan. Jadi hiduplah seperti keinginan Tuhan, berusahalah sungguh-sungguh dengan jujur, dan ketika Tuhan memberkati anda, pergunakanlah itu untuk memberkati sesama. Mulailah memberi, maka Tuhan akan terus mencurahkan berkatNya memenuhi lumbung agar anda bisa memberkati lebih, lebih dan lebih lagi.

We are blessed to be a blessing to others

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, February 9, 2016

Blessed to be a Blessing to Others (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Selain Petrus, Paulus ternyata mengajarkan hal yang sama. "Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2 Korintus 9:6-7). Paulus tidak berhenti sampai disitu. Ia lebih jauh menjelaskan bahwa Tuhan sanggup melimpahkan segala kasih karuniaNya bahkan hingga berkelebihan, dan ini semua bukan untuk memperkaya diri, menyombongkan diri dan dinikmati sendiri dengan serakah, melainkan untuk beramal, memberkati orang lain. "Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan." (ay 8).

Dalam Alkitab versi BIS ayatnya berbunyi demikian: "Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal." Sangat jelas dan sama bukan? Kasih karunia Tuhan lebih dari cukup buat kita. Tuhan berkuasa untuk melimpahi kita dengan berkat, tetapi sangatlah penting bagi kita dalam menyadari mengapa dan untuk tujuan apa Dia memberikan itu. Selain agar kita mampu memiliki apa yang kita butuhkan dalam hidup, tetapi terlebih pula itu ditujukan agar kita punya sesuatu untuk berbuat baik dan beramal.

Ketahuilah bahwa berkat-berkat yang kita peroleh adalah titipan Tuhan yang harus kita sisihkan dan pergunakan untuk memberkati sesama kita. Kita harus berpikir seius untuk menjadi saluran berkat dan cerminan kemuliaan dan kasih Tuhan atas manusia, tanpa terkecuali. Apakah itu berkat kekayaan, berkat kesehatan, talenta-talenta yang kita miliki, semua itu hendaklah kita pergunakan untuk menjadi berkat buat orang lain. Apapun yang kita lakukan buat membantu orang lain akan sangat Dia hargai. Firman Tuhan berkata: "Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku." (Matius 25:45). Kita harus sadar bahwa kekayaan, kemampuan, kepandaian dan kekuatan yang ada pada kita semua merupakan berkat yang berasal dari Tuhan. Karena itu sudah selayaknya kita mempergunakannya untuk sesama kita, siapapun mereka, apapun latar belakangnya.

Dalam prinsip kekristenan, mengasihi dan menolong orang lain tidak boleh pandang bulu dan pilih-pilih. "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35). Siapapun yang tengah lemah ditimpa kesulitan,apapun latar belakangnya, wajib kita bantu. Dan semua orang percaya harus bisa sampai kepada sebuah kesimpulan bahwa rasa bahagia akan jauh lebih terasa saat kita memberi ketimbang saat menerima.

Perhatikan, semakin dalam kita masuk ke dalam hadiratNya, semakin dekat kita pada Tuhan, maka cara kita memandang kebahagiaan pun dengan sendirinya berubah. Jika dulu kita berbahagia ketika kita diberi, maka kini kita akan jauh lebih berbahagia ketika bisa memberi kepada orang lain. Kita bisa merasa sangat bahagia ketika berkesempatan menolong meringankan beban orang lain, yang dilakukan bukan karena pamrih apa-apa tapi semata-mata karena belas kasih. Kita memperoleh berkat adalah agar kita bisa memberkati orang lain. Semakin banyak kita mendapat berkat, berarti kesempatan kita memberkati orang lain pun seharusnya makin besar.

(bersambung)

Monday, February 8, 2016

Blessed to be a Blessing to Others (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Petrus 3:9
====================
"...hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat..."

Ijinkan saya mengambil ilustrasi yang sama dengan renungan kemarin. Ambillah sebuah gelas lalu tuang air ke dalamnya. Air akan memenuhi gelas dari bawah sampai ke atas, dan pada saat gelas tidak lagi bisa menampung maka air akan mulai melimpah keluar. Semakin lama anda menuangkan air, maka semakin lebar pula area yang dibasahi dari limpahan air tersebut. Terus melebar membasahi lebih dan lebih banyak lagi area, mulai dari sekitar gelas hingga jauh.

Ilustrasi ini saya angkat kembali untuk melanjutkan pembahasan kemarin mengenai kelimpahan seperti yang dijanjikan Tuhan. Bagi saya contoh ini sangatlah pas untuk menggambarkan  prinsip Tuhan dalam menyalurkan berkatNya. Semakin banyak air yang dituang maka airnya akan semakin luas menyebar. Mulai dari membasahi sekitar gelas hingga sampai mengalir jauh dari gelas tersebut. Sebelum air mengalir membasahi area di luar gelas, tentu gelas harus terlebih dahulu penuh bukan? Setelah penuh, barulah air mulai membasahi sekitarnya dan melebar makin jauh. Ketika Tuhan mengucurkan berkat dari perbendaharaanNya seperti air, seharusnya berkat tersebut bisa mengalir terus membasahi area di luar gelas sampai sejauh mungkin.

Siapa yang tidak ingin diberkati? Saya yakin taidak ada. Semua orang tentu ingin mendapat berkat berlimpah. Bagi yang berprofesi sebagai pengusaha tentu ingin agar usahanya diberkati Tuhan berlipat ganda. Yang bekerja di kantor ingin mengalami peningkatan karir. Yang masih bersekolah ingin berhasil mencapai gelar dengan hasil baik. Ingin keluarga yang kebahagiaannya melimpah. Ingin apa yang dirintis berhasil. Apa yang ditanam berbuah subur tanpa henti. Ya, kita ingin itu. Tidak satupun yang ingin gagal, semua ingin bertumbuh dan berkembang lebih baik lagi, lebih berhasil lagi, lebih sukses lagi, penuh berkat dari Tuhan dalam hidupnya. Tapi untuk apa sebenarnya berkat itu? Sayangnya hanya sedikit yang menyadari hakekatnya memperoleh berkat Tuhan. Banyak yang terjebak terus menumpuk harta sebanyak-banyaknya dan mengira bahwa kebahagiaan akan diperoleh jika kita kaya raya. Tidaklah heran jika semakin kaya, orang bukannya semakin rajin menabur tapi malah semakin pelit. Kalaupun memberi, itu harus ada imbalannya atau sesuatu yang menguntungkan diri mereka. Kalau tidak, buat apa membuang-buang uang? Kalau ini yang masih ada dalam pola pikir kita, segeralah buang jauh-jauh, karena alkitab sudah mengingatkan untuk apa sebenarnya kita diberkati.

Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa ada hubungan sebab akibat dalam hal diberi dan memberi. Perhatikanlah ayat ini "...hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat..." (1 Petrus 3:9). Kalau kita lihat kitab Kejadian, maka kita bisa menemukan pesan yang sama dalam kisah Abram (Abraham). "Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat." (Kejadian 12:2). Dalam bahasa Inggris amplified dikatakan "And I will make of you a great nation, and I will bless you [with abundant increase of favors] and make your name famous and distinguished, and you will be a blessing [dispensing good to others]." Tuhan siap untuk memberkati secara berlimpah agar kita bisa menjadi berkat bagi orang lain.

Kita dipanggil untuk memperoleh berkat, dan dengan demikian hendaklah kita memberkati orang lain. Dengan kata lain, kita diberi untuk memberi. Kita diberkati untuk memberkati. Kita bekerja keras untuk mencukupi nafkah hidup kita dan keluarga, itu benar. Tapi itu bukanlah satu-satunya tugas kita. Ada pesan Tuhan yang penting pula agar kita mampu menjadi saluran berkat bagi sesama. Memiliki rasa belas kasih yang menggerakkan kita untuk mengulurkan tangan terhadap saudara-saudari kita yang tengah tertimpa kesusahan. Mungkin bukan soal uang, tetapi karena kita diberkati dengan waktu, kita bisa membagi sebagian dari waktu kita untuk membantu orang lain. Berbagi ilmu, berbagi pendapat, berbagi masukan, apapun itu merupakan berkat yang berasal dari Tuhan dan dengan itu pula kita seharusnya memberkati orang lain. Dan sesungguhnya, untuk itulah kita diberi. Apabila kita memperoleh berkat tetapi tidak mau memberkati, maka itu arinya kita sudah melanggar perintah dan menolak panggilanNya.

(bersambung)

Sunday, February 7, 2016

Berkelimpahan (3)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Dari sosok Elia kita bisa belajar pula bahwa doa sebagai sarana bagi kita untuk berhubungan dengan Tuhan mampu membawa turunnya berkat melimpah ini. Selain dijuluki nabi api, Elia juga dikenal sebagai nabi hujan. Elia hanyalah manusia biasa, sama seperti kita. Apa yang membedakan adalah kesungguhannya dalam berdoa. Yakobus kemudian menyatakan hal itu. "Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya." (Yakobus 5:17-18). Mari kita beri penekanan pada kata "berdoa", "hujan" dan "buah". Ada banyak dari kita yang terus menerus bekerja tanpa henti, meletakkan pekerjaan atau karir di atas segalanya sehingga menomorduakan bahkan melupakan berdoa sebagai sebuah kewajiban yang harus kita lakukan. Atau mungkin berdoa, tapi berdoa hanya sebatas konteks kebiasaan, rutinitas, dan bukan berasal dari kerinduan hati terdalam untuk mencari dan bersekutu dengan Tuhan karena mengasihi Tuhan. Maka lewat kisah Elia kita bisa belajar untuk tidak melupakan kesungguhan dalam "berdoa", agar "hujan" turun dengan lebat dan membuat kita "berbuah".

Berbuah dengan subur bukan hanya berbicara mengenai berkat-berkat jasmani, tapi juga mengenai berkat-berkat rohani. Berbuah tidak hanya dalam pekerjaan, studi, karir dan jabatan, tapi juga dalam hal pelayanan. Apakah pelayanan anda selama ini sudah disertai dengan doa yang sungguh-sungguh? Ingatlah bahwa "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." (Yakobus 5:16b). Berdoa dengan sungguh-sungguh yang berasal dari hati akan membuat Tuhan membuka perbendaharaanNya yang melimpah dari Surga untuk menurunkan hujan berkatNya ke atas kita, hujan yang akan membuat bumi termasuk kita di dalamnya sanggup mengeluarkan buah. Selain bekerja, janganlah melupakan untuk berdoa dengan sungguh-sungguh agar Tuhan berkenan melimpahkan hujan dari langit untuk kita.

Selain itu, ingat pula kewajiban kita untuk memberikan persembahan perpuluhan. Apa kata Tuhan akan hal ini? "Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan." (Maleakhi 3:10). Pemberian perpuluhan dikatakan akan membukakan tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat hingga berkelimpahan. Dalam bahasa Inggris tingkap-tingkap langit disebutkan dengan windows of heaven, floodgates of heaven. Adanya huruf "s" di belakang kata window dan floodgate berarti bukan hanya satu tapi banyak) Ini adalah hal serius yang tidak boleh kita lupakan. Faktanya ada banyak orang yang merasa pelit untuk memberi, berhitung untung rugi atau malah beranggapan bahwa perpuluhan adalah sarana untuk menyogok Tuhan untuk mengabulkan permintaannya. Orang-orang ini akan terus berdebat tanpa henti apakah yang harus diserahkan tepat 10% atau tidak. Ada yang mengatakan harus, ada yang tidak, tetapi saya lebih tertarik untuk berpikir seperti ini: seandainya saya memberi dengan penuh sukacita tepat 10% atau bahkan lebih, apakah saya akan kekurangan? Faktanya tidak. Ada begitu banyak kesaksian yang saya dengar secara langsung, dan saya sendiri sudah membuktikannya. Tuhan justru akan membuka floodgates of heaven dan membalas dengan berlipat ganda hingga berkelimpahan kepada orang-orang yang memberi dengan kerelaan hati, atas dasar ketaatan dan kasihnya, dan dengan penuh sukacita.

Elia bukan Tuhan dan bukan pula dewa. Elia adalah hanya manusia biasa, with flesh and bone, yang sama seperti kita. Elia manusia biasa yang punya kelemahan dan keterbatasan. Seperti kita, ia pun mengalami masa-masa ups and downs, pasang surut dalam perjalanan hidupnya. Tiga tahun enam bulan dikatakan bangsa Israel mengalami paceklik akibat kekeringan. Bayangkan apa yang bisa terjadi jika hujan tidak kunjung turun selama itu. Tanah akan gersang akibat kemarau berkepanjangan, dan bukan saja hasil pertanian, untuk minum pun orang mungkin sudah sulit pada masa itu. Tetapi lihatlah doa Elia mampu menurunkan hujan yang berlimpah ruah sehingga bumi pun kembali mengeluarkan buahnya. Jika lewat Elia hujan bisa turun, maka hujan itu pun mampu turun atas kita sampai kita mengeluarkan buah, baik dalam pekerjaan, studi, kehidupan maupun pelayanan.

Ingin memiliki pekerjaan, studi, hidup dan pelayanan yang berbuah? Apakah anda ingin mendapatkan hidup yang berisi segala yang baik berkelimpahan? Berlimpah kasih karunia, perlindungan, penyertaan, berkat, kegembiraan, kebahagiaan, sukacita, hikmat, keberhasilan dan seterusnya?Sertailah kegiatan-kegiatan anda dengan doa yang sungguh-sungguh dan jangan lupa pula bahwa ketaatan akan firmanNya yang diaplikasikan langsung dalam hidup melalui perbuatan nyata memegang peranan yang teramat sangat penting. Tuhan rindu untuk menurunkan hujan dari surga secara berlimpah-limpah saat ini juga atas anak-anakNya. Tetapi semua tergantung keputusan kita akan bagaimana cara kita hidup. Jika ingin mengalami kelimpahan dalam hidup, benahilah segala yang masih kurang mulai sekarang juga. The kind of life with all good things overflow, the windows/flowgates of heaven pouring down on you, that's exactly what God wants you to be in. 

Hujan berkat melimpah turun atas anak-anakNya yang taat dan rajin berdoa dan setia melakukan Firman

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker