Thursday, April 24, 2014

Tidak Berhenti Belajar

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Amsal 1:5
======================
"baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan"

"Saya tidak mau jadi matang.. karena kalau sudah matang, artinya tinggal menunggu busuk saja." Demikian kata seorang teman yang berprofesi sebagai guru menyanyi. Meski ia sudah lebih dari 1 tahun bekerja sebagai guru vokal, ia terus belajar mengolah vokalnya yang tidak hanya sebatas menyanyi tapi juga meniru suara beberapa jenis alat musik, perkusi dan sebagainya. Ia rajin melatih nafas agar tahan menyanyi yang panjang-panjang dan melatih ketepatan vokalnya agar jatuh di nada yang pas ketika bernyanyi dalam keaaan cepat. Apa yang ia bilang sangat menarik buat saya, karena saat orang ingin menjadi matang, ia justru ingin terus pada posisi belajar agar bisa bertumbuh lebih dan lebih lagi. Ia bersyukur, tapi tidak mau merasa puas dan berhenti. Ia juga berkata bahwa ada begitu banyak ilmu yang sangat menarik tapi belum ia kuasai. Karenanya ia terus berusaha mengolah talentanya untuk terus lebih dan lebih lagi. Ini sangat menginspirasi saya, karena disaat yang sama saya berhadapan dengan banyak orang yang cepat berpuas diri dan tidak lagi mau mengembangkan kapasitasnya. Mereka puas dengan apa yang ada pada mereka dan seperti hidup tanpa semangat lagi. Dari hari ke hari sama, bagai robot yang diprogram melakukan hal berulang secara rutin.

Tuhan tidak menciptakan kita sebagai robot. Kita diciptakan sesuai imageNya sendiri dan diberi kehendak bebas. Dia memberi kita talenta dan kemampuan untuk terus meningkat, mengembangkan kapasitas hingga mencapai tahapan-tahapan diluar apa yang kita anggap sebagai batas kemampuan kita. Hidup yang tidak lagi puya  gairah, tidak ada lagi tantangan, tidak ada lagi impian dan cita-cita akan sangat membosankan. Disaat jaman berubah, teknologi berkembang, segala aspek kehidupan tidak akan pernah statis melainkan selalu bergerak dinamis, orang-orang yang tidak mau berkembang akan terus hidup di masa lalu dengan segala ke-'jadul'annya. Lama-lama mereka akan ditinggalkan oleh jaman dan kemajuannya, dan itu tentu tidak akan baik buat siapapun. Selain itu kita harus ingat bahwa talenta yang diberi Tuhan bukan buat disimpan tapi justru harus dikembangkan dan dilipatgandakan agar bisa dipertanggungjawabkan dan bisa pula memberkati sesama. Kerinduan untuk terus belajar menambah ilmu dan terus memperbesar kapasitas pengertian sangat diperlukan untuk itu. Itu akan membuat kita semakin bijaksana, semakin baik, tidak tertinggal oleh jaman dan bertanggungjawab terhadap semua yang telah Tuhan bekali dalam diri kita.

Salomo yang penuh hikmat mengatakan "baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan." (Amsal 1:5). Orang bijak bukanlah orang yang statis, apatis atau malas, tetapi justru yang terus ingin memperbesar kapasitasnya dengan menambah ilmu. Itu akan membuat pengertian atau pemahaman kita menjadi semakin luas karenanya kita pun akan lebih bijaksana dalam membuat pertimbangan-pertimbangan. Lihatlah betapa pentingnya bagi kita untuk terus mendengar dan menambah ilmu. Kita diajak untuk membuka mata, telinga maupun pikiran kita kepada pengetahuan. Baik untuk berbagai ilmu pengetahuan yang akan memperluas cakrawala berpikir kita, maupun pengetahuan akan firman Tuhan yang mengandung begitu banyak rahasia penting di dalamnya. Dalam pengenalan akan firman Tuhan, dalam ilmu pengetahuan, dalam segi apapun kita harus terus belajar. Tanpa terus belajar kita tidak akan pernah bisa menjadi lebih baik.

Orang yang selalu mau mendengar dan menambah ilmu pengetahuan dikategorikan sebagai orang yang bijak. Sebaliknya orang yang mengabaikannya dikatakan orang yang bodoh. "Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan." (ay 7). Lihatlah betapa pentingnya hal untuk terus belajar menambah ilmu pengetahuan ini sehingga Salomo yang penuh hikmat memilih untuk mengungkapkan ini langsung sejak di awal-awal kitab Amsal.

Memang akan selalu ada godaan yang bisa membuat kita berhenti belajar. Terlalu cepat puas, merasa sudah aman dengan kepandaian yang kita miliki hari ini, atau sering juga faktor-faktor non teknis membuat kita tidak lagi punya minat untuk menambah pengetahuan kita. Bagi orang yang tinggal di kota besar misalnya, kelelahan dalam bekerja, keletihan menembus kemacetan dan banyaknya waktu yang terbuang dalam perjalanan selama pergi dan pulang kerja akan membuat kita kehilangan minat untuk meningkatkan ilmu yang kita miliki. Atau bisa pula karena kita melihat karir kita tersendat dan merasa tidak ada gunanya lagi untuk menambah ilmu karena toh bakal percuma, atau malah karena sudah pada posisi puncak sehingga merasa tidak perlu lagi belajar. Sebagian lagi mungkin beralasan bahwa beratnya tekanan hidup membuat mereka terlalu lemah untuk belajar. Padahal di saat-saat kita mengalami masalah, sebenarnya itulah saat yang paling tepat untuk belajar. Dan jangan lupa pula bahwa tidak pernah ada kata terlambat atau batas umur untuk belajar. Teman saya tadi sudah hampir kepala empat umurnya, tapi ia terus rindu untuk belajar lebih banyak. Atau anda mungkin kaget apabila saya katakan bahwa saya pernah mengajar seorang kakek berusia 70 tahun yang sudah pikun dalam hal menggunakan perangkat lunak dalam desain digital.

Tidak ada alasan yang cukup untuk dipakai sebagai pembenaran berhenti belajar. Apalagi kalau menyadari bahwa saat ini sarana atau media belajar sudah sangat mudah aksesnya dibanding jaman dulu. Kalau dulu orang harus pergi ke perpustakaan dan dibatasi waktu, sekarang dengan menggunakan internet anda bisa mendapatkan informasi atau pengetahuan 24 jam sehari, 7 hari seminggu alias setiap waktu dengan biaya yang relatif murah dan jauh lebih efektif dari segi waktu. Di tengah deraan masalah pun kita tidak seharusnya berhenti belajar. Justru sebaliknya kita harus semakin giat dan bertekun untuk itu. Dari kegagalan sekalipun kita selalu bisa mendapatkan sesuatu yang berharga untuk menapak maju ke depan. Penulis Mazmur sudah menyadari hal ini ribuan thaun lalu. Ia berkata "Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu." (Mazmur 119:71).

Life is a process. Kalau kita menyadari bahwa hidup adalah sebuah proses, kita tentu tahu bahwa kita harus mengisi setiap proses dengan belajar. Apakah itu dalam hal spiritual atau intelektual, kita harus selalu mau terbuka untuk belajar. Belajarlah dari segala hal. Bagaimana kita bisa berharap terus maju menatap masa depan jika kita enggan untuk memperlengkapi diri kita dengan berbagai ilmu terlebih pemahaman yang lebih dalam akan firman Tuhan? Bagaimana kita bisa berharap mengalami peningkatan jika kita berhenti belajar? Dan tentu saja, bagaimana kita bisa menjalankan misi yang ditugaskan Tuhan secara maksimal jika kita tidak mau terus memperluas pengetahuan kita? Apapun alasannnya, apapun yang kita alami saat ini, janganlah pernah tergoda untuk berhenti bertumbuh dalam ilmu pengtahuan, baik secara spiritual maupun intelektual. Teruslah menjadi semakin bijak, bukalah mata dan telinga untuk mendengar dan luangkan waktu untuk terus belajar mengenai hal-hal baru, sebab hanya dengan demikianlah kita bisa menjadi orang-orang yang terus bertumbuh menjadi lebih baik untuk menggenggam masa depan yang cerah di depan sana.

Tidak ada kata terlambat atau final untuk belajar selama masih ada kesempatan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, April 23, 2014

Popularitas

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
 Ayat bacaan: Lukas 6:26
=====================
"Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu."

Popularitas menjadi impian semua orang di jaman sekarang. Kalau dulu popularitas hanya bisa didapat dari keahlian atau kemampuan istimewa seseorang, hari ini dengan begitu banyaknya media, popularitas bisa dicapai dengan segala cara. Lewat video yang diunggah ke Youtube misalnya, ada banyak orang yang menampilkan hal-hal lucu meski tanpa makna agar bisa terkenal secara instan. Beberapa sukses menarik minat media seperti televisi sehingga menjadi tenar dalam sekejap, tapi mereka-mereka ini pun kemudian meredup tak kalah cepatnya pula karena tidak didukung oleh kesiapan baik secara mental maupun kemampuan. Korban eksploitasi media? Mungkin. Yang jelas popularitas instan ini ternyata merusak sikap (attitude) dari beberapa korbannya. Popularitas dadakan membuat mereka cepat berbangga diri sehingga terjebak pada perilaku sombong, gaya hidup hedon dan kelakuan buruk lainnya. Masih ada orang-orang yang menjalankan panggilan tanpa mempedulikan ketenaran, tetapi jumlahnya sangat sedikit dibanding orang yang mencari popularitas demi kepentingan sendiri. Masih ada orang-orang yang berusaha terus memuliakan Tuhan dalam apapun yang mereka kerjakan, tapi jumlahnya kalah banyak dibanding orang yang berpusat pada diri sendiri. Seperti apa kita harus menyikapi kesuksesan dan pentingkah popularitas menurut Tuhan?

Alkitab tidak pernah mengajarkan kita untuk mengejar popularitas. Populer di mata orang lain itu tidaklah penting. Firman Tuhan mengatakan "Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu." (Lukas 6:26). Celaka? Ya, celaka, karena semua itu bisa membuat kita lupa diri kemudian melupakan Sang Pemberinya sendiri. Apa yang dituntut dari kita adalah terus berupaya bukan menjadi orang besar tapi menjadi orang benar, semakin sempurna seperti Bapa di sorga (Matius 5:48), menghayati keberadaan kita sebagai manusia baru yang terus diperbaharui untuk lebih mengenal Allah dengan lebih dalam (Kolose 3:10) dan terus semakin menyerupai Yesus dengan pertolongan Roh Kudus yang telah dianugerahkan untuk diam di dalam diri kita. (2 Korintus 3:18). Itu yang diinginkan bagi kita, dan bukan untuk mengejar popularitas di mata manusia yang hanya sementara sifatnya.

Alkitab juga berkata, semakin tinggi kita menapak naik, kita seharusnya semakin kecil, dan Allah sendiri yang harus semakin besar. Yohanes Pembaptis bisa saja membanggakan diri sebagai sosok yang membaptis Yesus, tetapi lihatlah apa katanya. "Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya...Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil." (Yohanes 3:28,30). Kemuliaan Allah harus terus semakin besar lewat pribadi kita dan dalam saat yang sama kita harus terus semakin rendah hati dan tidak tergiur oleh dorongan mencari popularitas di mata manusia.

Tidak menganggap penting popularitas berarti harus siap dianggap aneh. Tapi kalau memang kita harus dianggap aneh oleh dunia, atau malah harus menghadapi resiko disingkirkan atau dikucilkan, biarlah. Itu jauh lebih baik ketimbang kita mentolerir berbagai bentuk pelanggaran yang akan semakin menjauhkan kita dari posisi kita sebagai ahli waris Tuhan. Yesus bahkan telah mengingatkan "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Matius 16:24). Mengapa demikian? "Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya." (Matius 16:25). Dan ini adalah sesuatu yang kekal. Something everlasting and eternal. Itu yang dijanjikan oleh Kristus, dan itulah yang jauh lebih pantas kita usahakan ketimbang mencari popularitas di dunia yang sifatnya hanya sementara ini. Itu tepat seperti apa yang dikatakan Yesus selanjutnya: "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?" (ay 26). Apalah artinya popularitas di dunia dibandingkan dengan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hidup yang terberkati dalam Kerajaan Allah? Itu sama sekali tidak sebanding.

Melakukan sesuatu yang benar tapi beresiko disisihkan banyak orang atau dianggap bodoh, atau sebaliknya melakukan hal yang salah tapi akan dipuja-puja orang lain. Semua itu tergantung kita. Tidak mudah memang untuk tampil benar di dunia yang penuh kesesatan. Tidak mudah untuk tampil lurus di lingkungan yang bengkok. Tapi itulah yang menjadi panggilan kita. Tuhan memanggil kita untuk melakukan apa yang benar dan bukan untuk menjadi populer di mata dunia. Kalaupun kita populer, jangan pakai popularitas itu demi kesombongan pribadi, tapi muliakanlah Tuhan di dalamnya. Pakai itu sebagai alat untuk memperluas KerajaanNya di muka bumi ini, tunjukkan keteladanan mengenai cara hidup benar yang berkenan di mata Tuhan. Populer atau tidak, itu tidak penting, karena bagaimana kita menjalani hidup yang sesuai kehendakNya, menjalankan sesuai rencanaNya dan memuliakan Tuhan didalamnya, itulah yang penting.

Kita diminta untuk menjadi orang benar dan bukan untuk menjadi populer

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, April 22, 2014

Pohon Buah

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Filipi 1:22
================
"Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah."

Pohon buah adalah pohon yang menghasilkan buah, yang mayoritas bisa dikonsumsi oleh manusia dan hewan. Kalau semua yang diciptakan di dunia punya tujuan atau tugasnya masing-masing, maka pohon buah tugas utamanya adalah menghasilkan buah. Meski pohon buah bisa membawa manfaat lain seperti untuk tujuan penghijauan, penghasil udara bersih dan cadangan air, menyejukkan udara dan menyaring karbon dioksida dan sebagainya, pohon buah haruslah menghasilkan buah. Jika anda menanam pohon mangga, anda tentu mengharapkan pohon itu berbuah bukan? Anda akan berusaha menyiram, memberi pupuk, mengatasi hama yang mungkin timbul pada daun maupun batang agar pohon itu mampu menghasilkan buah. Jika tidak berbuah, meski fungsi-fungsi lainnya bisa terpenuhi, anda tentu akan merasa kecewa.

Untuk apa kita hidup? Apa yang menjadi tujuan dan tugas kita saat kita masih berkesempatan untuk terus ada di dunia? Ada banyak orang tidak menyadari apa yang menjadi tujuan hidupnya. Banyak yang hanya menjalani sekenanya saja tanpa melakukan sesuatu yang berarti. Sibuk berhitung untung rugi tanpa mau berbuat. Malas untuk berusaha dan hanya suka mengeluh. Banyak yang tidak mengetahui panggilannya, apa yang harus ia perbuat sesuai dengan rencana Tuhan dan talenta-talenta yang sudah Tuhan tanamkan kepada mereka sejak semula. Tidak jarang pula dosa-dosa terus menyerang seperti hama yang merusak di daun, batang dan akar pohon. Ada yang terlihat jelas, ada pula yang samar atau tidak kasat mata sehingga kalau tidak awas kita tidak menyadari bahwa kita sedang diserang hama dosa yang akibatnya bisa sangat fatal. Sama seperti pohon yang terserang penyakit, pohon akan mengering, daun-daun layu, tidak ada putik bunga dan tidak lagi menghasilkan buah. Pohon yang seperti itu hanya akan berakhir ditebang dan dibakar atau dibuang. Menghasilkan buah merupakan tugas utama sebuah pohon buah. Sama dengan kita, Alkitab jelas berkata bahwa hidup kita pun perlu menghasilkan buah. Bahkan dengan tegas dikatakan bahwa itulah yang menjadi tujuan kita di saat kita masih diberikan kesempatan untuk berada dimana kita ada saat ini.

Surat Filipi 1:22 menyampaikan hal ini. "Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah." Paulus mengingatkan jemaat di Filipi dan kepada kita semua bahwa hidup ini harus menghasilkan buah lewat apapun yang kita kerjakan. Life has to be fruitful, or else it will just be useless. Untuk tujuan itu Paulus pun siap menanggung resiko apapun dan memberi atau melakukan segala yang ia sanggup. Bahkan ia berkata: "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan." (ay 21). Berbuah adalah satu hal yang harus kita hasilkan selama hidup. Seperti apakah berbuah itu? Berbuah berbicara tentang hidup yang bermakna, bermanfaat dan berguna, bukan saja bagi diri sendiri, tetapi juga terhadap orang lain. Berbuah berbicara tentang sebuah pertumbuhan dan perkembangan menghasilkan sesuatu yang manis. Berbuah, itu merupakan keharusan bagi orang-orang percaya.

Yesus pun berulang kali memberi penekanan akan hal ini. Perhatikan ayat berikut yang berasal dari ucapan Yesus sendiri. "Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal." (Matius 12:33). Dari buahnyalah sebuah pohon dikenal. Hal ini diulang Yesus beberapa kali dalam berbagai kesempatan, seperti ketika Dia menyampaikan perihal pengajar-pengajar yang sesat dalam Matius 7:15-23. Agar dapat membedakan mana yang benar dan sesat, kita bisa melihat itu dari buah-buah yang dihasilkan. "Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?" (ay 16). Seperti apa buah yang kita hasilkan akan sangat menentukan seperti apa kita sudah menjalani tujuan hidup kita. Dan Tuhan tidak main-main mengenai kehidupan yang berbuah atau tidak ini."Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api." (ay 19). Lalu kembali kita menemukan peringatan Yesus yang sama: "Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka." (ay 20). Pohon yang tidak menghasilkan buah tidak ada gunanya dipertahankan. Batang kering itu hanya akan berakhir dengan ditebang lalu dibakar. Seperti itu pula kehidupan yang kita jalani dengan sia-sia. Semua hanya akan berakhir dalam api yang menyala-nyala.

Melakukan pertobatan menyeluruh dan menerima Yesus dengan sepenuh kesadaran sebagai Tuhan dan Juru Selamat itu langkah awal. Tetapi selanjutnya kita harus melangkah kepada tahapan berikutnya dengan menghasilkan buah yang baik, yang bukan saja bermanfaat bagi kita tapi juga membawa kebaikan bagi orang lain. Sebuah pertobatan harus berlanjut kepada berbuah, seperti apa yang dikatakan Yesus: "Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan." (ay 8). Kita pun harus menjaga diri kita baik-baik agar jangan sampai dosa-dosa kembali menyerang kita baik secara terang-terangan maupun tersembunyi. Semua itu bisa membuat kita berhenti menghasilkan buah sehingga akibatnya bisa menjadi sangat fatal di kemudian hari.

Jadi penting bagi kita untuk menyadari tugas dan tujuan kita, dan itu adalah dengan menghasilkan buah lewat pertobatan kita dan lewat apapun yang kita kerjakan. Kita harus tahu apa yang menjadi rencana Tuhan atas kita, apa yang harus kita kerjakan dan menghasilkan buah-buah disana. Tidak jarang kita lupa akan hal ini. Kita merasa puas dengan menjadi orang percaya, atau merasa sudah cukup ketika kita mencapai jabatan-jabatan tertentu baik dalam pekerjaan maupun dalam pelayanan.  Tuhan tidak peduli setinggi apa jabatan kita, atau bahkan berapa lama kita sudah mengaku jadi pengikutNya. Apa yang Dia perhatikan adalah buah yang kita hasilkan, apakah kita sudah bertumbuh dengan subur dan menghasilkan banyak buah ranum yang rasanya manis dan segar, atau kita tidak kunjung menghasilkan apapun dalam hidup ini.

Maka Yesus mengingatkan: "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar." (Yohanes 15:4-6). Jangan lupa bahwa ranting-ranting yang tidak berbuah akhirnya akan dipotong (ay 2a), lalu dikumpulkan dan dicampakkan ke dalam api. Ini adalah sesuatu yang tidak main-main. Terus bertumbuh dan berbuah merupakan sebuah kesempatan besar yang diberikan Tuhan kepada orang benar. Itu hanya akan bisa kita peroleh apabila kita berpegang teguh kepada ketetapan Tuhan, menjalani hidup sesuai panggilan dan melakukannya dengan sungguh-sungguh, dan memperhatikan betul kemana kita sebenarnya berakar. Jika kita adalah ranting yang tinggal pada Kristus, maka buah-buah yang kita hasilkan akan menyatakan kemuliaan Tuhan di dunia. Sebab dari buahnya lah pohon itu dikenal. Oleh karena itu selama kita masih diberi kesempatan untuk hidup, pastikanlah bahwa kita terus berbuah.

Teruslah tumbuh di dalam Kristus dan terus hasilkan buah-buah manis

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, April 21, 2014

Bristlecone Pines

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Roma 5:3-4
===================
"Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan."

Kita bisa mengetahui kira-kira seperti apa dunia ribuan tahun lalu lewat penelitian para ahli yang dilakukan lewat banyak penemuan peninggalan prasejarah seperti fosil maupun benda-benda lainnya. Tapi tahukah anda bahwa ada saksi sejarah lainnya yang masih hidup di dunia ini setelah melewati rentang waktu selama lebih dari 5000 tahun yang masih bisa dilihat secara langsung di beberapa tempat di dunia? Itu bisa kita lihat lewat sekumpulan pohon yang tumbuh di dataran tinggi di Amerika Serikat. Pohon ini masih tergolong keluarga cemara dan bernama Bristlecone Pines. Salah satu pohon disana yang diberi nama Methuselah, yang diambil dari nama tokoh alkitab yang berusia paling panjang, 969 tahun, Metusalah. Anda bisa bayangkan betapa luar biasanya sekumpulan pohon yang usianya mencapai 5.000 tahun dan masih terus hidup sampai detik ini. Mengingat usianya yang mencapai lebih dari 5000 tahun, berarti pohon ini sudah ada ketika bangsa Mesir mulai membangun piramid-piramid. Kalau 5000 tahun saja sudah terdengar ajaib, Bristlecone pines bukanlah pohon tertua karena pada tahun 2008 para peneliti menemukan pohon yang lebih tua lagi di Lapland, Swedia. Pohon ini juga masih tergolong keluarga cemara dengan usia yang tidak kurang dari 9.500 tahun.

Pohon-pohon tertua ini semuanya tumbuh di dataran yang tinggi. Pohon cemara tertua di Swedia tumbuh pada ketinggian 950 m dari permukaan laut, sedangkan kumpulan cemara Bristlecone berada pada ketinggian sekitar 3.000 m di atas permukaan laut. Untuk tumbuh pada ketinggian yang ekstrim seperti itu tentu tidak mudah. Angin yang kencang dan ganas, temperatur yang sangat dingin, udara yang tipis dan curah hujan yang sangat rendah membuat kondisi luar biasa berat untuk bisa bertahan hidup. Tapi faktanya, pohon-pohon yang bertahan hidup ribuan tahun seperti itu justru terdapat pada lokasi yang rasanya tidak memungkinkan.

Kemarin kita sudah melihat bahwa orang benar dikatakan akan bertunas seperti pohon korma dan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon (Mazmur 92:13). Ayat ini menyiratkan bahwa orang yang benar akan memiliki keistimewaan-keistimewaan sendiri dengan kekuatan yang berasal dari Tuhan. Pohon korma bisa hidup di gurun tandus lewat kemampuan akarnya yang sanggup menembus kerasnya tanah dan batu sampai jarak yang sangat dalam. Pohon korma akan menjadi pertanda bagi musafir bahwa sebentar lagi mereka akan menemukan mata air, selain itu buah korma juga punya kandungan nutrisi tinggi yang akan sangat bermanfaat bagi yang mengkonsumsinya. Pohon aras memiliki kayu yang sangat kuat sehingga baik dipakai untuk membangun bangunan-bangunan penting seperti istana dan bait Allah. Satu hal yang pasti, seperti halnya Bristlecone pines dan pohon tertua di Swedia, pohon-pohon ini bertunas dan tumbuh bukan ditempat nyaman tetapi di tempat yang tergolong sulit.

Kesulitan-kesulitan hidup terkadang terasa sangat menyakitkan. Tapi Tuhan dapat memakai itu untuk membentuk kita menjadi pribadi yang tangguh dan dewasa. Kita pun dapat bertumbuh dalam iman yang penuh pengharapan jika kita bergantung penuh pada Tuhan. Disana kekuatan kita diuji, kedewasaan dan ketangguhan kita akan dilatih. Kita bisa belajar lewat banyak tokoh-tokoh alkitab yang terlebih dahulu mengalami proses pembentukan ini, dan itu tidaklah mudah atau tanpa penderitaan. Tapi lihatlah hasilnya. Berbagai kesengsaraan dan penderitaan yang kita jalani dengan iman teguh disertai penyerahan sepenuhnya pada Tuhan akan memberikan yang terbaik pada kita. Kabar baiknya, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita dan tetap memberi kekuatan dalam proses kita menjalani setiap kesulitan hidup. Ada kalanya kita harus diperas agar sarinya bisa keluar. Hidup tanpa masalah seringkali membuat kita tidak bertumbuh dan malas, menjadi pribadi-pribadi manja yang lemah dan rentan terhadap berbagai jebakan. Kehidupan yang sulit memang tidak enak bahkan menyakitkan. Tapi itu bisa membuat kita menjadi orang-orang yang lebih baik. Bertahan disana, bukan lewat kekuatan kita melainkan dengan penyertaan Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita sendirian menghadapi setiap bentuk masalah akan membuat kita bisa bertunas dan tumbuh menjadi pribadi yang luar biasa. Dan seperti yang saya katakan tadi, itu pun akan membuat kita tahu bahwa di atas segalanya kita cuma bisa mengandalkan Tuhan, bergantung dan berserah kepadaNya dan bukan mengandalkan kekuatan sendiri saja.

Maka lihatlah apa kata Paulus berikut ini. "Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan." (Roma 5:3-4). Paulus berkata bahwa kita seharusnya gembira di kala sedang sengsara, karena itu bisa menimbulkan ketekunan, lalu ketekunan menimbulkan tahan uji, dan itu mendatangkan pengharapan. Selanjutnya Paulus juga berkata: "Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita." (ay 5). Such hope never dissapoints, deludes or shames us, tidak akan mengecewakan dan mempermalukan, karena kita sudah diisi Allah dengan kasihNya sendiri lewat perantaraan Roh Kudus.

Pohon-pohon tertua ini mengajarkan kita bahwa ketika kita mampu bertahan melewati masa-masa sulit, kita akan tumbuh bertunas dan subur, menjadi pribadi-pribadi tangguh yang kemampuannya bahkan diluar perkiraan orang dan logika. Maka dari itu jangan putus asa saat masuk ke dalam ujian, tapi juga berdoalah agar kita bisa mendapatkan hal terbaik sesuai kehendakNya dari penderitaan itu. Kita akan menjadi pribadi-pribadi yang kuat, tegar, tahan uji dan tidak akan pernah putus pengharapan, mampu bertahan lama dan menjadi teladan bagi banyak orang. Fenomenal, mencengangkan, seperti pohon-pohon tertua tadi.  

Tuhan memakai kesulitan-kesulitan dalam hidup kita untuk membentuk karakter yang kuat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, April 20, 2014

Karakteristik Orang Benar (2) : Pohon Aras

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Setelah kemarin kita melihat tentang pohon korma, hari ini mari kita lihat karakteristik pohon aras yang tumbuh subur di Libanon. Pohon aras adalah sebuah pohon yang menyerupai pohon cemara. Menurut para ahli sejarah, pada masa itu pohon aras memang tumbuh subur di Libanon. Apa yang hebat dari pohon ini adalah kekuatan kayunya. Pohon ini punya jenis kayu yang  tidak mudah lapuk. Semakin tua kayunya semakin kuat. Pohon ini juga tahan terhadap perubahan cuaca. Tidaklah heran jika di masa itu pohon aras sering dipakai untuk tiang penyangga, mulai dari rumah-rumah pejabat penting, gedung istana sampai Bait Allah. Dalam kitab Raja Raja kita dapat mendapatkan gambaran mengenai keistimewaan pohon aras. Ketika Salomo membangun istananya, ia banyak menggunakan pohon aras yang berasal dari Libanon. Di dalam istananya, "Ia mendirikan gedung "Hutan Libanon", seratus hasta panjangnya dan lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya, disangga oleh tiga jajar tiang kayu aras dengan ganja kayu aras di atas tiang itu. Gedung itu ditutup dari atas dengan langit-langit kayu aras, di atas balok-balok melintang yang disangga oleh tiang-tiang itu, empat puluh lima jumlahnya, yakni lima belas sejajar." (1 Raja Raja 7:2-3). Istana Salomo yang megah ternyata disangga oleh tiang-tiang kayu aras.

Jadi orang benar pun akan memiliki karakteristik yang sama. Orang benar akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang kuat. Tahan banting dalam situasi, kondisi apapun. Tidak mudah menyerah, tidak lapuk, tidak lemah. Orang-orang benar akan mampu menjadi agen-agen perubahan menuju tatanan dunia yang lebih baik, bahkan bisa bertindak sebagai tiang penyangga bagi kehidupan sesama. Dengan demikian orang-orang benar akan menjadi panutan terlebih pada masa di mana dunia terus terseret arus-arus penyesatan sehingga orang semakin kesulitan menemukan dan mengetahui kebenaran. Kalau kita sebagai anak-anak Tuhan ikut terseret arus, siapa lagi yang bisa menyatakan kasih Tuhan di dunia ini? Untuk bisa sampai kesana, diperlukan pribadi-pribadi tangguh, kuat,  berkomitmen, penuh tanggung jawab dan bergerak didasarkan oleh kasih yang mengalir dari Bapa Surgawi. Orang-orang benar punya kekuatan seperti pohon aras yang bukan saja menunjukkan bagaimana kuatnya kehidupan yang berpusat pada Tuhan tapi juga mampu menjadi tiang penyangga yang reliable atau terpercaya.

Setelah melihat karakteristik pohon korma dan aras, jelaslah bagi kita bahwa Pemazmur tidak sembarangan mengambil perumpamaan mengenai pohon korma dan pohon aras untuk menggambarkan pribadi orang benar. Seperti itulah orang benar diharapkan untuk hidup. Berakar kuat, mampu mengatasi hambatan untuk terus bertumbuh, mampu hidup di tengah kesulitan, mampu berbuah dan menjadi penyegar yang mendatangkan sukacita bagi orang-orang disekitarnya. Kemudian mampu pula menjadi tiang penyangga yang kuat dalam kehidupan. Inilah yang bisa dicapai dan seharusnya dilakukan oleh orang-orang benar.

Sekarang sebagai pohon, bagaimana agar kita bisa terus tumbuh, bertunas dan berbuah? Yesus sudah memberitahukannya. "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku." (Yohanes 15:4). Lalu Yesus berkata: "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Ay 5). Untuk bisa berbuah dan menjadi berkat bagi sesama, kita hendaklah tinggal dan berakar kuat di dalam Kristus. Tanpa itu, semua hanyalah akan sia-sia. Hanya ketika kita berbuah banyaklah kita bisa memuliakan Tuhan. "Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." (ay 8).

Menjadi garam (Matius 5:13) dan terang (ay 14-16) sudah menjadi tugas orang-orang benar. Agar bisa menjadi garam dan terang kita harus mampu menjadi orang-orang benar yang sejati, dimana kita akan bertunas seperti pohon korma dan tumbuh subur pohon aras. Orang-orang benar akan mampu menjadi saluran berkat bagi sesamanya, dan tidak akan pernah menyimpan berkat itu sendirian saja untuk kepentingan diri sendiri. Ingatlah firman Tuhan bahwa hakekat kita menerima berkat sesungguhnya adalah untuk memberkati orang lain. "....hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat." (1 Petrus 3:9) Mari kita periksa diri kita. Sudahkah kita menjadi oase di padang gurun, menjadi tempat perlindungan bagi mereka yang memerlukan, menjadi pohon korma berbuah lebat yang memberi sukacita dan berkat bagi banyak orang atau kita malah ikut-ikutan menjadi tandus dan kering? Sudahkah kita menjadi tiang penyangga yang kuat bagai kayu pohon aras, tumbuh subur dengan kekuatan yang luar biasa, atau kita masih gampang goyang diterpa angin, lemah dan justru selalu goyah sehingga butuh penyangga dari orang lain? Orang benar pada hakekatnya haruslah bisa mengacu kepada pertumbuhan pohon korma dan kesuburan pohon aras. Itulah yang akan membuat kita bisa membagi berkat bagi banyak orang dan memuliakan Tuhan di dalamnya.

Bertunaslah dan berbuahlah seperti pohon korma dan bertumbuh kuatlah bagai pohon aras agar bisa menjadi berkat dan penyangga yang kuat bagi sesama

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, April 19, 2014

Karakteristik Orang Benar (1) : Pohon Korma

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 92:13
======================
"Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon"

Menjadi orang benar sudah merupakan kewajiban dari orang percaya. Kalau kita mengacu kepada ayat pembuka kitab Mazmur maka kita akan menemukan bahwa orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam akan berbahagia, karena mereka akan tumbuh seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya dan tidak layu daunnya, bahkan apa saja yang diperbuatnya berhasil. (Mazmur 1:1-3). Ayat ini tentu sudah tidak lagi asing bagi kita, sehingga kita tahu bahwa menjadi orang benar, yang tidak ikut-ikutan berbuat dosa seperti para pendosa bukan saja akan dilayakkan untuk menerima keselamatan tapi akan bahagia pula dengan keberhasilan demi keberhasilan semasa hidup di dunia. Ada satu ayat lainnya yang sangat menarik mengenai orang benar, yang bisa kita lihat pada pasal lainnya dalam kitab Mazmur. Ayat tersebut mengatakan bahwa "Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon" (Mazmur 92:13). Bertunas seperti pohon korma dan tumbuh subur seperti pohon aras yang biasa tumbuh di Libanon, itu kata Pemazmur. Kalau hanya mengacu kepada kata bertunas dan tumbuh subur saja sudah membuat kita bersyukur, akan lebih baik jika kita mengetahui seperti apa karakteristik pohon korma dan pohon aras itu.

Jika anda bertanya kepada musafir atau pengembara padang pasir, anda tentu akan mendengar bahwa setiap mereka melihat pohon korma, mereka akan sangat senang. Kenapa? Karena apabila mereka melihat pohon korma, maka itu pertanda sebentar lagi mereka akan bertemu dengan oase atau mata air. Dalam perjalanan di gurun pasir yang panas terik menyengat, seringkali mereka melihat fatamorgana, yaitu sebuah tipuan mata yang acap kali dialami oleh para pengembara di tengah gurun. Jadi jelas mereka akan sangat lega dan bersukacita jika bertemu dengan pohon korma yang benar.

Seperti apa buah korma yang sering anda lihat di supermarket, terutama menjelang lebaran? Korma adalah buah istimewa yang mengandung begitu banyak nutrisi di dalamnya sehingga menjadi sebuah makanan sehat yang memberi kekuatan dan kesehatan jika dikonsumsi. Pertanyaannya, bagaimana pohon korma bisa tumbuh di gurun pasir yang tandus dan panas itu? Dari cara bertahannya, pohon korma pun sesungguhnya unik. Saat biji korma ditanam, akarnya akan terus menembus tanah untuk mencari air, bahkan hingga puluhan meter. Setelah mendapatkan air jauh dibawah, barulah korma ini mulai tumbuh. Dan sekali lagi, biasanya dimana pohon korma berada, disana akan terdapat oase. Karakter inilah yang dimaksud oleh Pemazmur. Kalau ia mengatakan bahwa orang benar akan bertunas seperti pohon korma, artinya orang benar akan memiliki akar yang kuat. Akar yang membuat mereka mampu tegar berdiri ditengah berbagai hambatan, meski kondisi faktual secara umum terlihat tidak kondusif dan sulit layaknya padang pasir. Orang benar yang bertunas seperti pohon korma akan mampu untuk terus tumbuh dan menghasilkan buah dalam kondisi sesulit apapun. Selain itu, seperti layaknya pohon korma yang menyegarkan, orang-orang benar pun seharusnya bisa menjadi penyegar bagi lingkungan yang "tandus", menjadi berkat yang mendatangkan sukacita bagi sesama.

(bersambung)

Friday, April 18, 2014

Mempertahankan Mahkota

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
 Ayat bacaan: Wahyu 3:11
=====================
"Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu."

Menjadi juara lalu memperoleh piala dan mahkota. Lalu apa yang menjadi target selanjutnya? Meski ada orang yang kemudian berpuas diri lantas kehilangan motivasi, banyak pula yang memilih langkah ideal yaitu mempertahankan mahkota juara. Mempertahankan seringkali jauh lebih sulit ketimbang merebut. Bagi anda yang tengah atau pernah merasakan sebuah kesuksesan dalam hal apapun, anda tentu tahu bahwa mempertahankannya lebih sulit dibanding ketika anda pertama kali meraihnya. Ada banyak ujian dalam perjalanan, dan untuk bisa mempertahankan apa yang telah kita raih butuh semangat pantang menyerah, dan kerap dibutuhkan usaha keras dan perjuangan yang lebih lagi dari sebelumnya.

Bagaimana dengan mahkota kehidupan yang diberikan Tuhan kepada kita? Itupun harus dipertahankan. Jangan sampai kita terlena lalu melanggar ketetapan Tuhan sehingga mahkota pun harus dicabut dari kita. Jemaat Filadelfia mendapatkan pesan penting akan hal ini. Mereka dinasihatkan agar tetap hidup dalam ketaatan, jangan berubah, selalu berusaha serius untuk mempertahankan apa yang telah mereka peroleh agar mahkota kehidupan yang dijanjikan tetap berlaku bagi mereka. Lihat ayat ini: "Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu." (Wahyu 3:11).

Pesan yang tidak sulit dimengerti ini berlaku juga bagi kita semua. Hari-hari yang kita hadapi sungguh sulit. Ada begitu banyak godaan sepanjang perjalanan hidup kita yang siap membuat kita keluar dari rel yang benar. Baik yang nyata-nyata maupun yang dibungkus kemasan menarik sehingga tidak kasat mata. Singkatnya, godaan bisa timbul dari segala arah. Jika tidak hati-hati, setiap saat kita bisa terpeleset dan terjerumus jatuh ke dalam jebakan iblis. Itu akan membawa akibat fatal, mahkota kehidupan lepas dari kita. Tentu tidak satupun dari kita yang mau mengalami itu. Oleh karenanya kita harus benar-benar waspada dalam menjalani hidup.

Dalam Ibrani kita sudah diingatkan agar tetap dengan teliti melihat segala sesuatu agar jangan sampai hanyut terbawa arus. "Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus." (Ibrani 2:1). Ibrani 2:1-4 memberikan pesan bagi kita agar kita jeli melihat jalan kita ke depan. Sepanjang Alkitab kita melihat bagaimana firman-firman Tuhan disampaikan baik lewat perantaraan malaikat, para nabi dan langsung oleh Kristus sendiri. Bahkan Tuhan sendiri telah menguatkan kesaksian-kesaksian yang telah tertulis itu lewat berbagai tanda dan mukjizat. Dalam begitu banyak kesempatan Tuhan telah menyatakan kuasaNya, juga membagi-bagikan berbagai pemberian termasuk tentunya keselamatan kekal dari Roh Allah sesuai kehendak Tuhan sendiri. Karena itulah jika semua itu sudah diberikan kepada kita, dan menjadi peringatan bagi kita, "bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan oleh mereka yang telah mendengarnya, kepada kita dengan cara yang dapat dipercayai" (ay 3).

Menerima Yesus sebagai Juru Selamat pribadi adalah sebuah langkah awal yang besar. Tapi kita tidak boleh berhenti hanya sampai disitu saja. Selanjutnya penting pula bagi kita untuk mempertahankan apa yang telah kita awali agar kita mampu melewati ujian, cobaan atau godaan yang akan senantiasa hadir di dalam hidup kita. Ada firman-firman Tuhan yang telah diberikan kepada kita untuk menguatkan kita dalam melalui perjalanan hidup kita. Semua itu jelas akan memperkuat kita agar tetap tegar dalam menghadapi ujian demi ujian yang akan terus datang. Lulus atau tidak, itu semua tergantung dari komitmen kita, karena Tuhan telah memberikan kekuatan lewat firman-firmanNya yang meneguhkan, bahkan telah menganugerahkan kita dengan Roh Kudus sebagai Penolong yang akan selalu menyertai kita untuk selama-lamanya (Yohanes 14:16), dan akan selalu siap membimbing kita dalam setiap langkah. Alangkah sayangnya jika apa yang telah kita mulai dengan baik akhirnya harus sia-sia akibat keteledoran kita sendiri. Oleh karena itu, tetaplah bertahan dalam berbagai ujian.

Firman Tuhan berkata: "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia." (Yakobus 1:12). Hendaklah tetap bertekun dalam doa dan tetaplah isi diri kita dengan firman-firman Tuhan. Jangan keraskan hati ketika menerima suaraNya, agar kita tetap teguh dalam mempertahankan keselamatan yang telah kita peroleh lewat menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Penulis Ibrani mengingatkan: "Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun, di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku,sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku." (Ibrani 3:7-11). Tetaplah serius dalam menjaga diri kita, agar jangan sampai murka Allah jatuh kepada kita dan mahkota kehidupan berlalu dari kita. "Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula." (ay 14).

Mempertahankan lebih sulit daripada memulai

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker