Thursday, October 23, 2014

Surat Cinta

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
 Ayat bacaan: Mazmur 104:31
========================
"Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!"

Pernahkah anda mendapat surat cinta? Kalau pernah, anda tentu tahu bagaimana rasanya, apalagi kalau dari orang yang kita cintai. Rasa berbunga-bunga, gembira, bahagia, ser-seran dan sejuta perasaan senang lainnya segera kita rasakan. Perasaan dihargai, disayangi, dipedulikan, itu bisa bikin kita punya gairah dan semangat dalam hidup. Sejak masa pacaran saya termasuk rajin memberi surat cinta kepada kekasih saya, dan sekarang setelah menikah 7 tahun, itu masih rajin saya lakukan. Bukan hanya dalam bentuk tulisan, tapi lewat kata-kata dan perbuatan juga bisa menjadi media yang sangat baik untuk menyatakan cinta kepada seseorang.

Kalau dalam hubungan antar pasangan itu kita rasakan, bagaimana dalam hubungan dengan Tuhan? Kita tentu tahu bahwa Tuhan sangat mengasihi kita, dan kita pun terus belajar untuk mengasihi dan mentaatiNya terus lebih dalam lagi. Pertanyaannya sekarang, adakah surat cinta yang berasal dari Tuhan yang ditujukan kepada kita? Alkitab merupakan sebuah surat cinta yang luar biasa karena berisi segala solusi untuk mengatasi persoalan hidup, bagaimana mengalami hidup yang baik, penuh dan melimpah, juga membimbing kita untuk masuk ke dalam kebahagiaan yang kekal. Itu tentu benar. Tapi apakah ada bentuk surat cinta Tuhan yang bisa kita lihat secara langsung pada saat sekarang? Tentu kita tidak bisa mengharapkan ada sebuah surat berisi kata-kata cinta dengan tanda tangan Tuhan di kanan bawah. Tapi sebenarnya ada bentuk lain dimana Tuhan menyatakan dengan jelas cintaNya kepada kita, dan itu bisa kita lihat dengan mata kepala sendiri. Adalah seorang teman saya yang berprofesi sebagai fotografer yang membuka mata saya untuk menyadari hal ini. Suatu kali ia memasang hasil jepretannya yang sangat indah. Foto pemandangan alam yang begitu memikat mata, penuh bunga warna warni dan dijepret menjelang matahari terbenam. Indah sekali fotonya. Tapi yang menarik adalah judul yang ia beri pada foto itu: "Love Letter from God." 

Love Letter from God. Surat cinta dari Tuhan. Itu memberi pemahaman kepada saya bahwa tanpa sadar sebenarnya kita berhadapan dengan kebesaran Tuhan dengan menikmati ciptaanNya yang indah. Sayangnya kita jarang menyadari hal itu. Di tengah jepitan kesesakan dan masalah yang dihadapi setiap harinya kita terlalu sering lupa bahwa alam semesta ini diciptakan Tuhan begitu indahnya. Gugus tata surya, langit biru diselimuti awan putih, bulan dan bintang gemerlapan di kegelapan langit malam, rerumputan hijau dengan bunga warna warni mekar dimana-mana dan sebagainya. Semua itu terlalu indah untuk kita nikmati, tapi kesibukan dan berbagai pergumulan hidup, pemenuhan kebutuhan yang terus meningkat yang harus dikejar agar terpenuhi membuat kita jarang punya waktu untuk menikmati hasil ciptaanNya. Kita terlalu sibuk kepada permasalahan kita, kita berkeluh kesah dan mengira Tuhan berlama-lama untuk melakukan sesuatu atau bahkan menganggapNya tidak peduli terhadap kesulitan kita. Padahal kalau saja kita mau mengambil waktu sebentar untuk melihat sekeliling kita, maka kita akan menyadari bahwa Tuhan telah melakukan begitu banyak hal yang indah bagi kita. Keindahan alam, bukankah itu juga berkat dari Tuhan dan merupakan sebuah surat cinta buat kita yang berasal dari Allah Bapa Sang Pencipta segalanya?

Pada jaman Daud tentu belum ada kamera, apalagi yang punya kualitas bagus di gadget-gadget modern/smart phone seperti sekarang untuk menghasilkan foto seperti teman saya. Tapi dengan matanya, Daud melihat sebuah keindahan yang tidak kurang dari apa yang dilihat oleh teman saya itu lewat lensa kameranya. Saya membayangkan Daud tengah mengamati indahnya pemandangan ketika ia menulis Mazmur 104. Disana ia menggambarkan keindahan alam ciptaan Tuhan secara sangat puitis. Semua yang ia gambarkan adalah buah tangan Tuhan, hasil karyaNya, sebuah bukti keliahian Tuhan yang bisa kita saksikan dengan amat sangat nyata dengan mata kita. Hal ini juga disampaikan oleh Paulus. "Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih." (Roma 1:20). Kebesaran Tuhan terlihat dan bisa dibuktikan lewat semua hasil karyaNya sejak masa penciptaan mula-mula, sehingga kalau menyadari itu, seharusnya tidak ada seorang pun yang bisa punya dalih untuk mengatakan sebaliknya, menuduhNya yang bukan-bukan atau bahkan menolak eksistensi Tuhan. Kembali kepada Daud, ia begitu mengagumi apa yang ia lihat, sehingga ia pun berkata "Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!" (Mazmur 104:31).

Sayangnya, seperti yang saya bagikan dalam renungan kemarin, yang terjadi hari-hari ini agaknya sulit membuat Tuhan tetap bisa bersukacita lewat ciptaan-ciptaanNya. Manusia terus saja menghancurkan lingkungan. Berbagai kecemaran yang dilakukan manusia tanpa tanggung jawab merusak segala keindahan yang Tuhan sediakan bagi kita. Kerusakan lingkungan dan menipisnya lapisan ozone membuat dunia ini semakin lama semakin hancur. Manusia yang diciptakan Allah secara istimewa ternyata tidak menghargai karya Penciptanya, tidak bertanggungjawab atas amanat yang diemban. Selain merusak lingkungan, menghancurkan ekosistem dan lain-lain, manusia pun masih sanggup saling membinasakan satu sama lain. Padahal semua manusia ini ciptaan Tuhan, yang berharga dimataNya. Tapi di mata sesama manusia, nyawa ternyata semakin dianggap tidak penting. Letaknya masih sangat jauh di bawah ego dan kepentingan diri sendiri. Dia sudah begitu baik dengan menganugerahkan keselamatan kepada kita lewat Kristus, tapi kita begitu sulit untuk sekedar menghargai kebaikanNya. Jika semua ini terjadi, bagaimana Tuhan bisa bersukacita karena perbuatan-perbuatanNya?

Alam semesta beserta isinya merupakan ciptaan Tuhan yang luar biasa indahnya. Itu adalah anugerah yang amat besar yang telah disediakan justru sebelum Dia menciptakan manusia. Semua itu disusun sedemikian rupa, agar ketika manusia hadir, keindahan itu bisa dinikmati secara langsung. Tuhan menyatakan bahwa apa yang Dia ciptakan adalah baik. Tanaman, pohon-pohon berbuah, tunas-tunas muda, itu diciptakan dengan baik (Kejadian 1:11-12). Matahari, bulan dan bintang, cakrawala, semua itu diciptakan Tuhan dengan baik. (ay 14-18). Segala jenis hewan, baik burung-burung di udara, ikan-ikan di laut dan hewan-hewan darat, semua Dia ciptakan dengan baik. (ay 20-22). Dikatakan bahwa bumi beserta segala isinya adalah milik Tuhan (Mazmur 24:1), tapi otoritas untuk menguasai diberikan kepada kita. (Kejadian 1:28). Menguasai bukan berarti bertindak semena-mena dan merusak seenaknya, tapi justru sebaliknya,  menjaga dan melestarikan alam beserta isinya. Tuhan menitipkan itu semua kepada kita. Idealnya kita bersyukur. Idealnya kita bersukacita bersama-sama dengan Tuhan menikmati segala keindahan itu. Tapi apakah kita sudah melakukannya? Apakah Tuhan bisa bersukacita atas segala ciptaanNya hari ini?

Bersukacitalah bersama Tuhan dengan mensyukuri segala ciptaanNya yang dibuat dengan amat sangat baik

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, October 22, 2014

Menjaga Kelestarian Alam (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kalau kita membaca Mazmur 104 maka kita akan mendapatkan bagaimana keindahan alam itu diciptakan Tuhan secara luarbiasa. Semua itu merupakan karya nyata Tuhan, sebuah bukti kebesaran Tuhan yang tidak dapat disangkal. Dalam surat Roma kita baca "Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih." (Roma 1:20). Alangkah keterlaluannya kita merusak apa yang diciptakan dengan baik oleh Tuhan, padahal kita sejak awal sudah dipanggil untuk menguasai dan menaklukkan bumi beserta isinya, artinya menjaga kelestarian, keindahan dan kesinambungan hidup segala mahluk hidup yang hidup didalamnya.

Firman Tuhan berkata "Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus." (1 Tesalonika 4:7). Merusak lingkungan merupakan salah satu bentuk kecemaran dan itu bukanlah panggilan yang ditentukan Tuhan sejak awal bagi manusia, tetapi yang seharusnya adalah melakukan segala sesuatu yang kudus yang berkenan di mata Tuhan. Menghancurkan lingkungan dan merusak bumi jelas tidak termasuk di dalamnya. Lebih lanjut lagi kita bisa melihat sebuah ayat pada surat Efesus, "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." (Efesus 2:10). Kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus, untuk melakukan pekerjaan baik, sesuai dengan semua yang diciptakan Tuhan dengan sungguh sangat baik.

Kerusakan yang terjadi di dunia memang sudah terlanjur terjadi dan butuh banyak tahun dan generasi untuk memperbaikinya. Itupun kalau seluruh manusia di bumi ini mau bersatu secara kompak untuk memperbaiki apa yang sudah keburu hancur. Meski demikian, ingatlah bahwa meski kita hanya bagian yang sangat kecil saja dari keseluruhan manusia yang hidup di dunia, kita tetap bisa mulai melakukan sesuatu karena biar bagaimanapun panggilan ini berlaku bagi semua orang, buat tiap pribadi tanpa terkecuali.

Mungkin kita bisa mulai dari halaman kita sendiri, dari lingkungan kita. Siapa tahu itu akan menjadi awal dari sebuah pergerakan kepedulian lingkungan yang akan terus membesar. Salah satu panggilan Tuhan yang penting adalah untuk menguasai dan menaklukkan bumi beserta isinya, menjaga kelestarian dan keindahannya agar bisa dinikmati oleh anak cucu kita di masa depan. Yang pasti, Tuhan memastikan bahwa segala yang Dia ciptakan adalah baik. Baik jadinya, baik pula tujuannya. It was all good. Kepada manusia diberikan otoritas untuk menguasai dan menaklukkan, artinya mengelola dan menjaga kelestariannya sebagai bentuk pertanggungjawaban atas amanat dari Tuhan. Kita harus menjaganya, agar semua yang diciptakan Tuhan dengan baik akan selalu baik pula hingga ke generasi selanjutnya. We can, and will make a change.

Bumi beserta isinya merupakan ciptaan Tuhan yang baik dan kita bertanggungjawab menjaga kelestariannya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, October 21, 2014

Menjaga Kelestarian Alam (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kejadian 1:26
========================
"Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."

Dalam pekerjaan anda, anda tentu memiliki job description atau gugus tugas yang menjadi tanggung jawab anda. Itu adalah bagian-bagian yang harus kerjakan dengan hasil terbaik agar hasil kerja anda bisa dikategorikan berhasil. Sebuah amanat merupakan hak yang diberikan kepada kita harus juga dipertanggungjawabkan kepada yang memberi, apakah kepada sesama manusia atau kepada Tuhan. Amanat wajib tidak boleh dilanggar dan sangat penting untuk diperhatikan dan dijaga dengan baik.

Sudahkah kita sadar bahwa kita sebenarnya sudah diberikan amanat atau otoritas untuk mengelola ciptaan Tuhan lainnya? Hari ini saya masih ingin mengacu pada Kejadian pasal 1. Saat Tuhan menciptakan manusia buat kali pertama. Di sana "job description" buat kita sudah jelas disebutkan oleh Tuhan sendiri. "Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." (Kejadian 1:26). Tugas ini semakin dipertegas dalam ayat selanjutnya: "Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (ay 28). Tuhan memberi amanat dengan hak untuk berkuasa atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, atas ternak, atas binatang melata yang merayap di darat, atas seluruh bumi beserta isinya. Bukan cuma berkuasa, tapi juga dikatakan taklukkan. Otoritas itu diamanatkan buat kita. Layaknya amanat, otoritas ini tentu sangat penting, sayangnya apa yang kita lakukan justru bertolak belakang dari apa yang menjadi panggilan bagi kita sesungguhnya dari Tuhan.

Hari ini bumi yang kita huni punya begitu banyak masalah. Bencana alam, global warming, kerusakan lingkungan akibat penebangan liar dan pembakaran hutan hanyalah sedikit dari setumpuk masalah besar yang akan menimbulkan malapetaka bagi generasi selanjutnya jika tidak segera diatasi. Jangankan nanti, saat ini saja sudah banyak dampak yang timbul akibat global warming ini. Bumi semakin panas, perubahan cuaca sangat ekstrim dan sebagainya. Itulah nasib bumi dan segala habitat yang hidup didalamnya. Mengacu kepada amanat yang diberikan Tuhan kepada manusia di atas, bukankah manusia juga yang salah karena tidak mau memelihara bumi dengan baik sejak awal? Banyak yang hanya memikirkan kepentingan sesaat dan tidak sadar betapa besar dampaknya bagi kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lainnya. Atas dasar keinginan untuk memperoleh keuntungan, mereka berani melanggar amanat yang sudah dipercayakan Tuhan. Pencemaran lingkungan lewat banyak cara terus terjadi. Kecenderungan manusia mementingkan diri sendiri dan tidak mempedulikan kerusakan lingkungan berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya. Manusia terus bersifat destruktif.

Mari kita fokus kepada kata "menguasai dan menaklukkan". Banyak orang yang menyalah artikan kedua kata ini. Mereka mengira bahwa menguasai berarti mempergunakan segala sesuatu untuk kepentingan diri sendiri seenak hati saja tanpa mempedulikan dampak yang ditimbulkan. Kata berkuasa dan menaklukkan diartikan sebagai menghabiskan tanpa tanggung jawab. Padahal seharusnya bukan seperti itu yang dimaksud. Kata menguasai dan menaklukkan ini terkaiterat dengan tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan kelangsungan dari apa yang telah dititipkan Tuhan kepada kita. Kejadian pasal 1 menunjukkan bagaimana Tuhan berulang kali memastikan sampai puas hingga melihat apa yang Dia ciptakan baik adanya, bahkan sungguh amat baik. Kalau Dia menciptakan semua itu dengan tujuan baik dan dengan sangat sempurna, mengapa kita justru berani merusaknya dengan gegabah? Semua yang ada di muka bumi ini adalah milik Tuhan, dan itu bisa kita baca dalam Mazmur 24:1 yang berbunyi: "Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya." Kepada kita diberi otoritas untuk menguasainya seperti yang kita baca dalam Kejadian 1 ayat 26 dan 28 tadi. Artinya Tuhan memberi otoritas kepada kita untuk menentukan bagaimana masa depan bumi ini kelak. Apakah menjadi semakin hancur, atau tetap indah seperti apa yang diinginkan Tuhan ketika Dia menciptakan sejak awal, semua itu tergantung bagaimana umat manusia menyikapinya.

(bersambung)

Monday, October 20, 2014

... Dan Semua itu Baik, Sungguh Amat Baik (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Perhatikan sebuah fakta menarik lainnya akan hal ini. Tuhan tidak berkata kepada Adam, "Hai kamu orang yang tidak tahu berterimakasih, Aku sudah menyediakan segalanya dengan baik dan lengkap, kenapa kamu masih harus menunjukkan bahwa kamu kesepian sendirian? Bukankah kamu harusnya bersyukur atas taman dan segala isinya, otoritas untuk menguasai/mengelola semua ini?" Tidak, Tuhan tidak mengatakan itu. Tuhan ingin manusia yang Dia buat dengan gambarNya sendiri memiliki setiap hal yang baik. Itulah yang diinginkan hatiNya. Maka ini yang dilakukan Tuhan. "TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18). Solusi yang dipilih Tuhan untuk mengatasi satu-satunya hal yang tidak baik adalah menciptakan pasangan yang dirancang sebagai penolong/pelengkap dan berdiri dalam status yang sepadan dengan Adam. Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam dan diberikan sebagai istrinya.

Apa yang bisa kita pelajari dari hal ini? Pertama, bahwa pada mulanya semua yang diciptakan Tuhan itu dibuat dengan tujuan baik. Dia memeriksa dan memastikan sampai merasa puas dan mengatakan bahwa itu baik. Masuknya manusia ke dalam dosa lewat pemberontakan atau pembangkangan terhadap larangan Tuhan membuat kita harus berpeluh dan menderita berjuang dalam hidup membuat segalanya tampak jadi tidak baik. Dan Firman Tuhan berkata: "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah." (Roma 3:23). Dosa membuat semua yang direncanakan baik sejak awal menjadi terlihat tidak baik. Tetapi perhatikan bahwa itu tidaklah merubah rencana awal Tuhan atas tujuan penciptaannya sejak semula. Itu tidak membuat Tuhan mengubah pikiran dan ingin menghukum atau menyiksa manusia, Tuhan ingin manusia tetap ada dalam kemuliaanNya dan bisa menuai tepat seperti rencana awalNya. Lihatlah bahwa kelak Tuhan masih mengatakan bahwa "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11). Tuhan sampai rela mengorbankan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16). Dan ingat pula, bukankah FirmanNya mengatakan bahwa "... di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah" (Roma 5:20)?

Ini semua menunjukkan bahwa Tuhan concern dengan keadaan manusia dan ingin agar rencana yang telah Dia susun sejak semula tidak luput dari kita. Ini menunjukkan bahwa Tuhan sama sekali tidak berpikir untuk merubah keinginan hatiNya, merubah pendirianNya dan mengganti rencanaNya. Tuhan ingin kita tetap mengalami sesuatu yang baik, tidak berkekurangan bahkan berkelimpahan, tepat seperti niatNya sejak awal. Bahwa kita harus melewati masa-masa sulit, bergumul dengan berbagai masalah bahkan penderitaan, itu benar. Tetapi itu tidak berarti bahwa Tuhan menganulir apa yang ada di benakNya saat melakukan proses penciptaan yang dicatat dalam Kejadian pasal 1.

Kejadian pasal 1 membeberkan maksud Tuhan yang semula. Disana tertulis keinginanNya, kehendakNya yang sempurna bagi umat manusia. Itu ditetapkan sejak awal dan tidak akan pernah berubah. Dia ingin memberi semua yang baik, Dia membuat segala sesuatu dengan memastikan bahwa semua itu baik. Baik sampai masa hidup kita yang fana berakhir, baik pula dalam kehidupan kekal bersamaNya di Surga. Kita harus sadar betul betapa Tuhan menginginkan kehidupan kita menjadi baik. Jika ada diantara anda yang saat ini tengah mengalami pergumulan, apakah itu menyangkut masalah seperti saya yang harus merintis sesuatu yang sulit yang mungkin bagi kebanyakan orang dianggap sia-sia dan kemungkinan besar tidak berhasil, apakah mengenai pengambilan sebuah langkah besar yang sepertinya riskan dan penuh resiko, apakah mengenai sebuah rencana yang tampaknya sulit untuk dicapai, apakah menyangkut sebuah proses yang harus dirintis mati-matian dengan penuh pengorbanan dari nol atau kesulitan-kesulitan lainnya yang tengah anda hadapi saat ini, ketahuilah bahwa yang ada dalam benak Tuhan adalah segala sesuatu yang baik bagi anda. Selama anda mengambil langkah yang sesuai/seturut kehendakNya dan memastikan bahwa setiap langkah tidak melanggar ketetapanNya, anda tidak perlu kuatir.

Sebuah langkah iman tetap diperlukan dalam menggenapi rencana Tuhan yang baik itu. Pastikan bahwa anda sudah membawanya dalam doa dengan melepaskan terlebih dahulu kemauan anda, pastikan pula bahwa anda memberi ruang bagi Tuhan untuk berbicara kepada anda. Apabila itu sudah anda lakukan dan anda masih merasa bahwa anda harus maju, jangan ragu untuk maju. Selanjutnya perhatikan bahwa dalam setiap proses anda akan selalu melibatkan Tuhan dan tidak membangkang atau melanggar ketetapanNya. Dengarkan kapan anda harus berlari, kapan anda harus melambat, bahkan kapan anda harus berhenti sejenak. If you keep this way, don't be afraid to keep on moving, because if everything He made in the beginning was good, it will always be good. It will be good, exactly like what He always wants us to be from the start.

Tuhan sangat menghendaki kehidupan umatNya menjadi baik dan itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, October 19, 2014

... Dan Semua itu Baik, Sungguh Amat Baik (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kejadian 1:31
====================
"Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik."

Ada banyak pekerjaan berat yang saat ini membuat saya kecapaian luar biasa. Pekerjaan-pekerjaan itu adalah sesuatu yang ternyata harus mulai saya rintis dari nol dan kalau dihitung-hitung secara logika sangat tipis kemungkinannya untuk berhasil. Sementara energi, tenaga, pikiran dan waktu jelas harus tersita habis untuk itu. Sangat berat, dan hasil secara finansial belum terlihat bahkan sangat kabur kalau dianalisa dengan teori-teori ekonomi yang kita pelajari. Orang awam akan berpikir untuk apa, tetapi visi yang saya dapatkan lewat doa yang berulang-ulang tetap menggiring saya ke arah itu. Ada pekerjaan rumah yang harus saya kerjakan yang kalau berhasil, akan membawa pencapaian baru bagi dunia musik dan pelakunya di kota tempat tinggal saya. Tadi pagi tiba-tiba diingatkan lewat hati saya. Kira-kira ini yang saya dengar. "Kalau kamu mau melihat apa yang ada dipikiranKu saat membuat grand design penciptaan dunia dan isinya, kamu tinggal membaca Kejadian 1." Saya bergegas membaca pasal itu, dan memperoleh hal yang sangat esensial yang sangat menguatkan saya. Saya ingin membagikannya hari ini untuk anda.

Kejadian pasal 1 bercerita tentang proses awal penciptaan. Disana Alkitab menyatakan dengan jelas keinginan dan maksud Tuhan sejak semula, apa yang ada di pikiranNya, apa yang menjadi rencanaNya ketika mulai membuat ini dan itu. Kita dapat melihat seperti apa segalanya dulu di bumi ketika kehendak Tuhan terjadi, sebelum dosa datang dan mengacaukan manusia. Dengan kata lain, Kejadian pasal 1 berbicara mengenai apa yang ada dalam benak Tuhan di fase paling awal saat membuat segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada.

Dalam ayat-ayat pertama kitab Kejadian kita melihat seperti apa tempat tinggal yang dirancang Tuhan bagi ciptaanNya yang istimewa, yaitu kita, manusia. Kita diberitahu bahwa Tuhan berfirman dan jadilah terang, dan itu baik. Ia memisahkan air dari daratan kering, dan itu baik. Tuhan menciptakan pepohonan tumbuhan yang menghasilkan buah, dan itu baik. Tuhan menjadikan matahari, bulan, burung-burung di udara, binatang di darat dan ikan di laut, dan itu pun baik. Lihatlah bahwa setiap Tuhan menciptakan sesuatu, ia selalu memastikan bahwa semuanya itu baik. Diciptakan, dan dilihat baik. Alkitab dengan sangat jelas mencatat betapa peduli atau concern-Nya Tuhan terhadap ciptaanNya.

Lalu Tuhan menciptakan manusia menurut gambarNya sendiri. Tuhan menjadikan Adam, lalu memberi Adam kekuasaan dan berfirman sebagai berikut: " "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya." Dan jadilah demikian. Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik." (ay 29-31a).

Berulang kali pasal pertama kitab Kejadian kita menyaksikan bahwa Tuhan menciptakan segalanya baik. Baik, baik, dan baik. Tuhan tidak menciptakan sesuatu secara serampangan, asal-asalan dan tanpa rencana. Tuhan tidak menciptakan sesuatu kecil-kecilan, tidak juga biasa-biasa saja. Setelah selesai, Tuhan memeriksa hasil karyaNya dan memastikan bahwa semuanya baik.

Kita bisa baca apa yang terjadi selanjutnya, yaitu bahwa Tuhan merancang sebuah taman yang sempurna bernama Eden sebagai tempat untuk dihuni manusia. Eden merupakan tempat yang luar biasa, tidak ada yang kurang atau rusak, semua disana disediakan dalam kelimpahan, dan itu disediakan agar manusia yang dibuat menurut gambar dan rupaNya sendiri itu bisa tinggal dan menikmatinya. Perhatikan bahwa Eden diciptakan untuk manusia dan bukan untuk diriNya sendiri. Bukankah Tuhan sudah punya tempat tinggal sendiri yaitu Surga? Tapi setelah Eden dibentuk, Tuhan menemukan sesuatu yang tidak baik. Apa yang tidak baik adalah kenyataan bahwa manusia itu sendirian.

(bersambung)

Saturday, October 18, 2014

Ikut-Ikutan

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Amsal 1:10
==================
"Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut"

Dalam berbagai berita kriminal kita sering melihat sebuah tindak kejahatan yang dilakukan secara berkelompok alias tidak sendirian. Yang umum terjadi, hanya satu atau dua dari mereka yang merencanakan tindakan sejak awal, sedang yang lain hanya ikut-ikutan. Meski yang ikut-ikutan ini mungkin nantinya mendapat hukuman lebih ringan, tetap saja mereka harus menjalani hukuman tergantung dari bagaimana hakim menilai peran serta mereka dalam tindak kejahatan tersebut. Dalam sebuah kunjungan ke lembaga permasyarakatan, ada seorang narapidana yang menangis mengungkapkan penyesalannya. Ia bercerita bahwa ia hanya ikut-ikutan karena mengharapkan imbalan untuk menghidupi keluarganya. Terbelit kondisi ekonomi yang sulit bisa membuat orang terpengaruh lantas tergoda lalu akhirnya terjebak. Ada juga yang tertangkap karena kedapatan menyimpan obat terlarang, ia pun terjerumus karena tergoda ikut perilaku buruk temannya. Teman baik saya saat masih di sekolah menengah pertama awalnya punya prestasi, tetapi karena ia berada dalam lingkungan pergaulan yang buruk, ia mulai sering cabut dengan melompat dari tembok belakang sekolah. Meski sudah diingatkan, ia ternyata tidak mau mendengar. Ia tidak tamat sekolah dan sekian tahun berikutnya saya kebetulan bertemu, ia hidup susah, luntang lantung hidup sendirian. Contoh lainnya? Saya pernah bertemu dengan seorang anak muda yang terkena penyakit mematikan karena mempergunakan suntik bergantian ketika memasukkan zat terlarang ke dalam tubuhnya. Contoh-contoh ini hanyalah sedikit dari konsekuensi buruk akibat tergoda ikut-ikutan ajakan orang yang menyesatkan.

Banyak orang yang mengira bahwa ikut-ikutan tidaklah separah pelaku utama. Mungkin sepintas bisa benar, tetapi akibat yang ditimbulkan bisa saja fatal sehingga penyesalan pun menjadi tidak lagi berguna. Kalaupun tidak separah atau sefatal itu, kalau dibiarkan lama-lama kita tidak lagi peka dan akan mudah sekali terperosok semakin jauh masuk dari satu dosa kepada dosa lainnya. Itu juga sangat berbahaya.

Jauh sebelum masa sekarang Salomo sudah mengingatkan kita akan pentingnya mencermati lingkungan pertemanan kita. "Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut." (Amsal 1:10). Ayatnya singkat saja, tetapi mengandung pesan yang sangat penting untuk kita cermati. Salomo dengan hikmatnya sudah melihat kecenderungan manusia untuk jatuh ke dalam dosa bermula dari bujukan dari orang yang sudah terlebih dahulu dipenuhi dosa. Orang yang bisa membujuk kita tentu orang yang dekat dengan kita, setidaknya kita kenal. Orang-orang yang dikuasai dosa akan selalu mencari orang lain untuk mengikuti gaya hidup mereka yang salah. Dan kita kerap menuruti mereka lewat banyak alasan. Gengsi jika menolak, takut dianggap kuno, ketinggalan jaman, kampungan dan sebagainya bisa menjadi awal bagi kita untuk mulai menuruti bujukan mereka. Oleh karena itu sangatlah penting bagi kita untuk mengingat pesan Salomo ini baik-baik.

Kalau kita rajin membaca Alkitab, kita tentu sudah tahu betul konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkan oleh pembiaran kita atas dosa. Bisa jadi semula kelihatannya sederhana lewat keinginan-keinginan daging yang menjanjikan kesenangan, kenikmatan dan hal-hal menggiurkan lainnya yang ditawarkan pada kita. Tetapi walaupun kelihatan sepele, ingatlah bahwa hal seperti ini bisa menjadi awal datangnya bencana dalam hidup kita. Dalam Yakobus kita bisa melihat firman Tuhan berbunyi seperti ini: "Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut." (Yakobus 1:15). Sebuah keinginan untuk sedikit-sedikit keluar dari kehendak Tuhan bisa jadi biasa saja di mata kita. Tapi ketika keinginan kemudian akan dibuahi dan melahirkan dosa. Dan ketika dosa menjadi matang dalam diri kita, maut pun hadir disana. Ini adalah hal yang sangat serius yang harus kita perhatikan mengingat kita hidup di dunia yang dipenuhi orang-orang sesat. Mereka akan terus menawarkan banyak kenikmatan yang sangat dirindukan oleh daging kita. Itulah sebabnya kita benar-benar harus berhati-hati dalam lingkungan pergaulan kita. Jangan-jangan bukannya menjadi terang dan garam tetapi malah ikut terseret arus kesesatan dunia.

Seperti apa bentuk keinginan-keinginan yang bisa berbuah dosa dan melahirkan maut itu? Paulus pernah merincinya."Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya." (Galatia 5:19-21a). Dan terhadap pelaku dari semua itu dikatakan tidak akan mendapatkan bagian dalam Kerajaan Allah. (ay 21b). Lihatlah jenis-jenis keinginan yang dikatakan bisa melahirkan maut itu. Bukankah itu bukan lagi hal yang asing bagi kita hari ini? Dimana-mana ada potensi penyesatan, dan apabila tidak hati-hati maka kita bisa dengan mudah masuk di dalamnya.

Ayat lainnya dalam Perjanjian Baru mengingatkan kita agar berhati-hati dalam bergaul. "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik." (1 Korintus 15:33). Kita harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh kepada siapa kita bergaul. Benar, kita tidak boleh memusuhi siapapun, kita bahkan perlu menjangkau mereka yang berdosa agar bisa diselamatkan. Tetapi penting pula bagi kita untuk berhati-hati agar jangan malah kita yang korban karena termakan bujukan mereka.

Kembali kepada hikmat Salomo, perhatikanlah ayat selanjutnya yang mengatakan:  "..mereka menghadang darahnya sendiri dan mengintai nyawanya sendiri" (Amsal 1:18). Inilah yang dialami oleh orang-orang yang melakukan dosa. Peran kita adalah untuk menyadarkan dan menyelamatkan mereka dari kebinasaan dan mengembalikan mereka kepada kebenaran, bukannya malah menyerahkan nyawa sendiri untuk berakhir sia-sia. Dunia yang kita tinggali saat ini memang penuh dengan kegelapan lengkap dengan berbagai penyesatannya. Tetapi kita jangan sampai serupa dengannya. Firman Tuhan pun mengingatkan "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2). Segala perbuatan dosa sesungguhnya berasal dari Iblis. Dan Yesus pun sudah hadir ke dunia atas besarnya kasih Allah pada diri kita untuk membinasakan semua itu. Alkitab menyatakan demikian: "barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu." (1 Yohanes 3:8). Semua sudah dikalahkan Yesus lebih dari 2000 tahun yang lalu, oleh karena itu kita seharusnya tidak lagi terjebak ke dalam tipu muslihat iblis yang akan terus berusaha menggiring kita untuk binasa lewat banyak cara.

Dosa-dosa memang bisa dikemas dengan indah dan penuh kenikmatan, tetapi apa yang sesaat itu sama sekali tidak sebanding dengan akibat yang harus kita tanggung selamanya. Hari ini marilah kita sama-sama mawas diri memperhatikan pergaulan kita dan terlebih lagi menjaga diri kita agar tidak termakan bujuk rayu mereka yang berdosa. Jangan berpikir bahwa hanya ikut-ikutan sekali-sekali itu tidak apa-apa, karena kalau yang fatal sudah terjadi, penyesalan menjadi tidak lagi berguna. Daripada ikut terbujuk rayuan dosa, jadilah agen-agen Tuhan yang berperan dalam menyelamatkan mereka.

Say no and never give any chance to sin

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, October 17, 2014

Ngejudge

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yohanes 1:46
=========================
"Kata Natanael kepadanya: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?"

Berkecimpung di dunia musik membuat saya bisa melihat perkembangan yang terjadi dari sisi lebih dalam. Kalau dahulu musisi-musisi hebat kebanyakan lahir di kota-kota besar dengan fasilitas yang relatif lebih baik, saat ini banyak pemain potensial yang lahir dari kota-kota yang secara historis belum tercatat sebagai kota penghasil talent. Bukan hanya di pop, tapi juga di genre-genre yang biasanya membutuhkan keahlian khusus seperti jazz misalnya. Dari pengamatan saya dan hasil tanya-tanya, perkembangan teknologi yang semakin pesat ternyata memberi kemudahan bagi mereka untuk mengakses beragam sumber untuk belajar sehingga meski ada keterbatasan sarana pendidikan formal, kemauan mereka untuk mengasah minat dan bakat sangat terbantu oleh keberadaan internet. Saya bertemu dengan sebuah grup yang berasal dari sebuah kota di bagian bawah pulau Sumatra, mereka ternyata piawai dalam membawakan musik dengan tingkat kesulitan tinggi meski mayoritas pemainnya masih bocah, bahkan ada yang berusia hanya sepuluh tahun. Maka kalau anda mendengar ada musisi dari kota kecil yang tidak punya sejarah musik, jangan buru-buru menganggap remeh mereka, karena boleh jadi mereka justru lebih baik daripada para pemain di kota-kota besar.

Agaknya sudah menjadi seperti sifat manusia untuk cenderung terlalu terburu-buru menarik kesimpulan terhadap sesuatu dan menjatuhkan 'vonis' sebelum mereka mempelajari, mengetahui dan mengenal terlebih dahulu seseorang dengan baik.  Ambil contoh apabila kita tengah berada dalam satu lingkungan kecil di sebuah kota dimana kebetulan kita bertemu dengan beberapa orang yang tidak sopan, kita bisa dengan cepat berkata "kota ini benar-benar kasar, isinya orang (maaf) kurang ajar semua!" Padahal beberapa orang itu sama sekali tidak cukup representatif untuk mewakili keseluruhan penduduk di kota itu yang bisa mencapai ratusan ribu orang. Atau ketika ada seorang anak yang bandel, orang terbiasa dengan cepat berkata: "orang tuanya nggak benar.." atau bilang "tidak heran, memang sudah turunan.." Kalau ada satu orang yang kita temui sedang marah, kita bisa dengan cepat beranggapan bahwa ia pemarah. Waktu berpapasan dengan orang yang tidak tersenyum, kita langsung menganggap bahwa orang itu sombong. Saat disapa tidak membalas dengan wajar, kita anggap mereka angkuh.Padahal mungkin saja mereka sedang punya beban pikiran dan tidak fokus kepada sapaan kita. Ada banyak contoh lain dari kecenderungan manusia untuk menilai terlalu cepat hanya berdasarkan pandangan sesaat atau pendapat prematur yang terlalu singkat untuk bisa kita ambil kesimpulannya. Sikap seperti ini pun pernah terjadi bahkan terhadap Yesus sendiri.

Yesus pun mengalami sikap terburu-buru 'ngejudge' seperti itu? Ya, Alkitab menyebutkan hal itu. Mari kita lihat kisahnya. Ketika Yesus tengah mengumpulkan murid-murid pertamaNya yang tertulis dalam Yohanes 1:35-51. Waktu Filipus bertemu dengan Natanael, ia berkata: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." (ay 45). Pada saat itu memang Natanael belum bertemu langsung dengan Kristus. Tapi meski demikian, ia malah terburu-buru mengambil kesimpulan. Beginilah reaksinya. "Kata Natanael kepadanya: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" (ay 46).

Sebelum kita lanjutkan, kita perlu mengetahui latar belakang kota Nazaret sehingga Natanael bisa berkata seperti itu. Nazaret memang hanyalah kota yang kecil yang terletak sekitar 80 mil dari Yerusalem. Melihat letak geografisnya sebagai kota yang terletak pada jalur perdagangan dari Damaskus ke Galilea, mungkin Natanael mendengar banyak kekacauan dan tindak kriminal disana, sehingga langsung menyimpulkan bahwa adalah tidak mungkin jika seorang Mesias akan datang dari kota kecil yang kacau situasinya seperti Nazaret. Saya tidak tahu bagaimana pastinya pandangan orang di masa itu tentang kota Nazaret. Mungkin ada banyak orang yang berpendapat sama, bahwa kota itu tidak ada baiknya seperti kata Natanael, tetapi faktanya adalah jelas. Yesus "orang Nazaret" melakukan banyak mukjizat dan menunjukkan penggenapan nubuat-nubuat sebelumnya lewat banyak nabi dalam Perjanjian Lama seperti yang disebutkan Filipus. Dalam Kisah Para Rasul dikatakan: "Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea, mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes,yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia." (Kisah Rasul 10:38). Berbuat baik dan menyembuhkan ini juga tertulis dalam Injil Matius. "Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik" (Matius 11:5). Lebih dari mukjizat kesembuhan dan pelepasan, Yesus juga menebus dosa-dosa kita dengan nyawaNya sendiri dan melayakkan kita untuk menerima janji keselamatan. Ini semua dilakukan oleh "Seorang" yang tumbuh dan dibesarkan di Nazaret. Jika kita mundur ke belakang melihat Yesaya 53:3, disana dinubuatkan bahwa Mesias akan merupakan orang yang hina, dan dengan berasalnya Yesus dari Nazaret, nubuatan ini pun terbukti terpenuhi.

Seandainya pertanyaan Natanael ditujukan kepada kita: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?", bagaimana reaksi kita? Apakah kita ikut merasa itu sebagai sesuatu yang tidak mungkin atau kita bisa menjawab "ya, sesuatu yang baik tentu bisa saja datang dari mana saja, termasuk dari Nazaret." Janganlah terlalu cepat menggeneralisir sesuatu, jangan terburu-buru menilai dan terlalu gampang menyimpulkan sesuatu. Kita harus menjaga diri agar tidak terperosok pada kecenderungan mengambil kesimpulan negatif terlalu cepat. Kita bisa belajar dari reaksi Filipus terhadap reaksi negatif Natanael yang prematur itu. Ia merespon dengan: "Mari dan lihatlah!". "Come and see." Mungkin akan ada banyak pertanyaan mengenai Yesus yang ditujukan kepada kita oleh orang-orang yang belum percaya. Mereka mungkin pesimis, ragu atau sulit menerima kebenaran. Kita pun harus mampu mengatakan hal yang sama. Satu hal yang pasti, kita tidak akan bisa menjawab demikian apabila kita tidak mencerminkan terang Kristus sama sekali. Sebab tidak mungkin orang mau mencoba mengenal kalau tidak ada apapun dari kita yang mencerminkan pribadiNya. Aplikasi lainnya, jangan takut memulai dari sesuatu yang kelihatannya kecil, karena itu bisa jadi sesuatu yang luar biasa besar apabila kita tekuni dan membawa Tuhan untuk bertahta disana. Jadi, mungkinkah ada sesuatu yang baik datang dari Nazaret? Jawabannya, tentu saja. Sang Penebus, Tuhan kita Yesus Kristus datang menebus dosa kita dengan berawal dari sana.

Jangan terburu-buru menyimpulkan apalagi menuduh sebelum mengetahui dengan baik

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker