Saturday, August 30, 2014

Lebih Baik Bersedih dan Berada di Rumah Duka? (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kemarin kita membahas sebuah ayat kontroversial dalam Pengkotbah 7:3 "Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega." Kalau kita lanjutkan pada ayat selanjutnya, kita akan mendapati ayat yang sama kontroversial dan terasa aneh. Ayatnya berbunyi: "Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria." (ay 4). Kalau kita mau jujur, dimana kita lebih senang berada, di rumah duka atau pesta? Tentu kita lebih memilih berada dalam sebuah pesta meriah, penuh dengan sajian makanan lezat, musik dan keceriaan. Tetapi Firman Tuhan berkata justru sebaliknya, bahkan lumayan keras. Hanya orang bodohlah yang lebih memilih tempat bersukaria ketimbang berada di rumah duka. Kalau hanya sepintas ayat ini tentu sulit kita terima. Tetapi marilah kita melihat mengapa berada di rumah duka itu lebih baik bagi orang berhikmat dibanding di pesta.

Apa yang kita pikirkan saat berada di sebuah pesta? Kebanyakan dari kita tentu lebih tertarik kepada makanan yang disajikan. Apa isi dari meja-meja kecil di sisi-sisi ruangan, makanan apa yang disajikan di meja panjang prasmanan, apakah musiknya bagus atau tidak dan sebagainya. Saat berada di tempat-tempat hiburan, kita pun cenderung lupa akan esensi hidup dan terlarut dalam kegembiraan yang seringkali hanya berisi kebahagiaan semu. Bahkan tidak jarang orang berkenalan dengan dosa di tempat-tempat hiburan.

Sebaliknya, berada di rumah duka seringkali membawa momen-momen perenungan bagi kita. Disana kita diingatkan bahwa hidup ini sesungguhnya singkat saja. Pemazmur menulis "Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang lewat." (Mazmur 144:4). Seperti itulah singkatnya. Berapa lama? Alkitab berkata masa hidup kita tujuh puluh tahun, dan jika kuat, delapan puluh tahun. (90:10). Tujuh puluh tahun, kalau mujur, 80 tahun. Ada yang lebih dari itu, tapi tetap saja jauh lebih singkat dibanding masa yang kekal. Alangkah sia-sianya jika masa hidup yang singkat itu kita buang tanpa diisi dengan sesuatu yang berguna, terutama untuk diisi dengan hal-hal yang sesuai dengan ketetapan Tuhan. Kalau masa hidup yang singkat ini diisi dengan menjadi pelaku-pelaku firman yang tentu baru bisa dilakukan kalau kita kenal baik dengan ketetapan-ketetapanNya, itu akan sangat bermanfaat bagi kehidupan kekal yang akan kita masuki kelak setelah masa di dunia ini selesai. Betapa kita seringkali terlena dan lupa akan hal ini ketika kita sedang bersenang-senang. Tetapi berada di rumah duka biasanya akan mengingatkan kita dan membawa perenungan bagi kita. Itulah sebabnya dikatakan lebih baik berada di rumah duka ketimbang di rumah bersukaria.

Ayat lain dalam Pengkotbah berbunyi: "To everything there is a season, and a time for every matter or purpose under heaven", "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya." (Pengkotbah 3:1). Ada berbagai "musim" dalam hidup kita yang mau tidak mau harus kita hadapi. Termasuk salah satunya dikatakan "ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari." (ay 4). Ada saat dimana kita bisa bergembira, tetapi ada pula saat dimana kita masuk ke dalam waktu untuk menangis dan meratap. Ini bukanlah waktu dimana Tuhan sedang bertindak kejam dan senang menyiksa kita. Ketika kita sedang berada dalam sebuah kesedihan, disanalah kita bisa belajar banyak dan sadar bahwa kita seharusnya mengisi hidup kita yang singkat ini dengan hal-hal yang bermanfaat bagi sesama maupun bagi masa depan kita. Jangan sia-siakan waktu bersedih hanya dengan mengeluh dan menangis, tetapi pakailah masa-masa itu untuk melakukan perenungan secara menyeluruh. Sadarilah bahwa ada banyak pelajaran yang bisa kita petik di balik sebuah kesedihan. Karena itu, jika Tuhan mengijinkan kita untuk berada dalam keadaan bersedih, bersyukurlah untuk itu.

Bersyukur dalam keadaan bersedih sesuai dengan firman Tuhan berikut; "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18) Kita diingatkan untuk tetap bersyukur bukan hanya dalam beberap hal, tetapi dalam segala hal. Artinya, meski kita sedang berada dalam kesesakan, masa-masa sulit atau bahkan saat tertindas, kita seharusnya tetap bisa betsyukur. Dibalik sebentuk kesedihan ada banyak manfaat yang bisa membuat kita menjadi lebih baik lagi termasuk di dalamnya mengalami pertumbuhan iman. Ada waktu dimana kita bersedih, pakailah itu sebagai momen untuk memperbaiki diri dan kembali menyadari esensi dari sebuah kehidupan yang dipercayakan Tuhan kepada kita, sehingga ketika saatnya untuk tertawa tiba, kita tidak akan terlena melupakannya. Apakah anda sedang berada dalam "musim" bersedih hari ini? Jika ya, jangan patah semangat, jangan putus asa, tetapi bersyukurlah dan pergunakan musim tersebut untuk mempelajari lebih jauh tentang ketetapanNya dan saat dimana anda bisa merasakan secara langsung jamahan Tuhan yang luar biasa.

Banyak pelajaran yang dapat kita petik dibalik sebuah kesedihan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, August 29, 2014

Lebih Baik Bersedih dan Berada di Rumah Duka? (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Pengkotbah 7:3
=====================
"Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega."

Tidak satupun dari kita yang dengan sengaja mau menjalani hari dengan rasa sedih. Mungkin ada yang sifatnya melankolis, hatinya sensitif dan mudah merasa sedih. Tapi kalau ditanyakan kepada mereka, seandainya mereka bisa memilih mereka tentu akan memilih untuk bergembira ketimbang bersedih. Ada banyak pria yang melarang diri mereka untuk bersedih apalagi menangis. Bagi mereka itu menunjukkan kelemahan dan memalukan. Sebaik-baiknya hidup, ada saat dimana kita harus bersedih. Bersedih menjadi tidak menguntungkan kalau dibiarkan berlarut-larut. Dan Tuhan pun memang tidak menginginkan kita menjadi orang-orang yang dipenuhi kesedihan melainkan ingin anak-anakNya menjadi pribadi yang penuh sukacita dengan merasakan kasih dan penyertaanNya. Tapi sekali waktu, mau tidak mau memang kita harus masuk ke dalam masa-masa bersedih. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari oleh siapapun. Ada banyak ayat dalam Alkitab yang mampu menguatkan kita untuk kembali merasakan sukacita saat berada dalam kondisi sulit, dalam tekanan maupun saat tertindas.

Menariknya, ada ayat yang terdengar sangan kontroversial yang isinya seperti berlawanan dengan ayat-ayat yang menguatkan. Dibuka dengan judul perikop "Hikmat yang benar", Pengkotbah mengatakan "Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega." (Pengkotbah 7:3). Bersedih lebih baik dari tertawa, dan itu dirangkum dalam bagian yang menyampaikan hikmat yang benar, ditulis oleh orang paling berhikmat yang pernah ada di bumi yaitu Salomo. Aneh bukan? Ayat ini seolah menganjurkan kita untuk bersedih karena itu lebih baik ketimbang bergembira. Benarkah demikian? Apakah Tuhan sebenarnya ingin kita menjadi pribadi-pribadi yang kerap diliputi kesedihan, bermuka muram dan tidak ceria? Adakah keuntungan yang bisa kita peroleh dari kesedihan yang diijinkan Tuhan untuk kita rasakan? Kalau ada, apa saja?

Seperti yang saya sampaikan diatas, Tuhan tidak ingin kita larut dalam kesedihan. Dia memberi begitu banyak tips dan janji yang bisa meneguhkan, menguatkan dan mengembalikan kita ke dalam rasa bahagia, penuh damai sejahtera dan sukacita. Tapi ada saat dimana kita harus bersedih, dan itu tidak salah sepanjang tidak dibiarkan berlarut-larut dan membuat hubungan kita menjadi renggang dengan Tuhan. Disaat seperti itu, ternyata masih ada hal positif yang bisa kita petik agar hidup kita menjadi lebih kuat, lebih bijaksana dan lebih baik dari sebelumnya.

Dalam versi Bahasa Inggris amplified, ayat bacaan kita hari ini berbunyi: "Sorrow is better than laughter, for by the sadness of the countenance the heart is made better and gains gladness." Ayat ini sebenarnya mengatakan, bahwa bersedih ternyata tidaklah selalu harus buruk. Itu bisa lebih baik daripada tertawa, karena kesedihan yang membuat muka muram mampu membuat hati tarasa lebih baik, lega dan kemudian mendatangkan kesenangan hati. Ayat ini mendobrak paradigma yang selama ini kita anggap benar, yaitu bahwa kita sama sekali tidak boleh bersedih apapun situasinya, apapun kondisinya. Artinya, meski kita harus hidup dengan penuh sukacita, kalau memang harus bersedih, bersedihlah karena itupun bisa mendatangkan kebaikan bagi kita.

Seperti yang sudah saya sampaikan kemarin, Daud menyadari bahwa keadaan yang bisa mendatangkan kesedihan sangatlah baik dipakai sebagai waktu untuk belajar ketetapan-ketetapan Tuhan. "Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu." (Mazmur 119:71). Daud tidak mempergunakan masa-masa sulit sebagai alasan untuk menjadi lemah, merasa kecewa kepada Tuhan, merasa putus asa, hilang harapan dan sebagainya. Ia justru merasa bahwa itu membuka kesempatan baginya untuk mendalami ketetapan Tuhan. Disanalah ia bisa belajar banyak dan merasakan luar biasanya jamahan Tuhan. Bukankah manusia cenderung malas dan manja kalau hidup selalu berjalan baik? Maka keadaan sulit mengingatkan kita untuk mengandalkan Tuhan. Itu adalah kesempatan untuk kembali menata hidup seandainya sudah mulai melenceng dari jalan yang seharusnya, memperbaiki segala kesalahan yang akan kita sadari kalau kita belajar lebih jauh mengenai ketetapan Tuhan. Jadi kalau sekali waktu kita harus mengalami situasi yang tidak baik, jika kita memang harus bersedih, sikapi dengan baik dan pergunakan dengan baik pula. Itu akan mendatangkan kebaikan bagi kita, memberi kelegaan dan membuat kita bisa merasakan sukacita lebih dari waktu-waktu dimana kita sedang bergembira tanpa masalah.

Dalam kesedihan kita bisa belajar banyak. Kita bisa belajar untuk lebih kuat, lebih tegar, kita bisa belajar mengandalkan Tuhan lebih dari segalanya, kita bisa belajar lebih sabar dan tabah. Ini adalah hal-hal yang jarang bisa kita peroleh lewat kegembiraan. Kegembiraan seringkali membawa kita terlena dan lupa kepada hal-hal yang esensial atau penting dalam kehidupan yang singkat ini. Bukan kita tidak boleh bergembira, tetapi ada banyak hal di balik sebuah bentuk kesedihan yang akan mampu membuat kita bertumbuh lebih baik dan lebih kuat. Karena itu ketika Tuhan mengijinkan kita untuk masuk ke dalam keadaan sedih, janganlah bersungut-sungut dan menuduh Tuhan sedang berlaku kejam kepada kita. Justru disaat seperti itulah kita sedang dilatih untuk lebih baik lagi, sedang diajar untuk mengalami peningkatan baik dari segi iman maupun sikap dan perilaku kita sebagai pribadi.

(bersambung)

Thursday, August 28, 2014

Sisi Positif dari Penderitaan

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 119:71
==========================
"Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu."

Mudah bagi kita untuk berkata bahwa Tuhan itu baik, tetapi akan menjadi sangat sulit saat kita sedang ditimpa masalah atau sedang dalam keadaan tertindas. Banyak orang yang segera merubah pandangannya saat hidup sedang berada pada titik yang tidak kondusif, bersungut-sungut, mengeluh lantas kecewa kepada  Tuhan bahkan kemudian meragukan eksistensiNya. Sebagian menuduh Tuhan sedang berlaku tidak adil, bertindak semena-mena atau bahkan dituduh kejam. Sangatlah menarik ketika melihat seorang musisi yang tengah dirundung masalah kesehatan sehingga tidak bisa tampil mencari nafkah untuk sekian lama tetapi masih bisa menuliskan status "God is good, all the time" pada sebuah jejaring sosial. Melihat statusnya, pikiran saya kembali kepada masa-masa sebelum dan sesudah bertobat.

Dahulu saya sempat mengalami sukses besar dengan kerja keras. Secara finansial saya tidak mengalami masalah, tapi hidup hancur-hancuran. Tidak ada yang namanya damai sejahtera, tidak ada kasih, tidak ada kepedulian. Saya hidup sebagai orang angkuh, merasa tidak butuh orang lain dan seenaknya menghamburkan apa yang saya punya, karena merasa bahwa itu mutlak hak saya atas hasil usaha sendiri. Sampai pada suatu ketika Tuhan mengguncangkan kemapanan semu itu. Semua habis ludes, saya bangkrut, ditambah ibu yang sakit keras dan koma hingga akhir hayatnya. Disana hidup saya bagai dijungkir balikkan dalam waktu sangat singkat. Butuh waktu lama untuk membangun hidup kembali. Untungnya dalam titik nadir itu saya mengalami perjumpaan dengan Yesus dan kemudian bertobat. Proses untuk mengenalNya tidak sebentar, dan anehnya, justru saat saya menerimaNya sebagai Tuhan dan Juru Selamat hidup justru terasa sangat berat. Bertahun-tahun saya dibentuk ulang, pengikisan karakter, sifat dan sikap buruk berlangsung menyakitkan. Dahulu disanjung, sekarang dihina. Dahulu semuanya mudah, sekarang bukan main sulitnya. Dahulu tinggi hati, sekarang ada banyak alasan yang bisa membuat harga diri amblas sampai ke titik nol. Hari ini kalau saya masih berdiri dan bisa melayani teman-teman lewat tulisan setiap hari, itu karena karunia Tuhan. It's all because of His grace. Hari ini kalau saya punya seorang istri yang sangat luar biasa, sebuah rumah sederhana tapi sangat nyaman, kendaraan untuk bepergian, semua karena karuniaNya. Kalau saya hari ini bisa memiliki kuasa untuk menikmati yang membuat hidup terasa indah tanpa tergantung dari kondisi faktual sehari-hari yang tetap ada masalahnya sendiri-sendiri, itu pun karena kebaikan Tuhan. Satu hal yang saya akan selalu syukuri bukanlah saat hidup sedang diatas, tetapi justru pada saat saya berada pada situasi tersulit dalam hidup. Saat saya tertindas, saat saya terpuruk, saat saya tidak lagi bisa mengandalkan kekuatan dan kemampuan diri sendiri. Saat saya tidak lagi bisa melakukan apa-apa, disanalah saya belajar menyerahkan diri kepada Tuhan, belajar ketetapan-ketetapanNya dan kemudian mengalami sendiri bagaimana hebatnya Tuhan dalam membentuk ulang pribadi yang sudah terlanjur hancur untuk menjadi sebuah ciptaan baru. Waktu dialami tidak enak, tapi hari ini saya sangat bersyukur pernah mengalaminya. Tanpa itu, saya tidak akan menjadi siapa diri saya hari ini.

Tertindas itu ternyata ada baiknya. Rasa sakit ternyata bisa membuat kita belajar banyak hal, mendewasakan dan membentuk karakter yang jauh lebih kuat dan bijaksana dari sebelumnya. Seringkali manusia dengan segala kebandelannya harus belajar lewat rasa sakit untuk bisa mengerti. Orang tidak akan bisa naik sepeda kalau belum pernah terjatuh, orang sulit menghargai kesehatan sebelum merasakan sakit. Kita tidak tahu perihnya terbakar kalau belum merasakan panasnya api. Jadi ada waktunya kita memang perlu merasakan penderitaan, sehingga kita bisa menghargai yang namanya kebahagiaan dengan baik. Ada banyak pelajaran yang hanya bisa kita peroleh melalui penderitaan, saat tertindas atau kegagalan. Tuhan ternyata bisa memakai keadaan itu untuk mengoreksi kita.

Hal itulah yang disadari Daud. Seperti kita, Daud pun pernah mengalami banyak ketidakadilan, penindasan dan kesukaran. Bedanya, Daud tidak terfokus pada penderitaan tapi ia mendapatkan pemikiran positif dengan menyadari bahwa itu adalah saatnya untuk belajar. Katanya: "Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu." (Mazmur 119:67). Lantas ia melanjutkan: "Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu." (ay 71). Daud menyadari bahwa berada dalam posisi tertindas itu bukan berarti bahwa hidupnya tamat, kesempatan tertutup, tapi justru semua itu merupakan waktunya untuk belajar ketetapan-ketetapan Tuhan, mengalami pembentukan karakter agar lebih dewasa, menyadari bahwa ia harus belajar untuk mengandalkan Tuhan dan berhenti bergantung pada kekuatan manusia yang terbatas.

Benar, saat mengalami bukan main perih rasanya. Kabar baiknya, seperti pengalaman saya sendiri, ternyata Tuhan tidak membiarkan kita sendirian melewati penderitaan. Dia senantiasa menyertai kita dalam situasi sesulit apapun kalau kita mau belajar mengandalkanNya. "Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati" (Ulangan 31:8). Sewaktu-waktu Dia memberikan kekuatan, ketegaran bahkan kelegaan, sehingga saya bisa melewati proses pembentukan itu sepenuhnya. Tuhan juga sudah berjanji bahwa sekalipun kita harus berjalan dalam lembah kekelaman, gada dan tongkatNya akan selalu beserta kita, menjauhkan kita dari bahaya dan mendatangkan penghiburan (Mazmur 23:4). Daripada membiarkannya berjalan sia-sia dan hanya dipenuhi rasa sakit, mengapa kita tidak manfaatkan keadaan tertindas yang penuh penderitaan sebagai sebuah proses untuk belajar patuh mengikuti firman Tuhan. Dan lihat apa kata Tuhan ketika hidup kita berkenan padaNya. "TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya." (Mazmur 37:23-24). Cara pandang dalam menyikapi hidup akan sangat berperan, apakah kita hanya akan menjadikannya sebagai momen kejatuhan kita atau justru kebangkitan kita menuju hari depan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Jika ada di antara anda saat ini yang tengah merasakan penderitaan atau berada dalam keadaan tertindas, belajarlah banyak akan ketetapanNya. Pakailah itu sebagai momen untuk membentuk diri untuk menjadi pribadi-pribadi pemenang. Tuhan bisa memakai masalah sebagai sarana untuk mengoreksi kita dan membentuk ulang diri kita. Lewat penindasan atau penderitaan Tuhan bisa mengikis ego kita, membuat kita menjadi pribadi baru yang seturut dengan kehendakNya. Jangan sia-siakan, jangan keraskan hati, jangan buru-buru negatif apalagi menyalahkan Tuhan. Pada suatu hari nanti, saya percaya seperti saya, anda akan bersyukur pernah dilatih Tuhan melalui penindasan atau masalah untuk menjadi pribadi yang kuat, tegar dan taat, yang mengalami kasih Tuhan yang luar biasa dalam banyak hal serta memiliki kerinduan pula untuk menjadi umatNya yang mewakili otoritas Kerajaan dalam menyatakan kasih di muka bumi ini.

Bad situations can be a way to experience real victory

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, August 27, 2014

Ada Banyak UmatKu di Kota Ini

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 18:10
===========================
"...banyak umat-Ku di kota ini."

Ada seorang musisi senior yang kiprahnya sudah sangat lama, setidaknya ia sudah aktif di era 70an. Saya bertemu dengannya belum lama ini saat ia tampil dalam sebuah acara. Hari itu hari sabtu dan konser selesai saat hari sudah sangat larut malam. Saat itu sembari ngobrol santai ia terlihat agak tergesa-gesa mengumpulkan instrumen dan barang-barangnya. Ketika saya tanya kenapa ia tidak menginap saja semalam sebelum kembali ke kota tempat tinggalnya, sambil tersenyum ia berkata bahwa ia harus segera pulang karena di pagi hari ia harus melayani di gereja, sebuah kegiatan rutin yang sudah ia jalani selama puluhan tahun. Wah, luar biasa. Ketika orang berpikir bahwa dunia hiburan bergelimang dosa dan kesesatan, ternyata orang-orang yang masih aktif sebagai pelayan Tuhan pun tetap ada disana. Bukan hanya musisi senior ini saja, tapi ada banyak lagi, bahkan diantaranya musisi yang saat ini tengah berada di puncak ketenaran, mereka masih tetap menyediakan waktu untuk melayani.

Ada kalanya kita harus masuk ke lingkungan yang baru yang secara umum tidak mendukung pertumbuhan iman. Bisa jadi disana pergumulan akan banyak kita alami, mungkin kita bisa merasa terasing. Tapi seburuk-buruknya sebuah lingkungan, tetap saja akan ada orang-orang percaya yang hidup benar berada disana. Mungkin jumlahnya tidak banyak, tetapi akan selalu ada sahabat-sahabat seiman untuk sharing dan saling menguatkan dimanapun kita ditempatkan. No matter what, how and where, We're never alone, because God still has His people wherever we go.

Paulus pernah mengalami perasaan terasing seperti itu saat ia mendarat di Korintus, sebuah kota yang terletak di Yunani. Pada masa itu Korintus dikenal sebagai kota yang memiliki moral buruk dan gemar melakukan kejahatan termasuk didalamnya korupsi. Itu bukanlah tempat yang bersahabat bagi orang percaya, apalagi bagi Paulus yang memiliki panggilan untuk mewartakan Kabar Keselamatan dimanapun ia sampai. Melakukan itu di kota yang terkenal buruk akhlaknya? Salah-salah hidupnya bisa berakhir disana. Paulus merasakan hal itu. Tuhan tahu itu dan menganggap penting untuk meneguhkannya. "Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: "Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam!" (Kisah Para Rasul 18:9). Tuhan menguatkannya terlebih dahulu dan memintanya untuk terus maju. Bukan hanya menguatkan, tapi Tuhan pun memberikan alasannya. "Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini." (ay 10). Kita bisa melihat bagaimana Tuhan mengingatkan Paulus bahwa meski berada disebuah kota yang tidak kondusif dan beresiko tinggi, dia tidak sendirian berada di kota itu. Bukan saja Tuhan sendiri mengingatkan bahwa Dia selalu menyertai Paulus, tetapi ada banyak umat Tuhan lainnya yang sesungguhnya berada di kota itu. Hanya saja Paulus mungkin belum bertemu atau melihat mereka, karena ia baru saja tiba disana. Oleh karena itu Paulus tidak perlu merasa was-was dan sendirian berada di sebuah kota dengan kondisi moral yang buruk karena ia akan tetap punya orang-orang yang akan terus mendukung dan menguatkannya selain tentunya Tuhan sendiri.

Dari pengalaman Paulus ini kita bisa melihat meskipun kita berada dalam sebuah kota atau lingkungan yang sama sekali asing bagi kita, meski situasinya terlihat buruk, sesungguhnya Tuhan tetap berada bersama kita, dan saudara-saudari seiman pun tetaplah ada disana. Apa yang perlu kita lakukan adalah menemukan dimana mereka berada. Kita tidak akan bisa menemukan mereka kalau kita masih bersikap eksklusif atau punya pribadi tertutup. Kita harus mau membuka diri, lalu saling dukung, saling bantu dan bekerjasama dengan mereka agar bisa tumbuh bersama. Dari sanalah kita kemudian akan mampu berbuat sesuatu bagi Kerajaan Allah dalam sebuah jaringan kerjasama yang kuat, menjadi terang dan garam yang akan memberkati orang, lingkungan, kota, bangsa atau bahkan dunia.

Jika ada diantara teman-teman yang mungkin baru pindah ke sebuah kota lain atau negara lain dan merasa kesepian disana, atau mungkin anda tengah berada di sebuah lingkungan yang sepertinya sulit, ingatlah bahwa anda tidak pernah sendiri. Hari ini Tuhan mengingatkan anda secara khusus bahwa anda sebenarnya tidaklah pernah sendirian. Selain Tuhan berdiri disamping anda, selalu ada saudara-saudari seiman yang akan anda temukan seandainya anda mau membuka diri, berkenalan dan bersahabat dengan mereka. Sekalipun jika anda pindah ke sebuah lokasi baru dan sulit menemukan cabang dari gereja anda sebelumnya atau minimal yang sejenis, ingatlah bahwa di dalam Kristus kita semua bersaudara, terlepas dari denominasi apa yang anda anggap mampu mendukung pertumbuhan iman anda hingga kini. Tidak ada yang kebetulan bahwa kita ditempatkan Tuhan pada sebuah tempat tertentu dimana kita berada hari ini, dan untuk itu Tuhan pun sudah merencanakan segalanya dengan sangat baik, termasuk di dalamnya menempatkan saudara-saudari seiman yang akan bisa saling berbagi, mengingatkan dan menguatkan di tempat yang sama. Kita tidak pernah direncanakan Tuhan sebagai mahluk individual yang anti-sosial, Tuhan justru menginginkan kita untuk menjadi orang-orang yang mau menjalin pertemanan atau persaudaraan dengan siapapun tanpa terkecuali. Jika anda baru saja pindah atau memasuki dunia yang sama sekali asing bagi anda, pergunakan waktu-waktu yang ada untuk berkenalan dengan banyak orang. Temukanlah umat Tuhan lainnya dan bertumbuhlah bersama. Jangan khawatir, apalagi takut, karena Tuhan sudah berkata "Jangan takut...sebab banyak umatKu di kota ini."

Temukan umat Tuhan lainnya dan bertumbuhlah bersama-sama

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, August 26, 2014

Paulus dan Keteladanan

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Korintus 4:16
====================
"Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!"

Seperti apakah orang yang bisa dijadikan teladan? Kata teladan biasanya mengacu kepada sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh seperti dalam sifat, sikap, perbuatan, perilaku dan sebagainya. Benar, ada banyak orang yang keliru mengambil figur panutan dan 'meneladani' perilaku-perilaku buruk dari figur yang diidolakan. Misalnya musisi yang hidupnya penuh dengan obat-obat terlarang, hubungan bebas dan sebagainya, atau malah tokoh dunia yang terkenal kejam dan sudah membantai begitu banyak jiwa yang mereka anggap akan membuat mereka keren di mata orang lain. Ada saja memang orang yang seperti itu, tetapi itu bukanlah sebuah keteladanan menurut pengertian sebenarnya. Seorang yang bisa dijadikan panutan atau teladan adalah orang yang terus menanamkan nilai-nilai kebenaran, budi pekerti dan berbagai kebaikan lainnya yang bukan hanya sebatas ajaran lewat kata-kata saja tetapi tercermin langsung dalam keseharian hidup mereka. Artinya, orang-orang yang menjadi teladan adalah orang berintegritas yang punya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Itu sebabnya untuk menjadi teladan bukanlah perkara mudah. Bila dalam mengajar kita hanya perlu membagikan ilmu dan pengetahuan lewat perkataan, tetapi dalam menerapkan keteladanan kita harus mengadopsi langsung seluruh nilai-nilai  yang kita ajarkan untuk tampil secara langsung dalam perbuatan kita. Ada orang-orang yang mampu menunjukkan nilai-nilai kebenaran dalam hidupnya sehingga mampu memberi pengajaran tersendiri meski tanpa mengucapkan kata-kata sekalipun. Sebaliknya ada orang yang terus berbicara tapi hasilnya tidak maksimal karena tidak disertai dengan contoh nyata dari cara atau sikap hidupnya.

Ada banyak orang tua yang kecapaian akibat terlalu sibuk bekerja hanya akan memarahi anak-anaknya tanpa memeriksa terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi. Di satu sisi mereka melarang ini dan itu, tapi di sisi lain mereka melanggar sendiri peraturan yang mereka buat. Saya orang tua, terserah saya. Kamu masih anak kecil, harus menurut. Titik. Ini bukanlah sikap orang yang bisa dijadikan teladan karena hanya memerintah tanpa mencontohkan. Anak pun akan sulit belajar tentang kebenaran jika berada dalam bentuk keluarga otoriter yang mementingkan posisi atau status seperti itu. Agar bisa menjadi teladan itu berat dan seringkali butuh pengorbanan. Kalau anda mengajarkan bahwa tidak baik untuk cepat marah, anda harus terlebih dahulu menunjukkan kesabaran, bukan malah menunjukkan betapa pendeknya sumbu kesabaran anda. Kalau anda mengajarkan harus hidup jujur dan bersih, anda harus terlebih dahulu melakukannya tanpa syarat, bukan mencari alasan karena terpaksa dan sebagainya. Kalau anda mengajarkan harus rajin membangun hubungan dengan Tuhan, anda harus mencontohkannya dan bukan hanya menyuruh tapi sendirinya malas karena merasa tidak lagi punya cukup waktu untuk itu. Ada seorang pengusaha yang saya kenal pernah berkata bahwa urusan doa adalah urusan istri, sementara dia tugasnya memenuhi kebutuhan akan materi. Ketika saya tanyakan apakah anak laki-lakinya yang masih kecil ia ajarkan untuk rajin berdoa sejak di usia kecil, ia berkata dengan bangga: "tentu saja." Disini bisa kita lihat contoh orang yang meski mengajarkan anaknya tentang hal benar tapi ia sendiri tidak memberi keteladanan. Atau ada pula yang rajin berdoa tapi dalam hidup sehari-hari perilakunya buruk dan secara transparan dilihat oleh anak-anaknya. Ini tidak akan baik bagi pertumbuhan spiritual dari si anak.

Pada suatu kali Paulus berkata dengan tegas kepada jemaat Korintus: "Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!" (1 Korintus 4:16). Hanya sebuah kalimat singkat dan sederhana, tapi kalau kita renungkan tidaklah ringan. Paulus tidak mungkin berani berkata seperti itu apabila ia tidak atau belum mencontohkan apapun yang ia sampaikan mengenai kebenaran firman Tuhan. Tapi kita tahu seperti apa cara hidup Paulus. Ia mengalami perubahan hidup 180 derajat dalam waktu relatif singkat. Dari seorang penyiksa orang percaya, ia berubah menjadi orang yang sangat radikal dan berani dalam menyebarkan Injil keselamatan. Ia mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk pergi ke berbagai pelosok dalam menjalankan misinya bahkan sampai menjejaki Asia kecil. Tidak ada pesawat waktu itu yang mampu mengantar orang dalam waktu singkat, tidak ada pula sarana internet yang memungkinkan orang bisa berhubungan tatap muka secara langsung meski berada jauh satu sama lain seperti chatting, teleconference dan sebagainya. Di saat seperti itu ia justru masih harus bekerja demi membiayai keperluan pelayanannya. Bisa kita bayangkan bagaimana beratnya perjuangan Paulus. Cobalah letakkan diri kita pada posisinya, rasanya kita bisa stres, depresi dan sebagainya diterpa kelelahan dan tekanan dalam menghadapi hari demi hari. Atau mungkin saja kita merasa kecewa dan tawar hati karena apa yang dialami berbeda dengan yang diharapkan.

Tapi Paulus bukanlah orang yang punya mental seperti itu. Ia tahu diatas segalanya anugerah keselamatan yang ia terima merupakan sebuah anugerah yang luar biasa besar sehingga ia ingin melihat banyak orang lagi bisa mengikuti jejaknya. Ia memang berkeliling menyampaikan berita keselamatan, tetapi yang jauh lebih penting adalah ia mencontohkan sendiri aplikasi kebenaran dalam hidup lewat cara hidupnya. Ia benar-benar menghayati keselamatan yang diperolehnya dengan penuh rasa syukur dan mempergunakan seluruh sisa hidupnya secara penuh hanya untuk Tuhan. Dalam menjalankan misinya Paulus mengalami banyak hal yang mungkin akan mudah membuat kita kecewa apabila berada di posisinya. Tetapi tidak demikian dengan Paulus. Lihatlah apa yang ia katakan: "Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah." (1 Korintus 4:11-13a). Wow, lihatlah bagaimana contoh yang ia berikan dalam menghadapi tekanan dan siksaan. Ia tetap memberkati walau dimaki, ia tetap sabar walau dianiaya, ia tetap ramah meski difitnah. Itu bukan hanya sebatas pengajaran lewat perkataan saja melainkan ia tunjukkan langsung dengan perbuatan nyata. Kita bisa melihat sendiri bagaimana karakter dan sikap Paulus dalam menghadapi berbagai hambatan dalam pelayanannya. Apa yang ia ajarkan semuanya telah dan terus ia lakukan sendiri dalam kehidupannya. Oleh sebab itu pantaslah jika Paulus berani menjadikan dirinya sebagai teladan seperti yang tertulis pada ayat bacaan hari ini.

Dalam masa hidupNya yang singkat di muka bumi ini, Yesus pun menunjukkan hal yang sama. Segala yang Dia ajarkan telah Dia contohkan secara langsung pula. Lihatlah sebuah contoh dari perkataan Yesus sendiri ketika ia mengingatkan kita untuk merendahkan diri kita menjadi pelayan dan hamba dalam Matius 20:26-27. Yesus berkata: "sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (ay 28). Apa yang diajarkan Yesus telah Dia contohkan pula secara nyata. Ketika Yesus berkata "Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu." (Yohanes 15:12), kita pun lalu bisa melihat sebesar apa kasihNya kepada kita. Yesus mengasihi kita sebegitu rupa sehingga Dia rela memberikan nyawaNya untuk menebus kita semua. "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (ay 13). Yesus membuktikannya secara langsung lewat karya penebusanNya.

Jauh lebih mudah untuk menegur dan menasihati orang ketimbang menjadi teladan, karena sebagai teladan sikap kita haruslah sesuai dengan perkataan yang kita ajarkan.  Sikap hidup yang sesuai dengan pengajaran seperti itu sudah semakin sulit saja ditemukan hari ini. Tuhan menghendaki kita semua agar tidak berhenti hanya dengan memberi nasihat, teguran atau pengajaran saja, melainkan menjadi teladan dengan memiliki karakter, gaya hidup, sikap, tingkahlaku dan perbuatan yang sesuai dengan nilai-nilai kebenaran yang kita katakan. Alkitab mengatakan : "Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu" (Titus 2:7) Kita dituntut untuk bisa menjadi teladan di muka bumi ini. Sesungguhnya itu jauh lebih bermakna ketimbang hanya menyampaikan ajaran-ajaran lewat perkataan kosong. Sebagai orang tua, abang, kakak, dan teman kita harus sampai kepada sebuah tingkatan untuk menjadi contoh teladan. Tetapi tugas menjadi teladan pun bukan hanya menjadi keharusan untuk orang-orang tua saja. Sejak muda pun kita sudah bisa, dan sangat dianjurkan untuk bisa menjadi teladan bahkan bagi orang-orang yang lebih tua sekalipun. Firman Tuhan berkata: "Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." (1 Timotius 4:12).

Kalau Paulus bisa dengan berani meminta jemaat di Korintus untuk meneladani cara hidup dan perbuatannya, mengapa kita tidak? Sebuah kehidupan yang mengaplikasikan firman secara nyata akan mampu berbicara banyak. Hal keteladanan sangatlah penting karena orang cenderung lebih mudah percaya dan menerima sebuah kebenaran yang dipraktekkan secara langsung ketimbang hanya lewat kata-kata atau teoritis saja. Orang yang hidup sesuai kebenaran akan memiliki banyak kesaksian untuk dibagikan yang sanggup mengenalkan kebenaran kepada orang-orang yang belum mengetahuinya. Tidak perlu muluk-muluk, hal-hal sederhana saja bisa menjadi sebuah bukti penyertaan Tuhan yang luar biasa yang mampu menjadi berkat bagi orang lain. Seperti apa karakter yang kita tunjukkan hari ini? Apakah kita sudah atau setidaknya tengah berusaha untuk menjadi teladan dalam berbuat baik atau kita masih hidup egois, eksklusif, pilih kasih, kasar, membeda-bedakan orang bahkan masih melakukan banyak hal yang jahat meski kerap mengajarkan kebaikan? Sadarilah bahwa cara hidup kita akan selalu diperhatikan oleh orang lain. Anak-anak kita akan melihat sejauh mana kita melakukan hal-hal yang kita nasihati kepada mereka, begitu juga dengan teman-teman dan orang-orang di sekitar kita. Menjadi teladan adalah sebuah keharusan, marilah kita terus melatih diri kita untuk menjadi teladan seperti yang dikehendaki Tuhan atas anak-anakNya.

"Example is not the main thing in influencing others. It's the only thing" - Albert Schweitzer, ahli teologia/filsuf asal Jerman, misionaris di Afrika

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, August 25, 2014

Menjadi Teladan dalam Berbuat Baik

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Titus 2:7
================
"Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik."

Secara teoritis begini, pada prakteknya begitu. Ketidaksesuaian antara teori dan praktek menjadi hal yang biasa terjadi dalam hidup manusia. Peraturan sedianya dibuat untuk membuat kita menjadi lebih baik, tapi bagi banyak orang peraturan ada untuk dilanggar. Contoh sederhana saja, ada berapa banyak diantara kita yang tetap mematuhi lampu merah saat malam hari yang sepi, tidak ada polisi disana? Pada hakekatnya lampu merah harus dipatuhi agar kita terhindar dari kecelakaan dan mencelakakan orang lain, tapi orang lebih takut rugi ditilang polisi daripada mencegah terjadinya kecelakaan. Berbagai penyimpangan kebenaran menjadi hal yang sangat lumrah. Saking lumrahnya, justru orang yang mencoba hidup benarlah yang terlihat aneh. Tidak sedikit orang percaya yang bukannya menunjukkan pola hidup yang benar menurut Kerajaan Allah tapi malah menyerah ikut-ikutan prinsip dunia dalam memandang hidup. Orang tua melarang anaknya ini dan itu, tapi mereka sendiri melanggarnya didepan anak-anak. Di tengah dunia yang semakin jahat, dimanakah seharusnya orang percaya berdiri? Apakah memang jumlah orang percaya yang benar terlalu sedikit sehingga kita harus terlalu mudah menyerah dan mengikuti cara hidup orang dunia?

Kepada kita telah disematkan tugas mulia untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia, menjadikan seluruh bangsa sebagai muridNya. (Matius 28:19-20), menjadi saksi Kristus dimanapun kita berada, bahkan sampai ke ujung bumi. (Kisah Para Rasul 1:8). Tetapi bagaimana mungkin kita bisa menjalankan tugas ini hanya dengan menyampaikannya sebatas kata-kata saja? Meski kita terus menyampaikan firman Tuhan sampai berbusa sekalipun tidak akan membawa hasil apabila itu tidak tercermin dari sikap hidup kita. Itu hanyalah akan menjadi bahan tertawaan atau olok-olok dari orang yang disampaikan. Kita juga dituntut untuk menjadi terang dan garam dunia. (Matius 5:13-16). Garam tidak akan bermanfaat kalau tidak dipakai secara langsung dalam masakan dan hanya dibiarkan diam di dalam botol saja. Terang pun demikian. Lampu tidak akan bermanfaat kalau hanya disimpan, tidak dinyalakan atau tidak diletakkan pada posisinya. Semua ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara kabar gembira yang kita sampaikan dengan bentuk perbuatan nyata yang harus tercermin lewat sikap hidup kita sendiri. Dengan kata lain, keteladanan lewat sikap dan perbuatan kita merupakan hal yang mutlak untuk kita perhatikan apabila kita ingin menjadi agen-agen Tuhan yang berfungsi benar di dunia ini.

Menjadi teladan, setting up examples through our own lives merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Dalam Titus 2 kita bisa membaca serangkaian nasihat yang menggambarkan kewajiban kita, orang tua, pemuda dan hamba dalam kehidupan. Pertama, kita diminta untuk memberitakan apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat. (Titus 2:1). Pria dewasa diminta untuk "hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan." (ay 2). Sementara wanita dewasa "hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang." (ay 3-5). Anak-anak muda diminta agar mampu "menguasai diri dalam segala hal". (ay 6). Semua pesan ini menunjukkan perintah untuk memberikan keteladanan secara nyata tanpa memandang usia, gender maupun latar belakang lainnya. Itulah yang akan mampu membuat ajaran yang sehat bisa diterima oleh orang lain secara baik dan membuahkan perubahan. Seruannya jelas: "dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik." (ay 7). Jadikan diri kita teladan, menjadi agen-agen Tuhan menyampaikan kebenaran lewat perbuatan-perbuatan baik yang merupakan buah dari keselamatan yang kita terima dalam Kristus.

Kalau kita mundur ke kitab Perjanjian Lama, perihal keteladanan juga telah disampaikan terutama ditujukan kepada orang tua. Ketika pesan "haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun" (Ulangan 6:7) diberikan, itu kemudian disusul dengan keharusan untuk mengaplikasikan itu ke dalam kehidupan sehari-hari yang mampu memberikan teladan. "Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu." (ay 8-9). Ayat ini berbicara dengan jelas mengenai keharusan kita untuk menunjukkan contoh secara langsung dalam hidup kita dan bukan hanya sebatas kata saja. Ini adalah hal yang wajib diaplikasikan setiap kehidupan anak-anak Tuhan. Kita tidak akan pernah cukup menyampaikan saja, tetapi terlebih pula harus mampu menunjukkan secara langsung melalui keteladanan lewat kehidupan kita.

Banyak yang mengira bahwa mewartakan kabar keselamatan hanya bisa dilakukan lewat kotbah panjang lebar, artinya menjadi tugas para pendeta atau pelayan Tuhan di gereja saja. Itu adalah pemikiran keliru, karena semua orang percaya wajib melakukannya. Bisa jadi sebagian dari kita tidak terlalu pintar berbicara, tetapi saat kita menunjukkan perbuatan-perbuatan baik yang sesuai dengan firman Tuhan kepada orang lain lewat keteladanan yang mencerminkan kebenaranNya, itu sudah lebih dari cukup untuk bisa memperkenalkan pribadi Kristus kepada orang lain. Anda akan jauh lebih mudah dalam menyampaikan kebenaran apabila hidup anda sudah mencerminkan kebenaran itu secara nyata. Bagaimana orang mau percaya kalau kita sendiri masih belum beres dan tidak punya kesaksian apa-apa? Dari pengalaman sendiri, dari kesaksian sendiri, semua akan menjadi bukti-bukti bahwa firman Tuhan mampu membawa banyak hal luar biasa ketika dipatuhi dan dijalankan dengan benar. Keteladanan kita akan mampu membawa sebuah perubahan besar dalam lingkungan di mana kita berada. Ada banyak orang yang mengaku anak Tuhan tetapi sama sekali tidak menunjukkan itu dalam perilaku dan perbuatan sehari-hari. Bukannya kesaksian yang datang, malah mereka menjadi batu sandungan. Bukannya menjadi teladan tapi malah ikut-ikutan melakukan perbuatan-perbuatan yang salah. Tuhan ingin kita menjadi teladan dalam perbuatan baik. Kita harus menunjukkan bahwa kita mampu. Ingatlah bahwa tindakan yang kita lakukan akan membawa dampak, apakah itu baik atau buruk, dan itu tergantung dari tindakan seperti apa yang kita lakukan. Mari hari ini kita menjadi anak-anak Allah yang mampu menjadi teladan, khususnya dalam menyatakan kasih dan perbuatan baik bagi orang-orang di sekitar kita.

Menjadi teladan dalam berbuat baik merupakan kewajiban dari umatNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, August 24, 2014

Menjauhkan Hukuman atas Bangsa

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yoel 2:13
==================
"Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya."

Layaknya sebuah perjalanan hidup kita, perjalanan hidup bangsa dan negara pun penuh liku-liku dengan suka dan dukanya sendiri. Ada puluhan bahkan ratusan juta orang yang tinggal disana dengan tingkahnya masing-masing, tipe pemimpin pun berganti-ganti. Jika yang memimpin dan dipimpin mau bahu-membahu menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa dan memiliki roh yang takut akan Tuhan, apapun masalah yang dihadapi bisa segera terselesaikan. Disanapun Tuhan akan menjauhkan penghukuman dan akan menurunkan kasih setiaNya dengan berlimpah. Terkadang bisa jadi kita salah mengambil keputusan. Apa yang penting untuk diingat apabila kita sudah terlanjur salah dalam melangkah adalah tidak mempertahankan kesalahan dan malah melanjutkannya kepada sekuens kesalahan berikutnya tetapi segera menyadari dan bergegas untuk berbalik arah dan kembali kepada jalan yang benar.

Dalam renungan terdahulu kita sudah melihat bagaimana Daniel mendoakan bangsanya dengan mengambil posisi bukan sebagai orang luar tetapi sebagai bagian dari bangsanya sendiri dengan menggunakan kata 'kami' dalam doanya dan bukan 'mereka' yang tertulis dalam Daniel 19:1-9. Meski Daniel tidak ikut-ikutan berbuat kejahatan, tapi ia menyadari bahwa ia adalah satu dari sekian banyak orang yang hidup disana dan oleh karenanya sebagai orang benar ia mengambil bagian untuk mendoakan bangsanya, agar kiranya murka Allah menjauh dari bangsanya. Doa orang benar yang didoakan dengan yakin itu besar kuasanya (Yakobus 5:16), maka peran aktif orang percaya untuk mendoakan bangsanya akan sangat penting, selain tentunya turut berperan serta secara aktif dengan bentuk-bentuk perbuatan nyata yang sesuai dengan ketetapan Tuhan.

Contoh lainnya ada dalam kitab Yoel. Disana kita bisa melihat bagaimana mengerikannya hukuman Tuhan yang jatuh atas bangsa Yehuda. Disana kita melihat serbuan belalang yang menakutkan (Yoel 1:4), dimana serbuan belalang itu menimbulkan kerusakan sangat parah pada pertanian dan perekonomian mereka. (ay 7-12). Tidak ada lagi gandum, anggur dan minyak, sehingga mereka tidak bisa lagi mempersembahkan korban curahan. (ay 9-13). Menyikapi hal ini, Yoel menyampaikan seruan Allah pada mereka yang telah meninggalkanNya dan seperti Daniel, Yoel pun berdoa bagi semuanya. (ay 19). Yoel meminta bangsa Yehuda untuk melakukan tiga hal: meratap (ay 8,13), berkabung (ay 13) dan  puasa (ay 14). Yoel menyerukan agar bangsa Yehuda yang sudah terlanjur tersesat untuk segera berbalik kembali pada Tuhan dengan hati yang koyak, seperti yang saya ambil menjadi ayat bacaan hari ini. "Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya." (Yoel 2:13). Sebuah pertobatan dengan hati terkoyak punya kekuatan untuk mendorong Tuhan menghentikan hukuman kemudian mengembalikan belas kasihNya secara berlimpah untuk turun atas umatNya. Yoel 2:18-27 berbicara mengenai janji Tuhan yang luar biasa pada bangsa yang bertobat. Pemulihan luar biasa atas pertanian yang penuh kelimpahan, curah hujan yang cukup, kehormatan, semua akan mereka peroleh begitu mereka bertobat dengan sungguh-sungguh. Tuhan kita adalah Tuhan yang penuh kasih, adil, setia dan selalu siap untuk mengampuni siapapun yang datang kepadanya dengan hati hancur untuk bertobat, meninggalkan kesesatan mereka dan kembali pada jalan yang benar, kembali kepada Tuhan.

Kita bisa saja berdalih bahwa sebagai kaum minoritas yang kerap mengalami tekanan dan ketidak-adilan, maka apapun yang diusahakan tidak akan bisa berdampak besar dalam mengatasi kondisi bangsa yang carut marut. Ini adalah pemikiran yang keliru, karena dari kisah Abraham dan kota Sodom saja kita bisa melihat bahwa jumlah orang percaya yang benar meski hanya 10 orang saja akan mampu membuat Tuhan mengurungkan niat untuk menghabisi kota tersebut beserta orang-orangnya. Itu bisa kita baca dalam Kejadian 18:16-33. Bayangkan sebuah kota yang sudah begitu parah kerusakan moralnya seperti Sodom saja bisa beroleh pengampunan jika ada orang yang benar-benar hidup menurut ketetapanNya disana. Artinya kita pun bisa melakukan sesuatu bagi bangsa ini, seandainya umat Allah yang hidup di dalamnya mau benar-benar hidup dengan benar, tidak menyimpang dari ketetapanNya melainkan melakukan semuanya dengan taat, bukan malah ikut-ikutan berbuat hal-hal buruk atau malah lebih parah dari perilaku jahat orang-orang yang tidak mengenal atau tidak takut akan Tuhan.

Ketika kita mendapati bangsa kita ada ditengah situasi sulit, terbelit masalah ekonomi, kesulitan hidup, kecelakaan bahkan bencana, lewat kitab Yoel ini kita bisa belajar sesuatu. Periksalah cara hidup, tingkah laku dan perbuatan. Apakah kita sudah berjalan bersama Tuhan, mentaati dan memprioritaskanNya dalam perjalanan hidup kita? Sudahkah kita mendengarkan Tuhan dengan serius karena kita sungguh mengasihiNya, atau kita tanpa sadar sudah begitu jauh menyimpang dari jalanNya? Seringkali kita terlalu mudah menyalahkan orang lain, tidak mau turut serta tapi hanya menimpakan kepada pemimpin, atau malah dengan berani menyalahkan Tuhan. Rentang jarak pemisah untuk datangnya pertolongan Tuhan bisa timbul sebagai akibat dari jarak antara perbuatan kita yang penuh dosa dengan tahtaNya. Alangkah baiknya sebelum menyalahkan siapa-siapa, kita terlebih dahulu melihat kembali dimana kita ada saat ini. Tidak pernah ada kata terlambat untuk bertobat. Bahkan dalam keadaan sangat hancur seperti bangsa Yehuda diatas sekalipun, belumlah terlambat untuk bertobat karena Tuhan akan segera mengampuni dan melimpahkan berkatNya segera begitu kita berbalik kembali kepadaNya. Kita harus datang menghampiriNy dengan hati terkoyak, hati yang hancur, yang berarti dengan segala kesungguhan meninggalkan segala perbuatan yang tidak berkenan di hadapan Allah. Ingatlah bahwa "Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah." (Mazmur 51:19). Tuhan penuh kasih setia yang berlimpah dan tidak terbatas. Kesungguhan kita akan menjauhkan murkaNya dan mendatangkan berkatNya kepada bangsa.

Peran orang percaya yang benar sangat diperlukan untuk membenahi bangsa

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker