Tuesday, April 15, 2014

Mahkota Kemuliaan dan Hormat

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 8:6
===================
"Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat."

Siapakah yang berhak memakai mahkota? Hiasan kepala yang khas dan seringkali bertahtakan berlian atau logam-logam mulia yang berharga lainnya seperti emas ini dahulu dipakai oleh raja, ratu atau orang-orang besar yang berkuasa. Mahkota dipergunakan sebagai lambang kekuasaan, kedaulatan dan kehormatan. Belakangan mahkota juga dipakai sebagai lambang kemenangan seperti yang sering kita lihat pada kontes-kontes seperti Miss World, Miss Universe dan sebagainya. Siapapun yang memakai atau menganugerahkan, satu hal yang pasti adalah bahwa mahkota tidak dipakai oleh sembarang orang. Hanya orang-orang berkuasa atau yang berhasil meraih pencapaian-pencapaian tertentu saja yang boleh memakainya. Anda mungkin sama seperti saya, bukan seorang raja/ratu atau pemenang salah satu kontes besar internasional sehingga saat ini anda tidak memakai mahkota di kepala. Tapi tahukah anda bahwa Sang Pencipta memberi manusia sebuah mahkota yang sangat istimewa, sebuah mahkota dengan kemuliaan dan hormat?

Daud tampaknya merupakan pribadi yang suka melakukan perenungan dan suka mengamati secara mendalam akan apa yang ia lihat. Kecintaannya terhadap alam pun sangat besar, dimana dalam banyak kesempatan kita menemukan tulisan-tulisan perenungan yang muncul dari pengamatannya akan alam yang indah hasil ciptaan Tuhan. Pada suatu malam Daud menerawang memandang langit di malam hari yang dipenuhi bintang-bintang. Daud tidak sekedar melihat atau memandangi saja, tetapi ia mengambil momen untuk merenungkan eksistensi manusia dibandingkan dengan langit yang bertahtakan bintang kerlap kerlip. Hasilnya bisa kita baca dalam kitab Mazmur. Katanya: "Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?" (Mazmur 8:4-5). Pemikiran Daud sangat sederhana tapi dalam. Jika kita hanya mengagumi keindahan langit, ia berpikir lebih jauh dengan membandingkan keindahan langit penuh bintang dan cahaya bulan dengan keberadaan manusia. Siapakah kita manusia? Ketika langit di malam hari diciptakan Tuhan dengan sangat indah, manusia terus merusak hasil ciptaan Tuhan dan menyakiti hatinya. Tapi Daud menyadari bahwa keberadaan kita manusia ternyata jauh lebih indah dan spesial di mata Tuhan dibandingkan ciptaan terindah manapun yang sudah atau pernah Tuhan buat. Lihatlah kelanjutan ayat diatas. "Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat." (ay 6). Tidak terkira keindahan dan kesempurnaan alam semesta ini diciptakan, tetapi manusia tetap ciptaan Tuhan yang berbeda. Teristimewa dibandingkan ciptaan-ciptaan lainnya. Begitu istimewa bahkan dikatakan bahwa kita Tuhan mahkotai dengan kemuliaan dan hormat, dibuat mirip Allah dan memiliki citra Allah dalam diri kita. Kita dibentuk secara unik dari debu tanah langsung dari tanganNya, lalu menghembuskan nafas hidup ke dalam kita. (Kejadian 2:7). Itu menyatakan dengan jelas bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang teristimewa. Dan kepada kita diberikan kuasa. Daud mengatakannya seperti ini: "Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya." (Mazmur 8:7).

Kelak Petrus menyebutkan hal ini juga. "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib." (1 Petrus 2:9). Kita disebutkan sebagai yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa kudus, milik Allah sendiri. Sebegitu istimewanya kita diciptakan, karenanya kita pantas bersyukur setiap saat dalam keadaan seperti apapun. Tetapi ayat ini juga seharusnya mengingatkan kita bahwa ada tugas yang disematkan untuk menyatakan kemuliaan Tuhan di dunia, menjadi penyampai berita perbuatan-perbuatan besarNya. Menjadi sosok anak-anak terang yang mewakili nama baik Bapa kita, Raja diatas segala raja.

Kita dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, kita terpilih sebagai imamat yang rajani, kehidupan kita pun seharusnya mencerminkan prinsip Kerajaan dan menggambarkan citra Sang Raja. Kita harus selalu menjaga agar jangan sampai mahkota yang dipakaikan Allah atas kita, yang penuh kemuliaan dan hormat itu sampai membuat muka Sang Pemberi tercoreng akibat perilaku kita yang buruk. Ingatlah bahwa kepada setiap manusia Tuhan sudah memberi kita kuasa penuh atas segala ciptaan Tuhan lainnya, baik ikan di laut, burung di udara dan atas segala hewan darat lainnya. "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kejadian 1:28). Bukan hanya menguasai, tapi juga taklukkan. Itu bukan berarti bahwa kita boleh sembarangan atau seenaknya mengeksploitasi semuanya, tapi kita justru diminta untuk menjaga kelestarian alam beserta isinya sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kuasa yang telah Dia berikan atas kita semua. Mahkota kemuliaan dan hormat yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia jangan sampai disia-siakan atau tidak dihargai.

Jika anda memenangi sebuah mahkota, anda tentu akan bangga dan menjaga agar mahkota itu tetap baik dan terlihat indah di atas kepala anda bukan? Seperti itu pula kita seharusnya menyikapi mahkota yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Kita diciptakan dengan tujuan mulia secara istimewa. Oleh karena itu kita harus belajar untuk hidup sesuai prinsip Kerajaan, menjadi anak-anakNya yang benar-benar menghidupi segala hak-hak yang telah diberikan kepada kita dan melakukan tanggung jawab kita pula. Sudahkah kita benar-benar menghayati jati diri kita sebagai ciptaan spesial yang segambar dengan Allah? Sudahkah kita menghargai mahkota yang Dia berikan lewat cara hidup yang berkenan dihadapanNya? Hendaknya perenungan Daud ini membuka cakrawala baru dalam pemikiran kita bahwa kita diciptakan seperti gambar dan rupaNya, kita dimahkotai kemuliaan dan hormat sehingga tidak satupun manusia yang boleh merasa rendah diri atau tidak berharga. Kemudian renungkan pula bahwa layaknya sebuah mahkota kehormatan, penghargaan itu harus kita jaga dengan baik, apalagi jika menyadari bahwa Tuhan sendiri yang memberikan, bukan manusia lain yang hidup di dunia yang sama dengan kita. Kita mungkin tidak melihat ada mahkota di atas kepala kita, tetapi ketahuilah bahwa Tuhan memberikan itu kepada kita semua tanpa terkecuali. So let's ask ourselves this question: as a crowned human, what should we do, and what can we do to glorify Him? 

We are the crown of creation

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, April 14, 2014

Fair Play

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 2 Timotius 2:5
=====================
"Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga."

Jika anda penggemar bola, anda tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah Fair Play Award. Penghargaan ini diberikan kepada sebuah tim atau perorangan atas prestasi mereka dalam menjunjung tinggi sportivitas sepanjang musim. Penilaian Fair Play didasari atas beberapa kriteria seperti jumlah kartu kuning dan merah yang diterima dalam satu musim, positive play alias bertanding jujur dengan tujuan menang tanpa melihat keuntungan pihak sendiri atau untuk merugikan pihak pesaing, respek kepada lawan, penghormatan dan kepatuhan terhadap wasit dan perilaku dari pemain, tim official maupun supporter. Semua ini merupakan peraturan-peraturan mendasar dari sebuah pertandingan olah raga yang seharusnya dijalankan oleh setiap pelaku di dalamnya. Beberapa nama pemain sepak bola yang terkenal dalam menjunjung tinggi fair play misalnya mantan kapten timnas Inggris Gary Lineker yang tidak pernah menerima kartu kuning apalagi merah sepanjang karirnya, Paolo Di Canio yang dengan jiwa kesatria menghentikan tendangan saat kiper tergeletak jatuh  pada tahun 2001. Jacques Glassmann yang mengungkapkan usaha penyuapan di tahun 1995 dan beberapa nama lainnya.

Ironisnya fair play menjadi semakin jarang ditemukan. Pemain-pemain bola cenderung memanfaatkan situasi seperti apapun untuk bisa memenangkan pertandingan. Mereka akan berpura-pura jatuh ketika gawang terancam, mereka melebih-lebihkan pelanggaran yang dilakukan lawan agar mendapat keuntungan apabila lawannya mendapat kartu, dan tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan jika ada situasi yang sangat menguntungkan seperti yang dialami Paolo Di Canio diatas. Tim sepak bola cenderung bermain defensif, hanya ingin tidak kalah tapi tidak menampilkan permainan atraktif, ada yang berpikir untuk mengatur skor supaya tim saingan gagal melaju ke babak selanjutnya, perilaku-perilaku kasar terhadap lawan maupun wasit dan lain-lain. Ini merupakan sebuah potret dari perilaku manusia jaman sekarang secara umum. Orang akan menghalalkan segala cara untuk bisa menang, agar bisa meraup keuntungan dan tanpa malu menghalalkan segala cara untuk keuntungan pribadi meski dengan cara curang. Kita terbiasa sikut-sikutan untuk sukses dan tidak merasa bersalah jika harus mengorbankan orang lain demi mencapai tujuan kita. Banyak orang yang mengira bahwa apapun boleh dilakukan yang penting menang. Tetapi Alkitab berbicara lain. Sebuah kemenangan bukan saja tergantung dari hasil akhir, tetapi proses dalam mencapainya justru merupakan hal yang  jauh lebih penting untuk diperhatikan.

Dalam suratnya kepada Timotius, Paulus mengingatkan agar kita menjunjung tinggi sportivitas, fair play, kejujuran dan keadilan sesuai dengan peraturan dalam berlomba. Lihatlah apa katanya. "Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga." (2 Timotius 2:5). Kalau mau juara dan mendapat mahkota, jujurlah dalam bertanding sesuai peraturan yang berlaku. Itu kira-kira katanya. Anda mungkin bukan seorang pemain bola atau olahragawan profesional, tetapi pesan ini sangatlah penting untuk kita ingat dalam meniti hidup kita, karena sebuah kehidupan seyogyanya merupakan sebuah perlombaan. Ada garis finish yang akan dicapai oleh semua orang pada suatu ketika, dan menang atau tidak bukan saja tergantung dari bagaimana kita bisa menjaga diri kita untuk tampil baik hingga mencapai garis akhir, tetapi juga bagaimana proses yang kita lakukan selama berlomba sampai ke sana. Secara tegas Paulus mengatakan bahwa sebuah mahkota juara hanyalah bisa diperoleh apabila kita bertanding sesuai dengan peraturan-peraturan. Menang dengan cara curang bukanlah kemenangan sejati. Dengan kata lain, kita hanya bisa dikatakan menang jika kita mengikuti aturan. Peraturan-peraturan dibuat ternyata bukan saja untuk membuat segala sesuatu berjalan tertib dan teratur, tetapi juga untuk membuat kita berhak menyandang predikat sebagai pemenang yang sejati.

Kalau hidup adalah sebuah perlombaan, apa yang akan kita peroleh kelak akan sangat tergantung dari bagaimana cara kita dalam menyikapi perlombaan itu. Apakah kita sudah cukup serius dalam melakukannya atau kita masih terus menyia-nyiakan kesempatan atau bahkan melakukan kecurangan serta pelanggaran akan peraturan-peraturan Tuhan yang telah Dia tetapkan sebelumnya. Penulis Ibrani mengatakan "Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita." (Ibrani 12:1) Jika anda ingin menang lomba lari, anda tentu akan berusaha membuat kaki anda seringan mungkin. Menggantungkan rentengan batu di kaki jelas akan menghambat langkah anda untuk menang. Jadi penting bagi kita untuk menanggalkan segala sesuatu yang bisa memberatkan langkah kita untuk mencapai garis akhir dengan kemenangan, dan yang tak kalah penting, hendaklah kita bertekun dalam menjalaninya. Sebuah kunci pun kemudian diberikan pada ayat berikutnya, yaitu "..dengan mata yang tertuju kepada Yesus.." (ay 2). Mengarahkan pandangan kepada Yesus, bukan kepada hal-hal lain yang merintangi kita seperti kesusahan, himpitan beban hidup dan sebagainya yang lambat laun akan membuat kita bisa bersikap menghalalkan segala sesuatu meski dengan cara yang tidak baik tanpa rasa bersalah sama sekali. Semua orang ingin menang, namun perhatikanlah setiap langkah yang kita peroleh untuk bisa mencapainya.

Paulus mencapai garis akhirnya dengan gilang gemilang. Ia bisa berkata dengan kepala yang tegak: "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.  Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya." (2 Timotius 4:7-8). Pertanyaannya, mampukah kita mengatakan hal yang sama? Ketaatan terhadap peraturan Tuhan merupakan hal yang tidak bisa kita abaikan. Yesus menang bukan lewat membumihanguskan orang-orang yang jahat, tetapi justru karena ketaatanNya terhadap kehendak Bapa. Ini bisa menjadi gambaran yang jelas bagi kita untuk memperhatikan betul bagaimana cara kita untuk mencapai keberhasilan demi keberhasilan dalam perlombaan hidup kita hingga mencapai garis akhir.

Kita bisa belajar dari para pelaku fair play di dunia olah raga. Marilah kita melakukan hal yang sama. Meski itu mungkin terlihat merugikan pada saat ini, namun suatu ketika nanti anda akan tersenyum bangga telah mengambil sebuah keputusan yang tepat. Sebuah sportivitas merupakan sikap yang menjunjung tinggi aturan dan taat kepada aturan, yang justru lebih bernilai ketimbang sebuah kemenangan itu sendiri. Ketika dunia berpikir bahwa adalah wajar untuk melakukan apapun asal bisa menang, orang-orang percaya seharusnya mampu memperhatikan proses yang dilakukan untuk mencapainya. Sebab tanpa itu semua, kita tidak akan pernah bisa memperoleh mahkota kehidupan sebagai seorang juara.

Ketaatan atas ketetapan Tuhan akan membawa kita menjadi juara sejati

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, April 13, 2014

Lari Gawang (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Lalu mari kita lihat kata-kata Paulus selanjutnya. "Karena itu larilah begitu rupa...". Berlari begitu rupa berbicara mengenai keseriusan kita untuk berlari habis-habisan untuk sebuah tujuan atau alasan kuat. Untuk itu tentu kita butuh banyak persiapan. Baik pola latihan, ketekunan, keseriusan, disiplin, pengorbanan, kegigihan dan sebagainya. Saat berlomba kita harus bisa berjuang dengan sekuat tenaga, seserius mungkin dengan fokus yang terarah baik agar kita bisa mencapai garis akhir sebagai pemenang.

Seperti halnya atlit di lintasan lari, demikian pula kehidupan iman kita. Kita harus terus melatih diri kita beribadah seperti yang diingatkan dalam 1 Timotius 4:7, terus berusaha lebih dalam dan lebih dekat dengan Tuhan. Rajin mencariNya, mampu menguasai diri kita dari berbagai godaan kedagingan yang ditawarkan seringkali dengan kemasan-kemasan yang membuat kita seringkali tertipu, lalu tekun mempelajari firman-firmanNya dan kemudian menjadi pelaku-pelaku yang mengaplikasikan secara langsung dalam kehidupan nyata. Seperti halnya dalam perlombaan lari gawang, akan ada banyak rintangan yang harus kita hadapi dalam kehidupan ini. Jadi bukan saja harus terus berlari begitu rupa, tapi kita juga harus melewati berbagai rintangan dengan sebaik-baiknya pula. Rintangan sebesar apapun bukanlah penghalang untuk menang selama kita mau sungguh-sungguh bertekun dengan benar dalam menjalaninya.

Selanjutnya, dalam menghadapi perlombaan lari, atlit akan memperoleh medali, mungkin piala atau hadiah-hadiah lainnya. Lalu dalam perlombaan yang diwajibkan bagi setiap kita, apa yang menjadi hadiahnya? Paulus melanjutkan ayat tadi seperti ini: "Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi." (ay 25). Ya, ada mahkota yang disediakan Tuhan buat kita. Bukan sebuah mahkota yang fana, melinkan sebuah mahkota yang abadi. Inilah mahkota kehidupan yang dijanjikan Tuhan kepada siapapun yang mengasihi Dia dan mampu menghadapi rintangan-rintangan hingga mencapai garis akhir dengan gemilang. Tidak saja Paulus, tapi Yakobus pun menyatakan hal yang sama. "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia." (Yakobus 1:12).

Kita sesungguhnya telah dibekali segala sesuatu untuk menjadi pemenang. Bahkan Alkitab berkata kita lebih dari pemenang. "Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita." (Roma 8:37). Karena itu selain usaha-usaha kita di atas, kita perlu pula memiliki mental seorang juara. Mari kita periksa diri kita hari ini. Seberapa beranikah kita hari ini menghadapi tantangan? Sudahkah kita memiliki keberanian seperti seekor singa dalam menghadapi tekanan, atau kita masih termasuk golongan yang mudah menyerah, sedikit saja terguncang sudah langsung hancur lebur berantakan? Itu masalah mental. Jangan lupa bahwa kita diciptakan Tuhan untuk menjadi seperti singa yang tidak mundur dalam menghadapi tantangan. Kita diciptakan bukan untuk menjadi pecundang melainkan sebagai sosok yang bahkan lebih dari orang menang. Kita sejak semula dijadikan sebagai anak-anak sulungNya, dan karenanya kita semua telah dibekali berbagai keahlian dan kelebihan untuk bisa tampil dengan sosok seperti singa. Bukan itu saja, Tuhan pun sudah mengatakan bahwa Dia akan tetap ada bersama kita yang pasti lebih dari cukup untuk membawa kita ke setiap tingkatan keberhasilan, tidak peduli sesulit apapun situasi yang kita hadapi saat ini. "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Roma 8:28). Jangan lupa bahwa ada Roh Tuhan yang berdiam di dalam diri kita (Galatia 4:6), dan semua ini seharusnya membuat kita tampil sebagai atlit-atlit yang tangguh, memiliki mental seperti singa yang gagah berani. Jika demikian, mengapa kita harus takut menghadapi apapun? Bukankah sudah dikatakan: "Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?" (Roma 8:31).

Kita harus bisa mengerti seperti apa kita telah diciptakan Tuhan dan apa makna dari pengorbanan Kristus sehingga kita bisa dilayakkan untuk memperoleh mahkota kehidupan kelak di kemudian hari. Selain itu, tujuan, sasaran atau arah yang hendak dituju harus pula jelas. Lihat bagaimana Paulus kemudian melanjutkan suratnya dengan kalimat berikut: "Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul." (1 Korintus 9:26). Tidak sembarangan, tidak asal-asalan, tidak menghamburkan Kita harus tetap fokus kepada tujuan akhir, tidak mengumbar waktu, tenaga dan pikiran kita untuk hal-hal yang sia-sia atau tidak ada gunanya. Fokus kita, tujuan dan arah yang ingin dicapai haruslah jelas. Tetap ingat bahwa ada mahkota kehidupan yang telah dipersiapkan bagi kita. Karena itu, apapun kondisi dan situasinya, tetaplah fokus dan teruslah berjuang, keep running on track the best you can and jump pass each obstacle you find along the way. Selalu ada rintangan yang harus kita hadapi dalam kehidupan ini, tetapi bersama Tuhan kita akan mampu mengatasinya. Jangan mundur di tengah jalan, jangan menyerah. Teruslah maju, jangan terus menoleh ke belakang dan raihlah apa yang dirancangkan Tuhan dalam hidup anda dan raih mahkota kehidupan yang telah Dia sediakan di depan sana. Terus menerus menoleh ke belakang, melihat berbagai kegagalan di masa lalu akan memperlambat laju kita sehingga gagal keluar sebagai pemenang. "aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Filipi 3:13-14). Ingatlah bahwa hidup ini sejatinya adalah sebuah arena perlombaan, dan kita adalah peserta di dalamnya. Karena itu berlarilah begitu rupa, dengan ketahanan, kekuatan stamina dan mental disertai latihan dan persiapan yang teratur dan baik, sehingga kita bisa keluar sebagai pemenang. Selamat berlomba!

Berlarilah begitu rupa sehingga kita mampu meraih mahkota kemenangan yang telah dijanjikan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, April 12, 2014

Lari Gawang (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Korintus 9:24
=======================
"Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!"

Seorang teman punya trauma dengan anjing karena sewaktu kecil pernah dikejar. Meski kecil, karena merasa nyawanya terancam ia pun berlari secepat mungkin, sedemikian rupa hingga ia pun tak memikirkan apa-apa lagi selain lari. Untunglah ia berhasil lepas dari anjing tersebut tanpa cedera apapun. Dalam keadaan-keadaan tertentu manusia bisa melakukan hal-hal yang melebihi kemampuan normalnya. Tapi hari ini yang ingin saya angkat adalah mengenai berlari. Bukan lari santai, bukan sprint pendek, bukan pula lari sesuka kita, tapi lari yang begitu rupa untuk bisa mencapai sesuatu yang sangat berharga di ujungnya.

Jika hidup diibaratkan dengan perlombaan lari, maka yang saya bayangkan adalah sebuah jenis lomba yang disebut lari gawang alias hurdle race. Dalam jenis ini yang penting bukan hanya mengenai kecepatan berlari tapi juga keberhasilan melompati gawang-gawang yang disediakan di sepanjang lintasan. Itu tentu tidak mudah, karena salah perkiraan sedikit saja orang bisa jatuh tersandung gawang-gawang yang cukup tinggi itu. Jumlah pelari boleh banyak, namun yang bisa menjadi juara dan merebut medali emas hanyalah seorang. Hitungan diberlakukan sampai kepada mili detik karena ada kalanya pelari masuk bersamaan yang secara kasat mata bisa terlihat seperti tepat pada saat yang sama. Meski demikian, tetap saja ada satu orang yang pasti berada paling depan dengan perbedaan waktu yang sangat tipis, dan merekalah yang keluar sebagai pemenang. Seringkali kita lupa bahwa kita pun sebenarnya tengah berlomba untuk bisa keluar menjadi pemenang pada akhir perlombaan kita. Apa yang kita hadapi dalam hidup seringkali lebih dari hanya sekedar berlari, karena ada banyak rintangan-rintangan bagai gawang yang harus kita lompati atau lewati dengan baik agar bisa keluar sebagai pemenang.

Tidak ada satupun olahragawan yang tidak ingin menjuarai perlombaan. Tapi untuk bisa sampai kesana sama sekali tidak mudah. Bakat saja tidak akan cukup. Mereka harus menjalani latihan teratur dan terjaga secararutin, menjaga pola makan dan kesehatan disamping terus meningkatkan standar kemampuan mereka. Bagi pelari gawang, kecepatan lari, lebar rentangan kaki, tolakan telapak kaki dalam berlari, ketepaan waktu melompat, bahkan kecermatan di saat start itu semua menjadi sangat penting untuk diperhatikan jika ingin berprestasi. Tidak saja olahragawan, tapi semua orang di bidang-bidang lainpun pasti ingin berprestasi. Apakah dalam jenjang karir, pendidikan dan lain-lain bahkan dalam keberhasilan membina rumah tangga, semuanya merupakan "gelanggang-gelanggang" yang harus kita jalani dengan sebaik-baiknya untuk bisa mengukir prestasi. Bakat, latihan, keseriusan dalam segala hal, kerja keras, semangat dan ketekunan sangatlah perlu agar bisa mengukir prestasi. Pengorbanan tenaga, waktu dan kesenangan-kesenangan pribadi pun menjadi harga yang harus dibayar untuk itu.

Paulus bukan seorang atlit pada masa hidupnya. Jika ingin mengetahui profesinya, Alkitab mencatat bahwa sehari-hari setelah bertobat ia bekerja sebagai pembuat kemah seperti yang tertulis dalam Kisah Para Rasul 18:2-3. Tapi lihatlah beberapa kali ia mengumpakan bentuk kehidupan orang percaya layaknya perjuangan atlit dalam mengukir prestasi dan mencapai kemenangan. To him, life is definitely like a race. Hidup adalah sebuah perlombaan yang penuh perjuangan. Layaknya perlombaan, tidak semua orang mampu untuk mencapai garis finish lalu keluar menjadi pemenang. Itu kira-kira gambaran dari apa yang sering diibaratkan Paulus mengenai kehidupan iman kita. Dalam suratnya kepada jemaat Korintus ia berkata: "Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!" (1 Korintus 9:24). "Tidak tahukah kamu", kata Paulus, itu menggambarkan sesuatu yang seharusnya kita pahami sejak semula dan kita ingat baik-baik. Kalau dunia digambarkan sebagai sebuah arena perlombaan besar, maka kita yang hidup di dalamnya haruslah menempatkan diri sebagai peserta-peserta perlombaan yang serius ingin menjadi pemenang, bukan bersantai-santai tanpa tujuan, bukan hanya membuang-buang waktu sia-sia tanpa memiliki satu tujuan akhir. Itu bentuk dari sebuah perlombaan.

(bersambung)

Friday, April 11, 2014

Belajar dari Seorang Atlit (6)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

6. Atlit yang baik bertanding dengan efektif
Coba anda lihat Mike Tyson di masa jayanya. Jika anda melihat statistiknya dalam setiap pertandingan, anda akan melihat jumlah total pukulan yang sedikit. Pukulannya yang seperti palu godam sangat ditakuti lawan sehingga mereka berusaha menjatuhkannya sejak awal dengan mengumbar pukulan. Saat tenaga mereka mulai menurun, satu pukulan telak bisa menjatuhkan mereka ke kanvas dan pertandingan pun selesai.

Ada sebuah istilah "Real power doesn't hit hard but straight to the point." Kekuatan sebenarnya bukan tergantung dari kekuatan pukulan tapi tepat sasaran. Firman Tuhan pun menyatakan hal yang mirip: "Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul" (1 Korintus 9:26). Petinju yang baik akan tahu kapan harus mempergunakan tenaga untuk memukul dan kapan harus menyimpannya. Petinju yang baik akan menyimpan tenaganya, tidak mengumbar di depan dengan memukul sembarangan agar staminanya tidak merosot sebelum waktunya. Ia harus menyimpan tenaga supaya pada saat yang tepat tenaga yang ada dalam kepalannya bisa mematikan. Pelari maraton harus menjaga tenaga agar sanggup berlari hingga mencapai garis finish. Peserta lomba lari kelas manapun harus tahu dimana garis finishnya dan tahu kapan ia harus mulai memacu kecepatan untuk menang. Tanyakan kepada atlit-atlit bela diri, maka mereka pun akan mengatakan bahwa sebuah serangan efektif adalah serangan yang 'on target' atau tepat sasaran, bukan diumbar sembarangan. Intinya: Efektiflah dalam melakukan sesuatu. Jangan buang tenaga secara sia-sia.

Melayani itu baik, tapi masihkah itu baik jika kita melakukannya berlebihan lalu itu membuat kita kehilangan momen-momen indah untuk bersekutu secara pribadi dengan Tuhan, atau membuat kita tidak lagi punya waktu khusus dengan keluarga? Demikian juga dengan orang yang melakukan pekerjaan terus menerus siang dan malam. Selain itu, kondisi tubuh yang tidak dijaga dengan cukup beristirahat dan olahraga pun bisa menimbulkan akibat-akibat yang sama-sama tidak kita inginkan. Seringkali ketika melakukan ini, orang mengorbankan prioritas-prioritas lain yang sebenarnya lebih penting seperti mengambil waktu untuk bersama Tuhan dan waktu-waktu untuk keluarga. Maka kita sering melihat keluarga yang hancur karena kepalanya tidak membagi waktu secara efektif.

Atlit yang baik akan tahu kapan menyimpan tenaga dan kapan memakainya, tanpa itu mereka tidak akan bisa keluar sebagai pemenang. Demikian pula kita dalam perlombaan menuju garis akhir kehidupan kita. Segala sesuatu yang berlebihan tidak akan efektif. Jadi kita harus pintar-pintar mengatur waktu, mengatur strategi, perencanaan maupun prioritas. Semua orang diberikan jumlah dan kecepatan waktu yang sama. Ada yang sukses, ada yang gagal, tergantung seberapa efektifnya kita dalam mengatur hidup kita. Petinju yang baik tidak mengumbar pukulan tanpa rencana dan arah, pelari yang baik tidak akan berlari tanpa tujuan. Kita bisa belajar banyak dari hal ini.

Anda mungkin bukan berprofesi sebagai seorang atlit, tapi sesungguhnya anda tetap bisa meneladani pola kehidupan atlit yang baik untuk bisa menjadi pemenang dalam perlombaan hidup. Life is like a race, we are in the middle of it. Everybody race but there will be only one winner. Semua orang turut berlomba, tapi tidak semua bisa keluar menjadi pemenang. Oleh karena itu Paulus berkata, "larilah begitu rupa sehingga kamu memperolehnya!" (1 Korintus 9:24b) Sebelum saya menutup renungan yang panjang lewat meneladani sikap atlit yang baik, mari kita lihat bagaimana ayat ini ditulis dalam versi The Message (MSG): "You've all been to the stadium and seen the athletes race. Everyone runs; one wins. Run to win. All good athletes train hard. They do it for a gold medal that tarnishes and fades. You're after one that's gold eternally. " (ay 24-25). Since we are all running inside the race, let's act like one true athlete. Jadilah atlit yang baik. Berjuanglah dengan efektif, lewat latihan sungguh-sungguh, pintar-pintarlah menguasai diri, fokuslah pada tujuan, jangan sombong, tumbuhkan mental juara dan jadilah pemenang. Selamat berjuang!

We are after one crown of eternal blessedness, so run to win!

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, April 10, 2014

Belajar dari Seorang Atlit (5)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

5. Atlit yang baik punya mental pejuang
Betapa seringnya kita melihat kegagalan orang bukan karena kurang ahli, kurang pintar, kurang bakat, kurang usaha atau kurang latihan/belajar tetapi justru karena mentalnya lemah. Sang atlit melanjutkan bahwa memiliki mental pejuang, mental pemenang atau mental juara merupakan hal yang sangat menentukan keberhasilan. Betapa seringnya kita menyaksikan para atlit atau tim yang sebenarnya punya skill tinggi dan mampu bermain baik, tetapi mereka gagal karena tidak punya mental juara. Karena itu kita pun harus terus membangun mental seperti seorang juara sedini mungkin.

Bagaimana caranya? Ada ayat yang sangat baik untuk kita renungkan agar mental juara ini bisa tumbuh dalam diri kita. Sebuah ayat yang menggambarkan seperti apa hakekat kita yang sebenarnya. "Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita." (Roma 8:37). Demikianlah kata firman Tuhan. Bukan hanya pemenang, tapi justru lebih dari pemenang. Itu rencanaNya bagi kita. Kita harus tahu dengan benar seperti apa kita telah diciptakan Tuhan dan apa makna dari pengorbanan Kristus sehingga kita bisa dilayakkan untuk memperoleh mahkota kehidupan abadi kelak di kemudian hari.

Amsal 23:7 mengatakan: "Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia." Dalam versi King James dikatakan: "For as he thinketh in his heart, so is he." atau dalam bahasa sederhana diartikan sebagai "we are what we think.". Seperti apa kita hidup tergantung dari siapa kita dalam pikiran kita. Mental pejuang akan membuat kita tampil bak prajurit gagah berani, mental juara akan membuat kita bertanding untuk menang, sebaliknya mental pecundang akan membuat kita berakhir gagal, tepat seperti penilaian rendah kita terhadap diri sendiri.

Sesungguhnya apa yang diberikan Tuhan sudah lebih dari cukup untuk kita olah dan pakai hingga mencapai sebuah kesuksesan besar. Kita harus mulai mengubah pola pikir kita terhadap diri sendiri sejak awal. Mulailah berpikir sebagai pemenang atau juara, karena itulah yang diinginkan Tuhan sejak awal bagi kita semua. Bukan ekor tetapi kepala, tidak turun melainkan terus naik. (Ulangan 28:13). Semua itu tidak akan bisa terlaksana tanpa dimulai dari pembenahan pola pikir kita, sehingga mental kita pun bisa terbentuk sebagai pejuang, pemenang dan bukan pecundang.  So, let us all start to think like a champion, and have the champion's mentality. 


(bersambung)

Wednesday, April 9, 2014

Belajar dari Seorang Atlit (4)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
sambungan)

4. Atlit yang baik tidak sombong
Kesombongan seringkali dipandang sepele, padahal sikap ini sering menjadi titik awal kehancuran seseorang. Ketika seseorang berjuang dan mencapai sukses, disana ada bahaya kesombongan yang mengintip dan siap menenggelamkannya. Membangunnya bisa puluhan tahun, tapi kesombongan bisa menghancurkan semuanya dalam sekejap mata.

Tuhan sangat membenci kesombongan. Lihatlah ayat yang keras ini: "Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi TUHAN; sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman." (Amsal 16:5). Firman Tuhan lainnya mengingatkan bahwa kesombongan akan berakibat pada kehancuran (Amsal 16:18), kesombongan adalah sesuatu yang ditentang Tuhan (Yakobus 4:6), dan merupakan kekejian bagi Allah sehingga tidak akan luput dari hukuman seperti yang tertulis dalam Amsal pasal 16 ayat 5 diatas. Kesombongan bukanlah produk dari kasih yang merupakan dasar kekristenan (1 Korintus 13:4-5).

Kita bisa melihat salah satu contoh kesombongan dalam Alkitab melalui sifat jemaat Korintus di masa Paulus. Tampaknya jemaat disana saat itu merupakan jemaat yang sombong. Ada banyak ayat yang mengindikasikan hal ini seperti yang bisa kita lihat dalam 1 Korintus 4:6, 18,19, 5:2, 8:1, 13:4 dan sebagainya. Paulus pun merasa perlu untuk menegur mereka. "Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: "Jangan melampaui yang ada tertulis", supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain." (1 Korintus 4:6). Mereka lupa jati diri mereka dan tenggelam dalam kesombongan. Mereka merasa tidak lagi memerlukan apa-apa, termasuk tidak lagi membutuhkan hamba Tuhan dalam hidup mereka. Bukankah ini masih terjadi sampai hari ini? Paulus melanjutkan: "Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?" (ay 7) Dalam versi BIS disebutkan dengan lebih sederhana: "Siapakah yang menjadikan Saudara lebih dari orang lain? Bukankah segala sesuatu Saudara terima dari Allah? Jadi, mengapa mau menyombongkan diri, seolah-olah apa yang ada pada Saudara itu bukan sesuatu yang diberi?" Perilaku mereka seolah-olah mereka tidak lagi memerlukan apa-apa, "as if you are already filled and think you have enough (you are full and content, feeling no need of anything more)!" Itu dalam versi bahasa Inggris amplifiednya.

Mereka lupa bahwa semua itu berasal dari Tuhan. Padahal kalau kita sadar akan hal itu, tidak boleh ada orang yang menyombongkan dirinya. Untuk itu Paulus pun mengingatkan dengan tegas bahwa keselamatan itu adalah pemberian Tuhan, (1:18, 15:10). Tuhan pula yang memilih (1:27-28), mengaruniakan RohNya sendiri untuk menyingkapkan rahasia-rahasia Ilahi (2:10-12), serta memberikan berbagai anugerah atas kasih karuniaNya (1:4-5). Semua berasal dari Tuhan, dan kerenanya tidak seorangpun layak menyombongkan diri. Semua yang ada pada kita hari ini sesungguhnya berasal dari Tuhan. (Ulangan 8:14-18), semua itu dari Tuhan, oleh Tuhan dan untuk Tuhan. (Roma 11:36).

Ketika anda tengah menikmati kesuksesan atau keberhasilan, perhatikan baik-baik sikap hidup anda. Jika ada tanda-tanda atau potensi kesombongan yang mulai muncul, hancurkan segera sebelum ia menghancurkan anda. Kesombongan bisa anda hindari jika anda mendasarkan hidup anda kepada Tuhan. Menyadari bahwa semua berasal dari Tuhan, oleh Tuhan dan dilakukan untuk Tuhan atau demi kemuliaanNya. Kesombongan akan menghalangi anda untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Anda bukannya memperluas Kerajaan tetapi malah menjadi batu sandungan. Semakin tinggi kita naik, semakin kencang anginnya. Karena itu berhati-hatilah ketika kesuksesan mulai datang. Ingatlah bahwa itu bukan karena kuat dan hebat kita tetapi karena Tuhan. Kembalikan apa yang menjadi hakNya, bersyukurlah dan pakailah itu untuk memberkati orang lain. Tuhan sudah berkata "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (Yakobus 4:6b).

(bersambung)

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker