Friday, November 17, 2017

Dua Ibu Janda dan Kemurahan Hati (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kenapa kita harus memiliki sikap kemurahan ini? Firman Tuhan mengatakan alasannya, yaitu karena Allah yang kita sembah adalah Bapa yang murah hati. Hal ini ditegaskan Yesus sendiri. "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Lukas 6:36). Murah hati merupakan bagian dari kasih (1 Korintus 13:4). Sementara kita tahu bahwa kasih jelas merupakan sesuatu yang mutlak untuk dimiliki oleh orang-orang percaya. Oleh karena itu kita harus malu apabila kita mengaku anak Tuhan tetapi tidak memiliki kasih, dimana salah satu bentuknya adalah keengganan atau beratnya dalam bermurah hati terhadap sesama.

Itu tepat seperti apa yang dikatakan Yohanes, "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih" (1 Yohanes 4:8). God is love. Mengaku mengenal Allah artinya kita mengenal kasih. Dan bagaimana kita berani mengaku mengerti akan artinya kasih apabila kita masih enggan untuk memberi kepada mereka yang hidup berkekurangan, apalagi kalau kita berhitung untung rugi untuk melakukannya?

Tuhan adalah kasih, Tuhan murah hati. Lihatlah bagaimana Tuhan selalu memberi segala sesuatu yang terbaik bagi kita, bahkan anakNya yang tunggal pun Dia relakan untuk menebus kita semua dari kebinasaan menuju keselamatan yang kekal. Lihatlah bagaimana sikap hati Allah sendiri sebagai  Sang Pemberi. Hal seperti inilah yang harus mewarnai sikap hati kita sebagai orang percaya.

Dua janda yang kita lihat hari ini hendaknya mampu memberikan keteladanan nyata dalam hal memberi dengan didasari kemurahan hati. Adakah yang harus ditunggu agar mampu memberi? Tunggu kaya dulu? Tunggu berlebih dulu? Tunggu sampai semua kebutuhan yang tidak pernah ada habisnya itu tercukupi? Tunggu tergerak? Tunggu ada kebutuhan atau permintaan? Tunggu momentum yang bisa menguntungkan? Seharusnya tidak. Kita tetap bisa memberi dalam kekurangan dan keterbatasan kita, kita bisa melakukannya dengan penuh sukacita apabila sikap kemurahan tumbuh subur dalam hati kita.

Kita tidak perlu berpikir terlalu jauh untuk memberi puluhan juta kepada orang lain yang kelaparan, tapi sudahkah kita melakukan sesuatu bagi orang disekitar kita meski nilainya sedikit? Atau sudahkah kita memberikan waktu, perhatian, kasih sayang kepada orang-orang yang dekat dengan kita? Sudahkah kita berada dengan mereka di saat mereka butuh kehadiran kita? Sudahkah kita memberi senyum kepada orang yang sudah lama tidak merasakan indahnya sebuah senyuman? Sudahkah kita memberi kelegaan kepada mereka yang tengah sesak menghadapi tekanan hidup? Itupun termasuk dalam kategori memberi.

Apakah saat tahu ada yang butuh pertolongan, kita ada disana atau malah bersembunyi dan menjauh? Apakah kita masih sibuk berdalih atau sudah tergerak dan bergerak melakukan kemurahan hati dengan tindakan nyata? Jangan tunggu lagi, mulailah sekarang juga.

Memberi seharusnya merupakan sikap hati orang percaya karena Allah yang kita sembah juga murah hati

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, November 16, 2017

Dua Ibu Janda dan Kemurahan Hati (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Itu jelas sebuah potret kehidupan serba kekurangan yang berat yang harus dipikul oleh sang ibu janda di Sarfat ini. Ia cuma punya segenggam tepung dan sedikit minyak serta dua tiga potong kayu api. Itupun masih harus dibagi dua dengan anaknya. Untuk bisa makan ia harus membuat roti dulu. Satu orang saja mungkin tidak kenyang, ia masih harus berbagi dengan anaknya. Dan kini, Elia datang meminta roti. Artinya, jika ia berikan, ia dan anaknya harus rela tidak makan.

Apa yang akan anda lakukan pada saat seperti itu? Si ibu janda jelas sama sekali tidak dalam kapasitas untuk memberi apapun. Ia justru butuh diberi agar bisa tetap hidup. Tetapi kemudian kita melihat bagaimana persediaan terakhirnya yang sangat sedikit itu rela ia berikan kepada Elia. Ia membuat roti untuk Elia dan merelakan Elia menghabiskannya. Keputusannya ternyata sangat dihargai Tuhan. Tidak saja ia diberkati dengan persediaan makanan yang cukup untuk berhari-hari lamanya, tidak habis-habis (ay 15-16), tapi anaknya pun dibangkitkan kembali dari kematian. (ay 22). Jika ibu ini seharusnya ada pada posisi yang ditolong tetapi masih menunjukkan kemurahan hati, memberikan bukan dari kelebihan tapi justru dari kekurangannya, dan karena itu ia kemudian menerima berkat dan mukjizat besar dari Tuhan, kita tentu seharusnya bisa belajar dari ibu luar biasa ini.

Sekarang mari kita lihat ibu janda lainnya yang hidup pada masa jauh sesudahnya. Ibu janda yang satu ini berada di Bait Allah, dimana perbuatannya ternyata menarik perhatian Yesus.

Tidak seperti orang-orang kaya yang mungkin memasukkan amplop tebal, janda miskin ini hanya sanggup memasukkan dua peser saja ke dalam peti. Apalah arti dua peser dibanding segepok uang dalam jumlah besar? Tetapi ternyata jumlah kecil itu mendapat reaksi sangat positif dari Yesus. Yesus berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu." (Lukas 21:3). Mengapa bisa demikian? "Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya." (ay 4).

Peser merupakan mata uang terkecil bangsa Yahudi pada masa itu. Kalau dikonversi ke rupiah pada jaman sekarang, 1 peser itu sekitar 200 rupiah. Jadi dua peser tentu nilainya sangat kecil, bahkan bayar uang parkir saja sudah tidak cukup. Kisah ini bukan mengajarkan kita untuk memberi dalam jumlah kecil tapi untuk memberi yang terbaik dari apa yang ada pada kita. Itu bentuk kemurahan hati sejati yang tidak tergantung dari berapa yang kita punya dan bukan didasari motivasi untuk mendapat lebih, tapi karena kemurahan hati dan kerinduan untuk bisa memberi yang terbaik kepada Tuhan. Janda di bait Allah pada masa Yesus turun ke dunia ini rela memberi dalam kekurangannya. Bahkan semua uang yang ia miliki ia berikan dengan sukarela. Dari kisah ini kembali kita melihat bahwa kemurahan hati tidaklah tergantung dari kaya tidaknya kita, tetapi lebih kepada sikap hati.

Dua janda dalam dua masa yang berbeda, sama-sama miskin, sama-sama menderita, sama-sama berkekurangan, tetapi keduanya sama-sama memiliki kemurahan hati yang luar biasa.Namanya kemurahan hati, itu berarti kemurahan jelas merupakan produk dari hati. Karena merupakan sebuah sikap hati maka itu tidak tergantung dari berapa jumlah harta yang kita miliki atau kondisi yang kita alami saat ini. Ketika kemurahan mewarnai sikap hati kita, kita akan rela memberi dengan sukacita tanpa peduli apapun keadaan kita atau berapapun yang kita punya. Kita hanya berpikir untuk memberi karena kita bersyukur dan mengasihi Tuhan, bukan karena mengharap sesuatu keuntungan sebagai imbalannya.

Ada banyak orang bahkan gereja yang salah kaprah menganggap bahwa kita memberi supaya mendapat lagi lebih banyak. Semakin banyak yang kita beri, semakin besar kelipatannya. Sebuah persembahan seharusnya bukanlah dipakai sebagai ajang mencari pamor atau popularitas baik di mata manusia apalagi di mata Tuhan. Alangkah menyedihkan jika ada banyak orang yang berusaha menyumbang besar agar punya 'gigi' di gereja, ingin dapat lebih banyak dan lain-lain. Di sisi lain, juga menyedihkan kalau ada banyak orang juga yang berpikir bahwa mereka belum harus memberi atau menolong sesama karena masih merasa kekurangan. Kedua ibu janda membuka mata kita tentang kemurahan hati yang terbukti tidak tergantung dari harta kepemilikan dan kondisi seseorang melainkan tergantung dari sikap hatinya.

(bersambung)


Wednesday, November 15, 2017

Dua Ibu Janda dan Kemurahan Hati (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 6:36
==================
"Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."

Ketika berkunjung ke rumah seorang teman, anaknya bercerita bahwa ia tadi pagi berdoa setelah bangun pagi. Saat saya tanya apa yang ia doakan, dengan polos ia berkata bahwa yang ia berdoa agar jadi orang kaya saat dewasa. Kenapa minta kaya? "Supaya bisa memberi kepada yang susah om." katanya sambil tersenyum. Jawabannya membuat saya senyum. Senang sekali rasanya melihat ada anak kecil yang sudah bisa berpikir untuk membantu sesama, tidak terpusat pada diri sendiri. Jawaban umum buat anak-anak biasanya tidaklah sedalam itu. Mereka biasanya berpikir agar bisa membeli mainan, gadget atau apa yang mereka sukai. Jadi jawaban anak yang satu ini buat saya hebat. Tapi di sisi lain, jawabannya membuat saya berpikir. Apakah kita memang harus kaya terlebih dahulu baru bisa memberi atau membantu orang yang susah? Apakah kita harus menunggu sukses dulu baru bisa melakukan sesuatu bagi orang lain? Apakah kita hanya memberi sisa setelah kita sudah memenuhi semua keperluan dan keinginan kita? Apakah murah hati cuma milik orang yang sudah lebih dari cukup?

Pertanyaan ini bagi saya sangat menarik, karena sepertinya kita tahu apa jawabannya tapi seringkali lupa menerapkannya dalam kehidupan kita. Ada banyak orang yang menganggap dirinya belum sanggup untuk memberi karena untuk diri sendiri saja belum cukup. Seperti pemikiran anak kecil di atas, mereka berpikir nanti kalau saya sudah kaya, kalau uang sudah berlebih-lebih, kalau sudah tidak tahu mau dibelanjakan kemana lagi barulah memberi, baru waktunya bermurah hati. Masalahnya, manusia cenderung merasa tidak pernah cukup dan tidak pernah puas. Kebutuhan akan tetap ada tanpa pernah ada cukupnya. Hari ini butuh ini, besok butuh itu. Perkembangan dunia dan teknologi membuat kebutuhan kita pun berkembang. Kalau murah hati didasarkan pada kecukupan mengenai kebutuhan, orang tidak akan kunjung tergerak untuk menolong orang lain.

Di sisi lain ada pula orang yang rajin memberi tetapi atas alasan keliru. Mereka ini rajin memberi karena mengharapkan sebuah balasan, dengan maksud-maksud atau agenda tertentu alias pamrih. Bisa karena mengharapkan pertolongan atau sesuatu dari Tuhan, bisa karena mengharapkan imbalan dari orang lain. Atau, mau promosi / pamer diri dan sebagainya. Tidak jarang kita melihat selebritis kita memanggil/menyewa wartawan saat mereka memberi sedekah atau melakukan amal. Tanpa malu-malu mereka bercerita tentang kehebatannya bahkan menyebutkan jumlah uang yang mereka gelontorkan. Mereka ingin populer di mata penonton, ingin terlihat sangat dermawan dan bisa makin tenar. Semua ini jelas bukan hal memberi yang didasari oleh kemurahan hati.

Memberi seharusnya didasari oleh kemurahan hati. Alkitab banyak sekali menjelaskan akan hal ini baik lewat Firman maupun contoh dari berbagai tokoh/kisah. Mari kita lihat contoh dari dua orang janda pada dua kesempatan/jaman yang berbeda.

Pertama, janda miskin di Sarfat dalam Perjanjian Lama di jaman Elia. Janda miskin ini adalah orang yang tetap memberi Elia makan dalam kekurangannya seperti yang ditulis dalam 1 Raja Raja 17:7-24.

Pada suatu hari Elia tiba di Sarfat yang tengah mengalami kemarau panjang. Disana Elia bertemu dengan seorang janda miskin. Ketika Elia meminta roti kepada sang janda, "perempuan itu menjawab: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati." (1 Raja Raja 17:12).

(bersambung)


Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker