Monday, September 1, 2014

Melakukan Kehendak Tuhan pada Zamannya

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 13:36
==============================
"Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya, lalu ia mangkat dan dibaringkan di samping nenek moyangnya, dan ia memang diserahkan kepada kebinasaan."

Perkembangan musik berjalan seiring perjalanan dunia. Dari satu masa ke masa lainnya akan selalu ada jagonya sendiri, dalam artian mereka yang mencapai popularitas pada jamannya masing-masing. Sebagian berhasil merubah tren, ada yang kemudian dikenang sepanjang masa, disebut artis legendaris tapi sebagian lainnya terlupakan, hilang ditelan waktu. Ada beberapa orang yang beruntung masih aktif pada usia yang sudah sangat lanjut di atas 80 tahun, bahkan hari ini pun masih ada musisi-musisi yang terus aktif menjalani karir di masa senjanya. Mereka sudah melalui masa-masa keemasan, lalu bertahan dan terus berkarya menuruti panggilan hidupnya. Tapi sepanjang-panjangnya karir dan usia mereka, pada suatu ketika nanti mereka pun akan mangkat, lalu digantikan oleh generasi selanjutnya. Seorang musisi legendaris asal Amerika Serikat yang usianya sudah menjelang 80 tahun pernah memberi pesan yang sangat baik pada saya untuk tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan selagi masih ada. "Pergunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya, lakukan apa yang bisa dilakukan, raih mimpi-mimpi anda sebelum terlambat." Seperti itulah kurang lebih pesannya. Ia termasuk seorang musisi beruntung yang sudah berkarir lebih dari setengah abad, sudah melewati rentang sejarah musik dan beberapa kali menjadi pioneer/pelopor atau bagian penting dari sebuah perubahan gaya musik. Di usia lanjutnya ia bersyukur tidak membuang-buang kesempatan di masa mudanya sehingga ia tidak perlu menyesali apa-apa dan bisa menyampaikan nasihat sesuai dengan apa yang sudah ia alami dan buktikan sendiri. Pesan yang ia sampaikan akan selalu saya ingat baik-baik. Saya mau terus melakukan yang terbaik, karena saya sadar waktu untuk itu tidak akan berlaku selamanya.

Pujangga besar Indonesia Chairil Anwar pernah menulis "aku ingin hidup 1000 tahun lagi." Mungkin banyak di antara kita yang ingin bisa hidup selama itu, ada pula orang-orang yang sudah bosan dan justru ingin dipanggil segera. Berapa lama panjang umur manusia? Semakin lama hidup semakin tidak sehat, baik dari makanan, polusi, stres dan sebagainya, sehingga tampaknya rentang umur manusia hari ini menjadi semakin singkat. Ada batas waktu bagi kita untuk menjalani fase kehidupan di dunia ini. Dalam doanya Musa berkata "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap." (Mazmur 90:10). Tujuh puluh tahun, dan kalau kuat delapan puluh tahun. Ada orang yang beruntung bisa melewati jangka waktu itu, mencapai 90, 100 bahkan lebih, tapi itupun pasti akan berakhir pada suatu ketika. Di masa lalu saat manusia masih panjang-panjang umurnya, Alkitab mencatat beberapa orang yang berusia nyaris 1000 tahun. Adam mencapai 930 tahun (Kejadian 5:5), Set mencapai 912 tahun (ay 8), Enos mencapai 905 tahun (ay 11), Kenan mencapai 910 tahun (ay 14), Yared mencapai 962 tahun (ay 17) Nuh mencapai 950 tahun (9:29), dan yang terpanjang Metusalah, mencapai 969 tahun. (5:27). Begitu panjang umur mereka. Tapi untuk semua ayat di atas, ada hal yang menarik. Jika anda baca, anda akan selalu menemukan akhir kalimat yang sama: lihatlah kalimatnya selalu diakhiri dengan kata-kata yang sama: "lalu ia mati." Alkitab ternyata sudah mengingatkan bahwa sepanjang apapun umur manusia, pada suatu ketika tetap akan berakhir. Tidak ada manusia yang hidup selamanya. Perjalanan hidup kita di dunia punya ujung, punya batas, punya akhir. Pada suatu ketika kita akan dipanggil Tuhan, dan dengan demikian berakhirlah perjalanan hidup di dunia ini.

Mengingat bahwa waktunya terbatas, selama kita masih memiliki kesempatan, seharusnya kita tidak membuang-buang waktu dan kesempatan untuk melakukan segala sesuatu yang sesuai dengan kehendak Allah dalam hidup kita masing-masing. Ada orang yang malas bekerja dan selalu menunda dari satu besok ke besok yang lain, ada orang yang selalu menolak untuk melayani Tuhan karena menganggap mereka belum siap. Kapan siapnya? Itupun mereka tidak tahu. Mengingat umur kita yang punya batas, yang kita sendiri tidak tahu kapan kita mencapai akhir itu, bagaimana jika kita belum melakukan apapun sudah keburu dipanggil untuk mempertanggungjawabkan hidup kita di depan Tuhan? Atau, bagaimana jika ketika kita sadar dan mau melakukan kehendak Tuhan, tapi tenaga kita sudah tidak lagi memungkinkan?

Untuk contoh lain kita bisa melihat catatan manis dalam Alkitab mengenai Daud. Lihatlah catatan manis tentang Daud yang saya ambil sebagai ayat bacaan hari ini. "Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya, lalu ia mangkat dan dibaringkan di samping nenek moyangnya, dan ia memang diserahkan kepada kebinasaan." (Kisah Para Rasul 13:36). Kisah hidup Daud sangatlah luar biasa. Sejak masa kecilnya ia sudah menjalani sebuah kehidupan yang mengandalkan Tuhan. Ia mengatasi hewan-hewan buas yang hendak memangsa ternak yang ia gembalakan, ia menghadapi raksasa Goliat dan sukses, semuanya karena ia mengandalkan Tuhan. Ia menunjukkan hati yang mengampuni, menunjukkan sikap hebat ketika dalam tekanan dan ancaman, ia pun pernah terjatuh dalam dosa tapi kemudian bertobat dan kembali lagi ke jalan yang benar. Pengalaman hidupnya sangat berwarna, penuh suka dan duka, dan sangat banyak dipenuhi bukti kuasa Tuhan yang tidak terbatas. Tapi sehebat apapun seorang raja Israel bernama Daud pada akhirnya ia pun mangkat. Meski demikian kita bisa belajar dari kisah hidupnya sampai hari ini. Alkitab mencatat Daud sebagai orang yang telah melakukan kehendak Allah pada jamannya. Artinya pada masa dimana ia hidup dan punya kesempatan, ia berhasil memanfaatkan waktu-waktunya untuk melakukan kehendak Allah sehingga kualitas hidupnya mendapat pengakuan tinggi seperti itu.

Kalau kita baca dalam Pengkotbah pasal 3, kita akan menemukan firman Tuhan yang menerangkan panjang lebar bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya. "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya." (Pengkotbah 3:1). Rangkaian ayat selanjutnya menggambarkan beberapa contoh yang seharusnya bisa kita sadar akan pentingnya memanfaatkan waktu sesuai masanya. Jangan lagi membuang-buang waktu, berhenti bermalas-malasan, berhenti mencari alasan untuk tidak melakukan apapun, berhenti merasa tidak mampu dan sebagainya, tapi mulailah melakukan sesuatu sekarang juga, selagi kesempatan masih ada. Kita semua ada di dunia ini, di tempat kita masing-masing bukanlah sebuah kebetulan. Kita ini semuanya ada karena Tuhan punya rencana yang jelas buat kita. Karena itu kita harus menemukan apa panggilan kita, apa tugas yang digariskan Tuhan kepada kita, apa yang harus kita lakukan selama kesempatan itu masih ada.

Perhatikanlah firman Tuhan berikut: "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu." (Yohanes 15:16). Bukan kita yang memilih, tapi Tuhanlah yang memilih kita. Karena itu jika Tuhan memilih kita saat ini, di waktu atau jaman kita berada, itu adalah suatu kehormatan, dan bukan keterpaksaan atau sesuatu yang boleh kita lakukan setengah hati. Dan jika itu kehormatan, maka tidaklah tepat jika kita terus menunda-nundanya. Kita dipilih Tuhan, ditempatkan pada suatu masa tertentu, pada suatu tempat tertentu, dengan rencana tertentu. Hendaklah kita menuruti panggilannya dan menghasilkan buah-buah yang manis, selagi kesempatan itu masih ada. Daud dicatat telah melakukan kehendak Allah di jamannya. Akankah kita juga dicatat Tuhan seperti itu juga? Jangan sia-siakan waktu, karena kesempatan itu tidak akan tersedia selamanya. Pandanglah sekeliling anda, ada banyak hal yang bisa anda lakukan untuk memuliakan Tuhan. Tuhan Yesus berkata "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja." (Yohanes 9:4). Secara lebih spesifik, temui apa yang menjadi rencana Tuhan bagi anda, seperti apa anda bisa dipakai Tuhan, dan jalanilah itu. Apa yang Tuhan minta dari kita bukanlah kehebatan atau kepintaran atau kekayaan kita, tapi kemauan kita. Mau atau tidak, itu yang menjadi masalah, bukan bisa atau tidak. Adalah sebuah kehormatan untuk bisa melakukan kehendak Allah, karenanya berbuahlah dengan subur sehingga kita pun akan dinilai sebagai orang-orang yang melakukan kehendak Allah pada zamannya.

"Berkatalah aku dalam hati: "Allah akan mengadili baik orang yang benar maupun yang tidak adil, karena untuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya." (Pengkotbah 3:17)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, August 31, 2014

Melihat Sisi Lain Dibalik Penderitaan

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 16:10
==========================
"Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana."

Sudah berusaha hidup benar tapi kenapa kondisi kehidupan masih belum juga membaik? Mungkin anda pernah mendengar komentar seperti ini dari orang yang anda kenal, atau mungkin anda sendiri pernah mengalami perasaan seperti itu. Ada pula yang mungkin seperti pengalaman saya pribadi justru harus mengalami pembentukan yang sama sekali tidak enak bahkan menyakitkan di awal-awal masa pertobatan. Banyak orang kecewa ketika mereka masih tertimpa masalah padahal mereka sedang berjalan mengikuti kehendak Tuhan. Sebagian dengan cepat meragukan kebaikan Tuhan bahkan menuduh Tuhan berlaku jahat, sebagian lain menganggap ikut Tuhan bagai memilih produk di etalase dan dengan mudah berpindah kepada alternatif lain, hanya sedikit yang menyadari bahwa itu adalah bagian dari proses yang harus dijalani untuk menjadi lebih baik atau juga merupakan bagian dari rencana Tuhan untuk sesuatu yang indah di depan sana. Tidak ada seorang pun dari kita ingin mengalami penderitaan dalam hidup, tetapi ada kalanya memang kita harus mengalaminya, meski bukan karena melanggar ketetapan Tuhan. Ada banyak alasan mengapa Tuhan kadangkala mengijinkan anak-anakNya yang taat sekalipun untuk merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Melatih kita agar lebih kuat, membuat kita lebih dewasa dan bijaksana, menyadarkan kita agar tidak bergantung kepada kekuatan diri sendiri dan mengalami sendiri penyempurnaan kuasa Tuhan, itu adalah beberapa hal yang bisa kita peroleh justru ketika penderitaan hadir dalam hidup kita. Atau bisa juga untuk tujuan-tujuan yang lebih besar seperti menjadi bagian dari kesaksian yang kelak bisa mendatangkan pertobatan bagi orang lain. Ada sisi-sisi lain dari sebuah penderitaan yang mungkin luput dari perhatian kita.

Ada sebuah kisah menarik dalam pengalaman hidup Paulus. Suatu kali Paulus mendapat sebuah penglihatan pada suatu malam. Dalam penglihatan itu ia melihat ada seorang Makedonia berdiri dan berseru kepadanya: "Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!" (Kisah Para Rasul 16:9). Paulus percaya bahwa apa yang dilihatnya merupakan sebuah panggilan untuk mewartakan kabar keselamatan ke wilayah itu. "Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana." (ay 10). Maka Paulus dan Silas berangkat menuju ke Makedonia.

Meski Paulus merespon panggilan tugas lewat penglihatannya, yang terjadi disana ternyata tidaklah serta merta lancar tanpa masalah. Justru sebaliknya, bukannya disambut dengan kegembiraan dan mendapat pelayanan bak hamba Tuhan terkenal dengan segala fasilitas istimewa, mereka malah mendapat diperlakukan buruk bahkan tidak manusiawi. "Lalu pembesar-pembesar kota itu menyuruh mengoyakkan pakaian dari tubuh mereka dan mendera mereka. Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh." (ay 22-23). Paulus dan Silas kemudian dipasung dan ditempatkan di bagian penjara yang paling dalam. (ay 24). Kita mungkin berpikir, bagaimana mungkin Tuhan setega itu, membiarkan hamba-hambaNya untuk mengalami penderitaan justru di saat mereka melakukan pekerjaan Tuhan? Tetapi Paulus dan Silas tidak berpikir seperti itu. Mereka tidak kecewa, tidak merasa tawar atau pahit terhadap Tuhan. Anda bisa bayangkan kondisi mereka yang dipasung di penjara paling dalam setelah terlebih dahulu disiksa. Aoa yang dilakukan Paulus dan Silas? Mereka malah menyanyikan puji-pujian sambil berdoa kepada Tuhan dengan lantang (ay 25). Yang terjadi selanjutnya adalah turunnya mukjizat Tuhan yang melepaskan mereka dari pasungan dan penjara. Tidak saja kebebasan kemudian diperoleh lewat cara yang ajaib, namun kita melihat pula pertobatan kepala penjara beserta seluruh keluarganya setelah melihat sebuah kesaksian luar biasa dari kedua hamba Tuhan ini. (ay 34).

Dari kisah ini kita bisa melihat bahwa mengikuti Kristus dan patuh kepada panggilan surgawi tidaklah serta merta menjadikan kita seratus persen terbebas dari masalah atau penderitaan. Tetapi lihatlah bahwa biar bagaimanapun ada rencana Tuhan yang indah dibalik itu semua yang akan tergenapi. Masalah mungkin ada, tapi itu adalah bagian dari sebuah "master plan" yang menjanjikan sebuah keindahan penuh sukacita di kemudian hari. Paulus dan Silas belum mengetahui apa rencana Tuhan lewat penderitaan yang mereka alami saat merespon perintah Tuhan. Tapi mereka sama sekali tidak protes. Mereka tidak mempertanyakan keputusan Tuhan, menuduh Tuhan jahat dengan membiarkan mereka seperti itu saat menuruti panggilanNya. Paulus dan Silas tetap percaya dan taat, tetap kuat untuk menjalani panggilan mereka dengan penuh semangat meski untuk itu mereka harus melewati aniaya. Itu sejalan dengan apa yang pernah dikatakan Yesus. "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Markus 8:34). Di lain waktu Paulus pun mengingatkan hal yang sama.  "kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia." (Filipi 1:29). Menderita disebut Paulus sebagai sebuah karunia. Mengapa? Karena ada banyak rencana Tuhan dibalik itu semua yang akan sangat bermanfaat bagi pertumbuhan rohani kita menuju kemenangan.

Tuhan telah merancangkan rencana yang indah bagi kita, penuh damai sejahtera untuk memberikan hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11) Percayalah bahwa janji ini akan terus berlaku meski pada saat ini kita mungkin tengah bergumul dengan masalah. Kuasa dan janji Tuhan tidak pernah terhenti pada permasalahan. Justru dengan tegas firman Tuhan berkata: "..justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna."  (2 Korintus 12:9). Dalam keadaan ditimpa masalah, dalam sebuah penderitaan kita sebenarnya punya kesempatan untuk melihat kuasa Tuhan disempurnakan, menyaksikan dan mengalami sendiri hal-hal yang ajaib yang akan mampu membuat kita sadar betapa tak terbatasnya kuasa Tuhan dan kebaikanNya.

Apa yang dialami Paulus dan Silas bisa menjadi sebuah pelajaran bagi kita akan sebuah keteguhan iman dalam menggenapi rencana Tuhan. Apapun yang terjadi, jika anda sudah benar-benar mengikuti kehendak Tuhan, bersabarlah, tetap percaya dengan iman dan jangan putus asa. Semua penderitaan yang mungkin sedang anda hadapi saat ini hanyalah bagian dari "master plan" Tuhan yang punya tujuan indah. Sekarang mungkin terasa menyakitkan, tetapi percayalah, kelak anda akan bersyukur pernah mengalaminya.

Masalah hanyalah bagian dari rencana indah Tuhan dan merupakan kesempatan untuk melihat betapa luar biasanya ketika rencana Tuhan disempurnakan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, August 30, 2014

Lebih Baik Bersedih dan Berada di Rumah Duka? (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kemarin kita membahas sebuah ayat kontroversial dalam Pengkotbah 7:3 "Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega." Kalau kita lanjutkan pada ayat selanjutnya, kita akan mendapati ayat yang sama kontroversial dan terasa aneh. Ayatnya berbunyi: "Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria." (ay 4). Kalau kita mau jujur, dimana kita lebih senang berada, di rumah duka atau pesta? Tentu kita lebih memilih berada dalam sebuah pesta meriah, penuh dengan sajian makanan lezat, musik dan keceriaan. Tetapi Firman Tuhan berkata justru sebaliknya, bahkan lumayan keras. Hanya orang bodohlah yang lebih memilih tempat bersukaria ketimbang berada di rumah duka. Kalau hanya sepintas ayat ini tentu sulit kita terima. Tetapi marilah kita melihat mengapa berada di rumah duka itu lebih baik bagi orang berhikmat dibanding di pesta.

Apa yang kita pikirkan saat berada di sebuah pesta? Kebanyakan dari kita tentu lebih tertarik kepada makanan yang disajikan. Apa isi dari meja-meja kecil di sisi-sisi ruangan, makanan apa yang disajikan di meja panjang prasmanan, apakah musiknya bagus atau tidak dan sebagainya. Saat berada di tempat-tempat hiburan, kita pun cenderung lupa akan esensi hidup dan terlarut dalam kegembiraan yang seringkali hanya berisi kebahagiaan semu. Bahkan tidak jarang orang berkenalan dengan dosa di tempat-tempat hiburan.

Sebaliknya, berada di rumah duka seringkali membawa momen-momen perenungan bagi kita. Disana kita diingatkan bahwa hidup ini sesungguhnya singkat saja. Pemazmur menulis "Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang lewat." (Mazmur 144:4). Seperti itulah singkatnya. Berapa lama? Alkitab berkata masa hidup kita tujuh puluh tahun, dan jika kuat, delapan puluh tahun. (90:10). Tujuh puluh tahun, kalau mujur, 80 tahun. Ada yang lebih dari itu, tapi tetap saja jauh lebih singkat dibanding masa yang kekal. Alangkah sia-sianya jika masa hidup yang singkat itu kita buang tanpa diisi dengan sesuatu yang berguna, terutama untuk diisi dengan hal-hal yang sesuai dengan ketetapan Tuhan. Kalau masa hidup yang singkat ini diisi dengan menjadi pelaku-pelaku firman yang tentu baru bisa dilakukan kalau kita kenal baik dengan ketetapan-ketetapanNya, itu akan sangat bermanfaat bagi kehidupan kekal yang akan kita masuki kelak setelah masa di dunia ini selesai. Betapa kita seringkali terlena dan lupa akan hal ini ketika kita sedang bersenang-senang. Tetapi berada di rumah duka biasanya akan mengingatkan kita dan membawa perenungan bagi kita. Itulah sebabnya dikatakan lebih baik berada di rumah duka ketimbang di rumah bersukaria.

Ayat lain dalam Pengkotbah berbunyi: "To everything there is a season, and a time for every matter or purpose under heaven", "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya." (Pengkotbah 3:1). Ada berbagai "musim" dalam hidup kita yang mau tidak mau harus kita hadapi. Termasuk salah satunya dikatakan "ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari." (ay 4). Ada saat dimana kita bisa bergembira, tetapi ada pula saat dimana kita masuk ke dalam waktu untuk menangis dan meratap. Ini bukanlah waktu dimana Tuhan sedang bertindak kejam dan senang menyiksa kita. Ketika kita sedang berada dalam sebuah kesedihan, disanalah kita bisa belajar banyak dan sadar bahwa kita seharusnya mengisi hidup kita yang singkat ini dengan hal-hal yang bermanfaat bagi sesama maupun bagi masa depan kita. Jangan sia-siakan waktu bersedih hanya dengan mengeluh dan menangis, tetapi pakailah masa-masa itu untuk melakukan perenungan secara menyeluruh. Sadarilah bahwa ada banyak pelajaran yang bisa kita petik di balik sebuah kesedihan. Karena itu, jika Tuhan mengijinkan kita untuk berada dalam keadaan bersedih, bersyukurlah untuk itu.

Bersyukur dalam keadaan bersedih sesuai dengan firman Tuhan berikut; "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18) Kita diingatkan untuk tetap bersyukur bukan hanya dalam beberap hal, tetapi dalam segala hal. Artinya, meski kita sedang berada dalam kesesakan, masa-masa sulit atau bahkan saat tertindas, kita seharusnya tetap bisa betsyukur. Dibalik sebentuk kesedihan ada banyak manfaat yang bisa membuat kita menjadi lebih baik lagi termasuk di dalamnya mengalami pertumbuhan iman. Ada waktu dimana kita bersedih, pakailah itu sebagai momen untuk memperbaiki diri dan kembali menyadari esensi dari sebuah kehidupan yang dipercayakan Tuhan kepada kita, sehingga ketika saatnya untuk tertawa tiba, kita tidak akan terlena melupakannya. Apakah anda sedang berada dalam "musim" bersedih hari ini? Jika ya, jangan patah semangat, jangan putus asa, tetapi bersyukurlah dan pergunakan musim tersebut untuk mempelajari lebih jauh tentang ketetapanNya dan saat dimana anda bisa merasakan secara langsung jamahan Tuhan yang luar biasa.

Banyak pelajaran yang dapat kita petik dibalik sebuah kesedihan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, August 29, 2014

Lebih Baik Bersedih dan Berada di Rumah Duka? (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Pengkotbah 7:3
=====================
"Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega."

Tidak satupun dari kita yang dengan sengaja mau menjalani hari dengan rasa sedih. Mungkin ada yang sifatnya melankolis, hatinya sensitif dan mudah merasa sedih. Tapi kalau ditanyakan kepada mereka, seandainya mereka bisa memilih mereka tentu akan memilih untuk bergembira ketimbang bersedih. Ada banyak pria yang melarang diri mereka untuk bersedih apalagi menangis. Bagi mereka itu menunjukkan kelemahan dan memalukan. Sebaik-baiknya hidup, ada saat dimana kita harus bersedih. Bersedih menjadi tidak menguntungkan kalau dibiarkan berlarut-larut. Dan Tuhan pun memang tidak menginginkan kita menjadi orang-orang yang dipenuhi kesedihan melainkan ingin anak-anakNya menjadi pribadi yang penuh sukacita dengan merasakan kasih dan penyertaanNya. Tapi sekali waktu, mau tidak mau memang kita harus masuk ke dalam masa-masa bersedih. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari oleh siapapun. Ada banyak ayat dalam Alkitab yang mampu menguatkan kita untuk kembali merasakan sukacita saat berada dalam kondisi sulit, dalam tekanan maupun saat tertindas.

Menariknya, ada ayat yang terdengar sangan kontroversial yang isinya seperti berlawanan dengan ayat-ayat yang menguatkan. Dibuka dengan judul perikop "Hikmat yang benar", Pengkotbah mengatakan "Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega." (Pengkotbah 7:3). Bersedih lebih baik dari tertawa, dan itu dirangkum dalam bagian yang menyampaikan hikmat yang benar, ditulis oleh orang paling berhikmat yang pernah ada di bumi yaitu Salomo. Aneh bukan? Ayat ini seolah menganjurkan kita untuk bersedih karena itu lebih baik ketimbang bergembira. Benarkah demikian? Apakah Tuhan sebenarnya ingin kita menjadi pribadi-pribadi yang kerap diliputi kesedihan, bermuka muram dan tidak ceria? Adakah keuntungan yang bisa kita peroleh dari kesedihan yang diijinkan Tuhan untuk kita rasakan? Kalau ada, apa saja?

Seperti yang saya sampaikan diatas, Tuhan tidak ingin kita larut dalam kesedihan. Dia memberi begitu banyak tips dan janji yang bisa meneguhkan, menguatkan dan mengembalikan kita ke dalam rasa bahagia, penuh damai sejahtera dan sukacita. Tapi ada saat dimana kita harus bersedih, dan itu tidak salah sepanjang tidak dibiarkan berlarut-larut dan membuat hubungan kita menjadi renggang dengan Tuhan. Disaat seperti itu, ternyata masih ada hal positif yang bisa kita petik agar hidup kita menjadi lebih kuat, lebih bijaksana dan lebih baik dari sebelumnya.

Dalam versi Bahasa Inggris amplified, ayat bacaan kita hari ini berbunyi: "Sorrow is better than laughter, for by the sadness of the countenance the heart is made better and gains gladness." Ayat ini sebenarnya mengatakan, bahwa bersedih ternyata tidaklah selalu harus buruk. Itu bisa lebih baik daripada tertawa, karena kesedihan yang membuat muka muram mampu membuat hati tarasa lebih baik, lega dan kemudian mendatangkan kesenangan hati. Ayat ini mendobrak paradigma yang selama ini kita anggap benar, yaitu bahwa kita sama sekali tidak boleh bersedih apapun situasinya, apapun kondisinya. Artinya, meski kita harus hidup dengan penuh sukacita, kalau memang harus bersedih, bersedihlah karena itupun bisa mendatangkan kebaikan bagi kita.

Seperti yang sudah saya sampaikan kemarin, Daud menyadari bahwa keadaan yang bisa mendatangkan kesedihan sangatlah baik dipakai sebagai waktu untuk belajar ketetapan-ketetapan Tuhan. "Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu." (Mazmur 119:71). Daud tidak mempergunakan masa-masa sulit sebagai alasan untuk menjadi lemah, merasa kecewa kepada Tuhan, merasa putus asa, hilang harapan dan sebagainya. Ia justru merasa bahwa itu membuka kesempatan baginya untuk mendalami ketetapan Tuhan. Disanalah ia bisa belajar banyak dan merasakan luar biasanya jamahan Tuhan. Bukankah manusia cenderung malas dan manja kalau hidup selalu berjalan baik? Maka keadaan sulit mengingatkan kita untuk mengandalkan Tuhan. Itu adalah kesempatan untuk kembali menata hidup seandainya sudah mulai melenceng dari jalan yang seharusnya, memperbaiki segala kesalahan yang akan kita sadari kalau kita belajar lebih jauh mengenai ketetapan Tuhan. Jadi kalau sekali waktu kita harus mengalami situasi yang tidak baik, jika kita memang harus bersedih, sikapi dengan baik dan pergunakan dengan baik pula. Itu akan mendatangkan kebaikan bagi kita, memberi kelegaan dan membuat kita bisa merasakan sukacita lebih dari waktu-waktu dimana kita sedang bergembira tanpa masalah.

Dalam kesedihan kita bisa belajar banyak. Kita bisa belajar untuk lebih kuat, lebih tegar, kita bisa belajar mengandalkan Tuhan lebih dari segalanya, kita bisa belajar lebih sabar dan tabah. Ini adalah hal-hal yang jarang bisa kita peroleh lewat kegembiraan. Kegembiraan seringkali membawa kita terlena dan lupa kepada hal-hal yang esensial atau penting dalam kehidupan yang singkat ini. Bukan kita tidak boleh bergembira, tetapi ada banyak hal di balik sebuah bentuk kesedihan yang akan mampu membuat kita bertumbuh lebih baik dan lebih kuat. Karena itu ketika Tuhan mengijinkan kita untuk masuk ke dalam keadaan sedih, janganlah bersungut-sungut dan menuduh Tuhan sedang berlaku kejam kepada kita. Justru disaat seperti itulah kita sedang dilatih untuk lebih baik lagi, sedang diajar untuk mengalami peningkatan baik dari segi iman maupun sikap dan perilaku kita sebagai pribadi.

(bersambung)

Thursday, August 28, 2014

Sisi Positif dari Penderitaan

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 119:71
==========================
"Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu."

Mudah bagi kita untuk berkata bahwa Tuhan itu baik, tetapi akan menjadi sangat sulit saat kita sedang ditimpa masalah atau sedang dalam keadaan tertindas. Banyak orang yang segera merubah pandangannya saat hidup sedang berada pada titik yang tidak kondusif, bersungut-sungut, mengeluh lantas kecewa kepada  Tuhan bahkan kemudian meragukan eksistensiNya. Sebagian menuduh Tuhan sedang berlaku tidak adil, bertindak semena-mena atau bahkan dituduh kejam. Sangatlah menarik ketika melihat seorang musisi yang tengah dirundung masalah kesehatan sehingga tidak bisa tampil mencari nafkah untuk sekian lama tetapi masih bisa menuliskan status "God is good, all the time" pada sebuah jejaring sosial. Melihat statusnya, pikiran saya kembali kepada masa-masa sebelum dan sesudah bertobat.

Dahulu saya sempat mengalami sukses besar dengan kerja keras. Secara finansial saya tidak mengalami masalah, tapi hidup hancur-hancuran. Tidak ada yang namanya damai sejahtera, tidak ada kasih, tidak ada kepedulian. Saya hidup sebagai orang angkuh, merasa tidak butuh orang lain dan seenaknya menghamburkan apa yang saya punya, karena merasa bahwa itu mutlak hak saya atas hasil usaha sendiri. Sampai pada suatu ketika Tuhan mengguncangkan kemapanan semu itu. Semua habis ludes, saya bangkrut, ditambah ibu yang sakit keras dan koma hingga akhir hayatnya. Disana hidup saya bagai dijungkir balikkan dalam waktu sangat singkat. Butuh waktu lama untuk membangun hidup kembali. Untungnya dalam titik nadir itu saya mengalami perjumpaan dengan Yesus dan kemudian bertobat. Proses untuk mengenalNya tidak sebentar, dan anehnya, justru saat saya menerimaNya sebagai Tuhan dan Juru Selamat hidup justru terasa sangat berat. Bertahun-tahun saya dibentuk ulang, pengikisan karakter, sifat dan sikap buruk berlangsung menyakitkan. Dahulu disanjung, sekarang dihina. Dahulu semuanya mudah, sekarang bukan main sulitnya. Dahulu tinggi hati, sekarang ada banyak alasan yang bisa membuat harga diri amblas sampai ke titik nol. Hari ini kalau saya masih berdiri dan bisa melayani teman-teman lewat tulisan setiap hari, itu karena karunia Tuhan. It's all because of His grace. Hari ini kalau saya punya seorang istri yang sangat luar biasa, sebuah rumah sederhana tapi sangat nyaman, kendaraan untuk bepergian, semua karena karuniaNya. Kalau saya hari ini bisa memiliki kuasa untuk menikmati yang membuat hidup terasa indah tanpa tergantung dari kondisi faktual sehari-hari yang tetap ada masalahnya sendiri-sendiri, itu pun karena kebaikan Tuhan. Satu hal yang saya akan selalu syukuri bukanlah saat hidup sedang diatas, tetapi justru pada saat saya berada pada situasi tersulit dalam hidup. Saat saya tertindas, saat saya terpuruk, saat saya tidak lagi bisa mengandalkan kekuatan dan kemampuan diri sendiri. Saat saya tidak lagi bisa melakukan apa-apa, disanalah saya belajar menyerahkan diri kepada Tuhan, belajar ketetapan-ketetapanNya dan kemudian mengalami sendiri bagaimana hebatnya Tuhan dalam membentuk ulang pribadi yang sudah terlanjur hancur untuk menjadi sebuah ciptaan baru. Waktu dialami tidak enak, tapi hari ini saya sangat bersyukur pernah mengalaminya. Tanpa itu, saya tidak akan menjadi siapa diri saya hari ini.

Tertindas itu ternyata ada baiknya. Rasa sakit ternyata bisa membuat kita belajar banyak hal, mendewasakan dan membentuk karakter yang jauh lebih kuat dan bijaksana dari sebelumnya. Seringkali manusia dengan segala kebandelannya harus belajar lewat rasa sakit untuk bisa mengerti. Orang tidak akan bisa naik sepeda kalau belum pernah terjatuh, orang sulit menghargai kesehatan sebelum merasakan sakit. Kita tidak tahu perihnya terbakar kalau belum merasakan panasnya api. Jadi ada waktunya kita memang perlu merasakan penderitaan, sehingga kita bisa menghargai yang namanya kebahagiaan dengan baik. Ada banyak pelajaran yang hanya bisa kita peroleh melalui penderitaan, saat tertindas atau kegagalan. Tuhan ternyata bisa memakai keadaan itu untuk mengoreksi kita.

Hal itulah yang disadari Daud. Seperti kita, Daud pun pernah mengalami banyak ketidakadilan, penindasan dan kesukaran. Bedanya, Daud tidak terfokus pada penderitaan tapi ia mendapatkan pemikiran positif dengan menyadari bahwa itu adalah saatnya untuk belajar. Katanya: "Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu." (Mazmur 119:67). Lantas ia melanjutkan: "Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu." (ay 71). Daud menyadari bahwa berada dalam posisi tertindas itu bukan berarti bahwa hidupnya tamat, kesempatan tertutup, tapi justru semua itu merupakan waktunya untuk belajar ketetapan-ketetapan Tuhan, mengalami pembentukan karakter agar lebih dewasa, menyadari bahwa ia harus belajar untuk mengandalkan Tuhan dan berhenti bergantung pada kekuatan manusia yang terbatas.

Benar, saat mengalami bukan main perih rasanya. Kabar baiknya, seperti pengalaman saya sendiri, ternyata Tuhan tidak membiarkan kita sendirian melewati penderitaan. Dia senantiasa menyertai kita dalam situasi sesulit apapun kalau kita mau belajar mengandalkanNya. "Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati" (Ulangan 31:8). Sewaktu-waktu Dia memberikan kekuatan, ketegaran bahkan kelegaan, sehingga saya bisa melewati proses pembentukan itu sepenuhnya. Tuhan juga sudah berjanji bahwa sekalipun kita harus berjalan dalam lembah kekelaman, gada dan tongkatNya akan selalu beserta kita, menjauhkan kita dari bahaya dan mendatangkan penghiburan (Mazmur 23:4). Daripada membiarkannya berjalan sia-sia dan hanya dipenuhi rasa sakit, mengapa kita tidak manfaatkan keadaan tertindas yang penuh penderitaan sebagai sebuah proses untuk belajar patuh mengikuti firman Tuhan. Dan lihat apa kata Tuhan ketika hidup kita berkenan padaNya. "TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya." (Mazmur 37:23-24). Cara pandang dalam menyikapi hidup akan sangat berperan, apakah kita hanya akan menjadikannya sebagai momen kejatuhan kita atau justru kebangkitan kita menuju hari depan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Jika ada di antara anda saat ini yang tengah merasakan penderitaan atau berada dalam keadaan tertindas, belajarlah banyak akan ketetapanNya. Pakailah itu sebagai momen untuk membentuk diri untuk menjadi pribadi-pribadi pemenang. Tuhan bisa memakai masalah sebagai sarana untuk mengoreksi kita dan membentuk ulang diri kita. Lewat penindasan atau penderitaan Tuhan bisa mengikis ego kita, membuat kita menjadi pribadi baru yang seturut dengan kehendakNya. Jangan sia-siakan, jangan keraskan hati, jangan buru-buru negatif apalagi menyalahkan Tuhan. Pada suatu hari nanti, saya percaya seperti saya, anda akan bersyukur pernah dilatih Tuhan melalui penindasan atau masalah untuk menjadi pribadi yang kuat, tegar dan taat, yang mengalami kasih Tuhan yang luar biasa dalam banyak hal serta memiliki kerinduan pula untuk menjadi umatNya yang mewakili otoritas Kerajaan dalam menyatakan kasih di muka bumi ini.

Bad situations can be a way to experience real victory

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, August 27, 2014

Ada Banyak UmatKu di Kota Ini

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 18:10
===========================
"...banyak umat-Ku di kota ini."

Ada seorang musisi senior yang kiprahnya sudah sangat lama, setidaknya ia sudah aktif di era 70an. Saya bertemu dengannya belum lama ini saat ia tampil dalam sebuah acara. Hari itu hari sabtu dan konser selesai saat hari sudah sangat larut malam. Saat itu sembari ngobrol santai ia terlihat agak tergesa-gesa mengumpulkan instrumen dan barang-barangnya. Ketika saya tanya kenapa ia tidak menginap saja semalam sebelum kembali ke kota tempat tinggalnya, sambil tersenyum ia berkata bahwa ia harus segera pulang karena di pagi hari ia harus melayani di gereja, sebuah kegiatan rutin yang sudah ia jalani selama puluhan tahun. Wah, luar biasa. Ketika orang berpikir bahwa dunia hiburan bergelimang dosa dan kesesatan, ternyata orang-orang yang masih aktif sebagai pelayan Tuhan pun tetap ada disana. Bukan hanya musisi senior ini saja, tapi ada banyak lagi, bahkan diantaranya musisi yang saat ini tengah berada di puncak ketenaran, mereka masih tetap menyediakan waktu untuk melayani.

Ada kalanya kita harus masuk ke lingkungan yang baru yang secara umum tidak mendukung pertumbuhan iman. Bisa jadi disana pergumulan akan banyak kita alami, mungkin kita bisa merasa terasing. Tapi seburuk-buruknya sebuah lingkungan, tetap saja akan ada orang-orang percaya yang hidup benar berada disana. Mungkin jumlahnya tidak banyak, tetapi akan selalu ada sahabat-sahabat seiman untuk sharing dan saling menguatkan dimanapun kita ditempatkan. No matter what, how and where, We're never alone, because God still has His people wherever we go.

Paulus pernah mengalami perasaan terasing seperti itu saat ia mendarat di Korintus, sebuah kota yang terletak di Yunani. Pada masa itu Korintus dikenal sebagai kota yang memiliki moral buruk dan gemar melakukan kejahatan termasuk didalamnya korupsi. Itu bukanlah tempat yang bersahabat bagi orang percaya, apalagi bagi Paulus yang memiliki panggilan untuk mewartakan Kabar Keselamatan dimanapun ia sampai. Melakukan itu di kota yang terkenal buruk akhlaknya? Salah-salah hidupnya bisa berakhir disana. Paulus merasakan hal itu. Tuhan tahu itu dan menganggap penting untuk meneguhkannya. "Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: "Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam!" (Kisah Para Rasul 18:9). Tuhan menguatkannya terlebih dahulu dan memintanya untuk terus maju. Bukan hanya menguatkan, tapi Tuhan pun memberikan alasannya. "Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini." (ay 10). Kita bisa melihat bagaimana Tuhan mengingatkan Paulus bahwa meski berada disebuah kota yang tidak kondusif dan beresiko tinggi, dia tidak sendirian berada di kota itu. Bukan saja Tuhan sendiri mengingatkan bahwa Dia selalu menyertai Paulus, tetapi ada banyak umat Tuhan lainnya yang sesungguhnya berada di kota itu. Hanya saja Paulus mungkin belum bertemu atau melihat mereka, karena ia baru saja tiba disana. Oleh karena itu Paulus tidak perlu merasa was-was dan sendirian berada di sebuah kota dengan kondisi moral yang buruk karena ia akan tetap punya orang-orang yang akan terus mendukung dan menguatkannya selain tentunya Tuhan sendiri.

Dari pengalaman Paulus ini kita bisa melihat meskipun kita berada dalam sebuah kota atau lingkungan yang sama sekali asing bagi kita, meski situasinya terlihat buruk, sesungguhnya Tuhan tetap berada bersama kita, dan saudara-saudari seiman pun tetaplah ada disana. Apa yang perlu kita lakukan adalah menemukan dimana mereka berada. Kita tidak akan bisa menemukan mereka kalau kita masih bersikap eksklusif atau punya pribadi tertutup. Kita harus mau membuka diri, lalu saling dukung, saling bantu dan bekerjasama dengan mereka agar bisa tumbuh bersama. Dari sanalah kita kemudian akan mampu berbuat sesuatu bagi Kerajaan Allah dalam sebuah jaringan kerjasama yang kuat, menjadi terang dan garam yang akan memberkati orang, lingkungan, kota, bangsa atau bahkan dunia.

Jika ada diantara teman-teman yang mungkin baru pindah ke sebuah kota lain atau negara lain dan merasa kesepian disana, atau mungkin anda tengah berada di sebuah lingkungan yang sepertinya sulit, ingatlah bahwa anda tidak pernah sendiri. Hari ini Tuhan mengingatkan anda secara khusus bahwa anda sebenarnya tidaklah pernah sendirian. Selain Tuhan berdiri disamping anda, selalu ada saudara-saudari seiman yang akan anda temukan seandainya anda mau membuka diri, berkenalan dan bersahabat dengan mereka. Sekalipun jika anda pindah ke sebuah lokasi baru dan sulit menemukan cabang dari gereja anda sebelumnya atau minimal yang sejenis, ingatlah bahwa di dalam Kristus kita semua bersaudara, terlepas dari denominasi apa yang anda anggap mampu mendukung pertumbuhan iman anda hingga kini. Tidak ada yang kebetulan bahwa kita ditempatkan Tuhan pada sebuah tempat tertentu dimana kita berada hari ini, dan untuk itu Tuhan pun sudah merencanakan segalanya dengan sangat baik, termasuk di dalamnya menempatkan saudara-saudari seiman yang akan bisa saling berbagi, mengingatkan dan menguatkan di tempat yang sama. Kita tidak pernah direncanakan Tuhan sebagai mahluk individual yang anti-sosial, Tuhan justru menginginkan kita untuk menjadi orang-orang yang mau menjalin pertemanan atau persaudaraan dengan siapapun tanpa terkecuali. Jika anda baru saja pindah atau memasuki dunia yang sama sekali asing bagi anda, pergunakan waktu-waktu yang ada untuk berkenalan dengan banyak orang. Temukanlah umat Tuhan lainnya dan bertumbuhlah bersama. Jangan khawatir, apalagi takut, karena Tuhan sudah berkata "Jangan takut...sebab banyak umatKu di kota ini."

Temukan umat Tuhan lainnya dan bertumbuhlah bersama-sama

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, August 26, 2014

Paulus dan Keteladanan

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Korintus 4:16
====================
"Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!"

Seperti apakah orang yang bisa dijadikan teladan? Kata teladan biasanya mengacu kepada sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh seperti dalam sifat, sikap, perbuatan, perilaku dan sebagainya. Benar, ada banyak orang yang keliru mengambil figur panutan dan 'meneladani' perilaku-perilaku buruk dari figur yang diidolakan. Misalnya musisi yang hidupnya penuh dengan obat-obat terlarang, hubungan bebas dan sebagainya, atau malah tokoh dunia yang terkenal kejam dan sudah membantai begitu banyak jiwa yang mereka anggap akan membuat mereka keren di mata orang lain. Ada saja memang orang yang seperti itu, tetapi itu bukanlah sebuah keteladanan menurut pengertian sebenarnya. Seorang yang bisa dijadikan panutan atau teladan adalah orang yang terus menanamkan nilai-nilai kebenaran, budi pekerti dan berbagai kebaikan lainnya yang bukan hanya sebatas ajaran lewat kata-kata saja tetapi tercermin langsung dalam keseharian hidup mereka. Artinya, orang-orang yang menjadi teladan adalah orang berintegritas yang punya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Itu sebabnya untuk menjadi teladan bukanlah perkara mudah. Bila dalam mengajar kita hanya perlu membagikan ilmu dan pengetahuan lewat perkataan, tetapi dalam menerapkan keteladanan kita harus mengadopsi langsung seluruh nilai-nilai  yang kita ajarkan untuk tampil secara langsung dalam perbuatan kita. Ada orang-orang yang mampu menunjukkan nilai-nilai kebenaran dalam hidupnya sehingga mampu memberi pengajaran tersendiri meski tanpa mengucapkan kata-kata sekalipun. Sebaliknya ada orang yang terus berbicara tapi hasilnya tidak maksimal karena tidak disertai dengan contoh nyata dari cara atau sikap hidupnya.

Ada banyak orang tua yang kecapaian akibat terlalu sibuk bekerja hanya akan memarahi anak-anaknya tanpa memeriksa terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi. Di satu sisi mereka melarang ini dan itu, tapi di sisi lain mereka melanggar sendiri peraturan yang mereka buat. Saya orang tua, terserah saya. Kamu masih anak kecil, harus menurut. Titik. Ini bukanlah sikap orang yang bisa dijadikan teladan karena hanya memerintah tanpa mencontohkan. Anak pun akan sulit belajar tentang kebenaran jika berada dalam bentuk keluarga otoriter yang mementingkan posisi atau status seperti itu. Agar bisa menjadi teladan itu berat dan seringkali butuh pengorbanan. Kalau anda mengajarkan bahwa tidak baik untuk cepat marah, anda harus terlebih dahulu menunjukkan kesabaran, bukan malah menunjukkan betapa pendeknya sumbu kesabaran anda. Kalau anda mengajarkan harus hidup jujur dan bersih, anda harus terlebih dahulu melakukannya tanpa syarat, bukan mencari alasan karena terpaksa dan sebagainya. Kalau anda mengajarkan harus rajin membangun hubungan dengan Tuhan, anda harus mencontohkannya dan bukan hanya menyuruh tapi sendirinya malas karena merasa tidak lagi punya cukup waktu untuk itu. Ada seorang pengusaha yang saya kenal pernah berkata bahwa urusan doa adalah urusan istri, sementara dia tugasnya memenuhi kebutuhan akan materi. Ketika saya tanyakan apakah anak laki-lakinya yang masih kecil ia ajarkan untuk rajin berdoa sejak di usia kecil, ia berkata dengan bangga: "tentu saja." Disini bisa kita lihat contoh orang yang meski mengajarkan anaknya tentang hal benar tapi ia sendiri tidak memberi keteladanan. Atau ada pula yang rajin berdoa tapi dalam hidup sehari-hari perilakunya buruk dan secara transparan dilihat oleh anak-anaknya. Ini tidak akan baik bagi pertumbuhan spiritual dari si anak.

Pada suatu kali Paulus berkata dengan tegas kepada jemaat Korintus: "Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!" (1 Korintus 4:16). Hanya sebuah kalimat singkat dan sederhana, tapi kalau kita renungkan tidaklah ringan. Paulus tidak mungkin berani berkata seperti itu apabila ia tidak atau belum mencontohkan apapun yang ia sampaikan mengenai kebenaran firman Tuhan. Tapi kita tahu seperti apa cara hidup Paulus. Ia mengalami perubahan hidup 180 derajat dalam waktu relatif singkat. Dari seorang penyiksa orang percaya, ia berubah menjadi orang yang sangat radikal dan berani dalam menyebarkan Injil keselamatan. Ia mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk pergi ke berbagai pelosok dalam menjalankan misinya bahkan sampai menjejaki Asia kecil. Tidak ada pesawat waktu itu yang mampu mengantar orang dalam waktu singkat, tidak ada pula sarana internet yang memungkinkan orang bisa berhubungan tatap muka secara langsung meski berada jauh satu sama lain seperti chatting, teleconference dan sebagainya. Di saat seperti itu ia justru masih harus bekerja demi membiayai keperluan pelayanannya. Bisa kita bayangkan bagaimana beratnya perjuangan Paulus. Cobalah letakkan diri kita pada posisinya, rasanya kita bisa stres, depresi dan sebagainya diterpa kelelahan dan tekanan dalam menghadapi hari demi hari. Atau mungkin saja kita merasa kecewa dan tawar hati karena apa yang dialami berbeda dengan yang diharapkan.

Tapi Paulus bukanlah orang yang punya mental seperti itu. Ia tahu diatas segalanya anugerah keselamatan yang ia terima merupakan sebuah anugerah yang luar biasa besar sehingga ia ingin melihat banyak orang lagi bisa mengikuti jejaknya. Ia memang berkeliling menyampaikan berita keselamatan, tetapi yang jauh lebih penting adalah ia mencontohkan sendiri aplikasi kebenaran dalam hidup lewat cara hidupnya. Ia benar-benar menghayati keselamatan yang diperolehnya dengan penuh rasa syukur dan mempergunakan seluruh sisa hidupnya secara penuh hanya untuk Tuhan. Dalam menjalankan misinya Paulus mengalami banyak hal yang mungkin akan mudah membuat kita kecewa apabila berada di posisinya. Tetapi tidak demikian dengan Paulus. Lihatlah apa yang ia katakan: "Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah." (1 Korintus 4:11-13a). Wow, lihatlah bagaimana contoh yang ia berikan dalam menghadapi tekanan dan siksaan. Ia tetap memberkati walau dimaki, ia tetap sabar walau dianiaya, ia tetap ramah meski difitnah. Itu bukan hanya sebatas pengajaran lewat perkataan saja melainkan ia tunjukkan langsung dengan perbuatan nyata. Kita bisa melihat sendiri bagaimana karakter dan sikap Paulus dalam menghadapi berbagai hambatan dalam pelayanannya. Apa yang ia ajarkan semuanya telah dan terus ia lakukan sendiri dalam kehidupannya. Oleh sebab itu pantaslah jika Paulus berani menjadikan dirinya sebagai teladan seperti yang tertulis pada ayat bacaan hari ini.

Dalam masa hidupNya yang singkat di muka bumi ini, Yesus pun menunjukkan hal yang sama. Segala yang Dia ajarkan telah Dia contohkan secara langsung pula. Lihatlah sebuah contoh dari perkataan Yesus sendiri ketika ia mengingatkan kita untuk merendahkan diri kita menjadi pelayan dan hamba dalam Matius 20:26-27. Yesus berkata: "sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (ay 28). Apa yang diajarkan Yesus telah Dia contohkan pula secara nyata. Ketika Yesus berkata "Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu." (Yohanes 15:12), kita pun lalu bisa melihat sebesar apa kasihNya kepada kita. Yesus mengasihi kita sebegitu rupa sehingga Dia rela memberikan nyawaNya untuk menebus kita semua. "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (ay 13). Yesus membuktikannya secara langsung lewat karya penebusanNya.

Jauh lebih mudah untuk menegur dan menasihati orang ketimbang menjadi teladan, karena sebagai teladan sikap kita haruslah sesuai dengan perkataan yang kita ajarkan.  Sikap hidup yang sesuai dengan pengajaran seperti itu sudah semakin sulit saja ditemukan hari ini. Tuhan menghendaki kita semua agar tidak berhenti hanya dengan memberi nasihat, teguran atau pengajaran saja, melainkan menjadi teladan dengan memiliki karakter, gaya hidup, sikap, tingkahlaku dan perbuatan yang sesuai dengan nilai-nilai kebenaran yang kita katakan. Alkitab mengatakan : "Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu" (Titus 2:7) Kita dituntut untuk bisa menjadi teladan di muka bumi ini. Sesungguhnya itu jauh lebih bermakna ketimbang hanya menyampaikan ajaran-ajaran lewat perkataan kosong. Sebagai orang tua, abang, kakak, dan teman kita harus sampai kepada sebuah tingkatan untuk menjadi contoh teladan. Tetapi tugas menjadi teladan pun bukan hanya menjadi keharusan untuk orang-orang tua saja. Sejak muda pun kita sudah bisa, dan sangat dianjurkan untuk bisa menjadi teladan bahkan bagi orang-orang yang lebih tua sekalipun. Firman Tuhan berkata: "Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." (1 Timotius 4:12).

Kalau Paulus bisa dengan berani meminta jemaat di Korintus untuk meneladani cara hidup dan perbuatannya, mengapa kita tidak? Sebuah kehidupan yang mengaplikasikan firman secara nyata akan mampu berbicara banyak. Hal keteladanan sangatlah penting karena orang cenderung lebih mudah percaya dan menerima sebuah kebenaran yang dipraktekkan secara langsung ketimbang hanya lewat kata-kata atau teoritis saja. Orang yang hidup sesuai kebenaran akan memiliki banyak kesaksian untuk dibagikan yang sanggup mengenalkan kebenaran kepada orang-orang yang belum mengetahuinya. Tidak perlu muluk-muluk, hal-hal sederhana saja bisa menjadi sebuah bukti penyertaan Tuhan yang luar biasa yang mampu menjadi berkat bagi orang lain. Seperti apa karakter yang kita tunjukkan hari ini? Apakah kita sudah atau setidaknya tengah berusaha untuk menjadi teladan dalam berbuat baik atau kita masih hidup egois, eksklusif, pilih kasih, kasar, membeda-bedakan orang bahkan masih melakukan banyak hal yang jahat meski kerap mengajarkan kebaikan? Sadarilah bahwa cara hidup kita akan selalu diperhatikan oleh orang lain. Anak-anak kita akan melihat sejauh mana kita melakukan hal-hal yang kita nasihati kepada mereka, begitu juga dengan teman-teman dan orang-orang di sekitar kita. Menjadi teladan adalah sebuah keharusan, marilah kita terus melatih diri kita untuk menjadi teladan seperti yang dikehendaki Tuhan atas anak-anakNya.

"Example is not the main thing in influencing others. It's the only thing" - Albert Schweitzer, ahli teologia/filsuf asal Jerman, misionaris di Afrika

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker