Monday, February 27, 2017

Integritas Daud di Mata Salomo (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Tentu ada. Mari kita lihat pandangan Daud akan pentingnya sebuah integritas, sebuah kebenaran yang ia dapatkan sehingga ia bisa teguh mengamalkan elemen-elemen integritas ini dalam hidupnya. Semua itu terangkum dalam Mazmur 15. Mazmur 15 merupakan perikop yang sangat pendek. Cuma ada 5 ayat disana tetapi apa yang terkandung di dalamnya sesungguhnya bernilai sangat tinggi dalam hal karakter orang yang berintegritas dan bagaimana hal tersebut dimata Tuhan. Mari kita lihat isinya dalam versi Bahasa Indonesia Sehari-hari.

"Mazmur Daud. TUHAN, siapa boleh menumpang di Kemah-Mu dan tinggal di bukit-Mu yang suci. Orang yang hidup tanpa cela dan melakukan yang baik, dan dengan jujur mengatakan yang benar; yang tidak memfitnah sesamanya, tidak berbuat jahat terhadap kawan, dan tidak menjelekkan nama tetangganya; yang menganggap rendah orang yang ditolak Allah, tetapi menghormati orang yang takwa; yang menepati janji, biarpun rugi dan meminjamkan uang tanpa bunga; yang tak mau menerima uang suap untuk merugikan orang yang tak bersalah. Orang yang berbuat demikian, akan selalu tentram." (Mazmur 15:1-5 BIS).

Lihatlah nilai-nilai yang terkandung disana. Tulisan disana merupakan hasil perenungan Daud mengenai orang dengan pribadi seperti apa yang bisa tinggal dalam kemahNya dan dibukitNya yang suci. Dalam Bahasa Inggrisnya dikatakan: "LORD, WHO shall dwell [temporarily] in Your tabernacle? Who shall dwell [permanently] on Your holy hill?" (ay 1). Orang yang bisa berdiam di kemah Tuhan dan bukitNya yang suci adalah orang yang hidupnya:
- tanpa cela
- melakukan yang baik
- jujur yang berkata benar
- tidak memfitnah orang lain
- tidak berbuat jahat
- tidak menjelekkan orang lain
- tidak ikut-ikutan berbuat seperti orang yang tidak berkenan bagi Allah melainkan menghormati orang yang takwa
- orang yang menepati janji sekalipun harus merugi karenanya
- yang tidak mengharapkan bunga kalau meminjamkan
- yang tidak menerima suap

Daud menjabarkan lebih rinci ketimbang apa yang disebutkan Salomo tentang ayahnya di atas. Tapi semua poin ini akan menuju kepada tiga hal seperti yang digambarkan Salomo yaitu: kesetiaan, kebenaran dan kejujuran. Daud jelas mengerti kriteria orang yang akan berhak berdiam dalam Kerajaan Allah yang kudus, karena itulah ia pun menghidupi nilai-nilai yang terkandung dalam integritas itu seperti apa yang telah ia ketahui. Tidak heran apabila kemudian Salomo melihat inegritas ayahnya lalu selanjutnya menjadikan nilai-nilai yang dihidupi ayahnya sebagai sesuatu yang harus pula ia adopsi dalam hidupnya. Inilah bentuk sebuah integritas, sebuah bentuk kehidupan yang berkenan di mata Tuhan.

Satu saja dari nilai-nilai itu tidak kita lakukan maka integritas pun hilang dari diri kita. Sekedar mengetahui saja tidak cukup, hanya sebatas kata-kata juga  tidak cukup. Kita harus pula menyelaraskan dan mengaplikasikannya dengan perbuatan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Jika kita merenungkan poin-poin di atas sesungguhnya membangun karakter yang berintegritas tidaklah mudah, dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari mungkin akan jauh lebih sulit lagi mengingat kita hidup di dunia yang punya prinsip bertolak belakang dan penuh dengan orang-orang yang saling sesat menyesatkan. Tetapi sosok seperti inilah yang sesungguhnya diinginkan Tuhan untuk mewarnai kehidupan kita, orang-orang percaya. Untuk membangun pribadi yang berintegritas dan berkualitas, Mazmur 15 sangatlah penting untuk kita renungkan dan kemudian terapkan dalam hidup.

Secara ringkas, setia, benar dan jujur merupakan hal mutlak yang tidak boleh kita abaikan kalau kita tidak mau kehilangan jaminan penyertaan Tuhan dan berkat-berkatNya. Meski mungkin sulit, tetapi kita bisa mulai berkomitmen untuk menghidupinya mulai dari sekarang. Sebagai warga Kerajaan kita harus mampu pula hidup dengan nilai-nilai Kerajaan.

Orang yang berintegritas tinggi semakin lama semakin langka. Maka kita diharapkan mampu membawa perbedaan dan menunjukkan sebuah konsep gaya hidup berintegritas tinggi  Siapkah anda tampil beda di dunia ini dengan menjadi sosok berintegritas yang menjunjung tinggi nilai-nilai Kerajaan Allah?

God is looking for people with integrity. Are you the one? 

Setia, benar dan jujur harus menjadi bagian hidup kita sebagai orang-orang berintegritas yang hidup sesuai prinsip Kerajaan Allah

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, February 26, 2017

Integritas Daud di Mata Salomo (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Raja Raja 3:6
===================
"Lalu Salomo berkata: "Engkaulah yang telah menunjukkan kasih setia-Mu yang besar kepada hamba-Mu Daud, ayahku, sebab ia hidup di hadapan-Mu dengan setia, benar dan jujur terhadap Engkau; dan Engkau telah menjamin kepadanya kasih setia yang besar itu dengan memberikan kepadanya seorang anak yang duduk di takhtanya seperti pada hari ini." 

Orang yang berintegritas adalah orang-orang yang perbuatannya sesuai perkataan, bertindak konsisten dengan menjunjung nilai-nilai luhur, mampu mengemban tanggung jawab, mengamalkan kebenaran tanpa syarat dan berbagai nilai moral lainnya. Ada yang mendefinisikan integritas sebagai keterpaduan antara kesempurnaan dan ketulusan. Kalau mengacu kepada kamus, integritas didefinisikan sebagai 'the quality of being honest and having strong moral principles; moral uprightness', yang artinya punya kualitas untuk hidup jujur, memiliki prinsip moralitas dengan standar tinggi dan lurus. Semua ini menggambarkan banyaknya nilai atau value baik yang terkandung dari orang dengan karakter berintegritas.

Sayangnya dunia berbeda dalam memandang kebahagiaan. Apa yang diajarkan dunia tidak lagi menganggap integritas sebagai sesuatu yang penting. Orang diajarkan untuk terus mengejar kebahagiaan dari materi, uang dan harta benda. Kalau perlu korbankan orang lain yang penting diri sendiri selamat. Kesetiaan tidak penting, yang penting ambil mana yang paling menguntungkan. Cari uang sebanyak-banyaknya agar bisa memenuhi perilaku konsumtif. Semakin hari kita dibombardir lewat segala arah. Anda putar televisi, anda akan menemukan semua keburukan ini sebagai sesuatu yang lucu bahkan keren.

Tidaklah heran kalau hari ini sulit sekali mencari orang yang masih memilikinya di tengah kehidupan global yang semakin jauh dari akhlak mulia dan budi pekerti. Alasan harus memenuhi kebutuhan atau beban hidup yang semakin meningkat, takut kehilangan kesempatan dan sebagainya akan dengan mudah menggeser prinsip-prinsip moral untuk menyerah kepada sikap-sikap oportunis, cari aman dan keuntungan sendiri, berpusat pada diri pribadi bahkan tega mengorbankan orang lain untuk itu. Berbohong menjadi sesuatu yang wajar dan biasa. Banyak orang bermimpi untuk menikmati dunia yang lebih baik, lebih damai dan lebih bersahabat, tapi lucunya tidak menyadari bahwa tanpa membangun pribadi-pribadi yang berintegritas itu akan sangat sulit diwujudkan, kalau tidak bisa dibilang mustahil.

Di masa mudanya Salomo menunjukkan bentuk hidup yang menaati ketetapan-ketetapan Daud dengan perbuatan-perbuatan yang mencerminkan kasihnya kepada Tuhan. Tuhan sangat ternyata terkesan dengan sikapnya. Pada suatu kali Tuhan menampakkan diri kepada Salomo saat ia tengah berada di Gibeon untuk mempersembahkan korban. Bukan hanya menampakkan diri, tapi Tuhan juga memberi hadiah yang sangat istimewa buat Salomo dengan berjanji akan memenuhi apapun permintaan Salomo. Ini dicatat dalam kitab Raja Raja pasal 3.

Kita mungkin akan segera bingung mau minta apa. Sehat? Kaya? Bebas masalah? Dapat pasangan? Rumah, mobil mewah? Liburan ke tempat yang paling diimpikan? Kita pasti langsung pusing memikirkan harus pilih yang mana. Tapi bagaimana dengan Salomo? Demikian reaksinya. "Lalu Salomo berkata: "Engkaulah yang telah menunjukkan kasih setia-Mu yang besar kepada hamba-Mu Daud, ayahku, sebab ia hidup di hadapan-Mu dengan setia, benar dan jujur terhadap Engkau; dan Engkau telah menjamin kepadanya kasih setia yang besar itu dengan memberikan kepadanya seorang anak yang duduk di takhtanya seperti pada hari ini." (1 Raja Raja 3:6).

Perhatikan bahwa meski Salomo bisa meminta sesuatu yang instan yang dipandang dunia merupakan ukuran kebahagiaan, Salomo tidak meminta itu. Ia justru meminta hikmat agar ia bisa menjadi raja yang adil dan bijaksana agar ia sanggup menengahi berbagai problema rakyatnya dan memiliki kemampuan untuk menimbang mana yang baik dan jahat. Itu jelas sebuah pilihan yang luar biasa. Tapi yang tidak kalah menarik, saat Salomo menjawab pemberian Tuhan ini, ia mengacu kepada integritas ayahnya, Daud, yang ia lihat sendiri mendatangkan kasih setia Tuhan dengan sangat besar.

Seperti apa bentuk integritas Daud yang nyatanya dilihat oleh Salomo? Kalau anda perhatikan kembali ayat tadi dengan seksama, anda akan menemukan tiga elemen dari integritas yang disebutkan Salomo sebagai gaya hidup atau sikap ayahnya, yaitu:
- setia
- benar
- jujur

Dari contoh nyata Daud, orang yang menghidupi ketiga elemen penting ini akan mendapatkan kasih setia Tuhan yang besar, dan itu dikatakan pula merupakan sebuah jaminan dari Tuhan. Setia, benar dan jujur merupakan elemen yang akan membentuk sebuah karakter berintegritas tinggi yang akan pula menuai segala kebaikan dari Tuhan. Salomo tahu itu karena ia sudah melihat sendiri buktinya dari apa yang dialami oleh ayahnya.

Pertanyaannya, apakah Daud menyadari pentingnya hal ini sehingga ia menghidupinya secara nyata dengan sungguh-sungguh? Adakah ayat dimana Daud menyebutkan hal itu?

(bersambung)


Saturday, February 25, 2017

Belajar Penundukan Diri lewat Masa Kecil Yesus (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kita bisa melihat sebuah Firman Tuhan yang turun atas diri sang Penulis Ibrani berbunyi demikian: "Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu." (Ibrani 13:17). Lihatlah bahwa menaati pemimpin dan tunduk atas otoritas mereka merupakan sesuatu yang sangat penting di mata Tuhan. Apabila tidak dilakukan maka firman Tuhan berkata kita tidak akan mendapatkan keuntungan dalam hidup kita. Dan itupun harus dilakukan dengan sukarela dan gembira dan bukan atas keterpaksaan.

Kata pemimpin dalam ayat ini menyangkut pemimpin secara luas, baik di rumah, kantor, kota, negara maupun gereja. Titus 3:1 mengingatkan hal yang sama. "Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik." Ayat yang serupa bisa kita lihat pula melalui Paulus dalam Kolose 3:22 dan Efesus 6:5 yang menyebutkan bahwa kita harus taat kepada tuan di dunia sama seperti kita taat pada Kristus.

Lewat Petrus kita bisa juga belajar tentang penundukan diri terhadap pemerintah dan/atau pemegang otoritas di atas kita. Petrus berkata: "Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik." (1 Petrus 2:13-14). Penundukan terhadap otoritas atasan bahkan dikatakan bukan saja kepada yang baik tetapi juga terhadap penguasa yang berlaku kejam atau lalim sekalipun. "Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis." (1 Petrus 2:18).

Selain kepada atasan, penundukan diri juga menyangkut bentuk-bentuk hubungan lainnya.
- Anak-anak hendaklah tunduk kepada orang tuanya (Efesus 6:1, Kolose 3:20)
- istri tunduk kepada suami (Kolose 3:18, Efesus 5:22, 1 Petrus 3:1)
- anak muda tunduk kepada yang lebih tua (1 Petrus 5:5)
Dan seterusnya. Tentu saja di atas segalanya kita harus menundukkan diri kepada Kristus. Firman Tuhan berkata: "Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, berpegang pada perintah dan ketetapan TUHAN yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu." (Ulangan 10:12-13). Semua ini merupakan hal yang penting untuk kita perhatikan.

Kita harus mampu meredam ego agar kita bisa mengaplikasikan sikap penundukan diri seperti yang diinginkan Tuhan. Untuk itu jelas diperlukan sebuah kerendahan hati untuk bisa mempraktekkan sikap ini dalam hidup kita.

Adakah diantara teman-teman ada yang hari ini tengah bermasalah dengan sikap penundukan diri ini, baik dengan anggota keluarga, orang tua, dalam pekerjaan, sekolah atau dalam pelayanan? Jika ya berdoalah dan berusahalah untuk memperkuat sikap rendah hati sehingga anda bisa belajar tunduk kepada otoritas orang yang berada di atas anda. Yesus sendiri sudah mencontohkan bahwa penundukan diri merupakan hal yang sangat penting untuk kita lakukan sebelum menerima otoritas yang lebih tinggi lagi. Percayalah bahwa kasih karunia Allah akan memberikan kekuatan bagi anda untuk meredam ego dan menyadari betul hakekat sebagai umatNya agar tidak tergoda untuk membangkang dan mengabaikan pentingnya penundukan diri.

"..Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (1 Petrus 5:5)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker