Monday, July 24, 2017

Sukacita karena Tuhan adalah Perlindungan Kita (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Bukankah itu yang dirasakan banyak orang? Banyak yang menerima Yesus karena motivasi yang keliru, yaitu karena mengharapkan berkat duniawi, segala kenyamanan, bebas dari masalah, terhindar dari kebangkrutan dan sebagainya. Pada saat itu belum atau tidak terjadi, mereka pun kemudian kecewa dan mempertanyakan eksistensi Tuhan. Tuhan baik? Omong kosong. Lihat apa yang ia lakukan pada saya! Itu mungkin yang menjadi respon. Kalau itu yang muncul, itu artinya seseorang itu belumlah memiliki motivasi yang benar terhadap pertobatannya. Yang justru sering terjadi, sebagaimana yang juga terjadi pada saya yang mengenal dan menerima Yesus bukan sejak lahir, kita justru harus melewati dahulu masa-masa sulit, diproses, dikikis segala perilaku dan kebiasaan buruknya untuk bisa menjadi orang yang sama sekali baru. Tanpa itu kita tidak akan mungkin maju. Tanpa itu kita tidak akan mungkin memiliki iman yang kuat. Ujian demi ujian akan terus datang agar kita naik kelas. Yang pasti, selama masalah bukan datang dari kesalahan kita, akhirnya pasti bertujuan baik buat kita. Meski saat ini kita belum bisa melihatnya, dengan iman kita tahu bahwa apa yang dikerjakan Allah, meski berat adalah untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.

Kembali pada Paulus, apakah ia menyesal? Bukankah hidupnya saat belum bertobat terlihat jauh lebih baik? Sama sekali tidak. Ia berkata bahwa apa yang dulu ia anggap keuntungan sekarang merupakan kerugian jika masih ia lakukan. Ia terus konsisten dalam mewartakan firman Tuhan kemanapun ia pergi, apapun resikonya. Bukan itu saja, secara jelas kita bisa melihat bahwa sukacita ternyata tetap menyertainya. Lihat apa katanya: "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! ... Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:4,6-7). Dalam menghadapi perkara-perkara berat yang menyiksa, ia berkata "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." (ay 13). Seperti itulah bentuk iman Paulus yang tahu betul bagaimana pentingnya memiliki sukacita yang berasal dari Tuhan, yang mampu memberikannya kekuatan dalam menghadapi berbagai masalah dalam pelayanannya.

Berada dalam penjara, mendapat siksaan secara fisik sekalipun, Paulus tidak patah semangat. Paulus tidak menganggap penjara sebagai sebuah halangan, kendala atau kerugian, tapi justru sebagai kesempatan atau keuntungan baginya. Ia mempergunakan ruang penjaranya bukan sebagai tempat untuk meratapi nasib, tapi mengubahnya sebagai pusat penginjilannya. Ia tahu bahwa selama kesempatan masih diberikan, ia harus bekerja menghasilkan buah. Banyak surat ia tuliskan berasal dari dalam penjara yang justru berisi cara pikir dan pandang kehidupan yang esensial dari Kekristenan. Ia terus membagi sukacita kerajaan Allah dan tips-tips kehidupan yang penuh kemenangan seperti apa yang ia alami. Lihatlah bahwa sebuah sukacita karena Tuhan tidak terpengaruh oleh keadaan sekitar. Semua itu sesungguhnya adalah sebuah pilihan bagi kita. Apakah kita mau membiarkan diri kita dikuasai masalah dan kemudian kehilangan sukacita, atau kita mau memakai sukacita dalam Tuhan sebagai kekuatan yang memampukan kita menghadapi badai apapun dengan tegar.

Jika ada diantara teman-teman yang saat ini tengah bersusah hati, jangan biarkan kesedihan atau kepedihan itu menghapuskan sukacita dalam diri anda. Jangan gantungkan sukacita di tempat yang salah, menggantungkannya kepada masalah, situasi atau orang lain. Tetapi gantungkanlah pada Tuhan. Disanalah terletak perlindungan anda. Disanalah letak kekuatan anda dalam menghadapi apapun tanpa kehilangan sukacita dalam diri anda. Saat Paulus menghadapi keadaan sangat berat, ia berkata : "Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita." (Filipi 1:18b). Seperti itu pula hendaknya prinsip hidup kita. Jangan sampai kita menyerah kalah oleh masalah, jangan sampai kesusahan membuat kita lupa akan kasih karunia Allah, jangan sampai pula berbagai tekanan hidup itu menjadi jalan masuk bagi iblis untuk merampas kemenangan kita. Masalah boleh hadir dan tidak bisa kita hindari seterusnya, tapi biar bagaimanapun sukacita karena Tuhan harus tetap ada dalam diri kita, sebab itulah perlindungan kita.

"Do not grieve, for the joy of the LORD is your strength!"

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, July 23, 2017

Sukacita karena Tuhan adalah Perlindungan Kita (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Nehemia 8:11b
========================
"Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!"

Mudahkah untuk bersukacita? Mungkin mudah kalau sedang tidak ada masalah, saat semua berada dalam keadaan baik. Tapi saat ada masalah, akan jadi sulit sekali bagi kita untuk bersukacita. Rata-rata orang menghubungkan sukacita kepada sebuah perasaan dalam suatu kondisi dimana tidak ada penderitaan atau permasalahan yang sedang menimpa mereka. Berarti sukacita bagi mayoritas orang sangat tergantung dari kondisi atau keadaan yang sedang dialami. Kalau hidup sedang lancar, aman, berkecukupan atau bahkan berkelebihan, sedang dapat rejeki atau keuntungan, mendapat hadiah, bonus dan lain-lain barulah kita bersukacita. Sebaliknya, kalau sedang menghadapi persoalan, itu tandanya sukacita tidak boleh ada lagi didalam diri kita. Paling tidak sampai situasi bisa menunjukkan perubahan terlebih dahulu. Bagaimana mungkin bersukacita jika sedang dalam keadaan tersesak? Itu pandangan sebagian besar manusia.

Teman saya yang baru kehilangan ayahnya baru saja curhat bahwa saat ini ia merasa sepi, karena biasanya ia sering menelepon ayahnya yang tinggal di kota berbeda untuk bercerita tentang kesehariannya. Ia bilang, sekarang ia memandang telepon genggamnya dan tahu bahwa ia tidak lagi bisa mengajak ayahnya ngobrol santai. Sesuatu yang biasa ia lakukan, sekarang ia harus membiasakan diri melupakan hal itu. Apakah ia kehilangan sukacitanya? Ia katakan, ia bersyukur bahwa ayahnya dipanggil dalam keadaan menjaga kesetiaan iman sampai akhir. Ia bahkan dipanggil Tuhan saat sedang menyiapkan bahan sharing untuk komselnya. Ia juga bersyukur bahwa selama ini Tuhan jaga kedua orang tuanya dengan sangat baik, dikaruniai umur yang panjang dengan kondisi baik, dan ia juga tahu bahwa soal waktu dipanggil itu merupakan hak Tuhan sepenuhnya yang tidak bisa kita campuri. Ia berkata bahwa ia tidak bisa membayangkan apabila ayahnya dipanggil dalam keadaan tidak siap secara iman. Entah masih melakukan dosa, berpaling dari Tuhan, malas dalam mebangun hubungan intim dengan Tuhan, berlaku buruk terhadap orang lain dan sebagainya. Ia juga bersyukur bahwa ia tidak membuang kesempatan untuk menunjukkan rasa sayang dan kepedulian selama ayahnya masih hidup. "Untuk semua itu saya bersyukur, dan bersukacita." katanya. Tapi tetap saja ia merasakan kesepian. Dan disamping itu, ia harus menguatkan ibunya yang juga kehilangan. Tidak mudah. Ia tentu berhak merasa sedih karena kehilangan orang yang ia cintai, tapi jangan sampai rasa sedih itu kemudian membunuh rasa sukacita dan syukur, kemudian menggantikannya dengan kekecewaan, kemarahan, frustasi, depresi dan hal-hal lainnya yang tidak kondusif bagi hidup saat ini dan yang akan datang kelak.

Seorang teman lain bercerita bahwa beberapa tahun terakhir ia sebenarnya sedang kesulitan secara finansial. Berat, tapi ia menyikapinya dengan positif. Ia belajar berhemat dalam mencukupi kebutuhannya, memperbaiki pola hidup dan memilih untuk tetap bersukacita ditengah keterbatasan. Pertanyaannya, bagaimana agar kita tidak kehilangan sukacita saat keadaan sedang tidak baik, sedang bersedih, sedang dalam kesesakan, sedang bersusah hati dan sebagainya? Apakah kita harus membiarkan rasa susah menguasai kita menutupi rasa syukur dan sukacita? Atau, apakah kita harus pura-pura kuat padahal sebenarnya kita goyah?

Dalam renungan kemarin yang saya bagi dalam beberapa bagian kita sudah melihat bahwa sukacita yang sejati sesungguhnya tidak tergantung dari apa yang sedang kita alami atau rasakan. Itu karena sukacita yang sesungguhnya itu seharusnya berasal dari Tuhan dan tidak boleh tergantung dari manusia, situasi, kondisi atau keadaan apapun. Alkitab menyebutnya dengan sukacita dalam Tuhan, yang bisa kita dapati dalam berbagai ayat mulai dari Mazmur sampai Filipi diantara ayat-ayat lainnya.

Ada sebuah ayat menarik akan hal ini yang bisa kita renungkan. "Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!" (Nehemia 8:11b). Sukacita karena Tuhan ternyata bukan saja bisa mengobati kesusahan hati tetapi sangat mampu menjadi perlindungan kita. Artinya tidak saja sukacita itu tidak boleh digantungkan kepada keadaan atau kondisi yang tengah kita hadapi, tetapi seharusnya sukacita itu digantungkan pada Tuhan, dan itu bisa memberikan sebuah kekuatan tertentu untuk bisa bertahan bahkan menjadikan kita keluar sebagai pemenang ditengah kesesakan apapun. That's the power of rejoicing. Kalau memakai kekuatan kita sendiri tentu saja berat bahkan terlihat seolah tidak mungkin, tapi dengan memandang pada Tuhan, menggantungkan kesusahan kita kepadaNya kita bisa mendapatkan perlindungan dan kekuatan.

Bagi saya, Paulus selalu bisa menjadi contoh bagaimana seseorang itu bisa tetap berlimpah sukacita meski kondisi faktual yang sedang dialami sedemikian beratnya. Setelah bertobat, hidup Paulus bukanlah menjadi lebih gampang. Yang terjadi justru sebaliknya, karena ia segera bertemu dengan masalah dan penderitaan. Ia mengalami berbagai tekanan, siksaan, deraan bahkan ancaman yang setiap saat bisa menamatkan nyawanya. Secara logika kita mungkin akan berpikir bahwa itu artinya ada sesuatu yang salah.

(bersambung)


Saturday, July 22, 2017

Sukacita dalam Tuhan (4)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Daud tahu dosa akan membuat hidupnya tidak nyaman dan jauh dari Tuhan. Dan jika ia biarkan itu terjadi, sukacita pun jelas tidak akan pernah ia rasakan lagi. Itulah sebabnya Daud segera meminta hatinya disucikan agar ia dapat mengembalikan sukacita ke dalam kehidupannya, lepas dari binasa dan kembali ke dalam jalur keselamatan. Begitu pentingnya bagi kita untuk memastikan bahwa Firman Tuhan tertanam dan tumbuh subur di dalam hati kita agar kehidupan yang terpancar keluar adalah kehidupan yang penuh sukacita. Jika saat ini kita tidak merasakan adanya sukacita, mungkin inilah waktunya untuk mulai meminta pengampunan dan penyucian hati dari Tuhan

6. Sukacita dalam penderitaan
Ini mungkin yang paling sulit. Sukacita dan penderitaan bagi mayoritas manusia tidak akan pernah sejalan, selalu berada berseberangan dan bertolak belakang. Artinya, terdengar aneh apabila ada orang yang sedang menderita tetapi tetap bersukacita, dan sebaliknya orang yang bersukacita artinya sedang tidak sedang mengalami penderitaan.

Tetapi Alkitab menyatakan hal yang berbeda. Sukacita dalam Tuhan  bukanlah sukacita semu yang hanya bergantung kepada situasi dan kondisi yang kita alami sehari-hari. Lihatlah apa yang dikatakan Paulus dalam surat Roma. "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" (Roma 12:12).

Surat ini ia tulis ketika ia berada dalam penjara. Situasi sama sekali tidak memihak kepadanya. Ia patuh dan taat kepada perintah Yesus, tetapi justru penderitaanlah yang ia alami. Tetapi Paulus tidak kehilangan sukacita. Bagaimana ia bisa seperti itu? Paulus bisa, sebab fokusnya bukan ia letakkan di dunia melainkan ke dalam kehidupan kekal yang menanti didepannya. Berbagai penderitaan yang dialami Paulus sungguh berat. Hampir di setiap langkah ia akan mengalami situasi yang tidak menyenangkan dan penuh resiko. Tapi lihatlah apa kata Paulus mengenai rangkaian penderitaan itu. "Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami." (2 Korinuts 4:17).

Paulus dengan tegas mengatakan bahwa semua yang ia alami itu ringan. Dan itu bisa ia lakukan karena ia mengarahkan pandangannya bukan ke dalam apa yang ia alami di dunia melainkan ke dalam kehidupan kekal kelak. Jemaat di Makedonia pun mengalami hal yang sama. "Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan." (2 Korintus 8:2). Jika kita berkata, bagaimana mungkin kita bisa bersukacita di dalam penderitaan, maka Tuhan akan menjawab, kenapa tidak? Sukacita dari Tuhan tidaklah bergantung kepada keadaan melainkan kepada seberapa dekat kita denganNya.

Jika ada diantara teman-teman yang sedang kehilangan sukacita, lihatlah bahwa sukacita ada dimana-mana, dan tidak sulit untuk ditemukan. Sebagai penutup dari renungan yang cukup panjang ini, mari kita lihat apa kata Daud berikut: "Engkau telah memberikan sukacita kepadaku, lebih banyak dari pada mereka ketika mereka kelimpahan gandum dan anggur. Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman." (Mazmur 4:8-9). Anda rindu suasana seperti yang dirasakan Daud ini? Sadarilah bahwa Tuhan senantiasa melimpahi sukacita kepada kita.Tuhan selalu siap memberikan kelegaan dan menggantikan kesedihan kita dengan sukacita sejati yang berasal daripadaNya. Itu bisa kita miliki dan rasakan, tetapi ingatlah bahwa semua tergantung kita apakah kita mau atau tidak.

Look at the roses inside thorn bushes, and rejoice for that! 

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker