Wednesday, October 1, 2014

Tertawa Sebelum Dilarang

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Amsal 17:22
===================
"Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang."

Ingatkah anda dengan kalimat "Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang?" Jargon ini kerap muncul di film-film Warkop pada masa jayanya dahulu kala. Mereka mempergunakan kalimat ini sehubungan dengan tema komedi yang mereka bawakan, tetapi bagi saya pesan ini punya gaung akan dua hal: mengacu kepada bentuk tirani pada masa pemerintahan saat itu dan sebuah pesan atau pengingat bahwa kita harus tetap bisa bergembira dan tertawa selagi masih ada kesempatan. Akan halnya poin kedua ini, semakin lama orang semakin sulit untuk bisa tertawa. Tersenyum saja sudah sulit, apalagi tertawa. Kesulitan hidup membuat banyak orang harus membanting tulang dua-tiga kali lipat untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Stres, depresi dan rasa tertekan memuncak. Harga terus naik, sementara pendapatan tetap kalau tidak malah berkurang. Kalau dahulu orang bisa pelan-pelan mengumpul uang untuk membeli sesuatu, hari ini kecepatan mengumpul sudah jauh dibawah kecepatan harga melambung. Kebutuhan terus bertambah. Kalau kebutuhan primer yang kita kenal mengacu kepada tiga hal yaitu sandang, pangan dan papan, teori Maslow mengatakan ada 7 kebutuhan utama yang membuat banyak orang memacu dirinya bagai kuda mengejar pemenuhan semua poin disana. Situasi negara tidak kondusif, ketidakadilan, penekanan terhadap kaum minoritas, kejahatan ada dimana-mana, semuanya membuat orang semakin jauh dari rasa gembira. "Mau bagaimana bisa gembira kalau hidup minta ampun susahnya seperti ini?" kata seorang ibu yang tinggal di perkampungan di belakang rumah saya pada suatu kali. Sejak dulu kita diajarkan bahwa tertawa itu sehat/menyehatkan. Tertawa bisa menjadi obat mujarab untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Sebaliknya orang sehat pun lama-lama bisa jatuh sakit jika tidak lagi ada kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidupnya. Tidak satupun orang yang menyanggah bahwa tertawa baik untuk kesehatan. Tapi meski paham akan hal itu, beragam hal dalam hidup seperti berebutan merampas rasa gembira dari hati kita. Senyum dan tertawa pun semakin jarang terlihat dari wajah manusia. Ujung-ujung bibir bagaikan digantung benda berat sehingga melengkung ke bawah, tidak bisa lagi ditarik ke atas untuk memunculkan senyum.

Kita menyalahkan situasi dan kondisi, yang memang selalu siap menelan kebahagiaan kita kalau kita biarkan. Tapi ingatlah bahwa seringkali hilangnya kegembiraan berasal dari berbagai perasaan negatif yang dibiarkan bercokol di dalam diri kita. Ketakutan, kekhawatiran, kekecewaan, kesedihan, penderitaan dan sebagainya, itu akan setiap saat sanggup merampas sukacita dari hidup kita dan dengan sendirinya menahan senyum atau tawa untuk terlukis di wajah kita.

Jauh sebelum penelitian-penelitian medis itu dibuat, Alkitab sudah menyatakan dengan sangat jelas. Dalam Amsal kita bisa menemukan itu yang berasal dari orang yang paling berhikmat di dunia, yaitu Salomo. "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22). Hati yang gembira itu obat yang manjur, mujarab. Kalau tertawa itu sehat, Alkitab mengarahkan anak panahnya kepada sumber darimana rasa gembira yang bisa membuat kita tertawa itu datang, yaitu hati. Happy heart is a good medicine, and a cheerful mind works healing. Itu yang tertulis dalam versi bahasa Inggrisnya. Sebaliknya orang yang hatinya murung dikatakan akan mengeringkan tulang, atau mematahkan semangat. Ini sebuah ayat yang rasanya sudah kita kenal. Sangat kenal malah. Tetapi sudah sejauh mana kita menjalankannya dalam hidup kita? Atau pertanyaan berikutnya, sudah tahukah kita bagaimana agar hati kita tetap berada dalam kondisi baik dan gembira? How/where can we get a happy heart?

Kita seringkali keliru kemana harus menggantungkan kegembiraan kita. Kita cenderung menganggap bahwa gembira tidaknya itu tergantung dari situasi, kondisi atau keadaan yang tengah kita alami. Kalau kita menggantungkannya disana, tidaklah mengherankan kalau hati kita pun akan terus berada dalam situasi tidak menentu dan tidak stabil. Sebentar bisa gembira, sebentar bisa sedih, sebentar bisa penuh dengan amarah, dan sebagainya. Sekarang senang, sebentar kemudian galau. Tidakkah kita sering bertemu dengan orang yang mood nya benar-benar tidak stabil? Jangan-jangan kita pun masih sering mengalaminya. Mungkin kita sendiri pun demikian. Kita menyetir sambil tertawa riang, tiba-tiba ada pengemudi lain yang menyalip dan seketika itu pula kita terpancing emosi. Mendasarkan kepada situasi akan membuat hati kita terus berada dalam kondisi tidak stabil, dan itu tidak akan baik buat hati dan hidup kita. Di sisi lain, kemurungan dan perasaan susah tidak akan membantu atau memberikan apa-apa selain menambah masalah saja. Cobalah pikirkan satu saja masalah hidup anda, lalu fokuslah kesana selama beberapa saat. Tidak akan perlu waktu lama bagi anda untuk merasa tertekan. Pikiran negatif kalau dibiarkan akan terus bertambah semakin melebar kemana-mana. Tapi Firman Tuhan mengingatkan kita akan esensi penting untuk menghindarkan kita dari pembiaran penyebaran pikiran negatif ini. "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?" (Matius 6:27). Apa hal baik yang bisa kita peroleh dari terus menerus memupuk kekuatiran, sedih, murung atau perasaan-perasaan negatif lainnya? Semua itu tidak akan pernah memberi manfaat apapun selain membuat hari-hari yang kita lalui  terasa buruk semuanya dan terus semakin buruk. Lihatlah apa yang ditulis dalam Amsal berikut: "Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta." (Amsal 15:15).

Alkitab juga sudah mengingatkan kita agar tidak keliru menggantungkan kegembiraan dan kebahagiaan hati. Kebahagiaan sejati sesungguhnya tidaklah tergantung dari situasi dan lingkungan sekitar, melainkan sesungguhnya berasal dari Tuhan. Ada banyak sekali ayat yang sebetulnya menyatakan hal itu. Salah satunya berbunyi: "Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya." (Mazmur 33:21). Sukacita yang sejati berasal dari Tuhan, bukan atas situasi atau kondisi yang kita alami. Sebuah sukacita atau kegembiraan yang berasal dari Tuhan bukan saja baik dan bermanfaat buat kita, tapi ternyata juga bisa menular mempengaruhi orang lain. "Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita." (34:3). Rasa sedih, marah dan kuatir bisa menular, kegembiraan pun bisa menular. Mana yang lebih baik? Apakah kita dengan kesusahan kita malah membuat orang lain turut merasa susah atau kita membawa kegembiraan ditengah dunia yang sulit ini? Kemana dan dimana kita menggantungkan kebahagiaan hati kita akan sangat menentukan seperti apa kita hari ini. Apakah kebahagiaan, keceriaan, keriangan yang terpancar dari dalam diri kita dan tercermin lewat senyum atau tawa lebar yang bisa membawa suasana senang bagi orang-orang disekitar kita, atau justru kehadiran kita membawa kemuraman dan suasana yang sama sekali tidak enak bagi mereka.

Apa yang anda inginkan untuk terlukis di wajah anda hari ini? Wajah penuh amarah, berkerut, suram, seram, murung atau wajah tersenyum, cerah, penuh dengan kebahagiaan, kegembiraan dan tawa? Itu tidak tergantung dari kondisi yang tengah dialami, melainkan seberapa besar anda mengizinkan Tuhan berperan dalam hidup anda. Kemana mata kita memandang, apakah kepada masalah atau kepada Tuhan, The Provider, our full loving Father. Apakah hati kita tergantung pada kesulitan hidup atau kepada Bapa Surgawi yang penuh kasih. Itu akan menentukan kondisi hati kita dan akan tercermin pada raut muka kita. Kegembiraan sejati terletak di dalam hubungan erat kita dengan Tuhan. Kalau ini yang kita pilih, maka kita akan bisa tetap bersukacita, ceria dan tertawa meski situasinya sedang tidak kondusif. Kita tidak akan lagi mudah marah terpancing emosi. Kita bisa tertawa menyikapi masalah dan tetap tenang dalam menghadapi orang-orang sulit yang senang memprovokasi. Kita tidak akan mudah panik dan kuatir saat keadaan terguncang. Mari kita berseru seperti Pemazmur: "Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram." (Mazmur 16:8-9). Peganglah hal ini. Ubah arah jarum jam hati anda untuk tidak lagi menuju kepada berbagai kesulitan dan masalah hidup tetapi mengarah kepada  Tuhan, sumber sukacita sejati. Apapun yang anda alami saat ini, anda tetap bisa bersukacita. Jika anda memegang teguh prinsip kebahagiaan sejati menurut kebenaran firman Tuhan, tidak akan ada yang bisa merampas kebahagiaan dari hidup anda. Tuhan tidak akan pernah melarang kita untuk bersukacita, merasa gembira dan tertawa bahagia. Jadi tersenyum dan tertawalah, nikmati hidup yang penuh sukacita dengan seluruh kemampuan untuk itu yang sudah Tuhan sediakan bagi anda.

Sulit atau mudahnya tertawa bukan tergantung dari situasi tetapi dari seberapa dekatnya kita dengan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, September 30, 2014

Air Muka

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kejadian 4:6-7a
=====================
"Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik?"

Saat orang lain mengajarkan tentang pentingnya skill dan kebersatuan dalam bermain di sebuah band, seorang pianis senior memberi masukan yang terdengar aneh dan biasanya tidak dipikirkan orang. Ia berkata: "pandanglah wajah teman-teman dalam satu grup sebelum bermain, berikan senyum kepada mereka satu persatu, dan pertahankan selama bermain." Senyum? Apa hubungannya itu dengan kualitas musik yang dihasilkan? Ternyata lewat pengalamannya selama lebih 40 tahun, ia mendapati bahwa senyum bisa membawa atmosfir atau aura positif, ketenangan, kenyamanan yang akan berdampak pada kualitas permainan. "Coba pikir, bukankah kita merasa senang saat melihat orang berwajah cerah, ramah dan tersenyum saat bertemu dengan kita, meski kita tidak mengenal mereka?" katanya. Kalau dipikir-pikir benar juga.. kita tentu merasa senang kalau bisa hidup di dunia yang ramah dan penuh dengan senyum. Dunia tanpa kekerasan, tanpa kejahatan, tanpa perang, tanpa perselisihan. Kalau kita tengah berada dalam pergumulan, maka sebuah senyum seringkali mampu menyingkirkan mendung dan membawa kembali mentari cerah ke dalam hati kita. Sebaliknya, apa rasanya saat kita sedang senang hati tapi kemudian bertemu dengan wajah yang tidak ada damainya, keruh bahkan provokatif? Itu bisa merebut cerah ceria dan mendatangkan kekelaman. Pertanyaannya, dari mana sebenarnya air muka yang cerah sesungguhnya datang? Lantas adakah dampak negatif yang bisa muncul dari air muka keruh tak berseri?  Kita bertemu dengan orang-orang yang bersikap buruk dengan air muka yang provokatif hampir setiap hari, dan itu sama sekali tidak menyenangkan. Dari mana air muka yang cerah sesungguhnya berasal? Dan adakah dampak negatif yang bisa muncul dari air muka yang keruh tak berseri?

Untuk menjawab kedua pertanyaan ini, kita bisa melihat kisah antara Kain dan Habel. Pada suatu hari mereka mempersembahkan korban persembahan kepada Tuhan. Dalam Kejadian 4:4 dikatakan bahwa Tuhan berkenan; dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "had respect and regard" pada Habel atas persembahannya. Sebaliknya, korban persembahan Kain ternyata ditolak. Kain ternyata bukannya menyesal dan memperbaiki kesalahannya, tapi malah merasa kesal kepada Tuhan. "Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram." (ay 5b).

Mari kita lihat dulu bagian ini. Ketika hati panas, air muka pun berubah menjadi muram. Hati tenang muka cerah, tapi kalau mendidih, muka pun kemudian menjadi muram. "Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik?" (ay 6-7a). Ada dua hal yang bisa kita lihat dari ayat ini. Pertama, Tuhan menyatakan bahwa ia tidak suka terhadap raut muka kerung seperti ini. Kedua, Tuhan  mengingatkan kita bahwa raut wajah yang muram itu timbul ketika tidak ada sukacita dalam diri kita, dimana kasih Tuhan tidak lagi ada dalam kita dan berkuasa atas kita. Berbuat hal-hal baik yang berkenan kepada Tuhan menjadi cerminan yang seharusnya bisa mendatangkan sukacita dalam diri kita. Ayat berikutnya menuliskan lanjutannya. "Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." (ay 7b). Air muka yang muram muncul ketika kita kehilangan sukacita dalam hati kita yang diakibatkan oleh perbuatan-perbuatan kita yang tidak baik. Dan ketika itu terjadi, ada dosa yang sudah mengintip di depan pintu dan tengah bersiap-siap untuk menerkam kita. Dan benarlah, ketika Sayangnya Kain mengabaikan peringatan Tuhan. Maka sesuatu yang buruk pun terjadi. Ia membunuh adiknya sendiri dan dengan sendirinya harus menanggung konsekuensi atas perbuatannya seumur hidup, bahkan berdampak hingga ke generasi selanjutnya. Jadi jelaslah bahwa hubungan yang kuat antara apa yang ada dalam hati kita dengan apa yang terpancar keluar lewat air muka kita.

Dalam salah satu amsal Salomo kita baca "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat." (Amsal 15:13). Muka yang berseri-seri berasal dari hati yang gembira, yang bersukacita. Seperti yang kita sudah tahu, hatilah yang menjadi sumber dari mana kehidupan kita terpancar yang ditulis dalam Amsal 4:23. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." Jadi penting bagi kita untuk tidak membiarkan pengaruh-pengaruh buruk masuk ke dalam hati kita, berkuasa di dalamnya dan kemudian menggiring kita ke dalam berbagai penyimpangan. Jika itu terjadi, sukacita akan hilang dari diri kita. Air muka kita pun berubah muram, tidak sedap dipandang mata, dan tidak lagi mencerminkan raut yang seharusnya sebagai anak-anak Tuhan.

Kesimpulannya, agar kita bisa memiliki air muka yang menyenangkan, caranya tidak lain adalah dengan terus mengisi hati kita dengan sukacita. Hati yang bersukacita akan memancarkan sinar cerah di wajah kita yang bisa membahagiakan kita dan juga orang lain yang melihatnya. Kalau begitu tidaklah mengherankan bahwa firman Tuhan terus memerintahkan kita untuk setiap saat terus bersukacita dalam situasi dan kondisi apapun. "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" (Filipi 4:4). Hati yang bersukacita akan selalu membawa banyak manfaat. Selain membawa pengaruh kepada orang-orang disekitar kita, itu juga akan membuat kita lebih luwes dalam pergaulan, membawa kita bekerja sebaik mungkin bahkan akan bermanfaat pula pada kesehatan kita. Sebaliknya Ketakutan, kebencian, kegelisahan, emosi dan perasaan-perasaan negatif justru menjadi pembunuh mematikan jika terus kita simpan di dalam hati kita. Berbagai jenis penyakit seringkali berawal dari hal-hal negatif yang kita pelihara di dalam diri kita. Sejak jauh hari Tuhan pun sudah mengingatkan akan hal ini. "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22).

Tuhan tidak suka kepada orang yang air mukanya muram dan suka bersungut-sungut. Selain teguran Tuhan pada Kain, lihatlah bagaimana kesal dan kecewanya Tuhan melihat bangsa Israel yang terus saja bersungut-sungut meski mereka terus mendapat curahan berkat dan penyertaan Tuhan secara langsung dalam hidup mereka. Haruskah kita mencontoh perilaku mereka dan terus mengecewakan Tuhan lewat sikap dan air muka kita? Baikkah kalau kita terus membiarkan diri kita menjadi orang yang cepat marah, cepat tersinggung, egois, tidak mau mengerti orang lain dan memasang wajah kaku tak bersahabat? Tuhan sendiri tidak menginginkan hal seperti itu untuk dilakukan anak-anakNya. Kasih Tuhan yang tercurah setiap hari kepada anak-anakNya seharusnya mendatangkan sukacita, dan selanjutnya terpancar lewat raut  muka, sikap dan perilaku yang bersinar terang, dan itu seharusnya dapat dengan mudah dilihat oleh dunia. Jadilah orang yang ramah, murah senyum, punya sikap bersahabat. Jangan pernah biarkan kesulitan-kesulitan dan tekanan dalam hidup merampas sukacita dalam diri kita dan menghilangkan senyum dari wajah kita. Anda ingin terus tersenyum dengan wajah yang cerah? Jika ya, jaga terus hati anda supaya tetap penuh dengan sukacita Allah.

Senyum ramah terpancar dari hati yang bersukacita, dan itu akan bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, September 29, 2014

Ditolak itu Biasa

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 13:33
=====================
"Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem."

Kalau cuma sekali mengalami penolakan mungkin tidak apa-apa. Bagaimana kalau itu terus terjadi berulang-ulang? Percaya diri bisa runtuh, orang pun bisa takut untuk terus mencoba. Itu berlaku dalam berbagai bentuk penolakan. Ada yang ditolak cintanya sampai berkali-kali, ada yang terus mengalami meski yang ditaksir sudah berganti-ganti, bentuk penolakan bisa juga terjadi dalam dunia kerja atau profesi. Lihatlah sebuah pengalaman teman saya yang tanpa patah semangat terus berusaha meyakinkan gadis yang ia sukai untuk menerimanya. Sekali ditolak ia mencoba lagi, kedua kali masih tetap tegar, akhirnya pada kali ketiga cintanya bersambut. Bagaimana kalau ia menyerah pada kali pertama atau kedua? Ia tentu gagal dalam usahanya. Contoh lainnya bisa kita lihat di dunia akting. Ada seorang aktor laga Indonesia yang saat ini berkibar bukan hanya di perfilman nasional tapi sudah mencapai Hollywood. Apakah perjuangannya mudah, langsung sukses dalam sekejap mata? Sama sekali tidak. Dalam sebuah wawancara ia bercerita bahwa beberapa tahun pertama ia terus menerus gagal dalam casting. Ia berkata bahwa penolakan sudah menjadi bagian hidupnya di masa itu. Tapi ia menolak untuk putus asa, meski itu harus ia alami sekian tahun lamanya. Ia memutuskan sesuatu yang jauh lebih positif, yaitu belajar dari setiap kegagalan yang terjadi. "Saya belajar dengan melihat mengapa saya ditolak, mengapa yang lain berhasil." katanya. Itu terus ia lakukan, lama-lama ia pun berhasil. Semenjak itu karirnya meningkat pesat hingga mencapai percaturan perfilman paling bergengsi di dunia. Kalau ia menyerah ketika mengalami beberapa penolakan, niscaya ia tidak akan pernah bisa meraih mimpinya.

Ada seorang aktor senior terkenal di Amerika yang mengalami keadaan lebih buruk di masa awal karirnya. Ia juga mengalami banyak penolakan, bahkan pada suatu ketika ia harus hidup di jalan karena tidak lagi mampu memperpanjang sewa kontrakannya. Saat ia membuat sebuah skrip film, hampir semua PH yang ia datangi menolak. Ada yang tertarik, tapi tidak mau memakainya sebagai pemeran utama sebagai syarat yang ia ajukan kepada masing-masing PH tersebut. Pada akhirnya ada PH kecil yang setuju, dan filmnya menjadi sangat terkenal sepanjang masa sekaligus melambungkannya menjadi aktor laga kelas atas.

Penolakan, penolakan dan penolakan. Itu tidak pernah enak bagi siapapun. Ada rasa sakit yang mungkin timbul, mungkin kecewa, mungkin sedih. Sebuah penolakan pasti pernah dialami oleh siapapun yang pernah hidup di dunia ini pasti pernah merasakan bagaimana tidak enaknya mengalami penolakan. Tidak terkecuali Yesus sendiri.

Ketika Yesus turun ke bumi. Dia pun pernah merasakannya. Bukan hanya satu dua kali tapi sering. Lihat saja ketika ada yang berniat menjatuhkan Yesus dari atas tebing (Lukas 4:29), mendapat ancaman akan dibunuh oleh Herodes jika masih bersikeras memasuki Yerusalem (13:31). Dalam kesempatan lain kita tahu pula bahwa Yesus pernah menghadapi persekongkolan orang Farisi yang merasa gerah menghadapi sepak terjang Yesus. Mereka berusaha mencobai (Matius 16:1) bahkan mencoba membunuhNya. (3:6). Orang-orang yang berseru "Hosana! Hosana!" (Markus 11:7-10) adalah orang-orang yang sama mengucapkan "salibkan Dia! salibkan Dia!" (15:12-14). Jika kita mengalami hal ini mungkin kita akan merasa kecil hati, merasa kecewa dan sakit hati, dendam atau kehilangan pegangan. Tapi tidak bagi Yesus. Yesus terus melakukan pelayanan dengan semangat pantang mundur. Apa kuncinya? Kuncinya adalah karena Yesus tahu tujuanNya turun ke dunia. Dia turun bukan untuk mencari pengakuan atau penghormatan dari manusia, melainkan menjalankan misi untuk menyelesaikan kehendak Bapa yang mengutusNya."Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem." (Lukas 13:33). Itu fokus Yesus sesuai dengan tugas yang diembanNya seperti yang dikehendaki Bapa. Oleh karena itulah Yesus tidak surut walau mendapat berbagai penolakan bahkan ancaman pembunuhan sekalipun, karena fokusnya jelas, melakukan kehendak Bapa dan bukan tergantung dari respon manusia.

Berbagai penolakan pernah kita alami dan akan terus terjadi. Jagalah agar berbagai penolakan jangan sampai membuat kita patah semangat dan hancur berantakan dalam kegagalan. Justru penolakan-penolakan itu seharusnya mampu menjadi stimulus atau penyemangat, juga pembelajaran bagi kita agar kita bisa tumbuh lebih kuat dalam berjuang mencapai tujuan. Jika orang-orang yang saya sebutkan di awal renungan ini cepat menyerah, mereka juga tidak akan bisa sukses seperti sekarang. Jika Yesus menyerah saat mendapat tekanan-tekanan berat, hari ini kita tidak akan mengalami hidup dalam jaminan keselamatan dan bisa merasakan hadirat Tuhan yang begitu indah. Bagaimana Paulus, Petrus, Yohanes dan rekan-rekan sepelayanan mereka patah arang ketika mengalami penolakan? Kita bisa bayangkan akibatnya dalam hal penyebaran kabar keselamatan dan pengenalan manusia akan Kristus.

Penolakan bisa dan akan selalu terjadi kapan saja, tapi jangan pernah menyerah. Tetaplah bersukacita dalam keadaan apapun, sebab sukacita sejati bukan berasal dari manusia atau keadaan di dunia, melainkan berasal dari Tuhan. "Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya." (Mazmur 33:21). Sukacita sejati yang berasal dari Tuhan sesungguhnya jauh berada di atas segala permasalahan, penolakan dan orang-orang yang mengecewakan kita. Hari ini mungkin kita ditolak, tetapi yakinkan diri anda bahwa tidak selamanya anda akan mengalami hal itu. Pada suatu kali kegigihan anda akan berbuah, dengan pengalaman-pengalaman yang justru membuat anda tumbuh sebagai anak-anak Tuhan yang dewasa, bijaksana dan bermental baja. Fokuslah kepada rencana Tuhan bagi hidup anda, dan pakailah pengalaman tertolak itu sebagai batu loncatan untuk sebuah kesuksesan.

Ditolak itu biasa, jangan putus asa tetapi teruslah berjuang sampai berhasil

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, September 28, 2014

Mencekik Firman

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Markus 4:19
===============
"Then the cares and anxieties of the world and distractions of the age, and the pleasure and delight and false glamour and deceitfulness of riches, and the craving and passionate desire for other things creep in and choke and suffocate the Word, and it becomes fruitless." (English Amp)

Jika mendengar kata mencekik, pikiran kita biasanya akan mengarah kepada sebuah tindakan mencengkram leher seseorang dengan kuat sehingga korban bisa lemas bahkan mati. Kita sering melihat adegan seperti ini di film-film yang mengangkat tema kriminal, kita juga sering membaca pola pembunuhan seperti ini di berbagai media massa. Cekik memang memiliki definisi tepat seperti itu, tetapi ada juga defenisi lainnya yaitu mematikan, menekan, menjepit atau menindas sehingga seseorang atau sesuatu itu tidak bertumbuh sebagaimana mestinya.

Menarik jika melihat bahwa Yesus dalam menerangkan tentang bagaimana benih firman bisa tumbuh dalam Matius 13:1-23, Lukas 8:4-15 dan Markus 4:1-20. Layaknya bibit atau benih tanaman yang kita inginkan untuk tumbuh di halaman rumah atau kebun kita, benih firman yang ditabur akan sangat tergantung dari kondisi tanah dimana benih itu jatuh. Yesus mengatakan bahwa benih yang akan berbuah tentu saja adalah benih yang jatuh di tanah yang baik. "Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat." (ay 8). Pertanyaannya, bagaimana kondisi hati kita saat ini? Sudahkah hati kita baik seperti tanah yang baik? Sudahkah kita memperhatikan betul kondisinya hari ini? Mungkin perilaku kejahatan yang jelas-jelas nyata memang tidak kita lakukan, seperti membunuh, mencuri, menyiksa orang dan sebagainya. Tetapi kita luput memperhatikan hal-hal yang tampaknya tidak bersalah dalam hidup sehari-hari. Hal-hal seperti ini bisa mencekik kehidupan rohani kita jika kita ijinkan terjadi.

Hal itu tampak jelas dalam ayat dalam Injil Markus 4:18-19. "Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah." Dalam versi English Amplified, dikatakan "And the ones sown among the thorns are others who hear the Word; Then the cares and anxieties of the world and distractions of the age, and the pleasure and delight and false glamour and deceitfulness of riches, and the craving and passionate desire for other things creep in and choke and suffocate the Word, and it becomes fruitless." Tanahnya mungkin tidak berbatu dan keras, tetapi ada banyak semak duri disana yang akan menghambat pertumbuhan benih tersebut. Seperti apa bentuk semak duri yang dimaksud Yesus? Versi Alkitab kita mengatakan itu adalah kekuatiran, tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain, keinginan-keinginan yang ditujukan untuk memuaskan dan berpusat pada daging. Mengapa saya mengacu kepada versi bahasa Inggrisnya? Karena dalam versi ini penjabarannya lebih detail. "The cares and anxieties of the world and distractions of the age, and the pleasure and delight and false glamour and deceitfulness of riches, and the craving and passionate desire for other things."  Lebih mementingkan dunia, Kekhawatiran dan kegelisahan duniawi, gangguan atau kebingungan di jaman ini, kesenangan dan kegembiraan dan gemerlap yang semu atau palsu, tipu daya kekayaan dan kecanduan dan hasrat yang menggebu untuk hal-hal lain, itulah yang menjadi semak duri. Semak duri ini dikatakan bisa menyelinap masuk kemudian mencekik firman (choke and suffocate the Word) sehingga firman menjadi terhambat atau sama sekali tidak bertumbuh. Ayat ini menggunakan kata choke and suffocate. Choke itu mencekik, sedang suffocate adalah sebuah tindakan yang dibuat untuk menghambat, menghalangi atau menghancurkan akses seseorang akan udara atau oksigen. Misalnya dengan menutup kepala seseorang dengan kantong plastik, menutup hidung dan mulut dengan sesuatu yang membuat korban tidak bisa bernafas dan sebagainya. Keduanya punya tujuan sama, yaitu untuk mencelakakan dengan menutup akses kepada hal yang diperlukan untuk bisa hidup. Mencekik leher orang, menutup kepalanya dengan plastik atau menutup mulut dan hidung dengan sapu tangan, bantal atau tangan kosong, itu akan menghasilkan kondisi yang sama bagi korban, yaitu mati lemas. Itulah yang akan terjadi dengan benih firman apabila kita membiarkan semak duri seperti dalam penjabaran diatas untuk menguasai hati dan hidup kita secara keseluruhan. Benih bukan saja bisa terhalang bertumbuh, tapi bisa tidak tumbuh sama sekali alias mati. Kalau sudah begitu, bagaimana kita bisa mengharapkan adanya buah?

Maka sangatlah penting bagi kita untuk menjaga cara hidup kita dalam dunia ini agar jangan sampai ada yang mencekik kerohanian kita. Kita sibuk mementingkan segala sesuatu yang diajarkan dunia bisa mendatangkan kebahagiaan dan kepenuhan. Kita terus menerus bekerja bagai mesin yang terus beroperasi nonstop untuk mengikuti ajaran dunia sehingga tidak lagi punya waktu sedikitpun untuk mengurusi masalah rohani. Jika ini yang kita pilih, disanalah roh kita tercekik dan tidak lagi bertumbuh, tidak berbuah. Kalau kita ada pada situasi ini, artinya sudah tiba waktu bagi kita untuk menyederhanakan hidup kita dengan menitikberatkan sesuai skala prioritasnya. Jangan sampai kita mengorbankan waktu untuk berdoa dan bersaat teduh, merenungkan Firman bersama Tuhan demi hal-hal lainnya yang kita anggap jauh lebih penting dibandingkan itu. Jangan sampai pula kita mengorbankan keluarga demi karir dan kekayaan. Dunia terus menganjurkan dan menghasut kita sehingga paradigma kita pun tidak lagi mengacu kepada kebenaran firman. Itupun sudah menunjukkan tercekiknya benih firman dalam diri kita. Firman Tuhan sudah mengingatkan hal ini. "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2).

Lihatlah pesan Paulus kepada Timotius berikut: "Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya." (2 Timotius 2:4). Ini adalah pesan yang sangat penting agar kita tidak memusingkan diri setiap saat dengan soal-soal penghidupan. Tidakkah seorang prajurit atau tentara pun akan seperti itu? Akankah seorang prajurit bisa berkenan kepada atasan atau komandannya apabila ia malah sibuk mengurusi urusan pribadinya dan mengabaikan perintah dari sang komandan? Bagi saya ini adalah sebuah perumpamaan yang sangat tepat untuk mengingatkan kita mengenai skala prioritas dalam menjalani hidup. Jangan sampai segala aktivitas kita membuat kita lupa untuk membangun hubungan dengan Tuhan lewat doa, pembacaan atau perenungan firman dan saat-saat teduh kita. Jangan sampai segala kesibukan kita membuat keluarga kita kering akan kebenaran firman. Kita harus senantiasa merawat, memperkuat dan menyehatkan roh kita agar tetap baik keadaannya dan tidak sedang dalam keadaan tercekik.

Selanjutnya lihatlah firman Tuhan dalam surat 1 Yohanes 2 berikut. "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia." (1 Yohanes 2:15-16). Ayat ini berbicara dengan jelas mengenai apa yang seharusnya menjadi titik fokus atau pilihan kita dalam menjalani kehidupan. Bahkan lebih tegas lagi dikatakan: "Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah akan hidup selama-lamanya." (ay 17). Apa yang bisa membuat kita berbuah adalah apabila kita tetap bersatu dengan Tuhan. Perhatikan ayat berikut ini: "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku." (Yohanes 15:4). Itulah yang penting untuk kita pastikan.

Kita tidak akan bisa berbuah apabila kita malah tinggal di dalam segala yang ditawarkan dunia dan terlepas dari Yesus. Dwell in Him, and he will dwell in you. Live with Him, and He will live in you. That's the only way for us to bear fruit. That's the way for us to avoid the condition of being spirtually choked and suffocated.

Perhatikan hidup sehari-hari dan pastikan jangan sampai satupun ada yang mencekik kerohanian kita hingga tidak bisa tumbuh dan berbuah

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, September 27, 2014

Beautiful People of God

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 139:14
====================
"Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya."

Saya termasuk orang yang sering menonton iklan. Bukan, bukan karena faktor konsumerisme atau tukang belanja, tetapi untuk melihat bagaimana perkembangan bentuk iklan 'menyerang' target atau calon konsumen mereka. Semakin hari iklan semakin tidak sehat atau 'kejam' dalam melakukan serangan. Perhatikan bagaimana mereka membentuk image orang mengenai apa yang dikatakan cantik, sukses, bahagia dan sempurna. Jika anda tidak memindahkan channel pada saat iklan berlangsung, maka cepat atau lambat dalam pikiran anda akan terbentuk bahwa orang cantik itu kulitnya putih, rambutnya berkilau bak mayang terurai, tubuh langsing, muka tanpa kerut dan sebagainya. Iklan-iklan ini terkadang konyol dalam melakukan editing sehingga orang bisa terlihat seperti mayat hidup tanpa pori-pori saking keterlaluan memutihkan objek. Atau bisa juga konyol dalam menyampaikan jargon. Lihatlah sebuah iklan yang menyebut bahwa 'cantik itu kulit putih bebas bulu.' Belakangan entah kenapa jargonnya diganti dengan 'kulit mulus bebas bulu.' Bagaimana dengan orang yang punya bulu dan kurang mulus? Berarti mereka tidak cantik, sehingga kalau mau cantik ya beli produknya. "Memangnya ada orang yang tidak berbulu sama sekali? Kalau begitu Tuhan sengaja menciptakan manusia tidak cantik dong.." begitu kata seorang teman pada suatu kali ketika saya ngobrol tentang bentuk kampanye iklan di televisi. Bagaimana nasib orang yang kulitnya tidak putih? Itu juga dianggap jelek, padahal sebagai orang yang tinggal di daerah tropis, kulit normalnya rata-rata berwarna sawo matang. Di luar sana orang kulit putih justru berusaha menggelapkan kulit agar terlihat eksotis atau lebih indah, sementara kita terus saja merasa kurang putih. Rambut keriting? Rambut pendek? Itu juga berarti jelek. Badan yang tidak setipis kertas sehingga bisa menyelip diantara dua orang dalam ruang sempit, itu juga artinya jelek.

Lantas kebahagiaan, itu ditunjukkan lewat kepemilikan atas mobil, apartemen dan lain-lain yang mewah. Sepasang suami-istri dan anak sepasang, laki-laki dan perempuan, tersenyum lebar sampai giginya kelihatan semua, agar konsumen melihat betapa bahagianya hidup mereka kalau memiliki produk-produk tersebut. Belum lagi iklan-iklan yang menakut-nakuti penontonnya dengan berbagai bentuk penyakit, ketidakamanan dan sebagainya. Kalau mau tidak takut dan bisa merasa aman, ya beli saja produknya, atau ikuti penawarannya. Betapa mengerikan ketika iklan-iklan ini dikonsumsi oleh anak-anak kecil, maka pemikiran mereka akan cantik, bahagia dan sejahtera bisa terbentuk secara salah sejak usia mudanya. Tidaklah heran kalau hari ini semakin banyak orang yang tidak puas terhadap penampilan mereka. Operasi plastik, berbagai cream yang janjinya bisa memudakan sekian puluh tahun dan berbagai kosmetik/sabun yang bisa melunturkan warna kulit sampai habis pun semakin banyak di pasaran. Soal kandungannya mengandung merkuri atau zat-zat berbahaya lainnya tidak dipikirkan, yang penting bisa cantik menurut orang. Mau trendy? Anda tentu tahu harus punya gadget jenis apa. Atau kalau mau selingkuh, ada gadget yang bisa menyembunyikan aktivitas anda dari pemeriksaan 'interpol pribadi' alias istri. Wah, semakin lama iklan semakin tidak karuan. Kita pun semakin melupakan apa yang ada dipikiran Tuhan ketika Dia menciptakan kita lewat tanah liat dan menjadi hidup bernyawa dengan hembusan nafasNya.

Apa yang sedang Daud lakukan ketika ia menuliskan bagian Mazmur pada ayat bacaan hari ini? Apakah ia sedang mematut diri di depan cermin atau sedang merenung, entahlah. Tidak ada catatan apa yang sedang ia lakukan pada saat menuliskan ayat ini. Tapi apapun yang ia lakukan, satu hal yang pasti adalah ia sampai pada sebuah kesimpulan:  "Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya." (Mazmur 139:14). Daud mengetahui dengan pasti bahwa dirinya bukanlah hanya kebetulan saja. Ia tidak diciptakan asal-asalan tanpa makna, tanpa rencana, tanpa tujuan. Daud tahu bahwa ia ada untuk sebuah tujuan, dan jiwanya menyadari bahwa Tuhan telah menyiapkan segalanya dengan cara yang dahsyat dan ajaib. Dia tahu pasti dirinya adalah hasil mahakarya Tuhan yang indah. Daud tidak hanya berbicara mengenai ketampanan atau kesempurnaan secara fisik, tetapi ia melihat dirinya sebagai sebuah kesatuan yang utuh, dan ia pun mengucapkan rasa syukurnya kepada Tuhan atas anugerah yang ia terima tersebut.

Betapa indahnya ayat dalam Mazmur 139:14 ini, yang sangat baik untuk kita renungkan secara mendalam hari ini. Tidakkah rasanya sangat melegakan jika kita mampu menyadari bahwa kita bukanlah hasil dari sebuah kesalahan, was not made as a mistake, bukan dibuat secara acak, sembarangan atau sia-sia, bukan pula diciptakan sebagai pecundang tanpa arah tujuan atau tanpa rencana, atau sengaja ditakdirkan sebagai orang susah? Kita bukanlah dibuat diciptakan seadanya dengan setengah hati, tetapi Tuhan justru mencurahkan segala yang terindah dalam menciptakan kita. Bak Seniman Agung Dia menciptakan manusia secara sangat istimewa. Tidak seperti ciptaan lainnya, kita diciptakan dengan gambar dan rupa Allah sendiri (Kejadian 1:26). Kita mendapatkan nafas hidup langsung dari hembusan Allah (2:7), tetap berada dalam telapak tangan dan ruang mataNya (Yesaya 49:16), dan sungguh semua itu memang benar-benar dahsyat dan ajaib adanya. Bagi Daud, sulit rasanya untuk bisa memahami jalan pikiran Tuhan ketika Dia membentuk buah pinggang dan menenun kita sejak dalam kandungan. (Mazmur 139:13). Ia pun berseru: "Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!" (ay 17).

Apa yang ada dipikiran Tuhan saat Dia menciptakan kita secara istimewa dan menjanjikan begitu banyak hal yang indah penuh berkat bagi kita? Apapun alasan Tuhan bisa jadi sulit untuk bisa kita pahami, tetapi setidaknya maukah kita menyadari betul bahwa kita diciptakan secara khusus sebagai ciptaanNya yang teristimewa dan berhenti hanya memandang kekurangan-kekurangan kita? Maukah kita untuk fokus kepada apa kelebihan yang ditanamkan Allah sejak semula ketika Dia menciptakan kita dan bersyukur untuk itu dan berhenti menghakimi kekurangan kita, yang belum tentu merupakan sebuah kekurangan, karena hanya berdasarkan image keliru yang diciptakan pasar atau dunia saja? Jika kita menyadari hal ini dengan baik, kita akan mampu menyadari kebaikan Tuhan dalam diri kita, dan disaat itulah kita baru bisa menggali potensi-potensi yang ada untuk kemudian dipergunakan dalam segala hal yang memuliakan Allah.

Daud mampu melihat segala yang indah dalam dirinya sebagaimana ia diciptakan Tuhan. Ia menggambarkannya sebagai sesuatu yang "dahsyat dan ajaib". Itu Daud. Bagaimana kita memandang diri kita hari ini? Yang pasti, Tuhan sangat menganggap kita istimewa. Begitu istimewanya sehingga keselamatan pun Dia berikan kepada kita atas dasar kedahsyatan kasihNya lewat Kristus. Kita ada sebagaimana kita ada, itu karena kasih karunia Allah semata. (1 Korintus 15:10). Kalau memang disebut kasih karunia, apakah masih ada hal lain yang membuat kita terlihat jelek atau dianggap bertakdir tidak seberuntung mereka yang sukses? Kita diciptakan secara dahsyat dan ajaib, diberi talenta yang istimewa, dengan tujuan-tujuan khusus dimana damai sejahtera dan masa depan yang penuh harapan tertulis didalamnya. We are made special, with special purpose for a better future based on God's graceful plan. We are beautiful people, His beautiful and beloved children. That's who we are in His eyes. Berbagai iklan dan image yang ditawarkan dunia boleh berbicara sebaliknya, tapi dengan melihat dari sudut pandang Sang Pencipta, kita seharusnya bisa menghindari jebakan-jebakan tersebut dan mengubah paradigma kita akan nilai keindahan yang ada dalam diri setiap kita.

Whoever you are, you are special to Him

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, September 26, 2014

Lilin Mainan dan Tanah Liat

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yesaya 64:8
======================
"Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu."

Saya masih ingat saat kecil saya sangat suka bermain-main dengan lilin mainan. Saya membentuk berbagai objek mulai dari orang, superhero, mobil, gedung, hewan dan objek lainnya. Kalau tidak pakai lilin dengan warna berbeda, saya mengecatnya supaya terlihat lebih realistis. Kalau ditanya apa yang menjadi karya terbaik saya, maka saya akan memilih sebuah kota yang terlihat hancur dengan beberapa superhero sedang melawan monster disana. Sayang semuanya saat ini sudah tidak ada lagi, dan kesibukan setelah dewasa membuat saya tidak lagi punya waktu untuk bermain-main dengan lilin-lilin ini.

Seperti orang-orangan yang dibuat dengan menggunakan lilin mainan, kita pun dibentuk dengan bahan yang mirip. Apa yang dipergunakan Tuhan dalam membentuk kita? Ayat bacaan hari ini menggambarkan hal itu. "Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu." (Yesaya 64:8). Kita dibentuk dengan menggunakan tanah liat dan memperoleh nyawa yang hidup dari hembusan nafas Tuhan sendiri (Kejadian 2:7). Kita ini ternyata tidak lebih dari seonggok tanah liat yang menjadi hidup lewat nafasNya sendiri. Dengan menyadari dasar eksistensi manusia ini, sudah seharusnya kita tidak boleh bersikap arogan, menyombongkan diri dan merebut semua yang menjadi hak Tuhan, Sang Pencipta kita.

Dalam ayat lain Yesaya mengatakan bahwa manusia tidaklah lebih dari embusan nafas semata, sehingga kita jangan pernah menaruh harapan terlalu tinggi pada sebuah figur atau sosok manusia. "Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?" (Yesaya 2:22). Selain itu kita pun harus menyadari bahwa masa hidup kita di dunia singkat adanya. "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap." (Mazmur 90:10). Itu tidak sebanding dengan tujuan berikutnya yang kekal setelah masa yang fana ini selesai. Tidakkah menyedihkan kalau kita tidak menyadari hal ini dan masih merasa jauh lebih hebat dari orang lain, merasa punya kuasa untuk melakukan banyak hal semena-mena terhadap orang lain? Pada suatu ketika semua manusia harus siap untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan selama di dunia ini di hadapan Tuhan. Dan ingatlah bahwa pada waktu itu tidak akan ada lagi yang bisa kita lakukan selain menyerahkan semuanya kepada penghakiman Tuhan.

Kalau kita dibentuk dengan tanah liat, maka Tuhan adalah Penjunan kita. Objek yang dibuat tidak punya kekuasaan apa-apa melebihi Pembuatnya. Tanah liat tidak pernah bisa mengatur pembuatnya untuk membentuk dirinya sesuai dengan keinginannya. Tapi si pembuat pasti mengenal jenis tanah liat dan seperti apa ia bisa dibentuk agar bisa menghasilkan karya seindah mungkin. Demikianlah sebuah pelajaran yang dipetik oleh Yeremia lewat seorang tukang periuk. Dalam pembuka Yeremia 18 kita membaca bahwa Tuhan menyuruh Yeremia ke tukang periuk untuk mendapat pelajaran penting mengenai hakekat manusia dan hubungannya dengan Tuhan. "Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya." (Yeremia 18:4). Seperti itulah hasil pengamatan Yeremia. Lalu Tuhan berkata: "Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!" (ay 6). Ya, Tuhanlah sang Penjunan atau Pembuat, sedang kita adalah tanah liat yang berada di tangan sang Pembuat. Karenanya bukan kehebatan kita yang bisa membuat kita menjadi baik, berkelimpahan dan selamat, namun semata-mata karena kehebatan Tuhan membentuk kita-lah maka kita bisa menjadi bejana-bejana yang indah. Kalau kita masih melakukan berbagai bentuk dosa, meninggikan diri sendiri, mencari pamor dan kekuasaan agar bisa seenaknya melakukan ketidakadilan dan kejahatan, itu artinya kita masih tidak menyadari betul jatidiri kita yang sebenarnya. Malah Alkitab mencatat demikian "Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!" (Yeremia 17:5).

Jika Tuhan sebagai sang Penjunan atau sang Pembuat periuk/bejana yang mengenal karakter kita masing-masing, si "tanah liat", dengan sangat baik, apa yang menjadi rencanaNya? Tuhan berfirman: "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (29:11). Untuk mencapai tujuan itu, terkadang proses pembentukan karakter diperlukan, dan hal itu seringkali tidak nyaman bahkan mungkin menyakitkan. Tapi nantinya setelah proses itu dilewati, sebuah bejana yang sangat indah akan terbentuk.

Kita hanyalah tanah liat yang hidup dengan hembusan nafas Tuhan. Tidak seharusnya kita bersikap paling hebat di atas segala-galanya dan hidup seenaknya dengan kekuatan diri kita sendiri maupun orang lain. Ingatlah bahwa di atas sana ada Tuhan, Sang Penjunan yang begitu mengasihi kita dan tidak ingin satupun dari kita binasa. Jauhkanlah kesombongan dan keangkuhan dari diri kita. Hiduplah rendah hati, rajin menolong sesama dan berserahlah secara penuh kepada Tuhan dalam segala hal. Lakukan setiap aktivitas dengan sebaik-baiknya seperti untuk Tuhan sendiri, dan tetap muliakan Dia disana. Selama kita masih bernafas, pergunakanlah setiap nafas yang ada untuk memuji dan memuliakanNya.

Kita dibentuk dengan tanah liat dan hidup dengan hembusan nafasNya, pujilah Tuhan lewat segala yang kita lakukan dan dalam segala sisi kehidupan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, September 25, 2014

Bernafas: Berkat Tuhan yang Terabaikan

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 150:6
=======================
"Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!"

Pernahkah anda menghitung berapa kali anda perlu bernafas dalam sehari? Dahulu waktu saya masih kecil, saya pernah penasaran dan mencoba menghitungnya. Tapi karena saya waktu itu menghitung satu persatu, maka jelas itu tidak akan mungkin berhasil. Dari fakta ilmiah, rata-rata orang bernafas 20 kali per menit (dalam hitungan normal, tidak termasuk saat terengah-engah atau ketika panik). Berarti secara rata-rata orang bernafas 28.800 kali dalam sehari. Fakta ilmiah berikutnya adalah dalam satu kali bernafas manusia menghirup sekitar 0.5% udara. Benar kita butuh oksigen, tetapi bukan cuma oksigen yang terkandung disana. Biar tidak repot, ambil oksigen saja. Apabila oksigen yang disediakan Tuhan dalam udara yang kita hirup saat bernafas tidak gratis alias berbayar, apakah kita bakal mampu memenuhi biayanya supaya bisa tetap hidup? Harga satu liter oksigen saat ini ada di kisaran 20 ribu-25 ribu rupiah. Kalikan harga tersebut dengan 28.800 kali bernafas plus saat kita ngos-ngosan habis berlari, maka jumlah uang yang harus anda keluarkan untuk bisa hidup ternyata sangat besar. Oksigen saja sudah mencapai 700 juta rupiah lebih, belum hitungan gas-gas lain seperti nitrogen misalnya. Berapa (puluh) milyar uang yang harus kita peroleh setiap hari untuk bisa bernafas?

Ketika membahas hal ini dengan seorang teman beberapa waktu lalu, kami pun mengambil kesimpulan bahwa bernafas merupakan sebuah nikmat yang seringkali diabaikan manusia. Orang-orang yang melupakan Tuhan, yang menghujatNya, yang tidak percaya kepadaNya atau sekedar hobi melanggar ketetapanNya pun sama-sama butuh bernafas. Kalau hari ini mereka masih bisa bernafas dengan gratis, bagaimana mereka bisa tega melakukan kejahatan kepada Tuhan? Yang lebih aneh lagi, lihatlah berapa banyak manusia yang tidak peduli terhadap kebersihan udara. Jika anda tinggal di kota, anda akan sulit menemukan udara segar, bahkan di pagi hari sekalipun. Polusi terjadi dimana-mana dan berbagai gas beracunlah yang mau tidak mau anda hirup. Saya memilih tinggal jauh dari keramaian kota, di atas gunung yang udaranya masih relatif lebih baik. Tapi berapa lama lagi udara segar ini akan bertahan? Apa yang akan terjadi ketika pengembangan kota mengarah ke sini membawa serta segala polusi dari berbagai jenis asap dan berbagai emisi karbon? Tingkat polusi dunia semakin lama semakin parah. Orang bisa melakukan itu jelas karena mereka tidak menyadari bahwa bernafas merupakan berkat atau nikmat dari Tuhan yang sesungguhnya luar biasa.

Sekarang mari kita lihat dari sisi Tuhan. Seperti apa nilai nafas bagi Tuhan sendiri? Mari lihat ayat berikut ini: "ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup." (Kejadian 2:7). Kalau kita menghembuskan nafas ke arah segenggam debu tanah, mungkin tidak akan ada apa-apa yang terjadi selain debu akan beterbangan kemana-mana. Tapi saat Tuhan menghembuskan nafasnya kepada debu tanah, yang terjadi adalah manusia ciptaanNya berubah menjadi mahluk yang hidup! Manusia yang begitu rumit, kompleks, lengkap dengan kemampuan berpikir, akal budi, memiliki perasaan, bisa mengasihi, bisa berkembang biak dan bahkan dijanjikan sebuah kehidupan kekal kelak di sisi Allah sendiri, nyawanya berasal dari hembusan nafas Tuhan sendiri. Kalau kita tidak bisa hidup tanpa bernafas, bagi Tuhan hembusan nafas ternyata mendatangkan hidup.

Kebanyakan orang mengabaikannya, tapi sepertinya Pemazmur sudah menyadari hal ini pada jamannya. Ia menulis: "Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!" (Mazmur 150:6). Bagi saya ayat ini sungguh unik, karena Pemazmur bukan menyebutkan semua mahluk hidup, semua ciptaan Tuhan dan sebagainya, tapi justru menitikberatkan kepada semua yang punya kemampuan bernafas. Ini adalah sesuatu yang patut kita renungkan. Atas berkat Tuhan yang luar biasa dengan kemampuan kita bernafas menghirup udara yang masih gratis, dan dengan menyadari bahwa hidup kita sesungguhnya berasal dari nafas Tuhan sendiri, tidakkah pantas kalau kita memujiNya?

Untuk apa nafas kita pakai sehari-hari? Mungkin kita terengah-engah ketika naik tangga atau saat sedang kelelahan. Di saat lain kita mungkin mengisi saat-saat kita bernafas dengan berkeluh kesah atau menyesali hidup, atau tengah bergosip, bergunjing, atau juga mengeluarkan kata-kata kasar, kotor dan tidak pantas. Kalau itu masih kita lakukan, artinya kita belum menyadari betapa besarnya berkat Tuhan atas nafas yang masih bisa kita lakukan saat ini. Pemazmur bisa melihat sisi lain dari sebuah nafas. Ketika nafas ini masih berada pada kita, adalah baik jika itu dipakai untuk alasan yang tepat, sebuah alasan yang menjadi landasan kita untuk hidup, yaitu untuk memuji Tuhan. To worship Him, baik dengan memujiNya secara langsung dengan kata-kata maupun dengan menjaga perkataan dan perbuatan yang kita lakukan/ucapkan selagi masih bernafas. Ayat ini pun menjadi penutup dari rangkaian kitab Mazmur yang panjang itu.

Nafas tidak bisa kita simpan untuk dipakai kemudian. Jika kita memilih untuk menahan nafas, maka kita akan melewatkan kesempatan untuk itu. Bahkan jika kita menahannya untuk waktu yang lama kita bisa pingsan lalu mati. Karena itulah selagi nafas itu masih ada dalam diri kita, kita harus mampu mempergunakannya dengan sebaik-baiknya demi kemuliaan Tuhan. Memuji, menyembahNya dan mensyukuri kebaikan-kebaikan Tuhan bagi diri kita. Jangan sampai kita menyia-nyiakan nafas yang telah Dia anugerahkan kepada kita dengan hal-hal yang menyakiti hatiNya. "Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada.." (Kisah Para Rasul 17:28), menyadari itulah kita harus mempergunakan setiap kesempatan yang ada dalam hidup kita, selagi nafas masih ada, untuk terus memuji dan memuliakan Tuhan.

Meskipun kita tidak akan pernah bisa menghembuskan nafas ke dalam segenggam debu tanah untuk menghidupi seorang manusia, tapi nafas yang kita miliki bisa dipakai untuk mengeluarkan kata-kata penghiburan bagi yang sedang susah. Kita bisa menaikkan pujian dan penyembahan, kita bisa menggunakannya untuk hal-hal baik yang berkenan bagi Tuhan dan bemanfaat bagi sesama. Jika kita mempergunakan nafas yang kita miliki untuk hal-hal yang demikian, disanalah kita bisa memuliakan Tuhan. Dan dengan cara itulah kita tidak menyia-nyiakan nafas kita selagi masih ada. Seperti apa anda mempergunakan nafas hari ini? Sudahkah Tuhan dipuji dalam setiap nafas yang kita ambil?

Pergunakanlah berkat bernafas selagi masih ada untuk memuji Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker