Friday, August 1, 2014

Hujan Berkat (3)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Selanjutnya mari kita lihat kata 'berbuah'. Berbuah dengan subur bukan hanya berbicara mengenai berkat-berkat jasmani, tapi juga mengenai berkat-berkat rohani. Berbuah tidak hanya dalam pekerjaan, studi, tetapi juga dalam melakukan tugas atau pekerjaan Tuhan di dunia. Apakah pelayanan baik di gereja maupun di dunia nyata  sudah disertai dengan doa yang sungguh-sungguh? Ingatlah bahwa doa yang berasal dari orang benar dan dengan yakin diucapkan akan memiliki kuasa yang sangat besar. "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." (Yakobus 5:16b). Berdoa dengan sungguh-sungguh yang berasal dari hati akan membuat Tuhan membuka perbendaharaanNya yang melimpah dari Surga untuk menurunkan hujan berkatNya ke atas kita. Itu adalah hujan yang akan membuat kita sanggup mengeluarkan buah-buah yang mampu memberkati banyak orang. Selain bekerja, janganlah melupakan untuk berdoa dengan sungguh-sungguh agar Tuhan berkenan melimpahkan hujan dari langit untuk kita.

Hal lainnya yang jangan sampai kita lupakan adalah jangan sampai kita mengelak dari memberikan persembahan perpuluhan ataupun persembahan lainnya dengan alasan apapun. Tuhan berkata seperti ini: "Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan." (Maleakhi 3:10).

Bagi saya sangatlah menarik bahwa dalam ayat ini Tuhan sampai mengatakan bahwa kita Dia ijinkan untuk menguji sendiri apakah Dia akan benar-benar membukakan tingkap langit dan mencurahkan perendaharaanNya kepada kita sampai berkelimpahan atau tidak. Kalau Tuhan sampai berkata bahwa kita boleh menguji sendiri, itu artinya hal persepuluhan bukanlah sesuatu yang main-main atau tidak terlalu penting. Pemberian perpuluhan akan membukakan tingkap-tingkap langit (windows of heaven, floodgates of heaven) dan mencurahkan berkat hingga berkelimpahan.

Elia adalah hanya manusia biasa yang sama seperti kita, yang punya kelemahan dan keterbatasan. Jika lewat Elia hujan bisa turun, maka hujan itu pun mampu turun atas kita sampai kita mengeluarkan buah, baik dalam pekerjaan, studi, kehidupan maupun pelayanan. Ingin memiliki pekerjaan, studi, hidup dan pelayanan yang berbuah? Sertailah kegiatan-kegiatan anda dengan doa yang sungguh-sungguh dan ketaatan akan firmanNya yang diaplikasikan secara nyata dalam hidup. Kita harus ingat bahwa kita harus menimbun harta bukan di dunia melainkan di surga, lantas ingat pula bahwa doa yang sungguh-sungguh dengan motivasi yang benar merupakan kunci untuk bisa menerima segala yang terbaik dari perbendaharaan Tuhan dari tingkap-tingkap langit yang terbuka.

Tuhan membuka tingkap-tingkap Surga untuk melimpahi anak-anakNya yang berdoa dengan sungguh-sungguh dan taat dengan hujan berkat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, July 31, 2014

Hujan Berkat (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Saya sudah beberapa kali menyampaikan mengenai hal memberi dalam hubungannya dengan turunnya berkat Tuhan, dan ada beberapa orang yang sulit menangkap esensinya. Seperti yang pernah saya kemukakan, ada sebuah penglihatan yang pernah diberikan Tuhan kepada saya beberapa waktu lalu. Bayangkan ada sebuah gelas kosong dan kemudian anda mulai tuangkan air ke dalamnya. Air tersebut tidak akan bisa mengalir membasahi area di luar gelas apabila gelasnya tidak terlebih dahulu mengalami kepenuhan. Untuk bisa melimpah keluar, air haruslah memenuhi gelas seutuhnya. Dan semakin banyak kucuran, semakin banyak pula area yang terkena aliran air ini sementara gelas akan tetap penuh. Ini adalah sebuah penglihatan yang sangat penting bagi saya dan sangat sederhana pula untuk dimengerti. Seperti itulah yang dimaksud Tuhan dengan ayat dalam 2 Korintus 9:8 dan Amsal 28:27 tadi. Tuhan tidak akan menyengsarakan kita dan membuat kita kekurangan. Dengan memiliki hati yang rindu untuk terus memberi, memberkati lebih dan lebih banyak lagi orang, kita akan dicukupkan bahkan dikatakan berkelebihan, jauh dari kata kekurangan. Tapi ingatlah bahwa itu bukan berarti kita menyelewengkan kedua ayat ini demi kekayaan pribadi, menimbun harta seperti cara dunia, tetapi justru untuk dipakai menjadi saluran berkat bagi banyak orang.

Kalau kita sudah menyadari pentingnya hal memberi yang bukan didasari oleh iming-iming, imbalan atau agenda-agenda lainnya yang mengacu kepada keuntungan pribadi, kita juga harus mengetahui kunci agar lumbung yang sudah diisi tersebut bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin demi kemuliaan Tuhan. Akan hal ini mari kita lihat pentingnya doa. Banyak orang yang keliru mengartikan doa. Ada yang terlalu sibuk bekerja sehingga menomorduakan bahkan melupakan berdoa sebagai sebuah kewajiban. Atau mungkin mereka sudah berdoa, tapi itu hanya dilakukan sebatas kebiasaan, rutinitas atau liturgi saja, dan bukan berasal dari kerinduan hati terdalam untuk mencari dan bersekutu erat denganNya. Ada pula yang berdoa hanya karena tidak ingin masuk neraka atau bahkan takut dimarahi orang tua.

Waktu yang jumlahnya 24 jam berlaku untuk semua orang, tinggal bagaimana kita mengoptimalkan penggunannya saja yang akan membawa perbedaan. Benar, firman Tuhan berkata "Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." (2 Tesalonika 3:10). Tapi bekerja bukanlah segala-galanya. Mencari nafkah bukanlah satu-satunya hal yang bisa melengkapi kebutuhan kita. Selain memenuhi kebutuhan primer untuk bisa bertahan hidup, kita juga membutuhkan firman Tuhan. "Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (Matius 4:4). Bekerja itu bagus, tapi penting pula bagi kita untuk menentukan skala prioritas yang baik dan tidak mengorbankan hal yang tidak kalah pentingnya karena fokus hanya pada satu hal saja. Hidup yang terus menerus bekerja tapi tidak mempedulikan keluarga apalagi Tuhan tidak akan membawa hasil baik, melainkan berpotensi mendatangkan banyak kerugian yang seringkali tidak akan bisa diatasi dengan harta sebesar apapun. Kehidupan yang tidak disertai doa dan dibangun dalam doa tidak akan menghasilkan buah yang baik.

Mari kita lihat firman Tuhan berikut. "Jika kamu dengan sungguh-sungguh mendengarkan perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, sehingga kamu mengasihi TUHAN, Allahmu, dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, maka Ia akan memberikan hujan untuk tanahmu pada masanya, hujan awal dan hujan akhir, sehingga engkau dapat mengumpulkan gandummu, anggurmu dan minyakmu, dan Dia akan memberi rumput di padangmu untuk hewanmu, sehingga engkau dapat makan dan menjadi kenyang." (Ulangan 11:13-14). Ayat ini secara khusus mengatakan bahwa Tuhan selalu siap menurunkan hujan berkat kepada siapapun yang taat pada perkataanNya, mengasihiNya dan dengan sungguh-sungguh beribadah hanya kepadaNya saja. Tidak kepada ilah-ilah lain, tidak pula kepada mamon alias dewa uang. Hujan berkat yang akan memampukan kita menghasilkan buah dengan berkelimpahan merupakan janji Tuhan kepada mereka yang bersungguh-sungguh taat, lalu bersungguh-sungguh beribadah dengan segenap hati dan jiwa. Bukan karena kebiasaan, bukan karena rutinitas, bukan simbolis apalagi hanya agar terlihat baik di mata orang, namun karena panggilan hati yang sungguh-sungguh dan kerinduan untuk mengasihiNya. Inilah kunci yang bisa membuka pintu di tingkap-tingkap langit agar perbendaharaanNya sesuai apa yang sudah kita kumpulkan lewat perbagai kebajikan bisa tercurah atas kita. Janji lainnya disebutkan demikian: "TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman." (Ulangan 28:12).

(bersambung)

Wednesday, July 30, 2014

Hujan Berkat (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
 Ayat bacaan: Yakobus 5:17-18
========================
"Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya."

Alkisah ada seorang petani yang memiliki lumbung besar. Pada mulanya ia malas-malasan sehingga saat ia butuh, tidak ada apa-apa yang bisa diambil dari lumbungnya karena tidak pernah diisi dengan serius. Ia pun belajar dari kesalahan pertama dan kemudian rajin mengisi lumbungnya dengan hasil tani melimpah. Maka lumbung pun kemudian penuh. Tapi lumbung yang sudah penuh itu tetap saja kita tidak berfungsi apabila si petani tidak memiliki kunci pembuka pintu lumbung tersebut. Ada isi tapi tidak ada kunci untuk membukanya, itu hanya akan membuat sebanyak dan seberharga apapun isinya sia-sia, hanya akan menumpuk berdebu atau bahkan rusak tanpa pernah mendatangkan manfaat bagi sang pemilik.

Elia dikenal sebagai satu dari nabi besar. Ia juga sering disebut sebagai nabi 'api' dan nabi 'hujan' alias the rain maker. Banyak predikat yang disandang oleh nabi Elia. Tapi disamping itu pada dasarnya nabi Elia juga manusia biasa, sama seperti kita. Lantas kalau begitu apa yang membuatnya bisa luar biasa? Dalam ayat bacaan kita hari ini kita bisa melihat bahwa apa yang membuatnya luar biasa adalah kesungguhannya dalam berdoa. Hubungannya dengan ilustrasi singkat di atas adalah pentingnya membangun kehidupan doa yang sungguh-sungguh sebagai kunci untuk membuka tingkap-tingkap langit, menurunkan hujan berkat yang membuat kita berbuah subur.

Mari kita fokus lagi kepada ayat bacaan di atas dengan penekanan pada ayat 18, "Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan, dan bumipun mengeluarkan buahnya.". Ada tiga kunci penting dari ayat ini yaitu "berdoa", "hujan" dan "buah".

Pertama, mari kita lihat hal lumbung yang kosong. Banyak orang mengira bahwa untuk memiliki atau mengisi lumbung adalah dengan menerima. Itu adalah konsep pemikiran yang terus ditanamkan oleh dunia. Bahkan ketika kita berbuat baik pun kita butuh imbalan atau balasan dari yang diberi agar lumbung kita bertambah asetnya. Tapi prinsip Kerajaan Surga bukanlah demikian. Kalau dunia berkata bahwa kita bertambah dengan menerima, prinsip Kerajaan berkata bahwa itu adalah lewat memberi. Memberi, bukankah itu berarti mengurangi apa yang kita punya? Secara duniawi mungkin saja, tapi kalau kita mengacu kepada Allah sebagai sumber dari segala sesuatu, maka kita tidak perlu ragu akan kekurangan ketika memberi dan melakukan berbagai kebajikan. Pertama, Tuhan Yesus sendiri sudah mengingatkan kita agar tidak mengumpulkan harta di dunia karena semua itu bisa rusak dalam sekejap mata baik oleh ngengat yang memakan, karat yang merusak dan pencuri yang menghilangkan apa yang sudah kita kumpulkan dengan susah payah. Ayatnya berbunyi seperti ini: "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya." (Matius 6:19-20).

Apa yang dimaksud Yesus dengan mengumpulkan harta di surga bukan hanya berbicara mengenai keselamatan kita semata, tapi itu akan juga berhubungan langsung dengan apa yang akan kita peroleh dalam perjalanan hidup di dunia ini. Mengumpulkan harta di surga artinya memberi dan menabur di dunia, bukan menimbunseperti cara mengumpul harta menurut pandangan kebanyakan orang. Kita harus terus membiasakan diri untuk memberi yang bukan secara sempit hanya berbicara mengenai materi melainkan lewat apapun yang bisa kita beri seperti waktu, tenaga, otak/pikiran atau talenta-talenta lainnya terutama yang sesuai dengan panggilan kita, sampai pada akhirnya kita bisa mencapai sebuah tingkatan seperti yang dikatakan Yesus sendiri, yaitu "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35). Kita pun sudah diingatkan agar terus rindu untuk menabur bukan karena terpaksa melainkan dengan keikhlasan dan sukacita. "Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita."(2 Korintus 9:6-7)

Akankah kita kekurangan jika memberi? Tidak. Tuhan tidak berniat untuk membuat anda jatuh miskin dan memerintahkan anda untuk menghabiskan semua yang sudah dengan susah payah anda peroleh dengan diberi kepada orang lain. That's not what He meant. Sebaliknya, justru Tuhan akan membuat anda mengalami kepenuhan bahkan kelimpahan agar anda bisa terus menjadi saluran berkat kepada orang lain, siapapun mereka. Ayat berikut ini menyatakan hal itu dengan jelas: "Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan." (2 Korintus 9:8) Selain itu dalam Amsal dikakatan sebagai berikut: "Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan, tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki." (Amsal 28:27). Artinya jelas, Tuhan tidak hendak merampok kita tapi justru ingin membuka perbendaharaanNya kepada kita lewat sejauh mana kita menabur memberkati orang lain. Itu sama dengan mengumpulkan harta di surga, dimana tidak ada ngengat dan karat serta pencuri yang bisa merusaknya seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya.

(bersambung)

Tuesday, July 29, 2014

Pameran Diri dalam Beramal

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 6:4
===================
"Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

Dunia terbiasa menunjukkan bahwa pemberian haruslah disertai nama agar terlihat siapa yang memberi dan berapa jumlahnya. Ada sebuah pesta pernikahan yang saya hadiri memberi nomor di setiap amplop sesuai daftar tamu. Orang pun terbiasa memberi dengan menyebut nama, setidaknya kartu nama, atau jelas-jelas di amplop. Dalam pemilu baik kepala pemerintahan, pejabat daerah maupun caleg kita sudah terbiasa pula melihat orang berusaha merebut pengikut dengan gelontoran hadiah mulai dari baju kaos, sembako bahkan uang. Untuk urusan ini, tentu saja pemberinya harus jelas. Kalau bukan langsung ada foto atau nama kandidat, ya minimal ada lambang partainya. Dahulu di tempat saya tinggal ada sebuah perkampungan yang letaknya tidak jauh, mereka ketiban rejeki pada saat-saat kampanye. Hari ini mereka memakai atribut A, besok orang yang sama akan memakai atribut B. Tidak soal, yang penting dapat dulu, sampai nanti ada pemilihan lagi. Pemberian seperti ini bukanlah pemberian tulus, karena ada agenda di balik itu untuk kepentingan pribadinya.

Memberi merupakan kewajiban semua manusia dan merupakan perbuatan mulia. Sedekah, sumbangan, bantuan, pengumpulan dana dan sebagainya adalah bagian dari ibadah yang dianjurkan oleh semua agama. Bagi kita pun demikian. Yesus berkata "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Lukas 6:38). Pemberian adalah bagian dari kepedulian terhadap sesama yang memenuhi hukum kedua yang terutama yaitu "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Matius 22:39). Jangan lupa, saat kita memberi, itu artinya kita melakukan sesuatu untuk Yesus. (Matius 25:40). Memberi itu baik, tetapi motivasi di balik pemberian itu sesungguhnya sangat menentukan nilai pemberian kita. Apakah kita memberi karena rasa belas kasih dan turut prihatin dengan tulus atau kita memiliki maksud-maksud tersembunyi dibelakangnya? Apakah kita memberi karena kita mengasihi sesama dan ingin mengalirkan kasih Tuhan kepada orang lain, atau kita ingin mendapatkan keuntungan, pujian, penghargaan atau agenda-agenda yang menguntungkan kita secara pribadi atau golongan? Apa yang menjadi landasan atau dasar kita dalam memberi akan menghasilkan perbedaan nyata dalam penilaian di mata Tuhan.

Orang-orang Farisi, para ahli taurat dan pemuka agama di masa Yesus adalah contoh terkenal mengenai kemunafikan. Mereka memang menyumbang, mereka berdoa, mereka rajin berpuasa, namun semua itu hanyalah bentuk pameran rohani agar mereka terlihat kudus dan mendapat simpati di mata rakyat.  Yesus menegur keras motivasi mereka yang munafik ini. "Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar." (Lukas 11:42-43). Perhatikan, mereka membayar perpuluhan, tapi mereka pilih kasih dan tidak mencerminkan bentuk kasih Allah dalam perbuatan mereka. Mereka selalu duduk paling depan di rumah ibadat agar mendapat pujian dari orang. Ini perbuatan tercela yang tidak mendapat hasil apa-apa dari Tuhan. Tuhan tidak berkenan dengan pemberian atau perbuatan yang didasari motivasi untuk memegahkan diri, mencari popularitas, pamor dan keuntungan dari manusia lain. Dalam hal memberi, apa yang diajarkan Tuhan Yesus adalah seperti ini: "Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya." (Matius 6:2). Jangan tiru orang-orang Farisi yang suka menggembor-gemborkan pemberian dan ibadah mereka agar mendapat pujian orang. Tidak ada upah apapun yang disediakan Tuhan bagi orang-orang yang memiliki motivasi seperti ini, yang menjadikan pemberian mereka sebagai pameran rohani atau perbuatan dengan agenda-agenda dibelakangnya dengan berbagai tujuan selain karena Tuhan.

Lantas bagaimana seharusnya? Pertama, semuanya haruslah didasarkan kerinduan untuk memberkati orang lain atas dasar kasih. Lantas jangan lupa pula bahwa pemberian yang kita lakukan seharusnya tidak digembar-gemborkan, dipamerkan kepada orang apalagi dipublikasikan secara luas seperti yang sering kita lihat dalam infotainment-infotainment di berbagai stasiun televisi swasta. Perhatikanlah ada banyak yang mengundang wartawan ke rumah, atau bahkan meliput mereka ketika menyantuni anak yatim dan sejenisnya. Tidak jarang mereka bahkan menyebutkan berapa nilai yang mereka berikan. Ini adalah bentuk pameran rohani yang sangat tidak boleh kita tiru. Firman Tuhan jelas berkata: "Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu." (ay 3). Dan, "hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (ay 4). Inilah pemberian yang bernilai di mata Tuhan.

"Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu". Perkataan ini diulang Yesus tiga kali seperti yang tertulis dalam Matius 6 untuk mengajarkan bagaimana kita harus melakukan tiga hal dalam ibadah kita, yaitu pemberian (ay 4), doa (ay 6) dan puasa (ay 18). Pemberian yang mendapat upah dari Tuhan adalah pemberian dalam ketulusan, dilakukan dengan hati yang murni, tanpa harus diketahui orang lain atau diumumkan. Tidak perlu orang lain melihatnya, karena Tuhan tahu dan akan memberkati apapun yang kita lakukan demi namaNya, termasuk perihal memberi ini. Karena itu penting bagi kita untuk cukup memberi dengan diam-diam, tidak pamer apalagi diumumkan agar Tuhan berkenan dan menurunkan tanganNya memberkati kita. Jika tidak, sia-sialah semuanya. Tidak peduli berapa besar nilainya, semua itu tidak akan bernilai apa-apa di mata Tuhan.

Pemazmur mengatakan "Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya. Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya." (Mazmur 112:5-6). Tapi ingat pula bahwa kita cukup memberi dengan keiklasan/kerelaan sesuai dengan kemampuan kita. Bukan besar kecilnya pemberian yang penting di mata Tuhan, tapi kerelaan dan ketulusan kita, itulah yang penting. "Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu." (2 Korintus 8:12). Kalau begitu, apakah kita akan berkekurangan kalau membantu orang lain? Alkitab berkata tidak. "Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan." (2 Korintus 9:8). Tuhan sudah berjanji bahwa kebiasaan memberi yang didasari ketulusan atas kasih akan membuat kita senantiasa berkecukupan dalam segala hal, bahkan akan berkelebihan agar kita bisa memberi terus dan terus lebih banyak lagi.

Saat kita memberi, apa yang menjadi motivasi kita? Apakah kita mengharapkan balasan? Apakah kita mengharapkan pujian, penghormatan atau kekaguman dari mereka yang diberi atau orang-orang yang mengetahui pemberian anda? Apakah kita memberi dengan agenda-agenda tertentu? Atau kita akan merasakan kebahagiaan saat kita bisa memberi, meski orang lain bahkan yang diberi sekalipun tidak tahu itu berasal dari pemberian kita? Yang jelas kita harus sampai pada suatu tingkatan dimana kita akan lebih berbahagia saat memberi daripada menerima. (Kisah Para Rasul 20:35). Itulah yang seharusnya dirasakan oleh murid-murid Kristus yang tulus tanpa pamrih dan tidak mengharapkan imbalan atau pujian ketika memberi. Sifat keinginan untuk dipuji, dikagumi, ingin terlihat lebih dari orang lain sesungguhnya adalah bagian dari kesombongan yang akan sangat berbahaya apabila terus dibiarkan ada dalam diri kita.

Memberi itu sungguh baik, itu adalah sebuah perbuatan mulia yang sangat berkenan di mata Tuhan, tetapi lakukanlah itu dengan motivasi yang benar seperti apa yang diajarkan Yesus, agar semua itu bisa menjadi berkat bagi banyak orang dan juga bagi kita sendiri.

Kita tidak akan menerima upah dari Tuhan jika kita mencarinya dari manusia

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, July 28, 2014

Yang Terbaik atau Sisa?

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Maleakhi 1:8
=======================
"Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam."

Di belakang rumah saya terdapat perkampungan penduduk yang meriahnya bukan main kalau ada yang mengundang organ tunggal. Suatu kali saya iseng melihat langsung seperti apa suasananya disana, ternyata layaknya kebanyakan organ tunggal, apa yang terlihat disana sangatlah tidak mendidik, terutama bagi anak-anak. Ironisnya, ada begitu banyak anak-anak yang ikut melebur disana. Sebagian pria dewasa terus menyawer penyanyinya yang berusaha tampil seerotis mungkin agar dapat saweran. Wajah istri yang kesal melihat ulah suaminya lumayan banyak disana. Rata-rata mereka ini hidup susah, tapi lucunya mereka masih bisa memberi saweran lumayan besar. Toleransi memberi sesuatu memang seringkali mempunyai standarnya sendiri bagi setiap orang. Ada yang kalau memberi tip nominalnya besar supaya dilihat hebat, diingat oleh pramusajinya atau ada pula yang memberi karena genit. Tapi giliran ada pengemis kumuh dan kotor, mereka bukannya mengasih tapi malah marah. Memberi persepuluhan apakah harus tepat 10% atau seiklasnya, 10% sesudah atau sebelum dipotong pengeluaran masih menjadi perdebatan di kalangan anak Tuhan. Tapi giliran mentraktir teman dan hidup dalam lingkungan pertemanan yang wah, kalau perlu hutang pun jadi. Ada saja alasan yang bisa disampaikan. Ada yang pernah berkata kepada saya bahwa ia ragu kalau uangnya nanti diselewengkan oleh pengurus di gereja, tapi lucunya ia tidak berpikir seperti itu dalam mengeluarkan uang kepada hal-hal yang jelas-jelas tidak penting. Padahal apa urusannya bagi kita? Benar atau salah pemakaiannya itu menjadi tanggung jawab mereka, sedangkan tanggung jawab kita adalah memberi yang terbaik kepada Tuhan. Itu adalah dua hal yang berbeda yang tidak ada gunanya dicampur-adukkan.

Begitulah yang banyak terjadi di kalangan orang percaya. Semua orang yang mengharapkan berkat yang terbaik dari Tuhan, tapi ironisnya banyak yang hanya memberikan sisa-sisa kepada Tuhan. Itupun dengan rasa berat hati dan bersungut-sungut. Bukannya memberi dengan sukacita tapi malah dalam keadaan terpaksa dan merasa seperti dirampok. Bayangkan apabila kita melakukan hal seperti itu kepada ayah kita di dunia. Ayah baru boleh makan kalau kita sudah kenyang, tinggal sisa-sisa atau remah-remah, itupun kalau ia makan kita berikan tampang seperti tidak ikhlas, karena terpaksa saja supaya tetap hidup dan kita tidak disalahkan kalau ada apa-apa. Bukankah itu merupakan sikap durhaka? Kalau kepada ayah kita saja seperti itu, apalagi kepada Tuhan, Bapa Surgawi kita.

Dalam kitab Maleakhi kita bisa melihat bagaimana Tuhan sempat merasa muak dan murka ketika mendapat perlakuan yang tidak pantas dari umatNya. "Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?" (Maleakhi 1:6). Jika kepada ayah kita saja kita harus bersikap hormat, tidakkah kita seharusnya lebih hormat lagi kepada Tuhan, pencipta segalanya termasuk diri kita? Dia menciptakan kita dengan begitu indahnya, lengkap dengan segala rancangan penuh damai sejahtera agar kita semua memiliki masa depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11). Bahkan Yesus Kristus, anakNya yang tunggal pun rela Dia berikan agar kita semua tidak lagi berakhir dalam kebinasaan melainkan bisa memperoleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16). Tapi sebagian orang tidak menghargai betapa besar kasih dan kebaikan Tuhan dalam hidup mereka. Bukannya bersyukur dan rindu untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan, mereka malah sibuk menimbang-nimbang neraca keuangan dan segala yang mereka miliki agar jangan sampai berkurang saat 'terpaksa' memberi kepada Tuhan supaya jangan masuk neraka, atau supaya usaha mereka lancar jaya jauh dari kebangkrutan. Wajar jika Tuhan marah besar melihat kelakuan seperti ini.

Kita bisa melihat apa yang memicu kemarahan Tuhan yang merasa diperlakukan tidak hormat ini dalam ayat selanjutnya dalam Maleakhi pasal 1. "Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam." (Maleakhi 1:8). Perilaku seperti ini sangatlah tidak pantas, dan bagi Tuhan merupakan sebuah kecemaran bahkan penghinaan (ay 7). Begitu murkanya Tuhan terhadap sikap-sikap demikian, hingga Dia berkata "Terkutuklah penipu, yang mempunyai seekor binatang jantan di antara kawanan ternaknya, yang dinazarkannya, tetapi ia mempersembahkan binatang yang cacat kepada Tuhan. Sebab Aku ini Raja yang besar, firman TUHAN semesta alam, dan nama-Ku ditakuti di antara bangsa-bangsa." (ay 14). Sangat keras, dan itu wajar karena dengan berbuat demikian kita merendahkan Tuhan, yang seharusnya ditinggikan di atas segalanya.

Sikap seperti ini jelas tidak pantas untuk dilakukan. Tidak kepada orang yang kita hormati di dunia, apalagi kepada Tuhan semesta alam. Apalagi kalau kita melihat betapa banyaknya janji berkat, perlindungan bahkan keselamatan yang sudah diberikan Tuhan kepada kita manusia, yang ia ciptakan dalam posisi sebagai anak dan ahli warisNya. Salah satu firmanNya dalam Mazmur bunyinya seperti ini: "Tetapi umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya." (Mazmur 81:17). Janji berkat Tuhan lainnya dibeberkan panjang lebar dalam Ulangan 28:1-14. Tuhan jelas menjanjikan segala yang terbaik buat kita. Dia memberikan yang terbaik. Tapi bagaimana dengan kita? Jika kepada orang tua kita, dan kepada orang-orang yang kita hormati saja kita harus memberikan yang terbaik, bukan sesuatu yang asal-asalan atau malah sisa-sisa saja, tidakkah Allah jauh lebih layak untuk mendapatkan yang terbaik dari kita yang mengaku anak-anakNya? Hari ini mari kita renungkan, apakah selama ini kita sudah memberi apa yang terbaik dari kita untuk Tuhan? Atau kita masih mengedepankan neraca untung rugi, hitung-hitungan dalam pengukuran duniawi ketika hendak memberi untuk Tuhan? Apakah kita rindu untuk memberi yang terbaik atau kita malah memberi remah-remah atau sisa-sisa karena terpaksa? Have we offered Him nothing but the best of us, or are we still thinking of giving him just the left-overs? 

Persembahkan yang terbaik bagi Tuhan, sebab Dia layak menerimanya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, July 27, 2014

Pesan Terakhir Yosua (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Dalam hidup kita akan selalu berhadapan dengan pilihan-pilihan dan akan selalu bertemu dengan saat-saat dimana kita harus mengambil keputusan demi keputusan. Tuhan sendiri tidak menciptakan kita sebagai robot-robot atau bagai boneka yang diikat dengan tali. Itu bukanlah kehendakNya, karena Dia ingin menciptakan kita menurut gambar dan rupaNya dengan kemampuan untuk mengambil keputusan yang baik serta bijaksana, agar kita tampil bukan sebagai mahluk tak berjiwa tapi bisa menjadi anak-anakNya yang mampu berinteraksi secara intim denganNya. Tuhan memberikan kita kehendak bebas, dan disana jelas diperlukan kemampuan untuk mengambil keputusan-keputusan yang benar dalam setiap langkah. Apakah kita mau mendengar dan menuruti serta melakukan FirmanNya, sesuai dengan kehendakNya agar bisa menuai janji-janjiNya termasuk keselamatan yang telah Dia anugerahkan lewat Kristus atau kita memilih untuk mengabaikan semuanya dan lebih suka untuk masuk ke dalam tempat yang sangat berbanding terbalik dengan Surga yang penuh kemuliaan Tuhan.

Keputusan yang kita ambil akan berdampak pada langkah selanjutnya. Hidup sesungguhnya merupakan rangkaian sekuens yang saling tersambung satu sama lain. Secara garis besar ada dua pilihan yang bisa kita pilih, apakah berkat atau kutuk seperti dalam Ulangan 28. Ayat 1-14 berisi janji berkat, sementara ayat 15-46 berisi kutuk. Karena semuanya sudah dituliskan dengan terperinci, pilihan mana yang akan mengarah kepada salah satunya, dan apa saja yang akan terjadi apabila kita memilih satu diantaranya, maka tidak ada alasan lagi bagi kita untuk mengatakan kita tidak tahu atau tidak peduli.

Rangkaian kotbah terakhir Musa sebelum digantikan Yosua pun mengingatkan: "Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan." (Ulangan 30:15). Lalu selanjutnya ia berpesan: "Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub..." (ay 19-20). Kelak Yosua pun mengingatkan lagi soal pilihan ini. "Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini." (Yosua 24:15a). Sekali lagi, life is full of choices and needs our ability to make good decisions. Tapi bagi Yosua dan keluarganya, beribadah kepada Tuhan merupakan hal yang tidak bisa ditawar lagi. Yosua mengambil pilihan itu. Itu tergambar dari seluruh perjalanan hidupnya dan itulah yang ia sampaikan sebagai kesaksiannya kepada bangsa Israel sebelum ia dipanggil Tuhan. "Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" (ay 15b).

Berdasarkan pengalaman hidupnya, Yosua menyampaikan kunci keberhasilan dalam menjalani hidup. Ia sudah membuktikan sendiri bagaimana iman yang percaya penuh pada Tuhan mampu membawanya satu kemenangan kepada kemenangan lain. Ia sudah menunjukkan betapa hebatnya dikala Tuhan ada bersama kita, berdiri di pihak kita. Pesan terakhir merupakan sesuatu yang dianggap terpenting untuk disampaikan, dan Yosua menyampaikan hal yang sangat penting agar kita bisa menuai keberhasilan demi keberhasilan dalam hidup kita. Takutlah akan Tuhan, beribadahlah dengan tulus, ikhlas dan setia, dan jauhilah allah-allah lain, bukan saja terhadap kuasa-kuasa kegelapan yang menawarkan berbagai hal instan yang bisa terlihat seolah menjanjikan pertolongan, tetapi juga hal-hal duniawi yang sepintas terlihat memuaskan keinginan daging tapi mengarah kepada datangnya kebinasaan bagi kita. Yosua telah menyampaikan sebuah amanah yang akan membawa kita ke dalam kemenangan hingga garis akhir, tergantung kita apakah kita mau mendengarnya atau tidak.

Pesan terakhir Yosua berisi kunci yang membawa keberhasilan dalam hidup kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, July 26, 2014

Pesan Terakhir Yosua (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yosua 24:14
====================
"Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN."

Jika hidup tengah berada di saat-saat terakhir, biasanya orang akan menyampaikan pesan yang ia anggap terpenting karena ia tidak lagi punya waktu untuk berpesan panjang-panjang. Itulah sebabnya selama masih ada kesempatan, pesan terakhir dari orang sedang menjelang ajal menjadi sangat penting untuk diingat oleh pasangan, anak-anak atau anggota keluarga terdekat lainnya. Kakek saya meninggalkan pesan secara khusus kepada saya sebelum ia jatuh koma dan kemudian meninggal beberapa jam sesudahnya. Ia meminta saya untuk menjaga kerukunan keluarga besar dari ayah saya, mengingatkan meski banyak perbedaan disana, tapi semuanya harus tetap bersatu dan rukun. Ibu saya memberi pesan terakhir agar saya tetap akur dengan adik saya. Kedua pesan terakhir ini sampai hari ini masih saya pegang teguh sebagai amanah yang tidak boleh saya langgar, apapun alasannya. Mengapa? Karena saya menganggap pesan terakhir sebagai sesuatu yang dianggap sangat penting oleh kedua orang yang sangat saya sayangi ini.

Hari ini mari kita melihat pesan terakhir dari Yosua. Yosua punya sejarah hidup yang sangat menarik untuk disimak. Penuh warna, penuh petualangan dengan beragam pengalaman sejak masa mudanya yang akhirnya membentuk karakter Yosua secara luar biasa. Yosua pernah di utus sebagai satu dari selusin mata-mata yang dikirim untuk mengintai kondisi tanah yang dijanjikan Tuhan selama 40 hari. (Bilangan 13:8,16). Sekembalinya, ia adalah satu dari dua orang bersama Kaleb yang membawa hasil pengamatan positif, bukan berdasarkan apa yang ia lihat tapi semata-mata karena mempergunakan mata iman yang percaya kepada janji Tuhan. Ia juga pernah mengalami masa sebagai prajurit perang yang gagah berani menghadapi orang Amalek (Keluaran 17:8-16). Yang tidak kalah menariknya adalah saat Yosua masih muda sebagai abdi Musa, yang mengikuti kemanapun Musa pergi selama masa perjalanan di padang gurun. Pengalaman menariknya hadir pada suatu kali ketika ia menyertai Musa untuk bertemu dengan Tuhan di atas gunung Sinai. Bukan para tua-tua yang dibawa Musa ke atas, tetapi justru Yosua muda lah yang ia bawa. (Keluaran 24:12-14). Disana Yosua mengalami sebuah pengalaman yang luar biasa. Alkitab mencatat: "Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia ke perkemahan. Tetapi abdinya, Yosua bin Nun, seorang yang masih muda, tidaklah meninggalkan kemah itu." (33:11). Mengapa Yosua? Saya yakin Tuhan sejak semula mempersiapkan Yosua untuk menerima tanggungjawab berat kelak menggantikan Musa. Menyaksikan kemuliaan Tuhan secara langsung seperti itu ternyata sangatlah berkesan baginya, sampai-sampai ia dikatakan tidak mau beranjak keluar dari kemah yang penuh hadirat Tuhan. Maka selanjutnya kita menyaksikan bahwa ia diangkat Tuhan untuk menggantikan Musa dan memimpin bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan. "Kepada Yosua bin Nun diberi-Nya perintah, firman-Nya: "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan membawa orang Israel ke negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada mereka, dan Aku akan menyertai engkau."(Ulangan 31:23).

Petualangan yang panjang penuh pengalaman mengesankan mengisi buku sejarah hidup Yosua dengan sangat indah. Akhirnya dalam Yosua pasal 24 kita bertemu dengan Yosua di penghujung hidupnya. Saat itu ia sudah berumur lebih dari seratus tahun. Ia tahu bahwa sisa umurnya tidaklah lama lagi, maka ia menganggap bahwa saat untuk menyampaikan pesan terakhirnya pun sudah tiba. "Kemudian Yosua mengumpulkan semua suku orang Israel di Sikhem. Dipanggilnya para tua-tua orang Israel, para kepalanya, para hakimnya dan para pengatur pasukannya, lalu mereka berdiri di hadapan Allah." (Yosua 24:1). Sikhem merupakan tempat yang penuh makna bagi bangsa Israel baik dalam kisah Abraham, Yakub dan sebagainya. Maka tepatlah jika sebuah tempat yang bersejarah ini dipakai oleh Yosua untuk menyampaikan pesan terakhirnya sekaligus memperbaharui perjanjian antara bangsa Israel dengan Tuhan. Melihat sepak terjang Yosua sejak masa mudanya hingga di penghujung hidup, tentu ada banyak yang bisa diceritakan oleh Yosua sebagai pesan maupun peringatan bagi bangsa Israel bagaimana mereka harus hidup setelah ia mangkat. Ada begitu banyak pesan penting yang bisa ia sampaikan, tetapi sebagaimana pentingnya sebuah pesan terakhir, Yosua mengambil sebuah kalimat yang singkat sebagai rangkuman dari sejarahnya yang sangat berharga untuk dibagikan. Pengalaman yang membawa keteladanan dirangkum dalam satu kesimpulan untuk disampaikan sebagai amanah yang harus dicamkan oleh bangsa Israel. Inilah yang dikatakan Yosua. "Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN." (Yosua 24:14). Itulah bunyi pesan terakhir sebagai rangkuman atau kesimpulan dari segala pengalaman hidupnya.

Ada tiga pesan yang ia sampaikan yaitu:
1. Takutlah akan Tuhan,
2. beribadahlah kepada tuhan dengan (a). tulus, (b). iklas dan (c). setia, dan
3. jangan menyembah allah-allah lain melainkan kepada Tuhan saja.
Tiga pesan yang teramat penting hadir sebagai peringatan yang didasarkan pada pengalaman hidupnya yang luar biasa.

(bersambung)

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker