Sunday, July 15, 2018

Motivasi Mengikut Yesus : Kisah Yesus di Bait Allah (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Ini adalah hal yang ironis dan keterlaluan. Kita harus sadar bahwa Tuhan sudah terlebih dahulu mengasihi kita. Hal ini diingatkan oleh Yohanes dalam ayat yang bunyinya "Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita." (1 Yohanes 4:19). Cinta yang dimiliki Tuhan atas kita manusia sungguh teramat sangat besar. Bayangkan Tuhan yang begitu besar mau repot-repot mengurusi manusia di dunia yang sangat kecil di tengah luasnya alam semesta yang tak terukur yang sudah Dia ciptakan. Demi menyelamatkan manusia yang kecil itu, Dia bahkan rela mengambil rupa seorang hamba, disiksa dan mati di atas kayu salib. Itu membuat kita dilayakkan menerima keselamatan yang kekal, bukan binasa.

Apa yang menggerakkan Tuhan untuk itu bukanlah untuk keuntungan diriNya. Perhatikan ayat berikut: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16). Lihatlah bahwa misi penyelamatan yang mencengangkan itu hadir karena didasari cinta kasih yang begitu besar kepada kita. Itulah motivasi Tuhan. Sebuah kasih ternyata bisa menggerakkan Tuhan untuk menyelamatkan kita secara langsung lewat penebusan Kristus. Kalau kita menyadari betapa Tuhan begitu mengasihi kita dan menganggap kita yang penuh dosa ini begitu berharga dan layak dicintai, bukankah kita seharusnya bersyukur tiada habisnya dan akan berusaha keras untuk tidak mengecewakanNya? Tidakkah keterlaluan jika kita malah berhitung untung rugi untuk menjadi pengikut Yesus? Maka wajarlah jika Yesus pun begitu marah ketika melihat orang-orang yang datang mencari Tuhan untuk mencari keuntungan pribadi.

Ada pula orang yang berusaha mencari pembenaran lewat mengambil ayat-ayat secara sepihak tanpa melihat konteksnya dengan benar. Bahkan ada yang berusaha menggabungkan antara mengikut Tuhan dan mengejar harta kekayaan duniawi. Kita sudah diingatkan Yesus bahwa kita tidak akan pernah bisa mengabdi kepada dua tuan. "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Matius 6:24). Dengan demikian prioritas haruslah jelas, motivasi kita pun juga harus benar.

Ingatlah bahwa "Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka." (2 Korintus 5:15). Penebusan hadir didasari kasih Bapa yang begitu besar, dan sudah seharusnya kita pun mendasari iman kita kepadaNya atas dasar kasih. Karena kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, raga dan roh kita. Karena kita tahu bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru selamat, didalamNya ada pengharapan, ada kepastian dan jaminan keselamatan. Semua Dia berikan atas dasar kasihNya yang begitu besar pada kita, dan oleh karenanya sudah seharusnya kita pun mengasihiNya tanpa memandang untung rugi tentang hal-hal yang sifatnya fana.

Apa yang menjadi motivasi kita hari ini untuk menerima Yesus? Apakah kita masih berpikir untuk mendapatkan laba besar, bisnis lancar, karir meningkat, jodoh datang, sakit disembuhkan, dan sebagainya, atau semata-mata karena kita mengasihi Yesus, yang sudah terlebih dahulu mengasihi kita justru ketika kita masih berlumur dosa? Mari periksa motivasi kita hari ini. Jika kita masih menemukan motivasi-motivasi untuk mencari keuntungan, berubahlah sekarang juga agar kita jangan sampai menuai murka Tuhan dalam hidup kita.

"False teaching: Come to Jesus to get health/wealth/prosperity. No. Come to Jesus to get Jesus." - Pastor David Platt

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, July 14, 2018

Motivasi Mengikut Yesus : Kisah Yesus di Bait Allah (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Jika pasangan kita mengatakan bahwa ia menikah dengan kita hanya karena cari keuntungan bukan karena cinta, perasaan kita tentu hancur. Kita akan merasa sedih, kecewa bahkan sakit dalam hati. Bagaimana dengan Tuhan yang mendapati anak-anakNya berlaku seperti ini? Bukankah Dia pun akan sedih, kecewa, hancur hati dan lebih berhak marah setelah memberi segalanya buat kita? Kita bisa melihat contoh akan hal ini dari kisah yang mencatat kemarahan Yesus yang begitu besar di Bait Allah pada sebuah Hari Paskah Yahudi.

Pada hari itu Yesus pergi ke Yerusalem dan datang ke Bait Suci. Saat tiba disana, Yesus lihat pemandangan yang sungguh buruk di hadapanNya. Seperti inilah situasi yang Dia lihat. "Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ." (Yohanes 2:14). Gereja ternyata sudah berubah fungsi menjadi pasar. Bayangkan di Bait Suci itu bukan berisi orang-orang yang ingin menyembah dan memuliakan Tuhan, bukan berisi orang-orang yang rindu untuk bertemu dan mendengar Tuhan, tetapi justru penuh dengan para pedagang beserta hewan dagangannya, ditambah lagi para penukar uang alias money changer kalau dijaman sekarang. Mereka semua melakukan bisnisnya disana.

Selayaknya pasar, kita bisa bayangkan betapa hiruk pikuknya suasana di Bait Suci yang kudus pada saat itu. Pemandangan seperti itu sangatlah menyakiti hati Yesus. Dan Yesus pun marah besar. "Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." (ay 15-16).

Mari kita lihat lebih jauh akan kejadian ini. Yesus tidak menunjukkan kemarahan saat Dia dihina, ditinggalkan, difitnah, bahkan saat disiksa dan disalib hingga mati. Yesus tidak marah malah mendoakan dan mengampuni orang-orang yang menyiksa diriNya sedemikian rupa dengan sangat sadis sampai mati. Secara logika sederhana, apa yang Yesus alami tentu jauh lebih serius daripada sekedar melihat orang berdagang di rumah. Mengalami siksaan seperti itu seharusnya akan memancing kemarahan lebih besar. Jika anda jadi Tuhan Yesus yang memegang kunci Surga dan bisa melakukan apapun, mungkin anda sudah memusnahkan saja semua orang jahat itu dalam sekejap mata. Toh mereka orang jahat, ya sudah sepantasnya itu yang mereka terima atas perbuatannya. Demikian cara berpikir manusia, tapi ternyata Yesus memandangnya berbeda. Semua itu tidak memancing kemarahan Yesus. Yesus tetap tenang menjalani dan menggenapi semuanya seperti apa yang dikehendaki Bapa. Tapi melihat orang-orang berdagang di Bait Suci, kemarahan Yesus timbul. Kalau kita lihat di dalam Alkitab, momen ini adalah momen satu-satunya yang membuat Yesus marah. Jika Yesus yang begitu sabar dan lembut hati hingga bisa marah seperti itu, tentu itu merupakan hal yang teramat sangat serius. Mengapa bisa demikian?

Fakta yang bisa kita lihat dengan jelas, kemarahan Yesus dipicu oleh banyaknya orang yang mencari untung memanfaatkan bait Allah dengan berdagang. Kita mungkin bisa berkata bahwa kita kan tidak berdagang sapi atau burung di gereja, apalagi buka money changer segala? Tetapi sadarkah kita bahwa ada banyak orang yang mencari Tuhan hanya untuk keuntungan semata? Dalam ayat 21 dikatakan: "Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri." 

Ini jelas berbicara mengenai motivasi dalam mengikuti Yesus. Ada banyak orang yang mau mengikut Yesus agar bisnisnya lancar, bisa mendapat untung besar, berharap selamat dari ancaman kebangkrutan, berharap dilancarkan dan sebagainya. Ada banyak pula orang yang berharap bisa mendapat jodoh, karirnya naik, sembuh dari penyakit dan seterusnya. Tentu saja Tuhan bisa menyediakan itu semua, itu tidak perlu diragukan. Tetapi semua itu seharusnya bukan menjadi prioritas utama untuk dikejar, apalagi kalau dipakai sebagai motivasi utama mengikut Yesus. Seandainya kita diberitahu bahwa mengikut Yesus berarti harus siap sangkal diri, pikul salib, harus mengalami penderitaan, masihkah kita mau dengan yakin untuk mengikutiNya? Kalau mendengar itu, bakal banyak yang akan langsung mengundurkan diri. Mereka inilah yang meletakkan motivasi yang salah dalam mengikut Yesus.Mereka hanya melihat Tuhan sebagai pemberi berkat sebagai motivasi utama, dan bukan karena mereka mengasihi Tuhan.

(bersambung)


Friday, July 13, 2018

Motivasi Mengikut Yesus : Kisah Yesus di Bait Allah (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yohanes 2:14
=====================
"Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ."

Bagi anda yang sudah menikah, apa alasan anda menikahi pasangan anda? Semoga alasannya karena anda mencintainya. Ada begitu banyak alasan atau motivasi yang bisa menjadi dasar sebuah hubungan. Selain karena cinta, bisa juga karena harta, ingin status yang lebih baik, popularitas, ada juga yang karena sudah terlanjur melakukan hubungan terlarang, sudah kelamaan pacaran, karena dijodohkan orang tua atau bisa pula karena kasihan. Kalau karena cinta saja masih banyak yang kandas, apalagi kalau didasari oleh motivasi-motivasi lainnya. Motivasi yang lemah akan membuat sebuah hubungan rapuh, dan motivasi yang salah akan menyebabkan hasil yang buruk, bahkan kehancuran.

Seperti contoh dalam renungan kemarin, hubungan pertemanan pun bisa didasari banyak motivasi buruk. Ingin mendapatkan fasilitas, kemudahan, cari keuntungan bisa menjadi beberapa alasan diantaranya. Hubungan yang didasari mencari keuntungan, memanfaatkan juga tidak akan baik hasilnya karena dimulai oleh motivasi atau tujuan yang buruk. Kalau dalam keadaan aman semua tampak baik, kekuatan dan kemurnian motivasi sebuah hubungan biasanya terlihat saat ada masalah. Disanalah kemurnian hubungan itu akan teruji.

Jika dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia saja kita perlu memeriksa betul apakah motivasi kita sudah baik dan benar atau belum dan tidak, dalam menjalin hubungan dengan Tuhan pun sama. Dia sudah terlebih dahulu menyatakan kasihNya dengan menciptakan kita secara istimewa seperti rupa dan gambarNya sendiri dan kemudian bahkan melakukan sesuatu yang sangat besar dengan menganugerahkan kasih karunia keselamatan kepada manusia yang sebenarnya tidak layak menerimanya. Tapi bagaimana dengan manusia? Apa reaksi kita? Apabila anda ditanya, mengapa anda mengikuti Yesus, apa yang jadi jawaban kita?

Pertanyaan ini mungkin sepertinya mudah dijawab tetapi pada kenyataannya tidaklah demikian. Kita mudah mengatakan karena kita mengasihiNya seperti halnya Dia mengasihi kita, tapi belum tentu itu alasan jujurnya. Bisa jadi, karena memang sudah turun temurun karena dilahirkan di lingkungan kristen, bisa pula karena mengharapkan banyak kemudahan, ingin kaya, makmur, mengharapkan pertolongan dan lain-lain yang sifatnya fana, hanya untuk kenyamanan hidup di dunia  yang singkat ini. Banyak orang yang mau mengikut Yesus hanya didasari pada faktor untung rugi, hanya ingin mengeruk keuntungan dan bukan karena mengasihiNya. Yang memiliki motivasi seperti ini hanya ingin meminta dan mendapat tanpa mau memberi dengan membangun hubungan satu arah saja. Mereka mencari Yesus karena berharap berkat-berkat duniawi dan mengira bahwa mereka tidak lagi perlu melakukan apa-apa. Jika mereka tidak menerima apa-apa, mereka pun akan kecewa, menjelek-jelekkan Tuhan dan pergi mencari alternatif-alternatif lain.

Seperti yang saya sampaikan kemarin, banyak yang bingung dengan status sebagai anak Raja. Mereka hanya melihat status mentereng yang akan membuat seorang anak berhak menerima warisan ayahnya tapi menolak untuk memikul tanggung jawab. Tidak mau mengasihi ayahnya yang sudah begitu baik menyediakan segalanya buat dirinya, tidak mau pula menjaga nama baik ayahnya. Dan itu banyak terjadi hari ini, bahkan di kalangan pelayan Tuhan sekalipun.

Alangkah indahnya apabila kita mengikuti Yesus karena kita mengasihiNya yang sudah terlebih dahulu mengasihi kita dan sudah menganugerahkan begitu banyak karunia termasuk keselamatan yang sebenarnya tidaklah layak kita terima. Tuhan yang sangat menyayangi dengan kasih setia dan selalu ada bersama kita. Alangkah indahnya apabila saat kita belum atau tidak memperoleh apa yang kita minta, kita tetap ikut Yesus dan taat pada perintahNya. Alangkah indahnya kalau hubungan kita dengan Yesus didasari iman yang percaya bahwa Dia adalah Tuhan dan Juru selamat, didalamnya ada keselamatan, di dalamnya ada harapan, di dalamnya ada kuasa dan kekuatan. Sayangnya banyak yang hanya mencari keuntungan, berhitung untung rugi dalam mengikut Yesus. Beribadah pun hanya karena mengharapkan sesuatu, bukan lagi didasari kasih kepada Tuhan.

(bersambung)


Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker