Friday, November 21, 2014

Say No to Sin

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Roma 6:12
=================
"Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya."

Anda tentu masih ingat sebuah partai politik besar yang pernah membuat iklan "katakan tidak pada korupsi" di televisi. Selang beberapa waktu partai ini malah tersandung banyak kasus korupsi, bahkan mengenai tokoh-tokoh yang tampil menyampaikan langsung pada iklan tersebut. Terlepas dari kasus yang melilit partai ini, saya tertarik pada seruan yang mereka sampaikan dalam iklan tersebut. Katakan tidak, say no to, sesuatu yang buruk, something bad. Sesuatu yang bertentangan dengan kebaikan, keadilan dan kebenaran. Kita harus selalu mengatakan tidak terhadap semua itu, meski seringkali sulit karena hal-hal yang jahat, buruk dan sesat biasanya terasa nikmat dan begitu menggoda. Korupsi hanyalah satu dari bentuk dosa yang merugikan banyak orang dan melanggar ketetapan Allah. Ada banyak lagi bentuk-bentuk seperti ini yang bukan saja merugikan orang lain tetapi juga akan menggagalkan pelakunya dari keselamatan kekal. Oleh karena itu kita harus mengatakan tidak kepada pusatnya, yaitu dosa.

Kalau anda digigit serangga, bagian kulit yang gatal akan terus berusaha memaksa anda untuk menggaruknya. Kalau digaruk tentu terasa enak, tetapi hasilnya akan membuat kulit anda terluka dan menjadi lebih sulit untuk sembuh. Ada banyak orang yang kemudian mengakali dengan tidak menggaruk di pusat rasa sakit secara langsung melainkan di pinggir-pinggirnya. Tapi itupun akan membuat luka melebar dan memperparah radang pada kulit. Berbagai bentuk dosa kurang lebih mirip dengan ilustrasi gigitan serangga yang mengakibatkan gatal ini. Ada yang melakukan dosa langsung ke'sumber'nya, ada yang hanya mengais remah-remah kecil agar tidak kelihatan atau agar tidak kelihatan kemaruk. Tapi sebuah dosa tetaplah dosa, yang akan bertambah eskalasinya, melebar dari satu dosa kepada dosa lain dan pada akhirnya menjauhkan kita dari semua rencana baik yang sebenarnya ingin Tuhan berikan kepada manusia.

Dosa sering mengintai dan menyelinap masuk lewat hal-hal yang justru terlihat enak, nikmat dan menyenangkan bagi kedagingan kita. Sekali kita terlena akan kenikmatan-kenikmatan di mana ada dosa bersembunyi di dalamnya, begitu kita memberi toleransi, maka cepat atau lambat akibatnya bisa sangat fatal. Begitu fatal hingga konsekuensinya bisa jadi sudah terlalu sulit untuk diperbaiki.

Paulus secara khusus menyampaikan hal ini dalam suratnya kepada jemaat di Roma. Benar, Tuhan sudah berkata bahwa "di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah" (Roma 5:20). Tetapi itu bukan berarti bahwa kita boleh menjadikannya sebagai alasan untuk terus membiarkan dosa masuk ke dalam diri kita. Playing with sin is dangerous. Bermain dengan dosa itu berbahaya. Paulus mengatakannya seperti berikut ini: "Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?" (6:1). Jawabannya tentu saja tidak. Selanjutnya ia berkata: "Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?" (ay 2). Kita harus ingat bahwa kita telah dibaptis dalam Kristus, dikuburkan bersama-sama dengan Dia agar kita juga dibangkitkan oleh kemuliaan Bapa bersama-sama Yesus. (ay 3-4). Paulus juga mengingatkan, "Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa." (ay 6). Lihatlah bahwa sesungguhnya tidak ada alasan lagi bagi kita untuk terus menerus takluk pada godaan dosa, karena dengan "mati" itu artinya kita pun telah bebas dari dosa. (ay 7). Dosa seharusnya tidak lagi punya kuasa apa-apa kepada kita karena kita sudah menyalibkan manusia baru kita dan telah menjadi ciptaan baru, kecuali kita terus membuka diri bagi dosa-dosa itu untuk masuk. Singkatnya, dosa tidak lagi bisa berkuasa atas kita, kecuali kita membiarkannya, mengatakan ya, atau sedikit-sedikit tidak apa-apa kepada jebakan dosa yang bisa membinasakan ini.

Selanjutnya Paulus menasihatkan agar kita menjaga benar-benar diri kita. "Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya." (ay 12). Sudah diserukan pula agar kita jangan pernah memberi peluang kepada iblis untuk menghancurkan kita. "dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis." (Efesus 4:27). Perhatikanlah bahwa meski jelas dikatakan bahwa dosa tidak lagi bisa menguasai kita, tetapi jika kita membuka celah mengijinkannya masuk maka dosa itu bisa kembali menguasai kita. Dan kalau dosa itu berkuasa, kita pun akan terjebak untuk terus menuruti keinginan-keinginannya, dan itu akan berakibat buruk bahkan bisa fatal bagi kita.

Senada dengan itu Yakobus pun mengingatkan kita agar tidak terjebak oleh keinginan-keinginan kita sendiri, terseret dan terpikat olehnya karena terus mengejar kenikmatan.  Perhatikan kata-kata Yakobus selanjutnya: "Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut." (ay 15). Maut. Bukankah itu mengerikan? Yang lebih parah, maut itu sifatnya bisa kekal. Itulah yang akan menjadi akibatnya apabila kita terus menuruti keinginan-keinginan dari dosa. Kita harus bisa menghentikan dosa-dosa itu untuk terus memiliki taring atas kita. Kita harus tegas menolak dosa untuk berkuasa atas tubuh kita dan menyadari betul sebuah kehidupan yang baru sebagai ciptaan baru seperti yang telah Dia anugerahkan bagi kita.

Tidak semua yang nikmat, enak dan menyenangkan itu baik ujungnya. Kita harus benar-benar memperhatikan apapun yang kita lakukan dengan cermat. Gatal akan terasa sangat nikmat ketika digaruk, tetapi dampaknya bisa buruk bagi kulit maupun kesehatan kita. Korupsi bisa jadi seolah mampu menjawab segala kebutuhan kita, tetapi akibatnya bisa sangat menghancurkan baik buat kita sendiri maupun keluarga. Begitu pula halnya dengan dosa yang mungkin awalnya terasa nikmat namun akibatnya bisa sangat fatal bagi masa depan kita tidak saja di bumi ini tetapi juga pada kehidupan selanjutnya yang kekal nanti. Dosa seharusnya tidak lagi punya tempat bagi kita dan tidak pernah boleh diijinkan untuk kembali berkuasa atas diri kita. Jika demikian, selalu katakan tidak kepada dosa, tak peduli sekecil apapun. Dan jangan cuma katakan saja, tapi lakukanlah sepenuhnya pula.

No matter how small it is, always say no to the temptation of sins

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, November 20, 2014

Belajar dari Penjual Nasi Goreng (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(bersambung)

Mungkin ada diantara teman-teman yang saat ini merasa bahwa pekerjaan anda terlalu kecil, gaji/imbalan yang tidak seimbang dengan job description, mungkin anda diminta untuk mengerjakan sesuatu tapi imbalannya tidak ada, mungkin ada yang sudah jenuh dengan pekerjaan dan rutinitas, mungkin ada yang kecewa dengan hasil yang diperoleh. Semua itu manusiawi dan wajar dirasakan pada suatu waktu, tapi alangkah baiknya apabila kita kembali merujuk kepada hakekat pekerjaan menurut pandangan Kerajaan dan memahami benar seperti apa kita seharusnya menyikapinya.

Pekerjaan baik besar atau kecil, selama tidak bertentangan dengan ketetapan Tuhan itu baik adanya. Pekerjaan yang saat ini sepertinya kecil bisa jadi akan berujung pada sesuatu yang luar biasa besar. Bukankah hal-hal besar selalu dimulai dari sesuatu yang sederhana? Siapa yang bisa memastikan bahwa sebuah pekerjaan kecil tidak akan pernah berdampak besar? Dan bukankah sebuah pekerjaan, baik besar maupun kecil semuanya berasal dari Tuhan, demikian pula dengan waktu dan kesempatan yang diberikan? Bayangkan apabila ada rencana Tuhan yang besar bagi anda tetapi anda tidak serius melakukannya karena saat ini terasa sangat sepele atau tidak berarti, lantas rencana besar itu harus gagal anda terima sebagai akibat dari sikap yang salah dari anda sendiri. Karena itulah penting bagi kita untuk mengingat bagaimana prinsip melakukan pekerjaan dalam kekristenan.

Jangan lupa bahwa pula bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan seharusnya diarahkan untuk memuliakan Tuhan. "Kita melakukan pekerjaan Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah." (1 Korintus 10:31). Kalau makan dan minum saja harus dilakukan untuk kemuliaan Allah dan bukan untuk memenuhi kebutuhan agar tetap hidup, apalagi pekerjaan-pekerjaan yang merupakan berkat dan anugerah dari Tuhan. Kita harus melakukan yang terbaik dengan sepenuh hati demi kemuliaan Tuhan atas apapun yang kita kerjakan. Ingat pula bahwa kita harus melakukan pekerjaan dengan kasih. "Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!"(1 korintus 16:14). Kemudian lakukanlah perkerjaan kita dalam nama Yesus disertai ucapan syukur. "Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita."(Kolose 3:17).

Pekerjaan sekecil apapun yang kita peroleh merupakan pemberian yang baik dan sempurna dari Allah. "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran." (Yakobus 1:17). Dan karenanya meski kecil dipandang dunia, itu tetap patut kita syukuri. Tidak ada cara yang lebih indah untuk berterimakasih atas pemberianNya dengan bekerja sungguh-sungguh sebaik mungkin dan memuliakanNya di atas segalanya, dengan senantiasa dipenuhi ucapan syukur dalam nama Kristus. Selain itu, lewat cara dan etos kerja kita pula-lah kita bisa mengenalkan Yesus kepada teman-teman yang belum mengenalNya, seperti yang digambarkan pada ayat berikut: "Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka." (1 Tesalonika 4:11-12).

Semua pekerjaan yang baik merupakan berkat luar biasa dari Tuhan. Itu harus kita syukuri, dan beri perhatian dan perlakuan terbaik. Perbuat seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia, muliakan Tuhan di dalamnya dan Ketika kita bisa mempertanggungjawabkan tugas kecil, maka Tuhan pun sanggup mempercayakan tugas-tugas yang lebih besar lagi.

Segala pekerjaan yang baik dan benar adalah berkat dari Tuhan, karenanya lakukanlah dengan sepenuh hati seperti untuk Tuhan sendiri

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, November 19, 2014

Belajar dari Penjual Nasi Goreng (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kolose 3:23
================
"Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."

Ada sebuah warung nasi/mi goreng kecil-kecilan yang sering saya kunjungi. Warungnya kecil saja, tempatnya pun biasa. Tetapi rasanya sangat lezat dan beda dari kebanyakan nasi goreng di tempat lain. Karena sudah sering disana, saya mengenal pemilik yang langsung terjun memasaknya sendiri dan suka ngobrol selagi ia menyiapkan pesanan. Apa yang berbeda adalah bukan karena ia sudah pengalaman dalam membuat nasi goreng sejak masa kecilnya, tapi karena ia sangat menikmati setiap sajian yang ia masak. Ia mengatakan bahwa memasak itu baginya seni, sama seperti pelukis yang sedang berkarya atau pemusik yang sedang bermain. Intinya ia melibatkan hati dan perasaan, menganggap segala yang ia masak sebagai sebuah karya seni, his masterpiece yang ia buat sebaik-baiknya. Itu membuat nasi goreng buatannya terasa sangat spesial.

Hanya warung nasi goreng kecil, didirikan oleh seorang bapak untuk mencari nafkah. Bagi kebanyakan orang meracik dan memasaknya dengan enak supaya orang kembali lagi kesana sudah lebih dari cukup. Tapi bapak yang satu ini memilih untuk meletakkan hatinya, memasak dengan perasaan dan menganggapnya sebuah karya seni. Ia menikmati setiap yang ia masak dan melakukan yang terbaik disana. Yang ia buat mengingatkan saya kepada sebuah kutipan dari Martin Luther King, Jr sekian puluh tahun yang lalu. Demikian kutipannya: "If a man is called to be a street sweeper, he should sweep streets even as Michelangelo painted, or Beethoven composed music, or Shakespeare wrote poetry. He should sweep streets so well that all the hosts of heaven and earth will pause to say, here lived a great street sweeper who did his job well." 

Ini adalah sebuah himbauan yang sangat pantas untuk direnungkan, yaitu agar kita tidak menilai besar kecilnya pekerjaan terlalu sempit, lalu bisa menghargai pekerjaan itu seberapapun kecilnya menurut pandangan kita. Pada kenyatannya ada banyak orang yang menganggap tingkat keseriusan bekerja itu berbanding lurus dengan upah yang mereka dapatkan. Mereka cukup bekerja ala kadarnya atau bahkan asal-asalan apabila pekerjaan itu dinilai terlalu ringan atau mungkin juga karena upahnya dianggap terlalu kecil bagi mereka. Saya mengerti jika orang akan lebih termotivasi jika mereka mendapatkan upah yang memadai, apalagi jika disertai insentif yang menggiurkan. Itu akan membuat orang lebih bersemangat untuk memberi yang terbaik bukan? Dari kacamata dunia memandang, memang seperti itu. Di sisi lain, saya juga paham bahwa ada banyak pimpinan yang memanfaatkan karyawannya secara keterlaluan, menyuruh mereka melakukan lebih dari apa yang menjadi gugus tugas mereka. Karenanya saya tidak ingin pula serta merta menyalahkan orang yang mengukur tingkat keseriusannya sesuai apa yang mereka dapatkan. Apa yang ingin saya sampaikan hanyalah bagaimana prinsip Kerajaan dalam memandang hakekat sebuah pekerjaan dan bagaimana seharusnya kita menyikapinya.

Martin Luther King, Jr mengatakan bahwa jika seseorang memang dipanggil untuk menyapu jalan, mereka seharusnya bersyukur untuk itu dan mengerjakan sebaik-baiknya, sebaik dan seindah Michaelangelo melukis atau Beethoven mengkomposisi karyanya. Kita mungkin bingung, bagaimana mungkin tukang sapu bisa melakukan karya seni seindah kedua maestro legendaris sepanjang masa ini? Tentu itu sebuah perbandingan yang sangat jauh. Tapi sesungguhnya kalau direnungkan, kalimat ini sebenarnya mengingatkan kita bahwa apapun yang kita kerjakan bisa menjadi sangat istimewa dengan hasil yang luar biasa, seindah sebuah karya seni. hasilnya tentu bisa menjadi sangat baik dan sangat indah. Apapun itu yang kita kerjakan apabila kita dilakukan dengan sepenuh hati, seserius melakukannya seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia, hasilnya bisa sangat berbeda. Dan itulah yang sesungguhnya sudah diingatkan sejak lama kepada kita semua. Ayatnya berbunyi: "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23).

Melakukan sesuatu pekerjaan, tugas, pelayanan atau panggilan seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Bagi sebagian orang mungkin kalimat ini terdengar agak aneh atau membingungkan. Karenanya ijinkan saya memberi contoh yang lebih mudah. Misalnya anda berprofesi sebagai penjahit dan pada suatu hari pemimpin negara datang ke rumah anda dan meminta anda untuk membuatkannya baju. Anda tentu akan bergegas mempergunakan segala yang terbaik yang anda miliki untuk menciptakan yang paling istimewa yang bisa anda lakukan bukan? Itu akan anda anggap sebuah kehormatan besar yang harus disikapi dengan sebaik mungkin. Itu baru pemimpin negara. Firman Tuhan di atas mengatakan bahwa sesungguhnya kita menganggap setiap hal yang kita lakukan atau kerjakan, tak peduli besar atau kecil haruslah diperbuat dengan segenap hati seperti anda sedang melakukannya untuk Tuhan sendiri. Bukan untuk orang yang menggaji, bukan untuk orang lain, bukan untuk manusia, tetapi untuk Tuhan. Kalau prinsip ini yang anda pegang, maka anda tidak lagi berhitung untung rugi disana, tidak lagi menggunakan pengetahuan, tenaga dan keahlian anda dengan ukuran besar-kecilnya pekerjaan menurut penilaian anda sendiri, tetapi anda akan memberi yang terbaik dari diri anda dalam setiap hal yang dikerjakan. Anda akan menganggap pekerjaan apapun sebagai sebuah karya seni yang membutuhkan torehan seorang maestro dimana andalah yang diberi waktu dan kesempatan untuk itu. Seperti itulah seharusnya kita menyikapi sebuah pekerjaan.

Pekerjaan apapun, selama pekerjaan itu baik dan benar, lakukanlah sungguh-sungguh seperti kita melakukannya untuk Tuhan. Tuhan sanggup memberkati pekerjaan anda dan memberi kelimpahan jika Dia berkenan atas usaha anda. Itu adalah sesuatu yang sifatnya pasti. Pekerjaan yang dianggap rendah sekalipun oleh manusia, akan berharga sangat tinggi untuk Tuhan, jika kita melakukannya untuk Tuhan, atas kasih dan rasa syukur kita pada penyertaanNya dalam hidup kita, dalam namaNya. Kita lihat ayat sebelum ayat bacaan hari ini: "Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan." (Kolose 3:22) Memang apa yang dinyatakan Paulus ditujukan untuk hamba-hamba mengenai ketaatan akan tuan mereka, namun apa yang dinyatakan sudah sepantasnya berlaku bagi setiap profesi atau pekerjaan. Semua itu akan sangat berarti di hadapanNya, dan merupakan persembahan yang harum jika kita mempersembahkannya untuk Tuhan.

(bersambung)

Tuesday, November 18, 2014

Menghindari Cara Kekerasan

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 2 Timotius 2:24
=======================
"sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang.."

Ada sebuah sikap yang dikenal dengan istilah trouble maker alias pembuat onar/keributan. Mereka baru puas setelah bisa memancing emosi orang lain, membuat perdebatan dan pertengkaran. Kalau tidak, mereka akan terus berusaha melakukan atau mengatakan sesuatu yang bisa membuat orang lain kesal. Ada pula yang tidak mau mendengar orang lain dan cenderung memaksakan kehendaknya dengan segala cara. Kalau dengan cara baik-baik tidak bisa, mereka tidak segan-segan untuk melakukannya lewat jalan-jalan kekerasan atau pemaksaan. Lihatlah organisasi-organisasi kemasyarakatan yang katanya mengatasnamakan agama tetapi mempertontonkan kekerasan dengan membawa nama Tuhan. Tindak kekerasan, penganiayaan dan bentuk-bentuk kriminalitas lainnya seolah legal kalau sudah memakai atribut tertentu dan dilakukan sambil meneriakkan nama Sang Pencipta. Apakah itu bisa mendatangkan simpati? Akankah itu baik, bermanfaat bagi masyarakat? Dan apakah itu benar merupakan jalan yang diinginkan Tuhan dalam menyebarkan firmanNya kepada orang lain? Apakah Tuhan mengatakan halal untuk menggunakan cara-cara kasar dan keras dalam menekan orang untuk menganut apa yang mereka percayai? Apakah menjadi wakil Tuhan membuat kita langsung berhak untuk menindas orang lain, melakukan paksaan dengan tindakan-tindakan yang merugikan atau menghancurkan orang yang berbeda dengan kita? Saya percaya tidak satupun agama yang menganjurkan kekerasan. Bahkan iman kekristenan mengingatkan dengan tegas bahwa kita tidak boleh melakukan itu.

Paulus dalam suratnya kepada Timotius mengingatkan bahwa sebagai seorang hamba Tuhan, kita tidak boleh mudah terpancing emosi, tetapi haruslah ramah kepada semua orang. Lebih dari itu, orang percaya juga dituntut untuk cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut menuntun orang dalam pelayanannya. "sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang.." (2 Timotius 2:24). Kenapa harus ramah? Kata Paulus, "sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya." (masih pada ayat 24). Kalau Tuhan saja membuka kesempatan bagi orang untuk kembali sadar akan kebenaran, siapakah kita yang merasa berhak menghakimi orang lain dengan cara-cara kasar? Saat dunia mempertontonkan sikap pemaksaan yang justru cenderung mengarah kepada kekerasan, sebagai orang percaya kita justru diingatkan untuk bersikap sebaliknya. Bahkan saat menghadapi orang yang keras melawan dan menentang kebenaran, kita haruslah memperbaikinya dengan ramah, sabar dan lemah lembut, karena Tuhan selalu bersikap adil dalam memberikan kesempatan bagi siapapun untuk bertobat, tanpa terkecuali, tanpa pandang bulu.

Tidak ada pilih kasih bagi Tuhan, karena siapapun manusia itu adalah hasil ciptaanNya yang Dia kasihi, dan Dia mau semuanya selamat. "Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain!" (Roma 3:29). Perhatikan bahwa Tuhan tidak menganak-emaskan suatu bangsa tertentu, Dia akan memberi berkat melimpah dan keselamatan bagi siapapun yang berseru kepadaNya. "Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan." (Roma 10:12-13).

Petanyaannya sekarang, bagaimana orang bisa percaya Tuhan jika mereka belum mengenal? Bagaimana orang bisa mengenal Tuhan tanpa ada yang memberitakan-Nya? (ay 14). Oleh sebab itulah Kristus sendiri mengutus kita lewat Amanat Agung untuk mewartakan kabar gembira bagi semua orang. "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20). Persoalannya adalah bagaimana kita bisa memberitakan tentang kebenaran dan keselamatan dalam Kristus kalau itu kita lakukan dengan bersikap keras, menunjukkan sikap bermusuhan, apalagi jika mengandalkan emosi, pemaksaan dan kekerasan? Adakah gunanya, adakah manfaatnya, adakah kebaikan disana? Tidak ada, malah itu akan sangat merugikan. Tidak ada kekerasan yang mampu mendatangkan kebaikan, sebaliknya kelemah-lembutan, kesabaran dan keramahan yang berpusat pada kasih seperti yang diajarkan Allah sendirilah yang akan mampu menghasilkan buah-buah manis.

Kita tidak akan mampu mewartakan kabar gembira apapun jika kita memakai pola pemaksaan, kasar dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya. Jangankan berlaku kasar dan kejam seperti beberapa kelompok di luar sana, bersikap kasar saja kita sudah tidak boleh. Selain hal tersebut tidak akan membawa manfaat apa-apa dan hanya semakin menjauhkan orang dari kebenaran, cara-cara begitu sangatlah bertentangan dengan firman Tuhan. Kita justru diajak untuk bersabar dan tetap bersikap ramah. Dengan cara demikianlah kita bisa melepaskan mereka dan mengenalkan mereka kepada kebenaran. Orang-orang yang melawan dan menolak kebenaran bukanlah musuh sesungguhnya yang harus kita perangi karena mereka pun sebenarnya merupakan korban. Jika anda rindu pada mereka agar bisa diselamatkan, wartakanlah kabar gembira dengan ramah, sabar dan lemah lembut. Kenalkan Kristus dengan kasih, karena kebenaran tanpa kasih adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa menyentuh hati. Ada kesempatan bagi siapapun untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan, dan itu bisa terjadi jika kita mampu menjadi anak-anakNya yang rindu untuk mengenalkan Kristus dengan sikap-sikap yang sesuai dengan standar kasih dalam kekristenan.

Kebenaran dinyatakan dengan sikap mengasihi akan menyentuh hati dan mendatangkan keselamatan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, November 17, 2014

Sukacita Kedua

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 15:32
========================
"Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."

Bersukacita merupakan hal yang penting untuk dirasakan oleh semua orang percaya tanpa memandang apa yang terjadi saat ini. Sebuah sukacita sejati sesungguhnya berasal dari Tuhan dan tidak tergantung dari situasi dan kondisi yang tengah dialami. Saya bahkan menganggap sukacita sebagai sebuah kemampuan luar biasa yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Anda bisa bayangkan bagaimana hidup tanpa rasa sukacita. Suram, kelam, sedih, perih, itu tentu tidak enak sama sekali, apalagi kalau dirasakan berkepanjangan. Pada kenyataannya ada banyak orang yang tetap bisa bersukacita meski tengah mengalami berbagai bentuk masalah dalam hidupnya. Dari mana itu bisa terjadi? Tentu saja karena mereka merasakan keberadaan Tuhan dalam hidupnya. Sukacita akan jauh lebih mudah dirasakan saat hidup sedang berada dalam keadaan baik. Tanpa masalah berarti, tanpa problema, tanpa kendala. Baik ketika tidak mengalami masalah maupun karena merasakan kehadiran Tuhan, orang yang bersukacita akan mudah terlihat dari raut mukanya. Senyum merekah, hati riang dan hidup pun terasa ceria. Ini adalah reaksi normal dari orang yang sedang berbahagia, dan itu sangat wajar. Tapi sukacita seperti ini barulah sebuah sukacita yang saya sebut dengan sukacita pertama. Jika ada sukacita pertama, tentu ada sukacita kedua. Seperti apa bentuk sukacita kedua?

Injil Lukas pasal 15 menggambarkan sukacita kedua bukan hanya lewat satu atau dua, tapi lewat tiga perumpamaan. Mari kita lihat terlebih dahulu perumpamaan ketiga tentang anak yang hilang. (Lukas 15:11-32). Kisah anak yang hilang tentu sudah sangat familiar bagi kita. Meski demikian ada baiknya saya sampaikan sedikit seperti apa garis besarnya.

Secara singkat kisah ini menggambarkan seorang anak yang keterlaluan dengan meminta warisannya ketika sang ayah masih hidup. Uang tersebut lantas ia pakai untuk berfoya-foya, dan dalam waktu singkat ia jatuh miskin dan menderita. Ia menyesal dan memutuskan untuk pulang. Melihat kembalinya si bungsu, sang ayah langsung berlari menyambut dan memeluknya. Ia menyediakan pesta yang besar untuk merayakan kembalinya anak yang hilang. Semua bersukacita, kecuali abangnya, si anak sulung. Ia merasa cemburu karena adiknya yang durhaka ternyata lebih dihargai ketimbang dirinya yang selama ini selalu taat kepada ayahnya. Ia pun protes. Bagaimana reaksi sang ayah? Ayahnya menjawab begini: "Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali." (Lukas 15:32).

Jawaban sang ayah menunjukkan sebuah gambaran utuh mengenai sukacita kedua. Anak sulung adalah anak yang selalu taat. Ia tentu bersukacita atas kehidupannya yang terjaga baik bersama sang ayah, tapi sayangnya sukacitanya hanya berhenti disana. Sukacitanya berhenti pada sukacita pertama yang berpusat pada kebaikan yang dirasakan diri sendiri. Si sulung tidak mampu melihat sebuah sukacita ketika adiknya yang hilang dan tadinya sesat sekarang kembali dengan selamat. Maka sang ayah kemudian mengingatkan bahwa sudah sepatutnya ia pun bersukacita karena adiknya yang telah mati menjadi hidup kembali, yang telah hilang telah didapat kembali. Inilah bentuk sukacita kedua, yaitu sukacita yang hadir dalam diri kita ketika melihat ada jiwa yang harusnya mati tapi menjadi hidup kembali, diselamatkan dari kebinasaan dan beroleh hidup yang kekal melalui pertobatan mereka.

Dua perumpamaan sebelumnya menggambarkan hal yang sama. Perumpamaan tentang domba yang hilang (Lukas 15:1-7) menunjukkan kepedulian Tuhan kepada jiwa yang hilang, bagaikan gembala yang akan bergegas meninggalkan 99 ekor domba yang sudah selamat demi mendapatkan satu jiwa yang sesat. "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?" (ay 4). Satu jiwa pun begitu berharga di mata Tuhan. Ketika jiwa itu kembali ditemukan, sang gembala akan menggendongnya dengan gembira (ay 5) dan akan bersukacita karena jiwa yang hilang telah ditemukan kembali. (ay 6). Dan Yesus pun dengan jelas menggambarkan suasana yang terjadi di surga ketika ada seorang bertobat. "Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan." (ay 7).

Lalu perumpamaan berikutnya adalah mengenai dirham yang hilang. (ay 12-14). Jika seseorang memiliki 10 dirham lantas kehilangan satu diantaranya, tidakkah mereka berusaha mencari dirham yang hilang itu? (ay 8). Sukacita pun akan hadir ketika dirham yang hilang telah ditemukan. Dan kembali Yesus menggambarkan suasana yang terjadi di surga. "Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat." (ay 10). Semua perumpamaan dalam Lukas 15 ini menggambarkan sebuah sukacita pada tingkatan baru, bukan hanya berhenti pada sukacita ketika kehidupan kita diberkati Tuhan, tapi juga mengalami sukacita ketika ada jiwa yang bertobat, yang kembali selamat dari kesesatan. Seperti itulah sukacita kedua.

Dalam Roma 15 kita dapati firman Tuhan yang berbunyi "Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri." (Roma 15:1). Kita masing-masing haruslah mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya, menguatkan dan membangun mereka secara spiritual. Dalam bahasa Inggris kebaikan ini digambarkan dengan lebih lengkap: "his good and true welfare, to edify him (to strengthen him and build him up spiritually)"(ay 2). Bentuk kepedulian seperti inilah yang akan memungkinkan bangsa-bangsa berbalik memuliakan Allah dan menyanyikan mazmur bagi namaNya. (ay 9). Dan dengan demikian, bangsa-bangsa akan bersama-sama bersukacita dengan umat Allah. (ay 10). Tidakkah itu indah, ketika kita bisa bersama-sama memuliakan Tuhan bersama jiwa-jiwa yang kembali ke pangkuan Tuhan, menerima anugerah keselamatan dan menjadi bagian dari karya penebusan Kristus? Ini sudah sepantasnya menjadi sebuah hal yang bisa membuat kita dipenuhi sukacita.

Dalam kesempatan lain, mari kita lihat apa yang dikatakan Kristus. Kepada kita semua yang percaya telah diberikanNya kuasa untuk "menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu." (Lukas 10:19). Ini adalah sebuah pemberian yang luar biasa, bukan untuk gagah-gagahan atau pamer kekuatan, tapi adalah pemberian yang bertujuan agar kita semua diperlengkapi dalam menjalankan Amanat Agung, mewartakan kabar gembira untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Karena itulah Yesus kemudian berpesan: "Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga." (ay 20). Jangan bergembira karena roh-roh jahat itu takluk, tapi bersukacitalah justru karena itu berarti nama kita tercatat di surga. Sebuah nama yang muncul dalam kitab kehidupan akan membuat seisi surga bersukacita, dan demikian pula seharusnya dengan kita.

Mampu bersukacita dan bergembira karena kehidupan baik yang dilimpahkan Tuhan kepada kita tentu sungguh baik. Itu sudah jauh lebih baik dari orang-orang yang terlena dalam kenyamanan dan lupa untuk bersyukur atas berkat-berkat yang disediakan Tuhan bagi mereka. Menikmati sukacita sejati yang berasal dari Tuhan dimana keadaan tidak lagi bisa mengganggunya juga tentu sangat baik. Tapi alangkah lebih baik lagi jika kita meningkatkan sukacita kita kepada sukacita berikutnya, yaitu sebuah sukacita yang hadir dalam diri kita ketika melihat adanya jiwa-jiwa yang diselamatkan. Sukacita Bapa adalah sukacita kita juga. Rindukah kita untuk mengalami sukacita kedua? Sudahkah anda tergerak untuk mewartakan keselamatan kepada sesama? Sesungguhnya kita memikul Amanat Agung untuk mewartakan kabar keselamatan bagi setiap orang, dan kita bisa membuat surga terus bersukacita bersama dengan kita jika kita melaksanakan apa yang diamanatkan Yesus kepada setiap orang percaya. Jangan berhenti hanya pada sukacita pertama, tapi tingkatkanlah kepada sukacita kedua.

Setelah bersyukur dengan sukacita pertama, tingkatkan dengan sukacita kedua

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, November 16, 2014

Menjadi Hamba

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Korintus 9:19
========================
"Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang."

Terbiasa menjadi pemimpin membuat beberapa orang yang saya kenal punya sikap yang tidak begitu indah di mata orang lain, termasuk teman-temannya sendiri. Mereka ini terbiasa memerintah, cenderung memaksakan kehendak dan sulit menerima pendapat orang. Benar bahwa seorang pemimpin harus bisa mengambil keputusan-keputusan diantara sekian banyak opsi atau masukan, dan terkadang mereka tentu saja boleh menganulir pendapat yang lain. Tetapi yang harus dijaga adalah agar jangan sampai itu sampai merubah karakter. Perubahan karakter menjadi otoriter, terbiasa memerintah dan enggan mendengar bisa mengakibatkan munculnya sikap-sikap buruk di tengah masyarakat atau keluarga sendiri. Anak harus mendengar perintah secara buta, tidak lagi boleh mengeluarkan aspirasi atau isi hatinya, istri harus tunduk sepenuhnya, boleh marah-marah tanpa sebab dan tidak boleh ditegur atau diingatkan. Bukan saja itu buruk bagi orang lain tapi diri sendiri juga yang akhirnya rugi dijauhi semua orang.

Kekristenan tidak pernah mengajarkan hal yang demikian. Kerendahan hati, kesabaran dan keramahan merupakan penekanan penting dalam melayani siapapun. Penekanan kerendahan hati, bahkan merendahkan diri layaknya hamba merupakan sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh orang percaya. Itu bisa kita teladani bahkan dari cara hidup Yesus sendiri.

Paulus adalah salah seorang yang menerapkan hal ini secara langsung. Pada masa itu, sebenarnya Paulus menempati posisi penting dalam pewartaan Injil ke seluruh belahan dunia. Tetapi ia tetap tidak lupa diri dan menganggap penting dirinya sendiri. Ia tahu bahwa ia hanyalah satu dari setiap orang percaya yang telah disematkan tugas untuk mengemban Amanat Agung yang tentunya tidak asing lagi bagi kita. Amanat Agung itu berbunyi sebagai berikut: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20). Itulah yang menjadi dasar dari pelayanan Paulus. Karenanya ia tidak perlu merasa sombong dan membangggakan dirinya secara berlebihan dalam melayani. Dalam berbagai kesempatan ia selalu menunjukkan bahwa ia sangat meneladani Kristus, yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani bahkan memberikan nyawaNya demi keselamatan semua orang.

Yesus mengajarkan seperti ini: "Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamul; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Matius 20:26b-28). Seperti yang diajarkan Yesus dan sudah Dia contohkan langsung, demikianlah sikap Paulus. Ia tegas dalam mewartakan injil, tapi tidak keras apalagi kasar. Ia selalu berusaha menyesuaikan diri agar dapat diterima dengan tangan terbuka dan dengan demikian terus memiliki kesempatan untuk dapat memberitakan Injil kemanapun ia pergi.

Lihatlah apa katanya. "Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang." (1 Korintus 9:19). Menjadikan dirinya hamba dari semua orang, ini menunjukkan keteladanan dari pengajaran Yesus sendiri. Dalam kesempatan lain Yesus pernah menengahi perdebatan di antara murid-muridNya mengenai siapa diantara mereka yang terbesar dengan kalimat: "Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar." (Lukas 9:48b). Seperti halnya Paulus, Yohanes Pembaptis pun menerapkan hal yang sama. "Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya...Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil." (Yohanes 3:28,30). Di balik kerendahan hati kitalah kita bisa meninggikan kemuliaan Tuhan di muka bumi ini. Dan dengan berlaku demikianlah baru kita mampu memenangkan banyak jiwa.

Kemanapun Paulus pergi, ia selalu membuka diri untuk berhubungan dengan baik kepada setiap orang. Dan itu ia lakukan sebagai pintu masuk untuk mewartakan kabar gembira kemanapun ia pergi. Bukan untuk kepentingan dirinya tapi justru bagi keselamatan orang-orang yang ia temui. Ia tidak berkompromi dengan cara-cara hidup yang mengarah pada dosa. Ia tidak mau terpengaruh kepada keinginan-keinginan daging melainkan terus mengarahkan pandangannya ke depan, untuk memperoleh panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Kepada Timotius ia pun berpesan: "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran." (2 Timotius 4:2). Inilah pesan penting yang harus selalu kita ingat pula. Dalam kondisi apapun, siap sedialah untuk mewartakan Firman Tuhan. Namun dalam melakukannya hendaklah kita memiliki kesabaran dan kerendahan hati. Menjadikan diri sebagai hamba, memiliki sikap rendah hati dalam melayani akan menjadi awal yang sangat baik untuk melayani dan memenangkan sebanyak mungkin jiwa.

Apakah kita peduli terhadap orang lain dan mau mengorbankan waktu, tenaga dan kepentingan-kepentingan kita demi keselamatan orang lain? Tidak gampang memang untuk melayani, tapi kita bisa mulai dengan membuka diri lewat kerendahan hati, keramahan dan kesabaran. Bukan soal hebatnya kita, namun keselamatan jiwa-jiwa, itulah yang harus menjadi fokus utama. Karenanya kita tidak boleh terjatuh pada sikap tinggi hati atau sombong, melainkan teruslah hidup dengan melayani untuk Tuhan. Mari belajar dari sikap Paulus dalam melayani dan selalu teladani pribadi Kristus dalam membawa kabar keselamatan kepada orang yang belum mengenalNya.

Sikap sabar, rendah hati dalam melayani merupakan kunci penting untuk memenangkan jiwa

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, November 15, 2014

Simeon dan Hana (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Hati yang terbuka untuk menantikan kedatangan Kristus membuat Simeon dan Hana bisa melihat dengan jelas akan sosok Mesias yang ada di depan mereka. Hadirnya Roh Allah membuat Simeon bisa melihat sosok Yesus dalam penggenapan rencana Allah seperti yang sudah berulangkali dinubuatkan para nabi sebelumnya, dan kerinduan Hana yang terus mengisi dirinya dengan doa dan puasa membuatnya bisa melihat Yesus secara benar. Itulah yang membedakan kedua orang ini dari jemaat lainnya yang hadir disana. Dalam Galatia tertulis "Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan." (Galatia 5:5).

Lewat Roh dan iman kita bisa melihat kebenaran yang kita harapkan. Mata kita dicelikan sehingga mampu mengenali Yesus dan kebenaran dalam diriNya. Seperti halnya di Bait Allah waktu itu, hari ini pun Yesus hadir ditengah-tengah kita meski tidak lagi secara kasat mata. Yesus hadir dalam ibadah-ibadah yang kita lakukan, baik dalam kebaktian maupun dalam ibadah yang sejati, yaitu kehidupan kita. Tetapi apakah kita merasakan kehadiranNya? Apakah kita cukup merindukan kehadiran Yesus seperti halnya kerinduan yang dimiliki Simeon dan Hana? Masihkah kita merindukan kehadiran Yesus ditengah hiruk pikuk kesibukan sehari-hari dan segala sesuatu yang kita lakukan dan inginkan? Apakah kita berada pada posisi Simeon dan Hana atau sisanya?

Kita harus mengingatkan diri kita untuk beribadah dengan motivasi yang benar. Jangan sampai ibadah-ibadah kita hanya didasari oleh rutinitas atau sekedar menjalankan agama saja tanpa memiliki kerinduan yang murni akan Tuhan. Hidup dalam Roh, itulah yang akan membuat kita mampu melihat segala yang kebenaran dalam Yesus. Paulus berkata "Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus." (Roma 8:9). Yesus mengatakan "Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta." (Yohanes 9:39).

Ada cahaya pengharapan dan keselamatan yang sudah Dia sediakan, dan kedatangan Kristus seharusnya bisa membuka mata kita dengan jelas untuk melihat segala kebaikan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, ciptaan-ciptaanNya yang teristimewa. Bukan cuma ingin memperoleh berkat dan pertolonganNya semata, tetapi kerinduan untuk mengenalNya, itulah yang mampu memberikan sukacita penuh rasa syukur dalam hidup kita. Sebab kalau kita tidak kenal dan tidak peduli, bagaimana mungkin kita bisa mengklaim sebagai milikNya? Kelahiran Yesus menjadi sebuah penggenapan janji Tuhan kepada Simeon dan Hana, yang selama itu hidup benar dan kudus. Janji itu pun berlaku bagi kita semua sampai hari ini. Sadarilah bahwa mengenal Kristus secara pribadi dan dekat merupakan hal yang sangat penting.

Ironis sekali kalau Yesus bukan menjadi yang kita nantikan dalam ibadah-ibadah yang kita lakukan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker