Saturday, February 25, 2017

Belajar Penundukan Diri lewat Masa Kecil Yesus (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kita bisa melihat sebuah Firman Tuhan yang turun atas diri sang Penulis Ibrani berbunyi demikian: "Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu." (Ibrani 13:17). Lihatlah bahwa menaati pemimpin dan tunduk atas otoritas mereka merupakan sesuatu yang sangat penting di mata Tuhan. Apabila tidak dilakukan maka firman Tuhan berkata kita tidak akan mendapatkan keuntungan dalam hidup kita. Dan itupun harus dilakukan dengan sukarela dan gembira dan bukan atas keterpaksaan.

Kata pemimpin dalam ayat ini menyangkut pemimpin secara luas, baik di rumah, kantor, kota, negara maupun gereja. Titus 3:1 mengingatkan hal yang sama. "Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik." Ayat yang serupa bisa kita lihat pula melalui Paulus dalam Kolose 3:22 dan Efesus 6:5 yang menyebutkan bahwa kita harus taat kepada tuan di dunia sama seperti kita taat pada Kristus.

Lewat Petrus kita bisa juga belajar tentang penundukan diri terhadap pemerintah dan/atau pemegang otoritas di atas kita. Petrus berkata: "Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik." (1 Petrus 2:13-14). Penundukan terhadap otoritas atasan bahkan dikatakan bukan saja kepada yang baik tetapi juga terhadap penguasa yang berlaku kejam atau lalim sekalipun. "Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis." (1 Petrus 2:18).

Selain kepada atasan, penundukan diri juga menyangkut bentuk-bentuk hubungan lainnya.
- Anak-anak hendaklah tunduk kepada orang tuanya (Efesus 6:1, Kolose 3:20)
- istri tunduk kepada suami (Kolose 3:18, Efesus 5:22, 1 Petrus 3:1)
- anak muda tunduk kepada yang lebih tua (1 Petrus 5:5)
Dan seterusnya. Tentu saja di atas segalanya kita harus menundukkan diri kepada Kristus. Firman Tuhan berkata: "Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, berpegang pada perintah dan ketetapan TUHAN yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu." (Ulangan 10:12-13). Semua ini merupakan hal yang penting untuk kita perhatikan.

Kita harus mampu meredam ego agar kita bisa mengaplikasikan sikap penundukan diri seperti yang diinginkan Tuhan. Untuk itu jelas diperlukan sebuah kerendahan hati untuk bisa mempraktekkan sikap ini dalam hidup kita.

Adakah diantara teman-teman ada yang hari ini tengah bermasalah dengan sikap penundukan diri ini, baik dengan anggota keluarga, orang tua, dalam pekerjaan, sekolah atau dalam pelayanan? Jika ya berdoalah dan berusahalah untuk memperkuat sikap rendah hati sehingga anda bisa belajar tunduk kepada otoritas orang yang berada di atas anda. Yesus sendiri sudah mencontohkan bahwa penundukan diri merupakan hal yang sangat penting untuk kita lakukan sebelum menerima otoritas yang lebih tinggi lagi. Percayalah bahwa kasih karunia Allah akan memberikan kekuatan bagi anda untuk meredam ego dan menyadari betul hakekat sebagai umatNya agar tidak tergoda untuk membangkang dan mengabaikan pentingnya penundukan diri.

"..Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (1 Petrus 5:5)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, February 24, 2017

Belajar Penundukan Diri lewat Masa Kecil Yesus (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 2:51
=======================
"Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya."

Menjadi pejabat negara membuat banyak orang lupa bahwa dalam Undang-Undang Dasar yang sama-sama kita jadikan pedoman bernegara ini ada bagian yang berkata bahwa setiap warganegara sama kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan, dan wajib pula menjunjungnya dengan tidak ada perkecualian. Menjadi pejabat negara itu satu hal, tapi mereka tetaplah warganegara sehingga kedudukannya di dalam hukum itu sama seperti rakyat biasa. Apalagi sudah jelas-jelas dikatakan tidak ada pengecualian. Seharusnya mereka paham itu. Tapi ternyata kita masih saja melihat mereka dengan mudahnya merasa ada di atas hukum. Sudah ada keputusan tetap, mreka masih saja berusaha berkelit. Seringkali negara ini kerepotan menghadapi licinnya mereka. Dan kita pun melihat bagaimana hukum itu tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Padahal penundukan diri sebenarnya merupakan hal ynag mutlak dilakukan oleh orang percaya. Apalagi kalau menyandang status sebagai hamba Tuhan, tapi bersikap seperti boss besar, bukankah itu tidak sinkron?

Ada banyak orang yang bermasalah dengan penguasaan diri dan ketaatan. Dapat jabatan sedikit saja sudah merasa absolut. Perangainya langsung berubah. Apalagi kalau naik jabatan. Wah, itu lebih parah. Mereka merasa berhak melanggar peraturan seenaknya, dan malah tersinggung atau marah ketika mendapat teguran. Harga diri disetel terlalu tinggi, alergi kritik dan yakin mereka boleh berbuat sesuka hati. Kita sering bertemu dengan orang-orang yang bersikap seperti ini, mudah-mudahan kita tidak termasuk di dalamnya. Tidak lagi ingat kepada siapa yang berjasa, termasuk oran tua, dan sedihnya lagi, termasuk Tuhan. Masalah penundukan diri, sikap kerendahan hati itu menjadi isu yang penting untuk kita perhatikan.

Sangatlah menarik jika melihat bagaimana Yesus menunjukkan sebuah keteladanan yang sangat baik akan hal ini. Sebagai Allah yang turun ke dunia dengan misi besar untuk menyelamatkan umat manusia dari siksaan kekal dan menyatukan kembali manusia dengan Allah yang terputus akibat dosa, bukankah Yesus punya segala hak untuk berlaku absolut dalam masa kedatanganNya yang pertama? Tidak ada siapapun yang lebih besar dariNya. Yesus jelas punya otoritas yang jauh lebih tinggi dari apapun yang ada di dunia ini Dia memegang kunci surga, dan hanya lewat Dia lah kita bisa masuk ke dalam kesukacitaan kekal yang besar. Jadi kalau bicara soal kuasa, tidak ada lagi siapapun yang besarnya seperti Yesus. Tapi bagaimana sikap Yesus? Hari ini mari belajar langsung dari keteladanan Yesus sendiri ketika masih kecil.

Pada suatu kali Yesus yang masih berusia 12 tahun pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah bersama kedua orang tuanya. Setelah perayaan usai, Maria dan Yusuf baru sadar bahwa ternyata Yesus tidak berada bersama mereka, dan ketika itu mereka sudah ditengah perjalanan. Menyadari hal itu, mereka pun segera berbalik kembali Yerusalem untuk mencari Yesus.

Saya bisa membayangkan betapa cemasnya orang tua yang kehilangan anaknya di tempat ramai seperti itu. Dan perjalanan kembali untuk mencari itu pun makan waktu yang lama. Alkitab mencatat bahwa tiga hari kemudian barulah mereka berhasil menemukan Yesus yang ternyata ada di dalam Bait Allah. "Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka." (Lukas 2:46). Kecerdasan Yesus dalam menjawab para alim ulama itu sungguh mencengangkan mereka, termasuk pula Maria dan Yusuf.

Seperti orang tua pada umumnya, saat itu Maria dan Yusuf pasti diliputi perasaan campur aduk, antara lega dan marah. Maka mereka pun menegur Yesus karena menghilang diam-diam seperti itu. Dan lihatlah, meski dalam Alkitab tercatat bahwa Yesus sempat mengatakan bahwa memang disanalah Dia harus berada, yaitu di dalam rumah Bapa (ay 49), tetapi Yesus mengambil keputusan untuk taat dan tunduk kepada orang tuanya di dunia ini. Ayat selanjutnya menggambarkan hal tersebut. "Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya." (ay 51). Yesus memutuskan untuk taat mengikuti permintaan keuda orang tuaNya. Ia pulang ke Nazaret mengikuti mereka dan tetap hidup dalam asuhan mereka.

Yesus tahu benar bahwa penundukan diri adalah hal yang pertama sekali harus dilakukan sebelum menerima sebuah otoritas.

Hidup dengan penundukan diri seringkali merupakan hal yang tersulit untuk kita lakukan. Kita akan berhadapan dengan ego kita, kebanggaan diri atau bagi sebagian orang dianggap bisa merendahkan harga diri mereka. Dengan sikap seperti ini, bukan saja kita akan mendapat masalah dalam karir, keluarga atau hubungan sosial dalam masyarakat, tetapi kita pun melanggar firman Tuhan yang ternyata banyak berbicara mengenai soal penundukan diri ini.

(bersambung)


Thursday, February 23, 2017

Anak Berbakti dan Berbudi (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Tetapi Rut adalah seorang menantu yang setia. "Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku." (Rut 1:16).

Rut memilih ikut mertuanya untuk kembali masuk ke negeri dimana ia bisa menghadapi banyak masalah karena disana bangsanya tidak dipandang sama sekali.

Benar saja, sebagai seorang janda dan mertua perempuan, hidup Rut pun awalnya sangat sulit di negeri orang. Ia harus melakukan pekerjaan yang sangat rendah sebagai pemungut jelai. Pekerjaan sebagai pemungut jelai dilakukan dengan membuntuti orang-orang yang menyabit gandum dan memunguti sisa-sisa serpihan dari hasil sabitan mereka. Rut rela melakukannya demi menyambung hidup, bukan saja buat dirinya sendiri tetapi juga buat Naomi. Sikap ini menunjukkan baktinya kepada mertuanya. "Maka ia memungut di ladang sampai petang; lalu ia mengirik yang dipungutnya itu, dan ada kira-kira seefa jelai banyaknya.Diangkatnyalah itu, lalu masuklah ia ke kota. Ketika mertuanya melihat apa yang dipungutnya itu, dan ketika dikeluarkannya dan diberikannya kepada mertuanya sisa yang ada setelah kenyang itu." (2:17-18).

Satu efa itu kalau pakai standar ukuran sekarang beratnya kira-kira 10 kg. Itu hasil jerih payahnya bekerja seharian, dan itu dibawanya kepada Naomi. Begitulah besarnya bakti yang ditunjukkan Rut, sehingga tidaklah heran apabila Tuhan berkenan kepadanya. Saya selalu kagum terhadap kisah hidup Rut yang luar biasa. Dan itu semua bermula dari komitmennya untuk berbakti kepada mertuanya meski suaminya sudah tiada.

Ayah, ibu, nenek, kakek maupun mertua, mereka semua adalah orang tua kita yang harusnya kita kasihi dan peduli. Mereka dahulu berjuang dengan segala daya upaya untuk membesarkan dan menyekolahkan kita, membuat kita bisa seperti siapa kita hari ini. Jika kita sudah bekerja mapan saat ini, sudah sukses dan maju, semua itu tidaklah terlepas dari usaha orang tua kita juga.

Sudahkah kita membalas budi mereka dan mengucapkan terimakasih kepada mereka? Sudahkah kita membalas budi dengan memberikan kebahagiaan di usia senja mereka? Jangan tunda lagi. Nyatakanlah bahwa anda mengasihi mereka dan usahakanlah agar mereka bisa menikmati sisa hidup yang bahagia bersama anak cucunya.

Dulu kita masih belum bisa apa-apa dan orang tua kitalah yang berjuang untuk masa depan kita. Sekarang saatnya bagi kita untuk membalas jasa mereka dan membuat mereka bersyukur, bangga dan berbahagia di hari tua mereka karena memiliki anak cucu dan keluarga yang mengasihi mereka. Selain itu akan membuat mereka bahagia di penghujung hidup mereka, sikap ini pun berkenan di hadapan Tuhan.

Jadilah anak-anak yang berbakti dan tahu membalas budi orangtua bukan durhaka

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker