Saturday, April 19, 2014

Karakteristik Orang Benar (1) : Pohon Korma

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 92:13
======================
"Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon"

Menjadi orang benar sudah merupakan kewajiban dari orang percaya. Kalau kita mengacu kepada ayat pembuka kitab Mazmur maka kita akan menemukan bahwa orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam akan berbahagia, karena mereka akan tumbuh seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya dan tidak layu daunnya, bahkan apa saja yang diperbuatnya berhasil. (Mazmur 1:1-3). Ayat ini tentu sudah tidak lagi asing bagi kita, sehingga kita tahu bahwa menjadi orang benar, yang tidak ikut-ikutan berbuat dosa seperti para pendosa bukan saja akan dilayakkan untuk menerima keselamatan tapi akan bahagia pula dengan keberhasilan demi keberhasilan semasa hidup di dunia. Ada satu ayat lainnya yang sangat menarik mengenai orang benar, yang bisa kita lihat pada pasal lainnya dalam kitab Mazmur. Ayat tersebut mengatakan bahwa "Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon" (Mazmur 92:13). Bertunas seperti pohon korma dan tumbuh subur seperti pohon aras yang biasa tumbuh di Libanon, itu kata Pemazmur. Kalau hanya mengacu kepada kata bertunas dan tumbuh subur saja sudah membuat kita bersyukur, akan lebih baik jika kita mengetahui seperti apa karakteristik pohon korma dan pohon aras itu.

Jika anda bertanya kepada musafir atau pengembara padang pasir, anda tentu akan mendengar bahwa setiap mereka melihat pohon korma, mereka akan sangat senang. Kenapa? Karena apabila mereka melihat pohon korma, maka itu pertanda sebentar lagi mereka akan bertemu dengan oase atau mata air. Dalam perjalanan di gurun pasir yang panas terik menyengat, seringkali mereka melihat fatamorgana, yaitu sebuah tipuan mata yang acap kali dialami oleh para pengembara di tengah gurun. Jadi jelas mereka akan sangat lega dan bersukacita jika bertemu dengan pohon korma yang benar.

Seperti apa buah korma yang sering anda lihat di supermarket, terutama menjelang lebaran? Korma adalah buah istimewa yang mengandung begitu banyak nutrisi di dalamnya sehingga menjadi sebuah makanan sehat yang memberi kekuatan dan kesehatan jika dikonsumsi. Pertanyaannya, bagaimana pohon korma bisa tumbuh di gurun pasir yang tandus dan panas itu? Dari cara bertahannya, pohon korma pun sesungguhnya unik. Saat biji korma ditanam, akarnya akan terus menembus tanah untuk mencari air, bahkan hingga puluhan meter. Setelah mendapatkan air jauh dibawah, barulah korma ini mulai tumbuh. Dan sekali lagi, biasanya dimana pohon korma berada, disana akan terdapat oase. Karakter inilah yang dimaksud oleh Pemazmur. Kalau ia mengatakan bahwa orang benar akan bertunas seperti pohon korma, artinya orang benar akan memiliki akar yang kuat. Akar yang membuat mereka mampu tegar berdiri ditengah berbagai hambatan, meski kondisi faktual secara umum terlihat tidak kondusif dan sulit layaknya padang pasir. Orang benar yang bertunas seperti pohon korma akan mampu untuk terus tumbuh dan menghasilkan buah dalam kondisi sesulit apapun. Selain itu, seperti layaknya pohon korma yang menyegarkan, orang-orang benar pun seharusnya bisa menjadi penyegar bagi lingkungan yang "tandus", menjadi berkat yang mendatangkan sukacita bagi sesama.

(bersambung)

Friday, April 18, 2014

Mempertahankan Mahkota

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
 Ayat bacaan: Wahyu 3:11
=====================
"Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu."

Menjadi juara lalu memperoleh piala dan mahkota. Lalu apa yang menjadi target selanjutnya? Meski ada orang yang kemudian berpuas diri lantas kehilangan motivasi, banyak pula yang memilih langkah ideal yaitu mempertahankan mahkota juara. Mempertahankan seringkali jauh lebih sulit ketimbang merebut. Bagi anda yang tengah atau pernah merasakan sebuah kesuksesan dalam hal apapun, anda tentu tahu bahwa mempertahankannya lebih sulit dibanding ketika anda pertama kali meraihnya. Ada banyak ujian dalam perjalanan, dan untuk bisa mempertahankan apa yang telah kita raih butuh semangat pantang menyerah, dan kerap dibutuhkan usaha keras dan perjuangan yang lebih lagi dari sebelumnya.

Bagaimana dengan mahkota kehidupan yang diberikan Tuhan kepada kita? Itupun harus dipertahankan. Jangan sampai kita terlena lalu melanggar ketetapan Tuhan sehingga mahkota pun harus dicabut dari kita. Jemaat Filadelfia mendapatkan pesan penting akan hal ini. Mereka dinasihatkan agar tetap hidup dalam ketaatan, jangan berubah, selalu berusaha serius untuk mempertahankan apa yang telah mereka peroleh agar mahkota kehidupan yang dijanjikan tetap berlaku bagi mereka. Lihat ayat ini: "Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu." (Wahyu 3:11).

Pesan yang tidak sulit dimengerti ini berlaku juga bagi kita semua. Hari-hari yang kita hadapi sungguh sulit. Ada begitu banyak godaan sepanjang perjalanan hidup kita yang siap membuat kita keluar dari rel yang benar. Baik yang nyata-nyata maupun yang dibungkus kemasan menarik sehingga tidak kasat mata. Singkatnya, godaan bisa timbul dari segala arah. Jika tidak hati-hati, setiap saat kita bisa terpeleset dan terjerumus jatuh ke dalam jebakan iblis. Itu akan membawa akibat fatal, mahkota kehidupan lepas dari kita. Tentu tidak satupun dari kita yang mau mengalami itu. Oleh karenanya kita harus benar-benar waspada dalam menjalani hidup.

Dalam Ibrani kita sudah diingatkan agar tetap dengan teliti melihat segala sesuatu agar jangan sampai hanyut terbawa arus. "Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus." (Ibrani 2:1). Ibrani 2:1-4 memberikan pesan bagi kita agar kita jeli melihat jalan kita ke depan. Sepanjang Alkitab kita melihat bagaimana firman-firman Tuhan disampaikan baik lewat perantaraan malaikat, para nabi dan langsung oleh Kristus sendiri. Bahkan Tuhan sendiri telah menguatkan kesaksian-kesaksian yang telah tertulis itu lewat berbagai tanda dan mukjizat. Dalam begitu banyak kesempatan Tuhan telah menyatakan kuasaNya, juga membagi-bagikan berbagai pemberian termasuk tentunya keselamatan kekal dari Roh Allah sesuai kehendak Tuhan sendiri. Karena itulah jika semua itu sudah diberikan kepada kita, dan menjadi peringatan bagi kita, "bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan oleh mereka yang telah mendengarnya, kepada kita dengan cara yang dapat dipercayai" (ay 3).

Menerima Yesus sebagai Juru Selamat pribadi adalah sebuah langkah awal yang besar. Tapi kita tidak boleh berhenti hanya sampai disitu saja. Selanjutnya penting pula bagi kita untuk mempertahankan apa yang telah kita awali agar kita mampu melewati ujian, cobaan atau godaan yang akan senantiasa hadir di dalam hidup kita. Ada firman-firman Tuhan yang telah diberikan kepada kita untuk menguatkan kita dalam melalui perjalanan hidup kita. Semua itu jelas akan memperkuat kita agar tetap tegar dalam menghadapi ujian demi ujian yang akan terus datang. Lulus atau tidak, itu semua tergantung dari komitmen kita, karena Tuhan telah memberikan kekuatan lewat firman-firmanNya yang meneguhkan, bahkan telah menganugerahkan kita dengan Roh Kudus sebagai Penolong yang akan selalu menyertai kita untuk selama-lamanya (Yohanes 14:16), dan akan selalu siap membimbing kita dalam setiap langkah. Alangkah sayangnya jika apa yang telah kita mulai dengan baik akhirnya harus sia-sia akibat keteledoran kita sendiri. Oleh karena itu, tetaplah bertahan dalam berbagai ujian.

Firman Tuhan berkata: "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia." (Yakobus 1:12). Hendaklah tetap bertekun dalam doa dan tetaplah isi diri kita dengan firman-firman Tuhan. Jangan keraskan hati ketika menerima suaraNya, agar kita tetap teguh dalam mempertahankan keselamatan yang telah kita peroleh lewat menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Penulis Ibrani mengingatkan: "Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun, di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku,sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku." (Ibrani 3:7-11). Tetaplah serius dalam menjaga diri kita, agar jangan sampai murka Allah jatuh kepada kita dan mahkota kehidupan berlalu dari kita. "Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula." (ay 14).

Mempertahankan lebih sulit daripada memulai

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, April 17, 2014

Kebugaran Rohani (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Latihan atau training. Seperti layaknya sebuah latihan, sesuatu yang kita tuju sebagai hasil tidaklah akan tercapai dengan instan. Orang yang baru memulai komitmennya untuk lari pagi biasanya harus terlebih dahulu mengalahkan keinginan akan kenyamanan untuk terus berlama-lama berbaring di atas kasur yang empuk, melawan rasa malas dan sebagainya. Rasa lelah yang luar biasa atau bahkan kebosanan mungkin akan menjadi masalah awal ketika kita baru memulai untuk berolahraga secara rutin. Itu wajar, karena ritme tubuh kita belum terprogram sepenuhnya untuk sebuah kegiatan baru. Itulah sebabnya kita harus berlatih. Lalu coba tanyakan kepada mereka yang sudah lama secara rutin berolahraga. Mereka biasanya mengaku gelisah apabila jadwal olahraganya berhalangan. Mereka akan merasa ada sesuatu yang kurang, tidak lengkap jika mereka melewatkannya sekali saja. Tubuh mereka biasanya sudah terprogram untuk melakukan latihan pada waktu-waktu yang ditentukan. Bukan hanya masalah kedisiplinan, tetapi body clock dan body rhythm mereka sudah berada dalam kondisi seperti itu. Inilah hal yang bisa kita dapatkan dari sebuah rangkaian proses bernama latihan. Dan kondisi kebugaran optimal hanya akan dicapai jika latihan itu dilakukan secara disiplin, rutin, teratur dan tentunya kontinu.

Proses latihan rohani juga seperti itu. Kita harus membiasakan diri kita secara rutin meluangkan waktu untuk merenungkan firman Tuhan, berdoa, bersaat teduh dan sebagainya. Kita harus terus melatih diri kita hingga terbiasa untuk menghidupi firman Tuhan, mempercayakan jalannya hidup kita setiap saat ke dalam tangan Tuhan. Tanpa mengenal firman Tuhan, kita tidak akan mungkin bisa mengaplikasikan kebenaran Kerajaan dalam kehidupan kita.

Lihatlah bagaimana Daud begitu mencintai firman Tuhan. "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,  tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.  Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3). Kita juga bisa melihat Mazmur 119 yang menjelaskan secara lengkap bagaimana bahagianya orang yang hidup menurut Firman Tuhan.

Penulis Ibrani menyerukan "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (Ibrani 10:25). Ada begitu banyak manfaat yang akan kita peroleh dengan mendisiplinkan diri untuk terus melatih kerohanian kita. Bukan saja untuk kehidupan saat ini, tetapi juga berlaku selamanya alias kekal. Jika demikian, kalau untuk latihan jasmani yang gunanya terbatas saja kita mau menghabiskan banyak waktu, mengapa untuk sesuatu yang berguna dalam segala hal dan kekal kita masih malas atau malah tidak mau? Ambillah komitmen dari sekarang untuk mempergunakan waktu-waktu secara khusus bersama Tuhan. Mendengarkan suaraNya, diam di hadiratNya, merenungkan firmanNya dan menghidupi itu semua dalam segala yang kita lakukan sehari-hari. Mungkin berat pada mulanya, tetapi pada suatu ketika anda sendirilah yang akan merasakan manfaatnya.

Berlatihlah terus untuk mencapai kebugaran rohani yang optimal 

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, April 16, 2014

Kebugaran Rohani (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Timotius 4:8
======================
"Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang."

Tinggal di kota besar yang sibuk membuat banyak orang sulit mendapatkan akses memadai untuk berolah raga. Oleh karena itu fitness center atau pusat-pusat kebugaran pun menjadi pilihan banyak orang. Ada yang mahal, ada yang murah. Ada yang hanya menyediakan peralatan seadanya, ada yang sangat lengkap, tergantung pilihan. Tapi yang jelas, kebutuhan untuk menjaga stamina, kebugaran bahkan penampilan merupakan hal yang mutlak di jaman sekarang bahkan dianggap banyak orang sebagai bagian dari gaya hidup alias lifestyle. Orang tidak memperhitungkan uang yang keluar untuk menjaga penampilan dan kebugaran. Waktu pun selalu bisa diluangkan. Baikkah berolah raga atau sekedar menjaga kebugaran? Tentu saja baik, bahkan sangat baik. Tapi ingatlah bahwa itu semua bukan sesuatu yang berguna selamanya. Sehebat apapun kebugaran kita, sekeras apapun otot dan sebaik apapun penampilan kita, pada suatu ketika semua itu akan habis dimakan usia. Maka saya pun berpikir, jika orang mau meluangkan waktu yang membawa manfaat dalam masa hidup yang hanya sementara, mengapa banyak yang justru malas meluangkan waktu untuk sesuatu yang sifatnya selamanya, bukan hanya dalam hidup saat ini tetapi juga kehidupan yang akan datang yang kekal itu?

Saya bukan hanya bicara soal meluangkan waktu, tetapi juga keseriusan, kesungguhan, tekad, kesadaran, penempatan prioritas yang benar bahkan kerinduan untuk bersekutu dengan Tuhan, mendengar suaraNya, berdiam di hadiratNya, merasakan kasihNya, mengerti kebenaran firman Tuhan dan mengaplikasikannya dalam setiap aspek kehidupan. Anda mungkin bingung, apa hubungannya dengan fitness alias kebugaran? Banyak orang yang tidak menyadari bahwa sebagaimana tubuh butuh dijaga kebugarannya, rohani kita pun sama. Spiritual fitness, atau kebugaran rohani juga merupakan hal yang sangat penting untuk kita perhatikan, bahkan jauh lebih penting dari kebugaran apapun baik saat ini ketika kita masih di dunia maupun nanti setelah kita selesai dari masa-masa yang singkat ini.

Seperti tubuh yang harus dijaga dan dilatih dengan sungguh-sungguh agar kita bisa mencapai kondisi prima, kebugaran dan kesehatan yang baik dari kerohanian atau spiritual kita pun penting untuk dijaga dan ditingkatkan. Dengan kata lain, latihan badani atau fisik itu perlu, tapi latihan untuk kerohanian juga tidak kalah pentingnya. Terlebih jika kita menyadari bahwa kita tengah menghadapi dunia yang sulit. Kerohanian kita setiap saat bisa terkena polusi dan hal-hal lain yang mampu melemahkan kita. Jika tidak mawas diri, bisa-bisa dalam kelemahan kita akan terjatuh dan pada akhirnya kehilangan apa yang sebenarnya disediakan Tuhan bagi kita.

Paulus telah mengingatkan hal ini. Katanya, "Latihlah dirimu beribadah." (1 Timotius 4:7). Paulus membandingkan pentingnya melatih jasmani kita dengan melatih rohani. Perhatikan bahwa ia sama sekali tidak mengatakan bahwa latihan jasmani itu tidak penting, tetapi ia mengingatkan bahwa ada latihan lain yang sebenarnya jauh lebih besar manfaatnya. "Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. "Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (ay 8). Latihan jasmani, berolahraga, fitness, apapun bentuknya itu tentu baik. Tetapi seperti kata Paulus sesungguhnya terbatas gunanya. Setelah kita meninggalkan dunia ini kelak, semua itu tidak lagi memberi manfaat apa-apa. Tetapi latihan rohani akan sangat berguna dalam segala hal. Dalam masa hidup sekarang, kita bisa tegar menghadapi berbagai masalah yang harus dihadapi. Kita bisa membedakan mana yang baik dan buruk, menghindari berbagai jerat atau jebakan iblis dalam berbagai cara dan bentuk. Kita bisa hidup tenang penuh damai sejahtera dan bahagia tanpa melihat kondisi atau situasi terkini yang kita alami. Kita tidak perlu ragu dan bimbang dalam ketidakpastian, cemas menghadapi hari depan, takut ini dan itu. Semua itu akan timbul dari sebuah kondisi jiwa dan roh yang sehat. Dan sehat tidaknya kerohanian kita akan sangat tergantung dari seberapa dekat kita dengan Tuhan dan firmanNya. Jika anda berlari di treadmill, menggunakan sepeda statis dan sebagainya dalam melatih kebugaran fisik, kerohanian kita akan terlatih dari keseriusan kita dalam beribadah. Beribadah bukanlah melulu mengenai pergi ke gereja, tetapi lebih kepada pengaplikasian firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Membaca firman Tuhan, merenungkan siang dan malam dan melakukannya secara nyata. Menjadi berkat bagi sesama, menjadi sosok yang baik dalam keluarga. Suami yang siaga, istri yang cakap, anak-anak yang patuh, menjadi saudara atau sahabat yang peduli, menjadi manusia yang hidupnya digerakkan oleh kasih. Menjadi orang-orang yang mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah, mendasarkan hidup sesuai firman Tuhan. Untuk bisa sampai ke dalam bentuk hidup seperti ini tidak bisa secara instan melainkan memerlukan latihan.

(bersambung)

Tuesday, April 15, 2014

Mahkota Kemuliaan dan Hormat

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 8:6
===================
"Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat."

Siapakah yang berhak memakai mahkota? Hiasan kepala yang khas dan seringkali bertahtakan berlian atau logam-logam mulia yang berharga lainnya seperti emas ini dahulu dipakai oleh raja, ratu atau orang-orang besar yang berkuasa. Mahkota dipergunakan sebagai lambang kekuasaan, kedaulatan dan kehormatan. Belakangan mahkota juga dipakai sebagai lambang kemenangan seperti yang sering kita lihat pada kontes-kontes seperti Miss World, Miss Universe dan sebagainya. Siapapun yang memakai atau menganugerahkan, satu hal yang pasti adalah bahwa mahkota tidak dipakai oleh sembarang orang. Hanya orang-orang berkuasa atau yang berhasil meraih pencapaian-pencapaian tertentu saja yang boleh memakainya. Anda mungkin sama seperti saya, bukan seorang raja/ratu atau pemenang salah satu kontes besar internasional sehingga saat ini anda tidak memakai mahkota di kepala. Tapi tahukah anda bahwa Sang Pencipta memberi manusia sebuah mahkota yang sangat istimewa, sebuah mahkota dengan kemuliaan dan hormat?

Daud tampaknya merupakan pribadi yang suka melakukan perenungan dan suka mengamati secara mendalam akan apa yang ia lihat. Kecintaannya terhadap alam pun sangat besar, dimana dalam banyak kesempatan kita menemukan tulisan-tulisan perenungan yang muncul dari pengamatannya akan alam yang indah hasil ciptaan Tuhan. Pada suatu malam Daud menerawang memandang langit di malam hari yang dipenuhi bintang-bintang. Daud tidak sekedar melihat atau memandangi saja, tetapi ia mengambil momen untuk merenungkan eksistensi manusia dibandingkan dengan langit yang bertahtakan bintang kerlap kerlip. Hasilnya bisa kita baca dalam kitab Mazmur. Katanya: "Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?" (Mazmur 8:4-5). Pemikiran Daud sangat sederhana tapi dalam. Jika kita hanya mengagumi keindahan langit, ia berpikir lebih jauh dengan membandingkan keindahan langit penuh bintang dan cahaya bulan dengan keberadaan manusia. Siapakah kita manusia? Ketika langit di malam hari diciptakan Tuhan dengan sangat indah, manusia terus merusak hasil ciptaan Tuhan dan menyakiti hatinya. Tapi Daud menyadari bahwa keberadaan kita manusia ternyata jauh lebih indah dan spesial di mata Tuhan dibandingkan ciptaan terindah manapun yang sudah atau pernah Tuhan buat. Lihatlah kelanjutan ayat diatas. "Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat." (ay 6). Tidak terkira keindahan dan kesempurnaan alam semesta ini diciptakan, tetapi manusia tetap ciptaan Tuhan yang berbeda. Teristimewa dibandingkan ciptaan-ciptaan lainnya. Begitu istimewa bahkan dikatakan bahwa kita Tuhan mahkotai dengan kemuliaan dan hormat, dibuat mirip Allah dan memiliki citra Allah dalam diri kita. Kita dibentuk secara unik dari debu tanah langsung dari tanganNya, lalu menghembuskan nafas hidup ke dalam kita. (Kejadian 2:7). Itu menyatakan dengan jelas bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang teristimewa. Dan kepada kita diberikan kuasa. Daud mengatakannya seperti ini: "Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya." (Mazmur 8:7).

Kelak Petrus menyebutkan hal ini juga. "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib." (1 Petrus 2:9). Kita disebutkan sebagai yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa kudus, milik Allah sendiri. Sebegitu istimewanya kita diciptakan, karenanya kita pantas bersyukur setiap saat dalam keadaan seperti apapun. Tetapi ayat ini juga seharusnya mengingatkan kita bahwa ada tugas yang disematkan untuk menyatakan kemuliaan Tuhan di dunia, menjadi penyampai berita perbuatan-perbuatan besarNya. Menjadi sosok anak-anak terang yang mewakili nama baik Bapa kita, Raja diatas segala raja.

Kita dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, kita terpilih sebagai imamat yang rajani, kehidupan kita pun seharusnya mencerminkan prinsip Kerajaan dan menggambarkan citra Sang Raja. Kita harus selalu menjaga agar jangan sampai mahkota yang dipakaikan Allah atas kita, yang penuh kemuliaan dan hormat itu sampai membuat muka Sang Pemberi tercoreng akibat perilaku kita yang buruk. Ingatlah bahwa kepada setiap manusia Tuhan sudah memberi kita kuasa penuh atas segala ciptaan Tuhan lainnya, baik ikan di laut, burung di udara dan atas segala hewan darat lainnya. "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kejadian 1:28). Bukan hanya menguasai, tapi juga taklukkan. Itu bukan berarti bahwa kita boleh sembarangan atau seenaknya mengeksploitasi semuanya, tapi kita justru diminta untuk menjaga kelestarian alam beserta isinya sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kuasa yang telah Dia berikan atas kita semua. Mahkota kemuliaan dan hormat yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia jangan sampai disia-siakan atau tidak dihargai.

Jika anda memenangi sebuah mahkota, anda tentu akan bangga dan menjaga agar mahkota itu tetap baik dan terlihat indah di atas kepala anda bukan? Seperti itu pula kita seharusnya menyikapi mahkota yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Kita diciptakan dengan tujuan mulia secara istimewa. Oleh karena itu kita harus belajar untuk hidup sesuai prinsip Kerajaan, menjadi anak-anakNya yang benar-benar menghidupi segala hak-hak yang telah diberikan kepada kita dan melakukan tanggung jawab kita pula. Sudahkah kita benar-benar menghayati jati diri kita sebagai ciptaan spesial yang segambar dengan Allah? Sudahkah kita menghargai mahkota yang Dia berikan lewat cara hidup yang berkenan dihadapanNya? Hendaknya perenungan Daud ini membuka cakrawala baru dalam pemikiran kita bahwa kita diciptakan seperti gambar dan rupaNya, kita dimahkotai kemuliaan dan hormat sehingga tidak satupun manusia yang boleh merasa rendah diri atau tidak berharga. Kemudian renungkan pula bahwa layaknya sebuah mahkota kehormatan, penghargaan itu harus kita jaga dengan baik, apalagi jika menyadari bahwa Tuhan sendiri yang memberikan, bukan manusia lain yang hidup di dunia yang sama dengan kita. Kita mungkin tidak melihat ada mahkota di atas kepala kita, tetapi ketahuilah bahwa Tuhan memberikan itu kepada kita semua tanpa terkecuali. So let's ask ourselves this question: as a crowned human, what should we do, and what can we do to glorify Him? 

We are the crown of creation

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, April 14, 2014

Fair Play

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 2 Timotius 2:5
=====================
"Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga."

Jika anda penggemar bola, anda tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah Fair Play Award. Penghargaan ini diberikan kepada sebuah tim atau perorangan atas prestasi mereka dalam menjunjung tinggi sportivitas sepanjang musim. Penilaian Fair Play didasari atas beberapa kriteria seperti jumlah kartu kuning dan merah yang diterima dalam satu musim, positive play alias bertanding jujur dengan tujuan menang tanpa melihat keuntungan pihak sendiri atau untuk merugikan pihak pesaing, respek kepada lawan, penghormatan dan kepatuhan terhadap wasit dan perilaku dari pemain, tim official maupun supporter. Semua ini merupakan peraturan-peraturan mendasar dari sebuah pertandingan olah raga yang seharusnya dijalankan oleh setiap pelaku di dalamnya. Beberapa nama pemain sepak bola yang terkenal dalam menjunjung tinggi fair play misalnya mantan kapten timnas Inggris Gary Lineker yang tidak pernah menerima kartu kuning apalagi merah sepanjang karirnya, Paolo Di Canio yang dengan jiwa kesatria menghentikan tendangan saat kiper tergeletak jatuh  pada tahun 2001. Jacques Glassmann yang mengungkapkan usaha penyuapan di tahun 1995 dan beberapa nama lainnya.

Ironisnya fair play menjadi semakin jarang ditemukan. Pemain-pemain bola cenderung memanfaatkan situasi seperti apapun untuk bisa memenangkan pertandingan. Mereka akan berpura-pura jatuh ketika gawang terancam, mereka melebih-lebihkan pelanggaran yang dilakukan lawan agar mendapat keuntungan apabila lawannya mendapat kartu, dan tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan jika ada situasi yang sangat menguntungkan seperti yang dialami Paolo Di Canio diatas. Tim sepak bola cenderung bermain defensif, hanya ingin tidak kalah tapi tidak menampilkan permainan atraktif, ada yang berpikir untuk mengatur skor supaya tim saingan gagal melaju ke babak selanjutnya, perilaku-perilaku kasar terhadap lawan maupun wasit dan lain-lain. Ini merupakan sebuah potret dari perilaku manusia jaman sekarang secara umum. Orang akan menghalalkan segala cara untuk bisa menang, agar bisa meraup keuntungan dan tanpa malu menghalalkan segala cara untuk keuntungan pribadi meski dengan cara curang. Kita terbiasa sikut-sikutan untuk sukses dan tidak merasa bersalah jika harus mengorbankan orang lain demi mencapai tujuan kita. Banyak orang yang mengira bahwa apapun boleh dilakukan yang penting menang. Tetapi Alkitab berbicara lain. Sebuah kemenangan bukan saja tergantung dari hasil akhir, tetapi proses dalam mencapainya justru merupakan hal yang  jauh lebih penting untuk diperhatikan.

Dalam suratnya kepada Timotius, Paulus mengingatkan agar kita menjunjung tinggi sportivitas, fair play, kejujuran dan keadilan sesuai dengan peraturan dalam berlomba. Lihatlah apa katanya. "Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga." (2 Timotius 2:5). Kalau mau juara dan mendapat mahkota, jujurlah dalam bertanding sesuai peraturan yang berlaku. Itu kira-kira katanya. Anda mungkin bukan seorang pemain bola atau olahragawan profesional, tetapi pesan ini sangatlah penting untuk kita ingat dalam meniti hidup kita, karena sebuah kehidupan seyogyanya merupakan sebuah perlombaan. Ada garis finish yang akan dicapai oleh semua orang pada suatu ketika, dan menang atau tidak bukan saja tergantung dari bagaimana kita bisa menjaga diri kita untuk tampil baik hingga mencapai garis akhir, tetapi juga bagaimana proses yang kita lakukan selama berlomba sampai ke sana. Secara tegas Paulus mengatakan bahwa sebuah mahkota juara hanyalah bisa diperoleh apabila kita bertanding sesuai dengan peraturan-peraturan. Menang dengan cara curang bukanlah kemenangan sejati. Dengan kata lain, kita hanya bisa dikatakan menang jika kita mengikuti aturan. Peraturan-peraturan dibuat ternyata bukan saja untuk membuat segala sesuatu berjalan tertib dan teratur, tetapi juga untuk membuat kita berhak menyandang predikat sebagai pemenang yang sejati.

Kalau hidup adalah sebuah perlombaan, apa yang akan kita peroleh kelak akan sangat tergantung dari bagaimana cara kita dalam menyikapi perlombaan itu. Apakah kita sudah cukup serius dalam melakukannya atau kita masih terus menyia-nyiakan kesempatan atau bahkan melakukan kecurangan serta pelanggaran akan peraturan-peraturan Tuhan yang telah Dia tetapkan sebelumnya. Penulis Ibrani mengatakan "Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita." (Ibrani 12:1) Jika anda ingin menang lomba lari, anda tentu akan berusaha membuat kaki anda seringan mungkin. Menggantungkan rentengan batu di kaki jelas akan menghambat langkah anda untuk menang. Jadi penting bagi kita untuk menanggalkan segala sesuatu yang bisa memberatkan langkah kita untuk mencapai garis akhir dengan kemenangan, dan yang tak kalah penting, hendaklah kita bertekun dalam menjalaninya. Sebuah kunci pun kemudian diberikan pada ayat berikutnya, yaitu "..dengan mata yang tertuju kepada Yesus.." (ay 2). Mengarahkan pandangan kepada Yesus, bukan kepada hal-hal lain yang merintangi kita seperti kesusahan, himpitan beban hidup dan sebagainya yang lambat laun akan membuat kita bisa bersikap menghalalkan segala sesuatu meski dengan cara yang tidak baik tanpa rasa bersalah sama sekali. Semua orang ingin menang, namun perhatikanlah setiap langkah yang kita peroleh untuk bisa mencapainya.

Paulus mencapai garis akhirnya dengan gilang gemilang. Ia bisa berkata dengan kepala yang tegak: "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.  Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya." (2 Timotius 4:7-8). Pertanyaannya, mampukah kita mengatakan hal yang sama? Ketaatan terhadap peraturan Tuhan merupakan hal yang tidak bisa kita abaikan. Yesus menang bukan lewat membumihanguskan orang-orang yang jahat, tetapi justru karena ketaatanNya terhadap kehendak Bapa. Ini bisa menjadi gambaran yang jelas bagi kita untuk memperhatikan betul bagaimana cara kita untuk mencapai keberhasilan demi keberhasilan dalam perlombaan hidup kita hingga mencapai garis akhir.

Kita bisa belajar dari para pelaku fair play di dunia olah raga. Marilah kita melakukan hal yang sama. Meski itu mungkin terlihat merugikan pada saat ini, namun suatu ketika nanti anda akan tersenyum bangga telah mengambil sebuah keputusan yang tepat. Sebuah sportivitas merupakan sikap yang menjunjung tinggi aturan dan taat kepada aturan, yang justru lebih bernilai ketimbang sebuah kemenangan itu sendiri. Ketika dunia berpikir bahwa adalah wajar untuk melakukan apapun asal bisa menang, orang-orang percaya seharusnya mampu memperhatikan proses yang dilakukan untuk mencapainya. Sebab tanpa itu semua, kita tidak akan pernah bisa memperoleh mahkota kehidupan sebagai seorang juara.

Ketaatan atas ketetapan Tuhan akan membawa kita menjadi juara sejati

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, April 13, 2014

Lari Gawang (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Lalu mari kita lihat kata-kata Paulus selanjutnya. "Karena itu larilah begitu rupa...". Berlari begitu rupa berbicara mengenai keseriusan kita untuk berlari habis-habisan untuk sebuah tujuan atau alasan kuat. Untuk itu tentu kita butuh banyak persiapan. Baik pola latihan, ketekunan, keseriusan, disiplin, pengorbanan, kegigihan dan sebagainya. Saat berlomba kita harus bisa berjuang dengan sekuat tenaga, seserius mungkin dengan fokus yang terarah baik agar kita bisa mencapai garis akhir sebagai pemenang.

Seperti halnya atlit di lintasan lari, demikian pula kehidupan iman kita. Kita harus terus melatih diri kita beribadah seperti yang diingatkan dalam 1 Timotius 4:7, terus berusaha lebih dalam dan lebih dekat dengan Tuhan. Rajin mencariNya, mampu menguasai diri kita dari berbagai godaan kedagingan yang ditawarkan seringkali dengan kemasan-kemasan yang membuat kita seringkali tertipu, lalu tekun mempelajari firman-firmanNya dan kemudian menjadi pelaku-pelaku yang mengaplikasikan secara langsung dalam kehidupan nyata. Seperti halnya dalam perlombaan lari gawang, akan ada banyak rintangan yang harus kita hadapi dalam kehidupan ini. Jadi bukan saja harus terus berlari begitu rupa, tapi kita juga harus melewati berbagai rintangan dengan sebaik-baiknya pula. Rintangan sebesar apapun bukanlah penghalang untuk menang selama kita mau sungguh-sungguh bertekun dengan benar dalam menjalaninya.

Selanjutnya, dalam menghadapi perlombaan lari, atlit akan memperoleh medali, mungkin piala atau hadiah-hadiah lainnya. Lalu dalam perlombaan yang diwajibkan bagi setiap kita, apa yang menjadi hadiahnya? Paulus melanjutkan ayat tadi seperti ini: "Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi." (ay 25). Ya, ada mahkota yang disediakan Tuhan buat kita. Bukan sebuah mahkota yang fana, melinkan sebuah mahkota yang abadi. Inilah mahkota kehidupan yang dijanjikan Tuhan kepada siapapun yang mengasihi Dia dan mampu menghadapi rintangan-rintangan hingga mencapai garis akhir dengan gemilang. Tidak saja Paulus, tapi Yakobus pun menyatakan hal yang sama. "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia." (Yakobus 1:12).

Kita sesungguhnya telah dibekali segala sesuatu untuk menjadi pemenang. Bahkan Alkitab berkata kita lebih dari pemenang. "Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita." (Roma 8:37). Karena itu selain usaha-usaha kita di atas, kita perlu pula memiliki mental seorang juara. Mari kita periksa diri kita hari ini. Seberapa beranikah kita hari ini menghadapi tantangan? Sudahkah kita memiliki keberanian seperti seekor singa dalam menghadapi tekanan, atau kita masih termasuk golongan yang mudah menyerah, sedikit saja terguncang sudah langsung hancur lebur berantakan? Itu masalah mental. Jangan lupa bahwa kita diciptakan Tuhan untuk menjadi seperti singa yang tidak mundur dalam menghadapi tantangan. Kita diciptakan bukan untuk menjadi pecundang melainkan sebagai sosok yang bahkan lebih dari orang menang. Kita sejak semula dijadikan sebagai anak-anak sulungNya, dan karenanya kita semua telah dibekali berbagai keahlian dan kelebihan untuk bisa tampil dengan sosok seperti singa. Bukan itu saja, Tuhan pun sudah mengatakan bahwa Dia akan tetap ada bersama kita yang pasti lebih dari cukup untuk membawa kita ke setiap tingkatan keberhasilan, tidak peduli sesulit apapun situasi yang kita hadapi saat ini. "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Roma 8:28). Jangan lupa bahwa ada Roh Tuhan yang berdiam di dalam diri kita (Galatia 4:6), dan semua ini seharusnya membuat kita tampil sebagai atlit-atlit yang tangguh, memiliki mental seperti singa yang gagah berani. Jika demikian, mengapa kita harus takut menghadapi apapun? Bukankah sudah dikatakan: "Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?" (Roma 8:31).

Kita harus bisa mengerti seperti apa kita telah diciptakan Tuhan dan apa makna dari pengorbanan Kristus sehingga kita bisa dilayakkan untuk memperoleh mahkota kehidupan kelak di kemudian hari. Selain itu, tujuan, sasaran atau arah yang hendak dituju harus pula jelas. Lihat bagaimana Paulus kemudian melanjutkan suratnya dengan kalimat berikut: "Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul." (1 Korintus 9:26). Tidak sembarangan, tidak asal-asalan, tidak menghamburkan Kita harus tetap fokus kepada tujuan akhir, tidak mengumbar waktu, tenaga dan pikiran kita untuk hal-hal yang sia-sia atau tidak ada gunanya. Fokus kita, tujuan dan arah yang ingin dicapai haruslah jelas. Tetap ingat bahwa ada mahkota kehidupan yang telah dipersiapkan bagi kita. Karena itu, apapun kondisi dan situasinya, tetaplah fokus dan teruslah berjuang, keep running on track the best you can and jump pass each obstacle you find along the way. Selalu ada rintangan yang harus kita hadapi dalam kehidupan ini, tetapi bersama Tuhan kita akan mampu mengatasinya. Jangan mundur di tengah jalan, jangan menyerah. Teruslah maju, jangan terus menoleh ke belakang dan raihlah apa yang dirancangkan Tuhan dalam hidup anda dan raih mahkota kehidupan yang telah Dia sediakan di depan sana. Terus menerus menoleh ke belakang, melihat berbagai kegagalan di masa lalu akan memperlambat laju kita sehingga gagal keluar sebagai pemenang. "aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Filipi 3:13-14). Ingatlah bahwa hidup ini sejatinya adalah sebuah arena perlombaan, dan kita adalah peserta di dalamnya. Karena itu berlarilah begitu rupa, dengan ketahanan, kekuatan stamina dan mental disertai latihan dan persiapan yang teratur dan baik, sehingga kita bisa keluar sebagai pemenang. Selamat berlomba!

Berlarilah begitu rupa sehingga kita mampu meraih mahkota kemenangan yang telah dijanjikan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker