Thursday, December 1, 2022

Kisah Kasih dan Secangkir Kopi (2)

webmaster | 6:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Paulus juga menyinggung perihal kasih ini dengan sangat baik. "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku." (1 Korintus 13:1-3). Kasih sejatinya merupakan hal yang paling mendasar, paling utama dan terutama dalam kehidupan anak-anak Tuhan. Kita bisa menjadi orang terpintar, terkaya, terhebat dan sebagainya, tapi tanpa kasih, semuanya tidak akan berguna dan hanya akan berakhir sia-sia belaka.

Jika tidak dijaga dan hanya dibiarkan dalam segala kedurhakaan, kasih bisa menjadi dingin. Meskipun kita melakukan berbagai perbuatan baik, tapi jika tidak disertai dengan dasar yang benar yaitu kasih, maka semua itu tidaklah berarti apa-apa. Hal baik tapi tidak dimotivasi atau digerakkan oleh kasih? Ya, itu bisa terjadi. Melakukan sesuatu karena pamrih, ada agenda pribadi yang hanya untuk kepentingan diri sendiri, menyogok, menyuap, berharap sesuatu sebagai imbalan, semua itu bukanlah berdasarkan kasih melainkan hitungan untung rugi demi kepentingan pribadi.

Sementara itu ada begitu banyak penyesatan dimana-mana, baik yang nyata-nyata kelihatan maupun yang samar-samar atau terselubung lewat berbagai bentuk yang bisa sangat menipu. Orang menjadi semakin individualis, penuh rasa curiga dalam memandang sesamanya, dan paham-paham yang terus tumbuh semakin mengarahkan kita seperti itu. Itu akan membuat kasih yang seharusnya ada dalam diri kita menjadi semakin dan semakin saja dingin, sampai lama-lama tidak lagi bekerja dalam diri kita.

Dalam menghadapi hidup di jaman yang sulit ini kita harus tetap memastikan bahwa kasih tetap hidup dalam diri kita dan mendasari segala perbuatan baik yang kita lakukan. Kita harus terus menjaga agar kasih jangan sampai menjadi dingin tapi tetap hangat. Dan caranya adalah dengan tetap menghidupi sebuah kehidupan berdasarkan kasih, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama, dan menjaga diri kita agar tidak terkontaminasi oleh berbagai bentuk kedurhakaan, kesesatan dan pengaruh-pengaruh negatif lainnya.

Selanjutnya perhatikan pula bahwa pengenalan yang baik akan Tuhan merupakan kunci utama untuk membuat kasih ini tidak menjadi dingin. Yohanes sudah pernah mengingatkan hal itu. "Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:7-8). Kasih bukan saja menjadi sifat Allah, tapi kasih itu sejatinya adalah pribadiNya sendiri. Singkatnya, Allah adalah kasih. Karena itulah ketika kita mengenal Allah, yang tidak lain adalah kasih, kita pun dengan sendirinya akan terus memiliki kasih yang menyala-nyala dalam diri kita. Ketika Allah yang adalah kasih tinggal di dalam diri kita, maka hidup kita pun akan senantiasa memiliki kasih.

(bersambung)

Wednesday, November 30, 2022

Kisah Kasih dan Secangkir Kopi (1)

webmaster | 6:00:00 AM | Be the first to comment!

Ayat bacaan: Matius 24:12
=====================
"Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin."


Saya jadi tertawa sendiri pagi-pagi. Ceritanya, seperti biasa saya membuat kopi setelah bangun. Tepat pada saat air mendidih, Pak RT datang untuk mengutip iuran sampah. Seperti biasa jika ia datang, ngobrol menjadi sebuah keniscayaan. Setelah ia pulang, saya kembali ke dapur untuk melanjutkan membuat kopi, tapi air sudah keburu tidak panas lagi. Maka saya pun memanaskan ulang. Eh, ada tetangga yang datang karena ingin meminjam sesuatu. Dan, ngobrol jilid dua pun jadi sarapan pagi saya. Setelah ia pulang, saya ke dapur lagi, dan yah... airnya sudah tidak cukup panas lagi. Maka saya ulang lagi memasak airnya.

Anak saya bangun dan memanggil papanya. Lagi-lagi seperti biasa ia segera menuntut perhatian penuh dari papanya. Minta dibuatkan sarapan, mengajak bermain, dan kopi saya pun batal hingga siang.


Untuk membuat kopi dibutuhkan air panas. Semakin mendidih maka harum kopinya akan terasa, dan bubuknya pun larut dengan baik. Dari apa yang terjadi pagi ini, pemikiran saya tertuju pada air yang bisa mendidih tapi juga bisa jadi dingin. Tak peduli sepanas apa airnya, jika didiamkan selama beberapa waktu, maka panas air akan hilang. Begitu pula dengan makanan. Jika anda memasak makanan dan lama dihidangkan, makanan akan menjadi dingin dan tidak lagi senikmat kalau dihidangkan panas-panas.

Sesuai teori fisika, segala yang hangat lama-lama akan menjadi dingin karena terjadinya perpindahan kalor. Itulah sebabnya di beberapa restoran disediakan portable gas stove agar makanan tetap bisa hangat selagi disantap. Beberapa termos yang baik juga bisa menghindari terjadinya perpindahan kalor sehingga panas bisa tahan lebih lama.

Hal itu membawa saya berpikir tentang kasih, yang entah kebetulan atau tidak sedang saya bahas sebagai bahan renungan. Perhatikanlah, bukankah kasih di dalam diri kita pun bisa seperti itu? Kasih yang dibiarkan saja dan tidak pernah atau jarang diperhatikan atau dipakai lama-lama bisa menguap. Dari hangat lantas menjadi dingin.

Apa yang menyebabkan kasih bisa menjadi dingin? Tuhan Yesus sebenarnya sudah
 menyampaikan hal itu. Demikian FirmanNya:

"Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin." (Matius 24:12).

Dalam bagian dari Injil Matius ini dikatakan bahwa menjelang kesudahan dunia akan semakin banyak kedurhakaan. Kejahatan merajalela di mana-mana, kesesatan tumbuh subur. Dan berbagai hal itu akan mengakibatkan kasih kebanyakan orang menjadi dingin. Dahulu begitu, sekarang pun sama. Kasih lama-lama bisa terbatas pada slogan saja, hanya disinggung dan dibicarakan, tapi semakin jarang diaplikasikan dalam kehidupan secara nyata. Kita sering terbawa kebiasaan dalam dunia, mengacu pada teori ekonomi semata berdasarkan prinsip untung rugi. Kalau mau membantu kita melihat dahulu keuntungan apa yang bisa kita peroleh atau motivasi-motivasi lain, bukan lagi didasarkan kasih. Kita menjadi pribadi-pribadi yang individualis, tidak lagi punya rasa empati dan belas kasih, lalu kemudian mulai terbiasa melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran. Jauh dari Tuhan, menjadi durhaka, dan kasih pun menjadi dingin.


(bersambung)

Tuesday, November 29, 2022

Ciri/Indikator Kasih (4)

webmaster | 6:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)

Kasih dalam kekristenan harus memiliki coverage area yang jauh lebih luas dari sekedar menyayangi orang-orang terdekat kita atau yang kita kenal baik. Artinya, ukuran kasih yang diwajibkan itu jauh lebih besar dari apa yang dipercaya oleh  dunia secara umum. Yesus sudah memberikan tingkatan yang harus kita capai dalam Yohanes 13:34, yaitu kita harus mampu mengasihi setingkat dengan Yesus. Kalau saat ini belum, setidaknya kita harus paham bahwa itulah level yang harus kita capai. Pancaran kasih kita harus terus dilatih dan ditingkatkan dengan target mencapai tingkatan kasih Kristus atas diri kita.

Yesus bukan datang ke bumi untuk sekedar menyembuhkan banyak orang dan melakukan mukjizat-mukjizat dimana-mana saja, tetapi kasih yang dimiliki Kristus membuatnya rela untuk menjalani penderitaan dan kesakitan hingga mati di atas kayu salib untuk menyelamatkan kita. Lewat karya penebusanNya kita dianugerahkan keselamatan, sebuah bentuk dari kasih karunia yang justru diberikan pada saat kita tengah penuh dosa. Paulus menyatakan hal itu lewat kalimat berikut: "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." (Roma 5:8).

Waktu Yesus berkata "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (Yohanes 15:13), Yesus sudah menerapkannya sendiri secara nyata. Sesuai dengan pesan Yesus tentang level kasih, maka kita diminta untuk bisa mencapai tingkatan tersebut. Kalau masih belum, setidaknya semakin mendekati dari hari kehari.  Ada banyak aspek di dalamnya yang bukan hanya sekedar menyampaikan ungkapan rasa cinta, tetapi juga mengandung pengorbanan, kerelaan untuk menderita dan kesanggupan untuk mengampuni. Sangat sulit, tetapi kasih seperti itulah yang seharusnya menjadi dasar hidup orang percaya.

Sejatinya, sejauh mana iman kita kita akan tergambar dari sejauh mana kasih bekerja dalam hidup kita masing-masing. Yesus telah mengingatkan kita untuk saling mengasihi, seperti halnya Dia sendiri mengasihi kita. Dan itulah yang akan bisa menunjukkan kualitas hidup sebagai murid Yesus. "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yohanes 13:35). Dan ingatlah bahwa Kristus akan tergambar di dunia lewat perilaku dan perbuatan kita. Tanpa kasih, kita bukan saja akan mengalami banyak kerugian tetapi juga berpotensi mengenalkan sosok Kristus yang keliru. Lewat indikator-indikator ini, mari kita periksa sejauh mana kasih bekerja dalam diri kita. Sejauh mana kita sudah menerapkannya dan mana yang masih harus kita tingkatkan atau perbaiki?

Mengenali ciri kasih akan membuat kita tahu apa yang harus kita lakukan dan tingkatkan. Mengetahui indikator kasih akan membantu kita menganalisa pencapaian dan pertumbuhan kasih agar bisa mencapai level seperti Yesus

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Stats

eXTReMe Tracker