Friday, July 31, 2015

Menyikapi Panggilan (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Apa sebenarnya panggilan kita dalam hidup? Yang jelas kita tidak akan pernah bisa melaksanakannya dengan baik apabila kita tidak mengerti atau bahkan tidak tahu apa yang menjadi panggilan Tuhan bagi kita. Kita sering mengira bahwa panggilan hanyalah semata mengenai bentuk-bentuk pelayanan dalam bidang-bidang di gereja lantas lupa bahwa ada panggilan-panggilan yang Tuhan berikan secara spesifik kepada setiap kita. Apakah anda hari ini bekerja sebagai pengusaha, pedaganng, karyawan, guru/dosen, dokter atau berbagai profesi lainnya, ataupun anda adalah seorang hamba Tuhan penuh waktu, itupun merupakan sebuah panggilan dimana anda bisa menyatakan Terang Kristus dan memberkati banyak orang. Apa yang diperlukan untuk bisa maksimal dalam melayani panggilan? Apa dasar yang perlu kita pastikan ada dalam diri kita agar kita bisa memberi yang terbaik dalam panggilan kita masing-masing?

Sebelum kita lanjutkan lebih jauh mengenai panggilan, ada ayat yang secara sangat jelas menyatakan seperti apa sebenarnya gagasan Tuhan mengenai panggilanNya itu dalam bahasa yang sangat sederhana. "Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus." (1 Tesalonika 4:7). Ayat singkat ini dengan begitu tegas menyatakannya. Kita bukan dipanggil untuk melakukan kecemaran, bukan apa yang menyakiti hati Tuhan, apa yang dipandang jahat di mata Tuhan, apa yang mengecewakanNya, melainkan untuk hidup kudus, seturut kehendakNya, sesuai perintahNya. Ini adalah firman Tuhan yang sederhana dan singkat namun keras, karena ayat selanjutnya menyatakan: "Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu." (ay 8). Bayangkan betapa seriusnya jika apa yang kita lakukan justru dinilai sebagai perbuatan yang menolak Allah yang telah memberikan Roh Kudus kepada kita. Atas kasihNya kita ditebus, diselamatkan dan dianugerahkan Roh Kudus sebagai Sang Penolong, tapi atas segala kecemaran yang kita lakukan kita justru menolak Allah. Itu jelas sebuah pelanggaran yang sangat serius.

Selanjutnya dikatakan "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah." (Roma 3:23). Itulah gambaran manusia yang seharusnya penuh dosa dan sebenarnya jauh dari layak untuk mendapatkan kemuliaan Allah. Tapi oleh kasih karunia Allah yang begitu besar kita sudah ditebus lunas lewat Kristus. "dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus." (ay 24).

Firman Tuhan lewat Petrus berkata: "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat." (1 Petrus 1:18-19). Ini semua telah kita terima, bahkan dikatakan dengan cuma-cuma. Artinya dengan menerima Kristus seharusnya kita bisa memulai sebuah kehidupan yang baru yang benar-benar kudus. Kecemaran akibat dosa bukanlah menjadi bagian dari kita lagi untuk menurut Tuhan. Hidup kudus, dan bukan cemar, itulah yang seharusnya kita lakukan setelah kita ditebus dan dibenarkan lewat darah Kristus.

Tuhan telah memberikan, selanjutnya tugas kita untuk mempertahankan. Kita tahu bahwa mempertahankan seringkali jauh lebih sulit dari memperoleh atau bahkan merebut. Inilah yang menjadi masalah, karena arus dunia dengan segala iming-iming yang ditawarkan di dalamnya akan terus menerus berusaha meracuni kita yang lemah ini. Segala bentuk tipu muslihat siap digelontorkan iblis untuk meruntuhkan kita. Menjauhkan kita dari kekudusan dan mengarahkan kita ke dalam berbagai bentuk kecemaran.

Pola pikir, kebiasaan, cara dan gaya hidup disusupi kecemaran ini sejak usia dini. Kelemahan kita membuat terdapatnya banyak lubang-lubang dalam pertahanan kita yang sangat rentan untuk diserang. Tapi Tuhan tahu bagaimana lemahnya kita. Tidak akan mungkin kita mampu bertahan melawan arus dunia dengan segala penyesatan di dalamnya apabila kita hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri atau apapun yang ada di dunia ini. Oleh sebab itu Tuhan memberikan Penolong bagi kita, Roh Kudus, untuk menyertai, menolong, mengingatkan dan menguatkan kita dalam bertahan dan melawan arus ini. Jangan lupa pula bagaimana besarnya kuasa firman Tuhan yang tidak saja harus kita baca, renungkan dan perkatakan, tetapi harus diaplikasikan secara nyata pula dalam perbuatan kita. Dengan ini semua seharusnya kita mampu menjalankan apa yang menjadi panggilan Allah bagi kita. Sekali lagi bukan untuk kecemaran, melainkan untuk sebuah kekudusan.

Satu hal yang pasti, kita tidak akan bisa melihat Tuhan tanpa adanya kekudusan. Firman Tuhan berkata "..kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan." (Ibrani 12:14). Kita tidak akan bisa mengalami kemuliaan Tuhan apabila kita masih hidup penuh kecemaran. Itulah sebabnya Tuhan mengingatkan kita "Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu" (1 Petrus 1:14-15). Dengan kata lain, lewat ayat selanjutnya Tuhan berpesan "Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (ay 16). Sudahkah kita memperhatikan benar-benar hidup kita untuk melakukan yang kudus sesuai panggilan Tuhan? Maka menjaga kekudusan merupakan hal yang mutlak untuk kita lakukan agar kita bisa menjalankan panggilan dengan maksimal.

(bersambung)

Thursday, July 30, 2015

Menyikapi Panggilan (1)

webmaster | 8:00 AM | 2 Comments so far
Ayat bacaan: 1 Tesalonika 4:7
========================
"Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus."

Seorang tokoh religius asal Amerika pada pertengahan tahun 1800an menuliskan tentang talenta sebagai berikut: "For all have not every gift given unto them; for there are many gifts, and to every man is given a gift by the Spirit of God. To some is given one, and to some is given another, that all may be profited thereby." Terjemahannya kira-kira seperti ini: "Tidak semua orang memiliki talenta yang sama: ada begitu banyak talenta, dan semua orang menerima talentanya sendiri dari Roh Allah. Kepada yang satu diberikan yang ini, kepada yang lain diberikan yang berbeda, sehingga semuanya bisa beroleh keuntungan."

Talenta akan mengarahkan anda untuk mengetahui panggilan anda. Mungkin tidak secara langsung, tetapi dalam perjalanannya Allah yang memberikan talenta itu akan mengarahkan anda untuk mengenal betul apa sebenarnya yang menjadi panggilan anda secara khusus.

Ada orang-orang yang beruntung mengetahui panggilannya sejak di usia muda, ada yang baru menemukannya setelah dewasa atau lanjut usia, ada pula yang masih kebingungan mencari tahu. Satu hal yang pasti, semua orang punya panggilannya sendiri-sendiri dan itu tidak bicara secara sempit hanya dalam hal melayani langsung di gereja saja. Amanat untuk menjadikan bangsa-bangsa sebagai murid Kristus, keharusan untuk menjadi terang dan garam berlaku untuk semua orang dan bisa dilakukan lewat apa saja. Dalam bidang apapun kita bisa melakukan misi tersebut. Panggilan punya karakteristiknya sendiri-sendiri dengan keunikan masing-masing, yang akan semakin jelas terlihat ketika kita semakin jelas mengetahui apa sebenarnya yang menjadi panggilan kita.

Ijinkan saya menceritakan tentang panggilan saya. Saya baru menyadari panggilan saya di usia lebih dari 30 tahun. Ketika saya melihat kilas balik hidup saya ke belakang, barulah saya mengerti apa yang harus saya lakukan, dan melihat bahwa sejak kecil Tuhan sebenarnya sudah memberi 'clue' yang ketika disambungkan membuat gambaran panggilan itu semakin jelas kelihatan. Kenapa saya waktu kecil sudah suka mendengar lagu-lagu yang bukan lagu anak-anak, lalu mencari tahu cerita tentang band tersebut dan albumnya? Pada waktu itu belum ada internet sehingga untuk mendapatkan informasi tidaklah mudah. Maka majalah yang membahas musik menjadi sesuatu yang menarik selain majalah anak-anak buat saya, selain mendapatkan sedikit cerita tentang seorang artis atau band dari ibu saya sejauh yang ia tahu. Lucunya, ingatan saya tentang hal ini melekat sangat kuat.

Karena ketertarikan di dunia musik, saya sempat les musik selama beberapa tahun dan berpikir bahwa mungkin saya panggilannya menjadi musisi (bukan penyanyi, karena suara saya biasa saja dan tidak punya vibrasi). Dalam proses itu, saya kemudian mengarah kepada satu genre musik yang khusus dan mengoleksi album-album dari luar dan dalam negeri, sambil tetap mendengarkan jenis-jenis musik lainnya. Semua ini membuat bank data tentang artis, karya dan profilnya terus bertambah di kepala saya.

Menjadi musisi ternyata bukan panggilan karena saya lebih suka mendengar dan mencermati/menganalisa lagu ketimbang memainkannya. Seiring waktu berjalan, saya semakin tertarik mempelajari sejarah musik dari berbagai majalah yang ada, baik tentang perjalanannya dari waktu ke waktu, perubahan trend, band-band atau artis yang terdepan di era masing-masing dan sebagainya. Lalu siapa yang mengira bahwa saya yang tidak suka menulis kemudian mulai hobi mengulas album di sebuah situs sekian tahun setelahnya? Dan diwaktu yang sama mulai mempelajari cara membuat situs yang interaktif dan multimedia.

Di usia ke 36 saya akhirnya menemukan panggilan saya untuk berkecimpung di dunia musik, bukan sebagai pelaku langsung tetapi sebagai jurnalis. Dalam perjalanannya, saya bersinggungan dengan banyak pelaku dan menyampaikan tentang kebenaran Firman Tuhan secara langsung dalam banyak kesempatan. Latihan menulis ulasan kemudian membawa saya juga untuk rutin menulis renungan sejak tahun 2006.

(bersambung)

Wednesday, July 29, 2015

Identifying Your Calling (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

3. Mengambil Tindakan
Selanjutnya adalah kerinduan untuk turut ambil bagian dengan bertindak langsung, melakukan sebuah aksi atau taking action. Mungkin tidak harus mendadak melakukan sesuatu yang besar, tapi meski sedikit demi sedikit grafiknya akan meningkat naik. Paulus melanjutkan langkahnya dengan berdiri di atas Areopagus (tempat pertemuan penduduk Atena) dan langsung berkotbah mengingatkan mereka agar bertobat, kembali kepada Allah. Bagaimana hasilnya? Memang banyak yang tidak mengindahkannya, tapi Paulus berhasil membawa beberapa orang untuk bertobat dan menerima Yesus.

Sebuah panggilan biasanya mempunyai ciri tidak tergantung dari seberapa besar tingkat keberhasilannya tapi lebih kepada hati yang terus gelisah apabila hanya diam dan tidak melakukan apa-apa untuk menjawab rasa sedih yang muncul ketika melihat sesuatu yang belum beres.

Panggilan bisa jadi tidak mudah untuk dijalankan, terlebih di awal. Tetapi jika anda serius dalam menjalankannya, ada banyak berkat dan penyertaan Tuhan dalam setiap langkah yang akan menjadi pengalaman tersendiri yang luar biasa indahnya. Kesuksesan pun mungkin tidak serta merta datang, tapi anda akan merasakan sebentuk kebahagiaan tersendiri yang tidak bisa dinilai dengan uang sebesar apapun.

Panggilan saya dan istri saya berbeda. Sementara saya terhubung dengan para pelaku di dunia hiburan terutama musik, istri saya punya panggilan lebih kepada anjing-anjing jalanan yang terlantar. Di dunia hiburan yang terkenal jahat itu saya mencoba membagi prinsip-prinsip kebenaran Kristus terutama lewat semua yang saya lakukan, yang kerap terlihat aneh, berbanding terbalik dengan apa yang biasa dilakukan orang disana dan mereka percaya sebagai jalan menuju sukses. Tidak jarang mereka kemudian bertanya untuk tahu lebih jauh, dan saya dengan senang hati membagikannya kepada mereka. Di saat lain, saya mendukung penuh panggilan istri saya dengan sesekali mengantarkannya berkeliling membagikan sosis atau makanan lainnya dari rumah untuk anjing-anjing jalanan yang mengais peluang mencari makan di malam hari ketika jalanan sudah kosong. Mungkin pada suatu waktu nanti Tuhan akan mempercayakannya untuk membuka shelter atau rumah inap bagi hewan yang ter/dibuang? Saya menantikan waktu itu tiba. Dan mungkin pada waktunya Tuhan akan membuka jalan bagi saya untuk berbuat sesuatu yang lebih besar lagi untuk menyatakan terang di dunia gemerlap yang sesungguhnya kelam dan gelap itu? Yang pasti, sebelum sampai kesana, kami akan terus berbuat sesuatu, menjalani panggilan dengan sepenuh hati, menggunakan semua yang ada pada kami untuk melakukan sebaik mungkin.

Sebuah panggilan biasanya tidak memerlukan pujian, penghormatan atau popularitas atasnya melainkan merupakan sebuah reaksi nyata atas sesuatu yang membuat kita tidak tenang ketika melihatnya, menjawab dan melakukan panggilan sesuai apa yang telah direncanakan Tuhan sejak awal dalam diri kita, jauh sebelum kita diciptakan. Satu hal yang pasti, berita Kerajaan Allah harus bisa menjangkau hingga ke seluruh penjuru bumi. Itu artinya kita tidak boleh berhenti hanya pada ruangan gereja yang dibatasi oleh tembok-tembok saja.Marketplace, dunia hiburan, kantor, lingkungan anda atau dimanapun anda ditempatkan juga memerlukan jamahan Tuhan. Tidaklah kebetulan anda berada di tempat anda ada saat ini. Temukan panggilan anda dan jalani dengan sungguh-sungguh. Disanalah anda akan melihat indahnya berjalan bersama Tuhan, mengalami sebuah hubungan yang sangat indah dengan Tuhan dan merasakan perasaan-perasaan bahagia yang sulit dilukiskan dengan kata-kata ketika panggilan itu dijalankan setahap demi setahap.

Your calling is the way God plans to make an impact through you

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, July 28, 2015

Identifying Your Calling (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 17:16
=======================
"Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala."

Dalam renungan kemarin saya sudah menyampaikan topik mengenai panggilan yang tentu saja berbeda antar orang per-orang. Seperti yang sudah saya janjikan, hari ini saya akan melanjutkan lebih jauh mengenai perihal panggilan ini. Terutama bagi yang belum mengetahui atau menemukan panggilannya, bagaimana cara mengetahui apa yang menjadi panggilan dan bagaimana kita harus menyikapinya?

Ada banyak cara untuk bisa mengenali apa yang menjadi panggilan kita, misalnya dengan memperhatikan talenta apa yang diberikan Tuhan sejak semula dan kemana minat dan bakat kita sesungguhnya mengarah. Untuk kali ini, ada sesuatu yang menarik yang berkenaan akan hal ini yang diambil dari kisah Paulus di Atena dalam Kisah Para Rasul 17:16-34. Pada saat itu Paulus tengah menunggu Silas dan Timotius di Atena dan menyaksikan betapa kota itu ternyata dipenuhi patung berhala. Saya menganjurkan anda untuk terlebih dahulu membaca perikopnya secara lengkap sebelum melanjutkan kepada beberapa poin dibawah. Apa isi poin-poin berikut adalah mengenai mengenali panggilan dan menyikapinya, yang didasarkan kepada perikop tersebut.

1. Rasa sedih atau gelisah ketika mengalami atau menyaksikan sesuatu

Ayat pertama yang mengawali perikop ini ditulis sebagai berikut: "Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala." (Kisah Para Rasul 17:16). Perhatikan bagaimana reaksi Paulus ketika melihat sesuatu yang bersinggungan dengan panggilannya. Dalam ayat ini dikatakan bahwa Paulus merasakan rasa sedih yang mendalam. Dalam bahasa Inggrisnya disebut "his spirit was grieved and roused to anger."

Seperti inilah rasa yang akan muncul ketika panggilan kita tersentuh. Ada rasa sakit, sedih dan kasih yang bersinggungan satu sama lain dalam perasaan kita. Paulus punya panggilan sebagai rasul sehingga banyaknya berhala dan pemujanya di Atena membuatnya merasakan sedih dan kesal. Anda bisa merasakan hal yang sama tapi di tempat berbeda, jika itu berkenaan dengan panggilan anda.

Ada orang-orang yang panggilannya adalah memperhatikan anak-anak jalanan. Saat orang lain biasa saja melihat anak jalanan berkeliaran di pinggir jalan atau di lampu merah, mereka merasakan sebuah perasaan yang jauh lebih dalam dan sensitif, yaitu rasa sakit melihat penderitaan mereka terlunta-lunta di jalan bersamaan dengan rasa belas kasihan. Ada seorang nenek yang dahulu semasa hidupnya tinggal tidak jauh dari rumah saya, setiap malam ia keluar rumah berkeliling membawa makanan seplastik untuk dibagikan kepada setiap anjing liar yang berpapasan dengannya. Ia pernah berkata bahwa ia tidak bisa tidur sebelum melakukan itu. "Bagaimana saya bisa tidur kalau masih ada anjing-anjing liar di sekitar tempat tinggal saya masih kedinginan dan kelaparan? Hati saya merasa kasihan." Kata-katanya mungkin tidak persis seperti itu, tapi kira-kira seperti itulah bunyinya. Kata-katanya bagi saya sangat berkesan dan tidak akan pernah saya lupakan.

Mungkin anda tidak merasakan seperti yang mereka rasakan, tapi cobalah peka dalam mengamati sesuatu, dan temukan apa yang membuat anda gelisah ketika melihat sesuatu yang belum baik sementara anda merasa bisa melakukannya dengan lebih baik. Bisa jadi perasaan itu muncul saat melihat ketidak adilan, saat melihat pengemis, anak yatim piatu, melihat kondisi politik yang terang-terang mengangkangi rasa keadilan, harga bahan pokok yang tinggi, makanan olahan yang tidak sehat, rumah yang dibangun dengan kualitas buruk dan sebagainya. Anda biasanya akan merasa gelisah apabila tidak melakukan apa-apa untuk menjawab rasa sedih itu. Anda bisa menemukan panggilan dengan memperhatikan bagaimana perasaan anda ketika melihat hal-hal yang masih butuh pembenahan di sekeliling anda.

2. Dorongan untuk melakukan sesuatu, segera!

Ciri lainnya adalah adanya gairah, keinginan, desire/passion atau dorongan untuk melakukan sesuatu terhadap rasa sedih tadi, sesegera mungkin. Kembali kepada perikop Kisah Para Rasul pasal 17, ayat 17 mencatat bentuk reaksi dari sebuah rasa duka yang dialami Paulus. Ayatnya berbunyi demikian: "Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ."

Perhatikan bahwa Paulus tidak berhenti hanya pada rasa sedih dan marah saja, tetapi ia punya gairah atau semangat untuk memikirkan dan mencari solusi bersama saudara-saudara seiman yang berada di rumah ibadat di Atena. Bukan hanya di sinagoga tapi ia juga melakukan hal itu di pasar alias marketplace. Sebuah panggilan selain membuat hati anda sedih, biasanya akan diikuti dengan rasa untuk bisa terjun langsung mengerjakan sesuatu atasnya, Bisa jadi pada awalnya anda tidak menerima apa-apa atau malah merugi atau mengorbankan sesuatu, tetapi panggilan yang anda di dalam diri anda akan mendatangkan perasaan gelisah dan menuntut adanya aksi untuk segera dilakukan.

(bersambung)

Monday, July 27, 2015

Calling (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Ada sebuah analogi menarik yang ingin saya kemukakan yaitu tentang mikrofon. Benda ini diciptakan sebagai alat bantu dengar untuk suara berintensitas rendah. Hari ini mikrofon bahkan sanggup membuat suara terdengar lebih indah ketimbang sekedar mengeraskan level volume saja. Mikrofon digunakan untuk banyak fungsi seperti buat menyanyi, penyiar radio dan televisi, alat perekam dan fungsi lainnya untuk membantu komunikasi atau hiburan. Ketika mikrofon diciptakan, penciptanya tentu memiliki tujuan tersendiri dalam membuatnya. Dengan kata lain, mikrofon seharusnya berfungsi sesuai tujuan penciptanya. Jika itu yang terjadi, maka mikrofon akan dikatakan sukses. Tapi apabila kita menggunakannya sebagai tujuan lain seperti melempar kepala orang lain atau menjadikannya sebagai alat penumbuk, tentu mikrofon akan melenceng dari fungsinya seperti saat dibuat. Bisa dipakai untuk tujuan lain seperti itu, tetapi itu sudah melenceng dari tujuan sebenarnya dan tidak lagi tepat guna.

Contoh ini bisa menggambarkan bagaimana kita seharusnya menemukan panggilan tepat sesuai dengan garis tujuan penciptaan dari Yang menciptakan. Ketahuilah bahwa kita semua sebenarnya memiliki jalan hidup sendiri yang telah ditetapkan Allah dengan tujuan utama untuk membangun KerajaanNya di muka bumi ini. Artinya, masing-masing dari kita memiliki panggilan seperti yang telah Dia rancang jauh sebelum kita ada. Pernahkah anda berpikir mengapa anda berada di tempat anda ada saat ini, pada waktu yang sedang dijalani saat ini? Apa tugas anda, tujuan anda, atau singkatnya, panggilan anda? Atau, mungkinkah kita diciptakan tanpa rencana sama sekali?

Semua pertanyaan ini punya jawaban seperti yang tertulis dalam Efesus 2:10. Mari kita lihat sama-sama ayatnya:

"Karena kita ini  buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus  untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." 

Kita ini diciptakan Tuhan (we are God's own handiwork), dirancang dalam Kristus (recreated in Christ Jesus), untuk melakukan pekerjaan baik (doing those good works). Yang sudah diciptakan Tuhan sebelumnya (which God predestined or lanned beforehead), dan Tuhan mau kita hidup di dalamnya, dalam rencananya. (we should walk in the good life which He has prearranged and made ready for us to live). Jadi ada destiny buatan sendiri, ada destiny Ilahi. Ketika kita berjalan dalam 'destiny Ilahi', kita akan mengalami pemeliharaan Ilahi, perlindungan Ilahi dan penyediaan Ilahi dalam kebahagiaannya sendiri. Jadi, penting bagi kita untuk menemukan apa yang menjadi panggilan, menjalankannya dan kemudian bukan hanya mengetahui tapi juga mengalami Tuhan. Bukan hanya berhenti bermimpi, tapi juga menduduki apa yang telah digariskan sejak semula bagi kita masing-masing.

Dari mana kita harus mulai? Firman Tuhan dalam Matius 6:33 bisa dijadikan  awal yang baik untuk memulai semuanya. "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." Kebanyakan orang akan terus mencari hal lainnya seperti harta, karir, popularitas dan sebagainya. Ayat ini jika digabungkan dengan ayat bacaan hari ini akan memberi kesimpulan berbeda dari pandangan dunia. Kita harus mengejar rencana Tuhan untuk kita, agar kita mampu membangun Kerajaan Tuhan di muka bumi ini. So, our destiny is our divine calling, that's our promised land. Penting bagi kita untuk menemukan panggilan seperti yang ditugaskan Tuhan, dan itulah tanah terjanji kita.

Sekarang pertanyaannya, bagaimana kita bisa mencari tahu apa yang menjadi panggilan kita? Apa ciri utama agar kita bisa tahu itu? Saya akan membagikan lebih jauh akan hal ini dalam renungan berikutnya agar anda bisa terbantu untuk mengetahui panggilan anda. Untuk kali ini, ingatlah bahwa agar mengalami Tuhan, merasakan pemeliharaan, perlindungan dan penyediaan secara Ilahi serta mengalami hidup berkepenuhan seperti rencana yang telah Dia sediakan sejak semula, kita perlu tahu apa yang menjadi panggilan kita.

Find out your calling to fulfill the destiny according to God's masterplan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, July 26, 2015

Calling (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Efesus 2:10
=================
"Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya."

Saya sudah bertemu dengan banyak orang yang tidak mengetahui panggilannya saat mereka sudah berada di usia senja. Seorang bapak yang baru memasuki masa pensiun pernah mengungkapkan perasaannya langsung kepada saya pada suatu hari. Ia bekerja selama puluhan tahun kemudian masuk masa pensiun. Anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan dan sekarang sudah bekerja. Keluarganya pun tidak hidup berkekurangan. Itu seharusnya sudah cukup dijadikan tolok ukur kesuksesan bukan? Secara umum mungkin ya, tetapi ia tetap merasakan kegelisahan yang membuatnya merenung panjang setelah pensiun. "Saya bekerja dan bekerja, menghidupi keluarga, menyekolahkan anak, lantas sekarang pensiun dan kemudian tinggal menunggu ajal menjemput. Yang saya bingung, apa sebenarnya yang menjadi panggilan saya hidup? Apakah ada yang namanya panggilan itu? Kalau ada, bagaimana saya tahu panggilan saya, dan kalau tidak ada, kenapa saya merasa masih ada yang kurang meski hasil dari pekerjaan selama ini sudah lebih dari cukup?" Itu yang ia katakan, dan itu membuat saya berpikir bahwa ternyata masih banyak orang yang belum mengetahui apa yang menjadi panggilannya.

Panggilan kalau dalam kamus disebutkan sebagai 'a strong desire to spend your life doing a certain kind of work', sebuah keinginan atau kerinduan kuat untuk mempergunakan masa hidup melakukan suatu pekerjaan. Atau 'the work that a person does or should be doing', alias sebuah pekerjaan yang seharusnya dilakukan seseorang. Seperti apa yang dirasakan bapak tadi, seringkali kita memang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup tetapi apa yang kita jalani bisa saja tidak sesuai panggilan. We simply work because we need money to live, without thinking whether what we're doing fits our calling or not. Seperti sebuah pertanyaan yang tak terjawab, itu membuat adanya lubang dalam hati kita yang terasa mengganjal.

Masing-masing orang punya panggilannya sendiri-sendiri dan bisa mulai kita kenali lewat bakat atau talenta yang sejak semula dititipkan Tuhan kepada kita. Ada seorang musisi terkenal yang pada awalnya mencoba untuk menjalani pendidikan formal hingga kuliah. Ia mengesampingkan perasaan kuat untuk menekuni profesi sebagai pemain musik yang sudah ia rasakan sejak kecil, lalu mengambil jalur seperti kebanyakan orang untuk belajar kemudian mencari lowongan pekerjaan. Ia sukses di studi, tapi hatinya tetap terasa ada yang kosong. Kalau memang berprestasi, kenapa saya masih gelisah? Itu yang ia rasakan. Dan akhirnya ia memutuskan untuk menjalankan panggilannya bermusik, yang di awal sangat berat. Ia sempat sering tidak mendapat upah alias main gratisan, ditolak main dimana-mana, tidak dipedulikan karena dianggap tidak terkenal, tapi hari ini dia sukses menjalankan panggilannya. "And the feeling is awesome! I feel complete!" katanya.

Lalu ada teman lain yang panggilannya ada di dunia fotografi. Orang tuanya menganggap itu hanya hobi dan mengharuskannya untuk bekerja sebagai pegawai kantoran agar dapat gaji tetap. Gaji tetap, itu gambaran hidup mapan bagi banyak orang bukan? Ia mengikuti perintah orang tuanya tapi tetap saja ia merasa kosong. Kalau ia jenuh dan mumet, ia segera mengambil kameranya dan mulai berkeliling kota sambil berjalan kaki memotret objek-objek menarik yang ia temui. Itu bisa menyegarkannya kembali. Sampai pada satu ketika ia memutuskan untuk berhenti kerja dan mau menekuni fotografi secara serius. Seperti si musisi tadi, ia sempat kesulitan dalam hal finansial karena jarang mendapat job, tapi hari ini ia sukses menekuni apa yang menjadi panggilannya, dan perasaan puas pun ia rasakan. "Seperti kerja lainnya, melelahkan, apalagi kalau sedang banyak tugas. Tapi rasanya bahagia dan senang banget kalau pekerjaan dilakukan sesuai panggilan." katanya dengan wajah cerah.

Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa setiap orang punya panggilan masing-masing. Kita bisa memilih untuk mengabaikan dan memilih pekerjaan lain, tetapi rasa tidak puas, gelisah, kosong dan sejenisnya bisa membuat kita tidak maksimal dalam kebahagiaan. Talenta sudah dititipkan Tuhan sebagai modal awal, lalu tugas kita adalah untuk mengenal potensi diri serta mengasah dan mengolahnya agar bisa membawa hasil gemilang. Panggilan kita secara umum sama, yaitu untuk menjadi terang dan garam, mewartakan kabar gembira ke segala penjuru bumi seperti Amanat Agung yang disampaikan Yesus tepat sebelum Dia naik kembali ke Surga. Panggilan umumnya sama, tapi secara khusus masing-masing orang memiliki panggilan yang berbeda. Panggilan yang sesuai Amanat Agung itu tidak berarti bahwa kita semua harus menjadi pendeta atau pelayan Tuhan full-timer, tapi menjadi terang dan garam dan mewartakan kabar keselamatan itu pun bisa atau bahkan harus tampil multi-warna yang sanggup menjangkau atau meng-cover area yang lebih luas lagi ketimbang batas dinding gereja.

(bersambung)


Saturday, July 25, 2015

Bukan dengan Barang yang Fana

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Petrus 1:18-19
========================
"Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat."

Anda tentu ingat dengan lagu rohani evergreen karya Jonathan Prawira yang berjudul "Seperti Yang Kau Ingini." Liriknya adalah sebagai berikut:

Seperti Yang Kau Ingini

Bukan dengan barang fana
kau membayar dosaku
Dengan darah yg mahal
tiada noda dan celah

Bukan dengan emas perak
kau menebus diriku
Oleh segenap kasih
dan pengorbananmu

Ku telah mati dan tinggalkan
jalan hidupku yg lama
Semuanya sia-sisa
dan tak berarti lagi

Hidup ini kuletakkan
pada mesbahmu ya tuhan
Jadilah padaku seperti
yg kau ingini

Yesus menebus kita bukan dengan barang fana, tapi dengan darah yang mahal, tiada noda dan cela. Penggalan kalimat ini diambil dari surat Petrus yang berbunyi: "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat." (1 Petrus 1:18-19).

Lagu ini sesungguhnya mengingatkan kita bahwa apa yang dilakukan Yesus sungguh merupakan anugerah yang bukan main besarnya bagi masa depan kita sebagai manusia. Dengan taat Yesus menjalankan kehendak Bapa dengan sempurna, menebus kita semua dari dosa-dosa dengan nyawaNya sendiri. Jika hari ini kita bisa menikmati indahnya hadirat Tuhan, bersekutu denganNya, jika kita hari ini tahu bahwa ada kehidupan kekal penuh sukacita menanti di depan, semua itu adalah berkat karya penebusan Kristus yang mahal. Dia menebus kita bukan dengan barang fana, bukan pula dengan emas, perak, uang atau harta, tapi dengan darah Kristus yang tidak bernoda dan bercacat. Dia rela berkorban demi kita semua yang penuh dosa ini karena Dia begitu mengasihi kita,

Yesus membuka kesempatan bagi kita untuk mejadi manusia baru, the whole new creation. Firman Tuhan berkata: "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17)." Ini adalah anugerah yang dimungkinkan lewat penebusan Kristus. Semua cara hidup lama, kebiasaan buruk kita, semua telah dimatikan, dan kita bisa memulai sebuah hidup baru yang terbebas dari belenggu-belenggu masa lalu.

Dengan adanya kesempatan emas seperti itu, alangkah keterlaluannya jika kita tidak bisa menghargai itu semua dan masih memilih untuk kembali kepada jalan hidup kita yang lama, yang dalam lagu Jonathan Prawira di atas digambarkan sebagai semua hidup yang sia-sia dan tidak berarti. Oleh karena itulah lagu "Seperti Yang Kau Ingini" menjadi sangat baik untuk diingat karena mengingatkan kita akan besarnya kasih Tuhan kepada kita dengan merelakan Yesus menebus kita dengan darahNya yang mahal, tiada cacat dan cela.

Dengan demikian, hendaklah kita semua mengimani hidup sebagai manusia ciptaan baru yang tidak lagi tunduk pada perhambaan berbagai bentuk dosa. Jangan sampai karya penebusan Kristus yang agung menjadi sia-sia kepada diri kita. Ingatlah bahwa dengan menerima Kristus kita yang lama yang penuh dosa telah mati, tetapi kini kita hidup bagi Allah dalam Kristus. (Roma 6:11).

Dan selanjutnya Paulus pun mengingatkan agar kita yang sudah disucikan dengan sebentuk manusia baru jangan sampai kita biarkan kembali cemar oleh dosa lagi. "Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya." (ay 12). Itulah yang harus kita lakukan selanjutnya. Menjaga agar jangan lagi dosa bisa berkuasa dalam tubuh fana kita ini. Lalu selanjutnya kita baca "Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran." (ay 13), sebab kini kita sudah hidup di bawah kasih karunia. (ay 14).

Ketika kita dulu dikuasai dengki dan iri hati, kini kita bersyukur bagi mereka. Ketika kita dulu hidup dengan kebiasaan-kebiasaan buruk, kini kita hidup kudus. Ketika kita dulu hidup penuh amarah dan kebencian, kini kita menikmati hidup yang penuh kasih terhadap sesama. Ketika kita dulu hanya mementingkan diri sendiri, kini kita peduli kepada sesama kita yang membutuhkan. Ketika kita dulu mengandalkan manusia, kini kita tahu bahwa mengandalkan Tuhan adalah segalanya. Inilah gambaran metamorfosa dari seekor larva yang geli dan menjijikkan menjadi seperti kupu-kupu yang indah, gemulai dan anggun.

Tetaplah bersyukur bahwa apa yang telah dianugerahkan Tuhan itu sesungguhnya begitu indah. Bukan dengan barang fana, bukan dengan emas, perak, tapi dengan darahNya yang mahal, tiada noda dan cela, Dia telah menebus kita semua. Karenanya mari kita hidup baru, meninggalkan semua cara hidup dan kebiasaan buruk kita yang lama. Letakkan diri kita di atas mesbah Tuhan sebagai persembahan yang kudus yang berkenan kepada Allah. (Roma 12:1).

Hidup kita adalah milik Tuhan, jadilah pada kita seperti yang Dia ingini

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker