Friday, May 25, 2018

Simon Orang Farisi dan Wanita Berdosa (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Orang-orang Farisi yang lebih tahu aturan, paham tata krama dibanding orang biasa seharusnya tahu apa yang wajib dilakukan untuk menyambut tamu, terutama tamu khusus yang memang sengajar mereka undang. Anehnya mereka tidak melakukan ini. Tidak ada sentuhan pada bahu, tidak ada ciuman, tidak ada sambutan mencuci kaki dan tidak juga meminyaki kepala.

Kita bisa tahu itu lewat apa yang dikatakan Yesus sendiri. "Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi." (ay 44-46).

Bukannya tuan rumah atau tamu lainnya yang semuanya pakar agama dan ahli kitab, orang-orang yang merasa sebagai manusia 'paling benar' dan 'paling beradab' di muka bumi ini yang melakukan itu, tapi malah seorang wanita berdosa yang saya yakin bahkan tidak diundang.

- Saat mereka tidak mencuci kaki Yesus, wanita berdosa itu membasahi kaki Yesus dengan air mata, lalu ia keringkan dengan rambutnya sendiri.
- Saat mereka tidak mencium Yesus, wanita berdosa itu tanpa henti mencium kaki Yesus.
- Saat mereka tidak meminyaki kepala Yesus dengan minyak, wanita berdosa itu meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi.

Kalau di awal perikop kita langsung dikenalkan pada dua tokoh dengan strata sosial, status atau tingkat kehormatan bak bumi dan langit alias besar sekali perbedaannya, dari bagian ini kita bisa melihat reaksi mereka juga berbeda, tapi justru sebaliknya.

Wanita berdosa itu saya yakin tidak diundang oleh Simon. Bisa jadi wanita ini harus berjuang dengan susah payah untuk bisa melihat Yesus secara langsung dan duduk di kakiNya. Kalaupun ia tidak diusir, sepertinya Simon orang Farisi memang ingin menjebak, atau setidaknya menguji Yesus lewat bagaimana Yesus akan bereaksi terhadap wanita pendosa. Itu bisa kita lihat lewat ayat ini: "Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa." (ay 39).

Perhatikan, Simon bahkan tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan. Paling tinggi juga nabi, itu menurutnya. Dan itupun masih harus diuji dulu dari bagaimana reaksi Yesus terhadap seorang wanita tidak dikenal yang tiba-tiba menjamah kakiNya. Dan Simon memanggil Yesus dengan "Guru", tidak lebih, tidak kurang (ay 40). Jadi sampai "Guru" lah status Yesus di mata Simon. Ada kemungkinan naik tingkat sampai Nabi, tapi itu masih tergantung hasil pembuktian.

Kalaupun dia anggap Yesus sebagai Guru, bukankah seorang guru pun layak mendapat sambutan sepantasnya sesuai tradisi mereka? Seharusnya demikian. Tapi mereka tidak melakukan itu, dan itu menunjukkan sikap mereka yang tidak menghormati kedatangan Yesus. Mereka tahu bahwa Yesus sudah melakukan banyak mukjizat, jadi Simon mengundang Yesus mungkin untuk mengajar atau melakukan mukjizat, tapi tidak lebih dari itu. Itu menunjukkan sebuah hubungan yang cuma didasarkan pada untung rugi, mereka cuma ingin memanfaatkan Yesus.

(bersambung)


Thursday, May 24, 2018

Simon Orang Farisi dan Wanita Berdosa (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 7:36-37
===================
"Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi."

Apa bahasa Inggrisnya keset? Kalau ditanya pada anak-anak terutama sekitaran dua dekade lalu, jawabannya mungkin seragam: "Welcome". Kenapa? Pada saat itu jenis keset belumlah se-variatif sekarang. Rata-rata keset pada jaman dulu bertuliskan 'welcome' alias 'selamat datang', yang mungkin gunanya agar tamu sudah disambut dengan ramah sebelum tuan rumah membuka pintu menemui mereka. Kalau orang yang belum kita kenal saja disambut dengan 'welcome', apalagi orang-orang yang kita kenal dekat seperti teman, saudara atau keluarga. Atau, tamu yang memang kita undang. Tentu saja sambutan bagi tamu yang dengan sengaja kita undang berbeda. Kalau istimewa dirasa terlalu mewah, minimal penyambutan yang layak sesuai etika, tata krama dan sopan santun wajib kita kedepankan. Akan sangat aneh kalau kita mengundang seseorang untuk datang tapi kita tidak menyambut dengan layak. Tidak disalam, tidak dipersilahkan masuk, duduk dan dihidangkan sesuatu.

Kenapa saya mulai dengan 'selamat datang' dan 'undangan'? Karena dalam renungan kali ini saya ingin membagikan sebuah penggalan kisah menarik pada masa Yesus berada di dunia. Kisah ini berhubungan dengan soal 'undangan' dan 'sambutan yang pantas'. Bagian ini dicatat oleh Lukas dalam Injilnya pasal 7 mulai dari ayat 36 sampai 50.

Mari kita lihat dua ayat pembuka dari perikop ini yang langsung menunjuk dua orang dengan status dan latar belakang serta sikap berbeda.

"Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi." (Lukas 7:36-37).

Orang pertama adalah seorang Farisi bernama Simon, tuan rumah yang mengundang Yesus. Lalu orang kedua adalah seorang wanita pendosa, yang datang ke rumah Simon karena mendengar bahwa Yesus sedang ada disana.

Untuk apa Simon yang orang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan ke rumahnya? Lukas tidak menyebutkan alasan pastinya. Apakah karena ia mendengar begitu banyak cerita tentang Yesus dan ingin melihat langsung siapa dan seperti apa Yesus itu? Apakah ia ingin mencoba menjebak Yesus untuk mencari kesalahan seperti yang kerap dilakukan orang-orang Farisi karena mereka merasa paling benar berdasarkan keahlian mereka terhadap kitab? Atau ia ingin mendatangkan 'Pembicara' terkenal supaya banyak yang datang? Atau Simon ingin Yesus datang mengajar dia dan teman-teman, yang mungkin bisa terindikasi dari caranya memanggil Yesus sebagai 'Guru' (ay 40)? Atau ia mengundang Yesus supaya Yesus tahu bahwa Simon ini orang terpandang dengan banyak pengikut di kotanya? Entahlah. Tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai alasannya. Tapi satu hal yang pasti, Simon orang Farisi mengundang Yesus, dan Yesus memenuhi undangannya.

Sebelum saya lanjutkan, ada satu poin penting sampai pada bagian ini, yaitu Yesus akan selalu datang memenuhi undangan dari siapapun. Pemungut cukai, orang Farisi, orang berdosa seperti apapun, siapapun yang mengundang, Yesus akan selalu menyambut undangan dengan senang hati dan datang. Dia tidak memandang latar belakang, warna kulit, status atau apapun tentang kita, tapi tergantung apakah kita mengundangNya untuk datang atau tidak.

Mari kita lanjutkan kisah ini. Pada masa itu dalam tradisi Yahudi ada tiga hal yang dilakukan sebagai bentuk sambutan selamat datang: meletakkan tangan pada bahu tamu lalu memberi ciuman pada pipi kiri dan kanan, mencuci kaki dan meminyaki kepala. Itulah hal-hal yang dilakukan sebagai bentuk penghormatan pada tamu. Orang pada saat itu berjalan di tengah terik panas matahari dan jalan penuh debu. Bentuk sepatu atau sandal pun cuma tapak atau sol yang sisi-sisinya terhubung dengan tali temali. Jadi dengan menuangkan air segar di kaki tamu, diharapkan bisa membuat mereka merasa nyaman selain juga bersih. Lalu minyak dari ekstrak tumbuhan yang wangi diletakkan di kepala tamu yang akan menambah kenyamanan mereka.

(bersambung)


Wednesday, May 23, 2018

Prioritas Maria dan Marta (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Yesus mengatakan bahwa duduk diam di kakiNya untuk mendengar semua yang hendak Dia katakan merupakan bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari kita.

Tuhan rindu menikmati saat-saat teduh bersama anak-anakNya, Tuhan rindu berbicara dengan anak-anakNya, dan itu tidak akan bisa apabila kita tidak tahu kapan saatnya menghentikan ritme kesibukan kita sehari-hari. Buat saya, adalah sebuah kehormatan besar bisa menikmati hadiratNya dan mendengarNya. Saya tidak mau membuang kesempatan ini. Mendengar perkataanNya sangatlah penting terlebih dalam menghadapi dunia yang semakin sulit. Dia menguatkan, meneguhkan, menyatakan kasih dan penyertaanNya. Dia mengingatkan, mengkoreksi atau bilamana perlu, menegur, sehingga kita tidak harus salah jalan atau keliru dalam mengambil keputusan. MendengarNya, berarti menyadari eksistensiNya secara nyata dalam hidup. Itu akan membuat kita tidak perlu takut, cemas atau kuatir saat berhadapan dengan berbagai permasalahan hidup dalam berbagai dimensi.

Bayangkan sesuatu yang seistimewa itu bisa anda rasakan dan miliki bersama dengan keluarga. Bukankah itu akan sangat menguatkan langkah kaki anda? Buat saya yang pernah hidup di luar kasih karunia hingga dewasa, saya merasakan betul perbedaannya. Dan saya tidak mau hal terbaik itu diambil dari saya. Saya tidak akan mau menggadaikannya dengan apapun dan membuang kesempatan itu.

Apakah kita masih berpikir bahwa jumlah dan kesibukan pelayanan akan menentukan posisi kita di mata Tuhan? Sadarkah kita akan sebuah anugerah besar yang membuat kita tidak sekedar tahu tapi bisa mendengar dan merasakan keberadaan Tuhan secara langsung dalam kehidupan nyata? Apakah kita sudah menikmatiNya atau masih terus membiarkan kesempatan itu terbuang sia-sia?

Tuhan menanti kita saat ini untuk berbicara tentang banyak hal. Kesibukan kita akan membuatNya menunggu tanpa kejelasan, dan itu tentu tidak akan menyenangkan hatiNya. Saatnya bagi kita untuk duduk diam dan mendengar apa yang hendak Tuhan nyatakan dalam hidup kita. Duduk di kakiNya, memandang wajahNya, merasakan kasihNya dan mendengar suaraNya, itulah bagian yang terbaik yang tidak akan diambil dari kita.

Berikan waktu terbaik anda untuk diam di kakiNya, memandang wajahNya dan mendengar suaraNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker