Sunday, September 21, 2014

Mengejar Kekayaan Sebagai Motivasi Bekerja (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Sebuah kehidupan yang baik tidaklah diukur dari seberapa besar kekayaan yang dimiliki. Kebahagiaan, kesejahteraan dan kenyamanan tidaklah bergantung dari seberapa besar angka yang ada pada kita saat ini. Tuhan Yesus mengingatkan kita untuk memiliki prioritas yang benar, "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33). Mencari Kerajaan Allah bukan berarti bahwa kita hanya diminta untuk terus berdoa sepanjang waktu tanpa melakukan apa-apa, tapi itu artinya kita harus mulai berpikir untuk menempatkan Tuhan di atas segala sesuatu yang kita lakukan termasuk dalam bekerja. Menjadi agen-agen Tuhan yang melakukan pekerjaan sesuai prinsip-prinsip kebenaran di market place, menunjukkan bahwa dengan mengikuti firman dalam bekerja tidaklah membuat kita menjadi miskin tetapi justru memperoleh apa yang menjadi bagian kita dengan diberkati Tuhan. Kalaupun memang ingin kaya, itu bukanlah kaya akan harta tapi yang terbaik adalah kaya dalam kemurahan. (2 Korintus 8:2).

Kalau saya ditanya apa yang seharusnya dijadikan motivasi untuk bekerja, saya akan berkata bahwa yang terbaik adalah:
- Melakukannya untuk memuliakan Tuhan
- Menggenapi rencana Tuhan dalam hidup saya
- Mempertanggungjawabkan talenta dan panggilan Tuhan
- Menjadi saluran berkat bagi sesama

Bolehkah menjadi kaya? Boleh. Tapi perhatikan benar untuk apa kekayaan itu kita miliki. Apakah untuk memuaskan diri sendiri, untuk menindas orang lain, untuk dipakai sebagai alat kekuasaan, mencari nama, pamor, status atau menganggap harta kekayaan sebagai sumber kebahagiaan, atau sebaliknya untuk memuliakan Tuhan dan memberkati sesama. Perhatikan baik pula darimana kita memperoleh harta itu, apakah lewat jalan-jalan yang keliru, melanggar ketetapan Tuhan dan merugikan orang lain atau lewat usaha yang jujur dan sungguh-sungguh.

Sebuah pekerjaan hendaklah dilakukan dengan sebaik-baiknya tanpa berhitung untung rugi, bahkan diwajibkan untuk melakukan itu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23). Ingatlah bahwa kebahagiaan, kesejahteraan, kenyamanan dan sebagainya semua datang dari Tuhan, bukan dari segala harta kekayaan yang kita kumpulkan. Jangan sampai motivasi bergeser menjadi hamba uang, tetapi lakukanlah pekerjaan dengan sebaik-baiknya disertai rasa syukur akan Tuhan. Muliakan Tuhan disana, jadikan itu sebagai landasan untuk mempertanggungjawabkan semua yang diberikan Tuhan dan jangan lupa memberkati orang lain melalui apa yang telah kita terima. Betapa indahnya jika apa yang kita miliki berasal dari hasil jerih payah lewat kejujuran dan keseriusan dalam bekerja yang diberkati Tuhan. Apapun pekerjaan anda saat ini, selama tidak menyimpang dari firman Tuhan, lakukanlah dengan sungguh-sungguh, walaupun mungkin apa yang anda peroleh belum cukup untuk memenuhi kebutuhan anda sekeluarga. Percayalah Tuhan mampu memberkati anda lewat banyak hal. Dia tidak pernah kekurangan cara untuk mencukupi kebutuhan anda sehingga anda tidak berkekurangan tanpa harus berkejar-kejaran memburu harta dan mengorbankan segalanya.

Money can't buy happiness, because the true happiness lies in God alone

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, September 20, 2014

Mengejar Kekayaan Sebagai Motivasi Bekerja (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Amsal 23:4
===================
"Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini. Kalau engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang ke angkasa seperti rajawali."

"Kalau bukan untuk kaya, buat apa bekerja?" Demikian kata seseorang pada suatu kali. Secara umum bekerja diasosiasikan sebagai kegiatan untuk mencari nafkah, memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam hidup mulai dari makan, pakaian, perumahan sampai hal-hal lainnya baik yang memang penting maupun yang kurang atau tidak penting. Tapi selain untuk memenuhi kebutuhan hidup, ada banyak pula tujuan atau motivasi yang mendorong seseorang untuk bekerja. Misalnya demi gengsi, agar punya aktivitas atau sekedar melakukan sesuatu, untuk memenuhi keinginan orang tua, atau bahkan agar mendapat lampu hijau dari calon mertua, seperti yang kerap saya dengar dari banyak orang. Ada banyak hal yang menjadi dasar bagi orang untuk bekerja, termasuk untuk memperoleh hasil yang lebih dari sekedar memenuhi atau menafkahi kebutuhan yaitu untuk mengejar kekayaan seperti yang diucapkan seseorang di awal ilustrasi tadi.

Menjadi kaya. Itu boleh jadi menjadi motivasi orang dalam bekerja, tapi sesungguhnya bukanlah merupakan tujuan yang baik dan mendatangkan manfaat bagi kita. Sepintas mungkin terlihat benar, karena dengan kekayaan kita bisa membeli apapun yang kita mau tanpa harus banyak pertimbangan. Namun bukankah ada banyak hal-hal yang justru mendatangkan kerugian, menjadi sumber masalah atau bahkan menjadi awal kehancuran dari apa yang kita miliki? Bukan berarti kita tidak boleh menjadi kaya ; Tuhan pun ingin kita ada dalam kondisi berkelimpahan; tetapi kekayaan tidak akan pernah baik untuk dijadikan motivasi dalam bekerja. Keinginan untuk menjadi kaya cepat atau lambat akan menggoda orang untuk melakukan korupsi, mulai dari sedikit-sedikit sampai dengan mengemplang uang jutaan miliaran atau trilunan. Motivasi untuk menjadi kaya akan membuat orang yang mengadopsi pemikiran ini menghalalkan segala cara termasuk kalau memang harus, mengorbankan orang lain. Jalan untuk memperoleh lebih dari upah resmi pun ada banyak. Ada yang memilih jalan okultisme. Ada yang jadi kecanduan judi. Ada yang akhirnya merampok, mencuri, bahkan membunuh demi harta. Ada yang jatuh dalam dosa perzinahan karena hal ini. Masalahnya berapa banyak yang harus dikumpulkan untuk mencapai sebuah status kaya? Faktanya, manusia punya kecenderungan untuk sulit puas. Bukankah secara alami manusia akan berpikir bahwa apabila bisa mendapatkan penghasilan 2 kali lipat, kenapa harus puas dengan nominal standar? Tidak akan ada angka final yang bisa membuat kita mencapai kepuasan jika kita terus memandang hidup dari sisi ini. Tidak heran jika dikatakan akar dari segala kejahatan adalah cinta akan uang. (1 Timotius 6:10). Bermula dari mengejar harta, orang bisa terjerumus ke dalam berbagai dosa yang semakin lama akan semakin parah.

Pertanyaannya, apakah kekristenan melarang jemaat untuk kaya? Apakah kekristenan mengharamkan bekerja keras untuk mencari penghasilan? Tentu saja tidak. Seperti yang saya bilang diawal, Tuhan sendiri justru ingin kita berada dalam kondisi yang berkelimpahan, bukan berkekurangan atau pas-pasan. Yang dipermasalahkan bukanlah uangnya, tetapi motivasinya. Bukan uang, tetapi cinta uang. Menjadi kaya boleh saja dan tentu baik sepanjang diperoleh dengan cara-cara yang benar dan dipergunakan untuk menjadi saluran berkat dan memperluas Kerajaan Allah di muka bumi ini, tetapi itu tidak akan pernah baik apabila dijadikan dasar motivasi dalam bekerja.

Pengkotbah menulis panjang lebar mengenai betapa sia-sianya kekayaan sebagai motivasi hidup. Lihat ayat berikut ini: "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia. Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya? Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak; tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur." (Pengkotbah 5:11). Miskin bikin orang tidak bisa tidur, tapi kaya pun bikin sulit tidur juga. Pengkotbah mengatakan apa yang bisa membuat kita tidur nyenyak adalah mensyukuri apa yang kita peroleh sebagai hasil kerja kita tanpa memandang besarannya. "There is a serious and severe evil which I have seen under the sun.." kata Pengkotbah, "riches were kept by their owner to his hurt". (ay 12). Mati-matian mengejar harta dengan motivasi yang salah adalah seperti orang yang berlelah-lelah menjaring angin, alias sia-sia. Semua itu bisa habis dalam sekejap mata. Yesus mengatakan bahwa niat mengumpulkan harta di dunia akan sia-sia, karena setiap saat ngengat dan karat bisa merusakkannya, pencuri pun bisa membongkar dan mencurinya. (Matius 6:19). Penulis Amsal mengingatkan demikian: "Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini. Kalau engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang ke angkasa seperti rajawali." (Amsal 23:4) Ia berkata: kalau pikiran kita mulai mengarah kepada niat untuk menjadi kaya, tinggalkanlah niat itu segera, karena sesuatu yang fana seperti itu setiap saat bisa lenyap tak berbekas. Mencari jalan pintas untuk menjadi kaya dalam sekejap mata tidak akan pernah membawa kebaikan.

(bersambung)

Friday, September 19, 2014

Filosofi Bekerja (3)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Dalam perumpamaan tentang talenta yang diberikan Yesus dalam Matius 25:14-30 kita bisa melihat seperti apa talenta itu diberikan dalam hubungannya dengan penggenapan rencana Tuhan. Jumlah talenta berbeda-beda, yang terkecil adalah satu. Lima memang lebih banyak dari dua, dan dua lebih banyak dari satu. Tapi bukankah satu pun merupakan pemberian yang harus kita syukuri dan kembangkan? Satu talenta itu senilai seribu uang emas. Satu uang emas saja sudah banyak, apalagi seribu. Jadi sesungguhnya satu talenta itu pun sudah merupakan kepercayaan besar yang diberikan Tuhan kepada kita. Berapapun yang diberi, kita harus bersyukur dan mempergunakannya untuk memuliakan Tuhan. Berapapun yang dipercayakan, kita harus mampu mengelolanya dengan baik untuk tujuan-tujuan yang mulia. Berapapun jumlahnya, kita harus mampu melipatgandakannya agar kita bisa diberi kepercayaan lebih lagi oleh Tuhan. Betapa senangnya Tuhan jika kita melakukan dan menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

Tuhan menghargai orang-orang yang bersungguh hati dalam menjalankan pemberianNya. Jika kita melakukan seperti itu, maka jawaban "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu" akan kita terima, tidak peduli berapapun talenta yang awalnya dipercayakan kepada kita.

Tidak ada tempat bagi kemalasan bagi anak-anak Tuhan. Jika kita melihat perjalanan para tokoh Alkitab, kita akan melihat pula bahwa mereka semua adalah pekerja keras dan tidak satupun yang bermalas-malasan. Semua pasti lelah, tapi mereka tetap punya kemauan dan semangat karena mereka tahu bahwa semua itu merupakan berkat yang berasal dari Tuhan, dan Tuhan menjanjikan keberhasilan yang gemilang dalam setiap pekerjaan baik yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dalam namaNya. Tuhan menjanjikan kita sebagai "kepala dan bukan ekor, tetap naik dan tidak akan turun" (Ulangan 28:13) jika kita setia melakukan segala yang Dia berikan kepada kita.

Selanjutnya lihatlah firman Tuhan ini: "Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina." (Amsal 22:29). Seperti itulah ganjaran terhadap orang-orang yang cakap dalam pekerjaannya, yang melakukan pekerjaannya dengan serius dan sungguh-sungguh. Jika Tuhan menyertai, apapun yang kita kerjakan akan dibuatNya berhasil. (Kejadian 39:2,3,23). Bersyukurlah atas pekerjaan yang bertumpuk, yang berat, karena semua itu merupakan berkat yang tak ternilai besarnya dari Tuhan, dan dibalik itu semua keberhasilan pun telah Dia sediakan bagi kita.

Adakah diantara anda yang saat ini merasa bahwa usaha yang anda kerjakan seolah berjalan di tempat? Anda merasakan kelelahan yang seperti tidak sebanding dengan yang anda peroleh? Tetap syukuri semua sebagai berkat dari Tuhan, dan syukuri pula karena setidaknya kita sudah lebih baik dari orang yang masih bermalas-malasan tanpa mau melakukan apapun. Selelah apapun, Tuhan menjanjikan kelegaan dan akan selalu memberikan kekuatan. Ketika anda pergi tidur, anda akan bangun dengan berkat yang baru setiap pagi yang berasal dari Tuhan. (Ratapan 3:22-23). Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, itu artinya kepercayaan yang Tuhan berikan pun besar. Maka lakukanlah itu dengan sebaik-baiknya, sebab Tuhan telah membekali dengan talenta yang tidak sedikit pula dan sudah menyediakan segala yang diperlukan agar anda bisa berhasil. Pakailah itu untuk memuliakan Tuhan.

Lelah karena banyak kerjaan? Bersyukurlah dan tetap lakukan yang terbaik

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, September 18, 2014

Filosofi Bekerja (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Tidak satupun manusia yang dijadikan untuk menjadi gagal dalam hidup. Jadi apabila kita masih belum sukses, kita perlu memeriksa poin di atas satu persatu. Mungkin ada yang masih luput dari perhatian kita, mungkin kita keliru mengambil pekerjaan yang tidak sesuai dengan talenta yang diberikan dan/atau panggilan kita, mungkin ada faktor-faktor yang masih menghambat dan sebagainya. Yang pasti Tuhan punya rencana besar bagi setiap kita, Dia merancang sebuah kehidupan yang penuh damai sejahtera dan mengarah kepada masa depan yang penuh harapan.

Apa yang dibutuhkan dari kita? Ada dua hal, yaitu kemauan dan semangat. Kedua hal ini tergantung dari kita sebagai bagian dari kehendak bebas atau free will yang juga merupakan anugerah dari Tuhan. Beberapa waktu lalu saya mendapat sebuah hikmat yang mengatakan bahwa selama ada kemauan dan bakat, sukses pasti akan mengikuti. Pada waktu itu satu pertanyaan saya adalah: kenapa pasti? Dari topik kita hari ini jawabannya kita peroleh, yaitu karena yang lain sudah disediakan oleh Tuhan sendiri.

Secara jelas Tuhan memberi penjelasan yang saya anggap sebagai kesimpulan dari rangkaian ayat yang telah kita baca di atas. "Demikianlah harus bekerja Bezaleel dan Aholiab, dan setiap orang yang ahli, yang telah dikaruniai TUHAN keahlian dan pengertian, sehingga ia tahu melakukan segala macam pekerjaan untuk mendirikan tempat kudus, tepat menurut yang diperintahkan TUHAN." (Keluaran 36:1). Ini merupakan gambaran yang jelas tentang apa sesungguhnya yang harus kita lakukan dan perhatikan dalam bekerja atau mengusahakan sesuatu.

Mari kita penggal ayat dalam Keluaran 36:1 ini dalam 3 bagian agar terlihat lebih jelas.
1. "Demikianlah harus bekerja Bezaleel dan Aholiab, dan setiap orang yang ahli."  
Sebuah pekerjaan tanpa melihat besar kecilnya merupakan berkat dari Tuhan yang harus disyukuri. Oleh sebab itu sangatlah tidak tepat apabila kita menyikapi kesulitan, kesibukan atau problem-problem dalam bekerja itu dengan bersungut-sungut, mengeluh atau komentar-komentar negatif lainnya. Talenta dan keahlian-keahlian istimewa yang Tuhan berikan bukanlah untuk disimpan sendiri melainkan untuk dipakai bekerja menghasilkan buah-buah yang dapat dinikmati dan memberkati orang lain. Selanjutnya kita harus menjaga pula agar jangan sampai keahlian itu menjadikan kita menjadi orang-orang sombong. Ingatlah bahwa itu semua berasal dari Tuhan, sehingga seharusnya kita memuliakan Tuhan di dalamnya, bukan mencuri kemuliaan dari Tuhan.

2. "yang telah dikaruniai TUHAN keahlian dan pengertian, sehingga ia tahu melakukan segala macam pekerjaan"
Perhatikan, bukan hanya pekerjaan yang Tuhan beri, tapi kita diperlengkapiNya pula dengan segudang talenta; keahlian dan pengertian; sehingga kita mampu menjalankan pekerjaan kita dengan baik dan berhasil. Artinya, ketika Tuhan memberikan kita berkat untuk bekerja dan berusaha, Tuhan telah melengkapi kita terlebih dahulu dengan bekal yang diperlukan untuk mengelola segala yang dipercayakan kepada kita agar bisa kita lakukan dengan baik.

3. "untuk mendirikan tempat kudus, tepat menurut yang diperintahkan TUHAN." 
Bagian ini dengan jelas berbicara mengenai pentingnya kita memuliakan Tuhan dalam segala sesuatu yang kita lakukan. Mendirikan tempat yang kudus, tepat menurut yang diperintahkan Tuhan tidak hanya secara sempit berbicara mengenai membangun gereja, tapi juga termasuk kehidupan dan pekerjaan kita yang harus selalu memuliakan Tuhan dan dilakukan sesuai kehendakNya. Artinya, hidup kita pun harus bisa menjadi bait yang kudus, demikian pula pekerjaan kita dan segala aspek kehidupan yang kita jalani. Setiap pekerjaan kita seharusnya bisa menjadi media untuk memuliakan Tuhan, menjadi saksi keberadaan Tuhan, yang artinya orang akan bisa mengenal dan merasakan Tuhan lewat karya kita.

(bersambung)

Wednesday, September 17, 2014

Filosofi Bekerja (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Keluaran 36:1
=======================
"Demikianlah harus bekerja Bezaleel dan Aholiab, dan setiap orang yang ahli, yang telah dikaruniai TUHAN keahlian dan pengertian, sehingga ia tahu melakukan segala macam pekerjaan untuk mendirikan tempat kudus, tepat menurut yang diperintahkan TUHAN."

Seorang teman baru saja membagikan filosofinya dalam menyikapi kesibukan dalam bekerja yang seringkali menyerap energi dan tenaga sehingga mendatangkan kelelahan. Baginya kesibukan dalam melakukan sebuah pekerjaan jauh lebih baik ketimbang hanya berdiam diri tanpa melakukan apa-apa. Ia berprinsip bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan haruslah dilakukan sebaik-baiknya seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23), dan ia pun selalu berusaha sedapatnya mengaplikasikan pengajaran Yesus untuk berjalan ekstra mil (Matius 5:41). Karena ia bertekad menjalankan kedua hal ini dalam apapun yang ia kerjakan, tidaklah mengherankan kalau ia bisa merasa sangat kelelahan. Katanya, sebagian orang menganggapnya bodoh karena mau kerja mati-matian dengan upah yang menurut mereka tidak sebanding, tapi ia terus melakukan seperti apa yang dikatakan firman-firman Tuhan tersebut. "Aku sering merasa seperti kehabisan bensin, tapi daripada menganggapnya sebagai beban, aku memandangnya sebagai happy problem." katanya. Happy, karena kalau lelah artinya ia masih bekerja dan ada kesempatan baginya untuk melakukan firman Tuhan.

Apa yang menjadi filosofinya dalam memandang sebuah kesibukan bekerja bagi saya sangat menarik dan memberkati. Kedua prinsip yang ia pegang sangatlah baik untuk kita teladani, terlebih hari ini ketika kebanyakan orang hanya berhitung untung rugi secara sempit. Serius tidaknya dan baik tidaknya sesuatu yang dikerjakan tergantung pada berapa nilai upah yang diterima. Itu pemikiran dunia, yang sangatlah berbeda dengan prinsip firman. Berbuat sebaik-baiknya seperti Tuhan yang menyuruh, lantas memberi ekstra, lebih dari kewajiban untuk mencapai hasil terbaik. Dari apa yang ia alami dan sering pula saya alami sendiri, Tuhan ternyata tidak pernah kekurangan cara untuk menyatakan berkatNya saat kita melakukan tepat seperti apa yang Dia mau. Mungkin dari sebuah pekerjaan kita sepertinya tidak mendapat hasil jerih payah yang sebanding, tapi dari jalan lain berkatNya bisa datang melimpah tanpa disangka-sangka. Itu sangat sering terjadi, sehingga ini bisa menjadi bukti nyata akan kesetiaan Tuhan dalam menepati janji, setidaknya lewat kesaksian saya dan teman saya ini.

Selanjutnya mari kita lihat prinsip atau filosofi menarik lainnya dalam bekerja dari sebuah kisah  mengenai pengangkatan Bezaleel dan Aholiab untuk membangun Kemah Suci dalam kitab Keluaran. "Berkatalah Musa kepada orang Israel: "Lihatlah, TUHAN telah menunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda, dan telah memenuhinya dengan Roh Allah, dengan keahlian, pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan." (Keluaran 35:30-31). Bezaleel dan Aholiab adalah dua orang yang kepadanya diberikan tugas untuk membangun Kemah Suci. Tuhan tidak sekedar menyuruh, tapi Dia membekali dengan Roh Allah yang memberi keahlian, pengertian dan pengetahuan agar mampu mengerjakan tugas-tugas yang telah diberikan itu. Tidak hanya itu, tapi Tuhan pun memberikan kepandaian untuk mengajar agar orang lain pun bisa mendapat ilmu dari apa yang mereka miliki. "Dan TUHAN menanam dalam hatinya, dan dalam hati Aholiab bin Ahisamakh dari suku Dan, kepandaian untuk mengajar." (ay 34).

Betapa banyaknya talenta yang telah Tuhan berikan kepada kedua orang ini. Secara detail dikatakan seperti berikut: "Ia telah memenuhi mereka dengan keahlian, untuk membuat segala macam pekerjaan seorang tukang, pekerjaan seorang ahli, pekerjaan seorang yang membuat tenunan yang berwarna-warna dari kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus, dan pekerjaan seorang tukang tenun, yakni sebagai pelaksana segala macam pekerjaan dan perancang segala sesuatu." (ay 35). Terdengar seperti rumit dan bertumpuk-tumpuk bukan? Anggaplah ayah anda ingin anda mengerjakan sesuatu yang besar, ia ingin anda sukses, karenanya ia menyekolahkan anda agar punya ilmu pengetahuanyang baik dan keahlian yang cakap, lantas melengkapi pula semua modal yang dibutuhkan agar anda bisa segera mulai mengerjakannya sampai berhasil. Kira-kira seperti itu gambarannya. Dari sini saja kita bisa mengambil beberapa kesimpulan bahwa:
1. Tuhan punya rencana besar bagi kita
2. Tuhan ingin kita sukses
3. Agar bisa sukses, Tuhan sudah melengkapi kita dengan talenta
4. Talenta diberikan berbeda-beda, karenanya kita perlu membangun hubungan dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama
5. Tuhan juga melengkapi kita dengan modal dan lain-lain yang dibutuhkan melalui curahan berkatNya

(bersambung)

Tuesday, September 16, 2014

Melupakan Sang Pencipta

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Roma 1:20
====================
"Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih."

Ada banyak lagu yang tetap dikenal dari satu generasi ke generasi berikutnya. Orang mengenal dan menyukai lagunya, hafal lirik dan bisa menyanyikan tetapi hanya sedikit yang tahu siapa pengarangnya. Ambil contoh misalnya lagu Sabda Alam, Payung Fantasi dan Indonesia Pusaka. Siapa pengarang lagu-lagu ini? Tidak banyak yang ingat, padahal tanpa ada yang mengarang, lagu-lagu itu tidak akan pernah ada. Pengarangnya adalah satu orang yang sama, seorang maestro bernama Ismail Marzuki. Sebagian dari anda tentu tahu nama ini, tapi sebagian lagi mungkin tidak mengenal atau bahkan belum pernah mendengar. Seorang teman yang berprofesi sebagai penyanyi pada suatu kali pernah berkata seperti ini: "Untuk apa memangnya kita harus tahu siapa yang menulis lagu, atau siapa penyanyinya? Yang penting tahu lagu dan bisa menyanyikan dan mendapat imbalan untuk itu." Seperti itulah kecenderungan banyak orang. Berapa banyak orang yang tahu siapa sosok dibelakang lagu-lagu yang kita sukai, atau pencipta/penemu berbagai alat-alat penting? Kita menikmati karya-karya indah atau yang memberi manfaat bagi kita tapi merasa tidak perlu menghargai penciptanya. Padahal tanpa mereka apa yang kita nikmati itu tidak akan pernah ada.

Dengan banyak alasan kita seringkali melupakan Tuhan. Tidak sedikit pula orang yang tidak percaya atau meragukan keberadaan Tuhan. Padahal kita hidup dengan menikmati semua yang Dia ciptakan. Bukankah semua yang ada di dunia ini merupakan hasil karyaNya? Kalau kita mengalami, mempergunakan, menikmati dan hidup dengan semua itu, mengapa kita malah melupakan Penciptanya? Padahal atas segala yang Dia berikan pada kita, sudah seharusnya kita bersyukur, memuji dan memuliakanNya dalam segala sesuatu yang kita nikmati itu.

Kalau banyak orang yang bersikap melupakan atau mengabaikan Sang Pencipta, tidaklah demikian dengan Daud. Lihatlah bagaimana Daud memuji keagungan Tuhan pencipta langit dan bumi beserta segala isinya dalam Mazmur 104 dengan begitu indahnya. Mazmur 104 ini berjudul "Kebesaran Tuhan dalam segala ciptaanNya", menunjukkan bahwa Daud merasakan kebesaran Tuhan dalam segala ciptaan Tuhan yang ada disekitarnya setiap saat dimana isinya ia tulis secara puitis dengan indah. Misalnya seperti ini: "Engkau yang melepas mata-mata air ke dalam lembah-lembah, mengalir di antara gunung-gunung, memberi minum segala binatang di padang, memuaskan haus keledai-keledai hutan; di dekatnya diam burung-burung di udara, bersiul dari antara daun-daunan. Engkau yang memberi minum gunung-gunung dari kamar-kamar loteng-Mu, bumi kenyang dari buah pekerjaan-Mu. Engkau yang menumbuhkan rumput bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan untuk diusahakan manusia, yang mengeluarkan makanan dari dalam tanah dan anggur yang menyukakan hati manusia, yang membuat muka berseri karena minyak, dan makanan yang menyegarkan hati manusia." (Mazmur 104:10-15). Semua itu indah, tapi tidak satupun bisa melebihi ciptaanNya yang paling istimewa, yaitu manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar dan rupaNya sendiri. Tidak ada satupun manusia yang persis sama, baik rupa, warna, bentuk, sifat dan sebagainya. Itu pekerjaan yang sungguh luar biasa yang tidak akan bisa dilakukan oleh siapapun selain Allah. Bukankah sangat disayangkan apabila ciptaanNya yang teristimewa justru cenderung melupakanNya?

Sepanjang Mazmur Daud berbicara begitu banyak tentang menaikkan puji-pujian bagi Tuhan. Dia begitu menyadari bahwa kebesaran Tuhan itu terlihat nyata dan jelas melalui segala hasil ciptaanNya. Salah satunya berbunyi "Haleluya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada." (Mazmur 146:1-2). Pujian lainnya ia nyatakan seperti ini: "Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib!" (1 Tawarikh 16:8-9). Pertanyaannya, apakah kita menyadari kebesaran Tuhan melalui karya-karyaNya seperti Daud? Sudahkah kita merenung dan memuji Tuhan ketika kita melihat alam yang begitu indah, yang meski sudah semakin berkurang tapi masih bisa kita nikmati hari ini? Ketika melihat matahari bersinar indah ditengah sekumpulan awan putih, melihat indahnya bintang gemerlapan di tengah malam, bunga-bunga warna-warni bermekaran, bahkan udara yang kita hirup yang disediakan gratis untuk kita. Bayangkan bagaimana hidup tanpa itu semua. Sudahkah kita bersyukur dan memuliakan namaNya?

Sangatlah menyedihkan apabila kita melupakan siapa Sang Pencipta Agung di balik semua itu, tidak memuliakan dan mengucap syukur malah kemudian menindas kebenaran dengan kelaliman. Paulus menggambarkan sifat melupakan Tuhan ini sebagai kefasikan dan kelaliman yang memurkakan Tuhan (Roma 1:18). Tuhan memang tidak terlihat kasat mata seperti kita memandang manusia atau alam dan isinya, tapi jika kita mau sedikit berpikir, kehebatan Tuhan itu sebenarnya bisa terlihat jelas dari segala karyaNya sejak dahulu hingga sekarang. Itulah yang dikatakan pula oleh Paulus. "Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih." (Roma 1:20). Eksistensi Tuhan merupakan sesuatu yang nyata, ada di sekitar kita sehingga seharusnya tidak perlu dipertanyakan atau diragukan. Tapi banyak orang yang tidak menyadari hal ini, tidak memuliakan dan tidak mengucap syukur kepada Tuhan. "Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap." (ay 21). Yang lebih parah, malah ada banyak orang yang tega menggantikan kemuliaan Allah dengan segala sesuatu yang fana dalam berbagai bentuk untuk disembah. "Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar...mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin." (ay 23,25). Hal-hal seperti ini sungguh tidak pantas kita lakukan. Ketika kita menikmati hasil ciptaan Tuhan yang indah ini, seharusnya kita bersyukur dan memuliakanNya pula dalam setiap waktu kita menikmatinya.

Maestro di atas segala maestro telah menyediakan segalanya bagi kita. Sang Virtuoso telah memberikan kita semua hal terindah dan terbaik. Tuhan yang penuh kasih itu telah dengan jelas menyatakan diriNya sendiri lewat segala ciptaanNya yang bisa kita lihat dan rasakan setiap hari. Hari ini mari kita belajar meninggalkan sejenak doa yang berisi keluh kesah dan daftar permintaan. Datanglah kepadaNya dan muliakanlah Dia dengan pujian dan penyembahan yang terbaik dari diri kita. Isi doa-doa kita dengan ucapan syukur yang mengagungkan namaNya. Atas segala ciptaanNya yang luar biasa dan segala yang Dia berikan kepada kita, Dia lebih dari layak untuk itu.

Segala ciptaan yang indah bagaikan jari penunuk yang mengarah kepada Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, September 15, 2014

Kehendak Bebas

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Ulangan 30:19
======================
"Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu"

Makan di rumah makan padang selalu menarik. Selain rasanya enak, hidangan yang dibentang di atas meja membuat konsumen bisa memilih makanan jenis apa yang ingin disantap. Ada yang berlemak dan bersantan, ada yang digoreng. Ada yang berkuah, ada yang kering. Ada yang mahal, ada yang murah. Kita bebas memilih, tapi masing-masing akan membawa konsekuensinya sendiri. Memilih yang berlemak biasanya tidak terlalu baik buat kesehatan apalagi buat yang punya masalah dengan kolestrol dan mungkin lebih mahal. Tapi kalau memilih untuk memakannya, tentu saja tidak ada yang bisa melarang.

Apakah Tuhan menganugerahkan keselamatan dan rancangan damai sejahteraNya pada semua orang? Ya. Tuhan memberikan itu kepada orang tanpa terkecuali. Tuhan menganugerahkan keselamatan dan perencanaan akan hal-hal yang terbaik dalam hidup siapapun. Tapi ingat, ada kehendak bebas pada manusia. Setiap keputusan atau pilihan yang kita ambil akan membawa hasil yang berbeda. Apakah kita mau patuh dan taat kepada ketetapan Tuhan, apakah kita menyerahkan hidup kita ke dalam tanganNya, menjalani sesuai kehendakNya, atau kita fokus pada hal-hal yang menurut kita sendiri terbaik buat kita, meski itu bertentangan dengan firman Tuhan, apakah kita memilih untuk menjalankan hidup dengan mendengarkan Tuhan atau hanya mendasarkan keputusan kita terpusat pada diri sendiri, itu semua adalah pilihan. Kesimpulan yang saya dapat adalah, ya, Tuhan memberikan anugerahNya akan keselamatan dan rancangan terbaik untuk hari depan pada semua orang, namun kepada kita diberikan kehendak bebas (free will) untuk mengikuti atau menolakNya. The choice is up to us.

Mengapa Tuhan memberi kehendak bebas? Seorang teman pernah berkata bahwa Tuhan seolah ingin menjebak manusia dengan memberi kehendak bebas. Apa yang ia katakan tentu saja salah. Tuhan menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya sendiri. Tidak ada satupun mahluk ciptaanNya yang lain yang dirancang seistimewa itu. Apa yang ingin dia buat adalah manusia dan bukan robot. Kehendak bebas seharusnya merupakan anugerah yang kita syukuri karena dengan demikian kita bisa berkreasi dan bereksplorasi dengan leluasa, bukan hidup rata, datar terprogram. Hidup menjadi menarik karenanya. Sebagai bukti bahwa Tuhan bukan menjebak manusia, bukankah Dia menyediakan hikmat, pengetahuan dan kepandaian/kebijaksanaan bagi kita untuk memilih mana yang benar dan salah? "Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian." (Amsal 2:6). Tuhan kerap berbicara lewat hati nurani, Dia akan selalu mengingatkan siapapun yang mau mendengar suaraNya, firmanNya memberitahukan dan memberi tuntunan agar hidup tetap berada dalam koridor yang benar, bahkan Roh Kudus sudah diberikan untuk membantu kita dalam melangkah. Semua itu sudah disediakan Tuhan agar kehendak bebas yang membuat hidup menjadi penuh warna dan menarik jangan sampai melenceng dari jalan yang benar. Sekali lagi, Tuhan bukan menciptakan robot tapi manusia yang mewarisi gambar dan rupaNya.

Dalam kitab Ulangan kita bisa melihat sebuah pesan yang mengacu kepada pengambilan keputusan yang akan sangat menentukan arah hidup kita. "Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka." (Ulangan 30:19-20). Dengan sangat jelas ayat ini menunjukkan bahwa ada pilihan yang dihadapkan kepada kita yang bisa bermuara pada ujung yang sama sekali berbeda, antara kehidupan atau kematian, berkat atau kutuk. Itu menjadi arah atas pilihan-pilihan kita. Dan kerinduan Tuhan bukanlah kepada kematian kita, tetapi justru kepada kehidupan. Ayat ini jelas mengatakan hal itu dengan menjabarkan bagaimana caranya kita memilih kehidupan dan apa yang bisa kita peroleh dari pilihan tersebut.

Sebelum Yosua meninggal, ia sempat menyampaikan pesan agar bangsanya hendaknya bijaksana dalam memilih. "Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" (Yosua 24:14-15). Dalam hidup ini ada banyak pilihan. Kita bebas memilih, tetapi akan selalu  ada konsekuensi yang mengikuti setiap pilihan yang kita ambil. Yang jelas, Tuhan sudah mengingatkan pilihan mana yang terbaik untuk kita ambil, bagaimana caranya dan apa yang akan kita peroleh dari pilihan yang benar tersebut.

Sulitkah bagi kita untuk memilih yang benar? Alkitab mengatakan tidak. "Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh." (Ulangan 30:11). Itu bukan di langit, bukan di seberang laut (ay 12-13), maksudnya tidaklah jauh atau sulit untuk diraih, tapi kenyataannya hal tersebut sangatlah dekat. "Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan."(ay 14). Tuhan setiap hari berbicara kepada kita dengan banyak cara. Rajin membaca Alkitab akan membawa kita semakin tahu rencana Tuhan. Kita pun akan dibimbing langsung oleh Roh Kudus untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Ketika firman itu menjadi rhema dalam diri kita, maka hati kita akan berfungsi banyak untuk membuat kita peka mengetahui mana yang baik dan yang buruk. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Hati kita haruslah kita jaga agar firman Tuhan tetap bertumbuh kembang disana, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Status, gelar, tinggi pendidikan seseorang tidaklah menjamin orang untuk berlaku benar. Mengaku sebagai pengikut Kristus pun belum menjamin orang untuk hidup sesuai kehendak Tuhan, jika ia tidak mendengar firmanNya, terlebih tidak melakukan firmanNya dan hanya fokus pada kepentingan-kepentingan duniawi saja. Begitu banyak anak-anak Tuhan yang jatuh pada banyak hal. Ada begitu banyak lubang menganga di depan kita. Apakah kita mau melompat melewati lubang-lubang itu atau memilih untuk jatuh, itu adalah pilihan. Pilihan dan keputusan kita hendaklah senantiasa didasarkan pada kehendak Tuhan, bukan atas diri kita sendiri. Ulangan 28 menjelaskan secara rinci mengenai berkat dan kutuk. Berkat, apabila kita melakukan hal ini: "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini...." (Ulangan 28:1), sementara kutuk akan jatuh bila demikian: "Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini." (ay 15). Hidup ini penuh pilihan dan akan selalu berisi berbagai pilihan. Pilihlah untuk hidup seperti jalan yang diinginkan Tuhan dan nikmati senyum kasihNya sebagai orang yang berkenan di mata Tuhan, dimana Dia akan senang terhadap setiap pilihan yang kita ambil. Sebaliknya, kita bisa saja memilih yang bodoh, dungu, lalu masuk ke dalam kematian. Pilihan manapun yang kita ambil akan menentukan masa depan kita. Mana yang kita pilih akan menentukan seperti apa masa depan kita kelak. Hari ini marilah kita tanya pada diri kita, keputusan apa yang akan kita ambil.

Hidup penuh pilihan, tapi Tuhan sudah memberi jalan yang benar untuk diambil

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker