Tuesday, June 27, 2017

Karunia Kuasa Menikmati (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Selanjutnya mari kita lihat ayat berikut ini:

"Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya--juga itupun karunia Allah." (Pengkotbah 5:19).

Kekayaan, harta benda atau berkat-berkat jasmani itu merupakan karunia Allah yang patut disyukuri. Tapi jangan lupa bahwa kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagian dan bisa bersukacita menikmati hasil jerih payah, itu pun merupakan karunia Allah pula. Ayat ini juga berbicara jelas akan kuasa untuk menikmati sebagai karunia dari Tuhan yang tidak boleh kita abaikan atau lupakan. Jika Pengkotbah mengangkat pesan ini beberapa kali tentulah itu berarti hal ini sangat penting. Ia tentu ingin agar kita tidak melupakan dari mana kuasa menikmati itu berasal, dan memastikan agar kita tidak melewatkannya. Inilah yang memampukan kita untuk bisa menikmati setiap hasil jerih payah kita dengan bersukacita. Dan itu tidak tergantung dari besaran harta yang kita miliki, melainkan dari sejauh mana kedekatan, kesetiaan dan ketaatan kita kepada Tuhan, Sang Pemberi baik berkat berbentuk fisik, kesehatan maupun sebuah kesempatan bagi kita untuk menikmati berkat-berkatNya.

Mengejar harta di bumi dilakukan begitu banyak orang. Banyak orang tua yang sampai sekarang menginginkan anaknya untuk mencari calon suami yang kaya, tak peduli seperti apa kerohaniannya ketimbang orang yang dewasa dan matang secara iman yang takut akan Tuhan. Banyak orang yang tumbuh dewasa dengan pemahaman ini dan sulit untuk merubah paradigmanya sesuai kebenaran Kerajaan. Yesus sudah mengingatkan kita akan hal ini. KataNya: "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya." (Matius 6:19-20). Tidaklah heran apabila kita hanya sibuk mengumpul harta di bumi dan melupakan hubungan kita dengan Tuhan, kita akan kehilangan segalanya termasuk kuasa untuk menikmatinya. Itu hanya akan menjadi kemalangan, kesia-siaan dan penderitaan yang pahit.

Jangan lupa pula bahwa Yesus sudah mengingatkan kita tentang dimana kita seharusnya bergantung. "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yohanes 15:4-5).

Hendaklah kita bijaksana untuk hidup dalam ketaatan penuh kepada Tuhan, mengasihiNya sepenuh hati, memiliki hidup yang berakar di dalam Tuhan. Membuang hubungan dengan Tuhan tidak saja menghalangi berkat Tuhan tercurah buat kita, tapi juga membuat kita kehilangan kesempatan untuk memperoleh karunia untuk menikmati. Apakah kita telah mengucap syukur dan puas terhadap segala sesuatu yang telah kita miliki? Apakah kita masih saja selalu merasa kekurangan? Apakah kita saat ini bisa menikmati hasil kerja kita atau semua itu masih saja tidak kunjung membuat kita bahagia? Jika ini yang terjadi, sekarang waktunya untuk memperbaiki diri dan arah. Banyak atau sedikit tidak masalah, yang penting kita bisa bersukacita dan bersyukur dalam menikmati setiap berkat yang dikaruniakan Tuhan kepada kita. Ingin bisa bahagia menikmati apa yang ada pada kita? Ingin bisa menikmati berkat Tuhan dalam hidup kita? Menikmati hubungan yang hangat dalam keluarga, menikmati hasil jerih payah dengan penuh ucapan syukur, bersukacita dengan memberkati orang lain dengan berkat yang berasal dari Tuhan, semua itu Tuhan yang punya dan selalu ingin Dia karuniakan kepada kita. Jangan salah fokus sehingga semua itu hanya akan berlalu sia-sia dan mendatangkan kemalangan serta penderitaan yang pahit.

Kekayaan tidak ada gunanya apabila kita tidak memiliki kuasa untuk menikmatinya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho



Monday, June 26, 2017

Karunia Kuasa Menikmati (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Pengkhotbah 6:1-2
=========================
"Ada suatu kemalangan yang telah kulihat di bawah matahari, yang sangat menekan manusia:orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit."

Dunia terus mendorong kita untuk berlomba-lomba mengejar kekayaan. Kaya berarti anda tidak perlu lagi berpikir panjang untuk membeli sesuatu. Anda bisa pergi berlibur kemanapun anda mau tanpa perlu repot-repot mengumpul uang dulu. Rumah bisa besar, mobil yang terbaru, gadget high end. Kalau pada kenyataannya susah lewat jalan benar, jalan yang bengkok bisa dijadikan alternatif. Yang penting kaya, yang penting menimbun harta. Itu dianggap banyak orang sebagai kunci untuk bisa menikmati hidup yang bahagia. Apa benar? Kalau kita tanyakan kepada mereka yang ditangkap karena korupsi, saya yakin sebagian dari mereka saat ini menyesali perbuatannya dan kalau bisa memundurkan waktu, mereka pasti lebih memilih untuk hidup ala kadarnya tapi jujur.

Pada masa saya kuliah, ada seseorang yang saya kenal mendadak kaya entah dari mana. Tadinya tidak punya mobil dan rumah papan, dalam waktu singkat ia punya dua mobil, rumahnya menjadi sangat mewah dan sering mengadakan pesta. Tidak sampai setahun ia menderita sakit parah. Hartanya amblas dipakai untuk biaya pengobatan, dan beberapa waktu kemudian saat ia meninggal, jangankan hartanya masih tersisa, istri dan keluarganya terlilit utang dengan jumlah luar biasa besar. Kalau tidak memakai contoh ekstrim, kita bisa lihat ada banyak orang yang secara materi lebih dari cukup bahkan melimpah ternyata gelisah hidupnya. Tidak bisa tidur, ketakutan kalau-kalau hartanya hilang. Ada yang terlalu sibuk mengejar harta lalu keluarganya berantakan. Ada yang punya anak istri tapi tidak kunjung bisa menikmati kebahagiaan dengan keberadaan mereka dalam kehidupannya. Ada yang sibuk mencari kenikmatan sesaat diluar agar bisa merasa senang, tapi sesaat kemudian hatinya kembali hampa. Ada yang secara ekonomi sama sekali jauh dari masalah tapi hidupnya jauh dari bahagia. Hatinya panas, dengan istri hubungannya buruk, dan orang yang satu ini suka cari masalah. Sejak pagi saat kita seharusnya memulai hari dengan sukacita, ia sudah bermasalah kiri kanan sehingga tidak disukai orang. Saat orang terus memperluas pertemanan, ia terus menambah musuh baru. Kalau sudah begini bagaimana mau memberkati orang lain? Mereka semua ini nyata adanya, masih atau pernah saya kenal. Lihatlah semua dari mereka ini punya kesamaan. Sama-sama berkecukupan bahkan berkelimpahan secara kekayaan, tetapi tidak bisa menikmati apa yang ada pada mereka.

Kalau menurut dunia harta berbanding lurus dengan kebahagiaan, kenapa mereka yang saya contohkan diatas tidak merasakannya? Mengapa ada banyak orang yang hidupnya pas-pasan tetapi bisa menikmati hidupnya dengan kebahagiaan? Alkitab sudah menyebutkan jawabannya sejak dahulu kala. Perhatikanlah ayat berikut ini:

"Ada suatu kemalangan yang telah kulihat di bawah matahari, yang sangat menekan manusia:orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit." (Pengkhotbah 6:1-2).

Jika kita heran bagaimana banyak orang yang sungguh kaya raya, tapi tidak bisa menikmati kekayaannya, maka itu terjawab pada ayat bacaan hari ini. Ternyata kemampuan untuk menikmati pun berasal atau bersumber dari karunia Tuhan juga. Ketika motivasi kita beralih dari mengasihi Tuhan dan membagi berkat buat sesama yang membutuhkan kepada menimbun harta sebanyak-banyaknya tanpa pernah merasa cukup, ketika kita mulai mengorbankan waktu kita bersama Allah dan mulai fokus mencari uang sebanyak-banyaknya, pada saat itu pula kita mulai meninggalkan Tuhan. Semakin jauh hal itu terjadi, semakin jauh pula karunia-karunia pergi meninggalkan kita, termasuk karunia untuk menikmati apa yang telah kita miliki. Padahal karunia menikmati adalah hal paling mendasar yang dapat membuat kita merasa bahagia. Di saat itu lah kita akan merasa bahwa apa yang kita kumpulkan ternyata sia-sia adanya tanpa kehadiran karunia untuk menikmati. Betapa malangnya, betapa menyedihkan. Betapa sia-sianya semua yang kita punya, ironis, sungguh penderitaan yang pahit, a sickening tragedy. Itulah yang disorot oleh Pengkotbah dan lewat apa yang ia katakan ia ingin memberitahukan manusia dari satu generasi ke generasi berikutnya agar jangan melupakan darimana sumber kemampuan menikmati itu berasal.

Manusia terus berusaha menjadi kaya jika mengikuti arus dunia. Berlomba-lomba dengan segala cara untuk terus menumpuk pundi-pundinya lalu melupakan satu hal yang teramat sangat penting, bahwa kuasa menikmati pun sangatlah kita perlukan. Ini bahkan lebih penting daripada harta, karena jika ini tidak kita miliki maka kita tidak akan bisa menikmati berkat-berkat dalam hidup kita, tak peduli seberapa berlimpahnya harta itu ada pada kita. Itulah sebabnya ada orang-orang yang sangat kaya raya tetapi hidupnya tidak bahagia, karena mereka tidak memperoleh kuasa untuk menikmatinya. Sebaliknya ada orang-orang yang pendapatannya biasa-biasa saja, hanya secukupnya dari hari ke hari, tetapi mereka masih bisa bersyukur dan merasakan kebahagiaan yang indah bersama keluarganya. Jadi kita butuh kuasa untuk menikmati. Dari mana kuasa itu bisa diperoleh? Tentu saja, itu merupakan karunia dari Tuhan.

(bersambung)


Sunday, June 25, 2017

Bahaya Hati yang Tidak Terjaga

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kejadian 4:5
===================
"tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram."

Kasus pembunuhan merupakan hal yang hampir setiap hari terjadi. Sebuah data tahun 2011 menyebutkan bahwa di negara maju seperti Amerika Serikat terjadi pembunuhan lebih dari 16 ribu kasus setahun, yang artinya kurang lebih ada 44 pembunuhan terjadi setiap harinya. Di negara kita pun sama. Saat menonton siaran berita, membaca surat kabar atau mengakses situs berita, hampir setiap hari kita menemukan adanya kasus pembunuhan dengan berbagai alasan dan cara. Apakah hukuman untuk kasus pembunuhan begitu ringan sehingga masih banyak saja manusia yang gampang mengakhiri hidup orang lain? Rasanya tidak. Hukuman berat hingga hukuman seumur hidup bahkan hukuman mati yang masih diberlakukan di banyak negara menjadi konsekuensi yang harus siap ditanggung oleh seorang pembunuh. Akan tetapi tetap saja setiap harinya ada yang melakukan. Banyak yang kemudian mengaku menyesal, tapi orang sepertinya tidak kunjung belajar dari pengalaman para pelaku. Gelap mata, kalap, lupa diri, sulit mengontrol emosi bisa jadi merupakan faktor yang menyebabkan seseorang mampu melakukan tindakan keji menghilangkan nyawa sesamanya, selain berbagai masalah psikologis atau gangguan kejiwaan yang diderita si pelaku. Selain hukuman di masing-masing negara alias sistem dunia, jelas membunuh merupakan dosa yang sangat besar.

Hari ini saya ingin melanjutkan pembahasan mengenai pentingnya mengontrol amarah agar jangan sampai menghancurkan masa depan dan rencana Tuhan yang indah bagi kita dengan melihat kisah Kain dan Habel dari sisi lain. Bukan main menyedihkan. Baru saja sejarah manusia yang dicatat oleh Alkitab memasuki generasi kedua, kasus pembunuhan sudah terjadi. Kita tentu sudah sangat familiar dengan kisah pembunuhan pertama ini, yang melibatkan tidak lain daripada dua saudara kandung anak dari Adam dan Hawa.

Pembunuhan mengenaskan terjadi berawal dari rasa marah yang timbul dari iri hati Kain ketika persembahannya ditolak sedangkan persembahan saudaranya diterima Tuhan. "tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram." (Kejadian 4:5). Tuhan sempat mengingatkannya saat melihat bahwa Kain mulai terbakar emosi. "Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." (ay 6-7). Lihatlah bahwa Tuhan sejak awal sudah mengingatkan bahwa saat kita melakukan hal yang tidak baik, dosa sudah mengintip di depan pintu dan siap masuk memangsa kita. Sayangnya Kain tidak mengindahkan peringatan Tuhan dan membiarkan dirinya terus dibakar amarah. Dan tragedi itu pun terjadi. Dengan keji dia mengakhiri hidup saudara kandungnya sendiri dan kemudian menerima hukuman besar dari Tuhan.

Tuhan berkata, bukankah kalau kita berbuat baik seharusnya reaksi hati kita yang gembira akan tercermin pada rona muka kita? Yang tampak pada muka Kain bukanlah wajah berseri, tapi wajah muram yang muncul dari hati yang panaslah yang terlihat. Apabila memang sikap hati Kain benar saat memberi persembahan, tentu reaksi mukanya tidak akan seperti itu. Kalaupun Tuhan menolak, seharusnya ia introspeksi kenapa itu bisa terjadi? Setidaknya yang muncul adalah raut muka sedih atau kecewa, bukan raut muka hasil dari hati yang panas terbakar amarah. Dengan kata lain, kenapa harus iri, marah, tidak mendengarkan teguran lantas membunuh kalau sikap hatinya benar saat memberi persembahan?

Dari sini kita bisa melihat bahwa selain apa yang ia berikan tidaklah sebaik persembahan Habel (ay 3-4) seperti yang kita bahas dalam renungan kemarin, sikap hati Kain menguatkan kenapa persembahannya ditolak. Alkitab mengatakan dengan tegas bahwa "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Terjaga baik atau tidaknya hati kita akan terlihat dari produk yang dihasilkan, dan seringkali itu akan terlihat secara kasat mata dari air muka hingga gestur. Berkualitas tidaknya hidup kita akan tergantung dari seperti apa kondisi hati kita. Apa yang ada dalam hati Kain pada waktu itu saat memberi? Apa motivasinya saat memberi? Entahlah. Tapi dari apa yang timbul di wajahnya, suasana hatinya yang bisa dilihat Tuhan dan reaksi yang mengikuti, jelas ada sesuatu yang salah disana.

Dari sisi ini kita bisa belajar beberapa hal antara lain:
- Hati-hatilah dengan amarah dan iri hati, karena itu bisa mengarah pada masuknya dosa-dosa yang berbahaya, yang pada satu titik bisa fatal akibatnya.
- Waktu ditegur Tuhan, miliki hati yang lembut. Terima, introspeksi dan perbaiki supaya bisa jadi lebih baik.
- Jaga dan kuasailah hati sepenuhnya karena dari sanalah kehidupan itu terpancar.

Allah berfirman: "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11). Hati yang tidak terjaga dan dibiarkan penuh dengan kebencian, iri hati, kemarahan tidak akan pernah megerjakan hal baik dalam perjalanan kita menggenapi rancangan Tuhan tersebut. Ada begitu banyak dosa mengintip di balik pintu dan siap masuk menyerang serta membinasakan kita, menggagalkan kita dari hari depan  yang penuh harapan dan damai sejahtera. Kain gagal mengendalikan hatinya. Meski ia melakukan kewajibannya, namun sikap hatinya yang buruk membuatnya harus menuai bencana. Jaga dan kawal hati dengan baik, berakarlah pada Firman Tuhan dan tetap lakukan apa yang benar agar semua rancangan Tuhan tergenapi dalam hidup anda.

Know what God has been planning for you, never let it slip away

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker