Sunday, July 24, 2016

Sisi Lain Penderitaan (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Daud menyadari hal itu. Ketika ia mengalami berbagai penindasan dan kesukaran, ketika ia berada dalam kesesakan, Daud menanggapinya dengan berpikir positif. "Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu." (Mazmur 119:67). Itu kata Daud. Dan kemudian ia melanjutkan: "Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu." (ay 71).

Daud melihat sisi positif dari penderitaan yang mungkin jarang dilihat oleh orang lain. Daud bilang, kalau hidup tenang dan baik-baik saja, itu justru berpotensi membuat kita menyimpang. Tapi saat-saat tertindas sebenarnya baik, karena disanalah kita bisa belajar ketetapan-ketetapan Tuhan lebih dari sebelumnya. Hidup yang tenang, aman dan lancar bisa membuat kita terlena dan kemudian merasa tidak butuh Tuhan, tapi saat kita tertindas, kita akan belajar bahwa tanpa Tuhan kita tidak akan bisa lagi berbuat apa-apa. We will eventually come to a point that we are nothing without God. Disanalah kita bisa belajar mengenai ketetapanNya dan mengenal pribadiNya secara lebih mendalam.

Tapi ada satu hal yang membuat saya sadar akan betapa besarnya kebaikan Tuhan. Dari apa yang saya alami, meski di saat tertindas itu saya belajar akan ketetapan-ketetapanNya, ternyata Tuhan tetap tidak membiarkan saya sendirian melewati penderitaan. Dia senantiasa menyertai, seperti janjiNya. "Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati" (Ulangan 31:8). Sewaktu-waktu Dia memberikan kekuatan, ketegaran, sehingga saya bisa melewati proses pembentukan itu dengan baik. Pada saat dibentuk memang sakit, tapi manfaatkanlah proses-proses itu untuk belajar patuh mengikuti firman Tuhan. Dan lihat apa kata Tuhan ketika hidup kita berkenan padaNya. "TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya." (Mazmur 37:23-24). Bukankah Tuhan itu sungguh baik?

Alangkah sayangnya apabila masa-masa sulit kita jalani tanpa memperoleh apa-apa darinya. Alangkah sayangnya apabila masa-masa sulit kita pakai hanya untuk mengeluh dan marah, atau cemas dan takut. Jika ada di antara anda saat ini yang tengah merasakan penderitaan, pakailah momen tersebut untuk mengenalNya semakin dalam. Belajar tentang FirmanNya, kenali hatiNya dan suaraNya, dan jadilah seorang pemenang.

Tuhan bisa memakai masalah sebagai sarana untuk mengoreksi dan mendidik kita. Lewat penindasan atau penderitaan Tuhan bisa mengikis ego kita, membuat kita menjadi pribadi baru yang seturut dengan kehendakNya. Jangan sia-siakan, jangan keraskan hati. Pada suatu hari nanti, anda akan bersyukur pernah dilatih Tuhan melalui pengalaman tertindas untuk menjadi pribadi yang kuat, tegar dan taat dan mengenalNya dengan sungguh-sungguh secara benar.

"Troubles are often the tools by which God fahions us for better things." - Henry Ward Beecher

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, July 23, 2016

Sisi Lain Penderitaan (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 119:71
==========================
"Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu."

"Papa baik banget deh. Dia baru saja membelikan saya game." Demikian kata anak seorang teman dengan sumringah. Iseng sambil menemaninya bermain saya bertanya, apakah papanya pernah jahat? Sambil terus sibuk menggerakkan joysticknya ia berkata bahwa ayahnya kadang juga jahat. Misalnya waktu memarahi atau menghukumnya, waktu menyuruhnya  mengerjakan tugas, saat harus tidur padahal lagi nonton dan sebagainya. Tapi menurutnya ayahnya pun bisa baik, kalau lagi membelikan barang-barang yang ia inginkan. Berarti, ayahnya baik kalau melakukan sesuai keinginannya, dan jahat kalau tidak menurutinya. Dasar anak-anak, ia belum mengerti kalau hal-hal yang ia anggap jahat dari ayahnya sebenarnya adalah untuk kebaikannya sendiri.

Kita mungkin tersenyum melihat cara penilaian si anak. Tapi masih banyak orang percaya yang memandang Tuhan seperti itu. Di saat hidup baik, maka Tuhan baik. Di saat kita susah, maka itu artinya Tuhan sedang jahat atau meperlakukan kita tidak adil. Akibatnya kita bersungut-sungut, mengeluh, bahkan ada yang mulai meragukan kebaikan Tuhan atau sudah meragukan eksistensi Tuhan. Tuhan itu pilih kasih, Tuhan itu tidak adil, dan berbagai "pendapat miring" mengenai Tuhan akan mudah terlontar dari banyak orang ketika mereka tengah terhimpit berbagai persoalan. Apakah benar seperti itu? Apakah Tuhan sedemikian semena-mena? Pikiran kita bisa seperti itu kalau kita masih punya pola pikir sebatas anak-anak yang belum banyak mengerti. Tapi kalau kita bisa melihat lebih jauh, setidaknya kita berpikir bahwa saat-saat seperti itu sebenarnya ada baiknya karena itulah momen yang paling tepat untuk mendapatkan pelajaran berharga tentang ketetapan-ketetapan Tuhan.

Sebelum saya lanjutkan, ijinkan saya untuk membagi pengalaman saya. Pada awal saya bertobat, hidup ternyata bukannya membaik tapi justru seperti roda yang tiba-tiba berada di bawah. Dalam hitungan bulan hidup saya berubah drastis. Dari hidup berkelimpahan saya kmeudian kehilangan ibu yang meninggal karena sakit, usaha bangkrut, saya dilarang untuk beribadah, dan karenanya saya pun memutuskan untuk pindah ke kota lain, dimana saya tinggal hari ini. Uang tabungan habis, dan saya harus mulai merangkak lagi dari nol. Prosesnya tidak cepat, karena saya harus struggle selama tidak kurang dari lima tahun.

Waktu saya mengalaminya itu sangat tidak enak, tapi hari ini saya bersyukur bisa mengalami itu. Kenapa? Karena justru lewat segala pergumulan dan penderitaan itu karakter saya dibentuk ulang. Semua yang jelek satu persatu dihancurkan. Saya merasa seperti dihempaskan sampai ke tanah, ditekan dari atas sampai saya tidak lagi bisa bergerak, tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Dari segi mental saya dikuatkan, dari segi iman pun saya kemudian bertumbuh. Kalau saya tidak pernah mengalami itu, mungkin saya masih menjadi orang yang tidak mengerti apa-apa tentang ketetapan-ketetapanNya hari ini. Dan itu sangatlah berbahaya karena saya bisa berakhir di sudut yang salah. Jika keadaan tertindas tidak saya alami, mungkin saya masihlah "ciptaan lama", yang tidak menyadari atau menghargai kasih Tuhan, dan saya akan terpisah dari Tuhan untuk selamanya. Pengorbanan Kristus hanya akan sia-sia bagi saya. Saya tidak bisa membayangkan kalau itu yang terjadi. Saya sangat-sangat bersyukur bahwa saya diijinkan untuk mengalami proses tersebut. Sekali lagi pada saat mengalaminya tidak enak, tetapi bagi saya 5 tahun itu adalah waktu yang paling bermakna dan esensial dalam hidup saya.

Selalu ada yang bisa kita pelajari dari kesalahan. Selalu ada pelajaran yang bisa kita petik dari rasa sakit. Kita tidak akan bisa mahir naik sepeda jika tidak pernah merasakan sakitnya terjatuh dari sepeda. Kita tidak akan pernah bisa menghargai kesehatan sebelum kita merasakan sakit. Kita tidak akan hati-hati terhadap api sebelum merasakan sakitnya jika tangan kita bersentuhan dengan api. Terkadang kita memang perlu merasakan penderitaan, sehingga kita akan menghargai yang namanya kebahagiaan dengan sungguh-sungguh. Ada banyak pelajaran yang hanya bisa kita peroleh melalui penderitaan, penindasan atau kegagalan. Tuhan bisa menggunakan itu semua untuk mengoreksi kita.

(bersambung)


Friday, July 22, 2016

Bermain-main dengan Okultisme (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Melakukan kekejian bagi Tuhan tentulah ada konsekuensinya. Itulah yang dialami oleh Saul. Jika kita baca kisahnya dalam 1 Samuel 28, pada saat itu Saul tengah ketakutan menghadapi serangan bangsa Filistin. Ia sempat bertanya pada Tuhan, namun ia merasa tidak mendapat jawaban secepat yang dia inginkan. (ay 6). Karena tidak sabar, ia lalu memutuskan untuk mencari dukun wanita yang sanggup memanggil arwah. (ay 7). Apa yang dilakukan Saul merupakan kekejian di hadapan Tuhan. Kesalahannya fatal dan akibatnya pun fatal. Yang menyedihkan, keputusannya untuk berhubungan dengan okultisme hanyalah satu dari serangkaian kesalahan yang ia lakukan. Saul pun akhirnya harus mati dengan tragis. Alkitab mencatat hal ini secara jelas dalam 1 Tawarikh. "Demikianlah Saul mati karena perbuatannya yang tidak setia terhadap TUHAN, oleh karena ia tidak berpegang pada firman TUHAN, dan juga karena ia telah meminta petunjuk dari arwah, dan tidak meminta petunjuk TUHAN." (1 Tawarikh 10:13-14a).

Dijawab Tuhan dengan segera atau tidak, itu adalah mutlak keputusan Tuhan. Yang pasti apa yang Tuhan sediakan adalah segala sesuatu yang terbaik bagi kita. Termasuk kapan waktu yang terbaik untuk memberikannya kepada kita. Dia jauh lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita lebih dari kemampuan kita dalam memutuskan apa yang terbaik bagi kita. Seringkali ketidaksabaran berbuah malapetaka, salah satunya dengan pergi kepada peramal, dukun atau kuasa-kuasa kegelapan lainnya.

Ada banyak orang yang hari-hari ini lebih percaya pada seorang peramal atau dukun daripada kepada Tuhan. Ketika usaha atau toko sepi pengunjung, ketika karir jalan di tempat, ketika jodoh tidak kunjung datang, orang akan rela merogoh kantongnya mengeluarkan uang sebesar apapun untuk datang kepada dukun/peramal atau orang pintar. Mencari hari baik, tanggal baik, memasang berbagai jimat yang ditanam di sekitaran rumah atau tempat usaha dan sebagainya, menanam berbagai benda di dalam tubuh, dan seterusnya. Semua itu dilakukan dengan tenang tanpa perasaan bersalah.

Tuhan menganggap praktek-praktek perdukunan sebagai sebuah kekejian. Kalau kita bersinggungan dengan hal ini, kita pun melakukan hal yang keji di mata Tuhan. Bagaimana tidak, atas segala yang Tuhan sudah berikan termasuk atau terutama keselamatan yang kekal, kita masih lebih memilih yang lain ketimbang Dia?  Ketidaksabaran kita bisa dimanfaatkan iblis yang terus mengaum-aum mencari mangsa untuk menjebak kita. Padahal biar bagaimanapun janji Tuhan akan digenapi kepada orang-orang yang terus hidup taat akan firmanNya. Lihat apa kata Pemazmur. "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mazmur 46:2).

Alkitab mencatat begitu banyak kisah tentang bagaimana Tuhan sanggup mengubah segala sesuatu secara gemilang tepat pada waktunya. Kita melihat begitu banyak hidup diubahkan bahkan hingga hari ini kepada orang-orang yang terus hidup dalam pengharapan dengan taat. If that could happen to them, it could happen to us. Sekali kita terjerumus ke dalam dunia okultisme kita akan sulit lepas. Dan ada konsekuensi yang menunggu atas segala kekejian yang kita lakukan kepada Tuhan yang telah begitu baik pada kita.

Ketika kita menghadapi persoalan, datanglah menghadap ke hadiratNya, dan percayalah dengan pengharapan penuh bahwa Tuhan sanggup melepaskan kita dari berbagai belenggu masalah. Perkuat iman agar kita tidak sampai tergoda untuk memilih alternatif-alternatif diluar Tuhan yang menyesatkan dan membinasakan. Berhati-hatilah dan jangan tergoda untuk bermain-main dengan kuasa kegelapan atau okultisme. Teruslah hidup kudus dan teruslah berusaha melatih diri untuk semakin teguh hidup dalam kebenaran. Karena sebagai orang percaya, "Haruslah engkau hidup dengan tidak bercela di hadapan TUHAN, Allahmu." (Ulangan 18:13).

Faith in God includes faith in his timing

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker