Thursday, February 26, 2015

Keep Your Promise

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 5:37
==================
"Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat."

Dalam menjalankan tugas-tugas reportase, saya punya beberapa staf reporter dan fotografer. Ada yang disiplin, tapi ada pula yang hobi plin plan. Hari ini bilang siap bertugas, hanya sehari menjelang hari H tiba-tiba bilang berhalangan. Kalau ini terjadi, sayalah yang kelimpungan untuk mencari penggantinya. Para penyelenggara acara pun seringkali kelimpungan kalau ada band yang tiba-tiba mundur saat sudah mendekati hari H. Dalam kehidupan sehari-hari, apakah anda mengenal orang-orang yang hobinya tidak menepati janji? Rasanya ada banyak orang seperti ini di sekitar kita. Ada yang suka mengobral janji, tapi soal menepati nanti dulu. Disekitar saya ada banyak orang yang berperilaku seperti ini. Agar tidak kecewa, saya menandai mereka dan tidak menaruh harapan apa-apa terhadap apapun yang mereka janjikan.

Semoga saja teman-teman tidak termasuk orang yang suka ingkar janji, sekarang bilang ya tapi nanti bilang tidak, sekarang janji tapi tidak kunjung ditepati. Alasan memang bisa saja ada, seperti bilang ya hanya karena segan, tidak mau membuat orang lain kecewa, atau alasan lain, Yang penting janjikan saja dulu, alasan bisa dicari belakangan. Perilaku ini sering kita pandang sebagai sesuatu yang manusiawi dan wajar, padahal ini sangatlah tidak sesuai dengan kebenaran. Perilaku ingkar janji ini tidak berbeda jauh dengan berbohong. Akan hal ini Yesus tegas berkata: "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat." (Matius 5:37). "Let your Yes be simply Yes, and your No be simply No; anything more than that comes from the evil one."

Yesus mengatakan hal ini dalam konteks menasihati kita untuk tidak bersumpah, yang didasarkanNya dari 10 Perintah Allah: "Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu" (Keluaran 20:16). Kenyataannya, manusia seolah hobi bersumpah demi segala sesuatu, bahkan demi Tuhan untuk sesuatu kebohongan. Apapun alasannya, ini jelas-jelas melanggar firman Tuhan.

Tuhan sangat tidak suka, bahkan dikatakan jijik dengan sikap atau kebiasaan seperti ini. Dalam Mazmur kita bisa menemukan ayat yang bunyinya sebagai berikut: "Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong, TUHAN jijik melihat penumpah darah dan penipu." (Mazmur 5:7). Dari ayat ini kita melihat bahwa penipu disamakan dengan pembunuh. Sepintas mungkin terlihat aneh, tetapi tidaklah salah karena penipu, orang yang bersaksi dusta, orang yang ingkar janji bisa membunuh harapan orang, kepercayaan orang, bahkan karakter orang lain dengan segala kebohongannya. Salomo di kemudian hari mengingatkan lebih lanjut: "Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan tidak akan terhindar." (Amsal 19:5). Pada saatnya, orang-orang pembohong tidak akan luput dari hukuman. Begitu seseorang berbohong, maka Tuhan pun akan menjadi lawannya. (Yehezkiel 13:9).

Kita perlu belajar dan berlatih untuk menepati dan menganggap serius sebuah janji. Kita perlu memperhatikan secara serius janji yang kita berikan dan tidak asal-asalan mengumbarnya. Orang yang selalu menepati janji dengan sendirinya menjadi saksi kuat akan dirinya sendiri dalam hal kebenaran, sehingga mereka tidak lagi perlu mengucapkan sumpah-sumpah lewat bibirnya untuk meyakinkan orang lain. Kita harus mampu menjalani kehidupan yang bisa mendatangkan kepercayaan orang pada diri kita lewat kesetiaan kita akan sebuah janji, dan itu akan jauh lebih meyakinkan dibanding kepercayaan yang bisa diperoleh lewat sumpah. Kalau kepada manusia saja penting, jangan pernah mengumbar janji kepada Tuhan tapi tidak ditepati. Disebut juga dengan nazar, yang merupakan janji kita terhadap Tuhan ketika memohon sesuatu, itu tidak boleh kita lupakan, ditunda atau dilanggar. Jangan pernah menunda atau lupa membayar nazar, karena itu juga akan menjadi sebuah kebohongan yang sangatlah tidak berkenan di hadapan Tuhan. "Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu." (Pengkotbah 5:4).

Hendaklah kita mau menghormati janji dan senantiasa menepatinya. Jika berjanji, tepatilah. Kalau ya katakan ya, kalau tidak katakan tidak.  tidak. Diluar itu adalah kebohongan yang datang dari iblis. Ketika mengatakan ya, peganglah itu dengan sungguh-sungguh. Jangan biasakan untuk memberi janji-janji palsu dengan alasan apapun. Seperti kata sebuah pepatah bahasa Inggris, "Never make a promise you can't keep". hendaklah kita selalu mengutamakan kejujuran agar tidak membuka peluang bagi iblis untuk masuk dan mengacak-acak hidup kita. Ingatlah bahwa janji yang dibuat asal-asalan dan tidak ditepati akan mengakibatkan ketidakpercayaan orang pada kita, dan merupakan sebuah dosa menjijikkan di mata Tuhan.


When you make a promise make sure to keep it

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, February 25, 2015

Rajin-Rajin Mengevaluasi Diri

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Efesus 5:15
===================
"Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif"

Sebuah perusahaan yang baik memerlukan evaluasi secara berkala. Sangatlah penting untuk melihat apa yang sudah dicapai, apakah sudah sesuai target, dan apa rencana jangka pendek dan jangka panjang ke depannya. Penetapan target ke depan, pencapaian yang ingin diraih, apa yang menjadi kekuatan yang harus dipertahankan dan ditingkatkan perlu untuk diperhatikan. Lantas apabila ada yang masih belum baik, perlu pula dipikirkan bagaimana cara memperbaikinya. Meningkatkan kinerja, konsolidasi ke dalam dan penguatan dari berbagai sisi akan sangat menentukan kemana nantinya perusahaan tersebut akan berada. Bukan saja perusahaan, tetapi lembaga lainnya seperti komunitas, organisasi dan sebagainya juga seharusnya memikirkan hal ini. Bahkan secara individu kita pun secara berkala butuh evaluasi, introspeksi atau mengambil waktu-waktu perenungan secara khusus agar kita bisa menjadi lebih baik lagi ke depannya.

Secara berkala saya rutin untuk melakukan introspeksi, mengevaluasi seperti apa saya saat ini sebagai seorang suami, sahabat, dan dalam pekerjaan dan pelayanan yang saya lakukan. Saya ingin menjadi suami yang terbaik bagi istri saya, menjadi kepala rumah tangga yang bertanggungjawab dan bisa memimpin dengan cinta. Saya ingin menjadi sahabat yang peduli yang mengenal mereka dengan baik. Saya ingin berhasil dalam pekerjaan dan ingin terus melayani dengan baik. Semua adalah titipan Tuhan yang harus saya kerjakan dan pertanggungjawabkan dengan semaksimal mungkin dengan talenta-talenta yang telah Dia berikan. I want to do my best in every aspects of life, itu intinya, semoga apapun yang saya lakukan bisa terus memuliakan Tuhan. Ada banyak kelemahan yang masih harus diperbaiki, itu pasti. Semua itu tidaklah mungkin jika saya terlalu santai dan tidak pernah mengevaluasi dan mengintrospeksi diri. Kesuksesan bisa membuat orang jatuh pada dosa kesombongan, ketamakan, lupa diri dan sebagainya. Sebaliknya kegagalan bisa membuat patah semangat bahkan kepahitan. Lengah sedikit, kita bisa terpeleset jatuh ke salah satunya. Maka itu bagi saya adalah sangat penting untuk terus melakukan introspeksi dan evaluasi.

Kepada jemaat Efesus, Paulus memberi pesan agar mereka tetap memperhatikan bagaimana hidup mereka. "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif". (Efesus 5:15). Ini adalah sebuah pesan penting agar tidak lupa diri, jangan menyia-nyiakan waktu dan agar bisa tetap bijaksana. Paulus melanjutkan pula, "dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat." (ay 16). Jika hari-hari pada jaman itu dikatakan jahat, sekarang pun tidak ada bedanya. Mungkin malah lebih parah. Dosa mengintip dari segala aspek kehidupan kita. Hiburan, lingkungan rumah/pekerjaan/pendidikan, di mana-mana kita bisa setiap saat tersandung dalam dosa. Seringkali dosa-dosa ini dibungkus dengan kemasan yang sepintas terlihat baik, padahal di dalamnya ada bahaya yang mengintai. Paulus menggambarkan celah masuknya dosa-dosa ini lewat tiga hal yang saling berhubungan, yaitu dunia, kedagingan dan iblis. (Efesus 2:1-3). Keterkaitan ketiga aspek ini bagaikan pusaran air yang bisa menyeret kita untuk masuk ke dalamnya jika tidak hati-hati. Yesus pun mengajarkan agar kita senantiasa berjaga-jaga dan berdoa untuk mencegah masuknya pencobaan lewat kelemahan daging kita. "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Matius 26:41).

Semua usaha keras kita dan pencapaian-pencapaian yang sudah kita raih bisa sia-sia dalam sekejap kalau kita membiarkan diri kita jatuh dalam dosa. Sangat ironis ketika kita telah mulai dengan Roh, namun berakhir dalam daging dan kehilangan janji-janji Tuhan. Itulah yang juga disinggung oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat Galatia. "Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia!" (Galatia 3:3-4).

Sering mengevaluasi diri dan melakukan introspeksi akan membuat kita lebih awas dan waspada dalam berbagai kejatuhan itu, karena ada kalanya kita lemah terhadap berbagai godaan yang ada di sekeliling kita. Disamping itu, tekunlah berdoa dengan kerinduan akan Tuhan. Biarkan Roh Tuhan bekerja dan memimpin langkah-langkah kita, sehingga kita bisa terhindar dari jebakan yang mengarah kepada maut. Marilah kita senantiasa menjaga keberadaan diri kita agar tetap hidup bijaksana, bertumbuh lebih baik dari waktu ke waktu, dan tetap memuliakan Tuhan dalam setiap langkah.

Rajinlah mengevaluasi diri agar tidak mudah disesatkan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, February 24, 2015

Belas Kasih itu Penting

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 9:13
====================
"Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."

Saya termasuk orang yang tidak suka menutup pintu depan. Hampir setiap saat sampai lewat tengah malam, pintu rumah saya biarkan dalam keadaan terbuka sembari saya melakukan berbagai pekerjaan dengan menggunakan laptop ditemani musik dengan speaker biasa. Karena kebiasaan saya ini, saya terbiasa menerima tamu baik tetangga maupun teman-teman lainnya yang bisa tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu meski mungkin saya tengah sangat sibuk menyelesaikan deadline. Mengapa saya mau tetap melayani mereka meski sedang tertimbun banyak pekerjaan? Selain saya memang sangat suka bergaul, saya juga tidak mau menutup diri dan merasa urusan saya yang paling penting. Bagaimana kalau mereka memang sedang terdesak dan memerlukan seseorang dengan segera? Betapa seringnya kita berhadapan dengan orang yang membutuhkan bantuan dengan segera justru di saat yang kurang tepat. Situasi-situasi mendadak ini membutuhkan perhatian segera pula, dan sering membuat rencana harus disesuaikan atau malah berubah di tengah jalan. Kita bisa berkata bahwa urusan kita sangat penting, tapi bagaimana jika apa yang mereka hadapi ternyata jauh lebih mendesak? Bagaimana jika penolakan, atau penundaan kita ternyata bisa mengakibatkan sesuatu yang fatal di kemudian hari? Saya belum pernah mengalami sampai seperti itu, tetapi alangkah bahagia rasanya apabila mereka bisa lebih tenang setelah berbincang-bincang. Dan yang paling sering bukanlah meminta bantuan apa-apa tetapi sekedar punya teman berbagi. Mereka tidak mencari solusi, bukan meminta advis, tapi hanya butuh telinga yang mau mendengar.

Melayani memang tidak mudah, namun jika kita melakukannya dengan disertai kasih, maka sukacita ada disana. Ada kebahagiaan yang sulit dilakukan dengan kata-kata bahkan mungkin karenanya waktu bekerja harus menjadi lebih lama. Itu merupakan bentuk panggilan saya. Itu kesempatan bagi saya untuk membagikan firman Tuhan, dan rasa bahagia menjadi lebih saat saya secara langsung banyak orang dipulihkan, dimana kuasa dan kasih Tuhan dinyatakan dalam diri mereka. Seandainya saya menutup diri dan hanya berpusat pada kesibukan sendiri, tentu semua itu tidak akan bisa saya saksikan dan rasa bahagia atau sukacita melihat orang-orang yang dijamah Tuhan pun tidak akan pernah saya rasakan.

Mengacu kepada perjalanan pelayanan Tuhan Yesus saat turun ke dunia, kita menyaksikan bahwa Yesus pun menghadapi hal-hal seperti ini dalam banyak kesempatan. Lihatlah salah satu contoh waktu Yairus, seorang kepala rumah ibadat tiba-tiba datang tersungkur di kaki Yesus, memohon agar Yesus menyembuhkan putrinya. (Markus 5:22-23). Yesus tidak mengatakan "maaf, saya sedang sibuk, lain waktu saja ya.." Yesus sama sekali tidak menolak dan segera mengikuti Yairus untuk melihat putrinya. Dalam perjalanannya ke rumah Yairus, langkah Yesus kembali dihentikan oleh seorang wanita yang menjamah jubahNya. Wanita ini ternyata sudah 12 tahun mengalami pendarahan dan kondisinya semakin memburuk, meski ia sudah berusaha diobati oleh banyak tabib. (ay 25-28). Yesus tidak mengibaskan jubahnya dan mengabaikan si wanita. Dia tidak berkata, "maaf kamu terlambat, saya sudah keburu melayani Yairus." Atau Yesus tidak berkata: "maaf, Yairus itu kepala rumah ibadat, sedang kamu entah siapa.. jadi jelas dia lebih penting dong.." Tidak. Yesus tidak bersikap seperti itu. Dia menghentikan langkahnya dan melayani sehingga wanita yang menderita penyakit ini menjadi sembuh. (ay 29-34). Seperti inilah keteladanan Kristus yang bagi saya sangat patut untuk diteladani.

Perhatikan apa kata Yesus berikut. "Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Matius 9:13). Dalam kesempatan lain kata-kata ini kembali diulang. "Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah." (12:7). Tuhan Yesus menghendaki belas kasihan yang dikatakan lebih dari korban persembahan. Ini sejalan pula dengan firman Tuhan dalam Hosea 6:6 yang berkata "Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran." Dua kali Yesus mengatakan hal tersebut, menunjukkan bahwa ajaran ini sangatlah penting.

Mengapa belas kasihan lebih dikehendaki lebih dari persembahan? Karena persembahan bisa jadi didasarkan pada motivasi-motivasi lain di luar rasa belas kasih. Kita bisa memberikan persembahan karena sekedar kewajiban, sekedar syarat, atau agar kita diberkati, atau bahkan agar terlihat baik di mata manusia. Tapi persembahan yang diberikan dari hati yang memiliki belas kasihan tentu berbeda.

Hal ini bisa pula kita lihat lewat kisah seorang janda miskin yang memberi persembahan di bait Allah. Ada banyak orang kaya memberi dalam jumlah yang besar, namun ibu janda yang miskin hanya memberi dua peser. Tapi si ibu dinilai Yesus memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. (Markus 12:43). Sebab apa? "Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya." (ay 44). Ibu janda memberikan dari kekurangannya, dan itu hanya mungkin dilakukan ketika seseorang memiliki kasih dalam hidupnya. Ibu ini tentu sadar bahwa ia bukanlah orang yang mampu, tetapi kalau dia masih memberi, itu artinya ia merasa bahagia kalau sumbangsih kecilnya bisa bermanfaat bagi orang lain. Ia tentu menyadari apa yang ia miliki semuanya berasal dari Tuhan juga, dan dengan itu ia pun bisa membagi berkat dan kasih kepada sesamanya. Kembali kepada apa yang dikatakan Kristus di atas, Dia menghendaki belas kasihan dan bukan persembahan, sebenarnya apa yang dilihat Tuhan bukanlah apa yang tampak dari luar, tapi apa yang berasal dari dalam. Apa yang ada dalam hati kita ketika memberi akan membuat perbedaan nyata.

Yesus mengingatkan kita untuk murah hati. "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Lukas 6:36). Seperti halnya Bapa yang begitu murah hati dan melimpah kasihNya, demikian pula seharusnya perbuatan kita kepada sesama. Kepada yang murah hati, yang memiliki hati berbelas kasihan, Tuhan Yesus menjanjikan seperti ini: "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan." (Matius 5:7). Mungkin mereka yang butuh bantuan datang di saat-saat yang kurang tepat, saat kita sedang sibuk-sibuknya. Tapi apakah itu berarti kita boleh mengabaikan dan menunda melayani mereka? Seperti halnya Tuhan Yesus, hendaklah kita pun memiliki rasa belas kasihan untuk rela menyisihkan waktu-waktu dan apa yang kita miliki untuk menolong orang yang sedang putus asa dan sangat membutuhkan bantuan. Siapkah anda untuk mengorbankan sebagian dari waktu dan tenaga untuk menjangkau orang-orang yang membutuhkan pertolongan hari ini?

Be compassionate as God is compassionate

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, February 23, 2015

Warna Identitas Pengikut Kristus

webmaster | 8:00 AM | 1 Comment so far
Ayat bacaan: Yohanes 13:35
=======================
"Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."

Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya hidup tanpa adanya warna. Warna sebenarnya bukanlah sekedar 'bukan hitam putih.' Ada begitu banyak fungsi warna seperti identitas (misalnya seragam, bendera dan lain-lain), fungsi isyarat (lampu jalan, bendera penanda dan lainnya), fungsi psikologis (warna yang menyegarkan, warna-warna muram, warna cerah, gelap dan lainnya), fungsi alamiah (warna yang mewakili benda-benda tertentu yang sudah pasti sama) dan sebagainya. Bagi anda  yang berkecimpung di dunia desain, pemilihan warna tentu merupakan sesuatu yang mutlak harus diperhatikan karena pemberian warna haruslah punya alasan dan sesuai dengan apa yang hendak anda tampilkan. Dan biasanya, warna favorit seseorang bisa mewakili sifat mereka. Orang yang tertutup atau pendiam biasanya menyukai warna-warna gelap seperti hitam, ungu, biru tua dan sebagainya, sebaliknya orang periang akan cenderung memilih warna seperti orange, kuning, biru muda dan warna-warna cerah lainnya. Warna pink cenderung menjadi favorit wanita terutama yang feminim, sedang pria secara umum akan lebih memilih warna yang bisa menonjolkan sifat maskulin.

Bicara soal warna dan fungsi identitasnya dalam hal rohani, seharusnya ada "warna" yang bisa merepresentasikan kita sebagai murid Yesus. Sebuah warna yang bisa jelas terlihat dan membawa rasa damai, benar, jujur dan berintegritas, mencerminkan hati Allah,  yang akan membuat orang langsung tahu bahwa kita adalah pengikutNya tanpa kita perlu menyebutkan terlebih dahulu. Warna seperti apakah itu? What's the color that we should have so we can be  declared as His disciple? 

Untuk menjawab hal itu, mari kita lihat apa yang disebutkan di dalam Alkitab. Menjelang penyalibanNya, Yesus menyatakan seperti apa "warna" kita seharusnya lewat sebuah perintah yang Dia berikan. Jika selama ini yang kita tahu hukum kedua yang paling utama adalah "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini" (Markus 12:31), maka kali ini ada level baru mengenai mengasihi sesama manusia yang bunyinya seperti ini: "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Ini sebuah level yang lebih tinggi dari perintah mengasihi sesama. Bukan saja harus mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri, tapi kita harus pula mengasihi sesama seperti halnya Yesus telah mengasihi kita. Dan itu tidaklah mudah. Kita tentu tahu bagaimana besarnya kasih Kristus kepada kita yang bukan hanya sebatas kata atau perbuatan ringan saja, bukan pula hanya sebatas mukjizat-mukjizat kesembuhan yang Dia lakukan, tetapi lewat pengorbananNya kita beroleh keselamatan. Itu adalah sesuatu yang sebenarnya tidak layak kita peroleh, bukan merupakan upah atas jasa atau kehebatan kita, tetapi murni karena anugerah. Keselamatan dari Yesus adalah sesuatu yang pasti dan kekal sifatnya. Dengan kata lain, bentuk kasih Yesus terhadap kita manusia bukan hanya bentuk kasih lewat ucapan atau sekedar memperhatikan atau menolong, tetapi disertai pula dengan kerelaan untuk berkorban nyawa. Maka Yesus mengatakan: "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yohanes 13:35). Sebuah kasih, yang tidak berpusat pada diri sendiri tetapi mendahulukan kepentingan yang lain, dimana kerelaan berkorban menjadi dominan atas sebuah perasaan belas kasih, itulah yang menjadi sebuah warna yang mampu memberi kita identitas warna sehingga akan mudah dibedakan dari orang-orang dunia.

Dalam kesempatan lain Yohanes menegaskan lagi tentang hal ini. "Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi." (1 Yohanes 4:11). Yohanes kemudian melajutkan dengan "Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita." (ay 12). Kembali kita diingatkan akan kasih sebagai warna identitas murid Yesus. Jika kita saling mengasihi, maka ada Allah yang bersatu dengan kita, dan kasihNya menjadi sempurna di dalam diri kita. Maka "warna" yang merepresentasikan kita sebagai murid-murid Yesus pun akan nyata terlihat dalam cara hidup, perbuatan, gaya, polah dan tingkah laku kita.

Ketika kasih Allah hidup dalam diri kita, disanalah kita akan mampu menghasilkan buah Roh. "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu." (Galatia 5:22-23). Orang yang memiliki buah Roh tentu memiliki bentuk kehidupan yang saling mengasihi, karena jelas bahwa kasih termasuk satu dari buah-buah Roh yang dihasilkan oleh anak-anak Tuhan. Apabila kita masih hidup dikuasai oleh hawa nafsu, kepentingan atau kesenangan sesaat, egois, dipenuhi dengki dan berbagai perasaan atau sifat jelek lainnya, maka itu artinya kita belum merepresentasikan diri kita sebagai murid dan sahabat Kristus. Artinya kita belum memiliki warna yang menunjukkan identitas kita sebagai pengikutNya, we still haven't got the right color.

Dalam berinteraksi dan bermasyarakat, dalam setiap aspek kehidupan kita, pastikan bahwa kita sudah menunjukkan "warna" yang tepat. Apa yang dituntut dari kita bukan hanya sekedar peduli atau mengasihi, bukan sekedar "hitam atau putih" saja, tetapi kita harus mampu menunjukkan sebentuk kasih kepada sesama kita pada tingkatan yang tinggi, sebagaimana Kristus telah mengasihi kita. That's the right color. Warna apa yang tampak pada diri kita hari ini? Sudahkah warna kita merepresentasikan Yesus tepat seperti seharusnya atau kita masih menampilkan warna-warna yang bisa membawa persepsi keliru terhadap Yesus di mata dunia?

Paint the world with Christ's love and compassion

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, February 22, 2015

Sombong Rohani

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yohanes 8:7
=====================
"Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."

Menjadi lebih baik dalam hal keimanan dan pemahaman akan kebenaran firman Tuhan merupakan keinginan kebanyakan orang percaya. Sayangnya dalam proses belajar, ada banyak orang yang terjebak pada kekeliruan dalam memandang orang lain. Apabila kita tidak hati-hati, ada roh kesombongan yang akan siap membuat kita berpikir bahwa kita paling kudus, paling suci atau paling rohani. Kalau sudah begitu, kita pun mulai tergoda untuk menghakimi orang lain. Kita mudah menilai orang lain berdosa bahkan menghujat dan menuduh. Bisa antar pribadi, bisa pula secara kelompok atau lembaga. Alangkah ironisnya ketika kita bukannya menjadi terang tetapi malah menjadi batu sandungan. Bukannya merangkul, tapi malah membuang. Memakai atribut rohani lalu pergi kesana kemari menghakimi orang lain, bahkan lewat jalan kekerasan dan mengatasnamakan Tuhan, seolah Tuhan melegalkan sebagian orang untuk bertindak seenaknya. Sebagai anak Tuhan, kita sama sekali tidak boleh melakukan hal itu. Berproses untuk terus menjaga kekudusan dan menjadi seperti Yesus harus pula diikuti oleh sikap mengasihi dan rendah hati. Karena kalau tidak, roh kesombongan akan siap membuat kita menjadi orang-orang yang merasa berhak untuk berperan bagai Tuhan. Salah-salah, kita bisa terjebak untuk menjadi sombong rohani.

Kalau kemarin kita sudah melihat contoh lewat Zakheus sang pemungut cukai, hari ini mari kita lihat momen perjumpaan Yesus dengan perempuan berzinah yang tengah berhadapan dengan sekelompok orang yang siap merajamnya, seperti yang ditulis dalam Yohanes 7:53-8:11. Kejadian ini memberi gambaran jelas bagaimana kecenderungan orang-orang yang merasa sudah baik dan bagaimana seharusnya kita bersikap.

Ketika itu Yesus berhadapan dengan seorang wanita yang digiring orang-orang Farisi karena tertangkap basah akibat berbuat zinah. Menurut hukum Taurat, sang wanita seharusnya dirajam, dilempari batu sampai mati. Tapi lihatlah apa yang dikatakan Yesus kepada mereka. "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." (Yohanes 8:7). Untunglah pada waktu itu para ahli Taurat dan orang Farisi masih mau berpikir jernih, karena kalau itu terjadi hari ini, maka bisa jadi perempuan yang tersesat ini langsung mati dirajam ramai-ramai dengan cara brutal dan beringas. Hati nurani mati, merasa paling benar dan paling suci, itu dipertontonkan oleh begitu banyak orang. Bukan saja dari orang-orang yang tidak percaya tapi juga ada di antara orang percaya.

Kembali kepada si perempuan penzinah yang hampir saja mati dilempari batu, Alkitab mencatat bahwa kemudian semua orang Farisi pergi meninggalkan Yesus dan si wanita, dan kita tahu bahwa wanita itu pun mendapat pengampunan. Jika Yesus saja memberi pengampunan kepada pendosa, mengapa dan siapa kita sebagai manusia berani-beraninya mengaku paling suci dan merasa berhak untuk menghakimi?

Belakangan Paulus berkata "Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri." (Roma 14:4). Kita tidak dalam kapasitas untuk menghakimi hidup orang lain. Bukan itu yang menjadi tugas kita. Apa yang seharusnya kita lakukan adalah mendoakan dan melayani orang-orang yang jiwanya butuh pertolongan dan jamahan Tuhan. Kita seharusnya merangkul mereka dan membawa mereka untuk mengenal Tuhan lebih dan lebih lagi. Lebih lanjut Paulus pun mengatakan bahwa urusan menghakimi itu adalah urusan Tuhan, bukan kita. "Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan." (Roma 12:19).

Bagi gereja dan jemaat, jangan salah langkah dengan mengucilkan, menghempaskan dan membuang mereka yang terjatuh dalam dosa. Jika ini terjadi, bukannya membawa banyak jiwa dari luar, namun malah membuang jiwa dari dalam. Dan itu sama sekali bukan sesuatu yang diinginkan Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhan Yesus mati bukan hanya untuk kita saja, namun bagi semua umat manusia tanpa terkecuali. Tuhan membenci dosa bukan membenci orang berdosa. Justru Tuhan Yesus datang untuk orang-orang yang berdosa, agar mereka bisa selamat dan terlepas dari jerat kebinasaan. Yesus mengatakannya begini: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit." (Matius 9:12, Lukas 5:31). Begitulah besarnya kasih Tuhan buat manusia. Jika kita memiliki kasih Yesus dalam hidup kita, bagaimana mungkin kasih itu lenyap tak berbekas ketika menghadapi orang-orang yang butuh pertolongan? Kedatangan Yesus ke dunia pun justru untuk menyelamatkan mereka yang "sakit". Yesus bukan datang untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa. (Matius 9:13). Janganlah malah menjadi batu sandungan, karena jika itu yang terjadi, kita harus siap mempertanggungjawabkan dan menuai hukumannya kelak.

Kita harus serius menghindari sikap sombong secara rohani, karena itu hanya akan merugikan diri kita sendiri. Itu bukanlah cerminan dari orang-orang benar seperti yang diinginkan Tuhan. Jangan membuang mereka, tapi kasihilah dan layani dengan kasih, sebab Tuhan sendiri pun mengasihi mereka. Jangan rampas kesempatan mereka untuk beroleh pemulihan dan keselamatan. Kasih Kristus akan tercermin secara nyata lewat sikap kita yang mau merangkul orang berdosa.

Cerminkan pribadi Tuhan yang mengasihi siapapun tanpa terkecuali

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, February 21, 2015

Zakheus Diantara Yesus dan Orang Yahudi

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 19:7
====================
"Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa."

Terus memperdalam pengetahuan akan kebenaran firman Tuhan tentu sangat baik. Semakin banyak firman yang kita ketahui dan resapi, semakin baik pula seharusnya cara hidup kita. Tuntunan, panduan, peringatan dan teguran, berbagai solusi atas permasalahan hidup dan langkah-langkah menuju keselamatan semuanya sudah disampaikan secara jelas di dalam Alkitab. Sayangnya banyak orang yang terjerumus pada dosa kesombongan. Semakin banyak tahu, mereka semakin sombong, merasa paling suci sehingga merasa berhak menghakimi orang lain. Ini sangat sering terjadi di kalangan orang percaya, bahkan gereja yang seharusnya lebih giat menjangkau jiwa ketimbang menghakimi jiwa. Bukan baru satu dua kali saya mendengar gereja yang tega menyingkirkan jemaat atau orang yang melayani karena mereka merasa sudah paling suci sehingga tidak mau gerejanya 'dicemari' oleh orang yang dinilai berdosa. Sikap seperti ini jelas-jelas tidak mencerminkan sikap Kristus, karena Dia bahkan berkata "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Markus 2:17). Jadi kalau Yesus saja menjangkau jiwa-jiwa berdosa untuk diselamatkan, bagaimana dengan orang percaya atau lembaga yang justru berani menghakimi? Bukannya menjangkau tapi malah membuang. Bukannya menerima tapi malah menolak. Sadar atau tidak, bukannya mencontoh pribadi Yesus, menjadi semakin serupa dengan Dia, tetapi justru kita semakin jauh dari Yesus dan mencerminkan perilaku para ahli Taurat.

Sebuah contoh menarik akan hal ini bisa kita lihat dari kisah Zakheus. Gambaran visual Zakheus yang berbadan pendek namun sibuk memanjat pohon agar bisa melihat Yesus, dan kemudian kisah pertobatannya sudah tidak asing lagi bagi kita. Zakheus yang berbadan pendek ini adalah seorang pemungut cukai yang kaya. Pada masa itu orang Yahudi terutama para ahli Taurat menggolongkan para pemungut cukai ini sebagai orang berdosa. Cap sampah masyarakat, pendosa, digolongkan dalam satu kelas bersama orang lalim, penzinah dan perampok (Lukas 18:11) diberikan kepada mereka. Para pemungut cukai ini biasanya dicemooh dan dipandang hina. Zakheus ada dalam kelompok ini. Tapi ternyata Zakheus punya kerinduan yang sangat besar untuk dapat bertemu Yesus. Sayang badannya pendek, sehingga pandangannya tertutup orang-orang lain yang berpostur lebih tinggi darinya. Zakheus tidak menyerah dan memutar otaknya. Alkitab mencatat usahanya kerasnya untuk bisa melihat Yesus dengan cara memanjat pohon ara. (Lukas 19:4).

Usahanya gigihnya berhasil. Bukan cuma berhasil melihat Yesus, tapi Yesus pun melihatnya. "Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." (ay 5). Tidak saja melihat dirinya, tapi Yesus berkenan untuk datang menumpang di rumahnya. Tentu saja hal ini disambut Zakheus dengan sukacita. Tapi lihatlah apa yang dikatakan kerumunan orang Yahudi dan orang-orang Farisi. "Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa." (ay 7). Mereka beranggapan bahwa Zakheus itu sangat hina sehingga Yesus seharusnya tidaklah layak untuk mendatangi rumah orang seperti Zakheus. Mereka meghakimi, bukannya bersukacita melihat seorang pemungut cukai bakal bertobat dan dilayakkan untuk menerima keselamatan. Dan itulah yang terjadi lewat kunjungan Yesus ke rumahnya. Tuhan Yesus menganugerahkan keselamatan kepada Zakheus sebagai buah pertobatannya. Bukan saja kepada diri Zakheus sendiri, namun seluruh anggota keluarganya pun turut diselamatkan. Yesus pun menutup jawaban terhadap protes kerumunan orang-orang yang merasa lebih benar ini dengan "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." (ay 10).

Siapa yang ingin kita teladani, Yesus atau para ahli Taurat yang merasa dirinya sudah lebih baik dari orang lain? Adakah hak kita menjatuhkan penghakiman terhadap orang lain dan merasa kita lebih suci dari mereka? Tanpa sadar manusia sering membanding-bandingkan diri mereka dengan orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain agar diri mereka terlihat hebat. Itu bukanlah cerminan pribadi Kristus. Membuang muka, mencibir, menghina, menjaga jarak juga merupakan bentuk-bentuk penghakiman yang seharusnya bukan menjadi hak kita, apalagi kalau berani-beraninya menghujat keputusan Tuhan dalam menyelamatkan umat manusia. Tuhan mengampuni, kita tidak. Tuhan menjangkau, kita mengabaikan. Tuhan membuka kesempatan, kita menutupnya. Tuhan menerima, kita menolak. Tuhan memanggil, kita mengusir. Kita merasa lebih berhak menghakimi bahkan berani mempertanyakan keputusan Tuhan.

Dengan sikap yang salah, kita pun menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi berkat bagi mereka yang butuh pertolongan. Kita gagal untuk memenangkan jiwa bagi Kerajaan Allah. Lihatlah saat Yesus mengulangi pertanyaanNya tiga kali kepada Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Tiga kali Petrus menjawab "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau", tiga kali pula Yesus mengakhiri pertanyaanNya dengan "Gembalakanlah domba-domba-Ku." (Yohanes 21:15-19). Inilah yang seharusnya kita lakukan setelah kita memasuki fase kehidupan baru yang mengejar kekudusan dan ketaatan. Ada pesan penting bagi kita semua untuk menggembalakan domba-dombaNya, dan itu semua haruslah didasarkan atas kasih kita kepada Kristus, bukan hal lainnya. Selama masih bersikap sombong dan merasa diri lebih benar, kita tidak akan pernah bisa menjangkau dan memenangkan jiwa-jiwa untuk diselamatkan.

Bagaimanapun juga kita diingatkan "Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu." (Efesus 4:2), "Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan." (ay 31) dan "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." (ay 32). Ingatlah bahwa perkara menghakimi adalah mutlak milik Tuhan. "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Matius 7:1-2). Yesus datang justru untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, dan kepada kita pesan untuk menggembalakan domba-dombaNya dan mewartakan kabar gembira telah Dia wariskan. Oleh karena itu, jauhilah perilaku seperti para ahli Taurat dan orang-orang Yahudi yang merasa diri mereka begitu benar sehingga layak untuk menghakimi dan menjauhi orang lain. Kasihilah mereka, karena mereka pun layak beroleh kesempatan untuk diselamatkan. Dan siapa tahu, lewat diri kita Tuhan mau menjangkau mereka untuk bertobat. Mungkin kita yang diutus Tuhan untuk memimpin mereka hingga mengenal kebenaran dan lepas dari jerat iblis. (2 Timotius 2:25-26).

Menghakimi orang lain akan menjauhkan mereka dari keselamatan dan itu bukanlah hal yang diinginkan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, February 20, 2015

Tuhan yang Memperlengkapi

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Efesus 4:11-12
=======================
"Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus"

Apa saja yang kita butuhkan dalam menjalani panggilan? Masing-masing orang punya panggilannya sendiri yang tentu saja memerlukan kebutuhan yang berbeda. Selain talenta, keahlian dan pengetahuan, tidak jarang pula kita membutuhkan berbagai kelengkapan lainnya agar bisa maksimal dalam menjalankannya. Seperti yang saya sampaikan kemarin, banyak orang yang lari dari panggilan, menolaknya karena beralasan bahwa mereka tidak sanggup. Kurang mampu, kurang waktu, kurang tenaga, kurang fasilitas dan kurang lainnya akan menjadi dasar alasan untuk menolak. Kita sering menutup mata dari apa yang sebenarnya sudah ada pada kita dan mengarahkan pandangan hanya kepada apa yang kita belum/tidak punya. Padahal, beranikah kita memberi pertanggungjawaban kelak kalau panggilan yang sudah diberikan Tuhan tidak pernah kita lakukan sampai akhir masa hidup kita di dunia? Apakah ada firman Tuhan yang secara jelas menyatakan bahwa Tuhan ternyata sudah memperlengkapi masing-masing orang menurut kebutuhannya untuk menjalani panggilan tersebut?

Sebelum kita sampai kesana, ketahuilah bahwa Tuhan menyuruh kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besarNya di bumi ini. "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." (Efesus 2:10). Seperti yang saya sebutkan, karena hanya melihat apa yang belum ada, kita kerap lupa bahwa ketika Allah menyuruh kita, Dia sebenarnya sudah melengkapi kita dengan segala sesuatu, dan akan terus melengkapi kita lebih lagi. Tuhan bahkan telah memberikan Roh Kudus yang akan selalu membantu dalam pelaksanaannya, sehingga sebenarnya bukan kehebatan dan kemampuan kita yang utama, namun kemauan dan kesungguhan kitalah yang diinginkan Tuhan. Untuk bisa melaksanakannya, kita semua telah Dia perlengkapi dengan baik.

Musa pernah mengalami keraguan seperti ini ketika ia pertama kali menerima penugasan dari Tuhan. Musa berulangkali menolak karena merasa tidak mampu. Musa terus berbantah terhadap perintah Tuhan, semua itu bisa kita baca dalam Keluaran 2:23 hingga Keluaran 4:17. Musa merasa tidak mampu, punya banyak kelemahan, tidak mampu berbicara dengan baik dan terus diliputi keraguan bagaimana bangsa Israel yang besar itu mau mempercayainya. Musa melupakan satu hal, yaitu bahwa ketika Tuhan menyuruh, Dia sudah melengkapi segalanya, dan akan terus menuntun hingga pekerjaan yang dilakukan akan bisa berhasil. Tuhan terus meyakinkan Musa bahwa Dia sendiri akan menyertai dan melengkapi Musa dengan segala sesuatu yang diperlukan. Kita tahu bahwa akhirnya terbukti Musa sanggup memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir.

Seringkali kita merasa tidak mampu atau belum sanggup melakukan pekerjaan Tuhan. Tidak sekolah Alkitab, masih terlalu muda, punya banyak kesibukan, belum siap, belum terpanggil dan sebagainya. Padahal ketika Tuhan memberikan panggilanNya, Dia selalu melengkapi kita dengan apapun yang kita butuhkan. Kita bisa melihat hal ini dalam kitab Efesus. "Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus" (Efesus 4:11-12).

Petrus pun mengingatkan hal yang sama. "Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya." (1 Petrus 5:10).Allah akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kita semua ketika kita taat untuk melakukan tugasnya.

Apapun panggilan yang ada pada kita, Tuhan selalu memperlengkapi sepenuhnya agar kita mampu menyelesaikannya. Ada berbagai karunia rohani atau kemampuan khusus bagi masing-masing orang yang percaya kepadaNya dan mau melakukan pelayanan demi kemuliaanNya. Semua dengan jelas telah difirmankan Tuhan melalui Paulus. "Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan." (1 Korintus 12:4-5). Rinciannya adalah sebagai berikut: "Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu." (ay 8-10). Dan Paulus menutupnya dengan kembali mengingatkan bahwa semua itu dikerjakan oleh Roh yang satu dan sama. Satu Roh, satu Tuhan, dan karunia-karunia itu diberikan sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan. (ay 11).

Mungkin saja ada perlengkapan dan kebutuhan yang saat ini tampaknya belum anda miliki. Tetapi sudahkah anda memeriksa terlebih dahulu apa yang ada pada anda? Dengan apa yang ada mungkin anda bisa mulai dahulu sembari menunggu sampai semua yang dibutuhkan terpenuhi. Kita harus benar-benar memeriksa apa yang ada, dan apa yang bisa mulai kita kerjakan. Seringkali dalam melengkapi kita Tuhan tidak memberikan semuanya langsung jadi tetapi menyediakan segala yang dibutuhkan dalam proses pemenuhan kebutuhan tersebut. Jika diibaratkan, Tuhan lebih suka menyediakan kail dan ikan di laut ketimbang ikan bakar yang langsung terhidang di meja makan.

Apabila diantara teman-teman ada yang masih merasa tidak mampu meski sudah mendapat panggilan dari Tuhan melakukan sesuatu, jangan ragu dan mulailah segera. Gereja dimana anda tumbuh tetap membutuhkan pengerja-pengerja untuk melakukan pekerjaan Tuhan di dunia ini, lebih dari itu, lewat apapun anda tetap bisa melayani Tuhan, baik dalam pekerjaan, pendidikan dan sebagainya. Tidak perlu takut tidak mampu, karena Tuhan adalah Allah yang akan terus memperlengkapi segala sesuatu yang dibutuhkan untuk bisa mengerjakannya dengan cemerlang.

Where God guides, He provides

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker