Wednesday, September 17, 2014

Filosofi Bekerja (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Keluaran 36:1
=======================
"Demikianlah harus bekerja Bezaleel dan Aholiab, dan setiap orang yang ahli, yang telah dikaruniai TUHAN keahlian dan pengertian, sehingga ia tahu melakukan segala macam pekerjaan untuk mendirikan tempat kudus, tepat menurut yang diperintahkan TUHAN."

Seorang teman baru saja membagikan filosofinya dalam menyikapi kesibukan dalam bekerja yang seringkali menyerap energi dan tenaga sehingga mendatangkan kelelahan. Baginya kesibukan dalam melakukan sebuah pekerjaan jauh lebih baik ketimbang hanya berdiam diri tanpa melakukan apa-apa. Ia berprinsip bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan haruslah dilakukan sebaik-baiknya seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23), dan ia pun selalu berusaha sedapatnya mengaplikasikan pengajaran Yesus untuk berjalan ekstra mil (Matius 5:41). Karena ia bertekad menjalankan kedua hal ini dalam apapun yang ia kerjakan, tidaklah mengherankan kalau ia bisa merasa sangat kelelahan. Katanya, sebagian orang menganggapnya bodoh karena mau kerja mati-matian dengan upah yang menurut mereka tidak sebanding, tapi ia terus melakukan seperti apa yang dikatakan firman-firman Tuhan tersebut. "Aku sering merasa seperti kehabisan bensin, tapi daripada menganggapnya sebagai beban, aku memandangnya sebagai happy problem." katanya. Happy, karena kalau lelah artinya ia masih bekerja dan ada kesempatan baginya untuk melakukan firman Tuhan.

Apa yang menjadi filosofinya dalam memandang sebuah kesibukan bekerja bagi saya sangat menarik dan memberkati. Kedua prinsip yang ia pegang sangatlah baik untuk kita teladani, terlebih hari ini ketika kebanyakan orang hanya berhitung untung rugi secara sempit. Serius tidaknya dan baik tidaknya sesuatu yang dikerjakan tergantung pada berapa nilai upah yang diterima. Itu pemikiran dunia, yang sangatlah berbeda dengan prinsip firman. Berbuat sebaik-baiknya seperti Tuhan yang menyuruh, lantas memberi ekstra, lebih dari kewajiban untuk mencapai hasil terbaik. Dari apa yang ia alami dan sering pula saya alami sendiri, Tuhan ternyata tidak pernah kekurangan cara untuk menyatakan berkatNya saat kita melakukan tepat seperti apa yang Dia mau. Mungkin dari sebuah pekerjaan kita sepertinya tidak mendapat hasil jerih payah yang sebanding, tapi dari jalan lain berkatNya bisa datang melimpah tanpa disangka-sangka. Itu sangat sering terjadi, sehingga ini bisa menjadi bukti nyata akan kesetiaan Tuhan dalam menepati janji, setidaknya lewat kesaksian saya dan teman saya ini.

Selanjutnya mari kita lihat prinsip atau filosofi menarik lainnya dalam bekerja dari sebuah kisah  mengenai pengangkatan Bezaleel dan Aholiab untuk membangun Kemah Suci dalam kitab Keluaran. "Berkatalah Musa kepada orang Israel: "Lihatlah, TUHAN telah menunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda, dan telah memenuhinya dengan Roh Allah, dengan keahlian, pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan." (Keluaran 35:30-31). Bezaleel dan Aholiab adalah dua orang yang kepadanya diberikan tugas untuk membangun Kemah Suci. Tuhan tidak sekedar menyuruh, tapi Dia membekali dengan Roh Allah yang memberi keahlian, pengertian dan pengetahuan agar mampu mengerjakan tugas-tugas yang telah diberikan itu. Tidak hanya itu, tapi Tuhan pun memberikan kepandaian untuk mengajar agar orang lain pun bisa mendapat ilmu dari apa yang mereka miliki. "Dan TUHAN menanam dalam hatinya, dan dalam hati Aholiab bin Ahisamakh dari suku Dan, kepandaian untuk mengajar." (ay 34).

Betapa banyaknya talenta yang telah Tuhan berikan kepada kedua orang ini. Secara detail dikatakan seperti berikut: "Ia telah memenuhi mereka dengan keahlian, untuk membuat segala macam pekerjaan seorang tukang, pekerjaan seorang ahli, pekerjaan seorang yang membuat tenunan yang berwarna-warna dari kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus, dan pekerjaan seorang tukang tenun, yakni sebagai pelaksana segala macam pekerjaan dan perancang segala sesuatu." (ay 35). Terdengar seperti rumit dan bertumpuk-tumpuk bukan? Anggaplah ayah anda ingin anda mengerjakan sesuatu yang besar, ia ingin anda sukses, karenanya ia menyekolahkan anda agar punya ilmu pengetahuanyang baik dan keahlian yang cakap, lantas melengkapi pula semua modal yang dibutuhkan agar anda bisa segera mulai mengerjakannya sampai berhasil. Kira-kira seperti itu gambarannya. Dari sini saja kita bisa mengambil beberapa kesimpulan bahwa:
1. Tuhan punya rencana besar bagi kita
2. Tuhan ingin kita sukses
3. Agar bisa sukses, Tuhan sudah melengkapi kita dengan talenta
4. Talenta diberikan berbeda-beda, karenanya kita perlu membangun hubungan dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama
5. Tuhan juga melengkapi kita dengan modal dan lain-lain yang dibutuhkan melalui curahan berkatNya

(bersambung)

Tuesday, September 16, 2014

Melupakan Sang Pencipta

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Roma 1:20
====================
"Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih."

Ada banyak lagu yang tetap dikenal dari satu generasi ke generasi berikutnya. Orang mengenal dan menyukai lagunya, hafal lirik dan bisa menyanyikan tetapi hanya sedikit yang tahu siapa pengarangnya. Ambil contoh misalnya lagu Sabda Alam, Payung Fantasi dan Indonesia Pusaka. Siapa pengarang lagu-lagu ini? Tidak banyak yang ingat, padahal tanpa ada yang mengarang, lagu-lagu itu tidak akan pernah ada. Pengarangnya adalah satu orang yang sama, seorang maestro bernama Ismail Marzuki. Sebagian dari anda tentu tahu nama ini, tapi sebagian lagi mungkin tidak mengenal atau bahkan belum pernah mendengar. Seorang teman yang berprofesi sebagai penyanyi pada suatu kali pernah berkata seperti ini: "Untuk apa memangnya kita harus tahu siapa yang menulis lagu, atau siapa penyanyinya? Yang penting tahu lagu dan bisa menyanyikan dan mendapat imbalan untuk itu." Seperti itulah kecenderungan banyak orang. Berapa banyak orang yang tahu siapa sosok dibelakang lagu-lagu yang kita sukai, atau pencipta/penemu berbagai alat-alat penting? Kita menikmati karya-karya indah atau yang memberi manfaat bagi kita tapi merasa tidak perlu menghargai penciptanya. Padahal tanpa mereka apa yang kita nikmati itu tidak akan pernah ada.

Dengan banyak alasan kita seringkali melupakan Tuhan. Tidak sedikit pula orang yang tidak percaya atau meragukan keberadaan Tuhan. Padahal kita hidup dengan menikmati semua yang Dia ciptakan. Bukankah semua yang ada di dunia ini merupakan hasil karyaNya? Kalau kita mengalami, mempergunakan, menikmati dan hidup dengan semua itu, mengapa kita malah melupakan Penciptanya? Padahal atas segala yang Dia berikan pada kita, sudah seharusnya kita bersyukur, memuji dan memuliakanNya dalam segala sesuatu yang kita nikmati itu.

Kalau banyak orang yang bersikap melupakan atau mengabaikan Sang Pencipta, tidaklah demikian dengan Daud. Lihatlah bagaimana Daud memuji keagungan Tuhan pencipta langit dan bumi beserta segala isinya dalam Mazmur 104 dengan begitu indahnya. Mazmur 104 ini berjudul "Kebesaran Tuhan dalam segala ciptaanNya", menunjukkan bahwa Daud merasakan kebesaran Tuhan dalam segala ciptaan Tuhan yang ada disekitarnya setiap saat dimana isinya ia tulis secara puitis dengan indah. Misalnya seperti ini: "Engkau yang melepas mata-mata air ke dalam lembah-lembah, mengalir di antara gunung-gunung, memberi minum segala binatang di padang, memuaskan haus keledai-keledai hutan; di dekatnya diam burung-burung di udara, bersiul dari antara daun-daunan. Engkau yang memberi minum gunung-gunung dari kamar-kamar loteng-Mu, bumi kenyang dari buah pekerjaan-Mu. Engkau yang menumbuhkan rumput bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan untuk diusahakan manusia, yang mengeluarkan makanan dari dalam tanah dan anggur yang menyukakan hati manusia, yang membuat muka berseri karena minyak, dan makanan yang menyegarkan hati manusia." (Mazmur 104:10-15). Semua itu indah, tapi tidak satupun bisa melebihi ciptaanNya yang paling istimewa, yaitu manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar dan rupaNya sendiri. Tidak ada satupun manusia yang persis sama, baik rupa, warna, bentuk, sifat dan sebagainya. Itu pekerjaan yang sungguh luar biasa yang tidak akan bisa dilakukan oleh siapapun selain Allah. Bukankah sangat disayangkan apabila ciptaanNya yang teristimewa justru cenderung melupakanNya?

Sepanjang Mazmur Daud berbicara begitu banyak tentang menaikkan puji-pujian bagi Tuhan. Dia begitu menyadari bahwa kebesaran Tuhan itu terlihat nyata dan jelas melalui segala hasil ciptaanNya. Salah satunya berbunyi "Haleluya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada." (Mazmur 146:1-2). Pujian lainnya ia nyatakan seperti ini: "Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib!" (1 Tawarikh 16:8-9). Pertanyaannya, apakah kita menyadari kebesaran Tuhan melalui karya-karyaNya seperti Daud? Sudahkah kita merenung dan memuji Tuhan ketika kita melihat alam yang begitu indah, yang meski sudah semakin berkurang tapi masih bisa kita nikmati hari ini? Ketika melihat matahari bersinar indah ditengah sekumpulan awan putih, melihat indahnya bintang gemerlapan di tengah malam, bunga-bunga warna-warni bermekaran, bahkan udara yang kita hirup yang disediakan gratis untuk kita. Bayangkan bagaimana hidup tanpa itu semua. Sudahkah kita bersyukur dan memuliakan namaNya?

Sangatlah menyedihkan apabila kita melupakan siapa Sang Pencipta Agung di balik semua itu, tidak memuliakan dan mengucap syukur malah kemudian menindas kebenaran dengan kelaliman. Paulus menggambarkan sifat melupakan Tuhan ini sebagai kefasikan dan kelaliman yang memurkakan Tuhan (Roma 1:18). Tuhan memang tidak terlihat kasat mata seperti kita memandang manusia atau alam dan isinya, tapi jika kita mau sedikit berpikir, kehebatan Tuhan itu sebenarnya bisa terlihat jelas dari segala karyaNya sejak dahulu hingga sekarang. Itulah yang dikatakan pula oleh Paulus. "Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih." (Roma 1:20). Eksistensi Tuhan merupakan sesuatu yang nyata, ada di sekitar kita sehingga seharusnya tidak perlu dipertanyakan atau diragukan. Tapi banyak orang yang tidak menyadari hal ini, tidak memuliakan dan tidak mengucap syukur kepada Tuhan. "Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap." (ay 21). Yang lebih parah, malah ada banyak orang yang tega menggantikan kemuliaan Allah dengan segala sesuatu yang fana dalam berbagai bentuk untuk disembah. "Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar...mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin." (ay 23,25). Hal-hal seperti ini sungguh tidak pantas kita lakukan. Ketika kita menikmati hasil ciptaan Tuhan yang indah ini, seharusnya kita bersyukur dan memuliakanNya pula dalam setiap waktu kita menikmatinya.

Maestro di atas segala maestro telah menyediakan segalanya bagi kita. Sang Virtuoso telah memberikan kita semua hal terindah dan terbaik. Tuhan yang penuh kasih itu telah dengan jelas menyatakan diriNya sendiri lewat segala ciptaanNya yang bisa kita lihat dan rasakan setiap hari. Hari ini mari kita belajar meninggalkan sejenak doa yang berisi keluh kesah dan daftar permintaan. Datanglah kepadaNya dan muliakanlah Dia dengan pujian dan penyembahan yang terbaik dari diri kita. Isi doa-doa kita dengan ucapan syukur yang mengagungkan namaNya. Atas segala ciptaanNya yang luar biasa dan segala yang Dia berikan kepada kita, Dia lebih dari layak untuk itu.

Segala ciptaan yang indah bagaikan jari penunuk yang mengarah kepada Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, September 15, 2014

Kehendak Bebas

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Ulangan 30:19
======================
"Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu"

Makan di rumah makan padang selalu menarik. Selain rasanya enak, hidangan yang dibentang di atas meja membuat konsumen bisa memilih makanan jenis apa yang ingin disantap. Ada yang berlemak dan bersantan, ada yang digoreng. Ada yang berkuah, ada yang kering. Ada yang mahal, ada yang murah. Kita bebas memilih, tapi masing-masing akan membawa konsekuensinya sendiri. Memilih yang berlemak biasanya tidak terlalu baik buat kesehatan apalagi buat yang punya masalah dengan kolestrol dan mungkin lebih mahal. Tapi kalau memilih untuk memakannya, tentu saja tidak ada yang bisa melarang.

Apakah Tuhan menganugerahkan keselamatan dan rancangan damai sejahteraNya pada semua orang? Ya. Tuhan memberikan itu kepada orang tanpa terkecuali. Tuhan menganugerahkan keselamatan dan perencanaan akan hal-hal yang terbaik dalam hidup siapapun. Tapi ingat, ada kehendak bebas pada manusia. Setiap keputusan atau pilihan yang kita ambil akan membawa hasil yang berbeda. Apakah kita mau patuh dan taat kepada ketetapan Tuhan, apakah kita menyerahkan hidup kita ke dalam tanganNya, menjalani sesuai kehendakNya, atau kita fokus pada hal-hal yang menurut kita sendiri terbaik buat kita, meski itu bertentangan dengan firman Tuhan, apakah kita memilih untuk menjalankan hidup dengan mendengarkan Tuhan atau hanya mendasarkan keputusan kita terpusat pada diri sendiri, itu semua adalah pilihan. Kesimpulan yang saya dapat adalah, ya, Tuhan memberikan anugerahNya akan keselamatan dan rancangan terbaik untuk hari depan pada semua orang, namun kepada kita diberikan kehendak bebas (free will) untuk mengikuti atau menolakNya. The choice is up to us.

Mengapa Tuhan memberi kehendak bebas? Seorang teman pernah berkata bahwa Tuhan seolah ingin menjebak manusia dengan memberi kehendak bebas. Apa yang ia katakan tentu saja salah. Tuhan menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya sendiri. Tidak ada satupun mahluk ciptaanNya yang lain yang dirancang seistimewa itu. Apa yang ingin dia buat adalah manusia dan bukan robot. Kehendak bebas seharusnya merupakan anugerah yang kita syukuri karena dengan demikian kita bisa berkreasi dan bereksplorasi dengan leluasa, bukan hidup rata, datar terprogram. Hidup menjadi menarik karenanya. Sebagai bukti bahwa Tuhan bukan menjebak manusia, bukankah Dia menyediakan hikmat, pengetahuan dan kepandaian/kebijaksanaan bagi kita untuk memilih mana yang benar dan salah? "Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian." (Amsal 2:6). Tuhan kerap berbicara lewat hati nurani, Dia akan selalu mengingatkan siapapun yang mau mendengar suaraNya, firmanNya memberitahukan dan memberi tuntunan agar hidup tetap berada dalam koridor yang benar, bahkan Roh Kudus sudah diberikan untuk membantu kita dalam melangkah. Semua itu sudah disediakan Tuhan agar kehendak bebas yang membuat hidup menjadi penuh warna dan menarik jangan sampai melenceng dari jalan yang benar. Sekali lagi, Tuhan bukan menciptakan robot tapi manusia yang mewarisi gambar dan rupaNya.

Dalam kitab Ulangan kita bisa melihat sebuah pesan yang mengacu kepada pengambilan keputusan yang akan sangat menentukan arah hidup kita. "Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka." (Ulangan 30:19-20). Dengan sangat jelas ayat ini menunjukkan bahwa ada pilihan yang dihadapkan kepada kita yang bisa bermuara pada ujung yang sama sekali berbeda, antara kehidupan atau kematian, berkat atau kutuk. Itu menjadi arah atas pilihan-pilihan kita. Dan kerinduan Tuhan bukanlah kepada kematian kita, tetapi justru kepada kehidupan. Ayat ini jelas mengatakan hal itu dengan menjabarkan bagaimana caranya kita memilih kehidupan dan apa yang bisa kita peroleh dari pilihan tersebut.

Sebelum Yosua meninggal, ia sempat menyampaikan pesan agar bangsanya hendaknya bijaksana dalam memilih. "Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" (Yosua 24:14-15). Dalam hidup ini ada banyak pilihan. Kita bebas memilih, tetapi akan selalu  ada konsekuensi yang mengikuti setiap pilihan yang kita ambil. Yang jelas, Tuhan sudah mengingatkan pilihan mana yang terbaik untuk kita ambil, bagaimana caranya dan apa yang akan kita peroleh dari pilihan yang benar tersebut.

Sulitkah bagi kita untuk memilih yang benar? Alkitab mengatakan tidak. "Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh." (Ulangan 30:11). Itu bukan di langit, bukan di seberang laut (ay 12-13), maksudnya tidaklah jauh atau sulit untuk diraih, tapi kenyataannya hal tersebut sangatlah dekat. "Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan."(ay 14). Tuhan setiap hari berbicara kepada kita dengan banyak cara. Rajin membaca Alkitab akan membawa kita semakin tahu rencana Tuhan. Kita pun akan dibimbing langsung oleh Roh Kudus untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Ketika firman itu menjadi rhema dalam diri kita, maka hati kita akan berfungsi banyak untuk membuat kita peka mengetahui mana yang baik dan yang buruk. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Hati kita haruslah kita jaga agar firman Tuhan tetap bertumbuh kembang disana, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Status, gelar, tinggi pendidikan seseorang tidaklah menjamin orang untuk berlaku benar. Mengaku sebagai pengikut Kristus pun belum menjamin orang untuk hidup sesuai kehendak Tuhan, jika ia tidak mendengar firmanNya, terlebih tidak melakukan firmanNya dan hanya fokus pada kepentingan-kepentingan duniawi saja. Begitu banyak anak-anak Tuhan yang jatuh pada banyak hal. Ada begitu banyak lubang menganga di depan kita. Apakah kita mau melompat melewati lubang-lubang itu atau memilih untuk jatuh, itu adalah pilihan. Pilihan dan keputusan kita hendaklah senantiasa didasarkan pada kehendak Tuhan, bukan atas diri kita sendiri. Ulangan 28 menjelaskan secara rinci mengenai berkat dan kutuk. Berkat, apabila kita melakukan hal ini: "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini...." (Ulangan 28:1), sementara kutuk akan jatuh bila demikian: "Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini." (ay 15). Hidup ini penuh pilihan dan akan selalu berisi berbagai pilihan. Pilihlah untuk hidup seperti jalan yang diinginkan Tuhan dan nikmati senyum kasihNya sebagai orang yang berkenan di mata Tuhan, dimana Dia akan senang terhadap setiap pilihan yang kita ambil. Sebaliknya, kita bisa saja memilih yang bodoh, dungu, lalu masuk ke dalam kematian. Pilihan manapun yang kita ambil akan menentukan masa depan kita. Mana yang kita pilih akan menentukan seperti apa masa depan kita kelak. Hari ini marilah kita tanya pada diri kita, keputusan apa yang akan kita ambil.

Hidup penuh pilihan, tapi Tuhan sudah memberi jalan yang benar untuk diambil

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, September 14, 2014

Tuhan Mengenal Kita (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Selanjutnya mari kita lihat Firman Tuhan lainnya yang ada dalam Yesaya 29 yang juga menggambarkan betapa Tuhan sungguh mengetahui kita. Apabila Tuhan diibaratkan sebagai tukang periuk, dan kita adalah bejana yang dibentuk dari tanah liat olehNya sendiri. Pertanyaannya, mungkinkah Tuhan, Sang Pencipta, tidak mengenal apa-apa tentang kita? Jika kita mengerjakan sesuatu dari awal sampai akhir, mungkinkah kita tidak tahu atau tidak mengenal hasil kerja kita? "..Apakah tanah liat dapat dianggap sama seperti tukang periuk, sehingga apa yang dibuat dapat berkata tentang yang membuatnya: "Bukan dia yang membuat aku"; dan apa yang dibentuk berkata tentang yang membentuknya: "Ia tidak tahu apa-apa"? (Yesaya 29:16). Kalau kita tidak mungkin meragukan bahwa orang tua kita mengenal kita secara pribadi dan mendalam, apalagi Bapa Surgawi.

Tuhan sungguh mengenal kita dengan baik, dan Dia sungguh peduli. Agar terbentuk hubungan yang erat dibutuhkan usaha dari kedua belah pihak. Jika Tuhan kenal kita, apakah kita sudah berusaha untuk mengenalNya dengan baik? Seringkali kita merasa perlu untuk sungguh-sungguh mengenalNya.Ketika Tuhan peduli, kita malah tidak peduli padaNya dan hanya menggantungkan harapan kepada manusia, pada harta benda atau pada situasi dan kondisi saja. Kita terus meminta Tuhan menolong dan mengerti kita, tapi kita tidak merasa perlu untuk mengenalNya secara mendalam. Kalau saja kita mau mencoba mengenalNya, kita akan tahu bahwa Dia adalah Bapa yang penuh kasih, kasih setiaNya kekal selamanya, tak akan pernah lekang dan Dia selalu menginginkan kita beroleh segala yang terbaik yang berasal dari perbendaharaanNya di Surga. Pengertian atau pemahaman seperti ini akan membuat anda tahu bahwa yang terbaik untuk anda lakukan adalah mengandalkan Tuhan dalam apapun yang anda lakukan. Dan firman Tuhan pun sudah mengatakannya. "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!" (Yeremia 17:7). Ayat ini menyebutkan dengan jelas bahwa menaruh pengharapan kepada Tuhan tidak akan pernah berujung sia-sia. Hal-hal lain yang anda andalkan bisa mengecewakan, tapi tidak demikian dengan Tuhan.

Sebuah penegasan lainnya disampaikan pula oleh Yesus yang mengenal hati BapaNya dengan sangat baik. "Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah,bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit." (Lukas 12:6-7). Kalau burung saja diperhatikan Tuhan, apalagi kita yang diciptakan secara sangat istimewa menurut gambarNya sendiri. Bayangkan, sampai jumlah rambut kita helai demi helai pun Dia ketahui. Sedekat-dekatnya dan sepeduli-pedulinya manusia, adakah yang bisa sangat dekat hingga mengetahui berapa helai jumlah rambut kita? Tapi Tuhan peduli hingga sejauh itu. Itu menunjukkan bagaimana kepedulian dan pengenalanNya akan kita dengan sangat detail. Betapa indahnya janji Tuhan akan penyertaan dan perlindunganNya atas kita yang tertulis berulang kali di dalam Alkitab. Lihatlah ayat berikut: "Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati." (Ulangan 31:8). Atau lihatlah pesan berikut: "Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, maka engkau akan tetap tinggal untuk selama-lamanya; sebab TUHAN mencintai hukum, dan Ia tidak meninggalkan orang-orang yang dikasihi-Nya. Sampai selama-lamanya mereka akan terpelihara.." (Mazmur 37:27-28). Peringatan yang disampaikan Penulis Ibrani pun mengacu akan hal ini: Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5). Tuhan Yesus sendiri sudah berjanji untuk menyertai kita senantiasa sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20), dan siap memberi kita kelegaan. "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (11:28). Semua ini merupakan janji yang menunjukkan betapa Tuhan mengenal kita dan betapa Dia peduli terhadap segala pergumulan kita.

Saat tidak ada orang mengerti, ada Tuhan yang mengerti. Saat tidak ada yang peduli, Tuhan selalu peduli. Allah mengerti, Dia mengenal kita dan Dia peduli. Ketika tidak ada yang mau mengenal anda lebih jauh, Tuhan sudah mengenal anda bahkan lebih dari anda mengenal diri anda sendiri. Dia selalu tahu apa yang terbaik untuk anda, Dia selalu berada bersama anda baik dalam suka maupun duka, menjaga anda senantiasa dan akan terus memberi kekuatan meski untuk beberapa waktu mungkin anda masih harus berada dalam situasi yang sulit. Dia mengenal pribadi anda lebih dari siapapun, Dia tahu apa yang anda butuhkan, Dia tahu dimana kelemahan anda dan akan dengan senang hati memberitahukan langkah agar anda bisa kembali bangkit dan bersinar, menggenapi semua yang sudah direncanakanNya buat anda. Jika Tuhan sudah bersikap seperti itu, mari kita terus membangun hubungan yang lebih erat lagi dengan Tuhan. Kenali Dia lebih dan lebih lagi, kenali dan pahamilah ketetapan-ketetapan, lakukan perintah-perintahNya dan kenali pula janji-janjiNya, anugerah dan karuniaNya. Mengucap syukurlah atas semua itu. Sebuah hubungan akan terbangun dengan baik apabila kedua belah pihak saling kenal dengan baik. Tuhan sudah mengenal kita. Dia mengasihi kita. If God knows us, would we learn to know more about Him too?

Live a happy life, because God knows us and He loves us

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, September 13, 2014

Tuhan Mengenal Kita (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 139:1
=======================
"TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku"

Kemarin kita sudah membahas mengenai pentingnya sebuah pengenalan seutuhnya dan sebenar-benarnya akan Tuhan, baik mengenai pribadi maupun ketetapanNya. Bukan saja kita harus mengetahui apa yang menjadi peraturan yang wajib diikuti dan mana yang tidak boleh dilanggar, tapi penting pula bagi kita untuk mengetahui latar belakang dari setiap peraturan dan laranganNya. Semua itu akan menuntun kita untuk tetap berada di jalan yang benar dan mencegah kita untuk tidak luput dari keselamatan maupun berkat dan anugerah lainnya yang akan Dia berikan kepada setiap orang yang percaya, hidup dalam kasih dan setia kepadaNya. Ketika ini saya sampaikan kepada sekelompok orang pada suatu kali, seorang anak muda berkata, "okelah kalau kita memang harus belajar mengenal Tuhan. Tapi pertanyaannya sekarang, apakah Tuhan juga mengenal kita diantara begitu banyak manusia hari ini dan semua manusia yang pernah Dia ciptakan yang sepertinya sudah sulit dihitung jumlahnya?" Does God know us? Adakah ayat yang mengatakan bahwa Tuhan mengenal kita? Apakah Tuhan pernah berkata dengan tegas bahwa pengenalan akan kita masing-masing merupakan sesuatu yang penting bagiNya? Setelah kita membahas tentang pengenalan akan Tuhan, hari ini mari kita lihat dari sisi sebaliknya, yaitu dari sisi Tuhan kepada manusia ciptaanNya.

Sejak semula manusia diciptakan secara istimewa, berbeda dengan ciptaan-ciptaan lainnya. Saat menciptakan manusia, Tuhan merancang dengan mengambil gambar dan rupaNya sendiri. "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka." (Kejadian 1:27). Tidak ada satupun ciptaan lainnya yang dirancang Tuhan dengan mengambil rupaNya sendiri selain manusia. Dia bahkan memeri otoritas pada manusia untuk mengelola ciptaanNya yang lain. Ini adalah sebuah keistimewaan atau bahkan kehormatan yang tidak mungkin diberikan secara sembarangan kepada yang belum dikenal. Meski bisa, Tuhan tidak menginginkan manusia sebagai robot-robot tak bernyawa, sebaliknya Dia memberi kita kehendak bebas untuk memilih dan memutuskan langkah apa yang hendak kita ambil. Untuk menuntun kita agar tidak salah langkah Tuhan memberi akal budi, hikmat, berbagai peringatan dan pesan lewat firmanNya bahkan Roh Kudus sebagai penolong. Keselamatan kita menjadi perhatian yang sangat penting bagi Tuhan, bahkan untuk itu Dia rela mengorbankan Yesus Kristus menggantikan semua dosa kita di atas kayu salib dan memungkinkan kita untuk bisa berhubungan langsung dengan Tuhan, merasakan hadiratNya melalui Kristussendiri.

"Tak kenal maka tak sayang", begitu kata pepatah. Secara umum kita sulit menyayangi kalau tidak saling kenal. Semakin dalam kita mengenal seseorang, semakin pula kita menyayangi mereka. Kita mengenal tabiatnya, sifatnya, kesukaannya, ketidaksukaannya dan lain-lain, dan tentu saja akan berusaha semampu kita untuk menolong mereka saat mereka butuh bantuan. Sikap orang tua yang mengenal anaknya tentu akan jelas terlihat berbeda dengan orang tua yang tidak mengenal anaknya, begitu pula sebaliknya.

Demikian juga dengan Tuhan. Kita bahkan boleh memanggilnya Bapa seperti yang dianjurkan Yesus sendiri. Itu artinya Tuhan menginginkan sebuah kedekatan hubungan yang sangat erat dan intim layaknya seorang ayah yang penuh kasih dengan anaknya. Dengan status sebagai anak, kita bahkan sudah dikatakan berhak menjadi ahli warisNya. Hubungan yang dekat dan erat akan membuat kedua belah pihak saling kenal satu sama lain dengan baik. Tuhan sangat mengenal kita luar dalam. Dia tahu pasti apa yang menjadi permasalahan anda. Tidak ada yang tersembunyi bagiNya, Dia tahu isi hati kita yang terdalam sekalipun. Dia yang menciptakan kita, tentu Dia pula yang paling tahu segalanya tentang kita. Dan yang lebih indah lagi, Tuhan adalah Bapa yang sangat mengasihi kita. Bentuk kasih itu pun diwujudkan dengan kepedulian yang luar biasa besar pula terhadap anak-anakNya. Dia siap tertawa gembira bersama kita, Dia pun turut bersedih bersama kita.

Selain ada begitu banyak bukti yang bisa disampaikan tentang pengenalan Tuhan secara mendalam terhadap ciptaanNya yang istimewa, ada banyak pula firman  yang mencatat hal itu secara jelas. Lihatlah firman berikut ini: "TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku" (Mazmur 139:1). Ayat ini adalah pembuka dari sebuah perikop yang berjudul "Doa di hadapan Allah yang maha tahu" (Mazmur 139:1-24). Ayat ini jelas menggambarkan pemahaman Daud akan pengenalan Tuhan tentang dirinya secara penuh. "Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi." (ay 2-3). Ini adalah sebuah pemahaman yang tentu berdasarkan perenungan mendalam dari Daud lewat pengalamannya berjalan bersama Tuhan sepanjang hidupnya.

(bersambung)

Friday, September 12, 2014

Mengenal Tuhan (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Ada yang berpenampilan sangat rohani tetapi perilakunya sama sekali tidak mencerminkan kebenaran. Ada yang mengutip ayat-ayat seenaknya demi kepentingan pribadi, menggunakan itu sebagai pembenaran terhadap perbuatan buruknya. Saya sudah sering juga bertemu dengan orang percaya yang mengira bahwa agar selamat kita cukup berbuat baik terhadap sesama. Itu menunjukkan pula bahwa orang tersebut tidaklah mengenal Tuhan. Keselamatan hanya ada dalam Kristus dan perbuatan baik sesungguhnya merupakan buah dari iman kita, bukan penjamin keselamatan. Ada yang mengira bahwa jika korupsi, maka itu akan menjadi bersih kalau sebagian disedekahkan atau dipakai membangun rumah ibadah. Bentuk 'pencucian' uang hasil kejahatan ini pun menunjukkan ketidak-kenalan pelaku akan Allah. Di satu sisi beribadah kepada Tuhan tapi di saat yang sama juga mempercayai berbagai pengajaran lain, beriman pada ilah-ilah lain bahkan menuruti berbagai bentuk supranatural atau okultisme. Mengaku percaya tapi tetap hidup dengan rasa kuatir. Ini pun menunjukkan betapa orang bisa tidak mengenal Allah. Ada banyak orang yang tidak tahu bahwa doa orang benar, siapapun orangnya, punya kuasa besar yang sama. Mereka terus bergantung pada pendeta dan hamba Tuhan lainnya untuk mendoakan apapun yang mereka butuhkan karena beranggapan bahwa doa pasti kalah manjur dibanding para hamba Tuhan. Ada keluarga yang membagi tugas, urusan istri berdoa, urusan suami cari duit. Itu juga merupakan pemahaman keliru terhadap pentingnya membangun mesbah dalam keluarga. Bebagai perilaku munafik orang Farisi di masa Yesus juga menunjukkan bahwa kerajinan melakukan kewajiban agama tidak serta merta menjamin pengenalan akan Tuhan secara baik dan benar. Dalam Matius pasal 6 misalnya, Yesus menyingkapkan hal ini sebagai peringatan bagi kita agar tidak terjebak pada kekeliruan pemahaman yang sama.

Berkaca dari apa yang dialami bangsa Israel, kita bisa melihat bahwa ketidak-kenalan akan Tuhan bisa mendatangkan bahaya besar. Tuhan Maha pengasih, Maha pengampun dan Maha penyayang, itu benar, tetapi kita juga harus tahu bahwa berbuat atau mentolerir dosa akan mendatangkan konsekuensinya sendiri. Pengenalan yang buruk akan Tuhan akan membuat kita rentan terhadap berbagai penyesatan. Hari ini bentuk penyesatan banyak hadir bukan lewat sesuatu yang terang-terang salah, tetapi bisa jadi dikemas rapi seolah Alkitabiah. Doktrin-doktrin kemakmuran dan berbagai pengajaran bisa terlihat sepertinya sesuai firman tetapi sebenarnya menyesatkan. Kalau kita tidak kenal betul, bagaimana kita bisa awas terhadap itu semua?

Hanya mengandalkan tata cara peribadatan dan tradisi serta kebiasaan dan rutinitas dalam menjalankan ibadah saja tidaklah cukup dan belum mencerminkan usaha kita yang cukup untuk mengenal Allah dengan baik dan benar. Yesus menyinggung hal ini dengan keras. "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 7:21). Hanya rajin berseru tapi tidak mencerminkan terang dalam hidup sama saja dengan tidak mengenal Tuhan. "Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?" (ay 22). Bahkan meski kita berpikir bahwa kita sudah melakukan banyak pekerjaan Tuhan, tapi hati kita sebenarnya tidak tulus melakukan itu dan bukan berbuat itu demi kemuliaan Tuhan, jika kita rajin beribadah namun sebatas dibibir saja tanpa aplikasi nyata dalam hidup, maka semua itu sesungguhnya sia-sia, dan kita pun sebenarnya akan kehilangan kesempatan untuk beroleh keselamatan. Jika kita tidak mengenal Tuhan, maka Tuhan pun tidak akan mau mengenal kita. "Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (ay 23).

Dari mana kita bisa mengenal Tuhan? Pengenalan akan Tuhan bisa kita dapati melalui pendengaran dan pengenalan akan firman-firman Tuhan yang terdapat di dalam Alkitab. Alkitab bukanlah buku usang yang membosankan dan kuno untuk dibaca. Ada banyak tuntunan hidup dan rahasia-rahasia keselamatan di dalamnya yang mampu membuat kita semakin dekat mengenal pribadi Tuhan dan teramat sangat aplikatif menjawab berbagai permasalahan yang terjadi dalam hidup kita. Disana kita bisa mendapati janji-janji Tuhan dan bagaimana untuk memperolehNya. Ada tuntunan-tuntunan hidup baik saat ini maupun untuk kehidupan kekal nanti yang disampaikan secara lengkap sebagai panduan kita. Jangan berhenti hanya sampai membaca, tapi renungkan dan perbuatlah apa yang telah kita baca itu dalam kehidupan nyata. "Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya." (Yakobus 1:25) Dari sana aplikasikanlah firman tersebut dalam kehidupan nyata. Itu akan membawa kita kepada pengenalan akan Tuhan secara lebih mendalam lagi. Terus membangun hubungan yang dekat dengan Tuhan, mendengar suaraNya, merasakan kehadiranNya dalam kehidupan kita sehari-hari, mengandalkan Tuhan lebih dari apapun, itupun akan membuat pengenalan kita terus meningkat.

Kemudian, kita bisa mengenal Bapa lewat Yesus. "Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia." (Yohanes 14:7). Tanpa mengenal Kristus, kita tidak akan pernah bisa mengenal Tuhan, dan dengan demikian kita tidak akan pernah bisa datang menghampiriNya dan menerima janji-janjiNya. Yesus berkata "Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (ay 6).

Sudahkah kita menyadari pentingnya untuk mengenal Allah? Sudahkah kita menganggap serius hal ini? Teruslah kenali pribadi dan isi hatiNya baik lewat Alkitab, kotbah, bacaan-bacaan rohani dan sumber lainnya, dan tentu saja, miliki pengenalan yang benar tentang Kristus. Selanjutnya jangan berhenti sampai disitu saja, tetapi kemudian aplikasikanlah semua yang telah kita baca, dengar dan tahu itu ke dalam hidup kita sehari-hari. Kenali Tuhan, temukan apa yang menjadi kehendakNya hari ini. dan lakukan tepat seperti itu. Mari bertumbuh menjadi anak-nakNya yang setia, dipenuhi kasih dan sungguh-sungguh mengenalNya.

Mengenal Allah akan menjauhkan kita dari berbagai pelanggaran sehingga kita terhindar dari kebinasaan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, September 11, 2014

Mengenal Tuhan (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Hosea 4:6a
===================
"Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah"

Seberapa jauh kita mengenal rambu-rambu lalu lintas? Sudah lama berkendara, bahkan sudah punya SIM tidak serta merta menjamin pengendara mengenal seluruh rambu yang ada.  Kalau tidak mengenal, bagaimana mereka bisa memahami, lantas mematuhi? Tidaklah mengherankan apabila kecelakaan lalu lintas masih saja terjadi. Belum lagi orang-orang yang tidak menyadari bahaya yang bisa terjadi kalau mereka tidak fokus dalam mengemudi. Terus memaksakan menyetir saat mengantuk, sambil sms-an atau ngobrol di telepon, meleng karena sambil melakukan sesuatu yang lain, atau mementingkan diri sendiri seperti mengebut karena buru-buru, nyelonong seenaknya atau melanggar peraturan dengan banyak alasan. Kalau cuma bikin jalan jadi macet, semrawut dan kacau masih mending, bagaimana jika itu mendatangkan bahaya baik kepada diri sendiri atau juga membahayakan nyawa orang lain? Sekedar bisa mengemudi saja tidaklah cukup. Sekedar tahu beberapa rambu saja tidak cukup. Kita perlu mengenal pengetahuan umum mengenai rambu-rambu yang ada dan tata cara berkendara lainnya. Kita perlu tahu mengapa rambu itu ada, alias mengenal tujuan rambu dibuat. Pengenalan yang benar selain bisa menjaga ketertiban dan kelancaran di jalan tapi juga mampu menghindarkan kita dari kecelakaan dan berbagai musibah lainnya.

Itu sama halnya dengan pengenalan kita akan Tuhan. Banyak orang yang mengaku percaya Tuhan, tapi sesungguhnya tidak cukup mengenalNya, baik mengenal pribadiNya dan peraturan atau ketetapanNya, atau malah tidak mengenal sama sekali. Mungkin mereka akan berdalih, saya kan sudah ke gereja, atau kita sudah berdoa? Tapi kenyataannya ada banyak orang yang melakukan itu semua bukanlah atas dasar yang benar melainkan sekadar menjalankan rutinitas, karena disuruh orang tua, karena kebiasaan, tradisi dan alasan-alasan lainnya selain ingin mengenal Tuhan secara lebih dalam lagi. Hal-hal seperti ini jika tidak dicermati akan membuat kita tidak kunjung mengenal pribadi dan ketetapan Tuhan, dan ketidaktahuan itu bisa mengarahkan kita kepada kebinasaan.

Dalam kitab Hosea kita bisa mencermati kenapa Israel akhirnya binasa. Bukan karena Tuhan bertindak kejam, tetapi justru karena kelakuan mereka yang buruk yang terus dibiarkan berlarut-larut. Itulah yang kemudian mendatangkan murka Tuhan. Di dalam kitab Hosea hal tersebut disebutkan dengan jelas. "Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah" (Hosea 4:6a). Tidak mengenal bagaimana? Hosea pasal 4 berjudul "Menentang imam dan bangsa yang tidak setia". Tidak setia, itu salah satu tanda bahwa kita tidak mengenal Tuhan, Tidak tahu bagaimana kesetiaan itu menjadi sebuah dasar utama untuk menerima anugerahNya dan tidak tahu pula bahwa pembangkangan akan menjauhkan kita dari penggenapan semua janjiNya bahkan akan menjadi sumber kehancuran bagi kita sendiri.

Pasal ini dimulai dengan: "Dengarlah firman TUHAN, hai orang Israel, sebab TUHAN mempunyai perkara dengan penduduk negeri ini, sebab tidak ada kesetiaan dan tidak ada kasih, dan tidak ada pengenalan akan Allah di negeri ini." (ay 1). Dari ayat pembuka ini kita bisa melihat bahwa ada tiga alasan penting yang saling terkait yang bisa mendatangkan malapetaka bagi kita, yaitu:
- Tidak setia
- Tidak memiliki kasih, dan
- Tidak mengenal Allah.
Ketiga hal ini bisa menjadi awal dari kehancuran apabila tidak diperhatikan dan dibiarkan terus menjadi bagian dalam hidup kita.

Apa yang diperbuat bangsa Israel pada waktu itu? Yang mereka lakukan memang sudah keterlaluan. Mereka "hanya mengutuk, berbohong, membunuh, mencuri, berzinah, melakukan kekerasan dan penumpahan darah menyusul penumpahan darah." (ay 2). Dalam ayat 6 disebutkan pula bahwa para imam yang seharusnya jadi tulang punggung justru melupakan ajaran Tuhan. Kegagalan para imam tidak hanya berbicara mengenai para pendeta, pelayan Tuhan, tapi lebih luas lagi mengacu kepada orang percaya, sebab sudah disebutkan bahwa kita menjabat status sebagai "imamat yang rajani" (1 Petrus 2:9) atau "imam-imam bagi Allah" seperti yang tertulis dalam Wahyu 1:5-6. Semua pembangkangan yang keterlaluan ini sungguh menggambarkan betapa umat Tuhan bisa terjatuh pada tiga hal penting ini. Mereka tidak memiliki kasih, tidak setia dan tidak mengenal Sang Pencipta yang sudah begitu banyak memberkati mereka. Ini membuat Israel akhirnya harus menanggung konsekuensi yang begitu berat.

Tidak setia, tidak punya kasih dan tidak mengenal Allah meski mengaku umat Tuhan, itu bisa terlihat jelas dari cara hidup. Beribadah hanya sebatas ke gereja tapi tidak mengaplikasikannya dalam keluarga dan hubungan sosial lainnya, tidak mempedulikan sesama, tidak memiliki empati terhadap kesulitan orang, terus melakukan berbagai kecurangan dengan beranggapan bahwa rohani ya rohani, tapi business is business. Kambuhan terhadap berbagai jenis dosa dan bentuk-bentuk kemunafikan lainnya. Ada pula yang menerjemahkan bentuk kasih Tuhan yang begitu besar dengan seenaknya bahkan memanfaatkan kebaikan Tuhan, taking it for granted, mengira bahwa kita boleh terus melakukan dosa secara berulang-ulang dan semua pasti diampuni. Benar Tuhan selalu siap mengampuni, memutihkan dosa-dosa kita, tidak mengingat-ingat lagi, tapi itu bukan berarti bahwa kita boleh melakukan segala sesuatu seenaknya. Orang yang melakukan ini menunjukkan bahwa mereka belum mengenal Tuhan secara benar.

(bersambung)

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker