Saturday, June 25, 2016

An Open Letter of Christ (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 2 Korintus 3:3
======================
"Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia."

Dalam menjalankan profesi, saya setiap harinya berhubungan dengan banyak orang lewat surat elektronik alias email. Sebuah email bisa menghubungkan kita dengan siapapun di berbagai belahan dunia dengan cepat dan mudah. Klik send atau kirim, maka seketika itu juga surat itu sampai ke yang dituju. Bandingkan dengan surat via pos yang bisa makan waktu berhari-hari untuk bisa diterima oleh orang yang kita tuju. Saya masih sempat merasakan lamanya menanti balasan dengan surat via pos, dan sekarang menikmati betul adanya fasilitas email. Selain kedua bentuk surat ini menghubungkan kita dengan orang lain yang tinggal di tempat berbeda, satu hal yang sama dari keduanya menurut pengamatan saya adalah bahwa keduanya bisa menggambarkan sifat dari penulisnya. Orang yang ramah akan terlihat dari balasannya, orang yang terbiasa formil akan sangat formil dalam membalas. Orang yang suka bercerita emailnya bisa panjang, sebaliknya orang yang efektif emailnya singkat, padat dan jelas. Orang yang cermat biasanya membalas dengan meng-quote email kita sebelum membalas agar tidak ada yang terlewat, orang yang intim akan bercerita lebih jauh dari yang kita tanyakan. Orang yang emosian akan terasa dari caranya membalas surat atau email, orang yang sabar tentu berbeda gayanya. Ada banyak orang yang saya mulai kenal bukan secara langsung melainkan lewat korespondensi email, dan pada saat bertemu saya serasa sudah mengenal mereka dan tahu harus berkomunikasi seperti apa.

Sebuah surat bisa menunjukkan atau menggambarkan pribadi penulisnya. Dalam hal menjadi pengikut Kristus, sudahkah kita sadar bahwa kita pun sesungguhnya merupakan tulisan atau surat tersendiri akan Kristus? Bukan tulisan di atas kertas atau lewat mengetik di keyboard komputer/laptop/netbook/tablet dan gadget atau smart phone yang kita miliki melainkan dari cerminan kehidupan kita, menjadi surat Kristus bagi orang-orang di sekitar kita. Mereka seharusnya bisa mengenal Tuhan yang kita sembah lewat cara hidup kita ditengah masyarakat. Kalau cara hidup kita benar, maka kebenaran Tuhan akan terpancar disana. Tapi sebaliknya jika kita mengaku orang percaya tapi kehidupan kita buruk, maka orang pun akan mencemooh dan mendapat pengenalan yang keliru dari Kristus. Kita seharusnya sadar bahwa kita merupakan surat yang bukan sembarang surat tetapi menjadi surat Kristus yang bisa dibaca orang lain. Dengan kata lain, kita seharusnya bisa menjadi sebuah kesaksian tersendiri mencerminkan figur Kristus yang bisa dilihat oleh orang lain yang bertemu kita dengan jelas.We are an open letter of Christ to the world. 

Mari kita lihat ayatnya, yang ditulis oleh Paulus dalam surat yang ditujukan kepada jemaat Korintus. "Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia." (2 Korintus 3:3). Dikatakan bahwa kita ditulis bukan dengan tinta yang biasa dipakai orang untuk menulis melainkan langsung dengan Roh Allah. Bukan pada loh batu atau kertas tetapi langsung ke dalam hati kita. Jika kita jelek, maka jeleklah yang dibaca orang. Sebaliknya jika yang tertulis adalah gambaran Kristus yang benar, maka orang pun akan mampu melihat atau membaca siapa sebenarnya Kristus lewat apa yang tampil dari kita.

Kita perlu merenungkan dan memeriksa apa yang tertulis dalam hati kita hari ini. Seperti apa pribadi Kristus yang dibaca orang lewat diri kita? Agar suratnya tidak keliru, kita harus menjaga hati kita agar yang tercermin tidak bertentangan dengan pribadi Kristus yang telah ditulis oleh Roh Kudus secara langsung.

Menjaga hati menjadi sesuatu yang mutlak bagi kita. Firman Tuhan berkata: "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Ayat ini dengan tegas dan nyata menggambarkan bahwa apapun kehidupan yang terpancar dari diri kita hari ini, semua itu berasal dari hati. Dan apa yang tertulis dalam hati kita akan sangat menentukan apa yang dibaca orang lewat diri kita. Sebagai anak Tuhan kita telah dianugerahkan Roh Kudus, dan dalam hati kitalah Dia berdiam. "Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" (Galatia 4:6).

Sebagai surat Kristus, surat seperti apa yang kita tunjukkan lewat kehidupan kita saat ini? Apakah kita sudah mencerminkan pengenalan yang benar akan Kristus, atau kita bersikap munafik, mengaku sebagai pengikut Kristus tetapi terus menerus menunjukkan perilaku yang jelek? Apakah kita sudah memperkenalkan bagaimana Yesus yang sebenarnya atau malah kita membuat Yesus menjadi bahan ejekan dan tertawaan orang? Apakah orang menjadi tertarik untuk mengenal Kristus lebih jauh atau malah tambah anti pati? Kita harus menyadari bahwa orang bisa mengenal Yesus lewat diri pengikutNya. Ini adalah hal yang sangat penting untuk kita renungkan, karena orang akan terus mengamati siapa diri kita, dan seperti apa sebenarnya pribadi Yesus yang tertulis lewat kita.

(bersambung)

Friday, June 24, 2016

Mencerminkan Kristus (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Tuhan Yesus sendiri mengingatkan kita agar selalu siap menjadi terang dan garam. "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:13-16).

Garam hanya akan berfungsi jika bercampur dengan makanan. Dan jika garam sudah hambar, buat apalagi garam itu ada? Garam akan segera kehilangan fungsinya. Demikian pula dengan terang. Terang hanya akan berfungsi jika ditempatkan dalam gelap. Jika semuanya terang benderang, untuk apa lagi kita menambahkan terang? Posisi terang ada di atas/luar dalam posisi terbuka, dan hanya disanalah ia mampu menerangi kegelapan. Kalau diletakkan dibawah sebuah benda atau di dalam kotak, terang tidak akan berfungsi. Tuhan Yesus mengingatkan kita agar kita senantiasa mampu menjadi terang dan garam agar Tuhan bisa dipermuliakan.

Lebih jauh lagi, Yesus pun telah memerintahkan kita untuk saling mengasihi. Bukan hanya sekedar mengasihi orang lain seperti mengasihi diri kita sendiri saja, melainkan mengasihi orang lain seperti halnya Kristus sendiri telah mengasihi kita. "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Hal ini penting, karena "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (ay 35).

Dalam doa yang Dia tujukan kepada para murid, Yesus mengatakan sebagai berikut: "Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku." (Yohanes 17:20-21). DoaNya jelas. Yesus berdoa bukan cuma kepada murid-muridNya yang pada saat itu mengikutiNya, tapi juga kepada semua orang yang percaya kepadaNya, termasuk anda dan saya hari ini. Mendoakan agar kita bersatu sama seperti Bapa di dalam Kristus, dan Kristus di dalam Bapa. Buat apa? Supaya semua orang percaya bahwa Tuhanlah yang mengutus Kristus.

Sikap yang kita tunjukkan, keputusan-keputusan kita, perbuatan kita, cara pandang hidup kita, semua akan menentukan apakah orang akan percaya kepadaNya atau tidak, seperti apa pengenalan akan Kristus bagi orang lain. Benar atau salah pengenalannya, itu akan terlihat dari kita yang percaya kepadaNya. Apalagi di saat dunia terus mendahulukan perpecahan ketimbang persatuan, ketika dunia terus tercerai berai, kita seharusnya bisa menunjukkan sikap hati yang bersatu karena mengedepankan kasih. Kalau itu tidak bisa kita tunjukkan, tidak ada bedanya kita dengan orang-orang di bawah pengaruh dunia.

Tidak peduli apa pekerjaan, jabatan, status dan tempat kita saat ini, kita selalu dituntut untuk siap menjadi terang dan garam yang bisa mewakili gambaran Kristus di dunia saat ini. Bahkan orang yang dianggap bodoh bagi dunia sekalipun bisa Tuhan pakai. "Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat." (1 Korintus 1:27). Artinya, siapapun kita, semua orang percaya harus selalu siap menjadi duta Kristus dimanapun kita ditempatkan. Alangkah ironis jika Yesus yang mengasihi kita justru mendapat gambaran yang salah di dunia lewat perilaku kita. Yesus sendiri telah mengingatkan kita dan telah memberikan keteladanan yang luar biasa.

Kita harus terus berusaha untuk menjadi sosok yang penuh dengan kemuliaan Tuhan sehingga tidak diragukan oleh siapapun disekeliling kita. Dan sudah seharusnya demikian, karena kita sudah menjadi ciptaan baru, tidak lagi sama dengan dunia ini, yang dipenuhi Roh Kudus. Kita harus terus aktif menghidupi cahaya Tuhan dalam diri kita hingga orang asing di pinggir jalan sekalipun akan mampu melihat Yesus lewat diri kita. Siapkah anda menjadi duta Kristus yang memberi gambaran yang benar akan diriNya?

Siapa Yesus bisa tercermin dari sikap hidup kita, pastikan agar Tuhan senantiasa dipermuliakan di dalamnya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, June 23, 2016

Mencerminkan Kristus (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 4:13
============================
"Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus."

Dalam perjalanan karir saya di dunia musik, saya mengenal banyak musisi muda hebat berbakat yang ternyata mewarisi bakat orang tuanya. Yang terbaru, ada seorang gadis belia yang masih belasan tahun. Ia baru mulai memegang instrumen belum setahun, tapi ia sudah sangat piawai memainkan instrumen itu seperti pemain yang sudah aktif puluhan tahun. Selidik punya selidik, ternyata gadis ini adalah anak dari seorang pemusik senior yang keahliannya luar biasa. Sentuhannya begitu terasa di dalam bandnya selama puluhan tahun, sebuah grup legendaris yang masih eksis sampai hari ini. Gadis muda ini bercerita bahwa ia dilatih langsung oleh ayahnya tidak kurang dari 8 jam sehari. Itu keseriusan yang juga dilakukan ayahnya pada saat masih muda. Si ayah mengatakan bahwa benar anaknya serius berlatih, tetapi bakat yang ada pada si anak membuatnya cepat menangkap semua pengajaran ayahnya selama sekian bulan terakhir. Saat saya bercerita tentang gadis ini kepada teman-teman musisi lain, saat mereka tahu ia anak siapa, rata-rata bereaksi sama. "Oh pantesan..." Mereka belum mendengar usaha si gadis dalam berlatih, tapi cukup dengan mendengar siapa ayahnya mereka langsung maklum dan mengerti kenapa anak gadis ini bisa seperti itu.

Kalau ada anak yang bandel, banyak orang akan bereaksi menghubungkan si anak dengan orang tuanya. "Anak siapa sih itu, kok bandel banget?" Kalau orang tuanya orang baik-baik, reaksi yang muncul kemungkinan besar adalah keheranan: "kok bisa begitu ya.." Sedang kalau si anak memang berasal dari keluarga yang kacau, reaksi yang muncul biasanya seperti "oh, tidak heran kalau begitu" dan sejenisnya. The fruit doesn't fall far from the tree. Lke father, like son. Ada banyak musisi muda yang bermain dengan ayahnya, saling mengisi dengan padu. Mereka bisa tampil lebih karena mereka punya sesuatu yang tidak dipunyai pemain lain dalam band tersebut: sebuah hubungan darah dan pribadi yang terjalin bertahun-tahun, sejak mereka dilahirkan hingga mereka menjadi musisi matang hari ini.

Bagaimana dengan kita? Seperti apa orang mengenal kita? Apakah kita dikenal sebagai orang yang baik, ramah, damai, penuh kasih, rajin menolong sesama atau justru sebaliknya, kasar, sombong dan penuh kebencian? Apakah ketika kita hadir orang merasa senang atau sebaliknya kedatangan kita mengapus keceriaan di wajah dan hati mereka? Seperti contoh di atas, orang akan menghubungkan kita dengan dari mana kita berasal. Tapi ada yang lebih penting lagi yang harus kita perhatikan. Sebagai orang percaya pengikut Yesus, seperti apa citra kita di mata orang lain mau tidak mau akan mengarahkan orang untuk mengenal seperti apa Yesus itu. Dengan kata lain, orang bisa dan akan mengenal Yesus lewat pribadi kita.

Suatu kali Petrus dan Yohanes ditangkap ketika sedang mengajar oleh para imam kepala dan orang-orang Saduki karena rupanya merasa terganggu dengan kegiatan kedua rasul itu dalam mewartakan kabar gembira mengenai Kristus. Penangkapan itu ternyata tidak melemahkan mental Petrus dan Yohanes. Sangat menarik ketika Alkitab mencatat tanggapan orang-orang yang hadir dalam persidangan kala itu. "Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus." (Kisah Para Rasul 4:13).

Lihat seperti apa kedua rasul itu dikenal orang. Mereka dikenal bukan sebagai orang terpelajar, bukan seperti para imam dan orang Saduki yang elite, hafal kitab Taurat dan punya posisi tinggi di masyarakat, melainkan dikenal sebagai pengikut Kristus. Citra Kristus tergambar dari cara hidup, pikiran dan perkataan mereka. Yang terjadi selanjutnya adalah, keduanya dibebaskan karena memang tidak ada kesalahan apapun yang bisa didakwa dari mereka. (ay 21).

Disadari atau tidak, tingkah dan polah kita yang kita tunjukkan dalam bermasyarakat akan mengarah kepada pengenalan orang akan Kristus. Oleh karena itulah kita perlu menjaga perilaku kita agar orang jangan sampai salah mengenal siapa dan seperti apa pribadi Kristus itu sebenarnya.

(bersambung)

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker