Sunday, December 21, 2014

Sang Terang Dunia

webmaster | 9:06 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yohanes 8:12
=====================
"Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup."

Suatu kali saya hendak mengunjungi rumah teman yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal saya. Karena lumayan dekat saya pun memilih untuk berjalan kaki saja. Hari sudah gelap, sementara hujan baru saja reda. Akibatnya jalan yang berlubang-lubang banyak genangan air yang kalau tidak hati-hati bisa mengotori sepatu dan celana. Gelapnya malam membuat saya sulit menghindari bagian-bagian yang becek. Tapi dengan menggunakan lampu senter saya bisa melihat dengan jelas jalan yang saya lalui sehingga saya bisa menghindari 'ranjau-ranjau' becek hingga ke tujuan.

Segelap-gelapnya sebuah tempat, sedikit cahaya sudah mampu menutupinya. Tidak ada gelap yang bisa mengalahkan terang. Dan berjalan antara dalam gelap dan terang akan sangat berbeda.

Mari kita lihat apa yang terjadi di Betlehem lebih dari dua ribu tahun yang lalu, saat Yesus lahir di dalam palungan. Itu adalah sebuah malam yang teramat sangat bersejarah dan sangat penting artinya bagi kehidupan manusia sampai kapanpun selama eksistensi manusia di muka bumi ini masih ada. Itu adalah sebuah malam yang membawa terang. Kelahiran Kristus ke dunia akan mengalahkan kegelapan sampai kapanpun, sebuah malam dimana siapapun yang duduk dalam kegelapan akan melihat sebuah cahaya terang yang sempurna yang langsung berasal dari tahta Bapa di surga. Sebuah malam dimana Tuhan rela memberikan AnakNya turun ke dunia sebagai "Terang Dunia."

Kita semua tentu sadar akan gelapnya dunia ini dengan adanya dosa dan bagaimana kegelapan dari dunia ini bisa menyelubungi dan menelan kita. Semakin lama semakin terperosok ke dalam dan semuanya akan semakin gelap. Pada suatu ketika kita akan terbiasa dalam gelap dan bisa jadi terputus total dari terang. Tapi bersyukurlah bahwa kedatangan Kristus ke muka bumi ini sebagai Terang Dunia yang mampu membawa kita keluar dari kegelapan itu dan kemudian dibukakan kesempatan untuk berjalan dalam cahaya terangNya. "Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12). Seperti halnya terang yang akan segera mengalahkan gelap, begitu juga kehidupan kita. Tidak ada satu kegelapanpun yang mampu menguasai kita jika kita memiliki Kristus, Sang Terang Dunia dalam dalam diri kita.

Petrus mengingatkan kepada kita, para orang percaya bahwa sesungguhnya merupakan bangsa yang terpilih, imamat yang rajani alias the royal priesthood, dan kita semuanya sebenarnya sudah dipanggil keluar dari kegelapan untuk masuk ke dalam terangnya yang ajaib. Ayat itu berbunyi demikian: "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib." (1 Petrus 2:9). Seperti itulah hakekatnya diri kita. Seharusnya tidak ada gelap yang bisa menaungi kita. Sayangnya seringkali kita lupa bahwa sesungguhnya kita punya terang Kristus. Kita cenderung terbiasa dengan kegelapan dan mengabaikan hidup dalam dan dengan Terang Dunia. Atau kita tahu bahwa ada Terang bersama kita, tapi kita malah memasukkannya ke dalam kotak dan menutupnya sehingga Terang tersebut tidak bisa berfungsi menggantikan kegelapan.

Selain ayat bacaan hari ini, Yesus juga berkata "Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan." (Yohanes 12:46). Kita harus menyadari dan mensyukuri hal itu. Kita punya Tuhan yang luar biasa yang selalu siap untuk menarik kita keluar dari kegelapan untuk masuk ke dalam terangNya yang ajaib. Sebuah terang yang kapan saja bisa menyingkirkan gelap jika saja kita mengizinkan hal itu terjadi. Di saat seperti itulah kita akan bisa berkata seperti Daud, "Jika aku berkata: "Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam," maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang." (Mazmur 139:12).

Sebentar lagi kita akan memperingati datangnya Kristus ke dunia ini membawa terangNya yang ajaib. Terang itu siap terus menyinari kita, memindahkan kita dari kegelapan untuk berjalan dalam terang Tuhan. Sadarilah hal ini dan berhentilah untuk membiarkan kita terus terperangkap dalam gelap. Mulai saat ini, pastikan bahwa Terang Kristus senantiasa ada bersama kita, menyertai dan membimbing kita sepanjang waktu. Kiranya terang Kristus selalu bersinar dalam hidup kita.

Saat terang datang, tidak ada satupun kegelapan yang mampu mengalahkannya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, December 20, 2014

I'm Dreaming of a White Christmas

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 51:9
====================
"Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!"

"I'm dreaming of a white christmas, Just like the ones I used to know..." Anda tentu kenal dengan lirik awal dari sebuah lagu Natal ini. Lagunya berjudul "White Christmas" yang pertama kali hadir pada tahun 1942. Lagu ini mendeskripsikan suasana Natal di luar sana yang mendapatkan turunnya salju pada akhir tahun sehingga menimbulkan keindahan tersendiri. Butiran salju yang putih dan bunga-bunga salju yang menempel di kaca berkilauan diterpa cahaya lampu. Udara yang dingin bisa terasa hangat dengan keindahan dominasi warna putih seperti ini. Bagi kita yang tinggal di daerah tropis, tidak jarang kita mencoba meniru dengan menempelkan kapas pada pohon terang untuk menampilkan kesan salju. Baik berkaitan dengan suasana Natal di Eropa dan beberapa negara bagian Amerika, warna putih seringkali diidentikkan dengan sesuatu yang bersih dan suci.

Dengan segala godaan akan dosa yang diakibatkan oleh rupa-rupa keinginan daging, manusia menjadi tercemar. Jika diibaratkan warna, maka kita tidak lagi putih melainkan penuh dengan berbagai noda warna. Maka seperti lirik lagu di atas, kita pun sering memimpikan hidup yang putih terlebih menjelang hari kelahiran Kristus seperti sekarang. Mudah bagi kita untuk berpikir apakah kita bisa kembali putih setelah dipenuhi atau dicemari begitu banyak noda warna. Seandainya itu terjadi pada kain, pasti sudah sangat sulit sekali bahkan rasanya tidak mungkin bisa kembali putih seperti sediakala.

Akan hal ini mari kita lihat kisah Daud. Daud adalah orang sangat dekat dan mengenal hati Tuhan. Ia juga sudah mengalami begitu banyak kuasa penyertaan Tuhan yang mampu mengatasi kemustahilan. Meski demikian, ternyata Daud masih saja tetap jatuh pada jerat dosa yang terus semakin banyak nodanya. Pada suatu hari ia tergoda dan berzinah dengan Batsyeba yang merupakan istri dari prajuritnya sendiri, Uria. Ia bahkan berbohong dan kemudian membunuh Uria, suami sah dari Batsyeba. Daud berubah dari orang yang taat Tuhan menjadi orang yang dingin dan kejam. Ia tidak sadar akan perbuatannya yang dikuasai hawa nafsu. Ia dikuasai dosa. Ia penuh noda. Jelas apa yang Daud lakukan dianggap sebagai perbuatan jahat di mata Tuhan. (2 Samuel 11:27).

Tapi Tuhan tidak membiarkan Daud terus hancur dan semakin rusak. Maka Tuhan mengutus Nabi Natan untuk datang kepada Daud dan memperingatkannya. Dihadapkan pada pelanggaran-pelanggarannya,Daud tidak dapat berkelit untuk membela diri. Daud pun mengakui bahwa ia berdosa kepada Tuhan. Lalu berkatalah Daud kepada Natan: "Aku sudah berdosa kepada Tuhan." (2 Samuel 12:13a). Apa jawaban Natan? "Dan Natan berkata kepada Daud: "Tuhan telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati." (ay 13b). Meskipun tetap ada konsekuensi atas dosa yang telah Daud lakukan, tapi Tuhan memberi jaminan pengampunan kepadanya ketika ia menyadari dan mengakui kesalahannya.

Maka kemudian hadirlah tulisannya di Mazmur 51. Dalam Mazmur 51 Daud menuliskan rangkaian syair nyanyian yang sangat indah akan pengakuan dosa, pertobatan dan permohonan atas pengampunan Allah. "Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!" (Mazmur 51:9). Daud menyadari bahwa Tuhan mampu mentahirkan dirinya dan membasuhnya agar bersih dari dosa-dosa dan pelanggaran yang ia perbuat, dan menjadikannya kembali putih, bahkan lebih putih dari salju. Untuk memperoleh pengampunan dan kembali memutihkan dosa-dosa kita, kita harus membasuh diri kita dengan jalan mengakui dosa-dosa kita di hadapan Tuhan, segera bertobat dan memohon pengampunan turun atas diri kita. "Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku.." (Yesaya 1:17) Dan jika kita melakukan ini, firman Tuhan berkata demikian: "..Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba." (ay 18).

Hari Natal dimana kita memperingati kelahiran Yesus Kristus ke dunia akan kita rayakan beberapa hari lagi. Mari kita menguduskan diri, mengakui segala dosa kita, dan mintalah agar Tuhan mengampuni serta membersihkan hati kita. Dia akan selalu memberi pengampunan, bahkan memulihkan sukacita ketika kita berbalik dari jalan-jalan yang jahat dan kembali kepada jalanNya. Tuhan sanggup memutihkan dosa yang sangat merah sekalipun untuk menjadi seputih salju. Bukan salju asli yang penting dalam menyambut Natal, tapi kekudusan kita yang seputih salju lah yang penting. Mari minta pengampunan atas segala kesalahan yang kita lakukan, and let us have a white Christmas. 

Jadilah seputih salju untuk merayakan kelahiran Kristus

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, December 19, 2014

The Greatest Gift of All

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 2 Korintus 9:15
=======================
"Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!"

Ketika masih kecil saya selalu senang menjelang hari Natal karena itu artinya saya sebentar lagi akan mendapatkan hadiah dari Sinterklas yang biasanya sesuai dengan keinginan saya. Baru belakangan saya tahu bahwa yang namanya Sinterklas, datang mengendarai kereta dengan rusa terbang itu hanyalah dongeng. Kado sebenarnya berasal dari ibu saya yang membeli dengan berdasarkan daftar yang sebelumnya saya buat sendiri. Tidak heran kalau kadonya tepat seperti yang saya inginkan. Bagi yang sudah lebih dewasa biasanya merayakan dengan tukar menukar hadiah, makan malam bersama keluarga besar, ada yang berlibur ke tempat wisata dan sebagainya. Meski bagi sebagian orang yang bekerja libur Natal ini hanya dijatah sehari saja kecuali bisa mengambil cuti, hari Natal tetaplah merupakan momen membahagiakan apalagi datangnya menjelang tutup tahun.

Kalau saya tanya kepada anak-anak kecil yang bersekolah minggu, hari Natal sangat menyenangkan karena selain mereka libur, kebanyakan dari mereka dilimpahi hadiah dari orang tua, kakek-nenek atau om dan tantenya masing-masing. Anak kecil mana yang tidak senang dengan hadiah? Kita yang sudah dewasa saja masih senang saat menerima bingkisan. Itu tentu wajar. Tapi jangan lupa bahwa hadiah yang sebenarnya jauh lebih penting dan akan sangat menentukan seperti apa masa depan kita kelak. Natal adalah saat dimana kita memperingati kedatangan Kristus ke dunia sebagai wujud kasih Allah yang begitu besar kepada kita, seperti yang dinyatakan dalam Yohanes 3:16. That's the greatest gift of all from God to us all. There's no greater love than this. Sayangnya banyak dari kita yang malah lupa akan hal yang paling mendasar dari Natal ini lalu kemudian merayakannya hanya dengan pesta dan bertukar hadiah dalam bentuk fisik di dunia ini saja. Hadiah terbesar ini seharusnya bukan saja penting untuk kita renungkan terutama ketika di bulan Desember ini, tetapi alangkah baik pula jika kita menyampaikannya sebagai hadiah yang indah pula kepada anak-anak kita, keluarga terdekat, teman dan kerabat, bahkan apabila bisa menjangkau lebih banyak lagi orang diluar sana yang belum mengenalNya.

Apa yang dikatakan Paulus dalam ayat bacaan hari ini seharusnya bisa mengingatkan kita akan hal itu. Dalam suratnya kepada Jemaat Korintus ia menuliskan: "Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!" (2 Korintus 9:15). Yesus Kristus, itulah hadiah terindah dari Tuhan kepada kita sebagai sebuah anugerah yang tidak terkatakan besar dan indahnya. It's His indescribable, inexpressible, beyond telling Gift. Dikatakan anugerah karena itu diberikan Tuhan dan kita terima bukan atas hasil usaha atau jasa kita, tapi kita yang seharusnya tidak layak mendapatkannya tetap bisa memperolehnya. Itulah yang disebut dengan anugerah. Dan anugerah keselamatan yang diberikan Tuhan dengan mengorbankan AnakNya yang tunggal Yesus Kristus jelas merupakan anugerah terbesar yang pernah ada. Jangan sampai kita lupa untuk mensyukuri apa yang dikaruniakan Tuhan ini, karena tanpa itu kita tahu bahwa hidup yang kita jalani hanya akan berakhir sia-sia tanpa jaminan apapun.

Disamping membanjiri anak dengan hadiah Natal, akan sangat baik apabila kita bisa menanamkan pengertian ini kepada mereka sejak dini agar mereka mampu menjalani hidup dengan benar. Seperti apa mereka kelak itu tergantung dari seperti apa kita mengarahkan mereka. Firman Tuhan berkata "Seperti anak-anak panah di tangan  pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda." (Mazmur 127:4). Artinya, jika kita mendidik mereka sejak kecil mengenai kedisplinan, budi pekerti dan terutama pengenalan yang baik akan Yesus Kristus, maka merekapun akan tumbuh menjadi anak-anak yang takut akan Tuhan, yang suatu ketika akan membuat kita bahagia melihat kesuksesan mereka. Sebaliknya apabila kita mengabaikan dan membiarkan waktu terbuang tanpa menanamkan kebenaran sampai mereka keburu dewasa, maka pada suatu ketika kita akan menyesal.

Apabila teman-teman sudah berkeluarga dan dikaruniai anak, mengapa tidak memanfaatkan waktu-waktu liburan menjelang Natal ini untuk membekali mereka dengan pengenalan yang indah akan Yesus? Ceritakanlah tentang hidup yang kekal dalam Kristus Yesus sebagai karunia Allah yang terindah, yang melepaskan kita dari maut akibat dosa (Roma 6:23). Anda bisa menceritakan bahwa Allah memberi kuasa kepada siapapun yang menerimaNya untuk menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Dan ini termasuk mereka, anak-anak kita. Dan banyak lagi hal-hal yang bisa anda bagikan kepada mereka sebagai bukti kasih Allah. Ini saatnya untuk mengingatkan mereka akan betapa besarnya kasih Allah kepada mereka. Allah memberikan hadiahnya yang terindah dan terbesar, yang tidak terkatakan itu, menjanjikan mereka sebuah hidup yang berkemenangan dengan jaminan kehidupan kekal dalam Kristus.

Berbagai kado boleh saja terasa menyenangkan dalam merayakan hari Natal Tetapi jangan lupakan untuk memberikan hadiah yang akan mampu menyertai hidup kita untuk selamanya, terlebih kepada anak-anak kita yang akan sanggup membekali mereka untuk menjadi pribadi-pribadi yang takut akan Tuhan kelak di kemudian hari. Jika tidak sekarang, kapan lagi? Bulan Desember adalah bulan yang hendaknya kita pakai untuk memperbaharui komitmen dan kasih kita kepada Tuhan disertai rasa syukur, menyadari dengan sebenar-benarnya akan kasih Kristus sebagai karunia terbesar Allah yang memberi keselamatan, dan jangan lupa pula untuk membagikannya kepada anak-anak kita. God has given us the greatest Gift of all, now it's time for us to hand that Gift to our children.

Hadiah terindah Tuhan adalah keselamatan dalam Yesus Kristus

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, December 18, 2014

Lalang Ditengah Gandum

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 13:29-30
======================
"Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku."

Sudah beberapa tahun taman saya dibelakang rumah ditanami rumput. Saya sudah memilih rumput yang tidak terlalu mahal tapi tumbuhnya menjalar ke samping, bukan ke atas supaya saya tidak perlu terlalu repot memangkasnya. Tapi meski demikian, selalu saja ada rumput dan tanaman liar yang tumbuh bersama-sama dengan rumput itu. Ada yang berbentuk clover bergerombol merayap diantara rerumputan, ada yang panjang-panjang dengan akar serabut yang susah dicabut, ada juga yang sporadis terselip di sana-sini. Kalau saya tidak mencabutnya, tanaman-tanaman liar ini bisa menghambat pertumbuhan dan penyebaran rumput. Mereka menyerap nutrisi-nutrisi dari rumput untuk tetap tumbuh baik. Bahkan kalau saya sedang sangat sibuk dan tidak sempat merawatnya, tanaman liar ini bisa menguasai tempat tumbuhnya rumput. Kalau dibersihkan, tanahnya gundul sehingga saya harus menambalnya dengan rumput baru lagi. Jika anda menanam padi atau gandum, maka lalang pun akan tumbuh disana, berdampingan di tempat yang sama. Jika anda melihat secara sepintas maka anda akan melihat seolah semuanya sama saja. Tetapi jelas keduanya berbeda. Padi dan gandum itu berguna dan berharga, sementara lalang hanya akan dicabut dan dibuang atau dibakar.

Dalam menyampaikan pengajaran tentang prinsip kebenaran Kerajaan Allah Yesus sering mempergunakan perumpamaan-perumpamaan sebagai ilustrasi agar lebih mudah dimengerti. Salah satunya mengambil contoh mengenai gandum dan lalang ini. "Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya." (Matius 13:24). Yang ditabur adalah benih gandum yang baik. Itulah yang berasal dari Kerajaan Surga. Selanjutnya ini yang terjadi. "Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi." (ay 25). Jika diantara gandum itu kemudian terdapat lalang, siapa yang menabur? Alkitab mengatakan musuh, dan itu bukan berbicara mengenai orang, melainkan iblis. Iblis akan terus berusaha menabur lalang ditengah-tengah gandum. Perhatikan bahwa kedua tanaman ini tumbuh di tempat yang sama dan kelihatannya cukup sulit untuk dipilah.

Perumpamaan ini berbicara tentang orang benar dan orang fasik yang dibiarkan hidup berdampingan. Di saat gandum itu mulai berbulir, lalang pun mulai kelihatan juga (ay 26). Keduanya jelas mempunyai karakteristik berbeda tapi tumbuh berbarengan di tempat yang sama. Dalam bahasa Inggris gandum dan ilalang pun hampir sama namanya, Wheat dan Weeds. Lalu apa yang harus dilakukan terhadap lalang? Logikanya tentu dicabut. Tapi ternyata Yesus berkata: "Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu." (ay 29). Yang dikatakan Yesus selanjutnya adalah seperti ini: "Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku." (ay 30). Gandum dikumpul dan dimasukkan ke lumbung, sedangkan lalang diikat dan dibakar.

Kita kelihatannya tidak bisa meminta Tuhan agar mengangkat "lalang", sebab Tuhan memang mengizinkan lalang itu tumbuh bersama dengan kita. Suka tidak suka kita selalu akan ada benih-benih iblis yang tertabur di sekitar kita lewat berbagai bentuk. Lalu bagaimana? Yang penting adalah menjaga status kita tetap sebagai "gandum" meskipun ada ribuan lalang disekeliling kita. Bisa jadi lalang yang tumbuh lebih banyak dan lebih subur dibandingkan gandum, tetapi itu bukan masalah selama kita menyadari bahwa kita sesungguhnya berasal dari benih Kerajaan Sorga dan bukan dari si jahat. Perbuatan-perbuatan kita sebagai "gandum" haruslah tetap berguna seperti terang dan garam dan memuliakan Bapa di dalamnya. Tentu perbuatan kita itu akan mendapat reaksi dari kelompok ilalang. Petrus pun menyadari hal itu dan berkata "Sebab itu mereka heran, bahwa kamu tidak turut mencemplungkan diri bersama-sama mereka di dalam kubangan ketidaksenonohan yang sama, dan mereka memfitnah kamu." (1 Petrus 4:4). Sulit, itu pasti. Tetapi semua kesulitan itu memang harus kita lalui. Kita memang dibiarkan tumbuh bersama dengan lalang, tetapi perhatikanlah bahwa pada akhirnya nanti kita akan selamat ketika kita dimintai pertanggung jawaban. "Tetapi mereka harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati." (ay 5).

Ingatlah bahwa anda memiliki karakteristik sebagai gandum, bukan lalang. Gandum akan dikumpulkan ke dalam lumbung Tuhan, bahkan lebih tegas lagi lewat Filipi 3:20 kita sudah diingatkan bahwa kewargaan kita adalah di dalam surga. Jangan sampai kita berubah karakter, bukan lagi sebagai gandum tetapi malah berubah menjadi ilalang. Jika itu yang terjadi, kita tidak akan pernah sampai ke dalam lumbung Tuhan nantinya. Lalang akan diikat untuk dibakar. Pada panen besar di akhir zaman pun hal ini kembali dinyatakan. "Dan Ia, yang duduk di atas awan itu, mengayunkan sabit-Nya ke atas bumi, dan bumipun dituailah." (Wahyu 14:16). Semua tuaian jelek akan berakhir ke dalam kilangan murka Allah, dimana dari kilangan itu akan mengalir darah. (ay 19-20). Peringatan yang sangat keras dan mengerikan. Kalau kita melakukan perbuatan-perbuatan seperti halnya ilalang, berarti kita menjerumuskan diri kita sendiri ke dalam kematian kekal.

Sekarang memang kita diijinkan untuk tumbuh bersama-sama. Lalang bisa jadi lebih subur, tetapi satu saat nanti pasti akan terjadi pemisahan antara gandum dan ilalang. Gandum akan masuk ke dalam lumbung Tuhan, sedangkan ilalang akan dibakar habis. Seringkali kita berada di tengah orang-orang yang mungkin setiap kali bertemu kita akan mengejek kita yang tidak mau ikut-ikutan berbuat dosa. Atau kalau tidak separah itu, kita tetap bertemu dengan orang-orang yang menggiring kita untuk berbuat dosa. Jika atasan kita menerima suap misalnya, kita pun diminta untuk ikut arus, setidaknya tidak sok jujur dan melaporkannya atau kita harus siap-siap kehilangan pekerjaan. Ketika teman-teman kita berbuat dosa, kita akan dibilang sok suci dan dikucilkan apabila kita tidak mengikuti mereka. Ini baru dua contoh dari ribuan kasus yang kita hadapi setiap hari. Menjaga hidup tetap kudus itu tidak pernah mudah. Tetapi meski sulit, pilihan tetap ada pada diri kita. Jika sekarang itu terlihat sebagai sebuah pengorbanan besar, tetaplah lakukan, karena sebuah perbedaan perlakuan secara nyata akan hadir kelak pada waktunya. Sebelum hal itu sampai, mari pastikan benar-benar bahwa kita tetap memiliki karakter gandum hingga masa tuai itu tiba.

Lalang akan tetap tumbuh bersama dengan gandum, tetapi keduanya akan berakhir di tempat yang berbeda

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, December 17, 2014

Memeriksa Diri Sendiri

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 2 Korintus 13:5
======================
"Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji."

Ada seorang teman yang menyukai otomotif. Ia mengerti seluk beluk mobil dan motor secara umum dan sangat rajin memelihara kondisi kendaraan yang ia miliki. Menurutnya sebenarnya hal itu sederhana saja. Yang paling penting adalah menjaga kondisi mesin, memastikan apakah oli, minyak rem, air masih cukup atau sudah harus ditambah, apakah selang-selang tidak ada yang bocor, busi, cakram semuanya masih berfungsi baik dan lain-lain. Kendaraan yang mulai mengalami gangguan biasanya akan memunculkan gejala-gejala tertentu yang akan segera kita ketahui. Kalau gejala gangguan mulai muncul, segera bawa ke bengkel. Dengan membiarkan masalah berlarut-larut akan membuat kerusakan semakin parah, akibatnya nanti biaya yang dikeluarkan bisa jauh lebih besar.

Seperti kendaraan, tubuh kita pun sama. Untuk memastikan bahwa dirinya tetap dalam keadaan baik, ada banyak orang melakukan check up rutin. Kalau ada penyakit-penyakit serius atau yang nantinya bisa membawa resiko bagi kesehatan kita, tentu akan lebih baik apabila terdeteksi sejak dini sebelum terlambat. Itu baik dilakukan jika mampu. Tapi yang tidak kalah penting adalah keseriusan kita dalam menjaga kesehatan sendiri. Ada banyak orang yang hidup sesukanya dan baru panik saat kesehatannya terganggu akibat kebiasaan-kebiasaan buruknya, baik dari makanan, minuman dan hal-hal lain yang dimasukkan ke dalam tubuh, jam istirahat, gaya hidup dan sebagainya. Kita harus rajin memeriksa diri dan segera menindaklanjuti secara serius apabila ada hal-hal yang terasa kurang baik. Tubuh biasanya akan memberi tanda apabila ada yang salah atau terganggu, dan jika itu mulai kita rasakan, respon segera agar tidak keburu menjadi berat dan sulit untuk ditangani.

Dalam hal keimanan hal yang sama juga berlaku. Mari kita lihat apa yang dianjurkan oleh Paulus kepada jemaat di Korintus. Paulus berkata seperti ini: "Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji." (2 Korintus 13:5). Paulus mengingatkan kita akan pentingnya memeriksa atau menguji diri sendiri, apakah kita masih berjalan sesuai Firman Tuhan, dalam kebenaran dan apakah Yesus masih tinggal dalam diri kita atau tidak. Ini adalah hal penting, karena kalau tidak maka kita akan rapuh dan mudah terganggu oleh permasalahan hidup dan mudah pula tercemar oleh dosa. Sedikit saja masalah muncul maka kita akan limbung bagai petinju yang goyah hanya dengan pukulan biasa. Daya tahan kita lemah dan kita rentan terhadap berbagai macam godaan. Intinya, kita tidak akan tahan uji atas berbagai serangan dan godaan apabila kita tidak rajin memeriksa atau menguji diri akan kondisi keimanan kita secara teratur.

Bayangkan bagaimana rawannya kelangsungan hidup kita jika kita tidak pernah memeriksa kesehatan kita, tidak pernah berolahraga tapi terus membiarkan hal-hal yang merusak kesehatan kita silih berganti masuk menghancurkan diri kita. Apalagi jika kita mengacu kepada kondisi rohani kita. Bayangkan ada berapa banyak bahaya yang tidak tersaring apabila kita tidak pernah memperhatikan dengan seksama segala sesuatu yang masuk ke dalam diri kita. Ketika kita berani menguji atau memeriksa diri sendiri kita akan bisa melihat dimana dan bagaimana tingkat keimanan kita saat ini. Itu artinya kita berani melihat segala sesuatu dari diri kita, yang baik maupun yang buruk. Itu artinya kita berani melihat kelemahan kita sendiri. Dengan mengetahui kelemahan kita, disitulah kita akan dapat mengambil langkah untuk melakukan perbaikan. Dan hasilnya jelas, kita akan lebih kuat, lebih tahan uji dibandingkan orang yang tidak pernah peduli terhadap kebugaran rohaninya sendiri.

Daud paham betul akan pentingnya memeriksa diri sendiri. Lihat bagaimana ia berani meminta Tuhan untuk menguji dan memeriksa dirinya. "Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku." (Mazmur 26:2). Dalam kesempatan lain ia berkata "Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!" (139:23-24). Kalau ia berani meminta Tuhan memeriksa dan mengujinya, tentu ia sudah rajin melakukan itu dan meminta Tuhan memastikan apakah semuanya sudah sesuai dengan keinginan Tuhan atau belum. Ada banyak ancaman dan godaan dalam hidup yang cepat atau lambat bisa membuat kita jatuh. Daya tahan kita terhadap berbagai serangan ini akan sangat tergantung dari sejauh mana tingkat keimanan kita. Apakah Yesus masih tinggal berdiam dalam diri kita atau kita sudah tidak lagi punya tempat bagi Dia karena ada banyak hal-hal dan keinginan lain yang menduduki semua ruang di hati kita, itu akan sangat menentukan bagaimana reaksi kita dalam menghadapi setiap gangguan dalam menjalani hidup, dan akan sangat menentukan hasil akhirnya juga. Oleh karena itu tetaplah rajin mengecek atau memeriksa, menguji diri sendiri secara rutin. Akan jauh lebih mudah memperbaikinya selagi masih ringan sebelum kerusakan semakin bertambah parah dan sudah terlanjur sulit untuk diperbaiki. Mari layakkan diri kita dalam menyambut kelahiran Yesus Kristus yang akan datang beberapa hari lagi.

Rajin memeriksa kerohanian akan sangat menentukan sekuat apa daya tahan kita dalam menghadapi cobaan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, December 16, 2014

Jangan Halangi Anak-Anak untuk Datang Kepada Yesus (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Keluguan anak-anak kecil yang polos, jujur dan bisa percaya sepenuhnya ini akan selalu rawan dari serangan si jahat. Iblis dan antek-anteknya tidak akan suka melihat ada anak-anak yang tumbuh menjadi terang, bersinar sejak di usia kecilnya. Itulah sebabnya sebagai orang tua kita harus sadar akan pentingnya menanamkan Firman Tuhan dan pengenalan yang baik akan pribadi Allah lewat Yesus. Orang tua harus mampu menjadi sumber bagi mereka untuk mengenal Yesus. Itu bukan hanya tugas guru sekolah minggu saja tetapi para orang tua hendaklah berperan aktif dan nyata untuk membimbing anak-anaknya. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk itu, misalnya dengan mengambil cerita-cerita yang mencerminkan kebenaran sebelum mereka tidur, melibatkan mereka dalam membangun mesbah Tuhan dan bersama-sama memuliakan Tuhan, membiasakan mereka rajin berdoa dan sebagainya. Selain itu, apakah kita masih merasa terpaksa untuk mengantarkan mereka untuk mengenal Kristus? Semua ini penting untuk kita pikirkan agar kita tidak menyesal di kemudian hari.

Jika pada saat itu Tuhan Yesus melarang siapapun untuk menghalang-halangi anak-anak itu datang kepadaNya, hari ini pun sama. Bahkan saya yakin seandainya Tuhan Yesus ada bersama kita saat ini, Dia akan menganjurkan itu lebih dari sebelumnya. Dunia tempat kita menetap dan ingkungan sekitar dalam segala aspek kehidupan bisa setiap saat memberi pengaruh negatif dan merusak masa depan mereka.

Anak-anak kecil seharusnya disambut dan bukan dilarang untuk datang kepada Yesus. Lihat apa kata Yesus berikut ini. "Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku." (Markus 9:36-37).

Mungkin kita bukan secara sengaja menghambat atau menghalangi mereka untuk datang kepadaNya, tetapi kita harus waspada agar jangan sampai tanpa sadar kita malah menjadi tersangka utama yang menghalangi anak-anak kita sendiri untuk datang kepada Yesus. Teguran Yesus kepada orang-orang yang berbuat seperti ini sesungguhnya sangatlah keras. "Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut." (Markus 9:42).

Anak-anak sesungguhnya adalah titipan atau anugerah dari Tuhan yang harus kita pertanggungjawabkan dan urus dengan sebaik mungkin. Oleh karena itu urusan parenting atau mengasuh/membesarkan/mendidik anak bukanlah hal yang bisa sambil lalu saja atau tidak mendapat prioritas utama dibanding urusan lain seperti mencari uang dan sebagainya. Membekali mereka dengan pendidikan formal tentu baik, tetapi jangan lupa untuk membawa mereka mengenal Yesus sejak masa kecil mereka. Baik lewat kepedulian anda mengantarkan mereka ke sekolah minggu, menerangkan secara langsung di rumah dan yang lebih penting lagi lewat keteladanan anda sendiri yang sesuai dengan kebenaran Firman yang anda tanamkan, semua itu akan sangat menentukan siapa mereka kelak di kemudian hari. Yesus membuka tanganNya lebar-lebar dan menyambut kedatangan anak-anak kecil dengan penuh kasih. Jangan sampai kita yang malah menghalangi dan kemudian harus menerima akibatnya.  Anak-anak kita butuh Yesus, sama seperti kita juga. Dan Yesus mengasihi mereka sama seperti Dia mengasihi kita.

Bawa anak-anak kita kepada Yesus sejak dini agar mereka bisa bertumbuh sesuai kebenaran Firman

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, December 15, 2014

Jangan Halangi Anak-Anak untuk Datang Kepada Yesus (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 19:14
======================
"Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga."

Seorang guru sekolah minggu pada suatu hari bercerita tentang beberapa anak didiknya yang belakangan sering tidak hadir. Ketika ditanya, anak-anak yang lugu itu mengatakan bahwa bukan mereka yang malas tetapi ternyata itu karena ayahnya malas ke gereja. "Papa malas bangun pagi karena nonton bola subuh-subuh kak.. jadinya saya juga tidak bisa datang." Demikian kata salah seorang dari anak-anak itu kepadanya. Bangun pagi di hari libur bisa jadi terasa berat bagi sebagian orang, apalagi yang menghabiskan akhir pekan dengan bergadang karena beberapa alasan, seperti menonton bola misalnya. Kalau sang ayah yang sudah dewasa saja menomorduakan mendapat asupan Firman Tuhan dan beribadah bersama saudara-saudari seiman, apalagi kalau dia harus bangun pagi hanya karena anaknya mau sekolah minggu.

Masalahnya, banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa anak-anak ini pun penting untuk mengenal Yesus sejak usia kecil, terlebih di jaman sekarang dimana pengrusakan moral lewat berbagai media sudah menyentuh anak-anak kecil baik yang terang-terangan maupun yang tidak kasat mata. Tanpa sadar anak-anak kita menjadi target sasaran penyerangan si jahat, dan itu mudah kita pahami karena anak-anak kecil akan jauh lebih mudah dihancurkan, diracun dan diserang ketimbang orang dewasa yang cara berpikirnya sudah lebih baik. Apa jadinya kalau kita lengah, mengira bahwa mereka masih terlalu kecil untuk 'dicekoki' Firman Tuhan tapi lantas dari sisi lain membiarkan iblis dan antek-anteknya di dunia meracuni mereka dengan rupa-rupa strategi? Berbagai tayangan dan lagu yang tanpa sadar kita biarkan untuk mereka tonton dan dengar, cara-cara berpikir dunia yang semakin jauh dari kebenaran cepat atau lambat akan membuat anak-anak yang masih polos dan lugu terkontaminasi dengan hal-hal yang berpotensi besar merusak masa depan mereka. Para orang tua, dengarlah, anak-anak anda butuh bimbingan, dan mereka pun perlu untuk dikenalkan kepada Yesus sejak dini.

Bagaimana sebenarnya Tuhan Yesus memandang hal ini? Kita bisa melihat reaksinya saat ada orang-orang yang membawa anak-anak mereka datang kepadaNya untuk diberkati, yaitu dalam Injil Matius pasal 19. Beberapa orang tua yang melihat kehadiran Yesus ingin anak-anak mereka diberkati. Karenanya mereka pun datang menghampiri Yesus. Pada saat itu murid-murid Yesus bukannya mengakomodasikan keinginan para orang tua, mereka justru bertindak bak "bodyguard" dan memarahi para orang tua tersebut. "Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu."(Matius 19:13). Lihatlah bagaimana reaksi Yesus akan hal ini. "Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga."(ay 14).

Para murid mengira bahwa Yesus itu seperti seorang selebritis yang ingin ketenangan, tidak suka dengan hiruk pikuk dan keonaran yang mungkin muncul dengan hadirnya anak-anak. Saya mendengar ada beberapa gereja yang melarang anak-anak untuk masuk ke dalam ibadah karena dianggap mengganggu konsentrasi jemaatnya. Tapi ternyata Yesus memiliki pandangan berbeda. Bukan saja menyambut, tapi Dia bahkan mengatakan bahwa anak-anak itulah yang sebenarnya empunya Kerajaan Surga. Karenanya mereka tidak boleh dilarang untuk datang menghampiri Yesus.

Apa hal menarik yang bisa dipelajari oleh kita yang sudah dewasa dari anak-anak kecil ini? Mengapa mereka justru mendapat perhatian istimewa dari Yesus? Anak-anak kecil yang masih umumnya polos dan lugu, jujur dan sederhana pikirannya. Mereka belum terkontaminasi dengan logika-logika manusia, setidaknya belum separah kita yang sudah lebih lama hidup di dunia. Anak kecil tidak khawatir apabila mereka ada dekat orang tuanya, mereka akan merasa aman dan percaya penuh pada orang tuanya, dan menuruti orang tuanya tanpa banyak tanya. Yesus mengatakan bahwa seharusnya kita pun seperti itu dalam menyambut Kerajaan Allah. Dia mengingatkan kita untuk belajar dari anak-anak kecil ini. "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."(Lukas 18:17).

Kembali kepada Matius pasal 19, sesudah Yesus menegur murid-muridNya, Dia pun meletakkan tangan-Nya di atas kepala anak-anak itu dan memberkati mereka. (Matius 19:15). Yesus mengasihi anak-anak kecil, bahkan memandang mereka secara istimewa, dan mengingatkan kita untuk memandang Kerajaan Allah dengan mata anak kecil, through the eyes of a child. Hidup kita yang sudah dewasa ini sudah terkontaminasi dengan begitu banyak hal, sehingga kita menjadi sulit untuk mengerti kehendak Tuhan dan percaya sepenuhnya pada Tuhan. Terlalu sering kita memaksakan logika-logika kita sendiri, sehingga sadar atau tidak kita justru menutup pintu dari berkat-berkat yang disediakan Tuhan bagi kita bahkan pada akhirnya menutup sendiri pintu keselamatan yang sudah Dia anugerahkan kepada kita.

(bersambung)

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker