Sunday, July 5, 2015

Ayah Pemarah (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Firman Tuhan yang saya angkat menjadi ayat bacaan hari ini memperingatkan para ayah agar jangan melupakan tugas mereka terhadap anak-anaknya dengan cukup keras. "Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." (Efesus 6:4). Dalam bahasa Inggris (Amplified) bunyi ayat ini adalah seperti berikut: "Fathers, do not irritate and provoke your children to anger [do not exasperate them to resentment], but rear them [tenderly] in the training and discipline and the counsel and admonition of the Lord." Wahai para ayah, berhentilah memprovokasi anak-anak dengan sikap yang keras dan kasar. Tetapi didik dan disiplinkan mereka dengan pengenalan akan Tuhan. Para ayah, jangan keliru mempergunakan otoritas anda. Jangan membuat anak-anak menjadi malas bertemu dengan anda. Jangan sampai mendengar suara mobil anda saja mereka sudah menggigil ketakutan dan berlari masuk ke kamar. Jangan sampai mereka langsung ciut dan rusak moodnya saat melihat anda datang, memandang anda bagai aura gelap yang memadamkan cahaya bahagia di rumah.

Apa yang seharusnya dilakukan para ayah? Kembali kepada ayat bacaan kita hari ini, disana dikatakan seorang ayah seharusnya memperlakukan anaknya dengan lembut, sedemikian rupa sehingga anda bisa mendidik mereka baik dalam hal etika, sopan santun, disiplin dan terlebih dalam pengenalan akan Tuhan. Itu yang seharusnya menjadi tugas ayah. Tidak peduli seberat apapun kita bekerja untuk mencari nafkah di luar sana, masih ada tugas-tugas kita sebagai suami dan ayah yang harus dijalankan dengan benar dalam keluarga.

Dalam surat lainnya kita kembali menemukan peringatan untuk ayah, yaitu dalam Kolose. Disana dikatakan: "Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya." (Kolose 3:21). Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "Fathers, do not provoke or irritate or fret your children [do not be hard on them or harass them], lest they become discouraged and sullen and morose and feel inferior and frustrated. [Do not break their spirit.]". Kali ini Paulus menyinggung soal tawar hati yang bisa dimiliki oleh anak-anak melalui figur ayah yang tidak dijalankan dengan baik atau otoritas yang diartikan secara keliru. Tawar hati ketika dijabarkan sesuai versi Inggrisnya menjadi kehilangan kepercayaan diri, murung, pahit, rendah diri, patah semangat bahkan frustasi. Berawal dari berbagai perasaan negatif ini mereka bisa timbul menjadi pribadi-pribadi yang bermasalah. Tentu tidak ada satupun orang tua yang ingin hal ini terjadi bukan? Oleh karena itu, kita sebagai para ayah baik yang sudah memiliki anak atau yang kelak menjadi ayah harus memperhatikan hal ini.

Anak-anak butuh dikenalkan kepada firman Tuhan sejak dini. Hanya menyerahkan kepada para guru sekolah minggu atau pendidikan formal tidaklah cukup, sebab firman Tuhan secara jelas menyatakan sebagai orang tua "haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." (Ulangan 6:7). Lebih daripada itu orang tua pun harus pula menjadi teladan terhadap ketaatan akan firman Tuhan yang kita ajarkan. (ay 9-10). Anak-anak akan selalu mencontoh bagaimana sikap orang tuanya, oleh karena itulah kita juga harus benar-benar memperhatikan cara hidup kita disamping mengajarkannya berulang-ulang kepada mereka.

(bersambung)


Saturday, July 4, 2015

Ayah Pemarah (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Efesus 6:4
=================
"Fathers, do not irritate and provoke your children to anger [do not exasperate them to resentment], but rear them [tenderly] in the training and discipline and the counsel and admonition of the Lord."

Saya masih ingin mendasarkan renungan hari ini pada film "The Angriest Man in Brooklyn". Kali ini saya akan lebih fokus kepada salah satu hubungan yang ingin diperbaiki oleh sang tokoh utama, yaitu antara dia dan anaknya. Ia sempat marah besar terhadap sang anak karena menolak untuk melanjutkan firma milik ayahnya dan lebih memilih untuk menekuni karir sebagai penari profesional. Si ayah memaksakan kehendaknya dan mengamuk habis-habisan. Ia kemudian mengusir anaknya dan membuang semua kartu nama yang sudah ia bikin ke jalan dari jendela atas. Ketika ia menyadari bahwa umurnya tinggal sebentar lagi, ia pun berusaha keras untuk memperbaiki hubungan. Sebuah adegan pemulihan yang digambarkan lewat adegan ayah yang berdansa dengan anaknya sangat mengharukan. Si anak memaafkan anaknya dan kembali merajut hubungan yang erat seperti saat ia masih kecil dengan ayahnya dan berada di sisi sang ayah hingga ajal menjemput.

Ada banyak hubungan antara ayah dan anak yang rusak di dalam keluarga. Ada yang beruntung masih sempat dipulihkan seperti kisah film tadi, tapi tidak sedikit pula yang terlambat atau sama sekali tidak pernah pulih. Benar, ada kalanya anak-anak bersikap buruk, bandel dan melawan sehingga hukuman memang kerap harus diberikan. Tetapi seringkali seorang ayah menjalani otoritasnya terlalu berlebihan. Para ayah ini bersikap terlalu keras dan kasar terhadap anaknya. Dengan alasan agar anak tidak menjadi besar kepala, mereka tidak mau memuji setiap perbuatan atau pencapaian baik dari si anak, tetapi akan marah habis-habisan kalau anaknya gagal menampilkan performa terbaik mereka. Gampang protes, mudah marah, tapi sulit memuji. Dan itu seringkali melukai hubungan antara ayah dan anak yang seharusnya bisa membuat si anak tumbuh menjadi lebih bijaksana dan tidak mengalami kerusakan gambar diri.

Seorang pendeta bercerita dalam konseling-konseling yang ia lakukan ia menemukan sebuah kesimpulan bahwa rata-rata dari mereka yang bermasalah ternyata berawal dari kehilangan figur ayah dalam hidup mereka. Itulah akar permasalahan yang paling sering ia temukan. Akarnya satu, yaitu kehilangan figur ayah, namun outputnya bisa timbul dalam bentuk masalah yang berbeda-beda. Ada yang bermasalah dengan kepribadian seperti menjadi tertutup, suka menyendiri atau menjadi orang yang selalu haus perhatian, mencari kebahagiaan lewat obat-obatan terlarang, terlibat pergaulan yang salah bahkan ada pula yang terjebak dalam seks bebas karena mereka selalu haus akan kasih sayang. Ada yang kemudian menjadi orang yang bersifat kejam dan banyak lagi bentuk-bentuk deviasi atau penyimpangan yang kemudian terbentuk pada diri seseorang bermula dari ketidakadaan figur seorang ayah dalam masa lalu mereka.

Banyak ayah yang dengan mudah menyerahkan tanggung jawab mengurus anak kepada ibu. Mereka mengira bahwa sebagai kepala rumah tangga tanggung jawab mereka hanya satu, yaitu cari uang. Mereka lupa peran sebagai suami dan ayah di rumah. Mengapa tidak, saya kan bekerja dari pagi sampai malam, sementara istri hanya diam di rumah? Wajar dong kalau saya tidak lagi punya waktu dan berminat untuk mengurusi perihal anak. Itu alasan yang sudah sangat umum dikemukakan oleh banyak ayah. Yang lebih memprihatinkan, ada banyak pula diantara para ibu yang juga melemparkan tanggung jawab ini kepada orang lain, baby sitter atau pembantu misalnya, karena mereka tidak mau repot. Jika hilang figur ayah saja sudah berat, apalagi hilang dua-duanya. Hal seperti ini jelas akan mengganggu pertumbuhan kepribadian mereka yang dapat berakibat fatal bagi masa depan anak-anak.

Mari kita kembali fokus kepada figur ayah, Alkitab berulang kali menyatakan betapa pentingnya bagi seorang ayah untuk berperan aktif secara langsung dalam pertumbuhan anaknya sejak kecil hingga beranjak dewasa. Meski peran ibu teramat sangat penting, figur ayah pun tidaklah kalah pentingnya. Anda bisa lihat bagaimana perilaku banyak anak yang tumbuh dibesarkan hanya oleh ibu tanpa ada figur ayah. Bagaimana jika kita sebagai ayah sudah terlalu capai bekerja? Itu tidak cukup sebagai alasan, karena biar bagaimanapun kita masih harus bertanggung jawab terhadap masa depan anak-anak yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Bayangkan jika kita menjadi ayah-ayah yang kaku, kasar, tidak mau tahu terhadap mereka, terlalu keras bahkan ringan tangan, apa akibatnya nanti masa depan mereka?

(bersambung)


Friday, July 3, 2015

(Don't Be) The Angriest Man (3)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kembali kepada perihal marah, Paulus mengingatkan kita juga akan hal ini. "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis." (Efesus 4:26-27). Marah boleh-boleh saja, tapi ingatlah bahwa dalam amarah kita jangan sampai berbuat dosa. Kemarahan bisa menjadi sebuah sarana iblis untuk menghancurkan kita. Jangan sampai marah kita berlarut-larut terlalu lama, karena itu bisa dimanfaatkan iblis. Yakobus mengingatkan agar kita "lambat untuk marah." (Yakobus 1:19). Untuk hal ini, Yakobus punya alasan yang menarik. Perhatikan ayat berikutnya: "sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah." (ay 20). Orang yang sedang dilanda kemarahan meluap-luap tidak akan dapat melakukan hal yang baik, yang berkenan di hadapan Allah.

Hampir setiap hari kita melihat di televisi atau media-media lainnya bagaimana orang yang dikuasai kemarahan terlihat sangat buruk dan mengerikan. Air wajah yang sadis dan kejam itu sama sekali tidak menarik siapapun. Apalagi ketika mereka mengamuk dan merusak, menganiaya atau bahkan membunuh. selain itu mengekspos kebodohan diri sendiri tapi juga membuat apa yang kita imani menjadi terlihat sangat buruk. Memupuk amarah bisa membuat kita justru menjadi batu sandungan bagi orang untuk mengenal pribadi Kristus yang sebenarnya. Orang diluar sana sudah terlalu

Janganlah jadi orang yang cepat emosi, karena kemarahan yang terlalu sering dan tidak terkendali akan merusak hidup kita, menghancurkan masa depan kita bahkan orang lain, dan merugikan banyak orang, termasuk diri kita sendiri. Jangan terburu nafsu untuk marah ketika anda tidak sependapat dengan orang lain atau ketika apa yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan anda. Yakobus, Daud dan Paulus sudah memberikan sebuah tips-tips yang sangat luar biasa untuk mencegah kita dari melakukan kebodohan yang merugikan, merusak atau menghancurkan diri kita sendiri dan orang lain. Disamping itu juga merupakan tips penting agar kita tidak mempermalukan diri sendiri.

Adalah sangat sulit sebenarnya untuk marah tanpa berbuat dosa, maka adalah sangat baik jika kita lambat untuk marah dan sedapat mungkin menenangkan diri kita secepatnya sebelum emosi kita meluap naik. Ketika menghadapi suatu kondisi yang tidak sesuai dengan pendapat atau pikiran anda, biasakan diri anda untuk mendengar sesuatu secara lengkap terlebih dahulu (cepat mendengar), jangan terlalu cepat menghakimi, menuduh dan menyimpulkan sesuatu (lambat berkata-kata) dan jangan terburu nafsu untuk meluapkan kemarahan. (lambat untuk marah).

Kembali kepada ilustrasi renungan ini yang dimulai dengan film "The Angriest Man in Brooklyn", pada akhirnya si orang paling emosian ini bisa mengatasi sifat gampang marah dan menjalani sisa hidupnya dengan bahagia disamping orang-orang terdekat yang ia kasihi. Bagi saya, film ini mengajarkan kita tentang keburukan sifat gampang emosi yang tidak terkendali dan mengingatkan kita akan bahaya yang mungkin terjadi disana. Bukankah jauh lebih indah menjalani hidup dengan rasa bahagia, senang dan tenang ketimbang memenuhinya dengan kemarahan?

Jika anda orang percaya yang termasuk mudah terpancing emosi, waspadai betul saat anda mulai merasakannya. Ingatlah bahwa kemarahan itu seperti api, yang mulanya kecil tapi kemudian membesar sampai tidak lagi bisa dikendalikan. Segera kontrol emosi atau kemarahan itu secepatnya sebelum pada suatu ketika kemarahan itu sudah tidak lagi terkendali dan mendatangkan kerugian bagi banyak pihak.

Control your anger before your anger controls you

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, July 2, 2015

(Don't Be) The Angriest Man (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Daud mengajarkan bagaimana kita sebaiknya bersikap ketika sedang marah. "Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam." (Mazmur 4:5). Diam, itu sangatlah efektif untuk meredam kemarahan. Seringkali kemarahan semakin tersulut karena kita membiarkan mulut kita mengeluarkan berbagai kata-kata bagai menyiramkan bensin ke bara api. Oleh karena itu tips dari Daud ini sangat baik untuk kita ingat dan lakukan saat kita mulai merasa panas dalam hati.

Masih dari Mazmur, perhatikan ayat berikut: "Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan." (Mazmur 37:8). Kita diingatkan untuk segera meredakan kemarahan dan mendinginkan hati secepat mungkin, karena ada banyak kejahatan yang mengintip di balik sebuah kemarahan. Jangan membiarkan diri kita terbakar emosi berlarut-larut, karena eskalasi kemarahan itu biasanya akan terus meningkat jika tidak segera kita redam, dan pada akhirnya ada banyak perbuatan yang akan kita buat, yang pada suatu saat akan kita sesali juga pada akhirnya.

Mari kita lihat kelanjutan ayat dalam Mazmur 37 di atas. Setelah Daud mengatakan bahwa kemarahan itu tidak akan membawa manfaat apa-apa selain mengarah kepada berbagai tindak kejahatan, demikian bunyi ayat berikutnya: "Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri." (Mazmur 37:9). Orang-orang yang berbuat jahat tidak akan mewarisi apa-apa selain kebinasaan yang kekal. Dan ini sejalan dengan apa yang dikatakan Yesus setelahnya: "Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi." (Matius 5:5). Orang yang mudah dipenuhi kemarahan tidak mampu menguasai diri mereka dan hanya akan menuai kehancuran, sebaliknya orang yang lemah lembut akan memperoleh banyak hal, bahkan dikatakan orang yang demikian akan memiliki bumi.

Lemah lembut merupakan satu dari sekian banyak buah Roh seperti yang tertulis dalam Galatia. "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu." (Galatia 5:22). Tetapi bagaimana mungkin kita bisa lemah lembut ketika ada orang-orang yang memang membuat kita kesal atau emosi? Bukan salah kita dong kalau kita marah? Itu mungkin yang kita pikirkan. Tetapi dengarlah bahwa apa yang dikatakan dengan lemah lembut adalah orang yang memiliki hati tunduk kepada kehendak Tuhan dalam hidupnya. Penundukan berbicara luas dalam berbagai aspek, baik pikiran, tindakan, perkataan atau perbuatan. Dan semuanya seharusnya tunduk ke dalam tuntunan Tuhan, lewat Roh Kudus yang tinggal diam di dalam diri kita. Ketaatan kita untuk tunduk kepada Roh Allah, kerelaan kita untuk hidup dipimpin Roh Kudus akan menghasilkan buah-buah yang sangat baik, dimana beberapa diantaranya adalah kelemah lembutan dan penguasaan diri. "Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh." (ay 25). Inilah yang akan membuat kita mampu terus hidup dengan lemah lembut walaupun hal-hal yang sangat berpotensi mampu membangkitkan amarah mungkin terus mendatangi kita.

(bersambung)

Wednesday, July 1, 2015

(Don't Be) The Angriest Man (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yakobus 1:19
=========================
"Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah"

Kita-kira setahun lalu saya menonton sebuah film yang berjudul "The Angriest Man in Brooklyn". Film yang dibintangi aktor kawakan Robin Williams dan bintang muda yang sedang naik daun Mila Kunis ini menceritakan tentang seorang pria yang hidupnya penuh kemarahan. Ia gampang terprovokasi terhadap hal yang sebenarnya biasa saja seperti bunyi klakson, kemacetan dan sebagainya. Sedikit saja ada hal yang tidak pas ia terganggu bukan main. Saat ia memeriksakan diri ke dokter, ia didapati mengalami penyakit di kepala yang membuat umurnya divonis tidak lama lagi. Mila Kunis yang menjadi dokter pengganti yang menanganinya terus ia cecar dengan emosi, dan dalam keadaan tertekan dokter wanita ini pun mengatakan bahwa usianya tidak akan lebih dari sekian menit lagi. Mengetahui bahwa usianya tinggal sedikit, ia pun berlari berkejaran dengan waktu untuk membereskan masalah-masalah terhadap orang-orang terdekat yang pernah sakit hati akibat tempramennya yang tidak terkendali. Anak, adik, istri dan teman, itu menjadi prioritasnya sebelum ia berpulang.

Hidup yang kita jalani tidak akan pernah selalu mulus, dan setiap saat kita bisa berhadapan dengan situasi, kondisi atau orang-orang yang bisa mendatangkan emosi. Seorang ahli psikologi bernama Charles Spielberger,PhD menerangkan apa yang dimaksud dengan kemarahan. Kemarahan atau anger menurut Charles adalah sebagai berikut: "Anger is an emotional state that varies in intensity from mild irritation to intense fury and rage" Kemarahan adalah sebuah tingkat emosional dengan intensitas tertentu antara hanya merasa terganggu hingga tingkat mengamuk. Seperti jenis perasaan lainnya, kemarahan juga akan diikuti oleh perubahan psikologis dan biologis. Detak jantung menjadi cepat, tekanan darah meninggi, beberapa hormon pun mengalami peningkatan level. Tidak heran faktor kemarahan yang tidak terkendali bisa merugikan orang lain, menimbulkan kekerasan yang tidak hanya merugikan orang lain tapi juga menempatkan diri sendiri pada kondisi-kondisi beresiko dan berbahaya dengan datangnya berbagai penyakit sampai kematian.

Pertanyaannya, bolehkah kita marah? Marah sebenarnya adalah bagian jiwa manusia, sehingga rasanya tidak akan ada orang yang sama sekali tidak pernah marah. Wajar, jika pada kondisi tertentu orang bisa marah. Dan terkadang dalam situasi tertentu, kita memang perlu marah. Yang tidak boleh kita biarkan adalah marah secara berlebihan, berkepanjangan dan tidak terkendali, atau menjadikan amarah sebagai sebuah kebiasaan yang akan segera muncul begitu kita berada pada kondisi tidak nyaman/tidak sesuai dengan keinginan kita. Selain membahayakan kesehatan dan nyawa, kita perlu hati-hati saat mulai merasa marah karena pada saat itu dosa sedang mengintip peluang untuk masuk.

Kemarahan sebenarnya jarang sekali langsung mencapai titik didih tertinggi dalam seketika. Biasanya marah mulai dari rasa kesal atau emosi tingkat rendah yang terus dibiarkan semakin besar nyalanya. Seperti saat kita membakar tumpukan kertas, api mulai kecil saja, tetapi kemudian merambat dan menjadi semakin melebar dan membesar. Pada titik tertentu kemarahan sudah seperti api besar yang membakar hutan, sangat sulit untuk dikendalikan. Dan disana ada banyak potensi bahaya yang mengancam.

(bersambung)

Tuesday, June 30, 2015

Cicak Cicak di Dinding (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Di mata Tuhan perihal kesabaran menjadi sangat penting. Begitu penting sehingga Firman Tuhan mengatakan "Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota" (Amsal 16:32).

Kurang apa lagi hebatnya seorang pahlawan? Everybody wants to be a hero. Pahlawan dimanapun dikenal dengan kegigihan mereka memperjuangkan sesuatu hingga titik darah terakhir. Tidak jarang para pahlawan ini harus gugur di medan perang, mengorbankan segala yang mereka miliki dalam berjuang. Karena itulah nama pahlawan akan selalu harum dikenal sepanjang masa. Tetapi perhatikan bahwa Alkitab mengatakan ada orang yang bisa melebihi seorang pahlawan, dan itu adalah orang yang sabar.

Betapa pentingnya memiliki kesabaran dalam proses perjalanan hidup kita. Begitu penting, sehingga dikatakan bahwa orang yang memiliki sabar akan melebihi hebatnya pahlawan. Orang yang mampu menguasai dirinya akan lebih besar dari orang yang mampu merebut sebuah kota sekalipun. Hidup di dunia yang menuntut serba cepat membuat kita sering melupakan firman Tuhan yang menekankan kesabaran terhadap segala sesuatu. Sabar menderita, sabar menghadapi fitnahan, sabar menghadapi segala sesuatu termasuk menunggu datangnya pertolongan Tuhan. Itu semua akan membuat iman kita bisa terus bertumbuh semakin dewasa dan bijaksana.

Dalam penutup suratnya yang ditujukan kepada anak muda bernama Timotius, Paulus mengingatkan mengenai hal ini. "Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan." (1 Timotius 6:11).

Sebagai anak-anak Allah, kita harus menjauhi hal-hal yang negatif, yang tidak berkenan di hadapan Allah, yang bertentangan dengan Firman-firman-Nya. Apa yang harus kita tuju adalah hal-hal yang berkenan bagi Dia, salah satunya adalah kesabaran. Manusia diciptakan mempunyai emosi tapi bukan untuk dibiarkan meledak-ledak dan cepat nyala ketika berada dalam tekanan. Kita pun tidak boleh membiarkan diri kita uuntuk menyerah pada suatu titik tertentu. Itu memang manusiawi, namun kita dapat melatih diri kita untuk kuat selagi kita terus mendewasakan iman kita untuk lebih mengandalkan Tuhan lagi. Kita juga harus terus melatih diri kita untuk lebih sabar. Dan itu akan membuat kita bisa melebihi pahlawan.

Lihatlah bahwa cicak diciptakan Tuhan bukan hanya sebagai satu dari jutaan atau bahkan milyaran hewan, tetapi cicak yang setiap hari kita lihat di rumah pun bisa menjadi peringatan bagi kita untuk belajar bersabar dalam menghadapi segala sesuatu. Jika cicak yang lemah saja bisa, mengapa kita yang dilengkapi akal budi, lebih kuat dan pintar malah sulit atau tidak mampu melakukannya?

Belajarlah mengenai kesabaran dari seekor cicak. Belajarlah untuk fokus terhadap tujuan dari cicak. Belajarlah untuk bisa mempergunakan segala sesuatu yang telah diperlengkapi Tuhan untuk berhasil dari cicak. Cicak tidak menangis mengeluh karena tidak memiliki otot-otot kuat, gigi taring berbisa atau ukuran tubuh yang besar untuk bisa hidup. Cicak mempergunakan segala yang dimilikinya secara optimal, seperti kaki dan tangan yang bisa melekat di dinding dan lidah yang bisa menyergap dengan cepat untuk menangkap mangsanya. Itu terlihat tidak ada apa-apanya dibandingkan seekor singa atau harimau yang bisa menyergap buruan, tetapi cicak tidak mengeluhkan itu. Cicak tahu keterbatasannya dan tahu memaksimalkan apa yang dimiliki untuk bisa terus hidup. Alangkah banyak yang bisa kita pelajari dari seekor cicak. Tepat di depan saya saat ini ada cicak yang tengah berjalan menempel di tembok. saya bersyukur mereka hadir untuk mengajarkan saya agar bisa lebih sabar lagi dalam menjalani hidup. Mungkin anda geli atau jijik melihat seekor cicak, tetapi jangan menutup mata dan hati untuk belajar dari hewan yang satu ini. Bukanlah sebuah kebetulan kalau Tuhan menciptakan cicak seperti apa adanya dan bisa dengan mudah kita lihat setiap hari. Anda tidak perlu jauh-jauh untuk belajar mengenai kesabaran, lewat cicak yang ada di rumah anda pun anda bisa mendapatkan pelajaran berharga untuk hidup yang lebih baik dan mencerminkan nilai-nilai Kerajaan.

Miliki kesabaran seperti seekor cicak untuk berhasil dalam hidup

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, June 29, 2015

Cicak Cicak di Dinding (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Amsal 30:28
===================
"cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja."

Anda tentu tahu lagu Cicak Cicak di Dinding. Lagu ini begitu sederhana sehingga bisa dengan cepat dihafalkan oleh anak-anak, bahkan yang belum bisa bicara. Ada dua anak berusia dibawah dua tahun yang saya kenal sudah bisa menyanyikan lagu ini meski dengan bahasa yang belepotan. Lucu sekali melihat mereka hanya pintar melafalkan kata cicak dan ujung setiap bait, sedang yang lainnya asal bunyi saja. Tapi lagu ini akan selalu ada dalam sejarah hidup mereka sebagai lagu pertama yang bisa mereka nyanyikan.

Lagu ini menceritakan hal yang sangat simpel tentang bagaimana seekor cicak dengan tenang dan sabar merayap perlahan untuk menangkap mangsanya. Itu tentu bukan lagi pemandangan aneh bagi kita. Hampir setiap hari saat saya menulis renungan ini atau bekerja menyelesaikan artikel-artikel kerjaan, cicak ada di dinding di depan saya. Meski banyak yang geli kepada cicak terutama ekornya, kita harus angkat topi kepada cicak yang bisa begitu sabar berdiam tanpa bergerak sedikit pun untuk bisa menjebak mangsanya seperti nyamuk, semut atau serangga lainnya. Seringkali cicak hanya menanti hingga mangsa itu mendekat, kalaupun harus bergerak maka cicak akan bergerak mengendap-endap secara perlahan agar mangsanya tidak keburu kabur ketakutan.

Cicak hanyalah hewan lemah yang tak berdaya. Cicak bukanlah seperti ular yang bisa mematuk dan mematikan, cicak juga bukan seperti landak atau kumbang pembombardir yang meski lemah dan tak berbahaya tapi punya sistem pertahanan luar biasa. Apa yang bisa dilakukan cicak hanyalah memutuskan ekornya yang akan terus menggeliat-geliat untuk mengelabuhi musuh sementara ia lari menyelamatkan diri. Untuk menangkap cicak pun bisa dilakukan dengan tangan kosong saja. Anda bahkan bisa membunuh cicak dengan begitu mudahnya. Tetapi lihatlah bahwa meski lemah, cicak seharusnya bisa menginspirasi kita dalam hal kesabaran. Tanpa kesabaran, niscaya semua cicak akan mati kelaparan karena tidak mendapat buruan. Selanjutnya perhatikan pula hal yang tak kalah menarik. Meski tergolong hewan lemah tanpa defense system dan lethal weapon, bukankah cicak ada dimana-mana, bahkan di rumah-rumah mewah atau bahkan istana sekalipun?

Cicak pun dicatat di dalam Alkitab untuk dijadikan contoh bagi kita manusia yang jauh lebih kuat dan pintar serta berakal budi. Dari empat sosok binatang yang kecil tetapi sangat cekatan di muka bumi ini seperti yang disebutkan oleh Agur Bin Yake dalam Amsal 30, salah satu yang disebutkan adalah cicak. Katanya: "cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja." (Amsal 28:30). Empat hewan yang sangat cekatan, atau dalam bahasa Inggrisnya disebutkan sebagai "exceedingly wise" atau sangat bijaksana, dan cicak termasuk didalamnya. Cicak memang bukan hewan yang harus ditakuti, bahkan mudah kita tangkap dengan tangan, tetapi cicak bisa berada di istana-istana raja. Kita yang jauh lebih kuat dan besar dibanding cicak saja mungkin belum tentu diperbolehkan menginjakkan kaki di istana. Tapi cicak bisa, dan keberadaan mereka tidak akan dipermasalahkan bahkan oleh raja sekalipun.

Mengapa cicak tidak harus dibunuh meski masuk ke dalam istana? Cicak bukanlah hewan buas yang bisa merepotkan. Selain itu cicak pun lumayan berguna karena mereka memakan serangga-serangga yang merugikan seperti nyamuk. Meski lemah, ternyata cicak tidak membahayakan malah berguna, dan karena itu mereka bisa berkeliaran dengan bebas di dalam istana. Dalam melakukan itu, cicak bisa begitu sabar menanti buruannya. Cicak tidak terburu-buru dalam memangsa. Mereka sangat tenang dan sabar. Dan itu menjadi sebuah kelebihan yang bisa kita jadikan pelajaran.

Berbeda dengan cicak, kita seringkali terbentuk menjadi manusia yang tidak sabaran. Menunggu sebentar saja bisa membuat kita marah-marah. Dalam menghadapi masalah, sabar kerap menjadi pilihan terakhir bahkan terabaikan. Kita gampang panik dan terburu-buru sehingga seringkali mengambil keputusan-keputusan yang salah akibat ketidaksabaran kita sendiri. Menghadapi orang-orang yang sulit kita malah berlaku lebih sulit lagi ketimbang bersabar.

Orang semakin berlomba cepat dan membuang sabar dari sikapnya. Semua harus cepat karena kita sangat suka berkejar-kejaran dengan waktu. Makanan fast food terus tumbuh subur. Koneksi internet harus berkecepatan tertinggi, mobil harus secanggih mungkin, bermesin besar dan bertenaga besar agar bisa mendorong kendaraan untuk melaju sekencang-kencangnya. Buruh dituntut bekerja secepat-cepatnya dengan upah yang serendah mungkin. Jasa kurir terus berlomba menyediakan layanan paling cepat, sehari sampai ke seluruh pelosok daerah, jika tidak maka mereka akan tertinggal dan dilupakan orang. Orang tidak lagi sabar menghadapi kemacetan dan antrian. Orang tidak lagi mau menikmati proses. Kesibukan bekerja, banyaknya aktivitas dan lain-lain seringkali menjadi alasan bagi kita untuk tidak bersabar. Tenang? Itu bukan pilihan. Dan kita tetap menutup mata meski ketidaksabaran kita sudah mendatangkan banyak kerugian dalam hidup. Coba renungkan ada berapa banyak peluang yang baik dalam hidup ini kemudian terlewatkan begitu saja hanya karena kita tidak cukup sabar dalam meraihnya. Mengenai sikap seperti ini, agaknya benar bahwa kita harus bisa belajar dari cicak, mahluk yang lemah dengan sistem pertahanan yang seadanya, tetapi sangat luar biasa dalam hal kesabaran.

(bersambung)


Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker