Saturday, April 25, 2015

Father of All Lies (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yohanes 8:44
===================
"... When he speaks a falsehood, he speaks what is natural to him, for he is a liar [himself] and the father of lies and of all that is false." (English Amplified)

Saya bertemu dengan banyak orang yang sulit keluar dari kesalahan yang pernah mereka buat di masa lalunya. Mereka terus saja merasa tidak layak untuk menerima kasih karunia karena menganggap kesalahan yang dahulu mereka buat terlalu besar untuk bisa dimaafkan. Ada perasaan tertuduh yang menyiksa, hidup dengan dihantui perasaan bersalah. Apakah benar manusia tidak bisa menerima pengampunan Tuhan atas perbuatan-perbuatan yang buruk di masa lalu? Apakah turunnya pengampunan dari Tuhan sampai pada batas tertentu saja, alias pengampunan hanya turun tergantung dari besar kecilnya kesalahan?

Faktanya, Firman Tuhan berkata seperti ini. "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9). Lantas, "di dalam Kristus sesungguhnya kita memperoleh pengampunan dosa." (Kolose 1:14) dan firman Tuhan juga berkata "Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan." (Roma 10:10). Dari kedua ayat ini saja kita bisa melihat bahwa pengampunan akan selalu diberikan kepada kita sebagai wujud kasih Tuhan setiap kita mengakui semua dosa-dosa kita. Itu tidak sulit kita ketahui karena jelas tertulis di dalam Alkitab yang bisa kita baca dan renungkan kapan saja. Tetapi mengapa masih saja ada orang yang tetap merasa sebagai tertuduh? Jika tidak ada orang yang terlihat menuduh tetapi hati kita masih terus dikejar perasaan bersalah yang tidak ada habisnya, seolah ada yang terus mengarahkan telunjuknya ke arah kita untuk membuat kita terus didera rasa tidak layak dan tidak bisa bangkit, itu artinya ada sesuatu disana yang menghalangi kita untuk menjalani hidup baru.

Sadar atau tidak, itu semua bersumber dari si jahat. Iblis akan dengan senang hati memanfaatkan kesalahan kita di masa lalu untuk menggagalkan kita dari kasih karunia Allah. Semakin kita biarkan, semakin dia memiliki ruang yang cukup untuk terus menjadikan kita tertuduh. Dia akan terus memperbesar perasaan bersalah dalam diri kita, mempergunakan setiap hal buruk yang pernah kita lakukan untuk menjadikan kita tersangka abadi. Ia akan terus menanamkan dusta bahwa tidak ada pengampunan lagi yang tersedia, bahwa kita akan selamanya menjadi residivis dan tidak akan pernah bisa dipulihkan. Tujuannya? Menjauhkan manusia dari kebenaran, membuat manusia berpaling dari Tuhan karena merasa tidak layak lagi menerima anugerah daripadaNya.

Seorang teman saya pernah mengalami bentuk tuduhan iblis ini yang hampir menggerakkannya untuk bunuh diri. Lewat kesaksiannya kepada saya, ia bercerita bahwa itu berawal dari kesalahannya tergiur untuk ikut main valuta asing. Di awal ia meraup keuntungan besar shingga puluhan juta sehari bukan lagi hal baru baginya. Ia merasa pintar dalam memprediksi pergerakan nilai tukar. Dari puluhan juta, ia ingin meraup ratusan juta. Dan jebakan pun datang. Ia mengajak teman-temannya untuk ikut bergabung agar jumlah uang yang ia putar lebih banyak. Kesalahan fatalnya, ia menjanjikan dalam bentuk tertulis, hitam di atas putih bahwa ia menjamin temannya untuk dapat uang dalam jumlah tertentu per bulan. Menurutnya, itu sudah angka aman, karena apa yang ia janjikan hanyalah sekitar 30% dari potensi keuntungan yang bisa didapat, dan itu adalah hanya sedikit dari angka yang sudah sangat pasti ia dapat berdasarkan pengalamannya terdahulu.

Tidak lama setelah ia melakukan itu, musibah pun datang. Uangnya dibawa lari oleh broker. Ia pun tiba-tiba berhutang sebanyak sekitar 3 milyar kepada sekian banyak teman. Dikejar banyak orang, diancam mau dibunuh, ia bercerita bahwa bisikan-bisikan iblis mulai terdengar sangat kuat. "Ah, kamu ngapain pusing, kan ada kehidupan setelah kematian.. kamu toh sudah terlalu besar kesalahannya dan tidak bisa lagi diperbaiki, jadi hidup yang sekarang sudahi saja." Itu yang ia dengar berulang-ulang. Ia sempat ngebut di jalan tol sambil menutup mata agar hidupnya berakhir, tapi ternyata Tuhan masih sayang kepadanya dan mau memberikannya kesempatan kedua. Ia terus dituduh dan dikondisikan untuk bunuh diri, tapi pada akhirnya ia memilih untuk menyerahkan nasibnya kepada Tuhan sepenuhnya.

Tidak butuh waktu lama ia mengalami pemulihan. Teman-temannya yang tadinya sempat mengancam memperkarakan bahkan mengancam menghabisinya satu persatu memaafkannya. Ia masih dalam posisi hutang, tapi mereka tidak lagi mempermasalahkannya. Ia berkata bahwa iblis bisa begitu pintar menggoda orang untuk melakukan hal buruk seolah apa yang dikatakan itu baik. Tapi disisi lain, tuduhan demi tuduhan itu begitu intens menerpa, sehingga orang yang terkena bisa tergiur untuk menuruti si jahat.

Sebetulnya Yesus telah mengingatkan kita akan tipu muslihat iblis ini. Lihatlah apa kata Yesus ketika ia menegur orang-orang Yahudi, keturunan-keturunan Abraham yang dikatakan tidak berasal dari Allah karena perbuatan mereka yang terus berusaha membunuh Yesus. Yesus menegur mereka seperti ini: 

"Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta." (Yohanes 8:44).

Yesus sudah membuka pemahaman kita bahwa iblis sejak semula memang sudah berusaha membunuh kita. Menjauhkan kita dari keselamatan, menjauhkan kita dari kebenaran. Di dalam iblis tidak pernah ada kebenaran.

(bersambung)

Friday, April 24, 2015

Tanah Liat dan Penjunan

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yesaya 64:8
======================
"Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu."

Secara umum seorang ibu tentu mengenal anaknya dengan sangat baik. Mereka tahu pribadi anaknya, kelemahan dan kelebihannya sehingga mereka biasanya tahu apa yang terbaik bagi anaknya. Seringkali seorang anak memberontak dan membantah nasihat ibu, tapi nanti pada akhirnya penyesalan akan datang dan mereka akan mengakui bahwa sebenarnya ibu memang benar. Saya dahulu lama belajar piano karena ibu saya percaya saya punya bakat musik. Saat memasuki masa puber, ada rasa risih yang timbul karena saya jadi laki-laki sendirian di tengah kumpulan murid perempuan. Saya berontak dan minta berhenti. Karena saya bersikukuh, ibu akhirnya terpaksa menyetujui. Tapi ia berkata: "ya sudah, berhentilah. Tapi nanti suatu saat kamu pasti menyesal." Kata-kata itu masih saya ingat sampai sekarang dan ia terbukti benar. Seandainya saya teruskan, saya sekarang sudah jadi pemain piano handal, dan itu sejalan dengan hobi saya di dunia musik. Dia sudah tahu sejak saya masih sangat muda, saya menyadarinya jauh setelah masa itu, setelah saya dewasa.

Tuhan mencurahkan hatiNya untuk membuat yang terbaik, dan merencanakan segala sesuatu yang terbaik pula bagi manusia, ciptaanNya yang teristimewa. Ketika semua ciptaanNya Dia katakan dibuat dengan sungguh amat baik, menyenangkan dan membanggakan hatiNya, manusia ternyata mendapat perlakuan khusus dalam proses pembuatannya. Kita diciptakan Allah secara istimewa dengan mengambil gambar dan rupanya sendiri (Kejadian 1:26-27) dengan mengambil bahan dasar tanah dan membuatnya hidup dengan menghembuskan nafas ke dalam hidungnya (2:7).

Ketika manusia jatuh dalam dosa, Tuhan menganggap penting untuk melakukan langkah atau misi penyelamatan dengan mengorbankan AnakNya yang tunggal agar tidak satupun dari kita binasa melainkan beroleh kehidupan kekal. (Yohanes 3:16). Kepada kita semua Tuhan sudah merencanakan yang terbaik, "... rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11). Artinya, Tuhan ingin memberi yang terbaik bagi kita, menjamin hidup orang-orang yang hidup seturut kehendak dan rencanaNya, baik dalam kehidupan pada fase dunia menuju keselamatan yang kekal, bersamaNya kelak di Surga. Jika melihat ini semua, alangkah ironis ketika manusia malah merasa lebih pintar dan lebih tahu apa yang terbaik bagi mereka. Berani melawan Tuhan, melanggar ketetapanNya dan melakukan apa yang Dia larang. Kalau Tuhan yang membuat kita, bukankah Dia seharusnya mengenal dan tahu segalanya tentang kita?

Siapapun kita, tak peduli sebesar apa kekuasaan atau kekayaan kita saat ini, jangan lupa bahwa kita tidaklah lebih dari sosok yang kata Alkitab hanya dibentuk dari tanah liat. Itu disebutkan dalam kitab Yesaya. "Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu." (Yesaya 64:8). Dalam ayat lain Yesaya mengatakan bahwa manusia tidaklah lebih dari hembusan nafas semata, sehingga kita jangan pernah menaruh harapan terlalu tinggi pada sebuah figur atau sosok manusia. "Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?" (Yesaya 2:22). Dari kedua ayat ini kita bisa melihat bahwa sebagai mahluk ciptaan Tuhan kita tidak boleh meletakkan harapan kekuatan sendiri atau orang lain, tetapi sudah seharusnya kepada Tuhan, Bapa yang membentuk kita, hasil buatan tanganNya yang istimewa. Kita harus menyadari bahwa Tuhanlah yang berkuasa atas segalanya, dan kita hanyalah ciptaanNya yang dibentuk dengan tanah liat dan diberi nyawa lewat hembusan nafasNya sendiri. Dia sudah memberi rancangan atau rencana terbaik bagi kita hingga mencapai garis akhir menuju hidup yang kekal. Jika demikian, sangatlah keliru apabila kita hanya menggantungkan harapan kepada yang lain selain Tuhan dan merasa lebih tahu dariNya. Seharusnya kita mencari tahu apa panggilan kita, menjalani hidup sesuai sekuens Tuhan dan merendahkan diri kita agar Tuhan tetap ditinggikan atas apapun yang kita lakukan. Itu akan membuat kita bisa memiliki sebuah kualitas kehidupan yang tinggi, tidak mudah tergoncang, penuh damai sukacita tanpa tergantung pada situasi dan kondisi. Itu akan memampukan kita menuai segala rencana terbaik Tuhan atas kita.

Yeremia menyampaikan lebih jauh mengenai status manusia dibandingkan Sang Pencipta. Jika kita adalah tanah liat, maka Tuhan adalah Penjunan kita. Sebagai tanah liat tentu kita tidak punya kekuasaan apa-apa. Tanah liat tidak pernah bisa mengatur pembuatnya untuk membentuk dirinya sesuai dengan keinginannya. Tapi si pembuatlah yang pasti mengenal jenis tanah liat dan seperti apa ia bisa dibentuk agar hasilnya bisa seindah mungkin. Demikianlah sebuah pelajaran yang dipetik oleh Yeremia lewat seorang tukang periuk. Dalam pembuka Yeremia 18 kita membaca bahwa Tuhan menyuruh Yeremia ke tukang periuk untuk mendapat pelajaran penting mengenai hakekat manusia dan hubungannya dengan Tuhan. "Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya." (Yeremia 18:4). Ini hasil pengamatan Yeremia. Lalu Tuhan berkata: "Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!" (ay 6). Ya, Tuhanlah sang Pembuat, sedang kita adalah tanah liat yang berada di tangan sang Pembuat. Karenanya bukan segala kehebatan, kekuatan dan harta kita yang bisa membuat kita menjadi baik, berkelimpahan dan selamat, namun semata-mata karena kehebatan Tuhan membentuk kita-lah maka kita bisa menjadi bejana-bejana yang indah.

Jika Tuhan sebagai sang Penjunan atau sang Pembuat periuk/bejana, ia tentu tahu para "tanah liat" ciptaanNya dengan sangat baik dan tahu pula apa yang terbaik buat kita masing-masing. Kita hanyalah tanah liat yang tidak lebih dari hembusan nafas. Tidak seharusnya kita bersikap paling tahu melebihi Tuhan. Ingatlah bahwa di atas sana ada Tuhan, Sang Penjunan yang begitu mengasihi kita, tidak ingin satupun dari kita binasa dan sangat tahu apa  yang terbaik bagi kita. Kalau beigut cari tahu apa yang menjadi rencanaNya, dan hiduplah sesuai itu. Muliakan Tuhan dalam segala yang kita lakukan dan raih semua rencana luar biasa yang sudah Dia persiapkan bagi kita.

The One who made us knows what best for us more than anyone else

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, April 23, 2015

Menjangkau Orang Lain

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 28:30
==========================
"Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya."

Beda orang, beda tipe. Ada tipe orang intim yang sangat mudah bersosialisasi dan gampang berteman. Mereka biasanya extrovert alias gampang membuka diri. Ada tipe orang yang tertutup dan pendiam, dan mereka biasanya tidak terlalu peduli untuk bersosialisasi atau berteman dengan orang-orang yang belum mereka kenal sebelumnya. Akan mudah bagi kita untuk dekat dengan orang yang bertipe intim, sebaliknya tidak mudah bagi kita membangun hubungan dengan orang yang tertutup dan pendiam. Maka kita melihat ada orang yang nyambung, ada yang tidak nyambung. Ada yang langsung nyetel, ada yang perlu usaha keras dan ada yang rasa-rasanya sulit sekali.

Hal ini menjadi semakin menarik apabila kita hubungkan dengan sebuah tugas, atau lebih tepatnya disebut amanat yang diberikan Yesus langsung kepada kita, murid-muridNya. Pasti lebih mudah bagi kita menjangkau orang yang bersahabat, tapi akan suka saat berhadapan dengan orang yang tertutup apalagi yang tipenya kasar dan keras. Apa yang ditugaskan Tuhan Yesus adalah seperti ini: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20). Artinya, kita semua mengemban tugas untuk menyampaikan kebenaran kepada semua orang tanpa terkecuali. Ini tentu saja bukan berbicara tentang berkotbah atau membacakan Alkitab tetapi secara luas berbicara mengenai hidup yang menghasilkan buah, menjadi surat Kristus, alias menyatakan pribadi Kristus lewat cara hidup kita di dunia. Berarti bukan hanya orang-orang yang 'mudah' saja yang harus dijangkau, tetapi orang yang 'sulit' yang ditempatkan disekitar kita pun harus pula mendapat perhatian serius. Ada keragaman manusia yang sangat luas di sekitar kita. Untuk bisa melakukan Amanat Agung dibutuhkan kerelaan untuk meluangkan atau mengorbankan sebagian waktu, tenaga dan lain-lain, dan pengorbanan akan semakin besar diperlukan ketika berhadapan dengan orang-orang yang sulit.

Tuhan menciptakan manusia tidak ada yang persis sama. Semua punya sesuatu yang unik dan berbeda yang membuat hidup ini penuh warna. Ada yang memandang perbedaan itu sebagai berkat Tuhan yang patut disyukuri, ada pula yang memandangnya sebagai alasan untuk menjauh, atau bahkan menjadikannya landasan untuk berbuat jahat. Ada orang yang bisa melihat perbedaan sebagai sesuatu yang bisa dijadikan kesempatan untuk belajar banyak, ada yang menyikapinya sebagai pembatas, memandang perbedaan sebagai sebuah ancaman. Jangankan dengan yang tidak seiman, dengan saudara seiman saja perbedaan masih sering disikapi secara negatif. Kalau berbeda denominasi saja masih membuat orang membangun pagar pembatas dan saling menjelekkan, bagaimana mungkin kita berani bermimpi untuk melihat Kerajaan Allah turun di muka bumi ini lewat kita yang beriman kepada Kristus?

Kita memiliki tugas sendiri-sendiri. Paulus menggambarkannya seperti ini: "Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama,demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain." (Roma 12:4-5). Jika diantara kita saja sudah saling tuding dan merendahkan, bagaimana mungkin kita bisa menunaikan tugas kita seperti Amanat Agung yang sudah dipesankan Yesus kepada setiap muridNya, termasuk kita didalamnya?

Selama bertahun-tahun setelah pertobatannya, Paulus terus bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mewartakan kabar keselamatan. Perjalanan yang ia tempuh bukan pendek. Ia terus bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain bahkan hingga menyentuh Asia Kecil sebelum akhirnya ia ditangkap dan dipenjarakan di Roma. Walaupun ia banyak mendapat hambatan dalam pelayanannya, Paulus dikenal sebagai figur yang teguh dan taat dalam menjalankan tugasnya. Ia mengabdikan sisa hidupnya sepenuhnya untuk memperluas Kerajaan Allah di muka bumi ini. Paulus terus berusaha menyentuh orang dengan pemberitaan Injil karena ia peduli terhadap keselamatan orang lain, rindu agar semakin banyak orang yang mengenal dan percaya kepada Sang Juru Selamat.

Di dalam penjara pun ia terus menulis surat meski ia ditangkap, didera, disiksa, dan menunggu waktu dieksekusi mati. Bagi sebagian besar orang apa yang dialami Paulus mungkin akan dianggap sebagai akhir dari pelayanan. Mendapat beban seperti itu berpotensi mendantangkan kepahitan. Bukankah secara manusiawi kesulitan bisa membuat kita patah semangat dan menyerah? Tapi tidak demikian bagi Paulus. Dia tidak memandang halangan sebagai akhir dari segalanya. Justru Paulus memandang keterbatasan-keterbatasannya bergerak sebagai sebuah kesempatan. Kemanapun ia pergi, apapun resiko yang ia hadapi, seperti apapun keadaan yang ia hadapi, ia terus maju menjangkau banyak jiwa, meski jiwanya sendiri harus menjadi taruhannya.

Contoh keseriusan Paulus dalam melayani bisa kita lihat lebih jauh saat ia berada di Roma. Saat itu ia dikawal dan diawasi oleh seorang prajurit. Tetapi untunglah ia masih diijinkan untuk menyewa sebuah rumah sendiri meski harus tetap hidup dalam pengawasan. "Setelah kami tiba di Roma, Paulus diperbolehkan tinggal dalam rumah sendiri bersama-sama seorang prajurit yang mengawalnya." (Kisah Para Rasul 28:16). Entah karena bertipe intim atau tidak, keterbatasan gerak sebagai tahanan rumah ternyata tidak menyurutkan langkahnya untuk menyebarkan kabar keselamatan. Dalam beberapa ayat berikutnya kita bisa melihat ia tetap beraktivitas seperti sebelumnya. "Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya. Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus." (ay 30-31). Paulus tidak menutup diri dan tidak berhenti melayani. Ia ternyata membuka rumahnya seluas-luasnya bagi semua orang tanpa terkecuali, memberi waktu dan tenaganya sepenuhnya untuk dengan terbuka memberitakan tentang Kerajaan Allah dan Yesus Kristus. Semua ini agar mereka yang datang ke rumahnya mengenal kebenaran dan bisa turut mendapat anugerah keselamatan.

Ada keragaman manusia yang luas di sekitar kita menunggu untuk dijangkau. Yesus sudah memanggil kita untuk menjadi saksiNya dan telah menganugerahkan Roh Kudus untuk turun atas kita demi panggilan tersebut. "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8). Menjadi saksi baik di lingkungan terdekat kita dan terus bertumbuh hingga kita bisa menjadi saksi Kristus dalam sebuah lingkungan yang lebih besar, bahkan sampai ke ujung bumi tidaklah bisa kita lakukan jika kita terus memandang perbedaan sebagai alasan untuk menutup diri dari sebagian orang yang kita anggap berbeda atau berseberangan dengan kita.

Kita semua memiliki tugas untuk membawa banyak orang memperoleh keselamatan, dan itu adalah tugas yang harus kita jalankan. Jangan menutup diri terlalu kaku, jangan terlalu cepat menghakimi. Meski mungkin anda bukan bertipe intim, berusahalah menjangkau orang dan mengenalkan mereka pada keselamatan. Jangan berat hati dan menolak meluangkan atau mengorbankan waktu, tenaga dan sebagainya, karena semua ini merupakan hal-hal yang diperlukan dalam memperluas Kerajaan Allah di muka bumi ini. Semakin sulit orangnya maka pengorbanan yang diperlukan akan semakin besar, tapi lakukanlah dengan sukacita dengan didasari belas kasih.  Berbagai hal sederhana seperti memberi pertolongan, menunjukkan kepedulian, atau bahkan memberi sedikit waktu saja bagi mereka untuk mendengarkan bisa menjadi sesuatu yang indah untuk mengenalkan bagaimana kasih Kristus berlaku sama bagi setiap orang tanpa terkecuali.

Nyatakan kasih kepada semua orang tanpa terkecuali

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, April 22, 2015

Di Tepi Aliran Air (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Bisakah kita mengerti secara mendalam tentang sesuatu kalau kita tidak mempelajari sesuatu dengan baik? Tidak ada orang yang bisa langsung membangun rumah kalau tidak pernah kenal dengan bahan bangunan, konstruksi, tata letak dan sebagainya. Seperti itu pula dengan menghidupi Firman. Kita tidak bisa menjadi pelaku Firman apabila kita tidak menyelidiki makna-makna yang terkandung dalam Firman Tuhan secara mendalam. Ada orang yang berpikir bahwa membaca dan mendengar selintas sudah cukup, padahal itu tidak akan pernah cukup untuk bisa membuat hidup kita kuat berakar pada ketetapan Tuhan. Agar bisa teraplikasi secara nyata, kita perlu menghidupi firman Tuhan dengan sepenuhnya dan terus membiasakan diri untuk merenungkannya siang dan malam. Ayat ini bukan menganjurkan kita untuk tidak bersosialisasi dan terus mengurung diri, tetapi agar kita memperhatikan betul pergaulan kita dan apa yang seharusnya menjadi dasar dan pedoman dalam menjalani hidup.

Setelah kita tahu karakteristik yang benar, apa yang akan kita tuai dari sana? Ayat 3 menyebutkannya dengan jelas. "Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air." Bayangkan sebuah pohon yang ditanam tidak jauh dari akses mendapat air. Sebuah pohon yang mudah memperoleh air tentu akan tumbuh subur dan baik. Layaknya pohon, orang yang dekat dengan sumber mata air kehidupan akan:
(1) menghasilkan buahnya pada musimnya,
(2) tidak layu daunnya dan
(3) apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Orang-orang yang sudah mengaplikasikan dua ayat pertama akan terus menghasilkan buah-buah dalam hidupnya, tidak akan pernah layu alias terus hidup disertai kebahagiaan, damai sejahtera dan sukacita, bukan kekecewaan atau kepahitan. Dengan jelas ayat ini juga mengatakan bahwa apapun yang diperbuat akan berhasil. Apa saja yang kita kerjakan akan menghasilkan sesuatu yang baik, baik untuk diri sendiri, keluarga maupun untuk memberkati orang lain.

Anda merindukan sebentuk hidup yang bahagia dan penuh keberhasilan? Tiga ayat awal pembuka kitab Mazmur sudah memberikan kuncinya bagi anda. Ingatlah bahwa "iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17), lantas ingat pula bahwa iman harus disertai dengan perbuatan karena iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong (Yakobus 2:20),  bahkan mati (Yakobus 2:26). Mari kita renungkan baik-baik akan hal ini. Jadilah orang-orang yang berbahagia dan berhasil dengan tidak salah bergaul dan menjadi pelaku-pelaku Firman. Jadilah orang yang bertumbuh di tepi aliran sungai, yang terus berbuah pada musimnya, tidak pernah layu dan keberhasilan selalu menyertainya. Terus dasari langkah anda dalam kebenaran FirmanTuhan, disanalah anda akan mengalami sebuah kehidupan yang berbeda dari sebelumnya.

Kehidupan yang berbahagia dan berhasil adalah kehidupan yang berakar/berpusat pada Firman Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, April 21, 2015

Di Tepi Aliran Air (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 1:1-3
===================
"Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil."

Saat musim kemarau ada banyak pohon yang beradaptasi agar tetap bertahan hidup dengan cara meranggas, menjatuhkan daun-daunnya agar asupan air bisa cukup untuk membuat pohon tetap hidup hingga kemarau berlalu. Beruntunglah pohon-pohon yang tumbuh di aliran sungai karena saat kemarau air masih bisa diperoleh dengan lebih mudah dibandingkan yang tumbuh di tempat lain. Pohon yang ada di tepi aliran sungai akan terus tumbuh subur dan menghasilkan buah dengan daun yang rimbun. Itulah kelebihan pohon yang ada di tepi aliran sungai atau air.

Itu kalau pohon. Bagaimana dengan kita, manusia? Apakah kita bisa menjadi manusia-manusia yang berada di tepi aliran sungai seperti halnya pohon-pohon yang beruntung itu, atau itu semua tergantung takdir? Kalau bukan takdir, apa yang seharusnya menjadi pegangan kita untuk sebuah kehidupan yang bisa dikatakan bahagia dan berhasil? Apa yang saya maksud dengan bahagia dan berhasil disini bukanlah secara sempit berbicara mengenai finansial seperti yang biasanya dipikirkan mayoritas orang ketika mendengar kata ini. Berhasil yang saya maksud berbicara dalam skala yang lebih luas dalam banyak aspek. Misalnya diberkati secara finansial tapi disertai kuasa menikmati. Setidaknya tidak berkekurangan, memperoleh berkat lewat pekerjaan atau profesi lalu menjadi saluran berkat bagi orang lain. Mengalami hidup yang terus berbuah tanpa tergantung situasi dan kondisi faktual, tetap berada dalam penyertaan Tuhan dan merasakan kuasaNya di saat keadaan sedang tidak berpihak pada kita. Keluarga yang bahagia, kehidupan penuh damai sejahtera bebas dari rasa takut dan berisi peningkatan-peningkatan signifikan seiring waktu dan sebagainya. Semua orang tentu merindukan bentuk kehidupan seperti itu, tapi sedikit saja yang bisa mendapatkannya.

Itu bukan tergantung nasib, dan bukan hanya diberikan kepada orang tertentu saja. Tuhan sangat ingin semua anakNya bisa merasakan hal seperti itu. Masalahnya ada banyak orang yang salah arah dalam mengejar keberhasilan. Ada yang mengandalkan orang lain, hanya bertumpu pada diri sendiri atau kepemilikan atas harta benda. Ada yang salah menempatkan prioritas, ada pula yang mencari untuk kepentingan-kepentingan pribadi. Semua ini seringkali terjadi karena mereka tidak tahu apa yang menjadi kunci utama sebuah keberhasilan, padahal Firman Tuhan sudah memberikan kunci itu ribuan tahun yang lalu.

Kuncinya ada di awal kitab Mazmur. Mari perhatikan ayatnya. "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3).

Ayat ini secara jelas membeberkan rahasia untuk memperoleh hidup yang berhasil, yang seharusnya bisa kita jadikan pegangan agar bisa kita peroleh. Disamping itu, ayat ini juga membukakan sebuah kunci penting mengenai kehidupan yang berbahagia dan penuh dengan keberhasilan, sebuah bentuk hidup yang kita semua dambakan sekaligus yang Tuhan inginkan untuk kita miliki.

Mari kita lihat lebih jauh. Kita diingatkan untuk menjadi orang yang:
(1) tidak berjalan menurut orang fasik, artinya tidak mengikuti kebiasaan-kebiasaan dan gaya hidup dari orang yang tidak mengenal Tuhan
(2) tidak berdiri di jalan orang berdosa, artinya tidak ikut-ikutan melakukan dosa atau mencontoh perbuatan-perbuatan orang berdosa, dan
(3) tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, artinya tidak bergaul di kalangan orang-orang yang menghina Tuhan baik lewat ucapan maupun perbuatan.

Perhatikan bahwa kita hidup di dunia yang isinya penuh dengan orang-orang bertipe seperti orang fasik, pendosa dan pengejek. Dimanapun kita berada, kita akan mudah mendapati mereka. Yang sulit justru menemukan orang-orang yang menunjukkan sikap atau cara hidup sebaliknya. Karena tipikal buruk ini yang lebih banyak, maka kalau tidak waspada kita bisa terseret arus bergaul dengan mereka. Dan kalau tidak kuat, maka kita bisa ikut-ikutan seperti cara hidup mereka yang salah. Maka kalau mau berbahagia, kita harus mampu menghindari tipikal orang seperti itu.

Selanjutnya pada bagian berikutnya menyatakan apa yang seharusnya kita lakukan, menjadi orang yang:
(1) kesukaannya ialah Taurat Tuhan dan
(2) merenungkan Taurat itu siang dan malam.

Ini mengacu kepada sebuah keputusan untuk berakar pada perintah atau ketetapan Tuhan, selalu mendasarkan apapun yang kita kerjakan agar tidak melenceng dari ketetapan Tuhan itu alias menjadi pelaku-pelaku Firman secara nyata di dunia.

(bersambung)

Monday, April 20, 2015

Jangan Degil (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Alkitab mencatat kejadian saat itu sebagai berikut. "Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia." (ay 2). Hati orang Farisi ini bukan saja keras untuk menerima Yesus, tetapi juga keras terhadap kebutuhan orang-orang di sekitar mereka. Mereka lebih mementingkan tata cara, formalitas atau tradisi ketimbang mengasihi orang lain. Perhatikan apa saja tindakan orang Farisi pada saat itu. Mereka mengecam hamba-hamba Tuhan, mereka lebih tertarik untuk melindungi tradisi keagamaan ketimbang mematuhi Firman Tuhan, mereka hanya mementingkan kesejahteraan mereka sendiri ketimbang orang lain, dan mereka juga lebih peduli akan pendapat orang ketimbang diperkenan Tuhan. Mereka menampilkan sosok yang sepertinya sangat suci, berdoa di jalan-jalan umum agar terlihat begitu alim. Sementara perilaku mereka sama sekali bertolak belakang.

Anda masih melihat orang-orang seperti itu di masa sekarang? Itu artinya kedegilan memang masih menjadi panutan bagi banyak orang. Sikap orang Farisi seperti itu, hari ini pun kita masih menemukan orang-orang degil dalam berbagai bentuk. Atau malah jangan-jangan kita juga pernah, sempat atau tanpa sadar masih melakukan hal seperti itu. Ada banyak orang percaya yang terperangkap dalam sikap yang sama seperti yang dilakukan orang-orang Farisi pada masa itu. Mereka cenderung merasa diri paling benar dan berhak untuk menghakimi orang lain, mereka ingin terlihat sangat alim di mata orang lain padahal perbuatan mereka dibelakang sangatlah berseberangan, mereka berpusat pada kepentingan diri sendiri dan tidak tertarik untuk memikirkan nasib orang lain. Kalau kita biarkan hati kita membatu seperti ini, maka kita pun bisa menjadi mangsa dari kesalahan serupa seperti orang-orang Farisi tersebut.

Jangan sampai kita terlalu asyik dalam melakukan dan mengucapkan hal-hal yang "benar" sehingga kita membiarkan kehangatan kasih Tuhan yang lembut dalam hati kita berubah menjadi dingin dan keras. Kita kemudian menjadi tidak lagi peka, dan itu sesungguhnya sangatlah berbahaya. Apa reaksi Yesus atas sikap ini? Dia berduka. "Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka.." (Markus 3:5). Itu membuatnya berduka dan kecewa.

Renungkanlah. Kalau orang-orang percaya masih saja terus melakukan hal seperti ini, bagaimana mungkin kita bermimpi akan kebangunan rohani yang terjadi di berbagai belahan negara dan dunia? Bagaimana mungkin kita bisa menyaksikan gerakan Tuhan yang luar biasa di antara kita? Tuhan rindu untuk mencurahkan RohNya dalam kuasa dan kelimpahan melalui kita, gerejaNya. Dia terus ingin kita dipenuhi seperti itu. Tetapi itu tidak akan pernah terjadi apabila kita masih saja mengembangkan keadaan hati yang menahan Dia melakukan itu. Sebelum kita bermimpi mengalami ini semua, kita harus terlebih dahulu membuang jauh-jauh kedegilan dan kekerasan hati seperti yang menguasai diri para orang Farisi.

Firman Tuhan berkata: "Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya." (Amsal 14:8). Kekerasan hati bisa menipu kita, membuat kita tidak peka atau terjebak pada kebodohan diri sendiri. Itulah sebabnya kita diingatkan "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif" (Efesus 5:15). Firman Tuhan juga jelas berkata "Tetapi apabila pernah dikatakan: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman" (Ibrani 3:15). Hal ini penting untuk kita cermati.

Hati merupakan pusat kontrol dari segalanya, dan segala kecemaran itu timbul dari hati yang tidak terjaga dengan baik. "sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan." (Markus 7:21-22). Hari ini juga, apabila kita menginginkan pencurahan Roh Kudus dalam hidup kita dan melihat langsung manifestasiNya dalam gereja dimana anda bertumbuh, kita harus memeriksa kembali keadaan hati kita masing-masing. Jika kita menemukan ada bagian-bagian yang keras atau kedegilan dalam hati kita, bertobatlah dan lembutkan segera. Tanpa itu semua kita tidak akan bisa mencapai apa-apa dan hanya akan mendukakan Kristus dan mengecewakanNya. Kita pun akan menyesal sendiri kelak, dan jangan sampai sesal kemudian itu tidak lagi berguna karena terlambat. Bagaimana keadaan hati kita hari ini? Periksalah dengan baik sekarang juga.

Kekerasan hati bukan saja mendukakan Tuhan, tapi bisa membutakan, merugikan bahkan membahayakan hidup kita sendiri

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, April 19, 2015

Jangan Degil (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Markus 3:5
====================
"Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka..."

Kata degil mungkin tidak begitu sering lagi kita dengar. Tapi degil pada masanya kerap dipakai untuk menggambarkan orang-orang yang keras kepala. Dalam kamus bahasa Indonesia kata degil diartikan sebagai sikap yang tidak mau menuruti nasihat orang, keras kepala, kepala batu. Orang yang degil biasanya sudah tahu mana yang baik dan tidak untuk dilakukan, tetapi mereka mengeraskan hati dan kepalanya dan memilih untuk menutup rapat-rapat telinganya dari nasihat dan teguran lantas terus melakukan hal yang buruk. Buruk bagi orang lain, buruk pula bagi diri sendiri. Tidak jarang kita melihat malapetaka atau musibah menimpa orang-orang yang degil, tapi anehnya masih saja banyak orang yang bersikap seperti ini.

Orang-orang yang degil berpusat hanya pada diri mereka sendiri dan akan dengan mudah menyalahkan orang lain yang tidak sepaham dengan mereka meski mungkin dalam hati kecilnya mereka tahu bahwa mereka yang salah. Kita memang tidak harus selalu setuju dengan pendapat orang, tetapi adalah baik apabila kita mau mendengarkan nasihat yang benar, setidaknya memberi kesempatan dulu buat orang untuk menyampaikan pendapatnya. Kedegilan itu bisa membutakan.dan bisa merugikan bahkan menghancurkan. Banyak orang yang mengira bahwa sikap seperti ini menunjukkan kehebatannya, tetapi sebenarnya itu hanyalah akan membawa lebih banyak masalah saja.

Ada banyak contoh orang-orang yang degil dalam Alkitab, dan salah satunya adalah orang-orang Farisi di masa kedatangan Yesus ke dunia. Mereka memiliki sikap hati dan kepala yang keras seperti batu sehingga mendukakan hati Yesus. Kekerasan seperti itu mengakibatkan mereka tidak lagi peka, baik terhadap kebenaran, terhadap orang lain bahkan terhadap diri mereka sendiri.
 Dalam banyak kesempatan yang tertulis dalam Alkitab kita bisa melihat seperti apa sikap mereka yang berulang kali dikatakan sebagai sebuah kemunafikan. Mereka merasa sebagai orang-orang yang paling rohani, paling suci, paling tahu segalanya, paling hebat, paling benar dan kesombongan secara rohani ini ternyata membuat hati mereka mengeras. Mereka rajin menghakimi orang lain tetapi tidak pernah introspeksi terhadap diri sendiri. Kepekaan pun lenyap dari diri mereka.

Mari kita ambil salah satu contoh saja. Kita bisa melihat reaksi orang-orang Farisi ini ketika Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat dalam Markus 3:1-6. Pada saat itu Yesus sedang berada di rumah ibadat dan bertemu dengan orang yang tangannya lumpuh sebelah. Melihat keadaan itu, tampaknya para orang Farisi melihat sebuah peluang untuk mencari perkara terhadap Yesus. Mereka sangat paham bagaimana Yesus mengasihi manusia dan mereka sudah menduga bahwa Yesus tentu akan menyembuhkan orang lumpuh itu meskipun hari itu adalah hari Sabat. Menyembuhkannya tidak masalah, tapi hari Sabatnya yang jadi masalah.

Perhatikan kejadian ini baik-baik. Menurut hukum Taurat, hari Sabat tidak boleh dipakai untuk mengerjakan apapun. Tuhan tengah hadir tepat ditengah-tengah mereka. Seharusnya mereka menyadari hal itu jika mereka mau merenungkan baik seluruh hukum Taurat dan tulisan-tulisan nubuatan para nabi terdahulu. Mereka seharusnya bersukacita dan bersyukur akan hadirnya Yesus yang berdiri langsung di tengah mereka. Tidak ada alasan bagi mereka untuk ragu, karena Yesus jelas memenuhi syarat setiap nubuat mengenai kedatangan Mesias yang sudah tertulis di dalamnya. Dan seharusnya mereka meneladani apapun yang dibuat Yesus pada saat itu. Tapi lihatlah bagaimana kekerasan hati membuat mereka buta dan tidak lagi mengenali jati diri Yesus. Kalaupun mereka kenal, kedegilan itu membuat mereka tetap merasa paling benar, bahkan merasa berhak menyalahkan Tuhan yang hadir di depan mata mereka.

Lihat bagaimana mereka tampil menjadi orang-orang yang tidak punya kepekaan, tidak lagi mampu melihat perspektif yang benar tetapi hanya sibuk mencari masalah karena apa yang mereka lihat tidak sesuai dengan pendapat mereka pribadi. Bukannya bersyukur mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan Yesus, mereka malah sibuk mencari-cari kesalahan.Seperti itulah bentuk kedegilan.

(bersambung)

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker