Wednesday, September 2, 2015

Perubahan itu Mungkin dan Perlu (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 2 Korintus 3:18
======================
"Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar."

Ada banyak orang yang berpikir bahwa sifat-sifat buruk dalam dirinya sama sekali tidak lagi bisa dirubah karena sudah bawaan lahir. Mereka tahu sifat buruk yang ada pada dirinya itu salah, tapi toh mereka terus membiarkan karena berasumsi seperti itu. Bicara soal sifat buruk, mungkin saya yang dulu pantas jadi gudangnya. Tapi setelah bertobat, ada perubahan-perubahan signifikan yang terjadi. Tapi saya masih jauh dari sempurna. Saya tahu itu, karenanya sampai hari ini masih terus saya tingkatkan. Artinya, kita bisa berubah, meski mungkin butuh waktu yang tidak sama bagi setiap orang. Ada yang cepat, ada yang butuh waktu lama. Tapi yang pasti, kalau kita bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik, itu sangat bisa.

Bayangkan dunia tanpa adanya perubahan. Bayangkan orang-orang yang hidup di dalamnya hanya diam pada satu titik saja. Tidak ada kemajuan, tidak ada inovasi. Bayangkan seperti apa teknologi hari ini kalau manusia tidak terus menganalisa, mempelajari dan mencari terobosan-terobosan dalam menciptakan karya. Anda saat ini terbantu dengan smart phone atau gadget anda? Itu karena orang terus berusaha mengembangkan teknologi dengan mempergunakan segala kemampuan daya pikir, kreativitas dan sebagainya yang sudah disediakan Tuhan.

Ambil satu contoh, telepon. Mulai dari kaleng yang dihubungkan benang, telepon yang harus mempergunakan kabel yang hanya bisa dipakai kalau kita sama-sama berada pada tempat dimana telepon itu terpasang, dan hari ini kita bisa terhubung dengan siapapun, dimanapun dan kapanpun tanpa harus pakai kabel-kabelan lagi. Kalau dulu itu harganya lumayan, sekarang malah banyak fasilitas yang memungkinkan itu gratis. Sebagai individu, kita pun bisa seperti itu. Terus berubah menjadi lebih baik dari hari ke hari, terus berproses mendekati pribadi Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kita. Kalau dulu tersinggung sedikit saja kita ngamuk, kita kemudian berubah tidak lagi cepat emosi tapi mungkin mukanya masih berkerut. Lalu naik ke tahap berikutnya dimana kita bisa lebih tenang termasuk pada raut wajah karena kita sudah bisa cepat memaafkan. Kalau dulu hobinya curang, belakangan jadi lebih jujur dan kemudian berubah menjadi orang yang berintegritas tinggi. Seperti itulah kira-kira perubahan-perubahan dari sifat buruk yang bukan tidak mungkin kita lakukan.

Sebuah perubahan ke arah yang lebih baik itu jelas diperlukan. Benar, mungkin tidak mudah. Nyatanya ada banyak orang yang merasa tidak bisa atau tidak sanggup berubah. Sebagian sudah kalah sebelum mencoba, sebagian lagi punya niatnya, tetapi merasa tidak punya cukup kekuatan untuk melakukannya. Maka kita bertemu orang yang dari dulu sampai sekarang sama saja tabiatnya, tidak berubah. Kemarin sama, hari ini sama, besok lusa pun akan seperti itu juga. Masih untung kalau sama, seringkali kemalasan atau keengganan untuk berubah ini malah menjadi lebih buruk, membawa efek yang tidak produktif dan merugikan baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Sebagian lainnya bahkan berpikir bahwa Tuhan telah menakdirkan mereka untuk menjadi orang-orang dengan segudang sifat buruk. Benarkah demikian? Sama sekali tidak. Tuhan ingin kita berproses secara kontinu menjadi lebih baik. Tuhan pun setuju bahwa perubahan itu perlu. Buktinya ada banyak ayat di dalam Alkitab yang menyuarakan pentingnya perubahan ke arah yang lebih baik, dan secara jelas dikatakan itu mutlak harus dilakukan agar kita bisa mencapai garis akhir sebagai pemenang, memperoleh mahkota kehidupan dan dilayakkan untuk masuk ke dalam KerajaanNya pada suatu saat nanti.

Lewat Paulus kita bisa mendapati sebuah ayat yang menunjukkan pentingnya sebuah proses perubahan yang berkelanjutan. "Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar." (2 Korintus 3:18). Kita diubah untuk semakin mendekati gambaran Tuhan dengan intensitas yang terus meningkat. Dalam versi English Amplified dikatakan demikian: "constantly being transfigure into His very own image in ever increasing splendor and from one degree of glory to another." Itu menunjukkan adanya sebuah proses yang bisa membawa kita untuk semakin lebih baik lagi dari hari ke hari agar bisa semakin mendekati gambarNya. Itu menunjukkan bahwa Tuhan sudah menyatakan bahwa kita mampu mengalami perubahan dalam sebuah proses berkelanjutan agar semakin serupa dengan gambaranNya, dengan pribadiNya, dengan sifatNya, lengkap dengan segala kemuliaan. Tidak peduli seburuk apa perilaku, sifat atau perbuatan kita pada waktu lalu, tidak peduli sebesar apa kesalahan kita dahulu, tidak peduli seberapa lekatnya pola-pola negatif dalam pikiran atau hati kita sebelumnya, tidak peduli sekelam apa masa lalu kita, kita bisa berubah. Bahkan jelas dikatakan bahwa di dalam Kristus kita menjadi ciptaan yang benar-benar baru.

(bersambung)


Tuesday, September 1, 2015

Mendoakan Orang Lain (2)

webmaster | 8:00 AM | 1 Comment so far
(sambungan)

Jangan lupa pula ada prinsip 'saling' dalam hubungannya yang harmonis yang berlaku dalam banyak hal dalam kekristenan. Saling mengasihi, saling membantu, saling memberkati, saling mengingatkan, dan tentunya saling mendoakan. Kuasa dibalik doa orang benar dan prinsip 'saling', keduanya dirangkum oleh Yakobus dengan kalimat berikut: "Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." (Yakobus 5:16). Saling mendoakanlah, karena doa itu punya kuasa yang dahsyat, menjangkau teritori-teritori yang bahkan secara logika sepertinya tidak mungkin terjangkau atau teratasi.

Siapa yang perlu didoakan? Yesus mengatakan bahwa daya jangkau doa harus mampu mencapai orang-orang yang jahat kepada kita seperti yang dicatat dalam Matius 5:44. Kalau terhadap orang yang jahat kepada kita, yang memusuhi atau bahkan menganiaya kita saja kita diwajibkan mengasihi dan mendoakan, apalagi orang-orang terdekat yang kita sayangi. Kita tentu tidak ingin mereka jauh dari sukacita, kasih sayang, penyertaan dan keselamatan dari Tuhan bukan? Kalau begitu, kenapa kita tidak mulai mendoakan mereka? Saling mendoakan, itu hal yang wajib untuk kita lakukan. Jangan hanya mementingkan diri sendiri saja, jangan hanya ingin selamat sendiri saja tanpa mempedulikan orang lain. Itu bukanlah sikap dari anak-anak Tuhan yang rindu untuk menghidupi firman Tuhan secara nyata dan benar.

Hari ini mari renungkan. Apakah kita sudah dan bersedia bergumul dalam doa pula untuk meminta Tuhan menjaga, menjamah atau menolong orang-orang yang kita kasihi? Epafras mungkin tidak pernah tahu seperti apa Tuhan mengabulkan doanya, tapi ia selalu bergumul dan berpegang pada imannya untuk itu. Kalau ia terus menerus melakukan hal itu dengan sungguh-sungguh, itu artinya imannya sanggup meyakinkannya bahwa doa-doa yang ia panjatkan buat orang lain tidak akan pernah ada yang sia-sia.

Hari ini anda mungkin bisa memulainya dengan membuat daftar orang-orang yang ingin anda doakan satu demi satu. Lantas mulailah doakan mereka. Sebuah doa yang dipanjatkan dengan rasa percaya dan dilakukan oleh orang benar akan sanggup membawa dampak besar atau perubahan positif bagi orang lain. Lewat doa kita bisa membawa mereka masuk ke dalam keselamatan. Lewat doa mereka bisa dijamah dan mengalami transformasi-transformasi besar dalam hidupnya. Sebuah doa yang sungguh-sungguh tidak akan pernah sia-sia,  bahkan ketika doa kita menuju kepada orang-orang yang anda rasa tidak mungkin bertobat sekalipun. Karena doa dari orang benar itu sangatlah besar kuasanya.

Doa yang dipanjatkan kepada siapapun dengan sungguh-sungguh tidak akan pernah sia-sia

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, August 31, 2015

Mendoakan Orang Lain (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kolose 4:12
====================
"Salam dari Epafras kepada kamu; ia seorang dari antaramu, hamba Kristus Yesus, yang selalu bergumul dalam doanya untuk kamu, supaya kamu berdiri teguh, sebagai orang-orang yang dewasa dan yang berkeyakinan penuh dengan segala hal yang dikehendaki Allah."

Kita berdoa mengucap syukur dan menyampaikan permohonan-permohonan agar kiranya dikabulkan Tuhan. Lalu bagaimana dengan mendoakan orang lain? Apakah itu penting? Apakah doa untuk orang lain bisa membawa perubahan kepada mereka ke arah yang lebih baik? Saya sudah melihat banyak bukti bagaimana doa yang dipanjatkan buat orang lain ternyata mampu mendatangkan perubahan yang luar biasa, bahkan mukjizat. Doa, seperti halnya saat dilakukan untuk kita sendiri terkadang butuh waktu untuk dikabulkan. Waktunya bisa berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Tapi kalau memang yang didoakan merupakan hal baik, saya tidak pernah ragu bahwa cepat atau lambat doa pasti akan dikabulkan.

Sayang banyak orang yang tidak mengetahui kekuatan doa. Tidak mempercayainya, menganggap itu kurang atau tidak penting, tidak mengetahui besarnya kekuatan disana atau mungkin pula tidak cukup sabar untuk menanti dijawabnya sebuah doa. Kalau terhadap diri sendiri sudah tidak sabar menunggu, apalagi doa untuk orang lain. Tidak sedikit pula yang merasa malas tidak peduli terhadap orang lain sehingga merasa tidak perlu mendoakan. Di sisi lain, jangan lupa pula bahwa tidak menutup kemungkinan ada orang-orang yang dengan tekun terus mendoakan kita. Kita mungkin tahu, mungkin bakal tahu, mungkin juga tidak akan pernah tahu. Tapi bisa saja ada orang-orang yang terus bergumul mendoakan kita terus menerus, sehingga jika kita berada dalam keadaan baik hari ini, didalamnya ada andil dari mereka yang peduli terhadap kita lewat doa-doa yang mereka panjatkan untuk diri kita secara sungguh-sungguh dan terus menerus. Misalnya orang tua, saudara, teman-teman, tetangga atau gembala dimana anda bertumbuh, tim pendoa di gereja, teman-teman persekutuan, dan sebagainya. Bisa saja satu atau beberapa orang di antara mereka secara tekun bergumul dalam doa untuk kita setiap harinya.

Ada kalanya dibutuhkan sebuah perjuangan berat diperlukan untuk mendukung sesama orang percaya atau yang belum percaya sekalipun seperti saat melakukannya untuk orang yang keras kepala, keras hati atau yang dosanya 'kambuhan'. Salah satu cara yang terbaik adalah dengan dibawa dalam doa.

Dahulu kala ada seorang hamba Tuhan bernama Epafras yang berada dalam penjara bersama-sama dengan Paulus. Namanya mungkin tidak sering kita dengar dan tidak seterkenal Paulus, Petrus, Barnabas dan beberapa rasul lainnya. Tetapi sangatlah menarik mencermati bahwa apa yang dilakukan Epafras mencerminkan kerinduannya untuk terus memberi dukungan kepada para jemaat lewat doa. Paulus ternyata melihat hal itu dan terkesan sehingga disebutkan langsung oleh Paulus dalam salah satu suratnya. "Salam dari Epafras kepada kamu; ia seorang dari antaramu, hamba Kristus Yesus, yang selalu bergumul dalam doanya untuk kamu, supaya kamu berdiri teguh, sebagai orang-orang yang dewasa dan yang berkeyakinan penuh dengan segala hal yang dikehendaki Allah." (Kolose 4:12). Lewat ayat ini kita bisa melihat bahwa Epafras tidak hanya berdoa ala kadarnya, bukan sambil lalu saja, tetapi dikatakan bergumul dalam doa-doanya untuk kebaikan jemaat. Bukan pula hanya sekali-kali bergumul, tapi dikatakan "selalu bergumul", dan itu ia lakukan untuk jemaat Kolose supaya mereka bisa berdiri teguh seperti orang-orang yang dewasa yang punya keyakinan penuh akan segala yang dikehendaki Allah.

Sekarang mari kita lihat, seperti apa besarnya kuasa doa? Jawabannya bisa kita peroleh dari apa yang dikatakan Yesus sendiri. "Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya." (Matius 21:22). Yesus dengan jelas menyatakan bahwa ada kuasa yang sangat dahsyat dibalik doa yang disertai iman penuh. Mungkin Tuhan tidak menjawabnya dengan segera, tetapi ada saatnya nanti dimana kita akan bersukacita saat doa kita mendapat jawaban dariNya.

(bersambung)


Sunday, August 30, 2015

Merenungkan Perbuatan Tuhan yang Ajaib

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 77:12-13
=========================
"Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu."

Bagaimana reaksi kita saat masalah datang menerpa? Kalau masalah sudah berat apalagi datangnya sekaligus, kita bisa gelagapan, goyah lalu kemudian panik, disana rasa takut pun mulai muncul. Kita menjadi ragu apakah kita bisa melewati semua itu sebagai pemenang atau itu akan menjadi catatan kegagalan yang akan menghantui kita seumur hidup atau bahkan menjadi akhir dari hidup kita. Benar bahwa saat berada dalam keadaan tidak baik itu tidak menyenangkan. Tidak satupun dari kita yang mau seperti itu. Kita ingin hidup ini baik-baik saja, selalu sejahtera dan berjalan tanpa ada masalah. Tapi siapapun kita, selalu saja ada saat-saat dimana kita harus berhadapan dengan berbagai bentuk masalah. Bahkan terkadang, belum lagi masalah yang satu beres, sudah muncul masalah berikutnya. Kekuatan iman kita akan sangat menentukan seberapa kuat kita bisa berjuang menghadapinya, tapi seringkali saat sedang ditengah-tengah badai iman kita ikut goyah bagai kehilangan titik tumpu. Di saat seperti itu, adakah sesuatu yang bisa kita pakai untuk menguatkan kembali kaki kita untuk berpijak tegar di tengah situasi sulit? Apa yang bisa membuat iman kita tidak ikut goyah sebaliknya mampu memberi kekuatan kepada kita untuk bisa terus tegar dan pada akhirnya keluar sebagai pemenang?

Kemarin kita sudah melihat bagaimana Tuhan berjanji untuk tetap berada di samping kita saat kita harus menghadapi kepungan masalah bak pasukan yang menyerang dari berbagai arah, atau bahkan sekumpulan raksasa yang bisa dianalogikan kepada masalah-masalah besar yang bertumpuk yang harus kita hadapi dan atasi. Itu bisa kita lihat baik lewat kisah bangsa Israel yang secara ajaib bisa berjalan melalui laut Teberau yang terbelah dua (Keluaran 14), kisah Daud melawan Goliat (1 Samuel 17), kisah bangsa Yehuda yang dikepung pasukan dari Moab, Amon dan Meunim (2 Tawarikh 20) maupun saat bangsa Israel terancam oleh orang-orang raksasa seperti Amori, Het, Feris, Hewi, Kanaan dan lain-lain (Ulangan 23). Ini hanyalah sebagian kecil dari kebesaran kuasa Tuhan yang mampu membawa kita ke dalam kemenangan meski harus berhadapan dengan situasi-situasi luar biasa sulit bahkan bahaya yang mengancam yang mungkin secara logika tidak mungkin sanggup kita atasi.

Pemazmur memberikan sebuah tips yang sangat baik untuk kita ingat saat kita sedang berada ditengah badai kehidupan. "Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu." (Mazmur 77:1-13).

Saat harus bertemu situasi yang sulit, Pemazmur mengambil waktu untuk mengenang kembali bagaimana keajaiban-keajaiban yang pernah di lakukan Tuhan sebelumnya, bagaimana Tuhan menyatakan kuasa dan kemuliaanNya turun atas manusia. Setelah merenungkan segala kebaikan Tuhan, pemazmur pun sampai pada kesimpulan: "Ya Allah, jalan-Mu adalah kudus! Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami?" (ay 14). Jika kita fokus hanya kepada penderitaan kita saja maka kita akan segera kehilangan sukacita, bahkan iman kita pun akan merosot drastis. Pada saat seperti itulah sebaiknya kita kembali mengingat-ingat segala sesuatu yang telah Tuhan lakukan kepada begitu banyak orang di masa lalu. Jika dulu Tuhan bisa melakukannya, kenapa tidak hari ini? Kalau Tuhan sanggup melakukan perbuatan-perbuatan ajaibNya di masa lalu, baik kepada begitu banyak tokoh dalam Alkitab maupun diri kita sendiri, kenapa kita harus ragu akan hal itu saat ini? Tuhan tidak pernah berubah, baik dahulu, sekarang maupun selamanya. (Ibrani 13:8)

Marilah kita mengacu pada seluruh isi Alkitab dan melihat bagaimana perbuatan-perbuatan Tuhan yang telah nyata tertulis di dalamnya. Kepada jemaat di Roma Paulus memberi pesan seperti ini: "Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci." (Roma 15:4). Alkitab berisi begitu banyak hal yang dapat kita jadikan tuntunan bagaimana kita harus berlaku ketika kita menghadapi sesuatu. Kita bisa mendapatkan berbagai tips dan peringatan agar tetap hidup sesuai kehendak Tuhan, kita juga bisa mendapat penghiburan yang meneguhkan. Ada begitu banyak pergumulan di dalam Alkitab yang sampai hari ini sering pula kita alami. Para nabi dan tokoh-tokoh Alkitab telah menunjukkan bagaimana akhirnya Tuhan melepaskan mereka dan memberikan kemenangan. Ada pula tokoh-tokoh yang akhirnya gagal, dan kita pun bisa belajar dari kegagalan mereka. Semua itu bisa kita jadikan pelajaran berharga, menjadi bekal yang sempurna dan lengkap untuk menatap hidup ke depan.

Saat menghadapi situasi sulit, janganlah terbenam pada penderitaan. Bangkitlah, ingat dan renungkanlah bahwa ada banyak hal yang bisa kita dapatkan lewat pengalaman-pengalaman para tokoh di Alkitab bersama Tuhan di masa lalu. Pergulatan dan turun naiknya iman banyak tokoh jelas dituliskan dalam Alkitab dan kita bisa belajar dari itu semua. Kita juga bisa merenungkan pengalaman-pengalaman kita akan kuasa Tuhan yang luar biasa di waktu sebelumnya, atau mungkin mukjizat-mukjizat yang dialami oleh orang tua kita, orang-orang terdekat atau kesaksian-kesaksian banyak orang yang mengalaminya di masa sekarang. Jika kita menyadari hal ini, kita pun akan tahu bahwa Tuhan mampu melakukan appaun itu, bahkan yang paling mustahil sekalipun bagi logika daya pikir manusia. Pada akhirnya kita akan bisa menyimpulkan hal yang sama dengan pemazmur ketika ia mengatakan "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mazmur 46:1).

Tidak akan pernah sia-sia untuk mengandalkan Tuhan. Ketika kita sedang mengalami pergumulan, mari kita ingat kembali bagaimana Tuhan melakukan mukjizat-mukjizatNya di waktu lampau, dan marilah bersyukur sebab Tuhan yang kita sembah saat ini adalah Tuhan yang sama, baik kuasaNya maupun kasihNya.

Saat kesulitan datang menghadang, renungkan segala kebesaran kuasa Tuhan dan percayalah itu bisa terjadi pada anda

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, August 29, 2015

Saat Terkepung (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Hal yang sama bisa jadi menimpa kita hari ini. Mungkin bukan dalam bentuk serangan pasukan sekaligus, tetapi berbagai kondisi sulit, situasi pelik, ancaman besar, keadaan terjepit bisa tiba-tiba muncul di hadapan kita, dimana logika tidak berpihak sama sekali kepada kita untuk mengatasinya. Tetapi lihatlah janji Tuhan yang sangat melegakan itu. Tuhan berkata bahwa kita tidak perlu takut meski situasinya sama sekali tidak berpihak kepada kita. Mengapa? Kalau kita baca baik-baik ayat bacaan hari ini maka kita akan menemukan alasannya. Sebab bukan kita yang berperang, melainkan Allah. Ancaman persoalan dalam hidup bisa bagai bersatu padu menyerang kita sekaligus seperti serangan laskar gabungan yang besar. Tapi kita tidak perlu takut, sebab bukan kita yang berperang melainkan Tuhan sendiri.

Contoh lain bisa kita lihat dalam Keluaran 23. Disana kita kembali mendapatkan suara Tuhan yang melegakan dalam menghadapi serangan besar sekaligus. Firman Tuhan berkata: "Sebab malaikat-Ku akan berjalan di depanmu dan membawa engkau kepada orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Kanaan, orang Hewi dan orang Yebus, dan Aku akan melenyapkan mereka." (Ulangan 23:23). Orang Amori, orang Het, orang Kanaan dan sebagainya, itu menggambarkan orang-orang raksasa yang siap merontokkan kita dalam sekali pukul. Logikanya? Jelas kita kalah. Namanya juga dikepung dari berbagai sisi seperti itu, oleh raksasa-raksasa pula. Tetapi Tuhan berfirman sendiri bahwa bukan kita yang berperang, melainkan Tuhan. Dia akan mengutus malaikat-malaikatNya untuk berjalan di depan. Kita tetap akan berhadapan dengan berbagai "raksasa-raksasa" masalah, tetapi ada malaikat Tuhan yang berjalan di depan kita, dan Tuhan sendirilah yang akan melenyapkan semua itu. Bukan kita yang berperang, tetapi Tuhan. Itu janji penyertaaan dan penyelamatan Tuhan. Syaratnya disebutkan pada satu ayat sebelumnya: "Tetapi jika engkau sungguh-sungguh mendengarkan perkataannya, dan melakukan segala yang Kufirmankan, maka Aku akan memusuhi musuhmu, dan melawan lawanmu." (ay 22). Sungguh-sungguh mendengar dan melakukan firmanNya, itu bagian kita. Dan bagian Tuhan adalah membawa kita masuk ke dalam kemenangan yang diluar kemampuan logika manusia. Bukan sekedar memberkati, tapi Dia sendiri yang turun langsung berperang bagi kita. Bukankah itu luar biasa?

Berulang kali Tuhan menyatakan penyertaan, pemeliharaan dan pertolonganNya kepada kita. Berulang kali pula oleh karena itu Tuhan menyerukan agar kita jangan takut. "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." (Ulangan31:6). Selanjutnya lihat juga ayat berikut ini: "janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan." (Yesaya 41:10).

Akan selalu datang waktu-waktu dimana kita harus rela berhadapan dengan masalah-masalah yang ada kalanya bisa besar dan banyak bagai serangan raksasa yang bergabung menjadi satu atau datang dari beberapa penjuru sekaligus. Apakah itu masalah pekerjaan, keluarga, sakit penyakit atau serangan dari orang-orang yang hendak menghancurkan kita dan lain sebagainya. Kita tidak bisa menghindarinya, tapi perhatikan bahwa Tuhan sudah menjanjikan pertolonganNya kepada setiap anakNya yang taat. Dia sendiri yang akan berperang, dan Dia akan membawa kita masuk ke dalam kemenangan. Itulah sebabnya kita tidak perlu takut menghadapi apapun dalam hidup ini.

Apabila ada di antara teman-teman yang tengah merasa berhadapan dengan "orang Moab dan Amon", atau serangan "orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Kanaan, orang Hewi dan orang Yebus", tetaplah berdiri tegak, jangan mundur, jangan ragu dan jangan takut. Situasinya mungkin sangat menyesakkan untuk saat ini, tetapi ingatlah bahwa di atas segalanya kita memiliki Tuhan dengan kuasa tertinggi. Adalah Tuhan sendiri, bukan kita yang akan berperang menghadapi semua itu. Percayalah kepadaNya, taatlah kepada firmanNya dan lakukanlah seperti apa yang Dia kehendaki, maka kita tidak perlu kehilangan sukacita dan damai sejahtera meski tengah dikerubungi berbagai permasalahan bagai pasukan atau bahkan raksasa sekalipun.

Sumber kekuatan yang terbesar di tengah segala tumpukan masalah ada di tangan Allah

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, August 28, 2015

Saat Terkepung (1)

webmaster | 7:35 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 2 Tawarikh 20:15
=========================
"...Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah."

"Ah, orangnya gede sih, banyakan lagi... coba cuma satu dan kecil, pasti saya berani", kata seorang teman menanggapi candaan temannya apakah ia berani atau tidak menginjak kaki seseorang yang tinggi besar bersama beberapa temannya. Kalau diibaratkan pada masalah dalam hidup, kita mungkin masih bisa tenang saat berhadapan dengan persoalan kecil, tetapi bagaimana kalau masalahnya berat dan datangnya rombongan alias berbarengan? Reaksi kita akan tergantung dari seberapa kuat daya tahan kita dalam menghadapi tekanan.

Pertanyaan kedua, seberapa kuat daya tahan kita dalam menghadapi tekanan atau apa saja yang menentukan kekuatannya? Faktor mental, keyakinan, ketabahan, pengalaman dan sebagainya akan sangat berpengaruh akan hal ini, dan tentu saja sebuah faktor lain yang sesungguhnya sangat penting, yaitu faktor iman. Sejarah membuktikan banyaknya kejatuhan para tokoh besar karena mereka tidak lagi tahan menghadapi berbagai tekanan. Entah itu desakan dari luar, rasa malu akibat melakukan kesalahan, deraan masalah yang beruntun dan lain-lain. Bahkan ada yang akhirnya mengambil jalan pintas dengan mengakhiri hidupnya karena sudah tidak tahan atau tidak kuat lagi menanggung beban-beban hidup.

Mungkin ada di antara kita yang hari ini pun tengah mengalami situasi sulit. Terjepit di tengah-tengah himpitan beberapa masalah sekaligus, tidak bisa maju dan mundur pun sudah terlambat. Kita tahu harus terus maju, tetapi tidak lagi punya kekuatan dan keyakinan untuk melangkah setapak pun. Saat bangsa Israel berada dalam keadaan terjepit karena didepan mereka terbentang laut luas sementara di belakang ada tentara Firaun yang siap membinasakan, kita bisa lihat bagaimana Tuhan sendiri yang kemudian melepaskan mereka lewat cara terbelahnya laut Teberau menjadi dua bagian sehingga bangsa Israel bisa berjalan di tengah-tengahnya. Kisah luar biasa ini bisa dibaca dalam kitab Keluaran pasal 14. Dan Musa menyampaikan sebuah kunci untuk melepaskan diri dari situasi seperti itu. "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya." (ay 13). Jangan takut, tetap berdiri dan fokus pada penyertaan Tuhan, itulah ketiga kunci yang diberikan Musa agar bisa melepaskan diri dari situasi terjepit itu.

Disamping itu kita juga tidak boleh lupa bahwa Tuhan telah berjanji kepada setiap anak-anakNya yang patuh dan yakin kepadaNya bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan, meski harus melalui kesulitan-kesulitan besar yang kalau diibaratkan bisa seperti air bah yang siap menenggelamkan atau api yang siap membakar habis.  "Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau." (Yesaya 42:2-3a). Bagaimana dengan kisah Daud melawan Goliat dan pasukannya? Itu pun bisa kita jadikan contoh nyata. Untuk renungan kali ini, saya ingin mengambil contoh lain lewat kisah yang dicatat dalam kitab 2 Tawarikh pada bagian yang berisi sekelumit kisah pada masa raja Yosafat.

Mari kita lihat apa yang terjadi pada suatu ketika di masa pemerintahan raja Yosafat tersebut. Pada waktu itu bangsa Yehuda tengah mengalami situasi pelik yang tidak main-main. Mereka terjepit dan terancam hancur lebur dengan datangnya ancaman bani Moab dan Amon juga sepasukan tentara Meunim sekaligus. (2 Tawarikh 20:1). Itu jelas situasi yang tidak mudah, karena jelas kekuatan mereka tidaklah seimbang dalam menghadapi serangan sebesar itu. Dalam keadaan kalut dan takut, Yosafat pun mengajak seluruh bangsa Israel untuk mencari Tuhan dan berpuasa (ay 3), lalu berseru kepada Allah. (ay 6-12). Dan lihatlah, Tuhan segera menjawab teriakan minta tolong mereka.

Lewat Yahezkiel bin Zakharia bin Benaya bin Matanya, seorang Lewi dari bani Asaf, Tuhan pun berseru: "Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah." (ay 15). Dan itulah yang terjadi. Sulit dipercaya, tetapi kalau Tuhan yang sudah turun tangan, tidak ada satupun masalah yang lebih besar dari Tuhan dan mampu mengatasi kuasaNya.

(bersambung)


Thursday, August 27, 2015

For Everything There's a Season (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Pengkotbah 3:1
=======================
"Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya."

Tepat disamping rumah saya ada tanah kosong yang tidak diurus lagi oleh pemiliknya selama bertahun-tahun. Tanahnya cukup luas dan penuh semak dengan rumput yang sudah tinggi sekali. Belum lama ini ada seorang warga desa yang berpikir untuk memanfaatkan tanah tersebut menjadi lahan bercocok tanam, selagi tanah memang tidak dipakai oleh si pemilik. Selama beberapa hari ia memotong rumput-rumput disana, membersihkan tanah seluas 200 meter itu sendirian. Setelah rumput dan semak ia tebas, ia kemudian mencangkul dengan tujuan agar tanahnya menjadi gembur dan siap tanam. Kalau dihitung-hitung, ia butuh waktu sekitar seminggu untuk mengerjakan itu. Lantas ia mulai menanam bibit-bibit disana, dan rajin menyiram dengan menggunakan gembor yang terbuat dari plastik. Ia harus bolak balik menenteng gembor berat berisi air untuk menyiram benih yang ia tanam di lahan tersebut. Seminggu kemudian saya mulai melihat apa yang ia tanam ternyata kangkung. Kurang lebih sebulan berikutnya, kangkungnya sudah siap panen. Selain ia jual, sebagian lagi ia bagikan ke tetangga, termasuk saya yang berada tepat disamping lahan kosong yang ia manfaatkan tersebut.

Life is a process. Hidup adalah bagian dari proses. Kita lahir, tumbuh, dewasa lalu tua dan kemudian meninggal. Agar bisa bekerja kita belajar sejak kecil, menimba ilmu baik yang formal maupun informal, termasuk tambahan-tambahan keahlian tertentu seperti pengoperasian komputer, bahasa dan sebagainya. Dalam bekerja kita mulai dari bawah dan kemudian berusaha menapak naik ke tingkatan yang lebih tinggi. Ada kalanya profesi mengalami stagnasi atau malah menurun, tapi dengan usaha keras kita kemudian naik kembali. Bapak warga desa tadi tidak akan memanen kangkung sebegitu banyak kalau tidak membersihkan lemak, menggemburkan tanah, menanam bibit dan merawatnya. Pendek kata, semua dalam hidup ini merupakan bagian dari proses. Bagai roda pedati, ada kalanya kita di atas, ada pula saatnya kita dibawah. Dari pengalaman saya, masa-masa sukar ketika kita seolah sedang berada di titik terbawah roda pedati, disana kita justru bisa belajar banyak. Belajar hal baru, belajar lebih sabar, tabah, dewasa dan bijaksana.

Sayangnya, orang semakin lama semakin menginginkan hasil instan. Semakin lama semakin sedikit yang menghargai proses. Jika itu yang diinginkan, tidaklah mengherankan kalau orang menjadi semakin cepat putus asa. Cepat menyerah, cepat kehilangan harapan, gampang panik, lekas emosi dan mudah goyah. Sedikit saja hidup terguncang, semua langsung runtuh. Tidak ada kekuatan iman yang bisa menopang, dan seringkali itu berawal dari pola pikir yang maunya serba instan, pakai cara gampang dan tidak mau susah melewati proses.

Pernahkah anda merasakan bahwa anda sudah berbuat yang terbaik, namun tidak mendapatkan hasil yang terbaik? Anda sudah mati-matian belajar, tapi hasilnya jelek. Anda sudah mati-matian bekerja, tapi belum mendapatkan imbalan memadai, atau jangan-jangan malah kena PHK. Anda tidak melakukan kesalahan, tapi anda dipersalahkan. Anda sedang menikmati zona nyaman dalam hidup anda, tiba-tiba semua seakan-akan diambil dari anda, dijungkirbalikkan, dan dalam sekejap mata anda berada dalam keadaan yang sebaliknya. Hal seperti itu bisa terjadi kapan saja pada siapa saja. Ada saja waktu-waktu dimana kondisi sulit yang rasanya tidak sebanding dengan apa yang telah kita lakukan dengan sebaik-baiknya datang menerpa kita. Sebagian orang akan patah semangat bahkan merasa pahit untuk melanjutkan usahanya, tapi kalau kita melihat itu sebagai bagian dari proses, kita akan mempergunakan masa-masa itu untuk belajar banyak. Pada suatu hari nanti kita akan tersenyum ketika menyadari bahwa itu adalah sebuah proses kehidupan yang bisa mendewasakan, menguatkan dan menebalkan iman kita.

Di dalam Pengkotbah ada rangkaian ayat yang bagi saya selalu terasa sangat menarik. "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya." (Pengkotbah 3:1). There's a season to everything, and a time for every matter or purpose.

"Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai."(ay 2-8).

(bersambung)


Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker