Monday, October 20, 2014

... Dan Semua itu Baik, Sungguh Amat Baik (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Perhatikan sebuah fakta menarik lainnya akan hal ini. Tuhan tidak berkata kepada Adam, "Hai kamu orang yang tidak tahu berterimakasih, Aku sudah menyediakan segalanya dengan baik dan lengkap, kenapa kamu masih harus menunjukkan bahwa kamu kesepian sendirian? Bukankah kamu harusnya bersyukur atas taman dan segala isinya, otoritas untuk menguasai/mengelola semua ini?" Tidak, Tuhan tidak mengatakan itu. Tuhan ingin manusia yang Dia buat dengan gambarNya sendiri memiliki setiap hal yang baik. Itulah yang diinginkan hatiNya. Maka ini yang dilakukan Tuhan. "TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18). Solusi yang dipilih Tuhan untuk mengatasi satu-satunya hal yang tidak baik adalah menciptakan pasangan yang dirancang sebagai penolong/pelengkap dan berdiri dalam status yang sepadan dengan Adam. Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam dan diberikan sebagai istrinya.

Apa yang bisa kita pelajari dari hal ini? Pertama, bahwa pada mulanya semua yang diciptakan Tuhan itu dibuat dengan tujuan baik. Dia memeriksa dan memastikan sampai merasa puas dan mengatakan bahwa itu baik. Masuknya manusia ke dalam dosa lewat pemberontakan atau pembangkangan terhadap larangan Tuhan membuat kita harus berpeluh dan menderita berjuang dalam hidup membuat segalanya tampak jadi tidak baik. Dan Firman Tuhan berkata: "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah." (Roma 3:23). Dosa membuat semua yang direncanakan baik sejak awal menjadi terlihat tidak baik. Tetapi perhatikan bahwa itu tidaklah merubah rencana awal Tuhan atas tujuan penciptaannya sejak semula. Itu tidak membuat Tuhan mengubah pikiran dan ingin menghukum atau menyiksa manusia, Tuhan ingin manusia tetap ada dalam kemuliaanNya dan bisa menuai tepat seperti rencana awalNya. Lihatlah bahwa kelak Tuhan masih mengatakan bahwa "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11). Tuhan sampai rela mengorbankan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16). Dan ingat pula, bukankah FirmanNya mengatakan bahwa "... di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah" (Roma 5:20)?

Ini semua menunjukkan bahwa Tuhan concern dengan keadaan manusia dan ingin agar rencana yang telah Dia susun sejak semula tidak luput dari kita. Ini menunjukkan bahwa Tuhan sama sekali tidak berpikir untuk merubah keinginan hatiNya, merubah pendirianNya dan mengganti rencanaNya. Tuhan ingin kita tetap mengalami sesuatu yang baik, tidak berkekurangan bahkan berkelimpahan, tepat seperti niatNya sejak awal. Bahwa kita harus melewati masa-masa sulit, bergumul dengan berbagai masalah bahkan penderitaan, itu benar. Tetapi itu tidak berarti bahwa Tuhan menganulir apa yang ada di benakNya saat melakukan proses penciptaan yang dicatat dalam Kejadian pasal 1.

Kejadian pasal 1 membeberkan maksud Tuhan yang semula. Disana tertulis keinginanNya, kehendakNya yang sempurna bagi umat manusia. Itu ditetapkan sejak awal dan tidak akan pernah berubah. Dia ingin memberi semua yang baik, Dia membuat segala sesuatu dengan memastikan bahwa semua itu baik. Baik sampai masa hidup kita yang fana berakhir, baik pula dalam kehidupan kekal bersamaNya di Surga. Kita harus sadar betul betapa Tuhan menginginkan kehidupan kita menjadi baik. Jika ada diantara anda yang saat ini tengah mengalami pergumulan, apakah itu menyangkut masalah seperti saya yang harus merintis sesuatu yang sulit yang mungkin bagi kebanyakan orang dianggap sia-sia dan kemungkinan besar tidak berhasil, apakah mengenai pengambilan sebuah langkah besar yang sepertinya riskan dan penuh resiko, apakah mengenai sebuah rencana yang tampaknya sulit untuk dicapai, apakah menyangkut sebuah proses yang harus dirintis mati-matian dengan penuh pengorbanan dari nol atau kesulitan-kesulitan lainnya yang tengah anda hadapi saat ini, ketahuilah bahwa yang ada dalam benak Tuhan adalah segala sesuatu yang baik bagi anda. Selama anda mengambil langkah yang sesuai/seturut kehendakNya dan memastikan bahwa setiap langkah tidak melanggar ketetapanNya, anda tidak perlu kuatir.

Sebuah langkah iman tetap diperlukan dalam menggenapi rencana Tuhan yang baik itu. Pastikan bahwa anda sudah membawanya dalam doa dengan melepaskan terlebih dahulu kemauan anda, pastikan pula bahwa anda memberi ruang bagi Tuhan untuk berbicara kepada anda. Apabila itu sudah anda lakukan dan anda masih merasa bahwa anda harus maju, jangan ragu untuk maju. Selanjutnya perhatikan bahwa dalam setiap proses anda akan selalu melibatkan Tuhan dan tidak membangkang atau melanggar ketetapanNya. Dengarkan kapan anda harus berlari, kapan anda harus melambat, bahkan kapan anda harus berhenti sejenak. If you keep this way, don't be afraid to keep on moving, because if everything He made in the beginning was good, it will always be good. It will be good, exactly like what He always wants us to be from the start.

Tuhan sangat menghendaki kehidupan umatNya menjadi baik dan itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, October 19, 2014

... Dan Semua itu Baik, Sungguh Amat Baik (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kejadian 1:31
====================
"Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik."

Ada banyak pekerjaan berat yang saat ini membuat saya kecapaian luar biasa. Pekerjaan-pekerjaan itu adalah sesuatu yang ternyata harus mulai saya rintis dari nol dan kalau dihitung-hitung secara logika sangat tipis kemungkinannya untuk berhasil. Sementara energi, tenaga, pikiran dan waktu jelas harus tersita habis untuk itu. Sangat berat, dan hasil secara finansial belum terlihat bahkan sangat kabur kalau dianalisa dengan teori-teori ekonomi yang kita pelajari. Orang awam akan berpikir untuk apa, tetapi visi yang saya dapatkan lewat doa yang berulang-ulang tetap menggiring saya ke arah itu. Ada pekerjaan rumah yang harus saya kerjakan yang kalau berhasil, akan membawa pencapaian baru bagi dunia musik dan pelakunya di kota tempat tinggal saya. Tadi pagi tiba-tiba diingatkan lewat hati saya. Kira-kira ini yang saya dengar. "Kalau kamu mau melihat apa yang ada dipikiranKu saat membuat grand design penciptaan dunia dan isinya, kamu tinggal membaca Kejadian 1." Saya bergegas membaca pasal itu, dan memperoleh hal yang sangat esensial yang sangat menguatkan saya. Saya ingin membagikannya hari ini untuk anda.

Kejadian pasal 1 bercerita tentang proses awal penciptaan. Disana Alkitab menyatakan dengan jelas keinginan dan maksud Tuhan sejak semula, apa yang ada di pikiranNya, apa yang menjadi rencanaNya ketika mulai membuat ini dan itu. Kita dapat melihat seperti apa segalanya dulu di bumi ketika kehendak Tuhan terjadi, sebelum dosa datang dan mengacaukan manusia. Dengan kata lain, Kejadian pasal 1 berbicara mengenai apa yang ada dalam benak Tuhan di fase paling awal saat membuat segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada.

Dalam ayat-ayat pertama kitab Kejadian kita melihat seperti apa tempat tinggal yang dirancang Tuhan bagi ciptaanNya yang istimewa, yaitu kita, manusia. Kita diberitahu bahwa Tuhan berfirman dan jadilah terang, dan itu baik. Ia memisahkan air dari daratan kering, dan itu baik. Tuhan menciptakan pepohonan tumbuhan yang menghasilkan buah, dan itu baik. Tuhan menjadikan matahari, bulan, burung-burung di udara, binatang di darat dan ikan di laut, dan itu pun baik. Lihatlah bahwa setiap Tuhan menciptakan sesuatu, ia selalu memastikan bahwa semuanya itu baik. Diciptakan, dan dilihat baik. Alkitab dengan sangat jelas mencatat betapa peduli atau concern-Nya Tuhan terhadap ciptaanNya.

Lalu Tuhan menciptakan manusia menurut gambarNya sendiri. Tuhan menjadikan Adam, lalu memberi Adam kekuasaan dan berfirman sebagai berikut: " "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya." Dan jadilah demikian. Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik." (ay 29-31a).

Berulang kali pasal pertama kitab Kejadian kita menyaksikan bahwa Tuhan menciptakan segalanya baik. Baik, baik, dan baik. Tuhan tidak menciptakan sesuatu secara serampangan, asal-asalan dan tanpa rencana. Tuhan tidak menciptakan sesuatu kecil-kecilan, tidak juga biasa-biasa saja. Setelah selesai, Tuhan memeriksa hasil karyaNya dan memastikan bahwa semuanya baik.

Kita bisa baca apa yang terjadi selanjutnya, yaitu bahwa Tuhan merancang sebuah taman yang sempurna bernama Eden sebagai tempat untuk dihuni manusia. Eden merupakan tempat yang luar biasa, tidak ada yang kurang atau rusak, semua disana disediakan dalam kelimpahan, dan itu disediakan agar manusia yang dibuat menurut gambar dan rupaNya sendiri itu bisa tinggal dan menikmatinya. Perhatikan bahwa Eden diciptakan untuk manusia dan bukan untuk diriNya sendiri. Bukankah Tuhan sudah punya tempat tinggal sendiri yaitu Surga? Tapi setelah Eden dibentuk, Tuhan menemukan sesuatu yang tidak baik. Apa yang tidak baik adalah kenyataan bahwa manusia itu sendirian.

(bersambung)

Saturday, October 18, 2014

Ikut-Ikutan

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Amsal 1:10
==================
"Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut"

Dalam berbagai berita kriminal kita sering melihat sebuah tindak kejahatan yang dilakukan secara berkelompok alias tidak sendirian. Yang umum terjadi, hanya satu atau dua dari mereka yang merencanakan tindakan sejak awal, sedang yang lain hanya ikut-ikutan. Meski yang ikut-ikutan ini mungkin nantinya mendapat hukuman lebih ringan, tetap saja mereka harus menjalani hukuman tergantung dari bagaimana hakim menilai peran serta mereka dalam tindak kejahatan tersebut. Dalam sebuah kunjungan ke lembaga permasyarakatan, ada seorang narapidana yang menangis mengungkapkan penyesalannya. Ia bercerita bahwa ia hanya ikut-ikutan karena mengharapkan imbalan untuk menghidupi keluarganya. Terbelit kondisi ekonomi yang sulit bisa membuat orang terpengaruh lantas tergoda lalu akhirnya terjebak. Ada juga yang tertangkap karena kedapatan menyimpan obat terlarang, ia pun terjerumus karena tergoda ikut perilaku buruk temannya. Teman baik saya saat masih di sekolah menengah pertama awalnya punya prestasi, tetapi karena ia berada dalam lingkungan pergaulan yang buruk, ia mulai sering cabut dengan melompat dari tembok belakang sekolah. Meski sudah diingatkan, ia ternyata tidak mau mendengar. Ia tidak tamat sekolah dan sekian tahun berikutnya saya kebetulan bertemu, ia hidup susah, luntang lantung hidup sendirian. Contoh lainnya? Saya pernah bertemu dengan seorang anak muda yang terkena penyakit mematikan karena mempergunakan suntik bergantian ketika memasukkan zat terlarang ke dalam tubuhnya. Contoh-contoh ini hanyalah sedikit dari konsekuensi buruk akibat tergoda ikut-ikutan ajakan orang yang menyesatkan.

Banyak orang yang mengira bahwa ikut-ikutan tidaklah separah pelaku utama. Mungkin sepintas bisa benar, tetapi akibat yang ditimbulkan bisa saja fatal sehingga penyesalan pun menjadi tidak lagi berguna. Kalaupun tidak separah atau sefatal itu, kalau dibiarkan lama-lama kita tidak lagi peka dan akan mudah sekali terperosok semakin jauh masuk dari satu dosa kepada dosa lainnya. Itu juga sangat berbahaya.

Jauh sebelum masa sekarang Salomo sudah mengingatkan kita akan pentingnya mencermati lingkungan pertemanan kita. "Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut." (Amsal 1:10). Ayatnya singkat saja, tetapi mengandung pesan yang sangat penting untuk kita cermati. Salomo dengan hikmatnya sudah melihat kecenderungan manusia untuk jatuh ke dalam dosa bermula dari bujukan dari orang yang sudah terlebih dahulu dipenuhi dosa. Orang yang bisa membujuk kita tentu orang yang dekat dengan kita, setidaknya kita kenal. Orang-orang yang dikuasai dosa akan selalu mencari orang lain untuk mengikuti gaya hidup mereka yang salah. Dan kita kerap menuruti mereka lewat banyak alasan. Gengsi jika menolak, takut dianggap kuno, ketinggalan jaman, kampungan dan sebagainya bisa menjadi awal bagi kita untuk mulai menuruti bujukan mereka. Oleh karena itu sangatlah penting bagi kita untuk mengingat pesan Salomo ini baik-baik.

Kalau kita rajin membaca Alkitab, kita tentu sudah tahu betul konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkan oleh pembiaran kita atas dosa. Bisa jadi semula kelihatannya sederhana lewat keinginan-keinginan daging yang menjanjikan kesenangan, kenikmatan dan hal-hal menggiurkan lainnya yang ditawarkan pada kita. Tetapi walaupun kelihatan sepele, ingatlah bahwa hal seperti ini bisa menjadi awal datangnya bencana dalam hidup kita. Dalam Yakobus kita bisa melihat firman Tuhan berbunyi seperti ini: "Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut." (Yakobus 1:15). Sebuah keinginan untuk sedikit-sedikit keluar dari kehendak Tuhan bisa jadi biasa saja di mata kita. Tapi ketika keinginan kemudian akan dibuahi dan melahirkan dosa. Dan ketika dosa menjadi matang dalam diri kita, maut pun hadir disana. Ini adalah hal yang sangat serius yang harus kita perhatikan mengingat kita hidup di dunia yang dipenuhi orang-orang sesat. Mereka akan terus menawarkan banyak kenikmatan yang sangat dirindukan oleh daging kita. Itulah sebabnya kita benar-benar harus berhati-hati dalam lingkungan pergaulan kita. Jangan-jangan bukannya menjadi terang dan garam tetapi malah ikut terseret arus kesesatan dunia.

Seperti apa bentuk keinginan-keinginan yang bisa berbuah dosa dan melahirkan maut itu? Paulus pernah merincinya."Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya." (Galatia 5:19-21a). Dan terhadap pelaku dari semua itu dikatakan tidak akan mendapatkan bagian dalam Kerajaan Allah. (ay 21b). Lihatlah jenis-jenis keinginan yang dikatakan bisa melahirkan maut itu. Bukankah itu bukan lagi hal yang asing bagi kita hari ini? Dimana-mana ada potensi penyesatan, dan apabila tidak hati-hati maka kita bisa dengan mudah masuk di dalamnya.

Ayat lainnya dalam Perjanjian Baru mengingatkan kita agar berhati-hati dalam bergaul. "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik." (1 Korintus 15:33). Kita harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh kepada siapa kita bergaul. Benar, kita tidak boleh memusuhi siapapun, kita bahkan perlu menjangkau mereka yang berdosa agar bisa diselamatkan. Tetapi penting pula bagi kita untuk berhati-hati agar jangan malah kita yang korban karena termakan bujukan mereka.

Kembali kepada hikmat Salomo, perhatikanlah ayat selanjutnya yang mengatakan:  "..mereka menghadang darahnya sendiri dan mengintai nyawanya sendiri" (Amsal 1:18). Inilah yang dialami oleh orang-orang yang melakukan dosa. Peran kita adalah untuk menyadarkan dan menyelamatkan mereka dari kebinasaan dan mengembalikan mereka kepada kebenaran, bukannya malah menyerahkan nyawa sendiri untuk berakhir sia-sia. Dunia yang kita tinggali saat ini memang penuh dengan kegelapan lengkap dengan berbagai penyesatannya. Tetapi kita jangan sampai serupa dengannya. Firman Tuhan pun mengingatkan "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2). Segala perbuatan dosa sesungguhnya berasal dari Iblis. Dan Yesus pun sudah hadir ke dunia atas besarnya kasih Allah pada diri kita untuk membinasakan semua itu. Alkitab menyatakan demikian: "barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu." (1 Yohanes 3:8). Semua sudah dikalahkan Yesus lebih dari 2000 tahun yang lalu, oleh karena itu kita seharusnya tidak lagi terjebak ke dalam tipu muslihat iblis yang akan terus berusaha menggiring kita untuk binasa lewat banyak cara.

Dosa-dosa memang bisa dikemas dengan indah dan penuh kenikmatan, tetapi apa yang sesaat itu sama sekali tidak sebanding dengan akibat yang harus kita tanggung selamanya. Hari ini marilah kita sama-sama mawas diri memperhatikan pergaulan kita dan terlebih lagi menjaga diri kita agar tidak termakan bujuk rayu mereka yang berdosa. Jangan berpikir bahwa hanya ikut-ikutan sekali-sekali itu tidak apa-apa, karena kalau yang fatal sudah terjadi, penyesalan menjadi tidak lagi berguna. Daripada ikut terbujuk rayuan dosa, jadilah agen-agen Tuhan yang berperan dalam menyelamatkan mereka.

Say no and never give any chance to sin

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, October 17, 2014

Ngejudge

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yohanes 1:46
=========================
"Kata Natanael kepadanya: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?"

Berkecimpung di dunia musik membuat saya bisa melihat perkembangan yang terjadi dari sisi lebih dalam. Kalau dahulu musisi-musisi hebat kebanyakan lahir di kota-kota besar dengan fasilitas yang relatif lebih baik, saat ini banyak pemain potensial yang lahir dari kota-kota yang secara historis belum tercatat sebagai kota penghasil talent. Bukan hanya di pop, tapi juga di genre-genre yang biasanya membutuhkan keahlian khusus seperti jazz misalnya. Dari pengamatan saya dan hasil tanya-tanya, perkembangan teknologi yang semakin pesat ternyata memberi kemudahan bagi mereka untuk mengakses beragam sumber untuk belajar sehingga meski ada keterbatasan sarana pendidikan formal, kemauan mereka untuk mengasah minat dan bakat sangat terbantu oleh keberadaan internet. Saya bertemu dengan sebuah grup yang berasal dari sebuah kota di bagian bawah pulau Sumatra, mereka ternyata piawai dalam membawakan musik dengan tingkat kesulitan tinggi meski mayoritas pemainnya masih bocah, bahkan ada yang berusia hanya sepuluh tahun. Maka kalau anda mendengar ada musisi dari kota kecil yang tidak punya sejarah musik, jangan buru-buru menganggap remeh mereka, karena boleh jadi mereka justru lebih baik daripada para pemain di kota-kota besar.

Agaknya sudah menjadi seperti sifat manusia untuk cenderung terlalu terburu-buru menarik kesimpulan terhadap sesuatu dan menjatuhkan 'vonis' sebelum mereka mempelajari, mengetahui dan mengenal terlebih dahulu seseorang dengan baik.  Ambil contoh apabila kita tengah berada dalam satu lingkungan kecil di sebuah kota dimana kebetulan kita bertemu dengan beberapa orang yang tidak sopan, kita bisa dengan cepat berkata "kota ini benar-benar kasar, isinya orang (maaf) kurang ajar semua!" Padahal beberapa orang itu sama sekali tidak cukup representatif untuk mewakili keseluruhan penduduk di kota itu yang bisa mencapai ratusan ribu orang. Atau ketika ada seorang anak yang bandel, orang terbiasa dengan cepat berkata: "orang tuanya nggak benar.." atau bilang "tidak heran, memang sudah turunan.." Kalau ada satu orang yang kita temui sedang marah, kita bisa dengan cepat beranggapan bahwa ia pemarah. Waktu berpapasan dengan orang yang tidak tersenyum, kita langsung menganggap bahwa orang itu sombong. Saat disapa tidak membalas dengan wajar, kita anggap mereka angkuh.Padahal mungkin saja mereka sedang punya beban pikiran dan tidak fokus kepada sapaan kita. Ada banyak contoh lain dari kecenderungan manusia untuk menilai terlalu cepat hanya berdasarkan pandangan sesaat atau pendapat prematur yang terlalu singkat untuk bisa kita ambil kesimpulannya. Sikap seperti ini pun pernah terjadi bahkan terhadap Yesus sendiri.

Yesus pun mengalami sikap terburu-buru 'ngejudge' seperti itu? Ya, Alkitab menyebutkan hal itu. Mari kita lihat kisahnya. Ketika Yesus tengah mengumpulkan murid-murid pertamaNya yang tertulis dalam Yohanes 1:35-51. Waktu Filipus bertemu dengan Natanael, ia berkata: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." (ay 45). Pada saat itu memang Natanael belum bertemu langsung dengan Kristus. Tapi meski demikian, ia malah terburu-buru mengambil kesimpulan. Beginilah reaksinya. "Kata Natanael kepadanya: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" (ay 46).

Sebelum kita lanjutkan, kita perlu mengetahui latar belakang kota Nazaret sehingga Natanael bisa berkata seperti itu. Nazaret memang hanyalah kota yang kecil yang terletak sekitar 80 mil dari Yerusalem. Melihat letak geografisnya sebagai kota yang terletak pada jalur perdagangan dari Damaskus ke Galilea, mungkin Natanael mendengar banyak kekacauan dan tindak kriminal disana, sehingga langsung menyimpulkan bahwa adalah tidak mungkin jika seorang Mesias akan datang dari kota kecil yang kacau situasinya seperti Nazaret. Saya tidak tahu bagaimana pastinya pandangan orang di masa itu tentang kota Nazaret. Mungkin ada banyak orang yang berpendapat sama, bahwa kota itu tidak ada baiknya seperti kata Natanael, tetapi faktanya adalah jelas. Yesus "orang Nazaret" melakukan banyak mukjizat dan menunjukkan penggenapan nubuat-nubuat sebelumnya lewat banyak nabi dalam Perjanjian Lama seperti yang disebutkan Filipus. Dalam Kisah Para Rasul dikatakan: "Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea, mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes,yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia." (Kisah Rasul 10:38). Berbuat baik dan menyembuhkan ini juga tertulis dalam Injil Matius. "Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik" (Matius 11:5). Lebih dari mukjizat kesembuhan dan pelepasan, Yesus juga menebus dosa-dosa kita dengan nyawaNya sendiri dan melayakkan kita untuk menerima janji keselamatan. Ini semua dilakukan oleh "Seorang" yang tumbuh dan dibesarkan di Nazaret. Jika kita mundur ke belakang melihat Yesaya 53:3, disana dinubuatkan bahwa Mesias akan merupakan orang yang hina, dan dengan berasalnya Yesus dari Nazaret, nubuatan ini pun terbukti terpenuhi.

Seandainya pertanyaan Natanael ditujukan kepada kita: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?", bagaimana reaksi kita? Apakah kita ikut merasa itu sebagai sesuatu yang tidak mungkin atau kita bisa menjawab "ya, sesuatu yang baik tentu bisa saja datang dari mana saja, termasuk dari Nazaret." Janganlah terlalu cepat menggeneralisir sesuatu, jangan terburu-buru menilai dan terlalu gampang menyimpulkan sesuatu. Kita harus menjaga diri agar tidak terperosok pada kecenderungan mengambil kesimpulan negatif terlalu cepat. Kita bisa belajar dari reaksi Filipus terhadap reaksi negatif Natanael yang prematur itu. Ia merespon dengan: "Mari dan lihatlah!". "Come and see." Mungkin akan ada banyak pertanyaan mengenai Yesus yang ditujukan kepada kita oleh orang-orang yang belum percaya. Mereka mungkin pesimis, ragu atau sulit menerima kebenaran. Kita pun harus mampu mengatakan hal yang sama. Satu hal yang pasti, kita tidak akan bisa menjawab demikian apabila kita tidak mencerminkan terang Kristus sama sekali. Sebab tidak mungkin orang mau mencoba mengenal kalau tidak ada apapun dari kita yang mencerminkan pribadiNya. Aplikasi lainnya, jangan takut memulai dari sesuatu yang kelihatannya kecil, karena itu bisa jadi sesuatu yang luar biasa besar apabila kita tekuni dan membawa Tuhan untuk bertahta disana. Jadi, mungkinkah ada sesuatu yang baik datang dari Nazaret? Jawabannya, tentu saja. Sang Penebus, Tuhan kita Yesus Kristus datang menebus dosa kita dengan berawal dari sana.

Jangan terburu-buru menyimpulkan apalagi menuduh sebelum mengetahui dengan baik

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, October 16, 2014

Terburu-buru Mencap Orang Lain

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 13:55
====================
"Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?"

Suatu kali saya pernah kecopetan ketika berada di stasiun bus di Kuala Lumpur sekian tahun lalu. Sadar bahwa dompet saya lenyap, saya pun bergegas mendatangi pos polisi yang ada disana. Reaksi yang saya dapatkan bukanlah reaksi baik. Karena tahu bahwa saya berasal dari Indonesia, mereka malah tertawa dan berkata bahwa yang mencopet pun orang Indonesia juga. Itu sebuah tuduhan yang punya dasar lemah, karena mereka bahkan belum melakukan penyelidikan apa-apa, bahkan belum beranjak dari kursinya. Mungkin saja bahwa yang biasa mencopet disana adalah orang Indonesia yang punya sikap buruk, tetapi bukan berarti bahwa kalau ada yang kecopetan maka pasti pelakunya dari Indonesia. Satu hal lagi yang saya rasa tidak pantas adalah dengan mengarahkan kata Indonesia secara langsung. Kriminal tidak hanya berasal dari satu negara, dan kalau satu-dua orang berbuat jahat, tidak serta merta seluruh negara diberi cap sama. Tapi agaknya memang sudah kebiasaan orang untuk menggeneralisir sesuatu. Satu-dua oknum aparat berlaku buruk, instansinya kena getah. Beberapa anggota dewan korupsi, semua dicap jelek. Tidak jarang pula tanpa sadar kita sudah memberi cap sebelum kita mengenal seseorang, hanya berdasarkan dari mana ia berasal dan sebagainya.

Masalah seperti ini sebenarnya sudah terjadi sejak dahulu kala. Ketika Yesus hadir di dunia, Yesus juga mengalami hal yang sama. Yesus datang dengan  mengambil rupa orang biasa, Dia mengalami sendiri perlakuan-perlakuan buruk seperti diremehkan, disepelekan, dipandang rendah dan sebagainya. Ironisnya itu terjadi terlebih di kotanya sendiri, di Nazaret, dimana Yesus dalam rupaNya sebagai manusia bertumbuh dewasa.

Kita bisa melihatnya dalam Matius 13. Ketika Yesus mengajar di sana pada suatu kali, ada sekelompok orang yang dengan cibiran sinis meremehkan atau merendahkanNya. Lihatlah komentar orang-orang disana mengenai Yesus. "Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?" (Matius 13:55). Perhatikan bahwa mereka langsung memberi cap, belum apa-apa sudah menghakimi seenaknya. Apa sih yang bisa dilakukan oleh anak seorang tukang kayu? Begitu kira-kira pandangan mereka. Dan apa yang terjadi kemudian sangatlah disayangkan. "Lalu mereka kecewa dan menolak Dia." (ay 57b). Mereka menunjukkan sikap tidak percaya. Alkitab menyatakan apa yang terjadi selanjutnya. "Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ." (ay 58). Bukankah itu sangat disayangkan? Justru di 'rumah' sendiri Yesus mendapat penolakan, dan justru disana mukjizat tidak banyak terjadi. Mereka seharusnya bisa melihat berbagai kuasa dan mukjizat yang dilakukan Yesus, namun karena mereka sibuk memandang apa yang terlihat dari luar mereka pun meremehkan perbuatan-perbuatan luar biasa Yesus. Dan akibatnya mereka pun tidak mengalami mukjizat seperti yang banyak dilakukan Yesus justru diluar kotanya sendiri.

Mari kita lihat kejadian lainnya pada saat Samuel mencari anak-anak Isai untuk diurapi menjadi raja. "Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: "Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya." (1 Samuel 16:6). Samuel berpikir demikian dengan memandang penampilan luar. Ganteng, tinggi, berwibawa, kurang apa lagi? Itu mungkin yang muncul dalam pikiran Samuel. Tapi nyatanya Tuhan tidak memandang dengan cara demikian. Tuhan pun kemudian menegurnya. "Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (ay 7). Lalu selanjutnya, bukankah Tuhan telah berfirman: "Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti" ? (1 Korintus 1:27-28). Dalam banyak lagi kesempatan Tuhan juga sudah berkali-kali mengingatkan kita agar berhenti memandang segala sesuatu hanya berdasarkan penampilan luar yang dapat dilihat mata.

Dari renungan hari ini kita bisa melihat bahwa kecenderungan untuk memberi cap sebelum mengenal seseorang terlebih dahulu sebenarnya hanya merugikan kita sendiri. Sikap buruk seperti ini bukan hanya menimpa orang-orang biasa tapi bisa juga dilakukan oleh orang-orang yang seharusnya menjadi teladan, hamba-hamba Tuhan yang berada di barisan depan dalam melayani Tuhan. Nabi sekelas Samuel pun ternyata bisa melakukan kekeliruan seperti itu. Oleh karena itu kita harus mewaspadai agar jangan sampai perilaku seperti ini ada dalam diri kita. Ingatlah bahwa apa yang tampak hebat dari luar belum tentu sebaik apa yang terlihat, dan belum tentu hebat pula dalam pandangan Tuhan. Sebaliknya, ingat pula bahwa orang yang terlihat tidak istimewa dalam pandangan manusia bisa dipakai Tuhan secara luar biasa. Semua orang sama berharganya di mata Tuhan. Artinya, karena Tuhan mengasihi semua orang tanpa pandang bulu, ketika kita meremehkan seseorang itu sama saja dengan meremehkan Tuhan. Berhentilah menilai orang hanya dari kulit luarnya. Berhentilah menggeneralisir dan terburu-buru memberi cap sebelum mengenal betul seseorang. Yesus sudah memberi perintah jelas. "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Bersikaplah sama baik kepada semua orang tanpa membeda-bedakan. Kasih yang diberikan Kristus kepada kita bukanlah sebentuk kasih yang membeda-bedakan seperti itu. Sama seperti Dia mengasihi kita tanpa memandang status, fisik, penampilan, asal usul atau latar belakang kita, seperti itu pula kita harus memperlakukan orang lain.

Tuhan tidak menilai penampilan luar, tetapi melihat hati

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, October 15, 2014

Jangkar Bernama Pengharapan

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Ibrani 6:19
====================
"Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir"

Sebuah kapal yang berlayar di laut membutuhkan jangkar. Jangkar berguna untuk menahan dan menjaga keseimbangan kapal agar tahan terhadap gelombang atau ombak, tahan angin kencang sehingga kapal bisa berlabuh dengan aman. Anda bisa bayangkan seandainya kapal hanya berhenti tanpa ditahan oleh beberapa buah jangkar ketika menurunkan penumpang. Itu akan sangat merepotkan orang yang turun naik bahkan berbahaya. Ada sebuah cerita nyata tentang kapal yang karam di perairan daerah Jawa Tengah. Kapal ini terseret ombak tinggi dan angin kencang karena jangkarnya tidak berfungsi dengan baik sehingga tidak kuat menahan kapal untuk tetap berada di pelabuhan. Kondisi kapal yang memang sedang dalam kondisi rusak membuat kapal tidak punya kemampuan apa-apa untuk melawan gelombang yang menarik kapal kembali ke tengah. Pada akhirnya kapal pun karam. Untunglah tidak ada penumpang pada saat kejadian. Jadi jelas, fungsi jangkar, atau disebut juga sauh, merupakan alat yang sangat vital bagi sebuah kapal.

Hidup banyak dianalogikan orang sebagai sebuah kapal. Kita mengarungi laut kehidupan yang tidak selalu tenang. Akan ada riak-riak, gelombang-gelombang bahkan angin kencang dan badai yang sewaktu-waktu bisa menerpa kita. Oleh karenanya seperti kapal kita jelas butuh jangkar, yang bisa menahan kita dalam keadaan aman, tetap kuat dan tidak terombang ambing tanpa arah sampai pada akhirnya karam seperti yang terjadi pada kapal di atas. Adakah jangkar seperti itu bagi kita? Ada. Alkitab bahkan mengatakan itu dengan jelas yang bisa kita baca dalam Ibrani 6:19.

Ayatnya berbunyi demikian: "Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya." (Ibrani 6:19-20). We have hope as sure as steadfast anchor of the soul, an anchor that can't slip and can't break down under whoever steps upon it. Kita punya pengharapan yang sangat kuat dan aman bagai jangkar di jiwa, sebuah jangkar yang tidak bisa bergeser dan rusak dalam kondisi apapun. Jangkar kuat dan aman bagi jiwa itu bernama pengharapan.

Pengharapan adalah sauh yang kuat dan aman ketika sauh itu ditambatkan hingga ke Ruang Mahasuci, dimana Yesus menjadi Imam Besar untuk selamanya. Yesuslah batu yang kokoh, yang bisa menjadi tambatan kuat dan aman bagi sauh-sauh untuk berpegang, sehingga kapal kehidupan kita akan tetap kuat dan terjaga aman. Dalam kesempatan lain kita pun diingatkan demikian: "Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur." (Kolose 2:6-7). Hanya di dalam Yesus Kristus-lah kita bisa berpegang dengan kuat dan aman. Yesus adalah dasar kehidupan yang kokoh, dimana kita akan menemukan pengharapan yang bisa dijadikan tambatan kuat bagi jiwa kita. Apa yang ditawarkan oleh Yesus sungguh indah. "Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" (Yohanes 11:25-26). Percayakah kita akan hal ini?

Kehidupan berisi banyak tantangan maupun tekanan yang terkadang kekuatannya bisa mengubah haluan hidup kita sehingga tanpa sadar kita sudah menjauh dari kebenaran Firman. Arus globalisasi, modernisasi, segala hal yang diajarkan oleh paham dunia cepat atau lambat bisa membawa kita terseret arus dan terombang ambing tanpa arah. Firman Tuhan mengatakan dengan jelas bahwa Yesus menjadi jaminan yang lebih kuat dari apapun terhadap suatu ikatan perjanjian antara Tuhan dengan manusia. "demikian pula Yesus adalah jaminan dari suatu perjanjian yang lebih kuat." (Ibrani 7:22). Dengan mengetahui hal ini maka kita bisa meletakkan pengharapan kita dalam Kristus. Ada jaminan yang kuat dari perjanjian di dalam Kristus, sehingga sauh atau jangkar pengharapan yang kita letakkan disana akan kuat dan aman.

Sebuah hidup yang berlayar tanpa pengharapan tidak akan kuat menahan badai masalah yang sewaktu-waktu menerpa. Sebuah hidup yang tidak punya pengharapan membuat kita terombang ambing tanpa arah. Sebuah kehidupan tanpa pengharapan akan membuat kita gampang kecewa dan menyerah. Pengharapan yang berfungsi bagai sauh yang ditambatkan kepada Kristus, Sang Imam Besar akan mampu membuat kita kuat dalam berlayar mengarungi kehidupan. Mungkin anda sedang menghadapi pergumulan, tengah diterpa badai masalah, mengalami krisis dalam berbagai hal. Kalau diibaratkan kapal, anda mungkin tengah bertemu dengan ombak tinggi, angin kencang disertai badai yang menggelora. Itu bisa terjadi, tapi sesusah-susahnya kita saat ini selama kita masih memiliki pengharapan, maka jiwa dan roh kita akan senantiasa kuat dan aman. Tambatkanlah pengharapan anda jauh hingga ke Ruang Mahasuci dimana Yesus bertahta selamanya. Disanalah anda akan bisa tetap tegar tak peduli sebesar apapun badai yang saat ini tengah anda hadapi.

Kalau jangkar tidak memiliki tambatan kuat, kapal akan hanyut menuju bencana

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, October 14, 2014

Makin Kuat (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Mukjizat merupakan keajaiban yang terjadi dari kuasa Tuhan yang mampu melampaui hukum alam dan logika. Jika secara alami segala sesuatu melambat, merosot, memudar dan berkurang dalam perjalanan waktu, mukjizat Tuhan ternyata mampu melakukan sebaliknya. Lewat Kaleb kita menyaksikan hal itu. Lihat apa yang tertulis di antara dua ayat Mazmur di atas. Jika mengacu kepada Mazmur 84:7 di atas, mukjizat Tuhan ternyata tidak hanya berbicara mengenai kekuatan yang tidak merosot dimakan usia, tapi juga berbicara mengenai mukjizat Tuhan untuk mengubah lembah Baka (artinya lembah air mata) menjadi lembah penuh berkat, menjadi lembah yang penuh sukacita. Itupun merupakan janji Tuhan kepada orang yang meletakkan kekuatannya di dalam Tuhan.

Lalu lihat pula sosok Abraham yang justru mendapatkan anak di usia yang sudah sangat lanjut. Tidak ada satupun logika yang mengatakan bahwa usia setua itu disertai istri yang juga sudah lama menopause ternyata masih bisa mendapat anugerah anak. Tapi itu terjadi dengan nyata. Lihat pula Nuh yang masih mampu membangun kapal berukuran raksasa di usia senjanya. Nuh dan Abraham juga merupakan bukti nyata dari kemampuan Tuhan yang menurut logika tidak mungkin bisa terjadi. Tuhan menjanjikan kekuatan yang sama kepada orang-orang yang mau menggantungkan kekuatannya kepada Tuhan dan bukan kepada kehebatan diri sendiri. Tuhan bahkan sudah menjanjikan langsung secara begitu spesifik: "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu." (Yesaya 46:4). Ini menunjukkan betapa besar perhatian Tuhan yang akan terus memberikan kekuatan bagi kita hingga akhir usia kita.

Kepada jemaat Efesus, Paulus mengatakan bahwa manusia akan melemah, iman dan kasih pada Tuhan bisa merosot dari waktu ke waktu. Karena itulah Paulus berpesan agar jemaat Efesus tetap kuat dengan meletakkan kekuatan mereka di dalam Tuhan. "Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya." (Efesus 6:10). Ini pesan yang penting agar kita mau mengandalkan kekuatan di dalam Tuhan yang tentu akan memberikan perbedaan nyata dalam hidup kita. Kepada Timotius, Paulus mengingatkan pula agar tidak menjadi lemah karena tugas yang diemban Timotius di usia mudanya sesungguhnya tidaklah mudah. Kata Paulus: "Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus." (2 Timotius 2:1). Jika mengandalkan kemampuan dan kekuatan sendiri kita tidak akan mampu bertahan lama, apalagi menghadapi dunia yang semakin sulit untuk didiami. Agar itu tidak terjadi, kita harus meletakkan kekuatan kita ke dalam Tuhan.

Jadilah kuat bukan karena kehebatan kita, tapi oleh kasih karunia dalam Yesus Kristus. Inilah yang akan mendatangkan mukjizat melampaui hukum alam sehingga kita bisa mengalami sesuatu yang luar biasa seperti apa yang dialami Kaleb dan tokoh-tokoh besar lainnya. Iman kita bisa merosot, tenaga kita bisa menurun, kekuatan kita bisa berkurang, daya ingat bisa melemah, kasih mula-mula bisa menghilang, jika kita tidak menyerahkan diri kita ke dalam tangan Tuhan dan bergantung pada kekuatan kita sendiri. Tapi ketika kita menyerahkan hidup ke dalam tangan Tuhan, percaya dan bergantung sepenuhnya kepadaNya, mengikuti rencanaNya meski mungkin pada mulanya terasa berat, Tuhan akan selalu memberi kekuatan. Karenanya, tetaplah berjalan bersama Tuhan, dan andalkanlah Tuhan dalam apapun yang kita lakukan atau kerjakan. Jika ini terus kita lakukan maka kita tidak akan hidup dengan dibatasi oleh lingkungan, situasi dan kondisi sekitar, melainkan hidup penuh dengan terobosan-terobosan dan mukjizat yang berasal dari Allah yang begitu peduli dan mengasihi kita.

Keep going from strength to strength with increasing in victorious power with God

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker