Thursday, November 27, 2014

Kasih dan Objeknya

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Yohanes 4:8
=======================
"Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih."

Hari ini saya mau membagikan mengenai sesuatu yang ringan saja tapi tetap penting untuk kita renungkan dalam-dalam, yaitu mengenai kasih. Kasih adalah sesuatu yang mudah diucapkan tapi tidak mudah diaplikasikan ke dalam kehidupan nyata. Mungkin mudah kalau kita menyatakan kasih kepada pasangan atau keluarga, tapi akan sulit saat itu berhubungan dengan orang lain, terlebih yang pernah menyakiti, mengecewakan atau orang-orang yang tabiatnya memang sulit dan cenderung provokatif. Kalau kita berhadapan dengan tipe orang seperti itu, tidak bereaksi negatif saja mungkin sudah merupakan keberhasilan, alih-alih mau mengasihi mereka. Sulit sekali, atau malah hampir-hampir tidak mungkin. Padahal kasih merupakan dasar dari kekristenan yang seharusnya dimiliki atau dihidupi oleh orang-orang percaya. Aksi pura-pura mungkin mudah kita tampilkan di depan orang, tapi jarang sekali orang sanggup memaafkan dan tetap mengasihi terhadap yang menyakiti atau merugikan.

Dua perintah yang terutama dari Yesus berkaitan dengan kasih, yaitu mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, lalu mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri (Matius 22:37-40). Lebih lanjut kita justru diperintahkan untuk meningkatkan level kasih kita, tidak hanya seperti mengasihi diri sendiri, melainkan seperti Kristus sendiri telah mengasihi kita. (Yohanes 13:34). Yesus juga berkata: "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (15:13). Tingkatan seperti itulah yang Tuhan sampaikan dan sudah Dia contohkan sendiri. Bisakah kita melakukan itu, apalagi kalau kepada orang lain yang bermasalah dengan kita? Berat, itu pasti. Tetapi kalau kita bicara soal kasih dalam standar Kerajaan Surga, kasih seharusnya mampu sampai kepada tingkatan itu,

Kali ini saya ingin mngajak teman-teman untuk melihat sebuah sisi lain dari penerapan kasih Allah. Ayat bacaan hari ini berbunyi demikian: "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:8). Ayat ini sangat sederhana, tetapi sesungguhnya berbicara jelas mengenai hubungan antara mengasihi orang lain bahkan musuh sekalipun dengan pengenalan kita akan pribadi Allah. Artinya, seberapa besar kita mengasihi sesama kita akan mencerminkan sejauh mana kita mengenal Allah. Dalam ayat berikut kita membaca "Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia." (ay 16). Sedemikian pentingnya sebuah ungkapan kasih kepada sesama manusia, sedemikian pentingnya untuk hidup dikuasai oleh kasih dan bukan kebencian sampai-sampai itu dikaitkan dengan seberapa jauh pengenalan dan kedekatan kita dengan Allah sendiri. Menariknya, apa yang disampaikan ayat ini bukan hanya sebatas Tuhan sebagai Pribadi yang Maha Pengasih, tetapi Tuhan adalah kasih itu sendiri. Tuhan selalu rindu untuk memberikan kasihNya kepada kita, karena PribadiNya adalah kasih.

Tuhan mempunyai banyak sifat lainnya, seperti adil, kudus, maha kuasa, maha besar dan seterusnya. Itu benar. Perhatikan bahwa sifat-sifat ini bisa dimiliki Tuhan tanpa membutuhkan kita alias sebenarnya tidak butuh objek. Maksud saya, Tuhan tidak perlu kita, manusia, untuk menjadi kudus, tidak membutuhkan kita untuk menjadi adil, maha besar dan sebagainya. Tapi kasih itu berbeda. Sifat kasih yang menjadi sifat dasar Tuhan ini tidak dapat Dia berikan tanpa kehadiran kita, manusia-manusia yang dibentuk sesuai dengan gambar dan rupaNya. Artinya, kita ada sebagai objek dimana Tuhan bisa menyatakan kasihNya. Logikanya, kasih akan berlangsung jika ada yang mengasihi dan ada yang dikasihi, dan saat kedua pihak saling mengasihi, maka kasih itu akan menjadi luar biasa indahnya.

Berkali-kali Tuhan menyatakan betapa Dia mengasihi kita. Lihat, kita dikatakan sebagai ciptaan yang dahsyat dan ajaib. Tuhan membentuk setiap bagian tubuh kita, menenun kita langsung dalam rahim ibu kita (Mazmur 139:13-14), kita dilukiskan Tuhan dalam telapak tanganNya dan terukir di ruang mataNya (Yesaya 39:16), dan lain-lain. Bahkan begitu besar Tuhan mengasihi kita sehingga Kristus pun Dia berikan agar kita semua selamat dari maut. (Yohanes 3:16). Semua kisah kasih Tuhan terhadap manusia yang penuh dosa ini begitu menggugah hati, sehingga seharusnya jika kita mengenal pribadiNya yang kasih, kita pun sudah pada tempatnya senantiasa termotivasi untuk mengasihi orang lain pula.

Tuhan sangat menantikan eratnya hubungan dengan anak-anakNya yang khusus diciptakan segambar dan serupa dengan Dia, yang dapat Dia kasihi. Tuhan menciptakan manusia, baik pria maupun wanita dengan begitu istimewa, dalam gambarNya sendiri, karena Dia menginginkan kita sebagai sosok untuk berbagi kasih. Renungkanlah, maka anda akan mendapati bahwa pesan ini sesungguhnya sangatlah menakjubkan. Kita objek-objek yang menerima kasih Allah, bentuk kasih yang sempurna. Terlebih ketika Allah sudah terlebih dahulu mengulurkan tanganNya untuk mengasihi kita. Wujud mengasihi Tuhan ini tidaklah bisa lepas dari wujud mengasihi sesama kita, seperti apa yang dipesankan Tuhan Yesus. Yohanes menuliskan demikian: "Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya." (1 Yohanes 4:19-21). Rangkaian pesan ini menegaskan pesan kasih yang harus kita jalankan di dunia jika kita mengaku mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi kita.

Tidak mudah memang untuk mengasihi orang yang tidak kita kenal, apalagi kalau mereka termasuk orang yang mengecewakan atau menyakiti kita. Tetapi setidaknya kita bisa belajar untuk melakukannya dengan mengimani pribadi Tuhan yang tidak lain adalah kasih. Seperti kasih yang terus menerus Dia curahkan pada kita yang sebenarnya jauh dari layak untuk menerima itu semua, seperti itu pula kita seharusnya berbuat kepada orang lain. Ketika Tuhan begitu mengasihi kita, tidakkah kita yang mengaku anak-anakNya sudah sepantasnya berusaha pula untuk mengasihi orang lain? Sebagai objek kasih Tuhan, adakah orang disekitar anda saat ini yang bisa anda jadikan objek kasih? Sudahkah anda melakukan itu?

Sebagai objek kasih Tuhan, hendaklah kita juga belajar mengasihi orang lain

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, November 26, 2014

Pondasi Hidup yang Kokoh

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 6:47-48
==========================
"Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya..ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun."

Sebuah rumah bisa tampak indah dari penampilan luarnya, tetapi belum tentu baik kondisinya. Itu pelajaran yang saya dapat beberapa tahun lalu saat saya memutuskan untuk berhenti mengontrak dan mencari rumah. Saya dan istri berkeliling dari satu tempat ke tempat lain mencari yang cocok dengan budget. Mulai dari rumah-rumah baru di perumahan sampai rumah yang hendak dijual pemiliknya kami datangi satu persatu. Beberapa kali saya bertemu dengan rumah yang dari tampak luarnya terlihat baik tapi ketika dindingnya diketuk ternyata rapuh, ada juga yang kalau dilihat baik-baik ternyata miring, meragukan dari segi kekuatan konstruksi penahannya. Kalau tidak hati-hati, saya bisa tertipu dari tampilan luar yang kelihatan indah. Belakangan saya justru lebih memperhatikan konstruksi penahan alias tampilan luarnya. Toh itu nanti bisa direnovasi sesuai keinginan, tetapi kalau pondasinya buruk maka saya harus meruntuhkan dulu dan membangun ulang, sehingga jelas butuh biaya yang jauh lebih besar lagi.

Pondasi merupakan bagian konstruksi yang terpenting pada sebuah bangunan, karena disanalah terletak tumpuan seluruh beban yang ada di atasnya, juga kekuatan menahan berbagai gaya dari luar. Sebuah pondasi akan tergantung dari berat bangunan (berapa tingkat dan bahan yang digunakan), juga kontur tanah dimana bangunan tersebut didirikan. Ada tanah yang miring, ada tanah yang tidak padat alias bekas rawa, ada tanah hasil timbunan, sehingga kondisinya benar-benar harus diketahui terlebih dahulu agar pondasinya kuat untuk menahan beban rumah yang ada diatasnya. Tidak jauh dari tempat saya tinggal ada sebuah perumahan yang ternyata lalai dalam memastikan konstruksi pondasi. Akibatnya beberapa rumah disana ambruk sebagian, konstruksinya patah sehingga tidak lagi layak huni. Beruntung tidak sampai ada korban jiwa, tapi tetap saja sang pengembang harus menghadapi kemarahan pemilik rumah yang rusak tersebut.

Jika pondasi rumah saja sangat penting, apalagi pondasi kehidupan kita. Kehidupan ini tidaklah mudah untuk dijalani. Selalu ada badai masalah, tekanan, problema dan berbagai rintangan yang akan terus muncul pada waktu-waktu tertentu. Bagaimana kita bisa bertahan dan tetap tegar ditengah badai kalau pondasi kita lemah? Bisa-bisa terkena masalah kecil yang jika dibandingkan dengan badai hanya berupa angin sepoi saja sudah mampu membuat kita ambruk, hancur berantakan. Karenanya jelas, kalau rumah saja butuh pondasi yang mumpuni agar bangunan yang ada diatasnya bisa kuat berdiri, hidup kita pun butuh pondasi kuat agar tidak gampang hancur dalam menghadapi segala kesulitan dalam hidup.

Yesus sudah mengingatkan pentingnya membangun pondasi yang kokoh sebagai dasar atau landasan untuk hidup. "Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya--Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan--, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun." (Lukas 6:47-48). Rumah yang dibangun dengan membuat pondasi jauh menembus permukaan akan kuat, tidak gampang goyah ketika air bah, banjir, atau badai dan gempa melanda rumah itu. Betapa besar peran pondasi yang kokoh dalam menjaga rumah agar tetap tegak berdiri di tengah badai. Seperti itu pula yang akan terjadi dengan kita jika kita peduli untuk meletakkan dasar yang kuat bagi kerohanian kita. Masalah yang silih berganti niscaya tidak akan mudah meruntuhkan kita. Bagaimana sebaliknya? Dalam ayat selanjutnya Yesus berkata: "Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya." (ay 49). Orang yang tidak peduli dengan dasar yang kuat akan menjadi seperti rumah yang dibangun di atas tanah tanpa pondasi. Sedikit saja digoyang maka hidupnya pun akan segera ambruk, porak poranda dan hancur berantakan.

Lihatlah bahwa bangunan boleh saja tampak sama indah dari luar. Namun kualitas sesungguhnya baru akan terlihat apabila ada goncangan menerpanya. Bangunan yang punya pondasi kuat tidak akan gampang rusak meski dilanda berbagai bencana, tapi sebaliknya bangunan yang dibangun ala kadarnya akan porak poranda, hancur berkeping-keping ketika badai, banjir atau air bah datang menghantamnya. Seperti halnya bangunan, demikian pula kerohanian kita. Agar kuat, kita perlu memperhatikan atau bahkan menitikberatkan pertumbuhannya dalam sebuah dasar yang kuat.

Bagaimana agar kita bisa memiliki pondasi kokoh kehidupan itu? Perhatikan kembali ayat 47 di atas. "Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya". Itulah kunci untuk membuat sebuah pondasi kokoh kerohanian yang berpengaruh pada kekuatan hidup. Datang kepadaNya, mendengarkan perkataanNya dan melakukan firmanNya. Berhenti pada percaya kepadaNya dan mengetahui firmanNya saja tidaklah cukup untuk membangun pondasi kuat. Kita harus pula melanjutkan dengan melakukan apa yang Dia ajarkan. Intinya, kita harus melandaskan hidup kita sepenuhnya pada batu karang yang tidak lain adalah Kristus sendiri. (1 Korintus 10:4). Namanya melandaskan hidup tentu bukan berarti boleh berhenti hanya sekedar tahu saja, tetapi harus pula menjalani kehidupan yang berpusat kepadaNya dan mendasari segala yang kita perbuat sesuai firmanNya. Tidaklah cukup hanya mendengar, tetapi harus pula dilanjutkan dengan melakukan. Itulah yang akan membuat kita memiliki pondasi kuat sehingga tidak mudah goyah ketika tertimpa badai persoalan.

Kekristenan tidak mengajarkan kita untuk sekedar rajin berseru kepada Tuhan saja. Itu tidak akan pernah cukup. Yang akan mendapat tempat ke dalam Kerajaan Allah hanyalah orang yang tidak berhenti hanya sampai disana, tapi melanjutkan pula kepada melakukan firman. Yesus berkata "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 7:21) Tuhan tidak berkenan kepada orang yang cuma pandai berseru tanpa disertai aplikasi secara nyata dalam kehidupannya. "Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?" (Lukas 6:46). Karenanya janganlah berpuas diri hanya ketika kita sudah rajin berdoa, atau ketika kita sudah rajin membaca firman Tuhan. Itu tentu baik, tetapi tanpa disertai perbuatan nyata sesuai kehendak Tuhan, semua itu tidak akan membawa hasil maksimal.

Orang saleh bukanlah orang yang hanya rajin berdoa dan tampak suci di mata masyarakat, tapi sebenarnya adalah orang yang melanjutkan langkahnya dengan melakukan segala sesuatu dalam ketaatan penuh secara nyata sesuai firman Tuhan. Bagi orang-orang yang saleh Tuhan menjanjikan begitu banyak kebahagiaan seperti yang tertulis dalam Mazmur 16:1-11. "Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa" (Mazmur 16:11). Semua janji Tuhan ini akan diberikan kepada orang-orang yang peduli untuk membangun kehidupannya di atas dasar rohani yang kuat. Oleh karena itu, hendaklah kita tidak berhenti hanya kepada percaya dan membaca saja, namun melanjutkan itu pula dengan menjadi para pelaku firman yang mampu menjadi terang dan garam di manapun kita berada. Perhatikan baik-baik kehidupan kita apakah sudah dibangun dengan pondasi kuat atau belum. Jika belum, benahilah segera sebelum hidup kita keburu rontok diterjang badai.

Tingkatkan kepada melakukan firman agar kita memiliki pondasi yang kuat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, November 25, 2014

Is God Good? (3)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Ayat lainnya yang menarik mengenai kebaikan Tuhan dengan kasih tanpa batas (the unconditional love) bisa kita dapatkan dari perkataan Yesus sendiri. Tuhan adalah Allah "..yang menerbitkan  matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar." (Matius 5:45). Orang yang jahat dan tidak benar pun masih Dia perhatikan. Bukankah itu bukti nyata bagaimana baiknya Allah? Dia tetap memelihara dan merindukan orang-orang yang tidak benar untuk bertobat. Tuhan tetap menempatkan orang-orang jahat dan tidak benar itu dalam perhatianNya dan terus memberi kesempatan untuk bertobat. Sebenarnya kalau mau Tuhan bisa saja langsung menghanguskan orang jahat dalam seketika untuk hancur menjadi debu dan segera dilemparkan ke api dan belerang menyala-nyala di neraka. Tetapi kebaikan dan kasih Tuhan membuatNya untuk terus memberi kesempatan bagi orang-orang jahat untuk segera bertobat dan kembali ke dalam pangkuanNya. Jika kita masih hidup dan punya kesempatan untuk bertobat hari ini, bukankah itu pun merupakan bukti betapa baiknya Tuhan?

Dalam menghadapi hidup seringkali kita melupakan kebaikan Tuhan dan malah terjerumus ke dalam berbagai keputusan-keputusan yang keliru. Bahkan tidak jarang pula orang lebih tertarik kepada kuasa-kuasa supranatural di luar Tuhan ketimbang mempercayai besarnya kuasa Tuhan sendiri berdasarkan kebaikanNya kepada manusia. Dalam Kisah Para Rasul 14 kita melihat pula bagaimana kecewanya Paulus dan Barnabas ketika mereka ketika melihat rakyat Likaonia malah menyembah dewa saat mukjizat Tuhan dinyatakan atas orang yang sakit. "Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya." (ay 15) Demikian mereka berseru menegur orang-orang sesat di sana. Lalu mereka melanjutkan: "Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing, namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai kebajikan, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan." (ay 16-17).

Jemaat di Likaonia  tidak menyadari bagaimana kebaikan Tuhan yang sudah hadir selama ini dari generasi ke generasi. Mereka malah melupakan itu semua dan pergi menyembah dewa-dewa. Mungkin kita tidak menyembah dewa, tetapi apakah kita ingat akan semua kebaikan Tuhan baik dalam suka maupun duka, baik dalam keadaan baik maupun buruk? Apakah kita masih terus mengandalkan manusia dan mengabaikan kuasa Tuhan? Sudahkah kita benar-benar menaruh pengharapan dalam kesetiaan kita akan Tuhan sepenuhnya walau apapun yang terjadi atau kita akan pergi kepada alternatif-alternatif lain yang seolah-olah mampu memberi solusi atas persoalan kita? Apakah kita masih terus mengandalkan harta, kuasa, jabatan dari manusia ketimbang menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangan Tuhan? Kita akan sulit untuk bisa setia dengan iman kuat kepada Tuhan dan tetap hidup dalam pengharapan apabila kita tidak menyadari betapa baiknya Tuhan selama ini kepada kita.

Pemazmur berkata: "Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!" (Mazmur 34:9). Seruan Daud ini mengingatkan kita agar tidak melupakan betapa baiknya Tuhan kepada kita. Tidak saja kita diminta agar mau terus melihat kebaikan Tuhan, tetapi Daud pun mendorong kita untuk merasakan sendiri pengalaman demi pengalaman akan kebaikan Tuhan secara langsung. Kesulitan boleh hadir, tetapi itu bukan berarti karena Tuhan kejam atau jahat membiarkan kita menderita. Ada begitu banyak kebaikan Tuhan yang mungkin luput dari perhatian kita saat ini, padahal Dia sudah memberikan begitu banyak termasuk kehidupan yang masih diberikan kepada kita saat inipada kita. Ketika kita masih berdosa pun kasih Tuhan tidak lekang dari kita. Mari hari ini kita sama-sama merenungkan segala kebaikan Tuhan dalam hidup kita, dan marilah kita putuskan hari ini juga untuk tidak melupakan kebaikanNya.

God is good, even when people are not

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, November 24, 2014

Is God Good? (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Ada kalanya Tuhan menginginkan kita untuk mengalami kesulitan hidup, bahkan untuk berjalan dalam kegelapan, dan itu bukanlah karena kejam melainkan karena Tuhan tentu punya rencana yang indah dibalik itu. Minimal supaya kita memiliki mental dan iman yang terlatih kuat dan tentu saja agar kita belajar untuk mengandalkan Tuhan sepenuhnya.

Mari kita kembali sejenak kepada kitab Kejadian. Saat Tuhan menciptakan segalanya pada awal penciptaan, Tuhan memberi sebuah kesimpulan bahwa semua ciptaannya itu bukan hanya sekedar baik, tetapi dikatakan "sungguh amat baik." (Kejadian 1:31). Tidak satupun yang Dia ciptakan asal-asalan atau tanpa rencana. Jika terhadap alam semesta dan segala tumbuhan, hewan yang ada di muka bumi ini saja Dia rencanakan dengan matang, hingga hasilnya "sungguh amat baik", apalagi terhadap kita, manusia ciptaanNya yang dibuat sesuai gambar dan rupaNya sendiri (Kejadian 1:26), dibuat hampir sama dengan Allah dan diberikan kemuliaan dan hormat. (Mazmur 8:5). Kebaikan Tuhan juga nyata di dalam perbuatan-perbuatan baikNya bagi manusia.

Dari sana saja kita seharusnya sudah bisa melihat bahwa Tuhan itu baik dan punya kerinduan untuk melimpahkan segala kebaikanNya kepada kita. Daud pun dengan jelas mengatakan  bahwa "TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya." (Mazmur 145:9). Sepanjang pasal 145 Daud berbicara mengenai pujian akan kemurahan atau kebaikan Tuhan bukan hanya terhadap dirinya tetapi terhadap semua manusia, bahkan terhadap segala ciptaanNya. Mari kita lihat beberapa diantaranya.
- "TUHAN itu penopang bagi semua orang yang jatuh dan penegak bagi semua orang yang tertunduk." (ay 14)
- "..Engkaupun memberi mereka makanan pada waktunya" (ay 15)
- "Engkau yang membuka tangan-Mu dan yang berkenan mengenyangkan segala yang hidup." (ay 16)
- "TUHAN itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya." (ay 17)
- "TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan." (ay 18)
- "Ia melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia, mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka." (ay 19)

Mazmur pasal 145 hanyalah sedikit dari begitu banyak kebaikan Tuhan kepada kita semua yang bisa didapati di dalam Alkitab.

(bersambung)

Sunday, November 23, 2014

Is God Good? (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 145:9
====================
"TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya."

"Tolong cariin pendeta sakti yang bisa bicara langsung sama Tuhan, soalnya saya pengen tau kenapa hidup saya susah seperti ini." Kata-kata ini suatu kali disampaikan seseorang kepada saya dan cukup membuat saya sedih. Apa yang ia ucapkan mewakili pandangan keliru banyak orang mengenai Tuhan dan sifatNya. Kalimat diatas hanya satu saja, tetapi ada beberapa kekeliruan yang bisa kita lihat disana. Pertama, tidak ada yang namanya pendeta sakti. Pendeta bukanlah pendekar dalam kisah-kisah atau film-film silat sehingga ada yang sakti, ada yang tidak. Soal berbicara kepada Tuhan, kita hidup di Perjanjian Baru dan bukan lagi Perjanjian Lama.

Di masa Perjanjian Lama memang umat Tuhan butuh perantara untuk mendengar langsung atau menyampaikan sesuatu kepada Tuhan karena tidak semua orang boleh masuk hingga ke dalam Bait Suci. Tetapi saat Yesus menebus kita di kayu salib, tirai yang membatasi batas ke Bait Suci terbelah dua dari atas sampai bawah (Matius 27:51, Markus 15:38, Lukas 23:45) yang menjadi simbol runtuhnya sekat pembatas antara manusia dengan Bapa akibat dosa. Penebusan Kristus sudah melayakkan kita untuk bisa "...dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya." (Ibrani 4:16). Disamping itu, Yesus juga berkata "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu." (Yohanes 14:12) dan "Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu." (Lukas 10:19).

Apa artinya? Artinya penebusan Kristus sudah memampukan kita untuk langsung menghampiri tahta Kasih Karunia tanpa harus melalui perantara, dan kemampuan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, bahkan yang lebih besar dari apa yang dilakukan Yesus sekalipun, dan itu berlaku bukan hanya bagi pendeta tetapi kepada semua orang yang percaya kepada Yesus. Benar bahwa pendeta merupakan orang-orang dengan panggilan khusus yang siap mendoakan dan melayani anda, tetapi anda tidak selalu harus butuh pendeta, apalagi mengira bahwa pendeta punya tingkatan sakti, kurang dan biasa saja, untuk membuat anda bisa berhubungan dengan Tuhan, baik untuk mendengar maupun meminta sesuatu. Jadi semua itu tergantung keseriusan kita untuk membangun hubungan yang erat dengan Tuhan. Tidak melanggar perintahnya, mengasihiNya dan rindu untuk menjalin hubungan yang kuat, menjauhi segala bentuk dosa, itu semua penting untuk diingat. Jika kita sudah melakukan itu, maka kasih Tuhan akan mengalir kepada kita tanpa terganggu apapun. Sebab seperti yang saya sampaikan kemarin, bahkan Firman Tuhan sudah mengatakan seperti ini: "Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!" (Yesaya 30:18).

Selanjutnya, apakah benar Tuhan pilih kasih? Atau bahkan, baikkah Tuhan itu? Jawaban bisa beragam. Menjalani hidup memang tidak mudah. Kita akan sering berhadapan dengan berbagai kendala yang akan segera merampas sukacita kita dan menggantikannya dengan kesedihan, kekesalan atau bahkan kekecewaan. Di saat seperti itu banyak yang segera melupakan segala kebaikan Tuhan yang sebenarnya nyata dalam hidup kita, bahkan kita masih bisa menyaksikan dan menikmati kebaikan Tuhan itu di saat kita sedang menghadapi pergumulan berat.

Saya akan ambil contoh. Misalkan kita tengah berhadapan dengan situasi sulit atau sebuah kesusahan. Kita terdesak dan kelimpungan menghadapinya dan serta merta beranggapan bahwa Tuhan itu kejam, atau pilih kasih, atau dengan dingin tega membiarkan kita susah. Tapi coba pikir lagi, bukankah kesempatan yang masih diberikan Tuhan kepada kita untuk menyelesaikannya, kemampuan daya pikir, akal budi, tenaga atau keahlian yang Dia bekali sejak semula, bahkan saat kita masih bisa bernafas menghirup oksigen dari udara tanpa harus bayar alias gratis, bukankah itu semua pun merupakan kebaikan Tuhan juga? Karenanya apabila seseorang hanya melihat baik tidaknya Tuhan hanya secara sempit dari kesusahan yang tengah mereka alami saja, menganggap bahwa Tuhan baik saat tidak ada masalah tapi tidak baik saat tengah ditimpa kesusahan, maka itu adalah sebuah pandangan yang terlalu sempit dan keliru.

(bersambung)


Saturday, November 22, 2014

Menantikan Saat Menyatakan Kasih

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yesaya 30:18
====================
"Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!"

Ketika hendak merayakan ulang tahun pernikahan saya beberapa bulan yang lalu, saya memutuskan untuk membeli hadiah untuk istri saya kira-kira seminggu sebelumnya guna mengantisipasi kesibukan yang harus saya hadapi menjelang hari H. Hadiah sudah ditangan, maka semuanya aman. Saya bisa kembali fokus kepada aktivitas dan tidak harus takut lagi kurang waktu untuk mencari hadiah baginya. Sebelum tanggalnya tiba, saya menyembunyikan hadiah tersebut terlebih dahulu di garasi agar tidak ketahuan sebelum waktunya. Lucunya, saat hadiah sudah ada, saya malah merasa tidak sabar untuk memberikan kepadanya. Waktu seolah berjalan lambat, seminggu bagai setahun saja rasanya. Beberapa kali saya hampir tergoda untuk memberikan saja segera meski tanggalnya belum tiba, tapi untunglah itu tidak saya lakukan sehingga momen istimewa itu tidak harus kehilangan unsur kejutan atau surprisenya.

Malam ini saya tersenyum sendiri mengingat waktu itu. Begitulah saat orang dilanda cinta, rasa tidak sabar untuk berbuat yang terbaik bagi orang yang dicintainya menjadi sesuatu yang sering terjadi. Menunjukkan perhatian, kepedulian, dorongan, bantuan, dan sebagainya akan terasa sebagai sebuah kewajiban dan bukan keterpaksaan. Kita cenderung mengesampingkan logika dan menuruti perasaan ketika sedang mengalami sebuah perasaan cinta yang mendalam. Saling tidak sabar untuk menunjukkan kasih dan perhatian, itu akan menjadi warna indah tersendiri kepada pasangan yang saling mencintai.

Kata orang cinta itu bagai sebuah reaksi kimia yang sulit dimengerti, dimana reaksi tersebut mampu menggerakkan 'korban'nya untuk melakukan hal-hal besar demi kebaikan dan kebahagiaan orang yang dicintai. Sebuah hubungan yang terjalin mesra dan manis antara Tuhan dan manusia pun bisa menghasilkan reaksi seperti itu. Kasih bisa menggerakkan Tuhan untuk menumpahkan kasihNya kepada kita lewat banyak hal, bahkan keselamatan yang Dia berikan dengan mengorbankan Yesus, AnakNya yang tunggal pun sanggup Dia lakukan. (Yohanes 3:16). Itu jelas merupakan bukti nyata akan betapa besar kekuatan kasih yang sebenarnya. Kasih pun ternyata sanggup membuat Tuhan yang panjang sabar menjadi tidak sabar. Bukan tidak sabar terhadap kekurangan kita, tapi justru tidak sabar menanti kapan Dia bisa menunjukkan kasihNya kepada kita. Tidak percaya? Mari lihat ayat berikut ini: "Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!" (Yesaya 30:18). Saat sebuah hubungan antara manusia dan Tuhan terjalin mesra, kasih yang berbalas-balasan antar keduanya pun terjalin. Tuhan mengatakan bahwa Dia tidak sabar menanti-nantikan saat untuk menyatakan kasihNya kepada kita. Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "earnestly waits (expecting, looking and longing) to be gracious to you." 

Kita tentu sudah tahu dengan ayat ini: "tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah." (Yesaya 40:31). Kita tahu ayatnya, tapi seringkali merasa bahwa itu sulit dipercaya. Kita sering menganggap bahwa Tuhan suka berlama-lama dalam mengulurkan tanganNya. Ketidaksabaran bisa membuat orang hilang pengharapan dan segera pergi meninggalkan Tuhan lalu mencari berbagai alternatif-alternatif lainnya yang seolah sanggup memberi jawaban padahal akan mengarahkan kita ke dalam bahaya. Apakah Tuhan memilih-milih siapa yang mau Dia kasihi dan siapa yang tidak? Apakah Tuhan memang suka berlama-lama atau sering terlambat? Tentu saja tidak. Janji Tuhan berbunyi seperti ini: "..sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." (Ulangan 31:6b). Tuhan sudah berjanji akan selalu berjalan menyertai kita, tidak akan membiarkan apalagi meninggalkan. Ayat bacaan hari ini pun menegaskan bahwa Tuhan menanti-nantikan waktu dimana Dia bisa menyatakan kasihNya sepenuhnya kepada kita. Lalu dimana letak masalahnya?

Kita biasanya cepat menyalahkan Tuhan dan merasa kecewa, tetapi sebenarnya yang sering terjadi justru masalahnya ada di kita. Kita hanya menuntut tanpa melakukan bagian kita. Kita menuntut hak tapi mengabaikan kewajiban. Kita menuntut Tuhan melimpahi kita dengan berkatNya tapi kita tidak mau menurutiNya, bahkan menjalin hubungan yang serius dengan Tuhan pun kita malas. Ketika kita berharap Tuhan menumpahkan kasihNya kepada kita, sudahkah kita melakukan bagian kita pula untuk mengasihi dan memberikan yang terbaik kepadaNya? Bisakah hubungan mesra terjalin jika hanya satu pihak yang peduli? "Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?" (Amos 3:3).

Selain itu ada kalanya masalah terletak dalam perbedaan antara waktu yang terbaik menurut kita dan menurut Tuhan, seperti yang bisa kita baca dalam Pengkotbah. "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir." (Pengkotbah 3:11). Masalahnya bisa pula kendala muncul dari diri kita sendiri yang masih berdosa. Dosa punya kemampuan untuk menghambat hubungan kita dengan Tuhan. "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:2-3). Dosa merupakan penghambat keselamatan, yang bisa membuat kelancaran hubungan kita dengan Tuhan terganggu.

Sangatlah penting bagi kita untuk memastikan bahwa kita sudah berjalan sesuai dengan firmanNya, tetap berada dalam koridor atau rel yang tepat, menjauhkan diri kita dari berbagai bentuk dosa dan memperhatikan pentingnya membangun hubungan yang karib dengan Tuhan. Penting bagi kita untuk melakukan bagian kita sebelum kita menuntut atau mempersalahkan Tuhan dengan cepat. Kalau kita sudah melakukan hal ini dan kita terus menanti-nantikan Tuhan lebih dari segalanya, maka Tuhan pun tidak akan sabar untuk menunggu lama untuk mencurahkan kasihNya kepada kita. Jika semua bagian kita sudah kita lakukan, kita akan melihat sendiri bagaimana tidak sabarnya Tuhan untuk melimpahkan kasih dan berbagai berkat-berkatNya bagi kita. Sebuah hubungan harmonis yang indah hanya akan muncul apabila kedua belah pihak sama-sama saling peduli dan saling mengasihi. Yang pasti, Tuhan sedang tidak sabar menanti-nantikan saat untuk mencurahkan kasihNya kepada kita. Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga merasakan hal yang sama, tidak sabar untuk menyatakan betapa besar kita mengasihiNya?

Rasa cinta bisa menggerakkan siapapun untuk memberi yang terbaik, termasuk Tuhan sendiri

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, November 21, 2014

Say No to Sin

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Roma 6:12
=================
"Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya."

Anda tentu masih ingat sebuah partai politik besar yang pernah membuat iklan "katakan tidak pada korupsi" di televisi. Selang beberapa waktu partai ini malah tersandung banyak kasus korupsi, bahkan mengenai tokoh-tokoh yang tampil menyampaikan langsung pada iklan tersebut. Terlepas dari kasus yang melilit partai ini, saya tertarik pada seruan yang mereka sampaikan dalam iklan tersebut. Katakan tidak, say no to, sesuatu yang buruk, something bad. Sesuatu yang bertentangan dengan kebaikan, keadilan dan kebenaran. Kita harus selalu mengatakan tidak terhadap semua itu, meski seringkali sulit karena hal-hal yang jahat, buruk dan sesat biasanya terasa nikmat dan begitu menggoda. Korupsi hanyalah satu dari bentuk dosa yang merugikan banyak orang dan melanggar ketetapan Allah. Ada banyak lagi bentuk-bentuk seperti ini yang bukan saja merugikan orang lain tetapi juga akan menggagalkan pelakunya dari keselamatan kekal. Oleh karena itu kita harus mengatakan tidak kepada pusatnya, yaitu dosa.

Kalau anda digigit serangga, bagian kulit yang gatal akan terus berusaha memaksa anda untuk menggaruknya. Kalau digaruk tentu terasa enak, tetapi hasilnya akan membuat kulit anda terluka dan menjadi lebih sulit untuk sembuh. Ada banyak orang yang kemudian mengakali dengan tidak menggaruk di pusat rasa sakit secara langsung melainkan di pinggir-pinggirnya. Tapi itupun akan membuat luka melebar dan memperparah radang pada kulit. Berbagai bentuk dosa kurang lebih mirip dengan ilustrasi gigitan serangga yang mengakibatkan gatal ini. Ada yang melakukan dosa langsung ke'sumber'nya, ada yang hanya mengais remah-remah kecil agar tidak kelihatan atau agar tidak kelihatan kemaruk. Tapi sebuah dosa tetaplah dosa, yang akan bertambah eskalasinya, melebar dari satu dosa kepada dosa lain dan pada akhirnya menjauhkan kita dari semua rencana baik yang sebenarnya ingin Tuhan berikan kepada manusia.

Dosa sering mengintai dan menyelinap masuk lewat hal-hal yang justru terlihat enak, nikmat dan menyenangkan bagi kedagingan kita. Sekali kita terlena akan kenikmatan-kenikmatan di mana ada dosa bersembunyi di dalamnya, begitu kita memberi toleransi, maka cepat atau lambat akibatnya bisa sangat fatal. Begitu fatal hingga konsekuensinya bisa jadi sudah terlalu sulit untuk diperbaiki.

Paulus secara khusus menyampaikan hal ini dalam suratnya kepada jemaat di Roma. Benar, Tuhan sudah berkata bahwa "di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah" (Roma 5:20). Tetapi itu bukan berarti bahwa kita boleh menjadikannya sebagai alasan untuk terus membiarkan dosa masuk ke dalam diri kita. Playing with sin is dangerous. Bermain dengan dosa itu berbahaya. Paulus mengatakannya seperti berikut ini: "Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?" (6:1). Jawabannya tentu saja tidak. Selanjutnya ia berkata: "Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?" (ay 2). Kita harus ingat bahwa kita telah dibaptis dalam Kristus, dikuburkan bersama-sama dengan Dia agar kita juga dibangkitkan oleh kemuliaan Bapa bersama-sama Yesus. (ay 3-4). Paulus juga mengingatkan, "Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa." (ay 6). Lihatlah bahwa sesungguhnya tidak ada alasan lagi bagi kita untuk terus menerus takluk pada godaan dosa, karena dengan "mati" itu artinya kita pun telah bebas dari dosa. (ay 7). Dosa seharusnya tidak lagi punya kuasa apa-apa kepada kita karena kita sudah menyalibkan manusia baru kita dan telah menjadi ciptaan baru, kecuali kita terus membuka diri bagi dosa-dosa itu untuk masuk. Singkatnya, dosa tidak lagi bisa berkuasa atas kita, kecuali kita membiarkannya, mengatakan ya, atau sedikit-sedikit tidak apa-apa kepada jebakan dosa yang bisa membinasakan ini.

Selanjutnya Paulus menasihatkan agar kita menjaga benar-benar diri kita. "Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya." (ay 12). Sudah diserukan pula agar kita jangan pernah memberi peluang kepada iblis untuk menghancurkan kita. "dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis." (Efesus 4:27). Perhatikanlah bahwa meski jelas dikatakan bahwa dosa tidak lagi bisa menguasai kita, tetapi jika kita membuka celah mengijinkannya masuk maka dosa itu bisa kembali menguasai kita. Dan kalau dosa itu berkuasa, kita pun akan terjebak untuk terus menuruti keinginan-keinginannya, dan itu akan berakibat buruk bahkan bisa fatal bagi kita.

Senada dengan itu Yakobus pun mengingatkan kita agar tidak terjebak oleh keinginan-keinginan kita sendiri, terseret dan terpikat olehnya karena terus mengejar kenikmatan.  Perhatikan kata-kata Yakobus selanjutnya: "Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut." (ay 15). Maut. Bukankah itu mengerikan? Yang lebih parah, maut itu sifatnya bisa kekal. Itulah yang akan menjadi akibatnya apabila kita terus menuruti keinginan-keinginan dari dosa. Kita harus bisa menghentikan dosa-dosa itu untuk terus memiliki taring atas kita. Kita harus tegas menolak dosa untuk berkuasa atas tubuh kita dan menyadari betul sebuah kehidupan yang baru sebagai ciptaan baru seperti yang telah Dia anugerahkan bagi kita.

Tidak semua yang nikmat, enak dan menyenangkan itu baik ujungnya. Kita harus benar-benar memperhatikan apapun yang kita lakukan dengan cermat. Gatal akan terasa sangat nikmat ketika digaruk, tetapi dampaknya bisa buruk bagi kulit maupun kesehatan kita. Korupsi bisa jadi seolah mampu menjawab segala kebutuhan kita, tetapi akibatnya bisa sangat menghancurkan baik buat kita sendiri maupun keluarga. Begitu pula halnya dengan dosa yang mungkin awalnya terasa nikmat namun akibatnya bisa sangat fatal bagi masa depan kita tidak saja di bumi ini tetapi juga pada kehidupan selanjutnya yang kekal nanti. Dosa seharusnya tidak lagi punya tempat bagi kita dan tidak pernah boleh diijinkan untuk kembali berkuasa atas diri kita. Jika demikian, selalu katakan tidak kepada dosa, tak peduli sekecil apapun. Dan jangan cuma katakan saja, tapi lakukanlah sepenuhnya pula.

No matter how small it is, always say no to the temptation of sins

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker