Saturday, October 25, 2014

Menyatakan Kasih Kepada Tuhan

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 104:24
==================
"Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu."

Hari ini saya melihat ada banyak pasangan suami istri yang dipulihkan dalam kebaktian di sebuah gereja. Berhubung tema yang dibawakan adalah membangun keluarga yang berbahagia, maka pada akhir sesi, sang Pendeta mengajak pasangan suami istri maju ke depan mimbar untuk didoakan. Permintaan maaf dari masing-masing pasangan, air mata terharu menjadi pemandangan mengharukan. Ada yang tadinya punya konflik-konflik yang membuat hubungan jadi dingin jadi cair dan saling memaafkan.

Dalam waktu lain saya akan mengulas lebih dalam mengenai kehidupan suami istri agar tetap bahagia dan penuh sukacita. Untuk kali ini saya ingin menyoroti kasih dalam lingkup yang lebih tinggi. Kalau menyatakan kasih antar pasangan saja sudah begitu penting, bagaimana dengan hubungan kasih antara kita dengan Sang Pencipta? Masih peduli atau ingat untuk memberikan apresiasi kasih kita kepada Tuhan? Ini adalah hal yang penting, sayangnya banyak orang yang lupa untuk itu. Padahal seandainya kita mau sedikit lebih merenungkan dan memperhatikan, kita sesungguhnya berjumpa dengan kasih Allah yang total setiap hari dalam banyak hal. Kesehatan yang masih kita rasakan, kesempatan yang masih diberikan, berbagai pertolongan dalam kesesakan, udara yang masih bisa kita hirup gratis, itu semua merupakan bentuk kasih Allah kepada kita. Tuhan sangat mengasihi kita, begitu mengasihi hingga Dia pun rela mengorbankan AnakNya yang tunggal demi kita. (Yohanes 3:16). Bagaimana dengan pemandangan yang indah? Bunga-bunga yang berwarna warni dan harum, padang rumput yang hijau, langit biru, awan, bahkan matahari, bulan dan bintang-bintang, semua itu pun seakan menjadi surat cinta tersendiri dari Tuhan kepada manusia.

Pemazmur sepertinya mengambil waktu sepanjang hari dari pagi sampai malam untuk mengagumi kasih Tuhan lewat keindahan alam semesta beserta isinya yang ia rangkum dalam Mazmur 104. Disana ia menggambarkan keindahan alam ciptaan Tuhan secara sangat puitis sebagai ungkapan kekagumannya terhadap segala yang indah yang ditangkap matanya. Bacalah Mazmur 104 secara utuh dan anda akan dibawa oleh penulisnya untuk merasakan betapa indahnya ciptaan Tuhan yang setiap saat bisa kita nikmati ini. Dan Pemazmur pun berkata, "Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu." (Mazmur 104:24). Karena itulah ia mengingatkan jiwanya agar senantiasa memuji Tuhan. "Pujilah TUHAN, hai jiwaku! TUHAN, Allahku, Engkau sangat besar!" (ay 1). Dan tidak lupa pula ia mengingatkan kita untuk tetap menyukakan hati Tuhan, karena apa yang telah Dia berikan kepada kita sesungguhnya sangatlah indah. "Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!" (Mazmur 104:31).

Ditengah tumpukan permasalahan yang kita alami sehari-hari, sesungguhnya kita masih bisa mengingatkan jiwa kita untuk terus bersyukur karena disaat yang sama keberadaan Tuhan dengan kasihNya yang melimpah tetap ada di sekeliling kita dan bisa kita rasakan secara nyata. Alam semesta yang indah merupakan buah tangan Tuhan yang sungguh menunjukkan bukti ke-Ilahian Tuhan yang bisa kita nikmati secara kasat mata. Paulus pun menyinggung hal itu. "Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih." (Roma 1:20). Jika banyak orang yang meragukan eksistensi Tuhan, sesungguhnya lewat seisi dunia ini kita bisa menyaksikan sendiri bahwa Tuhan memang ada, dan Dia memang mengasihi kita secara begitu mendalam.

Jika memang seperti itu, apa yang bisa kita berikan kepadaNya sebagai balasan atas segala kebaikanNya? Perhatikan ayat berikut ini. "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mikha 6:8). Atas semua keindahan luar biasa sebagai bukti ke-Ilahian Tuhan, segala kemurahan dan kebaikan lainnya yang Dia berikan kepada kita, apa yang diminta Tuhan sebenarnya sederhana saja. Berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapanNya. Itulah yang bisa menyukakan hati Tuhan, membuatNya bersukacita atas kita. Betapa sedihnya Tuhan apabila kita menolak melakukan ini setelah Dia memberikan begitu banyak kebaikan sebagai bukti kasihNya setiap hari kepada kita.

Adalah sangat baik bagi kita untuk tetap mengasihi pasangan kita, anak-anak, keluarga, orang-orang terdekat bahkan sesama manusia yang tidak kita kenal sekalipun. Tetapi tidak kalah penting pula untuk datang kepada Tuhan dan menyatakan kasih kita secara langsung kepadaNya. Surat cinta dari Tuhan lewat segala keindahan dan kebaikan yang Dia sediakan setiap hari sampai kepada kita. Bagaimana dengan pernyataan kasih kita kepada Tuhan? Tuhan akan sangat senang kalau kita datang kepadanya tidak hanya membawa daftar permintaan atau permohonan, tetapi untuk mengucap syukur dan menyatakan bahwa kita menyadari kasihNya yang begitu besar kepada kita, dan menyampaikan kasih kita pula kepadaNya lewat keadilan, kesetiaan dan sebentuk hidup yang selalu rendah hati.

Tuhan menyatakan kasihNya setiap hari, maukah kita menyatakan kasih kita kepadaNya?

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, October 24, 2014

Antara Penonton dan Pelaku

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Petrus 2:9
==================
"Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib"

Seorang musisi pernah menceritakan pengalamannya sewaktu masih menjadi penonton dan setelah ia menjadi pelaku di pentas musik. Menurutnya, pengalamannya sangatlah berbeda. Dari sudut pendengaran, sebagai orang awam yang dahulu ia dengar hanyalah enak tidaknya sebuah lagu saat dibawakan oleh penampil. Selama terdengar enak, maka sebuah lagu itu berarti bagus. Tapi setelah ia menjadi musisi, telinganya pun seperti ter-upgrade. Kalau dulu ia cuma mendengar enak tidaknya sebuah lagu, sekarang telinganya menangkap variasi-variasi kunci nada, harmonisasi, alternatif-alternatif melodi untuk memperkaya sebuah aransemen, model-model pengambilan nada di luar pakem dasar yang bisa membuat sebuah lagu tampil beda dari aslinya. Jadi telinga penonton dan pemain itu sangatlah berbeda, katanya. Dari sisi pandangan mata ia pun merasakan perbedaan. Sebagai penonton, mata akan berusaha mencari sesuatu yang atraktif di panggung. Mungkin penampilan yang menarik, paras atau rupa dari pemain, atraksi panggung dan lainnya yang menghibur. Tapi saat berada di panggung, pemain akan melihat reaksi penonton, yang kalau ramai dan riuh akan memberi sebuah energi ekstra tersendiri bagi yang tampil untuk bisa bermain lebih dari normal. Menurutnya support dan respon dari penonton akan sangat menentukan hasil dari sebuah pertunjukan. Itulah sebabnya artis yang sama bisa tampil lain dari biasa jika berada di atas panggung atau atmosfir yang berbeda.

Ada perbedaan nyata antara penonton dan pelaku atau pemain. Dalam hal kerohanian, hari ini saya ingin mengajak anda merenungkan sebuah pertanyaan yang penting. Dalam kehidupan kerohanian kita dimanakah posisi kita berdiri saat ini? Apakah kita berada di posisi pelaku atau masih berada di kursi penonton? Apakah kita hanya mendengar berbagai kesaksian orang lain atas mukjizat ajaib Tuhan yang terjadi atas mereka atau kita sudah mengalaminya sendiri secara langsung atau bisa membawa orang untuk mengalami Tuhan baik lewat kesaksian maupun perbuatan kita? Apakah kita sudah berkontribusi dan berperan langsung sebagai saluran berkat, menjadi duta-duta Kerajaan yang menyampaikan Amanat Agung secara nyata atau masih pada posisi yang hanya menyaksikan dari kejauhan? Apakah kita sudah memberi atau hanya mau menerima saja?

Pada kenyataannya lebih banyak orang Kristen yang terlanjur puas dengan hanya berada di bangku penonton ketimbang aktif secara langsung dalam melakukan pekerjaan Tuhan di dunia ini. Kebanyakan lebih suka untuk berpangku tangan, hanya ingin menerima berkat buat diri sendiri dan tidak mau terlibat langsung untuk menjadi agen-agen Tuhan. Melayani Tuhan itu hanya tugas pendeta atau para pengerja. Urusan duniawi saja sudah merepotkan, jangan sampai ditambah dengan urusan menjadi pelayan Tuhan. Itu buang waktu, lebih baik dipakai buat cari uang tambahan. Itu menjadi pola pikir dari banyak orang percaya. Kalau pemikiran ini yang terus ada, kabar gembira tidak akan pernah bisa menjangkau banyak orang. Gereja hanya akan jadi sekumpulan orang yang hanya berada di dalam kotak, bersifat eksklusif dan tidak berfungsi sama sekali menjadi terang dan garam. Kalau diibaratkan garam, orang percaya hanya akan jadi garam yang berada dalam botolnya. Garam baru akan bermanfaat kalau dikeluarkan dan dipakai untuk memasak. Kalau hanya dalam botol, garam tidak akan berguna sama sekali.

Pertanyaan selanjutnya, apakah benar hanya sebagian yang punya panggilan melayani sementara yang lain boleh berpangku tangan dan hanya menerima segala curahan berkatNya saja? Apakah Tuhan hanya butuh sebagian saja untuk dipilih berperan secara aktif mewartakan Injil? Firman Tuhan tidak berkata seperti itu. "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib" (1 Petrus 2:9).

Dalam ayat ini dikatakan sebuah bangsa, itu berbicara tentang keseluruhan orang percaya dan bukan hanya segelintir orang saja. 'Kamulah bangsa yang terpilih', demikian Firman Tuhan, itu artinya kita orang percaya berada dalam bangsa yang terpilih itu, sebuah bangsa yang kudus, yang berisi umat kepunyaan Allah sendiri.

Selanjutnya ada kata-kata 'imamat yang rajani.' Imamat yang rajani artinya adalah imam-imam yang melayani raja atau dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan royal priesthood. Gelar sebesar ini diberikan Tuhan kepada kita tentu bukan tanpa maksud. Itu menunjukkan panggilan bagi setiap kita untuk memberitakan perbuatan-perbuatan besar Tuhan secara aktif lewat berbagai kesaksian akan karya nyata Tuhan dalam hidup kita. Ini adalah sebuah panggilan untuk semua anak-anak Tuhan tanpa terkecuali. Yesus sendiri sudah berpesan dengan sangat jelas agar kita menjadi rekan sekerjaNya lewat Amanat Agung yang Dia berikan tepat sebelum kenaikanNya kembali ke Surga. "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20).

Kita seharusnya tidak perlu merasa kesulitan untuk menjalankan peran sebagai imamat yang rajani karena sebenarnya Tuhan sudah mempersiapkan kita secara baik. selain Yesus sudah berjanji untuk senantiasa menyertai kita, Dia juga telah membekali kita dengan kuasa-kuasa luar biasa. Tidak mudah? Repot? Mungkin saja, tapi ketahuilah bahwa Tuhan tidak pernah hanya menyuruh kita tanpa menyediakan semua kebutuhan yang diperlukan dalam menjalankan tugas. Sejauh mana yang Tuhan sediakan? Lihatlah ayat berikut ini: "Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu." (Lukas 10:19). Lantas lihat pula ayat berikut ini: "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8). Kuasa tidak ditahan tapi diberikan agar kita mampu berperan langsung menjadi saksi Kristus baik di lingkungan kita bahkan bisa meningkat sampai ke ujung bumi. Semua ini dengan jelas menyatakan bahwa tidak satupun dari kita yang dipanggil hanya untuk berpangku tangan hanya duduk diam di kursi penonton saja sambil menanti semua yang terbaik datang pada kita tanpa melakukan apapun. Kita semua dituntut untuk menjadi pelaku yang siap berbuat yang terbaik dengan segala yang kita miliki, berperan secara langsung dan nyata sesuai dengan panggilan kita masing-masing, untuk menjadi rekan-rekan sekerja Tuhan di muka bumi ini. Disanalah anda akan mengalami berbagai perbuatanNya yang ajaib, bukan untuk disimpan sendiri melainkan untuk menjadi kesaksian bagi orang lain akan kuasa dan kasih Allah yang tak terbatas.

Kerajaan Allah tidak akan datang ke muka bumi ini tanpa peran orang-orang percaya. Anda tidak bisa berharap untuk sebuah dunia yang damai, aman, sejahtera, sentosa jika anda tidak mulai berpikir untuk melakukan sesuatu yang nyata. Dengan status setinggi imamat yang rajani dan disematkan tugas untuk menjadi terang dan garam, itu artinya kita punya tugas sesuai dengan bidang kita masing-masing. Jika anda rindu untuk melihat Kerajaan Allah terus diperluas di dunia ini, maka itu artinya anda harus pula terjun dan berperan secara langsung di dalamnya. Bukan lagi sekedar menempatkan diri sebagai jemaat biasa yang datang ke gereja hanya sebagai penonton saja, hanya mencari berkat bagi diri mereka sendiri dan tidak mempedulikan keselamatan orang-orang di sekitarnya, bukan lagi berdiri sebagai umat yang hanya mau menerima tanpa pernah mau memberi, melainkan harus mulai berpikir untuk tampil secara langsung sebagai pelaku-pelaku yang menyandang gelar imamat yang rajani. Yesus sendiri sudah menyatakan, "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit." (Matius 9:37).

Saatnya menjadi terang yang bercahaya bagi sekitar kita. Yesus menghimbau kita "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 9:16). Terang tidak akan berfungsi apa-apa jika hanya disimpan dibawah kolong atau ditutup rapat dalam kotak. Terang hanya akan bercayaha jika diletakkan di atas dalam kegelapan. Jika terang sudah berfungsi sebagaimana mestinya, maka tidak ada satupun kegelapan yang mampu mengalahkan terang. Demikian pula kita semua, anak-anak Tuhan hendaklah bertindak sebagai pemain-pemain andalan Tuhan secara langsung dan tidak berhenti hanya sebagai penonton saja, apalagi kalau sudah tidak bikin apa-apa tapi malah sibuk mengomentari, mengeluh, memprotes dan mencela tanpa mau berbuat sesuatu yang nyata.

Inilah waktunya untuk mulai melakukan karya nyata. Kita dipersiapkan Tuhan untuk menjadi pelaku-pelaku, rekan sekerjaNya dalam menuai di dunia ini dan bukan penonton pasif yang tidak pernah merasakan apa-apa daripadaNya. Siapkah anda berperan sebagai pelaku langsung dalam arena Kerajaan Allah? Jadilah pelaku-pelaku tangguh sebagai rekan sekerjaNya, sandanglah gelar imamat yang rajani dengan penuh tanggung jawab dan rasa syukur.

Sesuai jabatan yang disandang, jadilah pelaku-pelaku tangguh yang aktif, bukan penonton pasif

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, October 23, 2014

Surat Cinta

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
 Ayat bacaan: Mazmur 104:31
========================
"Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!"

Pernahkah anda mendapat surat cinta? Kalau pernah, anda tentu tahu bagaimana rasanya, apalagi kalau dari orang yang kita cintai. Rasa berbunga-bunga, gembira, bahagia, ser-seran dan sejuta perasaan senang lainnya segera kita rasakan. Perasaan dihargai, disayangi, dipedulikan, itu bisa bikin kita punya gairah dan semangat dalam hidup. Sejak masa pacaran saya termasuk rajin memberi surat cinta kepada kekasih saya, dan sekarang setelah menikah 7 tahun, itu masih rajin saya lakukan. Bukan hanya dalam bentuk tulisan, tapi lewat kata-kata dan perbuatan juga bisa menjadi media yang sangat baik untuk menyatakan cinta kepada seseorang.

Kalau dalam hubungan antar pasangan itu kita rasakan, bagaimana dalam hubungan dengan Tuhan? Kita tentu tahu bahwa Tuhan sangat mengasihi kita, dan kita pun terus belajar untuk mengasihi dan mentaatiNya terus lebih dalam lagi. Pertanyaannya sekarang, adakah surat cinta yang berasal dari Tuhan yang ditujukan kepada kita? Alkitab merupakan sebuah surat cinta yang luar biasa karena berisi segala solusi untuk mengatasi persoalan hidup, bagaimana mengalami hidup yang baik, penuh dan melimpah, juga membimbing kita untuk masuk ke dalam kebahagiaan yang kekal. Itu tentu benar. Tapi apakah ada bentuk surat cinta Tuhan yang bisa kita lihat secara langsung pada saat sekarang? Tentu kita tidak bisa mengharapkan ada sebuah surat berisi kata-kata cinta dengan tanda tangan Tuhan di kanan bawah. Tapi sebenarnya ada bentuk lain dimana Tuhan menyatakan dengan jelas cintaNya kepada kita, dan itu bisa kita lihat dengan mata kepala sendiri. Adalah seorang teman saya yang berprofesi sebagai fotografer yang membuka mata saya untuk menyadari hal ini. Suatu kali ia memasang hasil jepretannya yang sangat indah. Foto pemandangan alam yang begitu memikat mata, penuh bunga warna warni dan dijepret menjelang matahari terbenam. Indah sekali fotonya. Tapi yang menarik adalah judul yang ia beri pada foto itu: "Love Letter from God." 

Love Letter from God. Surat cinta dari Tuhan. Itu memberi pemahaman kepada saya bahwa tanpa sadar sebenarnya kita berhadapan dengan kebesaran Tuhan dengan menikmati ciptaanNya yang indah. Sayangnya kita jarang menyadari hal itu. Di tengah jepitan kesesakan dan masalah yang dihadapi setiap harinya kita terlalu sering lupa bahwa alam semesta ini diciptakan Tuhan begitu indahnya. Gugus tata surya, langit biru diselimuti awan putih, bulan dan bintang gemerlapan di kegelapan langit malam, rerumputan hijau dengan bunga warna warni mekar dimana-mana dan sebagainya. Semua itu terlalu indah untuk kita nikmati, tapi kesibukan dan berbagai pergumulan hidup, pemenuhan kebutuhan yang terus meningkat yang harus dikejar agar terpenuhi membuat kita jarang punya waktu untuk menikmati hasil ciptaanNya. Kita terlalu sibuk kepada permasalahan kita, kita berkeluh kesah dan mengira Tuhan berlama-lama untuk melakukan sesuatu atau bahkan menganggapNya tidak peduli terhadap kesulitan kita. Padahal kalau saja kita mau mengambil waktu sebentar untuk melihat sekeliling kita, maka kita akan menyadari bahwa Tuhan telah melakukan begitu banyak hal yang indah bagi kita. Keindahan alam, bukankah itu juga berkat dari Tuhan dan merupakan sebuah surat cinta buat kita yang berasal dari Allah Bapa Sang Pencipta segalanya?

Pada jaman Daud tentu belum ada kamera, apalagi yang punya kualitas bagus di gadget-gadget modern/smart phone seperti sekarang untuk menghasilkan foto seperti teman saya. Tapi dengan matanya, Daud melihat sebuah keindahan yang tidak kurang dari apa yang dilihat oleh teman saya itu lewat lensa kameranya. Saya membayangkan Daud tengah mengamati indahnya pemandangan ketika ia menulis Mazmur 104. Disana ia menggambarkan keindahan alam ciptaan Tuhan secara sangat puitis. Semua yang ia gambarkan adalah buah tangan Tuhan, hasil karyaNya, sebuah bukti keliahian Tuhan yang bisa kita saksikan dengan amat sangat nyata dengan mata kita. Hal ini juga disampaikan oleh Paulus. "Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih." (Roma 1:20). Kebesaran Tuhan terlihat dan bisa dibuktikan lewat semua hasil karyaNya sejak masa penciptaan mula-mula, sehingga kalau menyadari itu, seharusnya tidak ada seorang pun yang bisa punya dalih untuk mengatakan sebaliknya, menuduhNya yang bukan-bukan atau bahkan menolak eksistensi Tuhan. Kembali kepada Daud, ia begitu mengagumi apa yang ia lihat, sehingga ia pun berkata "Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!" (Mazmur 104:31).

Sayangnya, seperti yang saya bagikan dalam renungan kemarin, yang terjadi hari-hari ini agaknya sulit membuat Tuhan tetap bisa bersukacita lewat ciptaan-ciptaanNya. Manusia terus saja menghancurkan lingkungan. Berbagai kecemaran yang dilakukan manusia tanpa tanggung jawab merusak segala keindahan yang Tuhan sediakan bagi kita. Kerusakan lingkungan dan menipisnya lapisan ozone membuat dunia ini semakin lama semakin hancur. Manusia yang diciptakan Allah secara istimewa ternyata tidak menghargai karya Penciptanya, tidak bertanggungjawab atas amanat yang diemban. Selain merusak lingkungan, menghancurkan ekosistem dan lain-lain, manusia pun masih sanggup saling membinasakan satu sama lain. Padahal semua manusia ini ciptaan Tuhan, yang berharga dimataNya. Tapi di mata sesama manusia, nyawa ternyata semakin dianggap tidak penting. Letaknya masih sangat jauh di bawah ego dan kepentingan diri sendiri. Dia sudah begitu baik dengan menganugerahkan keselamatan kepada kita lewat Kristus, tapi kita begitu sulit untuk sekedar menghargai kebaikanNya. Jika semua ini terjadi, bagaimana Tuhan bisa bersukacita karena perbuatan-perbuatanNya?

Alam semesta beserta isinya merupakan ciptaan Tuhan yang luar biasa indahnya. Itu adalah anugerah yang amat besar yang telah disediakan justru sebelum Dia menciptakan manusia. Semua itu disusun sedemikian rupa, agar ketika manusia hadir, keindahan itu bisa dinikmati secara langsung. Tuhan menyatakan bahwa apa yang Dia ciptakan adalah baik. Tanaman, pohon-pohon berbuah, tunas-tunas muda, itu diciptakan dengan baik (Kejadian 1:11-12). Matahari, bulan dan bintang, cakrawala, semua itu diciptakan Tuhan dengan baik. (ay 14-18). Segala jenis hewan, baik burung-burung di udara, ikan-ikan di laut dan hewan-hewan darat, semua Dia ciptakan dengan baik. (ay 20-22). Dikatakan bahwa bumi beserta segala isinya adalah milik Tuhan (Mazmur 24:1), tapi otoritas untuk menguasai diberikan kepada kita. (Kejadian 1:28). Menguasai bukan berarti bertindak semena-mena dan merusak seenaknya, tapi justru sebaliknya,  menjaga dan melestarikan alam beserta isinya. Tuhan menitipkan itu semua kepada kita. Idealnya kita bersyukur. Idealnya kita bersukacita bersama-sama dengan Tuhan menikmati segala keindahan itu. Tapi apakah kita sudah melakukannya? Apakah Tuhan bisa bersukacita atas segala ciptaanNya hari ini?

Bersukacitalah bersama Tuhan dengan mensyukuri segala ciptaanNya yang dibuat dengan amat sangat baik

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, October 22, 2014

Menjaga Kelestarian Alam (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kalau kita membaca Mazmur 104 maka kita akan mendapatkan bagaimana keindahan alam itu diciptakan Tuhan secara luarbiasa. Semua itu merupakan karya nyata Tuhan, sebuah bukti kebesaran Tuhan yang tidak dapat disangkal. Dalam surat Roma kita baca "Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih." (Roma 1:20). Alangkah keterlaluannya kita merusak apa yang diciptakan dengan baik oleh Tuhan, padahal kita sejak awal sudah dipanggil untuk menguasai dan menaklukkan bumi beserta isinya, artinya menjaga kelestarian, keindahan dan kesinambungan hidup segala mahluk hidup yang hidup didalamnya.

Firman Tuhan berkata "Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus." (1 Tesalonika 4:7). Merusak lingkungan merupakan salah satu bentuk kecemaran dan itu bukanlah panggilan yang ditentukan Tuhan sejak awal bagi manusia, tetapi yang seharusnya adalah melakukan segala sesuatu yang kudus yang berkenan di mata Tuhan. Menghancurkan lingkungan dan merusak bumi jelas tidak termasuk di dalamnya. Lebih lanjut lagi kita bisa melihat sebuah ayat pada surat Efesus, "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." (Efesus 2:10). Kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus, untuk melakukan pekerjaan baik, sesuai dengan semua yang diciptakan Tuhan dengan sungguh sangat baik.

Kerusakan yang terjadi di dunia memang sudah terlanjur terjadi dan butuh banyak tahun dan generasi untuk memperbaikinya. Itupun kalau seluruh manusia di bumi ini mau bersatu secara kompak untuk memperbaiki apa yang sudah keburu hancur. Meski demikian, ingatlah bahwa meski kita hanya bagian yang sangat kecil saja dari keseluruhan manusia yang hidup di dunia, kita tetap bisa mulai melakukan sesuatu karena biar bagaimanapun panggilan ini berlaku bagi semua orang, buat tiap pribadi tanpa terkecuali.

Mungkin kita bisa mulai dari halaman kita sendiri, dari lingkungan kita. Siapa tahu itu akan menjadi awal dari sebuah pergerakan kepedulian lingkungan yang akan terus membesar. Salah satu panggilan Tuhan yang penting adalah untuk menguasai dan menaklukkan bumi beserta isinya, menjaga kelestarian dan keindahannya agar bisa dinikmati oleh anak cucu kita di masa depan. Yang pasti, Tuhan memastikan bahwa segala yang Dia ciptakan adalah baik. Baik jadinya, baik pula tujuannya. It was all good. Kepada manusia diberikan otoritas untuk menguasai dan menaklukkan, artinya mengelola dan menjaga kelestariannya sebagai bentuk pertanggungjawaban atas amanat dari Tuhan. Kita harus menjaganya, agar semua yang diciptakan Tuhan dengan baik akan selalu baik pula hingga ke generasi selanjutnya. We can, and will make a change.

Bumi beserta isinya merupakan ciptaan Tuhan yang baik dan kita bertanggungjawab menjaga kelestariannya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, October 21, 2014

Menjaga Kelestarian Alam (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kejadian 1:26
========================
"Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."

Dalam pekerjaan anda, anda tentu memiliki job description atau gugus tugas yang menjadi tanggung jawab anda. Itu adalah bagian-bagian yang harus kerjakan dengan hasil terbaik agar hasil kerja anda bisa dikategorikan berhasil. Sebuah amanat merupakan hak yang diberikan kepada kita harus juga dipertanggungjawabkan kepada yang memberi, apakah kepada sesama manusia atau kepada Tuhan. Amanat wajib tidak boleh dilanggar dan sangat penting untuk diperhatikan dan dijaga dengan baik.

Sudahkah kita sadar bahwa kita sebenarnya sudah diberikan amanat atau otoritas untuk mengelola ciptaan Tuhan lainnya? Hari ini saya masih ingin mengacu pada Kejadian pasal 1. Saat Tuhan menciptakan manusia buat kali pertama. Di sana "job description" buat kita sudah jelas disebutkan oleh Tuhan sendiri. "Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." (Kejadian 1:26). Tugas ini semakin dipertegas dalam ayat selanjutnya: "Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (ay 28). Tuhan memberi amanat dengan hak untuk berkuasa atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, atas ternak, atas binatang melata yang merayap di darat, atas seluruh bumi beserta isinya. Bukan cuma berkuasa, tapi juga dikatakan taklukkan. Otoritas itu diamanatkan buat kita. Layaknya amanat, otoritas ini tentu sangat penting, sayangnya apa yang kita lakukan justru bertolak belakang dari apa yang menjadi panggilan bagi kita sesungguhnya dari Tuhan.

Hari ini bumi yang kita huni punya begitu banyak masalah. Bencana alam, global warming, kerusakan lingkungan akibat penebangan liar dan pembakaran hutan hanyalah sedikit dari setumpuk masalah besar yang akan menimbulkan malapetaka bagi generasi selanjutnya jika tidak segera diatasi. Jangankan nanti, saat ini saja sudah banyak dampak yang timbul akibat global warming ini. Bumi semakin panas, perubahan cuaca sangat ekstrim dan sebagainya. Itulah nasib bumi dan segala habitat yang hidup didalamnya. Mengacu kepada amanat yang diberikan Tuhan kepada manusia di atas, bukankah manusia juga yang salah karena tidak mau memelihara bumi dengan baik sejak awal? Banyak yang hanya memikirkan kepentingan sesaat dan tidak sadar betapa besar dampaknya bagi kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lainnya. Atas dasar keinginan untuk memperoleh keuntungan, mereka berani melanggar amanat yang sudah dipercayakan Tuhan. Pencemaran lingkungan lewat banyak cara terus terjadi. Kecenderungan manusia mementingkan diri sendiri dan tidak mempedulikan kerusakan lingkungan berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya. Manusia terus bersifat destruktif.

Mari kita fokus kepada kata "menguasai dan menaklukkan". Banyak orang yang menyalah artikan kedua kata ini. Mereka mengira bahwa menguasai berarti mempergunakan segala sesuatu untuk kepentingan diri sendiri seenak hati saja tanpa mempedulikan dampak yang ditimbulkan. Kata berkuasa dan menaklukkan diartikan sebagai menghabiskan tanpa tanggung jawab. Padahal seharusnya bukan seperti itu yang dimaksud. Kata menguasai dan menaklukkan ini terkaiterat dengan tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan kelangsungan dari apa yang telah dititipkan Tuhan kepada kita. Kejadian pasal 1 menunjukkan bagaimana Tuhan berulang kali memastikan sampai puas hingga melihat apa yang Dia ciptakan baik adanya, bahkan sungguh amat baik. Kalau Dia menciptakan semua itu dengan tujuan baik dan dengan sangat sempurna, mengapa kita justru berani merusaknya dengan gegabah? Semua yang ada di muka bumi ini adalah milik Tuhan, dan itu bisa kita baca dalam Mazmur 24:1 yang berbunyi: "Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya." Kepada kita diberi otoritas untuk menguasainya seperti yang kita baca dalam Kejadian 1 ayat 26 dan 28 tadi. Artinya Tuhan memberi otoritas kepada kita untuk menentukan bagaimana masa depan bumi ini kelak. Apakah menjadi semakin hancur, atau tetap indah seperti apa yang diinginkan Tuhan ketika Dia menciptakan sejak awal, semua itu tergantung bagaimana umat manusia menyikapinya.

(bersambung)

Monday, October 20, 2014

... Dan Semua itu Baik, Sungguh Amat Baik (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Perhatikan sebuah fakta menarik lainnya akan hal ini. Tuhan tidak berkata kepada Adam, "Hai kamu orang yang tidak tahu berterimakasih, Aku sudah menyediakan segalanya dengan baik dan lengkap, kenapa kamu masih harus menunjukkan bahwa kamu kesepian sendirian? Bukankah kamu harusnya bersyukur atas taman dan segala isinya, otoritas untuk menguasai/mengelola semua ini?" Tidak, Tuhan tidak mengatakan itu. Tuhan ingin manusia yang Dia buat dengan gambarNya sendiri memiliki setiap hal yang baik. Itulah yang diinginkan hatiNya. Maka ini yang dilakukan Tuhan. "TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18). Solusi yang dipilih Tuhan untuk mengatasi satu-satunya hal yang tidak baik adalah menciptakan pasangan yang dirancang sebagai penolong/pelengkap dan berdiri dalam status yang sepadan dengan Adam. Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam dan diberikan sebagai istrinya.

Apa yang bisa kita pelajari dari hal ini? Pertama, bahwa pada mulanya semua yang diciptakan Tuhan itu dibuat dengan tujuan baik. Dia memeriksa dan memastikan sampai merasa puas dan mengatakan bahwa itu baik. Masuknya manusia ke dalam dosa lewat pemberontakan atau pembangkangan terhadap larangan Tuhan membuat kita harus berpeluh dan menderita berjuang dalam hidup membuat segalanya tampak jadi tidak baik. Dan Firman Tuhan berkata: "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah." (Roma 3:23). Dosa membuat semua yang direncanakan baik sejak awal menjadi terlihat tidak baik. Tetapi perhatikan bahwa itu tidaklah merubah rencana awal Tuhan atas tujuan penciptaannya sejak semula. Itu tidak membuat Tuhan mengubah pikiran dan ingin menghukum atau menyiksa manusia, Tuhan ingin manusia tetap ada dalam kemuliaanNya dan bisa menuai tepat seperti rencana awalNya. Lihatlah bahwa kelak Tuhan masih mengatakan bahwa "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11). Tuhan sampai rela mengorbankan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16). Dan ingat pula, bukankah FirmanNya mengatakan bahwa "... di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah" (Roma 5:20)?

Ini semua menunjukkan bahwa Tuhan concern dengan keadaan manusia dan ingin agar rencana yang telah Dia susun sejak semula tidak luput dari kita. Ini menunjukkan bahwa Tuhan sama sekali tidak berpikir untuk merubah keinginan hatiNya, merubah pendirianNya dan mengganti rencanaNya. Tuhan ingin kita tetap mengalami sesuatu yang baik, tidak berkekurangan bahkan berkelimpahan, tepat seperti niatNya sejak awal. Bahwa kita harus melewati masa-masa sulit, bergumul dengan berbagai masalah bahkan penderitaan, itu benar. Tetapi itu tidak berarti bahwa Tuhan menganulir apa yang ada di benakNya saat melakukan proses penciptaan yang dicatat dalam Kejadian pasal 1.

Kejadian pasal 1 membeberkan maksud Tuhan yang semula. Disana tertulis keinginanNya, kehendakNya yang sempurna bagi umat manusia. Itu ditetapkan sejak awal dan tidak akan pernah berubah. Dia ingin memberi semua yang baik, Dia membuat segala sesuatu dengan memastikan bahwa semua itu baik. Baik sampai masa hidup kita yang fana berakhir, baik pula dalam kehidupan kekal bersamaNya di Surga. Kita harus sadar betul betapa Tuhan menginginkan kehidupan kita menjadi baik. Jika ada diantara anda yang saat ini tengah mengalami pergumulan, apakah itu menyangkut masalah seperti saya yang harus merintis sesuatu yang sulit yang mungkin bagi kebanyakan orang dianggap sia-sia dan kemungkinan besar tidak berhasil, apakah mengenai pengambilan sebuah langkah besar yang sepertinya riskan dan penuh resiko, apakah mengenai sebuah rencana yang tampaknya sulit untuk dicapai, apakah menyangkut sebuah proses yang harus dirintis mati-matian dengan penuh pengorbanan dari nol atau kesulitan-kesulitan lainnya yang tengah anda hadapi saat ini, ketahuilah bahwa yang ada dalam benak Tuhan adalah segala sesuatu yang baik bagi anda. Selama anda mengambil langkah yang sesuai/seturut kehendakNya dan memastikan bahwa setiap langkah tidak melanggar ketetapanNya, anda tidak perlu kuatir.

Sebuah langkah iman tetap diperlukan dalam menggenapi rencana Tuhan yang baik itu. Pastikan bahwa anda sudah membawanya dalam doa dengan melepaskan terlebih dahulu kemauan anda, pastikan pula bahwa anda memberi ruang bagi Tuhan untuk berbicara kepada anda. Apabila itu sudah anda lakukan dan anda masih merasa bahwa anda harus maju, jangan ragu untuk maju. Selanjutnya perhatikan bahwa dalam setiap proses anda akan selalu melibatkan Tuhan dan tidak membangkang atau melanggar ketetapanNya. Dengarkan kapan anda harus berlari, kapan anda harus melambat, bahkan kapan anda harus berhenti sejenak. If you keep this way, don't be afraid to keep on moving, because if everything He made in the beginning was good, it will always be good. It will be good, exactly like what He always wants us to be from the start.

Tuhan sangat menghendaki kehidupan umatNya menjadi baik dan itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, October 19, 2014

... Dan Semua itu Baik, Sungguh Amat Baik (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kejadian 1:31
====================
"Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik."

Ada banyak pekerjaan berat yang saat ini membuat saya kecapaian luar biasa. Pekerjaan-pekerjaan itu adalah sesuatu yang ternyata harus mulai saya rintis dari nol dan kalau dihitung-hitung secara logika sangat tipis kemungkinannya untuk berhasil. Sementara energi, tenaga, pikiran dan waktu jelas harus tersita habis untuk itu. Sangat berat, dan hasil secara finansial belum terlihat bahkan sangat kabur kalau dianalisa dengan teori-teori ekonomi yang kita pelajari. Orang awam akan berpikir untuk apa, tetapi visi yang saya dapatkan lewat doa yang berulang-ulang tetap menggiring saya ke arah itu. Ada pekerjaan rumah yang harus saya kerjakan yang kalau berhasil, akan membawa pencapaian baru bagi dunia musik dan pelakunya di kota tempat tinggal saya. Tadi pagi tiba-tiba diingatkan lewat hati saya. Kira-kira ini yang saya dengar. "Kalau kamu mau melihat apa yang ada dipikiranKu saat membuat grand design penciptaan dunia dan isinya, kamu tinggal membaca Kejadian 1." Saya bergegas membaca pasal itu, dan memperoleh hal yang sangat esensial yang sangat menguatkan saya. Saya ingin membagikannya hari ini untuk anda.

Kejadian pasal 1 bercerita tentang proses awal penciptaan. Disana Alkitab menyatakan dengan jelas keinginan dan maksud Tuhan sejak semula, apa yang ada di pikiranNya, apa yang menjadi rencanaNya ketika mulai membuat ini dan itu. Kita dapat melihat seperti apa segalanya dulu di bumi ketika kehendak Tuhan terjadi, sebelum dosa datang dan mengacaukan manusia. Dengan kata lain, Kejadian pasal 1 berbicara mengenai apa yang ada dalam benak Tuhan di fase paling awal saat membuat segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada.

Dalam ayat-ayat pertama kitab Kejadian kita melihat seperti apa tempat tinggal yang dirancang Tuhan bagi ciptaanNya yang istimewa, yaitu kita, manusia. Kita diberitahu bahwa Tuhan berfirman dan jadilah terang, dan itu baik. Ia memisahkan air dari daratan kering, dan itu baik. Tuhan menciptakan pepohonan tumbuhan yang menghasilkan buah, dan itu baik. Tuhan menjadikan matahari, bulan, burung-burung di udara, binatang di darat dan ikan di laut, dan itu pun baik. Lihatlah bahwa setiap Tuhan menciptakan sesuatu, ia selalu memastikan bahwa semuanya itu baik. Diciptakan, dan dilihat baik. Alkitab dengan sangat jelas mencatat betapa peduli atau concern-Nya Tuhan terhadap ciptaanNya.

Lalu Tuhan menciptakan manusia menurut gambarNya sendiri. Tuhan menjadikan Adam, lalu memberi Adam kekuasaan dan berfirman sebagai berikut: " "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya." Dan jadilah demikian. Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik." (ay 29-31a).

Berulang kali pasal pertama kitab Kejadian kita menyaksikan bahwa Tuhan menciptakan segalanya baik. Baik, baik, dan baik. Tuhan tidak menciptakan sesuatu secara serampangan, asal-asalan dan tanpa rencana. Tuhan tidak menciptakan sesuatu kecil-kecilan, tidak juga biasa-biasa saja. Setelah selesai, Tuhan memeriksa hasil karyaNya dan memastikan bahwa semuanya baik.

Kita bisa baca apa yang terjadi selanjutnya, yaitu bahwa Tuhan merancang sebuah taman yang sempurna bernama Eden sebagai tempat untuk dihuni manusia. Eden merupakan tempat yang luar biasa, tidak ada yang kurang atau rusak, semua disana disediakan dalam kelimpahan, dan itu disediakan agar manusia yang dibuat menurut gambar dan rupaNya sendiri itu bisa tinggal dan menikmatinya. Perhatikan bahwa Eden diciptakan untuk manusia dan bukan untuk diriNya sendiri. Bukankah Tuhan sudah punya tempat tinggal sendiri yaitu Surga? Tapi setelah Eden dibentuk, Tuhan menemukan sesuatu yang tidak baik. Apa yang tidak baik adalah kenyataan bahwa manusia itu sendirian.

(bersambung)

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker