Tuesday, August 4, 2015

Offering The Best or Left-Overs? (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Maleakhi 1:8
=======================
"Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam."

Seperti apa sikap kita dalam memberi persembahan setiap minggunya di gereja? Banyak orang yang berhitung dalam melakukannya. Memberi besar kalau sedang ada yang hendak diminta, tapi hanya sepeser kalau sedang baik-baik saja. Soal perpuluhan dijadikan polemik, apakah 10% dari pendapatan sebelum atau sesudah melunasi rekening bulanan. Ada juga yang sangat pelit dalam memberi persembahan tapi royalnya bukan main kalau memberi tips atau saat mentraktir rekan bisnis. Bahkan membayar parkir pun lebih besar ketimbang memberi persembahan. Alasannya banyak. Ada yang pernah berkata "ah, buat apa banyak-banyak, nanti kalau diselewengkan bagaimana?" Padahal masing-masing dari kita punya pertanggungjawaban sendiri. Kalau memang dicurangi itu urusan mereka dengan Tuhan, bukan urusan kita. Urusan kita adalah memberi yang terbaik sebagai persembahan syukur kepada Tuhan yang idealnya dipakai untuk memperluas KerajaanNya di muka bumi ini. Itu adalah dua hal yang berbeda yang tidak ada gunanya dicampur-adukkan.Ada yang berdalih sedang banyak pengeluaran bulan ini, ada yang merasa sayang duit kalau memberi dalam jumlah yang layak, cuma sekedar memberi saja dan sebagainya. Belum lagi yang memberikan uangnya tidak dalam keadaan baik alias yang sobek, lusuh dan sulit dipakai lagi sebagai alat tukar dalam berbelanja. Ada yang menggulung-gulung uangnya seperti kertas yang hendak dibuang ke tong sampah. Saat pemimpin pujian mengingatkan kita untuk memberikan yang terbaik bagi kita, sejauh mana kita menyadari pentingnya akan hal itu?

Ambil contoh sederhana saja. Sebagai anak yang berbakti, setelah kita menerima segala yang terbaik dari orang tua kita dalam memberi makan, mengajarkan budi pekerti, menyekolahkan kita sampai selesai tanpa memandang seberapa besarpun yang harus mereka korbankan demi kita, tidakkah kita seharusnya rindu untuk memberikan yang terbaik pula kepada mereka dan membahagiakan mereka setelah kita sudah mampu? Itu akan menjadi kerinduan anak yang berbakti. Tapi namanya manusia, banyak pula yang kemudian melupakan orang tuanya saat sudah sukses. Mereka tidak lagi peduli, hanya datang di hari-hari tertentu atau kalau sempat dan tidak capai, bahkan ada yang tega menempatkan orang tuanya di rumah jompo padahal tinggalnya di satu kota dan di rumahnya ada begitu banyak kamar tidak terpakai. Kesedihan para orang tua yang terbuang ini sudah terlalu sering saya dengar dari kunjungan-kunjungan ke rumah-rumah jompo. Seorang anak yang berbakti pasti akan menghargai usaha mati-matian orang tuanya dalam membesarkan mereka dan akan selalu memberi yang terbaik bagi orang tuanya.

Kalau kepada orang tua saja seperti itu, bukankah keterlaluan kalau kita melupakan segala yang terbaik yang sudah diberikan Tuhan dalam perjalanan hidup kita? Bukankah Tuhan sudah membekali kita dengan begitu banyak talenta, membukakan kesempatan, menolong kita dalam banyak hal, menyertai kita dan yang jauh lebih besar lagi, menganugerahkan kita keselamatan dan pemulihan hubungan yang sempat terputus denganNya akibat dosa dengan mengorbankan Yesus? Kalau begitu, bagaimana kita bisa sedemikian tega berhitung untung rugi kepada Tuhan?

Seperti itulah yang banyak terjadi di kalangan orang percaya. Semua orang yang mengharapkan berkat yang terbaik dari Tuhan, tapi hanya rela memberikan sisa-sisa kepada Tuhan. Itupun dengan rasa berat hati dan bersungut-sungut. Bukannya memberi dengan sukacita tapi malah dalam keadaan terpaksa dan merasa seperti diperas atau malah dirampok. Kalau kepada orang tua dunia kita saja kita bisa mendapat cap durhaka, entah apa cap yang pantas diberikan kepada orang-orang percaya yang bersikap seperti itu kepada Tuhan.

Dalam kitab Maleakhi kita bisa melihat bagaimana Tuhan saking kecewanya sampai merasa muak dan murka ketika mendapat perlakuan yang tidak pantas dari umatNya. "Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?" (Maleakhi 1:6).

(bersambung)


Monday, August 3, 2015

Tertawalah (Selagi Masih Bisa?)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Amsal 17:22
===================
"Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang."

"Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang." Jargon ini melekat erat pada sebuah grup lawak yang sangat terkenal di akhir 70an sampai dua dekade berikutnya. Mengingat pada masa itu pemerintahan masih bersifat sangat represif yang memperbolehkan pemerintah mengintervensi dan mengangkangi kebebasan orang untuk menyuarakan pendapat, kalimatnya menjadi terdengar sangat relevan sekaligus lucu. Dalam banyak hal di kehidupan nyata, kalimat ini masih agak-agak nyambung juga. Mungkin bukan pakai kata 'dilarang', tapi diganti sedikit dengan 'selagi masih bisa'. Jadi kalimatnya berubah menjadi "Tertawalah selagi masih bisa." Rata-rata manusia akan tertawa saat berada dalam keadaan baik, tapi akan segera kehilangan sukacita yang bisa membuat mereka tertawa lepas saat masalah mulai muncul dalam hidup mereka, bahkan meskipun hanya sedikit atau ringan. Jangankan tertawa, senyum pun berat. Seperti ada pemberat yang digantungkan di kedua ujung bibir sehingga sulit sekali untuk bisa melengkungkan mulut ke arah atas, sebaliknya sangat mudah untuk menekuk ke bawah. Air muka keruh atau murung. Kalau sudah begitu tertawa pun sudah tidak lagi bisa.

Berbagai penelitian medis sejak lama menyatakan bahwa tertawa itu sebenarnya sehat. Tertawa bahkan dipercaya bisa menjadi obat mujarab untuk menyembuhkan berbagai penyakit dan bisa memperpanjang usia. Sebaliknya orang sehat pun lama-lama bisa jatuh sakit jika tidak lagi ada kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidupnya. Tidak satupun penelitian yang menyimpulkan sebaliknya bahwa tertawa itu berbahaya bagi kesehatan. Kita sudah tahu betul akan hal itu, akan tetapi kita seringkali tidak mampu untuk mengatasi berbagai perasaan negatif yang bercokol di dalam kita. Ironisnya, bentuk kehidupan yang keras dan berat membuat kita lebih sering bergumul ketimbang berada dalam keadaan baik. Ketakutan, kekhawatiran, kekecewaan, kesedihan, penderitaan dan sebagainya, itu akan setiap saat sanggup merampas sukacita dari hidup kita dan dengan sendirinya menahan senyum atau tawa untuk terlukis di wajah kita.

Jauh sebelum penelitian-penelitian medis itu dibuat, Alkitab sudah terlebih dahulu menyatakannya. Dalam Amsal kita bisa menemukan itu, dimana tulisannya berasal dari orang yang paling berhikmat di dunia, yaitu Salomo. "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22). "Happy heart is a good medicine, and a cheerful mind works healing." Itu yang tertulis dalam versi bahasa Inggrisnya dengan lebih rinci. Hati yang gembira itu obat yang manjur atau mujarab, dan pikiran yang bersukacita mendatangkan kesembuhan. Sebaliknya orang yang hatinya murung dikatakan akan mengeringkan tulang, atau mematahkan semangat. Ini sebuah ayat yang mungkin tidak lagi asing bagi kebanyakan dari kita, tetapi sudah sejauh mana kita mengaplikasikannya dalam hidup kita? Atau pertanyaan berikutnya, sudah tahukah kita bagaimana agar hati kita tetap berada dalam kondisi riang?

Kebanyakan orang seringkali keliru menggantungkan letak kegembiraannya. Kita cenderung menganggap bahwa gembira tidaknya kita sangatlah tergantung dari situasi, kondisi atau keadaan yang tengah kita alami hari per hari. Hati kita pun akan terus berada dalam situasi tidak menentu dan tidak stabil. Sebentar bisa gembira, sebentar bisa sedih. Sebentar tertawa, sebentar lagi menangis. Sekarang senang, tapi kemudian bisa penuh dengan amarah dan lain-lain. Tidakkah kita sering bertemu dengan orang yang mood nya swing, benar-benar tidak stabil? Baru saja tertawa ia bisa marah-marah, lalu menangis dan kemudian tertawa lagi. Mungkin kita sendiri juga seperti itu. Kita menyetir sambil tertawa riang, tiba-tiba ada pengemudi lain yang menyalip dengan sembrono dan seketika itu pula kita terpancing emosi.

Mendasarkan kepada situasi akan membuat hati kita terus berada dalam kondisi tidak stabil, dan itu tidak akan baik buat hati dan hidup kita. Di sisi lain, apakah kemurungan dan perasaan susah tidak akan membantu atau memberikan sesuatu yang baik? Itu tidak akan memberikan apa-apa selain menambah masalah saja. Dan Yesus sudah mengingatkannya sejak lama: "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?" (Matius 6:27). Kuatir, sedih, murung atau perasaan-perasaan negatif lainnya tidak akan pernah memberi manfaat apapun. Dan apabila kita terus murung, tidaklah heran jika hari-hari yang kita lalui pun terasa buruk semuanya. Jadi bukan soal ada hari baik dan buruk, tapi lebih kepada bagaimana kita memandang hari-hari yang kita jalani. Lihatlah apa yang ditulis dalam Amsal berikut: "Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta." (Amsal 15:15).

Alkitab pun sudah menyatakan sejak awal bahwa sebuah kebahagiaan sejati seyogyanya tidak tergantung dari situasi dan lingkungan sekitar, melainkan sesungguhnya berasal dari Tuhan. Ada banyak sekali ayat yang sebetulnya menyatakan hal itu untuk kita camkan sungguh-sungguh. Salah satunya berbunyi: "Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya." (Mazmur 33:21). Sukacita atau kegembiraan yang berasal dari Tuhan pun ternyata mampu menular mempengaruhi orang lain. "Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita." (34:3). Kemana dan dimana kita menggantungkan kebahagiaan hati kita akan sangat menentukan seperti apa kita hari ini. Apakah kebahagiaan, keceriaan, keriangan yang terpancar dari dalam diri kita dan tercermin lewat senyum atau tawa lebar yang bisa membawa suasana senang bagi orang-orang disekitar kita, atau justru kehadiran kita membawa kemuraman dan suasana yang sama sekali tidak enak bagi mereka.

Apa yang anda inginkan untuk terlukis di wajah anda hari ini? The face of rage, anger, sadness, or the smiling face full of joy, happiness and laughter? Ketahuilah bahwa itu tidak tergantung dari kondisi yang tengah dialami, melainkan seberapa besar anda mengizinkan Tuhan berperan dalam hidup anda. Kita bisa memilihnya, bukan hanya diam pasrah membiarkan kondisi hati tidak menentu terombang-ambing dalam berbagai perasaan. Kegembiraan sejati sesungguhnya ada di dalam hubungan erat kita dengan Tuhan dan bukan kepada kondisi faktual kita. Hidup dalam penyertaan Tuhan akan bisa membuat kita tetap ceria dan tertawa meski situasinya sedang tidak kondusif.

Kita bisa melihat bagaimana cara Pemazmur untuk tidak mengizinkan sedikitpun rasa tidak tenteram atau gelisah merampas sukacita dari dirinya. "Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram." (Mazmur 16:8-9). Jika demikian, tersenyum dan tertawalah sekarang juga, dan nikmati hidup yang dipenuhi kebahagiaan sejati yang ada pada hidup yang digantungkan kepada Tuhan.

Sulit atau mudahnya tertawa bukan tergantung dari situasi tetapi dari seberapa dekatnya kita dengan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, August 2, 2015

Menyikapi Panggilan (4)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

4. Panggilan harus dilakukan secara serius seperti untuk Tuhan dan bukan manusia

Karena Dia yang memiliki panggilan itu, tentu kita pun diwajibkan untuk melakukan yang terbaik seperti melakukannya untuk Tuhan dan bukan untuk orang lain. "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa bukan sebagian saja, tetapi segala sesuatu, apapun yang kita perbuat, kita harus melakukannya dengan segenap hati seperti untuk Tuhan. Jika untuk pekerjaan biasa-biasa saja kita diminta seperti itu apalagi ketika kita menjalankan sebuah tugas mulia yang didasari oleh panggilan dari Tuhan sendiri.

Ada tujuan-tujuan Tuhan yang secara spesifik diberikan kepada kita, dan bentuknya berbeda-beda. Akan sangat jelas bedanya saat kita mengetahui secara detail lantas melakukannya, mengetahui secara detail tapi tidak sungguh-sungguh, dan tidak tahu sama sekali. Yang terbaik tentu saja adalah mengerti benar maksud dan tujuan Tuhan atas diri anda sejak diciptakan dan meletakkan yang terbaik dari diri anda dalam melakukannya. Seperti untuk Tuhan, bukan manusia, seperti itulah keseriusan yang seharusnya kita miliki dalam menjalani panggilan.

5. Panggilan harus dikerjakan dengan iman

Alkitab menegaskan bahwa apapun yang kita kerjakan haruslah berdasarkan iman. Mengapa? Sebab "segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa." (Roma 14:23b). Karena itulah panggilan pun harus dikerjakan dengan iman. Maksudnya adalah ketika kita mengerjakan panggilan itu, kita harus tahu bahwa itu berasal dari Tuhan dan kita harus bertanggung jawab kepadaNya. Jangan sampai dalam mengerjakannya kita tercemar oleh berbagai langkah yang sama sekali tidak didasarkan iman. Semua itu harus ditujukan untuk kemuliaan Tuhan, bukan untuk kepentingan-kepentingan kita pribadi dan harus didasarkan kepada kebenaran.

Selain itu ingat pula bahwa iman menjadi "dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibrani 11:1). Iman bisa menjadi pegangan kita dalam melangkah setapak demi setapak dalam memenuhi panggilan. Tanpa itu kita mungkin bisa merasa bosan, capai atau putus asa lantas gagal dalam menuai keberhasilan seperti yang ada dalam rancanganNya.

Sebagai orang percaya kita dipanggil untuk menggenapi rencana Tuhan dalam kehidupan kita. Panggilan bukan hanya akan membuat anda menjadi orang-orang yang berhasil, bahkan lebih dari pemenang dan menikmati kebahagiaan yang begitu indah saat melakukan pekerjaan, tapi juga akan menyatakan terang dan kemuliaan Tuhan di dunia.

Sudahkah anda mengetahui apa sebenarnya yang menjadi panggilan buat anda dan sudahkah anda mengerjakannya secara maksimal? Jika belum, mulailah hari ini juga. Temukan apa yang menjadi panggilan Tuhan dan kerjakanlah dengan sebaik-baiknya. Tetaplah jaga hidup dalam kekudusan, respon dan hidupi panggilan itu, lakukan dengan maksimal seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia dan lakukan dengan dasar iman. Tampillah menjadi orang-orang yang menyatakan terang Tuhan sesuai panggilan anda masing-masing, kembangkanlah itu semua sesuai talenta dan karunia yang sudah Dia sediakan. Give our best to answer our callings!

Temukan panggilan anda dan lakukan yang terbaik dalam mengerjakannya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, August 1, 2015

Menyikapi Panggilan (3)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Selanjutnya mari kita lihat beberapa hal lain pula yang juga penting untuk kita perhatikan berkenaan dengan panggilan.

1. Merespon panggilan Tuhan dengan baik

Tanpa adanya respon dari kita terhadap sebuah panggilan maka tidak akan ada hasil yang bisa dicapai. Jangankan hasil, kita bahkan tidak akan mengetahui apa yang sebenarnya Tuhan mau untuk kita kerjakan. Merespon itu sama dengan menjawab bahwa kita siap untuk melakukan apa yang Tuhan mau. Mungkin kita tidak pernah membayangkan bahwa kita sanggup, tetapi yang Tuhan mau sebenarnya bukanlah kemampuan atau kesanggupan kita melainkan kesediaan kita untuk melakukannya. Bukan kemampuan yang penting, tapi kemauan. Tuhan adalah Allah yang menyediakan, dan Dia akan menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan agar kita bisa melakukannya dengan hasil yang terbaik. Berbagai talenta sudah dia berikan sebagai modal awal, tugas kita kemudian mengembangkannya hingga matang dan menghasilkan buah-buah yang bermanfaat bukan hanya bagi kita tetapi bagi orang lain, sehingga itu bisa menyatakan terang dan kemuliaan Allah di manapun kita ditempatkan.

Sebuah panggilan bisa sangat unik, tidak umum bahkan terasa aneh pada mulanya. Tapi jika panggilan itu dijalankan, anda akan mendapati bagaimana Tuhan bekerja di dalam diri anda, menyediakan segala sesuatu yang anda perlukan dalam prosesnya. Dan anda akan merasakan kepenuhan, kebahagiaan atau sukacita yang sangat berbeda saat menjalani panggilan tanpa memandang untung rugi, sebuah perasaan yang tidak akan anda dapatkan saat mengerjakan hal-hal diluar panggilan.

2. Menghidupi Panggilan itu

Panggilan yang diterima tidak otomatis menjadi sesuatu yang langsung jadi. Seperti aspek-aspek kehidupan lainnya, sebuah panggilan pun harus terus dikembangkan agar terus meningkat hingga menjadi sebuah penggenapan seperti yang menjadi tujuan Tuhan dalam hidup kita. Dengan cara terus dilatih dan dikembangkan sesuai dengan karunia dan talenta yang sudah diberikan, panggilan itu nantinya akan menjadi menghasilkan buah yang subur. Seringkali grand design Tuhan akan secara perlahan pula kita ketahui seiring perjalanan atau prosesnya. Bagai melengkapi kepingan puzzle atau gambar yang tadinya kabur tapi kemudian menjadi terus semakin jelas bentuknya, setahap demi setahap kita melakukan panggilan Tuhan hingga akhirnya kita bisa mengetahui apa yang sebenarnya Dia mau kita lakukan dan seperti apa sebenarnya yang Dia ingin kita capai.

3. Mengubah cara kita menjadi cara Tuhan

Kebanyakan orang melakukan segala sesuatu menurut caranya sendiri, menurut kemauannya sendiri. Ingatlah bahwa panggilan yang diberikan Tuhan itu bukanlah milik kita. Bagaimanapun itu berasal dari Tuhan. Karena itu cara terbaik tentu adalah dengan memakai cara Tuhan dalam melaksanakannya, yaitu dengan megiktui tuntunan yang Dia berikan, sesuai dengan kehendakNya.

Ambil satu contoh mengenai Daud. Ketika Daud dilantik menjadi raja, ia ternyata tidak langsung naik tahta dan berkuasa. Ia ternyata harus mengikuti cara Tuhan, dengan cara menjadi hamba Saul terlebih dahulu. Atau perhatikan proses Yusuf yang diwarnai banyak penderitaan hingga bertahun-tahun lamanya. Ini baru dua dari begitu banyak contoh lainnya yang tertulis dalam Alkitab.

Kalau tidak dari Alkitab, contoh di dunia dari sejarah hidup banyak tokoh pun bisa menjadi pelajaran bagaimana sukses itu tidak datang dalam semalam. Ada proses yang harus kita lalui, dan kelancaran dan kesuksesan yang menjadi hasil akan sangat tergantung dari bagaimana kita menyikapi panggilan. Memakai cara Tuhan, bukan cara kita akan melancarkan tahapan yang harus dilalui. Kita bisa mengetahui itu dengan menyerahkan hidup dan perjalanannya sepenuhnya ke dalam rencana Tuhan. Kedekatan hubungan denganNya menjadi hal penting dalam hal ini. Kita dituntut untuk taat, sabar dan terus memegang komitmen terhadap panggilan yang sudah kita terima.

(bersambung)

Friday, July 31, 2015

Menyikapi Panggilan (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Apa sebenarnya panggilan kita dalam hidup? Yang jelas kita tidak akan pernah bisa melaksanakannya dengan baik apabila kita tidak mengerti atau bahkan tidak tahu apa yang menjadi panggilan Tuhan bagi kita. Kita sering mengira bahwa panggilan hanyalah semata mengenai bentuk-bentuk pelayanan dalam bidang-bidang di gereja lantas lupa bahwa ada panggilan-panggilan yang Tuhan berikan secara spesifik kepada setiap kita. Apakah anda hari ini bekerja sebagai pengusaha, pedaganng, karyawan, guru/dosen, dokter atau berbagai profesi lainnya, ataupun anda adalah seorang hamba Tuhan penuh waktu, itupun merupakan sebuah panggilan dimana anda bisa menyatakan Terang Kristus dan memberkati banyak orang. Apa yang diperlukan untuk bisa maksimal dalam melayani panggilan? Apa dasar yang perlu kita pastikan ada dalam diri kita agar kita bisa memberi yang terbaik dalam panggilan kita masing-masing?

Sebelum kita lanjutkan lebih jauh mengenai panggilan, ada ayat yang secara sangat jelas menyatakan seperti apa sebenarnya gagasan Tuhan mengenai panggilanNya itu dalam bahasa yang sangat sederhana. "Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus." (1 Tesalonika 4:7). Ayat singkat ini dengan begitu tegas menyatakannya. Kita bukan dipanggil untuk melakukan kecemaran, bukan apa yang menyakiti hati Tuhan, apa yang dipandang jahat di mata Tuhan, apa yang mengecewakanNya, melainkan untuk hidup kudus, seturut kehendakNya, sesuai perintahNya. Ini adalah firman Tuhan yang sederhana dan singkat namun keras, karena ayat selanjutnya menyatakan: "Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu." (ay 8). Bayangkan betapa seriusnya jika apa yang kita lakukan justru dinilai sebagai perbuatan yang menolak Allah yang telah memberikan Roh Kudus kepada kita. Atas kasihNya kita ditebus, diselamatkan dan dianugerahkan Roh Kudus sebagai Sang Penolong, tapi atas segala kecemaran yang kita lakukan kita justru menolak Allah. Itu jelas sebuah pelanggaran yang sangat serius.

Selanjutnya dikatakan "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah." (Roma 3:23). Itulah gambaran manusia yang seharusnya penuh dosa dan sebenarnya jauh dari layak untuk mendapatkan kemuliaan Allah. Tapi oleh kasih karunia Allah yang begitu besar kita sudah ditebus lunas lewat Kristus. "dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus." (ay 24).

Firman Tuhan lewat Petrus berkata: "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat." (1 Petrus 1:18-19). Ini semua telah kita terima, bahkan dikatakan dengan cuma-cuma. Artinya dengan menerima Kristus seharusnya kita bisa memulai sebuah kehidupan yang baru yang benar-benar kudus. Kecemaran akibat dosa bukanlah menjadi bagian dari kita lagi untuk menurut Tuhan. Hidup kudus, dan bukan cemar, itulah yang seharusnya kita lakukan setelah kita ditebus dan dibenarkan lewat darah Kristus.

Tuhan telah memberikan, selanjutnya tugas kita untuk mempertahankan. Kita tahu bahwa mempertahankan seringkali jauh lebih sulit dari memperoleh atau bahkan merebut. Inilah yang menjadi masalah, karena arus dunia dengan segala iming-iming yang ditawarkan di dalamnya akan terus menerus berusaha meracuni kita yang lemah ini. Segala bentuk tipu muslihat siap digelontorkan iblis untuk meruntuhkan kita. Menjauhkan kita dari kekudusan dan mengarahkan kita ke dalam berbagai bentuk kecemaran.

Pola pikir, kebiasaan, cara dan gaya hidup disusupi kecemaran ini sejak usia dini. Kelemahan kita membuat terdapatnya banyak lubang-lubang dalam pertahanan kita yang sangat rentan untuk diserang. Tapi Tuhan tahu bagaimana lemahnya kita. Tidak akan mungkin kita mampu bertahan melawan arus dunia dengan segala penyesatan di dalamnya apabila kita hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri atau apapun yang ada di dunia ini. Oleh sebab itu Tuhan memberikan Penolong bagi kita, Roh Kudus, untuk menyertai, menolong, mengingatkan dan menguatkan kita dalam bertahan dan melawan arus ini. Jangan lupa pula bagaimana besarnya kuasa firman Tuhan yang tidak saja harus kita baca, renungkan dan perkatakan, tetapi harus diaplikasikan secara nyata pula dalam perbuatan kita. Dengan ini semua seharusnya kita mampu menjalankan apa yang menjadi panggilan Allah bagi kita. Sekali lagi bukan untuk kecemaran, melainkan untuk sebuah kekudusan.

Satu hal yang pasti, kita tidak akan bisa melihat Tuhan tanpa adanya kekudusan. Firman Tuhan berkata "..kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan." (Ibrani 12:14). Kita tidak akan bisa mengalami kemuliaan Tuhan apabila kita masih hidup penuh kecemaran. Itulah sebabnya Tuhan mengingatkan kita "Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu" (1 Petrus 1:14-15). Dengan kata lain, lewat ayat selanjutnya Tuhan berpesan "Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (ay 16). Sudahkah kita memperhatikan benar-benar hidup kita untuk melakukan yang kudus sesuai panggilan Tuhan? Maka menjaga kekudusan merupakan hal yang mutlak untuk kita lakukan agar kita bisa menjalankan panggilan dengan maksimal.

(bersambung)

Thursday, July 30, 2015

Menyikapi Panggilan (1)

webmaster | 8:00 AM | 3 Comments so far
Ayat bacaan: 1 Tesalonika 4:7
========================
"Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus."

Seorang tokoh religius asal Amerika pada pertengahan tahun 1800an menuliskan tentang talenta sebagai berikut: "For all have not every gift given unto them; for there are many gifts, and to every man is given a gift by the Spirit of God. To some is given one, and to some is given another, that all may be profited thereby." Terjemahannya kira-kira seperti ini: "Tidak semua orang memiliki talenta yang sama: ada begitu banyak talenta, dan semua orang menerima talentanya sendiri dari Roh Allah. Kepada yang satu diberikan yang ini, kepada yang lain diberikan yang berbeda, sehingga semuanya bisa beroleh keuntungan."

Talenta akan mengarahkan anda untuk mengetahui panggilan anda. Mungkin tidak secara langsung, tetapi dalam perjalanannya Allah yang memberikan talenta itu akan mengarahkan anda untuk mengenal betul apa sebenarnya yang menjadi panggilan anda secara khusus.

Ada orang-orang yang beruntung mengetahui panggilannya sejak di usia muda, ada yang baru menemukannya setelah dewasa atau lanjut usia, ada pula yang masih kebingungan mencari tahu. Satu hal yang pasti, semua orang punya panggilannya sendiri-sendiri dan itu tidak bicara secara sempit hanya dalam hal melayani langsung di gereja saja. Amanat untuk menjadikan bangsa-bangsa sebagai murid Kristus, keharusan untuk menjadi terang dan garam berlaku untuk semua orang dan bisa dilakukan lewat apa saja. Dalam bidang apapun kita bisa melakukan misi tersebut. Panggilan punya karakteristiknya sendiri-sendiri dengan keunikan masing-masing, yang akan semakin jelas terlihat ketika kita semakin jelas mengetahui apa sebenarnya yang menjadi panggilan kita.

Ijinkan saya menceritakan tentang panggilan saya. Saya baru menyadari panggilan saya di usia lebih dari 30 tahun. Ketika saya melihat kilas balik hidup saya ke belakang, barulah saya mengerti apa yang harus saya lakukan, dan melihat bahwa sejak kecil Tuhan sebenarnya sudah memberi 'clue' yang ketika disambungkan membuat gambaran panggilan itu semakin jelas kelihatan. Kenapa saya waktu kecil sudah suka mendengar lagu-lagu yang bukan lagu anak-anak, lalu mencari tahu cerita tentang band tersebut dan albumnya? Pada waktu itu belum ada internet sehingga untuk mendapatkan informasi tidaklah mudah. Maka majalah yang membahas musik menjadi sesuatu yang menarik selain majalah anak-anak buat saya, selain mendapatkan sedikit cerita tentang seorang artis atau band dari ibu saya sejauh yang ia tahu. Lucunya, ingatan saya tentang hal ini melekat sangat kuat.

Karena ketertarikan di dunia musik, saya sempat les musik selama beberapa tahun dan berpikir bahwa mungkin saya panggilannya menjadi musisi (bukan penyanyi, karena suara saya biasa saja dan tidak punya vibrasi). Dalam proses itu, saya kemudian mengarah kepada satu genre musik yang khusus dan mengoleksi album-album dari luar dan dalam negeri, sambil tetap mendengarkan jenis-jenis musik lainnya. Semua ini membuat bank data tentang artis, karya dan profilnya terus bertambah di kepala saya.

Menjadi musisi ternyata bukan panggilan karena saya lebih suka mendengar dan mencermati/menganalisa lagu ketimbang memainkannya. Seiring waktu berjalan, saya semakin tertarik mempelajari sejarah musik dari berbagai majalah yang ada, baik tentang perjalanannya dari waktu ke waktu, perubahan trend, band-band atau artis yang terdepan di era masing-masing dan sebagainya. Lalu siapa yang mengira bahwa saya yang tidak suka menulis kemudian mulai hobi mengulas album di sebuah situs sekian tahun setelahnya? Dan diwaktu yang sama mulai mempelajari cara membuat situs yang interaktif dan multimedia.

Di usia ke 36 saya akhirnya menemukan panggilan saya untuk berkecimpung di dunia musik, bukan sebagai pelaku langsung tetapi sebagai jurnalis. Dalam perjalanannya, saya bersinggungan dengan banyak pelaku dan menyampaikan tentang kebenaran Firman Tuhan secara langsung dalam banyak kesempatan. Latihan menulis ulasan kemudian membawa saya juga untuk rutin menulis renungan sejak tahun 2006.

(bersambung)

Wednesday, July 29, 2015

Identifying Your Calling (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

3. Mengambil Tindakan
Selanjutnya adalah kerinduan untuk turut ambil bagian dengan bertindak langsung, melakukan sebuah aksi atau taking action. Mungkin tidak harus mendadak melakukan sesuatu yang besar, tapi meski sedikit demi sedikit grafiknya akan meningkat naik. Paulus melanjutkan langkahnya dengan berdiri di atas Areopagus (tempat pertemuan penduduk Atena) dan langsung berkotbah mengingatkan mereka agar bertobat, kembali kepada Allah. Bagaimana hasilnya? Memang banyak yang tidak mengindahkannya, tapi Paulus berhasil membawa beberapa orang untuk bertobat dan menerima Yesus.

Sebuah panggilan biasanya mempunyai ciri tidak tergantung dari seberapa besar tingkat keberhasilannya tapi lebih kepada hati yang terus gelisah apabila hanya diam dan tidak melakukan apa-apa untuk menjawab rasa sedih yang muncul ketika melihat sesuatu yang belum beres.

Panggilan bisa jadi tidak mudah untuk dijalankan, terlebih di awal. Tetapi jika anda serius dalam menjalankannya, ada banyak berkat dan penyertaan Tuhan dalam setiap langkah yang akan menjadi pengalaman tersendiri yang luar biasa indahnya. Kesuksesan pun mungkin tidak serta merta datang, tapi anda akan merasakan sebentuk kebahagiaan tersendiri yang tidak bisa dinilai dengan uang sebesar apapun.

Panggilan saya dan istri saya berbeda. Sementara saya terhubung dengan para pelaku di dunia hiburan terutama musik, istri saya punya panggilan lebih kepada anjing-anjing jalanan yang terlantar. Di dunia hiburan yang terkenal jahat itu saya mencoba membagi prinsip-prinsip kebenaran Kristus terutama lewat semua yang saya lakukan, yang kerap terlihat aneh, berbanding terbalik dengan apa yang biasa dilakukan orang disana dan mereka percaya sebagai jalan menuju sukses. Tidak jarang mereka kemudian bertanya untuk tahu lebih jauh, dan saya dengan senang hati membagikannya kepada mereka. Di saat lain, saya mendukung penuh panggilan istri saya dengan sesekali mengantarkannya berkeliling membagikan sosis atau makanan lainnya dari rumah untuk anjing-anjing jalanan yang mengais peluang mencari makan di malam hari ketika jalanan sudah kosong. Mungkin pada suatu waktu nanti Tuhan akan mempercayakannya untuk membuka shelter atau rumah inap bagi hewan yang ter/dibuang? Saya menantikan waktu itu tiba. Dan mungkin pada waktunya Tuhan akan membuka jalan bagi saya untuk berbuat sesuatu yang lebih besar lagi untuk menyatakan terang di dunia gemerlap yang sesungguhnya kelam dan gelap itu? Yang pasti, sebelum sampai kesana, kami akan terus berbuat sesuatu, menjalani panggilan dengan sepenuh hati, menggunakan semua yang ada pada kami untuk melakukan sebaik mungkin.

Sebuah panggilan biasanya tidak memerlukan pujian, penghormatan atau popularitas atasnya melainkan merupakan sebuah reaksi nyata atas sesuatu yang membuat kita tidak tenang ketika melihatnya, menjawab dan melakukan panggilan sesuai apa yang telah direncanakan Tuhan sejak awal dalam diri kita, jauh sebelum kita diciptakan. Satu hal yang pasti, berita Kerajaan Allah harus bisa menjangkau hingga ke seluruh penjuru bumi. Itu artinya kita tidak boleh berhenti hanya pada ruangan gereja yang dibatasi oleh tembok-tembok saja.Marketplace, dunia hiburan, kantor, lingkungan anda atau dimanapun anda ditempatkan juga memerlukan jamahan Tuhan. Tidaklah kebetulan anda berada di tempat anda ada saat ini. Temukan panggilan anda dan jalani dengan sungguh-sungguh. Disanalah anda akan melihat indahnya berjalan bersama Tuhan, mengalami sebuah hubungan yang sangat indah dengan Tuhan dan merasakan perasaan-perasaan bahagia yang sulit dilukiskan dengan kata-kata ketika panggilan itu dijalankan setahap demi setahap.

Your calling is the way God plans to make an impact through you

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker