Wednesday, January 28, 2015

Panggilan sebagai Pelindung/Penyayang Hewan (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Selanjutnya mari kita lihat ayat berikut ini. "Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?" (Matius 6:26) lalu ayat ini: "Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu." (10:29). Kedua ayat ini memang berbicara untuk mengingatkan kita bahwa kita tidak perlu takut karena kita semua berada dalam pemeliharaan Tuhan yang penuh kasih. Tetapi apabila kita perhatikan kedua ayat itu baik-baik, maka kita bisa melihat bahwa Tuhan ternyata masih meluangkan waktu untuk menjaga kelangsungan hidup burung-burung kecil yang nilainya tentu jauh di bawah manusia. Ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Tuhan bagi hewan-hewan yang bagi manusia mungkin dianggap tidak berguna, atau bahkan hanya dijadikan korban permainan demi kesenangan mereka pribadi.

Bagaimana kita tahu apa yang menjadi panggilan kita? Sebuah panggilan biasanya membuat kita gelisah ketika kita tidak melakukannya. Kita merasa bahagia, penuh dan puas ketika menjalankan itu meski harus merugi sekalipun, tapi kita resah kalau mengelak. Saat terjadi sesuatu yang buruk terhadap apa yang menjadi panggilan kita, maka kita bisa sangat sedih dan rasanya ingin bergerak melakukan sesuatu untuk bisa memperbaikinya. Itu semua tanda-tanda yang bisa jadi acuan untuk mengetahui apa yang menjadi panggilan anda masing-masing. Ada yang terpanggil untuk melayani di gereja, ada yang panggilannya mengurus anak-anak terlantar, gelandangan, orang sakit, mengajar, atau menjadi orang-orang yang menyampaikan kebenaran di market place. Selain itu, ada juga yang panggilannya sebagai penyayang hewan, menjaga kelestarian alam, lingkungan berserta hewan dan tumbuhan yang ada didalamnya. Semua orang punya panggilannya masing-masing, dan apapun bentuknya, panggilan itu akan sangat berkenan di hadapan Tuhan apabila kita melakukan yang terbaik di dalamnya.


Sesungguhnya orang-orang yang terpanggil untuk melakukan pekerjaan menyelamatkan hewan dan lingkungan hidup ini pun menunjukkan kasih yang tinggi dengan dedikasi dalam menjawab panggilannya. Ini sejalan dengan Firman Tuhan yang berkata dengan tegas: "Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!" (1 Korintus 16:14). Disamping itu kita pun harus ingat bahwa apapun yang kita perbuat tidak boleh asal-asalan tetapi dengan serius, semangat dan sungguh-sungguh. "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Apa yang dilakukan oleh orang-orang yang punya panggilan untuk menyelamatkan hewan tetaplah sejalan dengan ayat-ayat di atas. Jika kita melakukan segala sesuatu dalam kasih dan dengan segenap hati seperti untuk Tuhan maka kita pun tentu menyenangkan hati Tuhan, dan lewat itu Roh Kudus bisa bekerja untuk menyentuh jiwa-jiwa untuk selamat.

Panggilan untuk menyelamatkan hewan-hewan yang menderita dan terbuang merupakan tugas mulia yang akan sangat besar nilainya di mata Tuhan. Kita harus ingat bahwa kelestarian dan kelangsungan hidup satwa berada di atas pundak kita, menjadi tanggungjawab kita semua. Ada banyak spesies yang terancam punah, ada begitu banyak hewan yang saat ini terancam kelangsungan hidupnya, ada banyak pula diantara mereka yang saat ini sangat membutuhkan pertolongan dari kita. Melayani manusia dan mewartakan Injil kepada sesama itu penting, tapi melestarikan dan menyelamatkan ciptaan-ciptaan Tuhan seperti hewan dan tumbuhan yang juga Dia nilai baik pun tidak kalah pentingnya. Disana pun Tuhan bisa memakai kita untuk menjadi wakil-wakilNya untuk menjadi terang dan garam di dunia. Jika itu merupakan panggilan anda hari ini, jalankanlah dengan penuh sukacita dan serius. Bentuk kepedulian nyata seperti itu pun merupakan wujud pelayanan yang akan menyukakan hati Tuhan. Tuhan ingin kita melestarikan ciptaan-ciptaanNya di muka bumi ini, dan lewat karya nyata kita bisa mewujudkannya.

Menjalani panggilan sebagai penyayang hewan merupakan tugas mulia yang tinggi nilainya dimata Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho



Tuesday, January 27, 2015

Panggilan sebagai Pelindung/Penyayang Hewan (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kejadian 1:28
======================
"Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

Saya tidak mengerti bagaimana orang bisa sangat kejam terhadap hewan. Beberapa hari lalu saat sedang berada di jalan, tepat di depan saya ada sebuah mobil pickup dengan banyak kandang dari kayu berisi anjing. Kejamnya, ada seekor anjing yang dirantai di belakang mobil dan harus berlari mengikuti laju mobil yang cepat. Berkali-kali anjing malang itu terseret apabila ia melambat karena tidak tahan mengejar kecepatan mobil. Sontak saya dan istri mengejar mobil itu dan meneriakkan si pengemudi yang tidak punya perasaan. Beberapa pengendara lain yang ada di tempat kejadian hanya tertawa, bahkan ada polisi yang naik motor melewati mereka tanpa bereaksi apa-apa. Setelah saya sampai di tujuan, istri saya kemudian menangis karena tidak tahan melihat ada anjing yang secara tega disiksa seperti itu. Anjing adalah hewan yang bisa menjadi teman manusia yang sangat setia harus mengalami nasib begitu tragis. Entah bagaimana nasib anjing malang itu setelahnya, saya tidak tahu. Selain tidak habis pikir bagaimana orang bisa berlaku sangat kejam, saya melihat bahwa sebagai penyayang anjing (dog lovers), istri saya menangis melihat kejadian itu, meski ia tidak mengenal anjing itu sama sekali. Artinya, itu merupakan panggilannya. Di waktu lain saya sering menemani istri saya untuk sekedar berkeliling sambil membawa sosis untuk memberi makan anjing-anjing jalanan yang kami temui secara acak. Saya mengerti panggilannya dan dengan senang hati keluar bersamanya untuk memenuhi panggilan yang ada pada dirinya tersebut.

Sebuah pertanyaan pun hadir: apakah pelayanan terbatas hanya untuk manusia saja? Benar bahwa kita masih harus bekerja keras untuk membawa jiwa-jiwa menuju keselamatan. TApi bagaimana dengan hewan-hewan terlantar, terabaikan, atau malah yang disiksa seperti anjing di atas? Apakah kita tidak bisa menjadi terang dan menyenangkan hati Tuhan apabila kita bergerak di bidang penyelamatan atau kepedulian terhadap hewan-hewan terlantar, mendukung animal atau dog/animal shelters dengan apapun yang kita bisa, atau bahkan ikut serta dalam pelestarian hewan langka yang hampir punah? Apakah tidak mungkin jika Tuhan memberi panggilan kepada sebagian orang untuk bekerja di ladang yang satu ini?

Manusia adalah ciptaan Tuhan, hewan pun sama, merupakan ciptaan Tuhan yang Dia bentuk dengan sangat baik. Ada begitu banyak hewan yang butuh pertolongan. Di beberapa acara televisi kita bisa melihat dimana-mana ada hewan yang sekarat, dalam kondisi sangat buruk dan akan segera mati jika tidak mendapatkan pertolongan. Banyak yang tega menyiksa atau memperlakukan hewan piaraannya secara kejam, ada yang tega meninggalkan begitu saja, di rantai dengan panjang rantai yang terlalu pendek, bahkan anjingnya sampai tidak bisa duduk saking pendeknya. Atau yang tega meracun dan menganiaya hewan-hewan malang ini tanpa perasaan. Tertawa ketika melempari hewan dengan batu. Ada anjing yang diikat diluar sepanjang hidupnya, terkena panas terik dan hujan begitu saja, ada yang tidak diberi makan, dibiarkan ketika diserang kutu, sekarat tertabrak mobil atau disiksa orang dan sebagainya. Ada beberapa lembaga yang aktif melakukan pelayanannya dan saya bersyukur karena ternyata masih banyak orang yang mau membantu mereka untuk menolong hewan-hewan ini bersama-sama tanpa memandang latar belakang masing-masing.

Manusia merupakan ciptaan Tuhan yang istimewa, itu benar. Tetapi bukan berarti bahwa Tuhan tidak mengasihi hewan dan tumbuhan yang notabene merupakan ciptaanNya juga. Manusia merusak lingkungan, menebang pohon sembarangan, merusak habitat hewan bahkan memburu mereka termasuk hewan-hewan langka di dalamnya tanpa merasa bersalah. Padahal ini pun sebenarnya sudah melanggar Firman Tuhan, karena sejak semula Tuhan sudah mengingatkan tugas kita dalam menjaga kelestarian alam beserta isinya.

Itu tertulis dalam kitab Kejadian. Sejak di awal penciptaan sesungguhnya kita bisa melihat bagaimana Tuhan telah berpesan langsung kepada kita mengenai hal ini. Lihatlah ayat berikut yang tertulis dalam kitab Kejadian "Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kejadian 1:28). Menaklukkan dan berkuasa disini bukanlah  dimaksudkan bahwa kita bisa seenaknya mengeksploitasi isi bumi tanpa memikirkan kelangsungan hidup atau kelestariannya, tapi justru sebaliknya. Kepada kita disematkan sebuah tanggung jawab secara penuh untuk mengurus dan melestarikan segala yang ada di muka bumi ini, termasuk pula di dalamnya berbagai spesies atau jenis hewan yang hidup di bumi. Mengapa demikian? Sebab Tuhan telah menciptakan segalanya itu bukan sekedar baik saja, tetapi dikatakan "sungguh amat baik." "Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik." (ay 31). Kalau Tuhan telah menciptakan segala sesuatu dengan amat sangat baik dan Dia menugaskan kita untuk menjaganya dengan baik, bagaimana kita bisa tega memperlakukan alam beserta tumbuhan dan hewan di dalamnya dengan buruk, kasar bahkan kejam? Dan jika demikian, bukankah Tuhan pun menginginkan kita untuk melakukan hal-hal yang baik bagi ciptaan-ciptaan Tuhan ini?

(bersambung)

Monday, January 26, 2015

Belas Kasih

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 1:78-79
==========================
"oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera."

Sebagai pemimpin militer dan politik, Napoleon Bonaparte sangatlah disegani pada jamannya dan masih melegenda hingga saat ini. Di saat ia berkuasa pada fase-fase akhir Revolusi Perancis, ada sebuah kisah menarik yang dicatat oleh sejarah. Suatu kali datanglah seorang ibu kepada Napoleon untuk meminta pengampunan bagi putranya. Pada saat itu putranya sedang menanti untuk dihukum mati. Si ibu memohon agar anaknya diampuni. Tapi Napoleon mengingatkan bahwa kejahatan anaknya sudah keterlaluan, dan keadilan yang setimpal bagi tindak kejahatan yang dilakukan anaknya adalah hukuman mati. Si ibu menjawab, "sir, not justice, but mercy." "Yang aku mohon bukanlah keadilan, tetapi belas kasihan". Jawab Napoleon: "tapi anakmu tidak layak menerima belas kasihan, bu!" Sambil menangis ibu itu berkata: "But sir, it wouldn't be mercy if he deserved it." Terjemahannya, "Bukanlah belas kasihan namanya jika ia layak menerimanya.." Napoleon tertegun lalu berkata: "benar juga..ibu benar. Aku mau memberikan belas kasihan." Dan anaknya pun akhirnya dibebaskan.

Penggalan kisah nyata diatas bisa menjadi jendela bagi kita untuk mengenal konsep mengenai belas kasihan yang berasal dari Allah kepada kita. Pada pasal demi pasal yang ada dalam Alkitab kita bisa menemukan belas kasihan yang diberikan Tuhan kepada manusia dalam jumlah yang tak terhitung banyaknya. Ambillah beberapa contoh seperti kisah ibu Yunani bangsa Siro-Fenisia yang memohon belas kasih Yesus atas anak perempuannya yang kerasukan roh jahat (Markus 7:24-30). Lalu seorang ayah bernama Yarius yang memohon belas kasih Yesus turun atas anak perempuannya yang sedang sekarat. Yang terjadi adalah Yesus membangkitkan anaknya yang sebenarnya sudah keburu meninggal. (Markus 5:21-43). Dalam kisah itu terselip pula seorang wanita yang sudah 12 tahun lamanya mengalami pendarahan, yang mengharap belas kasih Yesus dengan menyentuh jubahNya. Orang buta, orang lumpuh, orang kusta, dan lain-lain, telah menjadi kesaksian akan luar biasa besarnya belas kasih Tuhan. Dalam perjanjian lama pun demikian. Ada begitu banyak kisah dimana Tuhan melimpahkan belas kasihNya yang luar biasa besar.

Kembali pada kisah sang ibu dengan Napoleon di atas, dari kisah itu kita bisa mendapat gambaran mengenai bagaimana sebenarnya bentuk belas kasih itu. Belas kasih dianugrahkan pada manusia yang sebenarnya tidak layak menerimanya. Itulah inti dasar dari sebuah belas kasih. Kita manusia yang setiap hari berlumur dosa, melakukan kejahatan terhadap Tuhan, dan ganjaran yang sesuai adalah binasa, karena upah dosa ialah maut (Roma 6:23). Tapi lihatlah betapa Tuhan mengasihi kita. Tuhan memilih untuk bertindak bagai seorang bapa yang penuh belas kasih. Atas segala dosa yang sudah mencemari manusia, Tuhan bereaksi bukan membiarkan kita semua binasa dalam api neraka, tetapi Dia rela menganugerahkan Kristus untuk menyelamatkan kita, keluar dari kebinasaan dan masuk ke dalam kehidupan keka (Yohanes 3:16). Daniel dari jauh hari sudah mengerti akan hal ini. "Pada Tuhan, Allah kami, ada kesayangan dan keampunan, walaupun kami telah memberontak terhadap Dia dan tidak mendengarkan suara TUHAN, Allah kami, yang menyuruh kami hidup menurut hukum yang telah diberikan-Nya kepada kami dengan perantaraan para nabi, hamba-hamba-Nya." (Daniel 9:9-10).

Kita datang menghadap Tuhan bukan dengan tangan kosong melainkan dengan tangan yang sangat kotor, bahkan berdarah. Kita datang dengan kesadaran penuh bahwa sesungguhnya atas segala pelanggaran yang kita lakukan kita layak menerima penghakiman. Kalau kita bicara hanya soal keadilan, kita seharusnya harus siap menerima hukuman tanpa berhak protes. Tetapi besarnya kasih Tuhan pada kita membuatNya justru menganugerahkan kita dengan keselamatan ditambah pemulihan hubungan yang sebelum kedatangan Yesus ke dunia terputus akibat dosa. Dalam Injil Lukas ada ayat yang berbunyi sebagai berikut: "oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera." (Lukas 1:78-79). Belas kasihan dari Allah disertai rahmatNya bisa membuat kita keluar dari kegelapan, lepas dari naungan maut untuk kemudian beralih kepada jalan menuju keselamatan yang penuh damai sejahtera.

Kerinduan Tuhan itu disampaikan oleh Petrus. "...karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat." (2 Petrus 3:9). Sungguh besar dan tak terbatas kasihNya pada kita. Tuhan selalu siap mengampuni kita, tidak peduli sebesar apa kesalahan kita di masa lalu. Tuhan siap mengampuni kita. "Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba." (Yesaya 1:18). Dia terus menanti kedatangan kita berbalik dari dosa dan kembali kepada wilayah belas kasihNYa. Ketika kita datang padaNya dengan hati yang hancur, belas kasihNya pun akan turun atas kita. Kehendak Tuhan adalah kita semua diselamatkan dan dimenangkan. Belas kasihNya membebaskan kita. Adalah Tuhan sendiri yang menghapus dosa kita, dan Dia tidak lagi mengingat-ingat dosa kita. (Yesaya 43:25) Ketika manusia penuh dosa dan seharusnya layak binasa, kasih Allah yang besar siap memberi pengampunan dan menyelamatkan manusia sepenuhnya. Itulah belas kasih Tuhan.

Belas kasih artinya memberikan pengampunan dan kebebasan kepada yang sebenarnya tidak layak menerimanya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, January 25, 2015

Mendoakan Gembala dan Para Pemimpin Gereja (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Banyak jemaat yang mengira bahwa gembala wajib mendoakan jemaat yang hanya berlaku satu arah, tidak timbal balik. Mereka mengira bahwa yang dijawab atau mujarab hanyalah doa para pemimpin rohani. Doa mereka tidak akan manjur karena mereka hanyalah jemaat biasa, dan mereka mengira bahwa mereka tidak perlu mendoakan gembalanya. Tapi dari kisah di atas kita tahu itu keliru. Doa jemaat pun dikabulkan Tuhan. Firman Tuhan tidak berkata bahwa hanya doa gembala atau pengerja yang didengarkan, tapi semua orang punya kuasa yang sama kuatnya, selama dilakukan oleh orang benar dengan dilandasi iman yang percaya. "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." (Yakobus 5:16). Jadi tidak peduli siapapun anda, meski hanya jemaat biasa, selama anda hidup dengan benar, anda tidak perlu ragu dengan kuasa doa yang anda panjatkan kepada Tuhan.

Dari kisah di atas, kita bisa melihat betapa besar kuasa doa para jemaat yang mampu menggerakkan Tuhan untuk langsung turun tangan. Menariknya, Tuhan tidak menunggu doa mereka selesai terlebih dahulu untuk melakukan mukjizat, tapi itu terjadi ketika mereka masih terus bertekun berdoa. Dengan jelas hal ini disebutkan dalam Alkitab. "Dan setelah berpikir sebentar, pergilah ia (Petrus) ke rumah Maria, ibu Yohanes yang disebut juga Markus. Di situ banyak orang berkumpul dan berdoa." (ay 12). Artinya, meski mereka masih terus berdoa, Tuhan sudah menjawab doa mereka terlebih dahulu. Luar biasa bukan?

Pelajaran penting lainnya dari kisah ini yang bisa kita petik adalah pentingnya mendoakan para gembala, pengerja dan semua pemimpin di gereja anda. Tugas yang mereka emban sesungguhnya tidaklah mudah. Mereka dengan tekun selalu mendoakan anda para jemaat dan melayani anda dengan sebaik-baiknya di samping kesibukan mengurus keluarga dan bekerja yang harus pula mereka jalankan. Mereka mendoakan anda, tapi sudahkah anda balik mendoakan mereka? Kita sering lupa bahwa kita pun mempunyai tugas untuk mendoakan para pemimpin. Jangan jadi orang yang hanya mau didoakan tapi tidak mau mendoakan. Dan ini bukanlah apa yang diajarkan Tuhan. Apa yang diajarkan Tuhan adalah saling mendoakan (Yakobus 5:16), termasuk mendoakan para pemimpin. (1 Timotius 2:1-2). Firman Tuhan mengatakan bahwa "Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita". (ay 3). Tidak hanya itu saja, tapi kita pun dituntut untuk taat kepada mereka. Tidak terus menentang, melawan, membangkang, membuat masalah sehingga pekerjaan mereka yang sudah sulit bisa menjadi jauh lebih sulit lagi. Pada akhirnya itu akan merugikan kita sendiri. "Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu." (Ibrani 13:17).

Ingatlah bahwa para gembala dan pemimpin gereja, para pengerja dan orang-orang yang selalu melayani anda adalah manusia juga sama seperti anda. Sekuat-kuatnya mereka, ada saat-saat dimana mereka lemah. Timbunan pekerjaan dan pelayanan bisa membuat mereka jatuh sakit, kehilangan semangat, kecapaian atau kejenuhan. Di saat-saat seperti ini anda bisa berperan. Doakan dan dukung mereka agar Tuhan selalu menguatkan mereka dan menambah hikmat atas mereka. Alangkah indahnya hubungan dalam gereja yang terdapat saling doa diantara para pemimpin dan jemaatnya. Paulus menyadari pentingnya doa para jemaat bagi pemimpin seperti dia. Lihatlah apa seruannya kepada jemaat di Tesalonika. "Saudara-saudara, doakanlah kami." (1 Tesalonika 5:25).

Ambillah waktu dan mulailah doakan mereka. Siapa tahu, mungkin saat ini mereka sangat membutuhkan dukungan doa dari anda semua. Mereka sudah dengan tekun terus mendoakan anda, para jemaat yang dikasihi Tuhan secara rutin. Sekarang giliran kita untuk mendoakan mereka pula, meminta Tuhan memberi kekuatan, perlindungan, kesehatan dan lain-lain agar mereka dapat tetap menjalankan tugas berat mereka dalam keadaan baik, sehat tanpa kurang suatu apapun.

Gembala mendoakan jemaat, jemaat mendoakan gembala. Kuasa doa sama besarnya berlaku bagi setiap orang benar

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, January 24, 2015

Mendoakan Gembala dan Para Pemimpin Gereja (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 12:5
============================
"Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah."

Menjadi pemimpin itu tidak mudah, apalagi kalau berkomitmen untuk menjadi pemimpin yang baik. Mereka harus kuat, sabar dan tabah karena harus berusaha mengakomodasi berbagai orang yang punya keinginan-keinginan sendiri dengan sifat masing-masing. Dengan banyaknya orang yang mau menang sendiri dan bersifat egois, tidak jarang para pemimpin yang baik harus terus bekerja meski diganggu oleh orang-orang seperti itu. Kita menuntut para pemimpin untuk berhasil, tapi bukannya menolong malah rajin mengkritik. Lihat saja bagaimana tingkah laku mereka di televisi yang seolah peduli tetapi sebenarnya memojokkan dan mengganggu kinerja para pemimpin. Singkatnya, jadi pemimpin yang baik itu berat dan sulit.

Karena itulah maka saya yakin pemimpin itu sangat butuh bantuan bukan celaan. Pemimpin bangsa dalam segala tingkatan seperti itu, pemimpin rohani pun tentu sama. Seringkali para pemimpin rohani harus menghadapi situasi yang sama, karena sifat-sifat seperti itu pun banyak dijumpai di antara orang percaya. Bagai lokomotif yang harus menarik sekian gerbong dibelakangnya, mereka harus bekerja keras melakukan itu meski badai menerpa kiri dan kanan. Mereka mungkin terkenal di kalangan jemaat, punya jabatan itu sepertinya terlihat hebat, tetapi kalau mereka memang benar menjalankan panggilan, saya yakin beban tugas mereka jauh lebih besar dari sekedar mendapatkan popularitas tersebut. Ada berapa banyak jemaat yang harus mereka tuntun? Apa saja masalahnya? Bagaimana dengan menyusun program, memimpin anggota di berbagai bidang dan mengarahkan jemaat untuk terus bertumbuh dalam pengenalan yang baik akan Kristus?  Itu baru tugas mereka dalam menggembalakan jemaat. Bagaimana dengan kehidupan mereka di luar tugas sebagai gembala? Kalau mereka bukan full timer, mereka masih harus menjalani profesinya. Disamping itu para gembala juga punya keluarga yang harus diurus. Istri, anak, orang tua, saudara, semua itu seringkali membutuhkan perhatian dan waktu yang tidak sedikit. Waktu mereka bisa begitu tersita, sehingga mereka mungkin harus mengorbankan waktu-waktu untuk beristirahat.

Sekuat-kuatnya manusia, ada saat dimana kita menyentuh titik lemah. Kecapaian, sakit, burn out, dan sebagainya. Kelelahan saja bisa membuat orang kehilangan banyak hal. Sulit konsentrasi, kehilangan semangat atau gairah, juga bisa membuat orang jatuh sakit. Sekuat-kuatnya gembala kita, sehebat-hebatnya mereka, mereka tetaplah manusia yang sama seperti kita. Manusia yang terbatas, manusia yang lemah dan rentan. Maka jelas, gembala atau para pengerja dan pemimpin rohani butuh doa, agar mereka menjadi lebih kuat, lebih sabar, lebih tabah, lebih kokoh sehingga jemaat yang mereka tuntun bisa bertumbuh dengan baik.

Kita bisa melihat sebuah contoh dari pentingnya kuasa doa yang ditujukan kepada gembala atau pemimpin rohani, yaitu dalam Kisah Para Rasul 12:1-19. Pada waktu itu Herodes mulai bertindak keras menindas orang percaya.Ia memerintahkan kepada algojo bahwa Yakobus harus dibunuh dengan pedang. Yakobus pun tewas sebagai martir. Demi melihat perilaku jahatnya ternyata disukai orang Yahudi, maka ia pun ketagihan melanjutkan perbuatannya dengan menahan Petrus. Petrus pun ditangkap. Tapi untunglah hari itu jatuh kepada Hari raya Roti Tidak Beragi, sehingga Petrus tidak langsung diadili untuk kemudian dihukum mati. Sebagai gantinya, Petrus dijebloskan kepenjara dan dijaga oleh 4 regu dengan 4 prajurit pada masing-masing regu. Enam belas orang ditugaskan untuk menjaga satu orang. Mengapa? Karena Herodes tidak ingin ada apa-apa terjadi pada Petrus sebelum dia diadili di depan rakyatnya dan bisa dibunuh. Apa yang akan terjadi atas diri Petrus sudah jelas. Hukuman mati telah menanti. Sebentar lagi ia akan mengalami nasib yang sama dengan Yakobus.

Tapi bukan itu yang terjadi. Alkitab mencatat seperti ini: "Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah." (Kisah Para Rasul 12:5). Jemaat ternyata tidak tinggal diam. Mereka berkumpul dan terus menerus berdoa dengan sungguh-sungguh untuk Petrus. Dan terjadilah mukjizat luar biasa, Tuhan mengutus malaikat untuk melepaskan Petrus. "Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: "Bangunlah segera!" Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus." (ay 7). Petrus pun segera mengikuti malaikat itu meski masih bingung tentang apa yang sedang terjadi, apakah itu nyata atau cuma mimpi. Baru setelah sampai di luar di tempat yang aman dan malaikat itu meninggalkannya, ia baru sadar mengenai apa yang terjadi. "Dan setelah sadar akan dirinya, Petrus berkata: "Sekarang tahulah aku benar-benar bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes dan dari segala sesuatu yang diharapkan orang Yahudi." (ay 11). Lihatlah betapa hebatnya kuasa doa. Dan itu adalah doa yang dipanjatkan para jemaat terhadap pemimpin mereka. Seperti itulah besarnya kuasa doa.

(bersambung)

Friday, January 23, 2015

Cha dan Kesabarannya yang Menginspirasi

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Timotius 6:11
======================
"Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan."

Sekitar beberapa tahun yang lalu ada berita menarik dari negara K-pop, Korea Selatan yang buat saya sangat menginspirasi dan memberkati. Seorang nenek bernama Cha Sa soon dikabarkan telah melakukan hampir 800 kali ujian teori pembuatan SIM (Surat Ijin Mengemudi) tapi tidak kunjung lulus! Sejak 2005 Cha terus menerus datang ke kantor polisi mulai dari setiap hari hingga seminggu sekali dengan satu tujuan: membuat SIM. Hingga 4 tahun setelahnya ia masih tetap tidak lulus karena skornya masih jauh di bawah standar kelayakan. Selama 4 tahun ia sudah menghabiskan sekitar 4 juta Won atau sekitar 45 juta rupiah hanya untuk memperoleh SIM tapi tetap saja gagal. Meski sudah lanjut usia, ia sangat memerlukan SIM sehubungan profesinya berjualan makanan dan kebutuhan rumah tangga. Di kota Jeonju dimana ia tinggal, sementara belum mendapat SIM ia menjalankan pekerjaannya dengan gerobak dorong dari satu pintu ke pintu lain di kompleks perumahan. Para polisi di sana sudah mengenalnya dan terharu, tetapi undang-undang melarang mereka untuk menolong si nenek ini.

Bagaimana seorang nenek bisa terus berjuang dengan sabarnya untuk memperoleh SIM? Tidak ada catatan bahwa ia mengeluh, bersungut-sungut dan patah semangat. Sebaliknya ia tetap sabar dan tidak kehilangan harapan, meski sampai sekian tahun masih saja gagal. Saya tidak tahu apakah sekarang ia sudah berhasil dan bisa lebih mudah berjualan atau belum, tapi yang pasti 4 tahun saja sampai saat diberitakan, Cha sudah menunjukkan kegigihan dan kesabaran yang luar biasa.

Pertanyaan pun hadir di benak saya. Apakah Cha memang kurang kerjaan? Tentu tidak, karena ia bekerja keras mendorong gerobak untuk berjualan di usia senjanya. Apakah Cha punya uang tak terbatas sampai rela menghabiskan puluhan juta hanya untuk selembar SIM? Itu pun tidak karena kita tahu profesinya bukanlah sesuatu yang berpenghasilan tinggi. Atau, bagaimana nenek Cha bisa tidak emosi, kesal, marah atau kecewa? Apakah ia manusia yang tidak punya perasaan? Rasanya nenek Cha pun sama seperti kita manusia lainnya. Ketika di Indonesia kita terbiasa mencari jalur singkat buat urusan birokrasi, lebih tertarik menggunakan calo atau lewat pintu belakang, kisah kesabaran dan kegigihan Cha ini menjadi sangat luar biasa. Artinya, jika Cha bisa, kita pun bisa. Yang membedakan hanyalah sikap dalam memandang persoalan. Orang lain gampang menyerah, orang lain cepat emosi dan akan menuduh sana sini yang bukan-bukan, Cha tetap bertekun dalam kesabaran. Soal berhasil atau tidak itu nomor dua, yang penting teruslah giat berusaha. Ia pun menunjukkan tingkat keyakinan yang berbeda. Meski sudah sekian ratus kali gagal, ia percaya bahwa suatu hari kelak ia pasti berhasil. Itu sangat menginspirasi saya.

Cha bisa jadi teladan buat kita dalam hal kesabaran, keuletan, semangat pantang menyerah dan iman yang percaya. Itu semua merupakan kualitas yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang percaya. Paulus pernah mengingatkan mengenai hal ini. "Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan." (1 Timotius 6:11). Sebagai anak-anak Allah kita harus menjauhi hal-hal yang negatif, semua yang tidak berkenan di hadapan Allah, yang bertentangan dengan Firman-firman-Nya. Apa yang harus kita tuju adalah hal-hal yang berkenan bagi Dia, salah satunya adalah kesabaran. Benar manusia diciptakan mempunyai emosi, yang gampang tersulut ketika berada dalam tekanan, dan punya kecenderungan untuk menyerah pada suatu titik tertentu. Manusia punya batas kesabaran yang bisa putus pada waktunya. Itu memang manusiawi. Tetapi kita selalu dapat melatih diri kita untuk kuat dan terus meningkatkan kesabaran. Berhentilah memusatkan diri pada hal-hal negatif atau kegagalan, karena itu akan melemahkan kita hingga kita berhenti berusaha. Sebaliknya fokuslah pada hal-hal yang baik, dengan memusatkan pandangan kepada Tuhan yang memampukan kita untuk melakukan apapun diluar logika dan batas-batas kesanggupan manusia.

Paulus melanjutkan nasihat di atas dengan kalimat berikut: "Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi." (ay 12). Ketika kita mengaku percaya Kristus, itu tentu baik. Namun ketika kita menunjukkan sebuah perubahan pola pikir, perubahan gaya hidup, perubahan sikap dan tingkah laku, menjadi semakin seperti pribadi Kristus, hanya di saat itulah kita menunjukkan bahwa ada iman yang tumbuh dalam diri kita sebagai hasil nyata dari menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Mengucapkan percaya itu mudah, namun membuktikannya sama sekali tidak mudah. Ketika orang duniawi penuh emosi, kita sabar. Ketika dunia penuh kebencian, kita mengasihi. Ketika orang mencari jalan pintas, kita tekun menjalani proses. Ketika orang bersungut-sungut dan penuh keluhan, kita dipenuhi ucapan syukur. Ketika dunia memandang harta duniawi, kita memandang harta surgawi. Ketika orang cari jalan pintas dengan macam-macam kecurangan, kita tetap jujur apapun resikonya. Dengan memandang segalanya dari kacamata iman, kita tidak akan mudah jatuh pada kehidupan yang penuh keluhan, komplain dan sebagainya. Iman yang terpusat pada Kristus akan membuat kita selalu mampu melihat sudut positif dari hal sulit sekalipun, dan kita pun akan senantiasa penuh dengan ucapan syukur. "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika5:18). Itulah yang Tuhan mau.

Tidak satupun tokoh Alkitab  yang hidupnya mulus-mulus saja sepenuhnya. Masing-masing punya pergumulannya sendiri. Ada yang gagal, tapi banyak pula yang berhasil menunjukkan ketaatan mereka pada Tuhan. Mereka melalui segala proses dengan tetap fokus pada Tuhan, dan bukan pada masalah. Ada saat dimana mereka terkadang jatuh, namun mereka selalu mampu bangkit kembali dan memperoleh hasil akhir yang gemilang pada akhirnya. Ada yang harus menanti selama bertahun-tahun agar janji Tuhan dalam hidupnya digenapi. Bahkan banyak diantara mereka yang harus membayar dengan nyawa, tapi iman mereka tetap tidak tergoyahkan. Imannya yang teguh membuat mereka tetap percaya sepenuhnya kepada Tuhan, tetap bersabar dan tidak kehilangan sukacita. Pengharapan mereka tetap utuh sampai pada akhirnya. Apa yang dijalani tokoh-tokoh Alkitab ini hendaknya bisa menjadi teladan bagi kita semua. Itu pula yang diingatkan Yakobus. "Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan." (Yakobus 5:11).

Tuhan itu maha penyayang dan penuh belas kasihan. Dalam sebuah proses perjuangan hidup anda yang mungkin saat ini masih belum menunjukkan keberhasilan. Jika ya, ingatlah kepada Cha dan bersabarlah. Teruslah bertekun dan jangan berhenti bersyukur. "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" (Roma 12:12). Ketiga hal ini seharusnya bisa menguatkan anda untuk terus berjuang dengan sabar sambil terus memegang pengharapan kepada Tuhan.

Ada banyak hikmah yang bisa anda peroleh dari setiap kesulitan yang anda lalui saat ini. Bersabarlah menghadapi segala sesuatu, dan pada suatu hari nanti, percayalah bahwa anda akan memetik buah dari kesabaran anda. Kalau Cha sanggup melakukannya, kitapun pasti bisa.

Sebuah ketekunan dan kesabaran tidak akan pernah sia-sia

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, January 22, 2015

Menggadaikan Hak Kesulungan (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Sebagai anak-anak Tuhan adalah penting bagi kita untuk menjaga diri kita agar tidak bertindak seperti Esau, meremehkan kasih karunia Tuhan dan sanggup menukarkannya dengan kenikmatan yang ditawarkan dunia dalam berbagai bentuk. Di kemudian hari Penulis Ibrani kembali mengangkat kisah ini. "Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan." (Ibrani 12:16).

Bagi orang yang rela menjual hak kesulungannya, inilah yang terjadi: "Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata." (ay 17). Saya sudah menyaksikan sendiri banyak contoh nyata akan hal ini bahkan dari orang-orang yang saya kenal. Karena itu waspadalah terhadap segala godaan duniawi yang bisa membuat kita melakukan kesalahan fatal menggadaikan hak kesulungan kita. Bagi orang yang menjual hak kesulungannya, tidak peduli sebanyak apapun mereka berseru-seru kepada Tuhan, beginilah akhirnya: "Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:23). Jangan sampai kita memutuskan untuk melakukan tindakan bodoh yang akan mengakibatkan kita ditolak dan dihapus dari daftar ahli waris Kerajaan Allah.

Kita diingatkan agar jangan sampai terlambat untuk memperbaiki kesalahan kita, dan akibatnya sangatlah fatal. Sesal kemudian tidak lagi berguna, tidak peduli sederas apa urai air mata penyesalan kita nanti sekalipun. Ketika kita saat ini masih punya kesempatan, jagalah iman kita dan pertahankan hak kesulungan yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita dengan serius. Bersyukurlah ketika saat ini kita diberi hak yang sungguh istimewa dan terhormat, jangan gadaikan hak kesulungan demi alasan-alasan kenikmatan dan kepentingan duniawi yang sesaat. Hak kesulungan sudah kita peroleh sebagai anak-anak Allah. Dia sudah mengangkat kita sebagai ahli waris yang akan menerima segala janji-janji Allah. Jangan sepelekan apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Dan jangan salahkan Tuhan apabila pada akhirnya pintu itu tertutup, sebab itu adalah pilihan ceroboh kita sendiri. Jika di antara teman-teman ada yang sedang menghadapi dilema seperti ini atau mungkin malah sudah terlanjur melakukannya, berbaliklah segera, sebelum semuanya terlambat. "Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat." (Wahyu 2:5).

Benar bahwa semangkuk kacang merah punya nutrisi dan khasiat tinggi bagi kesehatan. Tetapi bukankah anda bisa memperoleh nutrisi yang sama dengan mengkonsumsi makanan lainnya? Iman kita pun seperti itu. Akan ada banyak orang yang meminta hak kesulungan kita untuk kita lepaskan dan seringkali iming-imingnya terlihat sangat menarik. Tapi yang pasti, semenarik atau seberharga apapun, itu tidak akan pernah sebanding dengan hak kesulungan yang sudah kita terima langsung dari Tuhan. Hak kesulungan bukanlah sesuatu yang sepele dan main-main, karenanya peganglah dengan baik dan jangan gadaikan tak peduli apapun alasannya.

Jangan gadaikan kehormatan atas hak kesulungan yang telah dianugerahkan Tuhan dengan tujuan-tujuan sesaat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker