Tuesday, August 19, 2014

Melakukan Hal Nyata Bagi Bangsa (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

1. Do something real, work on it like you really mean it!

Pertama mari kita lihat dari segi urutan kata. Kata "dan" pada ayat ini menunjukkan adanya dua aktivitas berbeda namun saling berhubungan. Usahakanlah kesejahteraan kota, itu ditempatkan di depan, selanjutnya berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan. Artinya terlepas dari panggilan kita sebagai anak Tuhan untuk terus memanjatkan doa syafaat atas kota, bangsa dan negara kita, termasuk para pemimpin di dalamnya, adalah sangat penting pula bagi kita untuk melakukan sesuatu secara nyata demi kesejahteraan kota dimana kita tinggal. Sangat disayangkan melihat tidak banyak gereja yang mau keluar dari balik dinding-dindingnya untuk menjangkau kehidupan di luar tembok gereja dengan melakukan sesuatu secara nyata, bahkan tidak jarang pula melihat banyak gereja hari ini masih bergumul di lingkungannya sendiri, belum mampu mengatasi perbedaan dan mengedepankan persatuan yang jelas sangat diperlukan untuk bisa membawa perubahan-perubahan berarti di luar sana. Mendoakan itu perlu dan sesuai firman Tuhan. Tentu saja itu sangat benar. Tetapi firman Tuhan dalam Yeremia 29:7 mengajak kita untuk kembali menyadari apa yang sebenarnya diinginkan Tuhan untuk kita lakukan. Seberapa jauh gereja dan jemaatnya hari ini mau berfungsi nyata dalam kehidupan disekitarnya demi mengusahakan kesejahteraan kota seperti panggilan Tuhan itu? Mendoakan itu sangat penting. Doa punya kuasa yang luar biasa, apalagi jika dilakukan oleh orang benar. (Yakobus 5:16b). Tapi sebuah tindakan nyata yang aktif juga merupakan sesuatu yang sangat penting untuk kita pikirkan dan lakukan, begitu pentingnya bahkan kata "usahakan" itu diletakkan di depan.

Kata "mengusahakan" menurut kamus bahasa Indonesia mencakup 4 hal, yaitu:
- mengerjakan/menciptakan sesuatu
- mengikhtiarkan (berpikir dalam-dalam untuk mencari solusi)
- berusaha sekeras-kerasnya dalam melakukan sesuatu

Mengusahakan bukanlah sebuah hal yang sepele. Jika Tuhan meminta kita untuk mengusahakan kesejahteraan kota dimana kita ditempatkan, itu artinya poin-poin di atas haruslah mendapat perhatian penting bagi kita. Pola pikir diarahkan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup kita dan keluarga saja tetapi berbuat sesuatu sebagai bagian dari kontribusi dan peran serta kita secara aktif untuk pembangunan kesejahteraan di manapun kita ditempatkan. Masalahnya, mungkinkah kita mau melakukan dan memperjuangkan yang terbaik kalau kita tidak mengasihi seseorang? Demikian pula halnya dengan kota dan dalam skala lebih besar, bangsa.

Kita tidak akan pernah bisa tergerak untuk melakukan peran aktif demi kesejahteraan kota apabila kita tidak mengasihi kota dimana kita tinggal. Mungkinkah kita habis-habisan melakukan yang terbaik jika kita tidak mencintai seseorang? Tentu tidak, bukan?  Sama halnya seperti kota dan bangsa secara keseluruhan. Kita akan memiliki kerinduan untuk mengusahakan sesuatu sesuai dengan kemampuan dan talenta yang kita miliki demi kesejahteraan kota kita hanya apabila kita mengasihi kota, bangsa dan negara kita, termasuk orang-orang yang hidup di dalamnya. Firman Tuhan sudah berkata bahwa "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." (Efesus 2:10). Perhatikan bahwa segala yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan baik sudah dilengkapi oleh Allah lewat Kristus buat kita. Ini termasuk dalam mengusahakan kesejahteraan dan keselamatan bangsa. Dan Tuhan mengatakan bahwa Dia mau kita hidup di dalamnya. Kemampuan, kesanggupan, kekuatan dan bekal-bekal lainnya sudah Dia persiapkan. Tinggal kesediaan, kesadaran dan kesungguhan kita saja yang dibutuhkan. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk mengelak dari kewajiban ini. Jalani sesuai panggilan masing-masing. Perbuatan kecil atau besar bukan masalah, selama semuanya dilakukan demi kemuliaan Tuhan dan bukan atas motivasi-motivasi lain. It's time for us to do something real, work on it like we really, really mean it. 

(bersambung)

Monday, August 18, 2014

Melakukan Hal Nyata Bagi Bangsa (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yeremia 29:7
====================
"Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu."

69 tahun kita sudah merdeka, seperti apa bangsa kita saat ini? Secara hukum negara kita adalah negara yang berdaulat. Undang-Undang sudah dibuat dimana kesejahteraan rakyat atau warga negara yang hidup di dalamnya terjamin, mendapat kepastian hukum, keamanan dan keadilan. Selama 69 tahun negara ini berdiri, sudahkah semua itu ada? Jawaban mungkin beragam. Negara yang seharusnya makmur karena memiliki begitu banyak kekayaan alam ternyata masih terlilit hutang dan hasil buminya habis diporoti negara-negara lain yang lebih kuat. Harga bahan-bahan pokok atau kebutuhan primer terus ngebut naik sementara pendapatan merangkak kalau tidak bisa dibilang jalan di tempat atau bahkan menurun. Perlindungan kepada kaum minoritas masih terus menjadi kendala, ketidakberdayaan pemerintah menghadapi ormas-ormas atau kelompok-kelompok tertentu masih terlhat jelas, apalagi kalau mereka ini punya 'backing' kuat. Korupsi masih mewarnai berbagai lapisan dalam pemerintahan dari hulu sampai hilir. Semua masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dipikirkan agar bisa menjadi negara seperti yang dicita-citakan para pendirinya. Tapi tidak adil juga kalau kita hanya terus melihat sisi-sisi buruk. Hal yang positif adalah bahwa trend negara ini terus menuju kepada kondisi yang lebih baik. Munculnya orang-orang bersih yang diberi kesempatan untuk memimpin beberapa daerah ternyata membuka mata kita bahwa masih ada orang-orang berintegritas yang peduli terhadap nasib bangsa, tidak hanya memikirkan diri sendiri dan kelompoknya saja tetapi mau mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadinya. Kepedulian terhadap penderitaan orang lain masih ada, dan orang-orang yang mengedepankan kebersatuan ditengah kemajemukan belum habis.

Bagaimana dengan kita? Kalau kita termasuk orang-orang yang memimpikan tatanan kehidupan yang jauh lebih beradab, lebih baik, lebih damai, lebih bersatu dan lebih-lebih positif lainnya, apakah kita sudah berbuat sesuatu untuk itu atau kita masih menjadi orang-orang yang hanya mengeluh tanpa mau mengambil langkah apapun? Ada orang yang pernah berkata kepada saya bahwa ia merasa tidak perlu berbuat apa-apa karena apalah artinya satu orang dibanding sekian ratus juta orang lainnya dalam membenahi perjalanan bangsa ini ke depan. Benarkah demikian? Salah seorang kandidat pemimpin negara pernah mengatakan bahwa ia mencoba terjun langsung ke gelanggang pemilihan karena ia tidak mau menjadi orang yang hanya berpangku tangan dalam impiannya akan sebuah negara yang lebih baik. Ia tidak mau hanya menjadi komentator atau jago mengeluh, tapi ia memilih untuk terjun langsung agar bisa membenahinya. Ini adalah sebuah sikap yang sangat baik karena Tuhan sendiri tidak mau kita hanya diam saja tetapi iman yang ada di dalam diri kita wajib dicurahkan lewat berbagai bentuk tindakan nyata. Mungkin kecil, mungkin terlihat tidak membawa perubahan apa-apa dalam waktu singkat, tetapi percayalah apapun yang baik yang kita lakukan sesuai dengan ketetapan dan kebenaranNya, seturut kehendakNya, sesuai panggilan kita masing-masing dan dilakukan demi namaNya tidak akan pernah berakhir sia-sia. Kalaupun di dunia ini belum berdampak besar, setidaknya di mata Tuhan itu akan punya nilai dan akan sangat diperhitungkan.

Firman Tuhan banyak berbicara akan hal ini. Bahkan ada ayat-ayat yang menggambarkan bahwa meski sedikit, kalau memang yang sedikit itu benar-benar mengamalkan firman Tuhan secara nyata, maka itu mampu mencegah turunnya murka Tuhan dan berkenan mencurahkan berkatNya bagi seisi bangsa. Itu bisa kita lihat lewat kisah pada saat Abraham memohon kepada Tuhan agar Dia mengurungkan niatNya memusnahkan Sodom beserta isinya dalam Kejadian 18. Abraham memohon: "Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?" (Kejadian 18:25). Tuhan meresponnya seperti ini: "Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka." (ay 26). Ternyata disana saat itu jumlah orang benar ada dibawah 50 orang. Tawar menawar terus terjadi, hingga "Katanya: "Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?" Firman-Nya: "Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu." (ay 32). Seandainya ada 10 orang saja yang sungguh-sungguh hidup benar maka Tuhan tidak akan menghukum Sodom sekeras itu. Mengingat bahwa Tuhan memutuskan untuk menghukum Sodom, artinya jumlah orang benar yang hidup disana sudah teramat sangat kecil, atau mungkin malah tidak ada sama sekali lagi. Padahal jika ada 10 orang saja, 10 orang benar, orang peduli dan tidak apatis, orang yang taat dan takut akan Tuhan, Tuhan akan mengampuni bangsa Sodom beserta semua orang yang hidup didalamnya.

Seperti apa orang benar yang dimaksud Tuhan ini? Orang benar bukanlah sekedar orang yang mengaku percaya saja tetapi mereka yang mengamalkan, menerjemahkan atau mewujudkan imannya ke dalam bentuk-bentuk perbuatan nyata. Bukan sekedar mengaku lantas di saat yang sama ikut melakukan perbuatan-perbuatan buruk, bukan sekedar mengaku lalu hidupnya masih sama sekali tidak mencerminkan pribadi Kristus, bukan pula orang-orang yang tampak seolah suci tetapi hanya diam saja tanpa melakukan apapun bagi bangsanya. Jadi bisa saja ada ribuan bahkan jutaan orang yang mengaku sebagai umatNya, tetapi kalau tidak berbuat apa-apa atau malah masih lemah sehingga terus terseret ke dalam berbagai penyimpangan kebenaran firman dan belum aktif sebagai pelaku firman, maka semuanya akan sia-sia saja.

Dalam kitab Yeremia ada sebuah ayat yang menunjukkan peran orang percaya dalam hubungannya dengan kesejahteraan kota dimana kita/mereka tinggal. "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu." (Yeremia 29:7). Bagi saya ayat ini berbicara sangat banyak meski bentuknya hanya terdiri atas satu kalimat singkat saja. Ijinkan saya mengulasnya satu persatu.

(bersambung)

Sunday, August 17, 2014

Membangun Karakter Berintegritas Tinggi

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Raja Raja 3:6
===================
"Lalu Salomo berkata: "Engkaulah yang telah menunjukkan kasih setia-Mu yang besar kepada hamba-Mu Daud, ayahku, sebab ia hidup di hadapan-Mu dengan setia, benar dan jujur terhadap Engkau; dan Engkau telah menjamin kepadanya kasih setia yang besar itu dengan memberikan kepadanya seorang anak yang duduk di takhtanya seperti pada hari ini." 

Orang yang berintegritas sering digambarkan sebagai orang-orang yang perbuatannya sesuai perkataan, bertindak konsisten dengan menjunjung nilai-nilai luhur, mampu mengemban tanggung jawab, mengamalkan kebenaran tanpa syarat dan berbagai nilai moral lainnya. Ada yang menyebutkan integritas sebagai keterpaduan antara kesempurnaan dan ketulusan. Dalam sebuah kamus integritas didefinisikan sebagai 'the quality of being honest and having strong moral principles; moral uprightness', yang artinya punya kualitas untuk hidup jujur, memiliki prinsip moralitas dengan standar tinggi dan lurus. Begitu banyak nilai baik yang terkandung dari sebuah pribadi berintegritas yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang diadopsi dari prinsip dunia dalam memandang kebahagiaan saat ini, sehingga sulit sekali mencari orang yang masih memilikinya di tengah kehidupan global yang semakin jauh dari akhlak mulia dan budi pekerti. Alasan harus memenuhi kebutuhan atau beban hidup yang semakin meningkat, takut kehilangan kesempatan dan sebagainya akan dengan mudah menggeser prinsip-prinsip moral untuk menyerah kepada sikap-sikap oportunis, cari aman dan keuntungan sendiri, berpusat pada diri pribadi bahkan tega mengorbankan orang lain untuk itu. Berbohong menjadi sesuatu yang wajar, berbohong itu biasa. Banyak orang bermimpi untuk menikmati dunia yang lebih baik, lebih damai dan lebih bersahabat, tapi lucunya tidak menyadari bahwa tanpa membangun pribadi-pribadi yang berintegritas itu akan sangat sulit diwujudkan atau malah akan berakhir sebatas utopia saja.

Di masa mudanya, Salomo menunjukkan bentuk hidup yang menaati ketetapan-ketetapan Daud dengan perbuatan-perbuatan yang mencerminkan kasihnya kepada Tuhan. Tuhan ternyata terkesan dengan sikapnya, dan pada suatu kali menampakkan diri kepada Salomo saat ia tengah berada di Gibeon untuk mempersembahkan korban. Bukan hanya menampakkan diri, tapi Tuhan juga memberi hadiah istimewa buat Salomo dengan berjanji akan memenuhi permintaan Salomo. Ini dicatat dalam kitab Raja Raja pasal 3. Bagaimana reaksi Salomo? "Lalu Salomo berkata: "Engkaulah yang telah menunjukkan kasih setia-Mu yang besar kepada hamba-Mu Daud, ayahku, sebab ia hidup di hadapan-Mu dengan setia, benar dan jujur terhadap Engkau; dan Engkau telah menjamin kepadanya kasih setia yang besar itu dengan memberikan kepadanya seorang anak yang duduk di takhtanya seperti pada hari ini." (1 Raja Raja 3:6). Perhatikan bahwa meski Salomo bisa meminta sesuatu yang instan yang dipandang dunia merupakan ukuran kebahagiaan, Salomo tidak meminta itu. Ia justru meminta hikmat agar ia bisa menjadi raja yang adil dan bijaksana agar ia sanggup menengahi berbagai problema rakyatnya dan memiliki kemampuan untuk menimbang mana yang baik dan jahat. Menariknya, saat ia menjawab pemberian Tuhan ini, ia mengacu kepada integritas ayahnya, Daud, yang ia lihat sendiri mendatangkan kasih setia Tuhan dengan sangat besar.

Seperti apa bentuk integritas Daud yang dilihat oleh Salomo? Perhatikan kembali ayat tadi, maka disana ada tiga elemen dari integritas yang disebutkan Salomo sebagai gaya hidup atau sikap ayahnya, yaitu (1) setia, (2) benar dan (3) jujur. Dari contoh nyata Daud, orang yang menghidupi ketiga elemen penting ini akan mendapatkan kasih setia Tuhan yang besar, dan itu dikatakan pula merupakan sebuah jaminan dari Tuhan. Setia, benar dan jujur merupakan elemen yang akan membentuk sebuah karakter berintegritas tinggi yang akan pula menuai segala kebaikan dari Tuhan. Salomo tahu itu karena ia sudah melihat sendiri buktinya dari apa yang dialami oleh ayahnya.

Pertanyaannya, apakah Daud menyadari pentingnya hal ini sehingga ia menghidupinya secara nyata dengan sungguh-sungguh? Adakah ayat dimana Daud menyebutkan hal itu? Ada. Mari kita lihat pandangan Daud akan pentingnya sebuah integritas, sebuah kebenaran yang ia dapatkan sehingga ia bisa teguh mengamalkan elemen-elemen integritas ini dalam hidupnya. Semua itu terangkum dalam Mazmur 15 yang isinya sangat pendek. Cuma ada 5 ayat disana tetapi apa yang terkandung di dalamnya sesungguhnya bernilai sangat tinggi mengenai karakter orang yang berintegritas dan bagaimana hal tersebut dimata Tuhan. Mari kita lihat isinya dalam versi Bahasa Indonesia Sehari-hari.

"Mazmur Daud. TUHAN, siapa boleh menumpang di Kemah-Mu dan tinggal di bukit-Mu yang suci. Orang yang hidup tanpa cela dan melakukan yang baik, dan dengan jujur mengatakan yang benar; yang tidak memfitnah sesamanya, tidak berbuat jahat terhadap kawan, dan tidak menjelekkan nama tetangganya; yang menganggap rendah orang yang ditolak Allah, tetapi menghormati orang yang takwa; yang menepati janji, biarpun rugi dan meminjamkan uang tanpa bunga; yang tak mau menerima uang suap untuk merugikan orang yang tak bersalah. Orang yang berbuat demikian, akan selalu tentram." (Mazmur 15:1-5 BIS).

Lihatlah nilai-nilai yang terkandung disana. Ini adalah hasil perenungan Daud mengenai orang dengan pribadi seperti apa yang bisa tinggal dalam kemahNya dan dibukitNya yang suci. Dalam Bahasa Inggrisnya dikatakan: "LORD, WHO shall dwell [temporarily] in Your tabernacle? Who shall dwell [permanently] on Your holy hill?" (ay 1). Orang yang bisa memperoleh ini adalah orang yang hidupnya:
- tanpa cela
- melakukan yang baik
- jujur yang berkata benar
- tidak memfitnah orang lain
- tidak berbuat jahat
- tidak menjelekkan orang lain
- tidak ikut-ikutan berbuat seperti orang yang tidak berkenan bagi Allah melainkan menghormati orang yang takwa
- orang yang menepati janji sekalipun harus merugi karenanya
- yang tidak mengharapkan bunga kalau meminjamkan
- yang tidak menerima suap

Daud menjabarkan lebih rinci, tapi semua poin ini akan menuju kepada tiga hal seperti yang digambarkan Salomo di atas, yaitu: kesetiaan, kebenaran dan kejujuran. Daud jelas mengerti kriteria orang yang akan berhak berdiam dalam Kerajaan Allah yang kudus, karena itulah ia pun menghidupi nilai-nilai yang terkandung dalam integritas itu seperti apa yang telah ia ketahui. Tidak heran apabila kemudian Salomo kemudian menjadikan nilai-nilai yang dihidupi ayahnya sebagai sesuatu yang harus pula ia adopsi dalam hidupnya. Inilah bentuk sebuah integritas, sebuah bentuk kehidupan yang berkenan di mata Tuhan.

Satu saja dari nilai-nilai itu tidak kita lakukan maka integritas pun hilang dari diri kita. Sekedar mengetahui saja tidak cukup, hanya mengatakan saya tidak cukup, kita harus pula menyelaraskannya dengan perbuatan nyata dalam hidup kita. Jika kita merenungkan poin-poin di atas sesungguhnya membangun karakter yang berintegritas tidaklah mudah, dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari mungkin akan jauh lebih sulit lagi mengingat kita hidup di dunia yang punya prinsip bertolak belakang, penuh dengan orang-orang yang saling sesat menyesatkan. Tetapi sosok seperti inilah yang sesungguhnya diinginkan Tuhan untuk mewarnai kehidupan kita, orang-orang percaya. Untuk membangun pribadi yang berintegritas dan berkualitas maka Mazmur 15 ini penting untuk kita renungkan dan kemudian terapkan dalam hidup. Secara ringkas, setia, benar dan jujur merupakan hal mutlak yang tidak boleh kita abaikan kalau kita tidak mau kehilangan berkat-berkat Tuhan. Meski mungkin sulit, tetapi kita bisa mulai berkomitmen untuk menghidupinya mulai dari sekarang. Sebagai warga Kerajaan kita harus mampu pula hidup dengan nilai-nilai Kerajaan. Orang yang berintegritas tinggi semakin lama semakin langka. Maka kita diharapkan mampu membawa perbedaan dan menunjukkan sebuah konsep gaya hidup berintegritas tinggi  Siapkah anda tampil beda di dunia ini dengan menjadi sosok berintegritas yang menjunjung tinggi nilai-nilai Kerajaan Allah?

Setia, benar dan jujur harus menjadi bagian hidup kita sebagai orang-orang berintegritas yang menuai segala kebaikan dari Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, August 16, 2014

Tangan yang Bersih dan Hati yang Murni

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 24:4-5
=======================
"Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia."

Jika melihat lowongan kerja, apa yang biasanya dijadikan syarat-syarat utama? Untuk negara kita, sarjana akan selalu menjadi salah satu syarat, lantas pengalaman dan batas usia maksimal. Diatas 30 tahun dianggap sudah tidak produktif lagi, tapi dibawah 30 tahun pun masih dibebankan pengalaman minimal sekian tahun. Lalu ada yang mencantumkan bisa bekerjasama dalam kelompok, punya kendaraan, bersedia ditempatkan dimana saja, menguasai beberapa bahasa selain bahasa Indonesia dan ada pula yang menyaratkan kemampuan diluar pendidikan formal seperti penguasaan penggunaan komputer dan lain-lain. Semua sah-sah saja, meski secara pribadi saya rasa tidak selamanya yang bergelar sarjana pasti lebih pintar dari yang tidak, berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya sendiri. Tapi akan jarang sekali ada lowongan kerja yang mencantumkan hal yang sebenarnya sangat menentukan karakter dari seorang calon pekerja, yaitu kejujuran. Ini adalah kualitas yang semakin lama semakin jarang ditemukan, dan ironisnya semakin pula tidak diperlukan oleh sebuah perusahaan atau lembaga pencari kerja. Sejujur-jujurnya orang hari ini, ada banyak tekanan yang cepat atau lambat akan mendorong mereka untuk masuk ke dalam jerat kecurangan. Orang akan semakin tidak tulus dalam bekerja. Semua didasari pamrih, untung rugi dan sebagainya. Penipuan terjadi hampir di setiap lini. Karenanya kualitas orang-orang yang masih bisa bertahan dari tekanan dan terus menekankan hidup jujur akan terlihat sangat berbeda.

Sebagian akan kagum, sebagian lainnya akan memandang mereka sebagai 'mahluk-mahluk' aneh yang dianggap membuang-buang kesempatan untuk bisa mendapatkan lebih dari seharusnya. Orang semakin cenderung berpikir pendek dan mementingkan urusan duniawi. Apa yang dikatakan Daud dahulu: "Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah." Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik" (Mazmur 14:1), masih terjadi bahkan mungkin tambah jelas sebagai kenyataan hari ini. Orang tidak lagi memikirkan pertanggungjawaban kelak di hadapan Tuhan. Atau kalaupun tahu bahwa Allah itu ada, tetapi mereka mengira bahwa Tuhan tidak akan menghukum karena mereka menyalah artikan bentuk kasih dan kesabaran Tuhan yang besar dan panjang. Bentuk ilusi rohani seperti inipun sudah disinggung dalam Alkitab. "Kamu menyusahi TUHAN dengan perkataanmu. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menyusahi Dia?" Dengan cara kamu menyangka: "Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata TUHAN; kepada orang-orang yang demikianlah Ia berkenan--atau jika tidak, di manakah Allah yang menghukum?" (Maleakhi 2:17). Bukankah kita melihat sendiri banyak orang dengan tenang melakukan kecurangan karena mengadopsi pola pikir seperti itu di jaman sekarang ini?

Selain janji Tuhan yang sangat indah yang sudah saya sebutkan dalam beberapa renungan terdahulu dari Yesaya 33:15-16, ada firman yang berbunyi: "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia." (Mazmur 24:4-5). Orang yang bersih tangannya (jujur) dan murni hatinya (tulus), yang tidak tergoda pada kecurangan, itulah yang berkenan di hadapan Tuhan. Bersih tangannya, berarti menjauhi bentuk-bentuk penipuan, menjauhi kecurangan dan tidak gampang tergoda oleh keuntungan-keuntungan lewat jalan yang salah. Murni hati itu artinya hati tidak terkontaminasi/tercemar oleh berbagai motif-motif tersembunyi dalam melakukan sesuatu, tidak pamrih, tidak ada politik kepentingan dalam perbuatan, bersih hatinya. Kepada mereka-mereka yang seperti ini akan diganjar berkat juga akan diselamatkan dengan keadilan yang langsung berasal dari Tuhan. Inilah upah besar yang dijanjikan Tuhan bagi orang yang hidup jujur dan tulus.

Kasih dalam tingkatan seperti yang diinginkan Tuhan mengandung kebaikan-kebaikan yang mencakup jujur dan tulus. Lihatlah rinciannya yang disampaikan Paulus. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:4-7). Dalam penjabaran kasih pada ayat ini terkandung bentuk-bentuk hidup dengan hati yang murni berisi kejujuran. Artinya jika kita mengaku hidup dalam kasih Tuhan, seharusnya sikap hati seperti inilah yang terpancar dari kehidupan kita. Bagaimana mungkin orang yang tidak jujur, tidak murni hatinya masih berani mengaku punya kasih dalam dirinya? Dan bagaimana mungkin orang yang tidak memiliki kasih mengaku mengenal Allah? Sebab ada dikatakan "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:8).

Segala sesuatu itu berasal dari Tuhan. Meski kita yang berusaha, semua itu kita peroleh atas ijin Tuhan. Bahkan segala talenta, bakat, kemampuan dan keahlian merupakan pemberian dari Tuhan juga. Akan halnya pemenuhan kebutuhan, kita tidak perlu takut kekurangan dan khawatir akan hari depan sehingga merasa harus melakukan tindakan-tindakan yang tidak jujur atau curang agar bisa mencukupinya. Kita tidak perlu merasa iri melihat orang lain, dan harus bisa belajar untuk mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang kepentingan diri sendiri. Yakobus mengingatkan "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." (Yakobus 3:16). Kita harus selalu menghindari berbuat curang yang mencermarkan hati kita. Ketahuilah bahwa meski mungkin kita berhasil mengelabui manusia, tapi Tuhan akan selalu melihat segala perbuatan kita. Dan Firman Tuhan berkata: "Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab." (Ibrani 4:13). Secara tegas Tuhan juga berfirman:  "Seharusnya mereka merasa malu, sebab mereka melakukan kejijikan; tetapi mereka sama sekali tidak merasa malu dan tidak kenal noda mereka. Sebab itu mereka akan rebah di antara orang-orang yang rebah, mereka akan tersandung jatuh pada waktu mereka dihukum, firman TUHAN." (Yeremia 8:12). Orang bisa saja menganggap bahwa Tuhan tidak menghukum mereka saat ini dan berpikir bahwa mereka aman dari hukuman. Orang-orang jahat ini bisa saja pintar dalam menipu manusia, atau menghamburkan uangnya untuk menyuap penegak hukum agar terlepas dari jerat hukum. Sekarang mungkin lepas, tapi pada suatu ketika nanti hukuman Tuhan itu tetap akan tiba biar bagaimanapun. Akan datang waktunya dimana semua harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, dan disana tidak akan ada yang bisa berkelit lagi. Kepentingan sesaat di dunia fana diprioritaskan dengan sebuah hidup yang kekal? Itu jelas tidak sebanding.

Dunia bisa jadi semakin lama semakin buruk, orang saling hancur menghancurkan, saling menohok dan menjatuhkan. Tetapi kita orang percaya tidak boleh ikut-ikutan seperti itu. Dunia semakin kekurangan orang-orang yang punya hati murni dan berintegritas dengan kejujuran berada disana. Kita harus menunjukkan bahwa sebagai umatNya yang ada di dunia pada saat ini bisa tampil beda dengan ketulusan dan kejujuran sebagai bagian dari kehidupan kekristenan yang sebenarnya. Apapun alasannya, apapun resikonya, kita harus menjauhi kecurangan, kebohongan dan bentuk-bentuk penipuan. Belajarlah untuk senantiasa mempercayakan hidup ke dalam tanganNya dengan sepenuh hati. Tuhan menyediakan berkat-berkat bagi orang yang hidup dengan ketulusan, kejujuran dan kemurnian hati. "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Matius 5:8). Ini janji Tuhan sendiri. "Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya." (Mazmur 73:1). Dunia boleh saja memandang anda dengan sinis, melihat kitasebagai mahluk aneh, mengolok-olok atau menertawakan kejujuran dan ketulusan sebagai suatu hal yang dianggap bodoh. Tapi itu tetap tidak sebanding dengan seperti apa kita terlihat di mata Tuhan. Bukan apa kata manusia yang penting, tapi bagaimana Tuhan memandang hidup kita itulah yang penting. Tuhan menjanjikan berkat dan keadilan bagi orang-orang yang hidup dengan tangan yang bersih dan hati yang murni. Nikmati kebaikan Tuhan lewat hidup yang kudus dimana kejujuran berperan didalamnya. Tuhan sanggup memberkati anda berlimpah-limpah dan melindungi hidup setiap orang yang berjalan seturut kehendakNya tanpa anda harus menipu agar bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup.

Kejujuran merupakan bagian dari integritas yang harus dihidupi anak-anak Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, August 15, 2014

Orang Jujur Dijagai Tuhan

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yesaya 33:15-16
===================
"Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan, dialah seperti orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin."

Kalau kita perhatikan di sekeliling kita, kejujuran sudah menjadi semakin langka. Karenanya kita akan kaget dan terpana saat masih bertemu dengan orang yang jujur. Pada suatu kali saya datang ke sebuah depot pengisian air isi ulang. Si penjual dengan jujur berkata bahwa meski tampak berfungsi, filter pembersih galon di tempatnya sebenarnya sedang mengalami masalah. "Lebih baik ke tempat lain saja pak, ada yang dekat dari sini, tidak sampai 100 m ke bawah." katanya. Ada 3 galon yang hendak saya isi, dan saya tidak akan pernah tahu apakah alat pembersih galon disitu berfungsi baik atau tidak tanpa kejujuran dari penjualnya. Dengan mengatakan demikian ia sebenarnya rugi, karena keuntungannya harus pindah kepada penjual lain. Tapi ia lebih memilih untuk jujur daripada mementingkan keuntungannya saja. Orang-orang seperti ini sudah sangat jarang kita temukan terlebih di saat memenuhi kebutuhan begitu sulitnya di negara ini. Pendapatan tidak sebanding dengan kenaikan harga-harga terutama untuk kebutuhan pokok. Yang lebih aneh, anak-anak yang seharusnya masih lugu pun sudah sering bohong, entah dari mana mereka belajar untuk itu. Aparat yang menjebak orang agar bisa diperas, orang-orang yang berprofesi sebagai pejabat atau aparatur negara melakukan berbagai tindak kecurangan mulai dari korupsi sampai suap menyuap, kongkalikong antara dua pihak dan sebagainya menjadi hal yang sudah dianggap lumrah hari ini. Kalau jujur terus kapan kayanya? Itu menjadi pola pikir banyak orang. Mereka melupakan hal yang mendasar bahwa semuanya berasal dari Tuhan, bukan dari kemampuan kita untuk menimbun harta sebanyak-banyaknya dengan menghalalkan segala cara. Kalau yang mendasar saja sudah lupa, apalagi menyadari bahwa Tuhan justru menjaga, menjamin dan melimpahi orang-orang yang memutuskan untuk hidup jujur sepenuhnya dalam hidup mereka.

Selain kesetiaan dan kebenaran, kejujuran merupakan sebuah nilai yang terkandung di dalam pribadi yang berintegritas. Masalah kejujuran adalah masalah serius yang harus diperhatikan serius karena ada begitu banyak godaan yang bisa membuat nilai ini lenyap dari diri manusia. Kejujuran bukan hanya menjadi masalah hari ini, tapi sejak dahulu kala pun itu sudah terjadi. Peringatan untuk bersikap jujur termasuk dalam berdagang pun sudah disampaikan sejak jauh hari. Dalam Imamat peringatan tersebut sudah disebutkan. "Apabila kamu menjual sesuatu kepada sesamamu atau membeli dari padanya, janganlah kamu merugikan satu sama lain...Janganlah kamu merugikan satu sama lain, tetapi engkau harus takut akan Allahmu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu." (Imamat 25:14,17) Masalah jujur bukan saja berbicara secara sempit mengenai dunia transaksi, tetapi juga menyangkut aspek-aspek kehidupan lainnya, seperti perilaku, perkataan, sikap, berbuatan dan lain-lain. Berani mengakui kesalahan, berani bertanggung jawab, tidak menipu atau membohongi, tidak curang di saat ujian dan sebagainya, itu pun merupakan aspek-aspek yang berkaitan dengan kejujuran.

Seperti apa Tuhan menilai kejujuran? Ayat bacaan hari ini menggambarkan jelas akan hal ini. "Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan, dialah seperti orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin." (Yesaya 33:15-16). Dari ayat ini kita bisa melihat dengan jelas bahwa Tuhan menjanjikan penyertaanNya secara luar biasa bagi orang-orang yang memutuskan untuk hidup jujur. Tuhan menjaga dan melindungi mereka bagai orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, membentengi, dan dilimpahi berkat sehingga semua kebutuhan terjamin. Dalam prakteknya bisa jadi sulit, mengingat godaan untuk berlaku curang terus menyerang kita dari segala sisi dan sepertinya sudah menjadi gaya atau bahkan budaya manusia hari ini. Tapi meski sulit atau malah terlihat seolah merugikan, Tuhan tidak akan pernah menutup mataNya dari usaha dan keseriusan kita. Dalam Mazmur dikatakan "Tuhan tidak akan pernah menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela." (Mazmur 84:12). Tuhan juga sudah berfirman: "Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya, sambil menjaga jalan keadilan, dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia." (Amsal 2:7-8). Karenanya tepatlah jika Pemazmur mengatakan "Bersukacitalah dalam TUHAN dan bersorak-soraklah, hai orang-orang benar; bersorak-sorailah, hai orang-orang jujur!" (Mazmur 32:11).

Hobi berbohong pun menunjukkan perbuatan melanggar kejujuran. Seringkali bermula dari kebohongan-kebohongan kecil, tetapi itu bisa menjadi kebiasaan yang pada suatu ketika sudah menjadi sulit untuk diubah. Yesus berkata "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat." (Matius 5:37). Kejujuran dalam berbicara atau berkata-kata juga sangat penting untuk kita perhatikan. Orang jujur bukan saja membawa manfaat baik pada diri sendiri tetapi juga kepada orang lain bahkan punya kekuatan untuk mendatangkan berkat bagi kotanya. Dalam Amsal kita bisa membaca sebuah ayat yang berbunyi "Berkat orang jujur memperkembangkan kota, tetapi mulut orang fasik meruntuhkannya." (Amsal 11:11).

Panggilan untuk hidup jujur disebutkan dalam begitu banyak ayat dalam Alkitab. Ini jelas menunjukkan betapa pentingnya hidup dengan jujur di mata Allah. Pandangan dunia mungkin akan mengatakan bahwa semakin anda pintar menipu maka keuntungan akan semakin besar, tetapi selain perbuatan itu bisa membuat kita rugi sendiri, Tuhan pun sangat tidak suka terhadap bentuk-bentuk kecurangan yang dilakukan oleh orang bermental penipu. Bahkan dalam sebuah ayat Tuhan dikatakan jijik melihat penipu. (Mazmur 5:7). Paulus berseru: "Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." (1 Korintus 6:9-10)

Untuk bisa menerapkan sikap jujur, kita harus ingat bahwa dunia tidak akan pernah bisa menjamin kebahagiaan kita. Tidak peduli seberapa besarpun harta kekayaan yang kita miliki, kebahagiaan sejati hanyalah berasal dari Tuhan. Oleh karena itulah kita harus mulai menerapkan sikap hati yang tulus untuk memilih bersikap jujur. Sikap hati yang tulus, itulah yang menjadi awal dari datangnya kejujuran. Firman Tuhan berkata "Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya." (Amsal 11:3). Tuhan tidak akan pernah menutup mata dan mengabaikan anak-anakNya yang mau memilih untuk jujur, itu haruslah kita sadari sepenuhnya dan pegang teguh sebagai prinsip hidup. Dunia mungkin memandang kejujuran sebagai kerugian, dunia mungkin menertawakannya, tetapi yakinlah bahwa itu bernilai tinggi di mata Tuhan. Bayangkan sebuah hidup yang diisi dengan kejujuran, dan didalamnya penuh limpahan berkat Allah. Bukankah itu luar biasa? Semua itu bisa menjadi bagian dari hidup kita kalau kita mau memutuskan untuk hidup jujur tanpa syarat. Kitalah yang bisa membuktikan bahwa kejujuran bukan mendatangkan kerugian malah bisa mendatangkan keuntungan baik di dunia ini maupun dalam kehidupan selanjutnya kelak. Mari kita belajar untuk memelihara sikap jujur dan jadilah orang-orang yang berintegritas dalam segala aspek kehidupan.

"He who walks uprightly walks securely" (Amsal 10:9, English Amp)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, August 14, 2014

Jujur = Rugi? (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Yakobus berkata: "Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun." (Yakobus 1:2-4). Sebuah ujian akan menumbuhkan ketekunan, dan dari sana kita bisa menghasilkan buah-buah yang matang. Karakter kita akan disempurnakan lewat ujian-ujian itu. Ujian adalah kesempatan bagi kita untuk naik ke tingkatan yang lebih tinggi, menjadikan kita lebih kuat, lebih tangguh, lebih bijaksana, karenanya kita seharusnya bersyukur meski apa yang kita hadapi sebagai konsekuensinya di tempat kerja mungkin berkata sebaliknya.

Buat sesaat kecurangan mungkin bisa memberi banyak keuntungan, tetapi pada akhirnya kerugianlah yang kita peroleh. Untuk sebuah hidup yang abadi, kecurangan tidak akan pernah membawa keuntungan malah mendatangkan kerugian. Atau jangan-jangan di dunia saja hukumannya sudah mendatangkan konsekuensi yang bisa membuat hidup jadi 'berakhir' lebih cepat, tidak saja merugikan diri sendiri tapi juga keluarga. Jangan lupa bahwa Tuhan sudah berkata bahwa Dia tidak akan menutup mata dari apapun yang kita lakukan dalam hidup kita. "Malah Ia mengganjar manusia sesuai perbuatannya, dan membuat setiap orang mengalami sesuai kelakuannya." (Ayub 34:11). Baik atau tidak akan membawa ganjaran atau konsekuensinya sendiri. Baik atau tidak ganjaran yang kita terima akan tergantung dari bagaimana cara kita hidup.

Komitmen kita untuk tetap mempertahankan kejujuran harus terus dipertahankan. Sangatlah penting bagi kita untuk melakukan itu, "supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia." (Filipi 2:15). Sebagai anak-anak Allah dan bukan anak-anak dunia seharusnya membuat kita tampil beda. Kita tidak boleh ikut-ikutan arus sesat dari angkatan yang bengkok hatinya karena kita menyandang status sebagai anak-anak Tuhan. Percayalah bahwa kejujuran tidak akan pernah sia-sia. Muda atau tua, siapapun kita, peganglah prinsip kejujuran setinggi mungkin dan jangan gadaikan itu untuk alasan apapun.

Tidak ada kata terlalu muda untuk mulai hidup dengan kualitas Ilahi. Kepada Timotius Paulus berpesan: "Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." (1 Timotius 4:12). Meskipun masih muda kita tetap dituntut untuk bisa menjadi teladan dalam segala hal. Kita hidup di dalam masyarakat yang mau menghalalkan segala cara, penuh dengan orang-orang munafik yang hidup dengan standar-standar ganda dan yang tidak selalu memberikan penghargaan yang tinggi atas penyampaian kebenaran dan kejujuran. Seperti itulah dunia hari ini, tetapi tetaplah pegang kuat prinsip-prinsip firman Tuhan mengenai pentingnya hidup dengan kejujuran sesuai standar Kerajaan Allah. Apapun situasinya, tetaplah pertahankan nilai-nilai kejujuran dan kebenaran dan lihatlah pada saatnya nanti setiap orang jujur akan bersukacita memetik buahnya.

Meski dunia menertawakan kejujuran, di mata Tuhan itu bernilai sangat tinggi dan mendatangkan sukacita bagi kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, August 13, 2014

Jujur = Rugi? (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 64:11
==================
"Orang benar akan bersukacita karena TUHAN dan berlindung pada-Nya; semua orang yang jujur akan bermegah."

Ada seorang akademisi yang juga merupakan kepala dari sebuah perusahaan negara yang ditangkap karena terlibat korupsi. Banyak orang yang kaget karena selama ini ia dikenal sebagai orang dengan integritas tinggi. Dalam pengakuannya, godaan untuk suap sebenarnya sudah berlangsung selama sekian bulan, tapi ia terus menolak. Sampai pada akhirnya ia tidak kuasa untuk menolak dengan alasan untuk diberikan kepada rekannya yang membutuhkan. Ia mengatakan bahwa tidak se-sen pun uang hasil suap itu ia nikmati dan masuk ke keluarganya, tapi apapun alasannya, korupsi tetaplah korupsi. Penerimaan suap untuk agenda-agenda terselubung tidak akan bisa mendapat pembenaran biar bagaimanapun. Seandainya ia tetap mempertahankan integritas seperti beberapa bulan sebelumnya, ia tentu tidak harus mengalami nasib pahit seperti itu. Meski bukan untuk memperkaya diri sendiri, apa yang ia lakukan tetap salah dan hukuman tetap harus ia terima sebagai imbalannya.

Seperti itulah gambaran buruk di dunia kerja saat ini. Tidakkah ironis, saat semua orang mengajarkan untuk hidup jujur, tapi pada kenyataannya dunia justru menolak kejujuran dan orang-orang yang selalu berniat untuk melakukan segala sesuatu dengan bersih dan jujur? Bukan sekali-dua kali saya mendengar curhatan orang yang tertekan di kantornya akibat tidak mau ikut-ikutan korupsi bersama teman dan pimpinan. Ada seorang teman yang mengaku menghadapi dilema akan hal ini. Ia dituntut untuk mau ikut bermain supaya aman, tetapi hati nuraninya menolak melakukan itu. Karena ia terus menolak, ia pun dijauhi rekan-rekannya bahkan diancam akan dikeluarkan apabila terus mempertahankan sikapnya. Ada teman lain yang bekerja di sebuah instansi pemerintah, semua program yang ia ajukan ditolak selama bertahun-tahun bukan karena programnya jelek, tapi karena programnya justru mengacu kepada tugas utama dari instansi tersebut tanpa ada celah untuk menyelewengkan sebagian dari anggaran dana. Agar apa yang diinginkan bisa terjadi dan mulus, orang akan mencoba menyuap dengan berbagai macam cara. Mulai dari yang halus seperti memberi bingkisan, menawarkan sesuatu sampai yang terang-terangan seperti transfer uang atau langsung diberikan dalam bentuk fisik.

Dahulu saat ayah saya masih aktif menjadi dosen di sebuah universitas negeri, tidak jarang ada mahasiswa yang datang ke rumah membawa bingkisan sebelum ujian. Tapi ia dengan tegas menolaknya. Bahkan pada suatu kali saat ia tidak di rumah dan paket terlanjur diterima, ia menyuruh supir untuk mengantar kembali paket itu ke rumah si pemberi. Bertumbuh dalam lingkungan keluarga seperti itu membuat saya tidak gampang terpengaruh oleh cara-cara curang dalam mendapatkan sesuatu. Uang pelicin, uang jerih lelah, uang rokok, apapun namanya, selama disertai dengan motivasi yang salah merupakan bentuk-bentuk kecurangan yang tidak akan pernah mendapat pembenaran, terutama di mata Tuhan.

Alkitab begitu banyak mengajarkan pentingnya hidup dengan berlaku jujur. Imbalan yang disediakan Tuhan bagi orang jujur pun bukan main besarnya. Misalnya ayat berikut: "Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan, dialah seperti orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin." (Yesaya 33:15-16). Lihatlah betapa besar nilai kejujuran di mata Tuhan. Mungkin di dunia ini kita bisa mengalami kerugian, dianggap bodoh atau bahkan malah mendapat masalah karena memutuskan untuk berlaku jujur, tetapi itu bukanlah masalah karena kelak dalam kehidupan selanjutnya yang abadi semua itu akan diperhitungkan sebagai kebenaran yang berkenan di hadapan Allah. Dalam Mazmur dikatakan: "Orang benar akan bersukacita karena TUHAN dan berlindung pada-Nya; semua orang yang jujur akan bermegah." (Mazmur 64:11). Pada saat ini mungkin kita rugi dan susah akibat memutuskan untuk jujur, tetapi kelak pada saatnya kita akan bermegah dan bersyukur karena telah mengambil keputusan yang benar.

Saat menghadapi godaan atau paksaan untuk curang, anggaplah itu sebuah ujian akan integritas diri dan teruslah pegang sikap jujur tanpa kompromi. Bila kita dipinggirkan akibat berlaku jujur dan menolak untuk ikut-ikutan berbuat curang seperti halnya menghadapi ujian bisa jadi berat. Tetapi lulus tidaknya kita dalam ujian akan sangat tergantung dari keseriusan dan kesungguhan kita dalam menghadapinya, dan juga tergantung dari bagaimana kita menyikapinya. Mempertahankan kejujuran dalam hidup sama seperti itu. Akan ada saat-saat dimana anda merasa diperlakukan tidak adil, sudah jujur malah disalahkan, dipinggirkan, dipersulit kenaikan pangkatnya atau bahkan diusahakan supaya keluar. Meski berat, terimalah itu sebagai sebuah ujian. Jangan tergoda, jangan menyerah dan caranya adalah dengan memfokuskan pandangan jauh ke depan bukan yang hanya sementara di dunia yang fana ini.

(bersambung)


Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker