Saturday, May 30, 2015

Hiasan Emas bagi Telinga yang Mendengar (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Lihatlah salah satu komentar mereka berikut ini: "dan mereka berkata kepada Musa: "Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini." (Keluaran 14:11-12). Bukan hanya satu ini komentar sinis yang mereka lontarkan, tapi perjalanan mereka yang panjang itu penuh dengan gerutu, keluh kesah, protes dan komentar-komentar yang bisa setiap saat. Tidak mudah bagi Musa, dan bayangkan seandainya kita ada di posisinya. Tetapi Musa bisa tetap fokus kepada tugasnya dan taat menerima perintah Tuhan. Itu membuatnya bisa terus bertahan dalam badai cercaan sebegitu lama dalam proses mengantarkan bangsanya menuju tanah terjanji.

Kembali pada soal mendengar, sangatlah menarik saat Salomo yang penuh hikmat menuliskan seperti ini: "Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar." (Amsal 25:12). Teguran seringkali membuat telinga panas, lalu panasnya merambat ke kepala dan hati. Bukankah menarik kalau Salomo justru mengatakan bahwa teguran orang yang bijak itu begitu berharga bagai cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar? Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa mendengar merupakan sesuatu yang bukan saja berguna tapi juga sangat tinggi nilai harganya, yang diibaratkan sebagai cincin emas dan hiasan kencana.

Kita harus sadar bahwa tidak semua kritik disampaikan untuk tujuan yang buruk. Ada saatnya kita harus siap mendengar lalu menerima kritik dengan lapang dada, meski terkadang rasanya sama sekali tidak enak atau bahkan pahit. Kita  harus pandai-pandai menyaring, tetapi apa yang penting kita lakukan terlebih dahulu adalah mendengarnya dengan kelembutan dan kelapangan hati. Jangan belum apa-apa sudah langsung menentang, membantah lalu menuduh orang berniat jahat kepada kita. Jika komentar-komentar negatif yang kita terima, buanglah itu. Tetapi jika teguran itu positif, terimalah itu dengan lapang hati. Jadi Intinya adalah, dengarlah terlebih dahulu. Telinga diberikan Tuhan untuk tujuan mendengar, jadi jangan sia-siakan.

 Lalu satu hal yang lebih penting, pekalah terhadap suara Tuhan. Dengarkan perintahNya, terima teguranNya dan patuhi kehendakNya. Sebelum bereaksi, alangkah baiknya jika kita mau mendengarkan terlebih dahulu dan mencerna dengan baik pula. Tetap ingat pesan Kristus yang ditulis berulang kali di dalam Alkitab: "Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"

“It takes a great man to be a good listener.” - Calvin Coolidge

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, May 29, 2015

Hiasan Emas bagi Telinga yang Mendengar (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Amsal 25:12
===================
"Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar."

Dalam bukunya yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective People: Powerful Lessons in Personal Change, Stephen R. Covey menuliskan: "Most people do not listen with the intend to understand; they listen with the intent to reply." Stephen bukanlah penulis buku rohani. Ia adalah pebisnis yang suka menulis buku dan menjadi pembicara di seminar yang terkait dengan masalah bisnis. Berdasarkan pengamatannya, ia mendapati bahwa kebanyakan orang bukan mendengar dengan tujuan untuk mengerti, tapi mendengar dengan keinginan untuk menjawab atau berbantah. Bentuk sifat mau menang sendiri membuat orang bersikap seperti itu. Mereka tetap berbantah dan merasa paling tahu/benar meski mereka tidak mengerti betul bidang yang diperdebatkan. Masing-masing mengeluarkan opininya sendiri tanpa didasari pengetahuan tentang suatu hal tersebut. Soal benar atau salah soal nanti, yang penting ngomong dulu. Bukankah manusia memang cenderung seperti itu hari-hari ini?  Apa yang dikatakan Stephen dalam bukunya yang pertama kali terbit tahun 1989 itu berlaku tidak saja di dunia bisnis melainkan di berbagai aspek kehidupan lainnya termasuk dalam hal rohani.

Kalau kepada manusia mereka merasa berhak begitu, mereka pun mulai membantah Tuhan dan merasa lebih tahu. Berbagai ketetapan Tuhan dilanggar lantas Tuhan dijadikan tertuduh atas segala yang buruk. Tuhan disingkirkan, tapi tetap mau terima berkat. Telinga diberikan sepasang dan diletakkan di kiri dan kanan, itu seharusnya membuat kita sadar akan pentingnya telinga sampai harus ada dua.

Seorang filosofis yang hidup 300 tahun sebelum Masehi bernama Zeno dari Citium, Siprus sudah sadar akan hal itu. Ia berkata: “We have two ears and one mouth, so we should listen more than we say.” Kita punya dua telinga dan satu mulut, itu artinya kita harus mendengar lebih banyak ketimbang bicara. Perhatikan, ada berapa banyak hubungan yang hancur karena lebih suka lempar kata ketimbang mendengar? Berapa banyak kerugian bahkan kehancuran yang terjadi hanya karena orang lebih tertarik untuk ribut tanpa ujung daripada mempergunakan sepasang telinganya baik-baik untuk mendengar terlebih dahulu sebelum mulai berkomentar? Berbagai stasiun televisi sekarang malah suka menampilkan perdebatan yang seringkali sudah tidak lagi dilandasi tata krama, nilai-nilai kesopanan dan akal sehat untuk meningkatkan ratingnya. Maka tidak heran kalau kita semakin lupa akan fungsi telinga ini untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Saya masih ingin melanjutkan mengenai pentingnya mendengar. Sebuah ayat dalam Yakobus 1:19 mengatakan: "Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah." Ayat ini tidak asing lagi, tapi jarang sekali yang mau menurutinya. Yang kerap terjadi justru sebaliknya, lambat untuk mendengar dan cepat berkata-kata, lebih cepat lagi untuk marah. Sulit sekali bagi kita untuk mau melembutkan hati untuk mendengar. Secepat orang mengingatkan, kita harus lebih cepat lagi kita membantah tanpa mendengar apalagi mencerna. Lambat marah diartikan lemah dan pengecut, lambat berkata dianggap tidak punya sikap. Kita pun lupa bahwa Tuhan menghadiahkan sepasang telinga dan satu mulut dan bukan sebaliknya, lalu lupa bahwa kalau Tuhan memutuskan demikian, tentu ada tujuannya.

Mari kita ambil contoh lewat kisah Musa. Kita bisa melihat dengan jelas betapa sulitnya Musa menghadapi orang-orang Israel yang keras kepala dan sangat ahli dalam hal melemparkan omelan. Mereka suka ribut dan menghamburkan kata-kata yang pasti mengecewakan Tuhan. Musa harus menghadapi itu setiap hari, padahal untuk membawa mereka keluar dari Mesir setiap hari selama puluhan tahun. Entah bagaimana Musa bisa terus bersabar menerima omelan atau komentar-komentar pedas dari bangsa yang terkenal bebal dan tegar tengkuk ini. Coba pikirkan. Adalah merupakan perintah Tuhan untuk membawa mereka ke tanah terjanji, keluar dari perbudakan di Mesir. Tuhan mau memerdekakan umatNya yang terpilih dan memberi mereka masuk ke sebuah tanah yang subur dan kaya. Itu seharusnya membuat mereka bersyukur. Tapi balasan yang mereka beri justru sebaliknya.

(bersambung)

Thursday, May 28, 2015

Dua Telinga Untuk Mendengar

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 11:15
======================
"Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"

Kemarin kita sudah melihat teguran Tuhan kepada umatNya yang bandel, yang tetap saja menyembah ilah-ilah lain meski penyertaan Tuhan sudah sangat terbukti sepanjang hidup mereka. Tuhan berkata "Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu; hai Israel, jika engkau mau mendengarkan Aku!" (Mazmur 81:9). Konsekuensi yang ditanggung Israel tidak main-main akibat kebandelan itu, padahal Tuhan sudah mengingatkan apa yang akan mereka dapat kalau taat dan apa resikonya kalau bandel. Walaupun peringatan Tuhan jelas dan tidak sulit dicerna, tetap saja pembangkangan mereka membuat Tuhan kecewa dan menyadari bahwa umatNya tidak mendengar suaraNya bahkan tidak suka kepadaNya. (ay 12).

Mendengar, itu mempergunakan satu dari panca indera yang namanya telinga. Tidaklah kebetulan kalau Tuhan membekali kita dengan dua telinga dan hanya satu mulut. Satu mulut saja sudah sering bikin masalah kalau tidak dijaga baik-baik. Mulut cuma satu saja sudah bisa membuat orang lebih mementingkan untuk didengar ketimbang mendengar. Orang lebih tertarik untuk berbicara tapi tidak begitu berminat untuk mendengarkan. Bayangkan jika ada dua mulut dan hanya satu telinga, apa jadinya dunia ini? Segala yang diciptakan Tuhan itu baik adanya, karena itu jika Tuhan memberi sepasang telinga maka itupun pasti punya tujuan, dan itu pasti demi tujuan yang baik. Telinga dipasang Tuhan di kiri dan kanan agar kita mau lebih banyak mendengar ketimbang terus menerus berbicara. Maka jika kita memiliki sepasang telinga, seharusnya kita pergunakan dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin agar tidak percuma saja berada di kepala kita.

Semakin lama semakin sulit bagi kita untuk menemukan kehadiran seorang pendengar yang baik. Sifat manusia yang semakin individualis dan egois alias mementingkan diri sendiri membuat semakin banyak orang menutup telinganya rapat-rapat dari orang lain. Ada banyak orang yang sebenarnya memiliki kebutuhan untuk didengar lebih dari kebutuhan lainnya. Mereka merasa sendirian menghadapi sesuatu dan tidak punya orang untuk berbagi. Mereka kesepian, kesunyian dan merasa terabaikan. Ada banyak ayah yang berpikir bahwa tugas mereka hanyalah sampai sebatas mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Mereka lupa bahwa  menjadi ayah yang baik bukan hanya berbicara mengenai pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari dari anak-anaknya, tapi juga harus menyediakan cukup waktu untuk mendengarkan cerita atau keluhan anggota keluarganya. Ada banyak suami yang berpikir bahwa bekerja cari uang merupakan tugas satu-satunya, padahal istri mereka sangat ingin berbagi cerita seperti saat-saat pacaran dulu. Atau sebaliknya, istri yang tidak suka mendengar cerita suaminya tentang pekerjaan padahal sang suami sangat ingin bercerita mengenai pencapaian atau kesulitan yang tengah ia hadapi. Bagaimana dengan teman-teman, tetangga dan sebagainya? Pedulikah kita terhadap mereka? Tahukah kita saat mereka butuh sesuatu atau jangan-jangan kita bahkan tidak tahu siapa namanya?

Kita harus mau melatih diri untuk menjadi pendengar yang baik, baik mendengarkan apa yang Tuhan katakan maupun mendengarkan keluarga, teman-teman atau bahkan sesama kita yang tengah membutuhkan kehadiran seseorang yang peduli. Lihatlah bagaiman Tuhan selalu dengan penuh kasih meluangkan waktuNya untuk mendengarkan kita. Pemazmur menyadari dan menghargai hal itu dengan berkata: "Aku mengasihi TUHAN, sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku. Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya." (Mazmur 116:1-2).

Dimata Tuhan sangatlah penting bagi kita untuk menjadi pendengar yang baik. Beberapa kali Yesus menyebutkan "siapa bertelinga hendaklah ia mendengar!" seperti dalam Matius 11:15, 13:9, 13:43 atau Markus 7:16. Tidak satupun bagian tubuh kita ini diciptakan Tuhan sia-sia atau tanpa tujuan,  termasuk di dalamnya telinga. Tapi seringkali kita mengabaikan banyak fungsi penting dari telinga. Kita sering membiarkan hal-hal penting seperti nasihat atau teguran berlalu begitu saja. Masuk kiri keluar kanan, atau bahkan pura-pura tidak mendengar.

Selain telinga, ketulusan hati pun diperlukan untuk bisa mendengar dengan baik. Seni mendengar yang baik bukanlah sekedar mendengar dengan telinga namun juga mendengar dengan hati. Kita mendengar dengan telinga, tapi tanpa hati yang baik, lembut dan tulus niscaya apa yang kita dengar hanyalah akan berlalu begitu saja. Dalam keluarga, hadiah yang terindah bisa jadi adalah kesediaan orang tua untuk mendengarkan anak-anaknya, begitu juga antara suami dan istri atau kakak-adik. Coba bayangkan berapa banyak keluarga yang disfungsional, retak atau terlanjur hancur hari-hari ini. Betapa banyaknya keputusan-keputusan keliru yang diambil oleh para anggota keluarga karena mereka bergerak sendiri-sendiri dalam memutuskan sesuatu. Seringkali letak permasalahannya adalah karena tidak berjalannya komunikasi antar anggota secara baik. Komunikasi itu harus berlangsung dua arah dan tidak hanya searah. Selain berbicara, kita pun harus mendengar, atau kalau tidak maka tidak akan pernah ada komunikasi yang baik.

Menjadi pendengar yang baik sesungguhnya menunjukkan seberapa besar kita peduli dengan keadaan orang lain. Sebaliknya, ketika kita malas mendengar, itu menunjukkan betapa kurangnya perhatian dan kasih sayang kepada mereka. Allah sendiri begitu mengasihi kita, maka Dia selalu mempunyai waktu untuk mendengarkan dan menjawab kita. Kalau Tuhan saja demikian, mengapa kita malah tidak peduli terhadap pentingnya membagi waktu dan telinga kita kepada orang lain?

Petrus mengatakan demikian: "Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati.." (1 Petrus 3:8). Kita tidak akan pernah bisa memberikan sikap seperasaan, sepenanggungan, menyayangi, mengasihi dan rendah hati jika kita tidak merasa penting untuk menjadi pendengar yang baik. Jika keluarga sendiri saja sudah tidak ingin didengar apalagi orang lain. Itu bukanlah sikap yang baik bagi umat Allah. Tidak saja baik bagi kita untuk mau mendengarkan orang lain, terlebih kita harus mau mendengarkan Tuhan pula. Kecenderungan manusia dalam berdoa adalah untuk membawa daftar permintaan atau permohonan. Doa diisi dengan percakapan yang dibangun searah, kita hanya ingin didengar Tuhan dan dikabulkan tapi mengabaikan pentingnya untuk mendengarkan Tuhan. Itupun bukan hal yang baik untuk dilakukan. Kita boleh meminta, tapi terlebih kita harus mau mendengarkan perkataan, nasihat atau bahkan teguran Tuhan. Tuhan sudah memberi dua telinga, hendaklah kita bersyukur dan mempergunakannya dengan baik. Tentu tidak perlu Tuhan harus membesarkan telinga kita terlebih dahulu agar kita mau patuh bukan? Hendaklah kita terus melatih diri sebagai orang yang mau memberikan sebagian dari waktunya untuk menjadi pendengar yang baik.

“When people talk, listen completely. Most people never listen.” - Ernest Hemingway

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, May 27, 2015

Dengarlah (2)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Yang terjadi selanjutnya, Tuhan pun membiarkan mereka dengan pilihannya. "Sebab itu Aku membiarkan dia dalam kedegilan hatinya; biarlah mereka berjalan mengikuti rencananya sendiri!" (ay 13). Sejarah mencatat bahwa keputusan Israel pada masa itu kemudian membawa konsekuensi buruk buat mereka. Perilaku bandel itu membuat mereka terpuruk. Dijajah musuh, hancur berantakan, jauh dari apa yang sebenarnya telah disediakan Tuhan bagi mereka. Padahal kalau saja saja mereka mau mendengar, lihatlah apa yang disediakan Tuhan itu. "Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku! Sekiranya Israel hidup menurut jalan yang Kutunjukkan! Seketika itu juga musuh mereka Aku tundukkan, dan terhadap para lawan mereka Aku balikkan tangan-Ku. Orang-orang yang membenci TUHAN akan tunduk menjilat kepada-Nya, dan itulah nasib mereka untuk selama-lamanya. Tetapi umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya." (ay 14-17). Sayang sekali, tetapi itulah konsekuensi dari sikap yang dipilih oleh mereka sendiri.

Kebandelan tidak akan pernah membawa manfaat sebaliknya justru akan berdampak buruk bagi kita. Resikonya nyata, dan bisa jadi pada suatu ketika menjadi sangat fatal dan sukar untuk diperbaiki lagi. Kita menganggap bahwa sifat tidak suka dilarang dan cepat tersinggung ketika diingatkan itu adalah manusiawi. Tetapi Tuhan sesungguhnya tidak menginginkan kita menjadi pribadi-pribadi yang keras kepala atau degil seperti itu. Tuhan rindu agar kita memiliki hati yang lembut yang siap dibentuk. Hanya dengan demikianlah kita bisa memiliki ketaatan kepada Tuhan. "Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, berpegang pada perintah dan ketetapan TUHAN yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu." (Ulangan 10:12-13).

Bangsa Israel sudah merasakan sendiri konsekuensi yang harus mereka hadapi akibat kedegilan mereka melawan Tuhan dalam begitu banyak kesempatan. Jadi seharusnya kita jangan sampai jatuh pada lubang yang sama lagi. Sebuah larangan atau peraturan bisa terlihat seperti membatasi pergerakan kita dan membuat kita seolah tidak bisa menikmati hal-hal yang tampaknya menarik dan menyenangkan di dunia. Tetapi kalau itu semua bertujuan baik, agar kita bisa terhindar dari masalah dan penderitaan yang dapat berujung pada kebinasaan yang seharusnya tidak perlu terjadi, bukankah itu baik? Apakah itu langsung dari Tuhan, lewat hati nurani kita, atau lewat orang tua, saudara atau sahabat yang peduli kepada kita, bersyukurlah dan berterima kasihlah jika diingatkan. Jangan keraskan hati apalagi menuduh dan melawan, sebab larangan atau peringatan yang baik yang kita terima sesungguhnya bisa menghindarkan kita dari kejadian-kejadian yang justru merugikan kita sendiri.

Tuhan memberi larangan bukan untuk kepuasanNya melainkan demi kebaikan kita sendiri 

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, May 26, 2015

Dengarlah (1)

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 81:9
====================
"Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu; hai Israel, jika engkau mau mendengarkan Aku!"

Peraturan dan peringatan diberikan untuk tujuan yang baik. Tapi seringkali manusia mengabaikannya. Bagi banyak orang, peraturan ada untuk dilanggar. Semakin dilarang semakin dibuat, semakin diingatkan semakin membandel. Sulit sekali bagi manusia untuk dinasihati, apalagi kalau ditegur. Kuping seperti tuli, tidak peduli, maunya menang sendiri, berbuat sesuka hati. Diingatkan yang baik malah marah dan melawan. Padahal seringkali kebandelan itu bisa merusak atau bahkan membahayakan baik diri kita sendiri maupun orang lain.

Tuhan memberikan dengan jelas tuntunan hidup yang akan membawa kita kedalam kehidupan yang indah seperti yang diinginkanNya dan juga mengarah kepada keselamatan yang kekal. Tuhan memberikan batasan-batasan dan larangan-larangan, tapi sejauh mana kita mau mendengar dan mematuhiNya? Yang sering terjadi justru sikap pembangkangan yang muncul. Kita menganggap bahwa Tuhan hanya tidak suka kita menikmati sesuatu yang menyenangkan. Menuduh Tuhan terlalu mengekang atau bersikap otoriter. Padahal sadarkah kita bahwa itu pun sebenarnya demi kebaikan kita sendiri dan bukan untuk kepuasan Tuhan?

Sikap manusia ini merupakan masalah klasik yang turun temurun. Sebuah contoh nyata bisa kita lihat dalam Mazmur 81 yang mencatat bagaimana kesalnya Tuhan dalam menyikapi kebandelan bangsa Israel. Dengan tegas Tuhan berseru: "Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu; hai Israel, jika engkau mau mendengarkan Aku!" (Mazmur 81:9). Itu bentuk kepedulian Tuhan. Dia memberi peringatan bukan demi kepentinganNya melainkan demi kebaikan bangsa Israel sendiri. Dengarlah kalau mau, itu kata Tuhan. Diingatkan karena Tuhan sayang, tapi kalau tidak mau dengar nanti resiko tanggung sendiri. Meski bandel, Tuhan begitu baik masih mau mengingatkan bangsa yang keras kepala ini.

Apa yang diingatkan Tuhan? Yang Dia peringatkan adalah agar bangsa Israel berhenti menyembah allah-allah asing. "Janganlah ada di antaramu allah lain, dan janganlah engkau menyembah kepada allah asing. Akulah TUHAN, Allahmu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir: bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh." (ay 10-11). Sayangnya reaksi bangsa itu bukanlah berhenti melakukan kekejian bagi Tuhan tetapi malah membangkang. Kebebalan mereka membuat mereka menolak untuk patuh. Tuhan selanjutnya mengatakan "Tetapi umat-Ku tidak mendengarkan suara-Ku, dan Israel tidak suka kepada-Ku." (ay 12). Betapa kecewanya Tuhan terhadap sikap mereka ini. Tuhan menyebutkan mereka umatNya, tetapi mereka sedikitpun tidak peduli, bahkan Tuhan merasa bahwa bangsa yang Dia kasihi dan limpahi itu tidak suka kepadaNya.

Bangsa Israel sudah merasakan sendiri bagaimana Tuhan menuntun mereka keluar dari tanah perbudakan untuk menuju tanah terjanji yang melimpah susu dan madunya, dan Tuhan pun telah melakukan begitu banyak mukjizat buat mereka sepanjang perjalanan. Tapi agaknya mereka meremehkan dan melupakan itu semua. Bukannya patuh tapi malah membandel dan mengatakan tidak suka kepada Allah seperti apa yang ditulis dalam ayat 12 tadi. Mereka menganggap Tuhan sebagai Pribadi yang egois, penuntut atau tidak suka melihat mereka senang.

(bersambung)

Monday, May 25, 2015

Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yunus 1:3
==================
"Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN."

Motto yang diusung kantor Pegadaian buat saya sangat menarik, yaitu menyelesaikan masalah tanpa masalah. Sepertinya sepintas mungkin terlihat aneh, bukannya orang mau menyelesaikan masalah karena ingin keluar dari masalah? Itu kan yang dicari? Kalau begitu, buat apa dijadikan motto segala? Tapi pada kenyataannya kalau kita renungkan baik-baik, ada banyak sekali orang yang keliru dalam mencari solusi sehingga bukannya masalah jadi beres tapi malah menimbulkan masalah baru. Ada yang mencoba lari dari masalah, menunda menyelesaikan sehingga nantinya malah makin ribet urusannya. Padahal semakin lama anda biarkan, maka masalah akan semakin berbelit-belit, semakin "complicated" dan akan semakin menyulitkan untuk diselesaikan. Ambil contoh kecil saja. Ada teman yang mobilnya sudah mulai mengulah karena temperaturnya cepat naik. Urusannya padahal sederhana saja, tinggal servis radiator. Tapi ia terus menunda dan lebih memilih untuk membiarkan mobilnya seperti itu. Kalau sudah terlalu panas berhenti dulu di pinggir, siram-siram sedikit bagian radiatornya dan kalau sudah agak turun lanjut jalan lagi. Suara air mendidih kerap terdengar dari kap depan mobil setiap ia berhenti. Akhirnya setelah sekian bulan ia pun pergi menservis radiator. Biayanya tidaklah terlalu mahal, tetapi kemalasannya menyelesaikan masalah sejak dini ternyata berbuntut panjang. Ada beberapa komponen yang terkena dampak akibat temperatur yang begitu tinggi dan ia pun harus rela merogoh kocek jauh lebih banyak untuk mengganti kerusakan pada mobilnya.

Ada banyak masalah yang bisa mengakibatkan munculnya masalah yang lebih banyak dan lebih parah lagi dari itu. Masalah memang memusingkan, dan seringkali membuat kita kerepotan atau bahkan menderita, apalagi kalau sudah berbelit tak lagi tahu dimana ujung pangkalnya. Tapi daripada mengelak atau menghindar dengan lari dari masalah, akan sangat lebih baik kalau kita segera mengambil sebuah langkah dengan tindakan untuk mulai menguraikan kemudian menyelesaikan masalah-masalah itu satu persatu.

Ada pelajaran sangat menarik di dalam Alkitab lewat kisah Yunus. Pada suatu hari Yunus mendapat amanat untuk pergi ke Niniwe guna menyampaikan pesan Tuhan. "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku." (Yunus 1:2). Pertama,  jelas bukanlah perkara gampang dan menyenangkan. Itu repot. Kedua, kota itu bukanlah kota yang bersahabat danbaik. Menurut standar Yunus, buat apa Tuhan repot-repot mengurusi bangsa Niniwe? Kota itu harusnya memang binasa. Begitu pikirnya. Harus repot-repot mengurusi bangsa yang seperti itu menjadi masalah besar buat Yunus Yunus kemudian memutuskan untuk kabur. "Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN." (ay 3). Ia lari dari masalah dan mengira ia bisa lari dari Tuhan saat Tuhan memberikan sebuah mandat. Dan yang terjadi selanjutnya, ia malah menambah masalah bagi dirinya. Yunus dilempar ke luar dari kapal, dicampakkan ke laut lantas ditelan oleh ikan besar. Salah satu hal yang bisa kita pelajari dari kisah Yunus adalah, bahwa lari dari masalah bukanlah solusi yang benar. Lari dari masalah tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan menambah masalah yang lebih banyak dan buruk.

Para tokoh Alkitab, siapapun mereka punya masalahnya sendiri-sendiri. Tidak ada satupun tokoh Alkitab yang digambarkan hidup tanpa masalah. Dan memang, kekristenan tidak pernah mengajarkan sebuah jaminan untuk sepenuhnya hidup tanpa masalah. Dari Perjanjian Lama: Abraham, Daud, Musa, Ayub dan lain-lain, hingga Perjanjian Baru seperti Petrus, Paulus dan lain-lain, semua punya pergumulan mereka sendiri. Tapi kita belajar satu hal, bahwa lewat masalah mereka-lah kemudian Tuhan menyatakan diriNya, dan ketaatan mereka membuat mereka mampu menyelesaikan masalah dan keluar sebagai pemenang. Mereka sukses melewati uji kemurnian iman. Mereka semua bukanlah tokoh fiktif melainkan tokoh-tokoh nyata dan karenanya kita bisa belajar dari pengalaman hidup mereka.

Whatever the problem is, we should stand up and face it like a real man. Kalau kita sudah terbiasa menjadi orang yang selalu lari dari masalah, saatnya berubah menjadi orang yang selalu menjadikan masalah sebagai sebuah kesempatan untuk belajar dan bertumbuh. Bukankah dalam Alkitab sudah dikatakan seperti ini: "Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu" (Mazmur 119:71)? Lagipula berbagai masalah yang mungkin bagi kita sudah tidak mungkin bisa selesai itu hanyalah merupakan lahan subur bagi Tuhan untuk membuat keajaiban. Masalah bisa membuat kita salah langkah, namun bisa pula membuat iman kita bertumbuh, melatih diri kita untuk mengandalkan Tuhan dan membuat kita justru semakin dekat padaNya. Semua itu akan sangat tergantung dari keputusan atau langkah yang kita ambil.

Jangan takut menghadapi masalah. Hadapi masalah itu bersama Tuhan. Dalam Amsal tertulis demikian: "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." (Amsal 3:5-6). Dia akan selalu ada bersama kita yang percaya dan selalu siap membantu. Lalu dalam Yosua kita membaca: "Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung."  (Yosua 1:6). Inilah yang kita perlukan. Selalu taat pada Tuhan, mau menyerahkan hidup kita sepenuhnya pada Dia, melakukan apapun dalam hidup kita dalam nama Yesus, maka anda tidak lagi perlu lari dari masalah. Hadapi masalah itu, selesaikanlah dengan iman yang mengarah kepada Tuhan. Jadikan setiap masalah sebagai sarana untuk belajar dan bertumbuh, dan jangan kuatir, karena Tuhan kita jauh lebih besar dari semua masalah yang ada, dan Dia siap untuk mengangkat anda keluar tepat pada waktunya.

Lari dari masalah tidak menyelesaikan tetapi justru menambah masalah

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, May 24, 2015

Mata

webmaster | 8:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 5:29
====================
"Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka."

Love at first sight alias cinta pada pandangan pertama mendasari begitu banyak hubungan antar pasangan, setidaknya mengawali ketertarikan. Sight, itu tentu berbicara soal mata. Ungkapan ini menggambarkan betapa vitalnya mata dalam urusan cinta. Mata berfungsi bagaikan lensa kamera yang menangkap sesuatu secara visual lalu dibawa dan diolah dalam hati hingga terbentuk sebuah rasa. Mata secara bebas bergerak leluasa untuk menangkap gambar demi gambar dari apa yang berada disekitar kita.  Kalau positif tentu tidak apa-apa, tapi yang jadi masalah kalau mata sudah dipakai untuk jelalatan dalam melihat lawan jenis. Dari mata turun ke hati dan menjadi tertarik, itu wajar. Yang tidak wajar adalah kalau dari mata kemudian menjadi berbagai fantasi-fantasi yang berorientasi kepada hal-hal yang tidak pantas. Ada banyak hal yang bisa menyesatkan justru berawal dari penglihatan lewat mata. Bukan hanya hal-hal yang berbau pornografi, mata juga bisa menggoda kita untuk memiliki sesuatu benda yang membuat kita rela menghalalkan segala cara untuk bisa memilikinya. Ada banyak penyesatan yang berasal dari mata, dan Tuhan pun sudah mengingatkan dengan tegas agar kita benar-benar menyaring dengan seksama apa yang dilihat oleh mata.

Ada sebuah ungkapan dari Jepang menjadi sesuatu yang sangat dikenal dunia, berkata: "See no evil, hear no evil, speak no evil." Ungkapan ini sering digambarkan dengan keberadaan tiga ekor monyet yang masing-masing menutup sebuah indera seperti mata, telinga dan mulut. Mengapa tiga indera ini yang ditutup? Karena memang ketiga indra inilah yang sering menjadi awal dari masuknya dosa apabila tidak diawasi dengan benar. Ungkapan ini menggambarkan pentingnya mengawasi celah-celah yang bisa menjadi pintu masuk dosa agar kita tidak terjebak ke dalam hal-hal yang bisa merintangi hubungan kita dengan Tuhan lalu menggagalkan kita untuk menerima janji-janji Tuhan. Seringkali dosa-dosa ini berawal kecil, tetapi kemudian terakumulasi menjadi awal dari serangkaian dosa yang lebih besar lagi. Dan mata jelas merupakan salah satunya.

Alkitab mencatat bagaimana tegasnya Yesus mengingatkan bahayanya mata yang tidak dijaga. Kata Yesus: "Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka." (Matius 5:29). Ayat ini menunjukkan sebuah peringatan yang sangat keras dalam hal menjaga mata. Sebelum menyampaikan itu, Yesus mengawali dengan sebuah pesan penting bahwa dengan memandang seorang wanita dan menginginkannya meski hanya dalam hati saja, itu sudah sama artinya dengan berzinah. (ay 28).

Selain kepada mata Yesus berseru keras, demikian pula halnya dengan tangan. "Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka." (ay 30). Kedua anggota tubuh ini menjadi contoh mewakili anggota-anggota tubuh lainnya yang harus kita jaga dengan sangat serius. Mengapa? Karena Alkitab sudah mengatakan bahwa "roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Markus 14:38). Daging yang lemah sering membuat kita tak berdaya, dan berbagai godaan itu seringkali masuk lewat berbagai indera tertentu yang tidak terkawal baik. Banyak yang memasang pagar batas Firman Tuhan dengan terlalu fleksibel tergantung dari kemauannya sendiri. Kalau itu kita lakukan, ada banyak bentuk kenikmatan kedagingan yang akan dengan mudah dan segera mempengaruhi kita yang bisa dipakai iblis sebagai pintu masuk untuk membinasakan kita.

Yohanes sudah mengingatkan kita: "Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya." (1 Yohanes 2:17). Ayat ini mengatakan bahwa dunia sedang lenyap dengan kenginannya, dan itu menjadi semakin jelas terlihat hari-hari belakangan ini. Ketika kita memilih untuk bergabung dengan segala kenikmatan yang ditawarkan dunia maka itu berarti kitapun sedang lenyap dengan keinginan-keinginan daging kita. Hanya orang yang melakukan kehendak Allah-lah yang akan tetap hidup selama-lamanya alias kekal. Agar bisa melakukan kehendak Allah maka kita harus mampu menyalibkan semua keinginan-keinginan daging kita dan hidup seturut kehendak Allah dengan ketaatan penuh. Ketika itulah kita menjadi milik Kristus seutuhnya. Hal ini pun disampaikan lewat Paulus yang bunyinya: "Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya." (Galatia 5:24).

Mari kita kembali fokus kepada mata yang menjadi titik sentral renungan kita hari ini. Apakah Yesus bermaksud kejam dan sadis untuk menyuruh kita benar-benar mencungkil mata atau memotong tangan sendiri? Tentu saja tidak. Apa yang menjadi pesan Kristus adalah bahwa kita harus benar-benar memperhatikan segala sesuatu secara cermat, menjaga setiap anggota tubuh kita dengan kewaspadaan penuh agar tetap kudus dan jauh dari segala kecemaran. Daripada tubuh kita secara utuh disiksa di neraka karena satu atau dua anggota tubuh, lebih baik buang saja anggota tubuh yang mengganggu itu. kalau memang kita benar-benar tidak mampu lagi mengendalikannya. Selama kita masih mampu, tentu tidak perlu seperti itu. Karenanya penting bagi kita untuk menjaga benar-benar mata dan berbagai organ tubuh lainnya. Yesus tidak menginginkan satupun dari kita untuk menderita dengan cara demikian. Tapi Yesus mengingatkan akan konsekuensi yang sangat serius yang menanti di depan sana jika kita mengabaikan pentingnya menjaga berbagai organ tubuh ini.

Yesus rindu melihat kita semua berhasil menerima keselamatan yang kekal dimana tidak lagi ada penderitaan apapun. Untuk itu Dia bahkan rela menyerahkan diriNya sendiri menggantikan kita di atas kayu salib. Oleh karena itulah Yesus mengingatkan dengan tegas akan pentingnya menjaga anggota-anggota tubuh kita agar tetap kudus, tidak terjebak pada keinginan-keinginan daging yang mampu membuat kita kehilangan seluruh janji Allah dan membuat segala pengorbanan Kristus menjadi sia-sia. Mata merupakan salah satu dari anggota tubuh kita yang sangat berpotensi menjadi pintu masuk berbagai dosa dan akan sangat menyenangkan untuk dipakai sebagai lahan bermain oleh iblis. Karena itu jagalah dengan baik dan pergunakanlah selalu untuk hal yang baik yang bisa memuliakan Tuhan.

Segala yang dibawa mata untuk masuk ke hati harus dipastikan hanya segala sesuatu yang baik

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker