Saturday, June 2, 2018

Ragi Orang Farisi (2)

webmaster | 8:00:00 AM |
(sambungan)

Untuk kali ini mari kita fokus pada ragi orang Farisi. Kenapa Yesus mempergunakan istilah ragi orang Farisi? Sikap apa saja yang membuat sikap mereka ini menjadi contoh yang harus diwaspadai? Apa saja ragi orang Farisi itu? Mari kita lihat satu persatu.

1. Orang Farisi merasa paling benar sehingga berhak menghakimi orang lain

Orang-orang Farisi dikenal sebagai pemuka-pemuka agama yang tampil sangat alim dimanapun mereka ada. Mereka mengenal dengan mendalam seluruh hukum-hukum Taurat dan seluk beluknya, hafal luar kepala. Mereka suka berkotbah di tempat-tempat umum, mengajarkan hukum tapi perilaku mereka jauh dari semua yang mereka ajarkan. Mereka selalu merasa diri paling benar, paling suci dan paling bersih, sehingga mereka merasa berhak untuk menghakimi orang lain menurut penilaian mereka pribadi.

Dari renungan kemarin kita sudah melihat hal tersebut lewat sikap Simon orang Farisi saat mengundang Yesus untuk makan ke rumahnya dalam Lukas 7:36-50. Ia tidak menyambut Yesus sebagaimana layaknya sambutan yang baik menurut adat kebiasaan Yahudi. Tidak mencium pipi kanan dan kiri, tidak mencuci kaki tamu dan tidak meminyaki kepalanya dengan wewangian. Sementara disana ada seorang wanita berdosa yang duduk di kaki Yesus. Air matanya tak henti-hentinya mengalir membasahi kaki Yesus. Itu ia pakai untuk mencuci kaki Yesus dan kemudian dia keringkan dengan rambutnya sendiri. Setelah itu ia meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi yang ia bawa.

Reaksi Simon orang Farisi adalah seperti ini: "Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa." (ay 39).

Kalau ia punya sedikit saja kasih dalam hatinya, ia tentu akan terharu dan terenyuh melihat ada sebuah permohonan akan belas kasihan Tuhan terjadi di rumahnya. Ia tentu bahagia bahwa ada pertobatan terjadi di bawah atapnya. Tapi yang ia rasakan justru rasa jijik, menghakimi wanita yang secara status dan kedudukan sangatlah jauh dari dirinya. Ia seorang Farisi, ahli kitab yang sangat rohani dan alim, sementara wanita ini penuh dengan dosa. Itu membuat jarak terbentang sangat jauh di antara mereka, dan itu membuatnya merasa berhak untuk menghakimi wanita tersebut.

Dalam contoh lain masih dari Injil Lukas, kita bisa melihat sebuah gambaran lewat perumpamaan yang disampaikan Yesus.

"Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini." (Lukas 18:10-13).

(bersambung)


No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker