Wednesday, May 31, 2017

Kasih dan Kesabaran Seorang Ibu (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Selanjutnya kita bisa melihat bagaimana ketulusan Paulus dalam rangkaian ayat-ayat dalam pasal 2 ini. Paulus mengatakan "Tetapi sungguhpun kami sebelumnya, seperti kamu tahu, telah dianiaya dan dihina di Filipi, namun dengan pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan yang berat." (ay 2). Apakah ada ibu yang mundur jika anak-anaknya memerlukan kehadirannya? Tentu tidak. Paulus pun demikian. Meski ia harus menghadapi siksaan dan hujatan sebelumnya di Filipi, ia tetap tegar menjangkau jiwa-jiwa baru dan terus melakukan follow up terhadap pertumbuhan mereka. Tidak ada jaringan internet, telepon atau apapun pada saat itu selain surat. Tapi Paulus terus menjalankan komitmennya yang didasari kasih untuk berlaku seperti ibu yang merawat anaknya.

Paulus juga mengatakan bahwa motivasinya murni, tanpa pretensi untuk menyesatkan atau memanipulasi apapun. (ay 3). Lebih lanjut Paulus terus mendorong, menghibur dan menasihati mereka satu persatu, kali ini Paulus menyatakan dirinya seperti bapa yang mengasihi anak-anaknya. (ay 11-12). Tidak heran apabila kemudian kita melihat respon positif dari jemaat Tesalonika. Mereka menerima dengan baik pelayanan dan berita yang dibawa Paulus (ay 13). Ketulusan yang didasari kasih dan kemurnian hati akhirnya sanggup menjangkau banyak jiwa untuk bertobat dan dilayakkan untuk menerima keselamatan.

Dalam begitu banyak hal, kita tidak bisa melakukan apapun tanpa menjalin hubungan yang baik dengan sesama terlebih dahulu . Ada kalanya orang-orang tidak membalas uluran tangan kita seperti yang kita harapkan. Ada saat dimana kita mungkin merasa sia-sia karena usaha kita tidak dihargai. Ada orang-orang yang rasanya terlalu sulit untuk dijangkau. Ada pula kalanya sudah niat kita baik, malah kita yang rugi atau menderita.

Kalau itu yang kita alami, ingatlah akan komitmen Paulus yang siap mengasihi tanpa batas dan tanpa syarat, bak kelembutan seorang ibu dalam menjaga atau merawat anak-anaknya agar bisa tumbuh dengan baik. Entah berhasil atau tidak, setidaknya kita dapat mengalami kasih Allah mengalir dalam hidup kita ketika kita memilih untuk terus melakukan apa yang sudah ditugaskan kepada kita, yaitu menyatakan kasih terhadap sesama tanpa memandang siapa atau apa latar belakang mereka.

Seperti apa kasih itu dan apa saja komponen-komponennya sesungguhnya jelas karena sudah dijabarkan pula oleh Paulus dalam 1 Korintus 13:4-7 yaitu: "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. a tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."  Inilah sebuah penjabaran kasih yang harus hidup dalam diri kita dan dengan mudah bisa dirasakan dan diakses orang lain.

Dalam situasi apapun, milikilah kelembutan dan kesabaran bagai seorang ibu, hanya dengan demikian kita bisa menunjukkan perilaku warga Kerajaan Allah secara benar di mana kita ada saat ini.

Bawa orang untuk mengenal Kristus dan mengalami pertumbuhan iman lewat kelembutan dan kesabaran  kasih seorang ibu

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, May 30, 2017

Kasih dan Kesabaran Seorang Ibu (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Tesalonika 2:7
=======================
"Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya."

"Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah." Itu kata pepatah yang membandingkan seperti apa kasih dan elemen-elemen di dalamnya yang dimiliki seorang ibu kepada anaknya jika dibandingkan dengan kasih anak kepadanya. Amerika memiliki banyak jalan raya yang panjang, membentang dari barat ke timur. Salah satunya adalah jalan raya yang disebut Interstate 90. Jalan ini panjangnya hampir 5000 km, menghubungkan ujung kiri dan ujung kanan bagian atas dari Amerika Serikat. Coba bayangkan perbandingan antara jalan ini dengan sebuah penggaris atau batang galah, tentu perbedaannya sangat jauh sekali. Seperti itulah kasih ibu kepada anak.

Terlepas dari adanya beberapa ibu yang hari-hari ini tega membuang atau membunuh anak/janinnya, secara keseluruhan atau pada umumnya ibu adalah sosok dimana kita bisa mendapatkan kasih terbesar secara fisik atau nyata di dunia ini. Ibu melahirkan kita lewat penderitaan dan rasa sakit yang luar biasa. Setelah lahir, kita dirawat, disusui, diasuh hingga besar. Ia harus bangun tengah malam, harus tetap terjaga setiap kali anaknya menangis, mendidik dan membesarkan dengan penuh kesabaran sampai kita bisa berdikari dan kemudian sukses dalam hidup.

Perjuangan seorang ibu luar biasa. Pengorbanannya seringkali tidak terbalas dengan apapun. Mereka siap melakukan apapun demi yang terbaik untuk kita. Kasih yang tak terbatas itu membuat mereka tetap mengasihi meski perilaku anak-anak terkadang membuat mereka sedih bahkan sakit. Kesabaran mereka menghadapi anak-anaknya yang membangkang, melawan, bandel sungguh besar. Karena kalau tidak besar, kita tidak akan mungkin menjadi siapa kita hari ini. Dalam banyak hubungan yang terjadi antara manusia, hubungan antara ibu dan anak jelas merupakan sebuah hubungan yang paling istimewa dan paling indah. Tidaklah mengherankan kalau ada pula pepatah yang mengatakan "surga berada di bawah telapak kaki ibu."

Dalam perjalanan hidup ini, kita akan terus menjalin hubungan dengan banyak orang. Beberapa bisa terjalin dengan mudah karena adanya kecocokan sifat maupun saat kita berhubungan dengan orang-orang yang bersahabat, punya etika, sopan, pengertian dan sejenisnya. Hubungan bisa sehat dan positif dengan saling dukung, saling menguatkan, tetapi dengan beberapa orang kita mungkin bisa mengalami kesulitan untuk menjalin hubungan. Mungkin memang kita tidak bermusuhan secara terbuka, tetapi hubungan bisa sulit untuk bertumbuh, bahkan bisa jadi hampir-hampir tidak mungkin bisa terjadi. Ada banyak hal yang bisa menjadi penyebabnya, baik berkaitan dengan kita sendiri maupun orang lain. Perbedaan sudut pandang, perbedaan sifat, keegoisan, persaingan, kesan pertama yang buruk, atau bahkan karena ketidakmampuan salah satu pihak untuk berkomunikasi secara efektif bisa menjadi alasan sulitnya sebuah hubungan terbangun.

Akan hal ini mari kita lihat sosok Paulus. Kita tidak tahu apakah Paulus memiliki saudara. Sepertinya ia pun hidup melajang hingga akhir hidupnya. Tetapi meski demikian, Paulus memiliki hikmat dari Tuhan untuk mengetahui bagaimana menjalin hubungan yang baik dengan para jemaat yang pernah ia kunjungi. Tidak peduli betapa sulitnya, betapa menantangnya atau bahkan saat ia harus melewati berbagai penganiayaan sekalipun, ia tetap teguh untuk menyampaikan Injil keselamatan dalam kasih kepada orang-orang dimanapun ia singgah.

Paulus menulis surat-surat dari penjara kepada para jemaat, termasuk didalamnya jemaat Tesaloinika seperti menulis surat kepada anak-anaknya sendiri. Begitu intim, akrab dan penuh dengan pesan-pesan yang penting. Paulus peduli benar dengan semua jemaat dan rindu agar mereka bisa terus teguh dalam iman barunya dan tidak ingin ada satupun konflik yang bisa membuat mereka lemah. Paulus menunjukkan kepedulian yang sangat tinggi sebagai bentuk perhatian dan kasihnya kepada mereka.

Secara eksklusif Paulus menyebutkan pendekatan yang ia pergunakan dalam menjangkau anak-anaknya ini. Paulus menyebutnya dengan sebuah pendekatan layaknya kelembutan seorang ibu yang mengasuh anaknya. Lihatlah kata-kata Paulus dalam ayat berikut ini: "Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya." (1 Tesalonika 2:7). Seperti itulah Paulus menggambarkan bagaimana ia menempatkan diri kepada para jemaat, selembut seorang ibu yang mengasuh dan merawat anaknya.

(bersambung)


Monday, May 29, 2017

Belenggu Masa Lalu (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kesempatan diberikan Tuhan lebih dari cukup, tetapi kita tidak boleh buang waktu karena waktu itu terbatas. Kita harus segera melangkah maju, sekarang juga. We have to start moving forward, we really have to do it now. Sadarilah bahwa iblis sang pendakwa akan selalu menuduh anda dengan menggunakan segala hal di masa lalu untuk memperlambat anda, menghentikan anda, bahkan memundurkan anda ke belakang. Iblis akan menggunakan segala daya upaya untuk menghambat keberhasilan anda menerima berkat dari Tuhan, memenuhi rencana Tuhan dan menggagalkan anugerah keselamatan kekal yang sudah diberikan Yesus lewat pengorbananNya di atas kayu salib.

Iblis sangat tidak suka jika anda maju dan berhasil. Dan Yesus mengingatkan hal yang sama. Mari kita lihat kisah mengenai seseorang yang mau mengikuti Yesus namun memilih untuk berlama-lama. "Dan seorang lain lagi berkata: "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku." (Lukas 9:61). Apa jawab Yesus? "Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah."(ay 62). Tuhan rindu setiap kita untuk maju. Dia rindu untuk mencurahkan berkat-berkatNya, namun bayang-bayang masa lalu kerap membuat kita selalu menoleh ke belakang, dan dengan demikian gagal mencapai janji-janji Tuhan.

Surat Paulus kepada jemaat di Filipi juga sempat berbicara mengenai hal yang sama. Sepertinya Paulus menyadari tendensi manusia untuk selalu berada dalam bayang-bayang masa lalunya, hingga ia merasa perlu untuk mengingatkan. "Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Filipi 3:13-14).

Paulus memberi contoh, bahwa walaupun dia telah melayani Tuhan, dia tetap harus fokus untuk melupakan segala masa lalunya, seburuk apapun, dan fokus pada tujuan yang hendak dicapai di depan. Kita tidak akan bisa maju jika selalu berada dalam belenggu masa lalu kita yang kelam. Kita perlu benar-benar mengerti bahwa Tuhan begitu mengasihi kita. Dia tidak mau kita hidup terikat dalam dosa, problema kehidupan dan hal traumatis di masa lalu.

Apa buktinya? Jika Tuhan tidak perduli, untuk apa Tuhan repot-repot menganugrahkan Kristus, AnakNya yang tunggal untuk memerdekakan kita dari segala dosa, kutuk dan kuk perhambaan warisan masa lalu? Menyadari itu, berhentilah menoleh ke belakang, dan raihlah janji-janji Tuhan, yang penuh rancangan damai sejahtera, hidup yang berkelimpahan dan penuh berkat. Lihatlah ayat berikut ini: "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (Ratapan 3:22-23). Apa yang disediakan Tuhan adalah berkat yang tiada habisnya dan selalu baru setiap pagi. Jika demikian, untuk apa kita terus mengingat-ingat masa lalu? Bukankah artinya kita menjadi orang yang bodoh jika masih saja terkubur dalam masalah di waktu lalu, padahal Tuhan mencurahkan rahmatNya yang baru setiap pagi?

Tuhan menyediakan pengharapan baru bagi kita yang telah ada di dalam Kristus. "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."(2 Korintus 5:17). In Christ, we are the new creation. Semua telah ditebus Kristus dengan lunas di atas kayu salib. Dan kita sekarang bisa menatap hari depan yang cerah, penuh pengharapan dari Tuhan. Tidak ada lagi belenggu masa lalu, kecuali kita yang mengijinkan dan menginginkan trauma masa lalu itu untuk terus hadir bersama kita, menghambat kita untuk bertumbuh dan maju.

Adalah baik menjadikan masa lalu sebagai pelajaran dan pengalaman untuk mencapai sesuatu yang lebih baik lagi kedepannya sesuai dengan rencana Tuhan atas diri kita. Tapi jangan sampai masa lalu menjadi penghalang atau penghambat bagi kita untuk bisa memperoleh semua itu. Hari ini juga, bebaskan diri anda dari belenggu masa lalu. Stop looking back to the past, it's time to move forward. Let's move on with all hope, faith and glory, with God by our side!

Leave the past where it belongs. Don't look back when you know you shouldn't

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, May 28, 2017

Belenggu Masa Lalu (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kejadian 19:26
=====================
"Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam."

Ada banyak orang yang tidak kunjung bertumbuh dalam hidupnya, apalagi berbuah. Mereka sulit sekali untuk maju, melempem, dan seringkali itu sudah bagus ketimbang malah merosot. Kalau dilihat dari kemampuan mereka yang sebenarnya, mereka ini sebetulnya punya potensi besar untuk sukses. Orang-orang berbakat, bertalenta, punya kemampuan, pemikiran bagus, ide-ide cemerlang, kesehatan, tenaga, dan lain-lain. Tapi anehnya, semua itu mentah pada saat seharusnya bisa mulai dieksekusi. Saya bertemu beberapa orang diantaranya. Selidik punya selidik, masalahnya ternyata ada pada mental, yang kebanyakan terbelenggu oleh trauma atau pengalaman buruk yang pernah dialami di masa lalu.

Salah satu penyebab orang sulit maju atau untuk bangkit dari kegagalan adalah karena mereka terikat oleh masa lalu mereka. Ada sebuah kisah menarik yang bisa dijadikan bahan pelajaran yaitu tentang kisah Sodom dan Gomora. Dalam kisah ini kita tahu bahwa atas kejahatan yang sudah keterlaluan kedurjanaannya, Tuhan memutuskan untuk memusnahkan kota ini. Lalu menjelang subuh, Lot didatangi dua malaikat yang menyampaikan pesan Tuhan agar ia dan keluarga segera bergegas keluar supaya tidak ikut musnah bersama seisi kota. Ayatnya berbunyi seperti ini: "Ketika fajar telah menyingsing, kedua malaikat itu mendesak Lot, supaya bersegera, katanya: "Bangunlah, bawalah isterimu dan kedua anakmu yang ada di sini, supaya engkau jangan mati lenyap karena kedurjanaan kota ini." (Kejadian 19:15).

Keadaan sudah begitu genting. Pesan Tuhan sudah datang dan Lot sekeluarga ternyata mendapat belas kasih Tuhan. Kalau anda ada di posisi Lot, saya yakin anda akan segera bergegas buru-buru pergi dari sana sebelum anda ikut jadi korban. Bukankah begitu seharusnya? Tapi keluarga Lot ini ternyata masih bisa berlambat-lambat. Tapi Tuhan ternyata masih mengasihani mereka sehingga kedua malaikat pun diperintahkan untuk menarik mereka supaya lebih cepat. Ayat selanjutnya berkata: "Ketika ia berlambat-lambat, maka tangannya, tangan isteri dan tangan kedua anaknya dipegang oleh kedua orang itu, sebab TUHAN hendak mengasihani dia; lalu kedua orang itu menuntunnya ke luar kota dan melepaskannya di sana." (ay 16).

Ketika mereka sampai di luar gerbang kota, malaikat berkata: "Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap." (ay 17). Perhatikanlah ayat ini. Salah satu malaikat sudah memberitahukan kunci agar tidak ikut binasa, yaitu jangan menoleh ke belakang, jangan berhenti dimanapun. Saya pikir itu sudah sangat jelas. All they have to do is keep moving forward, never look back. Tapi sepertinya nyonya Lot berat meninggalkan segala kenyamanan dan kemewahan di kota Sodom. Ia mungkin berat meninggalkan harta, ternak dan segala kehidupannya. Dan yang terjadi selanjutnya sangat fatal. "Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam." (ay 26).

Dari bagian kisah ini kita bisa melihat bahwa istri Lot sebenarnya turut ada dalam rencana penyelamatan Tuhan. Sebagai kerabat dari Abraham, Allah menaruh belas kasih ingin meluputkan mereka sekeluarga dari pemusnahan mengerikan lewat hujan belerang dan api. Tapi sayangnya istri Lot tidak taat terhadap perintah Tuhan. Meski sudah mendapat belas kasih, ia ternyata masih terbelenggu dengan apa yang ada di belakangnya, yang bagaikan rantai membuatnya tidak bisa melangkah maju menatap hari depan yang baru. Ia memilih untuk berhenti berjalan dan menoleh ke belakang. Akibatnya, ia pun berubah menjadi tiang garam.

Mari kita fokus kepada kata "menoleh ke belakang". Menoleh ke belakang maksudnya adalah dikuasai masa lalu, dihantui berbagai hal traumatis, kegagalan atau timbunan dosa-dosa di masa lalu. Ada juga orang yang mengalami kepahitan akibat disakiti orang terdekat, kejadian-kejadian buruk dalam berbagai hal, yang begitu berat, sedemikian rupa sehingga mereka yang mengalami ini menjadi terus terikat dengan bayang-bayang masa lalunya. Mereka menjadi sulit maju, karena mereka terikat dengan hal-hal traumatis yang pernah terjadi. Atau masa lalu yang terlanjur terlalu nyaman, dan itu membuat mereka menjadi terlalu malas atau takut untuk bergerak melakukan sesuatu secara nyata. Ada yang jadi statis, tidak bertumbuh, tidak berkembang, jalan di tempat, tidak sedikit pula yang akhirnya  malah terperosok semakin dalam. Sekali lagi, istri Lot sebenarnya ada dalam rencana Tuhan untuk diselamatkan, namun ia memilih untuk menoleh ke belakang. Sebuah pilihan yang membawa konsekuensi fatal, ia berubah seketika menjadi tiang garam. Ketidaktaatan dan terbelenggu masa lalu ternyata mampu membinasakan.

(bersambung)


Saturday, May 27, 2017

Meletakkan Lampu Di Tempat yang Tepat (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)


Apa gunanya lampu kalau ditutup/tertutupi sesuatu? Apakah lampu akan berfungsi maksimal kalau ditaruh di bawah gantang, ditutupi tempurung, di bawah tempat tidur? Tentu lampu segera kehilangan fungsinya. Kita tidak akan berfungsi apa-apa kalau kita terus bersembunyi dan tidak melakukan apa-apa, termasuk menerapkan cara dan gaya hidup sesuai prinsip Kerajaan Allah. Pelita dinyalakan bukan untuk ditempatkan di bawah kolong atau ditutupi, tetapi haruslah ditempatkan pada posisi yang seharusnya agar bisa menerangi gelap. Bagaimana terang yang kita miliki mampu untuk menyinari orang lain, apabila kita terus menyembunyikannya di "kolong" hati kita? Bagaimana kita bisa berdampak kalau kita terus bersembunyi? Terang kita tidak akan terlihat, tidak akan mampu menjangkau orang lain, sehingga kita gagal untuk melakukan kewajiban sesuai Amanat Agung yang difirmankan Tuhan Yesus sesaat sebelum Dia naik ke Surga. Dan hal ini akan diperhitungkan pada hari penghakiman, dimana saat itu tidak lagi ada hal yang tersembunyi.

Pada saat itu nanti, siap atau tidak, kita harus mempertanggungjawabkan segala yang kita lakukan. Apakah kita hidup sesuai firman Tuhan atau tidak. Apakah kita sudah melakukan segalanya atas dasar kasih, atau malah mementingkan diri sendiri selama hidup. Apakah kita sudah melayani Tuhan dan pekerjaanNya, atau kita malas-malasan dan hanya menuntut berkat tanpa ingin memberkati. Semua itu akan dibuka pada hari penghakiman. Tidak ada lagi yang bisa ditutup-tutupi.

Menjadi terang merupakan fungsi kita di dunia pada masanya kita. Agar kita bisa melakukan sesuai fungsi, maka kita harus menempatkan diri kita di posisi yang benar. Kita harus menyadari bahwa Tuhan sudah melengkapi kita dengan talenta, dengan segala yang diperlukan untuk bisa berfungsi sempurna sebagai terang. Kita harus mengolah sumber daya yang telah dibekali Tuhan dalam diri kita, melakukan hal-hal dimana talenta-talenta itu dilipat gandakan lalu digunakan untuk melayani dan menyelamatkan orang lain. Dipakai untuk bekerja di ladang Tuhan dan membawa jiwa-jiwa untuk diselamatkan, bukan dipendam dalam tanah seperti yang tertulis dalam perumpamaan tentang talenta (Matius 25:14-30, Lukas 19:12-27).

Bagaimana kalau kita malas dan menolak melakukan itu? Murka Tuhan lah yang menjadi bagian kita. Perhatikan apa yang diputuskan Tuhan terhadap hamba yang malas ini. Pertama, apa yang ia miliki diambil dan diberikan kepada orang yang melipat gandakan talenta (Matius 25:28). Kemudian yang kedua, ia dilempar ke dalam kegelapan tergelap, tempat yang penuh ratap dan kertak gigi. (ay 30).

Perhatikan kesamaan ayat dalam perumpamaan tentang talenta: "Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya" (Matius 25:29) dengan ayat dalam perumpamaan tentang pelita. "Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya." (Markus 4:25).

Dengan demikian kita bisa melihat dengan jelas relevansinya, bahwa jika kita menyia-nyiakan talenta kita, dan menyimpannya di bawah kolong, maka segalanya akan diambil dan kita akan menerima ganjarannya di tempat yang penuh ratap dan kertak gigi. Sebaliknya, jika kita mempergunakan talenta-talenta kita untuk menjadi terang dan berkat bagi banyak orang, maka kepada kita akan ditambahkan lebih banyak lagi. Tuhan akan mencurahkan lebih banyak lagi berkat, yang kemudian mampu anda pergunakan pula untuk memberkati orang lain lebih banyak lagi.

Meskipun Tuhan mengasihi kita dan menjanjikan hidup yang kekal, hal tersebut bukan berarti bahwa kita boleh melakukan apapun dengan sesuka hati. Jangan pernah menyalah gunakan kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Pada saatnya nanti kita harus mempertanggungjawabkan segala yang dipercayakan Tuhan selama masa hidup kita. Ketika Tuhan telah mengaruniakan kita dengan terang, Dia akan melihat apa yang akan kita lakukan dengan terang itu. Apakah kita menerangi banyak orang dan lebih banyak lagi, apakah kita melipatgandakan talenta-talenta itu untuk tujuan mempermuliakan nama Tuhan dan membawa jiwa-jiwa untuk diselamatkan, atau memilih untuk tidak melakukan itu semua sama sekali dan menjadi orang yang self-centered.

Pilihan ada di tangan kita, karena Tuhan sudah mencurahkan segalanya secara cukup bagi kita untuk mulai berbuat sesuatu. Tidak perlu malu, takut, merasa tidak sanggup dan sebagainya untuk menyatakan terang, karena "Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu." (Markus 4:24).

Inilah perumpamaan tentang Pelita yang disebutkan Yesus. Saya berdoa semoga kita semua mampu menjadi terang yang benar, seperti halnya Kristus sang "Terang Dunia". Dunia saat ini penuh dengan lingkup kegelapan, dan sangat membutuhkan seberkas sinar untuk meneranginya. Jika kita mau menjadi terang sesuai firman Tuhan, maka Tuhan akan berkata: "Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu." (Yesaya 58:8). It's time to shine, let's shine on!

Terang baru akan berguna jika di tempat terbuka bukan tersembunyi

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, May 26, 2017

Meletakkan Lampu Di Tempat yang Tepat (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Markus 4:21
===================
"Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian."

Setiap kamar dalam rumah biasanya dilengkapi lampu. Agak aneh rasanya kalau ada kamar yang tidak dilengkapi instalasi lampu. Kalaupun sedang tidak ada lampu disana atau putus karena jarang ditempati, setidaknya sarang lampu, kabel dan saklarnya ada. Dimana orang menginstalasi lampunya? Letaknya biasanya ada di atas. Mengapa? Karena hanya pada posisi di ataslah lampu bisa menerangi ruangan secara maksimal. Untuk lampu baca sekalipun, meski tidak dipasang di langit-langit ruangan tetap saja posisinya lebih tinggi dari tujuan pandangan mata. Alangkah anehnya apabila ada orang menginstalasi lampu di lantai atau di tempat yang rendah. Apalagi kalau lampu itu dipasang di area tertutup atau terhalang oleh sesuatu. Jika itu yang dilakukan maka lampu akan kehilangan fungsinya alias sia-sia saja.

Markus 4 menceritakan suatu peristiwa saat Yesus mengajar di tepi danau. Begitu penuh sesaknya orang disana sehingga Yesus pun harus menaiki sebuah perahu dan duduk disana untuk mengajar, sehingga kerumunan orang itu bisa duduk di tepi danau untuk mendengar pengajaranNya. Salah satu yang disampaikan Yesus disana adalah perumpamaan tentang pelita.

Ilustrasi di atas menjadi awal sebuah perumpamaan tentang pelita. "Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian." (Markus 4:21). Bagi saya perumpamaan ini sangatlah menarik. Pada hakekatnya lampu akan terekspos dan mudah dilihat orang pada saat ia melakukan fungsinya untuk menerangi. Tidak akan ada yang tertutupi. Lampu akan membuat semuanya terlihat, dan di saat yang sama si lampu sendiri pun tidak mungkin tersembunyi. Seperti itulah seharusnya kebenaran Kerajaan yang ada tertulis dalam Alkitab. Prinsip-prinsip Kerajaan yang mengandung kebenaran bukanlah sesuatu yang harus tersembunyi atau ditutup-tutupi. Kebenaran Firman seharusnya mudah terlihat oleh orang lain lewat cara hidup secara nyata kita dalam proses kita untuk terus menjadi serupa dengan Kristus. Tuhan Yesus kemudian melanjutkan: "Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap." (Markus 4:22).

Ketika kita menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita, maka kita pun menerima terang dan segera memiliki terang hidup. Bagaimana bisa? Sebab Yesus adalah terang yang sejati. "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12). Saat terang Yesus hadir dalam diri kita, maka terang itu pun akan menyinari kita; Kristus sendiri yang akan bercahaya atas kita. (Efesus 5:14). Dengan demikian kita yang dulu hidup dalam kegelapan, kini berubah menjadi anak-anak terang. "Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang." (Efesus 5:8). Hidup sebagai terang akan nyata ketika hidup kita berbuah kebaikan, keadilan dan kebenaran. (ay 9). Dan dengan hidup dalam terang, dimana darah Yesus menyucikan kita dari segala dosa. (1 Yohanes 1:7). Kita dilayakkan untuk menerima keselamatan. Namun terang yang kita peroleh dari sang "Terang Dunia" bukanlah dimaksudkan hanya untuk diri kita sendiri saja melainkan juga untuk menyinari saudara-saudara kita yang masih terperangkap dalam kegelapan. Ayat ini menegaskan hal itu. "Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu." (Yesaya 60:1-2).

Dalam kotbah Yesus di atas bukit, Yesus kembali menyampaikan hal yang sama mengenai terang ini. "Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu." (Matius 5:14-15). Lalu Yesus menyampaikan kesimpulannya: "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (ay 16). Ketika kebenaran Firman bersinar menerangi orang lain, tidak tertutup atau ditutup-tutupi, ketika orang percaya berfungsi sesuai hakekatnya sebagai terang, orang tidak akan bisa menyanggah kebaikan dan kasih yang terpancar dari kita, dan disana orang tidak lagi bisa menampik kebenaran melainkan akan memuliakan Tuhan.

(bersambung)


Thursday, May 25, 2017

Menjadi Anggur yang Baik (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Seperti halnya Yesus sanggup mengubah air menjadi anggur, Dia sanggup mengubah kita yang "biasa-biasa" saja untuk menjadi anggur yang baik yang bisa memberkati, membawa sukacita bagi banyak orang. Semua tergantung kita apakah kita mau merespon dengan benar dan sungguh-sungguh atau tidak.

Dari kisah ini kita bisa belajar mengenai apa saja yang harus kita lakukan agar kita bisa menerima atau mengalami mukjizat Yesus ini. Setidaknya ada dua hal penting yang saya kira baik untuk kita ambil sebagai pelajaran. Mari kita lihat satu persatu.


1, Mengisi diri dengan Firman Tuhan
Kalau kita baca lagi kisah di atas, kita bisa melihat bahwa awalnya tempayan-tempayan itu disuruh Yesus sendiri untuk diisi dengan air. Ini bisa menjadi gambaran akan pentingnya kita mengisi diri kita secara teratur dengan Firman Tuhan yang hidup. Firman Tuhan sungguh penting dalam hidup kita, "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita." (Ibrani 4:12).

2. Taat sepenuhnya

Sebelum air diperintahkan Yesus untuk masuk ke tempayan, ada sebuah pesan penting yang disampaikan ibu Yesus yang mungkin seringkali luput dari perhatian kita. "Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!" (ay 5). Ya, ketaatan pada Yesus menjadi kunci penting berikutnya. Jadi secara singkat kita bisa melihat bahwa jika kita manusia berada di tangan Yesus, taat kepadaNya dan kemudian mengisi diri kita dengan air yang adalah firman Tuhan, maka kita bisa diubahkan untuk menjadi anggur yang memberkati orang lain.

Proses pengubahan air menjadi anggur bisa jadi tidak menyenangkan. Ada kalanya kita harus mengalami berbagai hal berat dan menyakitkan ketika sedang dibentuk. Namun lewat itulah kita bisa diubahkan Tuhan menjadi anggur berkualitas tinggi yang bisa memberkati banyak orang. Hidup kita yang biasa-biasa saja bisa dipakai Tuhan agar mendatangkan banyak manfaat bagi orang lain. Untuk itu kita harus rela ditegur, dikoreksi, diajar atau malah dihajar apabila perlu.

Siapapun kita, apapun latar belakang kita, Tuhan bisa pakai itu semua untuk menjadi berkat. Yang dibutuhkan adalah kerelaan kita untuk diubahkan dan dipakai agar menjadi berkat. Ketaatan secara penuh dalam melakukan apa yang Dia perintahkan, lalu mengisi diri kita dengan firman Allah, itulah dasar yang akan mengarahkan kita mengalami mukjizat Yesus yang mengubahkan kita menjadi anggur berkualitas.

Dimanakah posisi kita saat ini? Apakah kita sudah pada posisi anggur yang baik, anggur muda, air bersih atau air kotor penuh kuman? Mari kita belajar dari kisah Pernikahan di Kana. Taat dan terus isi diri kita dengan Firman Tuhan. Pastikan anda menjadi anggur yang baik, yang berkualitas dan bisa dinikmati orang lain, bukan air yang tidak bermanfaat atau malah menjadi penyakit bagi orang lain.

Jadilah anggur yang baik yang menjadi berkat bagi orang lain

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, May 24, 2017

Menjadi Anggur yang Baik (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yohanes 2:9
=====================
"Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu--dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya"

Semakin tua sebuah anggur, maka kualitasnya pun semakin baik. Harga anggur dibawah dan diatas sepuluh tahun itu sangat jauh bedanya. Maka saya pernah mendengar seorang kritikus menyebutkan seorang penyanyi senior bagaikan anggur, yang kualitas suaranya semakin baik seiring waktu. Selain dari segi waktu, bagi yang sudah biasa dengan anggur bisa mengetahui baik tidaknya kualitas anggur dari aroma lewat indera pencium yaitu hidung. Lalu sebagian lagi akan menggunakan lidah yang artinya dicicip. Mereka membiarkan lidah mereka tenggelam dalam anggur sejenak, menikmati saat anggur itu 'berdansa' di sekeliling lidah agar mereka bisa mengetahui apakah anggur yang mereka nikmati itu kualitasnya tinggi atau tidak.

Bicara soal anggur, mari kita lihat sebuah kisah pada saat Yesus membuat mukjizat buat kali pertama, yaitu kisah Perkawinan di Kana yang terdapat dalam Yohanes 2:1-11. Kisah ini bagi saya sangat luar biasa karena mengandung begitu banyak pelajaran yang bisa diterapkan dalam berbagai hal berbeda. Tetapi untuk kali ini mari kita fokus kepada anggur, sesuatu yang hadir lewat mukjizat dari air biasa oleh Yesus.

Dikisahkan pada waktu itu Yesus dan murid-muridNya hadir di sebuah pesta pernikahan di Kana, begitu pula ibu Yesus. Pada saat itu tampaknya tamu yang hadir membludak jauh lebih banyak ldari yang diperkirakan, sehingga mereka pun kehabisan anggur. Kehabisan anggur di sebuah pesta tentu sebuah bencana yang memalukan bagi tuan rumah. Jika anda yang menikah lalu makanan sudah habis padahal tamu masih berdatangan, anda dan keluarga tentu panik bukan? Dan seperti itulah yang terjadi disana.

Apa yang ada disana? Alkitab menyebutkan hal itu dengan detail.  "Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung." (Yohanes 2:6). Dua-tiga buyung berarti sekitar 20-30 galon, yaitu  kira-kira 100 liter. Itulah banyaknya air yang bisa ditampung dalam masing-masing tempayan.

Pertanyaannya diisi apa? Paling juga air biasa, apalah gunanya itu dalam menyambut tamu? Dalam keadaan genting, mereka beruntung karena ada Yesus hadir disana pada waktu itu. "Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: "Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air." Dan merekapun mengisinya sampai penuh." (ay 7). Setelah itu, Yesus meminta mereka untuk menyendok air itu dan membawanya kepada pemimpin pesta. (ay 8). Dan inilah yang terjadi. "Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu--dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya". (ay 9). Si pemimpin pesta pun terheran-heran. Segera ia memanggil mempelai pria, dan berkata: "Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang."(ay 10). Pesta pernikahan itu selamat dan sukses. Itu adalah mukjizat awal sebagai permulaan dari pelayanan dan karya penebusan Kristus secara langsung di dunia.

Air biasa diubahkan Kristus untuk menjadi anggur. Bukan sekedar anggur biasa, tapi dalam ayat 10 jelas dikatakan anggur yang baik. Anggur yang baik ini bukanlah untuk disimpan tapi kemudian dinikmati dan menjadi berkat bagi banyak orang-orang yang hadir disana. Jika dibandingkan, tentu akan sangat jauh tentunya jika yang dihidangkan hanya air putih biasa.

Dari kisah ini kita bisa mengambil pelajaran penting. Seperti apakah kita saat ini? Apakah kita masih berupa air biasa, air yang sedang dalam proses pemurnian, atau sudah menjadi anggur? Sekedar anggur atau anggur yang baik, tinggi kualitasnya seiring waktu? Apakah waktu-waktu dalam hidup kita diisi dengan kualitas sesuai prinsip kebenaran Kerajaan sehingga bagai anggur kita semakin lama semakin baik atau kita terus buang waktu dan melakukan hal yang sia-sia, sehingga jangankan anggur yang baik, menjadi air yang bersih saja sudah sangat sulit.

(bersambung)


Tuesday, May 23, 2017

Arif, Bukan Bebal

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Efesus 5:15
===================
"Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif"

Ada istilah kearifan alam dan kearifan lokal yang belakangan semakin sering kita dengar. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kearifan lokal atau alam ini? Sebuah kearifan alam mengacu kepada bagaimana nilai kehidupan alam dan segala kebaikan yang terkandung di dalamnya yang menginspirasi kehidupan baik bagi alam itu sendiri maupun kepada mahluk hidup yang ada didalamnya, termasuk manusia. Sebuah kearifan lokal berbicara mengenai bagaimana karakteristik yang ada pada suatu daerah atau wilayah terbangun dari kekhasannya sendiri-sendiri yang menjadi sumber nilai dan inspirasi yang selama ini membuat mereka mampu membangun tatanan kehidupan yang baik turun temurun selama kurun waktu yang sangat panjang.

Ada nilai-nilai kearifan yang bisa kita peroleh dari baik dari sebuah kultur atau budaya lokal maupun alam. Tapi jangan lupa bahwa Alkitab pun mengandung begitu banyak kearifan yang tentu akan membuat kita mampu memiliki karakter yang bercahaya terang di tengah kegelapan yang merajai dunia. Kata arif memang sempat menghilang dan baru kembali digunakan di berbagai media, tetapi sebenarnya kata ini tetap penting karena nilai yang terkandung di dalamnya.

Apa yang dimaksud dengan arif? Arif adalah sebuah karakter yang bijaksana, pandai, berilmu sehingga paham mengenai kebenaran. Orang yang arif akan selalu mendasarkan pada kebenaran, tidak terburu-buru mengambil keputusan melainkan didasari pertimbangan matang, mencari solusi yang terbaik tanpa merugikan orang lain, berani mengakui kesalahan dan akan melihat segala sesuatu secara komprehensif, tidak aku-centris, tidak mementingkan diri sendiri dan mengacu kepada kebenaran. Orang-orang arif memiliki hikmat dan mengedepankan keadilan.

Bagiamana dengan sesuatu yang bertolak belakang dengan arif? Akan hal ini, sangatlah menarik apabila melihat bahwa Alkitab mengkomparasi antara bebal dan arif. Orang bebal itu artinya orang yang keras kepala, bandel, hanya peduli terhadap kepentingan diri sendiri dan mau menang sendiri. Mereka akan terus melakukan sesuka hati meski yang dilakukan itu salah. Tidak bisa ditegur, tidak suka diprotes dan tidak mau dinasihati. Itu sama sekali bukanlah hidup yang mencerminkan Kerajaan Allah. Maka sebagai warga Kerajaan kita tidak boleh seperti itu.  Paulus mengingatkan: "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif" (Efesus 5:15).

Ayat ini hadir diantara pesan Paulus agar kita hidup sebagai anak-anak terang. Anak-anak yang jadi penurut-penurut Allah (ay 1), hidup dalam kasih (ay 2), menjauhi percabulan, rupa-rupa kecemaran dan keserakahan (ay 3), menghindari perkataan kotor, kosong, sembrono dan tidak pantas (ay 4), tidak cabul, cemar (ay 5), tidak gampang disesatkan (ay 6) dan memperhatikan pertemanan (ay 7). Kita harus terus mengenal apa yang berkenan kepada Tuhan (ay 10), tidak ikut serta dalam perbuatan-perbuatan kegelapan (ay 11), mengoptimalkan penggunaan waktu dengan sebaik-baiknya (ay 16), mencari tahu apa yang menjadi kehendak Tuhan (ay 17), tidak menuruti hawa nafsu dan mabuk didalamnya (ay 18) dan senantiasa mengucap syukur (ay 19-20) serta memiliki kerendahan hati (ay 21).

Serangkaian panjang dari pesan Paulus ini sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan seperti apa yang dikatakan hidup seperti orang arif itu. Jika tidak demikian, itu artinya kita hidup sebagai orang bebal, dan kehidupan kita sebenarnya tengah tidur atau mungkin sudah 'mati'. Hidup yang sia-sia, tawar, tanpa makna dan hanya mendatangkan masalah baik bagi orang lain maupun diri sendiri. Tapi orang yang hidup dengan memperhatikan seluruh aspek kehidupannya secara seksama, itulah orang yang benar-benar hidup. Apabila kita melihat apa yang dikatakan pada ayat 14, kita bisa melihat bahwa orang yang arif adalah orang yang hidupnya memancarkan cahaya Kristus.

Orang yang hidupnya arif mengalami kemuliaan Tuhan dan memancarkannya kepada orang lain lewat pikiran perkataan dan perbuatan. Orang yang hidupnya menurut kearifan Kerajaan Allah akan bercahaya bagai anak-anak terang ditengah kegelapan dan kemuraman dunia. Itu menjadi sebuah kewajiban dan harus mendapat perhatian serius secara seksama. Itulah hidup yang arif dan bukan hidup bagaikan orang bebal. Masalahnya, maukah kita hidup dengan kearifan Kerajaan atau kita terus membuang waktu hidup tanpa makna atau malah menyusahkan dan merugikan sesama?

Hidup menjadi penuh makna dan bermanfaat apabila kita hidupi dengan kearifan Kerajaan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, May 22, 2017

Mengenal Kristus seperti Simeon dan Hana (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Hati yang terbuka dalam menantikan kedatangan Kristus membuat Simeon dan Hana bisa melihat dengan jelas akan sosok Mesias yang ada di depan mereka. Hadirnya Roh Allah membuat Simeon bisa melihat sosok Yesus dalam penggenapan rencana Allah seperti yang sudah berulangkali dinubuatkan para nabi sebelumnya. Akan halnya Hana,  kerinduan Hana yang terus mengisi dirinya dengan doa dan puasa membuatnya bisa melihat Yesus secara benar. Itulah yang membedakan kedua orang ini dari jemaat lainnya yang hadir disana. Dalam Galatia tertulis "Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan." (Galatia 5:5).

Lewat Roh dan iman kita bisa melihat kebenaran yang kita harapkan. Mata kita dicelikan sehingga mampu mengenali Yesus dan kebenaran dalam diriNya. Seperti halnya di Bait Allah waktu itu, hari ini pun Yesus hadir ditengah-tengah kita meski tidak lagi secara kasat mata. Yesus hadir dalam ibadah-ibadah yang kita lakukan, baik dalam kebaktian maupun dalam ibadah yang sejati, yaitu kehidupan kita. Tetapi apakah kita merasakan kehadiranNya? Apakah kita cukup merindukan kehadiran Yesus seperti halnya kerinduan yang dimiliki Simeon dan Hana? Masihkah kita merindukan kehadiran Yesus ditengah kesibukan sehari-hari dan segala sesuatu yang kita lakukan? Apakah kita mengingatNya saat berhadapan dengan segala yang diinginkan? Apakah kita berada pada posisi Simeon dan Hana atau orang-orang lain yang berada di bait Allah?

Kita harus mengingatkan diri kita untuk beribadah dengan motivasi yang benar. Jangan sampai ibadah-ibadah kita hanya didasari oleh rutinitas atau sekedar menjalankan kebiasaan saja tanpa memiliki kerinduan yang murni akan Tuhan. Hidup dalam Roh akan membuat kita mampu melihat segala yang kebenaran dalam Yesus. Paulus berkata "Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus." (Roma 8:9). Yesus mengatakan "Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta." (Yohanes 9:39).

Ada cahaya pengharapan dan keselamatan yang sudah Dia sediakan, dan kedatangan Kristus untuk menebus kita seharusnya bisa membuka mata kita dengan jelas untuk melihat segala kebaikan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, ciptaan-ciptaanNya yang teristimewa. Bukan cuma ingin memperoleh berkat dan pertolonganNya semata, tetapi kerinduan untuk mengenalNya dan kemudian mengasihiNya, itulah yang mampu memberikan sukacita penuh rasa syukur dalam hidup kita. Sebab kalau kita tidak kenal dan tidak peduli, bagaimana mungkin kita bisa mengklaim sebagai milikNya?

Kelahiran Yesus menjadi sebuah penggenapan janji Tuhan kepada Simeon dan Hana, yang selama itu hidup benar dan kudus. Janji itu pun berlaku bagi kita semua sampai hari ini.

Ironis sekali kalau ibadah-ibadah yang kita lakukan ternyata tidak membawa pengenalan akan Kristus

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, May 21, 2017

Mengenal Kristus seperti Simeon dan Hana (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 2:25
================
"Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,"

Apa yang menjadi motivasi kita dalam beribadah? Apakah kerinduan kita bertemu dan merasakan hadirat Tuhan bersama saudara-saudari seiman, hanya mencari berkat/pertolongan, supaya terlihat suci di mata orang atau hanya sekedar ritual atau rutinitas belaka? Sama-sama beribadah, tapi motivasi atau alasannya bisa beragam. Kita mengira bahwa kita masih taat dengan terus beribadah, tapi Jangan-jangan kita sudah tidak lagi peduli terhadap Yesus ketika beribadah melainkan sibuk mementingkan hal-hal lainnya. Dan jangan-jangan, saat kita beribadah mengakunya kepada Yesus, tapi kalau Yesus ada disamping kita, kita bahkan tidak mengenalNya. Kalau itu yang terjadi, bagaimana mungkin kita bisa beribadah, mengasihiNya dan taat pada perintahNya kalau kita bahkan tidak mengenalNya?

Hari ini mari kita lihat apa yang terjadi saat Yesus dibawa ke bait Allah untuk diserahkan kepada Tuhan. Seperti layaknya gereja, saya yakin pada saat itu ada begitu banyak orang yang hadir di sana. Yusuf dan Maria datang membawa bayi Yesus untuk memenuhi hukum Taurat Musa yang menyatakan bahwa "semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah." (Lukas 2:23). Pertanyaannya sekarang, ada berapa banyak dari yang hadir mengenal Yesus sebagai Juru Selamat yang sudah lama dinanti-nantikan? Ratusan orang? Puluhan? Ternyata sedikit sekali. Alkitab bahkan jelas-jelas menyatakan bahwa hanya dua orang saja yang mengenalNya, yaitu Simeon dan Hana. Bayangkan, dari sekian banyak orang yang hadir disana hanya dua orang yang benar-benar mengenali Yesus.

Siapakah Simeon dan Hana sebenarnya? Mengenai Simeon, Alkitab mencatat seperti ini. "Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan." (Lukas 2:26). Sedangkan Hana adalah seorang janda tua berusia 84 tahun. Alkitab menyatakan bahwa "Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa." (ay 37).

Faktanya hanya kedua orang inilah yang mampu melihat bayi Yesus sebagai Mesias sesungguhnya yang telah lama ditunggu-tunggu. Simeon dan Hana telah sejak lama menantikan kedatangan Yesus di muka bumi ini. Kerinduan mereka untuk melihat Yesus dapat kita lihat dari ketekunan dan usaha mereka dalam menantikan kedatanganNya. Bahkan kepada Simeon Roh Kudus menyatakan bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias dengan mata kepalanya sendiri. (ay 26). Simeon terus menanti dengan pengharapan penuh, hatinya haus untuk bertemu dengan Yesus. Pada hari itu Roh Kudus membimbingnya untuk menuju Bait Allah (ay 27) dan akhirnya berhasil bertemu dengan Mesias yang dijanjikan.

Dengan lantang Simeon berkata "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." (ay 29-32). Simeon mampu melihat dengan jelas siapa bayi yang tengah ia gendong. Demikian pula Hana yang langsung mengucap syukur kepada Allah. (ay 38).

Apakah jemaat lain melihat hal yang sama? Sayang sekali tidak. Tampaknya selain Simeon dan Hana, yang lain tidak memiliki kerinduan yang sama. Mungkin mereka sibuk dengan agenda sendiri, mungkin mereka hanya semata menjalankan rutinitas, atau mungkin saja mereka tidak peduli sama sekali. Yang jelas, mereka tidak bisa melihat siapa Yesus sebenarnya. Kehadiran Yesus tepat di depan mereka nyatanya tidak kunjung menggerakkan hati mereka untuk bersyukur atas keselamatan yang akan hadir sebagai anugerah dari Allah.

(bersambung)


Saturday, May 20, 2017

Jala Petrus (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Paulus tidak berhenti sampai disitu. Ia lebih jauh menjelaskan bahwa Tuhan sanggup melimpahkan segala kasih karuniaNya bahkan hingga berkelebihan, dan ini semua bukan untuk memperkaya diri, menyombongkan diri dan dinikmati sendiri dengan serakah, melainkan untuk dipakai beramal, memberkati orang lain. "Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan." (ay 8). Dalam versi lain dikatakan "Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal."  

Tuhan punya kemampuan atau kuasa lebih dari cukup untuk melimpahi kita dengan berkat, tetapi penting bagi kita untuk mengetahui untuk apa itu diberikan. Benar, semua itu Dia sediakan agar kita tidak kekurangan dan mampu memiliki apa yang kita butuhkan dalam hidup, tetapi terlebih pula itu bertujuan agar kita punya cukup bekal untuk berbuat baik dan beramal. Dalam kesempatan lain, Petrus mengingatkan hakekat penting dari menerima berkat.  "....hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat." (1 Petrus 3:9)

Kita harus mengerti bahwa berkat-berkat yang kita peroleh adalah titipan Tuhan yang bukan untuk ditumpuk demi kepuasan diri sendiri tetapi seharusnya kita pakai untuk memberkati sesama. Berkat yang berasal dari Tuhan berbicara luas lebih dari sekedar harta atau uang. Ada berkat-berkat lain seperti kesehatan, kemampuan untuk melakukan sesuatu, keahlian, talenta-talenta yang dibekali Tuhan, semua itu bisa kita pergunakan untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Terus mengejar harta akan menimbulkan sikap tamak yang bisa mengarah kepada begitu banyak dosa. Perhatikan pula sudah dikatakan bahwa cinta uang merupakan akar dari segala kejahatan. Hal ini disampaikan Paulus "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. "Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka." (1 Timotius 6:10).

Yesus sudah menyampaikan bahwa fokus yang benar adalah menimbun harta di surga dan bukan di bumi, dimana ngengat dan karat serta pencuri akan selalu ada untuk menghilangkan dan menghancurkannya. (Matius 6:19-20). Menimbun harta di surga bukan dengan menumpuk uang seperti yang dipercaya dunia mampu menjamin kebahagiaan melainkan dengan memberi, dengan memberkati orang lain, membantu mereka yang tengah menderita dan membutuhkan uluran tangan kita. Ingatlah selalu bahwa kita memperoleh berkat adalah agar kita bisa memberkati orang lain lewat segala yang kita miliki. Singkatnya, kita diberkati untuk memberkati.

Ketamakan tidak akan pernah membuat kita puas tetapi justru membuat kita tersiksa dalam berbagai duka

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, May 19, 2017

Jala Petrus (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Sifat tamak atau rakus tidak akan pernah membawa kebaikan. Bukan saja semua harta itu tidak bisa dibawa mati, tetapi itu akan mengarahkan pelakunya pada berbagai bentuk tindakan kejahatan. Bukannya untung tapi malah buntung. Harta ludes, keluarga berantakan, nama baik tercemar dan harus rela mendekam di balik jeruji tahanan untuk waktu yang lama.

Sebuah contoh ,menarik bisa kita lihat pada saat Yesus melakukan mukjizat atas Petrus ketika masih berprofesi sebagai nelayan dalam Lukas 5:1-11. Perikop ini secara umum kebanyakan dipakai untuk mengajarkan kita soal ketaatan agar bisa menerima berkat, mukjizat dan kuasa Tuhan. Tapi sesungguhnya ada hal menarik lainnya yang bisa kita teladani dalam hal kebaikan hati untuk berbagi.

Kisah ini sendiri sebenarnya sudah sagat tidak asing lagi bagi kita. Pada suatu hari Petrus tidak memperoleh seekor ikan setelah berlayar. Pada saat Yesus memakai perahunya untuk mengajar diatasnya, Yesus menyuruh Petrus untuk menolakkan perahunya lebih ke tengah dan menebarkan lagi jalanya. Sebagai seorang nelayan, tentu Petrus tahu kapan ia harus menebar jala dan dimana itu harus ia lakukan agar bisa mendapat banyak tangkapan. Tapi ketaatan Petrus teruji disini. Lihatlah apa katanya. "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."(Lukas 5:5).

Yang terjadi selanjutnya sungguh luar biasa mencengangkan! Alkitab mencatat seperti ini: "Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak." (ay 6). Bayangkan kalau Petrus punya sifat tamak, ia tentu akan rugi. Apa gunanya jala kalau koyak? Kalaupun ia tumpahkan di kapal, lama kelamaan kapalnya bisa tenggelam tertimbun ikan.

Ayat bacaan kita hari ini menyatakan apa yang terjadi setelahnya. "Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam." (Lukas 5:7). Ada dua hal yang bisa kita lihat dari bagian ini. Pertama, Petrus tidak tamak dan memanggil teman-temannya untuk berbagi tangkapan. Kedua, setelah cukup, mereka pun berhenti. Kalau mereka punya sikap tamak, mereka bisa saja bolak balik dari pinggir pantai ke tengah untuk menangkap ikan sebanyak mungkin. Bukankah semakin banyak ikan yang ditangkap semakin besar pula untungnya? Tapi dia tidak melakukan itu. Petrus berbagi berkat dengan teman-temannya dan ia pun tahu kata cukup, kapan ia harus berhenti.

Dalam suratnya untuk jemaat Korintus Paulus menuliskan hal yang penting untuk kita perhatikan. "Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita."(2 Korintus 9:6-7).

(bersambung)


Thursday, May 18, 2017

Jala Petrus (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 5:7
==================
"Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam."

Suatu kali teman saya yang berprofesi sebagai guru menceritakan sifat seorang anak didiknya yang sudah tamak padahal masih kecil. Di sebuah pesta ulang tahun temannya, si anak ini berusaha untuk makan kue sebanyak-banyaknya. Apakah ia lapar? Bukan. Ia suka sekali dengan kue itu? Rasanya juga bukan. Ia mengakui bahwa ia berusaha menghabiskan kue bukan karena suka tetapi karena tidak ingin kue tersebut disantap teman-temannya yang lain. "Daripada dimakan mereka, lebih baik saya yang makan", katanya. Teman saya sempat menegurnya secara halus, tapi ia tidak peduli. Sepulang pesta si anak ternyata mengalami masalah dalam pencernaannya. Ia terus bolak balik ke toilet lalu mendapat perawatan medis. Akibatnya ia tidak bisa belajar di sekolah selama beberapa hari.

Cerita teman saya ini membuktikan bahwa ternyata tamak sudah menjangkiti manusia sejak kecil. Siapa yang mengajarkan? Saya percaya tidak ada orang tua yang mengajarkan anaknya secara khusus untuk menjadi tamak, tidak suka berbagi dan sirik. Anak yang terlalu dimanja bisa terkena penyakit ini. Ketamakan pada akhirnya tidak akan mendatangkan kebaikan melainkan masalah dan kerugian. Masih mending kalau kerugian yang diderita sedikit, bagaimana kalau besar atau mendatangkan malapetaka?

Saya pun teringat dengan salah satu hikayat seribu satu malam yang terkenal yaitu tentang Ali Baba. Pagi ini saya teringat akan kisah Ali Baba. Ceritanya ialah  tentang Ali Baba yang secara tidak sengaja melihat 40 penyamun berada di depan sebuah gua yang ditutupi sebuah batu besar. Ketika mereka mengucapkan "abrakadabra", batu pun bergeser sehingga gua kemudian terbuka. Ali Baba hanya memperhatikan dari tempat persembunyiannya dan menanti hingga ke 40 penyamun itu pergi meninggalkan gua. Setelah ia sendirian, ia pun mengucapkan kata yang sama di depan gua. Batu kemudian bergeser dan masuklah Ali Baba ke dalam. Ternyata apa yang ada di dalam adalah gua yang penuh harta karun. Ali Baba ternyata tidak tamak. Ia hanya mengambil secukupnya lantas pulang.

Tapi kemudian kisah mengenai gua harta karun ini sampai ke telinga Kasim, saudaranya. Kasim pun mengikuti jejak Ali Baba dan masuk ke dalam gua. Seperti Ali Baba, ia pun takjub melihat harta berlimpah di dalam gua. Tetapi selanjutnya kita bisa melihat perbedaan nyata antara Ali Baba dan Kasim. Tidak seperti Ali Baba, Kasim bersikap tamak dan ingin menguasai semua. Ia pun sibuk mengumpulkan semua harta melebihi apa yang mampu ia angkut. Dan saking sibuknya, ia pun lupa kata kunci untuk membuka kembali pintu gua. Akibatnya fatal. 40 penyamun kembali kesana dan mendapati Kasim terperangkap ketakutan di dalam. Mereka pun membunuhnya.

Kita mungkin berkata bahwa itu adalah hukuman bagi orang tamak. Yang tidak kita sadari, ada banyak diantara kita yang mengira bahwa kita tidak seperti Kasim padahal tanpa sadar kita semakin lama semakin mirip dengannya. Ada banyak yang terus berburu harta, menimbun kekayaan tanpa pernah puas. Mereka lupa bahwa sekali mereka terseret pusaran arus materi. Semakin jauh terseret maka akan semakin pula sulit lepas. Bukannya cukup, tapi malah makin parah terus merasa makin kurang. Akibatnya mereka ini pun akan  makin kemaruk.

Tidak heran apabila kita terus melihat semakin banyak orang yang harus menerima konsekuensi dibui selama bertahun-tahun karena tergiur untuk melakukan korupsi demi kepuasan diri sendiri. Mereka tidak segan mengambil apa yang bukan menjadi hak mereka, merugikan orang lain maupun negara dan pada akhirnya hukuman beratlah yang harus mereka terima. Kita hanya menuntut berkat dari Tuhan tanpa mau memberkati orang lain lewat segala yang Tuhan beri. Kita hanya mau menuai, tanpa mau menabur. Jika saya ibaratkan kita sebagai petani, bagaimana mungkin seorang petani bisa menuai hasil ladang jika ia tidak pernah menabur benih?

(bersambung)


Wednesday, May 17, 2017

Mengatasi Mood Buruk (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kita bisa melihat bahwa Yesus tahu betul apa yang menjadi tugas atau 'makananNya', seperti yang dicatat dalam ayat berikut: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya." (Yohanes 4:34). Belajar dari hal ini, kita pun perlu benar-benar tahu terlebih dahulu apa yang menjadi panggilan dan tugas kita agar kita mampu mengatasi masalah mood ini. Tanpa tahu panggilan kita maka akan sangat sulit bagi kita untuk tetap fokus dalam mengeluarkan yang terbaik dari diri kita.

Para murid dan Rasul setelahnya pun sama. Meski apa yang mereka hadapi sangatlah sulit, mereka tidak patah semangat dalam melakukannya. Lihatlah 'curhat'-an Paulus berikut ini: "Apakah mereka pelayan Kristus? --aku berkata seperti orang gila--aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat." (2 Korintus 11:23-28). Lihatlah betapa mahalnya harga yang harus dibayar Paulus untuk menyampaikan berita keselamatan bagi manusia.

Atas segala penderitaan itu, bukankah Paulus punya lebih dari cukup alasan untuk berhenti melakukannya? Jangankan hanya masalah mood, apa yang harus ia hadapi sangat mengancam nyawa dan mendatangkan penderitaan dan rasa sakit. Tapi kita bisa melihat bagaimana sikapnya untuk terus fokus dan tidak tunduk kepada mood dan penderitaan fisik maupun psikis dalam menjalankan panggilannya. Dan itu semua ia katakan untuk memelihara semua jemaat-jemaat yang diberikan Tuhan kepadanya, menyampaikan berita keselamatan dan menjaga mereka semua untuk tetap berada pada jalan tersebut. Apabila Paulus tergantung pada mood dan kenyamanan dalam menjalankan tugasnya maka ia tidak akan pernah bisa berhasil dengan luar biasa membawa dampak terhadap pewartaan tentang kabar keselamatan dan pengajaran tentang kebenaran menurut pewahyuan Allah untuk manusia sepanjang masa.

Mari kita pastikan jangan sampai mood mempengaruhi kinerja kita. Kita tidak boleh tergantung pada mood tetapi justru harus mampu mengendalikan atau bahkan menciptakan mood positif dalam bekerja. Itu tidak mudah dan butuh proses, tetapi mulailah sekarang juga agar jangan lebih banyak lagi waktu yang terbuang sia-sia. Kemampuan, bakat, tingginya pendidikan, ketrampilan dan sebagainya memang sangat penting, tetapi mood seringkali menjadi penghalang terbesar kita untuk sukses. Jangan pakai alasan mood untuk membenarkan minimnya produktifitas kerja kita. Jangan biarkan mood membelenggu kita untuk maju, bertumbuh dan berhasil untuk mencapai semua rencana Tuhan yang gemilang atas diri kita. Atasilah segera agar anda bisa memberikan hasil yang terbaik dalam segala sesuatu yang anda lakukan atau kerjakan.

Decide every morning that you are in a good mood

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, May 16, 2017

Mengatasi Mood Buruk (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Markus 6:31b
=================
"Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat."

Sebagai penulis, kata deadline merupakan makanan saya sehari-hari. Selain menulis sesuai profesi saya, setiap harinya saya juga harus memastikan artikel renungan ini yang sudah berlangsung selama 10 tahun. Mau tanggal merah mau hitam saya sudah berkomitmen untuk meluangkan waktu untuk menulis. Sedang sibuk? Atau bahkan sedang sakit? Yang namanya deadline tetaplah deadline. Sejak beberapa tahun lalu saya melatih diri agar kualitas kerja saya jangan sampai tergantung dari kondisi saya. Maksudnya, kalau saya sedang kurang sehat, sedang kesal, sedih, sedang kecapaian, mengantuk atau sedang pusing karena banyak masalah, kualitas kerja haruslah sama dengan saat saya sedang baik-baik saja. Saya melatih diri agar pekerjaan saya jangan sampai tergantung mood. Kalau sampai mood yang mengatur ritme saya, kalau saya sampai kalah dari mood, bagaimana saya bisa menyelesaikan tugas-tugas saya sesuai deadline?

Dari pengamatan saya, salah satu kendala terbesar penghalang orang untuk maju, mengalami peningkatan, berhasil dan bertumbuh hari ini ada pada mood. Banyak sekali orang yang dengan mudah menyerah pada moodnya. Kualitas kerja mereka bisa jauh berbeda pada saat sedang mood dan tidak mood. Seperti anda dan orang-orang lainnya, saya pun terkadang berada dalam situasi tidak mood untuk menulis karena kelelahan, tidak fit dan sebagainya. Tetapi saya sudah membuktikan bahwa kita bisa mengatur mood dan bukan sebaliknya. ketika saya terus fokus dalam menjalani tugas-tugas saya sesuai komitmen dan tanggung jawab, inspirasi mengalir juga dengan sendirinya.

Ada banyak orang yang saya kenal punya potensi besar, tetapi apa yang menjadi kendala adalah betapa seringnya mood menghalangi mereka untuk mengeluarkan yang terbaik dari diri mereka. Mereka berpikir bahwa mereka tidak bisa melakukan apa-apa dalam mengatasi mood yang tidak stabil ini, tetapi sesungguhnya kita bisa menundukkan atau bahkan menciptakan mood untuk memberi hasil yang terbaik dari segala sesuatu yang kita kerjakan. Singkatnya mood bisa naik turun, itu lumrah, tetapi jangan sampai itu menghalangi kita untuk maju.

Akan hal ini kita bisa belajar lewat Yesus sendiri dalam masa-masa pelayananNya di muka bumi ini. Dalam menjalankan tugas dari Allah Bapa, seringkali Dia dan murid-muridNya dikerubungi ribuan orang sekaligus dengan permasalahan sendiri-sendiri. Anda bisa bayangkan betapa beratnya tugas itu. Seandainya Yesus punya sikap yang gampang tunduk terhadap mood ini, entah apa nasib kita hari ini.

Kita bisa mengambil contoh dalam Markus 6 ketika Yesus dan murid-muridNya tengah melayani begitu banyak orang. Saat itu Yesus menyadari dan mengerti bahwa murid-muridNya bisa mengalami kelelahan apabila terus menerus melayani ribuan orang tanpa henti.Alkitab mencatat: "Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat." (Markus 6:31b). Seperti itulah parahnya kesibukan mereka. Karena itu Yesus pun mengajak mereka untuk pergi ke tempat sunyi sejenak untuk beristirahat. (ay 31a).

Apa yang terjadi selanjutnya? Ketika mereka berangkat dengan perahu untuk menyendiri sejenak, ribuan orang itu masih terus berlari mengikuti mereka lewat jalan darat. (ay 33). Yesus dan para murid sudah sangat lelah. Tetapi melihat begitu banyaknya manusia yang butuh pertolongan, "maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka." (ay 34). Yesus memilih untuk mengatasi moodnya dengan rasa belas kasihan sehingga Dia terus melanjutkan pelayanannya. Dan selanjutnya dari kisah ini kita bisa melihat datangnya mukjizat lewat lima roti dan dua ikan yang sudah sangat kita kenal dengan baik.

Yesus menunjukkan sikap yang fokus kepada tugas dan tidak tunduk kepada mood dalam menjalankannya. Bagaimana Yesus bisa seperti itu? Caranya adalah dengan mengetahui garis tugas atau panggilan dan kemudian terus memfokuskan diriNya secara penuh terhadap tugas yang dibebankan Bapa kepadaNya itu. Dan tentu saja itu Dia lakukan dengan rasa belas kasihan yang Dia miliki atas manusia.

(bersambung)


Monday, May 15, 2017

Mari dan Lihatlah (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Jika kita mundur sehari sebelum kisah perjumpaan Natanael dan Yesus, kita menemukan kisah waktu Yesus mengundang dua murid Yohanes dengan kalimat yang sama. "Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu cari?" Kata mereka kepada-Nya: "Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?" (Yohanes 1:38). Ketika mereka bertanya dimana Yesus tinggal, Yesus kemudian menjawab: "Marilah dan kamu akan melihatnya." (ay 39a). "He said to them, Come and see." Mari dan lihatlah sendiri. Yesus bukan sedang ingin mereka melihat dekor rumah, perabotan, warna cat dan sebagainya, bukan mau menunjukkan terbuat dari apa lantai, dinding dan sebagainya, bukan ingin menunjukkan apakah Dia tinggal gedung mewah atau gubuk kumuh, tapi yang ingin Yesus perkenalkan adalah PribadiNya, hatiNya, sehingga Dia disebut Yohanes sebagai Anak Domba Allah. Maka Yesus sendiri pun mengundang mereka.

"Apakah kamu ingin mengenal hatiKu? apakah kamu ingin tahu apa yang menurutKu penting untuk kamu lakukan? Apakah kamu ingin tahu bagaimana Aku memberkatimu? Apakah kamu ingin mengenal atau bahkan melihat Tuhan? Kalau ya, "mari datang dan lihatlah." Seperti itulah kira-kira yang akan diucapkan Yesus kepada orang untuk mengenalNya lebih jauh. Begitu orang mengenal Yesus maka mereka pun akan mengenal Allah. "Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia." (Yohanes 14:7).

Yesus tetap mengetuk pintu hati siapapun untuk mengenalNya. Dia membuka diri lebar-lebar, bahkan mau terlebih dahulu mengetuk pintu hati siapapun tanpa menunggu kita yang datang kepadaNya. "Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku." (Wayhu 3:20).

Itulah yang saya alami sendiri saat saya bertobat dan menerimaNya sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Orang bisa mengenal Dia lewat tulisan-tulisan di dalam Alkitab menggambarkan dengan jelas seperti apa pribadi Kristus yang patut diteladani, tujuan kedatangan Kristus ke dunia dan apa yang Dia tebus lewat kematianNya di kayu salib. Begitu banyak nubuatan-nubuatan yang bahkan sudah hadir sebelum Kristus turun ke dunia. Kebangkitan Yesus yang disaksikan bukan hanya satu-dua orang, tapi begitu banyak orang pun dicatat alkitab membuktikan dengan jelas siapa Yesus sebenarnya.

Tapi jangan lupa satu hal yang penting, bahwa orang bisa mengenal Kristus lewat kesaksian kita, lewat sikap dan perilaku orang percaya dalam kehidupan sehari-hari. Itulah sebenarnya yang ideal. Sebagai murid Yesus, kita harus mampu mencerminkan Yesus yang jika kita amalkan sungguh-sungguh akan membuat kita terlihat berbeda dari kebiasaan dunia. Ketika para murid Yesus datang memenuhi undangan Yesus dan kemudian mengenal Dia, mereka pun langsung mengakui bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan, dan tanpa ragu segera menjadi murid-muridNya, termasuk Natanael pun berkata: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" (Yohanes 1:49).

Untuk bisa mengenalNya dengan baik dan benar, kita harus mau membuka pintu hati kita dan membiarkan mata hati kita melihatNya dengan jelas. Yang pasti, Yesus terus mengetuk hati kita setiap saat, dan Dia terus menanti kita untuk membuka pintu agar Dia bisa masuk membawa keselamatan. Hingga hari ini Dia tetap mengundang siapapun untuk "datang dan melihat",  mengenalNya dan kemudian menerimaNya agar siapapun bisa mengetahui dengan benar siapa Dia yang sebenarnya dan seperti apa besar kasihNya kepada kita.

Lewat hidup, kesaksian, perbuatan dan perkataan kita, kita bisa memperkenalkan sosok Yesus yang sebenarnya kepada orang lain. Itu akan jauh lebih efektif ketimbang mengkotbahi atau menceramahi orang seperti kekeliruan persepsi banyak orang. Yesus mengundang siapapun untuk mengenalNya. Filipus mengajak Natanael untuk datang dan melihatNya terlebih dahulu, kita pun seharusnya demikian. Dengan gaya atau cara hidup sendiri, kita berkesempatan untuk mengundang orang untuk mengenalNya. Karena hiduplah seturut kehendakNya, adopsi prinsip Kerajaan dan aplikasikan kebenaran dalam segala sisi kehidupan sehari-hari dan undanglah orang untuk melihat seperti apa pribadi dan hati Yesus itu sesungguhnya.

Come and see yourself who He really is

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, May 14, 2017

Mari dan Lihatlah (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yohanes 1:47a
=====================
"Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!"

Apabila anda diundang menonton sebuah konser dan anda memutuskan untuk tidak datang. Dengan sendirinya anda pun tidak melihat jalannya konser, tapi kemudian diminta untuk menceritakan secara detail apa yang terjadi disana. Itu tentu tidak mungkin bukan? Kalaupun dipaksakan maka cerita anda bisa ngawur karena dikarang-karang sendiri. Anda mungkin bisa bertanya kepada yang hadir disana saat itu, tapi itupun pasti tidak sedetail atau seakurat kalau kita melihatnya sendiri secara langsung. Bagi saya yang berprofesi sebagai jurnalis, saat melakukan peliputan saya wajib hadir disana secara langsung, atau lebih baik tidak menulis apa-apa tentang acara karena saya harus menjaga kredibilitas dengan tidak menuliskan apa yang tidak saya lihat atau ketahui.

Kita bisa gagal melihat sesuatu yang benar ketika mata hati kita tertutup oleh banyak hal. Emosi, pikiran negatif, kebencian, ego, sinis dan sebagainya, itu bisa membuat pandangan kita terhalang. Akibatnya kita hati kita bisa menjadi buta karena tidak bisa lagi melihat dengan jelas. Dan itu akan berdampak kepada banyak hal, salah satunya adalah kebiasaan menuduh atau menghakimi, mengeluarkan pernyataan atau penilaian terburu-buru, mengomentari tanpa mengetahui, mengatai tanpa mengenal. Pada kenyataannya ada banyak orang yang kerap terburu-buru menilai ketimbang melihat terlebih dahulu. Itulah yang bisa terjadi jika kita tidak mau melihat sesuatu dengan benar terlebih dahulu, atau ketika pandangan mata terhalang/dihalangi oleh berbagai macam hal.

Pada saat Natanael mendengar tentang Yesus, reaksinya skeptis bahkan negatif. Secara spontan sikap negatifnya terlontar saat mendengar tentang seseorang yang datang dari Nazaret, sebuah kota yang menurut Natanael tidak ada baiknya. Ujarnya: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" (Yohanes 1:46). Ia sudah langsung buru-buru menyimpulkan sebelum ia mengenal Kristus lebih jauh terlebih dahulu.

Bukankah hal yang sama masih terjadi hari ini? Ada banyak pandangan skeptis tentang Yesus. Tidak sedikit yang mengejek, menghina bahkan menghujat Yesus bahkan dengan menggunakan kata-kata yang jauh dari norma kesopanan. Dalam menghadapi bentuk intimidasi atau hinaan, apakah orang percaya perlu ikut-ikutan berkata kasar bahkan tidak jarang malah menjadi penyulut pertengkaran. Perlukah kita emosi dan membalas dengan kembali mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas? Tentu saja tidak, sebab dengan berlaku sama seperti mereka, dan itu sama artinya kita tidaklah merepresentasikan sosok Kristus yang sebenarnya. Itu artinya kita bukannya membukakan mata orang lain untuk mengenal Yesus, tetapi malah sebaliknya semakin menghalangi pandangan mereka.

Tapi apakah sikap skeptis atau kontra itu hanya orang yang tidak percaya? Anda mungkin terkejut apabila di antara orang percaya pun ada yang masih saja bersikap seperti itu meski mungkin tidak kasar dan blak-blakan. Mengaku percaya tapi tidak yakin Yesus bisa menolongnya, mengaku percaya tapi memungkiri kekuatan kuasaNya. Mengaku taat tetapi masih mencoba mencari pertolongan lewat hal-hal yang menduakan Allah.

Ketika Natanael berkata: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" (Yohanes 1:46), ternyata reaksi Filipus sebagai lawan bicaranya bereaksi tenang dengan menjawab: "Mari dan lihatlah!" (ay 47a). Come and see. Know Him first before you judge or say anything.

Yesus secara tegas mengatakan bahwa Dialah jalan dan kebenaran dan hidup. (Yohanes 14:6). Yesus adalah pintu yang menuju keselamatan (Yohanes 10:9). Yesus adalah juru selamat dunia (Yohanes 4:42), Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yohanes 1:29). Kita mungkin percaya, tapi bagaimana kita mengenalkan Kristus kepada mereka yang skeptis, anti atau menolak? Apakah lewat pemaksaan, kekerasan atau bentuk intimidasi lainnya seperti yang dilakukan sebagian orang atau kelompok diluar sana? Tidak, kekristenan tidak mengenal kekerasan, sebab ada tertulis "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:8).

Apa yang bisa kita lakukan adalah seperti cara Filipus yang berkata: "mari dan lihatlah." Ini sebuah bentuk ajakan simpatik tanpa pemaksaan atau emosi agar seseorang mengenal Kristus terlebih dahulu sebelum menyimpulkan apa-apa. Dalam ayat 47 di atas, reaksi Yesus pun ternyata sama. Alih-alih marah atau tersinggung atas komentar spontan Natanael, Yesus bereaksi seperti ini: "Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" (ay 47b). Lihatlah bahwa Yesus sendiri mau membuka diri dan tidak menolak Natanael, meski ia sudah berkata negatif tentang Dia sebelumnya.

(bersambung)


Saturday, May 13, 2017

Berjaga dan Berdoa

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 26:41
==================
"Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."

Jika anda akan menghadapi serangan, apa yang akan anda lakukan? Anda tentu mempersiapkan diri dengan baik, menjaga wilayah anda dengan penuh kewaspadaan agar tidak disusupi atau diserang musuh. Sepasang mata, sepasang telinga yang awas, mewaspadai setiap sisi dan memastikannya agar tetap aman. Bersiap dan berjaga saja belumlah cukup, karena dalam keadaan seperti itu kita mudah kalut, kuatir, takut dan panik. Karenanya kita perlu sesuatu untuk menenangkan hati dan pikiran. Doa biasanya mampu kembali menyejukkan hati, membuat kita kembali tenang. Tapi dalam posisi sebaliknya, berdoa saja tanpa disertai kewaspadaan bisa membuat kita lengah.

Apakah kita sadar bahwa dalam hidup pun kita senantiasa beresiko mendapat serangan? Mungkin bukan dari manusia atau balatentara melainkan dari si jahat yang bisa melancarkan serangan dalam berbagai bentuk. Kalau hal-hal yang jelas jahat bisa kita hindari, bagaimana dengan godaan-godaan yang datang dalam berbagai bentuk atau kemasan yang menipu? Pada kenyataannya iblis suka memerangkap kita dalam dosa, dan itu seringkali dilakukan lewat hal-hal yang secara sepintas tampak menyenangkan. Sedap dan nikmat. Dia akan selalu mengaum mencoba untuk mencari titik lemah dan memangsa kita.

Kalau lewat cara terang-terangan tidak mempan, dia cukup pintar untuk mencoba mempengaruhi kita lewat hal-hal yang mungkin tidak terlalu kita pusingkan, alias dosa-dosa 'kecil' seperti yang saya sampaikan kemarin. Iblis akan selalu mencari celah lewat kelemahan kita, dan sebagai manusia kita selalu punya titik-titik lemah yang berpotensi menjadi pintu masuknya. Kita menghindari dosa-dosa yang jelas nyata tapi cenderung memberi toleransi untuk masuknya dosa-dosa yang kita anggap kecil dan menganggapnya sebagai sebuah kewajaran atau manusiawi. Padahal kalau itu terus kita biarkan, suatu saat ketika kita sadar, bisa jadi kita sudah sulit melepaskan diri dari jeratan dosa yang membinasakan.

Keinginan daging kita selalu menginginkan segala sesuatu yang enak, nikmat, nyaman dan menyenangkan. Sebaliknya keinginan Roh kerap dianggap sebagai sesuatu yang membatasi atau merusak kesenangan kita. Kita berpikir, sedikit melanggar untuk bersenang-senang seharusnya tidak apa-apa. Kan cuma sekali-kali saja.  Pikiran seperti itu sering hadir dalam benak setiap orang. Kita rasa itu wajar, padahal disanalah iblis sedang mengintip dan bersiap untuk menerkam kita hidup-hidup. Anda bayangkan apabila anda membiarkan ada celah yang tidak terawasi saat berjaga dari serangan, itu bisa sangat fatal. Sedikit saja celah yang kita buka bisa sangat berbahaya baik bagi kehidupan  yang sekarang maupun bagi keselamatan kekal.

Alkitab mengatakan bahwa seringkali dosa bukan datang secara tiba-tiba melainkan melalui sebuah proses yang berawal dari ketidakmampuan kita mengatasi keinginan-keinginan daging kita. Lihat ayat berikut: "..tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut." (Yakobus 1:14-15). Ayat ini secara jelas menggambarkan proses mulai dari masuknya dosa yang pada akhirnya melahirkan maut. Mulai dari cobaan lewat keinginan-keinginan sendiri, lantas terseret dan terpikat, dibiarkan terus hingga berbuah dan melahirkan dosa, dan saat dosa sudah lahir, maka maut pun menanti disana. Itu artinya kita harus benar-benar berhati-hati terhadap penyimpangan-penyimpangan kecil yang kita anggap sepele. Jangan sampai hal-hal kecil yang tidak kita perhatikan itu kemudian berbuah menjadi dosa yang melahirkan maut.

Apa yang harus kita perhatikan dengan sepenuhnya sudah disampaikan pada kita. Kita harus berusaha untuk sepenuhnya hidup dalam Roh dan bukan menuruti keinginan daging seperti yang dinyatakan dengan jelas dalam Roma 8:1-17. Mengapa? "Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera." (Roma 8:6). Sepintas keinginan-keinginan daging memang terlihat menggoda lewat kenikmatannya, tetapi berhati-hatilah karena semua itu bisa melahirkan dosa berujung maut. "Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup." (ay 13). Kita bisa melihat pula bagaimana hidup menurut daging dan Roh dalam Galatia 5:16-26.

Lalu bagaimana? Yesus sudah mengingatkan dengan tegas agar kita mewaspadai benar-benar keinginan-keinginan yang berasal dari daging ini. "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Matius 26:41). Firman Tuhan mengatakan kita harus berhati-hati, harus waspada, karena daging sebenarnya sangat lemah atau rentan terhadap godaan.  Terlebih karena keinginan daging justru bisa memikat kita lebih daripada roh. Pada saat roh kita kalah dibandingkan daging, maka berbagai hal jahat pun berpotensi menghancurkan kita.

Bagaimana caranya agar kita mampu mengatasi godaan-godaan dari kedagingan ini? Dari ayat ini kita bisa membaca bahwa metode yang diberikan Yesus adalah: "berjaga-jagalah dan berdoalah." Jangan hanya serius pada satu hal tapi mengabaikan yang lain, jangan cuma rajin berdoa tapi lengah berjaga-jaga. Sebaliknya jangan pula tekun berjaga-jaga tapi jarang berdoa. Bukan salah satu tetapi dilakukan bersama-sama. Berjaga-jaga, berdoa. Berdoa, berjaga-jaga. Itulah kunci utama agar kita tidak menyerah kepada jebakan si jahat yang seringkali masuk melalui berbagai keinginan daging kita yang lemah.

Marilah kita sadari pentingnya hal ini sekarang juga. Mulailah sejak awal membentengi diri kita dengan baik agar hari demi hari bisa kita lalui penuh kemenangan bersama Tuhan. Jangan lewatkan saat-saat teduh dimana kita bisa membangun hubungan yang terus lebih dalam dengan Tuhan. Jangan berhenti untuk terus membekali diri kita dengan Firman Tuhan yang hidup. Jangan menghindar tapi tetaplah biasakan diri untuk bersekutu bersama saudara-saudari seiman yang bisa saling menguatkan satu sama lain. Dan tetap libatkan Tuhan dalam apapun yang anda lakukan. Sadari pentingnya membangun komitmen yang kuat untuk hidup dalam Roh dan mewaspadai segala keinginan daging kita.

Ada potensi kerusakan akibat dosa meski sekecil apapun, waspadalah

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, May 12, 2017

Dosa Seperti Kerikil Tajam (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kita tidak sadar, bahwa dengan berbuat dosa-dosa yang kita anggap "kecil" lengkap dengan pembenaran-pembenaran versi kita, itu sebenarnya sama saja dengan saat kita melakukan dosa-dosa yang 'besar'. Coba perhatikan pula ayat berikut ini: "Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." (1 Korintus 6:9). Bagi saya ayat ini menjabarkan listing menarik. Lihatlah bahwa dalam rangkaian jenis dosa ini ada yang kita anggap besar dan ada yang cenderung kita abaikan bahayanya. Dan Firman Tuhan dengan tegas mengingatkan kita agar jangan sesat.

Coba pikirkan sejenak, betapa seringnya kita mendapat masalah karena membiarkan kecerobohan, kelalaian atau kekhilafan yang kecil menurut kita? Sebuah hubungan bisa hancur, kerugian dan penderitaan kita maupun orang lain yang jadi korban bisa sangat besar dan sebagainya. Kita cenderung memberi toleransi untuk masuknya dosa-dosa yang kita anggap kecil, menganggap semua itu wajar, manusiawi dan normal-normal saja, dan pada suatu ketika disaat kita sadar, kita sudah sulit melepaskan diri dari jeratan dosa yang membinasakan.

Kedagingan kita selalu menginginkan segala sesuatu yang nikmat, nyaman dan menyenangkan. Sebaliknya keinginan Roh kerap dianggap sebagai sesuatu yang membatasi atau merusak kesenangan kita. Sedikit melanggar asal nikmat, tidak apa-apa kan? Cuma sekali-kali saja kok.. Pikiran seperti itu sering hadir dalam benak kita. Padahal disanalah iblis sedang mengintip dan bersiap untuk menerkam kita. sedikit saja celah yang kita buka bisa beresiko fatal bagi keselamatan kita apabila tidak kita sikapi dengan sungguh-sungguh. Alkitab mengatakan bahwa seringkali dosa bukan datang secara tiba-tiba melainkan melalui sebuah proses yang berawal dari ketidakmampuan kita mengatasi keinginan-keinginan daging kita. "..tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut." (Yakobus 1:14-15). Ayat ini jelas menggambarkan proses dari masuknya dosa yang melahirkan maut. Itu artinya kita harus benar-benar berhati-hati terhadap penyimpangan-penyimpangan kecil yang kita anggap sepele.

Untuk menggenapi tugas dari Allah Bapa, Tuhan Yesus harus rela disiksa, dipaku hingga mati di atas kayu salib demi menebus dosa-dosa kita. Mungkin banyak di antara kita yang selama ini mengira bahwa itu hanyalah untuk menebus dosa-dosa yang dinilai besar, hari ini marilah kita menyadari bahwa Dia pun melakukannya demi dosa-dosa yang kita anggap kecil. Yesus disalibkan karena kemalasan kita. Yesus disalibkan karena gosip-gosip kita. Yesus disalibkan karena kita mengutil barang-barang murah. Yesus disalibkan karena kita memanfaatkan kekeliruan kembalian dari penjual. Yesus disalibkan karena kita membuang sampah sembarangan. Yesus disalibkan karena kita berbohong sedikit yang menurut kita demi kebaikan. Dan segudang dosa-dosa lainnya yang kita anggap tidak ada apa-apanya.

Ingatlah bahwa semua dosa bersifat serius dan memisahkan hubungan kita dengan Allah. Menyadari itu, marilah malam ini kita berhenti mengkategorikan dosa. Mulailah menganggap dosa apapun itu sebagai sesuatu yang serius, dan berani mengakui seluruh dosa kita di hadapan Allah. Kita semua adalah manusia yang lemah, yang setiap saat tidak luput dari dakwaan dan tipu daya iblis. Lawanlah itu dengan membuka semua dosa dihadapan Allah dan sesama kita kemudian berhenti berbuat dosa. Jangan beri iblis peluang untuk menipu kita. Ketika godaan untuk itu datang, ingatlah bahwa Yesus telah disiksa, dipaku dan mati di atas kayu salib untuk seluruh dosa-dosa kita. Hargai dan bersyukurlah atas karya penebusan Kristus dengan berkomitmen untuk tidak berbuat dosa. Every sin is serious, no matter how small you think it is.

Small sins also have big consequences

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, May 11, 2017

Dosa seperti Kerikil Tajam (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yesaya 59:2
==================
"tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu."

Kemarin kita sudah melihat Firman Tuhan yang berkata bahwa mencari keuntungan pribadi lewat berbagai kecurangan mungkin awalnya terlihat sedap tapi itu sesungguhnya bagaikan memasukkan kerikil-kerikil ke dalam mulut. Kalau kita dipaksa mengunyah dan menelan kerikil, itu bisa sangat berbahaya dan menyakitkan. Mulut dan isinya luka, hancur dan bisa membunuh. Kerikil memang kecil, tidak seperti ukuran batu karang, tapi kerikil tetaplah batu yang tajam. Sama seperti kecurangan, mungkin kita pikir akan sangat tergantung dari pintar tidaknya kita menyembunyikannya, tetapi mau tersembunyi atau tidak, kecurangan tetaplah kecurangan, yang sekecil apapun tetap berbahaya dan membinasakan.

Hari ini saya masih ingin mengawali dari kerikil dalam kaitannya dengan dosa. Orang seringkali mengkategorikan dosa sesuai pandangannya sendiri. Ada dosa yang besar, ada dosa sedang, ada dosa kecil. Kita menganggap sedikit melakukan hal buruk itu cuma nakal dan tidak apa-apa. Kalau cuma gosip itu tidak apa-apa. Itu kan jauh dari membunuh orang? Padahal gosip bisa membunuh karakter, membunuh nama baik orang yang berpotensi menimbulkan banyak masalah yang lebih besar. Kita pikir minum minuman keras tidak apa-apa. Padahal sekalinya kita mabuk kita bisa tanpa sadar melakukan tindak-tindak kriminal. Kita pikir berbohong itu tidak apa-apa. Bahkan ada orang yang menganggap ada bohong yang baik, yang di luar sana disebut white lies. Padahal kebohongan bisa menjadi awal dari banyak kejahatan dan datangnya bencana.

Atau bentuk-bentuk kekeliruan pemikiran lainnya seperti ini: kita kan cuma mengutil sesuatu yang murah, bukan mencuri barang ratusan ribu. Cuma berbohong sedikit saja kok, kan saya tidak merampok bank atau membunuh? Saya tidak pakai narkoba, cuma mabuk minuman saja. Ini pun merupakan bentuk pemikiran keliru banyak orang yang membeda-bedakan urusan dosa. Apakah benar ada dosa-dosa yang dianggap kecil lantas kita dapat dispensasi dan bebas dari hukuman? Apakah ada dosa-dosa yang boleh ditolerir dan dianggap sebagai bagian dari sesuatu yang manusiawi?

Prinsip Kerajaan menganggap bahwa dosa tetaplah dosa, tidak peduli berapapun ukurannya menurut kita, no matter what, no matter how. Seperti yang saya sampaikan kemarin, Alkitab mengingatkan kita akan pentingnya menjaga hati agar tidak mudah diprovokasi atau dicemari tipu daya iblis. Hati yang tidak dijaga akan rentan terhadap berbagai kecemaran dan perbuatan jahat, dan kita pun bisa disesatkan dengan menyepelekan dosa-dosa yang kita anggap 'kecil', mengira bahwa kita bisa lolos dari jeratannya.

Dosa tidak memandang besar atau kecil, karena dosa apapun tetap memisahkan kita dari Allah. "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:1-2).

Firman Tuhan bilang bahwa bukannya Tuhan tidak sanggup atau tidak mendengar atau juga tidak peduli terhadap seruan kita, tapi kejahatan kita lah yang memisahkan kita daripadaNya, juga 'SEGALA' dosa kita. Bukan sebagian, bukan sedikit, bukan hanya dosa besar, tapi dikatakan 'SEGALA' dosa. Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa tidak ada dosa kecil dan besar. Dosa mau sekecil apapun tetaplah dosa yang memisahkan kita dari Tuhan, yang membuatNya tidak mendengar seruan, tidak mengulurkan tanganNya untuk menyelamatkan. Baik menyelamatkan kita dari permasalahan di dunia maupun keselamatan kekal yang Dia sudah anugerahkan melalui Yesus.

(bersambung)


Wednesday, May 10, 2017

Makan Kerikil (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Sepintas kita mungkin berpikir bahwa kerikil itu kecil dan tidak separah batu. Tapi bukankah kerikil-kerikil itu tajam dan sudah pasti bakal merusak dan menghancurkan mulut siapapun yang mengunyahnya? Gigi, gusi, lidah, semua jalur pencernaan, semua akan terluka parah. Membayangkannya saja sudah mengerikan. Dan seperti itulah mengerikannya akibat dari segala harta atau keuntungan yang kita peroleh lewat kecurangan atau menipu. Menggiurkan, terlihat sedap, tapi sangatlah berbahaya bahkan bisa mendatangkan malapetaka hingga kematian kalau dilakukan.

Lalu mari kita lihat awal dari ayat bacaan hari ini, yaitu roti hasil tipuan. Roti disini berbicara lebih luas dari sekedar roti biasa. Roti bisa mewakili kebutuhan-kebutuhan jasmani lainnya dan harta kekayaan. Sebuah peringatan yang cukup keras kepada orang-orang yang mencari keuntungan lewat tipuan atau cara-cara curang. Makan roti hasil tipuan mungkin rasanya nikmat dan lezat, tetapi itu sama saja dengan kita memasukkan bukannya roti, tapi kerikil tajam ke dalam mulut. Dan berbagai celaka pun hanya akan menunggu waktu untuk menghancurkan kita.

Dalam kitab Ratapan kita kembali bertemu dengan penderitaan yang digambarkan dengan mulut penuh kerikil karena menempuh cara yang curang. "Ia meremukkan gigi-gigiku dengan memberi aku makan kerikil; Ia menekan aku ke dalam debu" (Ratapan 3:16). Begitu banyak orang yang tidak berpikir panjang dan hanya fokus untuk memperoleh keuntungan cepat lewat cara-cara yang tidak benar. Berpikir cepat tanpa pertimbangan, hanya mengejar keuntungan sesaat tanpa menyadari apa yang nantinya harus siap ditanggung sebagai konsekuensinya. Bencana dan kebinasaan pun menanti mereka-mereka ini. "Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana, dan tongkat amarahnya akan habis binasa." (Amsal 22:8). Hal itu terjadi karena kecurangan adalah sebuah kekejian di mata Tuhan. "Sebab setiap orang yang melakukan hal yang demikian, setiap orang yang berbuat curang, adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu." (Ulangan 25:16). Bukankah sangat disayangkan apabila keuntungan yang hanya bisa dinikmati sebentar saja lewat kecurangan nantinya berubah menjadi bencana penuh penderitaan menuju kebinasaan?

Dalam hidup kita godaan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya akan selalu datang menghampiri. Keinginan untuk memiliki segalanya terus menjadi racun yang siap memangsa kita. Ingat bahwa Tuhan tidak melarang anak-anakNya untuk memiliki banyak harta, tetapi agar kita berhati-hati menyikapi jalan memperolehnya. Dari mana datangnya, apakah merupakan berkat dari Tuhan yang hadir lewat keseriusan dan kejujuran kita dalam bekerja, atau lewat jalan-jalan yang curang atau kejahatan yang tega mengorbankan hidup orang lain.

Tidak akan pernah ada kata cukup bagi mereka yang mendasarkan hidup pada kecintaan terhadap harta benda, dan semua itu akan berakhir sia-sia. "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia." (Pengkotbah 5:10). Sudah sia-sia, itu pun akan menghancurkan kita bagai mengunyah kerikil di mulut. Karenanya kita harus waspada. Keuntungan lewat cara curang mungkin bisa terlihat senikmat dan selezat roti, tapi isinya sebenarnya penuh kerikil yang akan segera menghancurkan kita.

Harta lewat kecurangan mungkin sedap rasanya, tapi itu bagai mengunyah kerikil yang akan membuat kita hancur dengan penuh penderitaan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker