Sunday, December 17, 2017

Pelita Tuhan (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Amsal 20:27
=====================
"Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya."

Beberapa waktu lalu ada seorang tetangga saya yang meminta tolong untuk memeriksa jalur airnya karena air tidak mengalir sejak sore. Tetangga saya ini adalah seorang ibu janda yang tinggal sendirian. Karena ia meminta tolong di malam hari, saya pun harus mempergunakan senter untuk memeriksa jalur pipa airnya mulai dari bak air yang letaknya sekitar 50 meter terus sampai ke rumahnya. Saya menelusuri perlahan terutama pada setiap sambungan. Setelah beberapa waktu, saya menemukan letak permasalahannya, yaitu adanya kebocoran di salah satu bagian yang tertimpa semak dan pecahan batu sehingga sulit dilihat kalau hanya sepintas. Setelah diperbaiki, air pun kembali mengalir dengan lancar ke rumah ibu tetangga saya itu.

Sepasang mata yang diberikan Tuhan akan berfungsi baik dengan adanya terang. Jika mata kita berada dalam kegelapan, maka kedua mata kita akan sulit bekerja, sehingga dalam situasi seperti itu kita membutuhkan alat bantu penerangan Lampu, pelita, senter, lilin, korek api atau cahaya apapun akan sangat membantu agar kita tidak mengalami masalah, seperti terjatuh karena tidak bisa melihat jalan misalnya, juga agar kita bisa melakukan kegiatan di malam hari, seperti kasus ibu tetangga saya di atas. Tanpa bantuan senter, saya tidak akan bisa membantunya karena selain sulit menemukan letak permasalahannya, akan sangat sulit pula untuk memperbaiki kerusakan pada pipa tersebut.

Setelah membahas banyak hal tentang 'hati' dalam renungan-renungan terdahulu, sebuah pertanyaan penting pun hadir. Bagaimana kita bisa mengetahui dengan pasti seperti apa kondisi hati kita saat ini dan apa saja isinya? Apakah kasih, kemurahan, empati atau belas kasihan yang disertai kerinduan untuk melakukan sesuatu, atau kepahitan, kekecewaan, kebencian, iri, dengki, dendam, kemarahan, ketidakpedulian dan sejenisnya? Masih lumayan kalau kita menyadari masalah yang tengah mencemari hati kita karena dengan demikian kita bisa mulai membenahinya. Tapi bagaimana dengan masalah yang tersembunyi sehingga luput dari perhatian kita? Sikap-sikap hati yang sebenarnya buruk tapi kita anggap biasa karena sudah dihidupi selama bertahun-tahun? Hati yang sudah terlanjur diisi kegelapan membuat kita sulit untuk melihat apa isinya terutama yang tersembunyi. Hati kita juga butuh cahaya penerangan supaya kita bisa meneliti isinya dan memastikan agar jangan ada kecemaran hingga ke sudut-sudut terkecil dan terdalam di hati kita.

Hati pun ada matanya. Mata hati yang berfungsi baik harus memiliki terang yang berasal dari Tuhan. Itulah yang akan membuat mata hati kita mampu memahami nilai-nilai kebenaran yang terkandung dalam firman Tuhan, mampu mengingatkan kita untuk menjauhi berbagai bentuk kejahatan dan mengingatkan/menjaga kita agar tidak terjebak pada berbagai perbuatan yang berpaling dari Tuhan.

Seperti halnya sepasang mata fisik kita, mata hati inipun sulit melihat apabila berada dalam kegelapan rohani. Jika Tuhan mengatakan bahwa hati ini harus kita jaga dengan segala kewaspadaan karena dari situlah kehidupan itu terpancar seperti yang disebutkan dalam Amsal 4:23, itu artinya kita harus benar-benar serius menyikapi pentingnya menjaga hati. Kita tidak boleh membiarkan hati nurani kita beku sehingga kita tidak lagi peka terhadap peringatan Tuhan. Sebuah hati yang gelap dan sudah membeku akan membuat kita jauh dari kebenaran, mudah melakukan kejahatan dan tidak lagi memancarkan sebuah kehidupan seperti yang diinginkan Sang Pencipta.

Jadi kita tahu bahwa Tuhan menganggap penting hati dan kerap mengingatkan kita lewat itu. Pertanyaannya, apakah Tuhan memberikan lampu atau pelita agar hati kita tetap terang?

(bersambung)


Saturday, December 16, 2017

Hati Nurani (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Yang ironis, seburuk-buruk orang Farisi dan ahli Taurat pada masa itu, ternyata mereka masih lebih baik daripada sebagian orang yang merasa terdepan dalam soal agama di sekitar kita hari ini. Saat itu dalam menyikapi seruan Yesus para ahli Taurat dan orang Farisi ini ternyata mau mendengar suara hati nuraninya dan kemudian pergi. Jika itu terjadi hari ini, saya rasa sebagian dari mereka malah akan dengan senang hati melempari sampai mati, sekalian Yesus dilempari, karena merasa dirinya paling suci, tanpa dosa, tanpa cela, bersih dan paling benar. Lihat bagaimana perilaku sekelompok orang yang merasa berhak menghakimi dengan jalan-jalan kekerasan dengan mengatas-namakan Tuhan. Apakah hati nuraninya sudah mati? Membeku? Atau isinya memang sudah terlalu banyak yang menyimpang? Entahlah. Hanya mereka yang tahu apa suara hati nurani mereka saat melakukan tindakan-tindakan seperti itu didasari hati yang sudah terkontaminasi dengan kebencian.

Yang pasti, kekerasan tidak akan pernah bisa menjadi solusi penyelesaian masalah. Setidaknya dalam kekristenan kita diajarkan untuk terus mengasihi, dimana di dalamnya kekerasan harus tidak boleh mendapat tempat dalam segala sisi kehidupan kita.

Dalam hal kasih, bukan hanya kita tidak boleh membenci apalagi melakukan kekerasan, Yesus justru mengharuskan kita untuk mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka. "Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5:44). Mengapa harus begitu? "Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar." (ay 45). Ingat pula bahwa dalam prinsip Kerajaan Allah, kasih tidak pernah gagal (1 Korintus 13:8).

Dalam surat Roma disebutkan: "Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela." (Roma 2:15). Hati nurani sesungguhnya merupakan anugerah yang diberikan Tuhan secara langsung untuk membekali setiap manusia sejak diciptakanNya. Semua manusia memiliki hati nurani yang dipakai Tuhan untuk berbicara kepada kita. Tidak satupun orang yang hidup tanpa hati nurani. Kita bukan diciptakan sebagai robot atau patung tanpa jiwa dan roh. Tuhan akan terus berbicara melalui hati nurani, tetapi semua tergantung kita, apakah kita mau mendengarkan atau memilih untuk mengabaikannya.

Hati nurani bisa menegur dan bahkan membuat kita merasa sebagai tertuduh apabila apa yang kita lakukan memang bertentangan dengan kebenaran. Jika ada di antara teman-teman yang saat ini sedang merasa gelisah karena sedang atau akan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani anda sendiri, merasa cemas, kehilangan sukacita atau merasa tertuduh, jangan abaikan sebelum hati nurani anda semakin tumpul dan lama-lama tidak lagi berfungsi. Berdoalah dan mintalah Roh Kudus untuk menerangi hati anda. Ingatlah bahwa Firman Tuhan berkata: "Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya." (Amsal 20:27).  Kita harus serius dalam menjaga kemurnian hati nurani supaya tetap bisa berfungsi baik dalam hidup kita.  Jika anda masih mendengar suara hati nurani, dengarlah dan jangan abaikan karena itu hanya akan membawa kita kepada berbagai macam kesesatan yang pada akhirnya menuju kebinasaan.

"Conscience is the authentic voice of God to you." - Rutherford B Hayes, Presiden Amerika ke 19

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, December 15, 2017

Hati Nurani (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Dalam renungan ini saya ingin membagikan dua kisah yang berkaitan dengan hati nurani. Pertama, sebuah kisah menarik dalam Alkitab yaitu pada saat Paulus ditangkap dan dihadapkan ke depan Mahkamah Agama karena keberaniannya untuk terus mewartakan berita keselamatan dari Kerajaan Allah secara frontal. Kisah ini bisa dibaca dicatat dalam Kisah Para Rasul pasal 22.

Penangkapan itu nyaris membuahkan hukuman cambuk atas diri Paulus. Itu hukuman yang menyakitkan dan tidak main-main. Tapi meski ia dihadapkan ke depan Mahkamah Agama dengan ancaman serius, keberanian Paulus tidak surut sedikitpun. "Sambil menatap anggota-anggota Mahkamah Agama, Paulus berkata dengan lantang: "Hai saudara-saudaraku, sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah." (Kisah Para Rasul 23:1). Paulus tidak berkata, "aduh maaf, tolong ampuni saya. Saya janji tidak akan mewartakan Firman lagi. Jangan siksa saya." Tidak. Ia ternyata segera mengarah kepada kemurnian hati nurani, yang membuatnya tidak goyah terhadap apapun.

Paulus tahu bahwa hati nurani harus tetap dijaga kemurniannya agar ia tahu Ia memilih untuk mendengar, mematuhi dan melakukan apa yang ia dengar dari hati nurani yang tidak bertoleransi terhadap kecemaran. Ia sepenuhnya sadar bahwa Tuhan akan terus berbicara melalui hati nurani di dalam dirinya, dan ia memilih untuk mengikuti dan bukan mengabaikannya, apapun alasannya, apapun resikonya. Dengan tegas pun Paulus menyatakan itu di depan para penuduhnya, dan itu membuahkan sebuah tamparan keras ke mulutnya (ay 2). Tetapi Paulus tidak bergeming. Ia malah dengan lantang berseru: "Allah akan menampar engkau, hai tembok yang dikapur putih-putih! Engkau duduk di sini untuk menghakimi aku menurut hukum Taurat, namun engkau melanggar hukum Taurat oleh perintahmu untuk menampar aku." (ay 3). Orang-orang yang berpakaian putih-putih, merasa paling benar lalu merasa berhak menghakimi orang lain yang berbeda, itu ternyata sudah ada sejak jaman dahulu dalam versi berbeda.

Singkat cerita, pada akhirnya kita bisa melihat bagaimana hati nurani para orang Farisi dan Saduki disana saling menghakimi diri mereka. Mereka pun mulai bertengkar karena ternyata ada yang merasakan suara hati nurani mereka mengatakan bahwa Paulus tidak bersalah tetapi sebagian lagi ternyata mengabaikan seruan itu.

Kisah ini memberi gambaran jelas tentang bagaimana hati nurani bekerja, dan bagaimana hati nurani itu bisa berfungsi tergantun pilihan dari orang apakah mereka mendengar atau mengabaikannya. Perbedaan antara orang yang hati nuraninya murni, hati nuraninya masih berfungsi walau lemah dan yang hati nuraninya sudah mati bisa kita lihat dengan jelas dari kisah ini.

Ada contoh lainnya tentang hati nurani ini yaitu pada kisah "Perempuan yang berzinah"  dalam Yohanes 8:1-11. Disini kita bisa melihat bagaimana Yesus menegur manusia lewat menguji hati nurani.

Pada saat itu para ahli Taurat dan orang Farisi mencobai Yesus dengan membawa seorang wanita yang kedapatan berzinah ke hadapanNya. Menurut Hukum Taurat ganjarannya jelas. Hukum Taurat mengharuskan agar pelakunya segera dihukum dengan hukuman rajam. Kenapa mereka membawa wanita ini pada Yesus? Karena mereka tahu bahwa Yesus adalah Pribadi yang selalu mengasihi dan mengampuni. Karenanya mereka berharap ada sesuatu yang bisa dijadikan alasan untuk menyalahkan Yesus. (ay 6).

Bagaimana reaksi Yesus? "Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." (ay 7). Yesus memberi sebuah reaksi yang langsung mengetuk pintu hati nurani masing-masing orang hanya dengan satu kalimat saja. Mendengar itu, semua orang yang sudah bersiap merajam pun akhirnya pergi. Ketika orang mendengar hati nuraninya, maka mereka akan tersadar akan kekeliruan mereka. Itulah yang terjadi pada saat itu.

(bersambung)


Thursday, December 14, 2017

Hati Nurani (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 23:1
======================
"Sambil menatap anggota-anggota Mahkamah Agama, Paulus berkata: "Hai saudara-saudaraku, sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah."

Suatu kali saya terlambat bangun karena tidak mendengar bunyi alarm. Sebenarnya alarm sudah saya set sesuai waktu yang saya inginkan. Hanya saja, karena malamnya saya rapat, hp dalam kondisi silent dan lupa dikembalikan pada posisi suara aktif. Akibatnya meski alarm berfungsi, saya tidak bisa mendengarnya. Akibatnya saya pun terlambat pergi ke sebuah pertemuan sesuai janji. Masih untung bukan sesuatu yang urgent. Bagaimana kalau itu menyangkut sebuah kegiatan yang penting? Bayangkan kalau kita harus mengalami kerugian atau kegagalan akan sesuatu hanya karena alarm yang sebenarnya berfungsi tidak kita dengar karena satu dan lain hal.

Seorang teman suatu kali berkata, betapa enaknya jika dalam hidup ini ada 'alarm' yang bisa berbunyi keras dan nyaring sebelum kita melakukan perbuatan yang salah. Itu ia katakan untuk menggambarkan sulitnya untuk selalu ingat mana yang baik dan tidak. Akan selalu saja ada godaan untuk melakukan hal-hal yang buruk, terlebih karena sesuatu yang buruk seringkali terlihat menyenangkan. Ketika sesuatu terlihat menjanjikan kenikmatan atau kesenangan, maka kita cenderung segera memberi toleransi terhadap dosa. Maka teman saya berpikir bahwa hidup pasti jauh lebih mudah apabila ada alarm yang akan berbunyi nyaring apabila kita mulai berpikir untuk berbuat dosa.

Pertanyaannya, ada atau tidak sih alarm itu? Sesungguhnya ada. Roh Kudus akan selalu mengingatkan kita dalam setiap langkah, lantas pagar Firman Tuhan yang akan berfungsi banyak untuk membantu kita menjaga batas-batas perjalanan agar tetap berada dalam koridor yang benar. Jangan lupa pula bahwa Tuhan pun sebenarnya telah memberikan sesuatu dalam diri kita yang bisa berfungsi sebagai alarm awal untuk menghindari perbuatan-perbuatan pelanggaran. Itu Dia beri dalam hati kita. Kita mengenalnya dengan sebutan hati nurani.

Hati itu merupakan benda nyata. Tapi hati nurani seperti jiwa dan roh. Ada, tapi tidak memiliki wujud nyata yang bisa dilihat dengan kasat mata. Hati nurani ini bisa menegur seseorang ketika melakukan perbuatan yang salah lewat rasa seperti tidak nyaman, merasa bersalah, menyesal dan sebagainya. Disinilah peran hati nurani tersebut. Apabila ada orang-orang yang tega melakukan tindak kejahatan terutama yang kejam atau sadis, kita sering mengatakan bahwa orang itu hati nuraninya sudah mati. Entah benar-benar mati atau tidak, yang jelas hatinya sudah dingin sehingga tidak lagi peka terhadap teguran-teguran yang disampaikan lewat benda tak berwujud bernama hati nurani ini.

Belum lama saya melihat berita tentang seorang mantan suami yang tega mencederai istrinya hingga terluka parah dan membakar rumah mertuanya, hanya karena ia merasa sakit hati. Bagaimana orang bisa setega itu, apalagi terhadap seseorang yang pernah menjadi belahan jiwanya? Itu menunjukkan hati nurani yang tidak lagi berfungsi, atau mungkin sudah mati. Sebab, bagaimana mungkin orang bisa menjadi sekejam itu kalau hati nuraninya masih berfungsi?

Hati nurani kerap menjadi jendela bagi Tuhan yang bisa berfungsi sebagai alarm saat kita mulai berpikir untuk melakukan hal yang salah dan menjadi peringatan agar kita tidak terus melenceng berbuat dosa semakin jauh. Terbiasa mengabaikan suara hati nurani akan membuat kita semakin tidak peka sehingga tidak lagi merasa bersalah atau berdosa ketika melakukan perkara-perkara yang bertentangan dengan firman Tuhan. Semakin kita abaikan, maka hati nurani akan semakin lemah dan lama kelamaan akan tidak lagi berfungsi. Atau, seperti ilustrasi awal di atas, hati nuraninya sebenarnya masih bekerja, tetapi karena terbiasa diabaikan atau di'silent', kita tidak lagi mendengar peringatan-peringatan darinya.

(bersambung)


Wednesday, December 13, 2017

Menjaga Kemurnian Hati (5)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kepahitan, sakit hati, dendam semua ini bisa sangat mencemarkan hati kita dengan sangat parah. Kalau bicara soal hati masih terasa abstrak, menimpan dendam dan kepahitan bisa mendatangkan begitu banyak penyakit pada diri kita. Dan kita tidak akan pernah bisa berharap merasakan damai sejahtera apabila kita masih menyimpan perasaan-perasaan seperti itu dalam hati kita. Dan Firman Tuhan pun sudah mengingatkan bahwa apabila kita ingin doa kita didengar dan kesalahan/pelanggaran kita diampuni, kita harus membereskan terlebih dahulu sekiranya masih ada ganjalan dengan sesama kita. "Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (Markus 11:25).

 Kalau kita memandang pada kesalahan orang kita akan sulit mengampuni, tapi kalau kita melihatnya dari sisi kita, jika kita ingin diampuni Tuhan, ingin doa kita didengar dan kita ingin merasakan damai sejahtera sepenuhnya tanpa terganggu, kita harus membebaskan diri kita dari berbagai perasaan sakit hati, dendam dan kepahitan dengan memberi pengampunan.

Daud menyadari betul betapa pentingnya memiliki hati yang murni dan kudus. Lihatlah bagaimana seruannya pada Tuhan. "I (Mazmur 51:12). "Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!" (139:23-24). Saya yakin Daud berani mengatakan itu karena ia sudah terlebih dahulu memeriksa hatinya. Hanya saja ia butuh memastikan sekiranya ada yang tertinggal atau luput dengan meminta Tuhan menguji dan mentahirkan sepenuhnya. Tidak heran kalau kemudian Daud yang pernah jatuh sedemikian parah bisa diangkat kembali oleh Tuhan karena Tuhan pasti melihat komitmennya dalam menjaga hati.

Tentu saja tidak mudah untuk bisa menjaga hati agar tetap murni. Terlebih saat ada begitu banyak godaan dan penyesatan yang hadir dalam setiap lini kehidupan kita, lewat berbagai bentuk baik yang jelas terlihat maupun yang tersamar. Bisa jadi kita perlu bergumul dan berperang melawan semua itu, tetapi kalau kita tahu bahwa hati yang murni itu penting, kita akan mengerahkan segenap daya upaya agar bisa menjaga kemurniannya.

Kemurnian hati sangatlah menentukan kemana arah hidup kita dan bagaimana bentuk hidup kita. Tidak banyak yang menyadari bahwa semua itu berawal dan berasal dari hati. Kalau kita sudah tahu bagaimana pentingnya menjaga kemurnian hati, kenapa kita tidak mulai melakukannya mulai sekarang? Itu akan menghindarkan kita dari berbagai hal buruk, dan akan terus mengarahkan kita kepada tujuan yang benar seperti rencana Tuhan.

"Keep your heart pure. A pure heart is neccessary to see God in each other. If you see God in each other, there is love for each other, then there is peace." - Mother Theresa

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, December 12, 2017

Menjaga Kemurnian Hati (4)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

4. Terus meningkatkan standar hidup sesuai kebenaran Firman dan semakin serius menjadi pelaku Firman

Sebuah pertanyaan mendasar: bagaimana kita bisa tahu mengenai apa saja yang menjadi ketetapan Tuhan, isi hatiNya, kebenaranNya maupun laranganNya, atau bahkan mengenalNya tanpa mengenal Firman Nya dalam Alkitab? Kalau kita berjalan tanpa mengerti rambu, kita bisa tersesat. Seperti itu pula hati yang tidak mengenal Firman Tuhan. Bagaimana kita bisa berharap memiliki hati yang murni kalau kita tidak tahu apa yang memurnikan dan apa yang mencemarkan? Karenanya sangatlah penting bagi kita untuk memastikan agar kita mengenal Firman Tuhan dengan baik dengan menggali terus lebih dalam isi Alkitab.

Keuntungan bagi orang yang merenungkan Firman siang dan malam sesungguhnya sangatlah besar. Dan itu sudah disebutkan dalam banyak kesempatan. Salah satunya yang mungkin sudah sangat kita kenal ada pada Mazmur paling depan. "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3). Terus berbuah, tidak layu dan berhasil dalam apapun yang dikerjakan. Bukankah itu yang kita inginkan?

Kalau membaca dan merenungkan saja sudah penting, kita harus pula meningkatkan kualitas diri untuk menjadi para pelaku Firman. Yakobus menekankan pentingnya untuk tidak berpuas diri hanya sebagai pendengar atau pembaca firman, tapi juga harus melanjutkannya dengan perbuatan-perbuatan nyata sesuai apa yang dikehendaki Tuhan. "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri." (Yakobus 1:22).

Orang-orang yang hanya mendengar atau membaca tapi tidak melakukan digambarkan sebagai berikut: "Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya." (Yakobus 1:23-24). Itulah bentuk orang yang berhenti sebelum melakukan. "Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya." (ay 25).

5. Membereskan kesalahan-kesalahan di masa lalu

Seringkali orang terjebak dan sulit tumbuh karena masih terbelenggu dengan masa lalu. Perhatikan apa kata Paulus berikut: "Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Filipi 3:13-14). Masalahnya, seringkali kesalahan masa lalu yang belum dibereskan menjadi penghalang kita untuk menjaga kemurnian hati. Iblis akan selalu berusaha memanfaatkan kesalahan di masa lalu untuk mendakwa kita.

(bersambung)

(sambungan)


Kita harus tahu salah satu sifat mendasar iblis adalah penuduh. Dalam Ayub 1:12 iblis disebutkan sebagai "the accuser" alias penuduh/pendakwa (versi English amplified) yang terus berusaha melemahkan kita. Iblis tidak ingin kita diselamatkan. Iblis akan terus berusaha mendakwa atau menuduh kita sampai kita putus asa dan semakin lama semakin terperosok makin dalam. Yang seringkali dipakai untuk mendakwa adalah dosa yang pernah kita lakukan di masa lalu. Maka untuk menutup mulut iblis, kita harus segera mengakui dosa kita. Begitu kita mengakui dosa kita dan memohon ampun, saat itu pula Allah mengampuni kita. Imani dan percayalah akan hal itu. Tidak ada alasan lagi bagi iblis untuk mendakwa kita, karena dosa kita sudah diampuni. Apa kata Tuhan mengenai orang yang mengakui dosanya? "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9).

Kalau sudah kita akui di hadapan Tuhan dan kita bertobat, tidak ada alasan apapun bagi iblis untuk mendakwa kita. Jangan sampai kita tertipu dan terus didera rasa berdosa atau bersalah karena itu akan menghimpit kita untuk bertumbuh. Jadi penting sekali untuk membereskan kesalahan di masa lalu agar tidak ada lagi pijakan bagi iblis untuk menjadikan kita tertuduh.

6. Menjaga hati dari perasaan dendam, sakit hati dan pahit

Ini adalah poin penting yang seringkali dilewatkan atau diabaikan banyak orang. Ingatlah bahwa salah satu hal yang tersering mencemari hati adalah saat rasa dendam sebagai efek dari dibiarkannya sakit hati bercokol dalam diri kita dibiarkan tumbuh. Untuk mencegahnya, kita harus hidup dalam pengampunan. Pengampunan berarti mau memaafkan orang dan tidak lagi mengingatnya.

Kita harus sanggup dalam tingkatan itu karena Tuhan pun melakukan hal yang sama kepada kita. "... sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka." (Yeremia 31:34). Kalau Tuhan seperti itu, siapakah kita yang merasa berhak untuk mendendam? Lantas, bagaimana mungkin kita berani mengharapkan pengampunan Tuhan kalau kita sendiri menolak untuk melakukan itu terhadap sesama?

Akan selalu ada saat dimana kita merasa sakit hati oleh perbuatan orang lain. Bisa jadi perasaan itu begitu menyakitkan sehingga menimbulkan kepahitan. Apa yang diingatkan Yesus akan hal ini sangat berbeda dari cara pandang dunia terhadap reaksi kita atas perilaku jahat orang lain. "Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5:43-44). Firman Tuhan pun sudah mengingatkan kita agar tidak bersukacita ketika musuh terjatuh.  "Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh, jangan hatimu beria-ria kalau ia terperosok" (Amsal 24:17).

Orang yang mendendam artinya sama dengan tidak mengenal Allah. Firman Tuhan berkata "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:8). Dan kasih tanpa pamrih seperti halnya Tuhan mengasihi kita ini sudah selayaknya diberikan kepada siapapun, termasuk kepada musuh yang sudah berlaku sangat jahat kepada kita. Tidak ada alasan bagi kita untuk menolak memberikan bentuk kasih seperti ini, karena sesungguhnya Allah sendiri sudah mendemonstrasikannya kepada kita. Ditambah lagi kasih dari Allah ini sudah dicurahkan kepada kita lewat Roh Kudus. Kita bisa melihat buktinya lewat kitab Roma: "Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita." (Roma 5:5).

(bersambung)


Monday, December 11, 2017

Menjaga Kemurnian Hati (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!

(sambungan)

Semua itu sangatlah bertentangan dengan buah roh, yaitu "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu." (ay 22-23). Jadi "hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging" (ay 16) Dan "Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh" (ay 25).

Dalam Yehezkiel hubungan hidup oleh Roh dan hati tertulis dengan jelas. "Aku akan memberikan mereka hati yang lain dan roh yang baru di dalam batin mereka; juga Aku akan menjauhkan dari tubuh mereka hati yang keras dan memberikan mereka hati yang taat, supaya mereka hidup menurut segala ketetapan-Ku dan peraturan-peraturan-Ku dengan setia; maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka." (Yehezkiel 11:19-20). Lihatlah bahwa roh yang baru bisa menjauhkan kita dari memiliki hati yang keras dan pembangkang. Hati yang baru dalam roh yang baru akan membuat kita mampu untuk hidup dengan ketaatan menurut semua ketetapan dan peraturan Tuhan dengan setia. Sebuah hidup yang didasarkan oleh Roh Allah dan dipimpin oleh Roh akan memampukan kita menjaga kemurnian hati.

3. Memastikan hati nurani tetap berfungsi dengan baik

Dalam Kisah Para Rasul 24:16, Paulus mengatakan "Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia." Disadari atau tidak, Tuhan kerap berbicara melalui hati nurani. Orang yang hati nuraninya berfungsi dengan baik biasanya lebih awas terhadap godaan dan penyesatan ketimbang orang yang hati nuraninya tidak berfungsi apalagi kalau sampai keburu mati.

Sebuah artikel pernah menyampaikan mengenai hati nurani ini. Kalau hati memang bentuknya nyata, hati nurani seperti jiwa dan roh tidak memiliki wujud nyata alias tidak kasat mata. Meski demikian, hati nurani sangat berperan dalam hidup kita. Hati nurani bisa menegur kita saat melakukan perbuatan buruk lewat perasaan tidak enak, tidak nyaman, perasaan bersalah, penyesalan dan sebagainya. Karena itulah orang yang hati nuraninya berfungsi akan lebih terhindar dari berbagai penyesatan dan perbuatan dosa.

Teguran Tuhan kerap menjadi jendela bagi Tuhan untuk mengingatkan kita saat kita hampir terjebak atau tergoda untuk melakukan pelanggaran, agar tidak melenceng melakukan perbuatan dosa semakin jauh. Terbiasa mengabaikan hati nurani akan membuat fungsinya melemah. Kalau tadinya ada perasaan berdosa atau bersalah, tanpa hati nurani yang berfungsi kita bisa merasa biasa saja dalam melakukannya.

Hati nurani yang gelap tanpa adanya terang Tuhan tidak akan bisa menyinari batin, menyorot segala hal yang terdalam, paling tersembunyi untuk memastikan kita tidak menyimpan sesuatu yang buruk disana, apakah itu motivasi-motivasi terselubung, niat jahat, konspirasi, dendam, kepahitan dan sebagainya. Sebuah hati nurani yang tidak memiliki terang Tuhan akan membuat mata hati tidak mampu melihat kebenaran. Betapa berbahayanya apabila hati nurani kita sampai dibiarkan tidak berfungsi, melemah sampai pada akhirnya mati. Disaat seperti itu kita tidak lagi peka terhadap perbuatan-perbuatan yang melanggar ketetapanNya, dan itu bisa membawa kita masuk ke dalam kehancuran.

(bersambung)


Sunday, December 10, 2017

Menjaga Kemurnian Hati (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

1. Lahir baru.

Pertama yang harus kita ingat adalah lahir baru. Dalam Efesus 4 dikatakan: "yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya." (ay 22-24). Lantas dalam Kolose dikatakan "Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya" (ay 10-11).

Lahir baru membuat kita diberi kesempatan untuk menjadi manusia baru, diperbaharui dalam roh dan pikiran, yang memungkinkan kita untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya/seharusnya. Sebuah proses lahir baru membuat kita bisa terus menerus diperbaharui untuk semakin dalam mengenal Allah secara benar. "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:7). Tanpa menjadi ciptaan yang baru akan sangat sulit bagi kita untuk bisa memiliki hati yang suci.

Satu hal yang harus kita perhatikan adalah menjadi manusia baru tidak serta merta membuat kita sepenuhnya bebas dari jerat dosa untuk seterusnya. Benar, kita sudah diperbaharui dan disucikan. Kematian Kristus menebus kita, memulihkan hubungan dengan Tuhan dan itu bisa menjadi landasan kokoh untuk sebuah hidup penuh kebenaran. Tapi seperti sebuah rumah yang sudah disapu dan dipel, kalau kita biarkan terbuka maka akan ada banyak kotoran yang bisa kembali mencemari rumah yang sudah bersih tadi.

Sebuah kesempatan besar untuk lahir baru dan mengenakan hidup baru seharusnya disikapi dan dihargai dengan tinggi supaya kita tidak kembali terjebak pada dosa-dosa atau kebiasaan-kebiasaan lama yang umumnya bisa menarik kita kembali ke kehidupan lama kita. Dan juga bisa mencegah kita untuk tidak tergoda untuk melakukan berbagai penyimpangan atau pelanggaran yang kerap dilakukan oleh orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Semua itu bisa kembali mencemarkan dan itu berarti kita tidak menghargai sebuah kasih karunia besar yang Tuhan sudah berikan pada kita.

2. Hidup oleh Roh dan dipimpin oleh Roh. 

Hidup dalam Roh dan dipimpin oleh Roh sangatlah penting. Dan itu diingatkan Paulus dalam Galatia 5:16-26 dimana ia mengurakikan panjang lebar tentang hal itu. Setelah kita menjadi manusia baru, kita butuh sesuatu yang bisa menjaga kita untuk tidak melakukan kebiasaan lama dan kecemaran-kecemaran baru, yang bisa membuat kita terhindar dari hidup yang mementingkan keinginan-keinginan daging yang menyesatkan bahkan membinasakan. Membinasakan? Ya. Kita bisa lihat betapa berbahayanya perbuatan daging seperti yang dirinci oleh Paulus. "Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." (ay 19-21).

(bersambung)

Saturday, December 9, 2017

Menjaga Kemurnian Hati (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 5:8
====================
"Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah."

Dalam renungan kemarin kita sudah melihat bagaimana Tuhan memperlakukan orang yang tangannya bersih dan hatinya murni. Dikatakan orang yang bersih tangannya dan murni hatinyalah yang boleh naik ke atas gunung Tuhan dan masuk ke dalam tempatNya yang kudus (Mazmur 24:3) dan mereka menerima berkat dan keadilan dari Tuhan. (ay 5). Seperti janji saya sebelumnya, dalam renungan kali ini saya ingin fokus kepada hati yang murni. Hati yang murni adalah sebuah bentuk hati yang tidak dibiarkan tercemar, terkontaminasi oleh hal-hal yang bertentangan dengan prinsip kasih seperti yang dijabarkan Paulus dalam 1 Korintus 13:4-7. Seperti dalam contoh sebelumnya, air murni akan berguna bagi kesehatan kita, bisa menyembuhkan penyakit dan menjaga agar kita tetap dalam kondisi baik. Demikian juga hati yang murni. Begitu pentingnya, Yesus bahkan berkata: "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Matius 5:8).

Dalam versi English amplifiednya ayat yang saya jadikan ayat bacaan ini berkata "Blessed (happy, enviably fortunate, and spiritually prosperous--possessing the happiness produced by the experience of God's favor and especially conditioned by the revelation of His grace, regardless of their outward conditions) are the pure in heart, for they shall see God!" Kalau diterjemahkan bunyinya seperti ini: Diberkatilah (Bergembiralah, beruntunglah dan makmurlah secara spiritual - dengan kegirangan dan kepuasan hidup dalam kemurahan dan keselamatan Tuhan dan secara khusus berada dalam anugerahNya terlepas dari apapun kondisi yang tengah terjadi) mereka yang suci/murni hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

Bukankah itu luar biasa? Itu jelas sebuah anugerah yang bukan main besarnya yang akan membuat hidup kita jauh berbeda dibanding kebanyakan orang yang masih membiarkan hatinya terus teracuni oleh iri, dengki, kebencian, kekecewaan dan berbagai pandangan keliru tentang kemurahan Tuhan serta penyesatan-penyesatan dari pola pikir dunia.

Hati sungguh merupakan faktor penting yang sangat menentukan kualitas hubungan kita dengan Tuhan, kemampuan kita dalam menerima berkat dan anugerahNya tanpa terhalang sesuatu apapun, siapa kita dalam hidup saat ini dan kemana kita akan mengarah setelah fase kehidupan yang sekarang ini selesai. Dengan kata lain, bagaimana kondisi hati akan sangat menentukan dan menunjukkan seperti apa perjalanan dan masa depan kehidupan kita.

Dalam kitab Amsal dikatakan "Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu." (Amsal 27:19).  Jika kita memandang permukaan air dari atas, wajah kita akan tercermin disana. Sebagaimana air memantulkan wajah saat kita pandang dari atas, seperti itu pula hati mencerminkan diri atau hidup seseorang.

Lalu Firman lainnya mengingatkan bahwa Tuhan sangat mementingkan hati. "... Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1 Samuel 16:7). Sebegitu pentingnya kondisi hati kita, sehingga sebuah ayat berkata demikian: "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23).

Dikatakan kita harus menjaga hati bukan dengan ala kadarnya atau seadanya, apalagi asal-asalan dengan standar kewaspadaan rendah, tapi dikatakan dengan segala kewaspadaan, sepenuh-penuhnya sadar dan waspada, karena dari hatilah sesungguhnya hidup itu terpancar.

Semakin murni hati kita, maka semakin besar pula kesempatan kita untuk membangun hubungan berkualitas dengan Tuhan. Dan semakin besar pula kesempatan kita untuk menikmati hidup yang berkemenangan, penuh sukacita dalam perlindungan dan perhatian Tuhan tanpa tergantung dari situasi dan kondisi yang tengah kita alami.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana agar kita bisa memperoleh dan menjaga kemurnian atau kesucian hati? Ada beberapa poin penting yang harus kita ingat dan perhatikan, dan mari kita lihat satu persatu.

(bersambung)


Friday, December 8, 2017

Bersih Tangannya, Murni Hatinya (4)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!

(sambungan)

Orang bisa saja menganggap bahwa Tuhan tidak menghukum mereka saat ini dan berpikir bahwa mereka aman dari hukuman. Orang-orang jahat yang melakukan kejijikan ini bisa saja pintar dalam menipu manusia, atau menghamburkan uangnya untuk menyuap penegak hukum agar terlepas dari jerat hukum. Sekarang mungkin lepas, tapi pada suatu ketika nanti hukuman Tuhan itu tetap akan tiba biar bagaimanapun. Cepat atau lambat, akan datang waktunya dimana semua harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, dan disana tidak akan ada yang bisa berkelit lagi. Kepentingan sesaat di dunia fana diprioritaskan dengan sebuah hidup yang kekal? Itu tentu sebuah pilihan yang sangat fatal.

Dunia memang semakin lama semakin keliru menilai prinsip hidup, tetapi kita orang percaya tidak boleh ikut-ikutan seperti itu. Dunia bisa saja semakin kekurangan orang-orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, tapi kita harus menunjukkan bahwa umatNya yang ada di dunia ini bisa tampil beda dengan kemurnian hati dan perbuatan bersih sebagai bagian dari kehidupan kekristenan yang sebenarnya. Oleh karena itu jagalah agar kita bisa memiliki ketulusan hati dan kejujuran. Apapun alasannya, apapun resikonya,  Belajarlah untuk senantiasa mempercayai Tuhan, mengasihiNya dan hidup sesuai kehendakNya. Tuhan menyediakan berkat-berkat bagi orang yang hidup dengan kesucian hati.

Firman Tuhan berkata: "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Matius 5:8). Ayat lainnya: "Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya." (Mazmur 73:1). Seperti itulah janji Tuhan yang tentunya berlaku bagi siapa saja, termasuk anda dan saya.

Kalau kita dipandang bagai mahluk aneh, ditertawakan dan menganggap kejujuran dan ketulusan, kebersihan tangan dan kemurnian hati sebagai sebuah kebodohan, biarlah. Sebab bukan apa kata manusia yang penting, tapi bagaimana Tuhan memandang hidup kita itulah yang penting. Tuhan menjanjikan berkat dan keadilan bagi orang-orang yang hidup dengan tangan yang bersih dan hati yang murni. Orang seperti inilah yang bisa masuk ke dalam rumahNya, berdiam di bukitNya, dan mendapat jaminan berkat dan keadilan dari Tuhan.

Nikmati kebaikan Tuhan lewat hidup yang kudus dimana kebersihan tangan dan kemurnian hati berperan didalamnya. Keduanya merupakan bagian dari integritas yang wajib dimiliki anak-anak Tuhan. Tuhan sanggup melimpahi berkatNya dan melindungi hidup setiap orang yang berjalan seturut kehendakNya dengan memiliki hati yang murni dan tangan yang bersih.

Clean hands refers to a person's actions and pure heart refers to inner attitude

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, December 7, 2017

Bersih Tangannya, Murni Hatinya (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kalau kita lihat dalam beberapa ayat lain, dalam Mazmur 24:3-4 dikatakan "Orang yang mencintai kesucian hati dan yang manis bicaranya menjadi sahabat raja." "He who loves purity and the pure in heart", itu yang dikatakan dalam bahasa Inggrisnya. Inilah orang-orang yang bisa mendapat kehormatan. Karena ada banyak yang perlu dibahas, saya akan mengangkat soal kemurnian hati ini pada renungan berikutnya.

Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, itulah yang berkenan di hadapan Tuhan. Orang seperti inilah yang boleh naik ke atas gunung Tuhan dan masuk ke dalam tempatNya yang kudus (Mazmur 24:3), dan mereka inilah yang akan menerima berkat dan keadilan dari Tuhan. (ay 5). Inilah upah besar yang dijanjikan Tuhan bagi orang yang hidup jujur dan tulus, bersih tangannya dan murni hatinya.

Kehidupan dalam tingkatan seperti itulah yang diinginkan Tuhan. Kasih dalam standar kekristenan harus mengandung kebaikan-kebaikan yang mencakup kedua hal ini. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:4-7).

Di dalam kasih itu ada bentuk-bentuk hidup dengan hati yang murni, tangan yang bersih, penuh ketulusan dan kejujuran. Artinya jika kita mengaku hidup dalam kasih Tuhan, seharusnya kedua hal ini pun terpancar dari kehidupan kita. Bagaimana mungkin orang yang hatinya berisi berbagai kecemaran dan tangannya terus melakukan hal-hal kotor masih berani mengaku punya kasih dalam dirinya? Dan bagaimana mungkin orang yang tidak memiliki kasih mengaku mengenal Allah? "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:8).

Kalau kita sadar bahwa segala sesuatu itu berasal dari Tuhan, kita tidak perlu takut kekurangan dan kuatir akan hari depan sehingga merasa perlu melakukan tindakan-tindakan yang tidak jujur atau curang agar bisa mampu mencukupi hidup. Kita tidak perlu merasa iri melihat orang lain, justru harus bisa belajar untuk mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang kepentingan diri sendiri. Yakobus mengingatkan "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." (Yakobus 3:16).

Kita harus selalu menghindari berbuat curang, membenci dan membiarkan hal-hal lainnya yang mencermarkan hati untuk terus bercokol dalam diri kita. Ketahuilah bahwa meski mungkin kita berhasil mengelabui manusia, tapi Tuhan akan selalu melihat segala perbuatan kita. Dan Firman Tuhan berkata: "Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab." (Ibrani 4:13). Secara tegas Tuhan juga berfirman:  "Seharusnya mereka merasa malu, sebab mereka melakukan kejijikan; tetapi mereka sama sekali tidak merasa malu dan tidak kenal noda mereka. Sebab itu mereka akan rebah di antara orang-orang yang rebah, mereka akan tersandung jatuh pada waktu mereka dihukum, firman TUHAN." (Yeremia 8:12).

(bersambung)

Wednesday, December 6, 2017

Bersih Tangannya, Murni Hatinya (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Apa yang dikatakan Daud di masanya: "Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah." Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik" (Mazmur 14:1), kini semakin terang terlihat. Orang tidak lagi memikirkan pertanggungjawaban kelak di hadapan Tuhan. Masalah kekal nanti dulu, yang penting kejar dulu semua yang ditawarkan dunia yang fana ini. Lumayan kan bisa kaya selama sisa hidup? Anak-anak dikasih makan hasil korupsi juga tidak apa-apa, ketimbang hidup susah kalau jujur. Panggilan itu omong kosong, yang penting cari untung sebanyak-banyaknya. Orang yang tidak sepaham jangan ditolerir, dibenci saja, dihancurkan, dibinasakan. Hiduplah dengan membenci karena kalau mau ramah nanti dipijak orang. Pelayanan? Hidup saja masih kurang mewah kok bicara pelayanan.

Sebagian mungkin sadar Allah itu benar-benar ada, tetapi mereka mengira bahwa Tuhan tidak akan menghukum karena mereka menyalah artikan atau merasa berhak memanfaatkan bentuk kasih dan kesabaran Tuhan yang besar dan panjang. Bentuk ilusi rohani seperti inipun sudah disinggung dalam Alkitab. "Kamu menyusahi TUHAN dengan perkataanmu. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menyusahi Dia?" Dengan cara kamu menyangka: "Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata TUHAN; kepada orang-orang yang demikianlah Ia berkenan--atau jika tidak, di manakah Allah yang menghukum?" (Maleakhi 2:17).

Atau, ada juga yang jadi korban hyper grace, berpikir untuk apa lagi kita repot-repot melakukan pekerjaan Tuhan, berdoa, membangun hubungan dengan Tuhan dan sebagainya, kan kita sudah diselamatkan 2000 tahun lebih yang lalu? Semua ini menunjukkan hati yang sudah tercemar oleh berbagai pemahaman, ajaran, paradigma dan nilai-nilai yang sama sekali bukan berasal dari KerajaanNya. Mungkin dari kerajaan diri sendiri atau kerajaan iblis, seperti yang kita bahas sebelumnya. Kecemaran hati bisa memancarkan buah-buah seperti ini dari hidup kita.

Mari kita lihat ayat bacaan hari ini yang diambil dari kitab Mazmur. "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia." (Mazmur 24:4-5).

Pertama, Firman Tuhan bilang orang yang 'bersih tangannya'. Apa yang dimaksud dengan orang yang bersih tangannya? Rajin cuci tangan? Pakai sabun biasa atau yang antiseptik? Sarung tangan? Tidak main lumpur dan yang kotor-kotor? Tidak memegang atau salaman? Tentu bukan. Yang dimaksud dengan orang yang bersih tangannya berarti orang yang perilaku atau perbuatannya menjauhi bentuk-bentuk penipuan, menjauhi kecurangan dan tidak gampang tergoda oleh keuntungan-keuntungan lewat jalan yang salah. Orang yang bersih tangannya adalah orang yang tidak melakukan hal-hal salah dan jahat dalam bekerja atau melakukan segala sesuatu. Orang yang bersih tangannya tidak melakukan hal-hal yang tercemar. People whose actions are holy and unblameable, holding the character of a right and acceptable worshipper of God. Seperti itulah orang yang bersih tangannya.

Selanjutnya, bagaimana dengan kata 'murni hatinya'? Orang yang murni hatinya adalah jenis orang yang tidak tergoda pada kecurangan, tidak terkontaminasi atau tercemar oleh hal-hal yang bertentangan dengan hukum kasih, tidak mentoleransi apapun yang bisa mengotori atau mencemarkan hati. Tidak munafik, tidak hipokrit, tidak berisi keinginan-keinginan yang mencari pemuasan kedagingan and other corrupt desires. Hati yang isinya dan tujuannya melakukan kehendak Allah dengan ketaatan penuh dan berpusat pada Firman Tuhan. Orang yang mengadopsi kasih bukan kebencian. Orang yang mengedepankan kemaafan bukan dendam. Hati yang menghargai kasih karunia bukan memanfaatkannya secara keliru atau membuangnya. Hati yang membuat pemiliknya memandang sesama dan dunia dari kacamata kasih Tuhan.

(bersambung)


Tuesday, December 5, 2017

Bersih Tangannya, Murni Hatinya (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 24:4-5
=======================
"Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia."

Dulu kalau mau minum kita harus merebus air terlebih dahulu hingga mendidih. Kalau mau dingin, air yang sudah direbus tinggal dimasukkan ke kulkas. Sebab kalau diminum langsung dari keran kita bisa sakit perut. Yang menyebabkannya banyak. Selain kotoran-kotoran yang ada pada air, ada berbagai jenis mineral pula yang bisa menimbulkan masalah atau bahaya bagi kesehatan kita.

Hari ini ada banyak sekali air minum dalam kemasan dengan berbagai merek. Banyak orang mengenalnya sebagai air mineral, yang baru muncul di Indonesia sekitar awal tahun 70an. Saya masih ingat waktu kecil dulu saya sempat heran melihat kenapa air putih bisa dijual sebegitu mahal sampai hampir dua kali lipat harga bensin. Saya belum mengerti soal kandungan dan kesehatan yang ditawarkan karena berpikir bahwa air putih cukup direbus saja biar bersih dan kemudian diminum. Menjadi mahal karena ada proses produksi yang harus ditempuh agar air tersebut punya tingkat kemurnian yang sudah sesuai dengan standar yang dikeluarkan WHO atau pemerintah yang nilainya berbeda.

Pada awal kemunculannya di Indonesia, air minum dalam kemasan ini belumlah dijual bebas di kios-kios. Biasanya yang mengkonsumsi pun kalangan terbatas, terutama pelancong atau tamu dari luar negeri yang seringkali masih mengalami masalah pada perut mereka saat mengkonsumsi air yang sekalipun sudah direbus mendidih. Sepertinya air di negara kita mengandung beberapa jenis mineral yang tidak hilang saat dimasak/direbus sehingga orang dari luar yang belum terbiasa dengan kandungan itu bisa mengalami masalah.

Belakangan kita melihat bahwa selain air mineral, ada juga air demineral alias air murni. Konsumen kemudian belajar bahwa ada perbedaan besar antara kedua jenis air minum ini, meski keduanya layak minum dan disebutkan bisa memberi manfaat baik bagi kehidupan. Air demineral yang juga dikenal sebagai air murni melalui proses penyaringan seperti distilasi, deionisasi dan sebagainya, yang bukan hanya membuat air layak minum tapi juga bebas dari mineral. Air murni dikatakan bebas dari semua kotoran, mineral logam, kuman, virus, kandungan kimia beracun dan unsur-unsur radioaktif. Ada juga yang membuat saringannya sendiri dengan mempergunakan unsur-unsur alam secara berlapis seperti batu, kerikil, pasir, ijuk, arang dan sebagainya. Sistem ini pun diklaim mampu memurnikan air dengan cara yang murah dan mudah.

Air murni ini dipercaya bisa memperlancar sistem penyerapan makanan pada tubuh bahkan melarutkan mineral anorganik yang ada pada tubuh. Karena itulah air murni secara ilmiah terbukti punya peran penting dalam kesehatan, pengobatan atau usaha preventif untuk menghindarkan kita dari sakit. Anda pilih air minum yang cukup dimasak, yang punya kandungan mineral tidak berbahaya dan baik bagi tubuh, atau yang benar-benar murni tanpa kandungan mineral apapun, semua tergantung pilihan sendiri.

Saya memulai renungan hari ini dengan ilustrasi tentang air murni sebagai awal untuk menggambarkan seruan Firman Tuhan untuk memperhatikan pentingnya kemurnian hati. Mencari orang yang punya gelar gampang. Minimal SMA, sarjana, itu sudah bisa menjadi bekal untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Ijazah bahkan sekarang bisa dibeli. Tapi bagaimana dengan nilai-nilai atau kualitas seseorang seperti integritas, kesetiaan, ketulusan, kejujuran dan sejenisnya? Bagaimana dengan orang dengan hati yang murni, bebas dari 'mineral-mineral' yang bisa mendatangkan kecemaran dan masalah lainnya? Hal ini sering luput dari perhatian orang dalam melakukan recruitment maupun dalam kehidupan sosial kemasyarakatan secara luas.

Hari ini kualitas hati yang murni semakin langka dan semakin jarang dianggap penting. Tidaklah heran jika moral manusia semakin buruk. Korupsi, kolusi, penipuan, sikap eksklusif, sikap memandang perbedaan sebagai dasar permusuhan, penyebaran kebencian dan sebagainya semakin menguasai kehidupan manusia. Kalau kehidupan manusia itu dikatakan Firman Tuhan terpancar dari hati, maka masalahnya berarti ada disana. Sikap, kondisi atau keadaan hati, suasana hati akan menentukan produk yang dihasilkan.

Seperti dalam beberapa renungan terdahulu, hati jika diibaratkan taman bisa dirusak bahkan oleh penyelusup-penyelusup kecil yang secara umum seolah tidak berbahaya. Sedang kalau diibaratkan kerajaan, siapa yang memerintah dan berkuasa di hati kita akan menentukan hal-hal seperti apa yang terpancar dari kehidupan kita.

Ironisnya cara dunia memandang pun menjadi terbalik. Jaman sekarang orang yang jujur dan tulus justru dipandang aneh atau malah dianggap cerminan kebodohan. Orang semakin cenderung berpikir pendek dan mementingkan urusan duniawi, orang yang pintar memanfaatkan keadaan untuk melakukan banyak kecurangan, orang yang pintar memanipulasi situasi demi kepentingannya dan kelompoknya, itulah orang-orang yang dianggap pintar.

(bersambung)


Monday, December 4, 2017

Pemerintah Kerajaan Hati (4)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)


Dimana hati kita berada hari ini? Sebuah ayat yang dengan tegas menyebutkan apa yang seharusnya kita camkan dalam hati kita. Kalau kita menyadari hal ini, maka kita harus menentukan siapa yang menjadi pemimpin di dalamnya. Ayat tersebut kita dapati dari Petrus yang menyampaikan: "Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!" (1 Petrus 3:15). Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan: "But in your hearts set Christ apart as hold (and acknowledge Him) as Lord." Ada versi lain pula yang mengatakannya dengan "Sanctify the Lord God in your hearts." Dengan melihat ayat ini dari berbagai versi tersebut kita bisa mendapati bahwa kita harus menguduskan, menjadikan dan mendeklarasikan atau mendedikasikan Yesus sebagai Penguasa tertinggi dalam hidup kita. Dan Petrus secara jelas mengatakan bahwa itu semua di mulai dari hati. Hatilah yang menjadi pusat kerajaan dimana kehidupan terpancar, dan siapa yang berkuasa disana akan sangat menentukan siapa dan bagaimana diri kita.

Begitu pentingnya hati, maka Alkitab berbicara banyak mengenai pentingnya menjaga hati tersebut.  Ayat yang menyatakan hati sebagai pusat kehidupan ada dalam Amsal 4:23 "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Mengapa hati harus dijaga dengan segala kewaspadaan? Karena kehidupan terpancar dari sana. Lebih lanjut, Yesus pun menjabarkan apa saja hal buruk yang bisa timbul dari hati yang tidak terjaga. "sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan." (Markus 7:21-22). Kalau kita lihat daftarnya, jelas semua yang disebutkan menunjukkan sebuah daftar yang mengerikan. Dan Yesus melanjutkan: "Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang." (ay 23).

Kalau begitu, sangatlah penting bagi kita untuk menguduskan hati kita lalu terus mempertahankan dan menjaga kekudusannya. Itu tidak mungkin kita lakukan jika kita membiarkan hal-hal selain Tuhan Yesus untuk menjadi Penguasa di dalamnya. Sebagaimana nasib sebuah negara atau kerajaan akan sangat tergantung dari siapa pemimpin atau rajanya, seperti itu pulalah hidup kita. Dan hati, sebagai pusat dari kehidupan butuh Sosok Pemimpin yang benar.

Kembali kepada ayat bacaan kita yang mengingatkan kita untuk menguduskan Kristus dalam hati kita sebagai Tuhan, Petrus juga mengingatkan kita "sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (1 Petrus 1:16). Hal ini harus dicermati dengan sangat serius, "sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan." (Ibrani 12:14). Agar bisa menjadikan Yesus sebagai Raja yang bertahta dalam hati kita, kita harus benar-benar menjaga hati kita, mematikan segala sesuatu yang bisa merusak atau menggagalkan hal itu. Keinginan daging, hawa nafsu, godaan-godaan, pengaruh-pengaruh buruk dan lain-lain, semua itu haruslah bisa kita matikan. Tanpa itu hati kita tidak akan pernah bisa memperoleh Raja yang tepat. Firman Tuhan berkata "Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu." (Yakobus 4:10).

Sadar atau tidak, ada beberapa hal di dalam diri kita masing-masing yang sebenarnya ingin memegang kendali atas hidup kita. Jangan-jangan Tuhan sudah terpinggirkan sejak lama dalam hati kita, hanya menempati sebagian kecil saja disana atau bahkan sudah tidak lagi punya tempat, sementara hal-hal lainnya justru lebih berkuasa atas diri kita seperti the kingdom of myself atau jangan-jangan the kingdom of evil. Kita mungkin merasa itulah arti dan nilai kebebasan, padahal disanalah kita justru terbelenggu dan terus menuju kepada kematian yang kekal. Sesungguhnya sebuah kebebasan atau kemerdekaan sejati hanya akan datang jika kita mengijinkan Yesus sendiri untuk berkuasa atas hati dan hidup kita.

Siapa yang menjadi raja atas diri kita hari ini? Mari periksa hati kita masing-masing, dan tetapkanlah dengan benar, karena itu akan sangat menentukan seperti apa yang kita pancarkan dari hidup kita dan kemana nanti kita akan menuju.

The kingdom of God, not the kingdom of oneself and certainly not the kingdom of evil

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, December 3, 2017

Pemerintah Kerajaan Hati (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Berikutnya, The Kingdom of Evil. Orang yang didalamnya berkuasa kerajaan iblis akan terus hidup dalam berbagai dosa dan perilaku-perilaku kegelapan alias devilish acts. Mereka menikmati benar dosa-dosa dan berbuat kejahatan tanpa rasa bersalah. Hati nurani tertutup dan berbagai pelanggaran dianggap wajar. Mereka ini gemar menebar kebencian bahkan sanggup bersikap kejam terhadap orang lain dan akan selalu berusaha menyesatkan.

Perhatikan bahwa Efesus 6 sudah mengatakan tentang struktur kerajaan iblis ini. "karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara." (Efesus 6:12). Kerajaan iblis tampil mulai dari pemerintah tertingginya hingga jajaran dibawahnya sampai ke penghulu-penghulu. Itulah yang harus kita waspadai, karena bentuk-bentuk terkecil yang bisa luput dari perhatian kita justru bisa menjadi penghancur utama. Kerajaan yang satu ini ini berisi banyak tipu muslihat yang membawa dampak kerusakan parah pada manusia dan peradabannya yang akan menggiring kita menuju maut.

Hari-hari ini iblis mencoba menyerang lembaga terkecil manusia yaitu keluarga. Suasana panas, rasa bosan, benci, cepat marah bisa merusak keutuhan lembaga keluarga. Jika anda mulai merasakan ketidakharmonisan dalam rumah tangga, perbaiki segera sebelum kerajaan ini terlanjur berkuasa atas diri anda.

Bayangkan kalau hati, yang kata Firman Tuhan merupakan pusat terpancarnya kehidupan sudah dikuasai oleh iblis. Betapa berbahayanya itu. Dan yang sering terjadi adalah kejahatan yang terus bertambah parah. Dari hidup penuh kebencian menjadi beringas, sadis dan buas. Hati yang di dalamnya bertahta kerajaan seperti ini sangat mengerikan. Dalam ayat Efesus 6:11 dikatakan bahwa mengenakan senjata Allah adalah cara bagi kita untuk dapat bertahan melawan tipu muslihat iblis.

Kerajaan satu lagi adalah Kerajaan Allah, The Kingdom of God. Kerajaan ini menempatkan Tuhan diatas segalanya, sebagai Raja di atas segala raja. Hati seperti ini mengijinkan Allah memegang kendali sepenuhnya atas hidupnya. Jika Kerajaan Allah yang berkuasa, maka ketaatan dan kepatuhan kita tanpa syarat kepada Allah yang memerintah adalah hal yang mutlak. Kita tidak memberi kompromi sedikitpun atas pelanggaran meski sangat kecil dan sering dianggap boleh diabaikan. Kita akan terus berjalan dalam koridor yang berkenan di hadapan Tuhan dan memuliakanNya lewat segala yang kita kerjakan.

Kasih Allah yang bekerja dalam diri kita akan kita pancarkan kepada sesama tanpa memandang latar belakang atau perbedaan. Kita akan bekerja serius, sungguh-sungguh dan penuh kejujuran dengan integritas tinggi. Kita akan punya kerinduan untuk terus mendengarkan Tuhan dan tunduk secara total atas otoritas Tuhan dalam segala aspek kehidupan. Seperti itulah sikap orang-orang yang menjadikan Allah sebagai Raja atas hidupnya.

Jangan lupa bahwa Kerajaan Allah adalah kerajaan yang tak tergoncangkan seperti yang disebutkan dalam Ibrani 12:26-28. Kita dilayakkan dan berhak untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah lewat lahir baru, menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Orang yang berjalan bersama Yesus dan dipenuhi Roh Allah akan terlihat dari buah-buah hidupnya. Jika Allah yang memerintah sebagai Raja, maka hidup pun akan mencerminkan kasih dan kesetiaan yang merupakan sifat utama Allah. Kita tidak lagi hanya ingin menerima tapi terus rindu untuk memberi. Kita akan menghormati Tuhan dalam apapun yang kita lakukan. Melakukan semua kebajikan dan menghindari kejahatan. Melakukan apa yang benar dan menjauhkan diri, berpaling yang salah.

(bersambung)


Saturday, December 2, 2017

Pemerintah Kerajaan Hati (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Dari pengamatan saya, secara umum ada tiga kerajaan yang bisa bertahta di hati manusia.
The Kingdom of Oneself (Kerajaan yang berpusat  Diri Sendiri)
The Kingdom of Evil yang berpusat pada iblis, kegelapan dan segala kejahatan yang menjadi produknya,
The Kingdom of God yang menempatkan Tuhan sebagai yang memerintah dan berkuasa dalam diri kita.

Mari kita lihat satu persatu. Pertama, The Kingdom of Oneself. Orang yang didalamnya berkuasa kerajaan diri sendiri akan menganggap dirinya sebagai raja diatas segala raja. Keputusan-keputusannya absolut, mutlak, pendapatnya tidak ada yang boleh menyanggah. Mereka akan mementingkan dirinya sendiri jauh di atas orang lain dan tidak akan segan-segan merugikan atau bahkan menghancurkan orang lain jika itu menyangkut kepentingannya. Tidak ada kebenaran Tuhan yang bisa masuk ke dalam pemahaman mereka karena mereka menganggap dirinyalah yang paling benar. Sifat ke-akuan begitu tinggi sehingga untuk bisa diterima oleh mereka, tidak ada jalan lain selain kita mutlak patuh kepada mereka dan setuju terhadap apapun yang mereka katakan. Inilah bentuk orang yang didalamnya berkuasa kerajaan diri sendiri.

Kerajaan diri sendiri ini sangatlah berbahaya karena mereka yang berada di dalamnya bisa terjebak pada pemikiran-pemikiran yang keliru sehingga mudah tersesat. Pemikiran-pemikiran mereka hanyalah bersumber dari apa yang mereka anggap benar dan logika mereka biasanya mudah menolak atau menyanggah kebenaran firman Tuhan. Apakah lewat logika, tingkat keilmuan mereka yang tinggi, kepintaran atau kejeniusan mereka. Pendek kata, jika itu tidak sesuai dengan pendapatnya, maka semua itu pasti salah. Merasa diri paling hebat, paling kuasa dan merasa orang lain hanya sebagai suruhan atau alat yang bisa diperintah untuk memenuhi kebutuhan mereka atau menjalankan keputusan mereka.

Seringkali kita terlalu terburu-buru menuduh bahwa iblis sebagai biang kerok segala kesengsaraan di muka bumi ini. Benar, itu tidak sepenuhnya salah, karena iblis memang selalu berusaha menjauhkan kita dari keselamatan, terus mencoba menjerumuskan kita ke dalam berbagai bentuk dosa. Ada ayat yang mengingatkan "...Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya." (1 Petrus 5:8). Iblis akan selalu mencari celah untuk masuk dan menghancurkan kita. Tapi masalahnya, kalau kita tidak memberi celah, maka iblis tidak akan bisa masuk dan berbuat apa-apa. Dia bisa mencoba lewat tipu muslihat, tapi kalau kita awas dan tidak terjebak, maka iblis yang sudah dikalahkan Yesus di kayu salib tidak akan bisa melakukan apapun. The kingdom of myself memiliki banyak celah yang bisa dimanfaatkan oleh penguasa-penguasa kegelapan untuk menghancurkan bahkan membinasakan. Iblis memanfaatkannya, tapi sumber penyebab sebenarnya adalah karena keakuan yang menguasai hati.

Firman Tuhan mengingatkan kita akan hal ini. "Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut." (Yakobus 1:14-15). Kingdom of myself mudah tergoda saat ditarik dan dipikat oleh keinginan-keinginannya sendiri yang jahat, seperti yang dikatakan dalam versi Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS). Keinginan untuk menimbun, keinginan untuk merasa paling benar, paling berkuasa, paling kuat, keinginan untuk memiliki segala sesuatu dengan segala cara, keinginan untuk melukai orang yang berseberangan dengannya dan banyak lagi keinginan jahat yang berasal dari kehidupan yang berpusat pada diri sendiri. Saat keinginan itu dibuahi, diakomodasi, dijalankan, maka yang lahir adalah dosa. Dan saat dosa menjadi matang, mautlah yang akan datang mencengkram.

Betapa berbahayanya apabila kerajaan diri sendiri ini yang menguasai hati kita. Ingatlah bahwa kerajaan ini bisa diperalat oleh iblis untuk melakukan banyak hal kejahatan sekaligus lahan bermain yang sangat menyenangkan bagi si jahat untuk terus menyesatkan sehingga semakin jauh dari kebenaran dan akhirnya binasa.

(bersambung)


Friday, December 1, 2017

Pemerintah Kerajaan Hati (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Petrus 3:15
==================
"Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!"

Suatu kali saya melihat kalimat menarik di sosial media seorang teman. "Kalau hati kita diibaratkan dunia, siapa yang memerintah disana?" Kalimat singkat, sederhana tapi membuat saya masuk dalam perenungan yang cukup panjang. Siapa yang memerintah, siapa yang berkuasa dalam hati kita. Kalau kita hubungkan dengan Firman yang belakangan sering saya lampirkan: "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23), siapa yang berkuasa tentu akan sangat menentukan seperti apa bentuk kehidupan kita yang terpancar dari sana. Sadar atau tidak, mau atau tidak, tapi yang memerintah dan berkuasa dalam hati kita akan sangat berpengaruh kepada cara pandang, gaya hidup, pola pikir dalam keseharian kita.

Saya membayangkan seandainya alat-alat kedokteran seperti stetoskop atau ronsen bisa dipakai untuk melihat apa yang ada dalam hati kita hari ini, siapa atau apa yang berkuasa disana. Seandainya teropong bisa menerawang penguasa hati kita, atau alat seperti pendeteksi logam bisa dipakai untuk itu, mungkin kita bisa lebih mudah mencari tahu siapa yang memerintah disana. Tapi seperi halnya keimanan kita bisa terlihat dari buah-buah yang dihasilkan, kita pun sebenarnya bisa mengetahui siapa yang memerintah hati kita lewat buah yang keluar dari hati kita. Apa yang ada dalam hati kita saat ini, apakah isinya Firman Tuhan dengan kerinduan untuk mengaplikasikannya secara langsung, hati yang mengasihi Tuhan dan sesama, atau hati yang penuh kebencian, hati yang terus mengejar harta benda untuk memperkaya diri dan sebagainya? Apa isinya hati kita dan kemana orientasinya? Who rules in it?

Sangatlah menarik mencermati apa yang diingatkan Yesus saat Dia menerangkan tentang hal mengumpul harta dalam Matius 6:19-24. Pada saat itu Yesus mengingatkan agar jangan keliru oritentasi dalam mengumpul harta. Bukan harta di bumi yang penting untuk dikumpulkan tapi di Surga. Banyak orang yang salah kaprah mengira bahwa sebuah hidup yang berpusat pada pengumpulan harta kekayaan bisa menjamin kebahagiaan dan kesempurnaan hidup. Pada kenyataannya seringkali tidak demikian. Bukankah kita sudah tidak asing lagi dengan orang-orang yang kehidupannya berlimpah tapi hidupnya jauh dari bahagia?  Mengacu kepada kata Yesus bahwa harta di dunia itu bisa hilang dalam sekejap mata karena ada ngengat, karat dan pencuri yang siap menghabiskannya, itu sudah seringkali terbukti benar. Kekayaan lewat jalan yang salah, kekayaan yang diperoleh tanpa mempersiapkan hati kita, itu hanya akan membawa kita kepada penderitaan.

Lantas, Yesus juga mengatakan "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." (Matius 6:21). Ini adalah statement singkat yang tampaknya sederhana atau simpel saja, tapi kalau direnungkan maknanya sebenarnya sangat dalam. Saya yakin kalau kita pikirkan baik-baik, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa apa yang dikatakan Yesus itu sangatlah benar. Kita akan selalu menaruh seluruh hati kita kepada apa yang kita anggap paling berharga.

Suatu kali saat terjadi gempa yang lumayan besar, beberapa teman saya bercerita bahwa reflek mereka berbeda-beda. Ada yang segera menarik tangan anak dan istrinya keluar rumah, ada yang langsung memboyong laptop atau bahkan pc nya lari melewati pintu meninggalkan istrinya. Ada yang mengambil celana berisi dompet sebelum bergegas keluar. Bahkan ada yang mengamankan koleksi berharga mereka. Saat terjadi gempa, reaksi yang timbul biasanya reflek alias tidak dipikirkan terlebih dahulu. Itu bisa menunjukkan apa yang menjadi harta paling berharga bagi mereka, dan disanalah hati mereka sesungguhnya berada.

Pertanyaan pertama, dimana kita meletakkan hati kita hari ini? Apakah masih pada hal-hal yang didoktrin oleh dunia sebagai penjamin kebahagiaan atau kepada Penjaga Israel yang tidak terlelap dan tidak tertidur (Mazmur 121:4)? Pertanyaan kedua, jika kita mengaku meletakkan Yesus pada posisi paling utama, sebagai apa kita menempatkanNya? Apakah sebagai Tuhan atau hanya sebagai provider harta, , dokter dan sejenisnya, atau malah selayaknya tukang pukul bayaran yang diminta untuk membalaskan dendam? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan penting yang harus sering-sering kita periksa agar jangan sampai tanpa sadar hati kita sudah dibawah kuasa lainnya selain Tuhan.

Kalau kemarin saya mengibaratkan hati sebagai taman yang kalau tidak dijaga bisa dihancurkan oleh hal-hal yang kita beri toleransi atau anggap kecil, hari ini saya ingin menggambarkan hati seperti sebuah kerajaan. Anggaplah diri kita seperti sebuah lembaga kerajaan, maka siapa yang memimpin akan sangat menentukan seperti apa kita hidup.

(bersambung)


Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker