Monday, July 24, 2017

Sukacita karena Tuhan adalah Perlindungan Kita (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Bukankah itu yang dirasakan banyak orang? Banyak yang menerima Yesus karena motivasi yang keliru, yaitu karena mengharapkan berkat duniawi, segala kenyamanan, bebas dari masalah, terhindar dari kebangkrutan dan sebagainya. Pada saat itu belum atau tidak terjadi, mereka pun kemudian kecewa dan mempertanyakan eksistensi Tuhan. Tuhan baik? Omong kosong. Lihat apa yang ia lakukan pada saya! Itu mungkin yang menjadi respon. Kalau itu yang muncul, itu artinya seseorang itu belumlah memiliki motivasi yang benar terhadap pertobatannya. Yang justru sering terjadi, sebagaimana yang juga terjadi pada saya yang mengenal dan menerima Yesus bukan sejak lahir, kita justru harus melewati dahulu masa-masa sulit, diproses, dikikis segala perilaku dan kebiasaan buruknya untuk bisa menjadi orang yang sama sekali baru. Tanpa itu kita tidak akan mungkin maju. Tanpa itu kita tidak akan mungkin memiliki iman yang kuat. Ujian demi ujian akan terus datang agar kita naik kelas. Yang pasti, selama masalah bukan datang dari kesalahan kita, akhirnya pasti bertujuan baik buat kita. Meski saat ini kita belum bisa melihatnya, dengan iman kita tahu bahwa apa yang dikerjakan Allah, meski berat adalah untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.

Kembali pada Paulus, apakah ia menyesal? Bukankah hidupnya saat belum bertobat terlihat jauh lebih baik? Sama sekali tidak. Ia berkata bahwa apa yang dulu ia anggap keuntungan sekarang merupakan kerugian jika masih ia lakukan. Ia terus konsisten dalam mewartakan firman Tuhan kemanapun ia pergi, apapun resikonya. Bukan itu saja, secara jelas kita bisa melihat bahwa sukacita ternyata tetap menyertainya. Lihat apa katanya: "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! ... Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:4,6-7). Dalam menghadapi perkara-perkara berat yang menyiksa, ia berkata "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." (ay 13). Seperti itulah bentuk iman Paulus yang tahu betul bagaimana pentingnya memiliki sukacita yang berasal dari Tuhan, yang mampu memberikannya kekuatan dalam menghadapi berbagai masalah dalam pelayanannya.

Berada dalam penjara, mendapat siksaan secara fisik sekalipun, Paulus tidak patah semangat. Paulus tidak menganggap penjara sebagai sebuah halangan, kendala atau kerugian, tapi justru sebagai kesempatan atau keuntungan baginya. Ia mempergunakan ruang penjaranya bukan sebagai tempat untuk meratapi nasib, tapi mengubahnya sebagai pusat penginjilannya. Ia tahu bahwa selama kesempatan masih diberikan, ia harus bekerja menghasilkan buah. Banyak surat ia tuliskan berasal dari dalam penjara yang justru berisi cara pikir dan pandang kehidupan yang esensial dari Kekristenan. Ia terus membagi sukacita kerajaan Allah dan tips-tips kehidupan yang penuh kemenangan seperti apa yang ia alami. Lihatlah bahwa sebuah sukacita karena Tuhan tidak terpengaruh oleh keadaan sekitar. Semua itu sesungguhnya adalah sebuah pilihan bagi kita. Apakah kita mau membiarkan diri kita dikuasai masalah dan kemudian kehilangan sukacita, atau kita mau memakai sukacita dalam Tuhan sebagai kekuatan yang memampukan kita menghadapi badai apapun dengan tegar.

Jika ada diantara teman-teman yang saat ini tengah bersusah hati, jangan biarkan kesedihan atau kepedihan itu menghapuskan sukacita dalam diri anda. Jangan gantungkan sukacita di tempat yang salah, menggantungkannya kepada masalah, situasi atau orang lain. Tetapi gantungkanlah pada Tuhan. Disanalah terletak perlindungan anda. Disanalah letak kekuatan anda dalam menghadapi apapun tanpa kehilangan sukacita dalam diri anda. Saat Paulus menghadapi keadaan sangat berat, ia berkata : "Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita." (Filipi 1:18b). Seperti itu pula hendaknya prinsip hidup kita. Jangan sampai kita menyerah kalah oleh masalah, jangan sampai kesusahan membuat kita lupa akan kasih karunia Allah, jangan sampai pula berbagai tekanan hidup itu menjadi jalan masuk bagi iblis untuk merampas kemenangan kita. Masalah boleh hadir dan tidak bisa kita hindari seterusnya, tapi biar bagaimanapun sukacita karena Tuhan harus tetap ada dalam diri kita, sebab itulah perlindungan kita.

"Do not grieve, for the joy of the LORD is your strength!"

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, July 23, 2017

Sukacita karena Tuhan adalah Perlindungan Kita (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Nehemia 8:11b
========================
"Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!"

Mudahkah untuk bersukacita? Mungkin mudah kalau sedang tidak ada masalah, saat semua berada dalam keadaan baik. Tapi saat ada masalah, akan jadi sulit sekali bagi kita untuk bersukacita. Rata-rata orang menghubungkan sukacita kepada sebuah perasaan dalam suatu kondisi dimana tidak ada penderitaan atau permasalahan yang sedang menimpa mereka. Berarti sukacita bagi mayoritas orang sangat tergantung dari kondisi atau keadaan yang sedang dialami. Kalau hidup sedang lancar, aman, berkecukupan atau bahkan berkelebihan, sedang dapat rejeki atau keuntungan, mendapat hadiah, bonus dan lain-lain barulah kita bersukacita. Sebaliknya, kalau sedang menghadapi persoalan, itu tandanya sukacita tidak boleh ada lagi didalam diri kita. Paling tidak sampai situasi bisa menunjukkan perubahan terlebih dahulu. Bagaimana mungkin bersukacita jika sedang dalam keadaan tersesak? Itu pandangan sebagian besar manusia.

Teman saya yang baru kehilangan ayahnya baru saja curhat bahwa saat ini ia merasa sepi, karena biasanya ia sering menelepon ayahnya yang tinggal di kota berbeda untuk bercerita tentang kesehariannya. Ia bilang, sekarang ia memandang telepon genggamnya dan tahu bahwa ia tidak lagi bisa mengajak ayahnya ngobrol santai. Sesuatu yang biasa ia lakukan, sekarang ia harus membiasakan diri melupakan hal itu. Apakah ia kehilangan sukacitanya? Ia katakan, ia bersyukur bahwa ayahnya dipanggil dalam keadaan menjaga kesetiaan iman sampai akhir. Ia bahkan dipanggil Tuhan saat sedang menyiapkan bahan sharing untuk komselnya. Ia juga bersyukur bahwa selama ini Tuhan jaga kedua orang tuanya dengan sangat baik, dikaruniai umur yang panjang dengan kondisi baik, dan ia juga tahu bahwa soal waktu dipanggil itu merupakan hak Tuhan sepenuhnya yang tidak bisa kita campuri. Ia berkata bahwa ia tidak bisa membayangkan apabila ayahnya dipanggil dalam keadaan tidak siap secara iman. Entah masih melakukan dosa, berpaling dari Tuhan, malas dalam mebangun hubungan intim dengan Tuhan, berlaku buruk terhadap orang lain dan sebagainya. Ia juga bersyukur bahwa ia tidak membuang kesempatan untuk menunjukkan rasa sayang dan kepedulian selama ayahnya masih hidup. "Untuk semua itu saya bersyukur, dan bersukacita." katanya. Tapi tetap saja ia merasakan kesepian. Dan disamping itu, ia harus menguatkan ibunya yang juga kehilangan. Tidak mudah. Ia tentu berhak merasa sedih karena kehilangan orang yang ia cintai, tapi jangan sampai rasa sedih itu kemudian membunuh rasa sukacita dan syukur, kemudian menggantikannya dengan kekecewaan, kemarahan, frustasi, depresi dan hal-hal lainnya yang tidak kondusif bagi hidup saat ini dan yang akan datang kelak.

Seorang teman lain bercerita bahwa beberapa tahun terakhir ia sebenarnya sedang kesulitan secara finansial. Berat, tapi ia menyikapinya dengan positif. Ia belajar berhemat dalam mencukupi kebutuhannya, memperbaiki pola hidup dan memilih untuk tetap bersukacita ditengah keterbatasan. Pertanyaannya, bagaimana agar kita tidak kehilangan sukacita saat keadaan sedang tidak baik, sedang bersedih, sedang dalam kesesakan, sedang bersusah hati dan sebagainya? Apakah kita harus membiarkan rasa susah menguasai kita menutupi rasa syukur dan sukacita? Atau, apakah kita harus pura-pura kuat padahal sebenarnya kita goyah?

Dalam renungan kemarin yang saya bagi dalam beberapa bagian kita sudah melihat bahwa sukacita yang sejati sesungguhnya tidak tergantung dari apa yang sedang kita alami atau rasakan. Itu karena sukacita yang sesungguhnya itu seharusnya berasal dari Tuhan dan tidak boleh tergantung dari manusia, situasi, kondisi atau keadaan apapun. Alkitab menyebutnya dengan sukacita dalam Tuhan, yang bisa kita dapati dalam berbagai ayat mulai dari Mazmur sampai Filipi diantara ayat-ayat lainnya.

Ada sebuah ayat menarik akan hal ini yang bisa kita renungkan. "Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!" (Nehemia 8:11b). Sukacita karena Tuhan ternyata bukan saja bisa mengobati kesusahan hati tetapi sangat mampu menjadi perlindungan kita. Artinya tidak saja sukacita itu tidak boleh digantungkan kepada keadaan atau kondisi yang tengah kita hadapi, tetapi seharusnya sukacita itu digantungkan pada Tuhan, dan itu bisa memberikan sebuah kekuatan tertentu untuk bisa bertahan bahkan menjadikan kita keluar sebagai pemenang ditengah kesesakan apapun. That's the power of rejoicing. Kalau memakai kekuatan kita sendiri tentu saja berat bahkan terlihat seolah tidak mungkin, tapi dengan memandang pada Tuhan, menggantungkan kesusahan kita kepadaNya kita bisa mendapatkan perlindungan dan kekuatan.

Bagi saya, Paulus selalu bisa menjadi contoh bagaimana seseorang itu bisa tetap berlimpah sukacita meski kondisi faktual yang sedang dialami sedemikian beratnya. Setelah bertobat, hidup Paulus bukanlah menjadi lebih gampang. Yang terjadi justru sebaliknya, karena ia segera bertemu dengan masalah dan penderitaan. Ia mengalami berbagai tekanan, siksaan, deraan bahkan ancaman yang setiap saat bisa menamatkan nyawanya. Secara logika kita mungkin akan berpikir bahwa itu artinya ada sesuatu yang salah.

(bersambung)


Saturday, July 22, 2017

Sukacita dalam Tuhan (4)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Daud tahu dosa akan membuat hidupnya tidak nyaman dan jauh dari Tuhan. Dan jika ia biarkan itu terjadi, sukacita pun jelas tidak akan pernah ia rasakan lagi. Itulah sebabnya Daud segera meminta hatinya disucikan agar ia dapat mengembalikan sukacita ke dalam kehidupannya, lepas dari binasa dan kembali ke dalam jalur keselamatan. Begitu pentingnya bagi kita untuk memastikan bahwa Firman Tuhan tertanam dan tumbuh subur di dalam hati kita agar kehidupan yang terpancar keluar adalah kehidupan yang penuh sukacita. Jika saat ini kita tidak merasakan adanya sukacita, mungkin inilah waktunya untuk mulai meminta pengampunan dan penyucian hati dari Tuhan

6. Sukacita dalam penderitaan
Ini mungkin yang paling sulit. Sukacita dan penderitaan bagi mayoritas manusia tidak akan pernah sejalan, selalu berada berseberangan dan bertolak belakang. Artinya, terdengar aneh apabila ada orang yang sedang menderita tetapi tetap bersukacita, dan sebaliknya orang yang bersukacita artinya sedang tidak sedang mengalami penderitaan.

Tetapi Alkitab menyatakan hal yang berbeda. Sukacita dalam Tuhan  bukanlah sukacita semu yang hanya bergantung kepada situasi dan kondisi yang kita alami sehari-hari. Lihatlah apa yang dikatakan Paulus dalam surat Roma. "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" (Roma 12:12).

Surat ini ia tulis ketika ia berada dalam penjara. Situasi sama sekali tidak memihak kepadanya. Ia patuh dan taat kepada perintah Yesus, tetapi justru penderitaanlah yang ia alami. Tetapi Paulus tidak kehilangan sukacita. Bagaimana ia bisa seperti itu? Paulus bisa, sebab fokusnya bukan ia letakkan di dunia melainkan ke dalam kehidupan kekal yang menanti didepannya. Berbagai penderitaan yang dialami Paulus sungguh berat. Hampir di setiap langkah ia akan mengalami situasi yang tidak menyenangkan dan penuh resiko. Tapi lihatlah apa kata Paulus mengenai rangkaian penderitaan itu. "Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami." (2 Korinuts 4:17).

Paulus dengan tegas mengatakan bahwa semua yang ia alami itu ringan. Dan itu bisa ia lakukan karena ia mengarahkan pandangannya bukan ke dalam apa yang ia alami di dunia melainkan ke dalam kehidupan kekal kelak. Jemaat di Makedonia pun mengalami hal yang sama. "Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan." (2 Korintus 8:2). Jika kita berkata, bagaimana mungkin kita bisa bersukacita di dalam penderitaan, maka Tuhan akan menjawab, kenapa tidak? Sukacita dari Tuhan tidaklah bergantung kepada keadaan melainkan kepada seberapa dekat kita denganNya.

Jika ada diantara teman-teman yang sedang kehilangan sukacita, lihatlah bahwa sukacita ada dimana-mana, dan tidak sulit untuk ditemukan. Sebagai penutup dari renungan yang cukup panjang ini, mari kita lihat apa kata Daud berikut: "Engkau telah memberikan sukacita kepadaku, lebih banyak dari pada mereka ketika mereka kelimpahan gandum dan anggur. Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman." (Mazmur 4:8-9). Anda rindu suasana seperti yang dirasakan Daud ini? Sadarilah bahwa Tuhan senantiasa melimpahi sukacita kepada kita.Tuhan selalu siap memberikan kelegaan dan menggantikan kesedihan kita dengan sukacita sejati yang berasal daripadaNya. Itu bisa kita miliki dan rasakan, tetapi ingatlah bahwa semua tergantung kita apakah kita mau atau tidak.

Look at the roses inside thorn bushes, and rejoice for that! 

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, July 21, 2017

Sukacita dalam Tuhan (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

3. Sukacita akan keselamatan
Cobalah pikir. Kalau Tuhan sudah memberi jaminan keselamatan kekal lewat Kristus kepada kita, bukankah itu seharusnya mampu kita syukuri tanpa henti dan membuat kita bersukacita? Dunia hanyalah tempat persinggahan kita sementara. Mau seberat apapun sebuah masalah, jaminan keselamatan yang sifatnya kekal itu seharusnya mampu membuat kita tetap bisa  bersukacita meski sedang berada dalam situasi sulit.

Paulus berkata "Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu." (Roma 5:10-11). Yesus turun ke bumi, mendamaikan hubungan kita dengan Allah dan juga menyelamatkan hidup kita. Tidakkah hal itu seharusnya mampu membuat kita bersukacita?

4. Sukacita akan Firman Tuhan
Sadarkah kita bahwa firman Tuhan yang bisa kita baca di dalam Alkitab mengandung kuasa yang hidup, mampu menjadi solusi atas segala permasalahan kita dan dengan demikian mampu mendatangkan sukacita karenanya? Daud tahu bagaimana pentingnya menyimpan Firman Tuhan untuk terus tumbuh di dalam dirinya. "aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku." (Mazmur 40:9). Bahkan awal kitab Mazmur pun langsung diawali dengan pesan penting akan hal ini. "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (1:1-3).

Melewatkan membaca firman Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab itu sama saja dengan membuang kesempatan kita untuk dipenuhi sukacita. Jika sukacita bisa hadir lewat firman Tuhan, mengapa kita terus mengabaikan mengambil waktu untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan dan kemudian tumbuh menjadi para pelakunya?

5. Sukacita akan hati yang murni
Hati merupakan sumber yang penting yang akan berdampak kepada seluruh sendi kehidupan kita. Dalam Amsal kita diingatkan akan hal ini. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Seringkali kita tidak menyadari bahwa hati merupakan sumber kehidupan. Kita membiarkan hati kita kering, lapar dan haus, kita membiarkan berbagai kecemasan, kecurigaan dan ketakutan mengkontaminasi hati kita. Tidaklah mengherankan jika rasa sukacita pun tidak lagi punya tempat karena segala yang tidak baik sudah memenuhi diri kita. Apa yang ada di dalam hati kita saat ini akan sangat berdampak kepada bagaimana kehidupan kita.

Mari kita lihat penggalan doa Daud yang berisikan pengakuan dosa berikut: "Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!" (Mazmur 51:12-14).

(bersambung)


Thursday, July 20, 2017

Sukacita dalam Tuhan (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Sejaan dengan ayat dari Paulus diatas, ayat bacaan hari ini jelas menyatakan dimana letaknya sukacita sejati itu. "Bersukacitalah dalam TUHAN dan bersorak-soraklah, hai orang-orang benar; bersorak-sorailah, hai orang-orang jujur!" (Mazmur 32:11). Sukacita sejati itu ternyata ada di dalam Tuhan, di dalam persekutuan kita yang manis denganNya. Disanalah letak sukacita itu, dan bukan pada keadaan kita di dunia atau tegantung orang lain. Sorak sorai akan selalu keluar dari mulut orang-orang benar dan jujur, karena ada Tuhan bersama orang-orang seperti ini. Dalam persekutuan yang erat dengan Tuhan, kita pun tidak akan gampang goyah menghadapi masalah apapun. Ada sukacita dalam Tuhan yang akan terus mengalir dan mengalir mengisi setiap relung hati kita. Dan sukacita seperti ini tidak akan mampu dihentikan oleh masalah apapun.

Pertanyaannya sekarang, dari mana kita bisa mendapatkan sukacita dalam Tuhan itu? Terkadang kita berpikir terlalu jauh, padahal sukacita bisa kita temukan dalam hal-hal yang sederhana. Mari kita lihat dari mana saja sukacita itu bisa muncul.

1. Sukacita akan kehadiran Tuhan.
Lewat Daud kita bisa mengetahuinya dengan jelas "Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram." (Mazmur 16:8-9). Menyadari kehadiran Allah bersama kita akan membuat kita tenang menghadapi segalanya. Bukankah Tuhan punya kuasa lebih dari segalanya? Adakah hal yang terlalu sulit bagi Allah? Adakah satupun hal yang tidak sanggup dilakukan Tuhan? Sama sekali tidak ada. Artinya, jika kita menyadari bahwa Allah hadir bersama kita, tidak ada satu hal pun yang dapat mencuri sukacita itu. Kita tidak perlu panik, takut, kecewa, marah, melainkan bisa merasakan sukacita, penuh sorak sorai dan merasakan tenteram dalam hati.

2. Sukacita akan kasih setia dan kebaikan Tuhan.
Selain dengan menyadari kehadiranNya, kita pun harus menyadari betapa baiknya Tuhan itu. Dalam kitab Yesaya kita bisa menemukan hubungan antara menyadari kebaikan Tuhan dengan datangnya sukacita. "Aku hendak menyebut-nyebut perbuatan kasih setia TUHAN, perbuatan TUHAN yang masyhur, sesuai dengan segala yang dilakukan TUHAN kepada kita, dan kebajikan yang besar kepada kaum Israel yang dilakukan-Nya kepada mereka sesuai dengan kasih sayang-Nya dan sesuai dengan kasih setia-Nya yang besar." (Yesaya 63:7).

Seringkali kita lupa menyadari kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Kita begitu mudah menyalahkan Tuhan dan menuduh Tuhan pilih kasih, tidak adil dan sebagainya bahkan menuduh kejam saat pertolonganNya tidak kunjung turun sesuai kemauan kita. Di sisi lain, kita begitu sulit merasakan kebaikan Tuhan ketika hidup kita sedang baik-baik saja. Apakah dengan hadirnya masalah itu artinya Tuhan tidak baik? Tentu saja tidak. Ada banyak alasan mengapa kita harus tetap melalui lembaran-lembaran berat dalam kehidupan kita. Tuhan bisa pakai itu untuk melatih otot rohani kita dan membawa kita naik kelas, Tuhan bisa pakai juga untuk memberi pelajaran bagi kita. Atau bisa jadi pula akibat dosa kita sendiri. Tetapi yang pasti Tuhan itu baik. Ayat Yesaya di atas kemudian dilanjutkan dengan: "..maka Ia menjadi Juruselamat mereka dalam segala kesesakan mereka. Bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka; Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya. Ia mengangkat dan menggendong mereka selama zaman dahulu kala." (ay 8-9). Ketika Yesus datang ke bumi, ia langsung turun tangan menyelamatkan umat manusia, memulihkan hubungan kita dengan Tuhan dan melayakkan kita untuk bisa memperoleh keselamatan.

Di zaman Salomo kita bisa menemukan sebuah lagu pujian yang dipersembahkan kepada Tuhan dengan megahnya. "Demikian pula para penyanyi orang Lewi semuanya hadir, yakni Asaf, Heman, Yedutun, beserta anak-anak dan saudara-saudaranya. Mereka berdiri di sebelah timur mezbah, berpakaian lenan halus dan dengan ceracap, gambus dan kecapinya, bersama-sama seratus dua puluh imam peniup nafiri. Lalu para peniup nafiri dan para penyanyi itu serentak memperdengarkan paduan suaranya untuk menyanyikan puji-pujian dan syukur kepada TUHAN. Mereka menyaringkan suara dengan nafiri, ceracap dan alat-alat musik sambil memuji TUHAN dengan ucapan: "Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya." Pada ketika itu rumah itu, yakni rumah TUHAN, dipenuhi awan." (2 Tawarikh 5:12-13). Lihatlah lagu pujian yang menyatakan kebaikan Tuhan itu mampu membuat kemuliaanNya turun dari langit. Jangan pernah lupakan kebaikan Tuhan, bersukacitalah atas hal itu.

(bersambung)


Wednesday, July 19, 2017

Sukacita dalam Tuhan (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 32:11
==================
"Bersukacitalah dalam TUHAN dan bersorak-soraklah, hai orang-orang benar; bersorak-sorailah, hai orang-orang jujur!"

Ada satu kutipan perkataan mantan Presiden Amerika Serikat pada masa perang saudara, Abraham Lincoln. "We can complain because rose bushes have thorns, or rejoice because thorn bushes have roses". Kita bisa protes karena semak bunga mawar banyak durinya, atau kita bisa bersukacita karena semak duri punya banyak mawar. Belakangan, seorang evangelist dan guru bernama Dwight L Moody mengatakan: "Men grumble because God put thorns on roses, would it not be better to thank God that he put roses on thorns?" Manusia menggerutu karena Tuhan memberi duri pada bunga mawar, bukankah lebih baik untuk bersukur bahwa Tuhan menaruh mawar pada duri?

Kedua kutipan yang mirip ini mengacu kepada cara kita memandang sesuatu yang tidak baik. Apakah kita fokus kepada durinya atau mawar? Apakah kita memilih untuk mengeluh, menggerutu, protes atau bersyukur, bersukacita? Apakah kita melihat dari sisi negatif atau positif? Satu hal yang pasti, bersukacita tentu lebih menyenangkan dan membahagiakan daripada bersungut-sungut dan bentuk-bentuk perasaan tidak enak lainnya. Kita sering lupa bahwa itu tergantung dari sudut pandang kita sendiri dan bukan tergantung dari keadaan, situasi atau orang lain. Kalau itu tergantung keputusan kita, bukankah akan jauh lebih baik apabila kita memutuskan untuk bersukacita ketimbang membiarkan perasaan-perasaan sebaliknya menguasai diri kita?

Banyak orang hari-hari ini semakin sulit untuk bersukacita. Di waktu susah dalam pergumulan kita mengeluh, dalam kesesakan kita panik, tersenggol sedikit kita emosi, terpercik api sedikit kita langsung berkobar bagai kasus kebakaran hutan. Tapi waktu hidup sedang baik, saat laut tenang, banyak pula orang yang tidak bisa bersukacita. Saat diberkati secara finansial mereka takut kehilangan harta, ketika bertemu orang bawaannya curiga, cemas menatap hari depan dan berpikir, bagaimana nanti kalau badai datang? Makin banyak yang dimiliki, semakin banyak pula yang diinginkan. Tidak pernah merasa puas, terus mengejar segala sesuatu yang fana. Pendeknya, ada saja hal yang dijadikan masalah. Atau, ada orang yang tidak punya kuasa menikmati dan itu dikatakan Pengkotbah sebagai suatu kemalangan, kesia-siaan dan penderitaan yang pahit. Bukankah sangat menyedihkan saat orang justru mengalami penderitaan akibat kekayaannya?

Ditengah semakin sulitnya hidup, ditengah semakin hilangnya sukacita dalam diri manusia, hari ini marilah kita membenahi hati kita dengan mengisinya dengan sukacita. Kekecewaan, kepedihan hingga amarah bisa menimbulkan akar yang pahit, yang kalau terus dibiarkan pada suatu ketika akan sulit sekali dicabut. Itu akan merugikan kita, menimbulkan kerugian dan mencemarkan banyak orang (Ibrani 12:15).  Sebaliknya bersukacita akan menyehatkan kita, menciptakan situasi kondusif sehingga kita bisa produktif menghasilkan buah dan akan mendatangkan berkat, seperti yang disebutkan dalam ayat berikut: "dan bergembiralah karena TUHAN ; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu." (Mazmur 37:4).

Ada banyak orang yang tahu bahwa jauh lebih baik bersukacita daripada membiarkan perasaan-perasaan negatif berkuasa dalam hatinya, tapi masalahnya banyak orang yang tidak tahu bagaimana caranya atau tidak kuasa menggantikan perasaannya dengan sukacita. Adakah kunci yang bisa tetap membuat kita bersukacita? Kalau ada, apakah itu?

Dalam renungan kemarin saya sudah menyinggung tentang sukacita sejati. Sukacita sejati bukanlah tergantung dari baik buruknya keadaan, bukan tergantung dari orang lain. Kita sudah belajar lewat Paulus dan contoh yang saya berikan bagaimana mereka bisa tetap mengucap syukur, berkata Tuhan baik bahkan tetap menghasilkan buah disaat sedang menghadapi penderitaan dalam kondisi yang berat. Lihatlah bahwa meski dalam penjara dan menanti datangnya hukuman mati dengan cara kejam, ia masih bisa berseru dengan lantang: "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" (Filipi 4:4).

(bersambung)


Tuesday, July 18, 2017

Bersukacita di Tengah Penderitaan (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Atau, lihatlah seruan yang sudah tidak asing lagi bagi kita: "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" (4:4). Menariknya, ayat ini ada pada bagian akhir dari surat Filipi, dengan judul perikop "Nasihat-nasihat terakhir."

Bagaimana Paulus bisa seperti itu? Bagaimana seseorang yang sudah melayani Tuhan untuk waktu yang lama masih bisa menyerukan ujaran untuk tetap bersukacita saat keadaannya sedang terluka dalam penjara dan menanti datangnya hukuman mati? Kalau kita baca surat-suratnya, kita akan melihat bahwa Paulus mengarahkan pandangannya bukan seperti orang dunia. Ia tidak mengharapkan kekayaan, kemudahan, kelancaran, perlakuan istimewa, pamor, popularitas, segala sesuatu yang justru mungkin mudah ia dapatkan sebelum ia bertobat. Tapi ia memandang ke depan, terus berlari dengan tujuan untuk memperoleh panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus.

Mari kita lihat apa yang ia tulis. "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati... Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Filipi 3:10-11, 13-14). Ia juga kemudian berkata "Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat,  yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya." (20-21).

Kita bisa lihat apa yang menjadi fokus pandangan Paulus dalam menjalani sisa hidupnya setelah bertobat. Meski akhir hidupnya secara duniawi sangat tidak baik, ia bersukacita karena mendapat keselamatan dan kesempatan untuk melayani Tuhan. Ia tahu bahwa ia harus tetap berbuah selama kesempatan masih ada, dan ia tahu bahwa ia harus terus setia mempertahankan imannya sampai akhir. Dan itulah tepatnya yang ia lakukan. Ia melakukan persis dengan apa yang ia ajarkan: "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" (Roma 12:12).

Kita akan sulit bersukacita kalau menggantungkan atau memandangnya pada penderitaan. Tetapi sebuah sukacita sejati adalah sebuah sukacita dalam Tuhan. Itu seruan yang disampaikan Paulus dalam ayat bacaan kita hari ini, yang juga pernah disampaikan oleh Daud ribuan tahun sebelumnya seperti yang bisa kita baca dalam Mazmur 32:11. Adakah hal yang menghalangi anda untuk bersukacita hari ini? Berhentilah memandang masalah, gantikan dengan mengarahkan pandangan pada Tuhan. Temukan Tuhan dalam hati anda dan bersyukurlah didalamNya. Atas semua anugerah dan kasih karuniaNya pada kita, Dia itu sungguh baik. Jangan lupa akan hal itu, dan bersukacitalah.

"Life is too tragic for sadness: Let us rejoice" - Edward Abbey

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, July 17, 2017

Bersukacita di Tengah Penderitaan (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Filipi 4:4
================
"Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!"

Bersukacita, bergembira saat hidup sedang baik itu mudah. Sedang tidak ada masalah, pekerjaan sedang lancar, semua dalam keadaan baik, tentu kita pun tidak sulit untuk bersenang hati. Pertanyaannya, apakah kita masih tetap bisa bersukacita saat kondisi sedang tidak kondusif, sulit atau bahkan sangat berat? Bisakah kita tetap memuji Tuhan pada saat kita kehilangan orang yang kita sayangi, saat kita tengah ditimpa masalah atau berada dalam pergumulan? Teman saya baru saja kehilangan ayahnya secara tiba-tiba. Sang ayah tadinya sehat-sehat saja. Pagi hari ia masih mengantar ibunya ke pasar dan tukang jahit. Tapi siang hari ia terjatuh dari kursi, kepalanya terbentur keras ke lantai dan saat itu juga meninggal dunia. Begitu mendadak, tidak ada anggota keluarga yang siap untuk kehilangan. Saat saya datang untuk memberi penghiburan, ibunya bercerita panjang tentang saat-saat terakhir bersama suaminya, dan kenangannya hidup bersama hampir 50 tahun.

Buat saya, mereka ini adalah contoh yang sangat baik dari pernikahan. Kemana-mana berdua, suaminya begitu telaten mengurus istrinya yang sebenarnya lebih lemah kondisinya. Ia memapah istrinya kemana-mana, membantu pekerjaan rumah disamping masih aktif bekerja dan pelayanan. Di usia senjanya ia juga sebenarnya masih rajin olah raga bersepeda, yang rutin ia lakukan selesai saat teduh. Tidak ada satupun dari keluarganya yang ingin ayahnya pergi secepat itu, tapi Tuhan berkehendak lain. Sambil menangis, si ibu berkata bahwa ia bangga suaminya setia menjaga imannya sampai akhir dan berhasil menjadi ayah, suami, imam dan anak Tuhan yang baik. "Saya kehilangan, tapi saya bersyukur Tuhan kasih suami seperti dia. Tuhan itu baik. Terima kasih Tuhan." katanya sambil tersenyum ditengah linangan air mata.

Buat saya apa yang ditunjukkan ibu teman saya ini bukan main luar biasa. Ditengah rasa kehilangan dan ketidaktahuannya bagaimana hidup tanpa bantuan suami ke depan, ia masih bisa mengucap syukur dan mengatakan Tuhan itu baik. Meski kehilangan, meski hatinya mungkin tengah hampa dan perih, ia tidak kecewa pada Tuhan. Kok bisa? Saya yakin karena ia memandang dari sisi lain. Kalau sisi penderitaan yang ia pandang, tidak mungkin ia bisa bereaksi seperti itu. Tapi ia tahu bahwa suaminya sekarang sudah ada bersama Bapa di surga, suaminya sudah meninggalkan begitu banyak kenangan indah dan warisan iman. Tidak semua orang bisa menjaga kesetiaan imannya sampai akhir, tidak semua orang mau menjaga hubungan yang intim dengan Tuhan hingga jangka waktu lama. Tidak semua orang pula bisa terus hidup benar ditengah godaan, cara hidup/pandang dan pengajaran dunia yang seringkali berbanding terbalik dengan Firman Tuhan. Ia pun masih punya satu anak dan menantu yang sudah mapan dan pasti dengan senang hati merawatnya. Atas semua ini, ia tahu bahwa tidak ada alasan baginya untuk kecewa. Rasa sedih karena kehilangan itu satu hal, tapi seharusnya kita jangan sampai menanggapinya dengan kekecewaan pada Tuhan, menyalahkan atau bahkan menghujatNya.

Saya pun kemudian ingat akan Paulus. Setelah bertobat lewat 'perjumpaan' dengan Kristus, Paulus kemudian membaktikan diri sepenuhnya untuk melayani Tuhan. Sepanjang perjalanannya yang menempuh jarak hingga puluhan ribu kilometer, ia kerap bertemu dengan situasi berat, mengalami banyak siksaan, tekanan dan sebagainya. Luka fisik, itu biasa. Ia dipenjara, dipasung, dianiaya, tapi tidak satupun dari itu menghentikan langkahnya. Setelah sekian tahun, ending dari kisah Paulus ada di penjara menanti datangnya hukuman mati. Banyak orang yang akan segera kecewa pada Tuhan, mempertanyakan keadilan Tuhan jika mengalami kisah seperti Paulus. Bukankah ia punya seribu satu alasan untuk marah pada Tuhan dan merasa dikhianati? Tapi kita tidak menemukan itu sama sekali. Justru di dalam penjara Paulus masih menulis beberapa surat untuk jemaat dan rekan sekerjanya. Ia memberi begitu banyak pesan yang saat ini menjadi pondasi esensial bagi hidup setiap orang percaya.

Yang juga luar biasa, isi surat-suratnya tidaklah berisi keluhan, kesedihan melainkan seruan-seruan agar tetap teguh dan tidak berhenti bersukacita. Dalam surat Filipi misalnya, ada begitu banyak pesan agar jemaat Filipi tetap bersukacita. Berkali-kali pula ia menyatakan bahwa meski dalam kondisi seperti itu ia masih tetap bisa bersukacita. Lihatlah contohnya: " Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian. Dan kamu juga harus bersukacita demikian dan bersukacitalah dengan aku." (Filipi 2:17-18) atau "Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan. Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu." (3:1)

(bersambung)


Sunday, July 16, 2017

Akar Pahit

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Ibrani 12:15
============
"Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang."

Belum lama ini ada seorang teman yang curhat pada saya tentang apa yang ia alami beberapa bulan terakhir. Mulanya, ia mendapat kritik dalam pelayanannya. Mungkin cara penyampaiannya kurang pas atau datang pada waktu yang tidak tepat. Ia merasa kecewa saat dikritik dan gagal menanggapinya dengan baik, karena ia merasa sudah melakukan yang terbaik. Perlahan rasa kecewa itu bertambah parah. Ia mulai membawa pulang kekecewaan itu ke rumah dengan bersikap cepat tersinggung, mengeluarkan kata-kata negatif saat ada pembicaraan yang berhubungan dengan gereja maupun pelayanan. Ia masih melayani tapi tidak lagi sepenuh hati, ia pun hanya ke gereja saat ada jadwal. Suatu kali istrinya mengajaknya bicara dan mengutarakan bahwa ia sepertinya sudah terkena kepahitan dan jelas, itu tidak baik. Untungnya ia menerima hal itu. Ia kemudian memperbaiki diri meski tidak seketika. Ia memperbaiki sikapnya di dalam dan luar rumah, belajar untuk lebih lapang dada menerima kritik maupun teguran meski menurutnya sulit. Ia mengampuni orang yang mengkritiknya dan perlahan pulih. "Saya belajar banyak. Sesuatu yang awalnya ringan, jika tidak segera diatasi ternyata bisa mendatangkan kebencian, kemarahan kemudian kepahitan yang akan terus tambah parah." katanya.

Dalam hidup kita sehari-hari kita bersinggungan dengan begitu banyak orang dengan sifat, tingkah dan pola masing-masing. Ada yang tipe ramah, ada yang ketus. Ada yang pintar basa-basi, ada yang to the point. Ada yang topengnya tebal, ada yang wajahnya tampil tanpa polesan sama sekali, sehingga apapun yang mereka rasa bisa tercetak dari raut wajahnya. Ada yang suka memotivasi, ada yang cuek, ada yang hobi mengkritik. Pokoknya bermacam-macam gayanya. Saat bertemu dengan yang provokatif, terang-terangan dan tidak pintar menyampaikan, bisa jadi kita bisa tersinggung atau kecewa. Sampai disitu masih wajar, tapi saat kita tidak segera menyelesaikan, berhati-hatilah akan tumbuhnya akar pahit yang kemudian bukan saja menghancurkan diri sendiri tapi juga bisa berdampak buruk pada banyak orang.

Curhatan teman saya mengingatkan saya pada ayat dalam Ibrani: "Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang." (Ibrani 12:15). Kita diingatkan Penulis Ibrani agar tetap hidup dalam kasih karunia supaya jangan sampai tumbuh akar pahit. Perhatikanlah bahwa kata yang dipakai bukan 'agar jangan sampai kepahitan', tetapi 'agar jangan tumbuh akar yang pahit'. Ayat ini menyatakan dengan jelas bahwa kepahitan ternyata punya akar!

Mari fokus terhadap kata akar. Kita tahu bahwa akar sangat menentukan kehidupan sebuah pohon dan kekokohannya. Jika kita menebang dahan atau bahkan sebagian dari pohon tersebut, selama akarnya masih ada pohon bisa tumbuh lagi. Karena itulah apabila kita ingin membuang sebuah pohon, kita harus mencabutnya sampai ke akar-akarnya. Hal yang sama dengan kepahitan. Bibit kekecewaan, kemarahan, rasa tersinggung, sakit hati dan sejenisnya kalau kita biarkan seperti menabur bibit-bibit kepahitan. Dari bibit tersebut akan muncul akar yang semakin lama semakin dalam dan kuat menancap dalam hati kita. Apabila kita terus biarkan, bagaikan pohon yang terlanjur punya akar kuat, kepahitan akan sulit kita cabut dari hati kita alias makin sulit diatasi.

Ayat sebelumnya dalam Ibrani memberikan sebuah kunci agar kita jangan sampai jatuh pada kepahitan. "Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan." (ay 14). Pertama: usahakan terus untuk hidup damai atau rukun dengan semua orang. Lalu kedua: berusahalah untuk terus hidup dengan kekudusan, karena tanpa itu kita tidak akan melihat Tuhan dalam hidup kita. Tanpa adanya Tuhan dalam hidup kita, tanpa kesabaran dalam menghadapi orang lain, kita akan mudah terjatuh ke dalam kekecewaan, sakit hati dan kebencian. Apabila tidak segera diatasi, bagai pohon, akar-akar kepahitan akan menancap kuat ke dalam hati kita sehingga sulit untuk dibuang.

Kepahitan tidak akan pernah membawa hal positif bagi diri kita melainkan menimbulkan banyak masalah. Cobalah bandingkan hidup yang damai sejahtera dengan hidup dengan kepahitan. Itu tentu berbanding terbalik. Orang yang kepahitan penuh rasa benci, mudah tersinggung, over sensitive dan panas tempramennya. Mereka biasanya eksplosif, negatif bicaranya dan buruk perilakunya. Dari bangun pagi saja perasaan sudah tidak damai, lantas terus membangun masalah dengan banyak orang. Bayangkan hidup seperti itu, tentu saja tidak enak. Kepahitan akan membuat kita sulit maju dan sulit bertumbuh termasuk dalam iman. Bagaimana mau mengharapkan pertumbuhan kalau hati kita dipenuhi pohon pahit dengan akar-akarnya yang kuat? Kalau sudah begitu, dimana lagi damai sejahtera dan kasih bisa tumbuh? Lantas kalau sudah begitu, bagaimana mau berharap hidup damai sejahtera dlam kasih karunia?

Teruskanlah hidup seperti itu, maka berbagai penyakit pun mengintai siap mengganggu kita. Mulai dari depresi, jantung, darah tinggi sampai kanker yang menurut penelitian ilmiah seringkali terjadi dari kondisi hati dan pikiran yang bermasalah dengan hal-hal negatif. Pada akhirnya, kita pun akan gagal di garis akhir karena kita tidak bisa berharap bisa diampuni Tuhan kalau kita tidak mengampuni sesama.

Selain mendatangkan kerugian pada diri sendiri, akar yang pahit ini juga akan berdampak pada orang-orang di sekitar kita. Kalau kita marah-marah saja dengan mood yang kacau, tanyakan orang-orang di sekitar kita apakah mereka senang kita ada di dekat mereka? Apalagi kalau kita sudah penuh kepahitan. Meledak-ledak, omongan negatif, air muka kusut, itu hanya akan menyakiti orang lain. Lantas kita pun tidak akan bisa berbuah baik memberkati orang ditengah tumbuh suburnya kepahitan. Bukan buah yang baik yang muncul, melainkan buah-buah buruk hasil dari pohon kepahitan dalam diri kita. Bayangkan ada berapa banyak prinsip Kerajaan yang gagal kita capai akibat kepahitan ini.

Berusaha hidup rukun dengan semua orang menjadi satu dari beberapa tips agar tidak menabur dan menumbuhkan kepahitan. Benar, ada kalanya bukan kita yang mulai. Bisa jadi kita yang dijahati orang. Tapi keputusan untuk mau mengampuni dan tetap berusaha hidup rukun adalah keputusan kita. Memendam kebencian hingga menumbuhkan akar yang pahit pada akhirnya hanya akan merugikan diri kita sendiri, baik dalam hidup sekarang maupun yang kekal nanti. Tips berikutnya adalah tetap hidup dalam menjaga kekudusan. Jangan terjebak hanya karena kemarahan lantas tidak lagi berbuat hal-hal yang benar di mata Tuhan. Meski karena diprovokasi, kita tetap dituntut untuk tidak melakukan hal yang berpaling dari Tuhan. Tetap berbuat benar artinya tetap mendasarkan segala perbuatan dan perilaku kita untuk tetap sesuai dengan Firman. Dan yang tidak kalah penting, jangan menjauhkan diri dari kasih karunia Allah yang memampukan kita untuk tidak sampai menumbuhkan akar pahit dalam menghadapi apapun. Tetap pandang ke atas, biarkan keadilan Tuhan yang bekerja, seperti yang tertulis dalam Mazmur 18:21-27. Diperlukan kebesaran hati kita untuk bisa mengampuni mereka yang bersalah kepada kita supaya kepahitan bisa kita hindarkan.

Tuhan selalu melimpahkan kasih karuniaNya pada kita. Tapi untuk bisa menikmati dan memanfaatkannya itu tegantung dari kita. Ayat bacaan hari ini mengingatkan kita untuk tetap berjaga. "Jagalah", katanya. Jaga terus diri kita, kuasai pikiran dan kendalikan hati kita supaya jangan sampai tanpa sadar kita menjauh dari kasih karunia Allah lantas mudah terkena berbagai masalah yang tidak saja merugikan kita dalam hidup saat ini tapi juga dalam fase berikutnya yang kekal kelak. Miliki hati yang rela mengampuni, dan bereskan segera kekecewaan atau sakit hati yang anda rasakan sesegera mungkin, karena semakin lama anda biarkan, semakin kuat pula akar kepahitan itu menancap, yang akan berakibat semakin sulit pula bagi anda untuk membereskannya.

Bitterness is a root that ruins the garden of peace. When we hold on to dissapointment, a poisonous root of bitterness begins to grow

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho





Saturday, July 15, 2017

Strategi Menghadapi Godaan (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Paulus meminta jemaat Efesus untuk terus mendoakannya agar tetap teguh melayani meski situasi yang ia hadapi sangat berat. Tapi ia tidak berhenti sampai disitu saja. Ia mengingatkan kita agar tidak keliru menyikapi perselisihan, "karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara." (ay 12).

Paulus juga menyampaikan pentingnya mengenakan "seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat iblis." (ay 11). Apa saja perlengkapan senjata Allah itu? "Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh."  (ay 13 - 18).

Anda bayangkan jika anda seorang prajurit, maka anda perlu melengkapi diri dengan senjata dan pelindung lengkap agar anda dapat maksimal dalam berperang. Melawan orang? Bukan, tapi melawan si jahat dalam berbagai bentuk, termasuk godaan yang seringkali meruntuhkan orang percaya yang sudah selama ini bekerja keras untuk membangun imannya dan menjaga diri dari melakukan tindakan-tindakan yang buruk. Perlengkapan senjata Allah akan memungkinkan anda untuk tidak terjatuh saat berjuang memelihara keteguhan iman dan kesetiaan hingga akhir. Perlengkapan senjata Allah akan menguatkan anda dalam menghadapi serangan dan menghasilkan buah selagi kesempatan masih ada. Perlengkapan senjata Allah akan membuat anda mampu terus tumbuh untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus meski ada godaan dan gangguan dari si jahat dalam berbagai cara dan rupa.

Ingatlah bahwa kita sudah ditebus dan hidup sebagai ciptaan baru, dalam kasih karunia. Kalau kita sadar akan hal itu, kita tidak akan mudah membuang anugerah yang sangat besar itu dengan melakukan berbagai bentuk dosa. Jangan lengah, karena godaan bisa muncul dari mana saja, dan seringkali begitu tersamarkan sehingga kalau tidak benar-benar peka kita bisa luput melihatnya. Tetap kenakan senjata perlengkapan Allah dalam menjalani hidup, karena kita tidak pernah tahu kapan godaan dan serangan itu datang. Paulus sudah berhasil mempertahankan kesetiaan imannya sampai akhir. Ia terus berbuah dan buahnya masih bisa kita nikmati sampai sekarang. Marilah menjadi anak-anak Allah yang kuat, tidak gampang goyah apalagi jatuh dan sampai di garis akhir dengan selamat.

Hidup penuh ujian, lewatilah dan selesaikan sebagai pemenang

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, July 14, 2017

Strategi Menghadapi Godaan (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Efesus 6:11
===================
"Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;"

Masa-masa pacaran biasanya menjadi saat terindah dalam sebuah hubungan. Di fase ini biasanya pasangan bisa lebih mudah saling mengalah, lebih toleransi juga lebih romantis dalam menyatakan cintanya. Namanya juga lagi hangat-hangatnya. Soal antar jemput bukan masalah sama sekali, malah senang karena itu artinya bisa ketemu lebih sering dan lebih lama. Kalau bersentuhan seperti ada aliran listrik yang bikin hati ser-seran. Ini umumnya yang dialami orang yang baru jatuh cinta dan masa-masa awal pacaran. Lantas menikah. Bulan madu akan jadi salah satu fase yang paling dikenang Seiring waktu, saat sudah menikah untuk jangka waktu lama, rasa bosan, jenuh dan sejenisnya membuat toleransi berkurang, ego meningkat dan romansa lenyap. Ada banyak hubungan yang kemudian berubah jadi dingin. Dari dingin menjadi beku, sedemikian beku sehingga sulit dicairkan lagi. Atau, ada juga yang begitu panas, sehingga jangankan mengalami, mendengarnya saja kita sudah keringatan. Rumah jadi bagaikan medan perang penuh tembakan dan ledakan. Tembakan dan ledakan kata-kata, piring terbang, bantingan pintu dan lain-lain. Banyak yang kemudian cerai karena mereka tidak punya rasa lagi terhadap pasangannya, sudah kepahitan atau karena merasa perbedaan yang ada sudah tidak lagi bisa dicari titik tengahnya. Di luar sana disebut irreconcilable differences. Ada yang dengan mudah memakai banyak alasan untuk selingkuh dan mencari kesenangan di luar. Bahkan ada yang pakai alasan ingin punya keturunan. Padahal, belum tentu itu salah pasangannya, dan sebuah pernikahan pada hakekatnya bukanlah peternakan melainkan seperti pertanian yang harus dirawat, dijaga, diolah agar bisa baik kualitasnya.

Alangkah sayangnya apabila sebuah hubungan berubah menjadi seperti ini. Itu jelas bukan sesuatu yang diinginkan Tuhan saat Dia memateraikan langsung pernikahan anak-anakNya. Hari ini saya bukan ingin membahas tentang pernikahan, tetapi tentang kekokohan dan kualitas iman dan cinta kita pada Tuhan. Pada saat sebuah pasangan menikah dan melewati bulan madu, real marriage life begins. Semua kekurangan dan sifat asli akan terlihat semakin jelas. Disitulah diuji kualitas cinta sejati. Pada saat cinta mula-mula lewat dan kita menghadapi godaan dan masalah, disanalah kualitas iman dan cinta kita pada Tuhan diuji kekuatannya.

Kita sudah ditebus oleh Yesus di kayu salib sehingga kita bisa mengalami pemulihan hubungan dengan Tuhan dan dilayakkan untuk selamat dari kebinasaan yang kekal. Itu adalah karunia yang luar biasa besarnya. Akan tetapi ada banyak orang yang meski sudah dikategorikan sebagai anak Tuhan tapi sedang jatuh. Meski sudah berada dalam kasih karunia, berbagai godaan, tipu muslihat si jahat atau tekanan bisa membuat orang terpeleset lantas jatuh. Biasanya, karena sudah berada dalam kasih karunia tapi masih melakukan dosa, itu bisa bikin seseorang tersiksa. Tapi terkadang mereka sulit untuk bisa kembali bangkit apalagi kalau menghadapinya hanya sendirian.

Hari ini mari kita lihat lagi sosok Paulus. Setelah melayani puluhan tahun secara militan hingga menempuh ribuan kilometer, kita tahu bagaimana endingnya. Paulus ada di penjara dan dihukum mati. Apakah Paulus kecewa dan menyesal? Ia punya banyak alasan untuk itu. Tapi terbukti ia tidak merasakan hal tersebut sama sekali. Ia tetap teguh melayani. Ia tahu bahwa kalau ia masih punya kesempatan hidup, itu berarti baginya terus bekerja dan memberi buah. Hal tersebut ia nyatakan dengan jelas dalam Filipi 1:22a. Meski berada dalam keadaan yang sangat tidak kondusif, ia tahu bahwa yang ia tuju bukanlah kenikmatan, kenyamanan atau kemudahan dunia melainkan kehidupan kekal yang hanya bisa ia peroleh jika ia sanggup memelihara imannya sampai kesudahannya.

Kalau kemarin kita sudah melihat apa yang ia sampaikan mengenai memelihara keteguhan iman disertai beberapa pesan penting buat jemaat Filipi, Titus dan Timotius, hari ini mari kita lihat apa yang ia katakan kepada jemaat Efesus dalam penutup suratnya. Perhatikan, ia masih menghasilkan buah di saat-saat terakhirnya. "Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya." katanya dalam ayat pertama dalam perikop terakhir (Efesus 6:10).

(bersambung)


Thursday, July 13, 2017

Mindset dalam Menghadapi Pencobaan (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Jika anda ingat masa-masa anda masih sekolah, anda tentu tahu bahwa untuk naik kelas anda terlebih dahulu harus melalui ujian. Anda belajar, lalu hasil belajar anda akan terlihat dari hasil ujian. Tidak ada orang yang naik kelas tanpa ujian. Jika gagal, maka anda pun gagal naik alias tinggal kelas. Untuk bisa melihat apakah kita sudah berakar kuat atau belum, apakah iman kita kokoh atau masih mudah terguncang maka kita pun harus melewati ujian lewat pencobaan. Jadi, pandanglah masalah sebagai sebuah ujian terhadap iman.

Tidak mudah menghadapi ujian, namun kita tentu senang saat naik kelas. Itu juga yang seharusnya ada dalam pola pikir kita ketika menghadapi ujian iman. Apabila buah dari iman kita baik, maka setelah kita melaluinya kita pun akan menjadi pribadi-pribadi dengan iman yang lebih matang. Dan itu tentu sangat diperlukan supaya kita bisa tetap menjaga atau memelihara iman hingga akhir. Itulah yang diingatkan oleh Yakobus.

Sebuah ujian seperti apapun bisa menghasilkan buah matang yang bisa menyempurnakan kita. Oleh sebab itulah penting bagi kita untuk menyikapi dengan benar situasi-situasi sulit yang hadir dalam hidup kita menjadikannya sebagai ajang ujian. Kita bisa memakainya untuk mengetahui apakah iman kita sudah berakar kuat atau belum, apakah iman kita kokoh/teguh atau masih lemah. Lalu hadapilah dengan benar agar bisa lulus ujian. Kesempatan untuk naik kelas lewat ujian tentu seharusnya disikapi dengan bahagia kalau kita memiliki cara pandang yang benar akan hal itu.

Berat? Tentu. Kabar baiknya, jangan lupa bahwa dalam keadaan seperti apapun Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dia terus dengan setia berada bersama kita, bahkan dalam keadaan tergelap sekalipun, seperti apa yang bisa kita baca dalam Mazmur. "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Mazmur 23:4). Seberat apapun masalah yang kita hadapi, penghiburan, kelegaan dan pertolongan selalu disediakan Tuhan bagi kita.

Dari pengalaman saya, apabila masalah yang datang itu merupakan cobaan, maka Tuhan akan terlebih dahulu mempersiapkan anda sebelum memberi ujian. Masalahnya, seringkali kita tidak menyadari masa-masa diajar atau dilatih Tuhan. Seperti anak sekolah yang tidak serius saat belajar, kita pun akan kelabakan pada saat ujian tiba. Membangun hubungan yang intim dengan Tuhan dan melibatkannya terus dalam hidup akan membuat kita peka terhadap ajaran dan didikan Tuhan. Nantinya pada saat masa ujian tiba, kita bisa bertekun menghadapinya sampai kemudian lulus dan naik kelas.

Jika masalah datang karena kekeliruan atau keteledoran kita, perbaikilah. Tapi saat hal tersebut datang sebagai sebuah ujian, hadapilah dengan tenang. Tekunlah saat melaluinya, jangan panik, jangan kuatir, jangan takut dan jangan kehilangan sukacita. Tetap lakukan hal yang benar, pastikan iman kita kuat dan tidak goyah, lakukan yang terbaik dengan mengacu pada kebenaran Firman. Disanalah kita akan menghasilkan buah-buah matang, yang akan menyempurnakan kita, membuat kita utuh tak kurang suatu apapun.

Trials test and make our character better

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, July 12, 2017

Mindset dalam Menghadapi Pencobaan (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yakobus 1:2-4
==================
"Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun."

Sehat tidaknya sebuah pohon tergantung dari kuat tidaknya akar. Akar yang kuat dan menancap jauh ke dalam tanah hingga mencapai air akan sangat menentukan kelangsungan hidup sebuah pohon. Tanpa adanya air, daun tidak akan bisa berfotosintesis untuk menghasilkan makanannya meski mungkin mereka bisa mendapatkan CO2 dari udara dan cahaya matahari. Pohon yang punya akar kuat tidak akan mudah tumbang meski digoncang angin badai. Dan bagi pohon buah, ada tidaknya buah bisa menjadi penanda apakah pohon itu sehat atau tidak.

Beberapa waktu lalu saya sudah membahas panjang bahwa kita seharusnya berakar di dalam Kristus dan kemudian dibangun, tumbuh di atasNya agar bisa memiliki iman yang kokoh, sehat sehingga mampu mengalami kepenuhan Ilahi dalam hidup kita (Kolose 2:7). Kuat tidaknya kita berakar akan bisa dilihat dari seperti apa buah yang kita hasilkan, termasuk atau terutama saat kita menghadapi masalah. Seperti apa reaksi kita saat dalam mengarungi arus kehidupan kita harus berhadapan dengan badai? Pada kenyataannya, ada banyak orang percaya yang sama saja, atau bahkan lebih buruk reaksinya ketimbang orang dunia. Malah diantara pelayan Tuhan pun hal ini terjadi. Kecewa, marah, menuduh Tuhan kejam, tidak peduli, tidak adil hingga mempertanyakan eksistensiNya. "Saya kan sudah melayani, masa masih harus mengalami masalah?" Banyak yang berpikiran seperti itu. Mereka mengira bahwa apabila sudah melayani Tuhan itu artinya tidak ada lagi masalah yang bisa menghampiri mereka. Padahal tidak satupun ayat yang mengatakan bahwa orang percaya dijamin tidak akan pernah lagi mengalami cobaan. Mindset seperti apa yang harusnya dimiliki apabila kita berhadapan dengan masalah? Jika kita sudah hidup dengan benar, tetapi kita diijinkan untuk memasuki angin kencang, bagaimana seharusnya kita memandangnya?

Sebuah ayat berkata: "Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun." (Yakobus 1:2-4).

Apakah Yakobus sedang berada dalam keadaan baik ketika menulis ini? Tidak. Saat itu ia sudah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri betapa mengerikannya penganiayaan dan siksaan kejam hingga mati yang dijatuhkan kepada orang-orang yang mempertahankan imannya pada Kristus, termasuk pula dirinya sendiri. Bahkan Yakobus lalu membuktikan ketaatannya sampai mati. Dalam Kisah Para Rasul 12:2 kita melihat dirinya dibunuh berdasarkan perintah Herodes dengan sebilah pedang. Dia sudah melihat semuanya. Ia bisa saja melarikan diri agar lolos, tetapi justru dari dirinyalah kita bisa melihat bagaimana kita harus menyikapi berbagai pencobaan itu.

Yakobus mengajak semua orang percaya untuk memandang semua pencobaan sebagai sebuah ujian iman dan menghadapinya dengan tidak kehilangan rasa bahagia. Yakobus sama seperti kita, tidak pernah mengharapkan terjadinya masa-masa sukar. Tidak ada satupun yang mau mengalaminya, itu pasti. Tetapi  ia mengingatkan kita agar tidak kehilangan pegangan dan tetap menyikapi kondisi sesulit apapun dengan sikap hati bersukacita. Mengapa? Karena masa-masa sulit itu, apakah itu berhubungan dengan kesulitan finansial, masalah kesehatan fisik dan psikis, hubungan atau relasi, karir atau pekerjaan, pendidikan dan lain-lain, apabila kita menyikapi itu semua dengan iman maka itu menjadi sebuah kesempatan besar bagi kita untuk menghasilkan ketekunan sampai menghasilkan buah yang matang, yang akan membuat kita menjadi semakin dewasa rohaninya.

(bersambung)


Tuesday, July 11, 2017

Belajar Menjadi Teladan dari Paulus (3)

webmaster | 8:00:00 AM | 1 Comment so far
(sambungan)

Dalam surat untuk Titus kembali Paulus berpesan: "Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu" (Titus 2:7) Seperti halnya pada Titus, Paulus mengingatkan pada kita semua bahwa kita semua dituntut untuk bisa menjadi teladan di muka bumi ini. Sesungguhnya itu jauh lebih bermakna ketimbang hanya menyampaikan ajaran-ajaran lewat perkataan kosong.

Baik sebagai orang tua, guru, abang, kakak, teman, rekan sekerja, saudara sepelayanan dan sebagainya, kita harus terus meningkatkan kualitas kita hingga sampai kepada sebuah tingkatan untuk bisa menjadi contoh atau teladan. Banyak orang yang mengira bahwa itu hanyalah tugas orang-orang dewasa saja, tetapi Firman Tuhan berkata jelas bahwa tugas menjadi teladan pun merupakan sesuatu yang harus dilakukan sejak di usia muda. Sangat dianjurkan untuk bisa menjadi teladan di tengah lingkungan masyarakat sekitar, di tengah keluarga dan lain-lain, bahkan bagi orang-orang yang lebih tua sekalipun. Ayat berikut menunjukkan dengan jelas akan hal ini. "Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." (1 Timotius 4:12).

Tuhan ingin melihat kita tampil menjadi orang-orang yang mampu bercahaya di dunia yang gelap ini. "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16) Dan itu tidak akan pernah bisa kita lakukan apabila kita tidak memiliki sikap yang pantas sebagai seorang teladan. Menjaga kehidupan, perbuatan, tingkah laku dan sikap kita sesuai dengan Firman Tuhan merupakan jalan satu-satunya agar kita bisa menjadi terang yang bercahaya bagi orang lain dan bukan menjadi batu sandungan. Jelas tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa. Kemauan dan keseriusan kita akan sangat menentukan. Ingatlah juga bahwa ada Roh Kudus, Sang Penolong Sejati yang akan selalu memampukan kita untuk berkarakter penuh integritas dan kuat.

Seperti apa karakter yang kita tunjukkan hari ini? Apakah sudah menyerupai karakter Kristus yang penuh kasih terhadap semua orang tanpa terkecuali atau kita masih hidup egois, eksklusif, pilih kasih, kasar, membeda-bedakan orang bahkan masih melakukan banyak hal yang jahat? Apakah kita sudah sejalan dengan apa yang kita ajarkan atau katakan atau masih bertolak belakang? Apakah kita sudah menjadi teladan atau malah masih dinilai munafik? Sadarilah bahwa cara hidup kita akan selalu diperhatikan oleh orang lain. Anak-anak kita akan melihat sejauh mana kita melakukan hal-hal yang kita nasihati kepada mereka, teman-teman dan orang lain pun akan mampu melihat apakah kita layak menjadi teladan atau tidak. Menjadi teladan adalah sebuah keharusan. Itu adalah sebuah panggilan yang wajib dilaksanakan oleh setiap orang percaya. Seperti halnya Paulus, marilah kita terus melatih dan meningkatkan diri kita untuk menjadi teladan di muka bumi ini.

"Example is not the main thing in influencing other, it's the only thing" - Albert Schweitzer (teolog, filsuf asal Jerman pemenang Nobel)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, July 10, 2017

Belajar Menjadi Teladan dari Paulus (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Bisa kita bayangkan bagaimana beratnya perjuangan Paulus. Cobalah letakkan diri kita pada posisinya, mungkin kita akan mudah stres, depresi dan labil diterpa kelelahan dan tekanan setiap harinya. Jika itu belum cukup, kita bisa tahu pula bahwa Paulus masih harus bekerja. Ia bekerja sebagai pembuat kemah (Kisah Para Rasul 18:2-3), dan penghasilannya ia gunakan untuk "membiayai keperluan dan kebutuhannya beserta teman-teman sekerja dalam melayani" (ay 20:34) dan juga untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Karena itulah Paulus kemudian bisa mengingatkan: "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (ay 35).

Seperti yang saya bagikan kemarin, beberapa surat ia tuliskan saat ia berada di dalam penjara bukan berisi kesedihan, kekecewaan atau kepahitan pada Tuhan, tetapi justru nasihat dan pesan agar jemaat mula-mula yang ia bangun terus bertekun dalam iman, selalu bersyukur dan tidak kehilangan sukacita. Ada begitu banyak tatanan fundamental kehidupan Kekristenan yang kita pelajari lewat Paulus, bukan cuma lewat pengajaran tetapi juga keteladanan. Hingga akhir ia memelihara iman dan terus bekerja menghasilkan buah. Ia punya seribu satu alasan untuk kecewa, tapi ia tidak merasakan itu. Di saat-saat akhir dalam penjara ia masih menulis tujuan mendasar hidup "Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah." (Filipi 1:22a) dan mengatakan "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman." (2 Timotius 4:7). Paulus mengajarkan sesuatu yang telah ia lakukan sendiri, sebagai contoh atau teladan yang sejalan dengan pengajarannya. Karenanya ia berhak berkata "Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!" (1 Korintus 4:16)

Menjadi ciptaan baru di dalam Kristus seperti yang dikatakan dalam surat 2 Korintus 5:17 memang merupakan anugerah tak terhingga besarnya dari Tuhan. Tetapi biar bagaimanapun keputusan ada di tangan kita. Apakah kita mau benar-benar menghayati transformasi yang telah diberikan kepada kita atau tetap hidup dalam sifat-sifat buruk di masa lalu merupakan pilihan atau keputusan yang tergantung dari kita sendiri. Hidup akan selalu penuh dengan pilihan, kita harus terus mengambil keputusan demi keputusan. Paulus bisa saja tetap berlaku seperti sebelumnya, terus menyiksa dan membunuh meski ia sudah mengalami sendiri perjumpaan dengan Yesus, tetapi untungnya ia tidak mengambil pilihan yang salah. Ia benar-benar menghayati kemerdekaan yang diperolehnya dengan penuh rasa syukur dan mengabdikan seluruh sisa hidupnya secara penuh untuk Tuhan.

Dalam menjalankan misinya Paulus mengalami banyak hal yang mungkin akan mudah membuat kita kecewa atau patah apabila berada di posisinya. Ada banyak orang yang akan patah semangat bahkan kemudian meragukan Tuhan apabila harus mengalami seperti Paulus. Lihatlah apa yang ia katakan: "Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah." (1 Korintus 4:11-13a). Kita bisa melihat sendiri bagaimana karakter Paulus dalam hidupnya setelah bertobat. Bukannya menjadi lebih mudah, tapi setelah bertobat ia justru harus melewati begitu banyak penderitaan. Tapi dibalik itu, ia menghasilkan buah-buah luar biasa yang masih kita nikmati hingga hari ini hingga generasi-generasi mendatang. Hidupnya bermanfaat sangat tinggi sepanjang jaman. Apa yang ia ajarkan semuanya telah dan terus ia lakukan sendiri dalam kehidupannya. Oleh sebab itu pantaslah Paulus menjadi seorang teladan dan ia pun berhak mengingatkan orang agar menjadikannya teladan dengan lantang.

Adalah jauh lebih mudah untuk menegur dan menasihati orang ketimbang menjadi teladan. Menjadi teladan berarti sikap kita haruslah sesuai dengan perkataan yang kita ajarkan. Ini adalah sebuah gambaran dari kehidupan yang berintegritas, sesuatu yang sudah semakin langka untuk ditemukan hari ini. Menasihati, mengajar atau menegur itu tentu baik. Tetapi Tuhan menghendaki kita semua agar tidak berhenti hanya sampai disini, melainkan melanjutkan langkah kita ke jenjang berikutnya yaitu dengan menjadi teladan dengan memiliki karakter, gaya hidup, sikap, tingkahlaku dan perbuatan yang sesuai dengan nilai-nilai kebenaran yang kita ajarkan, terutama hal-hal yang kita ketahui menjadi suara hati Tuhan sesuai apa yang tertulis di dalam Alkitab.

(bersambung)


Sunday, July 9, 2017

Belajar Menjadi Teladan dari Paulus (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Korintus 4:16
====================
"Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!"

Apa bedanya mengajar dan mendidik? Bagi sebagian orang dianggap hanya padanan kata, atau ada juga yang bilang beti alias beda tipis. Mungkin bedanya memang tipis, tapi lumayan mendasar. Mengajar lebih kepada sebuah kegiatan yang teknis sifatnya, mentransfer ilmu kepada seseorang membuat mereka dari tidak tahu menjadi tahu. Sedangkan mendidik lebih mengacu kepada sasaran jangka menengah maupun panjang, mengubah pola laku agar menjadi lebih baik dan menyiapkan mereka untuk menjadi orang-orang yang siap di masa mendatang. Mendidik bukan cuma berhenti pada transfer ilmu pengetahuan tetapi juga pada akhlak, kecerdasan pikiran maupun nilai-nilai. Secara garis besar, kalau mengajar merupakan transfer of knowledge, mendidik lebih kepada transfer of value. Kalau mengajar cuma butuh kepintaran untuk menyampaikan sebuah ilmu agar orang yang diajarkan mengerti, mendidik seringkali harus disertai dengan keteladanan. Baik guru maupun orang tua apabila mau membentuk anak-anak yang cerdas dan berintegritas tidak cukup dengan pintar mengajar tetapi haruslah meningkatkan peran hingga menjadi pendidik. Artinya, diperlukan keteladanan agar transfer nilai-nilai kebenaran bisa membawa anak-anak tidak cuma sekedar pintar tapi juga cerdas secara ilmu tapi juga baik dalam akhlak, budi pekerti, kejujuran, menjadi pribadi-pribadi berintegritas yang mengaplikasikan nilai-nilai kebenaran dalam hidupnya.

Perbedaan antara mengajar dan mendidik memang tipis tapi bisa nyata terlihat. Ada banyak orang yang pintar tapi tidak disertai dengan akhlak atau perilaku yang baik. Sebaliknya ada orang yang mungkin tingkat pendidikannya rendah tetapi mereka punya integritas dalam menjalani hidupnya. Jago menasihati dan menegur tapi tidak menjadi teladan, dalam artian tidak ada kesesuaian antara apa yang diajarkan dengan perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari, itu menunjukkan bahwa seseorang belumlah siap menjadi teladan sehingga akan sulit sekali mengharapkan mereka bisa mendidik generasi dibawahnya. Ada banyak orang yang bisa mengajar, tetapi sedikit yang bisa menjadi teladan. Apabila kita ingin anak-anak kita tumbuh menjadi sosok menginspirasi dan mengadopsi nilai-nilai kebenaran, tidak bisa tidak kita harus bisa menjadi teladan. Bukan cuma mengajarkan mereka pada kebenaran tetapi juga memberi contoh nyata dalam hidup kita. Kita melarang mereka keluar sampai larut malam, tidak boleh minum minuman keras, tidak boleh merokok, tapi kita melakukannya, itu berarti kita gagal membentuk mereka. Orang tua mengajar anaknya agar santun berkata dan tidak boleh membentak, tapi mereka sering membentak orang lain di depan anaknya, atau jangan-jangan sering saling membentak saat bertengkar, itu pun tidak akan baik dalam proses pendidikan anak.

Di dalam Alkitab ada begitu banyak tokoh yang memberi keteladanan menembus waktu. Ribuan tahun keteladanan mereka terus menginspirasi manusia dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga bukan saja kita bisa belajar dari mereka, tapi kita juga bisa melihat kesesuaian antara apa yang mereka katakan atau ajarkan dengan perbuatan dan keputusan-keputusan yang mereka ambil secara nyata.

Menyambung renungan kemarin, salah satu tokoh yang menginspirasi adalah Paulus. Adalah menarik jika kita melihat bagaimana Paulus sanggup berkata tegas kepada jemaat Korintus untuk meneladaninya. Paulus berkata demikian: "Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!" (1 Korintus 4:16). Kalimat ini sangatlah singkat, tetapi sesungguhnya bukan main-main. Paulus tidak mungkin berani berkata seperti itu apabila ia tidak atau belum mencontohkan apa-apa dalam hidupnya sama sekali.

Paulus memang merupakan sosok teladan yang luar biasa. Ia mengalami transformasi hidup 180 derajat dalam waktu relatif singkat setelah perjumpaannya langsung dengan Kristus. Berawal dari masa lalu yang buruk, Saulus kemudian 'bertemu' dengan Yesus dan lewat pengalaman spiritualnya ia pun bertobat menjadi Paulus dan membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Kisahnya bisa kita baca dalam Kisah Para Rasul 9:1-19. Dari seorang pembunuh kejam dan penyiksa orang percaya, ia berubah menjadi orang yang sangat radikal dan berani dalam menyebarkan Injil keselamatan. Ia mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk pergi ke berbagai pelosok dalam menjalankan misinya bahkan sampai ke Asia kecil. Jarak tempuh pelayanannya hingga ribuan kilometer, dan tidak ada pesawat, mobil, bus atau travel yang mampu mengantar orang ke tempat jauh dalam waktu singkat pada masa hidupnya. Tidak ada pula sarana internet, teleconference dan sebagainya yang bisa mempermudah kita dalam berhubungan dengan orang lain di belahan dunia lain.

(bersambung)


Saturday, July 8, 2017

Untuk Apa Kita Hidup? (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Orang bisa punya alasan berbeda untuk memaknai hidupnya, tapi Paulus mengingatkan bahwa buat umat Tuhan, setiap kesempatan hidup yang masih diberikan seharusnya dimaknai dengan kesempatan untuk terus menghasilkan buah. Tidak ada waktu untuk kecewa, berlama-lama, bermalas-malasan, kuatir dan sebagainya, melainkan terus dipakai untuk berbuah. Dalam beberapa renungan terdahulu saya sudah menyampaikan pula bahwa buah adalah bukti kita berakar, dan buah juga merupakan tanda dari iman. Dari buahlah akan terlihat apakah iman kita kuat berakar dan tumbuh dalam Kristus atau tidak, dari buahlah kita bisa menunjukkan apakah kita sudah menjadi muridNya yang benar atau tidak.

Kita setiap hari berjuang, bergumul dan bersinggungan dengan segala bentuk kesulitan. Ada kalanya kita harus mengalami ketidakadilan, merasakan beratnya masalah ditengah banyaknya godaan, disamping harus struggle dalam usaha memenuhi kebutuhan hidup. Ada banyak hal yang menyita pikiran, hati, tenaga, perasaan dan waktu setiap hari. Kalau tidak hati-hati, kita bisa melenceng dari alasan paling mendasar kenapa kita masih diijinkan Tuhan ada hari ini. Dan itu adalah menghasilkan buah.

Ayat bacaan kita hari ini penting untuk menyadarkan kita tentang:
- Kenapa Tuhan masih memberi kesempatan buat kita hidup, apa tujuan kita hidup.
- Apa panggilan dan tugas kita, dan buah seperti apa yang bisa kita hasilkan dari sana.

Paulus mengingatkan kita bahwa apabila Tuhan masih mengijinkan kita bernapas, itu jelas bukan dimaksudkan agar kita bisa hidup semau kita atau sekehendak hati kita. Bukan juga agar kita tetap sibuk menggejar pemenuhan kebutuhan, terus menimbun harta lantas mengabaikan tujuan terutama kita. Benar, kita memang harus terus berjuang, tetapi ingatlah bahwa diatas semua itu, apabila kita masih diberi kesempatan hidup kita harus bisa menghasilkan buah melalui profesi atau panggilan kita masing-masing. Iman yang berakar teguh akan membuat kita tidak mudah digoyang angin kencang sekalipun.

Kita bisa meneladani Paulus yang terus berbuah hingga akhir meski situasi faktual yang ia alami terlihat sangat tidak kondusif. Ia tidak kecewa, tidak kepahitan, karena ia terus mengarahkan pandangannya pada Tuhan. Ia tahu bahwa apa yang ia tuju bukanlah di dunia yang fana ini melainkan berada pada sebuah kehidupan kekal sesudah fase ini selesai. Karenanya saat akhirnya tiba, Paulus bisa dengan lantang berkata: "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman." (2 Timotius 4:7). Hingga batas akhir tiba, Paulus membuktikan bahwa ia mencapai garis akhir sebagai pemenang. Ia telah berhasil terus memelihara iman dan ia masih terus menghasilkan buah.

Hingga hari ini dan generasi-generasi yang akan datang bisa terus belajar tentang esensi hidup seorang pengikut Kristus lewat pesan dan keteladanan Paulus. Sudahkah motivasi kita dalam bekerja dan melayani benar? Apakah kita tahu apa yang menjadi panggilan kita? Apakah kita berakar kuat di dalam Kristus dan tumbuh di atasNya? Apakah kita sudah atau masih berbuah? Kalau kita masih hidup saat ini, itu artinya kita harus berbuah. Berbuahlah dengan subur dalam bidang pekerjaan dan pelayanan anda masing-masing.

"Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." (Yohanes 15:8)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho


Friday, July 7, 2017

Untuk Apa Kita Hidup? (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Melihat garis besar hidup Paulus di atas, saya rasa kita harus belajar banyak dari dia. Sudah melayani Tuhan, sudah harus membiayai sendiri masih harus merasakan tekanan dan siksaan hingga akhirnya mendekam di penjara menunggu waktu eksekusi. Bagaimana ia bisa tetap memiliki iman yang tidak tergoyahkan sedikitpun? Ada banyak orang yang aktif dalam pelayanan berharap mereka mendapat keistimewaan di mata Tuhan. Bisnisnya jadi diberkati, masalah dijauhkan. Kalau yang terjadi sebaliknya, mereka akan segera cabut dari pelayanan karena kecewa pada Tuhan bahkan dengan berani mempertanyakan keadilan Tuhan. Padahal apa yang mereka alami belumlah seujung kuku dari apa yang harus dilalui Paulus dalam hidupnya.

Banyak orang yang berpikir bisa menyogok Tuhan kalau melayani. Aku sudah bekerja untukMu kan? Sekarang gantian, limpahi aku dengan apapun yang aku minta! Terdengar bodoh? Kenyataannya ada banyak orang yang berpikiran seperti ini. Atau, melayani karena ingin terlihat hebat, mencari pujian, pamor dan popularitas di mata orang dan keuntungan-keuntungan lainnya. Mereka ini adalah contoh orang yang masih memiliki motivasi sangat keliru akan hakekatnya menjadi rekan sekerja Tuhan. Mereka mengira bahwa dengan melayani artinya mereka akan mendapat keistimewaan dan keuntungan. Tidaklah mengherankan apabila ada banyak orang yang mudah kecewa pada Tuhan. Apa jadinya kalau mereka ada di posisi Paulus? Untung itu Paulus, bukan mereka. Kalau tidak entah bagaimana jadinya kebangunan jemaat mula-mula.

Ada begitu banyak ayat di dalam surat Filipi yang menunjukkan sekuat dan seteguh apa iman Paulus. Gambarkan sosok pria berusia sekitar 60 tahun sedang duduk di dalam penjara yang gelap, pengap dan lembab. Ia tengah menanti hukuman mati dengan cara sadis, atas apa? Atas kerja kerasnya melayani Tuhan selama puluhan tahun. Dan ia tengah menulis beberapa surat untuk jemaat di beberapa tempat dalam keadaan seperti itu. Surat-surat seperti apa yang ia tulis? Surat berisi kebencian? Kekecewaan? Kesedihan? Hebatnya, surat Filipi merupakan suatu 'surat sukacita' (misalnya 4:4 yang mengingatkan "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" diantara banyak lagi ungkapan dan seruan sukacita dalam surat Filipi). Selain itu ada banyak hal esensial yang bisa menjadi pondasi kokoh buat kita. Misalnya seruan untuk jangan kuatir (4:6), kekuatan dari Tuhan akan memampukan kita menanggung segala perkara (4:13), bersyukur dan bersukacita dalam segala keadaan hingga bagaimana seharusnya seorang pengikut Kristus itu hidup: sehati, sepikir, sejiwa, satu tujuan, hidup dalam kasih, memiliki belas kasih, rendah hati dan meneladani Kristus menjadi seorang hamba yang melayani (pasal 2). Bukan main besarnya pelajaran yang bisa kita ambil dari Paulus pada saat-saat akhir hidupnya.

Satu lagi tulisannya yang sangat penting yang bisa dijadikan esensi dari kehidupan orang percaya adalah ayat bacaan kita hari ini. "Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah." (1:22a). Paulus bilang: kalau ia masih diberikan kesempatan untuk hidup di dunia ini, itu artinya ia harus berbuah. Dalam keadaan jauh dari baik seperti itu, ia masih bisa mengingatkan hakekat dari hidup. Tujuan, arti dari hidup.

(bersambung)


Thursday, July 6, 2017

Untuk Apa Kita Hidup? (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Filipi 1:22a
====================
"Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah."

Untuk apa sih kita hidup? Jawaban orang bisa jadi berbeda-beda. Suatu kali saya melakukan perenungan akan hal ini. Saya ingin memastikan apa yang menjadi panggilan saya, apa hal positif yang sudah saya buat dan apa yang belum. Saya kemudian sampai pada kesimpulan bahwa saya ingin agar apapun yang saya kerjakan bisa dinikmati atau bermanfaat bagi orang lain lebih lama dari umur saya. Saya ingin hasil kerja saya baik dalam profesi, sharing maupun pelayanan yang ternyata dua-duanya berhubung dengan menulis tetap bisa diakses lama setelah saya sudah menyelesaikan perjalanan saya di dunia ini. Itu yang saya rindukan sehubungan dengan panggilan yang diberikan Tuhan pada saya. Simply put, I wish to leave valuable legacy when I still have the chance.

Karena terus memandang monitor komputer dalam menulis (mengetik), mata saya lumayan jadi korban. Kalau dulu masih optional, sekarang kacamata menjadi benda wajib agar saya bisa meneruskan pekerjaan saya. Tapi tidak apa-apa, karena saya tahu bahwa selalu ada harga yang harus dibayar dalam mengerjakan apapun jika ingin maksimal didalamnya. Kembali kepada perenungan saya di atas, saya sampai pada kesimpulan justru sebelum saya bertemu dengan sebuah ayat yang ditulis Paulus dalam suratnya untuk jemaat di Filipi yang saya jadikan ayat bacaan hari ini. Ayat ini kemudian meneguhkan perenungan saya dan dengan sendirinya menjadi salah satu ayat emas dalam hidup saya.

Paulus mengatakan: "Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah." (Filipi 1:22a). Ini sama seperti pohon buah, yang harus berjuang keras agar akarnya bisa menembus lapisan tanah yang keras agar bisa mendapat air. Untuk apa pohon itu hidup dan tumbuh? Pada akhirnya sebuah pohon buah harus bisa menghasilkan buah agar bisa dinikmati dan menyehatkan orang yang memakannya. Jika anda membeli pohon mangga tapi tidak kunjung tumbuh, anda tentu kecewa bukan? Pohon tersebut akan sia-sia hidupnya, karena tidak menghasilkan buah.

Mari kita lihat sekilas tentang saat Paulus menulis surat ini. Tidak ada catatan pasti dimana dan kapan Paulus menulisnya. Tapi yang pasti adalah Paulus menulisnya saat berada di dalam penjara dan sewaktu-waktu harus siap menghadapi hukuman mati. Ada yang memperkirakan bahwa saat menulis surat untuk jemaat dari gereja yang ia dirikan sendiri ini, Paulus sudah berusia sekitar 60 tahun, yang artinya ia sudah berada dalam pelayanan sekitar 30 tahunan. Segala suka dan duka sudah ia lalui.

Meski ia menjadi duta Kerajaan yang aktif dan berani mewartakan kabar gembira tentang Kristus, ia tetap masih harus bekerja sendiri mencukupi pelayanannya, dan tidak jarang ia harus menghadapi tekanan bahkan siksaan dalam perjalanannya. Dipenjara, dipukuli, dipasung, diusir, itu biasa ia alami dan terbukti tidak melemahkan langkahnya sedikitpun. Jika Paulus kalah dalam menghadapi beratnya melayani, bayangkan jadi seperti apa Alkitab kita, dan berapa banyak kita akan kehilangan Firman yang diilhamkan Tuhan, terutama mengenai sendi-sendi dasar dan standar kehidupan Kekristenan. Bayangkan pula apa jadinya penyebaran kabar gembira ini tanpa Paulus, karena ia sanggup mencapai Asia Kecil (sekarang kira-kira di Turki bagian Asia) dan Yunani. Jarak tempuhnya tidak kurang dari 25 ribu kilometer. Menariknya, Paulus bukanlah orang yang terlahir sebagai Kristen. Pada mulanya ia justru seorang penganiaya orang Kristen yang juga keturunan orang Farisi. Tapi dalam Kisah Para Rasul kita bisa menemukan cerita pertobatannya yang luar biasa. Sejak saat itu kehidupannya berubah drastis menjadi hamba Tuhan yang kuat, radikal dan setia sampai akhir hidupnya.

(bersambung)


Wednesday, July 5, 2017

Iman yang Terombang - Ambing (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Apa yang disebutkan di dalam Yakobus 1:5 itu paralel dengan apa yang saya bahas dalam renungan kemarin yang saya fokuskan pada kisah saat Petrus berjalan di atas air menuju Yesus di tengah badai angin sakal. Awalnya ia benar mengalami mukjizat, tapi sayangnya hanya sebentar. Bukan hanya gagal menuju tujuan tapi juga tenggelam. Perhatikan bahwa yang mula-mula mengganggu Petrus saat mengalami mukjizat adalah rasa takut, tapi kemudian rasa takut itu menyebabkan imannya melemah. Ia menjadi kurang percaya dan bimbang atau ragu. Saat Yesus menolongnya, Yesus menegur Petrus bukan soal rasa takutnya tetapi karena ia kurang percaya dan bimbang. (Matius 14:31).

Kalau kita hubungkan dengan Kolose 2:7, maka perihal iman yang teguh ini akan semakin jelas. Ayatnya berbunyi: "Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur." Perikop yang berbicara mengenai bagaimana agar kita bisa mengalami kepenuhan Kristus mengingatkan benar bahwa kita harus berakar di dalam Kristus dan dibangun diatasNya. Kita harus terus bertambah teguh dalam iman, bukan sebaliknya menjadi bimbang dan kurang percaya. Lalu dalam Filipi 4:6 dikatakan: "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur." Kita sudah diingatkan agar jangan kuatir, sekarang kita juga harus melatih diri untuk tidak bimbang atau ragu agar kita tidak gagal mengalami Tuhan dan menggenapi rancanganNya bagi kita.

Berulang kali Yesus mengajarkan pentingnya sebuah kepercayaan yang penuh dan utuh dalam iman dalam meminta sesuatu lewat doa. "Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya." (Matius 21:22), lalu: "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (Markus 11:24). Kebimbangan itu kebalikan keyakinan, dan karenanya kebimbangan akan membawa hasil sebaliknya. Pikirkanlah, betapa sayangnya jika kita sudah menjaga diri kita untuk hidup dalam kekudusan tetapi kita tetap saja gagal menerima sesuatu dari Tuhan hanya karena kita membiarkan kebimbangan berkuasa atas diri kita. Tentu sungguh sangat disayangkan jika itu yang kita pilih.

Mazmur Daud mengingatkan juga agar kita tidak perlu kuatir, jika kita memiliki hidup yang mentaati Tuhan. "Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia! Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatupun yang baik." (Mazmur 34:10-11). Dalam kesempatan lain, Daud kembali mengingatkan: "TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya. Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat." (Mazmur 37:23-26). Tuhan begitu luar biasa mengasihi kita. Dia tahu, Dia peduli terhadap segala masalah yang kita hadapi. Dia siap dan sanggup menopang kita, memberkati kita, melepaskan kita, memberi jalan keluar dan sebagainya.

Kalau begitu, kenapa kita harus bimbang? Ingatlah bahwa Alkitab sudah mendefenisikan iman sebagai "dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibrani 11:1). Pengertian iman ini haruslah kita pegang secara mutlak tanpa rasa bimbang atau ragu didalamnya. Iman yang benar-benar teguh akan membuat perbedaan nyata. Kita tidak perlu ragu untuk melangkah maju, karena apabila kita hidup berkenan kepada Tuhan, maka Dia akan menopang kita untuk melangkah, bahkan diatas kemustahilan sekalipun. Mari bebaskan diri anda dari belenggu kebimbangan, dan serahkanlah semuanya ke tangan Tuhan, karena Dia sanggup, bahkan lebih dari sanggup untuk memelihara hidup kita.

Doubt kills more dreams than failure ever will

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, July 4, 2017

Iman yang Terombang - Ambing (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yakobus 1:6-7
=====================
"Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan."

Apa yang ada dibenak anda saat mendengar kata terombang-ambing? Saya langsung membayangkan sebuah perahu yang terapung naik turun tak tentu arah dibawa ombak. Tidak jelas destinasinya kemana, tidak ada yang mengarahkan. Perahu yang tidak jelas arahnya ini entah kapan bisa berhasil mencapai daratan. Bayangkan kalau ada orang di dalamnya, ia tentu dalam keadaan bahaya apabila tidak cepat menemukan daratan atau mendapatkan pertolongan.

Kebimbangan seringkali menjadi salah satu penghambat terbesar kita untuk maju. Tentu baik apabila saat kita tidak yakin akan sesuatu kita akan memikirkan lagi masak-masak dan membawa dalam doa sebelum kita memutuskan sesuatu, tetapi saat kita membiarkan kebimbangan bercokol dalam diri kita berlarut-larut, kegagalan dan kerugianlah yang kita peroleh. Kita tidak akan bisa maju, karena kebimbangan hanya akan membawa kita bagaikan gelombang yang naik turun diombang-ambingkan angin. Tak tentu arah, tanpa tujuan. Ada seorang teman yang bimbang dalam menentukan pilihan apakah harus menerima atau menolak sebuah peluang kerja hanya karena ia ragu akan kemampuannya sendiri. Kebimbangannya membuat kesempatan emas itu terbuang sia-sia. Disaat ia bimbang, orang lain dengan sigap mengambil posisi itu dan dalam waktu singkat menjadi sukses. Sedang teman saya gigit jari, menyesal karena membuang kesempatan baik yang ia lewatkan hanya karena bimbang.

Apa saja yang bisa diakibatkan kebimbangan? Selain kita tidak akan pernah maju, kerugian yang sama akan kita peroleh jika kebimbangan itu kita biarkan meracuni iman kita. Sangatlah menarik saat membaca ayat dalam Alkitab yang menyamakan orang yang bimbang dengan gelombang air laut yang terombang-ambing oleh angin. Ayatnya ada di dalam Yakobus 1:6-7 yang bunyinya "Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan."

Alkitab sudah memberi peringatan bahwa kita tidak akan bisa menerima sesuatu dari Tuhan jika terus menerus bimbang atau ragu dengan iman yang lemah. Kebimbangan akan menjadi penghalang bagi kita untuk menerima berkat, pertolongan atau jawaban dari Tuhan. Ayat bacaan kita hari ini menyatakan bahwa jika kita kekurangan hikmat, hendaklah kita memintanya pada Allah. "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, --yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan kepadanya." (Yakobus 1:5). Syaratnya hanyalah kita harus meminta dalam iman, dan jangan pernah biarkan kebimbangan masuk didalamnya, sebab kebimbangan itu ibarat gelombang laut yang diombang ambingkan angin kesana kemari, tanpa arah, tanpa tujuan. Dan orang yang demikian, jangan berharap akan menerima apa-apa dari Tuhan (Yakobus 1:6-7). Ia kemudian melanjutkan bahwa orang yang mendua hati pun tidak akan pernah tenang dalam hidupnya. (ay 8).

Seperti apakah iman yang terombang ambing bak gelombang laut itu? Iman yang terombang ambing adalah iman yang tidak kokoh tertambat pada Tuhan. Iman yang terombang-ambing antara percaya atau tidak akan janji Tuhan. Iman yang tidak yakin bahwa Tuhan akan bertindak. Iman yang mudah dibelokkan ke kiri dan kanan baik oleh orang lain maupun keadaan. Sebentar percaya, tapi sesaat kemudian menjadi ragu atau bahkan sama sekali jadi tidak percaya. Merasa Tuhan tidak adil, lama mengulurkan tangan, tidak menjawab, atau tidak peduli. Iman yang tidak menjadikan Tuhan sebagai yang pertama dan terutama, menjadikan Tuhan hanya satu dari alternatif bersama dengan hal-hal yang ditawarkan oleh dunia, atau jangan-jangan juga dengan si jahat. Iman seperti ini, kata Firman Tuhan, jangan harap bisa menerima apa-apa dari Tuhan. Dengan kata lain, iman yang terombang-ambing menghalangi kita untuk bisa menerima dan mengalami Tuhan.

(bersambung)

Monday, July 3, 2017

Takut - Ragu - Tenggelam (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Petrus mulai merasa takut ketika angin mulai menerpa dirinya dalam perjalanan menuju Yesus. Ketika rasa takut itu menguasai dirinya, imannya mulai goyah. Rasa takut ia respon dengan keraguan atau kebimbangan, dan yang terjadi sesudahnya ia pun seketika itu juga mulai tenggelam. Perhatikanlah, bukankah hal seperti ini sering terjadi pada kita? Ketika masalah mulai datang menerpa dari segala arah seperti angin yang menerpa Petrus, kita cenderung bereaksi sama seperti Petrus. Kita membiarkan rasa takut tumbuh membesar sehingga keyakinan kita pelan-pelan berubah menjadi kebimbangan, menggoyang keyakinan kita kepada Tuhan. Kuatir lalu takut, dari takut lalu ragu, dari ragu menjadi semakin tidak percaya. Dan di saat itu terjadi, kita pun tenggelam.

Kabar baiknya, dari ayat 31 kita bisa melihat pula bahwa Yesus mengulurkan tanganNya. Dia tidak membiarkan kita tenggelam dalam ketakutan-ketakutan kita. Dia mengulurkan tanganNya, siap mengangkat kita keluar. Dia siap untuk memerdekakan kita dari segala hal yang negatif, termasuk di dalamnya merdeka dari kekhawatiran, ketakutan, kecemasan, kebimbangan, kegelisahan dan lain-lain.

Dalam 1 Petrus 5:7 dikatakan: "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." (1 Petrus 5:7). Segala, semua, seluruhnya, bukan sedikit, setengah, sebagian. We should cast all of our anxieties, worries, concerns on Him because He cares for us. Bukankah menjadi sangat ironis bahwa Petrus masih mengalami kekurang-percayaan yang mengakibatkan kebimbangan berawal dari rasa kuatir atau takut tepat setelah ia melihat langsung bagaimana Yesus menggandakan 5 roti dan 2 ikan untuk memberi makan ribuan orang dan sempat mengalami mukjizat secara langsung dengan berjalan di atas air? Bukankah ironis saat semua itu sudah ia alami, tapi imannya goyah justru pada saat ia tengah berjalan di atas badai menuju Yesus? Kita pun bisa mengalami hal yang sama. Seringkali badai dalam kehidupan ini begitu keras menggoyang hingga kita mulai merasa ketakutan. Tanpa sadar kita mulai ragu apakah Tuhan akan menolong kita, apakah kita akan bisa melewati badai dengan selamat. Dan saat itu terjadi, kita pun tenggelam. Jangan-jangan kita malah kemudian menyalahkan Tuhan dan makin hancur imannya.

Apakah Tuhan akan menjawab doa-doa kita dan mengangkat kita keluar dari sana? Kisah dalam Matius 14:22-33 ini menunjukkan dengan jelas bahwa:
1. saat kita menghadapi masalah Tuhan datang dan menjawab kita.
2. Tuhan siap menolong kita dan membuat kita mampu berjalan mengatasi badai hingga bisa kembali mengarungi kehidupan dengan tenang.
3. Tapi kita tidak boleh membiarkan rasa takut berkecamuk dalam hati dan pikiran kita sehingga kita menjadi ragu.
4. Kita harus memiliki iman yang kuat berakar di dalam Kristus dan dibangun di atasNya seperti yang disebutkan dalam Kolose 2:7 sebagai syarat mutlak untuk bisa mengalami kuasa Tuhan secara penuh.

Jika diantara anda ada yang saat ini tengah merasa takut, dicekam kekuatiran akan sesuatu, mulai ragu akan eksistensi dan perkenanan Tuhan untuk menolong anda, berhentilah sekarang juga. Ingatlah bahwa Tuhan sudah meminta kita untuk menyerahkan Segala kekuatiran itu kepadaNya. Ketakutan yang kemudian disusul dengan keraguan akibat tergerusnya rasa percaya kita bisa mendatangkan bahaya. Perhatikan pula bahwa Tuhan tidak menjanjikan untuk mengambil kekhawatiran itu dari kita, melainkan kitalah yang diminta untuk memberikan semua itu kepada Tuhan. Jika anda menyerahkan segala perasaan yang mengganggu itu kepada Tuhan, Dia akan segera menggantikannya dengan sukacita. Karena itu lepaskanlah semua ketakutan, kekuatiran dan keraguan anda, serahkan kepadaNya. Teruslah latih iman anda agar berakar kuat di dalam Tuhan dan tumbuhlah di atasNya. Disanalah anda akan mengalami dan merasakan keberadaan Tuhan dengan kuasaNya secara nyata dalam hidup anda, termasuk saat anda berada di tengah badai terburuk sekalipun.

Never, ever doubt that God is much bigger than whatever you are worried about

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, July 2, 2017

Takut - Ragu - Tenggelam (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 14:30-31
===================
"Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"

Suatu kali saya bertemu dengan seorang pria paruh baya yang dulunya berkarir sebagai stuntman atau pemeran pengganti aktor utama dalam adegan-adegan yang berbahaya. Ia bercerita bahwa dalam karirnya ia pernah beberapa kali mengalami kecelakaan, baik ringan maupun berat. Salah satu yang terberat adalah saat ia gagal melompat dari satu tembok ke tembok berikutnya sehingga terjatuh ke bawah beberapa meter. Patah kaki, gegar otak dan luka memar pun ia derita. Ia berkata bahwa aksi itu sebenarnya sederhana saja. Jarak tembok tidak terlalu jauh. Yang lebih berat saja sudah ia lewati. Saya bertanya, apa yang menyebabkan lompatannya gagal? Dan ia berkata, sesaat sebelum ia melompat ia merasakan takut, kuatir kalau-kalau ia gagal dalam melakukan lompatan. Ternyata rasa takut disusul ragu yang muncul sepersekian detik itu mendatangkan malapetaka. Sebelum proses pengambilan gambar ia sudah beberapa kali mencoba dan tidak ada masalah sama sekali. Tapi saat kamera berjalan, rasa takut lalu ragu yang mengganggu pikirannya mendatangkan malapetaka. Untunglah ia tidak kehilangan nyawa akibat kecelakaan itu. Ia pun berpesan, "jangan biarkan rasa kuatir atau takut mempengaruhi anda, karena itu bisa mengakibatkan mencelakakan." katanya.

Sebuah pesan berharga pun saya dapatkan. Betapa berbahayanya akibat yang bisa ditimbulkan oleh perasaan-perasaan negatif seperti takut atau kuatir itu. Padahal, kita menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah dan manusiawi. Siapa sih yang tidak pernah merasakannya? Ada kalanya rasa takut mencegah dan menghindarkan kita dari celaka, itu benar. Tetapi di sisi lain itu bisa kontra produktif, merugikan, menggagalkan bahkan mencelakakan seperti yang dialami oleh bapak mantan pemeran pengganti itu.

Saat merasa kuatir, cemas, takut dan sejenisnya, hidup terasa semakin susah. Makan tidak enak, tidur tak tenang. Berkeringat dingin dan mungkin ada pula yang mulai merasa mulas di perutnya karena merasa sangat gelisah. Semakin dibiarkan, semakin berat pula hidup ini rasanya. Masalahnya, dalam hidup yang tidak mudah ini setiap saat kita bisa berhadapan dengan permasalahan yang akan membawa kita masuk ke dalam perasaan seperti itu. Ketika persediaan dana menipis, pendapatan menurun, ketika krisis mulai terasa memberatkan hidup, ketika ada berbagai masalah mulai mengganggu kita, ketika hidup terasa mulai berjalan semakin jauh dari yang kita impikan, ketika kondisi tubuh mulai terasa semakin lemah dan banyak lagi contoh hal yang bisa membuat kita merasa cemas, gelisah, khawatir, takut dan sejenisnya. Dan parahnya, sisi ini bisa menjadi celah yang sangat digemari iblis untuk membuat iman kita menjadi goyah. Iblis bisa berpesta dalam setiap kegelisahan dan kecemasan kita, mengambil titik lemah itu untuk menjauhkan kita dari Tuhan.

Apa yang diceritakan bapak di atas mengingatkan saya akan sebuah bagian dari kisah Petrus saat melihat Yesus berjalan di atas air yang tertulis dalam Matius 14. Rasa khawatir bukan saja membuat kita tidak bisa maju, tetapi ternyata bisa pula menenggelamkan kita.

Matius 14:22-33 menceritakan kisah tersebut. Tepat setelah Yesus menggandakan 5 roti dan 2 ikan untuk memberi makan ribuan orang, para murid diminta untuk menyeberang mendahului Yesus, karena Yesus masih ingin naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Setelah berlayar sementara waktu, datanglah angin sakal yang membuat perahu mereka terombang ambing diterjang ombak. Menjelang subuh, Yesus pun datang menghampiri mereka. Bukan menumpang perahu lain, tapi Yesus datang dengan berjalan di atas air. Karena sedang ketakutan digoyang angin sakal, mereka terkejut dan mengira bukan Yesus yang datang tapi hantu. Yesus pun segera berkata bahwa yang datang adalah Dia. Petrus masih saja tidak percaya. Ia berkata: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." (ay 28). Yesus mengabulkan permintaan Petrus. Dia memanggil Petrus untuk turun dari perahu dan berjalan ke arahNya di atas air. Petrus melakukannya dan ia pun mulai berjalan selayaknya di darat. Tapi yang terjadi kemudian, rasa takut kembali menerpanya. Seketika itu juga ia mulai tenggelam. "Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" (ay 30). Yesus pun segera menolongnya sambil memberikan teguran. "Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (ay 31). Lantas mereka kembali ke perahu, angin reda dan melanjutkan perjalanan hingga tiba di seberang.

Mari kita lihat apa yang terjadi. Pada mulanya iman Petrus membuatnya mampu melewati batas logika dan kemampuan manusia. Yesus memanggilnya, ia percaya dengan imannya dan itu membuatnya bisa berjalan di atas air. Tapi rasa takut yang muncul membuatnya mulai tenggelam. Apa yang menarik bagi saya adalah adanya keterkaitan antara takut dan bimbang. Ayat 30 mengatakan bahwa saat melihat kerasnya tiupan angin saat ia berjalan di atas air, Petrus menjadi takut. Ia pun tenggelam. Saat menyelamatkannya, Yesus menegur Petrus seperti ini: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (ay 31). Yang dituju Yesus adalah kebimbangan Petrus. Kebimbangan timbul dan merupakan produk dari kurang percaya, dan itulah yang kemudian menggagalkan Petrus mengalami kuasa Tuhan. Bermula dari rasa takut, lalu menjadi bimbang, rasa percaya menurun dan disanalah kita gagal mengalami Tuhan, tidak lagi bisa melangkah di atas masalah melainkan tenggelam.

(bersambung)


Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker