Sunday, August 7, 2022

Maksud Kemurahan Tuhan (1)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 Ayat bacaan: Roma 2:4
===========
"Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?"

Kita tengah mengalami masa-masa sulit. Deraan pandemi hingga dua tahun lebih bukan saja membuat kita kehilangan orang-orang yang kita cintai, tapi itu juga membuat ketahanan ekonomi banyak dari kita terguncang. Bersyukurlah teman-teman yang saat ini masih bisa hidup dengan berkecukupan dan baik, sementara kita yang tengah mengalami kesulitan, tengah megap-megap bahkan nyaris karam, kita pun harus belajar untuk bisa tetap bersyukur, jangan sampai kehilangan pengharapan dan sukacita. Bagi yang mendapat gaji tetap, sepertinya keadaan masih baik, itu kalau gajinya juga tidak dipotong. Ada yang kehilangan mata pencaharian karena tempatnya bekerja tidak lagi sanggup menggaji karyawan sebanyak dulu, dan buat yang bisnis seperti saya, mungkin juga mengalami bagaimana penurunan daya beli kemudian membuat usaha kita sepi pembeli. Belum lagi orang-orang yang latah melihat lahan bisnis kemudian masuk sehingga menimbulkan persaingan yang bisa jadi kejam dengan mematok harga yang tidak masuk akal alias merusak standar harga yang layak. 

Pemulihan ekonomi paska hancur-hancuran selama dua tahun itu butuh waktu. Sementara kebutuhan kita agar bisa setidaknya mengisi perut tidak bisa menunggu. Banyak orang yang sudah harus menjual hartanya demi menyambung hidup, ada yang gulung tikar karena tidak punya modal lagi untuk diputar. Keadaan diperparah dengan kenaikan harga-harga yang dimulai dari harga bahan pokok kemudian menyebar pula pada harga-harga lainnya. "Ini adalah masa dimana kita butuh kemurahan Tuhan lebih dari sebelumnya." kata teman saya. Kemurahan, pertolongan, bahkan keajaiban, itu kita semua butuhkan di saat seperti ini. Tapi apa yang teman saya ini katakan membuat saya merenung. Ya, kita butuh semua itu. Tapi apa, atau adakah sebenarnya tujuan Tuhan dalam memberi kemurahan? Apakah Tuhan memberikan itu begitu saja atau merindukan kita untuk melakukan sesuatu?

Ternyata Alkitab sudah menyatakan tentang hal ini. Lihat apa yang disampaikan Paulus kepada jemaat di Roma saat menyampaikan hukuman Tuhan. "Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?" (Roma 2:4).

Apakah kita hanya menganggap sepi, menyepelekan, menggampangkan kekayaan kemurahan Tuhan, kesabaranNya, dan kelapangan hatiNya? Kita mengharapkan kemurahanNya, kita ingin Tuhan bersabar pada kita, berharap Tuhan berlapang hati bisa memaklumi kita yang terus saja berbuat kesalahan, tapi apakah kita sudah menghargai semua itu saat Tuhan memberikannya bagi kita? Apakah doa sudah menjadi sarana penghubung kita pada Tuhan atau cuma menjadi sarana untuk meminta saja dengan hanya berdoa saat butuh bantuan, dan mengisi doa hanya penuh dengan wishlist? Apakah kita bersyukur dan berterimakasih atas semua itu atau malah menggerutu karena dirasa kurang? Dan yang lebih penting lagi: untuk apa kita pergunakan segala kemurahan, kesabaran dan kelapangan hati Tuhan?

(bersambung)


Saturday, August 6, 2022

Worry Often Gives a Small Thing Big Shadow (4)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)


Bisakah kita mengalami hidup seperti itu? Tentu saja. Tapi ingat bahwa janji itu berlaku dengan syarat, yaitu hanya berlaku bagi orang yang mengenal Tuhan. Dan itu tertulis pada ayat selanjutnya.  

"Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku." (ay 14). 

Dalam versi Bahasa Indonesia sehari-hari dikatakan demikian: "Kata TUHAN, "Orang yang mencintai Aku akan Kuselamatkan, yang mengakui Aku akan Kulindungi."

 Janji-janji perlindungan ini akan hadir kepada siapa saja yang tetap memilih untuk mengakuiNya, mengandalkanNya, orang yang tinggal di dalam Tuhan. Tinggal menetap, berjalan dan bermalam dalam naungan Tuhan, terus hidup dalam persekutuan yang erat dan berkelanjutan dengan Tuhan, mendengar suaraNya dan melakukan perintahNya.

Mengacu pada Mazmur 91, siapa yang dimaksudkan sebagai orang yang mengenal Tuhan? Orang yang mengenal Tuhan itu adalah "orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa" seperti yang disebutkan di awal Mazmur 91. Orang seperti inilah yang akan mampu mengenal Tuhan, dan dengan sendirinya bisa mengalami  perlindungan Tuhan yang akan mampu membebaskan jiwa kita dari rasa ketakutan dan menggantikannya dengan damai sukacita.

Luangkan waktu lebih banyak untuk berdoa dan terus membaca, mendengar, merenungkan, memperkatakan dan melakukan Firman Tuhan. Mengisi diri dengan kepenuhan kebenaran Firman Tuhan itu penting, tapi haruslah dilanjutkan dengan melakukan atau mengaplikasikannya dalam hidup kita. Kita harus berhati-hati terhadap serangan lewat daging kita yang lemah, seperti pesan Yesus berikut: "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Matius 26:41). 

Tumbuh di dalam Firman berarti tumbuh di dalam Allah. Berpegang pada Firman akan memampukan kita untuk bisa berjalan bebas dari rasa takut meski bahaya mengancam dimana-mana.

Kalau untuk saat ini mengatasinya sepertinya masih terasa terlalu berat, pikirkanlah apa hal baik yang bisa datang dari rasa kuatir/cemas, stres dan takut. Akankah ketiga hal ini bisa menolong dan melepaskan kita dari masalah? Pada kenyataannya, seringkali sebagian besar dari apa yang kita cemaskan atau takutkan justru tidak terjadi. Artinya, kita membuat hati dan pikiran kita lelah, terkontaminasi racun sebenarnya sia-sia saja. Yesus sendiri sudah mengingatkan juga bahwa ketakutan itu tidak ada gunanya. "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?" (Matius 6:27).  

Tetaplah berjalan bersama Tuhan, kenali PribadiNya dengan sungguh-sungguh, dan pegang janji-janjiNya hingga iman kita akan terisi penuh dengan kepercayaan akan Tuhan yang sanggup melakukan perkara apapun, bahkan yang paling mustahil menurut logika kita, itu bisa Dia lakukan dengan mudah. Jika anda berpegang pada Tuhan, duduk dalam lindunganNya dan bermalam dalam naunganNya, anda maka anda akan melihat, tidak peduli betapapun bahayanya dunia ini, betapapun banyaknya ancaman di sekeliling anda, anda tidak perlu khawatir karena Tuhan lebih dari sanggup menjadi tempat perlindungan dan kubu pertahanan kita. Mari kita sama-sama terus kuatkan iman kita, because we need it more than ever at this moment.  He can make a way, and He will.

Don't let the dark shadow consumes you, don't let the joy stealers eat you


Friday, August 5, 2022

Worry Often Gives a Small Thing Big Shadow (3)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)


Alkitab menyampaikan begitu banyak pesan agar kita jangan sampai ditutupi kabut atau bayangan perasaan negatif ini. Kita diberitahu cara mengatasinya, diajarkan tentang bahayanya, diingatkan supaya berhati-hati terhadapnya. Di Alkitab kita bisa melihat bagaimana tokoh-tokoh besar bahkan menyandang gelar raja dengan awal yang sangat istimewa kemudian hancur karena mereka gagal mengatasi perasaan-perasaan negatif ini. Lihat pula bagaimana Petrus yang sebenarnya sudah mengalami mukjizat bisa berjalan di atas air kemudian jatuh hampir tenggelam karena gagal mengatasi rasa takutnya. Ketiga hal perampas sukacita itu tampaknya biasa buat kita dan sering kita alami, tapi ternyata berpotensi mendatangkan bencana besar dalam hidup kita kalau kita biarkan.

Ada ayat yang sangat baik untuk mengatasi rasa takut. Ayat ini memberitahukan bahwa ada tempat perlindungan yang sangat bisa diandalkan, kubu pertahanan yang sangat layak untuk dipercaya, tidak lain adalah Tuhan sendiri. Ayatnya berbunyi demikian:

"Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: "Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai." (Mazmur 91:1-2).

Kita tentu tahu bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan, tempat kita bergantung dalam menghadapi apapun. Masalahnya, ketika rasa takut melanda, apakah kita masih ingat dan bisa yakin akan hal ini? Kenyataannya, kita seringkali lupa. Banyak yang hanya mengandalkan kekuatan manusia, padahal manusia itu kemampuannya terbatas. Yang lebih salah lagi kalau malah pergi mengandalkan berbagai kuasa yang disediakan kegelapan. Kalau kita menyadari bahwa kuasa Tuhan itu begitu besar, di atas segalanya, tidak terbatas dan tidak ada habisnya, mengapa tidak beralih untuk kembali mempercayakan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita?

Mazmur pasal 91 buat saya selalu bisa menenangkan dan menguatkan kala kita mengalami rasa takut. Bahkan membaca judul perikopnya saja, "Dalam Lindungan Allah" harusnya sudah bisa menenangkan kita.

Dalam Mazmur 91 kita bisa melihat betapa hebatnya perlindungan yang sanggup Tuhan berikan, antara lain:
- Dia sanggup melepaskan kita dari bahaya tersembunyi dan penyakit yang membawa maut (ay 3)
- melindungi kita dibawah sayapNya dengan kesetiaanNya yang kokoh seperti perisai dan pagar tembok (ay 4)
- Kita tidak perlu takut akan bahaya sepanjang hari (ay 5)
- bencana yang datang di saat gelap, atau kehancuran yang menimpa di tengah hari (ay 6).
- Malapetaka tidak akan bisa menimpa, tulah atau kutuk tidak akan bisa mendekat (ay 10)
- Tuhan menjanjikan malaikat-malaikatNya untuk menjaga kita di setiap langkah. (ay 11)
- Kita akan mampu melangkahi ular berbisa dan singa, ancaman-ancaman mematikan lainnya. (ay 13)

Itu semua merupakan perlindungan apa yang Tuhan bisa berikan kepada kita agar mampu hidup tanpa rasa cemas, stres dan takut lagi, bebas dari ketakutan di dalam dunia yang jahat ini.

(bersambung)

Thursday, August 4, 2022

Worry Often Gives a Small Thing Big Shadow (2)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 

(sambungan)

Worry, Stress, Fear. Ketiga hal ini memang rada mirip alias beda tipis. Menurut Pastor Chuck, tiga hal inilah tersangka yang seringkali merampas sukacita kita. Dan untuk mengalahkannya, ia menganjurkan kita untuk mengimani keyakinan Paulus akan penyertaan Tuhan seperti yang disebukan dalam kitab Filipi. "Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus." (Filipi 1:6).

Paulus menulis surat yang ditujukan buat jemaat Filipi saat berada di penjara menanti hukuman mati. Ia harus menghadapi itu setelah begitu lama mengabdikan hidupnya untuk mewartakan berita keselamatan. Apa yang ia alami jelas jauh dari menyenangkan bahkan menakutkan. Ia bisa saja merasa tidak diperlakukan adil oleh Tuhan. Tapi Paulus ternyata tidak merasakan itu sama sekali, karena ia berkata, ia  'yakin sepenuhnya' (bukan setengah yakin, bukan mudah-mudahan, tapi sepenuhnya ),  bahwa Tuhan yang sudah memulai sesuatu yang baik bagi kita akan meneruskan sampai pada akhirnya.  Pastor Chuck mengatakan, kalau kita bisa memiliki keyakinan sampai pada level seperti Paulus, kita seharusnya tidak perlu kehilangan sukacita.

Ketiga hal diatas sebenarnya bukanlah sesuatu yang asing dalam hidup manusia. Mulai dari rasa cemas akan hal-hal kecil,  cemas memikirkan masa depan, cemas akan pendapatan yang tidak juga kunjung membaik, atau segala bentuk cemas yang saat ini dihadirkan pandemi yang belum juga sepenuhnya berlalu dan seterusnya.

Lalu stres. Stres saat mengejar pekerjaan agar selesai tepat waktu, stres saat harus menghadapi lebih dari satu problem dalam waktu bersamaan, stres karena pendapatan merosot, stres berada di dekat orang-orang sulit, itu biasa kita alami.

Ada yang takut hantu, takut gelap, takut sendirian, takut di kesunyian, takut akan rasa sakit dan takut-takut lainnya. Ada yang percaya bahwa uang atau harta bisa membuat orang tidak perlu takut lagi. Tapi kenyataannya banyak harta tetap akan memunculkan takut dalam bentuk lain seperti takut kehilangan harta, takut kekurangan, takut pencuri dan seterusnya. Banyak orang yang memelihara atau bahkan memupuk rasa takutnya sendiri, baik sadar atau tidak. 

Ada yang tidak kuasa mengatasi perasaan-perasaannya, memilih menyerah. Mereka lupa bahwa semakin jauh kita membiarkan para perampas sukacita ini ada pada kita, semakin besar pula mereka menguasai kita. Semakin kita biarkan, semakin besar pula bayangan gelap itu menutupi kita. The more we drive into fear, the longer we keep it, the more it consumes us. 

(bersambung)

Wednesday, August 3, 2022

Worry Often Gives a Small Thing Big Shadow (1)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 Ayat bacaan: Mazmur 91:1-2
===========================
"Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: "Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai."


Saya ingat saat saya berada di Swedia, di sebuah stasiun bawah tanahnya ada poster besar bertuliskan "Oron ger ofta en liten sak en stor skugga". Oro, itu artinya Worry alias cemas atau khawatir. Ger artinya give/memberi, ofta adalah often alias biasanya/sering, en liten sak artinya small bag/thing alias hal kecil, stor artinya besar, skugga artinya shadow atau bayangan. Jadi terjemahannya adalah: "Worry often gives a small thing a big shadow", dalam bahasa Indonesianya adalah: "Kecemasan atau kekhawatiran kerap mendatangkan bayangan gelap besar atas hal kecil". Ini adalah peribahasa tua yang ada di negara itu.

Bagaikan awan kelam berukuran besar, kecemasan dengan segera menutupi sukacita dan ketenangan dalam hidup kita, ia bahkan bisa hadir membawa kegelapan atas perkara yang kalau ditelaah sebenarnya sederhana saja. Sebuah peribahasa yang sangat bijak menurut saya, karena siapapun kita, akan selalu ada waktu dimana kita harus berhadapan dengan perasaan cemas ini. Ada kalanya kita sudah duluan cemas atas sesuatu yang kecil saja, atau malah belum terjadi. Dan itu membuat kita belum apa-apa sudah lelah dan kalah duluan.

Peribahasa ini jadi melekat buat saya, karena saya adalah tipe orang yang cenderung mudah cemas bahkan untuk hal-hal yang belum terjadi. Mewarisi sifat dari almarhum ibu saya, kami itu memang seolah hobi khawatir. Bagaimana kalau nanti, itu jadi seperti kalimat favorit kami. Sisi positifnya ada, jadi kami bisa mengantisipasi kemungkinan terburuknya, tapi sisi negatifnya jelas lebih banyak. Tidak enak hidup terus dengan perasaan seperti itu. It's like a heavy burden yang bikin lelah mental. Dalam hal mau mencoba maju, seringkali rasa seperti ini pun menjadi penghambat untuk mengambil langkah. Dari kecemasan ke rasa takut itu dekat sekali, itu jelas tidak membawa manfaat apa-apa.

Setelah saya lahir baru, saya kemudian belajar bahwa kecemasan yang menimbulkan rasa takut itu bukan saja menghambat saya untuk maju, tapi juga akan membuat saya gagal menggenapi rencana Tuhan dan menghalangi mukjizat Tuhan untuk bisa saya rasakan. Perasaan seperti itu bisa menjadi penghambat pertumbuhan iman saya. Dan yang tidak kalah merugikannya, mudah cemas itu akan merampas sukacita dari diri saya, karena sukacita dan cemas tidak akan pernah berjalan bersama-sama. Seperti yang saya bilang tadi, cemas akan dengan mudah mendatangkan perasaan tidak enak, yang kalau saya biarkan akan mengkontaminasi hati saya dengan berbagai perasaan jelek lainnya sampai tidak ada lagi ruang bagi sukacita disana. Tidak, saya tidak boleh membiarkan itu terus terjadi. Karenanya saya terus belajar untuk mengatasi perasaan-perasaan negatif itu sesegera mungkin sebelum menguasai ruang-ruang di hati saya.

Dalam sebuah buku karya Pastor Charles Rozell 'Chuck' Swindoll, ia menyebutkan ada tiga hal yang paling sering menjadi pencuri sukacita alias joy stealer, yaitu:
- Worry : an inordinate anxiety about something that may or may not occur (kekuatiran berlebihan terhadap sesuatu yang mungkin bisa atau mungkin tidak terjadi)
- Stress : intense strain over a situation we can't change or control (ketegangan yang intens terhadap sebuah situasi yang tidak bisa kita ubah atau kendalikan)
- Fear: a dreadful uneasiness over danger, evil or pain (sebuah rasa gentar yang sangat tidak nyaman terhadap bahaya, perbuatan keji dan rasa sakit)

(bersambung)


Tuesday, August 2, 2022

Sinyal Terhalang (2)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 

(sambungan)

Bukankah berbohong, gosip dan curang sudah merupakan hal yang lumrah ditengah masyarakat sekarang ini? Kita pikir kita hebat karena tidak pernah membunuh, mencuri atau merampok, tetapi dengan terbiasa untuk tidak menjaga mulut dan pikiran kita itu pun sebenarnya sama bahayanya. Kesalahan yang kita anggap sepele seperti ini sebenarnya cukup punya kekuatan untuk membuat Tuhan memalingkan mukanya dan menolak mendengar doa kita.

Selain soal gosip atau berbohong yang kelihatan seperti sepele tapi tetap berbahaya, jangan abaikan perasaan tertuduh dalam hati nurani kita apabila kita melakukan dosa. Yohanes mengatakan, "Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah, dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya." (1 Yohanes 3:21-22). Agar kita tidak menjadi terdakwa lewat penghakiman hati nurani, berjalanlah dengan bersih. Jangan biarkan kecurangan sekecil apapun mendapat pembenaran dalam pemikiran kita.

Tuhan selalu menguji hati kita, apakah sudah bersih atau masih terdapat noda-noda kotor yang bisa menyekat laju doa kita untuk sampai ke hadiratNya. Tidak bisa tidak, kebersihan dan kemurnian hati sungguh penting untuk diperhatikan sebelum kita mendatangi Tuhan baik lewat doa dan puji-pujian. Yesus sendiri sudah bersabda: "Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu." (Matius 5:23-24). 

Ganjalan apapun yang ada dalam hati kita, misalnya ketika kita masih menyimpan kebencian atau sekedar belum membereskan masalah yang mengganjal dengan orang lain akan mampu menghambat kelancaran doa kita. Itulah sebabnya Yesus mengingatkan kita agar segera membereskan semua ganjalan terlebih dahulu sebelum kita datang kepada Tuhan. Diluar semua substansi buruk yang kita simpan dalam hati seperti kejahatan, mengampuni dan berdamai dengan orang yang memiliki masalah dengan kita menjadi sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar apabila kita ingin doa kita mengalir mulus kepada Tuhan.

Pastikan sinyal dengan Tuhan jangan sampai terhalang

Monday, August 1, 2022

Sinyal Terhalang (1)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

Ayat bacaan: Mazmur 66:18
======================
"Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar."

Smart phone atau gadget saat ini menjadi kebutuhan utama. Sinyal drop bisa bikin kita pusing, apalagi kalau kita sedang menunggu kabar atau perlu menghubungi seseorang. Provider ada beragam tinggal pilih. Ada yang koneksinya bagus, ada yang tidak stabil, ada pula yang buruk. Tapi mau sebagus apapun, akan selalu ada sesuatu yang bisa mem-blok sinyal pada smart phone kita. Misalnya beton. Saat kita parkir di basement, maka sinyal kita akan terganggu sampai kita keluar dari sana. Atau dalam lift, saat cuaca buruk dan lain-lain.  

Sadarkah kita bahwa ada kalanya doa yang merupakan media penghubung kita dengan Tuhan kita bisa terhalang? Ilustrasi tentang diatas saya rasa baik untuk menggambarkan bahwa doa kita bisa terhalang apabila terbentur atau diblok oleh sesuatu. Biasanya itu berhubungan dengan suasana atau situasi hati kita, apakah jernih atau lagi terkontaminasi oleh berbagai substansi yang bisa jadi penghalang.

Mengenai doa yang terhalang sebenarnya sudah dibahas dalam beberapa kesempatan di dalam Alkitab. Mari kita mulai dengan apa yang disampaikan Pemazmur berikut ini: "Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar." (Mazmur 66:18).
Ini merupakan hal yang seringkali luput dari perhatian kita. Banyak yang berpikir doa itu ya doa, sebuah sarana meminta sesuatu dan doa akan tetap didengar dan dikabulkan tanpa harus memeriksa terlebih dahulu kondisi hati kita. Kita mengira bahwa tidak ada hubungan antara hati yang bersih dengan efektif-tidaknya setiap doa yang dipanjatkan. Melalui ayat ini kita tahu bahwa itu adalah anggapan yang keliru. Hati yang masih kotor terselubung dosa, kebencian terhadap seseorang, iri hati memdendam, menyimpan niat buruk atau busuk terhadap orang lain, agenda-agenda kepentingan pribadi, hasrat menipu, sesuatu yang tidak tulus, pamrih dan berbagai hal buruk lainnya bisa menghambat  doa kita untuk sampai kepada Tuhan.

Selanjutnya mengenai doa yang terhalang ini bisa kita jumpai dalam kitab Yesaya. Dalam kitab ini dikatakan "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:1-2). 

Kalau kita baca judul perikopnya, maka kita akan menemukan kalimat: "Dosa adalah penghambat keselamatan". Dan keseluruhan ayat disana berbicara mengenai perihal dosa sebagai penghambat atau penghalang keselamatan kita. Apakah itu kejahatan besar atau 'cuma' berbuat curang sedikit, berbohong kecil, itu pun sudah cukup mumpuni untuk menjadi penghalang yang menghambat pertumbuhan kita, menghambat doa kita dan pada akhirnya keselamatan kita. "Sebab tanganmu cemar oleh darah dan jarimu oleh kejahatan; mulutmu mengucapkan dusta, lidahmu menyebut-nyebut kecurangan." (ay 3). 

(bersambung)


Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Stats

eXTReMe Tracker