Thursday, October 19, 2017

Tugas Berat (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Bicara soal aneh, pengalaman Nuh adalah salah satunya. Mari kita lihat sejenak kisah mengenai Nuh. Suatu hari Tuhan memerintahkan Nuh untuk membuat bahtera alias kapal besar. Uniknya, Tuhan sepertinya tahu bahwa kapal bukanlah sesuatu yang lazim ada bagi mereka yang tinggal di perbukitan dan jauh dari pantai sehingga Tuhan memberikan petunjuk tentang ukuran dan bahan secara sangat rinci. "Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam. Beginilah engkau harus membuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya. Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya; buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah dan atas." (Kejadian 6:14-16).

Ada beberapa penelitian yang menyatakan bahwa sebelumnya mereka belum pernah melihat kapal apalagi yang ukurannya sebesar itu. Jika anda yang mendapat tugas membangun sesuatu yang namanya bahtera atau kapal besar di atas bukit, sementara anda belum pernah melihat atau mengetahui apa-apa tentang bahtera sebelumnya, bagaimana reaksi anda? Kenyataannya ada banyak orang yang sudah menyerah meski tingkat keanehan atau kesulitannya masih seujung kuku dibandingkan yang diberikan pada Nuh, seorang yang sudah tua.

Meski Tuhan sudah memberi rinciannya, tetap saja sangat berat dan sulit untuk melakukannya. Kalau saya saja yang tinggal merakit/merangkai lemari lumayan kesulitan, Nuh harus mulai membuat dari nol. Saya membayangkan ia harus mencari pohon-pohon yang spesifik yang tinggi dan besar agar bisa membuat kepingan-kepingan dengan ukuran besar seperti yang disuruh Tuhan. Menebang, memotong, membolongi, mmengetam. Lantas nantinya merakit. Kalau merakit lemari saja bagi orang yang 'tak berbakat' bertukang seperti saya butuh dua jam, dan seorang tukang pengalaman mungkin butuh beberapa hari untuk membuat pondok atau gubuk sederhana, bayangkan waktu dan tenaga yang dibutuhkan untuk membuat bahtera raksasa.

Mengingat bahwa bahtera itu disuruh buat oleh Tuhan karena Dia ingin menyudahi kehidupan manusia pada saat itu yang sudah terlalu rusak parah, penuh kekerasan dan kejahatan (ay 11-13), saya yakin Nuh harus menghadapi hari-hari yang sulit penuh cemooh dari manusia dengan akhlak yang sudah rusak benar tersebut. Pekerjaan yang sudah luar biasa berat harus bertambah berat dengan hinaan atau cercaan orang lain. Luar biasanya, Nuh taat melakukan tepat seperti yang dikatakan Tuhan. Ia bahkan tidak bertanya apa-apa, mencoba tawar menawar, mengalami keraguan dan sebagainya kepada Tuhan.

Kalau mengedepankan logika, kita tentu akan banyak bertanya kalaupun mau melakukan. Misalnya, bagaimana agar bahtera dari kayu yang sangat berat ini nantinya bisa mengapung dan tindak tenggelam? Jangan sampai kita sudah repot bertahun-tahun mengerjakan kapal, tapi malah langsung tenggelam nantinya saat berada di atas air. Atau, bagaimana kapal di atas bukit ini bisa menyentuh air? Siapa yang kuat mendorongnya? Pertanyaan lain yang mungkin muncul: berapa lama dead line pengerjaannya? Saya tidak sanggup melakukannya sendiri, lantas bayar upah buruh dari mana? Dan ribuan pertanyaan lainnya. Karena itu saya menganggap iman Nuh itu luar biasa, karena ia langsung melakukan tanpa ragu atau banyak tanya.

Selanjutnya, jika urusan membuat kapal sudah selesai bukan berarti masalah selesai. Karena kemudian Nuh harus mulai masuk kepada tugas berikutnya yang juga aneh dan luar biasa sulit. Selain Nuh, istri dan anak-anaknya, Nuh diperintahkan untuk membawa sepasang dari segala jenis hewan dan menyediakan makanan buat semuanya. Lengkapnya adalah seperti ini: "Dan dari segala yang hidup, dari segala makhluk, dari semuanya haruslah engkau bawa satu pasang ke dalam bahtera itu, supaya terpelihara hidupnya bersama-sama dengan engkau; jantan dan betina harus kaubawa. Dari segala jenis burung dan dari segala jenis hewan, dari segala jenis binatang melata di muka bumi, dari semuanya itu harus datang satu pasang kepadamu, supaya terpelihara hidupnya. Dan engkau, bawalah bagimu segala apa yang dapat dimakan; kumpulkanlah itu padamu untuk menjadi makanan bagimu dan bagi mereka." (ay 19-21).

Nuh harus mengumpulkan sepasang dari segala jenis hewan yang ada di bumi, memasukkan semuanya ke dalam bahtera, serta mengumpulkan makanan yang cukup untuk dia beserta keluarganya dan untuk semua hewan-hewan dalam kapal. Bisakah anda bayangkan bagaimana tingkat kesulitan dan kerepotannya? Ini sebuah pekerjaan yang rasanya mustahil untuk diakukan. Tapi lihatlah ketaatan Nuh. Jelas dikatakan dalam alkitab: "Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya." (ay 22). Nuh melakukan semuanya TEPAT seperti yang diperintahkan Allah. Tidak peduli bagaimana sulitnya, tidak peduli bagaimana beratnya, Nuh tidak bersungut-sungut atau mengeluh, tidak bertanya dan ragu. Dia melakukan tepat seperti apa yang digariskan Tuhan. Sikap yang sangat luar biasa. Tidaklah heran jika Nuh dinyatakan sebagai seorang yang "mendapat kasih karunia di mata Tuhan" (ay 8) Dan, kalau kita heran bagaimana Nuh bisa punya sikap seperti itu, bagaimana ia bisa punya iman yang sangat kuat dengan roh yang luar biasa, Alkitab jelas mencatat siapa Nuh di mata Tuhan, yaitu "seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah." (ay 9).

(bersambung)


Wednesday, October 18, 2017

Tugas Berat (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kejadian 6:22
=======================
"Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya."

Suatu kali saya membeli lemari karena butuh untuk membuat barang-barang di rumah bisa tersusun lebih rapi. Agar lebih cepat, saya memutuskan untuk membeli yang baru, yang masih dalam kardus untuk nantinya saya rakit sendiri. Harusnya tidak akan sulit, karena selain potongan-potongannya sudah dibuat pas dan lengkap, kertas petunjuk pemasangan pun sudah ada, berikut pemutar sekrup yang ukurannya pun pas dengan sekrup. Saat saya mulai memasang, ternyata pengerjaannya tidaklah segampang yang saya kira. Ada begitu banyak perintilan dan kepingan yang bentuknya mirip. Beberapa kali saya harus membongkar ulang karena salah sambung atau terbalik. Belum lagi kalau ada yang kurang pas, sekrup masuknya miring sehingga tidak rapat, lumayan bikin bingung, menyita waktu dan tenaga. Setelah lebih dua jam akhirnya lemari pun selesai. Saya bisa saja berhenti merakit, tapi kalau berhenti saya tidak akan bisa memakai lemari sesuai fungsinya. Pembelian pun akan menjadi sia-sia. Dengan kata lain, kalau saya mau rumah lebih rapi, lemari itu harus saya usahakan selesai dirakit agar bisa berfungsi.

Dalam hidup, suka tidak suka kita sekali waktu atau mungkin seringkali berhadapan dengan kondisi sulit yang bisa sangat merepotkan. Apakah dalam pekerjaan, hubungan sosial dan lain-lain, kita harus mengusahakan dengan susah payah agar apa yang kita kerjakan atau inginkan bisa berjalan dengan baik sesuai harapan. Apalagi kalau bicara soal panggilan. Seringkali panggilan itu pada awalnya membingungkan kita. Kita tahu apa yang jadi panggilan kita, rasanya kuat sekali dalam hati kita, tapi kita tidak tahu harus mulai dari mana. Setelah mulai, meski kita tahu langkah-langkah yang harus kita ambil, bisa muncul banyak kesulitan di dalam prosesnya. Ada orang yang akhirnya memilih untuk berhenti, putar haluan atau menyerah. Ada yang terus melakukan dengan gigih. Tidak jarang pula banyak orang yang merasa kecewa pada Tuhan karena prosesnya terasa berat. Kenapa Tuhan tidak langsung berikan saja biar tidak perlu repot-repot? Kenapa Tuhan tidak bantu supaya bisa lebih cepat dan mudah?

Apa Tuhan terbatas kuasanya untuk memberikan sesuatu yang instan? Tentu saja tidak. Dia lebih dari sanggup memberi segala sesuatu dengan instan. Tapi Tuhan sering menunjukkan bahwa Dia tidaklah suka dengan sesuatu yang instan. Mengapa? Sebab biasanya sesuatu yang instan itu biasanya tidak mendidik. Tuhan tidak mau membuat kita menjadi orang-orang manja yang cuma mau enak atau gampangnya dan tidak mau berusaha. Tuhan bisa kasih langsung ikan goreng di meja kalau Dia mau, tapi Tuhan seringkali menyediakan kita kayu dan tali untuk membuat pancing, cacing di tanah dan laut berisi ikan. Kita kemudian butuh proses memancing dan memasak/menggoreng agar bisa mendapatkan ikan goreng di atas meja makan.

Sesuatu yang datang dari hasil usaha keras biasanya akan kita hargai lebih daripada sesuatu yang kita peroleh instan alias terlalu gampang. Jadi, kalau kita mau ikan, ya harus rela repot dulu. Kalaupun tidak mau memancing, minimal kita harus beli dulu ke pasar atau supermarket, dan uangnya harus kita cari dulu lewat bekerja. Kalau mau lemari yang dibeli bisa berfungsi, kita harus mau repot dulu merakitnya dengan baik dan benar. Kalau mau ikan goreng, kita pun harus mau mengusahakannya. Jika manusia selalu berorientasi pada hasil akhir, Tuhan lebih memandang penting proses. Saat kita menjalani sebuah proses kita akan belajar sangat banyak di tiap langkahnya. Itu akan membekali kita tentang banyak hal, mulai dari ilmu, keahlian, kesabaran, kekuatan mental sampai iman, semua itu bukanlah sesuatu yang datangnya instan melainkan harus melalui proses panjang dan kontinu. Akan butuh banyak pengorbanan dalam berbagai hal, tapi kelak kita akan bersyukur bahwa kita memilih untuk tetap melakukan saat melihat hasilnya. Disamping hasilnya akan bisa kita rasakan, kita pun sudah bertumbuh lebih banyak dalam berbagai hal.

Kalau begitu, alangkah sayangnya saat orang menyerah di tengah jalan karena merasa terlalu berat atau tidak mau repot/bersusah-payah. Kalau cuma diri sendiri yang rugi masih mending, bagaimana kalau yang kita berhenti kerjakan merupakan panggilan dengan rencana besar Tuhan di dalamnya? Bagaimana kalau kita gagal menyikapi panggilan, gagal menggenapi rencana Tuhan, gagal menjalankan tugas dari Tuhan? Kita sudah diberitahuNya untuk melakukan sesuatu, kita sudah diberikanNya petunjuk, tapi tetap saja kita tidak berhasil menyelesaikan karena tidak mau susah, baik gara-gara malas, kurang kuat mental alias punya semangat juang lemah atau mudah tergoda akan hal-hal lain yang tampaknya menjanjikan sesuatu yang lebih instan. Yang jadi masalah, seringkali blueprint atau kertas petunjuk dari Tuhan sepintas terlihat aneh atau tidak masuk akal. Seringkali dibutuhkan iman yang percaya sepenuhnya pada rencana Tuhan di awal agar kita mau mulai mengambil langkah walaupun belum tahu betul Tuhan mau bawa kita kemana.

Ada banyak tokoh besar dalam Alkitab yang punya iman kuat sehingga mereka bisa memutuskan untuk keluar dari zona nyaman, melangkah mengikuti apa kata Tuhan meski mereka belum benar-benar mengerti akhir dari rencana Tuhan dalam mengutus atau menugaskan mereka. Ada yang dapat tugas begitu aneh, sehingga kalau mereka taat melakukannya kita tahu itu karena iman mereka yang hadir dari kedekatan mereka dengan Tuhan. Tuhan memberi panggilan, memberi rencana atau tugas, itu satu hal. Tapi semua itu tidak akan jadi apa-apa kalau kita tidak melakukan bagian kita, yaitu taat dan melakukan tepat seperti apa yang Tuhan inginkan.

(bersambung)


Tuesday, October 17, 2017

Membangun Kekuatan Roh Lewat Doa (4)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Jika keselamatan kekal saja Tuhan mau berikan kepada kita, dan untuk itu Tuhan rela mengorbankan Yesus, masa untuk urusan di dunia Tuhan tidak mau atau bisa? Hubungan yang karib dengan Tuhan lewat doa akan membuat kita semua bisa menerima sebentuk hidup yang tenang, damai, tentram, sejahtera, sentosa yang tidak lagi tergantung dari situasi atau kondisi yang kita alami.

4. Doa melahirkan kasih

Jika anda ada di posisi seperti Daniel, bagaimana reaksi anda terhadap orang yang siap mengeksekusi anda atas tuduhan yang tidak pada tempatnya? Kita bisa merasa sangat marah bahkan dendam. Tapi Daniel ternyata bisa tetap bisa mengasihi. Ketika Daniel sudah tiba di depan mulut gua, meski sedih hati tapi raja sudah bersiap melaksanakan eksekusi sesuai surat perintah yang ia keluarkan atas hasutan orang-orang yang iri terhadap Daniel. Raja bertanya kepada Daniel: "Daniel, hamba Allah yang hidup, Allahmu yang kausembah dengan tekun, telah sanggupkah Ia melepaskan engkau dari singa-singa itu?" (ay 21). Apa jawab Daniel? "Lalu kata Daniel kepada raja: "Ya raja, kekallah hidupmu! Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapan-Nya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan." (ay 22-23) Daniel tetap memberkati raja meski sedang dalam situasi yang sebenarnya sangat buruk sebagai hasil dari keputusan rajanya.

Jika kita melihat keteladanan dari Yesus, kitapun akan menemukan hal yang sama. Yesus sama sekali tidak berubah sikapnya setelah menerima siksaan sangat kejam dan tengah berada di atas kayu salib. "Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34). Kita bisa melihat bagaimana cara hidup kita seharusnya yang dipenuhi doa lewat keteladanan dari sikap Yesus sendiri. Berulang kali kita bisa membaca bahwa Yesus berdoa secara teratur. Beberapa ayat yang menyebutkan hal ini, diantaranya: "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana." (Markus 1:35), "Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ." (Matius 14:23), di taman Getsemani sesaat menjelang penangkapan dirinya (Matius 26:36-46) dan lain-lain. Yesus juga mengajarkan bagaimana berdoa yang baik dan benar lewat doa yang dikenal sebagai doa Bapa Kami, yang intinya mengucap syukur dan menyelaraskan diri kita untuk sepakat dengan kehendak Tuhan, di bumi seperti halnya di surga.

Tidak ada masalah yang bisa menghancurkan kita kalau kita tetap melekat dengan Tuhan. Lewat Daniel kita bisa belajar bahwa membangun hubungan dengan doa bisa mendatangkan hikmat dan pengurapan Tuhan, nasihat dan/atau teguran, iman dan ketenangan, serta kasih.

Melihat banyaknya pergumulan yang harus kita hadapi sehari-hari, jelas kita memerlukan roh yang kuat seperti Daniel. Roh seperti ini hanya bisa hadir lewat keseriusan kita untuk membangun hubungan yang kuat dengan Tuhan, dan itu adalah lewat kebiasaan dan kedisiplinan kita dalam berdoa. Daniel dikatakan biasa berdoa secara rutin tiga kali sehari. Artinya ada atau tidak masalah dalam hidupnya, sibuk atau tidak sibuk, ia tetap berdoa sama seriusnya. Itulah yang dikatakan dengan sebuah kegiatan rutin.

Jangan sampai kita keliru menyikapi doa. Doa bukanlah berbicara mengenai tata cara, hafalan, prosesi atau seremonial, doa bukanlah soal tradisi, rutinitas atau kewajiban semata tetapi berbicara mengenai pembangunan hubungan dengan Tuhan secara pribadi. Sebuah doa yang disertai pertobatan sungguh-sungguh akan membawa pengampunan dosa dan pemulihan atas kita dan keluarga, bahkan bisa membawa dampak luar biasa bagi lingkungan dimana kita ditempatkan bahkan atas bangsa, negara dan selanjutnya hingga ke ujung bumi.

Mari bangun sebuah kehidupan doa dalam keluarga anda, jadikan itu sebagai media membangun hubungan yang kuat dengan Tuhan. Dari sana anda akan memiliki roh yang kuat, yang tidak akan bisa digoncangkan oleh apapun, dan disanalah anda akan menjalani sebentuk kehidupan yang berbeda dari pola kehidupan dunia. Have you prayed today?

Miliki doa yang berdampak agar kita tidak melewatkan besarnya kuasa yang hadir lewat doa

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, October 16, 2017

Membangun Kekuatan Roh Lewat Doa (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

2. Doa mendatangkan nasihat, pesan, bahkan teguran

Tuhan bisa mengingatkan kita agar tidak terkontaminasi oleh pikiran-pikiran negatif, rasa takut, keraguan, kuatir dan menjauhkan kita dari bermacam-macam godaan jika kita membangun hubungan yang karib dengan Tuhan lewat doa.

Daniel mau dihancurkan lewat cara berdoanya. Daniel bisa luput dari hukuman apabila ia mau mengorbankan kebiasaannya menyembah Tuhan lalu menyembah raja. Dia bisa saja pura-pura melakukan itu agar selamat. Bukankah hari ini kita juga mengalami tekanan dan larangan untuk beribadah? Kalau bukan soal beribadah, ada banyak orang yang harus rela mengalami kerugian dalam bisnis, karir, kehilangan hak-haknya seperti rumah dinas dan sebagainya karena mereka mempertahankan iman Kekristenannya. Disaat seperti itu orang yang mengalami akan berada di persimpangan jalan. Apakah mengorbankan hak kesulungannya demi memperoleh kemudahan, atau tetap mempertahankan iman dengan resiko kehilangan banyak hal di dunia bahkan nyawa. Apa yang dilakukan Daniel menyikapi hal ini?

Pada waktu surat larangan untuk berdoa selain kepada raja dibuat, Daniel sama sekali tidak goyah dan terus berpegang kepada keputusan yang benar. Inilah yang ia lakukan. "Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya." (Daniel 6:11). Dia tidak terganggu sedikitpun. Ia mengetahui adanya surat larangan, tapi ia justru merasa itulah saatnya ia harus datang pada Tuhan, seperti yang biasa ia lakukan. Ia berlutut, memuji dan berdoa seperti biasa dengan tenang. Bahkan ketika para musuh sudah tiba tepat di hadapannya, ia tetap tenang melanjutkan doanya. "Lalu orang-orang itu bergegas-gegas masuk dan mendapati Daniel sedang berdoa dan bermohon kepada Allahnya." (ay 12).

Bagaimana mungkin ia bisa tetap tenang dan membiarkan dirinya tertangkap basah setelah tahu betapa berat ancaman hukuman yang harus ia terima? Rohnya yang kuat lewat doa teratur membuatnya bisa mendengar berbagai nasihat dari Tuhan yang memberikan ketenangan dan kekuatan. Hikmat Allah turun atasnya sehingga ia tidak perlu takut menghadapi masalah berat yang mengancam jiwanya.

Bentuk hubungan yang karib atau akrab seperti itu tentu membuatnya peka terhadap nasihat-nasihat dari Tuhan, termasuk teguran sekiranya ia berbuat sesuatu yang keliru. Jika hikmat Allah memungkinkan kita untuk bisa tahu sesuatu yang melebihi kemampuan daya pikir kita, tentu berbagai nasihat dan teguran dengan sendirinya akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari pula.

3. Doa mendatangkan iman dan ketenangan

Kemana kita lari ketika masalah menghantam kita? Daniel memutuskan untuk datang kepada Tuhan. Ia tetap tenang meski ketika musuh sudah tiba dan siap menangkapnya dan akan segera membawanya ke dalam bahaya mengerikan. Iman dari rohnya yang kuat membuat Daniel bisa tetap tenang dan khusyuk berdoa tanpa terganggu situasi sekitarnya, bahkan dalam keadaan sangat genting sekalipun.

Ibarat mobil, lihatlah bahwa doa bisa berfungsi seperti radiator, sebagai pendingin ketika pikiran dan perasaan kita sedang panas. Doa bisa membuat kita tetap tenang dan tidak kehilangan kontrol dalam menghadapi berbagai masalah pelik.

Dalam Mazmur dikatakan "Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku."  (Mazmur 62:2). Lihat bahwa bukan hanya Daniel, tapi Daud pun memperoleh ketenangan dari berbagai masalah dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. Kita tahu bagaimana Daud dikejar-kejar oleh Saul dan sempat masuk ke daerah musuh lalu ditangkap. Itu bukanlah situasi yang ringan. Tapi ia tidak takut sedikitpun. Ia tetap tenang, karena ia tahu betul darimana keselamatan itu sesungguhnya berasal. Ia tahu betul bahwa keselamatannya hanya berasal dari Tuhan dan bukan dari yang lain, sehingga ia tidak perlu takut ketika harus menghadapi banyak masalah.

(bersambung)


Sunday, October 15, 2017

Membangun Kekuatan Roh Lewat Doa (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Dari mana kita tahu bahwa roh yang luar biasa itu merupakan hasil dari kekuatan doa? Kita bisa melihatnya dari gaya hidup Daniel yang sangat dipenuhi doa. Lihatlah ayat berikut. "Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya." (Daniel 6:11). Ayat bacaan kita hari ini menyatakan bahwa Daniel secara rutin berdoa tiga kali sehari. Apakah Daniel punya banyak waktu luang atau tidak banyak kerjaan sehingga ia punya waktu untuk berdoa tiga kali dalam sehari? Jabatan yang ia pegang jelas bukan main-main, bukan sesuatu yang ringan. Saya yakin ia sangat sibuk mengurusi 120 wakil raja yang tersebar di seantero negeri. Wah, itu pekerjaan berat. Jadi jelas bahwa Daniel tahu pentingnya doa sehingga ia menempatkan pada prioritas yang tidak bisa diganggu oleh kesibukan apapun.

Gaya hidupnya yang dipenuhi doa membuat rohnya kuat, sehingga Daniel pun menjadi figur penting dalam empat kali pergantian raja. Seperti biasa, saat ada orang yang berprestasi luar biasa, akan muncul orang-orang yang iri dan kemudian berusaha menghancurkan. Dan itulah yang terjadi kemudian. Karena Daniel memiliki posisi penting diatas para wakil dan pejabat lain, merekapun mulai merancang dakwaan untuk menghabisi Daniel. Mereka dikatakan tidak menemukan satupun kesalahan kecuali dalam hal ibadahnya (ay 6).

Jika banyak orang akan ketakutan bahkan bukan tidak mungkin segera mengorbankan imannya agar selamat dari ancaman, Daniel ternyata memiliki reaksi berbeda. Meski hal ibadahnya menjadi titik serang, ia memutuskan untuk tetap melakukan apa yang biasa ia lakukan, yaitu menjaga hubungan dengan Tuhan lewat doa teratur dan rutin. Daniel tidak goyah sedikitpun dan memilih untuk menghadapi bersama dengan Tuhan. Rohnya yang kuat tahu bahwa bersama Tuhan ia pasti bisa mengatasi permasalahan tidak peduli berapa besarnya. Jika dalam ayat di awal kita melihat bahwa Daniel tercatat memiliki roh yang luar biasa, ketika menghadapi masalah serius kekuatan rohnya jelas terbukti. Roh yang kuat milik Daniel tidak bisa digoyahkan oleh ancaman semengerikan apapun, seperti dilemparkan ke dalam gua berisi singa lapar. Dan kita tahu apa hasilnya. Daniel selamat dari terkaman singa di dalam gua, dan akhirnya justru para penuduhnyalah yag binasa dimangsa singa-singa tersebut.

Kita bisa belajar dari Daniel mengenai pembentukan roh yang kuat lewat doa. Apa saja pengaruh luar biasa dari doa sehubungan dengan pembentukan roh yang luar biasa ini? Mari kita lihat satu persatu.

1. Doa mendatangkan hikmat dan pengurapan Allah

Kebiasaan Daniel berlutut dan mencari Tuhan secara rutin dan teratur 3 kali sehari ternyata membawa hikmat dan pengurapan Allah turun atasnya. Hikmat disini bukanlah hikmat yang ada di dunia tetapi merupakan hikmat yang lebih tinggi yaitu hikmat Allah, sebuah hikmat yang berada diatas batas kemampuan pengetahuan kita. Mengandalkan kepintaran, tenaga, kemampuan finansial mungkin bisa mengatasi sebagian masalah. Tapi hikmat Tuhan bisa memberitahu apa yang kita tidak tahu atau mengerti. Hikmat Allah adalah sebuah hikmat yang tidak terbatas melebihi kepintaran manusia.

Dalam hidup kita akan berhadapan dengan begitu banyak hal yang memerlukan pengambilan keputusan. Sekali lagi, kita bisa mengandalkan apa yang kita tahu dan punya saat ini, tetapi akan jauh lebih baik apabila kita bisa mendapatkan hikmat Allah agar apapun yang kita putuskan tidak salah atau melenceng dari prinsip Kerajaan dan rencana Tuhan. Hikmat dan pengurapan Allah yang turun atasnya bukan hanya membuatnya tampil cemerlang dalam posisi penting tapi juga membuat rohnya kuat dalam menghadapi masalah berat yang mengancam nyawanya lewat cara keji. Sepakat dengan rencanaNya, setia menjaga iman dan menghidupi kebenaran, itulah intinya, dan itu bisa kita lakukan jika hikmat dan pengurapan Allah turun atas kita.

(bersambung)


Saturday, October 14, 2017

Membangun Kekuatan Roh Lewat Doa (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Daniel 6:11
====================
"Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya."

Saya bukanlah orang yang terlahir Kristen. Masa bertumbuh saya jauh dari yang namanya berdoa. Karenanya, setelah saya lahir baru, saya cukup kesulitan untuk mendisplinkan diri mengambil waktu berdoa. Saya tidak tahu harus bilang apa, harus bagaimana, tata caranya seperti apa. Kemudian saya tahu bahwa doa merupakan sarana untuk berhubungan dengan Tuhan, mendengar suaraNya, pesan, teguran dan sebagainya, lalu menjadi waktu untuk bercerita apa saja, bertanya dan sebagainya, layaknya seorang anak dengan ayahnya. Sejak saat itu saya tidak lagi sulit melakukannya. Kalau kita cinta pada seseorang, bukankah kita ingin terus bertemu dan berada bersamanya? Itu tidak perlu dipaksa atau didisplinkan, melainkan lahir dari rasa cinta dan merupakan sebuah kebutuhan. Semakin banyak saya tahu fungsi dan kekuatan atau bahkan kuasa di balik doa, semakin besar pula kerinduan untuk menikmati saat-saat teduh dan damai ketika berada di hadiratNya.

Karena itulah saya susah menjawab kalau ada yang tanya berapa lama sebenarnya waktu yang harus dihabiskan untuk berdoa. Kalau memang lahir dari rasa cinta, tentu kita tidak hitung-hitungan soal waktu, juga tidak menjadikannya sebagai alternatif atau diletakkan pada prioritas ke sekian di bagian bawah. Masalahnya, banyak orang yang menganggap doa itu hanya buang-buang waktu alias tidak penting. Jadi penting nanti kalau terbentur masalah atau lagi punya daftar permintaan. Ketika terlalu sibuk, doa pun dikorbankan. "Ah, nanti sajalah.. yang penting kerjaan dulu selesaikan." Itu jadi bentuk pemikiran banyak orang termasuk orang yang katanya percaya. Atau, "Sekali seminggu di gereja kan cukup? Sudah untung saya rela bangun pagi untuk pergi ke gereja." Ada banyak orang yang lebih sibuk urusan tata cara atau urutan ketimbang mementingkan keseriusan dalam membangun hubungan yang erat, dua arah dengan Tuhan. Di sisi lain, ada yang menganggap doa itu sebagai sebuah rutinitas semata, yang artinya bukan karena kerinduan dan faktor membangun hubungan. Ada yang sibuk merangkai kata indah atau bahkan menyampaikan hafalan.

Sayang sekali kalau doa hanya mentok sebagai rutinitas, seremonial, agar tidak berdosa, agar masuk surga atau dianggap tidak lebih penting dari kegiatan-kegiatan lainnya. For me praying is a privilege. Tuhan Yesus lewat kematian dan kebangkitanNya sudah memulihkan hubungan yang rusak akibat dosa dengan Tuhan, sehingga kita tidak lagi butuh perantara untuk bisa masuk ke tahtaNya yang kudus dan berhubungan langsung dengan Tuhan. Seringkali saya hanya mengucap syukur, mendengar suaraNya yang menguatkan lalu diam menikmati sebuah rasa damai yang tidak saya dapatkan diluar waktu doa.

Berdoa punya pengaruh amat besar bagi hidup kita saat ini. Doa punya kekuatan yang sangat luar biasa dalam banyak hal. Ambil satu contoh saja kekuatan doa lewat ayat berikut: "dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka." (2 Tawarikh 7:14). Hanya dari ayat ini saja, doa bisa membuat dosa kita diampuni, kondisi keluarga kita dipulihkan, lingkungan dimana kita berada, bahkan negeri pun bisa dipulihkan. Itulah sebabnya baik tidaknya negara akan sangat tergantung dari seberapa banyak orang percaya yang berdoa untuk bangsa dan negaranya, yang jadi benang merah renungan kali ini dengan yang sebelumnya. Banyak orang yang lebih mementingkan jumlah dan lamanya doa ketimbang isinya. Atau kemasan kata-kata dipercaya menentukan didengar tidaknya sebuah doa. Singkatnya, banyak orang berdoa, tapi sedikit yang tahu makna, tujuan, kegunaan dan kekuatan di balik sebuah doa.

Sadarkah anda bahwa doa bisa membuat anda memiliki roh yang kuat? Akan hal ini, mari kita belajar mengenai pengaruh doa dalam memiliki roh yang kuat lewat kisah Daniel. Daniel adalah satu dari tiga pejabat tinggi di bawah raja melebihi 120 wakil raja seperti yang dicatat dalam Daniel 6:2-4. "Lalu berkenanlah Darius mengangkat seratus dua puluh wakil-wakil raja atas kerajaannya; mereka akan ditempatkan di seluruh kerajaan; membawahi mereka diangkat pula tiga pejabat tinggi, dan Daniel adalah salah satu dari ketiga orang itu; kepada merekalah para wakil-wakil raja harus memberi pertanggungan jawab, supaya raja jangan dirugikan. Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya." Hebatnya, Daniel tetap memegang jabatan itu dalam 4 kali pergantian raja. Dari mana Daniel meperoleh itu semua? Kita bisa mendapatkan jawabannya dari ayat di atas. Daniel bisa memiliki itu semua "karena ia mempunyai roh yang luar biasa." Dan roh yang luar biasa itu lahir sebagai hasil dari kekuatan doa.

(bersambung)


Friday, October 13, 2017

Bagian dari Kota dan Bangsa (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Bukankah apa yang Daniel katakan dalam doanya menarik atau mungkin aneh? Dia tidak melakukan hal yang tidak benar, ia justru jadi korban, tapi ia memakai kata 'kami' dan bukan 'mereka'. Ia tidak mengutuki bangsa dan orang-orang jahat di dalamnya tapi ia justru memohon ampun mewakili bangsanya. Dengan menggunakan kata "kami", artinya Daniel menempatkan diri sebagai bagian dari bangsanya. Meski Daniel tidak ikut-ikutan melakukan kesalahan, tapi ia sadar betul bahwa ia pun merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bangsanya sendiri. Jika bangsanya buruk, maka ia pun akan ikut terkena didalamnya. Dan saya yakin Daniel tahu bahwa sebagai orang benar di dalam bangsa yang tidak benar, ia harus melakukan sesuatu secara aktif dan nyata. Ia melakukan pekerjaannya dan ia mendoakan bangsanya. Itu dilakukan oleh Daniel yang seharusnya kita teladani.

Daniel memiliki sebuah kerendahan hati untuk tidak bermegah diri meski dia sendiri sudah mengaplikasikan hidup benar, memiliki iman yang setia dan akrab dengan Tuhan sejak semula. Biarpun ia diperlakukan sangat jahat, Daniel tetap mengasihi bangsanya. Ia peduli. Jika bangsanya menderita, ia pun akan turut menderita. Sebaliknya apabila bangsanya makmur sejahtera dan penuh berkat, maka ia pun akan menjadi bagian yang bisa menikmati itu. Daniel tahu benar bahwa meskipun ia tidak berbuat kesalahan apa-apa, ia tetaplah merupakan bagian dari bangsa yang saat itu tengah memberontak, tengah berperilaku fasik, sebuah bangsa yang bergelimang dosa dan penuh dengan perilaku menyimpang.

Daniel pun sadar betul bahwa jika bukan dia, siapa lagi yang harus berdoa agar malapetaka dan murka Tuhan dijauhkan dari bangsanya? Maka lihatlah bagaimana Daniel berdoa. "Ya Tuhan, sesuai dengan belas kasihan-Mu, biarlah kiranya murka dan amarah-Mu berlalu dari Yerusalem, kota-Mu, gunung-Mu yang kudus; sebab oleh karena dosa kami dan oleh karena kesalahan nenek moyang kami maka Yerusalem dan umat-Mu telah menjadi cela bagi semua orang yang di sekeliling kami." (Daniel 9:16). Kemudian, "Oleh sebab itu, dengarkanlah, ya Allah kami, doa hamba-Mu ini dan permohonannya, dan sinarilah tempat kudus-Mu yang telah musnah ini dengan wajah-Mu, demi Tuhan sendiri. Ya Allahku, arahkanlah telinga-Mu dan dengarlah, bukalah mata-Mu dan lihatlah kebinasaan kami dan kota yang disebut dengan nama-Mu, sebab kami menyampaikan doa permohonan kami ke hadapan-Mu bukan berdasarkan jasa-jasa kami, tetapi berdasarkan kasih sayang-Mu yang berlimpah-limpah. Ya Tuhan, dengarlah! Ya, Tuhan, ampunilah! Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah dengan tidak bertangguh, oleh karena Engkau sendiri, Allahku, sebab kota-Mu dan umat-Mu disebut dengan nama-Mu!" (ay 17-19). Ini untaian doa yang menyentuh dan mengharukan, dipanjatkan oleh Daniel bukan untuk mencari keamanan dirinya sendiri tetapi mewakili sebuah bangsa. Ia mendoakan kota dan bangsanya kepada Tuhan agar kiranya bisa mendapat pengampunan atas pelanggaran-pelanggarannya.

Seperti Daniel, kita sebagai anak-anak Tuhan pun seharusnya bisa melihat dari sisi yang sama. Kita bisa berdoa demi bangsa, agar kiranya Tuhan memperhatikan dan menjauhkan segala hal buruk atas negara ini lewat doa dari anak-anakNya yang benar. Sebab jika bukan kita, siapa lagi yang bisa berdoa agar Tuhan menjauhkan segala malapetaka dari negara kita, agar Tuhan berkenan memberkati bangsa dan negara kita ini?

Sebagai komponen dari bangsa, kita tidak boleh bersikap apatis. Ada begitu banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh warganya, termasuk dan terutama kita yang jadi umatNya di muka bumi ini. Seperti yang saya sampaikan dalam renungan judul terdahulu, kita harus berperan aktif dalam mengusahakan kesejahteraan kota dan selalu membawa kota kita dalam doa-doa yang dipanjatkan kepada Tuhan. Yeremia sudah mengingatkan akan hal itu dalam pasal 29 ayat 7, dimana keduanya harus dilakukan secara simultan dan kontinu. Kesejahteraan kota adalah kesejahteraan warganya, juga kesejahteraan kita. Penderitaan kota adalah penderitaan warganya, dan penderitaan kita. Kalau kita ingin kota dimana kita tinggal bisa sejahtera dan penuh berkat serta kemuliaan Tuhan, kita harus berperan nyata mengusahakan dan mendoakannya. Daniel menunjukkan dua hal penting:

- Ia melakukan karya nyata lewat profesinya di kota dimana ia berada
- Ia mendoakan kota dan bangsanya

Daniel melakukan kedua hal itu meski ia bukanlah bagian dari pelaku kejahatan, ia tidak termasuk orang-orang yang bobrok moral dan perbuatannya. Tapi dalam doanya Daniel memasukkan dirinya sebagai bagian dari kota dan bangsanya, karena ia sadar betul bahwa dirinya ia tidak bisa memisahkan diri dari tempatnya berada dan ia punya tugas penting disana yang tidak boleh ia hindari. Adalah sangat baik apabila kita sudah terus meningkatkan pertumbuhan pengenalan kita akan Kristus, adalah sangat baik jika kita sudah terus menjaga iman dan terus menguatkannya. Tapi jangan berhenti hanya pada pertumbuhan diri sendiri saja melainkan mulailah pikirkan apa yang bisa kita lakukan bagi bangsa ini. Doa orang benar itu besar kuasanya, dan profesi kita yang dijalankan dengan takut akan Tuhan, dengan mengadopsi nilai-nilai kebenaran bisa menjadi tempat dimana Tuhan menyalurkan berkatNya atas kota. Mari jadi Daniel-Daniel di jaman ini, mari sejahterakan kota lewat pekerjaan dan perbuatan kita dan jangan pernah berhenti berdoa untuknya.

Kita adalah bagian dari sebuah kota yang bertanggungjawab atas kesejahteraannya, usahakan dan doakan dengan menempatkan diri sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kota dan bangsa dimana kita berada

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, October 12, 2017

Bagian dari Kota dan Bangsa (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Daniel 9:16
====================
"Ya Tuhan, sesuai dengan belas kasihan-Mu, biarlah kiranya murka dan amarah-Mu berlalu dari Yerusalem, kota-Mu, gunung-Mu yang kudus; sebab oleh karena dosa kami dan oleh karena kesalahan nenek moyang kami maka Yerusalem dan umat-Mu telah menjadi cela bagi semua orang yang di sekeliling kami."

Suatu kali saya bertemu dengan musisi dari sebuah negara di Eropa. Ia baru pertama kali ke Indonesia. Ia mengaku merasakan kehangatan dan keramahan dari orang-orang yang ia temui. Yang membuatnya heran adalah apa yang ia lihat tidaklah sama dengan pemberitaan tentang negara kita di luar sana. Berita negatif dari perilaku orang-orang yang terus menjadi masalah di negeri ini ternyata lebih menjual bagi banyak media disana, sehingga citra buruk pun suka tidak suka menempel pada kita. Padahal, dari 250 juta penduduk, berapa banyak yang menunjukkan intoleransi luar biasa? Meski jumlah mereka terus bertambah dan harus segera disikapi serius oleh para pemimpin bangsa ini, saya percaya sebagian besar masih mewakili ciri khas bangsa yang ramah dan bersahabat dengan tingkat toleransi tinggi. Hanya saja, orang-orang yang ramah ini tertutupi oleh sebagian kecil orang yang ingin memecah belah bangsa demi keuntungan pribadi dan orang-orang yang terpengaruh oleh hasutan mereka alias mudah digiring opininya. Akibatnya, kelompok mayoritas yang ramah dan toleran harus ikut kena getah sebagai bagian dari bangsa. Jadilah berita negatif itu menumbuhkan citra buruk yang terpaksa harus kita pikul bersama.

Kita berkata, "Tapi saya kan tidak melakukannya? Saya justru jadi korban dari perilaku mereka. Sudah hak asasi dan kemerdekaan saya dirampas, masa saya harus ikut kena getah lagi dianggap sama dengan mereka?" Sebagai bagian dari bangsa, suka tidak suka, mau tidak mau kita harus berbesar hati untuk hal ini. Dan kalau kita diam saja tak berbuat apa-apa, keadaan akan makin buruk dan kita sendiri yang akan makin parah tercemar.

Kita mencintai tanah air kita. Kita ingin bangsa ini makmur, sejahtera, aman damai penuh berkat Tuhan. Apa yang bisa kita lakukan sebagai orang percaya agar bangsa ini bisa memperolehnya? Sesungguhnya banyak sekali yang bisa kita lakukan. Sayangnya banyak  dari kita yang memilih untuk berpangku tangan dan merasa bahwa itu bukan bagian kita. Terus merasa jadi korban dan tidak berbuat apa-apa hanya akan menambah buruk permasalahan bangsa dan diri kita. Kita bisa melakukan banyak hal, dan seperti itulah sebenarnya tugas kita, orang-orang percaya. Saling mendukung dan mendorong pertumbuhan iman antar orang percaya itu sangat penting, tapi kita tidak diminta untuk berkumpul secara eksklusif didalam ruang tembok gereja dan melupakan dunia luar, tetapi kita harus membawa nilai-nilai Kerajaan Allah untuk menyentuh orang-orang diluar tembok sana. Dan tentu saja, kita harus berdoa secara sungguh-sungguh dan secara khusus serta terus menerus bagi bangsa ini.

Selama tiga hari kemarin kita sudah mendalami hal ini lewat sebuah ayat dalam kitab Yeremia pasal 29 ayat 7 yang mengingatkan kita untuk melakukan secara simultan dan kontinu dua hal penting: mengusahakan kesejahteraan kota yang artinya memerlukan tindakan nyata secara aktif, dan mendoakan bangsa. Itu tugas yang harus selalu kita ingat dan lakukan. Alkitab selanjutnya berkata: "sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu". Kalau kota tempat kita tinggal sejahtera, kita sejahtera. Kalau bangsa kita sejahtera, kita sejahtera. Sebaliknya, kalau negara punya banyak masalah, kita pun bakal banyak masalah. Semakin berat beban sebuah kota, semakin berat pula beban kita yang hidup disana. Semakin buruk citra kota dan bangsa, kita pun akan ikut terkena.

Hari ini mari kita lihat apa yang pernah dilakukan Daniel pada masanya. Jaman dan tempat dimana Daniel hidup bukanlah masa yang mudah. Kejahatan, kehancuran moral, perilaku-perilaku yang menghianati Tuhan terus terjadi. Daniel adalah orang benar, dan dia mendapat perlakuan buruk yang sangat tidak adil. Dituduh, ditangkap dan menghadapi hukuman mati karena terus mempertahankan iman, itu harus ia alami. Tapi kita tahu bagaimana penyertaan dan kuasa Tuhan kemudian mendatangkan peristiwa ajaib yang membuat orang-orang sesat tidak lagi bisa berbuat apa-apa.

Daniel menyadari betapa hancurnya moral dan keadaan bangsanya. Daniel bisa saja bersikap apatis, mengingat dia bukanlah termasuk salah satu dari orang yang berbuat kejahatan di mata Tuhan, malah menjadi korban dari orang-orang jahat dalam tempat dan jaman yang sama. Tapi Daniel memilih tidak melakukan hal itu. Lihatlah meski mendapat perlakuan sangat tidak adil dan buruk dari orang-orang jahat, Daniel tetap mengambil waktu untuk mendoakan bangsanya. Jika anda baca seluruh isi doa Daniel yang tertulis dalam Daniel 9:1-19, maka anda akan menemukan bahwa sesuatu yang istimewa, yaitu bahwa Daniel menggunakan kata "kami" dan bukan "mereka" dalam doanya. Ia berkata: "Kami telah berbuat dosa dan salah, kami telah berlaku fasik dan telah memberontak, kami telah menyimpang  dari perintah dan peraturan-Mu, dan kami tidak taat kepada hamba-hamba-Mu, para nabi, yang telah berbicara atas nama-Mu kepada raja-raja kami, kepada pemimpin-pemimpin kami, kepada bapa-bapa kami dan kepada segenap rakyat negeri." (Daniel 9:5-6).

(bersambung)


Wednesday, October 11, 2017

Memberkati Kota lewat Profesi (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Selanjutnya, dikatakan: "kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu." Itu pun sangat benar. Ketika sebuah kota sejahtera, bukankah kita pun ikut merasakannya? Kita akan bisa berusaha dengan lebih baik, lebih nyaman dan lebih mudah. Kita akan terhindar dari bertemu masalah yang kerap timbul sebagai akibat dari ketidaksejahteraan sebuah kota. Dan, saat umat Allah berperan nyata di sebuah tempat sehingga Tuhan tidak menghukum kota itu melainkan memberkati, bukankah hal tersebut pun akan bisa kita nikmati? Yang tidak boleh kita lupakan adalah bahwa kita bisa berperan secara nyata untuk mengusahakannya. Profesi kita punya peran dalam mengusahakan kesejahteraan kota, dan saat itu ditopang doa kepada Tuhan, disanalah kita melakukan sepenuhnya Firman Tuhan yang satu ini dan kemudian bisa menyaksikan bagaimana luar biasanya Tuhan bekerja didalamnya.

Kita tidak akan pernah bisa tergerak untuk melakukan peran aktif demi kesejahteraan kota apabila kita tidak mengasihi kota dimana kita tinggal. Mungkinkah kita habis-habisan melakukan yang terbaik jika tidak didasari cinta? Kalau sudah cinta, nyawa pun rela kita beri untuk orang yang kita cintai. Betul kan? Sama halnya seperti kota dan bangsa secara keseluruhan. Kita akan memiliki kerinduan untuk mengusahakan sesuatu sesuai dengan kemampuan dan talenta yang kita miliki demi kesejahteraan kota kita hanya apabila kita mengasihi kota, bangsa dan negara kita, termasuk orang-orang yang hidup di dalamnya. Karenanya kita harus terus belajar untuk tidak membenci tapi mengasihi, tidak mengutuk tapi memberkati, tidak memusuhi tapi mendoakan.

Selanjutnya mari lihat ayat ini. "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." (Efesus 2:10). Perhatikan bahwa segala yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan baik dikatakan sudah (bukan akan, tapi sudah) dipersiapkan Allah lewat Kristus. Ini termasuk dalam mengusahakan kesejahteraan dan keselamatan bangsa. Dan Tuhan mengatakan bahwa Dia mau kita hidup di dalamnya. Dalam skala kecilnya, kita perlu memikirkan peran serta kita secara nyata di lingkungan dimana kita berada saat ini. Bukan kebetulan bahwa anda dan saya berada di kota kita masing-masing. Mungkin banyak diantara teman-teman yang seperti saya, merupakan pendatang di kota tempat kita tinggal sekarang. Dan Firman Tuhan ini mengatakan bahwa kita harus mengusahakan kesejahteraan kota dimana kita 'dibuang' atau ditempatkan hari ini. Jika pendatangpun memiliki tugas untuk kesejahteraan kotanya, apalagi jika anda merupakan penduduk asli disana. Dan buat gereja, sudah saatnya bagi anda untuk bergerak keluar dari tembok-tembok pembatas dan mulai melakukan karya nyatanya demi kemajuan dan kesejahteraan kota dimana kita berada saat ini.

Ada sangat banyak cara yang bisa kita lakukan saat ini untuk mengusahakan kesejahteraan kota. Menanam pohon untuk penghijauan, mengurus anak jalanan, membantu orang-orang yang mengalami kesulitan, memberikan ide-ide atau solusi mengatasi problema sosial yang bertumpuk, atau bahkan sekedar berpartisipasi dalam kebersihan lingkungan, ikut ronda malam dan sebagainya, itu merupakan contoh dari bentuk peran serta secara aktif yang bisa dilakukan oleh kita semua. Tapi jangan lupa atau abaikan profesi anda hari ini karena sekecil apapun itu bisa akan sangat bermanfaat bagi kesejahteraan kota apabila kita mau memandangnya dari kacamata yang benar menurut Firman hari ini.

Percayalah bahwa apapun yang anda lakukan atau usahakan atas dasar kerinduan anda untuk mensejahterakan kota tidak akan pernah berakhir sia-sia, meski hal itu mungkin sangatlah kecil menurut penilaian anda pribadi. Bayangkanlah sebuah kota dimana keamanannya baik, orang hidup berdampingan secara damai, anda bisa bekerja dengan rasa tenang, bukankah itu indah? Dan siapa bilang kita tidak bisa memberi sumbangsih apapun untuk itu? Selain memanjatkan doa bagi bangsa, sebuah peran nyata lewat profesi dan hal-hal yang bisa kita lakukan akan memberikan kontribusi besar bagi kesejahteraan, kemakmuran dan keselamatan bangsa kita. Mari hari ini kita sama-sama memikirkan dengan serius apa yang bisa kita usahakan untuk kota kita dan apa yang akan menjadi tindakan kita untuk mewujudkannya secara nyata.

It's time to go out the box and do something real!

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, October 10, 2017

Memberkati Kota lewat Profesi (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Apa sebenarnya arti kata 'mengusahakan'? Kalau mengacu pada kamus, kata mengusahakan mencakup 4 hal, yaitu:
1. mengerjakan
2. mengikhtiarkan , yang artinya berpikir sekeras-kerasnya, sedalam-dalamnya untuk memecahkan masalah atau mencari solusi
3. melakukan sesuatu dengan sangat serius/sungguh-sungguh
4. membuat/menciptakan sesuatu

Keempat poin diatas menunjukkan bahwa 'mengusahakan' bukanlah sebuah hal yang sepele. Jika Tuhan meminta kita untuk mengusahakan kesejahteraan kota dimana kita ditempatkan, itu artinya keempat hal di atas haruslah menjadi bagian dari fokus kita dalam melakukan sesuatu. Benar, mengusahakan kesejahteraan kota bisa dilakukan lewat banyak hal. Jika anda membantu orang di sekitar anda, itu adalah bagian dari usaha meningkatkan kesejahteraan atas satu bagian dari kota. Tapi jangan lupa bahwa anda bisa melakukan hal tersebut lewat panggilan anda yang secara spesifik sudah Tuhan berikan jauh sebelum anda diciptakan, dan tentu saja, anda bisa melakukannya atau mengusahakannya lewat profesi atau pekerjaan anda hari ini. Jadi dalam kekristenan, pekerjaan bukanlah sekedar kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup kita dan keluarga, tetapi juga berbuat sesuatu sebagai bagian dari kontribusi dan peran serta kita secara aktif untuk pembangunan kesejahteraan di manapun kita ditempatkan. Jika kita menyadari benar akan hal ini, tentu kita akan memandang profesi kita dengan kacamata berbeda. Kita tidak akan main-main lagi dengan pekerjaan kita dan akan berpikir dua-tiga kali untuk mengisinya dengan perbuatan-perbuatan yang buruk, yang tentunya akan kontraproduktif dengan usaha untuk mensejahterakan kota.

Sudah sadarkah kita akan panggilan tugas yang satu ini? Kenyataannya, ada banyak orang percaya bahkan bait dimana mereka bertumbuh yang malas atau takut keluar dari balik dinding-dindingnya untuk menjangkau kehidupan di luar sana dengan perbuatan nyata. Banyak yang mengira bahwa rajin mendoakan saja sudah cukup. Sepintas terlihat sangat baik. Mendoakan, bukankah itu baik? Tentu. Tapi ayat hari ini mengatakan bahwa mendoakan saja tidaklah cukup. Masalahnya, banyak yang hanya mau mendoakan karena itu mudah dilakukan, tidak perlu repot-repot mengeluarkan tenaga, gratis alias tidak membutuhkan biaya, tidak pula mendatangkan resiko saat bersinggungan dengan orang-orang diluar sana.

Mendoakan kota dan bangsa, itu alkitabiah. Itu bahkan wajib kita lakukan. Tetapi sadarilah bahwa Firman Tuhan dalam Yeremia 29:7 mengajak kita untuk kembali menyadari apa yang sebenarnya diinginkan Tuhan untuk kita lakukan. Kita harus melihatnya secara utuh, bukan terpisah-pisah yang bisa dipilih. Seberapa jauh gereja dan umat Tuhan mau berfungsi nyata dalam kehidupan disekitarnya demi mengusahakan kesejahteraan kota seperti panggilan Tuhan itu hari ini? Mendoakan itu tentu sangat penting. Tapi sebuah tindakan nyata, peran aktif umat Tuhan juga merupakan sesuatu yang sangat penting untuk dipikirkan, diikhtiarkan, dikerjakan dan diciptakan, alias diusahakan. Begitu pentingnya bahkan kata "usahakan" itu diletakkan di depan. Sekali lagi, profesi atau pekerjaan kita seharusnya menjadi garda terdepan kita untuk melakukan Firman dalam kitab Yeremia ini.

Lalu, mungkin ada yang beranggapan bahwa kita tidak harus melakukannya karena kita sendiri masih sulit untuk hidup dalam kemerdekaan di negara yang sudah 70 tahun lebih merdeka ini. "Hak asasi saya saja dirampas, kota atau bahkan negara masih belum sanggup berbuat apa-apa akan hal ini, kalau tidak malah ikut mengorbankan minoritas yang segelintir jumlahnya. Tapi lihatlah, bukankah para rasul juga hidup dalam keadaan atau kondisi yang sama, bahkan lebih buruk keadaannya? Bahkan Tuhan Yesus sendiri mengalami penindasan dan ketidak adilan itu dengan tingkat kesadisan yang luar biasa ekstrim. Tapi mereka tidak mengutuki kota, tidak juga melupakan, melainkan tetap mendoakan, memberkati dan juga mengusahakan banyak hal lewat perbuatan nyata. Kalau Yesus, para murid dan rasul tahu bahwa itu wajib, alasan apa yang cukup bagi kita untuk hanya berpangku tangan, atau menggantungkan keseriusan kita mengusahakan kesejahteraan kota pada apa yang kita dapat dari sana?

Firman ini berlaku bagi semua dan dalam segala kondisi. Firmannya tidak mengatakan: "Selama kota itu baik, usahakanlah kesejahteraan kotanya, dan berdoalah untuknya." Bukan, bukan itu bunyinya. Firmannya berkata: "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN". Tidak ada ketergantungan atau syarat kondisi disana. Artinya, apapun alasannya, mengusahakan kesejahteraan kota dan mendoakan kota itu merupakan kewajiban yang tidak boleh tidak, harus kita lakukan.

(bersambung)


Monday, October 9, 2017

Memberkati Kota lewat Profesi (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yeremia 29:7
=================
"Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu."

Apa yang seharusnya dilakukan umat Tuhan di muka bumi ini? Menjaga hidup untuk tetap sesuai kebenaran agar kita bisa mencapai garis finish dengan iman yang setia? Ya. Menjauhkan diri dari kecemaran agar tetap bisa masuk ke dalam hadirat Tuhan yang kudus? Ya. Terus berdoa sebagai sarana membangun hubungan dengan Tuhan? Ya. Mengisinya dengan ucapan syukur? Ya. Mendengar suara Tuhan, menaati perintahNya, ketetapanNYa dan menghindari laranganNya? Ya. Menjadi terang dan garam, menjadi berkat buat sesama? Tentu. Untuk poin terakhir, bagaimana agar kita bisa menjadi berkat atau saluran berkatnya Tuhan bagi sesama? Apakah cukup dengan memberi persembahan atau memberi sedekah/bantuan kepada yang membutuhkan? Atau, apakah cukup dengan hanya mendoakan saja tanpa melakukan sesuatu? Apakah peran orang percaya, umat Tuhan, bagi kota dimana ia ada? Dan sehubungan dengan seri renungan mengenai profesi atau pekerjaan, seperti apa sebenarnya hubungan profesi kita dengan kesejahteraan kota atau bangsa dimana kita ditempatkan?

Hari ini mari kita lihat sebuah panggilan dari Tuhan yang berlaku untuk semua anakNya tanpa terkecuali. Sadarilah ada tugas penting yang sudah disematkan kepada kita dalam kaitannya dengan kota tempat kita tinggal, yang pada akhirnya akan menentukan juga kondisi kehidupan kita. Negara dimana kita tinggal masih punya banyak masalah. Sebagai kaum minoritas, kita tentu paham betul bagaimana susahnya kita untuk beribadah. Ada yang tidak terlalu berat masalahnya karena kebetulan berada di lingkungan yang lebih tinggi toleransinya, tapi tidak sedikit yang tinggal di tempat dengan tekanan tinggi. Mau beribadah harus sembunyi-sembunyi, hak dirampas di negara yang katanya terkenal dengan keramahan dan toleransinya. Berbuat baik dituduh propaganda dengan akhiran -isasi, tidak berbuat apa-apa dikatakan tidak peduli atau sombong. Sudah membantu malah dituduh dan dicurigai, sudah menolong malah jadi repot. Itu dialami oleh banyak dari kita. Tapi apakah itu cukup menjadi alasan bagi kita untuk tidak melakukan apa-apa? Apakah kita bisa tutup mata saja dan membiarkan keadaan terus bertambah parah? "Ah, siapa saya, apa yang bisa saya lakukan? Keadaan sudah diluar batas kemampuan kendali saya." "Ah, saya cuma orang kecil, apa saya mungkin berbuat sesuatu dalam kondisi bangsa yang semakin lama semakin dipenuhi kebencian?"

Kita simpan dulu sebentar semua ini dan mari lihat kondisi buruk lainnya. Ada orang-orang yang bagai lintah terus menyedot harta yang dimiliki kota dan bangsanya sendiri demi keuntungan pribadi. Orang melakukan korupsi seperti sebuah prestise. Bahkan ketika ditangkap, mereka masih melambaikan tangan bak selebriti menang piala Oscar, atau bak raja menyapa rakyatnya. Sogok menyogok, korupsi, kolusi, nepotisme, pilih kasih atas alasan primordial, semua masih dilakukan banyak orang. Dan luar biasa menyedihkan, orang yang katanya percaya juga masih banyak yang hidup dengan cara seperti ini. Alasan bisa banyak. Maunya benar, tapi hidup di lingkungan tidak benar, jadi harus ikut supaya tidak dipinggirkan. Atau, hanya ikut arus karena kelihatannya menjanjikan. Katanya sudah jadi ciptaan baru, mengenakan manusia baru tapi manusia lamanya masih sering nongol alias tidak dibuang.

Pertanyaannya sama. Apa yang bisa kita buat untuk memperbaiki itu semua? Secara individual sepertinya terlihat sulit atau bahkan mustahil. Salah satu yang bisa kita lakukan adalah menjadi pendoa-pendoa syafaat bagi bangsa. Itu peran kita yang sangat vital sebagai anak-anakNya, dan ya, doa orang benar itu besar kuasanya. Mendoakan bangsa, itu sangat penting dan harus kita lakukan tanpa henti. Tapi ingatlah, doa bukan satu-satunya tugas atau cara kita untuk berperan aktif secara nyata demi kesejahteraan bangsa. Dan itu bisa kita baca dalam ayat bacaan renungan kali ini.

Ayatnya adalah sebagai berikut: "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu." (Yeremia 29:7).

Ada beberapa hal yang bisa kita cermati dari ayat ini. Pertama, mari kita lihat dari sudut hubungan. Kata "dan" menunjukkan adanya dua aktivitas berbeda namun saling berhubungan. Jadi ada dua hal dalam ayat ini yang tidak berjalan sendiri melainkan berhubungan, yaitu:
1. mengusahakan kesejahteraannya
2. berdoa baginya.

Lalu, dari sisi urutan. Saya percaya ayat ini tidak secara kebetulan menempatkan urutan dari kedua hal yang berhubungan. Usahakanlah kesejahteraan kota, itu ditempatkan di depan. Artinya disamping panggilan kita sebagai anak Tuhan untuk terus memanjatkan doa syafaat atas kota, bangsa dan negara kita, termasuk para pemimpin di dalamnya, adalah sangat penting pula bagi kita untuk melakukan sesuatu secara nyata demi kesejahteraan kota dimana kita tinggal. Kalau mengusahakan kesejahteraan kota ditempatkan di depan, itu artinya adalah sangat penting bagi kita untuk melakukan hal itu.

(bersambung)


Sunday, October 8, 2017

Bergembira Atas Pekerjaan (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Soal bahagia atau tidak bukanlah tergantung dari kondisi atau situasi yang kita hadapi melainkan tergantung dari seberapa jauh kita mengijinkan Tuhan untuk ambil bagian dalam hidup kita dan seberapa jauh kita mensyukuri berkat dan kasih karuniaNya. Kebahagiaan atau kegembiraan sejati itu berasal dari Tuhan dan bukan dari keadaan. Amsal mengatakan bahwa "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat." (Amsal 15:13). Atau lihatlah ayat lain: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22). Bekerja dengan hati yang lapang, hati yang gembira, itu adalah obat yang manjur dan menjaga kita agar tetap memiliki semangat untuk melakukan yang terbaik. Dan rasa syukur kita dalam menikmati anugerah Tuhan akan membuat itu bisa terjadi.

Apakah kita menikmati pekerjaan dengan penuh rasa syukur sebagai sebuah berkat dari Tuhan atau kita terus merasa kurang puas, itu tergantung kita. Kalau kita menyadari bahwa apapun yang saat ini kita kerja atau usahakan merupakan berkat yang berasal dari Tuhan, tentu kita akan sangat bergembira dan bersyukur atasnya. Kita tentu akan berusaha sebaik mungkin dalam mengerjakannya. Kita tentu akan melakukannya dengan integritas tinggi mengaplikasikan kebenaran di dalamnya. Dan, tentu saja kita akan mengusahakannya sedemikian rupa sehingga Kerajaan Allah dan kebenarannya bisa terpancar keluar dari sana.

Bersungut-sungut, terus mengeluh dan merasa kurang puas merupakan cerminan dari kegagalan kita bersyukur atas berkat yang Tuhan curahkan bagi kita dan pekerjaan kita. Bagaimana mungkin kita masih mengeluh atau protes kalau kita sadar bahwa itu dari Tuhan?

Lagipula, siapa kita yang bisa mengukur besar kecilnya pekerjaan menurut Tuhan? Mungkin bagi dunia terlihat kecil dan tidak berarti, tapi apakah kita ragu bahwa Tuhan sanggup membuat pekerjaan sekecil apapun menjadi emas? Saya tidak berbicara mengenai kekayaan materi saja karena itu terlalu sempit. Tapi saat Kerajaan Tuhan yang bertahta atas profesi anda saat ini, tidak satupun manusia yang akan sanggup mengukur berkat yang akan tercurah disana menurut kemampuan logika kita. Apa yang harus kita lakukan adalah bergembira atas pekerjaan kita sebagai ungkapan rasa syukur pada Tuhan yang telah memberikannya, mengucap syukur atasnya dan mengerjakan dengan sebaik-baiknya dengan mengadopsi nilai-nilai kebenaran Ilahi saat melakukan. Itu bagian kita, dan kalau itu kita lakukan, kita akan tercengang melihat betapa luar biasanya yang terjadi saat Allah bekerja disana.

Bapak penjual nasi/mi goreng tek-tek di awal renungan bisa mengingatkan kita untuk memandang sebuah pekerjaan dari sudut pandang yang baik. Pekerjaannya tidak dianggap besar atau penting. Tapi ia kerap menyelamatkan orang yang lapar di malam hari, mengenyangkan dengan harga yang sangat terjangkau. Dalam melakukan kerjanya, ia harus rela berjalan kaki puluhan kilometer sambil memanggul pikulan berat dari jam 6 an sore sampai lewat tengah malam. Angin malam yang dingin kerap membuatnya masuk angin dan tidak enak badan, tapi itu tidak ia hiraukan. Ia tidak mengeluh, tidak protes tapi mensyukuri pekerjaan dan kesempatan yang Tuhan berikan padanya. Buat saya, itu luar biasa. Saya mendoakan kesehatannya dan keluarganya, juga mendoakan agar Tuhan terus memberkati pekerjaannya. Alangkah ironis kalau anak-anak Tuhan yang mengenal Firman Tuhan ternyata masih mengeluh dan sulit bergembira atas pekerjaannya. Betapa sedihnya hati Tuhan kalau anak-anakNya bukannya bersyukur tapi malah terus merasa kurang puas dan minta tambah. Dunia akan jauh lebih indah seandainya kita bisa menikmati pekerjaan kita, melakukannya dengan gembira dan dengan sepenuh hati sebagai ungkapan rasa syukur kita atas berkatNya.

Mungkin ada saat ini di antara kita yang tidak merasa senang dengan profesinya, mulai merasa jenuh dengan pekerjaannya, mungkin ada yang merasa bahwa pekerjaan saat ini tidak cukup baik, namun saya ingin mengingatkan bahwa Tuhan tidak akan pernah kekurangan cara untuk memberkati kita.  Alangkah sulitnya untuk bekerja dengan segenap hati jika kita tidak memiliki hati yang gembira dalam melakukannya. Tinggi rendah pendapatan, bergengsi tidaknya profesi menurut pandangan dunia bukanlah alasan untuk bergembira atau tidak, karena saya sudah menyampaikan langsung bagaimana pandangan dari seorang pekerja yang bagi sebagian orang dianggap rendah, namun ia tetap bahagia dalam melakukan pekerjaannya. Sebaliknya, tidak jarang kita melihat keluarga yang hancur, hidup orang yang jauh dari bahagia, padahal mereka memiliki kekayaan yang besar atau profesi yang membuat dunia segan.

Jika demikian, mengapa kita tidak mencoba memberikan setitik cinta pada pekerjaan kita, apapun itu, mengucap syukur atas pekerjaan itu kepada Tuhan, memberikan yang terbaik dari kita, dan melihat bagaimana luar biasanya Tuhan bisa memberkati kita lewat apapun yang kita kerjakan?

Bergembira dan bersyukurlah atas pekerjaan anda karena itu merupakan berkat yang berasal dari Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, October 7, 2017

Bergembira Atas Pekerjaan (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Pengkhotbah 3:22
=======================
"Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?"

Ada seorang bapak tua penjual nasi/mi goreng tek-tek yang setiap malam lewat di depan rumah saya. Saya mengenalnya dengan baik karena sering membeli jualannya. Ia punya dua orang anak yang masih sekolah dan seorang istri yang tinggal di kota lain. Istrinya sering sakit-sakitan di bagian perut, dan kalau lagi kumat ia pun harus pulang melihat istrinya, artinya ia terpaksa tidak jualan selama beberapa hari. Ia berjualan sampai lewat tengah malam, menempuh jarak begitu jauhnya setiap hari dengan berjalan kaki dan memanggul pikulan. Mau langit cerah, mau hujan, ia harus tetap jualan kalau mau memperoleh penghasilan. Berat? Pasti. Ia berkata bahwa kondisi jauh dari istri yang sakit-sakitan sangatlah menyita pikirannya. Belum lagi memikirkan kontrakan dan biaya sekolah anak. Mungkin kita menganggap pekerjaannya bukanlah pekerjaan favorit. Tapi menariknya, bapak ini tidak pernah murung saat berjualan. Ia tetap ceria dan mengatakan bahwa adalah sebuah berkah saat ia masih diberi kesehatan dan kekuatan untuk jualan demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga. "Coba kalau tidak pak, bagaimana nasib keluarga saya?" katanya.

Sikap bapak ini sangat memberkati saya. Tidaklah mudah untuk keluar setiap malam berjalan puluhan kilometer memanggul beban lumayan berat. Dan tidaklah mudah untuk bisa mencukupi kebutuhan keluarga termasuk biaya sekolah anak dengan hanya berjualan nasi dan mi goreng. Tapi ternyata ia masih bisa memenuhi semua itu. Dan ya, bapak ini benar. Itu jelas merupakan berkat dari Tuhan. Kalau berkat Tuhan turun atas kita, bukankah kita seharusnya bisa mensyukuri dan bersukacita di dalamnya?

Seharusnya mungkin demikian. Tapi kenyataannya ada banyak orang yang tidak menikmati pekerjaannya. Mereka hanya melakukan karena terpaksa dengan berbagai alasan, diantaranya untuk mencari nafkah atau karena diturunkan dari orang tua, bukan karena passion pada pekerjaan itu atau bahkan merasa bahwa apa yang dikerjakan bukanlah panggilannya. Ada yang terus gonta-ganti pekerjaan yang bedanya sangat kontras. Hari ini buka usaha fotokopi, besok ikut MLM, minggu depan sudah jualan makanan dan seterusnya. Tidak ada satupun pekerjaan yang bisa membuatnya betah. Hari ini dirintis, lusa sudah ganti lagi. Kalau sudah begitu bagaimana bisa menikmati, dan kemudian bergembira atas pekerjaan? Ada orang yang saya kenal sudah menjadi dosen sukses, tapi kemudian secara drastis berubah jadi petugas penjaga pantai di negara lain. Meninggalkan anak dan orang tuanya di usia yang sudah hampir 50 tahun.

Mau cari yang lebih mapan? Tidak juga, karena profesinya sebagai dosen sebenarnya sudah sangat mapan dan lebih dari cukup. Alasan mereka ini punya benang merah: mereka tidak merasa bahagia dengan pekerjaannya. Selain dua alasan umum di atas, ada juga alasan lain yang mendatangkan ketidakbahagiaan dalam bekerja ini seperti pendapatan tidak cukup memadai,  bosan, merasa tidak berkembang bahkan tidak sedikit yang merasa kerjanya kurang bonafit atau juga merasa salah profesi. Ada lagi yang saya kenal baik sebenarnya sangat sukses sebagai pengusaha dengan banyak karyawan, secara finansial dia lebih dari cukup tapi tetap saja ia mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. "Semakin lama saya semakin merasa bukan ini yang harusnya saya lakukan. Tapi mau bagaimana lagi, masa mau ditutup usaha yang sudah turun temurun ini?" katanya.

Di satu sisi, kita perlu mencari tahu dengan sepenuhnya apa yang sebenarnya menjadi panggilan Tuhan untuk kita. Itu sangatlah penting karena bukan saja kita tidak bisa memenuhi rencana Tuhan yang Dia cetak dalam blueprint saat menciptakan kita tapi juga bisa membuat kita sulit menikmati apa yang kita kerjakan, bergembira atasnya. Kalau tidak gembira, kita pun jadi sangat sulit untuk bersyukur. Bagaimana mau bersyukur dengan sepenuh hati kalau hati tidak merasa bahagia? Tapi di sisi lain, apapun pekerjaan kita, kita harus tahu bahwa Tuhan ingin kita bergembira dalam apa yang kita kerjakan, dalam apa yang menjadi profesi kita hari ini.

Adalah menarik jika melihat bahwa Pengkotbah sudah menyatakan hal itu yang tampaknya ia peroleh lewat perenungan, pengalaman dan kesaksiannya sendiri. "Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?" (Pengkotbah 3:22). Dalam versi New International Version dikatakan "So I saw that there is nothing better for a person than to enjoy their work, because that is their lot. For who can bring them to see what will happen after them?" Merasa profesi sesuai minat dan bakat atau tidak, Pengkotbah menyimpulkan bahwa tidak ada yang lebih baik daripada bergembira dalam pekerjaannya. Mengapa? Karena itu adalah bagian kita masing-masing, itu lahannya kita. Sebab, siapa yang tahu apa yang akan terjadi nanti? Bagaimana kalau nantinya usaha kita itu dipakai untuk menjadi berkat luar biasa bagi orang lain tapi kita tidak bisa sampai kesana karena mungkin keburu menyerah, atau karena kita tidak maksimal melakukannya gara-gara kita tidak bahagia dalam melakukannya?

Jika kita tidak berbahagia dengan pekerjaan, apa yang bisa kita dapatkan? Dan reaksi apa yang akan menjadi buah dari ketidakbahagiaan itu? Berkeluh kesah sepanjang hari? Mengasihani diri berlebihan? Emosi dan kemudian menjadikan orang-orang terdekat kita sebagai sasaran tembak muntahan emosi itu? Terus merasa tidak puas dan kehilangan damai sejahtera? Adakah itu membawa manfaat atau malah membuat etos kerja kita menurun, mengganggu orang lain bahkan mendatangkan penyakit bagi diri kita sendiri? Apakah baik apabila kita sulit bersyukur dan hanya bersungut-sungut tidak pernah merasa puas? Lihatlah seperti apa bahayanya kalau kita tidak bisa menikmati dan berbahagia atas pekerjaan atau profesi kita. Tidaklah mengherankan kalau Firman Tuhan mengingatkan kita untuk bisa menikmati dan bergembira atas pekerjaan kita.

(bersambung)


Friday, October 6, 2017

Profesi, Ladang, Bakul dan tempat Adonan (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Dalam hal teman saya di atas, apa yang menjadi "bakul dan tempat adonan"nya adalah dunia musik: panggung dan rekaman. Dan Tuhan memberkati pekerjaannya sebagai pemusik dengan luar biasa. Karirnya yang meningkat dengan pesat sudah merupakan berkat yang sungguh besar, dan itu pun masih ditambah lagi dengan pengalaman diatas yang ia jadikan sebagai kesaksiannya.

Kalau kita mundur sedikit maka kita akan menemukan juga  janji Tuhan berikut: "Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang." (ay 3). Tuhan berkati kita di tempat dimana kita tinggal dan berkati usaha atau bidang pekerjaan kita. Lalu "TUHAN akan memerintahkan berkat ke atasmu di dalam lumbungmu dan di dalam segala usahamu; Ia akan memberkati engkau di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu." (ay 8). Semua ini merupakan rangkaian dari janji berkat dari Tuhan sendiri kepada umatNya yang berhubungan dengan profesi atau bidang pekerjaan kita. Jadi jelas, Tuhan memberkati profesi,  karenanya profesi juga punya nilai-nilai spiritual dan bersifat rohani.

Janji berkat yang secara intensitas semakin besar dalam Ulangan 28:1-14 itu jelas berlaku bagi semua orang tanpa terkecuali. Tetapi jangan lupa bahwa ada syarat yang harus kita lakukan agar kita bisa menuai janji Tuhan itu, yaitu "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini." (ay 1). Bagaimana kalau kita melakukan sebaliknya, tidak mendengarkan suara Tuhan, tidak melakukan perintahnya dengan setia? Yang kita dapat bukan berkat tapi kutuk. Lihatlah betapa mengerikan daftar kutuk dalam ayat 15-46. Akan halnya berkat pada bakul dan tempat adonan, kebalikannya versi kutuk adalah seperti ini: "Terkutuklah bakulmu dan tempat adonanmu." (ay 17). Tidak satupun dari kita yang mau mendapat kutuk bukan? Kalau begitu, saatnya kita memandang serius kehidupan kita supaya tetap berpegang pada kebenaran, salah satunya adalah mengenai profesi sebagai bagian penting dari kegiatan rohani kita.

Satu hal lagi yang patut untuk dicatat adalah penyerahan dirinya secara total kepada Tuhan. Di saat genting sekalipun ia tidak tenggelam dalam kekhawatiran dan masih bisa dengan tenang menyerahkan seluruh penampilannya ke dalam tangan Tuhan. Dengan kata lain, ia memilih untuk mengandalkan Tuhan, dan itu sungguh merupakan pilihan yang tepat. Firman Tuhan berkata:  "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!" (Yeremia 17:7). Kita bisa saja merasa tahu apa yang terbaik bagi kita atau untuk kita lakukan, tetapi Tuhan sebagai Pencipta kita jelas lebih tahu. Menyerahkan ke dalam tanganNya, memilih untuk mengandalkan Tuhan akan mengarahkan kita untuk mengalami pencapaian-pencapaian besar hingga berbagai bentuk mukjizat dalam apapun yang kita lakukan.

Apapun yang anda jalani sebagai profesi baik tinggi maupun rendah, selama tidak bertentangan dengan Firman Tuhan, semua itu sanggup Dia berkati secara berlimpah. Di tangan Tuhan usaha sekecil apapun bisa berbuah secara luar biasa. Kuncinya adalah mendengarkan baik-baik suara Tuhan dan melakukan dengan setia segala perintahNya. Disamping itu jangan lupakan pula bahwa kita bisa mendapatkan yang terbaik ketika kita mengandalkan dan menaruh harapan kita pada Tuhan. Mengapa? Sekali lagi, sebab Tuhanlah satu-satunya yang mengetahui apa yang terbaik untuk kita. MukjizatNya bisa turun kapan saja, dimana saja, dalam bentuk apa saja yang Dia inginkan. Kita pun bisa terkaget-kaget jika ini terjadi, karena "..seperti ada tertulis: "Apa yang  tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9).

Teman saya sudah mengalami mukjizat yang tidak terpikirkan sebelumnya di 'bakul dan adonannya' alias panggung, tempat dimana ia menjalankan profesinya. Ia membuktikan betapa luar biasanya kalau Tuhan memberkati pekerjaan kita, yang bisa menjadi kesaksian bagi kita agar kita memandang dan menjalankan profesi sebagai sesuatu yang rohani. Menyambung renungan terdahulu, bukankah kisah teman saya di awal juga menyatakan dengan terang nilai spiritual dari bekerja? Dimana dan apapun pun bakul dan adonan anda, Tuhan siap salurkan berkatNya disana. Tuhan akan dengan senang hati hadir di atas panggung-panggung kehidupan anda.

"Bergembiralah, karena TUHAN Allahmu telah memberkati hasil tanah dan pekerjaanmu." (Ulangan 16:15b)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho



Thursday, October 5, 2017

Profesi, Ladang, Bakul dan tempat Adonan (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Ulangan 28:5
===================
"Diberkatilah bakulmu dan tempat adonanmu."

Ada teman saya seorang musisi yang menceritakan pengalaman menarik. Suatu kali ia harus tampil di sebuah acara. Ia sudah menyusun tim, sudah latihan, tapi di saat terakhir teman-temannya mendadak tidak bisa tampil pada hari H. Ada yang ibunya masuk rumah sakit, ada yang cedera, ada yang bentrok jadwal. Tak pelak ia langsung kelabakan mencari pengganti, yang tentu saja tidak mudah karena waktunya sudah mepet. Setelah berusaha keras tanya sana sini, akhirnya ia berhasil mengumpulkan pemain yang jumlahnya dibawah rencana semula. Mereka tidak lagi sempat latihan karena semua punya kesibukan masing-masing. Daftar lagu pun terpaksa diganti, mencari lagu yang semua pemain tahu. Gambaran musiknya cuma dibahas via whatsapp, dan mereka pun siap tidak siap harus tampil. Pada saat tampil, teman saya mengaku sempat mulas karena mereka naik panggung tanpa latihan dan persiapan apa-apa. Tapi beberapa detik sebelum ia mulai, ia berdoa singkat dan menyerahkan penampilannya bersama teman-teman ke dalam tangan Tuhan. Ia mengucap syukur karena ia masih berhasil mendapatkan teman-teman sehingga tidak harus membatalkan partisipasinya juga untuk kesempatan yang diberikan Tuhan, lalu minta tuntunan Roh Kudus. Ia berkata bahwa ada rasa hangat dalam dirinya yang membuat semua rasa nervousnya menurun drastis digantikan ketenangan. Dan ia pun mulai bermain.

Tanpa latihan, dengan persiapan yang jauh dari cukup. Lagu masih diutak-atik sesaat sebelum naik panggung. Apa yang terjadi? Ia berkata bahwa bagaikan ada yang menuntun, permainannya bersama teman-teman baru dadakan ternyata luar biasa sukses. Penonton merespon dengan sangat meriah hingga selesai. Ia bercerita bahwa pada saat bermain, mereka sendiri bingung bisa padu dan kompak seolah-olah sudah latihan sejak lama. "Kami saling pandang karena heran selagi main." katanya. Teman saya ini berkata, meski heran, ia tahu bahwa itu karena Tuhan. Tuhan memberkati pekerjaannya sejak semula dan Tuhan hadir disana bersama mereka. Heran, kaget karena kami mainnya jauh melebihi ekspektasi, tapi sangat bersyukur karena Roh Tuhan memampukan kami untuk bermain seperti itu. Ia begitu puas dengan tim barunya sampai-sampai ia mengajak rekan-rekannya masuk ke dapur rekaman. "Itu pengalaman luar biasa yang membuktikan bahwa Tuhan memberkati profesi saya, saya tidak akan pernah lupakan." katanya.

In the nick of time, at the critical moment, at the last second, she found peace and calm in God right after she prayed. Saya yakin ia rajin membangun hubungan yang erat dengan Tuhan karena hanya orang-orang yang demikianlah yang biasanya akan memilih untuk berdoa ditengah rasa takut atau kecemasan besar. Orang yang tidak punya hubungan kuat dengan Tuhan biasanya akan bereaksi panik saat berada di bawah tekanan. Hubungan eratnya dengan Tuhan juga terlihat dari betapa cepatnya Tuhan hadir disana begitu ia selesai berdoa. Satu hal lagi yang ingin saya bahas lebih lanjut berkaitan dengan renungan seri profesi adalah bahwa Tuhan membekati profesi atau pekerjaan kita.

Bisakah anda membayangkan bahwa Tuhan ternyata berkenan hadir dan bisa campur tangan di atas sebuah panggung musik? Sebagian orang mungkin sulit membayangkannya karena keliru menempatkan Tuhan hanya pada satu tempat saja secara sempit yaitu gereja. Tidaklah heran apabila orang-orang yang keliru ini biasanya menjalankan profesinya dengan cara dunia, tidak mencerminkan kebenaran. Buat apa jujur? Itu merugikan. Buat apa berbuat baik? Nanti dimakan orang. Buat apa harus melakukan dengan cara-cara yang benar? Kan Tuhan tidak ada di tempat saya menjalankan profesi saya. Seperti itulah pemikiran keliru yang bisa membuat orang keluar dari rencana Allah dan kemudian harus siap menanggung konsekuensi atas perbuatannya. Siapa bilang Tuhan hanya terbatas pada tempat-tempat tertentu dan tidak bisa berada pada tempat kerja kita? Tuhan hadir di market place. Itulah yang seharusnya terjadi. Apabila kita ijinkan itu terjadi, bukan saja berkat Tuhan turun atas profesi kita tapi pekerjaan kita akan mampu pula memberkati orang lain. Lihatlah dalam kesaksian teman musisi di atas bagaimana Tuhan hadir menenangkannya dan membawanya beserta teman-teman untuk mengeluarkan yang terbaik dari mereka, yang mungkin mereka sendiri bahkan tidak menyangka. Tuhan langsung ada saat Dia diijinkan untuk berkarya di atas penampilan mereka. Dan lihat pula apa yang terjadi. Hasil yang lebih baik dari apa yang kita anggap terbaik, itu semua Tuhan sanggup sediakan dengan begitu sempurna, karena Dia memberkati pekerjaan kita.

Dalam kitab Ulangan pasal 28 ayat 1-14 kita bisa melihat serangkaian berkat yang Tuhan akan sediakan. Salah satu janji berkat itu berbunyi: "Diberkatilah bakulmu dan tempat adonanmu." (Ulangan 28:5). Bakul dan tempat adonan berbicara mengenai sumber mata pencaharian kita alias pekerjaan atau profesi kita. Tuhan senang menurunkan berkatNya bukan secara instan, meski Dia lebih dari sanggup untuk melakukan itu. Tuhan lebih suka mencurahkan berkatNya atas pekerjaan atau profesi kita.

(bersambung)


Wednesday, October 4, 2017

Nilai Spiritual dari Profesi/Pekerjaan (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Dari rangkaian fakta tentang Paulus ini kita bisa menyimpulkan bahwa Paulus menyadari betul bahwa ada makna spiritual dari profesinya. Ia tahu bahwa semua pekerjaannya, baik dalam hal memberitakan Injil maupun sebagai pengembang properti terkait dan sama-sama merupakan kegiatan rohani. Karenanya ia tidak bersungut-sungut dalam melayani dan bekerja sekaligus, membiayai pelayanannya dan rekan-rekan, plus memberi bantuan kepada orang lain. Bukankah semua itu merupakan sesuatu yang berharga di mata Tuhan? Artinya jelas, ada makna atau nilai spiritual yang harus terkandung di dalam pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari.

Lalu mari kita lihat lagi ayat berikut. "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk  manusia." (Kolose 3:23). Ayat ini mengikuti ayat sebelumnya yang berbunyi "Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan." (ay 22). Ayat ini menyatakan dengan jelas bahwa ada sebuah alasan yang lebih dari sekedar menyambung hidup dalam bekerja, yaitu untuk menyenangkan hati Tuhan. Dan karena itulah kita dituntut untuk bekerja dengan serius dan sungguh-sungguh, bukan seperti untuk manusia melainkan seperti untuk Tuhan.

Martin Luther suatu kali mengatakan: "Even if I knew that tomorrow the world would go to pieces, I would still plant my apple tree." Ia akan tetap bekerja, menanam agar menghasilkan buah sekalipun ia tahu besok dunia akan hancur lebur. Semua ini hendaknya bisa membuka cakrawala pemikiran kita bahwa sudah seharusnya pekerjaan kita memiliki nilai spiritual yang sama dalamnya dengan segala kegiatan kerohanian kita seperti berdoa, membaca firman Tuhan, beribadah, bersekutu dan sebagainya. Meski sedang berhadapan dengan kiamat sekalipun, panggilan tetaplah sebuah panggilan yang merupakan bentuk tugas dari Tuhan, yang kalau dilakukan dengan sungguh-sungguh sesuai kebenaran Firman akan menyenangkan hati Tuhan.

Bekerja adalah sebuah hal yang mendapat perhatian penting bagi Tuhan, bukan saja karena Tuhan tidak menyukai orang malas tetapi karena disana ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menyatakan kemuliaan Tuhan, memperluas Kerajaan Allah di muka bumi dan menjadi saluran berkat bagi sesama. Kita harus memandang dan memperlakukan pekerjaan kita sama serius dan dalamnya seperti segala kegiatan kerohanian kita dan harus dilakukan dengan mengaplikasikan sepenuhnya ketetapan Tuhan. Dengan melakukan itu kita akan tahu bagaimana menyikapi peningkatan karir/usaha, terhindar dari kesombongan dan tidak jatuh ke dalam kegiatan korupsi, suap menyuap, menyalahgunakan jabatan dan berbagai penyelewengan lainnya dan hal-hal negatif lainnya yang kerap muncul ketika seseorang tidak tahu bagaimana menyikapi kemajuan dalam profesinya.

Mari kita pastikan bahwa kita telah memandang pekerjaan atau profesi kita hari ini dari kacamata spiritual, menjadikannya sebagai kegiatan rohani yang dijalankan dengan sungguh-sungguh agar kita bisa menjalankan pekerjaan dan profesi kita seperti apa yang Tuhan kehendaki tanpa terjebak keluar dari rencana Tuhan.

Lebih dari sekedar memenuhi kebutuhan hidup, bekerja mengandung nilai-nilai spiritual yang tidak boleh diabaikan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, October 3, 2017

Nilai Spiritual dari Profesi/Pekerjaan (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Seperti yang kita lihat kemarin, ada banyak tokoh Alkitab yang berprofesi di dunia sekuler mulai dari peternak, petani, pengusaha/businessmen, dokter, bidang properti bahkan ibu rumah tangga dan janda. Menariknya, jika kita menggali lebih jauh, kita pun akan menemukan bahwa mereka yang dipakai Tuhan adalah orang-orang yang kedapatan tengah bekerja. Tuhan tidak memakai orang malas biar sepintar atau sekuat apapun. Dia tidak pernah berkenan kepada sikap seperti ini. Tetapi kita harus ingat bahwa prinsip kekristenan memandang kerja keras bukan hanya sekedar untuk menyambung hidup atau mencari nafkah saja, melainkan juga untuk memuliakan Tuhan di dalamnya. Lebih dari sekedar memenuhi kebutuhan, bekerja seharusnya juga memiliki makna spiritual di dalamnya. Seperti apa makna/nilai spiritual dibalik kerja?

Pertama, mari kita lihat kitab Kejadian 2. Disana kita bisa membaca mengenai tugas manusia secara umum yang disampaikan Tuhan langsung tidak lama setelah diciptakanNya. Adam ditugaskan untuk "mengusahakan dan memelihara taman Eden" (Kejadian 2:15), lebih lanjut juga dipesankan seperti berikut: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (1:28).

Perhatikan bahwa Adam bukan ditugaskan untuk berdoa, menyanyi dan menari untuk Tuhan, tetapi untuk melakukan serangkaian tugas seperti yang tertulis dalam ayat di atas. Artinya untuk menyenangkan dan memuliakan Tuhan kita bukan hanya terbatas pada kegiatan-kegiatan kerohanian semata, tapi kita harus memandang profesi atau pekerjaan kita sebagai jawaban atas tugas yang diberikan Tuhan sendiri sejak semula. Kita harus memandangnya sebagai kegiatan menunaikan tugas yang bisa menyenangkan hati Tuhan dan memuliakanNya.

Kemudian mari kita melanjutkan pada Perjanjian Baru lewat sosok Paulus. Paulus merupakan seorang bertipe 'fighter' yang giat dalam mewartakan berita keselamatan kemanapun ia pergi. Dia tidak takut, dia tidak bersungut-sungut, dia tidak hitung-hitungan untung rugi. Setelah pertobatannya ia sepenuhnya mengabdikan sisa hidupnya untuk Tuhan. Semua yang ia lakukan didasarkan pada ketaatan dan kasih yang besar kepada Kristus. Bahkan nyawanya sekalipun ia berikan demi menjalankan apa yang telah ditugaskan kepadanya.

Tugasnya dalam mewartakan berita keselamatan tidaklah mudah. Perjalanan jauh ia tempuh hingga ia pun disebut sebagai rasul dari orang-orang non-Yahudi. Ada penelitian yang mengatakan bahwa jarak tempuh Paulus dalam memberitakan Injil lebih dari 25 ribu kilometer. Dan belum ada kendaraan seperti mobil atau pesawat terbang pada waktu itu. Jelas yang ia lakukan jauh lebih berat dibanding kita hari ini. Atas segala kesibukan dan tantangan yang harus ia hadapi, tentu wajar kalau ia layak untuk mendapat kemudahan. Tapi kita tahu bahwa tidak ada keistimewaan terutama dari segi finansial yang diberikan kepadanya. Paulus masih tetap harus bekerja untuk bisa memenuhi kebutuhan pelayannnya. Alkitab mencatat bahwa Paulus bekerja sebagai pembuat kemah dalam Kisah Para Rasul 18:2-3, yang digunakan untuk membiayai keperluan dan kebutuhannya beserta teman-teman sekerja dalam melayani. (20:34). Pembuat kemah kalau hari ini mungkin kira-kira sama dengan developer properti. Hebatnya, Paulus tidak meminta hak khusus untuk tidak bekerja, meskipun waktu dan fisiknya jelas tersita untuk melayani kemana-mana.

Masih mending kalau ia cuma sibuk berjalan jauh mewartakan berita keselamatan saja, tapi ia harus pula menghadapi banyak resiko yang membahayakan jiwanya. Ia tercatat berulang kali mengalami deraan, siksaan dan sebagainya. Tapi tidak satupun dari penderitaan itu mampu menghentikan langkahnya. Bahkan lebih dari sekedar untuk membiayai pelayanan, Paulus pun menyatakan bahwa ia bekerja agar bisa memberi, membantu orang lain. "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (ay 35).

(bersambung)


Monday, October 2, 2017

Nilai Spiritual dari Profesi/Pekerjaan (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kolose 3:23
===================
"Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk  manusia."

Seperti yang telah kita bahas cukup panjang dalam renungan terdahulu, banyak orang yang memisahkan kehidupan rohaninya dan kehidupan sehari-hari. Mereka mengira bahwa profesi atau pekerjaan di market place itu tidak ada urusannya dengan kegiatan rohani. Kerja ya kerja, rohani ya nanti di gereja, atau kalau mau lebih ya nanti doa sebelum tidur atau saat teduh. Begitu urusan doa, nyanyi pujian penyembahan atau beribadah Minggu selesai, maka selesai pula yang namanya kegiatan rohani dan kembali masuk kepada urusan dunia. Urusan dunia dimana mereka akan berkejar-kejaran untuk mendapatkan lebih dan lebih lagi. Supaya lancar cari cara untuk menyogok, sikat kompetitor sebisa mungkin, manipulasi pendapatan supaya pajak bisa lebih kecil, pakai uang perusahaan untuk kepentingan pribadi merupakan bagian dari kerja. Ada orang yang suatu kali datang menjual produk kopi dan makanan ringan bermerek dengan harga sangat miring. Ia ternyata merupakan karyawan di pabrik itu yang tahu bagaimana mengambil sebagian hasil produksi untuk dijual diluar sehingga ia bisa mendapatkan uang dari sana.

Wah, mencuri dong? "Tenang saja, cuma sedikit kok. Perusahaan juga tidak bakalan bangkrut kalau cuma sedikit seperti ini." katanya ringan. Ketika saya ingatkan bahwa itu dosa, ia kembali berkata: "ah tenang saja pak, Tuhan ngerti kok saya butuh lebih." Tuhan ngerti? Tuhan kasih dispensasi untuk melakukan kecurangan yang mencemari kekudusanNya? I don't think so. Jangan salah, orang ini mudah ditemukan di ibadah raya dan tertanam pada sebuah gereja. Ironis dan menyedihkan kalau melihat perilaku seperti ini dilakukan orang percaya. Bagaimana mau mengharapkan perubahan ke arah yang lebih baik kalau anak-anak Tuhan masih ada yang punya mental seperti ini?

Kemarin kita sudah melihat pentingnya menempatkan profesi sebagai bagian dari kehidupan rohani kita sehari-hari. Sudah seharusnya pekerjaan tidak kita pisahkan dari keseriusan kita untuk membangun kerohanian. Meski kita punya kewajiban untuk bisa mendukung kegerakan gereja dimana kita tertanam seperti pohon yang memberi manfaat ke tanah dan lokasi dimana ia bertumbuh, kita tidak boleh memandang profesi kita sebagai bagian yang terpisahkan dari kehidupan rohani. Singkatnya, profesimu adalah pelayananmu yang punya makna spiritual seperti halnya ibadah-ibadah yang kita lakukan.

Hari ini saya ingin menggali lebih dalam mengenai makna spiritual atau rohani dari pekerjaan/profesi. Kita bekerja untuk menyambung hidup, itu benar. Bahwa kita harus bekerja untuk mencari nafkah, mencukupi kehidupan rumah tangga dan kebutuhan istri dan anak-anak, itupun benar. Bekerja merupakan kewajiban bagi kita untuk dilakukan dengan serius dan sungguh-sungguh, tentu saja. Dan Firman Tuhan memandang sangat serius akan hal itu. Bahkan secara tegas Paulus berkata "Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." (2 Tesalonika 3:10). Tapi kita tidak boleh mengabaikan bahwa pekerjaan dan kehidupan rohani tidaklah boleh dipisahkan. Tidak ada kemalasan dalam kamus kehidupan kekristenan, dan tidak ada alasan apapun yang bisa membenarkan kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang melawan prinsip kebenaran dalam pekerjaan kita.

(bersambung)


Sunday, October 1, 2017

Profesi/Pekerjaan : Sekuler atau Rohani? (4)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

4. Jangan lupakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita

Seberapa jauh kita menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup kita? Seperti yang saya sampaikan di awal, ada begitu banyak orang percaya yang memisahkan antara kehidupan sekuler dengan rohani. Itu menunjukkan bahwa banyak yang belum menyadari bahwa Tuhan ada berdiam dalam diri mereka. Tubuh kita dikatakan sebagai bait Allah (1 Korintus 6:19), karena itu kita tidak boleh memisahkan kehidupan kita dengan peribadatan di gereja dan kegiatan-kegiatan kerohanian kita sehari-hari.

Kita harus menyadari bahwa profesi itu sesungguhnya adalah kegiatan rohani. Melayani bukan hanya terbatas dalam kegiatan-kegiatan gereja tapi profesi yang kita jalani pun merupakan pelayanan kita untuk Tuhan. Sekali lagi, bukan berarti bahwa kita tidak perlu melayani di gereja. Itu penting dan tentu harus kita pikirkan dengan serius. Tapi jangan juga menganggapnya sebagai satu-satunya sarana kita untuk memuliakan Tuhan dan mengerjakan kewajiban kita sebagai orang percaya lantas melupakan bahwa profesi juga merupakan panggilan yang dibangun dengan rencana Tuhan yang besar diatasnya. Jangan pisahkan profesi dan kehidupan sehari-hari anda lainnya dengan kehidupan rohani, jadikan semua itu menjadi bagian dari pengalaman dan pertumbuhan pengenalan anda akan Tuhan dan menjadikannya alat untuk memberkati orang lain, mengenalkan Tuhan sehingga mendatangkan keselamatan buat mereka, dimana Tuhan bisa kita muliakan.

Apa yang menjadi panggilan anda? Profesi apa yang saat ini sedang anda jalani? Sudahkah anda melakukan dan menyikapinya dengan benar, mengelolanya secara maksimal sebagai wujud rasa syukur atas sesuatu yang merupakan berkat dari Tuhan dan menjadikannya sebagai bagian yang intergral dari kehidupan kerohanian anda? Semua ini sangatlah penting agar kita tidak keluar dari rencana Tuhan sampai pada kesudahannya. Daud dikatakan Tuhan sebagai orang yang sudah melakukan segela kehendakNya pada jamannya. Daud yang notabene hidup dan berprofesi di dunia sekuler berkenan bagi Tuhan. Kita bisa belajar dari Daud dan banyak tokoh lainnya agar kehidupan kita pun menjadi kehidupan yang berkenan dan penuh berkat. Do your best in anything you do according to God's principal, never forget that it is indeed an important part of your spiritual activities. 

Jangan pisahkan profesi dan kegiatan sehari-hari sebagai bagian dari kehidupan rohani. Profesimu adalah pelayananmu

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, September 30, 2017

Profesi/Pekerjaan : Sekuler atau Rohani? (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

2. Kenali berkat Tuhan yang ada pada kita dan mengucap syukurlah atasnya

Banyak orang yang sangat sulit puas dengan apa yang mereka punya. Mereka terus melihat apa yang ada pada orang dan masih belum ada pada mereka, kemudian menginginkannya. Kalau belum atau tidak bisa, maka rasa iri hati mulai muncul. Ada yang sangat panik berkompetisi sehingga mereka bukan cuma menjalankan profesinya dengan maksimal tapi juga berusaha menghancurkan kompetitornya dengan cara-cara kasar dan kotor. Kalau semua ini masih menjadi hal-hal yang mendominasi hati dan pikiran kita, maka kita tidak akan pernah bisa mengenali berkat-berkat Tuhan yang sudah ada pada kita, apalagi mengucap syukur atasnya. Kita hanya akan disibuki mengejar apa yang belum ada pada kita tanpa mengingat betapa besar dan banyaknya berkat Tuhan saat ini yang ada pada kita.

Kita tidak bisa mengucap syukur atas berkat Tuhan tanpa terlebih dahulu mengenali apa saja yang sudah diperbuat dan diberikan Tuhan pada kita. Apakah kita sudah melihat dan mengenali satu persatu atau kita masih belum menyadarinya? Apakah kita sudah menyadari bahwa profesi kita yang mungkin kita anggap belum apa-apa sebagai sebuah berkat besar dari Tuhan dan bisa menghasilkan hal-hal besar saat kita lakukan dengan benar bersama-sama denganNya? Tanpa menyadari hal ini kita akan sulit menjadikan profesi sebagai sumber berkat dan sarana memuliakan Tuhan.

3. Jadilah pengelola berkat yang baik dan benar

Ada yang sibuk terus merasa kekurangan dan minta tambah tanpa mensyukuri pencapaian saat ini. Padahal, seharusnya sebelum minta tambah kita harus pastikan terlebih dahulu sudah menjadi pengelola berkat Tuhan yang baik.

Perumpamaan tentang talenta dalam Matius 25:14-30 dengan jelas menyatakan hal tersebut. Ada tiga hamba yang memperoleh talenta dengan jumlah berbeda. Perbedaan jumlah dikatakan didasarkan oleh kesanggupan masing-masing (ay 15). Dua hamba dengan talenta lima dan dua talenta sama-sama berhasil menjawab titipan yang dipercayakan kepada mereka dengan melipatgandakannya. Perhatikan bahwa meski perolehannya berbeda, respon dari tuannya persis sama untuk kedua hamba ini. Tuannya bilang bahwa perbuatan mereka baik sekali, mereka dua-duanya dianggap setia terhadap perkara kecil dan Tuhan akan memberikan tanggungjawab lebih besar lagi. Dan keduanya pun diajak masuk ke dalam kebahagiaan tuannya.

Tidak peduli berapapun yang ada pada kita hari ini, itu tetap merupakan berkat Tuhan yang harus kita syukuri dan kelola dengan baik. Pada saatnya nanti, Tuhan akan percayakan tanggungjawab yang lebih besar lagi. Sebab, kalau kita tidak setia dalam mengelola apa yang menjadi tanggungjawab kita, siapa yang mau percayakan yang lebih besar lagi? Bagaimana mungkin kita berani meminta Tuhan percayakan berkat lebih besar bagi kita? Karenanya, sebelum menuntut lebih, alangkah baiknya jika kita memastikan terlebih dahulu untuk menjadi pengelola yang baik dan bersyukur. Pekerjaan apapun yang saat ini kita kerjakan, berapa pun penghasilannya, itu semua merupakan berkat Tuhan yang lebih dari layak untuk kita ucapkan syukur atasnya. Pastikan diri kita bukan menjadi orang pengeluh yang terus komplain sama Tuhan tetapi orang yang bersyukur dan tahu bagaimana melipatgandakannya dengan benar.

(bersambung)


Friday, September 29, 2017

Profesi/Pekerjaan : Sekuler atau Rohani? (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Ada begitu banyak contoh dari orang-orang yang bekerja di dunia sekuler yang ternyata bisa melakukan perbuatan-perbuatan besar yang menyenangkan Tuhan yang tercatat sepanjang masa di Alkitab. Selain Daud yang merupakan peternak/gembala dan kemudian raja, ada beberapa pengusaha diantaranya Abraham, Yusuf dan Ayub. Kemudian Lukas adalah seorang dokter dan diperkirakan juga seorang ahli/spesialis bedah. Paulus adalah seorang pembuat tenda yang kalau di jaman sekarang mungkin pengusaha properti, dan punya rekanan pelayanan yang juga berprofesi sama di bidang properti yaitu Priskila dan Akwila. Sementara Ester tadinya adalah ibu rumah tangga, dan Rut adalah seorang janda. Petrus, Andreas, dan dua anak Zebedeus yaitu Yohanes dan Yakobus berprofesi sebagai nelayan. Nuh punya kebun anggur dan tempat pengolahan seperti pabrik yang membuat anggur jadi minuman. Semua tokoh besar ini punya profesi dan status di dunia sekuler yang ternyata dipakai Tuhan untuk menjadi pengerjaNya. Ada yang kemudian meninggalkan pekerjaan untuk menerima panggilan Tuhan, ada yang tetap menjalankan profesinya sebagai bagian dari panggilan.

Jadi kita bisa melihat dengan jelas bahwa dunia sekuler seharusnya tidaklah dipisahkan dengan rohani. Tidak semua orang punya panggilan untuk menjadi pendeta atau full timer di gereja, dan jelas, kita tidak harus terlebih dahulu menjadi seperti itu untuk bisa berkenan di hadapan Tuhan. Setiap orang punya panggilan sendiri-sendiri dimana Tuhan sudah punya rencana besar yang sudah Dia canangkan jauh sebelum kita dilahirkan. Karenanya, sudah seharusnya kita memperhatikan untuk bisa memberkati dan menyatakan Tuhan lewat profesi kita masing-masing, yang tentu saja tidak akan pernah bisa kita lakukan selama kita masih memisahkan profesi diluar hal-hal rohani.
Kita harus menyeriusi panggilan dan menjaga setiap langkah di dalamnya untuk tidak keluar dari rencana Tuhan.

Selanjutnya, apa yang bisa kita lakukan untuk menjadi berkat bagi orang lain dan memuliakan Tuhan bahkan menjangkau jiwa lewat profesi kita? Apa hal-hal yang harus kita ingat supaya kita bisa maksimal menjalankan profesi sebagai bagian penting dari kehidupan kerohanian kita? Secara umum ada beberapa hal penting diantaranya:

1. Lakukan profesi dengan sepenuh hati dalam kebenaran seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia

Seperti yang sudah saya sampaikan di awal renungan ini, Firman Tuhan mengatakan "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Apapun juga yang kamu perbuat, itu kata Firman ini. Itu artinya bukan cuma soal ke gereja, saat teduh, berdoa, tapi apapun yang kita lakukan hendaknya dijalankan dengan serius, dengan sepenuh hati, dengan sungguh-sungguh.  Karena kita diharuskan melakukannya untuk Tuhan, tentu itu artinya kita tidak boleh melakukan hal-hal yang melanggar hukum Tuhan saat menjalankan profesi. Kita harus menjaga agar pekerjaan kita menjadi lahan bagi kita untuk menjadi pelaku-pelaku Firman, sehingga kita bisa kedapatan sebagai orang benar yang sedang melakukan pekerjaan dengan benar, sesuai kebenaran. Dengan mengeluarkan Tuhan dari profesi dan bagian-bagian hidup kita lainnya, kita sesungguhnya sedang keluar dari rencana Tuhan dan membuka pintu bagi bencana yang bisa berakibat fatal bagi masa depan kita yang kekal.

(bersambung)


Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker