Monday, August 31, 2009

Meneladani Yesus atau Orang Farisi?

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 19:7
====================
"Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa."

meneladani Yesus, orang Farisi, ZakheusMenjadi lebih baik lagi dari hari ke hari tentu baik. Semakin hidup kudus, semakin menjauhi dosa, semakin mendekati dan mencerminkan pribadi Kristus, itu keinginan kita semua. Namun jika tidak hati-hati, kita bisa dimasuki dosa kesombongan, menganggap diri kita lebih baik dari orang lain dan akhirnya mulai menghakimi orang lain. Si A berdosa ini, si B berdosa itu, dan selanjutnya mulai mencibir dan menjauhi mereka. Ini bukanlah hasil yang diharapkan dari sebuah pertobatan dan usaha menguduskan diri. Alih-alih menjadi garam dan terang dunia, kita malah bisa terperangkap dalam sikap yang cenderung menjauhi mereka yang sebetulnya sedang butuh pertolongan agar tidak binasa.

Hari ini sebelum tidur saya diingatkan dengan kisah Zakheus. Kisah tentang pertemuan Zakheus dan Yesus tentu tidaklah asing lagi. Rasanya kisah ini pun sering dibawakan untuk anak-anak di sekolah Minggu. Gambaran visual Zakheus yang berbadan pendek namun sibuk memanjat pohon agar bisa melihat Yesus, dan kemudian kisah pertobatannya tidaklah sulit untuk dicerna oleh anak-anak. Zakheus yang berbadan pendek ini adalah seorang pemungut cukai yang kaya. Pada masa itu orang Yahudi terutama para ahli Taurat menggolongkan para pemungut cukai ini sebagai orang berdosa. Cap sampah masyarakat, pendosa, digolongkan dalam satu kelas bersama orang lalim, penzinah dan perampok (Lukas 18:11), para pemungut cukai ini biasanya dicemooh dan dipandang hina. Zakheus ada dalam kelompok ini. Tapi sepertinya Zakheus punya kerinduan yang sangat besar untuk dapat bertemu Yesus. Sayang badannya pendek, sehingga sulit baginya untuk bisa melewati orang-orang lain yang berpostur lebih tinggi darinya. Tapi ia tidak menyerah, ia pun berusaha sedemikian rupa dengan memanjat pohon ara. (Lukas 19:4). Usahanya berhasil. "Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." (ay 5). Wow, tidak saja melihat dirinya, tapi Yesus berkenan untuk mendatangi rumahnya. Tentu saja hal ini disambut Zakheus dengan sukacita. Tapi lihatlah apa yang dikatakan kerumunan orang Yahudi dan orang-orang Farisi. "Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa." (ay 7). Mereka beranggapan bahwa Zakheus itu sangat hina sehingga Yesus seharusnya tidaklah layak untuk mendatangi rumah orang sehina dia. Apa yang terjadi kemudian sungguh mengharukan. Tuhan Yesus menganugerahkan keselamatan kepada Zakheus sebagai buah pertobatannya. Bukan saja kepada diri Zakheus sendiri, namun seluruh anggota keluarganya pun turut diselamatkan. Yesus pun menutup jawaban terhadap protes kerumunan orang-orang yang merasa lebih benar ini dengan "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." (ay 10).

Siapa yang ingin kita teladani, Yesus atau para ahli Taurat dan orang-orang Yahudi yang merasa dirinya sudah lebih baik dari orang lain? Adakah hak kita menjatuhkan penghakiman terhadap orang lain dan merasa kita lebih hebat dari mereka? Tanpa sadar manusia sering membanding-bandingkan diri mereka dengan orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain agar diri mereka terlihat hebat. Itu bukanlah cerminan pribadi Kristus. Membuang muka, mencibir, menghina, menjaga jarak juga merupakan bentuk-bentuk penghakiman yang seharusnya bukan menjadi hak kita. Padahal mungkin Tuhan memberi kesempatan kepada mereka untuk berbalik kembali ke jalan yang benar lewat kita. Dengan sikap yang salah, kita pun menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi berkat bagi mereka yang butuh pertolongan. Kita gagal untuk memenangkan jiwa bagi Kerajaan Allah.

Ketika Yesus mengulangi pertanyaanNya tiga kali kepada Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" dan ketika Petrus selalu menjawab "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau", tiga kali pula Yesus mengakhiri pertanyaanNya dengan "Gembalakanlah domba-domba-Ku." (Yohanes 21:15-19). Inilah yang seharusnya kita lakukan setelah kita memasuki fase kehidupan baru yang mengejar kekudusan dan ketaatan. Ada pesan penting bagi kita semua untuk menggembalakan domba-dombaNya, dan itu semua haruslah didasarkan atas kasih kita kepada Kristus, bukan hal lainnya. Selama masih bersikap sombong dan merasa diri lebih benar, niscaya kita tidak akan mampu menjangkau dan memenangkan jiwa-jiwa untuk diselamatkan. Bagaimanapun juga kita diingatkan "Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu." (Efesus 4:2), "Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan." (ay 31) dan "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." (ay 32). Ingatlah bahwa perkara menghakimi adalah mutlak milik Tuhan. "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Matius 7:1-2). Yesus datang justru untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, dan kepada kita pesan untuk menggembalakan domba-dombaNya dan mewartakan kabar gembira telah Dia wariskan. Oleh karena itu, jauhilah perilaku seperti para ahli Taurat dan orang-orang Yahudi yang merasa diri mereka begitu benar sehingga layak untuk menghakimi dan menjauhi orang lain. Kasihilah mereka, karena mereka pun layak beroleh kesempatan untuk selamat! Dan siapa tahu, mungkin lewat diri kita Tuhan mau menjangkau mereka untuk bertobat. Mungkin kita yang diutus Tuhan untuk memimpin mereka hingga mengenal kebenaran dan lepas dari jerat iblis. (2 Timotius 2:25-26). Hari ini marilah kita mengasihi saudara-saudara kita dan menjadi teladan yang baik, sesuai dengan keteladanan yang telah diberikan Kristus.

Teladani Yesus, bukan orang Farisi / ahil Taurat

Sunday, August 30, 2009

God Is Good All The Time

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Nahum 1:3,7
=====================
"TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah. Ia berjalan dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya... TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya"

Tuhan itu panjang sabar, Tuhan itu besar kuasa, Tuhan itu baikSejak pagi saya berusaha menghubungi seorang teman yang tinggal di Jakarta. Tapi berulang-ulang jawaban yang saya terima hanyalah "the number you're calling is busy, please try again in a few more minutes." Kesal rasanya karena ada sesuatu yang penting yang ingin saya bicarakan. Di saat saya masih berulang kali mencoba, saya tergerak untuk fokus kepada penggalan "please try again" yang terdengar dari answering machine. Jika melihat kita yang terus menerus melakukan pelanggaran, mungkin Tuhan pun kesal. Tapi ternyata Tuhan itu begitu panjang sabar dan besar kuasaNya, sehingga kata "please try again" itu masih diberlakukan kepada kita hingga hari ini untuk memberi kesempatan kepada kita agar kita mau berubah memperbaiki diri.

Saya sadar betapa kita manusia itu sebenarnya melakukan begitu banyak hal yang salah di mata Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari, namun lihatlah betapa panjangnya kesabaran Tuhan. Dalam kitab Nahum dikatakan demikian: "TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah. Ia berjalan dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya." (Nahum 1:3) Dia selalu siap mengampuni kita dan terus menerus memberikan kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri. Jika kita bisa hidup hari ini dengan baik, jika hari ini kita sudah berada di rel yang benar dan terus menjaga hidup kita untuk tidak keluar jalur, semua itu hanyalah dimungkinkan karena Tuhan masih terus dengan sabar memberikan kesempatan bagi kita untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Tanpa itu semua, mungkin sejak dulu kita sudah binasa. Dari ayat di atas kita memang melihat bahwa kesalahan kita tidak akan pernah luput dari penghakiman Tuhan, tapi di atas itu, Tuhan sesungguhnya panjang sabar. Dia sungguh baik memberikan kita waktu dan kesempatan untuk terus berusaha menjadi lebih baik lagi. Tidak hanya itu saja, Tuhan pun besar kuasaNya. Lihatlah bagaimana Tuhan mengatur segala alam semesta beserta isinya, sehingga tidak satupun dari planet dan bintang bertabrakan dan saling menghancurkan satu sama lain. Ini pun memungkinkan kita untuk terus berbenah diri. Bayangkan jika tiba-tiba alam semesta menjadi kacau, kesempatan kita untuk memperbaiki diri pun pupus sudah. Daud begitu menyadari hal ini dan ia pun berkata "Sesungguhnya aku tahu, bahwa TUHAN itu maha besar dan Tuhan kita itu melebihi segala allah." (Mazmur 135:5).

Selain terus berpanjang sabar memberi kesempatan bagi kita, Tuhan pun selalu memposisikan diriNya untuk selalu menjadi tempat perlindungan yang utama. "TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya" (Nahum 1:7). Kuasa Tuhan yang besar, yang mampu melebihi akal mengatasi segala kemustahilan akan selalu membuat kita aman ketika berlindung di dalamnya. Dalam hal ini pun Daud menyadarinya dan berkata "Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!" (Mazmur 34:8). Kenapa tidak? Kebaikan Tuhan yang luar biasa itu bukan hanya "pepesan kosong" belaka namun sudah sangat nyata terbukti baik lewat perjalanan hidup tokoh-tokoh Alkitab maupun banyak kesaksian dari masa ke masa. "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mazmur 46:1).

Lutut bertelut akan kebesaran kuasa Tuhan yang jauh melebihi kemampuan nalar manusia, hati bersyukur akan kesabaran Tuhan terhadap proses perbaikan diri kita, dan kebaikan Tuhan seharusnya membuat kita berdiri dan bersorak sorai dalam sukacita. Ini gambaran seperti apa sebaiknya kita menyikapi segala perbuatan dan penyertaan Tuhan dalam hidup kita. Lewat Kristus kita semua sudah dimerdekakan, oleh sebab itu kita harus menyikapinya dengan terus menjaga diri kita agar tidak kembali terjatuh kepada kebiasaan-kebiasaan buruk atau dosa-dosa di masa lalu. "Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan." (Galatia 5:1). Demikianlah Tuhan mengasihi kita dan tidak menginginkan satupun dari kita binasa. Dan begitulah baiknya Tuhan yang dengan sabar terus menantikan kita untuk menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari. Bersyukurlah kepadaNya bahwa Dia tidak menggunakan kuasaNya yang dahsyat untuk menghancurkan kita, namun justru untuk menyelamatkan kita, menganugerahkan kasih karuniaNya kepada kita manusia yang punya begitu banyak kesalahan ini. Dan bersyukurlah bahwa Tuhan menggunakan kebaikanNya bukan untuk menolak kita, melainkan justru untuk menggapai dan menyentuh hati kita. Jangan sia-siakan kesabaran dan kebaikan Tuhan, jangan lupakan kuasaNya. Mari puji dan sembah Dia hari ini. Let's praise the Lord today, for He is so good to you and me, all the time.


Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu!

Saturday, August 29, 2009

Menjadi Teladan Sejak Muda

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 2 Tawarikh 34:2
=======================
"Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri."

teladan sejak mudaSaya kagum melihat pertumbuhan anak-anak muda di gereja dimana saya berjemaat dan melayani. Di usia muda, rata-rata masih duduk di bangku SMA mereka sudah aktif dalam berbagai kegiatan. Kebaktian anak muda (youth) nya hidup, mereka juga banyak berperan dalam menyiapkan slide-slide atau video-video untuk kebaktian umum. Persekutuannya kuat dan mereka terlihat sangat akrab satu sama lain. Pemandangan ini begitu kontras ketika saya melihat anak-anak seusia mereka di luaran yang berperilaku sangat berbeda. Sekelompok anak-anak muda bahkan terkadang masih menggunakan seragam SMAnya sudah berani mengganggu orang lewat, memalak orang lain dan berbagai tindak kejahatan lainnya. Ada banyak anak-anak muda yang merasa masih butuh waktu untuk bersenang-senang menikmati hidupnya sesuka mereka. Mereka beranggapan bahwa untuk urusan hidup benar, itu adalah porsi untuk orang dewasa saja. Padahal Tuhan tidak pernah mengatakan demikian. Hidup benar adalah kewajiban semua orang tanpa memandang usia yang bersangkutan. Sejak muda sekalipun kita sudah dituntut untuk hidup lurus sesuai jalanNya dan siap untuk menjadi teladan bagi sesama.

Hari ini saya mengangkat kisah mengenai seorang bernama Yosia yang dikisahkan dalam kitab 2 Tawarikh. Yosia diangkat menjadi raja di Yerusalem pada usia yang masih sangat muda. Ia sudah menjadi raja ketika usianya baru 8 tahun, dan tercatat memerintah 31 tahun lamanya. Yosia dicatat memiliki gaya hidup yang lurus semenjak masih muda. "Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri." (2 Tawarikh 34:2). Di ayat berikut kita baca seperti berikut "Pada tahun kedelapan dari pemerintahannya, ketika ia masih muda belia, ia mulai mencari Allah Daud, bapa leluhurnya, dan pada tahun kedua belas ia mulai mentahirkan Yehuda dan Yerusalem dari pada bukit-bukit pengorbanan, tiang-tiang berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan." (ay 3). Pada usia kedelapan dari pemerintahannya, berarti usia Yosia masih 16 tahun ketika ia memutuskan untuk mencari Tuhan. Ini usia yang masih terbilang sangat muda. Ditambah lagi statusnya sebagai raja, yang tentu saja memiliki agenda kesibukan yang sangat padat dan memiliki kekuasaan tertinggi yang berarti ia bisa melakukan apa saja sekehendak hatinya. Namun ternyata Yosia memiliki gaya hidup yang berbeda meski ia masih muda dan bisa bertindak sesukanya. Ia berbeda dari banyak raja yang gaya hidupnya tidak berkenan bagi Tuhan. Pada tahun ke dua belas, ini artinya 4 tahun kemudian, ketika ia berusia 20 tahun, ia sudah mulai mentahirkan Yehuda dan Yerusalem dari berbagai bentuk penyembahan berhala. "Mezbah-mezbah para Baal dirobohkan di hadapannya; ia menghancurkan pedupaan-pedupaan yang ada di atasnya; ia meremukkan dan menghancurluluhkan tiang-tiang berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan, dan menghamburkannya ke atas kuburan orang-orang yang mempersembahkan korban kepada berhala-berhala itu." (ay 4). Pada usia yang masih sangat muda, Yosia sudah berperilaku lurus dan tidak menyimpang kemana-mana, ia mempergunakan statusnya sebagai raja dengan benar, dan tidak menyalahgunakan jabatan yang ia pegang. Di usia mudanya Yosia menjadi pelopor  dalam pergerakan reformasi rohani di wilayah pemerintahannya.

Anak-anak muda, hiduplah lurus dari sekarang. Jangan menunda lagi dan terus terlena dalam gaya hidup dan nafsu anak-anak muda duniawi. Jangan terus buka celah bagi iblis untuk masuk dan merusak diri anda. Kepada Timotius, Paulus berpesan: "Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni." (2 Timotius 2:22). Tidak ada yang tahu kapan akhir jaman akan datang. "Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja." (Markus 13:32). Semua itu merupakan rahasia Ilahi. Jika kita tidak bersiap sejak sekarang, bisa jadi penyesalan akan datang pada saat yang terlambat. Seperti Yosia, jadilah teladan sejak muda. Begitu pula bagi kita semua yang mungkin sedang berada pada posisi pemimpin, jadilah pemimpin yang mencerminkan keteladanan Kristus. Jangan salah gunakan posisi yang dipercayakan Tuhan pada diri anda saat ini, tapi muliakanlah Tuhan dengan itu. Didik dan bimbinglah bawahan anda dengan jujur dan lurus. Demikian pula anak-anak yang sudah dipercayakan Tuhan kepada anda. Bimbinglah mereka menurut jalanNya. "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu." (Amsal 22:6). Sebagai orang tua, jadilah pahlawan dengan "busur panah" yang baik untuk mengarahkan "anak-anak panah" anda ke arah yang benar. (Mazmur 127:4). Mari kita semua mulai mengambil komitmen untuk hidup lurus, benar di mata Tuhan sejak dini, karena itu merupakan kewajiban kita semua tanpa memandang usia.

Tidak peduli berapa usia kita, kita dituntut untuk hidup benar dan menjadi saksi Kristus

Friday, August 28, 2009

Jangan Lupakan Kuasa Tuhan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Ayub 38:4
===================
"Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian!"

jangan lupa kuasa Tuhan, Tuhan mengingatkanBerada dalam situasi sulit, penuh penderitaan, kesengsaraan, tentu tidak enak. Tidak ada seorang pun manusia yang ingin hidupnya dipenuhi masalah. Tapi namanya hidup, ada saat-saat dimana kita tidak bisa menghindari hadirnya problema dalam kehidupan. Terkadang masalah yang datang tidak hanya satu, tapi beruntun atau bertumpuk-tumpuk, sehingga kita menderita karenanya. Ada kalanya jalan keluar tidak kunjung kelihatan, bagaikan berjalan dalam sebuah lorong gelap dimana tidak terlihat setitik cahaya pun di ujung sana. Disaat tekanan begitu besar menerpa kita, manusia yang terbatas ini, ada saat-saat kita menjadi lemah dan tenggelam dalam penderitaan. Kita bisa lupa kepada keagungan Tuhan, kuasa dan kemampuanNya yang tidak terbatas, dan tentu saja kebaikan serta kasih setiaNya. Himpitan masalah penuh penderitaan berkepanjangan akan mulai mengaburkan pandangan kita tentang kebaikan Tuhan, dan mulai menganggap bahwa Tuhan mungkin sudah tidak lagi peduli dengan hidup kita, atau bahkan mulai mempertanyakan keberadaanNya. Di saat-saat seperti itu kita perlu diingatkan kembali akan keajaiban kuasa Tuhan yang tidak terbatas. Seperti apa yang terjadi pada Ayub.

Ayub mengalami serangkaian pengalaman tragis dalam hidupnya. Membaca kisah Ayub berarti membaca bagaimana kehidupan seseorang bisa berbalik drastis dalam waktu singkat, seperti pesawat yang menukik tajam dan langsung hancur berkeping-keping menghantam bumi. Begitu beratnya apa yang dialami Ayub, sehingga biasanya ketika kita berbicara mengenai penderitaan dan rasa sakit yang luar biasa, kita akan segera mengacu pada Ayub. Ayub pada mulanya dikenal saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. (Ayub 1:1). Ia juga orang yang terkaya di sebelah timur (ay 3). Hidupnya sempurna. Namun kemudian semuanya musnah. Ribuan ternaknya musnah (ay 16-17), anak-anaknya tewas (ay 19). Hartanya habis ludes dalam waktu singkat, dan kemudian disusul dengan penyakit kulit mengerikan menimpa sekujur tubuhnya. (2:7). Selesai sampai disana? Tidak, ternyata istrinya sendiri mengutuki dia, dan teman-temannya mengolok-olok apa yang terjadi atas dirinya. Berat, sungguh berat. Ayub tidak siap menghadapi semua ini secara mendadak. Ia pun kemudian terperangkap oleh pikirannya sendiri bahwa Tuhan bertindak tidak adil. Ayub yang sedang sengsara dalam kesakitan luar biasa baik secara fisik maupun mental lupa siapa sejatinya Tuhan. Dan yang terjadi kemudian adalah, Tuhan mengingatkan Ayub mengenai kuasanya. Apa yang diingatkan Tuhan kepada Ayub? Mari kita lihat beberapa diantaranya.
  • Tuhan meletakkan dasar bumi. "Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian!" (38:4)
  • Tuhan menetapkan batas samudera. "Siapa telah membendung laut dengan pintu, ketika membual ke luar dari dalam rahim?" (ay 8)
  • Tuhan menerbitkan matahari pagi. "Pernahkah dalam hidupmu engkau menyuruh datang dinihari atau fajar kautunjukkan tempatnya" (ay 12).
  • Tuhan berkuasa atas hidup dan mati. "Apakah pintu gerbang maut tersingkap bagimu, atau pernahkah engkau melihat pintu gerbang kelam pekat?" (ay 17)
  • Tuhan mendatangkan salju (ay 22), hujan (26), bahkan membekukan air (30).
  • Tuhan membuat rumput-rumput bertunas lewat hujan (26-27)
  • Tuhan memberi hikmat dan kebijaksanaan (ay 36)
  • Tuhan menetapkan masa mengandung dan melahirkan bagi hewan (39:4)
dan seterusnya. Semua ini diingatkan Tuhan kepada Ayub, agar Ayub tidak lupa kepada kuasa Tuhan meski ia tengah berada pada titik terendah dalam kehidupannya di dunia.

Seperti kepada Ayub, pesan ini pun berlaku kepada kita semua. Ada saat-saat dimana Tuhan mengijinkan hidup kita dimasuki berbagai masalah dan kesulitan, namun itu bukan berarti bahwa Dia sedang mengabaikan dan tidak peduli dengan apa yang kita hadapi. Dikala lemah, segala yang diingatkan Tuhan ini menjadi pesan penting agar kita tidak melupakan kebaikan Tuhan dan mengabaikan untuk mengucap syukur kepadaNya. Tuhan Yesus mengingatkan kita bahwa kita berharga dimata Bapa dan akan terus berada dalam penyertaanNya, dalam kondisi dan situasi apapun. "Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya.Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit." (Matius 10:29-31). Dalam kejadian lain, Daud pun mengakui penyertaan Tuhan itu ada dalam segala hal yang terjadi dalam hidup kita. "Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku. Jika aku berkata: "Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam," maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang." (Mazmur 139:8-12). Lihatlah bahwa sesungguhnya dalam keadaan apapun, seberat dan sepahit apapun yang terjadi dalam hidup kita pada saat-saat tertentu, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendirian. Dia tetap ada bersama anak-anakNya, ciptaanNya yang berharga yang begitu Dia kasihi. Mungkin hari ini ada diantara teman-teman yang tengah mengalami permasalahan hidup, ingatlah pesan Tuhan ini. Jangan lupakan kuasaNya yang mampu membuat segala sesuatu yang mustahil menjadi mungkin, jauh melampaui kemampuan daya pikir dan akal budi kita. Tuhan tidak akan meninggalkan anak-anakNya yang selalu taat kepadaNya. Mari kita pakai sebagian dari waktu-waktu kita untuk memuji dan menyembahNya walau kita sedang dalam keadaan sulit sekalipun.

Jangan lupakan dahsyatnya kuasa dan keagungan Tuhan

Thursday, August 27, 2009

Berada pada Waktu dan Tempat Tertentu

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Ester 4:14
====================
"Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu."

waktu dan tempat tertentu, generasi, masaSwing adalah salah satu genre besar dalam jazz yang sangat saya gemari. Lewat jenis musik ini saya kerap kali seolah-olah diajak untuk kembali ke sebuah masa dimana musik jazz mulai tumbuh dan berkembang, terutama di kisaran tahun 20-40 an ketika swing merajai pentas musik dunia. Saya sering merasa penasaran, seperti apa sih hidup di era itu, bagaimana rasanya hidup di sebuah jaman dimana panggung kerap berisi ensembel musik dalam jumlah besar, mencapai puluhan, orkestrasi indah dari begitu banyak instrumen menghasilkan melodi-melodi yang kedengaran megah dan indah. Saya tidak akan pernah tahu pastinya seperti apa, karena saya lahir beberapa dekade setelahnya di generasi yang berbeda. Saya hanya bisa menelusuri sejarahnya, mencoba merasakan lewat lagu-lagu yang berasal dari masa itu. Pertanyaan pun muncul di pikiran saya, kenapa saya lahir di masa yang berbeda? Kenapa bukan dulu, kenapa bukan nanti? Orang tua kita lahir di generasi berbeda, kakek dan nenek kita di generasi sebelumnya, kelak anak-anak kita akan merasakan jaman yang berbeda pula di depan. Mengapa Tuhan menciptakan kita pada jaman ini, bukan dulu atau nanti? Adakah itu semua hanya kebetulan belaka? Ketika memikirkan mengenai hal ini, saya diingatkan pada kisah Ester.

Ester adalah seorang wanita Yahudi yang dipilih raja Ahasyweros, raja Persia-Media yang berkuasa atas 127 daerah, mulai dari India hingga Ethiopia untuk menggantikan permaisurinya, ratu Wasti, yang ia lepas karena dianggap telah berani menentang perintahnya dan mempermalukannya di depan para tamu penting. Ketika Ester menjadi ratu, timbullah masalah ketika Haman, seorang pejabat tinggi di istana membuat peraturan yang bermasalah. Haman mengeluarkan perintah agar semua rakyat berlutut dan sujud di hadapannya setiap kali ia lewat. Bagi orang Yahudi, perintah ini sulit untuk dilakukan, karena sesuai dengan kepercayaan yang dianut, orang Yahudi hanyalah bersedia untuk sujud kepada Tuhan saja. Salah satu yang menentang dengan keras tidak lain adalah Mordekhai, saudara Ester sendiri. Haman tentu saja murka, dan merencanakan untuk menghabisi orang-orang Yahudi, terutama Mordekhai. Mordekhai pun menganjurkan Ester untuk pergi menghadap raja untuk menyelamatkan bangsanya. Dan kita sampai kepada ayat bacaan hari ini yang berisi tentang perkataan Mordekhai kepada saudaranya Ester. "Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu." (Ester 4:14b). Dalam bahasa sehari-hari, Mordekhai kira-kira berkata begini: "siapa tahu memang engkau menjadi ratu justru dengan tujuan untuk menyelamatkan bangsa Yahudi, bukan hanya kebetulan dan tanpa maksud." Dan hasilnya, Ester berhasil melakukannya. Penyertaan Tuhan terlihat nyata. Ester menjadi ratu memang ada dalam rencana Tuhan. Kisah Ester ini menyatakan kepada kita semua bahwa Tuhan bisa memakai seorang gadis yatim piatu untuk menyelamatkan umat Allah di tengah-tengah kekuasaan penguasa Persia-Media yang begitu besar.

Ester menjadi ratu bukanlah kebetulan. Semua itu adalah rencana Tuhan yang luar biasa. Tuhan bisa memakai seseorang yang tidak disangka-sangka, melampaui akal budi kita untuk melakukan sesuatu untuk menyelamatkan dan menyertai anak-anakNya. Demikian Tuhan menciptakan kita semua, pada tempat dan waktu masing-masing, demikian pula ketika kita saat ini ditempatkan di berbagai belahan bumi yang berbeda. Bukan kebetulan, bukan tanpa tujuan. Tuhan meletakkan kita di sebuah generasi tertentu, dan menempatkan kita di sebuah tempat tertentu, pada waktu tertentu sesuai dengan rencanaNya bagi hidup kita. Apa yang Dia rencanakan adalah sesuatu yang indah bagi kita. Begini firman Tuhan: "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11). We are created for a cause. Dalam Kejadian dikatakan kita diminta untuk "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."(Kejadian 1:28). Mari kita hubungkan dengan ayat ini "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36). Menaklukkan dan berkuasa bukan artinya bertindak semena-mena, namun memelihara segala ciptaan Tuhan lainnya dengan penuh tanggung jawab, agar kemuliaan Tuhan bisa dinyatakan lewat segala sesuatu ciptaanNya yang indah. Ini pesan yang penting bagi manusia dalam tiap generasi, dari jaman yang satu ke jaman yang lain. Dimanapun dan kapanpun kita diciptakan, dan berada saat ini, kita harus bisa melakukan yang terbaik demi kemuliaan Tuhan.

Daud mengatakan "Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya." (Mazmur 139:13-14). Kejadian penciptaan manusia sungguh dahysat dan ajaib. Jika kita menyadarinya dengan sungguh-sungguh, kita pun akan tahu bahwa kita ada saat ini untuk tujuan yang sungguh indah. Apabila saat ini hidup anda tidak menggambarkan sesuatu yang indah, ingatlah bahwa apa yang anda alami saat ini bukanlah akhir, melainkan masih berada dalam sebuah proses menuju sebuah kesempurnaan, sesuai dengan tujuan Tuhan menciptakan anda. Dibalik segala kelemahan dan kekurangan yang anda dan saya miliki hari ini, ada kuasa Tuhan dan berkatNya dibalik itu semua. Apapun keadaan kita saat ini, Tuhan sanggup memakai itu untuk menjadi luar biasa, dan Dia tidak pernah gagal. "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal." (Ayub 42:2).

Life is never a mistake nor is a coincidence. Anda begitu berharga di mata Tuhan, dan Tuhan sungguh mengasihi Anda. Dia telah menyediakan rencanaNya yang indah bagi kita semua. Seperti halnya Ester, kita masing-masing adalah pribadi yang unik yang ada dalam sebuah periode dalam perjalanan sejarah dunia. Kelahiran kita bukanlah kebetulan atau ketidaksengajaan, kita saat ini berada pada tempat tertentu bukanlah tanpa alasan. Semua ada dalam rencana Tuhan yang menjanjikan segala sesuatu yang indah penuh harapan. Tuhan memanggil kita masing-masing untuk menjadi anak-anakNya yang mencerminkan diriNya dimanapun kita berada. Apakah di sekolah, pekerjaan, keluarga, lingkungan dan sebagainya, dimanapun kita ditempatkan, kita harus siap untuk menjadi berkat bagi mereka, dimana nama Tuhan dipermuliakan. Tidak satupun rencanaNya yang akan gagal. Maka ikutilah rencanaNya, meski mungkin pada saat-saat tertentu tampaknya berat. Namun pada akhirnya, yang dijanjikan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera yang memberikan hari depan penuh harapan. Karenanya, berdirilah tegak, bersyukurlah sebagai ciptaan yang ajaib dan dahsyat, dan hiduplah menjadi terang dan garam pada masa dan tempat dimana anda ditempatkan saat ini.

Ada rencana Tuhan yang istimewa bagi setiap anak-anakNya

Wednesday, August 26, 2009

Pelit Ilmu

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Daniel 6:4
===================
"Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya."

pelit ilmu, kikirBeberapa bulan yang lalu saya bertemu dengan seorang sepupu saya yang juga sama-sama mengajar, walaupun dalam bidang yang berbeda. Ia bercerita mengenai rekan-rekan sesama dosennya yang hanya memberikan sedikit dari apa yang mereka ketahui untuk diajarkan kepada para siswa. Singkatnya mereka-mereka ini termasuk dosen yang pelit ilmu. Mereka tidak rela jika siswa-siswi yang mereka bimbing nantinya bisa lebih baik dari mereka. "Mengajar itu cukup 50% saja.. jangan semuanya, rugi.." kata salah satu rekan dosen sepupu saya itu. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bercerita kepada saya. Bagaimana bangsa ini bisa maju kalau setiap generasi kualitasnya terus menurun dengan kehadiran pengajar-pengajar seperti ini, katanya. Sama seperti saya, dia pun tipe orang yang memberikan segalanya dalam mengajar. Apapun yang ia tahu akan ia sampaikan kepada para siswa. Bagi kami berdua, ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat anak-anak yang dibimbing bisa mencapai kesuksesan. Itu bentuk kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan uang sebesar apapun. Toh pelit ilmu tidak memberikan manfaat apa-apa. Berkat bukan berasal dari kehebatan ilmu kita, bukan berasal dari keahlian kita, tapi dari Tuhan. Tuhanlah yang memberkati pekerjaan kita sehingga kita bisa berhasil. Jika demikian, buat apa pelit ilmu?

Mari kita lihat sejenak mengenai Daniel. Daniel dikatakan sebagai sosok yang memiliki roh yang luar biasa dengan kecerdasan di atas rata-rata. Ia diangkat oleh raja Darius sebagai satu dari tiga pejabat tinggi yang membawahi 120 wakil-wakil raja. Diantara ketiga sosok ini, pekerjaan Daniel dianggap lebih baik dari dua orang lainnya. "Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya." (Daniel 6:4). Daniel tidak setengah-setengah dalam bekerja, ia memberikan segala yang terbaik yang bisa ia lakukan. Termasuk dalam imannya yang tidak goyah sedikitpun ketika menghadapi bahaya. Semua itu berkenan di hadapan Tuhan, dan kita tahu bagaimana Daniel selamat dari cengkraman singa-singa lewat pertolongan Tuhan. Dalam perjanjian baru kita bisa melihat figur Paulus. Dalam melakukan pelayanan, Paulus tidak lalai dalam melakukan proses pemuridan. Ia menunjukkan kebesaran jiwanya dengan mendidik anak-anak muda yang setia mengikutinya dengan sungguh-sungguh, seperti kepada Timotius dan Titus. Kepada mereka, Paulus mengajarkan bagaimana sikap yang harus dimiliki dalam melayani dengan rinci dan jelas. Paulus tidak menyimpan-nyimpan sesuatu agar ia tetap menjadi yang terdepan. Ia ingin maju dan sukses bersama-sama dengan anak-anak didiknya. Timotius melayani di Efesus (1 Timotius 1:2-4) sedangkan Titus di Kreta. (Titus 1:4-6). Kedua anak muda ini tumbuh menjadi pelayan Tuhan yang begitu luar biasa.

Bagi saya, hidup akan jauh lebih bermakna ketika kita bisa membantu orang lain untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. McGinnis, Seorang penulis ternama di Amerika mengatakan "There is no more noble occupation in the world than to assist another human being - to help someone succeed". Tidak ada pekerjaan yang lebih mulia di dunia selain membimbing orang lain-membantu mereka untuk meraih sukses. Saya setuju. Tuhan pun tidak menginginkan kita menjadi pribadi-pribadi yang kikir, hanya mementingkan diri sendiri dan tidak peduli kepada kemajuan orang lain. Dalam Korintus dikatakan "Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." (1 Korintus 6:9-10). Perhatikan bahwa orang kikir digolongkan ke tempat yang sama dengan kesesatan lainnya. Pelit tidak saja berbicara soal harta, tapi tentu juga termasuk ilmu.

Tuhan memberikan kita talenta untuk dikembangkan, bukan untuk disimpan sendiri. Ketika kita diberkati Tuhan dengan kemampuan akan sesuatu, hendaklah kita mempergunakannya juga demi kemajuan dan kesuksesan sesama kita. Jangan iri terhadap kesuksesan orang lain, jangan takut jika orang bisa sukses, bahkan ketika ada orang yang sukses melebihi kita. Ingatlah bahwa segala berkat datangnya dari Tuhan dan bukan dari kehebatan atau kepintaran kita. Seperti halnya Tuhan memberkati kita dengan segudang kemampuan, hendaklah kita memberkati orang lain lewat apa yang ada dalam diri kita. Apa yang kita miliki bukanlah untuk kita sendiri melainkan juga berguna bagi kemajuan orang lain. Apakah anda ada dalam posisi yang berhubungan dengan pengembangan kapasitas bawahan anda? Apakah ada di antara teman-teman yang juga berprofesi sama seperti saya sebagai pengajar? Jangan pelit ilmu. Bantulah mereka dengan sungguh-sungguh agar mereka bisa mencapai sukses. Biarlah nama Tuhan dipermuliakan lewat pekerjaan kita. Sebagai anak-anak Tuhan kita tidak boleh pelit. Tuhan siap memberkati siapapun yang mengasihi dan peduli kepada sesamanya.

Pelit ilmu bukanlah gambaran anak-anak Tuhan yang benar

Tuesday, August 25, 2009

Belas Kasihan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 9:13
====================
"Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."

belas kasihan, murah hati, melayaniPernahkah anda berhadapan dengan orang yang butuh pertolongan di saat sedang sibuk-sibuknya? Pekerjaan tengah menumpuk, pikiran sedang dipenuhi berbagai urusan, di saat itu pula ada yang membutuhkan pertolongan datang pada kita. Saya pernah beberapa kali mengalami hal ini. Mungkin mudah untuk langsung mengatakan, "maaf saya sedang sangat sibuk.." Mungkin kita memang sedang membutuhkan waktu untuk berkonsentrasi dan fokus terhadap sesuatu. Tapi bagaimana jika orang tersebut benar-benar terdesak dalam situasi yang mereka hadapi, dan memerlukan pertolongan dengan segera? Terkadang kita berhadapan dengan orang yang membutuhkan bantuan dengan segera justru di saat yang kurang tepat. Situasi-situasi mendadak ini membutuhkan perhatian segera pula, dan sering membuat rencana yang telah kita susun terpaksa berubah di tengah jalan. Mungkin kita berkata, urusan kita pun sangat penting, tapi bagaimana jika apa yang mereka hadapi ternyata jauh lebih mendesak? Dan penolakan, atau penundaan kita ternyata bisa mengakibatkan sesuatu yang fatal di kemudian hari? Melayani memang tidak mudah, namun jika kita melakukannya dengan komitmen benar karena mengasihi Kristus, Tuhan tidak akan pernah menutup mata dari hal itu. Ada sukacita disana, ada kebahagiaan yang sulit dilakukan dengan kata-kata ketika melihat secara langsung banyak orang dipulihkan, dimana kuasa dan kasih Tuhan dinyatakan dalam diri mereka.

Mengacu kepada perjalanan pelayanan Tuhan Yesus ketika Dia hadir di dunia, kita menyaksikan bahwa Yesus pun menghadapi hal-hal seperti ini dalam banyak kesempatan. Ambil contoh ketika Yairus, kepala rumah ibadat tiba-tiba datang tersungkur di kaki Yesus, memohon agar Yesus menyembuhkan putrinya. (Markus 5:22-23). Yesus tidak menolak, Dia segera mengikuti Yairus untuk melihat putrinya. Dalam perjalanannya ke rumah Yairus, langkah Yesus kembali dihentikan oleh seorang wanita yang menjamah jubahNya. Wanita ini sudah 12 tahun mengalami pendarahan dan kondisinya semakin memburuk meski sudah diobati oleh banyak tabib. (ay 25-28). Yesus tidak mengibas jubahnya dan mengabaikan si wanita. Dia berhenti dan meladeni, dan seketika itu pula wanita ini sembuh. (ay 29-34). Seperti inilah keteladanan Kristus, sesuatu yang Dia wariskan kepada kita semua.

Yesus berkata: "Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Matius 9:13). Dalam kesempatan lain kata-kata ini kembali diulang. "Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah." (12:7). Tuhan Yesus menghendaki belas kasihan, lebih daripada sekedar korban persembahan. Yesus mengutip firman Tuhan dalam Hosea 6:6 yang berkata "Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran." Dua kali dikutip Yesus, menunjukkan betapa pentingnya ajaran ini. Mengapa belas kasihan lebih dikehendaki lebih dari persembahan? Karena persembahan bisa jadi didasarkan pada motivasi-motivasi lain di luar rasa belas kasih. Kita bisa memberikan persembahan karena sekedar kewajiban, sekedar syarat, atau agar kita diberkati, atau bahkan agar terlihat baik di mata manusia. Tapi persembahan yang diberikan dari hati yang memiliki belas kasihan tentu berbeda. Dalam kisah seorang janda miskin yang memberi persembahan kita bisa melihat hal ini. Ada banyak orang kaya memberi dalam jumlah yang besar, namun ibu janda yang miskin hanya memberi dua peser. Tapi si ibu dikatakan Yesus memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. (Markus 12:43). Sebab apa? "Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya." (ay 44). Ibu janda memberikan dari kekurangannya, dan itu hanya mungkin dilakukan ketika seseorang memiliki kasih dalam hidupnya. Ibu janda tahu bahwa meski kecil, ia bisa berkontribusi dalam pekerjaan Tuhan, semata-mata karena ia mengasihi Tuhan, menyadari apa yang ia miliki semuanya berasal dari Tuhan juga, dan dengan itu ia pun bisa membagi berkat dan kasih kepada sesamanya. Kembali kepada apa yang dikatakan Kristus di atas, Dia menghendaki belas kasihan dan bukan persembahan, sebenarnya apa yang dilihat Tuhan bukanlah apa yang tampak dari luar, tapi apa yang berasal dari dalam. Apa yang ada dalam hati kita ketika memberi, baik dalam bentuk apapun, itulah yang akan membuat perbedaan.

Kita diingatkan Yesus: "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."(Lukas 6:36). Seperti halnya Bapa yang begitu murah kasih, menganugrahkan kasih karuniaNya secara berlimpah kepada kita yang sebenarnya tidak layak menerimanya, demikian pula seharusnya perbuatan kita. Kepada yang murah hati, yang memiliki hati berbelas kasihan, Tuhan Yesus menjanjikan seperti ini: "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan." (Matius 5:7). Mungkin mereka yang butuh bantuan datang di saat-saat yang kurang tepat, tapi apakah itu berarti kita boleh mengabaikan dan menunda melayani mereka? Seperti halnya Tuhan Yesus, hendaklah kita pun memiliki rasa belas kasihan untuk rela menyisihkan waktu-waktu dan apa yang kita miliki untuk menolong orang yang sedang putus asa dan sangat membutuhkan bantuan. Siapkah anda untuk mulai menjangkau mereka yang membutuhkan pertolongan hari ini? Tuhan menjanjikan kemurahan kepada kita semua untuk dibagikan kepada orang lain dalam namaNya.

Be compassionate as God is compassionate

Monday, August 24, 2009

Hamba Tuhan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 2 Timotius 2:26
======================
"sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya."

hamba Tuhan, sabar melayani, ramah, lemah lembutMelayani tidaklah mudah. Ada kalanya kita menghadapi banyak kendala dan kesulitan dalam pelayanan. Ada saat-saat dimana kesabaran kita diuji, kita harus siap mengorbankan waktu-waktu luang yang bisa dipakai untuk beristirahat, siap mendengar dan menjawab setiap permasalahan mereka dan sebagainya. Terkadang kita bisa berhadapan dengan situasi dimana orang yang dilayani masih naik turun seperti roller coaster. Hari ini berjanji untuk berubah, tapi besoknya kambuh lagi. Kalau satu orang mungkin tidak masalah, tapi bagaimana jika yang dilayani banyak orang, dengan masalah masing-masing, gaya dan sifat masing-masing? Apalagi jika bukan pelayan Tuhan penuh waktu. Kesibukan-kesibukan dalam pekerjaan cukup menyita waktu. Dan yang harus diingat juga, jangan sampai keluarga dibiarkan terbengkalai karena terlalu sibuk dalam bekerja dan melayani. Tidak mudah. Sama sekali tidak mudah. Namun itu semua harus dijalani dengan penuh sukacita. Sebab, mungkin melalui kita, Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya. And let me tell you this, when someone repent and receive God in front of you, the feeling is really unbelievable.

Sebagai pelayan-pelayan Tuhan kita dituntut untuk terus mewartakan firman Tuhan dan membantu mereka yang membutuhkan untuk kembali ke jalan yang benar dengan ramah dan sabar. Kepada Timotius, dan kita semua tentu saja, Paulus menyampaikan bagaimana sikap yang dibutuhkan untuk menjadi hamba Tuhan yang baik. Jangan sampai sebagai hamba Tuhan, kita malah terpancing emosi. Terjebak dalam perdebatan yang tidak berguna yang hanya membuat panas. "sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan." (2 Timotius 2:24-25a). Hal ini sungguh dibutuhkan dari para hamba Tuhan, "sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya." (2 Timotius 2:25b-26).

Ketika menghadapi orang yang belum mengenal Kristus, yang menentang dan melawan kebenaran, Timotius diminta untuk memperbaikinya dengan ramah, sabar dan lemah lembut. Demikian pula kita. Tuhan memberikan kesempatan yang sama kepada semua orang untuk bertobat, tidak peduli siapapun itu. Dalam Roma kita membaca demikian: "Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain!" (Roma 3:29). Ya, Allah adalah Allah dari semua manusia di dunia ini, karena kita semua sama-sama ciptaanNya. Tuhan menganugerahkan keselamatan bagi siapapun yang berseru kepadaNya. "Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan." (Roma 3:29). Dan jalan keselamatan itu hanya ada dalam Kristus. "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6). Pertanyaannya sekarang, bagaimana orang bisa menerima Tuhan jika mereka belum mengenalNya? Bagaimana orang bisa mengenal Kristus jika kita sebagai anak-anakNya tidak berperan apa-apa dalam menyatakan kebenaran? Bagaimana mereka bisa menerima jika kita bukannya menjadi contoh, tapi malah menjadi batu sandungan? Dalam Roma dikatakan demikian: "Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?" (Roma 10:14). Lewat kita sebagai hamba-hamba Tuhan, diposisi apapun, kita harus bisa menjadi penyampai terang Kristus, agar mereka bisa mengenal dan percaya. Dan itu tidaklah mungkin dilakukan jika kita punya tempramen kasar dan tidak sabaran. Inilah pentingnya memiliki sebuah sifat yang lemah lembut, sabar dan ramah, serta cakap dalam mengajar atau menyampaikan firman Tuhan.

Memang berbagai kesibukan sehari-hari bisa menyita waktu kita dan membuat kita lelah. Tapi ingatlah bahwa Tuhan Yesus berjanji akan selalu menyertai kita hingga akhir zaman dalam menjalankan amanatNya yang agung. "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20)." Kita juga telah dikaruniai Roh Kudus yang siap menolong, membimbing dan menyertai kita. "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu."(Yohanes 14:16-17) Kita tidaklah sendirian dalam melayani. Ada Tuhan bersama kita. Karenanya marilah kita melakukannya dengan penuh sukacita, dengan kesabaran, kelembutan dan kecakapan, karena siapa tahu, kesempatan Tuhan datang bagi orang yang kita layani untuk bertobat dan mengenal kebenaran!

Bawa terang Kristus kepada mereka yang belum percaya sehingga mereka beroleh keselamatan

Sunday, August 23, 2009

Jerat Iblis

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Efesus 4:27
====================
"dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis."

jerat iblis, dosaBeberapa waktu yang lalu saya melihat sebuah tayangan mengenai kehidupan nelayan tradisional di televisi. Menggunakan jaring yang berukuran cukup besar, mereka mendapatkan banyak ikan dan udang dalam satu kali tarik. Ikan-ikan yang tertangkap kelihatan dari jenis dan ukuran yang berbeda-beda. Satu hal yang sama, semua ikan dari jenis dan ukuran yang berbeda itu berada dalam satu jaring, sama-sama tertangkap. Ikan-ikan itu menggelepar-gelepar ingin lepas, namun tidak ada jalan lagi bagi mereka untuk kembali ke alam bebas, karena sebentar lagi mereka akan hadir di pasar-pasar atau supermarket. Adegan ini sebenarnya biasa saja, karena demikianlah kehidupan nelayan sehari-hari, tapi saya mendapatkan sesuatu yang penting dari adegan penangkapan ikan ini. Sadarkah kita betapa jerat iblis setiap hari mengintai dan mencoba menjaring kita? Sama seperti ikan-ikan ini, kita bisa setiap saat masuk ke dalam jerat iblis. Dan jika kita sudah terjerat, akan sulit bagi kita untuk melepaskan diri.

Iblis setiap saat mengaum-aum mencari mangsa yang dapat ditelannya (1 Petrus 5:8). Iblis akan selalu mengintai diri kita, mencari titik lemah untuk diserang. Sekali kita masuk ke dalam perangkapnya, iblis akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menjadikan kita propertinya, tawanannya. Dengan berbagai cara, tipu muslihat, godaan, lewat segala kebiasaan buruk kita, keinginan daging dan sebagainya, iblis siap menjebak kita. Mungkin kelihatan indah, enak dan menyenangkan pada mulanya. Namun dibalik itu semua, kita tengah dipancing untuk masuk ke dalam jeratnya. Ada banyak orang yang memberi toleransi pada dosa. "ah..sekali-kali tidak apa-apa", "cuma dosa kecil kok..", "sekali ini saja, lain kali tidak lagi.." dan sebagainya, seringkali dijadikan alasan sebagai pembenaran. Padahal di balik itu semua kita tidak sadar bahwa iblis sebenarnya tengah menarik kita masuk ke dalam jerat. Dosa yang kelihatan seolah-olah kecil dan sepele bisa menjadi awal dari serangkaian dosa yang akan terus membesar. Dosa berasal dari dosa juga, dan itu semua berasal dari perangkap iblis. Tanpa sadar, akhirnya kita terjebak, dan pada satu saat kita akan mendapati diri kita hidup berkubang dosa, terjerat dengan kuat dan sulit lepas.

Tuhan Yesus mengatakan "Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa." (Yohanes 8:34). Baik dosa yang dianggap kecil sekalipun akan menjadikan kita hamba-hamba dosa. Mungkin pada mulanya kita tergoda berawal dari keinginan-keinginan daging kita sendiri, sepele pada mulanya, namun akhirnya bisa berujung maut. "Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut." (Yakobus 1:14-15). Ini konsekuensinya tidaklah main-main. Maka dari itu, sejak awal kita harus mampu menjaga diri kita untuk waspada terhadap jerat iblis yang siap menelan kita kapan saja. Jangan memberi toleransi pada dosa. "Dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis." (Efesus 4:27).

Yesus telah menebus dosa-dosa kita dan membawa kita kepada keselamatan. Dia telah meyakinkan kita bahwa keselamatan turun atas kita sebagai kasih karunia Tuhan. Lewat Kristus kita semua dimerdekakan. "Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka." (Yohanes 8:36). Itu semua diberikan kepada kita ketika menerima Kristus sebagai Juru Selamat. Adalah penting bagi kita untuk senantiasa menjaga diri agar apa yang telah dianugerahkan Tuhan ini jangan sampai lepas lagi. Jangan sampai segala yang dilakukan Kristus menjadi sia-sia atas diri kita. Menggunakan perlengkapan senjata Allah bisa membuat kita mampu bertahan menghadapi tipu muslihat iblis. (Efesus 6:11). Selengkapnya mengenai perlengkapan senjata Allah ini bisa dibaca pada ayat 14-17. Kemudian kita pun harus bisa menaklukkan segala keinginan-keinginan daging kita agar tidak dibuahi menjadi dosa dan akhirnya berujung maut. "Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging." (Galatia 5:16). Ingatlah bahwa keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging, keduanya bertentangan, sehingga tidak dapat disatukan. (ay 17).

Dosa siap memperhambakan kita. Iblis siap menjerat kita setiap saat. Namun jika kita tetap dalam ketaatan pada Yesus, hidup sesuai dengan firman Tuhan, maka kita pun akan luput dari jerat iblis ini. Kita sudah dimerdekakan, kini saatnya kita menjaga agar kemerdekaan itu akan selalu ada bersama kita hingga akhir. Ingatlah bahwa sekali kita masuk ke dalam jerat, akan sulit bagi kita untuk kembali lepas. Karena itu jangan buka peluang, jangan beri kesempatan, jangan bertoleransi sedikitpun pada dosa, karena ada iblis dibalik itu yang siap menjerat kita. Bertobatlah dari dosa-dosa yang masih membelenggu diri anda. Tuhan siap mentahirkan anda dan memulihkan hidup anda saat ini juga. Selanjutnya mulailah dari sekarang untuk hidup kudus dan jangan berbuat dosa lagi.

Yesus melepaskan kita dari perbudakan dosa dan membawa kita ke dalam kemerdekaan

Saturday, August 22, 2009

Syukur Bukan Saya...

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Roma 12:15
=====================
"Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!"

syukur, empati, simpatiBeberapa waktu yang lalu ada kebakaran menimpa sebuah rumah tidak jauh dari rumah saya. Tidak saja membakar habis seluruh rumah hingga menjadi puing, namun musibah itu juga menghilangkan nyawa sang ibu. Berita mengenai kebakaran itu diberitahukan oleh seorang pemuda yang sedang dalam perjalanan menuju ke lokasi. Ia berkata, "syukurlah bukan rumah saya yang kena.." Saya sempat tertegun sejenak. Memang bukan rumahnya yang kena, tapi bagaimana kita bisa mensyukuri keuntungan sendiri di atas kesusahan orang lain? Tanpa sadar kita seringkali mengeluarkan kalimat yang secara tidak langsung mengarah kepada hal yang demikian. Ketika melihat seseorang kecopetan, kita mungkin berkata, "aduh syukur bukan saya yang kena..." Apalagi jika melihat musuh atau saingan jatuh. Kata-kata seperti "syukurin, rasakan.." atau yang kasar-kasar sering keluar dengan spontan.

Kita memang patut bersyukur atas penyertaan Tuhan atas diri kita, yang menghindarkan kita dari kejadian-kejadian buruk, namun kita harus menjaga agar jangan sampai kita mengabaikan orang lain yang tertimpa masalah. Jangan sampai mensyukuri keuntungan kita di atas kesusahan atau musibah yang menimpa orang lain. Bentuk kasih yang dianugerahkan Tuhan kepada kita bukanlah bentuk kasih yang hanya terfokus kepada diri sendiri saja, namun juga tertuju kepada sesama kita, lewat berbagai bentuk seperti simpati, empati, rasa sepenanggungan, kepedulian dan sebagainya. Alangkah keterlaluannya jika kita mengaku sebagai anak-anak Allah namun kita mengabaikan orang-orang lain yang tengah tertimpa musibah karena kita terlalu sibuk mensyukuri diri sendiri. Apa yang diajarkan firman Tuhan adalah begini: "Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!" (Roma 12:15).

Dalam perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai (Lukas 18:9-14) kita bisa melihat contoh yang mirip mengenai hal ini. Dalam perumpamaan ini Yesus menceritakan seorang Farisi dan pemungut cukai yang pergi ke Bait Allah untuk berdoa. Orang Farisi yang merasa paling suci karena menguasai benar hukum Taurat berdoa seperti ini: "Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;" (ay 11). Ia pun kemudian menyombongkan dirinya lebih lagi. "aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku." (ay 12). Tapi si pemungut cukai yang statusnya di masyarakat waktu itu sebagai orang berdosa yang tidak layak dikasihi bereaksi berbeda. "Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini." (ay 13). Dan mana yang dibenarkan Allah? Yesus menutup perumpamaannya dengan: "Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." (ay 14). Bentuk syukur orang Farisi ini adalah bentuk syukur di atas penderitaan orang lain, dan ini tidak benar di mata Tuhan. Bagaimana mungkin kita bisa bersyukur melihat orang-orang yang tertimpa masalah, termasuk masih terbelenggu dosa, ketika Yesus sendiri datang justru untuk menyelamatkan semua orang yang berdosa, termasuk kita di dalamnya?

Lihatlah bagaimana reaksi di Surga. Malaikat dikatakan bersukacita, bersorak sorai bukan ketika melihat mereka yang sesat binasa, namun justru ketika ada orang yang bertobat, bahkan satu orang sekalipun. "Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat." (Lukas 15:10). Kita sebagai anak-anak Allah pun seharusnya berprinsip sama. Ketika ada orang yang mengalami masalah, tertimpa musibah atau kejadian buruk, seharusnya kita memberikan simpati, berempati menolong mereka semampu kita, meringankan beban mereka dan jangan malah berpusat pada keuntungan diri sendiri dan bersyukur di atas penderitaan mereka. Turut sepenanggungan, menangis dengan orang yang menangis, dan mengulurkan tangan. Ini termasuk ketika orang-orang yang jahat kepada kita ditimpa kejadian buruk. Kristus mengajarkan kita untuk tidak membenci musuh, apalagi mendendam, tapi sebaliknya kita harus mengasihi dan berdoa bagi mereka. "Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5:44). Bukannya merasa senang dan bersyukur atas kemalangan seteru kita, tapi justru kita diperintahkan untuk menolong ketika mereka tertimpa masalah. "Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya." (Roma 12:20).

Sebagai pengikut Kristus, hendaklah kita hidup dalam kasih Kristus. Dan aspek-aspek kasih Kristus yang seharusnya memenuhi diri kita termasuk mengenai simpati, empati, turut sepenanggungan, kepedulian dan seterusnya. Kita harus mampu keluar dari kepentingan dan kesenangan diri sendiri lalu turut merasakan kesusahan orang lain. Senang melihat orang susah, atau sebaliknya susah melihat orang senang, itu bukanlah sikap anak-anak Tuhan. Ingatlah "Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Matius 7:2). Mengucap syukur atas hal-hal yang baik dalam diri kita itu benar, tapi jangan sampai karena terlalu sibuk mengucap syukur lalu kita lupa untuk menunjukkan rasa turut sepenanggungan kepada sesama kita yang tengah tertimpa masalah.

Jangan bergembira atas kemalangan yang menimpa orang lain

Friday, August 21, 2009

Romansa

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kidung Agung 1:15-16
===========================
"Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau, bagaikan merpati matamu. Lihatlah, tampan engkau, kekasihku, sungguh menarik; sungguh sejuk petiduran kita."

romansa, mengasihi istri, menghormati suami, romantis"Everyday you grow even lovelier, yes, you do, my darling, you do. I love you every day of your life, cause love looks so well on you." Ini penggalan sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Frank Sinatra, yang tadi malam tiba-tiba terngiang di telinga saya. Iseng-iseng saya memakainya sebagai status di sebuah situs jejearing. Ternyata dalam waktu singkat, ternyata status saya itu mendapat tanggapan dari banyak orang. Di antara mereka bahkan ada yang langsung mengatakan minta dicarikan orang yang mau mengatakan demikian secara khusus kepadanya. Kebutuhan akan dicintai adalah kebutuhan semua orang tanpa terkecuali. Dalam menghadapi sulitnya hidup dan berbagai kesibukan yang menyita waktu, tampaknya ada banyak orang yang tidak lagi memiliki cukup waktu untuk menyatakan cintanya secara romantis. Memang ada banyak bentuk yang bisa kita pergunakan untuk mengapresiasikan sebentuk cinta dan kasih kepada orang lain. Ada banyak orang yang menganggap bahwa cinta cukup ditujukan lewat perbuatan dan bukti nyata, tapi kelihatannya sebuah ungkapan perasaan, romansa lewat kata-kata indah pun menjadi kerinduan banyak orang. Gombal? Mungkin, jika tidak disertai bukti nyata. Namun bukti nyata tanpa disertai kata-kata yang membahagiakan hati dari orang yang kita cintaipun bisa membuat semua itu terasa kering.

Banyak rumah tangga yang cenderung lebih dipenuhi oleh kritik, adu argumentasi, saling menyalahkan dan sebagainya ketimbang mengisinya dengan kasih yang indah. Betapa mudah bagi kita untuk menegur dan mengkritik ketika ada yang tidak tepat, namun sulit bagi kita untuk memuji ketika mereka melakukan sesuatu yang baik. Banyak suami istri yang kemudian menjadi semakin dingin, menjalankan segala sesuatu sebagai rutinitas semata. Semua terasa biasa-biasa saja, semua terasa datar. Flat. Ada banyak yang menganggap waktu untuk mengucapkan cinta dan menyatakan kasih dalam serangkaian ucapan tulus dari hati tidak harus buru-buru dilakukan. Nanti saja, sekarang masih terlalu sibuk. Atau mungkin semuanya telah dingin sehingga kata-kata cinta menjadi sesuatu yang begitu berat untuk dikeluarkan. Padahal tidak ada seorangpun yang tahu berapa lama kita memiliki waktu untuk menyatakannya. Berapa lama lagi kita ada di dunia ini, hanya Tuhan yang tahu.

Begitu indahnya hubungan cinta yang tertuang sepanjang Kidung Agung. Kitab ini dipenuhi banyak pujian puitis antara sepasang kekasih. Saya menangkapnya sebagai pesan betapa pentingnya ungkapan kasih lewat rangkaian ungkapan yang diutarakan secara langsung lewat perkataan, tulus dari hati. Hal itu penting di mata Tuhan. Lihatlah ayat hari ini yang begitu puitis menggambarkan pernyataan cinta secara lisan. "Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau, bagaikan merpati matamu. Lihatlah, tampan engkau, kekasihku, sungguh menarik; sungguh sejuk petiduran kita." (Kidung Agung 1:15-16). Dalam versi BIS tertulis "Engkau cantik jelita, manisku, sungguh cantik engkau! Matamu bagaikan merpati. Engkau tampan, sayang, sungguh tampan engkau! Petiduran kita di rumput hijau." Cinta adalah bentuk anugerah Tuhan yang begitu indah. Nyala api cinta begitu membara, sehingga dikatakan air pun tidak mampu memadamkan api cinta. "Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya." (8:7) Jika cinta yang dianugerahkan Tuhan kepada kita begitu besar, seharusnya hal itu akan memenuhi hati kita, dan dari hati, ungkapan cinta kasih itu pun seharusnya keluar dari mulut. Jika yang lebih banyak keluar justru kemarahan, hinaan, sindiran dan pertengkaran, berarti ada yang masih harus dibenahi dari diri kita.

Sebuah pernikahan adalah hubungan yang langsung dimateraikan Tuhan. Dan dari hubungan dua orang yang menjadi satu, diharapkan lahir keturunan-keturunan Ilahi. (Maleakhi 2:14-15). Karenanya sebuah hubungan yang langsung dimateraikan Tuhan ini merupakan sebuah ikatan istimewa yang harus kita jaga dengan baik. Saling mengasihi, saling menyayangi, itu sudah seharusnya menjadi gaya hidup di dalam sebuah keluarga. Dalam Kolose dikatakan: "Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia." (Kolose 3:18-19). Bagi para suami pun diingatkan agar mengasihi istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diriNya baginya. (Efesus 5:25). Nanti dulu mengenai masalah memuji dan menyatakan cinta lewat kata-kata romantis. Jika yang keluar hanyalah kritik, omelan, emosi dan hinaan, itu sama sekali tidak mencerminkan apa-apa dari bentuk kasih Kristus kepada kita.

Menyatakan cinta lewat tindakan nyata itu tentu baik. Para pria bekerja dengan giat untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya. Istri mengurus rumah tangga dengan baik. Keduanya saling memenuhi kewajiban dasar, "Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya." (1 Korintus 7:3). Tapi alangkah indahnya jika hubungan yang dimateraikan langsung oleh Tuhan ini juga dijaga kehangatannya lewat kata-kata, ungkapan rasa cinta dan kasih yang penuh romansa. Ungkapan cinta, penghargaan dan pujian pun menjadi hal yang sangat penting. Jangankan manusia, Tuhan pun merindukan bentuk ucapan bibir yang penuh ucapan syukur untuk memuliakan namaNya. "Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya." (Ibrani 13:15). Lewat perbuatan langsung dan bukti nyata, itu baik. Namun alangkah lebih baik lagi jika disertai dengan ucapan cinta lewat perkataan. This will definately spice up your relationship. Ungkapan rasa cinta kasih, pujian dan penghargaan mampu memperkuat hubungan dan menjaga kehangatannya. Manusia akan tetap membutuhkan sebuah ungkapan rasa cinta lewat perkataan langsung dari mulut orang yang punya arti penting dalam hidup mereka. Sedikit banyak hal ini akan memberi rasa bahagia dan dikasihi. Kapan terakhir kali anda mengungkapkan rasa cinta anda kepada pasangan anda? Kapan terakhir kali anda memujinya? Jangan tunda lagi. Kita tidak tahu berapa lama lagi kita punya kesempatan untuk bersama pasangan kita. Mari, nyatakan hari ini kepadanya betapa kita mencintainya, dan bersyukurlah kepada Tuhan karena anda telah dianugrahi seorang pendamping yang sungguh luar biasa.

Katakan cinta anda hari ini kepada pasangan anda sebelum semuanya terlambat

Thursday, August 20, 2009

Andalkan Tuhan

webmaster | 8:00:00 AM | 3 Comments so far
Ayat bacaan: Yeremia 17:5-6
======================
"Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk."

andalkan Tuhan, jangan mengandalkan manusia, jangan mengandalkan kekuatan sendiriDalam perjalanan hidup saya sebelum bertobat, saya mengalami banyak hal dimana saya mengandalkan kekuatan manusia. Mengandalkan kemampuan sendiri, dan memakai jalur-jalur lainnya untuk menggapai sukses. Yang pasti bukan Tuhan, karena pada waktu itu saya tidak mengenal Tuhan. Pekerjaan, jodoh, hidup, semuanya dengan mengandalkan manusia dan harta, bahkan terkadang kegelapan pun ikut berperan di dalamnya. Saya bisa mencapai kesuksesan, namun kemudian semuanya ludes, hilang musnah. Meskipun pada waktu jaya itu saya hidup makmur, namun hidup saya "kering" rasanya. Tidak ada rasa sukacita seperti yang saya rasakan saat ini. Saya tidak peduli teman, yang penting menguntungkan. Jika dibandingkan dengan sekarang, pendapatan saya tidak sebanding dengan saat itu, namun saat ini damai sukacita memenuhi hati saya setiap saat. Saya selalu dicukupkan, saya selalu merasakan kehadiran Tuhan dalam keluarga, pekerjaan dan pelayanan. Dalam keadaan sulit sekalipun, berkali-kali Tuhan sudah membuktikan kuasaNya yang ajaib turun atas saya dan keluarga. Ini semua hadir ketika saya merubah pola hidup saya 180 derajat, bukan lagi mengandalkan manusia, melainkan mengandalkan Tuhan, percaya dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan, dan hanya pada Tuhan. Seorang istri yang luar biasa pun Dia sediakan, betapa saya merasakan kebahagiaan sebenarnya lewat segala sesuatu yang Tuhan sediakan bagi hidup saya hari ini.

Yeremia dengan tegas mengingatkan kita untuk mengandalkan Tuhan dengan segenap diri kita. Bukan mengandalkan manusia lain, bukan mengandalkan kekuatan sendiri. Dengan mengandalkan sesuatu yang bukan Tuhan, itu artinya kita menduakan Tuhan, dan tidak ada tempat bagi orang yang menomor duakan Tuhan, yang telah menciptakan kita seturut rupaNya dan yang memiliki rencana luar biasa bagi hidup kita. Tidak main-main, Tuhan mengutuk orang-orang yang seperti ini. "Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk." (Yeremia 5-6). Sebaliknya, Tuhan memberkati orang-orang yang berpengharapan kepadaNya. "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah." (ay 7-8). Seperti pohon yang tumbuh di tepi air, pohon yang akan terus mendapatkan cukup air, tidak akan pernah kekeringan dan layu, malah akan terus berbuah. Ini janji Tuhan yang luar biasa bagi orang-orang yang terus mengandalkan Tuhan dan menaruh harapan senantiasa ke dalam keputusanNya. Saya mengalami sendiri apa yang mungkin terjadi ketika mengandalkan Tuhan di atas segalanya. Berbagai mukjizat, perlindungan, kedamaian penuh sukacita, penyertaanNya, sungguh membuat hidup ini bisa terasa jauh lebih indah.

Mungkin pekerjaan Tuhan tidak instan, namun pertolonganNya akan selalu hadir tepat waktu. Semua itu, baik cepat atau lambat, jika kita serahkan sesuai kehendakNya bertujuan untuk kebaikan kita. Dia tahu apa yang terbaik bagi kita, lebih dari apa yang terbaik menurut kita. Kita harus mengakui bahwa kita tidaklah mampu untuk menentukan jalan kita sendiri. Kita butuh penyertaan Tuhan, karena hari-hari yang kita lalui tidaklah mudah. Yeremia menyadari itu "Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya." (Yeremia 10:23). Tuhan lebih mengenal kita lebih dari siapapun. Tuhan selalu siap melindungi orang-orang yang setia kepadaNya. "Langkah kaki orang-orang yang dikasihi-Nya dilindungi-Nya, tetapi orang-orang fasik akan mati binasa dalam kegelapan, sebab bukan oleh karena kekuatannya sendiri seseorang berkuasa." (1 Samuel 2:9). Maka sudah selayaknya kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Hiduplah dengan tuntunan Roh Kudus, berpeganglah selalu dengan erat.

Ketika kita menjadi orang-orang setia yang selalu mengandalkan Tuhan dan bukan manusia atau kekuatan diri sendiri, Tuhan tidak akan sabar untuk mencurahkan kasih dan pertolonganNya kepada orang-orang yang selalu rindu padaNya. "Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!" (Yesaya 30-18). Lihatlah, Tuhan menanti-nantikan untuk menunjukkan betapa Dia mengasihi kita. Ketika hal ini berlaku, Dia akan mendengar dan menjawab segala teriakan dan tangisan kita. (ay 19). Apakah saat ini ada di antara teman-teman yang sedang dalam bergumul dengan masalah? Apapun itu, andalkanlah Tuhan. Dia sanggup mengangkat anda keluar dari masalah itu. Hubungan kita dengan Tuhan telah dipulihkan oleh penyelamatan Kristus. Datanglah pada Tuhan, hampirilah tahtaNya, dan berserulah. Pada waktunya, Tuhan akan mengangkat anda. "Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya." (Ibrani 4:16). Tuhan tengah menanti-nanti kedatangan orang-orang yang percaya dan menggantungkan harapannya tanpa putus kepadaNya. Andalkanlah Tuhan, bukan yang lain. Tuhan pasti menjawab dan memberikan jalan keluar terbaik.

Tuhan rindu untuk mencurahkan kasih dan pertolonganNya kepada orang yang selalu haus akan Tuhan

Wednesday, August 19, 2009

Impossible is Nothing

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Samuel 17:26b
=========================
"Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?"

impossible is nothingBelum lama ini Adidas meluncurkan kampanye terbaru mereka yang memfokuskan pada kisah-kisah perjuangan pemain bola mengatasi segala keterbatasan mereka dan mencapai sukses dari kemustahilan. Kampanye itu bertema "Impossible is Nothing". Salah satu kisah yang diangkat adalah mengenai Lionel Messi. Messi terbilang pendek untuk menjadi seorang pemain sepakbola. Ia memiliki kelainan hormon yang membuatnya tidak bisa tumbuh normal. Messi menggambarkan dirinya bagaikan liliput di tengah raksasa seperti gambar di sebelah kiri. Secara logika, Messi tidak mungkin bisa sukses sebagai seorang pemain sepak bola. Tapi Messi terus berjuang, dia belajar mengolah bola di atas rumput. Sebagai orang yang lebih pendek dari rata-rata, ia punya gerakan yang lebih lincah dan liat. Kini Messi dikenal sebagai seorang pemain sepak bola paling top di dunia dengan gocekan maut. Gerakannya meliuk-liuk sulit dihentikan oleh pemain lawan. "Now I realize, sometimes bad things can turn out good. Impossible is nothing", demikian Messi mengakhiri kisahnya.

Ada banyak orang yang terus menerus menyesali keterbatasan mereka. Mereka menganggap bahwa keterbatasan dan kelemahan mereka adalah takdir dari Tuhan yang membuat mereka tidak akan pernah bisa sukses. "Saya tidak seberuntung mereka.. saya tidak bisa apa-apa.." Apa benar Tuhan berlaku tidak adil, di satu sisi memberikan seseorang banyak keistimewaan namun di sisi lain memberikan yang lain sesuatu yang tidak sempurna? Tidak. Kalau bicara takdir, Tuhan mentakdirkan semua manusia untuk berhasil dalam hidupnya. Bentuk talenta yang diberikan Tuhan berbeda-beda kepada setiap orang. Memiliki keterbatasan bukanlah akhir dari segala-galanya, melainkan awal dari sebuah kuasa Tuhan dinyatakan di dalamnya. Literally, to God, impossible is nothing.

Ketika Daud masih bocah kemerah-merahan, ia dihadapkan pada situasi berat yang bisa membuat hidupnya berakhir tragis. Daud terbakar ketika mendengar intimidasi Goliat, Pendekar Filistin dari Gat yang posturnya tinggi besar bak raksasa. Goliat menganggap dirinya begitu hebat. Melihat bangsa yang tubuhnya kecil-kecil, ia pun sombong dan menganggap remeh mereka. Mendengar itu, Daud merasa kesal dan berkata: "Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?" (1 Samuel 17:26b). Iman Daud sudah begitu hebat sejak masa kecilnya. Ia pun bertekad untuk menghadapi Goliat, pendekar Filistin. Jika kita baca baik-baik, ayat di atas bukanlah menggambarkan kesombongan, namun karena ia yakin akan kuasa Tuhan. Ia yakin bahwa ketika Tuhan ada bersamanya, maka segala sesuatu tidaklah ada yang mustahil. Kita tahu bagaimana kelanjutannya. Daud sukses mengalahkan Goliat, mengatasi segala kemustahilan, bukan karena kehebatannya, melainkan karena ada Allah yang hidup bersamanya.

Allah yang bersama kita, Allah Abraham, Ishak dan Yakub bukanlah Allah yang mati, melainkan Allah yang hidup dan Allah dari orang-orang hidup. Yesus mengatakan demikian: "...tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah, ketika Ia bersabda: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup." (Matius 22:31-32). Ada Allah yang hidup bersama orang hidup, itu membuat segalanya menjadi mungkin. Firman Tuhan berkata bahwa "tidak ada yang mustahil bagi orang percaya!" (Matius 9:23). Kepada Yeremia, Tuhan juga berkata hal yang sama. "Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku?"(Yeremia 32:27).

Sepanjang Alkitab kita berulang-ulang menyaksikan bagaimana kuasa Allah turun atas manusia dari berbagai latar belakang dengan kelemahan dan keterbatasan masing-masing, termasuk kisah Daud dan Goliat di atas. Ada begitu banyak catatan mengenai bagaimana Tuhan bekerja membuktikan kuasaNya yang tak terbatas. Kata "Impossible is nothing" menjadi begitu nyata lewat tangan Tuhan. Ayub pun mengakui hal ini dan berkata "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal." (Ayub 42:2). Ya, tidak ada satupun hal yang mustahil bagi Tuhan. Dan ketika kita yang hidup memiliki Tuhan yang hidup, tidak ada satupun hal yang mustahil bagi kita, orang percaya.

Ketika anda merasakan adanya keterbatasan dan kelemahan dalam diri anda, ingatlah bahwa justru kuasa Tuhan menjadi sempurna di dalamnya. (2 Korintus 12:9). Ada begitu banyak bukti sepanjang isi Alkitab. Dan semua itu ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, agar kita tidak putus pengharapan, agar kita mampu terus tekun meski kita terbatas dan lemah. "Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci." (Roma 15:4). Jika Tuhan mampu menyatakan kuasaNya mengatasi kemustahilan dari sudut pandang manusia berkali-kali di waktu lalu, hari ini pun Tuhan sanggup! Tidak ada manusia yang sempurna. Tetaplah bersyukur dan mari buktikan bahwa di dalam kelemahan kita kuasa Tuhan justru menjadi sempurna.

Impossible is nothing, nothing is impossible

Tuesday, August 18, 2009

Kelemahan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Korintus 2:3
======================
"Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar."

kelemahan, kuasa Tuhan sempurnaHari ini ketika menunggu jadwal mengajar selanjutnya, saya iseng membuka-buka skripsi beberapa siswa yang baru saja dikumpulkan ke bagian tata usaha. Sepertinya seragam, di setiap kata pengantar selalu saja ada bagian yang kira-kira berbunyi: "Penulis menyadari masih banyak kekurangan... untuk itu penulis mengharapkan masukan, kritik, saran yang bersifat membangun dan sebagainya". Sebagian besar siswa mungkin memasukkannya karena itu merupakan pakem/pola umum penulisan laporan ilmiah, namun di balik itu, saya melihat sebuah pengakuan bahwa di atas bumi ini tidak ada satupun manusia yang sempurna 100% dalam segala hal. Rasanya tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang benar-benar sempurna baik secara fisik, mental, intelektual atau kerohanian. Kita manusia yang punya banyak kelemahan dalam berbagai hal. Kita bisa berusaha untuk lebih baik lagi, untuk lebih sempurna lagi, namun mencapai 100% sempurna dalam segalanya? Tentu sangat sulit, karena kita punya banyak keterbatasan kemampuan dalam segala sesuatu. Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana kita memandang kelemahan kita. Apakah kita akan tenggelam mengasihani diri kita terus menerus akibat kelemahan-kelemahan itu, apakah kita memilih untuk menonjolkan kelemahan untuk mencari simpati dan empati sesama, atau kita bisa memandang bahwa kita tetap bisa berhasil dalam segala keterbatasan dan kelemahan kita, karena punya Tuhan yang jauh lebih besar dari apapun? Mampukah kita melihat kelemahan kita menjadi tempat dimana Tuhan menyatakan kuasaNya? Percayakah kita akan hal itu?

Nyatanya ada banyak orang yang berkubang di dalam kelemahannya. Apakah itu kelemahan secara fisik (cacat, lemah, sakit dan sebagainya), secara mental (trauma, emosi tidak stabil, kesedihan, kepahitan dan sebagainya), secara intelektual atau kecerdasan, sulit konsentrasi, sulit mengingat, sulit memahami dan sebagainya, semua seringkali menjadi penghalang bagi kita untuk melangkah maju. Bagaikan batu besar yang diikatkan ke kaki kita, hal itu membuat kita jalan di tempat, bahkan mungkin membuat kita menyerah. Ada pula orang yang menutupi kelemahannya rapat-rapat dan lebih menonjolkan sisi kelebihannya. Salah seorang sepupu saya dahulu punya rasa takut berlebihan jika bertemu dengan orang yang tidak ia kenal. Maka ia mengkompensasikan rasa takutnya dengan makan sebanyak-banyaknya dan berlatih karate, sehingga sosoknya menjadi besar dan menakutkan. Dengan sosok seperti itu, ia bisa merasa aman dari orang-orang yang mungkin mendekatinya. Tapi sebaliknya, ada pula orang-orang yang tetap mencapai sukses lewat kelemahannya. Mereka bahkan bisa menjadi sukses lebih dari orang lain yang lebih lengkap. Ada banyak penyanyi yang tuna netra. Stevie Wonder, Dianne Schuur, Ray Charles dan sebagainya. Django Reinhardt, seorang gitaris jazz legendaris ternyata bisa mencapai status maestro meski dua jarinya tidak bisa berfungsi. Ada pianis dari Korea yang mampu menampilkan permainan luar biasa meski total jumlah jari dari kedua tangannya hanyalah 4! Ada orang yang hanya memiliki sepasang kaki, namun kaki itu bisa dipergunakan untuk melukis lebih indah dari yang memiliki tangan lengkap. Begitu banyak contoh lain mengenai hal ini.

Mengakui kelemahan bukanlah hal yang memalukan. Paulus kepada jemaat Korintus dengan jujur mengakui bahwa sebagai manusia dia terbatas. "Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar." (1 Korintus 2:3). Sebelumnya ia menyatakan pula keterbatasannya dalam merangkai kata-kata agar terlihat indah dan puitis. "Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu." (ay 1). Tapi Paulus datang hanya fokus kepada Yesus yang telah mati disalibkan demi menyelamatkan umat manusia, termasuk diantaranya Paulus dan teman-teman sepelayanan dan jemaat Korintus. Dasar pelayanan Paulus bukanlah untuk menonjolkan kehebatannya, namun semata-mata hanya karena ia mengasihi Kristus dan sangat bersyukur atas pengorbanan Kristus yang rela mati bagi dosa-dosanya, dosa-dosa orang yang ia layani, dan dosa-dosa kita saat ini. Dia sadar betul bahwa dirinya tidaklah berarti apa-apa tanpa Tuhan.

Dalam kesempatan lain, Paulus menyampaikan demikian: "Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku." (2 Korintus 12:9). Orang yang tidak mengakui kelemahan akan cenderung menjadi sosok yang meninggikan dirinya. Itu termasuk Paulus pula. Ia menyadari adanya kecenderungan itu dalam ayat sebelumnya. Sebagai manusia ia punya banyak kelemahan, namun kasih karunia Tuhan itu sesungguhnya cukup baginya, karena justru dibalik kelemahan itulah Tuhan secara sempurna menyatakan kuasaNya. Karena itu jangan malu untuk mengakui kekurangan kita, sebaliknya jangan pula sombong dan bermegah atas apa yang kita mampu. Hendaklah di atas segalanya, kita bermegah di dalam Tuhan, bukan di dalam diri sendiri. "Karena itu seperti ada tertulis: "Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan." (1 Korintus 1:31).

Tuhan siap pakai siapa saja. Bahkan yang bagi dunia dipandang bodoh, lemah, hina dan tidak berarti sekalipun, bisa dipilih Tuhan. (ay 27-28). Ada begitu banyak contoh bahwa orang-orang yang tadinya tidak ada apa-apanya ternyata bisa dipakai Tuhan secara luar biasa.Janganlah kehilangan semangat jika anda merasa punya kelemahan di bidang-bidang tertentu. Jangan putus asa. Jangan tenggelam dalam kesedihan. Sekarang saatnya untuk bangkit. Percayalah bahwa Tuhan siap menunjukkan kuasaNya yang sempurna di atas segala kelemahan kita! Tidak satupun manusia di bumi ini yang diciptakan sia-sia, asal-asalan atau sengaja dibuat menderita. Tuhan punya rencana indah bagi siapapun kita. Jadi, tetaplah bersyukur dan mari buktikan bahwa kuasa Tuhan sanggup mengubah segalanya, bahkan di dalam kelemahan yang paling lemah sekalipun!

Kuasa Tuhan justru sempurna di dalam kelemahan kita 

Monday, August 17, 2009

Doa Bagi Bangsa

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Daniel 9:16
====================
"Ya Tuhan, sesuai dengan belas kasihan-Mu, biarlah kiranya murka dan amarah-Mu berlalu dari Yerusalem, kota-Mu, gunung-Mu yang kudus; sebab oleh karena dosa kami dan oleh karena kesalahan nenek moyang kami maka Yerusalem dan umat-Mu telah menjadi cela bagi semua orang yang di sekeliling kami."

doa bagi bangsa, dirgahayu republik indonesiaBerat benar beban yang harus ditanggung bangsa ini. Setiap kali kita hendak pulih, sepertinya ada saja bencana yang kembali memporakporandakan kita. Secara de facto kita sudah merdeka selama 64 tahun, tapi dalam kenyataan kita masih sulit untuk bisa merasakan kemerdekaan secara penuh dalam berbagai aspek kehidupan kita. Baru-baru ini kita kembali mengalami kejadian menyesakkan dengan tragedi bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton. Sebenarnya apa yang bisa diperbuat oleh anak-anak Tuhan? Sebenarnya ada banyak yang bisa kita lakukan bagi negara dan bangsa. Tapi sayangnya ada banyak di antara anak-anak Tuhan yang cenderung apatis, hanya mementingkan diri sendiri dan tidak mau terlibat dalam mensejahterakan negara dan bangsanya. "ah, saya bukan politisi... itu bukan urusan saya.." kata seseorang pada suatu ketika. Memang kita mungkin bukan politisi, tapi sesungguhnya berjuang demi bangsa tidak hanya tugas politisi. Adalah kewajiban seluruh warga negara, tanpa terkecuali untuk berbuat yang terbaik bagi bangsanya. Di samping perbuatan-perbuatan nyata seperti membantu yang susah, turut menciptakan perdamaian minimal di sekeliling kita, seperti apa yang diajarkan Tuhan yaitu menjadi terang dan garam, kita bisa pula berperan penting lewat doa-doa yang kita panjatkan demi bangsa dan negara kita.

Mari kita kembali untuk melihat apa yang pernah dilakukan Daniel sekian ribu tahun yang lampau. Pada saat itu Daniel menyadari betapa porakporandanya bangsanya. Apa yang dilakukan Daniel? Hanya apatis saja? Itu bisa saja dia lakukan, mengingat dia bukanlah termasuk salah satu dari orang yang berbuat kejahatan di mata Tuhan. Tapi lihatlah bahwa Daniel mengambil waktu untuk berdoa bukan difokuskan untuk dirinya sendiri tetapi untuk bangsanya. Bacalah seluruh isi doa Daniel yang tertulis dalam Daniel 9:1-19. Sungguh menarik melihat bahwa Daniel menggunakan kata "kami" dan bukan "mereka". Daniel memiliki sebuah kerendahan hati untuk tidak bermegah diri meski dia sendiri sudah mengaplikasikan hidup benar dan akrab dengan Tuhan sejak semula. Daniel mengasihi bangsanya. Ia peduli. Ia tahu bahwa ia merupakan bagian dari bangsanya. Jika bangsanya menderita, ia pun akan turut menderita. Sebaliknya jika bangsanya makmur dan sejahtera, maka ia pun akan menjadi bagian yang bisa menikmati itu. Daniel mengerti bahwa meski ia tidak berbuat satupun kesalahan, tapi biar bagaimanapun ia tetap merupakan bagian yang terintegrasi dengan bangsa yang saat itu tengah memberontak, tengah berperilaku fasik, bangsa yang bergelimang perilaku menyimpang dan dosa. Selain itu, Daniel sadar betul bahwa jika bukan dia, siapa lagi yang harus berdoa agar malapetaka dan murka Tuhan dijauhkan dari bangsanya? Maka lihatlah bagaimana Daniel berdoa. "Ya Tuhan, sesuai dengan belas kasihan-Mu, biarlah kiranya murka dan amarah-Mu berlalu dari Yerusalem, kota-Mu, gunung-Mu yang kudus; sebab oleh karena dosa kami dan oleh karena kesalahan nenek moyang kami maka Yerusalem dan umat-Mu telah menjadi cela bagi semua orang yang di sekeliling kami." (Daniel 9:16). Kemudian, "Oleh sebab itu, dengarkanlah, ya Allah kami, doa hamba-Mu ini dan permohonannya, dan sinarilah tempat kudus-Mu yang telah musnah ini dengan wajah-Mu, demi Tuhan sendiri. Ya Allahku, arahkanlah telinga-Mu dan dengarlah, bukalah mata-Mu dan lihatlah kebinasaan kami dan kota yang disebut dengan nama-Mu, sebab kami menyampaikan doa permohonan kami ke hadapan-Mu bukan berdasarkan jasa-jasa kami, tetapi berdasarkan kasih sayang-Mu yang berlimpah-limpah. Ya Tuhan, dengarlah! Ya, Tuhan, ampunilah! Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah dengan tidak bertangguh, oleh karena Engkau sendiri, Allahku, sebab kota-Mu dan umat-Mu disebut dengan nama-Mu!" (ay 17-19). Indah dan mengharukan bukan?

Seperti Daniel, kita sebagai anak-anak Tuhan pun seharusnya bisa melihat dari sisi yang sama. Jika bukan kita, siapa lagi yang bisa berdoa agar Tuhan menjauhkan segala malapetaka dari negara kita, agar Tuhan berkenan memberkati bangsa dan negara kita ini. Mari kita lihat sejenak bagaimana Abraham melakukan "tawar menawar" dengan Tuhan ketika ia memohon agar kiranya Sodom jangan sampai dimusnahkan. Abraham mengatakan "Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?" (Kejadian 18:25). Dan apa kata Tuhan? "TUHAN berfirman: "Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka." (ay 26). Ternyata tidak ada 50 orang pun yang benar disana. Tawar menawar terus terjadi, hingga "Katanya: "Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?" Firman-Nya: "Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu." (ay 32). Bayangkan 10 orang benar saja pun sudah tidak ada. Padahal jika ada 10 orang saja, 10 orang benar, orang peduli dan tidak apatis, orang yang taat dan takut akan Tuhan, Tuhan akan mengampuni orang-orang yang tinggal di Sodom.

The same thing happen to us. Sudahkah kita menjadi anak-anak Tuhan yang tidak egois, tidak apatis dan peduli dengan kemakmuran serta kemajuan bangsa kita? Sudahkah kita ambil bagian sesuai porsi kita, setidaknya berdoa syafaat bagi bangsa kita? Sebagai anak bangsa, sudah selayaknya kita peduli dan turut mendoakan bangsa dan negara kita. Dalam surat untuk Timotius, Paulus mengatakan demikian: "Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan." (1 Timotius 2:1-2). Mengapa demikian? "Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran." (ay 3-4). Tuhan tidak ingin satupun dari kita untuk binasa, Dia tidak pernah bersenang hati melihat kehancuran sebuah negara dan bangsa, karena Dia adalah Bapa yang penuh kasih. Keselamatan sudah dianugerahkan lewat Kristus untuk semua bangsa, semua golongan, semua ras, tanpa terkecuali. Tapi bagi yang sudah selamat, sudahkah kita meluangkan waktu untuk mendoakan bangsa kita sendiri? Kuasa doa itu sesungguhnya amat besar, apalagi jika dilakukan oleh orang yang benar. "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." (Yakobus 5:16b).

Karena itu jadilah warganegara yang baik. Hormati dan tunduklah pada pemimpin kita, jangan hanya mengeluh dan membuat segalanya semakin sulit. "Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu." (Ibrani 13:17). Dan Petrus pun mengingatkan hal yang sama, untuk tunduk kepada pemerintah demi nama Allah. "Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi.." (1 Petrus 2:13). Hal itu akan sangat membantu jika kita anak-anak Tuhan bersepakat untuk melakukan apa yang difirmankan Tuhan untuk kita lakukan. Dan tentu saja, berdoalah bagi bangsa. Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang termasuk bagi pemimpin-pemimpin kita dan juga untuk bangsa dan negara kita. Sedalam apa kita mencintai negeri ini? Betul, kondisi negeri ini masih jauh dari kondisi ideal. Masih begitu banyak yang harus dibenahi. Untuk itulah kita harus berperan serta, baik lewat perbuatan nyata maupun memanjatkan doa-doa syafaat bagi bangsa ini. Jadilah orang percaya seperti Daniel yang peduli. Ingatlah bahwa kita diselamatkan untuk menjadi berkat buat orang lain, untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik yang bisa menyelamatkan orang lain, (Efesus 2:10) dan ini termasuk bangsa dan negara kita. Seperti Daniel, mari hari ini kita mengambil waktu khusus untuk mendoakan negeri kita dengan sungguh-sungguh. Kita mohon ampun atas pelanggaran dan kejahatan yang dilakukan sebagian dari elemen bangsa ini. Dirgahayu Republik Indonesia. We pray for you, we love you!

Jadilah orang percaya yang peduli terhadap bangsa dan negara

Sunday, August 16, 2009

Tuhan yang Melengkapi

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Efesus 4:11-12
=======================
"Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus"

Tuhan melengkapiBeberapa bulan yang lalu saya meliput sebuah pentas event jazz yang diadakan sebuah kampus besar. Selain saya sendiri bertindak sebagai reporter, saya membawa seorang dua anggota lain untuk meliput. Satu fotografer dan satu reporter tambahan. Sebelum dan ketika event berlangsung, saya menginstruksikan kedua teman saya mengenai segala sesuatu. Bagi si fotografer, saya memberitahukan Apa yang harus ia foto, angle seperti apa yang saya inginkan, siapa yang harus ia fokuskan dan sebagainya. Bagi reporter tambahan, saya memberitahukan info apa yang harus ia peroleh dan sebagainya. Maka mereka pun bisa melakukan tugasnya dengan mudah. Di sana saya bertemu dengan seorang teman yang menjadi reporter pada media lain. Ternyata ia hadir disana hanya disuruh tanpa diinstruksikan apa-apa. Sepanjang acara ia kebingungan karena tidak tahu harus berbuat apa. Tidak tahu sedikitpun mengenai siapa yang tampil, tidak tahu harus bertanya kemana. Alangkah sulitnya melakukan sesuatu seperti yang diperintahkan tanpa adanya kordinasi dan instruksi jelas dari yang menyuruh.

Tuhan pun selalu menyuruh kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besarNya di bumi ini. "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." (Efesus 2:10). Seringkali kita merasa tidak mampu, tidak sanggup dan berbagai ragam alasan lainnya. Tapi sesungguhnya kita lupa bahwa ketika Allah menyuruh kita, Dia sebenarnya sudah melengkapi kita dengan segala sesuatu dan akan terus melengkapi kita lebih lagi! Bahkan ada Roh Kudus yang akan selalu membantu dalam pelaksanaannya, sehingga sebenarnya bukan kehebatan dan kemampuan kita yang utama, namun kemauan dan kesungguhan kitalah yang diinginkan Tuhan. Karena sesungguhnya Tuhan sendirilah yang bekerja melalui kita, dan untuk itu kita semua telah Dia perlengkapi dengan baik.

Musa pernah mengalami keraguan ini ketika ia pertama kali diutus Tuhan. Saat Tuhan memilih untuk mengutusnya, Musa berulangkali menolak karena merasa tidak mampu. Musa terus berbantah terhadap perintah Tuhan, semua itu bisa kita baca dalam Keluaran 2:23 hingga Keluaran 4:17. Musa merasa tidak mampu, punya banyak kelemahan, tidak mampu berbicara dengan baik dan terus diliputi keraguan bagaimana bangsa Israel yang besar itu mau mempercayainya. Musa lupa bahwa ketika Tuhan menyuruh, Dia sudah melengkapi segalanya, dan akan terus menuntun hingga pekerjaan yang dilakukan akan bisa berhasil. Tuhan terus meyakinkan Musa bahwa Dia sendiri akan menyertai dan melengkapi Musa dengan segala sesuatu yang diperlukan. Kita tahu bahwa akhirnya terbukti Musa sanggup memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir.

Seringkali kita merasa tidak mampu atau belum sanggup melakukan pekerjaan Tuhan. Tidak sekolah Alkitab, masih terlalu muda, punya banyak kesibukan, belum siap, belum terpanggil dan sebagainya. Padahal ketika Tuhan memberikan panggilanNya, Dia selalu melengkapi kita dengan apapun yang kita butuhkan. Kita bisa melihat hal ini dalam kitab Efesus. "Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus" (Efesus 4:11-12). Selain Paulus, Petrus pun mengingatkan hal yang sama. "Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya." (1 Petrus 5:10).Allah akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kita semua ketika kita taat untuk melakukan tugasnya. Saya sendiri telah membuktikan hal ini secara nyata selama aktif menulis renungan setiap hari. Tuhan mau pakai saya yang tidak ada apa-apanya, Dia senantiasa memperlengkapi saya dengan luar biasa selama hampir dua tahun, sehingga saya tahu apa yang harus saya tuliskan meski latar belakang saya sama sekali bukan Pendeta atau pernah sekolah Alkitab.

Kapanpun Tuhan memberi tugas, kita akan selalu diperlengkapi agar mampu menyelesaikannya. Ada berbagai karunia rohani atau kemampuan khusus bagi masing-masing orang yang percaya kepadaNya dan mau melakukan pelayanan demi kemuliaanNya. Semua dengan jelas telah difirmankan Tuhan melalui Paulus. "Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan." (1 Korintus 12:4-5). Rinciannya adalah sebagai berikut: "Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu." (ay 8-10). Dan Paulus menutupnya dengan kembali mengingatkan bahwa semua itu dikerjakan oleh Roh yang satu dan sama. Satu Roh, satu Tuhan, dan karunia-karunia itu diberikan sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan. (ay 11). Jika diantara teman-teman ada yang masih mengelak walaupun sudah mendapat panggilan dari Tuhan untuk melayani, jangan ragu dan mulailah segera. Gereja dimana anda tumbuh tetap membutuhkan pengerja-pengerja untuk melakukan pekerjaan Tuhan di dunia ini, lebih dari itu, lewat apapun anda tetap bisa melayani Tuhan, baik dalam pekerjaan, pendidikan dan sebagainya. Tidak perlu takut tidak mampu, karena Tuhan adalah Allah yang akan selalu melengkapi.

Manusia terbatas, tapi Tuhan mampu lengkapi untuk melakukan pekerjaanNya

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker