Monday, May 21, 2018

Prioritas Maria dan Marta

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 10:39
=====================
"Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya"

Waktu kecil saya dan adik saya dipandang orang punya banyak sifat yang bertolak belakang. Saya lebih kalem, dia tipe yang tidak bisa diam. Saya suka mendengar, dia senang didengar. Soal suka mendengar, saya belakangan merasa sangat bersyukur. Karena memang suka mendengar, saya banyak meluangkan waktu untuk mendengar apa yang dikatakan ayah dan ibu saya. Mereka begitu banyak memberi wejangan, nasihat mengenai berbagai hal yang sampai saat ini ternyata sangat berguna dalam hidup. Dari ayah saya, saya belajar banyak hal diantaranya setia dalam bekerja, jujur, supel dalam pergaulan, tenang dalam menghadapi masalah, hidup tidak mendahulukan materi melainkan ikhlas menolong orang. Dari ibu saya mendapat banyak pelajaran mengenai cara bersikap gentleman terhadap wanita seperti membukakan pintu dan menyilahkan mereka masuk duluan, tidak berjalan di depan wanita apalagi terhadap istri atau pacar, harus menjadi yang mengangkat plastik belanjaan kalau keluar dengan wanita, tidak boleh membentak, bersuara keras apalagi memaki dan memukul. Yang paling ekstrim yang masih sangat saya ingat kata-katanya adalah, "kalau ada lumpur di jalan, kamu harus siap membuka baju untuk menutupi lumpur supaya istri kamu nanti tidak harus kotor kakinya." Pada kenyataannya saya belum pernah harus melakukan itu sampai hari ini, tapi dari beliau saya belajar banyak mengenai bagaimana bersikap terhadap wanita. Disamping itu, ibu sayalah yang mengajarkan berhitung, bahasa Inggris dan sejarah, yang selalu ia ajarkan lewat cara menyenangkan seperti bercerita, pakai alat peraga dan sambil bermain. Waktu kecil saya tidak tahu betapa pentingnya hal itu. Saya hanya melakukan apa yang menyenangkan bagi saya. Ternyata hobi mendengar itu membuat saya tidak kehilangan bagian terbaik dari kedua orang tua saya, yang sangat membantu dan berguna sampai hari ini dan tentunya sepanjang sisa hidup saya.

Selain punya orang tua di dunia, kita juga punya Bapa surgawi. Pernahkah anda berpikir apa yang bisa anda lakukan untuk menyenangkanNya? Banyak yang ingin kasih karuniaNya, ingin berkatNya, ingin pertolonganNya, karenanya merasa perlu membuat Tuhan merasa senang karena mengharapkan sesuatu. Mereka berusaha melakukan ini dan itu, melayani sebanyak atau sesibuk mungkin agar Tuhan senang lalu memakmurkan mereka.

Masih banyak orang yang keliru menganggap bahwa keselamatan itu akan datang lewat perbuatan-perbuatan baik. Mereka mengira bahwa semakin banyak melayani kesempatan selamat lebih besar. Padahal Alkitab sudah menyatakan bahwa keselamatan merupakan kasih karunia yang diberikan cuma-cuma lewat Kristus. Perbuatan baik seharusnya menyertai kehidupan orang percaya sebagai akibat atau buah dari hidup oleh kasih karunia dan bukan tiket untuk menerima kasih karunia.

Atau ada juga yang kasih persembahan besar, bukan karena ingin memberi yang terbaik bagi Tuhan melainkan karena berharap pelipat-gandaan yang lebih besar pula. Doa diisi dengan daftar permintaan panjang, keluh kesah ketimbang ucapan syukur. Kita lebih banyak bicara ketimbang mendengarNya. Kita lebih memilih untuk sibuk daripada datang dan diam menikmati kedamaian dalam hadiratNya dan kemudian mendengar apa yang hendak Dia katakan. Sedikit yang benar-benar rindu untuk menyenangkanNya, lebih sedikit lagi yang tahu apa yang sebenarnya diinginkan Tuhan.

Di sisi lain, seperti yang saya sampaikan dalam renungan terdahulu, kesibukan kita bekerja, bermain dan melakukan banyak ativitas sehari-hari seringkali menyita waktu lebih dari yang seharusnya. Kebanyakan orang lebih tertarik untuk mengejar kemakmuran dengan terus memacu diri bekerja sebanyak-banyaknya dan mengabaikan waktu-waktu khusus untuk mendatangi dan berdiam di hadiratNya. Pergeseran urutan prioritas memicu semakin renggangnya hubungan kita dengan Tuhan. Kita terus membangun istana tapi membiarkan rumah Tuhan dalam diri kita semakin tidak terurus, dan kemudian tinggal puing-puing saja. Puing-puing menunjukkan bahwa dahulu rumah Tuhan pernah berdiri megah dalam diri kita tapi kemudian ditinggalkan dan dibiarkan hancur.

Apakah melayani itu baik? Tentu. Itu bahkan merupakan sebuah keharusan atas dasar kasih terhadap Tuhan dan sesama. Akan tetapi jangan sampai kesibukan melayani kemudian membuat kita mengabaikan waktu-waktu dimana kita duduk berdiam di kakiNya dan merasakan betapa Tuhan begitu dekat dan begitu mengasihi kita. Melayani itu baik, bekerja itu baik, tapi kita harus tahu kapan kita harus diam, mengambil momen khusus untuk bersekutu denganNya, menikmati hadirat Tuhan yang kudus dan merasakan kedekatan hubungan antara Bapa dan anak bersama Tuhan, menyenangkan hatiNya dengan mendengar perkataanNya.

Kita bisa belajar mengenai hal ini lewat sebuah cerita pada saat Yesus berkunjung ke rumah Marta dan Maria.

(bersambung)


Sunday, May 20, 2018

Belajar Pentingnya Menempatkan Prioritas yang Benar Lewat Kitab Hagai (7)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)


Sebuah gereja juga jangan sampai terjebak pada kekeliruan yang sama, menempatkan program-program yang disusun sebagai prioritas paling utama dan menekan kesempatan Roh Kudus untuk menuntun pergerakannya. Program yang disusun tentu baik selama didasari pada tugas yang diberikan Tuhan, tapi itu tidaklah lebih penting daripada membangun rumah Tuhan sebagai pondasi kehidupan gereja tersebut.

Ingat, pergeseran prioritas bisa terjadi tanpa kita sadari. Di balik sesuatu yang baik, jika tidak kita perhatikan serius bisa timbul pergeseran yang bisa mendatangkan banyak masalah. Tidak kunjung maju, tidak memperoleh sesuai yang diharapkan, jerih payah sia-sia, bukannya meningkat tapi malah menurun, itu semua bisa menjadi awal kehancuran yang diakibatkan oleh bergesernya prioritas kita.

Apa yang kemudian menjadi reaksi bangsa Israel mendengar teguran Tuhan lewat Hagai? Berikut ini adalah bentuk reaksi mereka.

"Lalu Zerubabel bin Sealtiel dan Yosua bin Yozadak, imam besar, dan selebihnya dari bangsa itu mendengarkan suara TUHAN, Allah mereka, dan juga perkataan nabi Hagai, sesuai dengan apa yang disuruhkan kepadanya oleh TUHAN, Allah mereka; lalu takutlah bangsa itu kepada TUHAN. Maka berkatalah Hagai, utusan TUHAN itu, menurut pesan TUHAN kepada bangsa itu, demikian: "Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN." TUHAN menggerakkan semangat Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan semangat Yosua bin Yozadak, imam besar, dan semangat selebihnya dari bangsa itu, maka datanglah mereka, lalu melakukan pekerjaan pembangunan rumah TUHAN semesta alam, Allah mereka." (Hagai 1:12-14).

Seperti pada masa Hagai, Tuhan bukannya tidak menghargai kerja keras kita, tetapi Dia mau agar kita tidak keliru dalam menetapkan prioritas. Kalau kita menurut dan melakukan segera membangun rumah Tuhan dalam segala aspek kehidupan kita maupun keluarga, seketika itu pula Tuhan akan kembali menyertai kita.

Hari ini mari kita periksa dengan seksama kehidupan kita, keluarga kita, persekutuan maupun gereja kita. Apakah rumah Tuhan disana sudah berdiri dalam kondisi baik atau masih puing-puing? Apakah kita sudah mendahulukan pembangunannya secara sungguh-sungguh atau kita masih terlalu sibuk membangun istana kita sendiri? Lebih dari segalanya, tempatkanlah Tuhan dan rumahNya sebagai yang pertama dan terutama dalam kehidupan kita. Kalau sudah terlanjur bergeser, perbaiki segera prioritas kita sesuai yang benar. Tuhan ingin kita semua mengerti dan tidak melakukan kesalahan, agar Dia bisa menyertai kita sepenuhnya sesuai dengan kerinduan hatiNya.

True life is found in nowhere else but God's house

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, May 19, 2018

Belajar Pentingnya Menempatkan Prioritas yang Benar Lewat Kitab Hagai (6)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Apa yang sebenarnya dimaksud dengan rumah Tuhan? Dalam konteks Hagai, rumah Tuhan mengacu kepada baitNya di Yerusalem yang menjadi pusat penyembahan Tuhan. Tapi setelah penebusan Yesus, bait Tuhan bukan lagi secara sempit mengacu pada bangunan tapi diri kita, umatNya baik secara individu maupun kelompok. Lihatlah beberapa ayat berikut ini:

"Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu." (1 Korintus 3:16-17).

"Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!" (1 Korintus 6:19-20).

"Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: "Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku." (2 Korintus 6:16).

Tuhan ada, berdiam/menetap dalam hati kita masing-masing, dan bersama-sama umatNya membangun bait Allah, seperti yang disebutkan dalam Efesus 2:21 ("Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.") dan 1 Petrus 2:5 ("Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.").

Seperti itulah bait Tuhan itu. Karenanya, kita harus menempatkan membangun rumah Tuhan pada prioritas paling utama. Jangan sampai agenda-agenda kepentingan kita yang mengambil alih posisi tersebut dan bertahta di atas hidup kita. Secara pribadi kita harus membangun rumah Tuhan dalam diri kita, dimana Tuhan menyatakan kuasaNya, menasihati, berpesan dan mengingatkan kita. Sebuah rumah Tuhan dalam diri kita menjadi tempat kita untuk merasakan hadiratNya yang damai dan kudus, dimana kita bisa merasakan kehadiran dan kasihNya dalam sebuah hubungan yang sangat erat, dan menjadi tempat dimana kita menyatakan kasih kita kepadaNya.

Dalam keluarga, membangun mesbah keluarga menjadi bentuk dari rumah Tuhan yang akan menjadi sendi-sendi kokoh kehidupan keluarga yang takut akan Tuhan. Keluarga yang punya rumah Tuhan dalam kondisi berdiri dengan baik akan kuat menghadapi berbagai kesulitan, badai dalam perjalanannya.

(bersambung)


Friday, May 18, 2018

Belajar Pentingnya Menempatkan Prioritas yang Benar Lewat Kitab Hagai (5)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kita jangan sampai mengalami itu karena salah menempatkan prioritas. Bangsa Israel di masa Hagai menerima teguran keras dari Tuhan.

"Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya. Oleh karena apa? demikianlah firman TUHAN semesta alam. Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri. Itulah sebabnya langit menahan embunnya dan bumi menahan hasilnya, dan Aku memanggil kekeringan datang ke atas negeri, ke atas gunung-gunung, ke atas gandum, ke atas anggur, ke atas minyak, ke atas segala yang dihasilkan tanah, ke atas manusia dan hewan dan ke atas segala hasil usaha." (Hagai 1: 9-11).

Jangan sampai teguran keras ini jatuh pada kita. Kalau kita terlanjur mengalaminya, periksa dahulu seperti apa kita menyusun prioritas hidup kita saat ini, dan kalau kita tanpa sadar sudah bergeser, kembalikanlah urutannya pada yang terbaik.

5. Orang yang salah prioritas tidak akan mendapat apa yang mereka kejar

Ayat 4 pada pasal 1 kitab Hagai mengatakan "Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?" Orang Israel saat itu mengejar kehidupan dalam kondisi yang sangat baik. Tapi masalahnya, dari ayat 6 dan 9 sampai 11 mengatakan, bahwa meski mereka bisa memperolehnya, tapi tidak membawa kepuasan.

Lihatlah sebuah perumpamaan dari Yesus berikut ini.

"Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.  Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!  Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah." (Lukas 12:16-21).

Untuk apa kita mati-matian menimbun harta sampai menyisihkan atau melupakan hal-hal yang sebenarnya lebih penting? Bukankah tidak satupun dari kita yang tahu berapa lama lagi masa hidup kita di dunia? Sudah mati-matian mengejar kekayaan, tapi belum sempat dinikmati sudah keburu tiada. Itu menurut Tuhan hanya dilakukan orang bodoh. Bukankah itu bagaikan memasukkan segala hasil jerih payah ke dalam kantong bolong? Salomo bilang: "Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia." (Pengkotbah 1:2).


(bersambung)


Thursday, May 17, 2018

Belajar Pentingnya Menempatkan Prioritas yang Benar Lewat Kitab Hagai (4)

webmaster | 8:00:00 AM | 1 Comment so far
(sambungan)

Benar, sangat benar. Saya pun merasakannya. Tapi itu bukanlah alasan untuk tidak menempatkan Tuhan pada prioritas utama. Saya mengenal seorang pria yang mengepalai sampai ratusan anak perusahaan dan masih aktif melayani. Diluar itu ia punya waktu cukup untuk dipakai bersama keluarga, anak-anaknya hidup takut akan Tuhan dan berprestasi di sekolah. Kalau dia saja bisa berhasil dalam semuanya tanpa mengesampingkan prioritas Tuhan, kenapa kita yang tidak seekstrim itu kegiatannya masih mencari alasan untuk menomordua atau tigakan Tuhan?

Atau ada juga yang pakai alasan keluarga terutama sibuk mengurusi anak. Bukankah keluarga harus jadi prioritas? Ya, dibanding hal-hal lainnya. Tapi bukan berarti Tuhan disingkirkan dari prioritas utama. Kalau kita mementingkan keluarga, bukankah adalah penting untuk membangun mesbah Tuhan di dalamnya? Kalau kita menempatkan keluarga pada prioritas tinggi, justru seharusnya bait Allah menjadi sangat krusial agar keluarga bisa sehat, damai dan terasa kehangatan kasihnya.

4. Orang yang meletakkan istananya di atas rumah Tuhan buat terhadap hukuman Tuhan

Bangsa Israel pada masa itu mengalami masalah. Mereka bekerja, tapi tidak memperoleh hasil sesuai jerih payah mereka. Kita bisa mendapatkannya dalam Hagai pasal 1. "Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang!" (ay 6).

Banyak menabur benih, tapi hasilnya jauh dari yang diharapkan. Makan sih makan, tapi tidak kenyang. Masih bisa minum, tapi tidak puas. Punya pakaian, tapi tidak cukup untuk menghangatkan badan. Dan tampaknya badai inflasi pun terjadi pada saat itu, hingga dikatakan upah yang mereka dapat seperti ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang, atau kantong bolong/bocor. Uang yang didapatkan dengan susah payah bocor terbuang entah kemana. Ada 'ngengat' dan 'karat' yang menggerogoti sehingga tidak ada yang bersisa, kalau tidak malah merugi.

Penyebabnya bisa beragam, tapi salah satunya adalah bahwa ketidakdekatan dengan Tuhan bisa mendatangkan masalah, bahkan peringatan maupun hukuman dari Tuhan. Kalau kita sudah bekerja lebih keras tapi bukannya mendapat lebih banyak melainkan habis lebih cepat, bukannya maju tapi mundur, maka ada baiknya kita memeriksa dahulu urutan kepentingan dalam hidup kita sebelum kita buru-buru menyalahkan Tuhan.

Akan hal ini, Tuhan melalui Hagai mengingatkan bahwa yang mengendalikan hujan dan panen adalah Tuhan. Ada kalanya Tuhan menahan berkatNya karena ingin kita menata ulang prioritas kita terlebih dahulu. Dirikan dulu rumah/baitNya, Dia akan memberkati anda sesuai kerinduanNya.

Yesus sudah mengingatkan kita akan hal ini dalam banyak kesempatan. Selain bahayanya mengejar harta dunia dimana ada ngengat dan karat yang bisa membuat semuanya ludes sia-sia, perhatikan pula ayat berikut ini: "Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya." (Yohanes 6:27).

Betapa seringnya kita jatuh pada lubang yang satu ini. Kita mengejar makanan yang dapat binasa, the foods that perish, tapi lupa mengejar makanan yang akan bertahan sampai kehidupan yang kekal, instead we are forgetting the food that endures until the eternal life. 



(bersambung)


Wednesday, May 16, 2018

Belajar Pentingnya Menempatkan Prioritas yang Benar Lewat Kitab Hagai (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Hagai menyampaikan pesan Tuhan yang intinya agar kita menempatkan Tuhan pada posisi yang paling utama di dalam hidup kita. Bukan soal memperbanyak pelayanan, melainkan dari segi membangun hubungan dengan Tuhan dan menempatkan Tuhan pada posisi teratas dalam hidup kita, keluarga dan pekerjaan, dalam segala aspek kehidupan kita. Atau, Yesus menyampaikannya seperti ini: "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33).

Tentu hal mementingkan Tuhan sebagai yang paling utama atau terutama sudah kita ketahui. Tapi apa yang membuat prioritas kita bisa tergeser? Dari kisah bangsa Israel di jaman Hagai ini ada beberapa hal yang bisa kita jadikan pelajaran atau pengingat.

1. Kita cenderung menempatkan upaya memenuhi kebutuhan di atas kepentingan membangun bait Allah

Kerja, kerja dan kerja, kalau tidak kita tidak akan punya cukup untuk membiayai atau menafkahi kehidupan. Apakah bekerja itu penting? Sangat. Alkitab bahkan mengatakan dengan tegas bahwa siapa yang tidak bekerja tidak berhak untuk makan (2 Tesalonika 3:10). Tapi kalau kita tidak menjaga cara hidup kita, kita bisa bergeser hidup untuk agenda aktivitas kita sendiri, bukan menurut Tuhan. Bukanlah hal baru bagi kita yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat bahwa hidup yang fokusnya mengumpulkan harta di bumi atau mengejar hal-hal duniawi merupakan hal yang keliru, sia-sia bahkan bodoh. Kita tahu bahwa kita tidak akan menemukan kebahagiaan, damai sejahtera dan sukacita sejati kalau hidup jauh dari Tuhan. Tapi kita bisa bergeser menuju cara hidup dunia kalau kita tidak menjaga baik hidup kita.

2. Orang yang menempatkan istananya di atas rumah Tuhan bukan cuma orang yang belum percaya tapi juga terdapat di kalangan orang-orang percaya

Hal yang menarik (sekaligus ironis) dari kisah Hagai ini adalah bahwa pesan Tuhan yang ia sampaikan adalah untuk orang-orang percaya, termasuk anda dan saya.

Kita mungkin sudah memulai dengan baik. Lahir baru, rajin membaca Alkitab, berdoa secara teratur dan tertanam di gereja. Aktif di sana, ikut persekutuan, dan mungkin sudah melayani. Tapi kemudian mungkin usaha-usaha kita mulai terbentur berbagai kesulitan. Kita mulai berselisih dengan sesama orang percaya, kecewa terhadap orang-orang sepelayanan atau bahkan gereja, kita mulai mengalami hasil yang mengecewakan padahal kita merasa sudah melakukannya tanpa melanggar ketetapan Tuhan, atau bahkan kita bertemu dengan masa-masa dimana Tuhan seakan-akan menutup mataNya dari kita, tidak melepaskan kita dari masalah meski kita sudah mati-matian berdoa siang dan malam.

Sementara itu kehidupan terutama setelah menikah memerlukan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan didalamnya. Ada tagihan-tagihan bulanan yang harus dibayar, ada kebutuhan-kebutuhan yang harus terpenuhi. Belum lagi untuk memenuhi kebutuhan akan barang-barang yang sebenarnya bukan primer tapi sudah menjadi hal yang dianggap wajib oleh orang-orang masa kini. Kita masih berusaha untuk rutin ke gereja dan menghadiri persekutuan, tapi itu bisa jadi cuma menjadi salah satu bagian kegiatan sekunder saja yang bisa dilakukan bisa tidak, tergantung kita sedang sibuk atau santai, bukan lagi merupakan prioritas utama.

Perhatikan, apa yang kita lakukan bukanlah hal buruk. Kita tidak sedang memberontak, membangkang atau melawan pada Tuhan secara langsung, tapi kita sedang bergeser meletakkan 'istana' kita di atas bait Tuhan.

3. Kita punya seribu satu alasan untuk meletakkan istana kita di atas bait Tuhan

Mari kita lihat kembali kitab Hagai. Orang Israel berkata: " Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!" (Hagai 1:2). "Waduh, nanti dulu dong Tuhan.. saya masih punya kesibukan yang harus didahulukan. Nanti kalau sudah selesai saya akan bangun lagi rumahMu dalam hidup saya." Atau, "Tuhan jangan salah sangka ya.. saya tahu membangun bait Tuhan itu penting, dan saya sangat bersedia untuk membangunnya. Tapi waktunya belum pas untuk saat ini. Cobalah mengerti."

Itu bisa menjadi sebuah alasan yang sering kita kedepankan. Kondisi ekonomi yang sulit yang sudah berlangsung selama beberapa tahun terakhir semakin memaksa kita untuk berkejar-kejaran untuk memperoleh cukup uang untuk bisa hidup lebih dari sekedar layak. Siapa yang tidak merasa hidup berat hari ini? Ada banyak usaha gulung tikar, daya beli merosot, yang tadinya hidup lega sekarang harus berpikir lebih banyak untuk membeli sesuatu. Orang mulai tiarap, mengencangkan ikat pinggang. Harga naik terus tidak dibarengi dengan naiknya pendapatan, yang terjadi malah jarak antara harga dan pendapatan yang makin besar renggangnya.


(bersambung)


Tuesday, May 15, 2018

Belajar Pentingnya Menempatkan Prioritas yang Benar Lewat Kitab Hagai (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kitab ini memaparkan sejarah dari sekitar 500 tahun Sebelum Masehi saat teguran Tuhan datang kepada bangsa Israel lewat nabi Hagai mengenai pembiaran mereka terhadap rumah/bait Tuhan yang sudah cukup lama hanya berupa puing-puing saja. Pada masa itu bangsa Israel dikatakan terlalu sibuk mengurusi urusannya masing-masing sehingga membiarkan rumah Tuhan terbengkalai tidak terurus. Mereka hanya sibuk untuk terus mempercantik rumah sendiri sampai-sampai rumah Tuhan yang sudah menjadi reruntuhan pun tidak lagi mereka pedulikan. Teguran Tuhan pun turun melalui Hagai. Tuhan berseru: "Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?" (Hagai 1:4).

Tuhan menegur keras bangsa Israel dengan mencela sikap mereka ini secara tegas. Tidaklah heran apabila mereka terus menerus memperoleh hasil yang sedikit dan hidup dalam kekeringan, mengalami kegagalan atas segala yang mereka usahakan, dan itu terjadi "Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri." (ay 9b). Tuhan tersinggung dan kecewa dengan sikap seperti ini.

 Semua itu tertulis jelas di dalam kitab Hagai yang mencatat langsung suara Tuhan yang menegur keras sikap bangsa ini. "Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang! Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya." (ay 6,9a).

Sebelum kita lanjutkan, mari kita lihat lebih jauh dari fakta sejarah dari kisah ini yang tercatat dalam kitab Ezra. Sekitar lebih dari 10 tahun sebelumnya raja Koresh memerintahkan orang-orang Israel untuk kembali ke Yerusalem dari pembuangan di Babel atau Babilonia. Mereka sebenarnya tahu pentingnya membangun kembali bait Allah begitu sampai kembali di negerinya. Ezra pasal 3 mencatat bahwa dua tahun setelah pulang dari pembuangan, mereka sudah meletakkan pondasi untuk pembangunan kembali bait Allah. Tetangga mereka yang tidak akur dengan mereka atau bahkan dikatakan musuh menawarkan untuk turut membangun kembali bait Allah tersebut, tapi bangsa Israel menolak tawaran mereka. Karena ditolak, bangsa musuh ini pun mulai mengintimidasi dan mengganggu pembangunan kembali bait Allah itu dengan segala cara, mulai dari melemahkan semangat dan membuat mereka takut membangun sampai menyogok para pejabat pemerintah Persia agar menolak rencana tersebut (Ezra 4). Karena itu rencana tersebut pun terhenti.

Sekitar 14-16 tahun setelahnya, bangsa Israel sudah terbiasa dalam rutinitas hidupnya seperti bertani, membangun perumahan, berkeluarga dan sebagainya. Tidak ada yang salah dengan kegiatan-kegiatan tersebut, hanya saja mereka sudah tidak lagi mementingkan hidup dengan bait Allah. Bahkan bupati/gubernur Yehuda bernama Zerubabel dan imam besar Yosua pun terlena dalam rutinitas dan tidak lagi merasa perlu untuk meneruskan pembangunan kembali bait Allah tersebut. Dan Hagai pun kemudian diangkat Tuhan sebagai penyampai pesan/teguran dari Tuhan agar bangsa itu menyadari kesalahan mereka dan kembali mengingat pekerjaan yang terbengkalai selama lebih 1 dekade tersebut.

Apa yang terjadi dalam kitab Hagai ini sangat relevan bagi kita yang hidup di masa sekarang. Orang-orang seperti kita yang bisa jadi tanpa sadar sudah meletakkan Tuhan pada prioritas jauh di bawah aktivitas-aktivitas lainnya yang kita anggap penting. Hagai mengingatkan kita kembali bahwa kita harus meletakkan Tuhan pada prioritas utama kita. Kita tahu itu, bangsa Israel pada masa itu juga tahu, tapi banyak dari kita dan bangsa Israel di masa nabi Hagai telah bergeser dalam sebuah pola hidup dimana supremasi Tuhan tidak lagi tercermin didalamnya. Kita masih mengatakan bahwa Tuhan adalah prioritas utama, tapi pada kenyataannya hidup sudah dikuasai oleh prioritas-prioritas lainnya.


(bersambung)


Monday, May 14, 2018

Belajar Pentingnya Menempatkan Prioritas yang Benar Lewat Kitab Hagai (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Hagai 1:9b
===================
"Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri."

Belum lama ada seorang teman yang bercerita pada saya mengenai dirinya yang sedang menata kembali prioritas hidupnya. Ia adalah seorang pekerja keras yang aktif baik dalam profesi maupun pelayanan. Keduanya ia lakukan dengan baik, tapi belakangan ia menyadari bahwa semua itu lama-lama hanya menjadi rutinitas saja dan kemudian merebut waktu-waktu untuk membangun hubungan dengan Tuhan baik secara pribadi juga dalam mesbah keluarga. Ia seringkali harus buru-buru berangkat di pagi hari agar semua pekerjaannya bisa ia selesaikan dan karenanya ia tidak punya waktu lagi untuk berkumpul di pagi hari bersama keluarga. Doa pribadi pun jadi sesuatu yang 'wajib' saja, tidak lagi dinikmati. Menurut pengalamannya, hal itu terjadi tanpa ia sadari. Ia merasa masih melakukan yang baik, tapi pada suatu saat ia merasa 'kering'.

Barulah ia tersadar bahwa hubungannya dengan Tuhan ternyata menjadi dingin, dan setelah ia mengambil waktu untuk merenung, ia mendapati bahwa agenda kegiatannya sudah mengambil alih prioritas hidupnya. Ia bercerita bahwa apa yang menyadarkannya adalah saat ia menemukan kisah dalam salah satu kitab terpendek dalam Alkitab yaitu Hagai.

Lewat kitab Hagai ia merasa tertegur dan segera mulai menata kembali urutan prioritasnya. Sekarang ia kembali merasakan kehangatan hubungan dengan Tuhan dan keluarganya. "Puji Tuhan yang menegur saya sehingga saya tidak harus lama terjebak untuk membangun 'istana' saya tetapi membiarkan bait Tuhan menjadi puing-puing yang semakin tidak terurus." Demikian katanya.

Apa yang dialami teman saya ini saya rasa mewakili banyak dari kita yang tanpa sadar prioritasnya mulai bergeser. Kita tidak melakukan hal yang buruk. Kita bekerja dengan keras dengan jujur, sebagian dari kita melayani, semua itu baik. Tapi kalau tidak hati-hati, fokus atau prioritas kita bisa beralih menjadi menomorsatukan aktivitas, kegiatan atau agenda-agenda kita dimana membangun hubungan dengan Tuhan tidak lagi menempati prioritas utama. Lalu keluarga pun menjadi tersisih, tidak lagi menjadi sesuatu yang penting.

Ada seorang pendeta yang bercerita, bahwa ia merupakan orang yang sibuk dan sangat bergantung pada agendanya. Saat ia belakangan tersadar bahwa hubungan dengan Tuhan secara pribadi dan bersama keluarga ternyata sudah terdegradasi ke urutan bawah, ia menyikapinya dengan menempatkan waktu untuk Tuhan dan keluarga dalam agendanya. Sama seperti ia punya jadwal meeting yang tidak bisa diganggu, demikian pula waktu untuk Tuhan dan keluarga yang dalam agenda ia tempatkan pada posisi yang utama. Tidak ada pekerjaan yang boleh mengganggu atau menggeser kedua prioritas ini. Dan ia merasa sejak ia melakukan itu, hidupnya terasa lebih bahagia dan baik.

Ada banyak hal yang saya dapatkan dari pengalaman dua orang ini. Selain masalah prioritas yang memang harus mendapatkan perhatian serius karena prioritas yang benar ternyata bisa bergeser tanpa kita sadari, melakukan hal yang 'baik' dan 'terbaik' itu ternyata berbeda. Saat kita melakukan hal-hal yang baik, itu belum tentu yang terbaik. Sehingga kita perlu memperhatikan betul agar yang kita lakukan bukan cuma yang baik tetapi yang terbaik, yaitu menurut prinsip atau ketetapan Tuhan. Kalau kita mau menerima yang terbaik dariNya, kita tentu harus melakukan bagian kita yang terbaik pula. Kalau mau memiliki hubungan yang paling dekat dengan Tuhan, kita harus menempatkan prioritas membangun hubungan dengan Tuhan dalam posisi terbaik pula. Kita tidak bisa berharap memiliki hubungan erat, bisa mendengar suaraNya dengan jelas tapi malas dalam komitmen membangun hubungan denganNya. Dan kalau nanti hidup jadi banyak masalah karena banyaknya keputusan yang keliru tanpa adanya Tuhan lagi disana, jangan sampai malah Tuhan yang disalahkan.

Seperti yang saya sebutkan diatas, teman saya bercerita bahwa momen atau titik baliknya adalah saat ia diingatkan Tuhan lewat kitab Hagai. Apa isi dari kitab Hagai? Untuk seminggu ke depan mari kita lihat kisah apa yang ada dan pelajaran apa yang bisa kita dapati disana.

(bersambung)


Sunday, May 13, 2018

But The Lord Looks Into the Heart (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Samuel pun heran. "Lalu Samuel berkata kepada Isai: "Inikah anakmu semuanya?" (ay 11a). Mendengar dan melihat reaksi Samuel, barulah Isai mengakui bahwa sebenarnya ia masih punya satu anak lagi. "Jawabnya: "Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba." (ay 11b).

Kasihan benar Daud muda. Ia bahkan tidak dianggap ayahnya layak untuk jadi orang yang diurapi Tuhan sehingga ia  dirasa tidak perlu untuk dibawa bertemu Samuel seperti saudaranya yang lain. Tujuh anak dibawa, tapi Daud tidak diajak. Dan yang lebih kasihan lagi, di saat ketujuh anak dinilai Isai berpotensi untuk menjadi raja dan sedang berdiri di hadapan Samuel, Daud sedang berjuang nyawa menjaga dua - tiga alias sedikit sekali kambing domba miliki Isai. Ia sedang mempertanggungjawabkan tugas yang diberikan ayahnya dengan nyawa sebagai taruhannya.

Bayangkan ada berapa banyak binatang buas yang siap memangsa beberapa ekor domba yang cuma dijaga anak kecil. Tugas menggembala domba sepintas tampak sepele atau ringan, tetapi sebenarnya sangat berbahaya. Kenapa Daud yang masih kecil yang disuruh ayahnya? Entahlah. Yang jelas, Daud mempertanggungjawabkan tugasnya dengan sangat baik, meski ia belum mencapai usia yang cukup dewasa untuk melakukan tugas tersebut.

Tuhan melihat hati, dan Dia tahu luar biasanya hati Daud yang jauh berbeda dengan orang lain. Dan kita tahu apa yang terjadi selanjutnya. Tuhan memilih Daud, seorang anak muda yang masih kemerah-merahan wajahnya dan jauh dari postur tinggi besar gagah bak prajurit. "Lalu TUHAN berfirman: "Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia." Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama." (ay 13b-14).

Dunia mungkin akan terus mementingkan penampilan, wajah dan perawakan. Buat anda yang selama ini terintimidasi dengan prinsip dunia yang mementingkan itu dan mengira bahwa anda akan sulit untuk maju dan berhasil, hari ini dengarlah, Tuhan tidak mementingkan itu, melainkan mementingkan hati. Hati yang berserah, hati yang bersyukur, hati yang berpusat pada Tuhan dan kehendakNya, hati yang taat, hati yang dipenuhi iman dan percaya kepada  Tuhan, hati yang humble, hati yang melayani, hati yang selalu mau serius dalam mengembangkan karunia dan talenta untuk dipakai memberkati banyak orang. Orang-orang seperti itulah yang Tuhan pilih lebih dari apapun.

Diatas segalanya, Dia sudah menciptakan anda dengan sangat sempurna dan telah memberikan tugas dimana rencanaNya yang indah penuh damai sejahtera menanti di depan sana untuk anda raih. Periksa talenta anda, apa yang anda miliki saat ini dan apa yang menjadi panggilan Tuhan untuk anda. Berusahalah disana dan bersinarlah. Terima pengurapan Tuhan dan lakukan yang terbaik. Anda, saya, dan siapapun yang memiliki hati yang benar akan mendapat kehormatan untuk mencerahkan dunia dan menyatakan Kristus disana.

Benar, dunia akan terus mementingkan penampilan fisik diatas hal lainnya, tapi jangan ragu bahwa dunia dan isinya tidak akan pernah bisa menahan atau menghalangi apa yang sudah dipilih dan direncanakan Tuhan. The world won't be able to hold what God has granted. Jangan terintimidasi, teruslah maju. Syukurilah siapa anda hari ini dan genapi rencana Tuhan atas hidup anda.

"God sees your heart and He is willing to walk with you, work with you until you get it right." - Michelle McKinney Hammond , penulis, pemenang Emmy Award, penyanyi, pembawa acara televisi dan pembicara asal Amerika

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, May 12, 2018

But The Lord Looks Into the Heart (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Demikian bunyinya.

"Daud adalah anak seorang dari Efrata, dari Betlehem-Yehuda, yang bernama Isai. Isai mempunyai delapan anak laki-laki. Pada zaman Saul orang itu telah tua dan lanjut usianya. Ketiga anak Isai yang besar-besar telah pergi berperang mengikuti Saul; nama ketiga anaknya yang pergi berperang itu ialah Eliab, anak sulung, anak yang kedua ialah Abinadab, dan anak yang ketiga adalah Syama. Daudlah yang bungsu. Jadi ketiga anak yang besar-besar itu pergi mengikuti Saul." (1 Samuel 17:12-14).

Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa Isai itu punya delapan anak laki-laki. Tiga anak tertuanya yaitu Eliab Abinadab dan Syama merupakan prajurit Israel dibawah kepemimpinan Saul. Jelas ada kriteria tertentu untuk bisa menjadi prajurit atau tentara. selain postur yang gagah, keahlian berperang pun harus mereka miliki. Sedang Daud, anak paling bungsu pada masa itu masih sangat muda dan perawakannya pun tidak cocok untuk menjadi prajurit, apalagi kalau mau diprospek menjadi raja.

Secara logika manusia, kita tentu mengira bahwa untuk menjadi raja akan terlihat dari kepantasan sesuai postur. Samuel yang nabi pun ternyata terjebak dengan logika atau pola berpikir seperti itu. Saat Samuel melihat Eliab yang gagah perkasa, Samuel langsung mengira bahwa pasti anak tertua ini yang dipilih Tuhan.

Sekarang mari kita kembali kepada pasal 16 yang menceritakan awal peristiwa Daud diurapi menjadi raja.

"Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: "Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya." (ay 6).

Itu pikir Samuel, namun ternyata bukan Eliab yang dipilih Tuhan. "Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (ay 7).

Secara jelas Tuhan bilang bahwa Tuhan tidak peduli apa yang dilihat manusia di depan matanya. Apa yang dilihat Tuhan tidak sama dengan apa yang dilihat dunia. Kalau dunia adalah paras dan perawakan, yang Tuhan lihat adalah hati.

Samuel kemudian menangkap esensinya. Tapi tidak dengan Isai. Isai belum mengerti dan masih berpikir dengan cara pikir manusia. "Bukan Eliab ya? Kalau begitu pastilah Abinadab atau Syama." Seperti itu kira-kira pikiran Eliab. Sepertinya Isai berpikir, mungkin Eliab dianggap sudah terlalu tua. Tapi kriteria Tuhan pastilah diantara dua anakku lainnya yang sudah menjadi kebanggaan keluarga karena ada di jajaran orang-orang pilihan sebagai prajurit Israel.

"Lalu Isai memanggil Abinadab dan menyuruhnya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata: "Orang inipun tidak dipilih TUHAN." Kemudian Isai menyuruh Syama lewat, tetapi Samuel berkata: "Orang inipun tidak dipilih TUHAN." (ay 8-9).

Dua-duanya tidak? Wah, masa sih? Begitu pikir Isai. Ia lalu menyuruh sisanya berdiri di depan Samuel. "Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: "Semuanya ini tidak dipilih TUHAN." (ay 10).

Mari perhatikan baik-baik ayat ini. Disebutkan jelas bahwa Isai menyuruh ketujuh anaknya untuk tampil bergantian di hadapan Samuel. Meski Eliab, Abinadab dan Syama sudah ditolak, Isai masih tetap menyuruh mereka berdiri di depan Samuel. Siapa tahu Samuel keliru saat pertama kali dan berubah pikiran kalau melihat gagahnya mereka berdiri di depannya. Kitab 1 Samuel pasal 17 dengan jelas menyatakan bahwa jumlah yang disuruh tampil di depan Samuel ada tujuh. Padahal kita sudah tahu bahwa anak laki-lakinya bukan tujuh melainkan delapan.

(bersambung)


Friday, May 11, 2018

But The Lord Looks Into the Heart (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Samuel 16:7
======================
"Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."

Industri hiburan terutama dunia musik dimana saya berkecimpung semakin tidak memperhitungkan bakat. Kualitas bermusik atau bernyanyi, bakat khusus yang membuat seseorang menjadi sangat istimewa bukanlah nomor satu melainkan penampilan, wajah, perawakan atau fisik, itulah yang terpenting. Suara pas-pasan tapi cantik, itu lebih prioritas dibanding suara emas tapi penampilan pas-pasan, apalagi kalau jauh dari standar industri. Seorang produser rekaman pernah bilang bahwa kalau cuma masalah suara, nanti tinggal diutak-atik di studio saja beres. Tapi kalau sudah penampilan atau paras, mau diapain juga susah. Begitu alasan mereka. Wajah, penampilan, itu yang dijual, bukan kualitas dan bakat istimewa di bidangnya.

Di dunia akting hal yang sama pun terjadi. Cari yang putih rada ke-indo-indoan. Mau tidak bisa akting itu bukan soal. Selain bisa diakali, produser film beranggapan penonton Indonesia kebanyakan tidak peduli soal kualitas akting melainkan mencari wajah manis. Itu dikatakan oleh seorang produser film terkenal pada suatu kali kepada saya.

Yang bikin tambah menyedihkan, selain modal fisik para pendatang baru ini rata-rata juga harus punya cukup dana untuk membayar radio, televisi dan sebagainya agar bisa mendapat kesempatan diputar di media masing-masing. Ada berapa stasiun radio, ada berapa stasiun televisi? Ya, dana jelas harus cukup untuk mengguyur satu persatu. Makin banyak makin bagus. Kalau tidak mau repot, cukup cari orang yang berprofesi sebagai produser atau agen, berikan pada mereka nanti mereka yang bagi-bagi dan atur. Kalau sudah begitu, perihal kemampuan atau bakat istimewa, kepribadian, sikap hati dan sejenisnya semakin saja tidak dianggap penting.

Apakah yang penampilan fisiknya bagus sudah pasti bakatnya buruk? Tentu saja tidak. Ada banyak yang memang dianugerahi bakat istimewa dan penampilan menarik. Hanya saja jangan sampai mereka yang sangat berbakat tapi terbatas dari sisi penampilan dan finansial kemudian tidak mendapat kesempatan sama sekali. Selain penampilan, kualitas seni musik dan peran juga tentunya harus dijaga dan ditingkatkan.

Dunia cenderung mementingkan penampilan fisik ketimbang hal-hal lain seperti sifat, watak, bakat, kerajinan, etos kerja, kejujuran, semangat atau daya juang tinggi, kesetiaan dan hal-hal lain yang tidak tampak di luar. Kata-kata true beauty comes from deep within semakin kehilangan makna. Tidaklah heran kalau kita melihat adanya degradasi moral, kebobrokan mental dan sulit mencari karakter yang berintegritas hari-hari ini. Dunia semakin tidak mencari dan tidak butuh itu lagi sekarang melainkan penampilan. Karena itu banyak orang tidak segan mengeluarkan biaya hingga puluhan bahkan ratusan juta demi mempermak wajah juga tubuh mereka. Tidak puas dengan bagaimana Tuhan menciptakan mereka, tidak mencari apa yang bagus menurut Tuhan dan mengejar apa yang bagus menurut dunia.

Sebenarnya masalah mementingkan penampilan, paras, postur dan hal-hal fisik bukan hal baru, tetapi Alkitab sudah menyinggung tentang kecenderungan manusia untuk lebih melihat itu sejak dahulu. Setidaknya pada masa Daud hendak diurapi menjadi raja kecenderungan cara manusia menilai ini sudah ada.

Itu bisa kita lihat dalam kisah awal pengurapan Daud. Ayat pembuka dalam 1 Samuel 16 mencatat saat Tuhan menyuruh Samuel berhenti bersedih hati karena Saul dan segera bergegas menemui seorang pria yang sudah lanjut usianya bernama Isai. Untuk apa? Penugasannya jelas, yaitu untuk mengurapi raja baru pilihan Tuhan sendiri. Dan raja yang dipilih itu ternyata adalah salah satu anak Isai.

Maka Samuel pun kemudian bergegas mencari Isai dan bertemu di upacara pengurbanan. Samuel segera menguduskan Isai dan anak-anaknya satu persatu dalam upacara itu. Sebelum saya lanjutkan, ada berapa anak Isai dan seperti apa anak-anaknya? Alkitab secara detail memberikan jawabannya pada pasal 17:12-14.

(bersambung)


Thursday, May 10, 2018

Samuel dan Imam Eli (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)


Dari sepenggal kisah ini kita bisa melihat bahwa untuk berkomunikasi dengan Tuhan kita harus peka. Tuhan selalu rindu untuk berbicara kepada kita, tetapi semua tergantung kepada kita apakah kita siap untuk mendengar suaraNya, apakah kita dapat dihubungi atau tidak, apakah kita mau merespon atau tidak.

Terlalu sibuk mementingkan pekerjaan dan aktivitas-aktivitas di dunia sering menjadi penghambat atau penghalang utama bagi kita untuk bisa peka mendengar suara Tuhan. Kita tidak lagi mementingkan waktu-waktu khusus untuk bersaat teduh dan berdoa, kalaupun berdoa kita lebih cenderung menyampaikan daftar permintaan dan keluhan ketimbang mendengarkan Tuhan berbicara kepada kita. Atau, kita cuma menjalankan ritual yang sekedar kewajiban saja, buru-buru supaya bisa cepat tidur atau mengerjakan hal lain. Padahal Yesus sudah memulihkan hubungan yang terputus antara Tuhan dan ciptaanNya yang istimewa, manusia, sehingga saat ini kita bisa langsung terhubung dengan Tuhan tanpa harus melalui perantara lagi seperti halnya pada masa sebelum kedatangan Kristus.

Bukankah seharusnya kita bersyukur akan hal itu? Bukankah seharusnya kita berlomba-lomba menikmati sebuah anugerah berdasarkan kasih karunia yang begitu besar? Kalau kita masih memilih sibuk untuk hal-hal lain sebagai yang lebih penting atau berada pada prioritas diatas membangun hubungan dengan Tuhan, betapa kita menyia-nyiakan anugerah yang seharusnya kita syukuri.

Selain lebih memilih kesibukan lainnya dan menomorduakan membangun hubungan yang erat dengan Tuhan, dosa-dosa yang masih kita biarkan bercokol dalam diri kita merupakan penghalang terbesar bagi kita untuk terhubung dengan Tuhan yang kudus. Membiarkan dan bertoleransi pada dosa pun termasuk di dalamnya seperti yang terjadi pada imam Eli. Firman Tuhan berkata: "tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:2). Jadi untuk bisa peka, kita harus memastikan bahwa kita tidak lagi berselimut dosa dan kita pun harus mau membuka hati seluas-luasnya untuk mendengar suara Tuhan. Itulah yang akan membuat kita bisa dihubungi Tuhan dengan mudah, mendengar tuntunanNya, peringatanNya, nasihatNya dan kelembutan kasihNya.

Adalah penting bagi kita untuk bisa mendengar dengan hati yang peka. Firman Tuhan berkata "Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. " (Lukas 8:18a). Dan sikapi dengan respon yang benar apa yang anda dengar dari Tuhan. Jangan keraskan hati, tapi miliki kelembutan hati agar kita bisa taat mengikuti pesan-pesanNya. "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!" (Ibrani 4:7).

Tuhan selalu rindu untuk berbicara kepada kita. Ada banyak pesan, peringatan, nasihat, jawaban dan teguran yang ingin Tuhan sampaikan kepada anak-anak yang dikasihiNya. Tetapi mari kita tanyakan kepada diri kita, dapatkah kita dihubungi? Maukah kita merespon setiap panggilan dan teguran Tuhan, atau kita sudah menjadi tuli akibat dosa, atau malah terlalu sibuk untuk mau berkomunikasi dengan Tuhan? Apakah kita mau menanggapi langsung hubungan Tuhan atau kita terus menunda-nunda atau bahkan menolaknya?

Mari buka hati kita hari ini, lembutkanlah, dan pekalah terhadap suara Tuhan. Pastikan hati anda tidak dalam keadaan 'silent mode' dan segera respon panggilanNya. Jadilah seperti Samuel dan berkatalah, "berbicaralah Tuhan, sebab hambaMu ini mendengar." Tuhan sedang menanti anda untuk mendengar dan menjawab panggilanNya saat ini. Dia siap untuk berbicara.

Pastikan bahwa anda selalu siap untuk mendengar apa pesan Tuhan untuk anda hari ini

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, May 9, 2018

Samuel dan Imam Eli (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Samuel 3:10
====================
"Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: "Samuel! Samuel!" Dan Samuel menjawab: "Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar."

Seorang teman lama hari ini menelepon. Tidak terasa sudah puluhan tahun kami tidak pernah bertukar sapa karena sempat hilang kontak. Pada masa saya masih sekolah belum ada teknologi speerti sekarang yang memudahkan orang untuk berkomunikasi. Jangankan telepon genggam, telepon rumah saja pada masa itu belum masuk ke daerah pinggiran kota dimana saya tinggal. Sosial media kemudian banyak mempertemukan kembali teman-teman lama, dan saling bertukar nomor pun menjadi langkah selanjutnya.

Betapa terbantunya kita dengan perkembangan teknologi di bidang komunikasi. Sekarang dunia terasa kecil karena kita bisa terhubung dengan belahan dunia manapun tanpa harus mengeluarkan biaya mahal. Kalau dulu harus pakai fasilitas sambungan langsung internasional yang di charge per sekian detik, hari ini kita bisa berhubungan dengan gratis. Mulai dari chatting, voice call bahkan bisa sambil melihat lawan bicara melalui video call yang disediakan oleh beberapa aplikasi smart phone/gadget. Yang diperlukan hanyalah fasilitas internet yang bisa didapat dari penyelenggara seluler yang kita gunakan atau pakai wi-fi. Begitu mudah, begitu murah. Kalaupun orangnya gaptek alias gagap teknologi dan tidak memakai smart phone, minimal kita bisa menelepon mereka, tidak seperti dulu saat komunikasi masih sangat sulit.

Meskipun begitu mudah dan murah, agar bisa terhubung dengan orang yang kita tuju tetap tergantung dari kesediaan pihak kedua untuk menerima dan membalas kontak kita kepada mereka. Sebab meski teknologi memungkinkan, jika orang yang dihubungi tidak mau mengangkat teleponnya atau tidak membalas pesan kita, maka tidak akan ada hubungan yang bisa berhasil tersambung. Ada banyak orang yang mungkin terlalu sibuk sehingga tidak mau membalas sambungan yang masuk kepadanya. Ada yang pilih-pilih, ada pula yang enggan diganggu. Atau ada pula yang karena sering diganggu oleh penelepon yang menawarkan berbagai hal mulai dari kartu kredit, pinjaman sampai jualan macam-macam, mereka bisa jadi tidak mengetahui saat kita hubungi karena telepon sedang dalam kondisi silent mode. Telepon memang setiap saat bisa diletakkan pada posisi silent atau dimatikan total sehingga hubungan dengan kontak-kontak dalam telepon seluler pun terputus. Kita mungkin butuh berbicara dengan mereka, namun semua tergantung dari mereka apakah mereka bisa dihubungi dan berkenan merespon atau tidak.

Semua itu adalah perihal hubungan komunikasi antar manusia. Bagaimana dengan hubungan kita dengan Tuhan? Apakah anda percaya bahwa Tuhan selalu rindu untuk menghubungi anda? Tuhan selalu rindu untuk berbicara, baik untuk menegur, mengingatkan, meneguhkan, menyampaikan pesan, membersarkan hati dan tentu saja menyatakan kasihNya kepada kita. Tetapi semua tergantung sikap hati kita, apakah kita bisa dihubungi, mau atau berkenan untuk dihubungi, atau hati kita tengah berada pada posisi "silent" yang artinya tidak memberi respon terhadap suara Tuhan. Tidak peduli seberapa besar kerinduan Tuhan untuk berhubungan dengan kita, tidak peduli seberapa intens ia mencoba mengontak kita, hubungan tidak akan bisa berlangsung bila kita menolak, mengabaikan atau mendiamkan saja panggilanNya.

Kemarin kita sudah belajar tentang berbagai kesalahan Imam Eli dalam membesarkan anak-anaknya. Meski ia pada awalnya sukses mendidik jemaatnya dan juga Samuel, ia gagal menanamkan pendidikan moral kepada kedua anak kandungnya sendiri. Dan kita tahu bagaimana beratnya hukuman Tuhan lantas jatuh atas seisi keluarganya. Hari ini saya masih ingin melanjutkan bagian dari hidup Imam Eli dari sisi lain, yaitu dalam hal mendengar suara Tuhan.

Sebagai seorang imam seharusnya Eli peka mendengar suara Tuhan. Dalam masa Perjanjian Lama peran seorang imam sangat penting sebagai perantara yang menghubungkan Tuhan dengan manusia. Tapi sayangnya imam Eli ternyata gagal menjalankan fungsinya. Pada ayat berikutnya dikatakan bahwa Eli matanya mulai kabur, dan itu bukan hanya mata jasmaninya melainkan juga mata rohaninya.

Keputusannya untuk membiarkan anak-anaknya berbuat dosa, bertindak lebih seperti preman ketimbang sebagai anak imam yang terpandang membuatnya semakin kehilangan kemampuan rohaninya. Maka pada masanya firman Tuhan pun dikatakan jarang turun. Firman Tuhan berkata: "Pada masa itu firman TUHAN jarang; penglihatan-penglihatanpun tidak sering." (1 Samuel 3:1b). Karena hubungan dengan Eli terputus sementara Tuhan tetap ingin berhubungan dengan manusia, maka Tuhan pun mengalihkan perhatiannya kepada seorang anak muda yang hatinya bersih, yaitu Samuel.

Samuel ternyata berbeda. Kita bisa melihat bagaimana reaksi Samuel ketika dihubungi Tuhan. Pada mulanya Samuel bingung ketika mendengar panggilan Tuhan karena Firman Tuhan sebelumnya belum pernah dinyatakan kepadanya. (ay 7). Itu hal baru yang mungkin sulit dipercaya. Tetapi meski demikian, Samuel mendengar dan merespon. "Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: "Samuel! Samuel!" Dan Samuel menjawab: "Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar." (ay 10).

Berbeda dengan Eli, Samuel ternyata bisa dihubungi. Ia membuka diri untuk mendengar, dan ia menjawab. Maka hubungan antara Tuhan dan Samuel pun tersambung. Tuhan pun lalu menyampaikan pesan-pesan yang keras terhadap bangsa Israel terutama kepada imam Eli dan keluarganya.


(bersambung)


Tuesday, May 8, 2018

Imam Eli, Hofni dan Pinehas (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)


Jika kebanyakan pria meletakkan keluarga tidak dalam posisi teratas dan harus selalu siap untuk dikorbankan demi tugas-tugas atau pekerjaan, Alkitab sama sekali tidak menyebutkan demikian. Salah satunya bisa kita lihat dari apa yang dikatakan Yesus berikut: "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8). Lihatlah ada sebuah urutan disana. Di Yerusalem, itu berbicara mengenai keluarga, lalu meningkat ke Yudea, menggambarkan lingkup regional, lalu ke Samaria yang mengacu kepada negara/nasional dan baru mencapai dunia. Artinya kita tidak akan bisa bermimpi untuk bisa menjadi berkat bagi dunia atau kota sekalipun jika kita tidak memulainya dari keluarga.

Bukankah ironis jika kita berhasil melayani orang lain tetapi justru gagal dalam keluarga sendiri, pintar mengajari orang tetapi tidak bisa mengajar anak sendiri? Keluarga harus menjadi prioritas utama di atas pekerjaan atau pelayanan sekalipun. Idealnya rumah tangga orang percaya seharusnya bisa menjadi rumah yang sejuk, nyaman dan damai, dan bisa menjadi teladan bahkan kesaksian tersendiri bagi orang lain.

Terhadap anak para pria diminta untuk bisa meluangkan waktu bersama mereka dan mendidik mereka berulang-ulang. "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." (Ulangan 6:6-7) Masalahnya, bagaimana kita bisa mengajarkan berulang-ulang apabila kita jarang bersama mereka? Tetapi itupun belum cukup, sebab ayat selanjutnya berkata: "Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu." (ay 8-9). Ayat ini menunjukkan pentingnya kita untuk menjadi teladan. Bagaimana anak-anak bisa menerima apa yang kita ajarkan jika kita tidak menjadi teladan, dan bagaimana orang bisa percaya kepada apa yang kita katakan kalau anak-anak kita tidak mencerminkan pribadi yang beriman dan tunduk pada kebenaran?

Menetapkan skala prioritas adalah hal yang tidak boleh diabaikan. Tempatkan keluarga terlebih dahulu sebelum menjangkau sesuatu yang lebih luas. Jangan sampai pekerjaan atau pelayanan membuat keluarga justru terbengkalai atau berantakan, karena sesungguhnya keteladanan justru dimulai dari keluarga. Dari keluarga imam Eli kita bisa melihat konsekuensi dari ketidaktegasan, memanjakan hingga kesalahan dalam menetapkan skala prioritas. Jangan sampai kita mengulangi hal yang sama.

Para pria, perhatikan istri dan anak-anak kita. Apakah mereka sudah mendapat cukup perhatian dari kita? Menjadi pria memang tidak mudah. It's never easy. Seperti yang saya katakan kemarin, being a superman is not about being able to fly, holding a bullet, catching up the bad guys or getting the most money, but it's about finding balance in every role and know to place the priority. Sadarilah bahwa keluarga membutuhkan figur ayah teladan yang mengasihi mereka dan rindu untuk meluangkan waktu bersama dengan mereka. Pastikan anak-anak anda tidak kehilangan figur bapa dan istri anda punya suami yang berada disisi mereka dalam menghadapi segala sesuatu. Suatu hari nanti anda akan bahagia dan lega anda sudah melakukannya.

Ayah teladan adalah ayah yang menempatkan keluarga pada prioritas utamanya dan tidak mengabaikan pentingnya mendidik anak lewat keteladanan hidup mereka

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, May 7, 2018

Imam Eli, Hofni dan Pinehas (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Contoh nyata dari hamba Tuhan yang gagal mendidik anak bisa kita dapatkan dalam Perjanjian Lama, yaitu keluarga seorang imam bernama Eli. Imam Eli merupakan imam yang terpandang. Ia bahkan tinggal di bait Allah. Tetapi lihatlah kelakuan anaknya justru tidak mencerminkan anak seorang imam besar sama sekali. Ketika imam Eli bisa mendidik umat dengan baik, termasuk juga mendidik Samuel dengan sangat berhasil, anak-anaknya Hofni dan Pinehas justru lebih mirip preman ketimbang anak seorang imam.

Alkitab sampai menyebutkannya seperti ini: "Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN," (1 Samuel 2:12). Arti dari dursila adalah buruk kelakuannya, jahat. Ada terjemahan yang mengartikan dursila sebagai orang yang dalam dirinya tidak ditemukan hal baik apapun sama sekali, orang yang terus melanggar huku dan peraturan. Betapa ironisnya hal ini disebutkan bukan terhadap anak penjahat tetapi anak imam besar seperti Eli.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Sepertinya imam Eli salah mengartikan sayang dan tidak menggunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya untuk mendidik kedua anaknya, Hofni dan Pinehas. Ia sibuk bekerja dan aktif melayani, tetapi kemudian lupa akan tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga yang memiliki anak-anak untuk dibina, dibentuk, diasah, diasuh dan dibesarkan dalam takut akan Tuhan. Ia terlalu lembek dan tidak tegas terhadap anak-anaknya.

Kita bisa melihatnya dari ayat berikut: "Eli telah sangat tua. Apabila didengarnya segala sesuatu yang dilakukan anak-anaknya terhadap semua orang Israel dan bahwa mereka itu tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan, berkatalah ia kepada mereka: "Mengapa kamu melakukan hal-hal yang begitu, sehingga kudengar dari segenap bangsa ini tentang perbuatan-perbuatanmu yang jahat itu? Janganlah begitu, anak-anakku. Bukan kabar baik yang kudengar itu bahwa kamu menyebabkan umat TUHAN melakukan pelanggaran." (ay 22-24).

Apakah imam Eli mengingatkan anak-anaknya? Ya, ia mengingatkan, tapi tidak tegas memberi teguran apalagi hukuman. Satu lagi, ia terlambat mendidik anaknya. Saat anak tidak diajarkan dan dicontohkan tentang hal benar sejak kecil, suatu ketika saat mereka sudah dewasa bisa jadi sudah sangat sulit atau terlambat untuk diajar.

Tuhan pun mengetahui kesalahan Eli tersebut. "Sebab telah Kuberitahukan kepadanya, bahwa Aku akan menghukum keluarganya untuk selamanya karena dosa yang telah diketahuinya, yakni bahwa anak-anaknya telah menghujat Allah, tetapi ia tidak memarahi mereka!" (3:13).

Imam Eli tidak mendisiplinkan anak-anaknya dengan benar, bahkan dikatakan lebih menghormati anaknya ketimbang Tuhan, "Mengapa engkau memandang dengan loba kepada korban sembelihan-Ku dan korban sajian-Ku, yang telah Kuperintahkan, dan mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban sajian umat-Ku Israel?" (2:29)

Tidak mendisplinkan, terlalu lemah, terlalu memanjakan, bahkan dia terus membiarkan anak-anaknya menggemukkan diri dengan bagian terbaik dari korban yang disajikan di dalam Kemah Suci dan membiarkan mereka melakukan hal-hal yang tidak sopan, mengancam hingga dosa percabulan. Kesempatan lebih dari cukup diberikan Tuhan, tapi Eli tidak memanfaatkan waktu yang ada. Dan akibatnya hukuman keras pun jatuh. Selain Hofni dan Pinehas tewas dalam hari yang sama, hukuman berat pun jatuh terhadap imam Eli sekeluarga. Bacalah bagaimana kerasnya hukuman Tuhan itu dalam 1 Samuel 2:30-36. Ironis dan tragis, itu yang muncul di benak saya melihat kisah dari keluarga imam Eli ini.

Salah prioritas adalah satu hal lagi yang bisa kita lihat dari keluarga ini. Imam Eli sepertinya terlalu sibuk bekerja dalam pelayanan sehingga sudah tidak cukup waktu dan tenaga lagi untuk mengasuh anak-anaknya. Jika kita perhatikan dalam kehidupan kita, bukankah banyak dari kita yang juga berbuat sama? Kita sibuk bekerja untuk mencari nafkah, kita terjun dalam pelayanan, lalu mengabaikan atau menomor duakan anak-anak, istri dan keluarga. Membagi waktu itu memang tidaklah mudah. Namun skala prioritas yang benar harus kita perhatikan baik-baik.

(bersambung)


Sunday, May 6, 2018

Imam Eli, Hofni dan Pinehas (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Samuel 2:12
====================
"Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN,"

Ada sebuah buku yang pernah saya baca mengungkap sisi ekstrim yang terjadi saat dunia kehilangan figur ayah. Sang penulis yang berdomisili di Afrika mengungkapkan betapa degradasi dan kehancuran moral yang membuat dunia hari ini penuh kekejaman, ketidakadilan, penindasan dan problema sosial lainnya antar manusia sebenarnya berawal dari ketiadaan figur bapa dan kematian keluarga. Bukan mati secara fisik, tapi mati atau tidak berfungsi secara moril dan spiritual. Orang-orangnya ada, tapi tidak ada nilai baik yang mengalir di dalamnya. Semua berjalan sendiri-sendiri, tidak ada saling peduli apalagi saling bangun. Tidak ada pendidikan yang berlangsung disana antara orang tua kepada anak, kasih hilang diganti peraturan keras dengan hukuman fisik bagi yang melanggar. Hidup keras sejak kecil dengan ayah yang datang hanya pada saat menghukum dan memukul, atau juga tidak pernah ada di rumah untuk memperhatikan anaknya. Tidak peduli sama siapa anak bergaul. Gambaran mengerikan tentang generasi hari ini sudah begitu miris bahkan sejak bab pertama buku ini. Dan apa yang ditulisnya bukanlah fiksi melainkan sesuatu yang nyata-nyata ia saksikan.

Mungkin ada yang berpikir bahwa itu kan di Afrika. Tapi bukankah di belahan bumi lainnya kita menemukan kekejaman yang sama, bahkan bisa jadi lebih parah? Sejak kecil generasi terhilang ini tidak mengenal kasih melainkan kebencian. Dan kebencian menumbuhkan sifat kejam dan sadis. Kalau tidak seekstrim itu, ada banyak pula anak-anak yang sudah bermasalah sejak kecil. Ironisnya ini juga terjadi di kalangan orang percaya, bahkan dalam keluarga para pelayan Tuhan yang seharusnya menjadi teladan. Anak orang percaya dan bahkan hamba Tuhan jadi preman di sekolah, jatuh pada berbagai dosa, berpaling dan meninggalkan Tuhan, itu benar-benar terjadi.

Mengapa hal itu boleh terjadi? Bukankah sebagai hamba Tuhan mereka ini kerap menanamkan nilai-nilai baik tentang kebenaran dalam pelayanan mereka? Penyebab paling utama adalah karena kesibukan mereka begitu menyita waktu sehingga mereka tidak lagi punya waktu buat anak-anaknya. Apa yang mereka ajarkan bagi orang lain mungkin membangun, mereka mungkin juga menyampaikan hal yang sama kepada anaknya, tetapi mereka tidak punya cukup waktu dimana anak-anaknya bisa belajar dari kehidupan mereka. Mungkin juga karena sudah terlalu capai rumah cuma menjadi tempat tidur bukan tempat dimana sebuah keluarga bisa saling berbagi kasih. Ada pula yang tampaknya baik dan rohani diluar, tapi di rumah sifat aslinya jauh dari apa yang mereka tunjukkan atau ajarkan di luar.

Para kepala rumah tangga seringkali menganggap bahwa tugas utama mereka adalah bekerja, mencari nafkah dan secukupnya saja meluangkan waktu untuk anak. Dalam pikiran banyak dari mereka, yang penting kebutuhan istri dan anak-anak tercukupi, lebih baik lagi kalau berlimpah. Sebuah hasil survei yang pernah saya baca mengungkapkan bahwa orang tua terutama pria memang berpikir seperti itu. Mereka berpikir bahwa anak-anak akan bahagia apabila kebutuhan mereka tercukupi dan mereka bisa mendapatkan segala yang mereka inginkan. Padahal dari hasil survei dari sisi anak justru melahirkan kesimpulan berbeda. Anak-anak ternyata tidak berpikir dari segi kelimpahan materi, tetapi hasil poin terbesar tentang apa yang paling membuat mereka bahagia justru menunjuk pada satu titik, yaitu waktu. Apa yang paling membahagiakan bagi mereka adalah waktu yang cukup untuk bermain bersama orang tuanya.

Ketika para ayah berpikir dari segi pemenuhan kebutuhan bagi anak-anak mereka, anak-anak menganggap kebersamaan adalah yang paling mereka butuhkan. Ada begitu banyak anak-anak yang kurang mendapat kasih sayang atau bimbingan di saat mereka bertumbuh sementara mereka terus dimanjakan dari sisi materi. Akibatnya kita sering melihat meski mereka berasal dari keluarga berada, tetapi perilaku atau gaya hidup mereka banyak yang buruk. Retaknya keluarga kebanyakan berasal dari kurangnya kebersamaan antar sesama anggotanya.

Dan yang memprihatinkan, kita sering melihat anak-anak yang sama sekali tidak mencerminkan orang tuanya. Ayahnya bekerja banting tulang sepanjang hari, atau dihormati banyak orang, namun anak-anaknya justru menunjukkan perilaku yang tercela. Kurang perhatian, kurangnya kebersamaan dan terlalu dimanja seringkali menjadi awal datangnya bencana seperti ini.

Jika kita gabungkan dengan buku yang saya baca mengenai dunia yang kehilangan figur bapa di awal renungan ini, kita bisa melihat bahwa sebenarnya anak-anak sudah menunjukkan apa yang mereka butuhkan agar bisa bertumbuh menjadi pribadi berkualitas tinggi. Sayangnya orang tua terutama ayah banyak yang tidak menyadari hal ini dan kemudian harus bersedih melihat anak-anak mereka tumbuh tidak dengan kualitas akhlak dan keimanan yang sebenarnya mereka inginkan.

(bersambung)


Saturday, May 5, 2018

Warisan Iman Turun Temurun (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)


Warisan berharga turun temurun selama tiga generasi dalam keluarga Timotius ini berbentuk iman. Eunike belajar dan melihat keteladanan dari Lois, lalu keteladanan yang sama ia berikan kepada anaknya. Tidaklah heran kalau Timotius bertumbuh sebagai putra yang membanggakan orang tuanya dan dikenal baik oleh masyarakat ditempatnya tinggal.

Jika peran seorang ibu sangat penting dalam perkembangan jiwa dan kepribadian anak, peran ayah pun tidak kalah pentingnya. Lihatlah ayat berikut ini: "Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu". (Amsal 1:8). Selain mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarga, melindungi istri dan anak-anaknya, seorang ayah wajib pula mendidik anaknya.

Alkitab tidak mengajarkan ayah untuk melepas semuanya kepada ibu sementara ia hanya diluar mencari uang tanpa merasa perlu meluangkan waktu sedikitpun untuk anak-anaknya. Kenyataannya ada ayah-ayah yang 'membagi tugas' dengan ibu. Ibu ngurus anak, ngurus rumah, doa, sementara ayah fokus kerja. Ada fungsi pria menikah sebagai ayah dan teman bagi anak-anaknya lalu fungsi sebagai imam yang tidak boleh ditiadakan. Karena itulah saya selalu mengatakan bahwa seorang superman bukanlah pria yang bisa terbang, gagah perkasa dalam berkelahi, sangat kaya raya dan sejenisnya, tapi adalah pria yang bisa menemukan harmoni dan balance atau keseimbangan dalam berbagai peran wajibnya secara pribadi maupun keluarga.

Selain dari orang tua, peran anggota keluarga lain pun akan membawa pengaruh banyak dalam masa depan anak. Dari contoh mengenai Timotius di atas kita bisa melihat bahwa peran nenek pun punya andil dalam kehidupan kita. Keteladanan yang baik akan diwariskan secara turun temurun, demikian pula contoh buruk, akan diwariskan secara turun temurun.

Firman Tuhan berkata: "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu." (Ulangan 6:6-9). Disini kita bisa melihat bahwa sebuah keteladanan merupakan bagian yang sangat penting dengan menyampaikan pengajaran Tuhan secara berulang-ulang kepada anak-anak kita.

Mendidik mereka akan budi perkerti, ilmu pengetahuan dan pelajaran-pelajaran lainnya akan sangat baik buat masa depan mereka. Tetapi jangan lupa bahwa mengajarkan mereka tentang firman Tuhan dan menumbuhkan iman mereka sejak dini pun merupakan faktor yang teramat sangat penting yang tidak boleh diabaikan atau ditunda-tunda. Berilah contoh yang baik kepada anak-anak, bukan hanya lewat teori dan perintah, namun yang lebih penting justru dengan keteladanan secara langsung lewat cara, sikap dan gaya hidup kita.

Anak-anak selalu memperhatikan hidup kita tanpa kita sadari, dan contoh perilaku yang baik, hidup yang kudus, penuh kasih, jujur dan serius dalam membangun hubungan dengan Tuhan akan membuat mereka menjadi anak-anak terang yang mengenal pribadi Tuhan sejak usia mudanya.

Sudahkah anda memberi keteladanan yang baik pada mereka? Warisan apa yang kita tinggalkan buat mereka? Seperti apa mereka kelak dikemudian hari akan sangat tergantung dari seberapa baik kita mendidik mereka dan memberi keteladanan langsung lewat segala aspek dalam kehidupan kita.

Wariskan iman dalam pengenalan yang baik tentang Tuhan buat anak-anak kita lewat contoh nyata dari keseharian kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, May 4, 2018

Warisan Iman Turun Temurun (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kalau bentuk pengajarannya hanya bersifat perintah tanpa contoh nyata lewat perilaku orang tuanya sendiri, anak-anak akan cenderung tidak menganggap serius semua itu. Bisa-bisa mereka akan sinis terhadap apa yang diajarkan orang tuanya. Mereka tidak akan menyadari untuk apa beribadah itu, apa manfaatnya, kenapa mereka harus menjadi pribadi berintegritas, apa gunanya dalam hidup mereka kelak setelah dewasa. Semua itu akan merugikan perkembangan jiwa si anak. Mau anak siapapun, meski orang tuanya terpandang atau bahkan hamba Tuhan, kalau orang tuanya tidak mendidik dengan contoh keteladanan yang benar, hidup anak-anak ini akan jauh dari sikap takut akan Tuhan. Dan kalau sudah terlanjur dewasa, biasanya sifat-sifat mereka terlanjur buruk dan akan sulit sekali untuk diperbaiki. Benar, anak-anak memiliki sifatnya sendiri-sendiri. Tetapi bagaimana orang tua mendidik anak akan sangat menentukan seperti apa mereka kelak pada saat menginjak dewasa.

Akan halnya keteladanan turun temurun, ayat bacaan kita hari ini memberi gambaran menarik akan hal itu. Timotius dikenal sebagai anak rohani Paulus, seperti yang tertulis dalam 1 Timotius 1:2. Ia adalah seorang anak muda yang sudah bersinar sejak masih belia. Di usia mudanya, Timotius sudah sanggup tampil di depan, menjadi teman sekerja Paulus dalam melayani.

Jika kita mencari tahu latar latar belakang dari Timotius, kita akan mendapati awal perjumpaan Paulus dengan Timotius tertulis di Kisah Rasul 16:1-3. Paulus bertemu dengan Timotius pada saat ia tiba di Listra (sekarang dikenal sebagai Turki). Mari kita lihat ayatnya.

"Paulus datang juga ke Derbe dan ke Listra. Di situ ada seorang murid bernama Timotius; ibunya adalah seorang Yahudi dan telah menjadi percaya, sedangkan ayahnya seorang Yunani. Timotius ini dikenal baik oleh saudara-saudara di Listra dan di Ikonium, dan Paulus mau, supaya dia menyertainya dalam perjalanan. Paulus menyuruh menyunatkan dia karena orang-orang Yahudi di daerah itu, sebab setiap orang tahu bahwa bapanya adalah orang Yunani." (Kisah Para Rasul 16:1-3).

Ibu Timotius adalah seorang Yahudi yang ternyata telah menerima Yesus sebelum bertemu Paulus, sedang ayahnya orang Yunani. Timotius bukanlah anak muda yang suka bikin onar, meresahkan masyarakat, ia pun bukan anak muda yang kacau hidupnya. Ia bukan anak muda yang labil dan suka cari masalah. Alkitab mencatat bahwa saat Paulus bertemu dengannya, Timotius dikenal sebagai orang baik di kalangan orang-orang percaya.

Dari mana ia bisa tumbuh dengan baik seperti itu dan bisa bersinar sejak usia mudanya? Jawabannya bisa kita dapati dalam surat 2 Timotius yang saya jadikan ayat bacaan hari ini. Mari kita baca ayatnya. "Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu" (2 Timotius 1:5).

Ayat ini menjelaskan dari mana perilaku baik Timotius itu berasal. Ternyata ibu dan nenek Timotius mempunyai peran sangat penting dalam mendidiknya. Neneknya Lois dan ibunya Eunike memberi teladan hidup yang baik bagi Timotius. Yang pertama menjadi orang percaya adalah neneknya Timotius. Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa Lois bukan hanya menerima Kristus tetapi ia memiliki iman yang tulus ikhlas. Dalam beberapa versi bahasa Inggrisnya iman yang tulus ikhlas ini disebutkan dengan honest/sincere faith, iman yang jujur, tulus dan sungguh-sungguh. Iman seperti itu ia wariskan kepada anak perempuannya Eunike. Eunike pun memiliki iman yang sama sebagai warisan dari Lois. Lalu iman tersebut ia wariskan kepada Timotius sejak belia.

Selanjutnya mari kita lanjutkan dengan ayat berikut ini. "Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus." (2 Timotius 3:15).

Dari ayat ini kita bisa mendapati bukti bahwa sejak masa kecilnya Timotius telah dikenalkan pada Kitab Suci sehingga dirinya sudah beroleh hikmat dan dituntun pada keselamatan oleh iman kepada Kristus pada usia muda. Ia sudah dibawa pada pengenalan akan Kristus, ia sudah diajarkan mengenai keselamatan yang diberikan Tuhan sebagai sebuah kasih karunia yang sangat luar biasa besar. Ia hidup didalamnya lewat keteladanan dan pengajaran dari nenek dan ibunya.

(bersambung)


Thursday, May 3, 2018

Warisan Iman Turun Temurun (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 2 Timotius 1:5
=====================
"Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu"

Dalam dunia musik ada lumayan banyak musisi yang mewarisi bakat turun temurun bukan cuma dua tapi hingga tiga generasi. Mulai dari kakek atau/dan nenek, kemudian ke ayah atau/dan ibu, lantas bakat musik itu mengalir dalam DNA mereka. Rentang waktu antara generasi pertama sampai ketiga ini rata-rata berada dalam kisaran 50-60 tahun dan tiap generasi bersinar di jamannya masing-masing. Uniknya, mereka tidak selalu menggunakan instrumen yang sama dengan ayah atau kakeknya. Ada yang generasi pertama merupakan gitaris, lalu generasi kedua pianis, dan anaknya sekarang menjadi penyanyi dan bintang film, seperti ibunya. Itu salah satu contohnya. Lalu mereka juga banyak yang memilih genre berbeda walau sama-sama bertekun di dunia musik.

Kalau diluar dunia musik, saya yakin ada banyak juga anak yang mengikuti jejak orang tuanya dengan menekuni profesi yang sama, minimal berhubungan. Kakek dokter, ayah dokter, anak dokter. Mungkin beda keahlian, mungkin sama. Kakek pengusaha, ayah pengusaha, anak juga jadi pengusaha. Mengapa demikian? Karena selain bakat yang turun dari orang tua, kebanyakan anak mengikuti anjuran orang tuanya yang merasa anaknya akan lebih mapan di dunia yang sudah mereka kenal dengan baik. Itu menjadi salah satu warisan dari orang tua, selain warisan lainnya seperti harta, rumah dan sebagainya.

Apakah itu saja yang bisa diwariskan? Semakin banyak orang yang lupa bahwa ada warisan yang sangat penting, yaitu warisan perilaku berintegritas yang berdasarkan kebenaran sesuai Firman Tuhan. Dunia yang dianggap semakin sulit, ditambah daftar kebutuhan yang semakin banyak dibanding jaman dulu membuat orang sibuk berkejar-kejaran mengejar harta dan lupa pada tanggungjawab untuk mendidik anak-anaknya agar mengenal Tuhan dan prinsip kebenaranNya.

Ayah menganggap pemenuhan kebutuhan primer seperti sandang, pangan dan papan dan beberapa kebutuhan mendasar lainnya seperti pendidikan dan beberapa benda 'modern' yang masuk daftar wajib di jaman sekarang buat anak seperti gadget dan laptop lalu uang jajan, itu sudah cukup sebagai pemenuhan tanggung jawabnya. Sementara ibu, kalau tidak ikut berjuang mencari nafkah, banyak yang berpikir bahwa mengurus anaknya makan, mandi, bikin tugas rumah, itu cukup untuk memenuhi tanggungjawabnya. Ada juga yang sudah mengerti pentingnya mendidik anak tentang Firman Tuhan, namun sayangnya sedikit yang sadar akan betapa pentingnya keteladanan terhadap apa yang diajarkan.

Pengajaran yang tidak disertai keteladanan akan sangat tidak efektif dalam mendidik anak. Seorang penulis dari Amerika Serikat mengatakan "Don't worry that children never listen to you. Worry that they are always watching you", itu menunjukkan bahwa anak akan cenderung lebih mencontoh perilaku orang tuanya ketimbang mendengarkan pengajaran atau nasihat mereka.

Orang tua mengajarkan anaknya untuk sopan, tapi perilakunya dilihat anak jauh dari sopan. Orang tua bilang jangan kasar, tapi di rumah mereka menunjukkan sikap yang kasar dan mudah marah, sumbu emosi pendek bahkan tanpa sebab yang jelas. Anak tidak boleh merokok tapi ayahnya ngebul di rumah. Atau bagaimana kalau mereka melihat orang tua yang gemar menipu. Ada yang menyuruh anak agar rajin ke gereja, rajin berdoa, tapi sebagai orang tua mereka malah tidak menunjukkan itu dengan berbagai dalih seperti sibuk, terlalu lelah bekerja dan sebagainya. Atau ada orang tua yang seolah terlihat rajin beribadah tapi kehidupannya jauh dari mencerminkan ajaran Tuhan.

(bersambung)


Wednesday, May 2, 2018

Iman Rahab (4)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Iman jangan berhenti hanya pada pengakuan percaya saja, melainkan harus disertai dengan perbuatan, karena hanya lewat perbuatanlah iman bisa disempurnakan. "Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna." (ay 22). Tanpa perbuatan, iman dikatakan kosong (Yakobus 2:20), bahkan pada hakekatnya adalah mati (ay 17).

Lewat kisah Rahab kita bisa belajar mengenai bagaimana sebuah iman yang kuat itu. Sudah menjadi Kristen sejak lahir tidak serta merta menjamin kuatnya iman. Sebaliknya, orang yang baru mengenal Tuhan bisa memiliki iman yang kuat apabila mereka menyadari betul keberadaan, kekuatan kuasa, kedaulatan dan belas kasihan Tuhan yang begitu besar dan deras melimpah di muka bumi ini.

Jika kita seperti Rahab, menyadari kebesaran Tuhan ada diatas segalanya baik di langit maupun di bumi, alangkah bodohnya apabila kita masih melawan kehendakNya, menduakanNya dan mengikut atau mencari alternatif-alternatif lain yang ditawarkan kegelapan di luar sana, jika kita masih labil, bimbang dan terus terpengaruh tipu daya si jahat yang datang dari segala hal di sekeliling kita. Satu hal lagi yang tidak kalah penting adalah, Rahab tidak berhenti hanya pada percaya lewat imannya tapi ia mengaplikasikan imannya tersebut dalam perbuatan nyata.

Kisah Rahab juga merupakan cerminan dari kisah hidup kita. Kita bukan keturunan Israel yang menjadi umat pilihan Allah di masa dahulu kala, lewat dosa-dosa kita, yang terus hidup dalam berbagai ketidaktaatan, pembangkangan, mengikuti hawa nafsu dan keinginan daging, hidup dalam kejahatan seperti iri hati, kebencian, mementingkan diri sendiri kalau tidak bahkan lebih seperti mencuri, menipu, zinah, membunuh dan sebagainya, seharusnya kita pun tidak layak untuk selamat. Tapi Tuhan memberikan kita kasih karuniaNya dalam Kristus yang akan kita terima lewat iman.

Dalam Efesus dikatakan "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri." (Efesus 2:8-9).

Ketika kita menghadapi hari-hari yang sulit hari ini, apakah kita bisa seperti Rahab yang memiliki keteguhan iman kepada Tuhan dan mengaplikasikan iman tersebut dengan sebentuk perbuatan nyata? Mampukah kita terus percaya kepada Tuhan dengan segenap hati kita meski apa yang sedang kita hadapi hari ini seolah belum mengarah kepada jalan keluar atau titik terang? Mampukah kita tetap bersukacita dan percaya bahwa Tuhan pasti akan memberikan solusi meski kita belum melihat apa-apa saat ini? Dan, apakah kita mau mengaplikasikan iman dalam tindakan-tindakan nyata?

Iman yang kokoh dan disertai perbuatan nyata akan sangat menentukan seperti apa hidup kita sekarang maupun kelak. Hendaklah kita bisa belajar dari iman Rahab agar pada suatu hari nanti kita bisa berada dalam daftar pahlawan-pahlawan atau saksi-saksi iman seperti halnya Rahab dan para tokoh besar lainnya.

Iman bukan hanya untuk dipendam tapi seharusnya aplikatif dalam kehidupan lewat tindakan-tindakan nyata

Follow us on our Twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, May 1, 2018

Iman Rahab (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!

(sambungan)

Dalam menggambarkan perasaan dan situasi warga Yerikho, Rahab menggunakan kata 'kami'. Tapi untuk menunjukkan iman, Rahab menggunakan kata 'aku'. Itu jelas menunjukkan bahwa ia menggantungkan imannya kepada Tuhan. Karena itulah Rahab kemudian menerima belas kasihan Tuhan. Ia dan keluarga besarnya diselamatkan. Kebesaran imannya tercatat hingga ribuan tahun sesudah jamannya. Belakangan dalam kitab Ibrani ia digolongkan sebagai salah satu saksi iman. Ayatnya berbunyi sebagai berikut:

"Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik." (Ibrani 11:31).

Seperti yang saya sudah sebutkan diawal, Rahab berada dalam sebuah kelompok saksi iman bersama-sama dengan Habel, Henokh, Nuh, Abraham dan istrinya Sara, Ishak, Yakub, Yusuf, Musa, Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel. Bahkan Yosua saja tidak turut disebutkan dalam daftar ini.

Dalam Yakobus 2:25 ia dijadikan contoh pula tentang iman yang disertai perbuatan. "Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain?" Hanya ada dua nama yang diangkat Yakobus akan hal ini, dan satunya lagi adalah Abraham.

Dalam Yosua 6 kita bisa melihat bahwa Rahab dan keluarganya selamat. "Demikianlah Rahab, perempuan sundal itu dan keluarganya serta semua orang yang bersama-sama dengan dia dibiarkan hidup oleh Yosua. Maka diamlah perempuan itu di tengah-tengah orang Israel sampai sekarang, karena ia telah menyembunyikan orang suruhan yang disuruh Yosua mengintai Yerikho." (Yosua 6:25). Rahab menerima belas kasihan Tuhan lewat imannya yang besar.

Tapi ternyata keselamatan bukan satu-satunya yang dia peroleh, karena kemudian kita pun bisa melihat bahwa Rahab tertulis dalam silsilah Yesus yang ada dalam Matius 1:5.

Berawal dari keputusannya untuk menyelamatkan para pengintai yang diutus oleh Yosua dengan didasari iman yang kuat kepada Tuhan yang pada saat itu bukanlah Pribadi yang disembah oleh bangsanya. Apa yang ditunjukkan oleh Rahab adalah iman. Dikatakan "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). Dan itulah yang dimiliki Rahab. Bukankah ia mendasari keputusannya dengan iman yang  percaya kepada Tuhan yang ia dengar? Ia tidak mengetahui apa yang terjadi selanjutnya, tetapi ia percaya. Itulah sebuah iman, dan Rahab memilikinya.

Berkaitan dengan surat Yakobus, kita juga harus melihat bahwa iman Rahab itu menjadi sempurna karena disertai dengan perbuatan. Rahab tidak berhenti hanya kepada percaya saja, tetapi ia pun mengaplikasikannya dalam perbuatan nyata. Iman Rahab bukanlah iman yang kosong, imannya adalah iman yang disertai perbuatan.


(bersambung)


Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker