Sunday, August 20, 2017

Press On (1)

webmaster | 8:00:00 AM |
Ayat bacaan: Filipi 3:12 (NIV)
==================
"Not that I have already obtained all this, or have already arrived at my goal, but I press on to take hold of that for which Christ Jesus took hold of me."

Suatu kali saat melayani di sebuah tempat, saya sempat berbicara dengan seorang pria paruh baya. Bapak ini mengaku tidak bekerja dan hanya mengandalkan penghasilan istrinya. Ketika saya tanya dimana letak kesulitannya, ia berkata bahwa ia tidak bisa apa-apa karena mau usaha apapun tidak kuat di modal. Ia bilang ia kurang beruntung karena tidak dibekali keahlian oleh Tuhan, kurang diberkati secara materi karenanya tidak tahu harus bikin apa. "Lagian saya sudah tua, malas lah." katanya.

Saya terdiam dan sebenarnya kaget dengan perkataan bapak ini. Saya tidak mau langsung menyela, tapi saya merasa ada yang salah dengan cara pikirnya. Benarkah ada orang yang bernasib tidak beruntung karena tidak dibekali bakat atau kelebihan apa-apa saat dilahirkan? Apakah Tuhan memang kerap tidak memberkati secara cukup alias kurang, sehingga kita tidak bisa bikin apa-apa yang bermanfaat? Apakah ada istilah sudah terlalu tua untuk melakukan sesuatu? Kalau kerja saja belum, bagaimana dengan mengetahui panggilan dan menjalaninya secara maksimal sehingga bisa memberkati orang lain? Apakah kita memang harus terus bergumul karena terus merasa kekurangan berkat dan melewatkan kesempatan untuk memberkati selama hidup masih ada?

Semua pertanyaan ini berkecamuk dalam pikiran saya, karena jika itu benar, maka itu artinya janji-janji Tuhan adalah janji kosong yang tak terbukti. Di satu sisi pemikiran bapak ini mewakili pemikiran banyak orang yang keliru menyikapi hidup dan berkat Tuhan, di sisi lain kesulitan memang dirasakan oleh banyak orang, terutama di masa kesukaran seperti sekarang.

Saya pun ingat pertemuan dengan seorang pria difabel yang menderita tunadaksa alias cacat tubuh. Dengan segala keterbatasannya yang membuatnya harus dipapah kalau mau berpindah dari kursi rodanya, ia ternyata sukses menjadi seorang pengusaha. Jika anda mengira bahwa ia lahir dari keluarga kaya sehingga tidak masalah dari segi modal, anda akan terkejut jika mendengar masa lalunya. Jangankan keluarga kaya, keluarga pun ia tidak punya. Ia dibuang oleh orang tuanya karena cacat sejak lahir, dan hidupnya di tempat penitipan sangatlah penuh penderitaan. Kalau ternyata ia sekarang bisa sukses dan memberkati banyak orang, bukankah kita yang anggota tubuhnya lebih sempurna harusnya malu kalau masih mengeluh seperti bapak di atas? Pertemuan saya dengan pria difabel ini sangatlah memberkati saya.

Ada perkataannya yang tidak bisa saya lupakan: "saya boleh lahir dan hidup cacat, tapi kehidupan saya tidak boleh cacat." Ia pun berkata bahwa ia tidak akan mau menganggap masa lalunya sebagai bentuk ketidakadilan atau kekejaman Tuhan atas dirinya, tapi merupakan berkat yang membuatnya bisa menjadi siapa dia hari ini. Kalau beliau bisa, kenapa kita tidak? Kalau beliau bisa memandang masa lalu yang sangat kelam sebagai sebuah berkat, kenapa kita yang tidak separah pengalaman beliau masih mengeluh bahkan berani menyalahkan Tuhan? Soal kita lahir dalam kondisi seperti apa, itu tidak dalam kendali kita. Tapi kita punya kendali penuh dalam menjalani kehidupan kita, menentukan arah langkah dengan benar agar kehidupan kita tidak cacat tapi terus berproses menuju kesempurnaan.

(bersambung)


No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker