Wednesday, August 30, 2017

Dilupakan (1)

webmaster | 8:00:00 AM |
Ayat bacaan: Kejadian 40:23
========================
"Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya."

Istri saya pernah punya pengalaman soal menunggu yang sempat membuatnya rada trauma. Suatu hari waktu masih SD, ayahnya lupa menjemput. Ia duduk di sekolah sendirian sampai sekitar pukul 5 sore, ditemani seorang satpam. Apa yang ia rasa waktu itu? Saya pernah tanyakan, dan ia berkata campuran kesal, sedih, takut dan putus asa. Ia menangis saat dijemput dan masih terus menangis setelah sampai di rumah. Entah berhubungan dengan itu atau tidak, sejak masa pacaran ia memang paling bermasalah dengan yang namanya menunggu. Kalau telat dikit saja ia bisa uring-uringan.

Karena itulah hingga hari ini saya terus memastikan agar dia tidak sampai menunggu biar semenit pun. Lebih baik saya yang menunggu lama daripada dia menunggu sebentar. Dan tentu saja, yang paling penting jangan sampai saya lupa menjemput, mengantar atau lupa janji. Karena selain dia memang punya masalah soal itu, Buat saya itu penting, karena kalau memang sayang harusnya saya tidak lupa kebutuhannya dan janji pergi bersamanya. Bukankah menyebalkan kalau pasangan kita terus saja lupa dan harus berulang-ulang diingatkan bahwa ia sudah janji sesuatu? Kalau sudah janji, saya harus tepati biar bagaimanapun.

Meski demikian, saya mengingatkan istri juga untuk belajar lebih sabar dalam hal menunggu. Soalnya, mungkin saya sebagai suami bisa memastikan on time agar dia tidak menunggu, tapi suatu ketika ia harus mengalaminya dari orang lain. Tidak mungkin kan kalau harus kesal terus karena lebih banyak orang yang jam karet ketimbang on time saat ini. Kekesalan tentu tidak baik bagi orang lain terutama diri sendiri. Sekarang ia sudah jauh lebih sabar dan santai dalam menunggu.

Menunggu sering menjadi hal yang paling tidak disukai banyak orang. Menunggu antrian, menunggu giliran, itu menyebalkan bagi sebagian orang. Lama menunggu seseorang tapi yang ditunggu tidak datang karena lupa, itu lebih menyebalkan lagi. Atau sudah lama menunggu pesanan datang tapi ternyata ordernya kelupaan dibuat. Yang datang belakangan malah sudah dapat pesanannya duluan. Kalau dilupakan orang juga sangatlah tidak enak rasanya. Saat susah kita mati-matian bantu, tapi begitu sudah senang mereka segera lupa pada kita. Kalau kita saja kesal diperlakukan begitu, bayangkan ada orang-orang yang mengaku percaya sibuk meminta pertolongan Tuhan tapi dengan segera melupakan Tuhan begitu masalah selesai.

Saya cukup sering mengalaminya, karena panggilan saya kebetulan sejak dulu berhubungan dengan anak-anak muda yang berproses membangun masa depan dan karir mereka. Beberapa dari mereka melupakan setelah sukses, beberapa masih tetap berhubungan baik sampai sekarang. Dahulu saya sempat merasa kecewa, tapi belajar untuk menyikapi secara positif. Mengapa? Karena kekesalan hanya akan merepotkan dan merugikan kita sendiri.

Tidak ada yang suka menunggu, tapi kalau membiarkan diri kita kesal karenanya, kita sendiri yang rugi. Daripada dibawa kesal, lebih baik jadikan hal tersebut sebagai ujian kesabaran. Itu akan jauh lebih berguna dibandingkan kita hanya memuaskan kekesalan yang pelampiasannya bisa mengenai orang yang tidak bersalah apa-apa.

Kalau soal kelupaan dan dilupakan seperti contoh di atas bikin kesal, mari kita lihat sebuah kisah tentang hal itu yang jauh lebih buruk lagi, yaitu dari kisah Yusuf. Saat Yusuf berada dalam penjara, Yusuf mengartikan mimpi dari seorang kepala juru minum dan juru roti yang sama-sama sedang dipenjara bersamanya saat itu. Mimpi itu diartikan Yusuf mengarah kepada kebebasan juru minum dan kematian juru roti tu dalam waktu 3 hari. Yusuf pun berpesan kepada sang juru minuman seperti ini: "Tetapi, ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Firaun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini." (Kejadian 40:14). 3 hari kemudian yang terjadi persis seperti apa yang dikatakan Yusuf. Setelah bebas, sang Juru minuman seharusnya mengingat Yusuf dan mengupayakan dengan serius agar Yusuf pun bisa menghirup udara kebebasan lagi. Setidaknya ia bisa menunjukkan rasa terimakasihnya dengan melakukan itu, seperti yang diminta oleh Yusuf. Apakah ia melakukannya? Ternyata tidak. Ia melupakan Yusuf setelah menikmati kebebasannya. Alkitab mencatatnya: "Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya." (ay 23).

(bersambung)


No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker