Wednesday, August 9, 2017

Hancurnya Menara Kartu (1)

webmaster | 8:00:00 AM |
Ayat bacaan: 1 Samuel 13:13-14
=========================
"Kata Samuel kepada Saul: "Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya. Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu."

Dalam pekerjaan apapun, orang tentu mengharapkan peningkatan dari satu kesuksesan kepada kesuksesan berikutnya. Kita bekerja keras untuk itu, melakukan yang terbaik sejauh kemampuan kita, bahkan banyak yang mengeluarkan upaya diatas kemampuannya, mendoakan agar kiranya Tuhan memberkati pekerjaan kita sehingga bisa terus meningkat. Kita menunjukkan performa terbaik dan berharap Tuhan akan mempercayakan sesuatu yang lebih besar lagi. Itu harapan semua orang. Tidak ada satupun orang yang mau berjalan ditempat tanpa kemajuan, apalagi kalau menurun. Selama kita bekerja dengan benar sesuai panggilan yang diberikan dan melibatkan Tuhan di dalamnya, kesuksesan adalah sebuah keniscayaan. Yang jadi masalah adalah sejauh mana kita bisa menghargai apa yang dipercayakan Tuhan pada kita dan menyikapinya dengan baik. Karena kalau tidak, apa yang sudah dengan susah payah kita bangun selama ini bisa berakhir sia-sia.

Bayangkan jika anda membuat menara dari kartu. Anda fokus dengan penuh kehati-hatian untuk terus menambah tinggi menara anda. Setelah berjam-jam berusaha keras, akhirnya anda mencapai sebuah ketinggian yang membanggakan. Tapi kemudian anda lengah, tangan anda menyenggol sedikit saja bagian kartu dan seketika itu juga menara kartu runtuh. Semua yang anda usahakan berjam-jam musnah berakhir sia-sia. Bagaimana perasaan anda? Kesal, sedih, marah, kecewa, menyesal, mungkin bercampur aduk jadi satu. Kalau hanya menara kartu, anda bisa mengulanginya lagi. Tapi ada banyak hal di dalam hidup ini yang kalau salah kita sikapi, kalau kita ceroboh, lupa diri, tamak dan sejenisnya sehingga melupakan tugas sejatinya kita dalam mengemban amanat yang dipercayakan Tuhan, kehancuran yang terjadi menjadi sangat sulit diperbaiki, bahkan mungkin tidak bisa lagi sama sekali.

Bukanlah hal yang aneh lagi bagi kita melihat kejatuhan orang-orang besar yang sebenarnya punya potensi yang luar biasa dalam karir mereka. Dalam politik, hiburan bahkan dunia kerohanian kita menyaksikan orang-orang yang sukses besar dalam membangun karir, punya kesempatan sangat tinggi untuk naik, tapi terpeleset dan hancur karirnya dalam seketika. They had good start, good future, but they fell apart tragically. Kita begitu sering melihat dan mendengar kisah hidup yang sepertinya terus berulang-ulang ini, seakan manusia tidak pernah mau belajar dari pengalaman orang lain. Kita yang melihat saja merasa miris, apalagi mereka yang merasakannya langsung. Sesuatu yang sudah dibangun dengan cucuran keringat dan air mata selama bertahun-tahun harus berakhir tragis dalam seketika.

Yang seringkali juga terjadi, ada orang-orang yang menyia-nyiakan kesempatan berkali-kali. Mereka berjalan dari satu keputusan yang salah kepada kesalahan berikutnya secara estafet. They made a mistake, then failed to do right in any given next chances. Pada akhirnya saat kesempatan itu sirna, kegagalan besar dan kehancuran menjadi konsekuensi yang harus ditanggung. Sangat disayangkan saat itu terjadi hanya karena kita tidak bisa menyikapi dengan benar segala sesuatu yang dipercayakan Tuhan pada saat ini. Dan itu dialami oleh salah satu tokoh Alkitab yang sebenarnya punya potensi luar biasa untuk menjadi besar sepanjang jaman, tetapi rangkaian kesalahan sikap membuatnya berakhir di sisi sebaliknya. Tokoh itu adalah Saul.

Saul memulai langkahnya dengan sangat istimewa. Ia disebut sebagai seorang yang diurapi Tuhan. Ia dikatakan elok rupanya, badannya tinggi (1 Samuel 9:2). Saul juga dikenal sebagai pribadi yang rendah hati (ay 20-21). Ia penuh Roh Allah seperti halnya nabi (10:10-13). Lihatlah bahwa Saul mengawali segalanya dengan gemilang dengan kualitas lebih dari kebanyakan orang. Ia pun menjabat sebagai raja pertama Israel. Luar biasa bukan? Dengan modal seperti itu ia seharusnya bisa melangkah jauh dalam kesuksesan. Menjadi raja yang besar dimasanya dan dikenang sepanjang masa. Seharusnya begitu. Tapi kisah hidup selanjutnya sangatlah ironis atau malah bisa dikatakan tragis.

Dalam pasal ke 13 kitab Samuel kita mulai melihat tanda-tanda kejatuhan Saul. Kejayaan Saul ternyata tidak sanggup ia pertahankan. Kesuksesannya sayangnya tidak diikuti dengan ketaatan dan kesetiaan pada Tuhan. Ia mulai hilang pengharapan, ketaatan maupun kesabaran. Lihatlah bagaimana Saul melupakan Tuhan yang mengurapinya. Bukannya menaati Tuhan, ia malah meminta petunjuk dari arwah ketika merasa gentar menghadapi bangsa Filistin dan karena kuatir tidak lagi didukung oleh bangsanya (13:11-12). Ia tidak lagi percaya kepada Tuhan dan menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangan Tuhan, melainkan mulai mencari alternatif-alternatif sendiri yang jelas-jelas merupakan kejahatan di mata Tuhan.

(bersambung)


No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker