Saturday, August 5, 2017

Belajar dari bangsa Edom (1)

webmaster | 8:00:00 AM |
Ayat bacaan: Obaja 1:3
==============
"Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: "Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?"

Dalam politik ada orang-orang yang dianggap untouchable. Kata untouchable atau 'tak tersentuh' ini disematkan kepada orang-orang yang tampaknya tidak tersentuh hukum. High rank, high power people, yang bisa berbahaya bahkan menggoyang sebuah bangsa jika diusik. Ada yang punya jaringan seperti mafia, ada juga yang bukan cuma tidak tersentuh tapi juga tidak terlihat. Biasanya kalau mereka mulai bersentuhan dengan hukum lewat pelanggaran, beritanya akan segera cepat menguap sehingga tidak lagi diingat orang, bahkan seperti tidak pernah ada. Apa yang membuat mereka kuat? Bisa banyak. Harta, jabatan, relasi, koneksi, kekuasaan, semua itu bisa membuat orang berada di atas hukum dan keadilan. Dunia memang cenderung memandang pada tingkatan. Yang kuat menindas yang lemah, yang kaya menindas yang miskin. Itu terjadi dimana-mana sejak lama. Bahkan anak SD saja sudah harus menghadapi bully dari kakak kelas atau temannya yang kebetulan punya postur lebih atau punya gang berkuasa. Kalau sudah begitu powerful sampai bisa tidak tersentuh, mereka akan merasa bisa bertindak seenaknya. Kesombongan akan dengan serta merta menjadi standar perilaku mereka. Di dunia ada orang-orang yang untouchable, dan mungkin jika mereka begitu kuat, tidak ada satupun kekuatan di dunia ini yang bisa menghukumnya. Di dunia mungkin ya, tapi jangan lupa bahwa ada penghakiman yang lebih besar dari apapun yang harus mereka hadapi pada suatu saat, yaitu penghakiman Tuhan. Manusia bisa dikuasai, bisa ditekan, bisa disogok, tapi Tuhan tidak akan pernah bisa dibegitukan, tak peduli berapapun harta yang seseorang punya dan sebesar apapun kuasanya.

Kesombongan bisa menimpa individu, kelompok atau golongan, organisasi bahkan negara yang merasa di atas angin. Kalaupun belum sampai masuk kategori untouchable, kesombongan bisa menjangkiti orang-orang biasa. Kapan orang biasanya menjadi angkuh atau sombong? Biasanya ini menjadi penyakit yang timbul ketika orang mulai atau sudah sukses. Berhasil dalam karir, bisnis, atau aspek-aspek kehidupan lainnya. Tidaklah heran apabila kita melihat orang yang tiba-tiba berubah sikapnya begitu mereka mencapai keberhasilan. Mengandalkan uang atau harta, jabatan dan koneksi, itu jadi kartu as untuk bisa berbuat seenaknya, bebas melanggar peraturan tanpa mendapat ganjaran. Siapapun mereka atau apapun bentuknya, murka Tuhan bisa sama menimpanya tanpa pandang bulu. Hari ini saya ingin mengajak teman-teman untuk melihat konsekuensi dari kesombongan sebuah bangsa bernama Edom.

Bangsa Edom berasal dari keturunan Esau dan membangun bangsanya di atas gunung. Tingginya lebih dari 600 meter di atas permukaan laut. Kontur tempatnya ada di tebing terjal dengan jurang yang dalam. Kalau ditinjau dari segi geografis, Edom sangat diuntungkan karena berada pada posisi yang sangat strategis dan aman. Pada waktu itu belum ada rudal, bom atau pesawat tempur sehingga mereka bisa dengan mudah menyapu bersih siapapun yang menyerang dari bawah. Menyadari ini, orang Edom merasa sangat aman sehingga lupa diri dan sombong. Mereka berpikir bahwa tidak akan ada bangsa manapun yang akan mampu menandingi mereka. Jangankan menandingi atau menyerang, mengganggu pun harus pikir panjang dan lama dulu.

Ironisnya, meski bangsa Edom ini memiliki hubungan darah dengan Israel, tetapi kedua bangsa ini tidaklah harmonis. Ketidakakuran mereka sudah terlihat sejak nenek moyangnya yang terus berlanjut ke generasi-generasi berikutnya.

Pada suatu kali Obaja mendapat sebuah penglihatan mengenai situasi yang bisa menghancurkan negeri Edom. Lewat Tuhan ia mengetahui bahwa Tuhan sedang mengirim utusan ke tengah bangsa itu untuk memeranginya. Beginilah bentuk murka Tuhan. "Sesungguhnya, Aku membuat engkau kecil di antara bangsa-bangsa, engkau dihinakan sangat." (ay 2).

Mengapa Tuhan sampai sebegitu marah? Obaja menyebutkan bahwa itu karena Tuhan sangat tidak berkenan melihat keangkuhan bangsa itu. Demikian Tuhan berkata: "Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: "Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?" (ay 3). Kesombongan atau keangkuhan bangsa ini muncul hanya karena mereka punya posisi strategis di gunung dengan tebing terjal dan jurang. Itu membuat mereka arogan, tidak ada kekuatan apapun yang bisa menandingi mereka. Mereka lupa bahwa meski keadaan geografis yang strategis dan terlihat sangat aman, kekuatan mereka tidaklah berarti apa-apa dibanding kekuatan Tuhan yang memiliki kuasa diatas segala-galanya. Kesombongan mereka ternyata menjadi perhatian serius dari Tuhan yang siap menjatuhkan hukuman bagi mereka. "Sekalipun engkau terbang tinggi seperti burung rajawali, bahkan, sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang- bintang, dari sanapun Aku akan menurunkan engkau, --demikianlah firman TUHAN." (ay 4).

(bersambung)


No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker