Friday, August 11, 2017

Asa (1)

webmaster | 8:00:00 AM |
Ayat bacaan: 2 Tawarikh 16:8-9
========================
"Pada waktu itu datanglah Hanani, pelihat itu, kepada Asa, raja Yehuda, katanya kepadanya: "Karena engkau bersandar kepada raja Aram dan tidak bersandar kepada TUHAN Allahmu, oleh karena itu terluputlah tentara raja Aram dari tanganmu."

Mulanya baik, tapi kemudian berakhir buruk. Tentu tidak ada satupun orang yang mau mengalami itu. Bagi peserta lomba lari terutama sprint, mereka tentu tahu bahwa start awal akan secara signifikan menjadi faktor penentu si peserta mencapai garis akhir di nomor berapa. Lantas kalau sudah baik startnya, tentu harus dilanjutkan dengan menjaga dan mempertahankan performa. Jangan sampai cepat di awal tapi kedodoran menjelang garis akhir lalu gagal menang, apalagi kalau sampai tersandung dan jatuh. Dengan kata lain, start awal itu sangat penting, tapi harus dilanjutkan dengan menjaga performa di sepanjang lintasan. Karena, tak peduli sebagus apapun start awal seseorang, kalau tersandung ditengah jalan maka kemenangan tidak akan bisa dicapai.

Dalam dua judul renungan terakhir kita sudah melihat dua tokoh dalam Alkitab yang sebenarnya sangat istimewa dan punya peluang sangat besar, tapi mereka gagal total pada akhirnya. Korah dan Saul dua-duanya punya start bagus, tapi mereka gagal menjaga performa yang baik pada langkah-langkah selanjutnya. Akibatnya, hal-hal besar yang seharusnya bisa mereka capai tidak pernah hadir dalam sejarah hidup mereka. Justru sebaliknya, mereka harus menghadapi kebinasaan akibat kegagalan mereka menjaga diri dalam perjalanan mereka.

Hari ini mari kita lihat satu contoh lagi dari dalam Alkitab. Seperti halnya Saul, tokoh yang satu ini juga seorang raja. Ia juga memulai dengan manis tapi kemudian jatuh karena kebodohannya sendiri. Ia adalah raja Yehuda bernama Asa.

Raja Asa memulai karir atau kepemimpinannya dengan indah. Sebagai orang yang berasal dari garis keturunan Daud, mulanya ia sangat cemerlang dalam melakukan kebenaran. Dan itu dicatat jelas dalam Alkitab. "Asa melakukan apa yang benar di mata TUHAN seperti Daud, bapa leluhurnya." (1 Raja Raja 15:11). Melakukan apa yang benar seperti apa? Kita bisa lihat dalam ayat-ayat selanjutnya. "Ia menyingkirkan pelacuran bakti dari negeri itu dan menjauhkan segala berhala yang dibuat oleh nenek moyangnya. Bahkan ia memecat Maakha, neneknya, dari pangkat ibu suri, karena neneknya itu membuat patung Asyera yang keji. Asa merobohkan patung yang keji itu dan membakarnya di lembah Kidron." (ay 12-13). Hal itu tentu benar di mata Tuhan, seperti yang disebutkan dalam ayat 11 di atas.

Saat semuanya tampaknya berjalan lancar dan baik, muncullah masalah yang dimulai ketika Asa harus menghadapi tekanan dari raja Israel, Baesa. Peperangan ini membuat dirinya merasa terdesak dan takut. Cemas, stress dan takut menguasai dirinya. Dan di saat itulah ia mulai melakukan langkah-langkah salah.

Disinilah kesalahan terbesar raja Asa. Semua orang mungkin sekali waktu pernah takut apalagi saat harus menghadapi peperangan. Meski raja sekalipun, wajar kalau Asa sekali waktu merasa takut. Yang disayangkan adalah reaksinya dalam menghadapi ancaman itu. Ia tidak mengandalkan Tuhan untuk mengatasi rasa takutnya menghadapi peperangan dengan raja Baesa, tetapi malah memilih untuk meminta pertolongan dan menyandarkan dirinya kepada raja Aram. Asa lebih percaya kepada raja Aram ketimbang meminta pertolongan Tuhan. Kesalahan yang satu kemudian berlanjut pada kesalahan yang lebih parah. Ia bahkan berani mengambil apa yang menjadi perbendaharaan rumah Tuhan untuk diberikan sebagai upeti buat raja Aram. "Lalu Asa mengeluarkan emas dan perak dari perbendaharaan rumah TUHAN dan dari perbendaharaan rumah raja dan mengirimnya kepada Benhadad, raja Aram yang diam di Damsyik." (2 Tawarikh 16:2). Dan itu adalah sebuah pelanggaran besar di mata Tuhan.

Seorang pelihat bernama Hanani kemudian datang menegurnya. "Pada waktu itu datanglah Hanani, pelihat itu, kepada Asa, raja Yehuda, katanya kepadanya: "Karena engkau bersandar kepada raja Aram dan tidak bersandar kepada TUHAN Allahmu, oleh karena itu terluputlah tentara raja Aram dari tanganmu." (ay 7). Karena keputusan Asa yang salah, kesempatannya untuk menang pun luput dari dirinya. "Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. Dalam hal ini engkau telah berlaku bodoh, oleh sebab itu mulai sekarang ini engkau akan mengalami peperangan." (ay 9).

Lihat, ada peluang baginya untuk bertobat dan kembali ke jalur yang benar ketika ditegur Hanani, tapi sayangnya ia tidak mempergunakannya. Meski sebenarnya ada second chance yang bisa ia manfaatkan untuk bertobat, Asa ternyata tidak memanfaatkannya. Alih-alih menyadari dan menyesal, Asa yang sudah terlanjur sesat malah menjadi semakin sesat. Yang terjadi adalah seperti ini: "Maka sakit hatilah Asa karena perkataan pelihat itu, sehingga ia memasukkannya ke dalam penjara, sebab memang ia sangat marah terhadap dia karena perkara itu. Pada waktu itu Asa menganiaya juga beberapa orang dari rakyat." (ay 10). Bahkan ketika menderita sakit yang parah pun ia tidak juga bertobat, malah semakin jauh meninggalkan Tuhan. "Pada tahun ketiga puluh sembilan pemerintahannya Asa menderita sakit pada kakinya yang kemudian menjadi semakin parah. Namun dalam kesakitannya itu ia tidak mencari pertolongan TUHAN, tetapi pertolongan tabib-tabib." (ay 12). Itulah yang menjadi akhir dari riwayat raja Asa, yang memulai segala sesuatu dengan manis, tapi kemudian melakukan serangkaian kebodohan dan menutup akhir kisahnya dengan menyedihkan.

(bersambung)


No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker