Sunday, September 18, 2022

Penampilan atau Hati? (2)

webmaster | 7:00:00 AM |

 

(sambungan)

"Daud adalah anak seorang dari Efrata, dari Betlehem-Yehuda, yang bernama Isai. Isai mempunyai delapan anak laki-laki. Pada zaman Saul orang itu telah tua dan lanjut usianya. Ketiga anak Isai yang besar-besar telah pergi berperang mengikuti Saul; nama ketiga anaknya yang pergi berperang itu ialah Eliab, anak sulung, anak yang kedua ialah Abinadab, dan anak yang ketiga adalah Syama. Daudlah yang bungsu. Jadi ketiga anak yang besar-besar itu pergi mengikuti Saul." (1 Samuel 17:12-14).

Dari ayat ini kita bisa melihat berapa jumlah anak Isai, dimana tiga anak tertuanya yaitu Eliab Abinadab dan Syama merupakan prajurit Israel dibawah kepemimpinan Saul. Sebelum saya lanjutkan, tentu ada kriteria tertentu untuk bisa menjadi prajurit atau tentara. selain postur yang gagah, keahlian berperang pun harus mereka miliki. Sedang Daud pada masa itu masih sangat muda. Menjadi prajurit saja mungkin sudah jadi bahan bercandaan, apalagi kalau bicara untuk dijadikan raja.

Logika manusia dan fenomena mementingkan penampilan pun terjadi pada saat itu. Mereka dengan mudah mengira bahwa untuk menjadi raja akan tergantung dari kepantasan sesuai perawakan atau penampilan. Bahkan Samuel yang notabene seorang nabi pun ternyata termakan logika berpikir seperti itu. Saat Samuel melihat Eliab yang gagah, Samuel langsung mengira bahwa pasti anak tertua ini yang dipilih Tuhan.

"Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: "Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya." (ay 6).

Itu pikir Samuel. Tapi kita tahu bahwa bukan Eliab yang dipilih Tuhan. "Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (ay 7).

Secara jelas Tuhan menegur nabinya. Tuhan berkata bahwa tidak peduli apa yang dilihat manusia di depan matanya. Apa yang Tuhan lihat adalah hati. Samuel lalu segera menangkap esensinya. Tapi tidak dengan Isai. Isai belum mengerti dan masih berpikir dengan cara pikir manusia. "Bukan Eliab ya? Kalau begitu pastilah Abinadab atau Syama." Seperti itu kira-kira pikiran Eliab. Sepertinya Isai berpikir, mungkin Eliab dianggap sudah terlalu tua, atau dianggap kurang gagah. Tapi kriteria Tuhan pastilah diantara dua anakku yang lain yang sudah menjadi kebanggaan keluarga karena ada di jajaran prajurit Israel.

"Lalu Isai memanggil Abinadab dan menyuruhnya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata: "Orang inipun tidak dipilih TUHAN." Kemudian Isai menyuruh Syama lewat, tetapi Samuel berkata: "Orang inipun tidak dipilih TUHAN." (ay 8-9).

Dua-duanya tidak? Wah, masa sih? Mungkin begitu pikir Isai. Mau tidak mau, ia pun menyuruh sisanya berdiri di depan Samuel. Semua sisanya? Nanti dulu. Lihatlah ayat berikutnya. "Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: "Semuanya ini tidak dipilih TUHAN." (ay 10).

Perhatikan ayat ini. Disebutkan jelas bahwa Isai menyuruh ketujuh anaknya untuk tampil bergantian di hadapan Samuel. Tujuh. Padahal kita sudah tahu bahwa anak laki-lakinya bukan tujuh melainkan delapan. Bahkan yang sudah jelas-jelas ditolak pun disuruh tampil lagi, karena Isai mungkin merasa bahwa ada kesalahan teknis pada kesempatan pertama. But no, none of those seven men was chosen.

(bersambung)

No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Stats

eXTReMe Tracker