Tuesday, September 13, 2022

Istri: Teman Sekutu dan Seperjanjian (1)

webmaster | 7:00:00 AM |

 Ayat bacaan: Maleakhi 2:14
====================
"Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu."

Entah bagaimana mulanya, saya lupa. Tapi ternyata sudah beberapa kali Tuhan pertemukan saya dengan beberapa suami dan istri yang hubungannya memanas, retak, dan beberapa sampai pada titik untuk berpisah, alias sudah tidak bisa atau tidak mungkin lagi bersama. Penyebabnya? Wah banyak, dan kalau anda mengira selingkuh selalu jadi sumbernya, tunggu dulu. Karena ada banyak lagi hal lainnya yang bisa jadi pemicu keretakan. Orang ketiga yang hadir belum tentu harus dalam konotasi selingkuhan tapi bisa dari saudara, orang tua atau mertua, yang kemudian masuk ke tengah-tengah lalu menimbulkan friksi di dalam. Ada yang sudah melibatkan unsur kekerasan, dan itu belum tentu secara fisik. Kekerasan verbal alias lewat kata-kata kasar, bentakan, hinaan, itu pun sama sakitnya, bahkan bisa lebih parah.

Coba lihat di sekeliling kita masing-masing, maka kita akan menemukan satu, dua bahkan lebih pasangan yang hubungannya sudah rusak. Broken home, selain menyakitkan bagi pasangan suami istri tapi juga akan menimbulkan dampak negatif untuk anak, apalagi kalau mereka sedang dalam masa pertumbuhan dan masih membutuhkan figur ayah dan ibu. Maka ada banyak pasangan yang memilih bertahan hanya karena anak. Mereka jalan sendiri-sendiri, tapi masih terikat dalam hubungan pernikahan hanya karena alasan anak.

Karena anak. Apakah itu cukup? Buat saya tidak. Karena sejatinya pernikahan seharusnya bukan begitu. Buat saya, faktor cuma bertahan karena anak, meski itu masih lebih baik ketimbang bubar total, tetap tidak cukup karena hakekat pernikahan bukan seperti itu. It's about building a relationship that everyone in it should enjoy. Tapi bagaimana mau enjoy kalau sudah tidak ada kecocokan? Itu akan selalu jadi alasan pembenaran keputusan untuk berpisah. Ada pula yang memilih tetap bertahan karena tidak mau berurusan dengan harta gono-gini. Faktor takut rugi materi jadi alasan untuk bertahan, tapi tetap tidak ada lagi hubungan yang hangat disana. Itu seperti tinggal di atas puing-puing saja. Banyak debu, tetap kena hujan panas, sementara rumah sudah kehilangan fungsinya. Yang tinggal disana tetap saja tidak sehat, apalagi bahagia.

Sebuah pernikahan, seperti halnya hidup punya dua alternatif. It could be like heaven on earth, but it could also become hell break lose. Yang sering dilupakan atau tidak disadari, ketika kita terus berusaha agar hidup menjadi lebih baik, kalau kita berjuang hidup dan mati untuk mempertahankan kehidupan kita, kenapa pernikahan tidak diperlakukan sama seperti itu?

Apakah ada pernikahan yang 100% tanpa masalah atau konflik? Tidak ada. Namanya dua orang dalam satu rumah mau seakur apapun pasti ada saja masalah yang timbul. Saya pun begitu. Yang sering tidak dipikirkan adalah pola pikir kita menyikapi pasangan. Bagaimana kita memandang pasangan kita akan menentukan respon kita terhadap mereka.

Respon? Ya, respon. Ambil contoh, jika kita berselisih paham dengan orang yang anda hormati, kita tentu tahu harus bagaimana menyikapi itu dengan baik-baik. Meski seharusnya tidak dibenarkan untuk memperlakukan orang secara berbeda, tapi biasanya secara naluriah reaksi kita akan berbeda jika berselisih dengan orang yang tidak dikenal atau kita anggap selevel atau di bawah. Dan yang seringkali terjadi, meski tidak tertutup kemungkinan bahwa bisa jadi masalah diawali dari sikap istri yang keterlaluan, berdasarkan pengalaman saya adalah konsep pemikiran bahwa istri itu ada di bawah suami, jadi absolut dan mutlak hukumnya untuk ditaati.

Alangkah menarik jika kita melihat bahwa Alkitab menyebutkan bagaimana seharusnya seorang suami memandang istrinya dalam hubungannya dengan posisi Tuhan dalam sebuah pernikahan. Bacalah ayat ini pelan-pelan. "Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu." (Maleakhi 2:14). 

(bersambung)


No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Stats

eXTReMe Tracker