Wednesday, September 14, 2022

Istri: Teman Sekutu dan Seperjanjian (2)

webmaster | 7:00:00 AM |

 

(sambungan)

Sebuah pernikahan adalah sebuah hubungan dimana Tuhan sendiri yang menjadi saksi. Karena itulah dalam kekristenan sebuah pernikahan itu sakral dan kudus. Kalau materai yang kita beli di kantor pos atau toko saja sudah bisa punya kekuatan hukum yang mengikat kedua belah pihak, apalagi jika Tuhan yang memateraikan langsung, menjadi saksi langsung atasnya. Itulah sebabnya dalam kekistenan tidak dikenal istilah cerai. Bagaimana mungkin manusia merasa berhak menceraikan apa yang dipersatukan Tuhan? Ini adalah sebuah dasar penting dalam pernikahan bagi kita.

Lihatlah apa yang dikatakan Yesus berikut ini:  "Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Matius 19:6). Tidak boleh, atas dasar apapun. Karena itu bagi yang belum menikah, pikirkan dan pertimbangkan dahulu baik baik saat menentukan pasangan, jangan hanya pakai nafsu dan perasaan saja. Tapi saat sudah memutuskan untuk menikah, maka ada komitmen yang harus dipegang, sebuah komitmen, bahkan ikatan itu berlaku bukan antar manusia saja tetapi melibatkan Tuhan.

Lalu lihatlah kembali ayat dalam Maleakhi 2:14 tadi. Selain Tuhan menjadi saksi atas sebuah pernikahan, disana juga  dikatakan bahwa istri itu merupakan teman sekutu dan seperjanjian. Saat ada dua negara atau lebih bersekutu, mereka pasti harus berjalan beriringan meski mungkin mereka tidak selalu setuju dalam semua hal. Kalau dalam menghadapi perang, sekutu tentu bekerjasama melawan musuhnya, kalau tidak ya berarti bukan sekutu namanya. Dan seperjanjian, itu pun sama bahwa orang yang sudah berjanji tentu harus menepati janjinya. Istri bukan berada di bawah suami, melainkan rekan sekutu, rekan seperjanjian, rekan sekerja yang sama levelnya.

Kalau istri ditutut menghormati suami, kita sebagai suami pun harus menghormati mereka sebagai istri. Bentuknya bisa berupa mengasihi, sabar menghadapi mereka, memberi waktu bagi mereka dan sebagainya. Kalaupun ada yang rasanya kurang pas dan perlu disampaikan, pilih waktu yang baik untuk itu dan sampaikan dengan lembut. Kalau kitanya masih emosi, jangan buru-buru menyerang istri. Tenangkan diri terlebih dahulu, ambil waktu, dan kalau emosi sudah turun, baru kita cari waktu untuk bicara. Dan bicaralah dengan memandang mereka sebagai teman sekutu dan seperjanjian, sesuatu yang bukan manusia, bukan cuma pendeta tetapi Tuhan sendiri yang memateraikan.

Ada kalanya pernikahan jadi berantakan karena disebabkan oleh ekspektasi yang ternyata tidak sama antara sebelum dan sesudah menikah. Ekspektasi atau persepsi salah itu cenderung disebabkan oleh pola pikir keliru dalam memandang pernikahan yang bisa saja anggapannya sudah turun temurun. Beberapa hal tentang pengharapan yang salah alias false hope yang saya dapati dari pengalaman saya adalah pemahaman-pemahaman seperti ini:


1. Pernikahan akan melengkapi saya

Wah kok salah? Pernikahan kan memang harusnya membuat keduanya saling melengkapi? Betul banget. Tapi itu bukan datang instan atau langsung melainkan butuh usaha dari kedua belah pihak. Itu adalah sesuatu yang harus terus diusahakan, dikerjakan, dikejar, dan untuk bisa mengusahakannya seringkali butuh pengorbanan, seperti mengorbankan ego, keinginan pribadi, harapan dan sebagainya. Jadi, apakah pernikahan itu akan melengkapi kita? Ya. Tapi apakah itu otomatis datang hanya dengan menikah di depan altar? Tidak. Begitu kira-kira. Jadi apabila kita berpikir bahwa pernikahan serta merta akan membuat kita langsung lebih lengkap, maka kita akan kecewa karena kenyataannya tidak akan pernah seperti itu.

(bersambung)

No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Stats

eXTReMe Tracker