Sunday, May 6, 2018

Imam Eli, Hofni dan Pinehas (1)

webmaster | 8:00:00 AM |
Ayat bacaan: 1 Samuel 2:12
====================
"Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN,"

Ada sebuah buku yang pernah saya baca mengungkap sisi ekstrim yang terjadi saat dunia kehilangan figur ayah. Sang penulis yang berdomisili di Afrika mengungkapkan betapa degradasi dan kehancuran moral yang membuat dunia hari ini penuh kekejaman, ketidakadilan, penindasan dan problema sosial lainnya antar manusia sebenarnya berawal dari ketiadaan figur bapa dan kematian keluarga. Bukan mati secara fisik, tapi mati atau tidak berfungsi secara moril dan spiritual. Orang-orangnya ada, tapi tidak ada nilai baik yang mengalir di dalamnya. Semua berjalan sendiri-sendiri, tidak ada saling peduli apalagi saling bangun. Tidak ada pendidikan yang berlangsung disana antara orang tua kepada anak, kasih hilang diganti peraturan keras dengan hukuman fisik bagi yang melanggar. Hidup keras sejak kecil dengan ayah yang datang hanya pada saat menghukum dan memukul, atau juga tidak pernah ada di rumah untuk memperhatikan anaknya. Tidak peduli sama siapa anak bergaul. Gambaran mengerikan tentang generasi hari ini sudah begitu miris bahkan sejak bab pertama buku ini. Dan apa yang ditulisnya bukanlah fiksi melainkan sesuatu yang nyata-nyata ia saksikan.

Mungkin ada yang berpikir bahwa itu kan di Afrika. Tapi bukankah di belahan bumi lainnya kita menemukan kekejaman yang sama, bahkan bisa jadi lebih parah? Sejak kecil generasi terhilang ini tidak mengenal kasih melainkan kebencian. Dan kebencian menumbuhkan sifat kejam dan sadis. Kalau tidak seekstrim itu, ada banyak pula anak-anak yang sudah bermasalah sejak kecil. Ironisnya ini juga terjadi di kalangan orang percaya, bahkan dalam keluarga para pelayan Tuhan yang seharusnya menjadi teladan. Anak orang percaya dan bahkan hamba Tuhan jadi preman di sekolah, jatuh pada berbagai dosa, berpaling dan meninggalkan Tuhan, itu benar-benar terjadi.

Mengapa hal itu boleh terjadi? Bukankah sebagai hamba Tuhan mereka ini kerap menanamkan nilai-nilai baik tentang kebenaran dalam pelayanan mereka? Penyebab paling utama adalah karena kesibukan mereka begitu menyita waktu sehingga mereka tidak lagi punya waktu buat anak-anaknya. Apa yang mereka ajarkan bagi orang lain mungkin membangun, mereka mungkin juga menyampaikan hal yang sama kepada anaknya, tetapi mereka tidak punya cukup waktu dimana anak-anaknya bisa belajar dari kehidupan mereka. Mungkin juga karena sudah terlalu capai rumah cuma menjadi tempat tidur bukan tempat dimana sebuah keluarga bisa saling berbagi kasih. Ada pula yang tampaknya baik dan rohani diluar, tapi di rumah sifat aslinya jauh dari apa yang mereka tunjukkan atau ajarkan di luar.

Para kepala rumah tangga seringkali menganggap bahwa tugas utama mereka adalah bekerja, mencari nafkah dan secukupnya saja meluangkan waktu untuk anak. Dalam pikiran banyak dari mereka, yang penting kebutuhan istri dan anak-anak tercukupi, lebih baik lagi kalau berlimpah. Sebuah hasil survei yang pernah saya baca mengungkapkan bahwa orang tua terutama pria memang berpikir seperti itu. Mereka berpikir bahwa anak-anak akan bahagia apabila kebutuhan mereka tercukupi dan mereka bisa mendapatkan segala yang mereka inginkan. Padahal dari hasil survei dari sisi anak justru melahirkan kesimpulan berbeda. Anak-anak ternyata tidak berpikir dari segi kelimpahan materi, tetapi hasil poin terbesar tentang apa yang paling membuat mereka bahagia justru menunjuk pada satu titik, yaitu waktu. Apa yang paling membahagiakan bagi mereka adalah waktu yang cukup untuk bermain bersama orang tuanya.

Ketika para ayah berpikir dari segi pemenuhan kebutuhan bagi anak-anak mereka, anak-anak menganggap kebersamaan adalah yang paling mereka butuhkan. Ada begitu banyak anak-anak yang kurang mendapat kasih sayang atau bimbingan di saat mereka bertumbuh sementara mereka terus dimanjakan dari sisi materi. Akibatnya kita sering melihat meski mereka berasal dari keluarga berada, tetapi perilaku atau gaya hidup mereka banyak yang buruk. Retaknya keluarga kebanyakan berasal dari kurangnya kebersamaan antar sesama anggotanya.

Dan yang memprihatinkan, kita sering melihat anak-anak yang sama sekali tidak mencerminkan orang tuanya. Ayahnya bekerja banting tulang sepanjang hari, atau dihormati banyak orang, namun anak-anaknya justru menunjukkan perilaku yang tercela. Kurang perhatian, kurangnya kebersamaan dan terlalu dimanja seringkali menjadi awal datangnya bencana seperti ini.

Jika kita gabungkan dengan buku yang saya baca mengenai dunia yang kehilangan figur bapa di awal renungan ini, kita bisa melihat bahwa sebenarnya anak-anak sudah menunjukkan apa yang mereka butuhkan agar bisa bertumbuh menjadi pribadi berkualitas tinggi. Sayangnya orang tua terutama ayah banyak yang tidak menyadari hal ini dan kemudian harus bersedih melihat anak-anak mereka tumbuh tidak dengan kualitas akhlak dan keimanan yang sebenarnya mereka inginkan.

(bersambung)


No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker