Wednesday, May 16, 2018

Belajar Pentingnya Menempatkan Prioritas yang Benar Lewat Kitab Hagai (3)

webmaster | 8:00:00 AM |
(sambungan)

Hagai menyampaikan pesan Tuhan yang intinya agar kita menempatkan Tuhan pada posisi yang paling utama di dalam hidup kita. Bukan soal memperbanyak pelayanan, melainkan dari segi membangun hubungan dengan Tuhan dan menempatkan Tuhan pada posisi teratas dalam hidup kita, keluarga dan pekerjaan, dalam segala aspek kehidupan kita. Atau, Yesus menyampaikannya seperti ini: "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33).

Tentu hal mementingkan Tuhan sebagai yang paling utama atau terutama sudah kita ketahui. Tapi apa yang membuat prioritas kita bisa tergeser? Dari kisah bangsa Israel di jaman Hagai ini ada beberapa hal yang bisa kita jadikan pelajaran atau pengingat.

1. Kita cenderung menempatkan upaya memenuhi kebutuhan di atas kepentingan membangun bait Allah

Kerja, kerja dan kerja, kalau tidak kita tidak akan punya cukup untuk membiayai atau menafkahi kehidupan. Apakah bekerja itu penting? Sangat. Alkitab bahkan mengatakan dengan tegas bahwa siapa yang tidak bekerja tidak berhak untuk makan (2 Tesalonika 3:10). Tapi kalau kita tidak menjaga cara hidup kita, kita bisa bergeser hidup untuk agenda aktivitas kita sendiri, bukan menurut Tuhan. Bukanlah hal baru bagi kita yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat bahwa hidup yang fokusnya mengumpulkan harta di bumi atau mengejar hal-hal duniawi merupakan hal yang keliru, sia-sia bahkan bodoh. Kita tahu bahwa kita tidak akan menemukan kebahagiaan, damai sejahtera dan sukacita sejati kalau hidup jauh dari Tuhan. Tapi kita bisa bergeser menuju cara hidup dunia kalau kita tidak menjaga baik hidup kita.

2. Orang yang menempatkan istananya di atas rumah Tuhan bukan cuma orang yang belum percaya tapi juga terdapat di kalangan orang-orang percaya

Hal yang menarik (sekaligus ironis) dari kisah Hagai ini adalah bahwa pesan Tuhan yang ia sampaikan adalah untuk orang-orang percaya, termasuk anda dan saya.

Kita mungkin sudah memulai dengan baik. Lahir baru, rajin membaca Alkitab, berdoa secara teratur dan tertanam di gereja. Aktif di sana, ikut persekutuan, dan mungkin sudah melayani. Tapi kemudian mungkin usaha-usaha kita mulai terbentur berbagai kesulitan. Kita mulai berselisih dengan sesama orang percaya, kecewa terhadap orang-orang sepelayanan atau bahkan gereja, kita mulai mengalami hasil yang mengecewakan padahal kita merasa sudah melakukannya tanpa melanggar ketetapan Tuhan, atau bahkan kita bertemu dengan masa-masa dimana Tuhan seakan-akan menutup mataNya dari kita, tidak melepaskan kita dari masalah meski kita sudah mati-matian berdoa siang dan malam.

Sementara itu kehidupan terutama setelah menikah memerlukan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan didalamnya. Ada tagihan-tagihan bulanan yang harus dibayar, ada kebutuhan-kebutuhan yang harus terpenuhi. Belum lagi untuk memenuhi kebutuhan akan barang-barang yang sebenarnya bukan primer tapi sudah menjadi hal yang dianggap wajib oleh orang-orang masa kini. Kita masih berusaha untuk rutin ke gereja dan menghadiri persekutuan, tapi itu bisa jadi cuma menjadi salah satu bagian kegiatan sekunder saja yang bisa dilakukan bisa tidak, tergantung kita sedang sibuk atau santai, bukan lagi merupakan prioritas utama.

Perhatikan, apa yang kita lakukan bukanlah hal buruk. Kita tidak sedang memberontak, membangkang atau melawan pada Tuhan secara langsung, tapi kita sedang bergeser meletakkan 'istana' kita di atas bait Tuhan.

3. Kita punya seribu satu alasan untuk meletakkan istana kita di atas bait Tuhan

Mari kita lihat kembali kitab Hagai. Orang Israel berkata: " Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!" (Hagai 1:2). "Waduh, nanti dulu dong Tuhan.. saya masih punya kesibukan yang harus didahulukan. Nanti kalau sudah selesai saya akan bangun lagi rumahMu dalam hidup saya." Atau, "Tuhan jangan salah sangka ya.. saya tahu membangun bait Tuhan itu penting, dan saya sangat bersedia untuk membangunnya. Tapi waktunya belum pas untuk saat ini. Cobalah mengerti."

Itu bisa menjadi sebuah alasan yang sering kita kedepankan. Kondisi ekonomi yang sulit yang sudah berlangsung selama beberapa tahun terakhir semakin memaksa kita untuk berkejar-kejaran untuk memperoleh cukup uang untuk bisa hidup lebih dari sekedar layak. Siapa yang tidak merasa hidup berat hari ini? Ada banyak usaha gulung tikar, daya beli merosot, yang tadinya hidup lega sekarang harus berpikir lebih banyak untuk membeli sesuatu. Orang mulai tiarap, mengencangkan ikat pinggang. Harga naik terus tidak dibarengi dengan naiknya pendapatan, yang terjadi malah jarak antara harga dan pendapatan yang makin besar renggangnya.


(bersambung)


No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker