Saturday, January 25, 2014

Memperhatikan Motivasi Melayani

webmaster | 8:00:00 AM |
Ayat bacaan: Lukas 3:2
==================
"pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun."

Ada banyak orang yang melayani Tuhan, tapi hanya sedikit yang motivasinya benar. Kalimat ini bisa jadi terdengar kontroversial namun demikianlah adanya. Selayaknya sekelompok orang yang berkumpul terus menerus, gesekan demi gesekan cepat atau lambat akan mulai muncul. Ada sebuah gereja yang mengambil kebijakan untuk memilih lagu-lagu yang sama selama sekian bulan agar jemaatnya bisa fokus dalam menyembah dan memuji Tuhan tanpa harus terganggu oleh lagu yang tidak mereka hafal atau sibuk melihat teks lirik di layar. Bagi jemaat terutama yang sudah tua tentu sangat terbantu dengan kebijakan ini, tetapi bagi musisi yang main bisa dilanda kebosanan dan pusing mencari aransemen-aransemen baru setiap minggunya. Yang terjadi kemudian, sebagian dari mereka yang merasa jenuh memutuskan untuk berhenti sementara dari kegiatan tim musik di gereja, sedang sebagian lagi ternyata memilih untuk terus melayani. "Saya melayani bukan untuk mementingkan kepuasan saya dalam bermain musik, tetapi semata-mata untuk Tuhan. Jadi tidaklah masalah bagi saya, karena apapun yang diputuskan tentu merupakan yang dianggap terbaik bagi jemaat." Demikian kata salah satu dari mereka kepada saya. Saya pun melihat bahwa motivasi yang benar dalam melayani bisa terlihat dari bagaimana reaksi seseorang dalam menghadapi gesekan. Ada begitu banyak motivasi yang mungkin menjadi dasar bagi seseorang untuk melayani, seperti halnya dalam profesi maupun pekerjaan sehari-hari. Mungkin saja motivasi awalnya tulus, tapi seiring waktu apabila tidak diperhatikan motivasi bisa berubah dan mengarah kepada keinginan atau kepentingan diri sendiri. Apa saja yang mungkin muncul? Ada banyak, misalnya ketenaran atau popularitas, mencari uang, status, jabatan, adalah sebagian contoh motivasi yang bisa saja muncul mendasari kegiatan pelayanan, baik disadari maupun tidak.

Mari kita lihat sebuah kejadian unik atau aneh yang terjadi pada masa negeri Yudea berada di bawah kekaisaran Romawi dan dipimpin oleh kaisar Tiberius. Pada masa itu dalam Lukas pasal 3 disebutkan bahwa yang memegang status sebagai Imam Besar adalah Hanas dan Kayafas. Seperti apa posisi imam Besar itu? Kalau kita runut ke belakang, jabatan Imam Besar ini pertama sekali diberikan kepada Harun melalui sebuah tanda berupa tongkat Harun yang berbunga diantara imam-imam Lewi lainnya. (ini bisa dibaca dalam Bilangan 17). Karena Allah sendiri yang mengangkat Harun sebagai Imam Besar, maka jabatan ini jelas punya tugas yang luar biasa besar sebagai wakil Tuhan di dunia ini. Imam Besar dituntut untuk senantiasa hidup benar dan kudus karena merupakan "perpanjangan tangan" Tuhan di dunia ini untuk menyampaikan pesan-pesanNya kepada umatNya di dunia. Pada saat yang disebutkan dalam Lukas 3 tadi, Hanas dan Kayafas lah yang tengah menjabat sebagai Imam Besar. Tapi lihatlah ayat bacaan hari ini mengatakan sesuatu yang, seperti yang sudah saya sebutkan tadi, terbilang aneh. "pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun." (Lukas 3:2). Dimana anehnya? Ketika Hanas dan Kayafas ada di posisi Imam Besar, seharusnya firman Tuhan datang kepada mereka sesuai jabatan mereka sebagai wakil Tuhan di dunia. Tapi bukan itu yang terjadi, karena dalam ayat ini kita membaca firman Tuhan bukannya datang pada Hanas dan Kayafas melainkan datang pada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun. Ini jelas aneh. Apakah Tuhan berniat melecehkan jabatan Imam Besar yang Dia tetapkan sendiri? Dari apa yang kita lihat dalam Alkitab, ternyata Imam Besar pada masa itu sudah berubah motivasinya. Dan Tuhan memutuskan untuk tidak lagi berfirman melalui mereka. Hanas dan Kayafas motivasinya sudah melenceng menunjuk pada diri sendiri. Ketika mereka seharusnya menjadi rekan sekerja Tuhan, wakil Tuhan di dunia untuk menyampaikan pesan-pesan Tuhan, ternyata mereka malah berubah menjadi musuh Tuhan dengan menjadi bagian dari penyaliban Yesus Kristus. Jabatan, kekuasaan, kekayaan, pengaruh, bisa membutakan mata para pemimpin seperti Hanas dan Kayafas sehingga akhirnya mereka tidak lagi disertai Roh Tuhan. Maka Tuhan lebih memilih Yohanes, yang tidak menyandang gelar apa-apa, dan sedang berada di padang gurun.

Mengapa atau apa yang mendasari keputusan Tuhan memilih Yohanes Pembaptis? Itu karena Yohanes punya hati yang jauh berbeda dengan Imam Besar Hanas dan Kayafas. Yohanes tidak membawa murid-muridnya untuk berpusat pada dirinya, melainkan membawa mereka kepada Yesus Kristus. Lihatlah ayat ini: "Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah!" Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus."(Yohanes 1:35-37). Lihatlah bahwa Yohanes menunjuk pada Yesus dan mengarahkan murid-muridnya untuk mengikuti Yesus, bukan dirinya. Sepeerti itulah hati yang dimiliki Yohanes, dan itulah yang membuat Tuhan lebih suka pada Yohanes ketimbang kedua Imam Besar tersebut.

Bagi teman-teman yang sedang melayani, perhatikanlah baik-baik motivasi anda dalam melayani. Jika tidak waspada, kita bisa kehilangan Roh Tuhan karena motivasi kita melenceng dalam melakukan pelayanan, dan ini tentu penting untuk kita cermati. Bahkan Yesus sendiri menunjukkan bahwa motivasi sangatlah penting untuk dipastikan terlebih dahulu sebelum seseorang memutuskan untuk mengikutiNya. Itu bisa terlihat dalam ayat berikutnya. Ketika Yesus melihat murid-murid Yohanes mengikutiNya, Yesus bertanya: "Apakah yang kamu cari?" (ay 38). Pertanyaan yang sama untuk para hamba Tuhan. "Apa yang anda cari?" Apa yang anda cari dari kegiatan anda turut melayani? Apakah pamor, popularitas, melayani agar mendapat berkat melimpah, jauh/bebas dari masalah, mencari uang, atau semata-mata karena mengasihi Tuhan dan rindu lebih banyak lagi orang bisa mengenal Kristus? Apakah pelayanan yang anda lakukan saat ini sudah diikuti oleh sikap hidup yang benar, yang bisa dijadikan kesaksian dan teladan bagi orang lain? Bagi pelayan-pelayan Tuhan di segala posisi, baik worship leader, musisi, diaken, pendeta, gembala dan sebagainya, jangan sampai pelayanan anda menunjuk pada diri sendiri. Pelayanan sejati haruslah menunjuk pada Kristus, bukan pada diri sendiri. Tiga kali Yesus bertanya pada Petrus, "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Tiga kali pula Petrus menjawab "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Dan jawaban Yesus kemudian pun tiga kali diulang: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." (Yohanes 21:15-17). Dari percakapan Yesus dan Petrus ini kita bisa belajar bahwa motivasi yang terutama dalam pelayanan adalah karena anda dan saya mengasihi Yesus. Itulah yang seharusnya menjadi sumber utama atau dasar bagi kita dalam melayani. Jika motivasi kita sampai melenceng, akibatnya tidak main-main. Sebab Tuhan berfirman: "Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia." (1 Korintus 16:22). Oleh karena itu sangatlah penting untuk memastikan bahwa kita sudah mendasari pelayanan kita dengan motivasi yang benar. Bukan karena kehebatan kita, bukan karena berbagai motivasi yang dipengaruhi oleh hal-hal yang dipercaya dunia mendatangkan kebahagiaan atau kesejahteraan, melainkan semata-mata karena kasih, karena kita mengasihi Kristus dan mengasihi sesama.

Pelayanan sejati adalah pelayanan yang menunjuk pada Yesus Kristus

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker