Saturday, January 11, 2014

Hal Kekuatiran (2)

webmaster | 8:00:00 AM |
(sambungan)

Mengenai hal kekuatiran ini, Yesus langsung memulai dengan mengingatkan kita untuk jangan kuatir. "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? " (ay 25). Perhatikan bagian ini dengan baik. Bukankah kita sering berlaku seperti itu? Kita cenderung sibuk memikirkan apa yang kita tidak punya tapi lupa bersyukur akan hal-hal yang sebenarnya jauh lebih penting yang sudah diberikan Tuhan pada kita. Kita memikirkan 'makan' dan 'pakaian', kata Yesus, tapi kita lupa menjaga hidup yang sebenarnya jauh lebih penting dari pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pendukung hidup. Jika kita sakit dan tidak bisa makan, bukankah makanan menjadi sia-sia? Atau kalaupun makanan tidak sulit kita dapatkan, bagaimana jika hidup kita tidak berada dalam tuntunan Tuhan, tidak berjalan dalam ketetapanNya dan terus berbuat hal-hal yang menyakiti hati Tuhan sehingga terus mengarah pada kebinasaan yang kekal?

Yesus memberikan contoh yang sangat-sangat sederhana dalam ayat 26 dan 28-30. Kalau burung-burung di langit yang tidak menabur, tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung saja diberi makan oleh Tuhan, jika bunga bakung di ladang yang tumbuh tanpa bekerja dan memintal saja didandani Allah dengan sangat indah, bahkan lebih dari keindahan pakaian Salomo dalam segala kemegahannya, bukankah kita sebagai manusia diciptakan jauh lebih istimewa menurut gambar dan rupaNya sendiri, sehingga kita tentu jauh lebih berharga dan penting di mata Tuhan? Kalau begitu kenapa kita harus cemas dalam menghadapi hidup?

Berikutnya, Tuhan Yesus juga mengingatkan kita bahwa kekuatiran tidaklah ada gunanya sama sekali alias sia-sia. "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?" (ay 27). Adakah kekuatiran yang terus dipelihara bisa menambah panjang umur kita, biarpun sedikit? Tentu tidak, malah itu bisa memperpendek umur kita. Rasa kuatir tidak pernah produktif dan membawa manfaat apa-apa. Jika kita lihat dalam Matius 14:22-33, kita akan melihat bahwa Petrus pada mulanya berjalan di atas air tanpa masalah sesuai perintah Yesus, tetapi kemudian mulai tenggelam, bukan karena gangguan apa-apa selain kekuatirannya merasakan tiupan angin. "Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" (Matius 14:30). Kekuatiran justru membuat iman kita melemah sehingga tidak lagi bisa merasakan karya Tuhan secara langsung dalam hidup kita.

Kembali kepada Matius 6:25-31 mengenai kotbah Yesus tentang hal kekuatiran, Yesus meneguhkan kita dengan mengingatkan bahwa sebagai orang percaya kita seharusnya tidak terus kuatir akan pemenuhan kebutuhan seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah tapi hendaknya menyadari bahwa Tuhan mengenal kita dengan sangat baik dan sangat tahu akan segala sesuatu yang kita butuhkan. "Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu." (ay 31-32). Tuhan sudah tahu apa yang perlukan, bahkan sebelum kita memintanya. Kita selalu berada dalam perhatianNya dan perlindunganNya. Dengan menyadari hal ini, seharusnya kita tidak lagi boleh cemas, terlebih akan kebutuhan-kebutuhan kita.

Sangatlah menarik jika kita melihat dua ayat terakhir dari perikop ini: "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (ay 33-34). Ayat 33 tentunya tidak asing lagi bagi kita, sayangnya sering dipakai berdiri sendiri tanpa melihat ayat yang mengikutinya dan judul dari perikop dimana ayat ini berada. Yesus mengingatkan kita akan sebuah prioritas, yaitu mendahulukan pentingnya mencari Kerajaan Allah beserta kebenarannya terlebih dahulu. Bukankah apa yang dilakukan kebanyakan manusia justru sebaliknya? Kita terus memforsir diri kerja siang malam, bahkan tidak jarang yang terjebak melakukan kecurangan karena terus merasa kekurangan, terus mencari hal-hal lain yang dipercaya dunia bisa mendatangkan kebahagiaan, padahal semuanya akan dengan sendirinya ditambahkan kepada kita apabila kita memiliki prioritas yang benar dalam hidup. Ini merupakan pesan yang sangat penting untuk kita perhatikan, tetapi tidak kalah pentingnya untuk melihat hubungannya dengan ayat berikutnya yang berbicara mengenai kesusahan. Mengikuti Yesus, mentaati ketetapan Tuhan sepenuhnya, mencari KerajaanNya bukan berarti bahwa masalah akan serta merta lenyap sepenuhnya dari hidup. Itu tidak pernah Tuhan janjikan. Yang Tuhan janjikan adalah penyertaanNya dalam setiap waktu. Bahwa Dia sanggup menolong, memulihkan, melepaskan dan melimpahi berkat-berkat kepada kita, itu benar. Tapi tidaklah berarti hidup kita 100 % tanpa kesusahan. Apa yang diingatkan Yesus kepada kita adalah bahwa dengan mentaati Tuhan, memprioritaskan Tuhan di atas segalanya, Tuhan akan terus mencukupi kita termasuk dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. "Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari", artinya kita tidak perlu memperpanjang kecemasan kita berlarut-larut karena Tuhan akan selalu ada bersama kita menambahkan apapun yang kita perlukan. All those things that the Gentiles crave and seek after will be given to us, so we can walk through any daily trouble without being worried because His blessings are always poured sufficiently onto us.

Tuhan tahu pasti apa yang menjadi pergumulan anda saat ini. Bahkan hal-hal yang mungkin terlalu berat untuk dikemukakan, sulit untuk diucapkan, Tuhan pun mengetahui itu semua. Tuhan sungguh mendengar jeritan hati kita. Dia peduli dan lewat Yesus kita sudah diingatkan agar tidak memfokuskan pikiran dan perasaan kepada hal-hal yang mencemaskan, tetapi menggantinya dengan memusatkan pada kasih setia Tuhan yang tidak ada habisnya. Apa yang seringkali menjadi penyebab kita terus didera kekuatiran adalah iman kita yang kurang percaya (Matius 6:30). Kalau tidak percaya atau have no faith at all tidaklah mengherankan. Tapi ketahuilah bahwa meski kita punya iman tapi ukurannya terlalu kecil, jika kita masih kurang percaya, itupun bisa mendatangkan banyak masalah pula dalam hidup kita, termasuk terus menerus didera perasaan kuatir.

Daripada mengisi hari dengan rasa cemas atau kuatir, mengapa kita tidak merubah paradigma hidup dengan terus mengucap syukur atas segala kebaikan yang sudah Dia limpahkan dalam hidup kita? Ingatlah Tuhan dan kasihNya maka kita tidak akan perlu kuatir lagi dalam menjalani hidup. Kesusahan mungkin tetap datang sekali waktu, tetapi kita bisa tetap tenang dan merasa damai sejahtera bahkan sukacita dalam menghadapinya jika kita menyadari bahwa kita istimewa dalam pandangan Tuhan. Dia memperhatikan kita, kita penting bagiNya. Dia Allah yang mengerti, Dia Allah yang mengenal, Dia Allah yang peduli, Dia Allah yang terus rindu memberkati kita dan akan selalu memelihara kita.

"Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." (1 Petrus 5:7)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker