Thursday, July 7, 2016

Iman Paulus dan Silas (1)

webmaster | 8:00:00 AM |
Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 16:10
==========================
"Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana."

Sudah berusaha hidup benar tapi kenapa kondisi kehidupan masih belum juga membaik? Sudah taat tapi kenapa hidup masih atau malah makin susah? Atau bahkan, setelah bertobat kenapa hidup bukannya makin nyaman? Mungkin anda pernah mendengar komentar-komentar seperti ini dari orang yang anda kenal, atau mungkin anda sendiri pernah mengalami perasaan seperti itu. Saya pun mengalami hal itu. Setelah saya bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, saya justru harus mengalami pembentukan yang sama sekali tidak enak bahkan menyakitkan di awal-awal masa pertobatan. Dan itu berlangsung bertahun-tahun. Banyak orang kecewa ketika mereka masih tertimpa masalah padahal mereka sedang berjalan mengikuti kehendak Tuhan. Sebagian dengan cepat meragukan kebaikan Tuhan bahkan menuduh Tuhan berlaku jahat atau pembohong. Mereka menganggap ikut Tuhan itu seperti memilih produk di etalase. Coba dulu, kalau tidak cocok ya tinggal berpindah kepada alternatif lain. Hanya sedikit yang menyadari bahwa itu adalah bagian dari proses yang harus dijalani untuk menjadi lebih baik atau juga merupakan bagian dari rencana Tuhan untuk sesuatu yang indah di depan sana yang belum bisa kita lihat karena kemampuan kita untuk mengetahui masa depan sangatlah terbatas.

Tentu saja tidak ada seorang pun dari kita ingin mengalami penderitaan dalam hidup. Tetapi ada kalanya memang kita harus mengalaminya, meski bukan sebagai konsekuensi karena melanggar ketetapan Tuhan. Ada banyak alasan mengapa Tuhan terkadang mengijinkan anak-anakNya yang taat sekalipun untuk merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Melatih otot rohani kita agar lebih kuat, membuat kita lebih dewasa dan bijaksana, menyadarkan kita agar tidak bergantung kepada kekuatan diri sendiri dan mengalami sendiri penyempurnaan kuasa Tuhan. Itu adalah beberapa hal yang bisa kita peroleh justru ketika penderitaan hadir dalam hidup kita. Atau bisa juga untuk tujuan-tujuan yang lebih besar seperti nantinya bisa dipakai sebagai kesaksian yang mendatangkan pertobatan bagi orang lain.

Ada sisi-sisi lain dari sebuah penderitaan yang mungkin luput dari perhatian kita. Seringkali orang-orang percaya terlalu cepat menghakimi ketika mendengar saudara seimannya tertimpa masalah. "Wah, pasti itu gara-gara ia melakukan dosa...", "pasti ada yang tidak beres dengannya," atau: "imannya pasti kecil sekali.." dan sebagainya. Padahal tidaklah selalu demikian. Dan kita sebagai orang percaya seharusnya tidak menghakimi apalagi kalau tidak tahu apa-apa tentang orang tersebut. Seharusnya kita mengulurkan tangan dan bukan berkomentar macam-macam atau menuduh yang tidak-tidak.

Hari ini saya masih ingin menyampaikan tentang Paulus dan Silas dari sisi lain. Pada suatu malam Paulus mendapat sebuah penglihatan. Dalam penglihatan itu ia melihat ada seorang Makedonia berdiri dan berseru kepadanya: "Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!" (Kisah Para Rasul 16:9). Paulus percaya bahwa apa yang dilihatnya merupakan sebuah panggilan untuk mewartakan kabar keselamatan ke wilayah itu. "Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana." (ay 10). Maka Paulus dan Silas lalu berangkat menuju ke Makedonia.

Meski Paulus merespon panggilan tugas lewat penglihatannya, yang terjadi disana ternyata tidaklah serta merta lancar tanpa masalah. Justru sebaliknya, bukannya disambut dengan kegembiraan dan mendapat pelayanan bak hamba Tuhan terkenal dengan segala fasilitas bintang lima, mereka malah mendapat diperlakukan buruk bahkan tidak manusiawi. "Lalu pembesar-pembesar kota itu menyuruh mengoyakkan pakaian dari tubuh mereka dan mendera mereka. Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh." (ay 22-23). Paulus dan Silas kemudian dipasung dan ditempatkan di bagian penjara yang paling dalam. (ay 24).

Anda bisa bayangkan kondisi mereka yang dipasung di penjara paling dalam setelah terlebih dahulu disiksa. Badan perih penuh luka cambuk, belum diobati sudah dipasung di dalam penjara yang lembab dan pengap. Kita mungkin berpikir, bagaimana mungkin Tuhan setega itu, membiarkan hamba-hambaNya untuk mengalami penderitaan justru di saat mereka melakukan pekerjaan Tuhan? Kalau benar dianggap rekan sekerja Tuhan, harusnya Tuhan bisa langsung memukul orang-orang yang jahat ini kan? Itu pikiran kita. Tetapi Paulus dan Silas tidak berpikir seperti itu. Mereka tidak kecewa, tidak merasa tawar atau pahit terhadap Tuhan. Apa yang dilakukan Paulus dan Silas? Mereka malah menyanyikan puji-pujian sambil berdoa kepada Tuhan dengan lantang (ay 25). Yang terjadi selanjutnya adalah turunnya mukjizat Tuhan yang melepaskan mereka dari pasungan dan penjara. Tidak saja kebebasan kemudian diperoleh lewat cara yang ajaib, namun kita melihat pula pertobatan kepala penjara beserta seluruh keluarganya setelah melihat sebuah kesaksian luar biasa dari kedua hamba Tuhan ini. (ay 34).

(bersambung)


No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker