Wednesday, January 11, 2017

Pentingnya Pengambilan Keputusan (1)

webmaster | 8:00:00 AM |
Ayat bacaan: Keluaran 4:11-12
======================
"Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?  Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan."

Ada teman saya yang melayani sebagai pemain bass di gereja. Sejauh yang saya lihat, ia merupakan pemain bass yang handal. Rhythm feel nya bagus, dia punya groove dan intuisi dan instingnya pun hidup. Saat ia melakukan 'walking bass' pun keren. Suatu kali saat ngobrol, saya menanyakan dimana atau dari siapa ia belajar. Sambil tertawa ia berkata bahwa Tuhanlah guru bassnya. Saya terkejut dan bertanya, bagaimana bisa? Maka ia bercerita awal mulanya ia berkenalan dengan instrumen ini.

Awalnya ia merupakan pemain gitar dalam tim musik gereja. Suatu kali pemain bass berhalangan hanya beberapa jam sebelum kebaktian raya. Mencari pengganti dadakan tidaklah mudah. Alternatif tentu mengarah kepada pemain gitar. Tapi teman saya ini belum pernah memegang bass sama sekali sebelumnya. Tidak ada lagi orang lain yang bisa, waktu terus berjalan. Ia mengambil waktu berdoa, dan kemudian setelahnya dengan teguh ia menyatakan kesediaannya untuk menjadi pemain bass. Ia hanya sempat membunyikan bass beberapa saat sebelum tampil di depan. Dan ternyata, ia sendiri kaget dengan hasilnya. "Tangan saya seolah dituntun. Mula-mula saya berusaha berpikir cepat untuk mencerna intuisi meniti fret gitar bass, tapi kemudian saya membiarkan jari saya mengalir, mengikuti kemana Tuhan mau." katanya. Sejak saat itu ia pun beralih menjadi pemain bass.

Ia kemudian berkata bahwa seringkali pikiran kita mengintervensi rencana Tuhan. Kita tidak cukup percaya kepadaNya dan lebih mengandalkan logika dan penilaian kita sendiri terhadap kemampuan kita. Tidaklah heran kalau akhirnya kita minim pengalaman akan kuasa Tuhan yang supranatural, karena kita tidak membiarkan Tuhan bekerja atas diri kita. "Yang Tuhan cari itu orang yang mau, bukan yang mampu. Kalau kita mau, Tuhan yang memampukan." katanya.

Saya setuju dengannya. Saya mengalami sendiri hal itu. Saya bukanlah lulusan sekolah Alkitab, bukan pula penulis. Sebelumnya saya tidak pernah menulis selain tugas-tugas di sepanjang pendidikan formal, bahkan diary pun tidak. Waktu saya memutuskan untuk menulis renungan, saya masih bolong-bolong berdoa dan tidak betah membaca Alkitab. Bacanya malam, aminnya pagi, karena ketiduran. Itu sering sekali terjadi. Oleh karena itulah saat saya mendengar dalam hati saya sebuah 'suara' yang cukup jelas agar saya mulai melayani lewat menulis renungan, saya tidak langsung merespon untuk melakukannya. Mau tulis apa? Itu harus dilakukan tiap hari dan harus bisa menyampaikan kebenaran Firman Tuhan dengan aplikasinya masing-masing. Tapi kemudian saya mendengar kata-kata yang sama. "Yang Aku cari bukan orang yang mampu, tapi yang mau." Dan saya memutuskan untuk mau.

Hari ini saya sudah memasuki tahun ke 10 dalam meluangkan waktu setiap hari mengisi blog ini dengan Firman Tuhan. Komitmen yang masih saya pegang dan lakukan dengan sukacita. Ada banyak singkapan Tuhan yang disampaikan untuk saya sampaikan lagi kepada teman-teman, dan pengalaman itu buat saya luar biasa. Kalau saya waktu itu menolak, saya akan kehilangan banyak kesempatan untuk merasakan kedekatan Tuhan yang begitu nyata dalam hidup saya. Saya bersyukur saya tidak melawan saat itu dan memilih untuk taat, meskipun pikiran normal saya waktu itu meragukan kesanggupan saya.

Making decision atau mengambil keputusan adalah penentu ke arah mana hidup kita berjalan. Kita sering kurang menyadari hal itu, apalagi dalam mengambil keputusan-keputusan atas hal-hal yang kecil, sepele atau dianggap tidak/kurang penting. Padahal sekecil apapun, keputusan yang berbeda akan mendatangkan arah yang berbeda pula. Sama seperti jika anda memilih sebuah rute, anda akan melewati jalan yang berbeda, waktu tempuh yang berbeda dan sebagainya. Satu belokan akan sangat menentukan. Jadi seharusnya, kita harus benar-benar memastikan setiap keputusan kita sudah melalui pemikiran matang dan sesuai dengan rencana Tuhan agar tidak ada waktu terbuang sia-sia atau yang lebih parah lagi, membuat kita tersesat dan gagal mencapai tujuan. Satu langkah salah bisa mengarah pada langkah salah lainnya kalau tidak segera disadari dan diperbaiki. Semakin banyak keputusan yang salah, semakin jauh pula kita dari penggenapan rencana Allah atas hidup kita.

Hari ini mari kita lihat kepada siapa atau bagaimana Tuhan memilih pekerja-pekerjanya. Jika anda membaca Alkitab dengan seksama, maka bisa jadi anda akan terkejut karena mendapati bahwa Tuhan ternyata lebih suka memakai orang-orang yang bagi dunia mungkin dipandang sebelah mata ketimbang orang-orang yang ahli Taurat, menguasai hukum, orang kaya, jenius dan sebagainya. Tentu saja saya tidak bermaksud mengatakan bahwa orang yang pintar dan hebat tidak akan Dia pakai. Tuhan rindu memakai setiap anak-anakNya karena tugas yang diberikan bukanlah tugas yang mudah. Tapi yang ingin saya katakan adalah seberapa kecil pun kemampuan yang anda rasa anda miliki, itu bukan penghalang untuk menjadi pekerja yang berhasil. Dan siapapun anda, Tuhan tetap punya tugas dan rencana untuk anda.

Mari kita ambil satu contoh, yaitu Musa. Sangatlah menarik jika melihat reaksi awal Musa ketika mendapat tugas berat dari Tuhan. Kita tahu bahwa Musa adalah seorang nabi besar dan dihormati oleh begitu banyak orang dari kepercayaan yang berbeda, namanya harum dan menginspirasi dari generasi ke generasi hingga hari ini.Tapi lihatlah bahwa untuk menjadi besar seperti itu, Musa terlebih dahulu melewati sebuah proses pengambilan keputusan. Alkitab mencatat bahwa pada awalnya Musa ragu dan sempat berbantah-bantahan dengan Tuhan. Ia terus mencari alasan untuk berkelit karena merasa tugas yang dibebankan terlalu berat buat dirinya yang tidak lagi muda dan tidak ada apa-apanya.

(bersambung)


2 comments :

Andy Tantono said...

Renungan Anda adalah renungan yang bernas dan pemaparannya jelas.

Saya sudah mengikuti tulisan Anda sejak tahun 2010.

Teruslah menulis dan menjadi berkat dan terang bagi banyak orang ya, Pak.

Tuhan memberkati :)

Romioh Not 'Romeo' said...

Tuhan Memberkati Empunya blog ini..Terima Kasih perkongsiannya.. sy sangat diberkati dalam setiap entri yang disampaikan.

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker