Saturday, November 28, 2015

Rejected by the Society (2)

webmaster | 8:00:00 AM |
(sambungan)

Ada begitu banyak contoh lain mengenai hal ini, misalnya kisah perumpamaan mengenai orang Farisi dengan pemungut cukai (Lukas 18:9-14). Ketika keduanya masuk ke bait Allah, ada perbedaan nyata dari sikap hati keduanya. Sementara orang Farisi menyombongkan kerajinannya beribadah dan tata cara hidupnya yang dianggapnya paling benar, pemungut cukai merendahkan dirinya habis-habisan. "Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini" (ay 13). Pemungut cukai lah yang akhirnya pulang sebagai orang yang dibenarkan. (ay 14). Bagaimana dengan Rahab yang awalnya merupakan wanita tuna susila kemudian menjadi satu dari sederet pahlawan iman lainnya sekaliber Musa, Abraham, Yusuf dan lain-lain lewat imannya? Itupun bisa menjadi contoh nyata mengenai bentuk keselamatan yang kesempatannya terbuka bagi semua orang, apapun latar belakangnya, apapun masa lalunya.

Semua orang dapat kesempatan yang sama tanpa terkecuali untuk bertobat. Asalkan mereka menyesali perbuatan-perbuatan mereka dan memilih untuk kembali kepada Tuhan, hidup sesuai firmanNya dan tentunya percaya kepada Kristus, maka mereka pun mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan bagian di Kerajaan Allah. Masyarakat mungkin menolak, kondisi sosial mungkin masih sulit menerima hal tersebut, tapi Tuhan tetap menyambut setiap pertobatan yang sungguh-sungguh dengan tangan terbuka dan penuh sukacita.

Justru kepada kita yang berlumur dosa inilah Yesus datang. "Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat." (Lukas 5:32). Dia sudah menyerahkan nyawaNya sendiri untuk menebus dosa-dosa kita di atas kayu salib demi kita semua, agar kita bisa diselamatkan. Kesempatan diberikan secara luas kepada siapapun, tapi ingatlah bahwa kesempatan untuk itu tidak akan ada selamanya. "kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" (Markus 1:15).

Jangan terlena dengan status kita yang dirasa sudah "aman" ketika kita sudah menerima Kristus, kemudian lalai dalam menjalankan kewajiban-kewajiban kita seperti halnya anak sulung dalam perumpamaan tentang dua orang anak di atas. Hendaklah kita terus menjaga diri kita, menjauhkan diri kita dari memberi melakukan penolakan-penolakan dan hobi menghakimi seenaknya. Semua orang punya kesempatan yang sama, tidak peduli apapun latar belakang dan dosa-dosa di masa lalu. Orang yang masa lalunya kelam tapi kemudian bertobat akan segera diselamatkan. Sebaliknya kita yang sudah menyandang status sebagai anak sulung pun bisa terpeleset jika kita tidak berhati-hati. Perhatikan baik-baik sikap hati kita dalam menghadapi mereka yang belum bertobat, lantas perhatikan baik-baik pula keseriusan kita dalam menjaga status kita sendiri saat ini. Kita wajib mengulurkan tangan untuk menolong mereka yang hendak berbalik, tapi disisi lain kita harus tetap memastikan diri kita ada dalam koridor yang benar.

Siapapun yang percaya dan melakukan Firman Tuhan akan mendapat tempat dalam Kerajaan Allah, tanpa terkecuali

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker