Tuesday, June 20, 2017

Pentingnya Melepaskan Pengampunan (2)

webmaster | 8:00:00 AM |
(sambungan)

Seandainya Kain masih hidup hari ini, tanyakan tentang hal ini kepadanya dan saya yakin ia akan mengingatkan kita tentang betapa berbahayanya membiarkan amarah menguasai kita dengan menyatakan penyesalan yang sangat besar. Ketika kita emosi seperti itu, bayangkan ada berapa banyak bahaya yang mengintip, siap membawa kita binasa. Baik dari sisi kesehatan maupun masuknya berbagai kejahatan dalam eskalasi yang seringkali meningkat hingga pada satu titik bisa membawa masalah besar bagi kita. Sebaliknya saat kita menyikapi dengan tenang, segera melepaskan pengampunan, jantung kita bisa tetap berdetak normal, darah tidak harus naik, hati tetap terjaga kehangatannya. Itu saja sudah menghindarkan kita dari berbagai resiko yang bisa jadi fatal. Kita tidak harus terjebak melakukan berbagai kesalahan yang mengarah pada dosa yang pada akhirnya mendatangkan penyesalan tiada habisnya. Kalau kita masih sulit untuk mengampuni, bagaimana kita bisa berharap pada kehidupan yang berkualitas? Bagaimana kita bisa memenuhi tujuan dan rencana Tuhan bagi kita apabila kita masih terus terperangkap pada masalah mengganjal yang membelenggu kita?

Suatu kali Petrus mendatangi Yesus dan bertanya berapa kali ia harus memberi pengampunan terhadap saudaranya yang berbuat salah terhadapnya seperti yang tertulis dalam Injil Matius 18. "Tujuh kali?" katanya. Lantas Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali." (ay 22). Tujuh puluh kali tujuh. Bukankah mengampuni 490 kali terhadap orang yang sama sulitnya sudah bukan main? Apa yang diajarkan Yesus menunjukkan keharusan kita untuk bisa terus melepaskan pengampunan tanpa batas. Yesus mengingatkan bahwa kita harus siap memberi pengampunan terus menerus, dan jangan pernah tertarik untuk menyisakan dendam dalam hati kita.

Dalam doa yang diajarkan Yesus pun kita diingatkan akan hal itu. "dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami." (Matius 6:12). Bahkan penekanan diberikan pada ayat selanjutnya. Jika ada yang bertanya, kenapa kita wajib mengampuni? Yesus berkata: "Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." (ay 14-15). Tidak satupun dari kita yang 100 persen terlepas dari melakukan kesalahan. Karenanya, tidak satupun pula dari kita yang tidak membutuhkan pengampunan dari Tuhan. Jika pengampunan dari Tuhan terhadap kita tergantung dari pengampunan yang kita berikan kepada sesama, bagaimana mungkin kita masih tergoda untuk menyimpan dendam apalagi membalas kesalahan orang terhadap kita?

Selanjutnya, mari kita lihat ucapan Yesus berikut ini. "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (Markus 11:25). Ini adalah ucapan Kristus yang tentunya tidak lagi asing bagi kita. Tapi perhatikan ayat selanjutnya. "Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (ay 26).

Perhatikan baik-baik bagaimana Yesus merangkai atau menopang dua kalimat tersebut. Saya percaya Yesus mengatakan kedua kalimat ini secara sengaja untuk menggambarkan bahwa keduanya ada dalam konteks yang sama alias berkaitan. Yesus ingin kita tahu bahwa pengampunan merupakan landasan untuk bisa menerima dari Tuhan. Sebelum berdoa, kita harus terlebih dahulu mengampuni orang-orang yang masih mengganjal di hati kita. Bereskan dulu itu, baru berdoa. Karena jika tidak, iman kita masih terbelenggu dan akibatnya doa yang kita panjatkan pun tidak akan bisa membawa hasil apa-apa alias sia-sia. Menariknya, sebelum Yesus mengatakan kedua kalimat di atas, Dia baru saja menjelaskan bahwa iman yang teguh akan mampu mencampakkan gunung sekalipun untuk terlempar ke laut. (ay 23). Iman yang sekecil biji sesawi sekalipun akan mampu melakukan itu. Tuhan siap memberikan apapun yang kita minta dan doakan dengan disertai rasa percaya. Tapi sebelum itu semua terjadi, dan agar itu bisa terjadi, kita terlebih dahulu harus mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita, orang yang telah menyakiti hati kita, orang yang telah melukai perasaan kita. Sebab tanpa itu, iman kita masih terperangkap dalam penjara dan akan terus menghalangi kita untuk menerima segala sesuatu dari Tuhan.

Dari semua yang saya paparkan dalam renungan ini, kita bisa melihat jelas bahwa pengampunan itu bukan semata untuk orang tetapi terlebih memberi manfaat bagi kita dan merupakan sesuatu yang wajib untuk dilakukan kalau kita tidak ingin malah mendapatkan masalah baik dalam hidup ini maupun dalam perjalanan selanjutnya kelak. Kita yang dijahati? Mungkin ya. Kita yang jadi korban? Mungkin ya. Orang yang menyakiti kita tidak menyadari kesalahannya? Bisa jadi. Atau malah makin provokatif karena merasa diatas angin? Ada banyak orang yang miskin pikiran seperti itu. Tapi biar bagaimanapun, pengampunan adalah sebuah pilihan yang seharusnya diambil oleh orang percaya karena itu akan menjaga kesehatan kita, baik kesehatan fisik, psikis maupun spirit. Kita tidak bisa mengharapkan kehidupan yang berkualitas, kita tidak bisa mengharapkan untuk bisa memenuhi rencana Tuhan yang indah dalam hidup kita apabila kita masih terperangkap pada sulitnya untuk mengampuni. Saya kira, masalah mengampuni bisa jadi merupakan salah satu yang tersulit dalam usaha kita menjadi pelaku Firman.

Karenanya kita harus mulai merubah pola berpikir kita. Apabila kita masih menggantungkan kerelaan memberi pengampunan dari ukuran kesalahan seseorang dan pengakuan mereka, kita akan tetap sulit untuk bisa melakukannya. Akan tetapi saat kita berpikir tentang sebesar apa manfaatnya bagi kita, bagi kelangsungan hidup kita, bagi sebuah hidup yang berkualitas dengan berjalan selangkah demi selangkah dalam memenuhi rencana Tuhan, bagi kesehatan kita secara menyeluruh, bagi hidup yang tidak terganjal oleh beban, bagi hidup yang tidak berisi kebencian dan kepahitan melainkan hidup yang damai sejahtera dan penuh sukacita, tentu kita akan mengambil sikap berbeda. Jika masih tetap sulit, ingatlah bahwa kasih karunia Tuhan bagi kita lebih dari cukup untuk bisa melakukannya. Apakah ada diantara teman-teman yang masih berkutat pada sulitnya mengampuni seseorang saat ini? Jika ada, why don't you do yourself a favor today. Lepaskan pengampunan dan hiduplah ringan tanpa beban, lantas genapi semua rencana Tuhan yang indah dan besar mulai hari ini.

Mengampuni itu menyehatkan. Berhentilah menyiksa diri sendiri dengan terus memendam kebencian. Forgive others, not because they deserve forgiveness but because you deserve peace

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker