Saturday, June 3, 2017

Mengeluh atau Bersyukur? (1)

webmaster | 8:00:00 AM |
Ayat bacaan: Lukas 9:16
===================
"Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya dibagi-bagikannya kepada orang banyak."

Semakin lama manusia semakin sulit untuk bersyukur. Penyebabnya ada banyak. Tekanan ekonomi yang membuat pemenuhan kebutuhan baik primer, sekunder maupun tertier terkendala, banyaknya orang-orang yang sulit diatur, diajak kerjasama atau bahkan provokatif, berbagai agenda yang harus diselesaikan, tumpukan masalah yang bertubi-tubi, hingga cuaca yang terlalu panas saja sering membuat orang kehilangan kendali atas emosinya. Pagi ini ketika saya bangun, saya langsung teringat akan beberapa hal yang harus saya selesaikan, yang belakangan memang cukup menyita waktu, pikiran dan energi.

Saya tidak ingin pagi hari saya sudah diganggu oleh masalah yang akan segera merebut sukacita dari diri saya sejak menit pertama saya bangun. Saya tidak ingin kehilangan kesempatan merasakan adanya rahmat Tuhan yang baru, yang bisa luput dari perhatian saat berbagai problem berkecamuk di pikiran saya, lantas menyebabkan polusi dalam hati saya. Saya ingin pagi hari diisi dengan merenungkan kebaikan Tuhan, dan mengisi hati, pikiran dan ucapan dengan ucapan syukur. Saya yakin itu akan membuat hari ini jauh lebih indah untuk dijalani, meski masalah tetap belum hilang dan masih harus dihadapi. Kalau pikiran tentang kesulitan dan permasalahan hidup kita biarkan merasuk di pagi hari, kita bisa menghabiskan hari dengan keluhan dan umpatan. Hati yang sudah panas sejak pagi akan membuat hari tidak lagi menyenangkan untuk dilalui.

Pemikiran ini kemudian membawa saya pada sebuah perenungan: apa yang lebih mendominasi mulut kita saat ini? Apakah keluh kesah, umpatan, omelan, gerutu, atau puji-pujian penuh ucapan syukur? Tidak ada yang mudah dalam hidup ini, apalagi ketika dunia semakin tua semakin dipenuhi krisis multi dimensi. Tapi apakah itu kita biarkan untuk merampas sukacita dalam diri kita? Haruskah kita menyerahkan keceriaan pagi dan sukacita sepanjang hari dengan setumpuk pemikiran tentang masalah hidup? Adakah itu membantu atau malah menambah masalah saja?

Mari kita lihat sebuah kisah yang sangat familiar bagi kita saat Yesus melakukan mukjizat dengan menggandakan lima roti dan dua ikan yang mampu memberi makan 5000 orang, belum termasuk wanita dan anak-anak. Sudah memberi makan sebegitu banyak orang, mukjizat itu masih menyisakan 12 bakul penuh.

Mari kita lihat lebih dekat apa yang terjadi disana. Ketika itu ada ribuan orang yang mendengarkan pengajaran Yesus tentang Kerajaan Allah, dan mendapat kesembuhan dari Yesus. Ketika matahari mulai tenggelam, datanglah para murid kepada Yesus dan meminta Yesus agar memulangkan mereka semua, agar mereka bisa makan dan mencari penginapan. Apa jawab Yesus? "Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Kamu harus memberi mereka makan!" (Lukas 9:13a). Apa jawab para murid? "Mereka menjawab: "Yang ada pada kami tidak lebih dari pada lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini." (ay 13b). Yesus kemudian meminta lima roti dan dua ikan itu.

Perhatikan apa yang selanjutnya dilakukan Yesus. "Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya dibagi-bagikannya kepada orang banyak." (Lukas 9:16). Yesus mengucap berkat, mengucap syukur, lalu mulai memecah-mecahkan roti. Dari apa yang dilakukan Yesus kita bisa menyaksikan betapa luar biasanya kuasa yang berasal dari ucapan syukur.

Kalau melihat situasi saat itu, logikanya manusia akan mudah mengeluh. Bagaimana tidak? Sudah capai, sudah harus melayani ribuan orang, masih harus ditambah dengan keharusan memberi makan semua orang itu. Jumlahnya bukan sedikit, ada 5000 orang belum termasuk wanita dan anak-anak. Dikali dua saja bisa 10.000 orang jumlahnya. Bukankah itu masalah besar? Itu sudah cukup untuk membuat kita pusing, mengeluh dan lupa bersyukur. Tapi Yesus mengajarkan kita untuk memeriksa apa yang ada, lantas mengucap berkat dan mengucap syukur atasnya. Dan itu ternyata cukup untuk mendatangkan sesuatu yang ajaib. Ucapan syukur mampu mendatangkan berkat dan mukjizat yang tidak terpikirkan sekalipun.

(bersambung)


No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker