Sunday, June 4, 2017

Mengeluh atau Besyukur? (2)

webmaster | 8:00:00 AM |
(sambungan)

Di sisi lain, lihatlah apa yang terjadi pada orang-orang Israel saat menuju tanah terjanji. Sebagian besar dari mereka gagal mencapai tanah tersebut yaitu tanah Kanaan. Tuhan telah melepaskan orang Israel dari perbudakan di Mesir, menyediakan masa depan bagi mereka, berjalan langsung di depan memimpin mereka, menurunkan berbagai berkat dan pertolongan selama perjalanan, dan sebagainya. Namun apa yang dilakukan oleh bangsa Israel ketika itu? Bersyukurkah mereka? Mereka malah bersungut-sungut, protes, mulut mereka penuh dengan keluhan, hujatan dan kesinisan, dan itulah yang terjadi. Mereka gagal mencapai apa yang telah dijanjikan Tuhan.

Mengenai perkataan, Amsal berkata: "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya." (Amsal 18:21). Hidup yang menggambarkan semangat, gairah, motivasi, pengharapan, dan sebagainya, dikuasai lidah, dan sebaliknya, mati yang menggambarkan depresi, patah semangat, putus asa, dan sebagainya pun dikuasai lidah. Bersungut-sungut tidak akan membawa manfaat apa-apa selain kegagalan yang akan berujung pada kebinasaan. Dalam Korintus tertulis: "Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut." (1 Korintus 10:10).

Lewat kisah penggandaan lima roti dan dua ikan di atas kita sebenarnya bisa melihat kuasa sebesar apa yang bisa hadir lewat ucapan syukur. Lalu sebaliknya, untuk orang yang suka bersungut-sungut dan mempergunakan mulutnya untuk hal-hal yang negatif, konsekuensi yang harus ditanggung pun jelas. Kalau kita merenungkan baik-baik kedua hal ini, seharusnya kita tahu apa yang terbaik kita lakukan.

Apa yang mengisi mulut kita secara dominan hari-hari ini? Apakah ucapan syukur, puji-pujian atau sebaliknya keluh kesah, umpatan atau makian? Hidup atau mati, itu dikuasai lidah. Lidah yang berasal dari hati yang senantiasa bersyukur akan penuh pula dengan ucapan syukur, begitu pula sebaliknya. Sebuah pesan penting pun muncul. "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18).

Apakah akibat tekanan hidup, panasnya suhu bumi, atau apapun alasannya, hendaklah kita tidak terjebak pada emosi yang merusak jiwa dan hati kita. Selain bisa membawa kita kepada berbagai penyakit bahkan kematian, hal tersebut juga mengarah pada kegagalan bahkan kebinasaan. Hidup yang penuh ucapan syukur akan tetap bersukacita walau badai menerpa sekalipun. Hati yang penuh rasa syukur tidak akan terpengaruh oleh suhu dan tekanan, bahkan bisa mendatangkan berkat dan kuasa mukjizat.

Apapun yang kita hadapi hari ini, manis atau pahit sekalipun, jangan pernah berhenti untuk mengucap syukur. Biarlah Tuhan bertahta di atas puji-pujian dan ucapan syukur kita dan alamilah segala kebaikan Tuhan tercurah sepenuhnya atas kita.

Quit complaining and give thanks

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker