Thursday, June 12, 2014

Sudut Pandang Menghadapi Masalah (1)

webmaster | 8:00:00 AM |
Ayat bacaan: 2 Korintus 4:17
======================
"Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami."

Saya mengenal beberapa orang yang hobinya galau. Rata-rata perangai mereka sama. Ada masalah sedikit saja langsung down habis. Tidak lagi selera melakukan apa-apa, murung dan merasa bagai orang yang termalang di dunia. Mereka sama-sama punya pandangan negatif akan segala hal, cenderung mengarah pada kemungkinan terburuk dan entah sadar atau tidak kerap membesar-besarkan masalah. Pada suatu kali salah satu diantara mereka bertemu dengan temannya yang ternyata tengah menghadapi masalah yang jauh lebih besar darinya. Di saat itulah ia kemudian tersadar bahwa ia bukanlah satu-satunya orang yang tengah kesulitan, dan tentu saja bukan orang yang terberat masalahnya di dunia. "Ternyata masalah saya bukan apa-apa jika dibandingkan dengannya..." katanya. Sebagian dari mereka hari ini sudah menjadi orang-orang yang memiliki pola pikir dan cara pandang jauh lebih positif dari sebelumnya. Sebagian lagi masih senang berkubang ditengah kegalauan perasaan. Semua orang pada suatu ketika mengalami masalah dalam hidup, baik besar maupun kecil, baik sedikit maupun banyak. Bisa jadi karena kesalahan sendiri, bisa pula karena memang hidup ini tidak akan pernah sepenuhnya tanpa problem. Semua orang mengalami masalah, yang membedakan bukan ukuran atau berat ringannya masalah, tapi bagaimana cara pandang kita dalam menghadapinya, dari sudut pandang mana kita melihatnya.

Bandingkan kelereng dengan bola tenis, maka bola tenis akan terlihat besar. Tapi bandingkan bola tenis dengan bola basket, bola tenis pun pasti terlihat kecil. Seperti itu pula perbedaan cara pandang kita terhaap masalah. Seperti apa anda memandang permasalahan hidup hari ini? Besar atau kecil? Saya kira kebanyakan orang akan sepakat menilai permasalahan yang ada dalam hidup itu banyak yang besar. Pergumulan-pergumulan dan tekanan-tekanan hidup akan selalu siap menggoyahkan kita. Tidak jarang orang yang menyerah setelah diterpa badai, tapi ada pula yang tetap tegar meski badai telah mencoba memporak-porandakannya dalam waktu yang cukup lama. Seperti ukuran beberapa jenis bola tadi, besar kecilnya masalah pun ternyata relatif. Karena besar kecilnya masalah itu relatif, maka tampaknya bukan kadar masalah yang membuat orang jatuh menyerah dalam keputus asaan, namun pola pikir atau cara pandanglah yang sangat menentukan. Terus mengarahkan pandangan kepada masalah, maka salah itu akan terasa bertumbuh semakin besar. Namun jika pandangan diarahkan dalam iman yang percaya, kita tidak perlu kehilangan sukacita walau seberat-beratnya masalah menimpa kita.

Coba pikir, kurang apa masalah yang dihadapi Paulus? Jika kita yang mengalami, mungkin secuil saja dari masalahnya sudah membuat kita limbung. Bahaya, ancaman atau penyiksaan ia alami dari sesama manusia dan alam dalam masa pelayanannya setelah bertobat. (2 Korintus 11:23-28). Apa itu saja? Tidak. Ia juga mendapatkan masalah dari dalam tubuhnya sendiri. (12:7-8). Dalam kesempatan lain Paulus mengatakan "Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini." (1 Korintus 4:11-13). Paulus mengalami semuanya meski ia tengah mewartakan kebenaran firman. Kebanyakan dari kita mengira bahwa kita bisa mendapat 'keistimewaan' kalau melayani Tuhan dengan hidup sepenuhnya tanpa masalah. Ada masalah datang, kitapun kecewa. Tapi tidaklah demikian dengan Paulus. Dia tetap sabar dan terus maju menjalankan pelayanannya seperti yang telah ditetapkan Tuhan. Ia terus berjalan melakukan apa yang menjadi tugasnya dengan keramahan, kesabaran dan ketabahan.

Apa yang menjadi kuncinya? Paulus bisa bersikap seperti itu karena ia mengarahkan pandangannya bukan kepada masalah yang menimpanya, tapi kepada apa yang ada di depannya. Visinya adalah memandang kepada apa yang dijanjikan Tuhan lewat Kristus. "..tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Filipi 3:13-14). Dengan pandangan seperti itulah Paulus bisa tetap tegar meski tubuh dagingnya harus ia pertaruhkan. Penderitaan bisa jadi menyiksanya secara daging, tapi tidak demikian dengan rohnya. Ia tidak terfokus kepada penderitaan daging yang fana, tapi ia memusatkan perhatiannya kepada keselamatan roh yang kekal. Jika dipandang dari sudut masalah, jelas masalah yang dialami Paulus amat sangat besar. Tapi apabila dipandang dari apa yang akan ia terima di depan, semua itu tidaklah ada apa-apanya. Dan itulah sebabnya mengapa Paulus mampu berkata dengan luar biasa seperti ini: "Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami." (2 Korintus 4:17).

(bersambung)

No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker