Sunday, June 22, 2014

Perfeksionis 'Mentok'

webmaster | 8:00:00 AM |
Ayat bacaan: Keluaran 18:18
=======================
"Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja."

Menjadi seorang perfeksionis tidaklah mudah. Hasil terbaik memang bisa diharapkan, soal keseriusan jangan ditanya lagi. Tapi sisi buruknya, manajemen waktu dari orang-orang perfeksionis benar-benar harus mendapat perhatian khusus kalau tidak mau semuanya menjadi berantakan, atau malah bisa beresiko membuat orangnya mengalami gangguan kesehatan karena terlalu memforsir tenaga. Orang yang perfeksionis cenderung mau mengerjakan semuanya sendirian karena sulit mempercayakan tugas kepada orang lain. Kalaupun punya bawahan, semua harus diperiksa secara teliti satu persatu supaya sempurna. Banyak karyawan yang mengeluh kalau kebetulan punya pimpinan perfeksionis karena itu artinya mereka harus bekerja ekstra, baik ekstra serius, ekstra jam alias lembur, sering pula harus bisa dihubungi kapan saja dan siap melakukan revisi, koreksi atau perubahan ini dan itu sesuai keinginan si bos perfeksionis. Jika anda termasuk orang yang punya sifat seperti itu, maka anda tentu tahu bagaimana sulitnya mengatur waktu agar semua berjalan sesuai ekspektasi. Waktu 24 jam akan terasa sangat kurang karena semua sepertinya harus dikerjakan sendiri. Kalau diserahkan kepada orang lain rasanya sulit, karena belum tentu mereka bisa melakukannya sebaik kita. Kelabakan, harus mengorbankan banyak waktu seperti waktu beristirahat, waktu untuk keluarga atau kalau perlu, waktu berdoa, saat teduh dan waktu beribadah. Saya dulu termasuk satu diantaranya dan sampai hari ini masih terkadang bergumul dengan kondisi tersebut. Saya sering bertanya, bagaimana mungkin ada orang-orang yang sanggup mengerjakan jumlah kegiatan yang jauh lebih banyak dari saya tapi masih punya waktu untuk hal-hal lain yang sebenarnya tidak kalah penting dalam hidup? Apa rahasia mereka sehingga bisa bekerja di beberapa bidang sekaligus, membagi waktu untuk keluarga, berolahraga atau bahkan masih punya waktu untuk melayani? Dari sekian banyak orang seperti itu yang saya tanya, rata-rata memberi jawaban yang sama, yaitu kemampuan kita membagi waktu alias manajemen waktu, penetapan prioritas yang baik dan pendelegasian. Tiga hal ini sulit dimiliki oleh orang yang perfeksionis, tapi sangatlah penting sebelum kondisi tersebut memakan kesehatan kita dan merusak kehidupan kita. Merusak? Ya, merusak. Pekerjaan baik, hasil maksimal, tapi keluarga berantakan, waktu untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap fit dikorbankan, waktu untuk bersosialisasi terpangkas sehingga sulit punya teman, terlebih hubungan dengan Sang Pencipta akan renggang atau bahkan terputus sama sekali. Itu terjadi karena semuanya kalah prioritas, tidak ter-manage dan kebiasaan untuk memilih mengerjakan semuanya sendirian ketimbang membaginya kepada orang lain. Nasihat inilah yang pernah saya terima. "Anda harus belajar percaya kepada pekerjaan orang lain. Mungkin tidak persis seperti yang anda harapkan, tapi belum tentu hasilnya lebih buruk." Seperti itulah kira-kira katanya yang masih saya ingat sampai hari ini. Mendelegasikan. Melihat mana yang bisa diwakilkan dan mana yang benar-benar harus dilakukan sendiri. Mana yang menjadi prioritas dan seperti apa manajemen yang terbaik. Itu merupakan hal-hal yang penting untuk dicermati terlebih bagi kita yang sangat sibuk.

Menariknya, kita bisa belajar tentang hal ini dari Musa dan mertuanya, Yitro. Kita tahu bahwa Musa dipilih Allah secara langsung untuk sebuah tugas besar yang sangat berat, yaitu membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir dan ditunjuk untuk menuntun mereka mencapai tanah terjanji yang telah dijanjikan Tuhan kepada Abraham. Bukan satu-dua orang yang harus ia tuntun tapi jumlahnya sangat besar, dan bukan pula sekumpulan orang yang tunduk dan taat, tapi pembangkang, tidak sabaran dan keras kepala. Itu sama sekali tidak mudah. Dalam prakteknya Musa kerap menjadi penyambung lidah Tuhan untuk menyampaikan petunjuk-petunjuk Tuhan kepada seluruh orang Israel yang ia pimpin dalam perjalanan yang menempuh rentang waktu sangat lama. Mengingat job desk yang berat itu, tampaknya Musa terlalu fokus menjiwai tugasnya sehingga ia langsung terjun mengurus segalanya sendirian. Apa-apa ia yang harus turun tangan langsung, menangani perselisihan, pertikaian, pertengkaran dan sebagainya. Jumlah orang yang banyak dengan sifat umum keras kepala, kita sudah bisa memastikan bahwa masalah akan sangat sering muncul disana dan sangat banyak pula ragam dan jumlahnya. Musa pun turun tangan langsung menyelesaikan sendiri satu persatu, all by himself. Itu jelas disebutkan dalam ayat berikut:  "Keesokan harinya duduklah Musa mengadili di antara bangsa itu; dan bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang." (Keluaran 18:13). Musa bertindak sendirian menjadi hakim mengatasi perselisihan yang terjadi di antara sesama orang Israel yang memang hobi berseteru dan ribut tanpa ada habisnya. Kapan selesainya kalau seperti itu terus? Kalau kita yang menjalani, kita bisa stres, darah tinggi dan mati muda.

Mertua Musa, Yitro memperhatikan hal tersebut dan prihatin melihat menantunya. Meski ia tahu bahwa apa yang dilakukan Musa itu merupakan hal yang baik, tapi itu tidaklah efektif. Dia pun menanyakan "Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang?" (ay 14). Musa menjelaskan bahwa sebagai yang ditunjuk Tuhan, ia harus memberitahukan ketetapan dan keputusan Allah kepada masing-masing orang. Benar, tapi bukan begitu juga caranya. Itulah kira-kira yang disampaikan Yitro. Katanya: "Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja." (ay 18). Yitro mengatakan bahwa bekerja sendirian seperti itu dalam mengelola masalah bangsa Israel yang begitu banyak adalah tidak baik. (ay 17). Lalu Yitro pun memberi masukan kepada Musa, memberi usulan agar Musa bisa memakai strategi yang lebih baik, menyusun struktur kepemimpinan yang akan bisa membantu Musa dalam menyelesaikan setiap permasalahan secara lebih cepat, efektif dan efisien. "Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya." (ay 21-22). Yitro memberi usulan yang sangat baik agar Musa membentuk kelompok-kelompok yang bertingkat dengan pemimpin masing-masing. Itu tentu akan jauh lebih mempermudah Musa dalam menjalankan perintah Tuhan. Inilah  gambaran struktur kepemimpinan terawal yang dicatat dalam Alkitab. Untunglah Musa merupakan pribadi yang rendah hati dan mau menerima masukan. Ia tidak menolak dan mendengarkan nasihat mertuanya. "Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya." (ay 24). Yitro pun bisa melihat langsung bagaimana menantunya memperbaiki sistem pelayanannya dengan melibatkan orang-orang yang cakap sebagai rekan sekerja sebelum ia pulang kembali ke negerinya. (ay 27).

Yang juga menarik, dalam salah satu doa Musa di kemudian hari ia meminta Tuhan memberi hikmat kepadanya untuk mampu menghitung hari-hari. "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (Mazmur 90:12) Musa menyadari pentingnya meminta hikmat agar ia bisa membagi dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Musa belajar dari mertuanya dan menjadi lebih baik dengan pendelegasian, manajemen waktu (menghitung hari) dan penetapan skala prioritas dengan struktur yang baik. Kita pun tentu bisa belajar dari sana. Apa yang penting adalah menyadari terlebih dahulu bahwa kita tidak akan sanggup mengerjakan semuanya sendirian. Kita perlu menyiasati banyak hal agar bisa memanfaatkan waktu secara optimal. Mungkin tidak mudah, tetapi itu harus kita lakukan agar hasil yang diperoleh bisa lebih baik lagi dalam banyak hal dan kita tidak harus mengorbankan banyak hal yang justru akan merugikan diri dan masa depan kita. Paulus juga sudah mengingatkan kita untuk mempergunakan waktu yang ada sebaik-baiknya, karena sesungguhnya hari-hari yang kita lalui ini adalah jahat. (Efesus 5:16). Kemampuan memanajemen waktu akan sangat berkaitan erat dengan kemampuan kita mendelegasikan tugas-tugas. Kita tidak akan bisa menyelesaikan semuanya sendirian, dan disaat yang sama meluangkan waktu yang cukup untuk keluarga dan untuk Tuhan. Kalau begitu caranya, mau 100 jam sehari pun tidak akan pernah cukup. Hitung kemampuan anda, mana yang bisa anda lakukan, mana yang bisa diwakilkan. Atur skala prioritas dengan benar dan pastikan tidak tumpang tindih atau acak-acakan. Tanpa itu kita tidak akan bisa mengalami peningkatan. Waktu memang terbatas, tapi bukan berarti tidak cukup. Kita terbatas, tetapi bukan berarti kita harus jalan di tempat. Bersama Tuhan, milikilah hikmat untuk bisa menyusun jadwal perencanaan yang baik dan belajarlah untuk mempercayakan sebagian dari beban-beban anda kepada orang lain. Dalam banyak hal, itu justru akan mendatangkan manfaat bagi orang lain karena mereka bisa belajar dan bertumbuh untuk lebih baik pula. Tidaklah salah untuk memberi hasil terbaik, itu malah sebuah keharusan. Tapi bukan berarti untuk itu kita harus menjadi perfeksionis 'mentok' tanpa kompromi. Itu justru merugikan pada akhirnya. Apakah anda termasuk orang yang hari ini sedang kelabakan dengan tugas-tugas karena merasa harus mengerjakan semuanya sendirian dan melihat bahwa ada banyak hal lain diluar pekerjaan yang terbengkalai atau retak sana sini? Perbaiki segera sebelum terlambat.

Kemampuan mendelegasikan termasuk strategi terbaik dalam manajemen waktu

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

1 comment :

Jemaat Penanian said...

pencerahan yg mengilhami...(y)
Amin !

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker