Monday, June 16, 2014

Merubah Paradigma

webmaster | 8:00:00 AM |
Ayat bacaan: 1 Yohanes 2:15-16
========================
"Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia."

Sulit diterima akal kalau ada orang yang dengan sengaja mau hidup jauh dari kebenaran dan sengaja ingin berakhir ke dalam siksaan yang kekal. Tetapi pada kenyataannya, hanya sedikit yang benar-benar sanggup hidup seturut kehendak Allah sepenuhnya, tidak pilih-pilih. Apa yang sering menjadi kendala terbesar dari sekian banyak konseling yang pernah saya lakukan ternyata bukan soal keinginan mereka untuk memperbaiki diri melainkan bersumber dari kesulitan setiap pribadi untuk merubah paradigma. Paradigma adalah serangkaian tata nilai, cara pandang dan konsep-konsep pemikiran seseorang tentang bagaimana sesuatu atau segala sesuatu itu berjalan, yang biasanya berhubungan dengan apa yang sudah ditanamkan, diketahui atau diajarkan sejak kecil sehingga membentuk cakrawala berpikir, bersikap dalam menanggapi hal-hal yang dijumpai dalam kehidupan. Paradigma bisa berasal dari pengajaran baik dari orang tua, lingkungan, lingkaran pertemanan dan lain-lain, yang dalam rentang waktu lama bisa dianggap sebagai sesuatu yang benar, baik karena dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya maupun sebagai bentuk kebiasaan mayoritas yang kerap dijumpai dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Semakin kesini, saya melihat bahwa dunia melihat hidup dengan cara-cara yang semakin berbeda dengan kebenaran Kerajaan Allah seperti yang disampaikan Yesus langsung dalam masa pelayananNya yang singkat saat turun ke dunia. Sebagai bagian dari mahluk hidup yang berada dalam dunia, pengaruh-pengaruh yang keliru terus masuk ke dalam pikiran dan hati kita, sehingga paradigma manusia pun semakin hari semakin jauh melenceng dari kebenaran.

Dunia terus mengajarkan konsep kekayaan sebagai solusi untuk mencapai kebahagiaan. Semuanya dinilai dengan uang atau harta. Dunia terus mengagung-agungkan popularitas, tingginya jabatan yang bisa dipakai sebagai etalase kebanggaan diri, untuk menciptakan pribadi yang berpengaruh besar sehingga posisinya bahkan bisa berada di atas hukum. Dunia menganjurkan kepemilikan atas benda-benda yang mewah agar bisa diterima dalam lingkungan pergaulan kelas atas, yang tentu saja akan menaikkan pamor kita di mata orang. Itu dipercaya akan membuat kita 'penuh' dan nyaman. Dunia dan akhirat adalah dua bagian yang terpisah. Urusan beribadah itu hanya untuk nanti setelah mati, urusan dunia terlepas dari soal-soal rohani. Rohani seminggu sekali dan ironisnya hanya dikaitkan dengan kebiasaan mengunjungi gereja, sepulang dari sana hidup akan kembali duniawi lagi sepenuhnya, tidak ada urusan lagi dengan ibadah. Atau banyak pula yang mengira bahwa ke gereja, bersedekah atau berbuat baik pada waktu-waktu tertentu bisa 'mencuci' tindak-tindak kejahatan yang kita lakukan yang suka saya sebut dengan 'cuci dosa' alias 'sin laundering'. Kalau melakukan korupsi tapi takut kena dosa, ya bangun rumah ibadah supaya uang hasil kejahatan jadi bersih. Atau sumbangkan sebagian ke orang, lembaga atau departemen tertentu, maka itupun bisa me'mutih'kan. Perhatikanlah, bukankah banyak orang yang melakukan itu hari ini? Semua ini merupakan kekeliruan yang umumnya bersumber dari paradigma berpikir yang keliru dan sama sekali jauh dari kebenaran.

Dunia tampaknya sudah lama menghidupi kekeliruan seperti ini dalam perjalanannya. Bahkan saat Yohanes masih aktif, ia sudah mengingatkan tentang hal ini secara khusus. Lihatlah apa yang ia sampaikan dalam 1 Yohanes 2:7-17. Ia memulai perikop ini dengan kalimat: "Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu, telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya." (ay 7). Ia berkata bahwa yang ia sampaikan sebenarnya bukanlah perintah baru, tetapi sesuatu yang sebenarnya sudah demikian sejak semula dunia diciptakan, dan sudah pula diketahui oleh manusia dari apa yang disampaikan oleh para nabi sebelumnya. Akan tetapi perintah itu tetap terasa baru terutama setelah Yesus sendiri datang menunjukkan kebenaran-kebenaran sejak semula itu lewat cara hidupNya yang juga tercermin dari orang-orang yang memiliki Kristus dalam dirinya.  Dalam kesempatan ini Yohanes mengingatkan bahwa kebencian merupakan salah satu bentuk penyimpangan dari perintah yang 'lama tapi baru' ini. Siapa yang membenci saudaranya berarti masih tetap berada dalam kegelapan meski terang sudah nyata lewat Kristus (ay 9), dan Yohanes mengatakan bahwa "Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya." (ay 10-11).  Perhatikan bagaimana dunia terus memperbesar jurang perbedaan dan membuat orang-orang di dalamnya merasa berhak menghakimi orang lain yang berbeda pemahaman dari mereka. Tidak jarang mereka ini bahkan berani mengatas-namakan Tuhan untuk melegalkan kebencian, kejahatan, kekejian dan kekejaman terhadap sesama manusia. Perhatikan pula bagaimana mayoritas atau yang kuat dianggap dunia punya kuasa dan hak untuk menindas kaum minoritas. Melakukan ketidak-adilan secara terang-terangan tanpa punya rasa bersalah apalagi malu, memaksakan kehendak, menekan dan sebagainya. Semua ini terjadi semakin sering akhir-akhir ini dan sering kita saksikan dalam berita di berbagai media.

Yang sangat menarik adalah saat Paulus memberikan pengajaran yang mungkin terdengar sedikit kontroversi baik pada saat itu terlebih pada jaman sekarang. "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu." (ay 15). Mengapa? "Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia." (ay 16). Janganlah kamu mengasihi dunia dan yang ada di dalamnya, kata Yohanes. Apakah itu berarti bahwa kita harus bersikap memusuhi orang lain yang sama dengan kita hidup di dunia? Tentu saja bukan demikian. Apa yang dikatakan Yohanes adalah agar kita tidak larut menuruti keinginan-keinginan dunia beserta segala pemahaman dan konsepnya yang keliru. Dengan kata lain, Yohanes mengingatkan agar parameter paradigma kita jangan sampai mengacu kepada konsep dan pemahaman dunia tetapi hendaknya mengacu kepada prinsip kebenaran menurut Kerajaan. Yohanes juga memberi tiga hal yang biasanya berpusat atau bersumber dari dalam dunia, dipercaya oleh banyak orang dan menjadi awal kehancuran manusia yaitu: keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Ketiganya bukan berasal dari Bapa melainkan dari dunia. Tiga hari ke depan saya akan membahasnya satu-persatu.

Adalah penting bagi kita untuk memastikan agar paradigma kita tidak ikut seperti apa yang dipercaya dunia bisa mendatangkan kebahagiaan. Yohanes berkata "Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya." (ay 17). Jangan sampai kita ikut-ikutan lenyap seperti dunia yang terus merosot dan terus semakin dilenyapkan keinginan-keinginannya seiring umur yang bertambah tua, tetapi hendaknya kita terus menghidupi firmanNya, mematuhi ketetapanNya, menjauhi laranganNya dan terus melakukan kehendakNya. Orang-orang seperti inilah yang dikatakan akan tetap hidup selama-lamanya. Mari kita periksa setiap konsep pemikiran kita dalam menyikapi berbagai hal dalam hidup. Seperti apa paradigma kita hari ini? Apabila kita mendapati bahwa ternyata kita masih mengadopsi sebagian atau hampir seluruh konsep pemahaman dunia dan hal-hal yang dipercayanya, saatnya bagi kita untuk merubah paradigma. Merubah paradigma sama sekali tidak mudah karena biasanya sudah mengakar dalam jangka waktu yang cukup lama dalam diri kita. Itu hampir sama dengan membongkar seluruh bangunan dan membangun kembali sesuatu yang baru di atasnya, atau membongkar sebuah pohon sampai ke akar-akarnya yang sudah tertanam puluhan meter. Butuh pengorbanan, butuh usaha, butuh waktu, butuh proses dan butuh kesungguhan yang tidak main-main. Tapi apabila perlu, lakukanlah selagi masih ada waktu dan kesempatan. Paradigma mungkin sulit diubah, tapi bukan berarti tidak bisa sama sekali. Dunia terus menawarkan banyak hal yang keliru dan semakin lama semakin lenyap binasa, tetapi orang-orang yang melakukan kehendak Allah akan selalu hidup kekal selama-lamanya.

Paradigma kita mudah terbentuk oleh dunia yang kita hidupi, oleh karenanya waspadai semua yang menyimpang dari kebenaran firman

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho


No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker