Friday, June 20, 2014

Mewaspadai Keangkuhan (1)

webmaster | 8:00:00 AM |
Ayat bacaan: Amsal 8:13
=======================
"Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat."

"Sombong? Ke laut aja." Demikian bunyi status seorang teman di jejaring sosial. Ia mungkin tengah merasa kesal berhadapan dengan orang yang menunjukkan perilaku sombong terhadapnya sehingga bentuk kekesalannya ia ekspresikan dengan menuliskan kalimat itu disana. Tidak ada satupun dari kita rasanya suka dengan orang-orang sombong, tapi mereka akan selalu ada di sekitar kita. Setiap saat kita mungkin saja bertemu dengan orang bertipe seperti ini, atau jangan-jangan sadar atau tidak kita pun berpotensi menunjukkan sikap yang sama. Sikap sombong muncul saat orang menghargai diri secara berlebihan alias memandang diri lebih dari orang lain. Orang biasanya menjadi sombong kalau memiliki sesuatu yang rasanya lebih dari kebanyakan orang. Bisa harta kepemilikan, bisa keahlian, relasi dan sebagainya, bahkan ironisnya bisa pula karena merasa sudah rajin beribadah, melayani atau beramal. Yang juga sering terjadi, kesombongan bisa sangat cepat muncul ketika terjadi perubahan status menjadi lebih makmur, lebih sukses dan sebagainya dalam waktu yang terlalu singkat, waktu keberhasilan tidak diimbangi dengan kesiapan mental dan spiritual dalam menerimanya. Sombong, angkuh, congkak, pongah dan padanan-padanan kata lainnya semuanya mengarah pada pengertian yang sama, yaitu menghargai diri secara berlebih-lebihan dan memandang orang lain lebih rendah dari diri sendiri.

Pada kenyataannya, kesombongan tidak harus selalu berbanding lurus dengan kesuksesan, kekayaan atau keberhasilan tapi lebih kepada masalah kepribadian. Saya sudah bertemu banyak orang sukses, populer, terkenal atau bahkan melegenda dalam bidang mereka masing-masing, tetapi mereka masih bisa menunjukkan sikap rendah hati, bersahabat dan ramah ketika bertemu. Tahun lalu saya mendapat kesempatan mewawancarai seorang musisi legendaris dunia yang sudah bermusik sejak tahun 50an dan menciptakan banyak trend seiring perubahan era. Ia merupakan figur panutan banyak musisi dari generasi ke generasi, sangat berpengaruh dan merupakan salah satu dari sedikit legenda penting yang masih hidup hingga hari ini. Saat wawancara ia menunjukkan sikap yang sangat ramah meski ia baru saja sampai setelah menempuh perjalanan jauh dari negaranya ke Indonesia. Belum istirahat, belum juga masuk ke kamar hotel, ia langsung menyanggupi sebuah sesi wawancara dengan senang hati. Keesokan harinya saya kembali bertemu dengannya di lobi hotel. Diluar dugaan, ia langsung menyapa dan meminta maaf. Minta maaf untuk apa? Saya kaget ketika ia mengatakan hal itu. Ternyata ia merasa bahwa kemarin ia tidak maksimal dalam menjawab pertanyaan, padahal saya merasa ia sudah sangat baik melakukan itu dengan keramahan dan sikap bersahabat yang luar biasa untuk orang sekelasnya. "I'm sorry I wasn't fit yesterday, I was having a jet lag I guess", katanya sambil tersenyum dan mengulurkan tangan untuk bersalaman. Wow, orang sepertinya masih bisa menunjukkan sikap rendah hati seperti itu, sementara sebagian dari artis kita yang masih seumur jagung karirnya dan kemampuannya biasa saja bisa sangat arogan, pamer harta di infotainment, tinggi omongannya dan bersikap seolah yang terhebat sepanjang masa. Hebatnya ia masih ingat apa yang kami bicarakan sebelumnya dan memberi jawaban yang lebih rinci tanpa saya minta sama sekali. Pengalaman ini menjadi salah satu yang paling berkesan sepanjang hidup saya. Sikapnya terasa sangat menginspirasi dan memberkati.

Menyambung dua renungan terdahulu yang bersumber dari 1 Yohanes 2:15-16, hal ketiga yang patut kita waspadai adalah keangkuhan. Ketika kita berada dalam posisi yang tinggi dalam jabatan, ketika kita memiliki suatu kelebihan dibanding orang lain, baik dalam hal harta, kemampuan atau skill dan lain-lain, dosa keangkuhan ini diam-diam bisa menyelinap dalam diri kita, apalagi kalau kita memberi ruang untuknya. Keangkuhan dapat membutakan rohani, membuat pelakunya lupa bahwa semua yang ia dapat berasal dari berkat Tuhan, bukan atas kemampuannya semata, bukan hanya sebuah kebetulan tanpa sebab yang pantas disombongkan. Betapa ironisnya jika orang yang diberkati Tuhan dengan talenta atau kemakmuran bukannya bersyukur dan semakin peduli, tapi malah menjadi sombong. Sebuah sikap sombong atau angkuh pun bisa menjadi dasar sikap manusia untuk menolak kebenaran dan cenderung menuhankan dirinya sendiri. Karena itulah sikap angkuh atau sombong menjadi salah satu dari tujuh hal yang dibenci Tuhan seperti yang diuraikan Salomo dalam kitab Amsal. "Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara." (Amsal 6:16-17). Perhatikan diantara daftar kejahatan yang dilakukan manusia dan dibenci Tuhan ini termasuk diantaranya "mata sombong". Mata sombong dalam bahasa Inggrisnya disebutkan "Proud look" yaitu sikap angkuh yang meninggikan diri sendiri dan menganggap rendah orang lain.

Alkitab mencatat banyak kisah mengenai ketidaksukaan Tuhan terhadap sikap angkuh. Dari kisah raja Hizkia dalam kitab 2 Raja Raja dan 2 Tawarikh kita bisa mendapati satu diantaranya. Hizkia adalah seorang raja yang saleh yang punya hubungan dekat dengan Tuhan. Hizkia dikenal selalu berpaut pada Tuhan dan berpegang pada perintah-perintah Tuhan sehingga dikatakan bahwa tidak ada lagi yang sama seperti dia diantara raja-raja Yehuda. (2 Raja Raja 18:5-6). Sayangnya ditengah kelimpahan berkat Tuhan yang selalu menyertainya, Hizkia sempat jatuh dalam keangkuhan. Akibatnya hampir saja Yehuda dan Yerusalem ditimpa murka Allah. Untunglah Hizkia cepat sadar akan keangkuhannya sehingga murka Allah tidak sampai menimpa bangsa yang dipimpin Hizkia pada masa pemerintahannya (2 Tawarikh 32:25-26).

(bersambung)

No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker