Thursday, December 17, 2015

Penonton Pasif dan Pelaku Aktif (1)

webmaster | 8:00:00 AM |
Ayat bacaan: 1 Petrus 2:9
==================
"Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib"

Hanya menyaksikan dari kursi penonton dan langsung jadi pemain tentu sangat berbeda rasanya. Ambil contoh di lapangan bola. Betapa mudahnya penonton memaki-maki pemain dan wasit. Padahal kalau mereka yang ditaruh di lapangan belum tentu bisa lebih baik dari sang pemain atau wasit itu sendiri. Banyak orang yang cuma pintar komentar, jago mengkritik tapi kalau jadi pemain hasilnya nol besar. Dan kebanyakan orang seperti itu sifatnya. Hanya mau jadi penonton dan menolak jadi pelaku, sudah begitu ribut lagi. Padahal jelas, segala komentar itu biasanya sirna kalau sudah menjadi pelaku langsung yang secara langsung pula merasakan sulitnya menjadi pemain dan bukan hanya penonton.

Ada perbedaan nyata antara penonton dan pelaku atau pemain. Dalam hal kerohanian hal yang sama berlaku. Bagaimana dalam kehidupan kerohanian kita sekarang, dimanakah posisi kita berdiri saat ini? Apakah kita berada di posisi pelaku atau masih berada di kursi penonton? Apakah kita hanya tercengang dan merasa wah atau wow mendengar berbagai kesaksian orang lain atas mukjizat ajaib Tuhan yang terjadi atas mereka atau kita sudah mengalaminya sendiri secara langsung kemudian sudah membawa orang untuk mengalami Tuhan baik lewat kesaksian maupun perbuatan kita? Apakah kita sudah berkontribusi dan berperan langsung sebagai saluran berkat, menjadi duta-duta Kerajaan yang menyampaikan Amanat Agung secara nyata atau masih pada posisi yang hanya menyaksikan dari kejauhan? Apakah kita sudah memberi atau masih hanya mau menerima saja?

Pada kenyataannya lebih banyak orang Kristen yang terlanjur puas dengan hanya berada di bangku penonton ketimbang aktif secara langsung dalam melakukan pekerjaan Tuhan atau menjadi rekan sekerjaNya. Kebanyakan lebih suka untuk berpangku tangan, hanya ingin menerima berkat buat diri sendiri dan tidak mau terlibat langsung untuk menjadi agen-agen Tuhan. Mau diberkati, tapi tidak mau memberkati. Mau mendapat, tapi tidak mau repot memberi. Kepingin menerima, tapi tidak mau repot. Melayani Tuhan itu hanya tugas pendeta atau para pengerja. Urusan duniawi saja sudah merepotkan, jangan sampai ditambah dengan urusan menjadi pelayan Tuhan. Itu buang waktu, lebih baik dipakai buat cari uang tambahan. Salah kaprah, mengira bahwa karunia jemaat itu cuma terima berkat dan dilayani saja. Tinggal memerintah pelayan Tuhan, tinggal panggil kapan perlu, tinggal minta didoakan, pokoknya tinggal enak saja. Itu menjadi pola pikir dari banyak orang percaya. Kalau pemikiran ini yang terus ada, kabar gembira tidak akan pernah bisa menjangkau banyak orang. Gereja hanya akan jadi sekumpulan orang yang hanya berada di dalam kotak, bersifat eksklusif dan tidak berfungsi sama sekali menjadi terang dan garam. Kalau diibaratkan garam, orang percaya hanya akan jadi garam yang berada dalam botolnya. Garam baru akan bermanfaat kalau dikeluarkan dan dipakai untuk memasak. Kalau hanya dalam botol, garam tidak akan berguna sama sekali.

Pertanyaan selanjutnya, apakah benar hanya sebagian yang punya panggilan melayani sementara yang lain boleh berpangku tangan dan hanya menerima segala curahan berkatNya saja? Apakah Tuhan hanya butuh sebagian saja untuk dipilih berperan secara aktif mewartakan Injil? Firman Tuhan tidak berkata seperti itu. "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib" (1 Petrus 2:9).

Mari kita telaah baik-baik ayat ini. Disana dikatakan "kamulah bangsa yang terpilih". Bangsa. Itu berbicara tentang keseluruhan orang percaya dan bukan hanya segelintir orang saja. Artinya kita orang percaya berada dalam bangsa yang terpilih itu, sebuah bangsa yang kudus, yang berisi umat kepunyaan Allah sendiri.

Selanjutnya ada kata-kata "imamat yang rajani." Imamat yang rajani artinya adalah imam-imam yang melayani raja atau dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan royal priesthood. Gelar yang besar dan sangat terhormat, tentu saja. Gelar sebesar ini diberikan Tuhan kepada kita tentu bukan tanpa maksud. Itu menunjukkan panggilan bagi setiap kita untuk memberitakan perbuatan-perbuatan besar Tuhan secara aktif lewat berbagai kesaksian akan karya nyata Tuhan dalam hidup kita, menjadi imam-imam di dunia yang melayani Raja di atas segala raja. Ini adalah sebuah panggilan untuk semua anak-anak Tuhan tanpa terkecuali. Yesus sendiri sudah berpesan dengan sangat jelas agar kita menjadi rekan sekerjaNya lewat Amanat Agung yang Dia berikan tepat sebelum kenaikanNya kembali ke Surga. "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20).

(bersambung)


No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker