Sunday, April 19, 2015

Jangan Degil (1)

webmaster | 8:00:00 AM |
Ayat bacaan: Markus 3:5
====================
"Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka..."

Kata degil mungkin tidak begitu sering lagi kita dengar. Tapi degil pada masanya kerap dipakai untuk menggambarkan orang-orang yang keras kepala. Dalam kamus bahasa Indonesia kata degil diartikan sebagai sikap yang tidak mau menuruti nasihat orang, keras kepala, kepala batu. Orang yang degil biasanya sudah tahu mana yang baik dan tidak untuk dilakukan, tetapi mereka mengeraskan hati dan kepalanya dan memilih untuk menutup rapat-rapat telinganya dari nasihat dan teguran lantas terus melakukan hal yang buruk. Buruk bagi orang lain, buruk pula bagi diri sendiri. Tidak jarang kita melihat malapetaka atau musibah menimpa orang-orang yang degil, tapi anehnya masih saja banyak orang yang bersikap seperti ini.

Orang-orang yang degil berpusat hanya pada diri mereka sendiri dan akan dengan mudah menyalahkan orang lain yang tidak sepaham dengan mereka meski mungkin dalam hati kecilnya mereka tahu bahwa mereka yang salah. Kita memang tidak harus selalu setuju dengan pendapat orang, tetapi adalah baik apabila kita mau mendengarkan nasihat yang benar, setidaknya memberi kesempatan dulu buat orang untuk menyampaikan pendapatnya. Kedegilan itu bisa membutakan.dan bisa merugikan bahkan menghancurkan. Banyak orang yang mengira bahwa sikap seperti ini menunjukkan kehebatannya, tetapi sebenarnya itu hanyalah akan membawa lebih banyak masalah saja.

Ada banyak contoh orang-orang yang degil dalam Alkitab, dan salah satunya adalah orang-orang Farisi di masa kedatangan Yesus ke dunia. Mereka memiliki sikap hati dan kepala yang keras seperti batu sehingga mendukakan hati Yesus. Kekerasan seperti itu mengakibatkan mereka tidak lagi peka, baik terhadap kebenaran, terhadap orang lain bahkan terhadap diri mereka sendiri.
 Dalam banyak kesempatan yang tertulis dalam Alkitab kita bisa melihat seperti apa sikap mereka yang berulang kali dikatakan sebagai sebuah kemunafikan. Mereka merasa sebagai orang-orang yang paling rohani, paling suci, paling tahu segalanya, paling hebat, paling benar dan kesombongan secara rohani ini ternyata membuat hati mereka mengeras. Mereka rajin menghakimi orang lain tetapi tidak pernah introspeksi terhadap diri sendiri. Kepekaan pun lenyap dari diri mereka.

Mari kita ambil salah satu contoh saja. Kita bisa melihat reaksi orang-orang Farisi ini ketika Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat dalam Markus 3:1-6. Pada saat itu Yesus sedang berada di rumah ibadat dan bertemu dengan orang yang tangannya lumpuh sebelah. Melihat keadaan itu, tampaknya para orang Farisi melihat sebuah peluang untuk mencari perkara terhadap Yesus. Mereka sangat paham bagaimana Yesus mengasihi manusia dan mereka sudah menduga bahwa Yesus tentu akan menyembuhkan orang lumpuh itu meskipun hari itu adalah hari Sabat. Menyembuhkannya tidak masalah, tapi hari Sabatnya yang jadi masalah.

Perhatikan kejadian ini baik-baik. Menurut hukum Taurat, hari Sabat tidak boleh dipakai untuk mengerjakan apapun. Tuhan tengah hadir tepat ditengah-tengah mereka. Seharusnya mereka menyadari hal itu jika mereka mau merenungkan baik seluruh hukum Taurat dan tulisan-tulisan nubuatan para nabi terdahulu. Mereka seharusnya bersukacita dan bersyukur akan hadirnya Yesus yang berdiri langsung di tengah mereka. Tidak ada alasan bagi mereka untuk ragu, karena Yesus jelas memenuhi syarat setiap nubuat mengenai kedatangan Mesias yang sudah tertulis di dalamnya. Dan seharusnya mereka meneladani apapun yang dibuat Yesus pada saat itu. Tapi lihatlah bagaimana kekerasan hati membuat mereka buta dan tidak lagi mengenali jati diri Yesus. Kalaupun mereka kenal, kedegilan itu membuat mereka tetap merasa paling benar, bahkan merasa berhak menyalahkan Tuhan yang hadir di depan mata mereka.

Lihat bagaimana mereka tampil menjadi orang-orang yang tidak punya kepekaan, tidak lagi mampu melihat perspektif yang benar tetapi hanya sibuk mencari masalah karena apa yang mereka lihat tidak sesuai dengan pendapat mereka pribadi. Bukannya bersyukur mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan Yesus, mereka malah sibuk mencari-cari kesalahan.Seperti itulah bentuk kedegilan.

(bersambung)

No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker