Sunday, November 16, 2014

Menjadi Hamba

webmaster | 8:00:00 AM |
Ayat bacaan: 1 Korintus 9:19
========================
"Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang."

Terbiasa menjadi pemimpin membuat beberapa orang yang saya kenal punya sikap yang tidak begitu indah di mata orang lain, termasuk teman-temannya sendiri. Mereka ini terbiasa memerintah, cenderung memaksakan kehendak dan sulit menerima pendapat orang. Benar bahwa seorang pemimpin harus bisa mengambil keputusan-keputusan diantara sekian banyak opsi atau masukan, dan terkadang mereka tentu saja boleh menganulir pendapat yang lain. Tetapi yang harus dijaga adalah agar jangan sampai itu sampai merubah karakter. Perubahan karakter menjadi otoriter, terbiasa memerintah dan enggan mendengar bisa mengakibatkan munculnya sikap-sikap buruk di tengah masyarakat atau keluarga sendiri. Anak harus mendengar perintah secara buta, tidak lagi boleh mengeluarkan aspirasi atau isi hatinya, istri harus tunduk sepenuhnya, boleh marah-marah tanpa sebab dan tidak boleh ditegur atau diingatkan. Bukan saja itu buruk bagi orang lain tapi diri sendiri juga yang akhirnya rugi dijauhi semua orang.

Kekristenan tidak pernah mengajarkan hal yang demikian. Kerendahan hati, kesabaran dan keramahan merupakan penekanan penting dalam melayani siapapun. Penekanan kerendahan hati, bahkan merendahkan diri layaknya hamba merupakan sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh orang percaya. Itu bisa kita teladani bahkan dari cara hidup Yesus sendiri.

Paulus adalah salah seorang yang menerapkan hal ini secara langsung. Pada masa itu, sebenarnya Paulus menempati posisi penting dalam pewartaan Injil ke seluruh belahan dunia. Tetapi ia tetap tidak lupa diri dan menganggap penting dirinya sendiri. Ia tahu bahwa ia hanyalah satu dari setiap orang percaya yang telah disematkan tugas untuk mengemban Amanat Agung yang tentunya tidak asing lagi bagi kita. Amanat Agung itu berbunyi sebagai berikut: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20). Itulah yang menjadi dasar dari pelayanan Paulus. Karenanya ia tidak perlu merasa sombong dan membangggakan dirinya secara berlebihan dalam melayani. Dalam berbagai kesempatan ia selalu menunjukkan bahwa ia sangat meneladani Kristus, yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani bahkan memberikan nyawaNya demi keselamatan semua orang.

Yesus mengajarkan seperti ini: "Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamul; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Matius 20:26b-28). Seperti yang diajarkan Yesus dan sudah Dia contohkan langsung, demikianlah sikap Paulus. Ia tegas dalam mewartakan injil, tapi tidak keras apalagi kasar. Ia selalu berusaha menyesuaikan diri agar dapat diterima dengan tangan terbuka dan dengan demikian terus memiliki kesempatan untuk dapat memberitakan Injil kemanapun ia pergi.

Lihatlah apa katanya. "Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang." (1 Korintus 9:19). Menjadikan dirinya hamba dari semua orang, ini menunjukkan keteladanan dari pengajaran Yesus sendiri. Dalam kesempatan lain Yesus pernah menengahi perdebatan di antara murid-muridNya mengenai siapa diantara mereka yang terbesar dengan kalimat: "Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar." (Lukas 9:48b). Seperti halnya Paulus, Yohanes Pembaptis pun menerapkan hal yang sama. "Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya...Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil." (Yohanes 3:28,30). Di balik kerendahan hati kitalah kita bisa meninggikan kemuliaan Tuhan di muka bumi ini. Dan dengan berlaku demikianlah baru kita mampu memenangkan banyak jiwa.

Kemanapun Paulus pergi, ia selalu membuka diri untuk berhubungan dengan baik kepada setiap orang. Dan itu ia lakukan sebagai pintu masuk untuk mewartakan kabar gembira kemanapun ia pergi. Bukan untuk kepentingan dirinya tapi justru bagi keselamatan orang-orang yang ia temui. Ia tidak berkompromi dengan cara-cara hidup yang mengarah pada dosa. Ia tidak mau terpengaruh kepada keinginan-keinginan daging melainkan terus mengarahkan pandangannya ke depan, untuk memperoleh panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Kepada Timotius ia pun berpesan: "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran." (2 Timotius 4:2). Inilah pesan penting yang harus selalu kita ingat pula. Dalam kondisi apapun, siap sedialah untuk mewartakan Firman Tuhan. Namun dalam melakukannya hendaklah kita memiliki kesabaran dan kerendahan hati. Menjadikan diri sebagai hamba, memiliki sikap rendah hati dalam melayani akan menjadi awal yang sangat baik untuk melayani dan memenangkan sebanyak mungkin jiwa.

Apakah kita peduli terhadap orang lain dan mau mengorbankan waktu, tenaga dan kepentingan-kepentingan kita demi keselamatan orang lain? Tidak gampang memang untuk melayani, tapi kita bisa mulai dengan membuka diri lewat kerendahan hati, keramahan dan kesabaran. Bukan soal hebatnya kita, namun keselamatan jiwa-jiwa, itulah yang harus menjadi fokus utama. Karenanya kita tidak boleh terjatuh pada sikap tinggi hati atau sombong, melainkan teruslah hidup dengan melayani untuk Tuhan. Mari belajar dari sikap Paulus dalam melayani dan selalu teladani pribadi Kristus dalam membawa kabar keselamatan kepada orang yang belum mengenalNya.

Sikap sabar, rendah hati dalam melayani merupakan kunci penting untuk memenangkan jiwa

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker