Monday, July 14, 2014

Paulus dan Motivasinya Melayani

webmaster | 8:00:00 AM |
Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 20:33
==========================
"Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapapun juga."

Sudah tak terhitung banyaknya keluhan yang saya terima dari orang-orang yang melayani atas perilaku rekan-rekan sepelayanannya. Iri hati, dengki, cemburu ternyata masih saja terjadi di kalangan internal para pelayan Tuhan, bahkan pendeta dan pengurus-pengurus gereja pun banyak yang terjangkit penyakit sama. Menjelekkan orang lain, menghasut bahkan memfitnah menjadi dampak dari mereka yang dari luar tampak melayani tapi sikap hati dan motivasinya masih perlu dipertanyakan. Bagaimana mungkin orang yang melayani Tuhan bisa punya hati yang berbuah sikap-sikap buruk seperti itu? Aneh tapi nyata, bukan dongeng tapi fakta. Itu masih terus terjadi di kalangan orang percaya, bahkan mereka yang melayani Tuhan. Dan jika demikian, bagaimana kita bisa berharap untuk menjadi terang dan garam di muka bumi ini.

Sejak semula Yesus sudah mengatakan "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit." (Matius 9:37a). Jika pekerja saja sudah dikatakan sedikit, jumlahnya akan menyusut lebih sedikit lagi kalau ditambahkan kata "yang motivasinya benar" di depan kata "pekerja". Melayani Tuhan adalah kewajiban bagi kita. Menjadi terang dan garam, menyampaikan kabar gembira, kabar tentang keselamatan merupakan Amanat Agung yang disampaikan Yesus tepat sebelum Dia naik ke Surga. Artinya ini tugas yang berlaku bagi kita semua tanpa terkecuali dan sifatnya sangat penting. Tapi tidak kalah penting pula untuk memastikan bahwa itu dilakukan dengan motivasi-motivasi yang benar. Sebab pada kenyataannya seperti yang saya sampaikan di atas, ada banyak orang yang keliru mengartikan hal melayani. Mereka mengira bahwa melayani bisa membawa keselamatan atau keistimewaan-keistimewaan di banding orang lain. Kalau sudah melayani, berarti tidak perlu lagi mempelajari, mendalami dan menghidupi firman Tuhan, tidak perlu lagi membangun hubungan erat secara pribadi dengan Tuhan. Ada pula yang bahkan terjebak pada motivasi-motivasi pribadi seperti popularitas, ketenaran bahkan mengincar uang. Seperti apa sebenarnya motivasi yang harus dimiliki oleh para pengerja atau pelayan Tuhan? Bagaimana seharusnya agar kita tidak sampai mencuri kemuliaan yang seharusnya menjadi milik Tuhan yang bisa membuat Tuhan kecewa atau bahkan marah lewat sikap buruk kita dalam melayani?

Akan hal ini, alangkah baiknya apabila kita belajar lewat sosok Paulus. Dalam hal ini kita bisa belajar dari sosok Paulus. Tidak ada yang meragukan kegigihan, keseriusan dan kesabaran Paulus dalam melayani. Dampak dari pelayanannya begitu hebat sehingga sulit membayangkan bagaimana kita hari ini jika Paulus tidak ada. Sebagai seorang hamba Tuhan, Paulus menunjukkan sikapnya yang teguh akan ketaatan. Dia berani pergi menyebarkan Injil kemana-mana, bahkan hingga mencapai Asia kecil. Ia sukses mendirikan banyak jemaat dimanapun ia mendarat. Ia memberikan segala hidupnya, bahkan nyawanya. Betapa seringnya usaha dan kerja kerasnya tidak dihargai sepantasnya. Dia bahkan harus rela mengalami banyak penderitaan dan berbagai bentuk siksaan demi menjalankan misinya. Meski demikian, kita mengetahui bahwa Paulus tidak berkecil hati, kecewa atau sakit hati kepada Tuhan. Sebaliknya ia malah tidak pernah menuntut apa-apa. Ia tidak minta kemudahan dan keistimewaan dalam menunaikan tugas pelayanannya.

Jika memperhatikan tingkat kesulitan tinggi yang ia harus hadapi lengkap dengan segala resikonya, rasanya wajar saja kalau Paulus seharusnya tidak lagi perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan fokus saja mewartakan kabar gembira. Tapi Paulus ternyata tidak menuntut itu sama sekali. Perhatikanlah apa yang ia katakan. "Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapapun juga." (Kisah Para Rasul 20:33). Paulus tidak menuntut apapun dari jemaat maupun penatua/gembala atau hamba-hamba Tuhan lainnya. Padahal kurang apa lagi Paulus pada saat itu dimata orang-orang percaya? Tapi demikianlah  sikap Paulus. Ia mengatakan "Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku." (ay 34). Paulus sama sekali tidak mencari kesempatan untuk meraup keuntungan untuk diri sendiri meski ia sudah bersusah payah untuk melayani begitu banyak orang. Ia bahkan memilih untuk terus bekerja ditengah kesibukannya melayani untuk mencukupi kebutuhannya sendiri bersama rekan-rekan sekerjanya dan agar ia sanggup membantu orang-orang yang membutuhkan. "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah..." (ay 35). Begitu katanya. Dalam Kisah Para Rasul 18:3 kita bisa tahu bahwa Paulus bekerja atau berprofesi sebagai tukang kemah. Paulus tahu bahwa semua yang ia lakukan bukanlah untuk ketenaran, bukan untuk popularitas, kekayaan atau mengejar kepentingan lainnya untuk kepuasan diri sendiri, tetapi semata-mata untuk menyenangkan Tuhan dengan membawa jiwa-jiwa untuk bertobat dan mendapatkan keselamatan.

Kemana Paulus memandang sampai bisa seperti itu? Jawabannya bisa kita lihat dalam Alkitab. "Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah." (1 Korintus 10:31). Ia berkata, apapun yang kita lakukan, seharusnya itu diarahkan untuk memuliakan Tuhan dan bukan untuk mencari popularitas atau keuntungan pribadi. Mengapa? "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36). Bukankah segala sesuatu yang kita miliki semuanya berasal dari Tuhan? Tanpa Tuhan kita bukan apa-apa/siapa-siapa dan tidak ada apa-apanya. Karena itulah sudah sepantasnya kita memuliakan Tuhan lewat segala talenta atau kemampuan yang telah diberikan kepada kita bukan untuk memegahkan diri sendiri atau motivasi-motivasi lainnya baik yang terselubung apalagi yang jelas-jelas kasat mata.

Lewat sikap Paulus kita bisa melihat bagaimana sikap kita yang seharusnya dalam melayani Tuhan. Jangan sampai kita mencuri hak Tuhan dengan memanfaatkan kesempatan dalam pelayanan untuk memperkaya diri sendiri atau demi popularitas kita. Jangan pula kita lupa untuk memuliakan Tuhan dengan terus bersikap asal-asalan, malas atau tidak serius dalam melakukannya, berhitung untung rugi dan sebagainya. Motivasi Paulus dalam melayani adalah murni, dan ini adalah keteladanan yang sangat baik untuk kita teladani. Tidak peduli sehebat apapun kemampuan kita, semua itu tidak ada gunanya tanpa Tuhan. Dari Paulus kita bisa belajar bahwa kemurnian dan ketulusan merupakan kunci yang sangat penting dalam mengabdi kepada Tuhan.

Ada banyak yang melayani, tapi hanya sedikit yang motivasinya benar. Banyak yang memang sepertinya melayani, tetapi bukan didasarkan untuk menyenangkan hati Tuhan melainkan untuk kepentingan-kepentingan pribadi. Itu bisa terlihat dari gaya, pola, cara dan sikap hidupnya. Mereka akan mudah bersikap negatif, tidak lagi ramah dan penuh kasih, kasar, sinis, suka menghasut, curiga, atau sikap lainnya seperti malas, sering tidak tepat waktu dan lain sebagainya. Adalah sangat baik apabila kita bersedia untuk meluangkan sebagian dari waktu kita untuk terlibat langsung dalam pelayanan lewat bidang apa saja sesuai panggilan kita masing-masing, tapi adalah penting pula untuk memperhatikan baik-baik motivasi yang benar dalam melayani. Mari kita periksa diri kita, apa yang menjadi dasar atau motivasi kita dalam melayani. Apakah semata-mata untuk memuliakan Tuhan atau kita masih punya banyak agenda yang mengarah kepada keuntungan diri sendiri. Arahkanlah fokus dalam melayani ke arah yang tepat. Belajarlah dari keteladanan Paulus agar semua pekerjaan yang kita lakukan berkenan di hadapan Tuhan dan bisa berbuah lebat membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Miliki sikap dan motivasi yang benar dalam melayani

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker