Friday, July 11, 2014

Jala Ikan Simon Petrus

webmaster | 8:00:00 AM |
Ayat bacaan: Lukas 5:7
==================
"Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam."

Di sebuah pesta ulang tahun, ada seorang anak kecil yang rakusnya kelewatan. Ia berusaha untuk makan kue sebanyak-banyaknya bukan karena suka tetapi karena tidak ingin kue tersebut disantap teman-temannya yang lain. "Daripada dimakan mereka, lebih baik saya yang makan", katanya. Sepulang pesta si anak ternyata mengalami masalah dalam pencernaannya. Ia terus bolak balik ke toilet dan tidak bisa belajar di sekolah selama beberapa hari. Ini bukanlah kisah fiksi tetapi benar-benar terjadi pada sebuah pesta anak SD yang dihadiri oleh anak dari teman saya. Bagi anak teman saya ini cerita tersebut sepertinya lucu, tapi sifat rakus atau tamak ternyata bisa menjangkiti orang sejak masa kecil. Orang-orang dewasa punya masalah sama, meski mungkin bukan terhadap kue ulang tahun. Ada banyak yang terus berburu harta, menimbun kekayaan tanpa pernah puas. Mereka lupa bahwa sekali mereka terseret pusaran arus materi, mereka akan sulit lepas. Bukannya cukup, tapi yang ada makin parah, makin kemaruk. Tidak heran apabila kita terus melihat semakin banyak orang yang harus menerima konsekuensi dibui selama bertahun-tahun karena tergiur untuk melakukan korupsi demi kepuasan diri sendiri. Mereka tidak segan mengambil apa yang bukan menjadi hak mereka, merugikan orang lain maupun negara dan pada akhirnya hukuman beratlah yang harus mereka terima. Sifat tamak atau rakus tidak akan pernah membawa kebaikan. Bukan saja semua harta itu tidak bisa dibawa mati, tetapi itu akan mengarahkan pelakunya pada berbagai bentuk tindakan kejahatan. Bukannya untung malah buntung yang didapat. Harta ludes, keluarga berantakan, nama baik tercemar dan harus rela mendekam di balik jeruji tahanan untuk waktu yang lama.

Semakin lama semakin banyak orang yang hanya menuntut berkat dari Tuhan tanpa mau memberkati orang lain. Hanya mau menuai, tanpa mau menabur. Alkitab berbicara banyak mengenai hal ini. Salah satunya bisa kita lihat saat Yesus melakukan mukjizat atas Petrus ketika masih berprofesi sebagai nelayan dalam Lukas 5:11.

Pada suatu hari Petrus tidak memperoleh seekor ikan setelah berlayar. Pada saat Yesus memakai perahunya untuk mengajar diatasnya, Yesus menyuruh Petrus untuk menolakkan perahunya lebih ke tengah dan menebarkan lagi jalanya. Sebagai seorang nelayan, tentu Petrus tahu kapan ia harus menebar jala dan dimana itu harus ia lakukan agar bisa mendapat banyak tangkapan. Tapi ketaatan Petrus teruji disini. Lihatlah apa katanya. "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."(Lukas 5:5). Lantas apa yang terjadi? Luar biasa! Alkitab mencatat seperti ini: "Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak." (ay 6). Bayangkan kalau Petrus punya sifat tamak seperti anak tadi, ia tentu akan rugi. Apa gunanya jala kalau koyak? Kalaupun ia tumpahkan di kapal, lama kelamaan kapalnya bisa tenggelam tertimbun ikan. Ayat bacaan kita hari ini menyatakan apa yang terjadi setelahnya. "Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam." (Lukas 5:7). Pertama, Petrus tidak tamak dan memanggil teman-temannya untuk berbagi tangkapan. Kedua, setelah cukup, mereka pun berhenti. Kalau mereka punya sikap tamak, mereka bisa saja bolak balik dari pinggir pantai ke tengah untuk menangkap ikan sebanyak mungkin. Bukankah semakin banyak ikan yang ditangkap semakin besar pula untungnya? Tapi dia tidak melakukan itu. Petrus berbagi berkat dengan teman-temannya dan ia pun tahu kata cukup.

Dalam suratnya untuk jemaat Korintus, Paulus menuliskan hal yang penting untuk kita perhatikan. "Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita."(2 Korintus 9:6-7). Paulus tidak berhenti sampai disitu. Ia lebih jauh menjelaskan bahwa Tuhan sanggup melimpahkan segala kasih karuniaNya bahkan hingga berkelebihan, dan ini semua bukan untuk memperkaya diri, menyombongkan diri dan dinikmati sendiri dengan serakah, melainkan untuk dipakai beramal, memberkati orang lain. "Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan." (ay 8). Dalam versi lain dikatakan "Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal."  Tuhan berkuasa memutuskan untuk melimpahi kita dengan berkat, tetapi penting bagi kita untuk mengetahui untuk apa itu diberikan. Benar, semua itu Dia sediakan agar kita tidak kekurangan dan mampu memiliki apa yang kita butuhkan dalam hidup, tetapi terlebih pula itu bertujuan agar kita punya cukup bekal untuk berbuat baik dan beramal. Dalam kesempatan lain, Petrus mengingatkan hakekat penting dari menerima berkat.  "....hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat." (1 Petrus 3:9)

Kita harus ingat bahwa berkat-berkat yang kita peroleh adalah titipan Tuhan yang bukan untuk ditumpuk demi kepuasan diri sendiri tetapi seharusnya kita pakai untuk memberkati sesama. Berkat yang berasal dari Tuhan berbicara luas lebih dari sekedar harta atau uang. Ada berkat-berkat lain seperti kesehatan, kemampuan untuk melakukan sesuatu, keahlian, talenta-talenta yang dibekali Tuhan, semua itu bisa kita pergunakan untuk menjadi berkat bagi orang lain. Terus mengejar harta akan menimbulkan sikap tamak yang bisa mengarah kepada begitu banyak dosa. Ingat pula sudah dikatakan bahwa cinta uang merupakan akar dari segala kejahatan. Hal ini disampaikan Paulus "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. "Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka." (1 Timotius 6:10). Seperti yang kita lihat kemarin, Yesus sudah menyampaikan bahwa fokus yang benar adalah menimbun harta di surga dan bukan di bumi, dimana ngengat dan karat serta pencuri akan selalu ada untuk menghilangkan dan menghancurkannya. (Matius 6:19-20). Menimbun harta di surga bukan dengan menumpuk uang seperti yang dipercaya dunia mampu menjamin kebahagiaan melainkan dengan memberi, dengan memberkati orang lain, membantu mereka yang tengah menderita. Ingatlah selalu bahwa kita memperoleh berkat adalah agar kita bisa memberkati orang lain lewat segala yang kita miliki. Singkatnya, kita diberkati untuk memberkati.

Terus mengejar uang tidaklah menjamin kebahagiaan tetapi justru membuat kita tersiksa dalam berbagai duka

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker